Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Masturbasi adalah stimulasi organ genital (seks), biasanya dengan tangan,

tanpa melakukan hubungan intim. Bagi laki-laki, masturbasi adalah merangsang penis dengan mengusap atau menggosok-gosoknya. Sedangkan bagi perempuan, masturbasi biasanya termasuk mengusap-usap dan menggesek-gesek daerah kemaluan, terutama klitoris dan vagina. Masturbasi digolongkan ke dalam kegiatan memuaskan diri sendiri. Tetapi kadang dapat pula terjadi pada satu pasangan yang merangsang alat kelamin lawan jenisnya untuk mencapai orgasme. Masturbasi bagi laki-laki dan perempuan kadang-kadang dinamakan bermain dengan diri sendiri (Nugraha, 2010). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 95% pria dan 89% wanita dilaporkan pernah melakukan masturbasi. Ini adalah perilaku seksual pertama yang dilakukan oleh sebagian besar pria dan wanita, meskipun lebih banyak wanita daripada pria yang telah melakukan senggama bahkan sebelum mereka pernah melakukan masturbasi. Sebagian pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita. Ini adalah perilaku seksual yang paling umum nomor dua (setelah senggama), bagi mereka yang telah memiliki pasangan seksual tetap (Wikipedia, 2007). Masturbasi memunculkan banyak mitos tentang akibatnya yang merusak dan memalukan. Citra negative ini bisa dilacak jauh ke belakang ke kata asalnya dari bahasa latin, masturbare yang merupakan gabungan dua kata latin manus
1

(tangan) dan stuprare (penyalahgunaan), sehingga berarti penyalah gunaan dengan tangan. Dalam bahasa melayu, masturbasi dikenal dengan merancap, namun kata ini dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia jarang dipergunakan lagi. Oleh karena itu para aparatur kesehatan telah sepakat bahwa masturbasi tidak mengakibatkan kerusakan fisik maupun mental (Ahmad, 2007). Penelitian Kinsey di Amerika Serikat menunjukkan, bahwa hampir semua pria dan tiga-perempat dari semua wanita melakukan masturbasi pada suatu waktu dalam hidup mereka. Penyelidikan Orebio mendapatkan bahwa 83% dari anak laki-laki dan 38% dari anak wanita melakukan masturbasi. Penyelidikan lainnya menunjukkan angka yang berbeda-beda pada setiap level umur responden, misalnya pada masa anak-anak (Infantile sex play), odelescent, umur pertengahan dan ketegori lainnya. Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung menyatakan selalu atau biasanya mengalami orgasme ketika bermasturbasi (80 : 60), ini adalah perilaku seksual yang paling umum nomor dua (setelah senggama), bahkan bagi mereka yang telah memiliki pasangan seksual tetap. Dilansir dari askmen, data statistic menunjukkan bahwa 60 persen wanita mengaku masturbasi. Lebih lanjut muncul pula fakta bahwa 20 persen wanita di bawah 30 tahun masturbasi sepekan sekali, dan 7 persen wanita melakukannya setiap hari. Rata-rata, wanita masturbasi mulai usia 14 atau 15 tahun (Dechacare, 2010). Dilaporkan bahwa 80% laki-laki dan 70% perempuan melakukan hubungan seksual selama pubertas dan 20% dari mereka mempunyai empat atau

lebih pasangan. Ada sekitar 53% perempuan berumur antara 15 19 tahun melakukan hubungan seksual pada masa remaja, sedangkan jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual sebanyak dua kali lipat daripada perempuan. Laporan ini disampaikan oleh National Surveys Of Family Growth pada tahun 1988. Di Amerika Serikat setiap menit kelompok remaja melahirkan satu bayi dan 50% dari mereka melahirkan anaknya dan sisanya tidak melanjutkan kehamilannya. Beberapa kekerasan seksual yang dilakukan oleh para remaja terhadap seksamanya atau terhadap anak-anak yang lebih kecil sekitar umur 3 11 tahun seringkali terjadi (Soetjiningsih, 2007). Masturbasi merupakan aktivitas yang mempunyai daya tarik seksual terhadap lawan jenis yang sebaya. Masturbasi ini dilakukan sendiri-sendiri dan juga dilakukan secara mutual dengan teman sebaya sejenis kelamin, tetapi sebagian dari mereka juga melakukan masturbasi secara mutual dengan pacarnya (Soetjiningsih, 2007). Masturbasi paling banyak dipilih oleh sebagian orang apabila dorongan seksualnya dirasakan sudah tidak dapat dibendung lagi. Kegiatan ini lebih sering terjadi pada masa-masa awal pubertas seseorang. Karena dorongan seksual yang mendesak, sedangkan objek-objek seksual tidak ada, masturbasi dipilih sebagai jalan keluarnya. Ketika seseorang memasuki usia kedewasaan, masturbasi secara perlahan-lahan akan berkurang dan tergantikan dengan berhubungan seksual (Dianawati, 2006). Berdasarkan pengalaman dan observasi yang dilakukan dan penelitian pada saat ini, peneliti mendapatkan bahwa biasanya para siswa/I SMU khususnya remaja sering melakukan masturbasi karena kematangan seksual yang memuncak

dan tidak mendapat penyaluran yang wajar, lalu ditambah dengan rangsanganrangsangan eksterm berupa buku-buku dan gambar porno, film blue, meniru kawan dan lain-lain. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul Gambaran Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya Masturbasi di SMK Nusa Pemda Medan Tahun 2010.

1.2.

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah bagaimana Gambaran Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya Masturbasi di SMK Nusa Pemda Medan Tahun 2010.

1.3.

Tujuan Penelitian Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Remaja Tentang Bahaya

Masturbasi di SMK Nusa Pemda Medan Tahun 2010

1.4.

Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Institusi Sebagai salah satu tugas akhir dalam menyelesaikan studi Akademi Sebagai referensi di Perpustakaan Akademi

1.4.2. Bagi Peneliti Sebagai bahan masukan bagi peneliti dalam meningkatkan pengetahuan tentang masturbasi. Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian tentang masturbasi.

1.4.3. Bagi Remaja Sebagai informasi untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang bahaya masturbasi

1.4.4. Bagi Petugas Kesehatan Sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan perencanaan pelayanan kesehatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Defenisi 2.1.1. Pengetahuan (Knowledge) Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Overt Behaviour). Pengetahuan yang cukup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni : 1. Tahu (Know) Mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima . Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan dan sebagainya. Contoh : dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan. Contoh : menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Misalnya harus dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan bergizi.

3. Aplikasi (Application) Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah dari kasus yang diberikan.

4. Analisis (Analysis) Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan,

memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.

5. Sintesis (Synthesis) Menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru atau suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap materi atau objek. Penelitian-penelitian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada, misalnya dapat membandingkan antara anak-anak yang cukup gizi dan anak-anak yang kurang gizi, dapat menafsirkan kepada para ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dan sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo, 2007).

2.2.

Remaja Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan

fisik, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10 19 tahun, adalah suatu

periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja adalah periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangannya, masa (rentang waktu) remaja ada tiga tahap, yaitu : 1. Masa remaja awal (10 12 tahun) a. Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan teman sebaya b. Tampak dan merasa ingin bebas c. Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir yang khayal (abstrak).

2. Masa remaja tengah (13 15 tahun) a. Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri b. Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis c. Timbul perasaan cinta yang mendalam d. Kemampuan berpikir abstrak atau berkhayal makin berkembang e. Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual.

3. Masa remaja akhir (16 19 tahun) a. Menampakkan pengungkapan kebebasan diri b. Dalam mencari teman sebaya lebih selektif c. Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya d. Dapat mewujudkan perasaan cinta e. Memiliki kemampuan berpikir khayal atau abstrak.

10

Sesuai dengan tumbuh dan berkembangnya suatu individu, dari masa anakanak sampai dewasa, individu memiliki tugas masing-masing pada setiap tahap perkembangannya. Yang dimaksud tugas pada setiap tahap perkembangannya adalah bahwa setiap tahapan usia, individu tersebut mempunyai tujuan untuk mencapai suatu kepandaian, keterampilan, pegetahuan, sikap dan fungsi tertentu sesuai dengan kebutuhan pribadi. Kebutuhan pribadi itu sendiri timbul dari dalam diri yang dirangsang oleh kondisi di sekitarnya atau masyarakat (Yani, anita, yuliasti, 2009).

2.3.

Masturbasi Masturbasi berasal dari bahasa latin masturbare yang merupakan

gabungan dua kata latin manus (tangan) dan stuprare (penyalahgunaan), sehingga berarti penyalah gunaan dengan tangan. Dalam bahasa melayu, masturbasi dikenal dengan merancap, namun kata ini dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia jarang dipergunakan lagi. Kata-kata kiasan sering dipakai untuk menyebutkan kegiatan ini, seperti mengocok, main sabun dan sebagainya. Dalam percakapan sehari-hari bahasa Indonesia, kata Coli cukup sering dipakai (Wikipedia, 2007). Masturbasi merupakan salah satu aktifitas yang sering dilakukan oleh para remaja. Dari laporan penelitian yang dilaporkan oleh SIECUS (Sex Information and Education Council Of The United States) menunjukkan bahwa remaja lakilaki pada umur 16 tahun yang melakukan masturbasi ada 88% dan remaja perempuan 62% frekuensinya makin meningkat sampai pada masa sesudah pubertas (Soetjiningsih, 2007).

