Bapak Sosiologi Indonesia

Riwayat Singkat Hidup Prof Dr Kanjeng Pangeran Haryo Selo Soemardjan Lahir: Yogyakarta, 23 Mei 1915

Meskipun bukan dari keluarga Keraton Yogyakarta, Selo Soemardjan adalah salah seorang sesepuh Keraton Yogyakarta dengan gelar terakhir Kangjeng Pangeran Hario (KPH). Pada awalnya, abdi dalem ini hanya seorang carik (juru tulis) di Kepatihan, sebelum pada akhirnya dikenal masyarakat luas sebagai Sekretaris Pribadi Sultan Hamengku Buwono IX (1947—1989). Ia selalu mulai dari bawah untuk akhirnya menempati kedudukan sebagai sesepuh. Demikianlah proses yang dilalui tokoh ini di mana pun lingkungan yang dimasukinya. Selama hidupnya, Selo pernah berkarier sebagai pegawai Kesultanan/Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepala Staf Sipil Gubernur Militer Jakarta Raya, dan Kepala Sekretariat Staf Keamanan Kabinet Perdana Menteri, Kepala Biro III Sekretariat Negara merangkap Sekretaris Umum Badan Pemeriksa Keuangan, Sekretaris Wakil Presiden RI Sultan Hamengku Buwono IX (1973-1978), Asisten Wakil Presiden Adam Malik Urusan Kesejahteraan Rakyat (1978-1983) dan staf ahli Presiden HM Soeharto. Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara yang diperbantukan pada Kantor Wakil Presiden RI sejak 1988. Sampai usia ke-80, ia masih aktif penuh sebagai staf ahli, padahal resminya sudah pensiun sejak tahun 1980. Ia juga anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI periode 1992—1997.

Ia adalah Doktor Sosiologi pertama setelah tahun 1959 -- seusai meraih gelar doktornya di Cornell University, AS -- mengajar sosiologi di Universitas Indonesia (UI). , Guru Besar Sosiologi pertama di Indonesia. Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar menjulukinya “Bapak Sosiologi” di Indonesia, sedangkan lingkungan yang bergerak di lapangan ilmu dan pemikiran sosial memberinya gelar “Ilmuwan Sosiologi Utama”. Pada awal era Orde Baru, Prof. Dr. Selo Soemardjan adalah satu-satunya sosiolog anggota tim penyusun konsep strategi perencanaan Pembangunan Nasional yang dipimpin Prof. Widjojo Nitisastro. Selain itu, Prof. Dr. Selo Soemardjan adalah anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), suatu lembaga prestisius yang merupakan wadah ilmu pengetahuan dalam arti yang luas dan bersifat otonom. Lembaga ini beranggotakan 27 orang ilmuwanilmuwan terbaik di Indonesia dan berbagai disiplin. Karena jasa-jasanya yang tidak ternilai kepada negara, Prof. Dr. Selo Soemardjan pun dianugerahi Satya Lencana Pembangunan (1993) dan Bintang Mahaputra Utama RI (17 Agustus 1994) dari pemerintah dan pada tanggal 30 Agustus menerima gelar ilmuwan utama sosiologi. Dialah pendiri sekaligus dekan pertama (10 tahun) Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (sekarang FISIP) UI. Kemudian tanggal 17 Agustus 1994, ia menerima . Pendiri FISIP UI ini, memperoleh gelar profesor dari Fakultas Ekonomi UI dan sampai akhir hayatnya justru mengajar di Fakultas Hukum UI.

Setelah diolah.Nama Selo dia peroleh setelah menjadi camat di Kabupaten Kulonprogo. 23 Mei 1915 ini dikebumikan di Pemakaman Kuncen. Penerima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah ini adalah pendiri sekaligus dekan pertama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (kini FISIP-UI) dan sampai akhir hayatnya dengan setia menjadi dosen sosiologi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Terakhir ia menerima Anugerah Hamengku Buwono (HB) IX dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada puncak peringatan Dies Natalis Ke-52 UGM tanggal 19 Januari 2002 diwujudkan dalam bentuk piagam. dilanjutkan dengan zaman revolusi. Penjelasannya kepada mahasiswa mudah dimengerti karena selalu disertai contoh-contoh yang diambil dari kehidupan nyata masyarakat.00 WIB.Nilai Keteladanan Sepeninggalan Solo Soemardjan Pada usia senja. dan putra keduanya. Ini pula yang membedakan Selo dengan peneliti lain. Salah seorang anaknya mengatakan hari Senin pukul 05. Dokter . Soemardjan. Pengalamannya sebagai camat membuat Selo menjadi peneliti yang mampu menyodorkan alternatif pemecahan berbagai persoalan sosial secara jitu. Nilai . Ia meninggalkan lima anak. 15 cucu dan dua cicit. tetapi mudah dimengerti karena memakai bahasa rakyat. dalam usia 88 tahun dan dikuburkan di sebelah isterinya. Kanjeng Raden Tumenggung Padmonegoro. dia justru dikenal sebagai orang yang suka melucu dan kaya imajinasi. Sosiolog yang mantan camat kelahiran Yogyakarta. karena disertai humor. Saat menjabat camat inilah ia merasa mengawali kariernya sebagai sosiolog. Meski lebih dikenal sebagai guru besar.Ia dibesarkan di lingkungan abdi dalem Kesultanan Yogyakarta Hadiningrat. Di lingkungan keluarga dan kampus. Selo jauh dari kesan orang yang suka "mengerutkan kening". Yogyakarta. Kakeknya. Ia adalah camat yang mengalami penjajahan Belanda. Sebagai ilmuwan. Berkat jasa sang kakek. namun sampai akhir hayatnya Selo Soemardjan tetaplah peneliti ilmu sosial. kemudian menjadi pendukung aktif gerakan mahasiswa merobohkan Presiden Soeharto. Istrinya. dan sejumlah uang. Selo juga digambarkan sebagai orang yang bicaranya kocak. Penelitian terakhir Selo berjudul Desentralisasi Pemerintahan. Menteng. 12 Juni 2003 pukul 12. Ini memang cara khusus Sultan Yogyakarta membedakan nama pejabat sesuai daerahnya masing-masing. Lopa menilai Selo sebagai dosen yang mampu mendorong mahasiswanya berpikir realistis dan mengerti serta menghayati apa yang diajarkannya. hari Kamis.30 kena stroke. terutama untuk mengantar mahasiswanya pada istilah-istilah ilmu yang diajarkannya. Jakarta. Mendiang Baharuddin Lopa dalam salah satu tulisannya di Kompas (1993) menulis bahwa Pak Selo menggali ilmu langsung dari kehidupan nyata. Rabu pukul 10. Raden Roro Suleki Brotoatmodjo. Jakarta Pusat. orang menjadi tidak tegang mendengarnya. Meski kata-katanya mengandung kritikan. adalah pejabat tinggi di kantor Kasultanan Yogyakarta. Ia masih terikat proyek penelitian tentang otonomi desa ketika wafat pada Rabu siang 11 Juni 2003 di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. masuknya Jepang. beliau mulai dirawat di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita karena gangguan jantung. Selo Soemardjan aktif dalam politik melalui kelompok Gema Madani. Jenazah disemayamkan di rumah kediaman Jl Kebumen 5. sehingga masalahnya banyak sekali. sudah lebih dulu berpulang. dia menyampaikan kembali kepada masyarakat untuk dimanfaatkan guna kesejahteraan bersama.00. di Yogyakarta. Budihardjo. Pendekatan realistis dan turun ke bawah untuk mengetahui keadaan sosial telah dilakukannya. karya Selo yang sudah dipublikasikan adalah Social Changes in Yogyakarta (1962) dan Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi (1963).begitu nama aslinya-mendapat pendidikan Belanda. lencana. RR Suleki Brotoatmodjo.

Sosiolog ini meninggal di tengah keluarga dan kerabat. Ia pantas menjadi teladan kaum birokrat karena etos kerjanya yang tinggi dalam mengabdi kepada masyarakat. kolusi dan nepotisme (KKN).shtml . Ia tokoh yang memerintah dengan teladan. ia tetap mengajar dengan semangat tinggi. tetapi memberi teladan.00 almarhum masih sempat tertawa-tawa menonton acara televisi yang memutar film Benyamin Samson Betawi.com/ensiklopedi/s/selo-soemardjan/index. Ia memang seorang sosok berintegritas.berusaha keras memberi bantuan pernapasan lewat alat-alat pernapasan. dan sederhana. Sebetulnya ia sudah purnatugas di Universitas Indonesia (UI). sebagaimana diungkapkan pengusaha sukses Soedarpo Sastrosatomo. Ia orang orang bersih yang dengan perangkat ilmu dan keteladanannya bisa menunjukkan bahwa praktik KKN itu merusak tatanan sosial. Ia ilmuwan yang meninggalkan banyak bekal ilmu pengetahuan. bersih. karena masih dibutuhkan. Ia seorang dari sedikit orang yang sangat pantas menyerukan hentikan praktik korupsi. Menurut Soedarpo. http://www. Sultan Hamengku Buwono X agar selalu mendengarkan dan meminta nasihat kepada Selo kalau menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan. Ia orang yang tidak suka memerintah. punya komitmen sosial yang tinggi dan sulit untuk diam. bukan hanya bagi keluarga tetapi bagi kerabat dan masyarakat umum. Hidupnya lurus. sekitar pukul 11.tokohindonesia. tetapi karena jantungnya terus melemah. Sekitar pukul 09. Tetapi. Almarhum meninggalkan contoh yang baik.00 ia terlihat sesak napas. usaha tersebut gagal. Ia orang yang tidak pernah berhenti berpikir dan bertindak. Tapi. integritas itu pula yang membuat mendiang Sultan Hamengku Buwono IX berpesan kepada putranya. Pantas karena ia bukan tipe maling teriak maling. teladan. Ia dikenal sangat disiplin dan selalu memberi teladan konkret.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful