Bab I Pendahuluan

1.1 Identifikasi Naskah 1. 2. 3. 4. 5. Judul Naskah Nomor Registrasi Nomor Inventarisasi Asal Naskah Keadaan Naskah : : : : : Babad Dermayu (Babad Carbon II) 1.368 183.1498/07.35 ? hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik; Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit. Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap

1

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bahan Naskah Warna kertas Tebal Naskah Aksara Naskah Bahasa Naskah Tinta yang digunakan Rubrikasi

: :

tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit. kertas Eropah putih kusam karena dimakan usia 124 halaman Cacarakan Jawa Jawa Cirebon Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh. tinta, setiap aksara Arab kertas tebal dua halaman,

:
: : :

:

12. 13. 14. 15. Penomoran halaman Jilid Keterangan lain : : :

Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca, Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal), Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah, Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan, Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.

2

Bab II Ringkasan Cerita

1.

Sinom Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa. Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang. Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman

3

palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum purapura marah. Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macammacam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik. 3. Sinom Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari. Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan. Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman. Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

4

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana. Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra. Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan muridmuridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas. Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang. 4. Kinanti Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah. 5. Durma Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia

5

mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu. Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan. Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra. 6. Dangdanggula Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen. 7. Durma Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji. Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya. 8. Dangdanggula

6

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok. Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom. Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur. Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV). Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

7

Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati. ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta. Pada suatu hari. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan. Pangkur Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. putra Singalodra. Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta. Mereka bersiap menyerang Darmayu. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Lalu dilakukan penyerangan. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. dipimpin oleh Bagus Kandar. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh. dan Bagus Seling. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. yaitu Ciliwidara. Hastrasuta meninggal oleh 8 . Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun. 10. 9. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. Jumlahnya sekitar 700 orang. Bagus Rangin. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya. Sinom Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara. Kulinyar. Ciliwidara kemudian menghilang. dan Pasiripis. datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya. Surapersanda. Bagus Leja. sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem.Nyai Moka pekerjaannya mengaji. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan.

Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. isinya meminta bantuan. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu. Wangsakerti mengirimkan utusannya. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. sehingga para perampok itu tiba di Darmayu. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan. anak Wangsakerti. Sepanjang perjalanan mereka merampok. Durma Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. Asmarandana Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya. Mereka diikat dan disiksa. Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan. tetapi sebagian lainnya melarikan diri. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. 12. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah. 13.panah Ki Serit. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. Durma Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan. 11. Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Bagus 9 .

15. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran 10 . Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan. Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Sinom Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Keduanya dimarahi dan dicaci. Mayatnya menghilang. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Pangkur Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. agar Cirebon mengganti kerugian Belanda. Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. 14. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun.Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang. Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan. Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpurapura sedih. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap.

Sudirah. Bupati meninggal dunia. 16.030. dan Hanjani. Nyayu Jenikuwu. dan Bratasuwita. 11 . Ia lalu mengirim surat ke Betawi. Mangundria. yaitu Raden Mardada. yaitu Patimah. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak. Brataleksana.yang merugikan pihaknya. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak. yaitu Raden Karta Kusuma. yaitu Biska. Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Kasmaran Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi. Cirebon diserahkan kepada Belanda. dan Nyi Sumbaga. Nyayu Pungsi. Raden Wiramadengda. Kalektor memiliki lima orang anak. Bratasentana. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. Nyayu Hempuh. Raden Rangga memiliki dua orang anak. dan Kertahatmaja. Wiralodra memiliki tujuh orang anak. yaitu Hardiwijaya. Nyayu Lotama. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. dan Kertadiprana. Muhadapan. Ia memiliki lima orang putra. Nyayu Juleka. dan Nyai Juminah. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi. Nyayu Wiradibrata. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka.

12 .

13 . BD ditulis dalam bentuk pupuh.Bab III Transliterasi dan Terjemahan 3. dan guru gatra. kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya. tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang. Dalam transliterasi ini. Selain itu. Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. misalnya I Asmarandana. karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh. tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber. yang terikat oleh guru lagu. Dalam transliterasi. maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya. guru wilangan.1 Teknik Penyajian Transliterasi Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin. 1979: 366. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. Bait-bait yang 1 Hermansoemantri. tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut. Transliterasi disusun berurutan ke bawah. Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat.

Nomor dengan angka Arab Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis.857 nomor eksposure pada foto 3. suku kata. sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan. 4. Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi.berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. 3. atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi. Tanda (…) Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara. 3. yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait. Contoh nomor halaman: 17 (37. 857) .37 nomor halaman pada naskah dalam foto . 1. walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya. 2. Pengantar Terjemahan Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD. Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan.17 nomor halaman pada naskah . sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor. 1a. Atja dan 14 . dan seterusnya). Nomor dengan angka Romawi Nomor ini menunjukkan urutan pupuh 2. Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah.2. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1. 2a. 3a. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1. Tanda […] Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca.

3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah). penerjemah harus mencari padanan yang dinamik. (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul. dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran. artinya padanan kontekstual. melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra. bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu. Djajasudarma. B. Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). 1986: 94. bergantung kepada kemampuan penulisnya.Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan. penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut. makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan. dan 4) di dalam proses penerjemahan. ditujukan kepada siapa. 2 Atja dan Ajatrohaedi. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly. Berdasarkan pendapat itu maka: 1) objek terjemahan adalah bahasa tulis. 2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin. dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran. 1998: 1 15 3 . (2) siapa pengirim pesan itu. Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks.H.

dan penerjemahan sintaksis. 1998: 4. 1986:173. terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan. 1965: 20-26. Namun jika teks berbentuk puisi. Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana. kata majemuk. 4 Pradotokusumo. terutama dalam gaya. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan. sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. 1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber. 3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik. Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan. di samping aspek linguistik. Djajasudarma. jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa. yaitu penerjemahan fonologis.Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu. 16 . dan frase). 4 5 Catford. kata. Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas. penerjemahan morfologis. yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya. meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran. 2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem.

Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik. Karena itu. maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati. b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama. agar mempermudah proses membaca. sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”. dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan. teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa. penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah 17 . yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah: a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan pertimbangan tersebut. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut.Berkaitan dengan penerjemahan teks BD. dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis. yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus. di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi. d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD. Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda. Walaupun bentuknya pupuh. dengan menggunakan tanda khusus.

semula. 18 . sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan.

3 Traansliterasi 1 (1... 4. 821) //I. hérpol sa[ng]king Mantri Haris. Ki Wiralodra rumuhun. bénjang lang…… kun hakir. …sajarah tiyang ku[n]na. Hanak putu Wiralodra. nuju seneng manah hulun. bermula Da(lem Kang)jeng. wedar[r]ing kanda rumi(yin). (nu)ju se(neng).. supaya … galur. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat. hing dalu Jumahah legi.. hanak……nakin…. Tan sanés hingkang sinekar.3. Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir. supaya samya huni[ng]nga.. turun-tumurun niréki.. sampun kantos… langkin. sasih. waktuna . hing tanggal kaping sadasa … wan di. kartadipran[n]a……s.nuju néki. Kang hana hing Darmayu mangkin. …li ka[h]ula haserat. … kinarang sinekarna...tiyang. trus tumurun hing putra… 3. buku sajarah dalem … 19 . SINOM 1. jam kalih dalu nu jo …n[n]i. tahun séwu sanga ngatus pan[n]e… 2.

ka…hical hingga tu … …n[n]é sujarah dingin.… nti pada … rusak. Minggu palesir kula. Panembahan Kyahi Be(la)ra. Jeng Pangeran Hadi… hingkang peperab. turun[n]i Wiralodra. …ki gumantya. 20 . 5. ningal[l]i sujarah mangkin. Tumenggung hanang Mataram. . Pan sada……(tu)menggung.. Kartiwangsa …(mang)kin. Wirasecapan kagu[ng]ngan. Bagelén hing rang(gah) ( hapepu)tra malih. hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa). ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u… nulya kagu[ng]ngan putra. maksa hing ngila[r]ran hulun. laki…mangkin. 6. pakuburan pun tinga[l]li… …ngungun rusak[k]é hing pakuburan. wedar……kantos dateng Majapahit. Gagak Pernala Tu(menggung). hapeputra… tumenggung hanang Metawis…. 7.. Larakelar hasal néki. Pejajar[r]an putra ratu. Nulya ka[h]ul[l]a. …sumi.

gumantya para bopati. hanenuwun hing Yang Widi. 21 . pernah hingkang sepi mangkin. Tanujaya hingkang rayi. Wiralodra. hing Bagelén dalem[m]ipun. gumuling hing wisma. Dén Gagak Wirahandaka. saréngat (hakeka)t mangkin. (Wi)ralodra katiganya. 1a (2. nulya peputra … hanang Banyu Hurip Kedu. 9.Lajeng ha… …puna…sekawan. Dén Gagak Wiraku(suma) hapeputra malih. Hana …ling malaya. Wangsayuda rayi héstri. … Pringgadipura. Karangjati kang nagari. Putra hingkang pa… Pan Radén Gagak Kumitir. Gagak Singalodraka…da…ya. kasa. sanget saking nyandang kingkin. (Tanu)jiwa kang wuragil. 822) 8. … nagara. remen[n]ipun hamertapa 10. Pembajeng Wangsanagara.

22 . kantu Bagelén. Ngulon hungsinen kacung. yahiku cahya handaru. babad[d]ahing halas kaki. …cahya hingkang bening. suwara kang kapiyarsi…. (pa)dang kadya lintang. sareng ming wétan ning[ng]al[l]i. tansa(h) hingkang tumingal. …ngaran suwun hing yang sukma. 11… (sa)réh miwah dahar. 12.. hicaling pepadang mangkin. (nu)ju dalu Jumah. cahya…mang tapa. hamandeng hing wujud tunggil …nya (hing) jero supaya dados satunggal. lamun péngén mulya kaki…nira. muga-muga hantuk mu(lya) turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan. hing halas Cimanuk 2. tanda tinarim[m]éng hagu(ng). (Su)kma hing yang hagung. II. ningal[l]i wonten hing langit. sampun hical wujudnéki. tigang dahun lamin[n]éki. …ru ngira. …dang nelahi.hakékat mahripat wahu. nulya …kinanti hingkang tinembang. KINANTI 1. …Wiralodra. rosik[k]a.

mila hénggal lunga haka… …Wiralodra. miwah nang[n]i hingan[n]néki. lali turu miwah dahar. sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki. duging turun pitu kaki …tuhamu. handres miji(l) ditangis[s]i. hing pundi panggé(nénéki) 23 . 5. Medal ngidul pinggir gunung. Sun pasrah(a)ken yang hagung. 822) //.. malebeting wanadri. Halilir hanggé …sami katar …hing jeng rama Ngatur[r]aken pi … hing jeng …nas mikatur 2 (3. sami medal toya. 3.. Kahidinan sampun kondur. 6. kaliyan Kang Pandakawan. rinangkul dipun tang[ng]is[s]i. (hing) kali Cimanuk pernahnya. mapan déréng ha…ta.waspa..ning ram[m]a. (ha)turan turun[n]ira. sangking sakarsan[n]é kaki. putra ngambung suku ram[m]a. kaki hanak [k]ingsun mangkin. putra ningsun hayu …cw. pan bakal dadi nga….halas gedé hi[ng]ku nyawa. 4. Kyahi Tinggil tanéki.

24 . hang linggih hing pinggir kali. …hapandé ring hantuk marma. kali gedé hangliwati. hingkang mindah kaki tuwa. …sowan. 823) 10. Buyut Sidum tiyang karihin. nulya jeng hing lampahnya. Sareng héca gényagah. 9. 8. ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil. “(Pa)man susah hingsun. Raden Wiralodra dulu. pitulung Yang Maha Widi. hanggén[n]é wa(na)dri. wunten kaki tuwa prapti. Léréh[h]an nyenangna pikir. Kali hageng hing Citarum. kathah wowotan puniki. hanang hing(kang panda)kawan. hutawi kebon jalmi. 12. 11. …toya geng prapta. (pri)yén pan karo hapa?” Humatur kiyahi Tinggil.7. Kula kinten be…dusun. Kantos lami tigang nahun. Nulya hawecan[n]a haris. kantos dumugi hing kali. lan puniki Gusti dara. Le… 2a (4. kula tur[r]i sabar briyin… …mi pukulun. Saparantos bendara.

“Duh Ki Putu welas mami. 15. Kyahi Dum wecan[n]a harum. sampun…kedah wangsul malih niki. nuwun pitulung pun kaki. Hénggal ti(nari)k rinangkul. bakal hingsun (hantuk) warta. sanget bhingah[h]é hang… lah bagja temen pun mami. sesalaman hasta kalih. sangking Bagelén nagari. “Haduh Kakang tu (lung) kula. ngatur[r]aké lampah néki. hamesisir la… 3 (5. 824) //…la ngétan pernah néki. kula (harsa) hantuk warta. 25 . 14. muga kaki hanulung[ng]i. Nulya hical kaki sepuh. … Kerawang bagiyan néki. sangking kaki tuwa hiki. tigang (tahun) lampah kula.wunten kaki kaki prapti. sampéyan … kula. sarta sareng nya lenggah. …(Kali) Citarum. dé… (han)tuk hawecan[n]a. 13. kagét wahu haning[ng]al[l]i. sarwi megap megas har[r]is. Pun lami lampah …n hulun. 16. humatur hawelas sasih. hing pundi Cimanuk kali. “ 17.

kula lajeng pangkat Gusti. mila…hénggal-lénggal. déréng (ta)kén wastanéki. lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki. ningal[l]i medal[l]ing surya. “Duh paman Kiyahi Tinggil. nulya hénggal halumaris. 20. ngétan ngalér margin[n]éki. nanging bagja kula Gusti. wonten toyan[n]ipun mili. 18. Hutawi negarin[n]ipun. Sumber medal saking sumur wan[n]a dateng Ki Tinggil. 26 . lan sing pundi hika hasal. pitulung[ng]é hing Yang Widi. boten[n] takén wasta kriyi(n). 22.getun Radén Wiralodra. hing ngendi si kaki tuwa?” Ki Tinggil humatur haris gugup dara hameriksa. 21. sareng duging Pasir Hucing. datan saréh miwah dahar. 19. …manten pan hantuk marma. lampa[h]hing KiWiralodra. Hangrem(pug) hing wana (a)gung. Nulya hawecan[n]a harum. kabujeng (mu)sna pun kaki. hambhujeng lampah pun hénjing. Pu(ni)ki pan margin[n]ipun. lumampah siyang lan wengi. “Duh Paman Tinggil pun kula.

24. sarwi sesalaman kalih. duh Wirasetra jeneng mami” “Hingkang wewangi pun kakang. langkung sa(hé) toya bening. nulya manggih tiyang gaga. 25. sun ting[ng]ali hiki toya. (lamun Gusti) kersa mandi. Wirasetra wastanipun. “Duh kakang basa pukulun.meng(ké) laréh pada mandi. Dalem (Pega)dén hing bénjang. hadem kasilir marut[t]a. hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil. sah[h]a hasli pundi ranti?” 27 . 3a (6. hana (to)ya tengah wanadri. lan badé karsa hing pundi. Yayi sinten jeneng[ng]ipun. hing bénjang bakal nurun[n]a.” 23. nulya pangkat Wiralodra. kula péngén sesaréyan. 825) pi//wiwitan hiki. Wirasetra jeneng ma(mi) 27. lan sinten kakang peparab. Kyahi Wiralodra tanya. 26. Kyahi Tinggil pan humatur. sing wétan hasli rumihin. Lami hanthuk kalih minggu. hing Kakang tembé pinanggih. madukuhwan hing wan[n]adri. ming[ng]elér lampah hiréki.

yén lumampah sempoyongan. dameng tambi weteng blending.Wiralodra jeneng rayi. dahar …se//(ka)lih hulam. dameng gegodong[ng]an kula. Kyahi…humatur. 28 . tyang tangga samiya bhukti. Haduh dara kula suwun. kula hasring niba tangi. ngalar[r]i Cimanuk kali. Hanulya binakta wangsul. Kakang (ing) wétan nagari. 32. “Duh bagja temen rayi.subu haneda. sing Bagelén hasli kula. Banyu Hurip dulur misan. handugék hagen pun daging. sami pada suka hati. Karun[n]a sarwi hangrangku(l). hing wisma pernah hi(ré)ki. Wirakusuma Dipati. 31. salaminé boten bukti. badé hanglemok[k]en badan. daging kula kathah hical. “Duh Bendara tembé habdi. 29. hingkang dipun bukti habdi. pinanggih kaliyan kakang. pu……na tan dahar. hingkang lami manggén riki. Ngayang hayang hir tiyang bu… suku hasta halit halit.” 28. 30. Sinubu.

” Humatur Kyahi Tinggil. hanggén[n]é bungah wak ingsun. Tyang kalih sami (gu)yu. sadinten ping kalih bukti. “Ya paman Tinggil wus begja. hamireng hatur[r]é Tinggil.kasrimped déning la…tan. Radén Wiralodra wahu kantuk sasasih mangkin. Kyahi Wirasetra puniku[s] hanyambung[ng]i sabda man[n]is. bis[s]a wareg dika bukti. 33. Cimanuk wangsit yang sukma?” Wirasetra muwus haris. sampun gama rasa kula. nulya humatur hing raka.” 36.” 34. lubér[r]an masșa redi. muga dén hidin[n]i kula.la. pinanggih lan kadang mami. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun. 37. 35. manggén tengah wana mami. pinanggih kaliyan kadang.. pernah[h]ipun hingkang kali. “Duh kakang panrima yayi. 4a (8. “Duh kabegjan pama. 29 . sarta rejekimu paman. 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin. “Duh bagja kula ben(dara) kranten kula nyémah niki. mila sing lami hing riki.

namung héwuh ……habdi.” 39. Nulya tiyang kalih lumaku. “Nun bhendara nuwun kula. daging kula dugi malih.” Ki Tinggil humatur lirih. tak duga hiki Cimanuk. “Héh Tinggil sun dongakna. 41. gumujeng[ng]é suka hati. Nulya pinanggih lan kali. hatut pinggir pinggir kali. hénggal hasira pinanggih. kalih sasih hing laminya.” Nulya sesalaman sami. Sarta rineksa Yang Hagung. mugiya hénggal pinanggih. 30 . Ki Wirasetra hangguguk. kelangkung sanget bungahnya.“Muga dak jujurung pandonga. Kyahi Sidum sanget welas. “Duh dara men[n]awi nyata. boten wonten padukuh[w]an. 38. sangking daramu pikersa. 42. 40. gampang bésuk sandang malih. sarwi matur klayan lirih. ming (pinggi)ran[n]iréki. kanggé… kan…yaktosnéki.” Hang kalih pangkat hanjugjug. “Lah paman Tinggil puniki. Ki Tinggil pan manembah. mingétan hingkang … dén…i maksih hageng hingkang wana.

kebon lega palawija. “Duh Tinggil bagja wak mami. Ki Sidum lenggah (ing bumi). linggih hongot-hongot deling. tanem[m]ana warna. Pinggir kali wésma nipun. hing wétan tan[n]ana Tinggil. ningal[l]i kebonan mangkin. pinuter kembang srengkun[n]i. bonténg timun miwah lobak. Gemuh wéhing kebon wahu. hing wétan kadya puniki.warna. kebon lega palawija. paré gajih putih putih. 5 (9. Raden Wiralodra dulu.ningal[l]i dangka kalih. kanan kéri mandakaki. kebon bhagus datan[n]ana. 31 . Boléd homas miwah jagung. tongkéng malengkung hing lawang. 47.” Nulya hamarin[n]i sirih. hing wésma wonten tiyang lenggah. 44. langkung seneng haningal[l]i. 828) Hanulya nyipta kiyahi. lumampah nrajang rinungkun. 46. Wiralodra hawecan[n]a. langkung sahé dén tinga[l]li. 45. 43. sundrem malem mangajeng[ng]an. térong kara sabrang cipir.

kebon sahé sapuniki. hingsun tanya bentak nyentak. sarta Kyahi kali nap[p]a.bakal wuwus aya hulam. Nanging hadat[t]é puniku. 32 . Haran ningsun kang sinambat. badé tanya pan kagu[ng]ngan. 52. “Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun mugya hagung pangaksami. sun kang duwé kebon hiki. wastan[n]é puniki kali. (“Ha)rep hapa siréki. Kyahi Wiralodra getun. 5a (10. hinggih leres Gusti Dara. na pamali tiyang halas[s]an. hapa harep ngrampog hingwang. prawantu tiyang dusun Gusti. Hiki kali pan Cimanuk. nembé teka hamariksa. Hanyentak ngandika wahu. nembé kula haningal[l]i. harep hapa sira tanya? Kakang tan[n]i malih warni. kedah[d]ipun maklum Gusti. tan mingsir bari halinggih” 51. (bo)ten gadah tatakrama. sira tekang wisma mami. 48. 49. “Sugal temen kaki kakang. 829) //wong ngendi sira hiki. 50. Nulya hawecan[n]a haris.” Humatur Kyahi Tinggil.

perkara kebonan kaki. hawéh hingsun jaluk paksa.Nulya dén pedek[k]i lirih. “Hora harep tulu(ng) mami krana hingsun sugih rayat. 55. welas sakya hing mami. hénggal sira hamampus[s]a. sorah ngandikan[n]é mangkin. hora ken[n]a sun halus[s]i. tebih sing Bagelén nagara. 54. rin[n]aket[t]an kaki tuwa. hora ken[n]a tak bhedam[m]i! 57. “Héh kaki dika wong hapa. haku tan sudi ning[ng]al[l]i. Sahiki kaki sun jaluk. kaki grendaka sun tan[n]i. Kyahi malih warni muwus. 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i. “Duh Kyahi pan hingsun tulung. kuma tumut ngebon kaki?” Hang réncang[ng]i jeng ngandika. senyatan[n]é kula kyahi. 53. Radén Wiralodra bendu.” 56. hing tembé ningal[l]i kali. muga dén pernahna Kyahi hingsun nurut jeng ngandika. 33 . kali Cimanuk pan hingwang. ngisén[n]i dika wong dés[s]a. 6 (11. tan liyan hingkang sun hilar[r]i. jajabang muka lir gen[n]i. Ya hiki kali Cimanuk.

hangadeg linggih hing korsi. pan dudu Cimanuk kali.” Radén Wiralodra mangkin. Cipuhnegara kang kali. hénggal bhurun[n]en dah kaki. 60. bésuk dadi dés[ș]a hiki. han[n]ingal[l]i hing siréki. Buyut Sidum haran ningwang. nameng wonten kapiyarsi… 61. kari kari kebon mami. pan pinasti karsa n[n]ing wang. hical mapan dadi wana. 34 . 831) //mengkola mun șira manggih. hanubruk hing kaki tuwa. Hing pernah kebon wahu. binanting hanulya hical. “Hah Wiralodra putuku. Pammanuk[k]an hingwang dusun. Hingkang mindhah kaki wahu. langkung sorah hawecan[n]a. bener sira pan bherandhal. hénggal sira hanyabrang. walang kerik hanuding[ng]i. Bermula halas dén jaluk. 6a (12. yén hora weruh hing mami. 62. surung-sinurung tiyang kalih. kidang mas hinten kang soca. mapan haku hora sérab. 59. musna kebon kaki-kaki. hangadu sakti linuwih.58.

66. hing Cipunegara kang [kang] kali. bénjang lamun kaki babad. “Man Tinggil meneng siréki. Sima[h] kekerag hing ngayun. yahiku Cimanuk kali. yén hénjing tamtu hing wétan. hénggal-hénggal lumampahnya. wunten takșaka hageng prapti. mangko hingsun harep tanya. 35 . macan hapa karen[n]éki?” 67. tetapa hahaja néndra. pinanggih macan gedéki hangadang margan[n]ya. yén șonten kulon pun lingsir.” 64. Lajeng malebetan gung. hing pundi nusup pun haki. nulya hanubruk tumul[l]i. mapan Radén Wiralodra.” Hanulya wecan[n]a haris. Radén Wiralodra hindha. pasti turun nira mukti. macan tin[n]abok tumul[l]i.63. poma kaki wekas mami. surya hingkang dén ningal[l]i. Hinggebeg kiyahi Tinggil. nulya musna rupi macan. Tyang kalih hanyabrang sampun.” 65. Hing pundi hical ké wahu. “Duh tulung bendara ningwang. Lajeng takșaka hambhuru. 68. Hana macan hagung.

7 (13. Dateng Radén [pan] Wiralodra. Haduh melas temen hingsun. ningal[l]i kali geng néki. Larawan[n]a wasta kul[l]a. tiyang bagus pinanggih riki. kasugih[y]an kadigjayan. Radén Wiralodra héran. hing Radén Wiralodra. 69. ngalih hasih melas șasih. déréng hanglampah[h]i laki. kula sanggup badé tulung. Nulya mendak (taska)ra wahu dén lepas[ș]aken tumul[l]i. III. pan badé ngilar[r]i napa. SINOM 1. taksih nonoman maran[n]i. dén pendhung hula sirahnya. Pan kula makșih[h]aken[n]ya. Musna hula dadi kali. sarta kang sineja n[n]éki? Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula. manggah jandi katurut[t]i. salebet[t]ing wanadri. 832) //kali musna tan kahékși. 2. 36 . napa sakarsan niréki. “Duh Radén bagus jandika.hambhakta pendhu Ki Tinggil. wunten pawéstri yu héndah. hasar kula dipun kawin.

datan pantes tiyang héstri. Radén nyimpang nganan ngéri. ngangken kenya déréng laki. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a. sanajan héstri yuhéndah… hé ora ha(rsa) șeja krami. “Sampéyan wonten hing wana. dateng Wiralodra mangkin. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an. “Duh bendara dén hénget[t]a. …da krama kula wahu. pan ka[h]ul[l]a datan hasti. sarwi humatur halirih. hangantos hantuk kamulyan. hana hing tengahing wana. Ki Tinggil majeng hing ngarsa. 6. “Tan gingsir paman wak [k]ingsun. 4. yén șampéyan tan nurut[t]i. 833) su…//pekik. nulya nyandak Larawan[n]a. huntu lunga kempo(t) pipi. hanuwun șamangké kula. bisșa temen ngomé hiki. pasti pejah sareng ngakalih jandika. kuping tuli gigir bekuk. mangko badé hingsun priksa. hamit kula badé hamangsul[l]i sabda.manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula.” 3. buru dadi kaki-kaki. 37 . 7a (14.” Wiralodra ngandika haris. puniki tengah wanadri. langkung gampil tiyang …karma bénjang… 5.

karanten ……. senjata ranté tumiba. malajeng ming wétan wahu. senjata ranté pan hiki. “Duh Radén kang ngatiyati kinten bhabar pisan Gusti. gébés-gébés haningal[l]i. Wiralodra dén priyatna. hananging tan pasrah mangkin. 9. Nyi Larawan[n]a nadah[h]i.tun[n]a …sakti. yén nora dadi sawiji. tan ken[n]a sun hé mangkin. 7. 8. tadah hana tyang pekik kaya jandika. 38 . wong bagus .. nulya Dén Wiracabra pinendi.kinipat[t]aken tumul[l]i. candak. …cak pan[n]a wong [ng] abagus. hangasta cakra tumuli. dibujeng sami prang lirih. kénging musna rupi kidang pan kencana. ngadu sakti gumreget Nyi Larawana. Nulya Radén Wiralodra. malempat Ki Wiralodra. Wiralodra hanadah[h]i. manggah Radén sampéyan males hing kula. suka matiya wak[k] ingwang. Wiralodra dén priyatna.cinandak mangkin. Ki Tinggil maran[n]i hénggal. héran temen Wiralodra. kalumah[h]an nulya nubruk. Nulya dén pe[n]ta sanjata.

wis bhagja muraki bénjing. 12. yén tebih kidang ngentos[ș]i sampun lepas lampah néki. Nulya dumugi hing lampah. paman dén hawas handulu. karsan[n]é…mara tinggi kidang kencan[n]a pan hical. 834) gumebyar saliran[n]éki. hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang. hing turun-turun siréki. Hanulya Radén tuminghal 8 (15. nulya léréh hing ngandapya. 39 . tyang kalih datan katinggal. nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah. nulya hangandika haris. 13. kajeng kiharah geng néki.” 11. dén pegat nganan lan ngéri cinandak-candak tan ken[n]a. ming wétan kidang malayu. katingal hujur ring kali. toya deres hingkang mili. Hing ngimpén kang kapiyarsa riki kacung hapan kali. siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a. tan șamar kidang kencan[n]a. hanutut[t]i kidang mangkin.10. hika pan kidang kencan[n]a. hayuh paman haja kari. “Hing paman kiyahi Tinggil. Tyang kalih hambhujeng kidang. punika kali Cimanuk. Cimanuk kang dén pilalah.

nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra. paribawan[n]é panas hatis. 16. hanggén[n]é babad wanadri. hangilar[r]i minggir kali. hanulya hamasuh raga. 15. 14. mapan holih kamuktiyan. “Duh bendara yén waten[n]a. Nulya hadamel kang wisma. “Duh paman bhegja wak[k]ingsun. 835) 40 . nulya hangilar[r]i pernah. 8a (16. manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata. Radén Wiralodra mangkin. wis katrima hing Yang Widi. hing himpén kang kapiyarsi. Radén Wiralodra mangkin.” Ki Tinggil humatur lirih. 17. ngandika hing paman Tinggil. menggah Gusti kersa pundi. Sanget bhungah réhing manah. mapan bhibar katawur[r]an. kanggé panggénan pun habdi?” Radén Wiralodra wahu. Wis terang wang(si)t Yang Sukma. wélan-wélan hasung warta. miwah banténg warak wahu. Mangka Raja Budipakșa. nyata hiki Cimanuk kali pernahnya. pan[n] ingsun șaréh lan dina. Ki Tinggil damel[l]an[n]éki. sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya.karsan[n]é Yang Maha Hagung. supen[n]a pana……//warti.

sarta sakéng sén[n]apati. Sulahémana Srabad mangkin. sakéng bala bubar mangkin. miwah para kang prajurit. Nulya kalurug Dén Wira. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira. Ki Gedé muwara Cimanuk. 19. “Héh satriya wongasigit.” Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira. 18. ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis. hamasing donga Ki Tinggil. samya dugi hangrawuh[h]i. Bhudi Pakșa hangandika.miwah patih Bujar[r]awi s. ribut prang[ng]é Radén Wira. dikira haku pan wedi. gawé rusak bhala[n]ningwang. 41 . Sakéh[h]é Gedén Muwara. 20. kelangkung sanget duka[n]nya. braga brigih ngarsa mami. hingkén[n]é majuwa sira. mapan hingsun tan ngoncat[t]i. kapethuk hing wisman[n]éki. ngisén[n]i gandarwo bulus. 9 (17. pasti lancang kumawan[n]i. hi ra[n]né sapa siréku. hénggal nyingkir sira hiki!” Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a. jurubiksa kathah lumpuh. kénging Radén Wiralodra babad wana. 836) kumawani// ngusir hingwang. hakumpul șabhalad nira.

sukur bagja rayi sultan. Sarwi manembah hing ngarsa. Nulya siyang dalu babad. kakang pan gawé hi…s[s]a. 9a (18. 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi. muga dén hampura Gusti. pada hakuren sadulur. Dugi hanang Sultan Hemas “Haja pada dén ganggon[n]i. krana turun Majapahit.nulya wonten hutus[s]an[n]ya. “Mangké sinten pan jandika. nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa. “Duh Radén Gusti kawul[l]a. ngasih hasih melas șasih. Rara Kidul Gusti mami. kasamaran bhala habdi. krana maksih pernah cangga. “Duh kasuwun jeng ngandika. hiku Radén Wiralodra.” 23. sahanak sadulur. Werdinata sultan hanang Pulo Mas. Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat. dumugi saturun rayi. pada kekadang[ng]an mami. Rayi Sultan bhas[s]a mami. 42 . Ki Tinggil kang dadi koki. sangking Tungjung Bang puniki. 24. 21.” Ngandika Dén Wira wahu. samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an.” 22. katambhet[t]an Gusti habdi. becik dén raksa hahiki.

Kathah tiyang kang damel wisma. Ki Tinggil humatur haris. manah paman dén kariya.warni. boléd jagung kalih cipir. 43 . 27. Ki Tinggil kadadi lurah. palawija tan kabukti. teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin. lami damel padukuwan. 26. kawentar kebon[n]an[n]ira. palawija warni. tan wonten tiyang kirang nedi. sami gemah kebon[n]an hawarna-warna. 25. Radén hangandika haris. kathah tiyang sami prapti. Boten wonten kakirang[ng]an. lamun bhagus tanah néki. kalih rama hibu mami. hingkang lén Cimanuk kali. manca negari kang dugi. lumintu tiyang kang dugi. datan wonten kakirang[ng]an. trimanen kongkon malebhu. Sanget kapéngin pinanggya. “Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula. gundem juwawut hagemuh. sampun hantuk tigang tahun. “Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a. tumut wisma hanang riku. haja dén télaksaman. hawit tetaneman gemah.miwah nanem palawija. bok hana tiyang kang yuda.

yén hinget hing sira kacung. 838) //Bagelén hingkang negari. ningal[l]i kang putra prapti. sadaya samya han[n]angis. pun katurang lelampahnéki. kagét hibu miwah rama. 29. Putra humatur Jeng Rama. muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira 31. welas[ș]é hing lampah[h]ipun. marah hanak[k]ingsun nyawa.” 30. sangking marman[n]é Yang Widi. siyang dalu pan kating[ng]al.Tinggil dén kari basuki. Kacariyos hing lampahnya. rama hibu sami linggih. hora nyan[n]a temen kaki. hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari. 44 . 28. rama hibu mirengna. Si Tinggil hingkang hatenggah. lelampah[h]an putra mami. pun dugi hing Banyu Hurip. “Duh mas han[n]ak ingsun nyawa. pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa. miwah kadang kadang néki. hanjujug hing padalem[m]an 10 (19. sumanding putra tetelu. “Haduh nyawa putra[n]ningwang. caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a. kang dadi lurah hiréki. hanangis șiyang lan ratri. hibumu pan șamya bintip.

mapan mukti kiyahi Tinggil. Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya. sahiki pan sira kaki. 45 . margi hageng lurungnéki. dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a.sekawan[n]é putra ningwang. Bayantaka Jayantaka Surantaka. sadaya cakep ping kardi. supaya dadi weruh. 10a (20. tyang halit șeneng kang hati. Sukubahu Jungjangkrawat. 32. gampang bésuk yan wus dadya. hing kulon dadi nagari. hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil. kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara. Miwah si Wangsanagari. Wanasara Puspahita. samya matur ram[m]a haji. kambi sadulurmu kaki. tumut magén padukuh[w]an. mengkuwa Bagelén negari. Ki Tinggil hingkang dén tilar. 839) 33. kadya pangkat[t]ing tumenggung. hatur[r]an ngurus nagara. cakep hadamel gelar[r]an. handérék șakarsan[n]ipun. 34. tempat panjagian gardu. pinedhak kadya nagari. langkung kathah tiyang prapti. miwah Ki Pulaha kyahi. lan Tanu[h]jiwa siréki. saban lurung panjagahan. cacah limang ngatus jalmi.

tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an. 38. 35. Hindang Darma hingkang nama. sumanggah hayu hamilih. tumut damel wisma kaki. hanjujug wisma Ki Tinggil. muga dén hidin[n]i hulun.saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma. 36. Ki Tinggil haris tetanya. hing sémah manembah prapta. badé ngebon kula kyahi. hayun[n]é hang luluwih[h]i. 840) kula haningal[l]i senang. Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a. mikul gandum kalih pantun. punapa sejan[n]é Nyahi. pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah. Bade handérék ka[h]ul[l]a. 11 (21. tur maksihken[n]ya pawéstri. tan[n]ah hingkang radi jembar. “Duh paman tambet hing mami. Hanulya wonten tiyang prapta. dateng pundi sumanggah kapilih karsa. lan șinten kang wangi. Hakulon hutawi wétan. hutawi kula hanyabin. 37. 46 . hasli sangking pundi hayu?” Nyi Hindang mangsul[l]i sabda. “Sumanggah handérék habdi. dén hiring pawong[ng]an kalih.” Ki Tinggil hambales șabda. “Hamit palamarta habdi.

sakathah[h]é murid[d]ira. kapiyarsa marang Pangéran Palémbang. 40. mandah bungah[h]é bendara. sakéh murid pan șami. “Héh sekabéh murid mami. yén rawuh hanang riki. kanggé garwan[n]é bendara. ningal[l]i wong hayu luwih. sampun medal șangking wisma. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran. Hayu mulus kang salira. kedot pan gun[n]a sakti. kawentar liyan nagari. hana wanodya hamulang.Nyi Hindang mariyos makin. ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh. hingsun mapan wis hangrungu. memada… hing jenengi 11a (22. mapan șampun Hindang Darma damel wisma. hingkang murid-muridnéki. mandan napa Gusti mami. 47 . ngandika hing murid[d]ira. hing pernah kang senang milih. Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i. pan likur pangéran[n]éki. 41. Hindang Darma mulang jaya. Pan gemah kang pakebonan. hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i. 39. nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya. temtu haku nulya matur. tan[n]a tan[n]i dérék wahu. 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang. nanging bénjang dara mami.

Nulya Nyi Hindang humatur. wunten tiyang kathah prapti. hing muwara mentas pangéran sedaya. hasli sangking pundi Gusti. manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya. 43. pangéstri hang lelanang[ng]i. hingsun ngrungu t[t]an șudi. “ Sampun numpak hingkang prahu. nulya hénggal babar layar. hiki wanodya yu héndah. 45.” 44. hanangkep kang pada mami. hingsun ngungsi Pulo Jawa. lan badé karsa punapa. “Duh [duh] bagja kula sémahan. hanang wisma Hindang Darma. 48 . mila hing ngabrama Gusti. héman temen tingkahnéki. cipta sajroning galih. Pangéran pan wicakșan[n]a. Pangéran gawok tumingal. nulya haris gé nya matur. Sahiki murid șadaya. saha sinten kang wawang[ng]i.42. kawit[n]é tyang dusun habdi. “Duh hamit hing palamarta. samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a. pada sira dangdan haglis. sakedap nétra wus prapti. kagét Nyi Hindang ningal[l]i. tiyang hagung hang rawuh[h]i. Sanget kumejot hing manah. sampun dugi prahun[n]éki.

hora nganggo tatakramané wanodya. wong hayu tur lencang kuning. hingkang ngiring marang mami. samakta rawuh paduka. “Héman temen pan șiraki. kados wonten dén bujeng lampah paduka. Pangéran mangsul[l]i sabda. 47. memadahing jeneng hingsun. 48. Pangéran Guruh ran mami.kados wonten karya hagung. kaya hayun[n]é Hindang Darma. hora nana padan[n]ipun. 49 . dadi guruh sakéhé para pangéran. kang lagi guruhna ngélmi. hing Palémbang nagrinipun. 12 (23. haja mungkir sira hiki. dayang humbaran sira hiki. hora ngrungu béja warti. tedak Haryadilah Sultan.” 46. sakaprabon hing ngajurit. suyud pangéran hing mami. 842) //wong hayu sira wanodya. hingsun parlu mrikșa sira. hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang. Mapan hiki murid hingwang. dadi guruh kaya hingwang. kawentar saban nagara. pakșa lumancang hawan[n]i. hapa kadiran siréki. Kari kari Hindang Darma. yén șira guruhna ngélmi.

Hénggal hanubruk pangéran Wisanggen[n]i jenengnéki. Hambales sabda Nyi Hindang. Bramakendali kalihnya. lamun kawon mapan kula boten wirang. tan[n]ana manus[s]a hiki. 50. boten wonten bas[s]a lirih. sagending habdi lados[s]i. matur héstu kang sayekti. badé napa sumanggah dérék pikersa. hutawi hajrih ning[ng]al[l]i. 12a (26. hanulya medal tumul[l]i. Hananging sugal wecan[n]a. langkung sahé pideksa rupi paduka. hutawi saktining guru.49. mapan wisma datan nyambut. 845) 51. Kaya sakti sakti sira. maran[n]i papan Kang Hagung. 52. hipe kon paduka Gusti. tan karuwan negarin[n]éki. bedama pucuk[k]ing keris. 50 . kaya tingkah hira hiku. “Duh héman hing rupi Gusti. mungguh pan dakwah Pangéran. kaya gun[n]a hang luwih[h]i. lancang[ng]é kaliwat-liwat. sakayu(n)-kayun[n]ing hadang. Hindang Darma datan sérab. manggah Gusti kersandika. hutawi karéh hing karya. badé pun[n]apa Gusti. sémah neda dén suguh[h]i. Bratakusuma kang rayi.

Ki Pulaha dén timbal[l]i. 54. sadaya pan kancan[n]ipun. héman rupi hadi hadi. lumampah siyang lan wengi. 51 . sampun cahos hanang ngarsi. kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a. prang tanding ngadu gun[n]a. Sampun rucah jeng ngandika. sampun kantos hantuk duka hing bendara. kanggé tiyang tani tempat. tak duga pan maksih wargi. 53. kathah Pangéran ngemas[s]i. 13 (27. sun harep matur hing Gusti. kari kari kanggé tempat yudabrata. Ki Tinggil sanget hajrihnya. Nulya pangkat gegancangan. kalih Gusti puniki. sadaya pangéran ngemas[s]i. prang sami hangemas[s]i. “Susah kang Pulaha mami.” 56. 55. bendun[n]é bendara mami. hidin[n]é kon gawé dus[s]un. kariya tunggu nagara. sarwi nguwuh huwuh tanding. Sadaya para pangeran. Nyi Hindang sakti pinunjul. sasih hanggén[n]é yuda.kinten jembar yudabrata. samya perang silih huki. kang seneng[ng]an lampah tan[n]i. 846) //sangking Palémbang nagara. “Duh Pangéran hing riki papan kang jembar.

“Duh paman welas ka[h]ul[l]a. Tinggil han[n]éng pagusténmu. tumunten cahos hing Gusti. samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa. sun tinggal kari rumihin.prawantu Ki Tinggil lampah. sun dongak[k]aken Yang Widi. 13a (30. najan pandakawan mangkin. saré[h]hing dén tinggal kari.” Sakalih pada menenga. “Haduh hanak[k]ingsun kaki. 58. si Tinggil turun[n]ira. sareng hénget sakalih sareng hanembah. 52 . sarta matur[r]a hing mami.” 59. legan[n]a hingkang man[n]ah. muktiya wong loro kulup. muktiya dugi hing bénjing. mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya. karun[n]a sesambat[t]ipun. wicaksan[n]a tur hasakti. Nulya kang rama ngandika. 849) //kancamu pada basuki. toya waspahan dres mijil. linggihya hasoh rumihin. 57. “Wis jamak[k]é sira kaki. Ki Tinggil hangguguk nangis. Tinubruk Ki Pandakawan sarwi dén rangkul tumul[l]i. duk dingin sareng sangsara. sakedap[p]an sampun rawuh. Haduh mas pawong[ng]an hingwang. hapa holih kasenengi. lanang Bagelén nagara.

dérék damel wisma Gusti. gemah rah[h]arja hing dusun. Nyi Hindang memada mangkin. hantuk marma ning Yang Sukma. masih ken[n]ya hayu luwih. pangéran samya ngemas[s]i. berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an. kelangkung sakti Nyi Hindang.marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang. 61. Kasinggiyan[n]ipun dara. kadugén Nyi Hindang Darma. hanggén[n]é tinggal nagari. katiwas[s]an habdi Gusti. kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang. bantasa kaprabon jurit. ngaben sakti hing ngajurit. nulya dén lurug Nyi Hindang. sarta win[n]angun[n] nagara. 63. 60. Hindang Darma pan pinunjul. Nyi Hindang Darma dinakwa. pinaring[ng]an harja Gusti. pan badé hanangkep wahu. Nameng humatur kaul[l]a. 53 . dalah kadados[s]an sasti. gelar[r]an pangatur habdi. dadi guru mulang ngélmi. Mapan sami yudabrata. dalah kathah tiyang prapta. Hang wulang[ng]aken kagunan. Hindang Darma mulang ngélmi. Pangéran Guruh ngrawuh kyahi. sarwi bakta muridné para pangéran. 62.

matur huning dateng Gusti. dipati hamaca donga. kang putra dérék pikarsa. hingkang rama hanjurung pandonga pasrah. kantos lami pan setahun. héyangmu pan sami lampus. didongakhaken ka[h]ul[l]a. 54 . kapasrah[h]aken hing Yang Widi. nameng kaki kang halus panangkep[p]ira. habdi suwun berkah Gusti. sing Palémbang guruh ngélmi. 66. turun Majapahit kulup. mila habdi gegancang[ng]an. 850) //”Héh kulup pan Wiralodra. Kang Gusti pan Singalodra. 65. tumenggung Bagelén nagara. Hindang Darma luwih sakti. hinsahalah. hiku héyang ngira kaki. Gawanen pan kadang[ng]ira. kados pundi Gusti sakarsa paduka. Si Wangsanagara kaki. Hindang Darma tiyang pawéstri. Sadaya samiya manembah. hing hibu miwah ramaji. poma kaki dén tangkep[p]a. “Duh Gusti pepundén hulun. Tinggil sun durung kamulyan. Wangsayuda Tanujaya. Tanujiwa hingkang rayi. 14 (31.” 64. Ki Tinggil humatur haris. nuwun hidin hing ramaji.tan kiyat hananding jurit.

hangandika Radén hanang Ki Pulaha. “Radén Hayu héstu habdi. lami datan tan kahéksi.67. kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang.” “Sumanggah dérék pukulun. Radén[n]ayu habdi hajrih. “Pan paman Kyahi Pulaha. Nyi Hindang kagét tumingal. sadaya pepek hing ngarsi. IV. miwah Ki Pulaha wahu.” 2. hamaran[n]ika Ki Tinggil. lan kanca dika haja kari. Bayantaka hana ngarsi. 14a (32. 68. hiringen lampah Ki Tinggil. Puspahita Wan[n]asara. lepat boten tur huni[ng]nga. Sampun prapta kan hing ngutus. Tan kawuwus hanang marga. ningal[li] tiyang yudabrata. hing parnah Ki Tinggil wisma. KINANTI 1. kinten kabaktaha kyahi. “Duh bagéya paman dika. sahéstu [pa]manah pun habdi. hing wisma Nyi Hindang mangkin. 55 . Jungjang Krawat cahos ngarsi. Ki Tinggil haris humatur. handumuk wisman[n]iréki. samya prapta wisman[n]éki.” sampun kondur sangking ngarsa. 851) gegancangan gumanti ganti tembang.

hamite geng[ng]en ningal[l]i. bendara tumut ming kula. kadi rupi Hindang Darma. Nyi Hindang ngandika harum. kadia putri widadari. Dedeg kelangkung hayu. dateng wisma hanang wétan. hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i. Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a. mapan sadaya tumingal. sekancan[n]é kaki Tinggil. 15 (33. dateng wahu Hindang Darma. handérék Nyi Hindang Darma. miwah Jungjang Krawat kula. Dados singid[d]an pukulun. kaluntan wangsul pun habdi. Radén hayu dipun hatur[r]i. hayun[n]é hangliliwat[t]i. linggih han[n]ang compok kula. 5. Mila habdi dipun hutus. 852) 56 . kedah kéring da hing habdi.3. manggah badé dangdos briyin. 4. hing raség sadayan[n]éki. Sampun dugi nembah ngayun. sareng wangsul wisma habdi. pin[n]ahés releng asuri. datan han[n]a sakéng héstri. miwah kadang raka rayi. rémah cemeng handan pandan. 7. kulit kuning nemu giring. 6.

bekti habdi nun katampi.8. Mila dén timbal[l]i hulun. kapéngén hénggal pinanggya. dateng tapak hasta Gusti.” 10. rawuh hing dukuh punika. manggah katuran haunggah. handérék tumut basuk[k]i. sapakersa gawé wisma. Hugi Radén sanget nuwun. hing paman Kyahi Tinggil. 9. gegancangan lampah kul[l]a. hingsun préntah hangidin[n]i. sangking sanget hajrih habdi. Radén hénggal wecan[n]a harum. dateng paman Kiyahi Tinggil. 57 . pan hingsun hasung paréntah. ngrahos handérék ka[h]ula. 13. “Radén mahéwu [ng]kang suwun. 12. hugi Radén nembé prapti. hora dadi hapa Nya[h]i. prawantu pawéstri habdi. habdi hingkang dérék numpang.” Nyi Hindang humatur haris. Hamung hingsun Nyahi perlu. 11. Wiralodra ngandika harum. dateng tapak hasta Gusti. “Bagéya kang nembé prapti. mapan Gusti kula mangkin. sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a. kula sémah nembé prapti. kaliyan miskin ka[h]ul[l]a.

hutawi ngirang[ng]i kul[l]a. 18. muga matur[r]a hing mami. samurid[d]é sami dugi. dateng compok pun ka[h]ul[l]a. lajeng bendu hangliwat[t]i. hutawi kebon[n]an habdi. sami yudabrata Nyahi. Nyi Hindang nulya humatur. coba matur[r]an Nyi Hindang 15a (34. sumpah hing hayahan Tuwan. Pan dakwah Pang[ng]éran guru. 17. kang dadi kawitan mangkin. 14. Bermulan[n]ipun pukulun. “Duh Radén humatur habdi. perlu mriksa hing perkawis krana kuwajib[b]an kula. tiyang hingkang hambanton[n]i. hingsun harsa mireng[ng]en[n]a. réning habdi sugih jalmi. prawantu héstri kul[l]a. matur héstu kang sayekti. Pan dakwah Pangéran gugu. 58 . 853) //priyén bermulan[n]iréki. kagét rawuh[w]é Pangéran. Mejanggu tan[n]i hulun. ha[k]bujeng damel sawah. miwah kadang kadang kula. saweg linggih wisma habdi.tebih sing Bagelén nagri.” 15. datan wantun hang[ng]langkung[ng]i. 16. damel hakal Radén habdi.

nurut[t]i napsu niréki. “Yén bener haniréki. Jadi pan karsan[n]ingsun. 21. sanajan wong kuwat n[n]ingwang. sakéh[h]é para pangéran.” 20. Seja pin[n]ejahan hulun. bogan lanang kalah ngéstri. seja sami ngemas[s]i. 16 (35. satingkah polah Nyi Hindang. totohwan pan jiwa raga. 854) réhna gawa jago hingwang. dén dakwah memada habdi. mejang hélmu klayan. 22. hingsun[n]ora hamilon[n]i. 59 . kinepung hing para murid. supaya huni[ng]nga mami. Yén menang dadi bujangmu. tak jaluk sukan[n]é Nyahi. “Duh bendara Radén kul[l]a. humatur sanget pan hajrih. Wiralodra ngandika rum.nyabin miwah pakebonan. 19. badé hanangkep pun habdi. hingkang hanyaksan[n]i mami. pitulung Yang Maha Widi. hiku pan jaluk wak [k]ingwang. Nyahi kalah dadi rabi. tak jajal[l]é karo Nyahi. Héyang Guruh hingkang salah. hapes yudan[n]é Pangéran.” 23. Hindang Darma hamlas[s]ayun.

hangedal[l]i perang tanding. Wiralodra haris muwus. hadin[n]ingsun kangge galih.hapan sanget hajrih habdi. sili hugi ngadu gun[n]a 16a (36. nameng sanget hanuwun kula. Perang tanding rebut hunggul. lamun kalaha Nyi Hindang. sampun dados manah Gusti. 855) //Radén sinabet tumul[l]i. Hindang Darma karo rayi. Hapan dadi bojon[n]ingsun. “Hiku Nyahi haja hajrih. hakondur sing ngarsa Gusti. 60 . hanulya Radén hamedal sekalih dangdos hing jurit. wong ayu sira Nyi Hindang. nuwun ges[s]ang paduka. 27. 28. pasti bakal hingsun kawin. héstu ngapunten pun habdi. yén makaten déra k[k]arsa. Tanujaya haran mami. seja hingsun han[n]iwal[l]i. 24. kumedah majeng hing jurit. Radén medal nguwuh huwuh. pan sangking hidin[n]ing wang. dadi manjing…yang bara. payuh pada ngadu sakti. Tanujiwa Tanujaya. Nyi Hindang methuk prang lirih. 26. Hindang Darma nembah ngayun. 25.

kaki pasrah ka[h]ul[l]a. 33. sugih banda kaya mangkin. kénging ngén Nyi Hindang geulis. megap-megap napan[n]aki. péngén ngemb[b]éhé Nyahi.” 32. Pendelik lan socan[n]ipun. putra gegedé nagara. “Haduh Nyahi Hindang golis. mésem haningal[l]i rayi. sawitan ngatur pakéyan. Hindang Darma luwih (sakti). Ki Tinggil hambakta sampun. gumuling ken[n]a hing siti. hing ngarsan[n]é Wiralodra. gagah kayan[n]é rayi. Haja hinda duh wong[ng]ayu. 61 .Tanujaya kapisanan. hasuk[k]a-suka wédang kopi. pun hayun.” Nyi Hindang nulya hanggeblag. Ngadirane rama hibu. 29.hayun[n]an yuda. Wiralodra ngandika harum. “Priyén rayi rasan[n]éki. kabur tiba han[n]ang ngarsi. nyata sakti mandragun[n]a. wong hayu hanarik hati. paju wong yudabrata. Tanujiwa majeng nuli. sambat hora kuwat kakang. 31. 30. tak ras[s]a sen[n]ang kang hati. wong nom lok yan mangan.

856) 62 . lir sikat[t]an nyamber walang. 34. Kang rayi sami humatur. Radén//Wangsayuda mangkin. HindangDarma luwih sakti. sampun wangsul hing nagari. manggah nganclong saba…ran.” Wangsayuda matur haris. Muga kang susah kelangkung. Nulya dén hatur[r]i wahu. “Duh rayi kakang tan sanggup. rayi kalih pan kajodi kawirang[ng]an yudabrata. “ 38. 36. haja kakang hangawit[t]i. wirang kathah kang ningal[l]i. kakang pasrah hingkang rayi. mérang marang rama mangkin. je…yudabrata kalih. “Manggah sampéyan hakarsa. Tanujaya sabda sugal. mungguh kakang mérang ram[m]a. “Dédé musuh Hindang Geulis. “Cobi kakang kangedal[l]i. hanang Nyahi Hindang geulis.perang kalah hing pawéstri. bagjan[n]é ngungsi hing ngukir. mingkin kula ningalan[n]a. 37. Nyahi Hindang Darma kaki. 35. Nyi Hindang tandangiréki. katimbalan[n]én nangkep[p]a.” 17 (37. wus san[n]a kala(h) jagonya. Lamun kaya hawak [k]ingsun.

40. kelurug samargi margi. Bagelén hing kanjeng ram[m]a. Nulya hangandika haris 63 . kari kari hora gun[n]a.” 43. wirang hisin yén hamulih. 41. Radén Wiralodra muwus. kala thothot wedi pis[s]an. 17a (38. “Loh kang Wangsayuda bis[s]a. halatah. kakang tanda hora wan[n]i. “Sekalih rayi wecan[n]a. tarung (kero)yok[k]an mangkin. Wangsayuda hagemuyu. bagjan[n]é gentén tyang kalih. “Loh hadat[t]é wong kalah prang. //Lamun hunggul yuda wahu. kul[l]a kahul géndong kakang. sarwi mésem ngandika haris. tak nyana solot tarungnya. ne …sun haben lan bibit. manggah kaki géh yudaha. Nyentak Tanujaya muwus.latah hambelik. Gawa jago loro hiku. mancén[n]i hing rayi kalih. sing riki duging negari.39. miwah Tanujiwa rayi. kalih Hindang Darma mangkin. mengkin rayi kang ningal[l]i. 857) 42. nyambung sabda Wangsayuda hora gun[n]a hingsun hiki.

Kari kam[m]i hawak [k] ingsun yén tedan péngén ngrahos[s]i. yudabrata kalih Hindang. hing ka[ng]dang. sapa kalah sapa men[n]a(ng).” 45.” Nyembah Nyahi dén turut[t]i. 48. Nyi Hindang cahos hing ngarsi. mengko kakang maju[ng] jurit. 858) //…Nyi Hindang panembah lirih. nulya manembah Nyi Hindang. jamak[k]é wong mangun jurit. 46. (wi)réh(i) hawelas[s]asih.kadang[ng]iréki. Radén Wiralodra wahu. mudu bahé dén turut[t]i.” Nyahi Hindang matur haris. Hora Nyahi …u…kma. nyata hunggul hing ngajurit. 64 . medal hanang yudabrata. 47. “Duh mas Nyahi Hindang Darma. prawantu tanding hing yuda. dadin[n]é hingsun timbal[l]i. Haja dadi ma(nah) (ya)yi.44. “Wis rayi dén baris[s]an[n]a. man[n]is legin[n]é…. Nyi Hindang hingsun timbal[l]i. hénggal Nyahi metung … 18 (39. “Duh bendara Radén kul[l]a dados pundi polah habdi. Nulya hanimbal[l]i wahu. Wiralodra ngandika haris.

Nulya sami surung-sinurung hing yuda. sira Nyi Hindang. pan Radén hambujeng hénggal. Wiralodra ngandika. 2. “Héh tuhu nyata prajurit. 65 . dén mapan dadi peksi. mapan sami hanimbang[ng]i. Dén turut[t]i Hindang golis. Hindang Darma manjing hing jambu wénya. hanggén[n]é hang[ng]adu saktya. prawantu sakalih sakti. dateng Nyahi Hindang Darma. 3. Dados taman habening hing toyan[n]ira. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata. hanulya dén bujeng wahu. hical dadi taksaka. (yuda)brata man[n]iréki. taksaka hical mangkin. hambhujeng hing Radén Wira. malempat Nyahi Hindang. hical pan dadi wanadri. peksi garuda. Radén kalih Hindang golis. sampun hayun[n]ayun[n]an. saparan[n]ira. DURMA 1. 4.V.” Hanulya dén candak wan[n]i. tarik tinarik wani. 5. Nyi Hindang hical saking hastanira. hing mondragun[n]a.

Dadi watu sagunung hanak hagengnya. “Duh susah hawak mami. nulya hical jambu mangkin. Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin.. kalawan hingwang. saparan[n]ira.liwat. . kuthilang badé dahar. sarwi (sinam)mbat. kula tan saged kami.” Nyi Hindang héwed hing manah. 8. Mapan Radén sekti liwat. sampun hical nama kula. nanging tan samar Dén Wira. 18a (40. hanggebur hanang wari. Nyipta glap sinamber haglis. 859) //ngendi paran[n]ing wang. “Awit kula kersan[n]é yang maha mulya. maksih panjang lampah[h]a (sirek)i nameng hanuwun nama.né hing hayun[n]ira. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal. juwet temen Nyahi Hindang. 7. 6. dadiya (se)kar ring puri. campur kalan hukir.mapan Radén dadi peksi. bareng ngamukti lan hingwang. hing buwah jambu punika.. Radén hanang hanutut[t]i. 66 . Nyi Hindang honcat. nulya prang pinggir hukir. 9. hingsun humpet[t]an pinanggih.

dadiya negariya. sangking pundi sangkan rayi. hing Pegadén kang dén hungsi. kado(s pundi lelam)pah[h]an. muga dén nama nama. Radén kaliyan nagri. Radén Wira haget[t]un sajroning manah. 67 . muga lulus[s]a hing bénjang. nulya mengngulon hing lampah. Hindang sing namhing wari. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka. 19 (41. 13. leng manah Nyi Hindang golis. kasmaran ningal[l]in[n]a.ha(ngdad)i manuk puniki. “Sukur bagja rinta. hing wan[n]a Cimanuk …repun dadya?” Kang rayi matur haris. pan hanang tuknya. hing kulon Cimanuk kali. Lamun sampun dados nagari hing bénjang. …kanggé turun[n]ya. dateng Cimanuk (hing) ukir. “Haduh rayi //nembé pinanggya. sareng babadnya. 10. 860) 12.” Kang raka nulya ngamin[n]i. Darmayu bénjang nagara. kang wa … nulya ngrangkul pinanggih.” 11. hanggén[n]é damel nagara. hanak putun[n]é rayi.

…//…ngan. Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a. 17. pun[n]iki baris[s]an napa. Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan. nulya matur kang raka. 861) 18. “Duh nilari ngapa. Wiralodra tanya haris. kagét hana pri……ni. wangsul hanang negari. hawor suwaran[n]ing bedil pan Radén hamaran[n]i.14. gén[n]é sisiniyan kalih. Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan). Nulya pethuk kali panarah. hanulya pangkat. siyagi samakta jurit … 19a (42. baris[s]é mangun jurit 16. 15. dateng baris[s]an. hanulya duging baris. badé hamriksana. … hingkang wangun nagara. surak mangambal[l]ambal. badé nuwun hidin raka. Kang raka hangidin[n]i. lan sinten hingkang wewangi 68 . hana hing gawé negara. kulon Cimanuk wan[n]a. sing wétan haslininéki. pan sineja mriksan[n]i. hangiring Gusti mami.

Gragé wewengkon[n]éki. kang wantun wangun nagara. 20. nulya hangandika wahu. 19. (ga)wa (kang) kanca siréki. sukur bagja pan pinanggya. sumanggah cahos hing Gusti. 22. hageng nagara hing wang. (Dalem) Kuning[ng]an. Kran[n]a waktu punika. maksih bakal nya nagari. sampun da(dya) nagari. sahéstu kula puniki. 69 . lah kabener[r]an hingwang. …ngagéh da Dipasarah. hénjing kula cahos Gusti. Wiralodra pan kula. hing Kanjeng Sultan. sapa layak yudabrata. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang. kadiparan yén wis manjing. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara.(wa)n[n]i hambabad. tamtu hing rusak. nulya cahos tyang kalih. pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling. nulya humatur haris. 21. cahos hanang harsan[n]ingwang. pan hiku sap[p]a?” Nulya humatur haris. Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an.

kéngkén hamriksa puniki. hawit déréng matur Gusti. lamun prajurit téku sangking Kuning[ng]an.” 20 (43. lan dalem Kiban. 24. dérék tiyang salah habdi. nagari pan wicaksan[n]a. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal.23. “Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika. hidin sing sapa. kang wantun gawé negara. hing Gragé sinuhun holiya. nameng nuwun hadil habdi. “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa (ma)tur Gusti. hanang sultan holiya. sakersandika. hanang wawengkon sultan. 862) Hangandika Kumuning. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan. Geragé hing pan[n]egari. puniki hing …. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an cahos sangking harsa Gusti. 26. tan katon Gusti sultan. hingkang wangun nagara. sangking Galuh prajurit.” 27. 25. katimbalan majung yuda. 70 . upas repat pun hamba.” Wiralodra hamangsul[l]i. mapan mentas perang tanding. “Yén mangkon[n]o réki.

Harya Kumuning hanggén[n]é harep pribadya. hing rupan[n]ira. ngadir[r]aken prajurit. hanggé pun ngadu jaya. Dipasarah gumuling. 863) Kumuning //sun tan wedi. Wiralodra prawantu putra sing wétan. Masandakom hing siti pan Dipasarah. sinuhun hora ngidin[n]i. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda. 71 . Wiralodra hangingget[t]i. Kumuning nrajang wan[n]i. wong Sunda pan sembrana.” 30. “Lah wong hapa Kuning[ng]an. prawantu tiyang ngajurit. 32. hing rupa kaya sira. teka semban[n]a. 20a (44. Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra. hora duwé tatakrami.hingsun Harya Kumun[n]ing. 29. ngakun[n]é prajurit ku[n]na. surung sinurung haprang. “Lah coba tanding lan mami. haku jaluk pangaksami.” Hanulya wecan[n]a. 31. 28.” Dipasarah nyandak kula. sinépak hénggal. tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti. pangrasan[n]é hingsun wedi. turun saking Majapahit.

kran[n]a hakéh luwangnya. hanggebeg saliran[n]éki. 35. nulya cinandak wani. si Windu titiyan[n]ira. mangsa kuwat siréki. 36. datan bis[s]a mobah. payuh majuwa. 21 (45. waktu Dalem Kiban. Kumuning hanglancang[ng]i. Si Windu hangéréng nulya. 864) nalika prang Galuh //dingin. Mila windu tan kiyat gén yudabrata. gawé jajahan. dén nang[ng]ngen hingwang. nyinirat hanang hukir. Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat. 72 . 33. mugi sukur hanambahi. wong Galuh hakéh kang pejah. jimat kapal sampun hical. Dateng Radén Wiralodra pan cinandak. hanulya pun titih[h]i. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah. 34.prang hutawa ngusir hing tiyang gawé negara. dén ngucap Si Windu mangkin. kendal[l]i dipun cekel[l]i. Dén Wira langkung welas. si Windu hingkang nyépak[k]i. pasti sira ngemas[s]i. sin[n]épak kajumpalik mrangkang ngungsi hing kuda.

han[n]ahan[n]ana. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira. 37. tan kiyat harya Kumuning. 73 . hingkang Gusti Kuning[ng]an. 39. nulya dén lepas. 40. kantaka datan hémut[t]a. “Héran temen Windu mangkin. 41.” Si Windu hambesat haglis. Pan kahul[l]a datan wani yudabrata. Windu dekuh sukunya. pan Radén welas ningal[l]i. kaliyan Radén habdi. Windu malempat. huculna habdi Gusti. hanggempur wong sanegara. mundur lampah turanggi. pertanda sujud hing ngarsa. hangeprang hapus sinebrak. hical sajron[n]ing wanadri. pan sira sering haprang. Merkayangan si Windu hana hing wana. kiniwit[t]aken tumuli.“Haduh pan Radian. semu radi ngelawan. Kang Gusti gumuling siti. mapan Windu napsu wan[n]i. 38. lir kilat palajengnéki. Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira. sira kalah haprang. nyap[p]rang hiki pantos siji.

sarwi hamasrahin[n]a.” Wiralodra ngadika haris. “Duh Wiralodra sira. hing Garagé pan negari. dateng Kyahi Wiralodra. mangka Wiralodra mangkin sa… 21a (46.” Dipasarah manembah. kalangkung bingah hing ngati. nulya dén candak tumuli. wus cahos ngarsa Gusti. panembah hénggal. 865) … //pinanggya.prawantu kuda duk dingin. kalintang sabar. 74 . turun Budaprawa. hing Gusti sultan. 45. 43. Dipasarah hanulya. hing jiwa raga pun hamba. kabener[r]an pan pinanggah. nyata tuhu prajurit. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an. 42. wis rayi hénggal balik. hing Dipasarah. pan sampun hanang nagari. 44. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan. Nulya Radén Wira mangkin. seja nuntun hing lampah. dateng Wiralodra mangkin. hing pundi kang pudi dipun sedya. sangking jaran Harba Puspa. lan Dipasarah patih. Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya.

2. pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi. gegancangan hing lampahnya.” Wiralodra kondurning ngarsi. kadang kadang hingkang dipun tinggal kari. mapan samya pinanggya. 75 . sarta hasanak put[t]u kaki. 47. sangking Brawijaya wing[ng]in. mapan sira turun sultan. DANGDANGGUL[L]A 1. Majapahit turun[n]ira. Nuwun duka mahéwuh deduka. dugi hing Cimanuk. kasuwun berkah Gusti. badé wangsul Gusti mangké. turun[n]an[n]ira. Kanggo turun turun nira Wiralodra. bagja pan sira. pasrah hing ngayahan Tuwan. hing lancang hamba. “Hanuwun berkah hing para holiya. sedaya karsa nata. 46. kaliyan takdir Yang Widi. 22 (47.pinuju kumpul[l]ing wali. kadang sadaya hingkang katinggal. 866) wang //hingkang gumanti VI. “Duh kakang langkung sanget kuwatir. ngrangkul kadang sadaya. Wiralodran matur ring Gusti. sedaya hidin sampun. habdi damel nagari.

winastanan Darmayu. Hindang Darma pinunjul. dadi campur wanita. bénjang han[n]ak putu kaki. nameng Hindang weling hing suwara. lumuh nglakon[n]i krama. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi. héstu tiyang punjul. werni na… pun nyi Hindang Darma. tuhu wong wicaksan[n]a. kran[n]a Nyahi Hindang Darma. keris hatawa pedang. nanging rayi hingsun turut[t]i. hadat wong Dermayu. 4. yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing. hangelar gawé nagari. sanajan hingkang ngawit[t]i kakang. katangkep[p]é wahu?” Kang raka haris ngandika.tan manggih béja wartos. 76 . Hindang Darma pan tumut. Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih. 3. kados pundi raka samangkin. Bénjing negari Darmayu ri. yén dadi negari mangké. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi. 5. “Haduh rayi Hindang Darma musnang kali. hingkang gawé negaran[n]é. datan kotor yudabrata.

han[n]a hing Darmayu. sing wétan kulon rawuh. hanjér pepek hing ngarsa. luwih raméh pan negara. hanjeneng hing nagara. mapan pribawan[n]ing pawéstri. Kyahi Pulaha Bayantaka. 6.22a (48. tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi. wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi. humatur manggah karsa kakang. karsa ngatur gelar[r]an[n]é. kanggé ngistrnén[n]i negara. samya ber[r]umah tangga. kaki Tinggil wahu. mugiya sami wangun. Namung kakang sadaya pun rayi. kakang ngidin[n]i wahu. Kadang kadang sedayan[n]iréki. kula turri kadang sedayanya. tempat[t]é tiyang ngatur karya. han[n]epang hing hupacara. 7. hakéh pan kasengsara. hamit rai medal mangké. 77 . nameng susah bénjang hanak putu mami. Surantaka miwah Wanasara mantri. 867) //dadi pangungsén segala bangsa. miwah tarub hagung. pan sekalih medal hing jawi. tan[n]ah sabrang dugi mangké.

“Héh sanak kula sadaya kang hing riki. 78 . Sampun bedama sadayan[n]éki. mapan Radén Wiralodra. cakep siyagi sakabéh. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil. kinepok[k]an hing kancanya. cangkem[m]é mecucu. gumuruh tyang suwaran[n]é. 9. pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al. surak kadya hampuh[w]an.8. tyang gumujeng latah latah. hantuk[k]é hing kawul[l]a. sadaya kumpul[l]ing kajat. nulya ngandika rum. Ki Tinggil ngibing wahu. jaler héstri kumpulna. hageng halit pan kumpul. kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi. badé hawangun liyan negara.mégot weteng belenjing. 868) 10. wangunan tarub hagung. miwah tetembangan suka suka. 23 (49. patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi. haganti sami ngibing[ng]é. mulya medal hajat[t]iréki. pan kanggé tempat kajat bénjing kumpul[l]a hing kawul[l]a. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing. mé// gat. pan hantuk saminggu.

sami linggih wahu. manggah kula hatur[r]i neda. mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a. sedaya kula suwun. gumuruh hamin wong hakéh. sarta sira pada naksén[n]i. 79 . “Duh sanak kula sadaya. negari Darmayu. hurun[n]an sanak sedaya. negari dadi sampun. sarta maca donga kaslamet[t]an.muga dén sakesn[n]an. pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an. sarwi ngibing dedeng[ng]éngan. 13. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti. Para sepuh sami hangamin[n]i. 11. 869) kula handon//blenduk. kawul[l]a suka sadaya. pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki. 23a (50. pun maca donga rampung. pan sampun langados[s]an nagara klayan kersan[n]é Yang Manon.” 12. “Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari. raméh hanggén dahar[r]an. “Duh sanak kula sekabéh. nulya Radén ngandika haris. Hanggén[n]é sami wangun nagari. saban sasih kados puniki.” Humatur sadaya tiyang.

kadang-kadang samiya dahar[r]an. sarén[n]ingpun lami mangké. 80 . cinampur kalih tembang. sarwi ngrangkul “Kang rayi sedayan[n]éki. hageng halit[t]ipun. 15. Ki Tinggil tukang méjan[n]é. Sarwi bibar sedayan[n]iréki. kang dahar suka hing manah.tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i. nulya matur kados pundi raka. 14. datang rama hibu mangké. rayi sedaya kang han[n]ang riki. gamelan[n]é calempung sul[l]ing. daharan suka sampun. kaya hap[p]olah hingwang. rama pan ngayun[n]an. hapa sangking kadulu. dateng habdi sadaya rayi. “Yén hidin paduka raka. 16. rayi bade kondur. senggak muluk-muluk. gelar[r]é Dalem nagara. rebab tiyang[ng]é hanembang. Mapan katinggal hing rayi-rayi. suwaran[n]é celempung suling rangin. Para rayi pan sampun halami. nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a.” Kang raka haris ngandika. tunjang hambakta berekat.

870) VII. Sareng hénjing rayi pangkat nuli. wunten musuh nekan[n]i. kang raka hangater[r]ake(n). 24 (51. “Duh rayi muga lulus[s]a.sampun lepat dén haturan. hangrebat nagara. jeneng niki nagara. 81 . hanak putunya. turun pitu bopatih. 17. wangsul han[n]ang Bagelén nagara. hing ngiring sakancan[n]éki. nulya//sami salaman rayi. sinalin demang madurma. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara. DURMA 1. krana bakal mulyan[n]ira. pun dugi Dalem miréki. Dén Wiralodra. mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki. Watuhaji hingkang raka. maksih dangdan nagara. mapan hipé wahu. sarta kang Wangsanagara. dumugi hing wates[s]ipun. dumugi hing hakir mangkin. Pan tumenggung sing Jepara pelariyan. pikantuk kanugraha hing Yang Widi. 2.

Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang. saparan paran mami. “Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a. hanunggangtaya.” Watuhaji hambales[s]i. ngadeg kiyahi pulaha.nulya dén priksa mangkin. dadin[n]é hingsun tumekang. 873) raméh gén mangun jurit. pan mégot ngigel maran[n]i. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a. 82 . miwah sakanca sadaya. hanang satengah hing wana.” 5. 3. bade sun teda. gégér hurahan. h[h]anulya ming[ng]éh hangeri. raméh hanang ngaprang. 4. boten nganggé tata krami. pan hanang nagaran[n]ira. tan suka hingsun jurit. Wiralodra hantik panduka lir brama. malempat kadi kilat. 6. dén candak binaktang Jawi. 24a (54. yén sinabet bedama. baksan[n]é hanglétér wani. hiki pan bakal nagari. duméh nagara bakal. mapan dadi jig jawin[n]é.

83 . haja suwé ngadu bal[l]a. “Héh Wiralodra sira. pedang hing ngagem dén hasta. ko pada bis[s]a hing jurit. héran tiyang kang ningal[l]i. sarwi hanguwuh tanding. 9. “Héh Wiralodra mangkin. pan hayuh maju wang jurit. hayuh hingsun tadah[h]i!” Ngandika Wira. “Hora watek handingin[n]i. wong tengah hana hing wana. hayuh mapag[g]a!” Radén Wira hangedal[l]i. maju jatmika. Nulya medal Nitinagara hing yuda. tak kira tan bis[s]a jurit. Héran Nitinegara. duhung sinondénganana. baksan[n]é halus hamanis. lir tiyang nagara. hayuh hénggal gitik[k]a.musuh kathah kajodi. 10. balan[n]é Watuhaji. 7. keris hatawa pedang. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha. mapan cakep hing ngajurit. Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda. 8. Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a.

tanding[ng]en jeneng mami. dén talén[n]i hing Ki Tinggil. hudreg hasili(h) huki. pan hanang tengah hing ran[n]a. pan Radén hanang ngajurit. Nitinegara binanting. hayun[n]ayun[n]an. hang[ng]asta wangking[ng]an. 13. Sesumbar Radén Wira.” 14. pan tuhu sira prajurit. han[n]yuduk[k]i Wiralodra. maju wang ran[n]a. 84 . kang janglar han[n]ang ran[n]a. Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah. gumuling kisma. haja gugup gitik hira. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!” Hénggal Nitinegari.11. 25 (55. sinurung-surung hing jurit. pan Wiralodra. medal tiwikraman[n]éki. nulya majeng rana malih. “Héh prajurit Watuhaji. Pan binakta binekta hanangkon Wira. nemu tending hing yuda. yén tuhu sira prajurit. Watuhaji lan dén Wira. 874) 12.

Ki Gedéng Sambeng nama. Drayantaka Wan[n]asara. 85 . balan[n]é tumenggung mangkin. 25a (56. medal sangking Bantarjati. Cisambeng hingkang pernah. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya. Mapus//…it[t]a. hangamuk bala kathah. hing bénjang pan turun néki. susah pan tiyang halit. nulya dén Wiralodra. beras pari lan harta.15. 17. Ki Gedéng Dépok mangkin. jinarah kebo sapin[n]ya. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara. dadi pandita mangkin. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya. pan salin naman[n]iréki. ngamuk hana hing jurit. 16. caritan[n]ipun kanda. pan malajeng sing ran[n]a. 875) 18. hingsun dikang dén hungsi. kathah tiyang dén patén[n]i. mapan mertapa. Watuhaji ngoncat[t]i. nungkul sedaya. ming[ng]idul palajeng[ng]ira. bubar sasar[r]an.

kapasrah[h]aken Ki Tinggil. 86 . tan[n]ah Bogor lan Krawang. pan senang sadaya. bala hambral kathah mangkin. pun ngadeg jéndral. Kyahi dalem jenengnya. 21. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika. Wiralodra jenengnéki. Ki Tumenggung miwah patih. pinten sinten gotong[ng]an. Mila raméh nagari tambah hing tiyang sahatus[s]an balan[n]iréki. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah. langkung raméh pan nagari. hingkang wade tanah mangkin. 19. hambakta harta mangkin. Radén Wiralodra sugih. 18. miwah kathah soldatnéki. tiyang kang teka. harta mahéwu yutan. 20. pan ngangkat demang ranggah. ponggawa para mantri. sami berumah tangga. hanang bangsa Blanda. Watuhaji kaliyan Nitinagara. pepek sedaya. pan damel wisma mangkin.

sangking keraton[n]ya. bakta bandakayan[n]éki. damel salah hing la//mpah. 876) 23. Hamiruda bade kapotong jangganya miruda lolos wengi. pan Wiralodra. VIII. Mapan Nitinagara hanangis. mapan macan nagari. hiku pan hora becik. 24. 26 (57.ngateran harta. giris haningal[l]in[n]a. ginanti dangdang malih. kawentar saban negara. san[n]és sangking nagara. saktin[n]é hang liliwat[t]i. pan badé hambedah mangkin. Gemah harja darmayu dadi nagara. DANGDANGGUL[L]A 1. 87 . Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram. 22. sen[n]ang pan tiyang halit. Darmayun[n]ika. mila monca negari jri sedaya kathah tiyang. Dramayu hika. hanang tumenggung kalih.

”. hatur[r]ipun melas sasih. “Habdi Gusti nuhun ges[s]ang. potong jangga hulun. mangka sampun sesunu. mila bénjang turun[n]é Nitinegari. pun lami hanggén mukti negara. dados Dalem Dramayun[n]é. 26a (58. Wirapati wahu. 88 . hing luwih sahéng punika. kén mertapa ngilangké. Hingkang gumanti dalem néki. bénjang lenggah hing pun. pan sekawan kathah hire//ki. kang rama sampun séda. 877) 3. dos[s]a hingkang luwih hagung. pun lepas lampah[h]ira. Pan Nyayu Hinten histrinya. misti Gusti kahul[l]a. nulya kés[s]a Nitinegari. yén bade kakirim make. Kacarita Kyahi Dalemnéki. tumut dérék hing brandal.han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira. 2. hing Metaram sinuhun. kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga. Watuhaji kang dos[s]a. Pan sinangonan Nitinegari. pambajeng[ng]é Sutamerta. wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin. Wiralodra sanget telas haningal[l]i. 4.

5. 6. mapan Wiralodra kapi(ng) kalih. sang[ng]et hanggén sesiniyan. Lami-lami gadah manah. héstri pan miwa(h) priya. pan sanget hanggén[n]ipun halih. Mapan Radén Wirapati. garwanya wahu sekawan. 89 . dalem hing Darmayu. Werdinata dateng rayi hinten mangkin.hingkang putra Radén Wirapatya. pan sampun dahup punika. Werdinata sang prabu. tinggal sen[n]ang karajahan. Kang Rayi Werdinata. nameng sampun kabakta harinta. gumanti wahu lungguwé. hing Pulo Mas negarin[n]é. kadya hingkang sudara. hing nagari rayi mangké nameng satunggil wahu. dalem han[n]ang Darmayu. dérék karsa wahu. kagungan sadérék[k]an sang nata. sadérék kahul[l]a kang héstri. Kang raka sanget jumurungnéki. Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin. silih genti rawuh. mijil putra tigalas kathah hiréki. blaka matur hing raka.

gumilang gilang cahyan[n]é. humur tigang tahun. pan sinareng kakang Dén Wirapati. miwah dalem hing Kuning[ng]an. 27 (59. medal kakung pekik hing rupi. Sareng lami-lami hingkang rayi. sanget bingah sang nata //han[n]ang putranipun. 90 . 878) Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an. kang putra pin[n]aring[ng]an. 9. Hingkang peparab pirempag mangkin. dén pinangsraya Dalem Sumedang. Danulya Dén Wirapati mangkin. sangking honom durubiksa. sanget hasih harama kalih.7. Werdinata Pulo Mas néki. Bagus Radén Wringin Hanom nama. pan kabakta dateng rama. tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit. kuning cahya humancur. mangka pun babar wahu. tigalas sasih lamin[n]é. pan sampun wicaksan[n]a. pan dateng hing kang putra. 8. tan kiyat yudabrata. balan[n]é lelembut. badé nuwun bantu mangké. mapan Dalem Cihamis negari. lin[n]ingling lingling kang putra. sarén[n]ing dipun lurug.

muga ram[m]a bekti putra dipun tampi. mapan Radén Wringin Hanom. “Héh mas wong bagus nak [k]ingwang. bagéya nak[k]ingsun. cahos hing ngarsa ramaji. sangking Dalem Sumedang Gusti. sampun kuwatos ramaji. 27a (60. humatur kasuwun rama. putra hingkang nanggel[l]a. 91 . musuh bala lelembut. Nulya ram[m]a ngandika haris. 894) 12. Nulya ram[m]a hangandika. kang rama hangandika. rama tampi srat wahu. Cihamis miwah Kuning[ng]an.” Sumanggah putra matur. sing honom durubiksa. pan rama hingkang nandang jurit.10. Kuning[ng]an Cihamis mangké. dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas. pan litempung mu[ng]suh. Hingsun pasrah musuh para demit. sarta gawa bala juru biksa kaki. sah[h]a wonten dawuh napa. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin. 11. kang putra sampun rawuh. gancang taktimbal[l]i mangko. dén //pinangsraya rama. “Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki.

kadya tiyang baris hing jurit. lan Dongkara Tumenggung. mapan Radén Wringin Hanom. “Duh putra banton[n]an. mung suwara gumuruh. hemban[n]ipun hingkang putra mangkin. gumarenggeng pan suwaran[n]é. Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis. sanget welas karun[n]é dalem mangkin. sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis. tiyang ngétan kadulu. sumanggah putra hing karsa.kang putra dérék kersa. datan katingal wujud[d]é. hasasaran tinggal kancanya lan Gusti. mila sanget hajrih hiréki. 28 (61. cahos hanang ngayun. mapan balan[n]ipun durubiksa. Tyang Sumedang kathah kang ngili. mapan bibar kénging jurubiksa. 13. bala honom satru. nulya RadénWiralodra. Hingkang putra ngusir jurubiksa. hing ngarsa Dalem Sumedang. Sareng hénjing medal hing ngajurit. rawuh Dalem Wiralodra. raméh //tempuh hing yuda. 14. 895) 92 . katur nagri hulun. sampun kuwatos ram[m]a. 15. niba tang[ng]i palajengnya.

siyung thathit dinulu. nulya Dalem Wiralodra. tiwikrama wahu. méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki. Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis. tyang Cihamis wahu. Bubar wadya bala sing Ciyamis. pangamulya tyang Sumedang. sareng ngrahos mulya sadayanya. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing. kin[n]arubut hing yudan[n]é. 93 . soca lir kembar srang[ng]éngé. 17. prajurit medal sekabéh. Hanulya tiyang Sumedang mangkin. gégér tiyang melayu. suwaranya kadya gelap. Dalem Darmayu mapan sakti. samya hamapag yuda. mapan sanget bungah[h]ipun. hantawis sagunung hanak. kathah prajurit kang pejah.burbar bala hing Kuning[ng]an. mlajeng lir kadya kilat. 16. samya ngusir tiyang Ciyamis. dén bujeng hing Dalem Wiralodra. 18. hang rangseg perang pupuh. wahu Radén Dalem Wiralodra. rémah ngrimbyak kéngsér hing siti. pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a.

mangka sampun pethuk. Nulya kang putra haris. kalih Paman Tumenggung. kalih Jongka réncang[ng]é. hawit kuwatos hing nagari. bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an. 20.” Rama hidin sampun. 21. mlesat han[n]ang gegan[n]a. kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih. 94 . nulya manembah kang putra. nulya pethuk kaliyan kang rama. “Men[n]awi wunten hidin jeng rama. 19. kaya priyén musuhmu kaki?” Putra matur hing ram[m]a. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti. 896) berkah …//lumayu. Ciyamis lan Kuning[ng]an. wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari. hénggal[l] (k)ang rama hamethuk. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit. dugi hing pawates[s]an.rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis. 28a (62. niti joli lan jempan[n]a. putra bade wangsul mangké. mapan sampun bubar mangké. huga musuh[h]é kang rama. sarta bakta putrané héstri. “Loh kabener[r]an kulup. tan prayoga kang jaga.

sareng dugi cin[n]awis[s]an. kanggé jru sapu miwah jru dang. hisi harta hemas wahu. 22. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin. 29 (63. para héstri miwah hibun[n]ira. cinampur kalih kimtal[l]i. Punika putra ram[m]a pribadi. sangking sanget bungah hiréki. sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni. Raméh tiyang hamburu. lir rengat hing pratal[l]a. hambakta bokor hemas[s]. 23. sarta kawul[l]a sekabéh. Sedayan[n]ipun para prajurit. handhér kawul[l]a hing ngarsa. Kang putra matur nuwun. 897) 24. sedeng hayun[n]ipun. tyang kalih sareng numpak. numpak han[n]ang jempan[n]a haglis. han[n]ak hukir langkung hawon. dipun papag gamel[l]an miwah prajurit. tinawurna wahu harta. samya rebut[t]an harta. miwah san[n]apati hing ngalaga. pan samya hormat wahu.“Duh putra sareng nganumpak. 95 . kahul[l]I pun rama hibu putra mami. peng[ng]ulu pun siyaga. samargi dados tingal[l]an.

” Nulya sami sesalam[m]an. Marang putra Wiralodra mangkin. samya dahar[r]an wahu. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih. hingkang sareng linggih hing riki. nyaksén[n]i pan sedaya. kanugrahan sih hing ram[m]a. bawah[h]an[n]ipun sekabéh. “Saksén[n]an. miwah para ponggawa ngalaga. mahéwu héwu kasuwun. lenggah Dalem Darmayu nagara. héh sanak kadang hulun. Lajeng sadaya[n]ning para mantri. 27. pasisir Kandang[ng]ahur sun pasrahaken hanang putra mami. sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit. sangking pangandika mami. karo hing Darmayu. 96 . dadi sawiji nagara. hingsun mapan hora gadah.” 26. Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi. 25. langkung sangking sanget katrima.Dalem ngandika harum. suka bungah sedayan[n]é. mundun sangking palinggiyan[n]ira. “Sarwi hatampi sih[h]é. hing para kawul[l]a bala. sangking sih paduka ram[m]a.

sanget bungah[h]é hing manah. hing wingking mara maru. sanget bungah rama prapti. Garwa Sumedang tan kari-kari. sedaya pan runtut. namin[n]ipun kang putra. 29. handérék[k]aken sedaya. dateng Dalem Wiralodra. sanget hasih hing garwan[n]é. 29a (64. nulya samiya kondur. 898) 28. dugi hing pawates[s]an. sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari. hantuk kanugraha[n]ning yang. sarta pin[n]aring[ng]an garwa. Radén Timur miwah Sawerdinya.raméh raméh gé nya bukti. kang garwa putran[n]ipun. Kang pambajeng mapan Radén Kowi. nulya pinethuk rawuh[w]é. rah[h]erja hing laku. 30. langkung hasih hing garwa. gandék putra sedayéki. mapan kinanti kanti tan gingga. kantos hantuk pitung din[n]a. kondur néki. Kang lajeng Lodramayu negari para kadang-kadang miwah ranggah. kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah. para maru miwah putra. 97 .

Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki. pan ginanti wahu. Hapan sampun hapeputra mangkin. hingkang sampun gumanti lungguh ramekin. Hadiwangsa Nayastra. putra kakung hingkang sekalih hiréki. 31. Radén Sawerdi putranya. jumeneng dalem pangkat. pambajeng Benggala //Radén Benggali rayin[n]ipun. para putra sadayan[n]éki. mapan sampun gegarwa. Wiratmaja pan wahu. pan sekawan[n]ipun. sampun jejeg putra tigalasnya. nanging Benggali Benggal[l]a. Puspa Tarun[n]a Patranayéki. miwah Nyi Raksawinata. hanulya putra héstrinya. 30 (65. mapan gangsal kakung [ng]iréki. samya mukti sampun. sedaya dadi pangkat[t]é. 98 . Singawijaya putra héstri. Hastrasuta wahu. nulya wapat dalem ram[m]a. sekawan ling putra kathahnya. 32. 899) 33. sekalih Raksadiwangsa. Lajeng rama duging ngajal malih.Wirantaka sekawan[n]yané.

lamun hingsun tan dadi dalem puniki. bagjan[n]én tumekang ngajal. kaliyan Wiralodra kajenengnéki. Benggal[l]i jeneng niréki. kang dén hutus tuwan[n]iréki.hingkang gumanti rebat pangkat. hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi. limang sasih tan[n]ana dalemnya. pasti hingsun ngamuk. Nanging rempaggé para ponggawi. wicaksan[n]a punjul. pan handérék pangkersa. lamun kakang hingkang gumanti. kang rayi sanget kapéngén. 35. miwah para pambes[s]ar nagara. pangkat kumendur. kang raka kang gumantya. kang ganti kedah rakan[n]é. Pandebos jeneng[ng]an[n]ya. kang raka Radén Benggal[l]a. sangking Betawi wahu. Singalodra kang pan gagah. Kelangkung sesah para ponggawi. gumanti lungguh ram[m]a. dalem lungguhipun rama. hambakta satambur soldat. dadiya dalem lungguh. nang[ng]ing kang rayi wahu. 99 . 34. nulya wonten hutus[s]an[n]é.

yén mangkon[n]o nurut hingwang. 37. prakara hiki nagara. 100 . 38. kang rama wahu lungguh[w]é.36. kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin. hing[ng]et rayin[n]ipun. dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i. kang raka hing Dramayu. mapan tumut handérék hing lahut mangkin. ka Bantarhanak bojon[n]é. nulya haris pangandikan[n]é. sekabéh[h]a hing ponggawa. 900) Radén Singalodra kan[n]éki. jeneng dadi dalem puniki. lamun mentas hanang Batawiya. tigang tahun lamin[n]ira. Nulya para mantri dén timbal[l]i. hanulya dumugi hing watesnéki. nulya kang rayi matur. dateng kumendur tuwan. 30a (66. mapan pasrah hingsun. mapan sampun kesah hander hing ngarsa. nanging Radén Singalodra. raka dérék sampun. dadi dalem pangkat gumantiya. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin. Nanging tigang nahun lamin[n]éki. karun[n]a para ponggawa. sanak ponggawan[n]ingsun. nanging tan hénak hing manah. siyang dalu ngahos Kurhan.

yén tan hingething kadang Gusti.39. bala hing sang[ng]ulun. pan ngahos siyang dalu. 901) 41. hasanget sakit manah[h]é. hanulya Mas Patih Hasrasutanaya. Nyahi Moka wuragil néki. Gembruk kalih Toyib. 101 . hingkang sanget datan.” 40. Kartawijayastra gangsalnéki. hanuwun hing Yang Maha Suci. mugiya kandel himan[n]ya. miwah Trun[n]ajaya tumenggung. //wolung nunggal hingkang putra pambajeng Dén Lahut. “Sanak mami sadaya nurut hing pasti. kang putra Kartawijaya. karsan[n]é Yang Maha Mulya. pan sami ngambung sukunya. Gandur lan Purwadin[n]ata. Nulya sami kondur sedayéki. kagung[ng]an putra kathah ing réki. 31 (67. Dalem Wiralodra wahu. sadaya sangggup hing pejah. hanyambung[ng]i sabda mangké. Dalem haris ngandika. putra saweg rumébed hing dahar. pitulung Yang Hagung. Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti. hanuwun pangaksaman[n]é.

902) 102 . “Paman sahiki jandika. tulungen hingsun. sultan hing Wiralodra mangkin. 31a (68.” Humatur pan Wiralodra. Singalodra kanama. hing setan[n]a buyut héyang-héyang. kadalem[m]an hapa sayekti. hanulya ngandika rum.hénak hing panggalih. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin. paman léréh hing lungguh. hingsun hangrungu wartos[s]a. 42. cahos han[n]ang kasultan[n]an. kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i. Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang. mapan sampun matur. karsan[n]é Yang Maha Hagung. kersan[n]é Yang Maha Mulya. hing Sultan Cirebon Pangéran. Kang Rama dén timbal[l]i Gusti. ngirangi saréh lan dahar.” 44. jam papat wangsul wisman[n]é. nulya Sunan ngandika. dateng paman Dalem Wiralodra. Sultan sanget welas haningal[l]i. “Sahéstu sinuhun. kalintang sabar manah[h]é. 43. hanang Gusti Panembahan Sunan Haji.

Kartawijaya dipun timbal[l]i. Tajug balong hingsun siyagi. nulya sinuhun ngandika haris. man[n]awi manahé wongan. kaliyan paman[n]ipun. hapan[n] hamba pasrah sadaya. hanang Kartawijayanya. miwah wisma kasagiyan paman. Datan saréh miwah datan bukti prawantunya tiyang maksih tarun[n]a. semutan héca hing manah. hapan wis siyagi kabéh.” 47. nameng nuwun pun hamba. gadah hanak Kartawijaya puniki. pasrah hing sinuhun. pejah gesang pun hamba. mila nuwun pitulung Gusti. handekuh koncem mukan[n]é. “Sumanggah dérék karsa Gusti. sampun cahos hing Gusti ngarsanya. 45. hangwejanga hing para putra kon ngaji. nami Kartawijaya. kitab kaliyan kurhan. Hing ngarsa sinuhun. 103 .” Ngandika sinuhun. “Perkara hiku paman. hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki.supaya hing kasultanan.” Nulya Kyahi Dalem matur. 46.

” 48. Sampun lepas lampah hiréng margi. Tinampi wahu serat[t]é. Ratu Mas Hatma hingkang nami. Kartawijaya matur hing Gusti. “Hanang hing Kartawijaya. punapa Gusti karsan[n]é. Langkung hasih Pangéran ningali. bareng ngapan karo hingwang. pernah hing Pancagahan.” Sultan ngandika harum. 32 (69. sukur pan siréki. lajeng winahos sampun. nulya kondur sangking ngarsa. sun hangkat dadi mantri wecalang kaki.” 50. panggon[n]an hanang Panjun[n]an.“Hé Karta siréku. kaliyan wayahipun. nulya kadahup[p]ena mangké. mangka katur hing Gusti Panjun[n]an. gawanen surat hingsun //kanggo raka hing Panjunan.” Kartawijaya sampun tampi srat Gusti. hanulya hangandika haris. kating[ng]al cakep hing karya. sahiki pan hawak[k]ira. 104 . “Hiya hingsun hidin[n]i kaki. “Sumanggah habdi doraka hing karsa. Panjagahan hing Panjunan sira kaki. hanang Radén Kartawijaya hiking. 903) 49.

samya sukang sampun.sukangnya. hangsar suci pan hatin[n]é. sanajan sadulur //tuwa. Ki Dalem nulya ngandika. 105 . mantri patih lan dalem. lamun hora suka. hadat santri hiku. gamelan mapan gumpul. sepi kang negara. wong santri cilik hatin[n]é. hinget[t]é hing ngakérat. manggén wonten hing kajaksan. 51. 32a (70. “Hanang para ponggawan[n]ira hiki. wedi dos[s]a hagung.” Surak mapan gumuruh. mapan kiyahi Dalem Singalodraka. Mangka wonten malih kang winarni. raméh.jumeneng hana hing Panjunan. 904) 53. maturut préntah hing nabi. hora pantes dadi dalem kaki. 52.raméh siyang lan wengi. prajurit kawan das[s]a. lamun jagi hing wates Darmayu nagri. 32a pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki. tiyang halit suka n[n]ingal[l]i. kabéh ponggawan[n]ingwang. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin. Duk dalem mékang hanang riki. wisman[n]ipun wahu. lagi pésta raméh raméh.

dedeg sedeng hapideksa. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami. nayaga mapan raméh senggak. lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti. hingkang gumanti putranya. tiyang halit kalangkung susah hiréki. patih Hastrasuta kuliling. datan kiyat jagan[n]é.satingkah polah Gustinya. 106 . hanjejeképak wahu. rinampog déning para durjan[n]a. 54. lami pan tigang nahun. hanjenengi dalem mangké. Hingkang sugih banda kayan[n]éki. kathah tiyang pin[n]atén[n]an. yén kirang senggak[k]é mangké. sodér kinipaletu nulya. nayaga dén siram lan wari. wahu Dalem Singalodraka. 56. hupacara siyang dalu. saholah nyahambek pura. langkung rusuh rerampoggan. gagah tur habagus. lagi sedeng ngatur karya. Para mantri sami hangepok[k]i. nulya wapat dugi hing jangji. pan Radén Semangun. 55. sodéré cindé kembang. sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki.

Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin. putran[n]é Purwadinata. mapan misan[n]a niréki. nanggung hang ngalaga. 57. hanggén[n]ipun pésta tetanggapan. Siyang dalu raméh raméh mangkin. Kyahi Betawi hika. pangawakan[n]a wangganya. sesek kathah[h]ipun tiyang. Tiyang ngeraman sampun siyagi. tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis. Miwah para sénapati jurit.hanggén[n]é jaga durjan[n]a. 905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a. juragan[n]é Bagus kandar. kadang misan[n]ipun. langkung susah ribut[t]é hanang nagari. 58. para putra putra sadayanya. Bagus Léja lan Sén[n]a. 107 . Bantarjati pernah[h]é. Dén Nuralim wahu. Bagus Rangin Surapersandanéki. langkung pitung hatus. 59. pan seling Rangin putran[n]é. wunten malih hingkang warta. saking Kandang[ng]ahur. Biyawak Jatitujuh. 33 (71.

“Héh sanak kula sadaya. kornélnya hanang ngayun. 108 .tyang dugi saban din[n]a. jumagi hanang wates[s]a. 906) 62. nganggé pakéyan tamtama. datan hénak halungguh. 33a (72. bénjing hing Darmayu. siyagi tumbak bedama. hatinjo kadang kula. sarwi matur sumanggah hing karsa. sareng hénjing budal mangké. 61. mapan Radén Kartawijayanya. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin. hangrempug badé nempuh. mapan rempag sedayanya. kathah tiyang ningalan[n]a. mapan Radén Wiralodra. pan dateng Darmayu nagari. ngandika hing kanca prajurit. Lajeng ngaben lampah hiréki. hageng hinggil meden[n]ya. hanempuh Darmayu. pan Kartawijaya hanenggih. bedil tulup lan keris. hobyok pedang hérmas //sérét kuning. jolén miwah tumpak[k]an. Kanca-kanca kang para prajurit. kulit kuning wahu. rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki. 60.

hamireng surak mangambal[l]ambal. héstri warninipun. putra sareng dulu(r). putra putri sangking Banten kang nagari. wani temen hangrusak hanang nagari. punika Ciliwidara. hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki. 64. sapa prajurit nama?” 109 . Para prajurit hing Darmayu mangkin. tias[s]a ngamba gegan[n]a. campur kaliyan senjatos. “Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun. Kartajaya ngandika. karun[n]a dateng harsan[n]é. miwah para putra putra. samya kagét para prajurit. hiki musuh rebut hapa. huwa Kartawijaya. kalih paman patih Hastrasuta. kénging wicaksan[n]a nipun. lajeng methuk Radén Kerstal. langkung resak[k]ipun nagari. 63. datan bis[s]a nyepeng mangké. miwah putra sarta sénapatya. kathah resak para ponggawi. Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki. sinelek lampah hipun. “Duh rama huwa nuhun. ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata.

sumanggah raka hing karsa. Ciliwidara hiku. Nulya ngrangkul kang raka tumuli. nulya pangkat wah[h]u. Héh Kang Rayi Hastasutra patih. sahiki ram[m]a harep kapanggih. nulya sanget dukanira. nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi.65. malebet hing padalem[m]an. bésuk iki sun candak[k]é. kathah kang sami lampus. Nyi Ciliwidara kang nami. mapan kambi raman[n]ira. pan kénging musuh han[n]ekan[n]i. 66. 907) 67. “Duh raka pitulung mangké. malah putra rama mangké. langkung sakti Ciliwadara puniki. 34 (73. dén panah si Ciliwidara. Dén Dalem Wiralodra. Suryaputra Sruyabrata néki. sarwi karun[n]a sesambat[t]ira. 110 . bade hing rebat nagara. hangemas[s]i wahu. hanadah[h]i yudabrata. miwah raka Suryawijaya. miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal. putra raka kathah lampus. ngangken putra Kentanagara. hingkang rama medal toya waspan[n]éki. tan kuwawi hulun.

han[n]ang wong Darmayu. lan sa[pa]mapaging yuda. pan[n]ah miwah bedama keris. wadyabala ponggawa putra prajurit. sareng hénjing binaris[s]an. 69. Ketambuwan sira hing mami. wani hangrusak Darmayu. mangka Ciliwidara miyarsa. wong siji wani musuh. pan kalih wong sanegari. prawantu tiyang hayu. wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami. gelang kalung kilat bahu. sira Ciliwadara hanjing. kadiran wong hayu sira. 34a (74. Kartawijaya jeneng[ng]é.68. Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i. bendéra tinarik hénggal. hénggal dangdos busanan[n]é. 111 . hananding kadigdayan. Sarta bendéné pinukul haglis. sapira habot saktin[n]é. 70. hanulya sesumbar hénggal. manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing. 908) duméh sira punjul nganihaya lampah cidra. hiki sadulur hingkang tuwa. kakang tanding hing ngayuda. pan cakep yén tiningal[l]an.

“Nyata prajurit siréku.men[n]awa tambah ta sira. 71. maka hangandika hasruh. pancén wong sendek humur[r]é. rasané panah hingsung. pan hénggal linepas panah ngenan[n]i. manah datan mindowa. suka haningalan[n]a. hénggal wangking pedang[ng]é.” Ciliwidara dén luket[t]i. 73. tiyang surak lir kadya rengat hing bumi. 72. hanang getihyé manus[s]a. sarwi hawecan[n]a dén priyatna. hobah bebalung ngira. yén niba hanguyun. sundel dayang humbaran. tan wonten hasor hing yuda. Méh san[n]alika tiba hing siti. kurang tata perang mangké. Hanulya mentang panah hiréki. hangrahos peteng hing paningal. tibakna han[n]ang hingwang. hapa han[n]ang siréku. ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang. 112 . kang haran si Belabar Gen[n]i.” Radén Kartawijaya mangkin. sekalih pan punjul. “Héh pan Kartawijaya siréki. hudreg pedang-pinedang.

pan cinandak sampun. 74. kalih kang rayi pepatih. Ciliwidara hambekas hana hing bumi. IX. pan miwah putra nonoman. satingkah polah[h]ira.mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i. 35 (75. Mapan samya pinanggya. Kartawijaya cuwa hing galih. nulya Dén Kartawijaya. dén hédek hanang pratal[l]a. pernahipun hical Nyi Cili. langkung hawrat kasaktén[n]é. miwah putra putra sadaya. Kartawijaya wahu. sirna datan karuwan. hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi. kén[n] jumagi wahu. hanggén[n]é musuh Kartawijaya. samusnané Nyi Ciliwidara. SINOM 1. ngandika hing prajurit[t]é. 909) 75. 113 . kang raka kalih kang rayi. medal tiwik[k]raman[n]ya. siyang miwah dalu. saya gumareget hagalih. Ciliwidara datan kuwawi. mapan samya dén jaga.

lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara. raka hénggal hangrawuh[h]i. kersan[n]é Yang Maha Mulya. hing rayi kang yudabrata. miwah putra pan sedaya. mila bade matur Gusti. 114 . mila kasuwun pun rayi. sadaya cahos hing ngayun. Kang Raka haris ngandika. resak[k]é hingkang nagari. datan huning[ng]a yén susah. Kang rayi matur hing raka. héran pisan Ciliwidara digjaya. hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki. “Kabegjan makethi-kethi. nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka.Kang raka haris ngandika. han[n]anging sejaning raka. sangking berkah raka wahu. bade wangsul pan rumihin. dateng rayi hing dalem katuran lenggah. “Tak tarima karsa rayi.” 3. “Duh Yayi Mas [s]asih basuki karsan[n]é Yang Maha Widi. mapan lagi mangun jurit. menawi kasoh rumihin.Hastrasutra jenengnéki. 910) 4. hawit hanglancang[ng]i Gusti. tan seja raka habantu. ngaturaken kasusah[h]an. hénggal Si Kakang harawuh. 2.” 35a (76. lah kados pundi hing karsa.

Sareng nuju dinten Jumah. “Duh Gusti hatur duduka. “Ponggawi dérék sang[ng]ulun. hanulya hénggal lumaris. Tak kira han[n]a sukarya.” Nulya bibar masing-masing. nulya hangiring lumampah. sanget sampun duka Gusti. han[n]ang pernahé hing musna. sarwi manembah hing ngarsa. Sedaya sami rangkul[l]an. 7. dumugi han[n]a hing jawi. saweg sinéba kang raka. hanang Garagé nagari. dén jaga ponggawa rayi. patih Hastrasuta mangkin. jagan[n]é hilang[ng]é wahu. katiwas[s]an habdi Gusti. jumerogjog hingkang prapti. Nyi Jaya cahos hing ngayun. hing panjagahan kakang. Kyahi Dalem ngandika haris. para putra ngabekti sami. 115 . malebuh[h]ing padalem[m]an. mung rayi kang hatiyati. 6. Bade matur kasahéstu. hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara.” Nyi Jaya humatur haris.5. man[n]awa malebu Rayi. “Duh bagéya janur gunung rayi prapta. kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya. Prawantu wong wicaksan[n]a. 8. Dalem Wiralodra mangkin.

humatur kasuwun Gusti. lan sun halih nama Resik Sira Jaya. mugiya satrun[n]ira. dadiya sawiji bénjing. déréng wangsul wisma habba. wis rayi hénggal mundur[r]a. kalih turun-turun mami. “Habdi dén pethuk hing raka.” 12. tan niyat cidra hing Gusti. humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira. 11. sangking Bantarjati habdi. 911) Kyahi Dalem hangandika. sampun kathah tiyang prapta. “Manah rayi sun hidin[n]i. sukur bagja sira yayi. 9. jaga pati saksi habdi. dumugi hing hanak putu. sahiki nembé hadugi. Darmayu badé karesak. pan habdi kaperdi Gusti. kumpul damel tarub hagung. hantawis sanambang Gusti. kadang kadang habdi Gusti. nanging kekah pan kahul[l]a. tak tarim[m]a sedyanipun. sedaya manggah hing karsa. datan seja bade tumut (ka paduka). Nulya manembah hing ngarsa.36 (77. bade tumut nyusup habdi. 116 . bade ngraman hangresak nagri paduka. Kyahi Dalem hangandika. hénak[k]a hing wisma rayi. 10.

mangka hangandika patya. Jiwasuta kang prajurit. 13. sasat musuh[h]an dateng[ng]i. kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman. punapa kakang hing karsa. ngempel[l]aken ponggawa. miwah Wangsatrun[n]a wahu. Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang. “Duh kadang-kadang prajurit.mapan Kiyahi Wiralodra. 117 . 36a (78. pan Tanujiwa kang raka. “Punapa kang raka patih. sayagi wonten tiyang ngraman. 15. yén kedah tinangken wahu. ngandika hing kakang patih. dadiya kawruh wan[n]ipun. sentan[n]a prajurit mantri. 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya. sadaya kang sun timbal[l]i. Hénjing miyos hing paséban. siyagi para prajurit. hawit hing wawengkén Gusti. “Kados pundi kakang niki. Sutamarta Tum[m]enggung. hing dusun han Bantarjati. lenggah hing paséban jawi. kathah kang para prajurit. Nanging samakta hing yuda. Kang Gusti nulya ngandika. 14. hatur[r]é Nyi Jaya wahu. humatur pan kakang patih. miwah sesang[ng]oning tiyang. Trun[n]ajaya hingkang rayi.

nyangking pedang tumbak//duhung. prawantu mriksa berandal. hing ngampléh kang wunten kéri. pakéyan mawarna-warna. 17. prawantu gagah jatmika. budal[l]é hing Jatitujuh. pati(h) Hastrasuta mangkin. hupacara para mantri. Samargi dadi tongtonan. Gustinya niti turanggi. konca mawi cindé kuning. 16. Nulya kondur ring paséban. hing ngiring para prajurit. 913) 118 . hulesna pas gambirah gagah hing yuda. kuluk hérmas hinten murub. 37 (79. wédang miwah dadahar[r]an. sedaya niti turanggi. pun[n]akang dadi biyas[s]a. samakta siyagi jurit. bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal. 18. 19. pajun[n]é tiyang ngajurit.karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa. tyang dusun hanyiyagéni. miwah sakéhéng prajurit. Bendé muni samya mudal. pancén gagah dedegya mapan sumbada. sampun kirang pan sayagi. kawula samya siyagi. sinonthé keris hing kanan. Kula hatur[r]i pan sedaya. bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i. demang rigah para harya.

Bagus Serit jeneng néki. saweg sinéba ponggawa. kados pundi gelar niki. kalih hingkang paman wahu. punapa pan kintun serat. mapan para sén[n]apati. miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar. hutawi hinurug mangkin. kang wunten hing Bantarjati. hing tembé huninga hing Gusti. raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an. “Hanang paman kadinéki. sénapatya sedaya putra Mayahan. sadaya tiyang ningal[l]an[n]a. pengagung Ki[ng] Bagus Rangin. Bagus Rangin hangandika.miwah tetabuh[w]an mangkin. miwah para sén[n]apati.” 119 . Sumanding Surapersanda. miwah Kyahi Betawi. sarta Bagus Pangiwa. gegedén hing Kandang[ng]ahur. Pan lajeng hingkang lumampah. kasebat kang pinituwa. 20. 21. klapa dugan saban pintu. tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak. Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari. sarta pan Radén Nur[r]alim. Bagus Seling hingkang putra. sampun cekap bala wahu. miwah kadang putra mangkin. 22. Sadaya pepek [k]ing ngarsa.

“Leres taya putra mami. kula hatur[r]iki kang sabar. 914) Kemis Kaliwon puniki. 26. Bagus Serit hangandika. kedah mangké dinten Kemis. sarta manawi palengkung[ng]an. putra dérék karsa ram[m]a. “Kados pundi lampah[h]ipun. Saban sasak jinagiya. “Duh bagja yén mangkonowa. Dalem Darmayu rawuhnya. Sing lér dugi ning mingsah.23. nanging putra sahé baris kahormat[t]an. Hing Jatitujuh pernahnya. lah gelar[r]é kados pundi. napa wangun baris hagung. pajun[n]é mapag hing jurit. 24.” Nulya matur rama mangkin. héca hanggén cacatur[r]an. kinten pangkat dinten pundi. 37a (80. sukur bis[s]a hanekan[n]i. “Duh putra sedayan[n]iki. kados hapes hing ngajurit. kaleres[s]an tanggal[l]ipun. janur miwah godong wringin. ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a. 120 .” Bagus Rangin ngandika haris. pecalang cahos hing ngarsi. gangsal dasa sasak siji. pinangka hormat [t]ing Gusti. Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda. lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?” 25.

siyagi tyang kasémahan. Bagus Serit hatur[r]an[n]ya. gelar wang rampoggan mangkin.tin[n]aro prajurit telu. ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun. yén kuda miwah ponggawa. Supaya wangsul[l]ing kuda. 29. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan. raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an. 27. kalih paman Bagus Serit. gampil hingebyak[k]an bala. siyagi pethuk pangagung. Rampung bedami gelar[r]an. hanggeber wonten hing wari. siyang dalu tetabuh[w]an. Samya damel pasanggrahan. sampun lintang kinten tebih. damel tatar[r]uban mangkin. gamelan[n]é siyang wengi. 28. sampun //bibar samakta bala sedaya. kanan kéri pan bendéra. mapan tiga prajurit néki. nanging samaktaning jurit. ram[m]éh raméh kang prajurit. samya ngatur gelar wahu. limang puluh balanéki. 38 (81. 915) 121 . 30. nulya kadang-kadang néki. hénggal sasak binubrak[k]an sedaya. hangdalem sasak satunggal. sakanca berandal mangkin. sampun bedami pesagi. kang sinigeg bala Darmayu punika.

palengkung[ng]an bandéra baris hing marga. kran[n]a hiki lampah gelis. nulya manembah tur nyaris. hulem cemeng kudan[n]ipun. kahutuskén mriksanana. rawuh[h]é Gusti jantika. 32. nulya ngandika Ki Pati. 916) “Duh Gusti habdi //puniki. suka ta [h]hangormatan[n]a. 38a (82. mung mengko sabalik mami. hingkang lajeng paman patih. raméh gamel[l]an hang Rangin. Sareng hénjing samya budal. mapan sakti hing prang pupuh. Ki Patih niti turanggi. samya kempal pirempag[g]an.” 33. Ki Patih nulya ngandika. habdi sampun siyagi men[n]awi kersa. 31. mapan kén methuk sang[ng]ulun. 122 . hing ngendi pernah[h]é wahu?” Humatur prajurit tiga. Sedaya pan hasung hormat. bedil tulup lan suligi. samakta kaprabon[n]ing prang. “Tak tarima sanak mami. pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman. hanang dusun Bantarjati. sumanggah sakarsa Gusti.hing Jatitujuh gén[n]iréki. “Punika katingal Gusti. Hastrasuta pan prajurit. sareng dugi pawates[s]an. hing ngiring para prajurit.

” 34. 2. malebet[t]ing tarub mangkin. 123 . handeder hingkang turanggi. mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an. nulya samya lelinggihyan. Nulya patih hameriksa munggur ngarsa. Nulya lajeng hingkang lampah. nulya sasak binubran[n]an. PANGKUR 1. nulya héstu kang sayekti. Dén papag prajurit kathah. raméh gamelan tinabuh. hingkang sami makuwon hing riki. ké mriksa béja hing warta. patih miwah para mantri. sampun tebah[h]ing kang lampah. prawantu ngormat[t]ing Gusti. miwah samya ngormat[t]i. gelar[r]é tiyang ngakathah. X. “Lah kados pundi gelarnya. surak kadya hurahan. hanungsi hing Bantarjati. hing ngobar tan[n]ana kari. déning pada siyaggi kaprabon jurit. mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun. salaman sedayanéki. “Héh sanak kula sedaya. han[n]ang pasanggrahan hagung. 35.bandéra bang sérét kuning miwah pethak. bendéra lan humbul-humbul.

” 5. haku tan harep kon mundur. tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun. Ki Rangin humatur sugal.” 6. ngisén[n]i sira cangkem berandal babi. mangsa wediya pan hingsun. prawantu kang yan[n]a patya. tem[m]ahan pan dadi rusak. 4.” 124 . “Lamun kénging sadaya pan sanak sami. hanang Gusti nagari Dalem Darmayu. taling[ng]an kadya sinebit.39 (83. sampun dén turut[t]i napsu. manggih susah kasengsara hing Yang Hagung. Dramayu hing dalem mangkin.” Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur. pan seja bade hing resak. wong musuh han[n]ang negari. lan mengko[s] sengsara wahu. yén datan kacekel sira. 3. hanang rupa wong nagara hing siréku. //punapa hingkang sinedya. mapan wirang yén mundur[r]a. “Loh Rangin celathu[n]nira. mapan luwih werat sesanggan[n]éki. Sanajan cilik rupan[n]ya. 917) tumbak perampoggan wahu. sakéh hanak putu[n]nira. yén kénging kula penggah. “Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih. Nulya ki patih ngandika. “Héstu bade hangresak[k]a. kran[n]a nagari hing mingkin. lan hora gila tumingal.

9. ki Rangin werat tanding kaliyan pati.” lawanen hundur-hundur[r]an. haja kosi bis[s]a medal.” 10. Bantarjati lan Biyawak. jam nenem sonten hing wanci. “Loh hanak kul[l]a sedaya. 125 . nulya dén hebyuk[k]ing jurit. “San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki. Para mantri pan jumaga. 8. Sareng sampun jam sedas[s]a. kira dalu sun hebyak[k]i. 7. 39a (84. pan kathah musuh nya lampus. siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku. surung-sinurung pan wahu. 11. sedeng peteng tan katingal. tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu. pan datan tata paju[n]né hing ngajurit. 918) Prawantu perang berandal. hangantos samangké wanci jam sapuluh. haja ngrangseg sira maju. sapa marah hasrah pejah. tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati. patih Hastrasuta duduwa din[n]éki. kaliyan Ki Yan[n]a patya.Ki Patih medal hing Jati. para kadang maju haprang sedaya kasor hing jurit. ngandika Ki Serit wahu. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira. datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu. Nulya Kyahi Serit ngandika.

dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking. jamak[k]é ngawula hingsun. ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki. sampun payah Hastrasuta. prawantu tiyang berandal. tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu. 13. “Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi. 15. 14.” Ki//Serit medal hing wingking. 40 (85. salin bus[s]an[n]a hacampur. perang karo brandal kinarubut. kang dén prih pejah[h]iréki. 919) 126 . Wecan[n]a sajron[n]ing manah. Sinareng sampun waspada.hangebyuk[k]i perang pupuh. Datan huning[ng]a lor wétan. kinepung buwaya mangap. langkung ribut prawantu prang dug hing wengi. sampun ngrahos datan kiyat. dipun byakta hing tiyang kathah. namung patih Hastrasuta. pan hingsun wis hora kuwat. lor wétan[n]a prawantu wengi. mapan datan dén praduli mlayuning pun. 12. bade mlajeng tan huning[ng]a. Nulya ki Serit tumandang. para mantri pan melayu. mapan kénging nulya lampus. nanging bala Kulinyar. tiban[n]é tumbak lan keris. mapan sampun hancur kuwandanné wahu. hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh. hambélan[n]i hing nagara.

sarwi nangis melas sasih hing Gusti. “Héh mantriningsun sadaya. 16. sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun. 127 . sampun dugi hing nagari. sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus. mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung. Sareng hénjing nulya bibar. 19. Humatur hanak[k]ing ngarsa. pan raka dalem paduka. samya nayub raméh wahu. 18. pejah wonten hing marga. dén sangguh brandal nekan[n]i. kinepung hing tiyang kathah. Samya prang han[n]ang marga. dén bedil pamayung[ng]ipun. yén mangkono becik hingsun pada balik.” Hanulya bibar sadaya. “Katiwas[s]an habdinipun. prawantu tiyang berandal. kathah malih dugi hing tarub hagung. para garwa miwah kadang-kadang néki. dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin. 17. mangka mantri kang lumajar. makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki. nulya lajeng hing lampahnya. Duginé han[n]ang nagara.surak lir rengat[t]ing bumi.” kang Gusti ngandika haris. sarwi handras mili[h] kang luh. sampun dugi hingkang Gusti. 20. kinerocok hing payudan.

23. patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh. sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti. “Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun. sarta kadang-kadang[ng]ipun.” 128 . 920) puniki pan katiwas[s]an. 24. kakang patih hangemas[s]i. hora panjang yuswa kakang. siyang dalu dedahar[r]an. “Duh paman kula nuwun. sampun lat lampah kula. hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun. Hingkang garwa miwah kadang. sedaya karun[n]a wahu.samya methuk jawi pintu. pan sarwi hasesambat.” 22. Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki. Ki Rangin hangandika haris. para garwa miwah putra-putran[n]éki. prawantu berandal dés[s]a. pan hing[ng]et hing sengsarahnya. Raméh-raméh gan tayub[b]an. saban din[n]a matis minda kebo sapi. 40a (86. Gégér gumuruh karun[n]a. miwah kadang-kadang kula. wunten malih kang winarna. sareng malebet hing wisma. mangka hanang dalem pati. Dateng hingkang rama paman. hantuk ngrayah saban dusun. 21. rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu. berandal hing Bantarjati. hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu.

Sareng hénjing samya budal. 29. hanak rabi hing Darmayu.Sedaya sumanggah ngiring. 27. satingkah-tingkah pan wahu. mikul lanték hisi beras. 25. sandang[ng]an[n]é mancawarni. miwah Héng Jin lan Ti Yang li. hutawi samiya cangcut. masing-masing gaman[n]ipun. Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru. 129 . sagadah-gadah hing tiyang. Poléng gunung poléng Jawa. turut marga hangrampog[g]i saban dusun. 28. hayam manda miwah harta. hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati. prawantu lampah hing bangsat. sadaya pan ngajigjaya. Sareng duging céléng dés[s]a. Samargi-margi jogéd[d]an. han[n]a kang sarowal[l]an. 41 41(87. surak-surak hing margi samiya ngibing. mapan samya habénjang. hana hingkang nganggé clana poléng tapih. tumbak keris miwah komprang sarta penthung. hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi. hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin. 921) miwah bendil lang sasisih. conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub. 26. bedil gobang miwah pedang. kebo sapi néki niring. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a.

Sedaya miréh berandal. 31. han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun. prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun. Bah Kwi Béng sareng handulu. “Loh kang hurang dadi brandal. kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun. yén hora handeleng dika.Cin[n]a babah kalih baru. hapa hora hing[ng]et salang wosé batur. “Mangka hingsun hanepang[ng]i. mapan hiki sabatur seja halampus. nulya berandal hangrempak. 33. dén hamuk hing para Cin[n]a. lebur brandal kathah lampus. 922) hatawa seja hanglanat. miwah nyonya Cin[n]a néki. Sareng ngrempak kulya pas[s]ang. 41a (88. tak jaluk sukan[n]é sobat. para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki. pan hingsun hora hangrusuh. hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin. hibur palayu ning jalmi. wah kang hurang cuwa hingsun. Mung sobat waktu samangkya. 32. 130 . waktu hiki hajala sanak mami. bade ngrayah barang harta. nanging hinget sayo sobat. 30. mung[g]uh bandakaya sobat. hing ngamuk para Cin[n]a. nulya Bagus Surasa Persanda nepangi. mangsa dén rusak[k]a hiki.” Wecan[n]a Surapersanda.

tiyang hingkang samya prapta. pengabaran dugin[n]é hing para jalmi. hantawis kathah hing tiyang. 35. seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu. gawé hibur hing negara dika hiki. kang hurang gawé melarat. nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun. prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu. 37. 38. Nulya tetabéyan Cin[n]a. 42 (89. 923) hana hingkang hanger//rayah rerampogan hangrayah duwit. siyang dalu tetabuh[w]an. makuwon hing pamayahan. harep ngrebut nagara Darmayu hiku. kalih Bagus Surapersanda mangkin. bubar hing Dramayu lampah. mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin. hing hawak dika pribadi. sangking kathah tiyang wahu. Lan kapriyén pikiran dika. rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit. 34. sadin[n]an[n]é telung puluh. damel pasang[g]rahan mangkin. pekakas kurang santos[s]a. pitung nambang tiyang dugi. para Cin[n]a kondur wahu. Gumuruh han[n]ang Mayahan. Ki Rangin matek pikirnya. Langkung sesah tiyang perdés[s]an.kang hurang pan sampé becik. Jarih Gan[n]a pada mélu. 131 . 36.

39. kang ngasta dadi gupenur. lan suka hambantonara. 41. Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral. sesambat[t]é hanang Gusti. 132 . langkung resak tiyang kathah saban dusun. 1808.yén hayu rabi[n]nipun. kawul[l]an[n]é nuwun tulung. berandal para bagus[s]an. guperur jéndral Batawi. Mangkan[n]a dalem punika. tan perdul[l]i kancan[n]ipun. dipun rayah kebo sapi miwah wedus. Haduh Gusti kawul[l]anya. yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu. 42. 40. hora wirang gawé sakit. han[n]ang negri Batawiyang. lamun kénging trus pintén[n]an mangkin. hadat[t]é Dangles punika. langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung. resak kawul[l]a sadaya. hangrerayah saban din[n]a. sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin. ki Dalem hunjuk lan surat. susah[h]é saban nagari. samya tinuron[n]an. hing mayah[h]an pernah[h]ipun. Lan benci hanang tiyang jahat. panjeneng[ng]an Dangles mangkin. hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin. malah kathah soldat[t]é sinebar wahu. mila sanget kasengsara.

yén tan nurut hajindanya, mapan pinotong pribadi. 43. Hanulung pertulunganya, réning brandal langkung kathah hingkang dugi, 42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur sarta kirim bal[l]a soldat, tinindiyan kaliyan kumendur lahut, Tuwan Postur namanira, sing Hing[g]ris hasal Welanda, 44. Kéng ngéndi bedami brandal, pura-pura dihangkat dadi bopatih, ma[ng]pan nagari Darmayu, pan kagung[ng]ane pun jéndral, hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu, supaya dadiya bubar, bala berandal puniki. 45. Saradadu miwah Tuwan, sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin, sarta pun bedami wahu, dalem pan sampun pasrah, hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut, héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an, tigang[ng]atus soldatnéki, 46. Supaya haningal[l]an[n]a, para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin, bedil pedang miwah hangkus, pinilih rata dedegnya, hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun, ginotong mimis pekakas, miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,

133

sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin, supaya brandal handulu, tingkah polah[h]é tiyang perang, tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu, sareng dugi hing Mayahan, kagét brandal haningal[l]i. 48. Nulya matur hing juragan, lamun wonten saradadu handugén[n]i, hambakta samaktan[n]ipun, pekakas hing ngayuda, 43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun, kapethak kaliyan Tuwan, Tuwan Delér bis[s]a Jawi. 49. Tetabéyan Delér Tuwan, kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. Tuwan Delér ngandika rum, “Héh Bagus Rangin jandika, sampun hajri mapan kula dipun hutus, hing Tuwan gupernur jéndral, kuwas[s]a negri Betawi. 50. Saréhing dalem masrahen[n]a, negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin, dadi hingsun dipun hutus, kang[g]o hambedami kula, mapan dipun Sowak nami, dalem wahu, lamun kersa hajandika, kula hangkat demang mangkin. 51. Mung[g]uh kadang sadayanya, kula hangkat dadi mantri jurutulis, kuwasahan sami wahu, saperti dalem pangkat.”

134

Bagus Rangin matur trima kasih hulun, yén makat[t]en legang manah, sedaya dipun salin[n]i. 52. Pakéyan laken sadaya, clana laken krambi laken topin[n]éki, mawi pasmén mas murub, Tuwan Delér pan siyaga, nulya raméh tabuwan humyang gumuruh, pésta hangéstréni demang, Demang Rangin para[ng] mantri. 53. Pamayahan kademang[ng]an, siyang dalu berandal tayubban néki, ngikat jeneng demang wahu, suka-suka gé nya pésta, sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung, dén hiring mantri sadaya, pakéyan sangking Betawi. 54. Tiyang kathah ningali Blanda, 43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki, bedil pedang miwah hangkus, saban soré hajar perang, kornél hajidan sersan lan sardadu, hajar bedil miwah pedang, berandal kathah kang balik. 55. Lamun dalu pada ming[g]at, sarta kathah hingkang sami kirang neda, prawantu tiyang kathah wahu, badé ngrampog panji nagara, tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus, nulya Delér kirim surat, hing Dalem Darmayu mangkin.

135

56. Sadiweg gédén tangkeppa, mapan dalem sampun tampi serat néki, gelar[r]é Delér puniku, nulya dalem kintun serat, dateng raka Kartawijaya puniku, hing Gragé ponggawa sultan, serat[t]é sampun dén tampi, 57. Sareng winahos kang serat, lamun rayi Hastrasuta mangkin, neng[g]éh paman sampun lampus, pinejah pan hing berandal, sapunika berandal jinaga wahu, dateng Wlandi kumendur Tuwan, pin[n]angsraya sing Batawi. 58. Hénggal Paduka Jeng Raka, rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi, Kartawijaya habendu, nulya matur hing sultan, sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun, Gusti Sultan hamiyarsa, nulya hangandika haris, 59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya, hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin, yén ken[n]a bandan[n]en wahu, lamun kekah pin[n]atén[n]an, 45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu, sarta sira Radén Wel[l]ang, bareng kam[m]i Karta mangkin, 60. Karta miwah Radén Wel[l]ang, mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti, sultan hangidin[n]i wahu, manembah kondur sing ngarsa,

136

medal jawi bendé tinitir pinukul, prajurit siyagi nulya, samakta kaprabon jurit. 61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika, “Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit, sahiki pangkat siréku, karo hingsun raka Karta, seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh, hing Mayahan pernah nira.” hénggal pangkat Radén kalih, 62. Lan gawah kancanira, hing pinilih sakethaha sapara prajurit, mapan sampun budal wahu, pangkat prajurit sedaya, sampun dugi prajurit hanang Darmayu, pinang[g]ya rayi lan raka, kang rayi hangrangkul haglis, 63. Hanangis dateng kang raka, mapan hingat hingkang sampun lampus pati, Kang Raka karun[n]a wahu, sarwi hangandikanya, “Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu, wapat Yayi Hastrasuta, tan mundur kakang ngajurit.”

XI. DURMA 1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang, pan sampun siyagi jurit, sadayanya ponggawa, gambirah mantri sedaya, pan bade béla hing pati,

137

hingkang pun séda, Dén Nastrasuta patih. 2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan, tumbak pangrampog[g]an mangkin, 45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya, mapan hingkang ngarsa, dalem kalih rakanéki, miwah Dén Wel[l]ang, putra Panjun[n]an selir, 3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan, Rangin mapag hamiyarsi, lamun dalem handugya, samakta kaprabon[n]ing prang, hangras[s]a ginelir mangkin, hing Delér Tuwan, mapan kinepung mangkin. 4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga, miwah hing kulon prajurit, sampun pengkuh barisnya, berandal hana hing tengah, hing kidul bala Betawi, Dén Wel[l]ang neng[ng]ah, maran[n]i berandal mangkin. 5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya, hayun-nayun[n]an pinanggih, kaliyan para brandal, mapan hangandika sorah, “Héh Rangin hanjing siréki, sira berandal, nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,

138

sugal hing wecan[n]anéki, “Héh hingsun dipun gelar, hing Delér Tuwan punika.” Hanulya mangsul[l]i mangkin, hing Radén Wel[l]ang, “Mapan tan gila hawak mami, 7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira, mangsa gingsir [r]awak mami, kadir[r]an sugih bal[l]a, mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.” Sén[n]a habandak tumuli, hing Radén Wel[l]ang, sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda, datan ngang[g]é tata mangkin, prawantun[n]é berandal, kadya ngepung satoh galak, pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit, hang[g]én[n]ing prang, hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga, kathah brandal hingkang mati, kang kénging dén belagbag, hing para mantri sadaya, kantos kasaput[t]ing wengi, hang[g]én[n]ing haprang, Rangin sakadangnéki, 10. Mapan sampun miruda sangking payudan, hénjing bendé tinitir, Rangin sampun tan[n]ana, sadaya sami miruda,

139

han[n]ang Betawi mangkin. sakéhéng berandal mangkin. sampun hing ngedél[l]as sadaya. 11. binuwi berandal haglis. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral. Mapan sampun binalagbag bala brandal. mapan kinirimna.Dén Welang ngandika mangkin. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna. sedaya kén maténi. 140 . mapan putus[s]an pun dugi. sampe pinang[g]ya. hanang jeron[n]ing buwi. datan kamot[t]a. “Héh kunyuk berandal. hantawis nem hatus mangkin. han[n]ang Darmayu mangkya. kadrél hing jero buwi. bade kintun srat. hing karsan[n]ira. wedi mati sira hanjing. 14. hing Darmayu hiku kumpulnya. 12. salebet[t]ing buwi hika. “Hanang jéndral Batawi. perkara berandal mangkin. miwah kondur sadaya. berandal kon dén ilar[r]i. 13. sakéh[h]é pengagung mangkin. hingkang sampun kacandak. hingkang han[n]ang buwinya. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala.

miwah Dén Kartawijayanya. sarta Radén Welang mangkin. jaga[n]nen kang waspada. sarta bakta bal[l]a. hantawis sanambang tyang. 930) //pan bubar sedaya mangkin. brandal Luwi Séhéng mangkin. hingkang nagel hing ngajurit. nulya pangkat hangilar[r]i. Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing. 46a (96. sareng wonten wartos malih. “Haduh hadi datan nyan[n]a. hing lampahira. Bagus Hawisem prajurit. paju[n]né hing ngadilaga. guyu[n]né suka-suka . 16. Hangandika Rangin han[n]ang para putra. pan hitu diyah. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama. 141 . hingkang nanggung hayuda. saradadu Dén Wel[l]ang. holih prajurit mami.” 17. kang nanggung yuda. Mapan sampun baris tugur para brandal.15. han[n]ang Kedongdong kang baris. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang. Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya. Rangin Kandar kepalanya. 18. pajun[n]é hing hadilaga. Hawisem lan Radén Wari. Rangin sanget bungah néki. prajurit paman[n]iréki. 19.

prajurit[t]é Rangin hingwang. pinayung[ng]an Bagus Rangin. prajurit ngarsa. 23. Rangin Kandar turun[n]ya. kendel manengan hing prang. katambuh[w]an pan hingwang. 21. dén[n]ing dén Wel[l]ang. Kadya brondong bedil mariyem punika. 22. Pan kapethuk kalih Kartawijaya. lan Dén Kertawijayéki. sapa hiki ngarsa mami. panyata yén husul mangkin. kelangkung bingah. 47 (97.kakang pinanggih lan rayi. pan kendel hing ngajurit. kecandak Radén Wari. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa. campuh[h]é hing ngajurit . mapan gelar[r]ing baris[s]an. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira. Dén Wari hingwang. sing dépok sambeng punika. hapandang Hawisem Wari.” 20. pethuk hing yuda. berandal sampun siyaga. 931) 142 . pésta pan siyang weng[ng]i. pan kathah hingkang kajodhi. Tumenggung Nitinegari. kang nanggung mapag saréki. raméh hanggén[n]é jurit. pajun[n]é Radén Wel[l]ang.

datan pinanggya. ming[ng]ilén pan lampahnya. mangilén wahu lampahnya. héng[g]al pan binujung wan[n]i. raméh hanggén[n]é jurit. 27. Léja sakancan[n]éki. 143 . Radén Wel[l]ang datan kari. Dén Wel[l]ang hawecan[n]a. hanadah[h]i hing ngalaga. baris berandal. datan menda hanggén[n]é jurit. 26.24. rebut mapan tan kating[ng]al. samya bujeng berandal. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal. suwung pan wismanéki. Ki Séna Surapersanda. han[n]ang Gragé nagari. 25. 28. Bala hambral miwah Dén Kartawijaya. dén rakrak saban dés[s]a. miwah Sén[n]a dén tal[l]éni. rinanté kinirim mangkin. rinanté hénggal. hanjog mara Bantarjati. Rangin Kandar Handa Hawisem miruda. Dadya raméh siyang dalu hing payudan. hing kanca sultan. Surapersanda pan kénging. perawan hayu binekta. “Héh hanjing berandal sari. sadaya tan[n]ana kari. Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal. dateng saradadu mangkin.

Men[n]awi dén bujeng mangkin. kantos nye(b)rang Kucéyak. hanjog han[n]ang Dulang Sontak. hambakta han[n]ak bojonya. rempag hing wana-wana. jamban dalem mingilénya. Cipedang miwah Cilégé. hanyabrang Cipunegara. 3. kantos wan[n]a hing Cikol[l]é. 4.hanang Darmayu negari. kasmaran kaningal[l]i. Benggala hing luwung dinang. Ki Rangin Serit lan Léja. 47a (932) //XII. KASMARAN 1. tigang sasih hing lampahné. hing Purasu Radén Srang. 2. Cilalanang Cibenuwang. sanget kasangsarah hipun. ningal[l]i bojo hanak. Samargi-margi hanangis. kalintang hanggén sengsara. Pegambir[r]an Legok Siyu. Mangkana hingkang lumaris. pan sinelek hing lampahnya. miwah Kandar handa mangké. hanak rabi samya krun[n]a. Mengilén hanye(b)rang kali. dumugi hing Hung[g]ulung. susah tiyang dés[s]a. Cipanculan Ciwidara. 144 .

933) 7. hantuk kidang lamun wangsul. jembar pelataran[n]ira.hanjog han[n]ang hing Cigadung. 6. 48 (99. sun tingal[l]i sanget sa(ngsara). //Hananem mangkin. tawu ngilar[r]i hulam. miwah kaliyan menjangan. hanang satengah hing wan[n]a. “Duh putra kula samangké. telung sasih lampah mangké. kali deres kang toya. nulya sami damel tarub. haseneng[ng]an[n]ipun wahu. jurang péréng lumampah. 145 . kang Rangin pan saban din[n]a. Raméh-raméh gé nya bukti. Ki Léja pan saban din[n]a. Kantos damel dukuhnéki. malebet han[n]ang wan[n]a. tengah wan[n]a langkung jembar. han[n]ang rawa nami Citra. 5. langkung senang petanah[h]an. 8. hing para putra sadaya. Kerana para pawéstri. rawa hageng kathah hulam. kalangkung tebih pernah[h]é. supaya pada hasowan. Nulya hawecan[n]a haris. sampun tiyar kebon[n]an[n]é. sarta damel sawah hamba. 9. hanerus hing wana-wana. rama badé damel talun.

nulya sami rempag[g]an. Nulya sampun rempag mangkin. tilas[s]é Ki Rangin mangké.winastanan dukuh Citra. kalih nahun hing lamin[n]é. 10. pernah mang[g]ih telatah jembar. 12. Jatigémbol kang satunggal. 48a (100. mapan manggih papan jembar. Jatilima kang nama. hing bang lér kulon ing Suba(ng). 934) pan damel…. hanang Cigadung pernah. Ki Gedé han[n]a hing Pecung. bakta kanca telung puluh. sakilén kali Cigadung. Hing wates Pegadén distrik. gratan 146 . katela sampé punika. pan dén wastan[n]é Cihakur. halang hujur[r]ipun jembar. pan mingidul paranya. 13. Winastanan sapuniki. seja ngilar[r]i papan[n]é. Kyahi Wangsakerti nama. hingkang haprayogi hajembar. kalih distrik Pamanuk[k]an. kalih kadang miwah rama. 11. Tegal Selawi naman[n]é. bade damel taluk[k]an. lamun kempel[l]an punika. Ki Rangin hadamel. kantos samikén namin[n]é. Tur rata tanah hiréki.

pikir[r]é pan sampun dados.sampun datos Citarum hagung. badé ngaben kadigjayan. kelangkung mandi sikirnya. mapan kantun tunggu dawuh. dinten pundi majeng yuda. pésta hadedaharan. Dalah sampun kathah jalmi.” 17. tempat tiyang ngeraman. kadang miwah kanca-kanca. “Punapa karsa sampéyan. nulya tiyang panghatumut. hing kanca miwah hing kadang. hantawis tiyang kathahhé. 16. napa pun ngungkul[l]i wahu. “lh kad0s pundi karsan[n]é. 14. becik gawé surat hingwang. sedaya pun siyaga. raméh-raméh siyang dalu. 15. mapan handérék karsan[n]é. ningal[l]i pesang[g]rahan. Nulya Ki Rangin hamatek mangkin. 18. Sedaya pan matur mangkin. Nulya Rangin ngandika haris. saban dinten tiyang prapta. hingkang haji pengabar[r]an. hingkang bade tumut perang. Panangtang mangun hing jurit. hingkang dadi sinedya. 147 . hanggempur hing Pecung Wangsa. langkung sangking sanambang.

tanda hingsun wicaksan[n]a. kaliyan berandal wétan. supaya siyagi mangké. brandal wétan hasal[l]ipun. hing tegal selat(an) Subang. 935) 20. 148 . 19. Nulya hangumpulna mangkin. hapa sanggup yuda mangké. Ki Wangsakerti ngandika. sedaya matur sumanggah. 49 (101. 21. pelariyan wong nagara. para sén[n]apati mangké. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti. kambi berandal sing wétan. Dulang Saréh hing wastan[n]é. mapan sampun hamiyarsa. pandakawan wicaksan[n]a. hing kadang miwah hing putra. jumerogjog hing ngarsanya. kang[g]é mapag hing ngayuda. Hutawi nak putra mami. wonten tiyang ngraman mangké. héh ya Krudug sira. sanggup hing ngaben pukulun. kang kirim hing Pecung dés[s]a. sraptan[n]é hingkang hutus[s]an. sampun damel sengsara. sira Jaka Patuwak[k]an. Héca hanggén gunem cangkin. harep ngayon[n]i hingwang.” Nulya damel surat sampun. 22. sarta putra Sindanglaya.

hanjing Sunda malotot[t]é. han[n]ang tempat pesanggrahan. 26. kasukmésa jroning driya. 24. 23. hapa (Dulang) Saréh wahu. Grudug ngadéngé glendengan. Jawa Wétan te puguh.. 27. haturken juragan siya. dék ngayon[n]én hurang Sunda. serat nulya tinampanan. 936) 149 . 25. breh hanjing siya wétan. hanjing gelis siya mampus. 49a (102. Winahos serat tumuli. hurang mapag[g]en siyaga. gegancang[ng]an lampah[h]ira. kana jampé sikir manéh. hulah réya homong siya. kandel hipis hurat tulang.ngaturaken serat sampun. Jawa Wétan ngasahan kami. sarwi mésem hawecan[n]a. Nulya Dulang Saréh hamit. Dulang Saréh matur haris. powé mana hanu puguh. kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang. Dulang Saréh wangsul nuli. nulya pangandikanya. Jajabang Grudug tingal[l]é. sampun dugi hing ngarsan[n]é. panon pan pucicilan. sarwi hawecan[n]a sugal. kula hanjing siya mérad.

nulya siyagi sedaya. siyagi hing yudabrata. 150 . malah kathah prajuritnya. Gumuruh kang bala Rang[ng]in. suraknya mangambal lambal. sadaya sang[g]em hing yuda. 31. ngajeng-ngajeng rawuh hipun. kawengku hing distrik Subang. hambeknya lir Singalodra. Nulya humatur Ki Rang[ng]in. dados pamucuk[k]ing haprang. miwah Kyahi Gedéng Grudug. sampun siyagi balan[n]é. 30. nulya majeng prajuritnya. hing bala Pecung baris[s]é. bala Rangin pun siyaga. 29. dateng Kyahi Serit nama. campuh prang berandal mangké.Ki Gedéng Pecung punika. Patuwakan Majanglaya. prawantu perang berandal. hananding Ki Gedéng Pecung. baris[s]é berandal wétan. Hing papan tegal Selawi. Mangka sampun kapiyarsi. Léja maju hing haprang. bendéra tinarik hagé. bendé tinitir pinukul. dateng paduka sampéyan. miwah kadang-kadang kabéh. bala Rangin kathah pejah. tur gagah hasentos[s]a. 28.

151 . Jaka Patuwakan hingwang.” 36. hora tlatén handulun[n]é. nama hurang Gedéng Grudug. Hanulya nerajang wani. ningali kang raka perang. Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya. wani mapag yuda ningwang. bala Rangin mawih Pecung. tan wonten hasor hunggul[l]é. 35. Palariyan jelma negri. payoh gentén lawan hingwang. samya surung sinurung[ng]an. ketambuwan Jawa Wétan. ginanti hanggén yuda. di wétan heker ditéyang. Paksa wan[n]i sira babi. nemu tanding hing ngayuda. hapa Wangsakerti kowé. Jaka Patuwakan mangkin. Ki Léja hanrajang mangké. nu baris naliyan siya. 34. “Héh sapa Sunda siréki. péngén hangrasan[n]i hingsun. wong yuda hudag-hudag[g]an. 50 (103. nulya pin[n]aran hénggal.pinethuk Ki Gedéng Grudug. hurang sén[n]apatin[n]a. gitik[k]i sira wong wétan. 32. 937) raméh surak[k]ing bala. 33. “Héh sapa kang ganti yuda. Léja hatetanya wahu.

Coba sun tanding lan mami. kaya wong kemaruk mangké. sayang hanggreget tingalnya. “Hampun Patuwak[k]an paman. 40. Patuwakan sabda lirih. Kandar mapag hing yuda.” 38. hénggal cinandak nulya. sor duwur pandén pedang.” 37. pan sampun hayun hayun[n]an. nyata prajurit pinunjul. 50a (104. Léja dinesek perang[ng]é. datan pasrah pan medang[ng]é. 39. kasilib hing pan[n]ingal. hora wan[n]i paman mangké. “Héh Patuwakan sira. tur sira maksih tarun[n]a. 938) 152 . Léja tan bis[s]a hobah. kalih Patuwakan //mangké hang ngasta bendhak bedama. nyata hurak[k]an berandal. dudu prajurit siréku.” Tan kiyat Bagus Kandar. Sarwi hasesambat nangis. hanggén medang hora tata. wong tarun[n]a sakti punjul.Ki Léja hamedang sigra. “Duh paman Léja (ja)ndika. Jaka Patuwakan mangkin. tinitir hanggén[n]ya medang. hiki Kandar sadulurnya. hénggal cinanda(k) hing bala. dén hikal pinuluh bayu.

pun sirang baris Rangin[n]é. nulya surup baskara. Ki Rangin nulya humatur. supaya mapag yuda. 44. muga mental[l]a hing yuda. karun[n]a sesambat[t]ira. gumuling han[n]a hing kisma. hananding Rangin siréku. sun pasrah[h]aken yang hagung. Nulya majeng Bagus Rangin.” Ki Serit ngrangkul putran[n]é. 43. bésuk niki sun pajun[n]é. “Héh hanak kul[l]a sedaya.sinabet penjalin wulung. kaya hapa tingkah hingwang. bala Pecung saya kathah. sarwi hambakta bebandan.” Jigjakerti matur manggah. 45. “Rama sampun cilik manah. bade majeng hing payudan. Jigjakerti Majalaya. Jam nenem béndé tinitir. “Haduh Bagus hampun paman. 41. Ngandika Ki Wangsakerti. 42. hora wan[n]i paman mangké. héng[g]al tinalanén Kandar. Kyahi Serit hangandika. hakondur bala hing Pecung. Sarwi krun[n]a sambat néki. “Duh putra welas hing wang. 153 . Siniking putra nun pamit.

hasesumbar hing payudan. nulya tinalén[n]a héng[g]al. Grudug nulya dén candak. 51 (105. Nulya majeng Jigjakerti. tin[n]a kulit huras tulang. kasaktén nanding paguh man[n]éh. hanulya mesanggrahan. papag[g]en han[n]ang payudan. budal baris sedaya. 49. kami Jigjakerti ngaran. binanti(ng) kantaka wahu. “Héh hiki Rangin haran[n]é. kasaput kabujeng sore.” 46. saba paran handon lan[n]ang. 48. surung sinurung hing yuda. Majalaya dén talén[n]i. ki Grudug mapag yudan[n]é. pan sami sampun pethuk[k]é. //Majalaya pernah kami. nulya Rangin hatetanya. Bala Pecung miwah Rangin. sumbada gedé tur duwur. wis jamak[k]é hingsun lampus. Ki Gedé hing Majalaya.” Nulya campuh hing ngayuda. 154 . 939) 47. pada rebut[t]en hing yuda. Ki Rangin hanyandak sampun. Pan nu baris nanding siya. “Héh sapamapag yuda. surak lir rengat[t]ing wiyat. hing bala Rangin hika. binanting nulya kantaka.

sapratapané hingkang putra. musuh Rangin digdaya. 51a (106. hungel[l]é wahu kang surat. semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah. 53. binuka nulya dén dulu. dipun kinten musuh teka. sangking lér kelangkung kathah. dikinten //musuh praptan[n]é.ki Serit nulya hamethuk. Hapes tan mental [l]ing jurit. kaya priyén polah ningwang. karan[n]a masih tarun[n]a. “Duh putra ningsun nyawa. Rangin sakti mandragun[n]a. hécagén[n]é cinatur. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i. kantun satunggal putran[n]ya. nulya wonten mantri prapta. kelangkung susah [h]ing man[n]ah. “Duh mas putra ningsun kulup. kang putra Patuwak[k]an. kajodi putra kalih yé. 940) 155 . dumarogdog tampi serat. nawal winahos sigra. Ngaturken srat tinampi. langkung melang hawak[k]é. bakal priyén tingkah hingsun. 52. Mangkan[n]é ki Wangsakerti. 50. 54. 51. ki Wangsakerti hakagét. “Katur layang pun rayi. gégér[r]é tiyang hing jaba.

58. hingkang rayi jagi mangké.” Dalem Pegadén harinta.hingkang saweg mangun yuda. hateng[g]ah hidin[n]é kakang. kabujeng hamireng warta. Nulya matur Wangsakerti. 156 . boten mawi kabar wahu. sing Darmayu pun[n]ika. serat[t]é kadang kahul[l]a. pinanggya suka kelangkung. 57. methuk wahu hingkang sém[m]ah. Sira Patuwakan mangkin. rayi Dalem sing Pegadén. mila sanget rayi nuwun. sampun hangdadosken manah. Ki Wangsakerti gumuyu. tumut nyambung hing ngayuda.” Lajeng budal sakancanya. rayi Dalem sing Pegadén. 56. Yén Kang Raka mangun jurit. bekti rayi hingkang ngantos. “Haduh bagja putran [n]ingwang. “Duh bagéya sarawuhnya. Nuwun kabar surat rayi. katrima nuwun rinta. marah hénggal hingsun mapag. sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah. kalih pelariyan wétan. Setrokusuma harinta. raka Wangsakerti mangké. rayi dugi gegancang[ng]an. kasuwun kakang pinanggya. 55.

941) 157 . sinonjé kang hanang kanan. sarawuh[w]é rayi mangké. 63. sami kénging tinalén[n]an. 62. mapan Jaka Patuwakan. Dén hampléh duhung ngiréki. hanganggé raja busan[n]a. kranten kang maju yuda. nulya dangdos dalem mangké. Nulya humatur haris. nganggé kuluk sutra wungu. Karo pelariyan Rangin. dalah putra kalih hulun.” Manembah hana hing ngarsa. angandika hing mantrin[n]é. kaya hapa hing rupanya. hénggal matur[r]a baris[s]an. hamajeng hing ngarsa wahu. Sumanggah rayi hatur[r]i.kados pundi yuda[n]nipun. Wangsakerti matur haris. langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang. 61. hingsun hameton[n]i yuda. cakep gagah pideksa. 60. kepalan[n]é hingkang medal. 52 (107. kang pengkuh gegaman[n]ipun. pelariyan sangking wétan?” 59. gawé rusak hing wong hakéh. tinarétés hinten mirah. hénggal tinangkep berandal. “Héh mantri ningsun sadaya. hingkang sugih dipun rayah.

jaya haputra yudan[n]é. sangking panuwun putranta. rama sampun medal mangké. 2. sangking harsan[n]ipun rama. 942) Nulya medal hing Jawi hamapag yuda. balasan siyaga surak kadya hampuwan. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki. kasoran hing yudabrata. “Duh rayi leres putranta. gampil lamun putra sampun. kang putra mundur sing ngarsa.” XIII. kedah dén turut[t]i rinta. bendé tinabuh nitir.“Hanuwun matur deduka. DURMA 1. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang. tak pasrah[h]aken yang sukma. Wangsakerti putranéki. 158 . Jaka Patuwak[k]an mangkin. 65. mangka sampun kapiharsa. hawit putra déréng medal.” 64.” Nulya Patuwakan nembah. hawit déréng majeng mangké. héh kulup sakarsan[n]ira. “Rebut[t]en bala Rangin. hananding Rangin yudanya. Wangsakerti hanyambung[ng]i. badé majeng hing prang pupuh. dalem hangandika harum. 52 (108. hapan sesumbar.

hing putra Patuwakan. Rangin sinépak nuli. manggih tanding hing jurit. 3. “Héh putra lirén[n]a dingin. hujung bedama. haja sira mapag jurit. 6. sapira saktin[n]iréki. musuh lan hingwang. Wangsakerti nama. nulya Rangin nyandak. sarwi pangandikan[n]ya. nulya tanya Ki Rang[ng]in. raméh surak[k]ing baris. Rangin Patuwak[k]an. hanulya mapag Ki Rangin. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda. mapan sami saktin[n]ya. kon mapag yuda[n]ningwang. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda. 4. rama kang mapag. hing Jaka Patuwakan. tiba kasingsal. Mapan raméh surung-sinurung kang yuda. héman maksi(h) tarun[n]i. 159 . Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang. Patuwak[k]an nadahi. tyang kalih hangagem keris. hayun[n]ayun[n]an.” Patuwakan hamangsul[l]i. dalem hangganti mangkin. 5.hanang Rangin prawira.

Setrokusuma hingwang kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in. wong gagah sira prajurit. mungkur[r]a sun talén[n]i. 160 . Rangin hatetan[n]ya. haku kang jaga sira. sahumur hangrusuh[h]i. hanjing berandal babi. 10. buron nagara. 9. hing tembé katemu hiki. kaya bé…patya?” Dalem nulya mangsul[l]i. 52a (109. dalem majung jurit. sukur subagja. harep nangkep hing siréki. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira. 943) 8. saban des[s]a rinayah.yudan[n]é musuh Rangin. sangking Darmayu dingin.” 11. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal. kanggo mangan hanak rabi. “Sapa hanggenten[n]an[n]a. ngaku bagus[s]an. Dalem Darmayu mami. jeneng Wiralodra.” 7. kang dadi berandal. Mapan hingsun masih pernah nak sanak. gawé lan[n]a ting tiyang.

Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda. 161 . pan Setrokusuma. nulya watek kang haji.“Dalem Sunda siréki. hingsun haran ki Serit. bala Pecung kalih Rang[ng]in. mapag jurit hing siréki. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang. 13. raméh tiyang surak. Rangin pan hora gil[l]a.” 12. hantara hatmaja redi. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a. bener mapan sira. Wangsakerti pan hingwang. “Sapa mapag yuda. Wangsakerti ngedal[l]i. hanggon[n]é mapag yuda. coba majuwa. Wangsakerti siréki. surung-sinurung sira. hénggal hangnyandak. haningal[l]i hing siréki. binanting hical Rang[ng]in. hingsun pan hora wedi. mapan pada saktin[n]ya. 15. 14. harep nalén[n]i hingwang. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira. kang wasta tiwik[k]rama. lan sira sapa. ningal[l]i hingkang Gusti. nulya nerajang wan[n]i.

hang[ng]adu bedama. ngadu pucuk[k]ing bedama. Wangsakerti lan ki Serit. 162 . semu sesambat. Rangin ngoncat[t]an[n]a. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma. hibur kathah hing jalmi. Ki Rang[ng]in hasring niba. perang pan mébéding baris. balan[n]é hakéh mati. Nulya campuh perang ngadu bedama. “Héh Serit pan sira. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal.” 17. musna datan karuwan. Bagus Rangin ninggal baris. sami kuwel[l]ing jurit. bala Rangin hangebyaki. hayuh majuwa. hénggal mangjuwa. gumuling han[n]ang hing kisma. ruket pucuk[k]ing keris.” 16. “Héh Serit wedi mati. runcing-rinuncing mangkin. 19. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda. Ki Serit musna. ngungsi hing Krawang. 18. yén héstu sira prajurit. 944) tuwa karo kaki-kaki. Serit pan sring tiba. //pan kaki sami kaki.53 (110. nulya malajeng ngoncat[t]i.

Gintung Patuwak[k]an. kados campur sétan. hi[ng]cal Serit lan Rangin. Kyahi Dalem ngandika haris.20. Ki Serit lan Rangin[n]ya. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra. 53a (111. Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira. dados satunggal. balan[n]é tiyang Rang[ng]in. dén talén[n]ana. Putra matur duka rama hing purugnya. hing ngendi paran[n]éki?” 23. hilang tan kruwan. Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i. 945) 163 . perkara berandal. Grudug Majalaya mangkin. habdi gong saktén[n]ira. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal. Léja sun kirim mangkin. kalih Patuwak[k]an mangkin. “Putra kaliyan kang rayi. Wangsakerti lan dalemnya. 21. pan datan kacandak mangkin. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an. kempel dados sawiji. 24. 22. samya numpes bal[l]a. Rangin bala berandal. gup[p]enur jéndral mangkin. héh kakang Wangsa. suka bungah kang [ng]ati.

hical jero wana. saparan-paran mantri. Rangin Kandar Léja Serit. turun[n]an[n]ira. Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara. kinirim hing Batawi. badé wangsul langkung hajrih. Bagus Léja [nn] ika. kran[n]a buron nagara. nulya malempat. mantri kang sekawan. bebandan mlajeng wanadri. sang Pegadén nagara. hing[ng]iring[ng]aken mantri. Bagus Kandar larih[h]i. 164 . Surakerti Jayamanggala. 28. 27. kang bakta langkung susah. han[n]ang Gustinya. miwah Jayakareti. Langkung susah bebandan hical sadaya. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an. pan sarta hing wétan. silem han[n]ang jaladri. kathah hingkang lén mangkin. sangking turun bagus[s]an. sinebrak rantén[n]iréki. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra.menurut hing préntah. Jigjakarya. Léja lan Kandar. 25. nyabrang hing Citarumnya. 26. rinanté hingkang sekalih.

nagari Darmayu raka. 54 (112. Dén Karta hangandika. pan kakang bakta sadaya. SINOM Mangka lampahnya Dén Karta. “Kakang wangsul léntas[s]a. 3. sadaya karun[n]a wahu. kaliyan Dén Ngelan mangkin.” Ngrangkul wahu kang rayi. duginya hanang nagara. “Hing kadang-kadang[ng]iréki. Dén Karta lan Dén Wel[l]ang. 2. miruda sadayan[n]ipun. karun[n]ang sesambat[t]ipun. muga rayi kahidin kondur kakang. sinten raka kang ngemban[n]i. //hing Darmayu kumpulnéki.pelariyan duk dingin. 946) 165 . toya waspahan dres mijil. sareng rayi mukting riki. XIV. hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal. berandal halarih[h]i. miwah sadaya prajurit. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang. lir sinebrak linolos pulung[ng]ing 1. hatiyati yayi kari. putra pan garwa rayi. Kakang patih mapan séda.” Hangrangkul karun[n]an[n]éki.

kados pun[n]apa kang werni. Membales kumendan pes[s]an. “Duh rayi Dalem hangrinta. hing Gragé kanjeng sinuhun. 7. 4. duging Palimanan mangkin. samya ngiring putra garwa miwah kadang. Radén samya hangrawuh[h]i?” “Kula bade ningal[l]i. nulya lajeng lampah néki. Radén //hingkang dugi. 947) 6.” Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. nulya hatetan[n]ya haris. mengko kakang jaluk hidin. dateng kumpen[n]i pun[n]ika. 166 . duh yayi dén lilan[n]ana. bade kondur sapuniki. mengidul margi lampahnya. miwah Radén Welang wahu. hanang sinuhun Gusti. tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan. papali dadi bopatya.” 5. “Pan bade karsa punapa. “Radén niki kang dijaga. Kartawijaya hakampir. hanang soldat kang hajaga. hingkang dipun jagi wahu. Dumugi hing pintu jaba. sumur tinutup pantes[s]i. haja nangis hari mami.manah. 54 (113.

Radén Karta nyandak sampun. hibur gégér hing prajurit. yén tan wonten hidin Gusti. sinurung medaling jawi. kula tahan sobat mangkin. pun[n]apa hisi niréki. kathah soldat hingkang mati. nulya tinutup bénténgnya. Dén Welang sabdanéki. Radén Welang badé maksa. yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang. ngandika Radén Welang wahu. hing soldat dén balangna. “Sobat permisi puniku. Karana lar[n]ang[ng]an hika. 10. pan bade kahul[l]a buka. 8. hambuka tutumping wes[s]i. pan soldat hanahan sigra. 9.” Sersan mangsul[l]i sabda. ngangseg hing kuthan[n]éki. bala Radén Karta mangkin.” Radén wecan[n]a haris. hanyandak Dén Welang mangkin. pan datan wanton hambeka. héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya. timbalan gupenur mangkin.duka his[s]in[n]é punapa. haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a. tan hun[n]ing hisin[n]é niki. Sadinten gén yudabrata. héh sobat pan maksa hingsun. 167 .

mapan jaluk katangkep[p]é 168 . hanulya hénggal binuka. kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral.54a (114. han[n]ang Palimanan loji. mahén kurang ngajar hiku. nulya wangun serat mangkin. Mangka sampun cahos ngarsa. wis haja sira //temen[n]i. becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal. lajeng cahos Gusti Sultan. Jeng Gusti ngandika haris. soldat hingkang bakta. 948) “Héh sanak prajurit hingwang. mapan srat binakta sampun. Mangkana sersan kumendan. 13. gegancang[ng]an lampah néki. srat sampun katur[r]ing Gusti. 11. sanget getun[n]é hing manah. repot han[n]ang Betawi. Radén sang kakang bujeng wahu sakitan. lampah[h]é berandal wahu. kang[g]é Sultan Cirebon mangkin. Pan lajeng hing lampah[h]ira. “Loh babi Cirebon hanjing.” 12. hical sangking jero buwi. serat binanting tumuli. nulya damel srat hénggal. Sén[n]a Surapersanda. dugi hing Gragé nagari. “Sedaya hatur mangkin.

hakéh soldat pada mati. lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya. dateng Gusti sultan wahu. sarta hangandika wahu. Sampun medal han[n]ang jaba.” 14. hanang nagara Betawi. Kanggo hing Cirebon Sultan. ngandika jeng sultan mangkin. hapan hiki gawanen pan surat hingwang. samakta kaprabon yuda. serat[t]é sampun winaca. “Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat. 55 (115. hing hajid[d]an lan létnan.parusuh[w]an. Radén Karta lan Dén Wel[l]ang. lan gawa malitér mangkin. 169 . tiningkem sratiréki. hingkang ngrasak Palimanan.” 16. nangkep ponggawan[n]éki. kang wisma nihaya mangkin. hanang loji Palimanan. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral. ngempel[l]aken kang prajurit. héh hajid[d]an litnan mangkin. hing Cirebon Sultan wahu. 17. patang puluh kang pipilih[y]an. samakta kaprabot jurit. srat mapan sampun tinampi. serat tinampakna haglis. 949) 15. hénggal[l]é pan sampun prapti.

nurut[t]a pasti yang widi. hora kuwat nagri mami. karo wasiyat mami. ngamuk[k]a hanang Batawi. 55a (116. Hananging yén sultanan[n]a. malah srat sampé sahiki. 19. hametik taling[ng]an[n]éki. Si Kléwang karo Si Dumung. Karta miwah sira Wel[l]ang. 18. malah nagara hingwang. pun kadada sajron[n]ing galih. hing Carebon mapan hiki. pan durung tak bales[s]i. ngukuh[h]i tan jisa hingsun. Tumurun sing palinggih[y]an. wis pinasti hing yang hagung. hing Metaram nagari. Gupenur Jéndral kang neda. handres mijil toya waspa. //Nulya tinampan[n]é hénggal. pan karo sinuhun Gusti. 950) 170 . holiya béla siréku. lan hiki kasung paring[ng]i. nadah[h]i hing yudabrata. sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa. Bésuk tekang Batawiya. pan ti hingsun hangamuk hambral nagara. hangrangkul ponggawa kalih.karana dadi san[n]unggal.” 20. pan dén paksa seja dén jaluk Metaram. pin[n]ariksa ngarsan[n]éki.

mapan ningsun durungna. manjing han[n]ang dalem hagung. “Héh ponggawa Batawiya. “Sumanggah nuwun hidin Gusti. nulya kondur ponggawa binekta hénggal. “Litnan miwah sares[s]an. 171 . dén sampun tutas timbal[l]an. kaya hapa hanggon ningsun sira hutus. 22. Sampun cahos han[n]ang ngarsa. hanulya cahos hing ngarsa. PANGKUR 1. ponggawan[n]ipun sekalih. sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa. Gusti nuwun dén hidin[n]i. datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi. kang dén dakwah saréki. sinelek lampahnéki. nulya matur sersan wahu. Gagancang[ng]an lampahnira. lampah[h]é kang bala hambral. hing Jéndral Gupenur mangkin. hanulya hénggal ngandika hasru. 21.Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta.” Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an. XV. gupenur pamundut néki. tan kawuwus sahaning margi. sampun dugi hing Betawi.

pan berkah Gusti paduka. kuwas[s]a Pulo Jawa. hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami. mapan kul[l]a bade handon lampus hulun. murbéng rat han[n]ang Metaram. 2. kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda. hamengku tanah Jawa. nanging sembran[n]é hing karma. dipun suguhi pepisuh. “Héh Tuwan Gupenur Jéndral. Gupenur Jéndral pan haku. 3. sembran[n]a ratuning hambral. jeneng ponggawa pukulun. 951) 172 .” Karta miwah Radén Welang. dedukan[n]é lir kadya tiyang baring. puniki ponggawin[n]éki. pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun. hapa kowé hora miring hing pangrungu. 5.” Langkung lingsem gupenur jéndral 56 (117. Loh hanjing binatang gil[l]a. Paduka kuwas[s]a hagung. lan duging Batawiyah. 4. hora nganggo tata titi. gumujeng humatur néki. Durung kawula dén priksa. hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi. kalipatul[l]ah pan hadil. ngisén[n]i ratuning hambral.

hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi. perlu hapa kowé (wa)n[n]i. nulya binaris[s]an hagung. nulya ngrasuk manukma.” 9. tan katingal hingkang dipundrél mangkin. //”Hé bangsa Welanda. 6. tapi tan hadil pan[n]ingsun. kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun.sang[ng]ulun. han[n]ang bénténg Palimanan. Kyahi kuwu welas handulu. Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. Nulya dipun bakta medal ….(halun-halun) hing Batawi. Pan peteng kénging sundawa. nulya tyang kalih pinas[s]ang. Nulya jéndral hangandika. 7. “Héh ponggawa haku trima salah hiki. dateng wayah kang sekalih dipun 173 . pan ningsun drél sampé lampus. Sahiki kowé nrimaha. limang los[s]in mriyem néki. hangras[s]a pan kurang titi. 56a (118. 952) 8. sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i. krana kowé melang[g]ar. hanuruti darah panas. wani ngrus[s]ak sampamati saradadu. pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus.

datan terang haningal[l]i. hing Betawi langkung hibur. Kathah resak para hambral. 12. sangka panukma nira. mapan perang kaliyan kanca pribadi.” Hanulya Jéndral Gupenur. musuh kathah wicaksan[n]a. langkung susah balan[n]ipun kathah lampus. hajalira han[n]a hing Betawi mangkin. 11. sekalih ngamuk Welandi. tan nulya pin[n]asang wahu. Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu. “Héh wayah ku sekalih mapan siréku. nulya mendhet senapan[n]ya. kran[n]a pasti bakal pejah. nulya medal kaki kuwu. 13. Baris malitér sadaya. 10. ningal[l]i rusak[k]ing bala. hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun. sing pungkur kang dén harah.hukum. temahan gawé rusak hing nagara. Pinasti hingkang salira. luwih séwu hingkang mati. 174 . mimis hinten jimatnéki. “Loh wong Cirebon hanjing sira. hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i. pan cukup pun bél[l]anana. héwed pan bala habral.

nulya kuwandan[n]é wahu. Kartawijaya hika. hing para bala hambral. sahiki kowé dangdan[n]a. Hanggawa hatelung kapal. Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin. nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun. 57 (119. Hanging gupenur Tuwan. wewengkon kasultan[n]an. haku hora trim[m]a resak[k]é balaku. dén candak kuwandanipun. kénging nulya hangemas[s]i. pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin. 16. dumugi pejah[h]ing siti.” 14. bala soldat malitér hingkang pinilih. mundur malitér kang baris. Dén Karta haningal wahu. 15. Wasiyat keris pan musna. nulya mburu dén[n]ing . hanulya ngandikan[n]ipun. gupenur hamasang sigra. sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi.k hambral[l]é wahu. musna hical kuwandan[n]ya. samakta kaprabon jurit. nagri Cirebon hingsun jaluk.. 953) 175 . 17. kanggo ganti resak[k]é pan bala haku.katerangan bakar pis[s]an. “Hangajid[d]an sares[s]an.

nulya humatur gupenur. sedaya sabil hing jurit.péndék haku hora trima. Panjunan cahos hing ngarsa. nulya maréntah baris[s]an. Sareng hambral ningal[l]an[n]a. lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i. Mertasinga para pangéran[n]é rawuh. 57a (120. 20. wangun pesang[g]rahan mangkin. Raméh hanggén ning yudabrata. Pangéran Surya Kusuma. kacrebon[n]an siyaga. wong Cirebon hanglawan. 21. nén majeng hanempuh jurit. Martakusum[m]a. Radén Pekik miwah Dul. ponggawan[n]é ngresak mami. Samya gégér tiyang kathah. mapan sultan sampun hamiyarsa warti. 954) 176 . hanulya siyagi wahu. sampun mentas hing darat[t]an. 19. bala pangéran hambaris. pangéran maju hing pupuh. bala hambral kaliyan Cirebon mangkin. litnan kornél seres[s]an nulya baris. sanget gupenur jéndral handulu. mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh.” 18. sarta Pangéran Logawa. baris lahut baris darat. hantawis sapitung ngéwu. Sares[s]an hajidan medal.

Sanget dukan[n]é jeng sultan. hang[ng]ungsi sinuhun Gusti. sampun dugi negara. “Héh kadang kul[l]a jéndral. nulya mentas pelabuwan. sultan nulya ngandika rum. sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu. mapan ngulug hing Carbon negari. kén ngembel[l]aken bala. hing margi sampun kapungkur. humatur Gupenur Jéndral.22. Sareng pethuk kalih sultan. Natabumi Buminata. sing Metaram handugén[n]i. Samya burbar bala hambral. tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti. hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun. sampé silem darat[w]an. Kanjeng Pangéran Natabumi. Jeng Pangéran Purobaya. 177 . mapan nengah kapal[l]ipun. hatur pan sedayan[n]éki. 26. samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun. pan kagét sultan tumingal. Metaram Broboya mangkin. 24. 25. wonten napa sampéyan karun[n]a wahu. numpak kapal babar layar hing jaladri. hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin. 23. nulya mréntah hing tumeng[g]ung. Sadaya samiya budal.

sarta kaparing[ng]an tanah. ngemban timbal[l]an sanghulun.58 (121. hantuk dawuh Gusti sangking Metawis. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a. kanggé kadang-kadang Gusti. dawuhipun Gusti sinuhun Metawis. mapan habdi siyagi hing perang pupuh. 30. mung[g]uh negri paduka. “Bagéya kadang kul[l]a. sagending bala paduka.” “Habdi matur kang sayekti. pan pinundut sedaya dateng sanghulun. 29. mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu. bulu bektin[n]é punika. hantara ngandikan[n]éki. maksih jeneng sultan Gusti. nameng Gusti kalanggeng[ng]an. tampin[n]ipun saban santun. sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis. 955) lajeng ngandika prabu. “Duh kadang-kadang kahul[l]a. Sarta pansiyun paduka. sing Metaram sedaya kang samya//rawuh kados hangemban sukarya. 178 . Gegancang[ng]an cahos ngarsa. tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti. habdi hanglados[s]i wahu. 28. kran[n]a negari kul[l]a. 27. sultan tan bis[s]a ngandika. tan hangkat kul[l]a pan katur.

sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur. 2. 31. sampun katur hing sanghulun. hanimbal[l]i Wiralodra. hing Gupenur Cirebon nagari. Lajeng gupenur hatampi. “Yén makat[t]en Gusti kul[l]a. gupenur kalih sultan. pan sangking dawuh paduka. hing Cirebon masrah[h]aken negari. Lampahnya budal sadaya. perkawis nagri Cirebon. Pangéran Probaya matur. 956) //XVI. badé katur hing Jeng Gusti.” 32. nulya sami pamit kondur. pasrah[h]é hingkang nagara. Sareng dawuhipun sultan. mugiya dén hatur[r]en[n]a. KASMARAN 1. handérék karsan[n]ing Gusti.mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun. kondur han[n]ang Metaram kang negari. 58a (122. nuwun hidin bade kondur Gusti hulun. sesampun[n]é sesiniyan. nulya sukan nampéken[n]a. 179 . pasrah[h]é Sinuhun Sultan. wangsul han[n]ang Batapiya. Sampun rawuh hing Betawi.

Gunggung sadayaning duwit. sedayan[n]é kul[l]a hétung. hawit datan gadah wahu. 4. Hamengku hing Pulo Jawi. kumeduh rayi habayar. mugi dén jurung Yang Ngagung. nulya hangandika jéndral. hénggal cahos hing ngarsa. tigang das[s]a rupiyah[h]é. sawelas nambang kang harta. hing rekoning dedahar[r]an. ngarabbi hing kamulyan. kanggé hangrangsom soldat. dugi hanak putu Tuwan. 5. dipun jagi hing Yang Manon. 3. sangking sih pitulung Tuwan. Lan kakang ngatur[r]i huning. kabendan hantuk kamulyan. “Slamet dateng Dalem rayi. muga lulus[s]a hamurba. sampun rawuh Batawiya.” Dalem datan wecan[n]a. sangking panjunjung rinta. sanget hanuhun Yang Hagung. miwah sakéhéng pekakas. 180 . hanangkep berandal mangké. mung[g]uh sangking perbantuwan. hanak putu sareng mulya. 6. kasuwun sarébu mangké.hing Darmayu negarin[n]é. ya trimakasih harinta. dateng paduka gupenur.

héstu habdi datan duwé. dugi han[n]ang dalem[m]ipun. nameng katur sedaya. hapa hingkang biyasa. nulya dugi negaran[n]é. 957) 8. 11. Hanulya humatur haris. 1610. pinapag hing ponggawa.” 59 (123. harta hingkang nenambang[ng]an. punapa karsa paduka. tanah habdi hing Darmayu. mung dalem nékina hiku. pan wangsul han[n]ang negari.harta hingkang nenambang[ng]an. Tuwan Gupenur Jéndral. 7. hing Darmayu pan negara. kadang putra taken warta. “Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a. babar layar hing bahita. nameng dalem tetep bahé. 10. hanang surat tanda tang[ng]an. salesih tanah tan darbé. //Gupenur ngandika haris. Nulya Dalem ngandika ris. hanglungguh hing kadalem[m]an. hing Tuwan Jéndral punika. 181 . Nulya dalem néken mangkin. mapan tanah gaduh hingwang. “Duh Paduka jeng[ng] Atuwan. nulya pamit dalem wahu.” 9. hing Darmayu kagungannya.

Pambajeng Radén Marngali. Dalem mapan sampun lami. hingkang gumanti putran[n]é. hingkang kantun Radén Brestal. pan kadang putra karun[n]a. 60 (124. hing hanak putu sedaya. hing Tuwan Jéndral Betawi. lungguh dadi dalem wahu. Hanjani wuragil[l]ipun. dalah dumugi hing ngajal. pan negara dipun rampas. nulya Nyi Wiradibrata. wis karsan[n]é hing Yang Manon. 12. hanulya sesunu wahu. pitu tunggal hingkang putra. hora robah biyas[s]a.“Hah kadang pan putra ningwang. Bagus Kalis Bagus Yogya. 13. 958) 182 . nami[n]nipun dalem wahu. nanging dalem pan samangké. hangrerampog panggotan[n]é. 15. pan datan lang[g]eng ring bénjang. miwah Nyayu Lotam[m]a. Nyayu Hempuh katigan[n]é. pan kanggé hongkos[s]i perang. 14. hingkang gadah rinampog[g]an. maksih kateteppan nya nama. gadah mertuwa durjan[n]a. langkung susah hing kawul[l]a. Wiralodra peparab. Nulya dalem kénging sakit. Nyayu Pungsi sekawan[n]ya.

mélu néken kakang mangké. dipun rakrak sedan[n]am[m]an. konjuk Presidén Tuwan. dén kumpul[l]aken pan wahu. 16. tiyang dados dalem nika. hing Cirebon pan negara. 18. pan satingkah polah hipun. 20. Cécég kathah barangnéki. bener yén mangkon[n]o rinta. 183 . “Duh kakang Mlayakusum[m]a. Tan héman kawul[l]anéki. sanget wel[l]as hing kawul[l]a. dén hunjuk lebet[t]ing surat. rawuh hing Darmayu mangké. punapa rempug jeng kakang. Nulya kakirimna haglis. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin. hingkang dén rampog durjana.” 19. Patih Singtrun[n]a mangké. pan humatur hingkang raka.Patih Singtrun[n]a wahu. Tan menda saban bengi. 17. pan durjan[n]a hangrerayah. rayi bade ngrekos[s]a. kados pundi lampah[h]ipun. hing Tuwan Presidén wahu. rerampog[g]an perayahan. datan dén pradul[l]i mangké. tinangkep hingkang barang. hantawis dinten Jeng Tuwan. nulya damel serat hénggal.

Mas Malaya Kusuma[nnya]. Wiradibrata pan wahu. dén hangkat dadi ranggah. Dalem Disowak namin[n]é. Tunggu putus[s]an negari sareng dugi kang putus[s]an. samya hajri(h) ningal[l]in[n]a. para durjan[n]a sekabéh. hing kawicaksan[n]anya. pan jeneng kalékturipun. dén hangkat dadi wedan[n]a. Jatibarang hing distrik[k]é. datan[n]an[n]a perkaran[n]é. jeneng jaksa hingkang nama. sanget susah manah hipun. durjan[n]a kathah kacandak. 23. nulya dalem kikirimna. 24. gupernemén hang kagung[ng]an. Darmayu hingkang nagara 184 . hing Cirebon nagara. 22. tan[n]ana sakéng durjan[n]a.kang dén haku déning tiyang. Wedan[n]a hangrangkep patih. Singatrun[n]a Dalem patih. 959) 21. han[n]ang Darmayu nagara. Langkung gemah pan negari. hantuk pangkat punika. 60a (125. wedan[n]a miwah kaléktur. cécég salebet dén rekés. hingkang rayi hirén[n]ya. dipuntahan tigang wulan.

Radén Rang[g]ah putranéki. wuragil Bratasuwita. Pambajeng Patimah mangkin. sedaya pan putranipun. pan Radén Wiramadengda. 960) 185 . kagungan putra tiga (?). pan sanunggal hingkang putra. 28. pan kagung[ng]an putra wahu. wuragil Nyahi Jumin[n]ah. hiku nipun Ratu Hatma. Kaléktor putraniréki. hanulya Nyayu Julék[k]a. Brataleksan[n]a kakung[ng]é. Radén Mardu harinta. jumeneng pangkat sedaya. mapan gangsal hingkang putra. wuragil Radén Madada. Nyahi Junéd héstri wahu. pambajeng jeneng putran[n]é. //pambajeng Biskal puniku. Mas Demang Bratasentan[n]a.Patih Singatrun[n]anya. Radén Kartawijayéki. 25. hingkang héstri Nyahi Muda. 61 (126. 27. miwah Sudirah nama. 26. kathah[h]ipun gangsal nunggal. kawan nunggal hingkang putra. Radén Karta Kusuman[n]é. Cirebon Prayawigun[n]a. Hardiwijaya hasistén. Nyi Sumbaga putranipun.

dé Marngali puniku. Kyahi jaksa sampun séda. 33. hinggih punika kang tigan[n]é. hulu-hulu hingkang pangkat. 30. Kang Rayi pan mangundriya. Nyayu Jeni kuwu héman. Nyayu Sungsi lakin[n]éki. han[n]ang Sindang Kademang[ng]an. 186 . kang gumanti kang putra. hanglenggah[h]i demang wahu. Tuwan Pri jeneng[ng]é. Demang Bangaduwa mangké. nurun[n]aken putra wahu. distrik Paséban naminé. Muhada pan tukang timbang. pambajeng Kertahudaka. Wiradaksan[n]a demang. Kertahatmaja wuragil. 31. 32. hanang Darmayu kota. Kertahudara pun[n]iku. Balu…Kalid hingkang nama. Kertadipran[n]a hingkang nama. hupas bom hingkang pangkat. mlaya haja dadi demang. Mas Demang Lobener mangkin. 1813.29. peparab Wirakusum[m]a. Hingkang rayi putra héstri. Darmayu pan dipun hérpa. Dadi demang pangkatnéki. hing Lobener kademangan.

Bagus Yogya jeneng[ng]ipun. Hanjani lakin[n]é mangké. Tumenggung Bagelén peputra nami 1. 61a (128. Darmayu sabrang kulon. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 2. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 187 . peparab Kertawil[l]as[s]a. Hé…Subrata nama.hing Palumbon duk dingin[n]é. hulu-hulu hingkang pangkat. Ngabéhi Wiraseca ngabébre peputra nami Kartawangsa Tumenggung Metaram. satunggal[l]é lakinya. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 4. Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki. Haran Jaka Kuwat. jumeneng pangkat wahu. Radén Lowan[n]a. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén 3.961) Hasal-Husul Wiralodra Sangking dalem kang damel nagari. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Wirajatmika nama. Peputra nami Wiraseca. 34. Trus peputra nami. lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. dadi demang Luwungmalang. Sampé hanak putu Kyahi Belara Kyahi Belara peputra nami. Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a. dadi mantri pangkatnya.

Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é 3. Kakung Radén Sutamerta 2. 962) 1. Kakung Radén Driyantaka 188 . Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu.5. Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca peputra 1. 1 ngelandrah ngolé… kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan sabrang kulon Kali Cimanuk. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata 4. Radén Wiraseca 3. Radén Wirakusuma 4. Héstri Nyayu Wangsanegara 2. Radén Kumbabocor 3. Lan katemu klawa Nyi Darma. Radén Jaka Kuwat 2. Kakung Radén Tanujiwa Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Radén Wirapati 2. Radén Singalodraka Radén Singalodraka peputra 1. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra 1. dadi nagara diharan[n]i Darmayu Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk. // sawis[s]é lawas Wiralodra no. Héstri Nyayu Wangsayuda 3. Trus se… Nyi Darma kalih. 1 waktu hiki … Bagelén 4. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128. Kakung Radén Tanujaya 5.

Héstri Hajeng Wilastro 12. Héstri Hajeng Patranaya Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Lahut 2. Héstri Hajeng Sutamerta 8. 4 4. Héstri Hajeng Nay Wangsa 9. Héstri Hajeng Raksawinata Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Sumedi kangganti dalem 4. Kakung Radén Timur 3. Héstri Hajeng Raksawiwangsa 7. Kakung Radén Wiratmaja 6. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13 1. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a 13. 3 Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami 1. Héstri Hajeng Singawijaya 4. Kakung Radén Benggal[l]a 2. Héstri Hajeng Hadiwangsa 11. Kakung Radén Ganar 189 . Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a 10. 2 2. Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar 3. Kakung Radén Kowi 2. Kakung Radén Wirantaka 5. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami 1.Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra pangkat dalem no.

Héstri Hajeng Parwawinata Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya Héstri Hajeng Nahiyasta Héstri Hajeng Gembrak //Héstri Hajeng Tayub 62a (129.3. Kakung Radén Suryabrata 3. nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Kerstal Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang 2. 7. Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener 7. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami 1. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 1. 5. Kakung Radén Suryapati 2. 963) Héstri Hajeng Moka sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén Benggal[l]i. Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu 6. 6. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 4. Kakung Radén Suryawijaya 4. 6 6. 5 5. Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a 8. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah 7. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan 5. 7. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah 3. 8. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é nami 1. 190 . 4.

Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4 1. Radén Perdata Wirahastabrata 2. Radén Prawirakusuma (Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4 1. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener 2. Radén Madi Wirasomantri 2. Héstri Nyayu Wiradibrata wékling 4. Héstri Nyayu Wiradiwangsa 2. (Radén) Wirahatmaja 3. Radén Wirasaputra dadi demang 2. Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber 3. Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3 1. Radén Sumarga Wirasudirga 191 .9. Radén Wiramadengda héstri Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang peputra 2 1. 3. 2. 4. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2 1. (Hés)tri Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2 1.

192 . sudah …langka. Kartadipranna. …hilang …. 3. …rusak. terus-menerus hingga putra ….4 Terjemahan I. besok (sampai) akhir. … dari mantri Haris. 4. sedang senang hati saya. supaya …. jam dua malam … waktunya …sebulan. supaya sama-sama mengetahui. bermula ….3. Alasan saya menulis. anak cucu Wiralodra. ada di Indramayu…. (untuk) membuka bagian …. Ki Wiralodra …. … dikarang nyanyian. Tiada lain (cerita) ini dikarang. pada tanggal sepuluh. dari sejarah kuna. SINOM 1. 2. …saya menulis.alur (cerita). pada malam Jum’at legi sedang senang hati saya. serta sanak saudara …. turun-temurun [ini] anak …. tahun seribu sembilan ratus. buku sejarah bupati.

…sejarah dahulu. Panembahan Kiai Belara.. Wirasecapa mempunyai (anak). …tumenggung. lalu . (bernama) Kartadiwangsa. laki-laki … putra Raja Pajajaran. 5. berputra lagi.. Lalu saya..mengantikan. …Pringgandipura. Larakelar asalnya. 8. melihat sejarah. Tumenggung Gagak Pernala. berputra Ngabehi Wirasecapa. pemakaman pun dilihat. 193 . … … ia memiliki anak. keturunan Wiralodra. tumenggung Mataram. …sedih (melihat) rusak kuburan. …pernah datang (ke Majapahit). 7. (berputra) empat orang. mempunyai anak …. Rangga Bagelen . minggu saya bepergian. memaksakan saya mencari. tumenggung dari Mataram. 6. Itu nama lainnya... (Kang)Jeng Pangeran Hadi…. .

tidur di tempat tinggalnya.. tiga tahun lamanya. (Tidak) tidur serta makan. Tanujiwa bungsunya di Bagelen keratonnya Wiralodra karena sangat sedih (ia) sering bertapa. 9. oleh Gagak Wirakusuma berputra lagi Gagak Singalodra …. di dalam supaya menjadi satu. . meminta kepada yang kuasa.diganti para bupati. sareat serta hakekat.. Tinggal … di gunung.Bagelen…. telah menghilang wujudnya. oleh Gagak Wirahandaka.. asal negrinya Karangjati. hakekat dan marifat. …negara. 11. Yang sulung Wangsanagara. selalu yang terlihat melihat wujud tunggal . [ia] berputra…. 194 . tempatnya sepi sekali. Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan Wiralodra ketiganya Tanujaya adiknya. 10. karena Raden Gagak Kumitir. putra dari …. Dari Banyuhurip Kedu …..

Wiralodra. suara yang terdengar. tanda diterima oleh Yang Agung. karena akan menjadi … untuk keturunanmu. …tuamu. hingga tujuh keturunan. (Su)kma Yang Agung. bila ingin mulia dirimu. Pindahlah ke barat. Pada malam Jum’at. ke hutan Cimanuk. …terang-benderang. terang seperti bintang. hutan besar itu nyawa. …. II. lalu cepat bangun . Wiralodra.…cahya yang bening. KINANTI 1. terbangun memakai …. semoga akhirnya mulia. 12. 195 . 2. serta terlihat di timur. cahaya… tapa. yaitu cahaya bola api. … bukalah hutan ini. turunannya semoga mendapatkan kemulyaan. memohon kepada Yang Sukma. melihat (cahaya) di atas langit. menghilang di tempat terang. 3.. lalu … kinanti tembangnya.

sama-sama … ayahnya. 4. lalu melanjutkan perjalanannya. 7. karena (sudah) kehendakNya. di mana tempatnya ini. 6. (air mata) ke luar deras (dan) menangis. Menuju arah selatan kaki gunung. karena belum …. 8. anakku mari …. memasuki hutan. dipeluk serta ditangisi. …tiba di air besar 5. Ki Tinggil . dari hadapan ayah serta ibunya. … kepada ayahmu. sehingga sampai di sebuah sungai. putranya mencium kaki ayahnya. anakku …. serta bangkit … Sudah diizinkan pergi. 196 . Sungai besar [di] Citarum. berada di hutan belantara. bersama penakawan. sama-sama keluar air mata. … bercerita. Saya serahkan kepada Yang Agung. ia duduk di pinggir kali. pertolongan Yang Maha Widi. lupa tidur serta makan. mendapat pertolongan. di Sungai Cimanuk tempatnya. Lamanya tiga tahun.

serta … ada seorang kakek datang. berbicara lemah lembut. …. bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa. 9. Lalu di(tarik) dipeluk. Buyut Sidum orang dulu. (saya) minta perolongan kakek. atau kebun orang.lalu berbicara perlahan. 197 . dan [ini] Tuanku. saya akan mendapat berita. 10. 12. Raden Wiralodra melihat. “Duh saya bahagia sekali. 13. banyak jembatan di sini. sabar Tuanku …. berkata Kiai Tinggil. yang bernama Kiai Tinggil. serta sama-sama duduk. Setelah Bendara (Wiralodra). sungai (ini) sangat besar. ada kakek-kakek datang. dari orang tua ini. 11. bersalaman dengan kedua tangan. kepada pelayannya. Paman saya merasa bingung. Saya kira ada perkampungan. istirahat menyenangkan pikiran. aduh kakang tolonglah saya. yang seperti lelaki tua. sangat gembira (hatinya).

15. “Duh Paman Kiai Tinggil. 16. dari negeri Bagelen. terkejut [tadi] melihatnya. “Duh cucuku yang kusayangi. Sambil terbata-bata (dan) perlahan. di mana kali Cimanuk. di manakah kakek tua?” Ki Tinggil berkata perlahan. Telah lama perjalanan saya.14. saya ingin mendapat berita. 17. atau negaranya. Raden Wiralodra dongkol. ia keburu menghilang. …sungai Citarum. serta dari mana asalnya. Lalu menghilang orang tua itu. sudah harus kembali… menelusuri pesisir. gugup ia menjawab. Lalu berbicara manis. belum menanyakan namanya. 18. semoga kakek dapat menolong. …berbicara. belum ditanyakan namanya. mengatakan jalan ini. … berada di sebelah timur. Kyahi Dum berbicara manis. 198 . tiga (tahun) perjalanannya. kamu…ku. yang merupakan bagian dari Karawang. 19.

Inilah sebabnya. pertolongan Yang Maha Kuasa. “Duh paman Tinggil . saya ingin tidur-tiduran. maka cepat-cepat. saya lalu berangkat. (air ini) sangat (bagus) dan bening. terdapat air mengalir. 21. serta sampai di Pasir Ucing. tidak tidur serta makan. 24. di sebelah hulu (sungai) ini. 199 . lekas mendapat pertolongan. jika (tuan) hendak mandi. Lalu tidur Kiai Tinggil. lihatlah air ini. istirahat di hutan ini. sejuk tertiup angin semilir. Paduka. Lamanya hingga dua minggu. hutan (tempat) datang Ki Tinggil. 20. 22. lalu segera berjalan.” Kiai Tinggil berkata. 23. melihat matahari terbit. meneruskan perjalanan besok. berjalan siang dan malam. nanti (setelah) istirahat (kita) mandi. ke timur dan utara jalannya. [sumber] (air) keluar dari sumur. Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan. Menelusuri hutan rimba.tapi saya gembira Tuanku.

kelak bakal menurunkan. Wirasetra. Lalu berangkat Wiralodra.” Adapun nama kanda. 29. sambil keduanya bersalaman.terdapat air di tengah hutan. Lalu bertemu orang (yang menanam) padi. Kanda berasal dari timur. menuju arah utara perjalanannya. “Duh Kanda Tuanku. 27. berasal dari (daerah) timur. 26. 28. Banyuhurip saudara sepupu(ku). ke pondokannya. Menangis sambil memeluk. Dalem Pegaden. Dinda siapakah namamu. serta hendak pergi ke mana. “Duh gembira sekali dinda. (sedang) mencari kali Cimanuk. Wiralodra namaku. Wirasetra namanya. dan siapakah nama kanda. 200 . Kiai Wiralodra bertanya. membuat kampung di hutan. bertemu dengan kanda. berasal dari Bagelen. dengan kanda baru bertemu. 25. serta aslinya dari mana?” Wiralodra nama dinda. Dipati Wirakusuma” Lalu dibawa pulang.

“Duh Tuan baru (sekarang) saya. hanya dedaunan. tersenggol oleh … maka (akan) lama di sini.” Kiayi Wirasetra menyambung ucapan (dengan) manis. bila berjalan terseok-seok. “Ya paman sudah bahagia. 31. serta rejekimu paman. mendengar ucapan Tinggil. sampai besar daging saya daging saya banyak (yang) hilang. …perut buncit. (saya) mau mengistirahatkan badan. 33. yang saya makan. Menginginkan …dari…. Kiai (Tinggil) berkata. 34. lama tinggal di sini. saya sering jatuh bangun. 30. bisa makan dengan kenyang. bertemu dengan saudaraku. selama ini tidak (ada) makanan. Keduanya sama tertawa. makan bersama-sama. tetangga sama makanannya. makan dengan ikan. 32. Aduh Tuanku saya memohon. kaki tangan kecil-kecil. 201 . sama-sama gembira.disuguhi makan. (sudah lama) tidak makan.

dinda berterima kasih. serta berkata dengan perlahan. 37. Sangat gembira diriku. “ Tuan saya meminta daging saya bertambah lagi. 38.” Ki Wirasetra terbahak. “Hai Tinggil saya doakan. setelah sebulan lamanya. Serta dijaga oleh Yang Agung.” Raden Wiralodra tadi. Di manakah tempatnya.” Berkata Kiai Tinggil. letak Sungai Cimanuk menurut wangsit?” Wirasetra berkata perlahan. sudah saya rasakan. Lalu (keduanya) bersalaman. bertemu di tengah hutan (dengan)ku. mau berangkat hari ini. “Duh kanda. lalu ia berkata kepada kakaknya.“Duh kebahagiaan paman. bertemu dengan saudara. semoga saya diijinkan. 36. karena saya bertamu di sini. saya mengiringi dengan doa. makan dua kali sehari. semoga cepat ditemukan. Melimpah … 35. 39. 202 . Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah. tertawa saking gembira. “Duh saya bahagia Tuan.

lalu menemukan sungai.” 40. Kiai Sedum merasa kuatir. keinginan tuanmu. masih di hutan belantara. 42. tidak ada perkampungan. “Duh paman Tinggil .kamu segera menemukan.” Lalu keduanya berjalan. Ubi emas serta jagung. tanamannya macam-macam. di pinggir (kali) ini. 44. mentimun serta lobak. tapi saya masih takut. (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan. dua bulan lamanya. melihat tempat (mereka) berdua. Keduanya berangkat menuju arah timur …. 43. 41. terlihat sangat bagus. “Duh Tuan mudah-mudahan betul. gampang nanti mampir lagi. saya kira ini sungai Cimanuk. padi gajih sangat putih. sangat senang melihat(nya). untuk meyakinkannya. Kemudian Kiai mencipta kebun palawija luas. terung serta cabai dan kecipir. (Ia) gembira sekali. Ki Tinggil berkata perlahan. menelusuri pinggir kali. 203 .

48. apakah akan merampokku. “Mau apa kamu. 46. untuk (membuat perangkap ikan. melihat kebun. hendak bertanya pemilik kebun yang begitu indah ini. Raden Wiralodra melihat. duduk (sambil) meraut bambu. kanan kiri bunga mandakaki. Di pinggir kali (letak) pondokannya. Lalu menengokkan kepala. Tinggil melihat dari sebelah timur. baru tiba (sudah) bertanya-tanya. 204 . Wiralodra berbicara.kebun palawija luas. Semua tanaman di kebun subur. di (sebelah) timur seperti ini (juga). Lalu berkata lirih. 45. semoga mau memaafkan. di dalam rumah ada orang duduk. Ki Sedum duduk dalam rumah. 49. dikelilingi bunga seruni. dari manakah kamu ini. “Kiai saya memohon. 47. serta sungai apa namanya ini Kiayi?” Ia menjawab membentak. kebun bagus tidak ada (duanya). tongkeng terjurai di gerbang. “Duh Tinggil gembira diriku. sedap malam berhadapan.

” Berkata Kiai Tinggil. Namaku yang dipanggil. harus dimaklum Tuan. “Betul sekali Tuanku. 50. Kiai Wiralodra kesal. Lalu perlahan-lahan dihampiri. karena saya barusan melihat sungai. (Ia lalu berkata) “Kasar sekali kamu Kakak. 54.kamu datang ke pondokku. bagaimana kalau saya ikut berkebun?” temannya berkata. 52. tentu karena orang kampung Tuan. semoga saya ditempatkan Kiai. “Duh Kiai tolonglah saya. tidak punya tatakrama. mau apa kamu bertanya. 53. saya baru pertama melihat. jauh dari negeri Bagelen.” Petani yang berubah wujud. Inikah Sungai Cimanuk. sesungguhnya saya Kiai . kasihanilah saya. Ini kan sungai Cimanuk. aku pemilik kebun ini. saya ikut kepada tuan. Tetapi wataknya begitu. apalagi orang (yang tinggal di) hutan. tidak lain saya mencari Sungai Cimanuk. tidak takut sambil duduk. 51. 205 . saya bertanya malah dibentak.

58. walang kerik menuduhku. 57. Tempatnya di kebun tadi. (lalu) saling mendorong keduanya. apakah harus dipaksa memberi. sambil berkata dengan suara keras.” Raden Wiralodra marah.55. masalah kebun anda. Lalu berpindah kakek itu. aku tidak akan menolong. raut muka seperti api. karena aku banyak rakyat. lalu kebunku. 206 . lebih keras berbicara. kamu betul-betul berandal. kakek … bertani. Mulanya hutan diminta. “Hai kamu orang apa. menubruk orang tua itu. 56. memalukan kamu orang kampung. didekatinya orang tua itu. melihat kamu ini.” Raden Wiralodra . Kiai yang menyamar berkata. jangan harap aku menolong. 60. tidak suka aku melihat. cepatlah kamu mati. tidak bisa diajak berbicara lembut. berdiri (lalu) duduk di kursi. 59. tidak bisa diajak berunding! Saya kan sudah meminta. karena aku tidak silau.

Cipunegara sungainya. 62. “Hai Wiralodra cucuku. 207 . tapi ada (suara) terdengar … 61.” Keduanya sudah menyebrangi. menghilang menjadi hutan. Sungai Cipunegara. cepat buru kijang itu. Lalu memasuki (hutan) lebat . 63. apabila menemukan. bertapalah jangan tidur pasti kamu menjadi kaya. kelak (tempat) ini jadi desa. matahari sudah terlihat. Buyut Sidum namaku. berbelok. dibanting lalu menghilang.mengadu kesaktian. lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut). jika kamu tidak tahu aku. ini bukan Sungai Cimanuk. kijang mas yang matanya intan. 65. ingatlah nasihatku. sudah dipastikan kehendakku. itulah Sungai Cimanuk kelak bila kamu membuka (hutan). Pamanukan (nama) kampungku. 64. cepat kamu menyeberang. Di mana menghilang (kijang tersebut). jika pagi tentu (terbit) di timur. jika sore terbenam di barat. berjalan dengan cepat.

Ki Tinggil mengambil pemukul. SINOM 208 . Lalu ia menemukan ular tadi. melihat sungai besar sekali. sekarang aku ingin bertanya. Raden Wiralodra heran. Raden Wiralodra. lalu macan menghilang. 66. menghalangi jalan.. 67.melihat macan besar. . III. kemudian dilepaskan oleh Raden Wiralodra sungai menghilang tanpa bekas muncul perempuan cantik masih begitu muda. Dipukul(nya) kepala ular. macan apa namanya ini?” Macan menggeram di depan(nya). Hilang ular jadi sungai. Lalu ular mengejar. lalu menubruk Raden Wiralodra menghindar. Terkejut Kiai Tinggil. (Karena) ada macan besar. 69. muncul ular besar sekali.” Lalu berkata lirih. “Duh tolong Tuanku di mana aku bersembunyi. “Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini. 68. Macan lalu ditempeleng.

1.

(Menghampiri) kepada Raden Wiralodra minta dikasihani. “Duh Raden Bagus tuan Orang yang tampan bertemu di sini, di dalam hutan. Aduh saya kasihan sekali, hendak mencari apa, serta apa yang dituju? [Silahkan] Raden terimalah salamku. Kan saya masih gadis, belum pernah bersuami, Larawana namaku, akan mengikuti, apa yang diinginkan Tuan, saya sanggup menolong, kekayaan kejayaan, asal saya dinikahi, [silahkan] Raden turutilah kesediaanku.” Ki Tinggil maju ke depan, sambil berkata lirih “Duh Tuanku ingatlah, ini di tengah hutan.” Wiralodra berkata perlahan, “Saya tidak takut paman, sebentar akan saya periksa pintar sekali berbicaranya, maaf saya hendak balik bertanya. “Anda ada di hutan, tidak pantas seorang perempuan, berada di tengah hutan, mengaku gadis belum bersuami, kan saya tidak percaya, tadi (minta) aku nikahi,

2.

3.

4.

209

meskipun (kamu) wanita cantik, tidak akan mau (diajak) menikah, sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.” 5. “Menjawab Nyi Larawana, … bagus, … menanti hasil kemuliaan, cepatlah jadi kakek-kakek, gigi ompong pipi kempot, kuping tuli pinggang bungkuk, sekarng saya meminta, jika kamu tidak menurut, pasti mati berdua bersamamu, Menghalangi di depan, Raden menghindar ke kanan (dan) kiri, lalu menangkap Larawana, Wiralodra menghampiri, lalu disingkirkan, (jatuh) tertelentang lalu menubruk, Ki Wiralodra menubruk, dikejar lalu bertarung, mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta. Wiralodra waspada, tidak kena aku, lebih baik aku mati, jika tidak bersatu, kemudian saling menangkap, (sambil) menuju arah timur. Wiralodra waspada, senjatanya berupa rantai, tidak ada orang setampan kamu. Lalu menggunakan senjata, Wiralodra menahannya.

6.

7.

8.

210

senjata rantai mengenai, tetapi tidak menyerah, makin susah melihatnya, ….. karena orang tampan, heran sekali Wiralodra, orang tampan … .sakti, silahkan Raden anda membalas kepadaku. 9. Lalu Raden Wiralodra, tangannya memegang cakra, Ki Tinggil cepat mendekati, “Duh Raden hati-hatilah, kira-kira Tuan kalah, karena …, lalu Den Wiracabra menanti, Nyi Larawana menadahi, terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas. Lalu Raden melihat(nya), badannya berkilau, tidak salah kijang mas. Lalu berkata perlahan, “Paman Kiai Tinggil, paman lihatlah dengan teliti, itu kan kijang mas ayo paman jangan tertinggal, aku kejar kemana arah (larinya) kijang. Keduanya lalu memburu kijang, dicegat (di) kanan dan kiri, dicoba ditangkap (tapi) tidak kena, jika jauh kijang menunggu, sehingga sudah jauh perjalanannya, kijang berlari ke arah timur, kedua orang itu tidak melihat(nya), terus mengikuti kijang,

10.

11.

211

siang malam memburu kijang mas. 12. Lalu berjalan sampai di, …………. tinggi, kijang mas menghilang, terlihat alur sungai, airnya deras mengalir, yaitu Sungai Cimanuk, lalu istirahat di bawah. lalu keduanya melihat di bawah, menuju pohon kiara besar, lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara. Terdengar (seperti) dalam mimpi, “Nak, ini kan Sungai Cimanuk yang dicari, berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua, sampai keturunanmu, (sudah) kehendak Yang Maha Agung memperoleh kemuliaan, sudah diterima oleh Yang Widi.” Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra. Sangat gembira hatinya, dalam mimpinya yang terdengar, nampak nyata memberi kabar. Raden Wiralodra, berkata kepada paman Tinggil, “Duh paman bahagia diriku, saya tidur pada hari ini, bermimpi (ada yang) memberitahu, ternyata inilah Sungai Cimanuk . Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.” Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh Tuanku jika demikian,

13.

14.

15.

212

bagaimana kehendak tuan untuk tempat tinggal saya?” Raden Wiralodra lalu mencari lokasi, mencari (di) pinggir kali, menemukan tempat yang luas dan datar. 16. Lalu membuat pondokan, Ki Tinggil yang membuatnya, lalu membersihkan badan, kemudian Raden Wiralodra, membabat hutan, serta badak (dan) banteng, semua melarikan diri berhamburan, pembawaannya panas dingin, setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar. Begitu juga Raja Budipaksa, dengan Patih Bhujarawis, berkumpul dengan pasukannya, serta prajuritnya, dan para senapati. Ki Gede Muara Cimanuk, sangat bersedih sekali, semua pasukan menjadi bubar, karena Wiralodra membabat hutan. Lalu mennyerang Raden Wira, bertemu di pondoknya, Budipaksa berkata, “Hai satria manusia tampan, kenapa lancang dan berani, siapa kamu ini, merusak anakbuahku, cepatlah pergi kamu ini!” Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

17.

18.

213

19.

“Hai setan siapa kamu, penghuni persembunyian iblis, beraninya mengusirku, dikiranya aku takut, berlagak di hadapanku, dasar gandarwo bulus, ke sini majulah kamu sebab aku tidak akan lari.” Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya. Seluruh (Ki) Gedeng Muara, sama sama mendatangi, heboh pertarungan Raden Wira, Ki Tinggil memanjatkan doa, doa Srabad Sulaeman, duruwiksa banyk (yang) lumpuh, lalu ada utusannya, dari Tunjung Bang, (yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat. Sampai tiba Sultan Mas, (yang mengatakan) jangan saling mengganggu, Raden Wiralodra itu, karena keturunan Majapahit, (lebih) baik dijaga, sesama saudara (harus) akur, karena masih bertalian darah Rara Kidul ratunya.” Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah. Sambil menyembah di hadapannya, meminta dikasihani, (ia berkata), “Duh Raden Tuanku, prajuritku salah sasaran, semoga Tuanku mau memaafkan.”

20.

21.

22.

214

Berkata Den Wira, sekarang sipa tuan(mu), tidak kenal rajaku, Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas. 23. “Duh diminta Paduka berkata, adik sultan berbicara denganku, saya bersukur Dinda sultan, beserta anak dan saudara, sampai keturunan Dinda, kan kanda bekerja … wangsit (dari) Yang Maha Tinggi. Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus. Lalu siang malam membabat, Ki Tinggil menjadi koki, serta menanam palawija ubi jalar jagung serta kecipir, macam-macam palawija, (tanaman) gundem jawawut tumbuh subur, tidak ada kekurangan. Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh bendara baru sekarang saya senang. Tidak ada kekurangan, palawija tidak habis dimakan, terkenal kebunnya, karena bagus tanahnya banyak orang berdatangan, ikut (membuat) rumah di situ, sejak tanaman subur, bergantian orang yang datang, sama subur bermacam-macam tanaman. Banyak orang yang membuat rumah, sampai ke negara tetangga,

24.

25.

26.

215

Setelah tiga tahun Lama(nya) membuat perkampungan. 28. karena ingat kepada anak. Diceritakan perjalanannya. jangan dielakan. 27. berkumpul dengan ketiga anak(nya). sampai ke Banyuhurip. bagaimana anakku belahan jiwa. (saya) sangat ingin bertemu dengan ayah ibuku paman akan ditinggalkan. ibu sampai bengkak matanya. Tinggil ditinggal sendiri. menuju ke keraton. Lalu berangkat Raden menuju negara. Bagelen negaranya. terimalah (dan) suruh masuk. ayah ibunya sama-sama sedang duduk. bila ada yang pulang berperang. 29. Raden berkata perlahan. “Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama. perjalanan putraku. di sungai Cimanuk. ibu dan ayahanya terkejut. tinggal di sini dulu. “Aduh anakku belahan jiwa. siang malam terbayangkan. 216 .Ki Tinggil menjadi lurah. tidak disangka sekali. lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira. menangis siang dan malam. melihat putranya datang. tidak ada orang yang kekurangan makan.

ceritakan kepada ibu dan ayah. 217 . serta Wangsanagari. Putranya berkata kepada ayahnya. gampang besok kalau sudah jadi. ayahnya ikut berkata. pesan ayahanda. lebih banyak orang datang. salah seorang (di antaranya) kamu. pimpinlah negri Bagelen. empat orang putraku. semua sama menangis. “Duh anakku belahan jiwa. para saudara pekerjaannya mengurus negara. Wangsayuda dengan Tanujaya. dan Tanuhjiwa. supaya menjadi tahu. serta saudara-saudaranya. mengenai perjalanannya.” Si Tinggil diangkat. semua siap bekerja dengan baik. jumlahnya lima ratus orang 31. aturan mengurus negara. semoga tercapai yang diinginkan. terserah kehendak kalian. 33. di barat jadi negara. menjadi lurah di sini.” 30. berkat pertolongan Yang Widi. kasihan mendengar pengalamannya. dengan saudaramu. (Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal. 32. ayah ibu mendengarkan. yang ikut membuat perkampungan.

Hindang Darma (namaku) saya mengembara. Bayantaka. Surantaka. “Saya mohon maap yang sebesar-besarnya. serta masih gadis. Saya akan menumpang. 37. dan siapakah namamu. aslinya dari mana ?” Nyi Hindang menjawab. seperti pangkat tumenggung. diangkat oleh Kiai Tinggil. karena luas tempatnya. 35. diiringi dua pengawal. Jayantaka. orang kecil senang hatinya. pintar membuat siasat perang. setiap lorong dijagai.menjadi kaya Kiai Tinggil. setiap hari yang datang membuat rumah Kemudian ada yang datang. gardu tempat menjaga. pengawal(nya) itu petani menuju wisma Ki Tinggil ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk. Wanaswara. Hindang Darma namanya. 218 . Ki Tinggil lembut bertanya. Puspahita. 34. 36. dibuat seperti negara. kepada tamu yang baru tiba. “Duh paman tidak kenal padaku. cantiknya tiada tara. apa maksudmu Nyai. Sukubahu (dan) Jungjang Krawat. memikul gandum dan padi. serta Ki Pulana.

“Silahkan ikut saya di mana yang akan dipilih. tapi nanti tuanku. 40. semoga saya diberi izin. menanti bertemu musuh. seluruh murid-muridnya. tanah yang agak luas. baru kali ini aku melihat wanita Cantik dan mulus tubuhnya. apa pertimbangan junjunganku. alangkah gembira tuanku melihat wanita sangat cantik karena Hindang Darma sudah membuat rumah. Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam). murid-muridnya itu. 39. atau saya bersawah. Di barat atau timur. sebab bermanfaat kesaktiannya. 38. begitu pula semua muridnya. Nyi Hindang (boleh) memeriksa.” Ki Tinggil menjawab. untuk istri tuanku. silahkan memilih. untuk ikut bertani. Karena subur kebunnya. saya senang melihatnya.ikut membuat pondokan. 219 .” Sudah keluar dari rumah. saya hendak berkebun. jika datang ke sini tentu aku lalu akan menyampaikan. Hindang Darma kembali jaya. memilih tanah yang cocok.

lalu berbicara lembut. Karena Pangeran sangat pandai. dalam sekejap sudah tiba di pondokan Hindang Darma. terdengar kepada Pangeran Palembang. tangkaplah untukku. aku sudah mendengar. “Hai murid. karena puluhan (murid) Pangeran. pemberani namanya. (lalu) berkata kepada muridnya. “Saya berbahagia kedatangan tamu (apalagi) pembesar yang datang. 220 . aku tidak mau mendengar.” Pangeran terpesona melihat(nya).” (Lalu semua) sudah menaiki perahu.muridku. Pangeran sangat sedih. wanita ini cantik sekali. Terkejut Nyi Hindang melihat Kedatangan orang banyak. kalian pergi ke Pulau Jawa. 41. cepat-cepat berdandan. ada wanita kembali. berpikir di dalam hati. Sekarang muridku semuanya. 42. sudah sampai perahunya. 44.. berguru ilmunya seperti aku. 43. silahkan paduka duduklah semua. lalu cepat memasang layar. ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki.terkenal ke negara lain. di muara lalu semua menyeberang.

bersama-sama datang ke tempatku. wanita secantik anda. Lalu Nyi Hindang berkata. jika kamu (telah) berguru ilmu. keturunan Sultan Aryadillah. jangan mungkir anda. 46.” Pangeran menjawab. 45. “Sayang sekali anda ini. (agar) terkenal di seluruh negara. 47. tidak mendengar berita. banyak yang berguru kepadaku. aku perlu memeriksa kamu. yang sedang berguru ilmu. di negeri Palembang. 221 . Inilah murid saya. serta ada perlu apa. pangeran taat kepadaku. sepertinya ada pekerjaan besar datang dengan senjata lengkap. Saya sangat terkejut. siapa nama (tuan).sayang sekali kelakuannya. yang ikut dengan saya. dengan pasukan sekerajaan. saya berasal dari dusun. seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan. jadi guru semua para Pangeran. Pangeran Guru namanya. perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki. ingin menyamai namaku. asal tuan dari mana. “Duh mohon beribu maaf karena paduka.

tidak ada manusia. 51. atau menyisakan pekerjaan. sungguh perkataan Pangeran. Seperti kamu orang yang sakti. wanita cantik serta kulit kuning. seperti kelakuanmu itu. Tinggal kamu Hindang Darma lancang memaksa (dan) berani. “Duh sayang sekali rupa seperti Tuan. atau segan melihat. tidak memakai tatakrama seorang wanita. tamu meminta disuguhi. Hindang Darma tidak silau. tiada tandingannya seperti kecantikanmu Hindang Darma pelacur murahan kamu ini. Tetapi ucapannya kasar. bertanya kepadaTuan. menjadi guru seperti saya. tidak bisa berkata pelan. seperti yang lebih unggul. silahkan (saya) mengikuti keinginanmu.” Nyi Hindang menjawab. di depan di halangi. 222 . kan sudah mempersilahkan. lancangnya keterlaluan. 49. tidak tentu negaranya. berbicaralah yang sesungguhnya. senjata ujung keris. sombong kamu ini. hendak apa Tuan. mau apa. 50. rupa tuan sangat tampan (dan) gagah.48.

semua pangeran tewas. serta tempat untuk bertani. banyak pangeran yang tewas. Wisanggeni namanya. pertarungan diperkirakan lama. kesenangannya bertani. “Duh Pangeran di sini tempat yang luas. 55. semuanya akan dilayani. Semua pangeran 53. Sudah kacau perkataanmu. sudah menghadap. sayang wajah tampan(mu). Bratakusuma adiknya. kemudian keluar. dimakamkan di pekuburan Darmayu. pertarungan mengadu kesaktian bertarung mengadu senjata. Cepat pangeran menyerang. 9takut) dimarahi paduka.atau kesaktian guru. “Kang Pulaha saya merasa bingung. ternyata malah dipakai tempat bertarung. mencari tempat yang luas. “Diizinkan membuat tempat tinggal. Ki Pulaha diperintahkan. Nyi Hindang sangat sakti susah menghindarinya. sambil menantang bertarung. silahkan sekehendak Tuan.” 52. kalau kalah saya tidak akan malu. 223 . 54. Ki Tinggil sangat takut. Bramakendali keduanya.

Lalu berangkat secepatnya. sudah pernah mendapat marah dari paduka. Lalu ayahnya berkata. semoga ananda berdua menjadi kaya. dahulu saya tinggalkan.” Keduanya berdiam diri. 56. sebentar saja sudah sampai. tak disangka masih saudara. Air mata bercucuran. “Sudahlah tidak apa. saya akan menghadap paduka. serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah. bijaksana serta sakti. semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil Ditubruk Ki Pandakawan. Ki Tinggil menangis tersedu. meskipun (seorang) pelayan. kemudian dirangkul. semua teman-teman menunggu tempat ini. dengan paduka. 58. 57. dahulu sama-sama menderita.yang berperang tewas. saya doakan kepada Yang Widi. lalu menghadap Paduka. “Duh paman yang saya kasihi. karena Ki Tinggil berjalan. menangis memanggil-manggil. berjalan siang dan malam. dari negara Palembang. 224 . “Aduh anakku. di negeri Bagelen.

Hindang Darma (punya) kelebihan. nanti si Tinggil akan saya tanya. 61. karena (kamu) ditinggal sendiri. Nyi Hindang semakin berani.Keturunan si Tinggil. mengatur siasat perang dan bawahannya. Sesungguhnya Tuanku. 60. 62. terdengar oleh Pangeran Palembang. apa mendapat kesenangan. subur makmur di dusun. serta banyak orang yang datang. Aduh mas junjunganku. Tinggil di tempat tuanmu. 59. 225 . serta dibangun negara. Duduklah. celaka saya tuan. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan. mendapat kasih sayang dari Yang Sukma. masih gadis (dan) sangat cantik. makmur sampai nanti. berjajar membuat pondokan. diberi kesejahteraan. ditinggalkan (sendiri) di negara. lagi pula kejadian. temanmu pada selamat. serta katakan kepadaku. berkat tuan semuanya terjadi. kedatangan Nyi Hindang Darma. lega hatinya. istirahat dulu. Hindang Darma kembali dari berguru. Tinggil berkatalah padaku. Mengajarkan kebajikan.

menjadi guru pulang mencari ilmu. anandamengikuti kehendakmu. Itu Tuan Singalodra. mohon izin ayahanda 64. Hindang Darma seorang perempuan. Si Wangsanagara. seperti apa kehendak tuan. Tanujaya. “Hai anakku Wiralodra. itu kan kakekmu. semua pangeran tewas. Bawalah saudaramu. maka saya secepatnya. 226 . Nyi Hindang sangat sakti. menangkapnya harus secara halus. 63.lalu diserang Nyi Hindang. Nyi Hindang Darma didakwa. hati-hati menangkapnya. dibantu prajurit istana. karena tadinya hendak menangkap. tak kuat bertarung. kakekmu (juga) sama tewas. kalian turunan Majapahit. sambil membawa murid pangeran. memberitahukan tuan. 65. Pangeran Guru beserta Kiai. Karena sama-sama berperang. Tanujiwa beserta adiknya. Wangsayuda. mengadu kesaktian di medan perang. setelah setahun lamanya. tumeggung di negara Bagelen. Hindang Darma sangat sakti. dari Palembang mencari ilmu.

“Paman Kiai Pulaha. kiranya (harus) terbawa. Semuanya menghaturkan sembah. “Duh paduka junjunganku. tempatnya di rumah Ki Tinggil.” Tidak dikisahkan di jalannya. saya minta didoakan. saya meminta berkah Paduka Insyaallah.ayahanda ikut iklas mendoakan. secepatnya berganti tembang. serta Ki Pulaha. silahkan saudaraku sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra) menetap di pondoknya. dipati membaca doa. semuanya sudah sampai di pondokannya. 67. Ki Tinggil berkata perlahan.” 66. sertai Ki Tinggil pergi. Puspahita (dan) Wanasara semua lengkap menghadap. demikian jugaBayantaka ada. Raden berkata kepada Ki Pulaha. Jungjang Krawat datang menghadap. KINANTI 227 . 68. dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan. untuk mempersilahkan Nyi Hindang. kepada ibu dengan ayahanya. Ki Tinggil didorong kemuliaan. IV. dipasrahkan kepada Yang Widi.

harus terbawa oleh saya dan Junjang Krawat. Lalu saya diutus. Telah tiba yang diutus. melihat orang(-orang) berperang. Nyi Hindang terkejut melihat kedatangan Ki Tinggil. Nyi Hindang berkata lembut. 5. lama sekali tak terlihat. mengundang Raden Ayu. Raden Ayu sesungguhnya saya salah tidak memberitahukan. saya takut Raden Ayu. 3. “Duh selamat datang paman. sesungguhnya hati saya. ke tempat tinggal Nyi Hindang. Saya lalu bersembunyi. terlunta-lunta saya pulang.1. kancing berwarna hitam.” Nyi Hindang secepatnya berpakaian.” 2. “Baiklah tapi saya harus berdandan dulu. serta kembali lagi ke rumahku. tiba di tempat (asal) saya di timur. serta saudara kakak dan adiknya. datang ke rumah saya. 4. kulit kuning langsat 228 .” Segera Nyi Mas menjawab. Tuanku ikut dengan saya. dihiasi deretan sisir. Ki Tinggil berkata perlahan.

cantiknya tiada tara. 8. 7. saya ingin menumpang kepada Paduka. Raden mohon beribu (maaf). kepada Paduka. semua (ingin) melihatnya. Maka saya disuruh. tiada ada pada wanita lain. dengan kawan-kawan Ki Tinggil. Raden lalu berkata lembut. di pedukuhan ini. karena Paduka. 229 . saya tamu baru tiba. Perawakannya sangat ayu. cepat-cepat perjalanan saya. “Selamat yang baru datang. paras seperti Hindang Darma.” Nyi Hindang berkata perlahan.” 10. saudara Hindang Darma. Oleh Paman Kiai Tinggil. silahkan masuk. seperti bidadari. ingin sekali cepat bertemu. permisi untuk melihat kepada Hindang Darma. 9. karena saya sangat hormat. Setibanya lalu menghaturkan sembah. (dan) saya merasa menumpang. Juga Raden saya memohon. semuanya mendekat.6. juga Raden baru tiba. 11.

yang menjadi asal-mulanya. saya ingin mendengarkan. “Duh Raden saya (akan) mengisahkan.semoga diterima bakti saya. Tetapi saya Nyai perlu (tahu).” 12. atau mengurangi. semoga berkata padaku. Wiralodra berkata manis. bersumpah di hadapan Paduka. karena miskinnya saya. yang berperang dengan Nyai. (akan) diceritakan yang sesungguhnya. hendak ikut selamat. (tempat ini) jauh dari negri Bagelen. serta saudara-saudaraku. tidak berani melebih-lebihkan. 230 . saya perintahkan untuk diberi izin. bagaimana asal mulanya. 13. coba jawab Nyi Hindang. kepada Kiai Tinggil. karena saya memerintahkan. Menurut Pangeran Guru. karena kewajibanku. dari kecerobohan saya. perlu memeriksa perkara ini. siapa yang hendak membuat pondokan.” 15. 14. Nyi Hindang lalu berkata. apalagi saya perempuan. “Tidak menjadi apa Nyai.

bisa membuat sawah. terkejut (karena) kedatangan pangeran. Saya memberi pelajaran bertani. saya berani mengajarkan ilmu dan (ada yang) hendak menangkap saya. orang(-orang) membantunya. karena saya perempuan. sedang berada di pondokanku. lalu marah tiada tara. bersama-sama muridnya sampai ke rumahku. (saya) dikepung oleh para murid(nya). Saya akan dibunuh. bersawah dan berkebun. Awal mulanya saya.16. karena saya banyak orang. Jadi yang hendak kukerjakan. meskipun saya orang kuat. 19. 18. 231 . menuruti hawa napsu. semua pangeran. 17. Wiralodra berkata manis. semuanya sama-sama tewas. saya mencari akal Raden. (Berkat) pertolongan Yang Maha Widi. kakek guru yang salah. saya diperintahkan. Perintah Pangeran saya turuti.” 20. atau saya berkebun. “Kalau begitu keadaannya. 21. saya tidak (akan) mengikuti. pangeran sial dalam pertempurannya.

karena laki-laki kalah oleh perempuan. 25. segala tingkah-laku Nyi Hindang.hendak meminta kerelaan Nyai. (bila) Nyai kalah menjadi istri(ku). 26. saya yang menyaksikan. mundur dari hadapan gusti. 232 . saya izinkan untuk berpikir. Perang tanding memperebutkan kemenangan. 23. sudah jadi perasaan paduka. Hindang Darma dengan memelas berkata dengan sangat takut. Wiralodra perlahan berkata. Paduka. supaya saya tahu.” 24. harus maju bertarung. 22. Hindang Darma dengan adik (Wiralodra). maafkanlah saya. saya sangat takut saya memohon hidup. “Duh Tuanku jungjunganku. karena saya membawa jagoan. karena sudah saya izinkan. taruhannya jiwa dan raga. “Nyai jangan takut begitu. hendak mencoba bertarung dengan Nyai. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu. jadi termasuk mengadu nasib. itu permintaanku. tetapi dengan sangat saya memohon. jika demikian kehendaknya. Hindang Darma menyembah. saya hendak melihat.

tersengal-sengal napasnya. 30. Membelalak matanya. terguling di atas tanah. Raden keluar berteriak. saling mengadu kesaktian Raden lalu ditebas.lalu Raden ke luar. Tanujiwa lalu maju. (dia) tersenyum melihat adiknya. (Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh di hadapan Wiralodra. 29. berdua berdandan keprajuritan. bertarung berhadap-hadapan. 31. Tanujaya namaku. Kan jadi istriku. Tanujaya pingsan. 28. Nyi Hindang menyambut perang perlahan. 233 . kakang tidak kuat. betul-betul sakti mandraguna. ke luar berperang tanding. “Aduh Nyai Hindang cantik. mari sama-sama mengadu kesaktian. Jangan menghindar Cantik. wanita cantik (yang) sangat menarik hati. pasti bakal kunikahi. Ki Tinggil telah membawanya. Tanujiwa (dan) Tanujaya. (saya) ingin memangku Nyai. kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang. bila kalah Nyi Hindang. memanggil.” Nyi Hindang lalu menggebrak. 27.

adik berdua kalah. saya mengaku kalah. aku ingin melihat. bersenang-senang minum kopi. bertarung berdua (dengan). Mentang-mentang ayah dan ibu. “Bagaimana adik rasanya.” Tanujaya berkata kasar. orang muda mashur jika makan. malu banyak yang melihat. (pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik 32. 36. “Silahkan apa keinginanmu. 35. gerakan Nyi Hindang. Wiralodra berkata manis. putra pembesar negara. Nyai Hindang Darma. “Coba kanda keluar. gagah seperti adik. 34. maju bertarung. apa merasa senang hati. mulai mengatur pakaian.” Wangsayuda berkata perlahan. Hindang Darma sangat sakti. “Duh Dinda kanda tak sanggup. (Raden) Wangsayuda. Bila seperti diriku. sangat kaya harta benda. seperti burung sikatan menyambar belalang.Hindang Darma sangat (sakti). (malah) bertarung kalah oleh perempuan. 33. Lalu ia mempersilahkan. 234 .

Adiknya lalu berkata. sungguh kanda malu oleh ayahanda. “Kok kanda Wangsayuda bisa. 235 . 38. malu untuk kembali pulang. “Biasa orang yang kalah bertarung. …. Jadinya sangat susah. 37.” 41. Kanda jangan memulai. malu oleh ayahanda. bertarung keroyokan. Raden Wiralodra berkata. Tanujaya dan adiknya Tanujiwa membentak. “Tidak berguna kamu ini. Memerintah adik berdua. Hindang cantik bukan musuh. kanda pasrah adikku. berkelana ke setiap (negeri?) bahagia (jika) pergi ke gunung. Bawa kedua jagoan ini menyerang sepanjang jalan. sambil tersenyum berkata lembut. tidak disangka tumbang tarungnya. silahkan kanda bertarung. Nyai Hindang cantik. sudah kalah jagoannya.” (jika) sudah kembali ke negeri.” Wangsayuda menyela. 39. 40.mendapat malu (di) pertempuran. diperintahkan menangkap. saya adu kemampuan(mu) ternyata tidak berguna.

Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra). nanti kanda maju bertarung. “Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan. jadinya saya panggil. wajarlah orang yang bertarung. 46. jangan diambil hati. Raden Wiralodra. melawan Hindang Darma. lalu Nyi Hindang menyembah. terbahak-bahak keras. “Duh Mas Nyai Hindang Darma. dari sini hingga (ke) negara Bagelen kepada ayahanda. kanda tidak berani. dengan saudara-saudaranya. 42. saya bernazar untuk menggendong kanda.” Lalu berkata berlahan. Bila unggul bertarung. berperang dengan Hindang. waktu melotot takut sekali. 44. Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti 236 .” 45.” 43.nanti dinda akan melihat. karena bertanding di pertarungan. bergantian berdua. ternyata unggul berperang. Wiralodra berkata perlahan. siapa kalah siapa menang. “Adik berdua berbicara (demikian). Nyi Hindang saya panggil. Wangsayuda tertawa. Kemudian dipanggil(nya).

DURMA 1. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung. sama-sama seimbang. Tinggal saya sendiri. Wiralodra berkata. Raden dengan Hindang cantik. oleh karena keduanya sama sakti. tarik menarik. ……Nyi Hindang menyembah perlahan. mandraguna. “Duh Tuanku. 2. jadi apa yang harus kulakukan?” 48. karena merasa sayang. kepada Nyai Hindang Darma. Lalu saling mendorong. Nyi Hindang lepas dari tangannya. [bahwa meminta] ingin merasakan. lalu ditangkap dengan berani. 237 . Jangan Nyai … harus dituruti …. “Ternyata betul prajurit (sejati). manis legitnya Nyai Hindang berkata perlahan. sudah saling berhadapan. lalu diburu. V.” Lalu Nyai ke luar ……. kamu Nyi Hindang. ke luar hendak bertarung. mengadu kesaktian. 3.47.

Nyi Hindang bingung hatinya. Bingung sekali Nyi Hindang. mencebur ke dalam air. menghilang menjadi ular. (yaitu) burung garuda. “Susah sekali diriku. Kemanapun. mengejar Raden Wira. yang bertarung ini. menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat. makan buah jambu itu. 5. lalu jambu menghilang. Karena Raden sakti tiada tara. menghilang menjadi hutan. Menjadi batu sebesar anak gunung bercampur … gunung. lalu yang bertarung di pinggir gunung. 7. saya bersembunyi ditemukan. 4. 6. Menjadi taman yang airnya sangat bening. oleh Raden cepat diburu. serta berkata. ular lalu menghilang. karena Raden menjadi burung. kutilang hendak makan. yang kemudian menjadi burung. Hindang Darma menjelma menjadi jambu air. tetapi tidak samar Den Wira. 238 . Nyi Hindang meloncat.Nyai Hindang berlari. ke manapun. diikuti Hindang cantik. Raden terus mengikuti.

Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik. tetapi saya mohon. Darmayu namanya nanti. Hindang adalah nama di air. 12. Pegaden yang dituju. 239 . dari mana Dinda. yang… (setelah) bertemu (lalu) saling peluk. “Aduh Dinda baru bertemu. 11. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia. seperti apa perjalanannya. sudah hilang(kan) namaku. karena ada mata airnya sampai di Cimanuk dari gunung. Saya tidak bisa 9. bersama-sama mulia denganku. Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon. yang menjadi burung ini. Bila kelak sudah menjadi negara. menjadi bunga di istana bersamaku. kasmaran melihatnya. lalu berjalan menuju barat. dengan ceritanya. masih penjang perjalananku ini. Raden Wira menyesal dalam hati. 10. (semakin nyata) kecantikannya. semakin Nyai cemberut. di sebelah barat kali Cimanuk. Raden dengan negara(nya). semoga diberi nama.8.

“Hendak meminta izin kanda. menjadi negara. (terdengar) sorak-sorai. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan. Asalnya dari sebelah timur. anak cucu[nya] Dinda. 14. (karena) ada yang membuat negara. lalu pasukannya tiba. bercampur dengan suara senapan. kepada pasukan. 16. kembali ke negaranya. Setelah keduanya melepaskan rindu. (apa) keinginanmu tercapai?” Adiknya berkata lembut. pasukan yang akan berperang. di (pinggir) hutan Cimanuk. 240 . Di Pegaden Wiralodra tiga hari. ketika Raden mendekati. lalu berkata kepada kakaknya. “Sukur bahagia untukmu. Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur. untuk keturunan. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya.membuat negara. 13.” Kakaknya mengizikan. semoga lancar nanti. 15. lalu berangkat. hendak memeriksa. kakaknya mengamini. hutan di sebelah barat Cimanuk. terkejut ada …….

Karena waktu itu masih bakal. Garage nama daerahnya.” 18.” Lalu berkata lembut. Jika berkata kebetulan diriku. Wiralodra bertanya lembut. negara ini masih bakal.” 19. sukur (dan) bahagia bisa bertemu. yang berani membangun negara. siapa yang layak bertarung. Kemudian bertemu (di tepi) kali. bagaimana jika sudah waktunya. 20. Adapun yang membangun bakal negara (ini). (karena) telah menjadi negara. hendak memeriksa yang membangun negara. 21. berani membabat (huta). siap sedia berperang. silahkan menghadap Paduka.17. dan siapa namanya. Dipasara lalu menjawab. Dalem Kuningan 241 . “Duh mencari apa. tentu akan rusak. “Kebetulan sekali saya. ……… mengiringi Paduka. sebetulnya saya ini Wiralodra nama saya. besar negaraku. nanti saya menghadap Paduka Kangjeng Sultan. ini pasukan siapa.

cepatlah Dipasara. saya merasa bersalah. lalu ia berkata. 242 . 23. 26. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan.kedua orang itu lalu menghadap. baru selesai berperang dengan Dalem Kiban. Wali Sunan (Jati) di Gerage. Garage nama negaranya. disuruh memeriksa ini. dizinkan oleh siapa?” Wiralodra menjawab. diperintahkan maju berperang. itu siapa?” Lalu berkata lembut. prajurit dari Galuh. (hendak memberitahukan kepada) Gusti. Inilah (Wiralodra). 25. membawa teman kamu ini. 24. (orang yang) berani membangun negara. Berkata (Arya) Kumuning. belum berkata kepada paduka Sultan Wali. Saya mengaku salah kepada tuan. 22. “Sebabnya saya menghadap Paduka. menghadap kepadaku. datang dari hadapan Paduka. Saya ini diutus Sultan. Bahwa yang membangun negara. Perkenalkan saya Arya Kuningan. (yang berada di) wilayah sultan.

Kemuning aku tidak takut. 29. bila prajurit itu dari negara Kuningan . Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar. rupa seperti kamu. lalu ditendang. Dipasara terguling.” 30. “Jika demikian kamu ini. Dipasara tangkap aku. (kamu) prajurit sombong. tidak punya sopan santun. “Coba lawanlah aku. 28. Wiralodra adalah putra dari timur turunan dari Majapahit. sampai menyembah. dikiranya aku takut.” 27. aku adalah Arya Kumuning. 243 . saya orang yang bersalah.” Lalu berkata “Memangya kenapa (arya) Kuningan? aku sudah minta maaf. orang Sunda kan sembrono. olehmu. tidak meminta izin Gusti Sultan.” Wiralodra mengingatkan.tetapi saya meminta keadilan. mengakunya prajurit tangguh. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra. terserah anda. bijaksana. Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda.

ia masih kuat. 33. lalu ditangkap. pasti dia mati. Oleh Raden Wiralodra. lalu ditunggangi. bertarung saling mendorong. tidak bisa bergerak 244 . ditendang berguling. Si Windu nama tunggangannya. 34. Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang. ia tidak berdaya. terus maju. Dipasara tertelungkup di atas tanah. orang Galuh banyak yang mati. Si Windu menendang karena kuda pusaka.31. Kemuning menyerang (dengan) berani. (karena) Si Windu yang menendangi. lalu ditangkap dengan berani. keinginan pribadi. lalu merayap menuju kuda. karena banyak pengalamannya. perang atau mengusir. 35. bersukur (karena) bertambah wilayah jajahan. Tindakan Arya Kumuning. untuk mengadu kesaktian. Sinuhun tidak mengizinkan. 32. Kemuning melangkahi (Sinuhun). kendalinya dipegang. karena (keduanya) prajurit tidak ingat belum memperoleh izin Paduka. orang yang membangun negara.

(karena) bagaikan kilat majunya. ketika perang Galuh dulu. Raden kasihan melihatnya. Semakin kencang majunya. menggempur manusia satu negara.” Windu berdiri di atas lutut kakinya. karena Windu sangat marah. lalu Si Windu mengucap. Maka si Windu tidak kuat bertarung terkejut badannya. menahannya. 38. pertanda sujud kepada Paduka. memerciki gunung. “Aduh Raden lepaskan saya Paduka. 36. seperti agak melawan berperang ditarik dengan cepat. 245 . (lalu) berjalan mundur kuda (itu). melawan Raden. Den Wira (merasa) sangat kasihan Si Windu menyeringai. Karena saya tidak berani bertarung. 39. heran sekali Si Windu ini. tidak kuat Arya Kumuning. ia kalah bertempur. padahal dia sering berperang. “Kurangajar!” Kumuning berkata. waktu Dalem Kiban.kekuatannya sudah hilang. 37.” Si Windu segera melesat . perang ini kan melawan satu orang. lalu dilepas.

Serta sampai di perbatasan negaranya. 42. sangat gembira hatinya. 44. kepada Dipasarah. Oleh karena itu Wiralodra semakin … bertemu dengan Patih Dipasara. betul-betul prajurit sejati. menghilang di dalam hutan. Sudah bubar semua tentara Kuningan. Paduka berguling di atas tanah. 246 . cepat pulang menuju tuanmu kan sudah ada negara. (beliau) sangat sabar. keturunan Budaprawa. serta memasrahkan diri. Wiralodra berkata lembut. dari kuda Harba Puspa. “sudahlah Dinda sekarang 43. jiwa raga hamba. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan. negara asal Gusti Kuningan sedih (hingga) tidak sadarkan diri. 41. kepada Wiralodra.40. lalu Raden Wira.” Dipasarah menyembah kepada Kiai Wiralodra. kDipasarah lalu cepat menyembah. karena kuda (ini) dulunya. Windu berlari.

serta takdir Yang Widi. DANGDANGGULA 1. (atas) kelancangan hamba. sudah tiba di hadapan Paduka. 247 .hendak melanjutkan perjalanannya. kebetulan bertemu. diserahkan kepada Paduka. 47. sekarang hendak kembali. keturunannya dahulu. karena anda keturunan sultan. lalu dipegangnya. 45. untuk keturunan Wiralodra. serta anak cucu . Wiralodra berkata kepada Paduka. Lalu menyembah mencium kaki Sultan. meminta restu Paduka. dari Brawijaya dulu. di mana ke mana pun sedia. mati hidup saya. orang yang menggantikan. bahagia sekali kamu ini. ke negara Garage. semuanya terserah Sultan. keturunan Majapahit. memohon berkah dari para wali. kepada Gusti Sultan. VI. Mohon ampun beribu ampun. (karena)saya (telah) membuat negara. “Duh kamu Wiralodra. Semuanya sudah mengizinkan. (para) wali sedang berkumpul. 46.

kan Hindang Darma ikut. namailah Darmayu. Hindang Darma menang. 2. setia serta bijaksana. (dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan. semua saudara yang ditinggalkan. karena Nyai Hindang Darma. cepat-cepat perjalanannya.Wiralodra mundur dari hadapan Paduka. lalu [sama-sama] bertemu. membuat negara. Tidak suka menikah. meskipun kanda yang memulai. 4. sampai di Cimanuk. dinda. memperluas negara. Hindang Darma bahasanya lembut. menjadi campur dengan wanita. tidak mendapat kabar berita. kelak hingga anak cucu. 3. Ada sumber air di kali Cimanuk. kebiasaan orang Dermayu. Serta sudah takdir Yang Widi. tertangkapnya itu?” Kakandanya lembut berkata. betul-betul orang yang mumpuni. berpelukan semua saudara. tidak licik bertarungnya. jika nanti menjadi negara. Tetapi dinda menurut. seperti apa Nyi Hindang Darma. “Duh kanda sangat kuatir sekali. tetapi Hindang terdengar suaranya. “Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali. 248 .

5. dari timur barat datang. Surantaka. Semua saudaranya ini. Kakaknya mengizinkan. lengkap berjejer di depan. dengan Ki Tinggil. banyak yang sengsara. (untuk) menjadi pejabat di negara. 249 . semua oarang suruh berkumpul. berdua keluar dari pintu. 6. negerinya sangat ramai. moga-moga semua membangun. ada di Darmayu. aku persilahkan semua saudara. untuk meresmikan negara. berkata silahkan bagaimana kehendak kanda. tempat[nya] mengatur pekerjaan. permisi dinda hendak ke luar sekarang. tetapi susah nanti anak cucuku. karena perbawa wanita. sama-sama berumah tangga. 7. Kiai Pulaha. bertemu di tempat upacara. Kelak negara Dermayu ini. keris atau pedang.jika bepergian tidak memberi wasiat. katumenggungan dinda. serta perkemahan besar. Bayantaka. dengan mantri Wanasara. (orang dari) sebrang nanti tiba. menjadi tujuan seluruh bangsa. membuat pasukan. Tetapi kanda (serta) adik-adik.

lenggak-lenggok (dengan) perut buncit. yaitu Raden Wiralodra. yang sebagian tertawanya jatuh bangun. suami istri berkumpul. berbentuk perkemahan besar. suara oarang-orang gemuruh. oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak. Ki Tinggil juga menari. hendak mendirikan negara lain. semua sudah sedia. Gamelannya angklung calung suling. Sudah berunding semuanya. menyembelih kijang memotong sapi. 11. Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil. serta nyanyian gembira. hadiah untuk (para) kawula. “Hai semua saudaraku yang ada di sini. Lalu keluar (yang punya) hajat. semua berkumpul di tempat pesta. Bekerja bersama-sama membangun negara karena sudah terwujud. 10. bergantian menari. tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu. (karena orang) besar dan kecil berkumpul. sampai seminggu lamanya. berkumpul para kawula. 9. semoga semua berkenan. bersorak bagaikan prahara.. mulutnya berbicara terus.8. lalu berkata manis. negara berkat kehendak Yang Manon. karena untuk tempat berpesta nanti. disoraki oleh temannya. 250 .

Semuanya bubar. lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan. gamelannya celempung suling. (agar) saya ikut gendut sambil menari berlenggak-lenggok. bersantap (dan) bergembira sudah selesai. sambil membawa hidangan.” 12. “Duh saudaraku semua. senggak(1) penuh irama. 14. “Duh saudaraku semua. 13. iuran semua saudara. Sesudah (menyantap) makanan. dan negeri ini diberi nama. saya mempersilahkan semua untuk bersantap. lalu Raden berkata perlahan. Yang membaca doa sudah selesai. negara Demayu. Semua orang berkata “(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu) kami semua senang. (lalu) makan beramai-ramai. (kepada) semuanya saya memohon. Para orang tua sama-sama mengamini. serta kamu semua menyaksikan. (yang) sama-sama hadir. bergemuruh orang banyak mengatakan amin. Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya. serta membaca doa (memohon) keselamatan. semua saudara bersama-sama makan-makan. Semua orang tertawa (dan) menyoraki. 251 . rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi. setiap bulan seperti ini.negara sudah jadi.” Kemudian semuanya membbaca bismillah.

tidak salah diundang. (katakanlah) adinda semua berada di sini (mengadakan) pagelaran di kadaleman. kepada ayah (dan) ibu nanti. apa yang terlihat. 252 .yang bersantap gembira hatinya. karena kanda tidak bisa pulang sekarang. kepada dinda semua. kakaknya mengantar. “Duh Dinda semoga selamat. sampai ke perbatasan. masih membereskan negara. 16. Lalu bersalaman. Tetapi adik katakanlah. oleh karena sudah lama. Adik-adik(nya) sudah menyalami. karena ditinggalkan oleh adik-adik. jika kanda Paduka mengizinkan dinda hendak pulang (ke Bagelen). kembali ke negara Bagelen.” 17. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat. ayahanda menginginkan. mendapat anugrah Yang Widi. bercampur dengan nyanyian. “Dindaku semuanya apa yang harus kulakukan. suara celempung (dan) suling terbawa ngin. besar kecilnya. 15. dan Wangsanagara itu adalah iparnya. Kakaknya lembut berkata sambil memeluk. lalu berkata bagaimana kanda.

Karena negara akan mulia. sebab menjadi pintu gerbangnya. 2. “Kamu ini datang kepadaku.” Watuhaji membalas. 3. menurunkan tujuh bupati. menjadi pejabat di negara ini. (oleh) Den Wiralodra. Watuhaji kakaknya. jadinya saya tiba. tanpa tujuan. Ini kan bakal negara. aku tidak suka berperang. DURMA 1. di negara ini. sampai di akhir nanti. masih setengah hutan. tanpa sopan santun. ada musuh (yang) datang.” 253 . sampai menjadi bupati sekarang ini. (itu) menghina. karena negara belum jadi. 4. VII. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara. akan saya minta. lalu diperiksa. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara. diiringi [dengan] teman-temannya.Diganti (dengan tembang) Durma. “Percumah saya berkelana. anak cucunya. (akan) merebut negara.

5. tidak disangka bisa perang. Lalu menoleh mengerikan. pedang dipegang di tangan. 9. melompat seperti kilat. 8. (Membuat) heran yang melihat. 6. baksanya (tarian perang) lembut dan manis keris disandang. Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung. bersama teman(-teman)nya. ramai yang berperang. pantas sekali maju perang. lagaknya sangat berani. orang yang berada di tengah hutan. Kiai Tinggil lagi senang perang. Ki Pulaha maju bertempur. Prajurit Watuhaji. maju dengan penuh sopan santun. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha. Wiralodra mukanya seperti api. 254 . jika menebaskan senjata. Kiai Pulaha berdiri. “Hai kamu Wiralodra. 7. riuh rendah. dibawa ke pintu gerbang. Nitinegara heran. sambil berteriak (menantang) bertarung. seperti orang(-orang) kerajaan. ternyata bisa bertarung. sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh) ramai yang berperang musuh banyak yang kalah.

memegang senjata.” (lalu) berhadap-hadapan. (kemudian) diikat oleh Ki Tinggil. jangan ragu untuk memukul.jangan (terlalu) lama mengadu prajurit. akan aku tahan. 11. lalu maju perang lagi. Ayo sambutlah!” Raden Wira ke luar. “Hai Wiralodra (kamu) ayo gunakanlah keris atau pedang. bila kamu prajurit sejati. ayolah (kamu) maju berperang. karena kamu prajurit sejati. Ayo tebaslah dengan senjatamu!” Cepat Nitinegara. menusuk Wiralodra. 12. terguling di atas tanah.” Berkata Wiralodra. lawanlah aku! 13. “(Aku) tidak biasa mendahului. Kerahkanlah prajuritmu. “Hai prajurit Watuhaji. Nitinegara dibanting. (lalu) berhadap-hadapan di medan perang. majulah berperang. Sesumbar Raden Wira di tengah medan perang. yang kuat di medan perang. 10. 255 . oleh Wira(lodra) disuruh dibawa. Sudah menyambut.

14. Menurut cerita ini. ……… Drayantaka (dan) Wanasara 256 . 16. melarikan diri dari pertempuran. Ki Gedeng Sambeng namanya.Bertengkar (dan) saling menyerang. yang ditujunya itu . (Badannya) menjadi sebesar anak gunung. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata. bertarung saling mendorong. berganti nama.. karena Raden bertarung. bertemu tandingannya dalam berperang. Wiralodra (lalu) mengeluarkan ilmunya. Watuhaji meloncati. 15. Kelak keturunannya 17. tempat untuk bertapa. menuju arah selatan. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung (yang bernama) Ki Gedeng Depok. mengacau di negara Dramayu (membuat) susah orang kecil dijarah kerbau (dan) sapinya beras padi dan harta banyak orang dibunuh yang diserang melarikan diri ke luar dari Bantarjati 18. (kemudian) menjadi pendeta. letaknya yaitu di Cisambeng. Watuhaji dan Den Wira.

harta beribu juta. tentara admiral bertambah banyak. (dengan) membawa harta (benda). 20. (lalu) mengangkat demang (dan) rangga. 22. menjadi Kiai Dalem. tumenggung dserta patih. beberapa gotongan. gembira semuanya. kedatangan orang(-orang). serta banyak serdadunya. Wiralodra diangkat. semua lengkap. tanah (di) Bogor dan Karawang. 257 . diserahkan kepada Ki Tinggil 19. negara tambah ramai. menawarkan tanah. Lolos menuju Dramayu. kepada bangsa Belanda. (semua) membuat rumah. ponggawa (dan) para mantri 21. Raden Wiralodra kaya. lalu den Wiralodra mengalahkan banyak tentara. Watuhaji dan Nitinagara.mengamuk di medan perang. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang). pasukannya kira-kira seratus orang. pasukan[nya] tumenggung tunduk semua. (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah. sudah berdiri (pasukan) jendral. masing-masing berkeluarga.

kepada Sinuhun Mataram. dari keratonnya. DANGDANGGULA 1. oleh karena paling sakti di dalam negeri. (kelakuan) seperti itu tidak baik. orang(-orang) kecil merasa senang. ke negeri Dramayu. karena ada keinginan Raden Wira. merasa takut yang melihatnya. (Nitinegara) meminta belas kasihan. VIII. banyak orang-orang. Seharusnya Tuanku. jika nanti hendak dikirim . 25. Terkenal ke seluruh negeri. memotong leher saya. sebab hendak menghancurkan Darmayu [itu]. kesaktiannya tiada tara. membawa harta bendanya. Disayangi Sultan Mataram. diganti lagi (oleh) dangdang(gula).menyerahkan harta(nya). 24. 258 . Penyebab Nitinegara menangis. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya. Menjadi negara (yang) subur makmur. melarikan diri (pada) malam hari. menjadi macan negara. 23. Wiralodra. kepada kedua tumenggung. dari negara lain. (karena) berbuat (telah) salah.

Dikisahkan Kiai Dalem. Dalem yang mejadi penggantinya. yang sulung (bernama) Sutamerta. 4. bungsunya Raden Drayantaka. diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan. Yang perempuan bernama Nyayu Hinten. Wirapati selanjutnya. mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal. semakin lama negara semakin kaya.(Tapi)saya memohon agar tetap hidup. Dalem Darmayu. tinggal menjadi senang dan raharja. Wiralodra yang kedua. (Lalu) dibekali Nitinegari. 2. putranya (yang bernama) Raden Wirapati. 259 .” Wiralodra sangat kasihan melihat[nya]. dosa yang sangat besar. sebanyak empat orang. 3. ayahandanya sudah meninggal. Lalu berangkat Nitinegari. nanti kedudukannya sangat dibedakan dari yang lain oleh karena nanti turunan Nitinegari. disuruh menuju gunung. (diceritakan) sudah mempunyai anak. menjadi dalem Darmayu. permaisurinya empat (orang) lahir putra tiga belas banyaknya. telah jauh perjalanannya. dalem di Darmayu. mengganti kedudukannya. Watuhaji yang berdosa.

Dinda Werdinata. berunding dengan kakaknya Den Wirapati. Werdinata dengan Nyayu Hinten. lalu melahirkan. (selalu) saling mengunjungi. Kakaknya sangat setuju. Werdinata kepada (Nyai) Hinten. seperti dengan saudara.perempuan dan laki-laki. Karena sangat saling menyayangi. lama-lama jatuh hati. Serta lama kelamaan adiknya Nyayu Hinten mengandung. putranya diberi 8. tetapi (jangan) dibawa. Raden Wirapati. 6. karena hanya satu. nama yang disepakati. di Pulo Mas negaranya. Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan. sangat saling mengasihi. 5. setelah menikah nanti. bernama Werdinata. 7. adikku yang perempuan. 260 . terus terang kepada kakaknya. Adapun (untuk nama) putranya. tiga belas bulan lamanya. (bila) saudara mau. ke negara adiknya nanti. gembira sekali Paduka. memiliki saudara seorang raja.

sebab Raden Wringin Anom. karena diserang. cepat(-cepat) aku memanggil(mu). (sehingga) tidak kuat berperang. Werdinata di Pulo Mas. “Hai anakku yang tampan. pasukannya siluman. Ayahandanya berkata. hendak meminta bantuan. Kemudian Den Wirapati. Lalu ayahandanya berkata perlahan. (karena) ayahanda menerima surat. 9. (ketika) berumur tiga tahun. menghadap ayahandanya. kuning cahyanya bersinar. kedua ayahnya sangat sayang kepada anaknya. dibawa mengunjungi ayahnya. oleh Dalem Ciamis. 10. Ada keperluan apa?” 11. memenuhi permintaan ayahanda. onom dan mahluk halus.” “Semoga bakti ananda diterima. 261 . gemilang cahayanya. kepada putranya Sultan Pulo Mas. putranya sudah tiba. karena sudak bijaksana. (pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit. Lalu ayahnya berkata. “Selamat datang anakku. serta Dalem Kuningan.Bagus Raden Wringin Anom namanya. dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang.

hanya suaranya yang bergemuruh. onom dan mahlukhalus. lalu bubar menyerang para siluman. karena pasukannya siluman. 14. tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis. Orang Sumedang banyak yang ikut. dengan membawa tentara makhluk halus. (dari) Ciamis dan Kuningan. ananda harus ikut. “Duh putra tolonglah. menghampiri serta memeluk sambil menangis. menggeram suaranya.” Lalu ayahandanya berkata. karena ayahanda akan bertarung (melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti. (melawan) musuh para siluman. seperti orang berbaris hendak berperang. sudah berada di depan. Paduka Dalem Sumedang. 262 . Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman. karena itu mereka sangat hormatinya.dari Dalem Sumedang. Silahkan ananda (apa) tindakanmu. tidak terlihat wujudnya. putra yang menanggung. kata anaknya. saya serahkan negeri (ini). “Baiklah. karena dikepung musuh. 13. Jika demikian saya berangkat hari ini. 12. Orang(-orang dari) timur melihat. (jangan) khawatir ayahanda raja. Dalem Wiralodra datang. (yang) meminta tolong ayahanda.

mengemban (tugas itu). Ramai yang berperang.Raden Wiralodra. Raden Dalem Wiralodra. 17. dan semuanya merasa bahagia. Suradiningrat (dan) Brata Kumuning. berlarian pasukan Kuningan. dan Tumenggung Dongkara. 16. (dan) khawatir (pada) ayah(nya) 15. merangsek (ke medan) perang. maju bagaikan kilat. yang diincar tinggal kawannya dan raja. sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis. karena Dalem Darmayu sakti. karena sangat gembiranya. karena Raden Wringin Anom. Prajurit keluar semua. hampir tertimpa kedua dalem ini. musuhnya pasukan onom. putranya mengusir para siluman. Serta keesokan harinya pergi berperang. jatuh bangun pasukannya. Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis. Banyak prajurit tewas. 263 . sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang). menjadi sebesar anak gunung. dikeroyok bertarungnya. (ialah) orang(-orang) Ciamis. berubah wujud. sama-sama ikut bertempur. Lalu Dalem Wiralodra. Orang(-orang Sumedang gembira. Lalu orang(-orang) Sumedang.

bagaimana musuhmu?” Putranya berkata kepada ayahnya. sampai di perbatasan. “Kebetulan sekali anakku. “Jika mendapat izin ayahanda. Orang-orang ramai melarikan diri. berdua dengan Paman Tumenggung. Lalu anaknya berkata lembut. sebab khawatir akan negara. dikejar oleh Dalem Wiralodra. juga musuh ayahanda. lalu putranya menyembah Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu. lalu bertemu dengan ayahandanya. sudah bubar tidak ada yang tertinggal. melesat ke angkasa. matanya (menyala) bagaikan matahari kembar.. Ciamis dan Kuningan. berdua dengan Jongkara pelayannya. Bubar pasukan dari Ciamis. 20.” Ayahnya sudah mengizinkan. (bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan. gigi taringnya terlihat bersinar. menyelamatkan diri pasukan Ciamis. tidak ada yang layak menjaga. ananda hendak kembali sekarang. 264 . Kemudian ayahnya mendengar yang berita. 21. “(Banyak yang) melarikan diri. 19. suaranya bagaikan halilintar. jari-jemarinya menyentuh tanah. terpisah raja dan rakyatnya.18. Den Wringin Anom mengejar siluman.

Putranya mengucapkan terima kasih. sama-sama berebut uang. untuk menyapu dan memasak nasi. dicampur dengan uang talen. serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam. 265 . kita berdua bersama menaiki(tandu). setelah sampai (makanan) disajikan. 22. 24. ayah dan ibu bernadzar anakku. ramai orang(-orang) menagkap. Semua para prajurit. membawa bokor mas. sama-sama menghormati. anak gunung sangat buruk” (1). bagaikan bumi terbelah. sepanjang jalan jadi terlihat sedang berhadap-hadapan. Bersama-sama turun dari tandu. berisi uang mas. Ditaburkan uang tersebut. Cepat ayahanda menjumpai serta membawa putranya yang perempuan.telah bubar sekarang. “Mari anakku sama-sama menaiki. Lalu sudah bertemu. karena gembira sekali mereka. diiringi gamelan serta prajurit penghulunya siap. segera menaiki tandu. naik joli dan tandu. dengan panglima perang. Ini putra ayahanda seorang. 23. para wanita serta ibunya. serta para pelayan.

bergembira semuanya. ramai-ramai makan-makan hingga tujuh hari. dengan Darmayu ini. menjadi satu negara. 27. (saya) sangat berterima kasih 25.” Lalu sama-sama bersalaman. kepada putra Wiralodra. yang bersama-sama duduk di tempat ini. “Hai sanak saudaraku. pesisir Kandanghaur. makan bersama. Lalu putra Dalem Wirapatih turun dari tempat duduknya serta menerima baktinya. bawahannya semua. saya serahkan kepada anakku. Dalem berkata manis. yang tinggal di negara Darmayu.para pelayan berhamburan ke depan. (atas) kasih sayang ayahanda. 26. saksikanlah ucapanku (ini). dengan para ponggawa. Aku tidak memiliki (lagi). kawula dengan prajurit. “Hai para prajurit. Kemudian semua mantri. saksikanlah oleh semua. semua saudara (pamit) 266 . Lalu sama-sama pulang. (saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih. mendapat anugrah dari ayahanda Kandanghaur pesisir utara saya terima.

di belakangnya para madu. Karena dinanti-nanti tiada henti. Hadiwangsa. Lalu putra perempuan.kepada Dalem Wiralodra. sangat gembira hatinya. istri dan putranya. sampai ke perbatasan. Wiralaksana. 29. yang paling besar ialah Raden Kowi. para madu dengan para putra. mendapat anugrah dari Yang Kuasa. semua pengawal putranya. 28. untuk kembali. 267 . Wiratmaja (yang kelima) karena lima orang anak laki-lakinya. Wirantaka keempatnya. serta tinggal di pesisir Kandanghaur. Selanjutnya (di) negeri Dermayu. semuanya akur. sejahtera dalam kehidupannya. lalu datang dan menemui. kedua Raksadiwangsa. (dia) sangat menyayangi istrinya. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan. serta diberi istri. sangat makmur tinggal di negeri (ini). Raden Timur dan Sawerdiya. Nayastra. Nayawangsa. Adapun nama putranya 30. para saudara dan rangga. Hastrasuta. sangat gembira (karena) ayahnya datang.

Lalu ayahnya tiba ajalnya. Karena sudah memiliki putra. sebanyak empat orang [putra]. yang telah mengganti kedudukan ayahnya. menduduki jabatan bupati. sudah beristri.31. penggantinya berebut jabatan. 33. paling besar Raden Benggala. sama-sama kaya. menjadi bupati. 32. Singalodra yang gagah. dan Nyi Raksawinata yang keempat. dengan Wiralodra namanya. kakaknya Raden Benggala. (kemudian) diganti. tetapi Benggali Benggala anak laki-laki ini. mereka bersaudara. Tetapi persetujuan para ponggawa. para putra semuanya. sudah lengkap tiga belas (orang) putranya. Semuanya jadi pejabat. 268 . Patranaya. Puspa Taruna. Benggali namanya. 34. Lalu wapat ayahandanya. (oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi. serta semua para pembesar. sangat bijaksana. Singawijaya putranya (yang) perempuan. yang menggantikan harus kakaknya. adiknya menginginkan. Benggali adiknya.

Berlayar di lautan. tetapi Raden Singalodra. lalu datang utusan. jika demikian menurutku. “Raden Singalodra kakandaku. kepada Tuan Komandan. 269 . (sehingga)lima bulan tidak ada bupati. bila menyebrang ke Betawi. kalau aku tidak menjadi bupati. pasti saya mengamuk. mengganti kedudukan ayahanda. pangkatnya komandan. 37. menjadi bupati menggantikan kedudukan ayahnya. kakandanya yang menggantikan. kedudukan ayahanda. van de Boss namanya. kakanda sudah (menjabat). lalu adiknya berkata. 36. dari Betawi. kalau kakanda yang menggantikan. membawa serdadu satu kompi. akibatnya bakal ada kematian. membawa pasukan serdadu. kakaknya di Darmayu. ikut ke laut. Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya. istrinya ke Bantaranak. utusan Gubernur Jendral Betawi.Tetapi adiknya (berkata). 35. menjadi bupati. Sangat bingung para ponggawa. utusan dari Tuan.

Lalu mas patih Hastrasutanaya dan Tumenggung Trunajaya menjawab. memohon maaf. 39. delapan orang putranya. semua sanggup (membela) sampai mati. siang malam mengaji Qur’an. Gandur dan Purwadinata. saudara (dan) ponggawaku. tiga tahun lamanya. Kemudian berkata lembut. sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka). mengingat adiknya. semua ponggawa. keinginan Yang Maha Mulya. Menangis para ponggawa. yang sulung Den Laut. melihat dengan kasih sayang kepada paduka. saudaraku semua menurut kepastian. Lalu semua mengundurkan diri. lalu tiba di perbatasan. 270 . saya sudah pasrah. Lalu para mantri menjawab.” Bupati berkata lembut. 40.tetapi tidak enak hati. jadinya saya katakan. mengenai negara ini. Dalem Wiralodra tadi memiliki anak banyak. 38. sama-sama mencium kakinya. karena sudah sampai pada janji terdahulu. pasukan dari Paduka. bahwa tidak mengingat saudara paduka.

aku mendengar berita (bahwa) paman berhenti dari jabatan kebupatian. Bila malam tidur di makam. yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji. Singalodra namanya. karena sudah disampaikan. mengaji siang dan malam. yang mengganti adik saya sendiri Paduka. “Sesungguhnya Tuanku. takdir Yang Maha Mulya. yang sangat tidak enak hatinya. putranya (yang bernama) Kartawijaya. persembahan kepada sultan. “Jadinya paman aku panggil Wiralodra ke hadapanku.Kartawijayastra yang keempat?. 41. meminta kepada Yang Maha Suci. 43. (karena)sangat sakit hatinya. jam empat kembali ke rumahnya. Gembruk serta Toyib. Nyai Moka bungsunya. 271 . ayahandanya dipanggil oleh Sultan Cirebon. takdir Yang Maha Agung. mengurangi tidur dan makan. Lalu sunan berkata. 42. agar kuat imannya. Berkat pertolongan Yang Agung. di makam para leluhur. putra sedang susah makan. apa betul?” Wiralodra menjawab.

44. “Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka. 272 . Lalu berkata sultan kepada Wiralodra. sangat sabar hatinya. padahal ia masih muda.” 47. tetapi permohonan hamba. (yang)namanya Kartawijaya. Sultan sangat kasihan melihat. 46. Kartawijaya dipanggil. mati hidup saya. barangkali hatinya terbuka serta paman memohon pertolongan Paduka. anak hamba (yang bernama) Kartawijaya. supaya di kesultanan (ini). sudah menghadap kepada Paduka. kitab serta Qur’an. anda ini (agar) menolong saya. 45. sepertinya sedang tidak enak hati. Tajug (dan) kolam aku sediakan. saya menyerahkan semuanya. aku terima diserahi putramu. mengajar para putra mengaji. Dalem Wiralodra. semuanya sudah sedia. Tidak tidur serta tidak makan. “Paman. serta rumah tempat tinggal paman. Lalu Kiai Dalem berkata.” Berkata Sinuhun. “Perihal masalah itu. pasrah kepada Paduka.

bersama-sama denganku. Kemudian kelak dinikahkan kepada cucunya. “Hai Karta kamu ini. “Lalu Sinuhun berkata perlahan. 48. lalu mundur dari hadapannya. lalu berkata perlahan. aku mengangkat kamu. tempatnya di Panjunan. Ratu Mas Atma namanya.” 50. 273 . saya angkat jadi mantri polisi desa.berlutut dan menundukkan mukanya. lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan. “(Ternyata) ada Kartawijaya (datang). kepada Raden Kartawijaya ini. Suratnya sudah diterima. Kartawijaya berkata kepada Paduka “Saya memang berdosa kepada Paduka apa yang Paduka inginkan?” Sultan berkata manis. Sudah jauh perjalanannya. tempatnya di penjagaan.” Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka. di Pajagalan Panjunan. 49. Sekarang kamu ini. di hadapan Sinuhun. kepada Kartawijaya. Naik tahta di Panjunan. Pangeran melihat dengan rasa sayang. tampaknya terampil dalam pekerjaan ini. sukur kamu ini. untuk Kakanda di Panjunan. bawalah suratku.

(bersama) empatpuluh orang prajurit. semuanya ponggawaku. takut dosa besar. semua bersuka ria. yaitu Kiai Dalem Singalodraka. sedang mengatur pekerjaan. Lalu dirubah lagi ceritanya. orang(-orang) kecil suka melihatnya. [karna] aku tidak menyetujuinya. di sini ada para ponggawa. 53. gamelan dibunyikan. bila menari [sepertinya] bergoyang disertai 274 . bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu. tidak pantas menjadi bupati. 51. Ki Dalem lalu berkata. bersorak gemuruh. Untuk apa banyak harta. (sehingga) sepi di negara. semua tingkah laku bupatinya. berada di Kejaksaan. (bila hanya) mengingat akhirat. santri kecil hatinya. kebiasaan santri (seperti)itu. bila tidak bersuka-suka. meskipun saudara (atau) orang tua. Ketika bupatinya ada di sini. mantri patih dan bupati.adapun rumahnya. harus suci hatinya. menurut perintah nabi. gagah serta tampan. ramai-ramai siang malam. sedang pesta beramai-ramai. 52.

lalu selendang disingkirkan. dilantik mejadi bupati. Setelah bubar semua. nayaga ramai senggak. Dalem Singalodra. Orang-orang berkumpul di desa. [upacara] siang malam Patih Hastrasuta berkeliling. seolah-olah marah. dirampok oleh para durjana. (sehingga) orang kecil sangat susah. diganti oleh putranya. 54. Para mantri sama-sama bersorak. (yang bernama) Raden Semangun. bila kurang senggaknya menendang dan menyepak. nayaga disiram oleh air. semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya. Orang yang banyak harta-bendanya. yang menjaga tidak kuat. Ada lagi berita (demikian) ini: 57. Perusuh sudah bersiap. (karena) banyak orang yang dibunuh. (Kemudian) banyak terjadi perampokan. tiga tahun lamanya. sangat susah (selalu) ada keributan di negeri. 55. 275 . menjaga para durjana.selendang kain berbunga. kadang-kadang saudara sepupunya. 56. sampai pada ajalnya. badannya sedang (dan) gagah. putranya Purwadinata.

58. Pimpinannya Bagus Kandar. Den Nuralim adalah saudara sepupunya. 276 . Raden Kartawijaya. menjaga di perbatasan. 59. Bagus Wari semua (dari) Mayahan.. pribadinya pemberani. Lalu mereka bertarung. penuh sesak (karena) banyak orang. adapun Seling Rangin putranya. Serta para panglima perang. Jatitujuh. orang Kulinyar dan Pasiripis. Bagus Leja dan Sena. Biyawak. tidak enak duduk.tempatnya di Bantarjati. mereka sampai tiap hari. Bagus Rangin. berkata kepada teman sesama prajurit. para putra semuanya. senapan dan keris.. sedia tumbak senjata. tandu dan kendaraan tunggangan. Siang malam beramai-ramai. (Kemudian) berunding hendak menyerbu ke negeri Darmayu. 60. bertanggungjawab di pertempuran. oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan. Surapersanda. lebih dari tujuh ratus. Semuanya sudah setuju menyerang Dermayu. Kiai Betawi itu dari Kandanghaur.

banyak orang yang melihat.“Hai saudaraku semua. putra bersama saudara. para ponggawa banyak yang rusak. memakai pakaian tamtama. melihat saudaraku. (serta) bisa terbang di angkasa. Para prajurit dari Darmayu. bercampur dengan (suara) senjata. mendapat kebijaksanaan. serta para putra. Uwa Kartawijaya. (karena) terdapat perempuan. adik-adik serta sepupu bupati.” Keesokan harinya berangkat. (mengikuti) kehendak tuan. komandannya paling depan. 62. dengan putra serta senapati. (badannya) besar tinggi menakutkan. besok (akan pergi) ke Darmayu. melihat yang bertarung . tidak bisa menangkapnya. Semua para prajurit terkejut. yaitu Kartawijaya. kulitnya kuning. yaitu Ciliwidara putri dari negeri Banten. 63. diperhatikan kelakuannya. 277 . Serta sampai di Dermayu.”Baiklah.” 61. Raden Wiralodra. mendengar sorak beramai-ramai . Teman-teman para prajurit menjawab. berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning.

malah putra ayahanda. mengaku putra Kentanagara. sekarang ayahanda ingin bertemu. ayahnya mengeluarkan air mata. Suryabrata. banyak yang tewas. (yaitu) Den Dalem Wiralodra. karena sangat berduka.datang dengan para prajuritnya. siapa nama prajuritnya?” 65. gugur tadi. “Duh ayahanda sangat rusak negara. berani sekali merusak negeri ini. (Ia melarikan diri). 66. musuh ini menginginkan apa. Suryaputra. katanya tandingannya dengan Paman Patih Hastrasuta. oleh panah si Ciliwidara. “Duh anakku. lalu bertemu dengan Raden Kerstal. 278 . dan kakak Suryawijaya. Ciliwidara itu. masuk ke keraton. menangis di hadapannya. Nyi Ciliwidara namanya. serta putraku Kerstal. 64. Kemudian dengan ayahnya berangkat. lalu bertemu dengan adiknya.” Kartawijaya berkata. “Duh adinda Patih Hastrasuta. besok (akan) saya tangkap.

69. Lalu [cepat] menantang. apalagi ia cantik. Tidak kuat saya. (kita) orang Dermayu. menghadapi peperangan?” 70. mengimbangi pertempuran. Serta bendenya dipukul. Sambil menangis memanggil-manggil. Ciliwidara mendengarnya. “Duh kanda tolonglah sekarang. Ya besok adinda saya (akan) lihat. sangat sakti Ciliwidara ini. “Hai orang Darmayu masihkah berani. apa tindakan kanda.67. Lalu kemudian memeluk kakaknya. cepat berganti pakaian. 279 . pasukan ponggawa putra prajurit. seberapa berat kesaktiannya. karena didatangi oleh musuh. gelang kalung kilat bahu . musuh satu orang tentu berani. Bendera lalu dikibarkan. dengan orang senegara. Serta besok menyiapkan pasukan. Kartawijaya namanya. Kamu tidak tahu (siapa) aku. yang hendak merebut negara. putra kanda banyak yang tewas. senjata panah serta keris. terlihat sangat serasi. Silahkan. 68. menandingi kegagahan. kanda bertanding di medan perang. (aku) ini saudara yang tertua.

menganiaya (dan) berlaku curang.” Lalu berkata lantang. kurang trampil dalam berperang. 280 . senang melihatnya. “Bersiaplah! usiamu tak kan lama (lagi). karena itu cepat menyerang kamu anjing. 73. seru saling pedang. sombong kamu wanita cantik. kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki. Jatuh seketika di atas tanah. Raden Kartawijaya. tulangnya yang kena. “Kamu betul-betul prajurit Ciliwidara didekati. cepat diletakkan di pinggang pedangnya.” Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena. haus akan darah manusia. yang bernama Si Belabar Geni. Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah. 72. kamu Ciliwidara anjing. “Dasar pelacur murahan. tidak ada yang kalah bertarung. sambil berbicara.berani(-beraninya) merusak Darmayu. karena kamu unggul. keduanya unggul. rasakan panahku. memanah tidak akan sampai kedua kali. kalau mengenaimu. “Hai kamu Kartawijaya. Lalu ia mementang panah. kalau kamu merasa lebih!” 71. merasa gelap penglihatannya.

Semuanya berkumpul. Kartawijaya hatinya benci. Ciliwidara tidak kuat. semua kelakuanmu. lalu [sudah] diambil. harus sama-sama dijaga. siang dan malam. bersama putranya. menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya.apa yang dilakukan kamu ini. berkatakepada prajuritnya Aku perintahkan menjaga. menghentakan (kakinya) di atas tanah. Hastrasuta namanya. 75. sangat berat kesaktiannya. Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi. karena aku tidak takut melawanmu. 74. menemui adiknya Wiralodra. 281 . SINOM 1. menjatuhkan diriku. menghilang tidak tentu. dengan semua putranya. sambil menggerutu (di dalam) hatinya. tempat menghilangnya Nyi Cili. kakaknya dengan adiknya. serta adik patih. Kartawijaya. dikeluarkan kesaktiannya. IX. Karena sama-sama bertemu.” Lalu Den Kartawijaya. Setelah Ciliwidara menghilang.

tidak tahu kesusahan. tetapi keinginan Kakanda. seperti apa keinginan (kanda). heran sekali Ciliwidara gagah . kepada saudara-saudaraku. 282 . kakanda cepat datang. dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara. serta para putra nya. Kakaknya lembut berkata. maka permohonan adinda. “Duh Dinda untung selamat. diterima permohonan Dinda. dinda persilahkan duduk di dalam 4. ditakdirkan Yang Maha Mulia. 5. Barangkali beristirahatlah dulu. takdir Yang Maha Widi. cepat Kanda datang. tetapi bahagia ditolong oleh kakanya. Adiknya berkata kepada kakaknya. mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka. jika Dinda masuk. 2. Maka hendak melaporkepada Paduka.menceritakan rasa susahnya. hendak pulang lebih dahulu. Kakaknya lembut berkata. karena kan lagi berperang. karena berkah kakanda. tidak berniat hendak membantu adinda dalam berperang. beribu-ribu kebahagiaan. rusak negaranya. 3. Oleh karena orang yang bijaksana.

sedang menghadap kakaknya. 8. Kanda hendak berangkat pulang hari ini. sambil menyembah. di negeri Garage. Di tempat menghilangnya. tak disangka berhasil baik. [tetapi] Dinda (harus) hati-hati. (yaitu) Patih Hastrasuta. Tiba-tiba datang Nyi Jaya menghadap. begitu pula para putra.” Kiai Dalem berkata. Semuanya berpelukan. “Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk. celaka Paduka. (setelah) mendapat izin dari Paduka.” Nyi Jaya menjawab pelan. Saat itu hari Jum’at. 283 . Dinda. menjaga tempat menghilangnya. “Keinginan Dinda silahkan sampaikan. kemudian berjalan cepat(-cepat). Ponggawa (dan) saudaranya masuk ke padaleman. Kiai Dalem berkata lembut “Duh selamat datang Dinda. sangat susah Paduka hendak mengatakan yang sesungguhnya. lalu berjalan mengiringi sampai di pintu gerbang. Lalu masing-masing bubar. Dalem Wiralodra.ke penjagaan kanda. 7. 6. (harus) dijaga ponggawa.

Kiai Wiralodra berkata kepada patih. sudah banyak orang datang. hendak menurut (kepada paduka). Darmayu hendak dirusak. dan mohon (pamit). tetapi saya tetap. hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku. Sudahlah Dinda cepat mundur beristirahat di rumah Dinda. dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya. saya akan menikuti sampai anak cucu.mengatakan kesalahan apa. semoga keturunanmu. (saya) belum pulang ke rumahku.” 12. tidak berniat mengingkari Paduka. serta keturunanku diterima semuanya. “Saya (ingin) menemui Kakanda. saudara-saudara saya berkumpul mendirikan tenda besar. Dinda?” 9. memang saya di bawah kekuasaan Paduka. 284 . Kiai Dalem berkata. sekarang baru kesampaian. sekitar seribu orang. Lalu menyembah kepada Paduka. “Syukurlah bahagia Dinda. 11. semua kehendak Paduka. 10. kelak menjadi bersatu. Saya dari Bantarjati. kelak kematian saya bersaksi.

serta Wangsataruna. prajurit. supaya timbul keberanian. (dan) Tumenggung Sutamarta. Tetapi siap berperang. santana. (untuk) bersiaga menghadapi perampok. keinginan paduka hendaknya diawasi. jika (mungkin musuh) harus ditangkap. dari kampung Bantarjati.” 13. para prajurit siaga serta perbekalannya. pagi-pagi para senapati harus berkumpul. “Duh saudaraku para prajurit. “Paduka harus mengawasi para perampok. 16.” Paduka lalu berkata. (dan) mantri. Trunajaya adiknya. sepertinya musuh (akan) mendatangi. semua yang saya sampaikan.“Bagaimana kanda laporan Nyi Jaya tadi. “Karena itu Kanda Patih. 14. Jiwasuta prajuritnya. mengumpulkan ponggawa. apa yang akan kanda perbuat?” Patih menjawab. 285 . Pagi berangkat dari paseban. Tanujaya dengan Demang Wangsanaya. 15. menunggu di pintu gerbang paseban. Semuanya saya yang mengatur. kemudian patih berkata. karena Tanujiwa kakaknya. (Setelah) seluruh prajurit (berkumpul).

rigah. demang. Semuanya menaiki kuda. 19. minuman serta makanan. memajukan banyak prajurit. (mereka) semua baru melihat Paduka. para abdi semua sedia. diiringi prajurit. oleh karena gagah perkasa. (jangan) kurang persiapan.” Bende berbunyi menandakan semua bubar. mahkota berwarna mas berhiaskan intan. (memakai) konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning. 18. pakaiannya macam-macam. Bende berbunyi semuanya berkumpul. tergantung keris di kanan. orang kampung yang menyediakan. Patih Hastrasuta. kelapa muda (disediakan) di setiap pintu. terlihat gagah perkasa badannya serta sembada. berangkat ke Jatitujuh. tergantung juga ada di kiri. membawa pedang tumbak keris. pagi-pagi aku tunggu.bersiap untuk bertarung. oleh karena menghadapi perampok. 286 . para arya. Paduka menunggangi kuda. kanda menjadi biasa. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan. para mantri. bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang. serta semua prajurit. serta tetabuhan. 17. lalu kembali dari paseban.

Gana Wanggana dan Jari. Ki Bagus Rangin. serta pamannya yang dituakan. Bagus Seling putranya. harus nanti hari Kamis.beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan. “Paman bagaimana sekarang. 22. serta Raden Nuralim. didampingi Surapersanda. Bagus Serit berkata. (tersebutlah) yang ada di Bantarjati. 21. serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar. 23. 287 . “Duh putraku semuanya. semua senapati putra Mayahan. pejabat di Kandanghaur. yaitu para senapati. dengan kiai (dari) Betawi. Bagus Serit namanya. serta Bagus Pangiwa. seperti apa pertarungannya? Telah cukup para prajurit. serta para senapati. atau langsung diserang? Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan. serta saudara dan putranya. apakah mengirim surat. (Setelah) semua lengkap berkumpul. 20. (Tundalah) yang berangkat. para ponggawa sedang menghadap. aku harap bersabar. Bagus Rangin berkata.

setiap jembatan dijaga tiga orang prajurit. “Duh Raden bahagia bila demikian. “Bagaimana perjalanannya. kuda serta ponggawa. anak (dan) saudaraku. peperangannya bagaimana. mengatakan kedatangan orang Darmayu. kenapa mambawa pasukan besar? Keinginan ayahanda. sukur (mereka) datang. Setiap jembatan dijaga sebagai penghormatan kepada Paduka. serta dipasang umbul-umbul.Kemis Kaliwon ini. Dalem Darmayu datangnya. tempatnya di Jatitujuh. 24. “Betul tidak ada (halangan) anakku. Bagus Rangin berkata pelan. tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan. maju menghadapi pertarungan. 26. limapuluh jembatan (jumlahnya).” Lalu ayahanya berkata. Ayahnya kembali berkata. pembicaraan terhenti. (karena) polisi desa datang menghadap Paduka. kira-kira hari apa. perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?” 25. kira-kira telah jauh. kebetulan tanggalnya. sepertinya sial (para) prajurit. 288 . dari utara hingga berpisah. janur serta daun beringin. lalu jembatan dihancurkan semuanya.

Tundalah pasukan Darmayu itu. tempatnya di Jatitujuh. Sama-sama membuat pesanggrahan. lalu paman patih. untuk pertemuan para pejabat. ramai orang menjaga perbatasan. kanan kiri bendera. senjata telah disiapkan. Usai merencanakan (siasat) penyerangan.27. gamelannya (ditabuh) siang dan malam. bersiap untuk kedatangan tamu. dengan temannya sesama perampok. dipasang tirai penghalang di air. gampang menghancurkan pasukan. Lalu para saudaranya. bersama-sama mengatur siasat perang. 28. lima puluh prajuritnya. Bagus Serit yang mengaturnya. Siang malam menabuh (gamelan). Ki Rangin di pasanggrahan. 30. karena sakti dalam berperang. menunggu kedatangan (tamu). prajurit beramai-ramai. prajurit Hastrasuta. pada setiap jembatan. semua berkumpul (untuk) bermusyawarah. tetapi siap sedia prajurit. bersama Bagus Serit. (dijaga) tiga orang prajurit. Lalu bubar. (Kemudian) membuat tenda. Supaya kuda kembali (lagi). semuanya siap sedia. 289 . 29. (yaitu) siasat merampok.

dusun Bantarjati. hitam legam warna kudanya. bendera merah kuning dan putih. di mana tempatnya itu?” Berkata prajurit (yang) tiga (orang). karena ini perjalanan terburu-buru. ramai (suara) gamelan Ki Rangin. 34. siap sedia perlengkapan perang(nya). 32. telah jauh perjalanannya. “Diterima saudaraku. silahkan sekehendak Paduka. Ki Patih lalu berkata. tetapi nanti setelah aku pulang. serta sampai di perbatasan.diutus untuk memeriksa. “Duh Paduka saya ini Karena diperintahkan menemui Paduka. patih dengan para mantri. umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan. itu terlihat Paduka. 290 . saya sudah sedia barangkali diinginkan. Lalu perjalanannya dilanjutkan. sambil menyembah serta berkata. 33. Lalu berkata Ki Patih. Semua menghaturkan hormat. Serta keesokan harinya bubar. kedatangan Paduka …. tempatnya berkumpulnya perampok. diiringi para prajurit. 31. gembira atas penghormatannya. bedil mimis dan seligi Ki Patih menaiki kuda.

masuk ke dalam tenda. yang sama-sama tinggal di sini. lalu patih memeriksa ke belakang. bersorak hingar-bingar.” 291 . sudah tiba di pasanggrahan. hendak menanyakan berita lalu sampaikan yang sesungguhnya. Sebetulnya hendak merusak. lalu sama-sama duduk. 2. bersalaman semuanya. Dalem Dramayu. pasukan sebanyak-banyaknya. terdapat pesanggrahan besar. menuju ke Bantarjati. apa tujuannya?” Bagus Rangin lalu menjawab. sudah sedia untuk berperang. Disambut (oleh) banyak prajurit.sudah dipacu kudanya. bendera dan umbul-umbul. PANGKUR 1. “Hai saudaraku semua. X. 35. Seperti apa pasukannya. dibakar tidak ada yang tersisa. karena menghormat Paduka. karena aku menanti perintah. tumbak perampok. ramai (suara) gamelan yang ditabuh. kemudian jembatan dihancurkan. serta menghormati.

tetapi lebih berat menjaganya. menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung. Ki Patih keluar dari Jati. Sudah. 292 . Ki Rangin berat bertanding melawan patih. (jangan) menuruti napsu. akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu. mereka saling dorong mendorong. “Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara. karena negeri ini (akan hancur).” Oleh karena itu Rakryan Patih merasa telinganya seperti disebit. bila kamu tidak tertangkap. aku tidak mau disuruh mundur. dan tidak takut melihat. karena bermaksud ingin merusak negeri Darmayu. (jaga) mulutmu berandal babi. 6. Lalu Ki Patih berkata. Para mantri menjaga. 5. Ki Rangin berkata kasar. karena musuh ada di dalam negara. dan nanti membuat sengsara semua anak cucu. “Kiai Patih Hastrasuta. akibatnya jadi rusak. kalau boleh saya mencegah. karena malu kalau mundur. masa aku takut. 4. Meskipun kecil wilayahnya. Loh Rangin ucapanmu itu memalukan.” 7. rupa oarang-orang di negaramu itu.3.

jatuh terkena tumbak dan keris. “Saudaraku semuanya. dan Kulinyar bubar melarikan diri. lawanlah (sambil) terus mundur. Pasiripis. 9. bersiap mengepung saja. 10. siapa marah pasrah tewas. dikepung buaya mangapi. (orang dari) Bantarjati. sekarang jangan mendesak majulah. seribu orang lebih tidak terlihat. Biawak. kira-kira (tengah) malam saya bukakan. waktunya jam enam sore. berkata Ki Serit. jangan sampai bisa keluar. 8. tidak memakai aturan berperang.dengan Rakryan Patih. sudah merasa tidak kuat. serentak menyerang. menunggu waktu jam sepuluh. “Hai prajuritku semua. lalu serentak bertarung. Lalu Ki Serit berkata. banyak musuhnya yang tewas. Bantarjati. Karena perang dengan perampok. Karena Patih Hastrasuta mengamuk selama dua hari ini. 11. Dan setelah jam sepuluh. orang(-orang) Kulinyar. ketika gelap tidak terlihat. para saudaranya maju perang. 293 . Ki Rangin tidak kuat berperangnya. semuanya kalah di pertempuran.

berkumpul di pesanggrahan mereka. badannya sudah hancur. membawa tumbak [dipikul] di pundaknya. Ki Serit keluar dari belakang. sangat ramai karena perang sampai malam. oleh karena itu para perampok. bertarung melawan perampok yang mengeroyok. Lalu Ki Serit maju. kemudian dibawa oleh orang banyak. Hastrasuta sudah payah. yang diinginkan tewas. kena (sasaran) lalu tewas. 294 . hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu. (Ia) berbicara di dalam hati. Tidak tahu arah utara-timur. tetapi pasukan Kulinyar. hanya Patih Hastrasuta. berganti pakaian beraneka. karena tidak peduli (lalu) melarikan diri. 16. sekarang pasti sudah sampai saatnya. sudah sewajarnya saya berbakti. membela negara. Serta keesokan harinya bubar. Serta sudah waspada lalu Ki Patih ditumbak dari belakang. meladeni pertempuran. 15. utara timur karena malam. 14. sama-sama berpesta ramai-ramai.12. 13. para mantri melarikan diri. bersorak seperti bumi terbelah. aku sudah tidak kuat.

oleh karena para perandal. dikeroyok di medan pertempuran. ditembak pamayungnya (pemimpinnya). Lalu melanjutkan perjalanannya. berkata Dalem kepada istrinya. tewas di (tengah) jalan. lalu masuk ke rumah. “Celaka hamba. maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung. sudah sampai di negeri. Sesampainya di negara. Berkatalah di hadapan (paduka) sambil menangis sedih.” 295 .” Paduka berkata pelan. 18. karena itu mantri melarikan diri. “Saat ini mendapat musibah. Sama-sama bertarung di jalan.” Sambil air mata mengalir deras. lalu semua bubar. 17. tidak disangka perampok datang (lagi). (lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar. 19. 20. sudah tiba di hadapan Paduka. serta sudah sampai di kampung Bangoduwa. saat ini karena sudah tewas. para istri serta saudaranya. jika demikian lebih baik kalian pulang semua. Kanda Patih terbunuh. “Hai mantriku semuanya. dikepung banyak orang. serta ada yang tewas. karena Kakanda Paduka. sama-sama bertemu di pintu gerbang.

padahal (kanda seorang) patih. (Mereka) beramai-ramai tayuban. kepada pamannya Kiai Serit serta saudaranya. bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka. serta saudara-saudaranya. setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi. Istri serta saudaranya. meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan. Serta keesokan harinya semuanya bubar. semuanya menangis. “Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku. 296 . macam-macam tingkah lakunya. ganti lagi yang (diceritakan). sambil memanggil-manggil. hasil merampok di setiap kampung. para istri dan putra-putrinya.21. 25. “Duh paman saya mohon. oleh karena perampok kampung. mengingat kesengsaraannya. siang malam makan-makan. masing-masing (membawa) senjata. berandal dari Bantarjati. Ki Rangin berkata pelan 24. 23.” Semuanya menyanggupi. kanda tidak panjang umur. serta saudara-saudaraku cepat berangkat besok pagi ke Dermayu sudah telat perjalananku. Ramai gemuruh (yang) menangis. jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok.” 22.

ayam serta harta benda. 27. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa. keris dan komprang serta pentungan. Orang Cina (berjumlah) dua puluh. Sepanjang jalan berjoget. hendak merebut barang (dan) harta. 29. 28. serta Nyonya Cinanya. pakaiannya macam-macam. bersorak di jalan sambil menari. serta Heng Jin dan Tiyang Li. karena sama-sama gagah. masing-masing yang dimilikinya. Cina babah dengan baru. tumbak. 26. oleh karena kelakuan pencuri. 297 . serta pedang. ada yang (memakai) celana panjang. atau sama-sama mengenakan celana pendek. selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan. gobang. sampai babi hutan. oleh karena jumlahnya banyak jadi berani. ada yang memakai celana poleng jarik. Heng Li Cina baru semuanya berani.senapan. (mereka) sudah sedia berani mati. Babah Kwi Beng. sepanjang jalan merampok setiap dusun. Di Lobener para Cina sedia.. lalu berandal merusak. Heng San. kerbau sapi juga ikut. segala kelakuannya. dengan senapan di sebelahnya. memikul karung berisi beras. anak-istrinya di Dermayu.

sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh. Hendak meminta kerelaan teman. para Cina bertarung melawan penjahat. Serta merusak …. Semua berandal menyingkir. ada Cina bersahabat denganku. saya (berbuat) lebih baik. ramai orang melarikan diri. “kok kamu menjadi berandal. Hanya sahabat waktu sekarang. lalu Bagus Surasa Persanda menemui Bah Kwi Beng serta melihat(nya). Dan bagaimana pikiranmu membuat kekacauan di negaramu ini. diserang oleh para Cina. cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu.. Jarih (dan) Gana ikut-ikutan. apa tidak ingat inti tali persahabatan?” Berkata Surapersanda. 34. aku benci sekali padamu. jika tidak melihat kamu. hancur penjahat (dan) banyak yang mati diserang oleh para Cina. banyak penjahat pecah kepalanya. atau berniat jahat. “Karena itu saya menemui. 31. 298 . tetapi mengingat (kamu) sahabat saya. banyak harta-bendanya. 32. 33. sekarang ini jangankan saudaraku. kan saya tidak mengacau. masa hendak dirusak.30.

36. bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini. bila tidak mau lalu dibunuh. karena banyak orang. lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya membuat perkampungan di Pamayahan.perlengkapan kurang lengkap. Bergemuruh di Mayahan. dengan Bagus Surapersanda. para Cina lalu mundur. hendak merebut negara Dermayu ini. siang malam membunyikan tetabuhan. bubar (dan) berangkat ke Darmayu. sampai tujuh ribu orang 37. (Penduduk) desa itu sangat susah. ada yang menjarah. memanggil-manggil Padukanya. merampok (dan) mencuri uang. 35. karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok. lalu ditiduri. tingkah laku berandal itu. 299 . 38. orang kecil dirampok setiap hari . Jika istrinya cantik. membuat pesanggrahan. karena itu (mereka) sangat sengsara. jumlah orang(-orang) itu. Ki Rangin berpikir keras. Lalu Cina memohon diri. sehari tiga puluh orang yang sama-sama datang maksudnya hendak merusak Darmayu. kamu membuat (orang) sengsara (dan) dirimu sendiri.

(dan tinggi) besar.” 40. 43. kerbau. (yang) menjarah setiap hari. Kiai Dalem Darmayu. dan suka menolong kesusahan setiap negara 42. watak[nya] Daendels itu (demikian). para berandal (kaum) bangsawan. rusak hamba semua. “Aduh Tuanku panutanku. Karena itu banyak serdadunya disebar. dan benci kepada orang yang jahat bila tertangkap terus dibunuh. Ki Dalem menyampaikan surat. 1808. tidak malu menyakiti. sapi. di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak. (kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia. sembada. tidak perduli teman sendiri. serta kambing dicuri. Memohon pertolongannya. 300 .39. maka dihukum olehnya. Dengan demikian Paduka. 41. hamba meminta tolong. kalau ajudannya tidak menurut. (adalah) Daendels yang berpangkat gubernur berkedudukan di Betawi sangat gagah perkasa. Nama[nya] gubernur jendral (itu). sudah mendengar bahwa banyak berandal di daerah Mayahan. Karena penjahat yang datang sangat banyak.

dipilih yang perawakannya sama. dengan makanan serta uang. kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut. Tuan Postur namanya. tatacara berperang. serta meriam ditarik kerbau. supaya bubar gerombolan penjahat ini. Supaya terlihat. Yang mana penjahat (diajak) berunding. bersama dengan komandan laut. 45. dari Inggris asal Belanda. bertanding atau belajar perang. serta sampai di Mayahan. pedang serta berkuasa. bupati tidak kuat sendirian. serta mengirim pasukan serdadu. karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi. bupati sudah menyerah(kan). perlengkapan (dan) peluru digotong. 46. besar tinggi bergodeg dan berkumis. Serdadu dengan tuan.memohon gubernur memerintahkan. Seratus oarang yang menggotongnya. 301 . supaya berandal melihat. serta mereka berunding. (oleh) para berandal tampangnya para serdadu (yang membawa) senapan. sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati. 44. pura-pura diangkat jadi bupati. di negeri Dermayu. 47. Lalu berangkat diiringi tiga ratus serdadunya.

Tuan Deler berkata manis. bertemu dengan Tuan.terkejut berandal melihatnya. diangkat demang olehku. Karena bupati menyerahkan. jika demikian lega hatinya. bahwa ada serdadu datang. Semuanya berganti pakaian. jadi aku diutus. negaranya kepada Gubernur Jendral. seperti pangkat bupati. Nanti semua saudara(mu) kuangkat menjadi mantri. 50. Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa. oleh Tuan Gubernur Jendral. namaku Zwak. membawa perlengkapannya. “Hai Bagus Rangin dengan hormat karena saya diutus. (yang) berkuasa di [negeri] Betawi. 51. Lalu berkata kepada pimpinannya. 302 . 48.” Bagus Rangin menghaturkan terima kasih. Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya. perlengkapan perang. kekuasaannya sama. jurutulis. 49. Tuan Deler menghormat kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. bila anda bersedia. untuk berunding. (Menurut) bupati.

pesta melantik demang. 55. oleh karena mereka berjumlah banyak. (mengenakan) pakaian dari Betawi. mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang. kolonel ajudan sersan dan serdadu. Baru pejabat yang ditangkap pasukan Deler. membawa pasmen mas berkilauan. siang malam penjahat tayuban. Demang Rangin (dan) para mantri. 53. penjahat banyak yang kembali. 54. Bila malam melarikan diri oleh karena banyak yang kurang makan. suka-suka berpesta. pedang serta berkuasa. Di Kademangan Pamayahan.52. Lalu ramai tetabuhan bergemuruh. menghibur yang menjadi demang. sudah menerima surat itu. karena bupati 303 . hendak merampok bendera negara. kepada bupati Darmayu. Tuan Deler bersiaga. Ki Rangin sangat gembira sekali. jumlah penjahat sekitar tujuh ratus. setiap sore mengajarkan perang. senapan. sangat takut melihat persenjataannya. baju laken (dan) topi (laken). 56. Banyak orang yang melihat Belanda. celana laken. Lalu Deler mengirim surat. diiring semua mantri. Semuanya mengenakan laken. Lalu bupati mengirim surat.

58. Kepada tuan komandan Belanda di Betawi. minta pertolongan. menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya. dibunuh oleh berandal. serta anda Raden Welang. secepatnya harus menangkap penjahat. Serta dibaca surat itu. “Jika Kartawijaya. saat ini berandal dijaga. Bila berhasil cepat diborgol. potong leher para berandal itu. Cepatlah kakanda. Lalu prajurit bersiaga. (memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta. keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende. (berangkat) bersama Karta(wijaya).” 60. 57. Sultan member izin. yaitu pamannya sudah tewas. lalu berbicara kepada sultan. dinda minta menangkap berandal yang dijaga.kepada Kartawijaya ponggawa sultan di Grage. bila melawan (harus) dibunuh. karena sudah dipersilahkan menyertai paduka. 59. Karta dengan Raden Welang. lalu berkata (dengan) lembut. semuanya sudah disampaikan kepada sultan. suratnya telah diterima. Paduka sultan berbicara. Kartawijaya marah. 304 . menyiapkan perlengkapan perang.

hendak menyerang panjahat yang mengacau. “Hai semua prajurit saudaraku. “Duh dinda mas sudahlah tenang dinda. di Mayahan tempatnya. dinda Hastrasuta sudah meninggal. prajurit semuanya berangkat. 63. karena hendak membalas kematian. semuanya sudah keluar. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar. sudah siaga (untuk)bertarung. XI. 62. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang. yang sudah wafat. (yaitu) Patih Hastrasuta.61. bertemu adik dan kakak(nya). Menangis kepada kakaknya karena teringat ia sudah tewas kakaknya menangis. tidak akan mundur kanda berperang. sekarang kalian berangkat. semua[nya] ponggawa. adiknya memeluk (sambil) menangis. Dan membawa temannya. Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu). 2. DURMA 1. 305 . seluruh(nya) para prajurit terpilih. (ingin segera) menumbak perampok. Prajurit sudah sampai di Darmayu. gembira mantri semuanya. bersamaku (dan) kanda Karta. serta katanya. Lalu Den Welang berkata.

kamu penjahat. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya. “Hai aku (sudah) diangkat (demang) oleh Tuan Deler . merasa dikhianati oleh Tuan Deler. di selatan pasukan Betawi. mendekati berandal. penjahat berada di tengah. 3. Kemudian berteriak. karena sudah dikepung.” Lalu dijawab oleh Raden Welang. Den Welang (ada di) tengah. Utara selatan timur sudah dijaga. sudah kokoh barisannya. serta Den Welang. lengkap dengan peralatan perang. menurutlah akan kuikat. Lalu sudah tiba di Pamayahan. putra selir (Pangeran) Panjunan. bupati dengan kakaknya. 4. serta barat (oleh para) prajurit. karena yang di depan. berkata dengan kasar.” 6. 5. Rangin menyambut (karena) mendengar bahwa bupati telah tiba. berhadap-hadapan bertemu dengan para penjahat. “Hai Rangin anjing kamu ini.sangat semangat pasukannya. 306 .

ditendang (lalu) terguling. Perang tertunda (karena hari) berganti malam. 10. Di tempat perang. 7. oleh Raden Welang. setiap prajurit di tempat perang. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol. Rangin dengan saudaranya. Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang. melarikan diri dari medan pertempuran. Banyak penjahat tewas yang ditangkap (dan) dibrogol oleh para mantri. Den Welang berkata. 11. Pagi-pagi bende ditabuh. aku tidak takut. 307 .”Aku tidak takut. (berandal) yang ke luar ditembak 9. oleh karena berandal seperti mengepung binatang buas. sombong (karena) banyak pasukan. meskipun aku dikepung olehmu. takut mati kamu anjing. (jumlahnya) sekitar enam ratus (orang). “Hai kunyuk penjahat.” Sena lalu diikat. semuanya melarikan diri. oleh serdadu yang sedang berjaga. tidak memakai siasat perang. aku tidak akan lari. Rangin sudah tidak ada. 8.

sudah disekap semuanya. 308 . (saking banyaknya) tidak tertampung di dalam penjara. Dalam perjalanannya. lalu berangkat mencari. semuanya diperintahkan dibunuh. sudah bubar semuanya. mengenai penjahat yang sudah tertangkap (dan) dimasukkan ke dalam penjara itu. (Mereka) akanmengirim surat.karena akan dikirim ke Darmayu nanti. yang ada penjaranya. Berandal (itu) lalu dipenjara. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim ke Betawi. 15. Kelebihannya dibawa ke kapal semua penjahat itu. 12. Balatentara Den Welang dan Den Kartawijaya. 13. Serta sudah mundur semuanya. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki. Keputusan pun sampai. Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral. (semua) disekap di dalam penjara. sampai ketemu. (kepada) jendral yang ada di Betawi. semua pembesar berkumpul di Darmayu. keinginannya. 14.

Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin. Hawisem dan Raden Wari 19. 17. Jumlahnya sekitar seribu (orang). Gana. serta membawa gerombolan panjahat dari Luwiseheng. “Aduh dinda tidak disangka. kanda bertemu dengan dinda. di Kedongdong. 309 . yang memimpin pertempuran.ada berita lagi. Rangin sangat gembira hatinya. 16. yang kembali dari pertempuran. Prajurit paman yang memimpin pertempuran. Di tempat pertahanan Kartawijaya dan Raden Welang. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam. sangat gembira. maju berperang. “Nah itu dia.” 18. Rangin berkata kepada para putra(nya). Jarih. Rangin Kandar pemimpinnya. 20. tertawa bersuka ria. prajurit Bagus Hawisem. Prajuritku berhasil. berpesta siang dan malam. sebab gerombolan berandal sudah menunggu. maju ke medan perang. dan Seling bersiaplah dengan waspada.

Tumenggung Nitinegari.” Di tempat pertempuran ramai. Rangin Kandar turun.ternyata ada yang menyusul. (bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong. dengan Den Kartawijaya. Den Wari nama(ku). bertemu di medan perang. Raden Wari tertangkap. “Siapa ini di hadapanku. 23. berani ke medan perang. bertahan di medan perang. 22. tidak patuh dalam pertempuran.” “Prajuritnya Rangin yang menyambut kamu ini. 21. karena aku tidak kenal. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran. prajurit di depan. 24. penjahat sudah siaga mengatur pasukan dipimpin (oleh) Bagus Rangin. Pertempuran di medan jurit. keroyokan karena tidak terlihat. Raden Welang maju. dipegang ……. lalu dikejar dengan berani. karena banyak yang kalah oleh Den Welang karena berani bertarung. memandang Hawisem (dan) Wari. Lalu berjumpa dengan Kartawijaya. Prajurit Luwiseheng pun turun. 310 .

28. 26. kepada teman sultan. semuanya tidak ada yang tertinggal. (serta) Raden Welang tidak ketinggalan. 27. Rangin. diborak-barik setiap perkampungan. (dan) Hawisem lari. XII. ramai oleh yang berperang. Handa. tidak menemukan (siapa-siapa). Pondokan para penjahat dibakar. dirantai (dan) dikirim. “Hai anjing penjahat. menuju arah barat. Ki Sena (dan) Surapersanda. sama-sama mengejar penjahat. Kandar. kasmaran yang melihat. Surapersanda sudah tertangkap. Banyak berandal yang mati ditembak oleh serdadu. ke negeri Darmayu. gadis cantik dibawa. tiba di Bantarjati.” Segera dirantai. berlari ke barat. Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya. 25. orang(-orang) desa kesusahan. Den Welang berkata. pondokannya kosong. Leja dengan kawan-kawannya. KASMARAN 311 . (yang) ada (di) negeri Garage. dan Sena diikat.gerombolan berandal.

dengan Kandar Handa kelak membawa anak istrinya. menyeberang Cipunegara. dengan Cilege. kepada semua anaknya. Cipanculan. Bila diburu (lagi). berbelok-belok perjalanannya.istri(nya). berkelana di hutan-hutan. di Purasu. Serit. sangat sedih. Cibenuwang. Sebelah barat menyeberang kali Cilalanang. pemandian bupati di sebelah barat. anak istri sama-sama sedih. Tersebutlah yang melarikan diri Ki Rangin. Lalu berkata perlahan. 2. 312 . 4. pernah menyeberang Kuceak. dan di hutan Cikole. melihat anak. sampai Gumulung. Menangis sepanjang jalan. sangat sengsara hidupnya. tiga bulan perjalananannya. tiba di Dulang Sontak. “Duh anakku nanti. Radensrang. di tengah hutan (yang) luas. Ciwidara. Pengambiran. 5. 3. dan Leja. Benggala di Luwung Dinang. Legok Siyu. Cipedang.1. tiba di Cigadung.

7. sungai yang deras airnya. sebelah barat sungai Cigadung. berjalan terus di hutan-hutan. Beramai-ramai membawa makanan. 313 . 8. sangat jauh letaknya. Karena para istri. di rawa yang bernama Citra. rawa besar banyak ikan. Ayah akan membuat ladang supaya didatangi (orang). membawa kijang bila kembali. menguras ( sungai) mencari ikan. dari tengah hutan. dengan yang dibuat Ki Rangin. serta menjangan. dan disamakan namanya. terlihat sangat sengsara. berjalan di pinggir jurang. Pernah membuat perkampungan. tiga bulan perjalanannya. Ki Leja setiap hari. memasuki hutan. Rangin setiap hari. serta membuat sawah. lalu bersama-sama memasang tenda. luas halamannya.sangat subur tanahnya. sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya. kesenangannya itu. dinamai Dukuh Citra. 6. 9. Kemudian menemukan pelataran luas. Menanam pepohonan.

disebut (demikian) sampai sekarang. menuju selatan arahnya.. hendak mencari tempatnya. serta datar tanahnya. Jatilima namanya. yaitu Aji Pengabaran. dinamai Cihakur. di sebelah barat laut Suba(ng). membuat . membawa teman tiga puluh. letaknya di Cigadung. dua taun lamanya. panjang lebarnya luas. sudah tiba di Citarum besar. 13.sebuah (yang bernama) Jatigembol. 14. dengan saudara serta ayahnya. memerlukan tempat luas. tempat para penjahat. 11. hendak mencari negeri jajahan. Dinamai demikian. Lalu Ki Rangin membaca mantra. kelak bekas Ki Rangin bila berkumpul. lalu sama-sama setuju. 10.. 12. keduanya distrik Pamanukan. Ki Gede yang berada di Pecung Kiai Wangsakerti namanya. Di perbatasan distrik Pegaden. Tegal Slawi namanya. karena menemukan tempat luas. 314 . Lalu semua sudah setuju.

18. tanda saya bijaksana. supaya siaga sekarang. di antara orang banyak. karena saudara keinginannya. beramai-ramai siang (dan) malam. untuk menyambut perang. lalu ada yang mengikuti. apa keinginanmu. Lalu Rangin berkata lembut. Lalu membuat surat. melihat pesanggrahan. hendak mengadu kekuatan. Menangtang perang. pesta makan-makan. kepada teman dan saudaranya.pikirannya sudah nekat. lebih baik aku membuat surat. yang menjadi tujuan. seperti apa keinginannya. hari apa maju bertempur. 315 . sangat mujarab sihirnya. dikirimkan ke Desa Pecung. sudah membuat sengsara. apa ingin mengungguli menggempur orang keturunan Pecung. karena tinggal menunggu waktu semuanya siap. setiap hari orang datang. 17. saudara serta teman-teman. lebih dari seribu orang. yang akan ikut berperang. Serta sudah banyak orang. 15. 16. Semuanya menjawab.

hendak melawannnya. Demikianlah Ki Wangsakerti. pelayan yang bijaksana. serta putra Sindanglaya. ada penjahat. Ki Wangsakerti berkata. serta berkata kasar. dalam sekejap datang utusan itu. Atau kamu anakku Jaka Patuwakan. Dulang Sareh namanya. 316 . dengan saudara (dan) anaknya. 20. 23. 22. sudah menyampaikan surat. Lalu berkumpul. para senapati juga. 21. apakah sekarang sanggup bertarung. Jajabang Grudug terlihat. dengan penjahat (dari) timur. Ketika sedang berbincang-bincang. berandal berasal dari timur. dibaca di dalam hati. “Hai kamu Krudug. buronan negara. surat lalu diterima. tiba di hadapannya. di tegal (sebelah) selatan Subang. dengan penjahat dari timur?” Semuanya menyanggupi.19. sanggup mengadu (kekuatan). Surat lalu dibaca. karena sudah mendengar.

serta gagah sentosa. malah banyak prajuritnya. sudah siaga (dengan) pasukannya. Lalu Dulang berpamitan. Ki Gedeng Pecung iti. pergi.“Kamu anjing timur. sampaikan pada tuanmu. Jawa Timur rasakan aku. jangan banyak bicara kamu. anjing Sunda membelalaki. “Anjing cepat kamu mati. 317 . yang berada di [tempat] pesanggrahan. akan mantra sihir (pada) kamu. matanya jelalatan. cepat-cepat berjalannya. hendak melawan orang Sunda 24.” 26. “Bagaimana Dulang Sareh. Dulang Sareh berkata pelan. Dulang Sareh lalu pulang. saya siap menyambutmu. Grudug mendengar (yang) mengumpat. hari apa yang pasti. menanti kedatangan paduka. sudah tiba di hadapan Paduka. Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya. tebal tipis urat tulang. serta tersenyum (dan) mengumpat. bagaimana suratku?” 27. 25. anjing kamu. lalu katanya.

Patuwakan Majalaya. 32. 29. berani melawan bertarung denganku. 30. ramai perang dengan penjahat. sedia untuk berperang. Leja maju bertarung. Lalu maju prajuritnya. bersorak bergemuruh. pasukan Rangin banyak yang mati. menjadi pemimpin perang. Ki Leja lalu bertanya. lalu semua sedia. melawan Ki Gedeng Pecung. Lalu berkata Ki Rangin kepada Kiai Serit serta saudara-saudaranyanya. bertemu dengan Ki Gedeng Grudug. 318 . dengan barisan pasukan Pecung. apakah kamu Wangsakerti. Bergemuruh pasukan Rangin. barisan penjahat (dari) timur. karena perang penjahat. Di daerah Tegal Selawi. prajurit Rangin pun siap. Bende dipukul terus-menerus. bendera cepat dinaikan. semuanya menyanggupi perang. tidak kenal (orang) Jawa Timur. serta Kiai Gedeng Grudug.28. perasaannya seperti Singalodra. 31. Lalu sudah terdengar. “Hai siapa (orang) Sunda ini. termasuk distrik Subang.

aku senapatinya, namaku Gedeng Grudug, yang akan mengikatmu. 33. Buronan negara, di timur sedang dicari. Ki Leja menyerang, sama-sama saling mendorong, ramai pasukan yang bersorak, pasukan Rangin dengan Pecung, bertemu lawan di pertempuran 34. Jaka Patuwakan, melihat kakaknya bertempur, tidak ada yang kalah dan menang, lalu cepat maju, menggantikan berperang. Leja bertanya, “Hai siapa yang menggantikan perang, 35. berani kamu babi?” Aku Jaka Patuwakan tidak teliti melihatnya. yang bertarung saling mengejar, ayo gantian lawan aku, aku ingin merasakan, mencambuk kamu orang timur.” 36. Lalu menyerang (dengan) berani, Ki Leja cepat mengayunkan pedang, tidak berhenti memedangnya, terus menerus menggunakan pedang. “Hai kamu Patuwakan, betul-betul prajurit tangguh, serta kamu masih muda.”

319

37. Patuwakan berkata perlahan, “Duh Paman Leja seperti orang serakah anda, memakai pedang tanpa aturan, ke bawah ke atas gerakan pedang, kamu itu bukan prajurit, betul-betul penjahat urakan. 38. Jaka Patuwakan, merasa tidak sabar melihatnya, Leja didesak perangnya, tertutupi penglihatannya, lalu cepat ditangkap, digendong tidak berdaya, Leja tidak bisa bergerak. 39. Sambil menangis memanggil-manggil, “Ampuni paman, Patuwakan, sekarang paman tidak berani.” Lalu dibawa oleh prajurit, Kandar maju perang, pemuda yang sakti dan unggul ini Kandar saudaranya. 40. Cobalah lawan aku, sudah saling berhadap-hadapan, dengan Patuwakan, di tangannya terpegang senjata. Tidak kuat Bagus Kandar, terpukul rotanwulung, terguling di atas tanah. 41. Sambil menangis memanggil-manggil, “Aduh Bagus ampuni paman, sekarang paman tidak berani,” lalu Kandar diikat.

320

Matahari pun terbenam, mundur pasukan Pecung, sambil membawa tawanan. 42. Berkata ki Wangsakerti, “Hai anakku semua, besok saya maju, Jigjakerti Majalaya, supaya maju perang, melawan Rangin kamu ini.” Jigjakerti menyanggupi. 43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu, pasukan Pecung banyak, demikian juga pasukan Rangin. Kiai Serit berkata, “Apa yang harus kulakukan?” Ki Rangin lalu berkata, ayahanda jangan kecil hati. 44. Sekarang ananda pamit, hendak maju bertempur. Ki Serit memeluk putranya, menangis sambil berkata, “Duh anakku yang kusayang, kita serahkan kepada Yang Agung, semoga unggul di medan perang. 45. Lalu Bagus Rangin maju, menantang di medan perang. “Hai ini Rangin namanya, sambutlah di pertempuran, sambil berebut bertempur, tidak apa aku tewas, itulah tujuan hidup laki-laki.

321

46. Lalu maju Jigjakerti, Ki Gede dari Majalaya, sama-sama sudah bertemu. Lalu Rangin bertanya, “Hai yang maju bertempur, gagah besar serta tinggi, namaku Jigjakerti. 47. Dan ini Majalaya yang akan melawan kamu, kesaktian(ku) sepadan denganmu, terbuat dari kulit (dan) tulang keras. Lalu bertempur seru, Ki Rangin sudah menangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya. 48. Majalaya diikat(nya) oleh tentara Rangin, Ki Grudug maju perang, saling mendorong perangnya, Grudug lalu ditangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya, lalu cepat diikat. 49. Pasukan Pecung dengan Rangin, bersorak seperti bumi terbelah, tertunda karena malam, semuanya pasukan bubar, lalu membuat pesanggrahan, Ki Serit lalu menemui, setelah putra(nya) datang. 50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti, sangat susah hatinya, putra keduanya kalah, tinggal seorang putranya,

322

putra (yang bernama) Patuwakan, “Duh anakku, apa yang harus kulakukan? 51. Sial terkapar di medan jurit, Rangin sangat sakti sangat kuatir diriku, karena masih muda, Rangin gagah perkasa. Tunda yang dikisahkan, (terdengar) ramai di luar. 52. (Karena) ada pasukan yang datang, dari utara sangat banyak, Ki Wangsakerti terkejut, (karena) tidak disangka musuh datang. “Duh anakku (belahan) jiwa, apa yang harus aku akukan.” Kemudian ada mentri datang 53. memberikan surat, (lalu) diterima, menggigil (tangannya ketika) menerima surat, disangka musuh yang datang. Surat segera dibaca, isi suratnya, dibuka lalu dilihat, jadi gembira hatinya. 54. “Surat dikirimkan kepada adik, yang sedang bertarung. Kanda Wangsakerti sekarang, sudah (jangan) dijadikan pikiran, dinda tiba secepatnya, tidak dengan kabar tadi, (karena) keburu mendengar berita.

323

55. Bahwa kakanda menghadapi perang, dengan buronan dari timur. Dinda nanti menjaga. Surat (dari) keluarga di Darmayu, oleh karena dinda memohon ikut meneruskan perang. 56. Dinda mohon kabar menunggu izin kanda, sungkem Dinda yang menanti, Setrokusumah, Dalem Pegaden.” Ki Wangsakerti tertawa, “Aduh gembira sekali anakku. 57. Kamu Patuwakan, cepat bersamaku ikut menyambut, Adinda Bupati Pegaden.” Lalu bubar dengan kawan-kawannya, (untuk) menemui tamu itu, bertemu gembira sekali, bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk. 58. Lalu berkata Wangsakerti “Duh selamat datang, Adinda Dalem dari Pegaden, kanda memohonan (agar) bertemu, diterima permohonan(ku). Bagaimana pertarungan (dengan) buronan dari timur?” 59. Wangsakerti berkata perlahan, “Sangat gembira hati kanda, kedatangan dinda sekarang karena (hendak) maju berperang.

324

pemimpinya yang ke luar, malah aku dan anakku, sama-sama ditangkap (lalu) diikat. 60. Silahkan dinda maju, cepat tangkap penjahat.” Lalu bupati berdandan, mengenakan pakaian kebesaran, tampan gagah perkasa, memakai tutup kepala dari sutra ungu, dihiasi intan (dan batu) mirah. 61. Kerisnya tergantung, terlihat ada di kanan. (Ia) berkata kepada mantrinya, “Hai mantriku semua, cepat atur barisan, pegang dengan kuat senjatanya, aku akanke luar untuk berperang. 62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin. Seperti apa rupanya, pekerjaannya merusak orang banyak, orang kaya dicuri.” Karena Jaka Patuwakan, maju ke depan, menyembah ke hadapan Paduka. 64. Lalu berkata perlahan, ”Mohon maaf menyampaikan berita duka. ayahanda sudah keluar sekarang, mulanya ananda belum berangkat, menandingi Rangin bertempur, mudah bila ananda sudah kalah di pertempuran.”

325

” Lalu Patuwakan menyembah. ke hadapan ayahanya. “Kamu siapa anak muda maju perang? Sayang sekali masih muda. Kemudian Ki Rangin menyambut(nya). oleh perwira Rangin. Lalu Ki Rangin bertanya. 66. Anaknya mundur dari hadapannya.” Demikianlah sudah terdengar. Jaka Patuwakan menantang. 326 .65. Wangsakerti menyambung (pembicaraan). bende ditabuh bertalu-talu. XIII. (mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang. 2. prajurit Rangin. “Hai anakku sekehendakmu. DURMA 1. pasukan bersiaga bersorak seperti prahara. permintaan ananda. Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan. hendak maju ke medan perang. “Duh Dinda betul (kata) ananda. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang. Sementara jangan dulu maju sekarang. (dan) berhadap-hadapan. kuserahkan kepada Yang Sukma. anaknya Wangsakerti. harus dituruti.” Bupati berkata manis. 3. Karena aku mengizinkanmu. “Lawanlah (aku).

Rangin bertanya. Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang. lawan saja aku. ramai pasukan yang bersorak. Rangin lalu menendang. Nanti dulu. Karena ramai yang saling dorong. 5. 6.” 327 . ayahanda yang maju. yang berperang mendapatkan lawan bertarung. 7. Jaka Patuwakan. Patuwakan agak letih bertarung. keduanya memegang keris.” Patuwakan menjawab 4. “Siapa yang menggantikannya kamu prajurit yang gagah seperti …patih. Rangin (dan) Patuwakan. Dalem maju berperang. ujung senjata. seperti apa kesaktianmu?” Lalu Rangin menangkap. bermusuhan denganku. “Hai anakku berhenti dulu. Dalem menggantikan. jatuh terpelanting. karena sama saktinya. jangan kamu yang maju .Wangsakerti Yang harus disuruh melawanku. Patuwakan melawan. serta berkata kepada putranya Patuwakan. bertempur dengan musuh Rangin.

syukur (aku) gembira. dari Darmayu dahulu. hendak mengikatku. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden.Dalem lalu menjawab 8. Rangin kan tidak gila. 328 . 10. melihat kamu ini. Tidak malu (punya) muka seperti kamu. hendak menangkap kamu ini. yang menjadi penjahat. anjing penjahat babi. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden.” 12. Karena aku masih saudara Dalem Darmayu. “Dalem Sunda kamu ini. lalu menerjang dengan berani. yang mencari buronan Rangin. seumur hidup mengacau. untuk memberi makan anak istri. Lalu membentak Rangin berkata kasar. 9. aku tidak takut. buronan negara. Cobalah maju. namanya Wiralodra. mengakunya ningrat. setiap desa dijarah. aku Setrokusuma. pekerjaan(mu) mengganggu orang. Mundurlah akan kuikat.” 11. aku yang menjaganya yang baru bertemu ni.

melihat pemimpinnya. cepat maju. Setrokusuma. yang bernama triwikrama. jika kamu prajurit sejati. “Kebetulan Serit bertarung denganku. mari mengadu senjata. Lalu menangkap (Rangin).” 15.” “Wangsakerti kamu ini. Lalu maju saling menangkap yang berperang. Pasukan Pecung dan Rangin ramai yang bersorak. “Siapa yang maju bertempur?” “Akulah Wangsakerti. “Hai Serit. 329 . ayo maju. untuk apa maju perang. Tidak ada yang kalah bertarung. sama-sama kakek. Wangsakerti dan Ki Serit. 14. betul kamu.” 16. 13. tua dan kakek-kakek. Wangsakerti ke luar.ereka saling mendorong. (yang akan)melawanmu. Rangin dibanting meghilang. karena sama saktinya. dan kamu siapa?” “Namaku Ki Serit. Lalu membaca mantra. berubah menjadi anak gunung. Lalu maju Ki Serit pertempuran.

“Hai Serit takut mati!” 18. Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu. pasukan Rangin menyerang. 20. Ki Serit menghilang. Rangin melarikan diri. [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata. Serta sudah sama-sama bertemu. 19. 21. Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal). kumpul menjadi satu. berssama-sama menumpas tentara Rangin. (lalu) diikat balatentara Rangin. Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma. dengan Patuwakan. Bagus Rangin meninggalkan pasukan. Serit sering terjatuh. melarikan diri ke Karawang. mengadu senjata. seperti memanggil-manggil. mengadu senjata tajam. 330 . Lalu melarikan diri. Ki Rangin sering terjatuh. perang sendirian (tanpa)pasukan. sama-sama bergumul bertarung. Dalem Setrokusuma mengamuk. gerombolan penjahat.tusukkan ujung keris(mu)!” 17. kacau orang banyak. terguling di atas tanah. musnah tidak menentu. pasukannya banyak yang tewas.

“Entah ayahanda ke mana mencarinya.” Keduanya diikat dengan rantai . 24. menjadi satu. kan tidak tertangkap. gembira hatinya. karena buronan negara. ke mana arahnya?” 23. 25.” Kiai Dalem berkata lembut. Wangsakerti dan dalemnya. seperti bercampur (dengan) setan. 331 . sangat besar kesaktiannya. 22. masalah berandal. menghilang tiada tentu. Grudug Majalaya. “Ananda dengan adinda. Saya kirim ke Betawi dua berandal. Bagus Leja. (kepada) Gubernur Jendral. menghilang Serit dan Rangin. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya.Gintung (dengan) Patuwakan. Ki Serit dan Rangin. “Hai Kanda Wangsa. Leja akan dikirim. diputuskan rantainya. berdasarkan perintah. disertai mantri. Anaknya berkata. dikirim ke Betawi. lalu melompat. Leja dan Kandar. (ketika) menyebrangi Citarum. Sudah berangkat buronan negara.

Sangat susah (karena) tahanan hilang semua. XIV. (dari) Rangin. 26. 332 . Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut. Adapun yang ke timur. terhadap paduka. Leja. Den Karta berkata. buronan dahulu. Bagus Kandar berlari. (yang bernama) Jigjakarta. empat orang mantri. keturunan para ningrat. melaridiri semuanya. banyak yang menuju barat.menyelam di laut. menghilang di dalam hutan. penjahat yang lari. tahanan masuk hutan dan laut. SINOM 1. hendak kembali sangat takut. dari negara Pegaden. Sesampainya di negara. 28. (dan) Serit keturunan. dan Jayakerti. dengan Dén Ngelan. yang membawa sangat bingung. Begitulah perjalanan Karta. Dikisahkan hilang di dalam laut. 27. mantri berjalan tak tentu arah. di Darmayu berkumpul. Jayamanggala. Kandar. Surakerti.

nanti kanda meminta izin. “Kanda kembali bukan … dan dinda mulia di sini. kanda yang memerintah di sini di negeri Darmayu”. jangan menangisi kami. hendak pergi sekarang ini. lalu melanjutkan perjalanannya. Den Karta dan Den Welang. air matanya keluar. tidak baik (karena) menjadi bupati. “Duh Dinda betapa lamanya. hati-hati dinda ditinggal. “Kanda patih (telah) wafat. dengan dinda Den Welang. Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi 5. kepada Gusti Sinuhun. 3. kanda bawa semuanya.kepada saudara-saudaranya. serta para prajurit.” (Sambil) memeluk adiknya.” Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan. seperti terbuka hatinya mendapat wahyu. Berjalan menuju arah selatan. 4. semuanya menangis. menangis memanggil-manggil. “Duh Dinda bupati. Kangjeng Sinuhun di Grage. 333 . (Sambil) memeluk (dan) menangisi. “Semoga dinda mengizinkan kanda pergi. 2. anak dan istri adiknya. sampai di pintu gerbang.

hendak saya buka. sumur ditutup rapat. lalu bertanya lembut. kepada kompeni itu.” “Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan. apa maksudmu. Raden sudah tiba. “Permisi kawan yang menjaga di Palimanan. seperti apa rupanya. Permisi sahabat (sumur) itu.” 334 . Raden bersama-sama datang.” Den Welang berkata “Hai teman aku memaksa Sersan menjawab. dengan Raden Welang. yang menjaga tadi. apa isinya ini.? Lalu masuk den Karta dengan Den Welang. perintah dari gubernur. jika demikian percumah aku menjaga. bila tidak ada izin Paduka. Menurut pesan komandan. 6. tidak berani melanggar. 8.” Raden berbicara lembut. “Aku menahanmu sobat. Karena ini dilarang. tidak ada yang tahu isinya ini. Ada serdadu yang menjaga. Kartawijaya diajak singgah. Raden ini dijaga. 7. saya hendak melihat. entah apa isinya.sampai ke Palimanan.

9. sudah kamu jangan menemani. bergerak (mendekati) benteng. (mengenai) Séna Surapersanda. 12. Lalu ditutup bentengnya. Kacau para prajurit. Serdadu segera menahannya. lapor ke Betawi. sangat kesal hatinya. Gusti (Sultan) berkata pelan. menangkap Den Welang. Lalu menghadap Gusti Sultan. Raden Karta sudah menangkap. hingga tiba di negeri Grage. 10. kanda yang memburu tahanan itu. perjalanan para penjahat. Berkata Raden Welang “Hai saudara (dan) prajuritku. menghilang dari penjara. 335 . Lalu menulis surat. Lalu melanjutkan perjalanannya. lebih baik segera pergi. Seharian bertempur. Karena itu sersan kumendan. banyak serdadu yang tewas. semuanya disampaikan. semua serdadu cepat memasang meriam. 11. didorong keluar dari pintu gerbang. pasukan Raden Karta. yang dilemparkan oleh serdadu. membuka tutup besi. yang berada di loji Palimanan. Raden Welang hendak memaksa.

15. “Hai ajudan (dan) letnan. serdadu yang membawa. Di loji Palimanan. kepada Sultan Cirebon. kemudian surat dibanting.” Suratnya karena sudah diterima. 14. permisi Paduka saya hendak berangkat. meminta supaya pengacau ditangkap. tangkap ponggawa itu.” Dibungkus suratnya. cepat-cepat berjalannya. Sudah tiba di hadapannya. 13. dari sultan Cirebon. dan bawalah tentara. kurang ajar kalian!” Lalu cepat membuat surat. lalu cepat dibuka. surat sudah disampaikan kepada Paduka. serta beliau berkata. Sudah ke luar dari pintu gerbang. 16. sediakan pekakas perang(nya).suratnya telah dibawa. 336 . serdadu banyak yang tewas. empat puluh (orang) yang terpilih. Raden Karta dan Den Welang. untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral. kepada ajudan dan letnan. “Loh babi Cirebon anjing. untuk Sultan Cirebon. bawalah suratku ini. yang merusak Palimanan. berada di rumah Nihaya.

dan ini berikanlah bersama wasiatku. Malahan surat sampai sekarang. Karta dengan kamu Welang. karena berkomplot. belum dibalas. Suratnya sudah dibaca. 19. memperkokoh aku tak bisa. negeri kami tidak kuat melawan peperangan. menuruti Yang Widi. oleh Paduka Sultan. 17. Tetapi jika kesultanan. 18. Si Klewang dengan si Dumung. sudah pasti (takdir) dari Yang Agung. (yang) ada (di) Betawi. “Den Welang dan Kartawijaya. tanyakan keinginannya. surat lalu diterima. Aku tidak berani (kepada) jendral. Cirebon ini.mengumpulkan prajurit. dipaksa supaya taluk kepada Mataram. berkata Kangjeng Sultan. kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu. 337 . (dan) sedia pekakas perang. Gubernur Jendral yang meminta. malahan negaraku. Besok datanglah ke Betawi. Secepatnya sudah tiba. dengan sultan di Mataram. Lalu cepat diterima.

PANGKUR 338 . 21. kedua ponggawa ini. Den Welang dengan den Karta (berkata). Paduka (saya) minta izin. karena aku belum (menuruti). perjalanannya pasukan jendral. Lalu sersan berkata. “Sudah selesai perintah.” lalu keluar ponggawa cepat dibawa. 22. mohon izin Paduka. dijewer telinganya. merangkul kedua ponggawa. “Hai ponggawa Betawi permintaan gubernur ini. deras keluar air matanya. memang dariku (timbul) kemarahan jendral 20. XV. hingga tiba di Dalem Agung. mengamuklah di Betawi wali membela kalian. (Sultan) turun dari tempat duduk. “Baiklah. tidak dikisahkan di jalannya. Cepat-cepat di perjalanannya. mereka yang didakwa. kepada Gubernur Jendral. sudah dikisahkan dahulu. Lalu menghadap [Paduka].dengan tulus di dalam hati. sudah tiba di Betawi.” Lalu sultan berkata kepada sersan. Diceritaan perjalanannya.

datang Tuan Gubernur Jendral Betawi. ini ponggawanya. diangkat ponggawa olehmu. apakah kamu berani kepadaku? Akulah Gubernur Jendral. Lalu cepat berkata. karena aku hendak menyerahkan nyawaku. (itu) karena berkat Sinuhun Mataram. 3. sembrono pimpinan jendralnya. (yang) berkuasa di Pulau Jawa. 2. 4. memalukanucapan pimpinan jendral. disuguhi makian.1. “Hai Tuan Gubernur Jendral permisi saya hendak menjawab. Tetapi kelakuanmu ceroboh. meliputi tanah Jawa. dan sampai Betawi. tidak memakai tatakrama.” 339 . “Letnan dengan sersan. kekuasaan Paduka besar. apa kamu tidak kurang pendengaran?” Karta dengan Raden Welang tertawa (sambil) berkata. 5. Sudah ada di hadapan Paduka. Bagaimana perintahku padamu?” Berkat Tuanku. kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda. “Lho anjing binatang gila. Sebelum aku periksa kemarahannya seperti orang gila. khalifatullah yang adil.

7. Lalu dibawa ke luar.Gubernur Jendral sangat malu. lima lusin meriamnya. Lalu kedua orang itu dipasangi. silahkan apa yang hendak dilakukan. karena pasti bakal mati. di benteng Palimanan. (ingin) menuruti emosi. Den Karta dengan Den Welang. tetapi kamu tidak adil. 8. 9. (tepatnya ke alun-alun) Betawi. apa keperluanmu berani berbuat itu. lalu pasukan berbaris. (Prajurit) bangsa Belanda. 6. lalu merasuki jiwanya. hukuman militer bangsa Belanda. berpangkat ajudan sersan memburu. Lalu Jendral berkata. Kiai Kuwu kasihan melihatnya. aku terima [dadi] kehendak Paduka. berani membunuh serdadu sampai mati. “Hai ponggawa aku ini terima salah. aku pukul hingga mati. 340 . 10. karena kamu melanggar. (tetapi) dirasakan kurang etis. Sekarang kamu terima. tidak (mau) melihat mereka ditembak. keduanya mengamuk kepada Belanda. Semua pasukan militer. sampai tiba waktu keduanya dihukum. Karena bingung menjadi terdakwa.

Den Karta melihat. (beris) peluru intan pusakanya. tidak jelas melihatnya. “Hai orang Cirebon anjing kamu. melihat pasukannya rusak. terlihat dibakar. bingung balatentara jenderal. diambil mayatnya oleh para pasukan jendral. dari belakang yang dituju. 11. 12. Sudah menjadi kepastian. sudah cukup dibela. lebih (dari) seribu (orang) yang mati. Banyak yang rusak pasukan jendral. karena perang dengan teman sendiri. tewasnya Raden Welang. Di Betawi sangat kacau. lalu memburu pasukan jenderal itu. 341 . 13. kematianmu ada di Betawi” Lalu Gubernur Jendral.” Lalu dipasangkan. sangat susah balatentaranya banyak yang mati. banyak temannya yang bertarung. dari (raga keduanya). Lalu mengambil senapannya. “Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini. Raden Welang pemimpinnya.diserang (sehingga) banyak yang tewas. Lalu keluar kakek kuwu. sampai mati di atas tanah. 14. musuh bijaksana. hasil pekerjaanmu merusak negara ini.

serdadu militer yang terpilih. (akan) kuminta daerah Kasultanan Cirebon. pasukan laut (dan) pasukan darat. 16. Si Kelewang dengan Si Dumung. letnan kolonel ajudan lalu berbaris. terkena lalu tewas. lalu mayat Kartawijaya itu diburu (oleh) jenderal. Keris pusaka menghilang. persiapkan perlengkapan perang. (kemudian) membuat pesanggrahan. sudah menyeberang ke daratan. Bawalah tiga kapal. 15. 19. pasukan militer mundur. untuk mengganti kerusakan tentaraku. Orang-orang geger. Tetapi Tuan Gubernur. lalu ia berkata kepada ajudan (dan) sersan. 18. mayatnya menghilang musnah. sangat susah balatentaranya rusak. 342 . Sersan ajudan keluar. sekarang kamu bersiap. Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon. balatentaraku rusak. pendeknya aku tidak terima. 17. “Aku tidak terima balatentaraku rusak. kira-kira tujuh ribu (jumlahnya).Gubernur cepat memasang (senapan).

lalu menyebrangi pelabuhan. pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon. (pasukan) Kacirebonan bersiap. “Orang Cirebon lawanlah.karena Sultan sudah mendengar berita. Serta bertemu dengan Sultan. sampai ke tengah (laut) kapalnya. 23. Radén Pekik dengan Dul. Balatentara jenderal bubar. menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun. (yaitu) Pangeran Suryakusuma Martakusuma. 343 . balatentara pangeran berbaris. semua maju ke medan pertempuran. untuk maju berperang. serta Pangeran Logawa. lalu bersiaga. Lalu gubernur berkata.” Lalu memerintahkan pasukan. semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram). 21. mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram). Ramai yang bertarung. Gubernur Jenderal (ingin) melihat. 20. bila balatentara pangeran berbaris. menaiki kapal berlayar di lautan. Serta Jendral melihatnya. (para) pangeran maju perang. Pangeran Mertasinga dengan (Pangeran) Panjunan menghadap Sultan. 22. Sultan lalu berkata manis. (sehingga) daratan tidak terlihat.

karena paduka sudah lama. Kanjeng Sultan sangat sedih. diceritakan seluruh (kejadian)nya. menjadi sultan. 344 . orang Mataram tiba. Lalu sultan berkata. secepatnya menghadap Paduka (karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram. dari Mataram semmuanya sudah tiba. lalu memerintahkan tumenggung. pangeran. 26. karena hendak menyerang negeri Cirebon. senapati. tamtama. ada apa anda menangis?” Berkata Gubernur Jendral. hingga tiba di jalan belakang. datang di hadapan (sultan). Semuanya bubar. 27. 24. Terkejut sultan melihat. Metaram Broboya. 25. Natabumi (dan) Buminata. Saya mengemban tugas sinuhun.” “Saya berkata yang sesungguhnya. sepertinya membawa perintah. adapun negeri paduka. sudah tiba di negara Cirebon. mendengar cerita gubernur. (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya (dan) Kanjeng Pangéran Natabumi. diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram). untuk mengumpulkan pasukan.“Hai saudaraku Jendral. “Selamat datang saudaraku.

perintah dari Paduka Sinuhun Mataram. Serta haturkan (kepada) sultan.” Pangéran Probaya berkata. saya tidak akan mengingkari. “Duh saudara-saudaraku. Cirebon menyerahkan negara. Serta paduka turun tahta. (saya) akan serahkan. perintah sultan Mataram.28. 30. (merupakan) upetinya itu. menerima santunan serta diberi tanah. (saya) permisi hendak kembali . sudah disampaikan kepada sinuhun 345 . tiga ribu pemuda dengan paduka. menuruti kehendak paduka. 29. saya melayani. karena setiap luas (tanah) tadi. Sultan tidak bisa berkata. saya siap berperang. (apa) yang disampailan Paduka. Jika paduka tidak menerima. berangkat kembali ke negeri Mataram. akan disampaikan kepada Jeng Gusti.” 32. (Lalu) bubar semua. (lalu) berkata perlahan-lahan. karena negeriku Cirebon wilayanya kecil. 31. “Jika demikian Paduka. untuk saudara-saudara paduka. seluruh prajurit Paduka.

sesudah bercengkrama. XVI. dijaga Yang Maha Melihat. segera menghadap kepada tuan gubernur. berkat pertolongan Tuan (saya) mendapat kemuliaan. (lalu) memanggil Wiralodra. 4. lalu sama-sama berpamitan (untuk) kembali ke Batavia. semoga selamat (dalam) memimpin. 2. penyerahan (dari) Sinuhun Sultan. KASMARAN 1. Memimpin di Pulau Jawa. Gubernur dengan Sultan. Lalu gubernur menerima. Sesudah tiba di Betawi. lalu dengan gembira menerima negeri Cirebon. masalah negeri Cirebon. berdoa kepada Yang Agung. (saya) banyak mendapat kemuliaan. dari negara Darmayu Setelah tiba di Betawi. 346 . terima kasih banyak atas pengangkatan ini. “Selamat datang Dinda Dalem. Sangat gembira Tuan Besar Gubernur. 3. Lalu Jendral berkata.mengenai penyerahan negara itu. beribu-ribu terima kasih. hingga anak cucu Tuan.

sekarang hendak makan-makan. tetapi saya serahkan semua. karena ia tidak punya. memerintah kabupaten. Serta Kanda memberi tahu. tanah saya di Darmayu. (ditambah) tiga puluh rupiah. “Jika demikian aku terima. Gubernur berkata perlahan.semoga diridoi Yang Agung. Lalu bupati menandatangani 347 . untuk memberi makan serdadu. harta beribu-ribu (jumlahnya). anak cucu sama-sama mulia. termasuk uang sebelas ribu jumlahnya. harta yang beribu-ribu (jumlahnya). 5.” Bupati tidak bicara. harus dibayar (oleh) dinda. 9. karena (atas) bantuan (dinda) (bisa) menangkap penjahat itu. Semuanya (telah) saya hitung serta semua perlengkapan. tetapi Dalem (harus) menandatangani. 6. 7. tetapi kedudukan Dalem tetap saja. apakah Paduka mau?” 8. Lalu berkata pelan “Duh Paduka Tuan. seperti biasa. karena tanah (itu) milikku. sebetulnya saya tidak punya.

bupatinya tetap aku. untuk mengongkosi perang. hingga sampai di kabupaten. 10. Lalu bupati pamit. oleh Tuan Jendral Betawi. (Kemudian) diganti oleh putranya. tidak berubah (masih seperti) biasa. 12. Tuan Gubernur Jendral. “Hai saudara dan anakku. yaitu Raden Krestal. (Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis. hingga wafatnya. Tetapi (kedudukan) bupati sekarang masih tetap. negeri Darmayu. Lalu Dalem berkata perlahan. (bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun. Lalu bupati jatuh sakit. (demikian pula) kedudukan bupati. Lalu tiba di negaranya. sudah takdir Yang Maha Melihat. 13. kembali ke negerinya.surat (perjanjian). 11. para saudara menanyakan berita. kepada Tuan jendral. 348 . (Tahun) 1610.. disambut para ponggawa. berlayar (menaiki)eperahu. semua tidak ada yang abadi. Darmayu kepunyaan. Negara dirampas. hingga anak cucu semua.

Wiralodra gelarnya. Ia mempunyai anak, berjumlah tujuh orang. 14. Yang sulung Raden Marngali lalu Nyi Wiradibrata, ketiga Nyayu Hempuh, keempatNyayu Pungsi, dan Nyayu Lotama Hanjani bungsunya, (Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya. 15. Bupati sudah lama, mempunyai mertua jahat, merampok pekerjaannya. Sangat susah rakyatnya, (harta) miliknya dirampok, Patih Singatruna, sangat kasihan kepada rakyatnya. 16. Setiap malam tidak berhenti , penjahat (itu) menjarah. Patih Singatruna, berkata kepada kakaknya “Duh kanda Mlayakusuma, apa yang harus saya lakukan, mau jadi apa dalem ini? 17. Tidak menyayangi rakyatnya, (yang) dirampok (dan) dijarah, (dalem) tidak peduli sekarang. bagaimana saran kanda, dinda hendak memohon, kepada Tuan Residen, di Cirebon.

349

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela), betul jika demikian, nanti kanda ikut menandatangani (surat). Kemudian segera membuat surat, ditujukan (kepada) Tuan Residen, (mengenai) semua yang terjadi, ditulis di dalam surat. 19. Lalu segera dikirimkan. Selang beberapa hari Tuan (Residen), tiba di Darmayu, dihancurkan semuanya, disita benda-bendanya, (lalu) dikumpulkan, yang dirampok penjahat. 20. .Cocok banyak barangnya, (dengan) yang diaku oleh rakyat, cocok dengan yang dimita, lalu bupati mengirimnya, ke Cirebon. Sangat susah hatinya, ditahan selama tiga bulan. 21. Menunggu keputusan negara, dan sampai kepada keputusan, Dalem Disowak namanya, yang menjadi jaksa itu, sedangkan adiknya, Wiradibrata (namanya) diangkat menjadi rangga. 22. Patih Singatruna diangkat menjadi wedana, di distrik Jatibarang, Mas Malaya Kusuma

350

mendapat pangkat, diangkat (menjadi) kalektur, di gupernemen. 23. (Singatruna) wedana merangkap patih, di negara Darmayu, para penjahat semua, sama-sama hormat melihatnya, karena kebijaksanaannya, (oleh) wedana dengan kalektur, penjahat banyak (yang) ditangkap. 24. Negara sangat makmur, tidak ada penjahat, tidak ada masalah, di nageri Darmayu . Patih Singatruna, mempunyai anak, banyaknya lima orang. 25. Yang sulung Patimah, lalu Nyayu Juléka, Brataleksana yang laki-laki, Mas Demang Bratasentana, bungsunya Bratasuwita, semua anaknya, menjadi orang yang berpangkat. 26. Raden Rangga putranya, empat orang, putra yang sulung bernama Radén Wiramadengda, Radén Mardu, Nyi Sumbaga, bungsunya Radén Madada.

351

27. Kalektor putranya itu, lima orang jumlahnya, Asisten Hardiwijaya, yang perempuan Nyai Muda dan Sudirah namanya, Nyahi Junéd perempuan, bungsunya Nyai Juminah. 28. Radén Kartawijaya, putranya hanya seorang, Radén Karta Kusuma, yaitu Ratu Hatma, mempunyai anak tiga (orang), yang sulung Biskal Cirebon (ialah) Prayawiguna. 29. Adiknya perempuan, Kertadiprana namanya, yang ketiga pangkatnya ulu-ulu, tinggal di kota Darmayu, menurunkan putra, yang sulung Kertahudaka 30. (yaitu) Demang Lobener, adiknya Mangundria, Demang Bangoduwa, Muhada tukang timbang, Nyayu Jeni kuwu, yaitu Kertahudara, upas bom pangkatnya. 31. Kertahatmaja bungsunya. Darmayu …, Taahun 1813, Tuan Pri namanya,

352

Kiai Jaksa sudah meninggal yang menggantikan anaknya, yaitu Marngali, gelarnya Wirakusuma. 32. Menjadi demang pangkatnya, tinggal di kademangan, distrik Paseban namanya, Balu Kalid namanya, Demang Wirasaksana, menjabat demang, di kademangan Lobener . 33. Suami Nyayu Sungsi mengembara, tidak menjadi demang, dahulunya dari Palumbon. Mempunyai seorang (anak) laki-laki, He… Subrata namanya, menduduki pangkat, menjadi demang Luwungmalang. 34. Suami Nyayu Lotama berpangkat ulu-ulu. Suami Hanjani Wirajatmika namanya berpangkat mantri. (Lalu) Bagus (Bag)ya namanya, gelarnya Kitawilasa.

Asal-usul Wiralodra Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai. Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.

353

Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara. Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra: 6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 7. Gagak Kumitir di Bagelén 8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra: Radén Wirapati Radén Wiraseca Radén Wirakusuma Radén Singalodraka Radén Singalodraka berputra: 4. Radén Jaka Kuwat 5. Radén Kumbabocor 6. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca berputra: 6. perempuan Nyayu Wangsanegara 7. perempuan Nyayu Wangsayuda 8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén 9. laki-laki Radén Tanujaya 10. laki-laki Radén Tanujiwa Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama: 5. laki-laki Radén Sutamerta

5. 6. 7. 8.

354

6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati 7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata 8. laki-laki Radén Driyantaka yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu): 1. laki-laki Radén Kowi 2. laki-laki Radén Timur 3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati 4. laki-laki Radén Wirantaka 5. laki-laki Radén Wiratmaja 6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa 7. perempuan Hajeng Sutamerta 8. perempuan Hajeng Nayawangsa 9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a 10. perempuan Hajeng Hadiwangsa 11. perempuan Hajeng Wilastro 12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a 13. perempuan Hajeng Patranaya (Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III. Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama 8. laki-laki Radén Benggala 9. laki-laki Radén Benggali kembarannya 10. perempuan Hajeng Singawijaya 11. perempuan Hajeng Raksawinata Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang: 9. laki-laki Radén Lahut

355

laki-laki Radén Ganar 11. (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. (Dalem ini) memiliki banyak putra. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener 356 . 5 12. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang 11. perempuan Hajeng Nahiyasta 14. bernama 10. perempuan Hajeng Gembrak 15. perempuan Hajeng Parwawinata 12. laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya 13. perempuan Hajeng Tayub 16. laki-laki Radén Kerstal Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII 13. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra: 2. perempuan Hajeng Moka sesudah 3 tahun diganti lagi. Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan 14. perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga 12. laki-laki Radén Suryapati 6. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 13. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4 5. laki-laki Radén Suryawijaya 8.10. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa 17. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener 18. laki-laki Radén Suryabrata 7. perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu 15. Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang: 5. perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah 16.

perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling 8. 4. 357 . 4. 5.6. 5. 3. 8. yaitu): Radén Wirasaputra menjadi demang (Radén) Wirahatmaja perempuan Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang perempuan Nyayu Wiradiwangsa Radén Prawirakusuma (Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang Radén Wiramadengda perempuan Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang Radén Perdata Wirahastabrata Radén Sumarga Wirasudirga 3. 7. 6. perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber 7. yaitu): Radén Madi Wirasomantri Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang. 3. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang. 4. 4. 6.

i … 358 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful