Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Sejarah HDPE dan Pipa HDPE


SPI resin dengan kode 2. HDPE merupakan polimer termoplastik yang dibuat
dari petroleum. Untuk membuat 1 kg HDPE dibutuhkan 1,75 kg petroleum.
Akhir abad 18, kimiawan Jerman Hans von Pechman membuat catatan
penting, ketika mereaksikan seuatu metana dengan eter. Tahun 1900, miawan jerman
lainnya Eugen Bamberger dan Friedrich Tschirner mengidentidfikasi seyawa ini
sebagai polimetilen, saudara dekat polietilen. Tiga puluh tahun kemudian, residu
dengan densitas tinggi ditemukan oleh Kmiawan Amerika E.I. du Pont de Nemours &
Company, Inc., Carl Shipp Marvel, dengan cara memberikan tegangan dalam jumlah
besar kepada etilen. Dengan cara ini pula, kimiawan Ingris Eric Fawcett and Reginald
Gibson membuat polietilen dalam fasa padat pada tahun 1935. Aplikasi PE komersil
pertama kalinya ketika berlangsung Perang Dunia II , ketika Inggris menggunakannya
sebagai insulator untuk kabel radar. Tahun 1953, Karl Ziegler of the Kaiser Wilhelm
Institute ( nama baru dari Max Planck Institute) dan Erhard Holzkamp menemukan
high density polyethylen (HDPE). Proses pembuatannya melibatkan penggunaan
katalis dan temparatur rendah, yang merupakan dasar pembentukan berbagai jenis
senyawa polietilen. Dua tahun kemudian, HDPE diproduksi sebagai pipa. Untuk
keberhasilannya itu, Ziegler dianugerahi nobel di bidang kimia.
Saat ini , material plastik yang digunakan utnuk pipa digolongkan menjadi
termoset dan termoplastik. Pipa plastik untuk drainase jalan raya biasanya
menggunakan termoplastik (umumnya HDPE, PVC, dan ABS). Pipa dari jenis ini
memiliki sifat uletan, fleksibel, tahan zat kimia dan isolator. Pipa-pipa ini telah
digunakan untuk ddrainase jalan raya sejak tahun 1970. Sejak saat itu, seiring
pertumbuhan apikasi drainase utnuk pertanian, penggunaan pipa HDPE juga seamkin
berkembang.

B. Sifat-sifat HDPE

HDPE (densitas: 935–956 kg/m3) adalah senyawa termoplastik dari atom


karbondan 2ystem2e yang bergabung menghasilkan berat molekul yang tinggi. Gas
metana diubah menjadi etilen, kemudian dengan aplikasi panas dan tekanan, diubah
lagi menjadi polietilen. Rantai polimer yang terbentuk memiliki unit karbon berkisar
antara 500.000 sampai 1.000.000. rantai cabang yang panjang atau pendek muncudi
sepenjang rantai utama. Semakin panjang rantai jumlah cabang semakin banyak.
PE merupakan polimer semikristalin. Resin HDPE meiliki daerah kristalin
yang lebih luas dari LDPE. Ukuran dan distribusi luas daerah kristalin menentukan
kekuatan tarik dan ketahan ratak dari produk akhir. HDPE dengan rantai yang lebih
sesikit dari MDPE atau LDPE, memiliki bagian kristal yang lebih besar, sehingga
densitasnya lebih besar dan lebih kuat.
Material yang paling sering dipakai untuk membuat produk pipa drainase
adalah logam, plastik, beton, dan tanah liat. Pipa dari bahan termoplastik dan tanah
liat bersifat isolator tidak seperti logam atau beton. Hal ini meneybabkan pipa ini
tidak memerlukan perlindungan katodik untuk mencegah degradasi karena listrik.
(korosi). Empat material termoplastik yang paling sering dipakai untuk pembuatan
pipa adalah HDPE, PVC, ABS, dan PP. Dari semuaya, HDPE memiliki ketahanan
kimia yang paling baik.
Sifat HDPE yang inert dan rantai molekul yang fkelksibel menghasilkan
ketahanan korosi yang tinggi.
HDPE mempunyai sedikit cabang, yang membuat HDPE memiliki ikatan
intermolekular dan kekuatan tarik yang lebih besar dari LDPE. HDPE juga lebih
lebuh keras dan opak, dan tahan temperatur tinggi (120oC untuk waktu yang singkat,
110oC kontinyu). Sedikitnya cabang dipengaruhi oleh pemakaian katalis yang tepat
(contoh katalis Ziegler-Natta) dan kondisi reaksi. Katalis Zieger Natta mampu
mempoduksi rantai polimer pendek, sedang, atau panjang.
LDPE memiliki cabang panjang dan pendek. Karena daerah kristral lebih
sedikit dari HDPE maka lebih fleksibel tapi kurang kuat. LLDPE memiliki struktur
yang berbeda dengan LDPE. Struktunya memiliki cabang yang pendek, yang
membuat rantai menjadi sangat dekat. HDPE merupakan material viskoelastis linear
yang sifat-sifatnya bergantung dengan waktu.
Berdasarkan hal-hal di atas maka HDPE memiliki keuntungan sebagai berikut:
• Toughness bagus
• Strength kuat
• Chemical-resistance
• Heat-resistance
• Harga rendah
• Pemrosesan mudah
• Recycleable (dapat di daur ulang)

C. Aplikasi HDPE:
HDPE memiliki ketahan terhadap banyak larutan dan diaplikasikan secara
meluas,mencakup :
1. botol
2. tupperware
3. botol deterjen
4. botol susu
5. tanki pada kendaraan
6. kantong olastik
7. penahan zst kimis tertentu
8. System pipa tahan kimia
9. pipa ledeng
10. pelindung korosi untuk pipa saluran baja.
BAB II
DEGRADASI PADA POLIETILEN

Foto oksidasi pada polimer merupakan hasil kombinasi dari cahaya dan
oksigen. Cahaya mathari yang bereaksi dengan udara (oksigen) adalah contoh yang
paling penting. Sebagai aturan, maka oksidasi termal merupakan bagaian dari oksidasi
foto.
Hal yang nyata yang bisa dilihat sebagai akibat dari adanya foto oksidasi
adalah penampilan material menjadi lebih buruk. Pada saat yang sama, juga sifat-sifat
mekanik dan fisika-kimia juga mengalami penurunam.
Disebabkan banyak resin sintetik yang mudah terserang oksidasi foto, telah
diupayakan cara untuk mencegahnya, pada industri umumnya terjadai oksidasi proses
selama operasi. Hasil dari penelitian bahan kimia spesial yangdiebri nama UV-
Stabilizer telah dikembangkan, yang mempengaruhi sifat-sifat fisik dan kimia dari
polimer.
PE kurang sensintif terhadap foto oksidasi dibanding PP. Meskipun begitu,
kombinasi dari sinar UV dan udara dapat menyebabkan degradasi. Oksidasi foto pada
PE lebih kompleks karena poliolefin jenis ini terdiri dari bermacam-macam bagian.
Hasil dari oksidasi foto pada PE adalah berupa senyawa vinil alkena, asam,
keton, lakton, dan ester. Perbedaan utama dari oksidasi foto pada PP adalah jumlah
vinil yang banyak dan ester yang sedikit. Perlu dicatat, aldehid tidak muncul selama
oksidasi foto pada PE. Hal sebagai konsekuensi dari oksidasi yang cepat dan
pemnbentukan yang lama, khususnya pada asam.
Perbedaan selanjutnya adalah sifat hidroperoksida yang muncul. Pada PE
hidroperoksida yang muncul tidak terakumulasi seperti pada PP. Inilah hasil yang
kontras dari oksidari termal.
BAB III
ADITIF PADA PE-HD

A. ANTIOKSIDAN
Antioksidan yang cocok utuk HDPE diperoleh dari campuran fenol dan fosfat
(jenis AO-18/PS-2). Fosfat dikonsumsi selama proses.

