Anda di halaman 1dari 24

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang paru-paru yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberkulosis.

Etiologi

Jenis kuman berbentuk batang, ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang banyak oksigen, dalam hal ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya yaitu. daerah apikal paru, daerah ini yang menjadi prediksi pada penyakit Tuberkulosis

Tanda & Gejala

Keluhan dapat bermacam-macam atau malah tanpa keluhan, yang terbanyak adalah : Demam : subfebril, febril ( 40-41derajat C) hilang timbul. Batuk darah. Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkus, batuk ini untuk membuang /mengeluarkan produksi radang, Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru. Nyeri dada : ini jarang ditemukan, nyeri timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Malaise : ditemukan beripa anorexia, BB menurun,, nyeri otot, keringat diwaktu malam hari, malaise.

patofisiologi

Mycobacterium TBC

Masuk jalan napas


Tinggal di Alveoli

Tanpa infeksi

Inflamasi

disebar oleh limfe

Fibrosis Timbul jar. Ikat sifat Elastik & tebal.


Kalsifikasi - Batuk - Spuntum purulen - Hemoptisis - BB menurun Exudasi Alaveolus tidak kembali saat ekspirasi

Nekrosis/perkejuan Gas tidak dapat berdifusi dgn. Baik.

Kavitasi

Sesak

Kuman
Infeksi primer Sembuh total Sembuh dgn. Sarang ghon Komplikasi - Menyebar ke seluruh tubuh scr. Bronkhogen, limphogen, hematogen

Infeksi post primer

Kuman dormant Muncul bertahun kemudian

Diresorpsi kembali/sembuh

Membentuk jar. keju Jika dibatukkan membentuk kavitas.

Sarang meluas sembuh dgn. Jar. Fibrotik

Kavitas meluas Membentuk sarang

Memadat & membungkus diri tuberkuloma

Bersih & menyembuh

Pemeriksaan fisik : Pada tahap dini sulit diketahui. Ronchi basah, kasar dan nyaring. Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberi suara umforik. Atropi dan retraksi interkostal pada keadaan lanjut dan fibrosis. Bila mengenai Pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak)

Pemeriksaan Radiologi
Pada tahap dini tampak gambaran bercakbercak seperti awan dengan batas tidak jelas. Pada kavitas bayangan berupa cincin. Pada Kalsifikasi tampak bayangan bercakbercak padat dengan densitas tinggi Bronchografi : merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronchus atau kerusakan paru karena TB

Jenis pemeriksaaan

Interpretasi hasil
Mycobacterium tuberculosis positif pada tahap aktif, penting untuk menetapkan diagnosa pasti dan melakukan uji kepekaan terhadap obat. BTA positif Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak berarti untuk menunjukkan keaktivan penyakit. Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru, simpanan kalsium lesi sembuh primer, efusi cairan, akumulasi udara, area cavitas, area fibrosa dan penyimpangan struktur mediastinal.

Sputum: -Kultur

-Ziehl-Neelsen

Tes Kulit (PPD, Mantoux, Vollmer)

Foto thorax

Histologi atau kultur jaringan (termasuk Hasil positif dapat menunjukkan bilasan lambung, urine, cairan serangan ekstrapulmonal serebrospinal, biopsi kulit) Biopsi jarum pada jaringan paru
Positif untuk gralunoma TB, adanya giant cell menunjukkan nekrosis.

Darah: -LED

Indikator stabilitas biologik penderita, respon terhadap pengobatan dan predeksi tingkat penyembuhan. Sering meningkat pada proses aktif.
Menggambarakan status imunitas penderita (normal atau supresi) Hiponatremia dapat terjadi akibat retensi cairan pada TB paru kronis luas. Hasil bervariasi tergantung lokasi dan beratnya kerusakan paru Penurunana kapasitas vital, peningkatan ruang mati, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total, penurunan saturasi oksigen

