Bab I Pendahuluan

1.1 Identifikasi Naskah 1. 2. 3. 4. 5. Judul Naskah Nomor Registrasi Nomor Inventarisasi Asal Naskah Keadaan Naskah : : : : : Babad Dermayu (Babad Carbon II) 1.368 183.1498/07.35 ? hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik; Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit. Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap

1

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bahan Naskah Warna kertas Tebal Naskah Aksara Naskah Bahasa Naskah Tinta yang digunakan Rubrikasi

: :

tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit. kertas Eropah putih kusam karena dimakan usia 124 halaman Cacarakan Jawa Jawa Cirebon Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh. tinta, setiap aksara Arab kertas tebal dua halaman,

:
: : :

:

12. 13. 14. 15. Penomoran halaman Jilid Keterangan lain : : :

Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca, Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal), Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah, Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan, Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.

2

Bab II Ringkasan Cerita

1.

Sinom Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa. Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang. Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman

3

palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum purapura marah. Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macammacam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik. 3. Sinom Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari. Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan. Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman. Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

4

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana. Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra. Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan muridmuridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas. Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang. 4. Kinanti Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah. 5. Durma Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia

5

mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu. Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan. Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra. 6. Dangdanggula Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen. 7. Durma Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji. Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya. 8. Dangdanggula

6

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok. Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom. Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur. Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV). Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

7

yaitu Ciliwidara. Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun. dipimpin oleh Bagus Kandar. sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas. datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. dan Pasiripis. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan. Surapersanda. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Bagus Rangin. Bagus Leja. Pangkur Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya. 9. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Ciliwidara kemudian menghilang. Lalu dilakukan penyerangan. Sinom Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta. Mereka bersiap menyerang Darmayu. Hastrasuta meninggal oleh 8 . putra Singalodra. Jumlahnya sekitar 700 orang. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan. Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta.Nyai Moka pekerjaannya mengaji. Kulinyar. dan Bagus Seling. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati. 10. Pada suatu hari. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya.

anak Wangsakerti. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. tetapi sebagian lainnya melarikan diri. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. 13. Sepanjang perjalanan mereka merampok. sehingga para perampok itu tiba di Darmayu. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. 12. Durma Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. Bagus 9 . Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan. Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. isinya meminta bantuan. Durma Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan.panah Ki Serit. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah. Mereka diikat dan disiksa. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu. 11. Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Wangsakerti mengirimkan utusannya. Asmarandana Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan.

Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal. Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpurapura sedih. 14. Pangkur Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi. 15. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Mayatnya menghilang. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Sinom Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya. agar Cirebon mengganti kerugian Belanda. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan.Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang. Keduanya dimarahi dan dicaci. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran 10 .

dan Nyai Juminah. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. Ia memiliki lima orang putra.yang merugikan pihaknya. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. Raden Wiramadengda. yaitu Hardiwijaya. Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok. yaitu Patimah. 16. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. Nyayu Lotama. Muhadapan. dan Kertahatmaja. dan Bratasuwita. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Kasmaran Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi.030. Wiralodra memiliki tujuh orang anak. Nyayu Pungsi. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Nyayu Juleka. dan Kertadiprana. yaitu Biska. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak. yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang. Bupati meninggal dunia. Sudirah. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak. Nyayu Jenikuwu. Kalektor memiliki lima orang anak. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka. Nyayu Wiradibrata. Brataleksana. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi. Nyayu Hempuh. yaitu Raden Mardada. Cirebon diserahkan kepada Belanda. Raden Rangga memiliki dua orang anak. 11 . yaitu Raden Karta Kusuma. Mangundria. dan Hanjani. dan Nyi Sumbaga. Bratasentana. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11.

12 .

pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya. tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang. misalnya I Asmarandana. yang terikat oleh guru lagu. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. Bait-bait yang 1 Hermansoemantri. karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh. maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut. 1979: 366.Bab III Transliterasi dan Terjemahan 3. dan guru gatra. Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat.1 Teknik Penyajian Transliterasi Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin. BD ditulis dalam bentuk pupuh. Selain itu. 13 . Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. Dalam transliterasi ini. seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. Transliterasi disusun berurutan ke bawah. Dalam transliterasi. kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya. tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber. guru wilangan.

3. Tanda (…) Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara. Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.2. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1. dan seterusnya). Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi. sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor.17 nomor halaman pada naskah . Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan. Nomor dengan angka Romawi Nomor ini menunjukkan urutan pupuh 2. 1a. suku kata. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1. 2. Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah. 3a. Nomor dengan angka Arab Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis. Pengantar Terjemahan Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD. Atja dan 14 .37 nomor halaman pada naskah dalam foto . Contoh nomor halaman: 17 (37. yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait. walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya. Tanda […] Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca. 3. atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi. 857) . 2a.857 nomor eksposure pada foto 3. 4.berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan. 1.

melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra. 1986: 94. 2 Atja dan Ajatrohaedi. Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks.H. 2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin.Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan. (2) siapa pengirim pesan itu. Berdasarkan pendapat itu maka: 1) objek terjemahan adalah bahasa tulis. dan 4) di dalam proses penerjemahan. B. dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran. makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan. dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran. artinya padanan kontekstual. bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu. Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). bergantung kepada kemampuan penulisnya. 3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah). penerjemah harus mencari padanan yang dinamik. 1998: 1 15 3 . penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut. (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan. Djajasudarma. ditujukan kepada siapa. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul.

yaitu penerjemahan fonologis. kata majemuk. penerjemahan morfologis. di samping aspek linguistik. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan. 4 Pradotokusumo. yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya. dan penerjemahan sintaksis. sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. dan frase). 1998: 4. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran. 4 5 Catford. 2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem. 1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber. 1986:173. jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa. Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana.Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu. Namun jika teks berbentuk puisi. Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas. kata. meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik. terutama dalam gaya. 3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik. 16 . Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan. 1965: 20-26. terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan. Djajasudarma.

dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis. dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut. agar mempermudah proses membaca. maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi. karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah 17 . Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama. Walaupun bentuknya pupuh. d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD. penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase. ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus. Berdasarkan pertimbangan tersebut.Berkaitan dengan penerjemahan teks BD. dengan menggunakan tanda khusus. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda. yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan. Karena itu. b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama. yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah: a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa.

semula. sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan. 18 .

bénjang lang…… kun hakir.. Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir. hanak……nakin…. Ki Wiralodra rumuhun.. sampun kantos… langkin. … kinarang sinekarna.tiyang. kartadipran[n]a……s. sasih. hérpol sa[ng]king Mantri Haris. tahun séwu sanga ngatus pan[n]e… 2. trus tumurun hing putra… 3. …li ka[h]ula haserat. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat. turun-tumurun niréki. Hanak putu Wiralodra. bermula Da(lem Kang)jeng. Tan sanés hingkang sinekar. nuju seneng manah hulun. Kang hana hing Darmayu mangkin...3.. hing dalu Jumahah legi. hing tanggal kaping sadasa … wan di. supaya … galur.3 Traansliterasi 1 (1. …sajarah tiyang ku[n]na. 821) //I. (nu)ju se(neng). buku sajarah dalem … 19 .. wedar[r]ing kanda rumi(yin). waktuna . SINOM 1. jam kalih dalu nu jo …n[n]i.nuju néki. supaya samya huni[ng]nga.. 4..

Pejajar[r]an putra ratu. turun[n]i Wiralodra.. Nulya ka[h]ul[l]a. Larakelar hasal néki. 7. …ki gumantya. Gagak Pernala Tu(menggung). laki…mangkin. Panembahan Kyahi Be(la)ra. 6. 5. ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u… nulya kagu[ng]ngan putra. pakuburan pun tinga[l]li… …ngungun rusak[k]é hing pakuburan. 20 .. Jeng Pangeran Hadi… hingkang peperab. ningal[l]i sujarah mangkin.… nti pada … rusak. Minggu palesir kula. Pan sada……(tu)menggung. Kartiwangsa …(mang)kin. . maksa hing ngila[r]ran hulun. ka…hical hingga tu … …n[n]é sujarah dingin. …sumi. wedar……kantos dateng Majapahit. Wirasecapan kagu[ng]ngan. Tumenggung hanang Mataram. Bagelén hing rang(gah) ( hapepu)tra malih. hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa). hapeputra… tumenggung hanang Metawis….

Dén Gagak Wirahandaka. gumantya para bopati. nulya peputra … hanang Banyu Hurip Kedu. Tanujaya hingkang rayi. gumuling hing wisma. hanenuwun hing Yang Widi. Wangsayuda rayi héstri. (Wi)ralodra katiganya. … Pringgadipura. Pembajeng Wangsanagara. … nagara. 822) 8. Wiralodra. 9. Putra hingkang pa… Pan Radén Gagak Kumitir. hing Bagelén dalem[m]ipun. pernah hingkang sepi mangkin. saréngat (hakeka)t mangkin. sanget saking nyandang kingkin. kasa. Gagak Singalodraka…da…ya. Dén Gagak Wiraku(suma) hapeputra malih.Lajeng ha… …puna…sekawan. Hana …ling malaya. 1a (2. (Tanu)jiwa kang wuragil. Karangjati kang nagari. remen[n]ipun hamertapa 10. 21 .

…ngaran suwun hing yang sukma. ningal[l]i wonten hing langit. tansa(h) hingkang tumingal. rosik[k]a. sareng ming wétan ning[ng]al[l]i. …ru ngira. tigang dahun lamin[n]éki. hamandeng hing wujud tunggil …nya (hing) jero supaya dados satunggal. kantu Bagelén.. 11… (sa)réh miwah dahar. …Wiralodra. Ngulon hungsinen kacung. cahya…mang tapa. lamun péngén mulya kaki…nira. nulya …kinanti hingkang tinembang. II. suwara kang kapiyarsi…. tanda tinarim[m]éng hagu(ng). yahiku cahya handaru. (nu)ju dalu Jumah. (Su)kma hing yang hagung. 22 .hakékat mahripat wahu. KINANTI 1. sampun hical wujudnéki. 12. (pa)dang kadya lintang. babad[d]ahing halas kaki. hicaling pepadang mangkin. …cahya hingkang bening. muga-muga hantuk mu(lya) turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan. …dang nelahi. hing halas Cimanuk 2.

. hing pundi panggé(nénéki) 23 . handres miji(l) ditangis[s]i. duging turun pitu kaki …tuhamu.. putra ngambung suku ram[m]a. malebeting wanadri. sami medal toya. Medal ngidul pinggir gunung.. lali turu miwah dahar. sangking sakarsan[n]é kaki. miwah nang[n]i hingan[n]néki. pan bakal dadi nga…. 4. 822) //. mapan déréng ha…ta. (ha)turan turun[n]ira. mila hénggal lunga haka… …Wiralodra. Kyahi Tinggil tanéki. Halilir hanggé …sami katar …hing jeng rama Ngatur[r]aken pi … hing jeng …nas mikatur 2 (3. rinangkul dipun tang[ng]is[s]i.ning ram[m]a. putra ningsun hayu …cw. kaki hanak [k]ingsun mangkin.waspa. 6. kaliyan Kang Pandakawan. (hing) kali Cimanuk pernahnya.halas gedé hi[ng]ku nyawa. sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki. Kahidinan sampun kondur. Sun pasrah(a)ken yang hagung. 3. 5.

…sowan. kathah wowotan puniki. (pri)yén pan karo hapa?” Humatur kiyahi Tinggil. hanggén[n]é wa(na)dri. Nulya hawecan[n]a haris. Kula kinten be…dusun. Kali hageng hing Citarum. 9. kula tur[r]i sabar briyin… …mi pukulun. …toya geng prapta. kali gedé hangliwati. hanang hing(kang panda)kawan. hingkang mindah kaki tuwa. 12. pitulung Yang Maha Widi. Sareng héca gényagah. ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil. Buyut Sidum tiyang karihin. wunten kaki tuwa prapti. 8. …hapandé ring hantuk marma. kantos dumugi hing kali. Le… 2a (4.7. “(Pa)man susah hingsun. Léréh[h]an nyenangna pikir. nulya jeng hing lampahnya. lan puniki Gusti dara. hutawi kebon jalmi. 823) 10. Saparantos bendara. 24 . hang linggih hing pinggir kali. Kantos lami tigang nahun. Raden Wiralodra dulu. 11.

Kyahi Dum wecan[n]a harum. Hénggal ti(nari)k rinangkul. … Kerawang bagiyan néki. sanget bhingah[h]é hang… lah bagja temen pun mami. kagét wahu haning[ng]al[l]i. Nulya hical kaki sepuh. 15. sarwi megap megas har[r]is. sangking kaki tuwa hiki. sampun…kedah wangsul malih niki. “Haduh Kakang tu (lung) kula. sarta sareng nya lenggah. 13. kula (harsa) hantuk warta. 14. sangking Bagelén nagari. ngatur[r]aké lampah néki. 16. sesalaman hasta kalih. “ 17. 25 . humatur hawelas sasih. muga kaki hanulung[ng]i. Pun lami lampah …n hulun. hamesisir la… 3 (5. …(Kali) Citarum. 824) //…la ngétan pernah néki. “Duh Ki Putu welas mami. bakal hingsun (hantuk) warta. sampéyan … kula. nuwun pitulung pun kaki. hing pundi Cimanuk kali. dé… (han)tuk hawecan[n]a. tigang (tahun) lampah kula.wunten kaki kaki prapti.

sareng duging Pasir Hucing. Pu(ni)ki pan margin[n]ipun. lumampah siyang lan wengi. boten[n] takén wasta kriyi(n). lampa[h]hing KiWiralodra. ningal[l]i medal[l]ing surya. wonten toyan[n]ipun mili. “Duh Paman Tinggil pun kula. Sumber medal saking sumur wan[n]a dateng Ki Tinggil. lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki. mila…hénggal-lénggal. ngétan ngalér margin[n]éki. Nulya hawecan[n]a harum. Hutawi negarin[n]ipun. 20. pitulung[ng]é hing Yang Widi. …manten pan hantuk marma. nulya hénggal halumaris. 22. hambhujeng lampah pun hénjing. “Duh paman Kiyahi Tinggil. Hangrem(pug) hing wana (a)gung. kabujeng (mu)sna pun kaki. 18. 26 . 19. datan saréh miwah dahar. nanging bagja kula Gusti.getun Radén Wiralodra. 21. kula lajeng pangkat Gusti. déréng (ta)kén wastanéki. hing ngendi si kaki tuwa?” Ki Tinggil humatur haris gugup dara hameriksa. lan sing pundi hika hasal.

26. duh Wirasetra jeneng mami” “Hingkang wewangi pun kakang. Yayi sinten jeneng[ng]ipun. hadem kasilir marut[t]a. nulya manggih tiyang gaga. “Duh kakang basa pukulun.meng(ké) laréh pada mandi. sarwi sesalaman kalih. Wirasetra wastanipun. Kyahi Wiralodra tanya. Lami hanthuk kalih minggu. Wirasetra jeneng ma(mi) 27. hana (to)ya tengah wanadri. (lamun Gusti) kersa mandi. sah[h]a hasli pundi ranti?” 27 . 25. langkung sa(hé) toya bening. madukuhwan hing wan[n]adri.” 23. nulya pangkat Wiralodra. ming[ng]elér lampah hiréki. lan badé karsa hing pundi. Kyahi Tinggil pan humatur. sing wétan hasli rumihin. hing bénjang bakal nurun[n]a. 825) pi//wiwitan hiki. 24. hing Kakang tembé pinanggih. Dalem (Pega)dén hing bénjang. kula péngén sesaréyan. lan sinten kakang peparab. 3a (6. sun ting[ng]ali hiki toya. hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil.

“Duh Bendara tembé habdi. hing wisma pernah hi(ré)ki. hingkang lami manggén riki.subu haneda. Haduh dara kula suwun. Kakang (ing) wétan nagari. Kyahi…humatur. hingkang dipun bukti habdi. “Duh bagja temen rayi. Sinubu. pu……na tan dahar. 30. ngalar[r]i Cimanuk kali. 29. yén lumampah sempoyongan. daging kula kathah hical. dahar …se//(ka)lih hulam. Wirakusuma Dipati. 31. dameng tambi weteng blending. tyang tangga samiya bhukti. pinanggih kaliyan kakang. handugék hagen pun daging. salaminé boten bukti. Hanulya binakta wangsul. sami pada suka hati. 32. Ngayang hayang hir tiyang bu… suku hasta halit halit. sing Bagelén hasli kula. Banyu Hurip dulur misan. Karun[n]a sarwi hangrangku(l).” 28. dameng gegodong[ng]an kula.Wiralodra jeneng rayi. badé hanglemok[k]en badan. 28 . kula hasring niba tangi.

“Duh kabegjan pama. sampun gama rasa kula. nulya humatur hing raka. Cimanuk wangsit yang sukma?” Wirasetra muwus haris. 37. hamireng hatur[r]é Tinggil.kasrimped déning la…tan. 29 . manggén tengah wana mami. bis[s]a wareg dika bukti. Kyahi Wirasetra puniku[s] hanyambung[ng]i sabda man[n]is. 4a (8. pinanggih kaliyan kadang. sarta rejekimu paman. sadinten ping kalih bukti.” 34. 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin. Tyang kalih sami (gu)yu. lubér[r]an masșa redi. mila sing lami hing riki. hanggén[n]é bungah wak ingsun.” 36. “Duh bagja kula ben(dara) kranten kula nyémah niki. 35. muga dén hidin[n]i kula. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun.. “Ya paman Tinggil wus begja. Radén Wiralodra wahu kantuk sasasih mangkin. 33.la. pernah[h]ipun hingkang kali.” Humatur Kyahi Tinggil. “Duh kakang panrima yayi. pinanggih lan kadang mami.

sangking daramu pikersa. 38. 30 . “Nun bhendara nuwun kula. hénggal hasira pinanggih. gampang bésuk sandang malih. kanggé… kan…yaktosnéki. sarwi matur klayan lirih. namung héwuh ……habdi. “Lah paman Tinggil puniki.“Muga dak jujurung pandonga. tak duga hiki Cimanuk. “Héh Tinggil sun dongakna. kalih sasih hing laminya. “Duh dara men[n]awi nyata.” 39. hatut pinggir pinggir kali. Nulya tiyang kalih lumaku.” Hang kalih pangkat hanjugjug. boten wonten padukuh[w]an. Sarta rineksa Yang Hagung. 42. daging kula dugi malih.” Nulya sesalaman sami. Ki Wirasetra hangguguk. Kyahi Sidum sanget welas. Nulya pinanggih lan kali. Ki Tinggil pan manembah. kelangkung sanget bungahnya. 41. mingétan hingkang … dén…i maksih hageng hingkang wana.” Ki Tinggil humatur lirih. mugiya hénggal pinanggih. 40. ming (pinggi)ran[n]iréki. gumujeng[ng]é suka hati.

828) Hanulya nyipta kiyahi. Wiralodra hawecan[n]a. tongkéng malengkung hing lawang. kanan kéri mandakaki. linggih hongot-hongot deling.ningal[l]i dangka kalih. térong kara sabrang cipir. ningal[l]i kebonan mangkin. kebon lega palawija. Ki Sidum lenggah (ing bumi). Gemuh wéhing kebon wahu. 44. 5 (9. 45. 47. 46. Raden Wiralodra dulu. tanem[m]ana warna. 43. langkung sahé dén tinga[l]li. Pinggir kali wésma nipun. hing wétan kadya puniki. pinuter kembang srengkun[n]i. bonténg timun miwah lobak. langkung seneng haningal[l]i.warna. Boléd homas miwah jagung. lumampah nrajang rinungkun. hing wésma wonten tiyang lenggah. 31 . hing wétan tan[n]ana Tinggil. kebon bhagus datan[n]ana. “Duh Tinggil bagja wak mami. kebon lega palawija. paré gajih putih putih.” Nulya hamarin[n]i sirih. sundrem malem mangajeng[ng]an.

kedah[d]ipun maklum Gusti. Hiki kali pan Cimanuk. 5a (10. “Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun mugya hagung pangaksami. nembé teka hamariksa. sira tekang wisma mami. harep hapa sira tanya? Kakang tan[n]i malih warni. 49. prawantu tiyang dusun Gusti. 48. 829) //wong ngendi sira hiki. hapa harep ngrampog hingwang. na pamali tiyang halas[s]an. Hanyentak ngandika wahu. 50. 32 . Haran ningsun kang sinambat. kebon sahé sapuniki. sun kang duwé kebon hiki. nembé kula haningal[l]i. sarta Kyahi kali nap[p]a. wastan[n]é puniki kali. Nulya hawecan[n]a haris. (bo)ten gadah tatakrama. tan mingsir bari halinggih” 51. Nanging hadat[t]é puniku. Kyahi Wiralodra getun.” Humatur Kyahi Tinggil. 52. “Sugal temen kaki kakang. hingsun tanya bentak nyentak. (“Ha)rep hapa siréki. hinggih leres Gusti Dara.bakal wuwus aya hulam. badé tanya pan kagu[ng]ngan.

tebih sing Bagelén nagara. senyatan[n]é kula kyahi. jajabang muka lir gen[n]i. haku tan sudi ning[ng]al[l]i. “Héh kaki dika wong hapa. sorah ngandikan[n]é mangkin. 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i. kuma tumut ngebon kaki?” Hang réncang[ng]i jeng ngandika. 53. kaki grendaka sun tan[n]i. hénggal sira hamampus[s]a. perkara kebonan kaki. hora ken[n]a tak bhedam[m]i! 57. hawéh hingsun jaluk paksa. Ya hiki kali Cimanuk. welas sakya hing mami. “Hora harep tulu(ng) mami krana hingsun sugih rayat. “Duh Kyahi pan hingsun tulung. 55. tan liyan hingkang sun hilar[r]i. 6 (11. muga dén pernahna Kyahi hingsun nurut jeng ngandika. 33 . Radén Wiralodra bendu. Sahiki kaki sun jaluk. kali Cimanuk pan hingwang.Nulya dén pedek[k]i lirih. 54. ngisén[n]i dika wong dés[s]a. hing tembé ningal[l]i kali.” 56. Kyahi malih warni muwus. hora ken[n]a sun halus[s]i. rin[n]aket[t]an kaki tuwa.

hangadeg linggih hing korsi. Bermula halas dén jaluk. hénggal sira hanyabrang. Hing pernah kebon wahu. musna kebon kaki-kaki.” Radén Wiralodra mangkin. han[n]ingal[l]i hing siréki. 34 . Buyut Sidum haran ningwang. langkung sorah hawecan[n]a. 6a (12.58. hangadu sakti linuwih. 62. nameng wonten kapiyarsi… 61. surung-sinurung tiyang kalih. bener sira pan bherandhal. 60. yén hora weruh hing mami. hical mapan dadi wana. Pammanuk[k]an hingwang dusun. 831) //mengkola mun șira manggih. “Hah Wiralodra putuku. 59. walang kerik hanuding[ng]i. pan dudu Cimanuk kali. hénggal bhurun[n]en dah kaki. pan pinasti karsa n[n]ing wang. kidang mas hinten kang soca. hanubruk hing kaki tuwa. bésuk dadi dés[ș]a hiki. binanting hanulya hical. Hingkang mindhah kaki wahu. kari kari kebon mami. Cipuhnegara kang kali. mapan haku hora sérab.

surya hingkang dén ningal[l]i. “Man Tinggil meneng siréki. nulya musna rupi macan. Lajeng takșaka hambhuru. yahiku Cimanuk kali.” 65. pinanggih macan gedéki hangadang margan[n]ya.63. wunten takșaka hageng prapti. Lajeng malebetan gung. yén hénjing tamtu hing wétan.” Hanulya wecan[n]a haris. macan hapa karen[n]éki?” 67. hing pundi nusup pun haki. Radén Wiralodra hindha. yén șonten kulon pun lingsir. tetapa hahaja néndra. macan tin[n]abok tumul[l]i. pasti turun nira mukti. “Duh tulung bendara ningwang. 35 . mangko hingsun harep tanya. hénggal-hénggal lumampahnya. Hing pundi hical ké wahu. Hana macan hagung. 66. 68. Tyang kalih hanyabrang sampun. Hinggebeg kiyahi Tinggil. Sima[h] kekerag hing ngayun.” 64. nulya hanubruk tumul[l]i. mapan Radén Wiralodra. hing Cipunegara kang [kang] kali. poma kaki wekas mami. bénjang lamun kaki babad.

Radén Wiralodra héran. ningal[l]i kali geng néki. ngalih hasih melas șasih. Pan kula makșih[h]aken[n]ya. Dateng Radén [pan] Wiralodra. “Duh Radén bagus jandika. 69. 36 . tiyang bagus pinanggih riki. Nulya mendak (taska)ra wahu dén lepas[ș]aken tumul[l]i.hambhakta pendhu Ki Tinggil. dén pendhung hula sirahnya. III. taksih nonoman maran[n]i. sarta kang sineja n[n]éki? Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula. SINOM 1. napa sakarsan niréki. Larawan[n]a wasta kul[l]a. déréng hanglampah[h]i laki. kula sanggup badé tulung. hasar kula dipun kawin. 2. salebet[t]ing wanadri. pan badé ngilar[r]i napa. Musna hula dadi kali. hing Radén Wiralodra. manggah jandi katurut[t]i. 832) //kali musna tan kahékși. kasugih[y]an kadigjayan. 7 (13. wunten pawéstri yu héndah. Haduh melas temen hingsun.

puniki tengah wanadri. huntu lunga kempo(t) pipi. sanajan héstri yuhéndah… hé ora ha(rsa) șeja krami. 6. yén șampéyan tan nurut[t]i. pan ka[h]ul[l]a datan hasti. kuping tuli gigir bekuk. “Sampéyan wonten hing wana. mangko badé hingsun priksa. bisșa temen ngomé hiki. Ki Tinggil majeng hing ngarsa. 37 . nulya nyandak Larawan[n]a. hamit kula badé hamangsul[l]i sabda. Radén nyimpang nganan ngéri. ngangken kenya déréng laki.manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula. dateng Wiralodra mangkin. sarwi humatur halirih. pasti pejah sareng ngakalih jandika. “Tan gingsir paman wak [k]ingsun. datan pantes tiyang héstri. hangantos hantuk kamulyan.” Wiralodra ngandika haris. …da krama kula wahu. “Duh bendara dén hénget[t]a. hanuwun șamangké kula. buru dadi kaki-kaki. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an. langkung gampil tiyang …karma bénjang… 5. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a. hana hing tengahing wana. 7a (14. 4. 833) su…//pekik.” 3.

gébés-gébés haningal[l]i. yén nora dadi sawiji. malajeng ming wétan wahu. Wiralodra dén priyatna. kalumah[h]an nulya nubruk. senjata ranté pan hiki. senjata ranté tumiba. karanten ……. Wiralodra dén priyatna.kinipat[t]aken tumul[l]i. hananging tan pasrah mangkin. nulya Dén Wiracabra pinendi.tun[n]a …sakti.cinandak mangkin. manggah Radén sampéyan males hing kula. Wiralodra hanadah[h]i. suka matiya wak[k] ingwang. “Duh Radén kang ngatiyati kinten bhabar pisan Gusti. …cak pan[n]a wong [ng] abagus. kénging musna rupi kidang pan kencana. 7. malempat Ki Wiralodra. 38 . tan ken[n]a sun hé mangkin. héran temen Wiralodra. dibujeng sami prang lirih. Nulya Radén Wiralodra.. Nulya dén pe[n]ta sanjata. ngadu sakti gumreget Nyi Larawana. candak. 8. wong bagus . 9. tadah hana tyang pekik kaya jandika. Ki Tinggil maran[n]i hénggal. hangasta cakra tumuli. Nyi Larawan[n]a nadah[h]i.

siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a. 39 . “Hing paman kiyahi Tinggil. 13. toya deres hingkang mili. yén tebih kidang ngentos[ș]i sampun lepas lampah néki. 12. hayuh paman haja kari. tan șamar kidang kencan[n]a. 834) gumebyar saliran[n]éki. punika kali Cimanuk. dén pegat nganan lan ngéri cinandak-candak tan ken[n]a. Nulya dumugi hing lampah. hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang. ming wétan kidang malayu. nulya léréh hing ngandapya. wis bhagja muraki bénjing. hing turun-turun siréki. kajeng kiharah geng néki. nulya hangandika haris.” 11. Hanulya Radén tuminghal 8 (15. hika pan kidang kencan[n]a. Hing ngimpén kang kapiyarsa riki kacung hapan kali. tyang kalih datan katinggal. hanutut[t]i kidang mangkin. paman dén hawas handulu. nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah. katingal hujur ring kali. Cimanuk kang dén pilalah. karsan[n]é…mara tinggi kidang kencan[n]a pan hical. Tyang kalih hambhujeng kidang.10.

nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra. mapan holih kamuktiyan. Radén Wiralodra mangkin. supen[n]a pana……//warti.karsan[n]é Yang Maha Hagung. Sanget bhungah réhing manah. 835) 40 . paribawan[n]é panas hatis. “Duh paman bhegja wak[k]ingsun. manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata. hangilar[r]i minggir kali. nyata hiki Cimanuk kali pernahnya. mapan bhibar katawur[r]an. 16. pan[n] ingsun șaréh lan dina. 14. wélan-wélan hasung warta. wis katrima hing Yang Widi. nulya hangilar[r]i pernah. Mangka Raja Budipakșa. hing himpén kang kapiyarsi. Radén Wiralodra mangkin. miwah banténg warak wahu. menggah Gusti kersa pundi. hanggén[n]é babad wanadri. sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya. 15. hanulya hamasuh raga. ngandika hing paman Tinggil. 17. Nulya hadamel kang wisma. 8a (16.” Ki Tinggil humatur lirih. kanggé panggénan pun habdi?” Radén Wiralodra wahu. “Duh bendara yén waten[n]a. Wis terang wang(si)t Yang Sukma. Ki Tinggil damel[l]an[n]éki.

Nulya kalurug Dén Wira. mapan hingsun tan ngoncat[t]i. gawé rusak bhala[n]ningwang. sarta sakéng sén[n]apati. sakéng bala bubar mangkin. kénging Radén Wiralodra babad wana. hi ra[n]né sapa siréku. hakumpul șabhalad nira.” Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira. miwah para kang prajurit. 9 (17. 836) kumawani// ngusir hingwang. kapethuk hing wisman[n]éki. 20. hénggal nyingkir sira hiki!” Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a.miwah patih Bujar[r]awi s. Ki Gedé muwara Cimanuk. ribut prang[ng]é Radén Wira. “Héh satriya wongasigit. ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis. ngisén[n]i gandarwo bulus. samya dugi hangrawuh[h]i. dikira haku pan wedi. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira. jurubiksa kathah lumpuh. 19. Sulahémana Srabad mangkin. Sakéh[h]é Gedén Muwara. 18. Bhudi Pakșa hangandika. braga brigih ngarsa mami. pasti lancang kumawan[n]i. hamasing donga Ki Tinggil. 41 . kelangkung sanget duka[n]nya. hingkén[n]é majuwa sira.

pada hakuren sadulur. krana maksih pernah cangga. muga dén hampura Gusti. becik dén raksa hahiki. samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an. 9a (18. “Mangké sinten pan jandika.” 23. kasamaran bhala habdi. “Duh Radén Gusti kawul[l]a. ngasih hasih melas șasih. Rara Kidul Gusti mami. nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa. 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi. hiku Radén Wiralodra. kakang pan gawé hi…s[s]a. Ki Tinggil kang dadi koki.” 22.nulya wonten hutus[s]an[n]ya. Dugi hanang Sultan Hemas “Haja pada dén ganggon[n]i. sangking Tungjung Bang puniki. katambhet[t]an Gusti habdi. pada kekadang[ng]an mami. 42 . 24. krana turun Majapahit. dumugi saturun rayi. sahanak sadulur. sukur bagja rayi sultan. 21. Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat. Sarwi manembah hing ngarsa. Rayi Sultan bhas[s]a mami. “Duh kasuwun jeng ngandika. Werdinata sultan hanang Pulo Mas.” Ngandika Dén Wira wahu. Nulya siyang dalu babad.

sami gemah kebon[n]an hawarna-warna. “Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a. 27. palawija warni. gundem juwawut hagemuh. kawentar kebon[n]an[n]ira. “Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula. lamun bhagus tanah néki. palawija tan kabukti.warni. 43 . haja dén télaksaman. manca negari kang dugi. lumintu tiyang kang dugi. Boten wonten kakirang[ng]an. hingkang lén Cimanuk kali. manah paman dén kariya. boléd jagung kalih cipir. tan wonten tiyang kirang nedi. Radén hangandika haris. Ki Tinggil kadadi lurah. kathah tiyang sami prapti.miwah nanem palawija. trimanen kongkon malebhu. Ki Tinggil humatur haris. Kathah tiyang kang damel wisma. datan wonten kakirang[ng]an. Sanget kapéngin pinanggya. tumut wisma hanang riku. hawit tetaneman gemah. sampun hantuk tigang tahun. bok hana tiyang kang yuda. lami damel padukuwan. teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin. 25. kalih rama hibu mami. 26.

miwah kadang kadang néki. pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa. welas[ș]é hing lampah[h]ipun. muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira 31. yén hinget hing sira kacung. pun katurang lelampahnéki. hora nyan[n]a temen kaki.Tinggil dén kari basuki. 29. sadaya samya han[n]angis. 44 . Putra humatur Jeng Rama. “Duh mas han[n]ak ingsun nyawa. hibumu pan șamya bintip. kagét hibu miwah rama. lelampah[h]an putra mami.” 30. sangking marman[n]é Yang Widi. sumanding putra tetelu. ningal[l]i kang putra prapti. kang dadi lurah hiréki. rama hibu mirengna. hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari. rama hibu sami linggih. siyang dalu pan kating[ng]al. caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a. 28. Si Tinggil hingkang hatenggah. marah hanak[k]ingsun nyawa. hanjujug hing padalem[m]an 10 (19. “Haduh nyawa putra[n]ningwang. hanangis șiyang lan ratri. pun dugi hing Banyu Hurip. Kacariyos hing lampahnya. 838) //Bagelén hingkang negari.

hing kulon dadi nagari. kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara. 10a (20. hatur[r]an ngurus nagara. 45 . pinedhak kadya nagari. sadaya cakep ping kardi. samya matur ram[m]a haji. Wanasara Puspahita. Miwah si Wangsanagari. gampang bésuk yan wus dadya. mengkuwa Bagelén negari. langkung kathah tiyang prapti. cacah limang ngatus jalmi. supaya dadi weruh. tyang halit șeneng kang hati. 34. kadya pangkat[t]ing tumenggung. dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a. sahiki pan sira kaki. handérék șakarsan[n]ipun. 839) 33. lan Tanu[h]jiwa siréki. Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya. hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil. Ki Tinggil hingkang dén tilar. tumut magén padukuh[w]an. kambi sadulurmu kaki. 32. mapan mukti kiyahi Tinggil. margi hageng lurungnéki. tempat panjagian gardu. cakep hadamel gelar[r]an. Bayantaka Jayantaka Surantaka.sekawan[n]é putra ningwang. saban lurung panjagahan. miwah Ki Pulaha kyahi. Sukubahu Jungjangkrawat.

lan șinten kang wangi. badé ngebon kula kyahi. muga dén hidin[n]i hulun. 35. Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a. pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah. “Sumanggah handérék habdi. hasli sangking pundi hayu?” Nyi Hindang mangsul[l]i sabda. Hindang Darma hingkang nama. 840) kula haningal[l]i senang. Hakulon hutawi wétan. 46 . tumut damel wisma kaki. 36. dateng pundi sumanggah kapilih karsa. tan[n]ah hingkang radi jembar. “Hamit palamarta habdi. punapa sejan[n]é Nyahi. 38. hutawi kula hanyabin. hanjujug wisma Ki Tinggil. Bade handérék ka[h]ul[l]a. tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an. mikul gandum kalih pantun. 11 (21. hing sémah manembah prapta. Ki Tinggil haris tetanya. tur maksihken[n]ya pawéstri. “Duh paman tambet hing mami.” Ki Tinggil hambales șabda. hayun[n]é hang luluwih[h]i. dén hiring pawong[ng]an kalih. sumanggah hayu hamilih. 37.saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma. Hanulya wonten tiyang prapta.

ningal[l]i wong hayu luwih. ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh. sampun medal șangking wisma. “Héh sekabéh murid mami. 40. memada… hing jenengi 11a (22. 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang. sakéh murid pan șami. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran. kawentar liyan nagari. mapan șampun Hindang Darma damel wisma. kapiyarsa marang Pangéran Palémbang. Pan gemah kang pakebonan. sakathah[h]é murid[d]ira. nanging bénjang dara mami. pan likur pangéran[n]éki. hingkang murid-muridnéki. tan[n]a tan[n]i dérék wahu. kedot pan gun[n]a sakti.Nyi Hindang mariyos makin. hing pernah kang senang milih. 41. nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya. 39. yén rawuh hanang riki. Hindang Darma mulang jaya. mandan napa Gusti mami. 47 . kanggé garwan[n]é bendara. Hayu mulus kang salira. mandah bungah[h]é bendara. hingsun mapan wis hangrungu. Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i. ngandika hing murid[d]ira. hana wanodya hamulang. hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i. temtu haku nulya matur.

hasli sangking pundi Gusti. wunten tiyang kathah prapti.42. cipta sajroning galih. 48 . 43. mila hing ngabrama Gusti. manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya. hanangkep kang pada mami. “Duh [duh] bagja kula sémahan. samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a. Pangéran pan wicakșan[n]a. nulya haris gé nya matur. sakedap nétra wus prapti. saha sinten kang wawang[ng]i. héman temen tingkahnéki. Pangéran gawok tumingal. hanang wisma Hindang Darma. hingsun ngungsi Pulo Jawa. hingsun ngrungu t[t]an șudi. kagét Nyi Hindang ningal[l]i. tiyang hagung hang rawuh[h]i. pangéstri hang lelanang[ng]i. Sahiki murid șadaya. pada sira dangdan haglis. kawit[n]é tyang dusun habdi.” 44. hiki wanodya yu héndah. 45. “Duh hamit hing palamarta. “ Sampun numpak hingkang prahu. hing muwara mentas pangéran sedaya. nulya hénggal babar layar. lan badé karsa punapa. Nulya Nyi Hindang humatur. Sanget kumejot hing manah. sampun dugi prahun[n]éki.

suyud pangéran hing mami. 12 (23. Kari kari Hindang Darma. hingkang ngiring marang mami. Pangéran mangsul[l]i sabda. 48. kang lagi guruhna ngélmi. hingsun parlu mrikșa sira. Mapan hiki murid hingwang. hing Palémbang nagrinipun. dayang humbaran sira hiki. 47. hora nana padan[n]ipun. haja mungkir sira hiki.kados wonten karya hagung. hapa kadiran siréki. hora nganggo tatakramané wanodya. kawentar saban nagara. kaya hayun[n]é Hindang Darma. 842) //wong hayu sira wanodya. wong hayu tur lencang kuning. Pangéran Guruh ran mami. dadi guruh sakéhé para pangéran. tedak Haryadilah Sultan. pakșa lumancang hawan[n]i. samakta rawuh paduka. dadi guruh kaya hingwang. 49 . kados wonten dén bujeng lampah paduka. memadahing jeneng hingsun. hora ngrungu béja warti. “Héman temen pan șiraki. hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang.” 46. yén șira guruhna ngélmi. sakaprabon hing ngajurit.

hutawi hajrih ning[ng]al[l]i. manggah Gusti kersandika. 50 . badé napa sumanggah dérék pikersa. Hambales sabda Nyi Hindang. hutawi saktining guru. hutawi karéh hing karya. 845) 51. Hénggal hanubruk pangéran Wisanggen[n]i jenengnéki. langkung sahé pideksa rupi paduka. sakayu(n)-kayun[n]ing hadang. lancang[ng]é kaliwat-liwat. Kaya sakti sakti sira. hanulya medal tumul[l]i. sagending habdi lados[s]i. tan[n]ana manus[s]a hiki. boten wonten bas[s]a lirih. mapan wisma datan nyambut. Hananging sugal wecan[n]a. mungguh pan dakwah Pangéran. sémah neda dén suguh[h]i. matur héstu kang sayekti. tan karuwan negarin[n]éki. “Duh héman hing rupi Gusti. 50. 52. lamun kawon mapan kula boten wirang. maran[n]i papan Kang Hagung. Hindang Darma datan sérab. badé pun[n]apa Gusti. kaya tingkah hira hiku. kaya gun[n]a hang luwih[h]i. 12a (26. hipe kon paduka Gusti. bedama pucuk[k]ing keris. Bramakendali kalihnya. Bratakusuma kang rayi.49.

sampun cahos hanang ngarsi. kang seneng[ng]an lampah tan[n]i. kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a. kalih Gusti puniki. héman rupi hadi hadi. prang sami hangemas[s]i. Nyi Hindang sakti pinunjul. kanggé tiyang tani tempat. 51 . Ki Tinggil sanget hajrihnya. bendun[n]é bendara mami.kinten jembar yudabrata. prang tanding ngadu gun[n]a. sasih hanggén[n]é yuda. samya perang silih huki. Nulya pangkat gegancangan.” 56. Sadaya para pangeran. sun harep matur hing Gusti. sadaya pan kancan[n]ipun. sadaya pangéran ngemas[s]i. Sampun rucah jeng ngandika. 846) //sangking Palémbang nagara. 54. “Duh Pangéran hing riki papan kang jembar. 55. Ki Pulaha dén timbal[l]i. sarwi nguwuh huwuh tanding. hidin[n]é kon gawé dus[s]un. “Susah kang Pulaha mami. sampun kantos hantuk duka hing bendara. kathah Pangéran ngemas[s]i. kariya tunggu nagara. 53. tak duga pan maksih wargi. 13 (27. kari kari kanggé tempat yudabrata. lumampah siyang lan wengi.

prawantu Ki Tinggil lampah. 13a (30. karun[n]a sesambat[t]ipun.” 59. sarta matur[r]a hing mami. Nulya kang rama ngandika. 57. “Duh paman welas ka[h]ul[l]a. samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa. saré[h]hing dén tinggal kari. wicaksan[n]a tur hasakti. toya waspahan dres mijil. muktiya dugi hing bénjing. hapa holih kasenengi. si Tinggil turun[n]ira. “Wis jamak[k]é sira kaki. Haduh mas pawong[ng]an hingwang. “Haduh hanak[k]ingsun kaki. mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya. legan[n]a hingkang man[n]ah. sareng hénget sakalih sareng hanembah. Tinggil han[n]éng pagusténmu.” Sakalih pada menenga. tumunten cahos hing Gusti. Ki Tinggil hangguguk nangis. najan pandakawan mangkin. linggihya hasoh rumihin. 58. Tinubruk Ki Pandakawan sarwi dén rangkul tumul[l]i. muktiya wong loro kulup. sun dongak[k]aken Yang Widi. 849) //kancamu pada basuki. lanang Bagelén nagara. 52 . duk dingin sareng sangsara. sakedap[p]an sampun rawuh. sun tinggal kari rumihin.

kelangkung sakti Nyi Hindang. masih ken[n]ya hayu luwih. 63. sarta win[n]angun[n] nagara. Hang wulang[ng]aken kagunan. 60. sarwi bakta muridné para pangéran. gelar[r]an pangatur habdi. Kasinggiyan[n]ipun dara. Nyi Hindang Darma dinakwa. Nameng humatur kaul[l]a. kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang. dalah kathah tiyang prapta. hanggén[n]é tinggal nagari. berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an. dalah kadados[s]an sasti. Nyi Hindang memada mangkin. Hindang Darma pan pinunjul. nulya dén lurug Nyi Hindang.marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang. Hindang Darma mulang ngélmi. bantasa kaprabon jurit. katiwas[s]an habdi Gusti. gemah rah[h]arja hing dusun. ngaben sakti hing ngajurit. pan badé hanangkep wahu. 62. dadi guru mulang ngélmi. Pangéran Guruh ngrawuh kyahi. 61. hantuk marma ning Yang Sukma. Mapan sami yudabrata. pinaring[ng]an harja Gusti. kadugén Nyi Hindang Darma. 53 . pangéran samya ngemas[s]i. dérék damel wisma Gusti.

nuwun hidin hing ramaji. dipati hamaca donga.” 64. kang putra dérék pikarsa. mila habdi gegancang[ng]an. “Duh Gusti pepundén hulun. hinsahalah. 14 (31. Tinggil sun durung kamulyan. 54 . hiku héyang ngira kaki. sing Palémbang guruh ngélmi. Wangsayuda Tanujaya. turun Majapahit kulup. héyangmu pan sami lampus. kados pundi Gusti sakarsa paduka. hingkang rama hanjurung pandonga pasrah. matur huning dateng Gusti. Hindang Darma luwih sakti. 65. Si Wangsanagara kaki. habdi suwun berkah Gusti. 66. Sadaya samiya manembah. Tanujiwa hingkang rayi. Kang Gusti pan Singalodra. Gawanen pan kadang[ng]ira. poma kaki dén tangkep[p]a. kantos lami pan setahun. kapasrah[h]aken hing Yang Widi. didongakhaken ka[h]ul[l]a. Ki Tinggil humatur haris. 850) //”Héh kulup pan Wiralodra.tan kiyat hananding jurit. nameng kaki kang halus panangkep[p]ira. tumenggung Bagelén nagara. Hindang Darma tiyang pawéstri. hing hibu miwah ramaji.

Bayantaka hana ngarsi. IV. Ki Tinggil haris humatur. Tan kawuwus hanang marga.67. ningal[li] tiyang yudabrata. samya prapta wisman[n]éki. sahéstu [pa]manah pun habdi. 68. hing wisma Nyi Hindang mangkin. “Radén Hayu héstu habdi. hiringen lampah Ki Tinggil. miwah Ki Pulaha wahu. “Pan paman Kyahi Pulaha. kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang. sadaya pepek hing ngarsi. hangandika Radén hanang Ki Pulaha. Jungjang Krawat cahos ngarsi. Sampun prapta kan hing ngutus. hing parnah Ki Tinggil wisma. Radén[n]ayu habdi hajrih. Puspahita Wan[n]asara. handumuk wisman[n]iréki.” “Sumanggah dérék pukulun. “Duh bagéya paman dika. lepat boten tur huni[ng]nga. KINANTI 1. lami datan tan kahéksi.” sampun kondur sangking ngarsa. 55 . Nyi Hindang kagét tumingal.” 2. hamaran[n]ika Ki Tinggil. lan kanca dika haja kari. 851) gegancangan gumanti ganti tembang. kinten kabaktaha kyahi. 14a (32.

Nyi Hindang ngandika harum. hayun[n]é hangliliwat[t]i. kadi rupi Hindang Darma. hing raség sadayan[n]éki. kaluntan wangsul pun habdi. kedah kéring da hing habdi. hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i. bendara tumut ming kula. 852) 56 . miwah Jungjang Krawat kula. Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a. 6. Mila habdi dipun hutus. kulit kuning nemu giring. Dedeg kelangkung hayu. mapan sadaya tumingal. Sampun dugi nembah ngayun. Radén hayu dipun hatur[r]i. 7. dateng wisma hanang wétan. manggah badé dangdos briyin. linggih han[n]ang compok kula. 4. sareng wangsul wisma habdi. 5. hamite geng[ng]en ningal[l]i.3. miwah kadang raka rayi. 15 (33. kadia putri widadari. sekancan[n]é kaki Tinggil. pin[n]ahés releng asuri. handérék Nyi Hindang Darma. rémah cemeng handan pandan. dateng wahu Hindang Darma. Dados singid[d]an pukulun. datan han[n]a sakéng héstri.

Radén hénggal wecan[n]a harum. hingsun préntah hangidin[n]i.” Nyi Hindang humatur haris. handérék tumut basuk[k]i.” 10. sapakersa gawé wisma. ngrahos handérék ka[h]ula. pan hingsun hasung paréntah. Mila dén timbal[l]i hulun. “Radén mahéwu [ng]kang suwun. 57 . bekti habdi nun katampi. kaliyan miskin ka[h]ul[l]a. kapéngén hénggal pinanggya. dateng tapak hasta Gusti. dateng tapak hasta Gusti. 12. Hamung hingsun Nyahi perlu. 11. kula sémah nembé prapti. hing paman Kyahi Tinggil. “Bagéya kang nembé prapti.8. rawuh hing dukuh punika. Hugi Radén sanget nuwun. Wiralodra ngandika harum. mapan Gusti kula mangkin. gegancangan lampah kul[l]a. 9. habdi hingkang dérék numpang. sangking sanget hajrih habdi. prawantu pawéstri habdi. 13. sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a. dateng paman Kiyahi Tinggil. hora dadi hapa Nya[h]i. hugi Radén nembé prapti. manggah katuran haunggah.

kang dadi kawitan mangkin. Pan dakwah Pangéran gugu. perlu mriksa hing perkawis krana kuwajib[b]an kula. ha[k]bujeng damel sawah. lajeng bendu hangliwat[t]i. Pan dakwah Pang[ng]éran guru. damel hakal Radén habdi. sumpah hing hayahan Tuwan. 14. coba matur[r]an Nyi Hindang 15a (34. 853) //priyén bermulan[n]iréki. prawantu héstri kul[l]a. datan wantun hang[ng]langkung[ng]i. muga matur[r]a hing mami. 58 . samurid[d]é sami dugi. réning habdi sugih jalmi. miwah kadang kadang kula. saweg linggih wisma habdi. Nyi Hindang nulya humatur. matur héstu kang sayekti.” 15. 17. hutawi ngirang[ng]i kul[l]a. dateng compok pun ka[h]ul[l]a. Bermulan[n]ipun pukulun. tiyang hingkang hambanton[n]i. hutawi kebon[n]an habdi. Mejanggu tan[n]i hulun. “Duh Radén humatur habdi.tebih sing Bagelén nagri. 16. 18. kagét rawuh[w]é Pangéran. sami yudabrata Nyahi. hingsun harsa mireng[ng]en[n]a.

sanajan wong kuwat n[n]ingwang. mejang hélmu klayan. “Yén bener haniréki. Seja pin[n]ejahan hulun.nyabin miwah pakebonan. Nyahi kalah dadi rabi. Wiralodra ngandika rum. seja sami ngemas[s]i. tak jajal[l]é karo Nyahi. 59 . 22. sakéh[h]é para pangéran. Jadi pan karsan[n]ingsun. satingkah polah Nyi Hindang. 19.” 20. hingsun[n]ora hamilon[n]i. dén dakwah memada habdi. 854) réhna gawa jago hingwang. Yén menang dadi bujangmu. tak jaluk sukan[n]é Nyahi. hapes yudan[n]é Pangéran. “Duh bendara Radén kul[l]a. hiku pan jaluk wak [k]ingwang. Hindang Darma hamlas[s]ayun. pitulung Yang Maha Widi. Héyang Guruh hingkang salah. badé hanangkep pun habdi. bogan lanang kalah ngéstri. 16 (35.” 23. supaya huni[ng]nga mami. hingkang hanyaksan[n]i mami. totohwan pan jiwa raga. nurut[t]i napsu niréki. 21. humatur sanget pan hajrih. kinepung hing para murid.

25. hadin[n]ingsun kangge galih. Nyi Hindang methuk prang lirih. “Hiku Nyahi haja hajrih. 26. lamun kalaha Nyi Hindang. Hindang Darma nembah ngayun. sili hugi ngadu gun[n]a 16a (36.hapan sanget hajrih habdi. kumedah majeng hing jurit. pasti bakal hingsun kawin. 855) //Radén sinabet tumul[l]i. 28. héstu ngapunten pun habdi. Hindang Darma karo rayi. 24. pan sangking hidin[n]ing wang. Hapan dadi bojon[n]ingsun. 27. wong ayu sira Nyi Hindang. Perang tanding rebut hunggul. payuh pada ngadu sakti. dadi manjing…yang bara. yén makaten déra k[k]arsa. Tanujiwa Tanujaya. Tanujaya haran mami. seja hingsun han[n]iwal[l]i. Radén medal nguwuh huwuh. Wiralodra haris muwus. nameng sanget hanuwun kula. sampun dados manah Gusti. hakondur sing ngarsa Gusti. 60 . nuwun ges[s]ang paduka. hanulya Radén hamedal sekalih dangdos hing jurit. hangedal[l]i perang tanding.

Hindang Darma luwih (sakti). 29. sugih banda kaya mangkin. Haja hinda duh wong[ng]ayu. kabur tiba han[n]ang ngarsi. mésem haningal[l]i rayi. Ki Tinggil hambakta sampun. putra gegedé nagara. péngén ngemb[b]éhé Nyahi. pun hayun.” Nyi Hindang nulya hanggeblag. hing ngarsan[n]é Wiralodra. Ngadirane rama hibu.hayun[n]an yuda. paju wong yudabrata. megap-megap napan[n]aki. 33. wong hayu hanarik hati. hasuk[k]a-suka wédang kopi. nyata sakti mandragun[n]a. gagah kayan[n]é rayi. kaki pasrah ka[h]ul[l]a. 61 . 31.Tanujaya kapisanan. Wiralodra ngandika harum. “Haduh Nyahi Hindang golis. kénging ngén Nyi Hindang geulis. Tanujiwa majeng nuli. tak ras[s]a sen[n]ang kang hati. 30. sambat hora kuwat kakang. Pendelik lan socan[n]ipun. “Priyén rayi rasan[n]éki. gumuling ken[n]a hing siti. sawitan ngatur pakéyan.” 32. wong nom lok yan mangan.

37. bagjan[n]é ngungsi hing ngukir. 856) 62 . wus san[n]a kala(h) jagonya. HindangDarma luwih sakti. Kang rayi sami humatur. 35. Lamun kaya hawak [k]ingsun. “Cobi kakang kangedal[l]i. “Duh rayi kakang tan sanggup. Radén//Wangsayuda mangkin. “Manggah sampéyan hakarsa. Muga kang susah kelangkung. sampun wangsul hing nagari.perang kalah hing pawéstri. Tanujaya sabda sugal. katimbalan[n]én nangkep[p]a.” 17 (37. kakang pasrah hingkang rayi. rayi kalih pan kajodi kawirang[ng]an yudabrata. Nulya dén hatur[r]i wahu. mingkin kula ningalan[n]a. lir sikat[t]an nyamber walang. wirang kathah kang ningal[l]i. manggah nganclong saba…ran. mungguh kakang mérang ram[m]a. Nyahi Hindang Darma kaki. “ 38. hanang Nyahi Hindang geulis. mérang marang rama mangkin. 34. je…yudabrata kalih.” Wangsayuda matur haris. “Dédé musuh Hindang Geulis. 36. haja kakang hangawit[t]i. Nyi Hindang tandangiréki.

“Loh kang Wangsayuda bis[s]a. kakang tanda hora wan[n]i. sarwi mésem ngandika haris. sing riki duging negari. Bagelén hing kanjeng ram[m]a. Nulya hangandika haris 63 . Radén Wiralodra muwus. miwah Tanujiwa rayi. “Loh hadat[t]é wong kalah prang.39. mengkin rayi kang ningal[l]i. kalih Hindang Darma mangkin. 41. kari kari hora gun[n]a. halatah. wirang hisin yén hamulih. //Lamun hunggul yuda wahu. kelurug samargi margi. bagjan[n]é gentén tyang kalih. kala thothot wedi pis[s]an. kul[l]a kahul géndong kakang. 40.latah hambelik. 17a (38. “Sekalih rayi wecan[n]a. ne …sun haben lan bibit. Wangsayuda hagemuyu. nyambung sabda Wangsayuda hora gun[n]a hingsun hiki.” 43. tak nyana solot tarungnya. mancén[n]i hing rayi kalih. 857) 42. Gawa jago loro hiku. manggah kaki géh yudaha. tarung (kero)yok[k]an mangkin. Nyentak Tanujaya muwus.

“Duh bendara Radén kul[l]a dados pundi polah habdi. Haja dadi ma(nah) (ya)yi. Wiralodra ngandika haris. Kari kam[m]i hawak [k] ingsun yén tedan péngén ngrahos[s]i. Nyi Hindang cahos hing ngarsi. nulya manembah Nyi Hindang. “Wis rayi dén baris[s]an[n]a. man[n]is legin[n]é…. 46. jamak[k]é wong mangun jurit. 858) //…Nyi Hindang panembah lirih. 48.44. hing ka[ng]dang. “Duh mas Nyahi Hindang Darma. prawantu tanding hing yuda.” 45. medal hanang yudabrata. yudabrata kalih Hindang. Hora Nyahi …u…kma.kadang[ng]iréki. Radén Wiralodra wahu. dadin[n]é hingsun timbal[l]i. Nyi Hindang hingsun timbal[l]i. nyata hunggul hing ngajurit. 47. mengko kakang maju[ng] jurit. sapa kalah sapa men[n]a(ng). hénggal Nyahi metung … 18 (39.” Nyembah Nyahi dén turut[t]i. Nulya hanimbal[l]i wahu. (wi)réh(i) hawelas[s]asih. 64 .” Nyahi Hindang matur haris. mudu bahé dén turut[t]i.

malempat Nyahi Hindang. hical pan dadi wanadri. (yuda)brata man[n]iréki. prawantu sakalih sakti. hanggén[n]é hang[ng]adu saktya. pan Radén hambujeng hénggal. hambhujeng hing Radén Wira. 5. 4. tarik tinarik wani. sampun hayun[n]ayun[n]an. taksaka hical mangkin. hanulya dén bujeng wahu. dén mapan dadi peksi. Radén kalih Hindang golis. Dén turut[t]i Hindang golis. Nyi Hindang hical saking hastanira. 3. dateng Nyahi Hindang Darma. Hindang Darma manjing hing jambu wénya. mapan sami hanimbang[ng]i. Nulya sami surung-sinurung hing yuda. Wiralodra ngandika. Dados taman habening hing toyan[n]ira. sira Nyi Hindang. saparan[n]ira. “Héh tuhu nyata prajurit. hical dadi taksaka. 2. 65 . hing mondragun[n]a. DURMA 1. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata.” Hanulya dén candak wan[n]i.V. peksi garuda.

“Awit kula kersan[n]é yang maha mulya. hingsun humpet[t]an pinanggih. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal. Radén hanang hanutut[t]i. hanggebur hanang wari. campur kalan hukir. sampun hical nama kula. nulya hical jambu mangkin. 7. bareng ngamukti lan hingwang. Nyi Hindang honcat.liwat. juwet temen Nyahi Hindang. sarwi (sinam)mbat. 8. 66 . saparan[n]ira. nanging tan samar Dén Wira. hing buwah jambu punika.né hing hayun[n]ira. Nyipta glap sinamber haglis.mapan Radén dadi peksi. Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin. kula tan saged kami. .. 859) //ngendi paran[n]ing wang. maksih panjang lampah[h]a (sirek)i nameng hanuwun nama. 18a (40. kuthilang badé dahar. Mapan Radén sekti liwat. 6.” Nyi Hindang héwed hing manah. nulya prang pinggir hukir. Dadi watu sagunung hanak hagengnya. 9. “Duh susah hawak mami. kalawan hingwang.. dadiya (se)kar ring puri.

muga dén nama nama. 67 . hanak putun[n]é rayi. hanggén[n]é damel nagara. Radén Wira haget[t]un sajroning manah. 860) 12. sangking pundi sangkan rayi. 19 (41. muga lulus[s]a hing bénjang. kasmaran ningal[l]in[n]a. dadiya negariya. hing Pegadén kang dén hungsi. kang wa … nulya ngrangkul pinanggih. dateng Cimanuk (hing) ukir.” Kang raka nulya ngamin[n]i. pan hanang tuknya. leng manah Nyi Hindang golis. Radén kaliyan nagri. 13. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka. “Sukur bagja rinta. 10. …kanggé turun[n]ya. “Haduh rayi //nembé pinanggya. kado(s pundi lelam)pah[h]an. hing wan[n]a Cimanuk …repun dadya?” Kang rayi matur haris.ha(ngdad)i manuk puniki. sareng babadnya. hing kulon Cimanuk kali. nulya mengngulon hing lampah. Lamun sampun dados nagari hing bénjang. Hindang sing namhing wari.” 11. Darmayu bénjang nagara.

badé hamriksana. wangsul hanang negari. Nulya pethuk kali panarah. sing wétan haslininéki. pun[n]iki baris[s]an napa. hangiring Gusti mami. badé nuwun hidin raka. siyagi samakta jurit … 19a (42. baris[s]é mangun jurit 16. Wiralodra tanya haris. 17. hana hing gawé negara. dateng baris[s]an. pan sineja mriksan[n]i. surak mangambal[l]ambal. hanulya duging baris. …//…ngan. kagét hana pri……ni. Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a. lan sinten hingkang wewangi 68 . Kang raka hangidin[n]i. nulya matur kang raka. Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan. 861) 18. kulon Cimanuk wan[n]a. “Duh nilari ngapa. hawor suwaran[n]ing bedil pan Radén hamaran[n]i. … hingkang wangun nagara. 15.14. gén[n]é sisiniyan kalih. hanulya pangkat. Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan).

sahéstu kula puniki. hénjing kula cahos Gusti. maksih bakal nya nagari. sampun da(dya) nagari. (Dalem) Kuning[ng]an. Gragé wewengkon[n]éki. 20. lah kabener[r]an hingwang. (ga)wa (kang) kanca siréki. Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an. tamtu hing rusak. sapa layak yudabrata. cahos hanang harsan[n]ingwang. Wiralodra pan kula. hageng nagara hing wang. nulya hangandika wahu. 69 . kang wantun wangun nagara. Kran[n]a waktu punika. pan hiku sap[p]a?” Nulya humatur haris. nulya cahos tyang kalih. 22. 19. hing Kanjeng Sultan. sumanggah cahos hing Gusti. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang. …ngagéh da Dipasarah.(wa)n[n]i hambabad. nulya humatur haris. 21. pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara. kadiparan yén wis manjing. sukur bagja pan pinanggya.

70 . 862) Hangandika Kumuning. 25. kang wantun gawé negara. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an cahos sangking harsa Gusti. puniki hing …. nagari pan wicaksan[n]a. hanang sultan holiya. hawit déréng matur Gusti. hing Gragé sinuhun holiya. 26. sangking Galuh prajurit. lan dalem Kiban. katimbalan majung yuda. 24. tan katon Gusti sultan. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal. dérék tiyang salah habdi.” 27. “Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika. hidin sing sapa.” 20 (43. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan. Geragé hing pan[n]egari.” Wiralodra hamangsul[l]i. upas repat pun hamba. lamun prajurit téku sangking Kuning[ng]an.23. kéngkén hamriksa puniki. sakersandika. “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa (ma)tur Gusti. “Yén mangkon[n]o réki. mapan mentas perang tanding. hingkang wangun nagara. hanang wawengkon sultan. nameng nuwun hadil habdi.

28. ngakun[n]é prajurit ku[n]na. Wiralodra prawantu putra sing wétan. sinuhun hora ngidin[n]i. tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti. 32. teka semban[n]a. wong Sunda pan sembrana. surung sinurung haprang. 71 . “Lah coba tanding lan mami. hing rupan[n]ira. 31. turun saking Majapahit. Masandakom hing siti pan Dipasarah. hing rupa kaya sira.” 30. sinépak hénggal. pangrasan[n]é hingsun wedi. 29. Kumuning nrajang wan[n]i.” Dipasarah nyandak kula. Harya Kumuning hanggén[n]é harep pribadya. ngadir[r]aken prajurit. “Lah wong hapa Kuning[ng]an. hanggé pun ngadu jaya.” Hanulya wecan[n]a. Wiralodra hangingget[t]i. haku jaluk pangaksami. 20a (44. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda. hora duwé tatakrami. Dipasarah gumuling. 863) Kumuning //sun tan wedi.hingsun Harya Kumun[n]ing. prawantu tiyang ngajurit. Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra.

Dateng Radén Wiralodra pan cinandak. Si Windu hangéréng nulya. 72 . hanggebeg saliran[n]éki. payuh majuwa. 864) nalika prang Galuh //dingin. dén nang[ng]ngen hingwang. wong Galuh hakéh kang pejah. 35. jimat kapal sampun hical. sin[n]épak kajumpalik mrangkang ngungsi hing kuda. hanulya pun titih[h]i. mugi sukur hanambahi. pasti sira ngemas[s]i.prang hutawa ngusir hing tiyang gawé negara. Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat. mangsa kuwat siréki. kran[n]a hakéh luwangnya. datan bis[s]a mobah. Mila windu tan kiyat gén yudabrata. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah. nyinirat hanang hukir. Kumuning hanglancang[ng]i. dén ngucap Si Windu mangkin. si Windu hingkang nyépak[k]i. si Windu titiyan[n]ira. kendal[l]i dipun cekel[l]i. 21 (45. nulya cinandak wani. Dén Wira langkung welas. gawé jajahan. waktu Dalem Kiban. 34. 33. 36.

pan Radén welas ningal[l]i. hanggempur wong sanegara. Windu malempat. nyap[p]rang hiki pantos siji. han[n]ahan[n]ana. 39. 37. pertanda sujud hing ngarsa. tan kiyat harya Kumuning. Pan kahul[l]a datan wani yudabrata. Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira. lir kilat palajengnéki. Merkayangan si Windu hana hing wana. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira. semu radi ngelawan. kiniwit[t]aken tumuli. kantaka datan hémut[t]a.” Si Windu hambesat haglis. “Héran temen Windu mangkin. sira kalah haprang. hingkang Gusti Kuning[ng]an. hical sajron[n]ing wanadri. kaliyan Radén habdi. nulya dén lepas. 41. Kang Gusti gumuling siti. Windu dekuh sukunya. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira. 73 . mapan Windu napsu wan[n]i. 40. huculna habdi Gusti. hangeprang hapus sinebrak. 38. pan sira sering haprang.“Haduh pan Radian. mundur lampah turanggi.

Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan.prawantu kuda duk dingin. kabener[r]an pan pinanggah. panembah hénggal. sarwi hamasrahin[n]a. hing jiwa raga pun hamba. wus cahos ngarsa Gusti. hing Garagé pan negari. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an. pan sampun hanang nagari. 74 . nulya dén candak tumuli. hing Dipasarah. 865) … //pinanggya. hing pundi kang pudi dipun sedya. kalangkung bingah hing ngati. seja nuntun hing lampah. kalintang sabar. 42. mangka Wiralodra mangkin sa… 21a (46. 43. Nulya Radén Wira mangkin. 45.” Wiralodra ngadika haris. turun Budaprawa. lan Dipasarah patih. nyata tuhu prajurit. dateng Wiralodra mangkin. hing Gusti sultan. sangking jaran Harba Puspa. dateng Kyahi Wiralodra. 44. “Duh Wiralodra sira. wis rayi hénggal balik. Dipasarah hanulya.” Dipasarah manembah.

2. gegancangan hing lampahnya. sarta hasanak put[t]u kaki. kaliyan takdir Yang Widi. Nuwun duka mahéwuh deduka. 75 . bagja pan sira. 47. DANGDANGGUL[L]A 1. sedaya karsa nata.pinuju kumpul[l]ing wali. 866) wang //hingkang gumanti VI. badé wangsul Gusti mangké. habdi damel nagari. Kanggo turun turun nira Wiralodra. “Hanuwun berkah hing para holiya. kadang kadang hingkang dipun tinggal kari. mapan sira turun sultan. Majapahit turun[n]ira. sedaya hidin sampun. turun[n]an[n]ira. pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi. pasrah hing ngayahan Tuwan. “Duh kakang langkung sanget kuwatir. 46. hing lancang hamba. mapan samya pinanggya. kadang sadaya hingkang katinggal. ngrangkul kadang sadaya. Wiralodran matur ring Gusti. sangking Brawijaya wing[ng]in. dugi hing Cimanuk. 22 (47. kasuwun berkah Gusti.” Wiralodra kondurning ngarsi.

kados pundi raka samangkin. werni na… pun nyi Hindang Darma. hadat wong Dermayu. 5.tan manggih béja wartos. yén dadi negari mangké. Bénjing negari Darmayu ri. dadi campur wanita. keris hatawa pedang. 3. “Haduh rayi Hindang Darma musnang kali. Hindang Darma pan tumut. sanajan hingkang ngawit[t]i kakang. héstu tiyang punjul. winastanan Darmayu. Hindang Darma pinunjul. tuhu wong wicaksan[n]a. hingkang gawé negaran[n]é. katangkep[p]é wahu?” Kang raka haris ngandika. bénjang han[n]ak putu kaki. hangelar gawé nagari. yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing. kran[n]a Nyahi Hindang Darma. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi. lumuh nglakon[n]i krama. datan kotor yudabrata. 76 . 4. nameng Hindang weling hing suwara. nanging rayi hingsun turut[t]i. Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih.

hanjér pepek hing ngarsa. 7. tan[n]ah sabrang dugi mangké. miwah tarub hagung. hamit rai medal mangké. han[n]epang hing hupacara. 867) //dadi pangungsén segala bangsa. tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi. samya ber[r]umah tangga. hakéh pan kasengsara. 6. karsa ngatur gelar[r]an[n]é. hanjeneng hing nagara. han[n]a hing Darmayu. kaki Tinggil wahu. kanggé ngistrnén[n]i negara. 77 . nameng susah bénjang hanak putu mami. Kyahi Pulaha Bayantaka. pan sekalih medal hing jawi. kakang ngidin[n]i wahu. sing wétan kulon rawuh. Surantaka miwah Wanasara mantri. tempat[t]é tiyang ngatur karya. wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi.22a (48. Kadang kadang sedayan[n]iréki. luwih raméh pan negara. Namung kakang sadaya pun rayi. mugiya sami wangun. humatur manggah karsa kakang. kula turri kadang sedayanya. mapan pribawan[n]ing pawéstri.

cakep siyagi sakabéh. haganti sami ngibing[ng]é. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil. sadaya kumpul[l]ing kajat. kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi.mégot weteng belenjing. 868) 10. “Héh sanak kula sadaya kang hing riki. pan kanggé tempat kajat bénjing kumpul[l]a hing kawul[l]a. 78 . badé hawangun liyan negara. hageng halit pan kumpul. mé// gat. Ki Tinggil ngibing wahu.8. gumuruh tyang suwaran[n]é. miwah tetembangan suka suka. 9. wangunan tarub hagung. surak kadya hampuh[w]an. cangkem[m]é mecucu. 23 (49. hantuk[k]é hing kawul[l]a. patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi. tyang gumujeng latah latah. jaler héstri kumpulna. pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al. Sampun bedama sadayan[n]éki. pan hantuk saminggu. kinepok[k]an hing kancanya. nulya ngandika rum. mulya medal hajat[t]iréki. mapan Radén Wiralodra.

13.” Humatur sadaya tiyang. “Duh sanak kula sadaya. negari dadi sampun. mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a. Hanggén[n]é sami wangun nagari. 869) kula handon//blenduk. sarta maca donga kaslamet[t]an. hurun[n]an sanak sedaya. pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an. Para sepuh sami hangamin[n]i. pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki. “Duh sanak kula sekabéh. pun maca donga rampung. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti.” 12. pan sampun langados[s]an nagara klayan kersan[n]é Yang Manon. negari Darmayu. manggah kula hatur[r]i neda. sarwi ngibing dedeng[ng]éngan. 23a (50. kawul[l]a suka sadaya. saban sasih kados puniki. sami linggih wahu. raméh hanggén dahar[r]an. 79 . nulya Radén ngandika haris. 11.muga dén sakesn[n]an. gumuruh hamin wong hakéh. sarta sira pada naksén[n]i. “Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari. sedaya kula suwun.

sarén[n]ingpun lami mangké. rayi bade kondur. senggak muluk-muluk. kadang-kadang samiya dahar[r]an. 16. “Yén hidin paduka raka. 14. daharan suka sampun. rayi sedaya kang han[n]ang riki. Para rayi pan sampun halami. Sarwi bibar sedayan[n]iréki. sarwi ngrangkul “Kang rayi sedayan[n]éki.” Kang raka haris ngandika. hapa sangking kadulu. gamelan[n]é calempung sul[l]ing. nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a. suwaran[n]é celempung suling rangin. cinampur kalih tembang. gelar[r]é Dalem nagara. tunjang hambakta berekat. Ki Tinggil tukang méjan[n]é. kaya hap[p]olah hingwang. rebab tiyang[ng]é hanembang. rama pan ngayun[n]an.tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i. hageng halit[t]ipun. datang rama hibu mangké. 80 . 15. kang dahar suka hing manah. nulya matur kados pundi raka. dateng habdi sadaya rayi. Mapan katinggal hing rayi-rayi.

hanak putunya. wangsul han[n]ang Bagelén nagara. maksih dangdan nagara. Watuhaji hingkang raka. Dén Wiralodra. sinalin demang madurma. 24 (51. Pan tumenggung sing Jepara pelariyan. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara. krana bakal mulyan[n]ira. mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki. 17. DURMA 1. mapan hipé wahu. hing ngiring sakancan[n]éki. pikantuk kanugraha hing Yang Widi. sarta kang Wangsanagara. nulya//sami salaman rayi. 2. pun dugi Dalem miréki. hangrebat nagara. wunten musuh nekan[n]i. dumugi hing hakir mangkin. Sareng hénjing rayi pangkat nuli.sampun lepat dén haturan. 870) VII. 81 . turun pitu bopatih. dumugi hing wates[s]ipun. jeneng niki nagara. “Duh rayi muga lulus[s]a. kang raka hangater[r]ake(n).

tan suka hingsun jurit. dadin[n]é hingsun tumekang. hanang satengah hing wana. 24a (54. Wiralodra hantik panduka lir brama. pan hanang nagaran[n]ira. baksan[n]é hanglétér wani.nulya dén priksa mangkin. 873) raméh gén mangun jurit. “Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a. h[h]anulya ming[ng]éh hangeri. duméh nagara bakal. yén sinabet bedama. 6. saparan paran mami. bade sun teda. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a. mapan dadi jig jawin[n]é. 4. hiki pan bakal nagari. ngadeg kiyahi pulaha. gégér hurahan.” Watuhaji hambales[s]i. pan mégot ngigel maran[n]i. boten nganggé tata krami.” 5. 3. malempat kadi kilat. hanunggangtaya. 82 . dén candak binaktang Jawi. Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang. miwah sakanca sadaya. raméh hanang ngaprang.

Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda. maju jatmika. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha. duhung sinondénganana. mapan cakep hing ngajurit. hayuh mapag[g]a!” Radén Wira hangedal[l]i. “Héh Wiralodra sira. wong tengah hana hing wana. keris hatawa pedang. héran tiyang kang ningal[l]i. Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a. 83 . haja suwé ngadu bal[l]a. “Hora watek handingin[n]i. 8. Nulya medal Nitinagara hing yuda. 10. baksan[n]é halus hamanis. lir tiyang nagara.musuh kathah kajodi. 7. Héran Nitinegara. 9. balan[n]é Watuhaji. hayuh hingsun tadah[h]i!” Ngandika Wira. tak kira tan bis[s]a jurit. pan hayuh maju wang jurit. hayuh hénggal gitik[k]a. pedang hing ngagem dén hasta. “Héh Wiralodra mangkin. sarwi hanguwuh tanding. ko pada bis[s]a hing jurit.

84 . hudreg hasili(h) huki. Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah. tanding[ng]en jeneng mami. pan hanang tengah hing ran[n]a. “Héh prajurit Watuhaji. yén tuhu sira prajurit. pan tuhu sira prajurit. kang janglar han[n]ang ran[n]a. 874) 12. gumuling kisma. hang[ng]asta wangking[ng]an.” 14. nemu tending hing yuda. dén talén[n]i hing Ki Tinggil. Sesumbar Radén Wira. han[n]yuduk[k]i Wiralodra. Watuhaji lan dén Wira. medal tiwikraman[n]éki. 25 (55. 13. hayun[n]ayun[n]an. pan Wiralodra. Nitinegara binanting.11. nulya majeng rana malih. haja gugup gitik hira. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an. Pan binakta binekta hanangkon Wira. sinurung-surung hing jurit. maju wang ran[n]a. pan Radén hanang ngajurit. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!” Hénggal Nitinegari.

mapan mertapa. beras pari lan harta. Drayantaka Wan[n]asara. dadi pandita mangkin. Cisambeng hingkang pernah. hingsun dikang dén hungsi. Ki Gedéng Dépok mangkin. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya.15. pan malajeng sing ran[n]a. pan salin naman[n]iréki. susah pan tiyang halit. 875) 18. Mapus//…it[t]a. Ki Gedéng Sambeng nama. Watuhaji ngoncat[t]i. hing bénjang pan turun néki. 16. bubar sasar[r]an. caritan[n]ipun kanda. nulya dén Wiralodra. ngamuk hana hing jurit. balan[n]é tumenggung mangkin. ming[ng]idul palajeng[ng]ira. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara. hangamuk bala kathah. 25a (56. jinarah kebo sapin[n]ya. kathah tiyang dén patén[n]i. 85 . medal sangking Bantarjati. 17. nungkul sedaya.

harta mahéwu yutan. pun ngadeg jéndral. Radén Wiralodra sugih.kapasrah[h]aken Ki Tinggil. 19. pinten sinten gotong[ng]an. pan ngangkat demang ranggah. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika. hanang bangsa Blanda. Mila raméh nagari tambah hing tiyang sahatus[s]an balan[n]iréki. Kyahi dalem jenengnya. pepek sedaya. sami berumah tangga. bala hambral kathah mangkin. tiyang kang teka. Watuhaji kaliyan Nitinagara. hingkang wade tanah mangkin. 20. hambakta harta mangkin. Ki Tumenggung miwah patih. langkung raméh pan nagari. tan[n]ah Bogor lan Krawang. pan damel wisma mangkin. ponggawa para mantri. 21. 86 . Wiralodra jenengnéki. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah. 18. pan senang sadaya. miwah kathah soldatnéki.

giris haningal[l]in[n]a. sangking keraton[n]ya. 22. 876) 23. ginanti dangdang malih. Hamiruda bade kapotong jangganya miruda lolos wengi. kawentar saban negara. 24. 87 . Dramayu hika. Darmayun[n]ika. sen[n]ang pan tiyang halit. pan badé hambedah mangkin. Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram. VIII. Mapan Nitinagara hanangis. bakta bandakayan[n]éki. hiku pan hora becik. damel salah hing la//mpah. san[n]és sangking nagara. DANGDANGGUL[L]A 1. Gemah harja darmayu dadi nagara. hanang tumenggung kalih. pan Wiralodra. saktin[n]é hang liliwat[t]i. mila monca negari jri sedaya kathah tiyang. mapan macan nagari.ngateran harta. 26 (57.

Hingkang gumanti dalem néki. dos[s]a hingkang luwih hagung. kén mertapa ngilangké. Pan sinangonan Nitinegari. mangka sampun sesunu. 2. hing Metaram sinuhun. dados Dalem Dramayun[n]é. bénjang lenggah hing pun. pun lepas lampah[h]ira. Kacarita Kyahi Dalemnéki. “Habdi Gusti nuhun ges[s]ang.han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira. pambajeng[ng]é Sutamerta. 26a (58. Pan Nyayu Hinten histrinya. pan sekawan kathah hire//ki. kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga. 88 . Wirapati wahu. Wiralodra sanget telas haningal[l]i. yén bade kakirim make. hatur[r]ipun melas sasih. nulya kés[s]a Nitinegari. kang rama sampun séda. tumut dérék hing brandal. potong jangga hulun. wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin. 877) 3. mila bénjang turun[n]é Nitinegari.”. pun lami hanggén mukti negara. 4. Watuhaji kang dos[s]a. misti Gusti kahul[l]a. hing luwih sahéng punika.

kadya hingkang sudara. 6. Kang raka sanget jumurungnéki. sang[ng]et hanggén sesiniyan. pan sampun dahup punika. dérék karsa wahu. sadérék kahul[l]a kang héstri. kagungan sadérék[k]an sang nata. hing nagari rayi mangké nameng satunggil wahu. Mapan Radén Wirapati. Lami-lami gadah manah. dalem hing Darmayu. dalem han[n]ang Darmayu. Werdinata dateng rayi hinten mangkin. tinggal sen[n]ang karajahan. Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin. 89 . mapan Wiralodra kapi(ng) kalih. silih genti rawuh.hingkang putra Radén Wirapatya. mijil putra tigalas kathah hiréki. gumanti wahu lungguwé. Kang Rayi Werdinata. hing Pulo Mas negarin[n]é. garwanya wahu sekawan. pan sanget hanggén[n]ipun halih. blaka matur hing raka. héstri pan miwa(h) priya. nameng sampun kabakta harinta. Werdinata sang prabu. 5.

sarén[n]ing dipun lurug. tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit. Danulya Dén Wirapati mangkin. tigalas sasih lamin[n]é. miwah dalem hing Kuning[ng]an. 878) Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an. dén pinangsraya Dalem Sumedang. sanget hasih harama kalih. medal kakung pekik hing rupi. kuning cahya humancur. pan sinareng kakang Dén Wirapati. mangka pun babar wahu. 90 . humur tigang tahun. pan kabakta dateng rama. balan[n]é lelembut. sangking honom durubiksa. gumilang gilang cahyan[n]é. mapan Dalem Cihamis negari. 8. tan kiyat yudabrata. Sareng lami-lami hingkang rayi. badé nuwun bantu mangké. 27 (59.7. Hingkang peparab pirempag mangkin. sanget bingah sang nata //han[n]ang putranipun. 9. pan sampun wicaksan[n]a. Werdinata Pulo Mas néki. Bagus Radén Wringin Hanom nama. kang putra pin[n]aring[ng]an. pan dateng hing kang putra. lin[n]ingling lingling kang putra.

humatur kasuwun rama. sampun kuwatos ramaji. Hingsun pasrah musuh para demit. sangking Dalem Sumedang Gusti. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin. sarta gawa bala juru biksa kaki. mapan Radén Wringin Hanom. dén //pinangsraya rama. muga ram[m]a bekti putra dipun tampi. dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas. pan rama hingkang nandang jurit. “Héh mas wong bagus nak [k]ingwang. sah[h]a wonten dawuh napa. cahos hing ngarsa ramaji. bagéya nak[k]ingsun. Nulya ram[m]a ngandika haris. rama tampi srat wahu. “Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki. Cihamis miwah Kuning[ng]an. Nulya ram[m]a hangandika. 91 . kang putra sampun rawuh. 27a (60. 11.” Sumanggah putra matur. gancang taktimbal[l]i mangko. kang rama hangandika. musuh bala lelembut. Kuning[ng]an Cihamis mangké. putra hingkang nanggel[l]a. sing honom durubiksa.10. 894) 12. pan litempung mu[ng]suh.

lan Dongkara Tumenggung. Tyang Sumedang kathah kang ngili. rawuh Dalem Wiralodra. nulya RadénWiralodra. mapan balan[n]ipun durubiksa. Sareng hénjing medal hing ngajurit. cahos hanang ngayun. mapan bibar kénging jurubiksa. sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis. Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis. 15. “Duh putra banton[n]an. mung suwara gumuruh. datan katingal wujud[d]é. katur nagri hulun. tiyang ngétan kadulu. hemban[n]ipun hingkang putra mangkin.kang putra dérék kersa. niba tang[ng]i palajengnya. sanget welas karun[n]é dalem mangkin. kadya tiyang baris hing jurit. hasasaran tinggal kancanya lan Gusti. sumanggah putra hing karsa. gumarenggeng pan suwaran[n]é. raméh //tempuh hing yuda. mila sanget hajrih hiréki. sampun kuwatos ram[m]a. 895) 92 . bala honom satru. Hingkang putra ngusir jurubiksa. mapan Radén Wringin Hanom. 28 (61. hing ngarsa Dalem Sumedang. 13. 14.

tiwikrama wahu. gégér tiyang melayu. siyung thathit dinulu. sareng ngrahos mulya sadayanya. prajurit medal sekabéh. Dalem Darmayu mapan sakti. kin[n]arubut hing yudan[n]é. Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis. suwaranya kadya gelap. Bubar wadya bala sing Ciyamis. 93 . mlajeng lir kadya kilat. 16. hang rangseg perang pupuh. méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki. samya hamapag yuda. wahu Radén Dalem Wiralodra. samya ngusir tiyang Ciyamis. nulya Dalem Wiralodra. pangamulya tyang Sumedang. tyang Cihamis wahu. mapan sanget bungah[h]ipun. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing. dén bujeng hing Dalem Wiralodra. hantawis sagunung hanak.burbar bala hing Kuning[ng]an. Hanulya tiyang Sumedang mangkin. rémah ngrimbyak kéngsér hing siti. soca lir kembar srang[ng]éngé. 17. 18. pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a. kathah prajurit kang pejah.

19.” Rama hidin sampun. nulya manembah kang putra. mapan sampun bubar mangké. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti. Nulya kang putra haris. kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih. 896) berkah …//lumayu. 28a (62. wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari. kaya priyén musuhmu kaki?” Putra matur hing ram[m]a. niti joli lan jempan[n]a. “Men[n]awi wunten hidin jeng rama. sarta bakta putrané héstri.rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit. mlesat han[n]ang gegan[n]a. mangka sampun pethuk. 20. tan prayoga kang jaga. “Loh kabener[r]an kulup. 94 . huga musuh[h]é kang rama. kalih Jongka réncang[ng]é. kalih Paman Tumenggung. hawit kuwatos hing nagari. hénggal[l] (k)ang rama hamethuk. Ciyamis lan Kuning[ng]an. putra bade wangsul mangké. bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an. 21. dugi hing pawates[s]an. nulya pethuk kaliyan kang rama.

hisi harta hemas wahu. miwah san[n]apati hing ngalaga. peng[ng]ulu pun siyaga. numpak han[n]ang jempan[n]a haglis. kanggé jru sapu miwah jru dang. tyang kalih sareng numpak. samargi dados tingal[l]an. Kang putra matur nuwun. sangking sanget bungah hiréki.“Duh putra sareng nganumpak. sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni. 23. pan samya hormat wahu. 897) 24. Raméh tiyang hamburu. 95 . Sedayan[n]ipun para prajurit. cinampur kalih kimtal[l]i. tinawurna wahu harta. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin. Punika putra ram[m]a pribadi. kahul[l]I pun rama hibu putra mami. 22. hambakta bokor hemas[s]. sarta kawul[l]a sekabéh. handhér kawul[l]a hing ngarsa. samya rebut[t]an harta. sareng dugi cin[n]awis[s]an. 29 (63. sedeng hayun[n]ipun. lir rengat hing pratal[l]a. dipun papag gamel[l]an miwah prajurit. para héstri miwah hibun[n]ira. han[n]ak hukir langkung hawon.

hingsun mapan hora gadah. hingkang sareng linggih hing riki. bawah[h]an[n]ipun sekabéh.Dalem ngandika harum.” Nulya sami sesalam[m]an. sangking pangandika mami. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih. 25. sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit. 96 . Marang putra Wiralodra mangkin. nyaksén[n]i pan sedaya. dadi sawiji nagara.” 26. Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi. mundun sangking palinggiyan[n]ira. Lajeng sadaya[n]ning para mantri. suka bungah sedayan[n]é. kanugrahan sih hing ram[m]a. miwah para ponggawa ngalaga. karo hing Darmayu. lenggah Dalem Darmayu nagara. hing para kawul[l]a bala. pasisir Kandang[ng]ahur sun pasrahaken hanang putra mami. 27. “Saksén[n]an. mahéwu héwu kasuwun. héh sanak kadang hulun. sangking sih paduka ram[m]a. langkung sangking sanget katrima. samya dahar[r]an wahu. “Sarwi hatampi sih[h]é.

sanget bungah rama prapti. kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah. Kang lajeng Lodramayu negari para kadang-kadang miwah ranggah. kang garwa putran[n]ipun. mapan kinanti kanti tan gingga. handérék[k]aken sedaya. hantuk kanugraha[n]ning yang. langkung hasih hing garwa. 30. namin[n]ipun kang putra. sanget bungah[h]é hing manah. 29.raméh raméh gé nya bukti. sedaya pan runtut. sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari. gandék putra sedayéki. sarta pin[n]aring[ng]an garwa. kondur néki. Garwa Sumedang tan kari-kari. nulya pinethuk rawuh[w]é. hing wingking mara maru. nulya samiya kondur. dateng Dalem Wiralodra. 97 . para maru miwah putra. rah[h]erja hing laku. dugi hing pawates[s]an. Kang pambajeng mapan Radén Kowi. Radén Timur miwah Sawerdinya. 29a (64. kantos hantuk pitung din[n]a. sanget hasih hing garwan[n]é. 898) 28.

Singawijaya putra héstri. para putra sadayan[n]éki. samya mukti sampun. 32. pan ginanti wahu. miwah Nyi Raksawinata. sampun jejeg putra tigalasnya. sekalih Raksadiwangsa. hingkang sampun gumanti lungguh ramekin. pan sekawan[n]ipun. 98 . Lajeng rama duging ngajal malih. Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki. 30 (65. mapan gangsal kakung [ng]iréki. sedaya dadi pangkat[t]é. putra kakung hingkang sekalih hiréki. 899) 33. nanging Benggali Benggal[l]a. hanulya putra héstrinya. Hastrasuta wahu. Puspa Tarun[n]a Patranayéki. Wiratmaja pan wahu.Wirantaka sekawan[n]yané. jumeneng dalem pangkat. Hapan sampun hapeputra mangkin. sekawan ling putra kathahnya. pambajeng Benggala //Radén Benggali rayin[n]ipun. Radén Sawerdi putranya. nulya wapat dalem ram[m]a. mapan sampun gegarwa. 31. Hadiwangsa Nayastra.

99 . wicaksan[n]a punjul. Nanging rempaggé para ponggawi. sangking Betawi wahu. Pandebos jeneng[ng]an[n]ya. pasti hingsun ngamuk.hingkang gumanti rebat pangkat. Kelangkung sesah para ponggawi. hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi. miwah para pambes[s]ar nagara. kang rayi sanget kapéngén. 35. lamun kakang hingkang gumanti. Singalodra kang pan gagah. pan handérék pangkersa. kang ganti kedah rakan[n]é. kang raka Radén Benggal[l]a. pangkat kumendur. gumanti lungguh ram[m]a. hambakta satambur soldat. dalem lungguhipun rama. Benggal[l]i jeneng niréki. nulya wonten hutus[s]an[n]é. nang[ng]ing kang rayi wahu. lamun hingsun tan dadi dalem puniki. kaliyan Wiralodra kajenengnéki. limang sasih tan[n]ana dalemnya. kang raka kang gumantya. kang dén hutus tuwan[n]iréki. bagjan[n]én tumekang ngajal. 34. dadiya dalem lungguh.

yén mangkon[n]o nurut hingwang. kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin. mapan pasrah hingsun. nanging tan hénak hing manah. prakara hiki nagara. hing[ng]et rayin[n]ipun. lamun mentas hanang Batawiya. tigang tahun lamin[n]ira. dadi dalem pangkat gumantiya. Nulya para mantri dén timbal[l]i. mapan sampun kesah hander hing ngarsa. karun[n]a para ponggawa. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin. nanging Radén Singalodra. 30a (66. dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i. kang rama wahu lungguh[w]é. 100 . 37. Nanging tigang nahun lamin[n]éki. sekabéh[h]a hing ponggawa. jeneng dadi dalem puniki.36. mapan tumut handérék hing lahut mangkin. 38. raka dérék sampun. siyang dalu ngahos Kurhan. dateng kumendur tuwan. hanulya dumugi hing watesnéki. sanak ponggawan[n]ingsun. ka Bantarhanak bojon[n]é. nulya kang rayi matur. kang raka hing Dramayu. 900) Radén Singalodra kan[n]éki. nulya haris pangandikan[n]é.

101 . 31 (67. kang putra Kartawijaya. Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti. Gandur lan Purwadin[n]ata. hanuwun hing Yang Maha Suci. kagung[ng]an putra kathah ing réki. hingkang sanget datan. //wolung nunggal hingkang putra pambajeng Dén Lahut. Kartawijayastra gangsalnéki. 901) 41. Nyahi Moka wuragil néki. Nulya sami kondur sedayéki. mugiya kandel himan[n]ya.” 40. bala hing sang[ng]ulun. Dalem Wiralodra wahu.39. karsan[n]é Yang Maha Mulya. hanuwun pangaksaman[n]é. miwah Trun[n]ajaya tumenggung. putra saweg rumébed hing dahar. pan ngahos siyang dalu. sadaya sangggup hing pejah. Dalem haris ngandika. hasanget sakit manah[h]é. yén tan hingething kadang Gusti. pan sami ngambung sukunya. “Sanak mami sadaya nurut hing pasti. hanulya Mas Patih Hasrasutanaya. pitulung Yang Hagung. Gembruk kalih Toyib. hanyambung[ng]i sabda mangké.

kersan[n]é Yang Maha Mulya. dateng paman Dalem Wiralodra. karsan[n]é Yang Maha Hagung. hanang Gusti Panembahan Sunan Haji.” 44. “Sahéstu sinuhun. mapan sampun matur. cahos han[n]ang kasultan[n]an. Sultan sanget welas haningal[l]i. hing setan[n]a buyut héyang-héyang. tulungen hingsun. kalintang sabar manah[h]é. Kang Rama dén timbal[l]i Gusti.hénak hing panggalih. Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin. “Paman sahiki jandika. sultan hing Wiralodra mangkin. ngirangi saréh lan dahar. hing Sultan Cirebon Pangéran. 902) 102 . Singalodra kanama. jam papat wangsul wisman[n]é.” Humatur pan Wiralodra. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i. kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti. nulya Sunan ngandika. hingsun hangrungu wartos[s]a. 31a (68. hanulya ngandika rum. kadalem[m]an hapa sayekti. 43. paman léréh hing lungguh. 42.

hangwejanga hing para putra kon ngaji. sampun cahos hing Gusti ngarsanya. gadah hanak Kartawijaya puniki. “Sumanggah dérék karsa Gusti.supaya hing kasultanan.” 47. hapan[n] hamba pasrah sadaya. Hing ngarsa sinuhun. 103 . pejah gesang pun hamba. pasrah hing sinuhun. nameng nuwun pun hamba. kitab kaliyan kurhan.” Nulya Kyahi Dalem matur. hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki. man[n]awi manahé wongan. nulya sinuhun ngandika haris. kaliyan paman[n]ipun. miwah wisma kasagiyan paman. hanang Kartawijayanya. Tajug balong hingsun siyagi. 46. “Perkara hiku paman. Datan saréh miwah datan bukti prawantunya tiyang maksih tarun[n]a. Kartawijaya dipun timbal[l]i. 45.” Ngandika sinuhun. semutan héca hing manah. mila nuwun pitulung Gusti. hapan wis siyagi kabéh. nami Kartawijaya. handekuh koncem mukan[n]é.

lajeng winahos sampun.” 48. Langkung hasih Pangéran ningali. kaliyan wayahipun.” Kartawijaya sampun tampi srat Gusti. punapa Gusti karsan[n]é.” 50. sun hangkat dadi mantri wecalang kaki. Kartawijaya matur hing Gusti. sahiki pan hawak[k]ira.“Hé Karta siréku. bareng ngapan karo hingwang. nulya kadahup[p]ena mangké. “Hanang hing Kartawijaya. Sampun lepas lampah hiréng margi. panggon[n]an hanang Panjun[n]an. 104 . gawanen surat hingsun //kanggo raka hing Panjunan. Tinampi wahu serat[t]é. 903) 49. sukur pan siréki. “Sumanggah habdi doraka hing karsa. hanulya hangandika haris. “Hiya hingsun hidin[n]i kaki. nulya kondur sangking ngarsa. pernah hing Pancagahan. mangka katur hing Gusti Panjun[n]an. Panjagahan hing Panjunan sira kaki.” Sultan ngandika harum. kating[ng]al cakep hing karya. Ratu Mas Hatma hingkang nami. 32 (69. hanang Radén Kartawijaya hiking.

raméh siyang lan wengi. 51. gamelan mapan gumpul. lamun hora suka. wong santri cilik hatin[n]é. “Hanang para ponggawan[n]ira hiki. maturut préntah hing nabi. lamun jagi hing wates Darmayu nagri. hora pantes dadi dalem kaki. hadat santri hiku. wisman[n]ipun wahu. kabéh ponggawan[n]ingwang. prajurit kawan das[s]a.sukangnya. raméh. samya sukang sampun. mantri patih lan dalem. 904) 53. lagi pésta raméh raméh. 32a pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki. tiyang halit suka n[n]ingal[l]i. mapan kiyahi Dalem Singalodraka. hangsar suci pan hatin[n]é. Mangka wonten malih kang winarni.jumeneng hana hing Panjunan. wedi dos[s]a hagung. sepi kang negara. manggén wonten hing kajaksan. 105 . Duk dalem mékang hanang riki. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin. Ki Dalem nulya ngandika. 32a (70. 52. hinget[t]é hing ngakérat.” Surak mapan gumuruh. sanajan sadulur //tuwa.

langkung rusuh rerampoggan. Para mantri sami hangepok[k]i. nulya wapat dugi hing jangji. 54. sodéré cindé kembang. patih Hastrasuta kuliling. 106 . sodér kinipaletu nulya. lagi sedeng ngatur karya. tiyang halit kalangkung susah hiréki. Hingkang sugih banda kayan[n]éki. nayaga mapan raméh senggak. 55. lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti. nayaga dén siram lan wari. rinampog déning para durjan[n]a. saholah nyahambek pura. hupacara siyang dalu. lami pan tigang nahun. 56. pan Radén Semangun. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami. hanjejeképak wahu. gagah tur habagus. kathah tiyang pin[n]atén[n]an. hingkang gumanti putranya. sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki. hanjenengi dalem mangké.satingkah polah Gustinya. dedeg sedeng hapideksa. wahu Dalem Singalodraka. yén kirang senggak[k]é mangké. datan kiyat jagan[n]é.

Miwah para sénapati jurit. 33 (71. Bantarjati pernah[h]é. 905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a. 57. Dén Nuralim wahu. 58. para putra putra sadayanya. pangawakan[n]a wangganya. Tiyang ngeraman sampun siyagi. langkung pitung hatus. pan seling Rangin putran[n]é. wunten malih hingkang warta. langkung susah ribut[t]é hanang nagari. sesek kathah[h]ipun tiyang. tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis. saking Kandang[ng]ahur. 107 . Biyawak Jatitujuh. putran[n]é Purwadinata. juragan[n]é Bagus kandar. nanggung hang ngalaga. Bagus Rangin Surapersandanéki. Kyahi Betawi hika. mapan misan[n]a niréki. 59.hanggén[n]é jaga durjan[n]a. Siyang dalu raméh raméh mangkin. Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin. Bagus Léja lan Sén[n]a. kadang misan[n]ipun. hanggén[n]ipun pésta tetanggapan.

jumagi hanang wates[s]a. Lajeng ngaben lampah hiréki. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin. kathah tiyang ningalan[n]a. hobyok pedang hérmas //sérét kuning. 60. Kanca-kanca kang para prajurit. ngandika hing kanca prajurit. mapan rempag sedayanya. 906) 62. 61. “Héh sanak kula sadaya. hageng hinggil meden[n]ya.tyang dugi saban din[n]a. hatinjo kadang kula. rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki. sareng hénjing budal mangké. hanempuh Darmayu. mapan Radén Kartawijayanya. siyagi tumbak bedama. hangrempug badé nempuh. bénjing hing Darmayu. nganggé pakéyan tamtama. pan dateng Darmayu nagari. sarwi matur sumanggah hing karsa. jolén miwah tumpak[k]an. mapan Radén Wiralodra. kornélnya hanang ngayun. 108 . datan hénak halungguh. 33a (72. pan Kartawijaya hanenggih. bedil tulup lan keris. kulit kuning wahu.

lajeng methuk Radén Kerstal. miwah putra sarta sénapatya. tias[s]a ngamba gegan[n]a. samya kagét para prajurit. karun[n]a dateng harsan[n]é. “Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun. putra sareng dulu(r). kathah resak para ponggawi. putra putri sangking Banten kang nagari. kénging wicaksan[n]a nipun. datan bis[s]a nyepeng mangké. huwa Kartawijaya. héstri warninipun. sapa prajurit nama?” 109 . hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki. miwah para putra putra. 64. punika Ciliwidara. kalih paman patih Hastrasuta. Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki. ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata. sinelek lampah hipun. Kartajaya ngandika. campur kaliyan senjatos. 63. Para prajurit hing Darmayu mangkin. hiki musuh rebut hapa.hamireng surak mangambal[l]ambal. wani temen hangrusak hanang nagari. “Duh rama huwa nuhun. langkung resak[k]ipun nagari.

“Duh raka pitulung mangké.65. nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi. nulya sanget dukanira. Nyi Ciliwidara kang nami. pan kénging musuh han[n]ekan[n]i. Suryaputra Sruyabrata néki. 907) 67. Dén Dalem Wiralodra. tan kuwawi hulun. sahiki ram[m]a harep kapanggih. Ciliwidara hiku. sumanggah raka hing karsa. malah putra rama mangké. 110 . miwah raka Suryawijaya. dén panah si Ciliwidara. Héh Kang Rayi Hastasutra patih. 34 (73. putra raka kathah lampus. 66. Nulya ngrangkul kang raka tumuli. miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal. ngangken putra Kentanagara. malebet hing padalem[m]an. sarwi karun[n]a sesambat[t]ira. hangemas[s]i wahu. mapan kambi raman[n]ira. langkung sakti Ciliwadara puniki. nulya pangkat wah[h]u. hingkang rama medal toya waspan[n]éki. kathah kang sami lampus. bésuk iki sun candak[k]é. hanadah[h]i yudabrata. bade hing rebat nagara.

sapira habot saktin[n]é. Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i. kakang tanding hing ngayuda. lan sa[pa]mapaging yuda. 69. kadiran wong hayu sira. 908) duméh sira punjul nganihaya lampah cidra. 70. Sarta bendéné pinukul haglis. Ketambuwan sira hing mami. manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing. wadyabala ponggawa putra prajurit. hénggal dangdos busanan[n]é. wani hangrusak Darmayu. gelang kalung kilat bahu. hanulya sesumbar hénggal. 111 . han[n]ang wong Darmayu. wong siji wani musuh. pan cakep yén tiningal[l]an. hiki sadulur hingkang tuwa. 34a (74. hananding kadigdayan. sareng hénjing binaris[s]an. Kartawijaya jeneng[ng]é. pan kalih wong sanegari. wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami. bendéra tinarik hénggal. mangka Ciliwidara miyarsa. sira Ciliwadara hanjing.68. pan[n]ah miwah bedama keris. prawantu tiyang hayu.

112 . suka haningalan[n]a. hobah bebalung ngira. Hanulya mentang panah hiréki. ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang. 71. kang haran si Belabar Gen[n]i. hangrahos peteng hing paningal. sarwi hawecan[n]a dén priyatna. tibakna han[n]ang hingwang. hénggal wangking pedang[ng]é. 73. yén niba hanguyun. sekalih pan punjul.men[n]awa tambah ta sira. 72.” Ciliwidara dén luket[t]i. hanang getihyé manus[s]a. hapa han[n]ang siréku. pan hénggal linepas panah ngenan[n]i. hudreg pedang-pinedang. manah datan mindowa. tiyang surak lir kadya rengat hing bumi. tan wonten hasor hing yuda. rasané panah hingsung. “Nyata prajurit siréku. “Héh pan Kartawijaya siréki.” Radén Kartawijaya mangkin. pancén wong sendek humur[r]é. sundel dayang humbaran. Méh san[n]alika tiba hing siti. kurang tata perang mangké. maka hangandika hasruh.

ngandika hing prajurit[t]é. mapan samya dén jaga. Kartawijaya wahu. Mapan samya pinanggya. langkung hawrat kasaktén[n]é. 35 (75. saya gumareget hagalih. pan cinandak sampun. pernahipun hical Nyi Cili. kalih kang rayi pepatih. medal tiwik[k]raman[n]ya. satingkah polah[h]ira. samusnané Nyi Ciliwidara. hanggén[n]é musuh Kartawijaya. pan miwah putra nonoman. miwah putra putra sadaya. nulya Dén Kartawijaya. Kartawijaya cuwa hing galih. Ciliwidara datan kuwawi. sirna datan karuwan. 74. dén hédek hanang pratal[l]a. 909) 75. Ciliwidara hambekas hana hing bumi. SINOM 1. 113 .mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i. kang raka kalih kang rayi. IX. hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi. kén[n] jumagi wahu. siyang miwah dalu.

menawi kasoh rumihin. raka hénggal hangrawuh[h]i. sangking berkah raka wahu. 2.” 3. han[n]anging sejaning raka.” 35a (76. miwah putra pan sedaya. hawit hanglancang[ng]i Gusti. héran pisan Ciliwidara digjaya.Hastrasutra jenengnéki. “Kabegjan makethi-kethi. “Duh Yayi Mas [s]asih basuki karsan[n]é Yang Maha Widi. mila bade matur Gusti. ngaturaken kasusah[h]an. nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka. 114 . tan seja raka habantu. hing rayi kang yudabrata. lah kados pundi hing karsa. sadaya cahos hing ngayun. datan huning[ng]a yén susah. kersan[n]é Yang Maha Mulya. lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara. Kang rayi matur hing raka. mila kasuwun pun rayi. dateng rayi hing dalem katuran lenggah. 910) 4. Kang Raka haris ngandika. mapan lagi mangun jurit. hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki. bade wangsul pan rumihin. hénggal Si Kakang harawuh.Kang raka haris ngandika. “Tak tarima karsa rayi. resak[k]é hingkang nagari.

jumerogjog hingkang prapti.” Nyi Jaya humatur haris. hanulya hénggal lumaris. Tak kira han[n]a sukarya. malebuh[h]ing padalem[m]an. dumugi han[n]a hing jawi. man[n]awa malebu Rayi. katiwas[s]an habdi Gusti. para putra ngabekti sami. “Duh bagéya janur gunung rayi prapta. 115 . sarwi manembah hing ngarsa. hanang Garagé nagari. Nyi Jaya cahos hing ngayun. hing panjagahan kakang.5. 8. dén jaga ponggawa rayi. kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya. Sareng nuju dinten Jumah. mung rayi kang hatiyati. Bade matur kasahéstu. 6. Dalem Wiralodra mangkin. patih Hastrasuta mangkin. saweg sinéba kang raka. nulya hangiring lumampah. Prawantu wong wicaksan[n]a. Kyahi Dalem ngandika haris. jagan[n]é hilang[ng]é wahu. “Ponggawi dérék sang[ng]ulun. han[n]ang pernahé hing musna. Sedaya sami rangkul[l]an. 7.” Nulya bibar masing-masing. hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara. “Duh Gusti hatur duduka. sanget sampun duka Gusti.

humatur kasuwun Gusti. 11. 911) Kyahi Dalem hangandika. “Habdi dén pethuk hing raka. Kyahi Dalem hangandika. pan habdi kaperdi Gusti. déréng wangsul wisma habba. kalih turun-turun mami. sedaya manggah hing karsa. bade tumut nyusup habdi. kadang kadang habdi Gusti. jaga pati saksi habdi. lan sun halih nama Resik Sira Jaya. dumugi hing hanak putu. 10. humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira. wis rayi hénggal mundur[r]a.36 (77. tan niyat cidra hing Gusti. 116 . sahiki nembé hadugi. sukur bagja sira yayi. datan seja bade tumut (ka paduka). nanging kekah pan kahul[l]a.” 12. hantawis sanambang Gusti. kumpul damel tarub hagung. sampun kathah tiyang prapta. 9. hénak[k]a hing wisma rayi. dadiya sawiji bénjing. sangking Bantarjati habdi. Nulya manembah hing ngarsa. “Manah rayi sun hidin[n]i. mugiya satrun[n]ira. bade ngraman hangresak nagri paduka. Darmayu badé karesak. tak tarim[m]a sedyanipun.

sayagi wonten tiyang ngraman. 13. 15. miwah Wangsatrun[n]a wahu. humatur pan kakang patih. dadiya kawruh wan[n]ipun. miwah sesang[ng]oning tiyang. ngandika hing kakang patih. lenggah hing paséban jawi.mapan Kiyahi Wiralodra. punapa kakang hing karsa. “Kados pundi kakang niki. Sutamarta Tum[m]enggung. hawit hing wawengkén Gusti. 14. sadaya kang sun timbal[l]i. Kang Gusti nulya ngandika. Nanging samakta hing yuda. Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang. hatur[r]é Nyi Jaya wahu. sentan[n]a prajurit mantri. hing dusun han Bantarjati. Trun[n]ajaya hingkang rayi. “Duh kadang-kadang prajurit. 117 . yén kedah tinangken wahu. Hénjing miyos hing paséban. kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman. 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya. pan Tanujiwa kang raka. Jiwasuta kang prajurit. kathah kang para prajurit. 36a (78. ngempel[l]aken ponggawa. “Punapa kang raka patih. sasat musuh[h]an dateng[ng]i. mangka hangandika patya. siyagi para prajurit.

prawantu gagah jatmika. sedaya niti turanggi. wédang miwah dadahar[r]an. sinonthé keris hing kanan. budal[l]é hing Jatitujuh. sampun kirang pan sayagi. kuluk hérmas hinten murub. 18. 37 (79. miwah sakéhéng prajurit. Samargi dadi tongtonan. konca mawi cindé kuning. pati(h) Hastrasuta mangkin. bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i. hing ngiring para prajurit. samakta siyagi jurit.karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa. pancén gagah dedegya mapan sumbada. nyangking pedang tumbak//duhung. prawantu mriksa berandal. Nulya kondur ring paséban. Gustinya niti turanggi. 16. hing ngampléh kang wunten kéri. kawula samya siyagi. tyang dusun hanyiyagéni. 19. hupacara para mantri. hulesna pas gambirah gagah hing yuda. Bendé muni samya mudal. 17. demang rigah para harya. pun[n]akang dadi biyas[s]a. pajun[n]é tiyang ngajurit. 913) 118 . pakéyan mawarna-warna. Kula hatur[r]i pan sedaya. bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal.

sadaya tiyang ningal[l]an[n]a. kalih hingkang paman wahu. gegedén hing Kandang[ng]ahur. saweg sinéba ponggawa. miwah Kyahi Betawi. sampun cekap bala wahu. Bagus Seling hingkang putra. hutawi hinurug mangkin. miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar. 21. 22. miwah kadang putra mangkin. Bagus Serit jeneng néki. sarta Bagus Pangiwa. kasebat kang pinituwa. miwah para sén[n]apati. Bagus Rangin hangandika. sénapatya sedaya putra Mayahan.miwah tetabuh[w]an mangkin. sarta pan Radén Nur[r]alim. hing tembé huninga hing Gusti. tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak. Sadaya pepek [k]ing ngarsa. kang wunten hing Bantarjati.” 119 . klapa dugan saban pintu. “Hanang paman kadinéki. Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari. 20. mapan para sén[n]apati. punapa pan kintun serat. Sumanding Surapersanda. Pan lajeng hingkang lumampah. raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an. pengagung Ki[ng] Bagus Rangin. kados pundi gelar niki.

kados hapes hing ngajurit. 120 . sukur bis[s]a hanekan[n]i. kaleres[s]an tanggal[l]ipun. kula hatur[r]iki kang sabar. héca hanggén cacatur[r]an.” Bagus Rangin ngandika haris. lah gelar[r]é kados pundi. pinangka hormat [t]ing Gusti.” Nulya matur rama mangkin. napa wangun baris hagung. kinten pangkat dinten pundi. janur miwah godong wringin. pajun[n]é mapag hing jurit. Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda. “Duh putra sedayan[n]iki. “Kados pundi lampah[h]ipun. nanging putra sahé baris kahormat[t]an. sarta manawi palengkung[ng]an. Dalem Darmayu rawuhnya. Hing Jatitujuh pernahnya. putra dérék karsa ram[m]a. Sing lér dugi ning mingsah. “Leres taya putra mami. kedah mangké dinten Kemis. gangsal dasa sasak siji. ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a. “Duh bagja yén mangkonowa. 24. pecalang cahos hing ngarsi. 914) Kemis Kaliwon puniki. 26. lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?” 25. Bagus Serit hangandika. 37a (80.23. Saban sasak jinagiya.

kalih paman Bagus Serit. siyang dalu tetabuh[w]an. hangdalem sasak satunggal. siyagi tyang kasémahan. Bagus Serit hatur[r]an[n]ya. damel tatar[r]uban mangkin. siyagi pethuk pangagung. gelar wang rampoggan mangkin. sakanca berandal mangkin. Supaya wangsul[l]ing kuda. gamelan[n]é siyang wengi. Rampung bedami gelar[r]an. gampil hingebyak[k]an bala. 38 (81. samya ngatur gelar wahu. kanan kéri pan bendéra. hénggal sasak binubrak[k]an sedaya. limang puluh balanéki. sampun bedami pesagi. 28. hanggeber wonten hing wari. yén kuda miwah ponggawa. mapan tiga prajurit néki. sampun //bibar samakta bala sedaya. ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun. 915) 121 . 30. kang sinigeg bala Darmayu punika. 27. raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an. ram[m]éh raméh kang prajurit. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan.tin[n]aro prajurit telu. nanging samaktaning jurit. 29. sampun lintang kinten tebih. nulya kadang-kadang néki. Samya damel pasanggrahan.

hulem cemeng kudan[n]ipun. samya kempal pirempag[g]an. mapan kén methuk sang[ng]ulun. Hastrasuta pan prajurit. Sareng hénjing samya budal. Sedaya pan hasung hormat. bedil tulup lan suligi. 31. hanang dusun Bantarjati. 38a (82. nulya ngandika Ki Pati. nulya manembah tur nyaris. Ki Patih nulya ngandika.hing Jatitujuh gén[n]iréki. hingkang lajeng paman patih. habdi sampun siyagi men[n]awi kersa. raméh gamel[l]an hang Rangin. kahutuskén mriksanana. hing ngiring para prajurit. pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman. hing ngendi pernah[h]é wahu?” Humatur prajurit tiga. Ki Patih niti turanggi. suka ta [h]hangormatan[n]a. 916) “Duh Gusti habdi //puniki. sumanggah sakarsa Gusti. 122 . 32. “Punika katingal Gusti. sareng dugi pawates[s]an.” 33. mung mengko sabalik mami. mapan sakti hing prang pupuh. samakta kaprabon[n]ing prang. “Tak tarima sanak mami. rawuh[h]é Gusti jantika. kran[n]a hiki lampah gelis. palengkung[ng]an bandéra baris hing marga.

nulya héstu kang sayekti. hing ngobar tan[n]ana kari. salaman sedayanéki. mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun. miwah samya ngormat[t]i. hanungsi hing Bantarjati. mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an. sampun tebah[h]ing kang lampah. nulya samya lelinggihyan. ké mriksa béja hing warta. PANGKUR 1. patih miwah para mantri. malebet[t]ing tarub mangkin. Nulya patih hameriksa munggur ngarsa. hingkang sami makuwon hing riki. surak kadya hurahan. Nulya lajeng hingkang lampah. X. 2. raméh gamelan tinabuh. “Héh sanak kula sedaya. déning pada siyaggi kaprabon jurit. “Lah kados pundi gelarnya. bendéra lan humbul-humbul.” 34. han[n]ang pasanggrahan hagung. Dén papag prajurit kathah. prawantu ngormat[t]ing Gusti. nulya sasak binubran[n]an. handeder hingkang turanggi. 123 .bandéra bang sérét kuning miwah pethak. 35. gelar[r]é tiyang ngakathah.

lan mengko[s] sengsara wahu. 4. 3. tem[m]ahan pan dadi rusak. lan hora gila tumingal.” Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur. 917) tumbak perampoggan wahu. Dramayu hing dalem mangkin.” 124 . yén kénging kula penggah. sakéh hanak putu[n]nira. “Héstu bade hangresak[k]a. sampun dén turut[t]i napsu. mapan luwih werat sesanggan[n]éki. hanang rupa wong nagara hing siréku.39 (83. hanang Gusti nagari Dalem Darmayu. prawantu kang yan[n]a patya. manggih susah kasengsara hing Yang Hagung. mapan wirang yén mundur[r]a. haku tan harep kon mundur. //punapa hingkang sinedya. “Lamun kénging sadaya pan sanak sami. ngisén[n]i sira cangkem berandal babi. Nulya ki patih ngandika.” 5. wong musuh han[n]ang negari. kran[n]a nagari hing mingkin. yén datan kacekel sira. Ki Rangin humatur sugal. “Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih. Sanajan cilik rupan[n]ya. taling[ng]an kadya sinebit. pan seja bade hing resak. tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun.” 6. “Loh Rangin celathu[n]nira. mangsa wediya pan hingsun.

Ki Patih medal hing Jati. Para mantri pan jumaga. datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu. 918) Prawantu perang berandal. 125 . sapa marah hasrah pejah. tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu.” 10. 7.” lawanen hundur-hundur[r]an. kaliyan Ki Yan[n]a patya. Sareng sampun jam sedas[s]a. pan kathah musuh nya lampus. sedeng peteng tan katingal. surung-sinurung pan wahu. patih Hastrasuta duduwa din[n]éki. pan datan tata paju[n]né hing ngajurit. kira dalu sun hebyak[k]i. Nulya Kyahi Serit ngandika. 39a (84. Bantarjati lan Biyawak. ngandika Ki Serit wahu. jam nenem sonten hing wanci. hangantos samangké wanci jam sapuluh. haja ngrangseg sira maju. 11. 8. “Loh hanak kul[l]a sedaya. “San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki. nulya dén hebyuk[k]ing jurit. haja kosi bis[s]a medal. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira. siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku. 9. tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati. para kadang maju haprang sedaya kasor hing jurit. ki Rangin werat tanding kaliyan pati.

jamak[k]é ngawula hingsun. mapan datan dén praduli mlayuning pun. Sinareng sampun waspada. para mantri pan melayu. sampun ngrahos datan kiyat. dipun byakta hing tiyang kathah. salin bus[s]an[n]a hacampur. dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking. “Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi. hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh. bade mlajeng tan huning[ng]a.” Ki//Serit medal hing wingking. nanging bala Kulinyar. kinepung buwaya mangap. tiban[n]é tumbak lan keris. mapan kénging nulya lampus. sampun payah Hastrasuta. 13. lor wétan[n]a prawantu wengi. prawantu tiyang berandal. namung patih Hastrasuta. hambélan[n]i hing nagara. tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu. pan hingsun wis hora kuwat. kang dén prih pejah[h]iréki. 15. 919) 126 . Wecan[n]a sajron[n]ing manah. perang karo brandal kinarubut. 12. mapan sampun hancur kuwandanné wahu. ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki. langkung ribut prawantu prang dug hing wengi. Nulya ki Serit tumandang. Datan huning[ng]a lor wétan. 40 (85.hangebyuk[k]i perang pupuh. 14.

dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin. Sareng hénjing nulya bibar.” Hanulya bibar sadaya. samya nayub raméh wahu. dén sangguh brandal nekan[n]i. dén bedil pamayung[ng]ipun. sarwi handras mili[h] kang luh. pan raka dalem paduka. prawantu tiyang berandal. mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung. mangka mantri kang lumajar. sampun dugi hing nagari. 19. 18. kinepung hing tiyang kathah. makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki. 17. “Héh mantriningsun sadaya. 16. sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus.” kang Gusti ngandika haris. Duginé han[n]ang nagara. sampun dugi hingkang Gusti. 20. Humatur hanak[k]ing ngarsa. nulya lajeng hing lampahnya. yén mangkono becik hingsun pada balik. pejah wonten hing marga. sarwi nangis melas sasih hing Gusti. Samya prang han[n]ang marga. “Katiwas[s]an habdinipun. para garwa miwah kadang-kadang néki. 127 . kinerocok hing payudan. sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun. kathah malih dugi hing tarub hagung.surak lir rengat[t]ing bumi.

hantuk ngrayah saban dusun. 920) puniki pan katiwas[s]an. 24. saban din[n]a matis minda kebo sapi.” 128 . pan sarwi hasesambat. Ki Rangin hangandika haris. Dateng hingkang rama paman. sampun lat lampah kula. berandal hing Bantarjati. Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki. sarta kadang-kadang[ng]ipun. 40a (86. patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh. Gégér gumuruh karun[n]a. hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun. wunten malih kang winarna. mangka hanang dalem pati.” 22. kakang patih hangemas[s]i. para garwa miwah putra-putran[n]éki. prawantu berandal dés[s]a. pan hing[ng]et hing sengsarahnya. Raméh-raméh gan tayub[b]an. miwah kadang-kadang kula. 21. “Duh paman kula nuwun. rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu. siyang dalu dedahar[r]an. sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti. sareng malebet hing wisma.samya methuk jawi pintu. sedaya karun[n]a wahu. 23. Hingkang garwa miwah kadang. hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu. hora panjang yuswa kakang. “Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun.

Sareng duging céléng dés[s]a. surak-surak hing margi samiya ngibing. han[n]a kang sarowal[l]an. conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub. hayam manda miwah harta. miwah Héng Jin lan Ti Yang li. kebo sapi néki niring. 25. tumbak keris miwah komprang sarta penthung. hana hingkang nganggé clana poléng tapih. hutawi samiya cangcut. Samargi-margi jogéd[d]an. hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi.Sedaya sumanggah ngiring. mikul lanték hisi beras. bedil gobang miwah pedang. 29. Poléng gunung poléng Jawa. sadaya pan ngajigjaya. prawantu lampah hing bangsat. Sareng hénjing samya budal. 28. mapan samya habénjang. turut marga hangrampog[g]i saban dusun. 921) miwah bendil lang sasisih. sagadah-gadah hing tiyang. hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin. 129 . satingkah-tingkah pan wahu. 26. masing-masing gaman[n]ipun. sandang[ng]an[n]é mancawarni. hanak rabi hing Darmayu. hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati. 41 41(87. Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru. 27. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a.

kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun. 130 . 32. Bah Kwi Béng sareng handulu. mangsa dén rusak[k]a hiki. hapa hora hing[ng]et salang wosé batur. dén hamuk hing para Cin[n]a. Sareng ngrempak kulya pas[s]ang. hibur palayu ning jalmi. hing ngamuk para Cin[n]a. nanging hinget sayo sobat.Cin[n]a babah kalih baru. lebur brandal kathah lampus. prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun. “Mangka hingsun hanepang[ng]i. Sedaya miréh berandal. Mung sobat waktu samangkya. wah kang hurang cuwa hingsun. “Loh kang hurang dadi brandal. nulya Bagus Surasa Persanda nepangi. hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin. yén hora handeleng dika.” Wecan[n]a Surapersanda. 33. para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki. 922) hatawa seja hanglanat. nulya berandal hangrempak. waktu hiki hajala sanak mami. mapan hiki sabatur seja halampus. tak jaluk sukan[n]é sobat. pan hingsun hora hangrusuh. miwah nyonya Cin[n]a néki. 30. mung[g]uh bandakaya sobat. 41a (88. bade ngrayah barang harta. han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun. 31.

nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun. pekakas kurang santos[s]a. harep ngrebut nagara Darmayu hiku.kang hurang pan sampé becik. gawé hibur hing negara dika hiki. hantawis kathah hing tiyang. Jarih Gan[n]a pada mélu. 38. 42 (89. seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu. Langkung sesah tiyang perdés[s]an. Gumuruh han[n]ang Mayahan. damel pasang[g]rahan mangkin. mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin. pitung nambang tiyang dugi. pengabaran dugin[n]é hing para jalmi. 131 . sangking kathah tiyang wahu. 34. Ki Rangin matek pikirnya. 37. tiyang hingkang samya prapta. para Cin[n]a kondur wahu. prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu. 923) hana hingkang hanger//rayah rerampogan hangrayah duwit. makuwon hing pamayahan. rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit. bubar hing Dramayu lampah. 36. 35. sadin[n]an[n]é telung puluh. kang hurang gawé melarat. Nulya tetabéyan Cin[n]a. siyang dalu tetabuh[w]an. hing hawak dika pribadi. kalih Bagus Surapersanda mangkin. Lan kapriyén pikiran dika.

lamun kénging trus pintén[n]an mangkin. Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral. 42. 132 . guperur jéndral Batawi. berandal para bagus[s]an. lan suka hambantonara. malah kathah soldat[t]é sinebar wahu. panjeneng[ng]an Dangles mangkin. 41. sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin. susah[h]é saban nagari. resak kawul[l]a sadaya. tan perdul[l]i kancan[n]ipun. 1808. yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu. Haduh Gusti kawul[l]anya. han[n]ang negri Batawiyang. kawul[l]an[n]é nuwun tulung. Lan benci hanang tiyang jahat. ki Dalem hunjuk lan surat.yén hayu rabi[n]nipun. 40. hing mayah[h]an pernah[h]ipun. langkung resak tiyang kathah saban dusun. hadat[t]é Dangles punika. 39. sesambat[t]é hanang Gusti. dipun rayah kebo sapi miwah wedus. hangrerayah saban din[n]a. kang ngasta dadi gupenur. samya tinuron[n]an. Mangkan[n]a dalem punika. mila sanget kasengsara. hora wirang gawé sakit. hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin. langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung.

yén tan nurut hajindanya, mapan pinotong pribadi. 43. Hanulung pertulunganya, réning brandal langkung kathah hingkang dugi, 42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur sarta kirim bal[l]a soldat, tinindiyan kaliyan kumendur lahut, Tuwan Postur namanira, sing Hing[g]ris hasal Welanda, 44. Kéng ngéndi bedami brandal, pura-pura dihangkat dadi bopatih, ma[ng]pan nagari Darmayu, pan kagung[ng]ane pun jéndral, hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu, supaya dadiya bubar, bala berandal puniki. 45. Saradadu miwah Tuwan, sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin, sarta pun bedami wahu, dalem pan sampun pasrah, hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut, héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an, tigang[ng]atus soldatnéki, 46. Supaya haningal[l]an[n]a, para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin, bedil pedang miwah hangkus, pinilih rata dedegnya, hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun, ginotong mimis pekakas, miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,

133

sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin, supaya brandal handulu, tingkah polah[h]é tiyang perang, tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu, sareng dugi hing Mayahan, kagét brandal haningal[l]i. 48. Nulya matur hing juragan, lamun wonten saradadu handugén[n]i, hambakta samaktan[n]ipun, pekakas hing ngayuda, 43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun, kapethak kaliyan Tuwan, Tuwan Delér bis[s]a Jawi. 49. Tetabéyan Delér Tuwan, kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. Tuwan Delér ngandika rum, “Héh Bagus Rangin jandika, sampun hajri mapan kula dipun hutus, hing Tuwan gupernur jéndral, kuwas[s]a negri Betawi. 50. Saréhing dalem masrahen[n]a, negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin, dadi hingsun dipun hutus, kang[g]o hambedami kula, mapan dipun Sowak nami, dalem wahu, lamun kersa hajandika, kula hangkat demang mangkin. 51. Mung[g]uh kadang sadayanya, kula hangkat dadi mantri jurutulis, kuwasahan sami wahu, saperti dalem pangkat.”

134

Bagus Rangin matur trima kasih hulun, yén makat[t]en legang manah, sedaya dipun salin[n]i. 52. Pakéyan laken sadaya, clana laken krambi laken topin[n]éki, mawi pasmén mas murub, Tuwan Delér pan siyaga, nulya raméh tabuwan humyang gumuruh, pésta hangéstréni demang, Demang Rangin para[ng] mantri. 53. Pamayahan kademang[ng]an, siyang dalu berandal tayubban néki, ngikat jeneng demang wahu, suka-suka gé nya pésta, sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung, dén hiring mantri sadaya, pakéyan sangking Betawi. 54. Tiyang kathah ningali Blanda, 43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki, bedil pedang miwah hangkus, saban soré hajar perang, kornél hajidan sersan lan sardadu, hajar bedil miwah pedang, berandal kathah kang balik. 55. Lamun dalu pada ming[g]at, sarta kathah hingkang sami kirang neda, prawantu tiyang kathah wahu, badé ngrampog panji nagara, tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus, nulya Delér kirim surat, hing Dalem Darmayu mangkin.

135

56. Sadiweg gédén tangkeppa, mapan dalem sampun tampi serat néki, gelar[r]é Delér puniku, nulya dalem kintun serat, dateng raka Kartawijaya puniku, hing Gragé ponggawa sultan, serat[t]é sampun dén tampi, 57. Sareng winahos kang serat, lamun rayi Hastrasuta mangkin, neng[g]éh paman sampun lampus, pinejah pan hing berandal, sapunika berandal jinaga wahu, dateng Wlandi kumendur Tuwan, pin[n]angsraya sing Batawi. 58. Hénggal Paduka Jeng Raka, rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi, Kartawijaya habendu, nulya matur hing sultan, sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun, Gusti Sultan hamiyarsa, nulya hangandika haris, 59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya, hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin, yén ken[n]a bandan[n]en wahu, lamun kekah pin[n]atén[n]an, 45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu, sarta sira Radén Wel[l]ang, bareng kam[m]i Karta mangkin, 60. Karta miwah Radén Wel[l]ang, mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti, sultan hangidin[n]i wahu, manembah kondur sing ngarsa,

136

medal jawi bendé tinitir pinukul, prajurit siyagi nulya, samakta kaprabon jurit. 61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika, “Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit, sahiki pangkat siréku, karo hingsun raka Karta, seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh, hing Mayahan pernah nira.” hénggal pangkat Radén kalih, 62. Lan gawah kancanira, hing pinilih sakethaha sapara prajurit, mapan sampun budal wahu, pangkat prajurit sedaya, sampun dugi prajurit hanang Darmayu, pinang[g]ya rayi lan raka, kang rayi hangrangkul haglis, 63. Hanangis dateng kang raka, mapan hingat hingkang sampun lampus pati, Kang Raka karun[n]a wahu, sarwi hangandikanya, “Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu, wapat Yayi Hastrasuta, tan mundur kakang ngajurit.”

XI. DURMA 1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang, pan sampun siyagi jurit, sadayanya ponggawa, gambirah mantri sedaya, pan bade béla hing pati,

137

hingkang pun séda, Dén Nastrasuta patih. 2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan, tumbak pangrampog[g]an mangkin, 45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya, mapan hingkang ngarsa, dalem kalih rakanéki, miwah Dén Wel[l]ang, putra Panjun[n]an selir, 3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan, Rangin mapag hamiyarsi, lamun dalem handugya, samakta kaprabon[n]ing prang, hangras[s]a ginelir mangkin, hing Delér Tuwan, mapan kinepung mangkin. 4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga, miwah hing kulon prajurit, sampun pengkuh barisnya, berandal hana hing tengah, hing kidul bala Betawi, Dén Wel[l]ang neng[ng]ah, maran[n]i berandal mangkin. 5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya, hayun-nayun[n]an pinanggih, kaliyan para brandal, mapan hangandika sorah, “Héh Rangin hanjing siréki, sira berandal, nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,

138

sugal hing wecan[n]anéki, “Héh hingsun dipun gelar, hing Delér Tuwan punika.” Hanulya mangsul[l]i mangkin, hing Radén Wel[l]ang, “Mapan tan gila hawak mami, 7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira, mangsa gingsir [r]awak mami, kadir[r]an sugih bal[l]a, mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.” Sén[n]a habandak tumuli, hing Radén Wel[l]ang, sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda, datan ngang[g]é tata mangkin, prawantun[n]é berandal, kadya ngepung satoh galak, pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit, hang[g]én[n]ing prang, hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga, kathah brandal hingkang mati, kang kénging dén belagbag, hing para mantri sadaya, kantos kasaput[t]ing wengi, hang[g]én[n]ing haprang, Rangin sakadangnéki, 10. Mapan sampun miruda sangking payudan, hénjing bendé tinitir, Rangin sampun tan[n]ana, sadaya sami miruda,

139

bade kintun srat. miwah kondur sadaya. wedi mati sira hanjing. kadrél hing jero buwi. “Hanang jéndral Batawi. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna. hantawis nem hatus mangkin. hing Darmayu hiku kumpulnya. “Héh kunyuk berandal. sampe pinang[g]ya. salebet[t]ing buwi hika. 13. 14. mapan putus[s]an pun dugi. 12. mapan kinirimna. perkara berandal mangkin. sakéh[h]é pengagung mangkin. berandal kon dén ilar[r]i. datan kamot[t]a. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala. han[n]ang Darmayu mangkya. sedaya kén maténi. 140 . hingkang han[n]ang buwinya.Dén Welang ngandika mangkin. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral. sakéhéng berandal mangkin. sampun hing ngedél[l]as sadaya. hingkang sampun kacandak. 11. Mapan sampun binalagbag bala brandal. hing karsan[n]ira. hanang jeron[n]ing buwi. binuwi berandal haglis. han[n]ang Betawi mangkin.

141 .” 17. Bagus Hawisem prajurit. brandal Luwi Séhéng mangkin. Mapan sampun baris tugur para brandal. prajurit paman[n]iréki. Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya. jaga[n]nen kang waspada. miwah Dén Kartawijayanya. kang nanggung yuda.15. hingkang nagel hing ngajurit. Hangandika Rangin han[n]ang para putra. hing lampahira. “Haduh hadi datan nyan[n]a. Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing. 930) //pan bubar sedaya mangkin. 18. hingkang nanggung hayuda. hantawis sanambang tyang. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang. sarta Radén Welang mangkin. 19. Rangin Kandar kepalanya. sarta bakta bal[l]a. 16. guyu[n]né suka-suka . pajun[n]é hing hadilaga. Rangin sanget bungah néki. Hawisem lan Radén Wari. 46a (96. nulya pangkat hangilar[r]i. sareng wonten wartos malih. saradadu Dén Wel[l]ang. paju[n]né hing ngadilaga. pan hitu diyah. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama. han[n]ang Kedongdong kang baris. holih prajurit mami.

mapan gelar[r]ing baris[s]an. 23. Rangin Kandar turun[n]ya. 22. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa. 21. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira. sapa hiki ngarsa mami. campuh[h]é hing ngajurit . kelangkung bingah. dén[n]ing dén Wel[l]ang. Tumenggung Nitinegari. katambuh[w]an pan hingwang. Kadya brondong bedil mariyem punika. prajurit[t]é Rangin hingwang. pajun[n]é Radén Wel[l]ang.” 20. 47 (97. sing dépok sambeng punika. prajurit ngarsa. 931) 142 . Dén Wari hingwang. lan Dén Kertawijayéki. pinayung[ng]an Bagus Rangin. pésta pan siyang weng[ng]i. pan kendel hing ngajurit. panyata yén husul mangkin. berandal sampun siyaga. pan kathah hingkang kajodhi. kecandak Radén Wari.kakang pinanggih lan rayi. hapandang Hawisem Wari. kendel manengan hing prang. kang nanggung mapag saréki. pethuk hing yuda. raméh hanggén[n]é jurit. Pan kapethuk kalih Kartawijaya.

Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal. 27. hanadah[h]i hing ngalaga. Léja sakancan[n]éki. héng[g]al pan binujung wan[n]i. hing kanca sultan. perawan hayu binekta. Dén Wel[l]ang hawecan[n]a. rinanté hénggal. raméh hanggén[n]é jurit. rinanté kinirim mangkin. suwung pan wismanéki. han[n]ang Gragé nagari. 28. Ki Séna Surapersanda. 25. mangilén wahu lampahnya. hanjog mara Bantarjati. Dadya raméh siyang dalu hing payudan. dén rakrak saban dés[s]a. baris berandal. samya bujeng berandal. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal.24. datan menda hanggén[n]é jurit. 26. sadaya tan[n]ana kari. “Héh hanjing berandal sari. 143 . Rangin Kandar Handa Hawisem miruda. rebut mapan tan kating[ng]al. ming[ng]ilén pan lampahnya. Surapersanda pan kénging. datan pinanggya. dateng saradadu mangkin. Bala hambral miwah Dén Kartawijaya. miwah Sén[n]a dén tal[l]éni. Radén Wel[l]ang datan kari.

144 . kantos wan[n]a hing Cikol[l]é. rempag hing wana-wana. hambakta han[n]ak bojonya. 3. 4. tigang sasih hing lampahné. kantos nye(b)rang Kucéyak. susah tiyang dés[s]a. Mangkana hingkang lumaris. KASMARAN 1. miwah Kandar handa mangké. hing Purasu Radén Srang. Samargi-margi hanangis.hanang Darmayu negari. hanyabrang Cipunegara. Men[n]awi dén bujeng mangkin. Benggala hing luwung dinang. pan sinelek hing lampahnya. 2. kalintang hanggén sengsara. sanget kasangsarah hipun. jamban dalem mingilénya. Ki Rangin Serit lan Léja. Cilalanang Cibenuwang. Pegambir[r]an Legok Siyu. 47a (932) //XII. ningal[l]i bojo hanak. kasmaran kaningal[l]i. Mengilén hanye(b)rang kali. Cipanculan Ciwidara. hanak rabi samya krun[n]a. Cipedang miwah Cilégé. dumugi hing Hung[g]ulung. hanjog han[n]ang Dulang Sontak.

hanang satengah hing wan[n]a. nulya sami damel tarub. kalangkung tebih pernah[h]é. sun tingal[l]i sanget sa(ngsara). 9. rama badé damel talun. miwah kaliyan menjangan. 48 (99. malebet han[n]ang wan[n]a.hanjog han[n]ang hing Cigadung. sampun tiyar kebon[n]an[n]é. Ki Léja pan saban din[n]a. 5. hantuk kidang lamun wangsul. langkung senang petanah[h]an. 145 . tengah wan[n]a langkung jembar. hanerus hing wana-wana. tawu ngilar[r]i hulam. telung sasih lampah mangké. kali deres kang toya. han[n]ang rawa nami Citra. “Duh putra kula samangké. Kantos damel dukuhnéki. jurang péréng lumampah. haseneng[ng]an[n]ipun wahu. //Hananem mangkin. Raméh-raméh gé nya bukti. jembar pelataran[n]ira. rawa hageng kathah hulam. Kerana para pawéstri. 8. 933) 7. kang Rangin pan saban din[n]a. 6. supaya pada hasowan. Nulya hawecan[n]a haris. hing para putra sadaya. sarta damel sawah hamba.

seja ngilar[r]i papan[n]é. sakilén kali Cigadung. 934) pan damel…. tilas[s]é Ki Rangin mangké. pan mingidul paranya. bakta kanca telung puluh.winastanan dukuh Citra. halang hujur[r]ipun jembar. bade damel taluk[k]an. pan dén wastan[n]é Cihakur. Nulya sampun rempag mangkin. nulya sami rempag[g]an. 10. Ki Gedé han[n]a hing Pecung. kalih nahun hing lamin[n]é. Hing wates Pegadén distrik. kalih kadang miwah rama. 13. Kyahi Wangsakerti nama. 48a (100. hing bang lér kulon ing Suba(ng). kalih distrik Pamanuk[k]an. gratan 146 . Tur rata tanah hiréki. kantos samikén namin[n]é. Ki Rangin hadamel. Winastanan sapuniki. 11. lamun kempel[l]an punika. katela sampé punika. Tegal Selawi naman[n]é. hanang Cigadung pernah. 12. Jatigémbol kang satunggal. mapan manggih papan jembar. Jatilima kang nama. pernah mang[g]ih telatah jembar. hingkang haprayogi hajembar.

hanggempur hing Pecung Wangsa. hingkang haji pengabar[r]an. nulya tiyang panghatumut. napa pun ngungkul[l]i wahu. “lh kad0s pundi karsan[n]é. hingkang dadi sinedya. kelangkung mandi sikirnya. Dalah sampun kathah jalmi. Sedaya pan matur mangkin. ningal[l]i pesang[g]rahan. 18. Nulya Ki Rangin hamatek mangkin.” 17. pikir[r]é pan sampun dados. 15. 16. hingkang bade tumut perang. Nulya Rangin ngandika haris. becik gawé surat hingwang. pésta hadedaharan. hing kanca miwah hing kadang. mapan handérék karsan[n]é. tempat tiyang ngeraman. raméh-raméh siyang dalu. langkung sangking sanambang. badé ngaben kadigjayan. mapan kantun tunggu dawuh. “Punapa karsa sampéyan. Panangtang mangun hing jurit. 14. saban dinten tiyang prapta. dinten pundi majeng yuda. 147 . kadang miwah kanca-kanca.sampun datos Citarum hagung. hantawis tiyang kathahhé. sedaya pun siyaga.

Ki Wangsakerti ngandika. kang kirim hing Pecung dés[s]a.tanda hingsun wicaksan[n]a. mapan sampun hamiyarsa. hapa sanggup yuda mangké. sira Jaka Patuwak[k]an. hing kadang miwah hing putra. brandal wétan hasal[l]ipun. sanggup hing ngaben pukulun. Nulya hangumpulna mangkin. Dulang Saréh hing wastan[n]é. 148 . harep ngayon[n]i hingwang. kang[g]é mapag hing ngayuda. supaya siyagi mangké. wonten tiyang ngraman mangké. kaliyan berandal wétan. sarta putra Sindanglaya. Héca hanggén gunem cangkin. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti. hing tegal selat(an) Subang. 21. sraptan[n]é hingkang hutus[s]an. kambi berandal sing wétan. pelariyan wong nagara. Hutawi nak putra mami. 19. para sén[n]apati mangké. 935) 20. sedaya matur sumanggah.” Nulya damel surat sampun. héh ya Krudug sira. jumerogjog hing ngarsanya. sampun damel sengsara. pandakawan wicaksan[n]a. 49 (101. 22.

kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang. Jajabang Grudug tingal[l]é. Nulya Dulang Saréh hamit. dék ngayon[n]én hurang Sunda. gegancang[ng]an lampah[h]ira. 24. breh hanjing siya wétan. hanjing Sunda malotot[t]é. kasukmésa jroning driya. 26. haturken juragan siya. 49a (102. powé mana hanu puguh. Jawa Wétan ngasahan kami. 25. panon pan pucicilan. nulya pangandikanya. Grudug ngadéngé glendengan. sarwi mésem hawecan[n]a. sampun dugi hing ngarsan[n]é. 27. serat nulya tinampanan.. 936) 149 . Dulang Saréh matur haris. hurang mapag[g]en siyaga. Winahos serat tumuli. hapa (Dulang) Saréh wahu. kandel hipis hurat tulang. hanjing gelis siya mampus. sarwi hawecan[n]a sugal. hulah réya homong siya.ngaturaken serat sampun. Dulang Saréh wangsul nuli. 23. Jawa Wétan te puguh. han[n]ang tempat pesanggrahan. kana jampé sikir manéh. kula hanjing siya mérad.

hambeknya lir Singalodra. bala Rangin pun siyaga. miwah Kyahi Gedéng Grudug. prawantu perang berandal. 31. 29. Hing papan tegal Selawi. Nulya humatur Ki Rang[ng]in. Léja maju hing haprang. nulya majeng prajuritnya. baris[s]é berandal wétan. Mangka sampun kapiyarsi. tur gagah hasentos[s]a. sadaya sang[g]em hing yuda. Gumuruh kang bala Rang[ng]in. dateng paduka sampéyan. miwah kadang-kadang kabéh. dados pamucuk[k]ing haprang. sampun siyagi balan[n]é. bendé tinitir pinukul. malah kathah prajuritnya. kawengku hing distrik Subang. campuh prang berandal mangké. hananding Ki Gedéng Pecung. bendéra tinarik hagé. bala Rangin kathah pejah. Patuwakan Majanglaya. ngajeng-ngajeng rawuh hipun. suraknya mangambal lambal. 30.Ki Gedéng Pecung punika. siyagi hing yudabrata. 28. 150 . nulya siyagi sedaya. hing bala Pecung baris[s]é. dateng Kyahi Serit nama.

ketambuwan Jawa Wétan. 151 . Palariyan jelma negri. payoh gentén lawan hingwang.pinethuk Ki Gedéng Grudug. 33. 35. Ki Léja hanrajang mangké. hurang sén[n]apatin[n]a. 937) raméh surak[k]ing bala.” 36. 50 (103. péngén hangrasan[n]i hingsun. nemu tanding hing ngayuda. gitik[k]i sira wong wétan. Jaka Patuwakan hingwang. Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya. 34. ningali kang raka perang. ginanti hanggén yuda. Hanulya nerajang wani. Jaka Patuwakan mangkin. nu baris naliyan siya. tan wonten hasor hunggul[l]é. hora tlatén handulun[n]é. nulya pin[n]aran hénggal. nama hurang Gedéng Grudug. Léja hatetanya wahu. 32. “Héh sapa Sunda siréki. samya surung sinurung[ng]an. bala Rangin mawih Pecung. wani mapag yuda ningwang. Paksa wan[n]i sira babi. hapa Wangsakerti kowé. wong yuda hudag-hudag[g]an. di wétan heker ditéyang. “Héh sapa kang ganti yuda.

kalih Patuwakan //mangké hang ngasta bendhak bedama. kaya wong kemaruk mangké. nyata hurak[k]an berandal. 50a (104. “Duh paman Léja (ja)ndika. dudu prajurit siréku. Coba sun tanding lan mami. 40. kasilib hing pan[n]ingal. Léja tan bis[s]a hobah. dén hikal pinuluh bayu. Kandar mapag hing yuda. Léja dinesek perang[ng]é. 39. wong tarun[n]a sakti punjul. sor duwur pandén pedang. hora wan[n]i paman mangké. “Héh Patuwakan sira. Jaka Patuwakan mangkin. datan pasrah pan medang[ng]é. hénggal cinanda(k) hing bala.” 37.Ki Léja hamedang sigra. hénggal cinandak nulya.” Tan kiyat Bagus Kandar. sayang hanggreget tingalnya. nyata prajurit pinunjul. Sarwi hasesambat nangis. 938) 152 . hanggén medang hora tata. pan sampun hayun hayun[n]an. “Hampun Patuwak[k]an paman. tur sira maksih tarun[n]a.” 38. tinitir hanggén[n]ya medang. Patuwakan sabda lirih. hiki Kandar sadulurnya.

42. “Haduh Bagus hampun paman. 45. Jam nenem béndé tinitir. Siniking putra nun pamit. Ngandika Ki Wangsakerti. gumuling han[n]a hing kisma. 44. Nulya majeng Bagus Rangin. muga mental[l]a hing yuda. hora wan[n]i paman mangké. 41. hananding Rangin siréku. Jigjakerti Majalaya. bala Pecung saya kathah. 153 . karun[n]a sesambat[t]ira. Sarwi krun[n]a sambat néki. “Rama sampun cilik manah. hakondur bala hing Pecung. “Duh putra welas hing wang. bésuk niki sun pajun[n]é. Ki Rangin nulya humatur. bade majeng hing payudan. supaya mapag yuda. sun pasrah[h]aken yang hagung. sarwi hambakta bebandan.” Ki Serit ngrangkul putran[n]é. Kyahi Serit hangandika. pun sirang baris Rangin[n]é. 43. “Héh hanak kul[l]a sedaya.” Jigjakerti matur manggah.sinabet penjalin wulung. kaya hapa tingkah hingwang. héng[g]al tinalanén Kandar. nulya surup baskara.

49. binanti(ng) kantaka wahu. sumbada gedé tur duwur. Ki Rangin hanyandak sampun. Bala Pecung miwah Rangin. hing bala Rangin hika. pada rebut[t]en hing yuda. ki Grudug mapag yudan[n]é. nulya tinalén[n]a héng[g]al. hanulya mesanggrahan. saba paran handon lan[n]ang. Majalaya dén talén[n]i. surak lir rengat[t]ing wiyat. Grudug nulya dén candak. kasaktén nanding paguh man[n]éh. papag[g]en han[n]ang payudan. surung sinurung hing yuda. Ki Gedé hing Majalaya. 154 . wis jamak[k]é hingsun lampus.hasesumbar hing payudan. budal baris sedaya. pan sami sampun pethuk[k]é. nulya Rangin hatetanya. //Majalaya pernah kami. tin[n]a kulit huras tulang. “Héh hiki Rangin haran[n]é. kami Jigjakerti ngaran.” Nulya campuh hing ngayuda. “Héh sapamapag yuda. Pan nu baris nanding siya. 48. 51 (105. binanting nulya kantaka. Nulya majeng Jigjakerti. 939) 47.” 46. kasaput kabujeng sore.

hungel[l]é wahu kang surat. semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah. Ngaturken srat tinampi. 51. sangking lér kelangkung kathah. kaya priyén polah ningwang. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i. bakal priyén tingkah hingsun. kang putra Patuwak[k]an. Mangkan[n]é ki Wangsakerti. hécagén[n]é cinatur. kajodi putra kalih yé. “Duh putra ningsun nyawa. dipun kinten musuh teka. langkung melang hawak[k]é. nawal winahos sigra. Rangin sakti mandragun[n]a. 53. dumarogdog tampi serat. sapratapané hingkang putra. dikinten //musuh praptan[n]é. gégér[r]é tiyang hing jaba. 940) 155 . binuka nulya dén dulu. “Katur layang pun rayi. nulya wonten mantri prapta. kantun satunggal putran[n]ya.ki Serit nulya hamethuk. 51a (106. Hapes tan mental [l]ing jurit. ki Wangsakerti hakagét. musuh Rangin digdaya. 54. karan[n]a masih tarun[n]a. 52. “Duh mas putra ningsun kulup. kelangkung susah [h]ing man[n]ah. 50.

Setrokusuma harinta. 156 . serat[t]é kadang kahul[l]a. katrima nuwun rinta. marah hénggal hingsun mapag. methuk wahu hingkang sém[m]ah. kasuwun kakang pinanggya. kabujeng hamireng warta. hateng[g]ah hidin[n]é kakang. “Duh bagéya sarawuhnya. rayi Dalem sing Pegadén. Nuwun kabar surat rayi. sampun hangdadosken manah. kalih pelariyan wétan.” Dalem Pegadén harinta.” Lajeng budal sakancanya. Ki Wangsakerti gumuyu. sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah. 58. Sira Patuwakan mangkin. rayi dugi gegancang[ng]an. bekti rayi hingkang ngantos. 55. sing Darmayu pun[n]ika. boten mawi kabar wahu. tumut nyambung hing ngayuda. Nulya matur Wangsakerti. 56. “Haduh bagja putran [n]ingwang. rayi Dalem sing Pegadén. Yén Kang Raka mangun jurit. raka Wangsakerti mangké. pinanggya suka kelangkung. 57. mila sanget rayi nuwun.hingkang saweg mangun yuda. hingkang rayi jagi mangké.

hamajeng hing ngarsa wahu. hanganggé raja busan[n]a. mapan Jaka Patuwakan. hingkang sugih dipun rayah. 62. tinarétés hinten mirah. kepalan[n]é hingkang medal. Dén hampléh duhung ngiréki. 61. dalah putra kalih hulun. Karo pelariyan Rangin. kang pengkuh gegaman[n]ipun. “Héh mantri ningsun sadaya. sinonjé kang hanang kanan.941) 157 .” Manembah hana hing ngarsa.kados pundi yuda[n]nipun. sami kénging tinalén[n]an. gawé rusak hing wong hakéh. 60. Sumanggah rayi hatur[r]i. hingsun hameton[n]i yuda. Wangsakerti matur haris. kaya hapa hing rupanya. nulya dangdos dalem mangké. hénggal matur[r]a baris[s]an. cakep gagah pideksa. hénggal tinangkep berandal. sarawuh[w]é rayi mangké. angandika hing mantrin[n]é. Nulya humatur haris. nganggé kuluk sutra wungu. 63. langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang. pelariyan sangking wétan?” 59. kranten kang maju yuda. 52 (107.

kang putra mundur sing ngarsa. 52 (108. tak pasrah[h]aken yang sukma. kedah dén turut[t]i rinta. hapan sesumbar.“Hanuwun matur deduka.” 64. Wangsakerti hanyambung[ng]i. kasoran hing yudabrata. 2. mangka sampun kapiharsa. héh kulup sakarsan[n]ira. jaya haputra yudan[n]é. Jaka Patuwak[k]an mangkin. 942) Nulya medal hing Jawi hamapag yuda. badé majeng hing prang pupuh. hawit déréng majeng mangké. gampil lamun putra sampun. “Rebut[t]en bala Rangin.” XIII. rama sampun medal mangké. 158 . sangking harsan[n]ipun rama. balasan siyaga surak kadya hampuwan. “Duh rayi leres putranta.” Nulya Patuwakan nembah. sangking panuwun putranta. hananding Rangin yudanya. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang. Wangsakerti putranéki. bendé tinabuh nitir. 65. dalem hangandika harum. hawit putra déréng medal. DURMA 1.

Rangin sinépak nuli. raméh surak[k]ing baris. rama kang mapag. Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda. “Héh putra lirén[n]a dingin. 159 . hing Jaka Patuwakan. hing putra Patuwakan. Mapan raméh surung-sinurung kang yuda. kon mapag yuda[n]ningwang. hujung bedama. nulya tanya Ki Rang[ng]in.hanang Rangin prawira. 4.” Patuwakan hamangsul[l]i. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda. Rangin Patuwak[k]an. héman maksi(h) tarun[n]i. 5. 3. tyang kalih hangagem keris. Wangsakerti nama. Patuwak[k]an nadahi. manggih tanding hing jurit. hayun[n]ayun[n]an. hanulya mapag Ki Rangin. mapan sami saktin[n]ya. tiba kasingsal. musuh lan hingwang. haja sira mapag jurit. 6. dalem hangganti mangkin. nulya Rangin nyandak. sarwi pangandikan[n]ya. sapira saktin[n]iréki.

hing tembé katemu hiki.” 11. kang dadi berandal. dalem majung jurit. 9. Rangin hatetan[n]ya. jeneng Wiralodra. saban des[s]a rinayah. sukur subagja. 52a (109. wong gagah sira prajurit. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira.” 7. 10. Mapan hingsun masih pernah nak sanak.yudan[n]é musuh Rangin. 943) 8. kaya bé…patya?” Dalem nulya mangsul[l]i. sangking Darmayu dingin. “Sapa hanggenten[n]an[n]a. kanggo mangan hanak rabi. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat. hanjing berandal babi. harep nangkep hing siréki. Setrokusuma hingwang kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in. ngaku bagus[s]an. sahumur hangrusuh[h]i. Dalem Darmayu mami. haku kang jaga sira. gawé lan[n]a ting tiyang. mungkur[r]a sun talén[n]i. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang. 160 . buron nagara.

bener mapan sira. nulya nerajang wan[n]i. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang. harep nalén[n]i hingwang. lan sira sapa. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira. Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda. nulya watek kang haji. bala Pecung kalih Rang[ng]in. Wangsakerti ngedal[l]i. 161 . mapan pada saktin[n]ya. hingsun haran ki Serit. hanggon[n]é mapag yuda. binanting hical Rang[ng]in. surung-sinurung sira. “Sapa mapag yuda. raméh tiyang surak. haningal[l]i hing siréki. hingsun pan hora wedi. coba majuwa. ningal[l]i hingkang Gusti. hénggal hangnyandak. hantara hatmaja redi. Wangsakerti siréki. 13. Wangsakerti pan hingwang.“Dalem Sunda siréki. Rangin pan hora gil[l]a. kang wasta tiwik[k]rama. pan Setrokusuma. 15. mapag jurit hing siréki. 14.” 12. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a.

sami kuwel[l]ing jurit. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma. Bagus Rangin ninggal baris.53 (110. 162 . Wangsakerti lan ki Serit. ngungsi hing Krawang. ruket pucuk[k]ing keris. perang pan mébéding baris. Nulya campuh perang ngadu bedama. runcing-rinuncing mangkin. hénggal mangjuwa. hang[ng]adu bedama. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal. “Héh Serit wedi mati. Serit pan sring tiba. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda. bala Rangin hangebyaki. yén héstu sira prajurit. musna datan karuwan. 18. 19. //pan kaki sami kaki. hayuh majuwa. 944) tuwa karo kaki-kaki. “Héh Serit pan sira. semu sesambat. Ki Rang[ng]in hasring niba. hibur kathah hing jalmi. ngadu pucuk[k]ing bedama. balan[n]é hakéh mati.” 17. Ki Serit musna. Rangin ngoncat[t]an[n]a. gumuling han[n]ang hing kisma. nulya malajeng ngoncat[t]i.” 16.

kalih Patuwak[k]an mangkin. hing ngendi paran[n]éki?” 23. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal. Léja sun kirim mangkin. héh kakang Wangsa. 24. Ki Serit lan Rangin[n]ya.20. dados satunggal. Wangsakerti lan dalemnya. Kyahi Dalem ngandika haris. Grudug Majalaya mangkin. suka bungah kang [ng]ati. kempel dados sawiji. hi[ng]cal Serit lan Rangin. habdi gong saktén[n]ira. Gintung Patuwak[k]an. balan[n]é tiyang Rang[ng]in. kados campur sétan. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an. 53a (111. “Putra kaliyan kang rayi. hilang tan kruwan. samya numpes bal[l]a. pan datan kacandak mangkin. Rangin bala berandal. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra. Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira. Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i. perkara berandal. 22. dén talén[n]ana. 21. Putra matur duka rama hing purugnya. 945) 163 . gup[p]enur jéndral mangkin.

hical jero wana. kathah hingkang lén mangkin. Langkung susah bebandan hical sadaya. Jigjakarya. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra. Surakerti Jayamanggala. miwah Jayakareti. bebandan mlajeng wanadri. han[n]ang Gustinya. badé wangsul langkung hajrih. 28. Rangin Kandar Léja Serit. sangking turun bagus[s]an. kran[n]a buron nagara. kinirim hing Batawi. hing[ng]iring[ng]aken mantri. 164 . Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara. pan sarta hing wétan. mantri kang sekawan. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an. Bagus Kandar larih[h]i. 25. turun[n]an[n]ira. sang Pegadén nagara. sinebrak rantén[n]iréki. saparan-paran mantri. silem han[n]ang jaladri. Bagus Léja [nn] ika.menurut hing préntah. nulya malempat. 26. rinanté hingkang sekalih. kang bakta langkung susah. Léja lan Kandar. nyabrang hing Citarumnya. 27.

“Hing kadang-kadang[ng]iréki. 946) 165 . muga rayi kahidin kondur kakang. miruda sadayan[n]ipun.” Ngrangkul wahu kang rayi.” Hangrangkul karun[n]an[n]éki. 2. miwah sadaya prajurit. lir sinebrak linolos pulung[ng]ing 1. putra pan garwa rayi. pan kakang bakta sadaya. Dén Karta hangandika. sinten raka kang ngemban[n]i. nagari Darmayu raka. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang. karun[n]ang sesambat[t]ipun. kaliyan Dén Ngelan mangkin. hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal. berandal halarih[h]i.pelariyan duk dingin. 54 (112. Dén Karta lan Dén Wel[l]ang. toya waspahan dres mijil. sadaya karun[n]a wahu. XIV. hatiyati yayi kari. Kakang patih mapan séda. 3. SINOM Mangka lampahnya Dén Karta. duginya hanang nagara. //hing Darmayu kumpulnéki. “Kakang wangsul léntas[s]a. sareng rayi mukting riki.

7. hanang soldat kang hajaga. “Duh rayi Dalem hangrinta. haja nangis hari mami. miwah Radén Welang wahu. Radén samya hangrawuh[h]i?” “Kula bade ningal[l]i. Membales kumendan pes[s]an. hingkang dipun jagi wahu. samya ngiring putra garwa miwah kadang. duging Palimanan mangkin. 947) 6. 166 . hanang sinuhun Gusti. tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan. Kartawijaya hakampir. mengko kakang jaluk hidin.” 5. dateng kumpen[n]i pun[n]ika. duh yayi dén lilan[n]ana. nulya lajeng lampah néki. hing Gragé kanjeng sinuhun. Dumugi hing pintu jaba. mengidul margi lampahnya.” Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. bade kondur sapuniki. sumur tinutup pantes[s]i. kados pun[n]apa kang werni. 54 (113.manah. “Radén niki kang dijaga. papali dadi bopatya. “Pan bade karsa punapa. nulya hatetan[n]ya haris. 4. Radén //hingkang dugi.

hibur gégér hing prajurit. Radén Karta nyandak sampun.duka his[s]in[n]é punapa.” Radén wecan[n]a haris. hanyandak Dén Welang mangkin. sinurung medaling jawi. hambuka tutumping wes[s]i. pan soldat hanahan sigra. 167 . Sadinten gén yudabrata. bala Radén Karta mangkin. héh sobat pan maksa hingsun. timbalan gupenur mangkin. ngandika Radén Welang wahu. Radén Welang badé maksa. ngangseg hing kuthan[n]éki. tan hun[n]ing hisin[n]é niki. pan bade kahul[l]a buka. yén tan wonten hidin Gusti. pun[n]apa hisi niréki. pan datan wanton hambeka. kula tahan sobat mangkin. kathah soldat hingkang mati. nulya tinutup bénténgnya. 10. 9.” Sersan mangsul[l]i sabda. Karana lar[n]ang[ng]an hika. yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang. Dén Welang sabdanéki. héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya. haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a. 8. hing soldat dén balangna. “Sobat permisi puniku.

kang[g]é Sultan Cirebon mangkin. wis haja sira //temen[n]i. Sén[n]a Surapersanda. Mangka sampun cahos ngarsa. repot han[n]ang Betawi. lampah[h]é berandal wahu. serat binanting tumuli. nulya wangun serat mangkin. “Loh babi Cirebon hanjing. gegancang[ng]an lampah néki. srat sampun katur[r]ing Gusti. nulya damel srat hénggal. dugi hing Gragé nagari. soldat hingkang bakta. 948) “Héh sanak prajurit hingwang. sanget getun[n]é hing manah. 13.54a (114. kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral. mahén kurang ngajar hiku. han[n]ang Palimanan loji. becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal. Radén sang kakang bujeng wahu sakitan. Jeng Gusti ngandika haris. mapan srat binakta sampun. “Sedaya hatur mangkin. 11. hical sangking jero buwi.” 12. lajeng cahos Gusti Sultan. Mangkana sersan kumendan. Pan lajeng hing lampah[h]ira. hanulya hénggal binuka. mapan jaluk katangkep[p]é 168 .

” 14.parusuh[w]an. ngandika jeng sultan mangkin. ngempel[l]aken kang prajurit. hénggal[l]é pan sampun prapti. 949) 15. srat mapan sampun tinampi. hing hajid[d]an lan létnan. lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya. hapan hiki gawanen pan surat hingwang. 17.” 16. Sampun medal han[n]ang jaba. héh hajid[d]an litnan mangkin. kang wisma nihaya mangkin. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral. hanang loji Palimanan. patang puluh kang pipilih[y]an. serat[t]é sampun winaca. hing Cirebon Sultan wahu. nangkep ponggawan[n]éki. 55 (115. dateng Gusti sultan wahu. Radén Karta lan Dén Wel[l]ang. hingkang ngrasak Palimanan. sarta hangandika wahu. tiningkem sratiréki. “Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat. samakta kaprabon yuda. Kanggo hing Cirebon Sultan. 169 . samakta kaprabot jurit. hanang nagara Betawi. lan gawa malitér mangkin. hakéh soldat pada mati. serat tinampakna haglis.

hora kuwat nagri mami. hing Metaram nagari. holiya béla siréku. sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa. malah nagara hingwang. Si Kléwang karo Si Dumung. 55a (116. karo wasiyat mami. hing Carebon mapan hiki. //Nulya tinampan[n]é hénggal. ngamuk[k]a hanang Batawi. lan hiki kasung paring[ng]i. Hananging yén sultanan[n]a.karana dadi san[n]unggal. nadah[h]i hing yudabrata. pin[n]ariksa ngarsan[n]éki. ngukuh[h]i tan jisa hingsun.” 20. pan dén paksa seja dén jaluk Metaram. Gupenur Jéndral kang neda. 19. malah srat sampé sahiki. pan karo sinuhun Gusti. pan ti hingsun hangamuk hambral nagara. hangrangkul ponggawa kalih. 18. Tumurun sing palinggih[y]an. pun kadada sajron[n]ing galih. hametik taling[ng]an[n]éki. 950) 170 . Karta miwah sira Wel[l]ang. wis pinasti hing yang hagung. handres mijil toya waspa. nurut[t]a pasti yang widi. Bésuk tekang Batawiya. pan durung tak bales[s]i.

sinelek lampahnéki.” Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an.Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta. gupenur pamundut néki. dén sampun tutas timbal[l]an. “Litnan miwah sares[s]an. manjing han[n]ang dalem hagung. ponggawan[n]ipun sekalih. 22. 21. 171 . Gusti nuwun dén hidin[n]i. sampun dugi hing Betawi. “Sumanggah nuwun hidin Gusti. kang dén dakwah saréki. “Héh ponggawa Batawiya. datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi. mapan ningsun durungna. hanulya hénggal ngandika hasru. lampah[h]é kang bala hambral. Gagancang[ng]an lampahnira. nulya kondur ponggawa binekta hénggal. sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa. hing Jéndral Gupenur mangkin. Sampun cahos han[n]ang ngarsa. PANGKUR 1. kaya hapa hanggon ningsun sira hutus. hanulya cahos hing ngarsa. nulya matur sersan wahu. tan kawuwus sahaning margi. XV.

hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami. Durung kawula dén priksa. kalipatul[l]ah pan hadil. dedukan[n]é lir kadya tiyang baring. hamengku tanah Jawa. kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda.” Langkung lingsem gupenur jéndral 56 (117. Paduka kuwas[s]a hagung.pan berkah Gusti paduka. 951) 172 . murbéng rat han[n]ang Metaram. 5. puniki ponggawin[n]éki. sembran[n]a ratuning hambral. gumujeng humatur néki. 3. mapan kul[l]a bade handon lampus hulun. hora nganggo tata titi.” Karta miwah Radén Welang. hapa kowé hora miring hing pangrungu. 2. nanging sembran[n]é hing karma. lan duging Batawiyah. hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi. ngisén[n]i ratuning hambral. Gupenur Jéndral pan haku. pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun. “Héh Tuwan Gupenur Jéndral. kuwas[s]a Pulo Jawa. dipun suguhi pepisuh. Loh hanjing binatang gil[l]a. 4. jeneng ponggawa pukulun.

Nulya jéndral hangandika. Sahiki kowé nrimaha. han[n]ang bénténg Palimanan. Kyahi kuwu welas handulu. nulya ngrasuk manukma. perlu hapa kowé (wa)n[n]i. dateng wayah kang sekalih dipun 173 . hangras[s]a pan kurang titi. limang los[s]in mriyem néki. //”Hé bangsa Welanda. kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun. “Héh ponggawa haku trima salah hiki. Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus. hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi. 7.sang[ng]ulun. wani ngrus[s]ak sampamati saradadu. hanuruti darah panas. nulya binaris[s]an hagung. krana kowé melang[g]ar. 56a (118.(halun-halun) hing Batawi. tan katingal hingkang dipundrél mangkin. Nulya dipun bakta medal …. tapi tan hadil pan[n]ingsun. pan ningsun drél sampé lampus. sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i.” 9. nulya tyang kalih pinas[s]ang. 952) 8. Pan peteng kénging sundawa. 6.

kran[n]a pasti bakal pejah. temahan gawé rusak hing nagara. ningal[l]i rusak[k]ing bala. mimis hinten jimatnéki. Kathah resak para hambral.” Hanulya Jéndral Gupenur. 11. 10. langkung susah balan[n]ipun kathah lampus. 174 . Baris malitér sadaya. hing Betawi langkung hibur. nulya mendhet senapan[n]ya. musuh kathah wicaksan[n]a. tan nulya pin[n]asang wahu. 12. luwih séwu hingkang mati.hukum. Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu. datan terang haningal[l]i. 13. mapan perang kaliyan kanca pribadi. sekalih ngamuk Welandi. sangka panukma nira. hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun. sing pungkur kang dén harah. hajalira han[n]a hing Betawi mangkin. héwed pan bala habral. pan cukup pun bél[l]anana. nulya medal kaki kuwu. “Héh wayah ku sekalih mapan siréku. Pinasti hingkang salira. “Loh wong Cirebon hanjing sira. hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i.

57 (119.” 14. mundur malitér kang baris. 17. wewengkon kasultan[n]an. “Hangajid[d]an sares[s]an. nulya kuwandan[n]é wahu.katerangan bakar pis[s]an. nagri Cirebon hingsun jaluk. pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin. Kartawijaya hika. kénging nulya hangemas[s]i. Hanggawa hatelung kapal. 16. 953) 175 . Dén Karta haningal wahu. nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun. kanggo ganti resak[k]é pan bala haku. nulya mburu dén[n]ing . Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin.. sahiki kowé dangdan[n]a. hing para bala hambral. haku hora trim[m]a resak[k]é balaku. dén candak kuwandanipun. hanulya ngandikan[n]ipun. bala soldat malitér hingkang pinilih. samakta kaprabon jurit. Hanging gupenur Tuwan. gupenur hamasang sigra. 15. Wasiyat keris pan musna.k hambral[l]é wahu. musna hical kuwandan[n]ya. dumugi pejah[h]ing siti. sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi.

20. mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh. Panjunan cahos hing ngarsa. ponggawan[n]é ngresak mami. Pangéran Surya Kusuma. bala hambral kaliyan Cirebon mangkin. nulya maréntah baris[s]an. litnan kornél seres[s]an nulya baris. pangéran maju hing pupuh. Raméh hanggén ning yudabrata. nulya humatur gupenur. hantawis sapitung ngéwu. wangun pesang[g]rahan mangkin.péndék haku hora trima.” 18. Radén Pekik miwah Dul. sedaya sabil hing jurit. 954) 176 . Sares[s]an hajidan medal. baris lahut baris darat. sarta Pangéran Logawa. wong Cirebon hanglawan. Mertasinga para pangéran[n]é rawuh. Samya gégér tiyang kathah. sampun mentas hing darat[t]an. hanulya siyagi wahu. lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i. 57a (120. mapan sultan sampun hamiyarsa warti. Martakusum[m]a. 21. sanget gupenur jéndral handulu. kacrebon[n]an siyaga. nén majeng hanempuh jurit. Sareng hambral ningal[l]an[n]a. 19. bala pangéran hambaris.

pan kagét sultan tumingal. hatur pan sedayan[n]éki. Samya burbar bala hambral. hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin. kén ngembel[l]aken bala. sing Metaram handugén[n]i. 25. numpak kapal babar layar hing jaladri. wonten napa sampéyan karun[n]a wahu. hang[ng]ungsi sinuhun Gusti. samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun.22. Natabumi Buminata. sampé silem darat[w]an. tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti. sampun dugi negara. 26. Metaram Broboya mangkin. sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu. Jeng Pangéran Purobaya. sultan nulya ngandika rum. Kanjeng Pangéran Natabumi. 24. mapan nengah kapal[l]ipun. 23. hing margi sampun kapungkur. Sadaya samiya budal. nulya mréntah hing tumeng[g]ung. “Héh kadang kul[l]a jéndral. Sanget dukan[n]é jeng sultan. 177 . humatur Gupenur Jéndral. mapan ngulug hing Carbon negari. Sareng pethuk kalih sultan. hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun. nulya mentas pelabuwan.

ngemban timbal[l]an sanghulun. kanggé kadang-kadang Gusti. tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti. 29. maksih jeneng sultan Gusti. habdi hanglados[s]i wahu. 27. dawuhipun Gusti sinuhun Metawis. kran[n]a negari kul[l]a. 955) lajeng ngandika prabu. 178 . sing Metaram sedaya kang samya//rawuh kados hangemban sukarya. “Bagéya kadang kul[l]a. sagending bala paduka. sultan tan bis[s]a ngandika. hantara ngandikan[n]éki.” “Habdi matur kang sayekti. Sarta pansiyun paduka. tampin[n]ipun saban santun. 30.58 (121. mung[g]uh negri paduka. mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu. tan hangkat kul[l]a pan katur. sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis. nameng Gusti kalanggeng[ng]an. sarta kaparing[ng]an tanah. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a. 28. mapan habdi siyagi hing perang pupuh. hantuk dawuh Gusti sangking Metawis. “Duh kadang-kadang kahul[l]a. pan pinundut sedaya dateng sanghulun. Gegancang[ng]an cahos ngarsa. bulu bektin[n]é punika.

mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun. handérék karsan[n]ing Gusti. Pangéran Probaya matur. sampun katur hing sanghulun. Sampun rawuh hing Betawi. nuwun hidin bade kondur Gusti hulun. pasrah[h]é Sinuhun Sultan. sesampun[n]é sesiniyan. 2. mugiya dén hatur[r]en[n]a. Lajeng gupenur hatampi. gupenur kalih sultan. 31.” 32. pan sangking dawuh paduka. wangsul han[n]ang Batapiya. pasrah[h]é hingkang nagara. badé katur hing Jeng Gusti. hing Gupenur Cirebon nagari. 956) //XVI. nulya sami pamit kondur. Sareng dawuhipun sultan. 58a (122. perkawis nagri Cirebon. sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur. nulya sukan nampéken[n]a. KASMARAN 1. 179 . “Yén makat[t]en Gusti kul[l]a. Lampahnya budal sadaya. hing Cirebon masrah[h]aken negari. kondur han[n]ang Metaram kang negari. hanimbal[l]i Wiralodra.

“Slamet dateng Dalem rayi. dipun jagi hing Yang Manon. tigang das[s]a rupiyah[h]é. 4. sanget hanuhun Yang Hagung. sawelas nambang kang harta. dateng paduka gupenur. kabendan hantuk kamulyan. kasuwun sarébu mangké.hing Darmayu negarin[n]é. hénggal cahos hing ngarsa. hawit datan gadah wahu. sampun rawuh Batawiya. 180 . dugi hanak putu Tuwan. kumeduh rayi habayar. mugi dén jurung Yang Ngagung. sangking sih pitulung Tuwan. kanggé hangrangsom soldat. Gunggung sadayaning duwit. hing rekoning dedahar[r]an. hanangkep berandal mangké. hanak putu sareng mulya. ngarabbi hing kamulyan. miwah sakéhéng pekakas. Lan kakang ngatur[r]i huning. ya trimakasih harinta. 6. 5.” Dalem datan wecan[n]a. mung[g]uh sangking perbantuwan. sangking panjunjung rinta. sedayan[n]é kul[l]a hétung. muga lulus[s]a hamurba. nulya hangandika jéndral. Hamengku hing Pulo Jawi. 3.

11. hapa hingkang biyasa. hing Darmayu kagungannya. “Duh Paduka jeng[ng] Atuwan. 1610. mapan tanah gaduh hingwang. punapa karsa paduka.harta hingkang nenambang[ng]an. héstu habdi datan duwé. pinapag hing ponggawa. hing Tuwan Jéndral punika. harta hingkang nenambang[ng]an. dugi han[n]ang dalem[m]ipun. Nulya Dalem ngandika ris. “Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a. 957) 8. hanglungguh hing kadalem[m]an. hanang surat tanda tang[ng]an. 181 . 7.” 9. salesih tanah tan darbé. Nulya dalem néken mangkin. nameng katur sedaya. 10. tanah habdi hing Darmayu. kadang putra taken warta. pan wangsul han[n]ang negari. nameng dalem tetep bahé. babar layar hing bahita. nulya pamit dalem wahu. hing Darmayu pan negara. //Gupenur ngandika haris. nulya dugi negaran[n]é. Tuwan Gupenur Jéndral. Hanulya humatur haris. mung dalem nékina hiku.” 59 (123.

hing Tuwan Jéndral Betawi. hingkang kantun Radén Brestal. langkung susah hing kawul[l]a. nulya Nyi Wiradibrata. miwah Nyayu Lotam[m]a. pan kadang putra karun[n]a. hingkang gumanti putran[n]é. 958) 182 . 14. pan kanggé hongkos[s]i perang. nanging dalem pan samangké. nami[n]nipun dalem wahu. maksih kateteppan nya nama. 60 (124. pitu tunggal hingkang putra. pan negara dipun rampas. 12. Dalem mapan sampun lami. wis karsan[n]é hing Yang Manon. hingkang gadah rinampog[g]an. Nulya dalem kénging sakit. hing hanak putu sedaya. Wiralodra peparab. Nyayu Hempuh katigan[n]é. Nyayu Pungsi sekawan[n]ya. gadah mertuwa durjan[n]a. hangrerampog panggotan[n]é.“Hah kadang pan putra ningwang. hanulya sesunu wahu. hora robah biyas[s]a. Bagus Kalis Bagus Yogya. 13. dalah dumugi hing ngajal. lungguh dadi dalem wahu. 15. Hanjani wuragil[l]ipun. pan datan lang[g]eng ring bénjang. Pambajeng Radén Marngali.

183 .Patih Singtrun[n]a wahu. 20. Cécég kathah barangnéki. kados pundi lampah[h]ipun. dipun rakrak sedan[n]am[m]an. sanget wel[l]as hing kawul[l]a. nulya damel serat hénggal. rerampog[g]an perayahan. Tan héman kawul[l]anéki. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin. bener yén mangkon[n]o rinta. Patih Singtrun[n]a mangké. datan dén pradul[l]i mangké. rawuh hing Darmayu mangké.” 19. 17. mélu néken kakang mangké. 18. dén hunjuk lebet[t]ing surat. hantawis dinten Jeng Tuwan. pan humatur hingkang raka. 16. tinangkep hingkang barang. Tan menda saban bengi. dén kumpul[l]aken pan wahu. Nulya kakirimna haglis. konjuk Presidén Tuwan. “Duh kakang Mlayakusum[m]a. tiyang dados dalem nika. hing Cirebon pan negara. punapa rempug jeng kakang. pan durjan[n]a hangrerayah. rayi bade ngrekos[s]a. hingkang dén rampog durjana. pan satingkah polah hipun. hing Tuwan Presidén wahu.

hing kawicaksan[n]anya. 22. 60a (125. para durjan[n]a sekabéh. Wedan[n]a hangrangkep patih. Singatrun[n]a Dalem patih. dipuntahan tigang wulan. samya hajri(h) ningal[l]in[n]a. durjan[n]a kathah kacandak.kang dén haku déning tiyang. wedan[n]a miwah kaléktur. 959) 21. tan[n]ana sakéng durjan[n]a. hingkang rayi hirén[n]ya. 24. cécég salebet dén rekés. Jatibarang hing distrik[k]é. gupernemén hang kagung[ng]an. sanget susah manah hipun. nulya dalem kikirimna. jeneng jaksa hingkang nama. Dalem Disowak namin[n]é. datan[n]an[n]a perkaran[n]é. Wiradibrata pan wahu. Darmayu hingkang nagara 184 . dén hangkat dadi wedan[n]a. hantuk pangkat punika. 23. Mas Malaya Kusuma[nnya]. han[n]ang Darmayu nagara. Tunggu putus[s]an negari sareng dugi kang putus[s]an. hing Cirebon nagara. pan jeneng kalékturipun. dén hangkat dadi ranggah. Langkung gemah pan negari.

Cirebon Prayawigun[n]a. sedaya pan putranipun. pan kagung[ng]an putra wahu. Mas Demang Bratasentan[n]a. Radén Rang[g]ah putranéki. kawan nunggal hingkang putra. //pambajeng Biskal puniku. pambajeng jeneng putran[n]é. kathah[h]ipun gangsal nunggal. 27. 26. pan sanunggal hingkang putra. Nyahi Junéd héstri wahu. 25. kagungan putra tiga (?). Hardiwijaya hasistén. pan Radén Wiramadengda. 28. miwah Sudirah nama. 61 (126.Patih Singatrun[n]anya. Pambajeng Patimah mangkin. hanulya Nyayu Julék[k]a. Brataleksan[n]a kakung[ng]é. hiku nipun Ratu Hatma. wuragil Radén Madada. mapan gangsal hingkang putra. jumeneng pangkat sedaya. Kaléktor putraniréki. wuragil Nyahi Jumin[n]ah. 960) 185 . hingkang héstri Nyahi Muda. Nyi Sumbaga putranipun. Radén Kartawijayéki. Radén Karta Kusuman[n]é. Radén Mardu harinta. wuragil Bratasuwita.

30. 1813. distrik Paséban naminé. hulu-hulu hingkang pangkat. 186 . pambajeng Kertahudaka. 33. hinggih punika kang tigan[n]é. nurun[n]aken putra wahu. hanglenggah[h]i demang wahu. Hingkang rayi putra héstri. Nyayu Sungsi lakin[n]éki. han[n]ang Sindang Kademang[ng]an. Kertahatmaja wuragil. Kertahudara pun[n]iku. kang gumanti kang putra. peparab Wirakusum[m]a. mlaya haja dadi demang. Muhada pan tukang timbang. 32. Demang Bangaduwa mangké. dé Marngali puniku. Wiradaksan[n]a demang. Balu…Kalid hingkang nama. Mas Demang Lobener mangkin. Nyayu Jeni kuwu héman. Tuwan Pri jeneng[ng]é. hing Lobener kademangan. Dadi demang pangkatnéki. Kertadipran[n]a hingkang nama. Darmayu pan dipun hérpa. 31. hanang Darmayu kota. Kang Rayi pan mangundriya. hupas bom hingkang pangkat.29. Kyahi jaksa sampun séda.

Sampé hanak putu Kyahi Belara Kyahi Belara peputra nami. lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran. Radén Lowan[n]a. dadi demang Luwungmalang. Hé…Subrata nama. 61a (128. Tumenggung Bagelén peputra nami 1. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 2. hulu-hulu hingkang pangkat. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 4.hing Palumbon duk dingin[n]é. 34. Peputra nami Wiraseca. satunggal[l]é lakinya. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 187 . Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Bagus Yogya jeneng[ng]ipun. Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a. jumeneng pangkat wahu. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén 3. peparab Kertawil[l]as[s]a. Hanjani lakin[n]é mangké. Ngabéhi Wiraseca ngabébre peputra nami Kartawangsa Tumenggung Metaram. dadi mantri pangkatnya.961) Hasal-Husul Wiralodra Sangking dalem kang damel nagari. Darmayu sabrang kulon. Wirajatmika nama. Haran Jaka Kuwat. Trus peputra nami.

Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. dadi nagara diharan[n]i Darmayu Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra 1. 1 ngelandrah ngolé… kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan sabrang kulon Kali Cimanuk. Héstri Nyayu Wangsayuda 3. Kakung Radén Sutamerta 2. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca peputra 1. Kakung Radén Tanujiwa Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata 4. Kakung Radén Driyantaka 188 . Radén Kumbabocor 3. Radén Wiraseca 3. Radén Jaka Kuwat 2. Radén Wirakusuma 4. Radén Wirapati 2. Kakung Radén Tanujaya 5. Trus se… Nyi Darma kalih. Radén Singalodraka Radén Singalodraka peputra 1. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128. // sawis[s]é lawas Wiralodra no. Lan katemu klawa Nyi Darma.5. 1 waktu hiki … Bagelén 4. 962) 1. Héstri Nyayu Wangsanegara 2. Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é 3. Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu.

Héstri Hajeng Sutamerta 8. 3 Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami 1. Kakung Radén Kowi 2. Kakung Radén Wiratmaja 6. 2 2. 4 4. Héstri Hajeng Nay Wangsa 9. Kakung Radén Timur 3. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13 1. Héstri Hajeng Raksawiwangsa 7. Héstri Hajeng Wilastro 12. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a 13. Héstri Hajeng Raksawinata Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Wirantaka 5. Héstri Hajeng Singawijaya 4. Héstri Hajeng Patranaya Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no.Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Sumedi kangganti dalem 4. Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a 10. Kakung Radén Lahut 2. Kakung Radén Ganar 189 . Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar 3. Héstri Hajeng Hadiwangsa 11. Kakung Radén Benggal[l]a 2. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami 1.

5. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang 2. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. 4. Kakung Radén Kerstal Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu 6. 963) Héstri Hajeng Moka sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén Benggal[l]i. Kakung Radén Suryabrata 3. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 1. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami 1. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é nami 1. nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah 7. 190 . Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a 8. 8. Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener 7. Kakung Radén Suryawijaya 4. 5 5. Kakung Radén Suryapati 2. 7. 6. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah 3. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan 5. 6 6.3. Héstri Hajeng Parwawinata Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya Héstri Hajeng Nahiyasta Héstri Hajeng Gembrak //Héstri Hajeng Tayub 62a (129. 7. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 4.

(Hés)tri Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2 1. Radén Madi Wirasomantri 2. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2 1. Radén Wirasaputra dadi demang 2. Radén Wiramadengda héstri Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang peputra 2 1. 2. Radén Prawirakusuma (Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4 1.9. Héstri Nyayu Wiradiwangsa 2. Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber 3. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener 2. (Radén) Wirahatmaja 3. Radén Perdata Wirahastabrata 2. 3. 4. Héstri Nyayu Wiradibrata wékling 4. Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4 1. Radén Sumarga Wirasudirga 191 . Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3 1.

… dikarang nyanyian. pada tanggal sepuluh. tahun seribu sembilan ratus. 192 . pada malam Jum’at legi sedang senang hati saya. Tiada lain (cerita) ini dikarang. terus-menerus hingga putra …. bermula …. …hilang …. ada di Indramayu…. Kartadipranna. … dari mantri Haris.alur (cerita). anak cucu Wiralodra. serta sanak saudara …. besok (sampai) akhir. jam dua malam … waktunya …sebulan.4 Terjemahan I. sudah …langka. 3. SINOM 1. 2. supaya sama-sama mengetahui. …rusak. …saya menulis. supaya …. sedang senang hati saya.3. Alasan saya menulis. Ki Wiralodra …. dari sejarah kuna. turun-temurun [ini] anak …. (untuk) membuka bagian …. buku sejarah bupati. 4.

(berputra) empat orang. (Kang)Jeng Pangeran Hadi…. melihat sejarah. Itu nama lainnya. minggu saya bepergian. Lalu saya. memaksakan saya mencari. laki-laki … putra Raja Pajajaran. (bernama) Kartadiwangsa. pemakaman pun dilihat. keturunan Wiralodra. Tumenggung Gagak Pernala. …tumenggung. lalu . Panembahan Kiai Belara.. Larakelar asalnya. .. …Pringgandipura... tumenggung Mataram. Wirasecapa mempunyai (anak). 193 .…sejarah dahulu.mengantikan. 8.. … … ia memiliki anak. …pernah datang (ke Majapahit). Rangga Bagelen . 7. 5. mempunyai anak …. tumenggung dari Mataram. berputra Ngabehi Wirasecapa. 6. berputra lagi. …sedih (melihat) rusak kuburan.

selalu yang terlihat melihat wujud tunggal . asal negrinya Karangjati. tiga tahun lamanya.diganti para bupati.. sareat serta hakekat.. Dari Banyuhurip Kedu …. karena Raden Gagak Kumitir. …negara. Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan Wiralodra ketiganya Tanujaya adiknya. [ia] berputra…. tempatnya sepi sekali. di dalam supaya menjadi satu. (Tidak) tidur serta makan. tidur di tempat tinggalnya.Bagelen…. Yang sulung Wangsanagara. oleh Gagak Wirahandaka.. 194 .. Tinggal … di gunung. . 11. oleh Gagak Wirakusuma berputra lagi Gagak Singalodra …. putra dari …. hakekat dan marifat. Tanujiwa bungsunya di Bagelen keratonnya Wiralodra karena sangat sedih (ia) sering bertapa. meminta kepada yang kuasa. telah menghilang wujudnya. 10. 9.

II. ke hutan Cimanuk. terbangun memakai ….…cahya yang bening. yaitu cahaya bola api. … bukalah hutan ini. suara yang terdengar. tanda diterima oleh Yang Agung. 12. melihat (cahaya) di atas langit. Wiralodra. Pada malam Jum’at. Pindahlah ke barat. lalu … kinanti tembangnya. karena akan menjadi … untuk keturunanmu. memohon kepada Yang Sukma. …tuamu. lalu cepat bangun . cahaya… tapa. Wiralodra. 3. KINANTI 1. turunannya semoga mendapatkan kemulyaan. hutan besar itu nyawa. ….. terang seperti bintang. …terang-benderang. 195 . (Su)kma Yang Agung. menghilang di tempat terang. semoga akhirnya mulia. 2. serta terlihat di timur. hingga tujuh keturunan. bila ingin mulia dirimu.

7. 6. karena (sudah) kehendakNya. sama-sama keluar air mata. karena belum …. serta bangkit … Sudah diizinkan pergi. 8. Sungai besar [di] Citarum. 4. putranya mencium kaki ayahnya. Saya serahkan kepada Yang Agung. pertolongan Yang Maha Widi. Ki Tinggil . anakku mari …. anakku …. … kepada ayahmu. mendapat pertolongan. di mana tempatnya ini. di Sungai Cimanuk tempatnya. dipeluk serta ditangisi. memasuki hutan. …tiba di air besar 5. … bercerita. sehingga sampai di sebuah sungai. dari hadapan ayah serta ibunya. (air mata) ke luar deras (dan) menangis. lupa tidur serta makan. berada di hutan belantara.sama-sama … ayahnya. lalu melanjutkan perjalanannya. 196 . ia duduk di pinggir kali. bersama penakawan. Menuju arah selatan kaki gunung. Lamanya tiga tahun.

lalu berbicara perlahan. “Duh saya bahagia sekali. yang seperti lelaki tua. bersalaman dengan kedua tangan. Buyut Sidum orang dulu. aduh kakang tolonglah saya. sangat gembira (hatinya). Lalu di(tarik) dipeluk. yang bernama Kiai Tinggil. banyak jembatan di sini. Setelah Bendara (Wiralodra). serta sama-sama duduk. …. 10. sungai (ini) sangat besar. berbicara lemah lembut. dan [ini] Tuanku. ada kakek-kakek datang. Raden Wiralodra melihat. 9. (saya) minta perolongan kakek. sabar Tuanku …. kepada pelayannya. atau kebun orang. 13. Paman saya merasa bingung. 197 . istirahat menyenangkan pikiran. 11. bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa. dari orang tua ini. saya akan mendapat berita. berkata Kiai Tinggil. serta … ada seorang kakek datang. 12. Saya kira ada perkampungan.

semoga kakek dapat menolong. 19. Telah lama perjalanan saya. Sambil terbata-bata (dan) perlahan. …berbicara. terkejut [tadi] melihatnya. 198 . gugup ia menjawab. sudah harus kembali… menelusuri pesisir. mengatakan jalan ini. atau negaranya. 16. “Duh cucuku yang kusayangi. dari negeri Bagelen. 15. Lalu menghilang orang tua itu. 17. Kyahi Dum berbicara manis. di mana kali Cimanuk. …sungai Citarum. Lalu berbicara manis. di manakah kakek tua?” Ki Tinggil berkata perlahan. Raden Wiralodra dongkol. ia keburu menghilang. belum menanyakan namanya. serta dari mana asalnya. saya ingin mendapat berita. yang merupakan bagian dari Karawang. “Duh Paman Kiai Tinggil.14. 18. kamu…ku. tiga (tahun) perjalanannya. belum ditanyakan namanya. … berada di sebelah timur.

meneruskan perjalanan besok. hutan (tempat) datang Ki Tinggil. istirahat di hutan ini. serta sampai di Pasir Ucing. lalu segera berjalan. berjalan siang dan malam. Lalu tidur Kiai Tinggil. “Duh paman Tinggil . 199 . di sebelah hulu (sungai) ini. saya ingin tidur-tiduran. 20. Inilah sebabnya. lihatlah air ini. Paduka. nanti (setelah) istirahat (kita) mandi.” Kiai Tinggil berkata. lekas mendapat pertolongan. saya lalu berangkat. 24. ke timur dan utara jalannya. Menelusuri hutan rimba.tapi saya gembira Tuanku. [sumber] (air) keluar dari sumur. terdapat air mengalir. Lamanya hingga dua minggu. Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan. tidak tidur serta makan. (air ini) sangat (bagus) dan bening. pertolongan Yang Maha Kuasa. 21. sejuk tertiup angin semilir. melihat matahari terbit. 22. jika (tuan) hendak mandi. 23. maka cepat-cepat.

29. sambil keduanya bersalaman.” Adapun nama kanda. berasal dari (daerah) timur. Dalem Pegaden. 200 . 26. 25. 28. “Duh gembira sekali dinda. Wirasetra namanya. membuat kampung di hutan. serta aslinya dari mana?” Wiralodra nama dinda. Kiai Wiralodra bertanya. Wiralodra namaku. “Duh Kanda Tuanku. Dinda siapakah namamu. Lalu bertemu orang (yang menanam) padi. dan siapakah nama kanda.terdapat air di tengah hutan. berasal dari Bagelen. (sedang) mencari kali Cimanuk. Menangis sambil memeluk. serta hendak pergi ke mana. kelak bakal menurunkan. Wirasetra. menuju arah utara perjalanannya. bertemu dengan kanda. Kanda berasal dari timur. Lalu berangkat Wiralodra. Dipati Wirakusuma” Lalu dibawa pulang. Banyuhurip saudara sepupu(ku). ke pondokannya. dengan kanda baru bertemu. 27.

bila berjalan terseok-seok. makan dengan ikan. bertemu dengan saudaraku. 32. selama ini tidak (ada) makanan. serta rejekimu paman. lama tinggal di sini.” Kiayi Wirasetra menyambung ucapan (dengan) manis. Keduanya sama tertawa. saya sering jatuh bangun. mendengar ucapan Tinggil. Aduh Tuanku saya memohon. 34. hanya dedaunan.disuguhi makan. bisa makan dengan kenyang. 30. (sudah lama) tidak makan. yang saya makan. kaki tangan kecil-kecil. sampai besar daging saya daging saya banyak (yang) hilang. makan bersama-sama. tersenggol oleh … maka (akan) lama di sini. sama-sama gembira. 33. tetangga sama makanannya. …perut buncit. 201 . Kiai (Tinggil) berkata. “Ya paman sudah bahagia. “Duh Tuan baru (sekarang) saya. Menginginkan …dari…. (saya) mau mengistirahatkan badan. 31.

“Duh kebahagiaan paman. serta berkata dengan perlahan. “Duh saya bahagia Tuan. “Hai Tinggil saya doakan. 37. karena saya bertamu di sini. “Duh kanda. saya mengiringi dengan doa. Serta dijaga oleh Yang Agung. makan dua kali sehari. Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah. Melimpah … 35. tertawa saking gembira. setelah sebulan lamanya. Sangat gembira diriku.” Raden Wiralodra tadi. mau berangkat hari ini. bertemu di tengah hutan (dengan)ku. 38. Lalu (keduanya) bersalaman. sudah saya rasakan. 202 . letak Sungai Cimanuk menurut wangsit?” Wirasetra berkata perlahan. 39. dinda berterima kasih.” Berkata Kiai Tinggil. bertemu dengan saudara. “ Tuan saya meminta daging saya bertambah lagi. semoga saya diijinkan.” Ki Wirasetra terbahak. semoga cepat ditemukan. lalu ia berkata kepada kakaknya. 36. Di manakah tempatnya.

dua bulan lamanya. sangat senang melihat(nya). (Ia) gembira sekali. 41. saya kira ini sungai Cimanuk. terlihat sangat bagus. mentimun serta lobak. 44. di pinggir (kali) ini. keinginan tuanmu. terung serta cabai dan kecipir. tidak ada perkampungan. “Duh Tuan mudah-mudahan betul. masih di hutan belantara. tapi saya masih takut. Kiai Sedum merasa kuatir.” Lalu keduanya berjalan. tanamannya macam-macam.kamu segera menemukan. melihat tempat (mereka) berdua. lalu menemukan sungai.” 40. 42. 203 . Ubi emas serta jagung. 43. Keduanya berangkat menuju arah timur …. Ki Tinggil berkata perlahan. gampang nanti mampir lagi. menelusuri pinggir kali. “Duh paman Tinggil . Kemudian Kiai mencipta kebun palawija luas. (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan. padi gajih sangat putih. untuk meyakinkannya.

Ki Sedum duduk dalam rumah. baru tiba (sudah) bertanya-tanya. Di pinggir kali (letak) pondokannya. kebun bagus tidak ada (duanya). Lalu berkata lirih. 46.kebun palawija luas. 45. kanan kiri bunga mandakaki. Raden Wiralodra melihat. 204 . semoga mau memaafkan. Wiralodra berbicara. Lalu menengokkan kepala. dikelilingi bunga seruni. 48. Tinggil melihat dari sebelah timur. serta sungai apa namanya ini Kiayi?” Ia menjawab membentak. Semua tanaman di kebun subur. duduk (sambil) meraut bambu. sedap malam berhadapan. 47. “Kiai saya memohon. apakah akan merampokku. “Mau apa kamu. hendak bertanya pemilik kebun yang begitu indah ini. melihat kebun. 49. untuk (membuat perangkap ikan. di dalam rumah ada orang duduk. tongkeng terjurai di gerbang. “Duh Tinggil gembira diriku. di (sebelah) timur seperti ini (juga). dari manakah kamu ini.

harus dimaklum Tuan. sesungguhnya saya Kiai . tidak takut sambil duduk. bagaimana kalau saya ikut berkebun?” temannya berkata. Ini kan sungai Cimanuk. Tetapi wataknya begitu. 205 . 54. Inikah Sungai Cimanuk.” Berkata Kiai Tinggil.kamu datang ke pondokku. saya bertanya malah dibentak. 51. mau apa kamu bertanya. (Ia lalu berkata) “Kasar sekali kamu Kakak. “Betul sekali Tuanku. tidak punya tatakrama. apalagi orang (yang tinggal di) hutan. jauh dari negeri Bagelen. Kiai Wiralodra kesal. Namaku yang dipanggil. semoga saya ditempatkan Kiai. saya baru pertama melihat. Lalu perlahan-lahan dihampiri. aku pemilik kebun ini. 52. tentu karena orang kampung Tuan. 53. tidak lain saya mencari Sungai Cimanuk. karena saya barusan melihat sungai. saya ikut kepada tuan. kasihanilah saya. 50.” Petani yang berubah wujud. “Duh Kiai tolonglah saya.

apakah harus dipaksa memberi. 60. lalu kebunku.55. tidak bisa diajak berunding! Saya kan sudah meminta. jangan harap aku menolong. aku tidak akan menolong. sambil berkata dengan suara keras.” Raden Wiralodra marah. 56. melihat kamu ini. tidak suka aku melihat. walang kerik menuduhku. 59. menubruk orang tua itu. cepatlah kamu mati. kakek … bertani. masalah kebun anda. Mulanya hutan diminta. karena aku tidak silau. lebih keras berbicara. karena aku banyak rakyat. 57. raut muka seperti api. Tempatnya di kebun tadi. Lalu berpindah kakek itu. tidak bisa diajak berbicara lembut. Kiai yang menyamar berkata. “Hai kamu orang apa. 206 . berdiri (lalu) duduk di kursi. 58. didekatinya orang tua itu. memalukan kamu orang kampung.” Raden Wiralodra . (lalu) saling mendorong keduanya. kamu betul-betul berandal.

63. jika pagi tentu (terbit) di timur. cepat kamu menyeberang. kijang mas yang matanya intan. berjalan dengan cepat. 62. bertapalah jangan tidur pasti kamu menjadi kaya. Di mana menghilang (kijang tersebut). “Hai Wiralodra cucuku.” Keduanya sudah menyebrangi. Pamanukan (nama) kampungku. jika sore terbenam di barat. cepat buru kijang itu.mengadu kesaktian. dibanting lalu menghilang. tapi ada (suara) terdengar … 61. jika kamu tidak tahu aku. matahari sudah terlihat. sudah dipastikan kehendakku. Buyut Sidum namaku. 64. itulah Sungai Cimanuk kelak bila kamu membuka (hutan). apabila menemukan. 65. 207 . Lalu memasuki (hutan) lebat . berbelok. lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut). ini bukan Sungai Cimanuk. kelak (tempat) ini jadi desa. menghilang menjadi hutan. ingatlah nasihatku. Cipunegara sungainya. Sungai Cipunegara.

muncul ular besar sekali. SINOM 208 . Hilang ular jadi sungai. Terkejut Kiai Tinggil.” Lalu berkata lirih. Raden Wiralodra. 66. 68.melihat macan besar. lalu menubruk Raden Wiralodra menghindar. “Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini. macan apa namanya ini?” Macan menggeram di depan(nya). lalu macan menghilang. 69. melihat sungai besar sekali. Lalu ia menemukan ular tadi. Lalu ular mengejar. III. “Duh tolong Tuanku di mana aku bersembunyi. Macan lalu ditempeleng. kemudian dilepaskan oleh Raden Wiralodra sungai menghilang tanpa bekas muncul perempuan cantik masih begitu muda. (Karena) ada macan besar. Ki Tinggil mengambil pemukul. menghalangi jalan. Raden Wiralodra heran. sekarang aku ingin bertanya. Dipukul(nya) kepala ular. . 67..

1.

(Menghampiri) kepada Raden Wiralodra minta dikasihani. “Duh Raden Bagus tuan Orang yang tampan bertemu di sini, di dalam hutan. Aduh saya kasihan sekali, hendak mencari apa, serta apa yang dituju? [Silahkan] Raden terimalah salamku. Kan saya masih gadis, belum pernah bersuami, Larawana namaku, akan mengikuti, apa yang diinginkan Tuan, saya sanggup menolong, kekayaan kejayaan, asal saya dinikahi, [silahkan] Raden turutilah kesediaanku.” Ki Tinggil maju ke depan, sambil berkata lirih “Duh Tuanku ingatlah, ini di tengah hutan.” Wiralodra berkata perlahan, “Saya tidak takut paman, sebentar akan saya periksa pintar sekali berbicaranya, maaf saya hendak balik bertanya. “Anda ada di hutan, tidak pantas seorang perempuan, berada di tengah hutan, mengaku gadis belum bersuami, kan saya tidak percaya, tadi (minta) aku nikahi,

2.

3.

4.

209

meskipun (kamu) wanita cantik, tidak akan mau (diajak) menikah, sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.” 5. “Menjawab Nyi Larawana, … bagus, … menanti hasil kemuliaan, cepatlah jadi kakek-kakek, gigi ompong pipi kempot, kuping tuli pinggang bungkuk, sekarng saya meminta, jika kamu tidak menurut, pasti mati berdua bersamamu, Menghalangi di depan, Raden menghindar ke kanan (dan) kiri, lalu menangkap Larawana, Wiralodra menghampiri, lalu disingkirkan, (jatuh) tertelentang lalu menubruk, Ki Wiralodra menubruk, dikejar lalu bertarung, mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta. Wiralodra waspada, tidak kena aku, lebih baik aku mati, jika tidak bersatu, kemudian saling menangkap, (sambil) menuju arah timur. Wiralodra waspada, senjatanya berupa rantai, tidak ada orang setampan kamu. Lalu menggunakan senjata, Wiralodra menahannya.

6.

7.

8.

210

senjata rantai mengenai, tetapi tidak menyerah, makin susah melihatnya, ….. karena orang tampan, heran sekali Wiralodra, orang tampan … .sakti, silahkan Raden anda membalas kepadaku. 9. Lalu Raden Wiralodra, tangannya memegang cakra, Ki Tinggil cepat mendekati, “Duh Raden hati-hatilah, kira-kira Tuan kalah, karena …, lalu Den Wiracabra menanti, Nyi Larawana menadahi, terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas. Lalu Raden melihat(nya), badannya berkilau, tidak salah kijang mas. Lalu berkata perlahan, “Paman Kiai Tinggil, paman lihatlah dengan teliti, itu kan kijang mas ayo paman jangan tertinggal, aku kejar kemana arah (larinya) kijang. Keduanya lalu memburu kijang, dicegat (di) kanan dan kiri, dicoba ditangkap (tapi) tidak kena, jika jauh kijang menunggu, sehingga sudah jauh perjalanannya, kijang berlari ke arah timur, kedua orang itu tidak melihat(nya), terus mengikuti kijang,

10.

11.

211

siang malam memburu kijang mas. 12. Lalu berjalan sampai di, …………. tinggi, kijang mas menghilang, terlihat alur sungai, airnya deras mengalir, yaitu Sungai Cimanuk, lalu istirahat di bawah. lalu keduanya melihat di bawah, menuju pohon kiara besar, lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara. Terdengar (seperti) dalam mimpi, “Nak, ini kan Sungai Cimanuk yang dicari, berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua, sampai keturunanmu, (sudah) kehendak Yang Maha Agung memperoleh kemuliaan, sudah diterima oleh Yang Widi.” Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra. Sangat gembira hatinya, dalam mimpinya yang terdengar, nampak nyata memberi kabar. Raden Wiralodra, berkata kepada paman Tinggil, “Duh paman bahagia diriku, saya tidur pada hari ini, bermimpi (ada yang) memberitahu, ternyata inilah Sungai Cimanuk . Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.” Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh Tuanku jika demikian,

13.

14.

15.

212

bagaimana kehendak tuan untuk tempat tinggal saya?” Raden Wiralodra lalu mencari lokasi, mencari (di) pinggir kali, menemukan tempat yang luas dan datar. 16. Lalu membuat pondokan, Ki Tinggil yang membuatnya, lalu membersihkan badan, kemudian Raden Wiralodra, membabat hutan, serta badak (dan) banteng, semua melarikan diri berhamburan, pembawaannya panas dingin, setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar. Begitu juga Raja Budipaksa, dengan Patih Bhujarawis, berkumpul dengan pasukannya, serta prajuritnya, dan para senapati. Ki Gede Muara Cimanuk, sangat bersedih sekali, semua pasukan menjadi bubar, karena Wiralodra membabat hutan. Lalu mennyerang Raden Wira, bertemu di pondoknya, Budipaksa berkata, “Hai satria manusia tampan, kenapa lancang dan berani, siapa kamu ini, merusak anakbuahku, cepatlah pergi kamu ini!” Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

17.

18.

213

19.

“Hai setan siapa kamu, penghuni persembunyian iblis, beraninya mengusirku, dikiranya aku takut, berlagak di hadapanku, dasar gandarwo bulus, ke sini majulah kamu sebab aku tidak akan lari.” Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya. Seluruh (Ki) Gedeng Muara, sama sama mendatangi, heboh pertarungan Raden Wira, Ki Tinggil memanjatkan doa, doa Srabad Sulaeman, duruwiksa banyk (yang) lumpuh, lalu ada utusannya, dari Tunjung Bang, (yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat. Sampai tiba Sultan Mas, (yang mengatakan) jangan saling mengganggu, Raden Wiralodra itu, karena keturunan Majapahit, (lebih) baik dijaga, sesama saudara (harus) akur, karena masih bertalian darah Rara Kidul ratunya.” Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah. Sambil menyembah di hadapannya, meminta dikasihani, (ia berkata), “Duh Raden Tuanku, prajuritku salah sasaran, semoga Tuanku mau memaafkan.”

20.

21.

22.

214

Berkata Den Wira, sekarang sipa tuan(mu), tidak kenal rajaku, Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas. 23. “Duh diminta Paduka berkata, adik sultan berbicara denganku, saya bersukur Dinda sultan, beserta anak dan saudara, sampai keturunan Dinda, kan kanda bekerja … wangsit (dari) Yang Maha Tinggi. Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus. Lalu siang malam membabat, Ki Tinggil menjadi koki, serta menanam palawija ubi jalar jagung serta kecipir, macam-macam palawija, (tanaman) gundem jawawut tumbuh subur, tidak ada kekurangan. Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh bendara baru sekarang saya senang. Tidak ada kekurangan, palawija tidak habis dimakan, terkenal kebunnya, karena bagus tanahnya banyak orang berdatangan, ikut (membuat) rumah di situ, sejak tanaman subur, bergantian orang yang datang, sama subur bermacam-macam tanaman. Banyak orang yang membuat rumah, sampai ke negara tetangga,

24.

25.

26.

215

Lalu berangkat Raden menuju negara. jangan dielakan. berkumpul dengan ketiga anak(nya). 27. menuju ke keraton. ibu dan ayahanya terkejut. ibu sampai bengkak matanya. Raden berkata perlahan. Tinggil ditinggal sendiri. Setelah tiga tahun Lama(nya) membuat perkampungan. siang malam terbayangkan. “Aduh anakku belahan jiwa. sampai ke Banyuhurip. tinggal di sini dulu. ayah ibunya sama-sama sedang duduk. 28. bila ada yang pulang berperang. tidak ada orang yang kekurangan makan. tidak disangka sekali. 29. bagaimana anakku belahan jiwa. Bagelen negaranya. “Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama. (saya) sangat ingin bertemu dengan ayah ibuku paman akan ditinggalkan. Diceritakan perjalanannya. melihat putranya datang. karena ingat kepada anak.Ki Tinggil menjadi lurah. perjalanan putraku. di sungai Cimanuk. 216 . menangis siang dan malam. lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira. terimalah (dan) suruh masuk.

lebih banyak orang datang. para saudara pekerjaannya mengurus negara. semua sama menangis. ayahnya ikut berkata. kasihan mendengar pengalamannya. Wangsayuda dengan Tanujaya. mengenai perjalanannya. ayah ibu mendengarkan. semua siap bekerja dengan baik. 32. menjadi lurah di sini. semoga tercapai yang diinginkan. salah seorang (di antaranya) kamu. empat orang putraku.ceritakan kepada ibu dan ayah. jumlahnya lima ratus orang 31. berkat pertolongan Yang Widi. pesan ayahanda. dan Tanuhjiwa.” 30. serta saudara-saudaranya. di barat jadi negara. gampang besok kalau sudah jadi. Putranya berkata kepada ayahnya. aturan mengurus negara. terserah kehendak kalian. 33.” Si Tinggil diangkat. (Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal. “Duh anakku belahan jiwa. yang ikut membuat perkampungan. dengan saudaramu. serta Wangsanagari. supaya menjadi tahu. 217 . pimpinlah negri Bagelen.

menjadi kaya Kiai Tinggil. serta masih gadis. orang kecil senang hatinya. serta Ki Pulana. Saya akan menumpang. Surantaka. 34. Hindang Darma (namaku) saya mengembara. kepada tamu yang baru tiba. Hindang Darma namanya. karena luas tempatnya. aslinya dari mana ?” Nyi Hindang menjawab. apa maksudmu Nyai. 37. setiap lorong dijagai. Jayantaka. gardu tempat menjaga. Ki Tinggil lembut bertanya. 218 . memikul gandum dan padi. pengawal(nya) itu petani menuju wisma Ki Tinggil ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk. cantiknya tiada tara. Bayantaka. Sukubahu (dan) Jungjang Krawat. 35. setiap hari yang datang membuat rumah Kemudian ada yang datang. pintar membuat siasat perang. 36. “Duh paman tidak kenal padaku. diangkat oleh Kiai Tinggil. “Saya mohon maap yang sebesar-besarnya. dibuat seperti negara. Wanaswara. dan siapakah namamu. seperti pangkat tumenggung. Puspahita. diiringi dua pengawal.

memilih tanah yang cocok. 39.” Ki Tinggil menjawab. Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam). 219 . menanti bertemu musuh. Hindang Darma kembali jaya. murid-muridnya itu. untuk istri tuanku. saya hendak berkebun. tapi nanti tuanku. begitu pula semua muridnya. baru kali ini aku melihat wanita Cantik dan mulus tubuhnya. silahkan memilih. Nyi Hindang (boleh) memeriksa. atau saya bersawah. jika datang ke sini tentu aku lalu akan menyampaikan. untuk ikut bertani. Di barat atau timur. sebab bermanfaat kesaktiannya. 40.ikut membuat pondokan. apa pertimbangan junjunganku. 38. seluruh murid-muridnya. “Silahkan ikut saya di mana yang akan dipilih. tanah yang agak luas. semoga saya diberi izin. Karena subur kebunnya. alangkah gembira tuanku melihat wanita sangat cantik karena Hindang Darma sudah membuat rumah. saya senang melihatnya.” Sudah keluar dari rumah.

42.muridku. dalam sekejap sudah tiba di pondokan Hindang Darma. 41. “Hai murid. aku sudah mendengar.” (Lalu semua) sudah menaiki perahu. berpikir di dalam hati. “Saya berbahagia kedatangan tamu (apalagi) pembesar yang datang. Terkejut Nyi Hindang melihat Kedatangan orang banyak. Pangeran sangat sedih. silahkan paduka duduklah semua. kalian pergi ke Pulau Jawa. ada wanita kembali.. terdengar kepada Pangeran Palembang. Sekarang muridku semuanya. aku tidak mau mendengar. lalu cepat memasang layar. Karena Pangeran sangat pandai. tangkaplah untukku. (lalu) berkata kepada muridnya.terkenal ke negara lain. pemberani namanya. 220 . di muara lalu semua menyeberang. 44. wanita ini cantik sekali. lalu berbicara lembut. berguru ilmunya seperti aku. sudah sampai perahunya.” Pangeran terpesona melihat(nya). ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki. 43. karena puluhan (murid) Pangeran. cepat-cepat berdandan.

“Sayang sekali anda ini. 221 . jika kamu (telah) berguru ilmu. ingin menyamai namaku. Pangeran Guru namanya. bersama-sama datang ke tempatku. 45. pangeran taat kepadaku. Lalu Nyi Hindang berkata. “Duh mohon beribu maaf karena paduka. siapa nama (tuan). wanita secantik anda. serta ada perlu apa. yang ikut dengan saya. perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki. banyak yang berguru kepadaku. Inilah murid saya. aku perlu memeriksa kamu. jadi guru semua para Pangeran. 46. Saya sangat terkejut. 47. di negeri Palembang.” Pangeran menjawab.sayang sekali kelakuannya. jangan mungkir anda. keturunan Sultan Aryadillah. yang sedang berguru ilmu. sepertinya ada pekerjaan besar datang dengan senjata lengkap. dengan pasukan sekerajaan. saya berasal dari dusun. tidak mendengar berita. (agar) terkenal di seluruh negara. seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan. asal tuan dari mana.

kan sudah mempersilahkan. sombong kamu ini. senjata ujung keris. 51. 49. di depan di halangi. lancangnya keterlaluan. tidak bisa berkata pelan. berbicaralah yang sesungguhnya. seperti kelakuanmu itu. bertanya kepadaTuan. Tetapi ucapannya kasar. 50. atau segan melihat. tidak ada manusia. sungguh perkataan Pangeran. atau menyisakan pekerjaan. “Duh sayang sekali rupa seperti Tuan. wanita cantik serta kulit kuning.” Nyi Hindang menjawab. tiada tandingannya seperti kecantikanmu Hindang Darma pelacur murahan kamu ini. hendak apa Tuan. tidak memakai tatakrama seorang wanita. rupa tuan sangat tampan (dan) gagah. tidak tentu negaranya. tamu meminta disuguhi. silahkan (saya) mengikuti keinginanmu. mau apa. Seperti kamu orang yang sakti. 222 . seperti yang lebih unggul. Tinggal kamu Hindang Darma lancang memaksa (dan) berani.48. menjadi guru seperti saya. Hindang Darma tidak silau.

semuanya akan dilayani. Semua pangeran 53. Nyi Hindang sangat sakti susah menghindarinya. “Diizinkan membuat tempat tinggal.atau kesaktian guru. ternyata malah dipakai tempat bertarung. “Kang Pulaha saya merasa bingung. pertarungan mengadu kesaktian bertarung mengadu senjata. kemudian keluar. kesenangannya bertani. mencari tempat yang luas.” 52. Ki Pulaha diperintahkan. sudah menghadap. Sudah kacau perkataanmu. sayang wajah tampan(mu). banyak pangeran yang tewas. dimakamkan di pekuburan Darmayu. Bratakusuma adiknya. 55. serta tempat untuk bertani. 9takut) dimarahi paduka. pertarungan diperkirakan lama. kalau kalah saya tidak akan malu. Cepat pangeran menyerang. semua pangeran tewas. Wisanggeni namanya. sambil menantang bertarung. Bramakendali keduanya. Ki Tinggil sangat takut. 54. “Duh Pangeran di sini tempat yang luas. silahkan sekehendak Tuan. 223 .

Lalu ayahnya berkata. di negeri Bagelen. dengan paduka. meskipun (seorang) pelayan. saya doakan kepada Yang Widi.” Keduanya berdiam diri. karena Ki Tinggil berjalan. berjalan siang dan malam. 58. Lalu berangkat secepatnya. “Sudahlah tidak apa. dari negara Palembang. semua teman-teman menunggu tempat ini. 56. “Duh paman yang saya kasihi. semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil Ditubruk Ki Pandakawan. sebentar saja sudah sampai. 57. serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah. sudah pernah mendapat marah dari paduka. menangis memanggil-manggil. semoga ananda berdua menjadi kaya.yang berperang tewas. 224 . saya akan menghadap paduka. “Aduh anakku. Ki Tinggil menangis tersedu. dahulu sama-sama menderita. kemudian dirangkul. Air mata bercucuran. bijaksana serta sakti. tak disangka masih saudara. lalu menghadap Paduka. dahulu saya tinggalkan.

225 . Tinggil di tempat tuanmu. terdengar oleh Pangeran Palembang. lega hatinya. Duduklah. Aduh mas junjunganku. Tinggil berkatalah padaku. temanmu pada selamat. ditinggalkan (sendiri) di negara. serta banyak orang yang datang. berjajar membuat pondokan. 61.Keturunan si Tinggil. masih gadis (dan) sangat cantik. subur makmur di dusun. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan. Sesungguhnya Tuanku. makmur sampai nanti. Nyi Hindang semakin berani. Hindang Darma kembali dari berguru. Hindang Darma (punya) kelebihan. 59. kedatangan Nyi Hindang Darma. karena (kamu) ditinggal sendiri. nanti si Tinggil akan saya tanya. serta dibangun negara. berkat tuan semuanya terjadi. mendapat kasih sayang dari Yang Sukma. mengatur siasat perang dan bawahannya. serta katakan kepadaku. lagi pula kejadian. 60. apa mendapat kesenangan. 62. istirahat dulu. Mengajarkan kebajikan. celaka saya tuan. diberi kesejahteraan.

Nyi Hindang sangat sakti. setelah setahun lamanya. Hindang Darma sangat sakti. dibantu prajurit istana. “Hai anakku Wiralodra. menjadi guru pulang mencari ilmu. 226 . memberitahukan tuan. kakekmu (juga) sama tewas. Tanujaya. Hindang Darma seorang perempuan. sambil membawa murid pangeran. karena tadinya hendak menangkap. mengadu kesaktian di medan perang. 65. kalian turunan Majapahit. semua pangeran tewas. tak kuat bertarung. Bawalah saudaramu. seperti apa kehendak tuan. Wangsayuda.lalu diserang Nyi Hindang. Itu Tuan Singalodra. itu kan kakekmu. menangkapnya harus secara halus. mohon izin ayahanda 64. 63. Karena sama-sama berperang. Tanujiwa beserta adiknya. Nyi Hindang Darma didakwa. Pangeran Guru beserta Kiai. maka saya secepatnya. anandamengikuti kehendakmu. hati-hati menangkapnya. Si Wangsanagara. dari Palembang mencari ilmu. tumeggung di negara Bagelen.

Ki Tinggil didorong kemuliaan. kiranya (harus) terbawa. untuk mempersilahkan Nyi Hindang. semuanya sudah sampai di pondokannya. KINANTI 227 . demikian jugaBayantaka ada. silahkan saudaraku sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra) menetap di pondoknya.” 66. dipasrahkan kepada Yang Widi. Jungjang Krawat datang menghadap. sertai Ki Tinggil pergi. 68. Ki Tinggil berkata perlahan. “Paman Kiai Pulaha. serta Ki Pulaha. tempatnya di rumah Ki Tinggil. kepada ibu dengan ayahanya. secepatnya berganti tembang.” Tidak dikisahkan di jalannya.ayahanda ikut iklas mendoakan. dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan. IV. 67. saya minta didoakan. Raden berkata kepada Ki Pulaha. dipati membaca doa. “Duh paduka junjunganku. saya meminta berkah Paduka Insyaallah. Puspahita (dan) Wanasara semua lengkap menghadap. Semuanya menghaturkan sembah.

mengundang Raden Ayu. Nyi Hindang berkata lembut. 3. terlunta-lunta saya pulang. Tuanku ikut dengan saya. Raden Ayu sesungguhnya saya salah tidak memberitahukan. datang ke rumah saya. serta kembali lagi ke rumahku. saya takut Raden Ayu. “Duh selamat datang paman. harus terbawa oleh saya dan Junjang Krawat. dihiasi deretan sisir. Nyi Hindang terkejut melihat kedatangan Ki Tinggil. 5. 4. lama sekali tak terlihat. melihat orang(-orang) berperang. ke tempat tinggal Nyi Hindang.” Nyi Hindang secepatnya berpakaian. kancing berwarna hitam.1. sesungguhnya hati saya.” Segera Nyi Mas menjawab. “Baiklah tapi saya harus berdandan dulu. kulit kuning langsat 228 . tiba di tempat (asal) saya di timur.” 2. Telah tiba yang diutus. Ki Tinggil berkata perlahan. Saya lalu bersembunyi. serta saudara kakak dan adiknya. Lalu saya diutus.

di pedukuhan ini. juga Raden baru tiba. karena Paduka. saya tamu baru tiba.6. semuanya mendekat. paras seperti Hindang Darma. seperti bidadari. cepat-cepat perjalanan saya. 229 . saudara Hindang Darma. Juga Raden saya memohon. cantiknya tiada tara. Raden mohon beribu (maaf). Perawakannya sangat ayu. silahkan masuk. karena saya sangat hormat. 7. saya ingin menumpang kepada Paduka.” 10. permisi untuk melihat kepada Hindang Darma. Raden lalu berkata lembut.” Nyi Hindang berkata perlahan. Oleh Paman Kiai Tinggil. kepada Paduka. Setibanya lalu menghaturkan sembah. Maka saya disuruh. 9. 11. 8. semua (ingin) melihatnya. “Selamat yang baru datang. dengan kawan-kawan Ki Tinggil. (dan) saya merasa menumpang. tiada ada pada wanita lain. ingin sekali cepat bertemu.

Tetapi saya Nyai perlu (tahu). tidak berani melebih-lebihkan. serta saudara-saudaraku. dari kecerobohan saya. saya perintahkan untuk diberi izin. semoga berkata padaku. 230 . karena saya memerintahkan. “Duh Raden saya (akan) mengisahkan. bersumpah di hadapan Paduka. saya ingin mendengarkan. karena miskinnya saya. coba jawab Nyi Hindang. Nyi Hindang lalu berkata. kepada Kiai Tinggil. Menurut Pangeran Guru. 14. perlu memeriksa perkara ini.” 15. apalagi saya perempuan. 13. siapa yang hendak membuat pondokan. hendak ikut selamat. “Tidak menjadi apa Nyai. (tempat ini) jauh dari negri Bagelen.” 12. yang menjadi asal-mulanya. atau mengurangi. Wiralodra berkata manis. bagaimana asal mulanya. (akan) diceritakan yang sesungguhnya. yang berperang dengan Nyai.semoga diterima bakti saya. karena kewajibanku.

saya diperintahkan. Perintah Pangeran saya turuti. bersawah dan berkebun. saya tidak (akan) mengikuti. karena saya perempuan. kakek guru yang salah. 19. Wiralodra berkata manis. semuanya sama-sama tewas. Saya akan dibunuh. terkejut (karena) kedatangan pangeran. menuruti hawa napsu. bersama-sama muridnya sampai ke rumahku. sedang berada di pondokanku. bisa membuat sawah. 21. semua pangeran.16. (Berkat) pertolongan Yang Maha Widi. orang(-orang) membantunya. karena saya banyak orang. meskipun saya orang kuat. atau saya berkebun. (saya) dikepung oleh para murid(nya). Awal mulanya saya. lalu marah tiada tara. pangeran sial dalam pertempurannya. 17. saya berani mengajarkan ilmu dan (ada yang) hendak menangkap saya. Jadi yang hendak kukerjakan. Saya memberi pelajaran bertani.” 20. saya mencari akal Raden. 231 . 18. “Kalau begitu keadaannya.

jadi termasuk mengadu nasib. sudah jadi perasaan paduka. “Duh Tuanku jungjunganku. Hindang Darma menyembah.” 24. segala tingkah-laku Nyi Hindang. 25. 232 . saya izinkan untuk berpikir. karena saya membawa jagoan. maafkanlah saya. 26. tetapi dengan sangat saya memohon. karena laki-laki kalah oleh perempuan. Hindang Darma dengan memelas berkata dengan sangat takut. karena sudah saya izinkan. Wiralodra perlahan berkata. “Nyai jangan takut begitu. hendak mencoba bertarung dengan Nyai. itu permintaanku. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu.hendak meminta kerelaan Nyai. supaya saya tahu. Perang tanding memperebutkan kemenangan. Hindang Darma dengan adik (Wiralodra). taruhannya jiwa dan raga. saya hendak melihat. Paduka. 23. saya yang menyaksikan. 22. mundur dari hadapan gusti. harus maju bertarung. (bila) Nyai kalah menjadi istri(ku). jika demikian kehendaknya. saya sangat takut saya memohon hidup.

mari sama-sama mengadu kesaktian. memanggil. wanita cantik (yang) sangat menarik hati. 29. (saya) ingin memangku Nyai. Membelalak matanya. ke luar berperang tanding. Tanujiwa (dan) Tanujaya. (Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh di hadapan Wiralodra. betul-betul sakti mandraguna. tersengal-sengal napasnya.” Nyi Hindang lalu menggebrak. Kan jadi istriku. 30. Tanujaya pingsan. (dia) tersenyum melihat adiknya. 27. kakang tidak kuat. Tanujiwa lalu maju. “Aduh Nyai Hindang cantik. 233 .lalu Raden ke luar. Ki Tinggil telah membawanya. terguling di atas tanah. berdua berdandan keprajuritan. Tanujaya namaku. 31. Jangan menghindar Cantik. Nyi Hindang menyambut perang perlahan. Raden keluar berteriak. bertarung berhadap-hadapan. saling mengadu kesaktian Raden lalu ditebas. kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang. pasti bakal kunikahi. 28. bila kalah Nyi Hindang.

(Raden) Wangsayuda. (pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik 32. 36. Wiralodra berkata manis. maju bertarung. “Coba kanda keluar. gagah seperti adik. sangat kaya harta benda. 35. 234 . orang muda mashur jika makan.Hindang Darma sangat (sakti). malu banyak yang melihat. (malah) bertarung kalah oleh perempuan. aku ingin melihat.” Tanujaya berkata kasar. “Bagaimana adik rasanya. bersenang-senang minum kopi. Nyai Hindang Darma. Bila seperti diriku. 34. “Silahkan apa keinginanmu. 33. apa merasa senang hati.” Wangsayuda berkata perlahan. Hindang Darma sangat sakti. bertarung berdua (dengan). adik berdua kalah. gerakan Nyi Hindang. Mentang-mentang ayah dan ibu. seperti burung sikatan menyambar belalang. putra pembesar negara. mulai mengatur pakaian. “Duh Dinda kanda tak sanggup. Lalu ia mempersilahkan. saya mengaku kalah.

Jadinya sangat susah. Nyai Hindang cantik. Kanda jangan memulai. Adiknya lalu berkata. Memerintah adik berdua. 235 . 40. Raden Wiralodra berkata. saya adu kemampuan(mu) ternyata tidak berguna. …. malu untuk kembali pulang.” Wangsayuda menyela. sudah kalah jagoannya. Bawa kedua jagoan ini menyerang sepanjang jalan.mendapat malu (di) pertempuran. bertarung keroyokan. “Tidak berguna kamu ini. sambil tersenyum berkata lembut. Tanujaya dan adiknya Tanujiwa membentak. diperintahkan menangkap. sungguh kanda malu oleh ayahanda. “Kok kanda Wangsayuda bisa. malu oleh ayahanda. kanda pasrah adikku. 37. “Biasa orang yang kalah bertarung. berkelana ke setiap (negeri?) bahagia (jika) pergi ke gunung. Hindang cantik bukan musuh.” (jika) sudah kembali ke negeri. 39. silahkan kanda bertarung. tidak disangka tumbang tarungnya. 38.” 41.

jadinya saya panggil. bergantian berdua. Wiralodra berkata perlahan. “Duh Mas Nyai Hindang Darma. 44. 42. waktu melotot takut sekali. Nyi Hindang saya panggil.nanti dinda akan melihat. berperang dengan Hindang. “Adik berdua berbicara (demikian). melawan Hindang Darma. terbahak-bahak keras.” 45. 46. siapa kalah siapa menang.” 43. kanda tidak berani. jangan diambil hati. karena bertanding di pertarungan. dari sini hingga (ke) negara Bagelen kepada ayahanda. Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra). “Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan. ternyata unggul berperang. Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti 236 . saya bernazar untuk menggendong kanda. nanti kanda maju bertarung. lalu Nyi Hindang menyembah.” Lalu berkata berlahan. wajarlah orang yang bertarung. Raden Wiralodra. dengan saudara-saudaranya. Bila unggul bertarung. Wangsayuda tertawa. Kemudian dipanggil(nya).

kamu Nyi Hindang. lalu diburu. oleh karena keduanya sama sakti. 237 . karena merasa sayang. [bahwa meminta] ingin merasakan.47.” Lalu Nyai ke luar ……. Tinggal saya sendiri. manis legitnya Nyai Hindang berkata perlahan. 2. “Duh Tuanku. V. jadi apa yang harus kulakukan?” 48. DURMA 1. mandraguna. Nyi Hindang lepas dari tangannya. Raden dengan Hindang cantik. sudah saling berhadapan. ke luar hendak bertarung. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung. 3. “Ternyata betul prajurit (sejati). kepada Nyai Hindang Darma. mengadu kesaktian. lalu ditangkap dengan berani. sama-sama seimbang. ……Nyi Hindang menyembah perlahan. Lalu saling mendorong. tarik menarik. Wiralodra berkata. Jangan Nyai … harus dituruti ….

“Susah sekali diriku. Menjadi taman yang airnya sangat bening. saya bersembunyi ditemukan. ular lalu menghilang. mengejar Raden Wira. diikuti Hindang cantik. ke manapun. serta berkata. 4. lalu jambu menghilang. yang bertarung ini. menghilang menjadi hutan. Kemanapun. 238 . 5. menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat. Nyi Hindang bingung hatinya. 6. Menjadi batu sebesar anak gunung bercampur … gunung. kutilang hendak makan. Hindang Darma menjelma menjadi jambu air. yang kemudian menjadi burung. 7. Karena Raden sakti tiada tara. karena Raden menjadi burung. makan buah jambu itu. (yaitu) burung garuda. Raden terus mengikuti. Nyi Hindang meloncat. tetapi tidak samar Den Wira. lalu yang bertarung di pinggir gunung.Nyai Hindang berlari. oleh Raden cepat diburu. Bingung sekali Nyi Hindang. mencebur ke dalam air. menghilang menjadi ular.

11. Raden dengan negara(nya). menjadi bunga di istana bersamaku. 10. dengan ceritanya. dari mana Dinda. yang menjadi burung ini. lalu berjalan menuju barat. Pegaden yang dituju. karena ada mata airnya sampai di Cimanuk dari gunung. di sebelah barat kali Cimanuk. 239 . bersama-sama mulia denganku. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia. semakin Nyai cemberut. Darmayu namanya nanti. semoga diberi nama. 12. (semakin nyata) kecantikannya. Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik. sudah hilang(kan) namaku. masih penjang perjalananku ini. Hindang adalah nama di air. “Aduh Dinda baru bertemu.8. seperti apa perjalanannya. Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon. Raden Wira menyesal dalam hati. Bila kelak sudah menjadi negara. tetapi saya mohon. kasmaran melihatnya. yang… (setelah) bertemu (lalu) saling peluk. Saya tidak bisa 9.

“Sukur bahagia untukmu. anak cucu[nya] Dinda.membuat negara.” Kakaknya mengizikan. 16. Asalnya dari sebelah timur. kembali ke negaranya. (terdengar) sorak-sorai. di (pinggir) hutan Cimanuk. 15. (karena) ada yang membuat negara. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan. lalu berkata kepada kakaknya. 14. Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur. Di Pegaden Wiralodra tiga hari. lalu pasukannya tiba. hutan di sebelah barat Cimanuk. pasukan yang akan berperang. bercampur dengan suara senapan. terkejut ada ……. kepada pasukan. untuk keturunan. ketika Raden mendekati. Setelah keduanya melepaskan rindu. semoga lancar nanti. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya. hendak memeriksa. 240 . (apa) keinginanmu tercapai?” Adiknya berkata lembut. “Hendak meminta izin kanda. 13. kakaknya mengamini. menjadi negara. lalu berangkat.

21. Garage nama daerahnya.17. Karena waktu itu masih bakal. berani membabat (huta). dan siapa namanya. besar negaraku. Jika berkata kebetulan diriku. “Kebetulan sekali saya. ini pasukan siapa. yang berani membangun negara. sukur (dan) bahagia bisa bertemu. Adapun yang membangun bakal negara (ini). nanti saya menghadap Paduka Kangjeng Sultan. “Duh mencari apa. 20. Dipasara lalu menjawab.” 18.” 19. (karena) telah menjadi negara. Kemudian bertemu (di tepi) kali. siap sedia berperang. negara ini masih bakal. sebetulnya saya ini Wiralodra nama saya. siapa yang layak bertarung. Wiralodra bertanya lembut.” Lalu berkata lembut. Dalem Kuningan 241 . tentu akan rusak. ……… mengiringi Paduka. hendak memeriksa yang membangun negara. bagaimana jika sudah waktunya. silahkan menghadap Paduka.

kedua orang itu lalu menghadap. 26. Saya ini diutus Sultan. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan. Inilah (Wiralodra). itu siapa?” Lalu berkata lembut. baru selesai berperang dengan Dalem Kiban. datang dari hadapan Paduka. cepatlah Dipasara. Garage nama negaranya. 25. 242 . (hendak memberitahukan kepada) Gusti. Berkata (Arya) Kumuning. Perkenalkan saya Arya Kuningan. prajurit dari Galuh. diperintahkan maju berperang. 24. “Sebabnya saya menghadap Paduka. menghadap kepadaku. dizinkan oleh siapa?” Wiralodra menjawab. 22. disuruh memeriksa ini. belum berkata kepada paduka Sultan Wali. saya merasa bersalah. membawa teman kamu ini. (orang yang) berani membangun negara. 23. Bahwa yang membangun negara. Saya mengaku salah kepada tuan. (yang berada di) wilayah sultan. Wali Sunan (Jati) di Gerage. lalu ia berkata.

28. orang Sunda kan sembrono. Dipasara terguling. 29. tidak punya sopan santun.” 30.” 27. mengakunya prajurit tangguh.” Lalu berkata “Memangya kenapa (arya) Kuningan? aku sudah minta maaf. aku adalah Arya Kumuning. rupa seperti kamu. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra. bila prajurit itu dari negara Kuningan . Dipasara tangkap aku. 243 .tetapi saya meminta keadilan.” Wiralodra mengingatkan. lalu ditendang. Kemuning aku tidak takut. Wiralodra adalah putra dari timur turunan dari Majapahit. (kamu) prajurit sombong. “Coba lawanlah aku. tidak meminta izin Gusti Sultan. olehmu. sampai menyembah. “Jika demikian kamu ini. Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar. terserah anda. saya orang yang bersalah. dikiranya aku takut. bijaksana. Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda.

keinginan pribadi. kendalinya dipegang. orang yang membangun negara. Si Windu menendang karena kuda pusaka. ia masih kuat. Kemuning menyerang (dengan) berani. ia tidak berdaya. lalu ditunggangi. Tindakan Arya Kumuning. Sinuhun tidak mengizinkan. tidak bisa bergerak 244 . ditendang berguling. Oleh Raden Wiralodra. karena banyak pengalamannya. lalu ditangkap dengan berani. bertarung saling mendorong. bersukur (karena) bertambah wilayah jajahan. Dipasara tertelungkup di atas tanah. pasti dia mati. lalu ditangkap. (karena) Si Windu yang menendangi. 32. terus maju. orang Galuh banyak yang mati.31. 35. perang atau mengusir. Kemuning melangkahi (Sinuhun). Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang. lalu merayap menuju kuda. 33. Si Windu nama tunggangannya. karena (keduanya) prajurit tidak ingat belum memperoleh izin Paduka. 34. untuk mengadu kesaktian.

lalu dilepas. 37. “Kurangajar!” Kumuning berkata. melawan Raden. (lalu) berjalan mundur kuda (itu). Karena saya tidak berani bertarung. ketika perang Galuh dulu. tidak kuat Arya Kumuning. menggempur manusia satu negara. lalu Si Windu mengucap. Raden kasihan melihatnya. karena Windu sangat marah. “Aduh Raden lepaskan saya Paduka. 38.kekuatannya sudah hilang. pertanda sujud kepada Paduka. Maka si Windu tidak kuat bertarung terkejut badannya. padahal dia sering berperang. Den Wira (merasa) sangat kasihan Si Windu menyeringai. perang ini kan melawan satu orang. seperti agak melawan berperang ditarik dengan cepat. waktu Dalem Kiban.” Si Windu segera melesat . Semakin kencang majunya. (karena) bagaikan kilat majunya. heran sekali Si Windu ini. menahannya. 245 . 39.” Windu berdiri di atas lutut kakinya. memerciki gunung. 36. ia kalah bertempur.

negara asal Gusti Kuningan sedih (hingga) tidak sadarkan diri. Serta sampai di perbatasan negaranya. lalu Raden Wira. kepada Wiralodra. serta memasrahkan diri. “sudahlah Dinda sekarang 43. 44. 42. Sudah bubar semua tentara Kuningan. 246 .40.” Dipasarah menyembah kepada Kiai Wiralodra. keturunan Budaprawa. cepat pulang menuju tuanmu kan sudah ada negara. 41. betul-betul prajurit sejati. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan. (beliau) sangat sabar. sangat gembira hatinya. Paduka berguling di atas tanah. Windu berlari. karena kuda (ini) dulunya. Wiralodra berkata lembut. dari kuda Harba Puspa. kDipasarah lalu cepat menyembah. menghilang di dalam hutan. kepada Dipasarah. jiwa raga hamba. Oleh karena itu Wiralodra semakin … bertemu dengan Patih Dipasara.

serta anak cucu . sudah tiba di hadapan Paduka. keturunan Majapahit. memohon berkah dari para wali. (atas) kelancangan hamba. (para) wali sedang berkumpul. “Duh kamu Wiralodra. ke negara Garage. mati hidup saya. 247 . 47. bahagia sekali kamu ini. keturunannya dahulu. 45. meminta restu Paduka. DANGDANGGULA 1. untuk keturunan Wiralodra. Mohon ampun beribu ampun. Semuanya sudah mengizinkan. dari Brawijaya dulu. diserahkan kepada Paduka. Wiralodra berkata kepada Paduka. lalu dipegangnya. orang yang menggantikan. semuanya terserah Sultan.hendak melanjutkan perjalanannya. VI. kepada Gusti Sultan. serta takdir Yang Widi. Lalu menyembah mencium kaki Sultan. 46. sekarang hendak kembali. karena anda keturunan sultan. di mana ke mana pun sedia. (karena)saya (telah) membuat negara. kebetulan bertemu.

Tidak suka menikah. jika nanti menjadi negara. 4. Hindang Darma menang. Serta sudah takdir Yang Widi. “Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali. memperluas negara. kan Hindang Darma ikut. kelak hingga anak cucu. semua saudara yang ditinggalkan. tidak licik bertarungnya. Hindang Darma bahasanya lembut. tetapi Hindang terdengar suaranya. Tetapi dinda menurut. betul-betul orang yang mumpuni. (dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan. membuat negara. 3. 248 . Ada sumber air di kali Cimanuk. sampai di Cimanuk. dinda. berpelukan semua saudara. tertangkapnya itu?” Kakandanya lembut berkata. 2. lalu [sama-sama] bertemu. meskipun kanda yang memulai. tidak mendapat kabar berita. seperti apa Nyi Hindang Darma. namailah Darmayu. “Duh kanda sangat kuatir sekali. kebiasaan orang Dermayu.Wiralodra mundur dari hadapan Paduka. setia serta bijaksana. karena Nyai Hindang Darma. menjadi campur dengan wanita. cepat-cepat perjalanannya.

Kiai Pulaha. 7. (untuk) menjadi pejabat di negara. dengan Ki Tinggil. Surantaka. keris atau pedang. untuk meresmikan negara. sama-sama berumah tangga. Bayantaka. Tetapi kanda (serta) adik-adik. 249 . lengkap berjejer di depan. (orang dari) sebrang nanti tiba. Semua saudaranya ini. Kelak negara Dermayu ini. serta perkemahan besar. membuat pasukan. katumenggungan dinda. aku persilahkan semua saudara.jika bepergian tidak memberi wasiat. semua oarang suruh berkumpul. berdua keluar dari pintu. ada di Darmayu. banyak yang sengsara. moga-moga semua membangun. dengan mantri Wanasara. bertemu di tempat upacara. dari timur barat datang. negerinya sangat ramai. tempat[nya] mengatur pekerjaan. karena perbawa wanita. tetapi susah nanti anak cucuku. Kakaknya mengizinkan. berkata silahkan bagaimana kehendak kanda. permisi dinda hendak ke luar sekarang. 5. menjadi tujuan seluruh bangsa. 6.

Sudah berunding semuanya. (karena orang) besar dan kecil berkumpul.8. Lalu keluar (yang punya) hajat. oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak. Gamelannya angklung calung suling. Bekerja bersama-sama membangun negara karena sudah terwujud. mulutnya berbicara terus. disoraki oleh temannya. yaitu Raden Wiralodra. semua berkumpul di tempat pesta. 11. serta nyanyian gembira. 10. bergantian menari. lenggak-lenggok (dengan) perut buncit. Ki Tinggil juga menari. negara berkat kehendak Yang Manon. 9. hadiah untuk (para) kawula. hendak mendirikan negara lain.. bersorak bagaikan prahara. suara oarang-orang gemuruh. yang sebagian tertawanya jatuh bangun. karena untuk tempat berpesta nanti. 250 . suami istri berkumpul. sampai seminggu lamanya. Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil. semoga semua berkenan. lalu berkata manis. berbentuk perkemahan besar. berkumpul para kawula. “Hai semua saudaraku yang ada di sini. semua sudah sedia. menyembelih kijang memotong sapi. tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu.

(lalu) makan beramai-ramai.” Kemudian semuanya membbaca bismillah. senggak(1) penuh irama. dan negeri ini diberi nama. iuran semua saudara. semua saudara bersama-sama makan-makan. 251 . lalu Raden berkata perlahan. Para orang tua sama-sama mengamini.” 12. Semuanya bubar. Sesudah (menyantap) makanan. setiap bulan seperti ini. bergemuruh orang banyak mengatakan amin. “Duh saudaraku semua. gamelannya celempung suling. (yang) sama-sama hadir. serta kamu semua menyaksikan.negara sudah jadi. rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi. Yang membaca doa sudah selesai. (agar) saya ikut gendut sambil menari berlenggak-lenggok. 13. Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya. saya mempersilahkan semua untuk bersantap. lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan. Semua orang tertawa (dan) menyoraki. negara Demayu. bersantap (dan) bergembira sudah selesai. 14. “Duh saudaraku semua. sambil membawa hidangan. Semua orang berkata “(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu) kami semua senang. (kepada) semuanya saya memohon. serta membaca doa (memohon) keselamatan.

dan Wangsanagara itu adalah iparnya. Kakaknya lembut berkata sambil memeluk. Adik-adik(nya) sudah menyalami. ayahanda menginginkan. 16. apa yang terlihat. jika kanda Paduka mengizinkan dinda hendak pulang (ke Bagelen).” 17. oleh karena sudah lama. lalu berkata bagaimana kanda. besar kecilnya. “Duh Dinda semoga selamat. karena ditinggalkan oleh adik-adik. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat. kepada ayah (dan) ibu nanti. kepada dinda semua. tidak salah diundang. 15. sampai ke perbatasan. masih membereskan negara. karena kanda tidak bisa pulang sekarang. bercampur dengan nyanyian.yang bersantap gembira hatinya. Tetapi adik katakanlah. kakaknya mengantar. Lalu bersalaman. suara celempung (dan) suling terbawa ngin. kembali ke negara Bagelen. 252 . (katakanlah) adinda semua berada di sini (mengadakan) pagelaran di kadaleman. mendapat anugrah Yang Widi. “Dindaku semuanya apa yang harus kulakukan.

anak cucunya. 3. tanpa sopan santun. DURMA 1. diiringi [dengan] teman-temannya. Ini kan bakal negara.” Watuhaji membalas. “Percumah saya berkelana. 2. lalu diperiksa. Karena negara akan mulia. menurunkan tujuh bupati. sebab menjadi pintu gerbangnya. aku tidak suka berperang. “Kamu ini datang kepadaku. jadinya saya tiba. 4. sampai menjadi bupati sekarang ini. (akan) merebut negara. Watuhaji kakaknya. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara. VII. masih setengah hutan. akan saya minta. (itu) menghina. ada musuh (yang) datang. (oleh) Den Wiralodra. tanpa tujuan. menjadi pejabat di negara ini. karena negara belum jadi.” 253 . di negara ini. sampai di akhir nanti.Diganti (dengan tembang) Durma.

9. 6. Ki Pulaha maju bertempur. Prajurit Watuhaji. “Hai kamu Wiralodra. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha. 7. Nitinegara heran. (Membuat) heran yang melihat. Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung. Wiralodra mukanya seperti api. sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh) ramai yang berperang musuh banyak yang kalah. Kiai Tinggil lagi senang perang.5. 8. tidak disangka bisa perang. bersama teman(-teman)nya. ramai yang berperang. baksanya (tarian perang) lembut dan manis keris disandang. 254 . orang yang berada di tengah hutan. sambil berteriak (menantang) bertarung. melompat seperti kilat. pantas sekali maju perang. maju dengan penuh sopan santun. jika menebaskan senjata. seperti orang(-orang) kerajaan. lagaknya sangat berani. riuh rendah. Kiai Pulaha berdiri. Lalu menoleh mengerikan. dibawa ke pintu gerbang. pedang dipegang di tangan. ternyata bisa bertarung.

bila kamu prajurit sejati. karena kamu prajurit sejati. (lalu) berhadap-hadapan di medan perang.” Berkata Wiralodra. Ayo sambutlah!” Raden Wira ke luar. majulah berperang. 12. yang kuat di medan perang. Kerahkanlah prajuritmu. oleh Wira(lodra) disuruh dibawa. ayolah (kamu) maju berperang. memegang senjata. Nitinegara dibanting. jangan ragu untuk memukul. (kemudian) diikat oleh Ki Tinggil. terguling di atas tanah. 10. lalu maju perang lagi. Sudah menyambut. “(Aku) tidak biasa mendahului. “Hai Wiralodra (kamu) ayo gunakanlah keris atau pedang. menusuk Wiralodra. 11. akan aku tahan.jangan (terlalu) lama mengadu prajurit.” (lalu) berhadap-hadapan. lawanlah aku! 13. 255 . Sesumbar Raden Wira di tengah medan perang. “Hai prajurit Watuhaji. Ayo tebaslah dengan senjatamu!” Cepat Nitinegara.

menuju arah selatan. melarikan diri dari pertempuran. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata. mengacau di negara Dramayu (membuat) susah orang kecil dijarah kerbau (dan) sapinya beras padi dan harta banyak orang dibunuh yang diserang melarikan diri ke luar dari Bantarjati 18. Menurut cerita ini. tempat untuk bertapa. Watuhaji dan Den Wira. letaknya yaitu di Cisambeng. bertarung saling mendorong. bertemu tandingannya dalam berperang. Kelak keturunannya 17.. berganti nama. 16. Ki Gedeng Sambeng namanya. 15. karena Raden bertarung. 14. (Badannya) menjadi sebesar anak gunung. yang ditujunya itu . Wiralodra (lalu) mengeluarkan ilmunya. Watuhaji meloncati.Bertengkar (dan) saling menyerang. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung (yang bernama) Ki Gedeng Depok. (kemudian) menjadi pendeta. ……… Drayantaka (dan) Wanasara 256 .

(dengan) membawa harta (benda). kedatangan orang(-orang). tentara admiral bertambah banyak. Watuhaji dan Nitinagara. Raden Wiralodra kaya. menjadi Kiai Dalem. (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah. Lolos menuju Dramayu. tanah (di) Bogor dan Karawang. Wiralodra diangkat. 20. gembira semuanya. 257 . kepada bangsa Belanda. menawarkan tanah. ponggawa (dan) para mantri 21. pasukan[nya] tumenggung tunduk semua. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang). (lalu) mengangkat demang (dan) rangga. serta banyak serdadunya. negara tambah ramai. 22. masing-masing berkeluarga. diserahkan kepada Ki Tinggil 19.mengamuk di medan perang. tumenggung dserta patih. pasukannya kira-kira seratus orang. semua lengkap. lalu den Wiralodra mengalahkan banyak tentara. sudah berdiri (pasukan) jendral. beberapa gotongan. harta beribu juta. (semua) membuat rumah.

Disayangi Sultan Mataram. Penyebab Nitinegara menangis. VIII. karena ada keinginan Raden Wira. memotong leher saya. 25. (karena) berbuat (telah) salah. 24. (kelakuan) seperti itu tidak baik. Terkenal ke seluruh negeri. kepada Sinuhun Mataram. Seharusnya Tuanku. merasa takut yang melihatnya. (Nitinegara) meminta belas kasihan. 258 . melarikan diri (pada) malam hari. Menjadi negara (yang) subur makmur. 23. orang(-orang) kecil merasa senang. banyak orang-orang. kepada kedua tumenggung. dari keratonnya. Wiralodra.menyerahkan harta(nya). sebab hendak menghancurkan Darmayu [itu]. DANGDANGGULA 1. menjadi macan negara. jika nanti hendak dikirim . diganti lagi (oleh) dangdang(gula). oleh karena paling sakti di dalam negeri. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya. membawa harta bendanya. ke negeri Dramayu. dari negara lain. kesaktiannya tiada tara.

3. Watuhaji yang berdosa. Lalu berangkat Nitinegari. permaisurinya empat (orang) lahir putra tiga belas banyaknya. Wirapati selanjutnya. 2. telah jauh perjalanannya. Dikisahkan Kiai Dalem. dalem di Darmayu.” Wiralodra sangat kasihan melihat[nya]. ayahandanya sudah meninggal. menjadi dalem Darmayu. putranya (yang bernama) Raden Wirapati. semakin lama negara semakin kaya. bungsunya Raden Drayantaka. (diceritakan) sudah mempunyai anak. diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan.(Tapi)saya memohon agar tetap hidup. tinggal menjadi senang dan raharja. disuruh menuju gunung. Dalem Darmayu. yang sulung (bernama) Sutamerta. Wiralodra yang kedua. sebanyak empat orang. dosa yang sangat besar. Yang perempuan bernama Nyayu Hinten. (Lalu) dibekali Nitinegari. 259 . 4. nanti kedudukannya sangat dibedakan dari yang lain oleh karena nanti turunan Nitinegari. mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal. Dalem yang mejadi penggantinya. mengganti kedudukannya.

di Pulo Mas negaranya. Kakaknya sangat setuju. Raden Wirapati. lalu melahirkan. (bila) saudara mau. setelah menikah nanti. 5. nama yang disepakati. sangat saling mengasihi. 260 . putranya diberi 8. seperti dengan saudara. Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan. memiliki saudara seorang raja. tetapi (jangan) dibawa. Werdinata kepada (Nyai) Hinten. adikku yang perempuan. ke negara adiknya nanti. Karena sangat saling menyayangi. Serta lama kelamaan adiknya Nyayu Hinten mengandung. Werdinata dengan Nyayu Hinten. 7. gembira sekali Paduka. terus terang kepada kakaknya. Adapun (untuk nama) putranya. (selalu) saling mengunjungi. Dinda Werdinata. bernama Werdinata. 6.perempuan dan laki-laki. tiga belas bulan lamanya. karena hanya satu. lama-lama jatuh hati. berunding dengan kakaknya Den Wirapati.

Ada keperluan apa?” 11. memenuhi permintaan ayahanda. gemilang cahayanya. onom dan mahluk halus. (ketika) berumur tiga tahun. “Selamat datang anakku. Ayahandanya berkata.” “Semoga bakti ananda diterima. karena sudak bijaksana. hendak meminta bantuan. 261 . (pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit. menghadap ayahandanya.Bagus Raden Wringin Anom namanya. dibawa mengunjungi ayahnya. kuning cahyanya bersinar. sebab Raden Wringin Anom. cepat(-cepat) aku memanggil(mu). Kemudian Den Wirapati. dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang. serta Dalem Kuningan. Lalu ayahandanya berkata perlahan. Werdinata di Pulo Mas. kepada putranya Sultan Pulo Mas. “Hai anakku yang tampan. oleh Dalem Ciamis. (sehingga) tidak kuat berperang. 10. kedua ayahnya sangat sayang kepada anaknya. putranya sudah tiba. pasukannya siluman. (karena) ayahanda menerima surat. 9. karena diserang. Lalu ayahnya berkata.

karena dikepung musuh. Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman. 13. Paduka Dalem Sumedang. sudah berada di depan. karena ayahanda akan bertarung (melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti. (melawan) musuh para siluman. Jika demikian saya berangkat hari ini.dari Dalem Sumedang. karena itu mereka sangat hormatinya. kata anaknya. tidak terlihat wujudnya. Dalem Wiralodra datang. saya serahkan negeri (ini). seperti orang berbaris hendak berperang. Orang Sumedang banyak yang ikut. tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis. putra yang menanggung.” Lalu ayahandanya berkata. hanya suaranya yang bergemuruh. (dari) Ciamis dan Kuningan. ananda harus ikut. 262 . lalu bubar menyerang para siluman. Silahkan ananda (apa) tindakanmu. karena pasukannya siluman. onom dan mahlukhalus. menghampiri serta memeluk sambil menangis. 14. “Duh putra tolonglah. menggeram suaranya. “Baiklah. 12. Orang(-orang dari) timur melihat. (jangan) khawatir ayahanda raja. dengan membawa tentara makhluk halus. (yang) meminta tolong ayahanda.

dikeroyok bertarungnya. berlarian pasukan Kuningan. karena Raden Wringin Anom. putranya mengusir para siluman. Banyak prajurit tewas. 17. hampir tertimpa kedua dalem ini.Raden Wiralodra. karena sangat gembiranya. (dan) khawatir (pada) ayah(nya) 15. jatuh bangun pasukannya. mengemban (tugas itu). yang diincar tinggal kawannya dan raja. sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis. Ramai yang berperang. 263 . sama-sama ikut bertempur. Lalu orang(-orang) Sumedang. dan Tumenggung Dongkara. Prajurit keluar semua. 16. maju bagaikan kilat. Suradiningrat (dan) Brata Kumuning. Raden Dalem Wiralodra. (ialah) orang(-orang) Ciamis. Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis. Serta keesokan harinya pergi berperang. dan semuanya merasa bahagia. berubah wujud. karena Dalem Darmayu sakti. merangsek (ke medan) perang. Lalu Dalem Wiralodra. Orang(-orang Sumedang gembira. sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang). menjadi sebesar anak gunung. musuhnya pasukan onom.

“Jika mendapat izin ayahanda.18. 20. lalu putranya menyembah Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu. berdua dengan Paman Tumenggung. Ciamis dan Kuningan. juga musuh ayahanda. Den Wringin Anom mengejar siluman. sampai di perbatasan. Kemudian ayahnya mendengar yang berita. sudah bubar tidak ada yang tertinggal. (bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan. Orang-orang ramai melarikan diri. 264 . terpisah raja dan rakyatnya. menyelamatkan diri pasukan Ciamis. suaranya bagaikan halilintar. Bubar pasukan dari Ciamis. jari-jemarinya menyentuh tanah.” Ayahnya sudah mengizinkan. sebab khawatir akan negara.. berdua dengan Jongkara pelayannya. tidak ada yang layak menjaga. Lalu anaknya berkata lembut. “(Banyak yang) melarikan diri. bagaimana musuhmu?” Putranya berkata kepada ayahnya. gigi taringnya terlihat bersinar. melesat ke angkasa. dikejar oleh Dalem Wiralodra. 21. “Kebetulan sekali anakku. 19. lalu bertemu dengan ayahandanya. matanya (menyala) bagaikan matahari kembar. ananda hendak kembali sekarang.

untuk menyapu dan memasak nasi. dicampur dengan uang talen. Ditaburkan uang tersebut. kita berdua bersama menaiki(tandu). Ini putra ayahanda seorang. sama-sama menghormati. diiringi gamelan serta prajurit penghulunya siap. serta para pelayan. membawa bokor mas. dengan panglima perang. 22. 23. Putranya mengucapkan terima kasih. 24. Cepat ayahanda menjumpai serta membawa putranya yang perempuan. Bersama-sama turun dari tandu. karena gembira sekali mereka. 265 . Semua para prajurit. ramai orang(-orang) menagkap. bagaikan bumi terbelah. ayah dan ibu bernadzar anakku. berisi uang mas. sepanjang jalan jadi terlihat sedang berhadap-hadapan. “Mari anakku sama-sama menaiki. anak gunung sangat buruk” (1). sama-sama berebut uang. setelah sampai (makanan) disajikan. Lalu sudah bertemu. segera menaiki tandu. serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam.telah bubar sekarang. para wanita serta ibunya. naik joli dan tandu.

27. makan bersama. Lalu putra Dalem Wirapatih turun dari tempat duduknya serta menerima baktinya. saksikanlah ucapanku (ini). dengan Darmayu ini. dengan para ponggawa. “Hai sanak saudaraku. saksikanlah oleh semua. saya serahkan kepada anakku. bergembira semuanya. (atas) kasih sayang ayahanda. yang bersama-sama duduk di tempat ini. kawula dengan prajurit.para pelayan berhamburan ke depan. menjadi satu negara.” Lalu sama-sama bersalaman. 26. (saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih. mendapat anugrah dari ayahanda Kandanghaur pesisir utara saya terima. Dalem berkata manis. Lalu sama-sama pulang. Aku tidak memiliki (lagi). Kemudian semua mantri. bawahannya semua. (saya) sangat berterima kasih 25. ramai-ramai makan-makan hingga tujuh hari. “Hai para prajurit. semua saudara (pamit) 266 . kepada putra Wiralodra. pesisir Kandanghaur. yang tinggal di negara Darmayu.

para madu dengan para putra. semuanya akur. Karena dinanti-nanti tiada henti. istri dan putranya. serta diberi istri. Selanjutnya (di) negeri Dermayu. mendapat anugrah dari Yang Kuasa. Adapun nama putranya 30. lalu datang dan menemui. di belakangnya para madu. sampai ke perbatasan. Lalu putra perempuan. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan. untuk kembali. Nayawangsa. Raden Timur dan Sawerdiya.kepada Dalem Wiralodra. sangat gembira hatinya. sangat makmur tinggal di negeri (ini). para saudara dan rangga. 29. sangat gembira (karena) ayahnya datang. 28. Hastrasuta. Wiralaksana. Wiratmaja (yang kelima) karena lima orang anak laki-lakinya. serta tinggal di pesisir Kandanghaur. Nayastra. sejahtera dalam kehidupannya. semua pengawal putranya. yang paling besar ialah Raden Kowi. kedua Raksadiwangsa. 267 . (dia) sangat menyayangi istrinya. Hadiwangsa. Wirantaka keempatnya.

Singalodra yang gagah. yang telah mengganti kedudukan ayahnya. Lalu wapat ayahandanya. Patranaya. 268 . (oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi. serta semua para pembesar. Karena sudah memiliki putra. Tetapi persetujuan para ponggawa. kakaknya Raden Benggala. adiknya menginginkan. penggantinya berebut jabatan. sangat bijaksana. dan Nyi Raksawinata yang keempat. menjadi bupati. sudah beristri. Lalu ayahnya tiba ajalnya. dengan Wiralodra namanya. 33. yang menggantikan harus kakaknya. Benggali namanya. Puspa Taruna. tetapi Benggali Benggala anak laki-laki ini. para putra semuanya.31. menduduki jabatan bupati. Benggali adiknya. 34. (kemudian) diganti. sebanyak empat orang [putra]. sudah lengkap tiga belas (orang) putranya. mereka bersaudara. Singawijaya putranya (yang) perempuan. 32. paling besar Raden Benggala. sama-sama kaya. Semuanya jadi pejabat.

Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya. Sangat bingung para ponggawa. “Raden Singalodra kakandaku. 35. 36. van de Boss namanya. mengganti kedudukan ayahanda. Berlayar di lautan. kakanda sudah (menjabat). pasti saya mengamuk. lalu datang utusan. (sehingga)lima bulan tidak ada bupati. kepada Tuan Komandan. kalau aku tidak menjadi bupati.Tetapi adiknya (berkata). 269 . membawa pasukan serdadu. dari Betawi. bila menyebrang ke Betawi. kalau kakanda yang menggantikan. utusan dari Tuan. akibatnya bakal ada kematian. menjadi bupati menggantikan kedudukan ayahnya. utusan Gubernur Jendral Betawi. tetapi Raden Singalodra. kakandanya yang menggantikan. 37. kakaknya di Darmayu. pangkatnya komandan. lalu adiknya berkata. jika demikian menurutku. menjadi bupati. membawa serdadu satu kompi. ikut ke laut. istrinya ke Bantaranak. kedudukan ayahanda.

pasukan dari Paduka. 39. Lalu mas patih Hastrasutanaya dan Tumenggung Trunajaya menjawab.” Bupati berkata lembut. bahwa tidak mengingat saudara paduka. mengenai negara ini. Kemudian berkata lembut. siang malam mengaji Qur’an. 40. Gandur dan Purwadinata. semua ponggawa. Lalu para mantri menjawab. jadinya saya katakan. yang sulung Den Laut. lalu tiba di perbatasan. 38. saudara (dan) ponggawaku. Lalu semua mengundurkan diri. tiga tahun lamanya. keinginan Yang Maha Mulya. 270 . semua sanggup (membela) sampai mati. memohon maaf. saya sudah pasrah. melihat dengan kasih sayang kepada paduka.tetapi tidak enak hati. saudaraku semua menurut kepastian. sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka). Dalem Wiralodra tadi memiliki anak banyak. Menangis para ponggawa. karena sudah sampai pada janji terdahulu. sama-sama mencium kakinya. delapan orang putranya. mengingat adiknya.

putra sedang susah makan. 271 . agar kuat imannya. karena sudah disampaikan. Berkat pertolongan Yang Agung. aku mendengar berita (bahwa) paman berhenti dari jabatan kebupatian. Gembruk serta Toyib. Nyai Moka bungsunya. yang sangat tidak enak hatinya. takdir Yang Maha Agung. Lalu sunan berkata. persembahan kepada sultan. mengaji siang dan malam. Singalodra namanya. (karena)sangat sakit hatinya.Kartawijayastra yang keempat?. 41. takdir Yang Maha Mulya. Bila malam tidur di makam. di makam para leluhur. apa betul?” Wiralodra menjawab. 42. “Sesungguhnya Tuanku. jam empat kembali ke rumahnya. meminta kepada Yang Maha Suci. yang mengganti adik saya sendiri Paduka. mengurangi tidur dan makan. putranya (yang bernama) Kartawijaya. yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji. ayahandanya dipanggil oleh Sultan Cirebon. 43. “Jadinya paman aku panggil Wiralodra ke hadapanku.

mengajar para putra mengaji. sangat sabar hatinya. Lalu Kiai Dalem berkata. anak hamba (yang bernama) Kartawijaya. “Paman.44.” Berkata Sinuhun. Kartawijaya dipanggil. “Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka. serta rumah tempat tinggal paman. barangkali hatinya terbuka serta paman memohon pertolongan Paduka. semuanya sudah sedia. 272 . padahal ia masih muda. Tidak tidur serta tidak makan. Tajug (dan) kolam aku sediakan. (yang)namanya Kartawijaya. Sultan sangat kasihan melihat. Dalem Wiralodra. sepertinya sedang tidak enak hati. sudah menghadap kepada Paduka. anda ini (agar) menolong saya. “Perihal masalah itu. aku terima diserahi putramu.” 47. saya menyerahkan semuanya. 45. kitab serta Qur’an. supaya di kesultanan (ini). tetapi permohonan hamba. Lalu berkata sultan kepada Wiralodra. mati hidup saya. 46. pasrah kepada Paduka.

lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan. kepada Raden Kartawijaya ini. di Pajagalan Panjunan.” Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka. Ratu Mas Atma namanya. 273 . 49. saya angkat jadi mantri polisi desa. Naik tahta di Panjunan.” 50. 48. “(Ternyata) ada Kartawijaya (datang). untuk Kakanda di Panjunan. Suratnya sudah diterima. Sekarang kamu ini. Kartawijaya berkata kepada Paduka “Saya memang berdosa kepada Paduka apa yang Paduka inginkan?” Sultan berkata manis. sukur kamu ini.berlutut dan menundukkan mukanya. lalu berkata perlahan. “Lalu Sinuhun berkata perlahan. Sudah jauh perjalanannya. tempatnya di penjagaan. lalu mundur dari hadapannya. tampaknya terampil dalam pekerjaan ini. Kemudian kelak dinikahkan kepada cucunya. bersama-sama denganku. di hadapan Sinuhun. “Hai Karta kamu ini. kepada Kartawijaya. Pangeran melihat dengan rasa sayang. tempatnya di Panjunan. bawalah suratku. aku mengangkat kamu.

orang(-orang) kecil suka melihatnya. 52. Lalu dirubah lagi ceritanya. gamelan dibunyikan. 53. semua bersuka ria. (sehingga) sepi di negara. (bersama) empatpuluh orang prajurit.adapun rumahnya. (bila hanya) mengingat akhirat. sedang pesta beramai-ramai. yaitu Kiai Dalem Singalodraka. semua tingkah laku bupatinya. bila menari [sepertinya] bergoyang disertai 274 . Untuk apa banyak harta. di sini ada para ponggawa. semuanya ponggawaku. berada di Kejaksaan. menurut perintah nabi. meskipun saudara (atau) orang tua. 51. sedang mengatur pekerjaan. ramai-ramai siang malam. harus suci hatinya. Ki Dalem lalu berkata. takut dosa besar. bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu. santri kecil hatinya. kebiasaan santri (seperti)itu. Ketika bupatinya ada di sini. [karna] aku tidak menyetujuinya. bila tidak bersuka-suka. mantri patih dan bupati. bersorak gemuruh. tidak pantas menjadi bupati. gagah serta tampan.

selendang kain berbunga. sampai pada ajalnya. dilantik mejadi bupati. lalu selendang disingkirkan. sangat susah (selalu) ada keributan di negeri. 275 . (Kemudian) banyak terjadi perampokan. (yang bernama) Raden Semangun. (karena) banyak orang yang dibunuh. putranya Purwadinata. semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya. Dalem Singalodra. seolah-olah marah. diganti oleh putranya. 56. 55. badannya sedang (dan) gagah. Perusuh sudah bersiap. (sehingga) orang kecil sangat susah. menjaga para durjana. tiga tahun lamanya. nayaga disiram oleh air. yang menjaga tidak kuat. Orang yang banyak harta-bendanya. Setelah bubar semua. Para mantri sama-sama bersorak. kadang-kadang saudara sepupunya. [upacara] siang malam Patih Hastrasuta berkeliling. dirampok oleh para durjana. Ada lagi berita (demikian) ini: 57. nayaga ramai senggak. Orang-orang berkumpul di desa. 54. bila kurang senggaknya menendang dan menyepak.

. Kiai Betawi itu dari Kandanghaur. senapan dan keris. Siang malam beramai-ramai. Raden Kartawijaya. oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan. adapun Seling Rangin putranya. orang Kulinyar dan Pasiripis. (Kemudian) berunding hendak menyerbu ke negeri Darmayu. 58.. 59. tandu dan kendaraan tunggangan. Jatitujuh. lebih dari tujuh ratus.tempatnya di Bantarjati. Surapersanda. pribadinya pemberani. 276 . Bagus Wari semua (dari) Mayahan. Den Nuralim adalah saudara sepupunya. menjaga di perbatasan. Bagus Rangin. Bagus Leja dan Sena. sedia tumbak senjata. Serta para panglima perang. bertanggungjawab di pertempuran. Biyawak. Semuanya sudah setuju menyerang Dermayu. mereka sampai tiap hari. penuh sesak (karena) banyak orang. Lalu mereka bertarung. 60. para putra semuanya. tidak enak duduk. berkata kepada teman sesama prajurit. Pimpinannya Bagus Kandar.

(karena) terdapat perempuan. memakai pakaian tamtama. mendengar sorak beramai-ramai . yaitu Ciliwidara putri dari negeri Banten. 277 . Para prajurit dari Darmayu. komandannya paling depan. dengan putra serta senapati.“Hai saudaraku semua. berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning. (mengikuti) kehendak tuan. bercampur dengan (suara) senjata. adik-adik serta sepupu bupati. Raden Wiralodra.”Baiklah. mendapat kebijaksanaan. putra bersama saudara. melihat yang bertarung . Teman-teman para prajurit menjawab. yaitu Kartawijaya. tidak bisa menangkapnya. besok (akan pergi) ke Darmayu. (badannya) besar tinggi menakutkan. Semua para prajurit terkejut. kulitnya kuning. 62. Serta sampai di Dermayu. para ponggawa banyak yang rusak. diperhatikan kelakuannya. (serta) bisa terbang di angkasa. serta para putra. banyak orang yang melihat. Uwa Kartawijaya. melihat saudaraku.” Keesokan harinya berangkat. 63.” 61.

mengaku putra Kentanagara. ayahnya mengeluarkan air mata. (yaitu) Den Dalem Wiralodra. 64. Suryaputra. sekarang ayahanda ingin bertemu. siapa nama prajuritnya?” 65.” Kartawijaya berkata. katanya tandingannya dengan Paman Patih Hastrasuta. besok (akan) saya tangkap. gugur tadi. 66. lalu bertemu dengan adiknya. (Ia melarikan diri). menangis di hadapannya. musuh ini menginginkan apa. Ciliwidara itu. Suryabrata. berani sekali merusak negeri ini.datang dengan para prajuritnya. “Duh adinda Patih Hastrasuta. Kemudian dengan ayahnya berangkat. dan kakak Suryawijaya. serta putraku Kerstal. lalu bertemu dengan Raden Kerstal. karena sangat berduka. masuk ke keraton. “Duh anakku. 278 . banyak yang tewas. Nyi Ciliwidara namanya. oleh panah si Ciliwidara. “Duh ayahanda sangat rusak negara. malah putra ayahanda.

(kita) orang Dermayu. yang hendak merebut negara. Kamu tidak tahu (siapa) aku. Serta besok menyiapkan pasukan. menghadapi peperangan?” 70. Sambil menangis memanggil-manggil. Tidak kuat saya. Lalu [cepat] menantang. “Hai orang Darmayu masihkah berani. Bendera lalu dikibarkan. karena didatangi oleh musuh. seberapa berat kesaktiannya. 279 . sangat sakti Ciliwidara ini. Kartawijaya namanya. putra kanda banyak yang tewas. musuh satu orang tentu berani. Serta bendenya dipukul. apa tindakan kanda. (aku) ini saudara yang tertua. mengimbangi pertempuran. kanda bertanding di medan perang. menandingi kegagahan. pasukan ponggawa putra prajurit. Ciliwidara mendengarnya. 68. gelang kalung kilat bahu . Lalu kemudian memeluk kakaknya. 69.67. Ya besok adinda saya (akan) lihat. Silahkan. cepat berganti pakaian. “Duh kanda tolonglah sekarang. apalagi ia cantik. terlihat sangat serasi. senjata panah serta keris. dengan orang senegara.

menganiaya (dan) berlaku curang. kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki.” Lalu berkata lantang. sambil berbicara. kalau kamu merasa lebih!” 71. karena kamu unggul. cepat diletakkan di pinggang pedangnya. “Kamu betul-betul prajurit Ciliwidara didekati. Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah. memanah tidak akan sampai kedua kali. “Bersiaplah! usiamu tak kan lama (lagi). kalau mengenaimu. senang melihatnya. yang bernama Si Belabar Geni. seru saling pedang.” Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena. tulangnya yang kena. 72. sombong kamu wanita cantik. 280 . kurang trampil dalam berperang. “Dasar pelacur murahan. Lalu ia mementang panah. haus akan darah manusia.berani(-beraninya) merusak Darmayu. tidak ada yang kalah bertarung. 73. rasakan panahku. karena itu cepat menyerang kamu anjing. Raden Kartawijaya. keduanya unggul. “Hai kamu Kartawijaya. kamu Ciliwidara anjing. Jatuh seketika di atas tanah. merasa gelap penglihatannya.

Ciliwidara tidak kuat. Hastrasuta namanya. berkatakepada prajuritnya Aku perintahkan menjaga. menjatuhkan diriku. dengan semua putranya. menghilang tidak tentu. sambil menggerutu (di dalam) hatinya.” Lalu Den Kartawijaya. harus sama-sama dijaga. karena aku tidak takut melawanmu. semua kelakuanmu. menemui adiknya Wiralodra. siang dan malam. Karena sama-sama bertemu. kakaknya dengan adiknya. Kartawijaya. Kartawijaya hatinya benci. serta adik patih. sangat berat kesaktiannya. Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi. dikeluarkan kesaktiannya. 75. menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya. 281 . Setelah Ciliwidara menghilang. lalu [sudah] diambil. Semuanya berkumpul. tempat menghilangnya Nyi Cili. IX.apa yang dilakukan kamu ini. 74. bersama putranya. menghentakan (kakinya) di atas tanah. SINOM 1.

Oleh karena orang yang bijaksana. rusak negaranya. heran sekali Ciliwidara gagah . 282 . Adiknya berkata kepada kakaknya. 5. “Duh Dinda untung selamat. kakanda cepat datang. Maka hendak melaporkepada Paduka. takdir Yang Maha Widi. karena kan lagi berperang. Kakaknya lembut berkata. Kakaknya lembut berkata. tidak berniat hendak membantu adinda dalam berperang. dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara. hendak pulang lebih dahulu. tetapi keinginan Kakanda. kepada saudara-saudaraku. serta para putra nya. tetapi bahagia ditolong oleh kakanya. karena berkah kakanda. dinda persilahkan duduk di dalam 4. 3. cepat Kanda datang. ditakdirkan Yang Maha Mulia. maka permohonan adinda. beribu-ribu kebahagiaan. tidak tahu kesusahan. seperti apa keinginan (kanda). diterima permohonan Dinda. jika Dinda masuk.menceritakan rasa susahnya. Barangkali beristirahatlah dulu. 2. mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka.

(setelah) mendapat izin dari Paduka. menjaga tempat menghilangnya. lalu berjalan mengiringi sampai di pintu gerbang. 283 . sangat susah Paduka hendak mengatakan yang sesungguhnya. 7.ke penjagaan kanda. Di tempat menghilangnya. sambil menyembah. Semuanya berpelukan. “Keinginan Dinda silahkan sampaikan.” Kiai Dalem berkata. Dalem Wiralodra. Tiba-tiba datang Nyi Jaya menghadap. tak disangka berhasil baik. Lalu masing-masing bubar. Kanda hendak berangkat pulang hari ini. Dinda. [tetapi] Dinda (harus) hati-hati.” Nyi Jaya menjawab pelan. 6. begitu pula para putra. 8. (yaitu) Patih Hastrasuta. (harus) dijaga ponggawa. celaka Paduka. sedang menghadap kakaknya. kemudian berjalan cepat(-cepat). “Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk. Ponggawa (dan) saudaranya masuk ke padaleman. Saat itu hari Jum’at. Kiai Dalem berkata lembut “Duh selamat datang Dinda. di negeri Garage.

sekarang baru kesampaian. serta keturunanku diterima semuanya. Saya dari Bantarjati. tetapi saya tetap. Kiai Dalem berkata. sudah banyak orang datang. hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku. Kiai Wiralodra berkata kepada patih. semua kehendak Paduka. sekitar seribu orang. “Syukurlah bahagia Dinda. “Saya (ingin) menemui Kakanda. hendak menurut (kepada paduka). kelak menjadi bersatu. 284 . Sudahlah Dinda cepat mundur beristirahat di rumah Dinda. saya akan menikuti sampai anak cucu. kelak kematian saya bersaksi. memang saya di bawah kekuasaan Paduka.mengatakan kesalahan apa. tidak berniat mengingkari Paduka. dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya. Darmayu hendak dirusak. 10. 11. (saya) belum pulang ke rumahku. semoga keturunanmu.” 12. Lalu menyembah kepada Paduka. Dinda?” 9. dan mohon (pamit). saudara-saudara saya berkumpul mendirikan tenda besar.

” Paduka lalu berkata. (untuk) bersiaga menghadapi perampok. keinginan paduka hendaknya diawasi. “Paduka harus mengawasi para perampok. supaya timbul keberanian. 15. jika (mungkin musuh) harus ditangkap. sepertinya musuh (akan) mendatangi. Tetapi siap berperang. serta Wangsataruna. kemudian patih berkata. apa yang akan kanda perbuat?” Patih menjawab. Tanujaya dengan Demang Wangsanaya. menunggu di pintu gerbang paseban. pagi-pagi para senapati harus berkumpul. “Karena itu Kanda Patih. 16. mengumpulkan ponggawa. prajurit. 14. Trunajaya adiknya. para prajurit siaga serta perbekalannya.” 13.“Bagaimana kanda laporan Nyi Jaya tadi. (dan) Tumenggung Sutamarta. 285 . semua yang saya sampaikan. Pagi berangkat dari paseban. “Duh saudaraku para prajurit. Jiwasuta prajuritnya. Semuanya saya yang mengatur. karena Tanujiwa kakaknya. dari kampung Bantarjati. (dan) mantri. (Setelah) seluruh prajurit (berkumpul). santana.

kanda menjadi biasa. bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang. (memakai) konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning. (mereka) semua baru melihat Paduka. tergantung keris di kanan. memajukan banyak prajurit. minuman serta makanan. serta tetabuhan. membawa pedang tumbak keris. oleh karena gagah perkasa. kelapa muda (disediakan) di setiap pintu.” Bende berbunyi menandakan semua bubar. Bende berbunyi semuanya berkumpul. demang. Semuanya menaiki kuda. orang kampung yang menyediakan. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan. oleh karena menghadapi perampok. terlihat gagah perkasa badannya serta sembada.bersiap untuk bertarung. pakaiannya macam-macam. serta semua prajurit. 286 . para mantri. para arya. tergantung juga ada di kiri. pagi-pagi aku tunggu. berangkat ke Jatitujuh. Paduka menunggangi kuda. para abdi semua sedia. diiringi prajurit. Patih Hastrasuta. mahkota berwarna mas berhiaskan intan. (jangan) kurang persiapan. lalu kembali dari paseban. 17. 18. rigah. 19.

harus nanti hari Kamis. Ki Bagus Rangin. pejabat di Kandanghaur. Bagus Serit berkata. yaitu para senapati. aku harap bersabar. seperti apa pertarungannya? Telah cukup para prajurit. (tersebutlah) yang ada di Bantarjati. Bagus Rangin berkata. dengan kiai (dari) Betawi. apakah mengirim surat. serta pamannya yang dituakan. serta Raden Nuralim. (Tundalah) yang berangkat. serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar. serta Bagus Pangiwa. 21. 23. didampingi Surapersanda. Bagus Seling putranya. Gana Wanggana dan Jari. 22. Bagus Serit namanya. 287 . atau langsung diserang? Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan. serta para senapati. para ponggawa sedang menghadap. “Duh putraku semuanya. 20. semua senapati putra Mayahan.beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan. (Setelah) semua lengkap berkumpul. “Paman bagaimana sekarang. serta saudara dan putranya.

limapuluh jembatan (jumlahnya). mengatakan kedatangan orang Darmayu. peperangannya bagaimana. kira-kira hari apa. kenapa mambawa pasukan besar? Keinginan ayahanda.” Lalu ayahanya berkata. Bagus Rangin berkata pelan. “Bagaimana perjalanannya. lalu jembatan dihancurkan semuanya. “Duh Raden bahagia bila demikian. dari utara hingga berpisah.Kemis Kaliwon ini. Ayahnya kembali berkata. 24. kira-kira telah jauh. kuda serta ponggawa. (karena) polisi desa datang menghadap Paduka. serta dipasang umbul-umbul. 26. tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan. kebetulan tanggalnya. pembicaraan terhenti. Dalem Darmayu datangnya. maju menghadapi pertarungan. tempatnya di Jatitujuh. janur serta daun beringin. “Betul tidak ada (halangan) anakku. 288 . sukur (mereka) datang. Setiap jembatan dijaga sebagai penghormatan kepada Paduka. setiap jembatan dijaga tiga orang prajurit. sepertinya sial (para) prajurit. perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?” 25. anak (dan) saudaraku.

Lalu para saudaranya.27. Supaya kuda kembali (lagi). Tundalah pasukan Darmayu itu. gampang menghancurkan pasukan. karena sakti dalam berperang. Sama-sama membuat pesanggrahan. 28. menunggu kedatangan (tamu). 30. tempatnya di Jatitujuh. prajurit Hastrasuta. ramai orang menjaga perbatasan. Siang malam menabuh (gamelan). Bagus Serit yang mengaturnya. semuanya siap sedia. lima puluh prajuritnya. dipasang tirai penghalang di air. bersama Bagus Serit. (yaitu) siasat merampok. (Kemudian) membuat tenda. Lalu bubar. Ki Rangin di pasanggrahan. lalu paman patih. kanan kiri bendera. (dijaga) tiga orang prajurit. prajurit beramai-ramai. 289 . Usai merencanakan (siasat) penyerangan. pada setiap jembatan. tetapi siap sedia prajurit. dengan temannya sesama perampok. bersama-sama mengatur siasat perang. semua berkumpul (untuk) bermusyawarah. untuk pertemuan para pejabat. senjata telah disiapkan. gamelannya (ditabuh) siang dan malam. 29. bersiap untuk kedatangan tamu.

diutus untuk memeriksa. bendera merah kuning dan putih. 34. bedil mimis dan seligi Ki Patih menaiki kuda. saya sudah sedia barangkali diinginkan. umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan. 31. siap sedia perlengkapan perang(nya). patih dengan para mantri. silahkan sekehendak Paduka. di mana tempatnya itu?” Berkata prajurit (yang) tiga (orang). Serta keesokan harinya bubar. itu terlihat Paduka. Semua menghaturkan hormat. Ki Patih lalu berkata. 33. “Duh Paduka saya ini Karena diperintahkan menemui Paduka. “Diterima saudaraku. sambil menyembah serta berkata. kedatangan Paduka …. tempatnya berkumpulnya perampok. dusun Bantarjati. Lalu berkata Ki Patih. serta sampai di perbatasan. 32. tetapi nanti setelah aku pulang. karena ini perjalanan terburu-buru. Lalu perjalanannya dilanjutkan. 290 . diiringi para prajurit. hitam legam warna kudanya. gembira atas penghormatannya. telah jauh perjalanannya. ramai (suara) gamelan Ki Rangin.

karena menghormat Paduka. PANGKUR 1. lalu sama-sama duduk. masuk ke dalam tenda. bersorak hingar-bingar. pasukan sebanyak-banyaknya. serta menghormati. menuju ke Bantarjati. ramai (suara) gamelan yang ditabuh. 2. karena aku menanti perintah. 35. tumbak perampok.” 291 . sudah sedia untuk berperang. X. lalu patih memeriksa ke belakang. Dalem Dramayu. bendera dan umbul-umbul. dibakar tidak ada yang tersisa. hendak menanyakan berita lalu sampaikan yang sesungguhnya. Disambut (oleh) banyak prajurit. “Hai saudaraku semua. yang sama-sama tinggal di sini. bersalaman semuanya. terdapat pesanggrahan besar. Sebetulnya hendak merusak. Seperti apa pasukannya. kemudian jembatan dihancurkan. apa tujuannya?” Bagus Rangin lalu menjawab.sudah dipacu kudanya. sudah tiba di pasanggrahan.

dan tidak takut melihat. menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung.3. karena negeri ini (akan hancur). 4. bila kamu tidak tertangkap. Meskipun kecil wilayahnya. Sudah. (jaga) mulutmu berandal babi. karena malu kalau mundur. karena musuh ada di dalam negara. Ki Patih keluar dari Jati. dan nanti membuat sengsara semua anak cucu. tetapi lebih berat menjaganya. rupa oarang-orang di negaramu itu.” Oleh karena itu Rakryan Patih merasa telinganya seperti disebit. karena bermaksud ingin merusak negeri Darmayu. kalau boleh saya mencegah. Ki Rangin berkata kasar.” 7. “Kiai Patih Hastrasuta. aku tidak mau disuruh mundur. (jangan) menuruti napsu. 6. mereka saling dorong mendorong. Lalu Ki Patih berkata. Loh Rangin ucapanmu itu memalukan. Ki Rangin berat bertanding melawan patih. 292 . Para mantri menjaga. 5. akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu. masa aku takut. “Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara. akibatnya jadi rusak.

serentak menyerang. “Hai prajuritku semua. semuanya kalah di pertempuran. kira-kira (tengah) malam saya bukakan. “Saudaraku semuanya. siapa marah pasrah tewas. bersiap mengepung saja. ketika gelap tidak terlihat.dengan Rakryan Patih. menunggu waktu jam sepuluh. 11. Lalu Ki Serit berkata. Bantarjati. 293 . orang(-orang) Kulinyar. waktunya jam enam sore. Biawak. jatuh terkena tumbak dan keris. lawanlah (sambil) terus mundur. seribu orang lebih tidak terlihat. lalu serentak bertarung. Dan setelah jam sepuluh. banyak musuhnya yang tewas. jangan sampai bisa keluar. para saudaranya maju perang. sudah merasa tidak kuat. dan Kulinyar bubar melarikan diri. tidak memakai aturan berperang. dikepung buaya mangapi. Pasiripis. 8. Ki Rangin tidak kuat berperangnya. 10. (orang dari) Bantarjati. 9. berkata Ki Serit. Karena Patih Hastrasuta mengamuk selama dua hari ini. sekarang jangan mendesak majulah. Karena perang dengan perampok.

bertarung melawan perampok yang mengeroyok. Lalu Ki Serit maju. Ki Serit keluar dari belakang. karena tidak peduli (lalu) melarikan diri. sama-sama berpesta ramai-ramai. 14. hanya Patih Hastrasuta. para mantri melarikan diri. bersorak seperti bumi terbelah. badannya sudah hancur. 15. berkumpul di pesanggrahan mereka. 16. berganti pakaian beraneka.12. sangat ramai karena perang sampai malam. aku sudah tidak kuat. sekarang pasti sudah sampai saatnya. hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu. tetapi pasukan Kulinyar. sudah sewajarnya saya berbakti. Hastrasuta sudah payah. Tidak tahu arah utara-timur. meladeni pertempuran. (Ia) berbicara di dalam hati. kemudian dibawa oleh orang banyak. Serta keesokan harinya bubar. yang diinginkan tewas. utara timur karena malam. kena (sasaran) lalu tewas. Serta sudah waspada lalu Ki Patih ditumbak dari belakang. membawa tumbak [dipikul] di pundaknya. 13. 294 . membela negara. oleh karena itu para perampok.

“Hai mantriku semuanya. “Celaka hamba. 20. para istri serta saudaranya. Lalu melanjutkan perjalanannya.” Sambil air mata mengalir deras.” 295 . (lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar. berkata Dalem kepada istrinya. 19. maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung. Sama-sama bertarung di jalan. lalu semua bubar. tidak disangka perampok datang (lagi). sudah sampai di negeri. ditembak pamayungnya (pemimpinnya). karena Kakanda Paduka. Berkatalah di hadapan (paduka) sambil menangis sedih. dikeroyok di medan pertempuran. serta sudah sampai di kampung Bangoduwa. serta ada yang tewas. jika demikian lebih baik kalian pulang semua. sama-sama bertemu di pintu gerbang. “Saat ini mendapat musibah. dikepung banyak orang. karena itu mantri melarikan diri. 17. 18. lalu masuk ke rumah.” Paduka berkata pelan. Kanda Patih terbunuh. Sesampainya di negara. tewas di (tengah) jalan.oleh karena para perandal. sudah tiba di hadapan Paduka. saat ini karena sudah tewas.

sambil memanggil-manggil. bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka. mengingat kesengsaraannya.” Semuanya menyanggupi. oleh karena perampok kampung. masing-masing (membawa) senjata. 23. kanda tidak panjang umur. “Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku. “Duh paman saya mohon. padahal (kanda seorang) patih. kepada pamannya Kiai Serit serta saudaranya. serta saudara-saudaranya.21. 25. ganti lagi yang (diceritakan). hasil merampok di setiap kampung. meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan. semuanya menangis. siang malam makan-makan. jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok. Ramai gemuruh (yang) menangis. Ki Rangin berkata pelan 24.” 22. berandal dari Bantarjati. Istri serta saudaranya. (Mereka) beramai-ramai tayuban. macam-macam tingkah lakunya. Serta keesokan harinya semuanya bubar. 296 . para istri dan putra-putrinya. serta saudara-saudaraku cepat berangkat besok pagi ke Dermayu sudah telat perjalananku. setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi.

senapan. Cina babah dengan baru. serta Nyonya Cinanya. Di Lobener para Cina sedia. 28. pakaiannya macam-macam. lalu berandal merusak. 29. masing-masing yang dimilikinya. 26. atau sama-sama mengenakan celana pendek. selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan. oleh karena jumlahnya banyak jadi berani. serta pedang. 297 . Heng San. Babah Kwi Beng. Orang Cina (berjumlah) dua puluh. tumbak. ada yang (memakai) celana panjang. (mereka) sudah sedia berani mati. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa.. memikul karung berisi beras. dengan senapan di sebelahnya. oleh karena kelakuan pencuri. Sepanjang jalan berjoget. gobang. bersorak di jalan sambil menari. serta Heng Jin dan Tiyang Li. segala kelakuannya. Heng Li Cina baru semuanya berani. karena sama-sama gagah. 27. anak-istrinya di Dermayu. hendak merebut barang (dan) harta. sampai babi hutan. kerbau sapi juga ikut. ayam serta harta benda. keris dan komprang serta pentungan. ada yang memakai celana poleng jarik. sepanjang jalan merampok setiap dusun.

Jarih (dan) Gana ikut-ikutan. banyak harta-bendanya. banyak penjahat pecah kepalanya. atau berniat jahat. para Cina bertarung melawan penjahat.. 32. Serta merusak …. kan saya tidak mengacau. “kok kamu menjadi berandal. aku benci sekali padamu. 298 . sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh. Hendak meminta kerelaan teman. Semua berandal menyingkir. jika tidak melihat kamu. lalu Bagus Surasa Persanda menemui Bah Kwi Beng serta melihat(nya). “Karena itu saya menemui. saya (berbuat) lebih baik. tetapi mengingat (kamu) sahabat saya. 31. cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu. apa tidak ingat inti tali persahabatan?” Berkata Surapersanda. Hanya sahabat waktu sekarang. 33. masa hendak dirusak. diserang oleh para Cina. sekarang ini jangankan saudaraku.30. 34. ramai orang melarikan diri. ada Cina bersahabat denganku. hancur penjahat (dan) banyak yang mati diserang oleh para Cina. Dan bagaimana pikiranmu membuat kekacauan di negaramu ini.

35. Jika istrinya cantik. para Cina lalu mundur. memanggil-manggil Padukanya. karena banyak orang. siang malam membunyikan tetabuhan. 299 . bubar (dan) berangkat ke Darmayu. karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok. Lalu Cina memohon diri. merampok (dan) mencuri uang. sampai tujuh ribu orang 37. hendak merebut negara Dermayu ini. Ki Rangin berpikir keras. (Penduduk) desa itu sangat susah. jumlah orang(-orang) itu. membuat pesanggrahan. lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya membuat perkampungan di Pamayahan. bila tidak mau lalu dibunuh. 38. karena itu (mereka) sangat sengsara. bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini. tingkah laku berandal itu. dengan Bagus Surapersanda. ada yang menjarah. lalu ditiduri. kamu membuat (orang) sengsara (dan) dirimu sendiri. 36. Bergemuruh di Mayahan. sehari tiga puluh orang yang sama-sama datang maksudnya hendak merusak Darmayu. orang kecil dirampok setiap hari .perlengkapan kurang lengkap.

kerbau. Memohon pertolongannya. 41. 43. tidak malu menyakiti. di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak. (adalah) Daendels yang berpangkat gubernur berkedudukan di Betawi sangat gagah perkasa. Karena penjahat yang datang sangat banyak. hamba meminta tolong. sapi. (dan tinggi) besar. 1808. maka dihukum olehnya. para berandal (kaum) bangsawan. Dengan demikian Paduka. serta kambing dicuri.39. (yang) menjarah setiap hari. rusak hamba semua. dan suka menolong kesusahan setiap negara 42. Ki Dalem menyampaikan surat.” 40. Kiai Dalem Darmayu. “Aduh Tuanku panutanku. kalau ajudannya tidak menurut. Karena itu banyak serdadunya disebar. sembada. (kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia. Nama[nya] gubernur jendral (itu). 300 . sudah mendengar bahwa banyak berandal di daerah Mayahan. tidak perduli teman sendiri. watak[nya] Daendels itu (demikian). dan benci kepada orang yang jahat bila tertangkap terus dibunuh.

45. supaya bubar gerombolan penjahat ini. serta mengirim pasukan serdadu. pedang serta berkuasa. supaya berandal melihat. bersama dengan komandan laut. di negeri Dermayu. dipilih yang perawakannya sama. Tuan Postur namanya. Seratus oarang yang menggotongnya. Serdadu dengan tuan. serta mereka berunding. 46. 301 . bupati sudah menyerah(kan). tatacara berperang. dari Inggris asal Belanda. dengan makanan serta uang. Supaya terlihat. pura-pura diangkat jadi bupati. Yang mana penjahat (diajak) berunding. bupati tidak kuat sendirian. karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi. 44. 47. kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut. Lalu berangkat diiringi tiga ratus serdadunya. perlengkapan (dan) peluru digotong. besar tinggi bergodeg dan berkumis. sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati. serta meriam ditarik kerbau. (oleh) para berandal tampangnya para serdadu (yang membawa) senapan.memohon gubernur memerintahkan. bertanding atau belajar perang. serta sampai di Mayahan.

bahwa ada serdadu datang. oleh Tuan Gubernur Jendral. bila anda bersedia. jurutulis. seperti pangkat bupati. (Menurut) bupati. untuk berunding. (yang) berkuasa di [negeri] Betawi. Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa. Tuan Deler menghormat kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. bertemu dengan Tuan. negaranya kepada Gubernur Jendral. 48. 50. Semuanya berganti pakaian. perlengkapan perang. namaku Zwak. Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya. Lalu berkata kepada pimpinannya. 49. membawa perlengkapannya. “Hai Bagus Rangin dengan hormat karena saya diutus. 51. 302 . jadi aku diutus. kekuasaannya sama.terkejut berandal melihatnya. diangkat demang olehku. Tuan Deler berkata manis. Karena bupati menyerahkan.” Bagus Rangin menghaturkan terima kasih. Nanti semua saudara(mu) kuangkat menjadi mantri. jika demikian lega hatinya.

penjahat banyak yang kembali. Di Kademangan Pamayahan. 53. senapan.52. 56. Tuan Deler bersiaga. siang malam penjahat tayuban. Lalu Deler mengirim surat. sudah menerima surat itu. pesta melantik demang. Baru pejabat yang ditangkap pasukan Deler. pedang serta berkuasa. karena bupati 303 . mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang. celana laken. suka-suka berpesta. setiap sore mengajarkan perang. Lalu bupati mengirim surat. hendak merampok bendera negara. Ki Rangin sangat gembira sekali. menghibur yang menjadi demang. sangat takut melihat persenjataannya. jumlah penjahat sekitar tujuh ratus. diiring semua mantri. kepada bupati Darmayu. Bila malam melarikan diri oleh karena banyak yang kurang makan. kolonel ajudan sersan dan serdadu. Lalu ramai tetabuhan bergemuruh. oleh karena mereka berjumlah banyak. (mengenakan) pakaian dari Betawi. 55. baju laken (dan) topi (laken). Semuanya mengenakan laken. 54. membawa pasmen mas berkilauan. Banyak orang yang melihat Belanda. Demang Rangin (dan) para mantri.

Kartawijaya marah. lalu berbicara kepada sultan. “Jika Kartawijaya. keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende. Bila berhasil cepat diborgol. saat ini berandal dijaga. karena sudah dipersilahkan menyertai paduka. Cepatlah kakanda. serta anda Raden Welang. yaitu pamannya sudah tewas. suratnya telah diterima. dibunuh oleh berandal. (berangkat) bersama Karta(wijaya).kepada Kartawijaya ponggawa sultan di Grage. potong leher para berandal itu. semuanya sudah disampaikan kepada sultan. 58.” 60. secepatnya harus menangkap penjahat. Lalu prajurit bersiaga. Paduka sultan berbicara. 59. Serta dibaca surat itu. menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya. Kepada tuan komandan Belanda di Betawi. minta pertolongan. 304 . Karta dengan Raden Welang. 57. dinda minta menangkap berandal yang dijaga. (memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta. menyiapkan perlengkapan perang. Sultan member izin. lalu berkata (dengan) lembut. bila melawan (harus) dibunuh.

63. tidak akan mundur kanda berperang. bersamaku (dan) kanda Karta. karena hendak membalas kematian. di Mayahan tempatnya. XI. semuanya sudah keluar. (yaitu) Patih Hastrasuta. Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu). Lalu Den Welang berkata. sudah siaga (untuk)bertarung. “Hai semua prajurit saudaraku. “Duh dinda mas sudahlah tenang dinda. sekarang kalian berangkat. gembira mantri semuanya. 2. DURMA 1. dinda Hastrasuta sudah meninggal. serta katanya. yang sudah wafat. adiknya memeluk (sambil) menangis. Dan membawa temannya. 62. 305 . seluruh(nya) para prajurit terpilih.61. semua[nya] ponggawa. hendak menyerang panjahat yang mengacau. Menangis kepada kakaknya karena teringat ia sudah tewas kakaknya menangis. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar. bertemu adik dan kakak(nya). (ingin segera) menumbak perampok. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang. Prajurit sudah sampai di Darmayu. prajurit semuanya berangkat.

306 . lengkap dengan peralatan perang. 3. “Hai aku (sudah) diangkat (demang) oleh Tuan Deler . Kemudian berteriak.” 6. Lalu sudah tiba di Pamayahan. karena sudah dikepung. merasa dikhianati oleh Tuan Deler. “Hai Rangin anjing kamu ini. 5. berkata dengan kasar. putra selir (Pangeran) Panjunan. bupati dengan kakaknya. serta barat (oleh para) prajurit. serta Den Welang. Rangin menyambut (karena) mendengar bahwa bupati telah tiba. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja. berhadap-hadapan bertemu dengan para penjahat. kamu penjahat.” Lalu dijawab oleh Raden Welang. di selatan pasukan Betawi. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya. mendekati berandal.sangat semangat pasukannya. sudah kokoh barisannya. Utara selatan timur sudah dijaga. karena yang di depan. menurutlah akan kuikat. 4. penjahat berada di tengah. Den Welang (ada di) tengah.

Perang tertunda (karena hari) berganti malam. sombong (karena) banyak pasukan. meskipun aku dikepung olehmu. aku tidak takut. 10. Rangin dengan saudaranya. 11. (jumlahnya) sekitar enam ratus (orang). “Hai kunyuk penjahat. oleh Raden Welang. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol. 8. oleh serdadu yang sedang berjaga. ditendang (lalu) terguling. (berandal) yang ke luar ditembak 9.”Aku tidak takut. oleh karena berandal seperti mengepung binatang buas. takut mati kamu anjing. Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang. aku tidak akan lari. Banyak penjahat tewas yang ditangkap (dan) dibrogol oleh para mantri. 307 .” Sena lalu diikat. 7. melarikan diri dari medan pertempuran. semuanya melarikan diri. Den Welang berkata. setiap prajurit di tempat perang. Pagi-pagi bende ditabuh. Rangin sudah tidak ada. Di tempat perang. tidak memakai siasat perang.

semuanya diperintahkan dibunuh. 12. Dalam perjalanannya. (saking banyaknya) tidak tertampung di dalam penjara. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim ke Betawi. 13. 15.karena akan dikirim ke Darmayu nanti. sudah disekap semuanya. (semua) disekap di dalam penjara. keinginannya. yang ada penjaranya. sudah bubar semuanya. Berandal (itu) lalu dipenjara. Serta sudah mundur semuanya. (kepada) jendral yang ada di Betawi. 308 . semua pembesar berkumpul di Darmayu. (Mereka) akanmengirim surat. Balatentara Den Welang dan Den Kartawijaya. Kelebihannya dibawa ke kapal semua penjahat itu. 14. lalu berangkat mencari. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki. sampai ketemu. Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari. mengenai penjahat yang sudah tertangkap (dan) dimasukkan ke dalam penjara itu. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral. Keputusan pun sampai.

20. berpesta siang dan malam. Prajurit paman yang memimpin pertempuran.ada berita lagi. 309 . kanda bertemu dengan dinda. Jumlahnya sekitar seribu (orang). “Nah itu dia. 16. Rangin sangat gembira hatinya. Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin. yang kembali dari pertempuran. Rangin berkata kepada para putra(nya). “Aduh dinda tidak disangka. tertawa bersuka ria. maju ke medan perang. dan Seling bersiaplah dengan waspada. prajurit Bagus Hawisem. Prajuritku berhasil. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam. yang memimpin pertempuran. Jarih.” 18. sebab gerombolan berandal sudah menunggu. Gana. 17. di Kedongdong. Rangin Kandar pemimpinnya. Hawisem dan Raden Wari 19. Di tempat pertahanan Kartawijaya dan Raden Welang. maju berperang. sangat gembira. serta membawa gerombolan panjahat dari Luwiseheng.

Den Wari nama(ku). keroyokan karena tidak terlihat. Raden Welang maju. bertahan di medan perang. bertemu di medan perang. prajurit di depan.” “Prajuritnya Rangin yang menyambut kamu ini. karena banyak yang kalah oleh Den Welang karena berani bertarung. 22. Tumenggung Nitinegari.ternyata ada yang menyusul. Raden Wari tertangkap. penjahat sudah siaga mengatur pasukan dipimpin (oleh) Bagus Rangin. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran. Prajurit Luwiseheng pun turun. lalu dikejar dengan berani. Lalu berjumpa dengan Kartawijaya. tidak patuh dalam pertempuran. 310 . dengan Den Kartawijaya. 23. (bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong. dipegang ……. 24. karena aku tidak kenal. memandang Hawisem (dan) Wari.” Di tempat pertempuran ramai. 21. berani ke medan perang. Pertempuran di medan jurit. Rangin Kandar turun. “Siapa ini di hadapanku.

Den Welang berkata. Kandar. ramai oleh yang berperang. Pondokan para penjahat dibakar. Ki Sena (dan) Surapersanda. kasmaran yang melihat. gadis cantik dibawa. dirantai (dan) dikirim. Rangin. semuanya tidak ada yang tertinggal. orang(-orang) desa kesusahan. 28. pondokannya kosong. kepada teman sultan. Surapersanda sudah tertangkap. tidak menemukan (siapa-siapa). berlari ke barat. Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya. Handa. (serta) Raden Welang tidak ketinggalan. XII. 27. diborak-barik setiap perkampungan. (dan) Hawisem lari.” Segera dirantai. menuju arah barat. tiba di Bantarjati. Banyak berandal yang mati ditembak oleh serdadu. 25. 26. (yang) ada (di) negeri Garage. KASMARAN 311 . sama-sama mengejar penjahat. dan Sena diikat. “Hai anjing penjahat. Leja dengan kawan-kawannya. ke negeri Darmayu.gerombolan berandal.

5. Cibenuwang.istri(nya). dan Leja. anak istri sama-sama sedih. sangat sengsara hidupnya. tiba di Dulang Sontak. kepada semua anaknya. Sebelah barat menyeberang kali Cilalanang. Cipedang. 312 . tiga bulan perjalananannya. di Purasu. Lalu berkata perlahan. pernah menyeberang Kuceak. sampai Gumulung. berkelana di hutan-hutan.1. dengan Kandar Handa kelak membawa anak istrinya. melihat anak. tiba di Cigadung. berbelok-belok perjalanannya. “Duh anakku nanti. Serit. 4. di tengah hutan (yang) luas. pemandian bupati di sebelah barat. Pengambiran. Radensrang. 2. Cipanculan. dengan Cilege. Menangis sepanjang jalan. Legok Siyu. menyeberang Cipunegara. Benggala di Luwung Dinang. dan di hutan Cikole. sangat sedih. Tersebutlah yang melarikan diri Ki Rangin. Ciwidara. 3. Bila diburu (lagi).

Beramai-ramai membawa makanan. Kemudian menemukan pelataran luas. berjalan terus di hutan-hutan. 313 . lalu bersama-sama memasang tenda. memasuki hutan. rawa besar banyak ikan. 6. 7. Rangin setiap hari. Ayah akan membuat ladang supaya didatangi (orang).sangat subur tanahnya. membawa kijang bila kembali. terlihat sangat sengsara. 9. Pernah membuat perkampungan. sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya. luas halamannya. tiga bulan perjalanannya. dari tengah hutan. di rawa yang bernama Citra. 8. dan disamakan namanya. sungai yang deras airnya. sebelah barat sungai Cigadung. Menanam pepohonan. kesenangannya itu. serta membuat sawah. Karena para istri. serta menjangan. menguras ( sungai) mencari ikan. dinamai Dukuh Citra. Ki Leja setiap hari. sangat jauh letaknya. berjalan di pinggir jurang. dengan yang dibuat Ki Rangin.

10.. 314 .sebuah (yang bernama) Jatigembol. 14. panjang lebarnya luas. serta datar tanahnya. Di perbatasan distrik Pegaden. dinamai Cihakur. 13. yaitu Aji Pengabaran. tempat para penjahat. 12. membawa teman tiga puluh. sudah tiba di Citarum besar. dengan saudara serta ayahnya. keduanya distrik Pamanukan. karena menemukan tempat luas. lalu sama-sama setuju. Tegal Slawi namanya. Ki Gede yang berada di Pecung Kiai Wangsakerti namanya. memerlukan tempat luas. di sebelah barat laut Suba(ng). hendak mencari negeri jajahan. hendak mencari tempatnya. Jatilima namanya.. disebut (demikian) sampai sekarang. membuat . Lalu semua sudah setuju. 11. dua taun lamanya. Dinamai demikian. letaknya di Cigadung. kelak bekas Ki Rangin bila berkumpul. Lalu Ki Rangin membaca mantra. menuju selatan arahnya.

Lalu membuat surat. tanda saya bijaksana. lebih dari seribu orang. supaya siaga sekarang. hari apa maju bertempur. pesta makan-makan. Lalu Rangin berkata lembut. 315 . dikirimkan ke Desa Pecung. 17. yang akan ikut berperang. apa ingin mengungguli menggempur orang keturunan Pecung. sangat mujarab sihirnya. 16. karena saudara keinginannya. Semuanya menjawab. kepada teman dan saudaranya. Menangtang perang. lalu ada yang mengikuti. 15. melihat pesanggrahan. Serta sudah banyak orang. yang menjadi tujuan.pikirannya sudah nekat. untuk menyambut perang. 18. di antara orang banyak. lebih baik aku membuat surat. apa keinginanmu. karena tinggal menunggu waktu semuanya siap. hendak mengadu kekuatan. beramai-ramai siang (dan) malam. setiap hari orang datang. saudara serta teman-teman. seperti apa keinginannya. sudah membuat sengsara.

apakah sekarang sanggup bertarung. tiba di hadapannya. dengan penjahat dari timur?” Semuanya menyanggupi. 23. Jajabang Grudug terlihat. Lalu berkumpul. pelayan yang bijaksana. 20. Ki Wangsakerti berkata.19. “Hai kamu Krudug. serta berkata kasar. dalam sekejap datang utusan itu. karena sudah mendengar. dengan saudara (dan) anaknya. Surat lalu dibaca. berandal berasal dari timur. di tegal (sebelah) selatan Subang. dengan penjahat (dari) timur. sanggup mengadu (kekuatan). surat lalu diterima. 21. para senapati juga. 22. Atau kamu anakku Jaka Patuwakan. buronan negara. Demikianlah Ki Wangsakerti. Dulang Sareh namanya. Ketika sedang berbincang-bincang. dibaca di dalam hati. sudah menyampaikan surat. serta putra Sindanglaya. 316 . ada penjahat. hendak melawannnya.

Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya. Dulang Sareh berkata pelan. Jawa Timur rasakan aku.” 26. yang berada di [tempat] pesanggrahan. saya siap menyambutmu. “Bagaimana Dulang Sareh. sudah tiba di hadapan Paduka. lalu katanya. bagaimana suratku?” 27. jangan banyak bicara kamu. akan mantra sihir (pada) kamu. Ki Gedeng Pecung iti. malah banyak prajuritnya. matanya jelalatan. pergi. anjing Sunda membelalaki. sampaikan pada tuanmu. menanti kedatangan paduka. tebal tipis urat tulang. Grudug mendengar (yang) mengumpat. hari apa yang pasti. hendak melawan orang Sunda 24. “Anjing cepat kamu mati. 317 . anjing kamu.“Kamu anjing timur. serta tersenyum (dan) mengumpat. 25. Dulang Sareh lalu pulang. serta gagah sentosa. Lalu Dulang berpamitan. sudah siaga (dengan) pasukannya. cepat-cepat berjalannya.

ramai perang dengan penjahat. Lalu sudah terdengar. berani melawan bertarung denganku. karena perang penjahat. perasaannya seperti Singalodra. Leja maju bertarung. Ki Leja lalu bertanya. melawan Ki Gedeng Pecung. bertemu dengan Ki Gedeng Grudug. Bende dipukul terus-menerus. 31. Lalu berkata Ki Rangin kepada Kiai Serit serta saudara-saudaranyanya. tidak kenal (orang) Jawa Timur. Patuwakan Majalaya. 318 . “Hai siapa (orang) Sunda ini. termasuk distrik Subang. semuanya menyanggupi perang. menjadi pemimpin perang. sedia untuk berperang. Di daerah Tegal Selawi. lalu semua sedia. Lalu maju prajuritnya. serta Kiai Gedeng Grudug. bendera cepat dinaikan. Bergemuruh pasukan Rangin.28. pasukan Rangin banyak yang mati. apakah kamu Wangsakerti. 32. barisan penjahat (dari) timur. 29. bersorak bergemuruh. 30. prajurit Rangin pun siap. dengan barisan pasukan Pecung.

aku senapatinya, namaku Gedeng Grudug, yang akan mengikatmu. 33. Buronan negara, di timur sedang dicari. Ki Leja menyerang, sama-sama saling mendorong, ramai pasukan yang bersorak, pasukan Rangin dengan Pecung, bertemu lawan di pertempuran 34. Jaka Patuwakan, melihat kakaknya bertempur, tidak ada yang kalah dan menang, lalu cepat maju, menggantikan berperang. Leja bertanya, “Hai siapa yang menggantikan perang, 35. berani kamu babi?” Aku Jaka Patuwakan tidak teliti melihatnya. yang bertarung saling mengejar, ayo gantian lawan aku, aku ingin merasakan, mencambuk kamu orang timur.” 36. Lalu menyerang (dengan) berani, Ki Leja cepat mengayunkan pedang, tidak berhenti memedangnya, terus menerus menggunakan pedang. “Hai kamu Patuwakan, betul-betul prajurit tangguh, serta kamu masih muda.”

319

37. Patuwakan berkata perlahan, “Duh Paman Leja seperti orang serakah anda, memakai pedang tanpa aturan, ke bawah ke atas gerakan pedang, kamu itu bukan prajurit, betul-betul penjahat urakan. 38. Jaka Patuwakan, merasa tidak sabar melihatnya, Leja didesak perangnya, tertutupi penglihatannya, lalu cepat ditangkap, digendong tidak berdaya, Leja tidak bisa bergerak. 39. Sambil menangis memanggil-manggil, “Ampuni paman, Patuwakan, sekarang paman tidak berani.” Lalu dibawa oleh prajurit, Kandar maju perang, pemuda yang sakti dan unggul ini Kandar saudaranya. 40. Cobalah lawan aku, sudah saling berhadap-hadapan, dengan Patuwakan, di tangannya terpegang senjata. Tidak kuat Bagus Kandar, terpukul rotanwulung, terguling di atas tanah. 41. Sambil menangis memanggil-manggil, “Aduh Bagus ampuni paman, sekarang paman tidak berani,” lalu Kandar diikat.

320

Matahari pun terbenam, mundur pasukan Pecung, sambil membawa tawanan. 42. Berkata ki Wangsakerti, “Hai anakku semua, besok saya maju, Jigjakerti Majalaya, supaya maju perang, melawan Rangin kamu ini.” Jigjakerti menyanggupi. 43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu, pasukan Pecung banyak, demikian juga pasukan Rangin. Kiai Serit berkata, “Apa yang harus kulakukan?” Ki Rangin lalu berkata, ayahanda jangan kecil hati. 44. Sekarang ananda pamit, hendak maju bertempur. Ki Serit memeluk putranya, menangis sambil berkata, “Duh anakku yang kusayang, kita serahkan kepada Yang Agung, semoga unggul di medan perang. 45. Lalu Bagus Rangin maju, menantang di medan perang. “Hai ini Rangin namanya, sambutlah di pertempuran, sambil berebut bertempur, tidak apa aku tewas, itulah tujuan hidup laki-laki.

321

46. Lalu maju Jigjakerti, Ki Gede dari Majalaya, sama-sama sudah bertemu. Lalu Rangin bertanya, “Hai yang maju bertempur, gagah besar serta tinggi, namaku Jigjakerti. 47. Dan ini Majalaya yang akan melawan kamu, kesaktian(ku) sepadan denganmu, terbuat dari kulit (dan) tulang keras. Lalu bertempur seru, Ki Rangin sudah menangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya. 48. Majalaya diikat(nya) oleh tentara Rangin, Ki Grudug maju perang, saling mendorong perangnya, Grudug lalu ditangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya, lalu cepat diikat. 49. Pasukan Pecung dengan Rangin, bersorak seperti bumi terbelah, tertunda karena malam, semuanya pasukan bubar, lalu membuat pesanggrahan, Ki Serit lalu menemui, setelah putra(nya) datang. 50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti, sangat susah hatinya, putra keduanya kalah, tinggal seorang putranya,

322

putra (yang bernama) Patuwakan, “Duh anakku, apa yang harus kulakukan? 51. Sial terkapar di medan jurit, Rangin sangat sakti sangat kuatir diriku, karena masih muda, Rangin gagah perkasa. Tunda yang dikisahkan, (terdengar) ramai di luar. 52. (Karena) ada pasukan yang datang, dari utara sangat banyak, Ki Wangsakerti terkejut, (karena) tidak disangka musuh datang. “Duh anakku (belahan) jiwa, apa yang harus aku akukan.” Kemudian ada mentri datang 53. memberikan surat, (lalu) diterima, menggigil (tangannya ketika) menerima surat, disangka musuh yang datang. Surat segera dibaca, isi suratnya, dibuka lalu dilihat, jadi gembira hatinya. 54. “Surat dikirimkan kepada adik, yang sedang bertarung. Kanda Wangsakerti sekarang, sudah (jangan) dijadikan pikiran, dinda tiba secepatnya, tidak dengan kabar tadi, (karena) keburu mendengar berita.

323

55. Bahwa kakanda menghadapi perang, dengan buronan dari timur. Dinda nanti menjaga. Surat (dari) keluarga di Darmayu, oleh karena dinda memohon ikut meneruskan perang. 56. Dinda mohon kabar menunggu izin kanda, sungkem Dinda yang menanti, Setrokusumah, Dalem Pegaden.” Ki Wangsakerti tertawa, “Aduh gembira sekali anakku. 57. Kamu Patuwakan, cepat bersamaku ikut menyambut, Adinda Bupati Pegaden.” Lalu bubar dengan kawan-kawannya, (untuk) menemui tamu itu, bertemu gembira sekali, bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk. 58. Lalu berkata Wangsakerti “Duh selamat datang, Adinda Dalem dari Pegaden, kanda memohonan (agar) bertemu, diterima permohonan(ku). Bagaimana pertarungan (dengan) buronan dari timur?” 59. Wangsakerti berkata perlahan, “Sangat gembira hati kanda, kedatangan dinda sekarang karena (hendak) maju berperang.

324

pemimpinya yang ke luar, malah aku dan anakku, sama-sama ditangkap (lalu) diikat. 60. Silahkan dinda maju, cepat tangkap penjahat.” Lalu bupati berdandan, mengenakan pakaian kebesaran, tampan gagah perkasa, memakai tutup kepala dari sutra ungu, dihiasi intan (dan batu) mirah. 61. Kerisnya tergantung, terlihat ada di kanan. (Ia) berkata kepada mantrinya, “Hai mantriku semua, cepat atur barisan, pegang dengan kuat senjatanya, aku akanke luar untuk berperang. 62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin. Seperti apa rupanya, pekerjaannya merusak orang banyak, orang kaya dicuri.” Karena Jaka Patuwakan, maju ke depan, menyembah ke hadapan Paduka. 64. Lalu berkata perlahan, ”Mohon maaf menyampaikan berita duka. ayahanda sudah keluar sekarang, mulanya ananda belum berangkat, menandingi Rangin bertempur, mudah bila ananda sudah kalah di pertempuran.”

325

65. ke hadapan ayahanya. 3. kuserahkan kepada Yang Sukma. 326 . Wangsakerti menyambung (pembicaraan). Sementara jangan dulu maju sekarang. “Lawanlah (aku). XIII. oleh perwira Rangin. Jaka Patuwakan menantang. (mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang. “Kamu siapa anak muda maju perang? Sayang sekali masih muda. prajurit Rangin. hendak maju ke medan perang. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang. (dan) berhadap-hadapan. Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan. “Hai anakku sekehendakmu.” Lalu Patuwakan menyembah. 66. “Duh Dinda betul (kata) ananda. Karena aku mengizinkanmu. 2. anaknya Wangsakerti. pasukan bersiaga bersorak seperti prahara. Kemudian Ki Rangin menyambut(nya).” Demikianlah sudah terdengar. bende ditabuh bertalu-talu. DURMA 1.” Bupati berkata manis. Lalu Ki Rangin bertanya. harus dituruti. permintaan ananda. Anaknya mundur dari hadapannya.

Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang. karena sama saktinya. 5. jatuh terpelanting. keduanya memegang keris. “Siapa yang menggantikannya kamu prajurit yang gagah seperti …patih. jangan kamu yang maju . ramai pasukan yang bersorak. Dalem menggantikan.” 327 . Jaka Patuwakan. ayahanda yang maju. Karena ramai yang saling dorong. Rangin (dan) Patuwakan. lawan saja aku. Patuwakan agak letih bertarung. Rangin lalu menendang. 6. yang berperang mendapatkan lawan bertarung. ujung senjata.” Patuwakan menjawab 4. bertempur dengan musuh Rangin.Wangsakerti Yang harus disuruh melawanku. seperti apa kesaktianmu?” Lalu Rangin menangkap. Nanti dulu. Dalem maju berperang. “Hai anakku berhenti dulu. 7. bermusuhan denganku. Patuwakan melawan. Rangin bertanya. serta berkata kepada putranya Patuwakan.

aku Setrokusuma. hendak mengikatku. lalu menerjang dengan berani. aku yang menjaganya yang baru bertemu ni. buronan negara. dari Darmayu dahulu. Karena aku masih saudara Dalem Darmayu. “Dalem Sunda kamu ini. yang mencari buronan Rangin. pekerjaan(mu) mengganggu orang. aku tidak takut. 9. namanya Wiralodra. Tidak malu (punya) muka seperti kamu. mengakunya ningrat. setiap desa dijarah. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden.” 11.Dalem lalu menjawab 8. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden. syukur (aku) gembira. yang menjadi penjahat. untuk memberi makan anak istri. Mundurlah akan kuikat. melihat kamu ini. seumur hidup mengacau. Rangin kan tidak gila. anjing penjahat babi. Lalu membentak Rangin berkata kasar. 328 . hendak menangkap kamu ini. 10. Cobalah maju.” 12.

Pasukan Pecung dan Rangin ramai yang bersorak. Setrokusuma. “Kebetulan Serit bertarung denganku. dan kamu siapa?” “Namaku Ki Serit. ayo maju. 13. melihat pemimpinnya. Lalu membaca mantra. sama-sama kakek. untuk apa maju perang. Wangsakerti ke luar. betul kamu. 14.” “Wangsakerti kamu ini. Tidak ada yang kalah bertarung. jika kamu prajurit sejati.” 16. Lalu maju Ki Serit pertempuran. “Siapa yang maju bertempur?” “Akulah Wangsakerti. tua dan kakek-kakek. Lalu menangkap (Rangin). “Hai Serit. Lalu maju saling menangkap yang berperang. mari mengadu senjata. (yang akan)melawanmu. berubah menjadi anak gunung. karena sama saktinya.ereka saling mendorong. Wangsakerti dan Ki Serit. cepat maju. yang bernama triwikrama. Rangin dibanting meghilang. 329 .” 15.

kacau orang banyak. terguling di atas tanah. berssama-sama menumpas tentara Rangin. Serta sudah sama-sama bertemu. dengan Patuwakan. Serit sering terjatuh. pasukannya banyak yang tewas. Dalem Setrokusuma mengamuk.tusukkan ujung keris(mu)!” 17. [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata. Bagus Rangin meninggalkan pasukan. mengadu senjata. pasukan Rangin menyerang. Lalu melarikan diri. Ki Serit menghilang. (lalu) diikat balatentara Rangin. perang sendirian (tanpa)pasukan. kumpul menjadi satu. gerombolan penjahat. sama-sama bergumul bertarung. mengadu senjata tajam. musnah tidak menentu. seperti memanggil-manggil. 20. Rangin melarikan diri. 19. Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma. Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal). 330 . Ki Rangin sering terjatuh. Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu. “Hai Serit takut mati!” 18. melarikan diri ke Karawang. 21.

karena buronan negara. “Hai Kanda Wangsa.” Kiai Dalem berkata lembut. 331 . Leja dan Kandar. sangat besar kesaktiannya. Saya kirim ke Betawi dua berandal. menjadi satu. Wangsakerti dan dalemnya. lalu melompat. 24. Grudug Majalaya. Sudah berangkat buronan negara.Gintung (dengan) Patuwakan. kan tidak tertangkap. “Entah ayahanda ke mana mencarinya. (ketika) menyebrangi Citarum. diputuskan rantainya. ke mana arahnya?” 23. 22. 25. disertai mantri. menghilang Serit dan Rangin. Ki Serit dan Rangin. Bagus Leja.” Keduanya diikat dengan rantai . “Ananda dengan adinda. seperti bercampur (dengan) setan. gembira hatinya. Leja akan dikirim. dikirim ke Betawi. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya. masalah berandal. berdasarkan perintah. Anaknya berkata. (kepada) Gubernur Jendral. menghilang tiada tentu.

Begitulah perjalanan Karta. SINOM 1. 27. di Darmayu berkumpul. Sangat susah (karena) tahanan hilang semua. 332 . Surakerti. (dan) Serit keturunan. 26. Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut. dengan Dén Ngelan. buronan dahulu. Sesampainya di negara. 28. (yang bernama) Jigjakarta. mantri berjalan tak tentu arah. Den Karta berkata. tahanan masuk hutan dan laut. Leja. terhadap paduka. Bagus Kandar berlari. melaridiri semuanya. (dari) Rangin. dan Jayakerti. hendak kembali sangat takut. yang membawa sangat bingung. dari negara Pegaden. Adapun yang ke timur.menyelam di laut. penjahat yang lari. Dikisahkan hilang di dalam laut. banyak yang menuju barat. Jayamanggala. keturunan para ningrat. XIV. Kandar. empat orang mantri. menghilang di dalam hutan.

“Kanda patih (telah) wafat. tidak baik (karena) menjadi bupati. menangis memanggil-manggil. Kangjeng Sinuhun di Grage.kepada saudara-saudaranya. anak dan istri adiknya. “Semoga dinda mengizinkan kanda pergi. 2. hati-hati dinda ditinggal. hendak pergi sekarang ini. 4. Den Karta dan Den Welang. jangan menangisi kami. semuanya menangis. (Sambil) memeluk (dan) menangisi. serta para prajurit. 333 . sampai di pintu gerbang.” (Sambil) memeluk adiknya. seperti terbuka hatinya mendapat wahyu. “Duh Dinda bupati. kepada Gusti Sinuhun. dengan dinda Den Welang.” Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan. nanti kanda meminta izin. kanda bawa semuanya. “Duh Dinda betapa lamanya. Berjalan menuju arah selatan. 3. lalu melanjutkan perjalanannya. “Kanda kembali bukan … dan dinda mulia di sini. Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi 5. kanda yang memerintah di sini di negeri Darmayu”. air matanya keluar.

hendak saya buka.” Raden berbicara lembut. jika demikian percumah aku menjaga. Kartawijaya diajak singgah.” 334 . “Permisi kawan yang menjaga di Palimanan. dengan Raden Welang. Karena ini dilarang.” “Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan. saya hendak melihat. Ada serdadu yang menjaga. 7. bila tidak ada izin Paduka. apa maksudmu. Raden ini dijaga. Raden bersama-sama datang. seperti apa rupanya. entah apa isinya. yang menjaga tadi. “Aku menahanmu sobat. Permisi sahabat (sumur) itu. kepada kompeni itu. Raden sudah tiba.? Lalu masuk den Karta dengan Den Welang. lalu bertanya lembut. 6. Menurut pesan komandan.” Den Welang berkata “Hai teman aku memaksa Sersan menjawab. tidak ada yang tahu isinya ini. apa isinya ini. 8. tidak berani melanggar. sumur ditutup rapat. perintah dari gubernur.sampai ke Palimanan.

menangkap Den Welang. lebih baik segera pergi.9. yang dilemparkan oleh serdadu. didorong keluar dari pintu gerbang. semuanya disampaikan. 335 . membuka tutup besi. Seharian bertempur. yang berada di loji Palimanan. Karena itu sersan kumendan. Lalu melanjutkan perjalanannya. 12. (mengenai) Séna Surapersanda. Berkata Raden Welang “Hai saudara (dan) prajuritku. sudah kamu jangan menemani. Serdadu segera menahannya. Lalu menghadap Gusti Sultan. Kacau para prajurit. 11. lapor ke Betawi. perjalanan para penjahat. Lalu ditutup bentengnya. pasukan Raden Karta. Gusti (Sultan) berkata pelan. Raden Welang hendak memaksa. semua serdadu cepat memasang meriam. kanda yang memburu tahanan itu. menghilang dari penjara. Raden Karta sudah menangkap. Lalu menulis surat. 10. hingga tiba di negeri Grage. bergerak (mendekati) benteng. sangat kesal hatinya. banyak serdadu yang tewas.

Di loji Palimanan. kepada Sultan Cirebon. surat sudah disampaikan kepada Paduka. dan bawalah tentara. Sudah tiba di hadapannya. 14. serta beliau berkata. kepada ajudan dan letnan. yang merusak Palimanan. berada di rumah Nihaya. untuk Sultan Cirebon. 15. “Loh babi Cirebon anjing. permisi Paduka saya hendak berangkat. 16.suratnya telah dibawa. 336 . serdadu yang membawa. 13.” Dibungkus suratnya. serdadu banyak yang tewas. sediakan pekakas perang(nya).” Suratnya karena sudah diterima. bawalah suratku ini. lalu cepat dibuka. dari sultan Cirebon. tangkap ponggawa itu. kurang ajar kalian!” Lalu cepat membuat surat. “Hai ajudan (dan) letnan. untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral. Raden Karta dan Den Welang. kemudian surat dibanting. meminta supaya pengacau ditangkap. Sudah ke luar dari pintu gerbang. cepat-cepat berjalannya. empat puluh (orang) yang terpilih.

17. sudah pasti (takdir) dari Yang Agung. malahan negaraku. Secepatnya sudah tiba. Aku tidak berani (kepada) jendral. dan ini berikanlah bersama wasiatku. dipaksa supaya taluk kepada Mataram. dengan sultan di Mataram. memperkokoh aku tak bisa. Cirebon ini. Si Klewang dengan si Dumung. menuruti Yang Widi. berkata Kangjeng Sultan. Malahan surat sampai sekarang. kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu. Lalu cepat diterima. negeri kami tidak kuat melawan peperangan. Besok datanglah ke Betawi. 18. surat lalu diterima. 19. (dan) sedia pekakas perang. Karta dengan kamu Welang. tanyakan keinginannya.mengumpulkan prajurit. Suratnya sudah dibaca. (yang) ada (di) Betawi. Tetapi jika kesultanan. Gubernur Jendral yang meminta. 337 . belum dibalas. karena berkomplot. oleh Paduka Sultan. “Den Welang dan Kartawijaya.

sudah dikisahkan dahulu. Paduka (saya) minta izin. hingga tiba di Dalem Agung. perjalanannya pasukan jendral. mohon izin Paduka. kepada Gubernur Jendral. sudah tiba di Betawi. “Sudah selesai perintah.” Lalu sultan berkata kepada sersan.dengan tulus di dalam hati. karena aku belum (menuruti). “Baiklah. PANGKUR 338 . 21. kedua ponggawa ini.” lalu keluar ponggawa cepat dibawa. mereka yang didakwa. mengamuklah di Betawi wali membela kalian. Cepat-cepat di perjalanannya. memang dariku (timbul) kemarahan jendral 20. XV. 22. Lalu sersan berkata. (Sultan) turun dari tempat duduk. “Hai ponggawa Betawi permintaan gubernur ini. merangkul kedua ponggawa. Lalu menghadap [Paduka]. Diceritaan perjalanannya. deras keluar air matanya. Den Welang dengan den Karta (berkata). dijewer telinganya. tidak dikisahkan di jalannya.

(itu) karena berkat Sinuhun Mataram. ini ponggawanya. 2. memalukanucapan pimpinan jendral. diangkat ponggawa olehmu. “Lho anjing binatang gila. khalifatullah yang adil. 4. Sudah ada di hadapan Paduka. Sebelum aku periksa kemarahannya seperti orang gila. dan sampai Betawi. sembrono pimpinan jendralnya.1. datang Tuan Gubernur Jendral Betawi. 5. apa kamu tidak kurang pendengaran?” Karta dengan Raden Welang tertawa (sambil) berkata. 3. kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda. (yang) berkuasa di Pulau Jawa.” 339 . tidak memakai tatakrama. “Hai Tuan Gubernur Jendral permisi saya hendak menjawab. kekuasaan Paduka besar. Tetapi kelakuanmu ceroboh. Bagaimana perintahku padamu?” Berkat Tuanku. meliputi tanah Jawa. disuguhi makian. apakah kamu berani kepadaku? Akulah Gubernur Jendral. Lalu cepat berkata. karena aku hendak menyerahkan nyawaku. “Letnan dengan sersan.

karena pasti bakal mati. Sekarang kamu terima. Kiai Kuwu kasihan melihatnya. (ingin) menuruti emosi. Lalu Jendral berkata. apa keperluanmu berani berbuat itu. Den Karta dengan Den Welang. “Hai ponggawa aku ini terima salah. silahkan apa yang hendak dilakukan. di benteng Palimanan. 340 . lima lusin meriamnya. lalu pasukan berbaris. sampai tiba waktu keduanya dihukum. lalu merasuki jiwanya. berani membunuh serdadu sampai mati. Lalu dibawa ke luar. karena kamu melanggar. tetapi kamu tidak adil. 6. Karena bingung menjadi terdakwa. (Prajurit) bangsa Belanda. aku pukul hingga mati. aku terima [dadi] kehendak Paduka. 9. (tepatnya ke alun-alun) Betawi. berpangkat ajudan sersan memburu. 10. tidak (mau) melihat mereka ditembak. keduanya mengamuk kepada Belanda.Gubernur Jendral sangat malu. Semua pasukan militer. 7. hukuman militer bangsa Belanda. Lalu kedua orang itu dipasangi. (tetapi) dirasakan kurang etis. 8.

diambil mayatnya oleh para pasukan jendral. “Hai orang Cirebon anjing kamu. Raden Welang pemimpinnya. tewasnya Raden Welang. sampai mati di atas tanah. 14. Lalu mengambil senapannya. tidak jelas melihatnya. (beris) peluru intan pusakanya. melihat pasukannya rusak. lalu memburu pasukan jenderal itu. Banyak yang rusak pasukan jendral. Den Karta melihat. 12. sangat susah balatentaranya banyak yang mati. Di Betawi sangat kacau.diserang (sehingga) banyak yang tewas. bingung balatentara jenderal. dari belakang yang dituju. “Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini. hasil pekerjaanmu merusak negara ini. musuh bijaksana. banyak temannya yang bertarung.” Lalu dipasangkan. 11. kematianmu ada di Betawi” Lalu Gubernur Jendral. karena perang dengan teman sendiri. sudah cukup dibela. Lalu keluar kakek kuwu. terlihat dibakar. dari (raga keduanya). lebih (dari) seribu (orang) yang mati. 341 . 13. Sudah menjadi kepastian.

lalu mayat Kartawijaya itu diburu (oleh) jenderal. (kemudian) membuat pesanggrahan. 16. Si Kelewang dengan Si Dumung. untuk mengganti kerusakan tentaraku. sekarang kamu bersiap. sangat susah balatentaranya rusak. balatentaraku rusak. 17. kira-kira tujuh ribu (jumlahnya). “Aku tidak terima balatentaraku rusak.Gubernur cepat memasang (senapan). 18. persiapkan perlengkapan perang. 15. (akan) kuminta daerah Kasultanan Cirebon. Keris pusaka menghilang. Sersan ajudan keluar. mayatnya menghilang musnah. sudah menyeberang ke daratan. Bawalah tiga kapal. pendeknya aku tidak terima. Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon. 342 . letnan kolonel ajudan lalu berbaris. Orang-orang geger. pasukan laut (dan) pasukan darat. serdadu militer yang terpilih. pasukan militer mundur. 19. lalu ia berkata kepada ajudan (dan) sersan. Tetapi Tuan Gubernur. terkena lalu tewas.

(pasukan) Kacirebonan bersiap. 20. Balatentara jenderal bubar. (yaitu) Pangeran Suryakusuma Martakusuma. untuk maju berperang. 23. (para) pangeran maju perang. 21. Sultan lalu berkata manis. mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram).karena Sultan sudah mendengar berita. Ramai yang bertarung. Radén Pekik dengan Dul. serta Pangeran Logawa. menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun. pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon. “Orang Cirebon lawanlah. (sehingga) daratan tidak terlihat. Pangeran Mertasinga dengan (Pangeran) Panjunan menghadap Sultan. 343 . 22. semua maju ke medan pertempuran. menaiki kapal berlayar di lautan. sampai ke tengah (laut) kapalnya. balatentara pangeran berbaris.” Lalu memerintahkan pasukan. lalu bersiaga. Serta Jendral melihatnya. Serta bertemu dengan Sultan. Lalu gubernur berkata. semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram). lalu menyebrangi pelabuhan. bila balatentara pangeran berbaris. Gubernur Jenderal (ingin) melihat.

” “Saya berkata yang sesungguhnya. lalu memerintahkan tumenggung. Terkejut sultan melihat. Saya mengemban tugas sinuhun. mendengar cerita gubernur. Metaram Broboya. 344 . Kanjeng Sultan sangat sedih. orang Mataram tiba. secepatnya menghadap Paduka (karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram. dari Mataram semmuanya sudah tiba. tamtama. sudah tiba di negara Cirebon. datang di hadapan (sultan). Lalu sultan berkata. 27.“Hai saudaraku Jendral. 25. untuk mengumpulkan pasukan. ada apa anda menangis?” Berkata Gubernur Jendral. diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram). Semuanya bubar. pangeran. senapati. menjadi sultan. 24. hingga tiba di jalan belakang. diceritakan seluruh (kejadian)nya. Natabumi (dan) Buminata. sepertinya membawa perintah. “Selamat datang saudaraku. 26. karena hendak menyerang negeri Cirebon. (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya (dan) Kanjeng Pangéran Natabumi. adapun negeri paduka. karena paduka sudah lama.

menuruti kehendak paduka. menerima santunan serta diberi tanah.” Pangéran Probaya berkata. 30. Serta paduka turun tahta. karena negeriku Cirebon wilayanya kecil.28. saya siap berperang. (merupakan) upetinya itu. (saya) akan serahkan. Sultan tidak bisa berkata.” 32. “Jika demikian Paduka. 31. Jika paduka tidak menerima. Cirebon menyerahkan negara. perintah sultan Mataram. (lalu) berkata perlahan-lahan. saya melayani. (saya) permisi hendak kembali . berangkat kembali ke negeri Mataram. saya tidak akan mengingkari. (Lalu) bubar semua. seluruh prajurit Paduka. 29. Serta haturkan (kepada) sultan. akan disampaikan kepada Jeng Gusti. perintah dari Paduka Sinuhun Mataram. karena setiap luas (tanah) tadi. (apa) yang disampailan Paduka. “Duh saudara-saudaraku. untuk saudara-saudara paduka. tiga ribu pemuda dengan paduka. sudah disampaikan kepada sinuhun 345 .

Sangat gembira Tuan Besar Gubernur. “Selamat datang Dinda Dalem. Sesudah tiba di Betawi. 2. 4. segera menghadap kepada tuan gubernur.mengenai penyerahan negara itu. dari negara Darmayu Setelah tiba di Betawi. Lalu gubernur menerima. berkat pertolongan Tuan (saya) mendapat kemuliaan. masalah negeri Cirebon. lalu sama-sama berpamitan (untuk) kembali ke Batavia. (lalu) memanggil Wiralodra. semoga selamat (dalam) memimpin. Gubernur dengan Sultan. sesudah bercengkrama. hingga anak cucu Tuan. XVI. dijaga Yang Maha Melihat. (saya) banyak mendapat kemuliaan. berdoa kepada Yang Agung. KASMARAN 1. lalu dengan gembira menerima negeri Cirebon. Memimpin di Pulau Jawa. 3. beribu-ribu terima kasih. Lalu Jendral berkata. penyerahan (dari) Sinuhun Sultan. 346 . terima kasih banyak atas pengangkatan ini.

Serta Kanda memberi tahu. harta yang beribu-ribu (jumlahnya). sebetulnya saya tidak punya. tetapi saya serahkan semua. memerintah kabupaten. untuk memberi makan serdadu. termasuk uang sebelas ribu jumlahnya. tanah saya di Darmayu.” Bupati tidak bicara. seperti biasa. karena (atas) bantuan (dinda) (bisa) menangkap penjahat itu. apakah Paduka mau?” 8. Gubernur berkata perlahan. 5. Lalu bupati menandatangani 347 . harus dibayar (oleh) dinda. “Jika demikian aku terima. 7. Lalu berkata pelan “Duh Paduka Tuan.semoga diridoi Yang Agung. karena ia tidak punya. Semuanya (telah) saya hitung serta semua perlengkapan. tetapi Dalem (harus) menandatangani. harta beribu-ribu (jumlahnya). karena tanah (itu) milikku. (ditambah) tiga puluh rupiah. anak cucu sama-sama mulia. tetapi kedudukan Dalem tetap saja. sekarang hendak makan-makan. 9. 6.

Tetapi (kedudukan) bupati sekarang masih tetap. “Hai saudara dan anakku. tidak berubah (masih seperti) biasa. hingga anak cucu semua. negeri Darmayu.surat (perjanjian). kepada Tuan jendral. untuk mengongkosi perang. Tuan Gubernur Jendral. Darmayu kepunyaan. berlayar (menaiki)eperahu. Lalu bupati pamit. Lalu Dalem berkata perlahan. Lalu tiba di negaranya. (Kemudian) diganti oleh putranya. 10. yaitu Raden Krestal. oleh Tuan Jendral Betawi. (bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun. bupatinya tetap aku.. Lalu bupati jatuh sakit. 12. sudah takdir Yang Maha Melihat. para saudara menanyakan berita. 11. disambut para ponggawa. (demikian pula) kedudukan bupati. hingga sampai di kabupaten. kembali ke negerinya. (Tahun) 1610. Negara dirampas. (Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis. 13. hingga wafatnya. 348 . semua tidak ada yang abadi.

Wiralodra gelarnya. Ia mempunyai anak, berjumlah tujuh orang. 14. Yang sulung Raden Marngali lalu Nyi Wiradibrata, ketiga Nyayu Hempuh, keempatNyayu Pungsi, dan Nyayu Lotama Hanjani bungsunya, (Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya. 15. Bupati sudah lama, mempunyai mertua jahat, merampok pekerjaannya. Sangat susah rakyatnya, (harta) miliknya dirampok, Patih Singatruna, sangat kasihan kepada rakyatnya. 16. Setiap malam tidak berhenti , penjahat (itu) menjarah. Patih Singatruna, berkata kepada kakaknya “Duh kanda Mlayakusuma, apa yang harus saya lakukan, mau jadi apa dalem ini? 17. Tidak menyayangi rakyatnya, (yang) dirampok (dan) dijarah, (dalem) tidak peduli sekarang. bagaimana saran kanda, dinda hendak memohon, kepada Tuan Residen, di Cirebon.

349

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela), betul jika demikian, nanti kanda ikut menandatangani (surat). Kemudian segera membuat surat, ditujukan (kepada) Tuan Residen, (mengenai) semua yang terjadi, ditulis di dalam surat. 19. Lalu segera dikirimkan. Selang beberapa hari Tuan (Residen), tiba di Darmayu, dihancurkan semuanya, disita benda-bendanya, (lalu) dikumpulkan, yang dirampok penjahat. 20. .Cocok banyak barangnya, (dengan) yang diaku oleh rakyat, cocok dengan yang dimita, lalu bupati mengirimnya, ke Cirebon. Sangat susah hatinya, ditahan selama tiga bulan. 21. Menunggu keputusan negara, dan sampai kepada keputusan, Dalem Disowak namanya, yang menjadi jaksa itu, sedangkan adiknya, Wiradibrata (namanya) diangkat menjadi rangga. 22. Patih Singatruna diangkat menjadi wedana, di distrik Jatibarang, Mas Malaya Kusuma

350

mendapat pangkat, diangkat (menjadi) kalektur, di gupernemen. 23. (Singatruna) wedana merangkap patih, di negara Darmayu, para penjahat semua, sama-sama hormat melihatnya, karena kebijaksanaannya, (oleh) wedana dengan kalektur, penjahat banyak (yang) ditangkap. 24. Negara sangat makmur, tidak ada penjahat, tidak ada masalah, di nageri Darmayu . Patih Singatruna, mempunyai anak, banyaknya lima orang. 25. Yang sulung Patimah, lalu Nyayu Juléka, Brataleksana yang laki-laki, Mas Demang Bratasentana, bungsunya Bratasuwita, semua anaknya, menjadi orang yang berpangkat. 26. Raden Rangga putranya, empat orang, putra yang sulung bernama Radén Wiramadengda, Radén Mardu, Nyi Sumbaga, bungsunya Radén Madada.

351

27. Kalektor putranya itu, lima orang jumlahnya, Asisten Hardiwijaya, yang perempuan Nyai Muda dan Sudirah namanya, Nyahi Junéd perempuan, bungsunya Nyai Juminah. 28. Radén Kartawijaya, putranya hanya seorang, Radén Karta Kusuma, yaitu Ratu Hatma, mempunyai anak tiga (orang), yang sulung Biskal Cirebon (ialah) Prayawiguna. 29. Adiknya perempuan, Kertadiprana namanya, yang ketiga pangkatnya ulu-ulu, tinggal di kota Darmayu, menurunkan putra, yang sulung Kertahudaka 30. (yaitu) Demang Lobener, adiknya Mangundria, Demang Bangoduwa, Muhada tukang timbang, Nyayu Jeni kuwu, yaitu Kertahudara, upas bom pangkatnya. 31. Kertahatmaja bungsunya. Darmayu …, Taahun 1813, Tuan Pri namanya,

352

Kiai Jaksa sudah meninggal yang menggantikan anaknya, yaitu Marngali, gelarnya Wirakusuma. 32. Menjadi demang pangkatnya, tinggal di kademangan, distrik Paseban namanya, Balu Kalid namanya, Demang Wirasaksana, menjabat demang, di kademangan Lobener . 33. Suami Nyayu Sungsi mengembara, tidak menjadi demang, dahulunya dari Palumbon. Mempunyai seorang (anak) laki-laki, He… Subrata namanya, menduduki pangkat, menjadi demang Luwungmalang. 34. Suami Nyayu Lotama berpangkat ulu-ulu. Suami Hanjani Wirajatmika namanya berpangkat mantri. (Lalu) Bagus (Bag)ya namanya, gelarnya Kitawilasa.

Asal-usul Wiralodra Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai. Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.

353

Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara. Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra: 6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 7. Gagak Kumitir di Bagelén 8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra: Radén Wirapati Radén Wiraseca Radén Wirakusuma Radén Singalodraka Radén Singalodraka berputra: 4. Radén Jaka Kuwat 5. Radén Kumbabocor 6. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca berputra: 6. perempuan Nyayu Wangsanegara 7. perempuan Nyayu Wangsayuda 8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén 9. laki-laki Radén Tanujaya 10. laki-laki Radén Tanujiwa Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama: 5. laki-laki Radén Sutamerta

5. 6. 7. 8.

354

6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati 7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata 8. laki-laki Radén Driyantaka yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu): 1. laki-laki Radén Kowi 2. laki-laki Radén Timur 3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati 4. laki-laki Radén Wirantaka 5. laki-laki Radén Wiratmaja 6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa 7. perempuan Hajeng Sutamerta 8. perempuan Hajeng Nayawangsa 9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a 10. perempuan Hajeng Hadiwangsa 11. perempuan Hajeng Wilastro 12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a 13. perempuan Hajeng Patranaya (Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III. Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama 8. laki-laki Radén Benggala 9. laki-laki Radén Benggali kembarannya 10. perempuan Hajeng Singawijaya 11. perempuan Hajeng Raksawinata Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang: 9. laki-laki Radén Lahut

355

perempuan Hajeng Nahiyasta 14.10. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang 11. bernama 10. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener 18. Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang: 5. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener 356 . laki-laki Radén Suryapati 6. laki-laki Radén Suryabrata 7. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa 17. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan 14. laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya 13. perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu 15. laki-laki Radén Ganar 11. (Dalem ini) memiliki banyak putra. perempuan Hajeng Parwawinata 12. perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah 16. (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4 5. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 13. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra: 2. perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga 12. 5 12. laki-laki Radén Suryawijaya 8. laki-laki Radén Kerstal Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII 13. perempuan Hajeng Tayub 16. Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. perempuan Hajeng Gembrak 15. perempuan Hajeng Moka sesudah 3 tahun diganti lagi.

4. 8. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang. 3. 6. yaitu): Radén Wirasaputra menjadi demang (Radén) Wirahatmaja perempuan Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang perempuan Nyayu Wiradiwangsa Radén Prawirakusuma (Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang Radén Wiramadengda perempuan Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang Radén Perdata Wirahastabrata Radén Sumarga Wirasudirga 3. perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling 8. 6. 3. 5. 4. 5. 7. 4.6. 357 . perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber 7. 4. yaitu): Radén Madi Wirasomantri Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang.

i … 358 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful