Bab I Pendahuluan

1.1 Identifikasi Naskah 1. 2. 3. 4. 5. Judul Naskah Nomor Registrasi Nomor Inventarisasi Asal Naskah Keadaan Naskah : : : : : Babad Dermayu (Babad Carbon II) 1.368 183.1498/07.35 ? hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik; Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit. Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap

1

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bahan Naskah Warna kertas Tebal Naskah Aksara Naskah Bahasa Naskah Tinta yang digunakan Rubrikasi

: :

tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit. kertas Eropah putih kusam karena dimakan usia 124 halaman Cacarakan Jawa Jawa Cirebon Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh. tinta, setiap aksara Arab kertas tebal dua halaman,

:
: : :

:

12. 13. 14. 15. Penomoran halaman Jilid Keterangan lain : : :

Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca, Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal), Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah, Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan, Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.

2

Bab II Ringkasan Cerita

1.

Sinom Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa. Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang. Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman

3

palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum purapura marah. Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macammacam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik. 3. Sinom Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari. Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan. Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman. Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

4

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana. Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra. Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan muridmuridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas. Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang. 4. Kinanti Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah. 5. Durma Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia

5

mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu. Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan. Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra. 6. Dangdanggula Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen. 7. Durma Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji. Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya. 8. Dangdanggula

6

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok. Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom. Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur. Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV). Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

7

Pada suatu hari. dipimpin oleh Bagus Kandar. Mereka bersiap menyerang Darmayu. Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun. Jumlahnya sekitar 700 orang. Pangkur Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. Lalu dilakukan penyerangan. Kulinyar. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. yaitu Ciliwidara. ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta. datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan. Bagus Rangin. Sinom Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya. Bagus Leja.Nyai Moka pekerjaannya mengaji. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya. Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas. dan Pasiripis. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati. Ciliwidara kemudian menghilang. Hastrasuta meninggal oleh 8 . 10. dan Bagus Seling. Surapersanda. 9. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh. sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan. putra Singalodra.

Durma Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. anak Wangsakerti. Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Sepanjang perjalanan mereka merampok. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan. Mereka diikat dan disiksa. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Durma Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan. Bagus 9 .panah Ki Serit. 11. 12. isinya meminta bantuan. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. sehingga para perampok itu tiba di Darmayu. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan. Wangsakerti mengirimkan utusannya. Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan. tetapi sebagian lainnya melarikan diri. 13. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah. Asmarandana Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya.

Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. Mayatnya menghilang. Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpurapura sedih. Pangkur Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan. Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Sinom Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Keduanya dimarahi dan dicaci. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran 10 . sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi.Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang. agar Cirebon mengganti kerugian Belanda. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya. 14. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. 15.

yaitu Hardiwijaya. 11 . Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Nyayu Jenikuwu. Ia memiliki lima orang putra. Muhadapan. dan Kertadiprana. 16. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak. Nyayu Lotama. Kalektor memiliki lima orang anak. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi. Cirebon diserahkan kepada Belanda. yaitu Raden Mardada. Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka. Bupati meninggal dunia. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang.yang merugikan pihaknya. Raden Rangga memiliki dua orang anak. Bratasentana. Nyayu Juleka. Nyayu Pungsi. dan Kertahatmaja. Wiralodra memiliki tujuh orang anak. yaitu Patimah. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. Raden Wiramadengda. yaitu Raden Karta Kusuma. yaitu Biska. Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok. dan Nyai Juminah. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11. dan Bratasuwita. Nyayu Hempuh. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak. dan Hanjani. Brataleksana. Mangundria. Nyayu Wiradibrata. Kasmaran Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi. Sudirah. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610.030. dan Nyi Sumbaga.

12 .

Selain itu. BD ditulis dalam bentuk pupuh. maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya. misalnya I Asmarandana. seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang. karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh. Bait-bait yang 1 Hermansoemantri.1 Teknik Penyajian Transliterasi Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin.Bab III Transliterasi dan Terjemahan 3. pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya. tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber. Dalam transliterasi ini. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. Transliterasi disusun berurutan ke bawah. guru wilangan. 1979: 366. Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. Dalam transliterasi. yang terikat oleh guru lagu. tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut. 13 . Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat. dan guru gatra.

Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah. Contoh nomor halaman: 17 (37. 2.berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. 3. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1. Nomor dengan angka Arab Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis. dan seterusnya). 1a. Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi. 3.17 nomor halaman pada naskah . 1. walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya. 4. Nomor dengan angka Romawi Nomor ini menunjukkan urutan pupuh 2. Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan. 3a. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1. 2a. atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi. Atja dan 14 . 857) . Tanda […] Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca. Pengantar Terjemahan Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD. sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor. sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan. Tanda (…) Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara. suku kata.2.857 nomor eksposure pada foto 3.37 nomor halaman pada naskah dalam foto . yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait.

1986: 94. artinya padanan kontekstual. bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu. B. 3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah). penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut. dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran. penerjemah harus mencari padanan yang dinamik. bergantung kepada kemampuan penulisnya.H. Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks. melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly.Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan. Djajasudarma. (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan. ditujukan kepada siapa. Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). 2 Atja dan Ajatrohaedi. dan 4) di dalam proses penerjemahan. 1998: 1 15 3 . dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran. makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan. (2) siapa pengirim pesan itu. Berdasarkan pendapat itu maka: 1) objek terjemahan adalah bahasa tulis. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul. 2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin.

Djajasudarma. meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik. terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan. di samping aspek linguistik. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan. yaitu penerjemahan fonologis. kata. 3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik. 1986:173. kata majemuk. 1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber. Namun jika teks berbentuk puisi. yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya. dan penerjemahan sintaksis. Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan. 4 5 Catford. penerjemahan morfologis. sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran.Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu. 4 Pradotokusumo. jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa. 16 . 2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem. dan frase). Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas. Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana. terutama dalam gaya. 1965: 20-26. 1998: 4.

sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”.Berkaitan dengan penerjemahan teks BD. Walaupun bentuknya pupuh. Karena itu. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah 17 . maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati. penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase. karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik. yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah: a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi. dengan menggunakan tanda khusus. teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa. dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut. b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama. Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD. dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. agar mempermudah proses membaca. c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan. ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda. Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama. Berdasarkan pertimbangan tersebut.

sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan.semula. 18 .

sampun kantos… langkin. tahun séwu sanga ngatus pan[n]e… 2.. supaya samya huni[ng]nga. bermula Da(lem Kang)jeng..3. nuju seneng manah hulun. SINOM 1. supaya … galur..tiyang.. hing tanggal kaping sadasa … wan di..nuju néki. hanak……nakin…. turun-tumurun niréki. Hanak putu Wiralodra.. … kinarang sinekarna. (nu)ju se(neng). …li ka[h]ula haserat. hérpol sa[ng]king Mantri Haris. 4. wedar[r]ing kanda rumi(yin). trus tumurun hing putra… 3. 821) //I. kartadipran[n]a……s. hing dalu Jumahah legi.3 Traansliterasi 1 (1. sasih. jam kalih dalu nu jo …n[n]i.. …sajarah tiyang ku[n]na. Ki Wiralodra rumuhun. Kang hana hing Darmayu mangkin. Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat. buku sajarah dalem … 19 . waktuna .. bénjang lang…… kun hakir. Tan sanés hingkang sinekar.

Tumenggung hanang Mataram.… nti pada … rusak. laki…mangkin. 7. ningal[l]i sujarah mangkin. . …sumi. Larakelar hasal néki. Gagak Pernala Tu(menggung).. Kartiwangsa …(mang)kin. pakuburan pun tinga[l]li… …ngungun rusak[k]é hing pakuburan. Pan sada……(tu)menggung. ka…hical hingga tu … …n[n]é sujarah dingin. Jeng Pangeran Hadi… hingkang peperab. Minggu palesir kula. wedar……kantos dateng Majapahit. turun[n]i Wiralodra. …ki gumantya. Panembahan Kyahi Be(la)ra. maksa hing ngila[r]ran hulun. Pejajar[r]an putra ratu. Nulya ka[h]ul[l]a. 20 . Wirasecapan kagu[ng]ngan. hapeputra… tumenggung hanang Metawis…. 6.. ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u… nulya kagu[ng]ngan putra. 5. hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa). Bagelén hing rang(gah) ( hapepu)tra malih.

(Tanu)jiwa kang wuragil. hanenuwun hing Yang Widi. 21 . Karangjati kang nagari.Lajeng ha… …puna…sekawan. Gagak Singalodraka…da…ya. pernah hingkang sepi mangkin. (Wi)ralodra katiganya. Wiralodra. hing Bagelén dalem[m]ipun. remen[n]ipun hamertapa 10. Pembajeng Wangsanagara. … Pringgadipura. Wangsayuda rayi héstri. 822) 8. Putra hingkang pa… Pan Radén Gagak Kumitir. gumantya para bopati. Hana …ling malaya. nulya peputra … hanang Banyu Hurip Kedu. saréngat (hakeka)t mangkin. Dén Gagak Wirahandaka. 9. … nagara. Dén Gagak Wiraku(suma) hapeputra malih. sanget saking nyandang kingkin. 1a (2. kasa. Tanujaya hingkang rayi. gumuling hing wisma.

II. kantu Bagelén. tanda tinarim[m]éng hagu(ng). yahiku cahya handaru. 22 .. …dang nelahi. (Su)kma hing yang hagung. …Wiralodra. tigang dahun lamin[n]éki. sampun hical wujudnéki. …ngaran suwun hing yang sukma. tansa(h) hingkang tumingal. Ngulon hungsinen kacung. (nu)ju dalu Jumah. (pa)dang kadya lintang. 12. …cahya hingkang bening. babad[d]ahing halas kaki. nulya …kinanti hingkang tinembang.hakékat mahripat wahu. hicaling pepadang mangkin. 11… (sa)réh miwah dahar. suwara kang kapiyarsi…. cahya…mang tapa. sareng ming wétan ning[ng]al[l]i. …ru ngira. rosik[k]a. hamandeng hing wujud tunggil …nya (hing) jero supaya dados satunggal. KINANTI 1. hing halas Cimanuk 2. ningal[l]i wonten hing langit. muga-muga hantuk mu(lya) turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan. lamun péngén mulya kaki…nira.

mapan déréng ha…ta.. sami medal toya. sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki. (hing) kali Cimanuk pernahnya. Medal ngidul pinggir gunung. miwah nang[n]i hingan[n]néki. putra ngambung suku ram[m]a. kaliyan Kang Pandakawan. pan bakal dadi nga…. handres miji(l) ditangis[s]i. mila hénggal lunga haka… …Wiralodra.. 5. Kyahi Tinggil tanéki. sangking sakarsan[n]é kaki. 6. Sun pasrah(a)ken yang hagung. lali turu miwah dahar. rinangkul dipun tang[ng]is[s]i. putra ningsun hayu …cw. Kahidinan sampun kondur. hing pundi panggé(nénéki) 23 .ning ram[m]a. kaki hanak [k]ingsun mangkin..waspa. Halilir hanggé …sami katar …hing jeng rama Ngatur[r]aken pi … hing jeng …nas mikatur 2 (3. malebeting wanadri. (ha)turan turun[n]ira.halas gedé hi[ng]ku nyawa. 3. 4. 822) //. duging turun pitu kaki …tuhamu.

8. Saparantos bendara. Léréh[h]an nyenangna pikir. wunten kaki tuwa prapti. Le… 2a (4. hutawi kebon jalmi. 11. Buyut Sidum tiyang karihin. (pri)yén pan karo hapa?” Humatur kiyahi Tinggil. 9. ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil. 24 . 823) 10. …hapandé ring hantuk marma. Kantos lami tigang nahun. hingkang mindah kaki tuwa. nulya jeng hing lampahnya. hang linggih hing pinggir kali. …sowan. Kali hageng hing Citarum. “(Pa)man susah hingsun. Sareng héca gényagah. kula tur[r]i sabar briyin… …mi pukulun. lan puniki Gusti dara.7. pitulung Yang Maha Widi. kali gedé hangliwati. kantos dumugi hing kali. hanggén[n]é wa(na)dri. Raden Wiralodra dulu. kathah wowotan puniki. 12. …toya geng prapta. hanang hing(kang panda)kawan. Kula kinten be…dusun. Nulya hawecan[n]a haris.

sampun…kedah wangsul malih niki. 16. humatur hawelas sasih. … Kerawang bagiyan néki. sangking Bagelén nagari. 13. sanget bhingah[h]é hang… lah bagja temen pun mami. sarta sareng nya lenggah. tigang (tahun) lampah kula. muga kaki hanulung[ng]i. “ 17. hing pundi Cimanuk kali. ngatur[r]aké lampah néki. sampéyan … kula. 15. 824) //…la ngétan pernah néki. sesalaman hasta kalih. sangking kaki tuwa hiki. Hénggal ti(nari)k rinangkul. dé… (han)tuk hawecan[n]a. sarwi megap megas har[r]is. …(Kali) Citarum. Pun lami lampah …n hulun. Nulya hical kaki sepuh. kula (harsa) hantuk warta. kagét wahu haning[ng]al[l]i. 25 . bakal hingsun (hantuk) warta.wunten kaki kaki prapti. nuwun pitulung pun kaki. “Duh Ki Putu welas mami. hamesisir la… 3 (5. Kyahi Dum wecan[n]a harum. “Haduh Kakang tu (lung) kula. 14.

pitulung[ng]é hing Yang Widi. kula lajeng pangkat Gusti. wonten toyan[n]ipun mili. Sumber medal saking sumur wan[n]a dateng Ki Tinggil. 26 . datan saréh miwah dahar. 21. déréng (ta)kén wastanéki. hambhujeng lampah pun hénjing. nanging bagja kula Gusti. boten[n] takén wasta kriyi(n). lampa[h]hing KiWiralodra. ningal[l]i medal[l]ing surya. sareng duging Pasir Hucing. …manten pan hantuk marma. Nulya hawecan[n]a harum. lumampah siyang lan wengi. lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki.getun Radén Wiralodra. mila…hénggal-lénggal. “Duh paman Kiyahi Tinggil. Hutawi negarin[n]ipun. kabujeng (mu)sna pun kaki. Pu(ni)ki pan margin[n]ipun. 18. nulya hénggal halumaris. Hangrem(pug) hing wana (a)gung. 19. hing ngendi si kaki tuwa?” Ki Tinggil humatur haris gugup dara hameriksa. 22. ngétan ngalér margin[n]éki. “Duh Paman Tinggil pun kula. 20. lan sing pundi hika hasal.

nulya pangkat Wiralodra. ming[ng]elér lampah hiréki. sah[h]a hasli pundi ranti?” 27 . Yayi sinten jeneng[ng]ipun. Wirasetra wastanipun. hadem kasilir marut[t]a. 825) pi//wiwitan hiki. 26. Lami hanthuk kalih minggu. hing bénjang bakal nurun[n]a. hana (to)ya tengah wanadri. duh Wirasetra jeneng mami” “Hingkang wewangi pun kakang. Dalem (Pega)dén hing bénjang. (lamun Gusti) kersa mandi. hing Kakang tembé pinanggih. 25. hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil. sun ting[ng]ali hiki toya. Wirasetra jeneng ma(mi) 27. Kyahi Tinggil pan humatur. 24. sarwi sesalaman kalih.meng(ké) laréh pada mandi. Kyahi Wiralodra tanya. lan sinten kakang peparab. lan badé karsa hing pundi. madukuhwan hing wan[n]adri.” 23. langkung sa(hé) toya bening. “Duh kakang basa pukulun. 3a (6. sing wétan hasli rumihin. nulya manggih tiyang gaga. kula péngén sesaréyan.

dameng tambi weteng blending. hingkang lami manggén riki. yén lumampah sempoyongan. “Duh bagja temen rayi. Kyahi…humatur. Banyu Hurip dulur misan. Karun[n]a sarwi hangrangku(l). daging kula kathah hical. ngalar[r]i Cimanuk kali. badé hanglemok[k]en badan. pinanggih kaliyan kakang. 29. 31. dameng gegodong[ng]an kula. Wirakusuma Dipati. Sinubu. sing Bagelén hasli kula. Kakang (ing) wétan nagari.Wiralodra jeneng rayi. dahar …se//(ka)lih hulam. salaminé boten bukti. hingkang dipun bukti habdi. handugék hagen pun daging. sami pada suka hati. “Duh Bendara tembé habdi. kula hasring niba tangi.” 28. 28 .subu haneda. Haduh dara kula suwun. Hanulya binakta wangsul. 30. pu……na tan dahar. hing wisma pernah hi(ré)ki. tyang tangga samiya bhukti. 32. Ngayang hayang hir tiyang bu… suku hasta halit halit.

Radén Wiralodra wahu kantuk sasasih mangkin. hamireng hatur[r]é Tinggil. 35. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun. sarta rejekimu paman. “Duh bagja kula ben(dara) kranten kula nyémah niki. bis[s]a wareg dika bukti. 4a (8. 37. 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin. pinanggih kaliyan kadang.kasrimped déning la…tan.. “Duh kabegjan pama. nulya humatur hing raka.la.” 34. lubér[r]an masșa redi. “Ya paman Tinggil wus begja. “Duh kakang panrima yayi.” 36. 29 . 33. sampun gama rasa kula. hanggén[n]é bungah wak ingsun. Cimanuk wangsit yang sukma?” Wirasetra muwus haris. sadinten ping kalih bukti. manggén tengah wana mami. mila sing lami hing riki. muga dén hidin[n]i kula.” Humatur Kyahi Tinggil. pernah[h]ipun hingkang kali. pinanggih lan kadang mami. Tyang kalih sami (gu)yu. Kyahi Wirasetra puniku[s] hanyambung[ng]i sabda man[n]is.

sarwi matur klayan lirih. hatut pinggir pinggir kali. Ki Wirasetra hangguguk. namung héwuh ……habdi. “Lah paman Tinggil puniki. 41.” Hang kalih pangkat hanjugjug. gampang bésuk sandang malih. hénggal hasira pinanggih. kanggé… kan…yaktosnéki. 42.“Muga dak jujurung pandonga. daging kula dugi malih. Nulya pinanggih lan kali. “Héh Tinggil sun dongakna. 30 . Sarta rineksa Yang Hagung. 38.” Nulya sesalaman sami. “Duh dara men[n]awi nyata. ming (pinggi)ran[n]iréki. kelangkung sanget bungahnya. “Nun bhendara nuwun kula. gumujeng[ng]é suka hati. Kyahi Sidum sanget welas. sangking daramu pikersa. Nulya tiyang kalih lumaku. mugiya hénggal pinanggih.” 39. tak duga hiki Cimanuk. 40. boten wonten padukuh[w]an. kalih sasih hing laminya. Ki Tinggil pan manembah. mingétan hingkang … dén…i maksih hageng hingkang wana.” Ki Tinggil humatur lirih.

paré gajih putih putih. kanan kéri mandakaki.ningal[l]i dangka kalih. pinuter kembang srengkun[n]i.warna. 46. 31 . hing wésma wonten tiyang lenggah. térong kara sabrang cipir. Ki Sidum lenggah (ing bumi). sundrem malem mangajeng[ng]an. 43. 47. bonténg timun miwah lobak. Pinggir kali wésma nipun.” Nulya hamarin[n]i sirih. hing wétan tan[n]ana Tinggil. langkung sahé dén tinga[l]li. Wiralodra hawecan[n]a. 44. Raden Wiralodra dulu. tanem[m]ana warna. linggih hongot-hongot deling. ningal[l]i kebonan mangkin. Gemuh wéhing kebon wahu. kebon lega palawija. kebon bhagus datan[n]ana. Boléd homas miwah jagung. 45. 828) Hanulya nyipta kiyahi. kebon lega palawija. “Duh Tinggil bagja wak mami. tongkéng malengkung hing lawang. hing wétan kadya puniki. 5 (9. lumampah nrajang rinungkun. langkung seneng haningal[l]i.

5a (10. Nanging hadat[t]é puniku. na pamali tiyang halas[s]an. 32 . wastan[n]é puniki kali. kebon sahé sapuniki.bakal wuwus aya hulam. 52. badé tanya pan kagu[ng]ngan. “Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun mugya hagung pangaksami. (“Ha)rep hapa siréki. hapa harep ngrampog hingwang. nembé teka hamariksa. Nulya hawecan[n]a haris. hingsun tanya bentak nyentak. sarta Kyahi kali nap[p]a. tan mingsir bari halinggih” 51. “Sugal temen kaki kakang.” Humatur Kyahi Tinggil. nembé kula haningal[l]i. 829) //wong ngendi sira hiki. prawantu tiyang dusun Gusti. (bo)ten gadah tatakrama. Hiki kali pan Cimanuk. 49. Hanyentak ngandika wahu. kedah[d]ipun maklum Gusti. Haran ningsun kang sinambat. 50. sira tekang wisma mami. 48. Kyahi Wiralodra getun. sun kang duwé kebon hiki. hinggih leres Gusti Dara. harep hapa sira tanya? Kakang tan[n]i malih warni.

55. sorah ngandikan[n]é mangkin. jajabang muka lir gen[n]i. 33 . 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i. 53. “Hora harep tulu(ng) mami krana hingsun sugih rayat. kali Cimanuk pan hingwang. ngisén[n]i dika wong dés[s]a. 6 (11. tan liyan hingkang sun hilar[r]i. perkara kebonan kaki. senyatan[n]é kula kyahi. “Duh Kyahi pan hingsun tulung. welas sakya hing mami. Sahiki kaki sun jaluk. rin[n]aket[t]an kaki tuwa. tebih sing Bagelén nagara. hing tembé ningal[l]i kali. 54. hénggal sira hamampus[s]a. kaki grendaka sun tan[n]i. hora ken[n]a sun halus[s]i.Nulya dén pedek[k]i lirih.” 56. kuma tumut ngebon kaki?” Hang réncang[ng]i jeng ngandika. hora ken[n]a tak bhedam[m]i! 57. Ya hiki kali Cimanuk. haku tan sudi ning[ng]al[l]i. Radén Wiralodra bendu. Kyahi malih warni muwus. “Héh kaki dika wong hapa. hawéh hingsun jaluk paksa. muga dén pernahna Kyahi hingsun nurut jeng ngandika.

mapan haku hora sérab. musna kebon kaki-kaki. “Hah Wiralodra putuku. 831) //mengkola mun șira manggih. pan pinasti karsa n[n]ing wang. han[n]ingal[l]i hing siréki. hangadu sakti linuwih.58. hénggal sira hanyabrang. 62. hangadeg linggih hing korsi. Bermula halas dén jaluk. pan dudu Cimanuk kali. Pammanuk[k]an hingwang dusun. 59. hical mapan dadi wana. hanubruk hing kaki tuwa. Hing pernah kebon wahu. binanting hanulya hical. Cipuhnegara kang kali. hénggal bhurun[n]en dah kaki. walang kerik hanuding[ng]i.” Radén Wiralodra mangkin. 6a (12. kidang mas hinten kang soca. bésuk dadi dés[ș]a hiki. Buyut Sidum haran ningwang. Hingkang mindhah kaki wahu. langkung sorah hawecan[n]a. kari kari kebon mami. surung-sinurung tiyang kalih. nameng wonten kapiyarsi… 61. 34 . bener sira pan bherandhal. 60. yén hora weruh hing mami.

nulya hanubruk tumul[l]i. tetapa hahaja néndra. Lajeng takșaka hambhuru. mapan Radén Wiralodra. yén hénjing tamtu hing wétan. 66. Lajeng malebetan gung. Tyang kalih hanyabrang sampun. Hinggebeg kiyahi Tinggil. yén șonten kulon pun lingsir. hing Cipunegara kang [kang] kali.” 64. hénggal-hénggal lumampahnya. bénjang lamun kaki babad. wunten takșaka hageng prapti.63. poma kaki wekas mami. surya hingkang dén ningal[l]i. 35 . “Duh tulung bendara ningwang. 68. hing pundi nusup pun haki. Sima[h] kekerag hing ngayun.” Hanulya wecan[n]a haris. pinanggih macan gedéki hangadang margan[n]ya. Hana macan hagung. macan tin[n]abok tumul[l]i. “Man Tinggil meneng siréki.” 65. nulya musna rupi macan. mangko hingsun harep tanya. pasti turun nira mukti. yahiku Cimanuk kali. Hing pundi hical ké wahu. Radén Wiralodra hindha. macan hapa karen[n]éki?” 67.

manggah jandi katurut[t]i. kula sanggup badé tulung. dén pendhung hula sirahnya. 2. ningal[l]i kali geng néki. III. hasar kula dipun kawin. sarta kang sineja n[n]éki? Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula. Dateng Radén [pan] Wiralodra. Larawan[n]a wasta kul[l]a. napa sakarsan niréki. pan badé ngilar[r]i napa. Radén Wiralodra héran. SINOM 1. taksih nonoman maran[n]i. “Duh Radén bagus jandika. 69. Pan kula makșih[h]aken[n]ya. 36 . 7 (13. Musna hula dadi kali. tiyang bagus pinanggih riki. kasugih[y]an kadigjayan. Haduh melas temen hingsun. wunten pawéstri yu héndah. hing Radén Wiralodra. 832) //kali musna tan kahékși. salebet[t]ing wanadri. Nulya mendak (taska)ra wahu dén lepas[ș]aken tumul[l]i. déréng hanglampah[h]i laki. ngalih hasih melas șasih.hambhakta pendhu Ki Tinggil.

Ki Tinggil majeng hing ngarsa. buru dadi kaki-kaki. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an. hana hing tengahing wana. “Sampéyan wonten hing wana. “Tan gingsir paman wak [k]ingsun. “Duh bendara dén hénget[t]a. nulya nyandak Larawan[n]a.” 3. …da krama kula wahu. ngangken kenya déréng laki. yén șampéyan tan nurut[t]i. bisșa temen ngomé hiki. kuping tuli gigir bekuk. hamit kula badé hamangsul[l]i sabda. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a. 37 . sarwi humatur halirih. pasti pejah sareng ngakalih jandika. pan ka[h]ul[l]a datan hasti. Radén nyimpang nganan ngéri. 7a (14. dateng Wiralodra mangkin. mangko badé hingsun priksa. puniki tengah wanadri. hangantos hantuk kamulyan. 833) su…//pekik. sanajan héstri yuhéndah… hé ora ha(rsa) șeja krami. hanuwun șamangké kula. 6. huntu lunga kempo(t) pipi. 4.manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula. langkung gampil tiyang …karma bénjang… 5.” Wiralodra ngandika haris. datan pantes tiyang héstri.

Wiralodra dén priyatna. nulya Dén Wiracabra pinendi. Nyi Larawan[n]a nadah[h]i. 38 . manggah Radén sampéyan males hing kula. kalumah[h]an nulya nubruk. kénging musna rupi kidang pan kencana. senjata ranté pan hiki. Wiralodra hanadah[h]i. malajeng ming wétan wahu.tun[n]a …sakti. wong bagus . ngadu sakti gumreget Nyi Larawana. yén nora dadi sawiji.kinipat[t]aken tumul[l]i. tan ken[n]a sun hé mangkin. hananging tan pasrah mangkin. Nulya Radén Wiralodra. 8. “Duh Radén kang ngatiyati kinten bhabar pisan Gusti. tadah hana tyang pekik kaya jandika.cinandak mangkin. candak. gébés-gébés haningal[l]i. Wiralodra dén priyatna. dibujeng sami prang lirih. karanten ……. 9. malempat Ki Wiralodra. héran temen Wiralodra. suka matiya wak[k] ingwang. hangasta cakra tumuli.. senjata ranté tumiba. 7. Ki Tinggil maran[n]i hénggal. Nulya dén pe[n]ta sanjata. …cak pan[n]a wong [ng] abagus.

10. karsan[n]é…mara tinggi kidang kencan[n]a pan hical. hayuh paman haja kari. hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang. Hanulya Radén tuminghal 8 (15.” 11. 12. punika kali Cimanuk. hing turun-turun siréki. Tyang kalih hambhujeng kidang. yén tebih kidang ngentos[ș]i sampun lepas lampah néki. Cimanuk kang dén pilalah. kajeng kiharah geng néki. nulya léréh hing ngandapya. 13. Hing ngimpén kang kapiyarsa riki kacung hapan kali. wis bhagja muraki bénjing. dén pegat nganan lan ngéri cinandak-candak tan ken[n]a. hika pan kidang kencan[n]a. Nulya dumugi hing lampah. hanutut[t]i kidang mangkin. siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a. tan șamar kidang kencan[n]a. nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah. 39 . katingal hujur ring kali. tyang kalih datan katinggal. “Hing paman kiyahi Tinggil. paman dén hawas handulu. 834) gumebyar saliran[n]éki. nulya hangandika haris. toya deres hingkang mili. ming wétan kidang malayu.

wélan-wélan hasung warta. 17. sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya. nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra. “Duh bendara yén waten[n]a.karsan[n]é Yang Maha Hagung. supen[n]a pana……//warti. nyata hiki Cimanuk kali pernahnya. 835) 40 . Ki Tinggil damel[l]an[n]éki. Wis terang wang(si)t Yang Sukma. 14. wis katrima hing Yang Widi. 8a (16. ngandika hing paman Tinggil. nulya hangilar[r]i pernah. miwah banténg warak wahu. Sanget bhungah réhing manah. manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata. pan[n] ingsun șaréh lan dina.” Ki Tinggil humatur lirih. Radén Wiralodra mangkin. mapan bhibar katawur[r]an. “Duh paman bhegja wak[k]ingsun. hanulya hamasuh raga. hangilar[r]i minggir kali. Nulya hadamel kang wisma. hing himpén kang kapiyarsi. menggah Gusti kersa pundi. Mangka Raja Budipakșa. kanggé panggénan pun habdi?” Radén Wiralodra wahu. 15. Radén Wiralodra mangkin. 16. hanggén[n]é babad wanadri. mapan holih kamuktiyan. paribawan[n]é panas hatis.

sakéng bala bubar mangkin. hakumpul șabhalad nira. gawé rusak bhala[n]ningwang. braga brigih ngarsa mami. hamasing donga Ki Tinggil. 9 (17. Sulahémana Srabad mangkin. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira.miwah patih Bujar[r]awi s. ngisén[n]i gandarwo bulus. pasti lancang kumawan[n]i. 41 . 19.” Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira. kapethuk hing wisman[n]éki. 20. Nulya kalurug Dén Wira. samya dugi hangrawuh[h]i. hi ra[n]né sapa siréku. ribut prang[ng]é Radén Wira. hénggal nyingkir sira hiki!” Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a. hingkén[n]é majuwa sira. 836) kumawani// ngusir hingwang. kelangkung sanget duka[n]nya. “Héh satriya wongasigit. miwah para kang prajurit. dikira haku pan wedi. 18. sarta sakéng sén[n]apati. Ki Gedé muwara Cimanuk. Bhudi Pakșa hangandika. kénging Radén Wiralodra babad wana. jurubiksa kathah lumpuh. mapan hingsun tan ngoncat[t]i. Sakéh[h]é Gedén Muwara. ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis.

24. nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa. ngasih hasih melas șasih. kasamaran bhala habdi. Dugi hanang Sultan Hemas “Haja pada dén ganggon[n]i. 42 .” 22. sukur bagja rayi sultan.” 23. Rara Kidul Gusti mami. Ki Tinggil kang dadi koki. dumugi saturun rayi. hiku Radén Wiralodra. krana maksih pernah cangga.” Ngandika Dén Wira wahu. becik dén raksa hahiki. pada kekadang[ng]an mami. Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat. Werdinata sultan hanang Pulo Mas. 9a (18. sahanak sadulur. 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi. katambhet[t]an Gusti habdi. Rayi Sultan bhas[s]a mami. Nulya siyang dalu babad. krana turun Majapahit.nulya wonten hutus[s]an[n]ya. “Mangké sinten pan jandika. 21. kakang pan gawé hi…s[s]a. “Duh Radén Gusti kawul[l]a. muga dén hampura Gusti. sangking Tungjung Bang puniki. Sarwi manembah hing ngarsa. “Duh kasuwun jeng ngandika. pada hakuren sadulur. samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an.

25. hingkang lén Cimanuk kali. trimanen kongkon malebhu. haja dén télaksaman. Kathah tiyang kang damel wisma. manca negari kang dugi. 26. tan wonten tiyang kirang nedi. bok hana tiyang kang yuda. 43 . “Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula. boléd jagung kalih cipir. lami damel padukuwan. palawija warni. sami gemah kebon[n]an hawarna-warna. Ki Tinggil humatur haris. kawentar kebon[n]an[n]ira. Sanget kapéngin pinanggya.warni. kalih rama hibu mami. palawija tan kabukti. kathah tiyang sami prapti. lumintu tiyang kang dugi. gundem juwawut hagemuh. tumut wisma hanang riku. Ki Tinggil kadadi lurah. 27. teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin. hawit tetaneman gemah. datan wonten kakirang[ng]an. Boten wonten kakirang[ng]an.miwah nanem palawija. sampun hantuk tigang tahun. Radén hangandika haris. manah paman dén kariya. lamun bhagus tanah néki. “Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a.

sangking marman[n]é Yang Widi. hanjujug hing padalem[m]an 10 (19. 44 . hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari. 29. lelampah[h]an putra mami. sumanding putra tetelu.Tinggil dén kari basuki. hanangis șiyang lan ratri. caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a. kagét hibu miwah rama. pun dugi hing Banyu Hurip. sadaya samya han[n]angis. “Haduh nyawa putra[n]ningwang. Putra humatur Jeng Rama. 838) //Bagelén hingkang negari. ningal[l]i kang putra prapti.” 30. pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa. hora nyan[n]a temen kaki. “Duh mas han[n]ak ingsun nyawa. siyang dalu pan kating[ng]al. yén hinget hing sira kacung. rama hibu sami linggih. miwah kadang kadang néki. pun katurang lelampahnéki. hibumu pan șamya bintip. Kacariyos hing lampahnya. marah hanak[k]ingsun nyawa. muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira 31. welas[ș]é hing lampah[h]ipun. 28. kang dadi lurah hiréki. rama hibu mirengna. Si Tinggil hingkang hatenggah.

lan Tanu[h]jiwa siréki. 839) 33. 45 . tyang halit șeneng kang hati. margi hageng lurungnéki. Sukubahu Jungjangkrawat. Bayantaka Jayantaka Surantaka. tempat panjagian gardu. cakep hadamel gelar[r]an.sekawan[n]é putra ningwang. hing kulon dadi nagari. 34. saban lurung panjagahan. cacah limang ngatus jalmi. Ki Tinggil hingkang dén tilar. Wanasara Puspahita. pinedhak kadya nagari. Miwah si Wangsanagari. mapan mukti kiyahi Tinggil. kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara. supaya dadi weruh. mengkuwa Bagelén negari. samya matur ram[m]a haji. kambi sadulurmu kaki. sahiki pan sira kaki. kadya pangkat[t]ing tumenggung. sadaya cakep ping kardi. tumut magén padukuh[w]an. hatur[r]an ngurus nagara. miwah Ki Pulaha kyahi. handérék șakarsan[n]ipun. Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya. langkung kathah tiyang prapti. 32. gampang bésuk yan wus dadya. dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a. hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil. 10a (20.

muga dén hidin[n]i hulun. 35. hutawi kula hanyabin. 38. lan șinten kang wangi.” Ki Tinggil hambales șabda. badé ngebon kula kyahi. 46 . mikul gandum kalih pantun. dén hiring pawong[ng]an kalih. tur maksihken[n]ya pawéstri. punapa sejan[n]é Nyahi. hasli sangking pundi hayu?” Nyi Hindang mangsul[l]i sabda. Hanulya wonten tiyang prapta. sumanggah hayu hamilih. 37. 36. tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an. hayun[n]é hang luluwih[h]i. tan[n]ah hingkang radi jembar. Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a. Bade handérék ka[h]ul[l]a. “Hamit palamarta habdi. 11 (21. pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah. Hakulon hutawi wétan. “Duh paman tambet hing mami. “Sumanggah handérék habdi. hanjujug wisma Ki Tinggil. Hindang Darma hingkang nama. Ki Tinggil haris tetanya.saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma. 840) kula haningal[l]i senang. tumut damel wisma kaki. dateng pundi sumanggah kapilih karsa. hing sémah manembah prapta.

ngandika hing murid[d]ira.Nyi Hindang mariyos makin. hingkang murid-muridnéki. memada… hing jenengi 11a (22. 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang. ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh. sakéh murid pan șami. Pan gemah kang pakebonan. “Héh sekabéh murid mami. Hayu mulus kang salira. hingsun mapan wis hangrungu. kapiyarsa marang Pangéran Palémbang. kawentar liyan nagari. ningal[l]i wong hayu luwih. nanging bénjang dara mami. mandah bungah[h]é bendara. yén rawuh hanang riki. kedot pan gun[n]a sakti. kanggé garwan[n]é bendara. nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya. pan likur pangéran[n]éki. sakathah[h]é murid[d]ira. temtu haku nulya matur. mapan șampun Hindang Darma damel wisma. tan[n]a tan[n]i dérék wahu. sampun medal șangking wisma. Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i. 41. hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i. hing pernah kang senang milih. hana wanodya hamulang. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran. 39. mandan napa Gusti mami. Hindang Darma mulang jaya. 40. 47 .

hingsun ngungsi Pulo Jawa. nulya hénggal babar layar. héman temen tingkahnéki. Sanget kumejot hing manah. hanang wisma Hindang Darma. Pangéran pan wicakșan[n]a.42. pada sira dangdan haglis. kawit[n]é tyang dusun habdi. 48 . hanangkep kang pada mami. “Duh hamit hing palamarta. cipta sajroning galih. sakedap nétra wus prapti. hingsun ngrungu t[t]an șudi.” 44. Sahiki murid șadaya. kagét Nyi Hindang ningal[l]i. Nulya Nyi Hindang humatur. hiki wanodya yu héndah. 43. 45. lan badé karsa punapa. saha sinten kang wawang[ng]i. manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya. mila hing ngabrama Gusti. hasli sangking pundi Gusti. “Duh [duh] bagja kula sémahan. samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a. wunten tiyang kathah prapti. hing muwara mentas pangéran sedaya. sampun dugi prahun[n]éki. pangéstri hang lelanang[ng]i. tiyang hagung hang rawuh[h]i. Pangéran gawok tumingal. nulya haris gé nya matur. “ Sampun numpak hingkang prahu.

hing Palémbang nagrinipun. sakaprabon hing ngajurit. kaya hayun[n]é Hindang Darma. memadahing jeneng hingsun. “Héman temen pan șiraki. dayang humbaran sira hiki. samakta rawuh paduka. 49 . hora nganggo tatakramané wanodya. tedak Haryadilah Sultan. hingsun parlu mrikșa sira.kados wonten karya hagung. hora nana padan[n]ipun. 47. pakșa lumancang hawan[n]i. dadi guruh kaya hingwang. wong hayu tur lencang kuning. kawentar saban nagara. Pangéran mangsul[l]i sabda. 12 (23. haja mungkir sira hiki. hingkang ngiring marang mami. hapa kadiran siréki. suyud pangéran hing mami. kados wonten dén bujeng lampah paduka. yén șira guruhna ngélmi. 842) //wong hayu sira wanodya. 48. Pangéran Guruh ran mami. dadi guruh sakéhé para pangéran. kang lagi guruhna ngélmi. Kari kari Hindang Darma. hora ngrungu béja warti. Mapan hiki murid hingwang. hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang.” 46.

badé pun[n]apa Gusti. mapan wisma datan nyambut. langkung sahé pideksa rupi paduka. hutawi hajrih ning[ng]al[l]i. 50. sagending habdi lados[s]i. Hénggal hanubruk pangéran Wisanggen[n]i jenengnéki. Kaya sakti sakti sira. 50 . lamun kawon mapan kula boten wirang. Hindang Darma datan sérab.49. “Duh héman hing rupi Gusti. Hambales sabda Nyi Hindang. Hananging sugal wecan[n]a. Bramakendali kalihnya. manggah Gusti kersandika. hutawi karéh hing karya. 12a (26. lancang[ng]é kaliwat-liwat. bedama pucuk[k]ing keris. kaya tingkah hira hiku. kaya gun[n]a hang luwih[h]i. sakayu(n)-kayun[n]ing hadang. matur héstu kang sayekti. tan[n]ana manus[s]a hiki. 52. mungguh pan dakwah Pangéran. hutawi saktining guru. boten wonten bas[s]a lirih. sémah neda dén suguh[h]i. tan karuwan negarin[n]éki. hipe kon paduka Gusti. 845) 51. badé napa sumanggah dérék pikersa. Bratakusuma kang rayi. hanulya medal tumul[l]i. maran[n]i papan Kang Hagung.

prang tanding ngadu gun[n]a. kathah Pangéran ngemas[s]i. kang seneng[ng]an lampah tan[n]i. sun harep matur hing Gusti. hidin[n]é kon gawé dus[s]un.kinten jembar yudabrata. sampun cahos hanang ngarsi. “Duh Pangéran hing riki papan kang jembar. sadaya pan kancan[n]ipun. 54. kalih Gusti puniki. kari kari kanggé tempat yudabrata. 55. héman rupi hadi hadi. 51 . 846) //sangking Palémbang nagara. prang sami hangemas[s]i. Sampun rucah jeng ngandika. lumampah siyang lan wengi. “Susah kang Pulaha mami. sasih hanggén[n]é yuda. bendun[n]é bendara mami. Ki Tinggil sanget hajrihnya.” 56. sadaya pangéran ngemas[s]i. kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a. sampun kantos hantuk duka hing bendara. 53. 13 (27. kanggé tiyang tani tempat. samya perang silih huki. Nyi Hindang sakti pinunjul. Nulya pangkat gegancangan. tak duga pan maksih wargi. Sadaya para pangeran. Ki Pulaha dén timbal[l]i. kariya tunggu nagara. sarwi nguwuh huwuh tanding.

“Duh paman welas ka[h]ul[l]a. “Wis jamak[k]é sira kaki. legan[n]a hingkang man[n]ah. 52 . sun dongak[k]aken Yang Widi. najan pandakawan mangkin. Haduh mas pawong[ng]an hingwang. sarta matur[r]a hing mami. hapa holih kasenengi. lanang Bagelén nagara. samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa. wicaksan[n]a tur hasakti. linggihya hasoh rumihin. mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya. 58. saré[h]hing dén tinggal kari. duk dingin sareng sangsara. karun[n]a sesambat[t]ipun. Tinubruk Ki Pandakawan sarwi dén rangkul tumul[l]i. Ki Tinggil hangguguk nangis. toya waspahan dres mijil. 57. Nulya kang rama ngandika. sareng hénget sakalih sareng hanembah. tumunten cahos hing Gusti. muktiya wong loro kulup. muktiya dugi hing bénjing. “Haduh hanak[k]ingsun kaki. Tinggil han[n]éng pagusténmu. 13a (30. sun tinggal kari rumihin.” 59.prawantu Ki Tinggil lampah. 849) //kancamu pada basuki.” Sakalih pada menenga. si Tinggil turun[n]ira. sakedap[p]an sampun rawuh.

pinaring[ng]an harja Gusti. Nyi Hindang memada mangkin. 53 . Hindang Darma pan pinunjul. bantasa kaprabon jurit. nulya dén lurug Nyi Hindang. hanggén[n]é tinggal nagari. dalah kathah tiyang prapta. kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang. 62. Hang wulang[ng]aken kagunan. sarwi bakta muridné para pangéran. Nameng humatur kaul[l]a. Pangéran Guruh ngrawuh kyahi. ngaben sakti hing ngajurit. Hindang Darma mulang ngélmi. hantuk marma ning Yang Sukma. dalah kadados[s]an sasti. gelar[r]an pangatur habdi. pangéran samya ngemas[s]i. 61. dadi guru mulang ngélmi. berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an.marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang. kadugén Nyi Hindang Darma. gemah rah[h]arja hing dusun. 63. katiwas[s]an habdi Gusti. 60. sarta win[n]angun[n] nagara. Mapan sami yudabrata. Nyi Hindang Darma dinakwa. masih ken[n]ya hayu luwih. pan badé hanangkep wahu. Kasinggiyan[n]ipun dara. dérék damel wisma Gusti. kelangkung sakti Nyi Hindang.

didongakhaken ka[h]ul[l]a. “Duh Gusti pepundén hulun. turun Majapahit kulup. hinsahalah. mila habdi gegancang[ng]an. kados pundi Gusti sakarsa paduka. hiku héyang ngira kaki. 54 . Wangsayuda Tanujaya. Sadaya samiya manembah. nameng kaki kang halus panangkep[p]ira. 65.” 64. poma kaki dén tangkep[p]a. Hindang Darma luwih sakti. nuwun hidin hing ramaji. tumenggung Bagelén nagara. sing Palémbang guruh ngélmi. kang putra dérék pikarsa. Si Wangsanagara kaki. 66. habdi suwun berkah Gusti. Ki Tinggil humatur haris. Tinggil sun durung kamulyan. Tanujiwa hingkang rayi. matur huning dateng Gusti. kapasrah[h]aken hing Yang Widi. héyangmu pan sami lampus. hing hibu miwah ramaji. kantos lami pan setahun. Hindang Darma tiyang pawéstri. 850) //”Héh kulup pan Wiralodra. hingkang rama hanjurung pandonga pasrah. Gawanen pan kadang[ng]ira. Kang Gusti pan Singalodra.tan kiyat hananding jurit. 14 (31. dipati hamaca donga.

Puspahita Wan[n]asara.67. hangandika Radén hanang Ki Pulaha. “Pan paman Kyahi Pulaha. hing parnah Ki Tinggil wisma. Nyi Hindang kagét tumingal. IV.” “Sumanggah dérék pukulun. hiringen lampah Ki Tinggil. ningal[li] tiyang yudabrata. KINANTI 1. “Radén Hayu héstu habdi. Sampun prapta kan hing ngutus. Jungjang Krawat cahos ngarsi. Bayantaka hana ngarsi. Ki Tinggil haris humatur. miwah Ki Pulaha wahu. 68. Radén[n]ayu habdi hajrih. sahéstu [pa]manah pun habdi. kinten kabaktaha kyahi. 14a (32. samya prapta wisman[n]éki. “Duh bagéya paman dika. 851) gegancangan gumanti ganti tembang.” 2. 55 . hamaran[n]ika Ki Tinggil.” sampun kondur sangking ngarsa. kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang. sadaya pepek hing ngarsi. lami datan tan kahéksi. lepat boten tur huni[ng]nga. lan kanca dika haja kari. Tan kawuwus hanang marga. hing wisma Nyi Hindang mangkin. handumuk wisman[n]iréki.

datan han[n]a sakéng héstri. hamite geng[ng]en ningal[l]i. mapan sadaya tumingal. bendara tumut ming kula. 6. hing raség sadayan[n]éki. kadia putri widadari. Nyi Hindang ngandika harum. linggih han[n]ang compok kula. kadi rupi Hindang Darma. hayun[n]é hangliliwat[t]i. miwah Jungjang Krawat kula. sareng wangsul wisma habdi. Dados singid[d]an pukulun. handérék Nyi Hindang Darma. kaluntan wangsul pun habdi. Mila habdi dipun hutus. dateng wahu Hindang Darma. 7. kulit kuning nemu giring. kedah kéring da hing habdi. pin[n]ahés releng asuri. Radén hayu dipun hatur[r]i. miwah kadang raka rayi. manggah badé dangdos briyin.3. Dedeg kelangkung hayu. Sampun dugi nembah ngayun. Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a. 852) 56 . sekancan[n]é kaki Tinggil. 4. 5. 15 (33. hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i. rémah cemeng handan pandan. dateng wisma hanang wétan.

dateng tapak hasta Gusti. rawuh hing dukuh punika. mapan Gusti kula mangkin. 13. Wiralodra ngandika harum. 57 . dateng tapak hasta Gusti. Hamung hingsun Nyahi perlu. 12. Mila dén timbal[l]i hulun. hora dadi hapa Nya[h]i. sapakersa gawé wisma. 9. sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a. dateng paman Kiyahi Tinggil.8. Radén hénggal wecan[n]a harum. hugi Radén nembé prapti. “Bagéya kang nembé prapti. kula sémah nembé prapti. sangking sanget hajrih habdi. bekti habdi nun katampi. hingsun préntah hangidin[n]i. habdi hingkang dérék numpang. handérék tumut basuk[k]i. ngrahos handérék ka[h]ula. hing paman Kyahi Tinggil.” 10. kapéngén hénggal pinanggya. 11. prawantu pawéstri habdi. gegancangan lampah kul[l]a.” Nyi Hindang humatur haris. kaliyan miskin ka[h]ul[l]a. Hugi Radén sanget nuwun. “Radén mahéwu [ng]kang suwun. pan hingsun hasung paréntah. manggah katuran haunggah.

kagét rawuh[w]é Pangéran. Nyi Hindang nulya humatur. coba matur[r]an Nyi Hindang 15a (34. datan wantun hang[ng]langkung[ng]i. tiyang hingkang hambanton[n]i. saweg linggih wisma habdi. “Duh Radén humatur habdi. damel hakal Radén habdi. Pan dakwah Pangéran gugu. hingsun harsa mireng[ng]en[n]a. Bermulan[n]ipun pukulun. Pan dakwah Pang[ng]éran guru. lajeng bendu hangliwat[t]i. muga matur[r]a hing mami. 14.tebih sing Bagelén nagri. hutawi kebon[n]an habdi. prawantu héstri kul[l]a. sami yudabrata Nyahi. 17. 16. matur héstu kang sayekti.” 15. perlu mriksa hing perkawis krana kuwajib[b]an kula. 853) //priyén bermulan[n]iréki. Mejanggu tan[n]i hulun. miwah kadang kadang kula. 58 . hutawi ngirang[ng]i kul[l]a. dateng compok pun ka[h]ul[l]a. 18. sumpah hing hayahan Tuwan. réning habdi sugih jalmi. kang dadi kawitan mangkin. ha[k]bujeng damel sawah. samurid[d]é sami dugi.

seja sami ngemas[s]i.” 20. 19. hiku pan jaluk wak [k]ingwang. Yén menang dadi bujangmu. 22. sakéh[h]é para pangéran. 21. “Yén bener haniréki. sanajan wong kuwat n[n]ingwang. Jadi pan karsan[n]ingsun.” 23. pitulung Yang Maha Widi. 16 (35. satingkah polah Nyi Hindang. supaya huni[ng]nga mami.nyabin miwah pakebonan. Seja pin[n]ejahan hulun. nurut[t]i napsu niréki. 59 . Héyang Guruh hingkang salah. tak jaluk sukan[n]é Nyahi. “Duh bendara Radén kul[l]a. Nyahi kalah dadi rabi. hingsun[n]ora hamilon[n]i. 854) réhna gawa jago hingwang. humatur sanget pan hajrih. hapes yudan[n]é Pangéran. Wiralodra ngandika rum. dén dakwah memada habdi. Hindang Darma hamlas[s]ayun. tak jajal[l]é karo Nyahi. totohwan pan jiwa raga. hingkang hanyaksan[n]i mami. kinepung hing para murid. mejang hélmu klayan. badé hanangkep pun habdi. bogan lanang kalah ngéstri.

yén makaten déra k[k]arsa. dadi manjing…yang bara. 27. Wiralodra haris muwus. 28. héstu ngapunten pun habdi. Hindang Darma karo rayi. nuwun ges[s]ang paduka. 60 . hakondur sing ngarsa Gusti. sampun dados manah Gusti.hapan sanget hajrih habdi. Tanujiwa Tanujaya. pan sangking hidin[n]ing wang. 26. pasti bakal hingsun kawin. lamun kalaha Nyi Hindang. Hapan dadi bojon[n]ingsun. hadin[n]ingsun kangge galih. hangedal[l]i perang tanding. kumedah majeng hing jurit. hanulya Radén hamedal sekalih dangdos hing jurit. nameng sanget hanuwun kula. sili hugi ngadu gun[n]a 16a (36. payuh pada ngadu sakti. Perang tanding rebut hunggul. seja hingsun han[n]iwal[l]i. Nyi Hindang methuk prang lirih. Radén medal nguwuh huwuh. wong ayu sira Nyi Hindang. Hindang Darma nembah ngayun. Tanujaya haran mami. 855) //Radén sinabet tumul[l]i. 24. 25. “Hiku Nyahi haja hajrih.

sawitan ngatur pakéyan.” Nyi Hindang nulya hanggeblag. Tanujiwa majeng nuli. 29. hasuk[k]a-suka wédang kopi. wong nom lok yan mangan. 31. 33. megap-megap napan[n]aki. hing ngarsan[n]é Wiralodra. Pendelik lan socan[n]ipun. mésem haningal[l]i rayi. Hindang Darma luwih (sakti). kabur tiba han[n]ang ngarsi. gagah kayan[n]é rayi. gumuling ken[n]a hing siti. sugih banda kaya mangkin. “Haduh Nyahi Hindang golis. paju wong yudabrata. sambat hora kuwat kakang. tak ras[s]a sen[n]ang kang hati. pun hayun.hayun[n]an yuda. Wiralodra ngandika harum. kaki pasrah ka[h]ul[l]a. 30. “Priyén rayi rasan[n]éki. Ngadirane rama hibu.” 32. péngén ngemb[b]éhé Nyahi. Haja hinda duh wong[ng]ayu. wong hayu hanarik hati. 61 . putra gegedé nagara.Tanujaya kapisanan. kénging ngén Nyi Hindang geulis. nyata sakti mandragun[n]a. Ki Tinggil hambakta sampun.

“Duh rayi kakang tan sanggup. sampun wangsul hing nagari. Lamun kaya hawak [k]ingsun.” Wangsayuda matur haris. haja kakang hangawit[t]i.perang kalah hing pawéstri. Kang rayi sami humatur.” 17 (37. “ 38. “Manggah sampéyan hakarsa. mungguh kakang mérang ram[m]a. 34. Nyi Hindang tandangiréki. 36. hanang Nyahi Hindang geulis. 37. mérang marang rama mangkin. rayi kalih pan kajodi kawirang[ng]an yudabrata. 856) 62 . Radén//Wangsayuda mangkin. HindangDarma luwih sakti. Muga kang susah kelangkung. wirang kathah kang ningal[l]i. kakang pasrah hingkang rayi. Nyahi Hindang Darma kaki. manggah nganclong saba…ran. je…yudabrata kalih. 35. lir sikat[t]an nyamber walang. Nulya dén hatur[r]i wahu. mingkin kula ningalan[n]a. katimbalan[n]én nangkep[p]a. wus san[n]a kala(h) jagonya. “Dédé musuh Hindang Geulis. bagjan[n]é ngungsi hing ngukir. “Cobi kakang kangedal[l]i. Tanujaya sabda sugal.

mengkin rayi kang ningal[l]i. miwah Tanujiwa rayi.latah hambelik. Radén Wiralodra muwus. sing riki duging negari. 857) 42. Bagelén hing kanjeng ram[m]a. “Loh hadat[t]é wong kalah prang. Gawa jago loro hiku. Nulya hangandika haris 63 . tarung (kero)yok[k]an mangkin. kelurug samargi margi. “Loh kang Wangsayuda bis[s]a. sarwi mésem ngandika haris.” 43. halatah. 40. wirang hisin yén hamulih. 41. “Sekalih rayi wecan[n]a. kul[l]a kahul géndong kakang. mancén[n]i hing rayi kalih. tak nyana solot tarungnya. nyambung sabda Wangsayuda hora gun[n]a hingsun hiki. Nyentak Tanujaya muwus. 17a (38. bagjan[n]é gentén tyang kalih. Wangsayuda hagemuyu.39. kakang tanda hora wan[n]i. kari kari hora gun[n]a. manggah kaki géh yudaha. kalih Hindang Darma mangkin. ne …sun haben lan bibit. //Lamun hunggul yuda wahu. kala thothot wedi pis[s]an.

“Duh bendara Radén kul[l]a dados pundi polah habdi.” 45. Radén Wiralodra wahu. Nyi Hindang hingsun timbal[l]i.kadang[ng]iréki. Nulya hanimbal[l]i wahu. nyata hunggul hing ngajurit. man[n]is legin[n]é…. prawantu tanding hing yuda. nulya manembah Nyi Hindang. mudu bahé dén turut[t]i. hing ka[ng]dang. Kari kam[m]i hawak [k] ingsun yén tedan péngén ngrahos[s]i. 46. sapa kalah sapa men[n]a(ng). Hora Nyahi …u…kma. dadin[n]é hingsun timbal[l]i. “Wis rayi dén baris[s]an[n]a. jamak[k]é wong mangun jurit.” Nyembah Nyahi dén turut[t]i. Nyi Hindang cahos hing ngarsi. hénggal Nyahi metung … 18 (39. 64 . mengko kakang maju[ng] jurit. “Duh mas Nyahi Hindang Darma. Haja dadi ma(nah) (ya)yi. medal hanang yudabrata. 47. Wiralodra ngandika haris. yudabrata kalih Hindang.44.” Nyahi Hindang matur haris. (wi)réh(i) hawelas[s]asih. 858) //…Nyi Hindang panembah lirih. 48.

hical pan dadi wanadri. 5. prawantu sakalih sakti. tarik tinarik wani. Nulya sami surung-sinurung hing yuda. 4. 3. malempat Nyahi Hindang. dateng Nyahi Hindang Darma. hical dadi taksaka. sira Nyi Hindang. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata. Wiralodra ngandika. taksaka hical mangkin. Radén kalih Hindang golis. dén mapan dadi peksi. “Héh tuhu nyata prajurit. hambhujeng hing Radén Wira.” Hanulya dén candak wan[n]i. Hindang Darma manjing hing jambu wénya. sampun hayun[n]ayun[n]an. pan Radén hambujeng hénggal. 65 . hanulya dén bujeng wahu. 2. Dén turut[t]i Hindang golis. peksi garuda.V. DURMA 1. (yuda)brata man[n]iréki. hanggén[n]é hang[ng]adu saktya. saparan[n]ira. hing mondragun[n]a. mapan sami hanimbang[ng]i. Dados taman habening hing toyan[n]ira. Nyi Hindang hical saking hastanira.

kuthilang badé dahar. 6. Nyipta glap sinamber haglis.. Radén hanang hanutut[t]i. sarwi (sinam)mbat.mapan Radén dadi peksi. campur kalan hukir.né hing hayun[n]ira. 66 . Mapan Radén sekti liwat. kula tan saged kami. . sampun hical nama kula. “Duh susah hawak mami. nanging tan samar Dén Wira. saparan[n]ira. hing buwah jambu punika. “Awit kula kersan[n]é yang maha mulya. 18a (40. nulya hical jambu mangkin. juwet temen Nyahi Hindang. hanggebur hanang wari. 7. 859) //ngendi paran[n]ing wang. Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin. Dadi watu sagunung hanak hagengnya. kalawan hingwang.liwat. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal. nulya prang pinggir hukir. dadiya (se)kar ring puri.. 8. bareng ngamukti lan hingwang. 9. maksih panjang lampah[h]a (sirek)i nameng hanuwun nama.” Nyi Hindang héwed hing manah. Nyi Hindang honcat. hingsun humpet[t]an pinanggih.

sangking pundi sangkan rayi. muga lulus[s]a hing bénjang. Lamun sampun dados nagari hing bénjang. muga dén nama nama. Radén Wira haget[t]un sajroning manah. …kanggé turun[n]ya. hing Pegadén kang dén hungsi.” Kang raka nulya ngamin[n]i. hanggén[n]é damel nagara. leng manah Nyi Hindang golis. “Sukur bagja rinta. kado(s pundi lelam)pah[h]an. 10. Radén kaliyan nagri. hing wan[n]a Cimanuk …repun dadya?” Kang rayi matur haris. Darmayu bénjang nagara.” 11. 13. 860) 12. kang wa … nulya ngrangkul pinanggih. nulya mengngulon hing lampah. Hindang sing namhing wari. hing kulon Cimanuk kali. 67 .ha(ngdad)i manuk puniki. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka. dadiya negariya. pan hanang tuknya. kasmaran ningal[l]in[n]a. 19 (41. sareng babadnya. hanak putun[n]é rayi. dateng Cimanuk (hing) ukir. “Haduh rayi //nembé pinanggya.

Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan). badé nuwun hidin raka. 17. “Duh nilari ngapa. hanulya pangkat. Wiralodra tanya haris. … hingkang wangun nagara. hangiring Gusti mami. 15. gén[n]é sisiniyan kalih. 861) 18. nulya matur kang raka. Nulya pethuk kali panarah. hana hing gawé negara. sing wétan haslininéki. Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a. Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan. siyagi samakta jurit … 19a (42. lan sinten hingkang wewangi 68 . surak mangambal[l]ambal. kagét hana pri……ni. …//…ngan. pan sineja mriksan[n]i. dateng baris[s]an.14. kulon Cimanuk wan[n]a. hawor suwaran[n]ing bedil pan Radén hamaran[n]i. wangsul hanang negari. pun[n]iki baris[s]an napa. Kang raka hangidin[n]i. hanulya duging baris. baris[s]é mangun jurit 16. badé hamriksana.

maksih bakal nya nagari. lah kabener[r]an hingwang. sukur bagja pan pinanggya. 21. (ga)wa (kang) kanca siréki. (Dalem) Kuning[ng]an. nulya humatur haris. 22. Gragé wewengkon[n]éki. Wiralodra pan kula. pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling. Kran[n]a waktu punika. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang. …ngagéh da Dipasarah. Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an. tamtu hing rusak. hénjing kula cahos Gusti. 20. sampun da(dya) nagari. hageng nagara hing wang. kadiparan yén wis manjing. pan hiku sap[p]a?” Nulya humatur haris. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara. nulya cahos tyang kalih. hing Kanjeng Sultan. sahéstu kula puniki. 69 . cahos hanang harsan[n]ingwang. nulya hangandika wahu. sumanggah cahos hing Gusti. sapa layak yudabrata. 19. kang wantun wangun nagara.(wa)n[n]i hambabad.

dérék tiyang salah habdi. katimbalan majung yuda. sangking Galuh prajurit. hanang wawengkon sultan. Geragé hing pan[n]egari. lan dalem Kiban. “Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika. nameng nuwun hadil habdi. 25. nagari pan wicaksan[n]a. lamun prajurit téku sangking Kuning[ng]an. 862) Hangandika Kumuning. hidin sing sapa. kéngkén hamriksa puniki. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an cahos sangking harsa Gusti. 24. hing Gragé sinuhun holiya. puniki hing …. upas repat pun hamba. hanang sultan holiya. mapan mentas perang tanding. hawit déréng matur Gusti.” 20 (43. tan katon Gusti sultan. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal.” 27. sakersandika. hingkang wangun nagara. 70 . “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa (ma)tur Gusti. “Yén mangkon[n]o réki.23. kang wantun gawé negara. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan.” Wiralodra hamangsul[l]i. 26.

29. hanggé pun ngadu jaya. 31. sinuhun hora ngidin[n]i. “Lah wong hapa Kuning[ng]an. teka semban[n]a. wong Sunda pan sembrana. haku jaluk pangaksami. 32.” Dipasarah nyandak kula. 71 . Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda. surung sinurung haprang. ngadir[r]aken prajurit. hing rupa kaya sira. ngakun[n]é prajurit ku[n]na. hora duwé tatakrami. prawantu tiyang ngajurit.” Hanulya wecan[n]a. 20a (44. Dipasarah gumuling. Kumuning nrajang wan[n]i. 863) Kumuning //sun tan wedi. tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti. Wiralodra hangingget[t]i.” 30. hing rupan[n]ira. Harya Kumuning hanggén[n]é harep pribadya. Masandakom hing siti pan Dipasarah.hingsun Harya Kumun[n]ing. turun saking Majapahit. pangrasan[n]é hingsun wedi. 28. “Lah coba tanding lan mami. Wiralodra prawantu putra sing wétan. sinépak hénggal.

si Windu titiyan[n]ira. Kumuning hanglancang[ng]i. Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat. nulya cinandak wani. nyinirat hanang hukir. kran[n]a hakéh luwangnya. waktu Dalem Kiban. Dén Wira langkung welas. hanulya pun titih[h]i. mugi sukur hanambahi. hanggebeg saliran[n]éki. gawé jajahan. mangsa kuwat siréki. 864) nalika prang Galuh //dingin. wong Galuh hakéh kang pejah. 21 (45. Si Windu hangéréng nulya. datan bis[s]a mobah. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah. 34. dén ngucap Si Windu mangkin. Dateng Radén Wiralodra pan cinandak. si Windu hingkang nyépak[k]i. pasti sira ngemas[s]i. 36. 72 . 33. Mila windu tan kiyat gén yudabrata. kendal[l]i dipun cekel[l]i. jimat kapal sampun hical.prang hutawa ngusir hing tiyang gawé negara. payuh majuwa. 35. sin[n]épak kajumpalik mrangkang ngungsi hing kuda. dén nang[ng]ngen hingwang.

“Héran temen Windu mangkin. sira kalah haprang. tan kiyat harya Kumuning. huculna habdi Gusti. mapan Windu napsu wan[n]i. 38. Windu malempat. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira. nulya dén lepas. 73 . Kang Gusti gumuling siti. pan sira sering haprang. semu radi ngelawan. hanggempur wong sanegara. Pan kahul[l]a datan wani yudabrata. 37. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira. kiniwit[t]aken tumuli.” Si Windu hambesat haglis. Merkayangan si Windu hana hing wana. kaliyan Radén habdi. 41. 39. Windu dekuh sukunya. han[n]ahan[n]ana. kantaka datan hémut[t]a. hangeprang hapus sinebrak. 40. Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira. mundur lampah turanggi. nyap[p]rang hiki pantos siji. pertanda sujud hing ngarsa. hical sajron[n]ing wanadri. lir kilat palajengnéki. pan Radén welas ningal[l]i.“Haduh pan Radian. hingkang Gusti Kuning[ng]an.

Nulya Radén Wira mangkin. “Duh Wiralodra sira. nyata tuhu prajurit. pan sampun hanang nagari. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an. Dipasarah hanulya. wis rayi hénggal balik. hing Garagé pan negari. kabener[r]an pan pinanggah. sarwi hamasrahin[n]a. Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya. kalintang sabar. 44. kalangkung bingah hing ngati. hing pundi kang pudi dipun sedya. turun Budaprawa. 74 .” Wiralodra ngadika haris. sangking jaran Harba Puspa.” Dipasarah manembah. dateng Kyahi Wiralodra. 43. 42. hing Dipasarah. wus cahos ngarsa Gusti. 45. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan. lan Dipasarah patih. seja nuntun hing lampah. panembah hénggal. mangka Wiralodra mangkin sa… 21a (46. hing Gusti sultan. nulya dén candak tumuli. hing jiwa raga pun hamba. dateng Wiralodra mangkin.prawantu kuda duk dingin. 865) … //pinanggya.

turun[n]an[n]ira. badé wangsul Gusti mangké. sedaya hidin sampun. sarta hasanak put[t]u kaki. 75 . mapan sira turun sultan. 22 (47. mapan samya pinanggya. ngrangkul kadang sadaya. 47. Wiralodran matur ring Gusti. “Duh kakang langkung sanget kuwatir. DANGDANGGUL[L]A 1. sedaya karsa nata. pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi.” Wiralodra kondurning ngarsi. “Hanuwun berkah hing para holiya. 46. Majapahit turun[n]ira. pasrah hing ngayahan Tuwan. 2. hing lancang hamba. bagja pan sira. gegancangan hing lampahnya. kasuwun berkah Gusti. sangking Brawijaya wing[ng]in. Kanggo turun turun nira Wiralodra. kadang kadang hingkang dipun tinggal kari. habdi damel nagari. 866) wang //hingkang gumanti VI.pinuju kumpul[l]ing wali. kadang sadaya hingkang katinggal. Nuwun duka mahéwuh deduka. dugi hing Cimanuk. kaliyan takdir Yang Widi.

katangkep[p]é wahu?” Kang raka haris ngandika. yén dadi negari mangké. “Haduh rayi Hindang Darma musnang kali. nameng Hindang weling hing suwara.tan manggih béja wartos. winastanan Darmayu. héstu tiyang punjul. dadi campur wanita. Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih. kran[n]a Nyahi Hindang Darma. keris hatawa pedang. 5. tuhu wong wicaksan[n]a. hangelar gawé nagari. 3. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi. 76 . datan kotor yudabrata. 4. hadat wong Dermayu. Hindang Darma pinunjul. Hindang Darma pan tumut. nanging rayi hingsun turut[t]i. bénjang han[n]ak putu kaki. hingkang gawé negaran[n]é. sanajan hingkang ngawit[t]i kakang. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi. yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing. kados pundi raka samangkin. lumuh nglakon[n]i krama. Bénjing negari Darmayu ri. werni na… pun nyi Hindang Darma.

tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi. hanjér pepek hing ngarsa. mugiya sami wangun. han[n]a hing Darmayu. Surantaka miwah Wanasara mantri. han[n]epang hing hupacara. sing wétan kulon rawuh. miwah tarub hagung. 77 . kakang ngidin[n]i wahu. humatur manggah karsa kakang. hamit rai medal mangké. karsa ngatur gelar[r]an[n]é. hakéh pan kasengsara. Kyahi Pulaha Bayantaka. mapan pribawan[n]ing pawéstri. tan[n]ah sabrang dugi mangké. pan sekalih medal hing jawi. kula turri kadang sedayanya. samya ber[r]umah tangga. nameng susah bénjang hanak putu mami. Kadang kadang sedayan[n]iréki. 7. kanggé ngistrnén[n]i negara. hanjeneng hing nagara. kaki Tinggil wahu.22a (48. 6. 867) //dadi pangungsén segala bangsa. wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi. luwih raméh pan negara. tempat[t]é tiyang ngatur karya. Namung kakang sadaya pun rayi.

mulya medal hajat[t]iréki. gumuruh tyang suwaran[n]é. pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al. mé// gat. cakep siyagi sakabéh. 9. 23 (49. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil.mégot weteng belenjing. mapan Radén Wiralodra. badé hawangun liyan negara. miwah tetembangan suka suka. jaler héstri kumpulna.8. surak kadya hampuh[w]an. wangunan tarub hagung. haganti sami ngibing[ng]é. sadaya kumpul[l]ing kajat. Sampun bedama sadayan[n]éki. tyang gumujeng latah latah. 78 . 868) 10. patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi. hageng halit pan kumpul. “Héh sanak kula sadaya kang hing riki. kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi. cangkem[m]é mecucu. hantuk[k]é hing kawul[l]a. pan kanggé tempat kajat bénjing kumpul[l]a hing kawul[l]a. pan hantuk saminggu. nulya ngandika rum. Ki Tinggil ngibing wahu. kinepok[k]an hing kancanya. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing.

pun maca donga rampung. nulya Radén ngandika haris. hurun[n]an sanak sedaya. 23a (50. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti. negari dadi sampun. gumuruh hamin wong hakéh. “Duh sanak kula sadaya.” 12. kawul[l]a suka sadaya. negari Darmayu. sarwi ngibing dedeng[ng]éngan. pan sampun langados[s]an nagara klayan kersan[n]é Yang Manon. manggah kula hatur[r]i neda. mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a. Hanggén[n]é sami wangun nagari. 13. Para sepuh sami hangamin[n]i. sarta sira pada naksén[n]i. 11. “Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari. 79 . 869) kula handon//blenduk. pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki.muga dén sakesn[n]an. sarta maca donga kaslamet[t]an. sedaya kula suwun. pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an. saban sasih kados puniki.” Humatur sadaya tiyang. raméh hanggén dahar[r]an. “Duh sanak kula sekabéh. sami linggih wahu.

” Kang raka haris ngandika. nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a. rama pan ngayun[n]an. 80 . Mapan katinggal hing rayi-rayi. rayi bade kondur. “Yén hidin paduka raka. sarén[n]ingpun lami mangké. Sarwi bibar sedayan[n]iréki. 16. kaya hap[p]olah hingwang. senggak muluk-muluk. gelar[r]é Dalem nagara. 15. datang rama hibu mangké. hapa sangking kadulu. sarwi ngrangkul “Kang rayi sedayan[n]éki. daharan suka sampun. Ki Tinggil tukang méjan[n]é. cinampur kalih tembang. kang dahar suka hing manah. tunjang hambakta berekat.tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i. hageng halit[t]ipun. suwaran[n]é celempung suling rangin. rebab tiyang[ng]é hanembang. nulya matur kados pundi raka. dateng habdi sadaya rayi. rayi sedaya kang han[n]ang riki. 14. kadang-kadang samiya dahar[r]an. gamelan[n]é calempung sul[l]ing. Para rayi pan sampun halami.

Sareng hénjing rayi pangkat nuli. 17. dumugi hing hakir mangkin. 2. dumugi hing wates[s]ipun. maksih dangdan nagara. mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki. sinalin demang madurma. jeneng niki nagara. Watuhaji hingkang raka. nulya//sami salaman rayi. Pan tumenggung sing Jepara pelariyan. turun pitu bopatih. wangsul han[n]ang Bagelén nagara. kang raka hangater[r]ake(n). wunten musuh nekan[n]i. hangrebat nagara. DURMA 1. pikantuk kanugraha hing Yang Widi. krana bakal mulyan[n]ira. pun dugi Dalem miréki. 870) VII.sampun lepat dén haturan. 81 . mapan hipé wahu. 24 (51. sarta kang Wangsanagara. Dén Wiralodra. hanak putunya. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara. hing ngiring sakancan[n]éki. “Duh rayi muga lulus[s]a.

“Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a. baksan[n]é hanglétér wani. 3. pan mégot ngigel maran[n]i. tan suka hingsun jurit.” Watuhaji hambales[s]i. duméh nagara bakal. 6. 873) raméh gén mangun jurit. Wiralodra hantik panduka lir brama. Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang.” 5. bade sun teda. yén sinabet bedama. raméh hanang ngaprang. dén candak binaktang Jawi. boten nganggé tata krami. pan hanang nagaran[n]ira. h[h]anulya ming[ng]éh hangeri. 4. hanang satengah hing wana. gégér hurahan. 24a (54. malempat kadi kilat. 82 . hanunggangtaya. mapan dadi jig jawin[n]é. saparan paran mami. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a. ngadeg kiyahi pulaha. hiki pan bakal nagari. dadin[n]é hingsun tumekang. miwah sakanca sadaya.nulya dén priksa mangkin.

9. maju jatmika. 7. ko pada bis[s]a hing jurit. lir tiyang nagara. 10. pan hayuh maju wang jurit. Héran Nitinegara. héran tiyang kang ningal[l]i. “Héh Wiralodra sira. duhung sinondénganana. hayuh hénggal gitik[k]a. tak kira tan bis[s]a jurit. wong tengah hana hing wana. 8. baksan[n]é halus hamanis. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha. Nulya medal Nitinagara hing yuda. hayuh mapag[g]a!” Radén Wira hangedal[l]i. “Héh Wiralodra mangkin. “Hora watek handingin[n]i.musuh kathah kajodi. mapan cakep hing ngajurit. Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda. balan[n]é Watuhaji. keris hatawa pedang. hayuh hingsun tadah[h]i!” Ngandika Wira. pedang hing ngagem dén hasta. sarwi hanguwuh tanding. 83 . Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a. haja suwé ngadu bal[l]a.

pan Wiralodra. maju wang ran[n]a. medal tiwikraman[n]éki. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an. Watuhaji lan dén Wira. “Héh prajurit Watuhaji. haja gugup gitik hira. 13. 84 . kang janglar han[n]ang ran[n]a. Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah. 874) 12.” 14. yén tuhu sira prajurit. pan hanang tengah hing ran[n]a. 25 (55. pan Radén hanang ngajurit. hayun[n]ayun[n]an.11. nulya majeng rana malih. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!” Hénggal Nitinegari. hudreg hasili(h) huki. gumuling kisma. Nitinegara binanting. Pan binakta binekta hanangkon Wira. nemu tending hing yuda. pan tuhu sira prajurit. sinurung-surung hing jurit. dén talén[n]i hing Ki Tinggil. hang[ng]asta wangking[ng]an. tanding[ng]en jeneng mami. han[n]yuduk[k]i Wiralodra. Sesumbar Radén Wira.

Ki Gedéng Sambeng nama. jinarah kebo sapin[n]ya. nulya dén Wiralodra. hing bénjang pan turun néki. beras pari lan harta.15. Cisambeng hingkang pernah. ngamuk hana hing jurit. caritan[n]ipun kanda. Watuhaji ngoncat[t]i. 17. medal sangking Bantarjati. Mapus//…it[t]a. Ki Gedéng Dépok mangkin. pan malajeng sing ran[n]a. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya. balan[n]é tumenggung mangkin. ming[ng]idul palajeng[ng]ira. pan salin naman[n]iréki. susah pan tiyang halit. 875) 18. 25a (56. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya. bubar sasar[r]an. hingsun dikang dén hungsi. 85 . Drayantaka Wan[n]asara. mapan mertapa. nungkul sedaya. hangamuk bala kathah. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara. dadi pandita mangkin. 16. kathah tiyang dén patén[n]i.

langkung raméh pan nagari. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah. pan damel wisma mangkin. harta mahéwu yutan.kapasrah[h]aken Ki Tinggil. pun ngadeg jéndral. Kyahi dalem jenengnya. ponggawa para mantri. 19. Radén Wiralodra sugih. pan senang sadaya. Watuhaji kaliyan Nitinagara. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika. hingkang wade tanah mangkin. pepek sedaya. 20. 21. Mila raméh nagari tambah hing tiyang sahatus[s]an balan[n]iréki. pan ngangkat demang ranggah. tiyang kang teka. miwah kathah soldatnéki. Wiralodra jenengnéki. Ki Tumenggung miwah patih. sami berumah tangga. hambakta harta mangkin. bala hambral kathah mangkin. 18. hanang bangsa Blanda. 86 . tan[n]ah Bogor lan Krawang. pinten sinten gotong[ng]an.

24. VIII. bakta bandakayan[n]éki. 876) 23. 26 (57. 22. hiku pan hora becik. ginanti dangdang malih. Gemah harja darmayu dadi nagara. hanang tumenggung kalih. sangking keraton[n]ya. pan Wiralodra. Hamiruda bade kapotong jangganya miruda lolos wengi. pan badé hambedah mangkin. giris haningal[l]in[n]a. Dramayu hika. san[n]és sangking nagara. mapan macan nagari. damel salah hing la//mpah. mila monca negari jri sedaya kathah tiyang. Mapan Nitinagara hanangis. DANGDANGGUL[L]A 1.ngateran harta. saktin[n]é hang liliwat[t]i. Darmayun[n]ika. sen[n]ang pan tiyang halit. 87 . Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram. kawentar saban negara.

dos[s]a hingkang luwih hagung.han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira. 877) 3. kén mertapa ngilangké. “Habdi Gusti nuhun ges[s]ang. pambajeng[ng]é Sutamerta. hing luwih sahéng punika. Wiralodra sanget telas haningal[l]i. Watuhaji kang dos[s]a. hatur[r]ipun melas sasih. yén bade kakirim make. hing Metaram sinuhun. 4. pun lami hanggén mukti negara. Pan Nyayu Hinten histrinya. potong jangga hulun. wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin. Hingkang gumanti dalem néki. Pan sinangonan Nitinegari. misti Gusti kahul[l]a. dados Dalem Dramayun[n]é. kang rama sampun séda. kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga. pan sekawan kathah hire//ki. 26a (58. 2. mila bénjang turun[n]é Nitinegari. Wirapati wahu. mangka sampun sesunu. nulya kés[s]a Nitinegari. 88 . Kacarita Kyahi Dalemnéki. pun lepas lampah[h]ira. tumut dérék hing brandal.”. bénjang lenggah hing pun.

sadérék kahul[l]a kang héstri. tinggal sen[n]ang karajahan. pan sampun dahup punika. silih genti rawuh. 6. mijil putra tigalas kathah hiréki. dalem hing Darmayu. 5. hing Pulo Mas negarin[n]é. sang[ng]et hanggén sesiniyan. Werdinata dateng rayi hinten mangkin. garwanya wahu sekawan. Kang raka sanget jumurungnéki. Kang Rayi Werdinata. Werdinata sang prabu. kagungan sadérék[k]an sang nata. hing nagari rayi mangké nameng satunggil wahu. mapan Wiralodra kapi(ng) kalih. pan sanget hanggén[n]ipun halih. nameng sampun kabakta harinta. Mapan Radén Wirapati. héstri pan miwa(h) priya. gumanti wahu lungguwé. kadya hingkang sudara. Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin. Lami-lami gadah manah. 89 . dalem han[n]ang Darmayu. dérék karsa wahu.hingkang putra Radén Wirapatya. blaka matur hing raka.

7. badé nuwun bantu mangké. lin[n]ingling lingling kang putra. gumilang gilang cahyan[n]é. kuning cahya humancur. 878) Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an. Bagus Radén Wringin Hanom nama. tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit. mapan Dalem Cihamis negari. 27 (59. kang putra pin[n]aring[ng]an. sangking honom durubiksa. dén pinangsraya Dalem Sumedang. tan kiyat yudabrata. 90 . Danulya Dén Wirapati mangkin. tigalas sasih lamin[n]é. miwah dalem hing Kuning[ng]an. sarén[n]ing dipun lurug. sanget bingah sang nata //han[n]ang putranipun. sanget hasih harama kalih. mangka pun babar wahu. Hingkang peparab pirempag mangkin. balan[n]é lelembut. pan sinareng kakang Dén Wirapati. Sareng lami-lami hingkang rayi. 8. Werdinata Pulo Mas néki. pan kabakta dateng rama. 9. humur tigang tahun. pan sampun wicaksan[n]a. medal kakung pekik hing rupi. pan dateng hing kang putra.

Nulya ram[m]a ngandika haris. 894) 12. cahos hing ngarsa ramaji. putra hingkang nanggel[l]a. Nulya ram[m]a hangandika.” Sumanggah putra matur. pan rama hingkang nandang jurit. sing honom durubiksa. pan litempung mu[ng]suh. sarta gawa bala juru biksa kaki. 11. sah[h]a wonten dawuh napa. dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas. kang rama hangandika. kang putra sampun rawuh. muga ram[m]a bekti putra dipun tampi. “Héh mas wong bagus nak [k]ingwang. 91 . gancang taktimbal[l]i mangko. 27a (60. Hingsun pasrah musuh para demit. sampun kuwatos ramaji. “Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki. bagéya nak[k]ingsun. Kuning[ng]an Cihamis mangké.10. sangking Dalem Sumedang Gusti. rama tampi srat wahu. Cihamis miwah Kuning[ng]an. dén //pinangsraya rama. humatur kasuwun rama. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin. musuh bala lelembut. mapan Radén Wringin Hanom.

sumanggah putra hing karsa. 15. hing ngarsa Dalem Sumedang. tiyang ngétan kadulu. sanget welas karun[n]é dalem mangkin. lan Dongkara Tumenggung. sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis. Sareng hénjing medal hing ngajurit. bala honom satru. mila sanget hajrih hiréki. 13. mapan balan[n]ipun durubiksa. Tyang Sumedang kathah kang ngili. “Duh putra banton[n]an. mapan bibar kénging jurubiksa. cahos hanang ngayun. Hingkang putra ngusir jurubiksa. niba tang[ng]i palajengnya. gumarenggeng pan suwaran[n]é. mapan Radén Wringin Hanom. hemban[n]ipun hingkang putra mangkin. datan katingal wujud[d]é. hasasaran tinggal kancanya lan Gusti. raméh //tempuh hing yuda. katur nagri hulun. nulya RadénWiralodra. Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis. sampun kuwatos ram[m]a.kang putra dérék kersa. kadya tiyang baris hing jurit. 895) 92 . 14. mung suwara gumuruh. rawuh Dalem Wiralodra. 28 (61.

soca lir kembar srang[ng]éngé. rémah ngrimbyak kéngsér hing siti. Bubar wadya bala sing Ciyamis. Dalem Darmayu mapan sakti. pangamulya tyang Sumedang. prajurit medal sekabéh. tyang Cihamis wahu. dén bujeng hing Dalem Wiralodra. tiwikrama wahu. siyung thathit dinulu. 16. nulya Dalem Wiralodra. méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki. samya ngusir tiyang Ciyamis. hantawis sagunung hanak. samya hamapag yuda. kathah prajurit kang pejah. Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis. Hanulya tiyang Sumedang mangkin. gégér tiyang melayu. hang rangseg perang pupuh. mapan sanget bungah[h]ipun. 18. pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a. 93 .burbar bala hing Kuning[ng]an. 17. suwaranya kadya gelap. sareng ngrahos mulya sadayanya. kin[n]arubut hing yudan[n]é. wahu Radén Dalem Wiralodra. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing. mlajeng lir kadya kilat.

mlesat han[n]ang gegan[n]a. sarta bakta putrané héstri. niti joli lan jempan[n]a. mapan sampun bubar mangké. bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an.” Rama hidin sampun. 19. hénggal[l] (k)ang rama hamethuk. 94 . Nulya kang putra haris. kalih Paman Tumenggung. kaya priyén musuhmu kaki?” Putra matur hing ram[m]a. 896) berkah …//lumayu. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit. 20. kalih Jongka réncang[ng]é. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti. wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari. Ciyamis lan Kuning[ng]an.rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis. huga musuh[h]é kang rama. nulya pethuk kaliyan kang rama. “Men[n]awi wunten hidin jeng rama. hawit kuwatos hing nagari. nulya manembah kang putra. dugi hing pawates[s]an. 28a (62. putra bade wangsul mangké. 21. kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih. “Loh kabener[r]an kulup. mangka sampun pethuk. tan prayoga kang jaga.

pan samya hormat wahu. hambakta bokor hemas[s]. Raméh tiyang hamburu. sedeng hayun[n]ipun. sarta kawul[l]a sekabéh. tinawurna wahu harta. handhér kawul[l]a hing ngarsa. Sedayan[n]ipun para prajurit. han[n]ak hukir langkung hawon. kanggé jru sapu miwah jru dang. sangking sanget bungah hiréki. 95 . miwah san[n]apati hing ngalaga. Kang putra matur nuwun. cinampur kalih kimtal[l]i. 23. kahul[l]I pun rama hibu putra mami. numpak han[n]ang jempan[n]a haglis. dipun papag gamel[l]an miwah prajurit. peng[ng]ulu pun siyaga.“Duh putra sareng nganumpak. 29 (63. Punika putra ram[m]a pribadi. 22. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin. hisi harta hemas wahu. samargi dados tingal[l]an. tyang kalih sareng numpak. 897) 24. para héstri miwah hibun[n]ira. sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni. lir rengat hing pratal[l]a. samya rebut[t]an harta. sareng dugi cin[n]awis[s]an.

