Bab I Pendahuluan

1.1 Identifikasi Naskah 1. 2. 3. 4. 5. Judul Naskah Nomor Registrasi Nomor Inventarisasi Asal Naskah Keadaan Naskah : : : : : Babad Dermayu (Babad Carbon II) 1.368 183.1498/07.35 ? hal 1-19a kedua sisinya sudah sobek sehingga banyak teks yang tidak terbaca sedangkan dan kondisi masih baik; Ada beberapa halaman sisi kiri dan kanan halaman naskah tidak terbaca karena terjepit. Hal 1-19a kertas tipis dan hal. 20 dan selanjutnya kertas tebal sehinga diperkirakan bahwa naskah ini ditulisa dahulu baru dijadikan buku. Hal ini juga berpengaruh terhadap

1

6. 7. 8. 9. 10. 11.

Bahan Naskah Warna kertas Tebal Naskah Aksara Naskah Bahasa Naskah Tinta yang digunakan Rubrikasi

: :

tingkat keterbacaan naskah karena ada beberapa halaman yang terjepit. kertas Eropah putih kusam karena dimakan usia 124 halaman Cacarakan Jawa Jawa Cirebon Teks coklat/hitam, sebagian menggunakan pinsil sehingga sulit dibaca Terdapat tanda ganti padalisan, ganti pada ( warna merah), dan ganti pupuh. tinta, setiap aksara Arab kertas tebal dua halaman,

:
: : :

:

12. 13. 14. 15. Penomoran halaman Jilid Keterangan lain : : :

Sudut bawah berwarna hitam menandakan sering dibaca, Halaman kosong: 3,5 lembar akhir (7 hal), Pada akhir teks terdapat ringkasan silsilah, Nama-nama yang disebutkan kadang-kadang berbeda antara di dalam teks dengan pada ringkasan, Urutan silsilah pada teks dimulai dari anak sulung sedangkan pada ringkasan dimulai dari bungsu.

2

Bab II Ringkasan Cerita

1.

Sinom Pada pupuh ini disampaikan silsilah, dimulai dari Ngabehi Wirasecapa dari Bagelen. Nama-nama yang disebutkan selanjutnya adalah Pangeran Hadi…, Tumenggung Gagak Pernala, Pringgandipura, Gagak Wirahandaka, Gagak Kumitir, Gagak Wirakusuma, Gagak Singalodraka, Wangsanagara, Wangsayuda, Wiralodra, Tanujaya, Tanujiwa. Dikisahkan Wiralodra bertapa agar mendapat kemuliaan. Pada malam Jum’at ia mendapat petunjuk.

2. Kinanti Petunjuk yang didapat Wiralodra adalah agar ia membabat hutan di kali Cimanuk. Wiralodra kemudian berangkat ditemani Ki Tinggil menuju selatan kaki gunung. Setelah tiga tahun berkelana keduanya bertemu dengan Buyut Sidum yang memberi petunjuk mengenai tempat yang dicarinya. Buyut Sidum kemudian menghilang. Keesokan harinya mereka berjalan hingga tiba di Pasir Kucing dan menemukan kali yang jernih. Wiralodra kemudian mandi sedangkan Ki Tinggil tertidur hingga dua minggu lamanya. Mereka kemudian menuju arah utara dan bertemu dengan Wirasetra. Keduanya beristirahat dan disuguhi makan. Setelah sebulan lamanya keduanya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah dua bulan keduanya bertemu kembali dengan Ki Sidum yang menyediakannya macam-macam tanaman

3

palawija. Ki Sidum menyamar sehingga keduanya tidak mengenalinya dan terjadi perkelahian karena Ki Sidum purapura marah. Ki Sidum memberi petunjuk bahwa tempat yang dicari mereka sudah hampir dekat. Wiralodra diperintahkan untuk menyebrang. Bila menemukan kijang mas bermata intan harus dikejar. Bila kijang itu menghilang maka itulah tempat yang dituju. Keduanya bertemu dengan macammacam binatang buas. Ketika bertemu dengan ular maka ular itu dipukulnya dan berubah menjadi sungai. Lalu ia menemukan … yang kemudian berubah menjadi wanita cantik. 3. Sinom Wiralodra menghampiri perempuan tersebut, yang mengaku dirinya bernama Larawana, dan ia belum menikah. Keduanya kemudian berkelahi dan Larawana berubah menjadi kijang mas. Wiralodra dan Ki Tinggil kemudian mengejar kijang mas tersebut menuju arah timur dan berhenti di sungai Cimanuk. Kemudian terdengar petunjuk bahwa tempat itulah yang mereka cari. Wiralodra kemudian membabat hutan sehingga berbagai binatang buas dan makhluk halus melarikan diri. Hal itu membuat Ki Gede Muara marah dan terjadi pertarungan. Ki Tinggil lalu membaca mantra sehingga para siluman menjadi lumpuh. Saat itu datang utusan dari Tunjung Mas, yang mengatakan tidak boleh mengganggu Wiralodra karena keturunan Majapahit. Setelah itu tidak ada gangguan lagi sehingga keduanya dapat membuat pondokan dan berkebun dengan nyaman. Lama kelamaan banyak orang berdatangan dan Ki Tinggil dijadikan lurah. Setelah tiga tahun Wiralodra kembali ke Bagelen menemui ayah dan ibunya. Ternyata ayahnya mengangkat Wiralodra untuk memimpin Bagelen dibantu adik-adiknya, yaitu Wangsayuda, Tanujaya, Wangsanagari, dan Tanujaya.

4

Dikisahkan Ki Tinggil yang menjadi lurah mengangkat beberapa orang untuk membantunya, yaitu Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanaswara, Puspahita, dan Ki Pulana. Tiba-tiba datang perempuan cantik yang bernama Nyi Hindang Darma ke kampung Ki Tinggil. Nyi Hindang Darma diizinkan untuk membuat pondokan di tempat itu. Ki Tinggil mempunyai rencana untuk memberikan Nyi Hindang agar dijadikan istri oleh Wiralodra. Keberadaan Nyi Hindang Darma sampai ke telinga Pangeran Palembang. Pangeran Palembnang dengan muridmuridnya datang hendak menyerang Nyi Hindang tetapi berubah menjadi terpesona oleh kecantikan Nyi Hindang. Lalu terjadi perkelahian antara Nyi Hindang dengan Pangeran Palembang. Karena kesaktiannya, Nyi Hindang dapat mengalahkan musuhnya hingga tewas. Ki Tinggil melaporkan kejadian tersebut kepada Wiralodra di Bagelen. Ia juga menyarankan agar Wiralodra dengan adik-adiknya pergi ke pondokan yang mereka buat. Mereka kemudian berangkat. Sesampainya di pondokan, Ki Pulaha diminta untuk mengundang Nyi Hindang. 4. Kinanti Nyi Hindang memenuhi undangan Wiralodra. Semua terpesona melihat kecantikannya. Atas permintaan Wiralodra Nyi Hindang menceritakan pertarungannya dengan Pangeran Palembang. Wiralodra dan adik-adiknya bertarung dengan Nyi Hindang setelah terlebih dahulu mengadakan perjanjian. Yang kalah menjadi pembantu yang menang. Keempat adik Wiralodra sudah kalah. 5. Durma Wiralodra dan Nyi Hindang masuk hutan untuk bertarung. Karena tidak bias mengalahkan Wiralodra, Nyi Hindang lalu menghilang dan berubah wujud berkali-kali. Wiralodra tidak berhasil menangkap Nyi Hindang. Ia

5

mendengar suara Nyi Hindang agar memberi nama tempat itu menjadi Darmayu. Wiralodra melanjutkan perjalanan menuju barat dan sampai di Pegaden. Setelah tiga malam kemudian kembali ke Cimanuk. Sesampainya di Cimanuk ia dikejutkan oleh kedatangan pasukan Pangeran Haryakuningan dari Gerage. Ia diperintahkan Sultan untuk memeriksa orang yang membuat negara. Terjadi pertarungan antara Arya Kumuning dengan Wiralodra. Kuda Arya Kumuning tunduk kepada Wiralodra dan membawa Arya Kumuning ke Kuningan. Setelah sampai kuda itu melepaskan Arya Kumuning lalu melarikan diri ke hutan. Patih Kuningan yang bernama Dipasarah lalu diperintahkan untuk mengabdi kepada Wiralodra. 6. Dangdanggula Wiralodra kembali kepada pasukannya. Perkampungan yang dibuat tersebut kemudian diubah menjadi negara dan diberi nama Darmayu dan diadakan pesta selamatan. Adik-adik Wiralodra kemudian kembali ke Bagelen. 7. Durma Datang buronan dari Jepara yang akan merebut negara, yaitu Watuhaji dan pasukannya. Wiralodra berhadapan dengan Watuhaji. Keduanya sama kuatnya. Wiralodra mengeluarkan kesaktiannya, begitu pula Watuhaji. Lama-kelamaan Darmayu menjadi negara yang ramai, banyak pendatang dari Sumatra, Palembang, Bogor, dan Karawang. Pasukan dari Bogor dan Karawang datang karena terdesak oleh pasukan Belanda. Mereka mempersembahkan harta kepada Wiralodra sehingga Wiralodra menjadi sangat kaya. 8. Dangdanggula

6

Watuhaji dan pasukannya seharusnya dikirimkan ke Mataram untuk dihukum mati, tetapi Wiralodra membiarkannya tetap hidup dan diperintahkan untuk menuju gunung. Pasukan Watuhaji menjadi perampok. Wiralodra memiliki anak yang bernama Sutamerta, Wirapati, Nyayu Hinten, Drayantaka. Setelah Wiralodra meninggal dunia digantikan oleh Wirapati dan disebut Wiralodra II. Wiralodra II memiliki dua orang istri dan 13 putra. Nama putranya yaitu Radén Kowi, Radén Timur, Radén Sumerdi (Samerdi), Radén Wirantaka, Radén Wiratmaja, Hajeng Raksawiwangsa, Hajeng Sutamerta, Hajeng Nayawangsa, Hajeng Wiralaksan[n]a, Hajeng Hadiwangsa, Hajeng Wilastro, Hajeng Puspataruna, dan Hajeng Patranaya. Nyayu Hinten menikah dengan Werdinata, saudara Wirapati. Anaknya diberi nama Raden Wringin Hanom. Wirapati dimintai tolong oleh Dalem Sumedang untuk menghadapi padukan Dalem Ciamis dan Kuningan. Wirapati (Wiralodra II) dengan Raden Wringin Hanom dapat mengalahkan musuh Dalem Sumedang. Dalem Sumedang menyatakan bahwa Sumedang disatukan dengan Indramayu, termasuk pesisir Kandanghaur. Ketika Wiralodra II meninggal dunia digantikan oleh Raden Sawerdi (Wiralodra III). Ia mempunyai putra empat orang, yaitu Radén Benggala, Radén Benggali, Hajeng Singawijaya, dan Hajeng Raksawinata. Ketika Wiralodra III meninggal dunia Benggali menginginkan jabatan. Tetapi berdasarkan ketentuan yang menggantikan harus Benggala. Benggali mengancam sehingga proses pergantian bupati tertunda lima bulan. Keputusan dari Betawi memperkuat bahwa yang menjadi pengganti adalah Benggala (Wiralodra IV). Benggala (Wiralodra IV) mempunyai delapan orang anak, yaitu laki-laki Radén Lahut, Radén Ganar (Gandur), Hajeng Parwawinata, Radén Solo alias Kartawijaya, Hajeng Nahiyasta, Hajeng Gembrak, Hajeng Tayub, dan Hajeng Moka.

7

Surapersanda. Kulinyar. Kiai mau mengajarkan mengaji asal anaknya yang bernama Kartawijaya diterima di kadaleman. Pangkur Terjadi pertempuran antara pihak Bagus Rangin dan Hastrasuta. dan Bagus Seling.Nyai Moka pekerjaannya mengaji. Ciliwidara bisa melayang di angkasa sehingga tidak bisa dikalahkan. yaitu Ciliwidara. putra Singalodra. Jumlahnya sekitar 700 orang. Kartawijaya berhasil mengalahkan Ciliwidara. Sinom Hastrasuta dan Kartawijaya memperbincangkan kesaktian Ciliwidara. sehingga diadakan tempat pengajian untuk keluarga dalem. Mereka kemudian berangkat menuju Bantarjati. Bagus Leja. dipimpin oleh Bagus Kandar. Ciliwidara kemudian menghilang. dan Pasiripis. Prajurit Darmayu terkejut karena ada perampok perempuan. Setelah berhasil mengalahkan para perampok sehingga banyak yang tewas. 9. Saat itu prajurit Darmayu dipimpin oleh Kartawijaya. Para perampok itu berkumpul di Bantarjati dan berasal dari Biyawak Jatitujuh. Bagus Rangin. Kartawijaya kemudian diangkat menjadi mentri di Panjunan. Pada suatu hari. datang Nyi Jaya menyampaikan berita bahwa di Bantarjati sekitar seribu orang berkumpul hendak menyerang Darmayu. Kartawijaya melaporkan kejadian itu kepada Hastrasuta. Mereka bersiap menyerang Darmayu. Lalu dilakukan penyerangan. 10. ketika Wiralodra sedang berbincang dengan Hastrasuta. Lalu Kartawijaya memerintahkan agar menjaga tempat menghilangnya Kartawijaya. Bupati di Panjunan digantikan oleh Raden Semangun. Karena itu pasukan dipersiapkan untuk menyerang perampok. Banyak terjadi perampokan sehingga rakyat banyak merasa tidak tenteram. Hastrasuta meninggal oleh 8 .

Bagus 9 . Wangsakerti mengirimkan utusannya. tetapi sebagian lainnya melarikan diri. Asmarandana Bagus Rangin dan Bagus Leja bersembunyi di hutan bersama anak dan istrinya.panah Ki Serit. Di Lobener mereka mendapat perlawanan dari orang Cina sehingga banyak perampok yang melarikan diri. Sekitar 3000 perampok yang dipimpin Bagus Rangin kemudian menyerang Darmayu. sehingga para perampok itu tiba di Darmayu. 11. Durma Prajurit Darmayu datang dan mengalahkan para perampok. anak Wangsakerti. Durma Terjadi pertempuran antara pasukan Bagus Rangin dangan pasukan Jaka Patuwakan. Pihak Belanda mengirim surat kepada Dalem Darmayu agar menangkap perampok yang saat itu sedang berada di Mayahan. Pada tahun 1808 Dalem Darmayu menyampaikan surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. isinya meminta bantuan. Bagus Rangin mengirim surat tantangan kepada Wangsakerti. Mereka sampai di Tegal Slawi dan membuat pesanggrahan. 13. Pihak Bagus Rangin banyak yang tewas. Perampok menyamar sehingga berhasil mendekati dan menyerang perkemahan prajurit Darmayu. Mereka diikat dan disiksa. Terjadi pertarungan antara kedua belah pihak. Dari Betawi datang pasukan yang dipimpin oleh Tuan Postur. Bagus Rangin dan pasukannya mempercayainya. Sepanjang perjalanan mereka merampok. 12. Surapersanda merayu orang Cina agar mereka dibiarkan. Ketika pihak Wangsakerti hampir kalah datang bantuan dari Setrokusumah. Mereka pura-pura akan memberikan jabatan kepada para perampok. Yang berhasil ditangkap dibawa ke Betawi untuk dipenjarakan.

Gubernur Jendral marah dan memerintahkan empat puluh orang serdadu untuk menyerang Cirebon. Kartawijaya dan Raden Welang lalu hendak melapor kepada Sinuhun. 15. Keduanya dimarahi dan dicaci. Sultan Cirebon memberikan senjata pusakanya kepada Kartawijaya dan Welang untuk menghadapi Gubernur Jendral dan pasukannya. Keduanya memaksa sehingga diserang serdadu tetapi tidak berhasil ditangkap. agar Cirebon mengganti kerugian Belanda. Keris pusaka menghilang dan Kartawijaya tewas ditembak. Gubernur Jendral datang ke Mataram dan berpurapura sedih. Mayatnya menghilang. Ketika di laut Bagus Leja dan Bagus Kandar melompat dan melarikan diri ke hutan. Komandan yang ada di Palimanan lalu mengirim surat kepada Gubernur Jendral di Betawi. Gubernur Jendral marah dan mengirim pasukan ke Cirebon sebanyak tiga kapal.Rangin kalah dan melarikan diri ke Karawang. Ia kemudian merasuki dan mengamuk sehingga pasukan jendral banyak yang tewas akibat bertarung dengan teman sendiri. 14. sedangkan Bagus Leja dan Bagus Kandar dikirim ke Betawi. Kartawijaya dan Welang dihukum dan dipasangi lima lusin meriam. Sinom Para mantri yang ditugaskan mengawal tahanan menjadi kebingungan. Kiai Kuwu tidak tega melihatnya. Di Palimanan mereka melihat serdadu yang menjaga sumur yang ditutup rapat. Sesampainya di Garage mereka melaporkan hilangnya para tahanan. Sambil menangis ia menceritakan pertempuran 10 . Pangkur Kartawijaya dan Welang sudah tiba di Betawi. Raden Welang tewas ditembak menggunakan senapan yang diisi dengan peluru yang terbuat dari intan.

yaitu Biska. Ia memiliki lima orang putra. Raden Wiramadengda.030. Nyayu Pungsi.yang merugikan pihaknya. Kasmaran Gubernur Jendral dengan pasukannya kembali ke Batawi. yaitu Radén Marngal[l]i Wirakusuma yang menjadi demang Bebersindang. Bupati tidak memiliki uang sebanyak itu sehingga Darmayu diserahkan kepada Belanda pada tahun 1610. yaitu Raden Karta Kusuma. 11 . Raden Rangga memiliki dua orang anak. Mangundria. Kertadiprana mempunyai anak bernama Kertahudaka. dan Nyai Juminah. dan Bratasuwita. dan Kertahatmaja. Ia lalu mengirim surat ke Betawi. yaitu Hardiwijaya. Ia terkenal bijaksana sehingga disegani rakyatnya. dan Nyi Sumbaga. Sudirah. Tidak lama datang pasukan sehingga perampok ditangkapi. Bupati merasa bingung karena mertuanya menjadi perampok. Kalektor memiliki lima orang anak. Nyayu Lotama. yaitu Patimah. Bratasentana. Bupati meninggal dunia. Sultan lalu memerintahkan para tamtamanya untuk menyerang Cirebon. Nyayu Hempuh. dan Hanjani. Ratu Hatma memiliki tiga orang anak. Wiralodra memiliki tujuh orang anak. yaitu Raden Mardada. Nyayu Juleka. dan Kertadiprana. 16. Muhadapan. Sedangkan Kartawijaya hanya memiliki satu orang anak. Singatruna kemudian diangkat menjadi wedana Jatibarang. Nyayu Wiradibrata. Anaknya yaitu Raden Krestal (Wiralodra). Nyayu Jenikuwu. Cirebon diserahkan kepada Belanda. Ia memanggil Wiralodra agar mengganti kerugian Belanda sejumlah Rp 11. Brataleksana.

12 .

misalnya I Asmarandana. kata-kata yang menunjukkan ciri bahasa lama ditulis sebagaimana aslinya. pupuh itu diberi nomor urut dengan angka Romawi disertai dengan nama pupuhnya.Bab III Transliterasi dan Terjemahan 3.1 Teknik Penyajian Transliterasi Transliterasi teks BD disajikan ke dalam huruf Latin. Selain itu. maka penulisan ke bawah memudahkan untuk memeriksa ikatan tersebut. Dalam transliterasi ini. tidak diubah berdasarkan bahasa yang digunakan sekarang. Walaupun penerapan tanda baca ini agak sulit dan kurang tepat. Transliterasi disusun berurutan ke bawah. 1979: 366. Maksudnya adalah untuk memudahkan pemeriksaan jika ada kesalahan tulis. yang terikat oleh guru lagu. guru wilangan. karena teks BD disusun dalam bentuk pupuh. Bait-bait yang 1 Hermansoemantri. BD ditulis dalam bentuk pupuh. Dalam transliterasi. seperti yang dilakukan oleh Hermansoemantri1. dan guru gatra. tetapi sekurang-kurangnya mengurangi kesulitan pembaca dalam memahami teks tersebut. tidak sejajar (menyamping) sebagaimana tertulis dalam naskah sumber. Transliterasi BD ini dilengkapi tanda baca agar memudahkan untuk pembacaannya. 13 .

3a. dan seterusnya).berada dalam tiap-tiap pupuh diberi nomor urut dengan angka Arab. Nomor kedua menunjukkan nomor halaman pada foto naskah yang dibuat ketika pemotretan. sedangkan nomor halaman ditulis dengan tiga nomor. Tanda […] Tanda kurung siku ini menerangkan bahwa teks yang berada di antara tanda tersebut tidak usah dibaca.857 nomor eksposure pada foto 3. Nomor dengan angka Romawi Nomor ini menunjukkan urutan pupuh 2. Setiap pergantian pupuh dimulai dari nomor 1. 2. 3. sedangkan nomor ketiga menunjukkan nomor eksposure pada hasil pemotretan. Contoh nomor halaman: 17 (37. Nomor dengan angka Arab Nomor dengan angka Arab yang terdiri dari satu jenis.17 nomor halaman pada naskah . 4. 1. Terjemahan dapat diartikan sebagai usaha pemindahan suatu teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. 2a. 857) . suku kata. Di bawah ini dirinci tanda-tanda khusus yang digunakan dalam transliterasi. Pengantar Terjemahan Teks BD yang telah disunting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar pembaca yang tidak mengerti bahasa Sunda dapat memahami isi teks naskah BD. Nomor halaman pertama menunjukkan nomor pada halaman naskah.37 nomor halaman pada naskah dalam foto .2. walaupun terdapat dalam naskah dan terjemahannya. atau kata merupakan tambahan dari pembuat transliterasi. 3. 1a. Atja dan 14 . yang ditulis di depan bait berarti menunjukkan nomor bait. Karena pada naskah diberi angka setiap dua halaman maka pada transliterasi ada yang diberi kode a (1. Tanda (…) Teks yang diapit oleh tanda kurung ini menunjukkan bahwa aksara.

Djajasudarma3 mengemukakan bahwa penerjemahan merupakan (a) penggantian naskah bahasa sumber dengan naskah bahasa sasaran yang berpadanan dan (b) penciptaan di dalam bahasa sasaran dengan padanan yang wajar dan peling mendekati pesan bahasa sumber (baik pengertian makna maupun gaya bahasa). 3) bahasa terjemahan mestilah wajar (alamiah). bergantung kepada kemampuan penulisnya. dan siapa calon pembaca dalam bahasa sasaran. dan 4) di dalam proses penerjemahan. makin mudah membuat keputusan tentang pilihan bentuk bahasa dalam proses penerjemahan. Pada hakekatnya terjemahan itu tidak dapat tepat betul. Djajasudarma. Berdasarkan keterangan tersebut maka terdapat implikasi sebagai berikut: (1) sebelum mulai mengalihbahasakan sebuah teks. bukan padanan yang hanya berdasarkan makna leksikal di dalam tataran tertentu. Hoed (1993: 1) mengutip pendapat Nida dan Taber (1974: 1) bahwa: correctness must be determined by the extent to which the average reader for which a translation is intended will be likely to understand it correctly. (2) siapa pengirim pesan itu. artinya padanan kontekstual. 1986: 94. 2) penerjemah harus dapat memindahkan pesan naskah asli semaksimal mungkin. dan (4) benar tidaknya suatu terjemahan berkaitan dengan apakah pesan dalam bahasa sumber diterima secara sepadan dalam bahasa sasaran. melainkan berbagai hasil yang bersifat sastra. 1998: 1 15 3 . ditujukan kepada siapa. B. penerjemah harus memahami pesan yang terkandung dalam teks tersebut.H. (3) makin jelas (terbatas) calon pembaca hasil penerjemahan. 2 Atja dan Ajatrohaedi. Berdasarkan pendapat itu maka: 1) objek terjemahan adalah bahasa tulis.Ajatrohaedi2 mengemukakan bahwa sebuah terjemahan yang baik sudah tentu bukan hasil sebuah proses tanpa perasaan. penerjemah harus mencari padanan yang dinamik.

3) Penerjemahan sintaksis yaitu penerjemahan yang dilakukan pada tataran kalimat yang selalu harus memperhitungkan aspek nonlinguistik. terutama dalam gaya. sehingga tidak banyak terjadi perubahan dalam bentuk gaya. penerjemahan morfologis. Sebuah kalimat dalam naskah asli dapat dipecah menjadi dua atau tiga kalimat dalam bahasa terjemahan. terjemahan secara harfiah akan menimbulkan kekakuan. di samping aspek linguistik. yaitu penerjemahan fonologis. Namun jika teks berbentuk puisi. jika teks yang diterjemahkan itu berbentuk prosa serta bahasa sumber dan bahasa sasaran termasuk satu rumpun bahasa. 16 . Djajasudarma. kata majemuk. 1986:173. dan penerjemahan sintaksis. yang bertalian erat dengan latar belakang kebudayaannya. meskipun ada juga yang harus diterjemahkan dengan memperhitungkan konteks nonlinguistik. 1998: 4. 1) Penerjemahan fonologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri kepada usaha penyesuaian fonologi yang harus dilakukan terhadap sistem bunyi bahasa sumber. Bahasa puisi mempunyai ungkapan-ungkapan yang khas. 4 5 Catford. 4 Pradotokusumo. dan frase).Menurut Catford4 yang dikutip oleh Djajasudarma5 bahwa terjemahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tataran linguistik tertentu. Selain itu Pradotokusumo4 mengemukakan bahwa: Terjemahan secara harfiah mungkin masih dapat mengungkapkan pesan. Terjemahan ini belum memperhitungkan konteks kalimat atau wacana. 2) Penerjemahan morfologis yaitu penerjemahan yang membatasi diri pada tataran morfologi (morfem. 1965: 20-26. kata. Sebuah kalimat bahasa sumber tidak selamanya harus diterjemahkan menjadi satu kalimat di dalam bahasa sasaran.

b) Bahasa yang digunakan dalam BD adalah bahasa Cirebon lama. maka perbedaan ini harus dipertimbangkan agar makna terjemahannya sama atau mendekati. Kata-kata atau larik yang sulit diterjemahkan ditulis sebagaimana adanya dengan menggunakan huruf miring. Karena itu. yaitu puisi yang terikat oleh guru wilangan dan guru lagu.Berkaitan dengan penerjemahan teks BD. agar mempermudah proses membaca. sedangkan terjemahan dalam bahasa Indonesia kosa katanya umumnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia “modern”. karena itu penerjemahannya hanya dapat dilakukan berdasarkan konteks larik. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pembaca menemukan glosari tersebut. Karena bahasa yang berbeda memiliki struktur dan makna yang berbeda. penerjemahannya pun dilakukan dengan cara paraphrase. yang dipertimbangkan ketika menerjemahkan adalah: a) Teks BD ditulis menggunakan bahasa Cirebon dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian akan terjadi perubahan di dalam memahami teks tersebut. Berdasarkan pertimbangan tersebut. di antara teksnya ada yang ditambah atau dikurangi. Cara penerjemahan demikian dimaksudkan agar terjemahan itu tidak menyimpang dari maksud pengarang naskah 17 . ada beberapa kata yang tidak tercantum dalam kamus. Walaupun bentuknya pupuh. Kata atau larik tersebut selanjutnya diterangkan dalam glosari di bawah kolom terjemahan pada halaman yang sama. dalam menerjemahkan teks naskah BD ditempuh terjemahan sintaksis. d) Di antara kosa kata yang digunakan dalam BD. teksnya berbentuk naratif sehingga susunan lariknya mendekati prosa. c) Teks BD ditulis dalam bentuk wawacan. dengan alasan teks naskah BD berbentuk puisi namun isinya bersifat naratif. dengan menggunakan tanda khusus.

sehingga memungkinkan teks itu bisa menjadi objek penelitian ilmu lain tanpa mengalami (banyak) kesalahan.semula. 18 .

hing dalu Jumahah legi. Klayan sanak kadang[ng]é hingkang pun sir.3. Ki Wiralodra rumuhun. … kinarang sinekarna. tahun séwu sanga ngatus pan[n]e… 2. …sajarah tiyang ku[n]na.. 821) //I.. (Mar)gan[n]é kula …hanyerat.. hing tanggal kaping sadasa … wan di.. hérpol sa[ng]king Mantri Haris. bénjang lang…… kun hakir.. wedar[r]ing kanda rumi(yin). sasih. supaya … galur. waktuna . turun-tumurun niréki. nuju seneng manah hulun..nuju néki.. …li ka[h]ula haserat. trus tumurun hing putra… 3. (nu)ju se(neng). supaya samya huni[ng]nga. 4.3 Traansliterasi 1 (1. Kang hana hing Darmayu mangkin.tiyang. hanak……nakin…. Tan sanés hingkang sinekar. bermula Da(lem Kang)jeng. SINOM 1. sampun kantos… langkin.. kartadipran[n]a……s. jam kalih dalu nu jo …n[n]i. Hanak putu Wiralodra. buku sajarah dalem … 19 .

Jeng Pangeran Hadi… hingkang peperab. …ki gumantya. …sumi. turun[n]i Wiralodra. Panembahan Kyahi Be(la)ra. hapeputra… tumenggung hanang Metawis…. Larakelar hasal néki.. Nulya ka[h]ul[l]a. Pan sada……(tu)menggung. 20 . Gagak Pernala Tu(menggung). ……hingkang ka…wecar[r]é hing para …u… nulya kagu[ng]ngan putra. Bagelén hing rang(gah) ( hapepu)tra malih.. Tumenggung hanang Mataram. ka…hical hingga tu … …n[n]é sujarah dingin. 7. . 6.… nti pada … rusak. maksa hing ngila[r]ran hulun. Pejajar[r]an putra ratu. Kartiwangsa …(mang)kin. laki…mangkin. ningal[l]i sujarah mangkin. hapeputra Ngabéhi (Wirase)ca(pa). Minggu palesir kula. pakuburan pun tinga[l]li… …ngungun rusak[k]é hing pakuburan. Wirasecapan kagu[ng]ngan. 5. wedar……kantos dateng Majapahit.

822) 8. Pembajeng Wangsanagara. Wangsayuda rayi héstri. (Tanu)jiwa kang wuragil. Dén Gagak Wiraku(suma) hapeputra malih. nulya peputra … hanang Banyu Hurip Kedu. 9. hanenuwun hing Yang Widi. Wiralodra. Tanujaya hingkang rayi. Gagak Singalodraka…da…ya. gumuling hing wisma. … Pringgadipura. Putra hingkang pa… Pan Radén Gagak Kumitir. remen[n]ipun hamertapa 10. saréngat (hakeka)t mangkin. hing Bagelén dalem[m]ipun. (Wi)ralodra katiganya. Dén Gagak Wirahandaka. Karangjati kang nagari. 21 . 1a (2. pernah hingkang sepi mangkin. … nagara. sanget saking nyandang kingkin. gumantya para bopati. kasa.Lajeng ha… …puna…sekawan. Hana …ling malaya.

…cahya hingkang bening. tigang dahun lamin[n]éki. lamun péngén mulya kaki…nira. 12. babad[d]ahing halas kaki. II. …ngaran suwun hing yang sukma. hing halas Cimanuk 2. KINANTI 1. muga-muga hantuk mu(lya) turun[n]é mugiya hantuk (k)amulyan. …dang nelahi. (pa)dang kadya lintang. ningal[l]i wonten hing langit. …Wiralodra. sampun hical wujudnéki. 22 . sareng ming wétan ning[ng]al[l]i.hakékat mahripat wahu. yahiku cahya handaru. rosik[k]a. 11… (sa)réh miwah dahar. tanda tinarim[m]éng hagu(ng). kantu Bagelén. suwara kang kapiyarsi…. hicaling pepadang mangkin. hamandeng hing wujud tunggil …nya (hing) jero supaya dados satunggal. cahya…mang tapa. nulya …kinanti hingkang tinembang. (nu)ju dalu Jumah. …ru ngira. tansa(h) hingkang tumingal. (Su)kma hing yang hagung.. Ngulon hungsinen kacung.

(ha)turan turun[n]ira. miwah nang[n]i hingan[n]néki. putra ningsun hayu …cw. pan bakal dadi nga…. 4.halas gedé hi[ng]ku nyawa. sami medal toya. sing ngar(sa) ram[m]a hing hibun[n]éki. mila hénggal lunga haka… …Wiralodra. hing pundi panggé(nénéki) 23 .. handres miji(l) ditangis[s]i. duging turun pitu kaki …tuhamu. Kyahi Tinggil tanéki... mapan déréng ha…ta. 822) //. kaki hanak [k]ingsun mangkin. malebeting wanadri. Kahidinan sampun kondur. lali turu miwah dahar. 6. putra ngambung suku ram[m]a. 3. Halilir hanggé …sami katar …hing jeng rama Ngatur[r]aken pi … hing jeng …nas mikatur 2 (3. kaliyan Kang Pandakawan.waspa. Medal ngidul pinggir gunung. rinangkul dipun tang[ng]is[s]i. 5. Sun pasrah(a)ken yang hagung. sangking sakarsan[n]é kaki.ning ram[m]a. (hing) kali Cimanuk pernahnya.

hanang hing(kang panda)kawan. …hapandé ring hantuk marma. Kantos lami tigang nahun. “(Pa)man susah hingsun. 24 . hanggén[n]é wa(na)dri. (pri)yén pan karo hapa?” Humatur kiyahi Tinggil. kantos dumugi hing kali. Saparantos bendara. wunten kaki tuwa prapti. 12. hutawi kebon jalmi. Sareng héca gényagah. nulya jeng hing lampahnya. kali gedé hangliwati. Nulya hawecan[n]a haris. …sowan.7. kula tur[r]i sabar briyin… …mi pukulun. Kula kinten be…dusun. hingkang mindah kaki tuwa. Léréh[h]an nyenangna pikir. hang linggih hing pinggir kali. kathah wowotan puniki. 823) 10. pitulung Yang Maha Widi. lan puniki Gusti dara. 11. Kali hageng hing Citarum. ka(ng) kekasih Kyahi Tinggil. 8. 9. Raden Wiralodra dulu. …toya geng prapta. Buyut Sidum tiyang karihin. Le… 2a (4.

13. tigang (tahun) lampah kula. sangking Bagelén nagari. ngatur[r]aké lampah néki. dé… (han)tuk hawecan[n]a. “Haduh Kakang tu (lung) kula. sanget bhingah[h]é hang… lah bagja temen pun mami. 15. 14. sampéyan … kula. hamesisir la… 3 (5. Kyahi Dum wecan[n]a harum. …(Kali) Citarum. 16. sarta sareng nya lenggah. sampun…kedah wangsul malih niki. Hénggal ti(nari)k rinangkul. humatur hawelas sasih. nuwun pitulung pun kaki. “ 17. “Duh Ki Putu welas mami. Pun lami lampah …n hulun. kula (harsa) hantuk warta.wunten kaki kaki prapti. … Kerawang bagiyan néki. 25 . Nulya hical kaki sepuh. sarwi megap megas har[r]is. kagét wahu haning[ng]al[l]i. muga kaki hanulung[ng]i. hing pundi Cimanuk kali. 824) //…la ngétan pernah néki. sesalaman hasta kalih. bakal hingsun (hantuk) warta. sangking kaki tuwa hiki.

lampa[h]hing KiWiralodra. 20. 18. 19. hing ngendi si kaki tuwa?” Ki Tinggil humatur haris gugup dara hameriksa. datan saréh miwah dahar. 22. wonten toyan[n]ipun mili. “Duh paman Kiyahi Tinggil. sareng duging Pasir Hucing. mila…hénggal-lénggal. ningal[l]i medal[l]ing surya. Pu(ni)ki pan margin[n]ipun. “Duh Paman Tinggil pun kula. …manten pan hantuk marma. Hutawi negarin[n]ipun. nulya hénggal halumaris. pitulung[ng]é hing Yang Widi. kula lajeng pangkat Gusti. Nulya hawecan[n]a harum. Sumber medal saking sumur wan[n]a dateng Ki Tinggil. Hangrem(pug) hing wana (a)gung. ngétan ngalér margin[n]éki. 21.getun Radén Wiralodra. lumampah siyang lan wengi. kabujeng (mu)sna pun kaki. boten[n] takén wasta kriyi(n). 26 . nanging bagja kula Gusti. lan sing pundi hika hasal. déréng (ta)kén wastanéki. hambhujeng lampah pun hénjing. lér[r]éh (h)ing wana[h] puniki.

hadem kasilir marut[t]a. 24. nulya manggih tiyang gaga. sun ting[ng]ali hiki toya. Yayi sinten jeneng[ng]ipun. sah[h]a hasli pundi ranti?” 27 . 3a (6. Dalem (Pega)dén hing bénjang. Wirasetra wastanipun. ming[ng]elér lampah hiréki. Wirasetra jeneng ma(mi) 27. 825) pi//wiwitan hiki. 25.meng(ké) laréh pada mandi. kula péngén sesaréyan. duh Wirasetra jeneng mami” “Hingkang wewangi pun kakang. “Duh kakang basa pukulun. hing Kakang tembé pinanggih. hénggal sa(r)é Kyahi Tinggil. (lamun Gusti) kersa mandi. lan badé karsa hing pundi. nulya pangkat Wiralodra. sarwi sesalaman kalih. Kyahi Tinggil pan humatur.” 23. Lami hanthuk kalih minggu. lan sinten kakang peparab. sing wétan hasli rumihin. 26. Kyahi Wiralodra tanya. hing bénjang bakal nurun[n]a. madukuhwan hing wan[n]adri. hana (to)ya tengah wanadri. langkung sa(hé) toya bening.

hing wisma pernah hi(ré)ki. salaminé boten bukti.subu haneda. daging kula kathah hical. Banyu Hurip dulur misan. sing Bagelén hasli kula.” 28. 29. Wirakusuma Dipati.Wiralodra jeneng rayi. Karun[n]a sarwi hangrangku(l). dameng gegodong[ng]an kula. pu……na tan dahar. handugék hagen pun daging. yén lumampah sempoyongan. 32. dahar …se//(ka)lih hulam. dameng tambi weteng blending. 31. ngalar[r]i Cimanuk kali. 28 . Ngayang hayang hir tiyang bu… suku hasta halit halit. kula hasring niba tangi. pinanggih kaliyan kakang. Hanulya binakta wangsul. hingkang dipun bukti habdi. “Duh Bendara tembé habdi. Kakang (ing) wétan nagari. Kyahi…humatur. Haduh dara kula suwun. “Duh bagja temen rayi. badé hanglemok[k]en badan. tyang tangga samiya bhukti. hingkang lami manggén riki. Sinubu. 30. sami pada suka hati.

4a (8. sadinten ping kalih bukti. 37. manggén tengah wana mami. “Duh bagja kula ben(dara) kranten kula nyémah niki. Kyahi Wirasetra puniku[s] hanyambung[ng]i sabda man[n]is. muga dén hidin[n]i kula. “Ya paman Tinggil wus begja.” 36. 827) ba(dé)//pangkat dinten mangkin. lubér[r]an masșa redi.kasrimped déning la…tan. nulya humatur hing raka. Tyang kalih sami (gu)yu.. Radén Wiralodra wahu kantuk sasasih mangkin. hamireng hatur[r]é Tinggil. pinanggih lan kadang mami.” 34. Cimanuk wangsit yang sukma?” Wirasetra muwus haris. “Duh kabegjan pama. bis[s]a wareg dika bukti. pernah[h]ipun hingkang kali. mila sing lami hing riki.la. 29 . pinanggih kaliyan kadang. hanggén[n]é bungah wak ingsun. sampun gama rasa kula. “Duh kakang panrima yayi.” Humatur Kyahi Tinggil. 35. Hing pundi panggén[n]an[n]ipun. 33. sarta rejekimu paman.

sangking daramu pikersa. kelangkung sanget bungahnya. 30 . Kyahi Sidum sanget welas. gampang bésuk sandang malih. Ki Wirasetra hangguguk. gumujeng[ng]é suka hati. “Nun bhendara nuwun kula. daging kula dugi malih. “Lah paman Tinggil puniki. 41.” Nulya sesalaman sami. mugiya hénggal pinanggih. ming (pinggi)ran[n]iréki. “Héh Tinggil sun dongakna. Sarta rineksa Yang Hagung. namung héwuh ……habdi.” Ki Tinggil humatur lirih. boten wonten padukuh[w]an. hénggal hasira pinanggih. kalih sasih hing laminya.“Muga dak jujurung pandonga. hatut pinggir pinggir kali. Ki Tinggil pan manembah. tak duga hiki Cimanuk.” 39. “Duh dara men[n]awi nyata. 42. sarwi matur klayan lirih.” Hang kalih pangkat hanjugjug. Nulya pinanggih lan kali. mingétan hingkang … dén…i maksih hageng hingkang wana. 40. kanggé… kan…yaktosnéki. 38. Nulya tiyang kalih lumaku.

5 (9. kanan kéri mandakaki.ningal[l]i dangka kalih. langkung sahé dén tinga[l]li. Raden Wiralodra dulu.” Nulya hamarin[n]i sirih. sundrem malem mangajeng[ng]an. “Duh Tinggil bagja wak mami. lumampah nrajang rinungkun. pinuter kembang srengkun[n]i. 828) Hanulya nyipta kiyahi. Wiralodra hawecan[n]a. 31 . Gemuh wéhing kebon wahu. 44. 46. Boléd homas miwah jagung. kebon lega palawija. ningal[l]i kebonan mangkin. hing wétan tan[n]ana Tinggil. kebon lega palawija. paré gajih putih putih. 47. térong kara sabrang cipir. Pinggir kali wésma nipun. kebon bhagus datan[n]ana. 45. linggih hongot-hongot deling. hing wésma wonten tiyang lenggah. hing wétan kadya puniki. tanem[m]ana warna. Ki Sidum lenggah (ing bumi). tongkéng malengkung hing lawang. 43.warna. langkung seneng haningal[l]i. bonténg timun miwah lobak.

52. Haran ningsun kang sinambat. 32 . Hanyentak ngandika wahu. Nanging hadat[t]é puniku.” Humatur Kyahi Tinggil. badé tanya pan kagu[ng]ngan. (“Ha)rep hapa siréki. sarta Kyahi kali nap[p]a. kedah[d]ipun maklum Gusti. na pamali tiyang halas[s]an. “Sugal temen kaki kakang. nembé kula haningal[l]i. sun kang duwé kebon hiki. (bo)ten gadah tatakrama. wastan[n]é puniki kali. 50. sira tekang wisma mami. 829) //wong ngendi sira hiki. Hiki kali pan Cimanuk. hinggih leres Gusti Dara.bakal wuwus aya hulam. 49. 5a (10. hapa harep ngrampog hingwang. Nulya hawecan[n]a haris. prawantu tiyang dusun Gusti. Kyahi Wiralodra getun. hingsun tanya bentak nyentak. “Kiyahi ka[h]ul[l]a nuwun mugya hagung pangaksami. 48. tan mingsir bari halinggih” 51. kebon sahé sapuniki. harep hapa sira tanya? Kakang tan[n]i malih warni. nembé teka hamariksa.

muga dén pernahna Kyahi hingsun nurut jeng ngandika. tebih sing Bagelén nagara. perkara kebonan kaki. 830) tan harep hingsun // nulung[ng]i. senyatan[n]é kula kyahi. 54. 33 . Sahiki kaki sun jaluk. jajabang muka lir gen[n]i. tan liyan hingkang sun hilar[r]i. rin[n]aket[t]an kaki tuwa. 53. ngisén[n]i dika wong dés[s]a. 6 (11. “Hora harep tulu(ng) mami krana hingsun sugih rayat. kaki grendaka sun tan[n]i. welas sakya hing mami. haku tan sudi ning[ng]al[l]i.Nulya dén pedek[k]i lirih. 55. “Duh Kyahi pan hingsun tulung. Radén Wiralodra bendu. kuma tumut ngebon kaki?” Hang réncang[ng]i jeng ngandika. hawéh hingsun jaluk paksa. sorah ngandikan[n]é mangkin.” 56. hénggal sira hamampus[s]a. kali Cimanuk pan hingwang. “Héh kaki dika wong hapa. Kyahi malih warni muwus. hora ken[n]a sun halus[s]i. Ya hiki kali Cimanuk. hora ken[n]a tak bhedam[m]i! 57. hing tembé ningal[l]i kali.

Pammanuk[k]an hingwang dusun. 831) //mengkola mun șira manggih. 60. hénggal sira hanyabrang. musna kebon kaki-kaki. hanubruk hing kaki tuwa. kari kari kebon mami. bésuk dadi dés[ș]a hiki. yén hora weruh hing mami. binanting hanulya hical. 59.58. pan dudu Cimanuk kali. surung-sinurung tiyang kalih.” Radén Wiralodra mangkin. langkung sorah hawecan[n]a. Hing pernah kebon wahu. bener sira pan bherandhal. han[n]ingal[l]i hing siréki. 62. Hingkang mindhah kaki wahu. 34 . walang kerik hanuding[ng]i. nameng wonten kapiyarsi… 61. hénggal bhurun[n]en dah kaki. 6a (12. Cipuhnegara kang kali. kidang mas hinten kang soca. hangadu sakti linuwih. “Hah Wiralodra putuku. Buyut Sidum haran ningwang. hical mapan dadi wana. hangadeg linggih hing korsi. pan pinasti karsa n[n]ing wang. Bermula halas dén jaluk. mapan haku hora sérab.

bénjang lamun kaki babad. “Duh tulung bendara ningwang. hénggal-hénggal lumampahnya. Tyang kalih hanyabrang sampun. nulya hanubruk tumul[l]i. 68. hing pundi nusup pun haki. Hinggebeg kiyahi Tinggil.63. poma kaki wekas mami. Radén Wiralodra hindha. yén șonten kulon pun lingsir. 35 . 66. macan hapa karen[n]éki?” 67. surya hingkang dén ningal[l]i.” Hanulya wecan[n]a haris. mapan Radén Wiralodra.” 65. yén hénjing tamtu hing wétan. “Man Tinggil meneng siréki. hing Cipunegara kang [kang] kali. Lajeng malebetan gung. nulya musna rupi macan. pinanggih macan gedéki hangadang margan[n]ya. tetapa hahaja néndra. Lajeng takșaka hambhuru. wunten takșaka hageng prapti.” 64. pasti turun nira mukti. yahiku Cimanuk kali. macan tin[n]abok tumul[l]i. mangko hingsun harep tanya. Hing pundi hical ké wahu. Sima[h] kekerag hing ngayun. Hana macan hagung.

“Duh Radén bagus jandika. kasugih[y]an kadigjayan. 69. III. kula sanggup badé tulung. dén pendhung hula sirahnya.hambhakta pendhu Ki Tinggil. Larawan[n]a wasta kul[l]a. 36 . déréng hanglampah[h]i laki. wunten pawéstri yu héndah. 832) //kali musna tan kahékși. pan badé ngilar[r]i napa. Dateng Radén [pan] Wiralodra. hasar kula dipun kawin. manggah jandi katurut[t]i. Radén Wiralodra héran. Musna hula dadi kali. salebet[t]ing wanadri. 7 (13. Pan kula makșih[h]aken[n]ya. SINOM 1. Nulya mendak (taska)ra wahu dén lepas[ș]aken tumul[l]i. hing Radén Wiralodra. Haduh melas temen hingsun. 2. ngalih hasih melas șasih. tiyang bagus pinanggih riki. napa sakarsan niréki. taksih nonoman maran[n]i. ningal[l]i kali geng néki. sarta kang sineja n[n]éki? Manggah Radén tampinen pan[n]yémi kula.

7a (14. 833) su…//pekik. pan ka[h]ul[l]a datan hasti. nulya nyandak Larawan[n]a. Ki Tinggil majeng hing ngarsa. yén șampéyan tan nurut[t]i. pasti pejah sareng ngakalih jandika. dateng Wiralodra mangkin. “Duh bendara dén hénget[t]a.manggah Radén turut[t]an[n]a sedya kula. kuping tuli gigir bekuk.” 3. 37 . Radén nyimpang nganan ngéri. hana hing tengahing wana. mangko badé hingsun priksa. hanuwun șamangké kula. “Tan gingsir paman wak [k]ingsun. “Sampéyan wonten hing wana. 4. bisșa temen ngomé hiki. 6. …da krama kula wahu. Hangadang[ng]i hing ngajeng[ng]an. buru dadi kaki-kaki. puniki tengah wanadri. datan pantes tiyang héstri. huntu lunga kempo(t) pipi. sanajan héstri yuhéndah… hé ora ha(rsa) șeja krami.” Wiralodra ngandika haris. sarwi humatur halirih. ngangken kenya déréng laki. langkung gampil tiyang …karma bénjang… 5. Mangsul[l]i Nyi Lara wan[n]a. hangantos hantuk kamulyan. hamit kula badé hamangsul[l]i sabda.

…cak pan[n]a wong [ng] abagus. tan ken[n]a sun hé mangkin. malempat Ki Wiralodra. Wiralodra dén priyatna. kalumah[h]an nulya nubruk. 9. nulya Dén Wiracabra pinendi. 38 . dibujeng sami prang lirih. senjata ranté pan hiki. gébés-gébés haningal[l]i. malajeng ming wétan wahu.kinipat[t]aken tumul[l]i.tun[n]a …sakti. Wiralodra dén priyatna. Nulya dén pe[n]ta sanjata. yén nora dadi sawiji. 8. Wiralodra hanadah[h]i. suka matiya wak[k] ingwang. senjata ranté tumiba. Nulya Radén Wiralodra. “Duh Radén kang ngatiyati kinten bhabar pisan Gusti. manggah Radén sampéyan males hing kula. kénging musna rupi kidang pan kencana.. ngadu sakti gumreget Nyi Larawana. hananging tan pasrah mangkin. tadah hana tyang pekik kaya jandika.cinandak mangkin. héran temen Wiralodra. hangasta cakra tumuli. karanten ……. wong bagus . 7. candak. Nyi Larawan[n]a nadah[h]i. Ki Tinggil maran[n]i hénggal.

13. karsan[n]é…mara tinggi kidang kencan[n]a pan hical. tan șamar kidang kencan[n]a. Hanulya Radén tuminghal 8 (15. Nulya dumugi hing lampah. siyang dalu hambujeng kidang kencan[n]a.10. 12. tyang kalih datan katinggal. yén tebih kidang ngentos[ș]i sampun lepas lampah néki. kajeng kiharah geng néki. hika pan kidang kencan[n]a. 834) gumebyar saliran[n]éki. nulya hangandika haris. Hing ngimpén kang kapiyarsa riki kacung hapan kali. wis bhagja muraki bénjing. ming wétan kidang malayu. toya deres hingkang mili. paman dén hawas handulu. katingal hujur ring kali. hayuh paman haja kari. hingsun bhujeng hing pundi purug[g]é kidang. dén pegat nganan lan ngéri cinandak-candak tan ken[n]a. “Hing paman kiyahi Tinggil. hanutut[t]i kidang mangkin. nulya léréh hing ngandapya.” 11. nulya nétra tiyang kalih ngandap kiyarah. Cimanuk kang dén pilalah. punika kali Cimanuk. Tyang kalih hambhujeng kidang. 39 . hing turun-turun siréki.

ngandika hing paman Tinggil. 15.” Ki Tinggil humatur lirih. wélan-wélan hasung warta. sétan hibhlis prayangan bhubar sedaya. pan[n] ingsun șaréh lan dina. hangilar[r]i minggir kali. Radén Wiralodra mangkin. nulya nglilir Ki Tinggil lan Wiralodra. “Duh paman bhegja wak[k]ingsun. hanggén[n]é babad wanadri. hanulya hamasuh raga. Sanget bhungah réhing manah. paribawan[n]é panas hatis. supen[n]a pana……//warti. Ki Tinggil damel[l]an[n]éki. “Duh bendara yén waten[n]a. mapan bhibar katawur[r]an. 835) 40 . Radén Wiralodra mangkin. 17. menggah Gusti kersa pundi. miwah banténg warak wahu. 16. 8a (16. wis katrima hing Yang Widi. hing himpén kang kapiyarsi. kanggé panggénan pun habdi?” Radén Wiralodra wahu. Wis terang wang(si)t Yang Sukma. mapan holih kamuktiyan.karsan[n]é Yang Maha Hagung. 14. Mangka Raja Budipakșa. nulya hangilar[r]i pernah. manggih pernah tan[n]a jembhar tur harata. nyata hiki Cimanuk kali pernahnya. Nulya hadamel kang wisma.

ribut prang[ng]é Radén Wira. hamasing donga Ki Tinggil. hakumpul șabhalad nira. dikira haku pan wedi. ngisén[n]a pan[n]aw[a]ung[ng]an hibhlis. sarta sakéng sén[n]apati. braga brigih ngarsa mami. kapethuk hing wisman[n]éki. jurubiksa kathah lumpuh. 836) kumawani// ngusir hingwang. hénggal nyingkir sira hiki!” Nulya ngadeg Wiralodra hawecan[n]a. 20. samya dugi hangrawuh[h]i. hingkén[n]é majuwa sira. Sulahémana Srabad mangkin. kénging Radén Wiralodra babad wana. mapan hingsun tan ngoncat[t]i.miwah patih Bujar[r]awi s. Bhudi Pakșa hangandika. Nulya kalurug Dén Wira. sakéng bala bubar mangkin. hi ra[n]né sapa siréku. pasti lancang kumawan[n]i. “Héh satriya wongasigit. gawé rusak bhala[n]ningwang. “Héh juru(wiksa) sapa[n] șira. 18. 19. 9 (17. Ki Gedé muwara Cimanuk.” Radén Wiralodra bubut sabalan[n]ira. 41 . kelangkung sanget duka[n]nya. ngisén[n]i gandarwo bulus. Sakéh[h]é Gedén Muwara. miwah para kang prajurit.

” Ngandika Dén Wira wahu. dumugi saturun rayi. 24.” 23. 837) wangsit ing Yang Maha Tinggi. 9a (18. Rayi Sultan bhas[s]a mami. sukur bagja rayi sultan. Rara Kidul Gusti mami. muga dén hampura Gusti. ngasih hasih melas șasih. 21. “Duh kasuwun jeng ngandika. 42 . becik dén raksa hahiki. Nulya siyang dalu babad. sahanak sadulur. Ki Tinggil kang dadi koki. pada hakuren sadulur. krana turun Majapahit. pada kekadang[ng]an mami. samya bubar sadaya hiblis prayang[ng]an. nulya hénggal Werdinata cahos ngarsa. Kala Cungkring hulukbhalang Langlang Jagat. kasamaran bhala habdi.nulya wonten hutus[s]an[n]ya. katambhet[t]an Gusti habdi. kakang pan gawé hi…s[s]a. “Mangké sinten pan jandika. “Duh Radén Gusti kawul[l]a. Sarwi manembah hing ngarsa. Dugi hanang Sultan Hemas “Haja pada dén ganggon[n]i.” 22. sangking Tungjung Bang puniki. krana maksih pernah cangga. Werdinata sultan hanang Pulo Mas. hiku Radén Wiralodra.

25. sami gemah kebon[n]an hawarna-warna. Radén hangandika haris. “Duh mang Tinggil sampun lami[ng] lelampah kula.warni. hawit tetaneman gemah. manca negari kang dugi. hingkang lén Cimanuk kali. tumut wisma hanang riku. kawentar kebon[n]an[n]ira. Sanget kapéngin pinanggya. lami damel padukuwan. trimanen kongkon malebhu. boléd jagung kalih cipir. Ki Tinggil humatur haris. Kathah tiyang kang damel wisma. kalih rama hibu mami. bok hana tiyang kang yuda. 27. palawija tan kabukti. gundem juwawut hagemuh. “Duh bendara hing tembhé seneng ka[h]ul[l]a. palawija warni. teng[g]ah[h] ing kén[n]é dingin. sampun hantuk tigang tahun. lumintu tiyang kang dugi. haja dén télaksaman. datan wonten kakirang[ng]an. kathah tiyang sami prapti. Boten wonten kakirang[ng]an. Ki Tinggil kadadi lurah.miwah nanem palawija. 43 . 26. tan wonten tiyang kirang nedi. manah paman dén kariya. lamun bhagus tanah néki.

kang dadi lurah hiréki. rama hibu mirengna. 28. pan rinangkul tinangis[s]an melas harsa. ningal[l]i kang putra prapti. Si Tinggil hingkang hatenggah. pun katurang lelampahnéki. sadaya samya han[n]angis.Tinggil dén kari basuki. kagét hibu miwah rama. marah hanak[k]ingsun nyawa. “Duh mas han[n]ak ingsun nyawa. siyang dalu pan kating[ng]al. miwah kadang kadang néki. Putra humatur Jeng Rama. hénggal pangkat Radén hang[ng]ungsi nagari. hanangis șiyang lan ratri. “Haduh nyawa putra[n]ningwang. muga muga lulus[ș]a sakarsa[n]nira 31. Kacariyos hing lampahnya. hibumu pan șamya bintip. welas[ș]é hing lampah[h]ipun.” 30. hanjujug hing padalem[m]an 10 (19. 44 . sangking marman[n]é Yang Widi. 838) //Bagelén hingkang negari. 29. lelampah[h]an putra mami. rama hibu sami linggih. sumanding putra tetelu. caritha hing ngarsa hibu lan ram[m]a. pun dugi hing Banyu Hurip. hora nyan[n]a temen kaki. yén hinget hing sira kacung.

kadang kadang hanggén[n]é ngurus//nagara. supaya dadi weruh. cakep hadamel gelar[r]an. Sukubahu Jungjangkrawat. kadya pangkat[t]ing tumenggung. 34. langkung kathah tiyang prapti. tempat panjagian gardu. hatur[r]an ngurus nagara. tumut magén padukuh[w]an. Wanasara Puspahita. Bayantaka Jayantaka Surantaka. sadaya cakep ping kardi. samya matur ram[m]a haji. kambi sadulurmu kaki. 839) 33. hing kulon dadi nagari. hangkat[t]an[n]é kiyahi Tinggil.sekawan[n]é putra ningwang. 45 . mengkuwa Bagelén negari. gampang bésuk yan wus dadya. cacah limang ngatus jalmi. mapan mukti kiyahi Tinggil. miwah Ki Pulaha kyahi. margi hageng lurungnéki. dawuh[h]ipun hing kang ram[m]a. lan Tanu[h]jiwa siréki. 32. sahiki pan sira kaki. tyang halit șeneng kang hati. Wangsayuda kaliyan si Tanu[h]jaya. Ki Tinggil hingkang dén tilar. pinedhak kadya nagari. Miwah si Wangsanagari. handérék șakarsan[n]ipun. saban lurung panjagahan. 10a (20.

muga dén hidin[n]i hulun. Bade handérék ka[h]ul[l]a. pan kapanggih Ki Tinggil ngatur[r]ing unggah. tan[n]a tan[n]i kang pawong[ng]an. punapa sejan[n]é Nyahi.saban din[n]a tiyang dugi hadamel wisma. mikul gandum kalih pantun. 37. hanjujug wisma Ki Tinggil. 35. 11 (21. lan șinten kang wangi. hing sémah manembah prapta. sumanggah hayu hamilih. dén hiring pawong[ng]an kalih. 46 . Hindang Darma hingkang nama. tumut damel wisma kaki. tur maksihken[n]ya pawéstri. tan[n]ah hingkang radi jembar. Hanulya wonten tiyang prapta. 840) kula haningal[l]i senang. hutawi kula hanyabin. 38. hasli sangking pundi hayu?” Nyi Hindang mangsul[l]i sabda. hayun[n]é hang luluwih[h]i. Hindang Darma hasli ngum(b)ara ka[h]ul[l]a. 36. “Duh paman tambet hing mami. Ki Tinggil haris tetanya. badé ngebon kula kyahi. Hakulon hutawi wétan. “Hamit palamarta habdi. dateng pundi sumanggah kapilih karsa. “Sumanggah handérék habdi.” Ki Tinggil hambales șabda.

47 . sakéh murid pan șami. 841) //hangguruhna ngélmu kaya jeneng hingwang. hingkang murid-muridnéki. Sanget dukan[n]é Pang[ng]éran. Hindang Darma mulang jaya. sakathah[h]é murid[d]ira. kanggé garwan[n]é bendara. hing pernah kang senang milih. kawentar liyan nagari. hana wanodya hamulang. “Héh sekabéh murid mami. 40. 41. Hayu mulus kang salira. pan likur pangéran[n]éki. memada… hing jenengi 11a (22. mandan napa Gusti mami. Pan gemah kang pakebonan. kapiyarsa marang Pangéran Palémbang. hingsun mapan wis hangrungu. kedot pan gun[n]a sakti.Nyi Hindang mariyos makin. 39. hana wanodya nglan[n](c)ang[ng]i. nembé temen hingsun ningal[l]i wanodya. tan[n]a tan[n]i dérék wahu. yén rawuh hanang riki. nanging bénjang dara mami. mandah bungah[h]é bendara. sampun medal șangking wisma. mapan șampun Hindang Darma damel wisma. temtu haku nulya matur. ningal[l]i wong hayu luwih. ngandika hing murid[d]ira. ngajeng-ngajeng manggih mu[ng]suh. Ki Tinggil getun ning[ng]al[l]i.

“Duh hamit hing palamarta. saha sinten kang wawang[ng]i. hing muwara mentas pangéran sedaya. kagét Nyi Hindang ningal[l]i. samya rawu[h]hing cémpok pernah ka[h]ul[l]a. pada sira dangdan haglis. hingsun ngungsi Pulo Jawa. Nulya Nyi Hindang humatur. Sahiki murid șadaya. Pangéran pan wicakșan[n]a. 43. héman temen tingkahnéki. nulya hénggal babar layar. Pangéran gawok tumingal. manggah Gusti katur[r]an lenggah sadaya. hiki wanodya yu héndah. hanang wisma Hindang Darma. sakedap nétra wus prapti. sampun dugi prahun[n]éki. pangéstri hang lelanang[ng]i. 48 . hingsun ngrungu t[t]an șudi. 45. “Duh [duh] bagja kula sémahan. wunten tiyang kathah prapti. mila hing ngabrama Gusti. nulya haris gé nya matur. hasli sangking pundi Gusti. “ Sampun numpak hingkang prahu. tiyang hagung hang rawuh[h]i. hanangkep kang pada mami. kawit[n]é tyang dusun habdi.” 44.42. lan badé karsa punapa. cipta sajroning galih. Sanget kumejot hing manah.

kados wonten karya hagung. hora nana padan[n]ipun. hakéh pada hangguruh hing jeneng hingwang. pakșa lumancang hawan[n]i. hingsun parlu mrikșa sira. hingkang ngiring marang mami. kang lagi guruhna ngélmi. 49 . Mapan hiki murid hingwang. 47. 842) //wong hayu sira wanodya. sakaprabon hing ngajurit. samakta rawuh paduka. dayang humbaran sira hiki.” 46. suyud pangéran hing mami. haja mungkir sira hiki. kados wonten dén bujeng lampah paduka. hora nganggo tatakramané wanodya. yén șira guruhna ngélmi. dadi guruh sakéhé para pangéran. hora ngrungu béja warti. kawentar saban nagara. 12 (23. kaya hayun[n]é Hindang Darma. hapa kadiran siréki. wong hayu tur lencang kuning. dadi guruh kaya hingwang. hing Palémbang nagrinipun. Kari kari Hindang Darma. memadahing jeneng hingsun. Pangéran mangsul[l]i sabda. Pangéran Guruh ran mami. tedak Haryadilah Sultan. 48. “Héman temen pan șiraki.

Hindang Darma datan sérab. Hambales sabda Nyi Hindang. 50. badé pun[n]apa Gusti. hutawi karéh hing karya. Bratakusuma kang rayi. mungguh pan dakwah Pangéran. manggah Gusti kersandika. hipe kon paduka Gusti. sagending habdi lados[s]i. 52. maran[n]i papan Kang Hagung. hutawi saktining guru. tan[n]ana manus[s]a hiki. lamun kawon mapan kula boten wirang. sakayu(n)-kayun[n]ing hadang. Hananging sugal wecan[n]a. 50 . bedama pucuk[k]ing keris. badé napa sumanggah dérék pikersa. hutawi hajrih ning[ng]al[l]i. 12a (26. mapan wisma datan nyambut. tan karuwan negarin[n]éki. kaya tingkah hira hiku. boten wonten bas[s]a lirih. sémah neda dén suguh[h]i. “Duh héman hing rupi Gusti. lancang[ng]é kaliwat-liwat. kaya gun[n]a hang luwih[h]i. matur héstu kang sayekti.49. Kaya sakti sakti sira. langkung sahé pideksa rupi paduka. Bramakendali kalihnya. Hénggal hanubruk pangéran Wisanggen[n]i jenengnéki. 845) 51. hanulya medal tumul[l]i.

51 . Ki Pulaha dén timbal[l]i. 846) //sangking Palémbang nagara. sun harep matur hing Gusti. “Susah kang Pulaha mami. sarwi nguwuh huwuh tanding. sasih hanggén[n]é yuda. Nyi Hindang sakti pinunjul. lumampah siyang lan wengi. prang tanding ngadu gun[n]a. sadaya pan kancan[n]ipun. hidin[n]é kon gawé dus[s]un. 13 (27. Ki Tinggil sanget hajrihnya.kinten jembar yudabrata. bendun[n]é bendara mami. kang seneng[ng]an lampah tan[n]i. sampun kantos hantuk duka hing bendara. samya perang silih huki. sadaya pangéran ngemas[s]i. kari kari kanggé tempat yudabrata. kalih Gusti puniki. Nulya pangkat gegancangan. sampun cahos hanang ngarsi. héman rupi hadi hadi. kang sumaréh hing Darmayu setan[n]a. 54. kathah Pangéran ngemas[s]i. kariya tunggu nagara. 55. “Duh Pangéran hing riki papan kang jembar. tak duga pan maksih wargi. Sadaya para pangeran. Sampun rucah jeng ngandika.” 56. 53. kanggé tiyang tani tempat. prang sami hangemas[s]i.

“Wis jamak[k]é sira kaki. 849) //kancamu pada basuki. 52 . 57. linggihya hasoh rumihin. samya kagét praptan[n]é Ki Tinggil ngarsa. karun[n]a sesambat[t]ipun. sun tinggal kari rumihin. hapa holih kasenengi. wicaksan[n]a tur hasakti. Nulya kang rama ngandika. sarta matur[r]a hing mami. najan pandakawan mangkin. mengko hingsun si Tinggil harep sun tan[n]ya. Tinggil han[n]éng pagusténmu. sun dongak[k]aken Yang Widi. toya waspahan dres mijil. sakedap[p]an sampun rawuh.” Sakalih pada menenga. 13a (30. muktiya dugi hing bénjing. “Duh paman welas ka[h]ul[l]a. muktiya wong loro kulup. 58.” 59. Tinubruk Ki Pandakawan sarwi dén rangkul tumul[l]i. “Haduh hanak[k]ingsun kaki. saré[h]hing dén tinggal kari. Haduh mas pawong[ng]an hingwang. legan[n]a hingkang man[n]ah. Ki Tinggil hangguguk nangis. duk dingin sareng sangsara. sareng hénget sakalih sareng hanembah. tumunten cahos hing Gusti.prawantu Ki Tinggil lampah. si Tinggil turun[n]ira. lanang Bagelén nagara.

pinaring[ng]an harja Gusti. pan badé hanangkep wahu. 53 . kapiyarsa hing Gusti Pangéran Plémbang. Nyi Hindang memada mangkin. gelar[r]an pangatur habdi. dérék damel wisma Gusti. Nyi Hindang Darma dinakwa. nulya dén lurug Nyi Hindang. 60. Hang wulang[ng]aken kagunan. 63. Mapan sami yudabrata. Kasinggiyan[n]ipun dara. hantuk marma ning Yang Sukma. berkah dalem putra Tuwan kadados[s]an. kelangkung sakti Nyi Hindang. Pangéran Guruh ngrawuh kyahi. dalah kadados[s]an sasti. masih ken[n]ya hayu luwih. hanggén[n]é tinggal nagari. 61. sarta win[n]angun[n] nagara. sarwi bakta muridné para pangéran. kadugén Nyi Hindang Darma. Nameng humatur kaul[l]a. gemah rah[h]arja hing dusun. bantasa kaprabon jurit. Hindang Darma pan pinunjul. 62.marah Tinggil matur ngarsa n[n]ingwang. Hindang Darma mulang ngélmi. ngaben sakti hing ngajurit. dadi guru mulang ngélmi. dalah kathah tiyang prapta. pangéran samya ngemas[s]i. katiwas[s]an habdi Gusti.

54 . 66. turun Majapahit kulup. Hindang Darma tiyang pawéstri. 850) //”Héh kulup pan Wiralodra. Kang Gusti pan Singalodra. Sadaya samiya manembah. nameng kaki kang halus panangkep[p]ira. kapasrah[h]aken hing Yang Widi. 65. didongakhaken ka[h]ul[l]a. hinsahalah. héyangmu pan sami lampus. Wangsayuda Tanujaya.tan kiyat hananding jurit. Ki Tinggil humatur haris. Gawanen pan kadang[ng]ira. Tanujiwa hingkang rayi.” 64. 14 (31. hingkang rama hanjurung pandonga pasrah. dipati hamaca donga. matur huning dateng Gusti. “Duh Gusti pepundén hulun. kantos lami pan setahun. poma kaki dén tangkep[p]a. Si Wangsanagara kaki. Tinggil sun durung kamulyan. tumenggung Bagelén nagara. kang putra dérék pikarsa. Hindang Darma luwih sakti. sing Palémbang guruh ngélmi. nuwun hidin hing ramaji. kados pundi Gusti sakarsa paduka. hing hibu miwah ramaji. habdi suwun berkah Gusti. hiku héyang ngira kaki. mila habdi gegancang[ng]an.

Puspahita Wan[n]asara. Radén[n]ayu habdi hajrih. 68.” 2. hamaran[n]ika Ki Tinggil. ningal[li] tiyang yudabrata. lan kanca dika haja kari. lepat boten tur huni[ng]nga. hing parnah Ki Tinggil wisma.” sampun kondur sangking ngarsa. KINANTI 1. kinten kabaktaha kyahi. 14a (32. sahéstu [pa]manah pun habdi. Tan kawuwus hanang marga. Ki Tinggil haris humatur. Bayantaka hana ngarsi. hing wisma Nyi Hindang mangkin. 851) gegancangan gumanti ganti tembang. kanggé ngatur[r]i Nyi Hindang. samya prapta wisman[n]éki. Jungjang Krawat cahos ngarsi.67. hiringen lampah Ki Tinggil. handumuk wisman[n]iréki. sadaya pepek hing ngarsi. Nyi Hindang kagét tumingal. “Radén Hayu héstu habdi. lami datan tan kahéksi. 55 .” “Sumanggah dérék pukulun. “Duh bagéya paman dika. miwah Ki Pulaha wahu. IV. hangandika Radén hanang Ki Pulaha. Sampun prapta kan hing ngutus. “Pan paman Kyahi Pulaha.

kedah kéring da hing habdi. linggih han[n]ang compok kula. sareng wangsul wisma habdi. hénggal Nyi Mas dén ngatur[r]i. hayun[n]é hangliliwat[t]i. bendara tumut ming kula. 4. mapan sadaya tumingal. handérék Nyi Hindang Darma. hing raség sadayan[n]éki. 5. 15 (33. pin[n]ahés releng asuri. kadi rupi Hindang Darma. Nyi Hindang ngandika harum. manggah badé dangdos briyin. Dedeg kelangkung hayu. dateng wisma hanang wétan. datan han[n]a sakéng héstri. 7. rémah cemeng handan pandan. miwah kadang raka rayi. Dados singid[d]an pukulun. Sampun dugi nembah ngayun. kulit kuning nemu giring. miwah Jungjang Krawat kula. hamite geng[ng]en ningal[l]i. dateng wahu Hindang Darma. 6.3. Mila habdi dipun hutus. kadia putri widadari. kaluntan wangsul pun habdi. Radén hayu dipun hatur[r]i. 852) 56 . Nyi Hindang ngrusuk busan[n]a. sekancan[n]é kaki Tinggil.

” 10. prawantu pawéstri habdi. sangking sanget hajrih habdi. 12. dateng tapak hasta Gusti. mapan Gusti kula mangkin. pan hingsun hasung paréntah. “Radén mahéwu [ng]kang suwun.” Nyi Hindang humatur haris. Radén hénggal wecan[n]a harum. Hugi Radén sanget nuwun. 9. 57 . 13. rawuh hing dukuh punika. Hamung hingsun Nyahi perlu. hing paman Kyahi Tinggil. hora dadi hapa Nya[h]i.8. hingsun préntah hangidin[n]i. Mila dén timbal[l]i hulun. bekti habdi nun katampi. “Bagéya kang nembé prapti. manggah katuran haunggah. ngrahos handérék ka[h]ula. hugi Radén nembé prapti. Wiralodra ngandika harum. dateng tapak hasta Gusti. dateng paman Kiyahi Tinggil. habdi hingkang dérék numpang. sapakersa gawé wisma. kaliyan miskin ka[h]ul[l]a. kula sémah nembé prapti. kapéngén hénggal pinanggya. gegancangan lampah kul[l]a. sangking sembran[n]a ka[h]ul[l]a. 11. handérék tumut basuk[k]i.

miwah kadang kadang kula. damel hakal Radén habdi. matur héstu kang sayekti.” 15. 58 . 16. saweg linggih wisma habdi. sumpah hing hayahan Tuwan. hutawi kebon[n]an habdi. Pan dakwah Pangéran gugu. sami yudabrata Nyahi. Mejanggu tan[n]i hulun. tiyang hingkang hambanton[n]i. réning habdi sugih jalmi. perlu mriksa hing perkawis krana kuwajib[b]an kula. lajeng bendu hangliwat[t]i. datan wantun hang[ng]langkung[ng]i. dateng compok pun ka[h]ul[l]a. 17. prawantu héstri kul[l]a. 14. Nyi Hindang nulya humatur. kagét rawuh[w]é Pangéran. 853) //priyén bermulan[n]iréki. Pan dakwah Pang[ng]éran guru. coba matur[r]an Nyi Hindang 15a (34. Bermulan[n]ipun pukulun. 18. “Duh Radén humatur habdi. ha[k]bujeng damel sawah. hutawi ngirang[ng]i kul[l]a. muga matur[r]a hing mami. samurid[d]é sami dugi. kang dadi kawitan mangkin. hingsun harsa mireng[ng]en[n]a.tebih sing Bagelén nagri.

hingkang hanyaksan[n]i mami. nurut[t]i napsu niréki.” 23. hingsun[n]ora hamilon[n]i. hapes yudan[n]é Pangéran. pitulung Yang Maha Widi. tak jajal[l]é karo Nyahi. tak jaluk sukan[n]é Nyahi. bogan lanang kalah ngéstri. totohwan pan jiwa raga. 16 (35. hiku pan jaluk wak [k]ingwang. 21. Nyahi kalah dadi rabi. satingkah polah Nyi Hindang. 19. sanajan wong kuwat n[n]ingwang. sakéh[h]é para pangéran. dén dakwah memada habdi. 22. Jadi pan karsan[n]ingsun. “Duh bendara Radén kul[l]a. mejang hélmu klayan. “Yén bener haniréki.nyabin miwah pakebonan. Wiralodra ngandika rum. Yén menang dadi bujangmu. humatur sanget pan hajrih.” 20. Hindang Darma hamlas[s]ayun. Seja pin[n]ejahan hulun. 59 . 854) réhna gawa jago hingwang. Héyang Guruh hingkang salah. supaya huni[ng]nga mami. kinepung hing para murid. seja sami ngemas[s]i. badé hanangkep pun habdi.

hakondur sing ngarsa Gusti. sili hugi ngadu gun[n]a 16a (36. Tanujiwa Tanujaya. hanulya Radén hamedal sekalih dangdos hing jurit. Wiralodra haris muwus. Nyi Hindang methuk prang lirih. sampun dados manah Gusti. dadi manjing…yang bara. 25. 26.hapan sanget hajrih habdi. Radén medal nguwuh huwuh. nameng sanget hanuwun kula. 24. héstu ngapunten pun habdi. hadin[n]ingsun kangge galih. yén makaten déra k[k]arsa. 855) //Radén sinabet tumul[l]i. Perang tanding rebut hunggul. 27. pan sangking hidin[n]ing wang. lamun kalaha Nyi Hindang. “Hiku Nyahi haja hajrih. Hapan dadi bojon[n]ingsun. seja hingsun han[n]iwal[l]i. 60 . Hindang Darma nembah ngayun. Tanujaya haran mami. wong ayu sira Nyi Hindang. pasti bakal hingsun kawin. nuwun ges[s]ang paduka. kumedah majeng hing jurit. Hindang Darma karo rayi. payuh pada ngadu sakti. hangedal[l]i perang tanding. 28.

putra gegedé nagara. hasuk[k]a-suka wédang kopi. gagah kayan[n]é rayi. Wiralodra ngandika harum. Haja hinda duh wong[ng]ayu. sambat hora kuwat kakang. “Haduh Nyahi Hindang golis. Hindang Darma luwih (sakti). 61 . tak ras[s]a sen[n]ang kang hati. sawitan ngatur pakéyan. nyata sakti mandragun[n]a. Ngadirane rama hibu. sugih banda kaya mangkin. pun hayun. megap-megap napan[n]aki. “Priyén rayi rasan[n]éki. gumuling ken[n]a hing siti. 29. 31. 30. Pendelik lan socan[n]ipun. péngén ngemb[b]éhé Nyahi. kénging ngén Nyi Hindang geulis. wong nom lok yan mangan. mésem haningal[l]i rayi. kaki pasrah ka[h]ul[l]a.Tanujaya kapisanan. kabur tiba han[n]ang ngarsi. Tanujiwa majeng nuli. paju wong yudabrata. Ki Tinggil hambakta sampun.” Nyi Hindang nulya hanggeblag.” 32. hing ngarsan[n]é Wiralodra. wong hayu hanarik hati. 33.hayun[n]an yuda.

35. HindangDarma luwih sakti. katimbalan[n]én nangkep[p]a. mingkin kula ningalan[n]a. 37. Muga kang susah kelangkung. Nyi Hindang tandangiréki. wus san[n]a kala(h) jagonya. “Duh rayi kakang tan sanggup. “Cobi kakang kangedal[l]i. Lamun kaya hawak [k]ingsun. sampun wangsul hing nagari. “Manggah sampéyan hakarsa. 856) 62 . Kang rayi sami humatur. “ 38.” 17 (37. bagjan[n]é ngungsi hing ngukir. kakang pasrah hingkang rayi. Nyahi Hindang Darma kaki. 34.” Wangsayuda matur haris. 36. lir sikat[t]an nyamber walang. wirang kathah kang ningal[l]i. manggah nganclong saba…ran. Radén//Wangsayuda mangkin.perang kalah hing pawéstri. rayi kalih pan kajodi kawirang[ng]an yudabrata. haja kakang hangawit[t]i. mérang marang rama mangkin. hanang Nyahi Hindang geulis. je…yudabrata kalih. Nulya dén hatur[r]i wahu. Tanujaya sabda sugal. “Dédé musuh Hindang Geulis. mungguh kakang mérang ram[m]a.

kakang tanda hora wan[n]i. 41. kul[l]a kahul géndong kakang. bagjan[n]é gentén tyang kalih. miwah Tanujiwa rayi. 857) 42. 17a (38. 40. sarwi mésem ngandika haris.latah hambelik. kelurug samargi margi. Nulya hangandika haris 63 . //Lamun hunggul yuda wahu. “Loh kang Wangsayuda bis[s]a. manggah kaki géh yudaha. Wangsayuda hagemuyu. tak nyana solot tarungnya.” 43. Bagelén hing kanjeng ram[m]a.39. Gawa jago loro hiku. nyambung sabda Wangsayuda hora gun[n]a hingsun hiki. mengkin rayi kang ningal[l]i. Radén Wiralodra muwus. kalih Hindang Darma mangkin. sing riki duging negari. wirang hisin yén hamulih. Nyentak Tanujaya muwus. ne …sun haben lan bibit. “Sekalih rayi wecan[n]a. “Loh hadat[t]é wong kalah prang. tarung (kero)yok[k]an mangkin. halatah. kari kari hora gun[n]a. kala thothot wedi pis[s]an. mancén[n]i hing rayi kalih.

Hora Nyahi …u…kma. medal hanang yudabrata. “Duh bendara Radén kul[l]a dados pundi polah habdi. Nyi Hindang cahos hing ngarsi. (wi)réh(i) hawelas[s]asih.” 45. yudabrata kalih Hindang. mengko kakang maju[ng] jurit. dadin[n]é hingsun timbal[l]i.” Nyembah Nyahi dén turut[t]i. 858) //…Nyi Hindang panembah lirih. 46. Haja dadi ma(nah) (ya)yi. nulya manembah Nyi Hindang. 48. jamak[k]é wong mangun jurit. nyata hunggul hing ngajurit. prawantu tanding hing yuda.kadang[ng]iréki. Kari kam[m]i hawak [k] ingsun yén tedan péngén ngrahos[s]i. mudu bahé dén turut[t]i. “Duh mas Nyahi Hindang Darma. Radén Wiralodra wahu. 47. hénggal Nyahi metung … 18 (39. 64 .44. Nulya hanimbal[l]i wahu.” Nyahi Hindang matur haris. Nyi Hindang hingsun timbal[l]i. man[n]is legin[n]é…. Wiralodra ngandika haris. “Wis rayi dén baris[s]an[n]a. sapa kalah sapa men[n]a(ng). hing ka[ng]dang.

hanggén[n]é hang[ng]adu saktya.” Hanulya dén candak wan[n]i. Nulya sami surung-sinurung hing yuda. 4. saparan[n]ira. mapan sami hanimbang[ng]i. hambhujeng hing Radén Wira. Nyi Hindang hical saking hastanira. peksi garuda. tarik tinarik wani. dén mapan dadi peksi. pan Radén hambujeng hénggal. Nulya ngalas siyagi hing yudabrata. (yuda)brata man[n]iréki. prawantu sakalih sakti.V. sampun hayun[n]ayun[n]an. dateng Nyahi Hindang Darma. Radén kalih Hindang golis. 2. Hindang Darma manjing hing jambu wénya. hical pan dadi wanadri. hanulya dén bujeng wahu. malempat Nyahi Hindang. 5. 3. DURMA 1. 65 . Dén turut[t]i Hindang golis. sira Nyi Hindang. Wiralodra ngandika. hing mondragun[n]a. taksaka hical mangkin. hical dadi taksaka. Dados taman habening hing toyan[n]ira. “Héh tuhu nyata prajurit.

campur kalan hukir. “Duh susah hawak mami. kuthilang badé dahar.liwat. sampun hical nama kula. 859) //ngendi paran[n]ing wang. Nyi Hindang honcat. sarwi (sinam)mbat. 66 .. Dadi watu sagunung hanak hagengnya. Mapan Radén sekti liwat. juwet temen Nyahi Hindang. Hawecan[n]a héh Hindang…haja wangkal. hing buwah jambu punika. 18a (40. “Awit kula kersan[n]é yang maha mulya. hanggebur hanang wari. nanging tan samar Dén Wira. kalawan hingwang. kula tan saged kami. . Radén hanang hanutut[t]i. nulya prang pinggir hukir. 6.né hing hayun[n]ira. nulya hical jambu mangkin. Nyipta glap sinamber haglis. 9. maksih panjang lampah[h]a (sirek)i nameng hanuwun nama.” Nyi Hindang héwed hing manah. saparan[n]ira. hingsun humpet[t]an pinanggih. Nyahi hang[ng]etut[t]a mangkin.. dadiya (se)kar ring puri. 7. bareng ngamukti lan hingwang. 8.mapan Radén dadi peksi.

Darmayu bénjang nagara. hanak putun[n]é rayi. kasmaran ningal[l]in[n]a. pan hanang tuknya. muga lulus[s]a hing bénjang.” 11. 860) 12. 10. sangking pundi sangkan rayi. Hindang sing namhing wari. hing Pegadén kang dén hungsi. nulya mengngulon hing lampah. kang wa … nulya ngrangkul pinanggih.ha(ngdad)i manuk puniki. 19 (41. leng manah Nyi Hindang golis. “Pan sedaya batur dateng hing kang raka. …kanggé turun[n]ya.” Kang raka nulya ngamin[n]i. Lamun sampun dados nagari hing bénjang. hing wan[n]a Cimanuk …repun dadya?” Kang rayi matur haris. kado(s pundi lelam)pah[h]an. hanggén[n]é damel nagara. Radén Wira haget[t]un sajroning manah. 13. “Sukur bagja rinta. hing kulon Cimanuk kali. 67 . dateng Cimanuk (hing) ukir. muga dén nama nama. “Haduh rayi //nembé pinanggya. Radén kaliyan nagri. dadiya negariya. sareng babadnya.

… hingkang wangun nagara. sing wétan haslininéki. 15. 17. kagét hana pri……ni.14. pun[n]iki baris[s]an napa. badé hamriksana. pan sineja mriksan[n]i. badé nuwun hidin raka. wangsul hanang negari. hana hing gawé negara. Pan baris[s]an Pangéran Harya Kun(ingan). hawor suwaran[n]ing bedil pan Radén hamaran[n]i. gén[n]é sisiniyan kalih. surak mangambal[l]ambal. siyagi samakta jurit … 19a (42. 861) 18. hangiring Gusti mami. lan sinten hingkang wewangi 68 . Sareng dugi hing wates Cimanuk wétan. …//…ngan. Kang raka hangidin[n]i. “Duh nilari ngapa. baris[s]é mangun jurit 16. Nulya pethuk kali panarah. kulon Cimanuk wan[n]a. hanulya duging baris. Wiralodra tanya haris. Hing Pegadén Wiralodra tigang din[n]a. nulya matur kang raka. hanulya pangkat. dateng baris[s]an.

Sa(mpu)n katur hing Harya Gusti Kuning[ng]an. hing Kanjeng Sultan. hénjing kula cahos Gusti. maksih bakal nya nagari. 21. kang wantun wangun nagara. nulya humatur haris. sahéstu kula puniki. lah kabener[r]an hingwang. Wiralodra pan kula. “Katambet[t]an kang wangun bakal nagara. tamtu hing rusak. pan maksih bakal Dipasarah nulya hangling. 20. sumanggah cahos hing Gusti. Yén ngucap kabener[r]an hawak [k]ingwang. 19. 69 . Gragé wewengkon[n]éki. sampun da(dya) nagari. sukur bagja pan pinanggya. 22. nulya cahos tyang kalih. …ngagéh da Dipasarah.(wa)n[n]i hambabad. (ga)wa (kang) kanca siréki. Kran[n]a waktu punika. (Dalem) Kuning[ng]an. kadiparan yén wis manjing. hageng nagara hing wang. cahos hanang harsan[n]ingwang. nulya hangandika wahu. sapa layak yudabrata. pan hiku sap[p]a?” Nulya humatur haris.

sakersandika.” Wiralodra hamangsul[l]i. hing Gragé sinuhun holiya. Geragé hing pan[n]egari. lan dalem Kiban. hidin sing sapa. 25. puniki hing …. Ngandikan[n]é Kuning[ng]an pan langkung sugal. “Mila cahos Gusti ka[h]ula hing ngarsa (ma)tur Gusti. nagari pan wicaksan[n]a. mapan mentas perang tanding. hanang sultan holiya. “Yén mangkon[n]o réki. lamun prajurit téku sangking Kuning[ng]an. sangking Galuh prajurit. 26.23.” 27. dérék tiyang salah habdi. 862) Hangandika Kumuning. hanang wawengkon sultan. “Maturan lepat ka[h]ul[l]a hing jeng ngandika. Katembat[t]an ka[h]ula Harya Kuning[ng]an cahos sangking harsa Gusti. nameng nuwun hadil habdi. upas repat pun hamba. kéngkén hamriksa puniki. tan katon Gusti sultan. Lah punika ka[h]ul[l]a kahutus Sultan. katimbalan majung yuda. kang wantun gawé negara. 70 . hingkang wangun nagara. hawit déréng matur Gusti. 24.” 20 (43.

28. surung sinurung haprang.” 30. 31. 71 . hanggé pun ngadu jaya. Dipasarah gumuling. hing rupa kaya sira. haku jaluk pangaksami. 29. 32.” Dipasarah nyandak kula. Wiralodra prawantu putra sing wétan. tan hénget[t]a tan holih hidin Gusti. Masandakom hing siti pan Dipasarah. pangrasan[n]é hingsun wedi. Nulya nyentak kemuning hing Wiralodra. turun saking Majapahit. Wiralodra hangingget[t]i. “Lah coba tanding lan mami. 20a (44. Harya Kumuning hanggén[n]é harep pribadya.” Hanulya wecan[n]a. 863) Kumuning //sun tan wedi. hing rupan[n]ira. Pan ngisén[n]i Kemun[n]ing sira wong Sunda. ngakun[n]é prajurit ku[n]na. hora duwé tatakrami. “Lah wong hapa Kuning[ng]an. sinuhun hora ngidin[n]i. wong Sunda pan sembrana. prawantu tiyang ngajurit. Kumuning nrajang wan[n]i. sinépak hénggal. teka semban[n]a. ngadir[r]aken prajurit.hingsun Harya Kumun[n]ing.

waktu Dalem Kiban. kendal[l]i dipun cekel[l]i. Kumuning hanglancang[ng]i. wong Galuh hakéh kang pejah. Dén Wira langkung welas. Si Windu hangéréng nulya. Mila windu tan kiyat gén yudabrata. 21 (45. pasti sira ngemas[s]i. hanggebeg saliran[n]éki. 34. mugi sukur hanambahi. sin[n]épak kajumpalik mrangkang ngungsi hing kuda.prang hutawa ngusir hing tiyang gawé negara. kran[n]a hakéh luwangnya. 35. 36. payuh majuwa. gawé jajahan. Pan sinurung Kumuning tiba kalumah. dén nang[ng]ngen hingwang. jimat kapal sampun hical. hanulya pun titih[h]i. 72 . Yén hanyépak si Windu pan jaran jimat. datan bis[s]a mobah. nyinirat hanang hukir. mangsa kuwat siréki. Dateng Radén Wiralodra pan cinandak. dén ngucap Si Windu mangkin. si Windu hingkang nyépak[k]i. si Windu titiyan[n]ira. 864) nalika prang Galuh //dingin. nulya cinandak wani. 33.

Merkayangan si Windu hana hing wana. semu radi ngelawan. 39. 40. mapan Windu napsu wan[n]i. Windu dekuh sukunya. han[n]ahan[n]ana. hical sajron[n]ing wanadri. kaliyan Radén habdi. nyap[p]rang hiki pantos siji. 41. lir kilat palajengnéki. nulya dén lepas. mundur lampah turanggi. 38. pan Radén welas ningal[l]i. 73 . Windu malempat. tan kiyat harya Kumuning. hanggempur wong sanegara. 37. hangeprang hapus sinebrak. huculna habdi Gusti. sira kalah haprang. Sareng dugi hing wates nagarin[n]ira. hingkang Gusti Kuning[ng]an. “Héran temen Windu mangkin. Kinencang[ng]an tan hampuh pelajeng[ng]ira. pertanda sujud hing ngarsa. kantaka datan hémut[t]a. Gurawal[l]an Kumuning wecan[n]a nira. pan sira sering haprang.“Haduh pan Radian. Kang Gusti gumuling siti.” Si Windu hambesat haglis. kiniwit[t]aken tumuli. Pan kahul[l]a datan wani yudabrata.

prawantu kuda duk dingin. 42. Sampun bibar sedaya bala Kuning[ng]an. panembah hénggal. hing Gusti sultan. “Duh Wiralodra sira. hing Dipasarah. kabener[r]an pan pinanggah. dateng Wiralodra mangkin. seja nuntun hing lampah. Hambujeng[ng]a hing Gusti nira samangkya. turun Budaprawa. wis rayi hénggal balik. dateng Kyahi Wiralodra.” Wiralodra ngadika haris. sangking jaran Harba Puspa. 43. kalangkung bingah hing ngati. pan sampun hanang nagari. lan Dipasarah patih. 865) … //pinanggya. mangka Wiralodra mangkin sa… 21a (46. hing jiwa raga pun hamba. Nulya nembah hangambung sukun[n]ing sultan. kalintang sabar. 74 . hing Garagé pan negari. wus cahos ngarsa Gusti. nyata tuhu prajurit. hing pundi kang pudi dipun sedya. sarwi hamasrahin[n]a. 44. nulya dén candak tumuli.” Dipasarah manembah. Nulya Radén Wira mangkin. 45. Dipasarah hanulya.

Nuwun duka mahéwuh deduka. 2. pejah ges[s]ang[ng]é pun habdi. mapan samya pinanggya.” Wiralodra kondurning ngarsi. Kanggo turun turun nira Wiralodra. Wiralodran matur ring Gusti. bagja pan sira.pinuju kumpul[l]ing wali. kadang kadang hingkang dipun tinggal kari. kadang sadaya hingkang katinggal. sarta hasanak put[t]u kaki. Majapahit turun[n]ira. “Duh kakang langkung sanget kuwatir. hing lancang hamba. 22 (47. “Hanuwun berkah hing para holiya. habdi damel nagari. mapan sira turun sultan. gegancangan hing lampahnya. sedaya hidin sampun. DANGDANGGUL[L]A 1. 866) wang //hingkang gumanti VI. 47. badé wangsul Gusti mangké. dugi hing Cimanuk. pasrah hing ngayahan Tuwan. ngrangkul kadang sadaya. kasuwun berkah Gusti. sedaya karsa nata. 75 . turun[n]an[n]ira. sangking Brawijaya wing[ng]in. kaliyan takdir Yang Widi. 46.

bénjang han[n]ak putu kaki. datan kotor yudabrata. yén dadi negari mangké.tan manggih béja wartos. katangkep[p]é wahu?” Kang raka haris ngandika. lumuh nglakon[n]i krama. tuhu wong wicaksan[n]a. Hindang Darma pan tumut. yén lelungan tan nganggé wasiyat bénjing. dadi campur wanita. 4. hangelar gawé nagari. werni na… pun nyi Hindang Darma. sanajan hingkang ngawit[t]i kakang. 76 . “Haduh rayi Hindang Darma musnang kali. Bénjing negari Darmayu ri. Lan pinasti kersan[n]é Yang Widi. hadat wong Dermayu. hingkang gawé negaran[n]é. Hindang Darma bas[s]an[n]é hapan halirih. Han[n]a tuk kali Cimanuk rayi. héstu tiyang punjul. 3. kados pundi raka samangkin. 5. nameng Hindang weling hing suwara. nanging rayi hingsun turut[t]i. winastanan Darmayu. keris hatawa pedang. kran[n]a Nyahi Hindang Darma. Hindang Darma pinunjul.

kanggé ngistrnén[n]i negara. humatur manggah karsa kakang. 867) //dadi pangungsén segala bangsa. hamit rai medal mangké.22a (48. kula turri kadang sedayanya. Namung kakang sadaya pun rayi. luwih raméh pan negara. mapan pribawan[n]ing pawéstri. hanjeneng hing nagara. kakang ngidin[n]i wahu. Kyahi Pulaha Bayantaka. Surantaka miwah Wanasara mantri. tan[n]ah sabrang dugi mangké. karsa ngatur gelar[r]an[n]é. 7. kaki Tinggil wahu. wisma katem[m]a katem[m]enggung[ng]an rayi. tiyang kakang sedaya kén kumpul rayi. 6. hakéh pan kasengsara. han[n]epang hing hupacara. mugiya sami wangun. hanjér pepek hing ngarsa. nameng susah bénjang hanak putu mami. 77 . samya ber[r]umah tangga. Kadang kadang sedayan[n]iréki. tempat[t]é tiyang ngatur karya. pan sekalih medal hing jawi. sing wétan kulon rawuh. han[n]a hing Darmayu. miwah tarub hagung.

surak kadya hampuh[w]an. 9. cangkem[m]é mecucu. “Héh sanak kula sadaya kang hing riki. Gamel[l]an[n]é hangklung calung sul[l]ing. badé hawangun liyan negara. sadaya kumpul[l]ing kajat. 78 . hantuk[k]é hing kawul[l]a. miwah tetembangan suka suka. Ki Tinggil ngibing wahu. jaler héstri kumpulna. wangunan tarub hagung. 23 (49.8.mégot weteng belenjing. gumuruh tyang suwaran[n]é. patis[s]an[n]é kidang sasambat[t]éng sapi. tyang gumujeng latah latah. hageng halit pan kumpul. pan hantuk saminggu. pan kanggé tempat kajat bénjing kumpul[l]a hing kawul[l]a. pancén Ki Tinggil lucu hing ting[ng]al. kinepok[k]an hing kancanya. mé// gat. haganti sami ngibing[ng]é. Haningal[l]i polah[h]é Ki Tinggil. 868) 10. mulya medal hajat[t]iréki. mapan Radén Wiralodra. Sampun bedama sadayan[n]éki. kang sawenéh gemujeng[ng]é niba tangi. cakep siyagi sakabéh. nulya ngandika rum.

pun maca donga rampung. sarta sira pada naksén[n]i. manggah kula hatur[r]i neda. pan[n]ingsun hawéh jeneng[ng]an. gumuruh hamin wong hakéh. “Duh sanak kula sekabéh. sarta maca donga kaslamet[t]an. 79 . 869) kula handon//blenduk. nulya Radén ngandika haris. Hanggén[n]é sami wangun nagari. negari dadi sampun. “Han[n]aksén[n]i jeneng[ng]an[n]é kang nagari. pan hanulya bismil[l]ah sadan[n]éki. Para sepuh sami hangamin[n]i. raméh hanggén dahar[r]an. Sasampun[n]é hanggén[n]é bukti. mangka Ki Tinggil hanyambung wecan[n]a. sedaya kula suwun.” 12.muga dén sakesn[n]an. sarwi ngibing dedeng[ng]éngan. sami linggih wahu. 23a (50. kawul[l]a suka sadaya. pan sampun langados[s]an nagara klayan kersan[n]é Yang Manon. negari Darmayu. 13.” Humatur sadaya tiyang. hurun[n]an sanak sedaya. saban sasih kados puniki. 11. “Duh sanak kula sadaya.

hapa sangking kadulu. senggak muluk-muluk. nameng kakang rayi hatur[r]en[n]a. sarwi ngrangkul “Kang rayi sedayan[n]éki. Para rayi pan sampun halami. 15. Mapan katinggal hing rayi-rayi. Ki Tinggil tukang méjan[n]é. kaya hap[p]olah hingwang.” Kang raka haris ngandika. 80 . datang rama hibu mangké. rayi bade kondur. Sarwi bibar sedayan[n]iréki. cinampur kalih tembang. sarén[n]ingpun lami mangké. rayi sedaya kang han[n]ang riki. tunjang hambakta berekat. suwaran[n]é celempung suling rangin. gamelan[n]é calempung sul[l]ing. hageng halit[t]ipun. 14. kang dahar suka hing manah. rama pan ngayun[n]an. daharan suka sampun. kadang-kadang samiya dahar[r]an. 16. gelar[r]é Dalem nagara. nulya matur kados pundi raka.tiyang kathah gumujeng surak ngepok[k]i. “Yén hidin paduka raka. rebab tiyang[ng]é hanembang. dateng habdi sadaya rayi.

nulya//sami salaman rayi. turun pitu bopatih. wunten musuh nekan[n]i. hanak putunya. 81 . Sareng hénjing rayi pangkat nuli. krana bakal mulyan[n]ira. sinalin demang madurma. dumugi hing wates[s]ipun. mungguh kakang tan bis[s]a wangsul saniki. mapan hipé wahu. Sakondurnya kadang-kadang sing nagara. 2. maksih dangdan nagara. wangsul han[n]ang Bagelén nagara. pikantuk kanugraha hing Yang Widi. Pan tumenggung sing Jepara pelariyan. hing ngiring sakancan[n]éki. jeneng niki nagara.sampun lepat dén haturan. dumugi hing hakir mangkin. 17. hangrebat nagara. pun dugi Dalem miréki. 870) VII. kang raka hangater[r]ake(n). 24 (51. sarta kang Wangsanagara. Dén Wiralodra. Watuhaji hingkang raka. DURMA 1. “Duh rayi muga lulus[s]a.

ngadeg kiyahi pulaha. saparan paran mami. miwah sakanca sadaya. duméh nagara bakal. 82 . dadin[n]é hingsun tumekang. bade sun teda. 6. yén sinabet bedama. “Niki sinten hangrawuh[h]i teng kahul[l]a. 873) raméh gén mangun jurit. Wiralodra hantik panduka lir brama. hiki pan bakal nagari. hanunggangtaya. tan suka hingsun jurit. Kyahi Tinggil lagi dedemen[n]ing ngaprang.” 5. dén candak binaktang Jawi. baksan[n]é hanglétér wani. raméh hanang ngaprang. 24a (54.nulya dén priksa mangkin. 3. “Ketambuwan pan hingsun halelan[n]a. boten nganggé tata krami. 4. mapan dadi jig jawin[n]é. gégér hurahan. pan mégot ngigel maran[n]i.” Watuhaji hambales[s]i. pan hanang nagaran[n]ira. malempat kadi kilat. h[h]anulya ming[ng]éh hangeri. hanang satengah hing wana.

7. sarwi hanguwuh tanding. Sampun mapag hayun[n]ayun[n]an hing yuda. maju jatmika. 10. ko pada bis[s]a hing jurit. hayuh mapag[g]a!” Radén Wira hangedal[l]i. “Héh Wiralodra sira. “Héh Wiralodra mangkin. 83 . haja suwé ngadu bal[l]a. hayuh hénggal gitik[k]a. Musuh kathah kang pejah déning Pulaha. 9. tak kira tan bis[s]a jurit. lir tiyang nagara. héran tiyang kang ningal[l]i.musuh kathah kajodi. baksan[n]é halus hamanis. Héran Nitinegara. balan[n]é Watuhaji. 8. duhung sinondénganana. hayuh hingsun tadah[h]i!” Ngandika Wira. pan hayuh maju wang jurit. keris hatawa pedang. wong tengah hana hing wana. mapan cakep hing ngajurit. “Hora watek handingin[n]i. Ki Pulaha majeng han[n]ang rananggan[n]a. pedang hing ngagem dén hasta. Nulya medal Nitinagara hing yuda.

hang[ng]asta wangking[ng]an. maju wang ran[n]a. 874) 12. sinurung-surung hing jurit. kang janglar han[n]ang ran[n]a. Sesumbar Radén Wira. pan Wiralodra. hudreg hasili(h) huki. Nitinegara binanting. Payuh sira nyabet[t]a lawan bedama!” Hénggal Nitinegari. Watuhaji lan dén Wira. haja gugup gitik hira. 84 . pan tuhu sira prajurit. “Héh prajurit Watuhaji. Pan binakta binekta hanangkon Wira. dén talén[n]i hing Ki Tinggil. han[n]yuduk[k]i Wiralodra.11. nemu tending hing yuda. yén tuhu sira prajurit. 13. Samya benthak bedama huleng-huleng[ng]an. tanding[ng]en jeneng mami. medal tiwikraman[n]éki. gumuling kisma. 25 (55. pan hanang tengah hing ran[n]a. Ngajok[k]aken prajurit hurakan rucah. pan Radén hanang ngajurit.” 14. hayun[n]ayun[n]an. nulya majeng rana malih.

Ki Gedéng Sambeng nama. 25a (56. medal sangking Bantarjati. balan[n]é tumenggung mangkin. 16. jinarah kebo sapin[n]ya. mapan mertapa. Hantaran[n]ya sagunung hanak hagengnya. Mapan bénjang Ki Tumenggung panglinggihnya. Mapus//…it[t]a. 85 . 875) 18. 17. Drayantaka Wan[n]asara. caritan[n]ipun kanda. hingsun dikang dén hungsi. nungkul sedaya. Ki Gedéng Dépok mangkin. hangamuk bala kathah. beras pari lan harta. susah pan tiyang halit. kathah tiyang dén patén[n]i. pan malajeng sing ran[n]a. ngamuk hana hing jurit. Hang rusuh[h]i hing Dramayu pan negara. pan salin naman[n]iréki.15. bubar sasar[r]an. dadi pandita mangkin. nulya dén Wiralodra. ming[ng]idul palajeng[ng]ira. Watuhaji ngoncat[t]i. hing bénjang pan turun néki. Cisambeng hingkang pernah.

20. Lolos[s]ipun hangungsi Dramajeng hika. hambakta harta mangkin.kapasrah[h]aken Ki Tinggil. pun ngadeg jéndral. hanang bangsa Blanda. pan ngangkat demang ranggah. pinten sinten gotong[ng]an. 19. ponggawa para mantri. hingkang wade tanah mangkin. miwah kathah soldatnéki. tiyang kang teka. pan damel wisma mangkin. Watuhaji kaliyan Nitinagara. harta mahéwu yutan. 86 . pepek sedaya. sami berumah tangga. tan[n]ah Bogor lan Krawang. Ki Tumenggung miwah patih. Radén Wiralodra sugih. Wiralodra jenengnéki. Mila raméh nagari tambah hing tiyang sahatus[s]an balan[n]iréki. pan senang sadaya. Kyahi dalem jenengnya. 21. Pan Sumatra Pelémbang kathah kang pindah. bala hambral kathah mangkin. 18. langkung raméh pan nagari.

DANGDANGGUL[L]A 1. VIII. san[n]és sangking nagara. hiku pan hora becik. mapan macan nagari. sangking keraton[n]ya. Darmayun[n]ika. ginanti dangdang malih. 876) 23. bakta bandakayan[n]éki. Hamiruda bade kapotong jangganya miruda lolos wengi. mila monca negari jri sedaya kathah tiyang. Dramayu hika. kawentar saban negara. Gemah harja darmayu dadi nagara. 24. pan Wiralodra. 22. saktin[n]é hang liliwat[t]i. giris haningal[l]in[n]a. sen[n]ang pan tiyang halit. 87 . Mapan Nitinagara hanangis. Kin[n]asiyan hing sultan nagri Metaram. pan badé hambedah mangkin. 26 (57. damel salah hing la//mpah. hanang tumenggung kalih.ngateran harta.

26a (58. pan sekawan kathah hire//ki. Wiralodra sanget telas haningal[l]i. Wirapati wahu. Pan sinangonan Nitinegari. bénjang lenggah hing pun. mangka sampun sesunu. pambajeng[ng]é Sutamerta. kang rama sampun séda. hing Metaram sinuhun. potong jangga hulun. Pan Nyayu Hinten histrinya. 4. wuragil[l]é Radén Drayantaka mangkin. 877) 3.”. tumut dérék hing brandal. pun lepas lampah[h]ira. pun lami hanggén mukti negara. Hingkang gumanti dalem néki. nulya kés[s]a Nitinegari. misti Gusti kahul[l]a. hing luwih sahéng punika. Kacarita Kyahi Dalemnéki.han[n]ing harsan[n]ipun Radén Wira. yén bade kakirim make. kén kés[s]ah hangungsi han[n]ang marga. 2. 88 . dos[s]a hingkang luwih hagung. hatur[r]ipun melas sasih. dados Dalem Dramayun[n]é. mila bénjang turun[n]é Nitinegari. Watuhaji kang dos[s]a. kén mertapa ngilangké. “Habdi Gusti nuhun ges[s]ang.

dalem han[n]ang Darmayu. sadérék kahul[l]a kang héstri. hing Pulo Mas negarin[n]é. héstri pan miwa(h) priya. 5. Kang raka sanget jumurungnéki. Mapan Radén Wirapati. dalem hing Darmayu. 89 . silih genti rawuh. garwanya wahu sekawan. Werdinata dateng rayi hinten mangkin. blaka matur hing raka. Lami-lami gadah manah. gumanti wahu lungguwé.hingkang putra Radén Wirapatya. hing nagari rayi mangké nameng satunggil wahu. Werdinata sang prabu. tinggal sen[n]ang karajahan. sang[ng]et hanggén sesiniyan. Kang Rayi Werdinata. Werdinata kalih Nyayu Hinten mangkin. pan sanget hanggén[n]ipun halih. mapan Wiralodra kapi(ng) kalih. mijil putra tigalas kathah hiréki. 6. kadya hingkang sudara. pan sampun dahup punika. dérék karsa wahu. nameng sampun kabakta harinta. kagungan sadérék[k]an sang nata.

Sareng lami-lami hingkang rayi. lin[n]ingling lingling kang putra. Danulya Dén Wirapati mangkin. mangka pun babar wahu. 878) Nyayu Hinten pan gadah wawrat[t]an. Hingkang peparab pirempag mangkin. sangking honom durubiksa. Werdinata Pulo Mas néki. pan kabakta dateng rama. pan sinareng kakang Dén Wirapati. miwah dalem hing Kuning[ng]an. mapan Dalem Cihamis negari. 9. tigalas sasih lamin[n]é. dén pinangsraya Dalem Sumedang. sarén[n]ing dipun lurug. tyang Sumedang kathah kang kénging panyakit. Bagus Radén Wringin Hanom nama. pan dateng hing kang putra. sanget hasih harama kalih. 8. 27 (59. humur tigang tahun. balan[n]é lelembut. tan kiyat yudabrata. gumilang gilang cahyan[n]é. medal kakung pekik hing rupi. badé nuwun bantu mangké. sanget bingah sang nata //han[n]ang putranipun. kang putra pin[n]aring[ng]an. 90 . pan sampun wicaksan[n]a.7. kuning cahya humancur.

” Sumanggah putra matur. Cihamis miwah Kuning[ng]an. cahos hing ngarsa ramaji. dén //pinangsraya rama. Nulya ram[m]a hangandika. bagéya nak[k]ingsun. humatur kasuwun rama. sing honom durubiksa. sampun kuwatos ramaji. “Yén mangkono hingsun pangkat din[n]a hiki. dateng putran[n]é Sultan Pulo Mas. muga ram[m]a bekti putra dipun tampi. pan rama hingkang nandang jurit. gancang taktimbal[l]i mangko. “Héh mas wong bagus nak [k]ingwang. Hingsun pasrah musuh para demit. kang rama hangandika. 91 . mapan Radén Wringin Hanom. pan litempung mu[ng]suh. musuh bala lelembut. putra hingkang nanggel[l]a. Nulya kang rama nimbal[l]i mangkin. 894) 12. sah[h]a wonten dawuh napa. Kuning[ng]an Cihamis mangké. 27a (60. sarta gawa bala juru biksa kaki. 11. sangking Dalem Sumedang Gusti. rama tampi srat wahu.10. kang putra sampun rawuh. Nulya ram[m]a ngandika haris.

mapan balan[n]ipun durubiksa. sampun kuwatos ram[m]a. tiyang ngétan kadulu. Tan kiyat musuh Dalem Ciyamis. Sareng hénjing medal hing ngajurit. 14. rawuh Dalem Wiralodra. bala honom satru. mung suwara gumuruh. niba tang[ng]i palajengnya. nulya RadénWiralodra. sumanggah putra hing karsa. Tyang Sumedang kathah kang ngili. mila sanget hajrih hiréki. raméh //tempuh hing yuda. hasasaran tinggal kancanya lan Gusti. sanget welas karun[n]é dalem mangkin. 13. Hingkang putra ngusir jurubiksa. mapan bibar kénging jurubiksa. hemban[n]ipun hingkang putra mangkin.kang putra dérék kersa. datan katingal wujud[d]é. 28 (61. katur nagri hulun. hing ngarsa Dalem Sumedang. lan Dongkara Tumenggung. mapan Radén Wringin Hanom. kadya tiyang baris hing jurit. 15. “Duh putra banton[n]an. sareng prapti rinangkul sarwi han[n]angis. 895) 92 . cahos hanang ngayun. gumarenggeng pan suwaran[n]é.

samya ngusir tiyang Ciyamis. gégér tiyang melayu. soca lir kembar srang[ng]éngé. samya hamapag yuda. Dalem Darmayu mapan sakti. siyung thathit dinulu. mapan sanget bungah[h]ipun. pangamulya tyang Sumedang. wahu Radén Dalem Wiralodra. Dalem Kuning[ng]an miwah Dalem Ciyamis. suwaranya kadya gelap. rémah ngrimbyak kéngsér hing siti. pis[s]ah Gusti lan kawul[l]a. Hanulya tiyang Sumedang mangkin. tiwikrama wahu. sareng ngrahos mulya sadayanya. Bubar wadya bala sing Ciyamis.burbar bala hing Kuning[ng]an. tyang Cihamis wahu. hantawis sagunung hanak. hang rangseg perang pupuh. 93 . kathah prajurit kang pejah. 16. Suradiningrat Brata Kumun[n]ing. 17. kin[n]arubut hing yudan[n]é. dén bujeng hing Dalem Wiralodra. prajurit medal sekabéh. mlajeng lir kadya kilat. nulya Dalem Wiralodra. 18. méh kacandak dalem kekalih pun[n]iki.

nulya pethuk kaliyan kang rama. Nulya kang putra haris. huga musuh[h]é kang rama. sarta bakta putrané héstri. nulya manembah kang putra. putra bade wangsul mangké. “Men[n]awi wunten hidin jeng rama. mapan sampun bubar mangké. 28a (62. tan prayoga kang jaga. 94 . wus samya bubar tan[n]ana hingkang kari. mlesat han[n]ang gegan[n]a. “Loh kabener[r]an kulup. kalih Paman Tumenggung. niti joli lan jempan[n]a. dugi hing pawates[s]an. bala Ciyamis miwah Kuning[ng]an. kaya priyén musuhmu kaki?” Putra matur hing ram[m]a. 21. 20. kalih Paman Tumenggung Jongkara nenggih.” Rama hidin sampun. Dén Wringin Hanom bujeng dedemit.rebat ges[s]ang kawulabala Ciyamis. 19. kalih Jongka réncang[ng]é. hawit kuwatos hing nagari. Ciyamis lan Kuning[ng]an. Nulya Kang Rama miyarsa sawarti. hénggal[l] (k)ang rama hamethuk. 896) berkah …//lumayu. mangka sampun pethuk.

sedeng hayun[n]ipun. kanggé jru sapu miwah jru dang. handhér kawul[l]a hing ngarsa. 23. sangking sanget bungah hiréki. Sedayan[n]ipun para prajurit. sareng dugi cin[n]awis[s]an. dipun papag gamel[l]an miwah prajurit. cinampur kalih kimtal[l]i. 897) 24. lir rengat hing pratal[l]a. Sareng turun sing jempan[n]a mangkin. para héstri miwah hibun[n]ira. tinawurna wahu harta. tyang kalih sareng numpak. 95 . pan samya hormat wahu. numpak han[n]ang jempan[n]a haglis. kahul[l]I pun rama hibu putra mami. 22. Raméh tiyang hamburu.“Duh putra sareng nganumpak. Punika putra ram[m]a pribadi. sinareng[ng]an gamela//n mariyem muni. samargi dados tingal[l]an. han[n]ak hukir langkung hawon. 29 (63. miwah san[n]apati hing ngalaga. hambakta bokor hemas[s]. hisi harta hemas wahu. peng[ng]ulu pun siyaga. samya rebut[t]an harta. Kang putra matur nuwun. sarta kawul[l]a sekabéh.

Kandang[ng]ahur pasisir lér kula tampi. 96 . hingsun mapan hora gadah. “Saksén[n]an. 25. mundun sangking palinggiyan[n]ira. “Sarwi hatampi sih[h]é. lenggah Dalem Darmayu nagara. héh sanak kadang hulun. 27. kanugrahan sih hing ram[m]a. mahéwu héwu kasuwun. karo hing Darmayu. langkung sangking sanget katrima.” Nulya sami sesalam[m]an. sangking sih paduka ram[m]a. sangking pangandika mami. hing para kawul[l]a bala.” 26. Marang putra Wiralodra mangkin. samya dahar[r]an wahu. hingkang sareng linggih hing riki. Hanulya kang putra Dalem Wirapatih. suka bungah sedayan[n]é. sakéng kawul[l]a miwah kang prajurit.Dalem ngandika harum. miwah para ponggawa ngalaga. nyaksén[n]i pan sedaya. Lajeng sadaya[n]ning para mantri. bawah[h]an[n]ipun sekabéh. dadi sawiji nagara. pasisir Kandang[ng]ahur sun pasrahaken hanang putra mami.

dateng Dalem Wiralodra. nulya samiya kondur. 29a (64.raméh raméh gé nya bukti. sarta pin[n]aring[ng]an garwa. Kang lajeng Lodramayu negari para kadang-kadang miwah ranggah. handérék[k]aken sedaya. nulya pinethuk rawuh[w]é. namin[n]ipun kang putra. kaliyan pa[ng]sisir Kandang[ng]ahur lenggah. rah[h]erja hing laku. 898) 28. sedaya pan runtut. Garwa Sumedang tan kari-kari. sanget mukti hanggén[n]é lenggah negari. Kang pambajeng mapan Radén Kowi. sanget hasih hing garwan[n]é. Radén Timur miwah Sawerdinya. 97 . sanget bungah rama prapti. mapan kinanti kanti tan gingga. hantuk kanugraha[n]ning yang. sanget bungah[h]é hing manah. 29. kondur néki. dugi hing pawates[s]an. 30. hing wingking mara maru. kantos hantuk pitung din[n]a. langkung hasih hing garwa. kang garwa putran[n]ipun. gandék putra sedayéki. para maru miwah putra.

Hastrasuta wahu. Hapan sampun hapeputra mangkin. 98 . Singawijaya putra héstri. hingkang sampun gumanti lungguh ramekin. 899) 33. 32. Radén Sawerdi putranya. Hadiwangsa Nayastra. Puspa Tarun[n]a Patranayéki. pan sekawan[n]ipun. 31. Lajeng rama duging ngajal malih. sekawan ling putra kathahnya. mapan sampun gegarwa. nanging Benggali Benggal[l]a. miwah Nyi Raksawinata. Wiratmaja pan wahu. sampun jejeg putra tigalasnya. samya mukti sampun. Nayawangsa Wiralaksan[n]a niréki. nulya wapat dalem ram[m]a. para putra sadayan[n]éki. sedaya dadi pangkat[t]é. 30 (65. sekalih Raksadiwangsa. putra kakung hingkang sekalih hiréki. pambajeng Benggala //Radén Benggali rayin[n]ipun. pan ginanti wahu.Wirantaka sekawan[n]yané. jumeneng dalem pangkat. hanulya putra héstrinya. mapan gangsal kakung [ng]iréki.

miwah para pambes[s]ar nagara. kang ganti kedah rakan[n]é. limang sasih tan[n]ana dalemnya. nulya wonten hutus[s]an[n]é. wicaksan[n]a punjul. kaliyan Wiralodra kajenengnéki. pangkat kumendur. dadiya dalem lungguh. pan handérék pangkersa. Benggal[l]i jeneng niréki. kang raka kang gumantya. kang rayi sanget kapéngén. Pandebos jeneng[ng]an[n]ya. Singalodra kang pan gagah. hutus[s]an[n]é Guperbur Jéndral Batawi. sangking Betawi wahu. 34. 99 . dalem lungguhipun rama. bagjan[n]én tumekang ngajal. gumanti lungguh ram[m]a. kang raka Radén Benggal[l]a.hingkang gumanti rebat pangkat. hambakta satambur soldat. Kelangkung sesah para ponggawi. pasti hingsun ngamuk. kang dén hutus tuwan[n]iréki. 35. Nanging rempaggé para ponggawi. nang[ng]ing kang rayi wahu. lamun kakang hingkang gumanti. lamun hingsun tan dadi dalem puniki.

38. nulya kang rayi matur. dadi dalem pangkat gumantiya. nanging tan hénak hing manah. hing[ng]et rayin[n]ipun. ka Bantarhanak bojon[n]é. 900) Radén Singalodra kan[n]éki. mapan pasrah hingsun. jeneng dadi dalem puniki. kang raka hing Dramayu. lamun mentas hanang Batawiya. Kambang kampul hing lahut[t]an mangkin. mapan sampun kesah hander hing ngarsa. tigang tahun lamin[n]ira. Nanging tigang nahun lamin[n]éki. kang rama wahu lungguh[w]é. dadin[n]é pan hingsun timbal[l]i. raka dérék sampun.36. hanulya dumugi hing watesnéki. mapan tumut handérék hing lahut mangkin. 100 . kran[n]a wis tumeka hing jangji rumihin. sekabéh[h]a hing ponggawa. nanging Radén Singalodra. karun[n]a para ponggawa. dateng kumendur tuwan. sanak ponggawan[n]ingsun. 30a (66. nulya haris pangandikan[n]é. 37. yén mangkon[n]o nurut hingwang. prakara hiki nagara. Nulya para mantri dén timbal[l]i. siyang dalu ngahos Kurhan.

putra saweg rumébed hing dahar. Han[n]ingal[l]i welas[s]é kang Gusti. kagung[ng]an putra kathah ing réki. hasanget sakit manah[h]é. Dalem Wiralodra wahu. Gandur lan Purwadin[n]ata. “Sanak mami sadaya nurut hing pasti. bala hing sang[ng]ulun. 101 . hanyambung[ng]i sabda mangké. hanulya Mas Patih Hasrasutanaya. yén tan hingething kadang Gusti. mugiya kandel himan[n]ya.39. Gembruk kalih Toyib. 901) 41. pitulung Yang Hagung. Kartawijayastra gangsalnéki.” 40. miwah Trun[n]ajaya tumenggung. pan ngahos siyang dalu. sadaya sangggup hing pejah. hingkang sanget datan. Dalem haris ngandika. pan sami ngambung sukunya. 31 (67. Nulya sami kondur sedayéki. Nyahi Moka wuragil néki. kang putra Kartawijaya. hanuwun pangaksaman[n]é. //wolung nunggal hingkang putra pambajeng Dén Lahut. hanuwun hing Yang Maha Suci. karsan[n]é Yang Maha Mulya.

tulungen hingsun. “Paman sahiki jandika. “Sahéstu sinuhun.” Humatur pan Wiralodra. Wiralodra han[n]ang ngarsa[n] ningwang. paman léréh hing lungguh. kalintang sabar manah[h]é. ngirangi saréh lan dahar.” 44. dateng paman Dalem Wiralodra. karsan[n]é Yang Maha Hagung. Sultan sanget welas haningal[l]i. nulya Sunan ngandika. hingsun hangrungu wartos[s]a. hanulya ngandika rum. sultan hing Wiralodra mangkin. 902) 102 . 31a (68. “Dadiné paman hingsun timbal[l]i. hing Sultan Cirebon Pangéran. Yén dalu saréhing setan[n]a mangkin. Singalodra kanama. hing setan[n]a buyut héyang-héyang. kang gumanti héstu rayi hangabdi Gusti.hénak hing panggalih. cahos han[n]ang kasultan[n]an. 42. kadalem[m]an hapa sayekti. Kang Rama dén timbal[l]i Gusti. mapan sampun matur. jam papat wangsul wisman[n]é. kersan[n]é Yang Maha Mulya. 43. hanang Gusti Panembahan Sunan Haji.

mila nuwun pitulung Gusti. man[n]awi manahé wongan.” 47. “Sumanggah dérék karsa Gusti.supaya hing kasultanan. nameng nuwun pun hamba. kitab kaliyan kurhan. hangwejanga hing para putra kon ngaji. 45. 46. pasrah hing sinuhun.” Nulya Kyahi Dalem matur. semutan héca hing manah. “Perkara hiku paman. miwah wisma kasagiyan paman. handekuh koncem mukan[n]é. hanang Kartawijayanya. Kartawijaya dipun timbal[l]i. Datan saréh miwah datan bukti prawantunya tiyang maksih tarun[n]a. hapan wis siyagi kabéh.” Ngandika sinuhun. sampun cahos hing Gusti ngarsanya. 103 . nulya sinuhun ngandika haris. nami Kartawijaya. Tajug balong hingsun siyagi. Hing ngarsa sinuhun. kaliyan paman[n]ipun. pejah gesang pun hamba. hapan[n] hamba pasrah sadaya. hingsun trima pasrahé putra n[n]iréki. gadah hanak Kartawijaya puniki.

” Kartawijaya sampun tampi srat Gusti.” 50. gawanen surat hingsun //kanggo raka hing Panjunan. Ratu Mas Hatma hingkang nami. kaliyan wayahipun. hanang Radén Kartawijaya hiking. Kartawijaya matur hing Gusti. bareng ngapan karo hingwang. “Hanang hing Kartawijaya. panggon[n]an hanang Panjun[n]an. pernah hing Pancagahan. nulya kadahup[p]ena mangké. Tinampi wahu serat[t]é. mangka katur hing Gusti Panjun[n]an.“Hé Karta siréku.” 48. lajeng winahos sampun. Langkung hasih Pangéran ningali. kating[ng]al cakep hing karya. sahiki pan hawak[k]ira. “Hiya hingsun hidin[n]i kaki.” Sultan ngandika harum. Panjagahan hing Panjunan sira kaki. punapa Gusti karsan[n]é. “Sumanggah habdi doraka hing karsa. Sampun lepas lampah hiréng margi. sun hangkat dadi mantri wecalang kaki. 32 (69. nulya kondur sangking ngarsa. 104 . sukur pan siréki. 903) 49. hanulya hangandika haris.

gamelan mapan gumpul. hora pantes dadi dalem kaki.sukangnya. 52. 32a (70. lamun jagi hing wates Darmayu nagri. Mangka wonten malih kang winarni.raméh siyang lan wengi.” Surak mapan gumuruh. 904) 53. tiyang halit suka n[n]ingal[l]i. samya sukang sampun. wong santri cilik hatin[n]é. Kanggo hapa han[n]ang dun[n]ya mangkin. hangsar suci pan hatin[n]é. lamun hora suka. raméh. sanajan sadulur //tuwa. “Hanang para ponggawan[n]ira hiki. hinget[t]é hing ngakérat. 51. lagi pésta raméh raméh. prajurit kawan das[s]a. 105 . Ki Dalem nulya ngandika. Duk dalem mékang hanang riki.jumeneng hana hing Panjunan. mapan kiyahi Dalem Singalodraka. maturut préntah hing nabi. 32a pan hingsun hora rujuk[k]asan[n]éki. mantri patih lan dalem. sepi kang negara. kabéh ponggawan[n]ingwang. manggén wonten hing kajaksan. wedi dos[s]a hagung. hadat santri hiku. wisman[n]ipun wahu.

yén kirang senggak[k]é mangké. nayaga dén siram lan wari. lagi sedeng ngatur karya. lamun ngibing sajak gonjing pan kinanti. 106 . Para mantri sami hangepok[k]i. Sasampun[n]ipun bibar[r]an sami. sodéré cindé kembang. 56. hanjejeképak wahu. saholah nyahambek pura. 55. hanjenengi dalem mangké. Hingkang sugih banda kayan[n]éki. langkung rusuh rerampoggan. lami pan tigang nahun. 54. patih Hastrasuta kuliling. datan kiyat jagan[n]é. kathah tiyang pin[n]atén[n]an. hupacara siyang dalu. sapolahnya pan bagus tanding[ng]iréki. pan Radén Semangun. nayaga mapan raméh senggak. nulya wapat dugi hing jangji.satingkah polah Gustinya. tiyang halit kalangkung susah hiréki. wahu Dalem Singalodraka. hingkang gumanti putranya. gagah tur habagus. dedeg sedeng hapideksa. sodér kinipaletu nulya. rinampog déning para durjan[n]a.

Siyang dalu raméh raméh mangkin. 59. Tiyang ngeraman sampun siyagi. 905) makumpul[l]an tiyang hanang //dés[s]a. 57. Bagus Léja lan Sén[n]a. Biyawak Jatitujuh. wunten malih hingkang warta. langkung susah ribut[t]é hanang nagari. 33 (71. juragan[n]é Bagus kandar. Bagus Rangin Surapersandanéki. putran[n]é Purwadinata. Bagus Wari sadaya Mayahan mangkin. sesek kathah[h]ipun tiyang. Miwah para sénapati jurit. kadang misan[n]ipun.hanggén[n]é jaga durjan[n]a. tiyang Kulinyar lan Pasir[r]ipis. saking Kandang[ng]ahur. hanggén[n]ipun pésta tetanggapan. langkung pitung hatus. mapan misan[n]a niréki. para putra putra sadayanya. nanggung hang ngalaga. pan seling Rangin putran[n]é. Bantarjati pernah[h]é. pangawakan[n]a wangganya. 107 . Kyahi Betawi hika. Dén Nuralim wahu. 58.

61. pan Kartawijaya hanenggih. rayi-rayi miwah mis[s]an dalem néki. 108 . “Héh sanak kula sadaya. kornélnya hanang ngayun. hanempuh Darmayu. pan dateng Darmayu nagari. hatinjo kadang kula. nganggé pakéyan tamtama. Kanca-kanca kang para prajurit. bedil tulup lan keris. mapan Radén Kartawijayanya. Sareng dumugi hing Dramayu mangkin. Lajeng ngaben lampah hiréki. 60. mapan rempag sedayanya. kulit kuning wahu. 906) 62. kathah tiyang ningalan[n]a. hageng hinggil meden[n]ya. jumagi hanang wates[s]a. sareng hénjing budal mangké. mapan Radén Wiralodra. bénjing hing Darmayu. jolén miwah tumpak[k]an. siyagi tumbak bedama. datan hénak halungguh. sarwi matur sumanggah hing karsa. hobyok pedang hérmas //sérét kuning. 33a (72. ngandika hing kanca prajurit.tyang dugi saban din[n]a. hangrempug badé nempuh.

hang rawuh[h]i saprajuritan[n]iréki. “Duh rama huwa nuhun. samya kagét para prajurit. tias[s]a ngamba gegan[n]a. “Duh mas pu(t)ra n[n]ingsun. miwah para putra putra. huwa Kartawijaya. kathah resak para ponggawi. Lumajar nyangkem[m]i padan[n]éki. karun[n]a dateng harsan[n]é. lajeng methuk Radén Kerstal. datan bis[s]a nyepeng mangké. kalih paman patih Hastrasuta. langkung resak[k]ipun nagari. Para prajurit hing Darmayu mangkin. putra sareng dulu(r). sinelek lampah hipun. wani temen hangrusak hanang nagari.hamireng surak mangambal[l]ambal. 63. Kartajaya ngandika. sapa prajurit nama?” 109 . putra putri sangking Banten kang nagari. kénging wicaksan[n]a nipun. punika Ciliwidara. ning[ng]al[l]i tiyang yudabrata. 64. hiki musuh rebut hapa. campur kaliyan senjatos. héstri warninipun. miwah putra sarta sénapatya.

dén panah si Ciliwidara. malebet hing padalem[m]an. putra raka kathah lampus. Suryaputra Sruyabrata néki. Dén Dalem Wiralodra. bésuk iki sun candak[k]é. miwah putra n[n]ingwang sira Kerstal. Nulya ngrangkul kang raka tumuli. nulya pinanggih kaliyan hingkang rayi. nulya pangkat wah[h]u. mapan kambi raman[n]ira. kathah kang sami lampus. langkung sakti Ciliwadara puniki. bade hing rebat nagara. hangemas[s]i wahu. hingkang rama medal toya waspan[n]éki. ngangken putra Kentanagara. 110 . Héh Kang Rayi Hastasutra patih. malah putra rama mangké. nulya sanget dukanira.65. pan kénging musuh han[n]ekan[n]i. 34 (73. 66. Nyi Ciliwidara kang nami. hanadah[h]i yudabrata. miwah raka Suryawijaya. sarwi karun[n]a sesambat[t]ira. “Duh raka pitulung mangké. sumanggah raka hing karsa. 907) 67. tan kuwawi hulun. sahiki ram[m]a harep kapanggih. Ciliwidara hiku.

111 . hanulya sesumbar hénggal. prawantu tiyang hayu. manah hénggal nerajang[ng]a sira hanjing. bendéra tinarik hénggal. 70. 34a (74. kakang tanding hing ngayuda. pan kalih wong sanegari. hénggal dangdos busanan[n]é. wani hangrusak Darmayu. 69. han[n]ang wong Darmayu. lan sa[pa]mapaging yuda. gelang kalung kilat bahu. wong Darmayu mas[s]ih wani musuh mami. Kartawijaya jeneng[ng]é. Ketambuwan sira hing mami. mangka Ciliwidara miyarsa. wong siji wani musuh.68. sapira habot saktin[n]é. pan cakep yén tiningal[l]an. kadiran wong hayu sira. hananding kadigdayan. Ya bésuk[k] iki rayi sunton[n]i. 908) duméh sira punjul nganihaya lampah cidra. hiki sadulur hingkang tuwa. sira Ciliwadara hanjing. Sarta bendéné pinukul haglis. pan[n]ah miwah bedama keris. sareng hénjing binaris[s]an. wadyabala ponggawa putra prajurit.

hanang getihyé manus[s]a. Hanulya mentang panah hiréki. manah datan mindowa. hudreg pedang-pinedang.” Ciliwidara dén luket[t]i.men[n]awa tambah ta sira. hénggal wangking pedang[ng]é. rasané panah hingsung. 72. hobah bebalung ngira. kurang tata perang mangké. sarwi hawecan[n]a dén priyatna. tibakna han[n]ang hingwang. tan wonten hasor hing yuda.” Radén Kartawijaya mangkin. suka haningalan[n]a. pan hénggal linepas panah ngenan[n]i. sekalih pan punjul. sundel dayang humbaran. “Nyata prajurit siréku. yén niba hanguyun. hangrahos peteng hing paningal. 71. “Héh pan Kartawijaya siréki. ngisén[n]i sira prajurit lan[n]ang. 73. 112 . tiyang surak lir kadya rengat hing bumi. pancén wong sendek humur[r]é. hapa han[n]ang siréku. Méh san[n]alika tiba hing siti. kang haran si Belabar Gen[n]i. maka hangandika hasruh.

mapan samya dén jaga. hanepang[ng]i dateng Wiralodra rayi. Kartawijaya wahu. 909) 75. kang raka kalih kang rayi. kén[n] jumagi wahu.mapan ningsun datan gingsir hanadah[h]i. SINOM 1. 74. dén hédek hanang pratal[l]a. pan miwah putra nonoman. hanggén[n]é musuh Kartawijaya. Mapan samya pinanggya. pernahipun hical Nyi Cili. samusnané Nyi Ciliwidara. pan cinandak sampun. langkung hawrat kasaktén[n]é. ngandika hing prajurit[t]é. siyang miwah dalu. medal tiwik[k]raman[n]ya. satingkah polah[h]ira. sirna datan karuwan. Ciliwidara datan kuwawi. miwah putra putra sadaya. 35 (75. nulya Dén Kartawijaya. saya gumareget hagalih. Ciliwidara hambekas hana hing bumi. IX. 113 . kalih kang rayi pepatih. Kartawijaya cuwa hing galih.

mila kasuwun pun rayi. 114 . lah kados pundi hing karsa. lan kuwatir hilang[ng]é Ciliwidara. sangking berkah raka wahu.” 35a (76. 2. tan seja raka habantu.” 3. kersan[n]é Yang Maha Mulya. “Duh Yayi Mas [s]asih basuki karsan[n]é Yang Maha Widi. mila bade matur Gusti. mapan lagi mangun jurit. 910) 4. ngaturaken kasusah[h]an. menawi kasoh rumihin. Kang rayi matur hing raka. resak[k]é hingkang nagari. hing rayi kang yudabrata. miwah putra pan sedaya.Hastrasutra jenengnéki. raka hénggal hangrawuh[h]i. datan huning[ng]a yén susah. hing ka[ng]dang kadang[ng]iréki. hénggal Si Kakang harawuh. héran pisan Ciliwidara digjaya. “Kabegjan makethi-kethi. bade wangsul pan rumihin. “Tak tarima karsa rayi. Kang Raka haris ngandika. han[n]anging sejaning raka. sadaya cahos hing ngayun. nanging bagja pitulung[ng]é hingkang raka. hawit hanglancang[ng]i Gusti.Kang raka haris ngandika. dateng rayi hing dalem katuran lenggah.

” Nyi Jaya humatur haris. saweg sinéba kang raka. dén jaga ponggawa rayi. Sedaya sami rangkul[l]an. “Duh Gusti hatur duduka. Kyahi Dalem ngandika haris. kakang badé pangkat wangsul dinten mangkya. Sareng nuju dinten Jumah. jumerogjog hingkang prapti. sarwi manembah hing ngarsa. jagan[n]é hilang[ng]é wahu. Nyi Jaya cahos hing ngayun. hanang Garagé nagari. para putra ngabekti sami. 7. patih Hastrasuta mangkin. hantuk hidin sangking karsan[n]é bendara. katiwas[s]an habdi Gusti.5. Prawantu wong wicaksan[n]a. “Ponggawi dérék sang[ng]ulun. malebuh[h]ing padalem[m]an. hanulya hénggal lumaris. 115 . hing panjagahan kakang. Dalem Wiralodra mangkin. “Duh bagéya janur gunung rayi prapta. man[n]awa malebu Rayi. Tak kira han[n]a sukarya. mung rayi kang hatiyati. 6. Bade matur kasahéstu. sanget sampun duka Gusti. dumugi han[n]a hing jawi. han[n]ang pernahé hing musna.” Nulya bibar masing-masing. nulya hangiring lumampah. 8.

humatur kasuwun Gusti. datan seja bade tumut (ka paduka). sedaya manggah hing karsa. 911) Kyahi Dalem hangandika. “Habdi dén pethuk hing raka. lan sun halih nama Resik Sira Jaya. dadiya sawiji bénjing. 9. wis rayi hénggal mundur[r]a. jaga pati saksi habdi. nanging kekah pan kahul[l]a. Nulya manembah hing ngarsa. humatur rasa ka//hapa lepat[t]ira. hantawis sanambang Gusti. “Manah rayi sun hidin[n]i. dumugi hing hanak putu. Kyahi Dalem hangandika. 11. hénak[k]a hing wisma rayi. kadang kadang habdi Gusti. mugiya satrun[n]ira. sangking Bantarjati habdi. sukur bagja sira yayi. sahiki nembé hadugi. tak tarim[m]a sedyanipun. sampun kathah tiyang prapta. Darmayu badé karesak. déréng wangsul wisma habba. kalih turun-turun mami. 10. bade ngraman hangresak nagri paduka. pan habdi kaperdi Gusti.36 (77.” 12. tan niyat cidra hing Gusti. 116 . kumpul damel tarub hagung. bade tumut nyusup habdi.

sadaya kang sun timbal[l]i. lenggah hing paséban jawi. miwah sesang[ng]oning tiyang. punapa kakang hing karsa. mangka hangandika patya. 14. hawit hing wawengkén Gusti. 117 . Sutamarta Tum[m]enggung. pan Tanujiwa kang raka. 36a (78. “Kados pundi kakang niki. dadiya kawruh wan[n]ipun. Jiwasuta kang prajurit. Tanujaya miwah Wangsanaya dem[m]ang. “Punapa kang raka patih. yén kedah tinangken wahu. sasat musuh[h]an dateng[ng]i. humatur pan kakang patih. siyagi para prajurit. sayagi wonten tiyang ngraman. Kang Gusti nulya ngandika. Trun[n]ajaya hingkang rayi. hatur[r]é Nyi Jaya wahu. kathah kang para prajurit. Hénjing miyos hing paséban. sentan[n]a prajurit mantri. ngandika hing kakang patih. 912) bénjing //hénjing kedah kempal sénapatya. miwah Wangsatrun[n]a wahu. “Duh kadang-kadang prajurit.mapan Kiyahi Wiralodra. 13. hing dusun han Bantarjati. ngempel[l]aken ponggawa. 15. Nanging samakta hing yuda. kedah Gusti hamriksa tiyang ngeraman.

nyangking pedang tumbak//duhung. sinonthé keris hing kanan. konca mawi cindé kuning. demang rigah para harya. pakéyan mawarna-warna. bendé mung[ng]el kul[l]a tur[r]i samya budal. pati(h) Hastrasuta mangkin. wédang miwah dadahar[r]an. kawula samya siyagi. miwah sakéhéng prajurit. 18. 37 (79. pajun[n]é tiyang ngajurit. Gustinya niti turanggi. tyang dusun hanyiyagéni. pun[n]akang dadi biyas[s]a. 913) 118 . Bendé muni samya mudal. budal[l]é hing Jatitujuh. bénjing hénjing kul[l]a hatur[r]i. 17. prawantu gagah jatmika. 19. hupacara para mantri. 16. hing ngampléh kang wunten kéri. samakta siyagi jurit. Samargi dadi tongtonan. sampun kirang pan sayagi. prawantu mriksa berandal. kuluk hérmas hinten murub. Kula hatur[r]i pan sedaya. pancén gagah dedegya mapan sumbada.karsan[n]ipun hing Gusti badé kapriksa. hulesna pas gambirah gagah hing yuda. sedaya niti turanggi. hing ngiring para prajurit. Nulya kondur ring paséban.

punapa pan kintun serat. Gan[n]a Wanggan[n]a miwah Jari. “Hanang paman kadinéki. 20.” 119 . pengagung Ki[ng] Bagus Rangin. sarta pan Radén Nur[r]alim. kang wunten hing Bantarjati. miwah kadang putra mangkin. tyang Darmayu kang bakal kahula rus[s]ak. Bagus Rangin hangandika. miwah Kyahi Betawi. sénapatya sedaya putra Mayahan. Sumanding Surapersanda. hing tembé huninga hing Gusti. saweg sinéba ponggawa. Pan lajeng hingkang lumampah.miwah tetabuh[w]an mangkin. 22. Sadaya pepek [k]ing ngarsa. mapan para sén[n]apati. kalih hingkang paman wahu. miwah kadang Sén[n]olaja Bagus Kandar. klapa dugan saban pintu. gegedén hing Kandang[ng]ahur. hutawi hinurug mangkin. sadaya tiyang ningal[l]an[n]a. kasebat kang pinituwa. sarta Bagus Pangiwa. Bagus Serit jeneng néki. miwah para sén[n]apati. raméh-raméh samargi sami tabuh[w]an. sampun cekap bala wahu. 21. Bagus Seling hingkang putra. kados pundi gelar niki.

ngatur[r]aken tyang Darmayu ngrawuh[h]an[n]a.” Bagus Rangin ngandika haris. “Duh putra sedayan[n]iki. janur miwah godong wringin. “Duh bagja yén mangkonowa. “Leres taya putra mami. napa wangun baris hagung. sarta manawi palengkung[ng]an. lampahipun sahé hutawi halang[ng]an?” 25. kaleres[s]an tanggal[l]ipun. Saban sasak jinagiya. héca hanggén cacatur[r]an. 914) Kemis Kaliwon puniki. pecalang cahos hing ngarsi. Sing lér dugi ning mingsah. sukur bis[s]a hanekan[n]i. kados hapes hing ngajurit. Hing Jatitujuh pernahnya. Dalem Darmayu rawuhnya. 24. pajun[n]é mapag hing jurit. Kang ram[m]a mangsul[l]i sabda. lah gelar[r]é kados pundi. 120 .” Nulya matur rama mangkin. 26. Bagus Serit hangandika. “Kados pundi lampah[h]ipun.23. nanging putra sahé baris kahormat[t]an. kinten pangkat dinten pundi. kedah mangké dinten Kemis. pinangka hormat [t]ing Gusti. kula hatur[r]iki kang sabar. putra dérék karsa ram[m]a. gangsal dasa sasak siji. 37a (80.

ram[m]éh raméh kang prajurit. 38 (81. siyagi pethuk pangagung. sakanca berandal mangkin. Bagus Serit hatur[r]an[n]ya. 915) 121 . 28. 27. 29. nulya kadang-kadang néki. hanggeber wonten hing wari. raméh-raméh tiyang jaga hing pawates[s]an.tin[n]aro prajurit telu. nanging samaktaning jurit. kang sinigeg bala Darmayu punika. damel tatar[r]uban mangkin. sampun lintang kinten tebih. gamelan[n]é siyang wengi. Samya damel pasanggrahan. kanan kéri pan bendéra. hénggal sasak binubrak[k]an sedaya. Rampung bedami gelar[r]an. yén kuda miwah ponggawa. gampil hingebyak[k]an bala. gelar wang rampoggan mangkin. sampun //bibar samakta bala sedaya. hangdalem sasak satunggal. limang puluh balanéki. 30. siyagi tyang kasémahan. Ki Rang[ng]in hing pasanggrahan. sampun bedami pesagi. kalih paman Bagus Serit. ngajeng-ngajeng rawuh[h]ipun. mapan tiga prajurit néki. samya ngatur gelar wahu. siyang dalu tetabuh[w]an. Supaya wangsul[l]ing kuda.

hingkang lajeng paman patih. hing ngendi pernah[h]é wahu?” Humatur prajurit tiga. hulem cemeng kudan[n]ipun. 31. mapan sakti hing prang pupuh. suka ta [h]hangormatan[n]a. sumanggah sakarsa Gusti. Hastrasuta pan prajurit. kran[n]a hiki lampah gelis. kahutuskén mriksanana. sareng dugi pawates[s]an.” 33. 38a (82. bedil tulup lan suligi. nulya manembah tur nyaris. hing ngiring para prajurit. pernah[h]ipun sagung[ng]é tiyang ngeraman. “Tak tarima sanak mami. nulya ngandika Ki Pati. Sedaya pan hasung hormat. mapan kén methuk sang[ng]ulun. samya kempal pirempag[g]an. “Punika katingal Gusti. 122 . 916) “Duh Gusti habdi //puniki. mung mengko sabalik mami. habdi sampun siyagi men[n]awi kersa. palengkung[ng]an bandéra baris hing marga.hing Jatitujuh gén[n]iréki. rawuh[h]é Gusti jantika. Sareng hénjing samya budal. hanang dusun Bantarjati. Ki Patih nulya ngandika. Ki Patih niti turanggi. samakta kaprabon[n]ing prang. 32. raméh gamel[l]an hang Rangin.

bendéra lan humbul-humbul. déning pada siyaggi kaprabon jurit. salaman sedayanéki. surak kadya hurahan. hanungsi hing Bantarjati. mapan kula hantuk dawuh[h]é sanganghulun. raméh gamelan tinabuh. Nulya patih hameriksa munggur ngarsa. “Lah kados pundi gelarnya. Nulya lajeng hingkang lampah. X. malebet[t]ing tarub mangkin. nulya héstu kang sayekti. hingkang sami makuwon hing riki.” 34.bandéra bang sérét kuning miwah pethak. patih miwah para mantri. 2. handeder hingkang turanggi. mangka sampun rawuh han[n]ang pesanggrah[h]an. Dén papag prajurit kathah. ké mriksa béja hing warta. PANGKUR 1. 123 . han[n]ang pasanggrahan hagung. gelar[r]é tiyang ngakathah. hing ngobar tan[n]ana kari. miwah samya ngormat[t]i. 35. “Héh sanak kula sedaya. sampun tebah[h]ing kang lampah. nulya sasak binubran[n]an. prawantu ngormat[t]ing Gusti. nulya samya lelinggihyan.

taling[ng]an kadya sinebit. Nulya ki patih ngandika. yén kénging kula penggah. “Loh Rangin celathu[n]nira. lan mengko[s] sengsara wahu. kran[n]a nagari hing mingkin. sampun dén turut[t]i napsu. “Lamun kénging sadaya pan sanak sami. mapan wirang yén mundur[r]a. pan seja bade hing resak. Ki Rangin humatur sugal.” 124 . “Héstu bade hangresak[k]a. mapan luwih werat sesanggan[n]éki. yén datan kacekel sira. 3. //punapa hingkang sinedya. “Hanang Kyahi Mas Hastrasuta patih.” 5.” 6.39 (83. mangsa wediya pan hingsun. manggih susah kasengsara hing Yang Hagung. ngisén[n]i sira cangkem berandal babi. hanang Gusti nagari Dalem Darmayu. Sanajan cilik rupan[n]ya. lan hora gila tumingal. haku tan harep kon mundur. tem[m]ahan pan dadi rusak. tak lawan[n]i remuk hawor wisma hulun. prawantu kang yan[n]a patya.” Bagus Rangin hanulya hunjuk humatur. Dramayu hing dalem mangkin. 4. hanang rupa wong nagara hing siréku. sakéh hanak putu[n]nira. wong musuh han[n]ang negari. 917) tumbak perampoggan wahu.

siyagi ya kepung[ng]en bahé pun[n]iku. 918) Prawantu perang berandal. sapa marah hasrah pejah. patih Hastrasuta duduwa din[n]éki. Para mantri pan jumaga. tyang Kuli[ng]nyar Pacir[r]ipis Bantarjati. 7. haja kosi bis[s]a medal. para kadang maju haprang sedaya kasor hing jurit. surung-sinurung pan wahu. 125 . pan datan tata paju[n]né hing ngajurit. 39a (84. tyang Kulinyar bubar ka tawur[r]an wahu. 9. “San[n]ak kul[l]a sadaya mapan sahiki. jam nenem sonten hing wanci. Ker[r]an[n]a pangamuk[k]ira. 11.” 10. “Loh hanak kul[l]a sedaya. ngandika Ki Serit wahu. datan kiyat Ki Rang[ng]in perang[ng]é wahu. kaliyan Ki Yan[n]a patya. 8. sedeng peteng tan katingal. pan kathah musuh nya lampus. hangantos samangké wanci jam sapuluh.” lawanen hundur-hundur[r]an. Bantarjati lan Biyawak. nulya dén hebyuk[k]ing jurit. haja ngrangseg sira maju. ki Rangin werat tanding kaliyan pati. Sareng sampun jam sedas[s]a. kira dalu sun hebyak[k]i.Ki Patih medal hing Jati. Nulya Kyahi Serit ngandika.

pan hingsun wis hora kuwat. Sinareng sampun waspada. Nulya ki Serit tumandang. 13.” Ki//Serit medal hing wingking. mapan kénging nulya lampus. 919) 126 . bade mlajeng tan huning[ng]a. sampun payah Hastrasuta. 12. Datan huning[ng]a lor wétan. kang dén prih pejah[h]iréki. hambélan[n]i hing nagara. ngagem tumbak sengkel[l]a pepundén[n]éki. namung patih Hastrasuta. tyang sanunggal langkung rebut tan kadulu. 40 (85. 15. mapan datan dén praduli mlayuning pun. lor wétan[n]a prawantu wengi. jamak[k]é ngawula hingsun. tiban[n]é tumbak lan keris. mapan sampun hancur kuwandanné wahu. 14. hanadah[h]i hanggén[n]é haperang pupuh. Wecan[n]a sajron[n]ing manah. kinepung buwaya mangap. perang karo brandal kinarubut. nanging bala Kulinyar. dipun tumbak Ki Patih pan sangking wingking. langkung ribut prawantu prang dug hing wengi. prawantu tiyang berandal. dipun byakta hing tiyang kathah.hangebyuk[k]i perang pupuh. para mantri pan melayu. “Lah sahiki wis pinasti jangji ma[ng]mi. sampun ngrahos datan kiyat. salin bus[s]an[n]a hacampur.

