Bab I Pendahuluan

1.1 Identifikasi Naskah 1. 2. 3. 4. 5. Judul Naskah Nomor Registrasi Nomor Inventarisasi Asal Naskah Keadaan Naskah : : : : : Babad Dermayu (Babad Carbon II) 1.368 183.1498/07.35 ? hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik; Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit. Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap

1

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bahan Naskah Warna kertas Tebal Naskah Aksara Naskah Bahasa Naskah Tinta yang digunakan Rubrikasi

: :

tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit. kertas Eropah putih kusam karena dimakan usia 124 halaman Cacarakan Jawa Jawa Cirebon Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh. tinta, setiap aksara Arab kertas tebal dua halaman,

:
: : :

:

12. 13. 14. 15. Penomoran halaman Jilid Keterangan lain : : :

Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca, Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal), Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah, Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan, Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.

2

Bab II Ringkasan Cerita

1.

Sinom Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa. Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang. Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman

3

palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum purapura marah. Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macammacam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik. 3. Sinom Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari. Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan. Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman. Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

4

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana. Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra. Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan muridmuridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas. Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang. 4. Kinanti Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah. 5. Durma Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia

5

mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu. Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan. Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra. 6. Dangdanggula Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen. 7. Durma Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji. Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya. 8. Dangdanggula

6

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok. Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom. Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur. Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV). Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

7

Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Pangkur Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. 10. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya. Jumlahnya sekitar 700 orang. putra Singalodra. Lalu dilakukan penyerangan. Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun. 9. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati. Ciliwidara kemudian menghilang. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Bagus Leja. Pada suatu hari. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya. ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta. Mereka bersiap menyerang Darmayu. Hastrasuta meninggal oleh 8 . dipimpin oleh Bagus Kandar. datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem.Nyai Moka pekerjaannya mengaji. Surapersanda. Bagus Rangin. Sinom Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh. Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta. dan Bagus Seling. yaitu Ciliwidara. Kulinyar. dan Pasiripis. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram.

Asmarandana Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya. Bagus 9 . Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan. 11. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. 13. Durma Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. Wangsakerti mengirimkan utusannya.panah Ki Serit. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. sehingga para perampok itu tiba di Darmayu. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan. Sepanjang perjalanan mereka merampok. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. 12. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Durma Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu. Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Mereka diikat dan disiksa. Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. anak Wangsakerti. isinya meminta bantuan. tetapi sebagian lainnya melarikan diri.

Mayatnya menghilang. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran 10 . Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya. Keduanya dimarahi dan dicaci. Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpurapura sedih. 14. Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. Sinom Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Pangkur Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi. 15. Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan.Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang. agar Cirebon mengganti kerugian Belanda. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal.

dan Hanjani. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. yaitu Raden Mardada. dan Nyi Sumbaga. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak. Ia memiliki lima orang putra. Nyayu Hempuh. Muhadapan. Nyayu Juleka. 16. Kalektor memiliki lima orang anak. Brataleksana. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak. yaitu Patimah. dan Nyai Juminah. Sudirah. yaitu Biska. Wiralodra memiliki tujuh orang anak. 11 . dan Kertadiprana. Cirebon diserahkan kepada Belanda. yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Raden Rangga memiliki dua orang anak. Mangundria. yaitu Hardiwijaya. Bratasentana. Nyayu Lotama. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Nyayu Wiradibrata. dan Bratasuwita. dan Kertahatmaja. yaitu Raden Karta Kusuma. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. Raden Wiramadengda. Kasmaran Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi.030. Nyayu Pungsi. Bupati meninggal dunia. Nyayu Jenikuwu. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka. Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok.yang merugikan pihaknya. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi.

12 .

Dalam transliterasi ini. tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber. BD ditulis dalam bentuk pupuh. kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya. yang terikat oleh guru lagu. tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang. guru wilangan.1 Teknik Penyajian Transliterasi Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin. Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. 1979: 366. tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut. dan guru gatra. seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. Dalam transliterasi. karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh. pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya.Bab III Transliterasi dan Terjemahan 3. Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat. Selain itu. Transliterasi disusun berurutan ke bawah. 13 . Bait-bait yang 1 Hermansoemantri. misalnya I Asmarandana.

Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi. 2. Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1.berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. 4. 3.37 nomor halaman pada naskah dalam foto . 3a. suku kata. Atja dan 14 . 3.857 nomor eksposure pada foto 3. Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. 1a. 1. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1. 2a. dan seterusnya).17 nomor halaman pada naskah .2. Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan. atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi. sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan. Nomor dengan angka Romawi Nomor ini menunjukkan urutan pupuh 2. walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya. Tanda […] Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca. Nomor dengan angka Arab Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis. Contoh nomor halaman: 17 (37. sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor. yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait. 857) . Tanda (…) Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara. Pengantar Terjemahan Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD.

2 Atja dan Ajatrohaedi. dan 4) di dalam proses penerjemahan. 2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin. Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks. penerjemah harus mencari padanan yang dinamik. 3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah). artinya padanan kontekstual. dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul. 1986: 94. dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran.Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan.H. bergantung kepada kemampuan penulisnya. penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut. Berdasarkan pendapat itu maka: 1) objek terjemahan adalah bahasa tulis. Djajasudarma. ditujukan kepada siapa. makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan. melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra. (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan. Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). (2) siapa pengirim pesan itu. B. bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly. 1998: 1 15 3 .

di samping aspek linguistik. yaitu penerjemahan fonologis. Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana. meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik. 2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem. Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas. 1986:173. dan frase). 16 . 4 5 Catford. Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan. yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran. Djajasudarma. dan penerjemahan sintaksis. terutama dalam gaya. penerjemahan morfologis. kata majemuk. sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan. 1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber.Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu. 4 Pradotokusumo. 1965: 20-26. Namun jika teks berbentuk puisi. 3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik. kata. 1998: 4. jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa.

di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda.Berkaitan dengan penerjemahan teks BD. dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama. dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis. ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus. maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati. Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase. agar mempermudah proses membaca. Walaupun bentuknya pupuh. sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”. Karena itu. karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik. d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah 17 . yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan. teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa. dengan menggunakan tanda khusus. Berdasarkan pertimbangan tersebut. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah: a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama.

sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan.semula. 18 .

nuju seneng manah hulun. supaya … galur. hanak……nakin…. Hanak putu Wiralodra. jam kalih dalu nu jo …n[n]i.. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat.. wedar[r]ing kanda rumi(yin). (nu)ju se(neng)..3 Traansliterasi 1 (1. Tan sanés hingkang sinekar. kartadipran[n]a……s. SINOM 1. Kang hana hing Darmayu mangkin. …sajarah tiyang ku[n]na. 821) //I. hing dalu Jumahah legi. turun-tumurun niréki. bénjang lang…… kun hakir. … kinarang sinekarna. supaya samya huni[ng]nga. 4....tiyang. tahun séwu sanga ngatus pan[n]e… 2. hérpol sa[ng]king Mantri Haris. Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir.. waktuna .nuju néki.. trus tumurun hing putra… 3. bermula Da(lem Kang)jeng. sampun kantos… langkin. Ki Wiralodra rumuhun. …li ka[h]ula haserat.3. sasih. buku sajarah dalem … 19 . hing tanggal kaping sadasa … wan di.

. Larakelar hasal néki. Pejajar[r]an putra ratu. 20 .. hapeputra… tumenggung hanang Metawis…. Kartiwangsa …(mang)kin. …ki gumantya.… nti pada … rusak. wedar……kantos dateng Majapahit. Nulya ka[h]ul[l]a. 6. ningal[l]i sujarah mangkin. 7. Bagelén hing rang(gah) ( hapepu)tra malih. Panembahan Kyahi Be(la)ra. Wirasecapan kagu[ng]ngan.. …sumi. 5. ka…hical hingga tu … …n[n]é sujarah dingin. Pan sada……(tu)menggung. turun[n]i Wiralodra. hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa). Jeng Pangeran Hadi… hingkang peperab. pakuburan pun tinga[l]li… …ngungun rusak[k]é hing pakuburan. Gagak Pernala Tu(menggung). laki…mangkin. Tumenggung hanang Mataram. Minggu palesir kula. maksa hing ngila[r]ran hulun. ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u… nulya kagu[ng]ngan putra.

Hana …ling malaya. gumantya para bopati. Pembajeng Wangsanagara. Karangjati kang nagari. gumuling hing wisma. remen[n]ipun hamertapa 10. Putra hingkang pa… Pan Radén Gagak Kumitir. Wangsayuda rayi héstri. 1a (2. kasa.Lajeng ha… …puna…sekawan. … nagara. nulya peputra … hanang Banyu Hurip Kedu. … Pringgadipura. Wiralodra. Gagak Singalodraka…da…ya. Dén Gagak Wirahandaka. sanget saking nyandang kingkin. hing Bagelén dalem[m]ipun. Dén Gagak Wiraku(suma) hapeputra malih. Tanujaya hingkang rayi. 9. (Wi)ralodra katiganya. saréngat (hakeka)t mangkin. 21 . hanenuwun hing Yang Widi. 822) 8. (Tanu)jiwa kang wuragil. pernah hingkang sepi mangkin.

muga-muga hantuk mu(lya) turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan. 22 . hing halas Cimanuk 2. tigang dahun lamin[n]éki. (Su)kma hing yang hagung. sampun hical wujudnéki. 12. (nu)ju dalu Jumah. nulya …kinanti hingkang tinembang. …dang nelahi. …Wiralodra. hamandeng hing wujud tunggil …nya (hing) jero supaya dados satunggal. sareng ming wétan ning[ng]al[l]i. (pa)dang kadya lintang. …cahya hingkang bening. hicaling pepadang mangkin. babad[d]ahing halas kaki. tanda tinarim[m]éng hagu(ng). …ru ngira. ningal[l]i wonten hing langit. cahya…mang tapa. yahiku cahya handaru.hakékat mahripat wahu. II.. KINANTI 1. tansa(h) hingkang tumingal. Ngulon hungsinen kacung. 11… (sa)réh miwah dahar. …ngaran suwun hing yang sukma. rosik[k]a. suwara kang kapiyarsi…. kantu Bagelén. lamun péngén mulya kaki…nira.

Kahidinan sampun kondur. putra ngambung suku ram[m]a.waspa. Halilir hanggé …sami katar …hing jeng rama Ngatur[r]aken pi … hing jeng …nas mikatur 2 (3. 4. handres miji(l) ditangis[s]i. sangking sakarsan[n]é kaki. 6. (hing) kali Cimanuk pernahnya. Medal ngidul pinggir gunung. 822) //. 5. hing pundi panggé(nénéki) 23 ... duging turun pitu kaki …tuhamu. 3. kaki hanak [k]ingsun mangkin. pan bakal dadi nga…. kaliyan Kang Pandakawan. (ha)turan turun[n]ira. sami medal toya. mapan déréng ha…ta. lali turu miwah dahar.. mila hénggal lunga haka… …Wiralodra. malebeting wanadri. sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki. Kyahi Tinggil tanéki.ning ram[m]a. rinangkul dipun tang[ng]is[s]i. miwah nang[n]i hingan[n]néki. Sun pasrah(a)ken yang hagung.halas gedé hi[ng]ku nyawa. putra ningsun hayu …cw.

Léréh[h]an nyenangna pikir.7. Kantos lami tigang nahun. 823) 10. Raden Wiralodra dulu. Kula kinten be…dusun. kula tur[r]i sabar briyin… …mi pukulun. 9. hang linggih hing pinggir kali. Le… 2a (4. Saparantos bendara. lan puniki Gusti dara. 24 . kantos dumugi hing kali. 11. hanang hing(kang panda)kawan. “(Pa)man susah hingsun. wunten kaki tuwa prapti. (pri)yén pan karo hapa?” Humatur kiyahi Tinggil. …toya geng prapta. Nulya hawecan[n]a haris. hanggén[n]é wa(na)dri. 8. 12. kathah wowotan puniki. pitulung Yang Maha Widi. …hapandé ring hantuk marma. Sareng héca gényagah. …sowan. nulya jeng hing lampahnya. Buyut Sidum tiyang karihin. hutawi kebon jalmi. kali gedé hangliwati. Kali hageng hing Citarum. ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil. hingkang mindah kaki tuwa.

13. 824) //…la ngétan pernah néki. ngatur[r]aké lampah néki. 16. Nulya hical kaki sepuh. 15. “ 17. sesalaman hasta kalih. …(Kali) Citarum. nuwun pitulung pun kaki.wunten kaki kaki prapti. Hénggal ti(nari)k rinangkul. tigang (tahun) lampah kula. sarta sareng nya lenggah. Kyahi Dum wecan[n]a harum. bakal hingsun (hantuk) warta. sanget bhingah[h]é hang… lah bagja temen pun mami. humatur hawelas sasih. sampun…kedah wangsul malih niki. sangking Bagelén nagari. “Haduh Kakang tu (lung) kula. Pun lami lampah …n hulun. kula (harsa) hantuk warta. sampéyan … kula. 14. hing pundi Cimanuk kali. muga kaki hanulung[ng]i. … Kerawang bagiyan néki. sangking kaki tuwa hiki. hamesisir la… 3 (5. “Duh Ki Putu welas mami. 25 . sarwi megap megas har[r]is. dé… (han)tuk hawecan[n]a. kagét wahu haning[ng]al[l]i.

lampa[h]hing KiWiralodra. lan sing pundi hika hasal. déréng (ta)kén wastanéki. 21. mila…hénggal-lénggal. Sumber medal saking sumur wan[n]a dateng Ki Tinggil. datan saréh miwah dahar. hing ngendi si kaki tuwa?” Ki Tinggil humatur haris gugup dara hameriksa. Nulya hawecan[n]a harum. 26 . Pu(ni)ki pan margin[n]ipun. 20. ngétan ngalér margin[n]éki. 18. Hutawi negarin[n]ipun. 19. hambhujeng lampah pun hénjing. nulya hénggal halumaris. wonten toyan[n]ipun mili. ningal[l]i medal[l]ing surya. nanging bagja kula Gusti. sareng duging Pasir Hucing. lumampah siyang lan wengi. kabujeng (mu)sna pun kaki. “Duh paman Kiyahi Tinggil. …manten pan hantuk marma. 22. Hangrem(pug) hing wana (a)gung. lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki. pitulung[ng]é hing Yang Widi. kula lajeng pangkat Gusti. “Duh Paman Tinggil pun kula. boten[n] takén wasta kriyi(n).getun Radén Wiralodra.

(lamun Gusti) kersa mandi.” 23. duh Wirasetra jeneng mami” “Hingkang wewangi pun kakang. 3a (6. Lami hanthuk kalih minggu. 25. hana (to)ya tengah wanadri. Kyahi Tinggil pan humatur. sun ting[ng]ali hiki toya. Yayi sinten jeneng[ng]ipun. 26. 825) pi//wiwitan hiki. hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil. madukuhwan hing wan[n]adri. kula péngén sesaréyan. nulya manggih tiyang gaga. hing Kakang tembé pinanggih. ming[ng]elér lampah hiréki.meng(ké) laréh pada mandi. Wirasetra jeneng ma(mi) 27. sah[h]a hasli pundi ranti?” 27 . lan badé karsa hing pundi. Dalem (Pega)dén hing bénjang. “Duh kakang basa pukulun. hadem kasilir marut[t]a. hing bénjang bakal nurun[n]a. sarwi sesalaman kalih. lan sinten kakang peparab. sing wétan hasli rumihin. Kyahi Wiralodra tanya. Wirasetra wastanipun. nulya pangkat Wiralodra. 24. langkung sa(hé) toya bening.

32. yén lumampah sempoyongan.” 28. pu……na tan dahar.Wiralodra jeneng rayi. daging kula kathah hical. Kyahi…humatur. Karun[n]a sarwi hangrangku(l). ngalar[r]i Cimanuk kali. 29. salaminé boten bukti. dahar …se//(ka)lih hulam. Sinubu. “Duh bagja temen rayi. Banyu Hurip dulur misan. hingkang dipun bukti habdi. sing Bagelén hasli kula. Haduh dara kula suwun. badé hanglemok[k]en badan. 31. handugék hagen pun daging. Hanulya binakta wangsul. kula hasring niba tangi.subu haneda. 30. sami pada suka hati. dameng tambi weteng blending. Wirakusuma Dipati. hing wisma pernah hi(ré)ki. 28 . Ngayang hayang hir tiyang bu… suku hasta halit halit. Kakang (ing) wétan nagari. “Duh Bendara tembé habdi. pinanggih kaliyan kakang. dameng gegodong[ng]an kula. tyang tangga samiya bhukti. hingkang lami manggén riki.

bis[s]a wareg dika bukti. 29 . 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin. Kyahi Wirasetra puniku[s] hanyambung[ng]i sabda man[n]is. lubér[r]an masșa redi. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun. “Duh bagja kula ben(dara) kranten kula nyémah niki. “Duh kakang panrima yayi.kasrimped déning la…tan.” Humatur Kyahi Tinggil. 4a (8. muga dén hidin[n]i kula. hanggén[n]é bungah wak ingsun. hamireng hatur[r]é Tinggil. “Duh kabegjan pama. 33. pinanggih kaliyan kadang. 37. mila sing lami hing riki.. sarta rejekimu paman. 35. pinanggih lan kadang mami. Radén Wiralodra wahu kantuk sasasih mangkin. Cimanuk wangsit yang sukma?” Wirasetra muwus haris. nulya humatur hing raka. Tyang kalih sami (gu)yu. pernah[h]ipun hingkang kali.la. manggén tengah wana mami.” 36. sadinten ping kalih bukti. sampun gama rasa kula. “Ya paman Tinggil wus begja.” 34.

mingétan hingkang … dén…i maksih hageng hingkang wana. Nulya pinanggih lan kali. 30 . 41. 38. ming (pinggi)ran[n]iréki. boten wonten padukuh[w]an. “Héh Tinggil sun dongakna. Ki Wirasetra hangguguk. Nulya tiyang kalih lumaku. sangking daramu pikersa.“Muga dak jujurung pandonga. 42. “Duh dara men[n]awi nyata. Ki Tinggil pan manembah. “Lah paman Tinggil puniki. tak duga hiki Cimanuk. kanggé… kan…yaktosnéki. kelangkung sanget bungahnya. daging kula dugi malih.” Ki Tinggil humatur lirih.” Hang kalih pangkat hanjugjug. gumujeng[ng]é suka hati. sarwi matur klayan lirih.” Nulya sesalaman sami. 40. Sarta rineksa Yang Hagung. hénggal hasira pinanggih. mugiya hénggal pinanggih. gampang bésuk sandang malih. hatut pinggir pinggir kali. “Nun bhendara nuwun kula. Kyahi Sidum sanget welas. namung héwuh ……habdi.” 39. kalih sasih hing laminya.

ningal[l]i dangka kalih. 43. Raden Wiralodra dulu. kebon lega palawija. linggih hongot-hongot deling. sundrem malem mangajeng[ng]an. 45. Boléd homas miwah jagung. pinuter kembang srengkun[n]i. kebon lega palawija. hing wétan kadya puniki. 5 (9. Pinggir kali wésma nipun. “Duh Tinggil bagja wak mami. langkung seneng haningal[l]i. langkung sahé dén tinga[l]li. Ki Sidum lenggah (ing bumi). 31 .” Nulya hamarin[n]i sirih. 828) Hanulya nyipta kiyahi. hing wésma wonten tiyang lenggah. kebon bhagus datan[n]ana. Gemuh wéhing kebon wahu.warna. térong kara sabrang cipir. 47. hing wétan tan[n]ana Tinggil. Wiralodra hawecan[n]a. tongkéng malengkung hing lawang. ningal[l]i kebonan mangkin. lumampah nrajang rinungkun. bonténg timun miwah lobak. paré gajih putih putih. 46. tanem[m]ana warna. kanan kéri mandakaki. 44.

Nanging hadat[t]é puniku. 48. kebon sahé sapuniki. nembé kula haningal[l]i. (bo)ten gadah tatakrama.” Humatur Kyahi Tinggil. 49. 52. 5a (10. prawantu tiyang dusun Gusti. sira tekang wisma mami. Nulya hawecan[n]a haris.bakal wuwus aya hulam. 32 . Hiki kali pan Cimanuk. hingsun tanya bentak nyentak. Haran ningsun kang sinambat. harep hapa sira tanya? Kakang tan[n]i malih warni. hapa harep ngrampog hingwang. Kyahi Wiralodra getun. “Sugal temen kaki kakang. hinggih leres Gusti Dara. badé tanya pan kagu[ng]ngan. “Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun mugya hagung pangaksami. sarta Kyahi kali nap[p]a. 829) //wong ngendi sira hiki. (“Ha)rep hapa siréki. na pamali tiyang halas[s]an. sun kang duwé kebon hiki. 50. kedah[d]ipun maklum Gusti. tan mingsir bari halinggih” 51. Hanyentak ngandika wahu. nembé teka hamariksa. wastan[n]é puniki kali.

senyatan[n]é kula kyahi. jajabang muka lir gen[n]i. tan liyan hingkang sun hilar[r]i. 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i. hénggal sira hamampus[s]a. Sahiki kaki sun jaluk. 54. haku tan sudi ning[ng]al[l]i. “Duh Kyahi pan hingsun tulung. tebih sing Bagelén nagara. ngisén[n]i dika wong dés[s]a. hing tembé ningal[l]i kali.” 56. Kyahi malih warni muwus. 53. Radén Wiralodra bendu. muga dén pernahna Kyahi hingsun nurut jeng ngandika. kuma tumut ngebon kaki?” Hang réncang[ng]i jeng ngandika. perkara kebonan kaki. sorah ngandikan[n]é mangkin. Ya hiki kali Cimanuk. kali Cimanuk pan hingwang. hora ken[n]a tak bhedam[m]i! 57. rin[n]aket[t]an kaki tuwa. hawéh hingsun jaluk paksa. 6 (11. “Hora harep tulu(ng) mami krana hingsun sugih rayat. “Héh kaki dika wong hapa. 33 . kaki grendaka sun tan[n]i. 55. hora ken[n]a sun halus[s]i.Nulya dén pedek[k]i lirih. welas sakya hing mami.

60. hénggal bhurun[n]en dah kaki. 34 . hangadeg linggih hing korsi. Pammanuk[k]an hingwang dusun. hangadu sakti linuwih. bener sira pan bherandhal. han[n]ingal[l]i hing siréki. Bermula halas dén jaluk. 831) //mengkola mun șira manggih. Hingkang mindhah kaki wahu. hénggal sira hanyabrang. surung-sinurung tiyang kalih. mapan haku hora sérab. pan dudu Cimanuk kali. Hing pernah kebon wahu. pan pinasti karsa n[n]ing wang. kidang mas hinten kang soca. hical mapan dadi wana. nameng wonten kapiyarsi… 61. 6a (12. walang kerik hanuding[ng]i.” Radén Wiralodra mangkin. 59. bésuk dadi dés[ș]a hiki. binanting hanulya hical. Buyut Sidum haran ningwang. Cipuhnegara kang kali. kari kari kebon mami. “Hah Wiralodra putuku.58. yén hora weruh hing mami. musna kebon kaki-kaki. 62. hanubruk hing kaki tuwa. langkung sorah hawecan[n]a.

hing Cipunegara kang [kang] kali. 68. Tyang kalih hanyabrang sampun. 35 . nulya hanubruk tumul[l]i.” 65.63. surya hingkang dén ningal[l]i.” Hanulya wecan[n]a haris. “Man Tinggil meneng siréki. pasti turun nira mukti. Lajeng malebetan gung. hing pundi nusup pun haki. tetapa hahaja néndra. Radén Wiralodra hindha. hénggal-hénggal lumampahnya. Hinggebeg kiyahi Tinggil. poma kaki wekas mami. yahiku Cimanuk kali. Hing pundi hical ké wahu. Hana macan hagung. 66. mangko hingsun harep tanya. mapan Radén Wiralodra. Sima[h] kekerag hing ngayun. “Duh tulung bendara ningwang. Lajeng takșaka hambhuru. yén hénjing tamtu hing wétan.” 64. wunten takșaka hageng prapti. macan hapa karen[n]éki?” 67. yén șonten kulon pun lingsir. pinanggih macan gedéki hangadang margan[n]ya. bénjang lamun kaki babad. nulya musna rupi macan. macan tin[n]abok tumul[l]i.

hasar kula dipun kawin. tiyang bagus pinanggih riki. 69.hambhakta pendhu Ki Tinggil. Radén Wiralodra héran. SINOM 1. manggah jandi katurut[t]i. dén pendhung hula sirahnya. kula sanggup badé tulung. pan badé ngilar[r]i napa. hing Radén Wiralodra. Nulya mendak (taska)ra wahu dén lepas[ș]aken tumul[l]i. 7 (13. Haduh melas temen hingsun. salebet[t]ing wanadri. ningal[l]i kali geng néki. Musna hula dadi kali. Larawan[n]a wasta kul[l]a. 36 . 832) //kali musna tan kahékși. “Duh Radén bagus jandika. sarta kang sineja n[n]éki? Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula. wunten pawéstri yu héndah. Dateng Radén [pan] Wiralodra. napa sakarsan niréki. kasugih[y]an kadigjayan. 2. taksih nonoman maran[n]i. III. déréng hanglampah[h]i laki. ngalih hasih melas șasih. Pan kula makșih[h]aken[n]ya.

Ki Tinggil majeng hing ngarsa. 833) su…//pekik. langkung gampil tiyang …karma bénjang… 5. 7a (14. Radén nyimpang nganan ngéri. sanajan héstri yuhéndah… hé ora ha(rsa) șeja krami. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an. hanuwun șamangké kula. hana hing tengahing wana. 37 . 4. kuping tuli gigir bekuk. buru dadi kaki-kaki. hamit kula badé hamangsul[l]i sabda. yén șampéyan tan nurut[t]i. sarwi humatur halirih. dateng Wiralodra mangkin. pasti pejah sareng ngakalih jandika.manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula. puniki tengah wanadri. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a. “Tan gingsir paman wak [k]ingsun. hangantos hantuk kamulyan. nulya nyandak Larawan[n]a.” Wiralodra ngandika haris. mangko badé hingsun priksa. 6. datan pantes tiyang héstri. pan ka[h]ul[l]a datan hasti. huntu lunga kempo(t) pipi. bisșa temen ngomé hiki.” 3. ngangken kenya déréng laki. “Sampéyan wonten hing wana. “Duh bendara dén hénget[t]a. …da krama kula wahu.

7. Wiralodra hanadah[h]i. kénging musna rupi kidang pan kencana. wong bagus . héran temen Wiralodra. Nulya Radén Wiralodra. yén nora dadi sawiji. Wiralodra dén priyatna. senjata ranté pan hiki. hangasta cakra tumuli. dibujeng sami prang lirih. hananging tan pasrah mangkin. senjata ranté tumiba. tadah hana tyang pekik kaya jandika. tan ken[n]a sun hé mangkin. Ki Tinggil maran[n]i hénggal. kalumah[h]an nulya nubruk. gébés-gébés haningal[l]i. 38 . 8. 9.. Wiralodra dén priyatna. …cak pan[n]a wong [ng] abagus. manggah Radén sampéyan males hing kula. malempat Ki Wiralodra.tun[n]a …sakti. karanten ……. Nulya dén pe[n]ta sanjata. suka matiya wak[k] ingwang. nulya Dén Wiracabra pinendi. Nyi Larawan[n]a nadah[h]i.kinipat[t]aken tumul[l]i. ngadu sakti gumreget Nyi Larawana. malajeng ming wétan wahu. candak. “Duh Radén kang ngatiyati kinten bhabar pisan Gusti.cinandak mangkin.

10. nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah. toya deres hingkang mili. karsan[n]é…mara tinggi kidang kencan[n]a pan hical. Hing ngimpén kang kapiyarsa riki kacung hapan kali. hing turun-turun siréki. 834) gumebyar saliran[n]éki. paman dén hawas handulu. nulya hangandika haris. Tyang kalih hambhujeng kidang. hika pan kidang kencan[n]a. 13. katingal hujur ring kali. nulya léréh hing ngandapya. hayuh paman haja kari. Cimanuk kang dén pilalah. tyang kalih datan katinggal. “Hing paman kiyahi Tinggil. punika kali Cimanuk. 12. hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang. siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a. Nulya dumugi hing lampah. ming wétan kidang malayu. wis bhagja muraki bénjing. yén tebih kidang ngentos[ș]i sampun lepas lampah néki. hanutut[t]i kidang mangkin. kajeng kiharah geng néki.” 11. 39 . tan șamar kidang kencan[n]a. Hanulya Radén tuminghal 8 (15. dén pegat nganan lan ngéri cinandak-candak tan ken[n]a.

nulya hangilar[r]i pernah. hing himpén kang kapiyarsi. hanulya hamasuh raga. mapan holih kamuktiyan. 8a (16. ngandika hing paman Tinggil. Radén Wiralodra mangkin. manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata. 835) 40 . 17.karsan[n]é Yang Maha Hagung. “Duh paman bhegja wak[k]ingsun. pan[n] ingsun șaréh lan dina. supen[n]a pana……//warti. Wis terang wang(si)t Yang Sukma. menggah Gusti kersa pundi. nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra. Ki Tinggil damel[l]an[n]éki. Nulya hadamel kang wisma. Mangka Raja Budipakșa. Sanget bhungah réhing manah. 14. nyata hiki Cimanuk kali pernahnya. wis katrima hing Yang Widi. hangilar[r]i minggir kali. paribawan[n]é panas hatis. miwah banténg warak wahu. hanggén[n]é babad wanadri. mapan bhibar katawur[r]an.” Ki Tinggil humatur lirih. kanggé panggénan pun habdi?” Radén Wiralodra wahu. sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya. 16. wélan-wélan hasung warta. Radén Wiralodra mangkin. 15. “Duh bendara yén waten[n]a.

19. dikira haku pan wedi.” Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira. hakumpul șabhalad nira. Nulya kalurug Dén Wira. kapethuk hing wisman[n]éki. jurubiksa kathah lumpuh. pasti lancang kumawan[n]i. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira. 9 (17. Sakéh[h]é Gedén Muwara. 836) kumawani// ngusir hingwang. braga brigih ngarsa mami. miwah para kang prajurit. samya dugi hangrawuh[h]i. mapan hingsun tan ngoncat[t]i. hingkén[n]é majuwa sira. gawé rusak bhala[n]ningwang. sakéng bala bubar mangkin. hi ra[n]né sapa siréku. kelangkung sanget duka[n]nya. “Héh satriya wongasigit. ngisén[n]i gandarwo bulus. hamasing donga Ki Tinggil. sarta sakéng sén[n]apati. Ki Gedé muwara Cimanuk.miwah patih Bujar[r]awi s. 18. kénging Radén Wiralodra babad wana. 20. ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis. 41 . hénggal nyingkir sira hiki!” Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a. ribut prang[ng]é Radén Wira. Sulahémana Srabad mangkin. Bhudi Pakșa hangandika.

nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa. sangking Tungjung Bang puniki. dumugi saturun rayi. “Mangké sinten pan jandika. 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi. “Duh Radén Gusti kawul[l]a. Nulya siyang dalu babad. becik dén raksa hahiki. 42 . Rara Kidul Gusti mami. ngasih hasih melas șasih. Werdinata sultan hanang Pulo Mas. Sarwi manembah hing ngarsa. pada hakuren sadulur. kakang pan gawé hi…s[s]a. 21. krana maksih pernah cangga. pada kekadang[ng]an mami. katambhet[t]an Gusti habdi. Ki Tinggil kang dadi koki. krana turun Majapahit. samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an.” 23. sukur bagja rayi sultan. muga dén hampura Gusti. Dugi hanang Sultan Hemas “Haja pada dén ganggon[n]i.” 22. 24. 9a (18.” Ngandika Dén Wira wahu.nulya wonten hutus[s]an[n]ya. sahanak sadulur. kasamaran bhala habdi. “Duh kasuwun jeng ngandika. hiku Radén Wiralodra. Rayi Sultan bhas[s]a mami. Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat.

manah paman dén kariya. manca negari kang dugi. boléd jagung kalih cipir. Ki Tinggil humatur haris. lamun bhagus tanah néki.warni. 25. “Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula. gundem juwawut hagemuh. 27. 43 . Boten wonten kakirang[ng]an. tumut wisma hanang riku.miwah nanem palawija. bok hana tiyang kang yuda. lumintu tiyang kang dugi. Ki Tinggil kadadi lurah. tan wonten tiyang kirang nedi. sami gemah kebon[n]an hawarna-warna. haja dén télaksaman. teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin. Kathah tiyang kang damel wisma. Sanget kapéngin pinanggya. trimanen kongkon malebhu. sampun hantuk tigang tahun. kawentar kebon[n]an[n]ira. Radén hangandika haris. kalih rama hibu mami. datan wonten kakirang[ng]an. kathah tiyang sami prapti. 26. lami damel padukuwan. palawija warni. palawija tan kabukti. hingkang lén Cimanuk kali. “Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a. hawit tetaneman gemah.

siyang dalu pan kating[ng]al. rama hibu mirengna. sangking marman[n]é Yang Widi. 29. hora nyan[n]a temen kaki. Si Tinggil hingkang hatenggah. Kacariyos hing lampahnya. 838) //Bagelén hingkang negari.” 30. kang dadi lurah hiréki. welas[ș]é hing lampah[h]ipun. pun dugi hing Banyu Hurip. “Duh mas han[n]ak ingsun nyawa. sadaya samya han[n]angis. lelampah[h]an putra mami. 28. hanjujug hing padalem[m]an 10 (19. pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa. muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira 31. kagét hibu miwah rama. hibumu pan șamya bintip. miwah kadang kadang néki. pun katurang lelampahnéki. hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari. rama hibu sami linggih. “Haduh nyawa putra[n]ningwang. ningal[l]i kang putra prapti. Putra humatur Jeng Rama. marah hanak[k]ingsun nyawa. hanangis șiyang lan ratri. sumanding putra tetelu.Tinggil dén kari basuki. yén hinget hing sira kacung. 44 . caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a.

kadya pangkat[t]ing tumenggung. hing kulon dadi nagari. tempat panjagian gardu. Wanasara Puspahita. kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara. cacah limang ngatus jalmi. dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a. miwah Ki Pulaha kyahi. mengkuwa Bagelén negari. pinedhak kadya nagari. handérék șakarsan[n]ipun. Sukubahu Jungjangkrawat. tumut magén padukuh[w]an. margi hageng lurungnéki. 34. Miwah si Wangsanagari. Bayantaka Jayantaka Surantaka. 32. supaya dadi weruh. saban lurung panjagahan. samya matur ram[m]a haji. sadaya cakep ping kardi. 839) 33. Ki Tinggil hingkang dén tilar. Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya. 10a (20.sekawan[n]é putra ningwang. kambi sadulurmu kaki. hatur[r]an ngurus nagara. sahiki pan sira kaki. cakep hadamel gelar[r]an. 45 . langkung kathah tiyang prapti. gampang bésuk yan wus dadya. mapan mukti kiyahi Tinggil. hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil. lan Tanu[h]jiwa siréki. tyang halit șeneng kang hati.

hutawi kula hanyabin. dateng pundi sumanggah kapilih karsa. badé ngebon kula kyahi. tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an. hing sémah manembah prapta. Hindang Darma hingkang nama. “Duh paman tambet hing mami. 46 . punapa sejan[n]é Nyahi. tumut damel wisma kaki. pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah. mikul gandum kalih pantun. muga dén hidin[n]i hulun. Hakulon hutawi wétan.saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma. hanjujug wisma Ki Tinggil. 36. 11 (21. tan[n]ah hingkang radi jembar. hayun[n]é hang luluwih[h]i. Hanulya wonten tiyang prapta. 840) kula haningal[l]i senang. 38. 35. lan șinten kang wangi. Ki Tinggil haris tetanya. Bade handérék ka[h]ul[l]a. tur maksihken[n]ya pawéstri. Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a. “Sumanggah handérék habdi. “Hamit palamarta habdi.” Ki Tinggil hambales șabda. dén hiring pawong[ng]an kalih. 37. hasli sangking pundi hayu?” Nyi Hindang mangsul[l]i sabda. sumanggah hayu hamilih.

hana wanodya hamulang. hing pernah kang senang milih. kedot pan gun[n]a sakti. Hayu mulus kang salira. mandah bungah[h]é bendara. 41. nanging bénjang dara mami. memada… hing jenengi 11a (22. hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i. hingsun mapan wis hangrungu. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran. 39. 47 .Nyi Hindang mariyos makin. yén rawuh hanang riki. kapiyarsa marang Pangéran Palémbang. 40. mapan șampun Hindang Darma damel wisma. pan likur pangéran[n]éki. kanggé garwan[n]é bendara. “Héh sekabéh murid mami. ningal[l]i wong hayu luwih. kawentar liyan nagari. temtu haku nulya matur. sakathah[h]é murid[d]ira. sampun medal șangking wisma. 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang. Pan gemah kang pakebonan. nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya. Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i. hingkang murid-muridnéki. ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh. mandan napa Gusti mami. tan[n]a tan[n]i dérék wahu. Hindang Darma mulang jaya. sakéh murid pan șami. ngandika hing murid[d]ira.

mila hing ngabrama Gusti. lan badé karsa punapa. samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a. “Duh [duh] bagja kula sémahan. 43. sampun dugi prahun[n]éki. 45. kawit[n]é tyang dusun habdi. hing muwara mentas pangéran sedaya. pangéstri hang lelanang[ng]i. hanang wisma Hindang Darma. manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya. wunten tiyang kathah prapti. Pangéran pan wicakșan[n]a.42. hingsun ngungsi Pulo Jawa. Sanget kumejot hing manah. hanangkep kang pada mami. Pangéran gawok tumingal. nulya haris gé nya matur. nulya hénggal babar layar. Nulya Nyi Hindang humatur. cipta sajroning galih. kagét Nyi Hindang ningal[l]i. sakedap nétra wus prapti. saha sinten kang wawang[ng]i. hasli sangking pundi Gusti. hiki wanodya yu héndah. “Duh hamit hing palamarta. héman temen tingkahnéki. Sahiki murid șadaya. 48 . “ Sampun numpak hingkang prahu. tiyang hagung hang rawuh[h]i. pada sira dangdan haglis. hingsun ngrungu t[t]an șudi.” 44.

“Héman temen pan șiraki. 47. kaya hayun[n]é Hindang Darma. 842) //wong hayu sira wanodya. tedak Haryadilah Sultan. kawentar saban nagara. 49 . hing Palémbang nagrinipun. 48. haja mungkir sira hiki. memadahing jeneng hingsun. Pangéran mangsul[l]i sabda. Mapan hiki murid hingwang. Kari kari Hindang Darma. 12 (23. hingsun parlu mrikșa sira. dadi guruh kaya hingwang. kados wonten dén bujeng lampah paduka. wong hayu tur lencang kuning. hapa kadiran siréki.kados wonten karya hagung. hingkang ngiring marang mami. pakșa lumancang hawan[n]i. yén șira guruhna ngélmi.” 46. hora nana padan[n]ipun. suyud pangéran hing mami. samakta rawuh paduka. kang lagi guruhna ngélmi. hora nganggo tatakramané wanodya. hora ngrungu béja warti. Pangéran Guruh ran mami. sakaprabon hing ngajurit. dadi guruh sakéhé para pangéran. dayang humbaran sira hiki. hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang.

Hananging sugal wecan[n]a. Hindang Darma datan sérab. Hambales sabda Nyi Hindang. bedama pucuk[k]ing keris. 12a (26. kaya gun[n]a hang luwih[h]i. lamun kawon mapan kula boten wirang. hutawi karéh hing karya. “Duh héman hing rupi Gusti. kaya tingkah hira hiku. hipe kon paduka Gusti. sagending habdi lados[s]i. 845) 51. 52. 50 . sakayu(n)-kayun[n]ing hadang. mungguh pan dakwah Pangéran. badé napa sumanggah dérék pikersa. hanulya medal tumul[l]i. sémah neda dén suguh[h]i. Hénggal hanubruk pangéran Wisanggen[n]i jenengnéki. tan[n]ana manus[s]a hiki. tan karuwan negarin[n]éki. manggah Gusti kersandika. hutawi hajrih ning[ng]al[l]i. Bramakendali kalihnya. badé pun[n]apa Gusti. 50. hutawi saktining guru. mapan wisma datan nyambut.49. boten wonten bas[s]a lirih. Kaya sakti sakti sira. langkung sahé pideksa rupi paduka. lancang[ng]é kaliwat-liwat. Bratakusuma kang rayi. matur héstu kang sayekti. maran[n]i papan Kang Hagung.

Sampun rucah jeng ngandika. kalih Gusti puniki. lumampah siyang lan wengi. Ki Pulaha dén timbal[l]i.kinten jembar yudabrata. kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a. 53. “Susah kang Pulaha mami.” 56. Ki Tinggil sanget hajrihnya. 51 . héman rupi hadi hadi. Nyi Hindang sakti pinunjul. prang sami hangemas[s]i. Nulya pangkat gegancangan. 55. kanggé tiyang tani tempat. 54. tak duga pan maksih wargi. kariya tunggu nagara. bendun[n]é bendara mami. Sadaya para pangeran. prang tanding ngadu gun[n]a. sun harep matur hing Gusti. 13 (27. kathah Pangéran ngemas[s]i. 846) //sangking Palémbang nagara. sarwi nguwuh huwuh tanding. sampun kantos hantuk duka hing bendara. sadaya pan kancan[n]ipun. sampun cahos hanang ngarsi. “Duh Pangéran hing riki papan kang jembar. samya perang silih huki. hidin[n]é kon gawé dus[s]un. sadaya pangéran ngemas[s]i. kang seneng[ng]an lampah tan[n]i. kari kari kanggé tempat yudabrata. sasih hanggén[n]é yuda.

52 . legan[n]a hingkang man[n]ah. hapa holih kasenengi. wicaksan[n]a tur hasakti. linggihya hasoh rumihin. 57. “Wis jamak[k]é sira kaki. Tinubruk Ki Pandakawan sarwi dén rangkul tumul[l]i. najan pandakawan mangkin. sakedap[p]an sampun rawuh. karun[n]a sesambat[t]ipun. samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa. si Tinggil turun[n]ira. sarta matur[r]a hing mami. Haduh mas pawong[ng]an hingwang. Nulya kang rama ngandika. muktiya wong loro kulup. duk dingin sareng sangsara. “Haduh hanak[k]ingsun kaki. lanang Bagelén nagara. “Duh paman welas ka[h]ul[l]a. sareng hénget sakalih sareng hanembah. 13a (30. tumunten cahos hing Gusti. sun dongak[k]aken Yang Widi. Ki Tinggil hangguguk nangis. 58.” Sakalih pada menenga. muktiya dugi hing bénjing. saré[h]hing dén tinggal kari. sun tinggal kari rumihin. toya waspahan dres mijil. mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya. 849) //kancamu pada basuki. Tinggil han[n]éng pagusténmu.prawantu Ki Tinggil lampah.” 59.

kelangkung sakti Nyi Hindang. 61. sarta win[n]angun[n] nagara. Hindang Darma mulang ngélmi. Mapan sami yudabrata. 62. kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang. hantuk marma ning Yang Sukma. nulya dén lurug Nyi Hindang. berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an. 60. pan badé hanangkep wahu.marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang. ngaben sakti hing ngajurit. katiwas[s]an habdi Gusti. dalah kathah tiyang prapta. Hindang Darma pan pinunjul. hanggén[n]é tinggal nagari. 53 . 63. Nameng humatur kaul[l]a. gelar[r]an pangatur habdi. pangéran samya ngemas[s]i. dalah kadados[s]an sasti. sarwi bakta muridné para pangéran. dérék damel wisma Gusti. Pangéran Guruh ngrawuh kyahi. gemah rah[h]arja hing dusun. Kasinggiyan[n]ipun dara. masih ken[n]ya hayu luwih. Nyi Hindang memada mangkin. kadugén Nyi Hindang Darma. Nyi Hindang Darma dinakwa. Hang wulang[ng]aken kagunan. pinaring[ng]an harja Gusti. dadi guru mulang ngélmi. bantasa kaprabon jurit.

54 . Tanujiwa hingkang rayi. dipati hamaca donga. Hindang Darma luwih sakti. habdi suwun berkah Gusti. Ki Tinggil humatur haris. didongakhaken ka[h]ul[l]a. kang putra dérék pikarsa. hinsahalah. matur huning dateng Gusti. Kang Gusti pan Singalodra. Hindang Darma tiyang pawéstri. mila habdi gegancang[ng]an. poma kaki dén tangkep[p]a. Gawanen pan kadang[ng]ira. nameng kaki kang halus panangkep[p]ira. sing Palémbang guruh ngélmi. 850) //”Héh kulup pan Wiralodra. Tinggil sun durung kamulyan. Wangsayuda Tanujaya. 65.” 64. héyangmu pan sami lampus. 14 (31. tumenggung Bagelén nagara. hiku héyang ngira kaki. hingkang rama hanjurung pandonga pasrah. Sadaya samiya manembah. hing hibu miwah ramaji. Si Wangsanagara kaki.tan kiyat hananding jurit. “Duh Gusti pepundén hulun. kantos lami pan setahun. nuwun hidin hing ramaji. kapasrah[h]aken hing Yang Widi. kados pundi Gusti sakarsa paduka. 66. turun Majapahit kulup.

67.” 2. Jungjang Krawat cahos ngarsi. handumuk wisman[n]iréki. 55 . Puspahita Wan[n]asara. lepat boten tur huni[ng]nga. Tan kawuwus hanang marga. kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang. IV. ningal[li] tiyang yudabrata. hangandika Radén hanang Ki Pulaha. hing wisma Nyi Hindang mangkin. miwah Ki Pulaha wahu. lami datan tan kahéksi. hiringen lampah Ki Tinggil. 14a (32. Nyi Hindang kagét tumingal. hamaran[n]ika Ki Tinggil. samya prapta wisman[n]éki. 68. “Duh bagéya paman dika. hing parnah Ki Tinggil wisma.” “Sumanggah dérék pukulun. Radén[n]ayu habdi hajrih. “Pan paman Kyahi Pulaha. KINANTI 1. sahéstu [pa]manah pun habdi. Ki Tinggil haris humatur.” sampun kondur sangking ngarsa. kinten kabaktaha kyahi. 851) gegancangan gumanti ganti tembang. “Radén Hayu héstu habdi. Bayantaka hana ngarsi. Sampun prapta kan hing ngutus. lan kanca dika haja kari. sadaya pepek hing ngarsi.

Dedeg kelangkung hayu. 15 (33. hayun[n]é hangliliwat[t]i. bendara tumut ming kula.3. Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a. Dados singid[d]an pukulun. 5. hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i. kadi rupi Hindang Darma. 6. kadia putri widadari. Sampun dugi nembah ngayun. 852) 56 . rémah cemeng handan pandan. Radén hayu dipun hatur[r]i. dateng wisma hanang wétan. miwah Jungjang Krawat kula. kedah kéring da hing habdi. Nyi Hindang ngandika harum. hamite geng[ng]en ningal[l]i. handérék Nyi Hindang Darma. mapan sadaya tumingal. sareng wangsul wisma habdi. kulit kuning nemu giring. 4. miwah kadang raka rayi. dateng wahu Hindang Darma. kaluntan wangsul pun habdi. hing raség sadayan[n]éki. manggah badé dangdos briyin. 7. pin[n]ahés releng asuri. linggih han[n]ang compok kula. sekancan[n]é kaki Tinggil. datan han[n]a sakéng héstri. Mila habdi dipun hutus.

hora dadi hapa Nya[h]i. hugi Radén nembé prapti. Hugi Radén sanget nuwun. rawuh hing dukuh punika. kaliyan miskin ka[h]ul[l]a. kula sémah nembé prapti. sapakersa gawé wisma. 13. manggah katuran haunggah. dateng tapak hasta Gusti. Mila dén timbal[l]i hulun. handérék tumut basuk[k]i. 9. Hamung hingsun Nyahi perlu. Radén hénggal wecan[n]a harum. hingsun préntah hangidin[n]i. 11. sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a. gegancangan lampah kul[l]a. dateng tapak hasta Gusti. prawantu pawéstri habdi. ngrahos handérék ka[h]ula. sangking sanget hajrih habdi. Wiralodra ngandika harum. bekti habdi nun katampi. hing paman Kyahi Tinggil. mapan Gusti kula mangkin. habdi hingkang dérék numpang. “Bagéya kang nembé prapti.” 10. 57 . “Radén mahéwu [ng]kang suwun. pan hingsun hasung paréntah. 12. dateng paman Kiyahi Tinggil.” Nyi Hindang humatur haris. kapéngén hénggal pinanggya.8.

hingsun harsa mireng[ng]en[n]a. 17. perlu mriksa hing perkawis krana kuwajib[b]an kula. tiyang hingkang hambanton[n]i. sumpah hing hayahan Tuwan. Pan dakwah Pang[ng]éran guru. réning habdi sugih jalmi. hutawi ngirang[ng]i kul[l]a. dateng compok pun ka[h]ul[l]a. Nyi Hindang nulya humatur. saweg linggih wisma habdi.” 15. datan wantun hang[ng]langkung[ng]i. Bermulan[n]ipun pukulun. 58 . coba matur[r]an Nyi Hindang 15a (34. hutawi kebon[n]an habdi. ha[k]bujeng damel sawah.tebih sing Bagelén nagri. lajeng bendu hangliwat[t]i. kagét rawuh[w]é Pangéran. samurid[d]é sami dugi. kang dadi kawitan mangkin. 14. matur héstu kang sayekti. damel hakal Radén habdi. Pan dakwah Pangéran gugu. miwah kadang kadang kula. Mejanggu tan[n]i hulun. 18. muga matur[r]a hing mami. “Duh Radén humatur habdi. prawantu héstri kul[l]a. sami yudabrata Nyahi. 853) //priyén bermulan[n]iréki. 16.

19. humatur sanget pan hajrih. dén dakwah memada habdi. satingkah polah Nyi Hindang. hapes yudan[n]é Pangéran. Yén menang dadi bujangmu. pitulung Yang Maha Widi. 22. hingkang hanyaksan[n]i mami. supaya huni[ng]nga mami. “Duh bendara Radén kul[l]a.” 20. tak jaluk sukan[n]é Nyahi. hingsun[n]ora hamilon[n]i. Héyang Guruh hingkang salah.nyabin miwah pakebonan. 21. kinepung hing para murid. Wiralodra ngandika rum. Seja pin[n]ejahan hulun. tak jajal[l]é karo Nyahi. bogan lanang kalah ngéstri. sakéh[h]é para pangéran. 16 (35. hiku pan jaluk wak [k]ingwang. nurut[t]i napsu niréki. Nyahi kalah dadi rabi. Hindang Darma hamlas[s]ayun. sanajan wong kuwat n[n]ingwang. “Yén bener haniréki. badé hanangkep pun habdi.” 23. Jadi pan karsan[n]ingsun. 854) réhna gawa jago hingwang. 59 . totohwan pan jiwa raga. mejang hélmu klayan. seja sami ngemas[s]i.

hangedal[l]i perang tanding. nuwun ges[s]ang paduka. Hindang Darma nembah ngayun. 26. héstu ngapunten pun habdi. sampun dados manah Gusti. Hapan dadi bojon[n]ingsun. hanulya Radén hamedal sekalih dangdos hing jurit. 28. pasti bakal hingsun kawin. kumedah majeng hing jurit. 27. Wiralodra haris muwus. lamun kalaha Nyi Hindang. dadi manjing…yang bara. sili hugi ngadu gun[n]a 16a (36. hadin[n]ingsun kangge galih. Tanujaya haran mami. “Hiku Nyahi haja hajrih. Nyi Hindang methuk prang lirih. 855) //Radén sinabet tumul[l]i. Perang tanding rebut hunggul. nameng sanget hanuwun kula. 24. 25. Tanujiwa Tanujaya. seja hingsun han[n]iwal[l]i. hakondur sing ngarsa Gusti.hapan sanget hajrih habdi. yén makaten déra k[k]arsa. Radén medal nguwuh huwuh. Hindang Darma karo rayi. payuh pada ngadu sakti. 60 . wong ayu sira Nyi Hindang. pan sangking hidin[n]ing wang.

hing ngarsan[n]é Wiralodra.” 32. “Priyén rayi rasan[n]éki. hasuk[k]a-suka wédang kopi. kénging ngén Nyi Hindang geulis. wong hayu hanarik hati. sambat hora kuwat kakang. sawitan ngatur pakéyan.” Nyi Hindang nulya hanggeblag. 31. Pendelik lan socan[n]ipun. 33. megap-megap napan[n]aki. gumuling ken[n]a hing siti.hayun[n]an yuda. 61 . tak ras[s]a sen[n]ang kang hati. 29. paju wong yudabrata. nyata sakti mandragun[n]a. pun hayun. “Haduh Nyahi Hindang golis. Haja hinda duh wong[ng]ayu. wong nom lok yan mangan. Ngadirane rama hibu.Tanujaya kapisanan. péngén ngemb[b]éhé Nyahi. putra gegedé nagara. kabur tiba han[n]ang ngarsi. gagah kayan[n]é rayi. Hindang Darma luwih (sakti). mésem haningal[l]i rayi. sugih banda kaya mangkin. Wiralodra ngandika harum. kaki pasrah ka[h]ul[l]a. 30. Tanujiwa majeng nuli. Ki Tinggil hambakta sampun.

34. mérang marang rama mangkin. Tanujaya sabda sugal. rayi kalih pan kajodi kawirang[ng]an yudabrata. mungguh kakang mérang ram[m]a.perang kalah hing pawéstri. wus san[n]a kala(h) jagonya. je…yudabrata kalih. 856) 62 . wirang kathah kang ningal[l]i.” 17 (37. Lamun kaya hawak [k]ingsun. Nyi Hindang tandangiréki. Muga kang susah kelangkung. Radén//Wangsayuda mangkin. manggah nganclong saba…ran. bagjan[n]é ngungsi hing ngukir. “Dédé musuh Hindang Geulis. Nyahi Hindang Darma kaki. sampun wangsul hing nagari. HindangDarma luwih sakti.” Wangsayuda matur haris. “Cobi kakang kangedal[l]i. 37. Nulya dén hatur[r]i wahu. “ 38. 36. haja kakang hangawit[t]i. hanang Nyahi Hindang geulis. kakang pasrah hingkang rayi. “Duh rayi kakang tan sanggup. mingkin kula ningalan[n]a. katimbalan[n]én nangkep[p]a. “Manggah sampéyan hakarsa. lir sikat[t]an nyamber walang. Kang rayi sami humatur. 35.

kul[l]a kahul géndong kakang.39. “Loh hadat[t]é wong kalah prang. “Sekalih rayi wecan[n]a. kala thothot wedi pis[s]an. “Loh kang Wangsayuda bis[s]a. //Lamun hunggul yuda wahu. nyambung sabda Wangsayuda hora gun[n]a hingsun hiki. manggah kaki géh yudaha. Nulya hangandika haris 63 . 41. 857) 42.” 43. 40. kelurug samargi margi. miwah Tanujiwa rayi. mengkin rayi kang ningal[l]i. mancén[n]i hing rayi kalih. wirang hisin yén hamulih. Wangsayuda hagemuyu. Radén Wiralodra muwus. Nyentak Tanujaya muwus. kari kari hora gun[n]a. ne …sun haben lan bibit. Gawa jago loro hiku. sing riki duging negari. 17a (38. bagjan[n]é gentén tyang kalih.latah hambelik. sarwi mésem ngandika haris. tak nyana solot tarungnya. halatah. tarung (kero)yok[k]an mangkin. kalih Hindang Darma mangkin. kakang tanda hora wan[n]i. Bagelén hing kanjeng ram[m]a.

“Wis rayi dén baris[s]an[n]a.” Nyembah Nyahi dén turut[t]i. 858) //…Nyi Hindang panembah lirih.” 45. Nulya hanimbal[l]i wahu. jamak[k]é wong mangun jurit. yudabrata kalih Hindang. Nyi Hindang cahos hing ngarsi. 48. “Duh mas Nyahi Hindang Darma. 46. man[n]is legin[n]é…. Haja dadi ma(nah) (ya)yi. sapa kalah sapa men[n]a(ng). medal hanang yudabrata. 64 . nyata hunggul hing ngajurit. 47.” Nyahi Hindang matur haris. Hora Nyahi …u…kma. hénggal Nyahi metung … 18 (39. prawantu tanding hing yuda. (wi)réh(i) hawelas[s]asih. dadin[n]é hingsun timbal[l]i.44. nulya manembah Nyi Hindang. hing ka[ng]dang.kadang[ng]iréki. “Duh bendara Radén kul[l]a dados pundi polah habdi. Radén Wiralodra wahu. mengko kakang maju[ng] jurit. Kari kam[m]i hawak [k] ingsun yén tedan péngén ngrahos[s]i. Nyi Hindang hingsun timbal[l]i. mudu bahé dén turut[t]i. Wiralodra ngandika haris.

dén mapan dadi peksi. Nulya sami surung-sinurung hing yuda. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata. 5. Hindang Darma manjing hing jambu wénya. pan Radén hambujeng hénggal.” Hanulya dén candak wan[n]i. hanggén[n]é hang[ng]adu saktya. saparan[n]ira. malempat Nyahi Hindang. 4. Wiralodra ngandika. dateng Nyahi Hindang Darma. DURMA 1. mapan sami hanimbang[ng]i. Dén turut[t]i Hindang golis. tarik tinarik wani. Radén kalih Hindang golis. peksi garuda. 65 . hanulya dén bujeng wahu. taksaka hical mangkin. sira Nyi Hindang. 3. “Héh tuhu nyata prajurit. hical dadi taksaka. Nyi Hindang hical saking hastanira. prawantu sakalih sakti.V. (yuda)brata man[n]iréki. sampun hayun[n]ayun[n]an. hical pan dadi wanadri. hing mondragun[n]a. 2. Dados taman habening hing toyan[n]ira. hambhujeng hing Radén Wira.

7. nanging tan samar Dén Wira. hing buwah jambu punika. saparan[n]ira. campur kalan hukir. maksih panjang lampah[h]a (sirek)i nameng hanuwun nama.” Nyi Hindang héwed hing manah. kalawan hingwang. bareng ngamukti lan hingwang. juwet temen Nyahi Hindang. hanggebur hanang wari. nulya hical jambu mangkin.mapan Radén dadi peksi. Nyi Hindang honcat.. nulya prang pinggir hukir. kula tan saged kami. 8. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal. Nyipta glap sinamber haglis. dadiya (se)kar ring puri. Mapan Radén sekti liwat. 6. 18a (40. kuthilang badé dahar. . Radén hanang hanutut[t]i. Dadi watu sagunung hanak hagengnya. 859) //ngendi paran[n]ing wang. “Awit kula kersan[n]é yang maha mulya. sarwi (sinam)mbat. 66 . Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin. “Duh susah hawak mami. 9.. sampun hical nama kula. hingsun humpet[t]an pinanggih.liwat.né hing hayun[n]ira.

sareng babadnya. Hindang sing namhing wari. 19 (41. hanak putun[n]é rayi. Radén kaliyan nagri. muga dén nama nama. leng manah Nyi Hindang golis. hanggén[n]é damel nagara. 13. dadiya negariya. muga lulus[s]a hing bénjang. hing wan[n]a Cimanuk …repun dadya?” Kang rayi matur haris. Darmayu bénjang nagara.ha(ngdad)i manuk puniki. hing kulon Cimanuk kali. 67 . sangking pundi sangkan rayi. kang wa … nulya ngrangkul pinanggih. Radén Wira haget[t]un sajroning manah. dateng Cimanuk (hing) ukir. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka.” 11. 10. Lamun sampun dados nagari hing bénjang. pan hanang tuknya. “Sukur bagja rinta. kado(s pundi lelam)pah[h]an. kasmaran ningal[l]in[n]a. nulya mengngulon hing lampah. …kanggé turun[n]ya. 860) 12.” Kang raka nulya ngamin[n]i. “Haduh rayi //nembé pinanggya. hing Pegadén kang dén hungsi.

siyagi samakta jurit … 19a (42. Kang raka hangidin[n]i. 17. Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan). Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a. … hingkang wangun nagara. badé nuwun hidin raka. hana hing gawé negara. badé hamriksana. 861) 18. Nulya pethuk kali panarah. hanulya duging baris. hanulya pangkat. kagét hana pri……ni. baris[s]é mangun jurit 16. 15. gén[n]é sisiniyan kalih. pan sineja mriksan[n]i. pun[n]iki baris[s]an napa. …//…ngan. lan sinten hingkang wewangi 68 . surak mangambal[l]ambal. Wiralodra tanya haris. dateng baris[s]an. hawor suwaran[n]ing bedil pan Radén hamaran[n]i. “Duh nilari ngapa. hangiring Gusti mami. Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan. kulon Cimanuk wan[n]a. nulya matur kang raka.14. sing wétan haslininéki. wangsul hanang negari.

Gragé wewengkon[n]éki. pan hiku sap[p]a?” Nulya humatur haris. sahéstu kula puniki. 69 . 19. hageng nagara hing wang. 21. kadiparan yén wis manjing. tamtu hing rusak. cahos hanang harsan[n]ingwang. 20. Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang. sukur bagja pan pinanggya. maksih bakal nya nagari. …ngagéh da Dipasarah. kang wantun wangun nagara. nulya cahos tyang kalih. nulya hangandika wahu. (Dalem) Kuning[ng]an. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara. (ga)wa (kang) kanca siréki. nulya humatur haris. pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling. hing Kanjeng Sultan. sampun da(dya) nagari. sumanggah cahos hing Gusti. hénjing kula cahos Gusti. 22. lah kabener[r]an hingwang. Wiralodra pan kula. Kran[n]a waktu punika. sapa layak yudabrata.(wa)n[n]i hambabad.

“Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika. kang wantun gawé negara. sangking Galuh prajurit. lamun prajurit téku sangking Kuning[ng]an.” 20 (43. hing Gragé sinuhun holiya. hanang sultan holiya. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an cahos sangking harsa Gusti. sakersandika. 24. “Yén mangkon[n]o réki.” Wiralodra hamangsul[l]i. tan katon Gusti sultan. puniki hing ….” 27. “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa (ma)tur Gusti. kéngkén hamriksa puniki. 26. hanang wawengkon sultan. katimbalan majung yuda. mapan mentas perang tanding. 25. upas repat pun hamba. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan. Geragé hing pan[n]egari. 862) Hangandika Kumuning. hawit déréng matur Gusti. lan dalem Kiban.23. nagari pan wicaksan[n]a. hingkang wangun nagara. hidin sing sapa. dérék tiyang salah habdi. nameng nuwun hadil habdi. 70 .

hingsun Harya Kumun[n]ing. teka semban[n]a.” 30. ngadir[r]aken prajurit. prawantu tiyang ngajurit. wong Sunda pan sembrana. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda. Dipasarah gumuling. surung sinurung haprang. hanggé pun ngadu jaya. tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti. Harya Kumuning hanggén[n]é harep pribadya. 31. pangrasan[n]é hingsun wedi. 28. “Lah coba tanding lan mami. sinépak hénggal. turun saking Majapahit. 20a (44. 863) Kumuning //sun tan wedi. 71 . 32. hing rupan[n]ira. “Lah wong hapa Kuning[ng]an. Kumuning nrajang wan[n]i. Wiralodra hangingget[t]i.” Hanulya wecan[n]a. Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra. sinuhun hora ngidin[n]i. haku jaluk pangaksami. ngakun[n]é prajurit ku[n]na. Masandakom hing siti pan Dipasarah. hing rupa kaya sira.” Dipasarah nyandak kula. hora duwé tatakrami. 29. Wiralodra prawantu putra sing wétan.

waktu Dalem Kiban. 864) nalika prang Galuh //dingin. 36. 72 . nyinirat hanang hukir. mangsa kuwat siréki. Mila windu tan kiyat gén yudabrata.prang hutawa ngusir hing tiyang gawé negara. 34. nulya cinandak wani. Kumuning hanglancang[ng]i. dén nang[ng]ngen hingwang. kendal[l]i dipun cekel[l]i. payuh majuwa. hanulya pun titih[h]i. gawé jajahan. mugi sukur hanambahi. si Windu titiyan[n]ira. Dateng Radén Wiralodra pan cinandak. Si Windu hangéréng nulya. 33. Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat. Dén Wira langkung welas. datan bis[s]a mobah. 35. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah. sin[n]épak kajumpalik mrangkang ngungsi hing kuda. dén ngucap Si Windu mangkin. kran[n]a hakéh luwangnya. si Windu hingkang nyépak[k]i. wong Galuh hakéh kang pejah. jimat kapal sampun hical. 21 (45. pasti sira ngemas[s]i. hanggebeg saliran[n]éki.

Pan kahul[l]a datan wani yudabrata. Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira. hical sajron[n]ing wanadri. semu radi ngelawan. 37.“Haduh pan Radian. mundur lampah turanggi. hangeprang hapus sinebrak. 39. pertanda sujud hing ngarsa. hingkang Gusti Kuning[ng]an. mapan Windu napsu wan[n]i. lir kilat palajengnéki. pan sira sering haprang. Kang Gusti gumuling siti. kantaka datan hémut[t]a. “Héran temen Windu mangkin. kiniwit[t]aken tumuli. kaliyan Radén habdi. nyap[p]rang hiki pantos siji. huculna habdi Gusti. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira. 40. hanggempur wong sanegara. han[n]ahan[n]ana. 38. sira kalah haprang. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira. Windu malempat. 73 . 41. Windu dekuh sukunya.” Si Windu hambesat haglis. Merkayangan si Windu hana hing wana. tan kiyat harya Kumuning. pan Radén welas ningal[l]i. nulya dén lepas.

44. 43. kalangkung bingah hing ngati. hing pundi kang pudi dipun sedya. dateng Kyahi Wiralodra. kabener[r]an pan pinanggah. turun Budaprawa. wis rayi hénggal balik. seja nuntun hing lampah. Dipasarah hanulya. kalintang sabar.” Wiralodra ngadika haris. panembah hénggal. “Duh Wiralodra sira. 45. wus cahos ngarsa Gusti. pan sampun hanang nagari. 74 . 42. hing Garagé pan negari. hing jiwa raga pun hamba. nyata tuhu prajurit. hing Dipasarah. hing Gusti sultan. dateng Wiralodra mangkin. Nulya Radén Wira mangkin. 865) … //pinanggya. lan Dipasarah patih. mangka Wiralodra mangkin sa… 21a (46. nulya dén candak tumuli.prawantu kuda duk dingin. Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan. sarwi hamasrahin[n]a.” Dipasarah manembah. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an. sangking jaran Harba Puspa.

sedaya hidin sampun. sarta hasanak put[t]u kaki. kasuwun berkah Gusti. Majapahit turun[n]ira. mapan sira turun sultan. pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi. sangking Brawijaya wing[ng]in. dugi hing Cimanuk. hing lancang hamba. 46. 2. pasrah hing ngayahan Tuwan. 866) wang //hingkang gumanti VI. mapan samya pinanggya. Wiralodran matur ring Gusti. “Duh kakang langkung sanget kuwatir.pinuju kumpul[l]ing wali. turun[n]an[n]ira. kadang sadaya hingkang katinggal.” Wiralodra kondurning ngarsi. 47. ngrangkul kadang sadaya. kadang kadang hingkang dipun tinggal kari. 75 . Nuwun duka mahéwuh deduka. 22 (47. sedaya karsa nata. badé wangsul Gusti mangké. bagja pan sira. kaliyan takdir Yang Widi. DANGDANGGUL[L]A 1. Kanggo turun turun nira Wiralodra. “Hanuwun berkah hing para holiya. gegancangan hing lampahnya. habdi damel nagari.

bénjang han[n]ak putu kaki. winastanan Darmayu. 76 . lumuh nglakon[n]i krama.tan manggih béja wartos. sanajan hingkang ngawit[t]i kakang. kados pundi raka samangkin. werni na… pun nyi Hindang Darma. keris hatawa pedang. “Haduh rayi Hindang Darma musnang kali. datan kotor yudabrata. Hindang Darma pinunjul. dadi campur wanita. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi. hadat wong Dermayu. 5. 4. 3. nameng Hindang weling hing suwara. nanging rayi hingsun turut[t]i. yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing. katangkep[p]é wahu?” Kang raka haris ngandika. hangelar gawé nagari. Hindang Darma pan tumut. hingkang gawé negaran[n]é. Bénjing negari Darmayu ri. yén dadi negari mangké. tuhu wong wicaksan[n]a. kran[n]a Nyahi Hindang Darma. héstu tiyang punjul. Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi.

hanjeneng hing nagara. nameng susah bénjang hanak putu mami. Namung kakang sadaya pun rayi. hanjér pepek hing ngarsa. pan sekalih medal hing jawi. mugiya sami wangun. 77 . 7. kaki Tinggil wahu. luwih raméh pan negara. Surantaka miwah Wanasara mantri. han[n]epang hing hupacara. miwah tarub hagung. Kyahi Pulaha Bayantaka. tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi. tempat[t]é tiyang ngatur karya. wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi. 6. Kadang kadang sedayan[n]iréki. kanggé ngistrnén[n]i negara. samya ber[r]umah tangga. mapan pribawan[n]ing pawéstri. karsa ngatur gelar[r]an[n]é. hamit rai medal mangké. kula turri kadang sedayanya. 867) //dadi pangungsén segala bangsa. humatur manggah karsa kakang.22a (48. tan[n]ah sabrang dugi mangké. sing wétan kulon rawuh. han[n]a hing Darmayu. hakéh pan kasengsara. kakang ngidin[n]i wahu.

gumuruh tyang suwaran[n]é. 23 (49. cakep siyagi sakabéh. Sampun bedama sadayan[n]éki. 78 . pan hantuk saminggu. mapan Radén Wiralodra.8. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil. patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi. nulya ngandika rum. 868) 10. Ki Tinggil ngibing wahu. cangkem[m]é mecucu. kinepok[k]an hing kancanya. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing. badé hawangun liyan negara. kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi. “Héh sanak kula sadaya kang hing riki. haganti sami ngibing[ng]é.mégot weteng belenjing. mé// gat. mulya medal hajat[t]iréki. pan kanggé tempat kajat bénjing kumpul[l]a hing kawul[l]a. surak kadya hampuh[w]an. hantuk[k]é hing kawul[l]a. hageng halit pan kumpul. pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al. tyang gumujeng latah latah. jaler héstri kumpulna. sadaya kumpul[l]ing kajat. miwah tetembangan suka suka. wangunan tarub hagung. 9.

kawul[l]a suka sadaya. pan sampun langados[s]an nagara klayan kersan[n]é Yang Manon. sami linggih wahu. sarta maca donga kaslamet[t]an. pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an. Para sepuh sami hangamin[n]i. negari Darmayu. sarwi ngibing dedeng[ng]éngan.” Humatur sadaya tiyang.” 12. pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki.muga dén sakesn[n]an. “Duh sanak kula sekabéh. nulya Radén ngandika haris. 23a (50. hurun[n]an sanak sedaya. pun maca donga rampung. negari dadi sampun. 79 . 11. 869) kula handon//blenduk. sarta sira pada naksén[n]i. raméh hanggén dahar[r]an. 13. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti. “Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari. gumuruh hamin wong hakéh. Hanggén[n]é sami wangun nagari. “Duh sanak kula sadaya. sedaya kula suwun. manggah kula hatur[r]i neda. saban sasih kados puniki. mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a.

daharan suka sampun. hageng halit[t]ipun. kadang-kadang samiya dahar[r]an. rama pan ngayun[n]an. gamelan[n]é calempung sul[l]ing. Mapan katinggal hing rayi-rayi. nulya matur kados pundi raka. “Yén hidin paduka raka. rayi bade kondur. gelar[r]é Dalem nagara. 80 . nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a. kang dahar suka hing manah. rayi sedaya kang han[n]ang riki. rebab tiyang[ng]é hanembang. 14. sarén[n]ingpun lami mangké. senggak muluk-muluk. suwaran[n]é celempung suling rangin. kaya hap[p]olah hingwang. 16. Para rayi pan sampun halami. hapa sangking kadulu. Sarwi bibar sedayan[n]iréki. tunjang hambakta berekat. 15. dateng habdi sadaya rayi. sarwi ngrangkul “Kang rayi sedayan[n]éki.” Kang raka haris ngandika. Ki Tinggil tukang méjan[n]é.tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i. cinampur kalih tembang. datang rama hibu mangké.

maksih dangdan nagara. krana bakal mulyan[n]ira. wangsul han[n]ang Bagelén nagara. wunten musuh nekan[n]i. Pan tumenggung sing Jepara pelariyan. hing ngiring sakancan[n]éki. “Duh rayi muga lulus[s]a. 24 (51. turun pitu bopatih. sinalin demang madurma. Watuhaji hingkang raka. jeneng niki nagara. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara. 17. kang raka hangater[r]ake(n). dumugi hing hakir mangkin. pun dugi Dalem miréki. 81 . pikantuk kanugraha hing Yang Widi. Sareng hénjing rayi pangkat nuli. 2. hanak putunya. DURMA 1. Dén Wiralodra. 870) VII. nulya//sami salaman rayi. hangrebat nagara. dumugi hing wates[s]ipun. sarta kang Wangsanagara.sampun lepat dén haturan. mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki. mapan hipé wahu.

miwah sakanca sadaya. ngadeg kiyahi pulaha. dadin[n]é hingsun tumekang. 3. 6. pan mégot ngigel maran[n]i. Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang. 873) raméh gén mangun jurit. hiki pan bakal nagari. pan hanang nagaran[n]ira. malempat kadi kilat. 4. mapan dadi jig jawin[n]é. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a.” Watuhaji hambales[s]i. boten nganggé tata krami. yén sinabet bedama.” 5. 82 . dén candak binaktang Jawi. “Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a. hanang satengah hing wana. raméh hanang ngaprang. duméh nagara bakal. h[h]anulya ming[ng]éh hangeri. bade sun teda. saparan paran mami. baksan[n]é hanglétér wani. hanunggangtaya. 24a (54.nulya dén priksa mangkin. gégér hurahan. Wiralodra hantik panduka lir brama. tan suka hingsun jurit.

lir tiyang nagara. pan hayuh maju wang jurit. 83 . Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a. keris hatawa pedang. duhung sinondénganana. “Hora watek handingin[n]i. 8. haja suwé ngadu bal[l]a. 10. hayuh mapag[g]a!” Radén Wira hangedal[l]i. Nulya medal Nitinagara hing yuda. ko pada bis[s]a hing jurit. mapan cakep hing ngajurit. 9. 7. “Héh Wiralodra mangkin. Héran Nitinegara. hayuh hénggal gitik[k]a. héran tiyang kang ningal[l]i. baksan[n]é halus hamanis. wong tengah hana hing wana. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha. maju jatmika. hayuh hingsun tadah[h]i!” Ngandika Wira. tak kira tan bis[s]a jurit. sarwi hanguwuh tanding.musuh kathah kajodi. balan[n]é Watuhaji. Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda. “Héh Wiralodra sira. pedang hing ngagem dén hasta.

13. Watuhaji lan dén Wira. tanding[ng]en jeneng mami. nulya majeng rana malih. hang[ng]asta wangking[ng]an. kang janglar han[n]ang ran[n]a. hudreg hasili(h) huki. 874) 12. 84 . sinurung-surung hing jurit. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an. pan Radén hanang ngajurit. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!” Hénggal Nitinegari. dén talén[n]i hing Ki Tinggil. “Héh prajurit Watuhaji. yén tuhu sira prajurit. medal tiwikraman[n]éki. pan hanang tengah hing ran[n]a. haja gugup gitik hira. gumuling kisma.11. Pan binakta binekta hanangkon Wira. Sesumbar Radén Wira. Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah. pan Wiralodra. 25 (55. hayun[n]ayun[n]an. Nitinegara binanting. han[n]yuduk[k]i Wiralodra.” 14. pan tuhu sira prajurit. maju wang ran[n]a. nemu tending hing yuda.

beras pari lan harta. jinarah kebo sapin[n]ya. Ki Gedéng Sambeng nama. nungkul sedaya. 25a (56. ngamuk hana hing jurit.15. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya. susah pan tiyang halit. caritan[n]ipun kanda. 16. pan salin naman[n]iréki. ming[ng]idul palajeng[ng]ira. Ki Gedéng Dépok mangkin. Cisambeng hingkang pernah. bubar sasar[r]an. Mapus//…it[t]a. hangamuk bala kathah. balan[n]é tumenggung mangkin. hingsun dikang dén hungsi. medal sangking Bantarjati. 85 . Watuhaji ngoncat[t]i. hing bénjang pan turun néki. 17. kathah tiyang dén patén[n]i. pan malajeng sing ran[n]a. 875) 18. nulya dén Wiralodra. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya. dadi pandita mangkin. mapan mertapa. Drayantaka Wan[n]asara.

pun ngadeg jéndral. Kyahi dalem jenengnya. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah. 19. Mila raméh nagari tambah hing tiyang sahatus[s]an balan[n]iréki. langkung raméh pan nagari. 18. 20. bala hambral kathah mangkin. miwah kathah soldatnéki.kapasrah[h]aken Ki Tinggil. pan ngangkat demang ranggah. hingkang wade tanah mangkin. hanang bangsa Blanda. pan senang sadaya. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika. pepek sedaya. 21. Radén Wiralodra sugih. sami berumah tangga. pan damel wisma mangkin. Ki Tumenggung miwah patih. tan[n]ah Bogor lan Krawang. tiyang kang teka. 86 . harta mahéwu yutan. pinten sinten gotong[ng]an. ponggawa para mantri. hambakta harta mangkin. Watuhaji kaliyan Nitinagara. Wiralodra jenengnéki.

Mapan Nitinagara hanangis. damel salah hing la//mpah. kawentar saban negara. Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram. mapan macan nagari.ngateran harta. giris haningal[l]in[n]a. DANGDANGGUL[L]A 1. 87 . san[n]és sangking nagara. bakta bandakayan[n]éki. Gemah harja darmayu dadi nagara. mila monca negari jri sedaya kathah tiyang. hiku pan hora becik. Darmayun[n]ika. pan Wiralodra. saktin[n]é hang liliwat[t]i. 24. ginanti dangdang malih. sen[n]ang pan tiyang halit. pan badé hambedah mangkin. 26 (57. VIII. Dramayu hika. hanang tumenggung kalih. sangking keraton[n]ya. 22. 876) 23. Hamiruda bade kapotong jangganya miruda lolos wengi.

hing luwih sahéng punika. tumut dérék hing brandal. Wirapati wahu. hatur[r]ipun melas sasih. Hingkang gumanti dalem néki. “Habdi Gusti nuhun ges[s]ang. bénjang lenggah hing pun. kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga. hing Metaram sinuhun. potong jangga hulun. mangka sampun sesunu. 26a (58. kén mertapa ngilangké. kang rama sampun séda. 4. nulya kés[s]a Nitinegari.”. pun lepas lampah[h]ira. 877) 3. misti Gusti kahul[l]a. Pan Nyayu Hinten histrinya. 88 . pan sekawan kathah hire//ki.han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira. pambajeng[ng]é Sutamerta. Pan sinangonan Nitinegari. Kacarita Kyahi Dalemnéki. mila bénjang turun[n]é Nitinegari. dados Dalem Dramayun[n]é. yén bade kakirim make. dos[s]a hingkang luwih hagung. wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin. pun lami hanggén mukti negara. Wiralodra sanget telas haningal[l]i. 2. Watuhaji kang dos[s]a.

héstri pan miwa(h) priya. hing Pulo Mas negarin[n]é. gumanti wahu lungguwé. 6. Werdinata dateng rayi hinten mangkin. pan sampun dahup punika. Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin. Kang raka sanget jumurungnéki. hing nagari rayi mangké nameng satunggil wahu. mijil putra tigalas kathah hiréki. Kang Rayi Werdinata. 5. Mapan Radén Wirapati. 89 . dalem han[n]ang Darmayu. mapan Wiralodra kapi(ng) kalih. Werdinata sang prabu. pan sanget hanggén[n]ipun halih. nameng sampun kabakta harinta. sang[ng]et hanggén sesiniyan. blaka matur hing raka. dalem hing Darmayu. dérék karsa wahu. kadya hingkang sudara. garwanya wahu sekawan. tinggal sen[n]ang karajahan.hingkang putra Radén Wirapatya. sadérék kahul[l]a kang héstri. Lami-lami gadah manah. silih genti rawuh. kagungan sadérék[k]an sang nata.

miwah dalem hing Kuning[ng]an. pan sampun wicaksan[n]a. medal kakung pekik hing rupi. gumilang gilang cahyan[n]é. Hingkang peparab pirempag mangkin. mapan Dalem Cihamis negari. tan kiyat yudabrata. sarén[n]ing dipun lurug. kang putra pin[n]aring[ng]an. humur tigang tahun. Danulya Dén Wirapati mangkin. lin[n]ingling lingling kang putra. badé nuwun bantu mangké. Werdinata Pulo Mas néki. 9. mangka pun babar wahu. tigalas sasih lamin[n]é. sangking honom durubiksa. sanget bingah sang nata //han[n]ang putranipun. 90 . 27 (59. tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit. balan[n]é lelembut. pan kabakta dateng rama. Bagus Radén Wringin Hanom nama. sanget hasih harama kalih. kuning cahya humancur. dén pinangsraya Dalem Sumedang. 878) Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an.7. pan sinareng kakang Dén Wirapati. pan dateng hing kang putra. 8. Sareng lami-lami hingkang rayi.

91 . sampun kuwatos ramaji. dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas. cahos hing ngarsa ramaji. mapan Radén Wringin Hanom. sing honom durubiksa. humatur kasuwun rama. “Héh mas wong bagus nak [k]ingwang. kang rama hangandika. muga ram[m]a bekti putra dipun tampi. pan rama hingkang nandang jurit. sarta gawa bala juru biksa kaki. 11. gancang taktimbal[l]i mangko. sangking Dalem Sumedang Gusti. Cihamis miwah Kuning[ng]an. Kuning[ng]an Cihamis mangké.” Sumanggah putra matur. 27a (60. pan litempung mu[ng]suh.10. kang putra sampun rawuh. dén //pinangsraya rama. rama tampi srat wahu. bagéya nak[k]ingsun. 894) 12. Nulya ram[m]a hangandika. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin. Nulya ram[m]a ngandika haris. Hingsun pasrah musuh para demit. musuh bala lelembut. putra hingkang nanggel[l]a. sah[h]a wonten dawuh napa. “Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki.

Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis. hemban[n]ipun hingkang putra mangkin. raméh //tempuh hing yuda. mapan Radén Wringin Hanom. cahos hanang ngayun. 28 (61. kadya tiyang baris hing jurit. mila sanget hajrih hiréki. lan Dongkara Tumenggung. datan katingal wujud[d]é. mapan bibar kénging jurubiksa. sampun kuwatos ram[m]a. mapan balan[n]ipun durubiksa. sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis. 14. bala honom satru. hasasaran tinggal kancanya lan Gusti. katur nagri hulun. “Duh putra banton[n]an.kang putra dérék kersa. sanget welas karun[n]é dalem mangkin. tiyang ngétan kadulu. hing ngarsa Dalem Sumedang. gumarenggeng pan suwaran[n]é. 895) 92 . 15. mung suwara gumuruh. Sareng hénjing medal hing ngajurit. Hingkang putra ngusir jurubiksa. 13. nulya RadénWiralodra. Tyang Sumedang kathah kang ngili. sumanggah putra hing karsa. rawuh Dalem Wiralodra. niba tang[ng]i palajengnya.

méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki. pangamulya tyang Sumedang. wahu Radén Dalem Wiralodra. Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis. 17. dén bujeng hing Dalem Wiralodra. mapan sanget bungah[h]ipun. siyung thathit dinulu. samya ngusir tiyang Ciyamis. hantawis sagunung hanak. prajurit medal sekabéh. 93 . kathah prajurit kang pejah. tiwikrama wahu. soca lir kembar srang[ng]éngé. tyang Cihamis wahu. Bubar wadya bala sing Ciyamis. 18. pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a. gégér tiyang melayu. Hanulya tiyang Sumedang mangkin. kin[n]arubut hing yudan[n]é. Dalem Darmayu mapan sakti. rémah ngrimbyak kéngsér hing siti.burbar bala hing Kuning[ng]an. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing. nulya Dalem Wiralodra. sareng ngrahos mulya sadayanya. suwaranya kadya gelap. hang rangseg perang pupuh. mlajeng lir kadya kilat. samya hamapag yuda. 16.

mapan sampun bubar mangké. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit. kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih.” Rama hidin sampun. sarta bakta putrané héstri. niti joli lan jempan[n]a. hawit kuwatos hing nagari. 28a (62. Nulya kang putra haris. “Loh kabener[r]an kulup.rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti. dugi hing pawates[s]an. hénggal[l] (k)ang rama hamethuk. bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an. 94 . Ciyamis lan Kuning[ng]an. “Men[n]awi wunten hidin jeng rama. 21. putra bade wangsul mangké. kaya priyén musuhmu kaki?” Putra matur hing ram[m]a. 20. huga musuh[h]é kang rama. 19. wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari. mangka sampun pethuk. nulya manembah kang putra. mlesat han[n]ang gegan[n]a. 896) berkah …//lumayu. nulya pethuk kaliyan kang rama. kalih Jongka réncang[ng]é. kalih Paman Tumenggung. tan prayoga kang jaga.

hambakta bokor hemas[s]. para héstri miwah hibun[n]ira. Punika putra ram[m]a pribadi. dipun papag gamel[l]an miwah prajurit. Raméh tiyang hamburu. peng[ng]ulu pun siyaga. hisi harta hemas wahu. 22. 29 (63. tinawurna wahu harta. miwah san[n]apati hing ngalaga. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin. lir rengat hing pratal[l]a. sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni. sarta kawul[l]a sekabéh. samya rebut[t]an harta. kanggé jru sapu miwah jru dang. samargi dados tingal[l]an. han[n]ak hukir langkung hawon. numpak han[n]ang jempan[n]a haglis. Sedayan[n]ipun para prajurit. sangking sanget bungah hiréki. pan samya hormat wahu. handhér kawul[l]a hing ngarsa. kahul[l]I pun rama hibu putra mami. cinampur kalih kimtal[l]i. Kang putra matur nuwun.“Duh putra sareng nganumpak. 95 . 23. tyang kalih sareng numpak. sedeng hayun[n]ipun. sareng dugi cin[n]awis[s]an. 897) 24.