Tabel 1. HDPE pada suhu 220oC dan 260oC. Efek campuran fenol-fosfat terhadpa
MFI selama multiple extrusion.
Phenol/ MFR, Multiplr Extrusion
220o 260o
Phospite
1 5 1 5
None 2 1,2 2,8 0,9
0,05% AO 18 4 3,6 4,2 3,3
0,05% AO 18 4,6 4,3 4,4 4
+ 0,05% PS-2
0,05% AO 18 4,8 4,6 4,8 4,4
+ 0,1% PS-2
0,05% AO 18 4,8 4,9 4,9 5
+ 0,2% PS-2

Tabel 2. HDPE pada suhu 220o dan 260o. Komposisi Antioksidan setelah multiple
extrusion.

Antioxidants Multiple extrusion, Esidual Stabilizer Concentration


220o 260o
1 5 1 5
%AO %PS %AO %PS %AO %PS %AO %PS
0,05% AO 18 + 0,035 0,026 0,027 0,007 0,029 0,014 0,024 0,005
0,5% PS-2
0,05% AO 18 + 0,039 0,169 0,033 0,089 0,035 0,155 0,025 0,079
0,2% PS-2

B. NUCLEATION (NUCLEATING AGENT)


Nucleating agent meningkatkan kecepatan kristalisasi dan porsentase
kristalisasi pada polimer. Adanya kecepatan kristalisasai yang tinggi menyebabakan
produktivitas meningkat selama moulding dan ektrusion. Prosesntase kritalinitas
meningkatkan kekauan dan heat deflection temperature.
Karena HDPE mempunyai kecepatan pertumbuhan kristal yang tinggi,
polimer ini susah untuk mengalami nukleasi. Oleh karena itu, telah ditemukan
beberapa nucleating agent untuk HDPE. Contoh benzoic acid, potassium stearat,
sodium benzoat, talc, dan Na2CO3. Ketika nucleating agent ditambahkan pada HDPE
kristalisasi akan meningkat, morfologi pada pencetakan lebih seragam, dan
mempunyai ketahanan korosi yang baik.

C. HALS
HDPE digunakan khususnya untuk blow moulding dan injecton moulding, dan
ekstrusi. Aplikasi utama HDPE dalah HDPE tapes dan injection molded plaques.
Walapun film HDPE tidak mempunyai banyak aplikasi luar ruangan, mereka cocok
dipakai untuk memperbandingkan kinerja dari light stabiliser.
Table1. Light Stability of HDPE tapes
Light T50 E50
Unpigmented 0,4% TiO2 Unpigmented 0,4% TiO2
Stabilization
(h) (Rutile) (h) (kJ cm-2) (Rutile) (kJ
cm-2)
Without 945 1025 410 390
0,05% HALS-1 4280 4560 540 750
0,1% HALS-1 6500 9250 880 1090
0,05% HALS-2 2920 3770 630 800
0,1% HALS-2 4370 6100 770 940
0,05% HALS-3 5850 7200 920 1030
0,1% HALS-3 10200 10700 1150 1440
UVA-19 1690 1600 470 420

T50 = time to 50% retained tensile strength, E50 = energy to 50% retained tensile
strength
D. ACID SCAVENGER
Acid scavenger berguna untuk meningkatkan kinerja katalis untuk
polimersasi. Jenis:
• metallic stearat (Ca searat, Zn stearat)
• Hydrotalcite
• Hydrocalumite
• Zinc Oxide

Formulasi Acid Scavenger yang direkomendasikan untuk HDPE
300 -1000 ppm CaSt
Acid 300 -1000 ppm ZnSt
Scavenger 200 - 800 ppm ZnO2
200 - 500 ppm hydrotalcite

Efek penambahan acid scavenger pada MFI selama proses multiple extrusion untuk
HDPE.

120

100

80

60 1st extrusion pass


3rd extruson pass
40 5th extrusion pass

20

0
HDPE without 800 ppm ZnSt800 ppmCaSt 800 ppm
acid ZnSt/CaSt
scavenger (1:1)

E. LUBRICANT
Pada HDPE tape, Amide wax biasa digunakan sebagai external lubricant.

F. COLORANT SYSTEM (PIGMENT)

Kualitas dalam penggunaan koloran untuk produk polimer,


bergantung kepada empat hal, yaitu:
- Komposisi dari kompon
- Sifat pigment (pewarna)
- Teknologi proses
- Keperluan aplikasi
Berikut ini adalah tabel penggunaan pigmen pada poliolefin (HDPE), sesuai dengan
grade processingnya

Color concentrares
Pigment Colour Fine grains/
Pastes &
blends compound pellets coarse
liquid colors
powder
Process
Custom
Mono Custom Mono color &
powder pellets concentrates color concentrates Mono
concentrates
Extrusion
of blow
- O O ++ O O
flexible
films
Fiber /
tape /
- O ++(1) ++ + O
monofil
extrusion
Fiber
- - - - ++ O
extrusion
Sheet
- ++ O ++ O ++
extrusion
Pipe
O ++ O ++ -- +
extrusion
Blow
O + O ++ O ++
Molding
Injection
+ ++ O ++ O ++
Molding
Rotational
+ ++ (2) - -- -- O
Molding
Monomer
- - - -- -- ++
casting
Ket: ++ = preferred, + = suitable, O = possible but not usual, -- = not possible

G. FILLER & REINFORCEMENT


Untuk polietilen, kalsium karbonat dan kalsin kaolin banyak digunakan.dalam industri
agrikultur terutama dalam pembuatan greenhouse films.
Berikut ini adalah tabel data penggunaan filer pada HDPE
Filler % Stiffness Toughness HDT Processing Remarks

Ca-Carbonate 20-75 + + - ++
Talc 20-40 ++ -- + +
HDPE
Kaolin 20-40 + - + -
Glass Fibre 20-30 ++ ++ ++ - Creep
resist
Ket: ++ = sgt baik, + = baik, ~ = no effect, - = buruk, -- = sgt buruk

H. COUPLING AGENT
Coupling agent digunakan untuk mengikat molekul dari filler dan matrixnya. Jenis
dari coupling agent ada tiga, yaitu Silanes, Titanates & Zirconates, Anhydrides &
Unsaturated Polimeric acids. Untuk poliolefin (HDPE) biasa digunakan:
- Gol Silanes : Amino & Vinyl functional group
- Gol Titanates : Pyro-phospato & Benzene-sulfonil functional group
- Gol Unsaturated Polimeric acid : Maleinized polybutadiene (MPBD)

I. FLAME RETARDANT
Digunakan agar polimer tahan api. Pada HDPE biasa digunakan Decabromo byphenil,
Ethylene-bis(tetrabromophytalimide), & Decabromo dipheniloxyde.

J. ANTI BLOCKING & SLIP ADDITIVE


Anti blocking digunakan agar PE dlm bentuk film, karena layer dari PE sering
menempel satu sama lain sehingga sulit dipisahkan. Slip additive jg digunakan agar
layer film pada PE tidak saling menempel dan mudah dipisahkan. Untuk Jenis PE,
digunakan aditif amida. Penjelasan berikut dalam tabel.
Amida Tipe Fungsi
Oleamide Primary Slip
Erucamide Primary Slip & Antiblock
Stereamide Primary Antiblock
Behenamide Primary Antiblock
Ethylene-bis-stereamide Secondary bis amide Antiblock
Ethylene-bis-oleamide Secondary bis amide Slip & Antiblock
Stearyil erucamide Secondary amide Slip & Antiblock

K. ANTISTATIC
Antistatic digunakan untuk menghilangkan listrik statik yg ada pada material. Hal ini
dikarenakan dapat mengganggu karena dapat terjadi kejutan listrik ketika disentuh.
Untuk material PE biasa digunakan adtitif seperti Fatty acid esters, Ethoxylated
amines dan Diethanol amides. Berikut adalah contoh grafik penggunaan aditif
tersebut.

REFERENSI

I. BUKU
Crawford, R. J., Plastic Engineering 3rd Ed.. Woburn: Butterworth-Heinemann,
1998.
Zwifel, Hans. Plastic Additives Handbook 5th Ed Munich: Carl Verlag Hanser, 2001.
Harper, Charles A. Handbook of Plastics, Elastomers, and Composites 4th Ed. New
York: MCGraw-Hill, 2002.

II. DOKUMEN PDF


1. Chapter 1: History and Physical Chemistry of HDPE
Oleh Plastics Pipe Institute

III. URL
http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=HDPE

Anda mungkin juga menyukai