Bab I Pendahuluan

1.1 Identifikasi Naskah 1. 2. 3. 4. 5. Judul Naskah Nomor Registrasi Nomor Inventarisasi Asal Naskah Keadaan Naskah : : : : : Babad Dermayu (Babad Carbon II) 1.368 183.1498/07.35 ? hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik; Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit. Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap

1

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bahan Naskah Warna kertas Tebal Naskah Aksara Naskah Bahasa Naskah Tinta yang digunakan Rubrikasi

: :

tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit. kertas Eropah putih kusam karena dimakan usia 124 halaman Cacarakan Jawa Jawa Cirebon Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh. tinta, setiap aksara Arab kertas tebal dua halaman,

:
: : :

:

12. 13. 14. 15. Penomoran halaman Jilid Keterangan lain : : :

Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca, Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal), Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah, Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan, Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.

2

Bab II Ringkasan Cerita

1.

Sinom Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa. Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang. Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman

3

palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum purapura marah. Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macammacam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik. 3. Sinom Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari. Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan. Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman. Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

4

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana. Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra. Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan muridmuridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas. Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang. 4. Kinanti Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah. 5. Durma Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia

5

mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu. Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan. Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra. 6. Dangdanggula Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen. 7. Durma Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji. Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya. 8. Dangdanggula

6

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok. Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom. Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur. Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV). Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

7

dipimpin oleh Bagus Kandar. Lalu dilakukan penyerangan. dan Bagus Seling. dan Pasiripis. Pangkur Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. Bagus Leja. sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem. Surapersanda. yaitu Ciliwidara. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya. Bagus Rangin. Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun.Nyai Moka pekerjaannya mengaji. Hastrasuta meninggal oleh 8 . datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya. Pada suatu hari. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas. ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta. Kulinyar. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan. Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta. 10. 9. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Sinom Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara. Mereka bersiap menyerang Darmayu. putra Singalodra. Jumlahnya sekitar 700 orang. Ciliwidara kemudian menghilang. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati.

Sepanjang perjalanan mereka merampok. Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. 11. Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Mereka diikat dan disiksa. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan. 12. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. Wangsakerti mengirimkan utusannya. sehingga para perampok itu tiba di Darmayu. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Bagus 9 . Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. anak Wangsakerti. isinya meminta bantuan. Durma Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan. 13. Durma Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. tetapi sebagian lainnya melarikan diri. Asmarandana Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya.panah Ki Serit.

Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran 10 . Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. agar Cirebon mengganti kerugian Belanda.Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang. Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. 14. Sinom Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpurapura sedih. Keduanya dimarahi dan dicaci. Mayatnya menghilang. 15. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan. Pangkur Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap. Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi.

Mangundria. Wiralodra memiliki tujuh orang anak. Nyayu Wiradibrata. yaitu Raden Karta Kusuma. Nyayu Juleka. Ia memiliki lima orang putra. yaitu Patimah. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak. Muhadapan. dan Bratasuwita. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang.030. dan Kertahatmaja. Raden Wiramadengda. Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok.yang merugikan pihaknya. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. yaitu Biska. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. dan Nyai Juminah. Nyayu Lotama. yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang. Sudirah. Nyayu Hempuh. yaitu Raden Mardada. Kasmaran Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi. dan Nyi Sumbaga. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka. dan Kertadiprana. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. Kalektor memiliki lima orang anak. dan Hanjani. Nyayu Pungsi. 11 . 16. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi. Raden Rangga memiliki dua orang anak. Bratasentana. Nyayu Jenikuwu. yaitu Hardiwijaya. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11. Brataleksana. Bupati meninggal dunia. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Cirebon diserahkan kepada Belanda.

12 .

dan guru gatra. pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya. Bait-bait yang 1 Hermansoemantri. Transliterasi disusun berurutan ke bawah. yang terikat oleh guru lagu. Dalam transliterasi. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya. 1979: 366. Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut.Bab III Transliterasi dan Terjemahan 3.1 Teknik Penyajian Transliterasi Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin. misalnya I Asmarandana. guru wilangan. Selain itu. karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh. 13 . Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat. Dalam transliterasi ini. BD ditulis dalam bentuk pupuh. maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang. tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber.

Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. dan seterusnya). yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait. sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan. Contoh nomor halaman: 17 (37. suku kata. atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi. Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi. 857) .37 nomor halaman pada naskah dalam foto . 4. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1. 3a.857 nomor eksposure pada foto 3.berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. Tanda […] Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca. Tanda (…) Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara. 2. Pengantar Terjemahan Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD. 2a.17 nomor halaman pada naskah . Nomor dengan angka Arab Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis.2. Nomor dengan angka Romawi Nomor ini menunjukkan urutan pupuh 2. walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1. Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah. 1. Atja dan 14 . 3. 3. 1a. sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor. Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan.

penerjemah harus mencari padanan yang dinamik. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul. (2) siapa pengirim pesan itu. dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran. bergantung kepada kemampuan penulisnya. 2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin. artinya padanan kontekstual. melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra. 2 Atja dan Ajatrohaedi. dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran. (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan. 1998: 1 15 3 . penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut. 1986: 94. Berdasarkan pendapat itu maka: 1) objek terjemahan adalah bahasa tulis. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly. Djajasudarma. B. bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu. 3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah).Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan. dan 4) di dalam proses penerjemahan. ditujukan kepada siapa.H. makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan. Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks.

4 5 Catford. 16 . 4 Pradotokusumo. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran. dan penerjemahan sintaksis. terutama dalam gaya. jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa. yaitu penerjemahan fonologis. Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas. kata majemuk. kata. di samping aspek linguistik. penerjemahan morfologis. sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya. Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan. 1998: 4. 1965: 20-26. 3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan. Namun jika teks berbentuk puisi.Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu. 1986:173. Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana. Djajasudarma. 2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem. 1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber. dan frase). terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan. meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik.

Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama. Karena itu. teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa. dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah 17 . Berdasarkan pertimbangan tersebut. penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase. dengan menggunakan tanda khusus. Walaupun bentuknya pupuh.Berkaitan dengan penerjemahan teks BD. dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”. c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan. agar mempermudah proses membaca. yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah: a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut. d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD. Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama. yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus. di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi. maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati. karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik.

18 . sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan.semula.

nuju néki. … kinarang sinekarna. …sajarah tiyang ku[n]na.. sampun kantos… langkin. nuju seneng manah hulun.. waktuna . bermula Da(lem Kang)jeng. Hanak putu Wiralodra..3 Traansliterasi 1 (1. jam kalih dalu nu jo …n[n]i. supaya … galur. buku sajarah dalem … 19 .3. supaya samya huni[ng]nga... hanak……nakin….. 821) //I. SINOM 1. hérpol sa[ng]king Mantri Haris. (nu)ju se(neng). 4. Kang hana hing Darmayu mangkin. Tan sanés hingkang sinekar.. hing dalu Jumahah legi. trus tumurun hing putra… 3. turun-tumurun niréki.. sasih. kartadipran[n]a……s.tiyang. …li ka[h]ula haserat. tahun séwu sanga ngatus pan[n]e… 2. Ki Wiralodra rumuhun. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat. wedar[r]ing kanda rumi(yin). bénjang lang…… kun hakir. hing tanggal kaping sadasa … wan di. Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir.

hapeputra… tumenggung hanang Metawis…. …sumi. . Kartiwangsa …(mang)kin. …ki gumantya. Pejajar[r]an putra ratu. Pan sada……(tu)menggung. ningal[l]i sujarah mangkin. laki…mangkin. ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u… nulya kagu[ng]ngan putra. Panembahan Kyahi Be(la)ra. hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa). wedar……kantos dateng Majapahit.… nti pada … rusak. turun[n]i Wiralodra. pakuburan pun tinga[l]li… …ngungun rusak[k]é hing pakuburan. maksa hing ngila[r]ran hulun. Jeng Pangeran Hadi… hingkang peperab. 6. Nulya ka[h]ul[l]a. ka…hical hingga tu … …n[n]é sujarah dingin.. Gagak Pernala Tu(menggung). 7. Bagelén hing rang(gah) ( hapepu)tra malih. Tumenggung hanang Mataram. 20 . Wirasecapan kagu[ng]ngan.. Larakelar hasal néki. Minggu palesir kula. 5.

Wiralodra. hing Bagelén dalem[m]ipun. Hana …ling malaya. (Wi)ralodra katiganya. pernah hingkang sepi mangkin. kasa. Gagak Singalodraka…da…ya. 1a (2. gumuling hing wisma. nulya peputra … hanang Banyu Hurip Kedu. Putra hingkang pa… Pan Radén Gagak Kumitir. … nagara. saréngat (hakeka)t mangkin. sanget saking nyandang kingkin. hanenuwun hing Yang Widi. 822) 8. 9. Tanujaya hingkang rayi. gumantya para bopati. Dén Gagak Wirahandaka. (Tanu)jiwa kang wuragil. Wangsayuda rayi héstri. Dén Gagak Wiraku(suma) hapeputra malih. … Pringgadipura. Pembajeng Wangsanagara. Karangjati kang nagari. 21 . remen[n]ipun hamertapa 10.Lajeng ha… …puna…sekawan.

(pa)dang kadya lintang. nulya …kinanti hingkang tinembang. …cahya hingkang bening. KINANTI 1. tanda tinarim[m]éng hagu(ng). suwara kang kapiyarsi…. II. ningal[l]i wonten hing langit. (nu)ju dalu Jumah. hicaling pepadang mangkin. rosik[k]a. Ngulon hungsinen kacung. 22 . …dang nelahi. hamandeng hing wujud tunggil …nya (hing) jero supaya dados satunggal. (Su)kma hing yang hagung. sareng ming wétan ning[ng]al[l]i. kantu Bagelén. muga-muga hantuk mu(lya) turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan. …ru ngira. …Wiralodra. lamun péngén mulya kaki…nira. hing halas Cimanuk 2. tigang dahun lamin[n]éki. cahya…mang tapa. yahiku cahya handaru. tansa(h) hingkang tumingal. …ngaran suwun hing yang sukma. sampun hical wujudnéki. 11… (sa)réh miwah dahar.. babad[d]ahing halas kaki.hakékat mahripat wahu. 12.

(ha)turan turun[n]ira. duging turun pitu kaki …tuhamu. 822) //. sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki.halas gedé hi[ng]ku nyawa. Sun pasrah(a)ken yang hagung. 3. putra ngambung suku ram[m]a. lali turu miwah dahar. handres miji(l) ditangis[s]i. kaki hanak [k]ingsun mangkin. sangking sakarsan[n]é kaki. malebeting wanadri. 5. mapan déréng ha…ta. rinangkul dipun tang[ng]is[s]i.. Kyahi Tinggil tanéki. kaliyan Kang Pandakawan. (hing) kali Cimanuk pernahnya. Halilir hanggé …sami katar …hing jeng rama Ngatur[r]aken pi … hing jeng …nas mikatur 2 (3.ning ram[m]a. putra ningsun hayu …cw. sami medal toya. 6.waspa. pan bakal dadi nga…. hing pundi panggé(nénéki) 23 . Medal ngidul pinggir gunung.. 4. miwah nang[n]i hingan[n]néki.. Kahidinan sampun kondur. mila hénggal lunga haka… …Wiralodra.

kula tur[r]i sabar briyin… …mi pukulun. …toya geng prapta. hang linggih hing pinggir kali. 823) 10. (pri)yén pan karo hapa?” Humatur kiyahi Tinggil. Sareng héca gényagah. 12. 11. 24 . wunten kaki tuwa prapti. kathah wowotan puniki. hingkang mindah kaki tuwa. hanggén[n]é wa(na)dri. Raden Wiralodra dulu. 9. Saparantos bendara. Kali hageng hing Citarum. lan puniki Gusti dara. kali gedé hangliwati. Kula kinten be…dusun. nulya jeng hing lampahnya. Le… 2a (4. “(Pa)man susah hingsun. Kantos lami tigang nahun. …sowan. hanang hing(kang panda)kawan. pitulung Yang Maha Widi. hutawi kebon jalmi. …hapandé ring hantuk marma. kantos dumugi hing kali. 8. Nulya hawecan[n]a haris. ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil. Léréh[h]an nyenangna pikir.7. Buyut Sidum tiyang karihin.

ngatur[r]aké lampah néki. dé… (han)tuk hawecan[n]a. “Duh Ki Putu welas mami. sampéyan … kula. tigang (tahun) lampah kula. … Kerawang bagiyan néki. sangking Bagelén nagari. 25 . Pun lami lampah …n hulun. …(Kali) Citarum. Nulya hical kaki sepuh. kagét wahu haning[ng]al[l]i. hing pundi Cimanuk kali. “Haduh Kakang tu (lung) kula.wunten kaki kaki prapti. sangking kaki tuwa hiki. nuwun pitulung pun kaki. “ 17. 824) //…la ngétan pernah néki. sesalaman hasta kalih. 13. 15. sarwi megap megas har[r]is. humatur hawelas sasih. sarta sareng nya lenggah. muga kaki hanulung[ng]i. bakal hingsun (hantuk) warta. kula (harsa) hantuk warta. Hénggal ti(nari)k rinangkul. sanget bhingah[h]é hang… lah bagja temen pun mami. 16. 14. Kyahi Dum wecan[n]a harum. sampun…kedah wangsul malih niki. hamesisir la… 3 (5.

lan sing pundi hika hasal. 21. …manten pan hantuk marma. Nulya hawecan[n]a harum. lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki. Sumber medal saking sumur wan[n]a dateng Ki Tinggil. lumampah siyang lan wengi. sareng duging Pasir Hucing.getun Radén Wiralodra. lampa[h]hing KiWiralodra. Hutawi negarin[n]ipun. Hangrem(pug) hing wana (a)gung. 19. pitulung[ng]é hing Yang Widi. datan saréh miwah dahar. hing ngendi si kaki tuwa?” Ki Tinggil humatur haris gugup dara hameriksa. kula lajeng pangkat Gusti. “Duh Paman Tinggil pun kula. boten[n] takén wasta kriyi(n). nulya hénggal halumaris. nanging bagja kula Gusti. “Duh paman Kiyahi Tinggil. 26 . hambhujeng lampah pun hénjing. mila…hénggal-lénggal. ngétan ngalér margin[n]éki. 22. Pu(ni)ki pan margin[n]ipun. ningal[l]i medal[l]ing surya. kabujeng (mu)sna pun kaki. déréng (ta)kén wastanéki. 20. 18. wonten toyan[n]ipun mili.

Kyahi Tinggil pan humatur.meng(ké) laréh pada mandi.” 23. Lami hanthuk kalih minggu. 25. 24. Kyahi Wiralodra tanya. hadem kasilir marut[t]a. hing Kakang tembé pinanggih. 3a (6. 825) pi//wiwitan hiki. langkung sa(hé) toya bening. madukuhwan hing wan[n]adri. sun ting[ng]ali hiki toya. ming[ng]elér lampah hiréki. hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil. 26. hana (to)ya tengah wanadri. lan sinten kakang peparab. sarwi sesalaman kalih. kula péngén sesaréyan. nulya manggih tiyang gaga. Dalem (Pega)dén hing bénjang. Wirasetra jeneng ma(mi) 27. (lamun Gusti) kersa mandi. nulya pangkat Wiralodra. Yayi sinten jeneng[ng]ipun. Wirasetra wastanipun. “Duh kakang basa pukulun. sah[h]a hasli pundi ranti?” 27 . duh Wirasetra jeneng mami” “Hingkang wewangi pun kakang. sing wétan hasli rumihin. hing bénjang bakal nurun[n]a. lan badé karsa hing pundi.

Hanulya binakta wangsul. ngalar[r]i Cimanuk kali. 30.subu haneda. Wirakusuma Dipati. badé hanglemok[k]en badan. sami pada suka hati.” 28. “Duh Bendara tembé habdi. Karun[n]a sarwi hangrangku(l). dameng tambi weteng blending. hingkang dipun bukti habdi. 28 . Sinubu. “Duh bagja temen rayi. hingkang lami manggén riki.Wiralodra jeneng rayi. tyang tangga samiya bhukti. 31. yén lumampah sempoyongan. Banyu Hurip dulur misan. Kyahi…humatur. handugék hagen pun daging. Haduh dara kula suwun. daging kula kathah hical. 32. salaminé boten bukti. pu……na tan dahar. Ngayang hayang hir tiyang bu… suku hasta halit halit. sing Bagelén hasli kula. 29. dameng gegodong[ng]an kula. hing wisma pernah hi(ré)ki. pinanggih kaliyan kakang. Kakang (ing) wétan nagari. dahar …se//(ka)lih hulam. kula hasring niba tangi.

“Duh kakang panrima yayi.kasrimped déning la…tan.la. 35. hanggén[n]é bungah wak ingsun. mila sing lami hing riki. bis[s]a wareg dika bukti. “Ya paman Tinggil wus begja. nulya humatur hing raka. pinanggih kaliyan kadang. 37. “Duh bagja kula ben(dara) kranten kula nyémah niki. Radén Wiralodra wahu kantuk sasasih mangkin. Kyahi Wirasetra puniku[s] hanyambung[ng]i sabda man[n]is.” Humatur Kyahi Tinggil. sarta rejekimu paman.” 36. sadinten ping kalih bukti. 4a (8. manggén tengah wana mami. 29 . “Duh kabegjan pama. pernah[h]ipun hingkang kali. Tyang kalih sami (gu)yu. lubér[r]an masșa redi. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun. muga dén hidin[n]i kula. Cimanuk wangsit yang sukma?” Wirasetra muwus haris. 33. sampun gama rasa kula. pinanggih lan kadang mami. hamireng hatur[r]é Tinggil.” 34.. 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin.

ming (pinggi)ran[n]iréki. mingétan hingkang … dén…i maksih hageng hingkang wana.” Ki Tinggil humatur lirih. Nulya tiyang kalih lumaku.” 39. tak duga hiki Cimanuk. Nulya pinanggih lan kali. gampang bésuk sandang malih. daging kula dugi malih. “Nun bhendara nuwun kula. 40. kalih sasih hing laminya. 42. 41. “Héh Tinggil sun dongakna.“Muga dak jujurung pandonga. mugiya hénggal pinanggih. gumujeng[ng]é suka hati. namung héwuh ……habdi. sarwi matur klayan lirih. sangking daramu pikersa. boten wonten padukuh[w]an. Kyahi Sidum sanget welas. Sarta rineksa Yang Hagung.” Hang kalih pangkat hanjugjug. hénggal hasira pinanggih. kelangkung sanget bungahnya. “Duh dara men[n]awi nyata. “Lah paman Tinggil puniki. Ki Wirasetra hangguguk.” Nulya sesalaman sami. 38. Ki Tinggil pan manembah. 30 . kanggé… kan…yaktosnéki. hatut pinggir pinggir kali.

hing wétan tan[n]ana Tinggil.” Nulya hamarin[n]i sirih. sundrem malem mangajeng[ng]an. paré gajih putih putih. kebon lega palawija. térong kara sabrang cipir. “Duh Tinggil bagja wak mami.warna. bonténg timun miwah lobak. linggih hongot-hongot deling. kanan kéri mandakaki. hing wésma wonten tiyang lenggah. 47. tongkéng malengkung hing lawang. lumampah nrajang rinungkun. kebon lega palawija. Boléd homas miwah jagung. langkung sahé dén tinga[l]li. 5 (9. 43. 46. Wiralodra hawecan[n]a. 44. pinuter kembang srengkun[n]i. langkung seneng haningal[l]i. Ki Sidum lenggah (ing bumi). 828) Hanulya nyipta kiyahi. Gemuh wéhing kebon wahu. kebon bhagus datan[n]ana. Raden Wiralodra dulu.ningal[l]i dangka kalih. 31 . ningal[l]i kebonan mangkin. hing wétan kadya puniki. 45. Pinggir kali wésma nipun. tanem[m]ana warna.

“Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun mugya hagung pangaksami. Haran ningsun kang sinambat. hapa harep ngrampog hingwang. na pamali tiyang halas[s]an. 5a (10. badé tanya pan kagu[ng]ngan. 32 . Nulya hawecan[n]a haris.bakal wuwus aya hulam. 52. 50. nembé kula haningal[l]i. nembé teka hamariksa. tan mingsir bari halinggih” 51. kedah[d]ipun maklum Gusti. Nanging hadat[t]é puniku. kebon sahé sapuniki. “Sugal temen kaki kakang. sarta Kyahi kali nap[p]a. harep hapa sira tanya? Kakang tan[n]i malih warni. Hiki kali pan Cimanuk. Hanyentak ngandika wahu. (bo)ten gadah tatakrama. 49. sun kang duwé kebon hiki. hinggih leres Gusti Dara.” Humatur Kyahi Tinggil. 829) //wong ngendi sira hiki. 48. wastan[n]é puniki kali. hingsun tanya bentak nyentak. prawantu tiyang dusun Gusti. sira tekang wisma mami. (“Ha)rep hapa siréki. Kyahi Wiralodra getun.

jajabang muka lir gen[n]i. kaki grendaka sun tan[n]i. “Duh Kyahi pan hingsun tulung. sorah ngandikan[n]é mangkin. kuma tumut ngebon kaki?” Hang réncang[ng]i jeng ngandika. muga dén pernahna Kyahi hingsun nurut jeng ngandika. “Hora harep tulu(ng) mami krana hingsun sugih rayat. Sahiki kaki sun jaluk. hénggal sira hamampus[s]a. “Héh kaki dika wong hapa. tebih sing Bagelén nagara. 55. tan liyan hingkang sun hilar[r]i. Radén Wiralodra bendu. Kyahi malih warni muwus. hing tembé ningal[l]i kali. rin[n]aket[t]an kaki tuwa. ngisén[n]i dika wong dés[s]a. 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i. welas sakya hing mami. Ya hiki kali Cimanuk. hawéh hingsun jaluk paksa. 54. kali Cimanuk pan hingwang. perkara kebonan kaki. hora ken[n]a sun halus[s]i. 6 (11. hora ken[n]a tak bhedam[m]i! 57. 53. haku tan sudi ning[ng]al[l]i.Nulya dén pedek[k]i lirih. 33 . senyatan[n]é kula kyahi.” 56.

Hing pernah kebon wahu. hical mapan dadi wana. nameng wonten kapiyarsi… 61. langkung sorah hawecan[n]a. kari kari kebon mami. “Hah Wiralodra putuku. 59.58. 62. Buyut Sidum haran ningwang. musna kebon kaki-kaki.” Radén Wiralodra mangkin. bener sira pan bherandhal. bésuk dadi dés[ș]a hiki. walang kerik hanuding[ng]i. Pammanuk[k]an hingwang dusun. kidang mas hinten kang soca. hénggal sira hanyabrang. Cipuhnegara kang kali. han[n]ingal[l]i hing siréki. hangadu sakti linuwih. hénggal bhurun[n]en dah kaki. Hingkang mindhah kaki wahu. 6a (12. pan dudu Cimanuk kali. binanting hanulya hical. surung-sinurung tiyang kalih. hanubruk hing kaki tuwa. 60. 34 . Bermula halas dén jaluk. mapan haku hora sérab. 831) //mengkola mun șira manggih. hangadeg linggih hing korsi. pan pinasti karsa n[n]ing wang. yén hora weruh hing mami.

” Hanulya wecan[n]a haris.63. macan tin[n]abok tumul[l]i. hing Cipunegara kang [kang] kali. 66. “Duh tulung bendara ningwang. pasti turun nira mukti. surya hingkang dén ningal[l]i. Hana macan hagung. pinanggih macan gedéki hangadang margan[n]ya. yén șonten kulon pun lingsir. Hinggebeg kiyahi Tinggil. Hing pundi hical ké wahu. “Man Tinggil meneng siréki. poma kaki wekas mami. tetapa hahaja néndra. bénjang lamun kaki babad. hénggal-hénggal lumampahnya. Tyang kalih hanyabrang sampun. macan hapa karen[n]éki?” 67. Sima[h] kekerag hing ngayun. wunten takșaka hageng prapti. 68. 35 . Radén Wiralodra hindha. nulya hanubruk tumul[l]i. yén hénjing tamtu hing wétan. mapan Radén Wiralodra.” 65. nulya musna rupi macan. Lajeng takșaka hambhuru. mangko hingsun harep tanya. hing pundi nusup pun haki.” 64. Lajeng malebetan gung. yahiku Cimanuk kali.

wunten pawéstri yu héndah. Larawan[n]a wasta kul[l]a. tiyang bagus pinanggih riki. 7 (13. taksih nonoman maran[n]i. dén pendhung hula sirahnya. Nulya mendak (taska)ra wahu dén lepas[ș]aken tumul[l]i.hambhakta pendhu Ki Tinggil. “Duh Radén bagus jandika. napa sakarsan niréki. pan badé ngilar[r]i napa. ningal[l]i kali geng néki. manggah jandi katurut[t]i. 69. SINOM 1. III. kula sanggup badé tulung. hing Radén Wiralodra. 832) //kali musna tan kahékși. hasar kula dipun kawin. 36 . déréng hanglampah[h]i laki. Radén Wiralodra héran. sarta kang sineja n[n]éki? Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula. ngalih hasih melas șasih. kasugih[y]an kadigjayan. Dateng Radén [pan] Wiralodra. Pan kula makșih[h]aken[n]ya. Haduh melas temen hingsun. salebet[t]ing wanadri. Musna hula dadi kali. 2.

“Tan gingsir paman wak [k]ingsun. ngangken kenya déréng laki. 4. hamit kula badé hamangsul[l]i sabda. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an.manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula. pan ka[h]ul[l]a datan hasti.” Wiralodra ngandika haris. 833) su…//pekik. Radén nyimpang nganan ngéri. sanajan héstri yuhéndah… hé ora ha(rsa) șeja krami. Ki Tinggil majeng hing ngarsa. bisșa temen ngomé hiki. buru dadi kaki-kaki.” 3. datan pantes tiyang héstri. hana hing tengahing wana. sarwi humatur halirih. langkung gampil tiyang …karma bénjang… 5. “Sampéyan wonten hing wana. mangko badé hingsun priksa. puniki tengah wanadri. pasti pejah sareng ngakalih jandika. “Duh bendara dén hénget[t]a. nulya nyandak Larawan[n]a. 7a (14. dateng Wiralodra mangkin. hangantos hantuk kamulyan. 6. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a. …da krama kula wahu. yén șampéyan tan nurut[t]i. kuping tuli gigir bekuk. 37 . huntu lunga kempo(t) pipi. hanuwun șamangké kula.

karanten ……. wong bagus . suka matiya wak[k] ingwang. malempat Ki Wiralodra. malajeng ming wétan wahu. Nulya dén pe[n]ta sanjata. yén nora dadi sawiji. Wiralodra hanadah[h]i. 9. 38 . senjata ranté tumiba.cinandak mangkin. …cak pan[n]a wong [ng] abagus.kinipat[t]aken tumul[l]i. kénging musna rupi kidang pan kencana. Nulya Radén Wiralodra. héran temen Wiralodra. hananging tan pasrah mangkin. tadah hana tyang pekik kaya jandika. ngadu sakti gumreget Nyi Larawana. Wiralodra dén priyatna. “Duh Radén kang ngatiyati kinten bhabar pisan Gusti. kalumah[h]an nulya nubruk. nulya Dén Wiracabra pinendi. tan ken[n]a sun hé mangkin. 7. senjata ranté pan hiki. 8. dibujeng sami prang lirih. manggah Radén sampéyan males hing kula. candak.tun[n]a …sakti. Wiralodra dén priyatna.. hangasta cakra tumuli. Ki Tinggil maran[n]i hénggal. gébés-gébés haningal[l]i. Nyi Larawan[n]a nadah[h]i.

hayuh paman haja kari. siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a. 39 . hika pan kidang kencan[n]a. 834) gumebyar saliran[n]éki. nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah. hanutut[t]i kidang mangkin.” 11. Hanulya Radén tuminghal 8 (15. 13. paman dén hawas handulu. katingal hujur ring kali. punika kali Cimanuk. “Hing paman kiyahi Tinggil. nulya hangandika haris. kajeng kiharah geng néki. dén pegat nganan lan ngéri cinandak-candak tan ken[n]a. wis bhagja muraki bénjing. Tyang kalih hambhujeng kidang. nulya léréh hing ngandapya. karsan[n]é…mara tinggi kidang kencan[n]a pan hical. toya deres hingkang mili. yén tebih kidang ngentos[ș]i sampun lepas lampah néki. hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang. ming wétan kidang malayu.10. hing turun-turun siréki. Hing ngimpén kang kapiyarsa riki kacung hapan kali. Cimanuk kang dén pilalah. tan șamar kidang kencan[n]a. tyang kalih datan katinggal. Nulya dumugi hing lampah. 12.

“Duh bendara yén waten[n]a. Wis terang wang(si)t Yang Sukma. miwah banténg warak wahu. 835) 40 . kanggé panggénan pun habdi?” Radén Wiralodra wahu. nulya hangilar[r]i pernah. Nulya hadamel kang wisma.” Ki Tinggil humatur lirih. mapan bhibar katawur[r]an. Mangka Raja Budipakșa. wis katrima hing Yang Widi. sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya. hanggén[n]é babad wanadri. Ki Tinggil damel[l]an[n]éki. 16. Sanget bhungah réhing manah. 8a (16. 14. paribawan[n]é panas hatis. ngandika hing paman Tinggil. mapan holih kamuktiyan.karsan[n]é Yang Maha Hagung. hangilar[r]i minggir kali. 17. nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra. hing himpén kang kapiyarsi. wélan-wélan hasung warta. manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata. Radén Wiralodra mangkin. 15. hanulya hamasuh raga. Radén Wiralodra mangkin. pan[n] ingsun șaréh lan dina. “Duh paman bhegja wak[k]ingsun. supen[n]a pana……//warti. nyata hiki Cimanuk kali pernahnya. menggah Gusti kersa pundi.

dikira haku pan wedi.miwah patih Bujar[r]awi s. 836) kumawani// ngusir hingwang. Nulya kalurug Dén Wira. ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis. kapethuk hing wisman[n]éki. ngisén[n]i gandarwo bulus. sakéng bala bubar mangkin. samya dugi hangrawuh[h]i. 20.” Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira. Sulahémana Srabad mangkin. Sakéh[h]é Gedén Muwara. kelangkung sanget duka[n]nya. 9 (17. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira. jurubiksa kathah lumpuh. “Héh satriya wongasigit. 41 . hingkén[n]é majuwa sira. hénggal nyingkir sira hiki!” Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a. braga brigih ngarsa mami. kénging Radén Wiralodra babad wana. pasti lancang kumawan[n]i. gawé rusak bhala[n]ningwang. hamasing donga Ki Tinggil. sarta sakéng sén[n]apati. Ki Gedé muwara Cimanuk. mapan hingsun tan ngoncat[t]i. miwah para kang prajurit. hi ra[n]né sapa siréku. ribut prang[ng]é Radén Wira. Bhudi Pakșa hangandika. hakumpul șabhalad nira. 18. 19.

muga dén hampura Gusti.” 22.nulya wonten hutus[s]an[n]ya.” 23. krana turun Majapahit. 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi. pada hakuren sadulur. 42 . 21. 24. Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat. dumugi saturun rayi. ngasih hasih melas șasih. Werdinata sultan hanang Pulo Mas. Rara Kidul Gusti mami. sangking Tungjung Bang puniki. becik dén raksa hahiki. samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an. Ki Tinggil kang dadi koki. Rayi Sultan bhas[s]a mami. katambhet[t]an Gusti habdi. Dugi hanang Sultan Hemas “Haja pada dén ganggon[n]i. “Mangké sinten pan jandika. sahanak sadulur. “Duh kasuwun jeng ngandika. pada kekadang[ng]an mami. “Duh Radén Gusti kawul[l]a. Sarwi manembah hing ngarsa. nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa. hiku Radén Wiralodra. krana maksih pernah cangga. Nulya siyang dalu babad. 9a (18. sukur bagja rayi sultan.” Ngandika Dén Wira wahu. kasamaran bhala habdi. kakang pan gawé hi…s[s]a.

boléd jagung kalih cipir.miwah nanem palawija. 43 . 27. haja dén télaksaman. sampun hantuk tigang tahun. lami damel padukuwan. Sanget kapéngin pinanggya. palawija tan kabukti. teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin. Radén hangandika haris. Boten wonten kakirang[ng]an. trimanen kongkon malebhu.warni. lamun bhagus tanah néki. bok hana tiyang kang yuda. hawit tetaneman gemah. kawentar kebon[n]an[n]ira. datan wonten kakirang[ng]an. 26. manca negari kang dugi. gundem juwawut hagemuh. sami gemah kebon[n]an hawarna-warna. tumut wisma hanang riku. tan wonten tiyang kirang nedi. lumintu tiyang kang dugi. “Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula. palawija warni. Kathah tiyang kang damel wisma. kathah tiyang sami prapti. hingkang lén Cimanuk kali. Ki Tinggil kadadi lurah. Ki Tinggil humatur haris. “Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a. 25. manah paman dén kariya. kalih rama hibu mami.

rama hibu sami linggih.Tinggil dén kari basuki. hanjujug hing padalem[m]an 10 (19. muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira 31. sangking marman[n]é Yang Widi. “Duh mas han[n]ak ingsun nyawa. hora nyan[n]a temen kaki. pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa.” 30. hibumu pan șamya bintip. rama hibu mirengna. Putra humatur Jeng Rama. “Haduh nyawa putra[n]ningwang. Kacariyos hing lampahnya. siyang dalu pan kating[ng]al. sumanding putra tetelu. 28. hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari. lelampah[h]an putra mami. kang dadi lurah hiréki. miwah kadang kadang néki. marah hanak[k]ingsun nyawa. caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a. 29. 838) //Bagelén hingkang negari. yén hinget hing sira kacung. sadaya samya han[n]angis. Si Tinggil hingkang hatenggah. ningal[l]i kang putra prapti. welas[ș]é hing lampah[h]ipun. pun dugi hing Banyu Hurip. 44 . hanangis șiyang lan ratri. pun katurang lelampahnéki. kagét hibu miwah rama.

sadaya cakep ping kardi. tempat panjagian gardu. 839) 33. handérék șakarsan[n]ipun. miwah Ki Pulaha kyahi. hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil. Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya. saban lurung panjagahan. Sukubahu Jungjangkrawat. pinedhak kadya nagari. margi hageng lurungnéki. 10a (20. cacah limang ngatus jalmi. tumut magén padukuh[w]an. Wanasara Puspahita. hatur[r]an ngurus nagara. 34. dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a. samya matur ram[m]a haji. Bayantaka Jayantaka Surantaka. langkung kathah tiyang prapti. gampang bésuk yan wus dadya. 45 . mengkuwa Bagelén negari. Miwah si Wangsanagari. sahiki pan sira kaki. supaya dadi weruh. cakep hadamel gelar[r]an. lan Tanu[h]jiwa siréki. tyang halit șeneng kang hati. hing kulon dadi nagari. 32.sekawan[n]é putra ningwang. Ki Tinggil hingkang dén tilar. mapan mukti kiyahi Tinggil. kambi sadulurmu kaki. kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara. kadya pangkat[t]ing tumenggung.

38. pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah. punapa sejan[n]é Nyahi. 11 (21. “Duh paman tambet hing mami. tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an. 36. muga dén hidin[n]i hulun. 37. 35. Bade handérék ka[h]ul[l]a. mikul gandum kalih pantun.” Ki Tinggil hambales șabda. “Hamit palamarta habdi. 840) kula haningal[l]i senang. hing sémah manembah prapta. Ki Tinggil haris tetanya. Hanulya wonten tiyang prapta. Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a. dateng pundi sumanggah kapilih karsa. hanjujug wisma Ki Tinggil. 46 . Hakulon hutawi wétan. sumanggah hayu hamilih. tan[n]ah hingkang radi jembar. hayun[n]é hang luluwih[h]i. hasli sangking pundi hayu?” Nyi Hindang mangsul[l]i sabda. tur maksihken[n]ya pawéstri. “Sumanggah handérék habdi. hutawi kula hanyabin. badé ngebon kula kyahi. dén hiring pawong[ng]an kalih. lan șinten kang wangi.saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma. Hindang Darma hingkang nama. tumut damel wisma kaki.

ngandika hing murid[d]ira. 39. temtu haku nulya matur. 47 . hingkang murid-muridnéki. memada… hing jenengi 11a (22. nanging bénjang dara mami. 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang. hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i. hing pernah kang senang milih. mapan șampun Hindang Darma damel wisma. hana wanodya hamulang. sakéh murid pan șami. sampun medal șangking wisma. kawentar liyan nagari. 41. yén rawuh hanang riki. hingsun mapan wis hangrungu. ningal[l]i wong hayu luwih. kanggé garwan[n]é bendara. Pan gemah kang pakebonan. nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya. mandan napa Gusti mami. sakathah[h]é murid[d]ira. kapiyarsa marang Pangéran Palémbang. tan[n]a tan[n]i dérék wahu. pan likur pangéran[n]éki. mandah bungah[h]é bendara. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran. “Héh sekabéh murid mami. Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i. 40. ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh. Hayu mulus kang salira. Hindang Darma mulang jaya. kedot pan gun[n]a sakti.Nyi Hindang mariyos makin.

43. hing muwara mentas pangéran sedaya. samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a. sakedap nétra wus prapti. kawit[n]é tyang dusun habdi. mila hing ngabrama Gusti. hingsun ngrungu t[t]an șudi. kagét Nyi Hindang ningal[l]i. hiki wanodya yu héndah. “Duh [duh] bagja kula sémahan. hanangkep kang pada mami. nulya hénggal babar layar. manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya. Nulya Nyi Hindang humatur. cipta sajroning galih. sampun dugi prahun[n]éki. hasli sangking pundi Gusti.42. “ Sampun numpak hingkang prahu. pada sira dangdan haglis. hanang wisma Hindang Darma.” 44. nulya haris gé nya matur. tiyang hagung hang rawuh[h]i. 45. pangéstri hang lelanang[ng]i. Pangéran pan wicakșan[n]a. wunten tiyang kathah prapti. lan badé karsa punapa. “Duh hamit hing palamarta. 48 . hingsun ngungsi Pulo Jawa. Sahiki murid șadaya. saha sinten kang wawang[ng]i. héman temen tingkahnéki. Pangéran gawok tumingal. Sanget kumejot hing manah.

hora nana padan[n]ipun. 47. hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang. pakșa lumancang hawan[n]i.kados wonten karya hagung. dayang humbaran sira hiki. wong hayu tur lencang kuning. Pangéran Guruh ran mami. hing Palémbang nagrinipun. tedak Haryadilah Sultan. “Héman temen pan șiraki. memadahing jeneng hingsun. hora nganggo tatakramané wanodya. hora ngrungu béja warti. 48. 49 . Mapan hiki murid hingwang. hapa kadiran siréki. Kari kari Hindang Darma. dadi guruh sakéhé para pangéran. 12 (23. kang lagi guruhna ngélmi. kados wonten dén bujeng lampah paduka. kaya hayun[n]é Hindang Darma. samakta rawuh paduka. 842) //wong hayu sira wanodya.” 46. haja mungkir sira hiki. hingkang ngiring marang mami. sakaprabon hing ngajurit. kawentar saban nagara. dadi guruh kaya hingwang. suyud pangéran hing mami. yén șira guruhna ngélmi. Pangéran mangsul[l]i sabda. hingsun parlu mrikșa sira.

maran[n]i papan Kang Hagung. manggah Gusti kersandika. 845) 51. kaya tingkah hira hiku. badé pun[n]apa Gusti. lancang[ng]é kaliwat-liwat. boten wonten bas[s]a lirih. tan[n]ana manus[s]a hiki. 12a (26. 52. Hénggal hanubruk pangéran Wisanggen[n]i jenengnéki. Bratakusuma kang rayi. sakayu(n)-kayun[n]ing hadang. hutawi karéh hing karya. bedama pucuk[k]ing keris. mungguh pan dakwah Pangéran. hutawi hajrih ning[ng]al[l]i. badé napa sumanggah dérék pikersa. Hambales sabda Nyi Hindang. kaya gun[n]a hang luwih[h]i. sagending habdi lados[s]i. Kaya sakti sakti sira. hutawi saktining guru. hanulya medal tumul[l]i. tan karuwan negarin[n]éki. langkung sahé pideksa rupi paduka. Bramakendali kalihnya. matur héstu kang sayekti. Hananging sugal wecan[n]a. lamun kawon mapan kula boten wirang. mapan wisma datan nyambut. 50 . “Duh héman hing rupi Gusti. hipe kon paduka Gusti. Hindang Darma datan sérab.49. sémah neda dén suguh[h]i. 50.

kathah Pangéran ngemas[s]i. kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a. sadaya pan kancan[n]ipun. lumampah siyang lan wengi. “Susah kang Pulaha mami. sampun cahos hanang ngarsi. samya perang silih huki. 54. Ki Tinggil sanget hajrihnya. sasih hanggén[n]é yuda. kari kari kanggé tempat yudabrata. sarwi nguwuh huwuh tanding. sadaya pangéran ngemas[s]i. sun harep matur hing Gusti. Ki Pulaha dén timbal[l]i. kang seneng[ng]an lampah tan[n]i. tak duga pan maksih wargi. kariya tunggu nagara. 51 . “Duh Pangéran hing riki papan kang jembar. 846) //sangking Palémbang nagara. prang sami hangemas[s]i.” 56. 13 (27. Sadaya para pangeran. prang tanding ngadu gun[n]a. sampun kantos hantuk duka hing bendara. kalih Gusti puniki. bendun[n]é bendara mami. 53.kinten jembar yudabrata. Nyi Hindang sakti pinunjul. kanggé tiyang tani tempat. Sampun rucah jeng ngandika. Nulya pangkat gegancangan. hidin[n]é kon gawé dus[s]un. héman rupi hadi hadi. 55.

wicaksan[n]a tur hasakti. Haduh mas pawong[ng]an hingwang. Ki Tinggil hangguguk nangis. saré[h]hing dén tinggal kari. hapa holih kasenengi.” Sakalih pada menenga. “Haduh hanak[k]ingsun kaki. “Wis jamak[k]é sira kaki. si Tinggil turun[n]ira. mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya. toya waspahan dres mijil. tumunten cahos hing Gusti. 58. Tinubruk Ki Pandakawan sarwi dén rangkul tumul[l]i. muktiya wong loro kulup. 52 . sun dongak[k]aken Yang Widi. sakedap[p]an sampun rawuh.prawantu Ki Tinggil lampah. Tinggil han[n]éng pagusténmu. 849) //kancamu pada basuki.” 59. karun[n]a sesambat[t]ipun. sun tinggal kari rumihin. najan pandakawan mangkin. duk dingin sareng sangsara. sarta matur[r]a hing mami. “Duh paman welas ka[h]ul[l]a. lanang Bagelén nagara. 13a (30. 57. sareng hénget sakalih sareng hanembah. samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa. legan[n]a hingkang man[n]ah. linggihya hasoh rumihin. muktiya dugi hing bénjing. Nulya kang rama ngandika.

bantasa kaprabon jurit. Nyi Hindang Darma dinakwa. sarwi bakta muridné para pangéran. berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an. Hindang Darma mulang ngélmi. Pangéran Guruh ngrawuh kyahi. masih ken[n]ya hayu luwih. pangéran samya ngemas[s]i. Nyi Hindang memada mangkin. pinaring[ng]an harja Gusti. dadi guru mulang ngélmi. 61. Nameng humatur kaul[l]a. ngaben sakti hing ngajurit. gemah rah[h]arja hing dusun. 63. Mapan sami yudabrata. Hang wulang[ng]aken kagunan. 53 . katiwas[s]an habdi Gusti. Kasinggiyan[n]ipun dara. dalah kadados[s]an sasti. dalah kathah tiyang prapta. pan badé hanangkep wahu. Hindang Darma pan pinunjul. kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang.marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang. hanggén[n]é tinggal nagari. nulya dén lurug Nyi Hindang. dérék damel wisma Gusti. 60. kadugén Nyi Hindang Darma. sarta win[n]angun[n] nagara. kelangkung sakti Nyi Hindang. gelar[r]an pangatur habdi. hantuk marma ning Yang Sukma. 62.

14 (31. héyangmu pan sami lampus. Gawanen pan kadang[ng]ira. nameng kaki kang halus panangkep[p]ira. nuwun hidin hing ramaji. sing Palémbang guruh ngélmi. 65. kapasrah[h]aken hing Yang Widi. hinsahalah. 54 . matur huning dateng Gusti. Hindang Darma tiyang pawéstri. turun Majapahit kulup. Kang Gusti pan Singalodra. kantos lami pan setahun.tan kiyat hananding jurit. Tanujiwa hingkang rayi. 66. “Duh Gusti pepundén hulun. hingkang rama hanjurung pandonga pasrah. kados pundi Gusti sakarsa paduka. hiku héyang ngira kaki. tumenggung Bagelén nagara. dipati hamaca donga. kang putra dérék pikarsa. hing hibu miwah ramaji. Hindang Darma luwih sakti. mila habdi gegancang[ng]an. Wangsayuda Tanujaya. poma kaki dén tangkep[p]a. habdi suwun berkah Gusti. 850) //”Héh kulup pan Wiralodra.” 64. didongakhaken ka[h]ul[l]a. Tinggil sun durung kamulyan. Si Wangsanagara kaki. Sadaya samiya manembah. Ki Tinggil humatur haris.

hing parnah Ki Tinggil wisma. sadaya pepek hing ngarsi. kinten kabaktaha kyahi. ningal[li] tiyang yudabrata. Bayantaka hana ngarsi. miwah Ki Pulaha wahu. hamaran[n]ika Ki Tinggil.” sampun kondur sangking ngarsa. “Radén Hayu héstu habdi. Tan kawuwus hanang marga.” 2. Sampun prapta kan hing ngutus. hiringen lampah Ki Tinggil. lan kanca dika haja kari. Nyi Hindang kagét tumingal. “Pan paman Kyahi Pulaha. lami datan tan kahéksi. handumuk wisman[n]iréki. hing wisma Nyi Hindang mangkin. 68. KINANTI 1. Radén[n]ayu habdi hajrih. Jungjang Krawat cahos ngarsi. samya prapta wisman[n]éki. “Duh bagéya paman dika. 851) gegancangan gumanti ganti tembang. 55 . IV. sahéstu [pa]manah pun habdi. 14a (32.” “Sumanggah dérék pukulun. hangandika Radén hanang Ki Pulaha. Puspahita Wan[n]asara. lepat boten tur huni[ng]nga. Ki Tinggil haris humatur. kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang.67.

Dedeg kelangkung hayu. 852) 56 . linggih han[n]ang compok kula. 4. kedah kéring da hing habdi. miwah kadang raka rayi. Radén hayu dipun hatur[r]i. hamite geng[ng]en ningal[l]i.3. Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a. hing raség sadayan[n]éki. 7. sareng wangsul wisma habdi. kaluntan wangsul pun habdi. Nyi Hindang ngandika harum. Sampun dugi nembah ngayun. mapan sadaya tumingal. kulit kuning nemu giring. Mila habdi dipun hutus. handérék Nyi Hindang Darma. sekancan[n]é kaki Tinggil. hayun[n]é hangliliwat[t]i. bendara tumut ming kula. 5. 6. miwah Jungjang Krawat kula. rémah cemeng handan pandan. Dados singid[d]an pukulun. dateng wisma hanang wétan. manggah badé dangdos briyin. pin[n]ahés releng asuri. dateng wahu Hindang Darma. datan han[n]a sakéng héstri. kadia putri widadari. 15 (33. hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i. kadi rupi Hindang Darma.

“Bagéya kang nembé prapti. 11. Radén hénggal wecan[n]a harum. hingsun préntah hangidin[n]i. “Radén mahéwu [ng]kang suwun. hing paman Kyahi Tinggil.8.” 10. sapakersa gawé wisma. hora dadi hapa Nya[h]i. hugi Radén nembé prapti. rawuh hing dukuh punika. 9. Hamung hingsun Nyahi perlu. handérék tumut basuk[k]i. habdi hingkang dérék numpang. bekti habdi nun katampi. gegancangan lampah kul[l]a. kaliyan miskin ka[h]ul[l]a. dateng tapak hasta Gusti. manggah katuran haunggah. 13. 57 . Mila dén timbal[l]i hulun. 12. Wiralodra ngandika harum. Hugi Radén sanget nuwun. kula sémah nembé prapti. prawantu pawéstri habdi. sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a. mapan Gusti kula mangkin. ngrahos handérék ka[h]ula. dateng paman Kiyahi Tinggil. dateng tapak hasta Gusti. kapéngén hénggal pinanggya.” Nyi Hindang humatur haris. pan hingsun hasung paréntah. sangking sanget hajrih habdi.

kagét rawuh[w]é Pangéran. prawantu héstri kul[l]a. coba matur[r]an Nyi Hindang 15a (34. 18. datan wantun hang[ng]langkung[ng]i. Pan dakwah Pang[ng]éran guru. 14. 58 . réning habdi sugih jalmi. Bermulan[n]ipun pukulun. 853) //priyén bermulan[n]iréki. matur héstu kang sayekti. dateng compok pun ka[h]ul[l]a. sumpah hing hayahan Tuwan.” 15. sami yudabrata Nyahi. hutawi kebon[n]an habdi. “Duh Radén humatur habdi. hingsun harsa mireng[ng]en[n]a. Nyi Hindang nulya humatur. 17. saweg linggih wisma habdi. perlu mriksa hing perkawis krana kuwajib[b]an kula. lajeng bendu hangliwat[t]i. tiyang hingkang hambanton[n]i. ha[k]bujeng damel sawah. muga matur[r]a hing mami. kang dadi kawitan mangkin. 16. hutawi ngirang[ng]i kul[l]a. Mejanggu tan[n]i hulun.tebih sing Bagelén nagri. samurid[d]é sami dugi. miwah kadang kadang kula. damel hakal Radén habdi. Pan dakwah Pangéran gugu.

Nyahi kalah dadi rabi. hiku pan jaluk wak [k]ingwang. 19. kinepung hing para murid. 16 (35. 22. 21. “Yén bener haniréki. seja sami ngemas[s]i. supaya huni[ng]nga mami. dén dakwah memada habdi. nurut[t]i napsu niréki.” 23. hapes yudan[n]é Pangéran. “Duh bendara Radén kul[l]a. Seja pin[n]ejahan hulun. humatur sanget pan hajrih. hingsun[n]ora hamilon[n]i. Jadi pan karsan[n]ingsun. Héyang Guruh hingkang salah. badé hanangkep pun habdi. sanajan wong kuwat n[n]ingwang. hingkang hanyaksan[n]i mami. totohwan pan jiwa raga. Yén menang dadi bujangmu. 854) réhna gawa jago hingwang. bogan lanang kalah ngéstri. tak jajal[l]é karo Nyahi. sakéh[h]é para pangéran. 59 . tak jaluk sukan[n]é Nyahi.” 20. mejang hélmu klayan. Wiralodra ngandika rum. Hindang Darma hamlas[s]ayun.nyabin miwah pakebonan. pitulung Yang Maha Widi. satingkah polah Nyi Hindang.

kumedah majeng hing jurit. 24. Wiralodra haris muwus. 26.hapan sanget hajrih habdi. hangedal[l]i perang tanding. nameng sanget hanuwun kula. Hindang Darma karo rayi. payuh pada ngadu sakti. pasti bakal hingsun kawin. Hapan dadi bojon[n]ingsun. wong ayu sira Nyi Hindang. nuwun ges[s]ang paduka. 27. “Hiku Nyahi haja hajrih. lamun kalaha Nyi Hindang. 855) //Radén sinabet tumul[l]i. Perang tanding rebut hunggul. hakondur sing ngarsa Gusti. 25. Nyi Hindang methuk prang lirih. 28. hanulya Radén hamedal sekalih dangdos hing jurit. héstu ngapunten pun habdi. dadi manjing…yang bara. 60 . sili hugi ngadu gun[n]a 16a (36. seja hingsun han[n]iwal[l]i. hadin[n]ingsun kangge galih. sampun dados manah Gusti. Tanujiwa Tanujaya. pan sangking hidin[n]ing wang. Radén medal nguwuh huwuh. yén makaten déra k[k]arsa. Hindang Darma nembah ngayun. Tanujaya haran mami.

29. putra gegedé nagara. sawitan ngatur pakéyan. Tanujiwa majeng nuli. paju wong yudabrata.Tanujaya kapisanan. Ngadirane rama hibu. kabur tiba han[n]ang ngarsi. tak ras[s]a sen[n]ang kang hati. Hindang Darma luwih (sakti). 61 . 33. wong nom lok yan mangan. 30. Haja hinda duh wong[ng]ayu. sambat hora kuwat kakang. “Haduh Nyahi Hindang golis.” Nyi Hindang nulya hanggeblag. gagah kayan[n]é rayi. sugih banda kaya mangkin. Wiralodra ngandika harum. hing ngarsan[n]é Wiralodra.hayun[n]an yuda. “Priyén rayi rasan[n]éki. Pendelik lan socan[n]ipun. megap-megap napan[n]aki. hasuk[k]a-suka wédang kopi. mésem haningal[l]i rayi. gumuling ken[n]a hing siti. wong hayu hanarik hati. Ki Tinggil hambakta sampun. péngén ngemb[b]éhé Nyahi. pun hayun. nyata sakti mandragun[n]a.” 32. 31. kaki pasrah ka[h]ul[l]a. kénging ngén Nyi Hindang geulis.

wus san[n]a kala(h) jagonya.” Wangsayuda matur haris. Muga kang susah kelangkung. katimbalan[n]én nangkep[p]a. “Duh rayi kakang tan sanggup. “Dédé musuh Hindang Geulis. rayi kalih pan kajodi kawirang[ng]an yudabrata. Radén//Wangsayuda mangkin. lir sikat[t]an nyamber walang. kakang pasrah hingkang rayi. Nyahi Hindang Darma kaki. mungguh kakang mérang ram[m]a. 34. “Manggah sampéyan hakarsa. hanang Nyahi Hindang geulis. mingkin kula ningalan[n]a. je…yudabrata kalih. sampun wangsul hing nagari. Nyi Hindang tandangiréki. HindangDarma luwih sakti. 36. Nulya dén hatur[r]i wahu. Kang rayi sami humatur. manggah nganclong saba…ran.perang kalah hing pawéstri. haja kakang hangawit[t]i. “Cobi kakang kangedal[l]i. “ 38.” 17 (37. 856) 62 . Lamun kaya hawak [k]ingsun. mérang marang rama mangkin. 37. 35. bagjan[n]é ngungsi hing ngukir. Tanujaya sabda sugal. wirang kathah kang ningal[l]i.

latah hambelik. manggah kaki géh yudaha. kalih Hindang Darma mangkin. sing riki duging negari. halatah. Radén Wiralodra muwus. kakang tanda hora wan[n]i. sarwi mésem ngandika haris. 40. bagjan[n]é gentén tyang kalih. kul[l]a kahul géndong kakang. kari kari hora gun[n]a. Bagelén hing kanjeng ram[m]a. kelurug samargi margi. “Loh kang Wangsayuda bis[s]a. mengkin rayi kang ningal[l]i. Nulya hangandika haris 63 . “Sekalih rayi wecan[n]a. mancén[n]i hing rayi kalih. nyambung sabda Wangsayuda hora gun[n]a hingsun hiki. tarung (kero)yok[k]an mangkin. ne …sun haben lan bibit. “Loh hadat[t]é wong kalah prang.” 43. Gawa jago loro hiku. miwah Tanujiwa rayi. //Lamun hunggul yuda wahu. 41. tak nyana solot tarungnya. wirang hisin yén hamulih. 17a (38. Wangsayuda hagemuyu. kala thothot wedi pis[s]an.39. Nyentak Tanujaya muwus. 857) 42.

” Nyahi Hindang matur haris. mengko kakang maju[ng] jurit. jamak[k]é wong mangun jurit. nulya manembah Nyi Hindang. yudabrata kalih Hindang. 46. Nyi Hindang cahos hing ngarsi. nyata hunggul hing ngajurit. Hora Nyahi …u…kma. Nulya hanimbal[l]i wahu. mudu bahé dén turut[t]i. “Duh mas Nyahi Hindang Darma. Wiralodra ngandika haris. dadin[n]é hingsun timbal[l]i. Nyi Hindang hingsun timbal[l]i. prawantu tanding hing yuda. 858) //…Nyi Hindang panembah lirih. “Duh bendara Radén kul[l]a dados pundi polah habdi. sapa kalah sapa men[n]a(ng). 64 .” 45. Radén Wiralodra wahu. 48. hénggal Nyahi metung … 18 (39. man[n]is legin[n]é…. medal hanang yudabrata. Haja dadi ma(nah) (ya)yi. “Wis rayi dén baris[s]an[n]a. 47.” Nyembah Nyahi dén turut[t]i.kadang[ng]iréki.44. Kari kam[m]i hawak [k] ingsun yén tedan péngén ngrahos[s]i. (wi)réh(i) hawelas[s]asih. hing ka[ng]dang.

prawantu sakalih sakti. Nyi Hindang hical saking hastanira. 65 . sampun hayun[n]ayun[n]an. 5. dén mapan dadi peksi. hambhujeng hing Radén Wira. mapan sami hanimbang[ng]i. (yuda)brata man[n]iréki. hanulya dén bujeng wahu. Nulya sami surung-sinurung hing yuda. Radén kalih Hindang golis. Dén turut[t]i Hindang golis. Wiralodra ngandika. 3. 4. pan Radén hambujeng hénggal. DURMA 1. taksaka hical mangkin. saparan[n]ira.V. hing mondragun[n]a.” Hanulya dén candak wan[n]i. Hindang Darma manjing hing jambu wénya. hical pan dadi wanadri. Dados taman habening hing toyan[n]ira. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata. “Héh tuhu nyata prajurit. tarik tinarik wani. sira Nyi Hindang. malempat Nyahi Hindang. 2. hanggén[n]é hang[ng]adu saktya. peksi garuda. hical dadi taksaka. dateng Nyahi Hindang Darma.

saparan[n]ira. kula tan saged kami. sampun hical nama kula. 7. kuthilang badé dahar. bareng ngamukti lan hingwang. campur kalan hukir. hing buwah jambu punika. kalawan hingwang. “Duh susah hawak mami. 66 .né hing hayun[n]ira. nulya prang pinggir hukir. Radén hanang hanutut[t]i...liwat. hingsun humpet[t]an pinanggih. maksih panjang lampah[h]a (sirek)i nameng hanuwun nama. nanging tan samar Dén Wira. 6. dadiya (se)kar ring puri. Dadi watu sagunung hanak hagengnya. 18a (40. “Awit kula kersan[n]é yang maha mulya. hanggebur hanang wari. Nyi Hindang honcat. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal. nulya hical jambu mangkin. 9. 8. 859) //ngendi paran[n]ing wang. . Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin. sarwi (sinam)mbat. Mapan Radén sekti liwat. juwet temen Nyahi Hindang.mapan Radén dadi peksi. Nyipta glap sinamber haglis.” Nyi Hindang héwed hing manah.

Radén kaliyan nagri. hanak putun[n]é rayi.ha(ngdad)i manuk puniki. hing kulon Cimanuk kali. 67 . “Haduh rayi //nembé pinanggya. kasmaran ningal[l]in[n]a. …kanggé turun[n]ya. sangking pundi sangkan rayi. Radén Wira haget[t]un sajroning manah. dateng Cimanuk (hing) ukir. dadiya negariya. muga lulus[s]a hing bénjang.” 11. leng manah Nyi Hindang golis. hing wan[n]a Cimanuk …repun dadya?” Kang rayi matur haris. kado(s pundi lelam)pah[h]an. Darmayu bénjang nagara. sareng babadnya. 860) 12. nulya mengngulon hing lampah. “Sukur bagja rinta. muga dén nama nama. 10. 13. Hindang sing namhing wari. Lamun sampun dados nagari hing bénjang. 19 (41. pan hanang tuknya. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka. hanggén[n]é damel nagara.” Kang raka nulya ngamin[n]i. kang wa … nulya ngrangkul pinanggih. hing Pegadén kang dén hungsi.

… hingkang wangun nagara. hanulya pangkat. hawor suwaran[n]ing bedil pan Radén hamaran[n]i. …//…ngan.14. 15. hanulya duging baris. kagét hana pri……ni. Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan). baris[s]é mangun jurit 16. 861) 18. surak mangambal[l]ambal. badé hamriksana. Nulya pethuk kali panarah. kulon Cimanuk wan[n]a. Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a. Kang raka hangidin[n]i. pan sineja mriksan[n]i. “Duh nilari ngapa. hana hing gawé negara. nulya matur kang raka. sing wétan haslininéki. dateng baris[s]an. 17. lan sinten hingkang wewangi 68 . badé nuwun hidin raka. wangsul hanang negari. Wiralodra tanya haris. hangiring Gusti mami. Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan. siyagi samakta jurit … 19a (42. gén[n]é sisiniyan kalih. pun[n]iki baris[s]an napa.

lah kabener[r]an hingwang. 22. hing Kanjeng Sultan. 69 . nulya humatur haris. pan hiku sap[p]a?” Nulya humatur haris. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang. hénjing kula cahos Gusti. kang wantun wangun nagara. nulya cahos tyang kalih. 20. kadiparan yén wis manjing. Kran[n]a waktu punika. Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an.(wa)n[n]i hambabad. nulya hangandika wahu. (ga)wa (kang) kanca siréki. sukur bagja pan pinanggya. maksih bakal nya nagari. hageng nagara hing wang. tamtu hing rusak. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara. sampun da(dya) nagari. (Dalem) Kuning[ng]an. …ngagéh da Dipasarah. 19. Gragé wewengkon[n]éki. sahéstu kula puniki. sapa layak yudabrata. sumanggah cahos hing Gusti. pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling. 21. Wiralodra pan kula. cahos hanang harsan[n]ingwang.

kang wantun gawé negara. 24. tan katon Gusti sultan. nagari pan wicaksan[n]a. hanang sultan holiya. sakersandika.” 27. hing Gragé sinuhun holiya. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an cahos sangking harsa Gusti. puniki hing …. hanang wawengkon sultan. sangking Galuh prajurit. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan.23. 26.” Wiralodra hamangsul[l]i. hingkang wangun nagara. “Yén mangkon[n]o réki. hidin sing sapa. dérék tiyang salah habdi. upas repat pun hamba. katimbalan majung yuda. lan dalem Kiban. 25. lamun prajurit téku sangking Kuning[ng]an. nameng nuwun hadil habdi. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal. 862) Hangandika Kumuning. mapan mentas perang tanding. “Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika. 70 . kéngkén hamriksa puniki. hawit déréng matur Gusti. Geragé hing pan[n]egari. “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa (ma)tur Gusti.” 20 (43.

31. 20a (44. wong Sunda pan sembrana. “Lah coba tanding lan mami. 863) Kumuning //sun tan wedi.” Dipasarah nyandak kula. 28. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda. sinuhun hora ngidin[n]i. sinépak hénggal. tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti. prawantu tiyang ngajurit. Wiralodra hangingget[t]i.” Hanulya wecan[n]a. Kumuning nrajang wan[n]i. teka semban[n]a. Masandakom hing siti pan Dipasarah. pangrasan[n]é hingsun wedi. Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra. ngakun[n]é prajurit ku[n]na. 29.” 30.hingsun Harya Kumun[n]ing. Wiralodra prawantu putra sing wétan. turun saking Majapahit. 32. Dipasarah gumuling. Harya Kumuning hanggén[n]é harep pribadya. hora duwé tatakrami. ngadir[r]aken prajurit. hing rupa kaya sira. surung sinurung haprang. “Lah wong hapa Kuning[ng]an. hing rupan[n]ira. 71 . hanggé pun ngadu jaya. haku jaluk pangaksami.

Dateng Radén Wiralodra pan cinandak. kran[n]a hakéh luwangnya. Mila windu tan kiyat gén yudabrata. dén ngucap Si Windu mangkin. 72 . Kumuning hanglancang[ng]i. 21 (45. gawé jajahan. mangsa kuwat siréki. wong Galuh hakéh kang pejah. nyinirat hanang hukir. kendal[l]i dipun cekel[l]i. jimat kapal sampun hical. waktu Dalem Kiban. mugi sukur hanambahi. si Windu hingkang nyépak[k]i. hanulya pun titih[h]i. 864) nalika prang Galuh //dingin. 33. 34. si Windu titiyan[n]ira. datan bis[s]a mobah. hanggebeg saliran[n]éki. nulya cinandak wani. dén nang[ng]ngen hingwang. 35. sin[n]épak kajumpalik mrangkang ngungsi hing kuda.prang hutawa ngusir hing tiyang gawé negara. pasti sira ngemas[s]i. Dén Wira langkung welas. 36. Si Windu hangéréng nulya. Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat. payuh majuwa. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah.

39. huculna habdi Gusti. kaliyan Radén habdi. mapan Windu napsu wan[n]i. hangeprang hapus sinebrak. 40. kantaka datan hémut[t]a. nyap[p]rang hiki pantos siji. hingkang Gusti Kuning[ng]an. Pan kahul[l]a datan wani yudabrata. kiniwit[t]aken tumuli. han[n]ahan[n]ana. Kang Gusti gumuling siti. tan kiyat harya Kumuning. hanggempur wong sanegara. pertanda sujud hing ngarsa. hical sajron[n]ing wanadri. 37. Windu dekuh sukunya. mundur lampah turanggi. Windu malempat. lir kilat palajengnéki. pan sira sering haprang.” Si Windu hambesat haglis. 38.“Haduh pan Radian. nulya dén lepas. Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira. 41. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira. 73 . “Héran temen Windu mangkin. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira. Merkayangan si Windu hana hing wana. sira kalah haprang. pan Radén welas ningal[l]i. semu radi ngelawan.

44. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan. hing Dipasarah. Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya. wus cahos ngarsa Gusti. 42. hing jiwa raga pun hamba. 865) … //pinanggya. pan sampun hanang nagari. 74 .” Dipasarah manembah. hing Gusti sultan. “Duh Wiralodra sira. wis rayi hénggal balik. mangka Wiralodra mangkin sa… 21a (46. sarwi hamasrahin[n]a. Nulya Radén Wira mangkin. nyata tuhu prajurit. dateng Wiralodra mangkin.prawantu kuda duk dingin.” Wiralodra ngadika haris. panembah hénggal. nulya dén candak tumuli. Dipasarah hanulya. seja nuntun hing lampah. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an. lan Dipasarah patih. 43. kalintang sabar. hing pundi kang pudi dipun sedya. hing Garagé pan negari. kalangkung bingah hing ngati. 45. kabener[r]an pan pinanggah. dateng Kyahi Wiralodra. turun Budaprawa. sangking jaran Harba Puspa.

22 (47. 2. Kanggo turun turun nira Wiralodra. kadang kadang hingkang dipun tinggal kari. kasuwun berkah Gusti. kadang sadaya hingkang katinggal. 46.pinuju kumpul[l]ing wali. mapan sira turun sultan. sangking Brawijaya wing[ng]in. bagja pan sira. sedaya hidin sampun. gegancangan hing lampahnya. “Hanuwun berkah hing para holiya. turun[n]an[n]ira.” Wiralodra kondurning ngarsi. 47. habdi damel nagari. sarta hasanak put[t]u kaki. dugi hing Cimanuk. “Duh kakang langkung sanget kuwatir. DANGDANGGUL[L]A 1. Nuwun duka mahéwuh deduka. pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi. 75 . badé wangsul Gusti mangké. 866) wang //hingkang gumanti VI. kaliyan takdir Yang Widi. Majapahit turun[n]ira. sedaya karsa nata. hing lancang hamba. pasrah hing ngayahan Tuwan. mapan samya pinanggya. Wiralodran matur ring Gusti. ngrangkul kadang sadaya.

nanging rayi hingsun turut[t]i. Hindang Darma pinunjul. hadat wong Dermayu. sanajan hingkang ngawit[t]i kakang. keris hatawa pedang. Bénjing negari Darmayu ri. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi. winastanan Darmayu. yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing. katangkep[p]é wahu?” Kang raka haris ngandika. lumuh nglakon[n]i krama.tan manggih béja wartos. 4. dadi campur wanita. hangelar gawé nagari. nameng Hindang weling hing suwara. tuhu wong wicaksan[n]a. héstu tiyang punjul. 76 . kados pundi raka samangkin. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi. Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih. kran[n]a Nyahi Hindang Darma. 3. yén dadi negari mangké. hingkang gawé negaran[n]é. bénjang han[n]ak putu kaki. datan kotor yudabrata. “Haduh rayi Hindang Darma musnang kali. 5. werni na… pun nyi Hindang Darma. Hindang Darma pan tumut.

han[n]a hing Darmayu. kula turri kadang sedayanya. samya ber[r]umah tangga. kakang ngidin[n]i wahu. 6. mugiya sami wangun. wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi. humatur manggah karsa kakang. miwah tarub hagung.22a (48. karsa ngatur gelar[r]an[n]é. hanjér pepek hing ngarsa. Namung kakang sadaya pun rayi. Kyahi Pulaha Bayantaka. hakéh pan kasengsara. Surantaka miwah Wanasara mantri. kanggé ngistrnén[n]i negara. hamit rai medal mangké. pan sekalih medal hing jawi. 867) //dadi pangungsén segala bangsa. luwih raméh pan negara. kaki Tinggil wahu. han[n]epang hing hupacara. 77 . tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi. hanjeneng hing nagara. Kadang kadang sedayan[n]iréki. sing wétan kulon rawuh. nameng susah bénjang hanak putu mami. 7. tempat[t]é tiyang ngatur karya. tan[n]ah sabrang dugi mangké. mapan pribawan[n]ing pawéstri.

Sampun bedama sadayan[n]éki. kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi. pan hantuk saminggu. surak kadya hampuh[w]an. pan kanggé tempat kajat bénjing kumpul[l]a hing kawul[l]a. Ki Tinggil ngibing wahu. 9. hageng halit pan kumpul. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing. pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al.mégot weteng belenjing. tyang gumujeng latah latah. patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi. cangkem[m]é mecucu. mapan Radén Wiralodra. wangunan tarub hagung. mé// gat. 23 (49. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil. haganti sami ngibing[ng]é. miwah tetembangan suka suka. badé hawangun liyan negara. hantuk[k]é hing kawul[l]a. kinepok[k]an hing kancanya. 868) 10. sadaya kumpul[l]ing kajat. nulya ngandika rum. gumuruh tyang suwaran[n]é. cakep siyagi sakabéh. jaler héstri kumpulna. mulya medal hajat[t]iréki. 78 .8. “Héh sanak kula sadaya kang hing riki.

gumuruh hamin wong hakéh. sedaya kula suwun. 13. Hanggén[n]é sami wangun nagari.muga dén sakesn[n]an. 869) kula handon//blenduk. sarta maca donga kaslamet[t]an. Para sepuh sami hangamin[n]i.” 12. 23a (50. 79 . “Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari. negari dadi sampun. mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a. negari Darmayu. nulya Radén ngandika haris. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti.” Humatur sadaya tiyang. pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki. kawul[l]a suka sadaya. sami linggih wahu. raméh hanggén dahar[r]an. “Duh sanak kula sekabéh. sarwi ngibing dedeng[ng]éngan. manggah kula hatur[r]i neda. sarta sira pada naksén[n]i. 11. pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an. hurun[n]an sanak sedaya. pun maca donga rampung. pan sampun langados[s]an nagara klayan kersan[n]é Yang Manon. “Duh sanak kula sadaya. saban sasih kados puniki.

16. rayi bade kondur. “Yén hidin paduka raka. rebab tiyang[ng]é hanembang. Mapan katinggal hing rayi-rayi. kang dahar suka hing manah.tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i. daharan suka sampun. sarén[n]ingpun lami mangké. kaya hap[p]olah hingwang. nulya matur kados pundi raka. senggak muluk-muluk. rama pan ngayun[n]an.” Kang raka haris ngandika. hapa sangking kadulu. gamelan[n]é calempung sul[l]ing. tunjang hambakta berekat. sarwi ngrangkul “Kang rayi sedayan[n]éki. gelar[r]é Dalem nagara. rayi sedaya kang han[n]ang riki. nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a. dateng habdi sadaya rayi. Para rayi pan sampun halami. 80 . suwaran[n]é celempung suling rangin. Ki Tinggil tukang méjan[n]é. Sarwi bibar sedayan[n]iréki. hageng halit[t]ipun. datang rama hibu mangké. 14. cinampur kalih tembang. kadang-kadang samiya dahar[r]an. 15.

mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara. Sareng hénjing rayi pangkat nuli. 17. wunten musuh nekan[n]i. pikantuk kanugraha hing Yang Widi. 870) VII. maksih dangdan nagara. “Duh rayi muga lulus[s]a. DURMA 1.sampun lepat dén haturan. krana bakal mulyan[n]ira. nulya//sami salaman rayi. dumugi hing hakir mangkin. hangrebat nagara. 24 (51. Watuhaji hingkang raka. dumugi hing wates[s]ipun. 81 . Pan tumenggung sing Jepara pelariyan. turun pitu bopatih. pun dugi Dalem miréki. hing ngiring sakancan[n]éki. hanak putunya. wangsul han[n]ang Bagelén nagara. jeneng niki nagara. 2. kang raka hangater[r]ake(n). sarta kang Wangsanagara. Dén Wiralodra. sinalin demang madurma. mapan hipé wahu.

mapan dadi jig jawin[n]é. Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang. 873) raméh gén mangun jurit. h[h]anulya ming[ng]éh hangeri. pan hanang nagaran[n]ira. 82 . dadin[n]é hingsun tumekang. hiki pan bakal nagari. dén candak binaktang Jawi. 3. gégér hurahan. duméh nagara bakal.nulya dén priksa mangkin. yén sinabet bedama. tan suka hingsun jurit. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a. 6. hanunggangtaya. 4.” 5. raméh hanang ngaprang. ngadeg kiyahi pulaha. “Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a. miwah sakanca sadaya. 24a (54. saparan paran mami. pan mégot ngigel maran[n]i. baksan[n]é hanglétér wani. bade sun teda. malempat kadi kilat.” Watuhaji hambales[s]i. hanang satengah hing wana. boten nganggé tata krami. Wiralodra hantik panduka lir brama.

baksan[n]é halus hamanis. wong tengah hana hing wana. hayuh mapag[g]a!” Radén Wira hangedal[l]i. Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda. maju jatmika. balan[n]é Watuhaji. pan hayuh maju wang jurit. “Héh Wiralodra mangkin. duhung sinondénganana. hayuh hénggal gitik[k]a. haja suwé ngadu bal[l]a. Héran Nitinegara. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha. “Hora watek handingin[n]i. 83 . héran tiyang kang ningal[l]i. pedang hing ngagem dén hasta. Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a. mapan cakep hing ngajurit. Nulya medal Nitinagara hing yuda.musuh kathah kajodi. ko pada bis[s]a hing jurit. 10. “Héh Wiralodra sira. 8. keris hatawa pedang. 7. 9. sarwi hanguwuh tanding. tak kira tan bis[s]a jurit. hayuh hingsun tadah[h]i!” Ngandika Wira. lir tiyang nagara.

haja gugup gitik hira. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an.” 14. han[n]yuduk[k]i Wiralodra. 13. kang janglar han[n]ang ran[n]a. Nitinegara binanting. 874) 12. tanding[ng]en jeneng mami. yén tuhu sira prajurit. Sesumbar Radén Wira. dén talén[n]i hing Ki Tinggil. pan tuhu sira prajurit. pan Radén hanang ngajurit. Pan binakta binekta hanangkon Wira. hang[ng]asta wangking[ng]an. 84 . gumuling kisma. Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah. hudreg hasili(h) huki. medal tiwikraman[n]éki. nulya majeng rana malih. Watuhaji lan dén Wira. maju wang ran[n]a. “Héh prajurit Watuhaji. nemu tending hing yuda.11. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!” Hénggal Nitinegari. pan Wiralodra. 25 (55. sinurung-surung hing jurit. pan hanang tengah hing ran[n]a. hayun[n]ayun[n]an.

bubar sasar[r]an. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya. nulya dén Wiralodra. hangamuk bala kathah. kathah tiyang dén patén[n]i. caritan[n]ipun kanda. hingsun dikang dén hungsi. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara. pan salin naman[n]iréki. dadi pandita mangkin. medal sangking Bantarjati. jinarah kebo sapin[n]ya. susah pan tiyang halit. 85 . 875) 18. 16. Mapus//…it[t]a. 17. Drayantaka Wan[n]asara. mapan mertapa. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya. Cisambeng hingkang pernah. nungkul sedaya. ming[ng]idul palajeng[ng]ira. beras pari lan harta. Watuhaji ngoncat[t]i. pan malajeng sing ran[n]a. Ki Gedéng Dépok mangkin. hing bénjang pan turun néki. 25a (56. ngamuk hana hing jurit. balan[n]é tumenggung mangkin.15. Ki Gedéng Sambeng nama.

tiyang kang teka. hambakta harta mangkin. pinten sinten gotong[ng]an. Wiralodra jenengnéki. 86 . Mila raméh nagari tambah hing tiyang sahatus[s]an balan[n]iréki. tan[n]ah Bogor lan Krawang. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah. pun ngadeg jéndral. langkung raméh pan nagari. 18. 21. Ki Tumenggung miwah patih. 20. pan damel wisma mangkin. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika. pan ngangkat demang ranggah. Radén Wiralodra sugih. hanang bangsa Blanda. pepek sedaya. ponggawa para mantri. 19. bala hambral kathah mangkin. harta mahéwu yutan. Watuhaji kaliyan Nitinagara. sami berumah tangga. miwah kathah soldatnéki. Kyahi dalem jenengnya.kapasrah[h]aken Ki Tinggil. hingkang wade tanah mangkin. pan senang sadaya.

kawentar saban negara. ginanti dangdang malih. mapan macan nagari. DANGDANGGUL[L]A 1. pan Wiralodra. Darmayun[n]ika. hanang tumenggung kalih. 24. 876) 23. Gemah harja darmayu dadi nagara. VIII. 87 . san[n]és sangking nagara. hiku pan hora becik. mila monca negari jri sedaya kathah tiyang. Hamiruda bade kapotong jangganya miruda lolos wengi. 22. Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram.ngateran harta. saktin[n]é hang liliwat[t]i. damel salah hing la//mpah. 26 (57. sen[n]ang pan tiyang halit. bakta bandakayan[n]éki. Mapan Nitinagara hanangis. Dramayu hika. sangking keraton[n]ya. giris haningal[l]in[n]a. pan badé hambedah mangkin.

dados Dalem Dramayun[n]é. Pan sinangonan Nitinegari. mila bénjang turun[n]é Nitinegari. pan sekawan kathah hire//ki. hing Metaram sinuhun. Hingkang gumanti dalem néki. 26a (58. Pan Nyayu Hinten histrinya. nulya kés[s]a Nitinegari. pambajeng[ng]é Sutamerta. Kacarita Kyahi Dalemnéki. dos[s]a hingkang luwih hagung. Wiralodra sanget telas haningal[l]i. pun lepas lampah[h]ira. kang rama sampun séda.han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira. mangka sampun sesunu. tumut dérék hing brandal. hing luwih sahéng punika. misti Gusti kahul[l]a.”. kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga. 2. pun lami hanggén mukti negara. Wirapati wahu. 877) 3. hatur[r]ipun melas sasih. yén bade kakirim make. “Habdi Gusti nuhun ges[s]ang. potong jangga hulun. bénjang lenggah hing pun. 88 . Watuhaji kang dos[s]a. kén mertapa ngilangké. 4. wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin.

Kang raka sanget jumurungnéki. kagungan sadérék[k]an sang nata. pan sanget hanggén[n]ipun halih. hing nagari rayi mangké nameng satunggil wahu. dalem han[n]ang Darmayu. mapan Wiralodra kapi(ng) kalih. sang[ng]et hanggén sesiniyan. 6. hing Pulo Mas negarin[n]é. Werdinata dateng rayi hinten mangkin. sadérék kahul[l]a kang héstri. mijil putra tigalas kathah hiréki. Lami-lami gadah manah. Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin. gumanti wahu lungguwé. 5. nameng sampun kabakta harinta. silih genti rawuh. blaka matur hing raka. tinggal sen[n]ang karajahan. dalem hing Darmayu. Kang Rayi Werdinata. pan sampun dahup punika.hingkang putra Radén Wirapatya. garwanya wahu sekawan. héstri pan miwa(h) priya. Mapan Radén Wirapati. kadya hingkang sudara. 89 . dérék karsa wahu. Werdinata sang prabu.

humur tigang tahun. pan dateng hing kang putra. sarén[n]ing dipun lurug. 90 . balan[n]é lelembut. mangka pun babar wahu. 8. kuning cahya humancur. dén pinangsraya Dalem Sumedang. sanget bingah sang nata //han[n]ang putranipun. Danulya Dén Wirapati mangkin. Bagus Radén Wringin Hanom nama. sangking honom durubiksa. lin[n]ingling lingling kang putra. sanget hasih harama kalih. medal kakung pekik hing rupi. miwah dalem hing Kuning[ng]an. mapan Dalem Cihamis negari. badé nuwun bantu mangké. Werdinata Pulo Mas néki. kang putra pin[n]aring[ng]an. 878) Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an. pan sampun wicaksan[n]a. Sareng lami-lami hingkang rayi. gumilang gilang cahyan[n]é. Hingkang peparab pirempag mangkin. 27 (59.7. pan sinareng kakang Dén Wirapati. tigalas sasih lamin[n]é. 9. tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit. tan kiyat yudabrata. pan kabakta dateng rama.

muga ram[m]a bekti putra dipun tampi. bagéya nak[k]ingsun. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin.10. 27a (60. cahos hing ngarsa ramaji. Nulya ram[m]a hangandika. dén //pinangsraya rama. Cihamis miwah Kuning[ng]an. rama tampi srat wahu. humatur kasuwun rama. “Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki. kang putra sampun rawuh. Nulya ram[m]a ngandika haris. sah[h]a wonten dawuh napa. sampun kuwatos ramaji. sangking Dalem Sumedang Gusti. Hingsun pasrah musuh para demit. 91 . “Héh mas wong bagus nak [k]ingwang.” Sumanggah putra matur. Kuning[ng]an Cihamis mangké. pan litempung mu[ng]suh. gancang taktimbal[l]i mangko. pan rama hingkang nandang jurit. kang rama hangandika. 11. musuh bala lelembut. sarta gawa bala juru biksa kaki. dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas. putra hingkang nanggel[l]a. mapan Radén Wringin Hanom. 894) 12. sing honom durubiksa.

niba tang[ng]i palajengnya. rawuh Dalem Wiralodra. datan katingal wujud[d]é. sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis. mapan Radén Wringin Hanom. 13. tiyang ngétan kadulu. sanget welas karun[n]é dalem mangkin. Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis. hemban[n]ipun hingkang putra mangkin. Tyang Sumedang kathah kang ngili. 895) 92 . sampun kuwatos ram[m]a. bala honom satru. hing ngarsa Dalem Sumedang. hasasaran tinggal kancanya lan Gusti. mila sanget hajrih hiréki. 14. mung suwara gumuruh.kang putra dérék kersa. nulya RadénWiralodra. “Duh putra banton[n]an. mapan bibar kénging jurubiksa. Sareng hénjing medal hing ngajurit. Hingkang putra ngusir jurubiksa. katur nagri hulun. lan Dongkara Tumenggung. cahos hanang ngayun. gumarenggeng pan suwaran[n]é. kadya tiyang baris hing jurit. sumanggah putra hing karsa. mapan balan[n]ipun durubiksa. 28 (61. raméh //tempuh hing yuda. 15.

kathah prajurit kang pejah.burbar bala hing Kuning[ng]an. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing. Hanulya tiyang Sumedang mangkin. 17. pangamulya tyang Sumedang. prajurit medal sekabéh. mapan sanget bungah[h]ipun. sareng ngrahos mulya sadayanya. 93 . rémah ngrimbyak kéngsér hing siti. pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a. samya ngusir tiyang Ciyamis. dén bujeng hing Dalem Wiralodra. samya hamapag yuda. Dalem Darmayu mapan sakti. Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis. kin[n]arubut hing yudan[n]é. méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki. 18. Bubar wadya bala sing Ciyamis. tiwikrama wahu. nulya Dalem Wiralodra. gégér tiyang melayu. siyung thathit dinulu. tyang Cihamis wahu. hang rangseg perang pupuh. suwaranya kadya gelap. mlajeng lir kadya kilat. hantawis sagunung hanak. soca lir kembar srang[ng]éngé. 16. wahu Radén Dalem Wiralodra.

wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari. mapan sampun bubar mangké. 28a (62. 896) berkah …//lumayu. “Loh kabener[r]an kulup. hénggal[l] (k)ang rama hamethuk. 20. huga musuh[h]é kang rama. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti. dugi hing pawates[s]an. bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an. putra bade wangsul mangké. mlesat han[n]ang gegan[n]a. hawit kuwatos hing nagari. 94 . nulya manembah kang putra. kalih Jongka réncang[ng]é. 21. 19.rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis. kalih Paman Tumenggung. tan prayoga kang jaga. kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih. niti joli lan jempan[n]a. kaya priyén musuhmu kaki?” Putra matur hing ram[m]a.” Rama hidin sampun. Nulya kang putra haris. mangka sampun pethuk. nulya pethuk kaliyan kang rama. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit. sarta bakta putrané héstri. Ciyamis lan Kuning[ng]an. “Men[n]awi wunten hidin jeng rama.

95 . hambakta bokor hemas[s]. sedeng hayun[n]ipun.“Duh putra sareng nganumpak. sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni. han[n]ak hukir langkung hawon. miwah san[n]apati hing ngalaga. kanggé jru sapu miwah jru dang. lir rengat hing pratal[l]a. tinawurna wahu harta. para héstri miwah hibun[n]ira. handhér kawul[l]a hing ngarsa. 897) 24. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin. Kang putra matur nuwun. Sedayan[n]ipun para prajurit. numpak han[n]ang jempan[n]a haglis. dipun papag gamel[l]an miwah prajurit. cinampur kalih kimtal[l]i. 22. kahul[l]I pun rama hibu putra mami. sangking sanget bungah hiréki. tyang kalih sareng numpak. samya rebut[t]an harta. sarta kawul[l]a sekabéh. Raméh tiyang hamburu. peng[ng]ulu pun siyaga. sareng dugi cin[n]awis[s]an. samargi dados tingal[l]an. pan samya hormat wahu. hisi harta hemas wahu. 23. 29 (63. Punika putra ram[m]a pribadi.

hingkang sareng linggih hing riki. sangking sih paduka ram[m]a. dadi sawiji nagara.” 26. mundun sangking palinggiyan[n]ira. hingsun mapan hora gadah. karo hing Darmayu. langkung sangking sanget katrima. Lajeng sadaya[n]ning para mantri. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih. kanugrahan sih hing ram[m]a. Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi. pasisir Kandang[ng]ahur sun pasrahaken hanang putra mami. “Sarwi hatampi sih[h]é. Marang putra Wiralodra mangkin. 25. hing para kawul[l]a bala. 27. bawah[h]an[n]ipun sekabéh. héh sanak kadang hulun.Dalem ngandika harum. 96 . sangking pangandika mami. “Saksén[n]an. sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit. lenggah Dalem Darmayu nagara. miwah para ponggawa ngalaga. suka bungah sedayan[n]é. samya dahar[r]an wahu.” Nulya sami sesalam[m]an. mahéwu héwu kasuwun. nyaksén[n]i pan sedaya.

kang garwa putran[n]ipun. sarta pin[n]aring[ng]an garwa. Kang pambajeng mapan Radén Kowi. kondur néki. 898) 28. sanget bungah[h]é hing manah. kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah. hantuk kanugraha[n]ning yang. 97 . hing wingking mara maru. Garwa Sumedang tan kari-kari.raméh raméh gé nya bukti. para maru miwah putra. Kang lajeng Lodramayu negari para kadang-kadang miwah ranggah. Radén Timur miwah Sawerdinya. namin[n]ipun kang putra. sedaya pan runtut. sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari. kantos hantuk pitung din[n]a. nulya pinethuk rawuh[w]é. langkung hasih hing garwa. 30. dateng Dalem Wiralodra. sanget bungah rama prapti. handérék[k]aken sedaya. nulya samiya kondur. sanget hasih hing garwan[n]é. mapan kinanti kanti tan gingga. gandék putra sedayéki. 29. rah[h]erja hing laku. dugi hing pawates[s]an. 29a (64.

Puspa Tarun[n]a Patranayéki. jumeneng dalem pangkat. miwah Nyi Raksawinata. samya mukti sampun. 98 . Radén Sawerdi putranya. pambajeng Benggala //Radén Benggali rayin[n]ipun. Singawijaya putra héstri. Hapan sampun hapeputra mangkin. 31. Wiratmaja pan wahu. pan ginanti wahu. sampun jejeg putra tigalasnya. hanulya putra héstrinya. Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki. 30 (65. putra kakung hingkang sekalih hiréki. sedaya dadi pangkat[t]é. para putra sadayan[n]éki. mapan gangsal kakung [ng]iréki. 32. 899) 33. Hadiwangsa Nayastra.Wirantaka sekawan[n]yané. Hastrasuta wahu. nulya wapat dalem ram[m]a. Lajeng rama duging ngajal malih. nanging Benggali Benggal[l]a. sekawan ling putra kathahnya. hingkang sampun gumanti lungguh ramekin. mapan sampun gegarwa. sekalih Raksadiwangsa. pan sekawan[n]ipun.

lamun hingsun tan dadi dalem puniki. hambakta satambur soldat. kang rayi sanget kapéngén. limang sasih tan[n]ana dalemnya. kang raka kang gumantya. kang ganti kedah rakan[n]é. 99 . Nanging rempaggé para ponggawi. dalem lungguhipun rama. dadiya dalem lungguh. nulya wonten hutus[s]an[n]é. Singalodra kang pan gagah. bagjan[n]én tumekang ngajal. 35. wicaksan[n]a punjul. kaliyan Wiralodra kajenengnéki. pan handérék pangkersa. kang dén hutus tuwan[n]iréki. nang[ng]ing kang rayi wahu. miwah para pambes[s]ar nagara. kang raka Radén Benggal[l]a. gumanti lungguh ram[m]a. pangkat kumendur. Pandebos jeneng[ng]an[n]ya. pasti hingsun ngamuk. Benggal[l]i jeneng niréki. hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi. Kelangkung sesah para ponggawi. sangking Betawi wahu. lamun kakang hingkang gumanti. 34.hingkang gumanti rebat pangkat.

siyang dalu ngahos Kurhan. sanak ponggawan[n]ingsun. hanulya dumugi hing watesnéki. kang raka hing Dramayu. dadi dalem pangkat gumantiya. nanging tan hénak hing manah. nulya kang rayi matur. dateng kumendur tuwan. mapan sampun kesah hander hing ngarsa. 30a (66. karun[n]a para ponggawa. 37. hing[ng]et rayin[n]ipun. kang rama wahu lungguh[w]é. 100 . 900) Radén Singalodra kan[n]éki. nulya haris pangandikan[n]é. mapan tumut handérék hing lahut mangkin. 38. nanging Radén Singalodra. ka Bantarhanak bojon[n]é. dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin. prakara hiki nagara. jeneng dadi dalem puniki. kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin. Nulya para mantri dén timbal[l]i. sekabéh[h]a hing ponggawa. yén mangkon[n]o nurut hingwang. lamun mentas hanang Batawiya. raka dérék sampun. mapan pasrah hingsun. tigang tahun lamin[n]ira.36. Nanging tigang nahun lamin[n]éki.

Kartawijayastra gangsalnéki. pan sami ngambung sukunya. Dalem haris ngandika. hanulya Mas Patih Hasrasutanaya. Nulya sami kondur sedayéki. hanuwun hing Yang Maha Suci. Gembruk kalih Toyib. hanuwun pangaksaman[n]é. Dalem Wiralodra wahu.39. hingkang sanget datan. Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti. bala hing sang[ng]ulun. 31 (67. 101 . kagung[ng]an putra kathah ing réki. pitulung Yang Hagung. mugiya kandel himan[n]ya.” 40. Gandur lan Purwadin[n]ata. hasanget sakit manah[h]é. karsan[n]é Yang Maha Mulya. 901) 41. miwah Trun[n]ajaya tumenggung. putra saweg rumébed hing dahar. “Sanak mami sadaya nurut hing pasti. pan ngahos siyang dalu. Nyahi Moka wuragil néki. hanyambung[ng]i sabda mangké. //wolung nunggal hingkang putra pambajeng Dén Lahut. sadaya sangggup hing pejah. yén tan hingething kadang Gusti. kang putra Kartawijaya.

Kang Rama dén timbal[l]i Gusti. nulya Sunan ngandika.” 44. cahos han[n]ang kasultan[n]an. mapan sampun matur. Sultan sanget welas haningal[l]i. sultan hing Wiralodra mangkin. 31a (68. kalintang sabar manah[h]é. 43.hénak hing panggalih. “Sahéstu sinuhun. hingsun hangrungu wartos[s]a. Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang. ngirangi saréh lan dahar. hanulya ngandika rum. Singalodra kanama. hanang Gusti Panembahan Sunan Haji. 42. 902) 102 . kadalem[m]an hapa sayekti. karsan[n]é Yang Maha Hagung. hing setan[n]a buyut héyang-héyang. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin. “Paman sahiki jandika. dateng paman Dalem Wiralodra. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i.” Humatur pan Wiralodra. paman léréh hing lungguh. kersan[n]é Yang Maha Mulya. kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti. jam papat wangsul wisman[n]é. tulungen hingsun. hing Sultan Cirebon Pangéran.

pasrah hing sinuhun. handekuh koncem mukan[n]é. pejah gesang pun hamba. “Perkara hiku paman. “Sumanggah dérék karsa Gusti. 103 . Kartawijaya dipun timbal[l]i. mila nuwun pitulung Gusti. nameng nuwun pun hamba. miwah wisma kasagiyan paman. sampun cahos hing Gusti ngarsanya. hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki. gadah hanak Kartawijaya puniki. nulya sinuhun ngandika haris. 46. hapan wis siyagi kabéh. kitab kaliyan kurhan. man[n]awi manahé wongan. Datan saréh miwah datan bukti prawantunya tiyang maksih tarun[n]a. kaliyan paman[n]ipun.supaya hing kasultanan. hangwejanga hing para putra kon ngaji. hapan[n] hamba pasrah sadaya. 45. Tajug balong hingsun siyagi. hanang Kartawijayanya. Hing ngarsa sinuhun.” Nulya Kyahi Dalem matur.” 47.” Ngandika sinuhun. semutan héca hing manah. nami Kartawijaya.

bareng ngapan karo hingwang.” Kartawijaya sampun tampi srat Gusti. “Hanang hing Kartawijaya. Ratu Mas Hatma hingkang nami. Langkung hasih Pangéran ningali. 903) 49. Kartawijaya matur hing Gusti. lajeng winahos sampun. panggon[n]an hanang Panjun[n]an. 32 (69. sahiki pan hawak[k]ira. Panjagahan hing Panjunan sira kaki. “Sumanggah habdi doraka hing karsa. 104 . punapa Gusti karsan[n]é. kating[ng]al cakep hing karya. “Hiya hingsun hidin[n]i kaki. sukur pan siréki. hanulya hangandika haris. Sampun lepas lampah hiréng margi.” 50. nulya kondur sangking ngarsa. nulya kadahup[p]ena mangké. hanang Radén Kartawijaya hiking. gawanen surat hingsun //kanggo raka hing Panjunan. kaliyan wayahipun. Tinampi wahu serat[t]é.“Hé Karta siréku. mangka katur hing Gusti Panjun[n]an.” 48.” Sultan ngandika harum. sun hangkat dadi mantri wecalang kaki. pernah hing Pancagahan.

manggén wonten hing kajaksan. Ki Dalem nulya ngandika. mapan kiyahi Dalem Singalodraka. Mangka wonten malih kang winarni. maturut préntah hing nabi. wedi dos[s]a hagung. hora pantes dadi dalem kaki. hinget[t]é hing ngakérat. lamun jagi hing wates Darmayu nagri. 52. 32a (70.sukangnya. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin. 904) 53. wisman[n]ipun wahu. 32a pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki.raméh siyang lan wengi. tiyang halit suka n[n]ingal[l]i.” Surak mapan gumuruh. prajurit kawan das[s]a. raméh. 51. samya sukang sampun. lamun hora suka. lagi pésta raméh raméh. gamelan mapan gumpul. Duk dalem mékang hanang riki. sepi kang negara. 105 . kabéh ponggawan[n]ingwang. hadat santri hiku. hangsar suci pan hatin[n]é. mantri patih lan dalem. sanajan sadulur //tuwa. wong santri cilik hatin[n]é.jumeneng hana hing Panjunan. “Hanang para ponggawan[n]ira hiki.

106 . hingkang gumanti putranya. saholah nyahambek pura. 55. nayaga mapan raméh senggak. yén kirang senggak[k]é mangké. langkung rusuh rerampoggan. tiyang halit kalangkung susah hiréki. lami pan tigang nahun. lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti. 54. 56. hupacara siyang dalu. pan Radén Semangun. nulya wapat dugi hing jangji. hanjenengi dalem mangké. lagi sedeng ngatur karya. Hingkang sugih banda kayan[n]éki. sodér kinipaletu nulya.satingkah polah Gustinya. patih Hastrasuta kuliling. sodéré cindé kembang. hanjejeképak wahu. nayaga dén siram lan wari. dedeg sedeng hapideksa. gagah tur habagus. sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami. wahu Dalem Singalodraka. Para mantri sami hangepok[k]i. kathah tiyang pin[n]atén[n]an. rinampog déning para durjan[n]a. datan kiyat jagan[n]é.

905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a. para putra putra sadayanya. Kyahi Betawi hika. sesek kathah[h]ipun tiyang. kadang misan[n]ipun.hanggén[n]é jaga durjan[n]a. saking Kandang[ng]ahur. 33 (71. Tiyang ngeraman sampun siyagi. nanggung hang ngalaga. Dén Nuralim wahu. Siyang dalu raméh raméh mangkin. pangawakan[n]a wangganya. 58. 59. tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis. hanggén[n]ipun pésta tetanggapan. 107 . Bagus Léja lan Sén[n]a. Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin. mapan misan[n]a niréki. Miwah para sénapati jurit. pan seling Rangin putran[n]é. juragan[n]é Bagus kandar. langkung pitung hatus. 57. Bantarjati pernah[h]é. langkung susah ribut[t]é hanang nagari. wunten malih hingkang warta. Bagus Rangin Surapersandanéki. putran[n]é Purwadinata. Biyawak Jatitujuh.

61. jolén miwah tumpak[k]an. ngandika hing kanca prajurit. hanempuh Darmayu. mapan Radén Kartawijayanya. sarwi matur sumanggah hing karsa. datan hénak halungguh. mapan Radén Wiralodra. kornélnya hanang ngayun. pan Kartawijaya hanenggih. bénjing hing Darmayu. Kanca-kanca kang para prajurit. siyagi tumbak bedama. jumagi hanang wates[s]a. rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki. kulit kuning wahu. bedil tulup lan keris. mapan rempag sedayanya. hageng hinggil meden[n]ya. sareng hénjing budal mangké. hobyok pedang hérmas //sérét kuning.tyang dugi saban din[n]a. 906) 62. 108 . hatinjo kadang kula. nganggé pakéyan tamtama. “Héh sanak kula sadaya. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin. Lajeng ngaben lampah hiréki. 33a (72. 60. pan dateng Darmayu nagari. hangrempug badé nempuh. kathah tiyang ningalan[n]a.

miwah para putra putra. huwa Kartawijaya. Kartajaya ngandika. tias[s]a ngamba gegan[n]a. Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki. miwah putra sarta sénapatya. héstri warninipun.hamireng surak mangambal[l]ambal. sinelek lampah hipun. ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata. kalih paman patih Hastrasuta. hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki. “Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun. langkung resak[k]ipun nagari. punika Ciliwidara. datan bis[s]a nyepeng mangké. lajeng methuk Radén Kerstal. putra putri sangking Banten kang nagari. kénging wicaksan[n]a nipun. 64. campur kaliyan senjatos. Para prajurit hing Darmayu mangkin. kathah resak para ponggawi. samya kagét para prajurit. putra sareng dulu(r). hiki musuh rebut hapa. sapa prajurit nama?” 109 . 63. “Duh rama huwa nuhun. karun[n]a dateng harsan[n]é. wani temen hangrusak hanang nagari.

34 (73. kathah kang sami lampus. ngangken putra Kentanagara. Dén Dalem Wiralodra. malah putra rama mangké. sarwi karun[n]a sesambat[t]ira. “Duh raka pitulung mangké. sahiki ram[m]a harep kapanggih. Ciliwidara hiku. Suryaputra Sruyabrata néki. 66. 907) 67. dén panah si Ciliwidara. pan kénging musuh han[n]ekan[n]i. Héh Kang Rayi Hastasutra patih. hingkang rama medal toya waspan[n]éki. hanadah[h]i yudabrata. bade hing rebat nagara. mapan kambi raman[n]ira. sumanggah raka hing karsa. Nulya ngrangkul kang raka tumuli. malebet hing padalem[m]an. langkung sakti Ciliwadara puniki. miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal. miwah raka Suryawijaya. tan kuwawi hulun. bésuk iki sun candak[k]é. 110 . nulya pangkat wah[h]u. hangemas[s]i wahu. Nyi Ciliwidara kang nami. nulya sanget dukanira. putra raka kathah lampus.65. nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi.

wadyabala ponggawa putra prajurit. Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i. mangka Ciliwidara miyarsa. kadiran wong hayu sira. wani hangrusak Darmayu. wong siji wani musuh. kakang tanding hing ngayuda. han[n]ang wong Darmayu. hananding kadigdayan. hanulya sesumbar hénggal. sapira habot saktin[n]é. 70. sira Ciliwadara hanjing. prawantu tiyang hayu. Ketambuwan sira hing mami. Kartawijaya jeneng[ng]é. 908) duméh sira punjul nganihaya lampah cidra. wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami. hénggal dangdos busanan[n]é. pan kalih wong sanegari. pan[n]ah miwah bedama keris. 111 . Sarta bendéné pinukul haglis. hiki sadulur hingkang tuwa.68. bendéra tinarik hénggal. sareng hénjing binaris[s]an. gelang kalung kilat bahu. lan sa[pa]mapaging yuda. pan cakep yén tiningal[l]an. 69. 34a (74. manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing.

kurang tata perang mangké. 71. hobah bebalung ngira. Méh san[n]alika tiba hing siti. tiyang surak lir kadya rengat hing bumi. “Nyata prajurit siréku. tan wonten hasor hing yuda. pancén wong sendek humur[r]é. rasané panah hingsung. hapa han[n]ang siréku. manah datan mindowa. hénggal wangking pedang[ng]é. hangrahos peteng hing paningal. ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang. suka haningalan[n]a. pan hénggal linepas panah ngenan[n]i. sekalih pan punjul. maka hangandika hasruh. hudreg pedang-pinedang. yén niba hanguyun. sundel dayang humbaran. sarwi hawecan[n]a dén priyatna. “Héh pan Kartawijaya siréki. hanang getihyé manus[s]a. kang haran si Belabar Gen[n]i. 72. tibakna han[n]ang hingwang.men[n]awa tambah ta sira. 73.” Ciliwidara dén luket[t]i. Hanulya mentang panah hiréki.” Radén Kartawijaya mangkin. 112 .

pernahipun hical Nyi Cili. 113 . 74. kalih kang rayi pepatih. hanggén[n]é musuh Kartawijaya. siyang miwah dalu. Ciliwidara datan kuwawi. ngandika hing prajurit[t]é. hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi. saya gumareget hagalih. medal tiwik[k]raman[n]ya. miwah putra putra sadaya. sirna datan karuwan. pan miwah putra nonoman. kén[n] jumagi wahu. samusnané Nyi Ciliwidara. kang raka kalih kang rayi. satingkah polah[h]ira.mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i. Mapan samya pinanggya. mapan samya dén jaga. IX. Kartawijaya cuwa hing galih. Kartawijaya wahu. 909) 75. nulya Dén Kartawijaya. dén hédek hanang pratal[l]a. pan cinandak sampun. Ciliwidara hambekas hana hing bumi. 35 (75. langkung hawrat kasaktén[n]é. SINOM 1.

“Duh Yayi Mas [s]asih basuki karsan[n]é Yang Maha Widi. hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki. hénggal Si Kakang harawuh.” 3. hing rayi kang yudabrata. lah kados pundi hing karsa. 114 . han[n]anging sejaning raka. resak[k]é hingkang nagari. “Tak tarima karsa rayi.” 35a (76. nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka. kersan[n]é Yang Maha Mulya.Hastrasutra jenengnéki. miwah putra pan sedaya. mila bade matur Gusti. ngaturaken kasusah[h]an. mila kasuwun pun rayi. “Kabegjan makethi-kethi. Kang Raka haris ngandika. mapan lagi mangun jurit. dateng rayi hing dalem katuran lenggah. 910) 4. datan huning[ng]a yén susah. bade wangsul pan rumihin. sangking berkah raka wahu.Kang raka haris ngandika. Kang rayi matur hing raka. héran pisan Ciliwidara digjaya. sadaya cahos hing ngayun. 2. tan seja raka habantu. hawit hanglancang[ng]i Gusti. menawi kasoh rumihin. raka hénggal hangrawuh[h]i. lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara.

hanulya hénggal lumaris. kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya. jumerogjog hingkang prapti.” Nulya bibar masing-masing. Nyi Jaya cahos hing ngayun. katiwas[s]an habdi Gusti. 8. Kyahi Dalem ngandika haris. hanang Garagé nagari. Bade matur kasahéstu. jagan[n]é hilang[ng]é wahu. man[n]awa malebu Rayi. dén jaga ponggawa rayi. mung rayi kang hatiyati. 115 . patih Hastrasuta mangkin. nulya hangiring lumampah. “Duh Gusti hatur duduka. Sedaya sami rangkul[l]an. 7. hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara. Tak kira han[n]a sukarya.5. saweg sinéba kang raka. para putra ngabekti sami. “Duh bagéya janur gunung rayi prapta. han[n]ang pernahé hing musna. Sareng nuju dinten Jumah. sanget sampun duka Gusti. malebuh[h]ing padalem[m]an. dumugi han[n]a hing jawi. 6. “Ponggawi dérék sang[ng]ulun. hing panjagahan kakang. Prawantu wong wicaksan[n]a. Dalem Wiralodra mangkin. sarwi manembah hing ngarsa.” Nyi Jaya humatur haris.

116 . kumpul damel tarub hagung. bade tumut nyusup habdi. lan sun halih nama Resik Sira Jaya. humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira. déréng wangsul wisma habba. 9.36 (77. Darmayu badé karesak. kalih turun-turun mami. 911) Kyahi Dalem hangandika. sampun kathah tiyang prapta. “Manah rayi sun hidin[n]i. wis rayi hénggal mundur[r]a. jaga pati saksi habdi. dadiya sawiji bénjing. nanging kekah pan kahul[l]a. tak tarim[m]a sedyanipun. mugiya satrun[n]ira. hénak[k]a hing wisma rayi. dumugi hing hanak putu. hantawis sanambang Gusti. kadang kadang habdi Gusti. 10. Kyahi Dalem hangandika. sedaya manggah hing karsa. 11. “Habdi dén pethuk hing raka. sukur bagja sira yayi. sahiki nembé hadugi. humatur kasuwun Gusti. Nulya manembah hing ngarsa. pan habdi kaperdi Gusti. sangking Bantarjati habdi. tan niyat cidra hing Gusti.” 12. bade ngraman hangresak nagri paduka. datan seja bade tumut (ka paduka).

dadiya kawruh wan[n]ipun. sasat musuh[h]an dateng[ng]i. ngempel[l]aken ponggawa. mangka hangandika patya. 14. yén kedah tinangken wahu.mapan Kiyahi Wiralodra. miwah Wangsatrun[n]a wahu. Jiwasuta kang prajurit. 13. Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang. lenggah hing paséban jawi. punapa kakang hing karsa. hing dusun han Bantarjati. 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya. ngandika hing kakang patih. hawit hing wawengkén Gusti. Trun[n]ajaya hingkang rayi. kathah kang para prajurit. Hénjing miyos hing paséban. Sutamarta Tum[m]enggung. Kang Gusti nulya ngandika. “Kados pundi kakang niki. 15. humatur pan kakang patih. hatur[r]é Nyi Jaya wahu. sadaya kang sun timbal[l]i. sentan[n]a prajurit mantri. kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman. Nanging samakta hing yuda. 117 . “Punapa kang raka patih. “Duh kadang-kadang prajurit. miwah sesang[ng]oning tiyang. pan Tanujiwa kang raka. siyagi para prajurit. 36a (78. sayagi wonten tiyang ngraman.

bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal. hulesna pas gambirah gagah hing yuda. nyangking pedang tumbak//duhung. hing ngampléh kang wunten kéri. 37 (79. 16. pun[n]akang dadi biyas[s]a. Gustinya niti turanggi. sinonthé keris hing kanan. 17.karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa. kuluk hérmas hinten murub. bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i. Samargi dadi tongtonan. pajun[n]é tiyang ngajurit. samakta siyagi jurit. pancén gagah dedegya mapan sumbada. sedaya niti turanggi. 18. demang rigah para harya. 913) 118 . budal[l]é hing Jatitujuh. pati(h) Hastrasuta mangkin. Nulya kondur ring paséban. sampun kirang pan sayagi. konca mawi cindé kuning. hing ngiring para prajurit. hupacara para mantri. miwah sakéhéng prajurit. Kula hatur[r]i pan sedaya. kawula samya siyagi. wédang miwah dadahar[r]an. prawantu gagah jatmika. tyang dusun hanyiyagéni. prawantu mriksa berandal. Bendé muni samya mudal. pakéyan mawarna-warna. 19.

Sadaya pepek [k]ing ngarsa. Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari. miwah Kyahi Betawi. Pan lajeng hingkang lumampah. gegedén hing Kandang[ng]ahur. raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an. hutawi hinurug mangkin. hing tembé huninga hing Gusti. saweg sinéba ponggawa. klapa dugan saban pintu. tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak. punapa pan kintun serat.” 119 . pengagung Ki[ng] Bagus Rangin. Sumanding Surapersanda. 21. Bagus Seling hingkang putra. 20. mapan para sén[n]apati. kasebat kang pinituwa. kang wunten hing Bantarjati. sarta Bagus Pangiwa. sénapatya sedaya putra Mayahan. kalih hingkang paman wahu. sadaya tiyang ningal[l]an[n]a. Bagus Serit jeneng néki. “Hanang paman kadinéki. 22. miwah kadang putra mangkin. miwah para sén[n]apati. Bagus Rangin hangandika. miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar.miwah tetabuh[w]an mangkin. sarta pan Radén Nur[r]alim. sampun cekap bala wahu. kados pundi gelar niki.

kedah mangké dinten Kemis. Hing Jatitujuh pernahnya. Saban sasak jinagiya. pecalang cahos hing ngarsi. janur miwah godong wringin. “Kados pundi lampah[h]ipun. sukur bis[s]a hanekan[n]i. 120 . Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda. lah gelar[r]é kados pundi. 26. “Duh bagja yén mangkonowa. Sing lér dugi ning mingsah. Dalem Darmayu rawuhnya. gangsal dasa sasak siji. kados hapes hing ngajurit. Bagus Serit hangandika. héca hanggén cacatur[r]an. kaleres[s]an tanggal[l]ipun.23. nanging putra sahé baris kahormat[t]an. “Duh putra sedayan[n]iki.” Bagus Rangin ngandika haris. 914) Kemis Kaliwon puniki. 37a (80. sarta manawi palengkung[ng]an. “Leres taya putra mami. kinten pangkat dinten pundi. putra dérék karsa ram[m]a. lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?” 25. pajun[n]é mapag hing jurit. 24. napa wangun baris hagung. pinangka hormat [t]ing Gusti. kula hatur[r]iki kang sabar. ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a.” Nulya matur rama mangkin.

38 (81.tin[n]aro prajurit telu. 30. Bagus Serit hatur[r]an[n]ya. 29. 915) 121 . ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun. gampil hingebyak[k]an bala. 28. limang puluh balanéki. ram[m]éh raméh kang prajurit. kanan kéri pan bendéra. yén kuda miwah ponggawa. sampun //bibar samakta bala sedaya. samya ngatur gelar wahu. gelar wang rampoggan mangkin. sakanca berandal mangkin. sampun lintang kinten tebih. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan. hanggeber wonten hing wari. nulya kadang-kadang néki. siyagi tyang kasémahan. Samya damel pasanggrahan. raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an. kang sinigeg bala Darmayu punika. 27. hénggal sasak binubrak[k]an sedaya. Rampung bedami gelar[r]an. siyang dalu tetabuh[w]an. mapan tiga prajurit néki. nanging samaktaning jurit. gamelan[n]é siyang wengi. sampun bedami pesagi. hangdalem sasak satunggal. damel tatar[r]uban mangkin. Supaya wangsul[l]ing kuda. kalih paman Bagus Serit. siyagi pethuk pangagung.

hing Jatitujuh gén[n]iréki. Ki Patih niti turanggi. bedil tulup lan suligi. samya kempal pirempag[g]an. Hastrasuta pan prajurit. mung mengko sabalik mami. nulya manembah tur nyaris. kran[n]a hiki lampah gelis. 916) “Duh Gusti habdi //puniki. hing ngiring para prajurit. hulem cemeng kudan[n]ipun. habdi sampun siyagi men[n]awi kersa. hing ngendi pernah[h]é wahu?” Humatur prajurit tiga. 32. Sedaya pan hasung hormat. nulya ngandika Ki Pati. palengkung[ng]an bandéra baris hing marga. sareng dugi pawates[s]an. hanang dusun Bantarjati. “Tak tarima sanak mami. hingkang lajeng paman patih. 38a (82. Ki Patih nulya ngandika. “Punika katingal Gusti. kahutuskén mriksanana. samakta kaprabon[n]ing prang. 122 . 31. suka ta [h]hangormatan[n]a. rawuh[h]é Gusti jantika. sumanggah sakarsa Gusti. raméh gamel[l]an hang Rangin. Sareng hénjing samya budal. pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman. mapan kén methuk sang[ng]ulun. mapan sakti hing prang pupuh.” 33.

handeder hingkang turanggi. Dén papag prajurit kathah. salaman sedayanéki. prawantu ngormat[t]ing Gusti. X. mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun. 123 . bendéra lan humbul-humbul. 35. ké mriksa béja hing warta. han[n]ang pasanggrahan hagung. nulya sasak binubran[n]an. hingkang sami makuwon hing riki. nulya héstu kang sayekti. hanungsi hing Bantarjati. Nulya patih hameriksa munggur ngarsa. surak kadya hurahan. sampun tebah[h]ing kang lampah. miwah samya ngormat[t]i. “Lah kados pundi gelarnya. mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an. 2. hing ngobar tan[n]ana kari. raméh gamelan tinabuh. “Héh sanak kula sedaya. patih miwah para mantri. Nulya lajeng hingkang lampah. PANGKUR 1. déning pada siyaggi kaprabon jurit. gelar[r]é tiyang ngakathah.bandéra bang sérét kuning miwah pethak.” 34. nulya samya lelinggihyan. malebet[t]ing tarub mangkin.

” 6. tem[m]ahan pan dadi rusak. wong musuh han[n]ang negari. taling[ng]an kadya sinebit.” 5. “Lamun kénging sadaya pan sanak sami. mangsa wediya pan hingsun.” Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur.” 124 . yén datan kacekel sira. pan seja bade hing resak. “Héstu bade hangresak[k]a. 917) tumbak perampoggan wahu. Sanajan cilik rupan[n]ya. ngisén[n]i sira cangkem berandal babi. prawantu kang yan[n]a patya. hanang rupa wong nagara hing siréku. “Loh Rangin celathu[n]nira. lan mengko[s] sengsara wahu. haku tan harep kon mundur. tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun. sakéh hanak putu[n]nira. mapan luwih werat sesanggan[n]éki. manggih susah kasengsara hing Yang Hagung. mapan wirang yén mundur[r]a. yén kénging kula penggah. “Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih. 3. sampun dén turut[t]i napsu. Ki Rangin humatur sugal. hanang Gusti nagari Dalem Darmayu.39 (83. //punapa hingkang sinedya. Nulya ki patih ngandika. 4. Dramayu hing dalem mangkin. lan hora gila tumingal. kran[n]a nagari hing mingkin.

sapa marah hasrah pejah. para kadang maju haprang sedaya kasor hing jurit. jam nenem sonten hing wanci.” 10. patih Hastrasuta duduwa din[n]éki. Sareng sampun jam sedas[s]a.” lawanen hundur-hundur[r]an. 11. ngandika Ki Serit wahu. Bantarjati lan Biyawak. 39a (84. ki Rangin werat tanding kaliyan pati. pan kathah musuh nya lampus. “San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki. hangantos samangké wanci jam sapuluh. surung-sinurung pan wahu. 7. 9. tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati. kaliyan Ki Yan[n]a patya. nulya dén hebyuk[k]ing jurit. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira. 918) Prawantu perang berandal. kira dalu sun hebyak[k]i. haja kosi bis[s]a medal. sedeng peteng tan katingal.Ki Patih medal hing Jati. Nulya Kyahi Serit ngandika. siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku. “Loh hanak kul[l]a sedaya. 8. datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu. 125 . haja ngrangseg sira maju. Para mantri pan jumaga. pan datan tata paju[n]né hing ngajurit. tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu.

mapan datan dén praduli mlayuning pun. bade mlajeng tan huning[ng]a. prawantu tiyang berandal. mapan kénging nulya lampus. “Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi. 12. 15. salin bus[s]an[n]a hacampur. para mantri pan melayu. Sinareng sampun waspada. pan hingsun wis hora kuwat. namung patih Hastrasuta. dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking. langkung ribut prawantu prang dug hing wengi. Datan huning[ng]a lor wétan.hangebyuk[k]i perang pupuh. Wecan[n]a sajron[n]ing manah. tiban[n]é tumbak lan keris. nanging bala Kulinyar. mapan sampun hancur kuwandanné wahu. 919) 126 . kang dén prih pejah[h]iréki. jamak[k]é ngawula hingsun. sampun payah Hastrasuta.” Ki//Serit medal hing wingking. hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh. lor wétan[n]a prawantu wengi. sampun ngrahos datan kiyat. 14. perang karo brandal kinarubut. tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu. Nulya ki Serit tumandang. hambélan[n]i hing nagara. kinepung buwaya mangap. ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki. dipun byakta hing tiyang kathah. 40 (85. 13.

“Katiwas[s]an habdinipun. 18. dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin. pejah wonten hing marga. Samya prang han[n]ang marga. nulya lajeng hing lampahnya. Duginé han[n]ang nagara. kinerocok hing payudan.” kang Gusti ngandika haris. sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun. kathah malih dugi hing tarub hagung. sarwi handras mili[h] kang luh. kinepung hing tiyang kathah. 20. makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki. sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus. Humatur hanak[k]ing ngarsa. Sareng hénjing nulya bibar. samya nayub raméh wahu. mangka mantri kang lumajar. sarwi nangis melas sasih hing Gusti. sampun dugi hingkang Gusti. prawantu tiyang berandal. pan raka dalem paduka. yén mangkono becik hingsun pada balik.surak lir rengat[t]ing bumi. sampun dugi hing nagari. 127 . “Héh mantriningsun sadaya. 19. mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung. dén sangguh brandal nekan[n]i. 17. dén bedil pamayung[ng]ipun. 16.” Hanulya bibar sadaya. para garwa miwah kadang-kadang néki.

hantuk ngrayah saban dusun. 23. hora panjang yuswa kakang. hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun. 21.samya methuk jawi pintu. 24.” 128 . “Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun.” 22. Hingkang garwa miwah kadang. mangka hanang dalem pati. hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu. saban din[n]a matis minda kebo sapi. sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti. siyang dalu dedahar[r]an. rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu. wunten malih kang winarna. sampun lat lampah kula. kakang patih hangemas[s]i. pan hing[ng]et hing sengsarahnya. Gégér gumuruh karun[n]a. sarta kadang-kadang[ng]ipun. “Duh paman kula nuwun. 40a (86. para garwa miwah putra-putran[n]éki. patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh. Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki. Dateng hingkang rama paman. sareng malebet hing wisma. berandal hing Bantarjati. Raméh-raméh gan tayub[b]an. pan sarwi hasesambat. 920) puniki pan katiwas[s]an. Ki Rangin hangandika haris. prawantu berandal dés[s]a. miwah kadang-kadang kula. sedaya karun[n]a wahu.

surak-surak hing margi samiya ngibing. 921) miwah bendil lang sasisih. hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin. turut marga hangrampog[g]i saban dusun. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a. hana hingkang nganggé clana poléng tapih. conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub. Sareng duging céléng dés[s]a. Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru. han[n]a kang sarowal[l]an. hanak rabi hing Darmayu. mapan samya habénjang. prawantu lampah hing bangsat. 25. 41 41(87. tumbak keris miwah komprang sarta penthung. 26. sadaya pan ngajigjaya. sandang[ng]an[n]é mancawarni. Poléng gunung poléng Jawa. mikul lanték hisi beras. bedil gobang miwah pedang. hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati. hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi. miwah Héng Jin lan Ti Yang li. 29. sagadah-gadah hing tiyang. kebo sapi néki niring. Sareng hénjing samya budal. hutawi samiya cangcut.Sedaya sumanggah ngiring. 27. satingkah-tingkah pan wahu. 28. 129 . hayam manda miwah harta. Samargi-margi jogéd[d]an. masing-masing gaman[n]ipun.

Bah Kwi Béng sareng handulu. 30. “Mangka hingsun hanepang[ng]i. 31. 32. Sedaya miréh berandal.” Wecan[n]a Surapersanda. 130 . mapan hiki sabatur seja halampus. para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki. 41a (88. mung[g]uh bandakaya sobat. wah kang hurang cuwa hingsun. hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin. miwah nyonya Cin[n]a néki. dén hamuk hing para Cin[n]a. yén hora handeleng dika. hapa hora hing[ng]et salang wosé batur. nulya Bagus Surasa Persanda nepangi. kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun. hibur palayu ning jalmi. tak jaluk sukan[n]é sobat.Cin[n]a babah kalih baru. prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun. pan hingsun hora hangrusuh. bade ngrayah barang harta. “Loh kang hurang dadi brandal. hing ngamuk para Cin[n]a. waktu hiki hajala sanak mami. mangsa dén rusak[k]a hiki. nanging hinget sayo sobat. lebur brandal kathah lampus. nulya berandal hangrempak. 922) hatawa seja hanglanat. Mung sobat waktu samangkya. han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun. 33. Sareng ngrempak kulya pas[s]ang.

bubar hing Dramayu lampah. harep ngrebut nagara Darmayu hiku. prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu. sadin[n]an[n]é telung puluh. gawé hibur hing negara dika hiki. 38. hantawis kathah hing tiyang. seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu. 35. Langkung sesah tiyang perdés[s]an. kang hurang gawé melarat. kalih Bagus Surapersanda mangkin. rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit. para Cin[n]a kondur wahu. 42 (89. sangking kathah tiyang wahu. Gumuruh han[n]ang Mayahan. tiyang hingkang samya prapta. Jarih Gan[n]a pada mélu. nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun. 34. damel pasang[g]rahan mangkin. Ki Rangin matek pikirnya. pengabaran dugin[n]é hing para jalmi. 923) hana hingkang hanger//rayah rerampogan hangrayah duwit. 37. makuwon hing pamayahan. 36. hing hawak dika pribadi. siyang dalu tetabuh[w]an. 131 . pitung nambang tiyang dugi. Nulya tetabéyan Cin[n]a. Lan kapriyén pikiran dika.kang hurang pan sampé becik. pekakas kurang santos[s]a. mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin.

kawul[l]an[n]é nuwun tulung. hangrerayah saban din[n]a. kang ngasta dadi gupenur. han[n]ang negri Batawiyang. 42. hing mayah[h]an pernah[h]ipun. samya tinuron[n]an. mila sanget kasengsara. malah kathah soldat[t]é sinebar wahu. hora wirang gawé sakit. sesambat[t]é hanang Gusti. lamun kénging trus pintén[n]an mangkin. tan perdul[l]i kancan[n]ipun. 40. susah[h]é saban nagari. 39. panjeneng[ng]an Dangles mangkin. lan suka hambantonara. 1808. 132 . hadat[t]é Dangles punika. Lan benci hanang tiyang jahat. berandal para bagus[s]an. yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu. Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral.yén hayu rabi[n]nipun. Haduh Gusti kawul[l]anya. hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin. ki Dalem hunjuk lan surat. langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung. 41. langkung resak tiyang kathah saban dusun. dipun rayah kebo sapi miwah wedus. Mangkan[n]a dalem punika. guperur jéndral Batawi. sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin. resak kawul[l]a sadaya.

yén tan nurut hajindanya, mapan pinotong pribadi. 43. Hanulung pertulunganya, réning brandal langkung kathah hingkang dugi, 42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur sarta kirim bal[l]a soldat, tinindiyan kaliyan kumendur lahut, Tuwan Postur namanira, sing Hing[g]ris hasal Welanda, 44. Kéng ngéndi bedami brandal, pura-pura dihangkat dadi bopatih, ma[ng]pan nagari Darmayu, pan kagung[ng]ane pun jéndral, hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu, supaya dadiya bubar, bala berandal puniki. 45. Saradadu miwah Tuwan, sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin, sarta pun bedami wahu, dalem pan sampun pasrah, hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut, héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an, tigang[ng]atus soldatnéki, 46. Supaya haningal[l]an[n]a, para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin, bedil pedang miwah hangkus, pinilih rata dedegnya, hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun, ginotong mimis pekakas, miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,

133

sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin, supaya brandal handulu, tingkah polah[h]é tiyang perang, tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu, sareng dugi hing Mayahan, kagét brandal haningal[l]i. 48. Nulya matur hing juragan, lamun wonten saradadu handugén[n]i, hambakta samaktan[n]ipun, pekakas hing ngayuda, 43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun, kapethak kaliyan Tuwan, Tuwan Delér bis[s]a Jawi. 49. Tetabéyan Delér Tuwan, kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. Tuwan Delér ngandika rum, “Héh Bagus Rangin jandika, sampun hajri mapan kula dipun hutus, hing Tuwan gupernur jéndral, kuwas[s]a negri Betawi. 50. Saréhing dalem masrahen[n]a, negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin, dadi hingsun dipun hutus, kang[g]o hambedami kula, mapan dipun Sowak nami, dalem wahu, lamun kersa hajandika, kula hangkat demang mangkin. 51. Mung[g]uh kadang sadayanya, kula hangkat dadi mantri jurutulis, kuwasahan sami wahu, saperti dalem pangkat.”

134

Bagus Rangin matur trima kasih hulun, yén makat[t]en legang manah, sedaya dipun salin[n]i. 52. Pakéyan laken sadaya, clana laken krambi laken topin[n]éki, mawi pasmén mas murub, Tuwan Delér pan siyaga, nulya raméh tabuwan humyang gumuruh, pésta hangéstréni demang, Demang Rangin para[ng] mantri. 53. Pamayahan kademang[ng]an, siyang dalu berandal tayubban néki, ngikat jeneng demang wahu, suka-suka gé nya pésta, sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung, dén hiring mantri sadaya, pakéyan sangking Betawi. 54. Tiyang kathah ningali Blanda, 43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki, bedil pedang miwah hangkus, saban soré hajar perang, kornél hajidan sersan lan sardadu, hajar bedil miwah pedang, berandal kathah kang balik. 55. Lamun dalu pada ming[g]at, sarta kathah hingkang sami kirang neda, prawantu tiyang kathah wahu, badé ngrampog panji nagara, tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus, nulya Delér kirim surat, hing Dalem Darmayu mangkin.

135

56. Sadiweg gédén tangkeppa, mapan dalem sampun tampi serat néki, gelar[r]é Delér puniku, nulya dalem kintun serat, dateng raka Kartawijaya puniku, hing Gragé ponggawa sultan, serat[t]é sampun dén tampi, 57. Sareng winahos kang serat, lamun rayi Hastrasuta mangkin, neng[g]éh paman sampun lampus, pinejah pan hing berandal, sapunika berandal jinaga wahu, dateng Wlandi kumendur Tuwan, pin[n]angsraya sing Batawi. 58. Hénggal Paduka Jeng Raka, rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi, Kartawijaya habendu, nulya matur hing sultan, sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun, Gusti Sultan hamiyarsa, nulya hangandika haris, 59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya, hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin, yén ken[n]a bandan[n]en wahu, lamun kekah pin[n]atén[n]an, 45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu, sarta sira Radén Wel[l]ang, bareng kam[m]i Karta mangkin, 60. Karta miwah Radén Wel[l]ang, mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti, sultan hangidin[n]i wahu, manembah kondur sing ngarsa,

136

medal jawi bendé tinitir pinukul, prajurit siyagi nulya, samakta kaprabon jurit. 61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika, “Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit, sahiki pangkat siréku, karo hingsun raka Karta, seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh, hing Mayahan pernah nira.” hénggal pangkat Radén kalih, 62. Lan gawah kancanira, hing pinilih sakethaha sapara prajurit, mapan sampun budal wahu, pangkat prajurit sedaya, sampun dugi prajurit hanang Darmayu, pinang[g]ya rayi lan raka, kang rayi hangrangkul haglis, 63. Hanangis dateng kang raka, mapan hingat hingkang sampun lampus pati, Kang Raka karun[n]a wahu, sarwi hangandikanya, “Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu, wapat Yayi Hastrasuta, tan mundur kakang ngajurit.”

XI. DURMA 1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang, pan sampun siyagi jurit, sadayanya ponggawa, gambirah mantri sedaya, pan bade béla hing pati,

137

hingkang pun séda, Dén Nastrasuta patih. 2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan, tumbak pangrampog[g]an mangkin, 45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya, mapan hingkang ngarsa, dalem kalih rakanéki, miwah Dén Wel[l]ang, putra Panjun[n]an selir, 3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan, Rangin mapag hamiyarsi, lamun dalem handugya, samakta kaprabon[n]ing prang, hangras[s]a ginelir mangkin, hing Delér Tuwan, mapan kinepung mangkin. 4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga, miwah hing kulon prajurit, sampun pengkuh barisnya, berandal hana hing tengah, hing kidul bala Betawi, Dén Wel[l]ang neng[ng]ah, maran[n]i berandal mangkin. 5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya, hayun-nayun[n]an pinanggih, kaliyan para brandal, mapan hangandika sorah, “Héh Rangin hanjing siréki, sira berandal, nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,

138

sugal hing wecan[n]anéki, “Héh hingsun dipun gelar, hing Delér Tuwan punika.” Hanulya mangsul[l]i mangkin, hing Radén Wel[l]ang, “Mapan tan gila hawak mami, 7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira, mangsa gingsir [r]awak mami, kadir[r]an sugih bal[l]a, mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.” Sén[n]a habandak tumuli, hing Radén Wel[l]ang, sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda, datan ngang[g]é tata mangkin, prawantun[n]é berandal, kadya ngepung satoh galak, pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit, hang[g]én[n]ing prang, hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga, kathah brandal hingkang mati, kang kénging dén belagbag, hing para mantri sadaya, kantos kasaput[t]ing wengi, hang[g]én[n]ing haprang, Rangin sakadangnéki, 10. Mapan sampun miruda sangking payudan, hénjing bendé tinitir, Rangin sampun tan[n]ana, sadaya sami miruda,

139

sedaya kén maténi. 14. mapan putus[s]an pun dugi. Mapan sampun binalagbag bala brandal. berandal kon dén ilar[r]i. hantawis nem hatus mangkin. mapan kinirimna. han[n]ang Darmayu mangkya. han[n]ang Betawi mangkin. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala. hing Darmayu hiku kumpulnya. hingkang han[n]ang buwinya. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral. “Héh kunyuk berandal. hing karsan[n]ira. 13. sampun hing ngedél[l]as sadaya. wedi mati sira hanjing. sampe pinang[g]ya. kadrél hing jero buwi. datan kamot[t]a. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna. hingkang sampun kacandak. salebet[t]ing buwi hika. bade kintun srat. perkara berandal mangkin. “Hanang jéndral Batawi.Dén Welang ngandika mangkin. sakéhéng berandal mangkin. hanang jeron[n]ing buwi. binuwi berandal haglis. miwah kondur sadaya. 140 . sakéh[h]é pengagung mangkin. 12. 11.

18. Rangin Kandar kepalanya. paju[n]né hing ngadilaga. sarta Radén Welang mangkin. Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing. pajun[n]é hing hadilaga. 16. hing lampahira. pan hitu diyah. Bagus Hawisem prajurit. saradadu Dén Wel[l]ang. prajurit paman[n]iréki. miwah Dén Kartawijayanya. Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya. 141 . Hangandika Rangin han[n]ang para putra.15. sareng wonten wartos malih. holih prajurit mami. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama. nulya pangkat hangilar[r]i.” 17. kang nanggung yuda. brandal Luwi Séhéng mangkin. jaga[n]nen kang waspada. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang. sarta bakta bal[l]a. Rangin sanget bungah néki. hantawis sanambang tyang. hingkang nanggung hayuda. 19. han[n]ang Kedongdong kang baris. “Haduh hadi datan nyan[n]a. guyu[n]né suka-suka . hingkang nagel hing ngajurit. Hawisem lan Radén Wari. 930) //pan bubar sedaya mangkin. Mapan sampun baris tugur para brandal. 46a (96.

pésta pan siyang weng[ng]i. pethuk hing yuda. Kadya brondong bedil mariyem punika. 931) 142 . 21. prajurit[t]é Rangin hingwang. pinayung[ng]an Bagus Rangin. pan kendel hing ngajurit. kecandak Radén Wari. raméh hanggén[n]é jurit. 47 (97. 23.kakang pinanggih lan rayi. berandal sampun siyaga. Pan kapethuk kalih Kartawijaya. mapan gelar[r]ing baris[s]an. kelangkung bingah. Tumenggung Nitinegari.” 20. panyata yén husul mangkin. kendel manengan hing prang. pajun[n]é Radén Wel[l]ang. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira. katambuh[w]an pan hingwang. 22. sing dépok sambeng punika. kang nanggung mapag saréki. hapandang Hawisem Wari. sapa hiki ngarsa mami. Dén Wari hingwang. Rangin Kandar turun[n]ya. dén[n]ing dén Wel[l]ang. campuh[h]é hing ngajurit . prajurit ngarsa. lan Dén Kertawijayéki. pan kathah hingkang kajodhi.

dateng saradadu mangkin. Radén Wel[l]ang datan kari. rebut mapan tan kating[ng]al. dén rakrak saban dés[s]a. rinanté hénggal. 27. 25. han[n]ang Gragé nagari. hing kanca sultan.24. datan pinanggya. sadaya tan[n]ana kari. 28. héng[g]al pan binujung wan[n]i. suwung pan wismanéki. Dadya raméh siyang dalu hing payudan. baris berandal. Ki Séna Surapersanda. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal. hanjog mara Bantarjati. datan menda hanggén[n]é jurit. ming[ng]ilén pan lampahnya. Surapersanda pan kénging. Bala hambral miwah Dén Kartawijaya. 143 . “Héh hanjing berandal sari. raméh hanggén[n]é jurit. samya bujeng berandal. mangilén wahu lampahnya. miwah Sén[n]a dén tal[l]éni. perawan hayu binekta. rinanté kinirim mangkin. Dén Wel[l]ang hawecan[n]a. Rangin Kandar Handa Hawisem miruda. 26. Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal. Léja sakancan[n]éki. hanadah[h]i hing ngalaga.

kalintang hanggén sengsara. hambakta han[n]ak bojonya.hanang Darmayu negari. 3. Cipanculan Ciwidara. hanyabrang Cipunegara. dumugi hing Hung[g]ulung. Mengilén hanye(b)rang kali. 47a (932) //XII. 4. jamban dalem mingilénya. Cilalanang Cibenuwang. Benggala hing luwung dinang. Ki Rangin Serit lan Léja. Cipedang miwah Cilégé. ningal[l]i bojo hanak. kantos wan[n]a hing Cikol[l]é. Samargi-margi hanangis. susah tiyang dés[s]a. Mangkana hingkang lumaris. kantos nye(b)rang Kucéyak. kasmaran kaningal[l]i. Pegambir[r]an Legok Siyu. hanak rabi samya krun[n]a. sanget kasangsarah hipun. 2. rempag hing wana-wana. miwah Kandar handa mangké. hanjog han[n]ang Dulang Sontak. tigang sasih hing lampahné. pan sinelek hing lampahnya. Men[n]awi dén bujeng mangkin. KASMARAN 1. hing Purasu Radén Srang. 144 .

malebet han[n]ang wan[n]a. haseneng[ng]an[n]ipun wahu. sun tingal[l]i sanget sa(ngsara). hing para putra sadaya. 8. kang Rangin pan saban din[n]a. 6. rama badé damel talun. han[n]ang rawa nami Citra. Ki Léja pan saban din[n]a. sarta damel sawah hamba. 145 . hantuk kidang lamun wangsul. kalangkung tebih pernah[h]é. hanerus hing wana-wana. kali deres kang toya. 48 (99. jurang péréng lumampah. Raméh-raméh gé nya bukti. nulya sami damel tarub. tengah wan[n]a langkung jembar.hanjog han[n]ang hing Cigadung. 933) 7. //Hananem mangkin. miwah kaliyan menjangan. langkung senang petanah[h]an. 9. Kerana para pawéstri. Kantos damel dukuhnéki. rawa hageng kathah hulam. hanang satengah hing wan[n]a. “Duh putra kula samangké. Nulya hawecan[n]a haris. tawu ngilar[r]i hulam. telung sasih lampah mangké. supaya pada hasowan. jembar pelataran[n]ira. 5. sampun tiyar kebon[n]an[n]é.

hingkang haprayogi hajembar. 11. Kyahi Wangsakerti nama. pernah mang[g]ih telatah jembar. Ki Gedé han[n]a hing Pecung. Tegal Selawi naman[n]é. seja ngilar[r]i papan[n]é. hanang Cigadung pernah. pan mingidul paranya. lamun kempel[l]an punika. 934) pan damel…. tilas[s]é Ki Rangin mangké. 13. bade damel taluk[k]an. Jatilima kang nama.winastanan dukuh Citra. hing bang lér kulon ing Suba(ng). Winastanan sapuniki. mapan manggih papan jembar. 12. kalih distrik Pamanuk[k]an. gratan 146 . bakta kanca telung puluh. Tur rata tanah hiréki. Ki Rangin hadamel. 10. katela sampé punika. pan dén wastan[n]é Cihakur. nulya sami rempag[g]an. kantos samikén namin[n]é. kalih kadang miwah rama. Hing wates Pegadén distrik. Jatigémbol kang satunggal. kalih nahun hing lamin[n]é. Nulya sampun rempag mangkin. sakilén kali Cigadung. 48a (100. halang hujur[r]ipun jembar.

Nulya Ki Rangin hamatek mangkin. Dalah sampun kathah jalmi. hanggempur hing Pecung Wangsa. langkung sangking sanambang. 16. ningal[l]i pesang[g]rahan. raméh-raméh siyang dalu. mapan handérék karsan[n]é. 147 . sedaya pun siyaga. “Punapa karsa sampéyan. Sedaya pan matur mangkin. becik gawé surat hingwang. hing kanca miwah hing kadang. hingkang dadi sinedya. hantawis tiyang kathahhé.sampun datos Citarum hagung.” 17. napa pun ngungkul[l]i wahu. kadang miwah kanca-kanca. pikir[r]é pan sampun dados. dinten pundi majeng yuda. 14. 15. badé ngaben kadigjayan. mapan kantun tunggu dawuh. saban dinten tiyang prapta. 18. hingkang haji pengabar[r]an. “lh kad0s pundi karsan[n]é. hingkang bade tumut perang. kelangkung mandi sikirnya. nulya tiyang panghatumut. Panangtang mangun hing jurit. tempat tiyang ngeraman. Nulya Rangin ngandika haris. pésta hadedaharan.

Hutawi nak putra mami. jumerogjog hing ngarsanya. mapan sampun hamiyarsa. sampun damel sengsara. pandakawan wicaksan[n]a. Héca hanggén gunem cangkin. 49 (101. Nulya hangumpulna mangkin. brandal wétan hasal[l]ipun. supaya siyagi mangké. Dulang Saréh hing wastan[n]é. hapa sanggup yuda mangké.” Nulya damel surat sampun. sedaya matur sumanggah. sira Jaka Patuwak[k]an. 148 . 22.tanda hingsun wicaksan[n]a. kang kirim hing Pecung dés[s]a. héh ya Krudug sira. wonten tiyang ngraman mangké. sanggup hing ngaben pukulun. kaliyan berandal wétan. 935) 20. hing tegal selat(an) Subang. sarta putra Sindanglaya. kambi berandal sing wétan. Ki Wangsakerti ngandika. sraptan[n]é hingkang hutus[s]an. hing kadang miwah hing putra. 19. para sén[n]apati mangké. kang[g]é mapag hing ngayuda. pelariyan wong nagara. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti. harep ngayon[n]i hingwang. 21.

Jawa Wétan ngasahan kami. kasukmésa jroning driya. hanjing Sunda malotot[t]é. nulya pangandikanya. kula hanjing siya mérad. Nulya Dulang Saréh hamit. 23. sarwi mésem hawecan[n]a. Jawa Wétan te puguh. panon pan pucicilan. gegancang[ng]an lampah[h]ira.. Dulang Saréh matur haris. serat nulya tinampanan.ngaturaken serat sampun. 26. dék ngayon[n]én hurang Sunda. hurang mapag[g]en siyaga. hapa (Dulang) Saréh wahu. sarwi hawecan[n]a sugal. Dulang Saréh wangsul nuli. 936) 149 . powé mana hanu puguh. kandel hipis hurat tulang. hanjing gelis siya mampus. sampun dugi hing ngarsan[n]é. 49a (102. Winahos serat tumuli. 27. 24. 25. kana jampé sikir manéh. breh hanjing siya wétan. haturken juragan siya. han[n]ang tempat pesanggrahan. kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang. hulah réya homong siya. Grudug ngadéngé glendengan. Jajabang Grudug tingal[l]é.

prawantu perang berandal. bendéra tinarik hagé. Gumuruh kang bala Rang[ng]in. 31. baris[s]é berandal wétan. kawengku hing distrik Subang. 150 . 29. Patuwakan Majanglaya. 28. bala Rangin kathah pejah. Léja maju hing haprang. ngajeng-ngajeng rawuh hipun. nulya siyagi sedaya. 30. tur gagah hasentos[s]a. dados pamucuk[k]ing haprang. malah kathah prajuritnya. sadaya sang[g]em hing yuda. bala Rangin pun siyaga. miwah kadang-kadang kabéh. siyagi hing yudabrata. Nulya humatur Ki Rang[ng]in. suraknya mangambal lambal. campuh prang berandal mangké. miwah Kyahi Gedéng Grudug.Ki Gedéng Pecung punika. hambeknya lir Singalodra. nulya majeng prajuritnya. bendé tinitir pinukul. dateng Kyahi Serit nama. sampun siyagi balan[n]é. hananding Ki Gedéng Pecung. hing bala Pecung baris[s]é. dateng paduka sampéyan. Hing papan tegal Selawi. Mangka sampun kapiyarsi.

nama hurang Gedéng Grudug. wong yuda hudag-hudag[g]an. Palariyan jelma negri. 151 . ginanti hanggén yuda. samya surung sinurung[ng]an. payoh gentén lawan hingwang. Jaka Patuwakan hingwang. 50 (103. “Héh sapa Sunda siréki. “Héh sapa kang ganti yuda. hapa Wangsakerti kowé.pinethuk Ki Gedéng Grudug. tan wonten hasor hunggul[l]é. 32. Hanulya nerajang wani.” 36. Léja hatetanya wahu. Jaka Patuwakan mangkin. ningali kang raka perang. gitik[k]i sira wong wétan. Ki Léja hanrajang mangké. bala Rangin mawih Pecung. 937) raméh surak[k]ing bala. péngén hangrasan[n]i hingsun. 33. nulya pin[n]aran hénggal. Paksa wan[n]i sira babi. nu baris naliyan siya. hora tlatén handulun[n]é. di wétan heker ditéyang. Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya. 35. hurang sén[n]apatin[n]a. 34. ketambuwan Jawa Wétan. nemu tanding hing ngayuda. wani mapag yuda ningwang.

Coba sun tanding lan mami. “Hampun Patuwak[k]an paman. dén hikal pinuluh bayu. kaya wong kemaruk mangké. tur sira maksih tarun[n]a. 39. Kandar mapag hing yuda. sayang hanggreget tingalnya. hanggén medang hora tata.” 38. pan sampun hayun hayun[n]an. kasilib hing pan[n]ingal. dudu prajurit siréku. kalih Patuwakan //mangké hang ngasta bendhak bedama.Ki Léja hamedang sigra. hénggal cinandak nulya.” 37. Jaka Patuwakan mangkin. Léja tan bis[s]a hobah.” Tan kiyat Bagus Kandar. 40. wong tarun[n]a sakti punjul. hora wan[n]i paman mangké. sor duwur pandén pedang. nyata prajurit pinunjul. Patuwakan sabda lirih. datan pasrah pan medang[ng]é. “Duh paman Léja (ja)ndika. hénggal cinanda(k) hing bala. 50a (104. nyata hurak[k]an berandal. Léja dinesek perang[ng]é. 938) 152 . hiki Kandar sadulurnya. tinitir hanggén[n]ya medang. “Héh Patuwakan sira. Sarwi hasesambat nangis.

bala Pecung saya kathah. “Héh hanak kul[l]a sedaya. bade majeng hing payudan. bésuk niki sun pajun[n]é.” Jigjakerti matur manggah. muga mental[l]a hing yuda. sarwi hambakta bebandan. hananding Rangin siréku. héng[g]al tinalanén Kandar. Kyahi Serit hangandika. sun pasrah[h]aken yang hagung. Sarwi krun[n]a sambat néki. Ki Rangin nulya humatur. Jigjakerti Majalaya. kaya hapa tingkah hingwang.” Ki Serit ngrangkul putran[n]é. supaya mapag yuda. gumuling han[n]a hing kisma. nulya surup baskara. Jam nenem béndé tinitir. 153 . hora wan[n]i paman mangké. 44. karun[n]a sesambat[t]ira. “Duh putra welas hing wang. 41. “Rama sampun cilik manah. “Haduh Bagus hampun paman.sinabet penjalin wulung. 45. pun sirang baris Rangin[n]é. 43. Ngandika Ki Wangsakerti. 42. Siniking putra nun pamit. hakondur bala hing Pecung. Nulya majeng Bagus Rangin.

“Héh sapamapag yuda. binanti(ng) kantaka wahu. budal baris sedaya. surung sinurung hing yuda. 49. Majalaya dén talén[n]i. kasaput kabujeng sore. kami Jigjakerti ngaran. 51 (105. pan sami sampun pethuk[k]é. pada rebut[t]en hing yuda. Ki Rangin hanyandak sampun. wis jamak[k]é hingsun lampus. 154 .hasesumbar hing payudan. binanting nulya kantaka. 939) 47. nulya tinalén[n]a héng[g]al.” 46. tin[n]a kulit huras tulang.” Nulya campuh hing ngayuda. Ki Gedé hing Majalaya. surak lir rengat[t]ing wiyat. papag[g]en han[n]ang payudan. kasaktén nanding paguh man[n]éh. nulya Rangin hatetanya. 48. sumbada gedé tur duwur. “Héh hiki Rangin haran[n]é. hing bala Rangin hika. hanulya mesanggrahan. Nulya majeng Jigjakerti. ki Grudug mapag yudan[n]é. Pan nu baris nanding siya. Bala Pecung miwah Rangin. saba paran handon lan[n]ang. Grudug nulya dén candak. //Majalaya pernah kami.

kang putra Patuwak[k]an. 53. dumarogdog tampi serat. hécagén[n]é cinatur. “Duh mas putra ningsun kulup. Hapes tan mental [l]ing jurit. 940) 155 . kajodi putra kalih yé. kelangkung susah [h]ing man[n]ah. dipun kinten musuh teka. “Katur layang pun rayi. sapratapané hingkang putra. hungel[l]é wahu kang surat. sangking lér kelangkung kathah. nawal winahos sigra. bakal priyén tingkah hingsun. Mangkan[n]é ki Wangsakerti. ki Wangsakerti hakagét. musuh Rangin digdaya. kantun satunggal putran[n]ya. binuka nulya dén dulu. 51a (106. semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah. dikinten //musuh praptan[n]é. Ngaturken srat tinampi. Rangin sakti mandragun[n]a. karan[n]a masih tarun[n]a. 52. 54. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i. 50. gégér[r]é tiyang hing jaba.ki Serit nulya hamethuk. nulya wonten mantri prapta. langkung melang hawak[k]é. 51. kaya priyén polah ningwang. “Duh putra ningsun nyawa.

Nuwun kabar surat rayi. katrima nuwun rinta. marah hénggal hingsun mapag. tumut nyambung hing ngayuda.” Lajeng budal sakancanya. raka Wangsakerti mangké. 56. pinanggya suka kelangkung. kasuwun kakang pinanggya. Yén Kang Raka mangun jurit. hingkang rayi jagi mangké. “Duh bagéya sarawuhnya. Setrokusuma harinta. rayi dugi gegancang[ng]an. 55. “Haduh bagja putran [n]ingwang. 57. boten mawi kabar wahu. serat[t]é kadang kahul[l]a. rayi Dalem sing Pegadén. kabujeng hamireng warta. methuk wahu hingkang sém[m]ah. hateng[g]ah hidin[n]é kakang. rayi Dalem sing Pegadén. 58. Nulya matur Wangsakerti. Ki Wangsakerti gumuyu. sing Darmayu pun[n]ika. bekti rayi hingkang ngantos. sampun hangdadosken manah. mila sanget rayi nuwun.” Dalem Pegadén harinta. kalih pelariyan wétan. 156 . sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah. Sira Patuwakan mangkin.hingkang saweg mangun yuda.

hénggal matur[r]a baris[s]an. 61. tinarétés hinten mirah. Karo pelariyan Rangin. angandika hing mantrin[n]é. Wangsakerti matur haris.kados pundi yuda[n]nipun. hingkang sugih dipun rayah. 60. hénggal tinangkep berandal. sarawuh[w]é rayi mangké. kranten kang maju yuda. kaya hapa hing rupanya. langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang. 63. hanganggé raja busan[n]a. nganggé kuluk sutra wungu. sami kénging tinalén[n]an. cakep gagah pideksa. kang pengkuh gegaman[n]ipun. kepalan[n]é hingkang medal. sinonjé kang hanang kanan. mapan Jaka Patuwakan. Nulya humatur haris. pelariyan sangking wétan?” 59. 62. dalah putra kalih hulun. Dén hampléh duhung ngiréki.941) 157 . 52 (107. “Héh mantri ningsun sadaya. gawé rusak hing wong hakéh.” Manembah hana hing ngarsa. hamajeng hing ngarsa wahu. Sumanggah rayi hatur[r]i. nulya dangdos dalem mangké. hingsun hameton[n]i yuda.

rama sampun medal mangké. 65. badé majeng hing prang pupuh. mangka sampun kapiharsa.” 64. 942) Nulya medal hing Jawi hamapag yuda. Jaka Patuwak[k]an mangkin. “Rebut[t]en bala Rangin. “Duh rayi leres putranta. DURMA 1. hananding Rangin yudanya. héh kulup sakarsan[n]ira. balasan siyaga surak kadya hampuwan. dalem hangandika harum. hawit putra déréng medal. hawit déréng majeng mangké. jaya haputra yudan[n]é. kedah dén turut[t]i rinta. hapan sesumbar. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki. bendé tinabuh nitir. Wangsakerti putranéki. 158 . kang putra mundur sing ngarsa. gampil lamun putra sampun. 52 (108. 2. tak pasrah[h]aken yang sukma. kasoran hing yudabrata.” Nulya Patuwakan nembah.” XIII.“Hanuwun matur deduka. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang. sangking panuwun putranta. Wangsakerti hanyambung[ng]i. sangking harsan[n]ipun rama.

raméh surak[k]ing baris. Patuwak[k]an nadahi. manggih tanding hing jurit.” Patuwakan hamangsul[l]i. Wangsakerti nama. hujung bedama. Rangin Patuwak[k]an. 3. Rangin sinépak nuli. hayun[n]ayun[n]an. 159 . hanulya mapag Ki Rangin. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda. sarwi pangandikan[n]ya. 5. nulya tanya Ki Rang[ng]in. Mapan raméh surung-sinurung kang yuda. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda. tiba kasingsal. nulya Rangin nyandak. hing Jaka Patuwakan.hanang Rangin prawira. dalem hangganti mangkin. “Héh putra lirén[n]a dingin. hing putra Patuwakan. rama kang mapag. sapira saktin[n]iréki. musuh lan hingwang. 6. haja sira mapag jurit. mapan sami saktin[n]ya. tyang kalih hangagem keris. kon mapag yuda[n]ningwang. 4. Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang. héman maksi(h) tarun[n]i.

10. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal.yudan[n]é musuh Rangin. hanjing berandal babi. hing tembé katemu hiki. jeneng Wiralodra. kang dadi berandal. sahumur hangrusuh[h]i. 52a (109. Rangin hatetan[n]ya. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira. sukur subagja. “Sapa hanggenten[n]an[n]a. harep nangkep hing siréki. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat. Dalem Darmayu mami. kanggo mangan hanak rabi. buron nagara. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang. ngaku bagus[s]an. gawé lan[n]a ting tiyang. Setrokusuma hingwang kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in. mungkur[r]a sun talén[n]i. 160 . Mapan hingsun masih pernah nak sanak. wong gagah sira prajurit. saban des[s]a rinayah. 9. 943) 8. kaya bé…patya?” Dalem nulya mangsul[l]i.” 7. sangking Darmayu dingin. dalem majung jurit.” 11. haku kang jaga sira.

hingsun pan hora wedi. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a. nulya nerajang wan[n]i. nulya watek kang haji. hénggal hangnyandak. Wangsakerti siréki. hantara hatmaja redi. 13. haningal[l]i hing siréki. surung-sinurung sira. “Sapa mapag yuda.“Dalem Sunda siréki. Wangsakerti pan hingwang. Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang. harep nalén[n]i hingwang. lan sira sapa. ningal[l]i hingkang Gusti. mapag jurit hing siréki. 15.” 12. binanting hical Rang[ng]in. coba majuwa. bener mapan sira. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira. 161 . raméh tiyang surak. mapan pada saktin[n]ya. hanggon[n]é mapag yuda. kang wasta tiwik[k]rama. Wangsakerti ngedal[l]i. bala Pecung kalih Rang[ng]in. pan Setrokusuma. hingsun haran ki Serit. Rangin pan hora gil[l]a. 14.

“Héh Serit pan sira. hayuh majuwa. Ki Serit musna. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma. //pan kaki sami kaki.” 17. Ki Rang[ng]in hasring niba. 944) tuwa karo kaki-kaki. ruket pucuk[k]ing keris. runcing-rinuncing mangkin. yén héstu sira prajurit. semu sesambat. 19.” 16. hang[ng]adu bedama. Serit pan sring tiba. “Héh Serit wedi mati. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda. 18. Nulya campuh perang ngadu bedama. 162 . bala Rangin hangebyaki. Bagus Rangin ninggal baris. balan[n]é hakéh mati. ngadu pucuk[k]ing bedama. gumuling han[n]ang hing kisma. perang pan mébéding baris. Wangsakerti lan ki Serit. nulya malajeng ngoncat[t]i. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal. musna datan karuwan. hénggal mangjuwa. sami kuwel[l]ing jurit.53 (110. ngungsi hing Krawang. Rangin ngoncat[t]an[n]a. hibur kathah hing jalmi.

samya numpes bal[l]a. Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira. balan[n]é tiyang Rang[ng]in. héh kakang Wangsa. 53a (111. 945) 163 . Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i. “Putra kaliyan kang rayi. Grudug Majalaya mangkin. hi[ng]cal Serit lan Rangin. gup[p]enur jéndral mangkin. Ki Serit lan Rangin[n]ya. perkara berandal. Kyahi Dalem ngandika haris. dén talén[n]ana. Rangin bala berandal. Putra matur duka rama hing purugnya. Léja sun kirim mangkin. kados campur sétan. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra. 22. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal. dados satunggal. Wangsakerti lan dalemnya. kempel dados sawiji. suka bungah kang [ng]ati.20. hing ngendi paran[n]éki?” 23. 24. pan datan kacandak mangkin. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an. Gintung Patuwak[k]an. habdi gong saktén[n]ira. hilang tan kruwan. kalih Patuwak[k]an mangkin. 21.

badé wangsul langkung hajrih. rinanté hingkang sekalih. bebandan mlajeng wanadri. nyabrang hing Citarumnya. saparan-paran mantri. 27. miwah Jayakareti. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra. 164 . turun[n]an[n]ira. 28. Surakerti Jayamanggala. Léja lan Kandar. 26. kinirim hing Batawi. Jigjakarya. Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara. silem han[n]ang jaladri. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an. sangking turun bagus[s]an. Bagus Kandar larih[h]i. sang Pegadén nagara. kran[n]a buron nagara. 25. sinebrak rantén[n]iréki. hing[ng]iring[ng]aken mantri. Langkung susah bebandan hical sadaya. pan sarta hing wétan. Bagus Léja [nn] ika. kang bakta langkung susah. nulya malempat. kathah hingkang lén mangkin. mantri kang sekawan. Rangin Kandar Léja Serit. hical jero wana. han[n]ang Gustinya.menurut hing préntah.

sadaya karun[n]a wahu. “Hing kadang-kadang[ng]iréki. 3. karun[n]ang sesambat[t]ipun. 2. pan kakang bakta sadaya. muga rayi kahidin kondur kakang.” Ngrangkul wahu kang rayi.pelariyan duk dingin. kaliyan Dén Ngelan mangkin. miwah sadaya prajurit. hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang. “Kakang wangsul léntas[s]a. Kakang patih mapan séda. 946) 165 . //hing Darmayu kumpulnéki.” Hangrangkul karun[n]an[n]éki. miruda sadayan[n]ipun. XIV. nagari Darmayu raka. sinten raka kang ngemban[n]i. putra pan garwa rayi. Dén Karta hangandika. duginya hanang nagara. berandal halarih[h]i. SINOM Mangka lampahnya Dén Karta. Dén Karta lan Dén Wel[l]ang. 54 (112. sareng rayi mukting riki. lir sinebrak linolos pulung[ng]ing 1. toya waspahan dres mijil. hatiyati yayi kari.

” Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. Radén samya hangrawuh[h]i?” “Kula bade ningal[l]i. miwah Radén Welang wahu. duging Palimanan mangkin. 166 . Membales kumendan pes[s]an. kados pun[n]apa kang werni. samya ngiring putra garwa miwah kadang. mengko kakang jaluk hidin. bade kondur sapuniki. Dumugi hing pintu jaba. tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan. nulya hatetan[n]ya haris. “Duh rayi Dalem hangrinta. duh yayi dén lilan[n]ana. 7. “Radén niki kang dijaga. 54 (113.” 5. 947) 6. hanang soldat kang hajaga. dateng kumpen[n]i pun[n]ika. haja nangis hari mami. Radén //hingkang dugi.manah. 4. nulya lajeng lampah néki. hing Gragé kanjeng sinuhun. Kartawijaya hakampir. papali dadi bopatya. sumur tinutup pantes[s]i. “Pan bade karsa punapa. hingkang dipun jagi wahu. hanang sinuhun Gusti. mengidul margi lampahnya.

ngandika Radén Welang wahu. pan bade kahul[l]a buka. hanyandak Dén Welang mangkin. hibur gégér hing prajurit. pan soldat hanahan sigra. Radén Karta nyandak sampun. pan datan wanton hambeka. timbalan gupenur mangkin. yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang.” Radén wecan[n]a haris. 10. kathah soldat hingkang mati. “Sobat permisi puniku. hambuka tutumping wes[s]i. Dén Welang sabdanéki. 8. haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a.duka his[s]in[n]é punapa. tan hun[n]ing hisin[n]é niki. Sadinten gén yudabrata. ngangseg hing kuthan[n]éki. 167 . Karana lar[n]ang[ng]an hika. héh sobat pan maksa hingsun. bala Radén Karta mangkin. héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya. sinurung medaling jawi. Radén Welang badé maksa. kula tahan sobat mangkin.” Sersan mangsul[l]i sabda. 9. hing soldat dén balangna. nulya tinutup bénténgnya. pun[n]apa hisi niréki. yén tan wonten hidin Gusti.

Pan lajeng hing lampah[h]ira. Sén[n]a Surapersanda. gegancang[ng]an lampah néki.” 12. serat binanting tumuli. 948) “Héh sanak prajurit hingwang. soldat hingkang bakta. Jeng Gusti ngandika haris. 11. Mangka sampun cahos ngarsa. mapan jaluk katangkep[p]é 168 . mapan srat binakta sampun. lampah[h]é berandal wahu. 13. hanulya hénggal binuka. mahén kurang ngajar hiku. nulya damel srat hénggal. “Sedaya hatur mangkin. kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral. dugi hing Gragé nagari. “Loh babi Cirebon hanjing. becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal. hical sangking jero buwi. srat sampun katur[r]ing Gusti. wis haja sira //temen[n]i.54a (114. repot han[n]ang Betawi. lajeng cahos Gusti Sultan. sanget getun[n]é hing manah. han[n]ang Palimanan loji. Mangkana sersan kumendan. nulya wangun serat mangkin. Radén sang kakang bujeng wahu sakitan. kang[g]é Sultan Cirebon mangkin.

hénggal[l]é pan sampun prapti. ngandika jeng sultan mangkin. sarta hangandika wahu. hing Cirebon Sultan wahu.” 14. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral. Kanggo hing Cirebon Sultan. hingkang ngrasak Palimanan.parusuh[w]an. serat tinampakna haglis. Radén Karta lan Dén Wel[l]ang. samakta kaprabot jurit. ngempel[l]aken kang prajurit. kang wisma nihaya mangkin. dateng Gusti sultan wahu. hanang nagara Betawi. tiningkem sratiréki. hing hajid[d]an lan létnan. hanang loji Palimanan. hakéh soldat pada mati. samakta kaprabon yuda. lan gawa malitér mangkin. 17. lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya. serat[t]é sampun winaca. 169 . nangkep ponggawan[n]éki.” 16. hapan hiki gawanen pan surat hingwang. héh hajid[d]an litnan mangkin. patang puluh kang pipilih[y]an. 55 (115. “Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat. Sampun medal han[n]ang jaba. 949) 15. srat mapan sampun tinampi.

hametik taling[ng]an[n]éki. malah nagara hingwang. hora kuwat nagri mami. Tumurun sing palinggih[y]an. hangrangkul ponggawa kalih. Hananging yén sultanan[n]a. Bésuk tekang Batawiya. pan karo sinuhun Gusti. pin[n]ariksa ngarsan[n]éki. hing Carebon mapan hiki. nadah[h]i hing yudabrata. nurut[t]a pasti yang widi. //Nulya tinampan[n]é hénggal. Si Kléwang karo Si Dumung. karo wasiyat mami. malah srat sampé sahiki. sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa. 55a (116. handres mijil toya waspa. pan dén paksa seja dén jaluk Metaram. pan ti hingsun hangamuk hambral nagara. Gupenur Jéndral kang neda. 19. pun kadada sajron[n]ing galih. hing Metaram nagari. 950) 170 . Karta miwah sira Wel[l]ang. ngukuh[h]i tan jisa hingsun. lan hiki kasung paring[ng]i. wis pinasti hing yang hagung. holiya béla siréku.karana dadi san[n]unggal. pan durung tak bales[s]i. ngamuk[k]a hanang Batawi. 18.” 20.

nulya matur sersan wahu. mapan ningsun durungna. nulya kondur ponggawa binekta hénggal. sampun dugi hing Betawi. dén sampun tutas timbal[l]an. Gusti nuwun dén hidin[n]i. XV. PANGKUR 1. Gagancang[ng]an lampahnira. gupenur pamundut néki. “Héh ponggawa Batawiya. “Litnan miwah sares[s]an. kaya hapa hanggon ningsun sira hutus. sinelek lampahnéki. tan kawuwus sahaning margi. lampah[h]é kang bala hambral. ponggawan[n]ipun sekalih. hing Jéndral Gupenur mangkin. manjing han[n]ang dalem hagung. sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa. 22. hanulya cahos hing ngarsa.Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta. “Sumanggah nuwun hidin Gusti. datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi. kang dén dakwah saréki. 21. hanulya hénggal ngandika hasru. 171 .” Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an. Sampun cahos han[n]ang ngarsa.

hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi. kalipatul[l]ah pan hadil. 5. Loh hanjing binatang gil[l]a.pan berkah Gusti paduka. “Héh Tuwan Gupenur Jéndral. kuwas[s]a Pulo Jawa. jeneng ponggawa pukulun. sembran[n]a ratuning hambral. pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun. mapan kul[l]a bade handon lampus hulun. kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda. puniki ponggawin[n]éki. gumujeng humatur néki.” Langkung lingsem gupenur jéndral 56 (117. hora nganggo tata titi. murbéng rat han[n]ang Metaram. ngisén[n]i ratuning hambral. hamengku tanah Jawa. 3. dipun suguhi pepisuh. hapa kowé hora miring hing pangrungu. lan duging Batawiyah. 951) 172 . dedukan[n]é lir kadya tiyang baring. hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami. Gupenur Jéndral pan haku. Durung kawula dén priksa. 4.” Karta miwah Radén Welang. 2. Paduka kuwas[s]a hagung. nanging sembran[n]é hing karma.

Sahiki kowé nrimaha. pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus. han[n]ang bénténg Palimanan. tapi tan hadil pan[n]ingsun. kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun. pan ningsun drél sampé lampus. 6. Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i. perlu hapa kowé (wa)n[n]i. dateng wayah kang sekalih dipun 173 . 952) 8. nulya tyang kalih pinas[s]ang. wani ngrus[s]ak sampamati saradadu. 56a (118. krana kowé melang[g]ar. tan katingal hingkang dipundrél mangkin.sang[ng]ulun.(halun-halun) hing Batawi. Pan peteng kénging sundawa. 7.” 9. Nulya jéndral hangandika. Kyahi kuwu welas handulu. “Héh ponggawa haku trima salah hiki. hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi. hangras[s]a pan kurang titi. Nulya dipun bakta medal …. hanuruti darah panas. nulya ngrasuk manukma. limang los[s]in mriyem néki. //”Hé bangsa Welanda. nulya binaris[s]an hagung.

13. hing Betawi langkung hibur. 11. mimis hinten jimatnéki. kran[n]a pasti bakal pejah. nulya mendhet senapan[n]ya. Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu. pan cukup pun bél[l]anana. hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i. temahan gawé rusak hing nagara. “Héh wayah ku sekalih mapan siréku.hukum. sekalih ngamuk Welandi. sangka panukma nira. héwed pan bala habral. hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun.” Hanulya Jéndral Gupenur. “Loh wong Cirebon hanjing sira. hajalira han[n]a hing Betawi mangkin. Baris malitér sadaya. sing pungkur kang dén harah. ningal[l]i rusak[k]ing bala. Pinasti hingkang salira. datan terang haningal[l]i. 174 . musuh kathah wicaksan[n]a. 12. 10. Kathah resak para hambral. nulya medal kaki kuwu. tan nulya pin[n]asang wahu. luwih séwu hingkang mati. langkung susah balan[n]ipun kathah lampus. mapan perang kaliyan kanca pribadi.

nagri Cirebon hingsun jaluk. hing para bala hambral. Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin. musna hical kuwandan[n]ya. nulya mburu dén[n]ing . Hanging gupenur Tuwan. Dén Karta haningal wahu. pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin. 953) 175 . sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi. Kartawijaya hika.” 14. kénging nulya hangemas[s]i. nulya kuwandan[n]é wahu. Wasiyat keris pan musna. samakta kaprabon jurit. hanulya ngandikan[n]ipun. sahiki kowé dangdan[n]a. haku hora trim[m]a resak[k]é balaku. wewengkon kasultan[n]an. 17.. dén candak kuwandanipun. “Hangajid[d]an sares[s]an. 57 (119. 16. mundur malitér kang baris. nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun. kanggo ganti resak[k]é pan bala haku.k hambral[l]é wahu. 15. dumugi pejah[h]ing siti. bala soldat malitér hingkang pinilih. Hanggawa hatelung kapal.katerangan bakar pis[s]an. gupenur hamasang sigra.

péndék haku hora trima. wong Cirebon hanglawan. wangun pesang[g]rahan mangkin. hanulya siyagi wahu. ponggawan[n]é ngresak mami. nulya humatur gupenur. Samya gégér tiyang kathah. litnan kornél seres[s]an nulya baris.” 18. Raméh hanggén ning yudabrata. 954) 176 . Radén Pekik miwah Dul. sedaya sabil hing jurit. lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i. nén majeng hanempuh jurit. 19. Panjunan cahos hing ngarsa. hantawis sapitung ngéwu. Sareng hambral ningal[l]an[n]a. Sares[s]an hajidan medal. sarta Pangéran Logawa. 57a (120. Martakusum[m]a. baris lahut baris darat. Pangéran Surya Kusuma. sanget gupenur jéndral handulu. Mertasinga para pangéran[n]é rawuh. 21. kacrebon[n]an siyaga. 20. mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh. nulya maréntah baris[s]an. pangéran maju hing pupuh. sampun mentas hing darat[t]an. mapan sultan sampun hamiyarsa warti. bala pangéran hambaris. bala hambral kaliyan Cirebon mangkin.

tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti. hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin. sampun dugi negara. sultan nulya ngandika rum. hatur pan sedayan[n]éki. wonten napa sampéyan karun[n]a wahu. numpak kapal babar layar hing jaladri. Sanget dukan[n]é jeng sultan.22. 23. Metaram Broboya mangkin. Sareng pethuk kalih sultan. mapan nengah kapal[l]ipun. humatur Gupenur Jéndral. nulya mréntah hing tumeng[g]ung. 24. hang[ng]ungsi sinuhun Gusti. Sadaya samiya budal. sampé silem darat[w]an. hing margi sampun kapungkur. nulya mentas pelabuwan. Natabumi Buminata. “Héh kadang kul[l]a jéndral. 26. mapan ngulug hing Carbon negari. 25. sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu. kén ngembel[l]aken bala. Kanjeng Pangéran Natabumi. Jeng Pangéran Purobaya. Samya burbar bala hambral. pan kagét sultan tumingal. sing Metaram handugén[n]i. hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun. 177 . samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun.

tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti.58 (121. sagending bala paduka. 30. Sarta pansiyun paduka. nameng Gusti kalanggeng[ng]an. dawuhipun Gusti sinuhun Metawis. mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a. Gegancang[ng]an cahos ngarsa. 955) lajeng ngandika prabu. mung[g]uh negri paduka. ngemban timbal[l]an sanghulun. mapan habdi siyagi hing perang pupuh. sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis. tan hangkat kul[l]a pan katur. tampin[n]ipun saban santun. sultan tan bis[s]a ngandika. hantara ngandikan[n]éki. bulu bektin[n]é punika. “Bagéya kadang kul[l]a. 178 . 29. 27. hantuk dawuh Gusti sangking Metawis. pan pinundut sedaya dateng sanghulun. sing Metaram sedaya kang samya//rawuh kados hangemban sukarya.” “Habdi matur kang sayekti. habdi hanglados[s]i wahu. kran[n]a negari kul[l]a. sarta kaparing[ng]an tanah. maksih jeneng sultan Gusti. 28. kanggé kadang-kadang Gusti. “Duh kadang-kadang kahul[l]a.

Lajeng gupenur hatampi. kondur han[n]ang Metaram kang negari. hing Gupenur Cirebon nagari. pasrah[h]é hingkang nagara. sesampun[n]é sesiniyan. badé katur hing Jeng Gusti. perkawis nagri Cirebon. sampun katur hing sanghulun. Sampun rawuh hing Betawi. “Yén makat[t]en Gusti kul[l]a. handérék karsan[n]ing Gusti. wangsul han[n]ang Batapiya. hing Cirebon masrah[h]aken negari. 179 . hanimbal[l]i Wiralodra. pan sangking dawuh paduka. sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur. nuwun hidin bade kondur Gusti hulun. Lampahnya budal sadaya. 956) //XVI. pasrah[h]é Sinuhun Sultan.mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun. Sareng dawuhipun sultan. Pangéran Probaya matur. KASMARAN 1.” 32. gupenur kalih sultan. mugiya dén hatur[r]en[n]a. 31. 2. nulya sami pamit kondur. nulya sukan nampéken[n]a. 58a (122.

mugi dén jurung Yang Ngagung. “Slamet dateng Dalem rayi. ngarabbi hing kamulyan. muga lulus[s]a hamurba. Hamengku hing Pulo Jawi. miwah sakéhéng pekakas. tigang das[s]a rupiyah[h]é. dipun jagi hing Yang Manon. kumeduh rayi habayar. sanget hanuhun Yang Hagung. dugi hanak putu Tuwan. nulya hangandika jéndral.” Dalem datan wecan[n]a. mung[g]uh sangking perbantuwan. 3. sangking sih pitulung Tuwan. hénggal cahos hing ngarsa. ya trimakasih harinta. 180 . sampun rawuh Batawiya. hing rekoning dedahar[r]an. Gunggung sadayaning duwit. Lan kakang ngatur[r]i huning. kabendan hantuk kamulyan. 5. 6. sawelas nambang kang harta. dateng paduka gupenur. kasuwun sarébu mangké. 4. hanak putu sareng mulya. sedayan[n]é kul[l]a hétung. sangking panjunjung rinta. hanangkep berandal mangké. kanggé hangrangsom soldat. hawit datan gadah wahu.hing Darmayu negarin[n]é.

957) 8. hing Darmayu pan negara. nulya pamit dalem wahu. tanah habdi hing Darmayu. héstu habdi datan duwé. salesih tanah tan darbé.harta hingkang nenambang[ng]an. mung dalem nékina hiku. hapa hingkang biyasa. Nulya Dalem ngandika ris. harta hingkang nenambang[ng]an. 7. “Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a. kadang putra taken warta. Nulya dalem néken mangkin. 10. nulya dugi negaran[n]é. 181 . hing Tuwan Jéndral punika. hanglungguh hing kadalem[m]an. nameng dalem tetep bahé. 11.” 59 (123. babar layar hing bahita. mapan tanah gaduh hingwang. 1610. Hanulya humatur haris. hing Darmayu kagungannya.” 9. pan wangsul han[n]ang negari. pinapag hing ponggawa. nameng katur sedaya. //Gupenur ngandika haris. Tuwan Gupenur Jéndral. punapa karsa paduka. dugi han[n]ang dalem[m]ipun. hanang surat tanda tang[ng]an. “Duh Paduka jeng[ng] Atuwan.

Dalem mapan sampun lami. miwah Nyayu Lotam[m]a. Hanjani wuragil[l]ipun. hanulya sesunu wahu. hangrerampog panggotan[n]é. 60 (124. hing Tuwan Jéndral Betawi. pan kadang putra karun[n]a. pan negara dipun rampas. gadah mertuwa durjan[n]a. Wiralodra peparab. dalah dumugi hing ngajal. nulya Nyi Wiradibrata. nami[n]nipun dalem wahu. maksih kateteppan nya nama. 958) 182 . wis karsan[n]é hing Yang Manon. pitu tunggal hingkang putra.“Hah kadang pan putra ningwang. pan kanggé hongkos[s]i perang. Nyayu Pungsi sekawan[n]ya. Bagus Kalis Bagus Yogya. lungguh dadi dalem wahu. 13. Nyayu Hempuh katigan[n]é. Pambajeng Radén Marngali. langkung susah hing kawul[l]a. hingkang gadah rinampog[g]an. hingkang gumanti putran[n]é. pan datan lang[g]eng ring bénjang. Nulya dalem kénging sakit. hing hanak putu sedaya. nanging dalem pan samangké. hingkang kantun Radén Brestal. 15. 14. hora robah biyas[s]a. 12.

16. Nulya kakirimna haglis. sanget wel[l]as hing kawul[l]a. rayi bade ngrekos[s]a. Tan menda saban bengi. hing Cirebon pan negara. 18. “Duh kakang Mlayakusum[m]a. dipun rakrak sedan[n]am[m]an.” 19.Patih Singtrun[n]a wahu. konjuk Presidén Tuwan. 183 . tiyang dados dalem nika. rawuh hing Darmayu mangké. punapa rempug jeng kakang. datan dén pradul[l]i mangké. pan satingkah polah hipun. nulya damel serat hénggal. dén kumpul[l]aken pan wahu. rerampog[g]an perayahan. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin. hingkang dén rampog durjana. pan durjan[n]a hangrerayah. hing Tuwan Presidén wahu. tinangkep hingkang barang. bener yén mangkon[n]o rinta. kados pundi lampah[h]ipun. pan humatur hingkang raka. 17. 20. mélu néken kakang mangké. Tan héman kawul[l]anéki. dén hunjuk lebet[t]ing surat. Patih Singtrun[n]a mangké. hantawis dinten Jeng Tuwan. Cécég kathah barangnéki.

durjan[n]a kathah kacandak.kang dén haku déning tiyang. han[n]ang Darmayu nagara. Tunggu putus[s]an negari sareng dugi kang putus[s]an. gupernemén hang kagung[ng]an. hing Cirebon nagara. Langkung gemah pan negari. 23. Mas Malaya Kusuma[nnya]. Darmayu hingkang nagara 184 . hantuk pangkat punika. dén hangkat dadi wedan[n]a. hingkang rayi hirén[n]ya. Singatrun[n]a Dalem patih. cécég salebet dén rekés. dén hangkat dadi ranggah. Jatibarang hing distrik[k]é. para durjan[n]a sekabéh. pan jeneng kalékturipun. Dalem Disowak namin[n]é. datan[n]an[n]a perkaran[n]é. jeneng jaksa hingkang nama. 959) 21. 22. nulya dalem kikirimna. Wiradibrata pan wahu. Wedan[n]a hangrangkep patih. samya hajri(h) ningal[l]in[n]a. wedan[n]a miwah kaléktur. dipuntahan tigang wulan. hing kawicaksan[n]anya. 24. tan[n]ana sakéng durjan[n]a. 60a (125. sanget susah manah hipun.

Kaléktor putraniréki. 25. pambajeng jeneng putran[n]é. Radén Kartawijayéki. Radén Mardu harinta. wuragil Bratasuwita. Radén Karta Kusuman[n]é. kawan nunggal hingkang putra. sedaya pan putranipun. wuragil Nyahi Jumin[n]ah. 28. Pambajeng Patimah mangkin. kagungan putra tiga (?). Nyi Sumbaga putranipun. miwah Sudirah nama.Patih Singatrun[n]anya. Hardiwijaya hasistén. hiku nipun Ratu Hatma. pan Radén Wiramadengda. //pambajeng Biskal puniku. hingkang héstri Nyahi Muda. 26. jumeneng pangkat sedaya. Cirebon Prayawigun[n]a. mapan gangsal hingkang putra. 61 (126. pan sanunggal hingkang putra. wuragil Radén Madada. 27. Brataleksan[n]a kakung[ng]é. Mas Demang Bratasentan[n]a. Radén Rang[g]ah putranéki. pan kagung[ng]an putra wahu. 960) 185 . kathah[h]ipun gangsal nunggal. Nyahi Junéd héstri wahu. hanulya Nyayu Julék[k]a.

Mas Demang Lobener mangkin. Hingkang rayi putra héstri. Demang Bangaduwa mangké. 1813. nurun[n]aken putra wahu. hulu-hulu hingkang pangkat. Wiradaksan[n]a demang. distrik Paséban naminé. kang gumanti kang putra. han[n]ang Sindang Kademang[ng]an. Kyahi jaksa sampun séda. hing Lobener kademangan. Kertahatmaja wuragil. 33. 186 . dé Marngali puniku. Nyayu Sungsi lakin[n]éki. Tuwan Pri jeneng[ng]é. Kang Rayi pan mangundriya.29. 30. Kertahudara pun[n]iku. 31. Balu…Kalid hingkang nama. hinggih punika kang tigan[n]é. 32. pambajeng Kertahudaka. Nyayu Jeni kuwu héman. hanang Darmayu kota. Dadi demang pangkatnéki. hupas bom hingkang pangkat. Muhada pan tukang timbang. mlaya haja dadi demang. peparab Wirakusum[m]a. hanglenggah[h]i demang wahu. Kertadipran[n]a hingkang nama. Darmayu pan dipun hérpa.

Trus peputra nami. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Tumenggung Bagelén peputra nami 1. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 187 . 34. peparab Kertawil[l]as[s]a. lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran. Hé…Subrata nama. jumeneng pangkat wahu.hing Palumbon duk dingin[n]é. Hanjani lakin[n]é mangké. satunggal[l]é lakinya.961) Hasal-Husul Wiralodra Sangking dalem kang damel nagari. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 4. Peputra nami Wiraseca. 61a (128. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 2. Sampé hanak putu Kyahi Belara Kyahi Belara peputra nami. Radén Lowan[n]a. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén 3. hulu-hulu hingkang pangkat. Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a. Haran Jaka Kuwat. Ngabéhi Wiraseca ngabébre peputra nami Kartawangsa Tumenggung Metaram. dadi demang Luwungmalang. Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki. Darmayu sabrang kulon. dadi mantri pangkatnya. Bagus Yogya jeneng[ng]ipun. Wirajatmika nama.

Radén Singalodraka Radén Singalodraka peputra 1. Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Kakung Radén Tanujaya 5. Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu. 1 ngelandrah ngolé… kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan sabrang kulon Kali Cimanuk. Héstri Nyayu Wangsanegara 2. Radén Wirakusuma 4. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata 4. Trus se… Nyi Darma kalih. dadi nagara diharan[n]i Darmayu Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk. Kakung Radén Sutamerta 2. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca peputra 1. 962) 1. Héstri Nyayu Wangsayuda 3. Kakung Radén Driyantaka 188 . Kakung Radén Tanujiwa Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra 1. // sawis[s]é lawas Wiralodra no. Radén Wirapati 2. 1 waktu hiki … Bagelén 4.5. Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é 3. Lan katemu klawa Nyi Darma. Radén Jaka Kuwat 2. Radén Wiraseca 3. Radén Kumbabocor 3.

Héstri Hajeng Singawijaya 4. Kakung Radén Sumedi kangganti dalem 4. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a 13. Héstri Hajeng Hadiwangsa 11. Kakung Radén Wiratmaja 6. Héstri Hajeng Nay Wangsa 9.Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Hajeng Patranaya Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Timur 3. Kakung Radén Wirantaka 5. Héstri Hajeng Sutamerta 8. Héstri Hajeng Wilastro 12. 3 Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami 1. Héstri Hajeng Raksawinata Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a 10. Kakung Radén Benggal[l]a 2. Kakung Radén Kowi 2. Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar 3. Kakung Radén Lahut 2. Héstri Hajeng Raksawiwangsa 7. Kakung Radén Ganar 189 . 4 4. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami 1. 2 2. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13 1.

5. nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. 5 5. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan 5. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang 2. Kakung Radén Suryapati 2. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami 1. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é nami 1. Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu 6. 6 6. 963) Héstri Hajeng Moka sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén Benggal[l]i. 8. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 4. 7. 6. Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a 8.3. 4. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah 3. Kakung Radén Suryabrata 3. Kakung Radén Suryawijaya 4. 190 . 7. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah 7. Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener 7. Kakung Radén Kerstal Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. Héstri Hajeng Parwawinata Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya Héstri Hajeng Nahiyasta Héstri Hajeng Gembrak //Héstri Hajeng Tayub 62a (129. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 1.

(Hés)tri Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2 1. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2 1. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener 2. Radén Sumarga Wirasudirga 191 . Radén Madi Wirasomantri 2. 4. Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4 1. Radén Wiramadengda héstri Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang peputra 2 1.9. Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3 1. Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber 3. 3. Radén Prawirakusuma (Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4 1. Radén Wirasaputra dadi demang 2. Héstri Nyayu Wiradiwangsa 2. Héstri Nyayu Wiradibrata wékling 4. Radén Perdata Wirahastabrata 2. 2. (Radén) Wirahatmaja 3.

(untuk) membuka bagian …. supaya sama-sama mengetahui. serta sanak saudara …. pada malam Jum’at legi sedang senang hati saya. sedang senang hati saya. Alasan saya menulis. 192 . turun-temurun [ini] anak ….3. …hilang …. supaya …. 3. besok (sampai) akhir.alur (cerita). dari sejarah kuna. bermula …. anak cucu Wiralodra. …saya menulis. … dikarang nyanyian. jam dua malam … waktunya …sebulan. pada tanggal sepuluh. …rusak. SINOM 1. buku sejarah bupati. 2. tahun seribu sembilan ratus. Ki Wiralodra …. sudah …langka. … dari mantri Haris.4 Terjemahan I. terus-menerus hingga putra …. Kartadipranna. Tiada lain (cerita) ini dikarang. ada di Indramayu…. 4.

5. …pernah datang (ke Majapahit). lalu . 6. 7. Tumenggung Gagak Pernala.. pemakaman pun dilihat. (berputra) empat orang. 193 . tumenggung Mataram. … … ia memiliki anak. berputra lagi. (Kang)Jeng Pangeran Hadi…. Lalu saya. . (bernama) Kartadiwangsa. minggu saya bepergian. melihat sejarah. laki-laki … putra Raja Pajajaran.. Wirasecapa mempunyai (anak).…sejarah dahulu.. Panembahan Kiai Belara. keturunan Wiralodra. Rangga Bagelen . …tumenggung. memaksakan saya mencari.. berputra Ngabehi Wirasecapa. mempunyai anak …. Itu nama lainnya. …sedih (melihat) rusak kuburan..mengantikan. …Pringgandipura. Larakelar asalnya. tumenggung dari Mataram. 8.

Bagelen…. (Tidak) tidur serta makan. [ia] berputra…. karena Raden Gagak Kumitir. oleh Gagak Wirakusuma berputra lagi Gagak Singalodra …. Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan Wiralodra ketiganya Tanujaya adiknya. tempatnya sepi sekali. telah menghilang wujudnya. Yang sulung Wangsanagara.. . di dalam supaya menjadi satu. Tanujiwa bungsunya di Bagelen keratonnya Wiralodra karena sangat sedih (ia) sering bertapa.. 9. tiga tahun lamanya. putra dari …. 10. 11.. Dari Banyuhurip Kedu …. meminta kepada yang kuasa. …negara. asal negrinya Karangjati. sareat serta hakekat. oleh Gagak Wirahandaka. selalu yang terlihat melihat wujud tunggal . 194 .diganti para bupati. tidur di tempat tinggalnya. hakekat dan marifat.. Tinggal … di gunung.

yaitu cahaya bola api. terbangun memakai …. Pindahlah ke barat. lalu … kinanti tembangnya. 3. … bukalah hutan ini. Pada malam Jum’at. (Su)kma Yang Agung. II. 12. bila ingin mulia dirimu. lalu cepat bangun . KINANTI 1. turunannya semoga mendapatkan kemulyaan. menghilang di tempat terang. 195 . Wiralodra. …terang-benderang. semoga akhirnya mulia. serta terlihat di timur. suara yang terdengar. cahaya… tapa. memohon kepada Yang Sukma. hingga tujuh keturunan. terang seperti bintang. karena akan menjadi … untuk keturunanmu.…cahya yang bening. Wiralodra. melihat (cahaya) di atas langit. ke hutan Cimanuk. hutan besar itu nyawa. ….. 2. …tuamu. tanda diterima oleh Yang Agung.

8. … bercerita. 7. lupa tidur serta makan. di Sungai Cimanuk tempatnya. sehingga sampai di sebuah sungai. ia duduk di pinggir kali. Ki Tinggil . bersama penakawan. memasuki hutan. Menuju arah selatan kaki gunung. 4. Lamanya tiga tahun. (air mata) ke luar deras (dan) menangis. serta bangkit … Sudah diizinkan pergi. Saya serahkan kepada Yang Agung. karena (sudah) kehendakNya. di mana tempatnya ini. putranya mencium kaki ayahnya. berada di hutan belantara. dipeluk serta ditangisi. karena belum …. … kepada ayahmu.sama-sama … ayahnya. pertolongan Yang Maha Widi. anakku mari …. dari hadapan ayah serta ibunya. 6. mendapat pertolongan. anakku …. 196 . sama-sama keluar air mata. …tiba di air besar 5. lalu melanjutkan perjalanannya. Sungai besar [di] Citarum.

yang bernama Kiai Tinggil. berkata Kiai Tinggil.lalu berbicara perlahan. berbicara lemah lembut. Setelah Bendara (Wiralodra). sabar Tuanku …. 197 . Lalu di(tarik) dipeluk. Buyut Sidum orang dulu. 12. 13. dan [ini] Tuanku. ada kakek-kakek datang. yang seperti lelaki tua. istirahat menyenangkan pikiran. Raden Wiralodra melihat. Saya kira ada perkampungan. saya akan mendapat berita. sungai (ini) sangat besar. (saya) minta perolongan kakek. “Duh saya bahagia sekali. 10. Paman saya merasa bingung. dari orang tua ini. bersalaman dengan kedua tangan. serta … ada seorang kakek datang. 11. aduh kakang tolonglah saya. …. sangat gembira (hatinya). banyak jembatan di sini. 9. kepada pelayannya. serta sama-sama duduk. bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa. atau kebun orang.

Kyahi Dum berbicara manis. Telah lama perjalanan saya. di mana kali Cimanuk. tiga (tahun) perjalanannya. saya ingin mendapat berita. Lalu berbicara manis. …sungai Citarum. ia keburu menghilang.14. 16. Sambil terbata-bata (dan) perlahan. atau negaranya. kamu…ku. 17. serta dari mana asalnya. 15. … berada di sebelah timur. “Duh Paman Kiai Tinggil. yang merupakan bagian dari Karawang. belum ditanyakan namanya. …berbicara. sudah harus kembali… menelusuri pesisir. “Duh cucuku yang kusayangi. dari negeri Bagelen. belum menanyakan namanya. 19. Raden Wiralodra dongkol. mengatakan jalan ini. terkejut [tadi] melihatnya. semoga kakek dapat menolong. 18. di manakah kakek tua?” Ki Tinggil berkata perlahan. 198 . Lalu menghilang orang tua itu. gugup ia menjawab.

” Kiai Tinggil berkata. lalu segera berjalan. maka cepat-cepat. Lamanya hingga dua minggu. 21. serta sampai di Pasir Ucing. terdapat air mengalir. tidak tidur serta makan. lekas mendapat pertolongan. Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan. ke timur dan utara jalannya. jika (tuan) hendak mandi. 23. berjalan siang dan malam. 24. hutan (tempat) datang Ki Tinggil. pertolongan Yang Maha Kuasa. (air ini) sangat (bagus) dan bening. 22. di sebelah hulu (sungai) ini. istirahat di hutan ini. Paduka. 199 . saya lalu berangkat. 20. Lalu tidur Kiai Tinggil. “Duh paman Tinggil . lihatlah air ini. sejuk tertiup angin semilir. [sumber] (air) keluar dari sumur. saya ingin tidur-tiduran. Inilah sebabnya. Menelusuri hutan rimba. nanti (setelah) istirahat (kita) mandi. melihat matahari terbit.tapi saya gembira Tuanku. meneruskan perjalanan besok.

Wiralodra namaku. Wirasetra. kelak bakal menurunkan. Kiai Wiralodra bertanya. serta aslinya dari mana?” Wiralodra nama dinda. bertemu dengan kanda. serta hendak pergi ke mana. “Duh gembira sekali dinda. 27. berasal dari Bagelen. dan siapakah nama kanda. (sedang) mencari kali Cimanuk. menuju arah utara perjalanannya. Banyuhurip saudara sepupu(ku). Menangis sambil memeluk. Lalu bertemu orang (yang menanam) padi. membuat kampung di hutan. Lalu berangkat Wiralodra. Wirasetra namanya. Dalem Pegaden. 29. berasal dari (daerah) timur. 26. Dipati Wirakusuma” Lalu dibawa pulang. Dinda siapakah namamu. 200 . 25.” Adapun nama kanda. 28. Kanda berasal dari timur.terdapat air di tengah hutan. ke pondokannya. “Duh Kanda Tuanku. sambil keduanya bersalaman. dengan kanda baru bertemu.

” Kiayi Wirasetra menyambung ucapan (dengan) manis. bertemu dengan saudaraku. kaki tangan kecil-kecil. Menginginkan …dari…. makan dengan ikan. makan bersama-sama. saya sering jatuh bangun. (saya) mau mengistirahatkan badan. 32. bisa makan dengan kenyang. 33. selama ini tidak (ada) makanan. lama tinggal di sini. 34. 201 . sama-sama gembira. bila berjalan terseok-seok. “Ya paman sudah bahagia. mendengar ucapan Tinggil. tersenggol oleh … maka (akan) lama di sini. Kiai (Tinggil) berkata. hanya dedaunan. tetangga sama makanannya. 30. …perut buncit. serta rejekimu paman. 31. Aduh Tuanku saya memohon. sampai besar daging saya daging saya banyak (yang) hilang.disuguhi makan. Keduanya sama tertawa. (sudah lama) tidak makan. yang saya makan. “Duh Tuan baru (sekarang) saya.

karena saya bertamu di sini. mau berangkat hari ini. bertemu di tengah hutan (dengan)ku. 202 . semoga saya diijinkan. “Duh kanda.” Ki Wirasetra terbahak. “Hai Tinggil saya doakan. dinda berterima kasih. 37.” Raden Wiralodra tadi. letak Sungai Cimanuk menurut wangsit?” Wirasetra berkata perlahan. semoga cepat ditemukan. “Duh saya bahagia Tuan.” Berkata Kiai Tinggil. sudah saya rasakan. Melimpah … 35. setelah sebulan lamanya.“Duh kebahagiaan paman. 36. makan dua kali sehari. “ Tuan saya meminta daging saya bertambah lagi. Serta dijaga oleh Yang Agung. Di manakah tempatnya. saya mengiringi dengan doa. serta berkata dengan perlahan. Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah. lalu ia berkata kepada kakaknya. tertawa saking gembira. bertemu dengan saudara. 39. 38. Sangat gembira diriku. Lalu (keduanya) bersalaman.

Kemudian Kiai mencipta kebun palawija luas. untuk meyakinkannya. terung serta cabai dan kecipir. masih di hutan belantara. gampang nanti mampir lagi. di pinggir (kali) ini. tapi saya masih takut. Keduanya berangkat menuju arah timur …. 203 . sangat senang melihat(nya). mentimun serta lobak. 44.” 40. terlihat sangat bagus. padi gajih sangat putih. lalu menemukan sungai. tanamannya macam-macam. “Duh Tuan mudah-mudahan betul. dua bulan lamanya. 43. Ki Tinggil berkata perlahan. menelusuri pinggir kali. saya kira ini sungai Cimanuk. 42. Kiai Sedum merasa kuatir. keinginan tuanmu. tidak ada perkampungan. (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan.” Lalu keduanya berjalan. “Duh paman Tinggil . 41. melihat tempat (mereka) berdua.kamu segera menemukan. (Ia) gembira sekali. Ubi emas serta jagung.

45. “Mau apa kamu. baru tiba (sudah) bertanya-tanya. di (sebelah) timur seperti ini (juga). apakah akan merampokku. Lalu berkata lirih. 204 . kebun bagus tidak ada (duanya). “Kiai saya memohon. Semua tanaman di kebun subur. kanan kiri bunga mandakaki. “Duh Tinggil gembira diriku. duduk (sambil) meraut bambu. melihat kebun. Di pinggir kali (letak) pondokannya. Raden Wiralodra melihat. Lalu menengokkan kepala. 46. 49. sedap malam berhadapan. semoga mau memaafkan. serta sungai apa namanya ini Kiayi?” Ia menjawab membentak. 48. 47. Ki Sedum duduk dalam rumah. untuk (membuat perangkap ikan. di dalam rumah ada orang duduk. dikelilingi bunga seruni. dari manakah kamu ini. Tinggil melihat dari sebelah timur. hendak bertanya pemilik kebun yang begitu indah ini. Wiralodra berbicara. tongkeng terjurai di gerbang.kebun palawija luas.

50. Ini kan sungai Cimanuk. Inikah Sungai Cimanuk. tidak takut sambil duduk. Lalu perlahan-lahan dihampiri.kamu datang ke pondokku. tidak punya tatakrama. 51. saya bertanya malah dibentak. Tetapi wataknya begitu. “Duh Kiai tolonglah saya. Kiai Wiralodra kesal. 54. Namaku yang dipanggil. tentu karena orang kampung Tuan. semoga saya ditempatkan Kiai. (Ia lalu berkata) “Kasar sekali kamu Kakak. bagaimana kalau saya ikut berkebun?” temannya berkata. tidak lain saya mencari Sungai Cimanuk. kasihanilah saya. apalagi orang (yang tinggal di) hutan. mau apa kamu bertanya. saya baru pertama melihat. karena saya barusan melihat sungai.” Berkata Kiai Tinggil. jauh dari negeri Bagelen. saya ikut kepada tuan. aku pemilik kebun ini. 205 . “Betul sekali Tuanku. sesungguhnya saya Kiai .” Petani yang berubah wujud. harus dimaklum Tuan. 53. 52.

memalukan kamu orang kampung. berdiri (lalu) duduk di kursi. (lalu) saling mendorong keduanya. masalah kebun anda. sambil berkata dengan suara keras. raut muka seperti api. walang kerik menuduhku.55. tidak bisa diajak berbicara lembut. tidak bisa diajak berunding! Saya kan sudah meminta. karena aku tidak silau. aku tidak akan menolong. Lalu berpindah kakek itu.” Raden Wiralodra marah. 60. 59. “Hai kamu orang apa. melihat kamu ini. 56. cepatlah kamu mati. karena aku banyak rakyat. 206 . 57. 58.” Raden Wiralodra . didekatinya orang tua itu. kamu betul-betul berandal. Kiai yang menyamar berkata. lalu kebunku. lebih keras berbicara. Tempatnya di kebun tadi. menubruk orang tua itu. tidak suka aku melihat. Mulanya hutan diminta. kakek … bertani. apakah harus dipaksa memberi. jangan harap aku menolong.

64. itulah Sungai Cimanuk kelak bila kamu membuka (hutan). bertapalah jangan tidur pasti kamu menjadi kaya. Sungai Cipunegara. Buyut Sidum namaku.” Keduanya sudah menyebrangi. menghilang menjadi hutan. berbelok. 65. jika pagi tentu (terbit) di timur. 207 . tapi ada (suara) terdengar … 61. 62. 63. jika kamu tidak tahu aku. apabila menemukan. jika sore terbenam di barat. ini bukan Sungai Cimanuk.mengadu kesaktian. Lalu memasuki (hutan) lebat . kijang mas yang matanya intan. matahari sudah terlihat. “Hai Wiralodra cucuku. dibanting lalu menghilang. sudah dipastikan kehendakku. Di mana menghilang (kijang tersebut). kelak (tempat) ini jadi desa. Pamanukan (nama) kampungku. cepat buru kijang itu. ingatlah nasihatku. berjalan dengan cepat. lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut). cepat kamu menyeberang. Cipunegara sungainya.

lalu menubruk Raden Wiralodra menghindar. III. 69. SINOM 208 . menghalangi jalan. Lalu ular mengejar. 68. “Duh tolong Tuanku di mana aku bersembunyi. . sekarang aku ingin bertanya. (Karena) ada macan besar.melihat macan besar. 67. kemudian dilepaskan oleh Raden Wiralodra sungai menghilang tanpa bekas muncul perempuan cantik masih begitu muda. melihat sungai besar sekali. macan apa namanya ini?” Macan menggeram di depan(nya).. “Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini. Lalu ia menemukan ular tadi. Dipukul(nya) kepala ular. muncul ular besar sekali. Hilang ular jadi sungai. Macan lalu ditempeleng. Raden Wiralodra. 66. Raden Wiralodra heran. Terkejut Kiai Tinggil. Ki Tinggil mengambil pemukul. lalu macan menghilang.” Lalu berkata lirih.

1.

(Menghampiri) kepada Raden Wiralodra minta dikasihani. “Duh Raden Bagus tuan Orang yang tampan bertemu di sini, di dalam hutan. Aduh saya kasihan sekali, hendak mencari apa, serta apa yang dituju? [Silahkan] Raden terimalah salamku. Kan saya masih gadis, belum pernah bersuami, Larawana namaku, akan mengikuti, apa yang diinginkan Tuan, saya sanggup menolong, kekayaan kejayaan, asal saya dinikahi, [silahkan] Raden turutilah kesediaanku.” Ki Tinggil maju ke depan, sambil berkata lirih “Duh Tuanku ingatlah, ini di tengah hutan.” Wiralodra berkata perlahan, “Saya tidak takut paman, sebentar akan saya periksa pintar sekali berbicaranya, maaf saya hendak balik bertanya. “Anda ada di hutan, tidak pantas seorang perempuan, berada di tengah hutan, mengaku gadis belum bersuami, kan saya tidak percaya, tadi (minta) aku nikahi,

2.

3.

4.

209

meskipun (kamu) wanita cantik, tidak akan mau (diajak) menikah, sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.” 5. “Menjawab Nyi Larawana, … bagus, … menanti hasil kemuliaan, cepatlah jadi kakek-kakek, gigi ompong pipi kempot, kuping tuli pinggang bungkuk, sekarng saya meminta, jika kamu tidak menurut, pasti mati berdua bersamamu, Menghalangi di depan, Raden menghindar ke kanan (dan) kiri, lalu menangkap Larawana, Wiralodra menghampiri, lalu disingkirkan, (jatuh) tertelentang lalu menubruk, Ki Wiralodra menubruk, dikejar lalu bertarung, mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta. Wiralodra waspada, tidak kena aku, lebih baik aku mati, jika tidak bersatu, kemudian saling menangkap, (sambil) menuju arah timur. Wiralodra waspada, senjatanya berupa rantai, tidak ada orang setampan kamu. Lalu menggunakan senjata, Wiralodra menahannya.

6.

7.

8.

210

senjata rantai mengenai, tetapi tidak menyerah, makin susah melihatnya, ….. karena orang tampan, heran sekali Wiralodra, orang tampan … .sakti, silahkan Raden anda membalas kepadaku. 9. Lalu Raden Wiralodra, tangannya memegang cakra, Ki Tinggil cepat mendekati, “Duh Raden hati-hatilah, kira-kira Tuan kalah, karena …, lalu Den Wiracabra menanti, Nyi Larawana menadahi, terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas. Lalu Raden melihat(nya), badannya berkilau, tidak salah kijang mas. Lalu berkata perlahan, “Paman Kiai Tinggil, paman lihatlah dengan teliti, itu kan kijang mas ayo paman jangan tertinggal, aku kejar kemana arah (larinya) kijang. Keduanya lalu memburu kijang, dicegat (di) kanan dan kiri, dicoba ditangkap (tapi) tidak kena, jika jauh kijang menunggu, sehingga sudah jauh perjalanannya, kijang berlari ke arah timur, kedua orang itu tidak melihat(nya), terus mengikuti kijang,

10.

11.

211

siang malam memburu kijang mas. 12. Lalu berjalan sampai di, …………. tinggi, kijang mas menghilang, terlihat alur sungai, airnya deras mengalir, yaitu Sungai Cimanuk, lalu istirahat di bawah. lalu keduanya melihat di bawah, menuju pohon kiara besar, lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara. Terdengar (seperti) dalam mimpi, “Nak, ini kan Sungai Cimanuk yang dicari, berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua, sampai keturunanmu, (sudah) kehendak Yang Maha Agung memperoleh kemuliaan, sudah diterima oleh Yang Widi.” Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra. Sangat gembira hatinya, dalam mimpinya yang terdengar, nampak nyata memberi kabar. Raden Wiralodra, berkata kepada paman Tinggil, “Duh paman bahagia diriku, saya tidur pada hari ini, bermimpi (ada yang) memberitahu, ternyata inilah Sungai Cimanuk . Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.” Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh Tuanku jika demikian,

13.

14.

15.

212

bagaimana kehendak tuan untuk tempat tinggal saya?” Raden Wiralodra lalu mencari lokasi, mencari (di) pinggir kali, menemukan tempat yang luas dan datar. 16. Lalu membuat pondokan, Ki Tinggil yang membuatnya, lalu membersihkan badan, kemudian Raden Wiralodra, membabat hutan, serta badak (dan) banteng, semua melarikan diri berhamburan, pembawaannya panas dingin, setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar. Begitu juga Raja Budipaksa, dengan Patih Bhujarawis, berkumpul dengan pasukannya, serta prajuritnya, dan para senapati. Ki Gede Muara Cimanuk, sangat bersedih sekali, semua pasukan menjadi bubar, karena Wiralodra membabat hutan. Lalu mennyerang Raden Wira, bertemu di pondoknya, Budipaksa berkata, “Hai satria manusia tampan, kenapa lancang dan berani, siapa kamu ini, merusak anakbuahku, cepatlah pergi kamu ini!” Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

17.

18.

213

19.

“Hai setan siapa kamu, penghuni persembunyian iblis, beraninya mengusirku, dikiranya aku takut, berlagak di hadapanku, dasar gandarwo bulus, ke sini majulah kamu sebab aku tidak akan lari.” Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya. Seluruh (Ki) Gedeng Muara, sama sama mendatangi, heboh pertarungan Raden Wira, Ki Tinggil memanjatkan doa, doa Srabad Sulaeman, duruwiksa banyk (yang) lumpuh, lalu ada utusannya, dari Tunjung Bang, (yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat. Sampai tiba Sultan Mas, (yang mengatakan) jangan saling mengganggu, Raden Wiralodra itu, karena keturunan Majapahit, (lebih) baik dijaga, sesama saudara (harus) akur, karena masih bertalian darah Rara Kidul ratunya.” Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah. Sambil menyembah di hadapannya, meminta dikasihani, (ia berkata), “Duh Raden Tuanku, prajuritku salah sasaran, semoga Tuanku mau memaafkan.”

20.

21.

22.

214

Berkata Den Wira, sekarang sipa tuan(mu), tidak kenal rajaku, Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas. 23. “Duh diminta Paduka berkata, adik sultan berbicara denganku, saya bersukur Dinda sultan, beserta anak dan saudara, sampai keturunan Dinda, kan kanda bekerja … wangsit (dari) Yang Maha Tinggi. Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus. Lalu siang malam membabat, Ki Tinggil menjadi koki, serta menanam palawija ubi jalar jagung serta kecipir, macam-macam palawija, (tanaman) gundem jawawut tumbuh subur, tidak ada kekurangan. Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh bendara baru sekarang saya senang. Tidak ada kekurangan, palawija tidak habis dimakan, terkenal kebunnya, karena bagus tanahnya banyak orang berdatangan, ikut (membuat) rumah di situ, sejak tanaman subur, bergantian orang yang datang, sama subur bermacam-macam tanaman. Banyak orang yang membuat rumah, sampai ke negara tetangga,

24.

25.

26.

215

tinggal di sini dulu. 28. Lalu berangkat Raden menuju negara. Setelah tiga tahun Lama(nya) membuat perkampungan. Raden berkata perlahan. tidak disangka sekali. 29. “Aduh anakku belahan jiwa.Ki Tinggil menjadi lurah. Diceritakan perjalanannya. ayah ibunya sama-sama sedang duduk. “Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama. tidak ada orang yang kekurangan makan. menuju ke keraton. ibu dan ayahanya terkejut. bagaimana anakku belahan jiwa. menangis siang dan malam. jangan dielakan. Bagelen negaranya. bila ada yang pulang berperang. Tinggil ditinggal sendiri. terimalah (dan) suruh masuk. di sungai Cimanuk. perjalanan putraku. 27. melihat putranya datang. (saya) sangat ingin bertemu dengan ayah ibuku paman akan ditinggalkan. karena ingat kepada anak. berkumpul dengan ketiga anak(nya). siang malam terbayangkan. ibu sampai bengkak matanya. lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira. 216 . sampai ke Banyuhurip.

(Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal.ceritakan kepada ibu dan ayah. ayahnya ikut berkata. supaya menjadi tahu. dengan saudaramu. empat orang putraku. semua siap bekerja dengan baik. serta Wangsanagari. 32. mengenai perjalanannya. yang ikut membuat perkampungan. menjadi lurah di sini. kasihan mendengar pengalamannya. salah seorang (di antaranya) kamu. berkat pertolongan Yang Widi. pesan ayahanda. serta saudara-saudaranya. semua sama menangis.” Si Tinggil diangkat. ayah ibu mendengarkan. “Duh anakku belahan jiwa. semoga tercapai yang diinginkan. Putranya berkata kepada ayahnya. para saudara pekerjaannya mengurus negara. Wangsayuda dengan Tanujaya. 33.” 30. dan Tanuhjiwa. lebih banyak orang datang. gampang besok kalau sudah jadi. pimpinlah negri Bagelen. 217 . jumlahnya lima ratus orang 31. di barat jadi negara. terserah kehendak kalian. aturan mengurus negara.

dibuat seperti negara. Hindang Darma (namaku) saya mengembara. setiap hari yang datang membuat rumah Kemudian ada yang datang. Surantaka. serta masih gadis. Wanaswara. Bayantaka. 34. pintar membuat siasat perang. orang kecil senang hatinya. diiringi dua pengawal. cantiknya tiada tara. 36. Sukubahu (dan) Jungjang Krawat. seperti pangkat tumenggung. apa maksudmu Nyai. Saya akan menumpang. kepada tamu yang baru tiba. aslinya dari mana ?” Nyi Hindang menjawab. pengawal(nya) itu petani menuju wisma Ki Tinggil ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk. 37. Hindang Darma namanya. Ki Tinggil lembut bertanya. Puspahita. “Duh paman tidak kenal padaku. diangkat oleh Kiai Tinggil. “Saya mohon maap yang sebesar-besarnya. Jayantaka. 35. 218 . karena luas tempatnya. dan siapakah namamu.menjadi kaya Kiai Tinggil. serta Ki Pulana. setiap lorong dijagai. memikul gandum dan padi. gardu tempat menjaga.

tanah yang agak luas. 38.” Sudah keluar dari rumah.ikut membuat pondokan. Hindang Darma kembali jaya. murid-muridnya itu. 39. Nyi Hindang (boleh) memeriksa. “Silahkan ikut saya di mana yang akan dipilih. apa pertimbangan junjunganku. begitu pula semua muridnya. Di barat atau timur. 40. silahkan memilih. seluruh murid-muridnya. semoga saya diberi izin. memilih tanah yang cocok. menanti bertemu musuh. tapi nanti tuanku. 219 . Karena subur kebunnya. atau saya bersawah. saya senang melihatnya. jika datang ke sini tentu aku lalu akan menyampaikan. Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam). alangkah gembira tuanku melihat wanita sangat cantik karena Hindang Darma sudah membuat rumah. sebab bermanfaat kesaktiannya. untuk ikut bertani. baru kali ini aku melihat wanita Cantik dan mulus tubuhnya. saya hendak berkebun. untuk istri tuanku.” Ki Tinggil menjawab.

cepat-cepat berdandan. “Saya berbahagia kedatangan tamu (apalagi) pembesar yang datang. (lalu) berkata kepada muridnya. 44. lalu berbicara lembut. aku sudah mendengar. lalu cepat memasang layar. 42. aku tidak mau mendengar.terkenal ke negara lain. ada wanita kembali.muridku. sudah sampai perahunya. Pangeran sangat sedih. di muara lalu semua menyeberang. Terkejut Nyi Hindang melihat Kedatangan orang banyak. pemberani namanya. terdengar kepada Pangeran Palembang. kalian pergi ke Pulau Jawa. tangkaplah untukku. 220 . karena puluhan (murid) Pangeran. berpikir di dalam hati. 43. 41.” (Lalu semua) sudah menaiki perahu. “Hai murid. silahkan paduka duduklah semua. wanita ini cantik sekali. berguru ilmunya seperti aku. Karena Pangeran sangat pandai. ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki. dalam sekejap sudah tiba di pondokan Hindang Darma.” Pangeran terpesona melihat(nya). Sekarang muridku semuanya..

serta ada perlu apa. 45. ingin menyamai namaku.sayang sekali kelakuannya. perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki. jika kamu (telah) berguru ilmu. aku perlu memeriksa kamu. yang ikut dengan saya. jangan mungkir anda. dengan pasukan sekerajaan. bersama-sama datang ke tempatku. “Duh mohon beribu maaf karena paduka. 221 . 47. Lalu Nyi Hindang berkata. saya berasal dari dusun. keturunan Sultan Aryadillah. di negeri Palembang. Pangeran Guru namanya. siapa nama (tuan). wanita secantik anda. (agar) terkenal di seluruh negara. jadi guru semua para Pangeran. tidak mendengar berita. pangeran taat kepadaku. Saya sangat terkejut. Inilah murid saya. “Sayang sekali anda ini.” Pangeran menjawab. sepertinya ada pekerjaan besar datang dengan senjata lengkap. banyak yang berguru kepadaku. yang sedang berguru ilmu. asal tuan dari mana. 46. seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan.

bertanya kepadaTuan. seperti yang lebih unggul. “Duh sayang sekali rupa seperti Tuan. tidak bisa berkata pelan. di depan di halangi. Hindang Darma tidak silau. atau menyisakan pekerjaan. 49. Tinggal kamu Hindang Darma lancang memaksa (dan) berani. silahkan (saya) mengikuti keinginanmu. sombong kamu ini. sungguh perkataan Pangeran. 50. hendak apa Tuan. tamu meminta disuguhi.48.” Nyi Hindang menjawab. mau apa. rupa tuan sangat tampan (dan) gagah. 51. lancangnya keterlaluan. seperti kelakuanmu itu. Seperti kamu orang yang sakti. wanita cantik serta kulit kuning. senjata ujung keris. Tetapi ucapannya kasar. tidak tentu negaranya. 222 . menjadi guru seperti saya. tidak memakai tatakrama seorang wanita. kan sudah mempersilahkan. atau segan melihat. tidak ada manusia. berbicaralah yang sesungguhnya. tiada tandingannya seperti kecantikanmu Hindang Darma pelacur murahan kamu ini.

Bratakusuma adiknya. sayang wajah tampan(mu). serta tempat untuk bertani. Ki Tinggil sangat takut. sudah menghadap. Bramakendali keduanya. “Diizinkan membuat tempat tinggal. “Kang Pulaha saya merasa bingung. pertarungan mengadu kesaktian bertarung mengadu senjata. Nyi Hindang sangat sakti susah menghindarinya. dimakamkan di pekuburan Darmayu. “Duh Pangeran di sini tempat yang luas. pertarungan diperkirakan lama. 55. semua pangeran tewas. Ki Pulaha diperintahkan. mencari tempat yang luas. Sudah kacau perkataanmu. ternyata malah dipakai tempat bertarung. 9takut) dimarahi paduka.atau kesaktian guru. silahkan sekehendak Tuan. Cepat pangeran menyerang. kemudian keluar. banyak pangeran yang tewas. sambil menantang bertarung. Semua pangeran 53. Wisanggeni namanya. kesenangannya bertani.” 52. 54. semuanya akan dilayani. kalau kalah saya tidak akan malu. 223 .

lalu menghadap Paduka. “Duh paman yang saya kasihi. Air mata bercucuran. serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah. bijaksana serta sakti. karena Ki Tinggil berjalan. semua teman-teman menunggu tempat ini. Ki Tinggil menangis tersedu. Lalu ayahnya berkata.” Keduanya berdiam diri. menangis memanggil-manggil.yang berperang tewas. 58. dahulu saya tinggalkan. dahulu sama-sama menderita. berjalan siang dan malam. “Sudahlah tidak apa. dari negara Palembang. sudah pernah mendapat marah dari paduka. meskipun (seorang) pelayan. 57. kemudian dirangkul. saya doakan kepada Yang Widi. 56. tak disangka masih saudara. semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil Ditubruk Ki Pandakawan. dengan paduka. sebentar saja sudah sampai. semoga ananda berdua menjadi kaya. “Aduh anakku. di negeri Bagelen. 224 . saya akan menghadap paduka. Lalu berangkat secepatnya.

Tetapi ada yang ingin saya sampaikan. 62. karena (kamu) ditinggal sendiri. mengatur siasat perang dan bawahannya. 225 . Nyi Hindang semakin berani. subur makmur di dusun. masih gadis (dan) sangat cantik. Aduh mas junjunganku. celaka saya tuan. Sesungguhnya Tuanku. ditinggalkan (sendiri) di negara. terdengar oleh Pangeran Palembang. serta dibangun negara. Hindang Darma (punya) kelebihan. lega hatinya. berjajar membuat pondokan. kedatangan Nyi Hindang Darma. istirahat dulu. Tinggil berkatalah padaku. berkat tuan semuanya terjadi. temanmu pada selamat. Tinggil di tempat tuanmu. 61. Hindang Darma kembali dari berguru. Duduklah. apa mendapat kesenangan. 59. mendapat kasih sayang dari Yang Sukma. nanti si Tinggil akan saya tanya. lagi pula kejadian. makmur sampai nanti.Keturunan si Tinggil. 60. diberi kesejahteraan. serta katakan kepadaku. serta banyak orang yang datang. Mengajarkan kebajikan.

Wangsayuda. anandamengikuti kehendakmu. tak kuat bertarung. seperti apa kehendak tuan. Bawalah saudaramu. dibantu prajurit istana. mengadu kesaktian di medan perang. Itu Tuan Singalodra. setelah setahun lamanya. Tanujaya. Pangeran Guru beserta Kiai. mohon izin ayahanda 64. Hindang Darma seorang perempuan. Nyi Hindang sangat sakti. kalian turunan Majapahit. tumeggung di negara Bagelen. 226 . 63. memberitahukan tuan. hati-hati menangkapnya. kakekmu (juga) sama tewas.lalu diserang Nyi Hindang. 65. sambil membawa murid pangeran. Tanujiwa beserta adiknya. menjadi guru pulang mencari ilmu. menangkapnya harus secara halus. Karena sama-sama berperang. itu kan kakekmu. semua pangeran tewas. karena tadinya hendak menangkap. Si Wangsanagara. dari Palembang mencari ilmu. Nyi Hindang Darma didakwa. maka saya secepatnya. Hindang Darma sangat sakti. “Hai anakku Wiralodra.

Ki Tinggil didorong kemuliaan. saya minta didoakan. serta Ki Pulaha. IV. Jungjang Krawat datang menghadap. 68. Raden berkata kepada Ki Pulaha. Puspahita (dan) Wanasara semua lengkap menghadap.” Tidak dikisahkan di jalannya. Ki Tinggil berkata perlahan. dipasrahkan kepada Yang Widi.ayahanda ikut iklas mendoakan. secepatnya berganti tembang. tempatnya di rumah Ki Tinggil. dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan. untuk mempersilahkan Nyi Hindang.” 66. semuanya sudah sampai di pondokannya. silahkan saudaraku sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra) menetap di pondoknya. kiranya (harus) terbawa. 67. “Paman Kiai Pulaha. Semuanya menghaturkan sembah. kepada ibu dengan ayahanya. sertai Ki Tinggil pergi. “Duh paduka junjunganku. dipati membaca doa. demikian jugaBayantaka ada. KINANTI 227 . saya meminta berkah Paduka Insyaallah.

mengundang Raden Ayu. terlunta-lunta saya pulang.” 2. tiba di tempat (asal) saya di timur. 3. Nyi Hindang berkata lembut. “Baiklah tapi saya harus berdandan dulu.” Segera Nyi Mas menjawab. “Duh selamat datang paman. kulit kuning langsat 228 . serta kembali lagi ke rumahku. datang ke rumah saya. Tuanku ikut dengan saya. 4.1. Saya lalu bersembunyi. ke tempat tinggal Nyi Hindang. lama sekali tak terlihat. sesungguhnya hati saya. Ki Tinggil berkata perlahan. 5. dihiasi deretan sisir.” Nyi Hindang secepatnya berpakaian. kancing berwarna hitam. Lalu saya diutus. Raden Ayu sesungguhnya saya salah tidak memberitahukan. Nyi Hindang terkejut melihat kedatangan Ki Tinggil. melihat orang(-orang) berperang. saya takut Raden Ayu. Telah tiba yang diutus. serta saudara kakak dan adiknya. harus terbawa oleh saya dan Junjang Krawat.

Raden lalu berkata lembut. Perawakannya sangat ayu. 7. seperti bidadari. karena Paduka. 11.6.” Nyi Hindang berkata perlahan. saya tamu baru tiba. Setibanya lalu menghaturkan sembah. saudara Hindang Darma. juga Raden baru tiba. Raden mohon beribu (maaf). semuanya mendekat. cepat-cepat perjalanan saya. 8. 9. “Selamat yang baru datang. (dan) saya merasa menumpang. tiada ada pada wanita lain. paras seperti Hindang Darma. Maka saya disuruh. silahkan masuk. Juga Raden saya memohon. 229 . dengan kawan-kawan Ki Tinggil. karena saya sangat hormat. cantiknya tiada tara.” 10. semua (ingin) melihatnya. ingin sekali cepat bertemu. permisi untuk melihat kepada Hindang Darma. kepada Paduka. Oleh Paman Kiai Tinggil. saya ingin menumpang kepada Paduka. di pedukuhan ini.

serta saudara-saudaraku. (tempat ini) jauh dari negri Bagelen. kepada Kiai Tinggil. Menurut Pangeran Guru. karena miskinnya saya. siapa yang hendak membuat pondokan. yang berperang dengan Nyai. tidak berani melebih-lebihkan. dari kecerobohan saya. karena saya memerintahkan. “Duh Raden saya (akan) mengisahkan. semoga berkata padaku. yang menjadi asal-mulanya. Tetapi saya Nyai perlu (tahu). (akan) diceritakan yang sesungguhnya. atau mengurangi. 230 . “Tidak menjadi apa Nyai. bagaimana asal mulanya. 14. bersumpah di hadapan Paduka. hendak ikut selamat. Nyi Hindang lalu berkata. saya perintahkan untuk diberi izin. perlu memeriksa perkara ini.” 12.semoga diterima bakti saya. coba jawab Nyi Hindang. 13.” 15. Wiralodra berkata manis. karena kewajibanku. apalagi saya perempuan. saya ingin mendengarkan.

21. bersama-sama muridnya sampai ke rumahku. atau saya berkebun. bersawah dan berkebun. lalu marah tiada tara.” 20. Perintah Pangeran saya turuti. kakek guru yang salah. menuruti hawa napsu. karena saya perempuan. semuanya sama-sama tewas. semua pangeran. Awal mulanya saya. 17.16. saya berani mengajarkan ilmu dan (ada yang) hendak menangkap saya. (saya) dikepung oleh para murid(nya). saya tidak (akan) mengikuti. Jadi yang hendak kukerjakan. meskipun saya orang kuat. “Kalau begitu keadaannya. pangeran sial dalam pertempurannya. karena saya banyak orang. terkejut (karena) kedatangan pangeran. Saya akan dibunuh. Wiralodra berkata manis. orang(-orang) membantunya. Saya memberi pelajaran bertani. saya mencari akal Raden. sedang berada di pondokanku. 231 . bisa membuat sawah. (Berkat) pertolongan Yang Maha Widi. saya diperintahkan. 18. 19.

mundur dari hadapan gusti. “Nyai jangan takut begitu.hendak meminta kerelaan Nyai. jadi termasuk mengadu nasib. supaya saya tahu. 232 . karena saya membawa jagoan. harus maju bertarung. tetapi dengan sangat saya memohon. segala tingkah-laku Nyi Hindang. Hindang Darma menyembah. saya yang menyaksikan. Hindang Darma dengan memelas berkata dengan sangat takut. karena sudah saya izinkan. jika demikian kehendaknya. saya sangat takut saya memohon hidup. sudah jadi perasaan paduka. “Duh Tuanku jungjunganku. karena laki-laki kalah oleh perempuan. maafkanlah saya.” 24. itu permintaanku. Paduka. Perang tanding memperebutkan kemenangan. 23. 22. hendak mencoba bertarung dengan Nyai. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu. 25. (bila) Nyai kalah menjadi istri(ku). 26. saya izinkan untuk berpikir. Wiralodra perlahan berkata. Hindang Darma dengan adik (Wiralodra). saya hendak melihat. taruhannya jiwa dan raga.

233 . kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang. “Aduh Nyai Hindang cantik. Jangan menghindar Cantik. Tanujaya pingsan. Tanujaya namaku. terguling di atas tanah. mari sama-sama mengadu kesaktian. Membelalak matanya. 29. Tanujiwa lalu maju. Ki Tinggil telah membawanya. saling mengadu kesaktian Raden lalu ditebas.” Nyi Hindang lalu menggebrak. berdua berdandan keprajuritan. Kan jadi istriku. 31. bila kalah Nyi Hindang. 27. betul-betul sakti mandraguna. tersengal-sengal napasnya. 28. wanita cantik (yang) sangat menarik hati. ke luar berperang tanding. (saya) ingin memangku Nyai. (dia) tersenyum melihat adiknya. (Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh di hadapan Wiralodra. Nyi Hindang menyambut perang perlahan. Tanujiwa (dan) Tanujaya. bertarung berhadap-hadapan. Raden keluar berteriak. pasti bakal kunikahi.lalu Raden ke luar. 30. memanggil. kakang tidak kuat.

bertarung berdua (dengan). “Silahkan apa keinginanmu. putra pembesar negara. Lalu ia mempersilahkan. (malah) bertarung kalah oleh perempuan. saya mengaku kalah. “Coba kanda keluar. bersenang-senang minum kopi.Hindang Darma sangat (sakti). 35. mulai mengatur pakaian. 234 . 36. “Duh Dinda kanda tak sanggup. Nyai Hindang Darma. Mentang-mentang ayah dan ibu. (Raden) Wangsayuda. malu banyak yang melihat. maju bertarung. (pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik 32.” Wangsayuda berkata perlahan. 34. aku ingin melihat. Bila seperti diriku. apa merasa senang hati. gagah seperti adik. gerakan Nyi Hindang. sangat kaya harta benda.” Tanujaya berkata kasar. 33. seperti burung sikatan menyambar belalang. adik berdua kalah. orang muda mashur jika makan. “Bagaimana adik rasanya. Hindang Darma sangat sakti. Wiralodra berkata manis.

berkelana ke setiap (negeri?) bahagia (jika) pergi ke gunung. 39. Raden Wiralodra berkata. silahkan kanda bertarung.” 41. Memerintah adik berdua. “Biasa orang yang kalah bertarung. malu oleh ayahanda.” (jika) sudah kembali ke negeri. “Kok kanda Wangsayuda bisa. Jadinya sangat susah. Hindang cantik bukan musuh. tidak disangka tumbang tarungnya. diperintahkan menangkap. kanda pasrah adikku. 38. Tanujaya dan adiknya Tanujiwa membentak. 37. bertarung keroyokan. sungguh kanda malu oleh ayahanda. malu untuk kembali pulang. “Tidak berguna kamu ini. Bawa kedua jagoan ini menyerang sepanjang jalan. 40. sambil tersenyum berkata lembut.mendapat malu (di) pertempuran. …. Adiknya lalu berkata. sudah kalah jagoannya. Nyai Hindang cantik. Kanda jangan memulai. 235 .” Wangsayuda menyela. saya adu kemampuan(mu) ternyata tidak berguna.

lalu Nyi Hindang menyembah. kanda tidak berani. Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti 236 . karena bertanding di pertarungan. jangan diambil hati. Bila unggul bertarung. terbahak-bahak keras. Nyi Hindang saya panggil. bergantian berdua. waktu melotot takut sekali. dari sini hingga (ke) negara Bagelen kepada ayahanda. ternyata unggul berperang. “Adik berdua berbicara (demikian). Wiralodra berkata perlahan.” 45. wajarlah orang yang bertarung.” Lalu berkata berlahan. “Duh Mas Nyai Hindang Darma.nanti dinda akan melihat. berperang dengan Hindang. Raden Wiralodra. 42. Kemudian dipanggil(nya). 46. Wangsayuda tertawa. saya bernazar untuk menggendong kanda. jadinya saya panggil. dengan saudara-saudaranya. nanti kanda maju bertarung. siapa kalah siapa menang. Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra). melawan Hindang Darma.” 43. “Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan. 44.

2. ……Nyi Hindang menyembah perlahan. DURMA 1. mengadu kesaktian. kamu Nyi Hindang. sama-sama seimbang.” Lalu Nyai ke luar ……. Jangan Nyai … harus dituruti …. Wiralodra berkata. ke luar hendak bertarung. “Duh Tuanku. jadi apa yang harus kulakukan?” 48. oleh karena keduanya sama sakti. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung. V. mandraguna.47. Nyi Hindang lepas dari tangannya. lalu ditangkap dengan berani. sudah saling berhadapan. tarik menarik. 237 . Raden dengan Hindang cantik. [bahwa meminta] ingin merasakan. kepada Nyai Hindang Darma. lalu diburu. “Ternyata betul prajurit (sejati). Tinggal saya sendiri. karena merasa sayang. manis legitnya Nyai Hindang berkata perlahan. Lalu saling mendorong. 3.

mencebur ke dalam air. 7. 6. Bingung sekali Nyi Hindang. Raden terus mengikuti. lalu yang bertarung di pinggir gunung. ular lalu menghilang.Nyai Hindang berlari. kutilang hendak makan. mengejar Raden Wira. (yaitu) burung garuda. Karena Raden sakti tiada tara. yang bertarung ini. makan buah jambu itu. “Susah sekali diriku. yang kemudian menjadi burung. 5. diikuti Hindang cantik. tetapi tidak samar Den Wira. oleh Raden cepat diburu. menghilang menjadi ular. Nyi Hindang meloncat. saya bersembunyi ditemukan. menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat. Hindang Darma menjelma menjadi jambu air. menghilang menjadi hutan. ke manapun. 238 . Menjadi batu sebesar anak gunung bercampur … gunung. Nyi Hindang bingung hatinya. 4. lalu jambu menghilang. karena Raden menjadi burung. Kemanapun. serta berkata. Menjadi taman yang airnya sangat bening.

dengan ceritanya. Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon. “Aduh Dinda baru bertemu. Saya tidak bisa 9. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia. Bila kelak sudah menjadi negara. bersama-sama mulia denganku. (semakin nyata) kecantikannya. 239 . Hindang adalah nama di air. dari mana Dinda. Pegaden yang dituju. lalu berjalan menuju barat. Raden dengan negara(nya). sudah hilang(kan) namaku. menjadi bunga di istana bersamaku. Raden Wira menyesal dalam hati. Darmayu namanya nanti. semakin Nyai cemberut. yang menjadi burung ini. yang… (setelah) bertemu (lalu) saling peluk. di sebelah barat kali Cimanuk. 11. semoga diberi nama.8. masih penjang perjalananku ini. 12. kasmaran melihatnya. 10. seperti apa perjalanannya. karena ada mata airnya sampai di Cimanuk dari gunung. tetapi saya mohon. Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik.

semoga lancar nanti. untuk keturunan. 16. Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur. Di Pegaden Wiralodra tiga hari. Setelah keduanya melepaskan rindu. lalu berkata kepada kakaknya. 13. kepada pasukan. pasukan yang akan berperang.membuat negara. di (pinggir) hutan Cimanuk. (karena) ada yang membuat negara. hutan di sebelah barat Cimanuk. menjadi negara. anak cucu[nya] Dinda. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan. bercampur dengan suara senapan. 240 . “Hendak meminta izin kanda. kembali ke negaranya. lalu pasukannya tiba. terkejut ada ……. hendak memeriksa. ketika Raden mendekati. lalu berangkat.” Kakaknya mengizikan. Asalnya dari sebelah timur. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya. 14. “Sukur bahagia untukmu. 15. kakaknya mengamini. (apa) keinginanmu tercapai?” Adiknya berkata lembut. (terdengar) sorak-sorai.

” Lalu berkata lembut. ini pasukan siapa. (karena) telah menjadi negara. Adapun yang membangun bakal negara (ini). Karena waktu itu masih bakal. sebetulnya saya ini Wiralodra nama saya. ……… mengiringi Paduka. tentu akan rusak. hendak memeriksa yang membangun negara. dan siapa namanya.” 18. “Duh mencari apa. 21. Kemudian bertemu (di tepi) kali. Jika berkata kebetulan diriku. sukur (dan) bahagia bisa bertemu. besar negaraku. silahkan menghadap Paduka. negara ini masih bakal. siap sedia berperang. “Kebetulan sekali saya. berani membabat (huta). Wiralodra bertanya lembut. bagaimana jika sudah waktunya. siapa yang layak bertarung. Garage nama daerahnya. Dalem Kuningan 241 . nanti saya menghadap Paduka Kangjeng Sultan. yang berani membangun negara. 20.17.” 19. Dipasara lalu menjawab.

(orang yang) berani membangun negara. baru selesai berperang dengan Dalem Kiban. 23. (hendak memberitahukan kepada) Gusti. membawa teman kamu ini. diperintahkan maju berperang. prajurit dari Galuh. cepatlah Dipasara. dizinkan oleh siapa?” Wiralodra menjawab. belum berkata kepada paduka Sultan Wali. menghadap kepadaku. datang dari hadapan Paduka. Garage nama negaranya.kedua orang itu lalu menghadap. Inilah (Wiralodra). Saya mengaku salah kepada tuan. saya merasa bersalah. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan. “Sebabnya saya menghadap Paduka. 24. 242 . lalu ia berkata. Berkata (Arya) Kumuning. 25. 22. Saya ini diutus Sultan. itu siapa?” Lalu berkata lembut. Bahwa yang membangun negara. Wali Sunan (Jati) di Gerage. 26. Perkenalkan saya Arya Kuningan. disuruh memeriksa ini. (yang berada di) wilayah sultan.

aku adalah Arya Kumuning. “Coba lawanlah aku.” Lalu berkata “Memangya kenapa (arya) Kuningan? aku sudah minta maaf. 243 . orang Sunda kan sembrono. Kemuning aku tidak takut. Dipasara tangkap aku. Dipasara terguling. 29. bijaksana. (kamu) prajurit sombong. olehmu.” 30. saya orang yang bersalah. tidak meminta izin Gusti Sultan. sampai menyembah.” Wiralodra mengingatkan.” 27. bila prajurit itu dari negara Kuningan .tetapi saya meminta keadilan. Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar. “Jika demikian kamu ini. mengakunya prajurit tangguh. Wiralodra adalah putra dari timur turunan dari Majapahit. Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda. terserah anda. 28. rupa seperti kamu. lalu ditendang. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra. tidak punya sopan santun. dikiranya aku takut.

lalu ditangkap dengan berani. bertarung saling mendorong. bersukur (karena) bertambah wilayah jajahan. terus maju. orang Galuh banyak yang mati. lalu ditangkap. Si Windu nama tunggangannya. karena banyak pengalamannya. karena (keduanya) prajurit tidak ingat belum memperoleh izin Paduka. pasti dia mati. kendalinya dipegang. perang atau mengusir. orang yang membangun negara. 33. 34. ditendang berguling. lalu merayap menuju kuda. Kemuning menyerang (dengan) berani. Kemuning melangkahi (Sinuhun). 35. Tindakan Arya Kumuning. Sinuhun tidak mengizinkan. (karena) Si Windu yang menendangi.31. ia tidak berdaya. untuk mengadu kesaktian. Si Windu menendang karena kuda pusaka. Dipasara tertelungkup di atas tanah. 32. tidak bisa bergerak 244 . lalu ditunggangi. Oleh Raden Wiralodra. Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang. keinginan pribadi. ia masih kuat.

kekuatannya sudah hilang. pertanda sujud kepada Paduka.” Si Windu segera melesat . (lalu) berjalan mundur kuda (itu). melawan Raden. menahannya. lalu Si Windu mengucap. padahal dia sering berperang. Den Wira (merasa) sangat kasihan Si Windu menyeringai. perang ini kan melawan satu orang. seperti agak melawan berperang ditarik dengan cepat. ketika perang Galuh dulu. “Aduh Raden lepaskan saya Paduka. 38. heran sekali Si Windu ini. menggempur manusia satu negara. waktu Dalem Kiban. 37. 36. karena Windu sangat marah. tidak kuat Arya Kumuning. Maka si Windu tidak kuat bertarung terkejut badannya.” Windu berdiri di atas lutut kakinya. Semakin kencang majunya. 39. “Kurangajar!” Kumuning berkata. Raden kasihan melihatnya. (karena) bagaikan kilat majunya. memerciki gunung. ia kalah bertempur. Karena saya tidak berani bertarung. lalu dilepas. 245 .

“sudahlah Dinda sekarang 43. menghilang di dalam hutan. Windu berlari. negara asal Gusti Kuningan sedih (hingga) tidak sadarkan diri. 44. karena kuda (ini) dulunya. 42. betul-betul prajurit sejati. 246 .40. serta memasrahkan diri. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan. 41. kDipasarah lalu cepat menyembah. Paduka berguling di atas tanah. kepada Wiralodra. cepat pulang menuju tuanmu kan sudah ada negara. Oleh karena itu Wiralodra semakin … bertemu dengan Patih Dipasara.” Dipasarah menyembah kepada Kiai Wiralodra. dari kuda Harba Puspa. Serta sampai di perbatasan negaranya. sangat gembira hatinya. jiwa raga hamba. Sudah bubar semua tentara Kuningan. (beliau) sangat sabar. kepada Dipasarah. Wiralodra berkata lembut. keturunan Budaprawa. lalu Raden Wira.

untuk keturunan Wiralodra. (para) wali sedang berkumpul. ke negara Garage. serta anak cucu . diserahkan kepada Paduka. Lalu menyembah mencium kaki Sultan. “Duh kamu Wiralodra. kepada Gusti Sultan. karena anda keturunan sultan. 247 . 46. serta takdir Yang Widi. DANGDANGGULA 1. 47. memohon berkah dari para wali. lalu dipegangnya. (karena)saya (telah) membuat negara. di mana ke mana pun sedia. VI. keturunannya dahulu. Wiralodra berkata kepada Paduka. orang yang menggantikan. kebetulan bertemu. meminta restu Paduka. Mohon ampun beribu ampun. 45.hendak melanjutkan perjalanannya. (atas) kelancangan hamba. bahagia sekali kamu ini. dari Brawijaya dulu. sekarang hendak kembali. mati hidup saya. sudah tiba di hadapan Paduka. keturunan Majapahit. semuanya terserah Sultan. Semuanya sudah mengizinkan.

sampai di Cimanuk. cepat-cepat perjalanannya. dinda. membuat negara. menjadi campur dengan wanita. memperluas negara. kebiasaan orang Dermayu. 248 . betul-betul orang yang mumpuni. tidak licik bertarungnya. Hindang Darma menang. namailah Darmayu. berpelukan semua saudara. seperti apa Nyi Hindang Darma. kelak hingga anak cucu. “Duh kanda sangat kuatir sekali. 4. Tetapi dinda menurut. kan Hindang Darma ikut. jika nanti menjadi negara. “Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali. tidak mendapat kabar berita. (dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan. Tidak suka menikah. 2. Ada sumber air di kali Cimanuk. semua saudara yang ditinggalkan. meskipun kanda yang memulai. lalu [sama-sama] bertemu. Serta sudah takdir Yang Widi.Wiralodra mundur dari hadapan Paduka. tertangkapnya itu?” Kakandanya lembut berkata. karena Nyai Hindang Darma. setia serta bijaksana. Hindang Darma bahasanya lembut. tetapi Hindang terdengar suaranya. 3.

permisi dinda hendak ke luar sekarang. tetapi susah nanti anak cucuku. aku persilahkan semua saudara. moga-moga semua membangun. 7. lengkap berjejer di depan. (untuk) menjadi pejabat di negara. dengan mantri Wanasara. Kakaknya mengizinkan. tempat[nya] mengatur pekerjaan. Surantaka. berdua keluar dari pintu. ada di Darmayu. membuat pasukan. untuk meresmikan negara. berkata silahkan bagaimana kehendak kanda. bertemu di tempat upacara. sama-sama berumah tangga. Kelak negara Dermayu ini. Bayantaka. (orang dari) sebrang nanti tiba. dari timur barat datang. Tetapi kanda (serta) adik-adik. serta perkemahan besar. keris atau pedang. 5. Semua saudaranya ini. 249 . dengan Ki Tinggil. karena perbawa wanita. banyak yang sengsara.jika bepergian tidak memberi wasiat. 6. Kiai Pulaha. negerinya sangat ramai. semua oarang suruh berkumpul. menjadi tujuan seluruh bangsa. katumenggungan dinda.

. Gamelannya angklung calung suling. yaitu Raden Wiralodra. semoga semua berkenan. tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu. sampai seminggu lamanya. yang sebagian tertawanya jatuh bangun. (karena orang) besar dan kecil berkumpul. Ki Tinggil juga menari. semua sudah sedia. serta nyanyian gembira. disoraki oleh temannya. oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak. berkumpul para kawula. Bekerja bersama-sama membangun negara karena sudah terwujud. lenggak-lenggok (dengan) perut buncit. hadiah untuk (para) kawula. 250 . semua berkumpul di tempat pesta. karena untuk tempat berpesta nanti. 11. hendak mendirikan negara lain. mulutnya berbicara terus. “Hai semua saudaraku yang ada di sini.8. berbentuk perkemahan besar. suami istri berkumpul. bersorak bagaikan prahara. lalu berkata manis. 10. negara berkat kehendak Yang Manon. suara oarang-orang gemuruh. menyembelih kijang memotong sapi. 9. Lalu keluar (yang punya) hajat. bergantian menari. Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil. Sudah berunding semuanya.

(lalu) makan beramai-ramai. gamelannya celempung suling. “Duh saudaraku semua. (agar) saya ikut gendut sambil menari berlenggak-lenggok. “Duh saudaraku semua. serta kamu semua menyaksikan. 14. 251 .” 12. Yang membaca doa sudah selesai. (kepada) semuanya saya memohon. Semua orang tertawa (dan) menyoraki. Sesudah (menyantap) makanan. iuran semua saudara.negara sudah jadi. Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya. dan negeri ini diberi nama. negara Demayu. (yang) sama-sama hadir. lalu Raden berkata perlahan. 13. serta membaca doa (memohon) keselamatan. bergemuruh orang banyak mengatakan amin. rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi. bersantap (dan) bergembira sudah selesai. setiap bulan seperti ini. Semua orang berkata “(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu) kami semua senang. senggak(1) penuh irama.” Kemudian semuanya membbaca bismillah. Semuanya bubar. saya mempersilahkan semua untuk bersantap. sambil membawa hidangan. Para orang tua sama-sama mengamini. semua saudara bersama-sama makan-makan. lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan.

karena ditinggalkan oleh adik-adik. 252 . apa yang terlihat. Kakaknya lembut berkata sambil memeluk. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat. ayahanda menginginkan. Tetapi adik katakanlah. kakaknya mengantar. 16. sampai ke perbatasan. jika kanda Paduka mengizinkan dinda hendak pulang (ke Bagelen). Lalu bersalaman. bercampur dengan nyanyian.yang bersantap gembira hatinya. karena kanda tidak bisa pulang sekarang. mendapat anugrah Yang Widi. (katakanlah) adinda semua berada di sini (mengadakan) pagelaran di kadaleman. Adik-adik(nya) sudah menyalami. masih membereskan negara. dan Wangsanagara itu adalah iparnya. “Dindaku semuanya apa yang harus kulakukan. tidak salah diundang. oleh karena sudah lama. lalu berkata bagaimana kanda.” 17. kembali ke negara Bagelen. 15. kepada dinda semua. kepada ayah (dan) ibu nanti. besar kecilnya. “Duh Dinda semoga selamat. suara celempung (dan) suling terbawa ngin.

VII. anak cucunya. di negara ini. tanpa tujuan. 3. sampai di akhir nanti. (akan) merebut negara. sebab menjadi pintu gerbangnya. ada musuh (yang) datang. Karena negara akan mulia.Diganti (dengan tembang) Durma. akan saya minta. “Kamu ini datang kepadaku. jadinya saya tiba.” Watuhaji membalas. aku tidak suka berperang. karena negara belum jadi. 4.” 253 . masih setengah hutan. Ini kan bakal negara. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara. sampai menjadi bupati sekarang ini. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara. “Percumah saya berkelana. menjadi pejabat di negara ini. diiringi [dengan] teman-temannya. Watuhaji kakaknya. 2. lalu diperiksa. tanpa sopan santun. DURMA 1. menurunkan tujuh bupati. (oleh) Den Wiralodra. (itu) menghina.

7. Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung. sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh) ramai yang berperang musuh banyak yang kalah. Lalu menoleh mengerikan. maju dengan penuh sopan santun. lagaknya sangat berani. Ki Pulaha maju bertempur. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha. ramai yang berperang. Kiai Tinggil lagi senang perang. seperti orang(-orang) kerajaan. orang yang berada di tengah hutan. tidak disangka bisa perang. 254 . “Hai kamu Wiralodra. dibawa ke pintu gerbang. Wiralodra mukanya seperti api. baksanya (tarian perang) lembut dan manis keris disandang. 9. (Membuat) heran yang melihat. 6. Prajurit Watuhaji. Nitinegara heran. riuh rendah. sambil berteriak (menantang) bertarung. pantas sekali maju perang. ternyata bisa bertarung. 8. melompat seperti kilat. pedang dipegang di tangan. Kiai Pulaha berdiri. bersama teman(-teman)nya.5. jika menebaskan senjata.

12. lawanlah aku! 13. 255 . yang kuat di medan perang.” Berkata Wiralodra. Ayo sambutlah!” Raden Wira ke luar. Nitinegara dibanting. Sudah menyambut. memegang senjata. menusuk Wiralodra. “Hai Wiralodra (kamu) ayo gunakanlah keris atau pedang. terguling di atas tanah. 10. majulah berperang. “(Aku) tidak biasa mendahului. oleh Wira(lodra) disuruh dibawa. Sesumbar Raden Wira di tengah medan perang.” (lalu) berhadap-hadapan. 11. ayolah (kamu) maju berperang. (kemudian) diikat oleh Ki Tinggil. karena kamu prajurit sejati. akan aku tahan. bila kamu prajurit sejati. lalu maju perang lagi. (lalu) berhadap-hadapan di medan perang. “Hai prajurit Watuhaji. Kerahkanlah prajuritmu.jangan (terlalu) lama mengadu prajurit. Ayo tebaslah dengan senjatamu!” Cepat Nitinegara. jangan ragu untuk memukul.

Watuhaji dan Den Wira. Ki Gedeng Sambeng namanya.Bertengkar (dan) saling menyerang. melarikan diri dari pertempuran. yang ditujunya itu . (kemudian) menjadi pendeta. Watuhaji meloncati. mengacau di negara Dramayu (membuat) susah orang kecil dijarah kerbau (dan) sapinya beras padi dan harta banyak orang dibunuh yang diserang melarikan diri ke luar dari Bantarjati 18. berganti nama. 16. bertarung saling mendorong. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung (yang bernama) Ki Gedeng Depok. 15. Wiralodra (lalu) mengeluarkan ilmunya. Menurut cerita ini. menuju arah selatan. bertemu tandingannya dalam berperang. 14. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata. tempat untuk bertapa. Kelak keturunannya 17.. ……… Drayantaka (dan) Wanasara 256 . karena Raden bertarung. (Badannya) menjadi sebesar anak gunung. letaknya yaitu di Cisambeng.

tumenggung dserta patih. (lalu) mengangkat demang (dan) rangga. menjadi Kiai Dalem. Raden Wiralodra kaya. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang). tanah (di) Bogor dan Karawang. serta banyak serdadunya. menawarkan tanah.mengamuk di medan perang. diserahkan kepada Ki Tinggil 19. (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah. tentara admiral bertambah banyak. pasukan[nya] tumenggung tunduk semua. sudah berdiri (pasukan) jendral. beberapa gotongan. gembira semuanya. Lolos menuju Dramayu. Wiralodra diangkat. semua lengkap. harta beribu juta. (semua) membuat rumah. pasukannya kira-kira seratus orang. masing-masing berkeluarga. 22. lalu den Wiralodra mengalahkan banyak tentara. 257 . Watuhaji dan Nitinagara. negara tambah ramai. ponggawa (dan) para mantri 21. (dengan) membawa harta (benda). 20. kedatangan orang(-orang). kepada bangsa Belanda.

Disayangi Sultan Mataram. Penyebab Nitinegara menangis. diganti lagi (oleh) dangdang(gula). kesaktiannya tiada tara. kepada Sinuhun Mataram. membawa harta bendanya. dari negara lain. (Nitinegara) meminta belas kasihan. sebab hendak menghancurkan Darmayu [itu]. menjadi macan negara. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya. 258 . merasa takut yang melihatnya. Terkenal ke seluruh negeri. kepada kedua tumenggung. 24. DANGDANGGULA 1. Seharusnya Tuanku. orang(-orang) kecil merasa senang. (karena) berbuat (telah) salah. jika nanti hendak dikirim . karena ada keinginan Raden Wira. VIII. (kelakuan) seperti itu tidak baik. banyak orang-orang. oleh karena paling sakti di dalam negeri. 25. ke negeri Dramayu. Menjadi negara (yang) subur makmur. 23. melarikan diri (pada) malam hari. Wiralodra.menyerahkan harta(nya). memotong leher saya. dari keratonnya.

Wirapati selanjutnya. nanti kedudukannya sangat dibedakan dari yang lain oleh karena nanti turunan Nitinegari. Yang perempuan bernama Nyayu Hinten. sebanyak empat orang. (Lalu) dibekali Nitinegari. Watuhaji yang berdosa. 259 . mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal. telah jauh perjalanannya. dosa yang sangat besar. disuruh menuju gunung. menjadi dalem Darmayu. diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan. 4.(Tapi)saya memohon agar tetap hidup. semakin lama negara semakin kaya. putranya (yang bernama) Raden Wirapati. 2. yang sulung (bernama) Sutamerta. dalem di Darmayu. tinggal menjadi senang dan raharja. mengganti kedudukannya.” Wiralodra sangat kasihan melihat[nya]. 3. bungsunya Raden Drayantaka. Lalu berangkat Nitinegari. Wiralodra yang kedua. Dalem Darmayu. Dalem yang mejadi penggantinya. ayahandanya sudah meninggal. (diceritakan) sudah mempunyai anak. permaisurinya empat (orang) lahir putra tiga belas banyaknya. Dikisahkan Kiai Dalem.

Werdinata kepada (Nyai) Hinten. lama-lama jatuh hati. gembira sekali Paduka. Karena sangat saling menyayangi.perempuan dan laki-laki. sangat saling mengasihi. bernama Werdinata. ke negara adiknya nanti. Dinda Werdinata. Kakaknya sangat setuju. 5. Adapun (untuk nama) putranya. (bila) saudara mau. memiliki saudara seorang raja. Raden Wirapati. Serta lama kelamaan adiknya Nyayu Hinten mengandung. putranya diberi 8. tetapi (jangan) dibawa. adikku yang perempuan. (selalu) saling mengunjungi. 260 . di Pulo Mas negaranya. 7. lalu melahirkan. Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan. 6. Werdinata dengan Nyayu Hinten. tiga belas bulan lamanya. terus terang kepada kakaknya. berunding dengan kakaknya Den Wirapati. setelah menikah nanti. seperti dengan saudara. karena hanya satu. nama yang disepakati.

gemilang cahayanya. putranya sudah tiba. 9. memenuhi permintaan ayahanda. hendak meminta bantuan. dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang. 261 . pasukannya siluman.” “Semoga bakti ananda diterima. (karena) ayahanda menerima surat. dibawa mengunjungi ayahnya. kedua ayahnya sangat sayang kepada anaknya. menghadap ayahandanya. sebab Raden Wringin Anom. “Hai anakku yang tampan. onom dan mahluk halus. karena diserang. kuning cahyanya bersinar. karena sudak bijaksana. “Selamat datang anakku. (sehingga) tidak kuat berperang. Lalu ayahnya berkata. 10. serta Dalem Kuningan. Kemudian Den Wirapati. (pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit. (ketika) berumur tiga tahun. oleh Dalem Ciamis. Lalu ayahandanya berkata perlahan.Bagus Raden Wringin Anom namanya. kepada putranya Sultan Pulo Mas. cepat(-cepat) aku memanggil(mu). Werdinata di Pulo Mas. Ayahandanya berkata. Ada keperluan apa?” 11.

kata anaknya. seperti orang berbaris hendak berperang. (jangan) khawatir ayahanda raja. onom dan mahlukhalus. ananda harus ikut. hanya suaranya yang bergemuruh. karena dikepung musuh. (yang) meminta tolong ayahanda. “Duh putra tolonglah. menggeram suaranya. Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman. 262 . karena itu mereka sangat hormatinya. “Baiklah. sudah berada di depan. saya serahkan negeri (ini). tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis. Paduka Dalem Sumedang. Dalem Wiralodra datang. Jika demikian saya berangkat hari ini. 14. 12. Silahkan ananda (apa) tindakanmu. karena pasukannya siluman. 13. tidak terlihat wujudnya.dari Dalem Sumedang. (melawan) musuh para siluman. lalu bubar menyerang para siluman. Orang(-orang dari) timur melihat. (dari) Ciamis dan Kuningan. dengan membawa tentara makhluk halus.” Lalu ayahandanya berkata. Orang Sumedang banyak yang ikut. karena ayahanda akan bertarung (melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti. putra yang menanggung. menghampiri serta memeluk sambil menangis.

Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis. 263 . dan semuanya merasa bahagia. dan Tumenggung Dongkara. menjadi sebesar anak gunung. karena Dalem Darmayu sakti. 16. Raden Dalem Wiralodra. putranya mengusir para siluman.Raden Wiralodra. mengemban (tugas itu). berubah wujud. Suradiningrat (dan) Brata Kumuning. musuhnya pasukan onom. hampir tertimpa kedua dalem ini. merangsek (ke medan) perang. Prajurit keluar semua. 17. Orang(-orang Sumedang gembira. yang diincar tinggal kawannya dan raja. (ialah) orang(-orang) Ciamis. karena sangat gembiranya. (dan) khawatir (pada) ayah(nya) 15. karena Raden Wringin Anom. berlarian pasukan Kuningan. sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang). maju bagaikan kilat. Ramai yang berperang. jatuh bangun pasukannya. dikeroyok bertarungnya. Banyak prajurit tewas. Serta keesokan harinya pergi berperang. Lalu orang(-orang) Sumedang. sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis. sama-sama ikut bertempur. Lalu Dalem Wiralodra.

terpisah raja dan rakyatnya. suaranya bagaikan halilintar. sebab khawatir akan negara. tidak ada yang layak menjaga. berdua dengan Jongkara pelayannya. bagaimana musuhmu?” Putranya berkata kepada ayahnya. matanya (menyala) bagaikan matahari kembar. Bubar pasukan dari Ciamis.18. “Kebetulan sekali anakku. jari-jemarinya menyentuh tanah. “Jika mendapat izin ayahanda. gigi taringnya terlihat bersinar. Orang-orang ramai melarikan diri. 20. sudah bubar tidak ada yang tertinggal. berdua dengan Paman Tumenggung. 21.. 264 . dikejar oleh Dalem Wiralodra. sampai di perbatasan. menyelamatkan diri pasukan Ciamis. lalu putranya menyembah Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu. “(Banyak yang) melarikan diri. ananda hendak kembali sekarang. lalu bertemu dengan ayahandanya. melesat ke angkasa. (bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan.” Ayahnya sudah mengizinkan. Lalu anaknya berkata lembut. Den Wringin Anom mengejar siluman. Ciamis dan Kuningan. 19. Kemudian ayahnya mendengar yang berita. juga musuh ayahanda.

24. untuk menyapu dan memasak nasi. kita berdua bersama menaiki(tandu). setelah sampai (makanan) disajikan. sama-sama menghormati. bagaikan bumi terbelah. Ditaburkan uang tersebut. sepanjang jalan jadi terlihat sedang berhadap-hadapan. segera menaiki tandu. ramai orang(-orang) menagkap. 23. Bersama-sama turun dari tandu.telah bubar sekarang. Cepat ayahanda menjumpai serta membawa putranya yang perempuan. 265 . 22. sama-sama berebut uang. Ini putra ayahanda seorang. serta para pelayan. Lalu sudah bertemu. “Mari anakku sama-sama menaiki. serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam. karena gembira sekali mereka. ayah dan ibu bernadzar anakku. membawa bokor mas. dicampur dengan uang talen. berisi uang mas. diiringi gamelan serta prajurit penghulunya siap. Semua para prajurit. anak gunung sangat buruk” (1). dengan panglima perang. naik joli dan tandu. para wanita serta ibunya. Putranya mengucapkan terima kasih.

kawula dengan prajurit. Lalu putra Dalem Wirapatih turun dari tempat duduknya serta menerima baktinya. saya serahkan kepada anakku. Aku tidak memiliki (lagi).para pelayan berhamburan ke depan. yang tinggal di negara Darmayu. dengan Darmayu ini. pesisir Kandanghaur. dengan para ponggawa. makan bersama. (saya) sangat berterima kasih 25. (atas) kasih sayang ayahanda.” Lalu sama-sama bersalaman. 26. saksikanlah oleh semua. “Hai para prajurit. yang bersama-sama duduk di tempat ini. Kemudian semua mantri. menjadi satu negara. Dalem berkata manis. 27. semua saudara (pamit) 266 . Lalu sama-sama pulang. bergembira semuanya. (saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih. saksikanlah ucapanku (ini). “Hai sanak saudaraku. ramai-ramai makan-makan hingga tujuh hari. kepada putra Wiralodra. bawahannya semua. mendapat anugrah dari ayahanda Kandanghaur pesisir utara saya terima.

sampai ke perbatasan. Karena dinanti-nanti tiada henti. serta diberi istri. di belakangnya para madu. Wiratmaja (yang kelima) karena lima orang anak laki-lakinya.kepada Dalem Wiralodra. (dia) sangat menyayangi istrinya. semua pengawal putranya. istri dan putranya. Lalu putra perempuan. Wiralaksana. sangat gembira hatinya. lalu datang dan menemui. sangat makmur tinggal di negeri (ini). Nayastra. Wirantaka keempatnya. 28. Selanjutnya (di) negeri Dermayu. 267 . mendapat anugrah dari Yang Kuasa. para saudara dan rangga. untuk kembali. Nayawangsa. Raden Timur dan Sawerdiya. para madu dengan para putra. 29. kedua Raksadiwangsa. yang paling besar ialah Raden Kowi. sangat gembira (karena) ayahnya datang. semuanya akur. sejahtera dalam kehidupannya. Hadiwangsa. Hastrasuta. Adapun nama putranya 30. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan. serta tinggal di pesisir Kandanghaur.

sama-sama kaya. sebanyak empat orang [putra]. sangat bijaksana. (kemudian) diganti. yang menggantikan harus kakaknya. Karena sudah memiliki putra. mereka bersaudara. sudah beristri. penggantinya berebut jabatan. sudah lengkap tiga belas (orang) putranya. paling besar Raden Benggala. menduduki jabatan bupati. Lalu ayahnya tiba ajalnya. Puspa Taruna. yang telah mengganti kedudukan ayahnya. Benggali adiknya. 32. kakaknya Raden Benggala. menjadi bupati. dengan Wiralodra namanya. dan Nyi Raksawinata yang keempat.31. 33. Patranaya. Benggali namanya. adiknya menginginkan. para putra semuanya. Singalodra yang gagah. (oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi. Singawijaya putranya (yang) perempuan. Lalu wapat ayahandanya. serta semua para pembesar. 34. 268 . tetapi Benggali Benggala anak laki-laki ini. Semuanya jadi pejabat. Tetapi persetujuan para ponggawa.

pasti saya mengamuk. akibatnya bakal ada kematian. kalau aku tidak menjadi bupati. utusan dari Tuan. 269 . utusan Gubernur Jendral Betawi. lalu adiknya berkata. membawa pasukan serdadu. Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya. kakandanya yang menggantikan. tetapi Raden Singalodra.Tetapi adiknya (berkata). van de Boss namanya. menjadi bupati. dari Betawi. Berlayar di lautan. membawa serdadu satu kompi. 37. menjadi bupati menggantikan kedudukan ayahnya. bila menyebrang ke Betawi. kedudukan ayahanda. kakanda sudah (menjabat). “Raden Singalodra kakandaku. Sangat bingung para ponggawa. 36. kakaknya di Darmayu. ikut ke laut. pangkatnya komandan. kepada Tuan Komandan. mengganti kedudukan ayahanda. lalu datang utusan. istrinya ke Bantaranak. kalau kakanda yang menggantikan. jika demikian menurutku. (sehingga)lima bulan tidak ada bupati. 35.

38. saudaraku semua menurut kepastian. lalu tiba di perbatasan. 39. 40. saya sudah pasrah. Lalu mas patih Hastrasutanaya dan Tumenggung Trunajaya menjawab. mengingat adiknya. Kemudian berkata lembut. semua sanggup (membela) sampai mati. sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka). pasukan dari Paduka. yang sulung Den Laut. jadinya saya katakan. bahwa tidak mengingat saudara paduka. Lalu semua mengundurkan diri.” Bupati berkata lembut. Menangis para ponggawa. Gandur dan Purwadinata. saudara (dan) ponggawaku. tiga tahun lamanya. keinginan Yang Maha Mulya. 270 . mengenai negara ini. siang malam mengaji Qur’an. delapan orang putranya. Lalu para mantri menjawab. Dalem Wiralodra tadi memiliki anak banyak. karena sudah sampai pada janji terdahulu. sama-sama mencium kakinya. melihat dengan kasih sayang kepada paduka.tetapi tidak enak hati. memohon maaf. semua ponggawa.

42. putranya (yang bernama) Kartawijaya. Bila malam tidur di makam. di makam para leluhur. ayahandanya dipanggil oleh Sultan Cirebon. yang mengganti adik saya sendiri Paduka. 43. aku mendengar berita (bahwa) paman berhenti dari jabatan kebupatian. 41. 271 . (karena)sangat sakit hatinya. persembahan kepada sultan. agar kuat imannya. yang sangat tidak enak hatinya. apa betul?” Wiralodra menjawab. takdir Yang Maha Mulya. jam empat kembali ke rumahnya. Nyai Moka bungsunya. takdir Yang Maha Agung. mengurangi tidur dan makan. karena sudah disampaikan. Singalodra namanya. Berkat pertolongan Yang Agung. “Jadinya paman aku panggil Wiralodra ke hadapanku. “Sesungguhnya Tuanku. putra sedang susah makan. Lalu sunan berkata. Gembruk serta Toyib.Kartawijayastra yang keempat?. mengaji siang dan malam. meminta kepada Yang Maha Suci. yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji.

supaya di kesultanan (ini). barangkali hatinya terbuka serta paman memohon pertolongan Paduka. (yang)namanya Kartawijaya. semuanya sudah sedia.” Berkata Sinuhun. “Paman. Dalem Wiralodra. “Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka. Lalu berkata sultan kepada Wiralodra. Kartawijaya dipanggil. padahal ia masih muda. aku terima diserahi putramu. serta rumah tempat tinggal paman. 272 . sangat sabar hatinya.44. tetapi permohonan hamba. mengajar para putra mengaji. Lalu Kiai Dalem berkata. sudah menghadap kepada Paduka. anak hamba (yang bernama) Kartawijaya. pasrah kepada Paduka. saya menyerahkan semuanya. mati hidup saya. 46. Tidak tidur serta tidak makan. “Perihal masalah itu. sepertinya sedang tidak enak hati. Sultan sangat kasihan melihat.” 47. 45. anda ini (agar) menolong saya. kitab serta Qur’an. Tajug (dan) kolam aku sediakan.

Pangeran melihat dengan rasa sayang. aku mengangkat kamu.berlutut dan menundukkan mukanya. 273 . “Hai Karta kamu ini. sukur kamu ini. lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan. Sekarang kamu ini. kepada Kartawijaya. 49. Sudah jauh perjalanannya. di hadapan Sinuhun. kepada Raden Kartawijaya ini. Kemudian kelak dinikahkan kepada cucunya. saya angkat jadi mantri polisi desa. “(Ternyata) ada Kartawijaya (datang). bawalah suratku. tempatnya di penjagaan. Ratu Mas Atma namanya. 48. Kartawijaya berkata kepada Paduka “Saya memang berdosa kepada Paduka apa yang Paduka inginkan?” Sultan berkata manis. Suratnya sudah diterima. lalu berkata perlahan. tempatnya di Panjunan. untuk Kakanda di Panjunan. tampaknya terampil dalam pekerjaan ini. lalu mundur dari hadapannya. “Lalu Sinuhun berkata perlahan.” 50. di Pajagalan Panjunan.” Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka. Naik tahta di Panjunan. bersama-sama denganku.

53. Ki Dalem lalu berkata.adapun rumahnya. takut dosa besar. semuanya ponggawaku. santri kecil hatinya. berada di Kejaksaan. sedang mengatur pekerjaan. ramai-ramai siang malam. tidak pantas menjadi bupati. mantri patih dan bupati. menurut perintah nabi. bila tidak bersuka-suka. semua tingkah laku bupatinya. sedang pesta beramai-ramai. 52. Ketika bupatinya ada di sini. semua bersuka ria. kebiasaan santri (seperti)itu. (bila hanya) mengingat akhirat. yaitu Kiai Dalem Singalodraka. bersorak gemuruh. (sehingga) sepi di negara. harus suci hatinya. meskipun saudara (atau) orang tua. [karna] aku tidak menyetujuinya. orang(-orang) kecil suka melihatnya. bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu. 51. Lalu dirubah lagi ceritanya. gamelan dibunyikan. Untuk apa banyak harta. di sini ada para ponggawa. (bersama) empatpuluh orang prajurit. bila menari [sepertinya] bergoyang disertai 274 . gagah serta tampan.

Perusuh sudah bersiap. nayaga disiram oleh air. semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya.selendang kain berbunga. sangat susah (selalu) ada keributan di negeri. Para mantri sama-sama bersorak. bila kurang senggaknya menendang dan menyepak. 275 . 54. (yang bernama) Raden Semangun. nayaga ramai senggak. diganti oleh putranya. (karena) banyak orang yang dibunuh. sampai pada ajalnya. seolah-olah marah. tiga tahun lamanya. dilantik mejadi bupati. 55. badannya sedang (dan) gagah. yang menjaga tidak kuat. 56. Ada lagi berita (demikian) ini: 57. Setelah bubar semua. menjaga para durjana. Orang-orang berkumpul di desa. dirampok oleh para durjana. (Kemudian) banyak terjadi perampokan. putranya Purwadinata. [upacara] siang malam Patih Hastrasuta berkeliling. Orang yang banyak harta-bendanya. kadang-kadang saudara sepupunya. Dalem Singalodra. lalu selendang disingkirkan. (sehingga) orang kecil sangat susah.

Serta para panglima perang.tempatnya di Bantarjati. mereka sampai tiap hari. lebih dari tujuh ratus. Bagus Leja dan Sena. Bagus Wari semua (dari) Mayahan. Bagus Rangin. Kiai Betawi itu dari Kandanghaur. bertanggungjawab di pertempuran.. para putra semuanya. 58.. Raden Kartawijaya. menjaga di perbatasan. oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan. tandu dan kendaraan tunggangan. Siang malam beramai-ramai. tidak enak duduk. 276 . Pimpinannya Bagus Kandar. Surapersanda. sedia tumbak senjata. 60. penuh sesak (karena) banyak orang. 59. (Kemudian) berunding hendak menyerbu ke negeri Darmayu. Biyawak. berkata kepada teman sesama prajurit. Lalu mereka bertarung. pribadinya pemberani. senapan dan keris. orang Kulinyar dan Pasiripis. Jatitujuh. Den Nuralim adalah saudara sepupunya. Semuanya sudah setuju menyerang Dermayu. adapun Seling Rangin putranya.

bercampur dengan (suara) senjata. adik-adik serta sepupu bupati. putra bersama saudara. memakai pakaian tamtama. 62. (mengikuti) kehendak tuan. (karena) terdapat perempuan. para ponggawa banyak yang rusak. 63.”Baiklah. Raden Wiralodra. Semua para prajurit terkejut. melihat saudaraku. Para prajurit dari Darmayu. kulitnya kuning. serta para putra.” 61. banyak orang yang melihat. (badannya) besar tinggi menakutkan. mendapat kebijaksanaan. tidak bisa menangkapnya. diperhatikan kelakuannya. melihat yang bertarung . berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning. Uwa Kartawijaya. dengan putra serta senapati. besok (akan pergi) ke Darmayu. yaitu Ciliwidara putri dari negeri Banten. Teman-teman para prajurit menjawab. (serta) bisa terbang di angkasa.“Hai saudaraku semua. Serta sampai di Dermayu. 277 . yaitu Kartawijaya. mendengar sorak beramai-ramai .” Keesokan harinya berangkat. komandannya paling depan.

lalu bertemu dengan adiknya. “Duh adinda Patih Hastrasuta. lalu bertemu dengan Raden Kerstal. Suryabrata. (Ia melarikan diri). oleh panah si Ciliwidara. musuh ini menginginkan apa. 66.” Kartawijaya berkata. Kemudian dengan ayahnya berangkat. katanya tandingannya dengan Paman Patih Hastrasuta. “Duh ayahanda sangat rusak negara. mengaku putra Kentanagara. malah putra ayahanda. 278 . berani sekali merusak negeri ini. besok (akan) saya tangkap. masuk ke keraton. dan kakak Suryawijaya. “Duh anakku. ayahnya mengeluarkan air mata.datang dengan para prajuritnya. gugur tadi. siapa nama prajuritnya?” 65. banyak yang tewas. serta putraku Kerstal. (yaitu) Den Dalem Wiralodra. sekarang ayahanda ingin bertemu. 64. Suryaputra. Ciliwidara itu. karena sangat berduka. Nyi Ciliwidara namanya. menangis di hadapannya.

pasukan ponggawa putra prajurit. menghadapi peperangan?” 70. senjata panah serta keris. terlihat sangat serasi. kanda bertanding di medan perang. Serta bendenya dipukul. Serta besok menyiapkan pasukan. musuh satu orang tentu berani. (kita) orang Dermayu. Bendera lalu dikibarkan. Kartawijaya namanya. Lalu [cepat] menantang. Lalu kemudian memeluk kakaknya. Silahkan. (aku) ini saudara yang tertua. 69. apalagi ia cantik. putra kanda banyak yang tewas. 68. Ya besok adinda saya (akan) lihat. karena didatangi oleh musuh. apa tindakan kanda. yang hendak merebut negara. dengan orang senegara. Ciliwidara mendengarnya. “Duh kanda tolonglah sekarang. seberapa berat kesaktiannya. menandingi kegagahan. mengimbangi pertempuran. Kamu tidak tahu (siapa) aku.67. gelang kalung kilat bahu . “Hai orang Darmayu masihkah berani. Tidak kuat saya. Sambil menangis memanggil-manggil. cepat berganti pakaian. 279 . sangat sakti Ciliwidara ini.

Jatuh seketika di atas tanah. “Kamu betul-betul prajurit Ciliwidara didekati. kamu Ciliwidara anjing.” Lalu berkata lantang. sombong kamu wanita cantik. Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah. karena itu cepat menyerang kamu anjing. 73. “Dasar pelacur murahan. haus akan darah manusia. Lalu ia mementang panah. karena kamu unggul. Raden Kartawijaya. tidak ada yang kalah bertarung. kalau kamu merasa lebih!” 71. yang bernama Si Belabar Geni. kalau mengenaimu. memanah tidak akan sampai kedua kali. “Hai kamu Kartawijaya. rasakan panahku. menganiaya (dan) berlaku curang. seru saling pedang. “Bersiaplah! usiamu tak kan lama (lagi).” Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena. kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki. cepat diletakkan di pinggang pedangnya. keduanya unggul. sambil berbicara. merasa gelap penglihatannya.berani(-beraninya) merusak Darmayu. kurang trampil dalam berperang. senang melihatnya. 280 . tulangnya yang kena. 72.

Kartawijaya hatinya benci. karena aku tidak takut melawanmu. serta adik patih. menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya. menemui adiknya Wiralodra.apa yang dilakukan kamu ini. 75.” Lalu Den Kartawijaya. berkatakepada prajuritnya Aku perintahkan menjaga. Karena sama-sama bertemu. tempat menghilangnya Nyi Cili. lalu [sudah] diambil. Kartawijaya. menghentakan (kakinya) di atas tanah. Setelah Ciliwidara menghilang. SINOM 1. Ciliwidara tidak kuat. bersama putranya. semua kelakuanmu. menghilang tidak tentu. dikeluarkan kesaktiannya. kakaknya dengan adiknya. sangat berat kesaktiannya. menjatuhkan diriku. Semuanya berkumpul. 74. 281 . dengan semua putranya. Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi. sambil menggerutu (di dalam) hatinya. siang dan malam. Hastrasuta namanya. harus sama-sama dijaga. IX.

282 . “Duh Dinda untung selamat. mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka. karena berkah kakanda. heran sekali Ciliwidara gagah . Oleh karena orang yang bijaksana. Kakaknya lembut berkata. Adiknya berkata kepada kakaknya. kakanda cepat datang. diterima permohonan Dinda. jika Dinda masuk. maka permohonan adinda. takdir Yang Maha Widi. hendak pulang lebih dahulu. Kakaknya lembut berkata. dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara. 5. ditakdirkan Yang Maha Mulia. rusak negaranya. tidak berniat hendak membantu adinda dalam berperang. Maka hendak melaporkepada Paduka. kepada saudara-saudaraku. 3. beribu-ribu kebahagiaan. tetapi keinginan Kakanda. 2. tidak tahu kesusahan. Barangkali beristirahatlah dulu. tetapi bahagia ditolong oleh kakanya. seperti apa keinginan (kanda).menceritakan rasa susahnya. serta para putra nya. cepat Kanda datang. karena kan lagi berperang. dinda persilahkan duduk di dalam 4.

6. Semuanya berpelukan. sedang menghadap kakaknya.” Kiai Dalem berkata. di negeri Garage.ke penjagaan kanda. “Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk. [tetapi] Dinda (harus) hati-hati. Di tempat menghilangnya. tak disangka berhasil baik. Kanda hendak berangkat pulang hari ini. 7. menjaga tempat menghilangnya. Saat itu hari Jum’at. Ponggawa (dan) saudaranya masuk ke padaleman. 8. kemudian berjalan cepat(-cepat). 283 . (harus) dijaga ponggawa. Kiai Dalem berkata lembut “Duh selamat datang Dinda. Tiba-tiba datang Nyi Jaya menghadap. Dalem Wiralodra. sambil menyembah. celaka Paduka. begitu pula para putra. “Keinginan Dinda silahkan sampaikan. Lalu masing-masing bubar. sangat susah Paduka hendak mengatakan yang sesungguhnya. (yaitu) Patih Hastrasuta. Dinda. (setelah) mendapat izin dari Paduka. lalu berjalan mengiringi sampai di pintu gerbang.” Nyi Jaya menjawab pelan.

Kiai Wiralodra berkata kepada patih. saudara-saudara saya berkumpul mendirikan tenda besar. semua kehendak Paduka. “Saya (ingin) menemui Kakanda. Saya dari Bantarjati. memang saya di bawah kekuasaan Paduka.” 12. semoga keturunanmu. tetapi saya tetap. Lalu menyembah kepada Paduka. Dinda?” 9. Kiai Dalem berkata. 10. kelak menjadi bersatu. tidak berniat mengingkari Paduka. hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku. kelak kematian saya bersaksi. serta keturunanku diterima semuanya. “Syukurlah bahagia Dinda. Sudahlah Dinda cepat mundur beristirahat di rumah Dinda.mengatakan kesalahan apa. hendak menurut (kepada paduka). sudah banyak orang datang. Darmayu hendak dirusak. sekitar seribu orang. sekarang baru kesampaian. saya akan menikuti sampai anak cucu. dan mohon (pamit). dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya. (saya) belum pulang ke rumahku. 284 . 11.

jika (mungkin musuh) harus ditangkap. mengumpulkan ponggawa. prajurit. menunggu di pintu gerbang paseban. santana. “Paduka harus mengawasi para perampok. karena Tanujiwa kakaknya.“Bagaimana kanda laporan Nyi Jaya tadi. “Karena itu Kanda Patih. keinginan paduka hendaknya diawasi. “Duh saudaraku para prajurit.” 13. 285 . 15. Tetapi siap berperang. Trunajaya adiknya. dari kampung Bantarjati. pagi-pagi para senapati harus berkumpul. Jiwasuta prajuritnya. (Setelah) seluruh prajurit (berkumpul). kemudian patih berkata. 14. Pagi berangkat dari paseban. (dan) Tumenggung Sutamarta.” Paduka lalu berkata. sepertinya musuh (akan) mendatangi. Tanujaya dengan Demang Wangsanaya. semua yang saya sampaikan. Semuanya saya yang mengatur. (untuk) bersiaga menghadapi perampok. 16. supaya timbul keberanian. para prajurit siaga serta perbekalannya. apa yang akan kanda perbuat?” Patih menjawab. serta Wangsataruna. (dan) mantri.

mahkota berwarna mas berhiaskan intan. lalu kembali dari paseban. pagi-pagi aku tunggu. rigah. Semuanya menaiki kuda. terlihat gagah perkasa badannya serta sembada. bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang. pakaiannya macam-macam. (jangan) kurang persiapan. oleh karena gagah perkasa.” Bende berbunyi menandakan semua bubar. tergantung juga ada di kiri. 19. (memakai) konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning. serta tetabuhan. para mantri. Paduka menunggangi kuda. orang kampung yang menyediakan. kanda menjadi biasa. 286 . oleh karena menghadapi perampok. tergantung keris di kanan. minuman serta makanan. Patih Hastrasuta. serta semua prajurit. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan. kelapa muda (disediakan) di setiap pintu. memajukan banyak prajurit. diiringi prajurit. (mereka) semua baru melihat Paduka. para arya. membawa pedang tumbak keris. para abdi semua sedia. 18.bersiap untuk bertarung. berangkat ke Jatitujuh. demang. 17. Bende berbunyi semuanya berkumpul.

287 . Bagus Serit berkata. serta Bagus Pangiwa. serta pamannya yang dituakan. semua senapati putra Mayahan. 20. (Setelah) semua lengkap berkumpul. “Duh putraku semuanya. (Tundalah) yang berangkat. Bagus Seling putranya. 22.beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan. seperti apa pertarungannya? Telah cukup para prajurit. 23. serta saudara dan putranya. (tersebutlah) yang ada di Bantarjati. apakah mengirim surat. yaitu para senapati. serta para senapati. pejabat di Kandanghaur. 21. aku harap bersabar. serta Raden Nuralim. didampingi Surapersanda. “Paman bagaimana sekarang. serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar. Gana Wanggana dan Jari. Bagus Rangin berkata. Bagus Serit namanya. para ponggawa sedang menghadap. dengan kiai (dari) Betawi. harus nanti hari Kamis. Ki Bagus Rangin. atau langsung diserang? Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan.

” Lalu ayahanya berkata. sepertinya sial (para) prajurit. sukur (mereka) datang. janur serta daun beringin. Ayahnya kembali berkata. 288 . serta dipasang umbul-umbul. Bagus Rangin berkata pelan. 24. perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?” 25. Setiap jembatan dijaga sebagai penghormatan kepada Paduka. maju menghadapi pertarungan. 26. kebetulan tanggalnya. anak (dan) saudaraku. pembicaraan terhenti. kira-kira hari apa.Kemis Kaliwon ini. kuda serta ponggawa. tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan. kira-kira telah jauh. peperangannya bagaimana. Dalem Darmayu datangnya. lalu jembatan dihancurkan semuanya. setiap jembatan dijaga tiga orang prajurit. tempatnya di Jatitujuh. “Betul tidak ada (halangan) anakku. mengatakan kedatangan orang Darmayu. (karena) polisi desa datang menghadap Paduka. dari utara hingga berpisah. kenapa mambawa pasukan besar? Keinginan ayahanda. limapuluh jembatan (jumlahnya). “Duh Raden bahagia bila demikian. “Bagaimana perjalanannya.

dengan temannya sesama perampok. Ki Rangin di pasanggrahan. semua berkumpul (untuk) bermusyawarah. bersama-sama mengatur siasat perang. Siang malam menabuh (gamelan). tetapi siap sedia prajurit. karena sakti dalam berperang. ramai orang menjaga perbatasan. (dijaga) tiga orang prajurit. Supaya kuda kembali (lagi). menunggu kedatangan (tamu). (yaitu) siasat merampok. dipasang tirai penghalang di air. untuk pertemuan para pejabat. senjata telah disiapkan. 29. gampang menghancurkan pasukan. (Kemudian) membuat tenda. tempatnya di Jatitujuh.27. kanan kiri bendera. Lalu para saudaranya. pada setiap jembatan. 28. semuanya siap sedia. lalu paman patih. bersiap untuk kedatangan tamu. Bagus Serit yang mengaturnya. Tundalah pasukan Darmayu itu. 289 . prajurit Hastrasuta. prajurit beramai-ramai. Usai merencanakan (siasat) penyerangan. 30. lima puluh prajuritnya. bersama Bagus Serit. Sama-sama membuat pesanggrahan. gamelannya (ditabuh) siang dan malam. Lalu bubar.

sambil menyembah serta berkata. 32. Ki Patih lalu berkata. telah jauh perjalanannya. diiringi para prajurit. di mana tempatnya itu?” Berkata prajurit (yang) tiga (orang). tempatnya berkumpulnya perampok. kedatangan Paduka …. “Diterima saudaraku. ramai (suara) gamelan Ki Rangin. siap sedia perlengkapan perang(nya). Lalu perjalanannya dilanjutkan. itu terlihat Paduka. serta sampai di perbatasan. bedil mimis dan seligi Ki Patih menaiki kuda. Semua menghaturkan hormat. saya sudah sedia barangkali diinginkan. gembira atas penghormatannya. 31. hitam legam warna kudanya. Lalu berkata Ki Patih. silahkan sekehendak Paduka. karena ini perjalanan terburu-buru. patih dengan para mantri. Serta keesokan harinya bubar. 33. dusun Bantarjati.diutus untuk memeriksa. bendera merah kuning dan putih. “Duh Paduka saya ini Karena diperintahkan menemui Paduka. tetapi nanti setelah aku pulang. 34. umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan. 290 .

tumbak perampok. 35.” 291 . Disambut (oleh) banyak prajurit. pasukan sebanyak-banyaknya. X. masuk ke dalam tenda. sudah sedia untuk berperang. terdapat pesanggrahan besar. serta menghormati. hendak menanyakan berita lalu sampaikan yang sesungguhnya. “Hai saudaraku semua. Sebetulnya hendak merusak. ramai (suara) gamelan yang ditabuh. apa tujuannya?” Bagus Rangin lalu menjawab.sudah dipacu kudanya. karena menghormat Paduka. PANGKUR 1. kemudian jembatan dihancurkan. Seperti apa pasukannya. menuju ke Bantarjati. bersorak hingar-bingar. bersalaman semuanya. Dalem Dramayu. sudah tiba di pasanggrahan. karena aku menanti perintah. 2. lalu patih memeriksa ke belakang. lalu sama-sama duduk. yang sama-sama tinggal di sini. bendera dan umbul-umbul. dibakar tidak ada yang tersisa.

” Oleh karena itu Rakryan Patih merasa telinganya seperti disebit. kalau boleh saya mencegah. Loh Rangin ucapanmu itu memalukan. karena negeri ini (akan hancur). dan tidak takut melihat. mereka saling dorong mendorong. Sudah. 292 . 6. Ki Patih keluar dari Jati. karena malu kalau mundur. menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung. “Kiai Patih Hastrasuta. akibatnya jadi rusak.” 7. akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu. Para mantri menjaga. Ki Rangin berkata kasar. Ki Rangin berat bertanding melawan patih. karena musuh ada di dalam negara. “Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara. Meskipun kecil wilayahnya. rupa oarang-orang di negaramu itu. bila kamu tidak tertangkap. dan nanti membuat sengsara semua anak cucu. (jangan) menuruti napsu. masa aku takut.3. aku tidak mau disuruh mundur. (jaga) mulutmu berandal babi. tetapi lebih berat menjaganya. 4. Lalu Ki Patih berkata. 5. karena bermaksud ingin merusak negeri Darmayu.

Dan setelah jam sepuluh. Lalu Ki Serit berkata. serentak menyerang. lawanlah (sambil) terus mundur. “Saudaraku semuanya. semuanya kalah di pertempuran. waktunya jam enam sore. jatuh terkena tumbak dan keris. seribu orang lebih tidak terlihat. 8. Karena perang dengan perampok. siapa marah pasrah tewas. Karena Patih Hastrasuta mengamuk selama dua hari ini. jangan sampai bisa keluar. “Hai prajuritku semua. 293 . sudah merasa tidak kuat. Pasiripis. 9. berkata Ki Serit. dikepung buaya mangapi. Bantarjati. kira-kira (tengah) malam saya bukakan. banyak musuhnya yang tewas.dengan Rakryan Patih. 11. orang(-orang) Kulinyar. para saudaranya maju perang. lalu serentak bertarung. bersiap mengepung saja. Biawak. ketika gelap tidak terlihat. menunggu waktu jam sepuluh. 10. dan Kulinyar bubar melarikan diri. (orang dari) Bantarjati. tidak memakai aturan berperang. Ki Rangin tidak kuat berperangnya. sekarang jangan mendesak majulah.

Lalu Ki Serit maju. 14. (Ia) berbicara di dalam hati. yang diinginkan tewas. meladeni pertempuran. kena (sasaran) lalu tewas. 16. badannya sudah hancur. Hastrasuta sudah payah. utara timur karena malam. kemudian dibawa oleh orang banyak. Serta keesokan harinya bubar. tetapi pasukan Kulinyar. sekarang pasti sudah sampai saatnya. berkumpul di pesanggrahan mereka. berganti pakaian beraneka. bertarung melawan perampok yang mengeroyok. Serta sudah waspada lalu Ki Patih ditumbak dari belakang. hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu. 13. para mantri melarikan diri. 15. sudah sewajarnya saya berbakti. sama-sama berpesta ramai-ramai. membela negara. karena tidak peduli (lalu) melarikan diri. oleh karena itu para perampok. hanya Patih Hastrasuta. Ki Serit keluar dari belakang. aku sudah tidak kuat. Tidak tahu arah utara-timur. 294 . sangat ramai karena perang sampai malam. bersorak seperti bumi terbelah. membawa tumbak [dipikul] di pundaknya.12.

sudah tiba di hadapan Paduka. sama-sama bertemu di pintu gerbang. Lalu melanjutkan perjalanannya. 17. saat ini karena sudah tewas.” 295 . tewas di (tengah) jalan. lalu masuk ke rumah. “Hai mantriku semuanya. maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung. Sama-sama bertarung di jalan. dikepung banyak orang. 20. Sesampainya di negara. dikeroyok di medan pertempuran. (lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar. serta ada yang tewas. 18. jika demikian lebih baik kalian pulang semua. lalu semua bubar. sudah sampai di negeri.” Sambil air mata mengalir deras. “Celaka hamba. Berkatalah di hadapan (paduka) sambil menangis sedih. para istri serta saudaranya. serta sudah sampai di kampung Bangoduwa.oleh karena para perandal. karena Kakanda Paduka. berkata Dalem kepada istrinya. 19. Kanda Patih terbunuh. ditembak pamayungnya (pemimpinnya).” Paduka berkata pelan. “Saat ini mendapat musibah. tidak disangka perampok datang (lagi). karena itu mantri melarikan diri.

para istri dan putra-putrinya. (Mereka) beramai-ramai tayuban. bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka. macam-macam tingkah lakunya. kanda tidak panjang umur. hasil merampok di setiap kampung. 23. meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan.” Semuanya menyanggupi. serta saudara-saudaraku cepat berangkat besok pagi ke Dermayu sudah telat perjalananku. jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok. oleh karena perampok kampung. 25. “Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku.” 22. padahal (kanda seorang) patih. ganti lagi yang (diceritakan). mengingat kesengsaraannya. masing-masing (membawa) senjata. “Duh paman saya mohon. 296 . Ramai gemuruh (yang) menangis. kepada pamannya Kiai Serit serta saudaranya. Ki Rangin berkata pelan 24. serta saudara-saudaranya. Serta keesokan harinya semuanya bubar. setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi. sambil memanggil-manggil. siang malam makan-makan. Istri serta saudaranya. berandal dari Bantarjati.21. semuanya menangis.

hendak merebut barang (dan) harta. Sepanjang jalan berjoget. ada yang memakai celana poleng jarik. Heng San. 27. Di Lobener para Cina sedia. 26. ayam serta harta benda. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa. memikul karung berisi beras. serta Nyonya Cinanya. lalu berandal merusak. keris dan komprang serta pentungan.senapan. Orang Cina (berjumlah) dua puluh. segala kelakuannya. 29. serta Heng Jin dan Tiyang Li. ada yang (memakai) celana panjang. sepanjang jalan merampok setiap dusun. (mereka) sudah sedia berani mati. masing-masing yang dimilikinya. 297 . pakaiannya macam-macam. kerbau sapi juga ikut. gobang. oleh karena jumlahnya banyak jadi berani. bersorak di jalan sambil menari. anak-istrinya di Dermayu. Babah Kwi Beng. oleh karena kelakuan pencuri. selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan. karena sama-sama gagah.. Heng Li Cina baru semuanya berani. 28. tumbak. dengan senapan di sebelahnya. sampai babi hutan. serta pedang. atau sama-sama mengenakan celana pendek. Cina babah dengan baru.

saya (berbuat) lebih baik. sekarang ini jangankan saudaraku. 34. banyak harta-bendanya. cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu. “Karena itu saya menemui.. tetapi mengingat (kamu) sahabat saya. sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh. atau berniat jahat. jika tidak melihat kamu. 32. banyak penjahat pecah kepalanya. Hanya sahabat waktu sekarang. masa hendak dirusak. hancur penjahat (dan) banyak yang mati diserang oleh para Cina. aku benci sekali padamu. ada Cina bersahabat denganku.30. 33. lalu Bagus Surasa Persanda menemui Bah Kwi Beng serta melihat(nya). 298 . 31. apa tidak ingat inti tali persahabatan?” Berkata Surapersanda. Dan bagaimana pikiranmu membuat kekacauan di negaramu ini. kan saya tidak mengacau. para Cina bertarung melawan penjahat. Semua berandal menyingkir. Serta merusak …. diserang oleh para Cina. Jarih (dan) Gana ikut-ikutan. “kok kamu menjadi berandal. Hendak meminta kerelaan teman. ramai orang melarikan diri.

35. hendak merebut negara Dermayu ini. 36. siang malam membunyikan tetabuhan. jumlah orang(-orang) itu.perlengkapan kurang lengkap. membuat pesanggrahan. Lalu Cina memohon diri. bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini. bubar (dan) berangkat ke Darmayu. Bergemuruh di Mayahan. tingkah laku berandal itu. 38. karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok. ada yang menjarah. karena banyak orang. Ki Rangin berpikir keras. sehari tiga puluh orang yang sama-sama datang maksudnya hendak merusak Darmayu. lalu ditiduri. sampai tujuh ribu orang 37. merampok (dan) mencuri uang. 299 . para Cina lalu mundur. orang kecil dirampok setiap hari . karena itu (mereka) sangat sengsara. lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya membuat perkampungan di Pamayahan. bila tidak mau lalu dibunuh. kamu membuat (orang) sengsara (dan) dirimu sendiri. (Penduduk) desa itu sangat susah. memanggil-manggil Padukanya. dengan Bagus Surapersanda. Jika istrinya cantik.

rusak hamba semua. 41. maka dihukum olehnya. para berandal (kaum) bangsawan. Memohon pertolongannya. “Aduh Tuanku panutanku. sembada. (dan tinggi) besar. dan benci kepada orang yang jahat bila tertangkap terus dibunuh. 300 . (kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia. watak[nya] Daendels itu (demikian). kerbau.39. sapi.” 40. (yang) menjarah setiap hari. serta kambing dicuri. dan suka menolong kesusahan setiap negara 42. Karena penjahat yang datang sangat banyak. hamba meminta tolong. Kiai Dalem Darmayu. 43. kalau ajudannya tidak menurut. di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak. sudah mendengar bahwa banyak berandal di daerah Mayahan. Karena itu banyak serdadunya disebar. Nama[nya] gubernur jendral (itu). tidak perduli teman sendiri. Ki Dalem menyampaikan surat. (adalah) Daendels yang berpangkat gubernur berkedudukan di Betawi sangat gagah perkasa. tidak malu menyakiti. 1808. Dengan demikian Paduka.

301 . 44. supaya bubar gerombolan penjahat ini. bupati tidak kuat sendirian. bersama dengan komandan laut.memohon gubernur memerintahkan. 45. sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati. dari Inggris asal Belanda. dengan makanan serta uang. tatacara berperang. Tuan Postur namanya. besar tinggi bergodeg dan berkumis. (oleh) para berandal tampangnya para serdadu (yang membawa) senapan. Supaya terlihat. bertanding atau belajar perang. serta sampai di Mayahan. perlengkapan (dan) peluru digotong. serta meriam ditarik kerbau. kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut. dipilih yang perawakannya sama. bupati sudah menyerah(kan). 47. supaya berandal melihat. Seratus oarang yang menggotongnya. 46. pedang serta berkuasa. karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi. pura-pura diangkat jadi bupati. Yang mana penjahat (diajak) berunding. di negeri Dermayu. Serdadu dengan tuan. Lalu berangkat diiringi tiga ratus serdadunya. serta mereka berunding. serta mengirim pasukan serdadu.

48. kekuasaannya sama. 302 . Nanti semua saudara(mu) kuangkat menjadi mantri. membawa perlengkapannya. bahwa ada serdadu datang. perlengkapan perang. Lalu berkata kepada pimpinannya. untuk berunding. (Menurut) bupati. 50.” Bagus Rangin menghaturkan terima kasih. oleh Tuan Gubernur Jendral. jika demikian lega hatinya. Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya. seperti pangkat bupati.terkejut berandal melihatnya. (yang) berkuasa di [negeri] Betawi. Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa. Tuan Deler berkata manis. Karena bupati menyerahkan. diangkat demang olehku. jadi aku diutus. 49. bila anda bersedia. bertemu dengan Tuan. negaranya kepada Gubernur Jendral. “Hai Bagus Rangin dengan hormat karena saya diutus. jurutulis. Tuan Deler menghormat kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. namaku Zwak. Semuanya berganti pakaian. 51.

karena bupati 303 . Lalu ramai tetabuhan bergemuruh. jumlah penjahat sekitar tujuh ratus. Banyak orang yang melihat Belanda. kolonel ajudan sersan dan serdadu. siang malam penjahat tayuban. suka-suka berpesta. senapan. Bila malam melarikan diri oleh karena banyak yang kurang makan. 54. celana laken. Lalu Deler mengirim surat. oleh karena mereka berjumlah banyak. sudah menerima surat itu. penjahat banyak yang kembali. kepada bupati Darmayu. 56. menghibur yang menjadi demang. Demang Rangin (dan) para mantri. baju laken (dan) topi (laken). (mengenakan) pakaian dari Betawi. Baru pejabat yang ditangkap pasukan Deler. Ki Rangin sangat gembira sekali. pedang serta berkuasa. Semuanya mengenakan laken. pesta melantik demang. sangat takut melihat persenjataannya. 53. membawa pasmen mas berkilauan. Lalu bupati mengirim surat. mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang.52. hendak merampok bendera negara. Tuan Deler bersiaga. setiap sore mengajarkan perang. diiring semua mantri. Di Kademangan Pamayahan. 55.

304 . potong leher para berandal itu. bila melawan (harus) dibunuh. suratnya telah diterima. (memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta. 59. saat ini berandal dijaga. secepatnya harus menangkap penjahat. karena sudah dipersilahkan menyertai paduka. Lalu prajurit bersiaga. yaitu pamannya sudah tewas. dibunuh oleh berandal. lalu berbicara kepada sultan. (berangkat) bersama Karta(wijaya). 58. menyiapkan perlengkapan perang. minta pertolongan. Kepada tuan komandan Belanda di Betawi. Karta dengan Raden Welang. serta anda Raden Welang.kepada Kartawijaya ponggawa sultan di Grage. Kartawijaya marah. menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya. Serta dibaca surat itu. “Jika Kartawijaya. Paduka sultan berbicara. dinda minta menangkap berandal yang dijaga. semuanya sudah disampaikan kepada sultan. Cepatlah kakanda. 57. keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende. Bila berhasil cepat diborgol.” 60. Sultan member izin. lalu berkata (dengan) lembut.

DURMA 1. 2. prajurit semuanya berangkat. “Duh dinda mas sudahlah tenang dinda.61. serta katanya. karena hendak membalas kematian. di Mayahan tempatnya. sudah siaga (untuk)bertarung. seluruh(nya) para prajurit terpilih. yang sudah wafat. adiknya memeluk (sambil) menangis. bertemu adik dan kakak(nya). semuanya sudah keluar. semua[nya] ponggawa. Prajurit sudah sampai di Darmayu. Dan membawa temannya. 305 . (ingin segera) menumbak perampok. 62. XI. 63. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar. hendak menyerang panjahat yang mengacau. dinda Hastrasuta sudah meninggal. Menangis kepada kakaknya karena teringat ia sudah tewas kakaknya menangis. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang. Lalu Den Welang berkata. tidak akan mundur kanda berperang. gembira mantri semuanya. sekarang kalian berangkat. Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu). (yaitu) Patih Hastrasuta. “Hai semua prajurit saudaraku. bersamaku (dan) kanda Karta.

Den Welang (ada di) tengah. bupati dengan kakaknya.” Lalu dijawab oleh Raden Welang. merasa dikhianati oleh Tuan Deler.sangat semangat pasukannya. menurutlah akan kuikat. serta barat (oleh para) prajurit. Rangin menyambut (karena) mendengar bahwa bupati telah tiba. “Hai aku (sudah) diangkat (demang) oleh Tuan Deler . putra selir (Pangeran) Panjunan. lengkap dengan peralatan perang. sudah kokoh barisannya. karena sudah dikepung. serta Den Welang. berhadap-hadapan bertemu dengan para penjahat. penjahat berada di tengah. karena yang di depan. mendekati berandal. 306 . Kemudian berteriak. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya. kamu penjahat. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja. Lalu sudah tiba di Pamayahan. 3. “Hai Rangin anjing kamu ini. 5. berkata dengan kasar.” 6. di selatan pasukan Betawi. 4. Utara selatan timur sudah dijaga.

Perang tertunda (karena hari) berganti malam. Banyak penjahat tewas yang ditangkap (dan) dibrogol oleh para mantri. aku tidak takut. (berandal) yang ke luar ditembak 9. tidak memakai siasat perang. Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang.”Aku tidak takut. aku tidak akan lari. “Hai kunyuk penjahat. oleh Raden Welang. Pagi-pagi bende ditabuh.” Sena lalu diikat. Den Welang berkata. setiap prajurit di tempat perang. Rangin dengan saudaranya. 10. 7. semuanya melarikan diri. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol. Di tempat perang. oleh karena berandal seperti mengepung binatang buas. sombong (karena) banyak pasukan. melarikan diri dari medan pertempuran. ditendang (lalu) terguling. oleh serdadu yang sedang berjaga. meskipun aku dikepung olehmu. (jumlahnya) sekitar enam ratus (orang). 11. takut mati kamu anjing. 307 . 8. Rangin sudah tidak ada.

13. Dalam perjalanannya. (Mereka) akanmengirim surat. Kelebihannya dibawa ke kapal semua penjahat itu. sudah disekap semuanya. 14. 308 .karena akan dikirim ke Darmayu nanti. lalu berangkat mencari. (semua) disekap di dalam penjara. Serta sudah mundur semuanya. (saking banyaknya) tidak tertampung di dalam penjara. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki. Keputusan pun sampai. 15. semuanya diperintahkan dibunuh. Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari. semua pembesar berkumpul di Darmayu. yang ada penjaranya. sudah bubar semuanya. 12. mengenai penjahat yang sudah tertangkap (dan) dimasukkan ke dalam penjara itu. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim ke Betawi. sampai ketemu. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral. Berandal (itu) lalu dipenjara. Balatentara Den Welang dan Den Kartawijaya. (kepada) jendral yang ada di Betawi. keinginannya.

Prajurit paman yang memimpin pertempuran. Hawisem dan Raden Wari 19. Jumlahnya sekitar seribu (orang). yang memimpin pertempuran. “Aduh dinda tidak disangka. prajurit Bagus Hawisem. dan Seling bersiaplah dengan waspada. sebab gerombolan berandal sudah menunggu.ada berita lagi. sangat gembira. Rangin sangat gembira hatinya. tertawa bersuka ria. berpesta siang dan malam. serta membawa gerombolan panjahat dari Luwiseheng. di Kedongdong. “Nah itu dia. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam. maju ke medan perang. Jarih. yang kembali dari pertempuran. Rangin Kandar pemimpinnya. Rangin berkata kepada para putra(nya). 309 . 17. 16. Prajuritku berhasil. Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin. Di tempat pertahanan Kartawijaya dan Raden Welang. 20. kanda bertemu dengan dinda.” 18. Gana. maju berperang.

bertahan di medan perang. “Siapa ini di hadapanku. lalu dikejar dengan berani. Raden Welang maju. 310 . 21. prajurit di depan. berani ke medan perang. memandang Hawisem (dan) Wari. penjahat sudah siaga mengatur pasukan dipimpin (oleh) Bagus Rangin. karena aku tidak kenal. Tumenggung Nitinegari.” “Prajuritnya Rangin yang menyambut kamu ini. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran. keroyokan karena tidak terlihat. Rangin Kandar turun. 24. Den Wari nama(ku). bertemu di medan perang. (bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong. karena banyak yang kalah oleh Den Welang karena berani bertarung. 22. dipegang ……. Pertempuran di medan jurit. Raden Wari tertangkap. Lalu berjumpa dengan Kartawijaya. 23. Prajurit Luwiseheng pun turun. tidak patuh dalam pertempuran. dengan Den Kartawijaya.ternyata ada yang menyusul.” Di tempat pertempuran ramai.

(dan) Hawisem lari. Ki Sena (dan) Surapersanda. 28. 27. dan Sena diikat. semuanya tidak ada yang tertinggal. (serta) Raden Welang tidak ketinggalan. Leja dengan kawan-kawannya. Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya. pondokannya kosong. tidak menemukan (siapa-siapa). sama-sama mengejar penjahat. (yang) ada (di) negeri Garage. “Hai anjing penjahat. Pondokan para penjahat dibakar.” Segera dirantai. 26. Den Welang berkata. ke negeri Darmayu. gadis cantik dibawa. Handa. kepada teman sultan. XII. orang(-orang) desa kesusahan. Kandar. ramai oleh yang berperang. berlari ke barat. dirantai (dan) dikirim. kasmaran yang melihat. diborak-barik setiap perkampungan. Rangin. tiba di Bantarjati.gerombolan berandal. menuju arah barat. 25. KASMARAN 311 . Banyak berandal yang mati ditembak oleh serdadu. Surapersanda sudah tertangkap.

sampai Gumulung. Pengambiran. anak istri sama-sama sedih. tiga bulan perjalananannya. Cipedang. Cipanculan. sangat sedih. Tersebutlah yang melarikan diri Ki Rangin. tiba di Dulang Sontak. pemandian bupati di sebelah barat. Sebelah barat menyeberang kali Cilalanang. sangat sengsara hidupnya. Bila diburu (lagi). Cibenuwang. Lalu berkata perlahan.istri(nya). 4. berbelok-belok perjalanannya. dan di hutan Cikole. tiba di Cigadung. Legok Siyu. melihat anak. “Duh anakku nanti. 2. kepada semua anaknya. dan Leja. Menangis sepanjang jalan. 5. di Purasu. Serit. di tengah hutan (yang) luas. pernah menyeberang Kuceak. Benggala di Luwung Dinang. menyeberang Cipunegara. dengan Cilege. 3. Radensrang.1. dengan Kandar Handa kelak membawa anak istrinya. berkelana di hutan-hutan. 312 . Ciwidara.

di rawa yang bernama Citra. berjalan terus di hutan-hutan. memasuki hutan. 8. sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya. dan disamakan namanya. Kemudian menemukan pelataran luas. Pernah membuat perkampungan. 313 . sungai yang deras airnya. 9. Karena para istri. menguras ( sungai) mencari ikan. lalu bersama-sama memasang tenda. serta membuat sawah. dengan yang dibuat Ki Rangin. tiga bulan perjalanannya. Rangin setiap hari. sangat jauh letaknya. kesenangannya itu. Ki Leja setiap hari. 6. dinamai Dukuh Citra. Menanam pepohonan.sangat subur tanahnya. rawa besar banyak ikan. serta menjangan. Ayah akan membuat ladang supaya didatangi (orang). membawa kijang bila kembali. sebelah barat sungai Cigadung. terlihat sangat sengsara. berjalan di pinggir jurang. luas halamannya. Beramai-ramai membawa makanan. dari tengah hutan. 7.

dengan saudara serta ayahnya. Tegal Slawi namanya. lalu sama-sama setuju. membuat . membawa teman tiga puluh. dua taun lamanya. Dinamai demikian. serta datar tanahnya. tempat para penjahat. Ki Gede yang berada di Pecung Kiai Wangsakerti namanya. hendak mencari negeri jajahan. yaitu Aji Pengabaran. disebut (demikian) sampai sekarang. 13. karena menemukan tempat luas. Lalu Ki Rangin membaca mantra. dinamai Cihakur. kelak bekas Ki Rangin bila berkumpul. 10. Jatilima namanya. hendak mencari tempatnya.sebuah (yang bernama) Jatigembol.. Lalu semua sudah setuju. 314 . di sebelah barat laut Suba(ng). 12. menuju selatan arahnya. memerlukan tempat luas. keduanya distrik Pamanukan. panjang lebarnya luas. letaknya di Cigadung. 11. 14. Di perbatasan distrik Pegaden.. sudah tiba di Citarum besar.

315 . Serta sudah banyak orang. saudara serta teman-teman. untuk menyambut perang. hendak mengadu kekuatan. Lalu membuat surat. di antara orang banyak. pesta makan-makan. supaya siaga sekarang.pikirannya sudah nekat. hari apa maju bertempur. beramai-ramai siang (dan) malam. karena saudara keinginannya. tanda saya bijaksana. yang akan ikut berperang. melihat pesanggrahan. setiap hari orang datang. Lalu Rangin berkata lembut. 18. lebih dari seribu orang. Semuanya menjawab. sudah membuat sengsara. 15. karena tinggal menunggu waktu semuanya siap. yang menjadi tujuan. dikirimkan ke Desa Pecung. Menangtang perang. 16. lebih baik aku membuat surat. 17. sangat mujarab sihirnya. kepada teman dan saudaranya. apa ingin mengungguli menggempur orang keturunan Pecung. seperti apa keinginannya. lalu ada yang mengikuti. apa keinginanmu.

dengan penjahat (dari) timur. 22. 23. 21. Surat lalu dibaca. dalam sekejap datang utusan itu. Ki Wangsakerti berkata. Demikianlah Ki Wangsakerti. serta berkata kasar. ada penjahat. karena sudah mendengar. 316 . dengan saudara (dan) anaknya. Jajabang Grudug terlihat. sanggup mengadu (kekuatan). “Hai kamu Krudug. para senapati juga. 20. tiba di hadapannya. Ketika sedang berbincang-bincang. dibaca di dalam hati. berandal berasal dari timur. serta putra Sindanglaya. dengan penjahat dari timur?” Semuanya menyanggupi.19. di tegal (sebelah) selatan Subang. apakah sekarang sanggup bertarung. buronan negara. Atau kamu anakku Jaka Patuwakan. pelayan yang bijaksana. hendak melawannnya. Lalu berkumpul. sudah menyampaikan surat. Dulang Sareh namanya. surat lalu diterima.

Dulang Sareh berkata pelan. Lalu Dulang berpamitan. serta gagah sentosa. “Bagaimana Dulang Sareh. sudah tiba di hadapan Paduka. hendak melawan orang Sunda 24. malah banyak prajuritnya. akan mantra sihir (pada) kamu. 25. cepat-cepat berjalannya. yang berada di [tempat] pesanggrahan. “Anjing cepat kamu mati. Ki Gedeng Pecung iti. lalu katanya. anjing Sunda membelalaki. menanti kedatangan paduka. anjing kamu. jangan banyak bicara kamu. Grudug mendengar (yang) mengumpat. 317 . serta tersenyum (dan) mengumpat. sudah siaga (dengan) pasukannya. matanya jelalatan. saya siap menyambutmu.” 26.“Kamu anjing timur. pergi. sampaikan pada tuanmu. bagaimana suratku?” 27. Dulang Sareh lalu pulang. tebal tipis urat tulang. hari apa yang pasti. Jawa Timur rasakan aku. Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya.

perasaannya seperti Singalodra. Lalu sudah terdengar. 31. menjadi pemimpin perang. lalu semua sedia. apakah kamu Wangsakerti. termasuk distrik Subang. melawan Ki Gedeng Pecung. 30. Bende dipukul terus-menerus. 29. prajurit Rangin pun siap. pasukan Rangin banyak yang mati. ramai perang dengan penjahat. tidak kenal (orang) Jawa Timur. Leja maju bertarung. serta Kiai Gedeng Grudug. barisan penjahat (dari) timur. karena perang penjahat. bertemu dengan Ki Gedeng Grudug. bendera cepat dinaikan. Ki Leja lalu bertanya. Lalu maju prajuritnya. berani melawan bertarung denganku. Patuwakan Majalaya. 32. Di daerah Tegal Selawi.28. semuanya menyanggupi perang. sedia untuk berperang. Lalu berkata Ki Rangin kepada Kiai Serit serta saudara-saudaranyanya. Bergemuruh pasukan Rangin. 318 . dengan barisan pasukan Pecung. bersorak bergemuruh. “Hai siapa (orang) Sunda ini.

aku senapatinya, namaku Gedeng Grudug, yang akan mengikatmu. 33. Buronan negara, di timur sedang dicari. Ki Leja menyerang, sama-sama saling mendorong, ramai pasukan yang bersorak, pasukan Rangin dengan Pecung, bertemu lawan di pertempuran 34. Jaka Patuwakan, melihat kakaknya bertempur, tidak ada yang kalah dan menang, lalu cepat maju, menggantikan berperang. Leja bertanya, “Hai siapa yang menggantikan perang, 35. berani kamu babi?” Aku Jaka Patuwakan tidak teliti melihatnya. yang bertarung saling mengejar, ayo gantian lawan aku, aku ingin merasakan, mencambuk kamu orang timur.” 36. Lalu menyerang (dengan) berani, Ki Leja cepat mengayunkan pedang, tidak berhenti memedangnya, terus menerus menggunakan pedang. “Hai kamu Patuwakan, betul-betul prajurit tangguh, serta kamu masih muda.”

319

37. Patuwakan berkata perlahan, “Duh Paman Leja seperti orang serakah anda, memakai pedang tanpa aturan, ke bawah ke atas gerakan pedang, kamu itu bukan prajurit, betul-betul penjahat urakan. 38. Jaka Patuwakan, merasa tidak sabar melihatnya, Leja didesak perangnya, tertutupi penglihatannya, lalu cepat ditangkap, digendong tidak berdaya, Leja tidak bisa bergerak. 39. Sambil menangis memanggil-manggil, “Ampuni paman, Patuwakan, sekarang paman tidak berani.” Lalu dibawa oleh prajurit, Kandar maju perang, pemuda yang sakti dan unggul ini Kandar saudaranya. 40. Cobalah lawan aku, sudah saling berhadap-hadapan, dengan Patuwakan, di tangannya terpegang senjata. Tidak kuat Bagus Kandar, terpukul rotanwulung, terguling di atas tanah. 41. Sambil menangis memanggil-manggil, “Aduh Bagus ampuni paman, sekarang paman tidak berani,” lalu Kandar diikat.

320

Matahari pun terbenam, mundur pasukan Pecung, sambil membawa tawanan. 42. Berkata ki Wangsakerti, “Hai anakku semua, besok saya maju, Jigjakerti Majalaya, supaya maju perang, melawan Rangin kamu ini.” Jigjakerti menyanggupi. 43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu, pasukan Pecung banyak, demikian juga pasukan Rangin. Kiai Serit berkata, “Apa yang harus kulakukan?” Ki Rangin lalu berkata, ayahanda jangan kecil hati. 44. Sekarang ananda pamit, hendak maju bertempur. Ki Serit memeluk putranya, menangis sambil berkata, “Duh anakku yang kusayang, kita serahkan kepada Yang Agung, semoga unggul di medan perang. 45. Lalu Bagus Rangin maju, menantang di medan perang. “Hai ini Rangin namanya, sambutlah di pertempuran, sambil berebut bertempur, tidak apa aku tewas, itulah tujuan hidup laki-laki.

321

46. Lalu maju Jigjakerti, Ki Gede dari Majalaya, sama-sama sudah bertemu. Lalu Rangin bertanya, “Hai yang maju bertempur, gagah besar serta tinggi, namaku Jigjakerti. 47. Dan ini Majalaya yang akan melawan kamu, kesaktian(ku) sepadan denganmu, terbuat dari kulit (dan) tulang keras. Lalu bertempur seru, Ki Rangin sudah menangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya. 48. Majalaya diikat(nya) oleh tentara Rangin, Ki Grudug maju perang, saling mendorong perangnya, Grudug lalu ditangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya, lalu cepat diikat. 49. Pasukan Pecung dengan Rangin, bersorak seperti bumi terbelah, tertunda karena malam, semuanya pasukan bubar, lalu membuat pesanggrahan, Ki Serit lalu menemui, setelah putra(nya) datang. 50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti, sangat susah hatinya, putra keduanya kalah, tinggal seorang putranya,

322

putra (yang bernama) Patuwakan, “Duh anakku, apa yang harus kulakukan? 51. Sial terkapar di medan jurit, Rangin sangat sakti sangat kuatir diriku, karena masih muda, Rangin gagah perkasa. Tunda yang dikisahkan, (terdengar) ramai di luar. 52. (Karena) ada pasukan yang datang, dari utara sangat banyak, Ki Wangsakerti terkejut, (karena) tidak disangka musuh datang. “Duh anakku (belahan) jiwa, apa yang harus aku akukan.” Kemudian ada mentri datang 53. memberikan surat, (lalu) diterima, menggigil (tangannya ketika) menerima surat, disangka musuh yang datang. Surat segera dibaca, isi suratnya, dibuka lalu dilihat, jadi gembira hatinya. 54. “Surat dikirimkan kepada adik, yang sedang bertarung. Kanda Wangsakerti sekarang, sudah (jangan) dijadikan pikiran, dinda tiba secepatnya, tidak dengan kabar tadi, (karena) keburu mendengar berita.

323

55. Bahwa kakanda menghadapi perang, dengan buronan dari timur. Dinda nanti menjaga. Surat (dari) keluarga di Darmayu, oleh karena dinda memohon ikut meneruskan perang. 56. Dinda mohon kabar menunggu izin kanda, sungkem Dinda yang menanti, Setrokusumah, Dalem Pegaden.” Ki Wangsakerti tertawa, “Aduh gembira sekali anakku. 57. Kamu Patuwakan, cepat bersamaku ikut menyambut, Adinda Bupati Pegaden.” Lalu bubar dengan kawan-kawannya, (untuk) menemui tamu itu, bertemu gembira sekali, bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk. 58. Lalu berkata Wangsakerti “Duh selamat datang, Adinda Dalem dari Pegaden, kanda memohonan (agar) bertemu, diterima permohonan(ku). Bagaimana pertarungan (dengan) buronan dari timur?” 59. Wangsakerti berkata perlahan, “Sangat gembira hati kanda, kedatangan dinda sekarang karena (hendak) maju berperang.

324

pemimpinya yang ke luar, malah aku dan anakku, sama-sama ditangkap (lalu) diikat. 60. Silahkan dinda maju, cepat tangkap penjahat.” Lalu bupati berdandan, mengenakan pakaian kebesaran, tampan gagah perkasa, memakai tutup kepala dari sutra ungu, dihiasi intan (dan batu) mirah. 61. Kerisnya tergantung, terlihat ada di kanan. (Ia) berkata kepada mantrinya, “Hai mantriku semua, cepat atur barisan, pegang dengan kuat senjatanya, aku akanke luar untuk berperang. 62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin. Seperti apa rupanya, pekerjaannya merusak orang banyak, orang kaya dicuri.” Karena Jaka Patuwakan, maju ke depan, menyembah ke hadapan Paduka. 64. Lalu berkata perlahan, ”Mohon maaf menyampaikan berita duka. ayahanda sudah keluar sekarang, mulanya ananda belum berangkat, menandingi Rangin bertempur, mudah bila ananda sudah kalah di pertempuran.”

325

“Duh Dinda betul (kata) ananda. Wangsakerti menyambung (pembicaraan). (mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang. Anaknya mundur dari hadapannya.” Bupati berkata manis.65. Sementara jangan dulu maju sekarang. permintaan ananda. prajurit Rangin. “Hai anakku sekehendakmu. Kemudian Ki Rangin menyambut(nya). 3. harus dituruti. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang. pasukan bersiaga bersorak seperti prahara.” Demikianlah sudah terdengar. kuserahkan kepada Yang Sukma. Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan. Lalu Ki Rangin bertanya. hendak maju ke medan perang. 326 . Jaka Patuwakan menantang. XIII. bende ditabuh bertalu-talu. oleh perwira Rangin. 2. “Lawanlah (aku).” Lalu Patuwakan menyembah. ke hadapan ayahanya. 66. Karena aku mengizinkanmu. DURMA 1. “Kamu siapa anak muda maju perang? Sayang sekali masih muda. anaknya Wangsakerti. (dan) berhadap-hadapan.

jangan kamu yang maju . lawan saja aku. Rangin lalu menendang. yang berperang mendapatkan lawan bertarung. bermusuhan denganku. Jaka Patuwakan. “Hai anakku berhenti dulu. 5.Wangsakerti Yang harus disuruh melawanku. serta berkata kepada putranya Patuwakan. Rangin bertanya. Patuwakan melawan. bertempur dengan musuh Rangin. Karena ramai yang saling dorong. ujung senjata.” Patuwakan menjawab 4. Rangin (dan) Patuwakan. “Siapa yang menggantikannya kamu prajurit yang gagah seperti …patih. Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang. ramai pasukan yang bersorak. 6. Nanti dulu. 7. Dalem menggantikan. Patuwakan agak letih bertarung. ayahanda yang maju. karena sama saktinya. keduanya memegang keris. Dalem maju berperang. jatuh terpelanting.” 327 . seperti apa kesaktianmu?” Lalu Rangin menangkap.

aku yang menjaganya yang baru bertemu ni. Cobalah maju. seumur hidup mengacau. Lalu membentak Rangin berkata kasar. melihat kamu ini. namanya Wiralodra. Mundurlah akan kuikat. Rangin kan tidak gila. Karena aku masih saudara Dalem Darmayu. hendak menangkap kamu ini. 328 . hendak mengikatku. untuk memberi makan anak istri. syukur (aku) gembira. pekerjaan(mu) mengganggu orang. 10. anjing penjahat babi.Dalem lalu menjawab 8. “Dalem Sunda kamu ini. setiap desa dijarah. mengakunya ningrat. lalu menerjang dengan berani. 9. yang menjadi penjahat. aku Setrokusuma. aku tidak takut.” 11.” 12. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden. dari Darmayu dahulu. buronan negara. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden. yang mencari buronan Rangin. Tidak malu (punya) muka seperti kamu.

Lalu maju Ki Serit pertempuran.” “Wangsakerti kamu ini. melihat pemimpinnya. sama-sama kakek. dan kamu siapa?” “Namaku Ki Serit. betul kamu. “Hai Serit. mari mengadu senjata. yang bernama triwikrama. “Kebetulan Serit bertarung denganku.” 15. Lalu maju saling menangkap yang berperang. Lalu membaca mantra. jika kamu prajurit sejati. tua dan kakek-kakek. Wangsakerti ke luar. “Siapa yang maju bertempur?” “Akulah Wangsakerti.” 16. 14. karena sama saktinya.ereka saling mendorong. 329 . ayo maju. (yang akan)melawanmu. berubah menjadi anak gunung. untuk apa maju perang. Setrokusuma. cepat maju. Rangin dibanting meghilang. Lalu menangkap (Rangin). Pasukan Pecung dan Rangin ramai yang bersorak. Tidak ada yang kalah bertarung. 13. Wangsakerti dan Ki Serit.

330 . mengadu senjata. melarikan diri ke Karawang. 21. Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu. musnah tidak menentu. seperti memanggil-manggil. Serit sering terjatuh. gerombolan penjahat. 19. kacau orang banyak. Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal). Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma. 20. Ki Rangin sering terjatuh. Dalem Setrokusuma mengamuk.tusukkan ujung keris(mu)!” 17. (lalu) diikat balatentara Rangin. perang sendirian (tanpa)pasukan. Rangin melarikan diri. Bagus Rangin meninggalkan pasukan. terguling di atas tanah. dengan Patuwakan. pasukan Rangin menyerang. kumpul menjadi satu. Serta sudah sama-sama bertemu. pasukannya banyak yang tewas. Ki Serit menghilang. sama-sama bergumul bertarung. “Hai Serit takut mati!” 18. [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata. Lalu melarikan diri. mengadu senjata tajam. berssama-sama menumpas tentara Rangin.

kan tidak tertangkap. Ki Serit dan Rangin. Sudah berangkat buronan negara. Anaknya berkata. seperti bercampur (dengan) setan. Grudug Majalaya. Leja dan Kandar.” Kiai Dalem berkata lembut. (ketika) menyebrangi Citarum. 331 . Wangsakerti dan dalemnya. masalah berandal. 25. ke mana arahnya?” 23. sangat besar kesaktiannya. (kepada) Gubernur Jendral. disertai mantri. diputuskan rantainya. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya. menghilang Serit dan Rangin. lalu melompat. karena buronan negara. Bagus Leja. menjadi satu. “Entah ayahanda ke mana mencarinya. “Hai Kanda Wangsa. 24. 22. Saya kirim ke Betawi dua berandal.” Keduanya diikat dengan rantai .Gintung (dengan) Patuwakan. menghilang tiada tentu. “Ananda dengan adinda. Leja akan dikirim. berdasarkan perintah. dikirim ke Betawi. gembira hatinya.

Surakerti. di Darmayu berkumpul. empat orang mantri. 332 . melaridiri semuanya. 26. yang membawa sangat bingung. (yang bernama) Jigjakarta. 28. Adapun yang ke timur. buronan dahulu. SINOM 1. Sangat susah (karena) tahanan hilang semua. Sesampainya di negara. Leja. Dikisahkan hilang di dalam laut. dengan Dén Ngelan. banyak yang menuju barat.menyelam di laut. Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut. terhadap paduka. Bagus Kandar berlari. (dari) Rangin. dari negara Pegaden. (dan) Serit keturunan. Den Karta berkata. mantri berjalan tak tentu arah. penjahat yang lari. hendak kembali sangat takut. Jayamanggala. menghilang di dalam hutan. dan Jayakerti. Begitulah perjalanan Karta. Kandar. XIV. keturunan para ningrat. 27. tahanan masuk hutan dan laut.

Den Karta dan Den Welang. kepada Gusti Sinuhun. “Semoga dinda mengizinkan kanda pergi. jangan menangisi kami. 3. “Kanda patih (telah) wafat. 4. kanda bawa semuanya. “Duh Dinda bupati. serta para prajurit. Kangjeng Sinuhun di Grage. “Duh Dinda betapa lamanya. kanda yang memerintah di sini di negeri Darmayu”. Berjalan menuju arah selatan.” Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan. (Sambil) memeluk (dan) menangisi.” (Sambil) memeluk adiknya. nanti kanda meminta izin. menangis memanggil-manggil. seperti terbuka hatinya mendapat wahyu. anak dan istri adiknya. hati-hati dinda ditinggal. lalu melanjutkan perjalanannya. “Kanda kembali bukan … dan dinda mulia di sini. dengan dinda Den Welang. air matanya keluar. 2. Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi 5. hendak pergi sekarang ini. sampai di pintu gerbang. semuanya menangis. 333 . tidak baik (karena) menjadi bupati.kepada saudara-saudaranya.

tidak berani melanggar. perintah dari gubernur. yang menjaga tadi. Karena ini dilarang. jika demikian percumah aku menjaga.sampai ke Palimanan.” 334 . saya hendak melihat. 6. lalu bertanya lembut. Menurut pesan komandan. Raden sudah tiba. 8. entah apa isinya. “Aku menahanmu sobat. seperti apa rupanya. Raden bersama-sama datang.” Den Welang berkata “Hai teman aku memaksa Sersan menjawab.” Raden berbicara lembut. hendak saya buka. Raden ini dijaga. Kartawijaya diajak singgah. “Permisi kawan yang menjaga di Palimanan. 7. kepada kompeni itu. sumur ditutup rapat. apa maksudmu. Ada serdadu yang menjaga. Permisi sahabat (sumur) itu. apa isinya ini. tidak ada yang tahu isinya ini. dengan Raden Welang.? Lalu masuk den Karta dengan Den Welang.” “Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan. bila tidak ada izin Paduka.

Lalu menghadap Gusti Sultan. (mengenai) Séna Surapersanda. bergerak (mendekati) benteng. semuanya disampaikan. 335 . Raden Welang hendak memaksa. didorong keluar dari pintu gerbang. lebih baik segera pergi. Lalu ditutup bentengnya. kanda yang memburu tahanan itu. yang dilemparkan oleh serdadu. Lalu melanjutkan perjalanannya. membuka tutup besi. Berkata Raden Welang “Hai saudara (dan) prajuritku.9. Karena itu sersan kumendan. 10. Raden Karta sudah menangkap. Serdadu segera menahannya. semua serdadu cepat memasang meriam. perjalanan para penjahat. pasukan Raden Karta. Gusti (Sultan) berkata pelan. Lalu menulis surat. sudah kamu jangan menemani. 11. 12. menghilang dari penjara. lapor ke Betawi. banyak serdadu yang tewas. Kacau para prajurit. yang berada di loji Palimanan. sangat kesal hatinya. Seharian bertempur. hingga tiba di negeri Grage. menangkap Den Welang.

14. 13. untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral. lalu cepat dibuka.” Suratnya karena sudah diterima. empat puluh (orang) yang terpilih. kemudian surat dibanting. serdadu banyak yang tewas. cepat-cepat berjalannya. permisi Paduka saya hendak berangkat. 15. “Hai ajudan (dan) letnan. berada di rumah Nihaya. kepada Sultan Cirebon. Sudah tiba di hadapannya. 336 . bawalah suratku ini. tangkap ponggawa itu. dari sultan Cirebon. surat sudah disampaikan kepada Paduka. meminta supaya pengacau ditangkap. 16. “Loh babi Cirebon anjing. yang merusak Palimanan. Sudah ke luar dari pintu gerbang. Di loji Palimanan. dan bawalah tentara.suratnya telah dibawa. serta beliau berkata. kepada ajudan dan letnan. sediakan pekakas perang(nya). untuk Sultan Cirebon. kurang ajar kalian!” Lalu cepat membuat surat. serdadu yang membawa.” Dibungkus suratnya. Raden Karta dan Den Welang.

Gubernur Jendral yang meminta. berkata Kangjeng Sultan. Si Klewang dengan si Dumung. memperkokoh aku tak bisa. malahan negaraku. surat lalu diterima. menuruti Yang Widi. (dan) sedia pekakas perang. Cirebon ini. Tetapi jika kesultanan. dipaksa supaya taluk kepada Mataram. kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu. sudah pasti (takdir) dari Yang Agung. Karta dengan kamu Welang. Malahan surat sampai sekarang. karena berkomplot. 19. 18. belum dibalas. Secepatnya sudah tiba. Aku tidak berani (kepada) jendral. 17. Lalu cepat diterima. Besok datanglah ke Betawi. tanyakan keinginannya. “Den Welang dan Kartawijaya. (yang) ada (di) Betawi. oleh Paduka Sultan. 337 . dengan sultan di Mataram. negeri kami tidak kuat melawan peperangan. Suratnya sudah dibaca. dan ini berikanlah bersama wasiatku.mengumpulkan prajurit.

Lalu menghadap [Paduka]. mereka yang didakwa. mohon izin Paduka. Paduka (saya) minta izin. karena aku belum (menuruti). merangkul kedua ponggawa. sudah tiba di Betawi. Den Welang dengan den Karta (berkata). Diceritaan perjalanannya. 22. (Sultan) turun dari tempat duduk. Lalu sersan berkata. Cepat-cepat di perjalanannya. dijewer telinganya. hingga tiba di Dalem Agung.” Lalu sultan berkata kepada sersan. sudah dikisahkan dahulu.dengan tulus di dalam hati.” lalu keluar ponggawa cepat dibawa. 21. XV. perjalanannya pasukan jendral. kepada Gubernur Jendral. PANGKUR 338 . “Baiklah. mengamuklah di Betawi wali membela kalian. deras keluar air matanya. “Hai ponggawa Betawi permintaan gubernur ini. tidak dikisahkan di jalannya. “Sudah selesai perintah. kedua ponggawa ini. memang dariku (timbul) kemarahan jendral 20.

“Hai Tuan Gubernur Jendral permisi saya hendak menjawab. 4.1. apakah kamu berani kepadaku? Akulah Gubernur Jendral.” 339 . Lalu cepat berkata. apa kamu tidak kurang pendengaran?” Karta dengan Raden Welang tertawa (sambil) berkata. dan sampai Betawi. memalukanucapan pimpinan jendral. Sebelum aku periksa kemarahannya seperti orang gila. tidak memakai tatakrama. karena aku hendak menyerahkan nyawaku. (itu) karena berkat Sinuhun Mataram. 3. “Lho anjing binatang gila. “Letnan dengan sersan. kekuasaan Paduka besar. datang Tuan Gubernur Jendral Betawi. khalifatullah yang adil. Sudah ada di hadapan Paduka. sembrono pimpinan jendralnya. 5. Bagaimana perintahku padamu?” Berkat Tuanku. kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda. meliputi tanah Jawa. diangkat ponggawa olehmu. ini ponggawanya. Tetapi kelakuanmu ceroboh. 2. disuguhi makian. (yang) berkuasa di Pulau Jawa.

Lalu kedua orang itu dipasangi. aku pukul hingga mati. 9. 6. berani membunuh serdadu sampai mati. karena pasti bakal mati. tetapi kamu tidak adil. Sekarang kamu terima. lalu pasukan berbaris. lima lusin meriamnya. karena kamu melanggar. apa keperluanmu berani berbuat itu. 10. tidak (mau) melihat mereka ditembak. Semua pasukan militer. Lalu Jendral berkata. “Hai ponggawa aku ini terima salah. 8. (Prajurit) bangsa Belanda. sampai tiba waktu keduanya dihukum. Karena bingung menjadi terdakwa. (ingin) menuruti emosi. 7. keduanya mengamuk kepada Belanda. (tetapi) dirasakan kurang etis. Den Karta dengan Den Welang. di benteng Palimanan. Kiai Kuwu kasihan melihatnya. aku terima [dadi] kehendak Paduka. Lalu dibawa ke luar. silahkan apa yang hendak dilakukan. hukuman militer bangsa Belanda. (tepatnya ke alun-alun) Betawi. berpangkat ajudan sersan memburu.Gubernur Jendral sangat malu. 340 . lalu merasuki jiwanya.

” Lalu dipasangkan. tewasnya Raden Welang. (beris) peluru intan pusakanya. Den Karta melihat. hasil pekerjaanmu merusak negara ini. diambil mayatnya oleh para pasukan jendral. sangat susah balatentaranya banyak yang mati. Sudah menjadi kepastian. dari belakang yang dituju. 14. kematianmu ada di Betawi” Lalu Gubernur Jendral. lalu memburu pasukan jenderal itu. 11. musuh bijaksana. sampai mati di atas tanah. dari (raga keduanya). Di Betawi sangat kacau. Lalu keluar kakek kuwu. terlihat dibakar. lebih (dari) seribu (orang) yang mati. “Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini. Raden Welang pemimpinnya. melihat pasukannya rusak. 341 . karena perang dengan teman sendiri. tidak jelas melihatnya. banyak temannya yang bertarung. Banyak yang rusak pasukan jendral. Lalu mengambil senapannya. 12. 13. “Hai orang Cirebon anjing kamu.diserang (sehingga) banyak yang tewas. sudah cukup dibela. bingung balatentara jenderal.

Orang-orang geger. pasukan laut (dan) pasukan darat. 17. (kemudian) membuat pesanggrahan. Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon. Bawalah tiga kapal. sekarang kamu bersiap.Gubernur cepat memasang (senapan). Si Kelewang dengan Si Dumung. balatentaraku rusak. 16. pasukan militer mundur. 15. (akan) kuminta daerah Kasultanan Cirebon. sangat susah balatentaranya rusak. Sersan ajudan keluar. lalu mayat Kartawijaya itu diburu (oleh) jenderal. mayatnya menghilang musnah. sudah menyeberang ke daratan. untuk mengganti kerusakan tentaraku. 19. 342 . kira-kira tujuh ribu (jumlahnya). pendeknya aku tidak terima. Tetapi Tuan Gubernur. terkena lalu tewas. lalu ia berkata kepada ajudan (dan) sersan. persiapkan perlengkapan perang. “Aku tidak terima balatentaraku rusak. serdadu militer yang terpilih. letnan kolonel ajudan lalu berbaris. Keris pusaka menghilang. 18.

Lalu gubernur berkata. Ramai yang bertarung. (para) pangeran maju perang. Balatentara jenderal bubar. (sehingga) daratan tidak terlihat. semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram). 22. sampai ke tengah (laut) kapalnya. “Orang Cirebon lawanlah. Gubernur Jenderal (ingin) melihat. bila balatentara pangeran berbaris. pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon. semua maju ke medan pertempuran. menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun. serta Pangeran Logawa.” Lalu memerintahkan pasukan. mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram). Radén Pekik dengan Dul. 20.karena Sultan sudah mendengar berita. Sultan lalu berkata manis. balatentara pangeran berbaris. menaiki kapal berlayar di lautan. untuk maju berperang. (pasukan) Kacirebonan bersiap. lalu menyebrangi pelabuhan. lalu bersiaga. Serta bertemu dengan Sultan. 23. Pangeran Mertasinga dengan (Pangeran) Panjunan menghadap Sultan. 21. (yaitu) Pangeran Suryakusuma Martakusuma. 343 . Serta Jendral melihatnya.

ada apa anda menangis?” Berkata Gubernur Jendral. senapati. Terkejut sultan melihat. “Selamat datang saudaraku. karena hendak menyerang negeri Cirebon. lalu memerintahkan tumenggung. secepatnya menghadap Paduka (karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram. pangeran. orang Mataram tiba. adapun negeri paduka. 27. tamtama. Kanjeng Sultan sangat sedih. karena paduka sudah lama. datang di hadapan (sultan). Lalu sultan berkata. menjadi sultan. (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya (dan) Kanjeng Pangéran Natabumi. sepertinya membawa perintah.” “Saya berkata yang sesungguhnya. Metaram Broboya. 344 . Saya mengemban tugas sinuhun. diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram). Natabumi (dan) Buminata. diceritakan seluruh (kejadian)nya. hingga tiba di jalan belakang.“Hai saudaraku Jendral. 26. 24. dari Mataram semmuanya sudah tiba. mendengar cerita gubernur. untuk mengumpulkan pasukan. 25. Semuanya bubar. sudah tiba di negara Cirebon.

” Pangéran Probaya berkata. untuk saudara-saudara paduka. saya melayani. (saya) akan serahkan. Serta paduka turun tahta. berangkat kembali ke negeri Mataram. saya siap berperang. 30. seluruh prajurit Paduka. perintah dari Paduka Sinuhun Mataram. (apa) yang disampailan Paduka. menerima santunan serta diberi tanah. karena negeriku Cirebon wilayanya kecil. (merupakan) upetinya itu. tiga ribu pemuda dengan paduka. (lalu) berkata perlahan-lahan.” 32.28. “Jika demikian Paduka. 31. menuruti kehendak paduka. “Duh saudara-saudaraku. 29. perintah sultan Mataram. akan disampaikan kepada Jeng Gusti. Cirebon menyerahkan negara. Serta haturkan (kepada) sultan. Sultan tidak bisa berkata. sudah disampaikan kepada sinuhun 345 . saya tidak akan mengingkari. karena setiap luas (tanah) tadi. (saya) permisi hendak kembali . (Lalu) bubar semua. Jika paduka tidak menerima.

Lalu gubernur menerima. hingga anak cucu Tuan. dijaga Yang Maha Melihat. penyerahan (dari) Sinuhun Sultan. (saya) banyak mendapat kemuliaan. Memimpin di Pulau Jawa.mengenai penyerahan negara itu. beribu-ribu terima kasih. Sangat gembira Tuan Besar Gubernur. 346 . Sesudah tiba di Betawi. (lalu) memanggil Wiralodra. masalah negeri Cirebon. lalu sama-sama berpamitan (untuk) kembali ke Batavia. KASMARAN 1. segera menghadap kepada tuan gubernur. sesudah bercengkrama. dari negara Darmayu Setelah tiba di Betawi. lalu dengan gembira menerima negeri Cirebon. “Selamat datang Dinda Dalem. berdoa kepada Yang Agung. 4. Lalu Jendral berkata. XVI. 3. terima kasih banyak atas pengangkatan ini. semoga selamat (dalam) memimpin. Gubernur dengan Sultan. berkat pertolongan Tuan (saya) mendapat kemuliaan. 2.

Lalu berkata pelan “Duh Paduka Tuan.semoga diridoi Yang Agung. Gubernur berkata perlahan. tetapi Dalem (harus) menandatangani. anak cucu sama-sama mulia. “Jika demikian aku terima. 7. apakah Paduka mau?” 8. tetapi saya serahkan semua.” Bupati tidak bicara. tanah saya di Darmayu. Semuanya (telah) saya hitung serta semua perlengkapan. untuk memberi makan serdadu. harta beribu-ribu (jumlahnya). 5. termasuk uang sebelas ribu jumlahnya. Lalu bupati menandatangani 347 . 6. harta yang beribu-ribu (jumlahnya). memerintah kabupaten. seperti biasa. karena (atas) bantuan (dinda) (bisa) menangkap penjahat itu. Serta Kanda memberi tahu. karena tanah (itu) milikku. sebetulnya saya tidak punya. 9. (ditambah) tiga puluh rupiah. karena ia tidak punya. harus dibayar (oleh) dinda. sekarang hendak makan-makan. tetapi kedudukan Dalem tetap saja.

(Kemudian) diganti oleh putranya. (bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun. semua tidak ada yang abadi. hingga sampai di kabupaten. para saudara menanyakan berita. (demikian pula) kedudukan bupati. 12. Lalu bupati pamit. 10. untuk mengongkosi perang. Tuan Gubernur Jendral. negeri Darmayu. hingga anak cucu semua.surat (perjanjian). bupatinya tetap aku. oleh Tuan Jendral Betawi. Tetapi (kedudukan) bupati sekarang masih tetap. Lalu Dalem berkata perlahan. Negara dirampas. 11. (Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis. disambut para ponggawa. Lalu bupati jatuh sakit. berlayar (menaiki)eperahu. kembali ke negerinya. tidak berubah (masih seperti) biasa. hingga wafatnya. Darmayu kepunyaan. (Tahun) 1610. sudah takdir Yang Maha Melihat. “Hai saudara dan anakku.. 348 . kepada Tuan jendral. 13. yaitu Raden Krestal. Lalu tiba di negaranya.

Wiralodra gelarnya. Ia mempunyai anak, berjumlah tujuh orang. 14. Yang sulung Raden Marngali lalu Nyi Wiradibrata, ketiga Nyayu Hempuh, keempatNyayu Pungsi, dan Nyayu Lotama Hanjani bungsunya, (Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya. 15. Bupati sudah lama, mempunyai mertua jahat, merampok pekerjaannya. Sangat susah rakyatnya, (harta) miliknya dirampok, Patih Singatruna, sangat kasihan kepada rakyatnya. 16. Setiap malam tidak berhenti , penjahat (itu) menjarah. Patih Singatruna, berkata kepada kakaknya “Duh kanda Mlayakusuma, apa yang harus saya lakukan, mau jadi apa dalem ini? 17. Tidak menyayangi rakyatnya, (yang) dirampok (dan) dijarah, (dalem) tidak peduli sekarang. bagaimana saran kanda, dinda hendak memohon, kepada Tuan Residen, di Cirebon.

349

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela), betul jika demikian, nanti kanda ikut menandatangani (surat). Kemudian segera membuat surat, ditujukan (kepada) Tuan Residen, (mengenai) semua yang terjadi, ditulis di dalam surat. 19. Lalu segera dikirimkan. Selang beberapa hari Tuan (Residen), tiba di Darmayu, dihancurkan semuanya, disita benda-bendanya, (lalu) dikumpulkan, yang dirampok penjahat. 20. .Cocok banyak barangnya, (dengan) yang diaku oleh rakyat, cocok dengan yang dimita, lalu bupati mengirimnya, ke Cirebon. Sangat susah hatinya, ditahan selama tiga bulan. 21. Menunggu keputusan negara, dan sampai kepada keputusan, Dalem Disowak namanya, yang menjadi jaksa itu, sedangkan adiknya, Wiradibrata (namanya) diangkat menjadi rangga. 22. Patih Singatruna diangkat menjadi wedana, di distrik Jatibarang, Mas Malaya Kusuma

350

mendapat pangkat, diangkat (menjadi) kalektur, di gupernemen. 23. (Singatruna) wedana merangkap patih, di negara Darmayu, para penjahat semua, sama-sama hormat melihatnya, karena kebijaksanaannya, (oleh) wedana dengan kalektur, penjahat banyak (yang) ditangkap. 24. Negara sangat makmur, tidak ada penjahat, tidak ada masalah, di nageri Darmayu . Patih Singatruna, mempunyai anak, banyaknya lima orang. 25. Yang sulung Patimah, lalu Nyayu Juléka, Brataleksana yang laki-laki, Mas Demang Bratasentana, bungsunya Bratasuwita, semua anaknya, menjadi orang yang berpangkat. 26. Raden Rangga putranya, empat orang, putra yang sulung bernama Radén Wiramadengda, Radén Mardu, Nyi Sumbaga, bungsunya Radén Madada.

351

27. Kalektor putranya itu, lima orang jumlahnya, Asisten Hardiwijaya, yang perempuan Nyai Muda dan Sudirah namanya, Nyahi Junéd perempuan, bungsunya Nyai Juminah. 28. Radén Kartawijaya, putranya hanya seorang, Radén Karta Kusuma, yaitu Ratu Hatma, mempunyai anak tiga (orang), yang sulung Biskal Cirebon (ialah) Prayawiguna. 29. Adiknya perempuan, Kertadiprana namanya, yang ketiga pangkatnya ulu-ulu, tinggal di kota Darmayu, menurunkan putra, yang sulung Kertahudaka 30. (yaitu) Demang Lobener, adiknya Mangundria, Demang Bangoduwa, Muhada tukang timbang, Nyayu Jeni kuwu, yaitu Kertahudara, upas bom pangkatnya. 31. Kertahatmaja bungsunya. Darmayu …, Taahun 1813, Tuan Pri namanya,

352

Kiai Jaksa sudah meninggal yang menggantikan anaknya, yaitu Marngali, gelarnya Wirakusuma. 32. Menjadi demang pangkatnya, tinggal di kademangan, distrik Paseban namanya, Balu Kalid namanya, Demang Wirasaksana, menjabat demang, di kademangan Lobener . 33. Suami Nyayu Sungsi mengembara, tidak menjadi demang, dahulunya dari Palumbon. Mempunyai seorang (anak) laki-laki, He… Subrata namanya, menduduki pangkat, menjadi demang Luwungmalang. 34. Suami Nyayu Lotama berpangkat ulu-ulu. Suami Hanjani Wirajatmika namanya berpangkat mantri. (Lalu) Bagus (Bag)ya namanya, gelarnya Kitawilasa.

Asal-usul Wiralodra Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai. Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.

353

Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara. Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra: 6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 7. Gagak Kumitir di Bagelén 8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra: Radén Wirapati Radén Wiraseca Radén Wirakusuma Radén Singalodraka Radén Singalodraka berputra: 4. Radén Jaka Kuwat 5. Radén Kumbabocor 6. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca berputra: 6. perempuan Nyayu Wangsanegara 7. perempuan Nyayu Wangsayuda 8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén 9. laki-laki Radén Tanujaya 10. laki-laki Radén Tanujiwa Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama: 5. laki-laki Radén Sutamerta

5. 6. 7. 8.

354

6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati 7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata 8. laki-laki Radén Driyantaka yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu): 1. laki-laki Radén Kowi 2. laki-laki Radén Timur 3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati 4. laki-laki Radén Wirantaka 5. laki-laki Radén Wiratmaja 6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa 7. perempuan Hajeng Sutamerta 8. perempuan Hajeng Nayawangsa 9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a 10. perempuan Hajeng Hadiwangsa 11. perempuan Hajeng Wilastro 12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a 13. perempuan Hajeng Patranaya (Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III. Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama 8. laki-laki Radén Benggala 9. laki-laki Radén Benggali kembarannya 10. perempuan Hajeng Singawijaya 11. perempuan Hajeng Raksawinata Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang: 9. laki-laki Radén Lahut

355

perempuan Hajeng Tayub 16. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa 17. bernama 10. perempuan Hajeng Moka sesudah 3 tahun diganti lagi. 5 12. (Dalem ini) memiliki banyak putra. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan 14. perempuan Hajeng Nahiyasta 14. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 13. laki-laki Radén Suryawijaya 8. laki-laki Radén Suryabrata 7. laki-laki Radén Kerstal Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII 13. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra: 2. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang 11. laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya 13. laki-laki Radén Ganar 11. perempuan Hajeng Parwawinata 12. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4 5. Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah 16. perempuan Hajeng Gembrak 15. perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu 15. (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. laki-laki Radén Suryapati 6. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener 356 . perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga 12. Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang: 5.10. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener 18.

5. perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber 7. 357 . 3. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang. 4. yaitu): Radén Wirasaputra menjadi demang (Radén) Wirahatmaja perempuan Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang perempuan Nyayu Wiradiwangsa Radén Prawirakusuma (Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang Radén Wiramadengda perempuan Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang Radén Perdata Wirahastabrata Radén Sumarga Wirasudirga 3. 4. 7. 4. 4. 5.6. 6. 8. yaitu): Radén Madi Wirasomantri Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang. 3. 6. perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling 8.

i … 358 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful