Anda di halaman 1dari 50

Karya SW Widodo Ttp dg logo

PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SK PERKEMBANGAN NEGARA DI DUNIA MAPEL IPS DARI SISWA KELAS IX SMPN 30 KOTA MAGELANG

LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd NIP. 196212201986031002 Guru SMPN 30 Kota Magelang

PEMERINTAH KOTA MAGELANG DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA SMPN 30 KOTA MAGELANG 2010

Karya SW Widodo Ttp dg logo

PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SK PERKEMBANGAN NEGARA DI DUNIA MAPEL IPS DARI SISWA KELAS IX SMPN 30 KOTA MAGELANG
LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS Disusun dalam rangka kegiatan pengembangan profesi guru Oleh Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd NIP. 196212201986031002 Guru SMPN 30 Kota Magelang

PEMERINTAH KABUPATEN REMBANG DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA SD NEGERI 03 KEDUNGREJO KEC. REMBANG 2010

DAFTAR ISI

Halaman Judul Lembar Pengesahan Berita Acara Seminar Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel (bila ada) Daftar Gambar (bila ada) Daftar Lampiran (bila ada) Abstrak BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Pembatasan Masalah D. Rumusan Masalah E. Tujuan Penelitian F. Manfaat Penelitian BAB II. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Teori 1. Pendekatan Konstruktivistik 2. Penguasaan Konsep B. Temuan Hasil Penelitian yang Relevan C. Kerangka Berpikir D. Hipotesis Tindakan BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Setting Penelitian (lokasi dan waktu) B. Subjek Penelitian C. Sumber Data D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data E. Validasi Data F. Analisis Data G. Indikator Kinerja/Indikator Keberhasilan (bila ada) H. Prosedur Penelitian BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal B. Deskripsi Siklus I 1. Perencanaan 2. Tindakan

i Ii iii iv v vi vii viii ix 1 1 dst.

ii

3. Hasil Pengamatan 4. Refleksi C. Deskripsi Siklus II 1. Perencanaan 2. Tindakan 3. Hasil Pengamatan 4. Refleksi D. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus E. Hasil Penelitian BAB V. PENUTUP A. Simpulan B. Implikasi/Rekomendasi C. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

iii

DAFTAR LAMPIRAN

Ijin penelitian dari Kepala Sekolah Pernyataan Peneliti Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Lembar Kerja Siswa Instrumen Penelitian Contoh/sampel instrumen yang telah diisi Contoh hasil ulangan siswa Ijin penelitian dari kepala sekolah Daftar Hadir siswa (saat siklus) Copy jurnal mengajar (saat siklus) Foto-foto (Foto-foto yang mendukung proses bisa masuk pada hasil ataupun pembahasan)

... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...

iv

ABSTRAK Widodo, Sri Wasono. 2010. Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Hasil Belajar
SK Perkembangan Negara di Dunia Mapel IPS dari Siswa Kelas IX SMPN 30 Kota Magelang. Laporan Penelitian Tindakan Kelas, diajukan dalam rangka kegiatan pengembangan profesi guru.

Kata Kunci : Model Pembelajaran, Pembelajaran Kooperatif, Hasil Belajar Latar belakang masalah dari penelitian tindakan ini adalah banyaknya siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep dari Standar Kompetensi Perkembangan Negara di Dunia. Padahal, pemahaman tentang perkembangan Negara-negara di dunia sangat penting mengingat berbagai indikator ketertinggalan Indonesia dibandingkan dengan Negara-negara lain di dunia, bahkan di kawasan Asia Tenggara sekalipun. Dalam penelitian ini, masalah yang diupayakan untuk diatasi adalah bagaimana hasil belajar SK Perkembangan Negara di Dunia ini bisa ditingkatkan. Berdasarkan kajian teori yang dikaji peneliti, hasil belajar SK Perkembangan Negara di Dunia ini dapat ditingkatkan melalui implementasi pembelajaran kooperatif. PTK ini dilaksanakan pada bulan Juli, Agustus dan September. Subjeknya adalah siswa kelas IX. Objek penelitian adalah Standar Kompetensi yang diupayakan peningkatan hasil belajarnya, yaitu SK Perkembangan Negara di Dunia. Dalam PTK ini digunakan teknik pengumpulan data tes dan non tes. Dari teknik non tes digunakan instrumen pengumpulan data lembar observasi. Sedangkan dari teknik tes digunakan instrumen penilaian soal uraian. Dalam analisis data kuantitatif digunakan statistik deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai kondisi awal, nilai setelah siklus pertama dan nilai setelah siklus kedua. Dalam analisis kualitatif yaitu data hasil pengamatan maupun wawancara menggunakan analisis diskriptif kualitatif yaitu deskripsi berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus. Dari penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan, pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa tentang bencana alam. Dari nilai rata-rata Ulangan Harian (UH) pertama sebagai kondisi awal sebesar 6,41 dapat ditingkatkan menjadi 6,57 pada UH kedua sebagai hasil tindakan pada siklus pertama. Hasil belajar ini meningkat menjadi 7,02 berdasarkan hasil UH ketiga sebagai hasil tindakan pada siklus kedua. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan kepada rekan guru untuk mengimplementasikan berbagai teknik dari model pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran. Teknik-teknik dari model ini yang bisa digunakan diantaranya

jigsaw, think-pair-share, three-step interview, numbered heads together dan team pair solo. Penggunaan masing-masing teknik ini disesuaikan dengan kondisi dan materi pembelajaran. Catatan: kata kunci berkisar 3 s.d. 5 kat. Maksimal abstrak adalah dua halaman. Isi abstrak minimal memuat: (1) tujuan penelitian, (2) setting dan subyek penelitian, (3) prosedur penelitian termasuk analisis data, (4) hasil penelitian

vi

vii

Click here to enter text.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN JAWA TENGAH
Jl. Kyai Mojo Srondol Kulon Tlp.(024)7474192 Fax.(024)7479261 Semarang 50263

TEMPLATE LAPORAN PTK

PERHATIAN!!! TEMPLATE INI UNTUK MEMOTIVASI REKAN-REKAN GURU YANG BELUM BERPENGALAMAN DALAM MENYUSUN PTK DENGAN HARAPAN AGAR MEREKA MENYUSUN PTK. BAGIAN YANG DICETAK MERAH ADALAH PANDUAN SEHINGGA HARUS DIHAPUS, SEDANGKAN BAGIAN YANG LAIN HARUS DIUBAH SESUAI KONDISI INDIVIDUAL PENELITI.

REMBANG, 28 MEI 2010 PENYUSUN: Drs. Sri Wasono Widodo,M.Pd. Widyaiswara LPMP Jawa Tengah e-mail: sriwasono@gmail.com Dapatkan banyak pilihan template PTK di blog: sriwasono.wordpress.com HP.08522506209

viii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah (Pada sub bab ini deskripsikan kondisi subjek penelitian, objek penelitian, dan kondisi peneliti. Subjek penelitian dalam PTK adalah siswa. Objek penelitian adalah kondisi yang akan diubah atau permasalahan yang akan diatasi. Pada objek penelitian di subbab ini sertai dengan data kondisi awal. Pada kondisi peneliti deskripsikan apa yang belum dilakukan oleh peneliti yang sekiranya bila dilakukan dapat mengatasi masalah yang akan diteliti). Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah penduduk terbesar keempat dunia dan wilayah berupa lebih dari 17.000 pulau yang luas membentang antara 95o BT sampai dengan 146 o BT dan dari 6 o LU sampai dengan 11 o LS. Pemahaman tentang posisi geografis dan kondisi demografis yang strategis ini amat penting bagi siswa sehingga bisa membangun karakternya yang bangga serta rasa kebangsaan yang tinggi sehingga bisa mendukung ketahanan nasional di berbagai bidang yang kuat dalam membentengi negara bangsa ini dari arus globalisasi. Dengan demikian eksistensi negara tercinta ini dapat dikembangkan secara dinamis sehingga mendapat kedudukan yang terhormat di tatanan pergaulan antar bangsa di dunia. Untuk itulah penanaman konsep Standar Kompetensi (SK) Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia sangat penting bagi siswa. SK ini terdiri dari dua Kompetensi Dasar (KD) yaitu 1.1 Mengidentifikasi ciri-ciri negara berkembang dan negara maju dan 1.2 Mendeskripsikan Perang Dunia II. (termasuk pendudukan Jepang) serta pengaruhnya terhadap keadaan sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia tentang bencana alam ini sangat penting untuk dikuasai siswa. Realitanya, Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep esensial ini. Hal ini terlihat dari hasil Post Test dari pertemuan pertama yang menunjukkan nilai

terendah 4,57, nilai tertinggi 8.09 serta nilai rata-rata Idealnya nilai kondisi awal ini diperoleh dari Ulangan Harian dari KD pertama, namun hal ini tidak bias peneliti lakukan karena SK ini hanya terdiri dari dua KD saja. Selanjutnya peningkatan nilai ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan tindakan dalam penelitian ini. Ada beberapa kemungkinan penyebab rendahnya hasil post test tersebut, di antaranya adalah penggunaan metode ceramah yang masih mendominasi kegiatan pembelajaran. Mengingat betapa pentingnya penguasaan siswa terhadap kompetensi ini, diperlukan model pembelajaran yang menarik sebagaimana diamanatkan dalam Standar Proses. Untuk ini Guru harus memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif (Depdiknas,2008). dst. (Pada subbab latar belakang masalah ini bisa dilengkapi dengan deskripsi adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, baik kesenjangan teoritis maupun praktis yang melatar belakangi masalah yang akan diteliti. Ada baiknya di bagian ini disinggung secara ringkas teori, hasil-hasil penelitian, kesimpulan seminar, diskusi ilmiah atau pengamatan dan pengalaman pribadi yang terkait dengan masalah yang akan diteliti yang dijabarkan secara lebih lengkap nanti pada Bab II. Dengan demikian, masalah pokok yang akan diteliti mendapatkan landasan yang kuat).

B. Identifikasi Masalah (Identifikasi masalah pada umumnya berupa pertanyaan Banyaknya pertanyaan lebih dari satu, serta lebih banyak dari banyaknya rumusan masalah. Kalimat tanya dimulai dari yang komplek (holistik) sampai yang spesifik (atomistik), Kalimat tanya tersebut tidak harus dijawab, karena hanya sebagai identifikasi masalah. Kalimat tanya tersebut harus mengacu/ mengandung variabel pada masalah pokok (Y).

Dalam suatu pembelajaran yang ideal, siswa akan mendapatkan fasilitasi pembelajaran yang professional dari guru sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif. Guru yang professional akan mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasikan kegiatan pembelajaran yang memotivasi siswa untuk aktif, kreatif serta belajar dalam suasana yang menyenangkan sehingga potensi siswa berkembang secara optimal sesuai kebutuhan, bakat, dan minat siswa sesuai yang diamanatkan Standar Proses (Permendiknas No. 41 tahun 2007). Namun dalam kenyataannya di kelas IX SMPN 30 Kota Magelang terrjadi permasalahan yang penulis identifikasi sebagai berikut: Dalam masalah belajar siswa, mengapa siswa kesulitan dalam Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia? Dalam hal pengembangan profesionalisme guru untuk peningkatan mutu perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi program pembelajaran, muncul masalah bagaimana mempersiapkan lingkungan belajar yang bisa menanamkan perilaku kooperatif siswa? Dalam hal pengelolaan kelas, bagaimana teknik memotivasi dan modifikasi perilaku siswa agar memahami konsep Kondisi Perkembangan Negara di Dunia? Dalam hal desain dan strategi pembelajaran di kelas, pertanyaan yang timbul dalam identifikasi adalah model pembelajaran apa yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar Standar Kompetensi Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia? Dalam penanaman dan pengembangan sikap serta nilai-nilai, teridentifikasi masalah bagaimana mrngembangkan sikap kooperatif siswa? Dalam hal pemanfaatan alat bantu, media dan sumber belajar, muncul pertanyaan media apa yang sesuai untuk pembelajaran tentang Kondisi Perkembangan Negara di Dunia?

Dalam hal sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran, muncul pertanyaan teknik penilaian apa yang paling tepat digunakan dalam pembelajaran tersebut?

masalah kurikulum, misalnya pelaksanaan KTSP dalam hal interaksi guru-siswa, materi-siswa, siswa-lingkungan, dsb. Misalnya: bagaimana mengembangkan interdependensi tugas dan peran dalam suatu pembelajaran kooperatif? (Sebagai rambu-rambu dalam mengidentifikasi masalah, harus

dipertimbangkan bahwa masalah yang diteliti benar-benar terjadi di sekolah (riil), masalah tersebut penting dan mendesak untuk dipecahkan. Permasalahan yang akan dirumuskan harus tercakup dalam identifikasi ini).

C. Pembatasan Masalah Dalam penelitian ini permasalahan dibatasi hanya pada penggunaan model pembelajaran. Hal ini mengingat penggunaan model pembelajaran sangat penting dalam pembelajaran SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia. Juga ada pertimbangan keterbatasan waktu sehingga permasalahan yang lain menempati prioritas berikutnya yang akan diteliti pada kesempayan lain. (Pada subbab ini deskripsikan dengan jelas bahwa tidak semua masalah yang diidentifikasi pada bagian sebelumnya dapat dipecahkan secara simultan, sehingga Anda perlu membatasi masalah. Jelaskan pula alasan mengapa Anda memilih fokus pada masalah tersebut mengingat waktu, referensi, dsb. Deskripsikan pula definisi, asumsi, dan lingkup yang menjadi batasannya serta hal-hal yang Anda duga menjadi akar penyebab masalah ini, secara sistematis dan logis).

D. Rumusan Masalah (Pada bagian ini rumuskan masalah penelitian dalam bentuk rumusan masalah penelitian tindakan kelas. Rumusan masalah sebaiknya menggunakan

kalimat tanya (Suhardjono,2008:68) dan mengemukakan alternatif pemecahan yang hendak dilakukan dan hasil positif yang diantisipasi dengan mengajukan indikator keberhasilan tindakan, cara pengukuran, serta cara mengevaluasinya) Dari judul di atas, misalkan dapat diajukan rumusan masalah sbb.: 1. Apakah implementasi model pembelajaran Kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar untuk Standar Kompetensi Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia? 2. Seberapa jauh peningkatan hasil belajar siswa SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia melalui implementasi model pembelajaran Kooperatif? 3. Bagaimana implementasi model pembelajaran Kooperatif yang efektif pada kegiatan pembelajaran SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia?

E. Tujuan Penelitian (Pada bagian ini kemukakan tujuan PTK Anda baik tujuan umum maupun tujuan khusus. Deskripsikan dengan jelas sehingga dapat diukur sesuai indikator keberhasilannya. Perlu diingat bahwa pada suatu karya tulis ilmiah termasuk laporan hasil PTK, keterkaitan antar bagian harus menunjukkan konsistensi. Dalam contoh ini misalnya dapat ditulis tujuan PTK sebagai berikut) 1. Tujuan Umum Tujuan umum dari penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatkan hasil belajar IPS SMPN 30 Kota Magelang. 2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian iniadalah a. meningkatkan hasil belajar tentang Standar Kompetensi Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia dari siswa Kelas IX SMPN 30 Kota Magelang. b. mengembangkan model pembelajaran kooperatif dengan berbagai variasi teknik.

F. Manfaat Penelitian (Pada subbab ini deskripsikan kontribusi hasil penelitian terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan/atau pembelajaran bagi siswa sehingga tampak manfaatnya bagi siswa, guru, maupun komponen pendidikan di sekolah lainnya. Kemukakan inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini. Pada paragraf berikut disajikan contoh). Penelitian ini memiliki manfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang meliputi: 1. Manfaat untuk siswa adalah meningkatnya penguasaan konsep SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia 2. Manfaat untuk guru adalah memperdalam pemahaman tentang model pembelajaran kooperatif dan menguasai teknik implementasinya. 3. Manfaat untuk sekolah adalah meningkatnya kualitas pembelajaran karena adanya inovasi model pembelajaran kooperatif sehingga berdampak pada peningkatan kualitas output dan outcome sekolah. 4. Manfaat untuk ... (bisa dielaborasi dengan manfaat yang berskala lebih luas).

BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Teori 1. Hakikat Model Pembelajaran Model Pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Dengan kata lain, apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. (Sudrajat,2008). Pada dasarnya karakteristik suatu model pembelajaran dapat dideskripsikan secara sistematis atas beberapa komponennya. Komponen-komponen mencakup hakikatnya, teori belajar terkait sebagai landasan teoritiknya, tujuan pengembangan model tersebut, sintaks, lingkungan belajar dan pengelolaannya (Depdiknas a,2008). Berbagai komponen tersebut saling berkaitan, dan dapat dideskripsikan sebagai berikut. 2. Hakikat Pembelajaran Kooperatif Beberapa rekan guru memiliki salah persepsi dengan menganggap model pembelajaran kooperatif sama dengan diskusi kelompok, Terdapat perbedaan mendasar antara kerja kelompok biasa dengan kerja kelompok yang didesain secara kooperatif. Sekelompok siswa yang bekerja bersama mengelilingi satu meja sangat berbeda dengan sekelompok siswa yang secara sistematis dan terencana bekerjasama

secara kooperatif. Pada sekelompok siswa yang duduk bersama satu meja, berbincang banyak hal, namun tidak terstruktur dalam kelompok kooperatif, tidak akan terjadi proses interdependensi secara positif. Barangkali kelompok seperti ini bisa dikatakan sebagai belajar individualistik sambil berbincang-bincang. Untuk menjadi suatu situasi belajar kooperatif dibutuhkan suatu tujuan bersama yang bisa diterima semua anggota kelompok di mana keseluruhan anggota kelompok diberikan penghargaan atas upayanya. Jika suatu kelompok siswa ditugaskan menyusun suatu laporan, namun hanya satu orang saja yang mengerjakan dan anggota yang lain hanya bercanda saja, maka tidak bisa dikatakan kelompok kooperatif. Suatu kelompok kooperatif memiliki rasa tanggung jawab individual yang berarti semua anggota membutuhkan pengetahuan tentang materi (atau caranya mengeja dalam contoh di atas) agar kelompok secara keseluruhan bisa disebut sukses. (David dan Roger Johnson,2001). Model Pembelajaran Kooperatif juga dapat menjembatani fasilitasi heterogenitas siswa, termasuk dalam sekolah inklusi di mana terdapat siswa dengan disabilitas (Shevin dkk.,2001). Guru haruslah menstrukturisasi lingkungan pendidikan dan sosial sehingga terjadi suasana kondusif bagi semua siswa mengembangkan kemampuan dan sikap yang dibutuhkan untuk berinteraksi secara lintas perbedaan dan disabilitas. Guru yang mengajar di suatu kelas inklusif haruslah memiliki komitmen berupaya keras mengembangkan suatu model pembelajaran yang tidak mengabaikan dan menstigmasi pembelajaran dengan berbagai ragam kebutuhan. Agar perilaku kooperatif dalam pembelajaran kooperatif lebih produktif dan tidak terjebak pada upaya individualistik dan kompetisi harus terbentuk atmosfir pembelajaran yang mendukungnya. Hal ini hanya terjadi dalam situasi dan kondisi .

3. Teori Belajar sebagai Landasan Teoritik Teori Belajar Sosio Kultural dari Vygotsky menjadi acuan utama sebagai landasan teoritik dari Model Pembelajaran Kooperatif. (Depdiknas a,2008). Teori belajar Sosio Kultural dari Vygotsky memiliki premise kunci cultural mediation dan internalisasi. Vygotsky meneliti bagaimana perkembangan anak dan bagaimana ia belajar dengan dibimbing oleh budayanya dan melalui komunikasi interpersonal. Vygotsky mengamati secara historis bagaimana tingginya fungsi mental bisa berkembang dalam suatu kelompok kultural yang memiliki karakteristik tertentu, sebagaimana bagusnya seorang anak secara individual belajar melalui interaksi sosial dengan orang-orang yang memiliki arti dalam hidupnya, khususnya orang tua, namun juga orang-orang yang lebih dewasa lainnya. Melalui interaksi ini, seorang anak akan belajar kebiasaan-kebiasaan pemikiran dari budayanya, seperti pola berbicara, ragam bahasa tulis, atau pengetahuan simbolik lain sebagai cara bagi seorang anak memperoleh makna yang akan mengisi kontruksi pengetahuan anak tersebut. Premise kunci dari psikologi Vygotskian ini sering disebut sebagai mediasi kultural. Pengetahuan spesifik yang diperoleh siswa melalui interaksi seperti ini juga merepresentasikan berbagi pengetahuan tentang budaya. Proses ini disebut internalisasi (Lee,2000). Internalisasi dapat dipahami sebagai mengetahui bagaimana caranya. Sebagai misal, mengendarai sepeda atau menuang susu ke gelas merupakan sarana sosial yang pada awalnya belum dikuasai anak. Penguasaan keterampilan seperti ini terjadi melalui aktivitas anak di lingkungan sosialnya. Aspek internalisasi yang lebih berkembang akan menjadi apropriasi yang berarti anak mampu menggunakan peralatan dengan cara unik yang berbeda dari orang lain. Internalisasi penggunaan pensil memungkinkan anak menggunakan pensil untuk menggambar dengan caranya sendiri yang sama sekali berbeda cara orang lain menggambar dalam masyarakatnya (Lee,200).

Teori Belajar Sosio Kultural dari Vygotsky dapat dipilah menjadi dua sub teori, yaitu Teori Zone of Proximal Development.dan Teori Scaffolding (Kulsum,2008). Teori Zona Perkembangan Proksimal memiliki pandangan, jarak antara tingkat perkembangan aktual ditentukan oleh pemecahan masalah secara individual, sedangkan jarak antara perkembangan potensial ditentukan melaui pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa, atau melalui kolaborasi dengan rekan sebayanya yang lebih kapabel (Vygotsky dalam Wikipedia). Menurut Vygotsky, dalam proses pembelajaran interaksi sosial berperan penting, terutama interaksi sosial dengan orang lain yang memiliki pengetahuan lebih baik. Apa yang dilakukan bersama oleh anak hari ini, akan dapat dilakukannya sendiri kemudian hari, demikian prinsip Lev Vygotsky (David dan Roger Johnson,2001). Proses pembelajaran Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dengan orang lain yang lebih memiliki pengetahuan yang lebih baik, dengan sistem yang secara kultural telah berkembang lebih baik. Dalam teori ini ia menekankan dialog dan komunikasi verbal dengan orang dewasa. Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk berinteraksi memberikan peranan yang amat penting dalam perkembangan kognitif, di samping pengaruh kebudayaan sosial dan perkembangan kognisi sosial. (Kulsum,2008). 4. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Berdasarkan berbagai penelitian, Implementasi pembelajaran kooperatif memiliki beberapa dampak positif bagi siswa, yang bisa digeneralisasikan menjadi tujuan dari implementasinya pada penelitian ini. Pembelajaran kooperatif ternyata dapat meningkatkan intensitas belajar siswa sehingga berdampak positif pula pada pencapaian akademik yang lebih tinggi. Melalui pembelajaran kooperatif, memori pengetahuan siswa lebih bertahan lama, karena siswa lebih terkesan dan terpuaskan dengan belajar secara kooperatif. Pembelajaran kooperatif juga mampu meningkatkan

10

keterampilan siswa dalam komunikasi secara lisan, keterampilan sosial, meningkatkan rasapercaaya diri siswa, serta meningkatkan hubungan positif antar siswa dengan berbagai latar belakang etnis dan kultural.

5. Sintaks Sintaks dalam suatu pembelajaran kooperatif (Direktorat Pembinaan SMP,2008) dimulai ketika guru menjelaskan tujuan pembelajaran pada pertemuan tersebut. Pada penjelasan ini disertakan informasi tentang latar belakang materi pembelajaran, pentingnya substansi pembelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk belajar. Setelah kegiatan pembukaan ini dilakukan, guru mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap. Langkah ini harus diambil sebelum guru memberikan tugas yang sesuai dengan substansi materi pembelajaran, sehingga ketika kegiatan siswa berlangsung sesuai tugas masingmasing, guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal. Ketika pelaksanaan tugas menjelang purna, guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, serta memberikan umpan balik. Selanjutnya guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dlm kehidupan seharihari.

6. Pengelolaan Kelas dan Penciptaan Lingkungan belajar Lingkungan belajar yang harus dibentuk dalam suatu pembelajaran kooperatif memiliki beberapa karakteristik (David dan Roger Johnson,2001), yaitu interdependensi positif, interaksi tatap muka, tanggung jawab individual dan

11

kelompok, keterampilan interpersonal dalam kelompok kecil, serta pemrosesan kelompok (http://edtech.kennesaw.edu/intech/cooperativelearning.htm). Interdependensi positif dapat digambarkan secara ringkas sebagai prinsip berenang bersama atau tenggelam bersama. Kondisi ini memiliki karakteristik setiap anggota menyadari bahwa setiap upaya anggota kelompok sangat dibutuhkan untuk keberhasilan kelompok. Satu anggota tidak mengerjakan fungsinya, keseluruhan kelompok akan gagal. Di samping itu setiap anggota kelompok memiliki kontribusi unik dan berbeda dengan anggota kelompok yang lain, sehingga muncul upaya bersama dalam kelompok sebagai gabungan dan keterpaduan dari sumber, peran, tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok tersebut. Interaksi tatap muka dalam suatu kegiatan pembelajaran kooperatif sangat diperlukan dalam dalam saling mendukung keberhasilan satu sama lain dari seluruh anggota kelompok. Untuk itu setiap anggota kelompok dengan aktif menjelaskan secara lisan bagaimana caranya memecahkan masalah masing-masing, mengajarkan pengetahuan satu sama lain, melakukan pengecekan terhadap pemahaman satu sama lain, mendiskusikan konsep-konsep yang sedang dipelajari, serta menghubungkan pembelajaran saat ini dan yang telah lalu. Dalam membelajarkan sikap tanggung jawab individual dan kelompok, digunakan prinsip tidak boleh ada yang sekedar menumpang! Tidak boleh ada yang bermalas malasan. Untuk ini harus dijaga agar jumlah anggota kelompok minimal. Semakin kecil jumlah anggota kelompok, semakin besar tanggung jawab kelompok. Juga harus dilakukan penilaian secara individual kepada setiap siswa. Juga perlu dilakuakan uji kemampuan komunikasi lisan secara acak dengan cara meminta salah seorang siswa mempresentasikan karya kelompoknya (mewakili kelompok) di hadapan guru ataupun di depan kelas. Guru sebagai fasilitator juga perlu melakukan

12

pengamatan dengan cermat pada setiap kelompok dan melakukan perekaman/pencatatan terhadap frekuensi kontribusi dari setiap anggota kelompok pada karya kelompok. Guru perlu memberikan tugas kepada salah satu siswa dari setiap kelompok untuk berperan sebagai pengecek yang bertugas meminta anggota kelompok yang lain untuk menjelaskan rasional dan argumentasi yang menjadi landasan berpikir dari jawaban kelompok. Juga harus ditugaskan kepada semua siswa untuk mengajarkan apa yang ia pelajari kepada orang lain. Dalam membelajarkan kepada siswa perlu dilatihkan keterampilan interpersonal dalam kelompok Kecil. Hal ini dapat dielaborasikan dengan membelajarkan keterampilan social yang meliputi kepemimpinan, membuat keputusan, membangun rasa saling percaya, berkomunikasi secara efektif, serta keterampilan kelompok dalam mengatasi konflik. dst. (Pada bagian sebelumnya, kita telah mengidentifikasi beberapa permasalahan yang kita hadapi dalam kegiatan pembelajaran, dan akhirnya kita memutuskan akan fokus pada masalah tertentu. Selanjutnya kita memiliki rencana untuk mengatasinya dengan mengimplementasikan pendekatan tertentu atau menggunakan media tertentu. Apa langkah selanjutnya yang kita lakukan? Dalam menyusun proposal PTK pada kajian pustaka, tidak sedikit dari peneliti yang kebingungan, dan mengeluh karena merasa susah mencari kajian teori dengan berbagai alasan. Alasan yang paling banyak dikemukakan adalah bahwa di sekolah tidak tersedia buku-buku yang berisi teori yang mendukung objek penelitiannya. Sesungguhnya di sinilah tantangannya. Pada era ghlobalisasi ini sesungguhnya sangat banyak referensi online yang bisa kita peroleh secara cumacuma melalui internet, yang disebut dengan open source. Referensi yang kita

13

perlukan pada kasus seperti antara lain tentang pendekatan pembelajaran, ilmu jiwa dan ilmu pendidikan. Dalam penulisan karya tulis ilmiah hasil penelitian tindakan kelas, di antara tulisan yang diajukan peneliti selama ini ada yang masih mencerminkan cara berpikir yang tidak holistik, tetapi sangat parsial. Barangkali sangat naif dan ketinggalan jaman apabila dalam bab ini peneliti masih menjelaskan arti setiap istilah yang tanpa makna dan tanpa guna. Sebagai contoh, peneliti mengambil judul Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep... Mata Pelajaran Mapel melalui Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif. Di bab II ini peneliti mengutip kamus untuk setiap kata (1) upaya, (2) meningkatkan, (3) penguasaan, (4) konsep, (5) mapel X, (6) Model Pembelajaran, dan (7) Kooperatif. Jelas sekali bab yang penuh dengan kutipan kamus ini tidak akan ada gunanya karena tidak akan sampai pada pengertian yang dimaksudkan pada judul. Kesalahan umum yang sering dilakukan peneliti dalam Bab II ini adalah peneliti belum menyampaikan dukungan terhadap tindakan yang dilakukan. Dengan contoh tindakan di atas, peneliti wajib mencari teori yang menjelaskan bahwa Implementasi model pembelajaran kooperatif adalah berprinsip tenggelam atau berenang bersama dst. Sehingga dalam implementasinya harus ada pembagian kelompok dengan tugas berbeda tiap kelompok dan tugas berbeda pula untuk setiap anggota kelompok atau yang dikenal dengan istilah interdependensi tugas. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dalam bab ini tampak teori yang menunjukkan hubungan sebab akibat, jika ada tindakan begini, akibatnya akan begini. Jadi kajian pustaka bukan hanya menjelaskan untuk memberikan pengertian tentang hal-hal yangh diteliti saja. Banyak di antara penulis yang justru berlebih-lebihan untuk memperbanyak halaman karya tulisnya dengan menyampaikan hal-hal yang sesungguhnya tidak diperlukan sama sekali, misalnya mengutip tata cara penyelenggaraan di suatu satuan pendidikan, visi, misi, kurikulum, dan sebagainya.

14

Itu semua pada hakekatnya belum termasuk teori, namun masih menjadi objek yang diteliti. Pada bagian ini hendaknya diuraikan dengan jelas kajian teori dan pustaka yang menumbuhkan gagasan yang mendasari usulan rancangan (dalam proposal) dan pelaksanaan penelitian tindakan. Kemukakan juga teori, temuan, dan bahan penelitian lain yang mendukung pilihan tindakan untuk mengatasi permasalahan penelitian tersebut. Uraian ini digunakan untuk menyusun kerangka berpikir atau konsep yang akan digunakan dalam penelitian. Sebagai contoh yang sesuai untuk judul dalam tulisan ini, akan dilakukan PTK yang menerapkan model pembelajaran yang mengimplementasikan prinsipprinsip model pembelajaran kooperatif. Pada kajian pustaka harus dikemukakan dengan jelas: a) bagaimana teori belajar yang berkaitan dengan konstruktivisme misalnya Teori Belajar Sosio Kultural Vygotsky), siapa saja tokoh-tokoh di belakangnya misalnya, bagaimana sejarahnya, apa yang spesifik dari teori ini, apa prinsipprinsip dasarnya, apa persyaratannya, dan lain-lain. b) bagaimana bentuk tindakan yang dilakukan dalam penerapan teori tersebut dalam pembelajaran, strategi pembelajarannya, skenario pelaksanaan dsb. c) bagaimana keterkaitan penerapan pendekatan tersebut dengan perubahan yang diharapkan, atau terhadap masalah yang akan dipecahkan, hal ini hendaknya dapat dijelaskan lebih luas dengan dukungan berbagai hasil penelitian yang sesuai. d) harus tampak keterkaitan dengan subbab berikutnya, yaitu bagaimana perkiraan hasil (hipotesis tindakan) dengan dilaksanakannya penerapan model di atas pada pembelajaran terhadap hal yang akan dipecahkan. Dalam penulisan laporan penelitian, bagian kajian teori dan pustaka pada penelitian formal (empiris) berbeda dengan kajian teori dan pustaka pada penelitian

15

tindakan kelas. Pada penelitian formal, kajian pustaka disajikan untuk meningkatkan pemahaman yang lebih tinggi tentang masalah yang sedang diteliti, karena umumnya penelitian formal berasal dari hasil studi terhadap hasil penelitian sebelumnya. Jadi ada tuntutan yang tinggi untuk menelaah secara luas/mendalam literatur terkait dengan permasalahan yang diteliti dan penelitian-penelitian sebelumnya. Pada penelitian tindakan kelas, kajian pustaka hanya dimaksudkan untuk memberi guideline (petunjuk) bahwa suatu tindakan itu dibenarkan secara teoritis. Jadi tidak ada kebutuhan (tuntutan) yang mendasar untuk menguji teori yang sudah ada, dan dapat menggunakan literatur ataupun tulisan-tulisan tangan kedua, dengan kata lain dokumen sekunder masih dapat dipakai untuk memperkuat dasar teori yang ada di bab ini. Misalnya: Ada teori-teori terkait yang memberi arah/petunjuk tentang variabel permasalahan yang dipecahkan serta variabel tindakan yang digunakan untuk mengatasinya. Ada usaha peneliti memberikan argumen teoritis bahwa tindakan yang diambil didukung oleh referensi yang ada sehingga secara teoritis tindakan tersebut memiliki dukungan. Action tertentu dimungkinkan dapat meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar, tetapi tidak untuk membuktikan teori. Dari uraian ini dikembangkan (ke subbab berikutnya) kerangka berpikir yamg memberikan langkah dan arah penelitian tindakan.

B. Temuan Hasil Penelitian yang Relevan Berdasarkan laporan hasil Penelitian Tindakan Kelas yang pernah dilakuakan oleh Sri Wasono Widodo di SDN 03 Kedungrejo Kec. Rembang berjudul Pembelajaran Kooperatif untuk Meningkatkan Hasil Belajar SK Bencana Alam Mapel IPS dari Siswa Kelas VI SDN 03 Kedungrejo Kec. Rembang disimpulkan

16

bahwa implementasi pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar siswa SD Kelas VI untuk Standar Kompetensi Bencana Alam. Perbedaan utama dengan penelitian ini adalah subjek penelitiannya berbeda yaitu Siswa SD untuk penelitian sebelumnya dan Siswa SMP untuk penelitian ini. Perbedaan juga terjadi pada objek penelitian, yaitu SK Bencana Alam pada penelitian pertama dengan SK Perkembangan Negara di Dunia pada penelitian ini. Hal ini membawa konsekuensi kajian teoritis untuk tahapan perkembangan siswa sebagai subjek penelitian maupun kajian teoritis tentang implementasi model pada substansi mata pelajaran sebagai objek penelitian sangat berbeda satu sama lain. (Pada subbab ini deskripsikan hasil penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang Anda lakukan. Penelitian sebelumnya tersebut bisa dari peneliti lain ataupun merupakan karya Anda sendiri. Jelaskan pula persamaan dan perbedaannya secara rinci, sebagai upaya Anda untuk meyakinkan bahwa penelitian yang Anda lakukan bukan merupakan duplikasi dari hasil penelitian yang sudah ada.)

C. Kerangka Berpikir Dalam Kegiatan Belajar Mengajar dengan paradigma lama yaitu kurang mengedepankan peran aktif siswa konstruksi pemahaman siswa kurang maksimal sebagaimana terbukti dengan data-data dari kondisi awal. Meskipun sudah diupayakan terjadinya interaksi antar siswa melalui diskusi, namun karakteristtik kelompok kooperatif belum muncul. Untuk itu perlu diambil tindakan untuk mengimplementasikan Model Pembelajaran Kooperatif dengan memenuhi segala karakteristiknya sehingga ada interdependensi tugas, peran, dan tanggung jawab sehingga muncul kondisi berenang bersama atau tenggelam bersama. Ketika suatu kegiatan diskusi berlangsung tanpa interdependensi tugas, peran, dan tanggung jawab maka akan terjadi beberapa siswa aktif namun beberapa siswa

17

yang lain pasif. Juga suatu kondisi muncul di mana pengelompokan yang besar dan tugas yang sama sehingga ada kelompok yang aktif namunm ada juga kelompok laion yang kurang aktif karena berpikiran bias mengikuti pendapat kelompok yang aktif. Pada implementasi Model Pembelajaran Kooperatif, kondisi-kondisi seperti deskripsi di atas diminimalisasi. Setiap siswa punya tugas, peran, dan tanggung jawabnya sendiri. Setiap kelompok juga punya tugas, peran, dan tanggung jawabnya sendiri. Dalam situasi seperti ini, anak akan menuju zona perkembangan proksimalnya. Konstruksi pemahamannya terhadap materi pelajaran akan lebih intensif berlangsung, karena pemaknaan terhadap tugas, peran, dan tanggung jawabnya sebagai individu, sebagai anggota kelompok, maupun sebagai anggota kelas kooperatif.

KONDISI AWAL

Guru/ peneliti : belum mengimplementasikan Model Pembelajaran Kooperatif

Siswa/Subjek Penelitian: Hasil Belajar SK rendah SIKLUS I Implementasi Pembelajaran Kooperatif SIKLUS II Perbaikan implementasi Pembelajaran Kooperatif

TINDAKAN

Guru/ peneliti : Mengimplementasikan Model Pembelajaran Kooperatif dalam mapel IPS SK Dengan implementasi pembelajaean kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar SK

KONDISI AKHIR

18

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikirt di atas, diduga implementasi model pembelajaran Kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar Standar Kompetensi Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia dari Siswa Kelas IX SMPN 30 Kota Magelang. (Dalam kerangka berpikir deskripsikan hasil analisis, kajian dan simpulan secara deduksi hubungan antar variabel berdasar kepada teori dan hasil-hasil penelitian yang telah dibahas. Kerangka berpikir merupakan pendapat dan pandangan penulis terhadap teori yang dikemukakan, dan merupakan penjelasan

sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan. Kerangka berpikir harus menggunakan alur pikiran yang logis, sruktur logikanya didasarkan atas premis-premis yang benar dan mempergunakan cara penarikan kesimpulan yang sah. Kerangka berpikir harus berdasarkan pada landasan teori dan disesuaikan dengan permasalahan yang diambil. Hal ini penting untuk diperhatikan karena deskripsi kita pada bagian ini akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan pengajuan hipotesis. Klimaks dari kerangka berpikir umumnya terdapat kalimat ... berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diatas, diduga ...(misalnya diduga melalui X dapat meningkatkan Y). Berikut disajikan flowchrt atau diagram alir dari kerangka berpikir).

19

(Untuk mengedit flowchart ini, kopi dulu ke file lain, lalu setelah diedit hapus flowchat lama dang anti dengan yang baru hasil penyuntingan).

D. Hipotesis Tindakan (Hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis statistik maupun hipotesis penelitian formal. Hipotesia tindakan merupakan jawaban sementara berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir. Hipotesis tindakan juga merupakan jawaban sementara atas rumusan masalah yang diajukan berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir.) Sesuai dengan rumusan masalah pada bab sebelumnya, maka hipotesis tindakan dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: 1. Apakah implementasi model pembelajaran Kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar untuk Standar Kompetensi Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia? 2. Seberapa jauh peningkatan hasil belajar siswa SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia melalui implementasi model pembelajaran Kooperatif? 3. Bagaimana implementasi model pembelajaran Kooperatif yang efektif pada kegiatan pembelajaran SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia?

20

21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Setting Penelitian 1. Waktu Penelitian (Pada bagian ini jelaskan kapan penelitian itu dilakukan. Deskripsikan juga tahapan kegiatan mulai dari persiapan penyusunan proposal, penyusunan instrumen, pengumpulan data, analisis data, pembahasan dan laporan hasil penelitian. Beri alasan mengapa pengumpulan data/ pelaksanaan tindakan dilakukan pada waktu itu.)

2. Tempat Penelitian (Tentang tempat penelitian, deskripsikan di mana penelitian itu dilakukan, sekolah mana, program apa, kelas berapa dsb. Juga berikan alasan mengapa penelitian dilakukan pada tempat itu.)

B. Subjek Penelitian (Subjek penelitian PTK juga berbeda dengan penelitian formal. Pada PTK tidak dikenal adanya populasi, sample, dan teknik sampling seperti pada penelitian kuantitatif, tetapi digunakan istilah subjek penelitian. Pada PTK, Populasi adalah sampel yang juga berarti merupakan subjek penelitian. Jika yang melakukan PTK adalah guru, subjeknya adalah siswa Apabila yang melakukan penelitian kepala sekolah, maka subjeknya adalah guru. Namun karena seorang kepala sekolah juga merupakan seorang guru, maka subjek penelitian PTK yang dilakukannya bisa juga siswa. Pada penelitian yang dilakukan oleh pengawas sekolah, subjeknya adalah guru atau kepala sekolah. Dalam hal subjeknya bukan siswa seperti guru dan kepala sekolah, biasanya penelitiannya disebut Penelitian Tindakan Sekolah (PTS). Di

subbab ini ungkapkan juga objek penelitiannya yaitu Standar Kompetensi yang akan ditingkatkan hasil belajarnya.)

C. Sumber Data (Sumber data dalam PTK dapat berasal dari subjek peneliti maupun dari luar subjek peneliti. Sumber data dari subjek peneliti merupakan sumber data primer (misalnya nilai ulangan harian). Sumber data dari luar subjek peneliti merupakan sumber data sekunder (misalnya data hasil pengamatan yang dilakukan oleh teman sejawat).

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data (Dalam pengumpulan data dapat digunakan teknik tes maupun non tes. Teknik tes pun bervariasi seperti tes tertulis, tes lisan, ataupun tes perbuatan. Teknik non tes juga bervariasi seperti wawancara, pengamatan, chek list, dsb. Alat pengumpulan data bergantung pada teknik yang digunakan. Apabila teknik yang digunakan adalah tes, alatnya dapat berbentuk.butir soal tes. Apabila teknik pengambilan data yang digunakan adalah non tes, alatnya dapat berbentuk pedoman dan lembar observasi, pedoman dan lembar wawancara, dsb.)

E. Validasi Data (Validasi artinya suatu kegiatan untuk memverifikasi benar tidaknya data yang diperoleh. Validasi diperlukan agar diperoleh data yang valid atau sahih. Validasi yang digunakan disesuaikan dengan data yang dikumpulkan. Untuk data kuantitatif (berbentuk angka) umumnya yang divalidasi instrumennya. Validasi instrumen yang digunakan adalah validitas teoretik maupun validitas empirik Diperlukan kisi-kisi agar terpenuhinya validitas teoretik. Sedangkan untuk validasi empirik diperlukan prosedur statistik tersendiri.

23

Validasi juga bisa dilakukan dengan teknik triangulasi. Teknik ini digunakan untuk mengetahui secara persis kebenaran suatu fenomena dari arah atau posisi yang berbeda. Ada beberapa macam teknik triangulasi: Triangulasi teoritis berati penggunaan teori yang berbeda Triangulasi sumber berarti penggunaan lebih dari satu sumber. Misalnya pengambilan data dari orang tua siswa di samping data dari siswa.. Triangulasi data diperoleh melalui pengambilan data di tempat, waktu dan kondisi berbeda. Triangulasi instrumen berarti penggunaan instrumen berbeda untuk menggali informasi yang sama. Triangulasi analisis adalah teknik triangulasi dengan menggunakan cara analisis yang berbeda.)

F. Analisis Data (Analisis yang digunakan sesuai dengan metode dan jenis data yang dikumpulkan. Pada PTK data yang dikumpulkan dapat berbentuk kuantitatif maupun kualitatif. Dalam PTK tidak digunakan uji statistik, tetapi dengan cara deskriptif. Data kuantitatif menggunakan analisis deskriptif komparatif yaitu membandingkan nilai tes kondisi awal, nilai tes setelah siklus 1 dan nilai tes setelah siklus 2. Data kualitatif hasil pengamatan maupun wawancara menggunakan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi dari tiap-tiap siklus.)

G. Indikator Kinerja/Indikator Keberhasilan (bila ada) (Indikator kinerja merupakan kondisi akhir atau target yang diharapkan/ dicapai. Indikator kinerja didasarkan pada pengalaman yang lalu dan hasil yang diperoleh pada saat melakukan tindakan. Dalam penetapannya perlu pertimbangan yang cermat (jangan terlalu tinggi maupun terlalu rendah). Misalnya dalam kondisi

24

awal nilai rata-rata ulangan harian 52; indikator kinerjanya menjadi 54 atau 55 (jangan menjadi 88 atau 90). Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka indikator kinerja penelitian ini adalah: 1. Meningkatnya kemampuan dalam mempresentasikan hasil diskusi tentang konsep ..., meningkatnya kemampuan mendeskripsikan dengan jelas pemahamannya tentang ..., mampu memberikan contoh, mampu membedakan dengan konsep yang berbeda dsb. sesuai instrumen dan teknik pengumpulan data yang digunakan. 2. Meningkatnya rata-rata nilai hasil post test, skor kuis, dsb. dari ... menjadi ... 3. Adanya Skenario pembelajaran dalam RPP dan bahan ajar yang sesuai dengan pendekatan konstruktivistik.

H. Prosedur Penelitian (Prosedur penelitian merupakan langkah-langkah yang harus dilalui peneliti.Langkah pertama adalah menentukan metode yang digunakan dalam penelitian, yaitu metode penelitian tindakan kelas; dilanjutkan dengan menentukan banyaknya tindakan yang dilakukan dalam siklus, minimal dua siklus. Langkah selanjutnya adalah menentukan tahapantahapan dalam siklus, terdiri dari 4 tahapan yaitu: Planning, Acting, Observing, Reflecting. Perlu dijelaskan secara singkat tiap tahapan pada setiap siklus, misalnya dalam perencanaan dijelaskan langkah apersepsi, kegiatan inti, dan penutup. Untuk membantu dalam penyusunan bagian ini, disarankan untuk terlebih dahulu menuliskan pokok-pokok rencana kegiatan dalam suatu tabel sebagai contoh berikut: Siklus 1 Perencanaan: Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam Identifikasi kegiatan pembelajaran

25

masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah Tindakan Pengamatan

Refleksi

Siklus II

Perencanaan

Tindakan Pengamatan Refleksi Siklus-siklus berikutnya Kesimpulan, saran, dan rekomendasi.

Menentukan Kompetensi Dasar dan indikatornya Mengembangkan skenario pembelajaran. Menyusun Lembar Pengamatan. Menyiapkan Sumber Belajar. Mengembangkan format evaluasi, Mengembangkan format observasi pembelajaran Menerapkan tindakan mengacu pada skenario dan Lembar Pengamatan.. Melakukan observasi dengan memakai format observasi. Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format Lembar Pengamatan. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap macam tindakan. Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario, Lembar Pengamatan, dsb. Memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai hasil evaluasi, untuk digunakan pada siklus berikutnya. Evaluasi tindakan I. Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah. Pengembangan program tindakan II Pelaksanaan program tindakan II Pengumpulan data Tindakan II Evaluasi Tindakan II

Dalam proposal, tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator keberhasilan yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke siklus berikutnya. Jumlah siklus diupayakan lebih dari satu siklus, namun tetap harus memperhatikan jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam rencana pelaksanaan tindakan secara kolaborasi pada setiap tahapan hendaknya digambarkan peranan dan intensitas kegiatan masing-masing anggota peneliti, sehingga tampak jelas tingkat dan kualitas kolaborasi dalam kegiatan tersebut.

26

Dalam proposal (merupakan bagian paling akhir dari proposal), lengkapi dengan jadwal kegiatan yang meliputi persiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan penyusunan laporan hasil penelitian. Jadwal penelitian disusun untuk memberikan prediksi bagi penulis sendiri dalam memprogram persiapan usulan pengembangan profesi.

Contoh jadwal: . NO 1. RENCANA KEGIATAN 1-2 PERSIAPAN Menyusun Konsep Pelaksanaan Menyepakati jadwal dan tugas Menyusun Instrumen Seminar Konsep Pelaksanaan PELAKSANAAN Mempersiapkan kelas dan alat Melakukan Tindakan Siklus 1 Melaksanakan Tindakan Siklus 2 PENYUSUNAN LAPORAN Menyusun Konsep Laporan Seminar Hasil Penelitian Perbaikan Laporan Penggandaan dan Pengiriman Hasil X X X X X X 3-4 MINGGU KE: 5-6 7-8 9-10

11-12

X X X X X X X

Pada laporan penelitian Bab III tentang metodologi penelitian menurut Sagor (dalam Supardi:144) disebut deskripsi proses penelitian, yaitu peneliti diharapkan mampu menuliskan atau menguraikan langkah-langkah penelitian secara jelas dan padat. Contoh: Kami melakukan pretes kepada semua anak kelas ... SD/SMP/SMA Negeri 5 Kota Semarang tentang penguasaan konsep ... pada akhir September. Selama bulan Oktober dan November, semua siswa dan guru diharuskan untuk

27

menulis catatan peningkatan atau kemajuan dalam penguasaan konsep setelah siswa diberikan pembelajaran berpendekatan konstruktivistik, termasuk tugas-tugas yang terkait dengan pembelajaran baik yang berlangsung di ruang kelas maupun di luar kelas. Pada akhir Desember, semua siswa diberikan postes. Kami juga melakukan wawancara secara random terhadap 25 siswa. Secara bersamaan pula kami melakukan wawancara melalui telepon kepada para orang tuanya untuk mengetahui introspeksi siswa terhadap penguasaan konsepnya, kesenangan siswa terhadap kegiatan pembelajaran terkait, dan sikap anak terhadap mata pelajaran X. Setiap anggota tim peneliti saling memantau di kelas-kelas untuk melihat secara dekat penerapan strategi (intervensi) pembelajaran yang diterapkan. Akhirnya, kami menganalisis data untuk melihat perkembangan meningkatnya penguasaan konsep . (Supardi,2006:144).

28

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi Awal (Pada bagian ini deskripsikan dengan jelas dan terukur kondisi awal yang menjadi masalah utama yang akan kita pecahkan. Misalnya (Supardi 2008:141): menurut pengamatan peneliti pada Kelas ...SMP Negeri 5 Surakarta jumlah siswa yang berani mengungkapkan gagasan tentang cara mengerjakan soal matematika cenderung sedikit yaitu <10%. Data kondisi awal ini lebih baik apabila berupa data primer, namun tidak menutup kemungkinan data sekunder.)

B. Deskripsi Siklus I 1. Perencanaan Karena pada tahapan ini kegiatannya berupa penyusunan rancangan tindakan yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa dan bagaimana kegiatan tersebut dilakukan (Suhardjono,2008:78), maka dalam laporan penelitian deskripsikan secara rinci rancangan yang telah Anda laksanakan. Pada tahapan ini peneliti menentukan fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat instrumen pengamatan untuk merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Contoh: a. Bagaimana Anda merancang isi mata pelajaran, bahan ajar, tugas siswa yang sesuai dengan teori belajar konstruktivistik, yaitu menciptakan kondisi yang alamiah bagi siswa sesuai kehidupannya sehari-hari dengan menghargai latar belakang budayanya, menghargai potensi individual, menuntut tanggung jawab secara personal dari setiap siswa, dan pentingnya motivasi (http://en.wikipedia.org/wiki/Constructivism_learning_theory).

b. Merancang strategi dan skenario pembelajaran yang juga menggunakan prinsip pendekatan konstruktivistik dalam kegiatan pembelajaran sesuai butir sebelumnya.. c. Menentukan indikator ketercapaian tindakan yang akhirnya tertuang dalam Bab III butir G dan menyusun instrumen pengumpulan datanya. Rancangan dan skenario pembelajaran (atau dalam hal ini tindakan) hendaknya dijabarkan serinci mungkin sinhingga bisa memberikan gambaran secara jelas a. langkah demi langkah yang akan dilakukan b. kegiatan yang seharusnya dilakukan guru c. kegiatan yang diharapkan dilakukan oleh siswa d. rincian media pembelajaran dan bahan ajar yang akan digunakan dan cara menggunakannya e. jenis instrumen yang akan digunakan untuk mengumpulkan data disertai dengan penjelasan rinci tentang cara menggunakannya.

2. Tindakan (Tahapan ini merupakan fase pelaksanaan dari strategi dan skenario pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Rancangan tersebut idealnya sudah di'latih'kan pada diri guru pelaksana tindakan supaya ketika diterapkan di kelas kualitas pembelajarannya sesuai yang diinginkan oleh skenario pembelajaran. Namun demikian kegiatan pembelajaran yang dilakukan harus terlihat wajar, artinya jangan ada suatu perubahan radikal dari situasi pembelajaran keseharian. Tindakan berupa pembelajaran yang dilakukan oleh Guru adalah kegiatan untuk memperbaiki permasalahan. Dalam laporan PTK langkah-langkah yang terjadi selama kegiatan pembelajaran diuraikan. Apa yang pertama kali dilakukan?

30

Bagaimana pengorganisasian kelasnya? Bagaimana suasana kelas dengan pengorganisasian itu? Siapa yang mengajar? Siapa observer atau pengambil data?. Pada saat pelaksanaan tindakan ini, guru harus berupaya agar memberdayakan siswa sehingga mereka menjadi subjek belajar. Tumbuhkan kesadaran, pemahaman, kemampuan dan kemauan belajar (learn how to learn). Mereka harus memiliki budaya belajar karena hanya dengan belajar mereka bisa menjadi agen perubahan bagi dirinya dan orang di sekitarnya. Selama pelaksanaan tindakan, guru sebagai pelaksana intervensi pembelajaran harus mengacu pada rancangan yang telah dibuat. Untuk itu semua faktor yang memungkinkan untuk terjadinya perubahan yang tidak direncanakan harus dihindari. Upaya ini harus dilakukan untuk mengeliminasi kemungkinan bahwa perubahan yang terjadi hanya kebetulan atau faktor lain yang bukan merupakan tindakan kita.)

3. Hasil Pengamatan (Observasi merupakan kegiatan pengumpulan data untuk memotret seberapa jauh efek tindakan mengenai sasaran, atau untuk memantau perubahan yang diinginkan. Pemantauan perubahan inilah yang nantinya akan menjadi bahan yang berguna dalam refleksi. Data yang dikumpulkan tentunya sangat beragam sesuai instrumen yang digunakan, bisa berupa kemajuan nilai yang merupakan indikator meningkatnya penguasaan konsep ataupun hasil belajarnya, bisa juga berupa data kualitatif dentang suasana kelas, fenomena-fenomena yang muncul dari siswa yang disebabkan dari suasana belajar yang dibangun, dsb. Pada bagian ini, peneliti perlu menjelaskan secara rinci jenis data apa saja yang dikumpulkan, cara mengumpulkan data dan semua jenis instrumen yang digunakan. Ingat, jangan sampai memberikan deskripsi refleksi pada bagian ini, karena belum saatnya.)

31

4. Refleksi (Refleksi adalah suatu kegiatan yang mengulas secara kritis tentang perubahan yang diharapkan telah terjadi atau belum. Perubahan ini menyangkut siswa, suasana kelas, cara guru mengajar, interaksi siswa dengan materi, interaksi siswa dengan siswa, interaksi siswa dengan guru, intensitas dan kualitas interaksi, dsb. Pada tahapan ini guru menjawab semua pertanyaan seperti yang tertera pada pertanyaanpertanyaan kunci yang ada pada bagian sebelumnya dari tulisan ini. Sesungguhnya di sinilah perlunya dilakukan kolaborasi dengan peneliti atau rekan sejawat supaya refleksi yang dilakukan lebih menyeluruh, cermat, dan obyektif. Dari hasil refleksi ini akan disusun rencana siklus selanjutnya yang berupa perbaikan-perbaikan dari semua kelemahan yang terjadi pada tindakan siklus 1 dengan meningkatkan kualitas keberhasilan di siklus sebelumnya. Melalui kegiatan refleksi diharapkan terjawab berbagai pertanyaan seperti: a. Apa yang telah diperoleh selama kegiatan berlangsung untuk meningkatkan profesionalisme guru ataupun peneliti? b. Apakah kegiatan yang telah dilakukan telah memperbaiki kualitas pembelajaran? c. Seberapa jauh peningkatan kualitas pembelajaran yang telah terjadi berdampak pada hasil belajar ataupun kompetensi siswa? d. Apa tindak lanjut kita supaya terjadi peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan?)

C. Deskripsi Siklus II 1. Perencanaan 2. Tindakan 3. Hasil Pengamatan 4. Refleksi

32

D. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus (Pada bagian ini ringkaskan hasil penelitian dari seluruh siklus dan semua aspek yang menjadi konsentrasi penelitian kita. Deskripsi yang diberikan bisa dilengkapi tabel dan grafik atau tabel dan grafiknya bisa ditulis di lampiran. Bahas juga setiap aspek perubahan dan perbaikan yang terjadi, dan bila yang terjadi sebaliknya maka perlu adanya deskripsi penyebab atau alasan yang logis dan rasional. Apabila didukung dengan deskripsi teoritis yang ada, maka akan menambah kualitas pembahasan.)

E. Hasil Penelitian (Hasil penelitian pada bab ini pada dasarnya merupakan hasil penelitian yang diperoleh melalui kebenaran empirik. Kebenaran secara teoretik berupa hipotesis sudah diajukan pada bab II. Secara teotetik kebenaran diperoleh dari pengembangan kajian teori, kerangka berpikir dan finalnya pengajuan hipotesis. Secara empirik kebenaran diperoleh dari hasil analisis data yang diperoleh dari bab III dan bab IV, sehingga hasil penelitian pada bab IV ini merupakan kebenaran secara empirik. Ingatlah konsistensi dengan bab-bab sebelumnya. Artinya isi kesimpulan ini harus sesuai dengan permasalahan, tujuan penelitian, dan menjawab kebenaran hipotesis atau tidak. Jadi dalam contoh kita apakah peningkatan HASIL BELAJAR ...(SUBSTANSI SK) secara realitas terjadi? Jika tidak apa penyebabnya? Apakah ada peningkatan hasil belajar siswa? Seberapa peningkatannya? Jika tidak terjadi peningkatan apa penyebabnya? Apakah implementasi pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran bisa dilakukan? Apa kendala pelaksanaannya? Temuan penting apa yang Anda peroleh selama mengimplementasikan pendekatan tersebut? Semuanya deskripsikan dengan jelas dan lengkap dalam bagian ini.)