Dalem ngandika harum. 96 . nyaksén[n]i pan sedaya. bawah[h]an[n]ipun sekabéh. suka bungah sedayan[n]é.” 26. Lajeng sadaya[n]ning para mantri. sangking sih paduka ram[m]a. mahéwu héwu kasuwun. miwah para ponggawa ngalaga. samya dahar[r]an wahu. “Sarwi hatampi sih[h]é. kanugrahan sih hing ram[m]a. sangking pangandika mami. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih. pasisir Kandang[ng]ahur sun pasrahaken hanang putra mami.” Nulya sami sesalam[m]an. “Saksén[n]an. hingkang sareng linggih hing riki. hingsun mapan hora gadah. Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi. 27. mundun sangking palinggiyan[n]ira. dadi sawiji nagara. langkung sangking sanget katrima. 25. karo hing Darmayu. hing para kawul[l]a bala. Marang putra Wiralodra mangkin. sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit. lenggah Dalem Darmayu nagara. héh sanak kadang hulun.

sanget hasih hing garwan[n]é. Kang lajeng Lodramayu negari para kadang-kadang miwah ranggah. 97 . dateng Dalem Wiralodra. 29a (64. gandék putra sedayéki. namin[n]ipun kang putra. kang garwa putran[n]ipun. 898) 28. para maru miwah putra. Radén Timur miwah Sawerdinya. sedaya pan runtut. nulya samiya kondur. Kang pambajeng mapan Radén Kowi. handérék[k]aken sedaya. sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari. sanget bungah rama prapti. kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah. kondur néki.raméh raméh gé nya bukti. mapan kinanti kanti tan gingga. 29. hing wingking mara maru. hantuk kanugraha[n]ning yang. sarta pin[n]aring[ng]an garwa. 30. dugi hing pawates[s]an. rah[h]erja hing laku. Garwa Sumedang tan kari-kari. langkung hasih hing garwa. kantos hantuk pitung din[n]a. nulya pinethuk rawuh[w]é. sanget bungah[h]é hing manah.

Lajeng rama duging ngajal malih. 98 . 899) 33. Hadiwangsa Nayastra. Hapan sampun hapeputra mangkin. Singawijaya putra héstri. miwah Nyi Raksawinata. pambajeng Benggala //Radén Benggali rayin[n]ipun. pan sekawan[n]ipun. Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki. 32. 31. Hastrasuta wahu. sampun jejeg putra tigalasnya. para putra sadayan[n]éki. pan ginanti wahu. 30 (65. putra kakung hingkang sekalih hiréki. nulya wapat dalem ram[m]a. Wiratmaja pan wahu. jumeneng dalem pangkat. hingkang sampun gumanti lungguh ramekin. sedaya dadi pangkat[t]é. mapan sampun gegarwa. sekawan ling putra kathahnya. Puspa Tarun[n]a Patranayéki.Wirantaka sekawan[n]yané. Radén Sawerdi putranya. nanging Benggali Benggal[l]a. mapan gangsal kakung [ng]iréki. sekalih Raksadiwangsa. samya mukti sampun. hanulya putra héstrinya.

Kelangkung sesah para ponggawi. Pandebos jeneng[ng]an[n]ya. miwah para pambes[s]ar nagara. hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi. lamun hingsun tan dadi dalem puniki. nulya wonten hutus[s]an[n]é. kang rayi sanget kapéngén. wicaksan[n]a punjul. pangkat kumendur. nang[ng]ing kang rayi wahu. kaliyan Wiralodra kajenengnéki. bagjan[n]én tumekang ngajal. kang ganti kedah rakan[n]é. dadiya dalem lungguh. sangking Betawi wahu. Benggal[l]i jeneng niréki. pasti hingsun ngamuk. dalem lungguhipun rama. 34.hingkang gumanti rebat pangkat. pan handérék pangkersa. hambakta satambur soldat. Nanging rempaggé para ponggawi. Singalodra kang pan gagah. gumanti lungguh ram[m]a. 99 . lamun kakang hingkang gumanti. 35. kang raka kang gumantya. limang sasih tan[n]ana dalemnya. kang raka Radén Benggal[l]a. kang dén hutus tuwan[n]iréki.

dateng kumendur tuwan. jeneng dadi dalem puniki. 100 . prakara hiki nagara. 38. nanging Radén Singalodra. sekabéh[h]a hing ponggawa. nulya haris pangandikan[n]é. kang rama wahu lungguh[w]é. mapan pasrah hingsun. 30a (66. kang raka hing Dramayu. lamun mentas hanang Batawiya. 37. tigang tahun lamin[n]ira. kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin. nanging tan hénak hing manah. 900) Radén Singalodra kan[n]éki. ka Bantarhanak bojon[n]é. Nulya para mantri dén timbal[l]i. nulya kang rayi matur. raka dérék sampun. yén mangkon[n]o nurut hingwang.36. siyang dalu ngahos Kurhan. sanak ponggawan[n]ingsun. mapan tumut handérék hing lahut mangkin. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin. Nanging tigang nahun lamin[n]éki. karun[n]a para ponggawa. dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i. mapan sampun kesah hander hing ngarsa. hanulya dumugi hing watesnéki. dadi dalem pangkat gumantiya. hing[ng]et rayin[n]ipun.

mugiya kandel himan[n]ya. Gembruk kalih Toyib. 101 . miwah Trun[n]ajaya tumenggung. bala hing sang[ng]ulun. hanuwun hing Yang Maha Suci. 31 (67. Nulya sami kondur sedayéki. Kartawijayastra gangsalnéki. yén tan hingething kadang Gusti. hanulya Mas Patih Hasrasutanaya. Dalem Wiralodra wahu. kang putra Kartawijaya. hingkang sanget datan. karsan[n]é Yang Maha Mulya. pan sami ngambung sukunya. hanyambung[ng]i sabda mangké. //wolung nunggal hingkang putra pambajeng Dén Lahut. putra saweg rumébed hing dahar. hanuwun pangaksaman[n]é. kagung[ng]an putra kathah ing réki. pan ngahos siyang dalu. “Sanak mami sadaya nurut hing pasti. pitulung Yang Hagung. Nyahi Moka wuragil néki.39. Gandur lan Purwadin[n]ata.” 40. 901) 41. Dalem haris ngandika. Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti. hasanget sakit manah[h]é. sadaya sangggup hing pejah.

cahos han[n]ang kasultan[n]an. “Sahéstu sinuhun. hing setan[n]a buyut héyang-héyang. hanulya ngandika rum. 43. kalintang sabar manah[h]é. hanang Gusti Panembahan Sunan Haji.hénak hing panggalih. karsan[n]é Yang Maha Hagung. 42. 31a (68. tulungen hingsun. Sultan sanget welas haningal[l]i. 902) 102 . Singalodra kanama. Kang Rama dén timbal[l]i Gusti. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin. hing Sultan Cirebon Pangéran.” Humatur pan Wiralodra. “Paman sahiki jandika. sultan hing Wiralodra mangkin. ngirangi saréh lan dahar. kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti. hingsun hangrungu wartos[s]a. jam papat wangsul wisman[n]é.” 44. nulya Sunan ngandika. Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang. kadalem[m]an hapa sayekti. paman léréh hing lungguh. kersan[n]é Yang Maha Mulya. dateng paman Dalem Wiralodra. mapan sampun matur. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i.

mila nuwun pitulung Gusti. man[n]awi manahé wongan. “Sumanggah dérék karsa Gusti.” 47. semutan héca hing manah. nulya sinuhun ngandika haris. Kartawijaya dipun timbal[l]i. pejah gesang pun hamba. handekuh koncem mukan[n]é.supaya hing kasultanan. 103 . kaliyan paman[n]ipun. Datan saréh miwah datan bukti prawantunya tiyang maksih tarun[n]a.” Ngandika sinuhun. hapan wis siyagi kabéh. kitab kaliyan kurhan. miwah wisma kasagiyan paman. nami Kartawijaya. Hing ngarsa sinuhun. hapan[n] hamba pasrah sadaya. nameng nuwun pun hamba. pasrah hing sinuhun. sampun cahos hing Gusti ngarsanya. hanang Kartawijayanya.” Nulya Kyahi Dalem matur. hangwejanga hing para putra kon ngaji. Tajug balong hingsun siyagi. hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki. “Perkara hiku paman. 46. gadah hanak Kartawijaya puniki. 45.

32 (69. nulya kadahup[p]ena mangké. “Hiya hingsun hidin[n]i kaki. Tinampi wahu serat[t]é. sukur pan siréki.” 48. bareng ngapan karo hingwang. 903) 49. Langkung hasih Pangéran ningali.” Sultan ngandika harum. “Sumanggah habdi doraka hing karsa. sahiki pan hawak[k]ira. nulya kondur sangking ngarsa. Panjagahan hing Panjunan sira kaki. sun hangkat dadi mantri wecalang kaki. hanulya hangandika haris. kaliyan wayahipun. punapa Gusti karsan[n]é. Ratu Mas Hatma hingkang nami. panggon[n]an hanang Panjun[n]an.” Kartawijaya sampun tampi srat Gusti. Sampun lepas lampah hiréng margi. “Hanang hing Kartawijaya.“Hé Karta siréku. pernah hing Pancagahan. 104 .” 50. Kartawijaya matur hing Gusti. hanang Radén Kartawijaya hiking. lajeng winahos sampun. mangka katur hing Gusti Panjun[n]an. gawanen surat hingsun //kanggo raka hing Panjunan. kating[ng]al cakep hing karya.

hora pantes dadi dalem kaki. mapan kiyahi Dalem Singalodraka. 52.sukangnya.raméh siyang lan wengi. wong santri cilik hatin[n]é. 51. 32a (70. 32a pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki. wedi dos[s]a hagung. sepi kang negara.jumeneng hana hing Panjunan. “Hanang para ponggawan[n]ira hiki. Duk dalem mékang hanang riki. hinget[t]é hing ngakérat. sanajan sadulur //tuwa. kabéh ponggawan[n]ingwang. hadat santri hiku. manggén wonten hing kajaksan. tiyang halit suka n[n]ingal[l]i. 904) 53.” Surak mapan gumuruh. hangsar suci pan hatin[n]é. gamelan mapan gumpul. lagi pésta raméh raméh. lamun jagi hing wates Darmayu nagri. maturut préntah hing nabi. samya sukang sampun. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin. raméh. Mangka wonten malih kang winarni. wisman[n]ipun wahu. lamun hora suka. mantri patih lan dalem. 105 . prajurit kawan das[s]a. Ki Dalem nulya ngandika.

satingkah polah Gustinya. gagah tur habagus. 54. datan kiyat jagan[n]é. Para mantri sami hangepok[k]i. sodér kinipaletu nulya. patih Hastrasuta kuliling. hanjejeképak wahu. sodéré cindé kembang. sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki. hupacara siyang dalu. wahu Dalem Singalodraka. kathah tiyang pin[n]atén[n]an. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami. Hingkang sugih banda kayan[n]éki. yén kirang senggak[k]é mangké. nayaga dén siram lan wari. lagi sedeng ngatur karya. dedeg sedeng hapideksa. rinampog déning para durjan[n]a. langkung rusuh rerampoggan. pan Radén Semangun. hanjenengi dalem mangké. nulya wapat dugi hing jangji. lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti. 56. hingkang gumanti putranya. 55. lami pan tigang nahun. tiyang halit kalangkung susah hiréki. saholah nyahambek pura. nayaga mapan raméh senggak. 106 .

mapan misan[n]a niréki. para putra putra sadayanya.hanggén[n]é jaga durjan[n]a. Siyang dalu raméh raméh mangkin. Miwah para sénapati jurit. Bagus Rangin Surapersandanéki. putran[n]é Purwadinata. Bantarjati pernah[h]é. Bagus Léja lan Sén[n]a. pangawakan[n]a wangganya. saking Kandang[ng]ahur. 59. 58. 107 . sesek kathah[h]ipun tiyang. tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis. juragan[n]é Bagus kandar. langkung susah ribut[t]é hanang nagari. Biyawak Jatitujuh. Kyahi Betawi hika. 905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a. hanggén[n]ipun pésta tetanggapan. kadang misan[n]ipun. 57. Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin. pan seling Rangin putran[n]é. Tiyang ngeraman sampun siyagi. wunten malih hingkang warta. langkung pitung hatus. 33 (71. nanggung hang ngalaga. Dén Nuralim wahu.

108 . 60. sarwi matur sumanggah hing karsa. bedil tulup lan keris. mapan Radén Wiralodra. mapan rempag sedayanya. pan dateng Darmayu nagari. Lajeng ngaben lampah hiréki. sareng hénjing budal mangké. “Héh sanak kula sadaya. datan hénak halungguh. 61. bénjing hing Darmayu. hobyok pedang hérmas //sérét kuning. hageng hinggil meden[n]ya. Kanca-kanca kang para prajurit. pan Kartawijaya hanenggih. hangrempug badé nempuh.tyang dugi saban din[n]a. nganggé pakéyan tamtama. jolén miwah tumpak[k]an. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin. ngandika hing kanca prajurit. siyagi tumbak bedama. hanempuh Darmayu. kathah tiyang ningalan[n]a. rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki. mapan Radén Kartawijayanya. 33a (72. kulit kuning wahu. jumagi hanang wates[s]a. hatinjo kadang kula. kornélnya hanang ngayun. 906) 62.

karun[n]a dateng harsan[n]é. 63. héstri warninipun. putra putri sangking Banten kang nagari. Kartajaya ngandika. tias[s]a ngamba gegan[n]a. wani temen hangrusak hanang nagari. miwah para putra putra. samya kagét para prajurit. putra sareng dulu(r). huwa Kartawijaya. miwah putra sarta sénapatya. Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki. ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata. “Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun. punika Ciliwidara.hamireng surak mangambal[l]ambal. kénging wicaksan[n]a nipun. kalih paman patih Hastrasuta. campur kaliyan senjatos. lajeng methuk Radén Kerstal. 64. sinelek lampah hipun. hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki. sapa prajurit nama?” 109 . Para prajurit hing Darmayu mangkin. hiki musuh rebut hapa. kathah resak para ponggawi. datan bis[s]a nyepeng mangké. “Duh rama huwa nuhun. langkung resak[k]ipun nagari.

kathah kang sami lampus. hanadah[h]i yudabrata. malebet hing padalem[m]an. nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi. Héh Kang Rayi Hastasutra patih. sahiki ram[m]a harep kapanggih. miwah raka Suryawijaya. 110 . sumanggah raka hing karsa. nulya sanget dukanira. ngangken putra Kentanagara. nulya pangkat wah[h]u. langkung sakti Ciliwadara puniki. Nyi Ciliwidara kang nami. 34 (73. sarwi karun[n]a sesambat[t]ira. 907) 67. Nulya ngrangkul kang raka tumuli. Suryaputra Sruyabrata néki. dén panah si Ciliwidara. pan kénging musuh han[n]ekan[n]i. tan kuwawi hulun.65. bésuk iki sun candak[k]é. “Duh raka pitulung mangké. miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal. 66. hingkang rama medal toya waspan[n]éki. hangemas[s]i wahu. malah putra rama mangké. mapan kambi raman[n]ira. Dén Dalem Wiralodra. bade hing rebat nagara. Ciliwidara hiku. putra raka kathah lampus.

hananding kadigdayan. 111 . hénggal dangdos busanan[n]é. Kartawijaya jeneng[ng]é. 908) duméh sira punjul nganihaya lampah cidra.68. Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i. sareng hénjing binaris[s]an. hiki sadulur hingkang tuwa. bendéra tinarik hénggal. gelang kalung kilat bahu. 34a (74. wadyabala ponggawa putra prajurit. pan[n]ah miwah bedama keris. wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami. wong siji wani musuh. pan cakep yén tiningal[l]an. sira Ciliwadara hanjing. mangka Ciliwidara miyarsa. Sarta bendéné pinukul haglis. lan sa[pa]mapaging yuda. hanulya sesumbar hénggal. 69. han[n]ang wong Darmayu. Ketambuwan sira hing mami. kakang tanding hing ngayuda. manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing. prawantu tiyang hayu. 70. sapira habot saktin[n]é. kadiran wong hayu sira. pan kalih wong sanegari. wani hangrusak Darmayu.

hangrahos peteng hing paningal. sarwi hawecan[n]a dén priyatna.” Ciliwidara dén luket[t]i. 72. suka haningalan[n]a. ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang. 112 . hénggal wangking pedang[ng]é. Hanulya mentang panah hiréki. Méh san[n]alika tiba hing siti. “Héh pan Kartawijaya siréki. tibakna han[n]ang hingwang. “Nyata prajurit siréku. sekalih pan punjul. pan hénggal linepas panah ngenan[n]i. maka hangandika hasruh. tan wonten hasor hing yuda. hobah bebalung ngira.” Radén Kartawijaya mangkin. sundel dayang humbaran. 71. manah datan mindowa. kurang tata perang mangké. 73. pancén wong sendek humur[r]é. rasané panah hingsung. yén niba hanguyun. hanang getihyé manus[s]a. kang haran si Belabar Gen[n]i. tiyang surak lir kadya rengat hing bumi. hapa han[n]ang siréku. hudreg pedang-pinedang.men[n]awa tambah ta sira.

pan miwah putra nonoman. Ciliwidara hambekas hana hing bumi. kalih kang rayi pepatih. 113 . kang raka kalih kang rayi. SINOM 1. samusnané Nyi Ciliwidara. Ciliwidara datan kuwawi. hanggén[n]é musuh Kartawijaya. nulya Dén Kartawijaya. siyang miwah dalu. satingkah polah[h]ira. dén hédek hanang pratal[l]a. IX. mapan samya dén jaga. ngandika hing prajurit[t]é. miwah putra putra sadaya. Mapan samya pinanggya. Kartawijaya wahu. Kartawijaya cuwa hing galih. hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi. 35 (75. 74. pan cinandak sampun. kén[n] jumagi wahu. saya gumareget hagalih. 909) 75. sirna datan karuwan. langkung hawrat kasaktén[n]é. medal tiwik[k]raman[n]ya. pernahipun hical Nyi Cili.mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i.

“Duh Yayi Mas [s]asih basuki karsan[n]é Yang Maha Widi. mila kasuwun pun rayi. 2. ngaturaken kasusah[h]an. sadaya cahos hing ngayun. héran pisan Ciliwidara digjaya. mila bade matur Gusti. 114 . “Tak tarima karsa rayi. tan seja raka habantu. menawi kasoh rumihin. hénggal Si Kakang harawuh.” 3. hawit hanglancang[ng]i Gusti. Kang rayi matur hing raka. raka hénggal hangrawuh[h]i. dateng rayi hing dalem katuran lenggah. bade wangsul pan rumihin. mapan lagi mangun jurit. kersan[n]é Yang Maha Mulya.” 35a (76.Hastrasutra jenengnéki. lah kados pundi hing karsa. lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara. datan huning[ng]a yén susah. hing rayi kang yudabrata. hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki.Kang raka haris ngandika. “Kabegjan makethi-kethi. resak[k]é hingkang nagari. miwah putra pan sedaya. Kang Raka haris ngandika. sangking berkah raka wahu. 910) 4. han[n]anging sejaning raka. nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka.

Dalem Wiralodra mangkin.5. hanulya hénggal lumaris. katiwas[s]an habdi Gusti. han[n]ang pernahé hing musna.” Nulya bibar masing-masing. Tak kira han[n]a sukarya. patih Hastrasuta mangkin. sanget sampun duka Gusti. Bade matur kasahéstu. sarwi manembah hing ngarsa. mung rayi kang hatiyati. Prawantu wong wicaksan[n]a. 115 . Nyi Jaya cahos hing ngayun. nulya hangiring lumampah. jagan[n]é hilang[ng]é wahu. saweg sinéba kang raka. malebuh[h]ing padalem[m]an. hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara.” Nyi Jaya humatur haris. dumugi han[n]a hing jawi. kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya. hanang Garagé nagari. 8. 6. Sareng nuju dinten Jumah. para putra ngabekti sami. Sedaya sami rangkul[l]an. man[n]awa malebu Rayi. Kyahi Dalem ngandika haris. “Duh bagéya janur gunung rayi prapta. hing panjagahan kakang. “Ponggawi dérék sang[ng]ulun. 7. jumerogjog hingkang prapti. “Duh Gusti hatur duduka. dén jaga ponggawa rayi.

wis rayi hénggal mundur[r]a. sangking Bantarjati habdi. bade tumut nyusup habdi. 116 . sukur bagja sira yayi. déréng wangsul wisma habba. hénak[k]a hing wisma rayi. humatur kasuwun Gusti. Nulya manembah hing ngarsa. hantawis sanambang Gusti. datan seja bade tumut (ka paduka). tak tarim[m]a sedyanipun. pan habdi kaperdi Gusti. sahiki nembé hadugi.36 (77. 11. dumugi hing hanak putu. 10. lan sun halih nama Resik Sira Jaya. jaga pati saksi habdi. mugiya satrun[n]ira. sampun kathah tiyang prapta. 9. Kyahi Dalem hangandika. sedaya manggah hing karsa. kumpul damel tarub hagung. bade ngraman hangresak nagri paduka. 911) Kyahi Dalem hangandika. nanging kekah pan kahul[l]a. kadang kadang habdi Gusti. dadiya sawiji bénjing. “Manah rayi sun hidin[n]i.” 12. “Habdi dén pethuk hing raka. Darmayu badé karesak. kalih turun-turun mami. humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira. tan niyat cidra hing Gusti.

Hénjing miyos hing paséban. yén kedah tinangken wahu. 14. Kang Gusti nulya ngandika. kathah kang para prajurit. Sutamarta Tum[m]enggung. lenggah hing paséban jawi. Jiwasuta kang prajurit. hing dusun han Bantarjati. 13. punapa kakang hing karsa. dadiya kawruh wan[n]ipun. “Kados pundi kakang niki.mapan Kiyahi Wiralodra. “Duh kadang-kadang prajurit. miwah sesang[ng]oning tiyang. mangka hangandika patya. miwah Wangsatrun[n]a wahu. sayagi wonten tiyang ngraman. Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang. hawit hing wawengkén Gusti. sasat musuh[h]an dateng[ng]i. Trun[n]ajaya hingkang rayi. ngempel[l]aken ponggawa. Nanging samakta hing yuda. “Punapa kang raka patih. sadaya kang sun timbal[l]i. hatur[r]é Nyi Jaya wahu. pan Tanujiwa kang raka. humatur pan kakang patih. kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman. 36a (78. 117 . sentan[n]a prajurit mantri. 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya. siyagi para prajurit. 15. ngandika hing kakang patih.

konca mawi cindé kuning. 37 (79. budal[l]é hing Jatitujuh. tyang dusun hanyiyagéni. bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal. 19. bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i. pancén gagah dedegya mapan sumbada. kawula samya siyagi. pakéyan mawarna-warna. wédang miwah dadahar[r]an. nyangking pedang tumbak//duhung. 17. kuluk hérmas hinten murub. 913) 118 . miwah sakéhéng prajurit. hupacara para mantri. hulesna pas gambirah gagah hing yuda. prawantu mriksa berandal. sinonthé keris hing kanan. Kula hatur[r]i pan sedaya. pajun[n]é tiyang ngajurit. 16. sedaya niti turanggi. pun[n]akang dadi biyas[s]a.karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa. samakta siyagi jurit. sampun kirang pan sayagi. Nulya kondur ring paséban. prawantu gagah jatmika. Bendé muni samya mudal. Gustinya niti turanggi. demang rigah para harya. pati(h) Hastrasuta mangkin. 18. hing ngampléh kang wunten kéri. hing ngiring para prajurit. Samargi dadi tongtonan.

Bagus Seling hingkang putra.miwah tetabuh[w]an mangkin. kang wunten hing Bantarjati. kalih hingkang paman wahu.” 119 . pengagung Ki[ng] Bagus Rangin. sarta Bagus Pangiwa. Sadaya pepek [k]ing ngarsa. tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak. miwah Kyahi Betawi. Bagus Rangin hangandika. klapa dugan saban pintu. miwah kadang putra mangkin. raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an. Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari. hutawi hinurug mangkin. “Hanang paman kadinéki. saweg sinéba ponggawa. kasebat kang pinituwa. miwah para sén[n]apati. punapa pan kintun serat. sadaya tiyang ningal[l]an[n]a. mapan para sén[n]apati. hing tembé huninga hing Gusti. Pan lajeng hingkang lumampah. sarta pan Radén Nur[r]alim. sampun cekap bala wahu. kados pundi gelar niki. Sumanding Surapersanda. 20. Bagus Serit jeneng néki. miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar. 22. gegedén hing Kandang[ng]ahur. sénapatya sedaya putra Mayahan. 21.

” Nulya matur rama mangkin. lah gelar[r]é kados pundi. héca hanggén cacatur[r]an. “Leres taya putra mami. Dalem Darmayu rawuhnya. 26. 24. janur miwah godong wringin. kinten pangkat dinten pundi. 37a (80.” Bagus Rangin ngandika haris. Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda. kados hapes hing ngajurit. kula hatur[r]iki kang sabar. putra dérék karsa ram[m]a. Hing Jatitujuh pernahnya. ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a. 120 . Bagus Serit hangandika. nanging putra sahé baris kahormat[t]an. Saban sasak jinagiya. Sing lér dugi ning mingsah. pajun[n]é mapag hing jurit.23. lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?” 25. pecalang cahos hing ngarsi. sarta manawi palengkung[ng]an. 914) Kemis Kaliwon puniki. kaleres[s]an tanggal[l]ipun. “Kados pundi lampah[h]ipun. gangsal dasa sasak siji. sukur bis[s]a hanekan[n]i. kedah mangké dinten Kemis. napa wangun baris hagung. pinangka hormat [t]ing Gusti. “Duh bagja yén mangkonowa. “Duh putra sedayan[n]iki.

29. 27.tin[n]aro prajurit telu. kang sinigeg bala Darmayu punika. 28. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan. hangdalem sasak satunggal. Bagus Serit hatur[r]an[n]ya. sampun //bibar samakta bala sedaya. yén kuda miwah ponggawa. limang puluh balanéki. Rampung bedami gelar[r]an. mapan tiga prajurit néki. siyagi pethuk pangagung. ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun. sampun lintang kinten tebih. ram[m]éh raméh kang prajurit. raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an. siyagi tyang kasémahan. gampil hingebyak[k]an bala. samya ngatur gelar wahu. 38 (81. kalih paman Bagus Serit. kanan kéri pan bendéra. gelar wang rampoggan mangkin. Supaya wangsul[l]ing kuda. gamelan[n]é siyang wengi. sakanca berandal mangkin. hénggal sasak binubrak[k]an sedaya. hanggeber wonten hing wari. Samya damel pasanggrahan. siyang dalu tetabuh[w]an. damel tatar[r]uban mangkin. 30. 915) 121 . nulya kadang-kadang néki. sampun bedami pesagi. nanging samaktaning jurit.

hanang dusun Bantarjati. Ki Patih nulya ngandika. samakta kaprabon[n]ing prang. habdi sampun siyagi men[n]awi kersa. sumanggah sakarsa Gusti. hing ngendi pernah[h]é wahu?” Humatur prajurit tiga. Sareng hénjing samya budal.hing Jatitujuh gén[n]iréki. kahutuskén mriksanana. pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman. mung mengko sabalik mami. “Tak tarima sanak mami. Hastrasuta pan prajurit. palengkung[ng]an bandéra baris hing marga. Sedaya pan hasung hormat. hingkang lajeng paman patih. Ki Patih niti turanggi. 122 . nulya ngandika Ki Pati. sareng dugi pawates[s]an. 31. “Punika katingal Gusti. kran[n]a hiki lampah gelis.” 33. samya kempal pirempag[g]an. 916) “Duh Gusti habdi //puniki. 32. raméh gamel[l]an hang Rangin. mapan kén methuk sang[ng]ulun. bedil tulup lan suligi. hulem cemeng kudan[n]ipun. hing ngiring para prajurit. suka ta [h]hangormatan[n]a. mapan sakti hing prang pupuh. nulya manembah tur nyaris. 38a (82. rawuh[h]é Gusti jantika.

Nulya patih hameriksa munggur ngarsa. patih miwah para mantri. PANGKUR 1. hanungsi hing Bantarjati. bendéra lan humbul-humbul. han[n]ang pasanggrahan hagung. handeder hingkang turanggi.” 34. hing ngobar tan[n]ana kari. mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an. gelar[r]é tiyang ngakathah. Dén papag prajurit kathah. “Héh sanak kula sedaya. “Lah kados pundi gelarnya. nulya samya lelinggihyan. ké mriksa béja hing warta. 35. prawantu ngormat[t]ing Gusti. miwah samya ngormat[t]i. raméh gamelan tinabuh. mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun.bandéra bang sérét kuning miwah pethak. surak kadya hurahan. malebet[t]ing tarub mangkin. salaman sedayanéki. déning pada siyaggi kaprabon jurit. 2. 123 . hingkang sami makuwon hing riki. nulya sasak binubran[n]an. X. sampun tebah[h]ing kang lampah. Nulya lajeng hingkang lampah. nulya héstu kang sayekti.

ngisén[n]i sira cangkem berandal babi. 3.” 5. yén datan kacekel sira.” 6. mapan wirang yén mundur[r]a. hanang rupa wong nagara hing siréku. wong musuh han[n]ang negari. tem[m]ahan pan dadi rusak. sakéh hanak putu[n]nira. hanang Gusti nagari Dalem Darmayu. “Héstu bade hangresak[k]a. yén kénging kula penggah. “Loh Rangin celathu[n]nira. “Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih. Dramayu hing dalem mangkin. “Lamun kénging sadaya pan sanak sami. mapan luwih werat sesanggan[n]éki. //punapa hingkang sinedya. kran[n]a nagari hing mingkin. prawantu kang yan[n]a patya.” 124 . tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun. manggih susah kasengsara hing Yang Hagung. taling[ng]an kadya sinebit. Sanajan cilik rupan[n]ya. lan mengko[s] sengsara wahu. Nulya ki patih ngandika.39 (83. sampun dén turut[t]i napsu. haku tan harep kon mundur. 4. mangsa wediya pan hingsun. lan hora gila tumingal. 917) tumbak perampoggan wahu. Ki Rangin humatur sugal.” Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur. pan seja bade hing resak.

11. 918) Prawantu perang berandal.” lawanen hundur-hundur[r]an. ngandika Ki Serit wahu. Bantarjati lan Biyawak. tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati. kira dalu sun hebyak[k]i. Nulya Kyahi Serit ngandika. tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu. Sareng sampun jam sedas[s]a. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira. 39a (84. haja ngrangseg sira maju. nulya dén hebyuk[k]ing jurit. para kadang maju haprang sedaya kasor hing jurit. 7.Ki Patih medal hing Jati. surung-sinurung pan wahu. 9. jam nenem sonten hing wanci. “San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki. siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku. sapa marah hasrah pejah. haja kosi bis[s]a medal. patih Hastrasuta duduwa din[n]éki. hangantos samangké wanci jam sapuluh. ki Rangin werat tanding kaliyan pati. pan kathah musuh nya lampus. pan datan tata paju[n]né hing ngajurit. sedeng peteng tan katingal.” 10. kaliyan Ki Yan[n]a patya. 8. datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu. 125 . “Loh hanak kul[l]a sedaya. Para mantri pan jumaga.

perang karo brandal kinarubut. namung patih Hastrasuta. 919) 126 . Wecan[n]a sajron[n]ing manah. hambélan[n]i hing nagara. mapan datan dén praduli mlayuning pun. Sinareng sampun waspada. dipun byakta hing tiyang kathah. lor wétan[n]a prawantu wengi. Datan huning[ng]a lor wétan.hangebyuk[k]i perang pupuh. prawantu tiyang berandal. para mantri pan melayu. “Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi. sampun payah Hastrasuta. 13. salin bus[s]an[n]a hacampur. 15. 14. kinepung buwaya mangap. kang dén prih pejah[h]iréki. tiban[n]é tumbak lan keris. nanging bala Kulinyar. mapan sampun hancur kuwandanné wahu. sampun ngrahos datan kiyat. tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu. 40 (85. bade mlajeng tan huning[ng]a. langkung ribut prawantu prang dug hing wengi. pan hingsun wis hora kuwat. Nulya ki Serit tumandang. 12. jamak[k]é ngawula hingsun.” Ki//Serit medal hing wingking. ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki. mapan kénging nulya lampus. hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh. dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking.

Sareng hénjing nulya bibar.surak lir rengat[t]ing bumi. kinepung hing tiyang kathah. dén sangguh brandal nekan[n]i. dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin. 20.” kang Gusti ngandika haris. 18. pan raka dalem paduka. mangka mantri kang lumajar. sarwi nangis melas sasih hing Gusti. dén bedil pamayung[ng]ipun. Duginé han[n]ang nagara. mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung. 16. sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus. nulya lajeng hing lampahnya. “Héh mantriningsun sadaya. kathah malih dugi hing tarub hagung. 127 . Samya prang han[n]ang marga. Humatur hanak[k]ing ngarsa. 19. pejah wonten hing marga. sampun dugi hing nagari. kinerocok hing payudan. sampun dugi hingkang Gusti. sarwi handras mili[h] kang luh. samya nayub raméh wahu. makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki. sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun. yén mangkono becik hingsun pada balik. “Katiwas[s]an habdinipun. 17. prawantu tiyang berandal. para garwa miwah kadang-kadang néki.” Hanulya bibar sadaya.

rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu. “Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun. pan sarwi hasesambat. kakang patih hangemas[s]i.” 128 . sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti. berandal hing Bantarjati. “Duh paman kula nuwun. hantuk ngrayah saban dusun. Gégér gumuruh karun[n]a.” 22. sampun lat lampah kula. para garwa miwah putra-putran[n]éki. patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh. prawantu berandal dés[s]a. 24. 920) puniki pan katiwas[s]an. hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun. 23. Dateng hingkang rama paman. 40a (86. sarta kadang-kadang[ng]ipun. miwah kadang-kadang kula. pan hing[ng]et hing sengsarahnya.samya methuk jawi pintu. Ki Rangin hangandika haris. siyang dalu dedahar[r]an. saban din[n]a matis minda kebo sapi. sareng malebet hing wisma. Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki. mangka hanang dalem pati. sedaya karun[n]a wahu. hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu. Hingkang garwa miwah kadang. wunten malih kang winarna. Raméh-raméh gan tayub[b]an. 21. hora panjang yuswa kakang.

han[n]a kang sarowal[l]an. bedil gobang miwah pedang. surak-surak hing margi samiya ngibing. mapan samya habénjang. masing-masing gaman[n]ipun. hanak rabi hing Darmayu. prawantu lampah hing bangsat. satingkah-tingkah pan wahu. sandang[ng]an[n]é mancawarni. sagadah-gadah hing tiyang. 25. kebo sapi néki niring. miwah Héng Jin lan Ti Yang li. 26. hayam manda miwah harta. Sareng hénjing samya budal. Sareng duging céléng dés[s]a. hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi. 921) miwah bendil lang sasisih. hana hingkang nganggé clana poléng tapih. hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin. 129 . 41 41(87. turut marga hangrampog[g]i saban dusun. mikul lanték hisi beras. tumbak keris miwah komprang sarta penthung. 28. Poléng gunung poléng Jawa. Samargi-margi jogéd[d]an. Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru. 29. conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub. sadaya pan ngajigjaya. 27. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a.Sedaya sumanggah ngiring. hutawi samiya cangcut. hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati.

wah kang hurang cuwa hingsun. hibur palayu ning jalmi. lebur brandal kathah lampus. kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun. Bah Kwi Béng sareng handulu. han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun. miwah nyonya Cin[n]a néki. tak jaluk sukan[n]é sobat. prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun. 31. 32. bade ngrayah barang harta. hing ngamuk para Cin[n]a. para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki. pan hingsun hora hangrusuh. nulya berandal hangrempak. nulya Bagus Surasa Persanda nepangi. dén hamuk hing para Cin[n]a. mung[g]uh bandakaya sobat. 33. hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin. nanging hinget sayo sobat. Sareng ngrempak kulya pas[s]ang. Mung sobat waktu samangkya. 130 .” Wecan[n]a Surapersanda. Sedaya miréh berandal. “Mangka hingsun hanepang[ng]i. yén hora handeleng dika. 922) hatawa seja hanglanat. hapa hora hing[ng]et salang wosé batur. mangsa dén rusak[k]a hiki.Cin[n]a babah kalih baru. 41a (88. “Loh kang hurang dadi brandal. mapan hiki sabatur seja halampus. waktu hiki hajala sanak mami. 30.

37. 131 . hantawis kathah hing tiyang. gawé hibur hing negara dika hiki. Ki Rangin matek pikirnya.kang hurang pan sampé becik. para Cin[n]a kondur wahu. seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu. hing hawak dika pribadi. mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin. harep ngrebut nagara Darmayu hiku. prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu. 42 (89. Jarih Gan[n]a pada mélu. rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit. sadin[n]an[n]é telung puluh. pengabaran dugin[n]é hing para jalmi. damel pasang[g]rahan mangkin. pekakas kurang santos[s]a. 34. kalih Bagus Surapersanda mangkin. 35. nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun. 923) hana hingkang hanger//rayah rerampogan hangrayah duwit. 36. tiyang hingkang samya prapta. siyang dalu tetabuh[w]an. Gumuruh han[n]ang Mayahan. 38. Langkung sesah tiyang perdés[s]an. Nulya tetabéyan Cin[n]a. Lan kapriyén pikiran dika. makuwon hing pamayahan. pitung nambang tiyang dugi. kang hurang gawé melarat. bubar hing Dramayu lampah. sangking kathah tiyang wahu.

hora wirang gawé sakit. kawul[l]an[n]é nuwun tulung. berandal para bagus[s]an. 132 . Lan benci hanang tiyang jahat. hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin. yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu. kang ngasta dadi gupenur. ki Dalem hunjuk lan surat. malah kathah soldat[t]é sinebar wahu. hangrerayah saban din[n]a. sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin. mila sanget kasengsara. panjeneng[ng]an Dangles mangkin. Mangkan[n]a dalem punika. 42. lamun kénging trus pintén[n]an mangkin. Haduh Gusti kawul[l]anya. langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung. guperur jéndral Batawi. langkung resak tiyang kathah saban dusun. 41. hing mayah[h]an pernah[h]ipun. susah[h]é saban nagari. samya tinuron[n]an. dipun rayah kebo sapi miwah wedus. Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral. tan perdul[l]i kancan[n]ipun. resak kawul[l]a sadaya. han[n]ang negri Batawiyang.yén hayu rabi[n]nipun. 1808. 39. sesambat[t]é hanang Gusti. lan suka hambantonara. hadat[t]é Dangles punika. 40.

yén tan nurut hajindanya, mapan pinotong pribadi. 43. Hanulung pertulunganya, réning brandal langkung kathah hingkang dugi, 42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur sarta kirim bal[l]a soldat, tinindiyan kaliyan kumendur lahut, Tuwan Postur namanira, sing Hing[g]ris hasal Welanda, 44. Kéng ngéndi bedami brandal, pura-pura dihangkat dadi bopatih, ma[ng]pan nagari Darmayu, pan kagung[ng]ane pun jéndral, hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu, supaya dadiya bubar, bala berandal puniki. 45. Saradadu miwah Tuwan, sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin, sarta pun bedami wahu, dalem pan sampun pasrah, hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut, héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an, tigang[ng]atus soldatnéki, 46. Supaya haningal[l]an[n]a, para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin, bedil pedang miwah hangkus, pinilih rata dedegnya, hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun, ginotong mimis pekakas, miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,

133

sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin, supaya brandal handulu, tingkah polah[h]é tiyang perang, tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu, sareng dugi hing Mayahan, kagét brandal haningal[l]i. 48. Nulya matur hing juragan, lamun wonten saradadu handugén[n]i, hambakta samaktan[n]ipun, pekakas hing ngayuda, 43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun, kapethak kaliyan Tuwan, Tuwan Delér bis[s]a Jawi. 49. Tetabéyan Delér Tuwan, kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. Tuwan Delér ngandika rum, “Héh Bagus Rangin jandika, sampun hajri mapan kula dipun hutus, hing Tuwan gupernur jéndral, kuwas[s]a negri Betawi. 50. Saréhing dalem masrahen[n]a, negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin, dadi hingsun dipun hutus, kang[g]o hambedami kula, mapan dipun Sowak nami, dalem wahu, lamun kersa hajandika, kula hangkat demang mangkin. 51. Mung[g]uh kadang sadayanya, kula hangkat dadi mantri jurutulis, kuwasahan sami wahu, saperti dalem pangkat.”

134

Bagus Rangin matur trima kasih hulun, yén makat[t]en legang manah, sedaya dipun salin[n]i. 52. Pakéyan laken sadaya, clana laken krambi laken topin[n]éki, mawi pasmén mas murub, Tuwan Delér pan siyaga, nulya raméh tabuwan humyang gumuruh, pésta hangéstréni demang, Demang Rangin para[ng] mantri. 53. Pamayahan kademang[ng]an, siyang dalu berandal tayubban néki, ngikat jeneng demang wahu, suka-suka gé nya pésta, sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung, dén hiring mantri sadaya, pakéyan sangking Betawi. 54. Tiyang kathah ningali Blanda, 43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki, bedil pedang miwah hangkus, saban soré hajar perang, kornél hajidan sersan lan sardadu, hajar bedil miwah pedang, berandal kathah kang balik. 55. Lamun dalu pada ming[g]at, sarta kathah hingkang sami kirang neda, prawantu tiyang kathah wahu, badé ngrampog panji nagara, tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus, nulya Delér kirim surat, hing Dalem Darmayu mangkin.

135

56. Sadiweg gédén tangkeppa, mapan dalem sampun tampi serat néki, gelar[r]é Delér puniku, nulya dalem kintun serat, dateng raka Kartawijaya puniku, hing Gragé ponggawa sultan, serat[t]é sampun dén tampi, 57. Sareng winahos kang serat, lamun rayi Hastrasuta mangkin, neng[g]éh paman sampun lampus, pinejah pan hing berandal, sapunika berandal jinaga wahu, dateng Wlandi kumendur Tuwan, pin[n]angsraya sing Batawi. 58. Hénggal Paduka Jeng Raka, rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi, Kartawijaya habendu, nulya matur hing sultan, sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun, Gusti Sultan hamiyarsa, nulya hangandika haris, 59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya, hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin, yén ken[n]a bandan[n]en wahu, lamun kekah pin[n]atén[n]an, 45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu, sarta sira Radén Wel[l]ang, bareng kam[m]i Karta mangkin, 60. Karta miwah Radén Wel[l]ang, mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti, sultan hangidin[n]i wahu, manembah kondur sing ngarsa,

136

medal jawi bendé tinitir pinukul, prajurit siyagi nulya, samakta kaprabon jurit. 61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika, “Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit, sahiki pangkat siréku, karo hingsun raka Karta, seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh, hing Mayahan pernah nira.” hénggal pangkat Radén kalih, 62. Lan gawah kancanira, hing pinilih sakethaha sapara prajurit, mapan sampun budal wahu, pangkat prajurit sedaya, sampun dugi prajurit hanang Darmayu, pinang[g]ya rayi lan raka, kang rayi hangrangkul haglis, 63. Hanangis dateng kang raka, mapan hingat hingkang sampun lampus pati, Kang Raka karun[n]a wahu, sarwi hangandikanya, “Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu, wapat Yayi Hastrasuta, tan mundur kakang ngajurit.”

XI. DURMA 1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang, pan sampun siyagi jurit, sadayanya ponggawa, gambirah mantri sedaya, pan bade béla hing pati,

137

hingkang pun séda, Dén Nastrasuta patih. 2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan, tumbak pangrampog[g]an mangkin, 45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya, mapan hingkang ngarsa, dalem kalih rakanéki, miwah Dén Wel[l]ang, putra Panjun[n]an selir, 3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan, Rangin mapag hamiyarsi, lamun dalem handugya, samakta kaprabon[n]ing prang, hangras[s]a ginelir mangkin, hing Delér Tuwan, mapan kinepung mangkin. 4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga, miwah hing kulon prajurit, sampun pengkuh barisnya, berandal hana hing tengah, hing kidul bala Betawi, Dén Wel[l]ang neng[ng]ah, maran[n]i berandal mangkin. 5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya, hayun-nayun[n]an pinanggih, kaliyan para brandal, mapan hangandika sorah, “Héh Rangin hanjing siréki, sira berandal, nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,

138

sugal hing wecan[n]anéki, “Héh hingsun dipun gelar, hing Delér Tuwan punika.” Hanulya mangsul[l]i mangkin, hing Radén Wel[l]ang, “Mapan tan gila hawak mami, 7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira, mangsa gingsir [r]awak mami, kadir[r]an sugih bal[l]a, mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.” Sén[n]a habandak tumuli, hing Radén Wel[l]ang, sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda, datan ngang[g]é tata mangkin, prawantun[n]é berandal, kadya ngepung satoh galak, pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit, hang[g]én[n]ing prang, hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga, kathah brandal hingkang mati, kang kénging dén belagbag, hing para mantri sadaya, kantos kasaput[t]ing wengi, hang[g]én[n]ing haprang, Rangin sakadangnéki, 10. Mapan sampun miruda sangking payudan, hénjing bendé tinitir, Rangin sampun tan[n]ana, sadaya sami miruda,

139

“Héh kunyuk berandal. 12. han[n]ang Betawi mangkin. datan kamot[t]a. hanang jeron[n]ing buwi. 11. salebet[t]ing buwi hika. miwah kondur sadaya. sampe pinang[g]ya. perkara berandal mangkin.Dén Welang ngandika mangkin. bade kintun srat. “Hanang jéndral Batawi. mapan kinirimna. hing Darmayu hiku kumpulnya. hingkang sampun kacandak. sedaya kén maténi. han[n]ang Darmayu mangkya. hing karsan[n]ira. hingkang han[n]ang buwinya. kadrél hing jero buwi. sakéhéng berandal mangkin. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral. berandal kon dén ilar[r]i. binuwi berandal haglis. 14. wedi mati sira hanjing. 140 . hantawis nem hatus mangkin. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna. Mapan sampun binalagbag bala brandal. mapan putus[s]an pun dugi. sakéh[h]é pengagung mangkin. sampun hing ngedél[l]as sadaya. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala. 13.

Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya. hantawis sanambang tyang. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang. miwah Dén Kartawijayanya. pajun[n]é hing hadilaga. brandal Luwi Séhéng mangkin. 141 . holih prajurit mami. Bagus Hawisem prajurit. hingkang nagel hing ngajurit. paju[n]né hing ngadilaga. kang nanggung yuda. prajurit paman[n]iréki. 19. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama. Rangin sanget bungah néki. Mapan sampun baris tugur para brandal. sarta bakta bal[l]a. pan hitu diyah. “Haduh hadi datan nyan[n]a. han[n]ang Kedongdong kang baris. guyu[n]né suka-suka . jaga[n]nen kang waspada. sareng wonten wartos malih.” 17. 930) //pan bubar sedaya mangkin. Hangandika Rangin han[n]ang para putra. Rangin Kandar kepalanya.15. Hawisem lan Radén Wari. 18. hingkang nanggung hayuda. 16. hing lampahira. Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing. nulya pangkat hangilar[r]i. saradadu Dén Wel[l]ang. sarta Radén Welang mangkin. 46a (96.

931) 142 . katambuh[w]an pan hingwang. mapan gelar[r]ing baris[s]an. pajun[n]é Radén Wel[l]ang. prajurit ngarsa. lan Dén Kertawijayéki. kecandak Radén Wari. dén[n]ing dén Wel[l]ang. pinayung[ng]an Bagus Rangin.kakang pinanggih lan rayi. pan kathah hingkang kajodhi. 22. kendel manengan hing prang. campuh[h]é hing ngajurit . prajurit[t]é Rangin hingwang. pésta pan siyang weng[ng]i. 47 (97. kelangkung bingah. Pan kapethuk kalih Kartawijaya. Dén Wari hingwang. pethuk hing yuda. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira. sing dépok sambeng punika. hapandang Hawisem Wari. 23. raméh hanggén[n]é jurit.” 20. pan kendel hing ngajurit. Tumenggung Nitinegari. sapa hiki ngarsa mami. 21. berandal sampun siyaga. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa. kang nanggung mapag saréki. panyata yén husul mangkin. Kadya brondong bedil mariyem punika. Rangin Kandar turun[n]ya.

Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal. hanjog mara Bantarjati. 28. samya bujeng berandal. Surapersanda pan kénging. suwung pan wismanéki. Dén Wel[l]ang hawecan[n]a. rinanté kinirim mangkin. datan pinanggya. Radén Wel[l]ang datan kari. Rangin Kandar Handa Hawisem miruda. sadaya tan[n]ana kari. han[n]ang Gragé nagari. hanadah[h]i hing ngalaga. Bala hambral miwah Dén Kartawijaya. miwah Sén[n]a dén tal[l]éni. rinanté hénggal. dén rakrak saban dés[s]a. 143 . Ki Séna Surapersanda. 26. “Héh hanjing berandal sari. rebut mapan tan kating[ng]al. baris berandal. 27. datan menda hanggén[n]é jurit. mangilén wahu lampahnya. dateng saradadu mangkin. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal.24. ming[ng]ilén pan lampahnya. 25. Dadya raméh siyang dalu hing payudan. Léja sakancan[n]éki. raméh hanggén[n]é jurit. perawan hayu binekta. héng[g]al pan binujung wan[n]i. hing kanca sultan.

Samargi-margi hanangis. ningal[l]i bojo hanak. hanak rabi samya krun[n]a. 144 . susah tiyang dés[s]a. 3. kantos nye(b)rang Kucéyak. kasmaran kaningal[l]i. hing Purasu Radén Srang. Ki Rangin Serit lan Léja. hambakta han[n]ak bojonya. 2.hanang Darmayu negari. sanget kasangsarah hipun. kalintang hanggén sengsara. Cipedang miwah Cilégé. Mangkana hingkang lumaris. Cipanculan Ciwidara. 47a (932) //XII. Men[n]awi dén bujeng mangkin. miwah Kandar handa mangké. hanjog han[n]ang Dulang Sontak. Benggala hing luwung dinang. 4. KASMARAN 1. pan sinelek hing lampahnya. dumugi hing Hung[g]ulung. jamban dalem mingilénya. kantos wan[n]a hing Cikol[l]é. hanyabrang Cipunegara. Pegambir[r]an Legok Siyu. tigang sasih hing lampahné. rempag hing wana-wana. Mengilén hanye(b)rang kali. Cilalanang Cibenuwang.

Raméh-raméh gé nya bukti. Kantos damel dukuhnéki. tawu ngilar[r]i hulam. miwah kaliyan menjangan. Kerana para pawéstri. nulya sami damel tarub. rama badé damel talun. kang Rangin pan saban din[n]a. han[n]ang rawa nami Citra. 9. langkung senang petanah[h]an. “Duh putra kula samangké. malebet han[n]ang wan[n]a. rawa hageng kathah hulam. hanerus hing wana-wana. jembar pelataran[n]ira. tengah wan[n]a langkung jembar. sampun tiyar kebon[n]an[n]é. 6. hantuk kidang lamun wangsul. haseneng[ng]an[n]ipun wahu. hing para putra sadaya. kalangkung tebih pernah[h]é. supaya pada hasowan. Nulya hawecan[n]a haris. 145 . Ki Léja pan saban din[n]a. hanang satengah hing wan[n]a. sun tingal[l]i sanget sa(ngsara). jurang péréng lumampah. 5. 48 (99. //Hananem mangkin. sarta damel sawah hamba. 933) 7. telung sasih lampah mangké. kali deres kang toya. 8.hanjog han[n]ang hing Cigadung.

kalih nahun hing lamin[n]é. sakilén kali Cigadung. kantos samikén namin[n]é. Tegal Selawi naman[n]é. pernah mang[g]ih telatah jembar. Nulya sampun rempag mangkin. lamun kempel[l]an punika. 48a (100. katela sampé punika. Jatigémbol kang satunggal. 10. Ki Gedé han[n]a hing Pecung. bade damel taluk[k]an. tilas[s]é Ki Rangin mangké. hingkang haprayogi hajembar. pan mingidul paranya. Hing wates Pegadén distrik. nulya sami rempag[g]an. hing bang lér kulon ing Suba(ng). halang hujur[r]ipun jembar. Tur rata tanah hiréki. 13. Winastanan sapuniki.winastanan dukuh Citra. bakta kanca telung puluh. gratan 146 . 12. hanang Cigadung pernah. kalih kadang miwah rama. Ki Rangin hadamel. Kyahi Wangsakerti nama. seja ngilar[r]i papan[n]é. kalih distrik Pamanuk[k]an. Jatilima kang nama. 934) pan damel…. 11. mapan manggih papan jembar. pan dén wastan[n]é Cihakur.

tempat tiyang ngeraman. hingkang dadi sinedya. nulya tiyang panghatumut. dinten pundi majeng yuda. Sedaya pan matur mangkin. “lh kad0s pundi karsan[n]é. 14. becik gawé surat hingwang. badé ngaben kadigjayan. saban dinten tiyang prapta. pésta hadedaharan. hantawis tiyang kathahhé. “Punapa karsa sampéyan. 16. hingkang haji pengabar[r]an. raméh-raméh siyang dalu. hing kanca miwah hing kadang. mapan kantun tunggu dawuh. sedaya pun siyaga. Dalah sampun kathah jalmi.sampun datos Citarum hagung. ningal[l]i pesang[g]rahan. kelangkung mandi sikirnya. 15.” 17. mapan handérék karsan[n]é. Panangtang mangun hing jurit. hanggempur hing Pecung Wangsa. 147 . pikir[r]é pan sampun dados. 18. Nulya Rangin ngandika haris. langkung sangking sanambang. Nulya Ki Rangin hamatek mangkin. hingkang bade tumut perang. napa pun ngungkul[l]i wahu. kadang miwah kanca-kanca.

brandal wétan hasal[l]ipun. sanggup hing ngaben pukulun. 21. pandakawan wicaksan[n]a. Nulya hangumpulna mangkin. Hutawi nak putra mami. sedaya matur sumanggah. 148 . mapan sampun hamiyarsa. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti. sampun damel sengsara. 49 (101. hing tegal selat(an) Subang.tanda hingsun wicaksan[n]a. pelariyan wong nagara.” Nulya damel surat sampun. kambi berandal sing wétan. kang[g]é mapag hing ngayuda. kang kirim hing Pecung dés[s]a. sarta putra Sindanglaya. jumerogjog hing ngarsanya. 935) 20. Ki Wangsakerti ngandika. hapa sanggup yuda mangké. wonten tiyang ngraman mangké. 22. Dulang Saréh hing wastan[n]é. para sén[n]apati mangké. héh ya Krudug sira. sira Jaka Patuwak[k]an. hing kadang miwah hing putra. harep ngayon[n]i hingwang. sraptan[n]é hingkang hutus[s]an. Héca hanggén gunem cangkin. supaya siyagi mangké. 19. kaliyan berandal wétan.

serat nulya tinampanan. kasukmésa jroning driya. kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang.ngaturaken serat sampun. Jawa Wétan te puguh. sampun dugi hing ngarsan[n]é. Grudug ngadéngé glendengan.. Winahos serat tumuli. Dulang Saréh wangsul nuli. 49a (102. 27. powé mana hanu puguh. 25. nulya pangandikanya. 24. hulah réya homong siya. dék ngayon[n]én hurang Sunda. sarwi hawecan[n]a sugal. Dulang Saréh matur haris. 936) 149 . hapa (Dulang) Saréh wahu. han[n]ang tempat pesanggrahan. sarwi mésem hawecan[n]a. gegancang[ng]an lampah[h]ira. breh hanjing siya wétan. Jajabang Grudug tingal[l]é. haturken juragan siya. hanjing Sunda malotot[t]é. 23. panon pan pucicilan. kula hanjing siya mérad. hurang mapag[g]en siyaga. Nulya Dulang Saréh hamit. kandel hipis hurat tulang. kana jampé sikir manéh. Jawa Wétan ngasahan kami. 26. hanjing gelis siya mampus.

sadaya sang[g]em hing yuda. 28. miwah kadang-kadang kabéh. Hing papan tegal Selawi. Nulya humatur Ki Rang[ng]in.Ki Gedéng Pecung punika. Léja maju hing haprang. bendéra tinarik hagé. hananding Ki Gedéng Pecung. Mangka sampun kapiyarsi. Patuwakan Majanglaya. dateng paduka sampéyan. dateng Kyahi Serit nama. prawantu perang berandal. ngajeng-ngajeng rawuh hipun. baris[s]é berandal wétan. Gumuruh kang bala Rang[ng]in. nulya majeng prajuritnya. tur gagah hasentos[s]a. dados pamucuk[k]ing haprang. 150 . malah kathah prajuritnya. bendé tinitir pinukul. kawengku hing distrik Subang. miwah Kyahi Gedéng Grudug. 29. 30. suraknya mangambal lambal. bala Rangin pun siyaga. 31. campuh prang berandal mangké. nulya siyagi sedaya. siyagi hing yudabrata. hambeknya lir Singalodra. sampun siyagi balan[n]é. hing bala Pecung baris[s]é. bala Rangin kathah pejah.

péngén hangrasan[n]i hingsun.pinethuk Ki Gedéng Grudug. Jaka Patuwakan hingwang. 50 (103. nulya pin[n]aran hénggal. tan wonten hasor hunggul[l]é. hapa Wangsakerti kowé. ningali kang raka perang. 33. ginanti hanggén yuda.” 36. payoh gentén lawan hingwang. nemu tanding hing ngayuda. “Héh sapa kang ganti yuda. hurang sén[n]apatin[n]a. wani mapag yuda ningwang. di wétan heker ditéyang. hora tlatén handulun[n]é. Palariyan jelma negri. “Héh sapa Sunda siréki. 151 . bala Rangin mawih Pecung. samya surung sinurung[ng]an. Ki Léja hanrajang mangké. nama hurang Gedéng Grudug. Jaka Patuwakan mangkin. Paksa wan[n]i sira babi. 937) raméh surak[k]ing bala. nu baris naliyan siya. 34. Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya. 32. 35. gitik[k]i sira wong wétan. Léja hatetanya wahu. Hanulya nerajang wani. wong yuda hudag-hudag[g]an. ketambuwan Jawa Wétan.

datan pasrah pan medang[ng]é.” 38. Kandar mapag hing yuda. hanggén medang hora tata.Ki Léja hamedang sigra. Sarwi hasesambat nangis. Léja dinesek perang[ng]é. dudu prajurit siréku. 40. tinitir hanggén[n]ya medang. 39. dén hikal pinuluh bayu. nyata hurak[k]an berandal. kaya wong kemaruk mangké. tur sira maksih tarun[n]a. nyata prajurit pinunjul. pan sampun hayun hayun[n]an. wong tarun[n]a sakti punjul. hénggal cinandak nulya. sayang hanggreget tingalnya. “Duh paman Léja (ja)ndika. 50a (104. Léja tan bis[s]a hobah. hora wan[n]i paman mangké.” 37. 938) 152 . “Héh Patuwakan sira. kasilib hing pan[n]ingal.” Tan kiyat Bagus Kandar. sor duwur pandén pedang. “Hampun Patuwak[k]an paman. Jaka Patuwakan mangkin. hiki Kandar sadulurnya. kalih Patuwakan //mangké hang ngasta bendhak bedama. Coba sun tanding lan mami. hénggal cinanda(k) hing bala. Patuwakan sabda lirih.

hora wan[n]i paman mangké. kaya hapa tingkah hingwang. bade majeng hing payudan. Sarwi krun[n]a sambat néki. nulya surup baskara. bala Pecung saya kathah. Kyahi Serit hangandika. héng[g]al tinalanén Kandar. karun[n]a sesambat[t]ira. sarwi hambakta bebandan.” Ki Serit ngrangkul putran[n]é. “Héh hanak kul[l]a sedaya. Ngandika Ki Wangsakerti. supaya mapag yuda. 45. 41. pun sirang baris Rangin[n]é.” Jigjakerti matur manggah. hananding Rangin siréku. Siniking putra nun pamit.sinabet penjalin wulung. “Duh putra welas hing wang. 43. Jigjakerti Majalaya. hakondur bala hing Pecung. Nulya majeng Bagus Rangin. Ki Rangin nulya humatur. 153 . muga mental[l]a hing yuda. gumuling han[n]a hing kisma. sun pasrah[h]aken yang hagung. “Rama sampun cilik manah. 42. “Haduh Bagus hampun paman. Jam nenem béndé tinitir. 44. bésuk niki sun pajun[n]é.

papag[g]en han[n]ang payudan. Ki Gedé hing Majalaya. sumbada gedé tur duwur. 939) 47. Nulya majeng Jigjakerti. “Héh hiki Rangin haran[n]é. hing bala Rangin hika. saba paran handon lan[n]ang. nulya tinalén[n]a héng[g]al. binanti(ng) kantaka wahu. //Majalaya pernah kami.” Nulya campuh hing ngayuda. wis jamak[k]é hingsun lampus. surak lir rengat[t]ing wiyat. 154 . budal baris sedaya. “Héh sapamapag yuda. kasaktén nanding paguh man[n]éh. binanting nulya kantaka. Pan nu baris nanding siya.” 46. pada rebut[t]en hing yuda. nulya Rangin hatetanya. Bala Pecung miwah Rangin. Ki Rangin hanyandak sampun. ki Grudug mapag yudan[n]é. tin[n]a kulit huras tulang. hanulya mesanggrahan. kami Jigjakerti ngaran. 48. pan sami sampun pethuk[k]é. Grudug nulya dén candak. Majalaya dén talén[n]i. 49. kasaput kabujeng sore. surung sinurung hing yuda. 51 (105.hasesumbar hing payudan.

dipun kinten musuh teka. 54. 52. “Duh mas putra ningsun kulup. Hapes tan mental [l]ing jurit. nulya wonten mantri prapta. sangking lér kelangkung kathah. Ngaturken srat tinampi. karan[n]a masih tarun[n]a. kantun satunggal putran[n]ya. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i. hécagén[n]é cinatur. 50. nawal winahos sigra. sapratapané hingkang putra. “Duh putra ningsun nyawa. hungel[l]é wahu kang surat. “Katur layang pun rayi. gégér[r]é tiyang hing jaba. kajodi putra kalih yé. 53.ki Serit nulya hamethuk. langkung melang hawak[k]é. 51. binuka nulya dén dulu. kang putra Patuwak[k]an. 940) 155 . dikinten //musuh praptan[n]é. musuh Rangin digdaya. 51a (106. bakal priyén tingkah hingsun. semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah. kelangkung susah [h]ing man[n]ah. Rangin sakti mandragun[n]a. ki Wangsakerti hakagét. dumarogdog tampi serat. kaya priyén polah ningwang. Mangkan[n]é ki Wangsakerti.

Nuwun kabar surat rayi. marah hénggal hingsun mapag. kalih pelariyan wétan. serat[t]é kadang kahul[l]a. “Haduh bagja putran [n]ingwang. rayi Dalem sing Pegadén. 55. hateng[g]ah hidin[n]é kakang.hingkang saweg mangun yuda. pinanggya suka kelangkung. Yén Kang Raka mangun jurit. raka Wangsakerti mangké. 57. Sira Patuwakan mangkin. rayi dugi gegancang[ng]an. kasuwun kakang pinanggya. 156 . methuk wahu hingkang sém[m]ah. Ki Wangsakerti gumuyu. sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah.” Dalem Pegadén harinta. tumut nyambung hing ngayuda. mila sanget rayi nuwun. Setrokusuma harinta. sampun hangdadosken manah. 58. kabujeng hamireng warta.” Lajeng budal sakancanya. hingkang rayi jagi mangké. katrima nuwun rinta. 56. bekti rayi hingkang ngantos. sing Darmayu pun[n]ika. “Duh bagéya sarawuhnya. Nulya matur Wangsakerti. boten mawi kabar wahu. rayi Dalem sing Pegadén.

Wangsakerti matur haris. Dén hampléh duhung ngiréki. nulya dangdos dalem mangké. pelariyan sangking wétan?” 59. tinarétés hinten mirah. sami kénging tinalén[n]an. hamajeng hing ngarsa wahu.941) 157 . dalah putra kalih hulun. kang pengkuh gegaman[n]ipun. gawé rusak hing wong hakéh. 62. cakep gagah pideksa. 61. langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang. mapan Jaka Patuwakan. Nulya humatur haris. hingsun hameton[n]i yuda. Sumanggah rayi hatur[r]i. hingkang sugih dipun rayah. angandika hing mantrin[n]é. Karo pelariyan Rangin. “Héh mantri ningsun sadaya. 52 (107. 63. nganggé kuluk sutra wungu. kepalan[n]é hingkang medal.” Manembah hana hing ngarsa. 60. kaya hapa hing rupanya. hénggal tinangkep berandal. kranten kang maju yuda. sarawuh[w]é rayi mangké.kados pundi yuda[n]nipun. sinonjé kang hanang kanan. hanganggé raja busan[n]a. hénggal matur[r]a baris[s]an.

sangking panuwun putranta. sangking harsan[n]ipun rama. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki. tak pasrah[h]aken yang sukma. badé majeng hing prang pupuh. 158 . kedah dén turut[t]i rinta. hananding Rangin yudanya. Wangsakerti putranéki.” Nulya Patuwakan nembah. 52 (108.“Hanuwun matur deduka. 2. héh kulup sakarsan[n]ira. 942) Nulya medal hing Jawi hamapag yuda. hapan sesumbar. jaya haputra yudan[n]é. Jaka Patuwak[k]an mangkin. mangka sampun kapiharsa. Wangsakerti hanyambung[ng]i. “Rebut[t]en bala Rangin. “Duh rayi leres putranta. balasan siyaga surak kadya hampuwan.” XIII. kang putra mundur sing ngarsa. 65.” 64. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang. hawit putra déréng medal. kasoran hing yudabrata. DURMA 1. dalem hangandika harum. hawit déréng majeng mangké. rama sampun medal mangké. bendé tinabuh nitir. gampil lamun putra sampun.

mapan sami saktin[n]ya. nulya tanya Ki Rang[ng]in. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda. nulya Rangin nyandak. 5. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda. manggih tanding hing jurit. héman maksi(h) tarun[n]i. tyang kalih hangagem keris. Rangin Patuwak[k]an.hanang Rangin prawira. Mapan raméh surung-sinurung kang yuda. rama kang mapag. haja sira mapag jurit. musuh lan hingwang. hing putra Patuwakan. sarwi pangandikan[n]ya. 159 . hanulya mapag Ki Rangin. hing Jaka Patuwakan. hujung bedama. “Héh putra lirén[n]a dingin. hayun[n]ayun[n]an. kon mapag yuda[n]ningwang. Patuwak[k]an nadahi. tiba kasingsal. Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang. Wangsakerti nama. 4. 6. 3.” Patuwakan hamangsul[l]i. raméh surak[k]ing baris. Rangin sinépak nuli. sapira saktin[n]iréki. dalem hangganti mangkin.

Rangin hatetan[n]ya. sangking Darmayu dingin. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal. 52a (109. hing tembé katemu hiki. 10. Setrokusuma hingwang kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in. wong gagah sira prajurit. gawé lan[n]a ting tiyang. Dalem Darmayu mami. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat.” 11. saban des[s]a rinayah. dalem majung jurit. kaya bé…patya?” Dalem nulya mangsul[l]i. harep nangkep hing siréki. mungkur[r]a sun talén[n]i. sukur subagja. “Sapa hanggenten[n]an[n]a. 943) 8. 160 . haku kang jaga sira. hanjing berandal babi. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang.” 7. Mapan hingsun masih pernah nak sanak. kanggo mangan hanak rabi.yudan[n]é musuh Rangin. ngaku bagus[s]an. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira. 9. sahumur hangrusuh[h]i. kang dadi berandal. jeneng Wiralodra. buron nagara.

hanggon[n]é mapag yuda. lan sira sapa. Rangin pan hora gil[l]a. binanting hical Rang[ng]in. hénggal hangnyandak. hingsun haran ki Serit. 14. nulya nerajang wan[n]i. pan Setrokusuma. Wangsakerti pan hingwang. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang. 15. Wangsakerti siréki. Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a. Wangsakerti ngedal[l]i. haningal[l]i hing siréki. harep nalén[n]i hingwang. coba majuwa. hantara hatmaja redi.“Dalem Sunda siréki. mapan pada saktin[n]ya. 13. nulya watek kang haji. raméh tiyang surak. surung-sinurung sira. “Sapa mapag yuda.” 12. bener mapan sira. mapag jurit hing siréki. bala Pecung kalih Rang[ng]in. hingsun pan hora wedi. kang wasta tiwik[k]rama. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira. ningal[l]i hingkang Gusti. 161 .

hayuh majuwa. semu sesambat. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda. Ki Serit musna. hénggal mangjuwa. “Héh Serit wedi mati. //pan kaki sami kaki. 944) tuwa karo kaki-kaki. ngadu pucuk[k]ing bedama. nulya malajeng ngoncat[t]i.53 (110. 162 . yén héstu sira prajurit. Wangsakerti lan ki Serit. hibur kathah hing jalmi. sami kuwel[l]ing jurit. runcing-rinuncing mangkin. Nulya campuh perang ngadu bedama. Serit pan sring tiba. Rangin ngoncat[t]an[n]a. ruket pucuk[k]ing keris. 19. bala Rangin hangebyaki. Bagus Rangin ninggal baris. hang[ng]adu bedama. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal. “Héh Serit pan sira. perang pan mébéding baris. 18. balan[n]é hakéh mati.” 16. musna datan karuwan. ngungsi hing Krawang. gumuling han[n]ang hing kisma. Ki Rang[ng]in hasring niba.” 17.

gup[p]enur jéndral mangkin. hi[ng]cal Serit lan Rangin. kados campur sétan. Putra matur duka rama hing purugnya. hilang tan kruwan. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an. habdi gong saktén[n]ira. Ki Serit lan Rangin[n]ya. 945) 163 . Wangsakerti lan dalemnya. kalih Patuwak[k]an mangkin. balan[n]é tiyang Rang[ng]in. 53a (111. Rangin bala berandal. Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i.20. 21. kempel dados sawiji. “Putra kaliyan kang rayi. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal. samya numpes bal[l]a. pan datan kacandak mangkin. héh kakang Wangsa. suka bungah kang [ng]ati. Léja sun kirim mangkin. 22. dados satunggal. hing ngendi paran[n]éki?” 23. Grudug Majalaya mangkin. 24. Gintung Patuwak[k]an. dén talén[n]ana. Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira. perkara berandal. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra. Kyahi Dalem ngandika haris.

kathah hingkang lén mangkin. Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara. kran[n]a buron nagara. 26. bebandan mlajeng wanadri. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an. sangking turun bagus[s]an. saparan-paran mantri. pan sarta hing wétan. 164 . Langkung susah bebandan hical sadaya. nulya malempat. Jigjakarya. rinanté hingkang sekalih. miwah Jayakareti. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra. kang bakta langkung susah. Bagus Léja [nn] ika. han[n]ang Gustinya. kinirim hing Batawi. badé wangsul langkung hajrih. Bagus Kandar larih[h]i. 27. 25. hical jero wana. Léja lan Kandar. turun[n]an[n]ira. sinebrak rantén[n]iréki. sang Pegadén nagara. 28. hing[ng]iring[ng]aken mantri.menurut hing préntah. silem han[n]ang jaladri. nyabrang hing Citarumnya. mantri kang sekawan. Rangin Kandar Léja Serit. Surakerti Jayamanggala.

hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal. putra pan garwa rayi. sadaya karun[n]a wahu.pelariyan duk dingin. “Kakang wangsul léntas[s]a. 54 (112. berandal halarih[h]i. //hing Darmayu kumpulnéki. sinten raka kang ngemban[n]i. 946) 165 . XIV. miwah sadaya prajurit.” Hangrangkul karun[n]an[n]éki.” Ngrangkul wahu kang rayi. muga rayi kahidin kondur kakang. pan kakang bakta sadaya. kaliyan Dén Ngelan mangkin. Kakang patih mapan séda. “Hing kadang-kadang[ng]iréki. lir sinebrak linolos pulung[ng]ing 1. miruda sadayan[n]ipun. hatiyati yayi kari. duginya hanang nagara. toya waspahan dres mijil. karun[n]ang sesambat[t]ipun. nagari Darmayu raka. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang. Dén Karta hangandika. sareng rayi mukting riki. 2. 3. Dén Karta lan Dén Wel[l]ang. SINOM Mangka lampahnya Dén Karta.

duging Palimanan mangkin. 166 . mengidul margi lampahnya. bade kondur sapuniki. 4. Radén samya hangrawuh[h]i?” “Kula bade ningal[l]i. nulya hatetan[n]ya haris. papali dadi bopatya. sumur tinutup pantes[s]i. miwah Radén Welang wahu. “Pan bade karsa punapa. Membales kumendan pes[s]an. 7. Dumugi hing pintu jaba. mengko kakang jaluk hidin. kados pun[n]apa kang werni. haja nangis hari mami. Kartawijaya hakampir. duh yayi dén lilan[n]ana. tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan. “Radén niki kang dijaga. samya ngiring putra garwa miwah kadang. hanang sinuhun Gusti. 947) 6.” Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. nulya lajeng lampah néki. hingkang dipun jagi wahu. dateng kumpen[n]i pun[n]ika.” 5. “Duh rayi Dalem hangrinta.manah. Radén //hingkang dugi. hing Gragé kanjeng sinuhun. 54 (113. hanang soldat kang hajaga.

héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya. ngandika Radén Welang wahu. kula tahan sobat mangkin. hambuka tutumping wes[s]i. Sadinten gén yudabrata. 10. nulya tinutup bénténgnya. “Sobat permisi puniku. tan hun[n]ing hisin[n]é niki. Radén Welang badé maksa. 8. kathah soldat hingkang mati. ngangseg hing kuthan[n]éki. pan bade kahul[l]a buka.” Radén wecan[n]a haris. pan soldat hanahan sigra.duka his[s]in[n]é punapa. 167 . 9. haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a. timbalan gupenur mangkin. yén tan wonten hidin Gusti. Karana lar[n]ang[ng]an hika. hibur gégér hing prajurit. hanyandak Dén Welang mangkin. yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang. pan datan wanton hambeka. Dén Welang sabdanéki. bala Radén Karta mangkin. hing soldat dén balangna. Radén Karta nyandak sampun. pun[n]apa hisi niréki.” Sersan mangsul[l]i sabda. sinurung medaling jawi. héh sobat pan maksa hingsun.

lajeng cahos Gusti Sultan. wis haja sira //temen[n]i. mapan jaluk katangkep[p]é 168 . gegancang[ng]an lampah néki. serat binanting tumuli. “Loh babi Cirebon hanjing. nulya wangun serat mangkin. hanulya hénggal binuka. srat sampun katur[r]ing Gusti. dugi hing Gragé nagari. nulya damel srat hénggal. “Sedaya hatur mangkin.” 12. Mangkana sersan kumendan. mahén kurang ngajar hiku. becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal. hical sangking jero buwi. 948) “Héh sanak prajurit hingwang. 11. Jeng Gusti ngandika haris. kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral. Sén[n]a Surapersanda. kang[g]é Sultan Cirebon mangkin. soldat hingkang bakta. repot han[n]ang Betawi. han[n]ang Palimanan loji. Pan lajeng hing lampah[h]ira. lampah[h]é berandal wahu. Mangka sampun cahos ngarsa. mapan srat binakta sampun. Radén sang kakang bujeng wahu sakitan.54a (114. sanget getun[n]é hing manah. 13.

55 (115. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral. hanang loji Palimanan. ngempel[l]aken kang prajurit. 17. hakéh soldat pada mati.” 14. hingkang ngrasak Palimanan. Sampun medal han[n]ang jaba. tiningkem sratiréki. kang wisma nihaya mangkin. patang puluh kang pipilih[y]an.” 16. hanang nagara Betawi. hénggal[l]é pan sampun prapti. 949) 15. héh hajid[d]an litnan mangkin. ngandika jeng sultan mangkin. serat[t]é sampun winaca. lan gawa malitér mangkin. Radén Karta lan Dén Wel[l]ang. sarta hangandika wahu. dateng Gusti sultan wahu. srat mapan sampun tinampi. samakta kaprabot jurit. lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya.parusuh[w]an. nangkep ponggawan[n]éki. hing Cirebon Sultan wahu. “Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat. hing hajid[d]an lan létnan. Kanggo hing Cirebon Sultan. serat tinampakna haglis. hapan hiki gawanen pan surat hingwang. 169 . samakta kaprabon yuda.

Si Kléwang karo Si Dumung. ngamuk[k]a hanang Batawi. //Nulya tinampan[n]é hénggal. 950) 170 . nadah[h]i hing yudabrata. malah srat sampé sahiki. karo wasiyat mami. ngukuh[h]i tan jisa hingsun. hangrangkul ponggawa kalih. pin[n]ariksa ngarsan[n]éki.” 20. pan ti hingsun hangamuk hambral nagara. holiya béla siréku. sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa. Gupenur Jéndral kang neda. hing Carebon mapan hiki. pan karo sinuhun Gusti. wis pinasti hing yang hagung. Bésuk tekang Batawiya. hora kuwat nagri mami. 18. hametik taling[ng]an[n]éki. pun kadada sajron[n]ing galih. pan durung tak bales[s]i. hing Metaram nagari. lan hiki kasung paring[ng]i. 19. malah nagara hingwang. pan dén paksa seja dén jaluk Metaram.karana dadi san[n]unggal. Hananging yén sultanan[n]a. nurut[t]a pasti yang widi. 55a (116. handres mijil toya waspa. Tumurun sing palinggih[y]an. Karta miwah sira Wel[l]ang.

dén sampun tutas timbal[l]an. 171 . hanulya cahos hing ngarsa. tan kawuwus sahaning margi. XV. mapan ningsun durungna. sampun dugi hing Betawi. lampah[h]é kang bala hambral. Gagancang[ng]an lampahnira. ponggawan[n]ipun sekalih. PANGKUR 1. “Litnan miwah sares[s]an. 22. hing Jéndral Gupenur mangkin.Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta. “Sumanggah nuwun hidin Gusti. “Héh ponggawa Batawiya. gupenur pamundut néki. 21. sinelek lampahnéki. nulya matur sersan wahu. hanulya hénggal ngandika hasru. kaya hapa hanggon ningsun sira hutus. Sampun cahos han[n]ang ngarsa. kang dén dakwah saréki. Gusti nuwun dén hidin[n]i. nulya kondur ponggawa binekta hénggal.” Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an. datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi. manjing han[n]ang dalem hagung. sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa.

hapa kowé hora miring hing pangrungu. ngisén[n]i ratuning hambral. 2. gumujeng humatur néki. puniki ponggawin[n]éki. sembran[n]a ratuning hambral. murbéng rat han[n]ang Metaram. hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami. hamengku tanah Jawa. Durung kawula dén priksa. 5. kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda. mapan kul[l]a bade handon lampus hulun. lan duging Batawiyah. jeneng ponggawa pukulun. hora nganggo tata titi. dipun suguhi pepisuh.” Karta miwah Radén Welang. dedukan[n]é lir kadya tiyang baring. hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi. 951) 172 . Paduka kuwas[s]a hagung. nanging sembran[n]é hing karma. kuwas[s]a Pulo Jawa.pan berkah Gusti paduka. Gupenur Jéndral pan haku. pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun. kalipatul[l]ah pan hadil. “Héh Tuwan Gupenur Jéndral. Loh hanjing binatang gil[l]a.” Langkung lingsem gupenur jéndral 56 (117. 4. 3.

56a (118. pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus. 952) 8. kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun. hangras[s]a pan kurang titi. tan katingal hingkang dipundrél mangkin.sang[ng]ulun. nulya tyang kalih pinas[s]ang. 7. wani ngrus[s]ak sampamati saradadu. nulya binaris[s]an hagung. krana kowé melang[g]ar. han[n]ang bénténg Palimanan. Nulya jéndral hangandika. Nulya dipun bakta medal …. 6. limang los[s]in mriyem néki. tapi tan hadil pan[n]ingsun. pan ningsun drél sampé lampus. Sahiki kowé nrimaha. hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi. nulya ngrasuk manukma. Kyahi kuwu welas handulu. dateng wayah kang sekalih dipun 173 .” 9. Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. “Héh ponggawa haku trima salah hiki.(halun-halun) hing Batawi. sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i. perlu hapa kowé (wa)n[n]i. Pan peteng kénging sundawa. hanuruti darah panas. //”Hé bangsa Welanda.

Kathah resak para hambral. sekalih ngamuk Welandi.hukum. “Héh wayah ku sekalih mapan siréku. 174 . langkung susah balan[n]ipun kathah lampus. nulya medal kaki kuwu. tan nulya pin[n]asang wahu. Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu. 11. datan terang haningal[l]i. luwih séwu hingkang mati. sangka panukma nira. 10. sing pungkur kang dén harah. hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun. ningal[l]i rusak[k]ing bala. kran[n]a pasti bakal pejah. Baris malitér sadaya. musuh kathah wicaksan[n]a. “Loh wong Cirebon hanjing sira. nulya mendhet senapan[n]ya. hing Betawi langkung hibur. hajalira han[n]a hing Betawi mangkin. Pinasti hingkang salira. mimis hinten jimatnéki.” Hanulya Jéndral Gupenur. mapan perang kaliyan kanca pribadi. pan cukup pun bél[l]anana. temahan gawé rusak hing nagara. 13. héwed pan bala habral. 12. hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i.

Wasiyat keris pan musna. mundur malitér kang baris. Kartawijaya hika.k hambral[l]é wahu. musna hical kuwandan[n]ya. sahiki kowé dangdan[n]a. nulya mburu dén[n]ing . dumugi pejah[h]ing siti.” 14. kénging nulya hangemas[s]i. 953) 175 . kanggo ganti resak[k]é pan bala haku. samakta kaprabon jurit. 17. hanulya ngandikan[n]ipun. 16. nulya kuwandan[n]é wahu. 15. sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi. haku hora trim[m]a resak[k]é balaku. 57 (119. bala soldat malitér hingkang pinilih. nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun. Dén Karta haningal wahu. gupenur hamasang sigra.katerangan bakar pis[s]an. wewengkon kasultan[n]an. “Hangajid[d]an sares[s]an. dén candak kuwandanipun. Hanggawa hatelung kapal. Hanging gupenur Tuwan.. nagri Cirebon hingsun jaluk. hing para bala hambral. pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin. Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin.

19. bala hambral kaliyan Cirebon mangkin. mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh. sanget gupenur jéndral handulu. nulya humatur gupenur. Martakusum[m]a. Mertasinga para pangéran[n]é rawuh. Sares[s]an hajidan medal. sedaya sabil hing jurit. Raméh hanggén ning yudabrata. lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i. pangéran maju hing pupuh. nén majeng hanempuh jurit. Pangéran Surya Kusuma. litnan kornél seres[s]an nulya baris. Sareng hambral ningal[l]an[n]a.” 18. 954) 176 . hantawis sapitung ngéwu. 21. Radén Pekik miwah Dul.péndék haku hora trima. nulya maréntah baris[s]an. 20. bala pangéran hambaris. hanulya siyagi wahu. Samya gégér tiyang kathah. ponggawan[n]é ngresak mami. sampun mentas hing darat[t]an. Panjunan cahos hing ngarsa. wong Cirebon hanglawan. wangun pesang[g]rahan mangkin. kacrebon[n]an siyaga. baris lahut baris darat. mapan sultan sampun hamiyarsa warti. 57a (120. sarta Pangéran Logawa.

tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti. nulya mréntah hing tumeng[g]ung. sampun dugi negara. hang[ng]ungsi sinuhun Gusti. hing margi sampun kapungkur. 25. 24. mapan nengah kapal[l]ipun. mapan ngulug hing Carbon negari. sultan nulya ngandika rum.22. Sanget dukan[n]é jeng sultan. 23. Samya burbar bala hambral. Jeng Pangéran Purobaya. sing Metaram handugén[n]i. sampé silem darat[w]an. hatur pan sedayan[n]éki. Metaram Broboya mangkin. Sareng pethuk kalih sultan. nulya mentas pelabuwan. hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin. kén ngembel[l]aken bala. numpak kapal babar layar hing jaladri. hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun. 177 . samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun. wonten napa sampéyan karun[n]a wahu. Sadaya samiya budal. humatur Gupenur Jéndral. Natabumi Buminata. “Héh kadang kul[l]a jéndral. 26. sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu. pan kagét sultan tumingal. Kanjeng Pangéran Natabumi.

28. sagending bala paduka. sultan tan bis[s]a ngandika. sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis. Sarta pansiyun paduka. 955) lajeng ngandika prabu. tampin[n]ipun saban santun. tan hangkat kul[l]a pan katur. tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti. sarta kaparing[ng]an tanah.58 (121. “Bagéya kadang kul[l]a. mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu. 178 . 29. “Duh kadang-kadang kahul[l]a. Gegancang[ng]an cahos ngarsa. pan pinundut sedaya dateng sanghulun. sing Metaram sedaya kang samya//rawuh kados hangemban sukarya. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a. kran[n]a negari kul[l]a.” “Habdi matur kang sayekti. hantara ngandikan[n]éki. hantuk dawuh Gusti sangking Metawis. nameng Gusti kalanggeng[ng]an. maksih jeneng sultan Gusti. habdi hanglados[s]i wahu. bulu bektin[n]é punika. 30. ngemban timbal[l]an sanghulun. 27. mapan habdi siyagi hing perang pupuh. mung[g]uh negri paduka. kanggé kadang-kadang Gusti. dawuhipun Gusti sinuhun Metawis.

31. Lampahnya budal sadaya. badé katur hing Jeng Gusti. 956) //XVI. “Yén makat[t]en Gusti kul[l]a. mugiya dén hatur[r]en[n]a. hanimbal[l]i Wiralodra. nuwun hidin bade kondur Gusti hulun. nulya sukan nampéken[n]a. kondur han[n]ang Metaram kang negari.mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun. sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur. sampun katur hing sanghulun. hing Cirebon masrah[h]aken negari. nulya sami pamit kondur. perkawis nagri Cirebon. hing Gupenur Cirebon nagari. gupenur kalih sultan. 58a (122. Lajeng gupenur hatampi. Sampun rawuh hing Betawi. pan sangking dawuh paduka. pasrah[h]é Sinuhun Sultan. pasrah[h]é hingkang nagara. wangsul han[n]ang Batapiya. handérék karsan[n]ing Gusti. 2. KASMARAN 1. 179 . Pangéran Probaya matur.” 32. sesampun[n]é sesiniyan. Sareng dawuhipun sultan.

hawit datan gadah wahu. sawelas nambang kang harta. miwah sakéhéng pekakas. ngarabbi hing kamulyan. dugi hanak putu Tuwan. dipun jagi hing Yang Manon. 5. hanak putu sareng mulya. Hamengku hing Pulo Jawi. 6. kasuwun sarébu mangké. Gunggung sadayaning duwit. kumeduh rayi habayar. 4. kabendan hantuk kamulyan. mugi dén jurung Yang Ngagung. 180 . muga lulus[s]a hamurba. “Slamet dateng Dalem rayi. 3. sedayan[n]é kul[l]a hétung. hanangkep berandal mangké. hing rekoning dedahar[r]an. mung[g]uh sangking perbantuwan. nulya hangandika jéndral. kanggé hangrangsom soldat. sanget hanuhun Yang Hagung. dateng paduka gupenur. Lan kakang ngatur[r]i huning. sampun rawuh Batawiya. sangking sih pitulung Tuwan. sangking panjunjung rinta. ya trimakasih harinta. hénggal cahos hing ngarsa.” Dalem datan wecan[n]a.hing Darmayu negarin[n]é. tigang das[s]a rupiyah[h]é.

” 9. 1610. 181 . Nulya Dalem ngandika ris. kadang putra taken warta. héstu habdi datan duwé. hanang surat tanda tang[ng]an. punapa karsa paduka. 11. “Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a. mung dalem nékina hiku. hing Darmayu kagungannya. Hanulya humatur haris. mapan tanah gaduh hingwang. //Gupenur ngandika haris. Nulya dalem néken mangkin. 7. 10. hing Darmayu pan negara. hapa hingkang biyasa. tanah habdi hing Darmayu. hanglungguh hing kadalem[m]an. pan wangsul han[n]ang negari. hing Tuwan Jéndral punika. nameng katur sedaya.” 59 (123. Tuwan Gupenur Jéndral. 957) 8. babar layar hing bahita. nulya dugi negaran[n]é. salesih tanah tan darbé. nameng dalem tetep bahé. dugi han[n]ang dalem[m]ipun. pinapag hing ponggawa. nulya pamit dalem wahu. “Duh Paduka jeng[ng] Atuwan.harta hingkang nenambang[ng]an. harta hingkang nenambang[ng]an.

hingkang gumanti putran[n]é. Nyayu Pungsi sekawan[n]ya. 12. Nulya dalem kénging sakit. pan negara dipun rampas. hing Tuwan Jéndral Betawi. miwah Nyayu Lotam[m]a. pitu tunggal hingkang putra. 958) 182 . 14. wis karsan[n]é hing Yang Manon. maksih kateteppan nya nama. pan datan lang[g]eng ring bénjang. gadah mertuwa durjan[n]a. nulya Nyi Wiradibrata. Nyayu Hempuh katigan[n]é. langkung susah hing kawul[l]a. dalah dumugi hing ngajal. hora robah biyas[s]a.“Hah kadang pan putra ningwang. Pambajeng Radén Marngali. nanging dalem pan samangké. 13. nami[n]nipun dalem wahu. hanulya sesunu wahu. hingkang kantun Radén Brestal. 15. lungguh dadi dalem wahu. Dalem mapan sampun lami. Hanjani wuragil[l]ipun. hingkang gadah rinampog[g]an. pan kanggé hongkos[s]i perang. Bagus Kalis Bagus Yogya. hangrerampog panggotan[n]é. pan kadang putra karun[n]a. 60 (124. Wiralodra peparab. hing hanak putu sedaya.

dén kumpul[l]aken pan wahu. tinangkep hingkang barang. tiyang dados dalem nika. hingkang dén rampog durjana. 17. Tan héman kawul[l]anéki. pan humatur hingkang raka. hantawis dinten Jeng Tuwan. 183 . Patih Singtrun[n]a mangké. hing Tuwan Presidén wahu. 16. bener yén mangkon[n]o rinta. konjuk Presidén Tuwan. mélu néken kakang mangké. 18. punapa rempug jeng kakang.” 19. dén hunjuk lebet[t]ing surat. Cécég kathah barangnéki. Tan menda saban bengi. rawuh hing Darmayu mangké. nulya damel serat hénggal. pan durjan[n]a hangrerayah. dipun rakrak sedan[n]am[m]an. 20.Patih Singtrun[n]a wahu. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin. pan satingkah polah hipun. Nulya kakirimna haglis. datan dén pradul[l]i mangké. rayi bade ngrekos[s]a. hing Cirebon pan negara. rerampog[g]an perayahan. kados pundi lampah[h]ipun. sanget wel[l]as hing kawul[l]a. “Duh kakang Mlayakusum[m]a.

kang dén haku déning tiyang. 23. Mas Malaya Kusuma[nnya]. Tunggu putus[s]an negari sareng dugi kang putus[s]an. dén hangkat dadi wedan[n]a. jeneng jaksa hingkang nama. hantuk pangkat punika. 24. durjan[n]a kathah kacandak. Wedan[n]a hangrangkep patih. Jatibarang hing distrik[k]é. Dalem Disowak namin[n]é. Singatrun[n]a Dalem patih. Wiradibrata pan wahu. cécég salebet dén rekés. datan[n]an[n]a perkaran[n]é. Langkung gemah pan negari. nulya dalem kikirimna. para durjan[n]a sekabéh. hingkang rayi hirén[n]ya. dipuntahan tigang wulan. dén hangkat dadi ranggah. Darmayu hingkang nagara 184 . gupernemén hang kagung[ng]an. hing kawicaksan[n]anya. 959) 21. han[n]ang Darmayu nagara. wedan[n]a miwah kaléktur. sanget susah manah hipun. samya hajri(h) ningal[l]in[n]a. pan jeneng kalékturipun. tan[n]ana sakéng durjan[n]a. 60a (125. 22. hing Cirebon nagara.

kathah[h]ipun gangsal nunggal. hingkang héstri Nyahi Muda. sedaya pan putranipun. 25. pan sanunggal hingkang putra. Brataleksan[n]a kakung[ng]é. 28. Radén Karta Kusuman[n]é. wuragil Bratasuwita. pambajeng jeneng putran[n]é. 61 (126. wuragil Radén Madada. //pambajeng Biskal puniku. Nyi Sumbaga putranipun. Hardiwijaya hasistén. Mas Demang Bratasentan[n]a. Radén Kartawijayéki. 960) 185 . kawan nunggal hingkang putra. jumeneng pangkat sedaya. pan kagung[ng]an putra wahu. Cirebon Prayawigun[n]a. Kaléktor putraniréki. kagungan putra tiga (?).Patih Singatrun[n]anya. pan Radén Wiramadengda. Radén Mardu harinta. wuragil Nyahi Jumin[n]ah. 26. Nyahi Junéd héstri wahu. Radén Rang[g]ah putranéki. miwah Sudirah nama. hanulya Nyayu Julék[k]a. Pambajeng Patimah mangkin. 27. mapan gangsal hingkang putra. hiku nipun Ratu Hatma.

hanang Darmayu kota. kang gumanti kang putra. hing Lobener kademangan. 30. hupas bom hingkang pangkat. hanglenggah[h]i demang wahu. pambajeng Kertahudaka. 33. Nyayu Jeni kuwu héman. Mas Demang Lobener mangkin. Wiradaksan[n]a demang. dé Marngali puniku. Dadi demang pangkatnéki. nurun[n]aken putra wahu. peparab Wirakusum[m]a. Kertadipran[n]a hingkang nama. mlaya haja dadi demang. Balu…Kalid hingkang nama. 186 . Kang Rayi pan mangundriya. distrik Paséban naminé. Kertahudara pun[n]iku. Hingkang rayi putra héstri. Darmayu pan dipun hérpa. Nyayu Sungsi lakin[n]éki. Muhada pan tukang timbang. 31. hulu-hulu hingkang pangkat. Demang Bangaduwa mangké. hinggih punika kang tigan[n]é. 32. Kyahi jaksa sampun séda. han[n]ang Sindang Kademang[ng]an.29. Kertahatmaja wuragil. 1813. Tuwan Pri jeneng[ng]é.

Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki. Darmayu sabrang kulon. Ngabéhi Wiraseca ngabébre peputra nami Kartawangsa Tumenggung Metaram. hulu-hulu hingkang pangkat. Trus peputra nami. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 2. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén 3. peparab Kertawil[l]as[s]a. Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a. 61a (128. Hé…Subrata nama. satunggal[l]é lakinya. 34. Peputra nami Wiraseca. Hanjani lakin[n]é mangké. lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 4. Wirajatmika nama. Sampé hanak putu Kyahi Belara Kyahi Belara peputra nami. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. jumeneng pangkat wahu. Bagus Yogya jeneng[ng]ipun.hing Palumbon duk dingin[n]é.961) Hasal-Husul Wiralodra Sangking dalem kang damel nagari. dadi mantri pangkatnya. Radén Lowan[n]a. Haran Jaka Kuwat. Tumenggung Bagelén peputra nami 1. dadi demang Luwungmalang. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 187 .

Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é 3. 1 ngelandrah ngolé… kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan sabrang kulon Kali Cimanuk. Trus se… Nyi Darma kalih. Kakung Radén Tanujaya 5. Héstri Nyayu Wangsanegara 2. Radén Singalodraka Radén Singalodraka peputra 1. Héstri Nyayu Wangsayuda 3. Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu. Radén Wirakusuma 4. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra 1. // sawis[s]é lawas Wiralodra no. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata 4. 1 waktu hiki … Bagelén 4. Radén Wiraseca 3. Radén Kumbabocor 3. Radén Wirapati 2.5. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca peputra 1. Lan katemu klawa Nyi Darma. Radén Jaka Kuwat 2. Kakung Radén Sutamerta 2. 962) 1. dadi nagara diharan[n]i Darmayu Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk. Kakung Radén Driyantaka 188 . Kakung Radén Tanujiwa Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no.

Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Hajeng Wilastro 12. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a 13. Kakung Radén Wirantaka 5. Kakung Radén Kowi 2. Kakung Radén Sumedi kangganti dalem 4. Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a 10. Héstri Hajeng Raksawiwangsa 7. Héstri Hajeng Nay Wangsa 9. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13 1. Héstri Hajeng Patranaya Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. 4 4. Héstri Hajeng Singawijaya 4. 3 Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami 1. Kakung Radén Wiratmaja 6. Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar 3. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami 1. 2 2. Héstri Hajeng Hadiwangsa 11. Kakung Radén Timur 3. Héstri Hajeng Sutamerta 8. Kakung Radén Lahut 2. Kakung Radén Benggal[l]a 2. Kakung Radén Ganar 189 . Héstri Hajeng Raksawinata Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no.

Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener 7. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu 6. nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami 1. 963) Héstri Hajeng Moka sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén Benggal[l]i. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang 2. 5. 8. 5 5. Héstri Hajeng Parwawinata Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya Héstri Hajeng Nahiyasta Héstri Hajeng Gembrak //Héstri Hajeng Tayub 62a (129. 4. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan 5. 7. 190 . Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é nami 1. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 1. 7. 6 6. Kakung Radén Suryabrata 3. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 4. 6. Kakung Radén Suryapati 2. Kakung Radén Suryawijaya 4. Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a 8. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah 3. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah 7. Kakung Radén Kerstal Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no.3.

Radén Sumarga Wirasudirga 191 . Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber 3. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2 1. Radén Madi Wirasomantri 2. Héstri Nyayu Wiradibrata wékling 4. Radén Wirasaputra dadi demang 2.9. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener 2. Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3 1. 4. Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4 1. Héstri Nyayu Wiradiwangsa 2. Radén Wiramadengda héstri Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang peputra 2 1. (Hés)tri Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2 1. 2. Radén Prawirakusuma (Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4 1. (Radén) Wirahatmaja 3. Radén Perdata Wirahastabrata 2. 3.

3. buku sejarah bupati. Tiada lain (cerita) ini dikarang. 192 . sedang senang hati saya. …hilang …. sudah …langka. jam dua malam … waktunya …sebulan. pada tanggal sepuluh. dari sejarah kuna. (untuk) membuka bagian …. …rusak. … dikarang nyanyian. bermula …. supaya ….4 Terjemahan I. 2. pada malam Jum’at legi sedang senang hati saya. ada di Indramayu…. …saya menulis.3. supaya sama-sama mengetahui. turun-temurun [ini] anak …. Kartadipranna. serta sanak saudara …. terus-menerus hingga putra …. Alasan saya menulis.alur (cerita). tahun seribu sembilan ratus. anak cucu Wiralodra. besok (sampai) akhir. Ki Wiralodra …. 4. … dari mantri Haris. SINOM 1.

. tumenggung dari Mataram. tumenggung Mataram. Lalu saya. memaksakan saya mencari. …pernah datang (ke Majapahit). Rangga Bagelen . berputra lagi. minggu saya bepergian. lalu .. … … ia memiliki anak.…sejarah dahulu. (bernama) Kartadiwangsa. 193 . …Pringgandipura. 6. (berputra) empat orang. 5. . mempunyai anak …. …tumenggung. Larakelar asalnya. pemakaman pun dilihat. Panembahan Kiai Belara. melihat sejarah. berputra Ngabehi Wirasecapa. …sedih (melihat) rusak kuburan.mengantikan. 8. 7.... keturunan Wiralodra. (Kang)Jeng Pangeran Hadi…. Itu nama lainnya. Tumenggung Gagak Pernala. Wirasecapa mempunyai (anak). laki-laki … putra Raja Pajajaran.

hakekat dan marifat. tempatnya sepi sekali. 11. telah menghilang wujudnya. oleh Gagak Wirahandaka. Yang sulung Wangsanagara. …negara.. selalu yang terlihat melihat wujud tunggal .Bagelen…. Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan Wiralodra ketiganya Tanujaya adiknya. Tanujiwa bungsunya di Bagelen keratonnya Wiralodra karena sangat sedih (ia) sering bertapa. sareat serta hakekat. oleh Gagak Wirakusuma berputra lagi Gagak Singalodra ….. di dalam supaya menjadi satu. 9. . tidur di tempat tinggalnya. tiga tahun lamanya. putra dari …. Dari Banyuhurip Kedu ….. meminta kepada yang kuasa. (Tidak) tidur serta makan. 10. Tinggal … di gunung. [ia] berputra….diganti para bupati. karena Raden Gagak Kumitir.. asal negrinya Karangjati. 194 .

yaitu cahaya bola api. tanda diterima oleh Yang Agung. (Su)kma Yang Agung. terang seperti bintang. Wiralodra. ke hutan Cimanuk.. 12. lalu … kinanti tembangnya. …. Pindahlah ke barat. lalu cepat bangun . II. memohon kepada Yang Sukma. karena akan menjadi … untuk keturunanmu. hingga tujuh keturunan. 2. Pada malam Jum’at. serta terlihat di timur.…cahya yang bening. turunannya semoga mendapatkan kemulyaan. …terang-benderang. Wiralodra. KINANTI 1. 195 . … bukalah hutan ini. melihat (cahaya) di atas langit. suara yang terdengar. terbangun memakai …. menghilang di tempat terang. bila ingin mulia dirimu. …tuamu. 3. semoga akhirnya mulia. cahaya… tapa. hutan besar itu nyawa.

196 . 6. Ki Tinggil . berada di hutan belantara. di Sungai Cimanuk tempatnya. (air mata) ke luar deras (dan) menangis. pertolongan Yang Maha Widi.sama-sama … ayahnya. di mana tempatnya ini. sama-sama keluar air mata. Lamanya tiga tahun. Saya serahkan kepada Yang Agung. Sungai besar [di] Citarum. dari hadapan ayah serta ibunya. 8. sehingga sampai di sebuah sungai. … kepada ayahmu. 7. 4. Menuju arah selatan kaki gunung. bersama penakawan. …tiba di air besar 5. anakku …. karena belum …. karena (sudah) kehendakNya. putranya mencium kaki ayahnya. memasuki hutan. … bercerita. anakku mari …. ia duduk di pinggir kali. lalu melanjutkan perjalanannya. lupa tidur serta makan. mendapat pertolongan. serta bangkit … Sudah diizinkan pergi. dipeluk serta ditangisi.

serta sama-sama duduk. kepada pelayannya. yang bernama Kiai Tinggil. Lalu di(tarik) dipeluk. Saya kira ada perkampungan. berkata Kiai Tinggil. 11. banyak jembatan di sini. aduh kakang tolonglah saya. dan [ini] Tuanku. Buyut Sidum orang dulu. sabar Tuanku …. 197 .lalu berbicara perlahan. istirahat menyenangkan pikiran. yang seperti lelaki tua. sangat gembira (hatinya). dari orang tua ini. serta … ada seorang kakek datang. sungai (ini) sangat besar. Setelah Bendara (Wiralodra). 9. berbicara lemah lembut. Paman saya merasa bingung. 10. Raden Wiralodra melihat. atau kebun orang. 12. ada kakek-kakek datang. (saya) minta perolongan kakek. saya akan mendapat berita. bersalaman dengan kedua tangan. …. bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa. 13. “Duh saya bahagia sekali.

gugup ia menjawab. yang merupakan bagian dari Karawang. 198 . serta dari mana asalnya. belum menanyakan namanya. Kyahi Dum berbicara manis. 19. 18. tiga (tahun) perjalanannya. “Duh Paman Kiai Tinggil. mengatakan jalan ini. kamu…ku. Telah lama perjalanan saya. saya ingin mendapat berita. ia keburu menghilang. Sambil terbata-bata (dan) perlahan.14. di manakah kakek tua?” Ki Tinggil berkata perlahan. Lalu menghilang orang tua itu. Lalu berbicara manis. 16. Raden Wiralodra dongkol. 15. …sungai Citarum. sudah harus kembali… menelusuri pesisir. di mana kali Cimanuk. “Duh cucuku yang kusayangi. … berada di sebelah timur. atau negaranya. semoga kakek dapat menolong. terkejut [tadi] melihatnya. …berbicara. 17. dari negeri Bagelen. belum ditanyakan namanya.

nanti (setelah) istirahat (kita) mandi. 21. terdapat air mengalir. lalu segera berjalan. Lamanya hingga dua minggu. Menelusuri hutan rimba. “Duh paman Tinggil . pertolongan Yang Maha Kuasa. serta sampai di Pasir Ucing. Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan. maka cepat-cepat. tidak tidur serta makan. 23.tapi saya gembira Tuanku.” Kiai Tinggil berkata. saya lalu berangkat. jika (tuan) hendak mandi. 22. di sebelah hulu (sungai) ini. hutan (tempat) datang Ki Tinggil. ke timur dan utara jalannya. Paduka. sejuk tertiup angin semilir. (air ini) sangat (bagus) dan bening. [sumber] (air) keluar dari sumur. melihat matahari terbit. saya ingin tidur-tiduran. Inilah sebabnya. lihatlah air ini. lekas mendapat pertolongan. meneruskan perjalanan besok. istirahat di hutan ini. 24. berjalan siang dan malam. 199 . 20. Lalu tidur Kiai Tinggil.

” Adapun nama kanda. berasal dari (daerah) timur. ke pondokannya. Wiralodra namaku. serta aslinya dari mana?” Wiralodra nama dinda. Dinda siapakah namamu. Kiai Wiralodra bertanya. Menangis sambil memeluk. dengan kanda baru bertemu. 29. Wirasetra.terdapat air di tengah hutan. Lalu bertemu orang (yang menanam) padi. Lalu berangkat Wiralodra. (sedang) mencari kali Cimanuk. 28. Wirasetra namanya. Banyuhurip saudara sepupu(ku). Dipati Wirakusuma” Lalu dibawa pulang. Dalem Pegaden. Kanda berasal dari timur. “Duh gembira sekali dinda. 25. serta hendak pergi ke mana. 26. “Duh Kanda Tuanku. berasal dari Bagelen. kelak bakal menurunkan. 200 . 27. bertemu dengan kanda. sambil keduanya bersalaman. dan siapakah nama kanda. menuju arah utara perjalanannya. membuat kampung di hutan.

34. Aduh Tuanku saya memohon. “Ya paman sudah bahagia. bila berjalan terseok-seok. yang saya makan. 201 . hanya dedaunan.” Kiayi Wirasetra menyambung ucapan (dengan) manis. …perut buncit. selama ini tidak (ada) makanan. Kiai (Tinggil) berkata. “Duh Tuan baru (sekarang) saya. Keduanya sama tertawa.disuguhi makan. (sudah lama) tidak makan. kaki tangan kecil-kecil. tetangga sama makanannya. bisa makan dengan kenyang. makan bersama-sama. 31. tersenggol oleh … maka (akan) lama di sini. bertemu dengan saudaraku. (saya) mau mengistirahatkan badan. 32. saya sering jatuh bangun. sama-sama gembira. 33. makan dengan ikan. serta rejekimu paman. lama tinggal di sini. 30. Menginginkan …dari…. sampai besar daging saya daging saya banyak (yang) hilang. mendengar ucapan Tinggil.

karena saya bertamu di sini. “Hai Tinggil saya doakan. letak Sungai Cimanuk menurut wangsit?” Wirasetra berkata perlahan. 38.“Duh kebahagiaan paman. lalu ia berkata kepada kakaknya. tertawa saking gembira. makan dua kali sehari.” Raden Wiralodra tadi. “Duh kanda. serta berkata dengan perlahan. Melimpah … 35. bertemu di tengah hutan (dengan)ku. Serta dijaga oleh Yang Agung. 39. Sangat gembira diriku. Lalu (keduanya) bersalaman. sudah saya rasakan.” Berkata Kiai Tinggil. 37. Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah. Di manakah tempatnya. setelah sebulan lamanya. mau berangkat hari ini. 202 .” Ki Wirasetra terbahak. saya mengiringi dengan doa. “Duh saya bahagia Tuan. 36. bertemu dengan saudara. semoga cepat ditemukan. dinda berterima kasih. “ Tuan saya meminta daging saya bertambah lagi. semoga saya diijinkan.

Ubi emas serta jagung. menelusuri pinggir kali. melihat tempat (mereka) berdua. saya kira ini sungai Cimanuk. keinginan tuanmu. (Ia) gembira sekali. tapi saya masih takut. mentimun serta lobak. terung serta cabai dan kecipir. Kiai Sedum merasa kuatir. “Duh Tuan mudah-mudahan betul. 44. lalu menemukan sungai. 42. (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan. 43. 41.” 40. “Duh paman Tinggil . untuk meyakinkannya. gampang nanti mampir lagi. Ki Tinggil berkata perlahan. tanamannya macam-macam. Keduanya berangkat menuju arah timur ….kamu segera menemukan. sangat senang melihat(nya).” Lalu keduanya berjalan. di pinggir (kali) ini. 203 . padi gajih sangat putih. masih di hutan belantara. tidak ada perkampungan. Kemudian Kiai mencipta kebun palawija luas. terlihat sangat bagus. dua bulan lamanya.

46. Wiralodra berbicara. 45. “Kiai saya memohon. di (sebelah) timur seperti ini (juga). dari manakah kamu ini. Lalu menengokkan kepala. semoga mau memaafkan. kebun bagus tidak ada (duanya). apakah akan merampokku. tongkeng terjurai di gerbang. 47. hendak bertanya pemilik kebun yang begitu indah ini. Di pinggir kali (letak) pondokannya. Ki Sedum duduk dalam rumah. 48. Tinggil melihat dari sebelah timur. baru tiba (sudah) bertanya-tanya. kanan kiri bunga mandakaki. dikelilingi bunga seruni. Lalu berkata lirih. “Duh Tinggil gembira diriku. Raden Wiralodra melihat. sedap malam berhadapan. melihat kebun. 204 . duduk (sambil) meraut bambu. 49. “Mau apa kamu.kebun palawija luas. untuk (membuat perangkap ikan. di dalam rumah ada orang duduk. Semua tanaman di kebun subur. serta sungai apa namanya ini Kiayi?” Ia menjawab membentak.

54. mau apa kamu bertanya. saya bertanya malah dibentak. aku pemilik kebun ini. Tetapi wataknya begitu. saya ikut kepada tuan. “Duh Kiai tolonglah saya. Lalu perlahan-lahan dihampiri. tidak takut sambil duduk. 50. Namaku yang dipanggil. tidak lain saya mencari Sungai Cimanuk. 205 . sesungguhnya saya Kiai . apalagi orang (yang tinggal di) hutan. bagaimana kalau saya ikut berkebun?” temannya berkata. 53. Kiai Wiralodra kesal.” Berkata Kiai Tinggil. harus dimaklum Tuan. “Betul sekali Tuanku. karena saya barusan melihat sungai. tentu karena orang kampung Tuan. (Ia lalu berkata) “Kasar sekali kamu Kakak. kasihanilah saya. jauh dari negeri Bagelen. 51. Inikah Sungai Cimanuk.kamu datang ke pondokku. saya baru pertama melihat. Ini kan sungai Cimanuk. semoga saya ditempatkan Kiai. tidak punya tatakrama. 52.” Petani yang berubah wujud.

Lalu berpindah kakek itu. apakah harus dipaksa memberi. “Hai kamu orang apa. 57. Kiai yang menyamar berkata. Mulanya hutan diminta. Tempatnya di kebun tadi. memalukan kamu orang kampung. kamu betul-betul berandal. (lalu) saling mendorong keduanya. sambil berkata dengan suara keras. tidak bisa diajak berunding! Saya kan sudah meminta. walang kerik menuduhku. tidak suka aku melihat. 59. kakek … bertani. lalu kebunku. 58. 60. cepatlah kamu mati. karena aku tidak silau. lebih keras berbicara. raut muka seperti api. didekatinya orang tua itu. 206 . 56.55. jangan harap aku menolong. berdiri (lalu) duduk di kursi.” Raden Wiralodra .” Raden Wiralodra marah. tidak bisa diajak berbicara lembut. melihat kamu ini. masalah kebun anda. karena aku banyak rakyat. menubruk orang tua itu. aku tidak akan menolong.

kelak (tempat) ini jadi desa. kijang mas yang matanya intan. Lalu memasuki (hutan) lebat . ini bukan Sungai Cimanuk. berjalan dengan cepat. tapi ada (suara) terdengar … 61. berbelok. Cipunegara sungainya. Sungai Cipunegara. sudah dipastikan kehendakku. “Hai Wiralodra cucuku. ingatlah nasihatku. itulah Sungai Cimanuk kelak bila kamu membuka (hutan).” Keduanya sudah menyebrangi. bertapalah jangan tidur pasti kamu menjadi kaya. Pamanukan (nama) kampungku. Buyut Sidum namaku. jika sore terbenam di barat. jika pagi tentu (terbit) di timur. cepat buru kijang itu. 65. 64.mengadu kesaktian. matahari sudah terlihat. apabila menemukan. menghilang menjadi hutan. jika kamu tidak tahu aku. dibanting lalu menghilang. 63. 62. lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut). Di mana menghilang (kijang tersebut). cepat kamu menyeberang. 207 .

“Duh tolong Tuanku di mana aku bersembunyi. 66. 67. macan apa namanya ini?” Macan menggeram di depan(nya). SINOM 208 . Lalu ia menemukan ular tadi. Dipukul(nya) kepala ular. lalu menubruk Raden Wiralodra menghindar. melihat sungai besar sekali.. sekarang aku ingin bertanya. 69. menghalangi jalan. Raden Wiralodra. Terkejut Kiai Tinggil.melihat macan besar. III. “Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini. Hilang ular jadi sungai. Raden Wiralodra heran. . Lalu ular mengejar. lalu macan menghilang. Ki Tinggil mengambil pemukul.” Lalu berkata lirih. muncul ular besar sekali. (Karena) ada macan besar. Macan lalu ditempeleng. kemudian dilepaskan oleh Raden Wiralodra sungai menghilang tanpa bekas muncul perempuan cantik masih begitu muda. 68.

1.

(Menghampiri) kepada Raden Wiralodra minta dikasihani. “Duh Raden Bagus tuan Orang yang tampan bertemu di sini, di dalam hutan. Aduh saya kasihan sekali, hendak mencari apa, serta apa yang dituju? [Silahkan] Raden terimalah salamku. Kan saya masih gadis, belum pernah bersuami, Larawana namaku, akan mengikuti, apa yang diinginkan Tuan, saya sanggup menolong, kekayaan kejayaan, asal saya dinikahi, [silahkan] Raden turutilah kesediaanku.” Ki Tinggil maju ke depan, sambil berkata lirih “Duh Tuanku ingatlah, ini di tengah hutan.” Wiralodra berkata perlahan, “Saya tidak takut paman, sebentar akan saya periksa pintar sekali berbicaranya, maaf saya hendak balik bertanya. “Anda ada di hutan, tidak pantas seorang perempuan, berada di tengah hutan, mengaku gadis belum bersuami, kan saya tidak percaya, tadi (minta) aku nikahi,

2.

3.

4.

209

meskipun (kamu) wanita cantik, tidak akan mau (diajak) menikah, sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.” 5. “Menjawab Nyi Larawana, … bagus, … menanti hasil kemuliaan, cepatlah jadi kakek-kakek, gigi ompong pipi kempot, kuping tuli pinggang bungkuk, sekarng saya meminta, jika kamu tidak menurut, pasti mati berdua bersamamu, Menghalangi di depan, Raden menghindar ke kanan (dan) kiri, lalu menangkap Larawana, Wiralodra menghampiri, lalu disingkirkan, (jatuh) tertelentang lalu menubruk, Ki Wiralodra menubruk, dikejar lalu bertarung, mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta. Wiralodra waspada, tidak kena aku, lebih baik aku mati, jika tidak bersatu, kemudian saling menangkap, (sambil) menuju arah timur. Wiralodra waspada, senjatanya berupa rantai, tidak ada orang setampan kamu. Lalu menggunakan senjata, Wiralodra menahannya.

6.

7.

8.

210

senjata rantai mengenai, tetapi tidak menyerah, makin susah melihatnya, ….. karena orang tampan, heran sekali Wiralodra, orang tampan … .sakti, silahkan Raden anda membalas kepadaku. 9. Lalu Raden Wiralodra, tangannya memegang cakra, Ki Tinggil cepat mendekati, “Duh Raden hati-hatilah, kira-kira Tuan kalah, karena …, lalu Den Wiracabra menanti, Nyi Larawana menadahi, terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas. Lalu Raden melihat(nya), badannya berkilau, tidak salah kijang mas. Lalu berkata perlahan, “Paman Kiai Tinggil, paman lihatlah dengan teliti, itu kan kijang mas ayo paman jangan tertinggal, aku kejar kemana arah (larinya) kijang. Keduanya lalu memburu kijang, dicegat (di) kanan dan kiri, dicoba ditangkap (tapi) tidak kena, jika jauh kijang menunggu, sehingga sudah jauh perjalanannya, kijang berlari ke arah timur, kedua orang itu tidak melihat(nya), terus mengikuti kijang,

10.

11.

211

siang malam memburu kijang mas. 12. Lalu berjalan sampai di, …………. tinggi, kijang mas menghilang, terlihat alur sungai, airnya deras mengalir, yaitu Sungai Cimanuk, lalu istirahat di bawah. lalu keduanya melihat di bawah, menuju pohon kiara besar, lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara. Terdengar (seperti) dalam mimpi, “Nak, ini kan Sungai Cimanuk yang dicari, berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua, sampai keturunanmu, (sudah) kehendak Yang Maha Agung memperoleh kemuliaan, sudah diterima oleh Yang Widi.” Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra. Sangat gembira hatinya, dalam mimpinya yang terdengar, nampak nyata memberi kabar. Raden Wiralodra, berkata kepada paman Tinggil, “Duh paman bahagia diriku, saya tidur pada hari ini, bermimpi (ada yang) memberitahu, ternyata inilah Sungai Cimanuk . Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.” Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh Tuanku jika demikian,

13.

14.

15.

212

bagaimana kehendak tuan untuk tempat tinggal saya?” Raden Wiralodra lalu mencari lokasi, mencari (di) pinggir kali, menemukan tempat yang luas dan datar. 16. Lalu membuat pondokan, Ki Tinggil yang membuatnya, lalu membersihkan badan, kemudian Raden Wiralodra, membabat hutan, serta badak (dan) banteng, semua melarikan diri berhamburan, pembawaannya panas dingin, setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar. Begitu juga Raja Budipaksa, dengan Patih Bhujarawis, berkumpul dengan pasukannya, serta prajuritnya, dan para senapati. Ki Gede Muara Cimanuk, sangat bersedih sekali, semua pasukan menjadi bubar, karena Wiralodra membabat hutan. Lalu mennyerang Raden Wira, bertemu di pondoknya, Budipaksa berkata, “Hai satria manusia tampan, kenapa lancang dan berani, siapa kamu ini, merusak anakbuahku, cepatlah pergi kamu ini!” Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

17.

18.

213

19.

“Hai setan siapa kamu, penghuni persembunyian iblis, beraninya mengusirku, dikiranya aku takut, berlagak di hadapanku, dasar gandarwo bulus, ke sini majulah kamu sebab aku tidak akan lari.” Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya. Seluruh (Ki) Gedeng Muara, sama sama mendatangi, heboh pertarungan Raden Wira, Ki Tinggil memanjatkan doa, doa Srabad Sulaeman, duruwiksa banyk (yang) lumpuh, lalu ada utusannya, dari Tunjung Bang, (yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat. Sampai tiba Sultan Mas, (yang mengatakan) jangan saling mengganggu, Raden Wiralodra itu, karena keturunan Majapahit, (lebih) baik dijaga, sesama saudara (harus) akur, karena masih bertalian darah Rara Kidul ratunya.” Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah. Sambil menyembah di hadapannya, meminta dikasihani, (ia berkata), “Duh Raden Tuanku, prajuritku salah sasaran, semoga Tuanku mau memaafkan.”

20.

21.

22.

214

Berkata Den Wira, sekarang sipa tuan(mu), tidak kenal rajaku, Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas. 23. “Duh diminta Paduka berkata, adik sultan berbicara denganku, saya bersukur Dinda sultan, beserta anak dan saudara, sampai keturunan Dinda, kan kanda bekerja … wangsit (dari) Yang Maha Tinggi. Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus. Lalu siang malam membabat, Ki Tinggil menjadi koki, serta menanam palawija ubi jalar jagung serta kecipir, macam-macam palawija, (tanaman) gundem jawawut tumbuh subur, tidak ada kekurangan. Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh bendara baru sekarang saya senang. Tidak ada kekurangan, palawija tidak habis dimakan, terkenal kebunnya, karena bagus tanahnya banyak orang berdatangan, ikut (membuat) rumah di situ, sejak tanaman subur, bergantian orang yang datang, sama subur bermacam-macam tanaman. Banyak orang yang membuat rumah, sampai ke negara tetangga,

24.

25.

26.

215

(saya) sangat ingin bertemu dengan ayah ibuku paman akan ditinggalkan. jangan dielakan. tidak disangka sekali. menangis siang dan malam. 216 . karena ingat kepada anak. melihat putranya datang. 28. Raden berkata perlahan. Lalu berangkat Raden menuju negara. tinggal di sini dulu. siang malam terbayangkan. bila ada yang pulang berperang. sampai ke Banyuhurip. berkumpul dengan ketiga anak(nya). menuju ke keraton. ayah ibunya sama-sama sedang duduk. lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira.Ki Tinggil menjadi lurah. tidak ada orang yang kekurangan makan. Diceritakan perjalanannya. 27. bagaimana anakku belahan jiwa. “Aduh anakku belahan jiwa. Setelah tiga tahun Lama(nya) membuat perkampungan. ibu sampai bengkak matanya. 29. perjalanan putraku. Bagelen negaranya. Tinggil ditinggal sendiri. di sungai Cimanuk. terimalah (dan) suruh masuk. ibu dan ayahanya terkejut. “Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama.

dan Tanuhjiwa. aturan mengurus negara. mengenai perjalanannya. Putranya berkata kepada ayahnya. di barat jadi negara. (Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal. ayahnya ikut berkata. supaya menjadi tahu. empat orang putraku. semua sama menangis. yang ikut membuat perkampungan. Wangsayuda dengan Tanujaya. 217 . berkat pertolongan Yang Widi. jumlahnya lima ratus orang 31. semoga tercapai yang diinginkan. salah seorang (di antaranya) kamu. gampang besok kalau sudah jadi. ayah ibu mendengarkan. 32. semua siap bekerja dengan baik. terserah kehendak kalian.” Si Tinggil diangkat. dengan saudaramu. serta saudara-saudaranya. pimpinlah negri Bagelen. menjadi lurah di sini. pesan ayahanda.ceritakan kepada ibu dan ayah. 33. “Duh anakku belahan jiwa.” 30. para saudara pekerjaannya mengurus negara. kasihan mendengar pengalamannya. serta Wangsanagari. lebih banyak orang datang.

setiap hari yang datang membuat rumah Kemudian ada yang datang. kepada tamu yang baru tiba. pengawal(nya) itu petani menuju wisma Ki Tinggil ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk.menjadi kaya Kiai Tinggil. seperti pangkat tumenggung. Jayantaka. Hindang Darma namanya. Bayantaka. Saya akan menumpang. dan siapakah namamu. diiringi dua pengawal. serta Ki Pulana. “Duh paman tidak kenal padaku. 218 . apa maksudmu Nyai. serta masih gadis. 34. Sukubahu (dan) Jungjang Krawat. Hindang Darma (namaku) saya mengembara. cantiknya tiada tara. gardu tempat menjaga. karena luas tempatnya. 35. Wanaswara. Ki Tinggil lembut bertanya. 36. orang kecil senang hatinya. dibuat seperti negara. diangkat oleh Kiai Tinggil. Puspahita. setiap lorong dijagai. aslinya dari mana ?” Nyi Hindang menjawab. Surantaka. 37. pintar membuat siasat perang. memikul gandum dan padi. “Saya mohon maap yang sebesar-besarnya.

begitu pula semua muridnya.ikut membuat pondokan. 38. 219 . Di barat atau timur. sebab bermanfaat kesaktiannya. alangkah gembira tuanku melihat wanita sangat cantik karena Hindang Darma sudah membuat rumah. seluruh murid-muridnya. semoga saya diberi izin. 39. tapi nanti tuanku. tanah yang agak luas. atau saya bersawah. Nyi Hindang (boleh) memeriksa. 40. untuk ikut bertani. apa pertimbangan junjunganku. menanti bertemu musuh. memilih tanah yang cocok. Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam). baru kali ini aku melihat wanita Cantik dan mulus tubuhnya. Hindang Darma kembali jaya. murid-muridnya itu. saya hendak berkebun.” Ki Tinggil menjawab. “Silahkan ikut saya di mana yang akan dipilih. Karena subur kebunnya. saya senang melihatnya. jika datang ke sini tentu aku lalu akan menyampaikan. untuk istri tuanku. silahkan memilih.” Sudah keluar dari rumah.

43. Terkejut Nyi Hindang melihat Kedatangan orang banyak. 44. terdengar kepada Pangeran Palembang. lalu berbicara lembut. berguru ilmunya seperti aku. pemberani namanya. di muara lalu semua menyeberang. ada wanita kembali. 41. Karena Pangeran sangat pandai. aku sudah mendengar.terkenal ke negara lain. Sekarang muridku semuanya. 220 . wanita ini cantik sekali. silahkan paduka duduklah semua. “Saya berbahagia kedatangan tamu (apalagi) pembesar yang datang. karena puluhan (murid) Pangeran. kalian pergi ke Pulau Jawa. sudah sampai perahunya. lalu cepat memasang layar. (lalu) berkata kepada muridnya.” (Lalu semua) sudah menaiki perahu. tangkaplah untukku. ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki. “Hai murid. Pangeran sangat sedih. dalam sekejap sudah tiba di pondokan Hindang Darma. aku tidak mau mendengar. cepat-cepat berdandan. 42. berpikir di dalam hati.muridku.” Pangeran terpesona melihat(nya)..

221 . Saya sangat terkejut. Lalu Nyi Hindang berkata. dengan pasukan sekerajaan. perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki. aku perlu memeriksa kamu. banyak yang berguru kepadaku.” Pangeran menjawab. ingin menyamai namaku. jika kamu (telah) berguru ilmu. jangan mungkir anda. 46. yang sedang berguru ilmu. asal tuan dari mana. wanita secantik anda. serta ada perlu apa. seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan. saya berasal dari dusun. di negeri Palembang. yang ikut dengan saya. (agar) terkenal di seluruh negara. keturunan Sultan Aryadillah. Inilah murid saya. siapa nama (tuan). 47. pangeran taat kepadaku. jadi guru semua para Pangeran. “Duh mohon beribu maaf karena paduka. sepertinya ada pekerjaan besar datang dengan senjata lengkap. 45.sayang sekali kelakuannya. Pangeran Guru namanya. bersama-sama datang ke tempatku. tidak mendengar berita. “Sayang sekali anda ini.

seperti yang lebih unggul. kan sudah mempersilahkan. sombong kamu ini. atau segan melihat. “Duh sayang sekali rupa seperti Tuan. 222 . 51.” Nyi Hindang menjawab. tiada tandingannya seperti kecantikanmu Hindang Darma pelacur murahan kamu ini. sungguh perkataan Pangeran. tidak memakai tatakrama seorang wanita. menjadi guru seperti saya. atau menyisakan pekerjaan. tidak ada manusia. Tinggal kamu Hindang Darma lancang memaksa (dan) berani. hendak apa Tuan. lancangnya keterlaluan. Tetapi ucapannya kasar. 49. tidak tentu negaranya. mau apa. seperti kelakuanmu itu. Hindang Darma tidak silau. senjata ujung keris. di depan di halangi. bertanya kepadaTuan.48. berbicaralah yang sesungguhnya. silahkan (saya) mengikuti keinginanmu. wanita cantik serta kulit kuning. rupa tuan sangat tampan (dan) gagah. 50. Seperti kamu orang yang sakti. tamu meminta disuguhi. tidak bisa berkata pelan.

Wisanggeni namanya. Bramakendali keduanya. serta tempat untuk bertani. “Duh Pangeran di sini tempat yang luas. Ki Tinggil sangat takut.” 52. kesenangannya bertani. kemudian keluar. Nyi Hindang sangat sakti susah menghindarinya. “Diizinkan membuat tempat tinggal. “Kang Pulaha saya merasa bingung. 223 . 55. 9takut) dimarahi paduka. mencari tempat yang luas. Sudah kacau perkataanmu. sudah menghadap. 54. semuanya akan dilayani. Semua pangeran 53. dimakamkan di pekuburan Darmayu. semua pangeran tewas. Ki Pulaha diperintahkan.atau kesaktian guru. kalau kalah saya tidak akan malu. pertarungan diperkirakan lama. Cepat pangeran menyerang. banyak pangeran yang tewas. pertarungan mengadu kesaktian bertarung mengadu senjata. silahkan sekehendak Tuan. ternyata malah dipakai tempat bertarung. sayang wajah tampan(mu). sambil menantang bertarung. Bratakusuma adiknya.

dengan paduka. meskipun (seorang) pelayan. 57. “Aduh anakku. dahulu sama-sama menderita. “Sudahlah tidak apa. “Duh paman yang saya kasihi. 56. sudah pernah mendapat marah dari paduka. Lalu ayahnya berkata. Ki Tinggil menangis tersedu. bijaksana serta sakti. kemudian dirangkul. lalu menghadap Paduka. tak disangka masih saudara. Air mata bercucuran. dari negara Palembang. di negeri Bagelen. berjalan siang dan malam. semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil Ditubruk Ki Pandakawan. serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah.yang berperang tewas. 224 . Lalu berangkat secepatnya. saya akan menghadap paduka. dahulu saya tinggalkan.” Keduanya berdiam diri. menangis memanggil-manggil. semoga ananda berdua menjadi kaya. 58. semua teman-teman menunggu tempat ini. karena Ki Tinggil berjalan. sebentar saja sudah sampai. saya doakan kepada Yang Widi.

masih gadis (dan) sangat cantik. ditinggalkan (sendiri) di negara. nanti si Tinggil akan saya tanya. 61. mengatur siasat perang dan bawahannya. mendapat kasih sayang dari Yang Sukma. lega hatinya. terdengar oleh Pangeran Palembang. kedatangan Nyi Hindang Darma. Tinggil berkatalah padaku. serta banyak orang yang datang. serta dibangun negara. berkat tuan semuanya terjadi. Tinggil di tempat tuanmu. Hindang Darma (punya) kelebihan. Duduklah. celaka saya tuan. Sesungguhnya Tuanku. Nyi Hindang semakin berani. Mengajarkan kebajikan. makmur sampai nanti. 59. karena (kamu) ditinggal sendiri. lagi pula kejadian. istirahat dulu. berjajar membuat pondokan.Keturunan si Tinggil. 225 . apa mendapat kesenangan. 62. subur makmur di dusun. serta katakan kepadaku. 60. temanmu pada selamat. Aduh mas junjunganku. Hindang Darma kembali dari berguru. diberi kesejahteraan. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan.

sambil membawa murid pangeran. setelah setahun lamanya. seperti apa kehendak tuan. kalian turunan Majapahit. Tanujaya. Itu Tuan Singalodra. Pangeran Guru beserta Kiai. anandamengikuti kehendakmu. Hindang Darma sangat sakti. itu kan kakekmu. dibantu prajurit istana. 63. maka saya secepatnya. kakekmu (juga) sama tewas. hati-hati menangkapnya. Nyi Hindang sangat sakti. Si Wangsanagara. Karena sama-sama berperang. tak kuat bertarung. Nyi Hindang Darma didakwa. “Hai anakku Wiralodra. karena tadinya hendak menangkap. Bawalah saudaramu. menjadi guru pulang mencari ilmu. 226 . Tanujiwa beserta adiknya.lalu diserang Nyi Hindang. Wangsayuda. menangkapnya harus secara halus. Hindang Darma seorang perempuan. memberitahukan tuan. tumeggung di negara Bagelen. semua pangeran tewas. 65. dari Palembang mencari ilmu. mohon izin ayahanda 64. mengadu kesaktian di medan perang.

secepatnya berganti tembang. saya minta didoakan. Raden berkata kepada Ki Pulaha. KINANTI 227 .” 66. IV. Jungjang Krawat datang menghadap. “Paman Kiai Pulaha. dipasrahkan kepada Yang Widi. silahkan saudaraku sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra) menetap di pondoknya. “Duh paduka junjunganku. 67. kiranya (harus) terbawa. dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan.” Tidak dikisahkan di jalannya. kepada ibu dengan ayahanya. sertai Ki Tinggil pergi. tempatnya di rumah Ki Tinggil.ayahanda ikut iklas mendoakan. 68. semuanya sudah sampai di pondokannya. serta Ki Pulaha. demikian jugaBayantaka ada. untuk mempersilahkan Nyi Hindang. dipati membaca doa. Puspahita (dan) Wanasara semua lengkap menghadap. Semuanya menghaturkan sembah. Ki Tinggil berkata perlahan. Ki Tinggil didorong kemuliaan. saya meminta berkah Paduka Insyaallah.

lama sekali tak terlihat. datang ke rumah saya. serta kembali lagi ke rumahku.” Nyi Hindang secepatnya berpakaian. Telah tiba yang diutus. 5. kancing berwarna hitam.1.” 2.” Segera Nyi Mas menjawab. Saya lalu bersembunyi. Tuanku ikut dengan saya. 4. sesungguhnya hati saya. “Baiklah tapi saya harus berdandan dulu. terlunta-lunta saya pulang. serta saudara kakak dan adiknya. saya takut Raden Ayu. “Duh selamat datang paman. tiba di tempat (asal) saya di timur. mengundang Raden Ayu. ke tempat tinggal Nyi Hindang. dihiasi deretan sisir. harus terbawa oleh saya dan Junjang Krawat. 3. Raden Ayu sesungguhnya saya salah tidak memberitahukan. Nyi Hindang berkata lembut. melihat orang(-orang) berperang. kulit kuning langsat 228 . Ki Tinggil berkata perlahan. Lalu saya diutus. Nyi Hindang terkejut melihat kedatangan Ki Tinggil.

Setibanya lalu menghaturkan sembah. silahkan masuk.” Nyi Hindang berkata perlahan. (dan) saya merasa menumpang. 7. Raden lalu berkata lembut. 8. Maka saya disuruh. di pedukuhan ini. seperti bidadari. ingin sekali cepat bertemu. Perawakannya sangat ayu. Raden mohon beribu (maaf). Juga Raden saya memohon. 11. Oleh Paman Kiai Tinggil. kepada Paduka. semuanya mendekat. karena Paduka. saudara Hindang Darma. dengan kawan-kawan Ki Tinggil. karena saya sangat hormat. paras seperti Hindang Darma.6. cantiknya tiada tara. saya ingin menumpang kepada Paduka. cepat-cepat perjalanan saya. tiada ada pada wanita lain. semua (ingin) melihatnya.” 10. 9. juga Raden baru tiba. “Selamat yang baru datang. 229 . saya tamu baru tiba. permisi untuk melihat kepada Hindang Darma.

(akan) diceritakan yang sesungguhnya.” 15. saya ingin mendengarkan. Menurut Pangeran Guru. 230 . “Tidak menjadi apa Nyai. serta saudara-saudaraku. semoga berkata padaku. Wiralodra berkata manis. Tetapi saya Nyai perlu (tahu).” 12. saya perintahkan untuk diberi izin. bersumpah di hadapan Paduka. Nyi Hindang lalu berkata. bagaimana asal mulanya. kepada Kiai Tinggil. atau mengurangi. siapa yang hendak membuat pondokan. yang berperang dengan Nyai. tidak berani melebih-lebihkan.semoga diterima bakti saya. hendak ikut selamat. 14. dari kecerobohan saya. “Duh Raden saya (akan) mengisahkan. perlu memeriksa perkara ini. apalagi saya perempuan. coba jawab Nyi Hindang. (tempat ini) jauh dari negri Bagelen. 13. karena saya memerintahkan. yang menjadi asal-mulanya. karena miskinnya saya. karena kewajibanku.

“Kalau begitu keadaannya. 18. pangeran sial dalam pertempurannya. orang(-orang) membantunya. 19. 17. saya diperintahkan. saya berani mengajarkan ilmu dan (ada yang) hendak menangkap saya. saya mencari akal Raden. bisa membuat sawah. Wiralodra berkata manis. sedang berada di pondokanku. lalu marah tiada tara. Perintah Pangeran saya turuti. 21. semuanya sama-sama tewas. saya tidak (akan) mengikuti. meskipun saya orang kuat. (saya) dikepung oleh para murid(nya). bersama-sama muridnya sampai ke rumahku. menuruti hawa napsu. 231 . Saya memberi pelajaran bertani. terkejut (karena) kedatangan pangeran. Saya akan dibunuh. Jadi yang hendak kukerjakan. semua pangeran. Awal mulanya saya.” 20. bersawah dan berkebun. (Berkat) pertolongan Yang Maha Widi. kakek guru yang salah. karena saya banyak orang. atau saya berkebun. karena saya perempuan.16.

Hindang Darma dengan adik (Wiralodra). saya hendak melihat. itu permintaanku. karena sudah saya izinkan. mundur dari hadapan gusti. Hindang Darma dengan memelas berkata dengan sangat takut. saya yang menyaksikan. “Duh Tuanku jungjunganku. 26. “Nyai jangan takut begitu.” 24. saya izinkan untuk berpikir. Perang tanding memperebutkan kemenangan. tetapi dengan sangat saya memohon. karena saya membawa jagoan.hendak meminta kerelaan Nyai. 25. jadi termasuk mengadu nasib. karena laki-laki kalah oleh perempuan. Paduka. 23. taruhannya jiwa dan raga. jika demikian kehendaknya. supaya saya tahu. hendak mencoba bertarung dengan Nyai. harus maju bertarung. maafkanlah saya. Wiralodra perlahan berkata. (bila) Nyai kalah menjadi istri(ku). segala tingkah-laku Nyi Hindang. 22. Hindang Darma menyembah. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu. sudah jadi perasaan paduka. saya sangat takut saya memohon hidup. 232 .

bertarung berhadap-hadapan. memanggil. (Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh di hadapan Wiralodra. Nyi Hindang menyambut perang perlahan. pasti bakal kunikahi. 31. wanita cantik (yang) sangat menarik hati. “Aduh Nyai Hindang cantik. Raden keluar berteriak. saling mengadu kesaktian Raden lalu ditebas. mari sama-sama mengadu kesaktian. Tanujaya pingsan. terguling di atas tanah. 30.lalu Raden ke luar.” Nyi Hindang lalu menggebrak. Jangan menghindar Cantik. bila kalah Nyi Hindang. Tanujaya namaku. kakang tidak kuat. betul-betul sakti mandraguna. 27. Ki Tinggil telah membawanya. Tanujiwa (dan) Tanujaya. Membelalak matanya. kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang. Kan jadi istriku. tersengal-sengal napasnya. 29. (dia) tersenyum melihat adiknya. 28. (saya) ingin memangku Nyai. ke luar berperang tanding. Tanujiwa lalu maju. 233 . berdua berdandan keprajuritan.

putra pembesar negara. gerakan Nyi Hindang. 34. Hindang Darma sangat sakti. Nyai Hindang Darma.” Wangsayuda berkata perlahan. “Coba kanda keluar. orang muda mashur jika makan. aku ingin melihat. bertarung berdua (dengan). saya mengaku kalah. Mentang-mentang ayah dan ibu. “Bagaimana adik rasanya. apa merasa senang hati. 36. “Duh Dinda kanda tak sanggup. sangat kaya harta benda. gagah seperti adik. mulai mengatur pakaian. 33. 234 . Bila seperti diriku. Lalu ia mempersilahkan. (pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik 32. adik berdua kalah. Wiralodra berkata manis. bersenang-senang minum kopi. “Silahkan apa keinginanmu.” Tanujaya berkata kasar. seperti burung sikatan menyambar belalang. (malah) bertarung kalah oleh perempuan.Hindang Darma sangat (sakti). maju bertarung. (Raden) Wangsayuda. 35. malu banyak yang melihat.

Jadinya sangat susah. malu oleh ayahanda. “Tidak berguna kamu ini. “Biasa orang yang kalah bertarung. Hindang cantik bukan musuh. …. berkelana ke setiap (negeri?) bahagia (jika) pergi ke gunung. Memerintah adik berdua.” Wangsayuda menyela. 235 . 37. bertarung keroyokan. tidak disangka tumbang tarungnya. kanda pasrah adikku. Bawa kedua jagoan ini menyerang sepanjang jalan. Kanda jangan memulai. sudah kalah jagoannya. 40. Raden Wiralodra berkata. silahkan kanda bertarung. sambil tersenyum berkata lembut. sungguh kanda malu oleh ayahanda.” 41. “Kok kanda Wangsayuda bisa. saya adu kemampuan(mu) ternyata tidak berguna.” (jika) sudah kembali ke negeri. Nyai Hindang cantik. Tanujaya dan adiknya Tanujiwa membentak.mendapat malu (di) pertempuran. 39. diperintahkan menangkap. malu untuk kembali pulang. 38. Adiknya lalu berkata.

Nyi Hindang saya panggil.” 43. terbahak-bahak keras. wajarlah orang yang bertarung. “Duh Mas Nyai Hindang Darma. ternyata unggul berperang. Bila unggul bertarung. dari sini hingga (ke) negara Bagelen kepada ayahanda. 42. jadinya saya panggil. 46. lalu Nyi Hindang menyembah. siapa kalah siapa menang. Wangsayuda tertawa. “Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan. Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra). Raden Wiralodra. nanti kanda maju bertarung. saya bernazar untuk menggendong kanda. bergantian berdua. jangan diambil hati. Kemudian dipanggil(nya). waktu melotot takut sekali. dengan saudara-saudaranya.” 45. melawan Hindang Darma. berperang dengan Hindang. kanda tidak berani.nanti dinda akan melihat.” Lalu berkata berlahan. 44. Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti 236 . Wiralodra berkata perlahan. karena bertanding di pertarungan. “Adik berdua berbicara (demikian).

2. [bahwa meminta] ingin merasakan. “Ternyata betul prajurit (sejati). V. lalu ditangkap dengan berani. 237 . sudah saling berhadapan. ……Nyi Hindang menyembah perlahan. kamu Nyi Hindang. sama-sama seimbang.” Lalu Nyai ke luar ……. manis legitnya Nyai Hindang berkata perlahan. Nyi Hindang lepas dari tangannya. kepada Nyai Hindang Darma. Raden dengan Hindang cantik. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung. mandraguna. lalu diburu. Tinggal saya sendiri. 3. tarik menarik. Jangan Nyai … harus dituruti …. mengadu kesaktian. karena merasa sayang. jadi apa yang harus kulakukan?” 48. DURMA 1. Lalu saling mendorong. ke luar hendak bertarung. oleh karena keduanya sama sakti. “Duh Tuanku. Wiralodra berkata.47.

Nyai Hindang berlari. yang bertarung ini. Nyi Hindang bingung hatinya. saya bersembunyi ditemukan. ular lalu menghilang. mengejar Raden Wira. menghilang menjadi ular. tetapi tidak samar Den Wira. Bingung sekali Nyi Hindang. makan buah jambu itu. Raden terus mengikuti. Menjadi taman yang airnya sangat bening. lalu jambu menghilang. 238 . 7. Kemanapun. menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat. ke manapun. 4. yang kemudian menjadi burung. 6. Hindang Darma menjelma menjadi jambu air. “Susah sekali diriku. menghilang menjadi hutan. diikuti Hindang cantik. karena Raden menjadi burung. 5. Karena Raden sakti tiada tara. Menjadi batu sebesar anak gunung bercampur … gunung. Nyi Hindang meloncat. mencebur ke dalam air. kutilang hendak makan. serta berkata. lalu yang bertarung di pinggir gunung. (yaitu) burung garuda. oleh Raden cepat diburu.

11. 10. Raden Wira menyesal dalam hati. lalu berjalan menuju barat. menjadi bunga di istana bersamaku. masih penjang perjalananku ini. Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik. dengan ceritanya. kasmaran melihatnya. Saya tidak bisa 9. sudah hilang(kan) namaku. 12. Pegaden yang dituju. Hindang adalah nama di air.8. dari mana Dinda. Bila kelak sudah menjadi negara. yang menjadi burung ini. seperti apa perjalanannya. yang… (setelah) bertemu (lalu) saling peluk. karena ada mata airnya sampai di Cimanuk dari gunung. Darmayu namanya nanti. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia. Raden dengan negara(nya). tetapi saya mohon. 239 . Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon. (semakin nyata) kecantikannya. semoga diberi nama. bersama-sama mulia denganku. di sebelah barat kali Cimanuk. semakin Nyai cemberut. “Aduh Dinda baru bertemu.

lalu pasukannya tiba. ketika Raden mendekati. menjadi negara. Asalnya dari sebelah timur. anak cucu[nya] Dinda.membuat negara. lalu berangkat. pasukan yang akan berperang. Di Pegaden Wiralodra tiga hari. “Hendak meminta izin kanda. hendak memeriksa. (terdengar) sorak-sorai. 14. 13. di (pinggir) hutan Cimanuk. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya. Setelah keduanya melepaskan rindu. kepada pasukan. (karena) ada yang membuat negara. Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur. bercampur dengan suara senapan. semoga lancar nanti. hutan di sebelah barat Cimanuk. untuk keturunan. “Sukur bahagia untukmu. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan. lalu berkata kepada kakaknya. terkejut ada ……. 16. 15. (apa) keinginanmu tercapai?” Adiknya berkata lembut.” Kakaknya mengizikan. 240 . kakaknya mengamini. kembali ke negaranya.

Kemudian bertemu (di tepi) kali. “Kebetulan sekali saya. sukur (dan) bahagia bisa bertemu.” 19. tentu akan rusak. sebetulnya saya ini Wiralodra nama saya. bagaimana jika sudah waktunya. Adapun yang membangun bakal negara (ini). yang berani membangun negara. berani membabat (huta). Garage nama daerahnya. nanti saya menghadap Paduka Kangjeng Sultan. Dipasara lalu menjawab. hendak memeriksa yang membangun negara. siap sedia berperang. silahkan menghadap Paduka.” Lalu berkata lembut. Dalem Kuningan 241 . besar negaraku. negara ini masih bakal. siapa yang layak bertarung. ini pasukan siapa. 20. dan siapa namanya. Karena waktu itu masih bakal. (karena) telah menjadi negara. “Duh mencari apa. Jika berkata kebetulan diriku. ……… mengiringi Paduka. Wiralodra bertanya lembut. 21.” 18.17.

cepatlah Dipasara. 26. baru selesai berperang dengan Dalem Kiban. diperintahkan maju berperang. 23. (orang yang) berani membangun negara. Garage nama negaranya. 24. disuruh memeriksa ini. (hendak memberitahukan kepada) Gusti. 242 . 25. lalu ia berkata. belum berkata kepada paduka Sultan Wali. (yang berada di) wilayah sultan. Saya mengaku salah kepada tuan. prajurit dari Galuh. saya merasa bersalah. Inilah (Wiralodra). Saya ini diutus Sultan. itu siapa?” Lalu berkata lembut. dizinkan oleh siapa?” Wiralodra menjawab. 22. Bahwa yang membangun negara. datang dari hadapan Paduka.kedua orang itu lalu menghadap. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan. Berkata (Arya) Kumuning. Perkenalkan saya Arya Kuningan. “Sebabnya saya menghadap Paduka. membawa teman kamu ini. menghadap kepadaku. Wali Sunan (Jati) di Gerage.

orang Sunda kan sembrono.tetapi saya meminta keadilan. “Coba lawanlah aku. 28. Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar. Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda. aku adalah Arya Kumuning. terserah anda. tidak punya sopan santun. Dipasara terguling. bila prajurit itu dari negara Kuningan . lalu ditendang. 29. saya orang yang bersalah. Kemuning aku tidak takut.” 30. sampai menyembah. Wiralodra adalah putra dari timur turunan dari Majapahit. “Jika demikian kamu ini. (kamu) prajurit sombong. rupa seperti kamu. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra. tidak meminta izin Gusti Sultan.” Wiralodra mengingatkan.” 27. olehmu. 243 . Dipasara tangkap aku. bijaksana. mengakunya prajurit tangguh.” Lalu berkata “Memangya kenapa (arya) Kuningan? aku sudah minta maaf. dikiranya aku takut.

ia masih kuat. 34. 32. Si Windu menendang karena kuda pusaka. (karena) Si Windu yang menendangi. Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang. orang yang membangun negara. lalu merayap menuju kuda. untuk mengadu kesaktian. tidak bisa bergerak 244 . lalu ditangkap dengan berani. Si Windu nama tunggangannya. Oleh Raden Wiralodra. Sinuhun tidak mengizinkan.31. bersukur (karena) bertambah wilayah jajahan. keinginan pribadi. bertarung saling mendorong. orang Galuh banyak yang mati. karena (keduanya) prajurit tidak ingat belum memperoleh izin Paduka. lalu ditangkap. lalu ditunggangi. Kemuning menyerang (dengan) berani. Tindakan Arya Kumuning. pasti dia mati. ia tidak berdaya. terus maju. Dipasara tertelungkup di atas tanah. kendalinya dipegang. ditendang berguling. karena banyak pengalamannya. 33. Kemuning melangkahi (Sinuhun). 35. perang atau mengusir.

waktu Dalem Kiban. “Kurangajar!” Kumuning berkata. padahal dia sering berperang. 36. (karena) bagaikan kilat majunya. Raden kasihan melihatnya. 245 . memerciki gunung. perang ini kan melawan satu orang. 38. menggempur manusia satu negara. 37. karena Windu sangat marah. seperti agak melawan berperang ditarik dengan cepat. ketika perang Galuh dulu. pertanda sujud kepada Paduka. Maka si Windu tidak kuat bertarung terkejut badannya. lalu Si Windu mengucap. Semakin kencang majunya. Den Wira (merasa) sangat kasihan Si Windu menyeringai. heran sekali Si Windu ini. melawan Raden. (lalu) berjalan mundur kuda (itu). tidak kuat Arya Kumuning. menahannya. “Aduh Raden lepaskan saya Paduka.” Windu berdiri di atas lutut kakinya. Karena saya tidak berani bertarung. 39.” Si Windu segera melesat . ia kalah bertempur.kekuatannya sudah hilang. lalu dilepas.

Oleh karena itu Wiralodra semakin … bertemu dengan Patih Dipasara. Paduka berguling di atas tanah. “sudahlah Dinda sekarang 43.40. cepat pulang menuju tuanmu kan sudah ada negara. dari kuda Harba Puspa. kDipasarah lalu cepat menyembah. lalu Raden Wira. sangat gembira hatinya. 246 . keturunan Budaprawa. (beliau) sangat sabar.” Dipasarah menyembah kepada Kiai Wiralodra. kepada Wiralodra. 42. Windu berlari. negara asal Gusti Kuningan sedih (hingga) tidak sadarkan diri. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan. karena kuda (ini) dulunya. Serta sampai di perbatasan negaranya. kepada Dipasarah. jiwa raga hamba. Wiralodra berkata lembut. 44. 41. serta memasrahkan diri. Sudah bubar semua tentara Kuningan. menghilang di dalam hutan. betul-betul prajurit sejati.

dari Brawijaya dulu. (karena)saya (telah) membuat negara. bahagia sekali kamu ini. “Duh kamu Wiralodra. Lalu menyembah mencium kaki Sultan. Semuanya sudah mengizinkan. keturunan Majapahit. serta takdir Yang Widi. ke negara Garage. VI. meminta restu Paduka. lalu dipegangnya. serta anak cucu . di mana ke mana pun sedia.hendak melanjutkan perjalanannya. semuanya terserah Sultan. Mohon ampun beribu ampun. mati hidup saya. 45. kebetulan bertemu. 47. 46. diserahkan kepada Paduka. karena anda keturunan sultan. (para) wali sedang berkumpul. orang yang menggantikan. keturunannya dahulu. kepada Gusti Sultan. sekarang hendak kembali. Wiralodra berkata kepada Paduka. 247 . memohon berkah dari para wali. (atas) kelancangan hamba. untuk keturunan Wiralodra. sudah tiba di hadapan Paduka. DANGDANGGULA 1.

lalu [sama-sama] bertemu. 4. berpelukan semua saudara. dinda.Wiralodra mundur dari hadapan Paduka. “Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali. (dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan. seperti apa Nyi Hindang Darma. Tidak suka menikah. 248 . tertangkapnya itu?” Kakandanya lembut berkata. kelak hingga anak cucu. Hindang Darma bahasanya lembut. namailah Darmayu. memperluas negara. karena Nyai Hindang Darma. menjadi campur dengan wanita. Hindang Darma menang. cepat-cepat perjalanannya. membuat negara. tidak mendapat kabar berita. jika nanti menjadi negara. kan Hindang Darma ikut. setia serta bijaksana. tidak licik bertarungnya. tetapi Hindang terdengar suaranya. semua saudara yang ditinggalkan. kebiasaan orang Dermayu. Ada sumber air di kali Cimanuk. “Duh kanda sangat kuatir sekali. 2. betul-betul orang yang mumpuni. Serta sudah takdir Yang Widi. 3. sampai di Cimanuk. Tetapi dinda menurut. meskipun kanda yang memulai.

karena perbawa wanita. serta perkemahan besar. dari timur barat datang. membuat pasukan. tempat[nya] mengatur pekerjaan. berkata silahkan bagaimana kehendak kanda. negerinya sangat ramai. sama-sama berumah tangga. 7. 249 . menjadi tujuan seluruh bangsa. lengkap berjejer di depan. Kelak negara Dermayu ini. bertemu di tempat upacara. Surantaka. berdua keluar dari pintu. Tetapi kanda (serta) adik-adik. Kakaknya mengizinkan. dengan mantri Wanasara. Kiai Pulaha. (orang dari) sebrang nanti tiba. keris atau pedang. Semua saudaranya ini. untuk meresmikan negara. katumenggungan dinda.jika bepergian tidak memberi wasiat. tetapi susah nanti anak cucuku. banyak yang sengsara. (untuk) menjadi pejabat di negara. moga-moga semua membangun. 5. ada di Darmayu. Bayantaka. 6. permisi dinda hendak ke luar sekarang. semua oarang suruh berkumpul. aku persilahkan semua saudara. dengan Ki Tinggil.

9. semua berkumpul di tempat pesta. bersorak bagaikan prahara. disoraki oleh temannya. 11. 10. negara berkat kehendak Yang Manon. semua sudah sedia. “Hai semua saudaraku yang ada di sini. karena untuk tempat berpesta nanti. 250 . bergantian menari. Bekerja bersama-sama membangun negara karena sudah terwujud. Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil.. yang sebagian tertawanya jatuh bangun.8. yaitu Raden Wiralodra. berkumpul para kawula. Ki Tinggil juga menari. Lalu keluar (yang punya) hajat. suami istri berkumpul. berbentuk perkemahan besar. lenggak-lenggok (dengan) perut buncit. semoga semua berkenan. Sudah berunding semuanya. mulutnya berbicara terus. suara oarang-orang gemuruh. sampai seminggu lamanya. hadiah untuk (para) kawula. tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu. lalu berkata manis. (karena orang) besar dan kecil berkumpul. oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak. hendak mendirikan negara lain. menyembelih kijang memotong sapi. Gamelannya angklung calung suling. serta nyanyian gembira.

(lalu) makan beramai-ramai. setiap bulan seperti ini. dan negeri ini diberi nama. 251 . saya mempersilahkan semua untuk bersantap. 14.negara sudah jadi. sambil membawa hidangan. serta membaca doa (memohon) keselamatan. senggak(1) penuh irama. lalu Raden berkata perlahan. Yang membaca doa sudah selesai. Para orang tua sama-sama mengamini. bergemuruh orang banyak mengatakan amin. lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan. (kepada) semuanya saya memohon. (yang) sama-sama hadir.” Kemudian semuanya membbaca bismillah. negara Demayu.” 12. “Duh saudaraku semua. iuran semua saudara. 13. semua saudara bersama-sama makan-makan. (agar) saya ikut gendut sambil menari berlenggak-lenggok. “Duh saudaraku semua. Semua orang berkata “(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu) kami semua senang. serta kamu semua menyaksikan. rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi. Semua orang tertawa (dan) menyoraki. Sesudah (menyantap) makanan. gamelannya celempung suling. bersantap (dan) bergembira sudah selesai. Semuanya bubar. Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya.

oleh karena sudah lama. mendapat anugrah Yang Widi. tidak salah diundang. 252 . bercampur dengan nyanyian. (katakanlah) adinda semua berada di sini (mengadakan) pagelaran di kadaleman. “Dindaku semuanya apa yang harus kulakukan. kakaknya mengantar. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat. lalu berkata bagaimana kanda. Lalu bersalaman. jika kanda Paduka mengizinkan dinda hendak pulang (ke Bagelen). 15. karena kanda tidak bisa pulang sekarang.yang bersantap gembira hatinya. Adik-adik(nya) sudah menyalami. karena ditinggalkan oleh adik-adik. besar kecilnya. 16. Kakaknya lembut berkata sambil memeluk. Tetapi adik katakanlah. kepada ayah (dan) ibu nanti. kepada dinda semua. dan Wangsanagara itu adalah iparnya. apa yang terlihat. masih membereskan negara. sampai ke perbatasan. “Duh Dinda semoga selamat. kembali ke negara Bagelen. ayahanda menginginkan.” 17. suara celempung (dan) suling terbawa ngin.

lalu diperiksa. Ini kan bakal negara. Watuhaji kakaknya. masih setengah hutan. sampai di akhir nanti. 2. di negara ini. “Percumah saya berkelana.Diganti (dengan tembang) Durma. Karena negara akan mulia. (akan) merebut negara. jadinya saya tiba.” Watuhaji membalas. DURMA 1. menjadi pejabat di negara ini. ada musuh (yang) datang. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara. sebab menjadi pintu gerbangnya. aku tidak suka berperang. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara. VII. anak cucunya.” 253 . akan saya minta. tanpa sopan santun. (itu) menghina. (oleh) Den Wiralodra. 3. diiringi [dengan] teman-temannya. menurunkan tujuh bupati. karena negara belum jadi. sampai menjadi bupati sekarang ini. tanpa tujuan. “Kamu ini datang kepadaku. 4.

jika menebaskan senjata. orang yang berada di tengah hutan. Wiralodra mukanya seperti api. maju dengan penuh sopan santun. ramai yang berperang. 9. seperti orang(-orang) kerajaan. Lalu menoleh mengerikan. Kiai Tinggil lagi senang perang. Nitinegara heran. 7.5. sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh) ramai yang berperang musuh banyak yang kalah. (Membuat) heran yang melihat. 254 . sambil berteriak (menantang) bertarung. lagaknya sangat berani. Prajurit Watuhaji. riuh rendah. Kiai Pulaha berdiri. 8. Ki Pulaha maju bertempur. bersama teman(-teman)nya. “Hai kamu Wiralodra. dibawa ke pintu gerbang. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha. pantas sekali maju perang. 6. tidak disangka bisa perang. ternyata bisa bertarung. Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung. melompat seperti kilat. pedang dipegang di tangan. baksanya (tarian perang) lembut dan manis keris disandang.

” Berkata Wiralodra. memegang senjata. Kerahkanlah prajuritmu. terguling di atas tanah. (kemudian) diikat oleh Ki Tinggil. 12. yang kuat di medan perang. bila kamu prajurit sejati. jangan ragu untuk memukul.jangan (terlalu) lama mengadu prajurit. lalu maju perang lagi. (lalu) berhadap-hadapan di medan perang. Sudah menyambut. “Hai Wiralodra (kamu) ayo gunakanlah keris atau pedang. Ayo tebaslah dengan senjatamu!” Cepat Nitinegara. lawanlah aku! 13. akan aku tahan. menusuk Wiralodra. Ayo sambutlah!” Raden Wira ke luar. 10. ayolah (kamu) maju berperang. 11. “Hai prajurit Watuhaji. majulah berperang. karena kamu prajurit sejati. 255 . Sesumbar Raden Wira di tengah medan perang. oleh Wira(lodra) disuruh dibawa. “(Aku) tidak biasa mendahului. Nitinegara dibanting.” (lalu) berhadap-hadapan.

Menurut cerita ini. 14. yang ditujunya itu . melarikan diri dari pertempuran.Bertengkar (dan) saling menyerang. bertarung saling mendorong. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung (yang bernama) Ki Gedeng Depok. (Badannya) menjadi sebesar anak gunung. letaknya yaitu di Cisambeng. 15. Kelak keturunannya 17. tempat untuk bertapa.. Ki Gedeng Sambeng namanya. Wiralodra (lalu) mengeluarkan ilmunya. karena Raden bertarung. (kemudian) menjadi pendeta. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata. bertemu tandingannya dalam berperang. Watuhaji meloncati. berganti nama. Watuhaji dan Den Wira. menuju arah selatan. mengacau di negara Dramayu (membuat) susah orang kecil dijarah kerbau (dan) sapinya beras padi dan harta banyak orang dibunuh yang diserang melarikan diri ke luar dari Bantarjati 18. 16. ……… Drayantaka (dan) Wanasara 256 .

Raden Wiralodra kaya. Wiralodra diangkat. 22. pasukan[nya] tumenggung tunduk semua. lalu den Wiralodra mengalahkan banyak tentara. negara tambah ramai. 20. gembira semuanya. beberapa gotongan. menawarkan tanah.mengamuk di medan perang. serta banyak serdadunya. pasukannya kira-kira seratus orang. tumenggung dserta patih. (lalu) mengangkat demang (dan) rangga. masing-masing berkeluarga. harta beribu juta. 257 . (dengan) membawa harta (benda). (semua) membuat rumah. semua lengkap. menjadi Kiai Dalem. tentara admiral bertambah banyak. Lolos menuju Dramayu. diserahkan kepada Ki Tinggil 19. kepada bangsa Belanda. tanah (di) Bogor dan Karawang. sudah berdiri (pasukan) jendral. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang). ponggawa (dan) para mantri 21. (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah. kedatangan orang(-orang). Watuhaji dan Nitinagara.

menjadi macan negara. dari keratonnya. merasa takut yang melihatnya. diganti lagi (oleh) dangdang(gula). membawa harta bendanya. karena ada keinginan Raden Wira. Wiralodra. DANGDANGGULA 1.menyerahkan harta(nya). sebab hendak menghancurkan Darmayu [itu]. melarikan diri (pada) malam hari. orang(-orang) kecil merasa senang. Penyebab Nitinegara menangis. kepada kedua tumenggung. kesaktiannya tiada tara. 24. (kelakuan) seperti itu tidak baik. ke negeri Dramayu. Terkenal ke seluruh negeri. dari negara lain. Seharusnya Tuanku. 23. (Nitinegara) meminta belas kasihan. VIII. 258 . kepada Sinuhun Mataram. Disayangi Sultan Mataram. (karena) berbuat (telah) salah. memotong leher saya. jika nanti hendak dikirim . oleh karena paling sakti di dalam negeri. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya. Menjadi negara (yang) subur makmur. banyak orang-orang. 25.

(Tapi)saya memohon agar tetap hidup. diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan. (diceritakan) sudah mempunyai anak. 3. mengganti kedudukannya.” Wiralodra sangat kasihan melihat[nya]. 4. 259 . Watuhaji yang berdosa. (Lalu) dibekali Nitinegari. mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal. nanti kedudukannya sangat dibedakan dari yang lain oleh karena nanti turunan Nitinegari. tinggal menjadi senang dan raharja. permaisurinya empat (orang) lahir putra tiga belas banyaknya. dalem di Darmayu. bungsunya Raden Drayantaka. Wiralodra yang kedua. Dalem yang mejadi penggantinya. sebanyak empat orang. Dalem Darmayu. ayahandanya sudah meninggal. disuruh menuju gunung. 2. Yang perempuan bernama Nyayu Hinten. semakin lama negara semakin kaya. menjadi dalem Darmayu. telah jauh perjalanannya. Dikisahkan Kiai Dalem. dosa yang sangat besar. putranya (yang bernama) Raden Wirapati. Wirapati selanjutnya. Lalu berangkat Nitinegari. yang sulung (bernama) Sutamerta.

Werdinata dengan Nyayu Hinten. putranya diberi 8. Adapun (untuk nama) putranya. di Pulo Mas negaranya. terus terang kepada kakaknya. memiliki saudara seorang raja. tiga belas bulan lamanya. 6. Dinda Werdinata. Werdinata kepada (Nyai) Hinten. (bila) saudara mau. setelah menikah nanti. bernama Werdinata. nama yang disepakati. 260 . adikku yang perempuan. lama-lama jatuh hati. 7. 5. Karena sangat saling menyayangi. gembira sekali Paduka. Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan. tetapi (jangan) dibawa. seperti dengan saudara. (selalu) saling mengunjungi. berunding dengan kakaknya Den Wirapati. ke negara adiknya nanti.perempuan dan laki-laki. Kakaknya sangat setuju. lalu melahirkan. sangat saling mengasihi. karena hanya satu. Serta lama kelamaan adiknya Nyayu Hinten mengandung. Raden Wirapati.

dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang. karena diserang. karena sudak bijaksana.” “Semoga bakti ananda diterima. “Selamat datang anakku. 10. “Hai anakku yang tampan. Ayahandanya berkata. dibawa mengunjungi ayahnya. pasukannya siluman. kedua ayahnya sangat sayang kepada anaknya. (karena) ayahanda menerima surat. 9. putranya sudah tiba. hendak meminta bantuan. serta Dalem Kuningan. Kemudian Den Wirapati. oleh Dalem Ciamis. kuning cahyanya bersinar. sebab Raden Wringin Anom. (ketika) berumur tiga tahun. cepat(-cepat) aku memanggil(mu). Lalu ayahandanya berkata perlahan. menghadap ayahandanya. (sehingga) tidak kuat berperang. onom dan mahluk halus. kepada putranya Sultan Pulo Mas. 261 . Ada keperluan apa?” 11.Bagus Raden Wringin Anom namanya. Werdinata di Pulo Mas. memenuhi permintaan ayahanda. (pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit. Lalu ayahnya berkata. gemilang cahayanya.

” Lalu ayahandanya berkata. menggeram suaranya. Paduka Dalem Sumedang. Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman. (dari) Ciamis dan Kuningan. tidak terlihat wujudnya. Dalem Wiralodra datang. karena itu mereka sangat hormatinya. onom dan mahlukhalus. hanya suaranya yang bergemuruh. (jangan) khawatir ayahanda raja. kata anaknya. lalu bubar menyerang para siluman. 13. dengan membawa tentara makhluk halus. karena pasukannya siluman. 12. (yang) meminta tolong ayahanda. 14. sudah berada di depan. Orang(-orang dari) timur melihat. karena dikepung musuh. Jika demikian saya berangkat hari ini. seperti orang berbaris hendak berperang. Silahkan ananda (apa) tindakanmu. “Baiklah. 262 . ananda harus ikut. karena ayahanda akan bertarung (melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti. putra yang menanggung. saya serahkan negeri (ini).dari Dalem Sumedang. “Duh putra tolonglah. menghampiri serta memeluk sambil menangis. (melawan) musuh para siluman. tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis. Orang Sumedang banyak yang ikut.

Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis. Raden Dalem Wiralodra. menjadi sebesar anak gunung. berubah wujud. Lalu Dalem Wiralodra. (dan) khawatir (pada) ayah(nya) 15. 263 . karena Raden Wringin Anom. mengemban (tugas itu). maju bagaikan kilat. sama-sama ikut bertempur. Orang(-orang Sumedang gembira. dan Tumenggung Dongkara. Suradiningrat (dan) Brata Kumuning. dikeroyok bertarungnya. 17. karena Dalem Darmayu sakti. Serta keesokan harinya pergi berperang. berlarian pasukan Kuningan. hampir tertimpa kedua dalem ini. sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis. musuhnya pasukan onom. dan semuanya merasa bahagia. (ialah) orang(-orang) Ciamis. 16. Banyak prajurit tewas. merangsek (ke medan) perang. putranya mengusir para siluman. yang diincar tinggal kawannya dan raja. Lalu orang(-orang) Sumedang. Ramai yang berperang. jatuh bangun pasukannya. karena sangat gembiranya.Raden Wiralodra. Prajurit keluar semua. sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang).

melesat ke angkasa. Kemudian ayahnya mendengar yang berita. sudah bubar tidak ada yang tertinggal. menyelamatkan diri pasukan Ciamis. berdua dengan Paman Tumenggung. terpisah raja dan rakyatnya. “Jika mendapat izin ayahanda. lalu putranya menyembah Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu. “Kebetulan sekali anakku. sebab khawatir akan negara. lalu bertemu dengan ayahandanya. Lalu anaknya berkata lembut.18. bagaimana musuhmu?” Putranya berkata kepada ayahnya. “(Banyak yang) melarikan diri. Orang-orang ramai melarikan diri. 21. matanya (menyala) bagaikan matahari kembar. Den Wringin Anom mengejar siluman. suaranya bagaikan halilintar.. berdua dengan Jongkara pelayannya. ananda hendak kembali sekarang. 264 . jari-jemarinya menyentuh tanah. dikejar oleh Dalem Wiralodra. gigi taringnya terlihat bersinar.” Ayahnya sudah mengizinkan. Bubar pasukan dari Ciamis. 19. juga musuh ayahanda. 20. tidak ada yang layak menjaga. (bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan. sampai di perbatasan. Ciamis dan Kuningan.

diiringi gamelan serta prajurit penghulunya siap. ramai orang(-orang) menagkap. sama-sama berebut uang. serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam. setelah sampai (makanan) disajikan. segera menaiki tandu. membawa bokor mas. Bersama-sama turun dari tandu. karena gembira sekali mereka. kita berdua bersama menaiki(tandu). bagaikan bumi terbelah. untuk menyapu dan memasak nasi. naik joli dan tandu. 265 .telah bubar sekarang. anak gunung sangat buruk” (1). 22. Putranya mengucapkan terima kasih. 23. dicampur dengan uang talen. serta para pelayan. Ditaburkan uang tersebut. ayah dan ibu bernadzar anakku. sama-sama menghormati. Lalu sudah bertemu. Semua para prajurit. berisi uang mas. sepanjang jalan jadi terlihat sedang berhadap-hadapan. “Mari anakku sama-sama menaiki. Ini putra ayahanda seorang. para wanita serta ibunya. dengan panglima perang. 24. Cepat ayahanda menjumpai serta membawa putranya yang perempuan.

pesisir Kandanghaur. Aku tidak memiliki (lagi). (saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih. saksikanlah ucapanku (ini). saksikanlah oleh semua. menjadi satu negara. Kemudian semua mantri.para pelayan berhamburan ke depan. Lalu sama-sama pulang. bergembira semuanya. mendapat anugrah dari ayahanda Kandanghaur pesisir utara saya terima. yang bersama-sama duduk di tempat ini. bawahannya semua. dengan Darmayu ini. “Hai para prajurit. kepada putra Wiralodra. semua saudara (pamit) 266 . “Hai sanak saudaraku. (saya) sangat berterima kasih 25. yang tinggal di negara Darmayu. ramai-ramai makan-makan hingga tujuh hari. 26. makan bersama. Dalem berkata manis. 27. dengan para ponggawa. Lalu putra Dalem Wirapatih turun dari tempat duduknya serta menerima baktinya. kawula dengan prajurit.” Lalu sama-sama bersalaman. (atas) kasih sayang ayahanda. saya serahkan kepada anakku.

sangat gembira hatinya. Hastrasuta. para saudara dan rangga. para madu dengan para putra. serta tinggal di pesisir Kandanghaur. kedua Raksadiwangsa. Selanjutnya (di) negeri Dermayu. (dia) sangat menyayangi istrinya. sangat makmur tinggal di negeri (ini). Lalu putra perempuan. serta diberi istri. sangat gembira (karena) ayahnya datang. istri dan putranya. semua pengawal putranya. 267 . Wirantaka keempatnya. Wiralaksana.kepada Dalem Wiralodra. 28. di belakangnya para madu. Nayastra. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan. Wiratmaja (yang kelima) karena lima orang anak laki-lakinya. mendapat anugrah dari Yang Kuasa. lalu datang dan menemui. untuk kembali. sampai ke perbatasan. 29. Nayawangsa. semuanya akur. sejahtera dalam kehidupannya. Hadiwangsa. Raden Timur dan Sawerdiya. yang paling besar ialah Raden Kowi. Karena dinanti-nanti tiada henti. Adapun nama putranya 30.

penggantinya berebut jabatan. Benggali adiknya. 268 . Benggali namanya. paling besar Raden Benggala. Puspa Taruna. para putra semuanya. Semuanya jadi pejabat. 34. sangat bijaksana. tetapi Benggali Benggala anak laki-laki ini. menjadi bupati. yang menggantikan harus kakaknya. Singawijaya putranya (yang) perempuan. (kemudian) diganti. mereka bersaudara. Singalodra yang gagah. sebanyak empat orang [putra]. 32. adiknya menginginkan.31. sama-sama kaya. Patranaya. menduduki jabatan bupati. 33. sudah beristri. Karena sudah memiliki putra. kakaknya Raden Benggala. serta semua para pembesar. Tetapi persetujuan para ponggawa. Lalu wapat ayahandanya. Lalu ayahnya tiba ajalnya. yang telah mengganti kedudukan ayahnya. sudah lengkap tiga belas (orang) putranya. dengan Wiralodra namanya. (oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi. dan Nyi Raksawinata yang keempat.

Berlayar di lautan. utusan Gubernur Jendral Betawi. ikut ke laut. van de Boss namanya. bila menyebrang ke Betawi.Tetapi adiknya (berkata). pasti saya mengamuk. utusan dari Tuan. membawa serdadu satu kompi. (sehingga)lima bulan tidak ada bupati. 269 . kalau aku tidak menjadi bupati. kakanda sudah (menjabat). kalau kakanda yang menggantikan. kakandanya yang menggantikan. kepada Tuan Komandan. pangkatnya komandan. 37. kakaknya di Darmayu. dari Betawi. Sangat bingung para ponggawa. lalu adiknya berkata. “Raden Singalodra kakandaku. jika demikian menurutku. akibatnya bakal ada kematian. lalu datang utusan. menjadi bupati. 35. kedudukan ayahanda. mengganti kedudukan ayahanda. istrinya ke Bantaranak. menjadi bupati menggantikan kedudukan ayahnya. 36. Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya. tetapi Raden Singalodra. membawa pasukan serdadu.

Gandur dan Purwadinata. 39. mengingat adiknya. bahwa tidak mengingat saudara paduka. mengenai negara ini. yang sulung Den Laut. saya sudah pasrah. memohon maaf.” Bupati berkata lembut. karena sudah sampai pada janji terdahulu. 40. keinginan Yang Maha Mulya. melihat dengan kasih sayang kepada paduka. sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka). 270 . semua sanggup (membela) sampai mati. tiga tahun lamanya. semua ponggawa. Lalu semua mengundurkan diri. Lalu para mantri menjawab. lalu tiba di perbatasan. 38. Kemudian berkata lembut. siang malam mengaji Qur’an. Lalu mas patih Hastrasutanaya dan Tumenggung Trunajaya menjawab. saudaraku semua menurut kepastian. Dalem Wiralodra tadi memiliki anak banyak. sama-sama mencium kakinya. pasukan dari Paduka. delapan orang putranya. jadinya saya katakan. saudara (dan) ponggawaku. Menangis para ponggawa.tetapi tidak enak hati.

ayahandanya dipanggil oleh Sultan Cirebon. jam empat kembali ke rumahnya. putra sedang susah makan. 43. 41. “Jadinya paman aku panggil Wiralodra ke hadapanku. Nyai Moka bungsunya. agar kuat imannya. persembahan kepada sultan. di makam para leluhur. yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji. (karena)sangat sakit hatinya. mengurangi tidur dan makan. mengaji siang dan malam. karena sudah disampaikan. Bila malam tidur di makam. 271 . aku mendengar berita (bahwa) paman berhenti dari jabatan kebupatian. Lalu sunan berkata. Singalodra namanya. takdir Yang Maha Mulya. putranya (yang bernama) Kartawijaya. Berkat pertolongan Yang Agung. takdir Yang Maha Agung. yang mengganti adik saya sendiri Paduka. “Sesungguhnya Tuanku. 42. Gembruk serta Toyib. yang sangat tidak enak hatinya.Kartawijayastra yang keempat?. apa betul?” Wiralodra menjawab. meminta kepada Yang Maha Suci.

“Perihal masalah itu. tetapi permohonan hamba. mati hidup saya.” 47. padahal ia masih muda. Tidak tidur serta tidak makan. saya menyerahkan semuanya. kitab serta Qur’an. Lalu berkata sultan kepada Wiralodra. sudah menghadap kepada Paduka. sangat sabar hatinya. pasrah kepada Paduka. Kartawijaya dipanggil. serta rumah tempat tinggal paman. 46. Tajug (dan) kolam aku sediakan. Lalu Kiai Dalem berkata. sepertinya sedang tidak enak hati.44. semuanya sudah sedia. mengajar para putra mengaji. barangkali hatinya terbuka serta paman memohon pertolongan Paduka. Sultan sangat kasihan melihat. “Paman. 45.” Berkata Sinuhun. aku terima diserahi putramu. anak hamba (yang bernama) Kartawijaya. 272 . “Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka. supaya di kesultanan (ini). Dalem Wiralodra. (yang)namanya Kartawijaya. anda ini (agar) menolong saya.

Sekarang kamu ini. aku mengangkat kamu. tempatnya di penjagaan. bersama-sama denganku. Pangeran melihat dengan rasa sayang. di hadapan Sinuhun. di Pajagalan Panjunan.” 50. Kartawijaya berkata kepada Paduka “Saya memang berdosa kepada Paduka apa yang Paduka inginkan?” Sultan berkata manis. Kemudian kelak dinikahkan kepada cucunya. bawalah suratku. 273 . kepada Kartawijaya. tampaknya terampil dalam pekerjaan ini. lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan.berlutut dan menundukkan mukanya. “(Ternyata) ada Kartawijaya (datang). lalu mundur dari hadapannya. tempatnya di Panjunan. kepada Raden Kartawijaya ini. Suratnya sudah diterima. Naik tahta di Panjunan. “Hai Karta kamu ini. Ratu Mas Atma namanya. sukur kamu ini. 48. untuk Kakanda di Panjunan. “Lalu Sinuhun berkata perlahan. lalu berkata perlahan. 49.” Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka. Sudah jauh perjalanannya. saya angkat jadi mantri polisi desa.

adapun rumahnya. semua tingkah laku bupatinya. yaitu Kiai Dalem Singalodraka. Untuk apa banyak harta. kebiasaan santri (seperti)itu. ramai-ramai siang malam. berada di Kejaksaan. menurut perintah nabi. [karna] aku tidak menyetujuinya. Ketika bupatinya ada di sini. bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu. bersorak gemuruh. Lalu dirubah lagi ceritanya. harus suci hatinya. santri kecil hatinya. (sehingga) sepi di negara. mantri patih dan bupati. tidak pantas menjadi bupati. takut dosa besar. gagah serta tampan. bila menari [sepertinya] bergoyang disertai 274 . orang(-orang) kecil suka melihatnya. meskipun saudara (atau) orang tua. sedang pesta beramai-ramai. di sini ada para ponggawa. 53. Ki Dalem lalu berkata. bila tidak bersuka-suka. gamelan dibunyikan. 52. semua bersuka ria. 51. (bila hanya) mengingat akhirat. sedang mengatur pekerjaan. semuanya ponggawaku. (bersama) empatpuluh orang prajurit.

Orang-orang berkumpul di desa. menjaga para durjana. badannya sedang (dan) gagah. seolah-olah marah. diganti oleh putranya. lalu selendang disingkirkan. Dalem Singalodra. 54. putranya Purwadinata. kadang-kadang saudara sepupunya. sampai pada ajalnya. Ada lagi berita (demikian) ini: 57. semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya. sangat susah (selalu) ada keributan di negeri. Orang yang banyak harta-bendanya. (yang bernama) Raden Semangun. 55. 275 . nayaga disiram oleh air. (sehingga) orang kecil sangat susah. (karena) banyak orang yang dibunuh. [upacara] siang malam Patih Hastrasuta berkeliling. (Kemudian) banyak terjadi perampokan. bila kurang senggaknya menendang dan menyepak. nayaga ramai senggak. dirampok oleh para durjana.selendang kain berbunga. Para mantri sama-sama bersorak. Setelah bubar semua. dilantik mejadi bupati. 56. Perusuh sudah bersiap. yang menjaga tidak kuat. tiga tahun lamanya.

menjaga di perbatasan. sedia tumbak senjata. Pimpinannya Bagus Kandar. Biyawak. mereka sampai tiap hari. Siang malam beramai-ramai. Lalu mereka bertarung. Bagus Rangin. 58. berkata kepada teman sesama prajurit.. Semuanya sudah setuju menyerang Dermayu. tidak enak duduk. Den Nuralim adalah saudara sepupunya. penuh sesak (karena) banyak orang. Raden Kartawijaya. pribadinya pemberani. adapun Seling Rangin putranya. orang Kulinyar dan Pasiripis. tandu dan kendaraan tunggangan. Bagus Leja dan Sena. lebih dari tujuh ratus. bertanggungjawab di pertempuran. Serta para panglima perang. oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan. Jatitujuh. (Kemudian) berunding hendak menyerbu ke negeri Darmayu. senapan dan keris. Bagus Wari semua (dari) Mayahan.tempatnya di Bantarjati. Surapersanda. 60. 59.. Kiai Betawi itu dari Kandanghaur. 276 . para putra semuanya.

komandannya paling depan. Uwa Kartawijaya. (mengikuti) kehendak tuan. (badannya) besar tinggi menakutkan. Semua para prajurit terkejut. para ponggawa banyak yang rusak. yaitu Ciliwidara putri dari negeri Banten. tidak bisa menangkapnya. kulitnya kuning. (serta) bisa terbang di angkasa.”Baiklah. besok (akan pergi) ke Darmayu. (karena) terdapat perempuan. serta para putra. Raden Wiralodra. diperhatikan kelakuannya. Teman-teman para prajurit menjawab. 277 .“Hai saudaraku semua. melihat yang bertarung .” 61. putra bersama saudara. bercampur dengan (suara) senjata. mendapat kebijaksanaan.” Keesokan harinya berangkat. mendengar sorak beramai-ramai . Serta sampai di Dermayu. banyak orang yang melihat. berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning. 62. melihat saudaraku. 63. memakai pakaian tamtama. Para prajurit dari Darmayu. dengan putra serta senapati. adik-adik serta sepupu bupati. yaitu Kartawijaya.

serta putraku Kerstal. oleh panah si Ciliwidara. Suryaputra. 64. banyak yang tewas. masuk ke keraton. “Duh anakku. “Duh adinda Patih Hastrasuta. gugur tadi. Nyi Ciliwidara namanya. mengaku putra Kentanagara. “Duh ayahanda sangat rusak negara. menangis di hadapannya. (yaitu) Den Dalem Wiralodra. besok (akan) saya tangkap. 66. Suryabrata. lalu bertemu dengan adiknya. dan kakak Suryawijaya. (Ia melarikan diri). 278 . malah putra ayahanda. Ciliwidara itu. Kemudian dengan ayahnya berangkat.datang dengan para prajuritnya. siapa nama prajuritnya?” 65.” Kartawijaya berkata. lalu bertemu dengan Raden Kerstal. katanya tandingannya dengan Paman Patih Hastrasuta. sekarang ayahanda ingin bertemu. berani sekali merusak negeri ini. musuh ini menginginkan apa. ayahnya mengeluarkan air mata. karena sangat berduka.

Serta besok menyiapkan pasukan. menghadapi peperangan?” 70. mengimbangi pertempuran. (kita) orang Dermayu. 279 . Lalu kemudian memeluk kakaknya. terlihat sangat serasi. gelang kalung kilat bahu . apa tindakan kanda. Ya besok adinda saya (akan) lihat. putra kanda banyak yang tewas. Silahkan. menandingi kegagahan. sangat sakti Ciliwidara ini. karena didatangi oleh musuh. pasukan ponggawa putra prajurit. Ciliwidara mendengarnya. musuh satu orang tentu berani. yang hendak merebut negara. dengan orang senegara. cepat berganti pakaian. (aku) ini saudara yang tertua. Lalu [cepat] menantang. 69. Serta bendenya dipukul. Tidak kuat saya. seberapa berat kesaktiannya. senjata panah serta keris. Kartawijaya namanya.67. Bendera lalu dikibarkan. Sambil menangis memanggil-manggil. 68. apalagi ia cantik. “Hai orang Darmayu masihkah berani. “Duh kanda tolonglah sekarang. Kamu tidak tahu (siapa) aku. kanda bertanding di medan perang.

kalau kamu merasa lebih!” 71. keduanya unggul. rasakan panahku. tulangnya yang kena. 73. yang bernama Si Belabar Geni. haus akan darah manusia. “Dasar pelacur murahan. menganiaya (dan) berlaku curang.berani(-beraninya) merusak Darmayu. “Hai kamu Kartawijaya. “Bersiaplah! usiamu tak kan lama (lagi). “Kamu betul-betul prajurit Ciliwidara didekati. sambil berbicara. senang melihatnya. cepat diletakkan di pinggang pedangnya.” Lalu berkata lantang. 72. Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah. 280 . kurang trampil dalam berperang. merasa gelap penglihatannya. Raden Kartawijaya. tidak ada yang kalah bertarung. karena kamu unggul. Lalu ia mementang panah. Jatuh seketika di atas tanah. memanah tidak akan sampai kedua kali. sombong kamu wanita cantik. karena itu cepat menyerang kamu anjing. kamu Ciliwidara anjing.” Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena. seru saling pedang. kalau mengenaimu. kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki.

Karena sama-sama bertemu. berkatakepada prajuritnya Aku perintahkan menjaga. siang dan malam. Kartawijaya. menjatuhkan diriku.” Lalu Den Kartawijaya. SINOM 1.apa yang dilakukan kamu ini. serta adik patih. menghentakan (kakinya) di atas tanah. Kartawijaya hatinya benci. 281 . semua kelakuanmu. harus sama-sama dijaga. sambil menggerutu (di dalam) hatinya. menemui adiknya Wiralodra. lalu [sudah] diambil. menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya. bersama putranya. dikeluarkan kesaktiannya. karena aku tidak takut melawanmu. tempat menghilangnya Nyi Cili. Ciliwidara tidak kuat. dengan semua putranya. 74. kakaknya dengan adiknya. Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi. Hastrasuta namanya. menghilang tidak tentu. IX. Semuanya berkumpul. sangat berat kesaktiannya. Setelah Ciliwidara menghilang. 75.

serta para putra nya. dinda persilahkan duduk di dalam 4. seperti apa keinginan (kanda). diterima permohonan Dinda. Maka hendak melaporkepada Paduka. Oleh karena orang yang bijaksana. Barangkali beristirahatlah dulu. 5. 3. kakanda cepat datang. tetapi bahagia ditolong oleh kakanya. Adiknya berkata kepada kakaknya. tidak berniat hendak membantu adinda dalam berperang. 282 . maka permohonan adinda. 2. Kakaknya lembut berkata. dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara. cepat Kanda datang. hendak pulang lebih dahulu. mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka. takdir Yang Maha Widi. beribu-ribu kebahagiaan.menceritakan rasa susahnya. heran sekali Ciliwidara gagah . ditakdirkan Yang Maha Mulia. rusak negaranya. karena kan lagi berperang. tetapi keinginan Kakanda. Kakaknya lembut berkata. karena berkah kakanda. “Duh Dinda untung selamat. jika Dinda masuk. tidak tahu kesusahan. kepada saudara-saudaraku.

Kanda hendak berangkat pulang hari ini. lalu berjalan mengiringi sampai di pintu gerbang. Tiba-tiba datang Nyi Jaya menghadap.” Nyi Jaya menjawab pelan. sangat susah Paduka hendak mengatakan yang sesungguhnya. Di tempat menghilangnya. Dinda. Dalem Wiralodra. 283 . 6. “Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk. Kiai Dalem berkata lembut “Duh selamat datang Dinda. (yaitu) Patih Hastrasuta. celaka Paduka.” Kiai Dalem berkata. tak disangka berhasil baik. Semuanya berpelukan.ke penjagaan kanda. Ponggawa (dan) saudaranya masuk ke padaleman. di negeri Garage. sambil menyembah. begitu pula para putra. kemudian berjalan cepat(-cepat). sedang menghadap kakaknya. (harus) dijaga ponggawa. Saat itu hari Jum’at. 8. 7. menjaga tempat menghilangnya. Lalu masing-masing bubar. [tetapi] Dinda (harus) hati-hati. (setelah) mendapat izin dari Paduka. “Keinginan Dinda silahkan sampaikan.

Kiai Wiralodra berkata kepada patih. 11. 10. Dinda?” 9. kelak kematian saya bersaksi. sekitar seribu orang. Kiai Dalem berkata. “Saya (ingin) menemui Kakanda. hendak menurut (kepada paduka). semoga keturunanmu. Lalu menyembah kepada Paduka. sekarang baru kesampaian. Saya dari Bantarjati.mengatakan kesalahan apa. kelak menjadi bersatu. serta keturunanku diterima semuanya. saya akan menikuti sampai anak cucu. dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya. “Syukurlah bahagia Dinda. hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku. 284 . tetapi saya tetap. (saya) belum pulang ke rumahku. dan mohon (pamit). Darmayu hendak dirusak. saudara-saudara saya berkumpul mendirikan tenda besar. sudah banyak orang datang. tidak berniat mengingkari Paduka. semua kehendak Paduka.” 12. Sudahlah Dinda cepat mundur beristirahat di rumah Dinda. memang saya di bawah kekuasaan Paduka.

Tanujaya dengan Demang Wangsanaya. semua yang saya sampaikan. (dan) Tumenggung Sutamarta. (dan) mantri. (Setelah) seluruh prajurit (berkumpul). 16. 285 . para prajurit siaga serta perbekalannya. prajurit. 14. “Karena itu Kanda Patih. santana. mengumpulkan ponggawa. “Paduka harus mengawasi para perampok. karena Tanujiwa kakaknya. jika (mungkin musuh) harus ditangkap. pagi-pagi para senapati harus berkumpul. Tetapi siap berperang. Pagi berangkat dari paseban. Jiwasuta prajuritnya. keinginan paduka hendaknya diawasi. apa yang akan kanda perbuat?” Patih menjawab. Trunajaya adiknya. dari kampung Bantarjati.“Bagaimana kanda laporan Nyi Jaya tadi. menunggu di pintu gerbang paseban. “Duh saudaraku para prajurit. Semuanya saya yang mengatur.” 13. serta Wangsataruna. kemudian patih berkata. (untuk) bersiaga menghadapi perampok. supaya timbul keberanian. sepertinya musuh (akan) mendatangi.” Paduka lalu berkata. 15.

orang kampung yang menyediakan. pakaiannya macam-macam. 18. minuman serta makanan. kelapa muda (disediakan) di setiap pintu. rigah. Paduka menunggangi kuda. membawa pedang tumbak keris. oleh karena menghadapi perampok. Patih Hastrasuta. terlihat gagah perkasa badannya serta sembada. para arya. demang. serta tetabuhan.” Bende berbunyi menandakan semua bubar. (mereka) semua baru melihat Paduka. (memakai) konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning.bersiap untuk bertarung. serta semua prajurit. para mantri. oleh karena gagah perkasa. bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang. Bende berbunyi semuanya berkumpul. kanda menjadi biasa. tergantung keris di kanan. 286 . tergantung juga ada di kiri. 17. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan. mahkota berwarna mas berhiaskan intan. pagi-pagi aku tunggu. (jangan) kurang persiapan. berangkat ke Jatitujuh. 19. para abdi semua sedia. diiringi prajurit. Semuanya menaiki kuda. lalu kembali dari paseban. memajukan banyak prajurit.

Bagus Serit berkata. dengan kiai (dari) Betawi. Bagus Serit namanya. pejabat di Kandanghaur. serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar. 23. para ponggawa sedang menghadap. serta para senapati. serta Bagus Pangiwa. “Duh putraku semuanya.beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan. (Tundalah) yang berangkat. semua senapati putra Mayahan. 287 . 20. (Setelah) semua lengkap berkumpul. didampingi Surapersanda. 21. atau langsung diserang? Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan. (tersebutlah) yang ada di Bantarjati. Gana Wanggana dan Jari. seperti apa pertarungannya? Telah cukup para prajurit. “Paman bagaimana sekarang. Ki Bagus Rangin. Bagus Rangin berkata. harus nanti hari Kamis. aku harap bersabar. apakah mengirim surat. serta pamannya yang dituakan. serta saudara dan putranya. serta Raden Nuralim. yaitu para senapati. 22. Bagus Seling putranya.

mengatakan kedatangan orang Darmayu. tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan. Setiap jembatan dijaga sebagai penghormatan kepada Paduka. kebetulan tanggalnya.” Lalu ayahanya berkata. (karena) polisi desa datang menghadap Paduka. perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?” 25. janur serta daun beringin. “Duh Raden bahagia bila demikian. Dalem Darmayu datangnya. limapuluh jembatan (jumlahnya). tempatnya di Jatitujuh. maju menghadapi pertarungan. 24. kira-kira hari apa. serta dipasang umbul-umbul. lalu jembatan dihancurkan semuanya. kira-kira telah jauh. Ayahnya kembali berkata. peperangannya bagaimana. 288 .Kemis Kaliwon ini. anak (dan) saudaraku. dari utara hingga berpisah. sepertinya sial (para) prajurit. sukur (mereka) datang. kenapa mambawa pasukan besar? Keinginan ayahanda. setiap jembatan dijaga tiga orang prajurit. Bagus Rangin berkata pelan. 26. pembicaraan terhenti. “Bagaimana perjalanannya. “Betul tidak ada (halangan) anakku. kuda serta ponggawa.

(yaitu) siasat merampok. kanan kiri bendera. Lalu para saudaranya. bersama-sama mengatur siasat perang. 30. gampang menghancurkan pasukan. untuk pertemuan para pejabat. Ki Rangin di pasanggrahan. semua berkumpul (untuk) bermusyawarah. 29. (Kemudian) membuat tenda. prajurit Hastrasuta. prajurit beramai-ramai. bersiap untuk kedatangan tamu. Supaya kuda kembali (lagi). bersama Bagus Serit. tetapi siap sedia prajurit. Siang malam menabuh (gamelan). gamelannya (ditabuh) siang dan malam. menunggu kedatangan (tamu). lima puluh prajuritnya. Sama-sama membuat pesanggrahan. dengan temannya sesama perampok. semuanya siap sedia.27. 28. Usai merencanakan (siasat) penyerangan. tempatnya di Jatitujuh. (dijaga) tiga orang prajurit. lalu paman patih. Tundalah pasukan Darmayu itu. 289 . ramai orang menjaga perbatasan. karena sakti dalam berperang. Lalu bubar. Bagus Serit yang mengaturnya. senjata telah disiapkan. pada setiap jembatan. dipasang tirai penghalang di air.

saya sudah sedia barangkali diinginkan. Lalu perjalanannya dilanjutkan. karena ini perjalanan terburu-buru. hitam legam warna kudanya. “Diterima saudaraku. bendera merah kuning dan putih. sambil menyembah serta berkata. umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan. Semua menghaturkan hormat. 32. tempatnya berkumpulnya perampok.diutus untuk memeriksa. diiringi para prajurit. patih dengan para mantri. siap sedia perlengkapan perang(nya). telah jauh perjalanannya. Lalu berkata Ki Patih. 33. 31. tetapi nanti setelah aku pulang. Ki Patih lalu berkata. itu terlihat Paduka. gembira atas penghormatannya. dusun Bantarjati. kedatangan Paduka …. silahkan sekehendak Paduka. ramai (suara) gamelan Ki Rangin. di mana tempatnya itu?” Berkata prajurit (yang) tiga (orang). bedil mimis dan seligi Ki Patih menaiki kuda. “Duh Paduka saya ini Karena diperintahkan menemui Paduka. serta sampai di perbatasan. Serta keesokan harinya bubar. 34. 290 .

35. PANGKUR 1.” 291 .sudah dipacu kudanya. Seperti apa pasukannya. pasukan sebanyak-banyaknya. lalu patih memeriksa ke belakang. hendak menanyakan berita lalu sampaikan yang sesungguhnya. Dalem Dramayu. serta menghormati. yang sama-sama tinggal di sini. karena aku menanti perintah. terdapat pesanggrahan besar. kemudian jembatan dihancurkan. tumbak perampok. X. ramai (suara) gamelan yang ditabuh. bersorak hingar-bingar. Disambut (oleh) banyak prajurit. karena menghormat Paduka. menuju ke Bantarjati. bendera dan umbul-umbul. “Hai saudaraku semua. 2. masuk ke dalam tenda. dibakar tidak ada yang tersisa. lalu sama-sama duduk. bersalaman semuanya. sudah sedia untuk berperang. apa tujuannya?” Bagus Rangin lalu menjawab. sudah tiba di pasanggrahan. Sebetulnya hendak merusak.

masa aku takut. 5.” Oleh karena itu Rakryan Patih merasa telinganya seperti disebit. 292 . menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung. mereka saling dorong mendorong. karena musuh ada di dalam negara. akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu. 6. “Kiai Patih Hastrasuta. bila kamu tidak tertangkap. karena malu kalau mundur. Lalu Ki Patih berkata. rupa oarang-orang di negaramu itu. Ki Rangin berkata kasar. aku tidak mau disuruh mundur. “Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara. Loh Rangin ucapanmu itu memalukan. tetapi lebih berat menjaganya. Ki Rangin berat bertanding melawan patih. kalau boleh saya mencegah. dan nanti membuat sengsara semua anak cucu. karena negeri ini (akan hancur). Sudah. dan tidak takut melihat. Para mantri menjaga. (jaga) mulutmu berandal babi. karena bermaksud ingin merusak negeri Darmayu. akibatnya jadi rusak.” 7.3. Ki Patih keluar dari Jati. Meskipun kecil wilayahnya. 4. (jangan) menuruti napsu.

menunggu waktu jam sepuluh. “Hai prajuritku semua. jangan sampai bisa keluar. Karena perang dengan perampok. waktunya jam enam sore. berkata Ki Serit. Dan setelah jam sepuluh. para saudaranya maju perang. siapa marah pasrah tewas. sekarang jangan mendesak majulah. “Saudaraku semuanya. jatuh terkena tumbak dan keris. seribu orang lebih tidak terlihat. Lalu Ki Serit berkata. 10. Ki Rangin tidak kuat berperangnya. 9. 293 . 11.dengan Rakryan Patih. sudah merasa tidak kuat. lawanlah (sambil) terus mundur. semuanya kalah di pertempuran. 8. (orang dari) Bantarjati. Karena Patih Hastrasuta mengamuk selama dua hari ini. lalu serentak bertarung. tidak memakai aturan berperang. bersiap mengepung saja. serentak menyerang. kira-kira (tengah) malam saya bukakan. Pasiripis. dan Kulinyar bubar melarikan diri. Bantarjati. ketika gelap tidak terlihat. banyak musuhnya yang tewas. Biawak. dikepung buaya mangapi. orang(-orang) Kulinyar.

13. badannya sudah hancur.12. 16. bertarung melawan perampok yang mengeroyok. hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu. sekarang pasti sudah sampai saatnya. membela negara. Lalu Ki Serit maju. membawa tumbak [dipikul] di pundaknya. utara timur karena malam. yang diinginkan tewas. berganti pakaian beraneka. meladeni pertempuran. para mantri melarikan diri. tetapi pasukan Kulinyar. berkumpul di pesanggrahan mereka. Serta sudah waspada lalu Ki Patih ditumbak dari belakang. aku sudah tidak kuat. (Ia) berbicara di dalam hati. Ki Serit keluar dari belakang. bersorak seperti bumi terbelah. oleh karena itu para perampok. hanya Patih Hastrasuta. sama-sama berpesta ramai-ramai. sangat ramai karena perang sampai malam. Serta keesokan harinya bubar. 294 . Tidak tahu arah utara-timur. kena (sasaran) lalu tewas. 15. kemudian dibawa oleh orang banyak. Hastrasuta sudah payah. karena tidak peduli (lalu) melarikan diri. sudah sewajarnya saya berbakti. 14.

“Hai mantriku semuanya. lalu masuk ke rumah. Kanda Patih terbunuh. dikeroyok di medan pertempuran. Berkatalah di hadapan (paduka) sambil menangis sedih. tidak disangka perampok datang (lagi). serta ada yang tewas. “Celaka hamba. (lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar. maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung.” Sambil air mata mengalir deras.” Paduka berkata pelan. 20. para istri serta saudaranya.oleh karena para perandal. tewas di (tengah) jalan. saat ini karena sudah tewas. 17. karena itu mantri melarikan diri. lalu semua bubar. “Saat ini mendapat musibah. karena Kakanda Paduka. Sesampainya di negara. berkata Dalem kepada istrinya. Sama-sama bertarung di jalan. dikepung banyak orang. sama-sama bertemu di pintu gerbang. sudah tiba di hadapan Paduka. ditembak pamayungnya (pemimpinnya). jika demikian lebih baik kalian pulang semua. 19. Lalu melanjutkan perjalanannya. sudah sampai di negeri. serta sudah sampai di kampung Bangoduwa. 18.” 295 .

setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi. 25. berandal dari Bantarjati. Ki Rangin berkata pelan 24. (Mereka) beramai-ramai tayuban. meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan. serta saudara-saudaranya. masing-masing (membawa) senjata. 296 . oleh karena perampok kampung.” 22. sambil memanggil-manggil. Serta keesokan harinya semuanya bubar. “Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku. Ramai gemuruh (yang) menangis. hasil merampok di setiap kampung. ganti lagi yang (diceritakan). “Duh paman saya mohon. jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok. siang malam makan-makan. serta saudara-saudaraku cepat berangkat besok pagi ke Dermayu sudah telat perjalananku. mengingat kesengsaraannya.21. Istri serta saudaranya. bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka. 23. macam-macam tingkah lakunya. para istri dan putra-putrinya. kepada pamannya Kiai Serit serta saudaranya. semuanya menangis.” Semuanya menyanggupi. kanda tidak panjang umur. padahal (kanda seorang) patih.

dengan senapan di sebelahnya. sampai babi hutan. Heng Li Cina baru semuanya berani. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa. ayam serta harta benda. serta pedang. oleh karena jumlahnya banyak jadi berani. Sepanjang jalan berjoget. tumbak. kerbau sapi juga ikut. memikul karung berisi beras. 29. bersorak di jalan sambil menari. 28. Di Lobener para Cina sedia. selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan. keris dan komprang serta pentungan. 297 .. sepanjang jalan merampok setiap dusun. serta Nyonya Cinanya. hendak merebut barang (dan) harta. Babah Kwi Beng. pakaiannya macam-macam. Orang Cina (berjumlah) dua puluh. segala kelakuannya. anak-istrinya di Dermayu. ada yang memakai celana poleng jarik. atau sama-sama mengenakan celana pendek. serta Heng Jin dan Tiyang Li. 26. masing-masing yang dimilikinya. (mereka) sudah sedia berani mati. oleh karena kelakuan pencuri. gobang.senapan. lalu berandal merusak. 27. ada yang (memakai) celana panjang. Cina babah dengan baru. karena sama-sama gagah. Heng San.

sekarang ini jangankan saudaraku. Serta merusak …. ramai orang melarikan diri. cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu. Semua berandal menyingkir. kan saya tidak mengacau. 32. “kok kamu menjadi berandal. para Cina bertarung melawan penjahat. apa tidak ingat inti tali persahabatan?” Berkata Surapersanda. Dan bagaimana pikiranmu membuat kekacauan di negaramu ini. saya (berbuat) lebih baik.30. diserang oleh para Cina. lalu Bagus Surasa Persanda menemui Bah Kwi Beng serta melihat(nya).. hancur penjahat (dan) banyak yang mati diserang oleh para Cina. 298 . masa hendak dirusak. Hendak meminta kerelaan teman. aku benci sekali padamu. 31. banyak penjahat pecah kepalanya. 33. Hanya sahabat waktu sekarang. banyak harta-bendanya. atau berniat jahat. 34. tetapi mengingat (kamu) sahabat saya. sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh. jika tidak melihat kamu. Jarih (dan) Gana ikut-ikutan. ada Cina bersahabat denganku. “Karena itu saya menemui.

siang malam membunyikan tetabuhan. para Cina lalu mundur. 299 . bila tidak mau lalu dibunuh. kamu membuat (orang) sengsara (dan) dirimu sendiri. Jika istrinya cantik. jumlah orang(-orang) itu. bubar (dan) berangkat ke Darmayu. lalu ditiduri. tingkah laku berandal itu. dengan Bagus Surapersanda. hendak merebut negara Dermayu ini. Lalu Cina memohon diri.perlengkapan kurang lengkap. karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok. 35. orang kecil dirampok setiap hari . sampai tujuh ribu orang 37. bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini. merampok (dan) mencuri uang. (Penduduk) desa itu sangat susah. membuat pesanggrahan. 38. memanggil-manggil Padukanya. ada yang menjarah. lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya membuat perkampungan di Pamayahan. karena banyak orang. Bergemuruh di Mayahan. Ki Rangin berpikir keras. 36. karena itu (mereka) sangat sengsara. sehari tiga puluh orang yang sama-sama datang maksudnya hendak merusak Darmayu.

” 40. Karena itu banyak serdadunya disebar. 43. (adalah) Daendels yang berpangkat gubernur berkedudukan di Betawi sangat gagah perkasa. para berandal (kaum) bangsawan. hamba meminta tolong. 1808. kalau ajudannya tidak menurut. sapi. watak[nya] Daendels itu (demikian). tidak malu menyakiti. sembada.39. maka dihukum olehnya. Karena penjahat yang datang sangat banyak. dan suka menolong kesusahan setiap negara 42. 300 . Ki Dalem menyampaikan surat. “Aduh Tuanku panutanku. rusak hamba semua. (kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia. (dan tinggi) besar. tidak perduli teman sendiri. (yang) menjarah setiap hari. Memohon pertolongannya. 41. di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak. Kiai Dalem Darmayu. kerbau. Nama[nya] gubernur jendral (itu). dan benci kepada orang yang jahat bila tertangkap terus dibunuh. Dengan demikian Paduka. serta kambing dicuri. sudah mendengar bahwa banyak berandal di daerah Mayahan.

karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi. 45. dari Inggris asal Belanda. Seratus oarang yang menggotongnya. pura-pura diangkat jadi bupati. besar tinggi bergodeg dan berkumis. dipilih yang perawakannya sama. serta meriam ditarik kerbau. 46. 44. Tuan Postur namanya. bupati sudah menyerah(kan). Yang mana penjahat (diajak) berunding. bersama dengan komandan laut. supaya berandal melihat. sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati. serta mengirim pasukan serdadu. Supaya terlihat. serta sampai di Mayahan. kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut. tatacara berperang. dengan makanan serta uang. bertanding atau belajar perang. pedang serta berkuasa. Serdadu dengan tuan. (oleh) para berandal tampangnya para serdadu (yang membawa) senapan. bupati tidak kuat sendirian. di negeri Dermayu. perlengkapan (dan) peluru digotong. serta mereka berunding. Lalu berangkat diiringi tiga ratus serdadunya. supaya bubar gerombolan penjahat ini. 47. 301 .memohon gubernur memerintahkan.

Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya. “Hai Bagus Rangin dengan hormat karena saya diutus. seperti pangkat bupati. untuk berunding. Tuan Deler menghormat kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. jadi aku diutus. bertemu dengan Tuan. 50. diangkat demang olehku. oleh Tuan Gubernur Jendral. 51.” Bagus Rangin menghaturkan terima kasih. membawa perlengkapannya. namaku Zwak. 302 . Nanti semua saudara(mu) kuangkat menjadi mantri. 48. Tuan Deler berkata manis. kekuasaannya sama. jika demikian lega hatinya. perlengkapan perang. Karena bupati menyerahkan. Semuanya berganti pakaian. Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa.terkejut berandal melihatnya. (yang) berkuasa di [negeri] Betawi. bahwa ada serdadu datang. 49. negaranya kepada Gubernur Jendral. jurutulis. (Menurut) bupati. Lalu berkata kepada pimpinannya. bila anda bersedia.

senapan. Baru pejabat yang ditangkap pasukan Deler. Lalu bupati mengirim surat. Tuan Deler bersiaga. jumlah penjahat sekitar tujuh ratus. oleh karena mereka berjumlah banyak. Bila malam melarikan diri oleh karena banyak yang kurang makan. (mengenakan) pakaian dari Betawi. pedang serta berkuasa. siang malam penjahat tayuban. diiring semua mantri. membawa pasmen mas berkilauan. 55. 53. Demang Rangin (dan) para mantri. Lalu ramai tetabuhan bergemuruh. Semuanya mengenakan laken. 56.52. penjahat banyak yang kembali. sudah menerima surat itu. Lalu Deler mengirim surat. 54. sangat takut melihat persenjataannya. pesta melantik demang. celana laken. menghibur yang menjadi demang. Di Kademangan Pamayahan. baju laken (dan) topi (laken). Banyak orang yang melihat Belanda. mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang. Ki Rangin sangat gembira sekali. kepada bupati Darmayu. karena bupati 303 . hendak merampok bendera negara. kolonel ajudan sersan dan serdadu. suka-suka berpesta. setiap sore mengajarkan perang.

minta pertolongan. menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya. secepatnya harus menangkap penjahat. 59.kepada Kartawijaya ponggawa sultan di Grage. menyiapkan perlengkapan perang. Paduka sultan berbicara. 57. lalu berbicara kepada sultan. 304 . serta anda Raden Welang. suratnya telah diterima. (berangkat) bersama Karta(wijaya). “Jika Kartawijaya. saat ini berandal dijaga. Serta dibaca surat itu. 58. Cepatlah kakanda. keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende. Sultan member izin. Kepada tuan komandan Belanda di Betawi. Bila berhasil cepat diborgol. Karta dengan Raden Welang. dinda minta menangkap berandal yang dijaga. yaitu pamannya sudah tewas. Lalu prajurit bersiaga. dibunuh oleh berandal. semuanya sudah disampaikan kepada sultan. (memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta. bila melawan (harus) dibunuh. karena sudah dipersilahkan menyertai paduka. Kartawijaya marah. potong leher para berandal itu.” 60. lalu berkata (dengan) lembut.

62. yang sudah wafat. XI.61. 305 . prajurit semuanya berangkat. adiknya memeluk (sambil) menangis. hendak menyerang panjahat yang mengacau. DURMA 1. (ingin segera) menumbak perampok. dinda Hastrasuta sudah meninggal. Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu). tidak akan mundur kanda berperang. 2. Dan membawa temannya. di Mayahan tempatnya. Prajurit sudah sampai di Darmayu. bersamaku (dan) kanda Karta. gembira mantri semuanya. seluruh(nya) para prajurit terpilih. “Hai semua prajurit saudaraku. Menangis kepada kakaknya karena teringat ia sudah tewas kakaknya menangis. sekarang kalian berangkat. (yaitu) Patih Hastrasuta. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang. sudah siaga (untuk)bertarung. semuanya sudah keluar. serta katanya. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar. semua[nya] ponggawa. karena hendak membalas kematian. Lalu Den Welang berkata. “Duh dinda mas sudahlah tenang dinda. bertemu adik dan kakak(nya). 63.

berhadap-hadapan bertemu dengan para penjahat. di selatan pasukan Betawi. Kemudian berteriak. bupati dengan kakaknya. 3. menurutlah akan kuikat. sudah kokoh barisannya. “Hai Rangin anjing kamu ini. serta Den Welang. karena yang di depan.” Lalu dijawab oleh Raden Welang. Rangin menyambut (karena) mendengar bahwa bupati telah tiba. Utara selatan timur sudah dijaga. kamu penjahat. 5. Lalu sudah tiba di Pamayahan. 4. putra selir (Pangeran) Panjunan.sangat semangat pasukannya. “Hai aku (sudah) diangkat (demang) oleh Tuan Deler . Den Welang (ada di) tengah. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya. merasa dikhianati oleh Tuan Deler. berkata dengan kasar. karena sudah dikepung. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja.” 6. mendekati berandal. penjahat berada di tengah. lengkap dengan peralatan perang. serta barat (oleh para) prajurit. 306 .

7. oleh Raden Welang. 10. tidak memakai siasat perang. setiap prajurit di tempat perang. takut mati kamu anjing.”Aku tidak takut. meskipun aku dikepung olehmu. “Hai kunyuk penjahat. aku tidak takut. 307 . Pagi-pagi bende ditabuh. oleh serdadu yang sedang berjaga. Di tempat perang. Den Welang berkata. (berandal) yang ke luar ditembak 9. 8. Banyak penjahat tewas yang ditangkap (dan) dibrogol oleh para mantri. (jumlahnya) sekitar enam ratus (orang). Perang tertunda (karena hari) berganti malam. Rangin dengan saudaranya. aku tidak akan lari. 11. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol. oleh karena berandal seperti mengepung binatang buas. sombong (karena) banyak pasukan. semuanya melarikan diri. Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang. melarikan diri dari medan pertempuran. Rangin sudah tidak ada. ditendang (lalu) terguling.” Sena lalu diikat.

keinginannya. Serta sudah mundur semuanya. semuanya diperintahkan dibunuh. lalu berangkat mencari. 13. (semua) disekap di dalam penjara. semua pembesar berkumpul di Darmayu. Dalam perjalanannya. 14. Kelebihannya dibawa ke kapal semua penjahat itu. Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari. 12. Keputusan pun sampai. Berandal (itu) lalu dipenjara. Balatentara Den Welang dan Den Kartawijaya.karena akan dikirim ke Darmayu nanti. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim ke Betawi. (kepada) jendral yang ada di Betawi. (saking banyaknya) tidak tertampung di dalam penjara. mengenai penjahat yang sudah tertangkap (dan) dimasukkan ke dalam penjara itu. 308 . sudah disekap semuanya. 15. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki. yang ada penjaranya. sudah bubar semuanya. sampai ketemu. (Mereka) akanmengirim surat.

Gana.ada berita lagi. “Aduh dinda tidak disangka. sebab gerombolan berandal sudah menunggu. yang memimpin pertempuran. maju berperang. Hawisem dan Raden Wari 19. maju ke medan perang. di Kedongdong. yang kembali dari pertempuran. Jumlahnya sekitar seribu (orang). Rangin sangat gembira hatinya. berpesta siang dan malam.” 18. Prajurit paman yang memimpin pertempuran. Di tempat pertahanan Kartawijaya dan Raden Welang. Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam. serta membawa gerombolan panjahat dari Luwiseheng. dan Seling bersiaplah dengan waspada. Rangin Kandar pemimpinnya. 17. tertawa bersuka ria. “Nah itu dia. 20. prajurit Bagus Hawisem. kanda bertemu dengan dinda. Prajuritku berhasil. Rangin berkata kepada para putra(nya). sangat gembira. 16. 309 . Jarih.

Den Wari nama(ku).” Di tempat pertempuran ramai. Pertempuran di medan jurit. karena aku tidak kenal. karena banyak yang kalah oleh Den Welang karena berani bertarung. prajurit di depan. bertemu di medan perang. keroyokan karena tidak terlihat. Lalu berjumpa dengan Kartawijaya. 21. Raden Welang maju. dipegang ……. “Siapa ini di hadapanku. 23. (bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong. Tumenggung Nitinegari. 22. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran. lalu dikejar dengan berani. Prajurit Luwiseheng pun turun. penjahat sudah siaga mengatur pasukan dipimpin (oleh) Bagus Rangin. bertahan di medan perang. berani ke medan perang. dengan Den Kartawijaya. memandang Hawisem (dan) Wari. 24. Rangin Kandar turun. tidak patuh dalam pertempuran. Raden Wari tertangkap.ternyata ada yang menyusul.” “Prajuritnya Rangin yang menyambut kamu ini. 310 .

tidak menemukan (siapa-siapa). 26. dirantai (dan) dikirim. Ki Sena (dan) Surapersanda. (yang) ada (di) negeri Garage. kasmaran yang melihat. Banyak berandal yang mati ditembak oleh serdadu. XII. orang(-orang) desa kesusahan. gadis cantik dibawa. ramai oleh yang berperang. 27. menuju arah barat. ke negeri Darmayu. tiba di Bantarjati. Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya.gerombolan berandal. Pondokan para penjahat dibakar. (dan) Hawisem lari. Den Welang berkata. Surapersanda sudah tertangkap. diborak-barik setiap perkampungan. Leja dengan kawan-kawannya.” Segera dirantai. KASMARAN 311 . berlari ke barat. 28. pondokannya kosong. sama-sama mengejar penjahat. Kandar. (serta) Raden Welang tidak ketinggalan. semuanya tidak ada yang tertinggal. Rangin. dan Sena diikat. 25. Handa. “Hai anjing penjahat. kepada teman sultan.

tiba di Cigadung. Cipedang.1. Cibenuwang. “Duh anakku nanti. Radensrang. Legok Siyu. pemandian bupati di sebelah barat. Pengambiran. anak istri sama-sama sedih. 312 . 4. 3. Ciwidara. berkelana di hutan-hutan.istri(nya). Lalu berkata perlahan. tiga bulan perjalananannya. dan di hutan Cikole. dengan Kandar Handa kelak membawa anak istrinya. di tengah hutan (yang) luas. Sebelah barat menyeberang kali Cilalanang. Tersebutlah yang melarikan diri Ki Rangin. dengan Cilege. di Purasu. 2. pernah menyeberang Kuceak. sangat sedih. sampai Gumulung. dan Leja. Menangis sepanjang jalan. menyeberang Cipunegara. melihat anak. 5. Serit. Benggala di Luwung Dinang. Bila diburu (lagi). berbelok-belok perjalanannya. sangat sengsara hidupnya. kepada semua anaknya. tiba di Dulang Sontak. Cipanculan.

serta menjangan. Karena para istri. lalu bersama-sama memasang tenda. 6. 9. sangat jauh letaknya. sebelah barat sungai Cigadung. Kemudian menemukan pelataran luas. Beramai-ramai membawa makanan. berjalan terus di hutan-hutan. dari tengah hutan. luas halamannya. Ayah akan membuat ladang supaya didatangi (orang). 8. dan disamakan namanya.sangat subur tanahnya. memasuki hutan. kesenangannya itu. Pernah membuat perkampungan. tiga bulan perjalanannya. sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya. dengan yang dibuat Ki Rangin. membawa kijang bila kembali. 313 . terlihat sangat sengsara. Menanam pepohonan. rawa besar banyak ikan. sungai yang deras airnya. berjalan di pinggir jurang. dinamai Dukuh Citra. di rawa yang bernama Citra. serta membuat sawah. menguras ( sungai) mencari ikan. Ki Leja setiap hari. 7. Rangin setiap hari.

Lalu semua sudah setuju. Jatilima namanya. dinamai Cihakur. Di perbatasan distrik Pegaden. karena menemukan tempat luas. keduanya distrik Pamanukan. letaknya di Cigadung. 14. lalu sama-sama setuju. 314 . yaitu Aji Pengabaran. hendak mencari negeri jajahan. Tegal Slawi namanya. Ki Gede yang berada di Pecung Kiai Wangsakerti namanya. menuju selatan arahnya. Lalu Ki Rangin membaca mantra.. memerlukan tempat luas. serta datar tanahnya. sudah tiba di Citarum besar. kelak bekas Ki Rangin bila berkumpul. hendak mencari tempatnya. dengan saudara serta ayahnya.. di sebelah barat laut Suba(ng).sebuah (yang bernama) Jatigembol. 10. dua taun lamanya. membuat . Dinamai demikian. tempat para penjahat. membawa teman tiga puluh. 12. 11. 13. panjang lebarnya luas. disebut (demikian) sampai sekarang.

yang menjadi tujuan. yang akan ikut berperang. karena saudara keinginannya. untuk menyambut perang. tanda saya bijaksana. melihat pesanggrahan. dikirimkan ke Desa Pecung. lebih baik aku membuat surat. di antara orang banyak. Serta sudah banyak orang. beramai-ramai siang (dan) malam. lalu ada yang mengikuti. apa keinginanmu. hari apa maju bertempur. 315 . lebih dari seribu orang. 17. 18. 15. kepada teman dan saudaranya. karena tinggal menunggu waktu semuanya siap. pesta makan-makan. Menangtang perang. Lalu membuat surat. saudara serta teman-teman. supaya siaga sekarang. Semuanya menjawab. seperti apa keinginannya.pikirannya sudah nekat. 16. sudah membuat sengsara. Lalu Rangin berkata lembut. setiap hari orang datang. sangat mujarab sihirnya. apa ingin mengungguli menggempur orang keturunan Pecung. hendak mengadu kekuatan.

pelayan yang bijaksana.19. dengan penjahat dari timur?” Semuanya menyanggupi. dengan saudara (dan) anaknya. Demikianlah Ki Wangsakerti. dibaca di dalam hati. para senapati juga. ada penjahat. 22. sanggup mengadu (kekuatan). buronan negara. 23. dengan penjahat (dari) timur. apakah sekarang sanggup bertarung. sudah menyampaikan surat. tiba di hadapannya. “Hai kamu Krudug. hendak melawannnya. Dulang Sareh namanya. berandal berasal dari timur. Surat lalu dibaca. Ketika sedang berbincang-bincang. 20. 316 . serta putra Sindanglaya. Ki Wangsakerti berkata. Lalu berkumpul. Atau kamu anakku Jaka Patuwakan. 21. serta berkata kasar. surat lalu diterima. Jajabang Grudug terlihat. dalam sekejap datang utusan itu. di tegal (sebelah) selatan Subang. karena sudah mendengar.

sampaikan pada tuanmu. malah banyak prajuritnya. serta tersenyum (dan) mengumpat. hari apa yang pasti. Jawa Timur rasakan aku. hendak melawan orang Sunda 24. sudah siaga (dengan) pasukannya. sudah tiba di hadapan Paduka. “Bagaimana Dulang Sareh. akan mantra sihir (pada) kamu. anjing kamu. saya siap menyambutmu. serta gagah sentosa. tebal tipis urat tulang. “Anjing cepat kamu mati. jangan banyak bicara kamu.“Kamu anjing timur. Lalu Dulang berpamitan. matanya jelalatan. Grudug mendengar (yang) mengumpat. 317 . Dulang Sareh berkata pelan. 25. lalu katanya. yang berada di [tempat] pesanggrahan. Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya. pergi. menanti kedatangan paduka. bagaimana suratku?” 27. anjing Sunda membelalaki.” 26. cepat-cepat berjalannya. Ki Gedeng Pecung iti. Dulang Sareh lalu pulang.

32. Patuwakan Majalaya. 30. Ki Leja lalu bertanya. menjadi pemimpin perang. Bende dipukul terus-menerus. Di daerah Tegal Selawi. lalu semua sedia. apakah kamu Wangsakerti. bersorak bergemuruh. 29. Lalu sudah terdengar. barisan penjahat (dari) timur. Lalu maju prajuritnya. perasaannya seperti Singalodra. pasukan Rangin banyak yang mati. Lalu berkata Ki Rangin kepada Kiai Serit serta saudara-saudaranyanya. serta Kiai Gedeng Grudug.28. ramai perang dengan penjahat. tidak kenal (orang) Jawa Timur. 31. dengan barisan pasukan Pecung. Leja maju bertarung. bertemu dengan Ki Gedeng Grudug. bendera cepat dinaikan. termasuk distrik Subang. prajurit Rangin pun siap. berani melawan bertarung denganku. semuanya menyanggupi perang. karena perang penjahat. 318 . Bergemuruh pasukan Rangin. melawan Ki Gedeng Pecung. “Hai siapa (orang) Sunda ini. sedia untuk berperang.

aku senapatinya, namaku Gedeng Grudug, yang akan mengikatmu. 33. Buronan negara, di timur sedang dicari. Ki Leja menyerang, sama-sama saling mendorong, ramai pasukan yang bersorak, pasukan Rangin dengan Pecung, bertemu lawan di pertempuran 34. Jaka Patuwakan, melihat kakaknya bertempur, tidak ada yang kalah dan menang, lalu cepat maju, menggantikan berperang. Leja bertanya, “Hai siapa yang menggantikan perang, 35. berani kamu babi?” Aku Jaka Patuwakan tidak teliti melihatnya. yang bertarung saling mengejar, ayo gantian lawan aku, aku ingin merasakan, mencambuk kamu orang timur.” 36. Lalu menyerang (dengan) berani, Ki Leja cepat mengayunkan pedang, tidak berhenti memedangnya, terus menerus menggunakan pedang. “Hai kamu Patuwakan, betul-betul prajurit tangguh, serta kamu masih muda.”

319

37. Patuwakan berkata perlahan, “Duh Paman Leja seperti orang serakah anda, memakai pedang tanpa aturan, ke bawah ke atas gerakan pedang, kamu itu bukan prajurit, betul-betul penjahat urakan. 38. Jaka Patuwakan, merasa tidak sabar melihatnya, Leja didesak perangnya, tertutupi penglihatannya, lalu cepat ditangkap, digendong tidak berdaya, Leja tidak bisa bergerak. 39. Sambil menangis memanggil-manggil, “Ampuni paman, Patuwakan, sekarang paman tidak berani.” Lalu dibawa oleh prajurit, Kandar maju perang, pemuda yang sakti dan unggul ini Kandar saudaranya. 40. Cobalah lawan aku, sudah saling berhadap-hadapan, dengan Patuwakan, di tangannya terpegang senjata. Tidak kuat Bagus Kandar, terpukul rotanwulung, terguling di atas tanah. 41. Sambil menangis memanggil-manggil, “Aduh Bagus ampuni paman, sekarang paman tidak berani,” lalu Kandar diikat.

320

Matahari pun terbenam, mundur pasukan Pecung, sambil membawa tawanan. 42. Berkata ki Wangsakerti, “Hai anakku semua, besok saya maju, Jigjakerti Majalaya, supaya maju perang, melawan Rangin kamu ini.” Jigjakerti menyanggupi. 43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu, pasukan Pecung banyak, demikian juga pasukan Rangin. Kiai Serit berkata, “Apa yang harus kulakukan?” Ki Rangin lalu berkata, ayahanda jangan kecil hati. 44. Sekarang ananda pamit, hendak maju bertempur. Ki Serit memeluk putranya, menangis sambil berkata, “Duh anakku yang kusayang, kita serahkan kepada Yang Agung, semoga unggul di medan perang. 45. Lalu Bagus Rangin maju, menantang di medan perang. “Hai ini Rangin namanya, sambutlah di pertempuran, sambil berebut bertempur, tidak apa aku tewas, itulah tujuan hidup laki-laki.

321

46. Lalu maju Jigjakerti, Ki Gede dari Majalaya, sama-sama sudah bertemu. Lalu Rangin bertanya, “Hai yang maju bertempur, gagah besar serta tinggi, namaku Jigjakerti. 47. Dan ini Majalaya yang akan melawan kamu, kesaktian(ku) sepadan denganmu, terbuat dari kulit (dan) tulang keras. Lalu bertempur seru, Ki Rangin sudah menangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya. 48. Majalaya diikat(nya) oleh tentara Rangin, Ki Grudug maju perang, saling mendorong perangnya, Grudug lalu ditangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya, lalu cepat diikat. 49. Pasukan Pecung dengan Rangin, bersorak seperti bumi terbelah, tertunda karena malam, semuanya pasukan bubar, lalu membuat pesanggrahan, Ki Serit lalu menemui, setelah putra(nya) datang. 50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti, sangat susah hatinya, putra keduanya kalah, tinggal seorang putranya,

322

putra (yang bernama) Patuwakan, “Duh anakku, apa yang harus kulakukan? 51. Sial terkapar di medan jurit, Rangin sangat sakti sangat kuatir diriku, karena masih muda, Rangin gagah perkasa. Tunda yang dikisahkan, (terdengar) ramai di luar. 52. (Karena) ada pasukan yang datang, dari utara sangat banyak, Ki Wangsakerti terkejut, (karena) tidak disangka musuh datang. “Duh anakku (belahan) jiwa, apa yang harus aku akukan.” Kemudian ada mentri datang 53. memberikan surat, (lalu) diterima, menggigil (tangannya ketika) menerima surat, disangka musuh yang datang. Surat segera dibaca, isi suratnya, dibuka lalu dilihat, jadi gembira hatinya. 54. “Surat dikirimkan kepada adik, yang sedang bertarung. Kanda Wangsakerti sekarang, sudah (jangan) dijadikan pikiran, dinda tiba secepatnya, tidak dengan kabar tadi, (karena) keburu mendengar berita.

323

55. Bahwa kakanda menghadapi perang, dengan buronan dari timur. Dinda nanti menjaga. Surat (dari) keluarga di Darmayu, oleh karena dinda memohon ikut meneruskan perang. 56. Dinda mohon kabar menunggu izin kanda, sungkem Dinda yang menanti, Setrokusumah, Dalem Pegaden.” Ki Wangsakerti tertawa, “Aduh gembira sekali anakku. 57. Kamu Patuwakan, cepat bersamaku ikut menyambut, Adinda Bupati Pegaden.” Lalu bubar dengan kawan-kawannya, (untuk) menemui tamu itu, bertemu gembira sekali, bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk. 58. Lalu berkata Wangsakerti “Duh selamat datang, Adinda Dalem dari Pegaden, kanda memohonan (agar) bertemu, diterima permohonan(ku). Bagaimana pertarungan (dengan) buronan dari timur?” 59. Wangsakerti berkata perlahan, “Sangat gembira hati kanda, kedatangan dinda sekarang karena (hendak) maju berperang.

324

pemimpinya yang ke luar, malah aku dan anakku, sama-sama ditangkap (lalu) diikat. 60. Silahkan dinda maju, cepat tangkap penjahat.” Lalu bupati berdandan, mengenakan pakaian kebesaran, tampan gagah perkasa, memakai tutup kepala dari sutra ungu, dihiasi intan (dan batu) mirah. 61. Kerisnya tergantung, terlihat ada di kanan. (Ia) berkata kepada mantrinya, “Hai mantriku semua, cepat atur barisan, pegang dengan kuat senjatanya, aku akanke luar untuk berperang. 62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin. Seperti apa rupanya, pekerjaannya merusak orang banyak, orang kaya dicuri.” Karena Jaka Patuwakan, maju ke depan, menyembah ke hadapan Paduka. 64. Lalu berkata perlahan, ”Mohon maaf menyampaikan berita duka. ayahanda sudah keluar sekarang, mulanya ananda belum berangkat, menandingi Rangin bertempur, mudah bila ananda sudah kalah di pertempuran.”

325

kuserahkan kepada Yang Sukma. Wangsakerti menyambung (pembicaraan). “Kamu siapa anak muda maju perang? Sayang sekali masih muda. Sementara jangan dulu maju sekarang. “Duh Dinda betul (kata) ananda. Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan. harus dituruti. XIII. bende ditabuh bertalu-talu. 66. “Hai anakku sekehendakmu. DURMA 1. Lalu Ki Rangin bertanya. Jaka Patuwakan menantang. Karena aku mengizinkanmu.” Bupati berkata manis. prajurit Rangin. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang. (dan) berhadap-hadapan. “Lawanlah (aku). ke hadapan ayahanya. hendak maju ke medan perang. permintaan ananda. 3.” Demikianlah sudah terdengar. Anaknya mundur dari hadapannya. pasukan bersiaga bersorak seperti prahara.” Lalu Patuwakan menyembah. anaknya Wangsakerti. oleh perwira Rangin. 2. (mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang. 326 .65. Kemudian Ki Rangin menyambut(nya).

ujung senjata. Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang. Rangin bertanya. Patuwakan agak letih bertarung. Rangin lalu menendang. yang berperang mendapatkan lawan bertarung. Patuwakan melawan. Rangin (dan) Patuwakan. bertempur dengan musuh Rangin. Jaka Patuwakan. karena sama saktinya. 7. “Siapa yang menggantikannya kamu prajurit yang gagah seperti …patih. ramai pasukan yang bersorak. bermusuhan denganku. Nanti dulu.” Patuwakan menjawab 4. Karena ramai yang saling dorong. lawan saja aku. keduanya memegang keris. seperti apa kesaktianmu?” Lalu Rangin menangkap. Dalem menggantikan. jangan kamu yang maju . 5.Wangsakerti Yang harus disuruh melawanku. Dalem maju berperang. jatuh terpelanting.” 327 . serta berkata kepada putranya Patuwakan. 6. “Hai anakku berhenti dulu. ayahanda yang maju.

10. 328 . untuk memberi makan anak istri. Rangin kan tidak gila. seumur hidup mengacau. mengakunya ningrat. namanya Wiralodra.” 12. yang menjadi penjahat. Cobalah maju. aku yang menjaganya yang baru bertemu ni. hendak mengikatku. Mundurlah akan kuikat. lalu menerjang dengan berani.Dalem lalu menjawab 8. pekerjaan(mu) mengganggu orang. Lalu membentak Rangin berkata kasar. setiap desa dijarah. hendak menangkap kamu ini. buronan negara. anjing penjahat babi. Tidak malu (punya) muka seperti kamu. syukur (aku) gembira. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden.” 11. “Dalem Sunda kamu ini. aku Setrokusuma. melihat kamu ini. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden. aku tidak takut. 9. Karena aku masih saudara Dalem Darmayu. dari Darmayu dahulu. yang mencari buronan Rangin.

melihat pemimpinnya. berubah menjadi anak gunung. Lalu membaca mantra.” 16. “Hai Serit. betul kamu. Lalu maju Ki Serit pertempuran. yang bernama triwikrama. “Siapa yang maju bertempur?” “Akulah Wangsakerti. dan kamu siapa?” “Namaku Ki Serit. 14. jika kamu prajurit sejati. Rangin dibanting meghilang. ayo maju. Wangsakerti ke luar. Lalu maju saling menangkap yang berperang. Tidak ada yang kalah bertarung.” 15. “Kebetulan Serit bertarung denganku.” “Wangsakerti kamu ini. untuk apa maju perang. 329 .ereka saling mendorong. 13. Wangsakerti dan Ki Serit. mari mengadu senjata. tua dan kakek-kakek. Lalu menangkap (Rangin). cepat maju. sama-sama kakek. (yang akan)melawanmu. Pasukan Pecung dan Rangin ramai yang bersorak. Setrokusuma. karena sama saktinya.

sama-sama bergumul bertarung. seperti memanggil-manggil. Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma. 21. pasukan Rangin menyerang. 330 . mengadu senjata. (lalu) diikat balatentara Rangin. “Hai Serit takut mati!” 18. Dalem Setrokusuma mengamuk. pasukannya banyak yang tewas. 20. dengan Patuwakan.tusukkan ujung keris(mu)!” 17. 19. mengadu senjata tajam. melarikan diri ke Karawang. Serit sering terjatuh. [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata. Serta sudah sama-sama bertemu. Rangin melarikan diri. Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu. perang sendirian (tanpa)pasukan. Bagus Rangin meninggalkan pasukan. kacau orang banyak. berssama-sama menumpas tentara Rangin. Lalu melarikan diri. Ki Serit menghilang. kumpul menjadi satu. gerombolan penjahat. Ki Rangin sering terjatuh. Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal). musnah tidak menentu. terguling di atas tanah.

diputuskan rantainya. disertai mantri. Sudah berangkat buronan negara. Leja dan Kandar. berdasarkan perintah. Leja akan dikirim. sangat besar kesaktiannya. (kepada) Gubernur Jendral. 24. 25. menghilang tiada tentu. “Hai Kanda Wangsa. Bagus Leja. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya. Saya kirim ke Betawi dua berandal.” Keduanya diikat dengan rantai . seperti bercampur (dengan) setan. 22. “Entah ayahanda ke mana mencarinya. Anaknya berkata. kan tidak tertangkap. menghilang Serit dan Rangin. dikirim ke Betawi. Ki Serit dan Rangin. gembira hatinya. karena buronan negara. Grudug Majalaya. 331 . masalah berandal. (ketika) menyebrangi Citarum. ke mana arahnya?” 23. menjadi satu. lalu melompat. “Ananda dengan adinda.Gintung (dengan) Patuwakan. Wangsakerti dan dalemnya.” Kiai Dalem berkata lembut.

dengan Dén Ngelan. tahanan masuk hutan dan laut. Bagus Kandar berlari. menghilang di dalam hutan. Kandar. keturunan para ningrat. Adapun yang ke timur. terhadap paduka. Sangat susah (karena) tahanan hilang semua. 332 . banyak yang menuju barat.menyelam di laut. (dan) Serit keturunan. (dari) Rangin. penjahat yang lari. Sesampainya di negara. Den Karta berkata. Leja. Surakerti. Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut. melaridiri semuanya. 28. Begitulah perjalanan Karta. 26. dari negara Pegaden. XIV. Dikisahkan hilang di dalam laut. (yang bernama) Jigjakarta. 27. di Darmayu berkumpul. Jayamanggala. mantri berjalan tak tentu arah. buronan dahulu. empat orang mantri. yang membawa sangat bingung. dan Jayakerti. hendak kembali sangat takut. SINOM 1.

nanti kanda meminta izin. (Sambil) memeluk (dan) menangisi. kepada Gusti Sinuhun. “Semoga dinda mengizinkan kanda pergi.” (Sambil) memeluk adiknya. tidak baik (karena) menjadi bupati. Kangjeng Sinuhun di Grage. dengan dinda Den Welang. 333 . 2. lalu melanjutkan perjalanannya. “Duh Dinda bupati. “Duh Dinda betapa lamanya. kanda yang memerintah di sini di negeri Darmayu”. sampai di pintu gerbang. kanda bawa semuanya.” Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan. 3. hendak pergi sekarang ini. “Kanda patih (telah) wafat. jangan menangisi kami. serta para prajurit. Den Karta dan Den Welang. seperti terbuka hatinya mendapat wahyu. “Kanda kembali bukan … dan dinda mulia di sini. anak dan istri adiknya. Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi 5. semuanya menangis. hati-hati dinda ditinggal. Berjalan menuju arah selatan.kepada saudara-saudaranya. 4. air matanya keluar. menangis memanggil-manggil.

sampai ke Palimanan. entah apa isinya.” Raden berbicara lembut. Ada serdadu yang menjaga. seperti apa rupanya. Karena ini dilarang.” Den Welang berkata “Hai teman aku memaksa Sersan menjawab. yang menjaga tadi. Kartawijaya diajak singgah. Permisi sahabat (sumur) itu. jika demikian percumah aku menjaga. “Aku menahanmu sobat. “Permisi kawan yang menjaga di Palimanan. perintah dari gubernur. tidak berani melanggar.” “Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan. lalu bertanya lembut. Raden sudah tiba. kepada kompeni itu. 7. bila tidak ada izin Paduka. saya hendak melihat. dengan Raden Welang.? Lalu masuk den Karta dengan Den Welang. apa isinya ini. hendak saya buka. apa maksudmu. Raden bersama-sama datang. Raden ini dijaga. Menurut pesan komandan. 6. tidak ada yang tahu isinya ini. 8. sumur ditutup rapat.” 334 .

335 . bergerak (mendekati) benteng. membuka tutup besi. (mengenai) Séna Surapersanda. sangat kesal hatinya. hingga tiba di negeri Grage. Lalu menghadap Gusti Sultan.9. semuanya disampaikan. yang dilemparkan oleh serdadu. lebih baik segera pergi. semua serdadu cepat memasang meriam. Raden Karta sudah menangkap. didorong keluar dari pintu gerbang. 10. perjalanan para penjahat. Serdadu segera menahannya. menangkap Den Welang. pasukan Raden Karta. Seharian bertempur. Lalu menulis surat. sudah kamu jangan menemani. 12. Kacau para prajurit. kanda yang memburu tahanan itu. Gusti (Sultan) berkata pelan. Karena itu sersan kumendan. menghilang dari penjara. yang berada di loji Palimanan. Raden Welang hendak memaksa. lapor ke Betawi. Lalu ditutup bentengnya. Lalu melanjutkan perjalanannya. Berkata Raden Welang “Hai saudara (dan) prajuritku. banyak serdadu yang tewas. 11.

“Loh babi Cirebon anjing. Raden Karta dan Den Welang. dan bawalah tentara. serta beliau berkata. empat puluh (orang) yang terpilih. dari sultan Cirebon. meminta supaya pengacau ditangkap. kepada Sultan Cirebon.” Suratnya karena sudah diterima. serdadu yang membawa. 15. Sudah ke luar dari pintu gerbang. untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral.” Dibungkus suratnya. lalu cepat dibuka. yang merusak Palimanan. 16. Sudah tiba di hadapannya. berada di rumah Nihaya. “Hai ajudan (dan) letnan. 336 . untuk Sultan Cirebon.suratnya telah dibawa. surat sudah disampaikan kepada Paduka. 13. bawalah suratku ini. tangkap ponggawa itu. permisi Paduka saya hendak berangkat. cepat-cepat berjalannya. 14. kemudian surat dibanting. kurang ajar kalian!” Lalu cepat membuat surat. serdadu banyak yang tewas. sediakan pekakas perang(nya). Di loji Palimanan. kepada ajudan dan letnan.

Gubernur Jendral yang meminta. berkata Kangjeng Sultan. Aku tidak berani (kepada) jendral. dan ini berikanlah bersama wasiatku. surat lalu diterima. tanyakan keinginannya. Tetapi jika kesultanan. belum dibalas. Lalu cepat diterima. Karta dengan kamu Welang. (yang) ada (di) Betawi. Cirebon ini. Secepatnya sudah tiba. Si Klewang dengan si Dumung. 17. 18. Malahan surat sampai sekarang. sudah pasti (takdir) dari Yang Agung. Suratnya sudah dibaca. “Den Welang dan Kartawijaya. (dan) sedia pekakas perang. memperkokoh aku tak bisa. malahan negaraku. 19. 337 . kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu. negeri kami tidak kuat melawan peperangan. dipaksa supaya taluk kepada Mataram. karena berkomplot.mengumpulkan prajurit. dengan sultan di Mataram. oleh Paduka Sultan. menuruti Yang Widi. Besok datanglah ke Betawi.

Lalu sersan berkata. Paduka (saya) minta izin. Lalu menghadap [Paduka]. Cepat-cepat di perjalanannya. “Hai ponggawa Betawi permintaan gubernur ini. dijewer telinganya. tidak dikisahkan di jalannya. 21.dengan tulus di dalam hati. karena aku belum (menuruti). mengamuklah di Betawi wali membela kalian. (Sultan) turun dari tempat duduk. Diceritaan perjalanannya. mohon izin Paduka. merangkul kedua ponggawa.” Lalu sultan berkata kepada sersan. perjalanannya pasukan jendral. Den Welang dengan den Karta (berkata). kedua ponggawa ini. PANGKUR 338 . sudah dikisahkan dahulu. XV. 22. “Sudah selesai perintah. hingga tiba di Dalem Agung.” lalu keluar ponggawa cepat dibawa. memang dariku (timbul) kemarahan jendral 20. mereka yang didakwa. kepada Gubernur Jendral. sudah tiba di Betawi. deras keluar air matanya. “Baiklah.

2. (yang) berkuasa di Pulau Jawa. dan sampai Betawi. sembrono pimpinan jendralnya. 3. kekuasaan Paduka besar. datang Tuan Gubernur Jendral Betawi. apakah kamu berani kepadaku? Akulah Gubernur Jendral. “Lho anjing binatang gila. Sudah ada di hadapan Paduka. 5. 4. karena aku hendak menyerahkan nyawaku. “Letnan dengan sersan. memalukanucapan pimpinan jendral. kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda. disuguhi makian. ini ponggawanya. khalifatullah yang adil. apa kamu tidak kurang pendengaran?” Karta dengan Raden Welang tertawa (sambil) berkata. Lalu cepat berkata. Tetapi kelakuanmu ceroboh. Sebelum aku periksa kemarahannya seperti orang gila.” 339 . diangkat ponggawa olehmu. (itu) karena berkat Sinuhun Mataram. tidak memakai tatakrama.1. meliputi tanah Jawa. Bagaimana perintahku padamu?” Berkat Tuanku. “Hai Tuan Gubernur Jendral permisi saya hendak menjawab.

aku pukul hingga mati. di benteng Palimanan. 8. sampai tiba waktu keduanya dihukum. Lalu dibawa ke luar. 10. 340 . Lalu Jendral berkata. 7. lima lusin meriamnya. karena pasti bakal mati. lalu pasukan berbaris. lalu merasuki jiwanya. Karena bingung menjadi terdakwa. Sekarang kamu terima. Den Karta dengan Den Welang. (tepatnya ke alun-alun) Betawi. (tetapi) dirasakan kurang etis. (ingin) menuruti emosi. tetapi kamu tidak adil. “Hai ponggawa aku ini terima salah. (Prajurit) bangsa Belanda. Kiai Kuwu kasihan melihatnya. berpangkat ajudan sersan memburu. keduanya mengamuk kepada Belanda. silahkan apa yang hendak dilakukan.Gubernur Jendral sangat malu. apa keperluanmu berani berbuat itu. aku terima [dadi] kehendak Paduka. Lalu kedua orang itu dipasangi. tidak (mau) melihat mereka ditembak. Semua pasukan militer. hukuman militer bangsa Belanda. karena kamu melanggar. berani membunuh serdadu sampai mati. 6. 9.

lebih (dari) seribu (orang) yang mati. musuh bijaksana. “Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini. 14. melihat pasukannya rusak. sampai mati di atas tanah. Di Betawi sangat kacau. (beris) peluru intan pusakanya.” Lalu dipasangkan. Lalu mengambil senapannya. diambil mayatnya oleh para pasukan jendral. tidak jelas melihatnya. 341 . terlihat dibakar. hasil pekerjaanmu merusak negara ini. Banyak yang rusak pasukan jendral. banyak temannya yang bertarung. 12. Den Karta melihat. lalu memburu pasukan jenderal itu. bingung balatentara jenderal. kematianmu ada di Betawi” Lalu Gubernur Jendral. dari belakang yang dituju. Raden Welang pemimpinnya. 11. Lalu keluar kakek kuwu. Sudah menjadi kepastian. 13. karena perang dengan teman sendiri. sudah cukup dibela. tewasnya Raden Welang. dari (raga keduanya).diserang (sehingga) banyak yang tewas. “Hai orang Cirebon anjing kamu. sangat susah balatentaranya banyak yang mati.

“Aku tidak terima balatentaraku rusak. pasukan laut (dan) pasukan darat. (akan) kuminta daerah Kasultanan Cirebon. Keris pusaka menghilang. Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon. Sersan ajudan keluar. sudah menyeberang ke daratan. (kemudian) membuat pesanggrahan. 342 . serdadu militer yang terpilih. lalu mayat Kartawijaya itu diburu (oleh) jenderal. Tetapi Tuan Gubernur. persiapkan perlengkapan perang. 15. mayatnya menghilang musnah. untuk mengganti kerusakan tentaraku. Si Kelewang dengan Si Dumung. 16. 19. terkena lalu tewas.Gubernur cepat memasang (senapan). Orang-orang geger. 17. 18. Bawalah tiga kapal. letnan kolonel ajudan lalu berbaris. sangat susah balatentaranya rusak. pasukan militer mundur. lalu ia berkata kepada ajudan (dan) sersan. balatentaraku rusak. kira-kira tujuh ribu (jumlahnya). pendeknya aku tidak terima. sekarang kamu bersiap.

pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon. Radén Pekik dengan Dul.karena Sultan sudah mendengar berita. Balatentara jenderal bubar. menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun. 343 . bila balatentara pangeran berbaris. mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram). lalu menyebrangi pelabuhan. (para) pangeran maju perang. 20. Gubernur Jenderal (ingin) melihat. 23. 21. Serta Jendral melihatnya.” Lalu memerintahkan pasukan. lalu bersiaga. balatentara pangeran berbaris. (pasukan) Kacirebonan bersiap. 22. sampai ke tengah (laut) kapalnya. Serta bertemu dengan Sultan. menaiki kapal berlayar di lautan. semua maju ke medan pertempuran. untuk maju berperang. “Orang Cirebon lawanlah. serta Pangeran Logawa. semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram). Pangeran Mertasinga dengan (Pangeran) Panjunan menghadap Sultan. Lalu gubernur berkata. Sultan lalu berkata manis. Ramai yang bertarung. (yaitu) Pangeran Suryakusuma Martakusuma. (sehingga) daratan tidak terlihat.

Saya mengemban tugas sinuhun. Kanjeng Sultan sangat sedih. diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram). (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya (dan) Kanjeng Pangéran Natabumi. mendengar cerita gubernur. Metaram Broboya. “Selamat datang saudaraku. senapati. hingga tiba di jalan belakang. 24. dari Mataram semmuanya sudah tiba. Lalu sultan berkata. menjadi sultan. lalu memerintahkan tumenggung. datang di hadapan (sultan). 26. Semuanya bubar. adapun negeri paduka. 27. 25. karena hendak menyerang negeri Cirebon. karena paduka sudah lama. untuk mengumpulkan pasukan. sudah tiba di negara Cirebon. tamtama. orang Mataram tiba. secepatnya menghadap Paduka (karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram. ada apa anda menangis?” Berkata Gubernur Jendral. Natabumi (dan) Buminata. diceritakan seluruh (kejadian)nya. Terkejut sultan melihat.“Hai saudaraku Jendral. pangeran. sepertinya membawa perintah.” “Saya berkata yang sesungguhnya. 344 .

” Pangéran Probaya berkata. akan disampaikan kepada Jeng Gusti. (lalu) berkata perlahan-lahan. 30. untuk saudara-saudara paduka.28. karena negeriku Cirebon wilayanya kecil. tiga ribu pemuda dengan paduka. karena setiap luas (tanah) tadi. (saya) akan serahkan. saya tidak akan mengingkari. 29. menerima santunan serta diberi tanah. 31. Serta paduka turun tahta. Sultan tidak bisa berkata. (merupakan) upetinya itu. sudah disampaikan kepada sinuhun 345 . Serta haturkan (kepada) sultan. perintah dari Paduka Sinuhun Mataram. menuruti kehendak paduka. berangkat kembali ke negeri Mataram. Cirebon menyerahkan negara.” 32. seluruh prajurit Paduka. (Lalu) bubar semua. saya melayani. “Jika demikian Paduka. Jika paduka tidak menerima. (apa) yang disampailan Paduka. “Duh saudara-saudaraku. saya siap berperang. perintah sultan Mataram. (saya) permisi hendak kembali .

segera menghadap kepada tuan gubernur. “Selamat datang Dinda Dalem. hingga anak cucu Tuan. Sesudah tiba di Betawi. terima kasih banyak atas pengangkatan ini. (saya) banyak mendapat kemuliaan. Sangat gembira Tuan Besar Gubernur. Lalu Jendral berkata.mengenai penyerahan negara itu. berkat pertolongan Tuan (saya) mendapat kemuliaan. Gubernur dengan Sultan. Lalu gubernur menerima. berdoa kepada Yang Agung. penyerahan (dari) Sinuhun Sultan. XVI. masalah negeri Cirebon. (lalu) memanggil Wiralodra. dari negara Darmayu Setelah tiba di Betawi. lalu dengan gembira menerima negeri Cirebon. KASMARAN 1. 2. dijaga Yang Maha Melihat. lalu sama-sama berpamitan (untuk) kembali ke Batavia. semoga selamat (dalam) memimpin. Memimpin di Pulau Jawa. 3. sesudah bercengkrama. beribu-ribu terima kasih. 346 . 4.

Semuanya (telah) saya hitung serta semua perlengkapan. tanah saya di Darmayu. Gubernur berkata perlahan. Lalu berkata pelan “Duh Paduka Tuan. karena tanah (itu) milikku. termasuk uang sebelas ribu jumlahnya. “Jika demikian aku terima. apakah Paduka mau?” 8. 6. tetapi saya serahkan semua. karena ia tidak punya.semoga diridoi Yang Agung. 7. sekarang hendak makan-makan. 5. (ditambah) tiga puluh rupiah. karena (atas) bantuan (dinda) (bisa) menangkap penjahat itu. harta yang beribu-ribu (jumlahnya). Lalu bupati menandatangani 347 . tetapi Dalem (harus) menandatangani.” Bupati tidak bicara. memerintah kabupaten. seperti biasa. 9. tetapi kedudukan Dalem tetap saja. harta beribu-ribu (jumlahnya). untuk memberi makan serdadu. sebetulnya saya tidak punya. anak cucu sama-sama mulia. Serta Kanda memberi tahu. harus dibayar (oleh) dinda.

disambut para ponggawa. “Hai saudara dan anakku. hingga sampai di kabupaten. Darmayu kepunyaan. (demikian pula) kedudukan bupati. (Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis.. bupatinya tetap aku.surat (perjanjian). Lalu tiba di negaranya. tidak berubah (masih seperti) biasa. oleh Tuan Jendral Betawi. semua tidak ada yang abadi. 11. para saudara menanyakan berita. Lalu Dalem berkata perlahan. sudah takdir Yang Maha Melihat. kepada Tuan jendral. (Kemudian) diganti oleh putranya. berlayar (menaiki)eperahu. 10. 348 . yaitu Raden Krestal. Tuan Gubernur Jendral. hingga wafatnya. negeri Darmayu. (Tahun) 1610. 13. Tetapi (kedudukan) bupati sekarang masih tetap. 12. kembali ke negerinya. (bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun. Negara dirampas. Lalu bupati jatuh sakit. untuk mengongkosi perang. hingga anak cucu semua. Lalu bupati pamit.

Wiralodra gelarnya. Ia mempunyai anak, berjumlah tujuh orang. 14. Yang sulung Raden Marngali lalu Nyi Wiradibrata, ketiga Nyayu Hempuh, keempatNyayu Pungsi, dan Nyayu Lotama Hanjani bungsunya, (Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya. 15. Bupati sudah lama, mempunyai mertua jahat, merampok pekerjaannya. Sangat susah rakyatnya, (harta) miliknya dirampok, Patih Singatruna, sangat kasihan kepada rakyatnya. 16. Setiap malam tidak berhenti , penjahat (itu) menjarah. Patih Singatruna, berkata kepada kakaknya “Duh kanda Mlayakusuma, apa yang harus saya lakukan, mau jadi apa dalem ini? 17. Tidak menyayangi rakyatnya, (yang) dirampok (dan) dijarah, (dalem) tidak peduli sekarang. bagaimana saran kanda, dinda hendak memohon, kepada Tuan Residen, di Cirebon.

349

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela), betul jika demikian, nanti kanda ikut menandatangani (surat). Kemudian segera membuat surat, ditujukan (kepada) Tuan Residen, (mengenai) semua yang terjadi, ditulis di dalam surat. 19. Lalu segera dikirimkan. Selang beberapa hari Tuan (Residen), tiba di Darmayu, dihancurkan semuanya, disita benda-bendanya, (lalu) dikumpulkan, yang dirampok penjahat. 20. .Cocok banyak barangnya, (dengan) yang diaku oleh rakyat, cocok dengan yang dimita, lalu bupati mengirimnya, ke Cirebon. Sangat susah hatinya, ditahan selama tiga bulan. 21. Menunggu keputusan negara, dan sampai kepada keputusan, Dalem Disowak namanya, yang menjadi jaksa itu, sedangkan adiknya, Wiradibrata (namanya) diangkat menjadi rangga. 22. Patih Singatruna diangkat menjadi wedana, di distrik Jatibarang, Mas Malaya Kusuma

350

mendapat pangkat, diangkat (menjadi) kalektur, di gupernemen. 23. (Singatruna) wedana merangkap patih, di negara Darmayu, para penjahat semua, sama-sama hormat melihatnya, karena kebijaksanaannya, (oleh) wedana dengan kalektur, penjahat banyak (yang) ditangkap. 24. Negara sangat makmur, tidak ada penjahat, tidak ada masalah, di nageri Darmayu . Patih Singatruna, mempunyai anak, banyaknya lima orang. 25. Yang sulung Patimah, lalu Nyayu Juléka, Brataleksana yang laki-laki, Mas Demang Bratasentana, bungsunya Bratasuwita, semua anaknya, menjadi orang yang berpangkat. 26. Raden Rangga putranya, empat orang, putra yang sulung bernama Radén Wiramadengda, Radén Mardu, Nyi Sumbaga, bungsunya Radén Madada.

351

27. Kalektor putranya itu, lima orang jumlahnya, Asisten Hardiwijaya, yang perempuan Nyai Muda dan Sudirah namanya, Nyahi Junéd perempuan, bungsunya Nyai Juminah. 28. Radén Kartawijaya, putranya hanya seorang, Radén Karta Kusuma, yaitu Ratu Hatma, mempunyai anak tiga (orang), yang sulung Biskal Cirebon (ialah) Prayawiguna. 29. Adiknya perempuan, Kertadiprana namanya, yang ketiga pangkatnya ulu-ulu, tinggal di kota Darmayu, menurunkan putra, yang sulung Kertahudaka 30. (yaitu) Demang Lobener, adiknya Mangundria, Demang Bangoduwa, Muhada tukang timbang, Nyayu Jeni kuwu, yaitu Kertahudara, upas bom pangkatnya. 31. Kertahatmaja bungsunya. Darmayu …, Taahun 1813, Tuan Pri namanya,

352

Kiai Jaksa sudah meninggal yang menggantikan anaknya, yaitu Marngali, gelarnya Wirakusuma. 32. Menjadi demang pangkatnya, tinggal di kademangan, distrik Paseban namanya, Balu Kalid namanya, Demang Wirasaksana, menjabat demang, di kademangan Lobener . 33. Suami Nyayu Sungsi mengembara, tidak menjadi demang, dahulunya dari Palumbon. Mempunyai seorang (anak) laki-laki, He… Subrata namanya, menduduki pangkat, menjadi demang Luwungmalang. 34. Suami Nyayu Lotama berpangkat ulu-ulu. Suami Hanjani Wirajatmika namanya berpangkat mantri. (Lalu) Bagus (Bag)ya namanya, gelarnya Kitawilasa.

Asal-usul Wiralodra Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai. Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.

353

Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara. Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra: 6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 7. Gagak Kumitir di Bagelén 8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra: Radén Wirapati Radén Wiraseca Radén Wirakusuma Radén Singalodraka Radén Singalodraka berputra: 4. Radén Jaka Kuwat 5. Radén Kumbabocor 6. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca berputra: 6. perempuan Nyayu Wangsanegara 7. perempuan Nyayu Wangsayuda 8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén 9. laki-laki Radén Tanujaya 10. laki-laki Radén Tanujiwa Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama: 5. laki-laki Radén Sutamerta

5. 6. 7. 8.

354

6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati 7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata 8. laki-laki Radén Driyantaka yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu): 1. laki-laki Radén Kowi 2. laki-laki Radén Timur 3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati 4. laki-laki Radén Wirantaka 5. laki-laki Radén Wiratmaja 6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa 7. perempuan Hajeng Sutamerta 8. perempuan Hajeng Nayawangsa 9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a 10. perempuan Hajeng Hadiwangsa 11. perempuan Hajeng Wilastro 12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a 13. perempuan Hajeng Patranaya (Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III. Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama 8. laki-laki Radén Benggala 9. laki-laki Radén Benggali kembarannya 10. perempuan Hajeng Singawijaya 11. perempuan Hajeng Raksawinata Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang: 9. laki-laki Radén Lahut

355

laki-laki Radén Suryabrata 7. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang 11. Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang: 5. perempuan Hajeng Gembrak 15. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener 356 . perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah 16. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 13. laki-laki Radén Suryapati 6. perempuan Hajeng Moka sesudah 3 tahun diganti lagi. Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu 15. (Dalem ini) memiliki banyak putra. perempuan Hajeng Tayub 16. 5 12. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener 18. laki-laki Radén Ganar 11. laki-laki Radén Suryawijaya 8. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4 5. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa 17. laki-laki Radén Kerstal Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII 13. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan 14. perempuan Hajeng Nahiyasta 14. bernama 10. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra: 2. perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga 12. laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya 13. perempuan Hajeng Parwawinata 12.10.

6. 4. 6. 5. yaitu): Radén Wirasaputra menjadi demang (Radén) Wirahatmaja perempuan Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang perempuan Nyayu Wiradiwangsa Radén Prawirakusuma (Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang Radén Wiramadengda perempuan Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang Radén Perdata Wirahastabrata Radén Sumarga Wirasudirga 3. 3. 4. 3. 4. yaitu): Radén Madi Wirasomantri Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang. perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber 7. 5. 7. 357 . 8. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang. 6. 4. perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling 8.

i … 358 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful