Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM

DI SUSUN OLEH : RIZKI PUSPITA SARI (5415109058) RIKI PRAYOGA (5415080342) TUBAGUS FARID (5415080343)

TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

Kedudukan akal dalam Islam menempati posisi yang sangat terhormat, melebihi agama-agama lain. Dalam Al-Quran, kata-kata yang berakar pada aql bertaburan diberbagai surat. Kata-kata : afal taqiln (Maka tidakkah kamu menggunakan akalmu? ; Tidakkah kamu berfikir?) terulang dalam Al-Quran tidak kurang dari 13 kali. Kata laallakum taqiln (agar kamu mengerti/memahami) terulang sekitar 8 kali. Kata li qaumin yaqiln (untuk kaum yang menggunakan akalnya/memikirkan) sekitar 8 kali. Belum lagi kata-kata naqilu, yaqilna bih, yaqiluh, takn taqiln, dsb. Pengertian akal dapat dijumpai dalam penjelasan Ibnu Taimiyah. Lafadz akal adalah lafadz yang mujmal (bermakna ganda) sebab lafadz akal mencakup tentang cara berfikir yang benar dan mencakup pula tentang cara berfikir yang salah. Adapun cara berfikir yang benar adalah cara berfikir yang mengikuti tuntunan yang telah ditetapkan dalam syara. lebih lanjut, Ibnu Taimiyah dalam bukunya yang berjudul Hukum Islam dalam Timbangan Akal dan Hikmah juga menyinggung mengenai kesesuaian nash Al-Quran dengan akal, jika ada pemikiran yang bertentangan dengan akal maka akal tersebutlah yang salah karena mengikuti cara berpikir yang salah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu atau kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungannya. Jadi, jika digabungkan dari dua pengertian di atas, maka akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu, yang didalamnya terdapat kemungkinan bahwa pemahaman yang didapat oleh akal bisa salah atau bisa benar. Selanjutnya dijelaskan bahwa akal berarti kepastian (verification, making sure, certitude) dalam segala perkara. Dinamakan akal, karena dua alasan : a. Mencegah pemiliknya (manusia) untuk terjerumus kedalam jurang kehancuran. b. Pembedaan yang membedakan manusia dari semua hewan. Wahyu sendiri dalam Al-Quran disebut dengan kata al-wahy yang memiliki beberapa arti seperti kecepatan dan bisikan. Wahyu adalah nama bagi sesuatu yang dituangkan dengan

cara cepat dari Allah SWT ke dalam dada Nabi-Nabinya, sebagaimana dipergunakan juga untuk lafadz Al-Quran. Wahyu adalah petunjuk dari Allah SWT yang diturunkan hanya kepada para Nabi dan Rasul melalui mimpi dan sebagainya. Wahyu adalah sesuatu yang dimanifestasikan, diungkapkan. Ia adalah pencerahan, sebuah bukti atas realitas dan penegasan atas kebenaran. Setiap gagasan yang didalamnya ditemukan kebenaran ilahi adalah wahyu, karena ia memperkaya pengetahuan sebagai petunjuk bagi manusia. Allah SWT sendiri telah memberikan gambaran yang jelas mengenai wahyu ialah seperti yang digambarkan dalam AlQuran surat Al-Maidah ayat 16 yaitu : Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

BAB II AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM

A. Kedudukan Akal dalam Islam Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat islam dalam permasalahan apapun. Akal adalah nikmat yang besar yang Allah titipkan dalam jasmani manusia. Nikmat yang bisa disebut hadiah ini menunjukan kekuasaan Allah yang sangat menakjubkan. Oleh karena itu dalam banyak ayat, Allah memberi semangat untuk berakal (yakni menggunakan akalnya), diantaranya : Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintangbintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. An-Nahl: 12). Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal. (QS. Ar-Radu: 4) Sebaliknya, Allah mencela orang yang tidak berakal seperti dalam ayat-Nya : Dan mereka berkata: Sekiranya kami mendengarkan atau menggunakan akal untuk memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (QS. Al-Mulk: 10) B. Karakteristik Wahyu

1. Wahyu baik berupa Al-quran dan Hadits bersumber dari Allah SWT, pribadi Nabi Muhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini, memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. 2. Wahyu mmerupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpa mengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum atau khusus. 3. Wahyu itu adalah nash-nash yang berupa bahasa arab dengan gaya ungkap dan gaya bahasa yang berlaku. 4. Apa yang dibawa oleh wahyu tidak ada yang bertentangan dengan akal, bahkan ia sejalan dengan prinsip-prinsip akal. 5. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah-pisah. 6. Wahyu itu menegakkan hukum menurut kategori perbuatan manusia. baik perintah maupun larangan. 7. Sesungguhnya wahyu yang berupa al-quran dan as-sunnah turun secara berangsurangsur dalam rentang waktu yang cukup panjang. C. Peranan Wahyu dan Akal dalam Kehidupan Makhluk ciptaan Allah SWT di alam syahadah ini, seperti apa yang dapat kita amati, dapat digolongkan dalam jenis-jenis: batu-batuan/mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia. Allah SWT sebagai ArRabb mengatur alam syahadah dengan hukum-hukumNya untuk mengendalikan berjenis-jenis ciptaanNya itu. Allah sebagai ArRabb (Maha Pengatur) mengendalikan alam semesta dengan hukum-hukumNya yang hingga kini baru dikenal oleh manusia sebagai: medan gravitasi, medan elektromagnet, gaya kuat dan gaya lemah. Medan gravitasi utamanya mengontrol makrokosmos, mengendalikan bintangbintang. Ketiga jenis yang lain mengontrol mikrokosmos. Medan elektromagnet mengontrol pasangan proton (bermuatan +) dengan elektron (bermuatan -). Protonproton dalam inti atom yang saling tolak karena bermuatan sama, direkat oleh gaya kuat. Sedangkan gaya lemah menyebabkan inti atom seperti misalnya Thorium dan Uranium tidak stabil menjadi lapuk terbelah dengan mengeluarkan sinar radioaktif, sehingga Thorium dan Uranium disebut pula zat radioaktif.

Di samping ke-4 jenis itu hukum Allah mengendalikan pula tumbuh-tumbuhan dengan kekuatan bertumbuh dan berkembang biak. Kekuatan bertumbuh itu dapat melawan kekuatan gravitasi yaitu bertumbuh ke atas melawan tarikan gravitasi ke bawah. Adapun pada binatang ditambah pula lagi dengan kekuatan naluri dengan perlengkapan pancaindera. Dengan kekuatan naluri dan perlengkapan pancaindera itu binatang dapat bergerak ke mana saja menurut kemauannya atas dorongan nalurinya. Allah meniupkan ruh ke dalam diri manusia, yang tidak diberikanNya kepada makhluk bumi yang lain. Karena manusia mempunyai ruh, ia mempunyai kekuatan ruhaniyah yaitu akal. Dengan akal itu manusia mempunyai kesadaran akan wujud dirinya. Dengan otak sebagai mekanisme, akal manusia dapat berpikir dan dengan qalbu (hati nurani) sebagai mekanisme akal manusia dapat merasa. Allah menciptakan manusia dalam keadaan, fiy ahsani taqwiym (95:4), sebaik-baik kejadian. Kemampuan akal untuk berpikir dan merasa bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan diri manusia. Agar manusia dapat mempergunakan akalnya untuk berpikir dan merasa, ia perlu mendapatkan informasi dan pengalaman hidup. Mutu hasil pemikiran dan renungan akal tergantung pada jumlah, mutu dan jenis informasi yang didapatkannya dan dialaminya. Ilmu eksakta, non-eksakta, ilmu filsafat adalah hasil olah akal dengan mekanisme otak. Kesenian dan ilmu tasawuf adalah hasil olah akal dengan qalbu sebagai mekanisme. Hasil pemikiran dan renungan anak tamatan SMA lebih bermutu ketimbang hasil pemikiran anak tamatan SD, karena anak tamatan SMA lebih besar jumlah, lebih bermutu dan lebih beragam jenis informasi yang diperolehnya dan pengalaman yang dialaminya. Jadi kemampuan akal manusia itu relatif sifatnya, baik dalam hal evolusi pertumbuhan mekanisme otak dan qalbunya, maupun dalam hal jumlah, mutu dan ragam informasi yang diperolehnya dan dialaminya. Dengan demikian akan relatif juga, baik untuk memikirkan pemecahan masalah, maupun untuk merenung baik buruknya sesuatu. Oleh karena akal manusia itu terbatas, Allah Yang Maha Pengatur (ArRabb) memberikan pula sumber informasi berupa wahyu yang diturunkan kepada para Rasul yang kemudian disebar luaskan kepada manusia. Nabi Muhammad SAW adalah nabi dan rasul yang terakhir. Setelah beliau, Allah tidak lagi menurunkan wahyu. Dalam shalat kita minta kepada Allah: Ihdinash Shira-thal Mustqiym (1:6), tuntunlah kami ke