27. kanugrahan sih hing ram[m]a. bawah[h]an[n]ipun sekabéh. Marang putra Wiralodra mangkin. 96 . hingkang sareng linggih hing riki. mahéwu héwu kasuwun. nyaksén[n]i pan sedaya. “Sarwi hatampi sih[h]é. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih. héh sanak kadang hulun. karo hing Darmayu. hingsun mapan hora gadah. sangking sih paduka ram[m]a. lenggah Dalem Darmayu nagara. pasisir Kandang[ng]ahur sun pasrahaken hanang putra mami. sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit.” 26. Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi. Lajeng sadaya[n]ning para mantri. miwah para ponggawa ngalaga.Dalem ngandika harum. dadi sawiji nagara. suka bungah sedayan[n]é. sangking pangandika mami. mundun sangking palinggiyan[n]ira. hing para kawul[l]a bala. 25.” Nulya sami sesalam[m]an. samya dahar[r]an wahu. “Saksén[n]an. langkung sangking sanget katrima.

sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari. sanget hasih hing garwan[n]é. Radén Timur miwah Sawerdinya. langkung hasih hing garwa. hantuk kanugraha[n]ning yang. gandék putra sedayéki. mapan kinanti kanti tan gingga. Kang pambajeng mapan Radén Kowi. sedaya pan runtut. dugi hing pawates[s]an. Garwa Sumedang tan kari-kari. kantos hantuk pitung din[n]a.raméh raméh gé nya bukti. dateng Dalem Wiralodra. sanget bungah[h]é hing manah. 898) 28. sarta pin[n]aring[ng]an garwa. nulya samiya kondur. handérék[k]aken sedaya. para maru miwah putra. namin[n]ipun kang putra. rah[h]erja hing laku. 29a (64. 29. 97 . kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah. 30. kang garwa putran[n]ipun. Kang lajeng Lodramayu negari para kadang-kadang miwah ranggah. kondur néki. sanget bungah rama prapti. nulya pinethuk rawuh[w]é. hing wingking mara maru.

Lajeng rama duging ngajal malih. Wiratmaja pan wahu. Hapan sampun hapeputra mangkin. hingkang sampun gumanti lungguh ramekin. pambajeng Benggala //Radén Benggali rayin[n]ipun. Singawijaya putra héstri. Radén Sawerdi putranya. miwah Nyi Raksawinata. nulya wapat dalem ram[m]a. 899) 33. pan ginanti wahu. pan sekawan[n]ipun. 98 . sekawan ling putra kathahnya. sekalih Raksadiwangsa. para putra sadayan[n]éki. nanging Benggali Benggal[l]a. 31. Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki. Hadiwangsa Nayastra. sampun jejeg putra tigalasnya. samya mukti sampun.Wirantaka sekawan[n]yané. 32. mapan sampun gegarwa. mapan gangsal kakung [ng]iréki. sedaya dadi pangkat[t]é. hanulya putra héstrinya. 30 (65. Hastrasuta wahu. putra kakung hingkang sekalih hiréki. Puspa Tarun[n]a Patranayéki. jumeneng dalem pangkat.

Benggal[l]i jeneng niréki. kang rayi sanget kapéngén. lamun kakang hingkang gumanti. pan handérék pangkersa. kaliyan Wiralodra kajenengnéki. pasti hingsun ngamuk. pangkat kumendur. nang[ng]ing kang rayi wahu. bagjan[n]én tumekang ngajal. gumanti lungguh ram[m]a. sangking Betawi wahu. Nanging rempaggé para ponggawi. miwah para pambes[s]ar nagara. 35. hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi. kang raka Radén Benggal[l]a. Pandebos jeneng[ng]an[n]ya. kang ganti kedah rakan[n]é.hingkang gumanti rebat pangkat. Singalodra kang pan gagah. Kelangkung sesah para ponggawi. lamun hingsun tan dadi dalem puniki. 34. 99 . kang raka kang gumantya. wicaksan[n]a punjul. limang sasih tan[n]ana dalemnya. dadiya dalem lungguh. nulya wonten hutus[s]an[n]é. hambakta satambur soldat. dalem lungguhipun rama. kang dén hutus tuwan[n]iréki.

38. Nulya para mantri dén timbal[l]i. dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i. 30a (66. tigang tahun lamin[n]ira. lamun mentas hanang Batawiya. dateng kumendur tuwan. nanging tan hénak hing manah. siyang dalu ngahos Kurhan. jeneng dadi dalem puniki. prakara hiki nagara. dadi dalem pangkat gumantiya. nulya haris pangandikan[n]é. nulya kang rayi matur. 37. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin. yén mangkon[n]o nurut hingwang. raka dérék sampun. ka Bantarhanak bojon[n]é. 900) Radén Singalodra kan[n]éki. mapan pasrah hingsun. kang rama wahu lungguh[w]é. hanulya dumugi hing watesnéki. mapan sampun kesah hander hing ngarsa. hing[ng]et rayin[n]ipun. kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin. Nanging tigang nahun lamin[n]éki. 100 . mapan tumut handérék hing lahut mangkin. karun[n]a para ponggawa. nanging Radén Singalodra. sanak ponggawan[n]ingsun. sekabéh[h]a hing ponggawa. kang raka hing Dramayu.36.

Dalem haris ngandika. hingkang sanget datan. yén tan hingething kadang Gusti. “Sanak mami sadaya nurut hing pasti. 901) 41. //wolung nunggal hingkang putra pambajeng Dén Lahut. pitulung Yang Hagung. pan ngahos siyang dalu. hanuwun pangaksaman[n]é. hanyambung[ng]i sabda mangké. 101 . Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti. karsan[n]é Yang Maha Mulya.39. kang putra Kartawijaya. Gembruk kalih Toyib. mugiya kandel himan[n]ya. Dalem Wiralodra wahu. hanulya Mas Patih Hasrasutanaya. Gandur lan Purwadin[n]ata. hasanget sakit manah[h]é. hanuwun hing Yang Maha Suci. sadaya sangggup hing pejah. pan sami ngambung sukunya. Kartawijayastra gangsalnéki. bala hing sang[ng]ulun. 31 (67. Nulya sami kondur sedayéki. Nyahi Moka wuragil néki. kagung[ng]an putra kathah ing réki. miwah Trun[n]ajaya tumenggung. putra saweg rumébed hing dahar.” 40.

kadalem[m]an hapa sayekti. kersan[n]é Yang Maha Mulya. 43. tulungen hingsun. “Paman sahiki jandika. 31a (68.” Humatur pan Wiralodra. kalintang sabar manah[h]é. jam papat wangsul wisman[n]é. dateng paman Dalem Wiralodra. Sultan sanget welas haningal[l]i. Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang.hénak hing panggalih. 42. karsan[n]é Yang Maha Hagung. sultan hing Wiralodra mangkin. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin. hing setan[n]a buyut héyang-héyang. cahos han[n]ang kasultan[n]an. hing Sultan Cirebon Pangéran. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i. Kang Rama dén timbal[l]i Gusti.” 44. kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti. hanulya ngandika rum. “Sahéstu sinuhun. nulya Sunan ngandika. 902) 102 . paman léréh hing lungguh. hingsun hangrungu wartos[s]a. ngirangi saréh lan dahar. Singalodra kanama. mapan sampun matur. hanang Gusti Panembahan Sunan Haji.

hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki. hapan wis siyagi kabéh. Hing ngarsa sinuhun. “Sumanggah dérék karsa Gusti. hanang Kartawijayanya. kaliyan paman[n]ipun. miwah wisma kasagiyan paman. man[n]awi manahé wongan. gadah hanak Kartawijaya puniki. 103 . Kartawijaya dipun timbal[l]i. pejah gesang pun hamba. pasrah hing sinuhun.supaya hing kasultanan.” Ngandika sinuhun. Datan saréh miwah datan bukti prawantunya tiyang maksih tarun[n]a. nami Kartawijaya. handekuh koncem mukan[n]é. 45. nulya sinuhun ngandika haris.” Nulya Kyahi Dalem matur. “Perkara hiku paman.” 47. Tajug balong hingsun siyagi. nameng nuwun pun hamba. hangwejanga hing para putra kon ngaji. sampun cahos hing Gusti ngarsanya. hapan[n] hamba pasrah sadaya. 46. semutan héca hing manah. kitab kaliyan kurhan. mila nuwun pitulung Gusti.

“Sumanggah habdi doraka hing karsa. “Hiya hingsun hidin[n]i kaki. punapa Gusti karsan[n]é. sun hangkat dadi mantri wecalang kaki. Sampun lepas lampah hiréng margi. sukur pan siréki. hanang Radén Kartawijaya hiking. Tinampi wahu serat[t]é. Kartawijaya matur hing Gusti. kaliyan wayahipun. mangka katur hing Gusti Panjun[n]an. 32 (69. 104 . kating[ng]al cakep hing karya.” 48. nulya kondur sangking ngarsa. Panjagahan hing Panjunan sira kaki. Langkung hasih Pangéran ningali. bareng ngapan karo hingwang. pernah hing Pancagahan. Ratu Mas Hatma hingkang nami. sahiki pan hawak[k]ira. hanulya hangandika haris. gawanen surat hingsun //kanggo raka hing Panjunan.” Kartawijaya sampun tampi srat Gusti.“Hé Karta siréku. lajeng winahos sampun. nulya kadahup[p]ena mangké. “Hanang hing Kartawijaya. panggon[n]an hanang Panjun[n]an.” Sultan ngandika harum.” 50. 903) 49.

hinget[t]é hing ngakérat. wong santri cilik hatin[n]é. maturut préntah hing nabi. wedi dos[s]a hagung. Duk dalem mékang hanang riki. lamun hora suka. hangsar suci pan hatin[n]é. Ki Dalem nulya ngandika. lamun jagi hing wates Darmayu nagri.sukangnya. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin. sepi kang negara. sanajan sadulur //tuwa. wisman[n]ipun wahu. mapan kiyahi Dalem Singalodraka. mantri patih lan dalem. 51. manggén wonten hing kajaksan. 52. 32a pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki.jumeneng hana hing Panjunan. Mangka wonten malih kang winarni. hora pantes dadi dalem kaki. lagi pésta raméh raméh. kabéh ponggawan[n]ingwang.” Surak mapan gumuruh. samya sukang sampun. 105 . tiyang halit suka n[n]ingal[l]i. raméh. 32a (70. hadat santri hiku. “Hanang para ponggawan[n]ira hiki. gamelan mapan gumpul.raméh siyang lan wengi. 904) 53. prajurit kawan das[s]a.

nayaga mapan raméh senggak. dedeg sedeng hapideksa. hingkang gumanti putranya. nayaga dén siram lan wari. nulya wapat dugi hing jangji. tiyang halit kalangkung susah hiréki. sodéré cindé kembang. 56. hanjejeképak wahu. hanjenengi dalem mangké. hupacara siyang dalu. sodér kinipaletu nulya. wahu Dalem Singalodraka. lami pan tigang nahun. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami. 55. 106 . yén kirang senggak[k]é mangké. 54. patih Hastrasuta kuliling. lagi sedeng ngatur karya. langkung rusuh rerampoggan. rinampog déning para durjan[n]a. kathah tiyang pin[n]atén[n]an. gagah tur habagus. lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti. pan Radén Semangun. saholah nyahambek pura. Para mantri sami hangepok[k]i.satingkah polah Gustinya. Hingkang sugih banda kayan[n]éki. sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki. datan kiyat jagan[n]é.

langkung susah ribut[t]é hanang nagari. Kyahi Betawi hika. tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis. juragan[n]é Bagus kandar. kadang misan[n]ipun.hanggén[n]é jaga durjan[n]a. 107 . Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin. nanggung hang ngalaga. 905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a. langkung pitung hatus. Miwah para sénapati jurit. para putra putra sadayanya. 58. sesek kathah[h]ipun tiyang. pangawakan[n]a wangganya. saking Kandang[ng]ahur. 57. 59. 33 (71. Biyawak Jatitujuh. putran[n]é Purwadinata. Bagus Rangin Surapersandanéki. Bantarjati pernah[h]é. Dén Nuralim wahu. Tiyang ngeraman sampun siyagi. wunten malih hingkang warta. hanggén[n]ipun pésta tetanggapan. Siyang dalu raméh raméh mangkin. pan seling Rangin putran[n]é. mapan misan[n]a niréki. Bagus Léja lan Sén[n]a.

906) 62. hanempuh Darmayu. nganggé pakéyan tamtama. jumagi hanang wates[s]a. siyagi tumbak bedama. hageng hinggil meden[n]ya.tyang dugi saban din[n]a. bedil tulup lan keris. bénjing hing Darmayu. 108 . Lajeng ngaben lampah hiréki. hatinjo kadang kula. 60. mapan rempag sedayanya. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin. mapan Radén Kartawijayanya. mapan Radén Wiralodra. datan hénak halungguh. hangrempug badé nempuh. Kanca-kanca kang para prajurit. sarwi matur sumanggah hing karsa. sareng hénjing budal mangké. rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki. kathah tiyang ningalan[n]a. 61. 33a (72. kornélnya hanang ngayun. ngandika hing kanca prajurit. hobyok pedang hérmas //sérét kuning. “Héh sanak kula sadaya. pan Kartawijaya hanenggih. kulit kuning wahu. jolén miwah tumpak[k]an. pan dateng Darmayu nagari.

campur kaliyan senjatos. sinelek lampah hipun. “Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun. putra sareng dulu(r). Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki. 63. wani temen hangrusak hanang nagari. 64. sapa prajurit nama?” 109 . ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata. langkung resak[k]ipun nagari. Para prajurit hing Darmayu mangkin. “Duh rama huwa nuhun. kalih paman patih Hastrasuta. karun[n]a dateng harsan[n]é. miwah putra sarta sénapatya. putra putri sangking Banten kang nagari. Kartajaya ngandika. héstri warninipun. tias[s]a ngamba gegan[n]a. punika Ciliwidara. hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki. samya kagét para prajurit. miwah para putra putra. huwa Kartawijaya. kénging wicaksan[n]a nipun. kathah resak para ponggawi. datan bis[s]a nyepeng mangké. lajeng methuk Radén Kerstal.hamireng surak mangambal[l]ambal. hiki musuh rebut hapa.

hangemas[s]i wahu. Suryaputra Sruyabrata néki. mapan kambi raman[n]ira. Dén Dalem Wiralodra. nulya sanget dukanira. 66. Ciliwidara hiku. dén panah si Ciliwidara. sumanggah raka hing karsa. nulya pangkat wah[h]u. miwah raka Suryawijaya. Héh Kang Rayi Hastasutra patih.65. Nulya ngrangkul kang raka tumuli. Nyi Ciliwidara kang nami. nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi. langkung sakti Ciliwadara puniki. hingkang rama medal toya waspan[n]éki. miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal. bade hing rebat nagara. malah putra rama mangké. sarwi karun[n]a sesambat[t]ira. sahiki ram[m]a harep kapanggih. 34 (73. bésuk iki sun candak[k]é. hanadah[h]i yudabrata. ngangken putra Kentanagara. 110 . malebet hing padalem[m]an. pan kénging musuh han[n]ekan[n]i. 907) 67. “Duh raka pitulung mangké. kathah kang sami lampus. putra raka kathah lampus. tan kuwawi hulun.

sira Ciliwadara hanjing. 70. hananding kadigdayan. gelang kalung kilat bahu. kakang tanding hing ngayuda. wadyabala ponggawa putra prajurit.68. pan cakep yén tiningal[l]an. mangka Ciliwidara miyarsa. Kartawijaya jeneng[ng]é. wani hangrusak Darmayu. 111 . Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i. prawantu tiyang hayu. pan kalih wong sanegari. manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing. hiki sadulur hingkang tuwa. Ketambuwan sira hing mami. pan[n]ah miwah bedama keris. 908) duméh sira punjul nganihaya lampah cidra. Sarta bendéné pinukul haglis. bendéra tinarik hénggal. lan sa[pa]mapaging yuda. hanulya sesumbar hénggal. kadiran wong hayu sira. 34a (74. 69. sareng hénjing binaris[s]an. hénggal dangdos busanan[n]é. wong siji wani musuh. sapira habot saktin[n]é. han[n]ang wong Darmayu. wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami.

“Héh pan Kartawijaya siréki. hudreg pedang-pinedang. ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang. manah datan mindowa. pan hénggal linepas panah ngenan[n]i. hapa han[n]ang siréku. hangrahos peteng hing paningal. hanang getihyé manus[s]a. pancén wong sendek humur[r]é. maka hangandika hasruh. “Nyata prajurit siréku.men[n]awa tambah ta sira. sundel dayang humbaran. yén niba hanguyun. kang haran si Belabar Gen[n]i. Méh san[n]alika tiba hing siti. hobah bebalung ngira. 71. Hanulya mentang panah hiréki. suka haningalan[n]a. tan wonten hasor hing yuda. rasané panah hingsung. kurang tata perang mangké. hénggal wangking pedang[ng]é. sekalih pan punjul. 72. sarwi hawecan[n]a dén priyatna. 73. tiyang surak lir kadya rengat hing bumi. tibakna han[n]ang hingwang. 112 .” Ciliwidara dén luket[t]i.” Radén Kartawijaya mangkin.

Kartawijaya wahu. IX. dén hédek hanang pratal[l]a. samusnané Nyi Ciliwidara. medal tiwik[k]raman[n]ya. pan cinandak sampun. 74. miwah putra putra sadaya. hanggén[n]é musuh Kartawijaya. langkung hawrat kasaktén[n]é. ngandika hing prajurit[t]é. satingkah polah[h]ira. 909) 75. hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi.mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i. Ciliwidara hambekas hana hing bumi. pernahipun hical Nyi Cili. Mapan samya pinanggya. nulya Dén Kartawijaya. mapan samya dén jaga. kén[n] jumagi wahu. 35 (75. sirna datan karuwan. SINOM 1. siyang miwah dalu. 113 . Ciliwidara datan kuwawi. kang raka kalih kang rayi. saya gumareget hagalih. Kartawijaya cuwa hing galih. pan miwah putra nonoman. kalih kang rayi pepatih.

114 . mapan lagi mangun jurit. sadaya cahos hing ngayun. Kang Raka haris ngandika. mila kasuwun pun rayi. ngaturaken kasusah[h]an. “Tak tarima karsa rayi. raka hénggal hangrawuh[h]i.” 3.” 35a (76. 910) 4. lah kados pundi hing karsa.Kang raka haris ngandika. héran pisan Ciliwidara digjaya. 2. dateng rayi hing dalem katuran lenggah. miwah putra pan sedaya. nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka. “Duh Yayi Mas [s]asih basuki karsan[n]é Yang Maha Widi. tan seja raka habantu. kersan[n]é Yang Maha Mulya. Kang rayi matur hing raka. datan huning[ng]a yén susah. “Kabegjan makethi-kethi. resak[k]é hingkang nagari. hawit hanglancang[ng]i Gusti. lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara. hing rayi kang yudabrata. hénggal Si Kakang harawuh.Hastrasutra jenengnéki. han[n]anging sejaning raka. menawi kasoh rumihin. bade wangsul pan rumihin. sangking berkah raka wahu. mila bade matur Gusti. hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki.

Bade matur kasahéstu. Prawantu wong wicaksan[n]a. patih Hastrasuta mangkin. “Ponggawi dérék sang[ng]ulun. Dalem Wiralodra mangkin. hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara. 6. Kyahi Dalem ngandika haris. jagan[n]é hilang[ng]é wahu. malebuh[h]ing padalem[m]an. Nyi Jaya cahos hing ngayun. “Duh Gusti hatur duduka. jumerogjog hingkang prapti. “Duh bagéya janur gunung rayi prapta. Sareng nuju dinten Jumah. sanget sampun duka Gusti.5. hing panjagahan kakang. 8. hanulya hénggal lumaris. saweg sinéba kang raka. nulya hangiring lumampah.” Nulya bibar masing-masing. 115 . sarwi manembah hing ngarsa. mung rayi kang hatiyati. kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya. dumugi han[n]a hing jawi. 7. para putra ngabekti sami. dén jaga ponggawa rayi. man[n]awa malebu Rayi. han[n]ang pernahé hing musna. hanang Garagé nagari.” Nyi Jaya humatur haris. Sedaya sami rangkul[l]an. katiwas[s]an habdi Gusti. Tak kira han[n]a sukarya.

mugiya satrun[n]ira. déréng wangsul wisma habba. datan seja bade tumut (ka paduka). tak tarim[m]a sedyanipun. dumugi hing hanak putu. bade tumut nyusup habdi. 911) Kyahi Dalem hangandika. hantawis sanambang Gusti. jaga pati saksi habdi. hénak[k]a hing wisma rayi. sahiki nembé hadugi. humatur kasuwun Gusti. bade ngraman hangresak nagri paduka. “Manah rayi sun hidin[n]i. lan sun halih nama Resik Sira Jaya. Nulya manembah hing ngarsa. Kyahi Dalem hangandika. tan niyat cidra hing Gusti.” 12. Darmayu badé karesak. wis rayi hénggal mundur[r]a. 11. kadang kadang habdi Gusti. sangking Bantarjati habdi. 9. pan habdi kaperdi Gusti. sampun kathah tiyang prapta. dadiya sawiji bénjing. sedaya manggah hing karsa. sukur bagja sira yayi. kumpul damel tarub hagung.36 (77. kalih turun-turun mami. “Habdi dén pethuk hing raka. humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira. 116 . nanging kekah pan kahul[l]a. 10.

dadiya kawruh wan[n]ipun. mangka hangandika patya. miwah Wangsatrun[n]a wahu. 36a (78. punapa kakang hing karsa. “Duh kadang-kadang prajurit. miwah sesang[ng]oning tiyang. sentan[n]a prajurit mantri. Sutamarta Tum[m]enggung. 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya. 15. pan Tanujiwa kang raka. Kang Gusti nulya ngandika. ngandika hing kakang patih. hatur[r]é Nyi Jaya wahu. kathah kang para prajurit. 14. ngempel[l]aken ponggawa. lenggah hing paséban jawi. siyagi para prajurit. sayagi wonten tiyang ngraman. “Kados pundi kakang niki. hawit hing wawengkén Gusti. yén kedah tinangken wahu. sadaya kang sun timbal[l]i. 117 . “Punapa kang raka patih. sasat musuh[h]an dateng[ng]i. 13. Trun[n]ajaya hingkang rayi. kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman. Hénjing miyos hing paséban. Jiwasuta kang prajurit. hing dusun han Bantarjati. Nanging samakta hing yuda. humatur pan kakang patih. Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang.mapan Kiyahi Wiralodra.

nyangking pedang tumbak//duhung. bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i. 19. 17. prawantu gagah jatmika. hing ngampléh kang wunten kéri. sinonthé keris hing kanan. pancén gagah dedegya mapan sumbada. 16. sedaya niti turanggi. pati(h) Hastrasuta mangkin. Gustinya niti turanggi. Bendé muni samya mudal. kawula samya siyagi. Samargi dadi tongtonan. 913) 118 . kuluk hérmas hinten murub. budal[l]é hing Jatitujuh. prawantu mriksa berandal. 37 (79. demang rigah para harya. 18. bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal. Nulya kondur ring paséban. hulesna pas gambirah gagah hing yuda. Kula hatur[r]i pan sedaya. pajun[n]é tiyang ngajurit. pakéyan mawarna-warna. sampun kirang pan sayagi. tyang dusun hanyiyagéni. konca mawi cindé kuning. pun[n]akang dadi biyas[s]a. hing ngiring para prajurit. hupacara para mantri. miwah sakéhéng prajurit. samakta siyagi jurit. wédang miwah dadahar[r]an.karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa.

punapa pan kintun serat. Bagus Rangin hangandika.” 119 . hutawi hinurug mangkin. sarta Bagus Pangiwa. Sumanding Surapersanda. 22. 20. miwah Kyahi Betawi. saweg sinéba ponggawa.miwah tetabuh[w]an mangkin. sénapatya sedaya putra Mayahan. kados pundi gelar niki. hing tembé huninga hing Gusti. sampun cekap bala wahu. klapa dugan saban pintu. Sadaya pepek [k]ing ngarsa. sarta pan Radén Nur[r]alim. tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak. kalih hingkang paman wahu. kasebat kang pinituwa. sadaya tiyang ningal[l]an[n]a. “Hanang paman kadinéki. Bagus Serit jeneng néki. miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar. gegedén hing Kandang[ng]ahur. mapan para sén[n]apati. Pan lajeng hingkang lumampah. pengagung Ki[ng] Bagus Rangin. Bagus Seling hingkang putra. kang wunten hing Bantarjati. miwah para sén[n]apati. Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari. 21. miwah kadang putra mangkin. raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an.

” Bagus Rangin ngandika haris. Saban sasak jinagiya. “Duh putra sedayan[n]iki. pecalang cahos hing ngarsi. nanging putra sahé baris kahormat[t]an. “Kados pundi lampah[h]ipun. sarta manawi palengkung[ng]an. pajun[n]é mapag hing jurit. Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda. “Leres taya putra mami.” Nulya matur rama mangkin. Dalem Darmayu rawuhnya. kedah mangké dinten Kemis. 120 . ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a. 914) Kemis Kaliwon puniki. putra dérék karsa ram[m]a.23. kaleres[s]an tanggal[l]ipun. 37a (80. kula hatur[r]iki kang sabar. 26. Bagus Serit hangandika. sukur bis[s]a hanekan[n]i. 24. “Duh bagja yén mangkonowa. janur miwah godong wringin. gangsal dasa sasak siji. Sing lér dugi ning mingsah. héca hanggén cacatur[r]an. kinten pangkat dinten pundi. kados hapes hing ngajurit. lah gelar[r]é kados pundi. Hing Jatitujuh pernahnya. lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?” 25. napa wangun baris hagung. pinangka hormat [t]ing Gusti.

hanggeber wonten hing wari. siyagi pethuk pangagung. gelar wang rampoggan mangkin. damel tatar[r]uban mangkin. ram[m]éh raméh kang prajurit. yén kuda miwah ponggawa.tin[n]aro prajurit telu. hangdalem sasak satunggal. Samya damel pasanggrahan. kang sinigeg bala Darmayu punika. gampil hingebyak[k]an bala. sampun lintang kinten tebih. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan. 38 (81. sampun //bibar samakta bala sedaya. ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun. gamelan[n]é siyang wengi. Rampung bedami gelar[r]an. 28. samya ngatur gelar wahu. sakanca berandal mangkin. Supaya wangsul[l]ing kuda. mapan tiga prajurit néki. hénggal sasak binubrak[k]an sedaya. Bagus Serit hatur[r]an[n]ya. 915) 121 . raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an. 27. sampun bedami pesagi. limang puluh balanéki. 29. nanging samaktaning jurit. siyagi tyang kasémahan. nulya kadang-kadang néki. siyang dalu tetabuh[w]an. 30. kanan kéri pan bendéra. kalih paman Bagus Serit.

raméh gamel[l]an hang Rangin. kran[n]a hiki lampah gelis. suka ta [h]hangormatan[n]a. habdi sampun siyagi men[n]awi kersa. rawuh[h]é Gusti jantika. hing ngendi pernah[h]é wahu?” Humatur prajurit tiga. Ki Patih niti turanggi. Sedaya pan hasung hormat. mapan kén methuk sang[ng]ulun. nulya ngandika Ki Pati. “Punika katingal Gusti. Hastrasuta pan prajurit. 916) “Duh Gusti habdi //puniki. pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman. 122 . mapan sakti hing prang pupuh. bedil tulup lan suligi. kahutuskén mriksanana. samakta kaprabon[n]ing prang. hing ngiring para prajurit. samya kempal pirempag[g]an. sumanggah sakarsa Gusti. hingkang lajeng paman patih.hing Jatitujuh gén[n]iréki. 38a (82. hulem cemeng kudan[n]ipun. Ki Patih nulya ngandika. hanang dusun Bantarjati.” 33. nulya manembah tur nyaris. 31. palengkung[ng]an bandéra baris hing marga. Sareng hénjing samya budal. mung mengko sabalik mami. sareng dugi pawates[s]an. “Tak tarima sanak mami. 32.

“Lah kados pundi gelarnya. Dén papag prajurit kathah. hing ngobar tan[n]ana kari. 35. ké mriksa béja hing warta. raméh gamelan tinabuh. surak kadya hurahan. Nulya patih hameriksa munggur ngarsa. nulya samya lelinggihyan. salaman sedayanéki. 123 . déning pada siyaggi kaprabon jurit. PANGKUR 1. nulya sasak binubran[n]an. nulya héstu kang sayekti. hanungsi hing Bantarjati. hingkang sami makuwon hing riki. mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an. “Héh sanak kula sedaya. gelar[r]é tiyang ngakathah. prawantu ngormat[t]ing Gusti.” 34. X. sampun tebah[h]ing kang lampah. malebet[t]ing tarub mangkin. Nulya lajeng hingkang lampah. mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun. miwah samya ngormat[t]i. patih miwah para mantri. handeder hingkang turanggi.bandéra bang sérét kuning miwah pethak. han[n]ang pasanggrahan hagung. 2. bendéra lan humbul-humbul.

taling[ng]an kadya sinebit. sakéh hanak putu[n]nira. yén datan kacekel sira. tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun. “Héstu bade hangresak[k]a. “Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih. 4.” 6.” Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur. mangsa wediya pan hingsun. prawantu kang yan[n]a patya. Ki Rangin humatur sugal. lan hora gila tumingal. ngisén[n]i sira cangkem berandal babi. wong musuh han[n]ang negari. //punapa hingkang sinedya. Sanajan cilik rupan[n]ya. manggih susah kasengsara hing Yang Hagung. hanang Gusti nagari Dalem Darmayu. “Loh Rangin celathu[n]nira.” 124 . 3. mapan luwih werat sesanggan[n]éki. tem[m]ahan pan dadi rusak. Nulya ki patih ngandika. Dramayu hing dalem mangkin. hanang rupa wong nagara hing siréku. 917) tumbak perampoggan wahu.39 (83. lan mengko[s] sengsara wahu.” 5. haku tan harep kon mundur. “Lamun kénging sadaya pan sanak sami. yén kénging kula penggah. mapan wirang yén mundur[r]a. kran[n]a nagari hing mingkin. sampun dén turut[t]i napsu. pan seja bade hing resak.

patih Hastrasuta duduwa din[n]éki. tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati. ki Rangin werat tanding kaliyan pati. 9.Ki Patih medal hing Jati. sapa marah hasrah pejah. jam nenem sonten hing wanci. 11. 39a (84. ngandika Ki Serit wahu. “San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki. datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu. tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu. hangantos samangké wanci jam sapuluh. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira. pan kathah musuh nya lampus. surung-sinurung pan wahu. Nulya Kyahi Serit ngandika. 125 .” lawanen hundur-hundur[r]an. nulya dén hebyuk[k]ing jurit. 7. para kadang maju haprang sedaya kasor hing jurit. pan datan tata paju[n]né hing ngajurit. haja ngrangseg sira maju. 8. sedeng peteng tan katingal. haja kosi bis[s]a medal. Bantarjati lan Biyawak. 918) Prawantu perang berandal. Para mantri pan jumaga. siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku. kaliyan Ki Yan[n]a patya.” 10. Sareng sampun jam sedas[s]a. “Loh hanak kul[l]a sedaya. kira dalu sun hebyak[k]i.

mapan kénging nulya lampus. prawantu tiyang berandal. langkung ribut prawantu prang dug hing wengi. namung patih Hastrasuta. sampun payah Hastrasuta. tiban[n]é tumbak lan keris. perang karo brandal kinarubut. para mantri pan melayu. hambélan[n]i hing nagara. mapan sampun hancur kuwandanné wahu. Sinareng sampun waspada. kinepung buwaya mangap. jamak[k]é ngawula hingsun. 40 (85. hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh. ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki. salin bus[s]an[n]a hacampur. lor wétan[n]a prawantu wengi. 15. mapan datan dén praduli mlayuning pun. 14. nanging bala Kulinyar.hangebyuk[k]i perang pupuh. kang dén prih pejah[h]iréki. pan hingsun wis hora kuwat. Nulya ki Serit tumandang. “Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi. 919) 126 . dipun byakta hing tiyang kathah. 13. Wecan[n]a sajron[n]ing manah. dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking.” Ki//Serit medal hing wingking. tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu. bade mlajeng tan huning[ng]a. Datan huning[ng]a lor wétan. 12. sampun ngrahos datan kiyat.

surak lir rengat[t]ing bumi. para garwa miwah kadang-kadang néki. 127 . Humatur hanak[k]ing ngarsa. yén mangkono becik hingsun pada balik. “Katiwas[s]an habdinipun. pan raka dalem paduka. samya nayub raméh wahu. sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun. mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung. makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki. dén sangguh brandal nekan[n]i. kinerocok hing payudan. Duginé han[n]ang nagara. sampun dugi hingkang Gusti. kinepung hing tiyang kathah. Samya prang han[n]ang marga. pejah wonten hing marga. “Héh mantriningsun sadaya. Sareng hénjing nulya bibar. 16. prawantu tiyang berandal. 19. mangka mantri kang lumajar.” Hanulya bibar sadaya. kathah malih dugi hing tarub hagung. 18. dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin. nulya lajeng hing lampahnya. sarwi handras mili[h] kang luh. sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus. dén bedil pamayung[ng]ipun.” kang Gusti ngandika haris. 20. sarwi nangis melas sasih hing Gusti. 17. sampun dugi hing nagari.

Dateng hingkang rama paman. “Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun. pan hing[ng]et hing sengsarahnya. hantuk ngrayah saban dusun. hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu. 40a (86. kakang patih hangemas[s]i. Hingkang garwa miwah kadang. Ki Rangin hangandika haris. prawantu berandal dés[s]a. 920) puniki pan katiwas[s]an. miwah kadang-kadang kula. sampun lat lampah kula. “Duh paman kula nuwun. wunten malih kang winarna. hora panjang yuswa kakang. Gégér gumuruh karun[n]a.” 128 . 24. 21. saban din[n]a matis minda kebo sapi. siyang dalu dedahar[r]an.” 22. 23. sedaya karun[n]a wahu. mangka hanang dalem pati. Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki. pan sarwi hasesambat. sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti. sarta kadang-kadang[ng]ipun. sareng malebet hing wisma. rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu. para garwa miwah putra-putran[n]éki. berandal hing Bantarjati. hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun. Raméh-raméh gan tayub[b]an.samya methuk jawi pintu. patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh.

masing-masing gaman[n]ipun. bedil gobang miwah pedang. Samargi-margi jogéd[d]an. miwah Héng Jin lan Ti Yang li. mikul lanték hisi beras. hayam manda miwah harta. tumbak keris miwah komprang sarta penthung. 921) miwah bendil lang sasisih. 25.Sedaya sumanggah ngiring. Sareng hénjing samya budal. kebo sapi néki niring. sadaya pan ngajigjaya. Poléng gunung poléng Jawa. sagadah-gadah hing tiyang. 29. 28. hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati. conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub. han[n]a kang sarowal[l]an. prawantu lampah hing bangsat. hana hingkang nganggé clana poléng tapih. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a. 27. Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru. Sareng duging céléng dés[s]a. 26. hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin. hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi. turut marga hangrampog[g]i saban dusun. hanak rabi hing Darmayu. mapan samya habénjang. hutawi samiya cangcut. satingkah-tingkah pan wahu. sandang[ng]an[n]é mancawarni. 129 . surak-surak hing margi samiya ngibing. 41 41(87.

nanging hinget sayo sobat. Bah Kwi Béng sareng handulu. kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun. Sedaya miréh berandal. hibur palayu ning jalmi. “Mangka hingsun hanepang[ng]i. dén hamuk hing para Cin[n]a. 30. lebur brandal kathah lampus. para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki. mung[g]uh bandakaya sobat. prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun. 33. bade ngrayah barang harta. nulya Bagus Surasa Persanda nepangi. han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun. miwah nyonya Cin[n]a néki. 130 . mangsa dén rusak[k]a hiki. 32. 31.Cin[n]a babah kalih baru. hapa hora hing[ng]et salang wosé batur. hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin. wah kang hurang cuwa hingsun.” Wecan[n]a Surapersanda. 922) hatawa seja hanglanat. tak jaluk sukan[n]é sobat. Mung sobat waktu samangkya. waktu hiki hajala sanak mami. Sareng ngrempak kulya pas[s]ang. yén hora handeleng dika. “Loh kang hurang dadi brandal. 41a (88. mapan hiki sabatur seja halampus. nulya berandal hangrempak. pan hingsun hora hangrusuh. hing ngamuk para Cin[n]a.

36. siyang dalu tetabuh[w]an. sangking kathah tiyang wahu. pitung nambang tiyang dugi. rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit. makuwon hing pamayahan. prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu. 42 (89. 131 . pekakas kurang santos[s]a. hantawis kathah hing tiyang. pengabaran dugin[n]é hing para jalmi. Nulya tetabéyan Cin[n]a. Ki Rangin matek pikirnya. mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin. seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu. harep ngrebut nagara Darmayu hiku. Langkung sesah tiyang perdés[s]an. gawé hibur hing negara dika hiki. 37. Jarih Gan[n]a pada mélu. hing hawak dika pribadi. Gumuruh han[n]ang Mayahan. 923) hana hingkang hanger//rayah rerampogan hangrayah duwit. kang hurang gawé melarat.kang hurang pan sampé becik. 34. damel pasang[g]rahan mangkin. tiyang hingkang samya prapta. sadin[n]an[n]é telung puluh. bubar hing Dramayu lampah. nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun. Lan kapriyén pikiran dika. 38. para Cin[n]a kondur wahu. 35. kalih Bagus Surapersanda mangkin.

malah kathah soldat[t]é sinebar wahu. Mangkan[n]a dalem punika. 40. Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral. dipun rayah kebo sapi miwah wedus. hora wirang gawé sakit. resak kawul[l]a sadaya. kawul[l]an[n]é nuwun tulung. panjeneng[ng]an Dangles mangkin. tan perdul[l]i kancan[n]ipun. guperur jéndral Batawi. 41. hing mayah[h]an pernah[h]ipun. mila sanget kasengsara. sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin. 42. hangrerayah saban din[n]a. sesambat[t]é hanang Gusti. yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu. lamun kénging trus pintén[n]an mangkin. samya tinuron[n]an. 1808. 39. langkung resak tiyang kathah saban dusun. hadat[t]é Dangles punika. hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin. berandal para bagus[s]an. ki Dalem hunjuk lan surat. susah[h]é saban nagari.yén hayu rabi[n]nipun. han[n]ang negri Batawiyang. langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung. Haduh Gusti kawul[l]anya. lan suka hambantonara. Lan benci hanang tiyang jahat. kang ngasta dadi gupenur. 132 .

yén tan nurut hajindanya, mapan pinotong pribadi. 43. Hanulung pertulunganya, réning brandal langkung kathah hingkang dugi, 42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur sarta kirim bal[l]a soldat, tinindiyan kaliyan kumendur lahut, Tuwan Postur namanira, sing Hing[g]ris hasal Welanda, 44. Kéng ngéndi bedami brandal, pura-pura dihangkat dadi bopatih, ma[ng]pan nagari Darmayu, pan kagung[ng]ane pun jéndral, hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu, supaya dadiya bubar, bala berandal puniki. 45. Saradadu miwah Tuwan, sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin, sarta pun bedami wahu, dalem pan sampun pasrah, hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut, héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an, tigang[ng]atus soldatnéki, 46. Supaya haningal[l]an[n]a, para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin, bedil pedang miwah hangkus, pinilih rata dedegnya, hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun, ginotong mimis pekakas, miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,

133

sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin, supaya brandal handulu, tingkah polah[h]é tiyang perang, tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu, sareng dugi hing Mayahan, kagét brandal haningal[l]i. 48. Nulya matur hing juragan, lamun wonten saradadu handugén[n]i, hambakta samaktan[n]ipun, pekakas hing ngayuda, 43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun, kapethak kaliyan Tuwan, Tuwan Delér bis[s]a Jawi. 49. Tetabéyan Delér Tuwan, kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. Tuwan Delér ngandika rum, “Héh Bagus Rangin jandika, sampun hajri mapan kula dipun hutus, hing Tuwan gupernur jéndral, kuwas[s]a negri Betawi. 50. Saréhing dalem masrahen[n]a, negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin, dadi hingsun dipun hutus, kang[g]o hambedami kula, mapan dipun Sowak nami, dalem wahu, lamun kersa hajandika, kula hangkat demang mangkin. 51. Mung[g]uh kadang sadayanya, kula hangkat dadi mantri jurutulis, kuwasahan sami wahu, saperti dalem pangkat.”

134

Bagus Rangin matur trima kasih hulun, yén makat[t]en legang manah, sedaya dipun salin[n]i. 52. Pakéyan laken sadaya, clana laken krambi laken topin[n]éki, mawi pasmén mas murub, Tuwan Delér pan siyaga, nulya raméh tabuwan humyang gumuruh, pésta hangéstréni demang, Demang Rangin para[ng] mantri. 53. Pamayahan kademang[ng]an, siyang dalu berandal tayubban néki, ngikat jeneng demang wahu, suka-suka gé nya pésta, sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung, dén hiring mantri sadaya, pakéyan sangking Betawi. 54. Tiyang kathah ningali Blanda, 43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki, bedil pedang miwah hangkus, saban soré hajar perang, kornél hajidan sersan lan sardadu, hajar bedil miwah pedang, berandal kathah kang balik. 55. Lamun dalu pada ming[g]at, sarta kathah hingkang sami kirang neda, prawantu tiyang kathah wahu, badé ngrampog panji nagara, tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus, nulya Delér kirim surat, hing Dalem Darmayu mangkin.

135

56. Sadiweg gédén tangkeppa, mapan dalem sampun tampi serat néki, gelar[r]é Delér puniku, nulya dalem kintun serat, dateng raka Kartawijaya puniku, hing Gragé ponggawa sultan, serat[t]é sampun dén tampi, 57. Sareng winahos kang serat, lamun rayi Hastrasuta mangkin, neng[g]éh paman sampun lampus, pinejah pan hing berandal, sapunika berandal jinaga wahu, dateng Wlandi kumendur Tuwan, pin[n]angsraya sing Batawi. 58. Hénggal Paduka Jeng Raka, rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi, Kartawijaya habendu, nulya matur hing sultan, sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun, Gusti Sultan hamiyarsa, nulya hangandika haris, 59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya, hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin, yén ken[n]a bandan[n]en wahu, lamun kekah pin[n]atén[n]an, 45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu, sarta sira Radén Wel[l]ang, bareng kam[m]i Karta mangkin, 60. Karta miwah Radén Wel[l]ang, mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti, sultan hangidin[n]i wahu, manembah kondur sing ngarsa,

136

medal jawi bendé tinitir pinukul, prajurit siyagi nulya, samakta kaprabon jurit. 61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika, “Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit, sahiki pangkat siréku, karo hingsun raka Karta, seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh, hing Mayahan pernah nira.” hénggal pangkat Radén kalih, 62. Lan gawah kancanira, hing pinilih sakethaha sapara prajurit, mapan sampun budal wahu, pangkat prajurit sedaya, sampun dugi prajurit hanang Darmayu, pinang[g]ya rayi lan raka, kang rayi hangrangkul haglis, 63. Hanangis dateng kang raka, mapan hingat hingkang sampun lampus pati, Kang Raka karun[n]a wahu, sarwi hangandikanya, “Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu, wapat Yayi Hastrasuta, tan mundur kakang ngajurit.”

XI. DURMA 1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang, pan sampun siyagi jurit, sadayanya ponggawa, gambirah mantri sedaya, pan bade béla hing pati,

137

hingkang pun séda, Dén Nastrasuta patih. 2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan, tumbak pangrampog[g]an mangkin, 45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya, mapan hingkang ngarsa, dalem kalih rakanéki, miwah Dén Wel[l]ang, putra Panjun[n]an selir, 3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan, Rangin mapag hamiyarsi, lamun dalem handugya, samakta kaprabon[n]ing prang, hangras[s]a ginelir mangkin, hing Delér Tuwan, mapan kinepung mangkin. 4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga, miwah hing kulon prajurit, sampun pengkuh barisnya, berandal hana hing tengah, hing kidul bala Betawi, Dén Wel[l]ang neng[ng]ah, maran[n]i berandal mangkin. 5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya, hayun-nayun[n]an pinanggih, kaliyan para brandal, mapan hangandika sorah, “Héh Rangin hanjing siréki, sira berandal, nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,

138

sugal hing wecan[n]anéki, “Héh hingsun dipun gelar, hing Delér Tuwan punika.” Hanulya mangsul[l]i mangkin, hing Radén Wel[l]ang, “Mapan tan gila hawak mami, 7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira, mangsa gingsir [r]awak mami, kadir[r]an sugih bal[l]a, mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.” Sén[n]a habandak tumuli, hing Radén Wel[l]ang, sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda, datan ngang[g]é tata mangkin, prawantun[n]é berandal, kadya ngepung satoh galak, pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit, hang[g]én[n]ing prang, hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga, kathah brandal hingkang mati, kang kénging dén belagbag, hing para mantri sadaya, kantos kasaput[t]ing wengi, hang[g]én[n]ing haprang, Rangin sakadangnéki, 10. Mapan sampun miruda sangking payudan, hénjing bendé tinitir, Rangin sampun tan[n]ana, sadaya sami miruda,

139

sakéhéng berandal mangkin. 140 . miwah kondur sadaya. hing Darmayu hiku kumpulnya. mapan putus[s]an pun dugi. binuwi berandal haglis. han[n]ang Betawi mangkin. kadrél hing jero buwi. “Héh kunyuk berandal. “Hanang jéndral Batawi. han[n]ang Darmayu mangkya. hantawis nem hatus mangkin. hingkang han[n]ang buwinya. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral. perkara berandal mangkin. hanang jeron[n]ing buwi. 14. 13. hing karsan[n]ira. Mapan sampun binalagbag bala brandal. 11. sedaya kén maténi. wedi mati sira hanjing. mapan kinirimna. bade kintun srat. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala. 12. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna. sakéh[h]é pengagung mangkin. salebet[t]ing buwi hika. sampe pinang[g]ya. sampun hing ngedél[l]as sadaya. berandal kon dén ilar[r]i. hingkang sampun kacandak.Dén Welang ngandika mangkin. datan kamot[t]a.

” 17. paju[n]né hing ngadilaga. guyu[n]né suka-suka . Mapan sampun baris tugur para brandal. “Haduh hadi datan nyan[n]a. 141 . sareng wonten wartos malih. hantawis sanambang tyang. holih prajurit mami. Rangin Kandar kepalanya. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang. miwah Dén Kartawijayanya. Rangin sanget bungah néki. prajurit paman[n]iréki. jaga[n]nen kang waspada. nulya pangkat hangilar[r]i. 46a (96. 19. saradadu Dén Wel[l]ang. Bagus Hawisem prajurit. hingkang nagel hing ngajurit. 930) //pan bubar sedaya mangkin. 16. brandal Luwi Séhéng mangkin. sarta Radén Welang mangkin. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama. pan hitu diyah. kang nanggung yuda. 18. hingkang nanggung hayuda. pajun[n]é hing hadilaga. Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing. hing lampahira.15. Hangandika Rangin han[n]ang para putra. Hawisem lan Radén Wari. han[n]ang Kedongdong kang baris. Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya. sarta bakta bal[l]a.

pésta pan siyang weng[ng]i. berandal sampun siyaga. 931) 142 . pajun[n]é Radén Wel[l]ang. prajurit ngarsa. Dén Wari hingwang. 23.” 20. kendel manengan hing prang. raméh hanggén[n]é jurit. sing dépok sambeng punika. Pan kapethuk kalih Kartawijaya. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira. kecandak Radén Wari. 22. campuh[h]é hing ngajurit . pan kendel hing ngajurit. Rangin Kandar turun[n]ya. pinayung[ng]an Bagus Rangin. kelangkung bingah. sapa hiki ngarsa mami. mapan gelar[r]ing baris[s]an. lan Dén Kertawijayéki. pethuk hing yuda. prajurit[t]é Rangin hingwang. Tumenggung Nitinegari. pan kathah hingkang kajodhi. katambuh[w]an pan hingwang. panyata yén husul mangkin. dén[n]ing dén Wel[l]ang. hapandang Hawisem Wari.kakang pinanggih lan rayi. kang nanggung mapag saréki. 21. Kadya brondong bedil mariyem punika. 47 (97.

27. héng[g]al pan binujung wan[n]i. Bala hambral miwah Dén Kartawijaya. 25. 26. sadaya tan[n]ana kari. rinanté kinirim mangkin. mangilén wahu lampahnya. dateng saradadu mangkin. Dén Wel[l]ang hawecan[n]a. miwah Sén[n]a dén tal[l]éni. baris berandal. datan menda hanggén[n]é jurit. ming[ng]ilén pan lampahnya. 143 . rebut mapan tan kating[ng]al. datan pinanggya. samya bujeng berandal. hanadah[h]i hing ngalaga. Léja sakancan[n]éki. dén rakrak saban dés[s]a. 28. Surapersanda pan kénging. “Héh hanjing berandal sari. raméh hanggén[n]é jurit.24. perawan hayu binekta. hanjog mara Bantarjati. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal. Dadya raméh siyang dalu hing payudan. Radén Wel[l]ang datan kari. hing kanca sultan. Ki Séna Surapersanda. han[n]ang Gragé nagari. rinanté hénggal. suwung pan wismanéki. Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal. Rangin Kandar Handa Hawisem miruda.

miwah Kandar handa mangké. pan sinelek hing lampahnya. KASMARAN 1. kantos wan[n]a hing Cikol[l]é. kasmaran kaningal[l]i. sanget kasangsarah hipun. Benggala hing luwung dinang. Mengilén hanye(b)rang kali. hambakta han[n]ak bojonya.hanang Darmayu negari. 3. ningal[l]i bojo hanak. Samargi-margi hanangis. rempag hing wana-wana. dumugi hing Hung[g]ulung. kalintang hanggén sengsara. Mangkana hingkang lumaris. hanak rabi samya krun[n]a. hanjog han[n]ang Dulang Sontak. tigang sasih hing lampahné. Cipedang miwah Cilégé. susah tiyang dés[s]a. hing Purasu Radén Srang. jamban dalem mingilénya. 47a (932) //XII. Cilalanang Cibenuwang. 144 . 4. hanyabrang Cipunegara. Ki Rangin Serit lan Léja. 2. Pegambir[r]an Legok Siyu. Men[n]awi dén bujeng mangkin. Cipanculan Ciwidara. kantos nye(b)rang Kucéyak.

933) 7. kalangkung tebih pernah[h]é. jurang péréng lumampah. Raméh-raméh gé nya bukti.hanjog han[n]ang hing Cigadung. 48 (99. hing para putra sadaya. langkung senang petanah[h]an. hanerus hing wana-wana. tengah wan[n]a langkung jembar. 6. sarta damel sawah hamba. Kantos damel dukuhnéki. sampun tiyar kebon[n]an[n]é. haseneng[ng]an[n]ipun wahu. kang Rangin pan saban din[n]a. “Duh putra kula samangké. 145 . tawu ngilar[r]i hulam. rama badé damel talun. hantuk kidang lamun wangsul. Nulya hawecan[n]a haris. rawa hageng kathah hulam. malebet han[n]ang wan[n]a. //Hananem mangkin. 5. hanang satengah hing wan[n]a. 9. jembar pelataran[n]ira. miwah kaliyan menjangan. supaya pada hasowan. telung sasih lampah mangké. nulya sami damel tarub. sun tingal[l]i sanget sa(ngsara). Kerana para pawéstri. kali deres kang toya. 8. Ki Léja pan saban din[n]a. han[n]ang rawa nami Citra.

13. 12. kalih nahun hing lamin[n]é. pan mingidul paranya. Jatilima kang nama. Ki Gedé han[n]a hing Pecung. bakta kanca telung puluh. bade damel taluk[k]an. Winastanan sapuniki. nulya sami rempag[g]an. Nulya sampun rempag mangkin. lamun kempel[l]an punika. seja ngilar[r]i papan[n]é. pan dén wastan[n]é Cihakur. kantos samikén namin[n]é. hanang Cigadung pernah. Jatigémbol kang satunggal. hingkang haprayogi hajembar. Tegal Selawi naman[n]é. 11. Hing wates Pegadén distrik. tilas[s]é Ki Rangin mangké. Ki Rangin hadamel. 934) pan damel…. katela sampé punika. kalih kadang miwah rama. sakilén kali Cigadung. mapan manggih papan jembar. 48a (100. Tur rata tanah hiréki. 10.winastanan dukuh Citra. hing bang lér kulon ing Suba(ng). gratan 146 . pernah mang[g]ih telatah jembar. halang hujur[r]ipun jembar. Kyahi Wangsakerti nama. kalih distrik Pamanuk[k]an.

hanggempur hing Pecung Wangsa. hingkang haji pengabar[r]an.” 17. badé ngaben kadigjayan. raméh-raméh siyang dalu. saban dinten tiyang prapta. kelangkung mandi sikirnya. 16. kadang miwah kanca-kanca. “lh kad0s pundi karsan[n]é. mapan kantun tunggu dawuh. nulya tiyang panghatumut.sampun datos Citarum hagung. “Punapa karsa sampéyan. hingkang dadi sinedya. 147 . langkung sangking sanambang. 18. hantawis tiyang kathahhé. Dalah sampun kathah jalmi. hingkang bade tumut perang. 15. becik gawé surat hingwang. ningal[l]i pesang[g]rahan. dinten pundi majeng yuda. Nulya Rangin ngandika haris. Sedaya pan matur mangkin. sedaya pun siyaga. 14. Nulya Ki Rangin hamatek mangkin. mapan handérék karsan[n]é. pésta hadedaharan. pikir[r]é pan sampun dados. Panangtang mangun hing jurit. hing kanca miwah hing kadang. tempat tiyang ngeraman. napa pun ngungkul[l]i wahu.

kang[g]é mapag hing ngayuda. Dulang Saréh hing wastan[n]é. sarta putra Sindanglaya. Héca hanggén gunem cangkin. 22.tanda hingsun wicaksan[n]a. 935) 20. Nulya hangumpulna mangkin. kambi berandal sing wétan. pelariyan wong nagara.” Nulya damel surat sampun. kaliyan berandal wétan. sedaya matur sumanggah. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti. para sén[n]apati mangké. wonten tiyang ngraman mangké. brandal wétan hasal[l]ipun. Ki Wangsakerti ngandika. hing kadang miwah hing putra. mapan sampun hamiyarsa. supaya siyagi mangké. pandakawan wicaksan[n]a. héh ya Krudug sira. 19. Hutawi nak putra mami. kang kirim hing Pecung dés[s]a. hapa sanggup yuda mangké. sraptan[n]é hingkang hutus[s]an. sira Jaka Patuwak[k]an. hing tegal selat(an) Subang. sampun damel sengsara. harep ngayon[n]i hingwang. 21. 148 . jumerogjog hing ngarsanya. 49 (101. sanggup hing ngaben pukulun.

hurang mapag[g]en siyaga. serat nulya tinampanan. nulya pangandikanya. powé mana hanu puguh. hapa (Dulang) Saréh wahu. dék ngayon[n]én hurang Sunda. breh hanjing siya wétan. 27. 24. Dulang Saréh matur haris. hanjing Sunda malotot[t]é. kula hanjing siya mérad. sarwi hawecan[n]a sugal. kana jampé sikir manéh. kandel hipis hurat tulang. kasukmésa jroning driya. sarwi mésem hawecan[n]a. Jawa Wétan te puguh. 26. Dulang Saréh wangsul nuli. 49a (102.. hulah réya homong siya. haturken juragan siya. Grudug ngadéngé glendengan. hanjing gelis siya mampus. 25. 23. han[n]ang tempat pesanggrahan. Jawa Wétan ngasahan kami.ngaturaken serat sampun. kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang. sampun dugi hing ngarsan[n]é. Jajabang Grudug tingal[l]é. 936) 149 . panon pan pucicilan. Nulya Dulang Saréh hamit. gegancang[ng]an lampah[h]ira. Winahos serat tumuli.

bendé tinitir pinukul. hananding Ki Gedéng Pecung. dateng Kyahi Serit nama. sadaya sang[g]em hing yuda. malah kathah prajuritnya. nulya siyagi sedaya. dateng paduka sampéyan. baris[s]é berandal wétan. tur gagah hasentos[s]a. prawantu perang berandal. hambeknya lir Singalodra. 150 . bala Rangin kathah pejah. 31. bendéra tinarik hagé. Léja maju hing haprang. miwah kadang-kadang kabéh. siyagi hing yudabrata. kawengku hing distrik Subang. bala Rangin pun siyaga. dados pamucuk[k]ing haprang. ngajeng-ngajeng rawuh hipun. miwah Kyahi Gedéng Grudug. suraknya mangambal lambal. 30. 28. hing bala Pecung baris[s]é. campuh prang berandal mangké. Patuwakan Majanglaya. 29. Gumuruh kang bala Rang[ng]in. Mangka sampun kapiyarsi.Ki Gedéng Pecung punika. Nulya humatur Ki Rang[ng]in. Hing papan tegal Selawi. nulya majeng prajuritnya. sampun siyagi balan[n]é.

Ki Léja hanrajang mangké. ketambuwan Jawa Wétan. nulya pin[n]aran hénggal. samya surung sinurung[ng]an. 937) raméh surak[k]ing bala. tan wonten hasor hunggul[l]é. ningali kang raka perang. Palariyan jelma negri. Jaka Patuwakan mangkin. nemu tanding hing ngayuda. Hanulya nerajang wani. péngén hangrasan[n]i hingsun. wani mapag yuda ningwang. Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya. Paksa wan[n]i sira babi. 34. ginanti hanggén yuda. “Héh sapa Sunda siréki. 32. “Héh sapa kang ganti yuda. nama hurang Gedéng Grudug. payoh gentén lawan hingwang. 35. 151 . 50 (103. bala Rangin mawih Pecung. gitik[k]i sira wong wétan. Jaka Patuwakan hingwang.pinethuk Ki Gedéng Grudug. di wétan heker ditéyang. hapa Wangsakerti kowé. wong yuda hudag-hudag[g]an. 33. hora tlatén handulun[n]é. nu baris naliyan siya. hurang sén[n]apatin[n]a.” 36. Léja hatetanya wahu.

Léja tan bis[s]a hobah. nyata hurak[k]an berandal. pan sampun hayun hayun[n]an. “Héh Patuwakan sira. Léja dinesek perang[ng]é. nyata prajurit pinunjul. sayang hanggreget tingalnya. tur sira maksih tarun[n]a. hénggal cinandak nulya. “Duh paman Léja (ja)ndika. Sarwi hasesambat nangis. 50a (104. Patuwakan sabda lirih. wong tarun[n]a sakti punjul. tinitir hanggén[n]ya medang.” 38. dén hikal pinuluh bayu. 39. hanggén medang hora tata. 938) 152 .Ki Léja hamedang sigra. sor duwur pandén pedang.” 37. hiki Kandar sadulurnya. hora wan[n]i paman mangké. dudu prajurit siréku. kaya wong kemaruk mangké. hénggal cinanda(k) hing bala. Coba sun tanding lan mami.” Tan kiyat Bagus Kandar. 40. kalih Patuwakan //mangké hang ngasta bendhak bedama. “Hampun Patuwak[k]an paman. kasilib hing pan[n]ingal. Jaka Patuwakan mangkin. datan pasrah pan medang[ng]é. Kandar mapag hing yuda.

Nulya majeng Bagus Rangin. Kyahi Serit hangandika. 45. 153 . héng[g]al tinalanén Kandar.” Ki Serit ngrangkul putran[n]é. sarwi hambakta bebandan. Siniking putra nun pamit. 41. 43. sun pasrah[h]aken yang hagung. karun[n]a sesambat[t]ira. bade majeng hing payudan. “Rama sampun cilik manah. Ngandika Ki Wangsakerti. pun sirang baris Rangin[n]é. bala Pecung saya kathah. “Héh hanak kul[l]a sedaya. “Haduh Bagus hampun paman. Sarwi krun[n]a sambat néki. nulya surup baskara. 44.” Jigjakerti matur manggah. kaya hapa tingkah hingwang. hananding Rangin siréku. Jigjakerti Majalaya. hakondur bala hing Pecung. “Duh putra welas hing wang.sinabet penjalin wulung. hora wan[n]i paman mangké. 42. muga mental[l]a hing yuda. gumuling han[n]a hing kisma. Ki Rangin nulya humatur. bésuk niki sun pajun[n]é. supaya mapag yuda. Jam nenem béndé tinitir.

tin[n]a kulit huras tulang. ki Grudug mapag yudan[n]é. Bala Pecung miwah Rangin. 48. saba paran handon lan[n]ang.hasesumbar hing payudan. hing bala Rangin hika.” 46. pada rebut[t]en hing yuda. //Majalaya pernah kami. 49. Grudug nulya dén candak.” Nulya campuh hing ngayuda. “Héh sapamapag yuda. Nulya majeng Jigjakerti. “Héh hiki Rangin haran[n]é. 51 (105. wis jamak[k]é hingsun lampus. kasaktén nanding paguh man[n]éh. pan sami sampun pethuk[k]é. kasaput kabujeng sore. kami Jigjakerti ngaran. 939) 47. nulya tinalén[n]a héng[g]al. Pan nu baris nanding siya. nulya Rangin hatetanya. Ki Gedé hing Majalaya. surak lir rengat[t]ing wiyat. hanulya mesanggrahan. binanting nulya kantaka. surung sinurung hing yuda. Majalaya dén talén[n]i. Ki Rangin hanyandak sampun. sumbada gedé tur duwur. papag[g]en han[n]ang payudan. budal baris sedaya. binanti(ng) kantaka wahu. 154 .

nulya wonten mantri prapta. binuka nulya dén dulu. Ngaturken srat tinampi. hécagén[n]é cinatur. 51. dipun kinten musuh teka.ki Serit nulya hamethuk. Hapes tan mental [l]ing jurit. “Katur layang pun rayi. dumarogdog tampi serat. ki Wangsakerti hakagét. semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah. 52. bakal priyén tingkah hingsun. kajodi putra kalih yé. “Duh putra ningsun nyawa. gégér[r]é tiyang hing jaba. musuh Rangin digdaya. 50. kaya priyén polah ningwang. sapratapané hingkang putra. 51a (106. hungel[l]é wahu kang surat. langkung melang hawak[k]é. nawal winahos sigra. 53. dikinten //musuh praptan[n]é. Rangin sakti mandragun[n]a. karan[n]a masih tarun[n]a. 940) 155 . kelangkung susah [h]ing man[n]ah. “Duh mas putra ningsun kulup. 54. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i. sangking lér kelangkung kathah. Mangkan[n]é ki Wangsakerti. kantun satunggal putran[n]ya. kang putra Patuwak[k]an.

Yén Kang Raka mangun jurit. sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah. Nuwun kabar surat rayi. marah hénggal hingsun mapag. kasuwun kakang pinanggya. 57. 56. Sira Patuwakan mangkin. 156 . “Duh bagéya sarawuhnya. methuk wahu hingkang sém[m]ah.” Lajeng budal sakancanya. rayi dugi gegancang[ng]an. raka Wangsakerti mangké. rayi Dalem sing Pegadén. Setrokusuma harinta. rayi Dalem sing Pegadén. hingkang rayi jagi mangké. sampun hangdadosken manah. 58.hingkang saweg mangun yuda. Nulya matur Wangsakerti. serat[t]é kadang kahul[l]a. Ki Wangsakerti gumuyu. “Haduh bagja putran [n]ingwang. mila sanget rayi nuwun. kalih pelariyan wétan. sing Darmayu pun[n]ika.” Dalem Pegadén harinta. kabujeng hamireng warta. katrima nuwun rinta. bekti rayi hingkang ngantos. tumut nyambung hing ngayuda. 55. hateng[g]ah hidin[n]é kakang. pinanggya suka kelangkung. boten mawi kabar wahu.

62. hénggal matur[r]a baris[s]an. Wangsakerti matur haris. sami kénging tinalén[n]an. Karo pelariyan Rangin. angandika hing mantrin[n]é. hingkang sugih dipun rayah. langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang. “Héh mantri ningsun sadaya. hanganggé raja busan[n]a. hénggal tinangkep berandal. kaya hapa hing rupanya. gawé rusak hing wong hakéh. sarawuh[w]é rayi mangké. Nulya humatur haris. kepalan[n]é hingkang medal. kang pengkuh gegaman[n]ipun. kranten kang maju yuda. mapan Jaka Patuwakan. sinonjé kang hanang kanan. 63. 61.” Manembah hana hing ngarsa. Dén hampléh duhung ngiréki. nganggé kuluk sutra wungu. dalah putra kalih hulun. Sumanggah rayi hatur[r]i.941) 157 . cakep gagah pideksa. nulya dangdos dalem mangké. pelariyan sangking wétan?” 59. 60. hamajeng hing ngarsa wahu. 52 (107. hingsun hameton[n]i yuda. tinarétés hinten mirah.kados pundi yuda[n]nipun.

badé majeng hing prang pupuh. tak pasrah[h]aken yang sukma. bendé tinabuh nitir.” 64. 65. hawit putra déréng medal.“Hanuwun matur deduka. 52 (108. hapan sesumbar. Wangsakerti hanyambung[ng]i. “Rebut[t]en bala Rangin. balasan siyaga surak kadya hampuwan. Wangsakerti putranéki. hananding Rangin yudanya.” XIII. 2. hawit déréng majeng mangké.” Nulya Patuwakan nembah. rama sampun medal mangké. Jaka Patuwak[k]an mangkin. gampil lamun putra sampun. 158 . jaya haputra yudan[n]é. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki. “Duh rayi leres putranta. sangking panuwun putranta. héh kulup sakarsan[n]ira. kang putra mundur sing ngarsa. sangking harsan[n]ipun rama. kedah dén turut[t]i rinta. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang. mangka sampun kapiharsa. 942) Nulya medal hing Jawi hamapag yuda. dalem hangandika harum. kasoran hing yudabrata. DURMA 1.

Wangsakerti nama. Patuwak[k]an nadahi.” Patuwakan hamangsul[l]i. kon mapag yuda[n]ningwang. Rangin Patuwak[k]an. Mapan raméh surung-sinurung kang yuda. héman maksi(h) tarun[n]i. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda. 3. dalem hangganti mangkin. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda. musuh lan hingwang. mapan sami saktin[n]ya.hanang Rangin prawira. haja sira mapag jurit. “Héh putra lirén[n]a dingin. nulya tanya Ki Rang[ng]in. tyang kalih hangagem keris. hayun[n]ayun[n]an. hing Jaka Patuwakan. manggih tanding hing jurit. 4. nulya Rangin nyandak. Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang. sapira saktin[n]iréki. raméh surak[k]ing baris. rama kang mapag. 159 . 6. hujung bedama. tiba kasingsal. sarwi pangandikan[n]ya. hanulya mapag Ki Rangin. 5. hing putra Patuwakan. Rangin sinépak nuli.

dalem majung jurit. Setrokusuma hingwang kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in. harep nangkep hing siréki. haku kang jaga sira. ngaku bagus[s]an. wong gagah sira prajurit. saban des[s]a rinayah. sahumur hangrusuh[h]i. jeneng Wiralodra. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat. mungkur[r]a sun talén[n]i. Dalem Darmayu mami. 943) 8. 10. hing tembé katemu hiki. 160 . kanggo mangan hanak rabi. hanjing berandal babi. Rangin hatetan[n]ya.” 7. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira. 52a (109. 9. buron nagara. gawé lan[n]a ting tiyang. kang dadi berandal. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang. sangking Darmayu dingin. Mapan hingsun masih pernah nak sanak. sukur subagja. “Sapa hanggenten[n]an[n]a.yudan[n]é musuh Rangin.” 11. kaya bé…patya?” Dalem nulya mangsul[l]i.

Wangsakerti pan hingwang. hantara hatmaja redi. 14. Wangsakerti siréki. mapag jurit hing siréki. hanggon[n]é mapag yuda. hingsun pan hora wedi. harep nalén[n]i hingwang. ningal[l]i hingkang Gusti. 13. haningal[l]i hing siréki. 161 . binanting hical Rang[ng]in. Wangsakerti ngedal[l]i. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang. 15. bala Pecung kalih Rang[ng]in. nulya watek kang haji. surung-sinurung sira. “Sapa mapag yuda. mapan pada saktin[n]ya. lan sira sapa.” 12. pan Setrokusuma.“Dalem Sunda siréki. bener mapan sira. hénggal hangnyandak. coba majuwa. hingsun haran ki Serit. Rangin pan hora gil[l]a. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a. raméh tiyang surak. nulya nerajang wan[n]i. kang wasta tiwik[k]rama. Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda.

Bagus Rangin ninggal baris. Ki Serit musna. Rangin ngoncat[t]an[n]a. semu sesambat. 19. “Héh Serit wedi mati. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal. bala Rangin hangebyaki.53 (110. //pan kaki sami kaki. Serit pan sring tiba. hang[ng]adu bedama. Ki Rang[ng]in hasring niba. balan[n]é hakéh mati. sami kuwel[l]ing jurit. ngungsi hing Krawang. “Héh Serit pan sira.” 16. musna datan karuwan. Wangsakerti lan ki Serit. nulya malajeng ngoncat[t]i. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda. 162 . gumuling han[n]ang hing kisma. yén héstu sira prajurit. 944) tuwa karo kaki-kaki. ruket pucuk[k]ing keris. runcing-rinuncing mangkin. 18. ngadu pucuk[k]ing bedama. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma. Nulya campuh perang ngadu bedama. perang pan mébéding baris. hénggal mangjuwa. hayuh majuwa. hibur kathah hing jalmi.” 17.

“Putra kaliyan kang rayi. kempel dados sawiji. 53a (111. balan[n]é tiyang Rang[ng]in. pan datan kacandak mangkin. Kyahi Dalem ngandika haris. Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira. dados satunggal. habdi gong saktén[n]ira. Rangin bala berandal. gup[p]enur jéndral mangkin. Léja sun kirim mangkin. suka bungah kang [ng]ati. Putra matur duka rama hing purugnya. Wangsakerti lan dalemnya. 945) 163 . hi[ng]cal Serit lan Rangin. 24.20. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra. Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i. 21. Grudug Majalaya mangkin. hilang tan kruwan. samya numpes bal[l]a. kalih Patuwak[k]an mangkin. Gintung Patuwak[k]an. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an. hing ngendi paran[n]éki?” 23. kados campur sétan. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal. dén talén[n]ana. héh kakang Wangsa. 22. perkara berandal. Ki Serit lan Rangin[n]ya.

turun[n]an[n]ira. Rangin Kandar Léja Serit. silem han[n]ang jaladri. mantri kang sekawan. saparan-paran mantri. hical jero wana. kang bakta langkung susah. kinirim hing Batawi. Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara. Léja lan Kandar. sinebrak rantén[n]iréki. pan sarta hing wétan. Jigjakarya. sangking turun bagus[s]an. badé wangsul langkung hajrih. 25. nyabrang hing Citarumnya. sang Pegadén nagara. kathah hingkang lén mangkin. rinanté hingkang sekalih. han[n]ang Gustinya. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra. nulya malempat. 27. Bagus Kandar larih[h]i. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an. hing[ng]iring[ng]aken mantri. Langkung susah bebandan hical sadaya. bebandan mlajeng wanadri. 164 . miwah Jayakareti.menurut hing préntah. Surakerti Jayamanggala. 28. Bagus Léja [nn] ika. 26. kran[n]a buron nagara.

miruda sadayan[n]ipun. “Kakang wangsul léntas[s]a. sareng rayi mukting riki. 946) 165 . kaliyan Dén Ngelan mangkin. SINOM Mangka lampahnya Dén Karta. muga rayi kahidin kondur kakang. hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang. lir sinebrak linolos pulung[ng]ing 1. berandal halarih[h]i. duginya hanang nagara.pelariyan duk dingin. “Hing kadang-kadang[ng]iréki.” Hangrangkul karun[n]an[n]éki. sinten raka kang ngemban[n]i. hatiyati yayi kari.” Ngrangkul wahu kang rayi. Dén Karta hangandika. Dén Karta lan Dén Wel[l]ang. XIV. 3. putra pan garwa rayi. toya waspahan dres mijil. 2. 54 (112. nagari Darmayu raka. sadaya karun[n]a wahu. karun[n]ang sesambat[t]ipun. Kakang patih mapan séda. pan kakang bakta sadaya. //hing Darmayu kumpulnéki. miwah sadaya prajurit.

“Duh rayi Dalem hangrinta. duging Palimanan mangkin.manah.” Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. haja nangis hari mami. Radén //hingkang dugi. “Radén niki kang dijaga. nulya lajeng lampah néki. tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan. dateng kumpen[n]i pun[n]ika. papali dadi bopatya.” 5. duh yayi dén lilan[n]ana. miwah Radén Welang wahu. sumur tinutup pantes[s]i. 7. hanang soldat kang hajaga. kados pun[n]apa kang werni. nulya hatetan[n]ya haris. hanang sinuhun Gusti. Kartawijaya hakampir. 166 . mengidul margi lampahnya. hingkang dipun jagi wahu. hing Gragé kanjeng sinuhun. mengko kakang jaluk hidin. 4. bade kondur sapuniki. Membales kumendan pes[s]an. Radén samya hangrawuh[h]i?” “Kula bade ningal[l]i. samya ngiring putra garwa miwah kadang. “Pan bade karsa punapa. 947) 6. Dumugi hing pintu jaba. 54 (113.

nulya tinutup bénténgnya. pan datan wanton hambeka.” Sersan mangsul[l]i sabda. hambuka tutumping wes[s]i.duka his[s]in[n]é punapa. pan soldat hanahan sigra. kula tahan sobat mangkin. héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya. héh sobat pan maksa hingsun. tan hun[n]ing hisin[n]é niki. hing soldat dén balangna. 9. Sadinten gén yudabrata. 10. 8. ngandika Radén Welang wahu. hanyandak Dén Welang mangkin. pan bade kahul[l]a buka. pun[n]apa hisi niréki. ngangseg hing kuthan[n]éki. kathah soldat hingkang mati. Radén Karta nyandak sampun. sinurung medaling jawi. bala Radén Karta mangkin. Radén Welang badé maksa.” Radén wecan[n]a haris. “Sobat permisi puniku. timbalan gupenur mangkin. Dén Welang sabdanéki. haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a. yén tan wonten hidin Gusti. Karana lar[n]ang[ng]an hika. yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang. hibur gégér hing prajurit. 167 .

srat sampun katur[r]ing Gusti.54a (114. mahén kurang ngajar hiku. nulya damel srat hénggal. Mangkana sersan kumendan. Mangka sampun cahos ngarsa. lampah[h]é berandal wahu. hanulya hénggal binuka. mapan srat binakta sampun. wis haja sira //temen[n]i. repot han[n]ang Betawi. dugi hing Gragé nagari. “Loh babi Cirebon hanjing. Jeng Gusti ngandika haris. serat binanting tumuli. nulya wangun serat mangkin. 948) “Héh sanak prajurit hingwang. lajeng cahos Gusti Sultan. becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal. 11. mapan jaluk katangkep[p]é 168 . Sén[n]a Surapersanda.” 12. Radén sang kakang bujeng wahu sakitan. hical sangking jero buwi. soldat hingkang bakta. gegancang[ng]an lampah néki. kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral. sanget getun[n]é hing manah. kang[g]é Sultan Cirebon mangkin. 13. “Sedaya hatur mangkin. Pan lajeng hing lampah[h]ira. han[n]ang Palimanan loji.

17. hanang nagara Betawi. “Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat. 169 .” 16. ngandika jeng sultan mangkin. tiningkem sratiréki. serat[t]é sampun winaca. serat tinampakna haglis. dateng Gusti sultan wahu. Sampun medal han[n]ang jaba. hapan hiki gawanen pan surat hingwang.parusuh[w]an. sarta hangandika wahu. lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya. 55 (115. samakta kaprabon yuda. samakta kaprabot jurit.” 14. nangkep ponggawan[n]éki. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral. kang wisma nihaya mangkin. lan gawa malitér mangkin. héh hajid[d]an litnan mangkin. Radén Karta lan Dén Wel[l]ang. hénggal[l]é pan sampun prapti. ngempel[l]aken kang prajurit. srat mapan sampun tinampi. Kanggo hing Cirebon Sultan. 949) 15. patang puluh kang pipilih[y]an. hanang loji Palimanan. hing Cirebon Sultan wahu. hingkang ngrasak Palimanan. hing hajid[d]an lan létnan. hakéh soldat pada mati.

Karta miwah sira Wel[l]ang. 18. Hananging yén sultanan[n]a. pun kadada sajron[n]ing galih. //Nulya tinampan[n]é hénggal. 55a (116. hangrangkul ponggawa kalih. pan dén paksa seja dén jaluk Metaram. ngamuk[k]a hanang Batawi. Si Kléwang karo Si Dumung. pan karo sinuhun Gusti. malah nagara hingwang. ngukuh[h]i tan jisa hingsun. hing Carebon mapan hiki. nadah[h]i hing yudabrata. lan hiki kasung paring[ng]i.” 20. holiya béla siréku. karo wasiyat mami. nurut[t]a pasti yang widi. Bésuk tekang Batawiya. wis pinasti hing yang hagung. Tumurun sing palinggih[y]an.karana dadi san[n]unggal. 19. pin[n]ariksa ngarsan[n]éki. pan ti hingsun hangamuk hambral nagara. hametik taling[ng]an[n]éki. handres mijil toya waspa. hora kuwat nagri mami. Gupenur Jéndral kang neda. sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa. 950) 170 . pan durung tak bales[s]i. malah srat sampé sahiki. hing Metaram nagari.

Gusti nuwun dén hidin[n]i.Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta. 21. PANGKUR 1. kang dén dakwah saréki. mapan ningsun durungna. nulya kondur ponggawa binekta hénggal. “Sumanggah nuwun hidin Gusti. 171 . dén sampun tutas timbal[l]an. sampun dugi hing Betawi. Gagancang[ng]an lampahnira. gupenur pamundut néki. hing Jéndral Gupenur mangkin. 22. ponggawan[n]ipun sekalih. kaya hapa hanggon ningsun sira hutus. tan kawuwus sahaning margi. datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi. nulya matur sersan wahu. hanulya hénggal ngandika hasru. “Héh ponggawa Batawiya. lampah[h]é kang bala hambral.” Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an. manjing han[n]ang dalem hagung. sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa. sinelek lampahnéki. “Litnan miwah sares[s]an. XV. Sampun cahos han[n]ang ngarsa. hanulya cahos hing ngarsa.

“Héh Tuwan Gupenur Jéndral. murbéng rat han[n]ang Metaram. ngisén[n]i ratuning hambral.” Karta miwah Radén Welang. hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami. hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi. Paduka kuwas[s]a hagung. 951) 172 . 4. kuwas[s]a Pulo Jawa.” Langkung lingsem gupenur jéndral 56 (117. hapa kowé hora miring hing pangrungu. 3. puniki ponggawin[n]éki. nanging sembran[n]é hing karma. kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda. kalipatul[l]ah pan hadil. 5. sembran[n]a ratuning hambral. gumujeng humatur néki. lan duging Batawiyah. hamengku tanah Jawa. pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun. jeneng ponggawa pukulun. dedukan[n]é lir kadya tiyang baring. dipun suguhi pepisuh.pan berkah Gusti paduka. Gupenur Jéndral pan haku. mapan kul[l]a bade handon lampus hulun. hora nganggo tata titi. Durung kawula dén priksa. Loh hanjing binatang gil[l]a. 2.

pan ningsun drél sampé lampus. hanuruti darah panas. Nulya dipun bakta medal …. Sahiki kowé nrimaha. han[n]ang bénténg Palimanan. 7.sang[ng]ulun. 952) 8. Nulya jéndral hangandika. pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus. perlu hapa kowé (wa)n[n]i. krana kowé melang[g]ar. limang los[s]in mriyem néki. sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i. hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi. “Héh ponggawa haku trima salah hiki. nulya binaris[s]an hagung. kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun.(halun-halun) hing Batawi. 56a (118. hangras[s]a pan kurang titi. //”Hé bangsa Welanda. tapi tan hadil pan[n]ingsun. tan katingal hingkang dipundrél mangkin. nulya ngrasuk manukma.” 9. wani ngrus[s]ak sampamati saradadu. 6. Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. Kyahi kuwu welas handulu. Pan peteng kénging sundawa. nulya tyang kalih pinas[s]ang. dateng wayah kang sekalih dipun 173 .

langkung susah balan[n]ipun kathah lampus. hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i. Baris malitér sadaya. 13. kran[n]a pasti bakal pejah.hukum. ningal[l]i rusak[k]ing bala. Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu. 12. “Loh wong Cirebon hanjing sira.” Hanulya Jéndral Gupenur. Pinasti hingkang salira. nulya medal kaki kuwu. pan cukup pun bél[l]anana. sekalih ngamuk Welandi. mimis hinten jimatnéki. hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun. 10. Kathah resak para hambral. hing Betawi langkung hibur. 11. musuh kathah wicaksan[n]a. héwed pan bala habral. datan terang haningal[l]i. hajalira han[n]a hing Betawi mangkin. nulya mendhet senapan[n]ya. temahan gawé rusak hing nagara. luwih séwu hingkang mati. “Héh wayah ku sekalih mapan siréku. sangka panukma nira. sing pungkur kang dén harah. mapan perang kaliyan kanca pribadi. 174 . tan nulya pin[n]asang wahu.

953) 175 . bala soldat malitér hingkang pinilih. haku hora trim[m]a resak[k]é balaku. dumugi pejah[h]ing siti. kénging nulya hangemas[s]i. nulya kuwandan[n]é wahu. nagri Cirebon hingsun jaluk. nulya mburu dén[n]ing . nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun. Hanggawa hatelung kapal. wewengkon kasultan[n]an. Dén Karta haningal wahu. sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi. gupenur hamasang sigra. 57 (119. mundur malitér kang baris. Kartawijaya hika. 17.” 14. 15. Hanging gupenur Tuwan. musna hical kuwandan[n]ya. hing para bala hambral.katerangan bakar pis[s]an.. kanggo ganti resak[k]é pan bala haku. Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin. “Hangajid[d]an sares[s]an. Wasiyat keris pan musna. hanulya ngandikan[n]ipun. 16. dén candak kuwandanipun. sahiki kowé dangdan[n]a.k hambral[l]é wahu. samakta kaprabon jurit. pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin.

ponggawan[n]é ngresak mami. Sares[s]an hajidan medal. bala pangéran hambaris. 57a (120.péndék haku hora trima. hanulya siyagi wahu. nulya humatur gupenur. mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh. sarta Pangéran Logawa. litnan kornél seres[s]an nulya baris. 954) 176 . 21. mapan sultan sampun hamiyarsa warti. bala hambral kaliyan Cirebon mangkin. Panjunan cahos hing ngarsa. wangun pesang[g]rahan mangkin. nulya maréntah baris[s]an.” 18. nén majeng hanempuh jurit. Mertasinga para pangéran[n]é rawuh. baris lahut baris darat. hantawis sapitung ngéwu. Radén Pekik miwah Dul. sedaya sabil hing jurit. Pangéran Surya Kusuma. Martakusum[m]a. Raméh hanggén ning yudabrata. 20. sanget gupenur jéndral handulu. Sareng hambral ningal[l]an[n]a. wong Cirebon hanglawan. kacrebon[n]an siyaga. lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i. pangéran maju hing pupuh. Samya gégér tiyang kathah. 19. sampun mentas hing darat[t]an.

numpak kapal babar layar hing jaladri. mapan nengah kapal[l]ipun. humatur Gupenur Jéndral. sampé silem darat[w]an. Sadaya samiya budal. “Héh kadang kul[l]a jéndral. Kanjeng Pangéran Natabumi. sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu. Natabumi Buminata. sampun dugi negara. Metaram Broboya mangkin. tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti. hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin. hang[ng]ungsi sinuhun Gusti. Samya burbar bala hambral.22. 24. wonten napa sampéyan karun[n]a wahu. hing margi sampun kapungkur. nulya mréntah hing tumeng[g]ung. hatur pan sedayan[n]éki. 26. pan kagét sultan tumingal. Sareng pethuk kalih sultan. Jeng Pangéran Purobaya. nulya mentas pelabuwan. 25. kén ngembel[l]aken bala. sultan nulya ngandika rum. samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun. 177 . Sanget dukan[n]é jeng sultan. hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun. mapan ngulug hing Carbon negari. sing Metaram handugén[n]i. 23.

pan pinundut sedaya dateng sanghulun. sultan tan bis[s]a ngandika. mung[g]uh negri paduka. hantara ngandikan[n]éki. sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis. bulu bektin[n]é punika. 28. tampin[n]ipun saban santun. 27. 178 . habdi hanglados[s]i wahu. tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a. “Duh kadang-kadang kahul[l]a. Sarta pansiyun paduka. kanggé kadang-kadang Gusti. mapan habdi siyagi hing perang pupuh. “Bagéya kadang kul[l]a. sing Metaram sedaya kang samya//rawuh kados hangemban sukarya. maksih jeneng sultan Gusti. ngemban timbal[l]an sanghulun. tan hangkat kul[l]a pan katur.58 (121. Gegancang[ng]an cahos ngarsa. 30. mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu. 29. kran[n]a negari kul[l]a. 955) lajeng ngandika prabu. sarta kaparing[ng]an tanah. dawuhipun Gusti sinuhun Metawis. nameng Gusti kalanggeng[ng]an.” “Habdi matur kang sayekti. hantuk dawuh Gusti sangking Metawis. sagending bala paduka.

2. hanimbal[l]i Wiralodra. Lampahnya budal sadaya. nuwun hidin bade kondur Gusti hulun. Sampun rawuh hing Betawi. mugiya dén hatur[r]en[n]a. pasrah[h]é Sinuhun Sultan.mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun. sesampun[n]é sesiniyan. 58a (122. nulya sukan nampéken[n]a. pasrah[h]é hingkang nagara. pan sangking dawuh paduka. nulya sami pamit kondur. sampun katur hing sanghulun. kondur han[n]ang Metaram kang negari. Pangéran Probaya matur. 956) //XVI. Lajeng gupenur hatampi. perkawis nagri Cirebon. wangsul han[n]ang Batapiya. Sareng dawuhipun sultan. hing Gupenur Cirebon nagari. KASMARAN 1. sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur. “Yén makat[t]en Gusti kul[l]a. 179 . hing Cirebon masrah[h]aken negari. handérék karsan[n]ing Gusti.” 32. badé katur hing Jeng Gusti. gupenur kalih sultan. 31.

4.” Dalem datan wecan[n]a. 5. sangking panjunjung rinta. kanggé hangrangsom soldat. hawit datan gadah wahu. sedayan[n]é kul[l]a hétung. nulya hangandika jéndral. sampun rawuh Batawiya. tigang das[s]a rupiyah[h]é. dipun jagi hing Yang Manon. hanangkep berandal mangké. ngarabbi hing kamulyan. sangking sih pitulung Tuwan. dateng paduka gupenur. “Slamet dateng Dalem rayi. hanak putu sareng mulya. miwah sakéhéng pekakas. hénggal cahos hing ngarsa. Hamengku hing Pulo Jawi. sawelas nambang kang harta. 180 . muga lulus[s]a hamurba. Lan kakang ngatur[r]i huning. ya trimakasih harinta. sanget hanuhun Yang Hagung.hing Darmayu negarin[n]é. mung[g]uh sangking perbantuwan. dugi hanak putu Tuwan. hing rekoning dedahar[r]an. Gunggung sadayaning duwit. kasuwun sarébu mangké. 6. 3. kabendan hantuk kamulyan. kumeduh rayi habayar. mugi dén jurung Yang Ngagung.

hanang surat tanda tang[ng]an. Nulya Dalem ngandika ris. “Duh Paduka jeng[ng] Atuwan. Tuwan Gupenur Jéndral. pinapag hing ponggawa. //Gupenur ngandika haris. hing Darmayu kagungannya. salesih tanah tan darbé. hapa hingkang biyasa. babar layar hing bahita. dugi han[n]ang dalem[m]ipun. punapa karsa paduka. 7. 11. kadang putra taken warta. Hanulya humatur haris.” 9.harta hingkang nenambang[ng]an. nulya dugi negaran[n]é. hanglungguh hing kadalem[m]an. hing Tuwan Jéndral punika. 10. mapan tanah gaduh hingwang.” 59 (123. héstu habdi datan duwé. mung dalem nékina hiku. nameng katur sedaya. 1610. harta hingkang nenambang[ng]an. 181 . 957) 8. hing Darmayu pan negara. nameng dalem tetep bahé. tanah habdi hing Darmayu. Nulya dalem néken mangkin. nulya pamit dalem wahu. “Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a. pan wangsul han[n]ang negari.

Dalem mapan sampun lami. nulya Nyi Wiradibrata. nanging dalem pan samangké. wis karsan[n]é hing Yang Manon. Nyayu Hempuh katigan[n]é. Nulya dalem kénging sakit. pan negara dipun rampas. pan datan lang[g]eng ring bénjang. Bagus Kalis Bagus Yogya. 60 (124. maksih kateteppan nya nama. 958) 182 . hing Tuwan Jéndral Betawi. hingkang gadah rinampog[g]an. hing hanak putu sedaya. hora robah biyas[s]a. Hanjani wuragil[l]ipun. nami[n]nipun dalem wahu. hingkang kantun Radén Brestal. Wiralodra peparab. lungguh dadi dalem wahu. pan kadang putra karun[n]a. langkung susah hing kawul[l]a. pan kanggé hongkos[s]i perang. hangrerampog panggotan[n]é. miwah Nyayu Lotam[m]a. hingkang gumanti putran[n]é. 14. dalah dumugi hing ngajal. Pambajeng Radén Marngali. 15. gadah mertuwa durjan[n]a. hanulya sesunu wahu. 12.“Hah kadang pan putra ningwang. Nyayu Pungsi sekawan[n]ya. pitu tunggal hingkang putra. 13.

20. kados pundi lampah[h]ipun. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin. hingkang dén rampog durjana.” 19. rerampog[g]an perayahan. rayi bade ngrekos[s]a. 17. tiyang dados dalem nika. Tan héman kawul[l]anéki. tinangkep hingkang barang. mélu néken kakang mangké. datan dén pradul[l]i mangké. Nulya kakirimna haglis. 183 .Patih Singtrun[n]a wahu. dén kumpul[l]aken pan wahu. punapa rempug jeng kakang. Tan menda saban bengi. pan satingkah polah hipun. Cécég kathah barangnéki. “Duh kakang Mlayakusum[m]a. nulya damel serat hénggal. 16. bener yén mangkon[n]o rinta. sanget wel[l]as hing kawul[l]a. dén hunjuk lebet[t]ing surat. pan durjan[n]a hangrerayah. Patih Singtrun[n]a mangké. hantawis dinten Jeng Tuwan. dipun rakrak sedan[n]am[m]an. konjuk Presidén Tuwan. 18. rawuh hing Darmayu mangké. pan humatur hingkang raka. hing Cirebon pan negara. hing Tuwan Presidén wahu.

tan[n]ana sakéng durjan[n]a. sanget susah manah hipun. 22. Mas Malaya Kusuma[nnya]. cécég salebet dén rekés. Wedan[n]a hangrangkep patih. Langkung gemah pan negari. Darmayu hingkang nagara 184 . nulya dalem kikirimna. durjan[n]a kathah kacandak. hing Cirebon nagara. 24. dipuntahan tigang wulan. Singatrun[n]a Dalem patih. hingkang rayi hirén[n]ya. dén hangkat dadi wedan[n]a. hing kawicaksan[n]anya. 60a (125. jeneng jaksa hingkang nama. datan[n]an[n]a perkaran[n]é. para durjan[n]a sekabéh. han[n]ang Darmayu nagara. Dalem Disowak namin[n]é. dén hangkat dadi ranggah.kang dén haku déning tiyang. pan jeneng kalékturipun. 23. samya hajri(h) ningal[l]in[n]a. hantuk pangkat punika. Jatibarang hing distrik[k]é. wedan[n]a miwah kaléktur. Tunggu putus[s]an negari sareng dugi kang putus[s]an. gupernemén hang kagung[ng]an. 959) 21. Wiradibrata pan wahu.

Radén Mardu harinta. 61 (126. Pambajeng Patimah mangkin. 26. 25. Nyahi Junéd héstri wahu. miwah Sudirah nama. Cirebon Prayawigun[n]a. hanulya Nyayu Julék[k]a. kawan nunggal hingkang putra. kathah[h]ipun gangsal nunggal. 27. wuragil Nyahi Jumin[n]ah. Brataleksan[n]a kakung[ng]é. pambajeng jeneng putran[n]é. sedaya pan putranipun. pan Radén Wiramadengda. Radén Rang[g]ah putranéki. Radén Karta Kusuman[n]é. Nyi Sumbaga putranipun. Mas Demang Bratasentan[n]a. pan sanunggal hingkang putra. hingkang héstri Nyahi Muda. pan kagung[ng]an putra wahu. kagungan putra tiga (?).Patih Singatrun[n]anya. Kaléktor putraniréki. mapan gangsal hingkang putra. 28. wuragil Bratasuwita. //pambajeng Biskal puniku. 960) 185 . wuragil Radén Madada. hiku nipun Ratu Hatma. Hardiwijaya hasistén. Radén Kartawijayéki. jumeneng pangkat sedaya.

Tuwan Pri jeneng[ng]é. Kertadipran[n]a hingkang nama. Nyayu Jeni kuwu héman. hinggih punika kang tigan[n]é. mlaya haja dadi demang. dé Marngali puniku. Kertahudara pun[n]iku. hupas bom hingkang pangkat. Dadi demang pangkatnéki. Wiradaksan[n]a demang. Balu…Kalid hingkang nama. hulu-hulu hingkang pangkat. Nyayu Sungsi lakin[n]éki. 30.29. 31. 32. peparab Wirakusum[m]a. hing Lobener kademangan. pambajeng Kertahudaka. Kertahatmaja wuragil. hanglenggah[h]i demang wahu. hanang Darmayu kota. han[n]ang Sindang Kademang[ng]an. distrik Paséban naminé. Muhada pan tukang timbang. kang gumanti kang putra. Darmayu pan dipun hérpa. Kyahi jaksa sampun séda. Kang Rayi pan mangundriya. 1813. 33. Demang Bangaduwa mangké. Mas Demang Lobener mangkin. 186 . nurun[n]aken putra wahu. Hingkang rayi putra héstri.

34. Ngabéhi Wiraseca ngabébre peputra nami Kartawangsa Tumenggung Metaram. Darmayu sabrang kulon. dadi mantri pangkatnya. lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén 3. hulu-hulu hingkang pangkat. satunggal[l]é lakinya. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 2. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 187 . 61a (128. Sampé hanak putu Kyahi Belara Kyahi Belara peputra nami. Peputra nami Wiraseca. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 4. Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki. Tumenggung Bagelén peputra nami 1. Hanjani lakin[n]é mangké. Wirajatmika nama. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. peparab Kertawil[l]as[s]a. Hé…Subrata nama. Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a.961) Hasal-Husul Wiralodra Sangking dalem kang damel nagari. Haran Jaka Kuwat. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Radén Lowan[n]a. dadi demang Luwungmalang. Bagus Yogya jeneng[ng]ipun.hing Palumbon duk dingin[n]é. Trus peputra nami. jumeneng pangkat wahu.

Héstri Nyayu Wangsayuda 3. // sawis[s]é lawas Wiralodra no. Radén Wiraseca 3. Kakung Radén Tanujiwa Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128. Radén Singalodraka Radén Singalodraka peputra 1. Héstri Nyayu Wangsanegara 2. Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é 3.5. Radén Wirakusuma 4. dadi nagara diharan[n]i Darmayu Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk. Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu. Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. 1 waktu hiki … Bagelén 4. Radén Kumbabocor 3. Kakung Radén Driyantaka 188 . Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra 1. Kakung Radén Sutamerta 2. Lan katemu klawa Nyi Darma. Radén Wirapati 2. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca peputra 1. Trus se… Nyi Darma kalih. Radén Jaka Kuwat 2. Kakung Radén Tanujaya 5. 1 ngelandrah ngolé… kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan sabrang kulon Kali Cimanuk. 962) 1. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata 4.

2 2. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami 1. Kakung Radén Sumedi kangganti dalem 4. 4 4.Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Lahut 2. Kakung Radén Timur 3. Kakung Radén Wiratmaja 6. Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar 3. Héstri Hajeng Patranaya Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Hajeng Singawijaya 4. Kakung Radén Kowi 2. Héstri Hajeng Wilastro 12. Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a 10. Kakung Radén Ganar 189 . Héstri Hajeng Hadiwangsa 11. Héstri Hajeng Raksawiwangsa 7. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13 1. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a 13. Kakung Radén Benggal[l]a 2. Kakung Radén Wirantaka 5. 3 Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami 1. Héstri Hajeng Nay Wangsa 9. Héstri Hajeng Sutamerta 8. Héstri Hajeng Raksawinata Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no.

Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu 6. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 1. 6. Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a 8. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é nami 1. Héstri Hajeng Parwawinata Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya Héstri Hajeng Nahiyasta Héstri Hajeng Gembrak //Héstri Hajeng Tayub 62a (129. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 4. Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener 7. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah 3. 7. 5. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah 7. nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. 8. 7. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan 5. 963) Héstri Hajeng Moka sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén Benggal[l]i. Kakung Radén Suryapati 2. 6 6. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang 2. Kakung Radén Suryawijaya 4. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami 1. Kakung Radén Suryabrata 3. 4. 190 .3. 5 5. Kakung Radén Kerstal Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no.

Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3 1. Radén Madi Wirasomantri 2. 2. Radén Perdata Wirahastabrata 2. Héstri Nyayu Wiradibrata wékling 4. Radén Sumarga Wirasudirga 191 . 3. 4. (Hés)tri Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2 1. Radén Prawirakusuma (Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4 1. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener 2. Radén Wirasaputra dadi demang 2. (Radén) Wirahatmaja 3. Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4 1. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2 1. Héstri Nyayu Wiradiwangsa 2. Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber 3. Radén Wiramadengda héstri Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang peputra 2 1.9.

… dari mantri Haris. terus-menerus hingga putra …. sedang senang hati saya. tahun seribu sembilan ratus. jam dua malam … waktunya …sebulan. buku sejarah bupati. Tiada lain (cerita) ini dikarang. pada malam Jum’at legi sedang senang hati saya. (untuk) membuka bagian …. supaya ….3. turun-temurun [ini] anak …. 192 . sudah …langka. 2. bermula …. 4. 3. … dikarang nyanyian. …rusak. supaya sama-sama mengetahui. besok (sampai) akhir. ada di Indramayu….4 Terjemahan I. SINOM 1. Ki Wiralodra …. pada tanggal sepuluh. serta sanak saudara ….alur (cerita). dari sejarah kuna. Alasan saya menulis. anak cucu Wiralodra. Kartadipranna. …saya menulis. …hilang ….

laki-laki … putra Raja Pajajaran. keturunan Wiralodra. Lalu saya. 6. … … ia memiliki anak. …sedih (melihat) rusak kuburan. 193 . 8. berputra Ngabehi Wirasecapa. Tumenggung Gagak Pernala. (bernama) Kartadiwangsa.…sejarah dahulu. mempunyai anak …. pemakaman pun dilihat. Larakelar asalnya. melihat sejarah. minggu saya bepergian. Panembahan Kiai Belara. 5... 7. …tumenggung. …Pringgandipura. memaksakan saya mencari.. (Kang)Jeng Pangeran Hadi…. berputra lagi. tumenggung dari Mataram. Rangga Bagelen . Wirasecapa mempunyai (anak). …pernah datang (ke Majapahit).mengantikan. (berputra) empat orang. lalu . ... Itu nama lainnya. tumenggung Mataram.

194 . telah menghilang wujudnya. Yang sulung Wangsanagara. meminta kepada yang kuasa. selalu yang terlihat melihat wujud tunggal . (Tidak) tidur serta makan. asal negrinya Karangjati. putra dari …. [ia] berputra…. Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan Wiralodra ketiganya Tanujaya adiknya.Bagelen…. sareat serta hakekat. 11. tidur di tempat tinggalnya.diganti para bupati.. tempatnya sepi sekali. di dalam supaya menjadi satu. Dari Banyuhurip Kedu …. . Tinggal … di gunung.. …negara.. oleh Gagak Wirakusuma berputra lagi Gagak Singalodra …. 10. tiga tahun lamanya.. Tanujiwa bungsunya di Bagelen keratonnya Wiralodra karena sangat sedih (ia) sering bertapa. oleh Gagak Wirahandaka. karena Raden Gagak Kumitir. hakekat dan marifat. 9.

tanda diterima oleh Yang Agung. memohon kepada Yang Sukma. yaitu cahaya bola api.. lalu … kinanti tembangnya. Pada malam Jum’at. terbangun memakai …. KINANTI 1. Wiralodra. 2. ke hutan Cimanuk. 12. 3. hutan besar itu nyawa.…cahya yang bening. cahaya… tapa. Wiralodra. suara yang terdengar. II. (Su)kma Yang Agung. … bukalah hutan ini. bila ingin mulia dirimu. …tuamu. …terang-benderang. menghilang di tempat terang. karena akan menjadi … untuk keturunanmu. semoga akhirnya mulia. 195 . …. Pindahlah ke barat. terang seperti bintang. turunannya semoga mendapatkan kemulyaan. melihat (cahaya) di atas langit. lalu cepat bangun . hingga tujuh keturunan. serta terlihat di timur.

mendapat pertolongan. pertolongan Yang Maha Widi. bersama penakawan. berada di hutan belantara. (air mata) ke luar deras (dan) menangis. Sungai besar [di] Citarum. serta bangkit … Sudah diizinkan pergi. di mana tempatnya ini. anakku …. sehingga sampai di sebuah sungai. …tiba di air besar 5. memasuki hutan. Ki Tinggil . ia duduk di pinggir kali. karena belum …. Menuju arah selatan kaki gunung. … bercerita. lupa tidur serta makan. anakku mari …. 196 . karena (sudah) kehendakNya. 4. 7. 8. Saya serahkan kepada Yang Agung.sama-sama … ayahnya. di Sungai Cimanuk tempatnya. putranya mencium kaki ayahnya. 6. dari hadapan ayah serta ibunya. dipeluk serta ditangisi. Lamanya tiga tahun. … kepada ayahmu. sama-sama keluar air mata. lalu melanjutkan perjalanannya.

Paman saya merasa bingung. (saya) minta perolongan kakek. Raden Wiralodra melihat. yang bernama Kiai Tinggil. Setelah Bendara (Wiralodra). berkata Kiai Tinggil. Saya kira ada perkampungan. saya akan mendapat berita. 10. kepada pelayannya. sungai (ini) sangat besar. bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa. Lalu di(tarik) dipeluk. 197 . sangat gembira (hatinya). serta … ada seorang kakek datang.lalu berbicara perlahan. atau kebun orang. 12. 9. Buyut Sidum orang dulu. ada kakek-kakek datang. berbicara lemah lembut. dari orang tua ini. 13. aduh kakang tolonglah saya. banyak jembatan di sini. “Duh saya bahagia sekali. istirahat menyenangkan pikiran. dan [ini] Tuanku. …. sabar Tuanku …. serta sama-sama duduk. yang seperti lelaki tua. bersalaman dengan kedua tangan. 11.

belum menanyakan namanya. …berbicara. 18. “Duh cucuku yang kusayangi. tiga (tahun) perjalanannya. 19.14. 198 . semoga kakek dapat menolong. yang merupakan bagian dari Karawang. Sambil terbata-bata (dan) perlahan. terkejut [tadi] melihatnya. Lalu menghilang orang tua itu. Raden Wiralodra dongkol. Lalu berbicara manis. Kyahi Dum berbicara manis. gugup ia menjawab. serta dari mana asalnya. kamu…ku. dari negeri Bagelen. ia keburu menghilang. mengatakan jalan ini. saya ingin mendapat berita. Telah lama perjalanan saya. “Duh Paman Kiai Tinggil. 16. sudah harus kembali… menelusuri pesisir. di manakah kakek tua?” Ki Tinggil berkata perlahan. belum ditanyakan namanya. 17. atau negaranya. …sungai Citarum. … berada di sebelah timur. 15. di mana kali Cimanuk.

nanti (setelah) istirahat (kita) mandi. hutan (tempat) datang Ki Tinggil. (air ini) sangat (bagus) dan bening. saya lalu berangkat. Paduka.tapi saya gembira Tuanku. istirahat di hutan ini. lalu segera berjalan. [sumber] (air) keluar dari sumur. di sebelah hulu (sungai) ini. saya ingin tidur-tiduran. maka cepat-cepat. Lalu tidur Kiai Tinggil. Inilah sebabnya. lihatlah air ini. Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan. 20. pertolongan Yang Maha Kuasa. Menelusuri hutan rimba. berjalan siang dan malam.” Kiai Tinggil berkata. jika (tuan) hendak mandi. terdapat air mengalir. ke timur dan utara jalannya. 21. meneruskan perjalanan besok. 22. “Duh paman Tinggil . tidak tidur serta makan. lekas mendapat pertolongan. 24. 199 . melihat matahari terbit. serta sampai di Pasir Ucing. 23. sejuk tertiup angin semilir. Lamanya hingga dua minggu.

serta hendak pergi ke mana. Wirasetra. 28. serta aslinya dari mana?” Wiralodra nama dinda. membuat kampung di hutan. dengan kanda baru bertemu. (sedang) mencari kali Cimanuk. ke pondokannya. 26.” Adapun nama kanda. Wirasetra namanya. Banyuhurip saudara sepupu(ku). Kanda berasal dari timur. “Duh Kanda Tuanku. “Duh gembira sekali dinda. 27. berasal dari (daerah) timur. kelak bakal menurunkan. Dipati Wirakusuma” Lalu dibawa pulang. Lalu bertemu orang (yang menanam) padi. Dalem Pegaden. Kiai Wiralodra bertanya. 200 . Wiralodra namaku. Dinda siapakah namamu. Lalu berangkat Wiralodra. menuju arah utara perjalanannya. sambil keduanya bersalaman. 29. dan siapakah nama kanda. 25. berasal dari Bagelen. bertemu dengan kanda. Menangis sambil memeluk.terdapat air di tengah hutan.

hanya dedaunan. selama ini tidak (ada) makanan. …perut buncit. bila berjalan terseok-seok. 34. 201 . tersenggol oleh … maka (akan) lama di sini. 33.” Kiayi Wirasetra menyambung ucapan (dengan) manis. mendengar ucapan Tinggil. 30. “Ya paman sudah bahagia. (sudah lama) tidak makan. saya sering jatuh bangun. 32. sampai besar daging saya daging saya banyak (yang) hilang. Keduanya sama tertawa. Aduh Tuanku saya memohon. sama-sama gembira. “Duh Tuan baru (sekarang) saya. Kiai (Tinggil) berkata. 31. kaki tangan kecil-kecil. yang saya makan. bertemu dengan saudaraku. tetangga sama makanannya. makan dengan ikan. makan bersama-sama. Menginginkan …dari…. lama tinggal di sini. (saya) mau mengistirahatkan badan. bisa makan dengan kenyang.disuguhi makan. serta rejekimu paman.

” Ki Wirasetra terbahak. letak Sungai Cimanuk menurut wangsit?” Wirasetra berkata perlahan. dinda berterima kasih. Lalu (keduanya) bersalaman.” Berkata Kiai Tinggil. 37. makan dua kali sehari. sudah saya rasakan. Serta dijaga oleh Yang Agung. “Duh kanda. Sangat gembira diriku. Di manakah tempatnya. “Hai Tinggil saya doakan. Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah. bertemu dengan saudara. “Duh saya bahagia Tuan. 39. Melimpah … 35.” Raden Wiralodra tadi. tertawa saking gembira. setelah sebulan lamanya. serta berkata dengan perlahan. semoga cepat ditemukan. bertemu di tengah hutan (dengan)ku. semoga saya diijinkan. saya mengiringi dengan doa. mau berangkat hari ini. 202 . karena saya bertamu di sini. “ Tuan saya meminta daging saya bertambah lagi. 36. lalu ia berkata kepada kakaknya. 38.“Duh kebahagiaan paman.

” 40. tapi saya masih takut. masih di hutan belantara. padi gajih sangat putih. untuk meyakinkannya. 41. Ubi emas serta jagung. 43. Ki Tinggil berkata perlahan. (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan. saya kira ini sungai Cimanuk. 203 . mentimun serta lobak. dua bulan lamanya. melihat tempat (mereka) berdua. gampang nanti mampir lagi. Keduanya berangkat menuju arah timur ….kamu segera menemukan. lalu menemukan sungai. menelusuri pinggir kali. terung serta cabai dan kecipir. 42. “Duh Tuan mudah-mudahan betul. terlihat sangat bagus. keinginan tuanmu. sangat senang melihat(nya). tidak ada perkampungan. (Ia) gembira sekali. Kemudian Kiai mencipta kebun palawija luas. tanamannya macam-macam. 44.” Lalu keduanya berjalan. “Duh paman Tinggil . di pinggir (kali) ini. Kiai Sedum merasa kuatir.

kanan kiri bunga mandakaki. “Mau apa kamu. “Duh Tinggil gembira diriku. sedap malam berhadapan. untuk (membuat perangkap ikan. serta sungai apa namanya ini Kiayi?” Ia menjawab membentak. 48. Raden Wiralodra melihat. Di pinggir kali (letak) pondokannya. Lalu menengokkan kepala. Wiralodra berbicara. 46. kebun bagus tidak ada (duanya). dikelilingi bunga seruni. baru tiba (sudah) bertanya-tanya. di dalam rumah ada orang duduk. 204 . dari manakah kamu ini. apakah akan merampokku. Lalu berkata lirih. 49. semoga mau memaafkan. “Kiai saya memohon. hendak bertanya pemilik kebun yang begitu indah ini.kebun palawija luas. duduk (sambil) meraut bambu. di (sebelah) timur seperti ini (juga). Semua tanaman di kebun subur. Ki Sedum duduk dalam rumah. 47. 45. Tinggil melihat dari sebelah timur. melihat kebun. tongkeng terjurai di gerbang.

karena saya barusan melihat sungai. Tetapi wataknya begitu. tidak takut sambil duduk. “Betul sekali Tuanku. harus dimaklum Tuan. Lalu perlahan-lahan dihampiri. 205 . “Duh Kiai tolonglah saya. bagaimana kalau saya ikut berkebun?” temannya berkata. 53. apalagi orang (yang tinggal di) hutan. 50. Namaku yang dipanggil. aku pemilik kebun ini. saya baru pertama melihat. sesungguhnya saya Kiai . Ini kan sungai Cimanuk. tidak lain saya mencari Sungai Cimanuk. tidak punya tatakrama. 51. mau apa kamu bertanya. tentu karena orang kampung Tuan. (Ia lalu berkata) “Kasar sekali kamu Kakak. jauh dari negeri Bagelen. Inikah Sungai Cimanuk. saya bertanya malah dibentak. kasihanilah saya. Kiai Wiralodra kesal.” Petani yang berubah wujud.kamu datang ke pondokku. 54. 52.” Berkata Kiai Tinggil. saya ikut kepada tuan. semoga saya ditempatkan Kiai.

Mulanya hutan diminta. aku tidak akan menolong. Tempatnya di kebun tadi. didekatinya orang tua itu. 57. sambil berkata dengan suara keras. kamu betul-betul berandal. masalah kebun anda. kakek … bertani. 58. jangan harap aku menolong. (lalu) saling mendorong keduanya. Lalu berpindah kakek itu. Kiai yang menyamar berkata. raut muka seperti api. walang kerik menuduhku. tidak suka aku melihat. 56. lebih keras berbicara. lalu kebunku.55.” Raden Wiralodra . melihat kamu ini. 60. berdiri (lalu) duduk di kursi. “Hai kamu orang apa.” Raden Wiralodra marah. tidak bisa diajak berunding! Saya kan sudah meminta. menubruk orang tua itu. tidak bisa diajak berbicara lembut. 206 . memalukan kamu orang kampung. karena aku banyak rakyat. apakah harus dipaksa memberi. cepatlah kamu mati. 59. karena aku tidak silau.

matahari sudah terlihat. Lalu memasuki (hutan) lebat . Buyut Sidum namaku.” Keduanya sudah menyebrangi. kijang mas yang matanya intan. jika sore terbenam di barat. cepat kamu menyeberang. Sungai Cipunegara. 64. berbelok. 207 . itulah Sungai Cimanuk kelak bila kamu membuka (hutan). lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut). 62. Pamanukan (nama) kampungku. menghilang menjadi hutan. cepat buru kijang itu. jika kamu tidak tahu aku. 63. “Hai Wiralodra cucuku. Cipunegara sungainya. tapi ada (suara) terdengar … 61. jika pagi tentu (terbit) di timur.mengadu kesaktian. kelak (tempat) ini jadi desa. bertapalah jangan tidur pasti kamu menjadi kaya. ini bukan Sungai Cimanuk. 65. apabila menemukan. sudah dipastikan kehendakku. Di mana menghilang (kijang tersebut). dibanting lalu menghilang. berjalan dengan cepat. ingatlah nasihatku.

melihat sungai besar sekali. lalu macan menghilang.” Lalu berkata lirih. Raden Wiralodra. muncul ular besar sekali. SINOM 208 . Hilang ular jadi sungai. Raden Wiralodra heran.melihat macan besar. “Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini. lalu menubruk Raden Wiralodra menghindar. 67. Dipukul(nya) kepala ular. (Karena) ada macan besar. Lalu ular mengejar. 68.. sekarang aku ingin bertanya. III. menghalangi jalan. macan apa namanya ini?” Macan menggeram di depan(nya). Macan lalu ditempeleng. . 66. “Duh tolong Tuanku di mana aku bersembunyi. 69. Lalu ia menemukan ular tadi. Ki Tinggil mengambil pemukul. kemudian dilepaskan oleh Raden Wiralodra sungai menghilang tanpa bekas muncul perempuan cantik masih begitu muda. Terkejut Kiai Tinggil.

1.

(Menghampiri) kepada Raden Wiralodra minta dikasihani. “Duh Raden Bagus tuan Orang yang tampan bertemu di sini, di dalam hutan. Aduh saya kasihan sekali, hendak mencari apa, serta apa yang dituju? [Silahkan] Raden terimalah salamku. Kan saya masih gadis, belum pernah bersuami, Larawana namaku, akan mengikuti, apa yang diinginkan Tuan, saya sanggup menolong, kekayaan kejayaan, asal saya dinikahi, [silahkan] Raden turutilah kesediaanku.” Ki Tinggil maju ke depan, sambil berkata lirih “Duh Tuanku ingatlah, ini di tengah hutan.” Wiralodra berkata perlahan, “Saya tidak takut paman, sebentar akan saya periksa pintar sekali berbicaranya, maaf saya hendak balik bertanya. “Anda ada di hutan, tidak pantas seorang perempuan, berada di tengah hutan, mengaku gadis belum bersuami, kan saya tidak percaya, tadi (minta) aku nikahi,

2.

3.

4.

209

meskipun (kamu) wanita cantik, tidak akan mau (diajak) menikah, sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.” 5. “Menjawab Nyi Larawana, … bagus, … menanti hasil kemuliaan, cepatlah jadi kakek-kakek, gigi ompong pipi kempot, kuping tuli pinggang bungkuk, sekarng saya meminta, jika kamu tidak menurut, pasti mati berdua bersamamu, Menghalangi di depan, Raden menghindar ke kanan (dan) kiri, lalu menangkap Larawana, Wiralodra menghampiri, lalu disingkirkan, (jatuh) tertelentang lalu menubruk, Ki Wiralodra menubruk, dikejar lalu bertarung, mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta. Wiralodra waspada, tidak kena aku, lebih baik aku mati, jika tidak bersatu, kemudian saling menangkap, (sambil) menuju arah timur. Wiralodra waspada, senjatanya berupa rantai, tidak ada orang setampan kamu. Lalu menggunakan senjata, Wiralodra menahannya.

6.

7.

8.

210

senjata rantai mengenai, tetapi tidak menyerah, makin susah melihatnya, ….. karena orang tampan, heran sekali Wiralodra, orang tampan … .sakti, silahkan Raden anda membalas kepadaku. 9. Lalu Raden Wiralodra, tangannya memegang cakra, Ki Tinggil cepat mendekati, “Duh Raden hati-hatilah, kira-kira Tuan kalah, karena …, lalu Den Wiracabra menanti, Nyi Larawana menadahi, terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas. Lalu Raden melihat(nya), badannya berkilau, tidak salah kijang mas. Lalu berkata perlahan, “Paman Kiai Tinggil, paman lihatlah dengan teliti, itu kan kijang mas ayo paman jangan tertinggal, aku kejar kemana arah (larinya) kijang. Keduanya lalu memburu kijang, dicegat (di) kanan dan kiri, dicoba ditangkap (tapi) tidak kena, jika jauh kijang menunggu, sehingga sudah jauh perjalanannya, kijang berlari ke arah timur, kedua orang itu tidak melihat(nya), terus mengikuti kijang,

10.

11.

211

siang malam memburu kijang mas. 12. Lalu berjalan sampai di, …………. tinggi, kijang mas menghilang, terlihat alur sungai, airnya deras mengalir, yaitu Sungai Cimanuk, lalu istirahat di bawah. lalu keduanya melihat di bawah, menuju pohon kiara besar, lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara. Terdengar (seperti) dalam mimpi, “Nak, ini kan Sungai Cimanuk yang dicari, berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua, sampai keturunanmu, (sudah) kehendak Yang Maha Agung memperoleh kemuliaan, sudah diterima oleh Yang Widi.” Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra. Sangat gembira hatinya, dalam mimpinya yang terdengar, nampak nyata memberi kabar. Raden Wiralodra, berkata kepada paman Tinggil, “Duh paman bahagia diriku, saya tidur pada hari ini, bermimpi (ada yang) memberitahu, ternyata inilah Sungai Cimanuk . Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.” Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh Tuanku jika demikian,

13.

14.

15.

212

bagaimana kehendak tuan untuk tempat tinggal saya?” Raden Wiralodra lalu mencari lokasi, mencari (di) pinggir kali, menemukan tempat yang luas dan datar. 16. Lalu membuat pondokan, Ki Tinggil yang membuatnya, lalu membersihkan badan, kemudian Raden Wiralodra, membabat hutan, serta badak (dan) banteng, semua melarikan diri berhamburan, pembawaannya panas dingin, setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar. Begitu juga Raja Budipaksa, dengan Patih Bhujarawis, berkumpul dengan pasukannya, serta prajuritnya, dan para senapati. Ki Gede Muara Cimanuk, sangat bersedih sekali, semua pasukan menjadi bubar, karena Wiralodra membabat hutan. Lalu mennyerang Raden Wira, bertemu di pondoknya, Budipaksa berkata, “Hai satria manusia tampan, kenapa lancang dan berani, siapa kamu ini, merusak anakbuahku, cepatlah pergi kamu ini!” Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

17.

18.

213

19.

“Hai setan siapa kamu, penghuni persembunyian iblis, beraninya mengusirku, dikiranya aku takut, berlagak di hadapanku, dasar gandarwo bulus, ke sini majulah kamu sebab aku tidak akan lari.” Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya. Seluruh (Ki) Gedeng Muara, sama sama mendatangi, heboh pertarungan Raden Wira, Ki Tinggil memanjatkan doa, doa Srabad Sulaeman, duruwiksa banyk (yang) lumpuh, lalu ada utusannya, dari Tunjung Bang, (yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat. Sampai tiba Sultan Mas, (yang mengatakan) jangan saling mengganggu, Raden Wiralodra itu, karena keturunan Majapahit, (lebih) baik dijaga, sesama saudara (harus) akur, karena masih bertalian darah Rara Kidul ratunya.” Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah. Sambil menyembah di hadapannya, meminta dikasihani, (ia berkata), “Duh Raden Tuanku, prajuritku salah sasaran, semoga Tuanku mau memaafkan.”

20.

21.

22.

214

Berkata Den Wira, sekarang sipa tuan(mu), tidak kenal rajaku, Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas. 23. “Duh diminta Paduka berkata, adik sultan berbicara denganku, saya bersukur Dinda sultan, beserta anak dan saudara, sampai keturunan Dinda, kan kanda bekerja … wangsit (dari) Yang Maha Tinggi. Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus. Lalu siang malam membabat, Ki Tinggil menjadi koki, serta menanam palawija ubi jalar jagung serta kecipir, macam-macam palawija, (tanaman) gundem jawawut tumbuh subur, tidak ada kekurangan. Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh bendara baru sekarang saya senang. Tidak ada kekurangan, palawija tidak habis dimakan, terkenal kebunnya, karena bagus tanahnya banyak orang berdatangan, ikut (membuat) rumah di situ, sejak tanaman subur, bergantian orang yang datang, sama subur bermacam-macam tanaman. Banyak orang yang membuat rumah, sampai ke negara tetangga,

24.

25.

26.

215

28. Diceritakan perjalanannya. melihat putranya datang.Ki Tinggil menjadi lurah. Setelah tiga tahun Lama(nya) membuat perkampungan. berkumpul dengan ketiga anak(nya). siang malam terbayangkan. ibu sampai bengkak matanya. bila ada yang pulang berperang. karena ingat kepada anak. jangan dielakan. “Aduh anakku belahan jiwa. Lalu berangkat Raden menuju negara. tidak ada orang yang kekurangan makan. terimalah (dan) suruh masuk. perjalanan putraku. menangis siang dan malam. di sungai Cimanuk. Raden berkata perlahan. 216 . ayah ibunya sama-sama sedang duduk. lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira. bagaimana anakku belahan jiwa. menuju ke keraton. Tinggil ditinggal sendiri. tinggal di sini dulu. tidak disangka sekali. “Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama. 27. sampai ke Banyuhurip. Bagelen negaranya. 29. ibu dan ayahanya terkejut. (saya) sangat ingin bertemu dengan ayah ibuku paman akan ditinggalkan.

dan Tanuhjiwa. berkat pertolongan Yang Widi. 217 . (Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal. mengenai perjalanannya. di barat jadi negara. Wangsayuda dengan Tanujaya. supaya menjadi tahu. dengan saudaramu. gampang besok kalau sudah jadi. menjadi lurah di sini. semua siap bekerja dengan baik. terserah kehendak kalian. lebih banyak orang datang.ceritakan kepada ibu dan ayah.” Si Tinggil diangkat. serta Wangsanagari. pimpinlah negri Bagelen. para saudara pekerjaannya mengurus negara. empat orang putraku. kasihan mendengar pengalamannya. 32. “Duh anakku belahan jiwa. yang ikut membuat perkampungan. salah seorang (di antaranya) kamu. ayahnya ikut berkata. serta saudara-saudaranya.” 30. aturan mengurus negara. semua sama menangis. jumlahnya lima ratus orang 31. semoga tercapai yang diinginkan. Putranya berkata kepada ayahnya. ayah ibu mendengarkan. pesan ayahanda. 33.

35. diangkat oleh Kiai Tinggil. Puspahita. dan siapakah namamu. 34. 37. “Saya mohon maap yang sebesar-besarnya.menjadi kaya Kiai Tinggil. serta Ki Pulana. karena luas tempatnya. dibuat seperti negara. Hindang Darma (namaku) saya mengembara. 36. seperti pangkat tumenggung. memikul gandum dan padi. “Duh paman tidak kenal padaku. diiringi dua pengawal. kepada tamu yang baru tiba. 218 . Wanaswara. gardu tempat menjaga. Ki Tinggil lembut bertanya. cantiknya tiada tara. orang kecil senang hatinya. Surantaka. aslinya dari mana ?” Nyi Hindang menjawab. Sukubahu (dan) Jungjang Krawat. pengawal(nya) itu petani menuju wisma Ki Tinggil ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk. serta masih gadis. Bayantaka. Hindang Darma namanya. Saya akan menumpang. setiap hari yang datang membuat rumah Kemudian ada yang datang. pintar membuat siasat perang. apa maksudmu Nyai. setiap lorong dijagai. Jayantaka.

memilih tanah yang cocok. saya senang melihatnya. 38. alangkah gembira tuanku melihat wanita sangat cantik karena Hindang Darma sudah membuat rumah. semoga saya diberi izin. begitu pula semua muridnya. Di barat atau timur. seluruh murid-muridnya. untuk istri tuanku. 39.” Ki Tinggil menjawab. Karena subur kebunnya. menanti bertemu musuh.ikut membuat pondokan. tapi nanti tuanku. saya hendak berkebun. 219 . Hindang Darma kembali jaya.” Sudah keluar dari rumah. atau saya bersawah. untuk ikut bertani. baru kali ini aku melihat wanita Cantik dan mulus tubuhnya. tanah yang agak luas. “Silahkan ikut saya di mana yang akan dipilih. 40. silahkan memilih. murid-muridnya itu. apa pertimbangan junjunganku. jika datang ke sini tentu aku lalu akan menyampaikan. sebab bermanfaat kesaktiannya. Nyi Hindang (boleh) memeriksa. Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam).

aku tidak mau mendengar. 220 . Sekarang muridku semuanya.” (Lalu semua) sudah menaiki perahu. 41.terkenal ke negara lain. lalu berbicara lembut. Karena Pangeran sangat pandai.muridku. tangkaplah untukku. berguru ilmunya seperti aku.” Pangeran terpesona melihat(nya). dalam sekejap sudah tiba di pondokan Hindang Darma. pemberani namanya. 44. Pangeran sangat sedih. 42. 43. di muara lalu semua menyeberang. ada wanita kembali. “Saya berbahagia kedatangan tamu (apalagi) pembesar yang datang. lalu cepat memasang layar. terdengar kepada Pangeran Palembang. “Hai murid. cepat-cepat berdandan. silahkan paduka duduklah semua. Terkejut Nyi Hindang melihat Kedatangan orang banyak. wanita ini cantik sekali. ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki. berpikir di dalam hati. (lalu) berkata kepada muridnya.. sudah sampai perahunya. karena puluhan (murid) Pangeran. aku sudah mendengar. kalian pergi ke Pulau Jawa.

saya berasal dari dusun. serta ada perlu apa. dengan pasukan sekerajaan. Lalu Nyi Hindang berkata. 221 . tidak mendengar berita. “Sayang sekali anda ini. ingin menyamai namaku. seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan. bersama-sama datang ke tempatku. Saya sangat terkejut.” Pangeran menjawab. 45. di negeri Palembang. Inilah murid saya. pangeran taat kepadaku. siapa nama (tuan). “Duh mohon beribu maaf karena paduka. sepertinya ada pekerjaan besar datang dengan senjata lengkap.sayang sekali kelakuannya. perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki. keturunan Sultan Aryadillah. asal tuan dari mana. jangan mungkir anda. jika kamu (telah) berguru ilmu. 46. yang sedang berguru ilmu. (agar) terkenal di seluruh negara. jadi guru semua para Pangeran. yang ikut dengan saya. 47. wanita secantik anda. aku perlu memeriksa kamu. Pangeran Guru namanya. banyak yang berguru kepadaku.

Tinggal kamu Hindang Darma lancang memaksa (dan) berani. berbicaralah yang sesungguhnya. tidak memakai tatakrama seorang wanita. seperti kelakuanmu itu. hendak apa Tuan. 49. tidak tentu negaranya. mau apa. di depan di halangi. “Duh sayang sekali rupa seperti Tuan. menjadi guru seperti saya. lancangnya keterlaluan. tidak ada manusia. Tetapi ucapannya kasar. Seperti kamu orang yang sakti. wanita cantik serta kulit kuning. seperti yang lebih unggul. bertanya kepadaTuan. rupa tuan sangat tampan (dan) gagah. senjata ujung keris. tiada tandingannya seperti kecantikanmu Hindang Darma pelacur murahan kamu ini. tamu meminta disuguhi. atau segan melihat.” Nyi Hindang menjawab. sungguh perkataan Pangeran. silahkan (saya) mengikuti keinginanmu. 50. 222 . tidak bisa berkata pelan.48. Hindang Darma tidak silau. 51. kan sudah mempersilahkan. atau menyisakan pekerjaan. sombong kamu ini.

Sudah kacau perkataanmu. Wisanggeni namanya. “Diizinkan membuat tempat tinggal. “Duh Pangeran di sini tempat yang luas. dimakamkan di pekuburan Darmayu. serta tempat untuk bertani. 55. pertarungan mengadu kesaktian bertarung mengadu senjata. 9takut) dimarahi paduka.atau kesaktian guru. Semua pangeran 53. silahkan sekehendak Tuan. Ki Pulaha diperintahkan. “Kang Pulaha saya merasa bingung. sayang wajah tampan(mu). kalau kalah saya tidak akan malu. Ki Tinggil sangat takut. ternyata malah dipakai tempat bertarung. Bratakusuma adiknya. kesenangannya bertani. Cepat pangeran menyerang. sambil menantang bertarung. kemudian keluar. banyak pangeran yang tewas. mencari tempat yang luas. Bramakendali keduanya. 54. sudah menghadap. Nyi Hindang sangat sakti susah menghindarinya. semua pangeran tewas. pertarungan diperkirakan lama. semuanya akan dilayani. 223 .” 52.

saya akan menghadap paduka. Lalu berangkat secepatnya. “Sudahlah tidak apa. semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil Ditubruk Ki Pandakawan. Lalu ayahnya berkata. “Aduh anakku. 57. berjalan siang dan malam. dahulu sama-sama menderita. sebentar saja sudah sampai. meskipun (seorang) pelayan. kemudian dirangkul. dahulu saya tinggalkan. bijaksana serta sakti.yang berperang tewas. serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah. saya doakan kepada Yang Widi. dengan paduka. karena Ki Tinggil berjalan. menangis memanggil-manggil. 56.” Keduanya berdiam diri. sudah pernah mendapat marah dari paduka. semua teman-teman menunggu tempat ini. lalu menghadap Paduka. di negeri Bagelen. tak disangka masih saudara. semoga ananda berdua menjadi kaya. 224 . dari negara Palembang. Ki Tinggil menangis tersedu. “Duh paman yang saya kasihi. Air mata bercucuran. 58.

Hindang Darma (punya) kelebihan. 61. temanmu pada selamat. lega hatinya. nanti si Tinggil akan saya tanya. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan. diberi kesejahteraan.Keturunan si Tinggil. mengatur siasat perang dan bawahannya. berkat tuan semuanya terjadi. serta katakan kepadaku. 62. berjajar membuat pondokan. subur makmur di dusun. lagi pula kejadian. karena (kamu) ditinggal sendiri. serta banyak orang yang datang. apa mendapat kesenangan. serta dibangun negara. mendapat kasih sayang dari Yang Sukma. Duduklah. terdengar oleh Pangeran Palembang. celaka saya tuan. masih gadis (dan) sangat cantik. istirahat dulu. Sesungguhnya Tuanku. makmur sampai nanti. 60. 225 . Aduh mas junjunganku. Nyi Hindang semakin berani. kedatangan Nyi Hindang Darma. 59. Tinggil di tempat tuanmu. Tinggil berkatalah padaku. ditinggalkan (sendiri) di negara. Mengajarkan kebajikan. Hindang Darma kembali dari berguru.

226 . Tanujaya. mengadu kesaktian di medan perang. “Hai anakku Wiralodra. 65. Si Wangsanagara. Pangeran Guru beserta Kiai. maka saya secepatnya. Hindang Darma sangat sakti. kakekmu (juga) sama tewas. Nyi Hindang sangat sakti. seperti apa kehendak tuan. itu kan kakekmu. Hindang Darma seorang perempuan. memberitahukan tuan. karena tadinya hendak menangkap. dibantu prajurit istana. sambil membawa murid pangeran. semua pangeran tewas. Bawalah saudaramu. menangkapnya harus secara halus. Karena sama-sama berperang. tumeggung di negara Bagelen. kalian turunan Majapahit. setelah setahun lamanya. hati-hati menangkapnya.lalu diserang Nyi Hindang. dari Palembang mencari ilmu. Itu Tuan Singalodra. Tanujiwa beserta adiknya. Nyi Hindang Darma didakwa. menjadi guru pulang mencari ilmu. 63. anandamengikuti kehendakmu. Wangsayuda. tak kuat bertarung. mohon izin ayahanda 64.

Puspahita (dan) Wanasara semua lengkap menghadap. semuanya sudah sampai di pondokannya. kiranya (harus) terbawa. Ki Tinggil didorong kemuliaan. sertai Ki Tinggil pergi. untuk mempersilahkan Nyi Hindang. dipasrahkan kepada Yang Widi.” 66. “Duh paduka junjunganku. demikian jugaBayantaka ada. Semuanya menghaturkan sembah. saya minta didoakan. Raden berkata kepada Ki Pulaha. Jungjang Krawat datang menghadap. silahkan saudaraku sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra) menetap di pondoknya. IV.ayahanda ikut iklas mendoakan. “Paman Kiai Pulaha. kepada ibu dengan ayahanya. KINANTI 227 . tempatnya di rumah Ki Tinggil. 67.” Tidak dikisahkan di jalannya. saya meminta berkah Paduka Insyaallah. 68. dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan. dipati membaca doa. secepatnya berganti tembang. serta Ki Pulaha. Ki Tinggil berkata perlahan.

serta kembali lagi ke rumahku. kulit kuning langsat 228 . 3. harus terbawa oleh saya dan Junjang Krawat. sesungguhnya hati saya. 4.1. mengundang Raden Ayu. Nyi Hindang berkata lembut. tiba di tempat (asal) saya di timur. 5.” Segera Nyi Mas menjawab. Saya lalu bersembunyi.” 2. Telah tiba yang diutus. ke tempat tinggal Nyi Hindang. melihat orang(-orang) berperang. Tuanku ikut dengan saya. “Duh selamat datang paman. Raden Ayu sesungguhnya saya salah tidak memberitahukan. terlunta-lunta saya pulang. Nyi Hindang terkejut melihat kedatangan Ki Tinggil. lama sekali tak terlihat. Lalu saya diutus.” Nyi Hindang secepatnya berpakaian. Ki Tinggil berkata perlahan. kancing berwarna hitam. datang ke rumah saya. saya takut Raden Ayu. “Baiklah tapi saya harus berdandan dulu. dihiasi deretan sisir. serta saudara kakak dan adiknya.

silahkan masuk. 8. 7. saudara Hindang Darma. ingin sekali cepat bertemu. juga Raden baru tiba.” Nyi Hindang berkata perlahan. semua (ingin) melihatnya. cantiknya tiada tara. 9. di pedukuhan ini. “Selamat yang baru datang. paras seperti Hindang Darma. saya tamu baru tiba. 11.6. (dan) saya merasa menumpang. dengan kawan-kawan Ki Tinggil. Setibanya lalu menghaturkan sembah. Maka saya disuruh. Perawakannya sangat ayu. Oleh Paman Kiai Tinggil. cepat-cepat perjalanan saya. seperti bidadari. saya ingin menumpang kepada Paduka. Juga Raden saya memohon. Raden lalu berkata lembut. karena Paduka. semuanya mendekat. Raden mohon beribu (maaf). karena saya sangat hormat.” 10. permisi untuk melihat kepada Hindang Darma. kepada Paduka. tiada ada pada wanita lain. 229 .

“Tidak menjadi apa Nyai. Nyi Hindang lalu berkata. (tempat ini) jauh dari negri Bagelen. atau mengurangi. Wiralodra berkata manis. saya perintahkan untuk diberi izin.” 15. bagaimana asal mulanya. “Duh Raden saya (akan) mengisahkan. (akan) diceritakan yang sesungguhnya. serta saudara-saudaraku. 13. dari kecerobohan saya. Tetapi saya Nyai perlu (tahu). saya ingin mendengarkan.” 12. 14. karena saya memerintahkan. kepada Kiai Tinggil. hendak ikut selamat.semoga diterima bakti saya. perlu memeriksa perkara ini. karena kewajibanku. yang berperang dengan Nyai. yang menjadi asal-mulanya. apalagi saya perempuan. coba jawab Nyi Hindang. Menurut Pangeran Guru. siapa yang hendak membuat pondokan. 230 . semoga berkata padaku. tidak berani melebih-lebihkan. karena miskinnya saya. bersumpah di hadapan Paduka.

(Berkat) pertolongan Yang Maha Widi. bersama-sama muridnya sampai ke rumahku. Saya akan dibunuh. 21. atau saya berkebun. “Kalau begitu keadaannya. 18. bersawah dan berkebun. Perintah Pangeran saya turuti. 19. kakek guru yang salah. saya diperintahkan. terkejut (karena) kedatangan pangeran. karena saya perempuan. 231 . saya mencari akal Raden. karena saya banyak orang. meskipun saya orang kuat. (saya) dikepung oleh para murid(nya). bisa membuat sawah. 17. pangeran sial dalam pertempurannya.16. saya berani mengajarkan ilmu dan (ada yang) hendak menangkap saya. Saya memberi pelajaran bertani. semua pangeran. orang(-orang) membantunya. semuanya sama-sama tewas. Wiralodra berkata manis. Jadi yang hendak kukerjakan. saya tidak (akan) mengikuti. menuruti hawa napsu. lalu marah tiada tara.” 20. sedang berada di pondokanku. Awal mulanya saya.

saya izinkan untuk berpikir. hendak mencoba bertarung dengan Nyai. (bila) Nyai kalah menjadi istri(ku). saya yang menyaksikan. Hindang Darma dengan adik (Wiralodra). itu permintaanku. jadi termasuk mengadu nasib. 26. 22. Hindang Darma menyembah. sudah jadi perasaan paduka. maafkanlah saya. jika demikian kehendaknya. saya hendak melihat. harus maju bertarung. karena laki-laki kalah oleh perempuan. mundur dari hadapan gusti. supaya saya tahu. saya sangat takut saya memohon hidup. tetapi dengan sangat saya memohon. Hindang Darma dengan memelas berkata dengan sangat takut. Perang tanding memperebutkan kemenangan. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu.” 24. Paduka. 25. taruhannya jiwa dan raga. karena sudah saya izinkan.hendak meminta kerelaan Nyai. karena saya membawa jagoan. segala tingkah-laku Nyi Hindang. “Nyai jangan takut begitu. Wiralodra perlahan berkata. 23. 232 . “Duh Tuanku jungjunganku.

Tanujiwa lalu maju. 28. bila kalah Nyi Hindang. terguling di atas tanah. (dia) tersenyum melihat adiknya. 29. Membelalak matanya. Nyi Hindang menyambut perang perlahan. 31. saling mengadu kesaktian Raden lalu ditebas. Ki Tinggil telah membawanya. ke luar berperang tanding. berdua berdandan keprajuritan. 233 . Raden keluar berteriak. 27. (saya) ingin memangku Nyai. (Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh di hadapan Wiralodra. Tanujaya pingsan. betul-betul sakti mandraguna. kakang tidak kuat. Tanujaya namaku. pasti bakal kunikahi. Kan jadi istriku. mari sama-sama mengadu kesaktian. 30.” Nyi Hindang lalu menggebrak. Jangan menghindar Cantik. tersengal-sengal napasnya. “Aduh Nyai Hindang cantik.lalu Raden ke luar. wanita cantik (yang) sangat menarik hati. bertarung berhadap-hadapan. kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang. memanggil. Tanujiwa (dan) Tanujaya.

Hindang Darma sangat sakti. 35. Bila seperti diriku. bersenang-senang minum kopi. putra pembesar negara.” Tanujaya berkata kasar. gerakan Nyi Hindang.Hindang Darma sangat (sakti). “Duh Dinda kanda tak sanggup. 36. 34. Mentang-mentang ayah dan ibu. apa merasa senang hati. “Coba kanda keluar. bertarung berdua (dengan). gagah seperti adik. maju bertarung.” Wangsayuda berkata perlahan. saya mengaku kalah. (malah) bertarung kalah oleh perempuan. “Silahkan apa keinginanmu. 33. (Raden) Wangsayuda. “Bagaimana adik rasanya. aku ingin melihat. seperti burung sikatan menyambar belalang. adik berdua kalah. Nyai Hindang Darma. Wiralodra berkata manis. sangat kaya harta benda. (pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik 32. 234 . orang muda mashur jika makan. mulai mengatur pakaian. Lalu ia mempersilahkan. malu banyak yang melihat.

malu untuk kembali pulang. Nyai Hindang cantik. tidak disangka tumbang tarungnya.” Wangsayuda menyela. “Kok kanda Wangsayuda bisa. berkelana ke setiap (negeri?) bahagia (jika) pergi ke gunung. sudah kalah jagoannya. “Tidak berguna kamu ini. Tanujaya dan adiknya Tanujiwa membentak. 40. sungguh kanda malu oleh ayahanda. 39. Bawa kedua jagoan ini menyerang sepanjang jalan. …. Hindang cantik bukan musuh. bertarung keroyokan. kanda pasrah adikku. silahkan kanda bertarung. Kanda jangan memulai. malu oleh ayahanda. “Biasa orang yang kalah bertarung. diperintahkan menangkap. Raden Wiralodra berkata.” (jika) sudah kembali ke negeri.mendapat malu (di) pertempuran.” 41. Jadinya sangat susah. Adiknya lalu berkata. saya adu kemampuan(mu) ternyata tidak berguna. sambil tersenyum berkata lembut. Memerintah adik berdua. 38. 235 . 37.

“Duh Mas Nyai Hindang Darma. Kemudian dipanggil(nya). Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra). ternyata unggul berperang. “Adik berdua berbicara (demikian). Bila unggul bertarung. nanti kanda maju bertarung. Nyi Hindang saya panggil. siapa kalah siapa menang. bergantian berdua. Raden Wiralodra. 46. kanda tidak berani. terbahak-bahak keras. 42. waktu melotot takut sekali.nanti dinda akan melihat.” Lalu berkata berlahan.” 43. melawan Hindang Darma. jangan diambil hati. Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti 236 .” 45. 44. dari sini hingga (ke) negara Bagelen kepada ayahanda. berperang dengan Hindang. jadinya saya panggil. Wangsayuda tertawa. karena bertanding di pertarungan. dengan saudara-saudaranya. Wiralodra berkata perlahan. lalu Nyi Hindang menyembah. saya bernazar untuk menggendong kanda. wajarlah orang yang bertarung. “Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan.

“Ternyata betul prajurit (sejati). sama-sama seimbang. DURMA 1.” Lalu Nyai ke luar ……. mengadu kesaktian. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung. sudah saling berhadapan. kepada Nyai Hindang Darma. 3. lalu diburu. [bahwa meminta] ingin merasakan. Wiralodra berkata. 237 . mandraguna. oleh karena keduanya sama sakti. ke luar hendak bertarung. lalu ditangkap dengan berani. manis legitnya Nyai Hindang berkata perlahan. jadi apa yang harus kulakukan?” 48. “Duh Tuanku. Jangan Nyai … harus dituruti …. ……Nyi Hindang menyembah perlahan. Lalu saling mendorong. Nyi Hindang lepas dari tangannya. Tinggal saya sendiri. karena merasa sayang.47. kamu Nyi Hindang. V. Raden dengan Hindang cantik. 2. tarik menarik.

Hindang Darma menjelma menjadi jambu air. menghilang menjadi hutan. mengejar Raden Wira. serta berkata. kutilang hendak makan. menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat. Nyi Hindang meloncat. Bingung sekali Nyi Hindang. Raden terus mengikuti. karena Raden menjadi burung. Menjadi batu sebesar anak gunung bercampur … gunung. ke manapun.Nyai Hindang berlari. Karena Raden sakti tiada tara. yang kemudian menjadi burung. Menjadi taman yang airnya sangat bening. menghilang menjadi ular. saya bersembunyi ditemukan. diikuti Hindang cantik. 6. yang bertarung ini. 7. (yaitu) burung garuda. Nyi Hindang bingung hatinya. “Susah sekali diriku. mencebur ke dalam air. tetapi tidak samar Den Wira. oleh Raden cepat diburu. lalu jambu menghilang. 238 . 5. ular lalu menghilang. lalu yang bertarung di pinggir gunung. makan buah jambu itu. 4. Kemanapun.

Pegaden yang dituju. karena ada mata airnya sampai di Cimanuk dari gunung. semakin Nyai cemberut.8. lalu berjalan menuju barat. dengan ceritanya. tetapi saya mohon. dari mana Dinda. “Aduh Dinda baru bertemu. 10. kasmaran melihatnya. 239 . yang menjadi burung ini. Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik. (semakin nyata) kecantikannya. Raden dengan negara(nya). Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon. masih penjang perjalananku ini. Saya tidak bisa 9. seperti apa perjalanannya. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia. Darmayu namanya nanti. 11. Hindang adalah nama di air. semoga diberi nama. 12. di sebelah barat kali Cimanuk. sudah hilang(kan) namaku. Raden Wira menyesal dalam hati. menjadi bunga di istana bersamaku. bersama-sama mulia denganku. yang… (setelah) bertemu (lalu) saling peluk. Bila kelak sudah menjadi negara.

(karena) ada yang membuat negara. hendak memeriksa. ketika Raden mendekati. 14. untuk keturunan. terkejut ada ……. Asalnya dari sebelah timur. 240 . menjadi negara. (apa) keinginanmu tercapai?” Adiknya berkata lembut. kembali ke negaranya. pasukan yang akan berperang. di (pinggir) hutan Cimanuk. lalu pasukannya tiba. 16. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan. 15. Di Pegaden Wiralodra tiga hari. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya. semoga lancar nanti. hutan di sebelah barat Cimanuk. (terdengar) sorak-sorai. lalu berangkat. “Sukur bahagia untukmu. 13. lalu berkata kepada kakaknya. kakaknya mengamini. “Hendak meminta izin kanda. Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur. bercampur dengan suara senapan. anak cucu[nya] Dinda. Setelah keduanya melepaskan rindu.” Kakaknya mengizikan.membuat negara. kepada pasukan.

yang berani membangun negara. 20. tentu akan rusak. Garage nama daerahnya. Dipasara lalu menjawab. Karena waktu itu masih bakal. siapa yang layak bertarung. “Kebetulan sekali saya. 21. nanti saya menghadap Paduka Kangjeng Sultan. berani membabat (huta).” 19. Kemudian bertemu (di tepi) kali. bagaimana jika sudah waktunya. hendak memeriksa yang membangun negara. sukur (dan) bahagia bisa bertemu. ……… mengiringi Paduka. “Duh mencari apa. Adapun yang membangun bakal negara (ini). (karena) telah menjadi negara. Dalem Kuningan 241 . negara ini masih bakal.” 18. sebetulnya saya ini Wiralodra nama saya. besar negaraku. Jika berkata kebetulan diriku. silahkan menghadap Paduka. Wiralodra bertanya lembut. ini pasukan siapa.” Lalu berkata lembut. siap sedia berperang.17. dan siapa namanya.

“Sebabnya saya menghadap Paduka. menghadap kepadaku. cepatlah Dipasara. (hendak memberitahukan kepada) Gusti. saya merasa bersalah. membawa teman kamu ini. Saya mengaku salah kepada tuan. dizinkan oleh siapa?” Wiralodra menjawab. Wali Sunan (Jati) di Gerage. Garage nama negaranya. Perkenalkan saya Arya Kuningan. 24. Bahwa yang membangun negara. 22.kedua orang itu lalu menghadap. 23. diperintahkan maju berperang. Inilah (Wiralodra). disuruh memeriksa ini. (orang yang) berani membangun negara. belum berkata kepada paduka Sultan Wali. (yang berada di) wilayah sultan. 26. itu siapa?” Lalu berkata lembut. Berkata (Arya) Kumuning. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan. 242 . prajurit dari Galuh. 25. lalu ia berkata. Saya ini diutus Sultan. datang dari hadapan Paduka. baru selesai berperang dengan Dalem Kiban.

tetapi saya meminta keadilan.” Lalu berkata “Memangya kenapa (arya) Kuningan? aku sudah minta maaf. Dipasara tangkap aku. tidak meminta izin Gusti Sultan. aku adalah Arya Kumuning. olehmu. bijaksana. Kemuning aku tidak takut. 28. lalu ditendang. (kamu) prajurit sombong. “Jika demikian kamu ini. Wiralodra adalah putra dari timur turunan dari Majapahit. Dipasara terguling. terserah anda. Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar. orang Sunda kan sembrono. tidak punya sopan santun. 243 . mengakunya prajurit tangguh. dikiranya aku takut. 29. sampai menyembah.” 27.” 30. bila prajurit itu dari negara Kuningan .” Wiralodra mengingatkan. “Coba lawanlah aku. Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda. rupa seperti kamu. saya orang yang bersalah. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra.

Kemuning menyerang (dengan) berani. karena banyak pengalamannya. 33.31. Tindakan Arya Kumuning. 32. Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang. orang Galuh banyak yang mati. bertarung saling mendorong. lalu ditangkap dengan berani. (karena) Si Windu yang menendangi. perang atau mengusir. ia tidak berdaya. keinginan pribadi. Dipasara tertelungkup di atas tanah. tidak bisa bergerak 244 . orang yang membangun negara. lalu ditunggangi. ia masih kuat. Si Windu menendang karena kuda pusaka. Kemuning melangkahi (Sinuhun). lalu ditangkap. ditendang berguling. Oleh Raden Wiralodra. pasti dia mati. 34. kendalinya dipegang. karena (keduanya) prajurit tidak ingat belum memperoleh izin Paduka. terus maju. Si Windu nama tunggangannya. lalu merayap menuju kuda. Sinuhun tidak mengizinkan. bersukur (karena) bertambah wilayah jajahan. untuk mengadu kesaktian. 35.

(lalu) berjalan mundur kuda (itu). 37. karena Windu sangat marah.” Windu berdiri di atas lutut kakinya. Raden kasihan melihatnya. waktu Dalem Kiban. Den Wira (merasa) sangat kasihan Si Windu menyeringai. “Kurangajar!” Kumuning berkata. Karena saya tidak berani bertarung.kekuatannya sudah hilang. pertanda sujud kepada Paduka. 36. 39. 38. ketika perang Galuh dulu. “Aduh Raden lepaskan saya Paduka. tidak kuat Arya Kumuning. menggempur manusia satu negara. padahal dia sering berperang. seperti agak melawan berperang ditarik dengan cepat.” Si Windu segera melesat . (karena) bagaikan kilat majunya. lalu Si Windu mengucap. menahannya. melawan Raden. memerciki gunung. ia kalah bertempur. Maka si Windu tidak kuat bertarung terkejut badannya. perang ini kan melawan satu orang. Semakin kencang majunya. lalu dilepas. 245 . heran sekali Si Windu ini.

Wiralodra berkata lembut. negara asal Gusti Kuningan sedih (hingga) tidak sadarkan diri.” Dipasarah menyembah kepada Kiai Wiralodra. kDipasarah lalu cepat menyembah. kepada Wiralodra. serta memasrahkan diri. 41. Sudah bubar semua tentara Kuningan. keturunan Budaprawa. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan. jiwa raga hamba. sangat gembira hatinya.40. 246 . Oleh karena itu Wiralodra semakin … bertemu dengan Patih Dipasara. Serta sampai di perbatasan negaranya. cepat pulang menuju tuanmu kan sudah ada negara. lalu Raden Wira. 44. Paduka berguling di atas tanah. (beliau) sangat sabar. Windu berlari. betul-betul prajurit sejati. kepada Dipasarah. dari kuda Harba Puspa. “sudahlah Dinda sekarang 43. menghilang di dalam hutan. karena kuda (ini) dulunya. 42.

(para) wali sedang berkumpul. 47. sudah tiba di hadapan Paduka. diserahkan kepada Paduka. 46. VI. meminta restu Paduka. DANGDANGGULA 1. ke negara Garage. lalu dipegangnya. keturunan Majapahit. semuanya terserah Sultan. memohon berkah dari para wali. Semuanya sudah mengizinkan. serta anak cucu . dari Brawijaya dulu. kepada Gusti Sultan. kebetulan bertemu. (karena)saya (telah) membuat negara. orang yang menggantikan. Lalu menyembah mencium kaki Sultan. sekarang hendak kembali. bahagia sekali kamu ini. (atas) kelancangan hamba. karena anda keturunan sultan. di mana ke mana pun sedia. keturunannya dahulu.hendak melanjutkan perjalanannya. “Duh kamu Wiralodra. 247 . serta takdir Yang Widi. mati hidup saya. Wiralodra berkata kepada Paduka. 45. Mohon ampun beribu ampun. untuk keturunan Wiralodra.

Ada sumber air di kali Cimanuk. 3. tetapi Hindang terdengar suaranya. tidak mendapat kabar berita. jika nanti menjadi negara. kan Hindang Darma ikut.Wiralodra mundur dari hadapan Paduka. setia serta bijaksana. lalu [sama-sama] bertemu. (dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan. “Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali. Hindang Darma menang. Serta sudah takdir Yang Widi. kelak hingga anak cucu. cepat-cepat perjalanannya. menjadi campur dengan wanita. 2. Hindang Darma bahasanya lembut. sampai di Cimanuk. 248 . kebiasaan orang Dermayu. tertangkapnya itu?” Kakandanya lembut berkata. dinda. seperti apa Nyi Hindang Darma. meskipun kanda yang memulai. membuat negara. memperluas negara. betul-betul orang yang mumpuni. 4. namailah Darmayu. “Duh kanda sangat kuatir sekali. semua saudara yang ditinggalkan. karena Nyai Hindang Darma. berpelukan semua saudara. Tidak suka menikah. tidak licik bertarungnya. Tetapi dinda menurut.

moga-moga semua membangun. 5. katumenggungan dinda. karena perbawa wanita. membuat pasukan. tetapi susah nanti anak cucuku. 249 . bertemu di tempat upacara. berkata silahkan bagaimana kehendak kanda. dengan Ki Tinggil. Surantaka. berdua keluar dari pintu. dengan mantri Wanasara. Kakaknya mengizinkan. tempat[nya] mengatur pekerjaan. (untuk) menjadi pejabat di negara. 7. 6. negerinya sangat ramai. Kelak negara Dermayu ini. menjadi tujuan seluruh bangsa. dari timur barat datang. (orang dari) sebrang nanti tiba. semua oarang suruh berkumpul. untuk meresmikan negara. keris atau pedang. ada di Darmayu. Semua saudaranya ini. sama-sama berumah tangga. permisi dinda hendak ke luar sekarang.jika bepergian tidak memberi wasiat. aku persilahkan semua saudara. banyak yang sengsara. Kiai Pulaha. serta perkemahan besar. Bayantaka. Tetapi kanda (serta) adik-adik. lengkap berjejer di depan.

Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil. Sudah berunding semuanya. hadiah untuk (para) kawula. suara oarang-orang gemuruh. karena untuk tempat berpesta nanti. menyembelih kijang memotong sapi. semua sudah sedia. sampai seminggu lamanya.8. Gamelannya angklung calung suling. 250 . berbentuk perkemahan besar. Bekerja bersama-sama membangun negara karena sudah terwujud. mulutnya berbicara terus. bergantian menari. bersorak bagaikan prahara. Ki Tinggil juga menari. berkumpul para kawula. (karena orang) besar dan kecil berkumpul. 11.. semoga semua berkenan. semua berkumpul di tempat pesta. oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak. serta nyanyian gembira. disoraki oleh temannya. 9. negara berkat kehendak Yang Manon. Lalu keluar (yang punya) hajat. tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu. “Hai semua saudaraku yang ada di sini. yaitu Raden Wiralodra. lenggak-lenggok (dengan) perut buncit. yang sebagian tertawanya jatuh bangun. lalu berkata manis. suami istri berkumpul. 10. hendak mendirikan negara lain.

senggak(1) penuh irama. (kepada) semuanya saya memohon. rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi. 13. bersantap (dan) bergembira sudah selesai. bergemuruh orang banyak mengatakan amin. 14. “Duh saudaraku semua. iuran semua saudara. sambil membawa hidangan.negara sudah jadi.” 12. Yang membaca doa sudah selesai. serta kamu semua menyaksikan. serta membaca doa (memohon) keselamatan. Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya. setiap bulan seperti ini. negara Demayu. gamelannya celempung suling. Semua orang tertawa (dan) menyoraki. (lalu) makan beramai-ramai. lalu Raden berkata perlahan. (yang) sama-sama hadir. dan negeri ini diberi nama. Sesudah (menyantap) makanan. Para orang tua sama-sama mengamini. Semuanya bubar. Semua orang berkata “(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu) kami semua senang. 251 . (agar) saya ikut gendut sambil menari berlenggak-lenggok.” Kemudian semuanya membbaca bismillah. lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan. semua saudara bersama-sama makan-makan. “Duh saudaraku semua. saya mempersilahkan semua untuk bersantap.

Lalu bersalaman. sampai ke perbatasan. karena ditinggalkan oleh adik-adik. “Duh Dinda semoga selamat. jika kanda Paduka mengizinkan dinda hendak pulang (ke Bagelen). kepada dinda semua. bercampur dengan nyanyian.yang bersantap gembira hatinya. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat. masih membereskan negara.” 17. Tetapi adik katakanlah. 15. 252 . “Dindaku semuanya apa yang harus kulakukan. ayahanda menginginkan. dan Wangsanagara itu adalah iparnya. kembali ke negara Bagelen. kepada ayah (dan) ibu nanti. mendapat anugrah Yang Widi. Kakaknya lembut berkata sambil memeluk. karena kanda tidak bisa pulang sekarang. lalu berkata bagaimana kanda. tidak salah diundang. apa yang terlihat. (katakanlah) adinda semua berada di sini (mengadakan) pagelaran di kadaleman. 16. kakaknya mengantar. suara celempung (dan) suling terbawa ngin. Adik-adik(nya) sudah menyalami. besar kecilnya. oleh karena sudah lama.

VII.” Watuhaji membalas. sebab menjadi pintu gerbangnya. akan saya minta. sampai menjadi bupati sekarang ini. (oleh) Den Wiralodra. di negara ini. DURMA 1. aku tidak suka berperang. diiringi [dengan] teman-temannya. sampai di akhir nanti. menurunkan tujuh bupati. masih setengah hutan. Karena negara akan mulia. Watuhaji kakaknya. ada musuh (yang) datang. karena negara belum jadi. 2. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara. 3.” 253 . tanpa sopan santun.Diganti (dengan tembang) Durma. anak cucunya. Ini kan bakal negara. “Percumah saya berkelana. lalu diperiksa. “Kamu ini datang kepadaku. menjadi pejabat di negara ini. jadinya saya tiba. tanpa tujuan. (akan) merebut negara. 4. (itu) menghina.

Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung. baksanya (tarian perang) lembut dan manis keris disandang. jika menebaskan senjata. Wiralodra mukanya seperti api. ramai yang berperang. Lalu menoleh mengerikan. 6. (Membuat) heran yang melihat.5. melompat seperti kilat. “Hai kamu Wiralodra. orang yang berada di tengah hutan. dibawa ke pintu gerbang. 9. Prajurit Watuhaji. sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh) ramai yang berperang musuh banyak yang kalah. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha. Nitinegara heran. 8. Kiai Tinggil lagi senang perang. 7. seperti orang(-orang) kerajaan. ternyata bisa bertarung. tidak disangka bisa perang. lagaknya sangat berani. bersama teman(-teman)nya. pantas sekali maju perang. maju dengan penuh sopan santun. Kiai Pulaha berdiri. pedang dipegang di tangan. sambil berteriak (menantang) bertarung. Ki Pulaha maju bertempur. 254 . riuh rendah.

jangan ragu untuk memukul. 12. karena kamu prajurit sejati. (lalu) berhadap-hadapan di medan perang. menusuk Wiralodra. “Hai prajurit Watuhaji. “(Aku) tidak biasa mendahului.” Berkata Wiralodra. Nitinegara dibanting. lawanlah aku! 13. terguling di atas tanah. Ayo tebaslah dengan senjatamu!” Cepat Nitinegara.jangan (terlalu) lama mengadu prajurit. 10. lalu maju perang lagi. oleh Wira(lodra) disuruh dibawa. (kemudian) diikat oleh Ki Tinggil. ayolah (kamu) maju berperang. Ayo sambutlah!” Raden Wira ke luar. yang kuat di medan perang. “Hai Wiralodra (kamu) ayo gunakanlah keris atau pedang. majulah berperang. Sesumbar Raden Wira di tengah medan perang. Kerahkanlah prajuritmu. 11. 255 . Sudah menyambut. akan aku tahan.” (lalu) berhadap-hadapan. bila kamu prajurit sejati. memegang senjata.

Watuhaji dan Den Wira. yang ditujunya itu . Watuhaji meloncati. 15. (Badannya) menjadi sebesar anak gunung. bertarung saling mendorong. Wiralodra (lalu) mengeluarkan ilmunya. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung (yang bernama) Ki Gedeng Depok. berganti nama. bertemu tandingannya dalam berperang. 14. ……… Drayantaka (dan) Wanasara 256 . melarikan diri dari pertempuran. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata.. (kemudian) menjadi pendeta. mengacau di negara Dramayu (membuat) susah orang kecil dijarah kerbau (dan) sapinya beras padi dan harta banyak orang dibunuh yang diserang melarikan diri ke luar dari Bantarjati 18. 16. tempat untuk bertapa. Ki Gedeng Sambeng namanya. letaknya yaitu di Cisambeng. menuju arah selatan. karena Raden bertarung.Bertengkar (dan) saling menyerang. Kelak keturunannya 17. Menurut cerita ini.

diserahkan kepada Ki Tinggil 19. pasukannya kira-kira seratus orang. negara tambah ramai.mengamuk di medan perang. 257 . 22. ponggawa (dan) para mantri 21. gembira semuanya. menjadi Kiai Dalem. harta beribu juta. pasukan[nya] tumenggung tunduk semua. beberapa gotongan. tumenggung dserta patih. Watuhaji dan Nitinagara. (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang). (lalu) mengangkat demang (dan) rangga. masing-masing berkeluarga. sudah berdiri (pasukan) jendral. 20. semua lengkap. Wiralodra diangkat. menawarkan tanah. Raden Wiralodra kaya. tentara admiral bertambah banyak. lalu den Wiralodra mengalahkan banyak tentara. tanah (di) Bogor dan Karawang. (semua) membuat rumah. Lolos menuju Dramayu. kedatangan orang(-orang). serta banyak serdadunya. kepada bangsa Belanda. (dengan) membawa harta (benda).

dari keratonnya. (karena) berbuat (telah) salah. melarikan diri (pada) malam hari. diganti lagi (oleh) dangdang(gula). memotong leher saya. Penyebab Nitinegara menangis. 23. membawa harta bendanya. 25. Seharusnya Tuanku. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya. (kelakuan) seperti itu tidak baik. sebab hendak menghancurkan Darmayu [itu]. 258 . kepada Sinuhun Mataram. dari negara lain. Wiralodra. orang(-orang) kecil merasa senang. menjadi macan negara. banyak orang-orang. 24. Terkenal ke seluruh negeri. (Nitinegara) meminta belas kasihan. jika nanti hendak dikirim . oleh karena paling sakti di dalam negeri. VIII. kesaktiannya tiada tara. kepada kedua tumenggung. Menjadi negara (yang) subur makmur. merasa takut yang melihatnya. Disayangi Sultan Mataram. DANGDANGGULA 1. karena ada keinginan Raden Wira.menyerahkan harta(nya). ke negeri Dramayu.

nanti kedudukannya sangat dibedakan dari yang lain oleh karena nanti turunan Nitinegari. (Lalu) dibekali Nitinegari.” Wiralodra sangat kasihan melihat[nya]. Watuhaji yang berdosa. semakin lama negara semakin kaya. 259 . Lalu berangkat Nitinegari.(Tapi)saya memohon agar tetap hidup. mengganti kedudukannya. disuruh menuju gunung. Yang perempuan bernama Nyayu Hinten. sebanyak empat orang. permaisurinya empat (orang) lahir putra tiga belas banyaknya. tinggal menjadi senang dan raharja. (diceritakan) sudah mempunyai anak. bungsunya Raden Drayantaka. Dalem Darmayu. mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal. dosa yang sangat besar. yang sulung (bernama) Sutamerta. menjadi dalem Darmayu. telah jauh perjalanannya. ayahandanya sudah meninggal. 3. Dalem yang mejadi penggantinya. diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan. 4. Wirapati selanjutnya. dalem di Darmayu. 2. Wiralodra yang kedua. putranya (yang bernama) Raden Wirapati. Dikisahkan Kiai Dalem.

setelah menikah nanti. di Pulo Mas negaranya. adikku yang perempuan.perempuan dan laki-laki. gembira sekali Paduka. Raden Wirapati. nama yang disepakati. Serta lama kelamaan adiknya Nyayu Hinten mengandung. 7. (bila) saudara mau. memiliki saudara seorang raja. tetapi (jangan) dibawa. (selalu) saling mengunjungi. 260 . tiga belas bulan lamanya. Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan. sangat saling mengasihi. lalu melahirkan. Adapun (untuk nama) putranya. terus terang kepada kakaknya. 6. ke negara adiknya nanti. Karena sangat saling menyayangi. karena hanya satu. putranya diberi 8. Kakaknya sangat setuju. Werdinata kepada (Nyai) Hinten. Dinda Werdinata. 5. berunding dengan kakaknya Den Wirapati. seperti dengan saudara. lama-lama jatuh hati. bernama Werdinata. Werdinata dengan Nyayu Hinten.

onom dan mahluk halus. gemilang cahayanya. cepat(-cepat) aku memanggil(mu). (pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit. Ayahandanya berkata. 261 . karena sudak bijaksana. hendak meminta bantuan. dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang.Bagus Raden Wringin Anom namanya. (ketika) berumur tiga tahun. “Selamat datang anakku. (karena) ayahanda menerima surat. kedua ayahnya sangat sayang kepada anaknya. 9. karena diserang. memenuhi permintaan ayahanda. sebab Raden Wringin Anom. putranya sudah tiba. oleh Dalem Ciamis. 10. Lalu ayahandanya berkata perlahan. “Hai anakku yang tampan. Lalu ayahnya berkata. Ada keperluan apa?” 11. serta Dalem Kuningan. (sehingga) tidak kuat berperang.” “Semoga bakti ananda diterima. menghadap ayahandanya. kepada putranya Sultan Pulo Mas. dibawa mengunjungi ayahnya. kuning cahyanya bersinar. Kemudian Den Wirapati. Werdinata di Pulo Mas. pasukannya siluman.

hanya suaranya yang bergemuruh.” Lalu ayahandanya berkata. “Duh putra tolonglah. dengan membawa tentara makhluk halus. tidak terlihat wujudnya. 13. (melawan) musuh para siluman. saya serahkan negeri (ini). 14. Orang Sumedang banyak yang ikut. Dalem Wiralodra datang. karena itu mereka sangat hormatinya. 262 . sudah berada di depan. menggeram suaranya. kata anaknya. (dari) Ciamis dan Kuningan. lalu bubar menyerang para siluman. karena ayahanda akan bertarung (melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti. 12. karena dikepung musuh. seperti orang berbaris hendak berperang. “Baiklah. (yang) meminta tolong ayahanda. putra yang menanggung. menghampiri serta memeluk sambil menangis. Silahkan ananda (apa) tindakanmu. karena pasukannya siluman. (jangan) khawatir ayahanda raja. ananda harus ikut. Jika demikian saya berangkat hari ini. onom dan mahlukhalus.dari Dalem Sumedang. tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis. Paduka Dalem Sumedang. Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman. Orang(-orang dari) timur melihat.

karena Raden Wringin Anom. dan semuanya merasa bahagia. 263 . menjadi sebesar anak gunung. putranya mengusir para siluman. Suradiningrat (dan) Brata Kumuning. (dan) khawatir (pada) ayah(nya) 15. Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis. 17. maju bagaikan kilat. berubah wujud. Prajurit keluar semua. karena sangat gembiranya. sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang). (ialah) orang(-orang) Ciamis. Serta keesokan harinya pergi berperang. Raden Dalem Wiralodra. Banyak prajurit tewas. dan Tumenggung Dongkara. sama-sama ikut bertempur. Lalu Dalem Wiralodra. merangsek (ke medan) perang. Lalu orang(-orang) Sumedang. Ramai yang berperang. hampir tertimpa kedua dalem ini. yang diincar tinggal kawannya dan raja.Raden Wiralodra. Orang(-orang Sumedang gembira. dikeroyok bertarungnya. karena Dalem Darmayu sakti. musuhnya pasukan onom. mengemban (tugas itu). 16. sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis. jatuh bangun pasukannya. berlarian pasukan Kuningan.

menyelamatkan diri pasukan Ciamis. Lalu anaknya berkata lembut. ananda hendak kembali sekarang. berdua dengan Jongkara pelayannya. sebab khawatir akan negara. jari-jemarinya menyentuh tanah. 264 . “(Banyak yang) melarikan diri. Den Wringin Anom mengejar siluman. dikejar oleh Dalem Wiralodra. 19. Orang-orang ramai melarikan diri. suaranya bagaikan halilintar. tidak ada yang layak menjaga. 20. sudah bubar tidak ada yang tertinggal.18.” Ayahnya sudah mengizinkan. berdua dengan Paman Tumenggung. “Jika mendapat izin ayahanda. “Kebetulan sekali anakku. juga musuh ayahanda. melesat ke angkasa. (bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan. Ciamis dan Kuningan. lalu putranya menyembah Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu. Kemudian ayahnya mendengar yang berita. terpisah raja dan rakyatnya. Bubar pasukan dari Ciamis.. sampai di perbatasan. matanya (menyala) bagaikan matahari kembar. lalu bertemu dengan ayahandanya. 21. gigi taringnya terlihat bersinar. bagaimana musuhmu?” Putranya berkata kepada ayahnya.

dengan panglima perang. sepanjang jalan jadi terlihat sedang berhadap-hadapan. ramai orang(-orang) menagkap. Putranya mengucapkan terima kasih. serta para pelayan. serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam. diiringi gamelan serta prajurit penghulunya siap. bagaikan bumi terbelah. naik joli dan tandu. dicampur dengan uang talen.telah bubar sekarang. segera menaiki tandu. setelah sampai (makanan) disajikan. “Mari anakku sama-sama menaiki. berisi uang mas. 265 . karena gembira sekali mereka. Ditaburkan uang tersebut. 24. Lalu sudah bertemu. sama-sama menghormati. membawa bokor mas. kita berdua bersama menaiki(tandu). 23. Semua para prajurit. anak gunung sangat buruk” (1). sama-sama berebut uang. ayah dan ibu bernadzar anakku. 22. para wanita serta ibunya. Cepat ayahanda menjumpai serta membawa putranya yang perempuan. Bersama-sama turun dari tandu. Ini putra ayahanda seorang. untuk menyapu dan memasak nasi.

Kemudian semua mantri. Lalu sama-sama pulang. (atas) kasih sayang ayahanda. dengan para ponggawa. saya serahkan kepada anakku. pesisir Kandanghaur. (saya) sangat berterima kasih 25. kepada putra Wiralodra. (saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih. “Hai sanak saudaraku. Lalu putra Dalem Wirapatih turun dari tempat duduknya serta menerima baktinya. bawahannya semua. kawula dengan prajurit. 27.para pelayan berhamburan ke depan. mendapat anugrah dari ayahanda Kandanghaur pesisir utara saya terima. saksikanlah oleh semua. Dalem berkata manis. makan bersama. 26. Aku tidak memiliki (lagi). ramai-ramai makan-makan hingga tujuh hari.” Lalu sama-sama bersalaman. yang tinggal di negara Darmayu. bergembira semuanya. dengan Darmayu ini. menjadi satu negara. semua saudara (pamit) 266 . saksikanlah ucapanku (ini). yang bersama-sama duduk di tempat ini. “Hai para prajurit.

Nayawangsa. sangat gembira (karena) ayahnya datang. untuk kembali. Nayastra. istri dan putranya. Karena dinanti-nanti tiada henti. (dia) sangat menyayangi istrinya. Lalu putra perempuan. Hadiwangsa. kedua Raksadiwangsa. di belakangnya para madu. yang paling besar ialah Raden Kowi. Wiralaksana. Wiratmaja (yang kelima) karena lima orang anak laki-lakinya. Adapun nama putranya 30. para saudara dan rangga. 267 . mendapat anugrah dari Yang Kuasa. 28. Hastrasuta. para madu dengan para putra. Raden Timur dan Sawerdiya. Wirantaka keempatnya. semuanya akur. Selanjutnya (di) negeri Dermayu. sejahtera dalam kehidupannya. lalu datang dan menemui. sangat makmur tinggal di negeri (ini). sangat gembira hatinya. 29. serta tinggal di pesisir Kandanghaur. sampai ke perbatasan. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan.kepada Dalem Wiralodra. semua pengawal putranya. serta diberi istri.

para putra semuanya. yang telah mengganti kedudukan ayahnya. sudah beristri. paling besar Raden Benggala. Tetapi persetujuan para ponggawa. menduduki jabatan bupati. Lalu wapat ayahandanya. Benggali adiknya. sangat bijaksana. Semuanya jadi pejabat. kakaknya Raden Benggala. tetapi Benggali Benggala anak laki-laki ini. serta semua para pembesar. sama-sama kaya. Lalu ayahnya tiba ajalnya. Benggali namanya. dengan Wiralodra namanya. menjadi bupati. (oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi. Singalodra yang gagah. Puspa Taruna. 32. Singawijaya putranya (yang) perempuan. Patranaya. Karena sudah memiliki putra.31. 268 . 33. dan Nyi Raksawinata yang keempat. penggantinya berebut jabatan. mereka bersaudara. (kemudian) diganti. 34. sebanyak empat orang [putra]. yang menggantikan harus kakaknya. adiknya menginginkan. sudah lengkap tiga belas (orang) putranya.

tetapi Raden Singalodra. kalau kakanda yang menggantikan. menjadi bupati menggantikan kedudukan ayahnya. membawa serdadu satu kompi. istrinya ke Bantaranak. lalu datang utusan. van de Boss namanya. kakanda sudah (menjabat). kalau aku tidak menjadi bupati. bila menyebrang ke Betawi. Berlayar di lautan. utusan Gubernur Jendral Betawi. kedudukan ayahanda. menjadi bupati. membawa pasukan serdadu. dari Betawi. 37. ikut ke laut. “Raden Singalodra kakandaku. lalu adiknya berkata.Tetapi adiknya (berkata). pangkatnya komandan. Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya. 35. 36. utusan dari Tuan. akibatnya bakal ada kematian. kakandanya yang menggantikan. pasti saya mengamuk. 269 . jika demikian menurutku. kakaknya di Darmayu. (sehingga)lima bulan tidak ada bupati. mengganti kedudukan ayahanda. kepada Tuan Komandan. Sangat bingung para ponggawa.

jadinya saya katakan. keinginan Yang Maha Mulya. saudara (dan) ponggawaku. saudaraku semua menurut kepastian. yang sulung Den Laut. delapan orang putranya. memohon maaf. 40. sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka). semua ponggawa. mengenai negara ini. 38. melihat dengan kasih sayang kepada paduka. bahwa tidak mengingat saudara paduka. semua sanggup (membela) sampai mati. 270 . Lalu para mantri menjawab. saya sudah pasrah.tetapi tidak enak hati. Kemudian berkata lembut. mengingat adiknya. pasukan dari Paduka. Lalu mas patih Hastrasutanaya dan Tumenggung Trunajaya menjawab. tiga tahun lamanya. lalu tiba di perbatasan.” Bupati berkata lembut. karena sudah sampai pada janji terdahulu. 39. Menangis para ponggawa. sama-sama mencium kakinya. siang malam mengaji Qur’an. Gandur dan Purwadinata. Dalem Wiralodra tadi memiliki anak banyak. Lalu semua mengundurkan diri.

43. Nyai Moka bungsunya. putra sedang susah makan. takdir Yang Maha Mulya. yang mengganti adik saya sendiri Paduka. putranya (yang bernama) Kartawijaya. di makam para leluhur. Lalu sunan berkata. 41. (karena)sangat sakit hatinya. mengaji siang dan malam. yang sangat tidak enak hatinya. Gembruk serta Toyib. Singalodra namanya. “Jadinya paman aku panggil Wiralodra ke hadapanku. yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji. meminta kepada Yang Maha Suci. 271 . “Sesungguhnya Tuanku. jam empat kembali ke rumahnya. takdir Yang Maha Agung. Berkat pertolongan Yang Agung. apa betul?” Wiralodra menjawab. aku mendengar berita (bahwa) paman berhenti dari jabatan kebupatian. 42. karena sudah disampaikan. persembahan kepada sultan. Bila malam tidur di makam. ayahandanya dipanggil oleh Sultan Cirebon. mengurangi tidur dan makan.Kartawijayastra yang keempat?. agar kuat imannya.

aku terima diserahi putramu. semuanya sudah sedia.” Berkata Sinuhun. Lalu berkata sultan kepada Wiralodra. kitab serta Qur’an. Dalem Wiralodra.44. anda ini (agar) menolong saya. 45. Tidak tidur serta tidak makan. saya menyerahkan semuanya. “Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka. sudah menghadap kepada Paduka. 272 . Kartawijaya dipanggil. “Paman. “Perihal masalah itu. Sultan sangat kasihan melihat. serta rumah tempat tinggal paman. pasrah kepada Paduka. sangat sabar hatinya. tetapi permohonan hamba. anak hamba (yang bernama) Kartawijaya. Tajug (dan) kolam aku sediakan. supaya di kesultanan (ini). Lalu Kiai Dalem berkata. 46. mati hidup saya.” 47. mengajar para putra mengaji. (yang)namanya Kartawijaya. sepertinya sedang tidak enak hati. padahal ia masih muda. barangkali hatinya terbuka serta paman memohon pertolongan Paduka.

di hadapan Sinuhun. bawalah suratku. aku mengangkat kamu. tampaknya terampil dalam pekerjaan ini. Sekarang kamu ini. “Lalu Sinuhun berkata perlahan. di Pajagalan Panjunan. lalu berkata perlahan. sukur kamu ini. saya angkat jadi mantri polisi desa. kepada Kartawijaya. tempatnya di Panjunan. kepada Raden Kartawijaya ini. untuk Kakanda di Panjunan.” 50. 273 . Kemudian kelak dinikahkan kepada cucunya. Naik tahta di Panjunan. Pangeran melihat dengan rasa sayang.” Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka. tempatnya di penjagaan. lalu mundur dari hadapannya. Kartawijaya berkata kepada Paduka “Saya memang berdosa kepada Paduka apa yang Paduka inginkan?” Sultan berkata manis.berlutut dan menundukkan mukanya. “(Ternyata) ada Kartawijaya (datang). 49. Ratu Mas Atma namanya. lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan. 48. Suratnya sudah diterima. “Hai Karta kamu ini. bersama-sama denganku. Sudah jauh perjalanannya.

53. orang(-orang) kecil suka melihatnya. yaitu Kiai Dalem Singalodraka. berada di Kejaksaan. (bersama) empatpuluh orang prajurit. bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu. Ketika bupatinya ada di sini. bersorak gemuruh. kebiasaan santri (seperti)itu. mantri patih dan bupati. (bila hanya) mengingat akhirat. takut dosa besar. gagah serta tampan. tidak pantas menjadi bupati. Untuk apa banyak harta.adapun rumahnya. semua tingkah laku bupatinya. di sini ada para ponggawa. sedang mengatur pekerjaan. gamelan dibunyikan. 51. bila tidak bersuka-suka. semua bersuka ria. Ki Dalem lalu berkata. (sehingga) sepi di negara. bila menari [sepertinya] bergoyang disertai 274 . [karna] aku tidak menyetujuinya. meskipun saudara (atau) orang tua. menurut perintah nabi. harus suci hatinya. Lalu dirubah lagi ceritanya. santri kecil hatinya. semuanya ponggawaku. sedang pesta beramai-ramai. 52. ramai-ramai siang malam.

semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya. lalu selendang disingkirkan. bila kurang senggaknya menendang dan menyepak. [upacara] siang malam Patih Hastrasuta berkeliling. nayaga disiram oleh air. tiga tahun lamanya. nayaga ramai senggak. dirampok oleh para durjana. Setelah bubar semua. Para mantri sama-sama bersorak. diganti oleh putranya. kadang-kadang saudara sepupunya. Perusuh sudah bersiap. badannya sedang (dan) gagah. 55. dilantik mejadi bupati.selendang kain berbunga. Ada lagi berita (demikian) ini: 57. yang menjaga tidak kuat. Orang yang banyak harta-bendanya. Orang-orang berkumpul di desa. (sehingga) orang kecil sangat susah. sampai pada ajalnya. (yang bernama) Raden Semangun. seolah-olah marah. 54. 56. (karena) banyak orang yang dibunuh. 275 . (Kemudian) banyak terjadi perampokan. putranya Purwadinata. sangat susah (selalu) ada keributan di negeri. Dalem Singalodra. menjaga para durjana.

. 58.tempatnya di Bantarjati. Kiai Betawi itu dari Kandanghaur. Raden Kartawijaya. Bagus Rangin. Semuanya sudah setuju menyerang Dermayu. tandu dan kendaraan tunggangan. 276 . adapun Seling Rangin putranya. sedia tumbak senjata.. 59. Surapersanda. penuh sesak (karena) banyak orang. orang Kulinyar dan Pasiripis. Bagus Wari semua (dari) Mayahan. Jatitujuh. senapan dan keris. Bagus Leja dan Sena. pribadinya pemberani. Siang malam beramai-ramai. oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan. 60. berkata kepada teman sesama prajurit. Lalu mereka bertarung. tidak enak duduk. Pimpinannya Bagus Kandar. Den Nuralim adalah saudara sepupunya. Biyawak. mereka sampai tiap hari. menjaga di perbatasan. bertanggungjawab di pertempuran. Serta para panglima perang. lebih dari tujuh ratus. (Kemudian) berunding hendak menyerbu ke negeri Darmayu. para putra semuanya.

melihat saudaraku. mendapat kebijaksanaan. berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning. putra bersama saudara. Raden Wiralodra. Serta sampai di Dermayu. 277 . Teman-teman para prajurit menjawab. melihat yang bertarung . mendengar sorak beramai-ramai . 62.” Keesokan harinya berangkat. (badannya) besar tinggi menakutkan.”Baiklah. Para prajurit dari Darmayu. yaitu Kartawijaya. tidak bisa menangkapnya. 63. memakai pakaian tamtama. yaitu Ciliwidara putri dari negeri Banten. besok (akan pergi) ke Darmayu.” 61. serta para putra. (mengikuti) kehendak tuan. komandannya paling depan. kulitnya kuning. Uwa Kartawijaya. (karena) terdapat perempuan. bercampur dengan (suara) senjata. para ponggawa banyak yang rusak. Semua para prajurit terkejut. banyak orang yang melihat. (serta) bisa terbang di angkasa. adik-adik serta sepupu bupati. dengan putra serta senapati.“Hai saudaraku semua. diperhatikan kelakuannya.

berani sekali merusak negeri ini.” Kartawijaya berkata. oleh panah si Ciliwidara. serta putraku Kerstal. 278 . 64. 66. gugur tadi. sekarang ayahanda ingin bertemu. (Ia melarikan diri).datang dengan para prajuritnya. katanya tandingannya dengan Paman Patih Hastrasuta. malah putra ayahanda. siapa nama prajuritnya?” 65. menangis di hadapannya. lalu bertemu dengan adiknya. “Duh adinda Patih Hastrasuta. (yaitu) Den Dalem Wiralodra. dan kakak Suryawijaya. masuk ke keraton. Nyi Ciliwidara namanya. Kemudian dengan ayahnya berangkat. Suryaputra. ayahnya mengeluarkan air mata. lalu bertemu dengan Raden Kerstal. Ciliwidara itu. mengaku putra Kentanagara. karena sangat berduka. Suryabrata. besok (akan) saya tangkap. banyak yang tewas. “Duh anakku. musuh ini menginginkan apa. “Duh ayahanda sangat rusak negara.

pasukan ponggawa putra prajurit. sangat sakti Ciliwidara ini. Lalu kemudian memeluk kakaknya. Tidak kuat saya. Kamu tidak tahu (siapa) aku. kanda bertanding di medan perang. gelang kalung kilat bahu . 279 . putra kanda banyak yang tewas. mengimbangi pertempuran. Serta besok menyiapkan pasukan. Serta bendenya dipukul. seberapa berat kesaktiannya. musuh satu orang tentu berani. yang hendak merebut negara. “Duh kanda tolonglah sekarang. karena didatangi oleh musuh.67. cepat berganti pakaian. (aku) ini saudara yang tertua. 69. dengan orang senegara. terlihat sangat serasi. menandingi kegagahan. 68. “Hai orang Darmayu masihkah berani. apa tindakan kanda. apalagi ia cantik. Ya besok adinda saya (akan) lihat. Lalu [cepat] menantang. Kartawijaya namanya. Ciliwidara mendengarnya. Silahkan. Bendera lalu dikibarkan. senjata panah serta keris. Sambil menangis memanggil-manggil. (kita) orang Dermayu. menghadapi peperangan?” 70.

72. Raden Kartawijaya. seru saling pedang. keduanya unggul. Lalu ia mementang panah. sombong kamu wanita cantik. kalau kamu merasa lebih!” 71. kurang trampil dalam berperang. haus akan darah manusia. memanah tidak akan sampai kedua kali. kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki. 280 . menganiaya (dan) berlaku curang. 73. tulangnya yang kena. kalau mengenaimu. tidak ada yang kalah bertarung.” Lalu berkata lantang. kamu Ciliwidara anjing. “Bersiaplah! usiamu tak kan lama (lagi). karena kamu unggul. karena itu cepat menyerang kamu anjing. Jatuh seketika di atas tanah.” Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena. Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah. merasa gelap penglihatannya. cepat diletakkan di pinggang pedangnya. “Dasar pelacur murahan. rasakan panahku. “Kamu betul-betul prajurit Ciliwidara didekati.berani(-beraninya) merusak Darmayu. yang bernama Si Belabar Geni. senang melihatnya. sambil berbicara. “Hai kamu Kartawijaya.

Kartawijaya hatinya benci. menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya. lalu [sudah] diambil. sambil menggerutu (di dalam) hatinya. Ciliwidara tidak kuat. tempat menghilangnya Nyi Cili. 75. kakaknya dengan adiknya. karena aku tidak takut melawanmu. berkatakepada prajuritnya Aku perintahkan menjaga. Setelah Ciliwidara menghilang. siang dan malam. 281 . serta adik patih. menghilang tidak tentu. 74.” Lalu Den Kartawijaya.apa yang dilakukan kamu ini. bersama putranya. menjatuhkan diriku. menghentakan (kakinya) di atas tanah. Semuanya berkumpul. Kartawijaya. dikeluarkan kesaktiannya. sangat berat kesaktiannya. Hastrasuta namanya. harus sama-sama dijaga. SINOM 1. IX. dengan semua putranya. semua kelakuanmu. Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi. Karena sama-sama bertemu. menemui adiknya Wiralodra.

5. Barangkali beristirahatlah dulu. kepada saudara-saudaraku. karena kan lagi berperang. tetapi bahagia ditolong oleh kakanya. jika Dinda masuk. kakanda cepat datang. Maka hendak melaporkepada Paduka. dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara. Oleh karena orang yang bijaksana. maka permohonan adinda. seperti apa keinginan (kanda). 3. beribu-ribu kebahagiaan. ditakdirkan Yang Maha Mulia. rusak negaranya. serta para putra nya. heran sekali Ciliwidara gagah . diterima permohonan Dinda.menceritakan rasa susahnya. “Duh Dinda untung selamat. 282 . dinda persilahkan duduk di dalam 4. 2. cepat Kanda datang. hendak pulang lebih dahulu. tidak berniat hendak membantu adinda dalam berperang. tetapi keinginan Kakanda. tidak tahu kesusahan. karena berkah kakanda. Adiknya berkata kepada kakaknya. mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka. takdir Yang Maha Widi. Kakaknya lembut berkata. Kakaknya lembut berkata.

(yaitu) Patih Hastrasuta.ke penjagaan kanda. Tiba-tiba datang Nyi Jaya menghadap. Saat itu hari Jum’at. Dalem Wiralodra. sangat susah Paduka hendak mengatakan yang sesungguhnya. 283 . Kanda hendak berangkat pulang hari ini.” Kiai Dalem berkata.” Nyi Jaya menjawab pelan. “Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk. Dinda. Semuanya berpelukan. [tetapi] Dinda (harus) hati-hati. “Keinginan Dinda silahkan sampaikan. di negeri Garage. lalu berjalan mengiringi sampai di pintu gerbang. Di tempat menghilangnya. Lalu masing-masing bubar. menjaga tempat menghilangnya. Ponggawa (dan) saudaranya masuk ke padaleman. tak disangka berhasil baik. (setelah) mendapat izin dari Paduka. celaka Paduka. 6. kemudian berjalan cepat(-cepat). (harus) dijaga ponggawa. begitu pula para putra. 8. Kiai Dalem berkata lembut “Duh selamat datang Dinda. sambil menyembah. 7. sedang menghadap kakaknya.

hendak menurut (kepada paduka). 10. (saya) belum pulang ke rumahku. Saya dari Bantarjati. “Saya (ingin) menemui Kakanda. tetapi saya tetap. kelak menjadi bersatu. dan mohon (pamit). dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya. 284 .” 12. Sudahlah Dinda cepat mundur beristirahat di rumah Dinda. Lalu menyembah kepada Paduka. 11. memang saya di bawah kekuasaan Paduka. Darmayu hendak dirusak. sudah banyak orang datang. Kiai Dalem berkata. semua kehendak Paduka.mengatakan kesalahan apa. saudara-saudara saya berkumpul mendirikan tenda besar. sekitar seribu orang. hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku. sekarang baru kesampaian. Kiai Wiralodra berkata kepada patih. semoga keturunanmu. kelak kematian saya bersaksi. tidak berniat mengingkari Paduka. serta keturunanku diterima semuanya. “Syukurlah bahagia Dinda. Dinda?” 9. saya akan menikuti sampai anak cucu.

mengumpulkan ponggawa. “Duh saudaraku para prajurit. Trunajaya adiknya. 16. supaya timbul keberanian. Semuanya saya yang mengatur. pagi-pagi para senapati harus berkumpul. Tetapi siap berperang. dari kampung Bantarjati. (untuk) bersiaga menghadapi perampok. Tanujaya dengan Demang Wangsanaya. (Setelah) seluruh prajurit (berkumpul). Jiwasuta prajuritnya. 14. semua yang saya sampaikan. (dan) Tumenggung Sutamarta. santana. karena Tanujiwa kakaknya.” Paduka lalu berkata. serta Wangsataruna. sepertinya musuh (akan) mendatangi. “Paduka harus mengawasi para perampok. para prajurit siaga serta perbekalannya. menunggu di pintu gerbang paseban. Pagi berangkat dari paseban. kemudian patih berkata.” 13. keinginan paduka hendaknya diawasi. apa yang akan kanda perbuat?” Patih menjawab. 15.“Bagaimana kanda laporan Nyi Jaya tadi. (dan) mantri. prajurit. 285 . jika (mungkin musuh) harus ditangkap. “Karena itu Kanda Patih.

Paduka menunggangi kuda. (jangan) kurang persiapan. demang. Bende berbunyi semuanya berkumpul. mahkota berwarna mas berhiaskan intan. minuman serta makanan. lalu kembali dari paseban. terlihat gagah perkasa badannya serta sembada. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan. kelapa muda (disediakan) di setiap pintu. kanda menjadi biasa. bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang. para arya. (memakai) konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning. 17. pagi-pagi aku tunggu. serta tetabuhan. para mantri. para abdi semua sedia. berangkat ke Jatitujuh. 286 . memajukan banyak prajurit. membawa pedang tumbak keris. (mereka) semua baru melihat Paduka. rigah. pakaiannya macam-macam. oleh karena menghadapi perampok. Semuanya menaiki kuda. Patih Hastrasuta. serta semua prajurit. tergantung keris di kanan. tergantung juga ada di kiri. 18. 19. diiringi prajurit. orang kampung yang menyediakan.bersiap untuk bertarung. oleh karena gagah perkasa.” Bende berbunyi menandakan semua bubar.

22. 23. serta Raden Nuralim. serta saudara dan putranya. seperti apa pertarungannya? Telah cukup para prajurit. dengan kiai (dari) Betawi. (tersebutlah) yang ada di Bantarjati. “Paman bagaimana sekarang. 21. 20.beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan. 287 . (Tundalah) yang berangkat. serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar. aku harap bersabar. yaitu para senapati. Bagus Rangin berkata. Bagus Seling putranya. atau langsung diserang? Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan. Gana Wanggana dan Jari. Bagus Serit namanya. didampingi Surapersanda. serta pamannya yang dituakan. serta para senapati. Bagus Serit berkata. “Duh putraku semuanya. semua senapati putra Mayahan. serta Bagus Pangiwa. Ki Bagus Rangin. harus nanti hari Kamis. apakah mengirim surat. (Setelah) semua lengkap berkumpul. pejabat di Kandanghaur. para ponggawa sedang menghadap.

peperangannya bagaimana. sukur (mereka) datang. limapuluh jembatan (jumlahnya). perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?” 25. (karena) polisi desa datang menghadap Paduka. mengatakan kedatangan orang Darmayu. lalu jembatan dihancurkan semuanya. pembicaraan terhenti. setiap jembatan dijaga tiga orang prajurit. serta dipasang umbul-umbul. tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan. janur serta daun beringin. maju menghadapi pertarungan. tempatnya di Jatitujuh. 288 . kira-kira telah jauh. anak (dan) saudaraku. kenapa mambawa pasukan besar? Keinginan ayahanda. Dalem Darmayu datangnya. “Betul tidak ada (halangan) anakku. Setiap jembatan dijaga sebagai penghormatan kepada Paduka. 24. “Duh Raden bahagia bila demikian. kebetulan tanggalnya. 26. kuda serta ponggawa.” Lalu ayahanya berkata. kira-kira hari apa. dari utara hingga berpisah. sepertinya sial (para) prajurit. Bagus Rangin berkata pelan.Kemis Kaliwon ini. Ayahnya kembali berkata. “Bagaimana perjalanannya.

30. karena sakti dalam berperang. menunggu kedatangan (tamu). dengan temannya sesama perampok. senjata telah disiapkan. tempatnya di Jatitujuh. Bagus Serit yang mengaturnya. gampang menghancurkan pasukan. (dijaga) tiga orang prajurit. 28. untuk pertemuan para pejabat. (Kemudian) membuat tenda. bersiap untuk kedatangan tamu. kanan kiri bendera. bersama Bagus Serit. tetapi siap sedia prajurit. semua berkumpul (untuk) bermusyawarah. Tundalah pasukan Darmayu itu. 289 . Usai merencanakan (siasat) penyerangan. prajurit Hastrasuta. (yaitu) siasat merampok. semuanya siap sedia. lima puluh prajuritnya. dipasang tirai penghalang di air. 29. bersama-sama mengatur siasat perang.27. pada setiap jembatan. Ki Rangin di pasanggrahan. lalu paman patih. ramai orang menjaga perbatasan. Lalu bubar. prajurit beramai-ramai. Supaya kuda kembali (lagi). Sama-sama membuat pesanggrahan. Lalu para saudaranya. Siang malam menabuh (gamelan). gamelannya (ditabuh) siang dan malam.

diiringi para prajurit. bendera merah kuning dan putih. Lalu perjalanannya dilanjutkan. bedil mimis dan seligi Ki Patih menaiki kuda. tetapi nanti setelah aku pulang. “Diterima saudaraku. ramai (suara) gamelan Ki Rangin. kedatangan Paduka …. “Duh Paduka saya ini Karena diperintahkan menemui Paduka. 290 . serta sampai di perbatasan. Lalu berkata Ki Patih. dusun Bantarjati. karena ini perjalanan terburu-buru. 34. tempatnya berkumpulnya perampok. 31. hitam legam warna kudanya. telah jauh perjalanannya. umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan. Serta keesokan harinya bubar. saya sudah sedia barangkali diinginkan. sambil menyembah serta berkata. 32. siap sedia perlengkapan perang(nya). itu terlihat Paduka. Semua menghaturkan hormat. Ki Patih lalu berkata. di mana tempatnya itu?” Berkata prajurit (yang) tiga (orang). silahkan sekehendak Paduka.diutus untuk memeriksa. patih dengan para mantri. 33. gembira atas penghormatannya.

” 291 . bersorak hingar-bingar. sudah tiba di pasanggrahan. 35. sudah sedia untuk berperang. Seperti apa pasukannya. terdapat pesanggrahan besar. ramai (suara) gamelan yang ditabuh. tumbak perampok. Dalem Dramayu. dibakar tidak ada yang tersisa. pasukan sebanyak-banyaknya. yang sama-sama tinggal di sini. hendak menanyakan berita lalu sampaikan yang sesungguhnya. bersalaman semuanya. Sebetulnya hendak merusak. Disambut (oleh) banyak prajurit.sudah dipacu kudanya. apa tujuannya?” Bagus Rangin lalu menjawab. masuk ke dalam tenda. kemudian jembatan dihancurkan. karena aku menanti perintah. lalu sama-sama duduk. bendera dan umbul-umbul. menuju ke Bantarjati. serta menghormati. karena menghormat Paduka. lalu patih memeriksa ke belakang. PANGKUR 1. 2. “Hai saudaraku semua. X.

kalau boleh saya mencegah. karena negeri ini (akan hancur). akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu. aku tidak mau disuruh mundur. 5. Lalu Ki Patih berkata. akibatnya jadi rusak. (jangan) menuruti napsu. “Kiai Patih Hastrasuta. Meskipun kecil wilayahnya.” Oleh karena itu Rakryan Patih merasa telinganya seperti disebit. tetapi lebih berat menjaganya. 6. Loh Rangin ucapanmu itu memalukan. karena musuh ada di dalam negara. rupa oarang-orang di negaramu itu. (jaga) mulutmu berandal babi. Para mantri menjaga. mereka saling dorong mendorong. Ki Patih keluar dari Jati. bila kamu tidak tertangkap. 4.” 7. karena malu kalau mundur. Ki Rangin berkata kasar. Ki Rangin berat bertanding melawan patih. karena bermaksud ingin merusak negeri Darmayu. Sudah.3. 292 . masa aku takut. dan tidak takut melihat. menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung. “Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara. dan nanti membuat sengsara semua anak cucu.

menunggu waktu jam sepuluh. Bantarjati. semuanya kalah di pertempuran. dan Kulinyar bubar melarikan diri. banyak musuhnya yang tewas. Karena Patih Hastrasuta mengamuk selama dua hari ini. “Saudaraku semuanya. Pasiripis. dikepung buaya mangapi. 9. Biawak. (orang dari) Bantarjati. lawanlah (sambil) terus mundur. lalu serentak bertarung. jangan sampai bisa keluar. tidak memakai aturan berperang. bersiap mengepung saja. Ki Rangin tidak kuat berperangnya. 11. seribu orang lebih tidak terlihat. jatuh terkena tumbak dan keris. “Hai prajuritku semua.dengan Rakryan Patih. orang(-orang) Kulinyar. 8. berkata Ki Serit. kira-kira (tengah) malam saya bukakan. siapa marah pasrah tewas. Dan setelah jam sepuluh. para saudaranya maju perang. serentak menyerang. Lalu Ki Serit berkata. ketika gelap tidak terlihat. sudah merasa tidak kuat. Karena perang dengan perampok. 10. 293 . waktunya jam enam sore. sekarang jangan mendesak majulah.

sekarang pasti sudah sampai saatnya. utara timur karena malam.12. membawa tumbak [dipikul] di pundaknya. badannya sudah hancur. Lalu Ki Serit maju. 16. hanya Patih Hastrasuta. Serta keesokan harinya bubar. yang diinginkan tewas. Ki Serit keluar dari belakang. kemudian dibawa oleh orang banyak. 13. oleh karena itu para perampok. tetapi pasukan Kulinyar. sudah sewajarnya saya berbakti. hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu. karena tidak peduli (lalu) melarikan diri. kena (sasaran) lalu tewas. berganti pakaian beraneka. (Ia) berbicara di dalam hati. bertarung melawan perampok yang mengeroyok. 15. meladeni pertempuran. sama-sama berpesta ramai-ramai. para mantri melarikan diri. Serta sudah waspada lalu Ki Patih ditumbak dari belakang. aku sudah tidak kuat. 14. membela negara. berkumpul di pesanggrahan mereka. sangat ramai karena perang sampai malam. bersorak seperti bumi terbelah. Tidak tahu arah utara-timur. Hastrasuta sudah payah. 294 .

jika demikian lebih baik kalian pulang semua. para istri serta saudaranya. sudah tiba di hadapan Paduka. “Saat ini mendapat musibah. lalu masuk ke rumah. sama-sama bertemu di pintu gerbang. maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung. dikeroyok di medan pertempuran. tewas di (tengah) jalan. lalu semua bubar. 17. 18.oleh karena para perandal. tidak disangka perampok datang (lagi). Kanda Patih terbunuh. dikepung banyak orang.” Paduka berkata pelan.” Sambil air mata mengalir deras. serta ada yang tewas. saat ini karena sudah tewas. 20. “Hai mantriku semuanya. “Celaka hamba. Lalu melanjutkan perjalanannya. serta sudah sampai di kampung Bangoduwa. karena itu mantri melarikan diri. Berkatalah di hadapan (paduka) sambil menangis sedih. (lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar. Sama-sama bertarung di jalan. 19.” 295 . sudah sampai di negeri. berkata Dalem kepada istrinya. Sesampainya di negara. karena Kakanda Paduka. ditembak pamayungnya (pemimpinnya).

(Mereka) beramai-ramai tayuban. macam-macam tingkah lakunya. semuanya menangis. Serta keesokan harinya semuanya bubar. kanda tidak panjang umur. “Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku. serta saudara-saudaranya. ganti lagi yang (diceritakan). 25. “Duh paman saya mohon. masing-masing (membawa) senjata. oleh karena perampok kampung. jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok. serta saudara-saudaraku cepat berangkat besok pagi ke Dermayu sudah telat perjalananku. sambil memanggil-manggil. 296 . mengingat kesengsaraannya.21. Istri serta saudaranya. setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi. Ki Rangin berkata pelan 24. Ramai gemuruh (yang) menangis.” Semuanya menyanggupi. meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan. siang malam makan-makan.” 22. berandal dari Bantarjati. para istri dan putra-putrinya. kepada pamannya Kiai Serit serta saudaranya. hasil merampok di setiap kampung. bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka. padahal (kanda seorang) patih. 23.

karena sama-sama gagah. atau sama-sama mengenakan celana pendek. dengan senapan di sebelahnya. masing-masing yang dimilikinya. serta Heng Jin dan Tiyang Li. selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan. Sepanjang jalan berjoget. gobang. anak-istrinya di Dermayu. ada yang memakai celana poleng jarik. 28. lalu berandal merusak. serta pedang. (mereka) sudah sedia berani mati. pakaiannya macam-macam. ada yang (memakai) celana panjang. sampai babi hutan. bersorak di jalan sambil menari.. sepanjang jalan merampok setiap dusun. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa. Heng San. segala kelakuannya. Cina babah dengan baru. kerbau sapi juga ikut. oleh karena jumlahnya banyak jadi berani. serta Nyonya Cinanya. Heng Li Cina baru semuanya berani.senapan. oleh karena kelakuan pencuri. 27. ayam serta harta benda. 297 . Orang Cina (berjumlah) dua puluh. Babah Kwi Beng. Di Lobener para Cina sedia. tumbak. 26. 29. memikul karung berisi beras. keris dan komprang serta pentungan. hendak merebut barang (dan) harta.

cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu. “kok kamu menjadi berandal. Serta merusak …. banyak penjahat pecah kepalanya. 298 . kan saya tidak mengacau. 31. aku benci sekali padamu. hancur penjahat (dan) banyak yang mati diserang oleh para Cina. “Karena itu saya menemui. Hanya sahabat waktu sekarang. ada Cina bersahabat denganku. sekarang ini jangankan saudaraku. jika tidak melihat kamu.. masa hendak dirusak. atau berniat jahat. 33. sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh. para Cina bertarung melawan penjahat. banyak harta-bendanya. Hendak meminta kerelaan teman. saya (berbuat) lebih baik. diserang oleh para Cina. Dan bagaimana pikiranmu membuat kekacauan di negaramu ini. tetapi mengingat (kamu) sahabat saya. 34. lalu Bagus Surasa Persanda menemui Bah Kwi Beng serta melihat(nya). 32. Jarih (dan) Gana ikut-ikutan. Semua berandal menyingkir.30. apa tidak ingat inti tali persahabatan?” Berkata Surapersanda. ramai orang melarikan diri.

dengan Bagus Surapersanda. kamu membuat (orang) sengsara (dan) dirimu sendiri. (Penduduk) desa itu sangat susah.perlengkapan kurang lengkap. 35. Ki Rangin berpikir keras. lalu ditiduri. Jika istrinya cantik. Lalu Cina memohon diri. lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya membuat perkampungan di Pamayahan. tingkah laku berandal itu. karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok. karena itu (mereka) sangat sengsara. 36. ada yang menjarah. membuat pesanggrahan. bubar (dan) berangkat ke Darmayu. orang kecil dirampok setiap hari . sampai tujuh ribu orang 37. Bergemuruh di Mayahan. para Cina lalu mundur. memanggil-manggil Padukanya. siang malam membunyikan tetabuhan. 299 . bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini. jumlah orang(-orang) itu. bila tidak mau lalu dibunuh. merampok (dan) mencuri uang. 38. sehari tiga puluh orang yang sama-sama datang maksudnya hendak merusak Darmayu. karena banyak orang. hendak merebut negara Dermayu ini.

Nama[nya] gubernur jendral (itu). dan benci kepada orang yang jahat bila tertangkap terus dibunuh. tidak perduli teman sendiri. Karena penjahat yang datang sangat banyak. maka dihukum olehnya. para berandal (kaum) bangsawan. kerbau. sudah mendengar bahwa banyak berandal di daerah Mayahan. 43. Ki Dalem menyampaikan surat. kalau ajudannya tidak menurut. Dengan demikian Paduka.39.” 40. 1808. watak[nya] Daendels itu (demikian). “Aduh Tuanku panutanku. sapi. (kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia. (dan tinggi) besar. Memohon pertolongannya. 41. tidak malu menyakiti. rusak hamba semua. sembada. dan suka menolong kesusahan setiap negara 42. Kiai Dalem Darmayu. serta kambing dicuri. Karena itu banyak serdadunya disebar. (adalah) Daendels yang berpangkat gubernur berkedudukan di Betawi sangat gagah perkasa. 300 . hamba meminta tolong. di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak. (yang) menjarah setiap hari.

bertanding atau belajar perang. 45. Serdadu dengan tuan. 46. serta sampai di Mayahan. di negeri Dermayu. dipilih yang perawakannya sama. Supaya terlihat.memohon gubernur memerintahkan. bupati tidak kuat sendirian. Seratus oarang yang menggotongnya. bupati sudah menyerah(kan). dari Inggris asal Belanda. perlengkapan (dan) peluru digotong. Yang mana penjahat (diajak) berunding. serta meriam ditarik kerbau. serta mengirim pasukan serdadu. Lalu berangkat diiringi tiga ratus serdadunya. kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut. supaya bubar gerombolan penjahat ini. pura-pura diangkat jadi bupati. serta mereka berunding. 47. sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati. karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi. besar tinggi bergodeg dan berkumis. Tuan Postur namanya. supaya berandal melihat. 301 . pedang serta berkuasa. 44. tatacara berperang. bersama dengan komandan laut. dengan makanan serta uang. (oleh) para berandal tampangnya para serdadu (yang membawa) senapan.

49. membawa perlengkapannya. “Hai Bagus Rangin dengan hormat karena saya diutus. namaku Zwak. 48. Nanti semua saudara(mu) kuangkat menjadi mantri. kekuasaannya sama. oleh Tuan Gubernur Jendral. perlengkapan perang. Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya. Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa. jika demikian lega hatinya.terkejut berandal melihatnya. bahwa ada serdadu datang. Lalu berkata kepada pimpinannya. diangkat demang olehku. untuk berunding. seperti pangkat bupati. bila anda bersedia. 302 . jurutulis. Karena bupati menyerahkan. (Menurut) bupati. Tuan Deler berkata manis. Tuan Deler menghormat kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. 50.” Bagus Rangin menghaturkan terima kasih. jadi aku diutus. (yang) berkuasa di [negeri] Betawi. 51. negaranya kepada Gubernur Jendral. bertemu dengan Tuan. Semuanya berganti pakaian.

Lalu Deler mengirim surat. suka-suka berpesta. Baru pejabat yang ditangkap pasukan Deler. pedang serta berkuasa. siang malam penjahat tayuban. karena bupati 303 . (mengenakan) pakaian dari Betawi. Lalu bupati mengirim surat. hendak merampok bendera negara. 53. Demang Rangin (dan) para mantri. sangat takut melihat persenjataannya. senapan. Banyak orang yang melihat Belanda. Di Kademangan Pamayahan. setiap sore mengajarkan perang.52. kolonel ajudan sersan dan serdadu. Ki Rangin sangat gembira sekali. Bila malam melarikan diri oleh karena banyak yang kurang makan. Tuan Deler bersiaga. baju laken (dan) topi (laken). celana laken. jumlah penjahat sekitar tujuh ratus. Lalu ramai tetabuhan bergemuruh. menghibur yang menjadi demang. Semuanya mengenakan laken. pesta melantik demang. diiring semua mantri. membawa pasmen mas berkilauan. sudah menerima surat itu. penjahat banyak yang kembali. kepada bupati Darmayu. 56. 54. 55. mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang. oleh karena mereka berjumlah banyak.

dinda minta menangkap berandal yang dijaga. Karta dengan Raden Welang.” 60. lalu berbicara kepada sultan. Kepada tuan komandan Belanda di Betawi. 57.kepada Kartawijaya ponggawa sultan di Grage. menyiapkan perlengkapan perang. Kartawijaya marah. suratnya telah diterima. serta anda Raden Welang. minta pertolongan. potong leher para berandal itu. yaitu pamannya sudah tewas. “Jika Kartawijaya. lalu berkata (dengan) lembut. (memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta. secepatnya harus menangkap penjahat. menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya. 304 . semuanya sudah disampaikan kepada sultan. Cepatlah kakanda. saat ini berandal dijaga. Sultan member izin. keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende. 59. Paduka sultan berbicara. Bila berhasil cepat diborgol. 58. Lalu prajurit bersiaga. karena sudah dipersilahkan menyertai paduka. bila melawan (harus) dibunuh. dibunuh oleh berandal. (berangkat) bersama Karta(wijaya). Serta dibaca surat itu.

adiknya memeluk (sambil) menangis. XI. 305 . prajurit semuanya berangkat. yang sudah wafat. karena hendak membalas kematian. Dan membawa temannya.61. (yaitu) Patih Hastrasuta. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang. 63. “Duh dinda mas sudahlah tenang dinda. Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu). DURMA 1. di Mayahan tempatnya. 62. semuanya sudah keluar. Menangis kepada kakaknya karena teringat ia sudah tewas kakaknya menangis. 2. sudah siaga (untuk)bertarung. bersamaku (dan) kanda Karta. “Hai semua prajurit saudaraku. seluruh(nya) para prajurit terpilih. dinda Hastrasuta sudah meninggal. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar. Prajurit sudah sampai di Darmayu. sekarang kalian berangkat. (ingin segera) menumbak perampok. hendak menyerang panjahat yang mengacau. Lalu Den Welang berkata. serta katanya. tidak akan mundur kanda berperang. semua[nya] ponggawa. bertemu adik dan kakak(nya). gembira mantri semuanya.

kamu penjahat. Utara selatan timur sudah dijaga. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja. karena sudah dikepung.” Lalu dijawab oleh Raden Welang. 4. di selatan pasukan Betawi. lengkap dengan peralatan perang. karena yang di depan. merasa dikhianati oleh Tuan Deler. penjahat berada di tengah. 306 . Kemudian berteriak. Rangin menyambut (karena) mendengar bahwa bupati telah tiba.sangat semangat pasukannya. menurutlah akan kuikat. “Hai Rangin anjing kamu ini. serta barat (oleh para) prajurit. berhadap-hadapan bertemu dengan para penjahat. bupati dengan kakaknya. 5. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya. putra selir (Pangeran) Panjunan. 3. sudah kokoh barisannya. serta Den Welang. Lalu sudah tiba di Pamayahan.” 6. “Hai aku (sudah) diangkat (demang) oleh Tuan Deler . berkata dengan kasar. Den Welang (ada di) tengah. mendekati berandal.

tidak memakai siasat perang. meskipun aku dikepung olehmu. Di tempat perang.”Aku tidak takut. oleh karena berandal seperti mengepung binatang buas. aku tidak akan lari. aku tidak takut.” Sena lalu diikat. melarikan diri dari medan pertempuran. ditendang (lalu) terguling. 8. Rangin dengan saudaranya. oleh Raden Welang. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol. Rangin sudah tidak ada. Den Welang berkata. “Hai kunyuk penjahat. Pagi-pagi bende ditabuh. oleh serdadu yang sedang berjaga. Banyak penjahat tewas yang ditangkap (dan) dibrogol oleh para mantri. 10. (berandal) yang ke luar ditembak 9. sombong (karena) banyak pasukan. setiap prajurit di tempat perang. Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang. Perang tertunda (karena hari) berganti malam. (jumlahnya) sekitar enam ratus (orang). 7. semuanya melarikan diri. 307 . takut mati kamu anjing. 11.

lalu berangkat mencari. yang ada penjaranya. (saking banyaknya) tidak tertampung di dalam penjara. Serta sudah mundur semuanya. Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari. sudah disekap semuanya. 14. Berandal (itu) lalu dipenjara. mengenai penjahat yang sudah tertangkap (dan) dimasukkan ke dalam penjara itu.karena akan dikirim ke Darmayu nanti. Keputusan pun sampai. 12. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim ke Betawi. (semua) disekap di dalam penjara. Kelebihannya dibawa ke kapal semua penjahat itu. semua pembesar berkumpul di Darmayu. sudah bubar semuanya. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral. keinginannya. Dalam perjalanannya. semuanya diperintahkan dibunuh. Balatentara Den Welang dan Den Kartawijaya. sampai ketemu. 308 . 13. (kepada) jendral yang ada di Betawi. 15. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki. (Mereka) akanmengirim surat.

yang memimpin pertempuran. 17. Prajurit paman yang memimpin pertempuran. Di tempat pertahanan Kartawijaya dan Raden Welang. dan Seling bersiaplah dengan waspada. berpesta siang dan malam. Gana.ada berita lagi. tertawa bersuka ria. 20.” 18. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam. prajurit Bagus Hawisem. Hawisem dan Raden Wari 19. kanda bertemu dengan dinda. di Kedongdong. Rangin Kandar pemimpinnya. “Nah itu dia. Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin. sebab gerombolan berandal sudah menunggu. Rangin berkata kepada para putra(nya). sangat gembira. “Aduh dinda tidak disangka. maju berperang. 309 . Prajuritku berhasil. Jarih. yang kembali dari pertempuran. serta membawa gerombolan panjahat dari Luwiseheng. Rangin sangat gembira hatinya. Jumlahnya sekitar seribu (orang). maju ke medan perang. 16.

(bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong. Tumenggung Nitinegari. Prajurit Luwiseheng pun turun. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran. dipegang ……. Pertempuran di medan jurit.” Di tempat pertempuran ramai. berani ke medan perang. 23. dengan Den Kartawijaya. 22. penjahat sudah siaga mengatur pasukan dipimpin (oleh) Bagus Rangin. tidak patuh dalam pertempuran.ternyata ada yang menyusul. karena banyak yang kalah oleh Den Welang karena berani bertarung. memandang Hawisem (dan) Wari. bertahan di medan perang. 24. lalu dikejar dengan berani. bertemu di medan perang. prajurit di depan. Raden Wari tertangkap. Lalu berjumpa dengan Kartawijaya.” “Prajuritnya Rangin yang menyambut kamu ini. 310 . Raden Welang maju. karena aku tidak kenal. 21. Rangin Kandar turun. Den Wari nama(ku). keroyokan karena tidak terlihat. “Siapa ini di hadapanku.

Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya. pondokannya kosong. berlari ke barat. menuju arah barat.” Segera dirantai. orang(-orang) desa kesusahan. ke negeri Darmayu. XII. “Hai anjing penjahat. 28. (yang) ada (di) negeri Garage. 27. kasmaran yang melihat. diborak-barik setiap perkampungan.gerombolan berandal. Ki Sena (dan) Surapersanda. semuanya tidak ada yang tertinggal. ramai oleh yang berperang. Den Welang berkata. sama-sama mengejar penjahat. KASMARAN 311 . Leja dengan kawan-kawannya. 26. Surapersanda sudah tertangkap. Banyak berandal yang mati ditembak oleh serdadu. 25. Pondokan para penjahat dibakar. kepada teman sultan. dan Sena diikat. gadis cantik dibawa. (dan) Hawisem lari. Handa. tidak menemukan (siapa-siapa). Kandar. (serta) Raden Welang tidak ketinggalan. dirantai (dan) dikirim. Rangin. tiba di Bantarjati.

sangat sedih. pernah menyeberang Kuceak. 3. 5. melihat anak. 4. Legok Siyu. berkelana di hutan-hutan. Lalu berkata perlahan.istri(nya). 2. tiba di Dulang Sontak. 312 . Pengambiran. pemandian bupati di sebelah barat. dan di hutan Cikole. tiga bulan perjalananannya. Radensrang. berbelok-belok perjalanannya. Benggala di Luwung Dinang. anak istri sama-sama sedih. di Purasu. Menangis sepanjang jalan. Cibenuwang. “Duh anakku nanti. Serit. menyeberang Cipunegara. sangat sengsara hidupnya. Ciwidara. dan Leja. dengan Cilege. sampai Gumulung. Sebelah barat menyeberang kali Cilalanang. Bila diburu (lagi). Tersebutlah yang melarikan diri Ki Rangin.1. di tengah hutan (yang) luas. kepada semua anaknya. dengan Kandar Handa kelak membawa anak istrinya. Cipanculan. Cipedang. tiba di Cigadung.

memasuki hutan. di rawa yang bernama Citra. Menanam pepohonan. dinamai Dukuh Citra. dengan yang dibuat Ki Rangin. tiga bulan perjalanannya. Kemudian menemukan pelataran luas. berjalan terus di hutan-hutan. 6. dan disamakan namanya. sungai yang deras airnya. menguras ( sungai) mencari ikan. Pernah membuat perkampungan. dari tengah hutan. Karena para istri. Beramai-ramai membawa makanan. luas halamannya. sangat jauh letaknya. membawa kijang bila kembali. kesenangannya itu. Ki Leja setiap hari. 9. Ayah akan membuat ladang supaya didatangi (orang). 8. sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya. sebelah barat sungai Cigadung. 7. lalu bersama-sama memasang tenda. serta menjangan. rawa besar banyak ikan. 313 . berjalan di pinggir jurang. serta membuat sawah. Rangin setiap hari.sangat subur tanahnya. terlihat sangat sengsara.

membuat . 11. dinamai Cihakur. 10. 14.. dua taun lamanya.. Ki Gede yang berada di Pecung Kiai Wangsakerti namanya. membawa teman tiga puluh. hendak mencari tempatnya. letaknya di Cigadung. serta datar tanahnya. 12. hendak mencari negeri jajahan. Dinamai demikian. Lalu Ki Rangin membaca mantra. karena menemukan tempat luas. tempat para penjahat. kelak bekas Ki Rangin bila berkumpul. menuju selatan arahnya. di sebelah barat laut Suba(ng). memerlukan tempat luas.sebuah (yang bernama) Jatigembol. 13. lalu sama-sama setuju. Jatilima namanya. Di perbatasan distrik Pegaden. disebut (demikian) sampai sekarang. panjang lebarnya luas. yaitu Aji Pengabaran. Tegal Slawi namanya. keduanya distrik Pamanukan. 314 . Lalu semua sudah setuju. dengan saudara serta ayahnya. sudah tiba di Citarum besar.

hendak mengadu kekuatan. saudara serta teman-teman. setiap hari orang datang. lalu ada yang mengikuti. melihat pesanggrahan. kepada teman dan saudaranya. tanda saya bijaksana. yang menjadi tujuan. sangat mujarab sihirnya. Menangtang perang.pikirannya sudah nekat. apa keinginanmu. pesta makan-makan. karena tinggal menunggu waktu semuanya siap. di antara orang banyak. untuk menyambut perang. Lalu membuat surat. dikirimkan ke Desa Pecung. supaya siaga sekarang. 17. seperti apa keinginannya. Serta sudah banyak orang. karena saudara keinginannya. 18. sudah membuat sengsara. 315 . Semuanya menjawab. yang akan ikut berperang. lebih dari seribu orang. lebih baik aku membuat surat. beramai-ramai siang (dan) malam. 16. Lalu Rangin berkata lembut. hari apa maju bertempur. 15. apa ingin mengungguli menggempur orang keturunan Pecung.

sudah menyampaikan surat. Ketika sedang berbincang-bincang. serta berkata kasar. dengan penjahat dari timur?” Semuanya menyanggupi. surat lalu diterima.19. “Hai kamu Krudug. serta putra Sindanglaya. Surat lalu dibaca. berandal berasal dari timur. 20. dengan penjahat (dari) timur. Dulang Sareh namanya. karena sudah mendengar. Lalu berkumpul. apakah sekarang sanggup bertarung. Demikianlah Ki Wangsakerti. ada penjahat. di tegal (sebelah) selatan Subang. para senapati juga. sanggup mengadu (kekuatan). tiba di hadapannya. Ki Wangsakerti berkata. 316 . Atau kamu anakku Jaka Patuwakan. 23. pelayan yang bijaksana. buronan negara. dengan saudara (dan) anaknya. dibaca di dalam hati. dalam sekejap datang utusan itu. 21. Jajabang Grudug terlihat. hendak melawannnya. 22.

25. Dulang Sareh berkata pelan.“Kamu anjing timur. sudah tiba di hadapan Paduka. pergi. serta tersenyum (dan) mengumpat. malah banyak prajuritnya. Jawa Timur rasakan aku. “Bagaimana Dulang Sareh. hendak melawan orang Sunda 24. hari apa yang pasti. bagaimana suratku?” 27. sampaikan pada tuanmu. anjing Sunda membelalaki. Grudug mendengar (yang) mengumpat. cepat-cepat berjalannya. anjing kamu. Ki Gedeng Pecung iti. lalu katanya.” 26. yang berada di [tempat] pesanggrahan. Dulang Sareh lalu pulang. menanti kedatangan paduka. 317 . Lalu Dulang berpamitan. akan mantra sihir (pada) kamu. matanya jelalatan. tebal tipis urat tulang. “Anjing cepat kamu mati. sudah siaga (dengan) pasukannya. Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya. serta gagah sentosa. jangan banyak bicara kamu. saya siap menyambutmu.

Ki Leja lalu bertanya. termasuk distrik Subang. 32. berani melawan bertarung denganku. ramai perang dengan penjahat. menjadi pemimpin perang. sedia untuk berperang. Lalu berkata Ki Rangin kepada Kiai Serit serta saudara-saudaranyanya. apakah kamu Wangsakerti. tidak kenal (orang) Jawa Timur.28. “Hai siapa (orang) Sunda ini. Patuwakan Majalaya. Lalu maju prajuritnya. bendera cepat dinaikan. bersorak bergemuruh. prajurit Rangin pun siap. karena perang penjahat. semuanya menyanggupi perang. dengan barisan pasukan Pecung. barisan penjahat (dari) timur. 318 . 30. Leja maju bertarung. Lalu sudah terdengar. lalu semua sedia. pasukan Rangin banyak yang mati. bertemu dengan Ki Gedeng Grudug. Di daerah Tegal Selawi. 31. 29. Bende dipukul terus-menerus. melawan Ki Gedeng Pecung. perasaannya seperti Singalodra. serta Kiai Gedeng Grudug. Bergemuruh pasukan Rangin.

aku senapatinya, namaku Gedeng Grudug, yang akan mengikatmu. 33. Buronan negara, di timur sedang dicari. Ki Leja menyerang, sama-sama saling mendorong, ramai pasukan yang bersorak, pasukan Rangin dengan Pecung, bertemu lawan di pertempuran 34. Jaka Patuwakan, melihat kakaknya bertempur, tidak ada yang kalah dan menang, lalu cepat maju, menggantikan berperang. Leja bertanya, “Hai siapa yang menggantikan perang, 35. berani kamu babi?” Aku Jaka Patuwakan tidak teliti melihatnya. yang bertarung saling mengejar, ayo gantian lawan aku, aku ingin merasakan, mencambuk kamu orang timur.” 36. Lalu menyerang (dengan) berani, Ki Leja cepat mengayunkan pedang, tidak berhenti memedangnya, terus menerus menggunakan pedang. “Hai kamu Patuwakan, betul-betul prajurit tangguh, serta kamu masih muda.”

319

37. Patuwakan berkata perlahan, “Duh Paman Leja seperti orang serakah anda, memakai pedang tanpa aturan, ke bawah ke atas gerakan pedang, kamu itu bukan prajurit, betul-betul penjahat urakan. 38. Jaka Patuwakan, merasa tidak sabar melihatnya, Leja didesak perangnya, tertutupi penglihatannya, lalu cepat ditangkap, digendong tidak berdaya, Leja tidak bisa bergerak. 39. Sambil menangis memanggil-manggil, “Ampuni paman, Patuwakan, sekarang paman tidak berani.” Lalu dibawa oleh prajurit, Kandar maju perang, pemuda yang sakti dan unggul ini Kandar saudaranya. 40. Cobalah lawan aku, sudah saling berhadap-hadapan, dengan Patuwakan, di tangannya terpegang senjata. Tidak kuat Bagus Kandar, terpukul rotanwulung, terguling di atas tanah. 41. Sambil menangis memanggil-manggil, “Aduh Bagus ampuni paman, sekarang paman tidak berani,” lalu Kandar diikat.

320

Matahari pun terbenam, mundur pasukan Pecung, sambil membawa tawanan. 42. Berkata ki Wangsakerti, “Hai anakku semua, besok saya maju, Jigjakerti Majalaya, supaya maju perang, melawan Rangin kamu ini.” Jigjakerti menyanggupi. 43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu, pasukan Pecung banyak, demikian juga pasukan Rangin. Kiai Serit berkata, “Apa yang harus kulakukan?” Ki Rangin lalu berkata, ayahanda jangan kecil hati. 44. Sekarang ananda pamit, hendak maju bertempur. Ki Serit memeluk putranya, menangis sambil berkata, “Duh anakku yang kusayang, kita serahkan kepada Yang Agung, semoga unggul di medan perang. 45. Lalu Bagus Rangin maju, menantang di medan perang. “Hai ini Rangin namanya, sambutlah di pertempuran, sambil berebut bertempur, tidak apa aku tewas, itulah tujuan hidup laki-laki.

321

46. Lalu maju Jigjakerti, Ki Gede dari Majalaya, sama-sama sudah bertemu. Lalu Rangin bertanya, “Hai yang maju bertempur, gagah besar serta tinggi, namaku Jigjakerti. 47. Dan ini Majalaya yang akan melawan kamu, kesaktian(ku) sepadan denganmu, terbuat dari kulit (dan) tulang keras. Lalu bertempur seru, Ki Rangin sudah menangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya. 48. Majalaya diikat(nya) oleh tentara Rangin, Ki Grudug maju perang, saling mendorong perangnya, Grudug lalu ditangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya, lalu cepat diikat. 49. Pasukan Pecung dengan Rangin, bersorak seperti bumi terbelah, tertunda karena malam, semuanya pasukan bubar, lalu membuat pesanggrahan, Ki Serit lalu menemui, setelah putra(nya) datang. 50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti, sangat susah hatinya, putra keduanya kalah, tinggal seorang putranya,

322

putra (yang bernama) Patuwakan, “Duh anakku, apa yang harus kulakukan? 51. Sial terkapar di medan jurit, Rangin sangat sakti sangat kuatir diriku, karena masih muda, Rangin gagah perkasa. Tunda yang dikisahkan, (terdengar) ramai di luar. 52. (Karena) ada pasukan yang datang, dari utara sangat banyak, Ki Wangsakerti terkejut, (karena) tidak disangka musuh datang. “Duh anakku (belahan) jiwa, apa yang harus aku akukan.” Kemudian ada mentri datang 53. memberikan surat, (lalu) diterima, menggigil (tangannya ketika) menerima surat, disangka musuh yang datang. Surat segera dibaca, isi suratnya, dibuka lalu dilihat, jadi gembira hatinya. 54. “Surat dikirimkan kepada adik, yang sedang bertarung. Kanda Wangsakerti sekarang, sudah (jangan) dijadikan pikiran, dinda tiba secepatnya, tidak dengan kabar tadi, (karena) keburu mendengar berita.

323

55. Bahwa kakanda menghadapi perang, dengan buronan dari timur. Dinda nanti menjaga. Surat (dari) keluarga di Darmayu, oleh karena dinda memohon ikut meneruskan perang. 56. Dinda mohon kabar menunggu izin kanda, sungkem Dinda yang menanti, Setrokusumah, Dalem Pegaden.” Ki Wangsakerti tertawa, “Aduh gembira sekali anakku. 57. Kamu Patuwakan, cepat bersamaku ikut menyambut, Adinda Bupati Pegaden.” Lalu bubar dengan kawan-kawannya, (untuk) menemui tamu itu, bertemu gembira sekali, bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk. 58. Lalu berkata Wangsakerti “Duh selamat datang, Adinda Dalem dari Pegaden, kanda memohonan (agar) bertemu, diterima permohonan(ku). Bagaimana pertarungan (dengan) buronan dari timur?” 59. Wangsakerti berkata perlahan, “Sangat gembira hati kanda, kedatangan dinda sekarang karena (hendak) maju berperang.

324

pemimpinya yang ke luar, malah aku dan anakku, sama-sama ditangkap (lalu) diikat. 60. Silahkan dinda maju, cepat tangkap penjahat.” Lalu bupati berdandan, mengenakan pakaian kebesaran, tampan gagah perkasa, memakai tutup kepala dari sutra ungu, dihiasi intan (dan batu) mirah. 61. Kerisnya tergantung, terlihat ada di kanan. (Ia) berkata kepada mantrinya, “Hai mantriku semua, cepat atur barisan, pegang dengan kuat senjatanya, aku akanke luar untuk berperang. 62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin. Seperti apa rupanya, pekerjaannya merusak orang banyak, orang kaya dicuri.” Karena Jaka Patuwakan, maju ke depan, menyembah ke hadapan Paduka. 64. Lalu berkata perlahan, ”Mohon maaf menyampaikan berita duka. ayahanda sudah keluar sekarang, mulanya ananda belum berangkat, menandingi Rangin bertempur, mudah bila ananda sudah kalah di pertempuran.”

325

Kemudian Ki Rangin menyambut(nya). Wangsakerti menyambung (pembicaraan). “Hai anakku sekehendakmu. “Kamu siapa anak muda maju perang? Sayang sekali masih muda. ke hadapan ayahanya. Sementara jangan dulu maju sekarang. oleh perwira Rangin. 326 .” Bupati berkata manis. anaknya Wangsakerti. Jaka Patuwakan menantang. Anaknya mundur dari hadapannya. pasukan bersiaga bersorak seperti prahara. harus dituruti. Karena aku mengizinkanmu. permintaan ananda.” Lalu Patuwakan menyembah. (mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang. 66. prajurit Rangin. “Lawanlah (aku). 2.” Demikianlah sudah terdengar. 3. Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan. bende ditabuh bertalu-talu. (dan) berhadap-hadapan. Lalu Ki Rangin bertanya. DURMA 1.65. “Duh Dinda betul (kata) ananda. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang. hendak maju ke medan perang. kuserahkan kepada Yang Sukma. XIII.

yang berperang mendapatkan lawan bertarung. 6.Wangsakerti Yang harus disuruh melawanku. keduanya memegang keris. Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang. Rangin lalu menendang. jangan kamu yang maju . karena sama saktinya.” 327 . Jaka Patuwakan. ujung senjata. Dalem maju berperang. Dalem menggantikan. bertempur dengan musuh Rangin. bermusuhan denganku. jatuh terpelanting. Patuwakan agak letih bertarung. ramai pasukan yang bersorak. seperti apa kesaktianmu?” Lalu Rangin menangkap. Rangin bertanya. serta berkata kepada putranya Patuwakan. Patuwakan melawan.” Patuwakan menjawab 4. lawan saja aku. “Siapa yang menggantikannya kamu prajurit yang gagah seperti …patih. “Hai anakku berhenti dulu. Karena ramai yang saling dorong. Nanti dulu. ayahanda yang maju. 7. Rangin (dan) Patuwakan. 5.

hendak mengikatku. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden. aku Setrokusuma. syukur (aku) gembira. mengakunya ningrat. melihat kamu ini. anjing penjahat babi.Dalem lalu menjawab 8. hendak menangkap kamu ini. untuk memberi makan anak istri. seumur hidup mengacau. Mundurlah akan kuikat. yang mencari buronan Rangin. Tidak malu (punya) muka seperti kamu. yang menjadi penjahat. buronan negara. Cobalah maju. Lalu membentak Rangin berkata kasar.” 12. dari Darmayu dahulu. “Dalem Sunda kamu ini. namanya Wiralodra. 10. 9. setiap desa dijarah. Karena aku masih saudara Dalem Darmayu. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden. 328 . Rangin kan tidak gila.” 11. lalu menerjang dengan berani. aku yang menjaganya yang baru bertemu ni. aku tidak takut. pekerjaan(mu) mengganggu orang.

” “Wangsakerti kamu ini. Lalu menangkap (Rangin). ayo maju. Setrokusuma. 14. Lalu membaca mantra. Lalu maju Ki Serit pertempuran. Tidak ada yang kalah bertarung. dan kamu siapa?” “Namaku Ki Serit. sama-sama kakek.” 16. 13. Lalu maju saling menangkap yang berperang. untuk apa maju perang. Wangsakerti ke luar. “Kebetulan Serit bertarung denganku. jika kamu prajurit sejati. yang bernama triwikrama.” 15. karena sama saktinya. Pasukan Pecung dan Rangin ramai yang bersorak. cepat maju. “Hai Serit. mari mengadu senjata. (yang akan)melawanmu. berubah menjadi anak gunung. Wangsakerti dan Ki Serit. “Siapa yang maju bertempur?” “Akulah Wangsakerti. melihat pemimpinnya. Rangin dibanting meghilang.ereka saling mendorong. tua dan kakek-kakek. 329 . betul kamu.

Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu. berssama-sama menumpas tentara Rangin. musnah tidak menentu. Lalu melarikan diri. mengadu senjata. 19. sama-sama bergumul bertarung. seperti memanggil-manggil. kacau orang banyak.tusukkan ujung keris(mu)!” 17. pasukan Rangin menyerang. 21. “Hai Serit takut mati!” 18. Dalem Setrokusuma mengamuk. Serit sering terjatuh. melarikan diri ke Karawang. Bagus Rangin meninggalkan pasukan. 330 . Rangin melarikan diri. mengadu senjata tajam. terguling di atas tanah. (lalu) diikat balatentara Rangin. Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal). kumpul menjadi satu. perang sendirian (tanpa)pasukan. 20. Ki Rangin sering terjatuh. [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata. Serta sudah sama-sama bertemu. gerombolan penjahat. Ki Serit menghilang. dengan Patuwakan. pasukannya banyak yang tewas. Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma.

menghilang Serit dan Rangin. 24.” Keduanya diikat dengan rantai . masalah berandal. 25. karena buronan negara. berdasarkan perintah. Anaknya berkata. Sudah berangkat buronan negara. Wangsakerti dan dalemnya. 331 . Saya kirim ke Betawi dua berandal. “Entah ayahanda ke mana mencarinya. Ki Serit dan Rangin. Grudug Majalaya. (ketika) menyebrangi Citarum. menjadi satu. Leja akan dikirim. ke mana arahnya?” 23. (kepada) Gubernur Jendral. “Ananda dengan adinda. Leja dan Kandar. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya. Bagus Leja. gembira hatinya. sangat besar kesaktiannya.” Kiai Dalem berkata lembut. 22. menghilang tiada tentu. dikirim ke Betawi. kan tidak tertangkap. disertai mantri. “Hai Kanda Wangsa. seperti bercampur (dengan) setan. diputuskan rantainya.Gintung (dengan) Patuwakan. lalu melompat.

dengan Dén Ngelan. banyak yang menuju barat.menyelam di laut. di Darmayu berkumpul. menghilang di dalam hutan. 332 . 28. Jayamanggala. yang membawa sangat bingung. XIV. empat orang mantri. Adapun yang ke timur. Leja. terhadap paduka. (dan) Serit keturunan. dan Jayakerti. buronan dahulu. Surakerti. tahanan masuk hutan dan laut. Den Karta berkata. 26. Dikisahkan hilang di dalam laut. dari negara Pegaden. (yang bernama) Jigjakarta. Bagus Kandar berlari. Sesampainya di negara. (dari) Rangin. hendak kembali sangat takut. Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut. Sangat susah (karena) tahanan hilang semua. Kandar. mantri berjalan tak tentu arah. penjahat yang lari. Begitulah perjalanan Karta. 27. SINOM 1. keturunan para ningrat. melaridiri semuanya.

” Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan. kanda yang memerintah di sini di negeri Darmayu”. seperti terbuka hatinya mendapat wahyu. 333 . kanda bawa semuanya. hendak pergi sekarang ini. “Semoga dinda mengizinkan kanda pergi. “Duh Dinda bupati. serta para prajurit. semuanya menangis. anak dan istri adiknya. “Duh Dinda betapa lamanya. 2.kepada saudara-saudaranya. Den Karta dan Den Welang. dengan dinda Den Welang. Kangjeng Sinuhun di Grage. nanti kanda meminta izin. kepada Gusti Sinuhun. 4.” (Sambil) memeluk adiknya. (Sambil) memeluk (dan) menangisi. Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi 5. sampai di pintu gerbang. hati-hati dinda ditinggal. “Kanda patih (telah) wafat. Berjalan menuju arah selatan. air matanya keluar. menangis memanggil-manggil. “Kanda kembali bukan … dan dinda mulia di sini. lalu melanjutkan perjalanannya. tidak baik (karena) menjadi bupati. jangan menangisi kami. 3.

apa maksudmu. bila tidak ada izin Paduka. jika demikian percumah aku menjaga. hendak saya buka. tidak berani melanggar.” 334 .sampai ke Palimanan. tidak ada yang tahu isinya ini. 8. 7. Menurut pesan komandan. Raden sudah tiba. kepada kompeni itu. lalu bertanya lembut. apa isinya ini.? Lalu masuk den Karta dengan Den Welang. Ada serdadu yang menjaga. “Aku menahanmu sobat. perintah dari gubernur. 6. Kartawijaya diajak singgah. sumur ditutup rapat. Raden bersama-sama datang. seperti apa rupanya. Permisi sahabat (sumur) itu. Raden ini dijaga.” Den Welang berkata “Hai teman aku memaksa Sersan menjawab.” “Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan. dengan Raden Welang. yang menjaga tadi. saya hendak melihat.” Raden berbicara lembut. Karena ini dilarang. “Permisi kawan yang menjaga di Palimanan. entah apa isinya.

lebih baik segera pergi. (mengenai) Séna Surapersanda. sangat kesal hatinya. pasukan Raden Karta. perjalanan para penjahat. membuka tutup besi. Serdadu segera menahannya. Karena itu sersan kumendan. Seharian bertempur. yang berada di loji Palimanan. semua serdadu cepat memasang meriam.9. menangkap Den Welang. sudah kamu jangan menemani. bergerak (mendekati) benteng. Raden Karta sudah menangkap. 11. Lalu melanjutkan perjalanannya. yang dilemparkan oleh serdadu. Raden Welang hendak memaksa. 10. Berkata Raden Welang “Hai saudara (dan) prajuritku. hingga tiba di negeri Grage. Lalu menghadap Gusti Sultan. semuanya disampaikan. 335 . 12. lapor ke Betawi. didorong keluar dari pintu gerbang. Lalu ditutup bentengnya. kanda yang memburu tahanan itu. Lalu menulis surat. banyak serdadu yang tewas. Gusti (Sultan) berkata pelan. Kacau para prajurit. menghilang dari penjara.

Sudah ke luar dari pintu gerbang. bawalah suratku ini. permisi Paduka saya hendak berangkat.suratnya telah dibawa. untuk Sultan Cirebon.” Dibungkus suratnya. Di loji Palimanan. “Hai ajudan (dan) letnan.” Suratnya karena sudah diterima. kepada Sultan Cirebon. dari sultan Cirebon. Sudah tiba di hadapannya. “Loh babi Cirebon anjing. sediakan pekakas perang(nya). lalu cepat dibuka. 16. cepat-cepat berjalannya. serdadu banyak yang tewas. serdadu yang membawa. tangkap ponggawa itu. empat puluh (orang) yang terpilih. berada di rumah Nihaya. 13. yang merusak Palimanan. 336 . kemudian surat dibanting. kurang ajar kalian!” Lalu cepat membuat surat. 14. surat sudah disampaikan kepada Paduka. untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral. meminta supaya pengacau ditangkap. kepada ajudan dan letnan. Raden Karta dan Den Welang. dan bawalah tentara. 15. serta beliau berkata.

karena berkomplot.mengumpulkan prajurit. surat lalu diterima. Lalu cepat diterima. tanyakan keinginannya. oleh Paduka Sultan. Besok datanglah ke Betawi. Suratnya sudah dibaca. sudah pasti (takdir) dari Yang Agung. belum dibalas. Aku tidak berani (kepada) jendral. 19. (yang) ada (di) Betawi. 18. Si Klewang dengan si Dumung. berkata Kangjeng Sultan. Cirebon ini. negeri kami tidak kuat melawan peperangan. Secepatnya sudah tiba. kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu. dan ini berikanlah bersama wasiatku. malahan negaraku. (dan) sedia pekakas perang. 337 . “Den Welang dan Kartawijaya. Karta dengan kamu Welang. Gubernur Jendral yang meminta. Tetapi jika kesultanan. dengan sultan di Mataram. Malahan surat sampai sekarang. dipaksa supaya taluk kepada Mataram. 17. memperkokoh aku tak bisa. menuruti Yang Widi.

dijewer telinganya. “Hai ponggawa Betawi permintaan gubernur ini. mohon izin Paduka.” Lalu sultan berkata kepada sersan. Lalu menghadap [Paduka]. “Baiklah. XV. mereka yang didakwa. PANGKUR 338 . “Sudah selesai perintah. (Sultan) turun dari tempat duduk. kedua ponggawa ini. tidak dikisahkan di jalannya. sudah dikisahkan dahulu. deras keluar air matanya. Paduka (saya) minta izin.” lalu keluar ponggawa cepat dibawa. 21. Den Welang dengan den Karta (berkata). perjalanannya pasukan jendral. merangkul kedua ponggawa. karena aku belum (menuruti). kepada Gubernur Jendral. Diceritaan perjalanannya. Lalu sersan berkata. memang dariku (timbul) kemarahan jendral 20. hingga tiba di Dalem Agung.dengan tulus di dalam hati. 22. Cepat-cepat di perjalanannya. mengamuklah di Betawi wali membela kalian. sudah tiba di Betawi.

“Lho anjing binatang gila. apakah kamu berani kepadaku? Akulah Gubernur Jendral. khalifatullah yang adil. ini ponggawanya. sembrono pimpinan jendralnya. tidak memakai tatakrama. “Letnan dengan sersan. Lalu cepat berkata. datang Tuan Gubernur Jendral Betawi. “Hai Tuan Gubernur Jendral permisi saya hendak menjawab. Sudah ada di hadapan Paduka. apa kamu tidak kurang pendengaran?” Karta dengan Raden Welang tertawa (sambil) berkata. (itu) karena berkat Sinuhun Mataram.1. memalukanucapan pimpinan jendral. 2. kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda. 4. 3. disuguhi makian.” 339 . Bagaimana perintahku padamu?” Berkat Tuanku. 5. diangkat ponggawa olehmu. meliputi tanah Jawa. kekuasaan Paduka besar. karena aku hendak menyerahkan nyawaku. Tetapi kelakuanmu ceroboh. Sebelum aku periksa kemarahannya seperti orang gila. dan sampai Betawi. (yang) berkuasa di Pulau Jawa.

karena pasti bakal mati. 8. berani membunuh serdadu sampai mati. lalu merasuki jiwanya. lalu pasukan berbaris. Semua pasukan militer. (Prajurit) bangsa Belanda. tetapi kamu tidak adil. di benteng Palimanan. hukuman militer bangsa Belanda. (tetapi) dirasakan kurang etis. Lalu dibawa ke luar.Gubernur Jendral sangat malu. karena kamu melanggar. berpangkat ajudan sersan memburu. tidak (mau) melihat mereka ditembak. Sekarang kamu terima. Lalu Jendral berkata. 9. Lalu kedua orang itu dipasangi. (ingin) menuruti emosi. apa keperluanmu berani berbuat itu. aku terima [dadi] kehendak Paduka. Kiai Kuwu kasihan melihatnya. Karena bingung menjadi terdakwa. aku pukul hingga mati. silahkan apa yang hendak dilakukan. lima lusin meriamnya. 7. 6. Den Karta dengan Den Welang. (tepatnya ke alun-alun) Betawi. keduanya mengamuk kepada Belanda. 340 . sampai tiba waktu keduanya dihukum. 10. “Hai ponggawa aku ini terima salah.

14. dari (raga keduanya). Den Karta melihat.” Lalu dipasangkan. Raden Welang pemimpinnya. Lalu keluar kakek kuwu. 11. tewasnya Raden Welang. kematianmu ada di Betawi” Lalu Gubernur Jendral. Di Betawi sangat kacau. terlihat dibakar. sudah cukup dibela. banyak temannya yang bertarung. tidak jelas melihatnya. Sudah menjadi kepastian. “Hai orang Cirebon anjing kamu. lalu memburu pasukan jenderal itu. melihat pasukannya rusak. Lalu mengambil senapannya. (beris) peluru intan pusakanya. dari belakang yang dituju. lebih (dari) seribu (orang) yang mati. Banyak yang rusak pasukan jendral. musuh bijaksana. bingung balatentara jenderal. diambil mayatnya oleh para pasukan jendral. 12. “Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini. hasil pekerjaanmu merusak negara ini. karena perang dengan teman sendiri. 13.diserang (sehingga) banyak yang tewas. sampai mati di atas tanah. 341 . sangat susah balatentaranya banyak yang mati.

Keris pusaka menghilang. 17. Si Kelewang dengan Si Dumung. 15. (akan) kuminta daerah Kasultanan Cirebon. Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon. 19. (kemudian) membuat pesanggrahan. letnan kolonel ajudan lalu berbaris. 16. 18. 342 . sudah menyeberang ke daratan. kira-kira tujuh ribu (jumlahnya). lalu mayat Kartawijaya itu diburu (oleh) jenderal. pasukan militer mundur. “Aku tidak terima balatentaraku rusak. lalu ia berkata kepada ajudan (dan) sersan.Gubernur cepat memasang (senapan). persiapkan perlengkapan perang. pasukan laut (dan) pasukan darat. terkena lalu tewas. untuk mengganti kerusakan tentaraku. sangat susah balatentaranya rusak. mayatnya menghilang musnah. sekarang kamu bersiap. Orang-orang geger. Bawalah tiga kapal. balatentaraku rusak. pendeknya aku tidak terima. serdadu militer yang terpilih. Sersan ajudan keluar. Tetapi Tuan Gubernur.

semua maju ke medan pertempuran. “Orang Cirebon lawanlah. mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram).karena Sultan sudah mendengar berita. Pangeran Mertasinga dengan (Pangeran) Panjunan menghadap Sultan. Ramai yang bertarung. Gubernur Jenderal (ingin) melihat. menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun. Serta Jendral melihatnya. pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon. Radén Pekik dengan Dul. menaiki kapal berlayar di lautan. Lalu gubernur berkata. untuk maju berperang. Sultan lalu berkata manis. 20. 23. balatentara pangeran berbaris.” Lalu memerintahkan pasukan. (para) pangeran maju perang. (sehingga) daratan tidak terlihat. bila balatentara pangeran berbaris. 22. sampai ke tengah (laut) kapalnya. 343 . 21. Balatentara jenderal bubar. lalu menyebrangi pelabuhan. (yaitu) Pangeran Suryakusuma Martakusuma. lalu bersiaga. (pasukan) Kacirebonan bersiap. serta Pangeran Logawa. Serta bertemu dengan Sultan. semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram).

menjadi sultan. datang di hadapan (sultan). Natabumi (dan) Buminata. dari Mataram semmuanya sudah tiba. senapati. adapun negeri paduka. Metaram Broboya. Kanjeng Sultan sangat sedih. 25. sepertinya membawa perintah. ada apa anda menangis?” Berkata Gubernur Jendral. mendengar cerita gubernur. 27. lalu memerintahkan tumenggung. sudah tiba di negara Cirebon.” “Saya berkata yang sesungguhnya.“Hai saudaraku Jendral. diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram). untuk mengumpulkan pasukan. secepatnya menghadap Paduka (karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram. orang Mataram tiba. 344 . Saya mengemban tugas sinuhun. diceritakan seluruh (kejadian)nya. Lalu sultan berkata. karena paduka sudah lama. “Selamat datang saudaraku. 26. Semuanya bubar. karena hendak menyerang negeri Cirebon. (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya (dan) Kanjeng Pangéran Natabumi. Terkejut sultan melihat. hingga tiba di jalan belakang. 24. tamtama. pangeran.

menerima santunan serta diberi tanah. sudah disampaikan kepada sinuhun 345 . (saya) akan serahkan. (Lalu) bubar semua. 30. saya tidak akan mengingkari. seluruh prajurit Paduka. Jika paduka tidak menerima. 29. perintah dari Paduka Sinuhun Mataram. tiga ribu pemuda dengan paduka. karena negeriku Cirebon wilayanya kecil. menuruti kehendak paduka. saya siap berperang.” Pangéran Probaya berkata.” 32. (apa) yang disampailan Paduka. (merupakan) upetinya itu.28. untuk saudara-saudara paduka. karena setiap luas (tanah) tadi. 31. Sultan tidak bisa berkata. berangkat kembali ke negeri Mataram. “Jika demikian Paduka. Serta paduka turun tahta. perintah sultan Mataram. Cirebon menyerahkan negara. Serta haturkan (kepada) sultan. (saya) permisi hendak kembali . akan disampaikan kepada Jeng Gusti. (lalu) berkata perlahan-lahan. “Duh saudara-saudaraku. saya melayani.

beribu-ribu terima kasih. Lalu gubernur menerima. berdoa kepada Yang Agung. KASMARAN 1. “Selamat datang Dinda Dalem. (saya) banyak mendapat kemuliaan. semoga selamat (dalam) memimpin. 3. dijaga Yang Maha Melihat. berkat pertolongan Tuan (saya) mendapat kemuliaan. terima kasih banyak atas pengangkatan ini. sesudah bercengkrama. Gubernur dengan Sultan. penyerahan (dari) Sinuhun Sultan. lalu sama-sama berpamitan (untuk) kembali ke Batavia. dari negara Darmayu Setelah tiba di Betawi. 346 . Sangat gembira Tuan Besar Gubernur. segera menghadap kepada tuan gubernur. hingga anak cucu Tuan. Sesudah tiba di Betawi. Lalu Jendral berkata.mengenai penyerahan negara itu. Memimpin di Pulau Jawa. 2. (lalu) memanggil Wiralodra. lalu dengan gembira menerima negeri Cirebon. XVI. masalah negeri Cirebon. 4.

harta yang beribu-ribu (jumlahnya). tetapi Dalem (harus) menandatangani.semoga diridoi Yang Agung.” Bupati tidak bicara. Semuanya (telah) saya hitung serta semua perlengkapan. karena ia tidak punya. anak cucu sama-sama mulia. Serta Kanda memberi tahu. Lalu berkata pelan “Duh Paduka Tuan. 6. 7. 9. sebetulnya saya tidak punya. tanah saya di Darmayu. 5. karena (atas) bantuan (dinda) (bisa) menangkap penjahat itu. seperti biasa. karena tanah (itu) milikku. tetapi kedudukan Dalem tetap saja. Lalu bupati menandatangani 347 . sekarang hendak makan-makan. memerintah kabupaten. Gubernur berkata perlahan. harus dibayar (oleh) dinda. termasuk uang sebelas ribu jumlahnya. “Jika demikian aku terima. (ditambah) tiga puluh rupiah. tetapi saya serahkan semua. apakah Paduka mau?” 8. harta beribu-ribu (jumlahnya). untuk memberi makan serdadu.

Lalu bupati jatuh sakit. Lalu bupati pamit. “Hai saudara dan anakku. 10. Negara dirampas. Tetapi (kedudukan) bupati sekarang masih tetap.. tidak berubah (masih seperti) biasa. para saudara menanyakan berita. (Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis. sudah takdir Yang Maha Melihat. (bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun. oleh Tuan Jendral Betawi. kembali ke negerinya. negeri Darmayu. berlayar (menaiki)eperahu. Lalu tiba di negaranya. disambut para ponggawa. (Kemudian) diganti oleh putranya. 11. 12. (Tahun) 1610. semua tidak ada yang abadi. Tuan Gubernur Jendral. kepada Tuan jendral. Lalu Dalem berkata perlahan. hingga anak cucu semua. untuk mengongkosi perang. Darmayu kepunyaan. 348 . yaitu Raden Krestal. (demikian pula) kedudukan bupati. 13. bupatinya tetap aku. hingga wafatnya. hingga sampai di kabupaten.surat (perjanjian).

Wiralodra gelarnya. Ia mempunyai anak, berjumlah tujuh orang. 14. Yang sulung Raden Marngali lalu Nyi Wiradibrata, ketiga Nyayu Hempuh, keempatNyayu Pungsi, dan Nyayu Lotama Hanjani bungsunya, (Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya. 15. Bupati sudah lama, mempunyai mertua jahat, merampok pekerjaannya. Sangat susah rakyatnya, (harta) miliknya dirampok, Patih Singatruna, sangat kasihan kepada rakyatnya. 16. Setiap malam tidak berhenti , penjahat (itu) menjarah. Patih Singatruna, berkata kepada kakaknya “Duh kanda Mlayakusuma, apa yang harus saya lakukan, mau jadi apa dalem ini? 17. Tidak menyayangi rakyatnya, (yang) dirampok (dan) dijarah, (dalem) tidak peduli sekarang. bagaimana saran kanda, dinda hendak memohon, kepada Tuan Residen, di Cirebon.

349

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela), betul jika demikian, nanti kanda ikut menandatangani (surat). Kemudian segera membuat surat, ditujukan (kepada) Tuan Residen, (mengenai) semua yang terjadi, ditulis di dalam surat. 19. Lalu segera dikirimkan. Selang beberapa hari Tuan (Residen), tiba di Darmayu, dihancurkan semuanya, disita benda-bendanya, (lalu) dikumpulkan, yang dirampok penjahat. 20. .Cocok banyak barangnya, (dengan) yang diaku oleh rakyat, cocok dengan yang dimita, lalu bupati mengirimnya, ke Cirebon. Sangat susah hatinya, ditahan selama tiga bulan. 21. Menunggu keputusan negara, dan sampai kepada keputusan, Dalem Disowak namanya, yang menjadi jaksa itu, sedangkan adiknya, Wiradibrata (namanya) diangkat menjadi rangga. 22. Patih Singatruna diangkat menjadi wedana, di distrik Jatibarang, Mas Malaya Kusuma

350

mendapat pangkat, diangkat (menjadi) kalektur, di gupernemen. 23. (Singatruna) wedana merangkap patih, di negara Darmayu, para penjahat semua, sama-sama hormat melihatnya, karena kebijaksanaannya, (oleh) wedana dengan kalektur, penjahat banyak (yang) ditangkap. 24. Negara sangat makmur, tidak ada penjahat, tidak ada masalah, di nageri Darmayu . Patih Singatruna, mempunyai anak, banyaknya lima orang. 25. Yang sulung Patimah, lalu Nyayu Juléka, Brataleksana yang laki-laki, Mas Demang Bratasentana, bungsunya Bratasuwita, semua anaknya, menjadi orang yang berpangkat. 26. Raden Rangga putranya, empat orang, putra yang sulung bernama Radén Wiramadengda, Radén Mardu, Nyi Sumbaga, bungsunya Radén Madada.

351

27. Kalektor putranya itu, lima orang jumlahnya, Asisten Hardiwijaya, yang perempuan Nyai Muda dan Sudirah namanya, Nyahi Junéd perempuan, bungsunya Nyai Juminah. 28. Radén Kartawijaya, putranya hanya seorang, Radén Karta Kusuma, yaitu Ratu Hatma, mempunyai anak tiga (orang), yang sulung Biskal Cirebon (ialah) Prayawiguna. 29. Adiknya perempuan, Kertadiprana namanya, yang ketiga pangkatnya ulu-ulu, tinggal di kota Darmayu, menurunkan putra, yang sulung Kertahudaka 30. (yaitu) Demang Lobener, adiknya Mangundria, Demang Bangoduwa, Muhada tukang timbang, Nyayu Jeni kuwu, yaitu Kertahudara, upas bom pangkatnya. 31. Kertahatmaja bungsunya. Darmayu …, Taahun 1813, Tuan Pri namanya,

352

Kiai Jaksa sudah meninggal yang menggantikan anaknya, yaitu Marngali, gelarnya Wirakusuma. 32. Menjadi demang pangkatnya, tinggal di kademangan, distrik Paseban namanya, Balu Kalid namanya, Demang Wirasaksana, menjabat demang, di kademangan Lobener . 33. Suami Nyayu Sungsi mengembara, tidak menjadi demang, dahulunya dari Palumbon. Mempunyai seorang (anak) laki-laki, He… Subrata namanya, menduduki pangkat, menjadi demang Luwungmalang. 34. Suami Nyayu Lotama berpangkat ulu-ulu. Suami Hanjani Wirajatmika namanya berpangkat mantri. (Lalu) Bagus (Bag)ya namanya, gelarnya Kitawilasa.

Asal-usul Wiralodra Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai. Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.

353

Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara. Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra: 6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 7. Gagak Kumitir di Bagelén 8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra: Radén Wirapati Radén Wiraseca Radén Wirakusuma Radén Singalodraka Radén Singalodraka berputra: 4. Radén Jaka Kuwat 5. Radén Kumbabocor 6. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca berputra: 6. perempuan Nyayu Wangsanegara 7. perempuan Nyayu Wangsayuda 8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén 9. laki-laki Radén Tanujaya 10. laki-laki Radén Tanujiwa Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama: 5. laki-laki Radén Sutamerta

5. 6. 7. 8.

354

6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati 7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata 8. laki-laki Radén Driyantaka yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu): 1. laki-laki Radén Kowi 2. laki-laki Radén Timur 3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati 4. laki-laki Radén Wirantaka 5. laki-laki Radén Wiratmaja 6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa 7. perempuan Hajeng Sutamerta 8. perempuan Hajeng Nayawangsa 9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a 10. perempuan Hajeng Hadiwangsa 11. perempuan Hajeng Wilastro 12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a 13. perempuan Hajeng Patranaya (Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III. Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama 8. laki-laki Radén Benggala 9. laki-laki Radén Benggali kembarannya 10. perempuan Hajeng Singawijaya 11. perempuan Hajeng Raksawinata Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang: 9. laki-laki Radén Lahut

355

Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang 11. laki-laki Radén Suryabrata 7. (Dalem ini) memiliki banyak putra. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4 5. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa 17. perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu 15. laki-laki Radén Ganar 11. perempuan Hajeng Parwawinata 12. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener 356 .10. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra: 2. Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang: 5. perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah 16. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener 18. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan 14. perempuan Hajeng Nahiyasta 14. perempuan Hajeng Tayub 16. laki-laki Radén Suryapati 6. laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya 13. perempuan Hajeng Gembrak 15. laki-laki Radén Kerstal Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII 13. perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga 12. perempuan Hajeng Moka sesudah 3 tahun diganti lagi. (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 13. 5 12. laki-laki Radén Suryawijaya 8. bernama 10.

5. 7. 3. 4.6. 8. 357 . 5. perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling 8. 6. 3. 4. yaitu): Radén Madi Wirasomantri Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang. 4. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang. yaitu): Radén Wirasaputra menjadi demang (Radén) Wirahatmaja perempuan Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang perempuan Nyayu Wiradiwangsa Radén Prawirakusuma (Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang Radén Wiramadengda perempuan Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang Radén Perdata Wirahastabrata Radén Sumarga Wirasudirga 3. 4. 6. perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber 7.

i … 358 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful