P. 1
babad-dermayu

babad-dermayu

|Views: 609|Likes:
Dipublikasikan oleh Mysterio Mistery

More info:

Published by: Mysterio Mistery on Sep 26, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2011

pdf

text

original

Bab I Pendahuluan

1.1 Identifikasi Naskah 1. 2. 3. 4. 5. Judul Naskah Nomor Registrasi Nomor Inventarisasi Asal Naskah Keadaan Naskah : : : : : Babad Dermayu (Babad Carbon II) 1.368 183.1498/07.35 ? hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik; Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit. Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap

1

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bahan Naskah Warna kertas Tebal Naskah Aksara Naskah Bahasa Naskah Tinta yang digunakan Rubrikasi

: :

tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit. kertas Eropah putih kusam karena dimakan usia 124 halaman Cacarakan Jawa Jawa Cirebon Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh. tinta, setiap aksara Arab kertas tebal dua halaman,

:
: : :

:

12. 13. 14. 15. Penomoran halaman Jilid Keterangan lain : : :

Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca, Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal), Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah, Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan, Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.

2

Bab II Ringkasan Cerita

1.

Sinom Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa. Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang. Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman

3

palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum purapura marah. Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macammacam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik. 3. Sinom Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari. Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan. Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman. Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

4

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana. Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra. Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan muridmuridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas. Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang. 4. Kinanti Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah. 5. Durma Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia

5

mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu. Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan. Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra. 6. Dangdanggula Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen. 7. Durma Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji. Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya. 8. Dangdanggula

6

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok. Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom. Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur. Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV). Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

7

Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya. Bagus Leja. Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta.Nyai Moka pekerjaannya mengaji. sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. dan Bagus Seling. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Lalu dilakukan penyerangan. Ciliwidara kemudian menghilang. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan. Mereka bersiap menyerang Darmayu. 9. Kulinyar. Sinom Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan. Pangkur Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. Pada suatu hari. 10. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati. ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta. dan Pasiripis. datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya. Jumlahnya sekitar 700 orang. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun. Bagus Rangin. dipimpin oleh Bagus Kandar. Hastrasuta meninggal oleh 8 . Surapersanda. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas. putra Singalodra. yaitu Ciliwidara. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh.

12. tetapi sebagian lainnya melarikan diri. Wangsakerti mengirimkan utusannya. Mereka diikat dan disiksa. 13. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan.panah Ki Serit. Durma Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. Bagus 9 . sehingga para perampok itu tiba di Darmayu. Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan. anak Wangsakerti. Asmarandana Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya. Durma Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Sepanjang perjalanan mereka merampok. 11. Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. isinya meminta bantuan. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri.

Mayatnya menghilang. agar Cirebon mengganti kerugian Belanda. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Keduanya dimarahi dan dicaci. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. Sinom Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. 15. 14. Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya. Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran 10 . Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpurapura sedih. Pangkur Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi.Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang. sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi.

Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. Kasmaran Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi. Nyayu Wiradibrata. Kalektor memiliki lima orang anak. Nyayu Lotama. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak. dan Hanjani. Nyayu Juleka. Cirebon diserahkan kepada Belanda. Nyayu Pungsi. dan Nyai Juminah. Brataleksana. Wiralodra memiliki tujuh orang anak. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). 11 . yaitu Patimah. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka. dan Kertahatmaja.030. Nyayu Jenikuwu. Muhadapan. yaitu Biska. Bupati meninggal dunia. Raden Rangga memiliki dua orang anak. yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang. 16.yang merugikan pihaknya. Raden Wiramadengda. yaitu Raden Mardada. dan Nyi Sumbaga. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11. yaitu Raden Karta Kusuma. Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Ia memiliki lima orang putra. Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok. yaitu Hardiwijaya. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. Nyayu Hempuh. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. Sudirah. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. dan Bratasuwita. Bratasentana. dan Kertadiprana. Mangundria.

12 .

dan guru gatra. 1979: 366. Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat. Bait-bait yang 1 Hermansoemantri. guru wilangan. Transliterasi disusun berurutan ke bawah. tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut.1 Teknik Penyajian Transliterasi Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin. yang terikat oleh guru lagu. tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang. karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. 13 . kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya. maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. Selain itu. seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. Dalam transliterasi ini. misalnya I Asmarandana. BD ditulis dalam bentuk pupuh. Dalam transliterasi. pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya. tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber.Bab III Transliterasi dan Terjemahan 3.

2. Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah.berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. Tanda (…) Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara.37 nomor halaman pada naskah dalam foto . Contoh nomor halaman: 17 (37. 4. 2. Nomor dengan angka Arab Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis. Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi. Nomor dengan angka Romawi Nomor ini menunjukkan urutan pupuh 2. atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1. sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan. dan seterusnya). 3. Pengantar Terjemahan Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD. suku kata. 857) .857 nomor eksposure pada foto 3. walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya. 3. sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1. 1a. 1. 3a. Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Atja dan 14 . Tanda […] Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca. 2a. yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait.17 nomor halaman pada naskah . Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan.

B. Djajasudarma. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly. 2 Atja dan Ajatrohaedi. dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran. dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul. 1986: 94. melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra. Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). dan 4) di dalam proses penerjemahan.Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan. 3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah). (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan. penerjemah harus mencari padanan yang dinamik. 1998: 1 15 3 . (2) siapa pengirim pesan itu. ditujukan kepada siapa. penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut. artinya padanan kontekstual. 2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin. Berdasarkan pendapat itu maka: 1) objek terjemahan adalah bahasa tulis. Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks. bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu.H. bergantung kepada kemampuan penulisnya. makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan.

dan penerjemahan sintaksis. Djajasudarma. di samping aspek linguistik.Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu. Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan. 1986:173. Namun jika teks berbentuk puisi. yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya. terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan. 4 5 Catford. sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. 1965: 20-26. 2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem. yaitu penerjemahan fonologis. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan. 4 Pradotokusumo. 3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik. kata. terutama dalam gaya. 16 . Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana. 1998: 4. jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa. Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas. dan frase). meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik. penerjemahan morfologis. kata majemuk. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran. 1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber.

yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah: a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD. Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama. karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik. di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi. agar mempermudah proses membaca. dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis. penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase. dengan menggunakan tanda khusus. maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda. b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama. ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus.Berkaitan dengan penerjemahan teks BD. Karena itu. Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. Walaupun bentuknya pupuh. c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan. dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu. sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”. Berdasarkan pertimbangan tersebut. teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah 17 .

sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan. 18 .semula.

hanak……nakin…. Tan sanés hingkang sinekar. tahun séwu sanga ngatus pan[n]e… 2. 4.. waktuna .nuju néki..tiyang. buku sajarah dalem … 19 . … kinarang sinekarna. hing dalu Jumahah legi. …sajarah tiyang ku[n]na. Hanak putu Wiralodra.. bénjang lang…… kun hakir. sampun kantos… langkin. (nu)ju se(neng)..3. hing tanggal kaping sadasa … wan di.. 821) //I. trus tumurun hing putra… 3. nuju seneng manah hulun. wedar[r]ing kanda rumi(yin).3 Traansliterasi 1 (1. sasih. kartadipran[n]a……s.. …li ka[h]ula haserat. SINOM 1.. supaya … galur. Kang hana hing Darmayu mangkin. bermula Da(lem Kang)jeng.. hérpol sa[ng]king Mantri Haris. Ki Wiralodra rumuhun. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat. Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir. jam kalih dalu nu jo …n[n]i. supaya samya huni[ng]nga. turun-tumurun niréki.

Bagelén hing rang(gah) ( hapepu)tra malih. hapeputra… tumenggung hanang Metawis…. Larakelar hasal néki.… nti pada … rusak. …ki gumantya. Pejajar[r]an putra ratu. 6. Tumenggung hanang Mataram. Nulya ka[h]ul[l]a. ka…hical hingga tu … …n[n]é sujarah dingin. Panembahan Kyahi Be(la)ra. Wirasecapan kagu[ng]ngan. Kartiwangsa …(mang)kin. …sumi.. Gagak Pernala Tu(menggung). laki…mangkin. maksa hing ngila[r]ran hulun. Jeng Pangeran Hadi… hingkang peperab.. Minggu palesir kula. 5. ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u… nulya kagu[ng]ngan putra. turun[n]i Wiralodra. . ningal[l]i sujarah mangkin. 20 . hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa). pakuburan pun tinga[l]li… …ngungun rusak[k]é hing pakuburan. Pan sada……(tu)menggung. 7. wedar……kantos dateng Majapahit.

Putra hingkang pa… Pan Radén Gagak Kumitir. 9. gumantya para bopati. Hana …ling malaya.Lajeng ha… …puna…sekawan. Gagak Singalodraka…da…ya. remen[n]ipun hamertapa 10. (Tanu)jiwa kang wuragil. gumuling hing wisma. pernah hingkang sepi mangkin. Karangjati kang nagari. Wiralodra. Tanujaya hingkang rayi. nulya peputra … hanang Banyu Hurip Kedu. Wangsayuda rayi héstri. hing Bagelén dalem[m]ipun. (Wi)ralodra katiganya. … Pringgadipura. Pembajeng Wangsanagara. 21 . saréngat (hakeka)t mangkin. hanenuwun hing Yang Widi. … nagara. Dén Gagak Wirahandaka. Dén Gagak Wiraku(suma) hapeputra malih. kasa. sanget saking nyandang kingkin. 822) 8. 1a (2.

sampun hical wujudnéki. 12. tansa(h) hingkang tumingal. suwara kang kapiyarsi…. rosik[k]a. KINANTI 1. hamandeng hing wujud tunggil …nya (hing) jero supaya dados satunggal. (Su)kma hing yang hagung. yahiku cahya handaru. muga-muga hantuk mu(lya) turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan.. hicaling pepadang mangkin. (nu)ju dalu Jumah.hakékat mahripat wahu. tanda tinarim[m]éng hagu(ng). II. cahya…mang tapa. …Wiralodra. …ngaran suwun hing yang sukma. hing halas Cimanuk 2. sareng ming wétan ning[ng]al[l]i. kantu Bagelén. nulya …kinanti hingkang tinembang. ningal[l]i wonten hing langit. …ru ngira. Ngulon hungsinen kacung. …dang nelahi. …cahya hingkang bening. lamun péngén mulya kaki…nira. tigang dahun lamin[n]éki. 22 . 11… (sa)réh miwah dahar. (pa)dang kadya lintang. babad[d]ahing halas kaki.

duging turun pitu kaki …tuhamu. malebeting wanadri. putra ngambung suku ram[m]a. Kyahi Tinggil tanéki. 3. rinangkul dipun tang[ng]is[s]i. hing pundi panggé(nénéki) 23 . Medal ngidul pinggir gunung. handres miji(l) ditangis[s]i. 5... lali turu miwah dahar. sangking sakarsan[n]é kaki.halas gedé hi[ng]ku nyawa.waspa. kaki hanak [k]ingsun mangkin. kaliyan Kang Pandakawan. miwah nang[n]i hingan[n]néki. mila hénggal lunga haka… …Wiralodra.ning ram[m]a. 822) //. sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki. 4. Sun pasrah(a)ken yang hagung. putra ningsun hayu …cw. sami medal toya. Halilir hanggé …sami katar …hing jeng rama Ngatur[r]aken pi … hing jeng …nas mikatur 2 (3. mapan déréng ha…ta.. 6. (hing) kali Cimanuk pernahnya. pan bakal dadi nga…. (ha)turan turun[n]ira. Kahidinan sampun kondur.

hang linggih hing pinggir kali. Nulya hawecan[n]a haris. Raden Wiralodra dulu. 8. kantos dumugi hing kali. kula tur[r]i sabar briyin… …mi pukulun. Sareng héca gényagah. Buyut Sidum tiyang karihin. kathah wowotan puniki.7. Kantos lami tigang nahun. ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil. hingkang mindah kaki tuwa. 12. kali gedé hangliwati. (pri)yén pan karo hapa?” Humatur kiyahi Tinggil. …toya geng prapta. Kali hageng hing Citarum. wunten kaki tuwa prapti. hanang hing(kang panda)kawan. Saparantos bendara. nulya jeng hing lampahnya. hanggén[n]é wa(na)dri. “(Pa)man susah hingsun. 9. …sowan. 24 . lan puniki Gusti dara. …hapandé ring hantuk marma. Le… 2a (4. 11. Léréh[h]an nyenangna pikir. pitulung Yang Maha Widi. Kula kinten be…dusun. hutawi kebon jalmi. 823) 10.

humatur hawelas sasih. “Haduh Kakang tu (lung) kula. hamesisir la… 3 (5. 15. sarwi megap megas har[r]is. sesalaman hasta kalih. sangking Bagelén nagari. 13. Kyahi Dum wecan[n]a harum. sampun…kedah wangsul malih niki. Pun lami lampah …n hulun. ngatur[r]aké lampah néki. 824) //…la ngétan pernah néki. hing pundi Cimanuk kali. sarta sareng nya lenggah. 25 . Nulya hical kaki sepuh. “Duh Ki Putu welas mami. sangking kaki tuwa hiki. dé… (han)tuk hawecan[n]a. bakal hingsun (hantuk) warta. kula (harsa) hantuk warta. …(Kali) Citarum. kagét wahu haning[ng]al[l]i. Hénggal ti(nari)k rinangkul. sampéyan … kula. muga kaki hanulung[ng]i. “ 17. sanget bhingah[h]é hang… lah bagja temen pun mami. … Kerawang bagiyan néki. tigang (tahun) lampah kula. 16.wunten kaki kaki prapti. 14. nuwun pitulung pun kaki.

lampa[h]hing KiWiralodra.getun Radén Wiralodra. ningal[l]i medal[l]ing surya. “Duh Paman Tinggil pun kula. Pu(ni)ki pan margin[n]ipun. “Duh paman Kiyahi Tinggil. boten[n] takén wasta kriyi(n). Nulya hawecan[n]a harum. Hangrem(pug) hing wana (a)gung. nulya hénggal halumaris. kula lajeng pangkat Gusti. 21. lumampah siyang lan wengi. déréng (ta)kén wastanéki. nanging bagja kula Gusti. lan sing pundi hika hasal. mila…hénggal-lénggal. …manten pan hantuk marma. pitulung[ng]é hing Yang Widi. 20. Sumber medal saking sumur wan[n]a dateng Ki Tinggil. sareng duging Pasir Hucing. 19. wonten toyan[n]ipun mili. 26 . ngétan ngalér margin[n]éki. 18. kabujeng (mu)sna pun kaki. 22. lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki. Hutawi negarin[n]ipun. hambhujeng lampah pun hénjing. hing ngendi si kaki tuwa?” Ki Tinggil humatur haris gugup dara hameriksa. datan saréh miwah dahar.

lan badé karsa hing pundi. Kyahi Tinggil pan humatur. nulya manggih tiyang gaga. langkung sa(hé) toya bening. “Duh kakang basa pukulun. Wirasetra jeneng ma(mi) 27. Dalem (Pega)dén hing bénjang. sah[h]a hasli pundi ranti?” 27 . (lamun Gusti) kersa mandi. hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil. hing Kakang tembé pinanggih. Lami hanthuk kalih minggu. lan sinten kakang peparab. hing bénjang bakal nurun[n]a. sun ting[ng]ali hiki toya. duh Wirasetra jeneng mami” “Hingkang wewangi pun kakang. madukuhwan hing wan[n]adri. sarwi sesalaman kalih. ming[ng]elér lampah hiréki. hadem kasilir marut[t]a. Yayi sinten jeneng[ng]ipun. 825) pi//wiwitan hiki.meng(ké) laréh pada mandi. nulya pangkat Wiralodra. 3a (6. 26. 25. hana (to)ya tengah wanadri.” 23. kula péngén sesaréyan. Wirasetra wastanipun. Kyahi Wiralodra tanya. 24. sing wétan hasli rumihin.

ngalar[r]i Cimanuk kali. Sinubu. Banyu Hurip dulur misan. Ngayang hayang hir tiyang bu… suku hasta halit halit. hing wisma pernah hi(ré)ki. hingkang dipun bukti habdi. Haduh dara kula suwun. sing Bagelén hasli kula. dameng gegodong[ng]an kula. 32. Karun[n]a sarwi hangrangku(l). tyang tangga samiya bhukti. 29.subu haneda. handugék hagen pun daging. Kakang (ing) wétan nagari. sami pada suka hati. “Duh bagja temen rayi. daging kula kathah hical. 30. kula hasring niba tangi. dameng tambi weteng blending. hingkang lami manggén riki. “Duh Bendara tembé habdi.” 28. 31. salaminé boten bukti. pinanggih kaliyan kakang. Kyahi…humatur. dahar …se//(ka)lih hulam. Wirakusuma Dipati. yén lumampah sempoyongan. badé hanglemok[k]en badan. 28 . Hanulya binakta wangsul.Wiralodra jeneng rayi. pu……na tan dahar.

. lubér[r]an masșa redi. pinanggih lan kadang mami. 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin. bis[s]a wareg dika bukti. 4a (8. hamireng hatur[r]é Tinggil. 29 .kasrimped déning la…tan. hanggén[n]é bungah wak ingsun. “Duh kakang panrima yayi. mila sing lami hing riki. muga dén hidin[n]i kula. nulya humatur hing raka. sampun gama rasa kula. Radén Wiralodra wahu kantuk sasasih mangkin. 33. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun. pernah[h]ipun hingkang kali. pinanggih kaliyan kadang. “Duh kabegjan pama. 37. “Ya paman Tinggil wus begja. manggén tengah wana mami.” 34. sarta rejekimu paman. 35. Kyahi Wirasetra puniku[s] hanyambung[ng]i sabda man[n]is. Cimanuk wangsit yang sukma?” Wirasetra muwus haris.” Humatur Kyahi Tinggil. sadinten ping kalih bukti.” 36. “Duh bagja kula ben(dara) kranten kula nyémah niki. Tyang kalih sami (gu)yu.la.

Ki Wirasetra hangguguk. tak duga hiki Cimanuk. 42. “Lah paman Tinggil puniki. Ki Tinggil pan manembah. “Nun bhendara nuwun kula. kelangkung sanget bungahnya. hénggal hasira pinanggih.” Nulya sesalaman sami. “Héh Tinggil sun dongakna.“Muga dak jujurung pandonga. ming (pinggi)ran[n]iréki. kanggé… kan…yaktosnéki. gampang bésuk sandang malih. “Duh dara men[n]awi nyata. 30 . mingétan hingkang … dén…i maksih hageng hingkang wana. 41. boten wonten padukuh[w]an.” Hang kalih pangkat hanjugjug. hatut pinggir pinggir kali. gumujeng[ng]é suka hati. namung héwuh ……habdi.” Ki Tinggil humatur lirih. mugiya hénggal pinanggih. daging kula dugi malih. 38. Nulya tiyang kalih lumaku. 40. Sarta rineksa Yang Hagung.” 39. sarwi matur klayan lirih. kalih sasih hing laminya. Kyahi Sidum sanget welas. Nulya pinanggih lan kali. sangking daramu pikersa.

sundrem malem mangajeng[ng]an. kebon lega palawija. 828) Hanulya nyipta kiyahi. Boléd homas miwah jagung. Gemuh wéhing kebon wahu. kebon bhagus datan[n]ana. paré gajih putih putih. hing wésma wonten tiyang lenggah. linggih hongot-hongot deling. 46. pinuter kembang srengkun[n]i. 31 . hing wétan kadya puniki. tongkéng malengkung hing lawang. kebon lega palawija. 44. Ki Sidum lenggah (ing bumi). Wiralodra hawecan[n]a.” Nulya hamarin[n]i sirih. kanan kéri mandakaki. ningal[l]i kebonan mangkin.ningal[l]i dangka kalih. bonténg timun miwah lobak. lumampah nrajang rinungkun. 47. langkung seneng haningal[l]i. térong kara sabrang cipir. Raden Wiralodra dulu. 45. 43. Pinggir kali wésma nipun. “Duh Tinggil bagja wak mami.warna. langkung sahé dén tinga[l]li. tanem[m]ana warna. 5 (9. hing wétan tan[n]ana Tinggil.

prawantu tiyang dusun Gusti. tan mingsir bari halinggih” 51. nembé teka hamariksa. “Sugal temen kaki kakang. nembé kula haningal[l]i. Hiki kali pan Cimanuk. hingsun tanya bentak nyentak. hapa harep ngrampog hingwang. sira tekang wisma mami. na pamali tiyang halas[s]an. 52. 829) //wong ngendi sira hiki. Kyahi Wiralodra getun.” Humatur Kyahi Tinggil. 50. badé tanya pan kagu[ng]ngan. sun kang duwé kebon hiki. Nanging hadat[t]é puniku. (“Ha)rep hapa siréki. 5a (10. Hanyentak ngandika wahu. kebon sahé sapuniki.bakal wuwus aya hulam. 32 . harep hapa sira tanya? Kakang tan[n]i malih warni. 49. Nulya hawecan[n]a haris. sarta Kyahi kali nap[p]a. “Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun mugya hagung pangaksami. wastan[n]é puniki kali. (bo)ten gadah tatakrama. hinggih leres Gusti Dara. kedah[d]ipun maklum Gusti. Haran ningsun kang sinambat. 48.

hora ken[n]a sun halus[s]i. hing tembé ningal[l]i kali. rin[n]aket[t]an kaki tuwa. “Hora harep tulu(ng) mami krana hingsun sugih rayat. “Duh Kyahi pan hingsun tulung. hawéh hingsun jaluk paksa. perkara kebonan kaki. 54. senyatan[n]é kula kyahi. 55. sorah ngandikan[n]é mangkin. 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i. 33 . 6 (11. hora ken[n]a tak bhedam[m]i! 57. Kyahi malih warni muwus. jajabang muka lir gen[n]i. hénggal sira hamampus[s]a. Ya hiki kali Cimanuk. “Héh kaki dika wong hapa. Radén Wiralodra bendu.Nulya dén pedek[k]i lirih. tebih sing Bagelén nagara. kali Cimanuk pan hingwang. muga dén pernahna Kyahi hingsun nurut jeng ngandika. haku tan sudi ning[ng]al[l]i.” 56. kaki grendaka sun tan[n]i. tan liyan hingkang sun hilar[r]i. Sahiki kaki sun jaluk. 53. welas sakya hing mami. kuma tumut ngebon kaki?” Hang réncang[ng]i jeng ngandika. ngisén[n]i dika wong dés[s]a.

hangadeg linggih hing korsi.” Radén Wiralodra mangkin.58. kari kari kebon mami. pan dudu Cimanuk kali. hanubruk hing kaki tuwa. walang kerik hanuding[ng]i. hénggal bhurun[n]en dah kaki. surung-sinurung tiyang kalih. hangadu sakti linuwih. nameng wonten kapiyarsi… 61. bener sira pan bherandhal. 62. Hing pernah kebon wahu. Pammanuk[k]an hingwang dusun. 60. Bermula halas dén jaluk. Hingkang mindhah kaki wahu. han[n]ingal[l]i hing siréki. 6a (12. binanting hanulya hical. 831) //mengkola mun șira manggih. kidang mas hinten kang soca. pan pinasti karsa n[n]ing wang. Cipuhnegara kang kali. langkung sorah hawecan[n]a. yén hora weruh hing mami. Buyut Sidum haran ningwang. musna kebon kaki-kaki. mapan haku hora sérab. “Hah Wiralodra putuku. hénggal sira hanyabrang. 59. bésuk dadi dés[ș]a hiki. 34 . hical mapan dadi wana.

hénggal-hénggal lumampahnya. nulya musna rupi macan. mapan Radén Wiralodra. macan hapa karen[n]éki?” 67.63. surya hingkang dén ningal[l]i. pasti turun nira mukti. poma kaki wekas mami. Radén Wiralodra hindha. tetapa hahaja néndra. bénjang lamun kaki babad. “Man Tinggil meneng siréki. macan tin[n]abok tumul[l]i. 68.” 65. Hing pundi hical ké wahu. yén hénjing tamtu hing wétan. 66. Lajeng takșaka hambhuru. hing pundi nusup pun haki.” 64. mangko hingsun harep tanya. Hinggebeg kiyahi Tinggil. yahiku Cimanuk kali. Hana macan hagung. wunten takșaka hageng prapti. “Duh tulung bendara ningwang.” Hanulya wecan[n]a haris. 35 . pinanggih macan gedéki hangadang margan[n]ya. Sima[h] kekerag hing ngayun. hing Cipunegara kang [kang] kali. nulya hanubruk tumul[l]i. yén șonten kulon pun lingsir. Tyang kalih hanyabrang sampun. Lajeng malebetan gung.

Musna hula dadi kali. 2. 832) //kali musna tan kahékși. taksih nonoman maran[n]i. salebet[t]ing wanadri. ningal[l]i kali geng néki. Larawan[n]a wasta kul[l]a. napa sakarsan niréki. Radén Wiralodra héran. “Duh Radén bagus jandika. sarta kang sineja n[n]éki? Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula. Pan kula makșih[h]aken[n]ya. tiyang bagus pinanggih riki. wunten pawéstri yu héndah. kasugih[y]an kadigjayan. dén pendhung hula sirahnya. III. hing Radén Wiralodra. pan badé ngilar[r]i napa. 69. kula sanggup badé tulung. Nulya mendak (taska)ra wahu dén lepas[ș]aken tumul[l]i. hasar kula dipun kawin. Haduh melas temen hingsun. déréng hanglampah[h]i laki.hambhakta pendhu Ki Tinggil. manggah jandi katurut[t]i. SINOM 1. 7 (13. 36 . Dateng Radén [pan] Wiralodra. ngalih hasih melas șasih.

hanuwun șamangké kula. sanajan héstri yuhéndah… hé ora ha(rsa) șeja krami. 7a (14. sarwi humatur halirih. Ki Tinggil majeng hing ngarsa. …da krama kula wahu. hana hing tengahing wana. “Duh bendara dén hénget[t]a. mangko badé hingsun priksa. ngangken kenya déréng laki. yén șampéyan tan nurut[t]i. pasti pejah sareng ngakalih jandika. 4. dateng Wiralodra mangkin. hamit kula badé hamangsul[l]i sabda. 833) su…//pekik. buru dadi kaki-kaki. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a. kuping tuli gigir bekuk.” Wiralodra ngandika haris. pan ka[h]ul[l]a datan hasti. 6.” 3. langkung gampil tiyang …karma bénjang… 5. “Tan gingsir paman wak [k]ingsun. “Sampéyan wonten hing wana. bisșa temen ngomé hiki. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an. nulya nyandak Larawan[n]a. puniki tengah wanadri.manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula. huntu lunga kempo(t) pipi. Radén nyimpang nganan ngéri. 37 . datan pantes tiyang héstri. hangantos hantuk kamulyan.

cinandak mangkin. manggah Radén sampéyan males hing kula. nulya Dén Wiracabra pinendi. malajeng ming wétan wahu. Ki Tinggil maran[n]i hénggal. hangasta cakra tumuli. héran temen Wiralodra. kénging musna rupi kidang pan kencana. hananging tan pasrah mangkin. malempat Ki Wiralodra. Wiralodra dén priyatna.kinipat[t]aken tumul[l]i. suka matiya wak[k] ingwang. 8. karanten ……. candak. 7. 38 .tun[n]a …sakti. yén nora dadi sawiji. gébés-gébés haningal[l]i. Nyi Larawan[n]a nadah[h]i. wong bagus .. tan ken[n]a sun hé mangkin. dibujeng sami prang lirih. ngadu sakti gumreget Nyi Larawana. 9. “Duh Radén kang ngatiyati kinten bhabar pisan Gusti. Nulya dén pe[n]ta sanjata. Wiralodra hanadah[h]i. kalumah[h]an nulya nubruk. tadah hana tyang pekik kaya jandika. senjata ranté tumiba. …cak pan[n]a wong [ng] abagus. Wiralodra dén priyatna. senjata ranté pan hiki. Nulya Radén Wiralodra.

nulya hangandika haris. hanutut[t]i kidang mangkin. Hing ngimpén kang kapiyarsa riki kacung hapan kali. karsan[n]é…mara tinggi kidang kencan[n]a pan hical. tan șamar kidang kencan[n]a. 39 . ming wétan kidang malayu. 12. paman dén hawas handulu. kajeng kiharah geng néki. katingal hujur ring kali. Hanulya Radén tuminghal 8 (15. 13. Nulya dumugi hing lampah. hayuh paman haja kari.” 11. dén pegat nganan lan ngéri cinandak-candak tan ken[n]a. Cimanuk kang dén pilalah. toya deres hingkang mili.10. hing turun-turun siréki. tyang kalih datan katinggal. punika kali Cimanuk. Tyang kalih hambhujeng kidang. yén tebih kidang ngentos[ș]i sampun lepas lampah néki. hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang. nulya léréh hing ngandapya. siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a. wis bhagja muraki bénjing. “Hing paman kiyahi Tinggil. nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah. 834) gumebyar saliran[n]éki. hika pan kidang kencan[n]a.

17. manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata. “Duh paman bhegja wak[k]ingsun. miwah banténg warak wahu. nulya hangilar[r]i pernah. Ki Tinggil damel[l]an[n]éki. sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya. nyata hiki Cimanuk kali pernahnya. Radén Wiralodra mangkin. 15. 8a (16. Mangka Raja Budipakșa. kanggé panggénan pun habdi?” Radén Wiralodra wahu. Wis terang wang(si)t Yang Sukma. “Duh bendara yén waten[n]a. mapan holih kamuktiyan. mapan bhibar katawur[r]an. Sanget bhungah réhing manah. hangilar[r]i minggir kali. wélan-wélan hasung warta. ngandika hing paman Tinggil. 835) 40 .” Ki Tinggil humatur lirih. Nulya hadamel kang wisma. supen[n]a pana……//warti. hanulya hamasuh raga. Radén Wiralodra mangkin. pan[n] ingsun șaréh lan dina. 14. nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra. menggah Gusti kersa pundi. hanggén[n]é babad wanadri. hing himpén kang kapiyarsi. wis katrima hing Yang Widi. 16. paribawan[n]é panas hatis.karsan[n]é Yang Maha Hagung.

miwah para kang prajurit. 836) kumawani// ngusir hingwang. 9 (17. Sakéh[h]é Gedén Muwara. 18. hamasing donga Ki Tinggil. ribut prang[ng]é Radén Wira. braga brigih ngarsa mami. Bhudi Pakșa hangandika. “Héh satriya wongasigit. mapan hingsun tan ngoncat[t]i. dikira haku pan wedi. ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis. gawé rusak bhala[n]ningwang. sarta sakéng sén[n]apati. Ki Gedé muwara Cimanuk. hakumpul șabhalad nira. hénggal nyingkir sira hiki!” Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a. 41 . jurubiksa kathah lumpuh. sakéng bala bubar mangkin. hingkén[n]é majuwa sira. 20. kapethuk hing wisman[n]éki. Nulya kalurug Dén Wira. ngisén[n]i gandarwo bulus. kénging Radén Wiralodra babad wana.” Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira. hi ra[n]né sapa siréku.miwah patih Bujar[r]awi s. kelangkung sanget duka[n]nya. pasti lancang kumawan[n]i. Sulahémana Srabad mangkin. 19. samya dugi hangrawuh[h]i.

kakang pan gawé hi…s[s]a.” Ngandika Dén Wira wahu. krana maksih pernah cangga. Nulya siyang dalu babad.nulya wonten hutus[s]an[n]ya. pada kekadang[ng]an mami. pada hakuren sadulur. Rayi Sultan bhas[s]a mami. ngasih hasih melas șasih. Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat. Rara Kidul Gusti mami. samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an. becik dén raksa hahiki.” 22. Werdinata sultan hanang Pulo Mas. 42 . “Duh kasuwun jeng ngandika. hiku Radén Wiralodra. “Mangké sinten pan jandika. Sarwi manembah hing ngarsa. krana turun Majapahit. 24. Ki Tinggil kang dadi koki. sangking Tungjung Bang puniki. sukur bagja rayi sultan. muga dén hampura Gusti. nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa. Dugi hanang Sultan Hemas “Haja pada dén ganggon[n]i.” 23. dumugi saturun rayi. kasamaran bhala habdi. sahanak sadulur. 21. 9a (18. “Duh Radén Gusti kawul[l]a. 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi. katambhet[t]an Gusti habdi.

palawija tan kabukti. hingkang lén Cimanuk kali. 27. Kathah tiyang kang damel wisma. haja dén télaksaman. trimanen kongkon malebhu. tumut wisma hanang riku. 43 . kawentar kebon[n]an[n]ira. boléd jagung kalih cipir. Ki Tinggil humatur haris. “Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a. Radén hangandika haris. Boten wonten kakirang[ng]an. teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin. hawit tetaneman gemah. lumintu tiyang kang dugi. palawija warni. gundem juwawut hagemuh. Sanget kapéngin pinanggya. Ki Tinggil kadadi lurah. manah paman dén kariya. “Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula. 26. lami damel padukuwan. manca negari kang dugi. kathah tiyang sami prapti. 25. tan wonten tiyang kirang nedi. sampun hantuk tigang tahun.miwah nanem palawija. lamun bhagus tanah néki. kalih rama hibu mami.warni. sami gemah kebon[n]an hawarna-warna. bok hana tiyang kang yuda. datan wonten kakirang[ng]an.

muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira 31. siyang dalu pan kating[ng]al. Kacariyos hing lampahnya. miwah kadang kadang néki. Si Tinggil hingkang hatenggah. kagét hibu miwah rama. yén hinget hing sira kacung. ningal[l]i kang putra prapti. hora nyan[n]a temen kaki. kang dadi lurah hiréki. sadaya samya han[n]angis. 28. caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a. welas[ș]é hing lampah[h]ipun. rama hibu mirengna. pun dugi hing Banyu Hurip. rama hibu sami linggih. 29. “Haduh nyawa putra[n]ningwang. hibumu pan șamya bintip. marah hanak[k]ingsun nyawa.Tinggil dén kari basuki. 44 . lelampah[h]an putra mami.” 30. hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari. “Duh mas han[n]ak ingsun nyawa. hanangis șiyang lan ratri. hanjujug hing padalem[m]an 10 (19. pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa. sumanding putra tetelu. pun katurang lelampahnéki. sangking marman[n]é Yang Widi. 838) //Bagelén hingkang negari. Putra humatur Jeng Rama.

margi hageng lurungnéki. saban lurung panjagahan. 34. pinedhak kadya nagari. 10a (20. sahiki pan sira kaki. handérék șakarsan[n]ipun. Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya. hatur[r]an ngurus nagara. tumut magén padukuh[w]an. lan Tanu[h]jiwa siréki. 45 . cacah limang ngatus jalmi. supaya dadi weruh. tempat panjagian gardu. samya matur ram[m]a haji. kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara. dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a. miwah Ki Pulaha kyahi. hing kulon dadi nagari. Bayantaka Jayantaka Surantaka. mengkuwa Bagelén negari. hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil. tyang halit șeneng kang hati. langkung kathah tiyang prapti. kambi sadulurmu kaki. kadya pangkat[t]ing tumenggung.sekawan[n]é putra ningwang. Miwah si Wangsanagari. mapan mukti kiyahi Tinggil. Ki Tinggil hingkang dén tilar. sadaya cakep ping kardi. 32. 839) 33. gampang bésuk yan wus dadya. cakep hadamel gelar[r]an. Wanasara Puspahita. Sukubahu Jungjangkrawat.

Bade handérék ka[h]ul[l]a. 35. “Sumanggah handérék habdi. Ki Tinggil haris tetanya. pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah. 46 . dén hiring pawong[ng]an kalih. tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an. mikul gandum kalih pantun. hanjujug wisma Ki Tinggil. punapa sejan[n]é Nyahi. lan șinten kang wangi. hing sémah manembah prapta. “Duh paman tambet hing mami.saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma. Hanulya wonten tiyang prapta. 38. Hindang Darma hingkang nama. hayun[n]é hang luluwih[h]i. badé ngebon kula kyahi. hasli sangking pundi hayu?” Nyi Hindang mangsul[l]i sabda. 840) kula haningal[l]i senang. dateng pundi sumanggah kapilih karsa. 37. tan[n]ah hingkang radi jembar. “Hamit palamarta habdi. hutawi kula hanyabin. muga dén hidin[n]i hulun. Hakulon hutawi wétan. tur maksihken[n]ya pawéstri.” Ki Tinggil hambales șabda. 36. tumut damel wisma kaki. Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a. sumanggah hayu hamilih. 11 (21.

Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i. 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang. Hayu mulus kang salira. hingkang murid-muridnéki. mandah bungah[h]é bendara. 39. 47 . hing pernah kang senang milih. nanging bénjang dara mami. kedot pan gun[n]a sakti. temtu haku nulya matur. mapan șampun Hindang Darma damel wisma. kanggé garwan[n]é bendara. ngandika hing murid[d]ira. ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh. kapiyarsa marang Pangéran Palémbang. 41. ningal[l]i wong hayu luwih. tan[n]a tan[n]i dérék wahu. Hindang Darma mulang jaya. hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i. sampun medal șangking wisma. nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya. sakathah[h]é murid[d]ira. sakéh murid pan șami. Pan gemah kang pakebonan. memada… hing jenengi 11a (22. hingsun mapan wis hangrungu. 40. kawentar liyan nagari. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran. mandan napa Gusti mami. pan likur pangéran[n]éki. yén rawuh hanang riki. “Héh sekabéh murid mami. hana wanodya hamulang.Nyi Hindang mariyos makin.

Nulya Nyi Hindang humatur. hing muwara mentas pangéran sedaya. mila hing ngabrama Gusti. Sahiki murid șadaya. pangéstri hang lelanang[ng]i. Pangéran gawok tumingal. kawit[n]é tyang dusun habdi. hasli sangking pundi Gusti. nulya hénggal babar layar. kagét Nyi Hindang ningal[l]i. nulya haris gé nya matur.” 44. 43. 48 . sakedap nétra wus prapti. lan badé karsa punapa. Pangéran pan wicakșan[n]a. tiyang hagung hang rawuh[h]i. hanang wisma Hindang Darma. saha sinten kang wawang[ng]i.42. hingsun ngrungu t[t]an șudi. 45. héman temen tingkahnéki. hingsun ngungsi Pulo Jawa. hanangkep kang pada mami. Sanget kumejot hing manah. sampun dugi prahun[n]éki. “Duh [duh] bagja kula sémahan. “ Sampun numpak hingkang prahu. samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a. manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya. cipta sajroning galih. “Duh hamit hing palamarta. wunten tiyang kathah prapti. hiki wanodya yu héndah. pada sira dangdan haglis.

dadi guruh kaya hingwang. pakșa lumancang hawan[n]i. kaya hayun[n]é Hindang Darma. 842) //wong hayu sira wanodya. Kari kari Hindang Darma. hingsun parlu mrikșa sira. suyud pangéran hing mami. memadahing jeneng hingsun. 12 (23. hora ngrungu béja warti. hingkang ngiring marang mami. hing Palémbang nagrinipun. 47. hora nganggo tatakramané wanodya. kados wonten dén bujeng lampah paduka. dayang humbaran sira hiki. tedak Haryadilah Sultan. wong hayu tur lencang kuning.” 46. yén șira guruhna ngélmi. Pangéran Guruh ran mami. hora nana padan[n]ipun. haja mungkir sira hiki. “Héman temen pan șiraki. 48. hapa kadiran siréki. kawentar saban nagara. hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang. sakaprabon hing ngajurit. kang lagi guruhna ngélmi. Pangéran mangsul[l]i sabda. samakta rawuh paduka.kados wonten karya hagung. dadi guruh sakéhé para pangéran. 49 . Mapan hiki murid hingwang.

Bratakusuma kang rayi. hutawi saktining guru. kaya gun[n]a hang luwih[h]i. matur héstu kang sayekti. 50. sagending habdi lados[s]i. 52.49. “Duh héman hing rupi Gusti. 845) 51. Hananging sugal wecan[n]a. hipe kon paduka Gusti. kaya tingkah hira hiku. 12a (26. Kaya sakti sakti sira. Hambales sabda Nyi Hindang. tan[n]ana manus[s]a hiki. Hénggal hanubruk pangéran Wisanggen[n]i jenengnéki. badé pun[n]apa Gusti. badé napa sumanggah dérék pikersa. bedama pucuk[k]ing keris. lamun kawon mapan kula boten wirang. manggah Gusti kersandika. 50 . mapan wisma datan nyambut. sakayu(n)-kayun[n]ing hadang. sémah neda dén suguh[h]i. hanulya medal tumul[l]i. hutawi hajrih ning[ng]al[l]i. langkung sahé pideksa rupi paduka. maran[n]i papan Kang Hagung. Hindang Darma datan sérab. tan karuwan negarin[n]éki. mungguh pan dakwah Pangéran. Bramakendali kalihnya. boten wonten bas[s]a lirih. hutawi karéh hing karya. lancang[ng]é kaliwat-liwat.

“Susah kang Pulaha mami. sampun kantos hantuk duka hing bendara. Nulya pangkat gegancangan. Nyi Hindang sakti pinunjul. Sampun rucah jeng ngandika. tak duga pan maksih wargi. Sadaya para pangeran. lumampah siyang lan wengi. 846) //sangking Palémbang nagara. kalih Gusti puniki. prang tanding ngadu gun[n]a.” 56. kanggé tiyang tani tempat. sarwi nguwuh huwuh tanding. prang sami hangemas[s]i. sampun cahos hanang ngarsi. kari kari kanggé tempat yudabrata. 54. Ki Tinggil sanget hajrihnya. samya perang silih huki. “Duh Pangéran hing riki papan kang jembar. 55.kinten jembar yudabrata. sadaya pangéran ngemas[s]i. 51 . sun harep matur hing Gusti. kariya tunggu nagara. 53. sasih hanggén[n]é yuda. sadaya pan kancan[n]ipun. Ki Pulaha dén timbal[l]i. kathah Pangéran ngemas[s]i. 13 (27. hidin[n]é kon gawé dus[s]un. kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a. héman rupi hadi hadi. kang seneng[ng]an lampah tan[n]i. bendun[n]é bendara mami.

muktiya dugi hing bénjing. samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa.prawantu Ki Tinggil lampah. Haduh mas pawong[ng]an hingwang. muktiya wong loro kulup. “Wis jamak[k]é sira kaki.” Sakalih pada menenga. karun[n]a sesambat[t]ipun. hapa holih kasenengi. najan pandakawan mangkin. Tinggil han[n]éng pagusténmu.” 59. sareng hénget sakalih sareng hanembah. tumunten cahos hing Gusti. sun tinggal kari rumihin. sakedap[p]an sampun rawuh. sarta matur[r]a hing mami. sun dongak[k]aken Yang Widi. Tinubruk Ki Pandakawan sarwi dén rangkul tumul[l]i. saré[h]hing dén tinggal kari. Ki Tinggil hangguguk nangis. 52 . 849) //kancamu pada basuki. “Haduh hanak[k]ingsun kaki. linggihya hasoh rumihin. wicaksan[n]a tur hasakti. Nulya kang rama ngandika. mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya. toya waspahan dres mijil. legan[n]a hingkang man[n]ah. 13a (30. “Duh paman welas ka[h]ul[l]a. lanang Bagelén nagara. duk dingin sareng sangsara. 58. si Tinggil turun[n]ira. 57.

hanggén[n]é tinggal nagari. 60. sarta win[n]angun[n] nagara. Nyi Hindang Darma dinakwa. hantuk marma ning Yang Sukma. dalah kadados[s]an sasti. Hindang Darma mulang ngélmi. 63. 62. katiwas[s]an habdi Gusti. kadugén Nyi Hindang Darma. bantasa kaprabon jurit. Hang wulang[ng]aken kagunan. nulya dén lurug Nyi Hindang. Nameng humatur kaul[l]a. 53 . sarwi bakta muridné para pangéran. kelangkung sakti Nyi Hindang. Pangéran Guruh ngrawuh kyahi. masih ken[n]ya hayu luwih. 61. dalah kathah tiyang prapta. pan badé hanangkep wahu. dadi guru mulang ngélmi. berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an. pangéran samya ngemas[s]i. gelar[r]an pangatur habdi. kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang. dérék damel wisma Gusti. pinaring[ng]an harja Gusti. ngaben sakti hing ngajurit. gemah rah[h]arja hing dusun. Hindang Darma pan pinunjul. Mapan sami yudabrata. Kasinggiyan[n]ipun dara. Nyi Hindang memada mangkin.marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang.

héyangmu pan sami lampus. Tinggil sun durung kamulyan. poma kaki dén tangkep[p]a. hing hibu miwah ramaji. nameng kaki kang halus panangkep[p]ira. 54 . Hindang Darma luwih sakti. “Duh Gusti pepundén hulun. Ki Tinggil humatur haris. sing Palémbang guruh ngélmi. hingkang rama hanjurung pandonga pasrah. habdi suwun berkah Gusti. 65. Gawanen pan kadang[ng]ira.tan kiyat hananding jurit. 14 (31. kapasrah[h]aken hing Yang Widi. hiku héyang ngira kaki. nuwun hidin hing ramaji. 850) //”Héh kulup pan Wiralodra. kang putra dérék pikarsa. kantos lami pan setahun. turun Majapahit kulup. Kang Gusti pan Singalodra. Tanujiwa hingkang rayi. dipati hamaca donga. matur huning dateng Gusti. Wangsayuda Tanujaya. mila habdi gegancang[ng]an. 66. Si Wangsanagara kaki. hinsahalah.” 64. Sadaya samiya manembah. didongakhaken ka[h]ul[l]a. tumenggung Bagelén nagara. kados pundi Gusti sakarsa paduka. Hindang Darma tiyang pawéstri.

Jungjang Krawat cahos ngarsi. Ki Tinggil haris humatur. 14a (32. kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang. hiringen lampah Ki Tinggil. hamaran[n]ika Ki Tinggil. lan kanca dika haja kari.” “Sumanggah dérék pukulun. 55 . kinten kabaktaha kyahi. Nyi Hindang kagét tumingal. “Duh bagéya paman dika. 68. hangandika Radén hanang Ki Pulaha.” sampun kondur sangking ngarsa. IV. miwah Ki Pulaha wahu. handumuk wisman[n]iréki. ningal[li] tiyang yudabrata. lepat boten tur huni[ng]nga. lami datan tan kahéksi. Tan kawuwus hanang marga. sadaya pepek hing ngarsi. Radén[n]ayu habdi hajrih. samya prapta wisman[n]éki. Bayantaka hana ngarsi. Puspahita Wan[n]asara. hing wisma Nyi Hindang mangkin. sahéstu [pa]manah pun habdi. “Pan paman Kyahi Pulaha. “Radén Hayu héstu habdi.” 2. 851) gegancangan gumanti ganti tembang.67. hing parnah Ki Tinggil wisma. Sampun prapta kan hing ngutus. KINANTI 1.

4. dateng wisma hanang wétan. Mila habdi dipun hutus. dateng wahu Hindang Darma. 7. Dados singid[d]an pukulun. kadi rupi Hindang Darma. 5. sekancan[n]é kaki Tinggil. kaluntan wangsul pun habdi. miwah kadang raka rayi. kulit kuning nemu giring. miwah Jungjang Krawat kula. manggah badé dangdos briyin. Sampun dugi nembah ngayun. 852) 56 . hayun[n]é hangliliwat[t]i. rémah cemeng handan pandan. Radén hayu dipun hatur[r]i. mapan sadaya tumingal.3. sareng wangsul wisma habdi. Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a. bendara tumut ming kula. pin[n]ahés releng asuri. datan han[n]a sakéng héstri. kedah kéring da hing habdi. Dedeg kelangkung hayu. 6. hamite geng[ng]en ningal[l]i. hing raség sadayan[n]éki. 15 (33. linggih han[n]ang compok kula. kadia putri widadari. Nyi Hindang ngandika harum. handérék Nyi Hindang Darma. hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i.

hingsun préntah hangidin[n]i. gegancangan lampah kul[l]a. Mila dén timbal[l]i hulun. ngrahos handérék ka[h]ula.” 10. Hugi Radén sanget nuwun. pan hingsun hasung paréntah. sapakersa gawé wisma. “Radén mahéwu [ng]kang suwun. 57 . manggah katuran haunggah. hing paman Kyahi Tinggil. Hamung hingsun Nyahi perlu. Radén hénggal wecan[n]a harum. “Bagéya kang nembé prapti. dateng tapak hasta Gusti. hora dadi hapa Nya[h]i. rawuh hing dukuh punika. hugi Radén nembé prapti. sangking sanget hajrih habdi. 9. dateng tapak hasta Gusti. prawantu pawéstri habdi. handérék tumut basuk[k]i. habdi hingkang dérék numpang. sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a. kula sémah nembé prapti.” Nyi Hindang humatur haris. 11. 12. 13. kaliyan miskin ka[h]ul[l]a. bekti habdi nun katampi. Wiralodra ngandika harum. dateng paman Kiyahi Tinggil. mapan Gusti kula mangkin.8. kapéngén hénggal pinanggya.

lajeng bendu hangliwat[t]i. Nyi Hindang nulya humatur. réning habdi sugih jalmi.” 15. coba matur[r]an Nyi Hindang 15a (34. 17. 16. sumpah hing hayahan Tuwan. “Duh Radén humatur habdi. perlu mriksa hing perkawis krana kuwajib[b]an kula. dateng compok pun ka[h]ul[l]a. hutawi ngirang[ng]i kul[l]a. hutawi kebon[n]an habdi. sami yudabrata Nyahi. 58 . saweg linggih wisma habdi. miwah kadang kadang kula. datan wantun hang[ng]langkung[ng]i. samurid[d]é sami dugi. kang dadi kawitan mangkin. muga matur[r]a hing mami. kagét rawuh[w]é Pangéran. Mejanggu tan[n]i hulun. 853) //priyén bermulan[n]iréki.tebih sing Bagelén nagri. Bermulan[n]ipun pukulun. 18. Pan dakwah Pang[ng]éran guru. 14. prawantu héstri kul[l]a. matur héstu kang sayekti. damel hakal Radén habdi. Pan dakwah Pangéran gugu. tiyang hingkang hambanton[n]i. ha[k]bujeng damel sawah. hingsun harsa mireng[ng]en[n]a.

kinepung hing para murid. 21. Jadi pan karsan[n]ingsun. sanajan wong kuwat n[n]ingwang. 19. 59 . tak jaluk sukan[n]é Nyahi. tak jajal[l]é karo Nyahi. Nyahi kalah dadi rabi. satingkah polah Nyi Hindang. seja sami ngemas[s]i. badé hanangkep pun habdi. supaya huni[ng]nga mami. Yén menang dadi bujangmu. hapes yudan[n]é Pangéran. 16 (35. Héyang Guruh hingkang salah. “Duh bendara Radén kul[l]a. nurut[t]i napsu niréki. 22.” 23. totohwan pan jiwa raga. Seja pin[n]ejahan hulun. sakéh[h]é para pangéran. hingkang hanyaksan[n]i mami. Hindang Darma hamlas[s]ayun. mejang hélmu klayan. hingsun[n]ora hamilon[n]i.nyabin miwah pakebonan. dén dakwah memada habdi. “Yén bener haniréki. pitulung Yang Maha Widi. humatur sanget pan hajrih. bogan lanang kalah ngéstri. hiku pan jaluk wak [k]ingwang. 854) réhna gawa jago hingwang. Wiralodra ngandika rum.” 20.

Hindang Darma nembah ngayun. yén makaten déra k[k]arsa. 60 . 28. “Hiku Nyahi haja hajrih. Radén medal nguwuh huwuh. Hindang Darma karo rayi. 26. Tanujiwa Tanujaya. héstu ngapunten pun habdi. seja hingsun han[n]iwal[l]i. hadin[n]ingsun kangge galih. pasti bakal hingsun kawin. sili hugi ngadu gun[n]a 16a (36. 25. sampun dados manah Gusti. hanulya Radén hamedal sekalih dangdos hing jurit. dadi manjing…yang bara. kumedah majeng hing jurit. wong ayu sira Nyi Hindang. 24. Nyi Hindang methuk prang lirih. nameng sanget hanuwun kula. payuh pada ngadu sakti. Hapan dadi bojon[n]ingsun. lamun kalaha Nyi Hindang. Wiralodra haris muwus. Perang tanding rebut hunggul. 855) //Radén sinabet tumul[l]i. pan sangking hidin[n]ing wang. hakondur sing ngarsa Gusti.hapan sanget hajrih habdi. nuwun ges[s]ang paduka. hangedal[l]i perang tanding. 27. Tanujaya haran mami.

Ngadirane rama hibu. kénging ngén Nyi Hindang geulis. Haja hinda duh wong[ng]ayu. sambat hora kuwat kakang. Wiralodra ngandika harum. tak ras[s]a sen[n]ang kang hati. 61 . megap-megap napan[n]aki. hasuk[k]a-suka wédang kopi. 29. sawitan ngatur pakéyan. putra gegedé nagara. Hindang Darma luwih (sakti).” Nyi Hindang nulya hanggeblag. Tanujiwa majeng nuli. kabur tiba han[n]ang ngarsi. paju wong yudabrata. pun hayun. kaki pasrah ka[h]ul[l]a. “Priyén rayi rasan[n]éki. gagah kayan[n]é rayi. 31. nyata sakti mandragun[n]a. mésem haningal[l]i rayi.hayun[n]an yuda. 33.Tanujaya kapisanan. 30. gumuling ken[n]a hing siti. péngén ngemb[b]éhé Nyahi. sugih banda kaya mangkin. Pendelik lan socan[n]ipun.” 32. “Haduh Nyahi Hindang golis. wong hayu hanarik hati. hing ngarsan[n]é Wiralodra. Ki Tinggil hambakta sampun. wong nom lok yan mangan.

“Dédé musuh Hindang Geulis. mérang marang rama mangkin. 37. HindangDarma luwih sakti. katimbalan[n]én nangkep[p]a. Kang rayi sami humatur.” Wangsayuda matur haris.” 17 (37. 36. manggah nganclong saba…ran. mungguh kakang mérang ram[m]a. “Duh rayi kakang tan sanggup. Nyi Hindang tandangiréki. kakang pasrah hingkang rayi. Nulya dén hatur[r]i wahu. “ 38. bagjan[n]é ngungsi hing ngukir. wirang kathah kang ningal[l]i. 35. sampun wangsul hing nagari. “Cobi kakang kangedal[l]i. Lamun kaya hawak [k]ingsun. wus san[n]a kala(h) jagonya. lir sikat[t]an nyamber walang.perang kalah hing pawéstri. “Manggah sampéyan hakarsa. Tanujaya sabda sugal. Muga kang susah kelangkung. Radén//Wangsayuda mangkin. rayi kalih pan kajodi kawirang[ng]an yudabrata. je…yudabrata kalih. hanang Nyahi Hindang geulis. 34. Nyahi Hindang Darma kaki. mingkin kula ningalan[n]a. 856) 62 . haja kakang hangawit[t]i.

latah hambelik. nyambung sabda Wangsayuda hora gun[n]a hingsun hiki. “Sekalih rayi wecan[n]a. sarwi mésem ngandika haris. Gawa jago loro hiku. kari kari hora gun[n]a. Bagelén hing kanjeng ram[m]a. mancén[n]i hing rayi kalih. kelurug samargi margi. “Loh hadat[t]é wong kalah prang. halatah. 40. kala thothot wedi pis[s]an. Nulya hangandika haris 63 . 17a (38. kul[l]a kahul géndong kakang. kalih Hindang Darma mangkin. //Lamun hunggul yuda wahu. bagjan[n]é gentén tyang kalih. 41. sing riki duging negari. miwah Tanujiwa rayi. tarung (kero)yok[k]an mangkin. manggah kaki géh yudaha. wirang hisin yén hamulih. Radén Wiralodra muwus. kakang tanda hora wan[n]i. ne …sun haben lan bibit. 857) 42. “Loh kang Wangsayuda bis[s]a. Nyentak Tanujaya muwus. mengkin rayi kang ningal[l]i.” 43. Wangsayuda hagemuyu.39. tak nyana solot tarungnya.

Radén Wiralodra wahu. jamak[k]é wong mangun jurit. yudabrata kalih Hindang. Hora Nyahi …u…kma. 64 . man[n]is legin[n]é…. Kari kam[m]i hawak [k] ingsun yén tedan péngén ngrahos[s]i. 46. nyata hunggul hing ngajurit. nulya manembah Nyi Hindang. medal hanang yudabrata. “Duh mas Nyahi Hindang Darma. prawantu tanding hing yuda. Nyi Hindang cahos hing ngarsi. Nyi Hindang hingsun timbal[l]i. dadin[n]é hingsun timbal[l]i. mengko kakang maju[ng] jurit. mudu bahé dén turut[t]i. hénggal Nyahi metung … 18 (39.” Nyahi Hindang matur haris. Wiralodra ngandika haris. (wi)réh(i) hawelas[s]asih. Haja dadi ma(nah) (ya)yi.” Nyembah Nyahi dén turut[t]i. “Duh bendara Radén kul[l]a dados pundi polah habdi. 48.” 45. hing ka[ng]dang. “Wis rayi dén baris[s]an[n]a.kadang[ng]iréki. 858) //…Nyi Hindang panembah lirih. Nulya hanimbal[l]i wahu.44. sapa kalah sapa men[n]a(ng). 47.

saparan[n]ira. 4. prawantu sakalih sakti. sira Nyi Hindang.” Hanulya dén candak wan[n]i. mapan sami hanimbang[ng]i. 5. hambhujeng hing Radén Wira. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata.V. hical pan dadi wanadri. 65 . pan Radén hambujeng hénggal. dateng Nyahi Hindang Darma. Wiralodra ngandika. Radén kalih Hindang golis. DURMA 1. Dén turut[t]i Hindang golis. hing mondragun[n]a. “Héh tuhu nyata prajurit. (yuda)brata man[n]iréki. 3. dén mapan dadi peksi. sampun hayun[n]ayun[n]an. Nyi Hindang hical saking hastanira. Dados taman habening hing toyan[n]ira. Hindang Darma manjing hing jambu wénya. 2. hanulya dén bujeng wahu. peksi garuda. Nulya sami surung-sinurung hing yuda. hanggén[n]é hang[ng]adu saktya. malempat Nyahi Hindang. tarik tinarik wani. hical dadi taksaka. taksaka hical mangkin.

. sarwi (sinam)mbat. “Duh susah hawak mami. hingsun humpet[t]an pinanggih. kuthilang badé dahar. 7. kalawan hingwang. 18a (40. hing buwah jambu punika. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal.né hing hayun[n]ira. Mapan Radén sekti liwat..” Nyi Hindang héwed hing manah. nulya prang pinggir hukir. 66 . hanggebur hanang wari. saparan[n]ira. “Awit kula kersan[n]é yang maha mulya. nulya hical jambu mangkin. juwet temen Nyahi Hindang. bareng ngamukti lan hingwang. nanging tan samar Dén Wira.. Nyipta glap sinamber haglis. Radén hanang hanutut[t]i. sampun hical nama kula. 6. Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin. Dadi watu sagunung hanak hagengnya.liwat. 859) //ngendi paran[n]ing wang. dadiya (se)kar ring puri. campur kalan hukir. 9. kula tan saged kami. 8. Nyi Hindang honcat.mapan Radén dadi peksi. maksih panjang lampah[h]a (sirek)i nameng hanuwun nama.

Darmayu bénjang nagara. sareng babadnya. 67 . kasmaran ningal[l]in[n]a. muga lulus[s]a hing bénjang. nulya mengngulon hing lampah. Radén Wira haget[t]un sajroning manah. hanak putun[n]é rayi. hanggén[n]é damel nagara. 860) 12. hing Pegadén kang dén hungsi.ha(ngdad)i manuk puniki. pan hanang tuknya. dadiya negariya. dateng Cimanuk (hing) ukir. 13. hing wan[n]a Cimanuk …repun dadya?” Kang rayi matur haris. hing kulon Cimanuk kali. 10. kado(s pundi lelam)pah[h]an.” 11. muga dén nama nama. Radén kaliyan nagri.” Kang raka nulya ngamin[n]i. “Sukur bagja rinta. Hindang sing namhing wari. “Haduh rayi //nembé pinanggya. 19 (41. leng manah Nyi Hindang golis. …kanggé turun[n]ya. sangking pundi sangkan rayi. kang wa … nulya ngrangkul pinanggih. Lamun sampun dados nagari hing bénjang. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka.

gén[n]é sisiniyan kalih. 15. … hingkang wangun nagara. Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a. hana hing gawé negara. Nulya pethuk kali panarah. hangiring Gusti mami. pun[n]iki baris[s]an napa. baris[s]é mangun jurit 16. surak mangambal[l]ambal. 17. hanulya duging baris. 861) 18. kulon Cimanuk wan[n]a. Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan). lan sinten hingkang wewangi 68 . badé hamriksana. dateng baris[s]an. hawor suwaran[n]ing bedil pan Radén hamaran[n]i. Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan. hanulya pangkat. Wiralodra tanya haris. wangsul hanang negari. pan sineja mriksan[n]i. kagét hana pri……ni. “Duh nilari ngapa. …//…ngan.14. Kang raka hangidin[n]i. siyagi samakta jurit … 19a (42. badé nuwun hidin raka. nulya matur kang raka. sing wétan haslininéki.

nulya cahos tyang kalih. …ngagéh da Dipasarah. kadiparan yén wis manjing. hageng nagara hing wang. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara. Wiralodra pan kula. Gragé wewengkon[n]éki.(wa)n[n]i hambabad. 20. 22. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang. Kran[n]a waktu punika. hing Kanjeng Sultan. Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an. sahéstu kula puniki. (ga)wa (kang) kanca siréki. pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling. maksih bakal nya nagari. 21. 19. (Dalem) Kuning[ng]an. nulya hangandika wahu. kang wantun wangun nagara. sapa layak yudabrata. cahos hanang harsan[n]ingwang. sumanggah cahos hing Gusti. pan hiku sap[p]a?” Nulya humatur haris. tamtu hing rusak. hénjing kula cahos Gusti. nulya humatur haris. sampun da(dya) nagari. sukur bagja pan pinanggya. lah kabener[r]an hingwang. 69 .

23.” Wiralodra hamangsul[l]i. hidin sing sapa. “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa (ma)tur Gusti. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an cahos sangking harsa Gusti. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal. nagari pan wicaksan[n]a. lan dalem Kiban. 26. mapan mentas perang tanding. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan. tan katon Gusti sultan. hanang wawengkon sultan.” 20 (43. 25. sakersandika. sangking Galuh prajurit. 70 . lamun prajurit téku sangking Kuning[ng]an. “Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika. hanang sultan holiya. “Yén mangkon[n]o réki. hawit déréng matur Gusti.” 27. kang wantun gawé negara. dérék tiyang salah habdi. upas repat pun hamba. kéngkén hamriksa puniki. hingkang wangun nagara. katimbalan majung yuda. 862) Hangandika Kumuning. hing Gragé sinuhun holiya. Geragé hing pan[n]egari. puniki hing …. nameng nuwun hadil habdi. 24.

wong Sunda pan sembrana. “Lah coba tanding lan mami. hing rupa kaya sira. Masandakom hing siti pan Dipasarah. hora duwé tatakrami. 29. hing rupan[n]ira. 31. Wiralodra prawantu putra sing wétan. ngakun[n]é prajurit ku[n]na. Kumuning nrajang wan[n]i. haku jaluk pangaksami. “Lah wong hapa Kuning[ng]an. sinépak hénggal. Dipasarah gumuling. Wiralodra hangingget[t]i. ngadir[r]aken prajurit. Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra. 863) Kumuning //sun tan wedi. Harya Kumuning hanggén[n]é harep pribadya. 32. teka semban[n]a.” Dipasarah nyandak kula. prawantu tiyang ngajurit. 71 . tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti.” 30. sinuhun hora ngidin[n]i. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda. 20a (44. pangrasan[n]é hingsun wedi. hanggé pun ngadu jaya.hingsun Harya Kumun[n]ing. surung sinurung haprang. turun saking Majapahit.” Hanulya wecan[n]a. 28.

Dateng Radén Wiralodra pan cinandak.prang hutawa ngusir hing tiyang gawé negara. dén ngucap Si Windu mangkin. 33. 72 . pasti sira ngemas[s]i. hanulya pun titih[h]i. Dén Wira langkung welas. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah. waktu Dalem Kiban. payuh majuwa. 36. hanggebeg saliran[n]éki. 21 (45. Mila windu tan kiyat gén yudabrata. nulya cinandak wani. 34. Si Windu hangéréng nulya. wong Galuh hakéh kang pejah. Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat. jimat kapal sampun hical. datan bis[s]a mobah. si Windu titiyan[n]ira. si Windu hingkang nyépak[k]i. kran[n]a hakéh luwangnya. gawé jajahan. mangsa kuwat siréki. Kumuning hanglancang[ng]i. 35. kendal[l]i dipun cekel[l]i. sin[n]épak kajumpalik mrangkang ngungsi hing kuda. dén nang[ng]ngen hingwang. nyinirat hanang hukir. mugi sukur hanambahi. 864) nalika prang Galuh //dingin.

Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira. huculna habdi Gusti. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira. 37. sira kalah haprang. Merkayangan si Windu hana hing wana. pan sira sering haprang. mapan Windu napsu wan[n]i. Windu dekuh sukunya. 41. 39. kaliyan Radén habdi. tan kiyat harya Kumuning. 40.“Haduh pan Radian. mundur lampah turanggi. 73 . lir kilat palajengnéki. pan Radén welas ningal[l]i. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira. hanggempur wong sanegara.” Si Windu hambesat haglis. nulya dén lepas. Windu malempat. Pan kahul[l]a datan wani yudabrata. hical sajron[n]ing wanadri. kantaka datan hémut[t]a. nyap[p]rang hiki pantos siji. semu radi ngelawan. “Héran temen Windu mangkin. pertanda sujud hing ngarsa. 38. Kang Gusti gumuling siti. hangeprang hapus sinebrak. hingkang Gusti Kuning[ng]an. kiniwit[t]aken tumuli. han[n]ahan[n]ana.

lan Dipasarah patih. 42. wis rayi hénggal balik. mangka Wiralodra mangkin sa… 21a (46.” Wiralodra ngadika haris.” Dipasarah manembah. hing Garagé pan negari. Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya. 44. kalangkung bingah hing ngati. nulya dén candak tumuli. wus cahos ngarsa Gusti. dateng Kyahi Wiralodra.prawantu kuda duk dingin. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an. 45. “Duh Wiralodra sira. seja nuntun hing lampah. 865) … //pinanggya. panembah hénggal. Dipasarah hanulya. 74 . hing Dipasarah. pan sampun hanang nagari. kalintang sabar. hing pundi kang pudi dipun sedya. hing Gusti sultan. turun Budaprawa. dateng Wiralodra mangkin. 43. hing jiwa raga pun hamba. sarwi hamasrahin[n]a. nyata tuhu prajurit. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan. kabener[r]an pan pinanggah. Nulya Radén Wira mangkin. sangking jaran Harba Puspa.

” Wiralodra kondurning ngarsi. sedaya hidin sampun. sedaya karsa nata. mapan sira turun sultan. Wiralodran matur ring Gusti. ngrangkul kadang sadaya.pinuju kumpul[l]ing wali. pasrah hing ngayahan Tuwan. 75 . DANGDANGGUL[L]A 1. 866) wang //hingkang gumanti VI. kasuwun berkah Gusti. 47. turun[n]an[n]ira. bagja pan sira. kadang sadaya hingkang katinggal. gegancangan hing lampahnya. sarta hasanak put[t]u kaki. “Duh kakang langkung sanget kuwatir. mapan samya pinanggya. Nuwun duka mahéwuh deduka. dugi hing Cimanuk. sangking Brawijaya wing[ng]in. “Hanuwun berkah hing para holiya. pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi. Kanggo turun turun nira Wiralodra. 2. hing lancang hamba. Majapahit turun[n]ira. 46. 22 (47. kaliyan takdir Yang Widi. kadang kadang hingkang dipun tinggal kari. habdi damel nagari. badé wangsul Gusti mangké.

76 . hangelar gawé nagari. Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih. werni na… pun nyi Hindang Darma. kran[n]a Nyahi Hindang Darma. “Haduh rayi Hindang Darma musnang kali. nanging rayi hingsun turut[t]i. katangkep[p]é wahu?” Kang raka haris ngandika. nameng Hindang weling hing suwara. yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing. Bénjing negari Darmayu ri. lumuh nglakon[n]i krama. héstu tiyang punjul. 3. sanajan hingkang ngawit[t]i kakang. datan kotor yudabrata. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi. winastanan Darmayu. tuhu wong wicaksan[n]a. Hindang Darma pan tumut. hadat wong Dermayu. kados pundi raka samangkin. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi. yén dadi negari mangké. Hindang Darma pinunjul. hingkang gawé negaran[n]é.tan manggih béja wartos. 4. 5. keris hatawa pedang. bénjang han[n]ak putu kaki. dadi campur wanita.

mapan pribawan[n]ing pawéstri. hamit rai medal mangké. han[n]a hing Darmayu. miwah tarub hagung. pan sekalih medal hing jawi. hanjeneng hing nagara. mugiya sami wangun. hanjér pepek hing ngarsa. 7. karsa ngatur gelar[r]an[n]é. kaki Tinggil wahu. 867) //dadi pangungsén segala bangsa. Surantaka miwah Wanasara mantri. wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi. 77 . tempat[t]é tiyang ngatur karya. samya ber[r]umah tangga. humatur manggah karsa kakang. Kyahi Pulaha Bayantaka. 6. nameng susah bénjang hanak putu mami. kula turri kadang sedayanya. Namung kakang sadaya pun rayi. sing wétan kulon rawuh. kakang ngidin[n]i wahu. Kadang kadang sedayan[n]iréki.22a (48. tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi. luwih raméh pan negara. hakéh pan kasengsara. kanggé ngistrnén[n]i negara. han[n]epang hing hupacara. tan[n]ah sabrang dugi mangké.

78 . mulya medal hajat[t]iréki. pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil. sadaya kumpul[l]ing kajat. jaler héstri kumpulna. gumuruh tyang suwaran[n]é. 9. pan kanggé tempat kajat bénjing kumpul[l]a hing kawul[l]a. haganti sami ngibing[ng]é.8. kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi. pan hantuk saminggu. nulya ngandika rum. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing. Ki Tinggil ngibing wahu. 23 (49. wangunan tarub hagung. tyang gumujeng latah latah. cangkem[m]é mecucu. patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi. hantuk[k]é hing kawul[l]a. “Héh sanak kula sadaya kang hing riki. badé hawangun liyan negara. miwah tetembangan suka suka. hageng halit pan kumpul. mé// gat. cakep siyagi sakabéh. 868) 10. kinepok[k]an hing kancanya. mapan Radén Wiralodra. Sampun bedama sadayan[n]éki.mégot weteng belenjing. surak kadya hampuh[w]an.

pun maca donga rampung.” Humatur sadaya tiyang. sarta sira pada naksén[n]i. sarwi ngibing dedeng[ng]éngan. 13. saban sasih kados puniki. manggah kula hatur[r]i neda. pan sampun langados[s]an nagara klayan kersan[n]é Yang Manon. sarta maca donga kaslamet[t]an. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti. gumuruh hamin wong hakéh. “Duh sanak kula sadaya. sedaya kula suwun. raméh hanggén dahar[r]an. negari Darmayu. 23a (50. pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki. sami linggih wahu. 11. 79 .” 12. hurun[n]an sanak sedaya. Hanggén[n]é sami wangun nagari. nulya Radén ngandika haris. 869) kula handon//blenduk. Para sepuh sami hangamin[n]i. kawul[l]a suka sadaya. negari dadi sampun. mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a. “Duh sanak kula sekabéh.muga dén sakesn[n]an. “Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari. pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an.

80 . “Yén hidin paduka raka. Para rayi pan sampun halami. tunjang hambakta berekat. rayi sedaya kang han[n]ang riki. rama pan ngayun[n]an. dateng habdi sadaya rayi. Ki Tinggil tukang méjan[n]é. 15.tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i. kaya hap[p]olah hingwang. datang rama hibu mangké. Sarwi bibar sedayan[n]iréki. sarén[n]ingpun lami mangké. senggak muluk-muluk. rebab tiyang[ng]é hanembang. kadang-kadang samiya dahar[r]an.” Kang raka haris ngandika. suwaran[n]é celempung suling rangin. cinampur kalih tembang. Mapan katinggal hing rayi-rayi. gamelan[n]é calempung sul[l]ing. nulya matur kados pundi raka. sarwi ngrangkul “Kang rayi sedayan[n]éki. kang dahar suka hing manah. hageng halit[t]ipun. 16. 14. daharan suka sampun. hapa sangking kadulu. gelar[r]é Dalem nagara. rayi bade kondur. nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a.

Pan tumenggung sing Jepara pelariyan. dumugi hing hakir mangkin. turun pitu bopatih. krana bakal mulyan[n]ira. pun dugi Dalem miréki. hangrebat nagara. 81 . hing ngiring sakancan[n]éki. sarta kang Wangsanagara.sampun lepat dén haturan. mapan hipé wahu. 24 (51. DURMA 1. Sareng hénjing rayi pangkat nuli. Watuhaji hingkang raka. 17. dumugi hing wates[s]ipun. Dén Wiralodra. wunten musuh nekan[n]i. “Duh rayi muga lulus[s]a. kang raka hangater[r]ake(n). wangsul han[n]ang Bagelén nagara. sinalin demang madurma. 2. nulya//sami salaman rayi. mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki. pikantuk kanugraha hing Yang Widi. 870) VII. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara. hanak putunya. jeneng niki nagara. maksih dangdan nagara.

” Watuhaji hambales[s]i.nulya dén priksa mangkin. 3. mapan dadi jig jawin[n]é. h[h]anulya ming[ng]éh hangeri. malempat kadi kilat. miwah sakanca sadaya. baksan[n]é hanglétér wani. 6.” 5. ngadeg kiyahi pulaha. 4. hanunggangtaya. dadin[n]é hingsun tumekang. Wiralodra hantik panduka lir brama. boten nganggé tata krami. hanang satengah hing wana. 24a (54. 82 . 873) raméh gén mangun jurit. hiki pan bakal nagari. tan suka hingsun jurit. “Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a. duméh nagara bakal. raméh hanang ngaprang. Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang. bade sun teda. dén candak binaktang Jawi. gégér hurahan. pan hanang nagaran[n]ira. pan mégot ngigel maran[n]i. saparan paran mami. yén sinabet bedama.

musuh kathah kajodi. pan hayuh maju wang jurit. pedang hing ngagem dén hasta. 10. lir tiyang nagara. hayuh hingsun tadah[h]i!” Ngandika Wira. mapan cakep hing ngajurit. héran tiyang kang ningal[l]i. “Hora watek handingin[n]i. Héran Nitinegara. 9. 83 . 7. duhung sinondénganana. 8. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha. hayuh hénggal gitik[k]a. sarwi hanguwuh tanding. balan[n]é Watuhaji. “Héh Wiralodra sira. Nulya medal Nitinagara hing yuda. Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda. haja suwé ngadu bal[l]a. ko pada bis[s]a hing jurit. hayuh mapag[g]a!” Radén Wira hangedal[l]i. maju jatmika. wong tengah hana hing wana. tak kira tan bis[s]a jurit. Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a. “Héh Wiralodra mangkin. keris hatawa pedang. baksan[n]é halus hamanis.

dén talén[n]i hing Ki Tinggil. hang[ng]asta wangking[ng]an. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!” Hénggal Nitinegari. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an. Watuhaji lan dén Wira. hayun[n]ayun[n]an. nemu tending hing yuda. Pan binakta binekta hanangkon Wira. hudreg hasili(h) huki. Nitinegara binanting. haja gugup gitik hira.11. pan Wiralodra. medal tiwikraman[n]éki. Sesumbar Radén Wira. 13. tanding[ng]en jeneng mami. pan tuhu sira prajurit. maju wang ran[n]a. kang janglar han[n]ang ran[n]a. 84 . Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah. yén tuhu sira prajurit. nulya majeng rana malih.” 14. sinurung-surung hing jurit. 874) 12. gumuling kisma. han[n]yuduk[k]i Wiralodra. 25 (55. pan hanang tengah hing ran[n]a. pan Radén hanang ngajurit. “Héh prajurit Watuhaji.

Watuhaji ngoncat[t]i. nulya dén Wiralodra. 85 . caritan[n]ipun kanda.15. hangamuk bala kathah. hingsun dikang dén hungsi. Mapus//…it[t]a. nungkul sedaya. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara. Cisambeng hingkang pernah. Ki Gedéng Dépok mangkin. ngamuk hana hing jurit. bubar sasar[r]an. dadi pandita mangkin. pan salin naman[n]iréki. ming[ng]idul palajeng[ng]ira. hing bénjang pan turun néki. jinarah kebo sapin[n]ya. beras pari lan harta. susah pan tiyang halit. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya. Ki Gedéng Sambeng nama. 17. mapan mertapa. pan malajeng sing ran[n]a. 16. 875) 18. 25a (56. balan[n]é tumenggung mangkin. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya. Drayantaka Wan[n]asara. medal sangking Bantarjati. kathah tiyang dén patén[n]i.

ponggawa para mantri. 86 . miwah kathah soldatnéki. 19. Wiralodra jenengnéki.kapasrah[h]aken Ki Tinggil. pan senang sadaya. hingkang wade tanah mangkin. pun ngadeg jéndral. Kyahi dalem jenengnya. pinten sinten gotong[ng]an. 18. hanang bangsa Blanda. 21. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah. langkung raméh pan nagari. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika. pepek sedaya. hambakta harta mangkin. Watuhaji kaliyan Nitinagara. tiyang kang teka. Ki Tumenggung miwah patih. Radén Wiralodra sugih. sami berumah tangga. harta mahéwu yutan. 20. pan damel wisma mangkin. tan[n]ah Bogor lan Krawang. Mila raméh nagari tambah hing tiyang sahatus[s]an balan[n]iréki. bala hambral kathah mangkin. pan ngangkat demang ranggah.

kawentar saban negara. bakta bandakayan[n]éki. san[n]és sangking nagara. 22. hanang tumenggung kalih. 24. Gemah harja darmayu dadi nagara. pan Wiralodra. Mapan Nitinagara hanangis. ginanti dangdang malih. 26 (57. Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram. saktin[n]é hang liliwat[t]i. pan badé hambedah mangkin. giris haningal[l]in[n]a.ngateran harta. Darmayun[n]ika. 876) 23. mapan macan nagari. mila monca negari jri sedaya kathah tiyang. Hamiruda bade kapotong jangganya miruda lolos wengi. 87 . Dramayu hika. hiku pan hora becik. DANGDANGGUL[L]A 1. sangking keraton[n]ya. VIII. damel salah hing la//mpah. sen[n]ang pan tiyang halit.

mangka sampun sesunu. yén bade kakirim make. hing luwih sahéng punika. misti Gusti kahul[l]a.han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira. Hingkang gumanti dalem néki. kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga. pun lepas lampah[h]ira. hing Metaram sinuhun. nulya kés[s]a Nitinegari. Pan Nyayu Hinten histrinya. Kacarita Kyahi Dalemnéki. dados Dalem Dramayun[n]é. Wirapati wahu. kén mertapa ngilangké. pan sekawan kathah hire//ki. “Habdi Gusti nuhun ges[s]ang. hatur[r]ipun melas sasih. pun lami hanggén mukti negara. 88 . Wiralodra sanget telas haningal[l]i. wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin. Pan sinangonan Nitinegari. potong jangga hulun. 4. kang rama sampun séda. 877) 3.”. dos[s]a hingkang luwih hagung. mila bénjang turun[n]é Nitinegari. tumut dérék hing brandal. Watuhaji kang dos[s]a. pambajeng[ng]é Sutamerta. bénjang lenggah hing pun. 26a (58. 2.

Kang raka sanget jumurungnéki. mijil putra tigalas kathah hiréki. mapan Wiralodra kapi(ng) kalih.hingkang putra Radén Wirapatya. gumanti wahu lungguwé. héstri pan miwa(h) priya. Werdinata sang prabu. garwanya wahu sekawan. silih genti rawuh. 5. blaka matur hing raka. kagungan sadérék[k]an sang nata. dalem han[n]ang Darmayu. Mapan Radén Wirapati. Lami-lami gadah manah. sadérék kahul[l]a kang héstri. dalem hing Darmayu. Werdinata dateng rayi hinten mangkin. 89 . dérék karsa wahu. Kang Rayi Werdinata. hing Pulo Mas negarin[n]é. 6. pan sampun dahup punika. pan sanget hanggén[n]ipun halih. Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin. sang[ng]et hanggén sesiniyan. tinggal sen[n]ang karajahan. kadya hingkang sudara. nameng sampun kabakta harinta. hing nagari rayi mangké nameng satunggil wahu.

Werdinata Pulo Mas néki. tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit. sanget hasih harama kalih. humur tigang tahun. Sareng lami-lami hingkang rayi. Hingkang peparab pirempag mangkin. balan[n]é lelembut. 878) Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an.7. sanget bingah sang nata //han[n]ang putranipun. 9. 8. medal kakung pekik hing rupi. mangka pun babar wahu. mapan Dalem Cihamis negari. 90 . sangking honom durubiksa. pan kabakta dateng rama. sarén[n]ing dipun lurug. 27 (59. gumilang gilang cahyan[n]é. kuning cahya humancur. pan sinareng kakang Dén Wirapati. kang putra pin[n]aring[ng]an. miwah dalem hing Kuning[ng]an. lin[n]ingling lingling kang putra. tan kiyat yudabrata. Bagus Radén Wringin Hanom nama. pan dateng hing kang putra. pan sampun wicaksan[n]a. Danulya Dén Wirapati mangkin. tigalas sasih lamin[n]é. dén pinangsraya Dalem Sumedang. badé nuwun bantu mangké.

dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas. Cihamis miwah Kuning[ng]an. muga ram[m]a bekti putra dipun tampi. Nulya ram[m]a ngandika haris. kang rama hangandika. gancang taktimbal[l]i mangko. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin. Kuning[ng]an Cihamis mangké. “Héh mas wong bagus nak [k]ingwang. pan rama hingkang nandang jurit. sing honom durubiksa. bagéya nak[k]ingsun. 91 . Nulya ram[m]a hangandika. cahos hing ngarsa ramaji. kang putra sampun rawuh. rama tampi srat wahu. putra hingkang nanggel[l]a. pan litempung mu[ng]suh. sah[h]a wonten dawuh napa. sampun kuwatos ramaji. 27a (60. 894) 12.10.” Sumanggah putra matur. Hingsun pasrah musuh para demit. sarta gawa bala juru biksa kaki. sangking Dalem Sumedang Gusti. mapan Radén Wringin Hanom. dén //pinangsraya rama. musuh bala lelembut. “Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki. 11. humatur kasuwun rama.

sampun kuwatos ram[m]a.kang putra dérék kersa. sumanggah putra hing karsa. lan Dongkara Tumenggung. cahos hanang ngayun. Tyang Sumedang kathah kang ngili. katur nagri hulun. nulya RadénWiralodra. mapan balan[n]ipun durubiksa. gumarenggeng pan suwaran[n]é. bala honom satru. hing ngarsa Dalem Sumedang. 895) 92 . hemban[n]ipun hingkang putra mangkin. mapan Radén Wringin Hanom. 28 (61. raméh //tempuh hing yuda. mung suwara gumuruh. Sareng hénjing medal hing ngajurit. mila sanget hajrih hiréki. “Duh putra banton[n]an. 15. 14. rawuh Dalem Wiralodra. datan katingal wujud[d]é. kadya tiyang baris hing jurit. tiyang ngétan kadulu. Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis. sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis. sanget welas karun[n]é dalem mangkin. niba tang[ng]i palajengnya. Hingkang putra ngusir jurubiksa. hasasaran tinggal kancanya lan Gusti. mapan bibar kénging jurubiksa. 13.

suwaranya kadya gelap. samya hamapag yuda. hang rangseg perang pupuh.burbar bala hing Kuning[ng]an. hantawis sagunung hanak. samya ngusir tiyang Ciyamis. nulya Dalem Wiralodra. siyung thathit dinulu. wahu Radén Dalem Wiralodra. tyang Cihamis wahu. tiwikrama wahu. kin[n]arubut hing yudan[n]é. mlajeng lir kadya kilat. 16. 93 . Bubar wadya bala sing Ciyamis. kathah prajurit kang pejah. gégér tiyang melayu. dén bujeng hing Dalem Wiralodra. rémah ngrimbyak kéngsér hing siti. 17. prajurit medal sekabéh. mapan sanget bungah[h]ipun. Hanulya tiyang Sumedang mangkin. soca lir kembar srang[ng]éngé. pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a. pangamulya tyang Sumedang. sareng ngrahos mulya sadayanya. Dalem Darmayu mapan sakti. 18. Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis. méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing.

21. “Men[n]awi wunten hidin jeng rama. bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an. dugi hing pawates[s]an. hénggal[l] (k)ang rama hamethuk. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti. 896) berkah …//lumayu. nulya manembah kang putra. nulya pethuk kaliyan kang rama. 19. niti joli lan jempan[n]a. kalih Paman Tumenggung. mlesat han[n]ang gegan[n]a. 94 . “Loh kabener[r]an kulup.” Rama hidin sampun. sarta bakta putrané héstri. kaya priyén musuhmu kaki?” Putra matur hing ram[m]a. mapan sampun bubar mangké. wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari. hawit kuwatos hing nagari. tan prayoga kang jaga. 28a (62. putra bade wangsul mangké. huga musuh[h]é kang rama. Nulya kang putra haris. 20.rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis. Ciyamis lan Kuning[ng]an. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit. kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih. mangka sampun pethuk. kalih Jongka réncang[ng]é.

numpak han[n]ang jempan[n]a haglis. pan samya hormat wahu. hambakta bokor hemas[s]. kahul[l]I pun rama hibu putra mami. han[n]ak hukir langkung hawon. sarta kawul[l]a sekabéh. sedeng hayun[n]ipun. sangking sanget bungah hiréki. 22. hisi harta hemas wahu. handhér kawul[l]a hing ngarsa. cinampur kalih kimtal[l]i. para héstri miwah hibun[n]ira. Punika putra ram[m]a pribadi. tyang kalih sareng numpak. samya rebut[t]an harta. tinawurna wahu harta. Raméh tiyang hamburu. dipun papag gamel[l]an miwah prajurit.“Duh putra sareng nganumpak. lir rengat hing pratal[l]a. miwah san[n]apati hing ngalaga. Sedayan[n]ipun para prajurit. samargi dados tingal[l]an. peng[ng]ulu pun siyaga. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin. Kang putra matur nuwun. 23. sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni. 897) 24. 95 . sareng dugi cin[n]awis[s]an. kanggé jru sapu miwah jru dang. 29 (63.

Marang putra Wiralodra mangkin. mundun sangking palinggiyan[n]ira. hingsun mapan hora gadah. 27. mahéwu héwu kasuwun. bawah[h]an[n]ipun sekabéh. karo hing Darmayu. kanugrahan sih hing ram[m]a. dadi sawiji nagara. Lajeng sadaya[n]ning para mantri. lenggah Dalem Darmayu nagara. hing para kawul[l]a bala.” Nulya sami sesalam[m]an.” 26. langkung sangking sanget katrima. 96 . “Saksén[n]an. “Sarwi hatampi sih[h]é. sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit.Dalem ngandika harum. suka bungah sedayan[n]é. hingkang sareng linggih hing riki. pasisir Kandang[ng]ahur sun pasrahaken hanang putra mami. 25. sangking sih paduka ram[m]a. héh sanak kadang hulun. miwah para ponggawa ngalaga. samya dahar[r]an wahu. Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi. nyaksén[n]i pan sedaya. sangking pangandika mami. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih.

97 . 898) 28. 29a (64. hing wingking mara maru. 30. dateng Dalem Wiralodra. kang garwa putran[n]ipun. hantuk kanugraha[n]ning yang. sedaya pan runtut. 29. rah[h]erja hing laku. kantos hantuk pitung din[n]a. sarta pin[n]aring[ng]an garwa. mapan kinanti kanti tan gingga. Kang lajeng Lodramayu negari para kadang-kadang miwah ranggah. sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari. namin[n]ipun kang putra. nulya pinethuk rawuh[w]é. nulya samiya kondur. kondur néki. sanget hasih hing garwan[n]é. handérék[k]aken sedaya.raméh raméh gé nya bukti. gandék putra sedayéki. kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah. Kang pambajeng mapan Radén Kowi. sanget bungah[h]é hing manah. Garwa Sumedang tan kari-kari. para maru miwah putra. dugi hing pawates[s]an. langkung hasih hing garwa. sanget bungah rama prapti. Radén Timur miwah Sawerdinya.

pambajeng Benggala //Radén Benggali rayin[n]ipun. 31. mapan gangsal kakung [ng]iréki. 98 . 30 (65. sedaya dadi pangkat[t]é. sekalih Raksadiwangsa. Hastrasuta wahu. Puspa Tarun[n]a Patranayéki. pan sekawan[n]ipun. nanging Benggali Benggal[l]a. Hadiwangsa Nayastra. Singawijaya putra héstri. putra kakung hingkang sekalih hiréki. hingkang sampun gumanti lungguh ramekin. jumeneng dalem pangkat. miwah Nyi Raksawinata. pan ginanti wahu. mapan sampun gegarwa. 899) 33. samya mukti sampun. sekawan ling putra kathahnya. hanulya putra héstrinya. Wiratmaja pan wahu. Hapan sampun hapeputra mangkin. Lajeng rama duging ngajal malih. sampun jejeg putra tigalasnya. 32. Radén Sawerdi putranya. nulya wapat dalem ram[m]a. Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki. para putra sadayan[n]éki.Wirantaka sekawan[n]yané.

kang raka kang gumantya. pan handérék pangkersa. lamun hingsun tan dadi dalem puniki. kang raka Radén Benggal[l]a.hingkang gumanti rebat pangkat. Kelangkung sesah para ponggawi. nulya wonten hutus[s]an[n]é. 35. nang[ng]ing kang rayi wahu. gumanti lungguh ram[m]a. Benggal[l]i jeneng niréki. 99 . dalem lungguhipun rama. Singalodra kang pan gagah. Pandebos jeneng[ng]an[n]ya. bagjan[n]én tumekang ngajal. lamun kakang hingkang gumanti. kang rayi sanget kapéngén. sangking Betawi wahu. kaliyan Wiralodra kajenengnéki. limang sasih tan[n]ana dalemnya. pasti hingsun ngamuk. kang dén hutus tuwan[n]iréki. kang ganti kedah rakan[n]é. 34. Nanging rempaggé para ponggawi. pangkat kumendur. wicaksan[n]a punjul. miwah para pambes[s]ar nagara. dadiya dalem lungguh. hambakta satambur soldat. hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi.

mapan tumut handérék hing lahut mangkin. dadi dalem pangkat gumantiya. siyang dalu ngahos Kurhan. mapan pasrah hingsun. dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin. hanulya dumugi hing watesnéki. sekabéh[h]a hing ponggawa. yén mangkon[n]o nurut hingwang. nulya haris pangandikan[n]é. nanging Radén Singalodra.36. lamun mentas hanang Batawiya. karun[n]a para ponggawa. 37. tigang tahun lamin[n]ira. ka Bantarhanak bojon[n]é. nulya kang rayi matur. dateng kumendur tuwan. 38. mapan sampun kesah hander hing ngarsa. kang rama wahu lungguh[w]é. kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin. raka dérék sampun. hing[ng]et rayin[n]ipun. nanging tan hénak hing manah. 900) Radén Singalodra kan[n]éki. prakara hiki nagara. jeneng dadi dalem puniki. 30a (66. kang raka hing Dramayu. 100 . sanak ponggawan[n]ingsun. Nanging tigang nahun lamin[n]éki. Nulya para mantri dén timbal[l]i.

hanyambung[ng]i sabda mangké. Gembruk kalih Toyib. Nyahi Moka wuragil néki. //wolung nunggal hingkang putra pambajeng Dén Lahut. mugiya kandel himan[n]ya. Dalem Wiralodra wahu. 101 . pitulung Yang Hagung. 901) 41. “Sanak mami sadaya nurut hing pasti. yén tan hingething kadang Gusti. Dalem haris ngandika. putra saweg rumébed hing dahar. miwah Trun[n]ajaya tumenggung. hanuwun hing Yang Maha Suci. karsan[n]é Yang Maha Mulya. pan sami ngambung sukunya. Kartawijayastra gangsalnéki.39. hanuwun pangaksaman[n]é. Gandur lan Purwadin[n]ata. bala hing sang[ng]ulun. kang putra Kartawijaya. kagung[ng]an putra kathah ing réki. Nulya sami kondur sedayéki. pan ngahos siyang dalu. Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti.” 40. hanulya Mas Patih Hasrasutanaya. hasanget sakit manah[h]é. hingkang sanget datan. 31 (67. sadaya sangggup hing pejah.

hanulya ngandika rum. Kang Rama dén timbal[l]i Gusti. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin. kersan[n]é Yang Maha Mulya. kalintang sabar manah[h]é. kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti. tulungen hingsun. ngirangi saréh lan dahar. “Paman sahiki jandika. nulya Sunan ngandika. mapan sampun matur. Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang. dateng paman Dalem Wiralodra. cahos han[n]ang kasultan[n]an. kadalem[m]an hapa sayekti. hing setan[n]a buyut héyang-héyang. sultan hing Wiralodra mangkin. Singalodra kanama. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i.hénak hing panggalih. hingsun hangrungu wartos[s]a. hanang Gusti Panembahan Sunan Haji. 42. paman léréh hing lungguh. hing Sultan Cirebon Pangéran. 902) 102 .” 44.” Humatur pan Wiralodra. Sultan sanget welas haningal[l]i. “Sahéstu sinuhun. jam papat wangsul wisman[n]é. 31a (68. 43. karsan[n]é Yang Maha Hagung.

hanang Kartawijayanya. gadah hanak Kartawijaya puniki. Datan saréh miwah datan bukti prawantunya tiyang maksih tarun[n]a. miwah wisma kasagiyan paman. pasrah hing sinuhun. kitab kaliyan kurhan. “Perkara hiku paman. man[n]awi manahé wongan.” 47.” Ngandika sinuhun. nameng nuwun pun hamba. hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki. “Sumanggah dérék karsa Gusti.” Nulya Kyahi Dalem matur. hangwejanga hing para putra kon ngaji. handekuh koncem mukan[n]é.supaya hing kasultanan. sampun cahos hing Gusti ngarsanya. mila nuwun pitulung Gusti. hapan[n] hamba pasrah sadaya. nami Kartawijaya. 45. Tajug balong hingsun siyagi. 46. nulya sinuhun ngandika haris. 103 . Kartawijaya dipun timbal[l]i. pejah gesang pun hamba. kaliyan paman[n]ipun. hapan wis siyagi kabéh. semutan héca hing manah. Hing ngarsa sinuhun.

hanulya hangandika haris. gawanen surat hingsun //kanggo raka hing Panjunan. Panjagahan hing Panjunan sira kaki. “Hanang hing Kartawijaya.” Kartawijaya sampun tampi srat Gusti. 104 . Ratu Mas Hatma hingkang nami. lajeng winahos sampun. sukur pan siréki. 903) 49. kaliyan wayahipun. nulya kadahup[p]ena mangké. Langkung hasih Pangéran ningali. pernah hing Pancagahan. kating[ng]al cakep hing karya. panggon[n]an hanang Panjun[n]an. “Sumanggah habdi doraka hing karsa.” 50. mangka katur hing Gusti Panjun[n]an. Tinampi wahu serat[t]é. hanang Radén Kartawijaya hiking. Sampun lepas lampah hiréng margi. punapa Gusti karsan[n]é. nulya kondur sangking ngarsa. “Hiya hingsun hidin[n]i kaki. bareng ngapan karo hingwang. sun hangkat dadi mantri wecalang kaki. Kartawijaya matur hing Gusti. 32 (69.” Sultan ngandika harum.” 48. sahiki pan hawak[k]ira.“Hé Karta siréku.

prajurit kawan das[s]a. wisman[n]ipun wahu. 105 . “Hanang para ponggawan[n]ira hiki.raméh siyang lan wengi. sepi kang negara. lamun hora suka. Ki Dalem nulya ngandika. gamelan mapan gumpul. 51. hinget[t]é hing ngakérat. mantri patih lan dalem. tiyang halit suka n[n]ingal[l]i. sanajan sadulur //tuwa. hora pantes dadi dalem kaki. maturut préntah hing nabi. lamun jagi hing wates Darmayu nagri. 904) 53.sukangnya. 32a (70.” Surak mapan gumuruh. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin. samya sukang sampun. 32a pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki.jumeneng hana hing Panjunan. lagi pésta raméh raméh. hadat santri hiku. mapan kiyahi Dalem Singalodraka. 52. raméh. Duk dalem mékang hanang riki. wedi dos[s]a hagung. Mangka wonten malih kang winarni. manggén wonten hing kajaksan. hangsar suci pan hatin[n]é. kabéh ponggawan[n]ingwang. wong santri cilik hatin[n]é.

yén kirang senggak[k]é mangké. nayaga dén siram lan wari. sodér kinipaletu nulya. gagah tur habagus. Hingkang sugih banda kayan[n]éki. datan kiyat jagan[n]é. lagi sedeng ngatur karya. hanjenengi dalem mangké. nulya wapat dugi hing jangji. tiyang halit kalangkung susah hiréki. hingkang gumanti putranya. 106 . sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki. dedeg sedeng hapideksa. patih Hastrasuta kuliling. 54.satingkah polah Gustinya. sodéré cindé kembang. langkung rusuh rerampoggan. lami pan tigang nahun. 56. Para mantri sami hangepok[k]i. hanjejeképak wahu. nayaga mapan raméh senggak. wahu Dalem Singalodraka. pan Radén Semangun. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami. hupacara siyang dalu. rinampog déning para durjan[n]a. kathah tiyang pin[n]atén[n]an. saholah nyahambek pura. 55. lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti.

nanggung hang ngalaga. 107 . putran[n]é Purwadinata. langkung pitung hatus. Biyawak Jatitujuh. 58. Kyahi Betawi hika. Bantarjati pernah[h]é. Miwah para sénapati jurit. Bagus Rangin Surapersandanéki. wunten malih hingkang warta. langkung susah ribut[t]é hanang nagari. juragan[n]é Bagus kandar. pan seling Rangin putran[n]é. kadang misan[n]ipun. sesek kathah[h]ipun tiyang. 57. pangawakan[n]a wangganya. para putra putra sadayanya. Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin. 33 (71. saking Kandang[ng]ahur. 905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a. hanggén[n]ipun pésta tetanggapan.hanggén[n]é jaga durjan[n]a. mapan misan[n]a niréki. tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis. Dén Nuralim wahu. 59. Siyang dalu raméh raméh mangkin. Tiyang ngeraman sampun siyagi. Bagus Léja lan Sén[n]a.

hobyok pedang hérmas //sérét kuning. jumagi hanang wates[s]a. hageng hinggil meden[n]ya. 906) 62.tyang dugi saban din[n]a. bedil tulup lan keris. mapan rempag sedayanya. ngandika hing kanca prajurit. bénjing hing Darmayu. 108 . jolén miwah tumpak[k]an. siyagi tumbak bedama. rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki. pan dateng Darmayu nagari. nganggé pakéyan tamtama. kathah tiyang ningalan[n]a. sarwi matur sumanggah hing karsa. kulit kuning wahu. 60. kornélnya hanang ngayun. 61. hatinjo kadang kula. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin. datan hénak halungguh. hangrempug badé nempuh. 33a (72. Kanca-kanca kang para prajurit. mapan Radén Wiralodra. pan Kartawijaya hanenggih. Lajeng ngaben lampah hiréki. hanempuh Darmayu. sareng hénjing budal mangké. “Héh sanak kula sadaya. mapan Radén Kartawijayanya.

putra sareng dulu(r). samya kagét para prajurit. Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki. hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki. huwa Kartawijaya. sinelek lampah hipun. datan bis[s]a nyepeng mangké.hamireng surak mangambal[l]ambal. wani temen hangrusak hanang nagari. 64. tias[s]a ngamba gegan[n]a. karun[n]a dateng harsan[n]é. “Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun. Kartajaya ngandika. langkung resak[k]ipun nagari. miwah putra sarta sénapatya. campur kaliyan senjatos. miwah para putra putra. ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata. putra putri sangking Banten kang nagari. kénging wicaksan[n]a nipun. sapa prajurit nama?” 109 . lajeng methuk Radén Kerstal. “Duh rama huwa nuhun. kalih paman patih Hastrasuta. héstri warninipun. kathah resak para ponggawi. 63. Para prajurit hing Darmayu mangkin. punika Ciliwidara. hiki musuh rebut hapa.

sumanggah raka hing karsa. malah putra rama mangké. miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal. 34 (73. bade hing rebat nagara. dén panah si Ciliwidara. nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi. Nulya ngrangkul kang raka tumuli. 66. nulya pangkat wah[h]u. miwah raka Suryawijaya. sarwi karun[n]a sesambat[t]ira. Nyi Ciliwidara kang nami. langkung sakti Ciliwadara puniki. Ciliwidara hiku. mapan kambi raman[n]ira. bésuk iki sun candak[k]é. malebet hing padalem[m]an. 110 . hingkang rama medal toya waspan[n]éki. hanadah[h]i yudabrata. putra raka kathah lampus. tan kuwawi hulun. ngangken putra Kentanagara. kathah kang sami lampus. Dén Dalem Wiralodra. Héh Kang Rayi Hastasutra patih. nulya sanget dukanira. pan kénging musuh han[n]ekan[n]i. sahiki ram[m]a harep kapanggih. 907) 67. Suryaputra Sruyabrata néki.65. hangemas[s]i wahu. “Duh raka pitulung mangké.

hanulya sesumbar hénggal. 69. wong siji wani musuh. bendéra tinarik hénggal. 908) duméh sira punjul nganihaya lampah cidra. Sarta bendéné pinukul haglis. Kartawijaya jeneng[ng]é. 34a (74. pan cakep yén tiningal[l]an. sira Ciliwadara hanjing. 70. mangka Ciliwidara miyarsa. kadiran wong hayu sira. hananding kadigdayan. 111 . pan[n]ah miwah bedama keris. wadyabala ponggawa putra prajurit. prawantu tiyang hayu. hénggal dangdos busanan[n]é. Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i. sareng hénjing binaris[s]an. han[n]ang wong Darmayu. Ketambuwan sira hing mami. hiki sadulur hingkang tuwa. wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami. gelang kalung kilat bahu. pan kalih wong sanegari. kakang tanding hing ngayuda. manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing. wani hangrusak Darmayu. sapira habot saktin[n]é.68. lan sa[pa]mapaging yuda.

Hanulya mentang panah hiréki. yén niba hanguyun.” Radén Kartawijaya mangkin. hobah bebalung ngira. tibakna han[n]ang hingwang. maka hangandika hasruh. suka haningalan[n]a. hudreg pedang-pinedang.men[n]awa tambah ta sira. 112 . hapa han[n]ang siréku.” Ciliwidara dén luket[t]i. 72. sarwi hawecan[n]a dén priyatna. “Nyata prajurit siréku. ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang. 71. pancén wong sendek humur[r]é. hénggal wangking pedang[ng]é. hangrahos peteng hing paningal. kang haran si Belabar Gen[n]i. Méh san[n]alika tiba hing siti. tiyang surak lir kadya rengat hing bumi. rasané panah hingsung. 73. pan hénggal linepas panah ngenan[n]i. sundel dayang humbaran. sekalih pan punjul. hanang getihyé manus[s]a. manah datan mindowa. tan wonten hasor hing yuda. kurang tata perang mangké. “Héh pan Kartawijaya siréki.

miwah putra putra sadaya. satingkah polah[h]ira. hanggén[n]é musuh Kartawijaya. IX. pan cinandak sampun. medal tiwik[k]raman[n]ya. siyang miwah dalu. Ciliwidara datan kuwawi. hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi. Mapan samya pinanggya. 113 . SINOM 1. 909) 75. samusnané Nyi Ciliwidara. pan miwah putra nonoman. sirna datan karuwan. nulya Dén Kartawijaya. 74. Ciliwidara hambekas hana hing bumi. kalih kang rayi pepatih. Kartawijaya cuwa hing galih. saya gumareget hagalih. kén[n] jumagi wahu.mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i. pernahipun hical Nyi Cili. kang raka kalih kang rayi. Kartawijaya wahu. dén hédek hanang pratal[l]a. ngandika hing prajurit[t]é. mapan samya dén jaga. 35 (75. langkung hawrat kasaktén[n]é.

nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka. han[n]anging sejaning raka. sangking berkah raka wahu. bade wangsul pan rumihin. 2. sadaya cahos hing ngayun. hawit hanglancang[ng]i Gusti. 114 . lah kados pundi hing karsa. ngaturaken kasusah[h]an. Kang Raka haris ngandika. menawi kasoh rumihin. lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara. mila kasuwun pun rayi. 910) 4. miwah putra pan sedaya.” 3. dateng rayi hing dalem katuran lenggah. “Kabegjan makethi-kethi. mapan lagi mangun jurit. tan seja raka habantu. hing rayi kang yudabrata.Kang raka haris ngandika. “Tak tarima karsa rayi. datan huning[ng]a yén susah.Hastrasutra jenengnéki. héran pisan Ciliwidara digjaya.” 35a (76. kersan[n]é Yang Maha Mulya. resak[k]é hingkang nagari. “Duh Yayi Mas [s]asih basuki karsan[n]é Yang Maha Widi. raka hénggal hangrawuh[h]i. Kang rayi matur hing raka. hénggal Si Kakang harawuh. mila bade matur Gusti. hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki.

” Nyi Jaya humatur haris. Sedaya sami rangkul[l]an. nulya hangiring lumampah. dén jaga ponggawa rayi. jagan[n]é hilang[ng]é wahu.5. “Duh Gusti hatur duduka. hing panjagahan kakang. “Duh bagéya janur gunung rayi prapta. sarwi manembah hing ngarsa. 7. hanang Garagé nagari. jumerogjog hingkang prapti. 6. han[n]ang pernahé hing musna. 8. para putra ngabekti sami. malebuh[h]ing padalem[m]an. man[n]awa malebu Rayi. hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara. 115 . patih Hastrasuta mangkin. kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya. Sareng nuju dinten Jumah. Nyi Jaya cahos hing ngayun. “Ponggawi dérék sang[ng]ulun.” Nulya bibar masing-masing. Prawantu wong wicaksan[n]a. dumugi han[n]a hing jawi. mung rayi kang hatiyati. Tak kira han[n]a sukarya. saweg sinéba kang raka. Bade matur kasahéstu. Kyahi Dalem ngandika haris. hanulya hénggal lumaris. katiwas[s]an habdi Gusti. Dalem Wiralodra mangkin. sanget sampun duka Gusti.

tak tarim[m]a sedyanipun. sukur bagja sira yayi. déréng wangsul wisma habba. pan habdi kaperdi Gusti. sahiki nembé hadugi. nanging kekah pan kahul[l]a. “Habdi dén pethuk hing raka. Nulya manembah hing ngarsa. 11. dadiya sawiji bénjing. Kyahi Dalem hangandika. wis rayi hénggal mundur[r]a. sampun kathah tiyang prapta. tan niyat cidra hing Gusti. 116 . “Manah rayi sun hidin[n]i. datan seja bade tumut (ka paduka). hantawis sanambang Gusti. humatur kasuwun Gusti. lan sun halih nama Resik Sira Jaya. 911) Kyahi Dalem hangandika. sangking Bantarjati habdi. dumugi hing hanak putu. bade tumut nyusup habdi.” 12. bade ngraman hangresak nagri paduka. sedaya manggah hing karsa. kadang kadang habdi Gusti. Darmayu badé karesak. kumpul damel tarub hagung. hénak[k]a hing wisma rayi. mugiya satrun[n]ira.36 (77. humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira. 10. 9. jaga pati saksi habdi. kalih turun-turun mami.

sayagi wonten tiyang ngraman. 117 . “Punapa kang raka patih. hing dusun han Bantarjati. hawit hing wawengkén Gusti. dadiya kawruh wan[n]ipun. mangka hangandika patya. Jiwasuta kang prajurit. 36a (78. 14. lenggah hing paséban jawi. Sutamarta Tum[m]enggung. miwah Wangsatrun[n]a wahu. Hénjing miyos hing paséban. ngandika hing kakang patih. kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman. sadaya kang sun timbal[l]i. 15. siyagi para prajurit. yén kedah tinangken wahu. Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang. 13. sasat musuh[h]an dateng[ng]i.mapan Kiyahi Wiralodra. Kang Gusti nulya ngandika. “Kados pundi kakang niki. Nanging samakta hing yuda. humatur pan kakang patih. kathah kang para prajurit. punapa kakang hing karsa. hatur[r]é Nyi Jaya wahu. Trun[n]ajaya hingkang rayi. ngempel[l]aken ponggawa. sentan[n]a prajurit mantri. 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya. pan Tanujiwa kang raka. miwah sesang[ng]oning tiyang. “Duh kadang-kadang prajurit.

konca mawi cindé kuning. pancén gagah dedegya mapan sumbada. Samargi dadi tongtonan. sinonthé keris hing kanan. hing ngampléh kang wunten kéri. budal[l]é hing Jatitujuh. 16. samakta siyagi jurit. wédang miwah dadahar[r]an. demang rigah para harya. pakéyan mawarna-warna.karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa. kuluk hérmas hinten murub. sampun kirang pan sayagi. pun[n]akang dadi biyas[s]a. Nulya kondur ring paséban. prawantu gagah jatmika. pati(h) Hastrasuta mangkin. kawula samya siyagi. hulesna pas gambirah gagah hing yuda. hing ngiring para prajurit. 19. Bendé muni samya mudal. 913) 118 . Kula hatur[r]i pan sedaya. 37 (79. 18. bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i. bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal. pajun[n]é tiyang ngajurit. Gustinya niti turanggi. nyangking pedang tumbak//duhung. sedaya niti turanggi. hupacara para mantri. tyang dusun hanyiyagéni. prawantu mriksa berandal. 17. miwah sakéhéng prajurit.

saweg sinéba ponggawa.miwah tetabuh[w]an mangkin. 22. mapan para sén[n]apati. Bagus Serit jeneng néki. Bagus Seling hingkang putra. sadaya tiyang ningal[l]an[n]a. kasebat kang pinituwa. kados pundi gelar niki. miwah kadang putra mangkin. gegedén hing Kandang[ng]ahur. kang wunten hing Bantarjati. 20. Bagus Rangin hangandika. Sumanding Surapersanda. “Hanang paman kadinéki. hing tembé huninga hing Gusti. hutawi hinurug mangkin. miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar. sénapatya sedaya putra Mayahan. miwah Kyahi Betawi. Pan lajeng hingkang lumampah. pengagung Ki[ng] Bagus Rangin. raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an. sampun cekap bala wahu. tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak. miwah para sén[n]apati. klapa dugan saban pintu. kalih hingkang paman wahu. Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari. Sadaya pepek [k]ing ngarsa. punapa pan kintun serat. 21.” 119 . sarta Bagus Pangiwa. sarta pan Radén Nur[r]alim.

“Duh bagja yén mangkonowa. lah gelar[r]é kados pundi.” Nulya matur rama mangkin. Dalem Darmayu rawuhnya. kedah mangké dinten Kemis. kinten pangkat dinten pundi.23. Hing Jatitujuh pernahnya. napa wangun baris hagung. “Leres taya putra mami. 37a (80. kula hatur[r]iki kang sabar. 24. kados hapes hing ngajurit. gangsal dasa sasak siji. ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a. janur miwah godong wringin. sarta manawi palengkung[ng]an. sukur bis[s]a hanekan[n]i. pajun[n]é mapag hing jurit. kaleres[s]an tanggal[l]ipun. Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda.” Bagus Rangin ngandika haris. Saban sasak jinagiya. pecalang cahos hing ngarsi. Bagus Serit hangandika. héca hanggén cacatur[r]an. “Duh putra sedayan[n]iki. “Kados pundi lampah[h]ipun. nanging putra sahé baris kahormat[t]an. putra dérék karsa ram[m]a. lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?” 25. Sing lér dugi ning mingsah. 120 . 26. pinangka hormat [t]ing Gusti. 914) Kemis Kaliwon puniki.

38 (81. hangdalem sasak satunggal.tin[n]aro prajurit telu. sampun lintang kinten tebih. yén kuda miwah ponggawa. kanan kéri pan bendéra. 28. 27. gamelan[n]é siyang wengi. 29. gelar wang rampoggan mangkin. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan. sakanca berandal mangkin. hanggeber wonten hing wari. limang puluh balanéki. Rampung bedami gelar[r]an. kalih paman Bagus Serit. Samya damel pasanggrahan. gampil hingebyak[k]an bala. samya ngatur gelar wahu. siyang dalu tetabuh[w]an. nanging samaktaning jurit. sampun bedami pesagi. 30. sampun //bibar samakta bala sedaya. 915) 121 . Supaya wangsul[l]ing kuda. raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an. nulya kadang-kadang néki. siyagi tyang kasémahan. hénggal sasak binubrak[k]an sedaya. kang sinigeg bala Darmayu punika. ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun. Bagus Serit hatur[r]an[n]ya. siyagi pethuk pangagung. ram[m]éh raméh kang prajurit. damel tatar[r]uban mangkin. mapan tiga prajurit néki.

sumanggah sakarsa Gusti. bedil tulup lan suligi. samya kempal pirempag[g]an. hulem cemeng kudan[n]ipun. kahutuskén mriksanana. “Tak tarima sanak mami. raméh gamel[l]an hang Rangin. pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman. nulya ngandika Ki Pati. Sareng hénjing samya budal. “Punika katingal Gusti. mung mengko sabalik mami. Hastrasuta pan prajurit. hing ngendi pernah[h]é wahu?” Humatur prajurit tiga. suka ta [h]hangormatan[n]a. hing ngiring para prajurit. mapan kén methuk sang[ng]ulun. 32. sareng dugi pawates[s]an. 38a (82.” 33. samakta kaprabon[n]ing prang. Ki Patih niti turanggi.hing Jatitujuh gén[n]iréki. Sedaya pan hasung hormat. 31. mapan sakti hing prang pupuh. habdi sampun siyagi men[n]awi kersa. Ki Patih nulya ngandika. palengkung[ng]an bandéra baris hing marga. kran[n]a hiki lampah gelis. rawuh[h]é Gusti jantika. nulya manembah tur nyaris. 916) “Duh Gusti habdi //puniki. hanang dusun Bantarjati. 122 . hingkang lajeng paman patih.

nulya héstu kang sayekti. Nulya patih hameriksa munggur ngarsa. hanungsi hing Bantarjati. malebet[t]ing tarub mangkin.bandéra bang sérét kuning miwah pethak. hing ngobar tan[n]ana kari. sampun tebah[h]ing kang lampah. PANGKUR 1. prawantu ngormat[t]ing Gusti. 2. ké mriksa béja hing warta. patih miwah para mantri. 123 .” 34. hingkang sami makuwon hing riki. déning pada siyaggi kaprabon jurit. Nulya lajeng hingkang lampah. bendéra lan humbul-humbul. nulya samya lelinggihyan. raméh gamelan tinabuh. “Héh sanak kula sedaya. 35. “Lah kados pundi gelarnya. gelar[r]é tiyang ngakathah. mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an. mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun. handeder hingkang turanggi. han[n]ang pasanggrahan hagung. nulya sasak binubran[n]an. salaman sedayanéki. surak kadya hurahan. miwah samya ngormat[t]i. X. Dén papag prajurit kathah.

” 124 . mangsa wediya pan hingsun. lan mengko[s] sengsara wahu. sampun dén turut[t]i napsu. mapan wirang yén mundur[r]a. ngisén[n]i sira cangkem berandal babi. “Lamun kénging sadaya pan sanak sami. 3. hanang rupa wong nagara hing siréku. manggih susah kasengsara hing Yang Hagung. 917) tumbak perampoggan wahu. tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun.” 6. yén datan kacekel sira.39 (83. Dramayu hing dalem mangkin. kran[n]a nagari hing mingkin. “Héstu bade hangresak[k]a. 4. Sanajan cilik rupan[n]ya. taling[ng]an kadya sinebit. “Loh Rangin celathu[n]nira. Nulya ki patih ngandika. hanang Gusti nagari Dalem Darmayu. pan seja bade hing resak. haku tan harep kon mundur. mapan luwih werat sesanggan[n]éki. //punapa hingkang sinedya.” 5. tem[m]ahan pan dadi rusak. prawantu kang yan[n]a patya.” Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur. wong musuh han[n]ang negari. yén kénging kula penggah. Ki Rangin humatur sugal. lan hora gila tumingal. sakéh hanak putu[n]nira. “Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih.

Sareng sampun jam sedas[s]a. Para mantri pan jumaga. “San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki. Bantarjati lan Biyawak.Ki Patih medal hing Jati. patih Hastrasuta duduwa din[n]éki. datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu. haja ngrangseg sira maju. 9. sapa marah hasrah pejah. 125 . pan kathah musuh nya lampus. Nulya Kyahi Serit ngandika. kira dalu sun hebyak[k]i. haja kosi bis[s]a medal. tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira. pan datan tata paju[n]né hing ngajurit. surung-sinurung pan wahu.” 10. hangantos samangké wanci jam sapuluh. jam nenem sonten hing wanci. kaliyan Ki Yan[n]a patya. sedeng peteng tan katingal. 39a (84. nulya dén hebyuk[k]ing jurit. siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku. 918) Prawantu perang berandal. 7. para kadang maju haprang sedaya kasor hing jurit. 11.” lawanen hundur-hundur[r]an. 8. tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati. “Loh hanak kul[l]a sedaya. ki Rangin werat tanding kaliyan pati. ngandika Ki Serit wahu.

dipun byakta hing tiyang kathah. 15. Nulya ki Serit tumandang. sampun ngrahos datan kiyat. langkung ribut prawantu prang dug hing wengi. salin bus[s]an[n]a hacampur. Datan huning[ng]a lor wétan. para mantri pan melayu. pan hingsun wis hora kuwat. 40 (85. lor wétan[n]a prawantu wengi. mapan kénging nulya lampus. namung patih Hastrasuta. hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh. prawantu tiyang berandal. mapan sampun hancur kuwandanné wahu. kinepung buwaya mangap. 13. nanging bala Kulinyar. kang dén prih pejah[h]iréki. Sinareng sampun waspada. Wecan[n]a sajron[n]ing manah. perang karo brandal kinarubut. 919) 126 . dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking. mapan datan dén praduli mlayuning pun. “Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi.” Ki//Serit medal hing wingking. tiban[n]é tumbak lan keris. hambélan[n]i hing nagara. tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu. bade mlajeng tan huning[ng]a. sampun payah Hastrasuta. 14.hangebyuk[k]i perang pupuh. jamak[k]é ngawula hingsun. ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki. 12.

sampun dugi hingkang Gusti. kinepung hing tiyang kathah. 18. dén sangguh brandal nekan[n]i. 127 . Samya prang han[n]ang marga. sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun. 20.surak lir rengat[t]ing bumi. kathah malih dugi hing tarub hagung. sarwi handras mili[h] kang luh.” kang Gusti ngandika haris.” Hanulya bibar sadaya. mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung. kinerocok hing payudan. Sareng hénjing nulya bibar. “Héh mantriningsun sadaya. pan raka dalem paduka. dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin. Duginé han[n]ang nagara. “Katiwas[s]an habdinipun. yén mangkono becik hingsun pada balik. para garwa miwah kadang-kadang néki. prawantu tiyang berandal. sarwi nangis melas sasih hing Gusti. makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki. nulya lajeng hing lampahnya. 19. 17. dén bedil pamayung[ng]ipun. sampun dugi hing nagari. mangka mantri kang lumajar. 16. Humatur hanak[k]ing ngarsa. sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus. samya nayub raméh wahu. pejah wonten hing marga.

pan sarwi hasesambat. patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh. Gégér gumuruh karun[n]a. sarta kadang-kadang[ng]ipun. hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu. hantuk ngrayah saban dusun. saban din[n]a matis minda kebo sapi. mangka hanang dalem pati. hora panjang yuswa kakang. sedaya karun[n]a wahu. para garwa miwah putra-putran[n]éki. “Duh paman kula nuwun. prawantu berandal dés[s]a. Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki. sampun lat lampah kula. kakang patih hangemas[s]i. siyang dalu dedahar[r]an. Raméh-raméh gan tayub[b]an.samya methuk jawi pintu. sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti. berandal hing Bantarjati. wunten malih kang winarna. Dateng hingkang rama paman. 40a (86. 21. sareng malebet hing wisma. “Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun. pan hing[ng]et hing sengsarahnya. 920) puniki pan katiwas[s]an.” 128 . Ki Rangin hangandika haris. rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu. hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun. 23.” 22. Hingkang garwa miwah kadang. 24. miwah kadang-kadang kula.

Samargi-margi jogéd[d]an.Sedaya sumanggah ngiring. 27. tumbak keris miwah komprang sarta penthung. hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati. han[n]a kang sarowal[l]an. Sareng hénjing samya budal. miwah Héng Jin lan Ti Yang li. mapan samya habénjang. 29. prawantu lampah hing bangsat. 129 . conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub. turut marga hangrampog[g]i saban dusun. mikul lanték hisi beras. masing-masing gaman[n]ipun. hutawi samiya cangcut. sandang[ng]an[n]é mancawarni. hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin. Poléng gunung poléng Jawa. kebo sapi néki niring. 28. sagadah-gadah hing tiyang. satingkah-tingkah pan wahu. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a. hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi. 41 41(87. 26. sadaya pan ngajigjaya. hana hingkang nganggé clana poléng tapih. 921) miwah bendil lang sasisih. Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru. surak-surak hing margi samiya ngibing. Sareng duging céléng dés[s]a. bedil gobang miwah pedang. 25. hanak rabi hing Darmayu. hayam manda miwah harta.

130 . Sareng ngrempak kulya pas[s]ang. kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun. “Loh kang hurang dadi brandal. Mung sobat waktu samangkya. nanging hinget sayo sobat. 30. Sedaya miréh berandal. prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun. miwah nyonya Cin[n]a néki. tak jaluk sukan[n]é sobat. hibur palayu ning jalmi. lebur brandal kathah lampus. 31. bade ngrayah barang harta. pan hingsun hora hangrusuh.Cin[n]a babah kalih baru. hing ngamuk para Cin[n]a. hapa hora hing[ng]et salang wosé batur. “Mangka hingsun hanepang[ng]i. Bah Kwi Béng sareng handulu. waktu hiki hajala sanak mami.” Wecan[n]a Surapersanda. 922) hatawa seja hanglanat. dén hamuk hing para Cin[n]a. para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki. han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun. 41a (88. hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin. 32. mung[g]uh bandakaya sobat. wah kang hurang cuwa hingsun. mangsa dén rusak[k]a hiki. nulya Bagus Surasa Persanda nepangi. mapan hiki sabatur seja halampus. yén hora handeleng dika. 33. nulya berandal hangrempak.

34. kang hurang gawé melarat. 42 (89. Jarih Gan[n]a pada mélu. Nulya tetabéyan Cin[n]a. pekakas kurang santos[s]a. prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu. 923) hana hingkang hanger//rayah rerampogan hangrayah duwit. siyang dalu tetabuh[w]an. harep ngrebut nagara Darmayu hiku. seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu. kalih Bagus Surapersanda mangkin. hantawis kathah hing tiyang. pengabaran dugin[n]é hing para jalmi. 131 . 35. gawé hibur hing negara dika hiki. rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit. Langkung sesah tiyang perdés[s]an. Gumuruh han[n]ang Mayahan. 36. 38. Lan kapriyén pikiran dika. nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun. pitung nambang tiyang dugi. damel pasang[g]rahan mangkin. bubar hing Dramayu lampah. Ki Rangin matek pikirnya. sangking kathah tiyang wahu. tiyang hingkang samya prapta. hing hawak dika pribadi. makuwon hing pamayahan.kang hurang pan sampé becik. sadin[n]an[n]é telung puluh. 37. para Cin[n]a kondur wahu. mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin.

yén hayu rabi[n]nipun. dipun rayah kebo sapi miwah wedus. 39. 1808. 40. han[n]ang negri Batawiyang. mila sanget kasengsara. Mangkan[n]a dalem punika. langkung resak tiyang kathah saban dusun. berandal para bagus[s]an. ki Dalem hunjuk lan surat. Lan benci hanang tiyang jahat. kang ngasta dadi gupenur. yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu. susah[h]é saban nagari. 132 . hangrerayah saban din[n]a. sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin. lan suka hambantonara. resak kawul[l]a sadaya. kawul[l]an[n]é nuwun tulung. hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin. panjeneng[ng]an Dangles mangkin. tan perdul[l]i kancan[n]ipun. langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung. hing mayah[h]an pernah[h]ipun. sesambat[t]é hanang Gusti. lamun kénging trus pintén[n]an mangkin. 42. 41. guperur jéndral Batawi. Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral. Haduh Gusti kawul[l]anya. samya tinuron[n]an. malah kathah soldat[t]é sinebar wahu. hadat[t]é Dangles punika. hora wirang gawé sakit.

yén tan nurut hajindanya, mapan pinotong pribadi. 43. Hanulung pertulunganya, réning brandal langkung kathah hingkang dugi, 42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur sarta kirim bal[l]a soldat, tinindiyan kaliyan kumendur lahut, Tuwan Postur namanira, sing Hing[g]ris hasal Welanda, 44. Kéng ngéndi bedami brandal, pura-pura dihangkat dadi bopatih, ma[ng]pan nagari Darmayu, pan kagung[ng]ane pun jéndral, hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu, supaya dadiya bubar, bala berandal puniki. 45. Saradadu miwah Tuwan, sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin, sarta pun bedami wahu, dalem pan sampun pasrah, hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut, héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an, tigang[ng]atus soldatnéki, 46. Supaya haningal[l]an[n]a, para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin, bedil pedang miwah hangkus, pinilih rata dedegnya, hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun, ginotong mimis pekakas, miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,

133

sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin, supaya brandal handulu, tingkah polah[h]é tiyang perang, tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu, sareng dugi hing Mayahan, kagét brandal haningal[l]i. 48. Nulya matur hing juragan, lamun wonten saradadu handugén[n]i, hambakta samaktan[n]ipun, pekakas hing ngayuda, 43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun, kapethak kaliyan Tuwan, Tuwan Delér bis[s]a Jawi. 49. Tetabéyan Delér Tuwan, kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. Tuwan Delér ngandika rum, “Héh Bagus Rangin jandika, sampun hajri mapan kula dipun hutus, hing Tuwan gupernur jéndral, kuwas[s]a negri Betawi. 50. Saréhing dalem masrahen[n]a, negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin, dadi hingsun dipun hutus, kang[g]o hambedami kula, mapan dipun Sowak nami, dalem wahu, lamun kersa hajandika, kula hangkat demang mangkin. 51. Mung[g]uh kadang sadayanya, kula hangkat dadi mantri jurutulis, kuwasahan sami wahu, saperti dalem pangkat.”

134

Bagus Rangin matur trima kasih hulun, yén makat[t]en legang manah, sedaya dipun salin[n]i. 52. Pakéyan laken sadaya, clana laken krambi laken topin[n]éki, mawi pasmén mas murub, Tuwan Delér pan siyaga, nulya raméh tabuwan humyang gumuruh, pésta hangéstréni demang, Demang Rangin para[ng] mantri. 53. Pamayahan kademang[ng]an, siyang dalu berandal tayubban néki, ngikat jeneng demang wahu, suka-suka gé nya pésta, sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung, dén hiring mantri sadaya, pakéyan sangking Betawi. 54. Tiyang kathah ningali Blanda, 43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki, bedil pedang miwah hangkus, saban soré hajar perang, kornél hajidan sersan lan sardadu, hajar bedil miwah pedang, berandal kathah kang balik. 55. Lamun dalu pada ming[g]at, sarta kathah hingkang sami kirang neda, prawantu tiyang kathah wahu, badé ngrampog panji nagara, tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus, nulya Delér kirim surat, hing Dalem Darmayu mangkin.

135

56. Sadiweg gédén tangkeppa, mapan dalem sampun tampi serat néki, gelar[r]é Delér puniku, nulya dalem kintun serat, dateng raka Kartawijaya puniku, hing Gragé ponggawa sultan, serat[t]é sampun dén tampi, 57. Sareng winahos kang serat, lamun rayi Hastrasuta mangkin, neng[g]éh paman sampun lampus, pinejah pan hing berandal, sapunika berandal jinaga wahu, dateng Wlandi kumendur Tuwan, pin[n]angsraya sing Batawi. 58. Hénggal Paduka Jeng Raka, rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi, Kartawijaya habendu, nulya matur hing sultan, sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun, Gusti Sultan hamiyarsa, nulya hangandika haris, 59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya, hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin, yén ken[n]a bandan[n]en wahu, lamun kekah pin[n]atén[n]an, 45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu, sarta sira Radén Wel[l]ang, bareng kam[m]i Karta mangkin, 60. Karta miwah Radén Wel[l]ang, mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti, sultan hangidin[n]i wahu, manembah kondur sing ngarsa,

136

medal jawi bendé tinitir pinukul, prajurit siyagi nulya, samakta kaprabon jurit. 61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika, “Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit, sahiki pangkat siréku, karo hingsun raka Karta, seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh, hing Mayahan pernah nira.” hénggal pangkat Radén kalih, 62. Lan gawah kancanira, hing pinilih sakethaha sapara prajurit, mapan sampun budal wahu, pangkat prajurit sedaya, sampun dugi prajurit hanang Darmayu, pinang[g]ya rayi lan raka, kang rayi hangrangkul haglis, 63. Hanangis dateng kang raka, mapan hingat hingkang sampun lampus pati, Kang Raka karun[n]a wahu, sarwi hangandikanya, “Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu, wapat Yayi Hastrasuta, tan mundur kakang ngajurit.”

XI. DURMA 1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang, pan sampun siyagi jurit, sadayanya ponggawa, gambirah mantri sedaya, pan bade béla hing pati,

137

hingkang pun séda, Dén Nastrasuta patih. 2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan, tumbak pangrampog[g]an mangkin, 45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya, mapan hingkang ngarsa, dalem kalih rakanéki, miwah Dén Wel[l]ang, putra Panjun[n]an selir, 3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan, Rangin mapag hamiyarsi, lamun dalem handugya, samakta kaprabon[n]ing prang, hangras[s]a ginelir mangkin, hing Delér Tuwan, mapan kinepung mangkin. 4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga, miwah hing kulon prajurit, sampun pengkuh barisnya, berandal hana hing tengah, hing kidul bala Betawi, Dén Wel[l]ang neng[ng]ah, maran[n]i berandal mangkin. 5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya, hayun-nayun[n]an pinanggih, kaliyan para brandal, mapan hangandika sorah, “Héh Rangin hanjing siréki, sira berandal, nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,

138

sugal hing wecan[n]anéki, “Héh hingsun dipun gelar, hing Delér Tuwan punika.” Hanulya mangsul[l]i mangkin, hing Radén Wel[l]ang, “Mapan tan gila hawak mami, 7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira, mangsa gingsir [r]awak mami, kadir[r]an sugih bal[l]a, mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.” Sén[n]a habandak tumuli, hing Radén Wel[l]ang, sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda, datan ngang[g]é tata mangkin, prawantun[n]é berandal, kadya ngepung satoh galak, pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit, hang[g]én[n]ing prang, hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga, kathah brandal hingkang mati, kang kénging dén belagbag, hing para mantri sadaya, kantos kasaput[t]ing wengi, hang[g]én[n]ing haprang, Rangin sakadangnéki, 10. Mapan sampun miruda sangking payudan, hénjing bendé tinitir, Rangin sampun tan[n]ana, sadaya sami miruda,

139

datan kamot[t]a. mapan putus[s]an pun dugi. sampe pinang[g]ya. binuwi berandal haglis. sakéhéng berandal mangkin. han[n]ang Darmayu mangkya. bade kintun srat. 140 . mapan kinirimna. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral. sedaya kén maténi. kadrél hing jero buwi. perkara berandal mangkin. sakéh[h]é pengagung mangkin. 13. miwah kondur sadaya. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala. berandal kon dén ilar[r]i.Dén Welang ngandika mangkin. hing karsan[n]ira. “Hanang jéndral Batawi. 11. “Héh kunyuk berandal. sampun hing ngedél[l]as sadaya. 14. 12. hingkang han[n]ang buwinya. hing Darmayu hiku kumpulnya. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna. wedi mati sira hanjing. hingkang sampun kacandak. salebet[t]ing buwi hika. Mapan sampun binalagbag bala brandal. han[n]ang Betawi mangkin. hantawis nem hatus mangkin. hanang jeron[n]ing buwi.

hing lampahira. Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing. 141 . Mapan sampun baris tugur para brandal. 46a (96. Hangandika Rangin han[n]ang para putra. saradadu Dén Wel[l]ang. sareng wonten wartos malih. 19. Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya. 930) //pan bubar sedaya mangkin. kang nanggung yuda. “Haduh hadi datan nyan[n]a. hantawis sanambang tyang. sarta Radén Welang mangkin. 16. brandal Luwi Séhéng mangkin. pan hitu diyah.” 17. jaga[n]nen kang waspada. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang. hingkang nanggung hayuda. miwah Dén Kartawijayanya. nulya pangkat hangilar[r]i. Rangin Kandar kepalanya. Rangin sanget bungah néki. Bagus Hawisem prajurit. guyu[n]né suka-suka . prajurit paman[n]iréki. holih prajurit mami. han[n]ang Kedongdong kang baris.15. Hawisem lan Radén Wari. paju[n]né hing ngadilaga. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama. 18. hingkang nagel hing ngajurit. sarta bakta bal[l]a. pajun[n]é hing hadilaga.

931) 142 .kakang pinanggih lan rayi. pethuk hing yuda.” 20. hapandang Hawisem Wari. 47 (97. 23. pan kathah hingkang kajodhi. kecandak Radén Wari. Dén Wari hingwang. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa. raméh hanggén[n]é jurit. prajurit[t]é Rangin hingwang. kendel manengan hing prang. Tumenggung Nitinegari. kelangkung bingah. pésta pan siyang weng[ng]i. sing dépok sambeng punika. campuh[h]é hing ngajurit . kang nanggung mapag saréki. panyata yén husul mangkin. pinayung[ng]an Bagus Rangin. mapan gelar[r]ing baris[s]an. katambuh[w]an pan hingwang. pajun[n]é Radén Wel[l]ang. berandal sampun siyaga. prajurit ngarsa. lan Dén Kertawijayéki. Rangin Kandar turun[n]ya. sapa hiki ngarsa mami. Kadya brondong bedil mariyem punika. Pan kapethuk kalih Kartawijaya. dén[n]ing dén Wel[l]ang. pan kendel hing ngajurit. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira. 21. 22.

han[n]ang Gragé nagari. sadaya tan[n]ana kari. suwung pan wismanéki. ming[ng]ilén pan lampahnya. 28. samya bujeng berandal. rinanté hénggal. Léja sakancan[n]éki. dén rakrak saban dés[s]a. Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal. 26. rinanté kinirim mangkin. miwah Sén[n]a dén tal[l]éni. baris berandal. dateng saradadu mangkin. hanjog mara Bantarjati. 27.24. Ki Séna Surapersanda. héng[g]al pan binujung wan[n]i. hing kanca sultan. Dadya raméh siyang dalu hing payudan. Radén Wel[l]ang datan kari. datan menda hanggén[n]é jurit. Bala hambral miwah Dén Kartawijaya. perawan hayu binekta. 25. “Héh hanjing berandal sari. datan pinanggya. mangilén wahu lampahnya. raméh hanggén[n]é jurit. Rangin Kandar Handa Hawisem miruda. rebut mapan tan kating[ng]al. Surapersanda pan kénging. Dén Wel[l]ang hawecan[n]a. 143 . hanadah[h]i hing ngalaga. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal.

Cipedang miwah Cilégé. 47a (932) //XII. Men[n]awi dén bujeng mangkin. sanget kasangsarah hipun. dumugi hing Hung[g]ulung. kantos nye(b)rang Kucéyak. hanjog han[n]ang Dulang Sontak. 144 . KASMARAN 1. kantos wan[n]a hing Cikol[l]é. Cipanculan Ciwidara. hanak rabi samya krun[n]a. ningal[l]i bojo hanak.hanang Darmayu negari. jamban dalem mingilénya. 3. Cilalanang Cibenuwang. Ki Rangin Serit lan Léja. tigang sasih hing lampahné. susah tiyang dés[s]a. hing Purasu Radén Srang. miwah Kandar handa mangké. Samargi-margi hanangis. 4. pan sinelek hing lampahnya. Mangkana hingkang lumaris. Pegambir[r]an Legok Siyu. Benggala hing luwung dinang. kalintang hanggén sengsara. rempag hing wana-wana. hanyabrang Cipunegara. Mengilén hanye(b)rang kali. kasmaran kaningal[l]i. 2. hambakta han[n]ak bojonya.

haseneng[ng]an[n]ipun wahu. kali deres kang toya. 145 . Kantos damel dukuhnéki. hanerus hing wana-wana. hanang satengah hing wan[n]a. Kerana para pawéstri. 48 (99. telung sasih lampah mangké. 8. 5. 933) 7. hantuk kidang lamun wangsul. miwah kaliyan menjangan. hing para putra sadaya. nulya sami damel tarub. kalangkung tebih pernah[h]é. langkung senang petanah[h]an. rama badé damel talun. “Duh putra kula samangké. sun tingal[l]i sanget sa(ngsara). jurang péréng lumampah.hanjog han[n]ang hing Cigadung. tengah wan[n]a langkung jembar. malebet han[n]ang wan[n]a. tawu ngilar[r]i hulam. //Hananem mangkin. 9. Nulya hawecan[n]a haris. Ki Léja pan saban din[n]a. han[n]ang rawa nami Citra. supaya pada hasowan. rawa hageng kathah hulam. 6. sarta damel sawah hamba. kang Rangin pan saban din[n]a. sampun tiyar kebon[n]an[n]é. jembar pelataran[n]ira. Raméh-raméh gé nya bukti.

sakilén kali Cigadung. 10. 48a (100. nulya sami rempag[g]an. gratan 146 . pernah mang[g]ih telatah jembar. katela sampé punika.winastanan dukuh Citra. Tur rata tanah hiréki. kalih kadang miwah rama. tilas[s]é Ki Rangin mangké. bakta kanca telung puluh. kantos samikén namin[n]é. kalih nahun hing lamin[n]é. Jatilima kang nama. hingkang haprayogi hajembar. 11. 12. Jatigémbol kang satunggal. pan dén wastan[n]é Cihakur. bade damel taluk[k]an. pan mingidul paranya. mapan manggih papan jembar. Hing wates Pegadén distrik. Ki Rangin hadamel. seja ngilar[r]i papan[n]é. kalih distrik Pamanuk[k]an. Tegal Selawi naman[n]é. Ki Gedé han[n]a hing Pecung. Nulya sampun rempag mangkin. Winastanan sapuniki. lamun kempel[l]an punika. Kyahi Wangsakerti nama. hanang Cigadung pernah. 13. 934) pan damel…. hing bang lér kulon ing Suba(ng). halang hujur[r]ipun jembar.

“Punapa karsa sampéyan. hing kanca miwah hing kadang. Sedaya pan matur mangkin. mapan handérék karsan[n]é. kelangkung mandi sikirnya. tempat tiyang ngeraman. badé ngaben kadigjayan. hantawis tiyang kathahhé. “lh kad0s pundi karsan[n]é. langkung sangking sanambang. mapan kantun tunggu dawuh. sedaya pun siyaga. 14. napa pun ngungkul[l]i wahu. 147 . hingkang dadi sinedya. 15. becik gawé surat hingwang. Panangtang mangun hing jurit. Nulya Rangin ngandika haris. pikir[r]é pan sampun dados. kadang miwah kanca-kanca. hanggempur hing Pecung Wangsa. raméh-raméh siyang dalu. saban dinten tiyang prapta. Dalah sampun kathah jalmi. hingkang haji pengabar[r]an. ningal[l]i pesang[g]rahan. 18. pésta hadedaharan.” 17. dinten pundi majeng yuda. hingkang bade tumut perang.sampun datos Citarum hagung. Nulya Ki Rangin hamatek mangkin. nulya tiyang panghatumut. 16.

148 . Héca hanggén gunem cangkin. sraptan[n]é hingkang hutus[s]an. wonten tiyang ngraman mangké. Hutawi nak putra mami. sedaya matur sumanggah. 49 (101. para sén[n]apati mangké.tanda hingsun wicaksan[n]a. Nulya hangumpulna mangkin. sarta putra Sindanglaya. 21. harep ngayon[n]i hingwang. sira Jaka Patuwak[k]an. 22. pandakawan wicaksan[n]a. hing tegal selat(an) Subang. kang kirim hing Pecung dés[s]a. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti. kambi berandal sing wétan. pelariyan wong nagara. Ki Wangsakerti ngandika. kaliyan berandal wétan. mapan sampun hamiyarsa. brandal wétan hasal[l]ipun. hapa sanggup yuda mangké. jumerogjog hing ngarsanya. Dulang Saréh hing wastan[n]é. sanggup hing ngaben pukulun. kang[g]é mapag hing ngayuda. 19. supaya siyagi mangké.” Nulya damel surat sampun. sampun damel sengsara. héh ya Krudug sira. 935) 20. hing kadang miwah hing putra.

powé mana hanu puguh. kula hanjing siya mérad. Dulang Saréh matur haris. sarwi mésem hawecan[n]a. gegancang[ng]an lampah[h]ira. Grudug ngadéngé glendengan. hanjing Sunda malotot[t]é. han[n]ang tempat pesanggrahan. Dulang Saréh wangsul nuli. Jawa Wétan ngasahan kami. sampun dugi hing ngarsan[n]é. Nulya Dulang Saréh hamit. kasukmésa jroning driya. Jajabang Grudug tingal[l]é. 24. 23. hapa (Dulang) Saréh wahu.ngaturaken serat sampun. 936) 149 . hulah réya homong siya. kandel hipis hurat tulang. Winahos serat tumuli. 27. hanjing gelis siya mampus. haturken juragan siya. breh hanjing siya wétan. 49a (102. kana jampé sikir manéh. kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang.. 26. panon pan pucicilan. nulya pangandikanya. dék ngayon[n]én hurang Sunda. Jawa Wétan te puguh. 25. hurang mapag[g]en siyaga. sarwi hawecan[n]a sugal. serat nulya tinampanan.

tur gagah hasentos[s]a. dateng Kyahi Serit nama. Gumuruh kang bala Rang[ng]in. bendéra tinarik hagé. 28. hing bala Pecung baris[s]é. 29. Nulya humatur Ki Rang[ng]in. Léja maju hing haprang. Mangka sampun kapiyarsi. malah kathah prajuritnya. bala Rangin kathah pejah. hananding Ki Gedéng Pecung. suraknya mangambal lambal. miwah kadang-kadang kabéh. siyagi hing yudabrata. 30. prawantu perang berandal. Patuwakan Majanglaya. kawengku hing distrik Subang. hambeknya lir Singalodra. campuh prang berandal mangké. Hing papan tegal Selawi. bendé tinitir pinukul. miwah Kyahi Gedéng Grudug. nulya siyagi sedaya. ngajeng-ngajeng rawuh hipun. dados pamucuk[k]ing haprang. nulya majeng prajuritnya. sampun siyagi balan[n]é.Ki Gedéng Pecung punika. 31. sadaya sang[g]em hing yuda. 150 . bala Rangin pun siyaga. dateng paduka sampéyan. baris[s]é berandal wétan.

payoh gentén lawan hingwang. ketambuwan Jawa Wétan. nu baris naliyan siya. hora tlatén handulun[n]é. gitik[k]i sira wong wétan. bala Rangin mawih Pecung. 33. ningali kang raka perang. hapa Wangsakerti kowé.pinethuk Ki Gedéng Grudug. Ki Léja hanrajang mangké. 151 . 34. wani mapag yuda ningwang. Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya. wong yuda hudag-hudag[g]an. 937) raméh surak[k]ing bala. di wétan heker ditéyang. tan wonten hasor hunggul[l]é. Palariyan jelma negri. nulya pin[n]aran hénggal. nama hurang Gedéng Grudug. Jaka Patuwakan mangkin. Paksa wan[n]i sira babi. nemu tanding hing ngayuda. ginanti hanggén yuda. Léja hatetanya wahu. 35. “Héh sapa kang ganti yuda. samya surung sinurung[ng]an. Jaka Patuwakan hingwang. 32. hurang sén[n]apatin[n]a. 50 (103.” 36. Hanulya nerajang wani. péngén hangrasan[n]i hingsun. “Héh sapa Sunda siréki.

Léja tan bis[s]a hobah. wong tarun[n]a sakti punjul. Léja dinesek perang[ng]é. tur sira maksih tarun[n]a. 39. 938) 152 . dén hikal pinuluh bayu. “Héh Patuwakan sira. dudu prajurit siréku. “Duh paman Léja (ja)ndika.Ki Léja hamedang sigra. Sarwi hasesambat nangis. hanggén medang hora tata. 50a (104. nyata hurak[k]an berandal.” Tan kiyat Bagus Kandar. Patuwakan sabda lirih. hiki Kandar sadulurnya.” 37. hénggal cinanda(k) hing bala. sayang hanggreget tingalnya. Kandar mapag hing yuda. pan sampun hayun hayun[n]an. hénggal cinandak nulya. “Hampun Patuwak[k]an paman. tinitir hanggén[n]ya medang. 40. kalih Patuwakan //mangké hang ngasta bendhak bedama. kaya wong kemaruk mangké. datan pasrah pan medang[ng]é. kasilib hing pan[n]ingal. Coba sun tanding lan mami.” 38. Jaka Patuwakan mangkin. hora wan[n]i paman mangké. sor duwur pandén pedang. nyata prajurit pinunjul.

pun sirang baris Rangin[n]é. 42. bade majeng hing payudan. héng[g]al tinalanén Kandar. Kyahi Serit hangandika. bésuk niki sun pajun[n]é. hora wan[n]i paman mangké. Ngandika Ki Wangsakerti. kaya hapa tingkah hingwang. sarwi hambakta bebandan. “Haduh Bagus hampun paman. 44. supaya mapag yuda.sinabet penjalin wulung. Jam nenem béndé tinitir. hakondur bala hing Pecung. 41. Sarwi krun[n]a sambat néki. “Héh hanak kul[l]a sedaya. hananding Rangin siréku. bala Pecung saya kathah.” Ki Serit ngrangkul putran[n]é. “Duh putra welas hing wang. gumuling han[n]a hing kisma. Nulya majeng Bagus Rangin. “Rama sampun cilik manah. Jigjakerti Majalaya. 43. karun[n]a sesambat[t]ira. muga mental[l]a hing yuda. Ki Rangin nulya humatur. 45. 153 .” Jigjakerti matur manggah. sun pasrah[h]aken yang hagung. nulya surup baskara. Siniking putra nun pamit.

48. Ki Rangin hanyandak sampun. budal baris sedaya. Grudug nulya dén candak. kami Jigjakerti ngaran. Pan nu baris nanding siya. Majalaya dén talén[n]i. hanulya mesanggrahan. tin[n]a kulit huras tulang. wis jamak[k]é hingsun lampus. saba paran handon lan[n]ang. 49. ki Grudug mapag yudan[n]é. pan sami sampun pethuk[k]é. 154 . “Héh sapamapag yuda. kasaktén nanding paguh man[n]éh. Ki Gedé hing Majalaya. 51 (105. sumbada gedé tur duwur. //Majalaya pernah kami.” Nulya campuh hing ngayuda. binanting nulya kantaka. nulya Rangin hatetanya. Nulya majeng Jigjakerti. kasaput kabujeng sore. surung sinurung hing yuda. Bala Pecung miwah Rangin. pada rebut[t]en hing yuda. nulya tinalén[n]a héng[g]al.hasesumbar hing payudan. 939) 47. “Héh hiki Rangin haran[n]é. surak lir rengat[t]ing wiyat. binanti(ng) kantaka wahu.” 46. papag[g]en han[n]ang payudan. hing bala Rangin hika.

ki Wangsakerti hakagét. karan[n]a masih tarun[n]a. Mangkan[n]é ki Wangsakerti. kang putra Patuwak[k]an. nawal winahos sigra. kantun satunggal putran[n]ya. 52. 51a (106. 50. dikinten //musuh praptan[n]é. 53. “Katur layang pun rayi. 940) 155 . langkung melang hawak[k]é. bakal priyén tingkah hingsun. hécagén[n]é cinatur. nulya wonten mantri prapta. Ngaturken srat tinampi. kelangkung susah [h]ing man[n]ah. 54. hungel[l]é wahu kang surat. kaya priyén polah ningwang. dumarogdog tampi serat. “Duh mas putra ningsun kulup.ki Serit nulya hamethuk. kajodi putra kalih yé. dipun kinten musuh teka. Rangin sakti mandragun[n]a. binuka nulya dén dulu. sapratapané hingkang putra. musuh Rangin digdaya. 51. semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah. gégér[r]é tiyang hing jaba. “Duh putra ningsun nyawa. sangking lér kelangkung kathah. Hapes tan mental [l]ing jurit. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i.

raka Wangsakerti mangké. kabujeng hamireng warta. bekti rayi hingkang ngantos. 56. pinanggya suka kelangkung. Sira Patuwakan mangkin. 156 . 55. 57. kasuwun kakang pinanggya. Ki Wangsakerti gumuyu. mila sanget rayi nuwun. sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah. serat[t]é kadang kahul[l]a. rayi dugi gegancang[ng]an. hateng[g]ah hidin[n]é kakang. marah hénggal hingsun mapag. “Haduh bagja putran [n]ingwang.hingkang saweg mangun yuda. rayi Dalem sing Pegadén. hingkang rayi jagi mangké. Setrokusuma harinta. Nulya matur Wangsakerti. sing Darmayu pun[n]ika. sampun hangdadosken manah. “Duh bagéya sarawuhnya. tumut nyambung hing ngayuda. Nuwun kabar surat rayi. methuk wahu hingkang sém[m]ah. 58. kalih pelariyan wétan. katrima nuwun rinta.” Dalem Pegadén harinta. rayi Dalem sing Pegadén.” Lajeng budal sakancanya. boten mawi kabar wahu. Yén Kang Raka mangun jurit.

hingkang sugih dipun rayah. cakep gagah pideksa. “Héh mantri ningsun sadaya.” Manembah hana hing ngarsa. 63. sinonjé kang hanang kanan. kaya hapa hing rupanya. sami kénging tinalén[n]an. 60. kang pengkuh gegaman[n]ipun. 62.kados pundi yuda[n]nipun. kepalan[n]é hingkang medal. hénggal matur[r]a baris[s]an. 52 (107. hanganggé raja busan[n]a. hamajeng hing ngarsa wahu. langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang. nulya dangdos dalem mangké. hénggal tinangkep berandal.941) 157 . Wangsakerti matur haris. gawé rusak hing wong hakéh. sarawuh[w]é rayi mangké. Sumanggah rayi hatur[r]i. nganggé kuluk sutra wungu. kranten kang maju yuda. angandika hing mantrin[n]é. pelariyan sangking wétan?” 59. mapan Jaka Patuwakan. dalah putra kalih hulun. hingsun hameton[n]i yuda. tinarétés hinten mirah. 61. Dén hampléh duhung ngiréki. Nulya humatur haris. Karo pelariyan Rangin.

hananding Rangin yudanya. badé majeng hing prang pupuh.” 64. “Rebut[t]en bala Rangin.” XIII. hawit déréng majeng mangké. “Duh rayi leres putranta. rama sampun medal mangké. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang. jaya haputra yudan[n]é. sangking panuwun putranta. kasoran hing yudabrata. 2. 65. bendé tinabuh nitir. tak pasrah[h]aken yang sukma. balasan siyaga surak kadya hampuwan. 942) Nulya medal hing Jawi hamapag yuda. 52 (108. héh kulup sakarsan[n]ira. DURMA 1. mangka sampun kapiharsa. Wangsakerti hanyambung[ng]i. hawit putra déréng medal. sangking harsan[n]ipun rama.“Hanuwun matur deduka. kedah dén turut[t]i rinta. Jaka Patuwak[k]an mangkin.” Nulya Patuwakan nembah. 158 . dalem hangandika harum. Wangsakerti putranéki. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki. hapan sesumbar. gampil lamun putra sampun. kang putra mundur sing ngarsa.

Mapan raméh surung-sinurung kang yuda. mapan sami saktin[n]ya. héman maksi(h) tarun[n]i. rama kang mapag. Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda. “Héh putra lirén[n]a dingin. hanulya mapag Ki Rangin. haja sira mapag jurit. Wangsakerti nama. musuh lan hingwang. 5. manggih tanding hing jurit. hing Jaka Patuwakan. Rangin Patuwak[k]an. kon mapag yuda[n]ningwang. 6. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda. raméh surak[k]ing baris. nulya Rangin nyandak.” Patuwakan hamangsul[l]i. Patuwak[k]an nadahi. 3. 159 . nulya tanya Ki Rang[ng]in. hujung bedama. tiba kasingsal. Rangin sinépak nuli.hanang Rangin prawira. sarwi pangandikan[n]ya. hing putra Patuwakan. 4. sapira saktin[n]iréki. tyang kalih hangagem keris. dalem hangganti mangkin. hayun[n]ayun[n]an.

Rangin hatetan[n]ya. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat. Dalem Darmayu mami. kaya bé…patya?” Dalem nulya mangsul[l]i. Setrokusuma hingwang kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in. mungkur[r]a sun talén[n]i.yudan[n]é musuh Rangin. sangking Darmayu dingin. 9. Mapan hingsun masih pernah nak sanak. 10. buron nagara. kanggo mangan hanak rabi. saban des[s]a rinayah. haku kang jaga sira. hing tembé katemu hiki. 160 . jeneng Wiralodra. sukur subagja. sahumur hangrusuh[h]i. hanjing berandal babi. kang dadi berandal. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal. dalem majung jurit. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang. gawé lan[n]a ting tiyang. ngaku bagus[s]an.” 7.” 11. wong gagah sira prajurit. “Sapa hanggenten[n]an[n]a. 52a (109. harep nangkep hing siréki. 943) 8.

15. hingsun haran ki Serit.“Dalem Sunda siréki. Wangsakerti ngedal[l]i. harep nalén[n]i hingwang. Rangin pan hora gil[l]a. 161 . hantara hatmaja redi.” 12. raméh tiyang surak. Wangsakerti siréki. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang. mapan pada saktin[n]ya. nulya watek kang haji. bala Pecung kalih Rang[ng]in. mapag jurit hing siréki. kang wasta tiwik[k]rama. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a. bener mapan sira. 13. pan Setrokusuma. binanting hical Rang[ng]in. hénggal hangnyandak. surung-sinurung sira. nulya nerajang wan[n]i. 14. Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda. haningal[l]i hing siréki. hanggon[n]é mapag yuda. coba majuwa. Wangsakerti pan hingwang. “Sapa mapag yuda. ningal[l]i hingkang Gusti. lan sira sapa. hingsun pan hora wedi.

hénggal mangjuwa. musna datan karuwan. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma. Wangsakerti lan ki Serit. gumuling han[n]ang hing kisma. 944) tuwa karo kaki-kaki. sami kuwel[l]ing jurit. nulya malajeng ngoncat[t]i. Rangin ngoncat[t]an[n]a. Ki Rang[ng]in hasring niba. runcing-rinuncing mangkin. 19. ngungsi hing Krawang.” 17. yén héstu sira prajurit.53 (110. bala Rangin hangebyaki. Nulya campuh perang ngadu bedama. Serit pan sring tiba. Bagus Rangin ninggal baris. 18. //pan kaki sami kaki. semu sesambat. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal. hang[ng]adu bedama. ruket pucuk[k]ing keris. hayuh majuwa. “Héh Serit wedi mati. Ki Serit musna. perang pan mébéding baris. balan[n]é hakéh mati. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda. 162 . hibur kathah hing jalmi. “Héh Serit pan sira.” 16. ngadu pucuk[k]ing bedama.

Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira. héh kakang Wangsa. pan datan kacandak mangkin. “Putra kaliyan kang rayi. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra. Ki Serit lan Rangin[n]ya. dén talén[n]ana. gup[p]enur jéndral mangkin. kempel dados sawiji. hilang tan kruwan. suka bungah kang [ng]ati. 53a (111. 945) 163 . 24. hing ngendi paran[n]éki?” 23. dados satunggal. Wangsakerti lan dalemnya. Kyahi Dalem ngandika haris. kalih Patuwak[k]an mangkin. kados campur sétan. Gintung Patuwak[k]an. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an. 22. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal. Léja sun kirim mangkin.20. 21. Putra matur duka rama hing purugnya. Grudug Majalaya mangkin. perkara berandal. samya numpes bal[l]a. Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i. balan[n]é tiyang Rang[ng]in. habdi gong saktén[n]ira. hi[ng]cal Serit lan Rangin. Rangin bala berandal.

Bagus Kandar larih[h]i. kran[n]a buron nagara. hical jero wana. miwah Jayakareti.menurut hing préntah. rinanté hingkang sekalih. 26. 164 . 28. kinirim hing Batawi. 25. mantri kang sekawan. nyabrang hing Citarumnya. turun[n]an[n]ira. saparan-paran mantri. Surakerti Jayamanggala. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra. han[n]ang Gustinya. sang Pegadén nagara. Bagus Léja [nn] ika. sangking turun bagus[s]an. kang bakta langkung susah. badé wangsul langkung hajrih. Rangin Kandar Léja Serit. Jigjakarya. bebandan mlajeng wanadri. pan sarta hing wétan. silem han[n]ang jaladri. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an. sinebrak rantén[n]iréki. hing[ng]iring[ng]aken mantri. Léja lan Kandar. Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara. kathah hingkang lén mangkin. nulya malempat. Langkung susah bebandan hical sadaya. 27.

putra pan garwa rayi. kaliyan Dén Ngelan mangkin. 946) 165 . Dén Karta hangandika. 54 (112. Dén Karta lan Dén Wel[l]ang. hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal. sadaya karun[n]a wahu. hatiyati yayi kari.pelariyan duk dingin. muga rayi kahidin kondur kakang. SINOM Mangka lampahnya Dén Karta. “Hing kadang-kadang[ng]iréki. 3. sareng rayi mukting riki. sinten raka kang ngemban[n]i. miruda sadayan[n]ipun. “Kakang wangsul léntas[s]a. miwah sadaya prajurit.” Ngrangkul wahu kang rayi. Kakang patih mapan séda. XIV. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang. 2. toya waspahan dres mijil. karun[n]ang sesambat[t]ipun. //hing Darmayu kumpulnéki. lir sinebrak linolos pulung[ng]ing 1.” Hangrangkul karun[n]an[n]éki. pan kakang bakta sadaya. duginya hanang nagara. nagari Darmayu raka. berandal halarih[h]i.

” Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. hanang sinuhun Gusti. 166 . mengko kakang jaluk hidin. Radén samya hangrawuh[h]i?” “Kula bade ningal[l]i. Dumugi hing pintu jaba. miwah Radén Welang wahu. hanang soldat kang hajaga. 947) 6. duh yayi dén lilan[n]ana.” 5. “Duh rayi Dalem hangrinta. Membales kumendan pes[s]an.manah. tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan. papali dadi bopatya. hingkang dipun jagi wahu. kados pun[n]apa kang werni. Radén //hingkang dugi. dateng kumpen[n]i pun[n]ika. “Radén niki kang dijaga. bade kondur sapuniki. 4. haja nangis hari mami. “Pan bade karsa punapa. hing Gragé kanjeng sinuhun. mengidul margi lampahnya. nulya lajeng lampah néki. samya ngiring putra garwa miwah kadang. nulya hatetan[n]ya haris. 54 (113. duging Palimanan mangkin. Kartawijaya hakampir. sumur tinutup pantes[s]i. 7.

sinurung medaling jawi. Sadinten gén yudabrata.” Radén wecan[n]a haris. ngangseg hing kuthan[n]éki.duka his[s]in[n]é punapa. nulya tinutup bénténgnya. kathah soldat hingkang mati. hing soldat dén balangna. Radén Welang badé maksa. timbalan gupenur mangkin. hanyandak Dén Welang mangkin. pun[n]apa hisi niréki. Radén Karta nyandak sampun. pan datan wanton hambeka. yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang. 167 . haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a. héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya. héh sobat pan maksa hingsun.” Sersan mangsul[l]i sabda. Dén Welang sabdanéki. hibur gégér hing prajurit. yén tan wonten hidin Gusti. “Sobat permisi puniku. ngandika Radén Welang wahu. 8. 10. kula tahan sobat mangkin. tan hun[n]ing hisin[n]é niki. bala Radén Karta mangkin. 9. pan bade kahul[l]a buka. Karana lar[n]ang[ng]an hika. pan soldat hanahan sigra. hambuka tutumping wes[s]i.

mapan jaluk katangkep[p]é 168 . gegancang[ng]an lampah néki. “Sedaya hatur mangkin. soldat hingkang bakta. Sén[n]a Surapersanda. repot han[n]ang Betawi. Pan lajeng hing lampah[h]ira. lampah[h]é berandal wahu. srat sampun katur[r]ing Gusti. nulya wangun serat mangkin. hanulya hénggal binuka. mapan srat binakta sampun. kang[g]é Sultan Cirebon mangkin. mahén kurang ngajar hiku. dugi hing Gragé nagari. nulya damel srat hénggal.” 12. 11. becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal. Jeng Gusti ngandika haris. wis haja sira //temen[n]i. lajeng cahos Gusti Sultan. Mangka sampun cahos ngarsa. Radén sang kakang bujeng wahu sakitan. serat binanting tumuli. Mangkana sersan kumendan. sanget getun[n]é hing manah. kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral. hical sangking jero buwi. 13. han[n]ang Palimanan loji. “Loh babi Cirebon hanjing. 948) “Héh sanak prajurit hingwang.54a (114.

parusuh[w]an. hingkang ngrasak Palimanan. srat mapan sampun tinampi. 949) 15. hanang nagara Betawi. dateng Gusti sultan wahu. ngandika jeng sultan mangkin. hakéh soldat pada mati. Kanggo hing Cirebon Sultan. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral. “Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat. hing hajid[d]an lan létnan. hapan hiki gawanen pan surat hingwang. serat tinampakna haglis. ngempel[l]aken kang prajurit. tiningkem sratiréki. sarta hangandika wahu. héh hajid[d]an litnan mangkin. serat[t]é sampun winaca.” 16. Sampun medal han[n]ang jaba. nangkep ponggawan[n]éki.” 14. samakta kaprabon yuda. 169 . Radén Karta lan Dén Wel[l]ang. hénggal[l]é pan sampun prapti. lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya. kang wisma nihaya mangkin. hing Cirebon Sultan wahu. 17. lan gawa malitér mangkin. 55 (115. hanang loji Palimanan. samakta kaprabot jurit. patang puluh kang pipilih[y]an.

//Nulya tinampan[n]é hénggal. pan karo sinuhun Gusti. pan dén paksa seja dén jaluk Metaram. 55a (116. pan durung tak bales[s]i. hangrangkul ponggawa kalih. Hananging yén sultanan[n]a. Karta miwah sira Wel[l]ang.” 20. hametik taling[ng]an[n]éki. 950) 170 . sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa. lan hiki kasung paring[ng]i.karana dadi san[n]unggal. pan ti hingsun hangamuk hambral nagara. hing Carebon mapan hiki. ngamuk[k]a hanang Batawi. pin[n]ariksa ngarsan[n]éki. hora kuwat nagri mami. handres mijil toya waspa. malah nagara hingwang. holiya béla siréku. pun kadada sajron[n]ing galih. karo wasiyat mami. ngukuh[h]i tan jisa hingsun. 18. hing Metaram nagari. malah srat sampé sahiki. Si Kléwang karo Si Dumung. Tumurun sing palinggih[y]an. Gupenur Jéndral kang neda. nadah[h]i hing yudabrata. nurut[t]a pasti yang widi. wis pinasti hing yang hagung. 19. Bésuk tekang Batawiya.

sampun dugi hing Betawi. tan kawuwus sahaning margi. Sampun cahos han[n]ang ngarsa. sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa. hing Jéndral Gupenur mangkin. sinelek lampahnéki. “Héh ponggawa Batawiya. Gusti nuwun dén hidin[n]i. PANGKUR 1. Gagancang[ng]an lampahnira.Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta. mapan ningsun durungna. manjing han[n]ang dalem hagung. ponggawan[n]ipun sekalih. 21. XV. kaya hapa hanggon ningsun sira hutus. hanulya cahos hing ngarsa. datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi.” Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an. “Litnan miwah sares[s]an. dén sampun tutas timbal[l]an. nulya matur sersan wahu. gupenur pamundut néki. kang dén dakwah saréki. 171 . “Sumanggah nuwun hidin Gusti. 22. nulya kondur ponggawa binekta hénggal. hanulya hénggal ngandika hasru. lampah[h]é kang bala hambral.

jeneng ponggawa pukulun. kuwas[s]a Pulo Jawa. hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami. murbéng rat han[n]ang Metaram. 4. ngisén[n]i ratuning hambral. kalipatul[l]ah pan hadil. 3.” Langkung lingsem gupenur jéndral 56 (117. gumujeng humatur néki. Loh hanjing binatang gil[l]a.pan berkah Gusti paduka. 5. 951) 172 . pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun. puniki ponggawin[n]éki. hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi. Gupenur Jéndral pan haku. 2. hora nganggo tata titi.” Karta miwah Radén Welang. “Héh Tuwan Gupenur Jéndral. kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda. lan duging Batawiyah. dedukan[n]é lir kadya tiyang baring. dipun suguhi pepisuh. Durung kawula dén priksa. sembran[n]a ratuning hambral. hamengku tanah Jawa. Paduka kuwas[s]a hagung. mapan kul[l]a bade handon lampus hulun. hapa kowé hora miring hing pangrungu. nanging sembran[n]é hing karma.

Nulya jéndral hangandika. 56a (118. Pan peteng kénging sundawa. han[n]ang bénténg Palimanan. nulya ngrasuk manukma. Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. limang los[s]in mriyem néki. sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i. Nulya dipun bakta medal ….” 9. hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi. pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus. 6. Kyahi kuwu welas handulu. pan ningsun drél sampé lampus. tapi tan hadil pan[n]ingsun. 7. tan katingal hingkang dipundrél mangkin. perlu hapa kowé (wa)n[n]i. hanuruti darah panas. 952) 8. nulya tyang kalih pinas[s]ang. dateng wayah kang sekalih dipun 173 . krana kowé melang[g]ar.(halun-halun) hing Batawi. kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun.sang[ng]ulun. //”Hé bangsa Welanda. “Héh ponggawa haku trima salah hiki. nulya binaris[s]an hagung. hangras[s]a pan kurang titi. Sahiki kowé nrimaha. wani ngrus[s]ak sampamati saradadu.

12. 10. héwed pan bala habral. sekalih ngamuk Welandi. langkung susah balan[n]ipun kathah lampus. Kathah resak para hambral. “Héh wayah ku sekalih mapan siréku. Baris malitér sadaya. 174 . kran[n]a pasti bakal pejah. Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu. “Loh wong Cirebon hanjing sira.hukum. datan terang haningal[l]i. 13. hajalira han[n]a hing Betawi mangkin. 11.” Hanulya Jéndral Gupenur. hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i. hing Betawi langkung hibur. nulya mendhet senapan[n]ya. mapan perang kaliyan kanca pribadi. temahan gawé rusak hing nagara. tan nulya pin[n]asang wahu. pan cukup pun bél[l]anana. mimis hinten jimatnéki. nulya medal kaki kuwu. sangka panukma nira. sing pungkur kang dén harah. ningal[l]i rusak[k]ing bala. luwih séwu hingkang mati. hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun. Pinasti hingkang salira. musuh kathah wicaksan[n]a.

57 (119. 953) 175 . hing para bala hambral. nagri Cirebon hingsun jaluk. hanulya ngandikan[n]ipun. Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin. musna hical kuwandan[n]ya. Kartawijaya hika..k hambral[l]é wahu. haku hora trim[m]a resak[k]é balaku. samakta kaprabon jurit. bala soldat malitér hingkang pinilih. nulya kuwandan[n]é wahu. 15. gupenur hamasang sigra. pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin. nulya mburu dén[n]ing . sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi. 16. “Hangajid[d]an sares[s]an. Hanggawa hatelung kapal. dén candak kuwandanipun. mundur malitér kang baris. kanggo ganti resak[k]é pan bala haku.katerangan bakar pis[s]an. kénging nulya hangemas[s]i. sahiki kowé dangdan[n]a. Wasiyat keris pan musna. Hanging gupenur Tuwan. wewengkon kasultan[n]an.” 14. Dén Karta haningal wahu. 17. dumugi pejah[h]ing siti. nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun.

Raméh hanggén ning yudabrata. nulya humatur gupenur. 19. lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i.” 18. 954) 176 . wangun pesang[g]rahan mangkin. 21. Radén Pekik miwah Dul. baris lahut baris darat. Martakusum[m]a. sedaya sabil hing jurit. Sares[s]an hajidan medal. 57a (120. pangéran maju hing pupuh. Samya gégér tiyang kathah. kacrebon[n]an siyaga. mapan sultan sampun hamiyarsa warti. Panjunan cahos hing ngarsa. sampun mentas hing darat[t]an. Pangéran Surya Kusuma. nén majeng hanempuh jurit. 20. hantawis sapitung ngéwu. wong Cirebon hanglawan. nulya maréntah baris[s]an. Mertasinga para pangéran[n]é rawuh. hanulya siyagi wahu.péndék haku hora trima. ponggawan[n]é ngresak mami. mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh. litnan kornél seres[s]an nulya baris. Sareng hambral ningal[l]an[n]a. bala pangéran hambaris. sarta Pangéran Logawa. bala hambral kaliyan Cirebon mangkin. sanget gupenur jéndral handulu.

sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu. Metaram Broboya mangkin. humatur Gupenur Jéndral. hang[ng]ungsi sinuhun Gusti. sampun dugi negara. 23. samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun. numpak kapal babar layar hing jaladri. tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti. kén ngembel[l]aken bala. mapan nengah kapal[l]ipun. sing Metaram handugén[n]i. nulya mréntah hing tumeng[g]ung. nulya mentas pelabuwan. Sadaya samiya budal.22. 24. wonten napa sampéyan karun[n]a wahu. Samya burbar bala hambral. hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin. Natabumi Buminata. hatur pan sedayan[n]éki. pan kagét sultan tumingal. “Héh kadang kul[l]a jéndral. hing margi sampun kapungkur. Kanjeng Pangéran Natabumi. 26. Jeng Pangéran Purobaya. hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun. Sanget dukan[n]é jeng sultan. 177 . 25. Sareng pethuk kalih sultan. mapan ngulug hing Carbon negari. sultan nulya ngandika rum. sampé silem darat[w]an.

“Bagéya kadang kul[l]a. maksih jeneng sultan Gusti. Gegancang[ng]an cahos ngarsa. sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis. mapan habdi siyagi hing perang pupuh. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a. bulu bektin[n]é punika. 955) lajeng ngandika prabu. kran[n]a negari kul[l]a. ngemban timbal[l]an sanghulun.” “Habdi matur kang sayekti. 178 . 29. kanggé kadang-kadang Gusti. tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti. habdi hanglados[s]i wahu. sagending bala paduka. mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu. sarta kaparing[ng]an tanah. “Duh kadang-kadang kahul[l]a. tampin[n]ipun saban santun. 30. hantuk dawuh Gusti sangking Metawis. tan hangkat kul[l]a pan katur. 27. mung[g]uh negri paduka. 28.58 (121. pan pinundut sedaya dateng sanghulun. nameng Gusti kalanggeng[ng]an. sultan tan bis[s]a ngandika. sing Metaram sedaya kang samya//rawuh kados hangemban sukarya. hantara ngandikan[n]éki. dawuhipun Gusti sinuhun Metawis. Sarta pansiyun paduka.

58a (122. 2. gupenur kalih sultan. pan sangking dawuh paduka. Sareng dawuhipun sultan. Lampahnya budal sadaya. Lajeng gupenur hatampi. “Yén makat[t]en Gusti kul[l]a. 956) //XVI. pasrah[h]é Sinuhun Sultan. perkawis nagri Cirebon.mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun. hanimbal[l]i Wiralodra. badé katur hing Jeng Gusti. 179 . sesampun[n]é sesiniyan. handérék karsan[n]ing Gusti. kondur han[n]ang Metaram kang negari. Pangéran Probaya matur. hing Cirebon masrah[h]aken negari. pasrah[h]é hingkang nagara. sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur. sampun katur hing sanghulun. nulya sukan nampéken[n]a. nuwun hidin bade kondur Gusti hulun. 31. KASMARAN 1. nulya sami pamit kondur. hing Gupenur Cirebon nagari. wangsul han[n]ang Batapiya. Sampun rawuh hing Betawi. mugiya dén hatur[r]en[n]a.” 32.

6. ngarabbi hing kamulyan. 4. dateng paduka gupenur. hawit datan gadah wahu. nulya hangandika jéndral. 5. “Slamet dateng Dalem rayi. kanggé hangrangsom soldat. sanget hanuhun Yang Hagung. Lan kakang ngatur[r]i huning. hing rekoning dedahar[r]an. mugi dén jurung Yang Ngagung. sangking sih pitulung Tuwan. dipun jagi hing Yang Manon. kasuwun sarébu mangké. sedayan[n]é kul[l]a hétung.” Dalem datan wecan[n]a.hing Darmayu negarin[n]é. sampun rawuh Batawiya. 3. hanangkep berandal mangké. kabendan hantuk kamulyan. sawelas nambang kang harta. Hamengku hing Pulo Jawi. dugi hanak putu Tuwan. 180 . Gunggung sadayaning duwit. mung[g]uh sangking perbantuwan. kumeduh rayi habayar. muga lulus[s]a hamurba. hénggal cahos hing ngarsa. sangking panjunjung rinta. ya trimakasih harinta. tigang das[s]a rupiyah[h]é. miwah sakéhéng pekakas. hanak putu sareng mulya.

nulya pamit dalem wahu. hapa hingkang biyasa. 10.” 9. hing Darmayu pan negara. héstu habdi datan duwé. 7. kadang putra taken warta. hing Tuwan Jéndral punika. pinapag hing ponggawa. tanah habdi hing Darmayu. hanglungguh hing kadalem[m]an. “Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a. dugi han[n]ang dalem[m]ipun. babar layar hing bahita. Nulya dalem néken mangkin. harta hingkang nenambang[ng]an. 1610.harta hingkang nenambang[ng]an.” 59 (123. pan wangsul han[n]ang negari. hanang surat tanda tang[ng]an. mung dalem nékina hiku. salesih tanah tan darbé. nameng katur sedaya. Tuwan Gupenur Jéndral. hing Darmayu kagungannya. nulya dugi negaran[n]é. punapa karsa paduka. //Gupenur ngandika haris. 181 . 11. Nulya Dalem ngandika ris. nameng dalem tetep bahé. mapan tanah gaduh hingwang. “Duh Paduka jeng[ng] Atuwan. 957) 8. Hanulya humatur haris.

pan datan lang[g]eng ring bénjang. hing hanak putu sedaya. Wiralodra peparab. wis karsan[n]é hing Yang Manon. nanging dalem pan samangké. langkung susah hing kawul[l]a. hanulya sesunu wahu. 12. Pambajeng Radén Marngali. nami[n]nipun dalem wahu. hingkang gumanti putran[n]é. pan negara dipun rampas. hangrerampog panggotan[n]é. Hanjani wuragil[l]ipun. Nulya dalem kénging sakit. pan kanggé hongkos[s]i perang. hora robah biyas[s]a. maksih kateteppan nya nama. 14. 15. hing Tuwan Jéndral Betawi. pitu tunggal hingkang putra. 13. Dalem mapan sampun lami. dalah dumugi hing ngajal. Bagus Kalis Bagus Yogya. gadah mertuwa durjan[n]a.“Hah kadang pan putra ningwang. Nyayu Hempuh katigan[n]é. pan kadang putra karun[n]a. 958) 182 . lungguh dadi dalem wahu. hingkang kantun Radén Brestal. hingkang gadah rinampog[g]an. 60 (124. miwah Nyayu Lotam[m]a. Nyayu Pungsi sekawan[n]ya. nulya Nyi Wiradibrata.

bener yén mangkon[n]o rinta. kados pundi lampah[h]ipun. tiyang dados dalem nika. dén hunjuk lebet[t]ing surat. “Duh kakang Mlayakusum[m]a. nulya damel serat hénggal. 20. punapa rempug jeng kakang. sanget wel[l]as hing kawul[l]a. 183 . 18. Nulya kakirimna haglis. rawuh hing Darmayu mangké. rerampog[g]an perayahan. hing Tuwan Presidén wahu. pan satingkah polah hipun. Cécég kathah barangnéki.Patih Singtrun[n]a wahu.” 19. dén kumpul[l]aken pan wahu. dipun rakrak sedan[n]am[m]an. pan humatur hingkang raka. konjuk Presidén Tuwan. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin. Tan héman kawul[l]anéki. 17. pan durjan[n]a hangrerayah. 16. hantawis dinten Jeng Tuwan. datan dén pradul[l]i mangké. hing Cirebon pan negara. rayi bade ngrekos[s]a. tinangkep hingkang barang. Patih Singtrun[n]a mangké. hingkang dén rampog durjana. Tan menda saban bengi. mélu néken kakang mangké.

dipuntahan tigang wulan. samya hajri(h) ningal[l]in[n]a. 23. durjan[n]a kathah kacandak. Wedan[n]a hangrangkep patih. Wiradibrata pan wahu. sanget susah manah hipun. hing kawicaksan[n]anya. dén hangkat dadi ranggah. han[n]ang Darmayu nagara. dén hangkat dadi wedan[n]a. nulya dalem kikirimna. hantuk pangkat punika. Darmayu hingkang nagara 184 . para durjan[n]a sekabéh.kang dén haku déning tiyang. 60a (125. gupernemén hang kagung[ng]an. tan[n]ana sakéng durjan[n]a. pan jeneng kalékturipun. Jatibarang hing distrik[k]é. jeneng jaksa hingkang nama. Tunggu putus[s]an negari sareng dugi kang putus[s]an. hing Cirebon nagara. Langkung gemah pan negari. Singatrun[n]a Dalem patih. Mas Malaya Kusuma[nnya]. hingkang rayi hirén[n]ya. cécég salebet dén rekés. datan[n]an[n]a perkaran[n]é. 22. 959) 21. Dalem Disowak namin[n]é. wedan[n]a miwah kaléktur. 24.

Hardiwijaya hasistén. 26. Radén Kartawijayéki. 25. 27. 28. hanulya Nyayu Julék[k]a. Radén Mardu harinta. Pambajeng Patimah mangkin. Radén Karta Kusuman[n]é. wuragil Radén Madada. hiku nipun Ratu Hatma. pan kagung[ng]an putra wahu. jumeneng pangkat sedaya. mapan gangsal hingkang putra. //pambajeng Biskal puniku. Nyi Sumbaga putranipun.Patih Singatrun[n]anya. sedaya pan putranipun. Cirebon Prayawigun[n]a. kagungan putra tiga (?). kawan nunggal hingkang putra. Mas Demang Bratasentan[n]a. wuragil Bratasuwita. wuragil Nyahi Jumin[n]ah. pan Radén Wiramadengda. 61 (126. miwah Sudirah nama. Nyahi Junéd héstri wahu. hingkang héstri Nyahi Muda. kathah[h]ipun gangsal nunggal. pan sanunggal hingkang putra. 960) 185 . Brataleksan[n]a kakung[ng]é. Kaléktor putraniréki. pambajeng jeneng putran[n]é. Radén Rang[g]ah putranéki.

Hingkang rayi putra héstri. Nyayu Sungsi lakin[n]éki. Kang Rayi pan mangundriya. Kertahudara pun[n]iku. dé Marngali puniku. Kyahi jaksa sampun séda. hanglenggah[h]i demang wahu. hing Lobener kademangan. mlaya haja dadi demang. pambajeng Kertahudaka. 30. Wiradaksan[n]a demang. Kertadipran[n]a hingkang nama. hanang Darmayu kota. 33.29. Balu…Kalid hingkang nama. kang gumanti kang putra. nurun[n]aken putra wahu. hulu-hulu hingkang pangkat. han[n]ang Sindang Kademang[ng]an. 32. Demang Bangaduwa mangké. peparab Wirakusum[m]a. 1813. 31. 186 . Darmayu pan dipun hérpa. Mas Demang Lobener mangkin. distrik Paséban naminé. Muhada pan tukang timbang. Nyayu Jeni kuwu héman. hinggih punika kang tigan[n]é. Kertahatmaja wuragil. Dadi demang pangkatnéki. hupas bom hingkang pangkat. Tuwan Pri jeneng[ng]é.

Hé…Subrata nama. Darmayu sabrang kulon. jumeneng pangkat wahu. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 4.961) Hasal-Husul Wiralodra Sangking dalem kang damel nagari. Tumenggung Bagelén peputra nami 1. hulu-hulu hingkang pangkat. dadi demang Luwungmalang. Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a. lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 187 . Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Sampé hanak putu Kyahi Belara Kyahi Belara peputra nami. peparab Kertawil[l]as[s]a. Haran Jaka Kuwat. Trus peputra nami. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 2. Hanjani lakin[n]é mangké.hing Palumbon duk dingin[n]é. Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki. Bagus Yogya jeneng[ng]ipun. Ngabéhi Wiraseca ngabébre peputra nami Kartawangsa Tumenggung Metaram. Radén Lowan[n]a. dadi mantri pangkatnya. Peputra nami Wiraseca. 61a (128. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Wirajatmika nama. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén 3. satunggal[l]é lakinya. 34.

Radén Kumbabocor 3. Héstri Nyayu Wangsayuda 3. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128. Kakung Radén Tanujiwa Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. 962) 1. Radén Singalodraka Radén Singalodraka peputra 1. Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata 4.5. Héstri Nyayu Wangsanegara 2. Radén Wirakusuma 4. Trus se… Nyi Darma kalih. Radén Wiraseca 3. Kakung Radén Driyantaka 188 . 1 waktu hiki … Bagelén 4. Kakung Radén Sutamerta 2. // sawis[s]é lawas Wiralodra no. Kakung Radén Tanujaya 5. Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é 3. dadi nagara diharan[n]i Darmayu Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra 1. Lan katemu klawa Nyi Darma. 1 ngelandrah ngolé… kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan sabrang kulon Kali Cimanuk. Radén Jaka Kuwat 2. Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu. Radén Wirapati 2. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca peputra 1.

Kakung Radén Wirantaka 5. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13 1. Héstri Hajeng Raksawinata Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Kowi 2. 3 Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami 1. Kakung Radén Benggal[l]a 2. Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a 10. Kakung Radén Timur 3. Héstri Hajeng Wilastro 12. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami 1. Héstri Hajeng Nay Wangsa 9. Kakung Radén Ganar 189 . Kakung Radén Sumedi kangganti dalem 4. 4 4. Héstri Hajeng Raksawiwangsa 7. 2 2.Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Hajeng Patranaya Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar 3. Kakung Radén Lahut 2. Héstri Hajeng Sutamerta 8. Héstri Hajeng Hadiwangsa 11. Héstri Hajeng Singawijaya 4. Kakung Radén Wiratmaja 6. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a 13.

8. Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a 8. 4. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang 2. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. 7. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 1. 7. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan 5. Héstri Hajeng Parwawinata Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya Héstri Hajeng Nahiyasta Héstri Hajeng Gembrak //Héstri Hajeng Tayub 62a (129. 5. 963) Héstri Hajeng Moka sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén Benggal[l]i. Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu 6. 6. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é nami 1. 6 6. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah 3. Kakung Radén Suryabrata 3. 190 . nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Suryapati 2. Kakung Radén Kerstal Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. 5 5. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami 1. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 4.3. Kakung Radén Suryawijaya 4. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah 7. Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener 7.

Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3 1. Radén Perdata Wirahastabrata 2. (Hés)tri Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2 1. Héstri Nyayu Wiradibrata wékling 4. 3. 4. Héstri Nyayu Wiradiwangsa 2. 2. Radén Wiramadengda héstri Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang peputra 2 1. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener 2. Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber 3. (Radén) Wirahatmaja 3. Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4 1.9. Radén Madi Wirasomantri 2. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2 1. Radén Prawirakusuma (Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4 1. Radén Wirasaputra dadi demang 2. Radén Sumarga Wirasudirga 191 .

serta sanak saudara …. Tiada lain (cerita) ini dikarang.alur (cerita). anak cucu Wiralodra. Alasan saya menulis. pada tanggal sepuluh. (untuk) membuka bagian …. turun-temurun [ini] anak …. sedang senang hati saya. supaya …. supaya sama-sama mengetahui. besok (sampai) akhir. bermula …. buku sejarah bupati. 3. …rusak. sudah …langka. dari sejarah kuna. terus-menerus hingga putra …. pada malam Jum’at legi sedang senang hati saya. tahun seribu sembilan ratus.3. Kartadipranna. Ki Wiralodra …. …saya menulis. 4. … dari mantri Haris. ada di Indramayu…. 192 . SINOM 1. …hilang …. 2.4 Terjemahan I. jam dua malam … waktunya …sebulan. … dikarang nyanyian.

berputra Ngabehi Wirasecapa.. …sedih (melihat) rusak kuburan.mengantikan. memaksakan saya mencari. melihat sejarah. tumenggung dari Mataram. laki-laki … putra Raja Pajajaran. … … ia memiliki anak. Itu nama lainnya. 193 . 5. …Pringgandipura. mempunyai anak …... Larakelar asalnya. Tumenggung Gagak Pernala.…sejarah dahulu. …tumenggung. berputra lagi. ... Rangga Bagelen . (berputra) empat orang. 8. Lalu saya. keturunan Wiralodra. lalu . Panembahan Kiai Belara. 7. Wirasecapa mempunyai (anak). 6. …pernah datang (ke Majapahit). (Kang)Jeng Pangeran Hadi…. tumenggung Mataram. pemakaman pun dilihat. minggu saya bepergian. (bernama) Kartadiwangsa.

hakekat dan marifat. meminta kepada yang kuasa. selalu yang terlihat melihat wujud tunggal . tidur di tempat tinggalnya.. asal negrinya Karangjati. tempatnya sepi sekali..Bagelen…. Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan Wiralodra ketiganya Tanujaya adiknya. 11. Tanujiwa bungsunya di Bagelen keratonnya Wiralodra karena sangat sedih (ia) sering bertapa. 194 .. (Tidak) tidur serta makan. sareat serta hakekat. telah menghilang wujudnya. 10. oleh Gagak Wirahandaka. .. 9. Dari Banyuhurip Kedu …. [ia] berputra…. tiga tahun lamanya. Tinggal … di gunung. Yang sulung Wangsanagara.diganti para bupati. di dalam supaya menjadi satu. putra dari …. karena Raden Gagak Kumitir. oleh Gagak Wirakusuma berputra lagi Gagak Singalodra …. …negara.

lalu … kinanti tembangnya.. hingga tujuh keturunan. menghilang di tempat terang. …. cahaya… tapa. 2. Wiralodra. … bukalah hutan ini. lalu cepat bangun . Pindahlah ke barat. 12. tanda diterima oleh Yang Agung. 3. Pada malam Jum’at. karena akan menjadi … untuk keturunanmu. hutan besar itu nyawa. semoga akhirnya mulia. serta terlihat di timur. suara yang terdengar. terang seperti bintang. yaitu cahaya bola api. …tuamu. turunannya semoga mendapatkan kemulyaan. memohon kepada Yang Sukma. melihat (cahaya) di atas langit. KINANTI 1. 195 . ke hutan Cimanuk. Wiralodra. bila ingin mulia dirimu. terbangun memakai …. …terang-benderang.…cahya yang bening. II. (Su)kma Yang Agung.

Menuju arah selatan kaki gunung. berada di hutan belantara. … kepada ayahmu. 7. karena belum …. anakku …. di Sungai Cimanuk tempatnya. … bercerita. (air mata) ke luar deras (dan) menangis. ia duduk di pinggir kali. sehingga sampai di sebuah sungai. Saya serahkan kepada Yang Agung. 8. sama-sama keluar air mata. Lamanya tiga tahun. 196 . lalu melanjutkan perjalanannya. Ki Tinggil . bersama penakawan. 6. memasuki hutan. mendapat pertolongan. putranya mencium kaki ayahnya. karena (sudah) kehendakNya. pertolongan Yang Maha Widi. Sungai besar [di] Citarum. dipeluk serta ditangisi.sama-sama … ayahnya. serta bangkit … Sudah diizinkan pergi. lupa tidur serta makan. …tiba di air besar 5. anakku mari …. di mana tempatnya ini. 4. dari hadapan ayah serta ibunya.

dan [ini] Tuanku. 197 . sabar Tuanku …. Saya kira ada perkampungan. ada kakek-kakek datang. Buyut Sidum orang dulu. 11. 9. sungai (ini) sangat besar. Lalu di(tarik) dipeluk. 12. serta sama-sama duduk. yang bernama Kiai Tinggil. Raden Wiralodra melihat. yang seperti lelaki tua. berkata Kiai Tinggil. atau kebun orang. bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa. serta … ada seorang kakek datang. sangat gembira (hatinya). Paman saya merasa bingung. saya akan mendapat berita. 10. aduh kakang tolonglah saya. dari orang tua ini. istirahat menyenangkan pikiran. banyak jembatan di sini. …. Setelah Bendara (Wiralodra). (saya) minta perolongan kakek. “Duh saya bahagia sekali. 13.lalu berbicara perlahan. berbicara lemah lembut. kepada pelayannya. bersalaman dengan kedua tangan.

tiga (tahun) perjalanannya. gugup ia menjawab. 15. saya ingin mendapat berita. terkejut [tadi] melihatnya. Telah lama perjalanan saya. di manakah kakek tua?” Ki Tinggil berkata perlahan. belum menanyakan namanya. Lalu berbicara manis. …sungai Citarum.14. ia keburu menghilang. 16. 19. kamu…ku. 17. semoga kakek dapat menolong. 198 . Raden Wiralodra dongkol. dari negeri Bagelen. Lalu menghilang orang tua itu. serta dari mana asalnya. …berbicara. sudah harus kembali… menelusuri pesisir. Kyahi Dum berbicara manis. belum ditanyakan namanya. “Duh Paman Kiai Tinggil. 18. yang merupakan bagian dari Karawang. Sambil terbata-bata (dan) perlahan. “Duh cucuku yang kusayangi. di mana kali Cimanuk. mengatakan jalan ini. atau negaranya. … berada di sebelah timur.

pertolongan Yang Maha Kuasa. lekas mendapat pertolongan. (air ini) sangat (bagus) dan bening. 24. Inilah sebabnya. sejuk tertiup angin semilir. jika (tuan) hendak mandi. terdapat air mengalir. di sebelah hulu (sungai) ini. istirahat di hutan ini. [sumber] (air) keluar dari sumur. Lamanya hingga dua minggu. hutan (tempat) datang Ki Tinggil. 22. 21.” Kiai Tinggil berkata. 20. Lalu tidur Kiai Tinggil. Menelusuri hutan rimba. berjalan siang dan malam. tidak tidur serta makan. ke timur dan utara jalannya. lihatlah air ini. serta sampai di Pasir Ucing.tapi saya gembira Tuanku. 199 . Paduka. saya lalu berangkat. meneruskan perjalanan besok. 23. “Duh paman Tinggil . Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan. nanti (setelah) istirahat (kita) mandi. saya ingin tidur-tiduran. melihat matahari terbit. maka cepat-cepat. lalu segera berjalan.

28. serta aslinya dari mana?” Wiralodra nama dinda. Dalem Pegaden. bertemu dengan kanda. sambil keduanya bersalaman. menuju arah utara perjalanannya. Wirasetra. 27. ke pondokannya.terdapat air di tengah hutan. dengan kanda baru bertemu. “Duh Kanda Tuanku. Menangis sambil memeluk. (sedang) mencari kali Cimanuk. Kanda berasal dari timur. berasal dari (daerah) timur. kelak bakal menurunkan. Kiai Wiralodra bertanya. Dipati Wirakusuma” Lalu dibawa pulang. “Duh gembira sekali dinda. 25. 200 . Dinda siapakah namamu. serta hendak pergi ke mana.” Adapun nama kanda. dan siapakah nama kanda. 29. Wiralodra namaku. Lalu berangkat Wiralodra. Banyuhurip saudara sepupu(ku). berasal dari Bagelen. Wirasetra namanya. Lalu bertemu orang (yang menanam) padi. 26. membuat kampung di hutan.

31. mendengar ucapan Tinggil. 201 . kaki tangan kecil-kecil. “Duh Tuan baru (sekarang) saya. yang saya makan. 30. (sudah lama) tidak makan. Keduanya sama tertawa. tetangga sama makanannya. 34.” Kiayi Wirasetra menyambung ucapan (dengan) manis. bila berjalan terseok-seok. 32. “Ya paman sudah bahagia. sama-sama gembira.disuguhi makan. lama tinggal di sini. tersenggol oleh … maka (akan) lama di sini. hanya dedaunan. …perut buncit. Kiai (Tinggil) berkata. serta rejekimu paman. Aduh Tuanku saya memohon. saya sering jatuh bangun. makan dengan ikan. (saya) mau mengistirahatkan badan. Menginginkan …dari…. bertemu dengan saudaraku. sampai besar daging saya daging saya banyak (yang) hilang. 33. selama ini tidak (ada) makanan. bisa makan dengan kenyang. makan bersama-sama.

Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah.” Raden Wiralodra tadi. Serta dijaga oleh Yang Agung. lalu ia berkata kepada kakaknya. karena saya bertamu di sini. dinda berterima kasih. serta berkata dengan perlahan. Di manakah tempatnya. mau berangkat hari ini.” Berkata Kiai Tinggil. Lalu (keduanya) bersalaman. semoga saya diijinkan. bertemu dengan saudara. 38. “Duh saya bahagia Tuan. Sangat gembira diriku. 37.” Ki Wirasetra terbahak. 39. 202 . saya mengiringi dengan doa. semoga cepat ditemukan. setelah sebulan lamanya. Melimpah … 35. sudah saya rasakan. “Duh kanda. “Hai Tinggil saya doakan. bertemu di tengah hutan (dengan)ku.“Duh kebahagiaan paman. makan dua kali sehari. “ Tuan saya meminta daging saya bertambah lagi. letak Sungai Cimanuk menurut wangsit?” Wirasetra berkata perlahan. 36. tertawa saking gembira.

“Duh paman Tinggil . (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan.kamu segera menemukan. tanamannya macam-macam. tidak ada perkampungan. dua bulan lamanya. Ubi emas serta jagung. lalu menemukan sungai. masih di hutan belantara. tapi saya masih takut. melihat tempat (mereka) berdua.” 40. di pinggir (kali) ini. Kemudian Kiai mencipta kebun palawija luas. 44. terung serta cabai dan kecipir. (Ia) gembira sekali. keinginan tuanmu. Kiai Sedum merasa kuatir. terlihat sangat bagus. sangat senang melihat(nya). 43. menelusuri pinggir kali. padi gajih sangat putih. Ki Tinggil berkata perlahan. untuk meyakinkannya. “Duh Tuan mudah-mudahan betul. gampang nanti mampir lagi. mentimun serta lobak. 203 . Keduanya berangkat menuju arah timur …. saya kira ini sungai Cimanuk. 42.” Lalu keduanya berjalan. 41.

Tinggil melihat dari sebelah timur. dari manakah kamu ini. Lalu berkata lirih. apakah akan merampokku. tongkeng terjurai di gerbang. di dalam rumah ada orang duduk. hendak bertanya pemilik kebun yang begitu indah ini. semoga mau memaafkan. 45. di (sebelah) timur seperti ini (juga). baru tiba (sudah) bertanya-tanya. Di pinggir kali (letak) pondokannya. “Duh Tinggil gembira diriku. kanan kiri bunga mandakaki. Ki Sedum duduk dalam rumah. Raden Wiralodra melihat. Wiralodra berbicara. sedap malam berhadapan. kebun bagus tidak ada (duanya). 48. duduk (sambil) meraut bambu. 49. “Kiai saya memohon. 46. 204 . serta sungai apa namanya ini Kiayi?” Ia menjawab membentak.kebun palawija luas. dikelilingi bunga seruni. melihat kebun. Semua tanaman di kebun subur. 47. Lalu menengokkan kepala. “Mau apa kamu. untuk (membuat perangkap ikan.

54. bagaimana kalau saya ikut berkebun?” temannya berkata.” Berkata Kiai Tinggil. Kiai Wiralodra kesal. jauh dari negeri Bagelen. “Betul sekali Tuanku. Lalu perlahan-lahan dihampiri. Inikah Sungai Cimanuk. aku pemilik kebun ini. 53. saya ikut kepada tuan. Namaku yang dipanggil. karena saya barusan melihat sungai. 205 . (Ia lalu berkata) “Kasar sekali kamu Kakak. “Duh Kiai tolonglah saya. tentu karena orang kampung Tuan.” Petani yang berubah wujud. kasihanilah saya. saya bertanya malah dibentak. Tetapi wataknya begitu. apalagi orang (yang tinggal di) hutan. harus dimaklum Tuan.kamu datang ke pondokku. sesungguhnya saya Kiai . Ini kan sungai Cimanuk. 50. tidak lain saya mencari Sungai Cimanuk. saya baru pertama melihat. mau apa kamu bertanya. 52. tidak punya tatakrama. tidak takut sambil duduk. 51. semoga saya ditempatkan Kiai.

berdiri (lalu) duduk di kursi. didekatinya orang tua itu. lebih keras berbicara. Mulanya hutan diminta. 56. karena aku banyak rakyat. sambil berkata dengan suara keras. tidak bisa diajak berunding! Saya kan sudah meminta. kamu betul-betul berandal. raut muka seperti api. aku tidak akan menolong.” Raden Wiralodra . 59. 206 . tidak bisa diajak berbicara lembut.” Raden Wiralodra marah. karena aku tidak silau. (lalu) saling mendorong keduanya.55. masalah kebun anda. Tempatnya di kebun tadi. lalu kebunku. memalukan kamu orang kampung. Kiai yang menyamar berkata. kakek … bertani. 57. cepatlah kamu mati. walang kerik menuduhku. 58. menubruk orang tua itu. apakah harus dipaksa memberi. jangan harap aku menolong. Lalu berpindah kakek itu. “Hai kamu orang apa. melihat kamu ini. 60. tidak suka aku melihat.

ingatlah nasihatku. Cipunegara sungainya. dibanting lalu menghilang. matahari sudah terlihat.” Keduanya sudah menyebrangi. 63. menghilang menjadi hutan. jika pagi tentu (terbit) di timur. 64.mengadu kesaktian. jika sore terbenam di barat. apabila menemukan. 62. sudah dipastikan kehendakku. cepat kamu menyeberang. kijang mas yang matanya intan. jika kamu tidak tahu aku. Pamanukan (nama) kampungku. Buyut Sidum namaku. Di mana menghilang (kijang tersebut). ini bukan Sungai Cimanuk. kelak (tempat) ini jadi desa. Lalu memasuki (hutan) lebat . tapi ada (suara) terdengar … 61. 207 . berbelok. itulah Sungai Cimanuk kelak bila kamu membuka (hutan). “Hai Wiralodra cucuku. berjalan dengan cepat. bertapalah jangan tidur pasti kamu menjadi kaya. 65. Sungai Cipunegara. lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut). cepat buru kijang itu.

melihat sungai besar sekali. Macan lalu ditempeleng. sekarang aku ingin bertanya. SINOM 208 . lalu menubruk Raden Wiralodra menghindar. 67. Raden Wiralodra. Lalu ular mengejar. macan apa namanya ini?” Macan menggeram di depan(nya). menghalangi jalan. 69. 68. “Duh tolong Tuanku di mana aku bersembunyi. III.melihat macan besar. lalu macan menghilang. 66. Hilang ular jadi sungai. Ki Tinggil mengambil pemukul. muncul ular besar sekali. (Karena) ada macan besar.” Lalu berkata lirih. Lalu ia menemukan ular tadi. kemudian dilepaskan oleh Raden Wiralodra sungai menghilang tanpa bekas muncul perempuan cantik masih begitu muda. “Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini. Dipukul(nya) kepala ular. . Raden Wiralodra heran. Terkejut Kiai Tinggil..

1.

(Menghampiri) kepada Raden Wiralodra minta dikasihani. “Duh Raden Bagus tuan Orang yang tampan bertemu di sini, di dalam hutan. Aduh saya kasihan sekali, hendak mencari apa, serta apa yang dituju? [Silahkan] Raden terimalah salamku. Kan saya masih gadis, belum pernah bersuami, Larawana namaku, akan mengikuti, apa yang diinginkan Tuan, saya sanggup menolong, kekayaan kejayaan, asal saya dinikahi, [silahkan] Raden turutilah kesediaanku.” Ki Tinggil maju ke depan, sambil berkata lirih “Duh Tuanku ingatlah, ini di tengah hutan.” Wiralodra berkata perlahan, “Saya tidak takut paman, sebentar akan saya periksa pintar sekali berbicaranya, maaf saya hendak balik bertanya. “Anda ada di hutan, tidak pantas seorang perempuan, berada di tengah hutan, mengaku gadis belum bersuami, kan saya tidak percaya, tadi (minta) aku nikahi,

2.

3.

4.

209

meskipun (kamu) wanita cantik, tidak akan mau (diajak) menikah, sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.” 5. “Menjawab Nyi Larawana, … bagus, … menanti hasil kemuliaan, cepatlah jadi kakek-kakek, gigi ompong pipi kempot, kuping tuli pinggang bungkuk, sekarng saya meminta, jika kamu tidak menurut, pasti mati berdua bersamamu, Menghalangi di depan, Raden menghindar ke kanan (dan) kiri, lalu menangkap Larawana, Wiralodra menghampiri, lalu disingkirkan, (jatuh) tertelentang lalu menubruk, Ki Wiralodra menubruk, dikejar lalu bertarung, mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta. Wiralodra waspada, tidak kena aku, lebih baik aku mati, jika tidak bersatu, kemudian saling menangkap, (sambil) menuju arah timur. Wiralodra waspada, senjatanya berupa rantai, tidak ada orang setampan kamu. Lalu menggunakan senjata, Wiralodra menahannya.

6.

7.

8.

210

senjata rantai mengenai, tetapi tidak menyerah, makin susah melihatnya, ….. karena orang tampan, heran sekali Wiralodra, orang tampan … .sakti, silahkan Raden anda membalas kepadaku. 9. Lalu Raden Wiralodra, tangannya memegang cakra, Ki Tinggil cepat mendekati, “Duh Raden hati-hatilah, kira-kira Tuan kalah, karena …, lalu Den Wiracabra menanti, Nyi Larawana menadahi, terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas. Lalu Raden melihat(nya), badannya berkilau, tidak salah kijang mas. Lalu berkata perlahan, “Paman Kiai Tinggil, paman lihatlah dengan teliti, itu kan kijang mas ayo paman jangan tertinggal, aku kejar kemana arah (larinya) kijang. Keduanya lalu memburu kijang, dicegat (di) kanan dan kiri, dicoba ditangkap (tapi) tidak kena, jika jauh kijang menunggu, sehingga sudah jauh perjalanannya, kijang berlari ke arah timur, kedua orang itu tidak melihat(nya), terus mengikuti kijang,

10.

11.

211

siang malam memburu kijang mas. 12. Lalu berjalan sampai di, …………. tinggi, kijang mas menghilang, terlihat alur sungai, airnya deras mengalir, yaitu Sungai Cimanuk, lalu istirahat di bawah. lalu keduanya melihat di bawah, menuju pohon kiara besar, lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara. Terdengar (seperti) dalam mimpi, “Nak, ini kan Sungai Cimanuk yang dicari, berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua, sampai keturunanmu, (sudah) kehendak Yang Maha Agung memperoleh kemuliaan, sudah diterima oleh Yang Widi.” Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra. Sangat gembira hatinya, dalam mimpinya yang terdengar, nampak nyata memberi kabar. Raden Wiralodra, berkata kepada paman Tinggil, “Duh paman bahagia diriku, saya tidur pada hari ini, bermimpi (ada yang) memberitahu, ternyata inilah Sungai Cimanuk . Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.” Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh Tuanku jika demikian,

13.

14.

15.

212

bagaimana kehendak tuan untuk tempat tinggal saya?” Raden Wiralodra lalu mencari lokasi, mencari (di) pinggir kali, menemukan tempat yang luas dan datar. 16. Lalu membuat pondokan, Ki Tinggil yang membuatnya, lalu membersihkan badan, kemudian Raden Wiralodra, membabat hutan, serta badak (dan) banteng, semua melarikan diri berhamburan, pembawaannya panas dingin, setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar. Begitu juga Raja Budipaksa, dengan Patih Bhujarawis, berkumpul dengan pasukannya, serta prajuritnya, dan para senapati. Ki Gede Muara Cimanuk, sangat bersedih sekali, semua pasukan menjadi bubar, karena Wiralodra membabat hutan. Lalu mennyerang Raden Wira, bertemu di pondoknya, Budipaksa berkata, “Hai satria manusia tampan, kenapa lancang dan berani, siapa kamu ini, merusak anakbuahku, cepatlah pergi kamu ini!” Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

17.

18.

213

19.

“Hai setan siapa kamu, penghuni persembunyian iblis, beraninya mengusirku, dikiranya aku takut, berlagak di hadapanku, dasar gandarwo bulus, ke sini majulah kamu sebab aku tidak akan lari.” Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya. Seluruh (Ki) Gedeng Muara, sama sama mendatangi, heboh pertarungan Raden Wira, Ki Tinggil memanjatkan doa, doa Srabad Sulaeman, duruwiksa banyk (yang) lumpuh, lalu ada utusannya, dari Tunjung Bang, (yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat. Sampai tiba Sultan Mas, (yang mengatakan) jangan saling mengganggu, Raden Wiralodra itu, karena keturunan Majapahit, (lebih) baik dijaga, sesama saudara (harus) akur, karena masih bertalian darah Rara Kidul ratunya.” Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah. Sambil menyembah di hadapannya, meminta dikasihani, (ia berkata), “Duh Raden Tuanku, prajuritku salah sasaran, semoga Tuanku mau memaafkan.”

20.

21.

22.

214

Berkata Den Wira, sekarang sipa tuan(mu), tidak kenal rajaku, Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas. 23. “Duh diminta Paduka berkata, adik sultan berbicara denganku, saya bersukur Dinda sultan, beserta anak dan saudara, sampai keturunan Dinda, kan kanda bekerja … wangsit (dari) Yang Maha Tinggi. Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus. Lalu siang malam membabat, Ki Tinggil menjadi koki, serta menanam palawija ubi jalar jagung serta kecipir, macam-macam palawija, (tanaman) gundem jawawut tumbuh subur, tidak ada kekurangan. Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh bendara baru sekarang saya senang. Tidak ada kekurangan, palawija tidak habis dimakan, terkenal kebunnya, karena bagus tanahnya banyak orang berdatangan, ikut (membuat) rumah di situ, sejak tanaman subur, bergantian orang yang datang, sama subur bermacam-macam tanaman. Banyak orang yang membuat rumah, sampai ke negara tetangga,

24.

25.

26.

215

Lalu berangkat Raden menuju negara. ibu sampai bengkak matanya. siang malam terbayangkan. sampai ke Banyuhurip. tidak disangka sekali. menangis siang dan malam. 216 . berkumpul dengan ketiga anak(nya). Setelah tiga tahun Lama(nya) membuat perkampungan. 29. Bagelen negaranya. “Aduh anakku belahan jiwa. “Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama. bila ada yang pulang berperang. 28. melihat putranya datang. di sungai Cimanuk. Diceritakan perjalanannya. lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira. bagaimana anakku belahan jiwa. Tinggil ditinggal sendiri. ibu dan ayahanya terkejut. (saya) sangat ingin bertemu dengan ayah ibuku paman akan ditinggalkan. jangan dielakan. 27. menuju ke keraton. ayah ibunya sama-sama sedang duduk. Raden berkata perlahan. terimalah (dan) suruh masuk.Ki Tinggil menjadi lurah. tidak ada orang yang kekurangan makan. perjalanan putraku. karena ingat kepada anak. tinggal di sini dulu.

(Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal. lebih banyak orang datang. jumlahnya lima ratus orang 31. ayahnya ikut berkata. 32. 33. yang ikut membuat perkampungan. “Duh anakku belahan jiwa. salah seorang (di antaranya) kamu. ayah ibu mendengarkan. para saudara pekerjaannya mengurus negara. Putranya berkata kepada ayahnya.” 30. dengan saudaramu. semoga tercapai yang diinginkan. terserah kehendak kalian. Wangsayuda dengan Tanujaya. serta saudara-saudaranya. 217 . pesan ayahanda. empat orang putraku. kasihan mendengar pengalamannya. semua sama menangis. pimpinlah negri Bagelen.ceritakan kepada ibu dan ayah. dan Tanuhjiwa. aturan mengurus negara. menjadi lurah di sini. di barat jadi negara. mengenai perjalanannya.” Si Tinggil diangkat. supaya menjadi tahu. berkat pertolongan Yang Widi. semua siap bekerja dengan baik. serta Wangsanagari. gampang besok kalau sudah jadi.

“Saya mohon maap yang sebesar-besarnya. 36. pintar membuat siasat perang. dan siapakah namamu. gardu tempat menjaga. pengawal(nya) itu petani menuju wisma Ki Tinggil ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk.menjadi kaya Kiai Tinggil. Hindang Darma (namaku) saya mengembara. cantiknya tiada tara. orang kecil senang hatinya. kepada tamu yang baru tiba. dibuat seperti negara. 35. 218 . setiap lorong dijagai. 34. Bayantaka. Wanaswara. Ki Tinggil lembut bertanya. setiap hari yang datang membuat rumah Kemudian ada yang datang. apa maksudmu Nyai. karena luas tempatnya. serta masih gadis. Jayantaka. diangkat oleh Kiai Tinggil. seperti pangkat tumenggung. Hindang Darma namanya. Saya akan menumpang. 37. diiringi dua pengawal. “Duh paman tidak kenal padaku. aslinya dari mana ?” Nyi Hindang menjawab. serta Ki Pulana. Sukubahu (dan) Jungjang Krawat. memikul gandum dan padi. Puspahita. Surantaka.

ikut membuat pondokan. Hindang Darma kembali jaya. baru kali ini aku melihat wanita Cantik dan mulus tubuhnya. begitu pula semua muridnya. sebab bermanfaat kesaktiannya. silahkan memilih. 39. jika datang ke sini tentu aku lalu akan menyampaikan. seluruh murid-muridnya. 40. untuk ikut bertani. saya senang melihatnya. 38. Di barat atau timur. 219 . menanti bertemu musuh. apa pertimbangan junjunganku. saya hendak berkebun. alangkah gembira tuanku melihat wanita sangat cantik karena Hindang Darma sudah membuat rumah. atau saya bersawah. semoga saya diberi izin.” Sudah keluar dari rumah.” Ki Tinggil menjawab. Karena subur kebunnya. “Silahkan ikut saya di mana yang akan dipilih. tanah yang agak luas. memilih tanah yang cocok. Nyi Hindang (boleh) memeriksa. murid-muridnya itu. Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam). tapi nanti tuanku. untuk istri tuanku.

di muara lalu semua menyeberang.. pemberani namanya. terdengar kepada Pangeran Palembang. 42. lalu berbicara lembut. dalam sekejap sudah tiba di pondokan Hindang Darma. silahkan paduka duduklah semua. karena puluhan (murid) Pangeran. “Hai murid. 41. Karena Pangeran sangat pandai.” Pangeran terpesona melihat(nya). aku tidak mau mendengar. sudah sampai perahunya.terkenal ke negara lain.” (Lalu semua) sudah menaiki perahu. wanita ini cantik sekali. “Saya berbahagia kedatangan tamu (apalagi) pembesar yang datang. ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki. ada wanita kembali.muridku. Sekarang muridku semuanya. kalian pergi ke Pulau Jawa. tangkaplah untukku. aku sudah mendengar. berguru ilmunya seperti aku. 43. cepat-cepat berdandan. (lalu) berkata kepada muridnya. Terkejut Nyi Hindang melihat Kedatangan orang banyak. Pangeran sangat sedih. 220 . 44. berpikir di dalam hati. lalu cepat memasang layar.

bersama-sama datang ke tempatku. keturunan Sultan Aryadillah. 221 . dengan pasukan sekerajaan. jadi guru semua para Pangeran. wanita secantik anda. di negeri Palembang. 46. asal tuan dari mana. sepertinya ada pekerjaan besar datang dengan senjata lengkap. siapa nama (tuan). 45. saya berasal dari dusun. “Duh mohon beribu maaf karena paduka. Pangeran Guru namanya. pangeran taat kepadaku. jika kamu (telah) berguru ilmu.” Pangeran menjawab.sayang sekali kelakuannya. 47. jangan mungkir anda. seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan. perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki. yang sedang berguru ilmu. tidak mendengar berita. Inilah murid saya. aku perlu memeriksa kamu. Lalu Nyi Hindang berkata. (agar) terkenal di seluruh negara. yang ikut dengan saya. serta ada perlu apa. banyak yang berguru kepadaku. Saya sangat terkejut. ingin menyamai namaku. “Sayang sekali anda ini.

sungguh perkataan Pangeran. kan sudah mempersilahkan.” Nyi Hindang menjawab. hendak apa Tuan. Tinggal kamu Hindang Darma lancang memaksa (dan) berani. mau apa. sombong kamu ini.48. di depan di halangi. Tetapi ucapannya kasar. Hindang Darma tidak silau. 50. atau segan melihat. tamu meminta disuguhi. menjadi guru seperti saya. 222 . seperti yang lebih unggul. tidak memakai tatakrama seorang wanita. atau menyisakan pekerjaan. tiada tandingannya seperti kecantikanmu Hindang Darma pelacur murahan kamu ini. seperti kelakuanmu itu. senjata ujung keris. lancangnya keterlaluan. 49. “Duh sayang sekali rupa seperti Tuan. bertanya kepadaTuan. Seperti kamu orang yang sakti. tidak ada manusia. tidak bisa berkata pelan. berbicaralah yang sesungguhnya. rupa tuan sangat tampan (dan) gagah. 51. wanita cantik serta kulit kuning. silahkan (saya) mengikuti keinginanmu. tidak tentu negaranya.

semuanya akan dilayani. “Diizinkan membuat tempat tinggal. Cepat pangeran menyerang. Ki Tinggil sangat takut. banyak pangeran yang tewas. “Kang Pulaha saya merasa bingung. sayang wajah tampan(mu). sambil menantang bertarung. 55. ternyata malah dipakai tempat bertarung. 223 . Wisanggeni namanya. Bramakendali keduanya. 9takut) dimarahi paduka. Bratakusuma adiknya.” 52. kemudian keluar. pertarungan diperkirakan lama. dimakamkan di pekuburan Darmayu. pertarungan mengadu kesaktian bertarung mengadu senjata. kalau kalah saya tidak akan malu.atau kesaktian guru. silahkan sekehendak Tuan. 54. mencari tempat yang luas. “Duh Pangeran di sini tempat yang luas. Nyi Hindang sangat sakti susah menghindarinya. Semua pangeran 53. sudah menghadap. Ki Pulaha diperintahkan. semua pangeran tewas. kesenangannya bertani. Sudah kacau perkataanmu. serta tempat untuk bertani.

Air mata bercucuran. dengan paduka. karena Ki Tinggil berjalan.” Keduanya berdiam diri. serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah. semua teman-teman menunggu tempat ini. 57. kemudian dirangkul. semoga ananda berdua menjadi kaya. bijaksana serta sakti. 224 . “Duh paman yang saya kasihi. lalu menghadap Paduka. meskipun (seorang) pelayan. “Aduh anakku. dari negara Palembang. semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil Ditubruk Ki Pandakawan. menangis memanggil-manggil. Lalu berangkat secepatnya. saya akan menghadap paduka. Lalu ayahnya berkata. berjalan siang dan malam. 56.yang berperang tewas. Ki Tinggil menangis tersedu. 58. di negeri Bagelen. dahulu saya tinggalkan. tak disangka masih saudara. sudah pernah mendapat marah dari paduka. dahulu sama-sama menderita. sebentar saja sudah sampai. “Sudahlah tidak apa. saya doakan kepada Yang Widi.

Aduh mas junjunganku. serta banyak orang yang datang. Duduklah. celaka saya tuan. lagi pula kejadian. Nyi Hindang semakin berani. serta dibangun negara. berjajar membuat pondokan. Sesungguhnya Tuanku. istirahat dulu. 59. 60. temanmu pada selamat. Hindang Darma (punya) kelebihan. lega hatinya. Tinggil berkatalah padaku. berkat tuan semuanya terjadi. subur makmur di dusun. 61. nanti si Tinggil akan saya tanya. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan. kedatangan Nyi Hindang Darma. apa mendapat kesenangan. diberi kesejahteraan. Hindang Darma kembali dari berguru. makmur sampai nanti. terdengar oleh Pangeran Palembang. Tinggil di tempat tuanmu. 62. mendapat kasih sayang dari Yang Sukma. Mengajarkan kebajikan. mengatur siasat perang dan bawahannya. 225 . masih gadis (dan) sangat cantik. ditinggalkan (sendiri) di negara. karena (kamu) ditinggal sendiri. serta katakan kepadaku.Keturunan si Tinggil.

Nyi Hindang Darma didakwa. tumeggung di negara Bagelen. Tanujiwa beserta adiknya. menjadi guru pulang mencari ilmu. 226 . mengadu kesaktian di medan perang. anandamengikuti kehendakmu. semua pangeran tewas. Itu Tuan Singalodra. setelah setahun lamanya. Si Wangsanagara. “Hai anakku Wiralodra. hati-hati menangkapnya. maka saya secepatnya. menangkapnya harus secara halus. itu kan kakekmu. seperti apa kehendak tuan. Hindang Darma seorang perempuan. Wangsayuda. Tanujaya. kakekmu (juga) sama tewas. Hindang Darma sangat sakti. 65. karena tadinya hendak menangkap. Bawalah saudaramu. kalian turunan Majapahit. Pangeran Guru beserta Kiai. Nyi Hindang sangat sakti. tak kuat bertarung. Karena sama-sama berperang.lalu diserang Nyi Hindang. mohon izin ayahanda 64. sambil membawa murid pangeran. memberitahukan tuan. 63. dibantu prajurit istana. dari Palembang mencari ilmu.

68. Ki Tinggil didorong kemuliaan.ayahanda ikut iklas mendoakan. saya meminta berkah Paduka Insyaallah. untuk mempersilahkan Nyi Hindang. “Paman Kiai Pulaha. demikian jugaBayantaka ada. Ki Tinggil berkata perlahan. “Duh paduka junjunganku. IV.” 66. saya minta didoakan. kepada ibu dengan ayahanya. dipasrahkan kepada Yang Widi. Jungjang Krawat datang menghadap. Semuanya menghaturkan sembah. tempatnya di rumah Ki Tinggil. KINANTI 227 . Puspahita (dan) Wanasara semua lengkap menghadap. secepatnya berganti tembang. serta Ki Pulaha.” Tidak dikisahkan di jalannya. dipati membaca doa. kiranya (harus) terbawa. Raden berkata kepada Ki Pulaha. semuanya sudah sampai di pondokannya. 67. sertai Ki Tinggil pergi. silahkan saudaraku sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra) menetap di pondoknya. dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan.

5. Ki Tinggil berkata perlahan. 4. Telah tiba yang diutus.” Segera Nyi Mas menjawab. Raden Ayu sesungguhnya saya salah tidak memberitahukan.” 2. terlunta-lunta saya pulang. Lalu saya diutus. tiba di tempat (asal) saya di timur.” Nyi Hindang secepatnya berpakaian. “Baiklah tapi saya harus berdandan dulu. kulit kuning langsat 228 . Nyi Hindang terkejut melihat kedatangan Ki Tinggil. melihat orang(-orang) berperang. Nyi Hindang berkata lembut. ke tempat tinggal Nyi Hindang. “Duh selamat datang paman. lama sekali tak terlihat.1. harus terbawa oleh saya dan Junjang Krawat. 3. kancing berwarna hitam. datang ke rumah saya. saya takut Raden Ayu. serta saudara kakak dan adiknya. dihiasi deretan sisir. serta kembali lagi ke rumahku. Tuanku ikut dengan saya. Saya lalu bersembunyi. mengundang Raden Ayu. sesungguhnya hati saya.

cepat-cepat perjalanan saya. ingin sekali cepat bertemu. semuanya mendekat. silahkan masuk. Maka saya disuruh. paras seperti Hindang Darma. juga Raden baru tiba. tiada ada pada wanita lain. 7. di pedukuhan ini. cantiknya tiada tara. 8. Juga Raden saya memohon.” Nyi Hindang berkata perlahan. karena saya sangat hormat. saudara Hindang Darma. 9. saya ingin menumpang kepada Paduka. dengan kawan-kawan Ki Tinggil. Raden lalu berkata lembut. Oleh Paman Kiai Tinggil. 229 . Raden mohon beribu (maaf). karena Paduka. seperti bidadari. permisi untuk melihat kepada Hindang Darma. semua (ingin) melihatnya.” 10. 11. (dan) saya merasa menumpang. “Selamat yang baru datang. kepada Paduka.6. saya tamu baru tiba. Perawakannya sangat ayu. Setibanya lalu menghaturkan sembah.

Menurut Pangeran Guru. coba jawab Nyi Hindang.” 12. yang berperang dengan Nyai. Tetapi saya Nyai perlu (tahu). apalagi saya perempuan. 13. kepada Kiai Tinggil. hendak ikut selamat. (akan) diceritakan yang sesungguhnya. Wiralodra berkata manis. serta saudara-saudaraku. “Tidak menjadi apa Nyai. karena miskinnya saya. bagaimana asal mulanya. tidak berani melebih-lebihkan. “Duh Raden saya (akan) mengisahkan. 14.” 15. 230 . karena kewajibanku. yang menjadi asal-mulanya. karena saya memerintahkan. Nyi Hindang lalu berkata. saya ingin mendengarkan. (tempat ini) jauh dari negri Bagelen. bersumpah di hadapan Paduka. dari kecerobohan saya. saya perintahkan untuk diberi izin. perlu memeriksa perkara ini. siapa yang hendak membuat pondokan. atau mengurangi.semoga diterima bakti saya. semoga berkata padaku.

Jadi yang hendak kukerjakan. karena saya banyak orang. karena saya perempuan. pangeran sial dalam pertempurannya. 19. (Berkat) pertolongan Yang Maha Widi. kakek guru yang salah. meskipun saya orang kuat. atau saya berkebun. terkejut (karena) kedatangan pangeran. sedang berada di pondokanku. saya mencari akal Raden. “Kalau begitu keadaannya. semua pangeran.16. 17. saya diperintahkan.” 20. menuruti hawa napsu. Saya akan dibunuh. Saya memberi pelajaran bertani. Awal mulanya saya. bersama-sama muridnya sampai ke rumahku. lalu marah tiada tara. saya berani mengajarkan ilmu dan (ada yang) hendak menangkap saya. Wiralodra berkata manis. bisa membuat sawah. Perintah Pangeran saya turuti. saya tidak (akan) mengikuti. semuanya sama-sama tewas. bersawah dan berkebun. 21. orang(-orang) membantunya. 18. 231 . (saya) dikepung oleh para murid(nya).

tetapi dengan sangat saya memohon. saya izinkan untuk berpikir. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu. “Duh Tuanku jungjunganku. “Nyai jangan takut begitu. (bila) Nyai kalah menjadi istri(ku). Hindang Darma dengan adik (Wiralodra). karena saya membawa jagoan. 26. 232 . harus maju bertarung.” 24. saya sangat takut saya memohon hidup. taruhannya jiwa dan raga. 25. Wiralodra perlahan berkata. sudah jadi perasaan paduka. Perang tanding memperebutkan kemenangan. Paduka. mundur dari hadapan gusti. 23. saya yang menyaksikan. maafkanlah saya. jadi termasuk mengadu nasib. karena laki-laki kalah oleh perempuan. saya hendak melihat. karena sudah saya izinkan. jika demikian kehendaknya. 22. Hindang Darma dengan memelas berkata dengan sangat takut. hendak mencoba bertarung dengan Nyai.hendak meminta kerelaan Nyai. itu permintaanku. supaya saya tahu. Hindang Darma menyembah. segala tingkah-laku Nyi Hindang.

Jangan menghindar Cantik. kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang. Raden keluar berteriak. Kan jadi istriku. betul-betul sakti mandraguna. 29. (dia) tersenyum melihat adiknya.” Nyi Hindang lalu menggebrak. wanita cantik (yang) sangat menarik hati. “Aduh Nyai Hindang cantik. terguling di atas tanah. tersengal-sengal napasnya. pasti bakal kunikahi. berdua berdandan keprajuritan. 28. ke luar berperang tanding. Membelalak matanya. Ki Tinggil telah membawanya. kakang tidak kuat. Tanujaya pingsan. Tanujiwa lalu maju. saling mengadu kesaktian Raden lalu ditebas. Tanujaya namaku. bertarung berhadap-hadapan. 27. bila kalah Nyi Hindang. (saya) ingin memangku Nyai. mari sama-sama mengadu kesaktian. 31. Nyi Hindang menyambut perang perlahan. 233 .lalu Raden ke luar. Tanujiwa (dan) Tanujaya. memanggil. (Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh di hadapan Wiralodra. 30.

apa merasa senang hati. “Silahkan apa keinginanmu.” Tanujaya berkata kasar. Wiralodra berkata manis. bertarung berdua (dengan). “Bagaimana adik rasanya. gagah seperti adik. adik berdua kalah. malu banyak yang melihat. gerakan Nyi Hindang. (malah) bertarung kalah oleh perempuan. 35. 34.Hindang Darma sangat (sakti). mulai mengatur pakaian. putra pembesar negara. Bila seperti diriku. “Duh Dinda kanda tak sanggup. (pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik 32. 234 . maju bertarung. Hindang Darma sangat sakti. Nyai Hindang Darma. bersenang-senang minum kopi. orang muda mashur jika makan.” Wangsayuda berkata perlahan. sangat kaya harta benda. seperti burung sikatan menyambar belalang. 36. (Raden) Wangsayuda. Mentang-mentang ayah dan ibu. Lalu ia mempersilahkan. “Coba kanda keluar. saya mengaku kalah. 33. aku ingin melihat.

…. kanda pasrah adikku. diperintahkan menangkap. tidak disangka tumbang tarungnya. 40. 235 . Nyai Hindang cantik. sudah kalah jagoannya. berkelana ke setiap (negeri?) bahagia (jika) pergi ke gunung.” Wangsayuda menyela. Bawa kedua jagoan ini menyerang sepanjang jalan. sambil tersenyum berkata lembut. 37. Raden Wiralodra berkata. malu oleh ayahanda. “Tidak berguna kamu ini. Hindang cantik bukan musuh.mendapat malu (di) pertempuran. bertarung keroyokan. Tanujaya dan adiknya Tanujiwa membentak. malu untuk kembali pulang. Kanda jangan memulai. 38.” 41. Adiknya lalu berkata. “Biasa orang yang kalah bertarung.” (jika) sudah kembali ke negeri. 39. Memerintah adik berdua. “Kok kanda Wangsayuda bisa. saya adu kemampuan(mu) ternyata tidak berguna. sungguh kanda malu oleh ayahanda. Jadinya sangat susah. silahkan kanda bertarung.

” Lalu berkata berlahan. waktu melotot takut sekali. berperang dengan Hindang. dari sini hingga (ke) negara Bagelen kepada ayahanda. Kemudian dipanggil(nya). saya bernazar untuk menggendong kanda. “Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan. 42. bergantian berdua.” 43. Nyi Hindang saya panggil. siapa kalah siapa menang.” 45. “Duh Mas Nyai Hindang Darma. jadinya saya panggil. wajarlah orang yang bertarung. 44. 46. kanda tidak berani. jangan diambil hati. Raden Wiralodra. nanti kanda maju bertarung. dengan saudara-saudaranya. “Adik berdua berbicara (demikian). karena bertanding di pertarungan. ternyata unggul berperang. Wiralodra berkata perlahan. Wangsayuda tertawa. melawan Hindang Darma. Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra). Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti 236 . terbahak-bahak keras. Bila unggul bertarung.nanti dinda akan melihat. lalu Nyi Hindang menyembah.

Tinggal saya sendiri. lalu diburu. manis legitnya Nyai Hindang berkata perlahan. kepada Nyai Hindang Darma. kamu Nyi Hindang. 3. V. DURMA 1. sama-sama seimbang. 2. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung.47.” Lalu Nyai ke luar ……. Raden dengan Hindang cantik. Wiralodra berkata. mandraguna. Lalu saling mendorong. ……Nyi Hindang menyembah perlahan. sudah saling berhadapan. “Ternyata betul prajurit (sejati). 237 . ke luar hendak bertarung. jadi apa yang harus kulakukan?” 48. tarik menarik. “Duh Tuanku. oleh karena keduanya sama sakti. Nyi Hindang lepas dari tangannya. mengadu kesaktian. Jangan Nyai … harus dituruti …. lalu ditangkap dengan berani. [bahwa meminta] ingin merasakan. karena merasa sayang.

Raden terus mengikuti. “Susah sekali diriku. tetapi tidak samar Den Wira. yang bertarung ini. makan buah jambu itu. kutilang hendak makan. lalu jambu menghilang. Nyi Hindang bingung hatinya. 238 . karena Raden menjadi burung. oleh Raden cepat diburu. Bingung sekali Nyi Hindang. diikuti Hindang cantik. ular lalu menghilang. menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat. Menjadi batu sebesar anak gunung bercampur … gunung. serta berkata. ke manapun. 6. 5. mengejar Raden Wira. Karena Raden sakti tiada tara. 4. menghilang menjadi ular. Kemanapun. Hindang Darma menjelma menjadi jambu air. saya bersembunyi ditemukan. lalu yang bertarung di pinggir gunung. yang kemudian menjadi burung. Menjadi taman yang airnya sangat bening. (yaitu) burung garuda. menghilang menjadi hutan. mencebur ke dalam air. Nyi Hindang meloncat. 7.Nyai Hindang berlari.

menjadi bunga di istana bersamaku. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia. Raden Wira menyesal dalam hati. Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon. 11. sudah hilang(kan) namaku. semakin Nyai cemberut. tetapi saya mohon. 12. lalu berjalan menuju barat. (semakin nyata) kecantikannya. yang menjadi burung ini. bersama-sama mulia denganku. “Aduh Dinda baru bertemu. Saya tidak bisa 9. dengan ceritanya. kasmaran melihatnya. karena ada mata airnya sampai di Cimanuk dari gunung. Pegaden yang dituju. Hindang adalah nama di air. seperti apa perjalanannya. 10. di sebelah barat kali Cimanuk. Raden dengan negara(nya). Bila kelak sudah menjadi negara. yang… (setelah) bertemu (lalu) saling peluk. Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik. semoga diberi nama. 239 . masih penjang perjalananku ini. Darmayu namanya nanti. dari mana Dinda.8.

(terdengar) sorak-sorai. di (pinggir) hutan Cimanuk. Asalnya dari sebelah timur. (apa) keinginanmu tercapai?” Adiknya berkata lembut. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya. 14. kembali ke negaranya. 13. (karena) ada yang membuat negara. Setelah keduanya melepaskan rindu. semoga lancar nanti. “Hendak meminta izin kanda. 16. lalu berangkat. bercampur dengan suara senapan. hutan di sebelah barat Cimanuk. “Sukur bahagia untukmu. hendak memeriksa. kepada pasukan. untuk keturunan. ketika Raden mendekati. pasukan yang akan berperang. 15. Di Pegaden Wiralodra tiga hari.” Kakaknya mengizikan. kakaknya mengamini. 240 . Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur.membuat negara. menjadi negara. terkejut ada ……. lalu pasukannya tiba. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan. lalu berkata kepada kakaknya. anak cucu[nya] Dinda.

yang berani membangun negara. siapa yang layak bertarung. hendak memeriksa yang membangun negara. silahkan menghadap Paduka. “Kebetulan sekali saya. sebetulnya saya ini Wiralodra nama saya. ……… mengiringi Paduka. Dalem Kuningan 241 . Wiralodra bertanya lembut. Kemudian bertemu (di tepi) kali. besar negaraku. negara ini masih bakal.” 18.” 19. berani membabat (huta). tentu akan rusak. Adapun yang membangun bakal negara (ini). siap sedia berperang. bagaimana jika sudah waktunya. “Duh mencari apa. Garage nama daerahnya. sukur (dan) bahagia bisa bertemu. ini pasukan siapa. Jika berkata kebetulan diriku.” Lalu berkata lembut. 21. dan siapa namanya. (karena) telah menjadi negara. Karena waktu itu masih bakal. 20. Dipasara lalu menjawab.17. nanti saya menghadap Paduka Kangjeng Sultan.

membawa teman kamu ini. baru selesai berperang dengan Dalem Kiban. (orang yang) berani membangun negara. lalu ia berkata. 26. 24. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan. Saya mengaku salah kepada tuan. Bahwa yang membangun negara. Perkenalkan saya Arya Kuningan. datang dari hadapan Paduka. 242 . belum berkata kepada paduka Sultan Wali.kedua orang itu lalu menghadap. Wali Sunan (Jati) di Gerage. (hendak memberitahukan kepada) Gusti. itu siapa?” Lalu berkata lembut. 25. diperintahkan maju berperang. Saya ini diutus Sultan. menghadap kepadaku. saya merasa bersalah. Berkata (Arya) Kumuning. prajurit dari Galuh. dizinkan oleh siapa?” Wiralodra menjawab. disuruh memeriksa ini. “Sebabnya saya menghadap Paduka. 22. (yang berada di) wilayah sultan. Garage nama negaranya. 23. Inilah (Wiralodra). cepatlah Dipasara.

Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda. orang Sunda kan sembrono. olehmu. lalu ditendang. saya orang yang bersalah. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra. mengakunya prajurit tangguh.” 30. dikiranya aku takut. rupa seperti kamu. aku adalah Arya Kumuning. 243 . “Coba lawanlah aku. bila prajurit itu dari negara Kuningan .” Wiralodra mengingatkan. Dipasara terguling. Dipasara tangkap aku.” Lalu berkata “Memangya kenapa (arya) Kuningan? aku sudah minta maaf. sampai menyembah. “Jika demikian kamu ini. 29. 28. (kamu) prajurit sombong.tetapi saya meminta keadilan. Kemuning aku tidak takut. tidak punya sopan santun. terserah anda. Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar.” 27. tidak meminta izin Gusti Sultan. Wiralodra adalah putra dari timur turunan dari Majapahit. bijaksana.

Tindakan Arya Kumuning. keinginan pribadi. karena (keduanya) prajurit tidak ingat belum memperoleh izin Paduka. Sinuhun tidak mengizinkan. Dipasara tertelungkup di atas tanah. Kemuning melangkahi (Sinuhun). 32. tidak bisa bergerak 244 . lalu ditangkap dengan berani.31. untuk mengadu kesaktian. (karena) Si Windu yang menendangi. 35. orang Galuh banyak yang mati. Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang. Si Windu nama tunggangannya. terus maju. karena banyak pengalamannya. Kemuning menyerang (dengan) berani. orang yang membangun negara. lalu merayap menuju kuda. lalu ditangkap. ia tidak berdaya. 33. lalu ditunggangi. bersukur (karena) bertambah wilayah jajahan. Oleh Raden Wiralodra. kendalinya dipegang. 34. bertarung saling mendorong. ia masih kuat. pasti dia mati. perang atau mengusir. Si Windu menendang karena kuda pusaka. ditendang berguling.

tidak kuat Arya Kumuning. (lalu) berjalan mundur kuda (itu). Maka si Windu tidak kuat bertarung terkejut badannya. ketika perang Galuh dulu. (karena) bagaikan kilat majunya. karena Windu sangat marah. memerciki gunung. padahal dia sering berperang. melawan Raden. Den Wira (merasa) sangat kasihan Si Windu menyeringai.kekuatannya sudah hilang. 36. “Kurangajar!” Kumuning berkata.” Si Windu segera melesat . pertanda sujud kepada Paduka. lalu dilepas. Karena saya tidak berani bertarung. 245 . lalu Si Windu mengucap. seperti agak melawan berperang ditarik dengan cepat. “Aduh Raden lepaskan saya Paduka. menahannya. 37. Semakin kencang majunya. 39. heran sekali Si Windu ini.” Windu berdiri di atas lutut kakinya. 38. ia kalah bertempur. perang ini kan melawan satu orang. Raden kasihan melihatnya. waktu Dalem Kiban. menggempur manusia satu negara.

keturunan Budaprawa. Windu berlari. 44. kepada Dipasarah. 42. negara asal Gusti Kuningan sedih (hingga) tidak sadarkan diri. menghilang di dalam hutan. 246 . Paduka berguling di atas tanah. serta memasrahkan diri. (beliau) sangat sabar. jiwa raga hamba.40. “sudahlah Dinda sekarang 43. 41. Serta sampai di perbatasan negaranya. Wiralodra berkata lembut. betul-betul prajurit sejati. lalu Raden Wira. cepat pulang menuju tuanmu kan sudah ada negara. sangat gembira hatinya. dari kuda Harba Puspa. Oleh karena itu Wiralodra semakin … bertemu dengan Patih Dipasara. kDipasarah lalu cepat menyembah. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan. Sudah bubar semua tentara Kuningan. karena kuda (ini) dulunya.” Dipasarah menyembah kepada Kiai Wiralodra. kepada Wiralodra.

keturunannya dahulu. orang yang menggantikan. lalu dipegangnya. untuk keturunan Wiralodra. kebetulan bertemu. DANGDANGGULA 1. keturunan Majapahit. Mohon ampun beribu ampun. semuanya terserah Sultan. meminta restu Paduka. serta takdir Yang Widi. 46. “Duh kamu Wiralodra. bahagia sekali kamu ini. mati hidup saya. (karena)saya (telah) membuat negara. 247 . Lalu menyembah mencium kaki Sultan. ke negara Garage. memohon berkah dari para wali. 45. kepada Gusti Sultan.hendak melanjutkan perjalanannya. Wiralodra berkata kepada Paduka. VI. diserahkan kepada Paduka. di mana ke mana pun sedia. karena anda keturunan sultan. sudah tiba di hadapan Paduka. dari Brawijaya dulu. sekarang hendak kembali. Semuanya sudah mengizinkan. (para) wali sedang berkumpul. serta anak cucu . (atas) kelancangan hamba. 47.

kelak hingga anak cucu. 3. cepat-cepat perjalanannya. seperti apa Nyi Hindang Darma. berpelukan semua saudara. tetapi Hindang terdengar suaranya. 2. menjadi campur dengan wanita. karena Nyai Hindang Darma. tertangkapnya itu?” Kakandanya lembut berkata. setia serta bijaksana. kan Hindang Darma ikut. dinda. 248 . (dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan. kebiasaan orang Dermayu. tidak mendapat kabar berita. sampai di Cimanuk. betul-betul orang yang mumpuni. Tidak suka menikah. Ada sumber air di kali Cimanuk. memperluas negara. meskipun kanda yang memulai. 4. namailah Darmayu. Tetapi dinda menurut. “Duh kanda sangat kuatir sekali. tidak licik bertarungnya. Hindang Darma menang.Wiralodra mundur dari hadapan Paduka. “Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali. semua saudara yang ditinggalkan. Serta sudah takdir Yang Widi. lalu [sama-sama] bertemu. Hindang Darma bahasanya lembut. jika nanti menjadi negara. membuat negara.

berdua keluar dari pintu. 5. moga-moga semua membangun. banyak yang sengsara. tempat[nya] mengatur pekerjaan. menjadi tujuan seluruh bangsa. dengan Ki Tinggil. Tetapi kanda (serta) adik-adik. 6. permisi dinda hendak ke luar sekarang. Bayantaka. (untuk) menjadi pejabat di negara. ada di Darmayu. keris atau pedang. Kakaknya mengizinkan. dari timur barat datang. Semua saudaranya ini. Kelak negara Dermayu ini. sama-sama berumah tangga. untuk meresmikan negara. Kiai Pulaha. negerinya sangat ramai. 249 . tetapi susah nanti anak cucuku. katumenggungan dinda.jika bepergian tidak memberi wasiat. membuat pasukan. semua oarang suruh berkumpul. dengan mantri Wanasara. aku persilahkan semua saudara. lengkap berjejer di depan. 7. berkata silahkan bagaimana kehendak kanda. Surantaka. karena perbawa wanita. serta perkemahan besar. (orang dari) sebrang nanti tiba. bertemu di tempat upacara.

Bekerja bersama-sama membangun negara karena sudah terwujud. menyembelih kijang memotong sapi. 11. semua sudah sedia. yang sebagian tertawanya jatuh bangun. lalu berkata manis. Lalu keluar (yang punya) hajat. suara oarang-orang gemuruh. tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu. Sudah berunding semuanya. lenggak-lenggok (dengan) perut buncit. serta nyanyian gembira.8. Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil. hadiah untuk (para) kawula. negara berkat kehendak Yang Manon. 10. oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak. karena untuk tempat berpesta nanti. hendak mendirikan negara lain. berkumpul para kawula. “Hai semua saudaraku yang ada di sini. 9. semoga semua berkenan. bersorak bagaikan prahara. yaitu Raden Wiralodra. semua berkumpul di tempat pesta. Ki Tinggil juga menari. Gamelannya angklung calung suling.. mulutnya berbicara terus. suami istri berkumpul. berbentuk perkemahan besar. disoraki oleh temannya. bergantian menari. (karena orang) besar dan kecil berkumpul. sampai seminggu lamanya. 250 .

negara sudah jadi. sambil membawa hidangan. Semuanya bubar. (lalu) makan beramai-ramai. serta kamu semua menyaksikan. setiap bulan seperti ini. lalu Raden berkata perlahan. Semua orang berkata “(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu) kami semua senang. Semua orang tertawa (dan) menyoraki. negara Demayu. Sesudah (menyantap) makanan.” 12. (kepada) semuanya saya memohon. Para orang tua sama-sama mengamini. dan negeri ini diberi nama. 251 . bergemuruh orang banyak mengatakan amin.” Kemudian semuanya membbaca bismillah. rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi. (agar) saya ikut gendut sambil menari berlenggak-lenggok. “Duh saudaraku semua. bersantap (dan) bergembira sudah selesai. Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya. lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan. 14. gamelannya celempung suling. Yang membaca doa sudah selesai. “Duh saudaraku semua. saya mempersilahkan semua untuk bersantap. semua saudara bersama-sama makan-makan. serta membaca doa (memohon) keselamatan. senggak(1) penuh irama. (yang) sama-sama hadir. 13. iuran semua saudara.

mendapat anugrah Yang Widi. kembali ke negara Bagelen. sampai ke perbatasan. karena kanda tidak bisa pulang sekarang. Tetapi adik katakanlah. Kakaknya lembut berkata sambil memeluk. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat. Adik-adik(nya) sudah menyalami. (katakanlah) adinda semua berada di sini (mengadakan) pagelaran di kadaleman. dan Wangsanagara itu adalah iparnya.” 17. 252 . jika kanda Paduka mengizinkan dinda hendak pulang (ke Bagelen). oleh karena sudah lama. kepada ayah (dan) ibu nanti. kepada dinda semua. 15. “Duh Dinda semoga selamat. karena ditinggalkan oleh adik-adik. Lalu bersalaman. 16.yang bersantap gembira hatinya. tidak salah diundang. “Dindaku semuanya apa yang harus kulakukan. lalu berkata bagaimana kanda. apa yang terlihat. kakaknya mengantar. ayahanda menginginkan. besar kecilnya. masih membereskan negara. suara celempung (dan) suling terbawa ngin. bercampur dengan nyanyian.

akan saya minta. 4. sampai menjadi bupati sekarang ini. Ini kan bakal negara. “Percumah saya berkelana. sampai di akhir nanti. VII.Diganti (dengan tembang) Durma. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara.” Watuhaji membalas. aku tidak suka berperang. “Kamu ini datang kepadaku. menurunkan tujuh bupati. lalu diperiksa. 3. (oleh) Den Wiralodra. menjadi pejabat di negara ini. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara. sebab menjadi pintu gerbangnya. 2. (akan) merebut negara. Watuhaji kakaknya. anak cucunya. tanpa sopan santun. diiringi [dengan] teman-temannya. (itu) menghina. Karena negara akan mulia. tanpa tujuan. di negara ini. DURMA 1. masih setengah hutan. karena negara belum jadi.” 253 . jadinya saya tiba. ada musuh (yang) datang.

Prajurit Watuhaji. baksanya (tarian perang) lembut dan manis keris disandang. Kiai Tinggil lagi senang perang. ramai yang berperang. (Membuat) heran yang melihat. lagaknya sangat berani. Lalu menoleh mengerikan. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha. dibawa ke pintu gerbang. pantas sekali maju perang. 254 . pedang dipegang di tangan. sambil berteriak (menantang) bertarung. melompat seperti kilat. Wiralodra mukanya seperti api. 9. orang yang berada di tengah hutan. Nitinegara heran. “Hai kamu Wiralodra.5. Ki Pulaha maju bertempur. 7. tidak disangka bisa perang. maju dengan penuh sopan santun. Kiai Pulaha berdiri. 6. bersama teman(-teman)nya. riuh rendah. ternyata bisa bertarung. seperti orang(-orang) kerajaan. Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung. 8. sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh) ramai yang berperang musuh banyak yang kalah. jika menebaskan senjata.

jangan (terlalu) lama mengadu prajurit. 10. lawanlah aku! 13. Kerahkanlah prajuritmu. terguling di atas tanah. Nitinegara dibanting. Ayo sambutlah!” Raden Wira ke luar. (kemudian) diikat oleh Ki Tinggil. 255 . karena kamu prajurit sejati. Sesumbar Raden Wira di tengah medan perang. menusuk Wiralodra.” Berkata Wiralodra. Ayo tebaslah dengan senjatamu!” Cepat Nitinegara. yang kuat di medan perang. “Hai prajurit Watuhaji. oleh Wira(lodra) disuruh dibawa. Sudah menyambut. jangan ragu untuk memukul. (lalu) berhadap-hadapan di medan perang. 11. akan aku tahan. “(Aku) tidak biasa mendahului. memegang senjata. bila kamu prajurit sejati. ayolah (kamu) maju berperang. lalu maju perang lagi. majulah berperang. “Hai Wiralodra (kamu) ayo gunakanlah keris atau pedang. 12.” (lalu) berhadap-hadapan.

mengacau di negara Dramayu (membuat) susah orang kecil dijarah kerbau (dan) sapinya beras padi dan harta banyak orang dibunuh yang diserang melarikan diri ke luar dari Bantarjati 18. bertarung saling mendorong. Wiralodra (lalu) mengeluarkan ilmunya. Watuhaji meloncati.Bertengkar (dan) saling menyerang. tempat untuk bertapa. 16. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata. bertemu tandingannya dalam berperang. menuju arah selatan. Ki Gedeng Sambeng namanya. karena Raden bertarung. Kelak keturunannya 17.. 14. berganti nama. (kemudian) menjadi pendeta. yang ditujunya itu . 15. letaknya yaitu di Cisambeng. Menurut cerita ini. (Badannya) menjadi sebesar anak gunung. ……… Drayantaka (dan) Wanasara 256 . Watuhaji dan Den Wira. melarikan diri dari pertempuran. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung (yang bernama) Ki Gedeng Depok.

(semua) membuat rumah. (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah. pasukan[nya] tumenggung tunduk semua. (dengan) membawa harta (benda). serta banyak serdadunya. harta beribu juta. kedatangan orang(-orang).mengamuk di medan perang. tumenggung dserta patih. Watuhaji dan Nitinagara. (lalu) mengangkat demang (dan) rangga. ponggawa (dan) para mantri 21. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang). menawarkan tanah. 257 . tanah (di) Bogor dan Karawang. tentara admiral bertambah banyak. diserahkan kepada Ki Tinggil 19. Raden Wiralodra kaya. negara tambah ramai. Lolos menuju Dramayu. gembira semuanya. 22. masing-masing berkeluarga. kepada bangsa Belanda. 20. semua lengkap. menjadi Kiai Dalem. Wiralodra diangkat. lalu den Wiralodra mengalahkan banyak tentara. beberapa gotongan. sudah berdiri (pasukan) jendral. pasukannya kira-kira seratus orang.

Penyebab Nitinegara menangis. 258 . banyak orang-orang. 23. (karena) berbuat (telah) salah. 24. orang(-orang) kecil merasa senang. dari keratonnya. kepada kedua tumenggung. karena ada keinginan Raden Wira. (Nitinegara) meminta belas kasihan. dari negara lain. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya. menjadi macan negara. 25. ke negeri Dramayu. sebab hendak menghancurkan Darmayu [itu]. Menjadi negara (yang) subur makmur. Disayangi Sultan Mataram. (kelakuan) seperti itu tidak baik. kesaktiannya tiada tara. melarikan diri (pada) malam hari.menyerahkan harta(nya). memotong leher saya. Seharusnya Tuanku. membawa harta bendanya. oleh karena paling sakti di dalam negeri. diganti lagi (oleh) dangdang(gula). merasa takut yang melihatnya. VIII. jika nanti hendak dikirim . DANGDANGGULA 1. kepada Sinuhun Mataram. Wiralodra. Terkenal ke seluruh negeri.

Yang perempuan bernama Nyayu Hinten. 2. Dalem yang mejadi penggantinya. Dalem Darmayu. diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan. 3. tinggal menjadi senang dan raharja.(Tapi)saya memohon agar tetap hidup. Watuhaji yang berdosa. sebanyak empat orang. telah jauh perjalanannya. bungsunya Raden Drayantaka. ayahandanya sudah meninggal. mengganti kedudukannya. menjadi dalem Darmayu. semakin lama negara semakin kaya. 4. 259 . dalem di Darmayu.” Wiralodra sangat kasihan melihat[nya]. yang sulung (bernama) Sutamerta. disuruh menuju gunung. dosa yang sangat besar. (diceritakan) sudah mempunyai anak. Lalu berangkat Nitinegari. nanti kedudukannya sangat dibedakan dari yang lain oleh karena nanti turunan Nitinegari. permaisurinya empat (orang) lahir putra tiga belas banyaknya. putranya (yang bernama) Raden Wirapati. Wirapati selanjutnya. Wiralodra yang kedua. Dikisahkan Kiai Dalem. (Lalu) dibekali Nitinegari. mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal.

Kakaknya sangat setuju. putranya diberi 8. Werdinata dengan Nyayu Hinten. 260 . 5. berunding dengan kakaknya Den Wirapati. (bila) saudara mau. Raden Wirapati. memiliki saudara seorang raja. tetapi (jangan) dibawa. Adapun (untuk nama) putranya. Karena sangat saling menyayangi. karena hanya satu. adikku yang perempuan. lalu melahirkan. lama-lama jatuh hati. bernama Werdinata. Werdinata kepada (Nyai) Hinten. Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan. gembira sekali Paduka. di Pulo Mas negaranya. tiga belas bulan lamanya. setelah menikah nanti.perempuan dan laki-laki. terus terang kepada kakaknya. Dinda Werdinata. sangat saling mengasihi. Serta lama kelamaan adiknya Nyayu Hinten mengandung. 7. 6. (selalu) saling mengunjungi. ke negara adiknya nanti. seperti dengan saudara. nama yang disepakati.

pasukannya siluman. 9. kedua ayahnya sangat sayang kepada anaknya. (sehingga) tidak kuat berperang. (ketika) berumur tiga tahun. Ada keperluan apa?” 11. “Hai anakku yang tampan. memenuhi permintaan ayahanda. Ayahandanya berkata. (pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit. Lalu ayahnya berkata. oleh Dalem Ciamis. kepada putranya Sultan Pulo Mas. karena diserang. “Selamat datang anakku. menghadap ayahandanya. Werdinata di Pulo Mas. serta Dalem Kuningan. dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang. Lalu ayahandanya berkata perlahan. 261 . kuning cahyanya bersinar.Bagus Raden Wringin Anom namanya. (karena) ayahanda menerima surat. sebab Raden Wringin Anom. karena sudak bijaksana. Kemudian Den Wirapati. 10. dibawa mengunjungi ayahnya. hendak meminta bantuan. gemilang cahayanya. putranya sudah tiba.” “Semoga bakti ananda diterima. cepat(-cepat) aku memanggil(mu). onom dan mahluk halus.

Dalem Wiralodra datang. dengan membawa tentara makhluk halus. tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis. Silahkan ananda (apa) tindakanmu. “Duh putra tolonglah. “Baiklah. sudah berada di depan. tidak terlihat wujudnya. saya serahkan negeri (ini). karena pasukannya siluman. 262 . hanya suaranya yang bergemuruh. seperti orang berbaris hendak berperang. 13. (jangan) khawatir ayahanda raja. (melawan) musuh para siluman. (yang) meminta tolong ayahanda. kata anaknya. karena dikepung musuh. lalu bubar menyerang para siluman. onom dan mahlukhalus. menggeram suaranya. putra yang menanggung. ananda harus ikut. 12. Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman. menghampiri serta memeluk sambil menangis. (dari) Ciamis dan Kuningan.dari Dalem Sumedang. Jika demikian saya berangkat hari ini. 14. Orang Sumedang banyak yang ikut. karena ayahanda akan bertarung (melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti. karena itu mereka sangat hormatinya. Paduka Dalem Sumedang.” Lalu ayahandanya berkata. Orang(-orang dari) timur melihat.

berlarian pasukan Kuningan. yang diincar tinggal kawannya dan raja. 16. Lalu Dalem Wiralodra. dikeroyok bertarungnya. jatuh bangun pasukannya. dan Tumenggung Dongkara. putranya mengusir para siluman. Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis. sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis. Orang(-orang Sumedang gembira. Lalu orang(-orang) Sumedang.Raden Wiralodra. merangsek (ke medan) perang. karena Dalem Darmayu sakti. maju bagaikan kilat. karena Raden Wringin Anom. berubah wujud. sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang). hampir tertimpa kedua dalem ini. (ialah) orang(-orang) Ciamis. 263 . sama-sama ikut bertempur. menjadi sebesar anak gunung. Serta keesokan harinya pergi berperang. mengemban (tugas itu). Suradiningrat (dan) Brata Kumuning. Ramai yang berperang. Banyak prajurit tewas. Prajurit keluar semua. Raden Dalem Wiralodra. musuhnya pasukan onom. karena sangat gembiranya. dan semuanya merasa bahagia. 17. (dan) khawatir (pada) ayah(nya) 15.

gigi taringnya terlihat bersinar. sebab khawatir akan negara. bagaimana musuhmu?” Putranya berkata kepada ayahnya. 264 . jari-jemarinya menyentuh tanah.” Ayahnya sudah mengizinkan. Den Wringin Anom mengejar siluman. sudah bubar tidak ada yang tertinggal. terpisah raja dan rakyatnya. “Jika mendapat izin ayahanda. 20. berdua dengan Jongkara pelayannya. suaranya bagaikan halilintar. lalu putranya menyembah Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu.. berdua dengan Paman Tumenggung. lalu bertemu dengan ayahandanya. sampai di perbatasan. tidak ada yang layak menjaga. juga musuh ayahanda. matanya (menyala) bagaikan matahari kembar. (bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan. melesat ke angkasa. Ciamis dan Kuningan.18. Orang-orang ramai melarikan diri. dikejar oleh Dalem Wiralodra. ananda hendak kembali sekarang. menyelamatkan diri pasukan Ciamis. Kemudian ayahnya mendengar yang berita. Lalu anaknya berkata lembut. Bubar pasukan dari Ciamis. 21. “Kebetulan sekali anakku. 19. “(Banyak yang) melarikan diri.

22. 23. ramai orang(-orang) menagkap. Putranya mengucapkan terima kasih. naik joli dan tandu. Cepat ayahanda menjumpai serta membawa putranya yang perempuan. 265 . anak gunung sangat buruk” (1). diiringi gamelan serta prajurit penghulunya siap. Lalu sudah bertemu. kita berdua bersama menaiki(tandu). serta para pelayan. sama-sama menghormati. “Mari anakku sama-sama menaiki. serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam. Ini putra ayahanda seorang. karena gembira sekali mereka. segera menaiki tandu. Bersama-sama turun dari tandu. ayah dan ibu bernadzar anakku. 24. bagaikan bumi terbelah. berisi uang mas. dengan panglima perang. membawa bokor mas. sama-sama berebut uang. para wanita serta ibunya. sepanjang jalan jadi terlihat sedang berhadap-hadapan. dicampur dengan uang talen. Ditaburkan uang tersebut. setelah sampai (makanan) disajikan. untuk menyapu dan memasak nasi.telah bubar sekarang. Semua para prajurit.

kepada putra Wiralodra. (atas) kasih sayang ayahanda. menjadi satu negara. saksikanlah ucapanku (ini). Dalem berkata manis. semua saudara (pamit) 266 . Lalu sama-sama pulang. ramai-ramai makan-makan hingga tujuh hari. “Hai sanak saudaraku. Aku tidak memiliki (lagi). kawula dengan prajurit. saya serahkan kepada anakku. dengan para ponggawa. dengan Darmayu ini. Kemudian semua mantri. “Hai para prajurit. makan bersama. saksikanlah oleh semua. yang bersama-sama duduk di tempat ini. mendapat anugrah dari ayahanda Kandanghaur pesisir utara saya terima. 26. bawahannya semua. Lalu putra Dalem Wirapatih turun dari tempat duduknya serta menerima baktinya.para pelayan berhamburan ke depan. (saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih. pesisir Kandanghaur. bergembira semuanya. (saya) sangat berterima kasih 25. yang tinggal di negara Darmayu.” Lalu sama-sama bersalaman. 27.

Selanjutnya (di) negeri Dermayu. di belakangnya para madu. semuanya akur. kedua Raksadiwangsa. untuk kembali. semua pengawal putranya. (dia) sangat menyayangi istrinya. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan. Adapun nama putranya 30. 28. Wirantaka keempatnya. Nayawangsa. serta diberi istri. para madu dengan para putra. serta tinggal di pesisir Kandanghaur. sangat gembira (karena) ayahnya datang. para saudara dan rangga. sampai ke perbatasan.kepada Dalem Wiralodra. 267 . Karena dinanti-nanti tiada henti. istri dan putranya. sangat makmur tinggal di negeri (ini). mendapat anugrah dari Yang Kuasa. Nayastra. Hastrasuta. Wiralaksana. Wiratmaja (yang kelima) karena lima orang anak laki-lakinya. Raden Timur dan Sawerdiya. Hadiwangsa. sejahtera dalam kehidupannya. yang paling besar ialah Raden Kowi. Lalu putra perempuan. lalu datang dan menemui. 29. sangat gembira hatinya.

penggantinya berebut jabatan. dengan Wiralodra namanya. tetapi Benggali Benggala anak laki-laki ini. kakaknya Raden Benggala.31. Semuanya jadi pejabat. Benggali adiknya. Benggali namanya. sudah lengkap tiga belas (orang) putranya. paling besar Raden Benggala. sangat bijaksana. sebanyak empat orang [putra]. mereka bersaudara. 33. Lalu ayahnya tiba ajalnya. (oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi. yang telah mengganti kedudukan ayahnya. Tetapi persetujuan para ponggawa. Karena sudah memiliki putra. 32. sama-sama kaya. Singawijaya putranya (yang) perempuan. Puspa Taruna. 268 . Singalodra yang gagah. para putra semuanya. (kemudian) diganti. adiknya menginginkan. Lalu wapat ayahandanya. Patranaya. sudah beristri. dan Nyi Raksawinata yang keempat. menduduki jabatan bupati. serta semua para pembesar. yang menggantikan harus kakaknya. 34. menjadi bupati.

istrinya ke Bantaranak. pasti saya mengamuk. Berlayar di lautan. jika demikian menurutku.Tetapi adiknya (berkata). pangkatnya komandan. ikut ke laut. menjadi bupati. tetapi Raden Singalodra. kedudukan ayahanda. kalau kakanda yang menggantikan. “Raden Singalodra kakandaku. dari Betawi. membawa serdadu satu kompi. kepada Tuan Komandan. Sangat bingung para ponggawa. kakaknya di Darmayu. akibatnya bakal ada kematian. van de Boss namanya. Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya. 269 . membawa pasukan serdadu. bila menyebrang ke Betawi. lalu adiknya berkata. 37. utusan Gubernur Jendral Betawi. 36. mengganti kedudukan ayahanda. kakanda sudah (menjabat). menjadi bupati menggantikan kedudukan ayahnya. (sehingga)lima bulan tidak ada bupati. utusan dari Tuan. lalu datang utusan. 35. kakandanya yang menggantikan. kalau aku tidak menjadi bupati.

tetapi tidak enak hati. jadinya saya katakan. Lalu mas patih Hastrasutanaya dan Tumenggung Trunajaya menjawab. siang malam mengaji Qur’an. mengenai negara ini. saya sudah pasrah. karena sudah sampai pada janji terdahulu. delapan orang putranya. Kemudian berkata lembut. sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka). tiga tahun lamanya. Gandur dan Purwadinata. saudaraku semua menurut kepastian. Lalu semua mengundurkan diri. mengingat adiknya. bahwa tidak mengingat saudara paduka. 38. yang sulung Den Laut. memohon maaf. sama-sama mencium kakinya. keinginan Yang Maha Mulya. semua ponggawa. pasukan dari Paduka. Menangis para ponggawa. lalu tiba di perbatasan. Lalu para mantri menjawab. semua sanggup (membela) sampai mati. melihat dengan kasih sayang kepada paduka. 40.” Bupati berkata lembut. 39. Dalem Wiralodra tadi memiliki anak banyak. saudara (dan) ponggawaku. 270 .

persembahan kepada sultan. agar kuat imannya. putra sedang susah makan. mengaji siang dan malam. ayahandanya dipanggil oleh Sultan Cirebon. Nyai Moka bungsunya. takdir Yang Maha Mulya. takdir Yang Maha Agung. yang mengganti adik saya sendiri Paduka. 271 . “Jadinya paman aku panggil Wiralodra ke hadapanku. jam empat kembali ke rumahnya. di makam para leluhur. karena sudah disampaikan. Berkat pertolongan Yang Agung. aku mendengar berita (bahwa) paman berhenti dari jabatan kebupatian. 43. “Sesungguhnya Tuanku. apa betul?” Wiralodra menjawab. mengurangi tidur dan makan. Gembruk serta Toyib. putranya (yang bernama) Kartawijaya. Bila malam tidur di makam. yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji. Singalodra namanya. Lalu sunan berkata.Kartawijayastra yang keempat?. yang sangat tidak enak hatinya. 41. (karena)sangat sakit hatinya. meminta kepada Yang Maha Suci. 42.

aku terima diserahi putramu. Lalu Kiai Dalem berkata. sepertinya sedang tidak enak hati.” Berkata Sinuhun. serta rumah tempat tinggal paman. “Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka. saya menyerahkan semuanya.44. tetapi permohonan hamba. “Paman. semuanya sudah sedia. Tidak tidur serta tidak makan. Sultan sangat kasihan melihat.” 47. Lalu berkata sultan kepada Wiralodra. Dalem Wiralodra. mengajar para putra mengaji. padahal ia masih muda. “Perihal masalah itu. sudah menghadap kepada Paduka. anak hamba (yang bernama) Kartawijaya. 46. (yang)namanya Kartawijaya. 272 . sangat sabar hatinya. anda ini (agar) menolong saya. barangkali hatinya terbuka serta paman memohon pertolongan Paduka. 45. pasrah kepada Paduka. Tajug (dan) kolam aku sediakan. Kartawijaya dipanggil. kitab serta Qur’an. mati hidup saya. supaya di kesultanan (ini).

“(Ternyata) ada Kartawijaya (datang). Suratnya sudah diterima. tempatnya di Panjunan.” Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka. di hadapan Sinuhun. lalu berkata perlahan. “Hai Karta kamu ini. Naik tahta di Panjunan. lalu mundur dari hadapannya. 48. Kemudian kelak dinikahkan kepada cucunya. di Pajagalan Panjunan. Kartawijaya berkata kepada Paduka “Saya memang berdosa kepada Paduka apa yang Paduka inginkan?” Sultan berkata manis. kepada Kartawijaya. Ratu Mas Atma namanya.” 50. aku mengangkat kamu. Pangeran melihat dengan rasa sayang. Sekarang kamu ini. untuk Kakanda di Panjunan. bawalah suratku. bersama-sama denganku. saya angkat jadi mantri polisi desa. Sudah jauh perjalanannya. sukur kamu ini. “Lalu Sinuhun berkata perlahan. kepada Raden Kartawijaya ini. 49.berlutut dan menundukkan mukanya. 273 . tampaknya terampil dalam pekerjaan ini. lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan. tempatnya di penjagaan.

sedang mengatur pekerjaan. Lalu dirubah lagi ceritanya. 52. berada di Kejaksaan. [karna] aku tidak menyetujuinya. takut dosa besar. santri kecil hatinya. bila menari [sepertinya] bergoyang disertai 274 . 51. 53. (bila hanya) mengingat akhirat. Ki Dalem lalu berkata. meskipun saudara (atau) orang tua.adapun rumahnya. tidak pantas menjadi bupati. ramai-ramai siang malam. (bersama) empatpuluh orang prajurit. semua tingkah laku bupatinya. yaitu Kiai Dalem Singalodraka. gagah serta tampan. Ketika bupatinya ada di sini. sedang pesta beramai-ramai. (sehingga) sepi di negara. bila tidak bersuka-suka. gamelan dibunyikan. orang(-orang) kecil suka melihatnya. semuanya ponggawaku. menurut perintah nabi. semua bersuka ria. harus suci hatinya. bersorak gemuruh. kebiasaan santri (seperti)itu. mantri patih dan bupati. di sini ada para ponggawa. bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu. Untuk apa banyak harta.

Orang-orang berkumpul di desa. semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya. Orang yang banyak harta-bendanya. Para mantri sama-sama bersorak. yang menjaga tidak kuat. 275 . 55. nayaga disiram oleh air. (yang bernama) Raden Semangun. 56. bila kurang senggaknya menendang dan menyepak. 54. seolah-olah marah. Ada lagi berita (demikian) ini: 57. [upacara] siang malam Patih Hastrasuta berkeliling. nayaga ramai senggak. lalu selendang disingkirkan. Perusuh sudah bersiap. sangat susah (selalu) ada keributan di negeri. badannya sedang (dan) gagah. kadang-kadang saudara sepupunya. (Kemudian) banyak terjadi perampokan. (karena) banyak orang yang dibunuh.selendang kain berbunga. (sehingga) orang kecil sangat susah. putranya Purwadinata. menjaga para durjana. diganti oleh putranya. sampai pada ajalnya. dilantik mejadi bupati. Dalem Singalodra. tiga tahun lamanya. Setelah bubar semua. dirampok oleh para durjana.

Serta para panglima perang. Raden Kartawijaya. Siang malam beramai-ramai. para putra semuanya. sedia tumbak senjata. Den Nuralim adalah saudara sepupunya. adapun Seling Rangin putranya. bertanggungjawab di pertempuran. (Kemudian) berunding hendak menyerbu ke negeri Darmayu. Bagus Wari semua (dari) Mayahan. orang Kulinyar dan Pasiripis. Bagus Rangin. pribadinya pemberani. Lalu mereka bertarung. lebih dari tujuh ratus. 60. menjaga di perbatasan. Surapersanda. tandu dan kendaraan tunggangan.tempatnya di Bantarjati. mereka sampai tiap hari. oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan. penuh sesak (karena) banyak orang. Bagus Leja dan Sena. tidak enak duduk. 58. Jatitujuh. 276 .. 59. Semuanya sudah setuju menyerang Dermayu. senapan dan keris. Kiai Betawi itu dari Kandanghaur.. berkata kepada teman sesama prajurit. Pimpinannya Bagus Kandar. Biyawak.

bercampur dengan (suara) senjata. putra bersama saudara. (mengikuti) kehendak tuan.”Baiklah.” 61. banyak orang yang melihat. Serta sampai di Dermayu. Teman-teman para prajurit menjawab. memakai pakaian tamtama. besok (akan pergi) ke Darmayu. dengan putra serta senapati. yaitu Kartawijaya. Raden Wiralodra. melihat saudaraku. Para prajurit dari Darmayu. mendapat kebijaksanaan. komandannya paling depan.” Keesokan harinya berangkat. serta para putra. diperhatikan kelakuannya. Uwa Kartawijaya. (karena) terdapat perempuan. (badannya) besar tinggi menakutkan.“Hai saudaraku semua. yaitu Ciliwidara putri dari negeri Banten. para ponggawa banyak yang rusak. 277 . tidak bisa menangkapnya. kulitnya kuning. adik-adik serta sepupu bupati. berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning. 62. Semua para prajurit terkejut. 63. melihat yang bertarung . mendengar sorak beramai-ramai . (serta) bisa terbang di angkasa.

musuh ini menginginkan apa. 64. Suryaputra. banyak yang tewas. 278 . gugur tadi. oleh panah si Ciliwidara. lalu bertemu dengan adiknya. serta putraku Kerstal. siapa nama prajuritnya?” 65.datang dengan para prajuritnya.” Kartawijaya berkata. mengaku putra Kentanagara. “Duh adinda Patih Hastrasuta. Kemudian dengan ayahnya berangkat. katanya tandingannya dengan Paman Patih Hastrasuta. dan kakak Suryawijaya. (yaitu) Den Dalem Wiralodra. malah putra ayahanda. besok (akan) saya tangkap. Suryabrata. sekarang ayahanda ingin bertemu. Ciliwidara itu. masuk ke keraton. Nyi Ciliwidara namanya. “Duh anakku. 66. “Duh ayahanda sangat rusak negara. menangis di hadapannya. berani sekali merusak negeri ini. ayahnya mengeluarkan air mata. lalu bertemu dengan Raden Kerstal. (Ia melarikan diri). karena sangat berduka.

Kamu tidak tahu (siapa) aku. Lalu [cepat] menantang. cepat berganti pakaian. “Duh kanda tolonglah sekarang. Serta besok menyiapkan pasukan. Tidak kuat saya. apalagi ia cantik. putra kanda banyak yang tewas. Bendera lalu dikibarkan. 68. dengan orang senegara. Serta bendenya dipukul. musuh satu orang tentu berani. Ciliwidara mendengarnya. (kita) orang Dermayu. sangat sakti Ciliwidara ini. senjata panah serta keris. mengimbangi pertempuran.67. 279 . kanda bertanding di medan perang. pasukan ponggawa putra prajurit. yang hendak merebut negara. Sambil menangis memanggil-manggil. gelang kalung kilat bahu . 69. “Hai orang Darmayu masihkah berani. (aku) ini saudara yang tertua. menghadapi peperangan?” 70. Kartawijaya namanya. terlihat sangat serasi. Lalu kemudian memeluk kakaknya. karena didatangi oleh musuh. Ya besok adinda saya (akan) lihat. seberapa berat kesaktiannya. menandingi kegagahan. Silahkan. apa tindakan kanda.

haus akan darah manusia. Jatuh seketika di atas tanah. Raden Kartawijaya.” Lalu berkata lantang. sambil berbicara. “Hai kamu Kartawijaya. rasakan panahku. “Kamu betul-betul prajurit Ciliwidara didekati. kalau kamu merasa lebih!” 71. yang bernama Si Belabar Geni. cepat diletakkan di pinggang pedangnya. merasa gelap penglihatannya. Lalu ia mementang panah. senang melihatnya. 72. “Bersiaplah! usiamu tak kan lama (lagi). tulangnya yang kena. sombong kamu wanita cantik. karena kamu unggul. 280 . tidak ada yang kalah bertarung. kurang trampil dalam berperang. Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah. menganiaya (dan) berlaku curang. 73. keduanya unggul. “Dasar pelacur murahan. kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki.berani(-beraninya) merusak Darmayu.” Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena. seru saling pedang. kamu Ciliwidara anjing. memanah tidak akan sampai kedua kali. kalau mengenaimu. karena itu cepat menyerang kamu anjing.

menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya. Semuanya berkumpul. 281 . dengan semua putranya.apa yang dilakukan kamu ini. 74. 75. menghilang tidak tentu. semua kelakuanmu. Ciliwidara tidak kuat. SINOM 1. harus sama-sama dijaga. IX. Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi. sambil menggerutu (di dalam) hatinya. serta adik patih. Karena sama-sama bertemu. karena aku tidak takut melawanmu. siang dan malam. sangat berat kesaktiannya. menghentakan (kakinya) di atas tanah. bersama putranya. lalu [sudah] diambil. Setelah Ciliwidara menghilang. menjatuhkan diriku. dikeluarkan kesaktiannya. kakaknya dengan adiknya. menemui adiknya Wiralodra. Kartawijaya hatinya benci. Hastrasuta namanya. Kartawijaya. berkatakepada prajuritnya Aku perintahkan menjaga.” Lalu Den Kartawijaya. tempat menghilangnya Nyi Cili.

cepat Kanda datang. Kakaknya lembut berkata. karena kan lagi berperang. mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka. kakanda cepat datang. Oleh karena orang yang bijaksana. maka permohonan adinda. hendak pulang lebih dahulu. tetapi bahagia ditolong oleh kakanya. 3. kepada saudara-saudaraku. tetapi keinginan Kakanda. 2. takdir Yang Maha Widi. Barangkali beristirahatlah dulu. 5. tidak tahu kesusahan. Maka hendak melaporkepada Paduka. tidak berniat hendak membantu adinda dalam berperang.menceritakan rasa susahnya. Adiknya berkata kepada kakaknya. diterima permohonan Dinda. ditakdirkan Yang Maha Mulia. Kakaknya lembut berkata. karena berkah kakanda. serta para putra nya. dinda persilahkan duduk di dalam 4. dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara. 282 . jika Dinda masuk. “Duh Dinda untung selamat. rusak negaranya. beribu-ribu kebahagiaan. seperti apa keinginan (kanda). heran sekali Ciliwidara gagah .

7. sedang menghadap kakaknya.” Nyi Jaya menjawab pelan. Saat itu hari Jum’at.ke penjagaan kanda. lalu berjalan mengiringi sampai di pintu gerbang. Ponggawa (dan) saudaranya masuk ke padaleman. tak disangka berhasil baik. 8. sangat susah Paduka hendak mengatakan yang sesungguhnya. Dinda. kemudian berjalan cepat(-cepat). menjaga tempat menghilangnya. di negeri Garage. 283 . Semuanya berpelukan. Di tempat menghilangnya. “Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk.” Kiai Dalem berkata. (harus) dijaga ponggawa. [tetapi] Dinda (harus) hati-hati. 6. Tiba-tiba datang Nyi Jaya menghadap. begitu pula para putra. sambil menyembah. “Keinginan Dinda silahkan sampaikan. Lalu masing-masing bubar. celaka Paduka. (yaitu) Patih Hastrasuta. Dalem Wiralodra. Kanda hendak berangkat pulang hari ini. (setelah) mendapat izin dari Paduka. Kiai Dalem berkata lembut “Duh selamat datang Dinda.

Darmayu hendak dirusak. sekitar seribu orang. serta keturunanku diterima semuanya.mengatakan kesalahan apa. 10. “Saya (ingin) menemui Kakanda. memang saya di bawah kekuasaan Paduka. dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya. dan mohon (pamit). Dinda?” 9. tetapi saya tetap. “Syukurlah bahagia Dinda. Sudahlah Dinda cepat mundur beristirahat di rumah Dinda. hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku. Kiai Dalem berkata.” 12. saya akan menikuti sampai anak cucu. sekarang baru kesampaian. Lalu menyembah kepada Paduka. sudah banyak orang datang. semoga keturunanmu. hendak menurut (kepada paduka). Kiai Wiralodra berkata kepada patih. 11. saudara-saudara saya berkumpul mendirikan tenda besar. (saya) belum pulang ke rumahku. tidak berniat mengingkari Paduka. 284 . semua kehendak Paduka. Saya dari Bantarjati. kelak menjadi bersatu. kelak kematian saya bersaksi.

14. dari kampung Bantarjati. 16.” Paduka lalu berkata. karena Tanujiwa kakaknya.“Bagaimana kanda laporan Nyi Jaya tadi. mengumpulkan ponggawa. “Karena itu Kanda Patih. 15. santana. “Paduka harus mengawasi para perampok. Tanujaya dengan Demang Wangsanaya. “Duh saudaraku para prajurit. menunggu di pintu gerbang paseban. jika (mungkin musuh) harus ditangkap. Trunajaya adiknya. apa yang akan kanda perbuat?” Patih menjawab. Jiwasuta prajuritnya. (untuk) bersiaga menghadapi perampok. kemudian patih berkata. para prajurit siaga serta perbekalannya. 285 . pagi-pagi para senapati harus berkumpul. sepertinya musuh (akan) mendatangi.” 13. Semuanya saya yang mengatur. (Setelah) seluruh prajurit (berkumpul). serta Wangsataruna. keinginan paduka hendaknya diawasi. Tetapi siap berperang. prajurit. (dan) mantri. supaya timbul keberanian. semua yang saya sampaikan. Pagi berangkat dari paseban. (dan) Tumenggung Sutamarta.

minuman serta makanan. 18. mahkota berwarna mas berhiaskan intan. (memakai) konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning. tergantung keris di kanan. rigah. pagi-pagi aku tunggu. membawa pedang tumbak keris. diiringi prajurit. lalu kembali dari paseban. orang kampung yang menyediakan. oleh karena gagah perkasa. para mantri. 286 . Bende berbunyi semuanya berkumpul. pakaiannya macam-macam. Patih Hastrasuta. demang. 17. serta tetabuhan. terlihat gagah perkasa badannya serta sembada.” Bende berbunyi menandakan semua bubar. oleh karena menghadapi perampok. berangkat ke Jatitujuh. (jangan) kurang persiapan. tergantung juga ada di kiri. kanda menjadi biasa. para arya. serta semua prajurit. memajukan banyak prajurit. kelapa muda (disediakan) di setiap pintu. bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang. (mereka) semua baru melihat Paduka. Paduka menunggangi kuda. Semuanya menaiki kuda. 19.bersiap untuk bertarung. para abdi semua sedia. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan.

pejabat di Kandanghaur. Ki Bagus Rangin. apakah mengirim surat. serta para senapati. serta saudara dan putranya. (tersebutlah) yang ada di Bantarjati. (Tundalah) yang berangkat. 22. Bagus Rangin berkata. serta Bagus Pangiwa. aku harap bersabar. Bagus Serit namanya. semua senapati putra Mayahan. 20. Bagus Serit berkata. harus nanti hari Kamis. seperti apa pertarungannya? Telah cukup para prajurit. 23. serta Raden Nuralim. 21. “Paman bagaimana sekarang. yaitu para senapati. Bagus Seling putranya. atau langsung diserang? Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan. “Duh putraku semuanya. serta pamannya yang dituakan. (Setelah) semua lengkap berkumpul. para ponggawa sedang menghadap. didampingi Surapersanda. dengan kiai (dari) Betawi. serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar. Gana Wanggana dan Jari.beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan. 287 .

serta dipasang umbul-umbul. kira-kira telah jauh.Kemis Kaliwon ini. limapuluh jembatan (jumlahnya). Setiap jembatan dijaga sebagai penghormatan kepada Paduka. “Bagaimana perjalanannya. Bagus Rangin berkata pelan. lalu jembatan dihancurkan semuanya. 26.” Lalu ayahanya berkata. tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan. kenapa mambawa pasukan besar? Keinginan ayahanda. Dalem Darmayu datangnya. sepertinya sial (para) prajurit. tempatnya di Jatitujuh. 24. setiap jembatan dijaga tiga orang prajurit. perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?” 25. anak (dan) saudaraku. 288 . kuda serta ponggawa. pembicaraan terhenti. dari utara hingga berpisah. sukur (mereka) datang. maju menghadapi pertarungan. kira-kira hari apa. Ayahnya kembali berkata. “Duh Raden bahagia bila demikian. mengatakan kedatangan orang Darmayu. janur serta daun beringin. (karena) polisi desa datang menghadap Paduka. peperangannya bagaimana. kebetulan tanggalnya. “Betul tidak ada (halangan) anakku.

Lalu bubar. Bagus Serit yang mengaturnya. tempatnya di Jatitujuh. bersama-sama mengatur siasat perang. semuanya siap sedia. 29.27. menunggu kedatangan (tamu). 28. lima puluh prajuritnya. (yaitu) siasat merampok. prajurit beramai-ramai. semua berkumpul (untuk) bermusyawarah. gampang menghancurkan pasukan. bersiap untuk kedatangan tamu. dengan temannya sesama perampok. kanan kiri bendera. Lalu para saudaranya. Siang malam menabuh (gamelan). (Kemudian) membuat tenda. 30. dipasang tirai penghalang di air. Tundalah pasukan Darmayu itu. Supaya kuda kembali (lagi). gamelannya (ditabuh) siang dan malam. prajurit Hastrasuta. bersama Bagus Serit. (dijaga) tiga orang prajurit. Ki Rangin di pasanggrahan. pada setiap jembatan. senjata telah disiapkan. tetapi siap sedia prajurit. 289 . karena sakti dalam berperang. untuk pertemuan para pejabat. Usai merencanakan (siasat) penyerangan. ramai orang menjaga perbatasan. lalu paman patih. Sama-sama membuat pesanggrahan.

diiringi para prajurit.diutus untuk memeriksa. gembira atas penghormatannya. siap sedia perlengkapan perang(nya). 32. Serta keesokan harinya bubar. bedil mimis dan seligi Ki Patih menaiki kuda. Ki Patih lalu berkata. itu terlihat Paduka. “Duh Paduka saya ini Karena diperintahkan menemui Paduka. 290 . 34. patih dengan para mantri. 31. Semua menghaturkan hormat. silahkan sekehendak Paduka. telah jauh perjalanannya. saya sudah sedia barangkali diinginkan. hitam legam warna kudanya. tempatnya berkumpulnya perampok. kedatangan Paduka …. serta sampai di perbatasan. tetapi nanti setelah aku pulang. Lalu berkata Ki Patih. “Diterima saudaraku. bendera merah kuning dan putih. Lalu perjalanannya dilanjutkan. 33. karena ini perjalanan terburu-buru. ramai (suara) gamelan Ki Rangin. sambil menyembah serta berkata. dusun Bantarjati. di mana tempatnya itu?” Berkata prajurit (yang) tiga (orang). umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan.

lalu patih memeriksa ke belakang. ramai (suara) gamelan yang ditabuh. Disambut (oleh) banyak prajurit. tumbak perampok. hendak menanyakan berita lalu sampaikan yang sesungguhnya. apa tujuannya?” Bagus Rangin lalu menjawab. karena menghormat Paduka. X. terdapat pesanggrahan besar. “Hai saudaraku semua. kemudian jembatan dihancurkan.” 291 . bendera dan umbul-umbul. 2.sudah dipacu kudanya. Seperti apa pasukannya. Sebetulnya hendak merusak. menuju ke Bantarjati. yang sama-sama tinggal di sini. PANGKUR 1. bersalaman semuanya. lalu sama-sama duduk. pasukan sebanyak-banyaknya. bersorak hingar-bingar. sudah tiba di pasanggrahan. masuk ke dalam tenda. 35. serta menghormati. dibakar tidak ada yang tersisa. karena aku menanti perintah. sudah sedia untuk berperang. Dalem Dramayu.

Ki Rangin berkata kasar. dan tidak takut melihat. Para mantri menjaga.” 7. 292 . Lalu Ki Patih berkata. Sudah. “Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara. 4. Meskipun kecil wilayahnya. 5. 6. tetapi lebih berat menjaganya. menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung. kalau boleh saya mencegah. (jaga) mulutmu berandal babi. karena malu kalau mundur. masa aku takut. karena negeri ini (akan hancur). Ki Patih keluar dari Jati. bila kamu tidak tertangkap. mereka saling dorong mendorong.” Oleh karena itu Rakryan Patih merasa telinganya seperti disebit. rupa oarang-orang di negaramu itu. karena bermaksud ingin merusak negeri Darmayu. akibatnya jadi rusak. (jangan) menuruti napsu. akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu. aku tidak mau disuruh mundur. karena musuh ada di dalam negara. Ki Rangin berat bertanding melawan patih.3. dan nanti membuat sengsara semua anak cucu. “Kiai Patih Hastrasuta. Loh Rangin ucapanmu itu memalukan.

Ki Rangin tidak kuat berperangnya. 10. dikepung buaya mangapi. lawanlah (sambil) terus mundur. jangan sampai bisa keluar. serentak menyerang. sekarang jangan mendesak majulah. 11. Lalu Ki Serit berkata. Pasiripis. 293 . Karena Patih Hastrasuta mengamuk selama dua hari ini. sudah merasa tidak kuat. ketika gelap tidak terlihat. jatuh terkena tumbak dan keris. Bantarjati. tidak memakai aturan berperang.dengan Rakryan Patih. “Hai prajuritku semua. dan Kulinyar bubar melarikan diri. Dan setelah jam sepuluh. kira-kira (tengah) malam saya bukakan. 9. lalu serentak bertarung. berkata Ki Serit. seribu orang lebih tidak terlihat. bersiap mengepung saja. menunggu waktu jam sepuluh. semuanya kalah di pertempuran. banyak musuhnya yang tewas. Biawak. waktunya jam enam sore. 8. Karena perang dengan perampok. (orang dari) Bantarjati. para saudaranya maju perang. orang(-orang) Kulinyar. “Saudaraku semuanya. siapa marah pasrah tewas.

aku sudah tidak kuat. Lalu Ki Serit maju. (Ia) berbicara di dalam hati. 16. sama-sama berpesta ramai-ramai. membawa tumbak [dipikul] di pundaknya. hanya Patih Hastrasuta. Ki Serit keluar dari belakang. membela negara. sangat ramai karena perang sampai malam. Tidak tahu arah utara-timur. 13. karena tidak peduli (lalu) melarikan diri. sekarang pasti sudah sampai saatnya. 294 . 15. para mantri melarikan diri. yang diinginkan tewas. berganti pakaian beraneka. sudah sewajarnya saya berbakti. bertarung melawan perampok yang mengeroyok. hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu. meladeni pertempuran.12. kemudian dibawa oleh orang banyak. 14. tetapi pasukan Kulinyar. badannya sudah hancur. Serta sudah waspada lalu Ki Patih ditumbak dari belakang. oleh karena itu para perampok. berkumpul di pesanggrahan mereka. kena (sasaran) lalu tewas. Serta keesokan harinya bubar. bersorak seperti bumi terbelah. Hastrasuta sudah payah. utara timur karena malam.

” 295 . 20. 18. Lalu melanjutkan perjalanannya. sudah tiba di hadapan Paduka. karena Kakanda Paduka. Sama-sama bertarung di jalan. ditembak pamayungnya (pemimpinnya).oleh karena para perandal. “Saat ini mendapat musibah. sama-sama bertemu di pintu gerbang.” Sambil air mata mengalir deras. berkata Dalem kepada istrinya. para istri serta saudaranya. 17.” Paduka berkata pelan. jika demikian lebih baik kalian pulang semua. Sesampainya di negara. Kanda Patih terbunuh. karena itu mantri melarikan diri. maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung. Berkatalah di hadapan (paduka) sambil menangis sedih. “Hai mantriku semuanya. serta sudah sampai di kampung Bangoduwa. 19. “Celaka hamba. lalu semua bubar. serta ada yang tewas. (lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar. dikepung banyak orang. tewas di (tengah) jalan. lalu masuk ke rumah. dikeroyok di medan pertempuran. saat ini karena sudah tewas. tidak disangka perampok datang (lagi). sudah sampai di negeri.

macam-macam tingkah lakunya.” Semuanya menyanggupi. masing-masing (membawa) senjata. jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok. serta saudara-saudaranya. semuanya menangis. berandal dari Bantarjati. “Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku. Serta keesokan harinya semuanya bubar. meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan. padahal (kanda seorang) patih. serta saudara-saudaraku cepat berangkat besok pagi ke Dermayu sudah telat perjalananku. kanda tidak panjang umur. 296 . 25. sambil memanggil-manggil.21.” 22. bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka. Istri serta saudaranya. 23. Ki Rangin berkata pelan 24. Ramai gemuruh (yang) menangis. ganti lagi yang (diceritakan). “Duh paman saya mohon. mengingat kesengsaraannya. kepada pamannya Kiai Serit serta saudaranya. siang malam makan-makan. (Mereka) beramai-ramai tayuban. para istri dan putra-putrinya. oleh karena perampok kampung. setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi. hasil merampok di setiap kampung.

29. (mereka) sudah sedia berani mati. gobang. dengan senapan di sebelahnya. tumbak.. kerbau sapi juga ikut. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa. masing-masing yang dimilikinya. 28. segala kelakuannya. atau sama-sama mengenakan celana pendek. ada yang (memakai) celana panjang. lalu berandal merusak.senapan. oleh karena jumlahnya banyak jadi berani. keris dan komprang serta pentungan. sepanjang jalan merampok setiap dusun. memikul karung berisi beras. hendak merebut barang (dan) harta. anak-istrinya di Dermayu. Di Lobener para Cina sedia. ada yang memakai celana poleng jarik. bersorak di jalan sambil menari. Heng San. oleh karena kelakuan pencuri. serta Heng Jin dan Tiyang Li. Babah Kwi Beng. selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan. 297 . Heng Li Cina baru semuanya berani. pakaiannya macam-macam. Orang Cina (berjumlah) dua puluh. 27. 26. serta Nyonya Cinanya. ayam serta harta benda. sampai babi hutan. Cina babah dengan baru. serta pedang. karena sama-sama gagah. Sepanjang jalan berjoget.

apa tidak ingat inti tali persahabatan?” Berkata Surapersanda. 298 . atau berniat jahat. Hanya sahabat waktu sekarang. Jarih (dan) Gana ikut-ikutan. Semua berandal menyingkir. para Cina bertarung melawan penjahat. hancur penjahat (dan) banyak yang mati diserang oleh para Cina. Dan bagaimana pikiranmu membuat kekacauan di negaramu ini. kan saya tidak mengacau. masa hendak dirusak. “kok kamu menjadi berandal. sekarang ini jangankan saudaraku. 33. ramai orang melarikan diri. Hendak meminta kerelaan teman. 32. cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu. tetapi mengingat (kamu) sahabat saya. lalu Bagus Surasa Persanda menemui Bah Kwi Beng serta melihat(nya). sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh. 31. Serta merusak …..30. ada Cina bersahabat denganku. jika tidak melihat kamu. diserang oleh para Cina. banyak penjahat pecah kepalanya. aku benci sekali padamu. saya (berbuat) lebih baik. 34. “Karena itu saya menemui. banyak harta-bendanya.

karena itu (mereka) sangat sengsara. sehari tiga puluh orang yang sama-sama datang maksudnya hendak merusak Darmayu. memanggil-manggil Padukanya. (Penduduk) desa itu sangat susah. hendak merebut negara Dermayu ini. bila tidak mau lalu dibunuh. 299 . kamu membuat (orang) sengsara (dan) dirimu sendiri. bubar (dan) berangkat ke Darmayu. 38. tingkah laku berandal itu. ada yang menjarah. lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya membuat perkampungan di Pamayahan. karena banyak orang. bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini. 35. Ki Rangin berpikir keras. jumlah orang(-orang) itu.perlengkapan kurang lengkap. para Cina lalu mundur. sampai tujuh ribu orang 37. merampok (dan) mencuri uang. dengan Bagus Surapersanda. karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok. Jika istrinya cantik. Bergemuruh di Mayahan. lalu ditiduri. orang kecil dirampok setiap hari . membuat pesanggrahan. 36. siang malam membunyikan tetabuhan. Lalu Cina memohon diri.

Karena itu banyak serdadunya disebar. Nama[nya] gubernur jendral (itu). di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak. (kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia. dan benci kepada orang yang jahat bila tertangkap terus dibunuh. tidak malu menyakiti. hamba meminta tolong. sudah mendengar bahwa banyak berandal di daerah Mayahan. 1808. kalau ajudannya tidak menurut. 43. tidak perduli teman sendiri.” 40. sapi. Karena penjahat yang datang sangat banyak. para berandal (kaum) bangsawan. maka dihukum olehnya. (dan tinggi) besar. Dengan demikian Paduka. sembada. “Aduh Tuanku panutanku. Kiai Dalem Darmayu. watak[nya] Daendels itu (demikian). kerbau. Ki Dalem menyampaikan surat. serta kambing dicuri. (yang) menjarah setiap hari. dan suka menolong kesusahan setiap negara 42. (adalah) Daendels yang berpangkat gubernur berkedudukan di Betawi sangat gagah perkasa. rusak hamba semua.39. Memohon pertolongannya. 300 . 41.

karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi. dipilih yang perawakannya sama. 45. kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut.memohon gubernur memerintahkan. bupati tidak kuat sendirian. bertanding atau belajar perang. di negeri Dermayu. 47. serta sampai di Mayahan. Tuan Postur namanya. besar tinggi bergodeg dan berkumis. Serdadu dengan tuan. perlengkapan (dan) peluru digotong. dari Inggris asal Belanda. bupati sudah menyerah(kan). pura-pura diangkat jadi bupati. Supaya terlihat. serta mengirim pasukan serdadu. Yang mana penjahat (diajak) berunding. sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati. tatacara berperang. 46. Seratus oarang yang menggotongnya. supaya berandal melihat. Lalu berangkat diiringi tiga ratus serdadunya. dengan makanan serta uang. 301 . supaya bubar gerombolan penjahat ini. bersama dengan komandan laut. 44. serta meriam ditarik kerbau. pedang serta berkuasa. serta mereka berunding. (oleh) para berandal tampangnya para serdadu (yang membawa) senapan.

302 . diangkat demang olehku. Karena bupati menyerahkan.” Bagus Rangin menghaturkan terima kasih. bertemu dengan Tuan. Semuanya berganti pakaian. namaku Zwak. Lalu berkata kepada pimpinannya. jurutulis. (yang) berkuasa di [negeri] Betawi. untuk berunding. jadi aku diutus. perlengkapan perang. negaranya kepada Gubernur Jendral. Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa. bila anda bersedia. 48. Nanti semua saudara(mu) kuangkat menjadi mantri. “Hai Bagus Rangin dengan hormat karena saya diutus. kekuasaannya sama. jika demikian lega hatinya. 51. Tuan Deler berkata manis. Tuan Deler menghormat kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. bahwa ada serdadu datang. 50. seperti pangkat bupati. (Menurut) bupati. Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya. membawa perlengkapannya. oleh Tuan Gubernur Jendral. 49.terkejut berandal melihatnya.

53. Demang Rangin (dan) para mantri. 54. oleh karena mereka berjumlah banyak. Bila malam melarikan diri oleh karena banyak yang kurang makan. Di Kademangan Pamayahan. jumlah penjahat sekitar tujuh ratus. diiring semua mantri. suka-suka berpesta. baju laken (dan) topi (laken). membawa pasmen mas berkilauan. Lalu bupati mengirim surat. penjahat banyak yang kembali. hendak merampok bendera negara. Lalu ramai tetabuhan bergemuruh. pedang serta berkuasa. kolonel ajudan sersan dan serdadu. kepada bupati Darmayu. Lalu Deler mengirim surat. Tuan Deler bersiaga. karena bupati 303 . 56. 55. Banyak orang yang melihat Belanda. setiap sore mengajarkan perang. sangat takut melihat persenjataannya.52. mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang. (mengenakan) pakaian dari Betawi. menghibur yang menjadi demang. senapan. pesta melantik demang. Semuanya mengenakan laken. siang malam penjahat tayuban. celana laken. sudah menerima surat itu. Ki Rangin sangat gembira sekali. Baru pejabat yang ditangkap pasukan Deler.

Sultan member izin. serta anda Raden Welang. karena sudah dipersilahkan menyertai paduka. menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya. menyiapkan perlengkapan perang. suratnya telah diterima. lalu berkata (dengan) lembut. semuanya sudah disampaikan kepada sultan. 58. 59. saat ini berandal dijaga. Karta dengan Raden Welang.” 60. secepatnya harus menangkap penjahat. dinda minta menangkap berandal yang dijaga. Serta dibaca surat itu. (memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta. lalu berbicara kepada sultan. bila melawan (harus) dibunuh. Paduka sultan berbicara. potong leher para berandal itu. (berangkat) bersama Karta(wijaya).kepada Kartawijaya ponggawa sultan di Grage. minta pertolongan. 57. Cepatlah kakanda. “Jika Kartawijaya. 304 . Lalu prajurit bersiaga. yaitu pamannya sudah tewas. Bila berhasil cepat diborgol. dibunuh oleh berandal. Kartawijaya marah. Kepada tuan komandan Belanda di Betawi. keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende.

adiknya memeluk (sambil) menangis. karena hendak membalas kematian. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang. seluruh(nya) para prajurit terpilih. dinda Hastrasuta sudah meninggal. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar. bersamaku (dan) kanda Karta. “Hai semua prajurit saudaraku. Lalu Den Welang berkata. semuanya sudah keluar. 2. (ingin segera) menumbak perampok. (yaitu) Patih Hastrasuta. semua[nya] ponggawa. yang sudah wafat. Dan membawa temannya. Prajurit sudah sampai di Darmayu. tidak akan mundur kanda berperang. Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu). 63. sekarang kalian berangkat. bertemu adik dan kakak(nya). Menangis kepada kakaknya karena teringat ia sudah tewas kakaknya menangis. hendak menyerang panjahat yang mengacau. XI. 62. di Mayahan tempatnya. DURMA 1. gembira mantri semuanya. “Duh dinda mas sudahlah tenang dinda. prajurit semuanya berangkat. serta katanya.61. 305 . sudah siaga (untuk)bertarung.

“Hai aku (sudah) diangkat (demang) oleh Tuan Deler . merasa dikhianati oleh Tuan Deler. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja. Rangin menyambut (karena) mendengar bahwa bupati telah tiba. “Hai Rangin anjing kamu ini. Utara selatan timur sudah dijaga. 5. di selatan pasukan Betawi. berkata dengan kasar.sangat semangat pasukannya. Lalu sudah tiba di Pamayahan. karena sudah dikepung. serta barat (oleh para) prajurit. menurutlah akan kuikat. putra selir (Pangeran) Panjunan.” 6. 306 .” Lalu dijawab oleh Raden Welang. berhadap-hadapan bertemu dengan para penjahat. karena yang di depan. Den Welang (ada di) tengah. penjahat berada di tengah. sudah kokoh barisannya. 3. bupati dengan kakaknya. 4. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya. serta Den Welang. kamu penjahat. Kemudian berteriak. lengkap dengan peralatan perang. mendekati berandal.

ditendang (lalu) terguling. Den Welang berkata. sombong (karena) banyak pasukan.”Aku tidak takut. (jumlahnya) sekitar enam ratus (orang). 10. “Hai kunyuk penjahat. (berandal) yang ke luar ditembak 9. aku tidak takut. Perang tertunda (karena hari) berganti malam. meskipun aku dikepung olehmu. Pagi-pagi bende ditabuh. tidak memakai siasat perang. melarikan diri dari medan pertempuran. Rangin sudah tidak ada. 8.” Sena lalu diikat. oleh serdadu yang sedang berjaga. oleh karena berandal seperti mengepung binatang buas. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol. aku tidak akan lari. 7. oleh Raden Welang. semuanya melarikan diri. Rangin dengan saudaranya. takut mati kamu anjing. Banyak penjahat tewas yang ditangkap (dan) dibrogol oleh para mantri. Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang. 307 . 11. Di tempat perang. setiap prajurit di tempat perang.

13. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral. 12. (kepada) jendral yang ada di Betawi. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki. 308 . semuanya diperintahkan dibunuh. sudah bubar semuanya. sampai ketemu. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim ke Betawi. Serta sudah mundur semuanya. Balatentara Den Welang dan Den Kartawijaya. Berandal (itu) lalu dipenjara. Dalam perjalanannya. (Mereka) akanmengirim surat. sudah disekap semuanya. mengenai penjahat yang sudah tertangkap (dan) dimasukkan ke dalam penjara itu. lalu berangkat mencari. yang ada penjaranya. semua pembesar berkumpul di Darmayu. Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari. 14. Keputusan pun sampai. 15. (saking banyaknya) tidak tertampung di dalam penjara. Kelebihannya dibawa ke kapal semua penjahat itu. keinginannya.karena akan dikirim ke Darmayu nanti. (semua) disekap di dalam penjara.

Prajuritku berhasil. 17. Gana. Rangin berkata kepada para putra(nya). 20. kanda bertemu dengan dinda. Jumlahnya sekitar seribu (orang). di Kedongdong. “Nah itu dia. yang kembali dari pertempuran. berpesta siang dan malam. Hawisem dan Raden Wari 19. maju ke medan perang. sangat gembira. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam. Prajurit paman yang memimpin pertempuran. Rangin sangat gembira hatinya. dan Seling bersiaplah dengan waspada. Jarih. tertawa bersuka ria. Di tempat pertahanan Kartawijaya dan Raden Welang. Rangin Kandar pemimpinnya. 309 . serta membawa gerombolan panjahat dari Luwiseheng. “Aduh dinda tidak disangka. maju berperang. prajurit Bagus Hawisem. 16. sebab gerombolan berandal sudah menunggu. Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin. yang memimpin pertempuran.ada berita lagi.” 18.

22. bertemu di medan perang.” “Prajuritnya Rangin yang menyambut kamu ini. Raden Wari tertangkap. memandang Hawisem (dan) Wari. 24.ternyata ada yang menyusul. bertahan di medan perang. Pertempuran di medan jurit. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran. tidak patuh dalam pertempuran. 21. Raden Welang maju. 310 . dipegang ……. karena aku tidak kenal. Tumenggung Nitinegari. penjahat sudah siaga mengatur pasukan dipimpin (oleh) Bagus Rangin. Den Wari nama(ku). berani ke medan perang. 23. dengan Den Kartawijaya.” Di tempat pertempuran ramai. lalu dikejar dengan berani. Prajurit Luwiseheng pun turun. Rangin Kandar turun. prajurit di depan. (bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong. karena banyak yang kalah oleh Den Welang karena berani bertarung. Lalu berjumpa dengan Kartawijaya. keroyokan karena tidak terlihat. “Siapa ini di hadapanku.

25. Handa. Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya. (yang) ada (di) negeri Garage. dan Sena diikat.” Segera dirantai. Rangin. kasmaran yang melihat. orang(-orang) desa kesusahan. 26. Den Welang berkata. tidak menemukan (siapa-siapa). Banyak berandal yang mati ditembak oleh serdadu. menuju arah barat. sama-sama mengejar penjahat. Kandar. Leja dengan kawan-kawannya. XII. Surapersanda sudah tertangkap. semuanya tidak ada yang tertinggal. Pondokan para penjahat dibakar. dirantai (dan) dikirim. 28. ke negeri Darmayu. (serta) Raden Welang tidak ketinggalan. tiba di Bantarjati. 27. ramai oleh yang berperang. berlari ke barat. “Hai anjing penjahat. diborak-barik setiap perkampungan. Ki Sena (dan) Surapersanda.gerombolan berandal. KASMARAN 311 . gadis cantik dibawa. pondokannya kosong. (dan) Hawisem lari. kepada teman sultan.

di Purasu. Menangis sepanjang jalan. Benggala di Luwung Dinang. Lalu berkata perlahan. “Duh anakku nanti. 3. Serit. anak istri sama-sama sedih. sangat sedih. kepada semua anaknya. di tengah hutan (yang) luas. berbelok-belok perjalanannya. Cipanculan. Pengambiran. pemandian bupati di sebelah barat. Cibenuwang. dengan Cilege. tiba di Cigadung.istri(nya). sampai Gumulung. 4. berkelana di hutan-hutan. sangat sengsara hidupnya. Legok Siyu. dengan Kandar Handa kelak membawa anak istrinya. tiba di Dulang Sontak. 2. Radensrang. dan di hutan Cikole. Tersebutlah yang melarikan diri Ki Rangin. pernah menyeberang Kuceak.1. melihat anak. menyeberang Cipunegara. dan Leja. 312 . Ciwidara. Sebelah barat menyeberang kali Cilalanang. Cipedang. tiga bulan perjalananannya. Bila diburu (lagi). 5.

Ayah akan membuat ladang supaya didatangi (orang). serta menjangan. dinamai Dukuh Citra. Karena para istri. Ki Leja setiap hari. sungai yang deras airnya. dan disamakan namanya. memasuki hutan. tiga bulan perjalanannya. 7. Beramai-ramai membawa makanan. dengan yang dibuat Ki Rangin. serta membuat sawah. 313 . Rangin setiap hari. 8. sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya. rawa besar banyak ikan. dari tengah hutan. berjalan terus di hutan-hutan. Pernah membuat perkampungan. terlihat sangat sengsara. 6. 9. sangat jauh letaknya. lalu bersama-sama memasang tenda. Menanam pepohonan. berjalan di pinggir jurang. menguras ( sungai) mencari ikan.sangat subur tanahnya. membawa kijang bila kembali. di rawa yang bernama Citra. sebelah barat sungai Cigadung. luas halamannya. kesenangannya itu. Kemudian menemukan pelataran luas.

dinamai Cihakur. karena menemukan tempat luas. Tegal Slawi namanya. 14. Dinamai demikian. panjang lebarnya luas. Ki Gede yang berada di Pecung Kiai Wangsakerti namanya. 11. letaknya di Cigadung. memerlukan tempat luas.sebuah (yang bernama) Jatigembol. sudah tiba di Citarum besar. Lalu Ki Rangin membaca mantra. hendak mencari negeri jajahan.. dua taun lamanya. disebut (demikian) sampai sekarang. keduanya distrik Pamanukan. membawa teman tiga puluh. 12. tempat para penjahat. menuju selatan arahnya. Jatilima namanya. 13. 314 . kelak bekas Ki Rangin bila berkumpul. yaitu Aji Pengabaran. hendak mencari tempatnya. Lalu semua sudah setuju.. di sebelah barat laut Suba(ng). dengan saudara serta ayahnya. serta datar tanahnya. 10. Di perbatasan distrik Pegaden. lalu sama-sama setuju. membuat .

Serta sudah banyak orang. 17. 315 . melihat pesanggrahan. lebih baik aku membuat surat. sudah membuat sengsara. lebih dari seribu orang. Semuanya menjawab. apa ingin mengungguli menggempur orang keturunan Pecung. yang menjadi tujuan. 15. apa keinginanmu. setiap hari orang datang. saudara serta teman-teman. karena tinggal menunggu waktu semuanya siap. dikirimkan ke Desa Pecung. beramai-ramai siang (dan) malam. 16. 18. pesta makan-makan. karena saudara keinginannya. sangat mujarab sihirnya. Lalu Rangin berkata lembut. hari apa maju bertempur. lalu ada yang mengikuti. kepada teman dan saudaranya. yang akan ikut berperang. Menangtang perang. di antara orang banyak.pikirannya sudah nekat. tanda saya bijaksana. supaya siaga sekarang. untuk menyambut perang. Lalu membuat surat. hendak mengadu kekuatan. seperti apa keinginannya.

Lalu berkumpul. berandal berasal dari timur. serta putra Sindanglaya. sudah menyampaikan surat. dengan penjahat dari timur?” Semuanya menyanggupi. Atau kamu anakku Jaka Patuwakan. para senapati juga. 20. hendak melawannnya. Surat lalu dibaca. serta berkata kasar. dengan penjahat (dari) timur. sanggup mengadu (kekuatan). dibaca di dalam hati. 21. Demikianlah Ki Wangsakerti. Ketika sedang berbincang-bincang. karena sudah mendengar. di tegal (sebelah) selatan Subang. pelayan yang bijaksana. tiba di hadapannya. buronan negara. dengan saudara (dan) anaknya.19. Jajabang Grudug terlihat. dalam sekejap datang utusan itu. ada penjahat. surat lalu diterima. 316 . Dulang Sareh namanya. apakah sekarang sanggup bertarung. Ki Wangsakerti berkata. “Hai kamu Krudug. 23. 22.

akan mantra sihir (pada) kamu. Jawa Timur rasakan aku. yang berada di [tempat] pesanggrahan. hari apa yang pasti.“Kamu anjing timur.” 26. anjing Sunda membelalaki. Ki Gedeng Pecung iti. pergi. tebal tipis urat tulang. Dulang Sareh lalu pulang. sudah tiba di hadapan Paduka. cepat-cepat berjalannya. sudah siaga (dengan) pasukannya. malah banyak prajuritnya. hendak melawan orang Sunda 24. saya siap menyambutmu. lalu katanya. 25. 317 . matanya jelalatan. “Anjing cepat kamu mati. Lalu Dulang berpamitan. Grudug mendengar (yang) mengumpat. bagaimana suratku?” 27. sampaikan pada tuanmu. anjing kamu. menanti kedatangan paduka. serta tersenyum (dan) mengumpat. jangan banyak bicara kamu. serta gagah sentosa. “Bagaimana Dulang Sareh. Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya. Dulang Sareh berkata pelan.

32. bertemu dengan Ki Gedeng Grudug. 318 . bendera cepat dinaikan. menjadi pemimpin perang. “Hai siapa (orang) Sunda ini. perasaannya seperti Singalodra. berani melawan bertarung denganku. 29. Bergemuruh pasukan Rangin. sedia untuk berperang. barisan penjahat (dari) timur. Patuwakan Majalaya. 31. prajurit Rangin pun siap. melawan Ki Gedeng Pecung. karena perang penjahat. ramai perang dengan penjahat. 30. Lalu maju prajuritnya. termasuk distrik Subang. Ki Leja lalu bertanya. lalu semua sedia. Bende dipukul terus-menerus.28. pasukan Rangin banyak yang mati. Leja maju bertarung. semuanya menyanggupi perang. Di daerah Tegal Selawi. dengan barisan pasukan Pecung. tidak kenal (orang) Jawa Timur. Lalu berkata Ki Rangin kepada Kiai Serit serta saudara-saudaranyanya. Lalu sudah terdengar. serta Kiai Gedeng Grudug. apakah kamu Wangsakerti. bersorak bergemuruh.

aku senapatinya, namaku Gedeng Grudug, yang akan mengikatmu. 33. Buronan negara, di timur sedang dicari. Ki Leja menyerang, sama-sama saling mendorong, ramai pasukan yang bersorak, pasukan Rangin dengan Pecung, bertemu lawan di pertempuran 34. Jaka Patuwakan, melihat kakaknya bertempur, tidak ada yang kalah dan menang, lalu cepat maju, menggantikan berperang. Leja bertanya, “Hai siapa yang menggantikan perang, 35. berani kamu babi?” Aku Jaka Patuwakan tidak teliti melihatnya. yang bertarung saling mengejar, ayo gantian lawan aku, aku ingin merasakan, mencambuk kamu orang timur.” 36. Lalu menyerang (dengan) berani, Ki Leja cepat mengayunkan pedang, tidak berhenti memedangnya, terus menerus menggunakan pedang. “Hai kamu Patuwakan, betul-betul prajurit tangguh, serta kamu masih muda.”

319

37. Patuwakan berkata perlahan, “Duh Paman Leja seperti orang serakah anda, memakai pedang tanpa aturan, ke bawah ke atas gerakan pedang, kamu itu bukan prajurit, betul-betul penjahat urakan. 38. Jaka Patuwakan, merasa tidak sabar melihatnya, Leja didesak perangnya, tertutupi penglihatannya, lalu cepat ditangkap, digendong tidak berdaya, Leja tidak bisa bergerak. 39. Sambil menangis memanggil-manggil, “Ampuni paman, Patuwakan, sekarang paman tidak berani.” Lalu dibawa oleh prajurit, Kandar maju perang, pemuda yang sakti dan unggul ini Kandar saudaranya. 40. Cobalah lawan aku, sudah saling berhadap-hadapan, dengan Patuwakan, di tangannya terpegang senjata. Tidak kuat Bagus Kandar, terpukul rotanwulung, terguling di atas tanah. 41. Sambil menangis memanggil-manggil, “Aduh Bagus ampuni paman, sekarang paman tidak berani,” lalu Kandar diikat.

320

Matahari pun terbenam, mundur pasukan Pecung, sambil membawa tawanan. 42. Berkata ki Wangsakerti, “Hai anakku semua, besok saya maju, Jigjakerti Majalaya, supaya maju perang, melawan Rangin kamu ini.” Jigjakerti menyanggupi. 43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu, pasukan Pecung banyak, demikian juga pasukan Rangin. Kiai Serit berkata, “Apa yang harus kulakukan?” Ki Rangin lalu berkata, ayahanda jangan kecil hati. 44. Sekarang ananda pamit, hendak maju bertempur. Ki Serit memeluk putranya, menangis sambil berkata, “Duh anakku yang kusayang, kita serahkan kepada Yang Agung, semoga unggul di medan perang. 45. Lalu Bagus Rangin maju, menantang di medan perang. “Hai ini Rangin namanya, sambutlah di pertempuran, sambil berebut bertempur, tidak apa aku tewas, itulah tujuan hidup laki-laki.

321

46. Lalu maju Jigjakerti, Ki Gede dari Majalaya, sama-sama sudah bertemu. Lalu Rangin bertanya, “Hai yang maju bertempur, gagah besar serta tinggi, namaku Jigjakerti. 47. Dan ini Majalaya yang akan melawan kamu, kesaktian(ku) sepadan denganmu, terbuat dari kulit (dan) tulang keras. Lalu bertempur seru, Ki Rangin sudah menangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya. 48. Majalaya diikat(nya) oleh tentara Rangin, Ki Grudug maju perang, saling mendorong perangnya, Grudug lalu ditangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya, lalu cepat diikat. 49. Pasukan Pecung dengan Rangin, bersorak seperti bumi terbelah, tertunda karena malam, semuanya pasukan bubar, lalu membuat pesanggrahan, Ki Serit lalu menemui, setelah putra(nya) datang. 50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti, sangat susah hatinya, putra keduanya kalah, tinggal seorang putranya,

322

putra (yang bernama) Patuwakan, “Duh anakku, apa yang harus kulakukan? 51. Sial terkapar di medan jurit, Rangin sangat sakti sangat kuatir diriku, karena masih muda, Rangin gagah perkasa. Tunda yang dikisahkan, (terdengar) ramai di luar. 52. (Karena) ada pasukan yang datang, dari utara sangat banyak, Ki Wangsakerti terkejut, (karena) tidak disangka musuh datang. “Duh anakku (belahan) jiwa, apa yang harus aku akukan.” Kemudian ada mentri datang 53. memberikan surat, (lalu) diterima, menggigil (tangannya ketika) menerima surat, disangka musuh yang datang. Surat segera dibaca, isi suratnya, dibuka lalu dilihat, jadi gembira hatinya. 54. “Surat dikirimkan kepada adik, yang sedang bertarung. Kanda Wangsakerti sekarang, sudah (jangan) dijadikan pikiran, dinda tiba secepatnya, tidak dengan kabar tadi, (karena) keburu mendengar berita.

323

55. Bahwa kakanda menghadapi perang, dengan buronan dari timur. Dinda nanti menjaga. Surat (dari) keluarga di Darmayu, oleh karena dinda memohon ikut meneruskan perang. 56. Dinda mohon kabar menunggu izin kanda, sungkem Dinda yang menanti, Setrokusumah, Dalem Pegaden.” Ki Wangsakerti tertawa, “Aduh gembira sekali anakku. 57. Kamu Patuwakan, cepat bersamaku ikut menyambut, Adinda Bupati Pegaden.” Lalu bubar dengan kawan-kawannya, (untuk) menemui tamu itu, bertemu gembira sekali, bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk. 58. Lalu berkata Wangsakerti “Duh selamat datang, Adinda Dalem dari Pegaden, kanda memohonan (agar) bertemu, diterima permohonan(ku). Bagaimana pertarungan (dengan) buronan dari timur?” 59. Wangsakerti berkata perlahan, “Sangat gembira hati kanda, kedatangan dinda sekarang karena (hendak) maju berperang.

324

pemimpinya yang ke luar, malah aku dan anakku, sama-sama ditangkap (lalu) diikat. 60. Silahkan dinda maju, cepat tangkap penjahat.” Lalu bupati berdandan, mengenakan pakaian kebesaran, tampan gagah perkasa, memakai tutup kepala dari sutra ungu, dihiasi intan (dan batu) mirah. 61. Kerisnya tergantung, terlihat ada di kanan. (Ia) berkata kepada mantrinya, “Hai mantriku semua, cepat atur barisan, pegang dengan kuat senjatanya, aku akanke luar untuk berperang. 62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin. Seperti apa rupanya, pekerjaannya merusak orang banyak, orang kaya dicuri.” Karena Jaka Patuwakan, maju ke depan, menyembah ke hadapan Paduka. 64. Lalu berkata perlahan, ”Mohon maaf menyampaikan berita duka. ayahanda sudah keluar sekarang, mulanya ananda belum berangkat, menandingi Rangin bertempur, mudah bila ananda sudah kalah di pertempuran.”

325

Jaka Patuwakan menantang. pasukan bersiaga bersorak seperti prahara. Karena aku mengizinkanmu. 2. 3. DURMA 1.65. “Lawanlah (aku).” Demikianlah sudah terdengar. kuserahkan kepada Yang Sukma. 326 . prajurit Rangin. ke hadapan ayahanya. permintaan ananda. oleh perwira Rangin.” Lalu Patuwakan menyembah. Wangsakerti menyambung (pembicaraan). hendak maju ke medan perang. Sementara jangan dulu maju sekarang. harus dituruti. Lalu Ki Rangin bertanya. anaknya Wangsakerti. “Duh Dinda betul (kata) ananda. 66. “Hai anakku sekehendakmu. (dan) berhadap-hadapan. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang. bende ditabuh bertalu-talu. XIII. (mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang. Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan. Anaknya mundur dari hadapannya.” Bupati berkata manis. “Kamu siapa anak muda maju perang? Sayang sekali masih muda. Kemudian Ki Rangin menyambut(nya).

ayahanda yang maju. jatuh terpelanting. keduanya memegang keris. Rangin bertanya. Rangin lalu menendang. 7. bertempur dengan musuh Rangin. 6. Patuwakan agak letih bertarung.Wangsakerti Yang harus disuruh melawanku. lawan saja aku. bermusuhan denganku. Dalem maju berperang. Karena ramai yang saling dorong.” Patuwakan menjawab 4. Dalem menggantikan.” 327 . yang berperang mendapatkan lawan bertarung. Jaka Patuwakan. 5. seperti apa kesaktianmu?” Lalu Rangin menangkap. jangan kamu yang maju . karena sama saktinya. ujung senjata. Rangin (dan) Patuwakan. serta berkata kepada putranya Patuwakan. Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang. Patuwakan melawan. “Hai anakku berhenti dulu. “Siapa yang menggantikannya kamu prajurit yang gagah seperti …patih. ramai pasukan yang bersorak. Nanti dulu.

melihat kamu ini.Dalem lalu menjawab 8. 10. Mundurlah akan kuikat. Lalu membentak Rangin berkata kasar. hendak mengikatku. pekerjaan(mu) mengganggu orang. seumur hidup mengacau. dari Darmayu dahulu. anjing penjahat babi. mengakunya ningrat. untuk memberi makan anak istri. aku tidak takut. syukur (aku) gembira. hendak menangkap kamu ini. Cobalah maju. namanya Wiralodra.” 12. aku Setrokusuma. setiap desa dijarah. Tidak malu (punya) muka seperti kamu. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden. Karena aku masih saudara Dalem Darmayu. buronan negara. yang menjadi penjahat. lalu menerjang dengan berani. yang mencari buronan Rangin. “Dalem Sunda kamu ini. aku yang menjaganya yang baru bertemu ni. Rangin kan tidak gila. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden.” 11. 328 . 9.

” 15. berubah menjadi anak gunung. Rangin dibanting meghilang. Wangsakerti dan Ki Serit. karena sama saktinya. “Kebetulan Serit bertarung denganku. sama-sama kakek. Pasukan Pecung dan Rangin ramai yang bersorak. “Hai Serit. Lalu membaca mantra. mari mengadu senjata. 14. Tidak ada yang kalah bertarung. dan kamu siapa?” “Namaku Ki Serit. betul kamu.” 16. yang bernama triwikrama. (yang akan)melawanmu. ayo maju. untuk apa maju perang. melihat pemimpinnya. 329 . 13. cepat maju. Setrokusuma. Lalu maju Ki Serit pertempuran.” “Wangsakerti kamu ini. jika kamu prajurit sejati. Lalu menangkap (Rangin). “Siapa yang maju bertempur?” “Akulah Wangsakerti. tua dan kakek-kakek. Wangsakerti ke luar.ereka saling mendorong. Lalu maju saling menangkap yang berperang.

“Hai Serit takut mati!” 18. kacau orang banyak. Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma. Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu. 19. dengan Patuwakan. Lalu melarikan diri. [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata. Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal). sama-sama bergumul bertarung. perang sendirian (tanpa)pasukan. mengadu senjata. Dalem Setrokusuma mengamuk. Serit sering terjatuh. Bagus Rangin meninggalkan pasukan. (lalu) diikat balatentara Rangin. mengadu senjata tajam. Ki Rangin sering terjatuh. melarikan diri ke Karawang. terguling di atas tanah. 20. Rangin melarikan diri. pasukan Rangin menyerang. Ki Serit menghilang. kumpul menjadi satu. gerombolan penjahat. pasukannya banyak yang tewas. musnah tidak menentu.tusukkan ujung keris(mu)!” 17. Serta sudah sama-sama bertemu. 21. 330 . berssama-sama menumpas tentara Rangin. seperti memanggil-manggil.

karena buronan negara. sangat besar kesaktiannya. 24. lalu melompat. dikirim ke Betawi. berdasarkan perintah.” Keduanya diikat dengan rantai . “Ananda dengan adinda.Gintung (dengan) Patuwakan. seperti bercampur (dengan) setan. menghilang Serit dan Rangin. Grudug Majalaya. Wangsakerti dan dalemnya. Leja dan Kandar. (ketika) menyebrangi Citarum. Saya kirim ke Betawi dua berandal. menghilang tiada tentu. Anaknya berkata. menjadi satu. Leja akan dikirim. (kepada) Gubernur Jendral. disertai mantri. Bagus Leja. Sudah berangkat buronan negara. diputuskan rantainya. 22. ke mana arahnya?” 23.” Kiai Dalem berkata lembut. gembira hatinya. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya. kan tidak tertangkap. 331 . “Entah ayahanda ke mana mencarinya. “Hai Kanda Wangsa. Ki Serit dan Rangin. 25. masalah berandal.

Dikisahkan hilang di dalam laut. di Darmayu berkumpul. (yang bernama) Jigjakarta. empat orang mantri. Bagus Kandar berlari. Jayamanggala. Sangat susah (karena) tahanan hilang semua. Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut. Begitulah perjalanan Karta. tahanan masuk hutan dan laut. Den Karta berkata. dengan Dén Ngelan. (dan) Serit keturunan. 26. banyak yang menuju barat. 332 . dari negara Pegaden. Leja. keturunan para ningrat. yang membawa sangat bingung. terhadap paduka. buronan dahulu. dan Jayakerti. hendak kembali sangat takut. melaridiri semuanya. Sesampainya di negara. Kandar. penjahat yang lari. menghilang di dalam hutan. XIV.menyelam di laut. 27. SINOM 1. Surakerti. Adapun yang ke timur. 28. (dari) Rangin. mantri berjalan tak tentu arah.

” Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan. seperti terbuka hatinya mendapat wahyu. air matanya keluar.kepada saudara-saudaranya. lalu melanjutkan perjalanannya. 3. nanti kanda meminta izin. hendak pergi sekarang ini. “Semoga dinda mengizinkan kanda pergi.” (Sambil) memeluk adiknya. 2. tidak baik (karena) menjadi bupati. hati-hati dinda ditinggal. Kangjeng Sinuhun di Grage. Den Karta dan Den Welang. “Kanda patih (telah) wafat. jangan menangisi kami. dengan dinda Den Welang. kanda bawa semuanya. “Duh Dinda betapa lamanya. kanda yang memerintah di sini di negeri Darmayu”. anak dan istri adiknya. semuanya menangis. kepada Gusti Sinuhun. (Sambil) memeluk (dan) menangisi. menangis memanggil-manggil. Berjalan menuju arah selatan. “Duh Dinda bupati. “Kanda kembali bukan … dan dinda mulia di sini. sampai di pintu gerbang. 333 . Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi 5. 4. serta para prajurit.

Raden sudah tiba. hendak saya buka.” Den Welang berkata “Hai teman aku memaksa Sersan menjawab. 6. Ada serdadu yang menjaga. perintah dari gubernur. Menurut pesan komandan.” Raden berbicara lembut.sampai ke Palimanan. seperti apa rupanya. kepada kompeni itu. apa maksudmu. Permisi sahabat (sumur) itu. 7. tidak ada yang tahu isinya ini. Karena ini dilarang. sumur ditutup rapat. apa isinya ini. “Aku menahanmu sobat. tidak berani melanggar. Kartawijaya diajak singgah. saya hendak melihat. lalu bertanya lembut.” “Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan.” 334 . dengan Raden Welang. “Permisi kawan yang menjaga di Palimanan.? Lalu masuk den Karta dengan Den Welang. Raden bersama-sama datang. entah apa isinya. 8. bila tidak ada izin Paduka. yang menjaga tadi. Raden ini dijaga. jika demikian percumah aku menjaga.

semuanya disampaikan. Kacau para prajurit. banyak serdadu yang tewas. Raden Welang hendak memaksa. sangat kesal hatinya. semua serdadu cepat memasang meriam.9. Seharian bertempur. Karena itu sersan kumendan. Lalu menghadap Gusti Sultan. perjalanan para penjahat. yang berada di loji Palimanan. 335 . Berkata Raden Welang “Hai saudara (dan) prajuritku. Lalu melanjutkan perjalanannya. menghilang dari penjara. Gusti (Sultan) berkata pelan. kanda yang memburu tahanan itu. Lalu ditutup bentengnya. Lalu menulis surat. hingga tiba di negeri Grage. didorong keluar dari pintu gerbang. pasukan Raden Karta. menangkap Den Welang. 11. membuka tutup besi. yang dilemparkan oleh serdadu. lebih baik segera pergi. (mengenai) Séna Surapersanda. 10. sudah kamu jangan menemani. bergerak (mendekati) benteng. lapor ke Betawi. 12. Raden Karta sudah menangkap. Serdadu segera menahannya.

kepada Sultan Cirebon. “Loh babi Cirebon anjing. 13.” Suratnya karena sudah diterima.suratnya telah dibawa. Raden Karta dan Den Welang. 14. yang merusak Palimanan. serdadu yang membawa. kepada ajudan dan letnan. Sudah tiba di hadapannya. kemudian surat dibanting. meminta supaya pengacau ditangkap. dan bawalah tentara. empat puluh (orang) yang terpilih. bawalah suratku ini. kurang ajar kalian!” Lalu cepat membuat surat. berada di rumah Nihaya. Di loji Palimanan. serdadu banyak yang tewas. lalu cepat dibuka. dari sultan Cirebon. permisi Paduka saya hendak berangkat. “Hai ajudan (dan) letnan. tangkap ponggawa itu. serta beliau berkata.” Dibungkus suratnya. cepat-cepat berjalannya. Sudah ke luar dari pintu gerbang. untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral. 15. untuk Sultan Cirebon. 16. surat sudah disampaikan kepada Paduka. sediakan pekakas perang(nya). 336 .

berkata Kangjeng Sultan. Tetapi jika kesultanan. Gubernur Jendral yang meminta. negeri kami tidak kuat melawan peperangan. Secepatnya sudah tiba. dipaksa supaya taluk kepada Mataram. oleh Paduka Sultan. memperkokoh aku tak bisa. Besok datanglah ke Betawi.mengumpulkan prajurit. belum dibalas. 18. Karta dengan kamu Welang. (yang) ada (di) Betawi. Si Klewang dengan si Dumung. sudah pasti (takdir) dari Yang Agung. Lalu cepat diterima. kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu. tanyakan keinginannya. surat lalu diterima. dengan sultan di Mataram. menuruti Yang Widi. karena berkomplot. “Den Welang dan Kartawijaya. Cirebon ini. (dan) sedia pekakas perang. 337 . Suratnya sudah dibaca. 17. dan ini berikanlah bersama wasiatku. malahan negaraku. Aku tidak berani (kepada) jendral. 19. Malahan surat sampai sekarang.

dengan tulus di dalam hati.” Lalu sultan berkata kepada sersan. XV. Cepat-cepat di perjalanannya. “Hai ponggawa Betawi permintaan gubernur ini. tidak dikisahkan di jalannya.” lalu keluar ponggawa cepat dibawa. perjalanannya pasukan jendral. memang dariku (timbul) kemarahan jendral 20. Paduka (saya) minta izin. Den Welang dengan den Karta (berkata). sudah dikisahkan dahulu. hingga tiba di Dalem Agung. deras keluar air matanya. Lalu sersan berkata. (Sultan) turun dari tempat duduk. merangkul kedua ponggawa. kepada Gubernur Jendral. kedua ponggawa ini. PANGKUR 338 . “Baiklah. dijewer telinganya. Lalu menghadap [Paduka]. mohon izin Paduka. mengamuklah di Betawi wali membela kalian. 21. sudah tiba di Betawi. mereka yang didakwa. Diceritaan perjalanannya. karena aku belum (menuruti). 22. “Sudah selesai perintah.

(itu) karena berkat Sinuhun Mataram. Bagaimana perintahku padamu?” Berkat Tuanku. khalifatullah yang adil. datang Tuan Gubernur Jendral Betawi. Sudah ada di hadapan Paduka. 2. meliputi tanah Jawa. 3. 4. kekuasaan Paduka besar.” 339 . memalukanucapan pimpinan jendral. karena aku hendak menyerahkan nyawaku. “Hai Tuan Gubernur Jendral permisi saya hendak menjawab. ini ponggawanya. 5. Lalu cepat berkata.1. diangkat ponggawa olehmu. Sebelum aku periksa kemarahannya seperti orang gila. (yang) berkuasa di Pulau Jawa. dan sampai Betawi. “Lho anjing binatang gila. apa kamu tidak kurang pendengaran?” Karta dengan Raden Welang tertawa (sambil) berkata. sembrono pimpinan jendralnya. apakah kamu berani kepadaku? Akulah Gubernur Jendral. tidak memakai tatakrama. kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda. “Letnan dengan sersan. disuguhi makian. Tetapi kelakuanmu ceroboh.

Lalu Jendral berkata. hukuman militer bangsa Belanda. apa keperluanmu berani berbuat itu. berpangkat ajudan sersan memburu. aku pukul hingga mati. “Hai ponggawa aku ini terima salah. Semua pasukan militer. berani membunuh serdadu sampai mati. 8. Sekarang kamu terima. (tetapi) dirasakan kurang etis. di benteng Palimanan. keduanya mengamuk kepada Belanda. Karena bingung menjadi terdakwa. sampai tiba waktu keduanya dihukum. lalu pasukan berbaris. Kiai Kuwu kasihan melihatnya. karena kamu melanggar. (tepatnya ke alun-alun) Betawi. silahkan apa yang hendak dilakukan. Lalu dibawa ke luar. 6. tetapi kamu tidak adil. 10. aku terima [dadi] kehendak Paduka. lalu merasuki jiwanya. (ingin) menuruti emosi. Lalu kedua orang itu dipasangi. Den Karta dengan Den Welang.Gubernur Jendral sangat malu. (Prajurit) bangsa Belanda. 7. 340 . karena pasti bakal mati. 9. lima lusin meriamnya. tidak (mau) melihat mereka ditembak.

sangat susah balatentaranya banyak yang mati. karena perang dengan teman sendiri. dari belakang yang dituju. “Hai orang Cirebon anjing kamu. lebih (dari) seribu (orang) yang mati. sampai mati di atas tanah. dari (raga keduanya). Raden Welang pemimpinnya. 12. Di Betawi sangat kacau. bingung balatentara jenderal. (beris) peluru intan pusakanya. lalu memburu pasukan jenderal itu. 14. Banyak yang rusak pasukan jendral. 11.” Lalu dipasangkan. Sudah menjadi kepastian. musuh bijaksana. sudah cukup dibela. tewasnya Raden Welang.diserang (sehingga) banyak yang tewas. diambil mayatnya oleh para pasukan jendral. Lalu mengambil senapannya. banyak temannya yang bertarung. melihat pasukannya rusak. “Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini. hasil pekerjaanmu merusak negara ini. kematianmu ada di Betawi” Lalu Gubernur Jendral. Lalu keluar kakek kuwu. tidak jelas melihatnya. Den Karta melihat. terlihat dibakar. 13. 341 .

“Aku tidak terima balatentaraku rusak. (kemudian) membuat pesanggrahan. sudah menyeberang ke daratan. balatentaraku rusak. mayatnya menghilang musnah. Bawalah tiga kapal. Si Kelewang dengan Si Dumung. sangat susah balatentaranya rusak. (akan) kuminta daerah Kasultanan Cirebon. 19. terkena lalu tewas. sekarang kamu bersiap. Keris pusaka menghilang. 15. 342 . pasukan laut (dan) pasukan darat. lalu ia berkata kepada ajudan (dan) sersan. 17. untuk mengganti kerusakan tentaraku. serdadu militer yang terpilih. Orang-orang geger. 18. letnan kolonel ajudan lalu berbaris. lalu mayat Kartawijaya itu diburu (oleh) jenderal. Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon. persiapkan perlengkapan perang. pendeknya aku tidak terima. pasukan militer mundur. Tetapi Tuan Gubernur. kira-kira tujuh ribu (jumlahnya). Sersan ajudan keluar. 16.Gubernur cepat memasang (senapan).

mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram). (para) pangeran maju perang. sampai ke tengah (laut) kapalnya. Ramai yang bertarung. 23. Gubernur Jenderal (ingin) melihat. pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon. serta Pangeran Logawa.karena Sultan sudah mendengar berita. (pasukan) Kacirebonan bersiap. 20. Sultan lalu berkata manis. Lalu gubernur berkata. balatentara pangeran berbaris. semua maju ke medan pertempuran. bila balatentara pangeran berbaris. menaiki kapal berlayar di lautan. Serta Jendral melihatnya.” Lalu memerintahkan pasukan. lalu bersiaga. lalu menyebrangi pelabuhan. (yaitu) Pangeran Suryakusuma Martakusuma. semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram). 22. Radén Pekik dengan Dul. Balatentara jenderal bubar. untuk maju berperang. “Orang Cirebon lawanlah. 343 . menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun. Serta bertemu dengan Sultan. 21. (sehingga) daratan tidak terlihat. Pangeran Mertasinga dengan (Pangeran) Panjunan menghadap Sultan.

Lalu sultan berkata. 344 . (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya (dan) Kanjeng Pangéran Natabumi. Kanjeng Sultan sangat sedih. datang di hadapan (sultan). 27. Saya mengemban tugas sinuhun. orang Mataram tiba. Terkejut sultan melihat. diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram). menjadi sultan. 25. sepertinya membawa perintah. 24. senapati. 26. sudah tiba di negara Cirebon. untuk mengumpulkan pasukan. pangeran. hingga tiba di jalan belakang.” “Saya berkata yang sesungguhnya. secepatnya menghadap Paduka (karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram. lalu memerintahkan tumenggung. adapun negeri paduka. karena paduka sudah lama. Metaram Broboya. dari Mataram semmuanya sudah tiba. tamtama. karena hendak menyerang negeri Cirebon. “Selamat datang saudaraku. mendengar cerita gubernur. ada apa anda menangis?” Berkata Gubernur Jendral.“Hai saudaraku Jendral. diceritakan seluruh (kejadian)nya. Semuanya bubar. Natabumi (dan) Buminata.

29. untuk saudara-saudara paduka.” 32. (Lalu) bubar semua. saya melayani. (saya) akan serahkan. saya tidak akan mengingkari. 30. Serta paduka turun tahta. menuruti kehendak paduka. (apa) yang disampailan Paduka. (merupakan) upetinya itu. karena setiap luas (tanah) tadi. akan disampaikan kepada Jeng Gusti.” Pangéran Probaya berkata. perintah dari Paduka Sinuhun Mataram. Cirebon menyerahkan negara. seluruh prajurit Paduka. Jika paduka tidak menerima. (lalu) berkata perlahan-lahan. sudah disampaikan kepada sinuhun 345 . tiga ribu pemuda dengan paduka. (saya) permisi hendak kembali . “Jika demikian Paduka. Sultan tidak bisa berkata. berangkat kembali ke negeri Mataram. Serta haturkan (kepada) sultan.28. perintah sultan Mataram. menerima santunan serta diberi tanah. saya siap berperang. 31. “Duh saudara-saudaraku. karena negeriku Cirebon wilayanya kecil.

terima kasih banyak atas pengangkatan ini. dijaga Yang Maha Melihat. segera menghadap kepada tuan gubernur. penyerahan (dari) Sinuhun Sultan. KASMARAN 1. masalah negeri Cirebon. lalu dengan gembira menerima negeri Cirebon. (saya) banyak mendapat kemuliaan. “Selamat datang Dinda Dalem. Sesudah tiba di Betawi. lalu sama-sama berpamitan (untuk) kembali ke Batavia. berdoa kepada Yang Agung. semoga selamat (dalam) memimpin. Sangat gembira Tuan Besar Gubernur. beribu-ribu terima kasih. Lalu gubernur menerima. (lalu) memanggil Wiralodra. 346 . sesudah bercengkrama. Lalu Jendral berkata.mengenai penyerahan negara itu. XVI. 2. Memimpin di Pulau Jawa. 4. Gubernur dengan Sultan. dari negara Darmayu Setelah tiba di Betawi. 3. berkat pertolongan Tuan (saya) mendapat kemuliaan. hingga anak cucu Tuan.

untuk memberi makan serdadu. seperti biasa. Serta Kanda memberi tahu.semoga diridoi Yang Agung. sekarang hendak makan-makan. karena tanah (itu) milikku. karena (atas) bantuan (dinda) (bisa) menangkap penjahat itu. 7. memerintah kabupaten. 5. harta beribu-ribu (jumlahnya). harus dibayar (oleh) dinda. Semuanya (telah) saya hitung serta semua perlengkapan. anak cucu sama-sama mulia. sebetulnya saya tidak punya. tetapi kedudukan Dalem tetap saja.” Bupati tidak bicara. Lalu berkata pelan “Duh Paduka Tuan. Lalu bupati menandatangani 347 . tanah saya di Darmayu. karena ia tidak punya. termasuk uang sebelas ribu jumlahnya. “Jika demikian aku terima. 9. Gubernur berkata perlahan. 6. (ditambah) tiga puluh rupiah. harta yang beribu-ribu (jumlahnya). tetapi Dalem (harus) menandatangani. apakah Paduka mau?” 8. tetapi saya serahkan semua.

Lalu Dalem berkata perlahan. kembali ke negerinya. hingga sampai di kabupaten. tidak berubah (masih seperti) biasa.. 10. (Tahun) 1610. sudah takdir Yang Maha Melihat. Lalu bupati jatuh sakit. Tuan Gubernur Jendral. Darmayu kepunyaan. untuk mengongkosi perang. negeri Darmayu. yaitu Raden Krestal. para saudara menanyakan berita. Lalu tiba di negaranya. 11. berlayar (menaiki)eperahu. bupatinya tetap aku. Negara dirampas.surat (perjanjian). (Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis. 348 . disambut para ponggawa. (bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun. hingga wafatnya. Lalu bupati pamit. semua tidak ada yang abadi. (Kemudian) diganti oleh putranya. Tetapi (kedudukan) bupati sekarang masih tetap. 13. 12. (demikian pula) kedudukan bupati. “Hai saudara dan anakku. kepada Tuan jendral. oleh Tuan Jendral Betawi. hingga anak cucu semua.

Wiralodra gelarnya. Ia mempunyai anak, berjumlah tujuh orang. 14. Yang sulung Raden Marngali lalu Nyi Wiradibrata, ketiga Nyayu Hempuh, keempatNyayu Pungsi, dan Nyayu Lotama Hanjani bungsunya, (Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya. 15. Bupati sudah lama, mempunyai mertua jahat, merampok pekerjaannya. Sangat susah rakyatnya, (harta) miliknya dirampok, Patih Singatruna, sangat kasihan kepada rakyatnya. 16. Setiap malam tidak berhenti , penjahat (itu) menjarah. Patih Singatruna, berkata kepada kakaknya “Duh kanda Mlayakusuma, apa yang harus saya lakukan, mau jadi apa dalem ini? 17. Tidak menyayangi rakyatnya, (yang) dirampok (dan) dijarah, (dalem) tidak peduli sekarang. bagaimana saran kanda, dinda hendak memohon, kepada Tuan Residen, di Cirebon.

349

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela), betul jika demikian, nanti kanda ikut menandatangani (surat). Kemudian segera membuat surat, ditujukan (kepada) Tuan Residen, (mengenai) semua yang terjadi, ditulis di dalam surat. 19. Lalu segera dikirimkan. Selang beberapa hari Tuan (Residen), tiba di Darmayu, dihancurkan semuanya, disita benda-bendanya, (lalu) dikumpulkan, yang dirampok penjahat. 20. .Cocok banyak barangnya, (dengan) yang diaku oleh rakyat, cocok dengan yang dimita, lalu bupati mengirimnya, ke Cirebon. Sangat susah hatinya, ditahan selama tiga bulan. 21. Menunggu keputusan negara, dan sampai kepada keputusan, Dalem Disowak namanya, yang menjadi jaksa itu, sedangkan adiknya, Wiradibrata (namanya) diangkat menjadi rangga. 22. Patih Singatruna diangkat menjadi wedana, di distrik Jatibarang, Mas Malaya Kusuma

350

mendapat pangkat, diangkat (menjadi) kalektur, di gupernemen. 23. (Singatruna) wedana merangkap patih, di negara Darmayu, para penjahat semua, sama-sama hormat melihatnya, karena kebijaksanaannya, (oleh) wedana dengan kalektur, penjahat banyak (yang) ditangkap. 24. Negara sangat makmur, tidak ada penjahat, tidak ada masalah, di nageri Darmayu . Patih Singatruna, mempunyai anak, banyaknya lima orang. 25. Yang sulung Patimah, lalu Nyayu Juléka, Brataleksana yang laki-laki, Mas Demang Bratasentana, bungsunya Bratasuwita, semua anaknya, menjadi orang yang berpangkat. 26. Raden Rangga putranya, empat orang, putra yang sulung bernama Radén Wiramadengda, Radén Mardu, Nyi Sumbaga, bungsunya Radén Madada.

351

27. Kalektor putranya itu, lima orang jumlahnya, Asisten Hardiwijaya, yang perempuan Nyai Muda dan Sudirah namanya, Nyahi Junéd perempuan, bungsunya Nyai Juminah. 28. Radén Kartawijaya, putranya hanya seorang, Radén Karta Kusuma, yaitu Ratu Hatma, mempunyai anak tiga (orang), yang sulung Biskal Cirebon (ialah) Prayawiguna. 29. Adiknya perempuan, Kertadiprana namanya, yang ketiga pangkatnya ulu-ulu, tinggal di kota Darmayu, menurunkan putra, yang sulung Kertahudaka 30. (yaitu) Demang Lobener, adiknya Mangundria, Demang Bangoduwa, Muhada tukang timbang, Nyayu Jeni kuwu, yaitu Kertahudara, upas bom pangkatnya. 31. Kertahatmaja bungsunya. Darmayu …, Taahun 1813, Tuan Pri namanya,

352

Kiai Jaksa sudah meninggal yang menggantikan anaknya, yaitu Marngali, gelarnya Wirakusuma. 32. Menjadi demang pangkatnya, tinggal di kademangan, distrik Paseban namanya, Balu Kalid namanya, Demang Wirasaksana, menjabat demang, di kademangan Lobener . 33. Suami Nyayu Sungsi mengembara, tidak menjadi demang, dahulunya dari Palumbon. Mempunyai seorang (anak) laki-laki, He… Subrata namanya, menduduki pangkat, menjadi demang Luwungmalang. 34. Suami Nyayu Lotama berpangkat ulu-ulu. Suami Hanjani Wirajatmika namanya berpangkat mantri. (Lalu) Bagus (Bag)ya namanya, gelarnya Kitawilasa.

Asal-usul Wiralodra Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai. Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.

353

Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara. Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra: 6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 7. Gagak Kumitir di Bagelén 8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra: Radén Wirapati Radén Wiraseca Radén Wirakusuma Radén Singalodraka Radén Singalodraka berputra: 4. Radén Jaka Kuwat 5. Radén Kumbabocor 6. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca berputra: 6. perempuan Nyayu Wangsanegara 7. perempuan Nyayu Wangsayuda 8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén 9. laki-laki Radén Tanujaya 10. laki-laki Radén Tanujiwa Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama: 5. laki-laki Radén Sutamerta

5. 6. 7. 8.

354

6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati 7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata 8. laki-laki Radén Driyantaka yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu): 1. laki-laki Radén Kowi 2. laki-laki Radén Timur 3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati 4. laki-laki Radén Wirantaka 5. laki-laki Radén Wiratmaja 6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa 7. perempuan Hajeng Sutamerta 8. perempuan Hajeng Nayawangsa 9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a 10. perempuan Hajeng Hadiwangsa 11. perempuan Hajeng Wilastro 12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a 13. perempuan Hajeng Patranaya (Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III. Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama 8. laki-laki Radén Benggala 9. laki-laki Radén Benggali kembarannya 10. perempuan Hajeng Singawijaya 11. perempuan Hajeng Raksawinata Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang: 9. laki-laki Radén Lahut

355

Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang: 5. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang 11. laki-laki Radén Kerstal Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII 13. perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga 12. (Dalem ini) memiliki banyak putra. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener 18. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 13. laki-laki Radén Suryabrata 7. perempuan Hajeng Nahiyasta 14. Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. perempuan Hajeng Parwawinata 12. 5 12.10. perempuan Hajeng Moka sesudah 3 tahun diganti lagi. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4 5. perempuan Hajeng Tayub 16. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra: 2. laki-laki Radén Suryawijaya 8. laki-laki Radén Ganar 11. perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah 16. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa 17. perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu 15. bernama 10. laki-laki Radén Suryapati 6. (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan 14. perempuan Hajeng Gembrak 15. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener 356 . laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya 13.

4. perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling 8. 4. 5. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang. yaitu): Radén Madi Wirasomantri Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang. 4. 8. 3. 7. 6. 6. yaitu): Radén Wirasaputra menjadi demang (Radén) Wirahatmaja perempuan Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang perempuan Nyayu Wiradiwangsa Radén Prawirakusuma (Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang Radén Wiramadengda perempuan Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang Radén Perdata Wirahastabrata Radén Sumarga Wirasudirga 3. 3. 4.6. perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber 7. 5. 357 .

i … 358 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->