jalan yang lurus. Maka Allah menjawab: Alif, Lam, Mim. Dza-likal Kita-bula- Rayba fiyhi Hudanlil Muttaqiyn (s. alBaqarah, 1-2), inilah kitab tak ada keraguan dalamnya penuntun bagi Muttaqiyn (s. Sapi betina, 2:1-2). Al Quran yang tak ada keraguan dalamnya memberikan informasi kepada manusia tentang perkara-perkara yang manusia tidak sanggup mendapatkannya sendiri dengan kekuatan akalnya: Allamal Insa-na Ma-lam Yalam (s. alAlaq, 5), (Allah) mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya. Kebenaran mutlak (Al Haqq) tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia dengan kekuatan akalnya. Kebenaran mutlak tidak mungkin diperoleh dengan upaya pemikiran mekanisme otak yang berwujud filsafat. Juga kebenaran mutlak tidak dapat dicapai manusia dengan upaya renungan mekanisme qalbu dalam wujud tasawuf. Al Haqq tidak dapat dicapai melalui filsafat ataupun tasawuf. Al Haqqu min rabbikum (s. alKahf, 29), artinya Al Haqq itu dari Rabb kamu (s. Gua 18:29). Alam ghaib juga tidak mungkin diketahui manusia dengan kekuatan akalnya. Filsafat dan tasawuf tidak mungkin dapat menyentuh alam ghaib. Demikianlah tolok ukur produk pemikiran dan renungan yang berupa filsafat dan tasawuf itu adalah: Dza-likal Kita-bula- Rayba fiyhi Hudanlil Muttaqiyn. Filsafat dan tasawuf harus dibingkai oleh Al Quran dan Hadits shahih, sebab kalau tidak demikian, maka filsafat dan tasawuf itu menjadi liar. Sungguh-sungguh suatu keniscayaan, para penganut dan pengamal filsafat dan tasawuf tanpa kendali itu menjadi sesat. Terjadilah fenomena yang naif, lucu, tetapi mengibakan, yaitu antara lain filosof itu berimajinasi tentang pantheisme, sufi itu berkasyaf terbuka hijab, merasa bersatu dengan Allah. Adapun indikator penganut dan pengamal filsafat dan tasawuf tanpa kendali itu, adalah upaya yang sia-sia untuk mempersatukan segala agama. Inilah yang selalu kita mohonkan kepada Allah SAW setiap shalat, agar tidak terperosok ke dalam golongan Dha-lluwn, kaum sesat. Hudan lilMuttaqiyn, demikianlah wahyu itu menuntun akal para Muttaqiyn untuk berolah akal, yaitu berpikir/berfilsafat dan merasa/bertasawuf. Akal harus ditempatkan di bawah wahyu dan ilmu filsafat serta ilmu tasawuf harus ditempatkan di bawah iman, singkatnya wahyu di atas akal dan iman di atas ilmu.

D. Fungsi Wahyu
7

Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia dan juga berfungsi memberi konfirmasi tentang apa yang telah dijelaskan oleh akal manusia sebelumnya. Wahyu diperlukan untuk memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat. Tanpa diberi tahu oleh wahyu, manusia tidak mengetahui mana yang baik dan yang buruk, dan tidak mengetahui apa saja yang menjadi kewajibannya. Akal juga tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian pula akal tak mengetahui bahwa hukuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu.

E. Pentingnya Akal
1. Akal menurut pendapat Muhammad Abduh adalah suatu daya yang hanya dimiliki

manusia dan oleh karena itu dialah yang membedakan manusia dari mahluk lain. 2. Akal adalah tonggak kehidupan manusia yang mendasar terhadap kelanjutan wujudnya, peningkatan daya akal merupakan salah satu dasar dan sumber kehidupan dan kebahagiaan bangsa-bangsa.
3. Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak

didasarkan akal. Iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan. F. Kekuatan Akal 1. Mengetahui tuhan dan sifat-sifatnya. 2. Mengetahui adanya hidup akhirat. 3. Mengetahui bahwa kebahagian jiwa di akhirat bergantung pada mengenal tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaran tergantung pada tidak mengenal tuhan dan pada perbuatan jahat. 4. Mengetahui wajibnya manusia mengenal tuhan. 5. Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat. 6. Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

G. Kekuatan Wahyu 1. Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. 2. Membuat suatu keyakinan pada diri manusia. 3. Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib. 4. Wahyu turun melalui ucapan para nabi.
H. Peran Akal dalam Memahami Sumber Ajaran Agama dan Pengembangan

Pemikiran Keagamaan Agama Islam sangat menjunjung tinggi kedudukan akal. Sebagai risalah Ilahiyyah terakhir, Islam mempersyaratkan kewajiban menjalankan agama bagi orang yang berakal. Artinya, orang yang hilang akalnya tidak diwajibkan mengerjakan perintah atau menjauhi larangan-Nya. Dengan akal manusia mampu memahami Al-Quran sebagai wahyu yang diturunkan lewat Nabi Muhammad SAW, dengannya juga manusia mampu menelaah kembali sejarah Islam dari masa lampau. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, permasalahan yang dihadapi umat Islam semakin kompleks. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah-masalah yang belum ada tuntunan penyelesaiannya baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, maka muncullah jalan ketiga yakni ijtihad. Ijtihad adalah upaya yang dilakukan guna mencapai pengetahuan tentang ajaran Nabi Muhammad SAW dengan tujuan mengikuti ajaran beliau di samping mengaitkan permasalahan-permasalahan baru ke dalam kaidah yang telah disimpulkan dari Al-Quran dan Hadits. Dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, yaitu melalui akal dan wahyu. Akal adalah anugerah yang diberikan Allah SWT yang mempunyai kemampuan untuk berpikir, memahami, merenungkan, dan memutuskan. Sedangkan wahyu adalah penyampaian sabda Allah SWT kepada orang

yang menjadi pilihannya untuk diteruskan kepada umat manusia sebagai pegangan dan panduan hidupnya agar dalam perjalanan hidupnya senantiasa pada jalur yang benar. Akal dan wahyu mempunyai peran yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Wahyu diturunkan Allah SWT kepada manusia yang berakal sebagai petunjuk mengarungi lika-liku kehidupan di dunia ini. Akal tidak serta merta mampu memahami wahyu Allah SWT, adalah panca indera manusia yang menyertainya untuk dapat memahami wahyu yang diturunkan Allah SWT. Dengan demikian, ada hubungan yang erat antara wahyu sebagai kebenaran yang mutlak karena berasal dari Allah SWT dengan perjalanan hidup manusia. Tak dapat diragukan dan dipungkiri bahwa akal memiliki kedudukan dalam wilayah agama, yang penting dalam hal ini adalah menentukan dan menjelaskan batasanbatasan akal, bukan membiarkan akal bebas berkelana tanpa batas dan arahan, terutama saat berhadapan dengan ketentuan wahyu. Sebab kita meyakini bahwa hampir semua kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat akal dalam pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara argumentatif. Salah seorang tokoh yang membicarakan masalah akal dan wahyu adalah Quraish Shihab, dalam bukunya Logika Agama : Kedudukan Wahyu dan Batas-Batas akal dalam Islam. Di sini terlihat jelas bahwa Quraish Shihab mengakui penting peranan akal dalam memahami agama/wahyu, namun di sisi lain akal juga memiliki keterbatasan. Sebagian ajaran agama memang dapat dimengerti oleh akal, tapi tidak sedikit yang masih menyimpan misteri kalau kita pikirkan.

10

BAB III PENUTUP


Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diciptakan Allah SWT mempunyai banyak sekali kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya. Satu hal yang membuat manusia lebih baik dari makhluk yang lain yaitu manusia mampu berpikir dengan akalnya, karena manusia dianugerahi oleh Allah SWT dengan akal sehingga dengannya manusia mampu memilih,

mempertimbangkan, menentukan jalan pikirannya sendiri. Meski penghormatan Islam terhadap akal sedemikian besar, bukan berarti seseorang lantas semaunya mempergunakan akal, sehingga seseorang lantas diperbudak oleh akalnya sendiri dan setiap masalah dihadapi hanya oleh kekuatan akalnya.

11