Anda di halaman 1dari 29

EFISIENSI UNIT USAHA SYARIAH DENGAN METODE STOCHASTIC FRONTIER ANALYSIS (SFA) DERIVASI FUNGSI PROFIT DAN BOPO

Oleh : Novarini

Abstract This research performs efficiency measurement of Islamic Banking Units (Unit Usaha Syariah) of National Public Commercial Banks and National Private Commercial Banks by estimating banking profit function and Operating Expenses to Operating Income Ratio (BOPO). Theoretically, the maximum profit, which is essentially obtained from the input and output employed, can be measured by estimating the profit function. After getting the result of the profit function estimation, its error terms are calculated by using Stochastic Frontier Analysis (SFA). The outcome will then be able to describe the condition of Islamic Banking Units of National Public Commercial Banks and National Private Commercial Banks. The result of this research shows that the efficiency average of Islamic Banking Units of National Public Commercial Banks and National Private Commercial Banks measured by using SFA method and Operating Expenses to Operating Income Ratio taken from 2005 to 2007 is not significantly different. Keywords: Efficiency, Stochastic Frontier Analysis, Profit Function, Operating Expenses to Operating Income Ratio (BOPO)

1. Pendahuluan Perkembangan perbankan syariah dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang No. 7 tahun 1992 tentang perbankan yang diikuti dengan dikeluarkannya sejumlah ketentuan pelaksanaan dalam bentuk SK Direksi BI / Peraturan Bank Indonesia, telah memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut memberikan kesempatan yang luas untuk mengembangkan jaringan perbankan syariah antara lain melalui ijin pembukaan Kantor Cabang Syariah (KCS) oleh bank konvensional. Dengan kata lain, bank umum dapat menjalankan dua

kegiatan usaha, baik secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah. (Sudarsono, 2007, hal.34). Selain Undang-Undang No. 10 tahun 1998 tersebut, Bank Indonesia juga menerbitkan Peraturan Bank Indonesia No. 4 / I / PBI / 2002 tentang perubahan kegiatan usaha bank umum konvensional menjadi bank umum berdasarkan prinsip syariah dan pembukaan kantor bank berdasarkan prinsip syariah oleh bank umum konvensional. Dengan diterbitkannya peraturan tersebut, maka terjadi peningkatan jumlah bank yang melaksanakan prinsip syariah yang cukup signifikan khususnya dalam pembentukan Unit Usaha Syariah. Hal ini terlihat dari adanya peningkatan jumlah jaringan kantor Unit Usaha Syariah pada tabel 1.1 berikut. Tabel 1.1 Perkembangan Jaringan Kantor Unit Usaha Syariah Jaringan Kantor UUS KP/UUS KPO/KC KCP KK 6 25 0 0 8 42 6 0 15 56 18 0 19 86 48 1 20 97 59 6 25 109 55 6 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Sumber : Statistik Perbankan Syariah, 2002 dan 2007 Oleh karena jumlah jaringan kantor UUS lebih banyak daripada Bank Umum Syariah (BUS), maka penelitian ini lebih memfokuskan pada Unit Usaha Syariah. Namun oleh karena UUS yang dibentuk dari bank konvensional beragam, ada yang berasal dari BUPN, BUSN, BPD, dan Bank Asing, maka penelitian ini memperkecil sampel penelitian ini menjadi UUS dari BUPN dan BUMN. Selain adanya peningkatan dalam jumlah kantor yang beroperasi, juga terdapat peningkatan dalam total asset yang dimiliki oleh Unit Usaha Syariah tersebut. Peningkatan total asset tersebut dapat terlihat dari tabel 1.2 berikut.

Tabel 1.2 Jumlah Total Asset UUS (Jutaan Rp) UUS UUS BUPN BNI BRI BTN Total UUS BUSN IFI Danamon Bukopin BII Niaga Permata Total 147.430 1.192.848 1.225.878 620.839 831.882 313.082 4.331.959 131.515 1.502.406 1.579.640 587.849 1.804.214 1.010.379 6.616.003 179.272 2.584.085 1.997.329 1.028.893 2.838.875 1.816.490 10.444.944 5.092.205 2.106.137 291.662 7.490.004 5.671.916 3.717.637 1.311.550 10.701.103 8.108.166 4.627.976 2.428.096 15.164.238 2005 2006 2007

Sumber: Laporan Keuangan Publikasi, 2005 - 2007

Dari tabel 1.2 tersebut terlihat perkembangan total asset Unit Usaha Syariah BUPN dan BUSN selama periode 2005 2007. Dari tahun 2005 sampai tahun 2007, total asset UUS BUPN terus mengalami peningkatan. Hal yang sama juga terjadi pada UUS BUSN. Adanya peningkatan dalam total asset UUS BUPN dan UUS BUSN dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini, harus sesuai dengan tahap implementasi dan prioritas-prioritas yang diungkapkan dalam cetak biru perkembangan perbankan syariah oleh Bank Indonesia. Tahap implementasi dan prioritas inisiatif-inisiatif

dalam pengembangan perbankan syariah dibagi oleh Bank Indonesia menjadi tiga tahap, yaitu, Pertama Tahap I periode 2002-2004 meletakkan landasan yang kuat bagi pertumbuhan, Kedua Tahap II periode 2004-2008 memperkuat struktur industri perbankan syariah, Ketiga Tahap III periode 2008-2011 memenuhi standar keuangan dan kualitas pelayanan internasional. Tahap implementasi dan prioritas inisiatif-inisiatif pengembangan perbankan syariah. Selain menerbitkan cetak biru pengembangan perbankan syariah, Bank Indonesia juga menerbitkan program akselerasi pengembangan perbankan syariah pada tahun 2007. Tujuan dari program akselerasi pengembangan perbankan syariah tersebut adalah untuk mencapai share perbankan syariah sebesar 5% pada akhir tahun 2008 dengan tetap mempertahankan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap prinsip syariah. Dari uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dalam penelitian ini akan dianalisa kinerja Unit Usaha Syariah tersebut yang diukur dari efisiensi. Secara umum penelitian tentang efisiensi bank Islam mempunyai manfaat paling tidak karena 3 alasan (Molyneux, 2003) (dalam Heralina, hal. 10, 2005). 1. Peningkatan efisiensi biaya berarti pencapaian laba yang lebih tinggi dan memperbesar peluang untuk bertahan di pasar yang kompetitif. Hal ini penting bagi dunia perbankan Islam karena di pasar keuangan ini berhadapan langsung dengan lembaga keuangan konvensional. 2. Nasabah akan tertarik kepada harga yang lebih baik dan pelayanan yang berkualitas yang tentunya dihasilkan oleh operasional bank yang efisien. 3. Kesadaran akan hal-hal yang berhubungan dengan efisiensi akan memudahkan pembuat kebijakan untuk merumuskan kebijakan yang terkait dengan dunia perbankan sebagai suatu keseluruhan. Dari latar belakang yang telah dikemukakan tersebut, maka untuk menilai performance suatu bank salah satunya adalah dengan mengukur efisiensi bank. Penelitian mengenai efisiensi perbankan syariah di Indonesia, baik menggunakan metode parametrik dan non parametrik belum banyak dilakukan. Selama ini untuk mengevaluasi efisiensi operasional perbankan Islam di Indonesia, alat ukur yang biasa digunakan adalah rasio keuangan yaitu Biaya Operasional Pendapatan Operasional.

Perhitungan rasio keuangan sangat mudah diperoleh, berasal dari laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi. Konsep rasio keuangan menilai bahwa bank akan lebih efisien jika dapat menurunkan biaya operasionalnya. Namun, pengukuran efisiensi berdasarkan rasio keuangan memiliki kelemahan karena rasio keuangan seringkali sangat sulit diinterprestasi. Informasi yang diperoleh dari rasio keuangan dapat misleading. Pemotongan biaya tidak selallu berarti efisien. Pemotongan biaya seringkali berdampak pada kualitas produk dan jasa yang selanjutnya berdampak kepada pendapatan. Berdasarkan uraian diatas, maka perumusan masalahnya adalah Unit Usaha Syariah baik dari Bank Umum Pemerintah Nasional maupun dari Bank Umum Swasta Nasional terus mengalami peningkatan total asset, sementara perkembangan tersebut harus sesuai dengan cetak biru perkembangan bank syariah, dimana bank syariah diharapkan juga mampu meningkatkan efisiensi, namun metode pengukuran efisiensi yang biasa digunakan (rasio keuangan) seringkali sangat sulit diinterprestasi dan terkadang informasi yang diperoleh misleading sehingga memerlukan adanya metode alternatif yang lebih baik untuk mengukur efisiensi tersebut. Konsep yang ditawarkan sebagai alternatif adalah suatu metode pengukuran efisiensi profit. Efisiensi profit dirumuskan sebagai hubungan antara profit, harga input dan kuantitas output. Efisiensi profit terjadi jika perusahaan mendapatkan profit optimum yang merupakan hasil dari produksi pada tingkat kuantitas output tertentu dari beberapa harga input. Efisiensi profit tersebut merupakan efisiensi alternatif profit yang menurut Berger dan Mester (1997) lebih baik dari efisiensi standard profit. Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. Bagaimana efisiensi Unit Usaha Syariah Bank Umum Pemerintah dan Bank Umum Swasta Nasional dengan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) derivasi fungsi profit dan BOPO? 2. Apakah terdapat perbedaan efisiensi antara Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dan Bank Umum Swasta Nasional periode 2005-

2007 dengan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA) derivasi fungsi profit? 3. Apakah terdapat perbedaan efisiensi antara Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dan Bank Umum Swasta Nasional periode 20052007 dengan metode BOPO? Berdasarkan pertanyaan penelitian di atas, maka dalam penelitian ini tujuan yang akan dicapai adalah sebagai berikut : 1. Melakukan pengukuran efisiensi Unit Usaha Syariah Bank Umum Pemerintah dan Bank Umum Swasta Nasional dengan metode SFA derivasi fungsi profit dan BOPO 2. Melakukan analisis apakah terdapat perbedaan efisiensi antara Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dan Bank Umum Swasta Nasional periode 2005-2007 dengan metode SFA 3. Melakukan analisis apakah terdapat perbedaan efisiensi antara Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dan Bank Umum Swasta Nasional periode 2005-2007 dengan BOPO Penelitian ini akan memberikan manfaat bagi para pengambil kebijakan dan pembuat kebijakan mengenai pengukuran efisiensi dalam perbankan syariah. Pengambil kebijakan tersebut adalah pihak manajemen bank dan pembuat kebijakan adalah Bank Indonesia. Dengan penelitian ini pengukuran efisiensi perbankan yang sudah ada saat ini dapat terus dikembangkan. Penelitian ini juga bermanfaat bagi peneliti untuk dapat menjelaskan teori yang sudah dipelajari diaplikasikan pada perbankan syariah. Agar pembahasan dalam tesis ini tidak terlalu luas dan fokus maka dalam tesis ini masalah akan dibatasi untuk hal berikut : a. Data yang digunakan dalam tesis ini adalah data kuartal dari Maret 2005 sampai Desember 2007. b. Data bank yang akan digunakan adalah 3 Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional yaitu PT. Bank Negara Indonesia, PT. Bank Rakyat Indonesia, dan Bank Tabungan Negara, serta 6 Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional yaitu PT. Bank IFI, PT. Bank Danamon,

PT. Bank Bukopin, PT. Bank Internasional Indonesia, PT. Bank Niaga, dan Bank Permata. c. Pengukuran efisiensi difokuskan pada pendekatan intermediasi dan dari sisi profit, sehingga pendekatan operasional dan asset tidak diperhitungkan, karena penelitian ini hanya melakukan pengukuran efisiensi Unit Usaha Syariah dengan pendekatan intermediasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur efisiensi Unit Usaha Syariah dan melakukan perbandingan skor efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dan Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional. Penelitian ini dimulai dengan membagi Unit Usaha Syariah menjadi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dan Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional. Kemudian dilihat indikator perkembangannya yaitu total asset. Berdasarkan data laporan keuangan publikasi dari Maret 2005 sampai Desember 2007, total asset UUS BUPN dan UUS BUSN terus mengalami peningkatan. Peningkatan total asset tersebut harus juga sesuai dengan blue print perkembangan perbankan syariah yaitu adanya peningkatan efisiensi. Sementara pengukuran efisiensi yang sudah diterapkan perbankan syariah adalah rasio keuangan BOPO, yang mana hasil pengukuran BOPO tersebut seringkali sangat sulit diinterprestasi Sehingga penelitian ini mengukur efisiensi

UUS BUPN dan UUS BUSN dengan menggunakan metode alternatif yaitu Stochastic Frontier Analysis (SFA) derivasi fungsi profit dan membandingkan skor efisiensi UUS BUPN dengan UUS BUSN dengan melakukan uji hipotesis menggunakan uji mean 2 sample. Berdasarkan kerangka pemikiran dan tujuan penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya untuk mengetahui efisiensi antara Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dan dari Bank Umum Swasta Nasional dari metode SFA derivasi fungsi profit dan BOPO, maka dalam hipotesis disusun pernyataan untuk membandingkan efisiensi masing-masing Unit Usaha Syariah. a. Metode SFA derivasi fungsi profit dengan penekanan intermediasi H0 : Rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional tidak berbeda dengan rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional

H1 : Rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional berbeda dengan rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional. b. Metode rasio keuangan BOPO H0 : Rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional tidak berbeda dengan rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional H1 : Rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional berbeda dengan rata-rata nilai efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji mean 2 sample. Hipotesis tersebut berdasarkan penelitian Astuti (2004), bahwa

berdasarkan struktur kepemilikan bank, terdapat perbedaan efisiensi antara bank persero atau bank umum pemerintah nasional dengan bank umum swasta nasional. Penelitian Jahja (1993) mengungkapkan bahwa rata-rata Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Pemerintah sejak tahun 1988 hingga 1992 pasca pakto 1988 berdasarkan uji hipotesisnya selalu diatas Bank Umum Swasta Nasional. Dua penelitian tersebut menggunakan data dari bank konvensional, maka dalam penelitian ini akan dibuktikan hasil yang telah didapat dari bank konvensional dengan Unit Usaha Syariah yang dimiliki oleh masing-masing dari bank konvensional tersebut.

2. Kajian Literature Dalam penelitian Berger dan Humphrey (1997) yang berjudul Efficiency of Financial Institutions : International Survey and Direction For Future Research , melakukan penelitian terhadap 130 penelitian sebelumnya yang menggunakan frontier efficiency analysis pada institusi keuangan di 21 negara. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengambil kesimpulan dan melakukan kritikan terhadap hasil empiris yang telah diperoleh pada penelitian sebelumnya. Tugas pertama dalam mengevaluasi kinerja dari institusi keuangan adalah memisahkan unit produksi yang mana dengan kinerja standard yang bagus dari kinerja yang kurang

bagus. Hal ini dilakukan dengan menerapkan non parametrik atau parametrik analisis frontier. Informasi yang diperoleh dapat digunakan antara lain : 1. Untuk kebijakan pemerintah dengan penilaian dampak dari deregulation, mergers, atau struktur pasar pada efisiensi. 2. Jalan bagi para peneliti dengan menggambarkan efisiensi suatu industri, rangking-rangking pada perusahaan, atau memeriksa bagaimana hubungan ukuran efisiensi terhadap perbedaan teknik efisiensi yang diterapkan. 3. Untuk memperbaiki kinerja manajer dengan mengidentifikasikan best practice dan worst practice dihubungkan dengan tinggi dan rendahnya pengukuran efisiensi, berturut-turut, dan yang mendorong para praktisi sementara tidak mendorong bagi yang terakhir. Analisis frontier merupakan metode yang cukup berpengalaman secara esensial. Analisis ini merupakan jalan menentukan benchmark kinerja relatif dari unit produksi. Menurut Berger dan Humphrey (1997), kekuatan dari analisis frontier adalah : 1. merupakan izin bagi para individu dengan pengetahuan institusi yang sangat kecil atau pengalaman untuk memilih perusahaan best practice dalam industri, memberikan nilai efisiensi secara angka, identifikasi area input yang lebih banyak digunakan atau output yang dibawah produksi secara lebar, dan hubungan hasil-hasil tersebut pada pertanyaan yang disampaikan oleh para pembuat kebijakan pemerintah atau peneliti akademis yang tertarik. 2. Dalam tangan dari para individu dengan latar belakang institusi yang cukup, analisis frontier mengizinkan manajemen secara objektif identifikasi area-area dari best practice dalam kompleks operasional jasa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa analisis frontier dapat membantu para pihak yang berkaitan dengan institusi keuangan yang memiliki pengetahuan yang tidak terlalu banyak mengenai keuangan tersebut dalam menilai institusi keuangan. Seperti yang telah disebutkan oleh Berger dan Humphrey (1997) sebelumnya, bahwa analisis frontier dibagi atas metode non parametrik dan parametrik dalam mengukur efisiensi institusi keuangan. Pada sub bab berikut ini dipaparkan secara sederhana dari dua metode pengukuran efisiensi tersebut. Pendekatan nonparametrik terbagi atas 2, yaitu Data Envelopment Analysis (DEA) dan Free

Disposal Hull (FDH).DEA adalah teknik program linear dimana set dari best practice atau frontier observation adalah untuk yang mana tidak ada yang lain unit pengambil keputusan atau decision making unit (DMU) atau kombinasi linear dari unit-unit yang dimiliki sebanyak atau lebih dari tiap output (input tetap) atau sedikit atau lebih kurang tiap input (output tetap). Frontier DEA merupakan kombinasi linear yang menghubungkan set dari best practice, sehingga menghasilkan sebuah bentuk sembung dari kurva produksi. Sehingga, DEA tidak memerlukan spesifikasi eksplisit dari bentuk hubungan produksi tersebut. Free Disposal Hull (FDH) adalah sebuah kasus spesial dari model DEA dimana point-point pada garis-garis yang berhubungan puncak DEA tidak dimasukkan dalam frontier. Sebaliknya, set kemungkinan produksi FDH adalah disusun hanya dari puncak DEA dan point FDH merupakan bagian dalam pada puncak tersebut. Oleh karena frontier FDH adalah bentuk sama yang lain dengan atau bagian dalam pada frontier DEA, FDH akan secara tipikal umunya lebih luas mengestimasi rata-rata efisiensi daripada DEA (Tulkens, 1993) (dalam Berger dan Humphrey ,hal.179, 1997). Pendekatan lain yang diizinkan untuk mengukur efisiensi berbagai macam selama ini dan membuat asumsi tidak ada lebih utama yang menjelaskan bentuk dari distribusi inefisiensi sepanjang observasi kecuali observasi tersebut tidak mendominasi adalah 100% efisien. Menurut Berger dan Humphrey (1997),

kunci dari pendekatan non parametrik tersebut adalah secara umum diasumsikan tidak ada random error. Pendekatan non parametrik diasumsikan menjadi pertama, tidak ada pengukuran error dalam membangun frontier, kedua, tidak ada keuntungan bahwa untuk sementara waktu memberi DMU lebih bagus kinerja yang diukur satu tahun sebelum berikutnya, dan ketiga, tidak ada ketidaksamaan yang dihasilkan dengan peraturan akuntansi yang mana akan membuat pengukuran output dan input terpisah dari output dan input ekonomi. Pada metode parametrik ini terdapat tiga pendekatan utama, yaitu Stochastic Frontier Analysis (SFA), Distribution Free Approach (DFA), dan Thick Frontier Approach (TFA). SFA, kadang-kadang juga dijelaskan sebagai pendekatan frontier ekonomi, spesifik sebuah bentuk fungsi dari cost, profit, atau hubungan produksi sejumlah input, output, dan faktor lingkungan, dan

memperhitungkan random error. SFA disusun dari model error dimana inefisiensi diasumsikan untuk mengikuti asimetri distribusi, biasanya half-normal, sementara random error mengikuti simetris distribusi, biasanya standard normal. Ilmu mantiknya adalah bahwa inefisiensi harus memiliki truncated distribusi karena inefisiensi tidak bisa menjadi negatif. Inefisiensi dan error diasumsikan menjadi orthogonal pada input, output, dan variabel lingkungan dispesifik dalam persamaan estimasi. Inefisiensi yang diestimasi untuk berbagai perusahaan diambil dari rata-rata kondisi atau model dari distribusi inefisiensi, memberikan observasi error term.(Berger dan Humphrey, hal.178,1997). Asumsi half-normal untuk distribusi inefisiensi secara relatif tidak fleksibel dan memperkirakan bahwa kebanyakan perusahaan yang dikelompokkan mendekati efisiensi penuh. Dalam prakteknya, meskipun, distribusi yang lain mungkin lebih tepat (Greene, 1990). Beberapa penelitian institusi keuangan telah menemukan bahwa secara spesifik lebih umum distribusi truncated normal untuk inefisiensi menghasilkan minor, tetapi signifikan secara statistik, hasil yang berbeda dari kasus khusus pada half-normal (Berger dan De Young, 1997). (Berger dan Humphrey, hal. 178, 1997). Walaupun demikian, metode ini yang memperhitungkan untuk asumsi secara fleksibel distribusi dari inefisiensi membuat kesulitan dalam memisahkan inefisiensi dari random error dalam kerangka susunan error, semenjak truncated normal dan gamma distribusi mungkin dekat dengan distibusi simetris normal yang diasumsikan untuk random error. (Berger dan Humphrey, 1997) Sementara, DFA juga spesifik sebuah bentuk fungsi untuk frontier, tetapi memisahkan inefisiensi dari random error dalam bentuk yang berbeda. Tidak seperti SFA, DFA membuat tidak kuat asumsi yang menjelaskan spesifik distribusi dari inefisiensi atau random error. Sebaliknya, DFA mengasumsikan bahwa efisiensi tiap perusahaan adalah stabil sepanjang waktu, dimana random error cenderung rata-rata menjadi nol sepanjang waktu. Estimasi dari inefisiensi untuk masing-masing perusahaan dalam set panel data adalah kemudian tergantung pada perbedaan antara rata-rata residual dan rata-rata residual dari perusahaan yang berada pada frontier, dengan beberapa perhitungan random error adalah nol. Dengan DFA, inefisiensi dapat mengikuti

