Anda di halaman 1dari 23

BAB V TINGKAT KESADARAN

SOAL : 1. Menjelaskan definisi tingkat kesadaran 2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kesadarna. 3. Mengidentifikasi gejala-gejala penurunan kesadaran 4. Menjelaskan prosedur pemeriksaan tingkat kesadaran baik kualitatif maupun kuantitatif 5. Melakukan prosedur pemeriksaan tingkat kesadaran

KASUS Cedera Kepala : Bagaimana cedera kepala dapat menyebabkan penurunan kesadaran, pathway anatomi dan patofisiologi, masalah keperawatan yang muncul.

JAWAB : A. Definisi tingkat kesadaran Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu. Tingkat kesadaran mempunyai arti yang sangat luas. Kesadaran dapat di definisikan sebagai keadaan yang mencerminkan pengintegrasian impuls efereen dan aferen. Keseluruhan dari impuls aferen dapat disebut impuls susunan saraf pusat dan keseluruhan darii impuls eferen dapat disebut output susunan saraf pusat. Kesadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai kewaspadaan, yaitu aksi dan reaksi terhadap apa yang di serap (dilihat, didengar, dicium, dikecap, dan seterusnya bersifat sesuai dan tepat. Keadaan ketika aksi sama sekali tidak di balas dengan reaksi dikenal sebagai koma. Kesadaran yang terganggu dapat menonjolkan kedua seginya, yaitu unsur tingkat dan unsur kualitasnya. Suatu ilustrasi perbedaan tingkat dan kualitas kesadaran ketika seorang klien yang sakit tidak dapat mengenal lagi orang-orang yang biasanya bergaul akrab dengan dia. Orang awam menamakan keadaan itu tidak sadar atau pikiran kacau. Apa yang dimaksud dengan istilah itu adalah kualitas kesadaran terganggu. Dalam hal ini, klien tidak menunjukkan gangguan tingkat kesadaran, oleh karena apabila perawat memberikan simulasi

klien akan memberikan respons dengan perubahan ekspresi nyeri atau klien akan menarik bagian yang diberikan stimulasi untuk menghindaarinya. Kualitas kesadaran yang menurun tidak senantiasa menurunkan juga tingkat kesadaran, tetaapi tingkat kesadaran yang menurun senntiasa mengganggu kualitas kesadaran. Oleh karena itu fungsi mental yang ditandai oleh berbagai macam kualitas kesadaran sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran. Pengertian kualitas dan tingkat kesadaran dapat diartikan bahwa jumlah input susunan saraf pusat menentukan tingkat kesadaran. Cara pengolahan input itu yang melahirkan polapola output susunan saraf pusat menentukkan kualitas kesadaran. Input susunan saraf pusat dapat dibedakan menjadi input yang bersifat spesifik dan bersifat non spesifik. Pengertian spesifik itu merujuk pada perjalanan impuls aferen yang khas dan kesadaran yang dilahirkan oleh impuls aferen itu yang khas. Hal ini berlaku bagi semua lintasan aferen impuls perasaan protopatik, proprioseptif, dan perasaan pancaindera. Lintasan yang digunakan impuls-impuls tesrsebut dapat disebut lintasan yang menghubungkan suatu titik pada tubuh dengan suatu titik didaerah korteks perseptif primer. Pengertian input yang bersifat nonspesifik adalah sebagian dari impuls aferen spesifik yang disalurkan melalui lintasan aferen nonspesifik Lintasan ini terdiri atas serangkaian neuron-neuron disubstansia retikularis medula spinalis dan batang otak yang menyalurkan impuls aferen ketalamus yaitu ke inti intralaminaris. Impuls aferen spesifik sebagian disalurkan melalui cabang kolateralnya ke rangkaian neuronneuron substansia retikularis dan impuls aferen itu selanjutnya bersifat non spesifik oleh karena cara penyalurannya ke talamus berlangsung secara multi sinaptik, unilateral , dan bilateral dan setbanya di nukleus intralaminaris akan membangkitkan inti tersebut untuk memancarkan impuls yang menggiatkan seluruh korteks secara difus dan bilateral. Penurunan kesadaran adalah keadaan dimanapenderita tidak sadar dalam arti tidak terjaga / tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal terhadap stimulus. Kesadaran secara sederhana dapat dikatakan sebagai keadaan dimana seseorang mengenal / mengetahui tentang dirinya maupun lingkungannya (Padmosantjojo, 2000).

B. Faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kesadaran 1. Ada beberapa faktor umum yang menyebabkan penurunan kesadaran a. Hiperventilasi Biasanya terjadi pada dewasa muda dan terdapat riwayat parastesia perioral dan perifer, ansietas dan pemicu spesifik. b. Hipoglikemia Berhubungan dengan berkeringat, ansietas dan kebingungan sebelum kehilangan kesadaran. Satu-satunya penyebab terseringa adalah obat-obatan diabetes. Penyebab lain yang jarang adalah tumor pancreas yang mensekresi insulin. c. Narkolepsi Gangguan regulasi rangsang pada sistem saraf pusat dan gambaran diagnostik utamanya adalah adanya tidur laten dengan gerakan mata cepat (REM) yang lambat. Sindrom narkolepsi, gejalanya adalah : 1) Somnolen yang berlebihan di siang hari dengan keinginan untuk tidur yang tak tertahankan dan tak bisa dikalahkan. 2) Katapleksi : kehilangan tonus tubuh mendadak; bisa dimulai dari jatuh ke tanah sampai yang ringan seperti jatuhnya rahang: biasanya dipicu oleh stimuli emosional seperti lelucon atau argument. d. Migren Sering berhubungan dengan perasaan disosiasi non spesifik ringan namun jarang sekali menyebabkan koma berat. e. Amnesia gloabal transien Adalah sindrom tanpa etiologi jelas di mana terdapat gangguan total pada pembentukan memori baru selama beberapa jam pasien bisa tampak relative normal bagi pengamat dari luar namun pengalami disorientasi dan mengajukan pertanyaan berulang-ulang dan tidak bertalian. Hal ini bisa merupakan fenomena migren tapi jarang timbul kembali. f. Gangguan psikogenik Merupakan diagnosisyang berbahaya, namun gangguan psikologis sering kali mendasari kehilangan kesadaran. Meskipun demikian, sebagian beasar pasien dengan penyakit psikologis/psikiatris yang mengalami kesadaran memiliki penyakit organik.

2. Penurunan kesadaran juga dapat disebabkan gangguan pada kardiovaskuler dan neurologis : a. Penyebab kardiovaskuler kehilagan kesadaran Kesadaran terganggu jika terjadi penurunan suplai darah ke otak, baik karena menurunnya curah jantungatau hipotensi dari vasodilatasi yang tidak tepat. Penyakit kardiovaskuler yang demikian ditandai oleh pingsan (prasinkop, artinya pasien merasa akan kehilangan kesadaran) atau betul-betul kehilangan kesadaran (sinkop) dengan durasi singkat (selalu kurang dari beberapa menit), tampak pucat selama serangan, sampai pasien tampak seperti mati. Macam sinkop kardiovaskuler adalah : 1) Sinkop vasovagal Penyebab tersering perubahan kesadaran pada usia berapa pun dengan gambaran sebagai berikut : a) Pasien memiliki ingatan koheren mengenai peristiwa-peristiwa sebelum serangan sampai terjadinya serangan. Serangan bisa dipacu oleh stimulus emosional. b) Hilangnya kesadaran didahului oleh : (1) Kepala terasa ringan atau kehilangan keseimbangan, yang kadang-kadang berlangsung lama. (2) Telingan berdenging atau perubahan kualitas suara secara progresif. (3) Rasa hangat atau muka merah. c) Pada manula gejala dapat berupa jatuh mendadak. Orang yang lebih muda dapat mengingat jatuh berlahan-lahan ke tanah sebelum kesadaran hilang. d) Pasien dalam orientasi penuh saat sadar kembali, walaupun mungkin merasa lemah, mual dan kepala terasa ringan. Pemulihan sempurna terjadi dalam beberapa menit. Kebingungan yang lama meningkatkan kecurigaan serangan epileptic. e) Sentakan singkat sementara pada ekstremitas sering dijumpai dan mereka yang pingsan dengan kandung kemih penuh bisa mengalami inkontinensia urin. Diagnosis lebih rumit pada pasien yang pingsan kemudian mengalami