16. 17. dén sangguh brandal nekan[n]i. 127 . Samya prang han[n]ang marga. para garwa miwah kadang-kadang néki. sampun dugi hingkang Gusti.” kang Gusti ngandika haris. Humatur hanak[k]ing ngarsa. 20. 19. sarwi nangis melas sasih hing Gusti.surak lir rengat[t]ing bumi. dén bedil pamayung[ng]ipun. “Héh mantriningsun sadaya. samya nayub raméh wahu. mila wonten namin[n]ipun Rengas Payung. prawantu tiyang berandal. mangka mantri kang lumajar. sampun dugi hing nagari. dalah wunten hingkang katiwas[s]an mangkin. sareng dugi han[n]ang Bangaduwa dusun. makumpul[l]an hing pas[s]anggrahan niréki. pejah wonten hing marga. Duginé han[n]ang nagara. sapun[n]ika Gusti mapan sampun lampus. kinerocok hing payudan. sarwi handras mili[h] kang luh. nulya lajeng hing lampahnya. kinepung hing tiyang kathah. Sareng hénjing nulya bibar. 18. yén mangkono becik hingsun pada balik. kathah malih dugi hing tarub hagung.” Hanulya bibar sadaya. “Katiwas[s]an habdinipun. pan raka dalem paduka.

pan sarwi hasesambat. 24. berandal hing Bantarjati. saban din[n]a matis minda kebo sapi. 40a (86. hantuk ngrayah saban dusun. miwah kadang-kadang kula. Dateng hingkang rama paman. 920) puniki pan katiwas[s]an. rupi-rupi satingkah polah[h]é wahu. kakang patih hangemas[s]i. sedaya karun[n]a wahu. 21. pan hing[ng]et hing sengsarahnya. mangka hanang dalem pati. 23. sampun lat lampah kula. sareng miharsa pangandikan[n]é kang Gusti. para garwa miwah putra-putran[n]éki. patin[n]ipun kinarubut hing prang pupuh. hora panjang yuswa kakang.” 128 .samya methuk jawi pintu. Raméh-raméh gan tayub[b]an. hénggal pangkat dinten bénjing hing Darmayu. Gégér gumuruh karun[n]a. Ki Rangin hangandika haris. prawantu berandal dés[s]a.” 22. Kyahi Serit miwah hingkang kadang néki. “Duh paman kula nuwun. sarta kadang-kadang[ng]ipun. Hingkang garwa miwah kadang. “Haduh kakang hora nyan[n]a temen hingsun. wunten malih kang winarna. hangandika Ki Dalem hing garwan[n]ipun. siyang dalu dedahar[r]an. sareng malebet hing wisma.

sadaya pan ngajigjaya. hingkang sampun siyagi wan[n]i hing pati. kebo sapi néki niring. miwah Héng Jin lan Ti Yang li. tumbak keris miwah komprang sarta penthung. hing Lobanar para Cin[n]a pun siyagi.Sedaya sumanggah ngiring. 41 41(87. Wunten Cin[n]a kalih das[s]a. Sareng hénjing samya budal. mikul lanték hisi beras. surak-surak hing margi samiya ngibing. hana hingkang nganggé clana poléng tapih. 921) miwah bendil lang sasisih. 29. hanak rabi hing Darmayu. masing-masing gaman[n]ipun. 26. hutawi samiya cangcut. Samargi-margi jogéd[d]an. Sareng duging céléng dés[s]a. sandang[ng]an[n]é mancawarni. Babah Kwi Béng Héng San Héng Li Cin[n]a baru. prawantu lampah hing bangsat. 27. Poléng gunung poléng Jawa. satingkah-tingkah pan wahu. turut marga hangrampog[g]i saban dusun. bedil gobang miwah pedang. 28. hayam manda miwah harta. mapan samya habénjang. 129 . sagadah-gadah hing tiyang. hantawis[s]é tigang nambang brandal mangkin. conténg sléndang sarung poléng dam[m]ar murub. 25. han[n]a kang sarowal[l]an.

33. miwah nyonya Cin[n]a néki. 922) hatawa seja hanglanat. nulya Bagus Surasa Persanda nepangi. 30. bade ngrayah barang harta. hibur palayu ning jalmi. mung[g]uh bandakaya sobat. Bah Kwi Béng sareng handulu. 32. hénggal-lénggal humah dipun sa…si mangkin. 130 . nanging hinget sayo sobat. Mung sobat waktu samangkya. Sedaya miréh berandal. waktu hiki hajala sanak mami.” Wecan[n]a Surapersanda. “Loh kang hurang dadi brandal. 41a (88. nulya berandal hangrempak. pan hingsun hora hangrusuh. dén hamuk hing para Cin[n]a. para Cin[n]a perang kaliyan brandal néki. tak jaluk sukan[n]é sobat. mangsa dén rusak[k]a hiki. lebur brandal kathah lampus. mapan hiki sabatur seja halampus. “Mangka hingsun hanepang[ng]i. 31. kathah hingkang pecah brandal sirah[h]ipun. yén hora handeleng dika. wah kang hurang cuwa hingsun. Sareng ngrempak kulya pas[s]ang. han[n]ang Cin[n]a para sobat sosobatan hingsun.Cin[n]a babah kalih baru. hapa hora hing[ng]et salang wosé batur. hing ngamuk para Cin[n]a. prawantu nya tyang kathah pan jigja wantun.

Jarih Gan[n]a pada mélu. sangking kathah tiyang wahu. para Cin[n]a kondur wahu. Gumuruh han[n]ang Mayahan. nulya brandal sami lajeng lampah[h]ipun. rinampog[g]an saban din[n]a tiyang halit. kalih Bagus Surapersanda mangkin. 34. 38. hing hawak dika pribadi. 36.kang hurang pan sampé becik. kang hurang gawé melarat. seja bade hangrus[s]ak nagri Darmayu. makuwon hing pamayahan. 131 . hantawis kathah hing tiyang. Lan kapriyén pikiran dika. pekakas kurang santos[s]a. damel pasang[g]rahan mangkin. prawantu nya berandal tingkah[h]é wahu. Ki Rangin matek pikirnya. harep ngrebut nagara Darmayu hiku. mapan kathah tiyang samya hénjing mangkin. Nulya tetabéyan Cin[n]a. 37. pitung nambang tiyang dugi. Langkung sesah tiyang perdés[s]an. gawé hibur hing negara dika hiki. bubar hing Dramayu lampah. 923) hana hingkang hanger//rayah rerampogan hangrayah duwit. siyang dalu tetabuh[w]an. 42 (89. sadin[n]an[n]é telung puluh. tiyang hingkang samya prapta. 35. pengabaran dugin[n]é hing para jalmi.

Jeneng[ng]é Gupernur Jéndral. lamun kénging trus pintén[n]an mangkin. malah kathah soldat[t]é sinebar wahu. 39. 132 . 42. Mangkan[n]a dalem punika. samya tinuron[n]an. berandal para bagus[s]an. panjeneng[ng]an Dangles mangkin. tan perdul[l]i kancan[n]ipun. han[n]ang negri Batawiyang. lan suka hambantonara. Haduh Gusti kawul[l]anya. Lan benci hanang tiyang jahat. langkung gagah prakos[s]a sumbada hagung. 41. resak kawul[l]a sadaya. kawul[l]an[n]é nuwun tulung. 1808. guperur jéndral Batawi. susah[h]é saban nagari. hing Kyahi Dalem Darmayu mangkin. mila sanget kasengsara. 40.yén hayu rabi[n]nipun. yén tan gelem harep dén patén[n]i wahu. hangrerayah saban din[n]a. hing mayah[h]an pernah[h]ipun. sampun miharsa kathah[h]é brandal mangkin. sesambat[t]é hanang Gusti. ki Dalem hunjuk lan surat. hadat[t]é Dangles punika. hora wirang gawé sakit. langkung resak tiyang kathah saban dusun. kang ngasta dadi gupenur. dipun rayah kebo sapi miwah wedus.

yén tan nurut hajindanya, mapan pinotong pribadi. 43. Hanulung pertulunganya, réning brandal langkung kathah hingkang dugi, 42a (90, 924)wun maréntah pan //gupenur sarta kirim bal[l]a soldat, tinindiyan kaliyan kumendur lahut, Tuwan Postur namanira, sing Hing[g]ris hasal Welanda, 44. Kéng ngéndi bedami brandal, pura-pura dihangkat dadi bopatih, ma[ng]pan nagari Darmayu, pan kagung[ng]ane pun jéndral, hing Betawi Dalem hora kuwat sawahu, supaya dadiya bubar, bala berandal puniki. 45. Saradadu miwah Tuwan, sampun dugi pinang[g]ih lan dalem mangkin, sarta pun bedami wahu, dalem pan sampun pasrah, hanang Tuwan Delér pan kum[m]endur lahut, héng[g]al pangkat dén hiring[ng]an, tigang[ng]atus soldatnéki, 46. Supaya haningal[l]an[n]a, para brandal tandang[ng]é hing soldat mangkin, bedil pedang miwah hangkus, pinilih rata dedegnya, hageng hing[g]il godég wok kumis[s]ipun, ginotong mimis pekakas, miwah sangon kalih duwit,

47. Satus gotong[ng]an tiyang,

133

sarta mriyem tinarik mahis[s]a mangkin, supaya brandal handulu, tingkah polah[h]é tiyang perang, tandang[ng]ipun hutawi hajar prang wahu, sareng dugi hing Mayahan, kagét brandal haningal[l]i. 48. Nulya matur hing juragan, lamun wonten saradadu handugén[n]i, hambakta samaktan[n]ipun, pekakas hing ngayuda, 43 (91, 925) nulya Bagus Rangin Kandar mapag sa//mpun, kapethak kaliyan Tuwan, Tuwan Delér bis[s]a Jawi. 49. Tetabéyan Delér Tuwan, kalih Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. Tuwan Delér ngandika rum, “Héh Bagus Rangin jandika, sampun hajri mapan kula dipun hutus, hing Tuwan gupernur jéndral, kuwas[s]a negri Betawi. 50. Saréhing dalem masrahen[n]a, negaran[n]é hing Gupernur Jéndral mangkin, dadi hingsun dipun hutus, kang[g]o hambedami kula, mapan dipun Sowak nami, dalem wahu, lamun kersa hajandika, kula hangkat demang mangkin. 51. Mung[g]uh kadang sadayanya, kula hangkat dadi mantri jurutulis, kuwasahan sami wahu, saperti dalem pangkat.”

134

Bagus Rangin matur trima kasih hulun, yén makat[t]en legang manah, sedaya dipun salin[n]i. 52. Pakéyan laken sadaya, clana laken krambi laken topin[n]éki, mawi pasmén mas murub, Tuwan Delér pan siyaga, nulya raméh tabuwan humyang gumuruh, pésta hangéstréni demang, Demang Rangin para[ng] mantri. 53. Pamayahan kademang[ng]an, siyang dalu berandal tayubban néki, ngikat jeneng demang wahu, suka-suka gé nya pésta, sanget bingah Ki Rangin suka kelangkung, dén hiring mantri sadaya, pakéyan sangking Betawi. 54. Tiyang kathah ningali Blanda, 43a (92, 926) langkung giris //ningal[l]i pekakas néki, bedil pedang miwah hangkus, saban soré hajar perang, kornél hajidan sersan lan sardadu, hajar bedil miwah pedang, berandal kathah kang balik. 55. Lamun dalu pada ming[g]at, sarta kathah hingkang sami kirang neda, prawantu tiyang kathah wahu, badé ngrampog panji nagara, tyang berandal hantawis[s]é pitung hatus, nulya Delér kirim surat, hing Dalem Darmayu mangkin.

135

56. Sadiweg gédén tangkeppa, mapan dalem sampun tampi serat néki, gelar[r]é Delér puniku, nulya dalem kintun serat, dateng raka Kartawijaya puniku, hing Gragé ponggawa sultan, serat[t]é sampun dén tampi, 57. Sareng winahos kang serat, lamun rayi Hastrasuta mangkin, neng[g]éh paman sampun lampus, pinejah pan hing berandal, sapunika berandal jinaga wahu, dateng Wlandi kumendur Tuwan, pin[n]angsraya sing Batawi. 58. Hénggal Paduka Jeng Raka, rayi tur rinangkep brandal lan[g] jin[n]agi, Kartawijaya habendu, nulya matur hing sultan, sadayan[n]ya pan sampun katur sang[ng]ulun, Gusti Sultan hamiyarsa, nulya hangandika haris, 59. Yén mangkon[n]o Kartawijaya, hénggal-lénggal tangkep[p]en berandal mangkin, yén ken[n]a bandan[n]en wahu, lamun kekah pin[n]atén[n]an, 45 (93, 927) pan Bugel[l]en[n]ya//gulun[n]é berandal wahu, sarta sira Radén Wel[l]ang, bareng kam[m]i Karta mangkin, 60. Karta miwah Radén Wel[l]ang, mapan sampun sumang[g]ah hadérék Gusti, sultan hangidin[n]i wahu, manembah kondur sing ngarsa,

136

medal jawi bendé tinitir pinukul, prajurit siyagi nulya, samakta kaprabon jurit. 61. Nulya Dén Wel[l]ang ngandika, “Héh sekabéh sanak kul[l]a prajurit, sahiki pangkat siréku, karo hingsun raka Karta, seja ngrurug berandal hingkang hangrusuh, hing Mayahan pernah nira.” hénggal pangkat Radén kalih, 62. Lan gawah kancanira, hing pinilih sakethaha sapara prajurit, mapan sampun budal wahu, pangkat prajurit sedaya, sampun dugi prajurit hanang Darmayu, pinang[g]ya rayi lan raka, kang rayi hangrangkul haglis, 63. Hanangis dateng kang raka, mapan hingat hingkang sampun lampus pati, Kang Raka karun[n]a wahu, sarwi hangandikanya, “Duh Yayi Mas wis makhub[b]é yayi wahu, wapat Yayi Hastrasuta, tan mundur kakang ngajurit.”

XI. DURMA 1. Nulya hénggal pinukul bendé hangakang, pan sampun siyagi jurit, sadayanya ponggawa, gambirah mantri sedaya, pan bade béla hing pati,

137

hingkang pun séda, Dén Nastrasuta patih. 2. Nulya bidal gumuruh bala hurahan, tumbak pangrampog[g]an mangkin, 45a (94, 928) langkung peguh ba//risnya, mapan hingkang ngarsa, dalem kalih rakanéki, miwah Dén Wel[l]ang, putra Panjun[n]an selir, 3. Mangka sampun dumugi hing Pamayahan, Rangin mapag hamiyarsi, lamun dalem handugya, samakta kaprabon[n]ing prang, hangras[s]a ginelir mangkin, hing Delér Tuwan, mapan kinepung mangkin. 4. Lor kidul wétan pan sampun jin[n]aga, miwah hing kulon prajurit, sampun pengkuh barisnya, berandal hana hing tengah, hing kidul bala Betawi, Dén Wel[l]ang neng[ng]ah, maran[n]i berandal mangkin. 5. Kalih raka pan Radén Kartawijaya, hayun-nayun[n]an pinanggih, kaliyan para brandal, mapan hangandika sorah, “Héh Rangin hanjing siréki, sira berandal, nutut[t]a sun talén[n]i.”

6. Bagus Rangin miwah Kandar Sén[n]a Léja,

138

sugal hing wecan[n]anéki, “Héh hingsun dipun gelar, hing Delér Tuwan punika.” Hanulya mangsul[l]i mangkin, hing Radén Wel[l]ang, “Mapan tan gila hawak mami, 7. Sanajan[n]a hingsun dipun kepung hing sira, mangsa gingsir [r]awak mami, kadir[r]an sugih bal[l]a, mangsa honcat [t]awak [k]ingwang.” Sén[n]a habandak tumuli, hing Radén Wel[l]ang, sinépak kajumpalik,

8. Mapan raméh gumuruh pajun[n]ing yuda, datan ngang[g]é tata mangkin, prawantun[n]é berandal, kadya ngepung satoh galak, pan mas[s]ing mas[s]ing ngajurit, hang[g]én[n]ing prang, hingkang medal dén bedil[l]i.

46 (95,929) 9. Hanang saradadu hingkang samya jaga, kathah brandal hingkang mati, kang kénging dén belagbag, hing para mantri sadaya, kantos kasaput[t]ing wengi, hang[g]én[n]ing haprang, Rangin sakadangnéki, 10. Mapan sampun miruda sangking payudan, hénjing bendé tinitir, Rangin sampun tan[n]ana, sadaya sami miruda,

139

hingkang han[n]ang buwinya. perkara berandal mangkin. 13. mapan putus[s]an pun dugi. 140 . “Hanang jéndral Batawi. hing karsan[n]ira. hing Darmayu hiku kumpulnya. Hingkang han[n]a hing kapal kon ngirimna. sakéhéng berandal mangkin. hanang jeron[n]ing buwi. han[n]ang Betawi mangkin. hantawis nem hatus mangkin. berandal kon dén ilar[r]i.Dén Welang ngandika mangkin. bade kintun srat. 12. salebet[t]ing buwi hika. sedaya kén maténi. hingkang sampun kacandak. Mapan sampun binalagbag bala brandal. wedi mati sira hanjing. miwah kondur sadaya. 14. 11. han[n]ang Darmayu mangkya. binuwi berandal haglis. Hingkang langkung binekta hing prahu kapala. datan kamot[t]a. sakéh[h]é pengagung mangkin. kadrél hing jero buwi. sampe pinang[g]ya. sampun hing ngedél[l]as sadaya. “Héh kunyuk berandal. mapan kinirimna. Kados pundi karsan[n]é gupenur jéndral.

15. 141 . saradadu Dén Wel[l]ang. sareng wonten wartos malih. hingkang nanggung hayuda. han[n]ang Kedongdong kang baris. hingkang nagel hing ngajurit. Bagus Hawisem prajurit. 930) //pan bubar sedaya mangkin. sarta bakta bal[l]a.” 17. prajurit paman[n]iréki. Rangin sanget bungah néki. hantawis sanambang tyang. Hawisem lan Radén Wari. Mapan sampun baris tugur para brandal. 19. kang nanggung yuda. 18. 16. 46a (96. Bagus Kandar sarta Radén Warin nama. miwah Dén Kartawijayanya. sarta Radén Welang mangkin. Gan[n]a Jarih miwah Sel[l]ing. Henggon nadah[h]ing paju[n]né Kartawijaya. Hageng halit bocah cilik héstri lan[n]ang. paju[n]né hing ngadilaga. Hangandika Rangin han[n]ang para putra. guyu[n]né suka-suka . Rangin Kandar kepalanya. pan hitu diyah. “Haduh hadi datan nyan[n]a. brandal Luwi Séhéng mangkin. nulya pangkat hangilar[r]i. holih prajurit mami. hing lampahira. jaga[n]nen kang waspada. pajun[n]é hing hadilaga.

pajun[n]é Radén Wel[l]ang. Kadya brondong bedil mariyem punika. Rangin Kandar turun[n]ya. Tumenggung Nitinegari. kelangkung bingah.kakang pinanggih lan rayi. Pan prajurit Luwi Sé[ng]héng turun[n]ira. raméh hanggén[n]é jurit.” 20. pethuk hing yuda. 931) 142 . prajurit[t]é Rangin hingwang. sing dépok sambeng punika. prajurit ngarsa. Pan kapethuk kalih Kartawijaya. kecandak Radén Wari. 23. katambuh[w]an pan hingwang. kang nanggung mapag saréki. 47 (97. 21. pésta pan siyang weng[ng]i. lan Dén Kertawijayéki. berandal sampun siyaga. mapan gelar[r]ing baris[s]an. 22. hapandang Hawisem Wari. campuh[h]é hing ngajurit . dén[n]ing dén Wel[l]ang. Dén Wari hingwang. sapa hiki ngarsa mami. Pan hantara mariyem pan kapiyarsa. pan kendel hing ngajurit. pinayung[ng]an Bagus Rangin. pan kathah hingkang kajodhi. panyata yén husul mangkin. kendel manengan hing prang.

dateng saradadu mangkin. 143 . Bala hambral miwah Dén Kartawijaya. Kathah hingkang pejah binedil[l]an brandal. datan menda hanggén[n]é jurit. rebut mapan tan kating[ng]al. samya bujeng berandal. sadaya tan[n]ana kari. Léja sakancan[n]éki. Surapersanda pan kénging. Rangin Kandar Handa Hawisem miruda. hing kanca sultan. hanadah[h]i hing ngalaga.24. Hing ngobar[r]an wisman[n]é para berandal. 28. 27. rinanté kinirim mangkin. suwung pan wismanéki. han[n]ang Gragé nagari. datan pinanggya. héng[g]al pan binujung wan[n]i. perawan hayu binekta. miwah Sén[n]a dén tal[l]éni. hanjog mara Bantarjati. baris berandal. 25. ming[ng]ilén pan lampahnya. rinanté hénggal. mangilén wahu lampahnya. Dén Wel[l]ang hawecan[n]a. Dadya raméh siyang dalu hing payudan. “Héh hanjing berandal sari. 26. Radén Wel[l]ang datan kari. dén rakrak saban dés[s]a. Ki Séna Surapersanda. raméh hanggén[n]é jurit.

Mangkana hingkang lumaris. miwah Kandar handa mangké. tigang sasih hing lampahné. pan sinelek hing lampahnya. hanjog han[n]ang Dulang Sontak. susah tiyang dés[s]a. 3. rempag hing wana-wana. 47a (932) //XII. kasmaran kaningal[l]i. 4. ningal[l]i bojo hanak. jamban dalem mingilénya. Cilalanang Cibenuwang. Ki Rangin Serit lan Léja. hambakta han[n]ak bojonya. Cipedang miwah Cilégé. hing Purasu Radén Srang. Benggala hing luwung dinang. sanget kasangsarah hipun. dumugi hing Hung[g]ulung. 2. KASMARAN 1. Cipanculan Ciwidara. Pegambir[r]an Legok Siyu. Men[n]awi dén bujeng mangkin. kantos nye(b)rang Kucéyak. hanyabrang Cipunegara. Samargi-margi hanangis. Mengilén hanye(b)rang kali. hanak rabi samya krun[n]a. kalintang hanggén sengsara. 144 .hanang Darmayu negari. kantos wan[n]a hing Cikol[l]é.

langkung senang petanah[h]an. malebet han[n]ang wan[n]a. 8. Kantos damel dukuhnéki. 9. 145 . jurang péréng lumampah. 933) 7. supaya pada hasowan. hanang satengah hing wan[n]a. rama badé damel talun. hanerus hing wana-wana. sampun tiyar kebon[n]an[n]é. “Duh putra kula samangké. kali deres kang toya. Kerana para pawéstri. 6. miwah kaliyan menjangan. hing para putra sadaya. haseneng[ng]an[n]ipun wahu. tengah wan[n]a langkung jembar. Ki Léja pan saban din[n]a. Nulya hawecan[n]a haris. hantuk kidang lamun wangsul. kang Rangin pan saban din[n]a. sun tingal[l]i sanget sa(ngsara). Raméh-raméh gé nya bukti. rawa hageng kathah hulam. tawu ngilar[r]i hulam. //Hananem mangkin. sarta damel sawah hamba. han[n]ang rawa nami Citra.hanjog han[n]ang hing Cigadung. jembar pelataran[n]ira. telung sasih lampah mangké. 5. kalangkung tebih pernah[h]é. nulya sami damel tarub. 48 (99.

mapan manggih papan jembar. kalih nahun hing lamin[n]é. seja ngilar[r]i papan[n]é. tilas[s]é Ki Rangin mangké. hingkang haprayogi hajembar. kalih kadang miwah rama. Hing wates Pegadén distrik.winastanan dukuh Citra. 10. Ki Gedé han[n]a hing Pecung. 12. katela sampé punika. bade damel taluk[k]an. Nulya sampun rempag mangkin. hing bang lér kulon ing Suba(ng). pan dén wastan[n]é Cihakur. kalih distrik Pamanuk[k]an. lamun kempel[l]an punika. 48a (100. 11. pan mingidul paranya. nulya sami rempag[g]an. Jatilima kang nama. pernah mang[g]ih telatah jembar. 13. Tegal Selawi naman[n]é. gratan 146 . 934) pan damel…. halang hujur[r]ipun jembar. Winastanan sapuniki. Ki Rangin hadamel. Kyahi Wangsakerti nama. Jatigémbol kang satunggal. bakta kanca telung puluh. kantos samikén namin[n]é. hanang Cigadung pernah. sakilén kali Cigadung. Tur rata tanah hiréki.

Panangtang mangun hing jurit. becik gawé surat hingwang. hing kanca miwah hing kadang. Nulya Ki Rangin hamatek mangkin. napa pun ngungkul[l]i wahu. 147 . 15. nulya tiyang panghatumut. pésta hadedaharan. hingkang haji pengabar[r]an. Dalah sampun kathah jalmi. raméh-raméh siyang dalu. Sedaya pan matur mangkin.sampun datos Citarum hagung. hingkang dadi sinedya. hingkang bade tumut perang. hanggempur hing Pecung Wangsa. langkung sangking sanambang. ningal[l]i pesang[g]rahan. 18. tempat tiyang ngeraman. 14. mapan handérék karsan[n]é. mapan kantun tunggu dawuh. kadang miwah kanca-kanca. Nulya Rangin ngandika haris. saban dinten tiyang prapta. hantawis tiyang kathahhé. kelangkung mandi sikirnya. “Punapa karsa sampéyan.” 17. “lh kad0s pundi karsan[n]é. 16. badé ngaben kadigjayan. sedaya pun siyaga. dinten pundi majeng yuda. pikir[r]é pan sampun dados.

sampun damel sengsara. kang[g]é mapag hing ngayuda. sedaya matur sumanggah. 19. sira Jaka Patuwak[k]an. kambi berandal sing wétan. Héca hanggén gunem cangkin. héh ya Krudug sira. Dulang Saréh hing wastan[n]é.tanda hingsun wicaksan[n]a. 49 (101. hing kadang miwah hing putra. 148 . Nulya hangumpulna mangkin. pandakawan wicaksan[n]a. wonten tiyang ngraman mangké. Ki Wangsakerti ngandika. sanggup hing ngaben pukulun. kaliyan berandal wétan. mapan sampun hamiyarsa. Mangkan[n]a ki Wangsa kerti. pelariyan wong nagara. jumerogjog hing ngarsanya. 935) 20. brandal wétan hasal[l]ipun. para sén[n]apati mangké. 22. sraptan[n]é hingkang hutus[s]an. Hutawi nak putra mami. supaya siyagi mangké.” Nulya damel surat sampun. kang kirim hing Pecung dés[s]a. harep ngayon[n]i hingwang. 21. hing tegal selat(an) Subang. sarta putra Sindanglaya. hapa sanggup yuda mangké.

25. 49a (102. hanjing gelis siya mampus. dék ngayon[n]én hurang Sunda.. sampun dugi hing ngarsan[n]é. Jawa Wétan te puguh. kandel hipis hurat tulang. breh hanjing siya wétan. sarwi hawecan[n]a sugal. Grudug ngadéngé glendengan. hulah réya homong siya. panon pan pucicilan. haturken juragan siya. han[n]ang tempat pesanggrahan. Winahos serat tumuli. kasukmésa jroning driya. kana jampé sikir manéh. 27. powé mana hanu puguh. Nulya Dulang Saréh hamit. sarwi mésem hawecan[n]a. 23. Jawa Wétan ngasahan kami. Dulang Saréh matur haris. serat nulya tinampanan.ngaturaken serat sampun. 24. Dulang Saréh wangsul nuli. 26. hurang mapag[g]en siyaga. hanjing Sunda malotot[t]é. gegancang[ng]an lampah[h]ira. Jajabang Grudug tingal[l]é. kula hanjing siya mérad. kaya[ng] ngap[p]a surat hingwang. hapa (Dulang) Saréh wahu. nulya pangandikanya. 936) 149 .

Hing papan tegal Selawi. hananding Ki Gedéng Pecung. hambeknya lir Singalodra. sadaya sang[g]em hing yuda. bala Rangin kathah pejah. sampun siyagi balan[n]é. nulya siyagi sedaya. nulya majeng prajuritnya. suraknya mangambal lambal. hing bala Pecung baris[s]é. dateng paduka sampéyan. Gumuruh kang bala Rang[ng]in. miwah kadang-kadang kabéh. tur gagah hasentos[s]a.Ki Gedéng Pecung punika. prawantu perang berandal. bendé tinitir pinukul. campuh prang berandal mangké. bala Rangin pun siyaga. 30. 29. ngajeng-ngajeng rawuh hipun. baris[s]é berandal wétan. kawengku hing distrik Subang. miwah Kyahi Gedéng Grudug. Patuwakan Majanglaya. malah kathah prajuritnya. Léja maju hing haprang. Mangka sampun kapiyarsi. dados pamucuk[k]ing haprang. 150 . dateng Kyahi Serit nama. 31. Nulya humatur Ki Rang[ng]in. siyagi hing yudabrata. 28. bendéra tinarik hagé.

nemu tanding hing ngayuda. “Héh sapa kang ganti yuda. Ki Léja hanrajang mangké.pinethuk Ki Gedéng Grudug. hora tlatén handulun[n]é. nama hurang Gedéng Grudug. tan wonten hasor hunggul[l]é. 50 (103. 33. hapa Wangsakerti kowé. Jaka Patuwakan hingwang. gitik[k]i sira wong wétan. 34. ginanti hanggén yuda. Léja hatetanya wahu. Palariyan jelma negri. bala Rangin mawih Pecung. 32. wong yuda hudag-hudag[g]an. Paksa wan[n]i sira babi. Ki[ng] Léja nulya hatan[n]ya. hurang sén[n]apatin[n]a. 35. payoh gentén lawan hingwang. ketambuwan Jawa Wétan. 937) raméh surak[k]ing bala. nu baris naliyan siya. samya surung sinurung[ng]an. wani mapag yuda ningwang. di wétan heker ditéyang. Hanulya nerajang wani. “Héh sapa Sunda siréki. ningali kang raka perang. nulya pin[n]aran hénggal. 151 . Jaka Patuwakan mangkin. péngén hangrasan[n]i hingsun.” 36.

hiki Kandar sadulurnya. “Hampun Patuwak[k]an paman. 40. hénggal cinandak nulya. hanggén medang hora tata. sor duwur pandén pedang. hénggal cinanda(k) hing bala. hora wan[n]i paman mangké. “Duh paman Léja (ja)ndika. “Héh Patuwakan sira. datan pasrah pan medang[ng]é. dudu prajurit siréku. dén hikal pinuluh bayu. nyata hurak[k]an berandal. 938) 152 . nyata prajurit pinunjul. kasilib hing pan[n]ingal. kalih Patuwakan //mangké hang ngasta bendhak bedama. 39. 50a (104. Sarwi hasesambat nangis.Ki Léja hamedang sigra. kaya wong kemaruk mangké. Léja dinesek perang[ng]é. Patuwakan sabda lirih. Kandar mapag hing yuda. Léja tan bis[s]a hobah. wong tarun[n]a sakti punjul.” 37. tur sira maksih tarun[n]a.” Tan kiyat Bagus Kandar.” 38. Jaka Patuwakan mangkin. Coba sun tanding lan mami. tinitir hanggén[n]ya medang. pan sampun hayun hayun[n]an. sayang hanggreget tingalnya.

hakondur bala hing Pecung.” Jigjakerti matur manggah. Siniking putra nun pamit. nulya surup baskara. karun[n]a sesambat[t]ira. Ngandika Ki Wangsakerti. hora wan[n]i paman mangké. “Rama sampun cilik manah. Ki Rangin nulya humatur. gumuling han[n]a hing kisma. 42. Jigjakerti Majalaya. sun pasrah[h]aken yang hagung. Nulya majeng Bagus Rangin. 153 . Sarwi krun[n]a sambat néki. “Haduh Bagus hampun paman. Jam nenem béndé tinitir. bade majeng hing payudan.” Ki Serit ngrangkul putran[n]é. “Duh putra welas hing wang. sarwi hambakta bebandan. hananding Rangin siréku. 45. Kyahi Serit hangandika. “Héh hanak kul[l]a sedaya. bala Pecung saya kathah. 43. kaya hapa tingkah hingwang. supaya mapag yuda. muga mental[l]a hing yuda. pun sirang baris Rangin[n]é.sinabet penjalin wulung. bésuk niki sun pajun[n]é. héng[g]al tinalanén Kandar. 41. 44.

nulya tinalén[n]a héng[g]al. 48. pada rebut[t]en hing yuda. kasaput kabujeng sore. 154 . 49. //Majalaya pernah kami. tin[n]a kulit huras tulang. ki Grudug mapag yudan[n]é. Ki Gedé hing Majalaya.” 46. hing bala Rangin hika. Pan nu baris nanding siya. binanti(ng) kantaka wahu.” Nulya campuh hing ngayuda. Nulya majeng Jigjakerti. binanting nulya kantaka. sumbada gedé tur duwur. wis jamak[k]é hingsun lampus. kasaktén nanding paguh man[n]éh. Majalaya dén talén[n]i. pan sami sampun pethuk[k]é. Grudug nulya dén candak. Bala Pecung miwah Rangin. papag[g]en han[n]ang payudan. nulya Rangin hatetanya.hasesumbar hing payudan. budal baris sedaya. “Héh hiki Rangin haran[n]é. surak lir rengat[t]ing wiyat. “Héh sapamapag yuda. saba paran handon lan[n]ang. 939) 47. Ki Rangin hanyandak sampun. kami Jigjakerti ngaran. 51 (105. hanulya mesanggrahan. surung sinurung hing yuda.

ki Serit nulya hamethuk. hécagén[n]é cinatur. 53. dikinten //musuh praptan[n]é. 940) 155 . sangking lér kelangkung kathah. dipun kinten musuh teka. kang putra Patuwak[k]an. Hapes tan mental [l]ing jurit. musuh Rangin digdaya. karan[n]a masih tarun[n]a. dumarogdog tampi serat. semu bing[ng]ah hingkang man[n]ah. bakal priyén tingkah hingsun. kajodi putra kalih yé. 54. nawal winahos sigra. Rangin sakti mandragun[n]a. kaya priyén polah ningwang. Mangkan[n]é ki Wangsakerti. 51. 52. Wunten baris[s]an kang pra(p)t[t]i. 51a (106. binuka nulya dén dulu. sapratapané hingkang putra. 50. ki Wangsakerti hakagét. kelangkung susah [h]ing man[n]ah. nulya wonten mantri prapta. kantun satunggal putran[n]ya. langkung melang hawak[k]é. “Duh putra ningsun nyawa. Ngaturken srat tinampi. hungel[l]é wahu kang surat. “Katur layang pun rayi. gégér[r]é tiyang hing jaba. “Duh mas putra ningsun kulup.

serat[t]é kadang kahul[l]a. hateng[g]ah hidin[n]é kakang. sing Darmayu pun[n]ika. Yén Kang Raka mangun jurit.” Lajeng budal sakancanya. Ki Wangsakerti gumuyu.” Dalem Pegadén harinta. Nulya matur Wangsakerti. 55. rayi Dalem sing Pegadén. rayi dugi gegancang[ng]an. katrima nuwun rinta.hingkang saweg mangun yuda. 56. mila sanget rayi nuwun. rayi Dalem sing Pegadén. boten mawi kabar wahu. “Duh bagéya sarawuhnya. 57. 156 . kasuwun kakang pinanggya. bekti rayi hingkang ngantos. 58. methuk wahu hingkang sém[m]ah. marah hénggal hingsun mapag. Setrokusuma harinta. kabujeng hamireng warta. “Haduh bagja putran [n]ingwang. Sira Patuwakan mangkin. tumut nyambung hing ngayuda. kalih pelariyan wétan. hingkang rayi jagi mangké. sampun hangdadosken manah. Nuwun kabar surat rayi. pinanggya suka kelangkung. raka Wangsakerti mangké. sasalam[m]an ngatur[r]i lenggah.

langkung bing[ng]ah man[n]ah kakang. mapan Jaka Patuwakan. angandika hing mantrin[n]é. hamajeng hing ngarsa wahu. kaya hapa hing rupanya. sinonjé kang hanang kanan.kados pundi yuda[n]nipun. tinarétés hinten mirah. Dén hampléh duhung ngiréki. nulya dangdos dalem mangké. hingkang sugih dipun rayah. cakep gagah pideksa. gawé rusak hing wong hakéh. Karo pelariyan Rangin. hanganggé raja busan[n]a. Nulya humatur haris. sami kénging tinalén[n]an.” Manembah hana hing ngarsa. dalah putra kalih hulun. hénggal matur[r]a baris[s]an. kang pengkuh gegaman[n]ipun. kranten kang maju yuda. nganggé kuluk sutra wungu. 60. hénggal tinangkep berandal. 52 (107. “Héh mantri ningsun sadaya. hingsun hameton[n]i yuda. kepalan[n]é hingkang medal.941) 157 . 62. 61. sarawuh[w]é rayi mangké. 63. pelariyan sangking wétan?” 59. Sumanggah rayi hatur[r]i. Wangsakerti matur haris.

dalem hangandika harum. badé majeng hing prang pupuh. kasoran hing yudabrata. hawit déréng majeng mangké. tak pasrah[h]aken yang sukma.“Hanuwun matur deduka. mangka sampun kapiharsa. 52 (108.” Nulya Patuwakan nembah. 65. 2. DURMA 1. sangking panuwun putranta. hawit putra déréng medal. balasan siyaga surak kadya hampuwan. héh kulup sakarsan[n]ira. Wangsakerti hanyambung[ng]i. Wangsakerti putranéki. jaya haputra yudan[n]é. kedah dén turut[t]i rinta. 942) Nulya medal hing Jawi hamapag yuda. bendé tinabuh nitir. “Duh rayi leres putranta. hiki haran Jaka Patuwakan hingwang. “Rebut[t]en bala Rangin. Jaka Patuwak[k]an mangkin. rama sampun medal mangké. 158 . hananding Rangin yudanya.” 64.” XIII. sangking harsan[n]ipun rama. gampil lamun putra sampun. Pan [n]ingsun hidin[n]i kaki. hapan sesumbar. kang putra mundur sing ngarsa.

hing putra Patuwakan. Mengko dingin tanding[ng]en bahé lan hingwang. musuh lan hingwang. 4.hanang Rangin prawira. 5. Wangsakerti nama. kon mapag yuda[n]ningwang.” Patuwakan hamangsul[l]i. 6. Mapan raméh surung-sinurung kang yuda. Rangin sinépak nuli. hanulya mapag Ki Rangin. nulya Rangin nyandak. tiba kasingsal. hing Jaka Patuwakan. héman maksi(h) tarun[n]i. Patuwak[k]an radi sayah [h]ing ngayuda. tyang kalih hangagem keris. hujung bedama. mapan sami saktin[n]ya. Patuwak[k]an nadahi. Sira sapa wong hanom mapag hing yuda. manggih tanding hing jurit. Rangin Patuwak[k]an. raméh surak[k]ing baris. sapira saktin[n]iréki. hayun[n]ayun[n]an. haja sira mapag jurit. dalem hangganti mangkin. 159 . “Héh putra lirén[n]a dingin. 3. nulya tanya Ki Rang[ng]in. sarwi pangandikan[n]ya. rama kang mapag.

10. Hora wirang kaya rupa mukan[n]ira. kanggo mangan hanak rabi. sareng miyarsa hamiréh medaling wuntat. jeneng Wiralodra. haku kang jaga sira. sangking Darmayu dingin. “Ketambah[w]an Pegadén Dalem wak ingwang. dalem majung jurit. saban des[s]a rinayah. kang dadi berandal. Dalem Darmayu mami. sukur subagja. Setrokusuma hingwang kang ngolét[t]i buron Rang[ng]in. wong gagah sira prajurit. 160 .” 7.yudan[n]é musuh Rangin. Nulya bentak Rangin hawecan[n]a sugal. “Sapa hanggenten[n]an[n]a. mungkur[r]a sun talén[n]i. harep nangkep hing siréki. gawé lan[n]a ting tiyang. 943) 8. 52a (109. Rangin hatetan[n]ya. hanjing berandal babi. hing tembé katemu hiki.” 11. Mapan hingsun masih pernah nak sanak. 9. ngaku bagus[s]an. kaya bé…patya?” Dalem nulya mangsul[l]i. buron nagara. sahumur hangrusuh[h]i.

15. pan Setrokusuma. Haningal[l]i Dalem Pegadén pan sira. hénggal hangnyandak. hingsun haran ki Serit. bener mapan sira. bala Pecung kalih Rang[ng]in. harep nalén[n]i hingwang. Rangin pan hora gil[l]a. nulya nerajang wan[n]i. Nulya majeng Ki Serit hing rananggan[n]a. Wangsakerti siréki.“Dalem Sunda siréki. “Sapa mapag yuda. hingsun pan hora wedi. binanting hical Rang[ng]in. Kabener[r]an Serit yuda kambi hingwang. 14.” 12. Datan wonten hingkang kasor[r]an ning yuda. hantara hatmaja redi. mapan pada saktin[n]ya. mapag jurit hing siréki. 13. haningal[l]i hing siréki. lan sira sapa. kang wasta tiwik[k]rama. 161 . ningal[l]i hingkang Gusti. hanggon[n]é mapag yuda. Wangsakerti pan hingwang. raméh tiyang surak. surung-sinurung sira. coba majuwa. nulya watek kang haji. Wangsakerti ngedal[l]i.

53 (110. Nulya campuh perang ngadu bedama. hénggal mangjuwa. Samya campuh tyang yuda dadi satunggal. Serit pan sring tiba. 944) tuwa karo kaki-kaki. //pan kaki sami kaki. Ki Rang[ng]in hasring niba. hang[ng]adu bedama.” 16. Bagus Rangin lan Dalem Setrokusuma. hayuh majuwa. perang pan mébéding baris. bala Rangin hangebyaki. “Héh Serit pan sira. ngungsi hing Krawang. 19. Bagus Rangin ninggal baris. nulya malajeng ngoncat[t]i. 162 . gumuling han[n]ang hing kisma. balan[n]é hakéh mati.” 17. Ki Serit musna. 18. ngadu pucuk[k]ing bedama. ruket pucuk[k]ing keris. runcing-rinuncing mangkin. sami kuwel[l]ing jurit. yén héstu sira prajurit. Nulya majeng candak-cinandak kang yuda. musna datan karuwan. Wangsakerti lan ki Serit. hibur kathah hing jalmi. Rangin ngoncat[t]an[n]a. semu sesambat. “Héh Serit wedi mati.

gup[p]enur jéndral mangkin. habdi gong saktén[n]ira. Putra matur duka rama hing purugnya. dados satunggal. dén talén[n]ana. héh kakang Wangsa. kados campur sétan. Ki Serit lan Rangin[n]ya. Rangin bala berandal. 945) 163 . 24. Nulya Wangsakerti ngandika teng kang putra. Kyahi Dalem ngandika haris. 53a (111. Ki Gedéng Gintung nyandak[k]i. Gintung Patuwak[k]an. pan datan kacandak mangkin. suka bungah kang [ng]ati. hi[ng]cal Serit lan Rangin. Sareng telas sami pethuk pinehtuk[k]an. 21. hing ngendi paran[n]éki?” 23. Léja sun kirim mangkin. kempel dados sawiji. hilang tan kruwan. Grudug Majalaya mangkin. “Putra kaliyan kang rayi. kalih Patuwak[k]an mangkin. Wangsakerti lan dalemnya. samya numpes bal[l]a. perkara berandal. 22.20. Dalem Setrokusum[m]a pang[ng]amuk[k]ira. balan[n]é tiyang Rang[ng]in. Hingsun kirim hing Betawi loro brandal.

rinanté hingkang sekalih. Bagus Léja [nn] ika. Bagus Kandar larih[h]i. kathah hingkang lén mangkin. turun[n]an[n]ira. hical jero wana. sangking turun bagus[s]an. han[n]ang Gustinya. silem han[n]ang jaladri. Rangin Kandar Léja Serit. 28. hing[ng]iring[ng]aken mantri. kran[n]a buron nagara. saparan-paran mantri. Jigjakarya. Mila bénjang turun[n]é para bagus[s]an. badé wangsul langkung hajrih. 26. sang Pegadén nagara. Léja lan Kandar. miwah Jayakareti. 27. mantri kang sekawan. sinebrak rantén[n]iréki. kinirim hing Batawi. pan sarta hing wétan. Surakerti Jayamanggala. kang bakta langkung susah. nyabrang hing Citarumnya. bebandan mlajeng wanadri. Sampun pangkat lampah[h]é buron nagara. 25. 164 .menurut hing préntah. Kacarita hilang sajron[n]ing samudra. Langkung susah bebandan hical sadaya. nulya malempat.

hatiyati yayi kari. //hing Darmayu kumpulnéki. berandal halarih[h]i. sinten raka kang ngemban[n]i. pan kakang bakta sadaya.” Ngrangkul wahu kang rayi. duginya hanang nagara. putra pan garwa rayi. muga rayi kahidin kondur kakang. miruda sadayan[n]ipun. nagari Darmayu raka. 2. toya waspahan dres mijil. kaliyan Dén Ngelan mangkin. Kakang patih mapan séda. Dén Karta lan Dén Wel[l]ang. “Kakang wangsul léntas[s]a. hawit rayi tan[n]ana hingkang katingal. sareng rayi mukting riki. Dén Karta hangandika. Kaliyan Rayi Dén Wel[l]ang.pelariyan duk dingin. 946) 165 . “Hing kadang-kadang[ng]iréki. 54 (112. sadaya karun[n]a wahu. XIV. 3. miwah sadaya prajurit. lir sinebrak linolos pulung[ng]ing 1. SINOM Mangka lampahnya Dén Karta.” Hangrangkul karun[n]an[n]éki. karun[n]ang sesambat[t]ipun.

hanang soldat kang hajaga. 166 . nulya hatetan[n]ya haris. bade kondur sapuniki. mengko kakang jaluk hidin. Radén //hingkang dugi. sumur tinutup pantes[s]i. “Pan bade karsa punapa.” Nulya manjing Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. tabé sobat kang jaga hing Palim[m]anan. 4. duh yayi dén lilan[n]ana. kados pun[n]apa kang werni.manah. nulya lajeng lampah néki. mengidul margi lampahnya. Kartawijaya hakampir.” 5. Radén samya hangrawuh[h]i?” “Kula bade ningal[l]i. hanang sinuhun Gusti. hingkang dipun jagi wahu. haja nangis hari mami. 7. 947) 6. 54 (113. “Duh rayi Dalem hangrinta. duging Palimanan mangkin. hing Gragé kanjeng sinuhun. Membales kumendan pes[s]an. papali dadi bopatya. miwah Radén Welang wahu. Dumugi hing pintu jaba. dateng kumpen[n]i pun[n]ika. “Radén niki kang dijaga. samya ngiring putra garwa miwah kadang.

” Sersan mangsul[l]i sabda. pan soldat hanahan sigra. 9. hambuka tutumping wes[s]i. Sadinten gén yudabrata. ngangseg hing kuthan[n]éki. héng[g]al pas[s]ang mariyem soldat sadaya. pan bade kahul[l]a buka. hibur gégér hing prajurit. kathah soldat hingkang mati. nulya tinutup bénténgnya. tan hun[n]ing hisin[n]é niki. bala Radén Karta mangkin. ngandika Radén Welang wahu.” Radén wecan[n]a haris. Radén Welang badé maksa. haduh Radén nuwun tan hidin kahul[l]a. yén mengkon[n]o percumah sun jaga hingwang. Radén Karta nyandak sampun. héh sobat pan maksa hingsun. pan datan wanton hambeka. “Sobat permisi puniku. kula tahan sobat mangkin. hanyandak Dén Welang mangkin. hing soldat dén balangna. sinurung medaling jawi. yén tan wonten hidin Gusti. timbalan gupenur mangkin.duka his[s]in[n]é punapa. 167 . pun[n]apa hisi niréki. Karana lar[n]ang[ng]an hika. Dén Welang sabdanéki. 8. 10.

“Loh babi Cirebon hanjing. Mangka sampun cahos ngarsa. kang[g]é Sultan Cirebon mangkin. 13. srat sampun katur[r]ing Gusti. nulya damel srat hénggal. repot han[n]ang Betawi. wis haja sira //temen[n]i. serat binanting tumuli. becik hingsun pada pangkat hénggal hénggal. lajeng cahos Gusti Sultan. hanulya hénggal binuka. 948) “Héh sanak prajurit hingwang.” 12.54a (114. lampah[h]é berandal wahu. dugi hing Gragé nagari. Mangkana sersan kumendan. soldat hingkang bakta. nulya wangun serat mangkin. “Sedaya hatur mangkin. 11. mapan srat binakta sampun. han[n]ang Palimanan loji. kanggé kondur kyahi Gusti Gupernur Jéndral. Jeng Gusti ngandika haris. Sén[n]a Surapersanda. Pan lajeng hing lampah[h]ira. mahén kurang ngajar hiku. gegancang[ng]an lampah néki. mapan jaluk katangkep[p]é 168 . Radén sang kakang bujeng wahu sakitan. sanget getun[n]é hing manah. hical sangking jero buwi.

ngandika jeng sultan mangkin.” 16. sarta hangandika wahu. serat[t]é sampun winaca. hapan hiki gawanen pan surat hingwang. samakta kaprabon yuda. serat tinampakna haglis. 169 . “Hamit Gusti kahul[l]a bade hapangkat. 17.” 14. tiningkem sratiréki.parusuh[w]an. hanang nagara Betawi. 55 (115. samakta kaprabot jurit. hénggal[l]é pan sampun prapti. lan gawa malitér mangkin. hanang loji Palimanan. Sampun medal han[n]ang jaba. hing Cirebon Sultan wahu. héh hajid[d]an litnan mangkin. hingkang ngrasak Palimanan. hakéh soldat pada mati. lah Dén Wel[l]ang miwah Kartawijayanya. Kanggo hing Cirebon Sultan. srat mapan sampun tinampi. kang wisma nihaya mangkin. dateng Gusti sultan wahu. 949) 15. nangkep ponggawan[n]éki. “Hingsun hora wan[n]ing jéndral. Radén Karta lan Dén Wel[l]ang. patang puluh kang pipilih[y]an. ngempel[l]aken kang prajurit. hing hajid[d]an lan létnan.

holiya béla siréku. Hananging yén sultanan[n]a. pun kadada sajron[n]ing galih.” 20. ngukuh[h]i tan jisa hingsun. pan durung tak bales[s]i. pin[n]ariksa ngarsan[n]éki. malah nagara hingwang. hing Metaram nagari. hangrangkul ponggawa kalih. nadah[h]i hing yudabrata. Bésuk tekang Batawiya. Karta miwah sira Wel[l]ang. lan hiki kasung paring[ng]i. sun[n]idin[n]i hapa hingkang dadi karsa. 950) 170 . handres mijil toya waspa. Si Kléwang karo Si Dumung.karana dadi san[n]unggal. Gupenur Jéndral kang neda. nurut[t]a pasti yang widi. //Nulya tinampan[n]é hénggal. pan dén paksa seja dén jaluk Metaram. 18. pan karo sinuhun Gusti. hora kuwat nagri mami. ngamuk[k]a hanang Batawi. malah srat sampé sahiki. hing Carebon mapan hiki. karo wasiyat mami. 55a (116. wis pinasti hing yang hagung. 19. pan ti hingsun hangamuk hambral nagara. hametik taling[ng]an[n]éki. Tumurun sing palinggih[y]an.

mapan ningsun durungna. XV. 171 . tan kawuwus sahaning margi. hanulya cahos hing ngarsa. sampun dugi hing Betawi. gupenur pamundut néki. kaya hapa hanggon ningsun sira hutus. sampun katur kapongkur wonten hing ngarsa. lampah[h]é kang bala hambral. Gusti nuwun dén hidin[n]i. “Litnan miwah sares[s]an. dén sampun tutas timbal[l]an. hing Jéndral Gupenur mangkin. ponggawan[n]ipun sekalih. manjing han[n]ang dalem hagung. “Héh ponggawa Batawiya. “Sumanggah nuwun hidin Gusti. datang Tuwan Gupenur Jéndral Batawi. nulya matur sersan wahu. kang dén dakwah saréki. nulya kondur ponggawa binekta hénggal.Dén Wel[l]ang miwah Dén Karta. 22. Sampun cahos han[n]ang ngarsa. PANGKUR 1. sinelek lampahnéki. Gagancang[ng]an lampahnira.” Nulya sultan ngandika hanang sares[s]an. hanulya hénggal ngandika hasru. 21.

Gupenur Jéndral pan haku. hamengku tanah Jawa. murbéng rat han[n]ang Metaram.” Karta miwah Radén Welang. Paduka kuwas[s]a hagung. nanging sembran[n]é hing karma. pan lin[n]adang hing Gusti hagung sinuhun. kuwas[s]a Pulo Jawa. kalipatul[l]ah pan hadil. kirang titi pangagung[ng]é bangsa Wlanda. jeneng ponggawa pukulun.pan berkah Gusti paduka. puniki ponggawin[n]éki. 5. hamit bade hamangsul[l]i sabda habdi. 2. dedukan[n]é lir kadya tiyang baring. 4. hapa kowé hora miring hing pangrungu. lan duging Batawiyah. Durung kawula dén priksa. gumujeng humatur néki.” Langkung lingsem gupenur jéndral 56 (117. 951) 172 . ngisén[n]i ratuning hambral. hapa kowe bran[n]i marang jeneng mami. dipun suguhi pepisuh. sembran[n]a ratuning hambral. hora nganggo tata titi. Loh hanjing binatang gil[l]a. 3. mapan kul[l]a bade handon lampus hulun. “Héh Tuwan Gupenur Jéndral.

(halun-halun) hing Batawi. Kyahi kuwu welas handulu. Nulya dipun bakta medal …. wani ngrus[s]ak sampamati saradadu. hanuruti darah panas. 952) 8. pangkat-pangkat hajidan sresan pan hubrus. krana kowé melang[g]ar. Nulya jéndral hangandika. pan ningsun drél sampé lampus. “Héh ponggawa haku trima salah hiki. tapi tan hadil pan[n]ingsun. nulya binaris[s]an hagung. dateng wayah kang sekalih dipun 173 . kul[l]a nrima kang dadi kersa sanghulun. nulya tyang kalih pinas[s]ang. Sahiki kowé nrimaha. han[n]ang bénténg Palimanan. 6. //”Hé bangsa Welanda.sang[ng]ulun. Pan peteng kénging sundawa. Dén Karta miwah Dén Wel[l]ang. tan katingal hingkang dipundrél mangkin. 56a (118. nulya ngrasuk manukma. 7. sumanggah pun[n]apa karsa (ang)lampah[h]i.” 9. hangras[s]a pan kurang titi. hukuman[n]é malitér bangsa (wala)ndi. limang los[s]in mriyem néki. perlu hapa kowé (wa)n[n]i.

temahan gawé rusak hing nagara. sangka panukma nira. datan terang haningal[l]i. musuh kathah wicaksan[n]a. 11. mapan perang kaliyan kanca pribadi. hapan dipun hamuk kathah kang ngemas[s]i. Kathah resak para hambral. nulya medal kaki kuwu. 12. Pinasti hingkang salira. hajalira han[n]a hing Betawi mangkin. ningal[l]i rusak[k]ing bala. Radén Wel[l]ang dedengkotté wahu. sing pungkur kang dén harah. sekalih ngamuk Welandi. pan cukup pun bél[l]anana. hakéh perang pinerang[ng]an kancanipun. “Loh wong Cirebon hanjing sira. 10. tan nulya pin[n]asang wahu. nulya mendhet senapan[n]ya. héwed pan bala habral.” Hanulya Jéndral Gupenur. luwih séwu hingkang mati.hukum. 13. “Héh wayah ku sekalih mapan siréku. Baris malitér sadaya. langkung susah balan[n]ipun kathah lampus. mimis hinten jimatnéki. 174 . hing Betawi langkung hibur. kran[n]a pasti bakal pejah.

17.k hambral[l]é wahu. gupenur hamasang sigra. nulya mburu dén[n]ing .. nagri Cirebon hingsun jaluk. dumugi pejah[h]ing siti. sahiki kowé dangdan[n]a. nulya kuwandan[n]é wahu. kanggo ganti resak[k]é pan bala haku. kénging nulya hangemas[s]i. dén candak kuwandanipun. mundur malitér kang baris. Dén Karta haningal wahu. Kartawijaya hika. Wasiyat keris pan musna. Hanging gupenur Tuwan.katerangan bakar pis[s]an. Si Keléwang kaliyan si Dumung mangkin. wewengkon kasultan[n]an. hing para bala hambral. musna hical kuwandan[n]ya. 15. nulya hambral hamburu kuwandan[n]ipun. 953) 175 .” 14. sanget sus[s]ah resak[k]é para pong[g]awi. bala soldat malitér hingkang pinilih. haku hora trim[m]a resak[k]é balaku. “Hangajid[d]an sares[s]an. samakta kaprabon jurit. Hanggawa hatelung kapal. pejah tiyang Radén Wel[l]ang mangkin. 16. hanulya ngandikan[n]ipun. 57 (119.

19. Sares[s]an hajidan medal. sanget gupenur jéndral handulu. Radén Pekik miwah Dul. nén majeng hanempuh jurit. 21. nulya humatur gupenur. Raméh hanggén ning yudabrata.” 18. Martakusum[m]a. mapan sultan sampun hamiyarsa warti. kacrebon[n]an siyaga. pangéran maju hing pupuh. wangun pesang[g]rahan mangkin. hanulya siyagi wahu. Samya gégér tiyang kathah. mangka babar layar[r]é Cirebon rawuh. sarta Pangéran Logawa. Panjunan cahos hing ngarsa. Mertasinga para pangéran[n]é rawuh. 954) 176 . 57a (120. 20. Pangéran Surya Kusuma. sedaya sabil hing jurit. Sareng hambral ningal[l]an[n]a. bala hambral kaliyan Cirebon mangkin. ponggawan[n]é ngresak mami. nulya maréntah baris[s]an. bala pangéran hambaris. lamun bal[l]a pangéran hambaris[s]i. wong Cirebon hanglawan. sampun mentas hing darat[t]an. litnan kornél seres[s]an nulya baris. baris lahut baris darat. hantawis sapitung ngéwu.péndék haku hora trima.

sing Metaram handugén[n]i. 23.22. Sadaya samiya budal. Natabumi Buminata. Sanget dukan[n]é jeng sultan. sampun dugi negara. sampé silem darat[w]an. mapan nengah kapal[l]ipun. nulya mentas pelabuwan. hang[ng]ungsi sinuhun Gusti. Sareng pethuk kalih sultan. sultan nulya ngandika rum. mapan ngulug hing Carbon negari. 25. Kanjeng Pangéran Natabumi. Samya burbar bala hambral. wonten napa sampéyan karun[n]a wahu. Jeng Pangéran Purobaya. hing Cirebon jumarogjog cahos ngayun. pan kagét sultan tumingal. hatur pan sedayan[n]éki. Metaram Broboya mangkin. nulya mréntah hing tumeng[g]ung. “Héh kadang kul[l]a jéndral. hamiyarsa hatur[r]é gupenur mangkin. numpak kapal babar layar hing jaladri. hing margi sampun kapungkur. kén ngembel[l]aken bala. 177 . sén[n]apati tamtam[m]a pangéran wahu. 24. humatur Gupenur Jéndral. samya ngungsi hing Metaram jeng sinuhun. 26. tawan tangis hing ngarsa sinuhun Gusti.

“Bagéya kadang kul[l]a. hantuk dawuh Gusti sangking Metawis.58 (121. tampin[n]ipun saban santun.” “Habdi matur kang sayekti. mung[g]uh negri paduka. mapan sapos wiyar[r]é pesagin[n]é wahu. dawuhipun Gusti sinuhun Metawis. tan hangkat kul[l]a pan katur. 27. ngemban timbal[l]an sanghulun. sing Metaram sedaya kang samya//rawuh kados hangemban sukarya. sangking dawuh[h]ipun Sultan Metawis. Sarta pansiyun paduka. pan pinundut sedaya dateng sanghulun. 29. bulu bektin[n]é punika. kran[n]a negari kul[l]a. sarta kaparing[ng]an tanah. Gegancang[ng]an cahos ngarsa. 30. 178 . kanggé kadang-kadang Gusti. sultan tan bis[s]a ngandika. maksih jeneng sultan Gusti. nameng Gusti kalanggeng[ng]an. habdi hanglados[s]i wahu. Men[n]awi Gusti tan trim[m]a. 955) lajeng ngandika prabu. 28. mapan habdi siyagi hing perang pupuh. “Duh kadang-kadang kahul[l]a. sagending bala paduka. hantara ngandikan[n]éki. tigang nambang kanom[m]an miwah jeng Gusti.

” 32. Lajeng gupenur hatampi. kondur han[n]ang Metaram kang negari. 58a (122. pasrah[h]é Sinuhun Sultan. sampun katur hing sanghulun. nuwun hidin bade kondur Gusti hulun. handérék karsan[n]ing Gusti. Lampahnya budal sadaya. Sareng dawuhipun sultan. hing Gupenur Cirebon nagari. nulya sukan nampéken[n]a. 956) //XVI. hanimbal[l]i Wiralodra. “Yén makat[t]en Gusti kul[l]a. badé katur hing Jeng Gusti. pan sangking dawuh paduka. 179 . KASMARAN 1. Sampun rawuh hing Betawi. nulya sami pamit kondur. 2. gupenur kalih sultan. sanget bingah jeng Tuwan hagung gupenur. 31. hing Cirebon masrah[h]aken negari. wangsul han[n]ang Batapiya. Pangéran Probaya matur. pasrah[h]é hingkang nagara. mugiya dén hatur[r]en[n]a.mapan halit hing Cirebon wengkon[n]ipun. sesampun[n]é sesiniyan. perkawis nagri Cirebon.

dipun jagi hing Yang Manon.” Dalem datan wecan[n]a. “Slamet dateng Dalem rayi. 4. hanak putu sareng mulya. sangking panjunjung rinta. sangking sih pitulung Tuwan. kanggé hangrangsom soldat.hing Darmayu negarin[n]é. hénggal cahos hing ngarsa. mugi dén jurung Yang Ngagung. Lan kakang ngatur[r]i huning. sedayan[n]é kul[l]a hétung. dugi hanak putu Tuwan. miwah sakéhéng pekakas. sanget hanuhun Yang Hagung. 3. hanangkep berandal mangké. kasuwun sarébu mangké. 5. tigang das[s]a rupiyah[h]é. Hamengku hing Pulo Jawi. nulya hangandika jéndral. mung[g]uh sangking perbantuwan. ngarabbi hing kamulyan. sawelas nambang kang harta. Gunggung sadayaning duwit. dateng paduka gupenur. kumeduh rayi habayar. 180 . 6. ya trimakasih harinta. hing rekoning dedahar[r]an. hawit datan gadah wahu. muga lulus[s]a hamurba. kabendan hantuk kamulyan. sampun rawuh Batawiya.

tanah habdi hing Darmayu. salesih tanah tan darbé. mapan tanah gaduh hingwang. dugi han[n]ang dalem[m]ipun. Hanulya humatur haris. 181 .harta hingkang nenambang[ng]an. 1610. nulya pamit dalem wahu. hanglungguh hing kadalem[m]an. punapa karsa paduka. nulya dugi negaran[n]é. 10. Nulya Dalem ngandika ris. Tuwan Gupenur Jéndral. hanang surat tanda tang[ng]an. héstu habdi datan duwé. mung dalem nékina hiku. harta hingkang nenambang[ng]an. hapa hingkang biyasa.” 59 (123. 7. nameng dalem tetep bahé. “Duh Paduka jeng[ng] Atuwan. pan wangsul han[n]ang negari. pinapag hing ponggawa. babar layar hing bahita. 11. //Gupenur ngandika haris. hing Tuwan Jéndral punika. nameng katur sedaya. 957) 8. Nulya dalem néken mangkin. hing Darmayu pan negara. kadang putra taken warta.” 9. “Dén mangkon[n]o sun tarim[m]a. hing Darmayu kagungannya.

miwah Nyayu Lotam[m]a. 958) 182 . Pambajeng Radén Marngali. pan kanggé hongkos[s]i perang. Nyayu Pungsi sekawan[n]ya. hingkang kantun Radén Brestal. gadah mertuwa durjan[n]a. nanging dalem pan samangké. hingkang gadah rinampog[g]an. Hanjani wuragil[l]ipun. Nulya dalem kénging sakit. langkung susah hing kawul[l]a. hing Tuwan Jéndral Betawi. hingkang gumanti putran[n]é. Bagus Kalis Bagus Yogya. pan kadang putra karun[n]a. nulya Nyi Wiradibrata. pan datan lang[g]eng ring bénjang. dalah dumugi hing ngajal. hanulya sesunu wahu. 12. 15. 13. nami[n]nipun dalem wahu. hing hanak putu sedaya. Wiralodra peparab. Dalem mapan sampun lami. pan negara dipun rampas. hangrerampog panggotan[n]é. pitu tunggal hingkang putra. wis karsan[n]é hing Yang Manon. 60 (124. hora robah biyas[s]a. lungguh dadi dalem wahu. maksih kateteppan nya nama.“Hah kadang pan putra ningwang. 14. Nyayu Hempuh katigan[n]é.

” 19. dén hunjuk lebet[t]ing surat. mélu néken kakang mangké. punapa rempug jeng kakang. Kang Raka ngrampog[g]i mangkin. Patih Singtrun[n]a mangké. konjuk Presidén Tuwan. hantawis dinten Jeng Tuwan. hing Cirebon pan negara. pan satingkah polah hipun. rerampog[g]an perayahan. tinangkep hingkang barang. nulya damel serat hénggal. 20. datan dén pradul[l]i mangké. Tan héman kawul[l]anéki. Nulya kakirimna haglis. pan durjan[n]a hangrerayah. 17. tiyang dados dalem nika. sanget wel[l]as hing kawul[l]a. “Duh kakang Mlayakusum[m]a. 16. pan humatur hingkang raka. bener yén mangkon[n]o rinta.Patih Singtrun[n]a wahu. hingkang dén rampog durjana. rawuh hing Darmayu mangké. rayi bade ngrekos[s]a. kados pundi lampah[h]ipun. dén kumpul[l]aken pan wahu. Cécég kathah barangnéki. hing Tuwan Presidén wahu. 183 . dipun rakrak sedan[n]am[m]an. Tan menda saban bengi. 18.

Tunggu putus[s]an negari sareng dugi kang putus[s]an. sanget susah manah hipun. 23. Darmayu hingkang nagara 184 . nulya dalem kikirimna. hingkang rayi hirén[n]ya. Mas Malaya Kusuma[nnya]. gupernemén hang kagung[ng]an. samya hajri(h) ningal[l]in[n]a. para durjan[n]a sekabéh. han[n]ang Darmayu nagara. durjan[n]a kathah kacandak. Jatibarang hing distrik[k]é. 22. pan jeneng kalékturipun. Singatrun[n]a Dalem patih. wedan[n]a miwah kaléktur. hantuk pangkat punika. Dalem Disowak namin[n]é.kang dén haku déning tiyang. Langkung gemah pan negari. 24. 959) 21. cécég salebet dén rekés. Wiradibrata pan wahu. datan[n]an[n]a perkaran[n]é. Wedan[n]a hangrangkep patih. dén hangkat dadi ranggah. 60a (125. hing kawicaksan[n]anya. hing Cirebon nagara. dén hangkat dadi wedan[n]a. dipuntahan tigang wulan. tan[n]ana sakéng durjan[n]a. jeneng jaksa hingkang nama.

hiku nipun Ratu Hatma. Hardiwijaya hasistén. 26. Cirebon Prayawigun[n]a. Nyahi Junéd héstri wahu. hanulya Nyayu Julék[k]a.Patih Singatrun[n]anya. Radén Karta Kusuman[n]é. miwah Sudirah nama. kawan nunggal hingkang putra. mapan gangsal hingkang putra. Pambajeng Patimah mangkin. Nyi Sumbaga putranipun. Radén Rang[g]ah putranéki. wuragil Nyahi Jumin[n]ah. wuragil Radén Madada. 28. pambajeng jeneng putran[n]é. wuragil Bratasuwita. hingkang héstri Nyahi Muda. jumeneng pangkat sedaya. kagungan putra tiga (?). Kaléktor putraniréki. Mas Demang Bratasentan[n]a. Brataleksan[n]a kakung[ng]é. 960) 185 . pan kagung[ng]an putra wahu. 61 (126. pan sanunggal hingkang putra. 25. sedaya pan putranipun. Radén Kartawijayéki. pan Radén Wiramadengda. kathah[h]ipun gangsal nunggal. 27. //pambajeng Biskal puniku. Radén Mardu harinta.

hanglenggah[h]i demang wahu. hing Lobener kademangan. 1813. Hingkang rayi putra héstri. Dadi demang pangkatnéki. Nyayu Jeni kuwu héman. Tuwan Pri jeneng[ng]é. 32. Mas Demang Lobener mangkin. Nyayu Sungsi lakin[n]éki. 186 . peparab Wirakusum[m]a. pambajeng Kertahudaka. hupas bom hingkang pangkat. hulu-hulu hingkang pangkat. nurun[n]aken putra wahu. 33. Muhada pan tukang timbang. kang gumanti kang putra. Kertahatmaja wuragil. Kertadipran[n]a hingkang nama. 31. 30. Darmayu pan dipun hérpa. Wiradaksan[n]a demang. Kang Rayi pan mangundriya. dé Marngali puniku. Kyahi jaksa sampun séda. Balu…Kalid hingkang nama. hanang Darmayu kota. Demang Bangaduwa mangké. hinggih punika kang tigan[n]é. Kertahudara pun[n]iku. distrik Paséban naminé. mlaya haja dadi demang. han[n]ang Sindang Kademang[ng]an.29.

satunggal[l]é lakinya. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 187 . Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Hanjani lakin[n]é mangké. Nyayu Lot[t]ama l[l]akinéki. Haran Jaka Kuwat. peparab Kertawil[l]as[s]a. Peputra nami Wiraseca. Bagus Yogya jeneng[ng]ipun. dadi demang Luwungmalang. Wirajatmika nama.hing Palumbon duk dingin[n]é. Sampé hanak putu Kyahi Belara Kyahi Belara peputra nami. Ngabéhi Wiraseca ngabébre peputra nami Kartawangsa Tumenggung Metaram. Gagak Kumitir hana hi(ng) Bagelén 3. Hé…Subrata nama. dadi mantri pangkatnya. jumeneng pangkat wahu. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 4. Mangkuyuda Tumenggung Metaram. Darmayu sabrang kulon. lara kelar kang duwé tanah hanang Kedu /Bagelén/ halaki putra Pejajaran. 34. Tumenggung Bagelén peputra nami 1. Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 2. Radén Lowan[n]a. Trus peputra nami. 61a (128.961) Hasal-Husul Wiralodra Sangking dalem kang damel nagari. hulu-hulu hingkang pangkat.

Lan katemu klawa Nyi Darma. Héstri Nyayu Hinten kang kagarwa Ratu Pulo Mas nami Perdinata 4. Radén Wiraseca 3. Héstri Nyayu Wangsayuda 3. Kakung Radén Driyantaka 188 . Radén Singalodraka Radén Singalodraka peputra 1. 1 kagungan putra 4 nami 62 (128. 1 ngelandrah ngolé… kali Cimanuk sawis[s]é katemu kali Cimanuk trus bakal hing ngalasan sabrang kulon Kali Cimanuk. // sawis[s]é lawas Wiralodra no. 962) 1. Radén Wirakusuma 4. Héstri Nyayu Wangsanegara 2. dadi nagara diharan[n]i Darmayu Nyi Darma kalih hilang hing sungapé kali Cimanuk. 1 waktu hiki … Bagelén 4. Kakung Radén Wirapati kang ganti dalem raman[n]é 3. Nanging Nyi Darma wong[ng]é hayu. Kakung Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Trus se… Nyi Darma kalih.5. Kakung Radén Sutamerta 2. Radén Jaka Kuwat 2. Kakung Radén Tanujiwa Sawis[s]é Radén Kerstal haliyas Wiralodra no. Radén Kumbabocor 3. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén kagung[ng]an putra 1. Kakung Radén Tanujaya 5. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca peputra 1. Radén Wirapati 2.

2 2. Kakung Radén Timur 3.Kang ganti dalem putran[n]é Radén Wirapati dijeneng[ng]i Radén Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Hajeng Hadiwangsa 11. Kakung Radén Benggal[l]a 2. Héstri Hajeng Patranaya Kang ganti dalem putrané nami Radén Sumerdi dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Hajeng Raksawiwangsa 7. Héstri Hajeng Wiralaksan[n]a 10. Kakung Radén Benggal[l]i kang kembar 3. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 13 1. Héstri Hajeng Raksawinata Kangganti dalem putrané nami Radén Benggal[l]a dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Kakung Radén Wiratmaja 6. Héstri Hajeng Sutamerta 8. 4 4. Kakung Radén Ganar 189 . Héstri Hajeng Wilastro 12. Héstri Hajeng Nay Wangsa 9. Kakung Radén Sumedi kangganti dalem 4. Kakung Radén Lahut 2. Kakung Radén Kowi 2. 3 Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra kembar nami 1. Héstri Hajeng Singawijaya 4. Héstri Hajeng Puspatarun[n]a 13. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon dapiyu 3 tahun lawassé lan kagung[ng]an putra 8 kathahé nami 1. Kakung Radén Wirantaka 5.

6 6. Kakung Radén Suryapati 2. 190 . 7. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 4 nami 1. 5 5. Kakung Radén Marngal[l]i Wirakusuma Demang Bébersindang 2. Singalodraka Dalem Darmayu sabrang kulon kagungan putra 1. Kakung Radén Kalid Wiradaksan[n]a Demang Lobener 7. Wiralodra Dalem Darmayu sabrang kulon sawis[s]é lawasna trus kasowak hora hana dalem lan kagungan putra kathah[h]é nami 1. Héstri Nyayu Hanjan[n]i mantri tanah 7. 7. 8. Héstri Hajeng Parwawinata Kakung Radén Solo haliyas Kartawijaya Héstri Hajeng Nahiyasta Héstri Hajeng Gembrak //Héstri Hajeng Tayub 62a (129. dijeneng[ng]i Singalodraka pangkat dalem no. Kakung Radén Suryabrata 3. 6. 963) Héstri Hajeng Moka sawis[s]é 3 tahun diganti malih hadiné kang dadi dalem nami Radén Benggal[l]i. Kakung Radén Yogya Kartawilas[s]a 8. Héstri Nyayu Wiradibrata dadi ranggah 3.3. Héstri Nyayu Hékasubrata Demang Hanjatan 5. 5. nami Radén Semangun hangganti dalem dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 4. 4. Kakung Radén Suryawijaya 4. Kakung Radén Kerstal Kang ganti dalem putran[n]é nami Radén Kerstal dijeneng[ng]i Wiralodra pangkat dalem no. Héstri Nyayu Suradisastra hulu-hulu 6.

(Hés)tri Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja demang Los[s]ari putra 2 1. Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksan[n]a peputra 3 1. Radén Sumarga Wirasudirga 191 . Héstri Nyayu Wiradibrata wékling 4. Radén Prawirakusuma (Ha)jeng Wira(di)brata rang[g]ah peputra 4 1. Radén Wirasaputra dadi demang 2. (Radén) Wirahatmaja 3. 2. Héstri Nyayu Sastrakusuma dadi jrutulis Demang Brengenyéber 3. Kakung Radén Wirasentika Demang Lobener 2. 3. 4. Héstri Nyayu Wiradiwangsa 2. Radén Perdata Wirahastabrata 2. Radén Wiramadengda héstri Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang peputra 2 1. Kakung Radén Prawiradirja Wiradaksan[n]a Demang Los[s]ari Demang Béhi Radén Wirakusuma peputra 4 1.9. Radén Madi Wirasomantri 2. Héstri Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilas[s]a peputra 2 1.

Ki Wiralodra …. serta sanak saudara …. …saya menulis. pada tanggal sepuluh. 4. besok (sampai) akhir.4 Terjemahan I. anak cucu Wiralodra. … dari mantri Haris. sedang senang hati saya. Alasan saya menulis. …hilang …. turun-temurun [ini] anak …. terus-menerus hingga putra …. (untuk) membuka bagian …. 192 . ada di Indramayu…. Tiada lain (cerita) ini dikarang. jam dua malam … waktunya …sebulan. sudah …langka. buku sejarah bupati. supaya sama-sama mengetahui. Kartadipranna. pada malam Jum’at legi sedang senang hati saya. dari sejarah kuna. …rusak.alur (cerita). 3. tahun seribu sembilan ratus.3. 2. SINOM 1. … dikarang nyanyian. supaya …. bermula ….

193 . tumenggung Mataram.. melihat sejarah. memaksakan saya mencari. . Wirasecapa mempunyai (anak). Itu nama lainnya. keturunan Wiralodra. minggu saya bepergian.. pemakaman pun dilihat. Rangga Bagelen .. berputra lagi. 6. …tumenggung. Tumenggung Gagak Pernala. tumenggung dari Mataram. 7. Larakelar asalnya. Panembahan Kiai Belara. (Kang)Jeng Pangeran Hadi….…sejarah dahulu. Lalu saya. laki-laki … putra Raja Pajajaran. (berputra) empat orang. 5. … … ia memiliki anak. mempunyai anak …. …Pringgandipura. berputra Ngabehi Wirasecapa. 8. lalu . …pernah datang (ke Majapahit)...mengantikan. (bernama) Kartadiwangsa. …sedih (melihat) rusak kuburan.

…negara.Bagelen…. oleh Gagak Wirakusuma berputra lagi Gagak Singalodra …. tiga tahun lamanya.. telah menghilang wujudnya. Yang sulung Wangsanagara. selalu yang terlihat melihat wujud tunggal . asal negrinya Karangjati. karena Raden Gagak Kumitir. meminta kepada yang kuasa. sareat serta hakekat. di dalam supaya menjadi satu. Tinggal … di gunung. tempatnya sepi sekali.. Tanujiwa bungsunya di Bagelen keratonnya Wiralodra karena sangat sedih (ia) sering bertapa. Dari Banyuhurip Kedu …. 10. [ia] berputra….. .diganti para bupati.. 9. putra dari …. 11. oleh Gagak Wirahandaka. hakekat dan marifat. 194 . Wangsayuda (mempunyai) adik perempuan Wiralodra ketiganya Tanujaya adiknya. (Tidak) tidur serta makan. tidur di tempat tinggalnya.

hingga tujuh keturunan. semoga akhirnya mulia. yaitu cahaya bola api. lalu … kinanti tembangnya. Wiralodra. terbangun memakai …. suara yang terdengar. karena akan menjadi … untuk keturunanmu. …. 2. Pada malam Jum’at. Wiralodra. Pindahlah ke barat. II. terang seperti bintang. …tuamu. ke hutan Cimanuk. 3. melihat (cahaya) di atas langit. memohon kepada Yang Sukma.…cahya yang bening. hutan besar itu nyawa. KINANTI 1. …terang-benderang. bila ingin mulia dirimu.. tanda diterima oleh Yang Agung. (Su)kma Yang Agung. … bukalah hutan ini. cahaya… tapa. 12. lalu cepat bangun . turunannya semoga mendapatkan kemulyaan. menghilang di tempat terang. 195 . serta terlihat di timur.

8. sama-sama keluar air mata. dari hadapan ayah serta ibunya. di mana tempatnya ini. sehingga sampai di sebuah sungai.sama-sama … ayahnya. … bercerita. di Sungai Cimanuk tempatnya. karena (sudah) kehendakNya. 6. anakku mari …. putranya mencium kaki ayahnya. karena belum …. Lamanya tiga tahun. serta bangkit … Sudah diizinkan pergi. 4. anakku …. (air mata) ke luar deras (dan) menangis. ia duduk di pinggir kali. berada di hutan belantara. Ki Tinggil . lalu melanjutkan perjalanannya. pertolongan Yang Maha Widi. bersama penakawan. 7. …tiba di air besar 5. memasuki hutan. mendapat pertolongan. … kepada ayahmu. 196 . Menuju arah selatan kaki gunung. Sungai besar [di] Citarum. Saya serahkan kepada Yang Agung. lupa tidur serta makan. dipeluk serta ditangisi.

(saya) minta perolongan kakek. bagaimana (melaluinya) (dan) dengan apa. ada kakek-kakek datang. sangat gembira (hatinya). dan [ini] Tuanku. 9.lalu berbicara perlahan. aduh kakang tolonglah saya. sungai (ini) sangat besar. Lalu di(tarik) dipeluk. kepada pelayannya. bersalaman dengan kedua tangan. Raden Wiralodra melihat. serta sama-sama duduk. 197 . atau kebun orang. saya akan mendapat berita. 10. Saya kira ada perkampungan. 11. dari orang tua ini. berbicara lemah lembut. 13. sabar Tuanku …. Paman saya merasa bingung. “Duh saya bahagia sekali. berkata Kiai Tinggil. Buyut Sidum orang dulu. serta … ada seorang kakek datang. banyak jembatan di sini. yang seperti lelaki tua. Setelah Bendara (Wiralodra). istirahat menyenangkan pikiran. …. yang bernama Kiai Tinggil. 12.

Raden Wiralodra dongkol. Kyahi Dum berbicara manis. Telah lama perjalanan saya. “Duh cucuku yang kusayangi. 17. ia keburu menghilang. 19. di manakah kakek tua?” Ki Tinggil berkata perlahan. 16. belum menanyakan namanya. Lalu menghilang orang tua itu. di mana kali Cimanuk. …berbicara. serta dari mana asalnya. sudah harus kembali… menelusuri pesisir. 18. Sambil terbata-bata (dan) perlahan.14. mengatakan jalan ini. gugup ia menjawab. belum ditanyakan namanya. … berada di sebelah timur. Lalu berbicara manis. tiga (tahun) perjalanannya. 198 . terkejut [tadi] melihatnya. kamu…ku. …sungai Citarum. “Duh Paman Kiai Tinggil. saya ingin mendapat berita. 15. yang merupakan bagian dari Karawang. atau negaranya. semoga kakek dapat menolong. dari negeri Bagelen.

Inilah sebabnya. nanti (setelah) istirahat (kita) mandi. maka cepat-cepat. meneruskan perjalanan besok. 20. lalu segera berjalan.tapi saya gembira Tuanku. lihatlah air ini. di sebelah hulu (sungai) ini.” Kiai Tinggil berkata. lekas mendapat pertolongan. tidak tidur serta makan. terdapat air mengalir. istirahat di hutan ini. Menelusuri hutan rimba. jika (tuan) hendak mandi. Lamanya hingga dua minggu. melihat matahari terbit. serta sampai di Pasir Ucing. 23. “Duh paman Tinggil . Ki Wiralodra (melanjutkan) perjalanan. [sumber] (air) keluar dari sumur. hutan (tempat) datang Ki Tinggil. saya ingin tidur-tiduran. berjalan siang dan malam. saya lalu berangkat. 199 . Paduka. sejuk tertiup angin semilir. pertolongan Yang Maha Kuasa. ke timur dan utara jalannya. 22. (air ini) sangat (bagus) dan bening. 21. 24. Lalu tidur Kiai Tinggil.

27. Wirasetra. Wiralodra namaku. 28. sambil keduanya bersalaman. 29.” Adapun nama kanda. 26. dan siapakah nama kanda. bertemu dengan kanda. dengan kanda baru bertemu. 200 . Menangis sambil memeluk. berasal dari (daerah) timur.terdapat air di tengah hutan. Lalu bertemu orang (yang menanam) padi. ke pondokannya. Kiai Wiralodra bertanya. membuat kampung di hutan. Dalem Pegaden. “Duh gembira sekali dinda. serta hendak pergi ke mana. serta aslinya dari mana?” Wiralodra nama dinda. 25. Banyuhurip saudara sepupu(ku). berasal dari Bagelen. menuju arah utara perjalanannya. Dipati Wirakusuma” Lalu dibawa pulang. Kanda berasal dari timur. Lalu berangkat Wiralodra. (sedang) mencari kali Cimanuk. kelak bakal menurunkan. Wirasetra namanya. “Duh Kanda Tuanku. Dinda siapakah namamu.

“Duh Tuan baru (sekarang) saya. 31. (saya) mau mengistirahatkan badan.” Kiayi Wirasetra menyambung ucapan (dengan) manis. tersenggol oleh … maka (akan) lama di sini. saya sering jatuh bangun. 33. bisa makan dengan kenyang. sampai besar daging saya daging saya banyak (yang) hilang. Aduh Tuanku saya memohon. Kiai (Tinggil) berkata. …perut buncit. kaki tangan kecil-kecil. hanya dedaunan. Menginginkan …dari…. 201 . 30. tetangga sama makanannya. “Ya paman sudah bahagia. mendengar ucapan Tinggil. makan bersama-sama. sama-sama gembira. makan dengan ikan. serta rejekimu paman. Keduanya sama tertawa. bertemu dengan saudaraku. yang saya makan. 32. bila berjalan terseok-seok. 34. (sudah lama) tidak makan. selama ini tidak (ada) makanan. lama tinggal di sini.disuguhi makan.

” Ki Wirasetra terbahak. “Hai Tinggil saya doakan. karena saya bertamu di sini. 38. 39. sudah saya rasakan. setelah sebulan lamanya. Melimpah … 35. serta berkata dengan perlahan.” Raden Wiralodra tadi. Serta dijaga oleh Yang Agung. 36. “Duh kanda. Ki Tinggil lalu menghaturkan sembah. semoga saya diijinkan. bertemu dengan saudara. Sangat gembira diriku.“Duh kebahagiaan paman. dinda berterima kasih. makan dua kali sehari. letak Sungai Cimanuk menurut wangsit?” Wirasetra berkata perlahan. 202 . bertemu di tengah hutan (dengan)ku.” Berkata Kiai Tinggil. Di manakah tempatnya. “ Tuan saya meminta daging saya bertambah lagi. mau berangkat hari ini. tertawa saking gembira. lalu ia berkata kepada kakaknya. 37. Lalu (keduanya) bersalaman. saya mengiringi dengan doa. “Duh saya bahagia Tuan. semoga cepat ditemukan.

Ubi emas serta jagung. menelusuri pinggir kali. dua bulan lamanya. padi gajih sangat putih. (Ia) gembira sekali. lalu menemukan sungai. keinginan tuanmu. terung serta cabai dan kecipir. (Lalu) berjalan menerobos rumpun pepohonan. “Duh paman Tinggil . 43. Kemudian Kiai mencipta kebun palawija luas. mentimun serta lobak. 42. tapi saya masih takut. 44. 203 . masih di hutan belantara. di pinggir (kali) ini. tidak ada perkampungan. 41.” 40. melihat tempat (mereka) berdua. Keduanya berangkat menuju arah timur …. untuk meyakinkannya.kamu segera menemukan. terlihat sangat bagus. Kiai Sedum merasa kuatir. tanamannya macam-macam. saya kira ini sungai Cimanuk. Ki Tinggil berkata perlahan. sangat senang melihat(nya). gampang nanti mampir lagi. “Duh Tuan mudah-mudahan betul.” Lalu keduanya berjalan.

sedap malam berhadapan. Semua tanaman di kebun subur. baru tiba (sudah) bertanya-tanya. 49. di dalam rumah ada orang duduk. serta sungai apa namanya ini Kiayi?” Ia menjawab membentak. kanan kiri bunga mandakaki. 45. dari manakah kamu ini. Tinggil melihat dari sebelah timur. Lalu menengokkan kepala. tongkeng terjurai di gerbang. Raden Wiralodra melihat. di (sebelah) timur seperti ini (juga). apakah akan merampokku. 204 . hendak bertanya pemilik kebun yang begitu indah ini. untuk (membuat perangkap ikan. semoga mau memaafkan. 47. Ki Sedum duduk dalam rumah. 48. Wiralodra berbicara. Lalu berkata lirih. dikelilingi bunga seruni. melihat kebun. “Mau apa kamu. duduk (sambil) meraut bambu. 46. Di pinggir kali (letak) pondokannya. kebun bagus tidak ada (duanya). “Duh Tinggil gembira diriku. “Kiai saya memohon.kebun palawija luas.

mau apa kamu bertanya. 53. 205 . aku pemilik kebun ini. semoga saya ditempatkan Kiai. (Ia lalu berkata) “Kasar sekali kamu Kakak. Tetapi wataknya begitu. sesungguhnya saya Kiai . karena saya barusan melihat sungai. Ini kan sungai Cimanuk. Namaku yang dipanggil. Kiai Wiralodra kesal.” Petani yang berubah wujud. saya bertanya malah dibentak. tidak lain saya mencari Sungai Cimanuk. apalagi orang (yang tinggal di) hutan. tentu karena orang kampung Tuan. “Duh Kiai tolonglah saya. bagaimana kalau saya ikut berkebun?” temannya berkata. saya baru pertama melihat.” Berkata Kiai Tinggil. 50. 52. kasihanilah saya. 54. Lalu perlahan-lahan dihampiri. 51. jauh dari negeri Bagelen. Inikah Sungai Cimanuk. tidak punya tatakrama. saya ikut kepada tuan. harus dimaklum Tuan. “Betul sekali Tuanku.kamu datang ke pondokku. tidak takut sambil duduk.

59. Mulanya hutan diminta. berdiri (lalu) duduk di kursi. (lalu) saling mendorong keduanya. 58. Kiai yang menyamar berkata. aku tidak akan menolong. raut muka seperti api. tidak bisa diajak berunding! Saya kan sudah meminta. Tempatnya di kebun tadi. didekatinya orang tua itu. melihat kamu ini. kakek … bertani.” Raden Wiralodra marah. 60.55. apakah harus dipaksa memberi. kamu betul-betul berandal. 56. Lalu berpindah kakek itu. karena aku banyak rakyat. menubruk orang tua itu. 57. lalu kebunku. walang kerik menuduhku.” Raden Wiralodra . sambil berkata dengan suara keras. karena aku tidak silau. masalah kebun anda. tidak suka aku melihat. cepatlah kamu mati. tidak bisa diajak berbicara lembut. 206 . jangan harap aku menolong. memalukan kamu orang kampung. lebih keras berbicara. “Hai kamu orang apa.

jika sore terbenam di barat. Lalu memasuki (hutan) lebat . apabila menemukan. 63. 65. Buyut Sidum namaku. berbelok. 64. Pamanukan (nama) kampungku. menghilang menjadi hutan. matahari sudah terlihat. jika pagi tentu (terbit) di timur. dibanting lalu menghilang.mengadu kesaktian. “Hai Wiralodra cucuku. cepat buru kijang itu. 62. sudah dipastikan kehendakku. 207 . itulah Sungai Cimanuk kelak bila kamu membuka (hutan). cepat kamu menyeberang. Di mana menghilang (kijang tersebut). kijang mas yang matanya intan. kelak (tempat) ini jadi desa.” Keduanya sudah menyebrangi. bertapalah jangan tidur pasti kamu menjadi kaya. berjalan dengan cepat. ingatlah nasihatku. jika kamu tidak tahu aku. Cipunegara sungainya. lenyap (juga) kebun kakek-kakek (tersebut). Sungai Cipunegara. tapi ada (suara) terdengar … 61. ini bukan Sungai Cimanuk.

Raden Wiralodra. 66. .melihat macan besar. “Diamlah (Paman) Tinggil kamu ini. SINOM 208 . sekarang aku ingin bertanya. Ki Tinggil mengambil pemukul. menghalangi jalan. melihat sungai besar sekali. 68. Dipukul(nya) kepala ular. macan apa namanya ini?” Macan menggeram di depan(nya). Terkejut Kiai Tinggil.” Lalu berkata lirih.. muncul ular besar sekali. lalu menubruk Raden Wiralodra menghindar. kemudian dilepaskan oleh Raden Wiralodra sungai menghilang tanpa bekas muncul perempuan cantik masih begitu muda. Lalu ular mengejar. 67. III. (Karena) ada macan besar. “Duh tolong Tuanku di mana aku bersembunyi. 69. lalu macan menghilang. Hilang ular jadi sungai. Raden Wiralodra heran. Lalu ia menemukan ular tadi. Macan lalu ditempeleng.

1.

(Menghampiri) kepada Raden Wiralodra minta dikasihani. “Duh Raden Bagus tuan Orang yang tampan bertemu di sini, di dalam hutan. Aduh saya kasihan sekali, hendak mencari apa, serta apa yang dituju? [Silahkan] Raden terimalah salamku. Kan saya masih gadis, belum pernah bersuami, Larawana namaku, akan mengikuti, apa yang diinginkan Tuan, saya sanggup menolong, kekayaan kejayaan, asal saya dinikahi, [silahkan] Raden turutilah kesediaanku.” Ki Tinggil maju ke depan, sambil berkata lirih “Duh Tuanku ingatlah, ini di tengah hutan.” Wiralodra berkata perlahan, “Saya tidak takut paman, sebentar akan saya periksa pintar sekali berbicaranya, maaf saya hendak balik bertanya. “Anda ada di hutan, tidak pantas seorang perempuan, berada di tengah hutan, mengaku gadis belum bersuami, kan saya tidak percaya, tadi (minta) aku nikahi,

2.

3.

4.

209

meskipun (kamu) wanita cantik, tidak akan mau (diajak) menikah, sangat mudah (bagi)ku …… menikah besok.” 5. “Menjawab Nyi Larawana, … bagus, … menanti hasil kemuliaan, cepatlah jadi kakek-kakek, gigi ompong pipi kempot, kuping tuli pinggang bungkuk, sekarng saya meminta, jika kamu tidak menurut, pasti mati berdua bersamamu, Menghalangi di depan, Raden menghindar ke kanan (dan) kiri, lalu menangkap Larawana, Wiralodra menghampiri, lalu disingkirkan, (jatuh) tertelentang lalu menubruk, Ki Wiralodra menubruk, dikejar lalu bertarung, mengadu kesaktian Nyi Larawana bersemangta. Wiralodra waspada, tidak kena aku, lebih baik aku mati, jika tidak bersatu, kemudian saling menangkap, (sambil) menuju arah timur. Wiralodra waspada, senjatanya berupa rantai, tidak ada orang setampan kamu. Lalu menggunakan senjata, Wiralodra menahannya.

6.

7.

8.

210

senjata rantai mengenai, tetapi tidak menyerah, makin susah melihatnya, ….. karena orang tampan, heran sekali Wiralodra, orang tampan … .sakti, silahkan Raden anda membalas kepadaku. 9. Lalu Raden Wiralodra, tangannya memegang cakra, Ki Tinggil cepat mendekati, “Duh Raden hati-hatilah, kira-kira Tuan kalah, karena …, lalu Den Wiracabra menanti, Nyi Larawana menadahi, terkena (lalu) musnah (berubah) wujud (jadi) kijang mas. Lalu Raden melihat(nya), badannya berkilau, tidak salah kijang mas. Lalu berkata perlahan, “Paman Kiai Tinggil, paman lihatlah dengan teliti, itu kan kijang mas ayo paman jangan tertinggal, aku kejar kemana arah (larinya) kijang. Keduanya lalu memburu kijang, dicegat (di) kanan dan kiri, dicoba ditangkap (tapi) tidak kena, jika jauh kijang menunggu, sehingga sudah jauh perjalanannya, kijang berlari ke arah timur, kedua orang itu tidak melihat(nya), terus mengikuti kijang,

10.

11.

211

siang malam memburu kijang mas. 12. Lalu berjalan sampai di, …………. tinggi, kijang mas menghilang, terlihat alur sungai, airnya deras mengalir, yaitu Sungai Cimanuk, lalu istirahat di bawah. lalu keduanya melihat di bawah, menuju pohon kiara besar, lalu keduanya terlihat di bawah pohon kiara. Terdengar (seperti) dalam mimpi, “Nak, ini kan Sungai Cimanuk yang dicari, berbahagialah (karena) kelak bermanfaat bagi semua, sampai keturunanmu, (sudah) kehendak Yang Maha Agung memperoleh kemuliaan, sudah diterima oleh Yang Widi.” Lalu terbangun Ki Tinggil dan Wiralodra. Sangat gembira hatinya, dalam mimpinya yang terdengar, nampak nyata memberi kabar. Raden Wiralodra, berkata kepada paman Tinggil, “Duh paman bahagia diriku, saya tidur pada hari ini, bermimpi (ada yang) memberitahu, ternyata inilah Sungai Cimanuk . Sudah jelas petunjuk Yang Sukma.” Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh Tuanku jika demikian,

13.

14.

15.

212

bagaimana kehendak tuan untuk tempat tinggal saya?” Raden Wiralodra lalu mencari lokasi, mencari (di) pinggir kali, menemukan tempat yang luas dan datar. 16. Lalu membuat pondokan, Ki Tinggil yang membuatnya, lalu membersihkan badan, kemudian Raden Wiralodra, membabat hutan, serta badak (dan) banteng, semua melarikan diri berhamburan, pembawaannya panas dingin, setan iblis (dan) mahluk halus semua bubar. Begitu juga Raja Budipaksa, dengan Patih Bhujarawis, berkumpul dengan pasukannya, serta prajuritnya, dan para senapati. Ki Gede Muara Cimanuk, sangat bersedih sekali, semua pasukan menjadi bubar, karena Wiralodra membabat hutan. Lalu mennyerang Raden Wira, bertemu di pondoknya, Budipaksa berkata, “Hai satria manusia tampan, kenapa lancang dan berani, siapa kamu ini, merusak anakbuahku, cepatlah pergi kamu ini!” Lalu berdiri Wiralodra dan berbicara,

17.

18.

213

19.

“Hai setan siapa kamu, penghuni persembunyian iblis, beraninya mengusirku, dikiranya aku takut, berlagak di hadapanku, dasar gandarwo bulus, ke sini majulah kamu sebab aku tidak akan lari.” Raden Wiralodra turun dengan anakbuahnya. Seluruh (Ki) Gedeng Muara, sama sama mendatangi, heboh pertarungan Raden Wira, Ki Tinggil memanjatkan doa, doa Srabad Sulaeman, duruwiksa banyk (yang) lumpuh, lalu ada utusannya, dari Tunjung Bang, (yaitu) Kala Cungkring (dan) hulubalang Langlang Jagat. Sampai tiba Sultan Mas, (yang mengatakan) jangan saling mengganggu, Raden Wiralodra itu, karena keturunan Majapahit, (lebih) baik dijaga, sesama saudara (harus) akur, karena masih bertalian darah Rara Kidul ratunya.” Lalu cepat Werdinata menghaturkan sembah. Sambil menyembah di hadapannya, meminta dikasihani, (ia berkata), “Duh Raden Tuanku, prajuritku salah sasaran, semoga Tuanku mau memaafkan.”

20.

21.

22.

214

Berkata Den Wira, sekarang sipa tuan(mu), tidak kenal rajaku, Sultan Werdinata (yang) berada di Pulo Mas. 23. “Duh diminta Paduka berkata, adik sultan berbicara denganku, saya bersukur Dinda sultan, beserta anak dan saudara, sampai keturunan Dinda, kan kanda bekerja … wangsit (dari) Yang Maha Tinggi. Sama-sama bubar semua iblis (dan) mahluk halus. Lalu siang malam membabat, Ki Tinggil menjadi koki, serta menanam palawija ubi jalar jagung serta kecipir, macam-macam palawija, (tanaman) gundem jawawut tumbuh subur, tidak ada kekurangan. Ki Tinggil berkata perlahan, “Duh bendara baru sekarang saya senang. Tidak ada kekurangan, palawija tidak habis dimakan, terkenal kebunnya, karena bagus tanahnya banyak orang berdatangan, ikut (membuat) rumah di situ, sejak tanaman subur, bergantian orang yang datang, sama subur bermacam-macam tanaman. Banyak orang yang membuat rumah, sampai ke negara tetangga,

24.

25.

26.

215

terimalah (dan) suruh masuk. tidak disangka sekali. bagaimana anakku belahan jiwa. berkumpul dengan ketiga anak(nya). Lalu berangkat Raden menuju negara. Diceritakan perjalanannya. Tinggil ditinggal sendiri. 216 . di sungai Cimanuk. ibu sampai bengkak matanya. 27. ibu dan ayahanya terkejut. “Duh paman Tinggil perjalanan kita sudah lama. 29. perjalanan putraku. siang malam terbayangkan. 28. “Aduh anakku belahan jiwa. Setelah tiga tahun Lama(nya) membuat perkampungan. (saya) sangat ingin bertemu dengan ayah ibuku paman akan ditinggalkan. menangis siang dan malam.Ki Tinggil menjadi lurah. melihat putranya datang. sampai ke Banyuhurip. menuju ke keraton. tinggal di sini dulu. tidak ada orang yang kekurangan makan. karena ingat kepada anak. lalu dirangkul (dan) ditangisi karena sedih (dan) gembira. Raden berkata perlahan. Bagelen negaranya. bila ada yang pulang berperang. jangan dielakan. ayah ibunya sama-sama sedang duduk.

gampang besok kalau sudah jadi. para saudara pekerjaannya mengurus negara. (Tersebutlah) Ki Tinggil yang ditinggal. di barat jadi negara. 32. serta Wangsanagari.” 30. serta saudara-saudaranya.ceritakan kepada ibu dan ayah. jumlahnya lima ratus orang 31. empat orang putraku. 217 . supaya menjadi tahu. Wangsayuda dengan Tanujaya. Putranya berkata kepada ayahnya. ayah ibu mendengarkan. pesan ayahanda. semoga tercapai yang diinginkan. kasihan mendengar pengalamannya. semua sama menangis. lebih banyak orang datang.” Si Tinggil diangkat. aturan mengurus negara. “Duh anakku belahan jiwa. yang ikut membuat perkampungan. ayahnya ikut berkata. terserah kehendak kalian. dan Tanuhjiwa. mengenai perjalanannya. 33. salah seorang (di antaranya) kamu. menjadi lurah di sini. berkat pertolongan Yang Widi. dengan saudaramu. pimpinlah negri Bagelen. semua siap bekerja dengan baik.

karena luas tempatnya. Wanaswara. aslinya dari mana ?” Nyi Hindang menjawab. Saya akan menumpang. Puspahita. gardu tempat menjaga. dan siapakah namamu. pengawal(nya) itu petani menuju wisma Ki Tinggil ketika bertemu Ki Tinggil mempersilahkan masuk. Sukubahu (dan) Jungjang Krawat. memikul gandum dan padi. setiap hari yang datang membuat rumah Kemudian ada yang datang. cantiknya tiada tara. apa maksudmu Nyai. serta masih gadis. Surantaka.menjadi kaya Kiai Tinggil. Hindang Darma (namaku) saya mengembara. seperti pangkat tumenggung. 35. kepada tamu yang baru tiba. serta Ki Pulana. “Duh paman tidak kenal padaku. 36. Bayantaka. dibuat seperti negara. Hindang Darma namanya. diiringi dua pengawal. Ki Tinggil lembut bertanya. 218 . setiap lorong dijagai. diangkat oleh Kiai Tinggil. orang kecil senang hatinya. 34. 37. pintar membuat siasat perang. Jayantaka. “Saya mohon maap yang sebesar-besarnya.

“Silahkan ikut saya di mana yang akan dipilih.ikut membuat pondokan. memilih tanah yang cocok. tanah yang agak luas.” Ki Tinggil menjawab. alangkah gembira tuanku melihat wanita sangat cantik karena Hindang Darma sudah membuat rumah. untuk ikut bertani.” Sudah keluar dari rumah. atau saya bersawah. semoga saya diberi izin. 38. 39. begitu pula semua muridnya. saya hendak berkebun. 219 . saya senang melihatnya. Hindang Darma kembali jaya. baru kali ini aku melihat wanita Cantik dan mulus tubuhnya. sebab bermanfaat kesaktiannya. apa pertimbangan junjunganku. 40. murid-muridnya itu. jika datang ke sini tentu aku lalu akan menyampaikan. Karena subur kebunnya. silahkan memilih. tapi nanti tuanku. seluruh murid-muridnya. untuk istri tuanku. menanti bertemu musuh. Nyi Hindang (boleh) memeriksa. Di barat atau timur. Ki Tinggil menyesal melihatnya (sambil menggumam).

Sekarang muridku semuanya.” (Lalu semua) sudah menaiki perahu. berpikir di dalam hati. aku tidak mau mendengar.terkenal ke negara lain. Terkejut Nyi Hindang melihat Kedatangan orang banyak. tangkaplah untukku. cepat-cepat berdandan. di muara lalu semua menyeberang. kalian pergi ke Pulau Jawa. “Hai murid. aku sudah mendengar. 41. 220 . 42. (lalu) berkata kepada muridnya. ada wanita kembali..” Pangeran terpesona melihat(nya).muridku. lalu berbicara lembut. karena puluhan (murid) Pangeran. wanita ini cantik sekali. ada perempuan tingkah-lakunya sebagai laki-laki. lalu cepat memasang layar. Karena Pangeran sangat pandai. 43. Pangeran sangat sedih. pemberani namanya. silahkan paduka duduklah semua. terdengar kepada Pangeran Palembang. 44. berguru ilmunya seperti aku. “Saya berbahagia kedatangan tamu (apalagi) pembesar yang datang. dalam sekejap sudah tiba di pondokan Hindang Darma. sudah sampai perahunya.

di negeri Palembang. pangeran taat kepadaku. “Sayang sekali anda ini. keturunan Sultan Aryadillah. Saya sangat terkejut. 46. jadi guru semua para Pangeran. 221 . “Duh mohon beribu maaf karena paduka. Pangeran Guru namanya. banyak yang berguru kepadaku. 45. jika kamu (telah) berguru ilmu. seperti ada yang dituju dalam perjalanan tuan. yang ikut dengan saya. ingin menyamai namaku.sayang sekali kelakuannya. 47. wanita secantik anda. Lalu Nyi Hindang berkata. siapa nama (tuan). yang sedang berguru ilmu. saya berasal dari dusun. asal tuan dari mana. tidak mendengar berita. serta ada perlu apa. bersama-sama datang ke tempatku. perempuan bertingkahlaku seperti laki-laki.” Pangeran menjawab. Inilah murid saya. aku perlu memeriksa kamu. sepertinya ada pekerjaan besar datang dengan senjata lengkap. jangan mungkir anda. dengan pasukan sekerajaan. (agar) terkenal di seluruh negara.

Tinggal kamu Hindang Darma lancang memaksa (dan) berani. di depan di halangi. senjata ujung keris. 49. rupa tuan sangat tampan (dan) gagah. silahkan (saya) mengikuti keinginanmu. Seperti kamu orang yang sakti. Tetapi ucapannya kasar. tiada tandingannya seperti kecantikanmu Hindang Darma pelacur murahan kamu ini. atau segan melihat. menjadi guru seperti saya. 50. berbicaralah yang sesungguhnya. kan sudah mempersilahkan. tidak memakai tatakrama seorang wanita. Hindang Darma tidak silau. mau apa. bertanya kepadaTuan. lancangnya keterlaluan. hendak apa Tuan. 51. tidak tentu negaranya. wanita cantik serta kulit kuning.48. “Duh sayang sekali rupa seperti Tuan. 222 . sombong kamu ini. seperti yang lebih unggul.” Nyi Hindang menjawab. sungguh perkataan Pangeran. tidak ada manusia. tidak bisa berkata pelan. seperti kelakuanmu itu. tamu meminta disuguhi. atau menyisakan pekerjaan.

“Diizinkan membuat tempat tinggal. Ki Pulaha diperintahkan. 54. “Kang Pulaha saya merasa bingung. semuanya akan dilayani. Cepat pangeran menyerang. sudah menghadap. Semua pangeran 53. pertarungan diperkirakan lama. “Duh Pangeran di sini tempat yang luas. mencari tempat yang luas. pertarungan mengadu kesaktian bertarung mengadu senjata. silahkan sekehendak Tuan. banyak pangeran yang tewas. 223 . semua pangeran tewas. sayang wajah tampan(mu). 55. Ki Tinggil sangat takut. kesenangannya bertani. dimakamkan di pekuburan Darmayu. ternyata malah dipakai tempat bertarung. Bramakendali keduanya. serta tempat untuk bertani. Nyi Hindang sangat sakti susah menghindarinya.atau kesaktian guru. kemudian keluar. Wisanggeni namanya. Sudah kacau perkataanmu. Bratakusuma adiknya.” 52. 9takut) dimarahi paduka. kalau kalah saya tidak akan malu. sambil menantang bertarung.

Lalu berangkat secepatnya. sudah pernah mendapat marah dari paduka. dari negara Palembang. di negeri Bagelen. Lalu ayahnya berkata. Ki Tinggil menangis tersedu. menangis memanggil-manggil. saya doakan kepada Yang Widi. karena Ki Tinggil berjalan. meskipun (seorang) pelayan. “Duh paman yang saya kasihi. 58. semua teman-teman menunggu tempat ini. semua terkejut atas kedatangan Ki Tinggil Ditubruk Ki Pandakawan. 57. Air mata bercucuran. lalu menghadap Paduka. bijaksana serta sakti.” Keduanya berdiam diri. 224 . semoga ananda berdua menjadi kaya. dengan paduka. dahulu sama-sama menderita. kemudian dirangkul. serta (ketika) teringat keduanya serta menghaturkan sembah. 56.yang berperang tewas. “Sudahlah tidak apa. dahulu saya tinggalkan. sebentar saja sudah sampai. “Aduh anakku. saya akan menghadap paduka. tak disangka masih saudara. berjalan siang dan malam.

lega hatinya. mengatur siasat perang dan bawahannya. serta katakan kepadaku. berkat tuan semuanya terjadi. Duduklah. lagi pula kejadian. karena (kamu) ditinggal sendiri. mendapat kasih sayang dari Yang Sukma. subur makmur di dusun. Sesungguhnya Tuanku. serta banyak orang yang datang. diberi kesejahteraan. celaka saya tuan. nanti si Tinggil akan saya tanya. kedatangan Nyi Hindang Darma. 61. Mengajarkan kebajikan. Hindang Darma kembali dari berguru. serta dibangun negara. makmur sampai nanti. berjajar membuat pondokan. Tinggil berkatalah padaku. 60. istirahat dulu. Tetapi ada yang ingin saya sampaikan. Tinggil di tempat tuanmu. temanmu pada selamat. ditinggalkan (sendiri) di negara.Keturunan si Tinggil. apa mendapat kesenangan. Nyi Hindang semakin berani. 59. masih gadis (dan) sangat cantik. 225 . Hindang Darma (punya) kelebihan. 62. Aduh mas junjunganku. terdengar oleh Pangeran Palembang.

Pangeran Guru beserta Kiai. anandamengikuti kehendakmu. Nyi Hindang Darma didakwa. Si Wangsanagara. Tanujiwa beserta adiknya. 63. 65.lalu diserang Nyi Hindang. Hindang Darma seorang perempuan. itu kan kakekmu. karena tadinya hendak menangkap. sambil membawa murid pangeran. maka saya secepatnya. tumeggung di negara Bagelen. Wangsayuda. memberitahukan tuan. dari Palembang mencari ilmu. menjadi guru pulang mencari ilmu. kakekmu (juga) sama tewas. 226 . Hindang Darma sangat sakti. kalian turunan Majapahit. mohon izin ayahanda 64. “Hai anakku Wiralodra. Nyi Hindang sangat sakti. dibantu prajurit istana. Itu Tuan Singalodra. tak kuat bertarung. Bawalah saudaramu. seperti apa kehendak tuan. menangkapnya harus secara halus. setelah setahun lamanya. mengadu kesaktian di medan perang. Karena sama-sama berperang. semua pangeran tewas. Tanujaya. hati-hati menangkapnya.

saya meminta berkah Paduka Insyaallah.” Tidak dikisahkan di jalannya. secepatnya berganti tembang. 67. Semuanya menghaturkan sembah.” 66. IV. semuanya sudah sampai di pondokannya. kiranya (harus) terbawa. Puspahita (dan) Wanasara semua lengkap menghadap. silahkan saudaraku sudah mohon diri dari hadapan (Raden Wiralodra) menetap di pondoknya. Raden berkata kepada Ki Pulaha. “Paman Kiai Pulaha. dan teman-(teman)nya jangan ketinggalan. dipati membaca doa. sertai Ki Tinggil pergi. demikian jugaBayantaka ada. KINANTI 227 . untuk mempersilahkan Nyi Hindang. serta Ki Pulaha. Ki Tinggil didorong kemuliaan. saya minta didoakan.ayahanda ikut iklas mendoakan. kepada ibu dengan ayahanya. dipasrahkan kepada Yang Widi. tempatnya di rumah Ki Tinggil. Jungjang Krawat datang menghadap. Ki Tinggil berkata perlahan. 68. “Duh paduka junjunganku.

” Segera Nyi Mas menjawab. terlunta-lunta saya pulang. lama sekali tak terlihat.1. Nyi Hindang terkejut melihat kedatangan Ki Tinggil. “Baiklah tapi saya harus berdandan dulu. kulit kuning langsat 228 . ke tempat tinggal Nyi Hindang. Telah tiba yang diutus. serta kembali lagi ke rumahku. mengundang Raden Ayu. Tuanku ikut dengan saya. serta saudara kakak dan adiknya. 3. Saya lalu bersembunyi. tiba di tempat (asal) saya di timur. 4. harus terbawa oleh saya dan Junjang Krawat. Lalu saya diutus. melihat orang(-orang) berperang.” Nyi Hindang secepatnya berpakaian. Ki Tinggil berkata perlahan. “Duh selamat datang paman. Nyi Hindang berkata lembut. saya takut Raden Ayu. datang ke rumah saya.” 2. Raden Ayu sesungguhnya saya salah tidak memberitahukan. kancing berwarna hitam. dihiasi deretan sisir. sesungguhnya hati saya. 5.

“Selamat yang baru datang.” 10. semuanya mendekat. Raden mohon beribu (maaf). (dan) saya merasa menumpang. permisi untuk melihat kepada Hindang Darma. ingin sekali cepat bertemu. 7. saya tamu baru tiba. semua (ingin) melihatnya. 9. Juga Raden saya memohon.” Nyi Hindang berkata perlahan. tiada ada pada wanita lain. seperti bidadari. 229 . Raden lalu berkata lembut. di pedukuhan ini. 8. Perawakannya sangat ayu. 11. juga Raden baru tiba. karena saya sangat hormat. Oleh Paman Kiai Tinggil. cepat-cepat perjalanan saya. Setibanya lalu menghaturkan sembah. saya ingin menumpang kepada Paduka. karena Paduka. paras seperti Hindang Darma. dengan kawan-kawan Ki Tinggil. Maka saya disuruh.6. silahkan masuk. cantiknya tiada tara. saudara Hindang Darma. kepada Paduka.

karena saya memerintahkan. dari kecerobohan saya. tidak berani melebih-lebihkan. serta saudara-saudaraku. “Duh Raden saya (akan) mengisahkan. bagaimana asal mulanya. (akan) diceritakan yang sesungguhnya. saya perintahkan untuk diberi izin. 14. Menurut Pangeran Guru. coba jawab Nyi Hindang. karena miskinnya saya. saya ingin mendengarkan. bersumpah di hadapan Paduka. apalagi saya perempuan. 230 . perlu memeriksa perkara ini.semoga diterima bakti saya. atau mengurangi. karena kewajibanku.” 12. semoga berkata padaku. Wiralodra berkata manis. “Tidak menjadi apa Nyai. hendak ikut selamat. (tempat ini) jauh dari negri Bagelen. siapa yang hendak membuat pondokan. Nyi Hindang lalu berkata. yang berperang dengan Nyai. 13. kepada Kiai Tinggil. yang menjadi asal-mulanya. Tetapi saya Nyai perlu (tahu).” 15.

saya tidak (akan) mengikuti. menuruti hawa napsu. karena saya perempuan. “Kalau begitu keadaannya. karena saya banyak orang. (saya) dikepung oleh para murid(nya). orang(-orang) membantunya. Perintah Pangeran saya turuti. 19. pangeran sial dalam pertempurannya. lalu marah tiada tara. saya berani mengajarkan ilmu dan (ada yang) hendak menangkap saya. bersawah dan berkebun. Wiralodra berkata manis. bersama-sama muridnya sampai ke rumahku. 18. atau saya berkebun.” 20. 231 . semua pangeran. sedang berada di pondokanku. Saya memberi pelajaran bertani. meskipun saya orang kuat. (Berkat) pertolongan Yang Maha Widi. 17. saya diperintahkan. semuanya sama-sama tewas.16. terkejut (karena) kedatangan pangeran. kakek guru yang salah. saya mencari akal Raden. bisa membuat sawah. 21. Saya akan dibunuh. Awal mulanya saya. Jadi yang hendak kukerjakan.

” 24. Hindang Darma menyembah. saya yang menyaksikan. 232 . 22. “Nyai jangan takut begitu. 25. saya sangat takut saya memohon hidup. hendak mencoba bertarung dengan Nyai. karena saya membawa jagoan. jika demikian kehendaknya. Hindang Darma dengan adik (Wiralodra). sudah jadi perasaan paduka. 26. taruhannya jiwa dan raga. supaya saya tahu. segala tingkah-laku Nyi Hindang. saya hendak melihat. maafkanlah saya. Perang tanding memperebutkan kemenangan. jadi termasuk mengadu nasib. Hindang Darma dengan memelas berkata dengan sangat takut. Paduka. tetapi dengan sangat saya memohon. “Duh Tuanku jungjunganku. Wiralodra perlahan berkata. mundur dari hadapan gusti. harus maju bertarung. 23. itu permintaanku.hendak meminta kerelaan Nyai. karena laki-laki kalah oleh perempuan. saya izinkan untuk berpikir. (bila) Nyai kalah menjadi istri(ku). karena sudah saya izinkan. Bila (Nyai) menang (saya) jadi pembantumu.

betul-betul sakti mandraguna.” Nyi Hindang lalu menggebrak. Tanujiwa (dan) Tanujaya. (Tanujiwa) terangkat (dan) jatuh di hadapan Wiralodra. Nyi Hindang menyambut perang perlahan. Membelalak matanya. bertarung berhadap-hadapan. 27. mari sama-sama mengadu kesaktian. (dia) tersenyum melihat adiknya. tersengal-sengal napasnya. saling mengadu kesaktian Raden lalu ditebas. bila kalah Nyi Hindang. Tanujaya pingsan. kamu wanita cantik (bernama) Nyi Hindang. berdua berdandan keprajuritan. Tanujaya namaku. terguling di atas tanah. 28. “Aduh Nyai Hindang cantik. Kan jadi istriku. wanita cantik (yang) sangat menarik hati. kakang tidak kuat. 233 .lalu Raden ke luar. Tanujiwa lalu maju. 29. 30. 31. ke luar berperang tanding. (saya) ingin memangku Nyai. Jangan menghindar Cantik. Ki Tinggil telah membawanya. Raden keluar berteriak. memanggil. pasti bakal kunikahi.

“Duh Dinda kanda tak sanggup. malu banyak yang melihat. putra pembesar negara. sangat kaya harta benda. maju bertarung. (pertarungan ini) dimenangkan oleh Nyi Hindang cantik 32. 36. 33. (Raden) Wangsayuda. (malah) bertarung kalah oleh perempuan. seperti burung sikatan menyambar belalang. 34. bersenang-senang minum kopi. bertarung berdua (dengan). orang muda mashur jika makan. Wiralodra berkata manis. “Bagaimana adik rasanya. saya mengaku kalah. aku ingin melihat. Hindang Darma sangat sakti. 35. Bila seperti diriku. “Coba kanda keluar. “Silahkan apa keinginanmu. Lalu ia mempersilahkan.” Tanujaya berkata kasar. gerakan Nyi Hindang. Nyai Hindang Darma. Mentang-mentang ayah dan ibu. adik berdua kalah.” Wangsayuda berkata perlahan.Hindang Darma sangat (sakti). mulai mengatur pakaian. gagah seperti adik. 234 . apa merasa senang hati.

Memerintah adik berdua. 38. sudah kalah jagoannya. tidak disangka tumbang tarungnya. Raden Wiralodra berkata. “Tidak berguna kamu ini. Bawa kedua jagoan ini menyerang sepanjang jalan. berkelana ke setiap (negeri?) bahagia (jika) pergi ke gunung. malu untuk kembali pulang. silahkan kanda bertarung.” 41. Adiknya lalu berkata.” (jika) sudah kembali ke negeri. …. Nyai Hindang cantik. malu oleh ayahanda. sambil tersenyum berkata lembut. 40. sungguh kanda malu oleh ayahanda. diperintahkan menangkap.” Wangsayuda menyela. kanda pasrah adikku. bertarung keroyokan. Hindang cantik bukan musuh. Jadinya sangat susah. 39. Tanujaya dan adiknya Tanujiwa membentak. 37. “Kok kanda Wangsayuda bisa. “Biasa orang yang kalah bertarung. saya adu kemampuan(mu) ternyata tidak berguna. 235 .mendapat malu (di) pertempuran. Kanda jangan memulai.

” 43. wajarlah orang yang bertarung. dari sini hingga (ke) negara Bagelen kepada ayahanda. waktu melotot takut sekali. Menyembah (sambil berkata) Nyai akan menuruti 236 . Nyi Hindang datang ke hadapan (Wiralodra). “Adik berdua berbicara (demikian). 42. Bila unggul bertarung. siapa kalah siapa menang. Wangsayuda tertawa. terbahak-bahak keras. kanda tidak berani. jadinya saya panggil. dengan saudara-saudaranya. Wiralodra berkata perlahan. saya bernazar untuk menggendong kanda. melawan Hindang Darma. nanti kanda maju bertarung. karena bertanding di pertarungan. Nyi Hindang saya panggil. “Duh Mas Nyai Hindang Darma. ternyata unggul berperang. bergantian berdua.nanti dinda akan melihat. 46. lalu Nyi Hindang menyembah. Raden Wiralodra.” 45. jangan diambil hati. berperang dengan Hindang. “Sudahlah Dinda yang menyiapkan pasukan. 44. Kemudian dipanggil(nya).” Lalu berkata berlahan.

jadi apa yang harus kulakukan?” 48. “Duh Tuanku. manis legitnya Nyai Hindang berkata perlahan.” Lalu Nyai ke luar ……. Raden dengan Hindang cantik. lalu diburu. mandraguna. Lalu saling mendorong. Wiralodra berkata. sama-sama seimbang. tarik menarik. [bahwa meminta] ingin merasakan. “Ternyata betul prajurit (sejati). ……Nyi Hindang menyembah perlahan. kamu Nyi Hindang. 237 . 2. oleh karena keduanya sama sakti. karena merasa sayang. lalu ditangkap dengan berani. Jangan Nyai … harus dituruti …. Tinggal saya sendiri. kepada Nyai Hindang Darma. ke luar hendak bertarung. Nyi Hindang lepas dari tangannya. mengadu kesaktian. Lalu [masuk hutan] bersiap untuk bertarung. V.47. sudah saling berhadapan. 3. DURMA 1.

makan buah jambu itu. ke manapun. lalu yang bertarung di pinggir gunung. Bingung sekali Nyi Hindang. Menjadi batu sebesar anak gunung bercampur … gunung. tetapi tidak samar Den Wira. lalu jambu menghilang. karena Raden menjadi burung. Hindang Darma menjelma menjadi jambu air. menghilang menjadi hutan. yang kemudian menjadi burung. yang bertarung ini. mencebur ke dalam air. 5. Nyi Hindang meloncat. menjelma menjadi kilat dan menyambar dengan cepat. Nyi Hindang bingung hatinya. diikuti Hindang cantik. mengejar Raden Wira. oleh Raden cepat diburu. Raden terus mengikuti. (yaitu) burung garuda. 238 . Kemanapun. serta berkata. menghilang menjadi ular. 7. saya bersembunyi ditemukan. ular lalu menghilang. Karena Raden sakti tiada tara. kutilang hendak makan.Nyai Hindang berlari. Menjadi taman yang airnya sangat bening. 4. 6. “Susah sekali diriku.

seperti apa perjalanannya. “Aduh Dinda baru bertemu. yang menjadi burung ini.8. Jatuh hati (kepada) Nyi Hindang cantik. Darmayu namanya nanti. lalu berjalan menuju barat. semakin Nyai cemberut. 11. tetapi saya mohon. (semakin nyata) kecantikannya. Bila kelak sudah menjadi negara. semoga diberi nama. 12. Saya tidak bisa 9. 10. Sebab (sudah) kehendak Yang Maha Mulia. Raden Wira menyesal dalam hati. Hindang adalah nama di air. Raden dengan negara(nya). Berbicara “Hai Nyi Hindang jangan jadi pohon. masih penjang perjalananku ini. yang… (setelah) bertemu (lalu) saling peluk. menjadi bunga di istana bersamaku. dari mana Dinda. kasmaran melihatnya. sudah hilang(kan) namaku. bersama-sama mulia denganku. 239 . di sebelah barat kali Cimanuk. dengan ceritanya. karena ada mata airnya sampai di Cimanuk dari gunung. Pegaden yang dituju.

membuat negara. 13. 14. “Sukur bahagia untukmu. untuk keturunan. (apa) keinginanmu tercapai?” Adiknya berkata lembut. “Hendak meminta izin kanda. hutan di sebelah barat Cimanuk. 15. Setelah keduanya melepaskan rindu. menjadi negara. hendak memeriksa. lalu pasukannya tiba. (karena) ada yang membuat negara. kepada pasukan. Semuanya dikisahkan kepada kakaknya. Serta tiba di perbatasan Cimanuk (sebelah) timur. di (pinggir) hutan Cimanuk. (terdengar) sorak-sorai. pasukan yang akan berperang. kembali ke negaranya. Asalnya dari sebelah timur. semoga lancar nanti. ketika Raden mendekati. Karena pasukan Pangeran Harya Kuningan. lalu berkata kepada kakaknya. Di Pegaden Wiralodra tiga hari. anak cucu[nya] Dinda.” Kakaknya mengizikan. 16. lalu berangkat. terkejut ada ……. bercampur dengan suara senapan. 240 . kakaknya mengamini.

Dalem Kuningan 241 . “Duh mencari apa. “Kebetulan sekali saya. bagaimana jika sudah waktunya. hendak memeriksa yang membangun negara. 21. 20. Jika berkata kebetulan diriku. sukur (dan) bahagia bisa bertemu. sebetulnya saya ini Wiralodra nama saya. Adapun yang membangun bakal negara (ini). ini pasukan siapa. dan siapa namanya. siap sedia berperang. Kemudian bertemu (di tepi) kali. Wiralodra bertanya lembut. (karena) telah menjadi negara.” 19.” Lalu berkata lembut. negara ini masih bakal. berani membabat (huta). silahkan menghadap Paduka. siapa yang layak bertarung. tentu akan rusak. ……… mengiringi Paduka.” 18. besar negaraku. Dipasara lalu menjawab.17. Karena waktu itu masih bakal. nanti saya menghadap Paduka Kangjeng Sultan. yang berani membangun negara. Garage nama daerahnya.

“Sebabnya saya menghadap Paduka. itu siapa?” Lalu berkata lembut. menghadap kepadaku. 25. cepatlah Dipasara. dizinkan oleh siapa?” Wiralodra menjawab. belum berkata kepada paduka Sultan Wali. 242 . baru selesai berperang dengan Dalem Kiban. prajurit dari Galuh. disuruh memeriksa ini. 24. lalu ia berkata. datang dari hadapan Paduka. saya merasa bersalah. membawa teman kamu ini. Berkata (Arya) Kumuning. Sudah tiba di hadapan Arya Kuningan. Garage nama negaranya. Inilah (Wiralodra). 22. Saya ini diutus Sultan. Perkenalkan saya Arya Kuningan. (hendak memberitahukan kepada) Gusti.kedua orang itu lalu menghadap. Bahwa yang membangun negara. (yang berada di) wilayah sultan. Wali Sunan (Jati) di Gerage. 26. 23. (orang yang) berani membangun negara. Saya mengaku salah kepada tuan. diperintahkan maju berperang.

” 27. dikiranya aku takut. “Jika demikian kamu ini. Ucapan (Arya) Kuningan sangat kasar. 243 . bila prajurit itu dari negara Kuningan . Wiralodra adalah putra dari timur turunan dari Majapahit. bijaksana.” 30. olehmu. (kamu) prajurit sombong. Lalu Kemuning membentak [kepada] Wiralodra. 28. sampai menyembah. rupa seperti kamu. tidak meminta izin Gusti Sultan. Dipasara terguling. aku adalah Arya Kumuning. terserah anda.tetapi saya meminta keadilan. 29. orang Sunda kan sembrono. Dipasara tangkap aku. lalu ditendang. saya orang yang bersalah. Kan memalukan Kemuning kamu orang Sunda. “Coba lawanlah aku. tidak punya sopan santun.” Lalu berkata “Memangya kenapa (arya) Kuningan? aku sudah minta maaf.” Wiralodra mengingatkan. Kemuning aku tidak takut. mengakunya prajurit tangguh.

lalu ditunggangi. Sinuhun tidak mengizinkan. Kemuning melangkahi (Sinuhun). perang atau mengusir. keinginan pribadi. lalu ditangkap dengan berani. 34. Dipasara tertelungkup di atas tanah. Kemuning menyerang (dengan) berani. Oleh Raden Wiralodra. orang yang membangun negara. karena banyak pengalamannya. bersukur (karena) bertambah wilayah jajahan. tidak bisa bergerak 244 . Tindakan Arya Kumuning. pasti dia mati. kendalinya dipegang. ia masih kuat. ditendang berguling. 32. karena (keduanya) prajurit tidak ingat belum memperoleh izin Paduka. lalu merayap menuju kuda. untuk mengadu kesaktian. Si Windu menendang karena kuda pusaka. 33. orang Galuh banyak yang mati. Lalu didorong Kumuning jatuh terlentang. 35. Si Windu nama tunggangannya. bertarung saling mendorong. (karena) Si Windu yang menendangi. lalu ditangkap. ia tidak berdaya.31. terus maju.

melawan Raden. menggempur manusia satu negara. (karena) bagaikan kilat majunya. lalu Si Windu mengucap. heran sekali Si Windu ini. Den Wira (merasa) sangat kasihan Si Windu menyeringai. Karena saya tidak berani bertarung. tidak kuat Arya Kumuning.kekuatannya sudah hilang.” Windu berdiri di atas lutut kakinya. Raden kasihan melihatnya. “Kurangajar!” Kumuning berkata. lalu dilepas. 39.” Si Windu segera melesat . 36. menahannya. 38. Semakin kencang majunya. karena Windu sangat marah. waktu Dalem Kiban. perang ini kan melawan satu orang. ia kalah bertempur. ketika perang Galuh dulu. Maka si Windu tidak kuat bertarung terkejut badannya. “Aduh Raden lepaskan saya Paduka. 245 . pertanda sujud kepada Paduka. (lalu) berjalan mundur kuda (itu). padahal dia sering berperang. seperti agak melawan berperang ditarik dengan cepat. 37. memerciki gunung.

Oleh karena itu Wiralodra semakin … bertemu dengan Patih Dipasara. kDipasarah lalu cepat menyembah. kepada Dipasarah. Sudah bubar semua tentara Kuningan. (beliau) sangat sabar. keturunan Budaprawa.40. Windu berlari. karena kuda (ini) dulunya. 42. 41. Berkeliaran Si Windu di tengah hutan. negara asal Gusti Kuningan sedih (hingga) tidak sadarkan diri. menghilang di dalam hutan. Serta sampai di perbatasan negaranya.” Dipasarah menyembah kepada Kiai Wiralodra. “sudahlah Dinda sekarang 43. lalu Raden Wira. betul-betul prajurit sejati. serta memasrahkan diri. 44. sangat gembira hatinya. Wiralodra berkata lembut. Paduka berguling di atas tanah. dari kuda Harba Puspa. jiwa raga hamba. kepada Wiralodra. cepat pulang menuju tuanmu kan sudah ada negara. 246 .

lalu dipegangnya. diserahkan kepada Paduka. sekarang hendak kembali. serta anak cucu . kepada Gusti Sultan. VI. karena anda keturunan sultan. keturunannya dahulu. Semuanya sudah mengizinkan.hendak melanjutkan perjalanannya. (atas) kelancangan hamba. Mohon ampun beribu ampun. ke negara Garage. 247 . semuanya terserah Sultan. DANGDANGGULA 1. sudah tiba di hadapan Paduka. orang yang menggantikan. serta takdir Yang Widi. memohon berkah dari para wali. Lalu menyembah mencium kaki Sultan. Wiralodra berkata kepada Paduka. mati hidup saya. untuk keturunan Wiralodra. di mana ke mana pun sedia. (para) wali sedang berkumpul. “Duh kamu Wiralodra. keturunan Majapahit. 45. 47. kebetulan bertemu. 46. bahagia sekali kamu ini. dari Brawijaya dulu. (karena)saya (telah) membuat negara. meminta restu Paduka.

dinda. memperluas negara. menjadi campur dengan wanita. lalu [sama-sama] bertemu. membuat negara. Hindang Darma bahasanya lembut. “Aduh dinda Hindang Darma menghilang di kali. namailah Darmayu. meskipun kanda yang memulai. Hindang Darma menang. Serta sudah takdir Yang Widi. kelak hingga anak cucu. seperti apa Nyi Hindang Darma. tetapi Hindang terdengar suaranya. Ada sumber air di kali Cimanuk. setia serta bijaksana. Tetapi dinda menurut. “Duh kanda sangat kuatir sekali. tidak mendapat kabar berita. 4. 3. cepat-cepat perjalanannya. jika nanti menjadi negara. betul-betul orang yang mumpuni.Wiralodra mundur dari hadapan Paduka. tertangkapnya itu?” Kakandanya lembut berkata. semua saudara yang ditinggalkan. kebiasaan orang Dermayu. 2. sampai di Cimanuk. kan Hindang Darma ikut. tidak licik bertarungnya. berpelukan semua saudara. karena Nyai Hindang Darma. Tidak suka menikah. (dengan) saudara-saudara yang ditinggalkan. 248 .

Tetapi kanda (serta) adik-adik. 5.jika bepergian tidak memberi wasiat. Semua saudaranya ini. tetapi susah nanti anak cucuku. banyak yang sengsara. bertemu di tempat upacara. Kelak negara Dermayu ini. tempat[nya] mengatur pekerjaan. katumenggungan dinda. moga-moga semua membangun. serta perkemahan besar. 7. ada di Darmayu. berdua keluar dari pintu. lengkap berjejer di depan. Kiai Pulaha. menjadi tujuan seluruh bangsa. karena perbawa wanita. Kakaknya mengizinkan. 6. negerinya sangat ramai. (untuk) menjadi pejabat di negara. Bayantaka. sama-sama berumah tangga. permisi dinda hendak ke luar sekarang. untuk meresmikan negara. dengan Ki Tinggil. 249 . semua oarang suruh berkumpul. berkata silahkan bagaimana kehendak kanda. dengan mantri Wanasara. dari timur barat datang. Surantaka. (orang dari) sebrang nanti tiba. membuat pasukan. keris atau pedang. aku persilahkan semua saudara.

. 9. Lalu keluar (yang punya) hajat. negara berkat kehendak Yang Manon. menyembelih kijang memotong sapi. tingkah-laku Ki Tinggil terlihat lucu. suara oarang-orang gemuruh. 10. Bekerja bersama-sama membangun negara karena sudah terwujud. berkumpul para kawula. disoraki oleh temannya. Melihat tingkah[nya] Ki Tinggil.8. semua sudah sedia. yang sebagian tertawanya jatuh bangun. 11. lalu berkata manis. Ki Tinggil juga menari. serta nyanyian gembira. 250 . hendak mendirikan negara lain. bersorak bagaikan prahara. semoga semua berkenan. mulutnya berbicara terus. “Hai semua saudaraku yang ada di sini. karena untuk tempat berpesta nanti. oarang (-orang) tertawa terbahak-bahak. suami istri berkumpul. Gamelannya angklung calung suling. (karena orang) besar dan kecil berkumpul. lenggak-lenggok (dengan) perut buncit. yaitu Raden Wiralodra. berbentuk perkemahan besar. semua berkumpul di tempat pesta. Sudah berunding semuanya. bergantian menari. hadiah untuk (para) kawula. sampai seminggu lamanya.

“Duh saudaraku semua. iuran semua saudara. bergemuruh orang banyak mengatakan amin. sambil membawa hidangan. Semuanya bubar. Ki Tinggil yang menyiapkan mejanya. bersantap (dan) bergembira sudah selesai. lalu Ki Tinggil menyambung pembicaraan. gamelannya celempung suling. serta membaca doa (memohon) keselamatan. (lalu) makan beramai-ramai.” 12. Para orang tua sama-sama mengamini. senggak(1) penuh irama. Semua orang berkata “(Kami) menjadi saksi nama negaranya (Dermayu) kami semua senang. lalu Raden berkata perlahan. (agar) saya ikut gendut sambil menari berlenggak-lenggok. 251 . saya mempersilahkan semua untuk bersantap. rebab (mengiringi) orang yang bernyanyi. (kepada) semuanya saya memohon. setiap bulan seperti ini. 14.negara sudah jadi. dan negeri ini diberi nama. Semua orang tertawa (dan) menyoraki. Yang membaca doa sudah selesai. “Duh saudaraku semua. Sesudah (menyantap) makanan.” Kemudian semuanya membbaca bismillah. semua saudara bersama-sama makan-makan. (yang) sama-sama hadir. serta kamu semua menyaksikan. 13. negara Demayu.

lalu berkata bagaimana kanda. Kakaknya lembut berkata sambil memeluk. suara celempung (dan) suling terbawa ngin. mendapat anugrah Yang Widi. besar kecilnya. Lalu bersalaman. apa yang terlihat. jika kanda Paduka mengizinkan dinda hendak pulang (ke Bagelen). 252 . “Dindaku semuanya apa yang harus kulakukan. oleh karena sudah lama. kepada dinda semua. bercampur dengan nyanyian. dan Wangsanagara itu adalah iparnya. tidak salah diundang. Keesokan harinya adiknya lalu berangkat.” 17. masih membereskan negara.yang bersantap gembira hatinya. karena kanda tidak bisa pulang sekarang. 16. Tetapi adik katakanlah. kepada ayah (dan) ibu nanti. (katakanlah) adinda semua berada di sini (mengadakan) pagelaran di kadaleman. Adik-adik(nya) sudah menyalami. “Duh Dinda semoga selamat. ayahanda menginginkan. karena ditinggalkan oleh adik-adik. 15. kembali ke negara Bagelen. kakaknya mengantar. sampai ke perbatasan.

sampai di akhir nanti. anak cucunya. diiringi [dengan] teman-temannya.” 253 . karena negara belum jadi.” Watuhaji membalas. (oleh) Den Wiralodra. aku tidak suka berperang. di negara ini. sebab menjadi pintu gerbangnya. Karena negara akan mulia. masih setengah hutan. “Percumah saya berkelana. jadinya saya tiba. Ini kan bakal negara. lalu diperiksa. menjadi pejabat di negara ini. DURMA 1. Setelah saudara-saudaranya meninggalkan negara. 4.Diganti (dengan tembang) Durma. tanpa tujuan. (itu) menghina. Watuhaji kakaknya. 3. akan saya minta. menurunkan tujuh bupati. sampai menjadi bupati sekarang ini. Yaitu tumenggung buronan dari Jepara. (akan) merebut negara. tanpa sopan santun. ada musuh (yang) datang. “Kamu ini datang kepadaku. VII. 2.

orang yang berada di tengah hutan. bersama teman(-teman)nya. (Membuat) heran yang melihat. Kiai Pulaha berdiri. pantas sekali maju perang. ternyata bisa bertarung. maju dengan penuh sopan santun. Nitinegara heran. Musuh banyak yang tewas oleh Pulaha. Lalu Nitinegara ke luar untuk bertarung. 8. lagaknya sangat berani. pedang dipegang di tangan. sambil lenggak-lenggok mendekati (musuh) ramai yang berperang musuh banyak yang kalah. Kiai Tinggil lagi senang perang. Wiralodra mukanya seperti api. tidak disangka bisa perang. “Hai kamu Wiralodra. 254 . 6. riuh rendah. Lalu menoleh mengerikan. Ki Pulaha maju bertempur. 7. melompat seperti kilat. Prajurit Watuhaji. sambil berteriak (menantang) bertarung. dibawa ke pintu gerbang. baksanya (tarian perang) lembut dan manis keris disandang. jika menebaskan senjata. 9.5. ramai yang berperang. seperti orang(-orang) kerajaan.

Ayo sambutlah!” Raden Wira ke luar. majulah berperang. yang kuat di medan perang. Sudah menyambut. menusuk Wiralodra. karena kamu prajurit sejati. “Hai prajurit Watuhaji. (lalu) berhadap-hadapan di medan perang. Sesumbar Raden Wira di tengah medan perang.” (lalu) berhadap-hadapan. terguling di atas tanah. lawanlah aku! 13. 255 . Kerahkanlah prajuritmu. lalu maju perang lagi. (kemudian) diikat oleh Ki Tinggil. bila kamu prajurit sejati. Nitinegara dibanting.” Berkata Wiralodra. 10. ayolah (kamu) maju berperang. memegang senjata. akan aku tahan. “(Aku) tidak biasa mendahului.jangan (terlalu) lama mengadu prajurit. 11. oleh Wira(lodra) disuruh dibawa. jangan ragu untuk memukul. 12. “Hai Wiralodra (kamu) ayo gunakanlah keris atau pedang. Ayo tebaslah dengan senjatamu!” Cepat Nitinegara.

yang ditujunya itu . letaknya yaitu di Cisambeng. ……… Drayantaka (dan) Wanasara 256 . Kelak keturunannya 17. (Keduanya) saling membentak serta mengadu senjata. (Badannya) menjadi sebesar anak gunung. 15. Watuhaji meloncati. karena Raden bertarung. 14. mengacau di negara Dramayu (membuat) susah orang kecil dijarah kerbau (dan) sapinya beras padi dan harta banyak orang dibunuh yang diserang melarikan diri ke luar dari Bantarjati 18. Menurut cerita ini. berganti nama. Watuhaji dan Den Wira.Bertengkar (dan) saling menyerang. bertarung saling mendorong. bertemu tandingannya dalam berperang. melarikan diri dari pertempuran. tempat untuk bertapa. Ki Gedeng Sambeng namanya. Wiralodra (lalu) mengeluarkan ilmunya. (kemudian) menjadi pendeta. Nanti jadi tempat tinggal Ki Tumenggung (yang bernama) Ki Gedeng Depok.. 16. menuju arah selatan.

negara tambah ramai. 257 . (Dari) Sumatra Palembang banyak yang pindah. kedatangan orang(-orang). diserahkan kepada Ki Tinggil 19. (dengan) membawa harta (benda). serta banyak serdadunya. Watuhaji dan Nitinagara. ponggawa (dan) para mantri 21. menawarkan tanah. (lalu) mengangkat demang (dan) rangga. Wiralodra diangkat. lalu den Wiralodra mengalahkan banyak tentara. beberapa gotongan. (semua) membuat rumah. harta beribu juta. sudah berdiri (pasukan) jendral. 20. tentara admiral bertambah banyak. tumenggung dserta patih. gembira semuanya.mengamuk di medan perang. masing-masing berkeluarga. Oleh karena itu negara tambah ramai oleh orang(-orang). Raden Wiralodra kaya. Lolos menuju Dramayu. tanah (di) Bogor dan Karawang. menjadi Kiai Dalem. pasukannya kira-kira seratus orang. semua lengkap. kepada bangsa Belanda. pasukan[nya] tumenggung tunduk semua. 22.

24. kesaktiannya tiada tara. oleh karena paling sakti di dalam negeri. 25. Disayangi Sultan Mataram. melarikan diri (pada) malam hari. menjadi macan negara.menyerahkan harta(nya). 258 . dari negara lain. ke negeri Dramayu. VIII. 23. Penyebab Nitinegara menangis. (Nitinegara) meminta belas kasihan. Menjadi negara (yang) subur makmur. dari keratonnya. orang(-orang) kecil merasa senang. merasa takut yang melihatnya. (kelakuan) seperti itu tidak baik. Wiralodra. memotong leher saya. DANGDANGGULA 1. kepada kedua tumenggung. sebab hendak menghancurkan Darmayu [itu]. Seharusnya Tuanku. kepada Sinuhun Mataram. membawa harta bendanya. diganti lagi (oleh) dangdang(gula). Terkenal ke seluruh negeri. karena ada keinginan Raden Wira. (Terpaksa) melarikan diri akan dipenggal lehernya. (karena) berbuat (telah) salah. banyak orang-orang. jika nanti hendak dikirim .

3. (Lalu) dibekali Nitinegari. Wiralodra yang kedua. putranya (yang bernama) Raden Wirapati. dosa yang sangat besar. menjadi dalem Darmayu. nanti kedudukannya sangat dibedakan dari yang lain oleh karena nanti turunan Nitinegari. diperintahkan bertapa (untuk) menghilangkan.(Tapi)saya memohon agar tetap hidup. yang sulung (bernama) Sutamerta. 259 . mengganti kedudukannya. Dikisahkan Kiai Dalem. telah jauh perjalanannya. permaisurinya empat (orang) lahir putra tiga belas banyaknya. disuruh menuju gunung. dalem di Darmayu. bungsunya Raden Drayantaka. 4. Dalem Darmayu. Dalem yang mejadi penggantinya. Wirapati selanjutnya. Yang perempuan bernama Nyayu Hinten. Watuhaji yang berdosa. semakin lama negara semakin kaya.” Wiralodra sangat kasihan melihat[nya]. ayahandanya sudah meninggal. tinggal menjadi senang dan raharja. mengikuti saudaranya yang (menjadi) berandal. 2. (diceritakan) sudah mempunyai anak. sebanyak empat orang. Lalu berangkat Nitinegari.

gembira sekali Paduka. Werdinata dengan Nyayu Hinten. 7. karena hanya satu. 260 . tetapi (jangan) dibawa. tiga belas bulan lamanya. (bila) saudara mau. nama yang disepakati. Lahir anak laki-laki yang rupanya tampan. (selalu) saling mengunjungi. bernama Werdinata. Serta lama kelamaan adiknya Nyayu Hinten mengandung. 5. Dinda Werdinata. di Pulo Mas negaranya. Adapun (untuk nama) putranya. lama-lama jatuh hati. memiliki saudara seorang raja.perempuan dan laki-laki. 6. lalu melahirkan. adikku yang perempuan. Karena sangat saling menyayangi. Kakaknya sangat setuju. putranya diberi 8. ke negara adiknya nanti. terus terang kepada kakaknya. sangat saling mengasihi. setelah menikah nanti. berunding dengan kakaknya Den Wirapati. seperti dengan saudara. Werdinata kepada (Nyai) Hinten. Raden Wirapati.

putranya sudah tiba. 9. “Selamat datang anakku. Lalu ayahnya berkata. 261 . “Hai anakku yang tampan. pasukannya siluman. (ketika) berumur tiga tahun. memenuhi permintaan ayahanda. oleh Dalem Ciamis. serta Dalem Kuningan. menghadap ayahandanya. kedua ayahnya sangat sayang kepada anaknya. 10. gemilang cahayanya. karena sudak bijaksana. onom dan mahluk halus. Ada keperluan apa?” 11.” “Semoga bakti ananda diterima. Lalu ayahandanya berkata perlahan. dimintai tolong (oleh) Dalem Sumedang. hendak meminta bantuan. dibawa mengunjungi ayahnya.Bagus Raden Wringin Anom namanya. sebab Raden Wringin Anom. karena diserang. (sehingga) tidak kuat berperang. Werdinata di Pulo Mas. cepat(-cepat) aku memanggil(mu). Ayahandanya berkata. kuning cahyanya bersinar. (karena) ayahanda menerima surat. kepada putranya Sultan Pulo Mas. (pasukan) dari Sumedang banyak yang terserang penyakit. Kemudian Den Wirapati.

hanya suaranya yang bergemuruh. (dari) Ciamis dan Kuningan. tidak kuat (menghadapi) musuh Dalem Ciamis. Silahkan ananda (apa) tindakanmu. (yang) meminta tolong ayahanda. Saya diserahi (untuk menumpas) musuh para siluman. 13. menggeram suaranya. Orang(-orang dari) timur melihat. “Baiklah. sudah berada di depan.” Lalu ayahandanya berkata. “Duh putra tolonglah. putra yang menanggung. saya serahkan negeri (ini). lalu bubar menyerang para siluman. karena ayahanda akan bertarung (melawan) Kuningan (dan) Ciamis nanti. Paduka Dalem Sumedang. (jangan) khawatir ayahanda raja. 14. 12. (melawan) musuh para siluman.dari Dalem Sumedang. kata anaknya. onom dan mahlukhalus. seperti orang berbaris hendak berperang. karena pasukannya siluman. Dalem Wiralodra datang. tidak terlihat wujudnya. Jika demikian saya berangkat hari ini. 262 . Orang Sumedang banyak yang ikut. karena dikepung musuh. menghampiri serta memeluk sambil menangis. karena itu mereka sangat hormatinya. ananda harus ikut. dengan membawa tentara makhluk halus.

Dalem Kuningan dengan Dalem Ciamis. musuhnya pasukan onom. Prajurit keluar semua. putranya mengusir para siluman. Ramai yang berperang. berubah wujud. Lalu orang(-orang) Sumedang.Raden Wiralodra. sama-sama mengusir orang(-orang) dari Ciamis. karena Dalem Darmayu sakti. karena Raden Wringin Anom. dikeroyok bertarungnya. Banyak prajurit tewas. maju bagaikan kilat. yang diincar tinggal kawannya dan raja. (dan) khawatir (pada) ayah(nya) 15. Suradiningrat (dan) Brata Kumuning. karena sangat gembiranya. mengemban (tugas itu). 263 . jatuh bangun pasukannya. dan semuanya merasa bahagia. sangat kasihan kepada Dalem (Sumedang). berlarian pasukan Kuningan. 17. merangsek (ke medan) perang. sama-sama ikut bertempur. Raden Dalem Wiralodra. Orang(-orang Sumedang gembira. 16. Lalu Dalem Wiralodra. dan Tumenggung Dongkara. menjadi sebesar anak gunung. Serta keesokan harinya pergi berperang. (ialah) orang(-orang) Ciamis. hampir tertimpa kedua dalem ini.

melesat ke angkasa. gigi taringnya terlihat bersinar. sebab khawatir akan negara. “Kebetulan sekali anakku. lalu putranya menyembah Berdua dengan Tumenggung Jongkara lalu. menyelamatkan diri pasukan Ciamis. “Jika mendapat izin ayahanda. Den Wringin Anom mengejar siluman..18. Orang-orang ramai melarikan diri. jari-jemarinya menyentuh tanah. tidak ada yang layak menjaga.” Ayahnya sudah mengizinkan. bagaimana musuhmu?” Putranya berkata kepada ayahnya. lalu bertemu dengan ayahandanya. 19. sampai di perbatasan. Lalu anaknya berkata lembut. berdua dengan Jongkara pelayannya. berdua dengan Paman Tumenggung. Bubar pasukan dari Ciamis. (bahwa) pasukan Ciamis dengan Kuningan. Kemudian ayahnya mendengar yang berita. “(Banyak yang) melarikan diri. 20. suaranya bagaikan halilintar. terpisah raja dan rakyatnya. 264 . matanya (menyala) bagaikan matahari kembar. Ciamis dan Kuningan. 21. juga musuh ayahanda. ananda hendak kembali sekarang. sudah bubar tidak ada yang tertinggal. dikejar oleh Dalem Wiralodra.

Putranya mengucapkan terima kasih. “Mari anakku sama-sama menaiki. bagaikan bumi terbelah. sama-sama berebut uang. setelah sampai (makanan) disajikan. 23. karena gembira sekali mereka. Cepat ayahanda menjumpai serta membawa putranya yang perempuan.telah bubar sekarang. 265 . serta (diiringi) bunyi gamelan (dan dentuman) meriam. para wanita serta ibunya. anak gunung sangat buruk” (1). sama-sama menghormati. 24. dengan panglima perang. ramai orang(-orang) menagkap. Lalu sudah bertemu. Semua para prajurit. diiringi gamelan serta prajurit penghulunya siap. berisi uang mas. untuk menyapu dan memasak nasi. naik joli dan tandu. dicampur dengan uang talen. sepanjang jalan jadi terlihat sedang berhadap-hadapan. Ini putra ayahanda seorang. kita berdua bersama menaiki(tandu). ayah dan ibu bernadzar anakku. Ditaburkan uang tersebut. Bersama-sama turun dari tandu. serta para pelayan. membawa bokor mas. segera menaiki tandu. 22.

makan bersama. Lalu sama-sama pulang. saksikanlah ucapanku (ini). dengan Darmayu ini. saya serahkan kepada anakku. (saya) sangat berterima kasih 25. yang tinggal di negara Darmayu. yang bersama-sama duduk di tempat ini. dengan para ponggawa. bergembira semuanya. Dalem berkata manis. 26. “Hai sanak saudaraku. kawula dengan prajurit. menjadi satu negara. 27. (atas) kasih sayang ayahanda.” Lalu sama-sama bersalaman. mendapat anugrah dari ayahanda Kandanghaur pesisir utara saya terima. (saya sampaikan) beribu-ribu terima kasih. ramai-ramai makan-makan hingga tujuh hari.para pelayan berhamburan ke depan. “Hai para prajurit. semua saudara (pamit) 266 . bawahannya semua. Lalu putra Dalem Wirapatih turun dari tempat duduknya serta menerima baktinya. kepada putra Wiralodra. saksikanlah oleh semua. Aku tidak memiliki (lagi). Kemudian semua mantri. pesisir Kandanghaur.

sampai ke perbatasan. semua pengawal putranya.kepada Dalem Wiralodra. Wirantaka keempatnya. para madu dengan para putra. para saudara dan rangga. Raden Timur dan Sawerdiya. (dia) sangat menyayangi istrinya. istri dan putranya. sangat makmur tinggal di negeri (ini). kedua Raksadiwangsa. semuanya akur. Nayastra. di belakangnya para madu. yang paling besar ialah Raden Kowi. 29. Selanjutnya (di) negeri Dermayu. Istri dari Sumedang tidak ketinggalan. Wiralaksana. 28. Hadiwangsa. serta diberi istri. sangat gembira (karena) ayahnya datang. serta tinggal di pesisir Kandanghaur. Adapun nama putranya 30. Lalu putra perempuan. sangat gembira hatinya. Nayawangsa. sejahtera dalam kehidupannya. 267 . Wiratmaja (yang kelima) karena lima orang anak laki-lakinya. mendapat anugrah dari Yang Kuasa. Karena dinanti-nanti tiada henti. lalu datang dan menemui. untuk kembali. Hastrasuta.

Karena sudah memiliki putra. (oleh) putranya (yang bernama) Raden Sawerdi. sama-sama kaya. para putra semuanya. dengan Wiralodra namanya. adiknya menginginkan. yang menggantikan harus kakaknya. 32. dan Nyi Raksawinata yang keempat. Semuanya jadi pejabat. sangat bijaksana. mereka bersaudara. 34. sudah beristri. (kemudian) diganti. serta semua para pembesar. 33. sudah lengkap tiga belas (orang) putranya. Puspa Taruna. penggantinya berebut jabatan.31. Singawijaya putranya (yang) perempuan. paling besar Raden Benggala. Benggali namanya. Benggali adiknya. Singalodra yang gagah. menjadi bupati. Patranaya. Tetapi persetujuan para ponggawa. kakaknya Raden Benggala. tetapi Benggali Benggala anak laki-laki ini. sebanyak empat orang [putra]. menduduki jabatan bupati. Lalu wapat ayahandanya. 268 . yang telah mengganti kedudukan ayahnya. Lalu ayahnya tiba ajalnya.

lalu adiknya berkata. Berlayar di lautan. kakandanya yang menggantikan. 36. menjadi bupati. ikut ke laut. membawa serdadu satu kompi. pangkatnya komandan. lalu datang utusan. kalau aku tidak menjadi bupati. kepada Tuan Komandan. tetapi Raden Singalodra. utusan dari Tuan. kakaknya di Darmayu. kalau kakanda yang menggantikan. akibatnya bakal ada kematian. menjadi bupati menggantikan kedudukan ayahnya. Sangat bingung para ponggawa. kedudukan ayahanda. istrinya ke Bantaranak. dari Betawi. 37. membawa pasukan serdadu. kakanda sudah (menjabat). 35. jika demikian menurutku. (sehingga)lima bulan tidak ada bupati. mengganti kedudukan ayahanda.Tetapi adiknya (berkata). utusan Gubernur Jendral Betawi. pasti saya mengamuk. van de Boss namanya. bila menyebrang ke Betawi. Tetapi (setelah) tiga tahun lamanya. 269 . “Raden Singalodra kakandaku.

mengingat adiknya. Gandur dan Purwadinata. siang malam mengaji Qur’an. memohon maaf. melihat dengan kasih sayang kepada paduka. lalu tiba di perbatasan. semua sanggup (membela) sampai mati. saudaraku semua menurut kepastian. 39. delapan orang putranya.tetapi tidak enak hati. 38. semua ponggawa. Dalem Wiralodra tadi memiliki anak banyak. Lalu para mantri menjawab. saya sudah pasrah. Menangis para ponggawa. pasukan dari Paduka. saudara (dan) ponggawaku. tiga tahun lamanya. Lalu mas patih Hastrasutanaya dan Tumenggung Trunajaya menjawab. mengenai negara ini. jadinya saya katakan. karena sudah sampai pada janji terdahulu. sama-sama mencium kakinya.” Bupati berkata lembut. 40. 270 . sebab sudah pergi berduyun-duyun dari hadapan (paduka). Lalu semua mengundurkan diri. bahwa tidak mengingat saudara paduka. Kemudian berkata lembut. yang sulung Den Laut. keinginan Yang Maha Mulya.

Berkat pertolongan Yang Agung. apa betul?” Wiralodra menjawab. mengaji siang dan malam. 271 . takdir Yang Maha Agung. ayahandanya dipanggil oleh Sultan Cirebon. Gembruk serta Toyib. Singalodra namanya. putranya (yang bernama) Kartawijaya. Lalu sunan berkata. takdir Yang Maha Mulya. di makam para leluhur. Bila malam tidur di makam. agar kuat imannya. meminta kepada Yang Maha Suci. “Jadinya paman aku panggil Wiralodra ke hadapanku. yaitu Gusti Panembahan Sunan Haji. persembahan kepada sultan. (karena)sangat sakit hatinya. 42. “Sesungguhnya Tuanku. 41. mengurangi tidur dan makan. karena sudah disampaikan. aku mendengar berita (bahwa) paman berhenti dari jabatan kebupatian. yang mengganti adik saya sendiri Paduka. yang sangat tidak enak hatinya. putra sedang susah makan. jam empat kembali ke rumahnya. Nyai Moka bungsunya.Kartawijayastra yang keempat?. 43.

aku terima diserahi putramu. saya menyerahkan semuanya. padahal ia masih muda. “Paman. anda ini (agar) menolong saya. 46.” 47. pasrah kepada Paduka. anak hamba (yang bernama) Kartawijaya. Tidak tidur serta tidak makan. tetapi permohonan hamba. supaya di kesultanan (ini).” Berkata Sinuhun. Kartawijaya dipanggil. semuanya sudah sedia. “Perihal masalah itu. mengajar para putra mengaji. (yang)namanya Kartawijaya. “Baiklah (saya) mengikuti kehendak Paduka. 45. sepertinya sedang tidak enak hati. serta rumah tempat tinggal paman. sudah menghadap kepada Paduka. Lalu Kiai Dalem berkata. Tajug (dan) kolam aku sediakan. sangat sabar hatinya. Sultan sangat kasihan melihat. Dalem Wiralodra. 272 . barangkali hatinya terbuka serta paman memohon pertolongan Paduka. Lalu berkata sultan kepada Wiralodra. mati hidup saya.44. kitab serta Qur’an.

” Kartawijaya sudah menerima surat dari Paduka. 273 . kepada Raden Kartawijaya ini. Sudah jauh perjalanannya. Pangeran melihat dengan rasa sayang. bersama-sama denganku. Kartawijaya berkata kepada Paduka “Saya memang berdosa kepada Paduka apa yang Paduka inginkan?” Sultan berkata manis. di hadapan Sinuhun. Ratu Mas Atma namanya. untuk Kakanda di Panjunan. lalu disampaikan kepada Pangeran Panjunan. tempatnya di Panjunan. 49. tempatnya di penjagaan. sukur kamu ini.” 50. “Lalu Sinuhun berkata perlahan. saya angkat jadi mantri polisi desa. lalu mundur dari hadapannya. Kemudian kelak dinikahkan kepada cucunya. Sekarang kamu ini. kepada Kartawijaya. bawalah suratku. aku mengangkat kamu. lalu berkata perlahan. “(Ternyata) ada Kartawijaya (datang). tampaknya terampil dalam pekerjaan ini. di Pajagalan Panjunan. Naik tahta di Panjunan. 48.berlutut dan menundukkan mukanya. “Hai Karta kamu ini. Suratnya sudah diterima.

adapun rumahnya. bersorak gemuruh. orang(-orang) kecil suka melihatnya. Ki Dalem lalu berkata. tidak pantas menjadi bupati. mantri patih dan bupati. [karna] aku tidak menyetujuinya. harus suci hatinya. kebiasaan santri (seperti)itu. 53. berada di Kejaksaan. gamelan dibunyikan. sedang pesta beramai-ramai. bila menari [sepertinya] bergoyang disertai 274 . ramai-ramai siang malam. santri kecil hatinya. meskipun saudara (atau) orang tua. semua bersuka ria. (bersama) empatpuluh orang prajurit. Untuk apa banyak harta. bila menjaga di perbatasan negeri Darmayu. semuanya ponggawaku. sedang mengatur pekerjaan. Ketika bupatinya ada di sini. (bila hanya) mengingat akhirat. semua tingkah laku bupatinya. 51. di sini ada para ponggawa. 52. (sehingga) sepi di negara. menurut perintah nabi. Lalu dirubah lagi ceritanya. gagah serta tampan. yaitu Kiai Dalem Singalodraka. takut dosa besar. bila tidak bersuka-suka.

55.selendang kain berbunga. menjaga para durjana. (sehingga) orang kecil sangat susah. nayaga ramai senggak. dirampok oleh para durjana. Setelah bubar semua. semua tingkah-lakunya baik (tak ada) tandingannya. badannya sedang (dan) gagah. 54. Orang yang banyak harta-bendanya. sangat susah (selalu) ada keributan di negeri. (karena) banyak orang yang dibunuh. kadang-kadang saudara sepupunya. Perusuh sudah bersiap. bila kurang senggaknya menendang dan menyepak. seolah-olah marah. tiga tahun lamanya. Dalem Singalodra. Orang-orang berkumpul di desa. nayaga disiram oleh air. [upacara] siang malam Patih Hastrasuta berkeliling. putranya Purwadinata. sampai pada ajalnya. yang menjaga tidak kuat. 275 . lalu selendang disingkirkan. (Kemudian) banyak terjadi perampokan. dilantik mejadi bupati. 56. (yang bernama) Raden Semangun. diganti oleh putranya. Ada lagi berita (demikian) ini: 57. Para mantri sama-sama bersorak.

Bagus Rangin. (Kemudian) berunding hendak menyerbu ke negeri Darmayu. 60. Biyawak. berkata kepada teman sesama prajurit. 58. 59. Serta para panglima perang. penuh sesak (karena) banyak orang. menjaga di perbatasan. oleh karena pesta menampilkan (berbagai) pertunjukan. lebih dari tujuh ratus. Bagus Wari semua (dari) Mayahan. mereka sampai tiap hari. pribadinya pemberani. Lalu mereka bertarung. Jatitujuh. senapan dan keris. tandu dan kendaraan tunggangan. 276 .. Surapersanda.. Bagus Leja dan Sena. Siang malam beramai-ramai. Kiai Betawi itu dari Kandanghaur. tidak enak duduk. Raden Kartawijaya. Den Nuralim adalah saudara sepupunya. bertanggungjawab di pertempuran. adapun Seling Rangin putranya. Semuanya sudah setuju menyerang Dermayu. para putra semuanya. orang Kulinyar dan Pasiripis.tempatnya di Bantarjati. sedia tumbak senjata. Pimpinannya Bagus Kandar.

Uwa Kartawijaya. 62. memakai pakaian tamtama. kulitnya kuning. yaitu Ciliwidara putri dari negeri Banten. dengan putra serta senapati. putra bersama saudara. komandannya paling depan. 277 .“Hai saudaraku semua. mendapat kebijaksanaan.” Keesokan harinya berangkat. bercampur dengan (suara) senjata. tidak bisa menangkapnya. banyak orang yang melihat. 63. (karena) terdapat perempuan. (badannya) besar tinggi menakutkan. Para prajurit dari Darmayu.”Baiklah. Serta sampai di Dermayu. serta para putra. diperhatikan kelakuannya. (mengikuti) kehendak tuan. yaitu Kartawijaya. besok (akan pergi) ke Darmayu. mendengar sorak beramai-ramai . Semua para prajurit terkejut.” 61. melihat yang bertarung . para ponggawa banyak yang rusak. melihat saudaraku. (serta) bisa terbang di angkasa. Teman-teman para prajurit menjawab. adik-adik serta sepupu bupati. Raden Wiralodra. berkilauan pedang berwarna mas bergagang kuning.

siapa nama prajuritnya?” 65. Suryaputra. ayahnya mengeluarkan air mata. “Duh anakku. dan kakak Suryawijaya. lalu bertemu dengan adiknya. musuh ini menginginkan apa. Ciliwidara itu. masuk ke keraton. 66.” Kartawijaya berkata.datang dengan para prajuritnya. banyak yang tewas. (yaitu) Den Dalem Wiralodra. mengaku putra Kentanagara. karena sangat berduka. berani sekali merusak negeri ini. Suryabrata. sekarang ayahanda ingin bertemu. oleh panah si Ciliwidara. katanya tandingannya dengan Paman Patih Hastrasuta. lalu bertemu dengan Raden Kerstal. menangis di hadapannya. malah putra ayahanda. Kemudian dengan ayahnya berangkat. “Duh ayahanda sangat rusak negara. “Duh adinda Patih Hastrasuta. gugur tadi. 64. serta putraku Kerstal. 278 . besok (akan) saya tangkap. Nyi Ciliwidara namanya. (Ia melarikan diri).

senjata panah serta keris.67. terlihat sangat serasi. (kita) orang Dermayu. menghadapi peperangan?” 70. Ya besok adinda saya (akan) lihat. 279 . Lalu kemudian memeluk kakaknya. apa tindakan kanda. cepat berganti pakaian. Ciliwidara mendengarnya. Lalu [cepat] menantang. apalagi ia cantik. 68. yang hendak merebut negara. Sambil menangis memanggil-manggil. “Hai orang Darmayu masihkah berani. “Duh kanda tolonglah sekarang. sangat sakti Ciliwidara ini. putra kanda banyak yang tewas. kanda bertanding di medan perang. seberapa berat kesaktiannya. (aku) ini saudara yang tertua. pasukan ponggawa putra prajurit. mengimbangi pertempuran. musuh satu orang tentu berani. menandingi kegagahan. Bendera lalu dikibarkan. Kamu tidak tahu (siapa) aku. karena didatangi oleh musuh. gelang kalung kilat bahu . Serta bendenya dipukul. 69. Kartawijaya namanya. Silahkan. Tidak kuat saya. dengan orang senegara. Serta besok menyiapkan pasukan.

berani(-beraninya) merusak Darmayu. senang melihatnya. “Bersiaplah! usiamu tak kan lama (lagi). 72. rasakan panahku. seru saling pedang. memanah tidak akan sampai kedua kali. “Dasar pelacur murahan. kalau mengenaimu. 280 .” Lalu berkata lantang.” Lalu panah cepat dilepas (dan) mengena. sombong kamu wanita cantik. kamu (memalukan sebagai) prajurit laki-laki. kamu Ciliwidara anjing. 73. tulangnya yang kena. kurang trampil dalam berperang. cepat diletakkan di pinggang pedangnya. Lalu ia mementang panah. Raden Kartawijaya. tidak ada yang kalah bertarung. haus akan darah manusia. karena kamu unggul. Jatuh seketika di atas tanah. yang bernama Si Belabar Geni. merasa gelap penglihatannya. Orang(-orang) bersorak gemuruh seperti bumi terbelah. menganiaya (dan) berlaku curang. sambil berbicara. kalau kamu merasa lebih!” 71. “Kamu betul-betul prajurit Ciliwidara didekati. karena itu cepat menyerang kamu anjing. keduanya unggul. “Hai kamu Kartawijaya.

Semuanya berkumpul. 74. Hastrasuta namanya. dikeluarkan kesaktiannya. berkatakepada prajuritnya Aku perintahkan menjaga. Ciliwidara tidak berbekas ada di bumi. menjatuhkan diriku. siang dan malam. Setelah Ciliwidara menghilang. menemui adiknya Wiralodra.” Lalu Den Kartawijaya. karena aku tidak takut melawanmu. menghadapi musuh (yang bernama) Kartawijaya. harus sama-sama dijaga. tempat menghilangnya Nyi Cili. bersama putranya.apa yang dilakukan kamu ini. serta adik patih. 281 . sangat berat kesaktiannya. Kartawijaya. Kartawijaya hatinya benci. menghentakan (kakinya) di atas tanah. 75. semua kelakuanmu. kakaknya dengan adiknya. IX. Karena sama-sama bertemu. SINOM 1. menghilang tidak tentu. sambil menggerutu (di dalam) hatinya. Ciliwidara tidak kuat. lalu [sudah] diambil. dengan semua putranya.

dinda persilahkan duduk di dalam 4. 3. cepat Kanda datang. takdir Yang Maha Widi. Kakaknya lembut berkata. tetapi bahagia ditolong oleh kakanya. 2. dan khawatir atas menghilangnya Ciliwidara. ditakdirkan Yang Maha Mulia. Barangkali beristirahatlah dulu. beribu-ribu kebahagiaan. heran sekali Ciliwidara gagah . seperti apa keinginan (kanda). mulanya (kanda) tidak sopan kepada Paduka. “Duh Dinda untung selamat. Adiknya berkata kepada kakaknya. Kakaknya lembut berkata. jika Dinda masuk. Maka hendak melaporkepada Paduka. kepada saudara-saudaraku. diterima permohonan Dinda. 5. tidak berniat hendak membantu adinda dalam berperang. 282 . kakanda cepat datang. rusak negaranya.menceritakan rasa susahnya. tetapi keinginan Kakanda. serta para putra nya. karena kan lagi berperang. tidak tahu kesusahan. hendak pulang lebih dahulu. karena berkah kakanda. Oleh karena orang yang bijaksana. maka permohonan adinda.

Semuanya berpelukan. celaka Paduka. “Keinginan Dinda silahkan sampaikan. 7. sambil menyembah. Dalem Wiralodra.ke penjagaan kanda. begitu pula para putra. Di tempat menghilangnya. Kanda hendak berangkat pulang hari ini. tak disangka berhasil baik. (setelah) mendapat izin dari Paduka. di negeri Garage. (harus) dijaga ponggawa. Ponggawa (dan) saudaranya masuk ke padaleman. kemudian berjalan cepat(-cepat). Lalu masing-masing bubar. sangat susah Paduka hendak mengatakan yang sesungguhnya. sedang menghadap kakaknya. (yaitu) Patih Hastrasuta. [tetapi] Dinda (harus) hati-hati. 6. Tiba-tiba datang Nyi Jaya menghadap. menjaga tempat menghilangnya. Saat itu hari Jum’at. Kiai Dalem berkata lembut “Duh selamat datang Dinda. 8. lalu berjalan mengiringi sampai di pintu gerbang. 283 . Dinda.” Kiai Dalem berkata.” Nyi Jaya menjawab pelan. “Duh Tuanku (saya) menyampaikan berita buruk.

Darmayu hendak dirusak. Sudahlah Dinda cepat mundur beristirahat di rumah Dinda. tidak berniat mengingkari Paduka. hendak merampok (dan) merusak negara Tuanku.mengatakan kesalahan apa. memang saya di bawah kekuasaan Paduka. saya akan menikuti sampai anak cucu. semoga keturunanmu. “Saya (ingin) menemui Kakanda. dan mohon (pamit). sekarang baru kesampaian. kelak menjadi bersatu. kelak kematian saya bersaksi. sekitar seribu orang. Saya dari Bantarjati. (saya) belum pulang ke rumahku. 11. saudara-saudara saya berkumpul mendirikan tenda besar. “Syukurlah bahagia Dinda. sudah banyak orang datang. Kiai Dalem berkata. tetapi saya tetap. Dinda?” 9. serta keturunanku diterima semuanya. Kiai Wiralodra berkata kepada patih. 10. Lalu menyembah kepada Paduka. hendak menurut (kepada paduka). semua kehendak Paduka. 284 . dan saya berganti nama menjadi Resik Sira Jaya.” 12.

(dan) mantri. Jiwasuta prajuritnya. Pagi berangkat dari paseban.” 13. Tanujaya dengan Demang Wangsanaya. (dan) Tumenggung Sutamarta. karena Tanujiwa kakaknya. “Duh saudaraku para prajurit. Trunajaya adiknya. 15.“Bagaimana kanda laporan Nyi Jaya tadi. semua yang saya sampaikan. supaya timbul keberanian. mengumpulkan ponggawa. serta Wangsataruna. “Paduka harus mengawasi para perampok. (Setelah) seluruh prajurit (berkumpul).” Paduka lalu berkata. Tetapi siap berperang. “Karena itu Kanda Patih. keinginan paduka hendaknya diawasi. dari kampung Bantarjati. 14. apa yang akan kanda perbuat?” Patih menjawab. santana. kemudian patih berkata. menunggu di pintu gerbang paseban. Semuanya saya yang mengatur. pagi-pagi para senapati harus berkumpul. sepertinya musuh (akan) mendatangi. 285 . jika (mungkin musuh) harus ditangkap. para prajurit siaga serta perbekalannya. prajurit. (untuk) bersiaga menghadapi perampok. 16.

17. para arya. pakaiannya macam-macam. 286 .bersiap untuk bertarung.” Bende berbunyi menandakan semua bubar. Semuanya menaiki kuda. para abdi semua sedia. 19. kelapa muda (disediakan) di setiap pintu. demang. terlihat gagah perkasa badannya serta sembada. oleh karena menghadapi perampok. (mereka) semua baru melihat Paduka. orang kampung yang menyediakan. mahkota berwarna mas berhiaskan intan. serta tetabuhan. berangkat ke Jatitujuh. diiringi prajurit. Patih Hastrasuta. rigah. minuman serta makanan. tergantung keris di kanan. para mantri. Sepanjang jalan menjadi jadi tontonan. (jangan) kurang persiapan. oleh karena gagah perkasa. memajukan banyak prajurit. (memakai) konca (sudut kain dodot) dihiasi cinde kuning. serta semua prajurit. Bende berbunyi semuanya berkumpul. kanda menjadi biasa. pagi-pagi aku tunggu. membawa pedang tumbak keris. Paduka menunggangi kuda. bulunya berwarna gambir (membuat) gagah di medan perang. lalu kembali dari paseban. 18. tergantung juga ada di kiri.

semua senapati putra Mayahan. Ki Bagus Rangin. atau langsung diserang? Orang(-orang) Dermayu yang akan saya hancurkan. 23. (tersebutlah) yang ada di Bantarjati. (Setelah) semua lengkap berkumpul. Gana Wanggana dan Jari. yaitu para senapati. didampingi Surapersanda. apakah mengirim surat. serta pamannya yang dituakan. serta saudara dan putranya. seperti apa pertarungannya? Telah cukup para prajurit. serta Raden Nuralim. “Paman bagaimana sekarang. serta para senapati. Bagus Rangin berkata. Bagus Serit namanya. dengan kiai (dari) Betawi. harus nanti hari Kamis. 20. serta saudaranya Senolaja (dan) Bagus Kandar. “Duh putraku semuanya. aku harap bersabar.beramai-ramai tetabuhan di sepanjang jalan. Bagus Seling putranya. 22. 287 . pejabat di Kandanghaur. 21. para ponggawa sedang menghadap. Bagus Serit berkata. (Tundalah) yang berangkat. serta Bagus Pangiwa.

kira-kira hari apa. sukur (mereka) datang. janur serta daun beringin. “Betul tidak ada (halangan) anakku. Bagus Rangin berkata pelan. mengatakan kedatangan orang Darmayu.Kemis Kaliwon ini. kuda serta ponggawa. serta dipasang umbul-umbul. (karena) polisi desa datang menghadap Paduka. tetapi ananda lebih baik menjadi pasukan kehormatan. sepertinya sial (para) prajurit. kenapa mambawa pasukan besar? Keinginan ayahanda. kebetulan tanggalnya. setiap jembatan dijaga tiga orang prajurit. peperangannya bagaimana.” Lalu ayahanya berkata. “Duh Raden bahagia bila demikian. lalu jembatan dihancurkan semuanya. kira-kira telah jauh. pembicaraan terhenti. maju menghadapi pertarungan. 288 . anak (dan) saudaraku. dari utara hingga berpisah. 24. limapuluh jembatan (jumlahnya). Setiap jembatan dijaga sebagai penghormatan kepada Paduka. Dalem Darmayu datangnya. Ayahnya kembali berkata. perjalanannya lancar ataukan mendapat halangan?” 25. 26. tempatnya di Jatitujuh. “Bagaimana perjalanannya.

Usai merencanakan (siasat) penyerangan. Siang malam menabuh (gamelan). prajurit beramai-ramai. (Kemudian) membuat tenda. semuanya siap sedia. dengan temannya sesama perampok. Lalu bubar. tempatnya di Jatitujuh. dipasang tirai penghalang di air. 289 . 30. bersiap untuk kedatangan tamu. tetapi siap sedia prajurit. bersama-sama mengatur siasat perang. (dijaga) tiga orang prajurit. senjata telah disiapkan. prajurit Hastrasuta. kanan kiri bendera. menunggu kedatangan (tamu). 29. bersama Bagus Serit. semua berkumpul (untuk) bermusyawarah. Sama-sama membuat pesanggrahan. ramai orang menjaga perbatasan. Lalu para saudaranya. Supaya kuda kembali (lagi). (yaitu) siasat merampok. Bagus Serit yang mengaturnya. 28. untuk pertemuan para pejabat. Ki Rangin di pasanggrahan. karena sakti dalam berperang. lima puluh prajuritnya. pada setiap jembatan. gampang menghancurkan pasukan.27. Tundalah pasukan Darmayu itu. gamelannya (ditabuh) siang dan malam. lalu paman patih.

Lalu berkata Ki Patih. gembira atas penghormatannya. dusun Bantarjati. telah jauh perjalanannya. diiringi para prajurit. 31.diutus untuk memeriksa. Ki Patih lalu berkata. serta sampai di perbatasan. di mana tempatnya itu?” Berkata prajurit (yang) tiga (orang). itu terlihat Paduka. tempatnya berkumpulnya perampok. siap sedia perlengkapan perang(nya). 32. 34. Serta keesokan harinya bubar. Lalu perjalanannya dilanjutkan. kedatangan Paduka …. silahkan sekehendak Paduka. ramai (suara) gamelan Ki Rangin. Semua menghaturkan hormat. umbul-umbul bendera berjajar sepanjang jalan. sambil menyembah serta berkata. karena ini perjalanan terburu-buru. “Duh Paduka saya ini Karena diperintahkan menemui Paduka. bedil mimis dan seligi Ki Patih menaiki kuda. bendera merah kuning dan putih. saya sudah sedia barangkali diinginkan. patih dengan para mantri. 33. tetapi nanti setelah aku pulang. 290 . “Diterima saudaraku. hitam legam warna kudanya.

bendera dan umbul-umbul.” 291 . lalu patih memeriksa ke belakang. yang sama-sama tinggal di sini. apa tujuannya?” Bagus Rangin lalu menjawab. sudah tiba di pasanggrahan.sudah dipacu kudanya. pasukan sebanyak-banyaknya. bersorak hingar-bingar. dibakar tidak ada yang tersisa. Seperti apa pasukannya. ramai (suara) gamelan yang ditabuh. terdapat pesanggrahan besar. lalu sama-sama duduk. sudah sedia untuk berperang. “Hai saudaraku semua. karena menghormat Paduka. Disambut (oleh) banyak prajurit. 2. Sebetulnya hendak merusak. X. masuk ke dalam tenda. bersalaman semuanya. serta menghormati. menuju ke Bantarjati. hendak menanyakan berita lalu sampaikan yang sesungguhnya. PANGKUR 1. kemudian jembatan dihancurkan. Dalem Dramayu. karena aku menanti perintah. 35. tumbak perampok.

dan tidak takut melihat.” 7. karena bermaksud ingin merusak negeri Darmayu. Sudah. aku tidak mau disuruh mundur. menemukan kesusahan (dan) kesengsaraan dari Yang Agung. Loh Rangin ucapanmu itu memalukan. “Kiai Patih Hastrasuta. 292 . 6. “Bila boleh (berkata) semua adalah bersaudara. Lalu Ki Patih berkata.” Oleh karena itu Rakryan Patih merasa telinganya seperti disebit. kalau boleh saya mencegah. rupa oarang-orang di negaramu itu. bila kamu tidak tertangkap. Ki Rangin berkata kasar. 4. akan kulawan (dan) kuhancurkan perkampunganmu. karena musuh ada di dalam negara. mereka saling dorong mendorong. tetapi lebih berat menjaganya. 5. (jangan) menuruti napsu. karena malu kalau mundur. akibatnya jadi rusak. (jaga) mulutmu berandal babi.3. Para mantri menjaga. dan nanti membuat sengsara semua anak cucu. karena negeri ini (akan hancur). masa aku takut. Ki Rangin berat bertanding melawan patih. Ki Patih keluar dari Jati. Meskipun kecil wilayahnya.

tidak memakai aturan berperang. jatuh terkena tumbak dan keris. Ki Rangin tidak kuat berperangnya. semuanya kalah di pertempuran. serentak menyerang. menunggu waktu jam sepuluh. (orang dari) Bantarjati. berkata Ki Serit. sekarang jangan mendesak majulah. Karena Patih Hastrasuta mengamuk selama dua hari ini. siapa marah pasrah tewas. sudah merasa tidak kuat. kira-kira (tengah) malam saya bukakan. Biawak. Lalu Ki Serit berkata. Bantarjati. dikepung buaya mangapi. banyak musuhnya yang tewas. 9.dengan Rakryan Patih. ketika gelap tidak terlihat. bersiap mengepung saja. waktunya jam enam sore. Karena perang dengan perampok. “Saudaraku semuanya. 8. jangan sampai bisa keluar. para saudaranya maju perang. 10. 11. lawanlah (sambil) terus mundur. “Hai prajuritku semua. Pasiripis. orang(-orang) Kulinyar. Dan setelah jam sepuluh. dan Kulinyar bubar melarikan diri. 293 . seribu orang lebih tidak terlihat. lalu serentak bertarung.

berganti pakaian beraneka. berkumpul di pesanggrahan mereka. yang diinginkan tewas. karena tidak peduli (lalu) melarikan diri. 14. Serta sudah waspada lalu Ki Patih ditumbak dari belakang. kena (sasaran) lalu tewas. para mantri melarikan diri. sudah sewajarnya saya berbakti. sekarang pasti sudah sampai saatnya. aku sudah tidak kuat. sangat ramai karena perang sampai malam. bersorak seperti bumi terbelah. utara timur karena malam.12. membela negara. 13. 294 . kemudian dibawa oleh orang banyak. 16. Ki Serit keluar dari belakang. (Ia) berbicara di dalam hati. bertarung melawan perampok yang mengeroyok. membawa tumbak [dipikul] di pundaknya. sama-sama berpesta ramai-ramai. Lalu Ki Serit maju. hendak dilanjutkan (tapi) tidak tahu. tetapi pasukan Kulinyar. hanya Patih Hastrasuta. meladeni pertempuran. Hastrasuta sudah payah. oleh karena itu para perampok. Serta keesokan harinya bubar. badannya sudah hancur. 15. Tidak tahu arah utara-timur.

lalu masuk ke rumah. 17. maka (tempat itu) diberi nama Rengaspayung. lalu semua bubar. “Saat ini mendapat musibah. tewas di (tengah) jalan.” Paduka berkata pelan. para istri serta saudaranya. serta sudah sampai di kampung Bangoduwa. saat ini karena sudah tewas. “Hai mantriku semuanya. berkata Dalem kepada istrinya. tidak disangka perampok datang (lagi). 19. dikeroyok di medan pertempuran. Kanda Patih terbunuh.oleh karena para perandal. karena Kakanda Paduka. 20. Lalu melanjutkan perjalanannya. 18. “Celaka hamba. sudah tiba di hadapan Paduka. (lebih) banyak lagi yang datang di tenda besar. serta ada yang tewas. karena itu mantri melarikan diri. ditembak pamayungnya (pemimpinnya). sudah sampai di negeri. Berkatalah di hadapan (paduka) sambil menangis sedih.” 295 . dikepung banyak orang. sama-sama bertemu di pintu gerbang. Sesampainya di negara.” Sambil air mata mengalir deras. jika demikian lebih baik kalian pulang semua. Sama-sama bertarung di jalan.

21. serta saudara-saudaraku cepat berangkat besok pagi ke Dermayu sudah telat perjalananku. 25.” Semuanya menyanggupi. 23. “Duh paman saya mohon. serta saudara-saudaranya. hasil merampok di setiap kampung. Serta keesokan harinya semuanya bubar. para istri dan putra-putrinya. “Aduh kanda tidak disangka sama sekali olehku. sambil memanggil-manggil. oleh karena perampok kampung. bersama-sama mendengarkan ucapan Paduka. Ki Rangin berkata pelan 24. jumlahnya kira-kira tiga ribu orang perampok. Istri serta saudaranya. setiap hari menyembelih kerbau (dan) sapi. meninggal (akibat) dikeroyok dalam pertarungan. berandal dari Bantarjati. macam-macam tingkah lakunya.” 22. mengingat kesengsaraannya. (Mereka) beramai-ramai tayuban. kepada pamannya Kiai Serit serta saudaranya. siang malam makan-makan. 296 . Ramai gemuruh (yang) menangis. ganti lagi yang (diceritakan). padahal (kanda seorang) patih. semuanya menangis. masing-masing (membawa) senjata. kanda tidak panjang umur.

karena sama-sama gagah. masing-masing yang dimilikinya. 297 . gobang. Heng Li Cina baru semuanya berani. pakaiannya macam-macam. sepanjang jalan merampok setiap dusun. Babah Kwi Beng. dengan senapan di sebelahnya. 29. Cina babah dengan baru. sampai babi hutan. (Ada yang mengenakan) poléng gunung dan poléng Jawa. oleh karena kelakuan pencuri. 28.. tumbak. (mereka) sudah sedia berani mati. kerbau sapi juga ikut. segala kelakuannya. Heng San. keris dan komprang serta pentungan. Sepanjang jalan berjoget. hendak merebut barang (dan) harta.senapan. Di Lobener para Cina sedia. ada yang memakai celana poleng jarik. bersorak di jalan sambil menari. Orang Cina (berjumlah) dua puluh. atau sama-sama mengenakan celana pendek. ayam serta harta benda. serta Heng Jin dan Tiyang Li. memikul karung berisi beras. 27. serta Nyonya Cinanya. serta pedang. anak-istrinya di Dermayu. lalu berandal merusak. 26. ada yang (memakai) celana panjang. selendang lurik (kain) sarung poleng berkilauan. oleh karena jumlahnya banyak jadi berani.

tetapi mengingat (kamu) sahabat saya. 33. atau berniat jahat. Semua berandal menyingkir. ada Cina bersahabat denganku. Hanya sahabat waktu sekarang. para Cina bertarung melawan penjahat. Dan bagaimana pikiranmu membuat kekacauan di negaramu ini. Jarih (dan) Gana ikut-ikutan.30. masa hendak dirusak. Hendak meminta kerelaan teman. apa tidak ingat inti tali persahabatan?” Berkata Surapersanda. banyak harta-bendanya. saya (berbuat) lebih baik. cepat-cepat ( pulang ke) rumahmu. lalu Bagus Surasa Persanda menemui Bah Kwi Beng serta melihat(nya). sekarang ini jangankan saudaraku. kan saya tidak mengacau. “kok kamu menjadi berandal. jika tidak melihat kamu. ramai orang melarikan diri. 298 . 31. sebab ini teman-teman (sudah) akan membunuh. 34. 32. hancur penjahat (dan) banyak yang mati diserang oleh para Cina. “Karena itu saya menemui. diserang oleh para Cina.. banyak penjahat pecah kepalanya. aku benci sekali padamu. Serta merusak ….

karena banyak orang yang sama-sama (pergi) besok. sampai tujuh ribu orang 37. merampok (dan) mencuri uang. sehari tiga puluh orang yang sama-sama datang maksudnya hendak merusak Darmayu. memanggil-manggil Padukanya. para Cina lalu mundur. bubar (dan) berangkat ke Darmayu. 299 . lalu penjahat sama-sama melanjutkan perjalanannya membuat perkampungan di Pamayahan. jumlah orang(-orang) itu. hendak merebut negara Dermayu ini. (Penduduk) desa itu sangat susah. Lalu Cina memohon diri. membuat pesanggrahan. Ki Rangin berpikir keras.perlengkapan kurang lengkap. siang malam membunyikan tetabuhan. karena banyak orang. tingkah laku berandal itu. 35. Bergemuruh di Mayahan. ada yang menjarah. orang kecil dirampok setiap hari . Jika istrinya cantik. bila tidak mau lalu dibunuh. bagaimana berita sampai kepada orang-orang ini. dengan Bagus Surapersanda. lalu ditiduri. 38. karena itu (mereka) sangat sengsara. kamu membuat (orang) sengsara (dan) dirimu sendiri. 36.

sapi. dan suka menolong kesusahan setiap negara 42. “Aduh Tuanku panutanku. 41. para berandal (kaum) bangsawan. di setiap kampung banyak orang yang sangat rusak. kalau ajudannya tidak menurut. Karena penjahat yang datang sangat banyak.39. Nama[nya] gubernur jendral (itu). maka dihukum olehnya. tidak malu menyakiti. (adalah) Daendels yang berpangkat gubernur berkedudukan di Betawi sangat gagah perkasa. sudah mendengar bahwa banyak berandal di daerah Mayahan. kerbau. Ki Dalem menyampaikan surat. 1808. watak[nya] Daendels itu (demikian). 300 . Karena itu banyak serdadunya disebar. (dan tinggi) besar.” 40. Memohon pertolongannya. hamba meminta tolong. tidak perduli teman sendiri. Dengan demikian Paduka. dan benci kepada orang yang jahat bila tertangkap terus dibunuh. 43. sembada. Kiai Dalem Darmayu. (kepada) Gubernur Jendral (di) Batavia. serta kambing dicuri. (yang) menjarah setiap hari. rusak hamba semua.

supaya berandal melihat. pura-pura diangkat jadi bupati. besar tinggi bergodeg dan berkumis. bupati tidak kuat sendirian. bersama dengan komandan laut. karena (wilayahnya) milik jendral di Betawi. 46. Supaya terlihat. sudah sampai (lalu) bertemu dengan bupati. 44. 47. Serdadu dengan tuan. Seratus oarang yang menggotongnya. dipilih yang perawakannya sama. Lalu berangkat diiringi tiga ratus serdadunya. serta sampai di Mayahan. bertanding atau belajar perang. serta mereka berunding. Yang mana penjahat (diajak) berunding. supaya bubar gerombolan penjahat ini. kepada Tuan Deler (pangkatnya) komandan laut. serta mengirim pasukan serdadu. dari Inggris asal Belanda. perlengkapan (dan) peluru digotong.memohon gubernur memerintahkan. tatacara berperang. dengan makanan serta uang. bupati sudah menyerah(kan). 45. (oleh) para berandal tampangnya para serdadu (yang membawa) senapan. Tuan Postur namanya. 301 . serta meriam ditarik kerbau. pedang serta berkuasa. di negeri Dermayu.

jika demikian lega hatinya. oleh Tuan Gubernur Jendral. 302 . 48. membawa perlengkapannya. Karena bupati menyerahkan. namaku Zwak. 49. Tuan Deler menghormat kepada Bagus Rangin Kandar Bagus Serit. diangkat demang olehku. Tuan Deler berkata manis. bertemu dengan Tuan. (yang) berkuasa di [negeri] Betawi. Lalu Bagus Rangin Kandar menjemputnya. jadi aku diutus. bahwa ada serdadu datang. negaranya kepada Gubernur Jendral. seperti pangkat bupati. 51. Lalu berkata kepada pimpinannya. “Hai Bagus Rangin dengan hormat karena saya diutus.” Bagus Rangin menghaturkan terima kasih. (Menurut) bupati. Tuan Deler bisa (bahasa) Jawa.terkejut berandal melihatnya. Nanti semua saudara(mu) kuangkat menjadi mantri. untuk berunding. bila anda bersedia. kekuasaannya sama. 50. jurutulis. Semuanya berganti pakaian. perlengkapan perang.

Tuan Deler bersiaga. Lalu Deler mengirim surat. senapan. Demang Rangin (dan) para mantri. Baru pejabat yang ditangkap pasukan Deler. suka-suka berpesta. pedang serta berkuasa. oleh karena mereka berjumlah banyak. 55. pesta melantik demang. celana laken. menghibur yang menjadi demang. kolonel ajudan sersan dan serdadu. setiap sore mengajarkan perang. 56. diiring semua mantri. jumlah penjahat sekitar tujuh ratus. baju laken (dan) topi (laken). Lalu ramai tetabuhan bergemuruh. 54. penjahat banyak yang kembali. Di Kademangan Pamayahan. siang malam penjahat tayuban.52. (mengenakan) pakaian dari Betawi. sudah menerima surat itu. Lalu bupati mengirim surat. Banyak orang yang melihat Belanda. Semuanya mengenakan laken. karena bupati 303 . hendak merampok bendera negara. Ki Rangin sangat gembira sekali. 53. Bila malam melarikan diri oleh karena banyak yang kurang makan. kepada bupati Darmayu. mengajar (menggunakan) bedil dengan pedang. membawa pasmen mas berkilauan. sangat takut melihat persenjataannya.

bila melawan (harus) dibunuh. Paduka sultan berbicara. (berangkat) bersama Karta(wijaya). (memberitahukan) bahwa Patih Hastrasuta. suratnya telah diterima. karena sudah dipersilahkan menyertai paduka. menyiapkan perlengkapan perang. dinda minta menangkap berandal yang dijaga. dibunuh oleh berandal. 304 . “Jika Kartawijaya. minta pertolongan. keluar dari pintu gerbang (lalu) memukul bende. Karta dengan Raden Welang. serta anda Raden Welang. Cepatlah kakanda. 58. 59. Kepada tuan komandan Belanda di Betawi. saat ini berandal dijaga. Serta dibaca surat itu.kepada Kartawijaya ponggawa sultan di Grage. 57. Sultan member izin. semuanya sudah disampaikan kepada sultan. Lalu prajurit bersiaga. Kartawijaya marah.” 60. secepatnya harus menangkap penjahat. potong leher para berandal itu. Bila berhasil cepat diborgol. yaitu pamannya sudah tewas. lalu berkata (dengan) lembut. menghaturkan sembah (lalu) mundur dari hadapannya. lalu berbicara kepada sultan.

seluruh(nya) para prajurit terpilih. adiknya memeluk (sambil) menangis. (yaitu) Patih Hastrasuta. (ingin segera) menumbak perampok.61. Dan membawa temannya. karena hendak membalas kematian. bersamaku (dan) kanda Karta. Lalu keluar gemuruh suara pasukan hingar-bingar. Prajurit sudah sampai di Darmayu. Lalu cepat dipukul bende pertanda perang. dinda Hastrasuta sudah meninggal. sekarang kalian berangkat. sudah siaga (untuk)bertarung. 305 . prajurit semuanya berangkat. Lalu berangkat (bersama) kedua raden (itu). gembira mantri semuanya. semua[nya] ponggawa. XI. 63. tidak akan mundur kanda berperang. “Hai semua prajurit saudaraku. bertemu adik dan kakak(nya). “Duh dinda mas sudahlah tenang dinda. semuanya sudah keluar. Menangis kepada kakaknya karena teringat ia sudah tewas kakaknya menangis. yang sudah wafat. DURMA 1. di Mayahan tempatnya. 2. Lalu Den Welang berkata. serta katanya. hendak menyerang panjahat yang mengacau. 62.

” Lalu dijawab oleh Raden Welang. karena sudah dikepung. “Hai Rangin anjing kamu ini. lengkap dengan peralatan perang.” 6. Den Welang (ada di) tengah. Bagus Rangin dengan Kandar Sena Leja. serta Den Welang. 5. 3. “Hai aku (sudah) diangkat (demang) oleh Tuan Deler . penjahat berada di tengah. Kemudian berteriak. Dengan kakak(nya) Raden Kartawijaya. sudah kokoh barisannya. kamu penjahat. 306 . serta barat (oleh para) prajurit. berhadap-hadapan bertemu dengan para penjahat. Utara selatan timur sudah dijaga. berkata dengan kasar. karena yang di depan. menurutlah akan kuikat. mendekati berandal. Rangin menyambut (karena) mendengar bahwa bupati telah tiba.sangat semangat pasukannya. bupati dengan kakaknya. Lalu sudah tiba di Pamayahan. merasa dikhianati oleh Tuan Deler. putra selir (Pangeran) Panjunan. di selatan pasukan Betawi. 4.

oleh Raden Welang. 10. Banyak penjahat tewas yang ditangkap (dan) dibrogol oleh para mantri. 8. aku tidak takut. setiap prajurit di tempat perang. (jumlahnya) sekitar enam ratus (orang).”Aku tidak takut. Perang tertunda (karena hari) berganti malam. oleh serdadu yang sedang berjaga. Karena gerombolan penjahat sudah dibrogol. Den Welang berkata. 7. Pagi-pagi bende ditabuh. oleh karena berandal seperti mengepung binatang buas. Rangin sudah tidak ada. semuanya melarikan diri. Rangin dengan saudaranya. tidak memakai siasat perang. “Hai kunyuk penjahat. meskipun aku dikepung olehmu. melarikan diri dari medan pertempuran.” Sena lalu diikat. takut mati kamu anjing. 11. ditendang (lalu) terguling. sombong (karena) banyak pasukan. aku tidak akan lari. (berandal) yang ke luar ditembak 9. Di tempat perang. 307 . Karena itu ramai bergemuruh yang maju perang.

Dalam perjalanannya. sudah bubar semuanya. sampai ketemu. Penjahat yang (lari) diperintahkan dicari. Bagaimana keinginan Gubernur Jendral. (semua) disekap di dalam penjara. keinginannya. semuanya diperintahkan dibunuh. Keputusan pun sampai. 12.karena akan dikirim ke Darmayu nanti. (kepada) jendral yang ada di Betawi. Kelebihannya dibawa ke kapal semua penjahat itu. sudah disekap semuanya. Balatentara Den Welang dan Den Kartawijaya. Yang berada di kapal diperintahkan dikirim ke Betawi. lalu berangkat mencari. yang ada penjaranya. 15. (saking banyaknya) tidak tertampung di dalam penjara. 308 . mengenai penjahat yang sudah tertangkap (dan) dimasukkan ke dalam penjara itu. Berandal (itu) lalu dipenjara. Besar kesil anak kecil perempuan laki-laki. 13. Serta sudah mundur semuanya. semua pembesar berkumpul di Darmayu. 14. (Mereka) akanmengirim surat.

20. yang kembali dari pertempuran. Gana. berpesta siang dan malam. sangat gembira. Rangin sangat gembira hatinya. “Aduh dinda tidak disangka. (Tak lama) antaranya terdengar suara meriam. Jarih. tertawa bersuka ria. dan Seling bersiaplah dengan waspada. 16. maju berperang. maju ke medan perang. Hawisem dan Raden Wari 19. serta membawa gerombolan panjahat dari Luwiseheng.” 18. sebab gerombolan berandal sudah menunggu. yang memimpin pertempuran. 17. Jumlahnya sekitar seribu (orang). Bagus Kandar dengan (yang ber)nama Raden Karin. Prajuritku berhasil. di Kedongdong. Di tempat pertahanan Kartawijaya dan Raden Welang.ada berita lagi. Prajurit paman yang memimpin pertempuran. kanda bertemu dengan dinda. 309 . Rangin Kandar pemimpinnya. prajurit Bagus Hawisem. Rangin berkata kepada para putra(nya). “Nah itu dia.

Lalu berjumpa dengan Kartawijaya. 23. Jadi ramai siang malam di medan pertempuran. keroyokan karena tidak terlihat. penjahat sudah siaga mengatur pasukan dipimpin (oleh) Bagus Rangin. karena banyak yang kalah oleh Den Welang karena berani bertarung.” “Prajuritnya Rangin yang menyambut kamu ini. tidak patuh dalam pertempuran. bertemu di medan perang. Tumenggung Nitinegari. bertahan di medan perang. Rangin Kandar turun. karena aku tidak kenal. Prajurit Luwiseheng pun turun. berani ke medan perang. prajurit di depan. memandang Hawisem (dan) Wari. Raden Wari tertangkap. Raden Welang maju. 310 .” Di tempat pertempuran ramai. 24. Den Wari nama(ku). Pertempuran di medan jurit. 22. “Siapa ini di hadapanku.ternyata ada yang menyusul. lalu dikejar dengan berani. dipegang ……. (bunyi) senapan (dan) meriam seperti berondong. dengan Den Kartawijaya. 21.

kasmaran yang melihat. 28. “Hai anjing penjahat. Kandar. (serta) Raden Welang tidak ketinggalan. dirantai (dan) dikirim. tiba di Bantarjati. orang(-orang) desa kesusahan. (yang) ada (di) negeri Garage. diborak-barik setiap perkampungan. Pondokan para penjahat dibakar. Leja dengan kawan-kawannya. Ki Sena (dan) Surapersanda. Surapersanda sudah tertangkap. Den Welang berkata. Banyak berandal yang mati ditembak oleh serdadu. berlari ke barat.gerombolan berandal. 26. Handa. menuju arah barat. Rangin. 25. dan Sena diikat. kepada teman sultan. XII. KASMARAN 311 . gadis cantik dibawa. tidak menemukan (siapa-siapa).” Segera dirantai. 27. Pasukan gubernur jenderal dan Den Kartawijaya. ke negeri Darmayu. pondokannya kosong. sama-sama mengejar penjahat. ramai oleh yang berperang. (dan) Hawisem lari. semuanya tidak ada yang tertinggal.

tiba di Cigadung. 4. 2. di Purasu. Bila diburu (lagi). Cibenuwang. dan Leja. Cipanculan. 5. sangat sedih. “Duh anakku nanti. anak istri sama-sama sedih. pemandian bupati di sebelah barat. kepada semua anaknya. Sebelah barat menyeberang kali Cilalanang. tiga bulan perjalananannya. pernah menyeberang Kuceak. menyeberang Cipunegara. Pengambiran. Radensrang. Ciwidara. dengan Kandar Handa kelak membawa anak istrinya. melihat anak. sangat sengsara hidupnya.istri(nya). Legok Siyu. 3. di tengah hutan (yang) luas. Lalu berkata perlahan. berkelana di hutan-hutan. berbelok-belok perjalanannya. sampai Gumulung. tiba di Dulang Sontak. 312 . Menangis sepanjang jalan. dengan Cilege. dan di hutan Cikole. Benggala di Luwung Dinang. Tersebutlah yang melarikan diri Ki Rangin. Cipedang.1. Serit.

7. tiga bulan perjalanannya. dan disamakan namanya. sungai yang deras airnya. terlihat sangat sengsara. di rawa yang bernama Citra. Menanam pepohonan. luas halamannya. lalu bersama-sama memasang tenda. berjalan terus di hutan-hutan.sangat subur tanahnya. dengan yang dibuat Ki Rangin. Ki Leja setiap hari. membawa kijang bila kembali. Ayah akan membuat ladang supaya didatangi (orang). sudah tumbuh (tanaman di) kebunnya. Beramai-ramai membawa makanan. kesenangannya itu. serta membuat sawah. memasuki hutan. Karena para istri. 313 . dari tengah hutan. sebelah barat sungai Cigadung. menguras ( sungai) mencari ikan. 6. Pernah membuat perkampungan. sangat jauh letaknya. Kemudian menemukan pelataran luas. serta menjangan. dinamai Dukuh Citra. 9. Rangin setiap hari. berjalan di pinggir jurang. rawa besar banyak ikan. 8.

di sebelah barat laut Suba(ng). tempat para penjahat. Ki Gede yang berada di Pecung Kiai Wangsakerti namanya. dengan saudara serta ayahnya. memerlukan tempat luas. kelak bekas Ki Rangin bila berkumpul. sudah tiba di Citarum besar. lalu sama-sama setuju. Di perbatasan distrik Pegaden. membawa teman tiga puluh. dinamai Cihakur. 13. letaknya di Cigadung. 12. hendak mencari tempatnya. panjang lebarnya luas. Lalu Ki Rangin membaca mantra.. Jatilima namanya. menuju selatan arahnya. hendak mencari negeri jajahan. dua taun lamanya. 11. keduanya distrik Pamanukan.. Dinamai demikian. karena menemukan tempat luas. 314 . disebut (demikian) sampai sekarang. membuat . Tegal Slawi namanya. Lalu semua sudah setuju.sebuah (yang bernama) Jatigembol. 14. serta datar tanahnya. yaitu Aji Pengabaran. 10.

melihat pesanggrahan. sudah membuat sengsara. setiap hari orang datang. hendak mengadu kekuatan. Lalu membuat surat. karena saudara keinginannya. lebih baik aku membuat surat. 315 . saudara serta teman-teman. Menangtang perang. dikirimkan ke Desa Pecung. 18. di antara orang banyak. yang akan ikut berperang. karena tinggal menunggu waktu semuanya siap. untuk menyambut perang. apa ingin mengungguli menggempur orang keturunan Pecung.pikirannya sudah nekat. sangat mujarab sihirnya. tanda saya bijaksana. yang menjadi tujuan. lebih dari seribu orang. lalu ada yang mengikuti. 17. Lalu Rangin berkata lembut. hari apa maju bertempur. Semuanya menjawab. supaya siaga sekarang. 16. apa keinginanmu. 15. Serta sudah banyak orang. pesta makan-makan. kepada teman dan saudaranya. beramai-ramai siang (dan) malam. seperti apa keinginannya.

tiba di hadapannya. Ketika sedang berbincang-bincang. dengan penjahat dari timur?” Semuanya menyanggupi. buronan negara. Dulang Sareh namanya. hendak melawannnya. Atau kamu anakku Jaka Patuwakan. Jajabang Grudug terlihat. 22. 21. dengan saudara (dan) anaknya. 23. berandal berasal dari timur. serta berkata kasar. 316 . karena sudah mendengar.19. Demikianlah Ki Wangsakerti. di tegal (sebelah) selatan Subang. surat lalu diterima. para senapati juga. Lalu berkumpul. apakah sekarang sanggup bertarung. pelayan yang bijaksana. 20. “Hai kamu Krudug. dalam sekejap datang utusan itu. serta putra Sindanglaya. sanggup mengadu (kekuatan). Ki Wangsakerti berkata. Surat lalu dibaca. sudah menyampaikan surat. dibaca di dalam hati. dengan penjahat (dari) timur. ada penjahat.

Jawa Timur rasakan aku. tebal tipis urat tulang. 317 . hari apa yang pasti. Dulang Sareh berkata pelan. cepat-cepat berjalannya. menanti kedatangan paduka. malah banyak prajuritnya. Jawa Timur yang tidak ajeg pendiriannya. anjing Sunda membelalaki. serta gagah sentosa. jangan banyak bicara kamu. hendak melawan orang Sunda 24. Ki Gedeng Pecung iti. matanya jelalatan. lalu katanya. Lalu Dulang berpamitan. serta tersenyum (dan) mengumpat. sudah tiba di hadapan Paduka. Grudug mendengar (yang) mengumpat. yang berada di [tempat] pesanggrahan. saya siap menyambutmu.“Kamu anjing timur. akan mantra sihir (pada) kamu.” 26. Dulang Sareh lalu pulang. bagaimana suratku?” 27. anjing kamu. “Anjing cepat kamu mati. “Bagaimana Dulang Sareh. pergi. sudah siaga (dengan) pasukannya. sampaikan pada tuanmu. 25.

sedia untuk berperang. karena perang penjahat. 29. “Hai siapa (orang) Sunda ini. semuanya menyanggupi perang. bertemu dengan Ki Gedeng Grudug. Ki Leja lalu bertanya. Patuwakan Majalaya.28. tidak kenal (orang) Jawa Timur. 31. bersorak bergemuruh. prajurit Rangin pun siap. Bergemuruh pasukan Rangin. apakah kamu Wangsakerti. melawan Ki Gedeng Pecung. 30. dengan barisan pasukan Pecung. Lalu berkata Ki Rangin kepada Kiai Serit serta saudara-saudaranyanya. Leja maju bertarung. Lalu sudah terdengar. pasukan Rangin banyak yang mati. ramai perang dengan penjahat. Bende dipukul terus-menerus. berani melawan bertarung denganku. perasaannya seperti Singalodra. 32. Di daerah Tegal Selawi. 318 . Lalu maju prajuritnya. barisan penjahat (dari) timur. bendera cepat dinaikan. termasuk distrik Subang. serta Kiai Gedeng Grudug. lalu semua sedia. menjadi pemimpin perang.

aku senapatinya, namaku Gedeng Grudug, yang akan mengikatmu. 33. Buronan negara, di timur sedang dicari. Ki Leja menyerang, sama-sama saling mendorong, ramai pasukan yang bersorak, pasukan Rangin dengan Pecung, bertemu lawan di pertempuran 34. Jaka Patuwakan, melihat kakaknya bertempur, tidak ada yang kalah dan menang, lalu cepat maju, menggantikan berperang. Leja bertanya, “Hai siapa yang menggantikan perang, 35. berani kamu babi?” Aku Jaka Patuwakan tidak teliti melihatnya. yang bertarung saling mengejar, ayo gantian lawan aku, aku ingin merasakan, mencambuk kamu orang timur.” 36. Lalu menyerang (dengan) berani, Ki Leja cepat mengayunkan pedang, tidak berhenti memedangnya, terus menerus menggunakan pedang. “Hai kamu Patuwakan, betul-betul prajurit tangguh, serta kamu masih muda.”

319

37. Patuwakan berkata perlahan, “Duh Paman Leja seperti orang serakah anda, memakai pedang tanpa aturan, ke bawah ke atas gerakan pedang, kamu itu bukan prajurit, betul-betul penjahat urakan. 38. Jaka Patuwakan, merasa tidak sabar melihatnya, Leja didesak perangnya, tertutupi penglihatannya, lalu cepat ditangkap, digendong tidak berdaya, Leja tidak bisa bergerak. 39. Sambil menangis memanggil-manggil, “Ampuni paman, Patuwakan, sekarang paman tidak berani.” Lalu dibawa oleh prajurit, Kandar maju perang, pemuda yang sakti dan unggul ini Kandar saudaranya. 40. Cobalah lawan aku, sudah saling berhadap-hadapan, dengan Patuwakan, di tangannya terpegang senjata. Tidak kuat Bagus Kandar, terpukul rotanwulung, terguling di atas tanah. 41. Sambil menangis memanggil-manggil, “Aduh Bagus ampuni paman, sekarang paman tidak berani,” lalu Kandar diikat.

320

Matahari pun terbenam, mundur pasukan Pecung, sambil membawa tawanan. 42. Berkata ki Wangsakerti, “Hai anakku semua, besok saya maju, Jigjakerti Majalaya, supaya maju perang, melawan Rangin kamu ini.” Jigjakerti menyanggupi. 43. Jam enam bende dipukul bertalu-talu, pasukan Pecung banyak, demikian juga pasukan Rangin. Kiai Serit berkata, “Apa yang harus kulakukan?” Ki Rangin lalu berkata, ayahanda jangan kecil hati. 44. Sekarang ananda pamit, hendak maju bertempur. Ki Serit memeluk putranya, menangis sambil berkata, “Duh anakku yang kusayang, kita serahkan kepada Yang Agung, semoga unggul di medan perang. 45. Lalu Bagus Rangin maju, menantang di medan perang. “Hai ini Rangin namanya, sambutlah di pertempuran, sambil berebut bertempur, tidak apa aku tewas, itulah tujuan hidup laki-laki.

321

46. Lalu maju Jigjakerti, Ki Gede dari Majalaya, sama-sama sudah bertemu. Lalu Rangin bertanya, “Hai yang maju bertempur, gagah besar serta tinggi, namaku Jigjakerti. 47. Dan ini Majalaya yang akan melawan kamu, kesaktian(ku) sepadan denganmu, terbuat dari kulit (dan) tulang keras. Lalu bertempur seru, Ki Rangin sudah menangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya. 48. Majalaya diikat(nya) oleh tentara Rangin, Ki Grudug maju perang, saling mendorong perangnya, Grudug lalu ditangkap, dibanting lalu (dicekik) lehernya, lalu cepat diikat. 49. Pasukan Pecung dengan Rangin, bersorak seperti bumi terbelah, tertunda karena malam, semuanya pasukan bubar, lalu membuat pesanggrahan, Ki Serit lalu menemui, setelah putra(nya) datang. 50. Oleh karena itu Ki Wangsakerti, sangat susah hatinya, putra keduanya kalah, tinggal seorang putranya,

322

putra (yang bernama) Patuwakan, “Duh anakku, apa yang harus kulakukan? 51. Sial terkapar di medan jurit, Rangin sangat sakti sangat kuatir diriku, karena masih muda, Rangin gagah perkasa. Tunda yang dikisahkan, (terdengar) ramai di luar. 52. (Karena) ada pasukan yang datang, dari utara sangat banyak, Ki Wangsakerti terkejut, (karena) tidak disangka musuh datang. “Duh anakku (belahan) jiwa, apa yang harus aku akukan.” Kemudian ada mentri datang 53. memberikan surat, (lalu) diterima, menggigil (tangannya ketika) menerima surat, disangka musuh yang datang. Surat segera dibaca, isi suratnya, dibuka lalu dilihat, jadi gembira hatinya. 54. “Surat dikirimkan kepada adik, yang sedang bertarung. Kanda Wangsakerti sekarang, sudah (jangan) dijadikan pikiran, dinda tiba secepatnya, tidak dengan kabar tadi, (karena) keburu mendengar berita.

323

55. Bahwa kakanda menghadapi perang, dengan buronan dari timur. Dinda nanti menjaga. Surat (dari) keluarga di Darmayu, oleh karena dinda memohon ikut meneruskan perang. 56. Dinda mohon kabar menunggu izin kanda, sungkem Dinda yang menanti, Setrokusumah, Dalem Pegaden.” Ki Wangsakerti tertawa, “Aduh gembira sekali anakku. 57. Kamu Patuwakan, cepat bersamaku ikut menyambut, Adinda Bupati Pegaden.” Lalu bubar dengan kawan-kawannya, (untuk) menemui tamu itu, bertemu gembira sekali, bersalaman (sambil) mempersilahkan duduk. 58. Lalu berkata Wangsakerti “Duh selamat datang, Adinda Dalem dari Pegaden, kanda memohonan (agar) bertemu, diterima permohonan(ku). Bagaimana pertarungan (dengan) buronan dari timur?” 59. Wangsakerti berkata perlahan, “Sangat gembira hati kanda, kedatangan dinda sekarang karena (hendak) maju berperang.

324

pemimpinya yang ke luar, malah aku dan anakku, sama-sama ditangkap (lalu) diikat. 60. Silahkan dinda maju, cepat tangkap penjahat.” Lalu bupati berdandan, mengenakan pakaian kebesaran, tampan gagah perkasa, memakai tutup kepala dari sutra ungu, dihiasi intan (dan batu) mirah. 61. Kerisnya tergantung, terlihat ada di kanan. (Ia) berkata kepada mantrinya, “Hai mantriku semua, cepat atur barisan, pegang dengan kuat senjatanya, aku akanke luar untuk berperang. 62. Dengan buronan (yang bernama) Rangin. Seperti apa rupanya, pekerjaannya merusak orang banyak, orang kaya dicuri.” Karena Jaka Patuwakan, maju ke depan, menyembah ke hadapan Paduka. 64. Lalu berkata perlahan, ”Mohon maaf menyampaikan berita duka. ayahanda sudah keluar sekarang, mulanya ananda belum berangkat, menandingi Rangin bertempur, mudah bila ananda sudah kalah di pertempuran.”

325

Ini aku yang bernama Jaka Patuwakan.” Demikianlah sudah terdengar. Lalu berangkat dari pintu gerbang menuju medan perang. permintaan ananda. “Duh Dinda betul (kata) ananda. Wangsakerti menyambung (pembicaraan). Jaka Patuwakan menantang.” Bupati berkata manis. anaknya Wangsakerti. Anaknya mundur dari hadapannya.” Lalu Patuwakan menyembah. pasukan bersiaga bersorak seperti prahara. Lalu Ki Rangin bertanya. 2. “Hai anakku sekehendakmu. DURMA 1. “Kamu siapa anak muda maju perang? Sayang sekali masih muda. (mudah-mudahan) ananda jaya dalam perang. Kemudian Ki Rangin menyambut(nya). oleh perwira Rangin. kuserahkan kepada Yang Sukma. 3. hendak maju ke medan perang. prajurit Rangin. XIII. Sementara jangan dulu maju sekarang. 66.65. bende ditabuh bertalu-talu. ke hadapan ayahanya. 326 . (dan) berhadap-hadapan. harus dituruti. Karena aku mengizinkanmu. “Lawanlah (aku).

7.Wangsakerti Yang harus disuruh melawanku. Patuwakan agak letih bertarung. Jaka Patuwakan. seperti apa kesaktianmu?” Lalu Rangin menangkap. Karena ramai yang saling dorong. Rangin (dan) Patuwakan.” Patuwakan menjawab 4. Serta mendengarkan (dan) menghindar keluar dari belakang. Dalem menggantikan. serta berkata kepada putranya Patuwakan. bertempur dengan musuh Rangin. Patuwakan melawan. “Hai anakku berhenti dulu. karena sama saktinya. keduanya memegang keris. jangan kamu yang maju . Rangin lalu menendang. 6. ujung senjata. ramai pasukan yang bersorak. 5. yang berperang mendapatkan lawan bertarung. “Siapa yang menggantikannya kamu prajurit yang gagah seperti …patih. ayahanda yang maju.” 327 . Rangin bertanya. lawan saja aku. Nanti dulu. jatuh terpelanting. Dalem maju berperang. bermusuhan denganku.

328 . syukur (aku) gembira. yang mencari buronan Rangin. aku yang menjaganya yang baru bertemu ni. seumur hidup mengacau. anjing penjahat babi. Mundurlah akan kuikat. hendak menangkap kamu ini. mengakunya ningrat. melihat kamu ini. 10.” 11. setiap desa dijarah.Dalem lalu menjawab 8. 9. pekerjaan(mu) mengganggu orang. Rangin kan tidak gila. Cobalah maju. Tidak malu (punya) muka seperti kamu. Dia melihat (kepada) Dalem Pegaden. namanya Wiralodra. dari Darmayu dahulu. lalu menerjang dengan berani. yang menjadi penjahat. “Dalem Sunda kamu ini. untuk memberi makan anak istri. Karena aku masih saudara Dalem Darmayu. hendak mengikatku. (Kamu) tidak tahu (bahwa) aku Dalem Pegaden. Lalu membentak Rangin berkata kasar. aku tidak takut.” 12. aku Setrokusuma. buronan negara.

13. Wangsakerti dan Ki Serit. Lalu membaca mantra. cepat maju.” “Wangsakerti kamu ini. berubah menjadi anak gunung. 329 . Lalu maju saling menangkap yang berperang. Tidak ada yang kalah bertarung. Setrokusuma. ayo maju. untuk apa maju perang. “Kebetulan Serit bertarung denganku.ereka saling mendorong. 14. melihat pemimpinnya. Lalu menangkap (Rangin).” 15. mari mengadu senjata. (yang akan)melawanmu. Lalu maju Ki Serit pertempuran. “Hai Serit. tua dan kakek-kakek. karena sama saktinya. Rangin dibanting meghilang. Pasukan Pecung dan Rangin ramai yang bersorak. Wangsakerti ke luar. dan kamu siapa?” “Namaku Ki Serit. yang bernama triwikrama. jika kamu prajurit sejati. “Siapa yang maju bertempur?” “Akulah Wangsakerti. betul kamu.” 16. sama-sama kakek.

seperti memanggil-manggil. pasukan Rangin menyerang. mengadu senjata tajam. dengan Patuwakan. Serit sering terjatuh. “Hai Serit takut mati!” 18.tusukkan ujung keris(mu)!” 17. 19. 20. Sama-sama seru yang bertarung menjadi satu. Lalu melarikan diri. kacau orang banyak. pasukannya banyak yang tewas. Bagus Rangin dan Dalem Setrokusuma. Ki Gedeng Gintung menangkap (berandal). Rangin melarikan diri. mengadu senjata. melarikan diri ke Karawang. Ki Serit menghilang. Serta sudah sama-sama bertemu. 330 . [Lalu] seru yang bertarung mengadu senjata. gerombolan penjahat. sama-sama bergumul bertarung. Bagus Rangin meninggalkan pasukan. berssama-sama menumpas tentara Rangin. perang sendirian (tanpa)pasukan. 21. (lalu) diikat balatentara Rangin. Ki Rangin sering terjatuh. Dalem Setrokusuma mengamuk. kumpul menjadi satu. terguling di atas tanah. musnah tidak menentu.

menghilang Serit dan Rangin. Sudah berangkat buronan negara. diputuskan rantainya. Leja dan Kandar. sangat besar kesaktiannya. “Entah ayahanda ke mana mencarinya. Leja akan dikirim. 25. (ketika) menyebrangi Citarum. seperti bercampur (dengan) setan.” Kiai Dalem berkata lembut. gembira hatinya. disertai mantri. Wangsakerti dan dalemnya. berdasarkan perintah. menjadi satu. ke mana arahnya?” 23. “Hai Kanda Wangsa. kan tidak tertangkap. Bagus Leja. lalu melompat. menghilang tiada tentu. dikirim ke Betawi. Lalu Wangsakerti berkata kepada anaknya. Anaknya berkata. masalah berandal. karena buronan negara. 331 .Gintung (dengan) Patuwakan. 24. Grudug Majalaya. Ki Serit dan Rangin. 22. Saya kirim ke Betawi dua berandal.” Keduanya diikat dengan rantai . (kepada) Gubernur Jendral. “Ananda dengan adinda.

Oleh karena itu keturunan para ningrat tersebut. SINOM 1. dengan Dén Ngelan. Adapun yang ke timur. Dikisahkan hilang di dalam laut. Bagus Kandar berlari. Den Karta berkata. yang membawa sangat bingung. 332 . menghilang di dalam hutan.menyelam di laut. banyak yang menuju barat. Sangat susah (karena) tahanan hilang semua. XIV. Leja. (dari) Rangin. tahanan masuk hutan dan laut. hendak kembali sangat takut. Kandar. Sesampainya di negara. di Darmayu berkumpul. (dan) Serit keturunan. empat orang mantri. melaridiri semuanya. keturunan para ningrat. terhadap paduka. penjahat yang lari. (yang bernama) Jigjakarta. Surakerti. dari negara Pegaden. Begitulah perjalanan Karta. Jayamanggala. mantri berjalan tak tentu arah. dan Jayakerti. 26. 28. buronan dahulu. 27.

Berjalan menuju arah selatan. air matanya keluar. Anak istri dan saudara sama-sama mengiringi 5. “Kanda kembali bukan … dan dinda mulia di sini. “Duh Dinda betapa lamanya. tidak baik (karena) menjadi bupati. kepada Gusti Sinuhun. “Kanda patih (telah) wafat. menangis memanggil-manggil. nanti kanda meminta izin. lalu melanjutkan perjalanannya. jangan menangisi kami. serta para prajurit. (Sambil) memeluk (dan) menangisi.” (Sambil) memeluk adiknya. Kangjeng Sinuhun di Grage. “Duh Dinda bupati. sampai di pintu gerbang. 333 . hendak pergi sekarang ini. semuanya menangis. anak dan istri adiknya. 2. 3. kanda bawa semuanya. kanda yang memerintah di sini di negeri Darmayu”.kepada saudara-saudaranya. seperti terbuka hatinya mendapat wahyu. hati-hati dinda ditinggal. Den Karta dan Den Welang.” Mulanya adiknya tidak mau ditinggalkan. “Semoga dinda mengizinkan kanda pergi. dengan dinda Den Welang. 4.

“Aku menahanmu sobat. perintah dari gubernur. saya hendak melihat. lalu bertanya lembut.sampai ke Palimanan. tidak ada yang tahu isinya ini. “Permisi kawan yang menjaga di Palimanan.” “Aduh Raden maaf saya tidak mengizinkan. Raden sudah tiba. 7. 6.” Den Welang berkata “Hai teman aku memaksa Sersan menjawab.” Raden berbicara lembut. Ada serdadu yang menjaga. seperti apa rupanya. entah apa isinya. bila tidak ada izin Paduka. yang menjaga tadi. apa maksudmu. kepada kompeni itu. sumur ditutup rapat. Karena ini dilarang. jika demikian percumah aku menjaga. Permisi sahabat (sumur) itu. hendak saya buka.” 334 . dengan Raden Welang. tidak berani melanggar. Raden bersama-sama datang.? Lalu masuk den Karta dengan Den Welang. apa isinya ini. Menurut pesan komandan. Kartawijaya diajak singgah. Raden ini dijaga. 8.

9. Lalu melanjutkan perjalanannya. 335 . 10. yang dilemparkan oleh serdadu. bergerak (mendekati) benteng. lapor ke Betawi. sangat kesal hatinya. Lalu menghadap Gusti Sultan. semua serdadu cepat memasang meriam. Serdadu segera menahannya. didorong keluar dari pintu gerbang. Seharian bertempur. Berkata Raden Welang “Hai saudara (dan) prajuritku. banyak serdadu yang tewas. Raden Welang hendak memaksa. sudah kamu jangan menemani. lebih baik segera pergi. perjalanan para penjahat. menghilang dari penjara. Lalu ditutup bentengnya. membuka tutup besi. Karena itu sersan kumendan. 12. kanda yang memburu tahanan itu. (mengenai) Séna Surapersanda. yang berada di loji Palimanan. Gusti (Sultan) berkata pelan. hingga tiba di negeri Grage. menangkap Den Welang. pasukan Raden Karta. Kacau para prajurit. Lalu menulis surat. Raden Karta sudah menangkap. 11. semuanya disampaikan.

serdadu banyak yang tewas. permisi Paduka saya hendak berangkat.” Dibungkus suratnya. tangkap ponggawa itu. 16. kepada ajudan dan letnan. bawalah suratku ini. dari sultan Cirebon. yang merusak Palimanan. serdadu yang membawa. empat puluh (orang) yang terpilih. Sudah ke luar dari pintu gerbang. berada di rumah Nihaya. “Hai ajudan (dan) letnan. 14. lalu cepat dibuka. meminta supaya pengacau ditangkap. untuk pergi kepada Paduka Gubernur Jendral. sediakan pekakas perang(nya). serta beliau berkata. Di loji Palimanan. dan bawalah tentara.” Suratnya karena sudah diterima. kurang ajar kalian!” Lalu cepat membuat surat. 15. kepada Sultan Cirebon. cepat-cepat berjalannya. 13. 336 . kemudian surat dibanting. untuk Sultan Cirebon. surat sudah disampaikan kepada Paduka.suratnya telah dibawa. “Loh babi Cirebon anjing. Raden Karta dan Den Welang. Sudah tiba di hadapannya.

Tetapi jika kesultanan. kuizinkan apa yang menjadi keinginanmu. Karta dengan kamu Welang. Besok datanglah ke Betawi. dengan sultan di Mataram. memperkokoh aku tak bisa. malahan negaraku. oleh Paduka Sultan. sudah pasti (takdir) dari Yang Agung. Si Klewang dengan si Dumung.mengumpulkan prajurit. (yang) ada (di) Betawi. Gubernur Jendral yang meminta. Secepatnya sudah tiba. dan ini berikanlah bersama wasiatku. Lalu cepat diterima. “Den Welang dan Kartawijaya. karena berkomplot. 337 . negeri kami tidak kuat melawan peperangan. menuruti Yang Widi. berkata Kangjeng Sultan. Malahan surat sampai sekarang. (dan) sedia pekakas perang. dipaksa supaya taluk kepada Mataram. 19. belum dibalas. 17. 18. Cirebon ini. surat lalu diterima. Aku tidak berani (kepada) jendral. tanyakan keinginannya. Suratnya sudah dibaca.

mereka yang didakwa. deras keluar air matanya. mohon izin Paduka. hingga tiba di Dalem Agung. tidak dikisahkan di jalannya. Diceritaan perjalanannya. Cepat-cepat di perjalanannya. dijewer telinganya. (Sultan) turun dari tempat duduk. memang dariku (timbul) kemarahan jendral 20. Lalu sersan berkata. Lalu menghadap [Paduka]. “Hai ponggawa Betawi permintaan gubernur ini. 21. sudah tiba di Betawi. XV. “Baiklah. kepada Gubernur Jendral. PANGKUR 338 . 22. perjalanannya pasukan jendral. “Sudah selesai perintah. merangkul kedua ponggawa. mengamuklah di Betawi wali membela kalian. Den Welang dengan den Karta (berkata). Paduka (saya) minta izin. kedua ponggawa ini. sudah dikisahkan dahulu.” Lalu sultan berkata kepada sersan.dengan tulus di dalam hati. karena aku belum (menuruti).” lalu keluar ponggawa cepat dibawa.

sembrono pimpinan jendralnya. “Letnan dengan sersan. Sudah ada di hadapan Paduka. datang Tuan Gubernur Jendral Betawi.” 339 . meliputi tanah Jawa. Tetapi kelakuanmu ceroboh. dan sampai Betawi. “Hai Tuan Gubernur Jendral permisi saya hendak menjawab. ini ponggawanya. diangkat ponggawa olehmu. tidak memakai tatakrama. memalukanucapan pimpinan jendral. apa kamu tidak kurang pendengaran?” Karta dengan Raden Welang tertawa (sambil) berkata. 4. Bagaimana perintahku padamu?” Berkat Tuanku. kekuasaan Paduka besar. “Lho anjing binatang gila. disuguhi makian. (yang) berkuasa di Pulau Jawa. (itu) karena berkat Sinuhun Mataram. 5. Lalu cepat berkata. apakah kamu berani kepadaku? Akulah Gubernur Jendral.1. Sebelum aku periksa kemarahannya seperti orang gila. 2. khalifatullah yang adil. karena aku hendak menyerahkan nyawaku. 3. kurang tatakrama pembesar bangsa Belanda.

aku pukul hingga mati. lalu merasuki jiwanya. “Hai ponggawa aku ini terima salah. 6. 340 . 7. tidak (mau) melihat mereka ditembak. keduanya mengamuk kepada Belanda. (Prajurit) bangsa Belanda. di benteng Palimanan. aku terima [dadi] kehendak Paduka. lima lusin meriamnya. hukuman militer bangsa Belanda. berpangkat ajudan sersan memburu. 9. lalu pasukan berbaris. karena pasti bakal mati. Karena bingung menjadi terdakwa. apa keperluanmu berani berbuat itu. karena kamu melanggar. Lalu kedua orang itu dipasangi. berani membunuh serdadu sampai mati. (ingin) menuruti emosi. Lalu Jendral berkata. Den Karta dengan Den Welang. Kiai Kuwu kasihan melihatnya. Sekarang kamu terima. Lalu dibawa ke luar.Gubernur Jendral sangat malu. Semua pasukan militer. 8. sampai tiba waktu keduanya dihukum. tetapi kamu tidak adil. (tepatnya ke alun-alun) Betawi. 10. silahkan apa yang hendak dilakukan. (tetapi) dirasakan kurang etis.

Banyak yang rusak pasukan jendral. “Hai cucuku berdua sebetulnya kalian ini. 341 . 12. melihat pasukannya rusak. tidak jelas melihatnya. bingung balatentara jenderal. sangat susah balatentaranya banyak yang mati. Di Betawi sangat kacau. sudah cukup dibela. terlihat dibakar. Sudah menjadi kepastian. “Hai orang Cirebon anjing kamu. lebih (dari) seribu (orang) yang mati. musuh bijaksana.diserang (sehingga) banyak yang tewas. tewasnya Raden Welang. 13. karena perang dengan teman sendiri. Lalu keluar kakek kuwu. Raden Welang pemimpinnya. 14. Den Karta melihat. lalu memburu pasukan jenderal itu. dari belakang yang dituju. (beris) peluru intan pusakanya.” Lalu dipasangkan. hasil pekerjaanmu merusak negara ini. dari (raga keduanya). kematianmu ada di Betawi” Lalu Gubernur Jendral. diambil mayatnya oleh para pasukan jendral. banyak temannya yang bertarung. Lalu mengambil senapannya. 11. sampai mati di atas tanah.

persiapkan perlengkapan perang. kira-kira tujuh ribu (jumlahnya). sudah menyeberang ke daratan. sekarang kamu bersiap. pendeknya aku tidak terima. Lalu berlayar hingga tiba di Cirebon. terkena lalu tewas. Bawalah tiga kapal. pasukan militer mundur. Keris pusaka menghilang. 342 . 17. “Aku tidak terima balatentaraku rusak. balatentaraku rusak.Gubernur cepat memasang (senapan). Si Kelewang dengan Si Dumung. (kemudian) membuat pesanggrahan. serdadu militer yang terpilih. lalu ia berkata kepada ajudan (dan) sersan. 19. pasukan laut (dan) pasukan darat. untuk mengganti kerusakan tentaraku. mayatnya menghilang musnah. sangat susah balatentaranya rusak. lalu mayat Kartawijaya itu diburu (oleh) jenderal. Tetapi Tuan Gubernur. 16. (akan) kuminta daerah Kasultanan Cirebon. Sersan ajudan keluar. 15. Orang-orang geger. letnan kolonel ajudan lalu berbaris. 18.

(sehingga) daratan tidak terlihat. semua maju ke medan pertempuran. untuk maju berperang. lalu menyebrangi pelabuhan.karena Sultan sudah mendengar berita. sampai ke tengah (laut) kapalnya. Balatentara jenderal bubar. (pasukan) Kacirebonan bersiap. 22. bila balatentara pangeran berbaris. Radén Pekik dengan Dul. Serta Jendral melihatnya. pasukan jenderal dengan (pasukan) Cirebon. Serta bertemu dengan Sultan. Lalu gubernur berkata. Sultan lalu berkata manis. 23. semua mengungsi ke Mataram kepada Kangjeng Sinuhun (Mataram). lalu bersiaga. “Orang Cirebon lawanlah. mengungsi (kepada) Sinuhun (Mataram). 21. serta Pangeran Logawa. Pangeran Mertasinga dengan (Pangeran) Panjunan menghadap Sultan. balatentara pangeran berbaris. (yaitu) Pangeran Suryakusuma Martakusuma. 20. 343 . Gubernur Jenderal (ingin) melihat. (para) pangeran maju perang. Ramai yang bertarung. menahan tangis di hadapan Paduka Sinuhun.” Lalu memerintahkan pasukan. menaiki kapal berlayar di lautan.

datang di hadapan (sultan).“Hai saudaraku Jendral.” “Saya berkata yang sesungguhnya. 25. hingga tiba di jalan belakang. 24. secepatnya menghadap Paduka (karena) mendapat perintah dari Sinuhun Mataram. tamtama. Saya mengemban tugas sinuhun. “Selamat datang saudaraku. 27. karena paduka sudah lama. sepertinya membawa perintah. lalu memerintahkan tumenggung. orang Mataram tiba. senapati. pangeran. Terkejut sultan melihat. 344 . diceritakan seluruh (kejadian)nya. mendengar cerita gubernur. adapun negeri paduka. Lalu sultan berkata. Metaram Broboya. menjadi sultan. ada apa anda menangis?” Berkata Gubernur Jendral. (yaitu) (Kan)jeng Pangéran Purobaya (dan) Kanjeng Pangéran Natabumi. diminta semuanya oleh Sinuhun (Mataram). karena hendak menyerang negeri Cirebon. 26. Natabumi (dan) Buminata. untuk mengumpulkan pasukan. sudah tiba di negara Cirebon. Kanjeng Sultan sangat sedih. Semuanya bubar. dari Mataram semmuanya sudah tiba.

saya siap berperang. (saya) permisi hendak kembali . berangkat kembali ke negeri Mataram. (saya) akan serahkan. Serta paduka turun tahta.28. (apa) yang disampailan Paduka. Cirebon menyerahkan negara. karena negeriku Cirebon wilayanya kecil. perintah dari Paduka Sinuhun Mataram. akan disampaikan kepada Jeng Gusti. “Jika demikian Paduka. saya melayani. menerima santunan serta diberi tanah. untuk saudara-saudara paduka. sudah disampaikan kepada sinuhun 345 . Serta haturkan (kepada) sultan.” Pangéran Probaya berkata. perintah sultan Mataram. saya tidak akan mengingkari. 31. 29. menuruti kehendak paduka. (Lalu) bubar semua. Sultan tidak bisa berkata. (merupakan) upetinya itu. seluruh prajurit Paduka. tiga ribu pemuda dengan paduka. (lalu) berkata perlahan-lahan. 30. “Duh saudara-saudaraku.” 32. karena setiap luas (tanah) tadi. Jika paduka tidak menerima.

berkat pertolongan Tuan (saya) mendapat kemuliaan. segera menghadap kepada tuan gubernur. lalu dengan gembira menerima negeri Cirebon. masalah negeri Cirebon. Gubernur dengan Sultan. lalu sama-sama berpamitan (untuk) kembali ke Batavia. berdoa kepada Yang Agung. Sesudah tiba di Betawi. hingga anak cucu Tuan. “Selamat datang Dinda Dalem. penyerahan (dari) Sinuhun Sultan. dari negara Darmayu Setelah tiba di Betawi. XVI. beribu-ribu terima kasih. dijaga Yang Maha Melihat.mengenai penyerahan negara itu. Lalu Jendral berkata. Memimpin di Pulau Jawa. sesudah bercengkrama. Sangat gembira Tuan Besar Gubernur. KASMARAN 1. terima kasih banyak atas pengangkatan ini. (lalu) memanggil Wiralodra. Lalu gubernur menerima. 346 . 4. (saya) banyak mendapat kemuliaan. 2. 3. semoga selamat (dalam) memimpin.

Serta Kanda memberi tahu. seperti biasa. 5. anak cucu sama-sama mulia. “Jika demikian aku terima. 9. Semuanya (telah) saya hitung serta semua perlengkapan. karena tanah (itu) milikku. untuk memberi makan serdadu. harta beribu-ribu (jumlahnya).” Bupati tidak bicara. harus dibayar (oleh) dinda. karena (atas) bantuan (dinda) (bisa) menangkap penjahat itu. tetapi Dalem (harus) menandatangani. sekarang hendak makan-makan. termasuk uang sebelas ribu jumlahnya. Lalu berkata pelan “Duh Paduka Tuan. tetapi kedudukan Dalem tetap saja. 7. memerintah kabupaten. karena ia tidak punya. tetapi saya serahkan semua. harta yang beribu-ribu (jumlahnya). sebetulnya saya tidak punya. Gubernur berkata perlahan. tanah saya di Darmayu. 6.semoga diridoi Yang Agung. Lalu bupati menandatangani 347 . apakah Paduka mau?” 8. (ditambah) tiga puluh rupiah.

10. hingga anak cucu semua. yaitu Raden Krestal. Tetapi (kedudukan) bupati sekarang masih tetap.surat (perjanjian). Negara dirampas. para saudara menanyakan berita. hingga wafatnya. bupatinya tetap aku. sudah takdir Yang Maha Melihat.. 11. berlayar (menaiki)eperahu. Lalu Dalem berkata perlahan. disambut para ponggawa. tidak berubah (masih seperti) biasa. negeri Darmayu. kembali ke negerinya. (Mendengar hal itu) saudara (dan) anak menangis. “Hai saudara dan anakku. Darmayu kepunyaan. kepada Tuan jendral. 12. 348 . (Tahun) 1610. (demikian pula) kedudukan bupati. untuk mengongkosi perang. Lalu bupati jatuh sakit. (Kemudian) diganti oleh putranya. Tuan Gubernur Jendral. Lalu tiba di negaranya. Lalu bupati pamit. oleh Tuan Jendral Betawi. (bupati) tidak memiliki tanah sedikit pun. semua tidak ada yang abadi. hingga sampai di kabupaten. 13.

Wiralodra gelarnya. Ia mempunyai anak, berjumlah tujuh orang. 14. Yang sulung Raden Marngali lalu Nyi Wiradibrata, ketiga Nyayu Hempuh, keempatNyayu Pungsi, dan Nyayu Lotama Hanjani bungsunya, (Serta) Bagus Kalis Bagus Yogya. 15. Bupati sudah lama, mempunyai mertua jahat, merampok pekerjaannya. Sangat susah rakyatnya, (harta) miliknya dirampok, Patih Singatruna, sangat kasihan kepada rakyatnya. 16. Setiap malam tidak berhenti , penjahat (itu) menjarah. Patih Singatruna, berkata kepada kakaknya “Duh kanda Mlayakusuma, apa yang harus saya lakukan, mau jadi apa dalem ini? 17. Tidak menyayangi rakyatnya, (yang) dirampok (dan) dijarah, (dalem) tidak peduli sekarang. bagaimana saran kanda, dinda hendak memohon, kepada Tuan Residen, di Cirebon.

349

18. Kanda (lihat) perampok itu semakin (merajalela), betul jika demikian, nanti kanda ikut menandatangani (surat). Kemudian segera membuat surat, ditujukan (kepada) Tuan Residen, (mengenai) semua yang terjadi, ditulis di dalam surat. 19. Lalu segera dikirimkan. Selang beberapa hari Tuan (Residen), tiba di Darmayu, dihancurkan semuanya, disita benda-bendanya, (lalu) dikumpulkan, yang dirampok penjahat. 20. .Cocok banyak barangnya, (dengan) yang diaku oleh rakyat, cocok dengan yang dimita, lalu bupati mengirimnya, ke Cirebon. Sangat susah hatinya, ditahan selama tiga bulan. 21. Menunggu keputusan negara, dan sampai kepada keputusan, Dalem Disowak namanya, yang menjadi jaksa itu, sedangkan adiknya, Wiradibrata (namanya) diangkat menjadi rangga. 22. Patih Singatruna diangkat menjadi wedana, di distrik Jatibarang, Mas Malaya Kusuma

350

mendapat pangkat, diangkat (menjadi) kalektur, di gupernemen. 23. (Singatruna) wedana merangkap patih, di negara Darmayu, para penjahat semua, sama-sama hormat melihatnya, karena kebijaksanaannya, (oleh) wedana dengan kalektur, penjahat banyak (yang) ditangkap. 24. Negara sangat makmur, tidak ada penjahat, tidak ada masalah, di nageri Darmayu . Patih Singatruna, mempunyai anak, banyaknya lima orang. 25. Yang sulung Patimah, lalu Nyayu Juléka, Brataleksana yang laki-laki, Mas Demang Bratasentana, bungsunya Bratasuwita, semua anaknya, menjadi orang yang berpangkat. 26. Raden Rangga putranya, empat orang, putra yang sulung bernama Radén Wiramadengda, Radén Mardu, Nyi Sumbaga, bungsunya Radén Madada.

351

27. Kalektor putranya itu, lima orang jumlahnya, Asisten Hardiwijaya, yang perempuan Nyai Muda dan Sudirah namanya, Nyahi Junéd perempuan, bungsunya Nyai Juminah. 28. Radén Kartawijaya, putranya hanya seorang, Radén Karta Kusuma, yaitu Ratu Hatma, mempunyai anak tiga (orang), yang sulung Biskal Cirebon (ialah) Prayawiguna. 29. Adiknya perempuan, Kertadiprana namanya, yang ketiga pangkatnya ulu-ulu, tinggal di kota Darmayu, menurunkan putra, yang sulung Kertahudaka 30. (yaitu) Demang Lobener, adiknya Mangundria, Demang Bangoduwa, Muhada tukang timbang, Nyayu Jeni kuwu, yaitu Kertahudara, upas bom pangkatnya. 31. Kertahatmaja bungsunya. Darmayu …, Taahun 1813, Tuan Pri namanya,

352

Kiai Jaksa sudah meninggal yang menggantikan anaknya, yaitu Marngali, gelarnya Wirakusuma. 32. Menjadi demang pangkatnya, tinggal di kademangan, distrik Paseban namanya, Balu Kalid namanya, Demang Wirasaksana, menjabat demang, di kademangan Lobener . 33. Suami Nyayu Sungsi mengembara, tidak menjadi demang, dahulunya dari Palumbon. Mempunyai seorang (anak) laki-laki, He… Subrata namanya, menduduki pangkat, menjadi demang Luwungmalang. 34. Suami Nyayu Lotama berpangkat ulu-ulu. Suami Hanjani Wirajatmika namanya berpangkat mantri. (Lalu) Bagus (Bag)ya namanya, gelarnya Kitawilasa.

Asal-usul Wiralodra Dalem yang membangun negara, (letaknya di) Darmayu sebelah barat, telah selesai. Yang memmiliki tanah di Kedu (dan) Bagelén, mempunyai suami putra dari Pajajaran, bernama Jaka kuwat.Selanjutnya berputra bernama Mangkuyuda Tumenggung Metaram.

353

Mangkuyuda Tumenggung Metaram berputra Wiraseca (yang menjadi) ngabéhi. Ngabehi Wiraseca berputra Kartawangsa tumenggung Metaram.,sampai anak cucu Kyahi Belara. Kyahi Belara berputra Radén Lowana, Tumenggung Bagelén Radén Lowan[n]a, Tumenggung Bagelén berputra: 6. Gagak Pernala Tumenggung Bagelén 7. Gagak Kumitir di Bagelén 8. Gagak Wirawijaya Tumenggung Tegal 9. Gagak Pringgawipura Tumenggung Ngayogya 10. Gagak Klanaprawira Tumenggung Karangjati Radén Gagak Pernala Tumenggung Bagelén berputra: Radén Wirapati Radén Wiraseca Radén Wirakusuma Radén Singalodraka Radén Singalodraka berputra: 4. Radén Jaka Kuwat 5. Radén Kumbabocor 6. Bayu Mangkuyuda Radén Wiraseca berputra: 6. perempuan Nyayu Wangsanegara 7. perempuan Nyayu Wangsayuda 8. laki-laki Radén Kerstal alias Wiralodra I, waktu itu(di) Bagelén 9. laki-laki Radén Tanujaya 10. laki-laki Radén Tanujiwa Sesudah Radén Kerstal aliyas Wiralodra I berkelana (dan) menemukan Kali Cimanuk, sesudah bertemu kali Cimanuk terus masuk hutan di seberang barat kali Cimanuk, dan bertemu Nyi Darma. lalu …dengan Nyi Darma. Karena Nyi Darma orangnya cantik, jadi negara dinamai Darmayu Nyi Darma menghilang di hulu kali Cimanuk. Sesudah lama Wiralodra I berputra empat (orang), bernama: 5. laki-laki Radén Sutamerta

5. 6. 7. 8.

354

6. laki-laki Radén Wirapati menggantikan ayahnya menjadi bupati 7. perempuan Nyayu Hinten menjadi istri Ratu Pulo Mas bernama Werdinata 8. laki-laki Radén Driyantaka yang menggantikan Radén Wirapati ialah putranya dinamai Radén Wiralodra II Wiralodra II Dalem Darmayu sebelah barat mempunyai putra 13 (yaitu): 1. laki-laki Radén Kowi 2. laki-laki Radén Timur 3. laki-laki Radén Sumerdi yang menggantikan jadi bupati 4. laki-laki Radén Wirantaka 5. laki-laki Radén Wiratmaja 6. perempuan Hajeng Raksawiwangsa 7. perempuan Hajeng Sutamerta 8. perempuan Hajeng Nayawangsa 9. perempuan Hajeng Wiralaksan[n]a 10. perempuan Hajeng Hadiwangsa 11. perempuan Hajeng Wilastro 12. perempuan Hajeng Puspatarun[n]a 13. perempuan Hajeng Patranaya (Yang menjadi) pengganti bupati (yaitu) putranya bernama Radén Sumerdi, diberi gelar Wiralodra III. Wiralodra (III) Dalem Darmayu sebelah barat memiliki putra kembar bernama 8. laki-laki Radén Benggala 9. laki-laki Radén Benggali kembarannya 10. perempuan Hajeng Singawijaya 11. perempuan Hajeng Raksawinata Pengganti bupati putranya bernama Radén Benggala diberi gelar Wiralodra IV. Wiralodra IV Dalem Darmayu sebelah barat setelah 3 tahun lamanya dan berputra 8 orang: 9. laki-laki Radén Lahut

355

perempuan Nyayu Suradisastra ulu-ulu 15. perempuan Hajeng Nahiyasta 14. laki-laki Radén Ganar 11. perempuan Hajeng Moka sesudah 3 tahun diganti lagi. perempuan Hajeng Tayub 16. Singalodraka Dalem Darmayu sebelah barat berputra: 2. bernama 10. perempuan Nyayu Malayakusuma Demang Plumbon 13. (Dalem ini) memiliki banyak putra. laki-laki Radén Solo alias Kartawijaya 13. Wiralodra Dalem Darmayu sebelah barat sesudah lamanya terus kosong tidak ada dalem. laki-laki Radén Kalid Wiradaksana Demang Lobener 18. Radén Semangun mengganti dalem bergelar Wiralodra VI Wiralodra VI Dalem Darmayu sabrang kulon berputra 4 orang: 5. perempuan Nyayu Hékasubrata Demang Anjatan 14. laki-laki Radén Prawiradirja Wiradaksana Demang Losari Demang Ngabéhi Radén Wirakusuma memiliki putra 4 5. laki-laki Radén Marngali Wirakusuma Demang Bébersindang 11. laki-laki Radén Yogya Kartawilasa 17. laki-laki Radén Suryabrata 7. laki-laki Radén Suryapati 6.10. laki-laki Radén Wirasentika Demang Lobener 356 . laki-laki Radén Kerstal Yang menggantikan menjadi dalem putranya bernama Radén Kerstal bergelar Wiralodra VII 13. perempuan Hajeng Gembrak 15. perempuan Nyayu Wiradibrata menjadi rangga 12. (adiknya) yang menjadi dalem yaitu Radén Benggali diberi gelar Singalodraka pangkat dalem no. perempuan Nyayu Hanjani mantri tanah 16. 5 12. perempuan Hajeng Parwawinata 12. laki-laki Radén Suryawijaya 8.

4. 6. perempuan Nyayu Sastrakusuma menjadi jurutulis Demang Brengenyéber 7. 4. 4. yaitu): Radén Wirasaputra menjadi demang (Radén) Wirahatmaja perempuan Nyayu Sumbadra Radén Prawiradirja Demang Losari berputra 2 orang perempuan Nyayu Wiradiwangsa Radén Prawirakusuma (Kang)jeng Wirabrata rangga berputra 4 orang Radén Wiramadengda perempuan Nyayu Sumaga Radén Mardada Wiradibrata Radén Marsada Nyayu Malayakusuma demang berputra 2 orang Radén Perdata Wirahastabrata Radén Sumarga Wirasudirga 3. perempuan Nyayu Patimah Demang Leléya Radén Yogya Kartawilasa berputra dua (orang. 5. 4. 3. 3. 7. 357 . 6. 8. 5. yaitu): Radén Madi Wirasomantri Nyayu Cilik Radén Kalid Wiradaksana berputra tiga (orang.6. perempuan Nyayu Wiradibrata Wékling 8.

i … 358 .