33

BAB V. PENUTUP

A. Simpulan (Pada bagian ini kemukakan simpulan hasil penelitian pada bab sebelumnya dengan memperhatikan perumusan masalah dan tujuan penelitiannya. Misalnya): Kesimpulan dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah: 1. Implementasi model pembelajaran Kooperatif dapat meningkatkan hasil belajar untuk Standar Kompetensi Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia. 2. Peningkatan hasil belajar siswa SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia melalui implementasi model pembelajaran Kooperatif tersebut adalah rata rata nilai dari pada kondisi awal menjadi setelah pelaksanaan siklus pertama dan naik menjadi setelah siklus kedua. 3. Implementasi model pembelajaran Kooperatif yang efektif pada kegiatan pembelajaran SK Memahami Kondisi Perkembangan Negara di Dunia adalah dengan mengefektifkan interdependensi tugas, peran, dan tanggung jawab anggota kelompok.

B. Implikasi/Rekomendasi Pada bagian ini deskripsikan dampak teoritis terhadap perkembangan ilmu dan penelitian. Dapat juga digambarkan dampak penerapan praktis dalam pemecahan masalah dan penyusunan kebijaksanaan. Jadi implikasi yang dimaksudkan di sini adalah penerapan hasil penelitian dalam kebijakan, yang dilanjutkan dengan rekomendasi yaitu saran yang lebih bersifat kebijakan (lebih bersifat teknis) yang perlu dilakukan.

C. Saran (Saran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian: 1. Saran untuk penelitian lebih lanjut. Uraikan keterbatasan penelitian Anda, kemudian sarankan (Contoh) a. Penelitian lebih lanjut tentang implementasi pendekatan konstruktivistik dalam kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan konsep. b. Dalam penelitian lanjutan validasi instrumen disarankan untuk ditingkatkan karena dalam penelitian Anda validasinya belum memadai. 2. Saran untuk penerapan hasil penelitian, (Contoh) a. Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif dalam kegiatan pembelajaran untuk KD yang sesuai. b. Pentingnya penguasaan konsep secara tuntas, bukan fakta-fakta yang terpisahpisah. c. Pengembangan berbagai model pembelajaran yang kolaboratif dan kooperatif.)

35

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action ResearchCAR). Dalam Arikunto, Suharsimi dkk. (Eds). Penelitian Tindakan Kelas (hlm. 1-41). Jakarta:Bumi Aksara. Suhardjono. 2008. Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Kegiatan Pengembangan Profesi Guru. Dalam Arikunto, Suharsimi dkk. (Eds). Penelitian Tindakan Kelas (hlm. 43-98). Jakarta:Bumi Aksara. Supardi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) Beserta Sistematika Proposal dan Laporannya. Dalam Arikunto, Suharsimi dkk. (Eds). Penelitian Tindakan Kelas (hlm.99-148). Jakarta:Bumi Aksara. UM. 2003. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang:Universitas Negeri Malang. Wikipedia.13 Desember 2008. Constructivism (Learning Theory). Wikipedia, The Free Encyclopedia.(Online). (http://en.wikipedia.org/wiki/Constructivism_ (learning_theory)). Diakses tanggal 19 Desember 2008). Wikipedia.16 Desember 2008. Theory of Cognitive Development. Wikipedia, The Free Encyclopedia.(Online). (http://en.wikipedia.org/wiki/Theory_ of_ cognitive_development. Diakses tanggal 19 Desember 2008). Depdiknas a.2008. Pengembangan Model Pembelajaran CTL SMP. (CD KTSP SMP). Jakarta: Direktorat Pembinaan SMP Depdiknas. Depdiknas b. 2008. Permendiknas No.41 Tahun 2007 tentang untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. (CD KTSP SMA). Jakarta: Direktorat Pembinaan SMA Depdiknas.

Shevin, Mara Saphon, Barbara J. Ayres, dan Janet Duncan.2001. Cooperative Learning and Inclusion. [Online] 15 Oktober 2001. <http://www.clcrc.com/pages/overviewpaper.html>. Diakses 23 Desember 2009.

Sudrajat,Akhmad.2008. Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran. [Online] 12 September 2008. http://akhmadsudrajat.wordpress.com. Diakses tanggal 14 April 2010. David dan Roger Johnson. 2001. An Overview of Cooperative Learning. [Online] 15 Oktober 2001. <http://www.clcrc.com/pages/overviewpaper.html>. Diakses 23 Desember 2009. Kulsum, Ummu. 2008. Komparasi antara Konsepsi Teori Sosiokultural Vygotsky dengan Konsepsi Pendidikan Islam. Thesis. [Online] 18 Agustus 2009. Digital Library IAIN Sunan Ampel Surabaya http://digilib.sunanampel.ac.id..Diakses tanggal 14 April 2010. Lee, C. D., & Smagorinsky, P. (Editors) (2000). Vygotskian perspectives on literacy research: Constructing meaning through collaborative inquiry. New York: Cambridge University Press. http://en.wikipedia.org/wiki/Zone_of_proximal_development diakses tanggal 15 April 2010 Http: http://edtech.kennesaw.edu/intech/cooperativelearning.htm diakses tanggal 5 April 2010 Wikipedia. 2010. Psikologi Gestalt file:///D:/Model%20Pembelajaran/Gestalt.htm Permendiknas No.41 Tahun 2007 tentang Standar Proses

37

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : NIP :

Drs. Sri Wasono Widodo, M.Pd. 131626323 Widyaiswara Madya : Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah

Jabatan: Unit Kerja

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa tulisan ini benar-benar merupakan karya saya sendiri; bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang kemudian saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya, kecuali yang secara tertulis diacu dalam laporan ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Semarang,

Desember 2008

Yang membuat pernyataan,

Sri Wasono Widodo

CONTOH KETENTUAN PENULISAN: 1. 2. 3. 4. 5. Spasi 2, Times New Roman, font 12 40-60 halaman Kertas A4 Jilid rapi Pengesahan: di lampiran

38

Lampiran 05

INSTRUMEN PENELITIAN
LEMBAR CHECKLIST PENGAMATAN PERILAKU KOOPERATIF NO ASPEK/SUB ASPEK KONDISI YA TDK

A. 1. 2.

B.

C.

D.

Interdependensi Positif: Setiap individu mengerjakan tugas dan perannya Setiap individu memiliki tugas unik dan berbeda dengan lainnya Setiap kelompok memiliki tugas unik dan berbeda dengan tugas kelompok lainnya. Interaksi Tatap Muka Secara lisan menjelaskan bagaimana memecahkan masalah Mengerjakan pengetahuan satu sama lain Melakukan pengecekan terhadap pelaksanaan tugas satu sama lain Mendiskusikan konsep-konsep yang sedang dipelajari Menghubungkan pembelajaran saat ini dengan yang lalu Tanggung Jawab Individual dan Kelompok Jumlah anggota setiap kelompok optimal Penilaian dilakukan terhadap setiap individu Siswa yang ditunjuk secara acak mampu mempresentasikan hasil diskusi kelompok Setiap anggota memiliki kontribusi dalam kelompok Setiap kelompok memiliki seorang checker yang efektif dalam mengkonfirmasi setiap anggota untuk memberikan argumentasi rasional Setiap siswa mengajarkan hasil pemahamannya kepada siswa lainnya Keterampoilan Interpersonal dalam Setiap Kelompok Kecil Kepemimpinan Membuat Keputusan Terbentuk sikap saling mempercayai Saling berkomunikasi secara efektif

39

E.

Konflik dipecahkan bersama Pemrosesan Kelompok Tujuan kelompok berhasil disepakati Hubungan kerjasama timbal balik dipertahankan terus menerus Saling mengingatkan tentang kegiatan yang produktif dan tidak produktif untuk tujuan kelompok Kesepakatan kelompok tentang perilaku yang harus diubah dan dilanjutkan

40