serangan kejang sekunder, dari mempertahankan posisi berdiri tegak sampai anoksia serebral. 2) Sinkop miksi Pasien biasanya memiliki hipertrofi prostat, yaitu pria manula. Mengejan yang lama untuk memulai miksi menurunkan aliran balik darah (venous return) ke jantung. Curah jantung menurun dan terjadi sinkop. Sinkop mencegah mengejan sehingga memperbaiki venous return seta curah jantung, dan mengembalikan kesadaran. Jenis lain dari sinkop miksi adalah sinkop batuk yang terjadi pada oranng dengan penyakit paru kronis dan batuk paroksimal yang lama. 3) Hipotensi postural Sistem saraf ototnom tidak mampu mencegah turunnya tekanan darah saat berdiri. Ditandai dengan gejala sinkop vasovagal saat berdiri, tidak pernah saat duduk atau berbaring : a) Pasien biasanya manula. b) Keadaan bisa diperberat oleh obat-obatan (diuretic, antihipertensi,

antipsikotik) dan dehidrasi (kekurangan cairan, diyretik, perdarahan GI). 4) Serangan Stokes-Adams Merupakan pola sinkop spesifik, tanpa tanda peringatan (sehingga pasien sering mencederai diri sendiri saat jatuh), dengan kehilangan kesadran sepenuhnya, berlangsung < 2-3 menit. Tidak adanya peringatan berarti pasien seringkali jatuh dengan keras dan mengalami cedera wajah atau ekstremitas yang menetap, tidak seperti pingsan biasa yang umumnya tidak menyebabkan cedera. Serangan biasanya terjadi akibat asitol temporer yang menyertai onset blok jantung sempurna. 5) Takiaritmia sinkop (prasinkop) Pasien mengeluhkan palpitasi cepat sebelum pingsan. 6) Sinkop GTN Terjadi akibat konsumsi gliseril trinitrat (GTN) berlebihan saat pasien berdiri. Terjadi vasodilatasi, menyebabkan sinkop. Biasanya sinkop GTN berhubungan dengan penyakit jantung yang berat (angina, gangguan fungsi ventrikel kiri, stenosis aorta).

7) Sinkop saat melakkukan aktivitas Terjadi karena jantung tidak dapat meningkatkan curah jantung akibat obstruksi yang menetap (misal sternosis aorta berat, kardiomiopati obstruktif hipertrofik, hipertensi pulmonal berat) atau karena takikardi ventricular. 8) Sinkop kardioneurogenik Denyut jantung atau tekanan darah atau keduanya trun sampai ke tingkat yang cukup untuk menyebabkan sinkop. Cirri-cirinya pasien berdiri diam, mersa ingin pingsan selama 30 detik sampai beberapa menit, kemudian pingsan dan jatuh. Serangan dapat dihentikkan dengan duduk sesegera mungkin. 9) Sindrom hipersensitivitas karotis Pasien memiliki baroreseptor yang hipersensitif, yang diaktifkan saat memutar leher (sering saat melihat ke atas). Terjadi bradikardi yang tidak tepat, kadang-kadang disertai vasodilatasi reflex dan pasien pingsan. b. Penyebab neurologis kehilangan kesadaran Sebagian besar penyakit neurologis yang menyebabkan kehilangan kesadaran adalah epilepsi, walaupun kadang-kadang disebabkan oleh iskemia batang otak. Epilepsi yang menyebabkan penurunan kesadaran terjadi karena muatan listrik abnormal mengganggu fungsi struktur subkortikal utama yang mempertahankan kesadaran. Gambaran yang menunjukkan epilepsi sebagai penyebab hilangnya kesadaran adalah: 1) Nyeri otot dan menggigit lidah. 2) Nyeri kepala post iktal (iktal = serangan kejang). 3) Inkontinensia.

C. Gejala-gejala penurunan kesadaran Tanda dan gejala dari keadaan yang menimbulkan penurunan kesadaran berbeda-beda tergantung penyebabnya. Berikut akan dibahas satu persatu tanda dan gejala masing-masing keadaan : 1. Lesi masa supratentorial a. Dimulai dengan gejala disfungsi serebral fokal b. Progresivitas gejala rostro-kaudal.