hampir semua distribusi, meskipun satu secara fair mendekati simetris, sepanjang inefisiensi tidak negatif. (Berger dan Humphrey, hal.178, 1997). Terakhir, TFA merupakan spesifik dari bentuk fungsi dan asumsi jarak kinerja yang diprediksi dengan yang tertinggi dan terendah kinerjanya mewakili random error, sementara jarak dalam kinerja yang diprediksi antara yang tertinggi dan terendah mewakili inefisiensi. Pendekatan ini mengesankan tidak ada asumsi distribusi pada inefisiensi yang lain atau random error kecuali mengasumsi bahwa inefisiensi berbeda antara yang tertinggi dan terendah quartiles dan bahwa random error tetap dalam quartiles ini. TFA tidak mengemukakan point estimasi dari efisiensi untuk perusahaan individu tetapi merupakan yang diharapkan meskipun untuk mengemukakan sebuah estimasi dari level umum pada efisiensi secara keseluruhan. TFA mengurangi dampak dari point yang ekstrem pada data, sebagaiman DFA ketika rata-rata residual ekstrem saling berpotongan. (Berger dan Humphrey, 179, 1997). Dari kelima metode tersebut, maka hasil penelitian Berger dan Humphrey (1997), menunjukkan bahwa estimasi efisiensi dari nonparametrik (DEA dan FDH) yang diteliti adalah sama hasilnya dengan menggunakan model parametrik (SFA, DFA, dan TFA), tetapi hasil dari non parametrik sedikit lebih rendah ratarata estimasi efisiensi dan rupa-rupanya untuk memiliki lebih besar penyebaran daripada hasil dari model parametrik. Adanya persamaan dalam rata-rata efisiensi untuk perusahaan dengan metode efisiensi yang berbeda, walau bagaimanapun, tidak secara kuat membawa lebih rangking-rangking dari perusahaan individu dengan nilai efisiensi yang dimiliki sepanjang model yang digunakan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Berger dan Humphrey juga tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh Heralina (2005). Heralina (2005) melakukan penelitian tentang efisiensi perbankan syariah di Indonesia dengan menggunakan model SFA dan DFA. Hasil penelitian Heralina menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan hasil dari perhitungan dengan menggunakan SFA dan DFA dalam mengestimasi efisiensi. Selain Heralina (2005), juga penelitian yang dilakukan oleh Berger dan Mester (1997), Astiyah dan Husman (2005), Hassan (2005), Hussein (2004), Ascarya et.al (2008) Sementara penelitian sebelumnya yang

berkaitan dengan rasio keuangan BOPO antara lain adalah penelitian yang telah dilakukan oleh Mediadianto (2007), dan Septrina (2007). Hasil penelitian Mediadianto (2007) yang membandingkan efisiensi Bank Umum Syariah dan Bank Umum Konvensional di Indonesia dari triwulan IV 2005 sampai triwulan III 2006, menunjukkan bahwa efisiensi yang diukur dengan pendekatan DEA dan BOPO, memiliki pergerakan skor yang konsisten. Hal tersebut disebabkan oleh variabel yang digunakan dalam DEA merupakan rincian dari variabel perhitungan rasio keuangan. Sebagai contoh biaya operasional, biaya personalia, dan biaya operasional lainnya dalam perhitungan DEA merupakan rincian dari total biaya operasional yang digunakan dalam perhitungan BOPO. Sementara, hasil skor efisiensi DEA ternyata berdasarkan penelitian Medidianto (2007) berbeda dengan rasio keuangan. Bank syariah memiliki skor efisiensi DEA yang lebih baik daripada bank konvensional, baik dengan pendekatan aset dan produksi. Namun hal yang berbeda dengan rasio keuangan BOPO, dimana rata-rata skor BOPO bank konvensional selalu lebih baik daripada bank syariah. Hal ini menurut Mediadianto (2007) disebabkan oleh adanya perbedaan interprestasi atas kedua metode tersebut. DEA menunjukkan seberapa tingkat turnover suatu bank dari variabel input dan output yang dimiliki. Sedangkan rasio keuangan menunjukkan seberapa besar tingkat return suatu bank yang diwakili dari variabel input dan output yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian Septrina (2007), yang melakukan

perbandingan tingkat efisiensi biaya dengan metode stochastic frontier dengan nilai BOPO pada studi kasus Bank Syariah Mandiri dan Bank Muamalat Indonesia periode Juni 2001 Desember 2005, menunjukkan bahwa nilai rata-rata BOPO antara kedua bank tersebut sama secara signifikan pada taraf kepercayaan 95%. Begitu pula halnya dengan nilai rata-rata efisiensi biaya metode stochastic frontier dengan nilai rata-rata BOPO pada kedua bank syariah tersebut adalah sama secara signifikan pada taraf kepercayaan.

3. Metodologi Penelitian dan Data 3.1 Data dan Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah data sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa Laporan Keuangan Publikasi yang diterbitkan di media massa, website masing-masing bank, dan website dari Bank Indonesia. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Data kunatitatif adalah data dalam bentuk angka yakni dalam bentuk Laporan Keuangan. Dalam penelitian ini data yang diambil untuk Unit Usaha Syariah adalah posisi Piutang Murabahah sebagai output pertama, dan Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah sebagai output kedua. Biaya personalia dan Bagi Hasil sebagai harga input. Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional sebagai item perhitungan rasio BOPO. Satuan yang digunakan adalah jutaan rupiah. Sampel data yang digunakan bersumber dari data laporan keuangan publikasi triwulanan dari Maret 2005 sampai dengan Desember 2007. Variabel yang digunakan sebagai dependent variabel adalah Total Profit yang dilambangkan sebagai yaitu merupakan profit tahun berjalan dari laporan keuangan Unit Usaha Syariah. Independent variabel terdiri dari variabel kuantitas output dan harga input. Variabel kuantitas output terdiri dari piutang jual beli (Q1) dan pembiayaan bagi hasil (Q2) sedangkan variabel harga input terdiri dari harga dana (P1) dan harga tenaga kerja (P2). Variabel Q1 merupakan jumlah piutang murabahah, Q2 merupakan jumlah pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Sementara variabel P1 merupakan hasil bagi antara bagi hasil dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terdiri dari giro, tabungan, dan deposito. Untuk variabel P2 merupakan hasil dari biaya personalia dibagi dengan total aktiva. Tabel 3.1 menampilkan daftar variabel yang digunakan.

Tabel 3.1 Daftar Variabel Variabel Variabel dependent (total keuntungan) Kuantitas Output Q1 Q2 Harga Input P1 (harga dana) Bagi hasil dibagi dengan total dana pihak ketiga (giro, tabungan, deposito) P2 (Price of labor) Biaya personalia dibagi dengan total aktiva Neraca & Lap. Laba rugi Neraca & Lap. Laba rugi Piutang Jual Beli Pembiayaan Bagi Hasil Neraca Neraca Laba/rugi tahun berjalan Lap. Laba rugi Definisi Sumber

Statistika deskriptif dari variabel yang digunakan ditampilkan pada tabel 3.2 Tabel 3.2 Statistika Deskriptif Variabel-Variabel Fungsi Profit Mean P1 P2 Q1 Q2 (558.843) 0.058531 0.0322 293,769.1204 66,570.8796 Median 2,453 0.0585 0.0248 170,537.5 38,020 Maximum 25,999 0.1311 0.2804 1,476,794 270,537 Minimum (56,466) 0.0024 0.0044 1 1 Std.Dev 16038.2739 0.0250 0.0315 320,121.9663 71,162.6661

Sumber : Data Laporan Keuangan Bank (Diolah dengan Microsoft Excel), lihat Lampiran 1

Keterangan : P1 P2 Q1 Q2 Total keuntungan (Juta Rupiah) Harga Dana (%) Harga Tenaga Kerja (%) Piutang Jual Beli (Juta Rupiah) Pembiayaan Bagi Hasil (Juta Rupiah)

Untuk pengolahan selanjutnya, sesuai dengan persamaam fungsi profit, variabel total profit (), variabel input (P1 dan P2), dan variabel output (Q1 dan Q2) ditransformasi menjadi bentuk logarithma natural pada tabel berikut (Tabel 3.3). Tabel 3.3 Transformasi Variabel ke dalam bentuk Logarithma ln Mean Median Maximu m Minimum 0 Std.Dev 3.9416 (6.0323) 0.6271 (2.2547) (5.4262) 0.6397 0.3934 7.6862 1.40383348 7.75319427 1.139500821 5.7333 7.8013 10.1659 lnP1 (2.9740) (2.8396) (2.0318) lnP2 (3.6663) (3.6956) (1.2715) lnQ1 11.9142 12.0915 14.2054 lnQ2 10.72043321 10.83540196 12.50816415

Skewness (0.6815)

0.800844426 0.423589183 Kurtosis (1.3721) 7.0988 1.6539 0.327429723 0.433631118


Sumber: Data Laporan Keuangan Bank (Diolah dengan Microsoft Excel), lihat Lampiran 1

3.2 Metodologi Secara umum ada 3 pendekatan konsep dasar model efisiensi sektor finansial (perbankan) yaitu cost efficiency, standard profit efficiency, dan alternatif profit efficiency (Berger dan Mester (1997)). Oleh karena pada bab 2 sudah diuraikan

penelitian-penelitian yang berkaitan dengan konsep efisiensi tersebut, sehingga dalam penelitian ini untuk mengukur efisiensi Unit Usaha Syariah menggunakan konsep alternative profit efficiency. Pendekatan profit efficiency secara konsep ekonomi jauh lebih baik dibandingkan dengan pendekatan cost efficiency (Berger dan Mester (2007)) dan juga hal ini sejalan dengan pendapat Hadad et.al (2003), bahwa Hadad et.al setuju dengan pendapat Berger dan Mester (2007) tentang konsep efisiensi keuntungan adalah superior terhadap efisiensi biaya untuk mengevaluasi keseluruhan performance dari sebuah perusahaan dan menyarankan sebuah model efisiensi keuntungan. (Astiyah dan Husman (2005)). Berdasarkan penelitian Astiyah dan Husman (2005), bahwa dalam pendekatan alternative profit efficiency bank akan memaksimalkan keuntungan dengan memilih harga output, p, dan jumlah input, x, untuk sejumlah output, y, dan harga input, r, yang telah ditetapkan. Fungsi indirect profit yang sesuai disebut sebagai fungsi indirect profit alternatif yang merupakan solusi dari masalah optimasi berikut : Max = PQ = (p,r)(y,-x)
p,x

s.t g(p,y,r,z) = 0 h(y,x) = 0

(3.1)

di mana g(p,y,r,z) merupakan pricing opportunity set yang dimiliki oleh bank dalam mentransformasikan y,r,z menjadi harga output. Vektor z terdiri dari faktorfaktor yang mempengaruhi profitabilitas yang tercermin dari antara lain NIM dan loan/asset ratio. Fungsi indirect profit yang terkait didapatkan dari hasil penyelesaian metode Lagrangian yang memberikan harga output optimum p = p(y,r,z) dan jumlah input x = x(y,r). Sehingga fungsi indirect profit alternative yang didapat adalah : = PQ = [p(y,r,z),r][y,-x(y,r)] = (y,r,z) ln = (w,y) + lnu + lnv ALTEFFb = b = exp[ (wb,pb) + ln(b)] = b max exp[ (wb,pb) + ln(max)] max Menurut Berger dan Mester (1997) , pendekatan alternative profit efficiency digunakan jika terdapat minimal salah satu dari 4 (empat) kondisi berikut : (3.2)

Sejalan dengan hal tersebut, misalkan fungsi alternatif profit sebagai berikut : (3.3)

maka alternative profit efficiency dapat dipresentasikan sebagai berikut : (3.4)

1. Ada perbedaan kualitas output yang tidak tercakup dalam model dan perbedaan dalam banking services yang tidak dapat diukur. 2. Tingkat output tidak sama (output are not completely variable), misal antara bank kecil dengan bank besar. 3. Sifat/jenis pasar perbankan yang ada tidak bersifat persaingan sempurna (not perfectly competitive). 4. Data mengenai harga output kemungkinan tidak akurat. Fungsi profit yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi profit translog. Fungsi translog adalah suatu fungsi yang fleksibel mengikuti populasi data yang digunakan. Fungsi translog pertama kali diperkenalkan oleh Christensen, Jorgenson, dan Lau (1971) (dalam Heralina, hal.45,2005), dan sejak itu telah seringkali diaplikasikan dalam banyak literature untuk mengestimasi biaya dan profit bank. Perhitungan efisiensi Unit Usaha Syariah dari sisi profit ini menggunakan metode stochastic frontier analysis (SFA) yang menghitung deviasi dari fungsi profit, yang diestimasi terlebih dahulu, dengan profit frontiernya. Penelitian ini menggunakan pendekatan alternatif profit efficiency untuk mengestimasi efisiensi profit Unit Usaha Syariah. Dalam model profit efficiency, profit pada dasarnya diderivasi dari maksimum revenue karena diasumsikan bahwa telah dicapai biaya minimum sehingga dengan maksimum revenue akan diperoleh maksimum profit. Hal ini menggambarkan konsep inefisiensi yang diderivasi dari fungsi profit (selanjutnya disebut efisiensi profit). Sehingga efisiensi profit secara umum dapat dinyatakan sebagai keuntungan aktual dibandingkan dengan keuntungan maksimum yang seharusnya dapat dicapai oleh suatu bank, sehingga makin kecil dari 1 nilai efisiensi profit yang dihasilkan berarti makin tidak efisien. Fungsi translog, berdasarkan pengujian Guilkey et.al (1983) (dalam Heralina, hal.45,2005), disimpulkan sebagai fungsi yang handal untuk mengikuti pola data yang diuji. Penggunaan fungsi translog dalam penelitian ini adalah untuk mengestimasi fungsi profit dengan menggunakan data laporan keuangan Unit Usaha Syariah di Indonesia. Bentuk fungsi translog dalam penelitian ini

adalah fungsi alternatif profit dengan menggunakan 2 variabel input dan 2 variabel output adalah sebagai berikut :
2 2 2 2

ln (+a) = 0 + i ln Qi + j ln Pj + ij ln Qi ln Qj +
i=1 j=1 i=1 j=1

ij ln Pi ln Pj + ij ln Qi ln Pj + ln ua + ln va
i=1 j=1 i=1 j=1

(3.5)

Dimana : = total keuntungan Output Unit Usaha Syariah yang dievaluasi : Q1 = Nilai buku piutang murabahah Q2 = Nilai buku pembiayaan mudharabah dan musyarakah Dua harga input : P1 = Harga Dana (Bagi Hasil dibagi Total Dana Pihak Ketiga) P2 = Harga Tenaga Kerja (Biaya Personalia diabagi Total Aktiva) u dan v = error , i, ij, k, ik, r : parameter yang diestimasi a = Variabel profit untuk setiap sample dalam observasi seringkali ditambah suatu konstanta seperti misalnya (()min|+1) agar profit tidak pernah menjadi negative sehingga dapat memiliki bentuk natural logarithm.(Berger dan Mester ,1997, Vander Vennet, 2002, Maudos et.al, 2002)(dalam Bos dan Koetter, 2006). Dengan memperoleh estimasi untuk setiap parameter, maka dapat diperoleh nilai dugaan dari profit untuk masing-masing bank. Di samping itu dapat diperoleh pula error term dari masing-masing pendugaan. Efisiensi profit dihitung berdasarkan error term dari masing-masing pendugaan dengan metode Stochastic Frontier Analysis (SFA).

Stochastic Frontier Analysis (SFA) Pada metode SFA, profit dari suatu bank dimodelkan untuk terdeviasi dari profit efficient frontier-nya akibat adanya random noise dan inefisiensi. Fungsi

alternative stochastic frontier yang digunakan dalam penelitian ini memiliki bentuk umum (log) pada persamaan (3.6) berikut ini. ln = (ln pj,n , ln qi,n ) + n (3.6)

dimana qi,n merupakan kuantitas output i pada bank n dan pj,n merupakan harga input j pada bank n. Error term, n, dari kedua fungsi ini terdiri dari dua komponen yang terlihat pada persamaan (3.7) berikut ini. n = un + vn Dimana : un = faktor acak yang dapat dikendalikan (inefisiensi) vn = faktor acak yang tidak dapat dikendalikan Asumsi yang digunakan pada persamaan (3.7) adalah : un ~ iid | N (0,u2) | vn ~ iid N(0,v2) un dan vn berdistribusi secara independent satu sama lain juga terhadap variabel independent. Dengan ketiga asumsi diatas, sesuai dengan persamaan distribusi normal dapat diturunkan fungsi densitas dari un 0 sebagai berikut : u2 (3.7)

f(u) =

exp. _

(3.8)

2 u

22u

Sedangkan fungsi densitas dari v adalah : f(v) = 2 exp. _ v2 (3.9) 2 v 22v

Analisis dari SFA didasarkan pada sebuah alternatif profit frontier, yang dapat diekspresikan dalam bentuk persamaan berikut (Kumbhakar et.al, 2000 dan Aigner et.al, 1977) : Ei = (yi,wi,) Dimana : Ei = wi T xi = nwi xi = pengeluaran yang dilakukan oleh bank ke-i yi = (yli, ... , ymi) = 0 : vektor dari kuantitas output yang diproduksi oleh bank ke-i. i = 1,2,3,...,N (3.10)

wi = (wli , ... , wni ) > 0 (yi,wi,)

: vektor harga input yang dihadapi oleh bank ke-i : profit frontier yang berlaku umum untuk semua bank : vektor dari parameter yang harus diestimasi

Misalnya PEi adalah efisiensi profit dari bank ke-i, maka dari persamaan (3.11) dapat diketahui bahwa : PEi = (yi,wi,) Ei Persamaan (3.11) mendefinisikan efisiensi profit sebagai rasio dari profit maksimum yang mungkin terhadap profit sebenarnya. Nilai PEi = 1. Semakin kecil nilai dari PEi menunjukkan bahwa bank yang bersangkutan semakin tidak efisien. Pada persamaan (3.11) profit frontier (yi,wi,) bersifat deterministik. Formulasi deterministik yang demikian mengabaikan fakta bahwa profit mungkin dipengaruhi oleh gangguan acak (random shock) yang tidak dapat dikendalikan oleh bank. Stochastic profit frontier dapat dituliskan sebagai : Ei = (yi,wi,).exp {vi} Dimana : [ (yi,wi,).exp {vi}] adalah stochastic profit frontier Stochastic profit frontier terdiri dari dua bagian, yaitu bagian deterministik (yi,wi,) yang berlaku sama untuk semua bank dan bagian acak exp {vi}yang berlaku khusus untuk masing-masing bank. Jika profit frontier bersifat stochastic, ukuran yang tepat untuk efisiensi profit adalah (Berger dan Mester, 1997) : PEi = Ei [ (yi,wi,).exp {vi}] Persamaan (3.13) mendefinisikan efisiensi alternatif profit sebagai rasio keuntungan sesungguhnya terhadap keuntungan maksimum yang dapat dicapai dalam lingkungan yang dikarakteristikkan dengan exp [vi]. Nilai PEi = 1. (3.13) (3.12)

(3.11)

Sehingga makin kecil dari 1 nilai efisiensi profit yang dihasilkan berarti makin tidak efisien. Model dasar pada pendekatan ini mengasumsikan bahwa profit total yang dihasilkan oleh sebuah bank berbeda dari profit optimal karena adanya random noise vn dan komponen inefisiensi un. un dan vn berdistribusi secara independent dan identik satu sama lain dan juga terhadap variabel-variabel independentnya. Fungsi densitas marjinal (Kwan, 1996) dari = u + v adalah : f () = 0 f(u,) u

= 0

2 2 uv

exp - u2 _ ( - u )2 2u2 . 2v2

= 2 .

dimana : = (u2 + v2)1/2 = u v . = standard normal cumulative distribution . = fungsi densitas normal Fungsi densitas marjinal f() merupakan fungsi yang berdistribusi secara asimetris (Kwan, 1996) dengan nilai tengah (mean) dan ragam (variance) sebagai berikut : E () = E (u) = u 2/ Var () = [( - 2) ] u2 + v2 (3.14) (3.15)

Melalui persamaan (3.14) dapat diestimasi nilai dari u. Setelah itu melalui persamaan (3.15) dapat diestimasi nilai dari v2. Estimasi dari nilai u merupakan kunci untuk memberikan nilai-nilai pada persamaan (3.16) yang digunakan untuk mengestimasi nilai dari u, yaitu error yang digunakan untuk mengukur efisiensi.

Inefisiensi diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut (Aigner et.al, 1977) : E (u|) = [ / (1 + 2)] [-(b / ) / (b / ) + (b / )]

(3.16)

Model panel data yang digunakan untuk mengestimasi fungsi profit adalah dengan menggunakan model fixed effect. Alasan digunakannya fixed effect adalah pertama, data yang digunakan tidak cukup untuk diestimasi dengan menggunakan model random effect. Jumlah observasi cross section harus lebih banyak dari jumlah variabel yang digunakan, jika menggunakan random effect. Nilai efisiensi dengan menggunakan metode SFA adalah dalam bentuk skor. Semakin mendekati nilai 1 menunjukkan bahwa suatu bank bertindak semakin efisien. Dalam setiap periodenya (dalam hal ini dalam setiap kuartal), dihasilkan nilai efisiensi yang relatif terhadap bank-bank yang termasuk dalam perhitungan. Artinya, ada satu bank yang bertindak paling efisien dalam setiap tahunnya dan efisiensi dari bank-bank lainnya yang terdapat dalam satu kategori diukur secara relatif terhadap bank tersebut. Bank yang paling efisien mempunyai nilai efisiensi tertinggi yaitu 1. Rasio Keuangan BOPO Rumus yang digunakan dalam perhitungan BOPO adalah sebagai berikut : BOPO = Biaya Operasi x 100% (3.17)

Pendapatan Operasi Besarnya rasio BOPO yang dapat ditolerir oleh perbankan di Indonesia adalah sebesar 93.52%, hal ini sejalan dengan ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Dari rasio ini dapat diketahui tingkat efisiensi kinerja manajemen suatu bank, jika angka rasio menunjukkan angka diatas 90% dan mendekati 100% ini berarti bahwa kinerja bank tersebut menunjukkan tingkat efisiensi yang sangat rendah. Tetapi jika rasio ini rendah, misalnya mendekati 75% ini berarti kinerja bank yang bersangkutan menunjukkan tingkat efisiensi yang tinggi.

Uji Mean Two Sample. Dalam melakukan uji hipotesis, penelitian ini menggunakan uji mean two sample. Uji mean two sample merupakan distrubusi sample untuk membedakan antara dua populasi. (Levin dan Rubin, hal. 454, 1978). Uji mean two sample yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji mean two sample untuk sampel yang berjumlah lebih dari 30, sehingga digunakan nilai z untuk melihat signifikan hasil hipotesis yang dilakukan. Oleh karena hipotesis dalam penelitian ini hanya untuk mengetahui tidak adanya perbedaan rata-rata atau adanya perbedaan rata-rata, maka uji mean two sample ini adalah uji two tailed. Oleh karena uji mean two sample ini merupakan uji two tailed, maka level signifikansi 0.05 dibagi dua menjadi 0.025. Sehingga daerah yang menerima H0 memiliki nilai sebesar 0.475. Oleh karena kedua sampel berukuran besar, maka penelitian ini menggunakan distribusi normal. Berdasarkan nilai z tabel, maka penelitian ini dapat menentukan critical value dari z untuk 0.475 area dibawah curve menjadi 1.96. Standar deviasi dari dua sampel tersebut belum diketahui, sehingga penelitian ini menggunakan persamaan (3.18) berikut. ^ x1-x2 = ^1 + ^2 n1 n2

(3.18)

Kemudian melakukan penghitungan nilai z dengan persamaan berikut z = (x1 x2) (1 - 2) H0 ^ x1-x2 Setelah mendapatkan nilai z hitung, kemudian dibandingkan dengan z tabel. Apabila z hitung lebih besar dari z tabel pada alfa signifikansi = 5%, maka H0 ditolak. Apabila z hitung lebih kecil dari z tabel, maka H0 diterima. (Levin dan Rubin, hal. 456-458, 1978).

(3.19)

5. Hasil Penelitian Hasil penelitian yang diperolah adalah bahwa hasil perhitungan skor efisiensi dengan metode Stochastic Frontier Analysis menunjukkan hasil bahwa sebahagian besar Unit Usaha Syariah tersebut belum efisien dari sisi profit yang

diperoleh. Hasil analisis menunjukkan bahwa selama periode Maret 2005 Desember 2007, skor efisiensi rata-rata Unit Usaha Syariah Bank Umum Pemerintah Nasional berkisar antara 0.00 0.201. Sementara skor efisiensi ratarata Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional berkisar antara 0.00 0.279. Skor tertinggi dicapai oleh Unit Usaha Syariah Bank Umum Pemerintah Nasional pada Desember 2005, dan September 2007 dan skor terendah pada Maret 2005 dan Juni 2005 . Sementara skor tertinggi yang dicapai oleh Unit Usaha Syariah Bank Umum Swasta Nasional pada Maret 2005, Juni 2005, September 2005, untuk semua kuartal pada tahun 2006, Maret 2007, Juni 2007, dan Desember 2007, sementara skor terendah adalah pada September 2005, Desember 2005, untuk semua kuartal tahun 2006, dan juga untuk tahun 2007. Dari analisa hasil penelitian terlihat bahwa penyebab tidak efisiennya suatu Unit Usaha Syariah adalah Pertama, dari sisi keuntungan atau kerugian yang diperoleh, karena pengukuran efisiensi metode SFA derivasi fungsi profit melihat efisiensi dari profit yang diperoleh Unit Usaha Syariah tersebut. Apabila input harga dananya lebih besar, harga tenaga kerjanya lebih kecil, piutang murabahah lebih besar, dan pembiayaan bagi hasil lebih besar, namun apabila mengalami kerugian, maka Unit Usaha Syariah tersebut akan menjadi Unit Usaha Syariah yang paling tidak efisien. Kedua, dari sisi harga input berupa harga tenaga kerja. Apabila harga tenaga kerjanya lebih kecil, harga dananya juga lebih kecil, namun dapat menghasilkan piutang murabahah lebih besar dari pembiayaan bagi hasil, maka Unit Usaha Syariah tersebut akan mengalami efisien. Perhitungan rasio BOPO menunjukkan bahwa rata-rata rasio BOPO yang diperoleh selama tahun 2005 sampai tahun 2007 adalah dari 48.5% sampai 388.5%. Untuk tahun 2006 dan 2007, rata-rata rasio BOPO Unit Usaha Syariah tersebut lebih rendah dari tahun 2005. Hal ini menunjukkan bahwa untuk tahun 2006 dan 2007,Unit Usaha Syariah berhasil mencapai efisiensi. Namun apabila dirata-ratakan secara umum dari tahun 2005 sampai tahun 2007, maka rata-rata rasio BOPO UUS BUPN dan UUS BUSN sama-sama berada diatas 90% yang menunjukkan tidak efisien. Sehingga efisiensi yang diukur dengan metode SFA derivasi fungsi profit dan BOPO , menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda.

Berdasarkan hasil uji two mean sample dengan menggunakan two tailed, maka perbedaan rata-rata efisiensi Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Pemerintah Nasional dengan Unit Usaha Syariah dari Bank Umum Swasta Nasional dengan menggunakan metode pengukuran efisiensi SFA derivasi fungsi profit tidak signifikan. Hal yang sama juga terjadi dengan hasil uji two mean sample dengan menggunakan two tailed pada rata-rata efisiensi Unit Usaha Syariah Bank Umum Pemerintah Nasional dan Bank Umum Swasta Nasional yang dihitung dari rasio BOPO. Sehingga hipotesis rata-rata efisiensi Unit Usaha Syariah Bank Umum Pemerintah Nasional dan Bank Umum Swasta Nasional tidak berbeda diterima atau perbedaan yang ada tidak signifikan.

6. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang diperoleh tersebut, kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa pertama, nilai efisiensi yang dihitung dengan metode SFA menunjukkan tingkat efisiensi Unit Usaha Syariah yang tidak jauh berbeda dengan hasil perhitungan rasio keuangan. Secara umum efisiensi Unit Usaha Syariah terus mengalami peningkatan, namun berdasarkan hasil skor SFA, peningkatan tersebut belum mencapai pada rata-rata skor yang tinggi yang menunjukkan efisien. Sementara berdasarkan rasio keuangan, efisiensi UUS tersebut sudah mencapai rata-rata rasio BOPO terendah yang merupakan dalam kondisi efisien. Kedua, berdasarkan uji mean two sample dengan menggunakan two tailed, maka hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata efisiensi antara UUS BUPN dan UUS BUSN dengan metode SFA maupun BOPO diterima. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan rata-rata efisiensi yang terjadi antara UUS BUPN dan UUS BUSN tidak signifikan pada tingkat kepercayaan sebesar 95%.

Daftar Pustaka

Antonio, M. Syafii., M. Akhyar Adnan, Iwan Triyuwono, Muhammad, dan Dumairy., 2006, Bank Syariah: Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman (Edisi Kedua), Penerbit: Ekonisia, Yogyakarta. Arifin, Zainul., 2006, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah (Edisi Revisi), Pustaka Alvabet, Jakarta Karim, Adiwarman, 2003, Ekonomi Mikro Islami, Edisi Kedua, The International Institute of Islamic Thought Indonesia. Kumbhakar, Subal C, dan C A Knox Lovell, 2000, Stochastic Frontier Analysis, Cambridge University. Riyadi, Selamet, 2008, Banking Assets and Liability Management (Edisi Ketiga) Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Sudarsono, Heri, 2007, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah : Deskripsi dan Ilustrasi (Edisi Kedua), Ekonisia, Yogyakarta. Astiyah, Siti., dan Jardin A Husman, 2005, Fungsi Intermediasi Dalam Efisiensi Perbankan di Indonesia : Derivasi Fungsi Profit, Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, Bank Indonesia, Jakarta. Astuti, Lestari Budhi, 2004, Analisis Efisiensi Operasional, Intermediasi dan Aset Bank-Bank Umum di Indonesia: Pengaruh Krisis, Struktur Kepemilikan, dan Skala Usaha Bank, Tesis, Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok. Bassar, Teddy Sumirat, 2004, Analisis Perbandingan Kinerja Penghimpunan dan Penyaluran Dana Masyarakat pada PT Bank Muamalat Indonesia Sebelum dan Sesudah Kebijakan Perbankan 1998, Tesis, Program Studi Timur Tengah dan Islam, Program Pascasrajana, Universitas Indonesia Heralina, Aida, 2005, Perbandingan Efisiensi Bank Syariah dan Bank Konvensional di Indonesia, Tesis, Program Studi Timur Tengah dan Islam, Program Pascasrajana, Universitas Indonesia Jahja, Adi Susilo, 1993, Perbandingan Kinerja Antara Bank Pemerintah Dengan Bank Umum Swasta Nasional Pasca Pakto 1988, Karya Akhir, Program Studi Magister Manajemen, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia Mediadianto, Arief, 2007, Efisiensi Bank Syariah dan Bank Konvensional Dengan Metode Data Envelopment Analysis (DEA), Tesis, Program Studi Timur Tengah dan Islam, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.

Pariyo, 2004, Variabel Makro Ekonomi Yang Mempengaruhi Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (Studi Kasus Bank Muamalat Indonesia Periode 2000-2003), Tesis, Program Studi Timur Tengah dan Islam, Program Pascasarjana, Universitas Indonesia Pramudyarto, 2004, Pengaruh Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia Terhadap Fungsi Intermediasi Perbankan, Tesis, Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Aigner, Dennis., C A Knox Lovell, dan Peter Schmidt., 1972, Formulation and Estimation of Stochastic Frontier Production Function Models, Journal of Econometrics, 6, 21 -37. Akhigbe, Aigbe, James E McNulty, 2003, The Profit Efficiency of Small US Commercial Banks, Journal of Banking and Finance 27 (307 325). Ascarya, Diana Yumanita, Noer. A. Achsani, dan Guruh S Rokhimah, 2008, Measuring The Efficiency of Islamic Banks in Indonesia and Malaysia using Parametric and Nonparametric Approaches, Center for Central Banking Education and Studies, Bank Indonesia Berger, Allen H, Diana Hancock, David B Humphrey, 1993, Bank Efficiency Derived From The Profit Function, Journal of Banking and Finance 17 (317 -347) Berger, Allen H, David B Humphrey, dan Lawrence B Pulley, 1996, Do Consumers Pay For One-Stop Banking ? Evidence From An Alternative Revenue Function, Journal of Banking and Finance 20, 1601 1621. Berger, Allen H, dan David B Humphrey, 1997, Efficiency of Financial Institutions : International Survey And Direction For Future Research, European Journal of Operational Research 98, 175 212. Bos, J W B, dan M. Koetter, 2006, Handling Losses In Translog Profit Models, Paper Submitted to Applied Economics. Fiorentino, Elisabetta, Alexander Karwann, dan M Koetter, 2006, The Cost Efficiency of German Banks : A Comparison of SFA and DEA, Banking and Financial Studies No. 10/2006. Hadad, Muliaman D, Wimboh Santoso, Eugenia Mardanugraha, dan Dhaniel Ilyas, 2003, Pendekatan Parametrik Untuk Efisiensi Perbankan Indonesia, Bank Indonesia, www.bi.go.id Hadad, Muliaman D, Wimboh Santoso, Eugenia Mardanugraha, dan Dhaniel Ilyas, 2003, Analisis Efisiensi Industri Perbankan Indonesia: Penggunaan Metode Non Parametrik Data Envelopment Analysis (DEA), Bank Indonesia, www.bi.go.id

Hardy, Daniel C., dan Emilia Bonaccorsi di Patti, 2001, Bank Reform and Bank Efficiency in Pakistan, IMF Working Paper. Hassan, M Kabir, 2005, The Cost, Profit and X-Efficiency of IslamicBanks, 12th ERF Conference Paper. Hussein, Khaled A, 2004, Banking Efficiency in Bahrain : Islamic vs Conventional Banks, Islamic Development Bank, Islamic Research and Training Institute, Jeddah. Jondrow, James., C.A Knox Lovell, Ivan S Materov, dan Peter Schmidt, 1982, On The Estimation of Technical Inefficiency In The Stochastic Frontier Production Function Model, Journal of Econometrics 19, 233 238. Kumbhakar, Subal C, 2001, Estimation of Profit Function When Profit Is Not Maximum, American Agricultural Economic Association, 1 19. Kumbhakar, Subal C, 2002, Productivity Measurement: A Profit Function Approach, Applied Economics Letters, 331 334. Levin, Richard I dan David S. rubin, 1978, Statistics for Management : Seventh Edition, Prentice-Hall International, Inc., London. Maudos, Joaquin., Jose Manuel Pastor, Francisco Perez, dan Javier Quesada, 1999, Cost and Profit Efficiency in European Banks, Instituto Valenciano de Investigaciones Economicas. Thalo, Nawa, 2005, Mengapa Intermediasi Perbankan Berjalan Lambat ?, The Indonesian Institute Center for Public Policy Research, www.theindonesianinstitute.com Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, 2002, Cetak Biru Perkembangan Perbankan Syariah Indonesia, Bank Indonesia. Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, 2005, Laporan Perkembangan Perbankan Syariah, Bank Indonesia, www.bi.go.id Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia, 2008, Statistik Perbankan Syariah, Bank Indonesia, www.bi.go.id