Anda di halaman 1dari 8

PEREMPUAN MINANGKABAU DAN GAYA HIDUP MODERN

(Disampaikan dalam Kongres Kebudayaan dan Apresiasi Seni Budaya Minangkabau, Padang, 28 30 November 2006) Oleh: Emeraldy Chatra

Bantuak sudah kanai tumbuak dek makan ayam iduik-iduik (seperti sudah kena tinju karena makan ayam hidup-hidup), demikian cemooh yang biasa dilontarkan kepada perempuan -- tentu saja oleh laki-laki -- yang mencukur sebagian alis mata, memakai eye-shadow biru, memupur pipi dengan perona merah dan memoles bibirnya dengan gincu tebal. Cemooh itu saya simak tahun 70-an di Bukittinggi. Masalahnya, pada masa itu dandanan menor kaum perempuan merupakan pemandangan yang baru, menggelikan dan sebagian laki-laki menganggapnya dandanan perempuan berprilaku buruk (maaf, mereka disebut seperti poyok). Apalagi dandanan ala korban kekerasan itu dilengkapi pula dengan rok mini. Sebagian sekolah di Bukittinggi menerapkan sanksi keras dengan mencat paha siswi yang roknya jauh di atas lutut. Proses penyesuaian mental masyarakat, terutama kaum laki-laki terhadap gaya dandanan modern seperti itu berlangsung cukup lama. Hingga akhir tahun 80-an dandanan menor kaum perempuan masih dianggap aneh, bahkan mengerikan, meskipun sudah terjadi pembiasaan melalui televisi. Kaum ibu anggota Dharma Wanita yang juga melakoni dandanan menor modern plus sanggul palsu dan sarung kebaya ketat sering tidak menyadari diri mereka diamdiam jadi bahan tertawaan laki-laki. Seingat saya ada seorang istri pejabat penting di Padang yang marah besar karena seseorang mendakwanya tidak hanya memakai sanggul palsu tapi juga pantat palsu! Pertengahan tahun 80-an sebenarnya terjadi mulai peralihan gaya rias dan mode pakaian yang cukup penting di Sumatera Barat. Jilbab mulai dipakai sekelompok kecil

perempuan, terutama di kalangan mahasiswi. Pada saat bersamaan, malah berlanjut hingga akhir tahun 90-an dandanan ala Mbak Tutut (bekerudung dengan rambut terbuka di bagian kening) juga populer dan ditiru, khususnya di kalangan istri-istri pejabat. Pada akhir tahun 80-an jilbab masih dianggap sebagai penyimpangan, bahkan perlawanan terhadap penguasa. Di Jawa tekanan terhadap pelajar dan mahasiswi berjilbab telah dilakukan pejabat pemerintah yang menderita Islam phobia sejak awal tahun 80-an. Tahun 1984 pas foto pelajar putri yang memakai jilbab dianggap tidak sah oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Ketentuan diskriminatif ini berlaku hingga September 2002. Di Sumatera Barat sikap canggung dari masyarakat maupun sebagian pejabat pemerintah terhadap fenomena jilbab juga terasa walaupun tidak terlalu keras. Boleh jadi karena identifikasi diri para pejabat kepada Islam masih cukup kuat, dan menutup kepala dipahami sebagai seruan agama yang harus ditaati. Namun ketika isyu biskuit beracun melanda negeri ini tahun 1989 perempuan berjilbab sempat dicurigai masyarakat di beberapa daerah di Sumatera Barat sebagai penebar racun. Mereka juga cukup sering disoraki Ninja oleh orang-orang di pasar atau di jalan raya untuk mengekspresikan rasa curiga, takut dan tidak suka. Mungkin yang memancing ekspresi demikian adalah tampilan perempuan-perempuan Darul Arkam yang bercadar hitam, tapi akibatnya yang berjilbab tanpa cadar juga kena getahnya. Fenomena jilbab akhirnya berkembang menjadi bagian dari gerakan sosial yang sarat ideologi. Sejak awal tahun 2000 jilbab bukan lagi pakaian aneh: ia sudah diterima sebagai ekspresi diri kaum muslimah Minangkabau di Sumatera Barat. Sekarang kebaya ala Tin Suharto dan kerudung tanggung ala Tutut justru jadi terlihat aneh. Baju-baju tak berlengan (populer dengan sebutan baju katebe atau katiak tabukak) dan rok mini tidak laku lagi dan jarang dipakai keluar rumah. Di kalangan mahasiswi jilbab juga semakin populer, antara lain karena didorong oleh menjamurnya forum-forum studi keislaman di lingkungan kampus yang dimotori oleh sebuah partai politik. Anggota forum tersebut mudah diidentifikasi melalui jilbab besar mereka. Anehnya, jilbab jadi pemandangan umum di kota-kota dan universitas non-keagamaan, namun tidak demikian di wilayah perdesaan. Sikap pemerintah terhadap jilbab bukan hanya berubah, tapi cenderung berbalik arah. Dengan alasan orang Minangkabau mempunyai filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi ka Kitabullah (yang berarti orang Minangkabau haruslah beragama Islam), jilbab justru berubah jadi pakaian wajib. Hampir seluruh pemerintah kota dan kabupaten di Sumatera Barat mewajibkan pelajar putri yang beragama Islam, mulai dari SD hingga SMU memakai jilbab. Pegawai Negri Sipil juga menerima kewajiban serupa.