11

Masturbasi di kenal juga dengan istilah onani atau manustrupasi, yakni melakukan rangsangan seksual, khususnya pada alat kelamin, yang dilakukan sendiri dengan berbagai cara (selain berhubungan seksual) untuk tujuan mencapai orgasme. Istilah masturbasi berasal dari bahasa latin yang artinya pencemaran diri. Kegiatan masturbasi dilakukan oleh hampir semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, sebenarnya masturbasi sudah berlangsung sejak seseorang berusia balita yang dalam perkembangannya psikoseksual disebut sebagai fase phallus (Dianawati, 2006). Freud (1957) mengatakan ada 3 fase dari masturbasi yaitu : 1. Pada bayi 2. Pada fase perkembangan yang paling tinggi dari perkembangan seksual infantile, yaitu pada kisaran umur 4 tahun, dan 3. Pada fase pubertas

Berdasarkan cara melakukannya, masturbasi dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu : 1. Masturbasi sendiri (Auto Masturbation) : stimulasi genetikal dengan menggunakan tangan, jari atau menggesek-gesekannya pada suatu objek. 2. Masturbasi bersama (Mutual Masturbation) : stimulasi genetikal yang dilakukan secara berkelompok yang biasanya di dasari oleh rasa bersatu, sering bertemu dan kadang-kadang meluaskan kegiatan mereka pada pencurian steling dan pengerusakan (Vandarisme).

12

3. Masturbasi psikis : pencapaian orgasme melalui fantasi dan rangsangan audio visual. Sedangkan ahli psikologi lainnya, Caprio (1973), menggolongkan kegiatan masturbasi di dalam dua kelompok besar yaitu : 1. Masturbasi yang normal, meliputi pembebasan psikologik ketegangan seksual pada masa anak-anak muda yang normal : dilakukan tidak belebihan, masturbasi yang dilakukan antara pasangan-pasangan suami istri sebagai selingan dari intercourse yang konvensional. 2. Masturbasi yang neurotic : meliputi masturbasi yang dilakukan terlalu banyak dan bersifat konvulsif, masturbasi antara pasangan-pasangan yang lebih menyukai cara ini daripada intercourse, masturbasi dan gejala-gejala kecemasan, rasa salah atau dosa yang amat sangat, masturbasi pemuasan yang berhubungan dengan penyimpangan seksual dan yang dapat di ancam dipersalahkan oleh hukum (Okezone, 2009).

2.4.

Penyebab Seseorang Melakukan Masturbasi Mengapa begitu banyak orang terus-menerus melakukan masturbasi? Adanya rasa nikmat Dorongan seksual Saluran gairah yang aman Kompensasi yang mengurangi stress Memberontak

13

2.4.1. Adanya rasa nikmat Orang sering melakukan masturbasi karena rasa nikmat. Setiap anak yang pernah mempunyai pengalaman nikmat, selalu ingin mengulanginya dan yang paling mudah adalah memainkan dengan tangan sendiri. 2.4.2. Dorongan seksual Setelah seseorang mencapai usia puber, tubuhnya mulai

memproduksi hormone-hormon tersebut membuat tubuhnya menjadi dewasa secara fisik dan juga menggairahkan daya tarik seksual. Kadang-kadang daya tarik seksual ini akan dapat mendorong seseorang remaja untuk melakukan masturbasi. Jadi nafsu seks yang timbul pada masa puber (nafsu yang timbul melalui berpacaran) dapat mendorong seseorang melakukan masturbasi. 2.4.3. Saluran gairah yang aman Kadang-kadang seorang menganggap bahwa masturbasi adalah cara untuk menyalurkan dorongan seksual yang aman. Dengan adanya penyakit AIDS yang menular, banyak orang menjadi takut terhadap penyakit kelamin. Rupanya cukup banyak orang yang melakukan masturbasi sebagai penyalur seksual yang aman dan bebas dari penyakit. Sedangkan anggapan Sexacholics Anonimous (para pecandu seks yang tidak menyebutkan nama) pernah menulis bahwa masturbasi (atau memendamkan) nafsu seks, tetapi justru sebaiknya, masturbasi membuat nafsu seks semakin tinggi.

14

2.4.4. Kompensasi yang mengurangi stress Ada cukup banyak orang melakukan masturbasi sebagai

kompensasi karena stress, ada stress yang dapat menekan seorang seperti, kegagalan, penolakan, ejekan. Tetapi lebih banyak berasal dari diri sendiri seperti amarah, rasa bersalah, rasa malu, kesepian, kekosongan, rasa saying diri, kepahitan, panghakiman terhadap diri sendiri, rasa tegang, rasa tidak disayangi. Perasaan-perasaan ini membuat orang merasa kurang baik, kurang mampu, kurang layak, kurang normal dan lain-lain. Jika tekanan tinggi seseorang akan berusaha mengurangi atau mengimbangi tekanan tersebut. Dengan demikian, muncullah bermacam-macam kompensasi alkohol, ganja, narkotika, seks, masturbasi dan lain sebagainya. Sering kali dalam siklus yang digambarkan seseorang merasa rendah diri. Untuk mengangkat perasaan yang sedang down, dia melakukan masturbasi. Untuk sementara waktu dia merasa senang dan nikmat, namun kemudian ia merasa bersalah, malu dan tidak

mendisiplinkan diri. Perasaan tersebut membuat dia merasa rendah diri. Siklus tersebut dapat digambarkan dengan diagram tersebut.

2.4.5. Memberontak Ada juga orang yang melakukan masturbasi karena dia ingin memberontak , dia ingin membuat sesuatu menurut kehendaknya dan tidak mau memperdulikan orang lain ataupun sekadar standar masyarakat umum.

15

2.5.

Masturbasi Pada Pria Dan Wanita Masturbasi pada kaum pria berbeda dengan masturbasi pada kaum wanita,

walaupun kedua kelompok tersebut sama-sama merangsang alat kelaminnya sendiri. 2.5.1. Masturbasi pada kaum pria Masturbasi pada kaum pria dikenal dimasyarakat dengan sebutan onani atau rancap. Bagi laki-laki, masturbasi adalah merangsang penis dengan mengusap atau menggosok-gosoknya. Misalnya, jika seorang melakukan masturbasi sampai pada klimaks atau orgasme maninya keluar Orgasme pada pria tersebut ejakulasi karena cairan sperma yang disebut mani akan dipencarkan dari ujung kepala penis yang tegak . Kaum pria biasanya dirangsang dengan hal-hal yang dilihat (Nugraha, 2010, hal 15).

2.5.2. Masturbasi pada kaum wanita Masturbasi pada wanita bukan tentang menggantikan posisi anda sebagai partner seksnya. Sebagian besar wanita masturbasi karena lebih nyaman dengan tubuhnya. Pada wanita mempunyai alasan yang berbeda mengapa mereka melakukan masturbasi, berikut diantaranya : 1. Gembira Kegembiraan yang mengaduk indera atau pikiran dapat menyebabkan tangan seorang wanita menavigasi setiap inci tubuhnya. Kegembiraan tertentu memungkinkan wanita untuk beraksi seks dengan cara masturbasi.

16

2. Tidak nyaman Sebagai wanita mulai masturbasi karena mereka merasa terlalu gemuk atau tidak menarik di hadapan pria. Karena merasa kurang seksi, mereka memilih untuk bersenang-senang dengan pantasi seksnya. 3. Tidak bergairah Sebagian wanita merasa sangat gembira untuk alasan sangat sederhana atau berpikir tentang berrhubungan seks begitu sering. Alhasil, mereka merasa perlu terus menerus

membiarkan tangannya menyelesaikan pekerjaan yang ada di alam pikirannya. 4. Merasa diri adalah terbaik Mereka adalah wanita yang tidak dapat mencapai orgasme dengan cara lain selain melalui masturbasi. Karena merasa satusatunya yang tahu di mana titik-titik sensitif dalam hubungan serta bagaimana tingkat serangan (Terbaru, 2009).

2.6.

Usaha-usaha Pencegahan Masturbasi 2.6.1. Sikap dan pengertian orang tua Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bisa secara optimal diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Disamping itu, orang tua perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-

17

anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genital mereka. Orang tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak. Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus terang kepada anaknya saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dan fenomenal seksual sekunder lainnya. Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Maka, jangan biarkan anak untuk

mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi.

2.6.2. Pendidikan seks Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran lainnya, dimana diberikan

penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan informatif (Okezone, 2009).

2.7.

Kontrovensi Masturbasi

18

Berlawanan dengan keyakinan kuno, masturbasi tidak akan menyebabkan munculnya birahi tanpa kendali, tidak akan menyebabkan anda buta atau tuli, menyebabkan anda flu, gila, tumbuh rambut pada tangan anda, gagap atau

membunuh anda. Masturbasi adalah ungakapan seksualitas yang alami dan tidak berbahaya bagi pria dan wanita, dan cara yang sangat baik untuk mengalami kenikmatan seksual. Bahkan, beberapa pakar berpendapat bahwa masturbasi bisa meningkatkan kesehatan seksual karena, meningkatkan pemahaman seseorang akan bagian-bagian tubuhnya dan dengan cara bagaimana memuaskannya, membangun rasa percaya diri dan sikap dapat memahami diri sendiri. Pengetahuan ini, selanjutnya bisa di bawah untuk memperoleh hubungan seksual yang memuaskan di masa depan, baik dengan cara masturbasi bersama-sama pasangan, atau karena bisa memberitahukan pasangan apa-apa saja yang bisa memuaskan diri mereka. Ini adalah usul yang bagus bagi setiap pasangan untuk membicarakan perilaku masturbasi mereka dan juga untuk menenangkan pasangan jika sewaktuwaktu salah satu diantara mereka lebih memilih untuk melakukan masturbasi daripada senggama. Dalam beberapa kejadian, masturbasi bersama-sama mungkin bisa diterima dilakukan sendirian ataupun dengan kehadiran pasangan, kegiatan ini bisa sangat menyenangkan dan menambah keintiman, jika ini tidak dianggap sebagai sebuah bentuk penolakan. Seperti kegiatan yang lainnya, jika ini tidak dikomunikasikan dengan baik, masturbasi bisa diterjemahkan sebagai tanda amarah, keterasingan, ataupun ketidakbahagiaan terhadap hubungan yang sedang berlangsung.

19

Aktivitas seks berupa masturbasi yang dilakukan dengan pasangan dinamakan masturbasi mutual dimana masing-masing saling merangsang dan saling bermasturbasi atau dengan saling melihat bermasturbasi. Dengan mengatasi stereotip negatif masyarakat dan perasaan pribadi masing-masing individu tentang masturbasi, maka para pria dan wanita bisa dengan bebas mengeksplorasi dan menikmati seksualitas mereka secara pribadi, dengan cara yang memuaskan. Satu peringatan : untuk tetap memperoleh seks yang aman, masturbasi sepanjang kontak dengan kelenjar cowper atau lubrikasi vaginal pasangan dihindari, khususnya jika mempunyai goresan atau luka terbuka (Wikipedia, 2007).

20

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL

3.1.

Kerangka Konsep Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan

bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang di anggap penting untuk masalah (Hidayat, 2007).

Pengetahuan Tentang Masturbasi

Masturbasi

Defenisi Penyebab Pencegahan Kontrovensi

3.1.1. Defenisi Konseptual 1. Remaja

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis.

2.

Pengetahuan

21

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoadmodjo, 2007).

3.

Defenisi Masturbasi
20

Masturbasi dikenal juga dengan istilah onani atau menustrupasi, yakni melakukan rangsangan seksual, khususnya pada alat kelamin, yang dilakukan sendiri dengan berbagai cara (selain hubungan seksual) untuk tujuan mencapai orgasme (Dianawati, 2006).

3.1.2. Defenisi Operasional

1. Remaja Remaja adalah seseorang yang mempunyai rentang usia 10 19 tahun, dan belum manikah serta masih mengikuti jenjang pendidikan. 2. Pengetahuan Pengetahuan merupakan salah satu dasar bagi Siswa/I untuk mengetahui tentang masturbasi.
3. Defenisi Masturbasi

Masturbasi sering juga disebut dengan mengocok atau memainkan alat kelamin sampai mencapai titik kepuasan pada seks.

22

BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang diguanakan adalah deskriptif korelasional yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan kelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan antar gejala satu dengan gejala yang lain. Sehingga bertujuan untuk membuat satu penelitian terhadap gambaran pengetahuan remaja tentang bahaya masturbasi di SMK Nusa Penida Medan.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMK Nusa Penida Medan Tahun 2010. Alasan peneliti mengambil lokasi tersebut karena belum pernah di adakan penelitian tentang masturbasi di sekolah tersebut.

4.2.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Juni tahun 2010.

4.3 Populasi dan Sampel

23

4.3.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa/i SMK Nusa Penida Medan Kelas X.

4.3.2 Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan ditelliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel penelitian ini adalah remaja. Menurut Azis tahun 2003, bila populasi tersebut diambil seluruhnya untuk dijadikan sampel, Maka dapat dikatakan bahwa teknik dalam pengambilan sampel diatas adalah teknik sampling jenuh. Berdasarkan pendapat diatas, Karena jumlah populasi 40 orang maka dilakukan teknik sampling jenuh. Maka jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 40 orang.
22

4.4 Pertimbangan Etik Adapun pertimbangan etik dari penelitian ini antara lain : Peneliti mendapat rekomendasi dari direktris Akademi Kebidanan Deli Husada Deli Tua Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang diteliti dengan tujuan untuk memberikan kebebasan kepada responden untuk

menentukan sendiri keikutsertaannya dalam penelitian serta responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian Kuesioner yang akan digunakan peneliti diberikan kepada responden yang akan diteliti setelah responden menandatangani lembar persetujuan penelitian

24

Kerahahasiaan responden juga sangat penting diperhatikan dengan mencantumkan nama inisial responden pada lembar kuesioner serta hanya peneliti yang mempunyai akses terhadap informasi tersebut

4.5

Instrumen penelitian Peneliti menggunakan alat pengumpulan data berupa kuesioner yang dibuat

sendiri oleh peneliti, instrument ini dibagi atas 3 bagian yaitu : Bagian pertama

Berisi tentang petunjuk pengisian Bagian kedua

Berisi tentang identitas responden yaitu nama inisial, umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, agama dan sumber informasi. Bagian ketiga

Berisi tentang kuesioner pernyataan

4.6

Metode pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer dengan alat

bantu kuesioner. Beberapa prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah : Peneliti memberikan penjelasan kepada calon responden tentang tujuan penelitian yang dilakukan dan menyatakan kepada responden apakah calon responden bersedia atau tidak bersedia menjadi responden Calon respponden yang bersedia menjadi responden diminta untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi responden

25

Responden diberi waktu untuk menjawab pernyataan yang diajukan dalam kuesioner Pengelolaan atau analisa data dilakukan setelah data yang diperlukan terkumpul Jenis pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan tertutup dimana jumlah soal yang diberikan adalah 20 soal.

4.7

Aspek Pengukuran Aspek pengukuran terhadap jawaban responden pada pernyataan positif,

nilai tertinggi adalah skor maksimal 1 dari setikap jawaban YA dan jumalh skor minimal adalah 0 dari setiap jawaban TIDAK. Pada pernnyataan negative nilai tertinggi adalah skor maksimal 1 dari setiap jawaban TIDAK dan jumlah skor minimal adalah 0 dari setiap jawaban YA.julah seluruh pernyataan pernyataaan terdiri dari 20 pernyataan yhaitu pernyataan positif 10 soal dan pernyataan negative 10 soal. Jika skor maksimal untuk setiap pertanyaan adalah 1 maka untuk skor keseluruhan adalah 20 x 1 = 20. Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Guttman dan skala Ordinal.

Skala Guttman merupakan skala yang bersifat tegas dan konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas seperti jawaban dari pertanyaan atau pernyataan : ya dan tidak, positif dan negative, setuju dan tidak setuju, benar dan salah. Skala Guttman ini pada umumnya dibuat seperti checklist dengan interpretasi penilaian apabila skor benar nilainya 1 dan apabila salak nilainya 0.

26

Menurut Nursalam ada 3 kategori pengetahuan yaitu : Baik Cukup Kurang : 76 100 % bila dapat menjawab 15 20 pertanyaan. : 56 75 % bila dapat menjawab 11 14 pertanyaan. : < 55 % bila dapat menjawab < 10 pertanyaan.

Jumlah jawaban yang benar X 100% Jumlah soal

4.8

Analisis Data Data yang telah dikumpulkan diolah dngan cara manual dengan langkah-

langkah sebagai berikut : Editing (Pengeditan) Dilakukan pengecekan kelengkapan data yang telah terkumpul. Apabila terjadi kesalahan dan kelalaian dalam pengumpulan data, dilakukan pemeriksaan dan pendataan ulang.

Coding (Pengkodean) Hasil jawaban dari setiap pertanyaan diberikan kode-kode dari jawaban yang diberikan oleh responden

Tabulating (Pentabulasian) Untuk mempermudah analisa data serta pengambilan keputusan dan dimasukkan dalam bentuk distribusi frekuensi.

4.9

Teknik Analisa Data

27

Analisa data yang digunakan secara deskriptif denngan meneliti presentase data yang telah terkumpul dan disampaikan dalam bentuk frekuensi analisa dan kemudian dicari besarnya presentase untuk jawaban masing masing responden. Selanjutnya dilakukan pembahasan sesuai dengan teori kepustakaan yang ada dan diambil kesimpulan.

BAB V PEMBAHASAN

5.1.

Hasil Penelitian Setelah dilakukan penelitian terhadap 40 responden mengenai gambaran

pengetahuan remaja tentang bahaya masturbasi di SMK Nusa Pemda Medan Tahun 2010, maka di dapat hasil sebagai berikut.

5.1.1. Tingkat Pengetahuan Responden Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini ; Tabel 5.1.1 Distribusi pengetahuan responden tentang bahaya masturbasi di SMK Nusa Pemda Medan Tahun 2010. Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Jumlah Analisa Data Frekuensi 9 24 7 40 Persentase 22,50% 60% 17,50% 100%

28

Dari hasil data di atas dilihat bahwa 40 responden mayoritas yang berpengetahuan baik sebanyak 9 orang (22,50%), sedangkan yang berpengetahuan cukup sebanyak 24 orang (60%), dan berpengetahuan kurang sebanyak 7 orang (17,50%).

5.1.2. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan pernyataan mengenai Gambaran Pengetahuan Tentang Bahaya Masturbasi di SMK Nusa Pemda
27

Medan Tahun 2010 No 1 Pernyataan Masturbasi melakukan yakni rangsangan Benar F % 33 82,50 Salah F % 7 17,50 Total F % 40 100

seksual, khususnya pada alat kelamin 2 3 yang dilakukan 27 40 67,50 100 13 0 32,50 0 40 40 100 100

sendiri. Masturbasi hanya dilakukan oleh remaja putri. Masturbasi dikenal juga

dengan istilah onani yang bertujuan untuk mencapai 4 orgasme Kegiatan dilakukan oleh masturbasi hampir 34 85 6 15 40 100

semua orang baik laki-laki 5 maupun perempuan. Masturbasi hanya dapat 19 47,50 21 52,50 40 100

dilakukan dengan berfantasi

29

dan rangsangan audio-visual Nafsu seks yang timbul pada masa puber tidak dapat mendorong seseorang

23

57,50

17

42,50

40

100

melakukan masturbasi Seseorang ingin melakukan masturbasi dengan alasan

38

95

40

100

merasakan kenikmatan Banyak orang terus-menerus melakukan masturbasi untuk

13

32,50

27

67,50

40

100

mengurangi stress Dorongan seksual akan mendorong

tidak remaja

30

75

10

25

40

100

10

untuk melakukan masturbasi Banyak orang terus-menerus 20 melakukan sebagai masturbasi seksual

50

20

50

40

100

penyalur

yang aman dan terhindar 11 dari penyakit menular. Masturbasi pada pria sama 27 dengan 12 masturbasi pada 85 6 15 40 100 67,50 13 32,50 40 100

kaum wanita Masturbasi pada laki-laki 34 adalah merangsang penis dengan mengusap atau

13

menggosok-gosoknya Orgasme pada pria disebut 35 ejakulasi karena cairan

87,50

12,50

40

100

30

sperma yang disebut mani akan dipancarkan dari ujung 14 kepala penis yang tegak Masturbasi pada wanita 18 tentang menggantikan posisi anda 15 seksnya Sebagian melakukan sebagai besar partner wanita 22 55 18 45 40 100 45 22 55 40 100

masturbasi

karena lebih nyaman dengan 16 tubuhnya. Gembira, tidak nyaman, 22 55 18 45 40 100

tidak bergairah, merasa diri adalah terbaik adalah alasan wanita 17 masturbasi Orang tua melakukan tidak perlu 34 85 6 15 40 100

mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat

pornografis dan pornoaksi 18 yang terdapat pada anak Sex education (Pendidikan 25 Seks) sangat tidak berguna dalam 19 mencegah remaja 75 10 25 40 100 62,50 15 37,50 40 100

pada kebiasaan masturbasi Masturbasi adalah ungkapan 30 seksualitas yang alami dan

31

tidak berbahaya bagi pria dan wanita, dan cara yang sangat mengalami 20 seksual. Untuk baik untuk

kenikmatan tetap seks dapat 15 yang 37,50 25 62,50 40 100

memperoleh

aman, masturbasi dengan pasangan bukan merupakan suatu alternatif yang bagi

menyenangkan senggama intim)

(berhubungan

Dari hasil penelitian bahwa dari 40 responden yang diteliti menjawab benar mengenai masturbasi yakni melakukan rangsangan seksual, khususnya pada alat kelamin yang dilakukan sendiri (n = 33 ; 82,50%) dan menjawab salah (n = 7 ; 17,50%), yang menjawab benar mengenai masturbasi hanya dilakukan oleh remaja putri (n = 27 ; 67,50%) dan menjawab salah (n = 13 ; 32,50%), yang menjawab benar mengenai masturbasi dikenal juga dengan istilah onani yang bertujuan untuk mencapai orgasme (n = 40 ; 100%) dan menjawab salah (n = 0 ; 0%), yang menjawab benar mengenai kegiatan masturbasi dilakukan oleh hampir semua orang baik laki-laki maupun perempuan (n = 34 ; 85%) dan menjawab salah (n = 6 ; 15%), yang menjawab benar mengenai masturbasi hanya dapat dilakukan dengan berfantasi dan rangsangan audio-visual (n = 19 ; 47,50%) dan

32

menjawab salah (n = 21 ; 52,50%), yang menjawab benar mengenai nafsu seks yang timbul pada masa puber tidak dapat mendorong seseorang melakukan masturbasi (n = 23 ; 57,50%) dan menjawab salah (n = 17 ; 42,50%), yang menjawab benar mengenai seseorang ingin melakukan masturbasi dengan alasan merasakan kenikmatan (n = 38 ; 95%) dan menjawab salah (n = 2 ; 5%), yang menjawab benar mengenai banyak orang terus-menerus melakukan masturbasi untuk mengurangi stress (n = 13 ; 32,50%) dan menjawab salah (n = 27 ; 67,50%), yang menjawab benar mengenai dorongan seksual tidak akan mendorong remaja untuk melakukan masturbasi (n = 30 ; 75%) dan menjawab salah (n = 10 ; 25%), yang menjawab benar mengenai banyak orang melakukan masturbasi sebagai penyalur seksual yang aman dan terhindar dari penyakit menular (n = 20 ; 50%) dan menjawab salah (n = 20 ; 50%), yang menjawab benar mengenai masturbasi pada pria sama dengan masturbasi pada kaum wanita (n = 27 ; 67,50%) dan menjawab salah (n = 13 ; 32,50%), yang menjawab benar mengenai masturbasi pada laki-laki adalah merangsang penis dengan mengusap atau menggosok-gosoknya (n = 34 ; 85%) dan menjawab salah (n = 6 ; 15%), yang menjawab benar mengenai orgasme pada pria disebut ejakulasi karena cairan sperma yang disebut mani akan dipancarkan dari ujung kepala penis yang tegak (n = 35 ; 87,50%) dan menjawab salah (n = 5 ; 12,50%), yang menjawab benar mengenai masturbasi pada wanita tentang menggantikan posisi anda sebagai partner seksnya (n = 18 ; 45%) dan menjawab salah (n = 22 ; 55%), yang menjawab benar mengenai sebagian besar wanita melakukan masturbasi karena lebih nyaman dengan tubuhnya (n = 22 ; 55%) dan menjawab salah (n = 18 ; 45%), yang menjawab benar mengenai gembira, tidak nyaman, tidak bergairah,

33

merasa diri adalah terbaik adalah alasan wanita melakukan masturbasi (n = 22 ; 55%) dan menjawab salah (n = 18 ; 45%), yang menjawab benar mengenai orang tua tidak perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terdapat pada anak (n = 34 ; 85%) dan menjawab salah (n = 6 ; 15%), yang menjawab benar mengenai sex education (Pendidikan Seks) sangat tidak berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi (n = 25 ; 62,50%) dan menjawab salah (n = 15 ; 37,50%), yang menjawab benar mengenai masturbasi adalah ungkapan seksualitas yang alami dan tidak berbahaya bagi pria dan wanita, dan cara yang sangat baik untuk mengalami kenikmatan seksual (n = 30 ; 75%) dan menjawab salah (n = 10 ; 25%), yang menjawab benar mengenai untuk tetap dapat memperoleh seks yang aman, masturbasi dengan pasangan bukan merupakan suatu alternatif yang menyenangkan bagi senggama (berhubungan intim) (n = 15 ; 37,50%) dan menjawab salah (n = 25 ; 62,50%).

5.2.

Pembahasan Setelah dilakukan penelitian tentang Gambaran Pengetahuan Remaja

Tentang Bahaya Masturbasi Di SMK Nusa Pemda Tahun 2010, maka didapatkan hasil sebagai berikut : Sesuai dengan hasil penelitian ditemukan pengetahuan remaja tentang bahaya masturbasi sebagian besar pada tingkat pengetahuan cukup (n = 24 ; 60%), tingkat pengetahuan baik (n = 9 ; 22,50%) dan tingkat pengetahuan kurang (n = 7 ; 17,50%). Pengetahuan remaja tentang masturbasi dengan kategori cukup (n = 24 ; 60%) dimana yang artinya para siswa/I SMK Nusa Pemda Medan cukup mengerti tentang masturbasi.

34

Pengalaman dan penelitian dari perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih mudah dipahami dan dimengerti daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007). Faktor ini terjadi karena banyaknya dari siswa/I yang berpengetahuan cukup karena mendapatkan sumber dari membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Jadi pengetahuan yang di dapat dari siswa/I dengan kategori cukup hanya sebatas pengetahuan yang di dapat dari membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Sehingga disimpulkan bahwa gambaran pengetahuan remaja tentang bahaya masturbasi di SMK Nusa Pemda Medan berada pada rentang yang cukup.

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.

Kesimpulan Dari hasil penelitian mengenai bahaya masturbasi pada remaja di SMK Nusa Pemda Medan Tahun 2010 dan pengolahan data yang dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
6.1.1. Gambaran pengetahuan pada remaja dari 40 responden, mayoritas

tertinggi dijumpai pada tingkat yang cukup sebanyak 24 orang (60%) dan minoritas terendah dijumpai pada tingkat yang kurang sebanyak 7 orang (17,50%).

6.2.

Saran
6.2.1. Bagi Remaja di SMK Nusa Pemda Medan Kelas X AK

35

disarankan kepada remaja agar meningkatkan pengetahuan tentang bahaya masturbasi dan mencari informasi dengan cara mengikuti program-program atau penyuluhan yang diadakan oleh tenaga kesehatan atau balai kesehatan. 6.2.2. Bagi Tenaga Kesehatan Diharapkan kepada tenaga kesehatan agar dapat lebih

meningkatkan pelayanan kesehatan terutama tentang bahaya masturbasi pada remaja secara mendalam dan secara jelas.

35