-Limfosit

-Elektrolit

-Analisa Gas Darah

Tes faal paru

Klasifikasi Klasifikasi TB Paru dibuat berdasarkan gejala klinik, bakteriologik, radiologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi ini penting karena merupakan salah satu faktor determinan untuk menetapkan strategi terapi. Sesuai dengan program Gerdunas P2TB klasifikasi TB Paru dibagi sebagai berikut: TB Paru BTA Positif TB Paru BTA Negatif Bekas TB Paru

terapi

Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai WHO Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat, derivat Rifampisin/INH. Cara kerja, potensi dan dosis OAT utama dapat dilihat pada tabel berikut:

Rekomendasi Dosis (mg/kg BB) Obat Anti TB Esensial Aksi Potensi Per Hari Per Minggu

3x
Isoniazid (H) Rifampisin (R) Pirasinamid (Z) Streptomisin (S) Etambutol (E) Bakterisidal Bakterisidal Bakterisidal Bakterisidal Bakteriostatik Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah 5 10 25 15 15 10 10 35 15 30

2x
15 10 50 15 45

Komplikasi Pneumothorax pada Tuberkulosis Paru

Pneumothorax adalah keadaan dimana terdapat udara dalam rongga pleura. Udara masuk dalam rongga pleura melalui 3 jalan, yakni:
Udara atmosfir masuk ke dalam rongga pleura melalui penetrasi

di dinding dada misalnya pada trauma (pneumothorax traumatik). Pembentukan gas oleh mikroorganisme dalam dinding pleura pada penyakit infeksi paru (pneumothorax spontan) Pneumothorax artifisial yang sengaja dilakukan melalui tidakan pembedahan pada trauma.

Penumothorax pada TB paru merupakan pneumothorax spontan yang timbul akibat nekrosis jaringan yang menjalar sampai pinggir jaringan parut parenkim paru, membentuk bulla yang selanjutnya robek ke dalam pleura.

Gejala Klinis Pneumothorax:


Keluhan dan gejala penumothorax tergantung pada besarnya lesi dan ada tidaknya komplikasi penyakit paru. Gejala bervariasi dari asimtomatik yang hanya dapat dideteksi melalui foto thorax sampai timbulnya gejala utama berupa rasa nyeri tiba-tiba Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi hipersonor, fremitus melemah sampai menghilang, suara napas melemah sampai menghilang pada sisi yang sakit. Pada lesi yang lebih besar atau pada tension pneumothorax trakea dan mediastinum dapat terdorong ke sisi kontralateral. Diafragma tertekan ke bawah, pada sisi yang sakit gerakan pernapasan terbatas. Fungsi respirasi menurun sehingga dapat terjadi hipoksemia arterial dan curah jantung menurun. Di samping berdasarkan gambaran klinis di atas, diagnosis dapat lebih meyakinkan melalui foto thorax dengan tampaknya bayangan udara dari pneumothorax yang berbentuk cembung dan memisahkan pleura parietalis dengan pleura viseralis.

FOKUS PENGKAJIAN KEPERAWATAN


Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik: Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:
Aktivitas/istirahat:

Gejala: Kelelelahan umum dan kelemahan


Dispnea saat kerja maupun istirahat Kesulitan tidur pada malam hari atau demam pada malam hari, menggigil dan atau berkeringat Mimpi buruk Takikardia, takipnea/dispnea pada saat kerja Kelelahan otot, nyeri, sesak (tahap lanjut)

Tanda:

Sirkulasi

Gejala: Palpitasi Tanda:


Takikardia, disritmia Adanya S3 dan S4, bunyi gallop (gagal jantung akibat effusi) Nadi apikal (PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal Tanda Homman (bunyi rendah denyut jantung akibat adanya udara dalam mediatinum) TD: hipertensi/hipotensi Distensi vena jugularis

Integritas ego:

Gejala: Gejala-gejala stres yang berhubungan lamanya

perjalanan penyakit, masalah keuangan, perasaan tidak berdaya/putus asa, menurunnya produktivitas.

Tanda: Menyangkal (khususnya pada tahap dini) Ansietas, ketakutan, gelisah, iritabel. Perhatian menurun, perubahan mental (tahap lanjut)

Makanan dan cairan:

Gejala:

Kehilangan napsu makan Penurunan berat badan

Tanda:

Turgor kulit buruk, kering, bersisik Kehilangan massa otot, kehilangan lemak subkutan

Nyeri dan Kenyamanan:

Gejala:
Nyeri dada meningkat karena pernapsan, batuk

berulang Nyeri tajam/menusuk diperberat oleh napas dalam, mungkin menyebar ke bahu, leher atau abdomen.

Tanda: Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi,

gelisah.

Pernapasan:

Gejala:
Batuk (produktif atau tidak produktif) Napas pendek Riwayat terpajan tuberkulosis dengan individu terinfeksi

Tanda:
Peningkatan frekuensi pernapasan Peningkatan kerja napas, penggunaan otot aksesori pernapasan pada

dada, leher, retraksi interkostal, ekspirasi abdominal kuat Pengembangan dada tidak simetris Perkusi pekak dan penurunan fremitus, pada pneumothorax perkusi hiperresonan di atas area yang telibat. Bunyi napas menurun/tidak ada secara bilateral atau unilateral Bunyi napas tubuler atau pektoral di atas lesi Crackles di atas apeks paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (crackels posttussive) Karakteristik sputum hijau purulen, mukoid kuning atau bercak darah Deviasi trakeal

Keamanan:

Gejala:

Kondisi penurunan imunitas secara umum memudahkan infeksi sekunder.

Tanda

:
Demam ringan atau demam akut.

Interaksi Sosial:

Gejala

:
Perasaan terisolasi/penolakan karena penyakit menular Perubahan aktivitas sehari-hari karena perubahan kapasitas fisik untuk

melaksanakan peran

Penyuluhan/pembelajaran:

Gejala:

Riwayat keluarga TB

Ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk Gagal untuk membaik/kambuhnya TB Tidak berpartisipasi dalam terapi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pola pernapasan tak efektif b/d penurunan ekspansi

paru (akumulasi udara, nyeri dada, proses inflamasi.) Bersihan jalan napas tak efektif b/d sekresi mukus yang kental, hemoptisis, kelemahan, upaya batuk buruk, edema trakeal/faringeal. (Risiko tinggi) Gangguan pertukaran gas b/d penurunan jaringan efektif paru, atelektasis, kerusakan membran alveolar-kapiler, edema bronkial. Risiko tinggi trauma/henti napas b/d pemasangan sistem drainase dada, kurang pengetahuan tentang pengamanan drainase. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, peningkatan status metabolisme (penyakit kronis), kelemahan, dispnea, asupan yang tidak adekuat.

Pola pernapasan tak efektif b/d penurunan ekspansi paru (akumulasi udara dalam rongga pleura, nyeri dada, proses inflamasi)

Intervensi dan Rasional: Identifikasi etiologi/faktor pencetus (kolaps spontan, trauma, keganasan, infeksi, komplikasi ventilasi mekanik) Pemahaman penyebab kolaps paru penting untuk pemasangan WSD yang tepat dan memilih tindakan terapeutik lainnya. Kaji fungsi pernapasan, catat kecepatan pernapasan, dispnea, sianosis dan perubahan tanda vital Distres pernapasan dan perubahan tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok akibat hipoksia. Auskultasi bunyi napas. Bunyi napas dapat menurun/tak ada pada area kolaps yang meliputi satu lobus, segmen paru atau seluruh area paru (unilateral). Kaji pengembangan dada dan posisi trakea. Ekspansi paru menurun pada area kolaps. Deviasi trakea ke arah sisi yang sehat pada tension pneumothorax. Kaji fremitus. Suara dan taktil fremitus menurun pada jaringan yang terisi cairan dan udara seperti pada pneumothorax. Kaji area nyeri bila klien batuk atau napas dalam. Sokongan terhadap dada dan otot abdominal membuat batuk lebih efektif dan mengurangi trauma. Pertahankan posisi nyaman (biasanya dengan meninggikan kepala tempat tidur). Balik ke sisi yang sakit dan dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin. Meningkatkan inspirasi minimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed.6, EGC, Jakarta Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC, Jakarta