Hal ini menimbulkan kekuatiran sejumlah orang: jangan-jangan nanti jilbab jadi obyek perlawanan ideologis baru, seperti halnya pakaian-pakaian yang dulu ditentang oleh pemakai jilbab. Kemungkinan ke arah itu cukup terbuka. Pasalnya, dengan adanya peraturan jilbab tidak lagi murni sebagai ekspresi diri, tapi dipakai karena tekanan kekuasaan. Dengan kata lain, kini jilbab sudah berpindah dari wilayah keyakinan, hati nurani dan kebebasan ke wilayah politik, kekuasaan, dan keterpasungan. Kekuasaan, apabila telah memainkan ideologi secara represif, cenderung menjadi obyek perlawanan. Sejak dua tahun terakhir model pakaian ala penyanyi Agnes Monica yang celana panjangnya melorot dengan baju senteang hingga memperlihatkan pinggang, kolor dan pusar pelan-pelan bergerak menjadi rival model jilbab. Sekarang ini memang berbagai celaan dialamatkan ke model pakaian demikian, namun tak ada yang bisa memastikan apakah kelak ia akan tersingkir atau malah mengalahkan model jilbab. Sesuatu yang pasti, belakangan banyak pula perempuan-perempuan muda yang mengkombinasikan jilbab dengan gaya berpakaian Agnes Monica yang mereka sebut model jilbab gaul. Modernitas Sebagai Ideologi Perlawanan

Pakaian adalah cerminan zaman, karena itu ia kontekstual. Pada masa berbagai wilayah di dunia belum dihubungkan oleh rezim kolonial dan piranti telekomunikasi model pakaian yang dianggap pantas masih didefinisikan secara lokal, sebagaimana halnya kecantikan dan ketampanan. Karena itulah model pakaian sangat beragam dan mencirikan perbedaan etnis dan keyakinan. Konsep lokal menyebabkan pakaian perempuan Minangkabau sangat berbeda dengan yang dipakai perempuan Bali, Jawa, Dayak, Papua, dsb. Ketika perempuan Minangkabau sudah menutup tubuh bagian atasnya di tahun 1930-an, perempuan Bali masih membiarkannya terbuka (Tantri, 1960, 1982). Tapi beberapa tahun setelah Indonesia lahir keseragaman mulai pula terbentuk berkat jaringan birokrasi nasional, hubungan antar daerah yang lebih intensif, dan piranti komunikasi yang semakin berperan dalam menyatukan masyarakat daerah. Makin terbukanya masyarakat lokal menyebabkan pengaruh yang mereka serap semakin beragam. Kesetiaan kepada dandanan lokal berangsur memudar. Modernitas (modernity) yang akar sejarahnya dapat ditarik dari zaman Renaissance merambah kemana-mana melalui kaum pendatang maupun pesan-pesan media. Sebagai anak kandung zaman Renaissance, ideologi modernitas (modernisme) adalah perlawanan terhadap otoritas elit tradisional Barat yang berporos pada gereja dan kaum feodal. Penyebaran ideologi modernitas menyebabkan perubahan superstruktur sosial yang signifikan. Segala sesuatu yang tadinya jadi kebanggaan lokal tergerus konsep baru yang berpijak dari pikiran bangsa Eropa dan Amerika Serikat. Pakaian muslim
3

ditinggalkan oleh penduduk yang menganut Islam, lalu mereka berdandan ala Barat karena popularitas Arab kalah jauh dibandingkan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang menguasai media. Dalam ruang pengaruh modernitas itulah dandanan menor menjadi tren, ditambah dengan model pakaian yang seksi dan pamer bagian tubuh tertentu. Rok panjang yang jadi penanda budaya Eropa abad pertengahan ditolak, diganti dengan rok mini. Penutup kepala juga ditinggalkan. Pengaruh modernitas tidak hanya pada pakaian, tapi pada gaya hidup secara menyeluruh. Nilai-nilai yang dipaksakan kaum feodal dan gereja didekonstruksi habishabisan. Perzinahan yang dulu diapresiasi oleh gereja dengan sikap sangat munafik mengalami pembongkaran: perzinahan dianggap wajar bahkan tren. Pesta-pesta seks diposisikan sebagai simbol kebebasan. Orang-orang modern atau penganut idologi modernitas mengusung kata sakti mereka, kebebasan, kemana-mana dan ke segala segi kehidupan. Spritualitas dinegasikan karena dipandang tidak rasional. Pengembangan ilmu pengetahuan tidak boleh dibatasi, kecuali oleh etika sosial, yang nyatanya juga sangat sering dilanggar. Pendek kata, modernitas menjadi monster bagi kaum gerejani karena mengangkangi segala tabu dan larangan yang ditegakkan dengan kekerasan selama beberapa abad. Walaupun diterima hampir di seluruh belahan dunia, ideologi modernitas ternyata bukan ideologi terakhir yang abadi. Di Barat sendiri modernitas yang terlanjur mengalami eksploitasi kapitalisme akhirnya mendapat perlawanan. Belakangan, kaumkaum postmodern tampil sebagai representasi kegelisahan dan ketidaknyamanan hidup dalam era modern. Kegelisahan itu diwujudkan antara lain melalui eksplorasi gaya berpakaian berbagai etnis di Asia dan Afrika, kemudian dikembangkan menjadi model-model baru yang unik. Produk massal yang lahir dari moda produksi (mode of production) industri kapitalis mendapat ancaman dari produk-produk spesifik, unik, dan terbatas. Tenun ikat Lombok, sebagai contoh, masuk ke pasar internasional karena diproduksi dalam jumlah sangat terbatas dengan disain yang tidak sama satu sama lainnya. Sebagaimana pandangan dan prilaku penganut modernisme terhadap tradisionalisme Eropa, penganut postmodernisme juga melakukan hal sama terhadap modernisme. Pikiran modern dikocok ulang dan apa-apa yang dianggap benar diingkari (didekonstruksi). Di Sumatera Barat, sebagaimana terjadi di daerah lain di Indonesia, perlawanan terhadap gaya pakaian Barat yang modern dipelopori oleh kelompok muslimah urban dan berpendidikan, khususnya para mahasiswi. Meskipun kehadiran mereka sekurun dengan munculnya gerakan postmodernisme di Eropa dan Amerika Serikat, mereka sulit
4

dikatakan sebagai bagian dari gerakan postmodernisme. Sebab, pada hakekatnya postmodernisme adalah perlawanan masyarakat Barat terhadap ideologi dominan (kapitalisme) dalam masyarakatnya sendiri. Sementara pemakaian jilbab cenderung merepresentasi perlawanan budaya Arab atau Timur Tengah (walaupun seringkali diklaim sebagai budaya Islam) terhadap dominasi budaya Barat. Oleh sebab itu, dibalik pakaian muslimah itu tersimpan pula perlawanan terhadap postmodernisme. Definisi-definisi Kecantikan Baru

Makna kata-kata cantik, jelek, gagah, tidak gagah, ganteng atau tidak ganteng lahir karena dikonstruksi secara sosial. Oleh karena itu setiap masyarakat bahkan komunitas punya rumusan sendiri tentang kata-kata tersebut. Ciri-ciri cantik menurut bangsa X boleh jadi berarti sebaliknya menurut bangsa Y. Melalui perspektif kontstruktivisme dapat dipahami perbedaan ciri-ciri cantik dan gagah menurut bangsa-bangsa Barat dengan bangsa-bangsa Timur. Tidak heran mengapa kecantikan menurut beberapa suku bangsa Timur ditandai dengan kalung leher yang berlapis-lapis (perempuan Chiang Mai, Thailand) atau kuping yang panjang karena diberi anting-anting berat (perempuan Kelabit, Sarawak). Di beberapa komunitas di Minangkabau pada masa lampau perempuan bergigi emas dan yang punya baguak (gondok/struma atau bengkak di leher) dinilai cantik. Padahal gigi emas adalah gigi palsu pengganti gigi asli yang sudah rontok dan baguak adalah penyakit kalenjer tiroid akibat kekurangan yodium. Sementara itu mitologi Hindu mengatakan Srikandi dan Yudhistira sebagai orangorang yang gagah dan tampan, padahal mereka berbadan kurus dan berwajah feminin. Jadi sangat berbeda dengan citra gagah yang kini dikembangkan oleh masyarakat Barat: bertubuh besar dengan otot-otot menonjol disertai wajah berkesan sangar dan keras seperti aktor Sylvester Stallone, The Rock, atau Arnold Schwarzenegger. Pertemuan bangsa-bangsa Barat dengan Timur yang dimulai dengan kolonisasi dan dilanjutkan dengan penyebaran pesan melalui media massa menyebabkan perbedaan makna kata-kata tadi makin menipis. Keragaman makna kian kabur, terkooptasi oleh makna tunggal berorientasi fisik yang dikembangkan bangsa-bangsa Barat. Tampilan fisik hasil bentukan dan penggunaan teknologi tinggi, seperti pembesaran payudara dengan suntikan silikon, dipandang lebih bernilai daripada tampilan yang natural. Kecantikan non-fisik, meskipun juga dikenal di Barat dengan sebutan inner beauty, tidak jadi bagian penting dari propaganda mereka. Masalahnya, kecantikan non-fisik tidak mendapat sentuhan industri kosmetika berskala global, sehingga anggaran iklannya sangat tipis. Media yang dikelola secara padat modal (capital intensive) terlanjur berpihak kepada industri yang menyediakan kue iklan menggiurkan saja.

Kini umumnya di Indonesia perempuan yang dianggap cantik adalah yang berkulit putih bersih, hidung mancung, wajah lonjong, bibir tipis dan bertubuh tinggi dengan ukuran dada, pinggang dan pinggul tertentu. Ringkasnya, pada perempuan yang cantik mustilah melekat ciri-ciri fisik bangsa Eropa atau Amerika modern. Bintang-bintang film dan sinetron yang dipuja kecantikannya umumnya berciri Barat, seperti Sophia Latjuba, Tamara Blezensky, Wulan Guritno, Nia Ramadhani, dsb. Pemenang kontes putri-putri Indonesia, demikian juga para Uni di Sumatera Barat rata-rata mempunyai ciri fisik yang terkesan kebarat-baratan. Pilihan referensi fisik ini makin menunjukkan rasa rendah diri bangsa-bangsa Asia terhadap bangsa Eropa. Untuk menilai kecantikan perempuan Minangkabau penggunaan ukuran fisik Barat tentu saja menimbulkan sejumlah persoalan. Umumnya perempuan Minangkabau berkulit sawo matang, hanya sebagian kecil yang berkulit oriental (kuning seperti orang Cina, Jepang atau Korea) dan putih (seperti orang Eropa). Kebanyakan mereka berwajah bulat dengan bibir sedikit lebih tebal. Tubuh mereka pun umumnya jauh lebih pendek. Sehingga ketika fisik perempuan Eropa dijadikan pengukur kecantikan sedikit saja perempuan Minangkabau yang dapat dikategorikan cantik. Bias ukuran ini menimbulkan persoalan psikologis di kalangan perempuan. Apalagi setelah televisi dengan gencar menayangkan iklan-iklan pemutih kulit yang mendiskriminasi sifat-sifat alamiah mereka. Rasa tidak percaya diri lantaran berkulit sawo matang mendorong sebagian kaum perempuan mengkonsumsi berbagai bahan kosmetika yang ditawarkan, kadang tanpa menghiraukan bahaya pemakaian zat-zat kimia yang dikandungnya. Anti Modernitas Setengah Hati

Fenomena jilbab dan kosmetik ternyata berada pada pusaran yang berbeda. Ketika jilbab diposisikan sebagai simbol untuk melawan hegemoni Barat modern, kosmetika cenderung jadi pusaran yang tidak tersentuh. Tidak ada sejarah perlawanan yang berarti terhadap barang-barang kosmetik yang merupakan salah satu produk unggulan Barat. Manakala model-model pakaian seksi dan serba terbuka dianggap sebagai simbol modernitas yang harus dikalahkan, pernik-pernik yang melekat simbol tersebut seperti parfum, bedak, deodorant, odol, sabun mandi, atau lipstik justru selamat. Sensitivitas terhadap kehalalan unsur-unsur kimiawi yang digunakan dalam produk tersebut tidak tergolong istimewa, bahkan cenderung terabaikan. Dari sisi produsen memang ada upaya menyaingi parfum impor dengan parfum buatan dalam negeri yang non-alkohol atau pemasaran kayu siwak pengganti odol yang diklaim halal karena berasal dari Arab. Namun lemahnya respon masyarakat serta kemampuan berpromosi menyebabkan popularitas barang-barang tersebut tenggelam begitu saja.

Penolakan terhadap simbol-simbol modernitas selain pakaian dan kosmetik juga terlihat sangat lemah. Meskipun berpakaian muslimah, gaya hidup modern tidak sepenuhnya ditolak. Restoran siap saji seperti Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken atau McDonald tetap dikunjungi perempuan-perempuan berpakaian muslimah. Padahal di Eropa dan Amerika Serikat sendiri mengkonsumsi produk-produk restoran siap saji dipandang sebagai gaya hidup modern yang tidak sehat. Produk restoran demikian tidak jarang dituding sebagai penyebab timbulnya penyakit-penyakit degeneratif lantaran mengandung kolesterol tinggi, karena itu disebut junk food . Banyaknya penderita obesitas juga dikait-kaitkan dengan kegemaran makan di tempat tersebut. Inkonsistensi sikap kaum perempuan terhadap simbol-simbol modernitas menunjukkan bahwa perlawanan yang diberikan cenderung setengah hati dan mengikuti arus. Konsep ideologisnya mungkin sangat jelas bagi sekelompok kecil orang, tapi tidak demikian bagi kebanyakan. Jilbab atau pakaian muslimah akhirnya tidak lebih dari sekedar mode yang membentuk pasar potensial baru. Sebagai sebuah tren mode ia mudah diplintir menjadi bagian dari manuver kapitalis dengan selubung spiritualitas yang memukau. Media-media yang dikendalikan kepentingan kapitalis mengambil sikap akomodatif dengan mempromosikan modelmodel pakaian muslimah kreasi terbaru hasil rancangan disainer terkemuka. Tekanan pemerintah yang mewajibkan perempuan berpakaian muslimah membuat pasar itu berkembang lebih pesat lagi, dan tentu saja sangat menguntungkan pelaku ekonomi, termasuk yang non-muslim. Penutup

Dibalik tren mode dan gaya hidup terdapat masalah ideologis yang tidak sederhana. Ia juga melibatkan sejumlah kepentingan politik dan ekonomi kelompok minoritas berkuasa. Pakaian dan gaya hidup merupakan penanda bagi eksistensi sebuah ideologi sekaligus menciptakan pasar (dalam pengertian politik dan ekonomi) yang siap dieksploitasi. Para mayoritas penikmat diposisikan sebagai konsumen yang kesadarannya dikendalikan dengan kekuatan komunikasi media massa. Meluasnya penggunaan pakaian muslimah di kalangan perempuan Minangkabau tentu saja pilihan yang menggembirakan dan perlu diapresiasi dengan baik. Pakaian tersebut mempertegas identitas kultural sebagai penganut Islam yang wajib menutup aurat dari pandangan publik. Namun hendaknya pakaian muslimah tidak jadi sekedar instrumen identitas fisik atau mode. Spektrumnya harus diperluas menjadi simbol perlawanan terhadap berbagai pandangan dan gaya hidup modern, terutama yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Berbagai upaya untuk menghindar dari kemungkinan terjadinya eksploitasi politik

dan ekonomi juga perlu dikembangkan, agar kelak pakaian muslimah tidak menjadi obyek perlawanan baru pula.

Padang, November 2006