c. Gejala neurologis yang sesuai dengan lokasi anatomis (misalnya pada diensefaln, otak tengah-pons, medulla oblongata. d. Gejala motoric ( biasanya asimetris) 2. Masa atau kerusakan substentorial a. Riwayat disfungsi batang otak atau onset koma yang tiba-tiba. b. Gejala-tanda disfungsi batang otak yang mendahului atau menyertai koma yang mana selalu. Didapatkan kelainan okuvestibuler c. Parase saraf otak. d. Gangguan pernafasan 3. Gangguan metabolik a. Biasanya didahului oleh konfusi dan stupor sebelum terjadi gangguan motorik . b. Gangguan motoric yang biasanya simetris. c. Reflek pupil biasanya baik. d. Asteriktis, mioklonus, tremor, dan sering dijumpai adanya kejang. e. Gangguan keseimbangan asam basa disertai hipoventilasi atau hiperventilasi 4. Gangguan psikiatri a. Kelopak mata sengaja dipejamkan b. Reaksi pupil normal atau dilatasi (sikloplegia) c. Okuli-vestibuler fisiologis d. Tonus otot menurun atau normal e. Pola napas normal ( eupnea) atau hiperventilasi f. Reflex patologis negative g. EEG normal

D. Prosedur pemeriksaan tingkat kesadaran baik kualitatif maupun kuantitatif 1. Tingkatan Keasadaran berdasarkan Pengukuran Kualitatif Tingkat kesadaran adalah ukuran dari kesadaran dan respon seseorang terhadap rangsangan dari lingkungan, tingkat kesadaran bila diukur secara kualitatif dibedakan menjadi : a. Compos Mentis (conscious), yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.

b. Apatis, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh. c. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi (orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. d. Somnolen (Obtundasi, Letargi), yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang (mudah dibangunkan) tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. e. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. f. Coma (comatose), yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun (tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap cahaya). 2. Tingkatan Kesadaran berdasarkan Pengukuran Kuantitatif Tingkat kesadaran jika diukur secara kuantitatif dapat dibedakan menjadi berikut : a. Compos Mentis (conscious). Skala GCS 14-15 poin. b. Apatis. Skala GCS 12-13 poin. c. Somnolen (Obtundasi, Letargi). Skala GCS 11-12 poin. d. Stupor (soporo koma). Skala GCS 8-10 poin. e. Coma (comatose). Skala GCS < 5 poin. Hasil diatas didapat dari pemeriksaan GCS 3. Pemeriksaan GCS Glasgow Coma Scale (GCS) pertama kali dikenalkan pada tahun 1974 oleh Teasdale dan Jennett, sebagai alat bantu dalam assessment klinis kondisi ketidaksadaran. Kemudian GCS digunakan secara luas untuk mengukur pasien individual, membandingkan efektifitas perawatan dan faktor menentukan prognosis. GCS telah dgunakan pada berbagai system klasifikasi trauma dan penyakit kritis. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesadaran dengan hasil seobjektif mungkin adalah menggunakan GCS (Glasgow Coma Scale). GCS dipakai untuk menentukan derajat cidera kepala. Reflek membuka mata, respon verbal, dan motorik diukur dan hasil pengukuran dijumlahkan jika kurang dari 13, maka

dikatakan seseorang mengalami cidera kepala, yang menunjukan adanya penurunan kesadaran. GCS terdiri dari nilai dengan kisaran 3-15, yang merupakan kisaran tingkat ketidaksadaran trauma atau kritis. Skala GCS pada orang dewasa : Eye opening response (E) Spontan : dengan terbuka pada garis dasar Terbuka pada perintah verbal, bicara atau jeritan Terbuka pada rasa sakit, tidak terlihat pada wajah Tidak ada respon Respon Motorik (M) Melakukan gerakan yang diperintahkan Gerakan karena rangsang rasa sakit (rasa sakit local) Tidak merasakan sakit Fleksus tidak normal, decorticate posture Respon ekstensor (rigid), decerebrate posture Tidak ada respon Respon Verbal (V) Terorientasi Pembicaraan membingungkan, tetapi dapat menjawab pertanyaan Respon tidak jelas, kata-kata jelas Kata-kata meracau Tidak ada respon 2 poin 3 poin 4 poin 3 poin 2 poin 1 poin 6 poin 5 poin 4 poin 3 poin 2 poin 1 poin 5 poin 4 poin

1 poin Skala dihitung dengan cara penjumlahan semua nilai respon. E + M + V = 3 sampai 15 Penjumlahan nilai respon merupakan asesmen tingkat kategori

ketidaksadaran pasien, yang terbagi menjadi : a. Ringan b. Moderat c. Berat d. Koma : 13-15 poin : 9-12 poin poin : 3-8 poin : nilai < 8 poin

Jika dihubungkan dengan kasus trauma kapitis maka didapatkan hasil :

GCS : 14 15 = CKR (Cidera Kepala Ringan) GCS : 9 13 = CKS (cidera kepala sedang) GCS : 3 8 = CKB (cidera kepala berat) 4. Metode lain selain GCS Metoda lain adalah menggunakan sistem AVPU, dimana pasien diperiksa apakah sadar baik (alert), berespon dengan kata-kata (verbal), hanya berespon jika dirangsang nyeri (pain), atau pasien tidak sadar sehingga tidak berespon baik verbal maupun diberi rangsang nyeri (unresponsive). Ada metoda lain yang lebih sederhana dan lebih mudah dari GCS dengan hasil yang kurang lebih sama akuratnya, yaitu skala ACDU, pasien diperiksa kesadarannya apakah baik (alertness), bingung / kacau (confusion), mudah tertidur (drowsiness), dan tidak ada respon (unresponsiveness).

E. Cedera Kepala 1. Pengertian Cedera Kepala Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstisial dalam substansi otak tanpa diikiutu terputusnya kontinuitas otak.

Gambar cedera kepala

2. Etiologi Cedera Kepala Cidera kepala dapat disebabkan karena kecelakaan lalu lintas, terjatuh, kecelakaan industri, kecelakaan olah raga, luka dan luka pada persalinan. 3. Tanda dan gejala Cedera Kepala Secara umum tanda dan gejala pada cedera kepala meliputi ada atau tidaknya fraktur tengkorak, tingkat kesadaran dan kerusakan jaringan otak. a. Fraktur tengkorak Fraktur tengkorak dapat melukai pembuluh darah dan saraf-saraf otak, merobek duramater yang mengakibatkan perebesan cairan serebrospinalis. Jika terjadi fraktur tengkorak kemungkinan yang terjadi adalah : 1) Keluarnya cairan serebrospinalis atau cairan lain dari hidung (rhinorehoe) dan telinga (Otrorhoe). 2) Kerusakan saraf cranial. 3) Perdarahan dibelakang membrane timpani. 4) Ekimosis pada priorbital.

Jika terjadi fraktur basiler, kemungkina adanya gangguan pada saraf-saraf cranial dan kerusakan bagian dalam telinga. Sehingga kemungkinan tanda dan gejalanya : 1) Perubahan tajam penglihatan karena kerusakan nervus optikus. 2) Kehilangan pendengaran karena kerusakan pada nervus auditorius. 3) Dilatasi pupil dan hilangnya kemampuan pergerakan beberapa otot mata karena kerusakan nervus okulomotorius. 4) Pariesis wajah karena kerusakan nervus fasialis. 5) Vertigo karena kerusakan otholit dalam telinga bagian dalam. 6) Nistagmus karena kerusakan pada sistem vestibular. 7) Warna kebiruan di belakang telinga diatas mastoid (battle sign). b. Kesadaran Tingkat kesadaran pasien tergantung dari berat ringannya cedera kepala, ada atau tidaknya amnesia retrograt, mual, dan muntah. c. Kerusakan jaringan otak Manifestasi klinik kerusakan jaringan otak bervariasi tergantung dari cedera kepala. Untuk melihat adanya kerusakan cedera kepala perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI.

4. Patofisiologi Cedera Kepala Adanya cedera kepala dapat mengakibatkan gangguan atau kerusakan struktur, misalnya kerusakan pada parenkim otak, kerusakan otak, kerusakan pembuluh darah, perdarahan, edema dan ganguan biokimia otak seperti penurunan adenosine triposphat dalam mitokondria, perubahan permeabilitas vaskuler. Patofisiologi cedera kepala dapat digolongkan menjadi dua proses yaitu : cedara kepala otak primer dan cedera kepala otak sekunder. Cedera kepala otak primer merupakan suatu proses biomekanik yang dapat terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan memberi dampak cedera jaringan otak. Pada cedera kepala sekunder terjadi akibat cedera primer, misalnya adanya hipoksia, iskemia, dan perdarahan.

Perdarahan serebral menimbulkan hematom, misalnya pada epidural hematom yaitu berkumpulnya darah antara lapisan periosteum tengkorak dengan duramater, subdural hematom diakibatkan berkumpulnya darah pada ruang duramater dengan subharaknoid dan intracerebral hematom adalah berkumpulnya darah pada jaringan serebral. Kematian pada cedera kepala banyak disebabkan karena hipotensi karena gangguan pada autoregulasi. Ketika terjadi gangguan aoutoregulasi akan menimbulkan hipoperfusi jaringan serebral dan berakhir pada iskemia jaringan otak, karena otak sangat sensitive terhadap oksigen dan glukosa. a. Autoregulasi Autoregulasi dimaksud adanya kemampuan pembuluh darah serebral untuk menyesuiakan lumennya pada ruang lingkup sedemikian rupa, sehingga aliran darah ke otak tidak banyak berubah, walaupun tekanan darah arteriil sistemik mengalami fluktuasi. Penurunan tekanan darah sistemik sampai mencapai 50 mmHg masih dapat diatasi oleh fungsi autoregulasi serebral ini, tanpa menimbulkan gangguan aliran darah regional. Beberapa teori tentang dasar dari mekanisme autoregulasi adalah : 1) Teori Miogenik Kenaikan tekanan darah arteriil sistemik akan mendorong pembuluh darah untuk berkontraksi sehingga terjadi kenaikan resistensi vaskuler, dan lebih lanjut mengakibatkan penurunan alirah darah sampai ke batas normal. Demikian pula sebaliknya, penurunan tekanan darah arteriil sistemik akan mengakibatkan relaksasi dinding pembuluh darah serebral, sehingga terjadi penurunan resistensi vaskuler. 2) Teori Neurogenik Teori ini didasarkan adanya serabut-serabut saraf perivaskuler yang menyertai pemuluh darah serebral. Pusat yang sensitif terhadap CO2 terdapat di batang otak dan pengaturan resistensi pembuluh darah serebral melalui mekanisme neurogenik. 3) Teori Metabolik Dasar hipotesa adalah arteri mempunyai kemampuan sebagai elektroda terhadap tekanan CO2 (PCO2). Disamping itu : CO2 dapat berdifusi secara bebas

melalui membran pembuluh darah, sedangkan ion Hidrogen dan Bikarbonat tidak. pH di sekitar dan di dalam sel otot polos dipengaruhi oleh ion Bikarbonat ekstravaskuler dan Karbondioksida intravaskuler. Perubahan akut dari PCO2 arteri akan mengakibatkan perubahan pH secara mencolok dan selanjutnya memacu penyesuaian dari aliran darah otak. Apabila kondisi PCO2 ini tetap, pH cairan ekstravaskuler lambat laun akan berubah ke arah normal melalui proses transport aktif dari sel glia, sampai pH terkoreksi sesuai kondisi reseptor pH pembuluh darah dan resistensi pembuluh serebral kembali normal. Apabila PCO2 kemmudian kembali ke nilai normal, aliran darah akan berubah ke arah yang berlawanan sedemikian rupa sampai koreksi ke arah kebalikan di atas selesai. b. Gangguan autoregulasi Pada CO terdapat perbedaan mengenai waktu terjadinya berat atau besarnya gangguan autoregulasi. Banyaknya percobaan-percobaan yang telah dilakukan tetapi hasilnya tidak sama, seperti terurai di bawah ini : 1) Waktu terjadinya gangguan autoregulasi dapat berlangsung dalam beberapa detik, beberapa menit dan beberapa jam. 2) Beratnya gangguan autoregulasi tergantung dari beratnya CO. Pada CO sedang terjadi kerusakan autoregulasi yang tidak seberapa sedangkan pada CO berat (GCS < 8), besarnya kerusakan pada autoregulasi dapat mencapai 31%. c. Aliran Darah Otak (ADO) ADO normal : 50 160 ml/menit. Otak manusia mendapat aliran darah dari pembuluh darah utama, yakni dari arteri karotis komunis kanan dan kiri, dan arteri vertebralis. Kedua pembuluh darah tersebut berhubungan dengan satu dengan yang lainnya sehingga merupakan satu kesatuan. Bila terdapat gangguan pada salah satu pembuluh darah, fungsinya dapat diganti atau diambil alih oleh pembuluh darah yang lain sehingga kebutuhan darah otak dapat dipenuhi, tetapi bila gangguan sangat berat, kompensasi aliran darah tidak mencukupi sehingga terjadi gangguan fungsi dan kerusakan anatomi otak. ADO dapat diukur dengan berbagai cara, yakni dengan PET (Positron Emission Tomography), NMR (Nuclear Magnetic Resonance), Xenon Clearance and

Hagen Poiseule). Dalam jaringan otak normal terdapat suatu sistem yang mengatur aliran darah dengan mengubah besar kecilnya diameter pembuluh darah sehingga kebutuhan darah, oksigen dan glukose untuk otak dapat dipenuhi. Sistem ini disebut autoregulasi pembuluh darah otak. d. Energi Energi dibutuhkan untuk melaksanakan fungsi otak (lihat gambar).
Glukose CO2 CO2 Laktat, Pirufat

ARTERI

ADO = 15% 20% CURAH JANTUNG CMRO2 = 20% 25% KEBUTUHAN O2 TUBUH ENERGI

VENA YUGULAR

TRANSPORT AKTIF MEMBRAN FLUK (Na+, K+) TRANSPORT INTRASELULER MEMBUNGKUS TRANSMITER

BIOSINTESIS ENSIM TRANSMITER KESATUAN BENTUK

Besarnya kebutuhan energi otak ini disebabkan oleh karena beberapa hal yaitu : 1) Otak tidak mempunyai simpanan O2 atau hanya sangat minim. Bila suplai O2 terhenti, otak hanya dapat bertahan selama 3 menit. 2) Otak memerlukan energi tinggi dan energi hanya didapat dari luar (bahan eksogen), sehingga bila terjadi kekurangan sumber energi dari luar akan berakibat terjadinya gangguan fungsi otak. 3) Dalam keadaan istirahat (resting) semua kapiler pembuluh darah otak hampir terbuka maksimal sehingga untuk penambahan isi dalam kenyataannya tidak dimungkinkan lagi. Gangguan ADO pada CO dapat berupa gangguan pada autoregulasi, gangguan aliran akibat spasme/konstriksi, dan hipoksemia.

Pathway Patofisiologi Cidera Kepala

5. Mekanisme Cedera Cedera kepala disebabkan karena adanya daya atau kekuatan yang mendadak dikepala. Ada tiga mekanisme yang berpengaruh dalam trauma kepala yaitu : Akselerasi, Deselerasi, dan Deformitas. Akselerasi yaitu jika benda bergerak membentur kepala yang diam, misalnya pada orang yang diam kemudian dipukul atau terlempar batu. Deselerasi yaitu jika kepala bergerak membentur benda yang diam, misalnya pada saat kepala terbentur. Deformitas adalah perubahan atau kerusakan pada bagian tubuh yang terjadi akibat trauma, misalnya adanya fraktur kepala, kompresi, ketegangan atau pemotongan pada jaringan otak. Pada saat terjadi deselerasi ada kemungkinan terjadi rotasi kepala sehingga dapat menambah kerusakan. Mekanisme cedera kepala dapat mengakibatkan kerusakan pada daerah dekat benturan (kup) dan kerusakan pada daerah yang berlawanan dengan benturan (kontra kup).

6. Klasifikasi Cedera Kepala a. Berdasarkan kerusakan jaringan otak 1) Komosio Serebri (gegar otak) Gangguan fungsi neurologi ringan tanpa adanya kerusakan struktur otak, terjadi hilangnya kesadaran kurang dari sepuluh menit atau tanpa disertai amnesia retrograde, mual, muntah, dan nyeri kepala. 2) Kontusio Serbri (memar) Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan jaringan otak tetapi kontinuitas otak masih utuh, hilangnya kesadaran lebih dari 10 menit. 3) Laserasio Serebri Gangguan fungsi neurologi disertai kerusakan otak yang berat dengan fraktur tengkorak terbuka. Masa otak terkelupas keluar dari rongga intra cranial. b. Berdasarkan berat ringannya cedera kepala 1) Cedera Kepala Ringan Jika GCS antara 15-13, dapat terjadi kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit, tidak terdapat fraktur tengkorak, kontusio atau hematom. 2) Cedera Kepala Sedang

Jika nilai GCS antara 9-12, hilang kesadaran antara 30 menit sampai dengan 24 jam, dapat disertai fraktur tengkorak, disorientasi ringan. 3) Cedera Kepala Berat Jika GCS antara 3-8, hilang kesadaran lebih dari 24 jam, biasanya disertai kontusio, laserasi, atau adanya hematom, cedera serebral.

7. Komplikasi Komplikasi yang mungkin terjadi pada cedera kepala diantaranya : a. Defisit Neurologi Fokal b. Kejang c. Pneumonia d. Perdarahan Gastrointestinal e. Disritmia Jantung f. Syndrom Of Inappropriate Secretion Of Antidiuretic Hormone (SIADH) g. Hidrosefalus h. Kerusakan Kontrol Respirasi i. Inkontinensia Bladder dan Bowel j. Infeksi k. Hipovelemik l. Hipertermia m. Bocornya cairan serebrospinal n. Masalah mobilisasi

8. Masalah Keperawatan yang mungkin muncul a. Gangguan perfusi jaringan serebra berhubungan dengan kerusakan aliaran darah otak sekunder edema serebri, hematom. Data pendukung : 1) Penurunan kesadaran. 2) Perubahan TTD. 3) Perubahan pola nafas, Bradikardia. 4) Nyeri kepala.

5) Mual dan muntah. 6) Kelemahan motorik. 7) Kerusakan pada nervus cranial III, IV, VI, VII, VIII. 8) Refleks patologis. 9) Perubahan nilai AGD. 10) Hasil pemeriksaan CT scan adanya edema serebri, hematom. 11) Pandangan kabur. b. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, control mekanisme ventilasi, komplikasi pada paru-paru. Data pendukung : 1) Pasien mengeluh sesak nafas atau kesulitan bernafas. 2) Frekuensi pernafasan lebih dari 20 x per menit. 3) Pola nafas tidak teratur. 4) Adanya cuping hidung. 5) Kelemahan otot-otot pernafasan. 6) Perubahan nilai AGD. c. Resiko deficit volume cairan berhubungan dengan terapi diuretic, pembatasan cairan. Data pendukung : 1) Adanya pembatasan cairan. 2) Penggunaan obat-obat diuretic. 3) Terdapat tanda-tanda kurang cairan : haus, turgor kulit kurang, mata cekung, kulit kering, mukosa mulut kering. 4) Ht meningkat. 5) Urin lebih pekat, BJ urin meningkat dan produksi berkurang. 6) Tekanan darah di bawah batas normal, nadi meningkat. 7) Intake dan Output cairan tidak seimbang. 8) Penurunan BB. d. Resiko injuri berhubungan dengan kerusakan persepsi sensori, gelisah, gangguan fungsi motorik, kejang. Data pendukung : 1) Kerusakan persepsi, orientasi pasien kurang.

2) Kesadaran menurun. 3) Gangguan fungsi motorik. 4) Kejang. e. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan neuromuskuler terapi bedrest, imobilisasi. Data pendukung : 1) Paresis atau Plegia. 2) Pasien bedrest. 3) Kontraktur. 4) Atropi. 5) Kekuatan otot kurang normal. 6) Ketidakmampuan melakukan ADL. f. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan kognitif, sensori. Data pendukung : 1) Disorientasi. 2) Ketidakmampuan menilai. g. Kurangnya perawatan diri berhubungan denga kerusakan kognitif, sensori kerusakan memori, paralisis, menurunnya neuromuskuler. Data pendukung : 1) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan ADL 2) Gangguan motorik dan sensorik 3) Kerusakan kognitif 4) Disorientasi 5) Bedrest

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, M. 2002. Peranan oksigen reaktif pada cedera kepala berat pengaruhnya pada gangguan fungsi enzim akinitase dan kondisi asidosis primer otak, disertasi 2002 Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. 1997. Kumpulan Makalah Kursus Keperawatan Neurologi 22-26 September 1997. Jakarta : Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Muttaqin, Arif. . 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika Pierce, A Grace. & Neil R. Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta : Erlangga Satyanegara.2010. Ilmu Bedah saraf Satyanegara. Edisi IV. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Tarwoto, dkk. 2007. Keperawatan Medikal Bedah : Gangguan Sistem Persarafan, Cet.1. Jakarta : CV. Sagung Seto Umar Kasan, Sajid, D and A. Hafid. 1992. Patofisiologi cidera otak. Pada kongres Nasional III Ikatan Dokter Spesialis Anestesiologi Indonesia. Surabaya, 15 September

PAPER TINGKAT KESADARAN KASUS CEDERA KEPALA KELOMPOK 3 Di susun untuk memenuhi tugas Modul Persepsi Sensori

Oleh :

Ainur Rahmah Amalia Chandra Nur Utama Zuniati Maratul Hidayati Silvia Eva Dewi Moniken Jantika R Nisa Naelatul Izzah Ilham Nur Lutfi Ema Maulina

G2B009064 G2B009065 G2B009066 G2B009067 G2B009068 G2B009069 G2B009070 G2B009071 G2B009072

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011