Anda di halaman 1dari 26

LAKI-LAKI DENGAN KELUHAN SAKIT KEPALA MODUL ENDOKRIN METABOLIK DAN GIZI KELOMPOK VIII

Inayah Indah Ramadhani M A Indra Pratana Dana Intan Samira Intan Telani Oktavia Irfan Saleh Janice Hastiani Justicia Andhika Perdana Karlina Isabella Kartika Novieka Wirawan Kharina Novialie Nornadzirah Binti Ahmad Kamaruddin Norzaimah Binti Mahmood 03007115 03007116 03007117 03007118 03007119 03007120 03007124 03007129 03007132 03007133 03007135 03007318 03007319

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua dosen dan tutor diskusi yang telah memberikan bimbingan dan masukan yang berarti pada kasus ini.

Diskusi berlangsung selama 2 hari, yaitu pada tanggal 11 Mei 2010 dan 12 Mei 2010. Keduanya berlangsung selama 1 jam 50 menit, dimulai dari jam 13.00 14.50 dan jam 08.00 09.50. Peserta diskusi berjumlah 13 orang. Semua peserta hadir dalam diskusi pertama dan kedua. Pada diskusi kasus yang bertindak sebagai tutor adalah dr.Hartoto dan sebagai ketua diskusi adalah Inayah dan dibantu sekretaris oleh Justicia. Sedangkan pada sesi 2 diskusi diketuai oleh Intan Telani dan dibantu oleh Irfan Saleh sebagai sekretaris.

Topik diskusi pertama pada modul organ Endokrin, Metabolik, dan Gizi adalah Seorang Laki laki yang mengeluh sering sakit kepala. Diskusi berjalan lancar, semua peserta aktif memberikan pendapat dan masukan untuk menyelesaikan kasus ini. Walaupun ada beberapa pendapat, yang membingungkan, namun pada akhirnya semua jawaban dapat dirangkum dan disatukan menjadi sebuah makalah dengan presentasi kasus. Demikian makalah ini kami tulis, semoga hasil diskusi kelompok kami bermanfaat dan bila ada kekurangan, kami mohon masukan lebih lanjut.

BAB II LAPORAN KASUS

Kasus I sesi 1 Ke RS tempat saudara bekerja sebagai dokter poliklinik umum, datang Tn. Hassan, 42 tahun dengan keluhan sering sakit kepala terutama pagi hari saat bangun tidur. Badannya juga makin gemuk karena katanya ia jarang berolahraga. Ia pun mengeluh cepat lelah dan mudah merasa kesemutan.

Ayahnya seorang penderita kencing manis. Meninggal dunia beberapa tahun yang lalu akibat serangan jantung. Saat itu ayahnya berusia 62 tahun. Tn.Hassan cemas karena takut bernasib sama seperti ayahnya.

Pada pemeriksaan awal didapatkan : TB : 165cm BB : 85kg TD : 150/100 mmHg Nadi : 88x/m, vol. Sedang, reguler Pernafasan : 24x/menit

Tn.Hassan tampak gemuk dengan perut membuncit. Pada kelompak mata atas sebelah kiri tampak benjolan kekuningan sebesar kacang hijau.

Kasus I sesi 2 Pada anamnesis lanjutan, Tn. Hasan mengeluh sebagai tambahan, nyeri di ibu jari kaki kirinya sejak 3 hari yang lalu, tapi sekarang sudah membaik. Pada pemeriksaan fisik Tn. Hasan, didapatkan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan getah bening leher. Tidak ada kelainan pada pemeriksaan jantung dan paru. Abdomen : Nyeri tekan (-), bising usus normal, shifting dulness (-), lingkar perut 144cm Hepar : teraba 1 jari b.a.c, kenyal, tepi tajam, permukaan licin, nyeri tekan (-) Lien : tak teraba Ekstremitas : terdapat pembengkakan pada sendi pangkal ibu jari kaki kiri, tidak ada pembengkakan pada sendi-sendi lain, Edema -/-

IDENTIFIKASI MASALAH

Identitas : Nama Umur Alamat Pekerjaan Status : Tn. Hassan : 42 tahun : : : -

Keluhan Utama : Sering sakit kepala terutama pagi hari saat bangun tidur

Riwayat Penyakit Sekarang : Badannya juga makin gemuk dan perut membuncit Cepat lelah dan merasa kesemutan Pada kelompak mata atas sebelah kiri tampak benjolan kekuningan sebesar kacang hijau Nyeri di ibu jari kaki kirinya sejak 3 hari yang lalu, tapi sekarang sudah membaik

Riwayat Penyakit Keluarga : Ayahnya seorang penderita kencing manis

Riwayat kebiasaan : Jarang olahraga

Pemeriksaan Fisik 1. Tanda Vital dan fisik TB : 165cm ; BB : 85kg (BMI = BB/TBxTB = 31,22 termasuk obesitas) TD : 150/100 mmHg (Hipertensi grade I) Nadi : 88x/m, vol. Sedang, reguler Pernafasan : 24x/menit (meningkat) Suhu : -

2. Inspeksi

Tampak gemuk dengan perut membuncit (lapisan lemak omental lebih menonjol pada perut yang buncit dan ini akan meningkatkan terjadinya hipertensi)

Pada kelompak mata atas sebelah kiri tampak benjolan kekuningan sebesar kacang hijau (terdapatnya xanthelasma karena hiperlipidemia)

Terdapat pembengkakan pada sendi pangkal ibu jari kaki kiri (predileksi dari gout arthritis)

3. Perkusi shifting dulness (-)

4. Palpasi Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan getah bening leher Abdomen : Nyeri tekan (-), bising usus normal Hepar : teraba 1 jari b.a.c, kenyal, tepi tajam, permukaan licin, nyeri tekan (-) Lien : tak teraba

5. Auskultasi - Tidak ditemukan kelainan pada jantung dan paru

Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Hb Leukosit Trombosit LED SGOT SGPT GD puasa HBA1C Kolesterol Total Trigliserida HDL Ureum Kreatinin Asam Urat BJ Urin PH Urin Protein Urin Glukosa Urin Sedimen : eritrosit lekosit

Hasil 11,5 g% 6.200 /mm3 212.000 45 mm/jam 78 u/L 86 u/L 145 mg/dl 7% 292 mg/dl 270 mg/dl 35 mg/dl 40 mg/dl 1,5 mg/dl 8,5 mg/dl 1015 6 +1 (-) 5-6/LPB 1-3/LPB

Nilai Normal 13-18 % 5.000-10.000/mm3 150.000-400.000 0-20 mm/jam 5-40 u/L 5-40 u/L <110 mg/dl 4-6,7% <200 mg/dl <150 mg/dl 20-55 mg/dl 20-40 mg/dl 0,6-1,2 mg/dl 4-7 mg/dl 1003-1030 4,6-8 0-1/LPB 1-2/LPB

Keterangan Menurun Normal Normal Meningkat Meningkat Meningkat Meningkat (DM) Meningkat (DM) Meningkat Meningkat Menurun Normal Meningkat Meningkat Normal Normal Proteinuria Normal Hematuria Meningkat

Patofisiologi masalah pada pasien ini

Pernafasan kusmaull

Asidosis metabolik

ketosis Neuropathy Diabeticum Ganggungan fungsi reabsorbsi asam Mudah lelah urat di ginjal anemia xanthelasma

FFA meningkat

Fatty hepatome genetik liver gali

Lipolisis obesitas lifestyle meningkat

Glukosa jaringan rendah kepala Resisitensi insulin Nyeri hipertensi dislipidemia atherosclerosis

Rasa kesemutan Kreatinin meningkat Hematuria Gangguan fungsi Proteinuria hiperuricemia ginjal Gout Arthritis

Faktor risiko pada Tn. Hasan Obesitas Genetik (Riwayat ayah penderita DM) Pola hidup tidak teratur (jarang berolahraga)

Daftar masalah Tn. Hasan :

1. Hipertensi grade 1 menurut JNC VII TD 150/100 mmHg Keluhan sakit kepala Kemungkinan penyebab : o Aterosklerosis tahanan perifer meningkat TD meningkat o Komplikasi dari DM 2. Obesitas BMI = 31,22 Lingkar perut 114 cm Cepat lelah (bisa akibat dari obesitas serta kurang berolahraga) Kemungkinan penyebab : pola hidup Tn. Hasan tidak teratur

3. Neuropati Diabetikum DM

Kesemutan ( biasanya terdapat pada distal dari tubuh) Cepat lelah Kemungkinan penyebab : komplikasi dari DM

4. Gout Arthritis Keluhan nyeri pada ibu jari kaki kiri Hiperurisemia 8,5 mg/dl Terdapat pembengkakan pada sendi pangkal ibu jari kaki kiri (predileksi dari gout arthritis) Kemungkinan penyebab : o asupan makanan yang mengandung purin berlebihan o gangguan fungsi ginjal proses ekskresi asam urat terganggu kadar asam urat dalam darah akan meningkat menyebabkan terjadinya penimbunan kristal asam urat yang apabila terbentuk pada cairan sendi gout.

5. DM GDP 145 mg/dl (>126 mg/dl) HBA1C 7% (meningkat) Faktor genetik Cepat lelah (DM menyebabkan resistensi insulin yang mengakibatkan glukosa tidak dapat diubah menjadi tenaga kelelahan

Kemungkinan penyebab akibat resistensi insulin insulin tidak dapat bekerja metabolisme karbohidrat terganggu DM

6. Gangguan fungsi ginjal Kreatinin meningkat Proteinuria Hematuria Kemungkinan penyebab : komplikasi dari DM

7. Gangguan fungsi hati Peningkatan SGOT dan SGPT Hepatomegali Kemungkinan penyebab : dislipidemia fatty liver hepatomegali

8. Hiperlipidemia Peningkatan kolesterol total Penurunan HDL Peningkatan trigliserida Kemungkinan penyebab : DM gangguan metabolisme lipid hiperlipidemia

9. Anemia Hb 11,5 g% Kemungkinan penyebab : gangguan fungsi ginjal produksi eritropoeitin menurun anemia

Diagnosis Sindroma metabolik (NCEP ATP II) Hipertensi : TD 150/100 Dislipidemia : Trigliserida 270 mg/dl HDL 35 mg/dl

Lingkar perut 114 cm (>102 cm pada laki-laki) Gangguan metabolisme glukosa : GD puasa 145mg/dl

Prognosis Ad vitam : ad bonam Ad sanasionam ; dubia ad bonam Walaupun terapi sudah tepat tetapi apabila pasien tidak patuh terhadap terapi dan tidak merubah pola hidupnya maka penyakit tidak terkontrol dan keluhan-keluhan akan mucul kembali Ad fungsionam : ad bonam

BAB III PEMBAHASAN

Obesitas Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas. Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40% Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100% Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk).

Terjadinya obesitas melibatkan beberapa faktor:

Faktor genetik.

Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab genetik. Tetapi anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

Faktor lingkungan. Gen merupakan faktor yang penting dalam berbagai kasus obesitas, tetapi lingkungan seseorang juga memegang peranan yang cukup berarti. Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang makan serta bagaimana aktivitasnya). Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, tetapi dia dapat mengubah pola makan dan aktivitasnya.

Faktor psikis. Apa yang ada di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan.

Faktor kesehatan Beberapa penyakit bisa menyebabkan obesitas, diantaranya: Hipotiroidisme Sindroma Cushing Sindroma Prader-Willi Beberapa kelainan saraf yang bisa menyebabkan seseorang banyak makan.

o o o o

Obat-obatan Obat-obat tertentu (misalnya steroid dan beberapa anti-depresi) bisa menyebabkan penambahan berat badan

Aktivitas fisik Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan mengalami obesitas.

Sindrom Metabolik Sindrom Metabolik yang juga disebut sindrom resistensi insulin atau sindrom X merupakan suatu kumpulan faktor2 risiko yang bertanggung jawab terhadap peningkatan morbiditas penyakit kardiovaskular pada obesitas dan DM tipe 2.
1,2)

The National

Cholesterol Education Program-Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III) melaporkan bahwa sindrom metabolik merupakan faktor risiko independen terhadap penyakit kardiovaskular, sehingga memerlukan intervensi modifikasi gaya hidup yang ketat (intensif). 3) Komponen utama dari sindrom metabolik meliputi :

Resistensi insulin Obesitas abdominal/sentral Hipertensi Dislipidemia : Peningkatan kadar trigliserida Penurunan kadar HDL kolesterol

Metabolik disertai dengan keadaan proinflammasi / prothrombotik yang dapat menimbulkan peningkatan kadar C-reactive protein, disfungsi endotel, hiperfibrinogenemia, peningkatan agregasi platelet, peningkatan kadar PAI-1, peningkatan kadar asam urat, mikroalbuminuria dan peningkatan kadar LDL cholesterol. Akhir-akhir ini diketahui pula bahwa resistensi insulin juga dapat menimbulkan Sindrom Ovarium Polikistik dan Non Alcoholic Steato Hepatitis (NASH).4)

Epidemiologi/ Prevalensi Prevalensi Sindrom Metabolik bervariasi tergantung pada definisi yang digunakan dan populasi yang diteliti. Berdasarkan data dari the Third National Health and Nutrition Examination Survey (1988 sampai 1994), prevalensi sindrom metabolik (dengan menggunakan kriteria NCEP-ATP III) bervariasi dari 16% pada laki2 kulit hitam sampai 37% pada wanita Hispanik. Prevalensi Sindrom Metabolik meningkat dengan bertambahnya usia dan berat badan. Karena populasi penduduk Amerika yang berusia lanjut makin bertambah dan lebih dari separuh mempunyai berat badan lebih atau gemuk , diperkirakan Sindrom Metabolik melebihi merokok sebagai faktor risiko primer terhadap penyakit kardiovaskular. Sindrom metabolik juga merupakan prediktor kuat untuk terjadinya DM tipe 2 dikemudian hari.5,6) Etiologi : Etiologi Sindrom Metabolik belum dapat diketahui secara pasti. Suatu hipotesis menyatakan bahwa penyebab primer dari sindrom metabolik adalah resistensi insulin. Resistensi insulin mempunyai korelasi dengan timbunan lemak viseral yang dapat ditentukan dengan pengukuran lingkar pinggang atau waist to hip ratio. Hubungan antara resistensi insulin dan penyakit kardiovaskular diduga dimediasi oleh terjadinya stres oksidatif yang menimbulkan disfungsi endotel yang akan menyebabkan kerusakan vaskular dan pembentukan atheroma. Hipotesis lain menyatakan bahwa terjadi perubahan hormonal yang mendasari terjadinya obesitas abdominal. Suatu studi

membuktikan bahwa pada individu yang mengalami peningkatan kadar kortisol didalam serum (yang disebabkan oleh stres kronik) mengalami obesitas abdominal, resistensi insulin dan dislipidemia. Para peneliti juga mendapatkan bahwa ketidakseimbangan aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal yang terjadi akibat stres akan menyebabkan terbentuknya hubungan antara gangguan psikososial dan infark miokard. 7-10) Evaluasi Klinis Terhadap individu yang dicurigai mengalami Sindrom Metabolik hendaklah dilakukan evaluasi klinis, yang meliputi : 11-12) Anamnesis, tentang : Riwayat keluarga dan penyakit sebelumnya. Riwayat adanya perubahan berat badan. Aktifitas fisik sehari-hari. Asupan makanan sehari-hari Pemeriksaan fisik, meliputi : Pengukuran tinggi badan, berat badan dan tekanan darah Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) , menggunakan rumus :

Berat badan (kg) Tinggi badan (m)2 Pengukuran lingkaran pinggang merupakan prediktor yang lebih baik terhadap risiko kardiovaskular daripada pengukuran waist-to-hip ratio. Pemeriksaan laboratorium, meliputi : Kadar glukosa plasma dan profil lipid puasa. Pemeriksaan klem euglikemik atau HOMA (homeostasis model assessment) untuk menilai resistensi insulin secara akurat biasanya hanya dilakukan dalam penelitian dan tidak praktis diterapkan dalam penilaian klinis. Highly sensitive C-reactive protein Kadar asam urat dan tes faal hati dapat menilai adanya NASH. USG abdomen diperlukan untuk mendiagnosis adanya fatty liver karena kelainan ini dapat dijumpai walaupun tanpa adanya gangguan faal hati.

Penatalaksanaan Saat ini belum ada studi acak terkontrol yang khusus tentang penatalaksanaan Sindrom Metabolik. Berdasarkan studi klinis, penatalaksanaan agresif terhadap komponen2 Sindrom Metabolik dapat mencegah atau memperlambat onset diabetes, hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Semua pasien yang didiagnosis dengan Sindrom Metabolik hendaklah dimotivasi untuk merubah kebiasaan makan dan latihan fisiknya sebagai pendekatan terapi utama. Penurunan berat badan dapat memperbaiki semua aspek Sindrom Metabolik, mengurangi semua penyebab dan mortalitas penyakit kardiovaskular. Namun kebanyakan pasien mengalami kesulitan dalam mencapai penurunan berat badan. Latihan fisik dan perubahan pola makan dapat menurunkan tekanan darah dan memperbaiki kadar lipid, sehingga dapat memperbaiki resistensi insulin.13) Latihan Fisik : Otot rangka merupakan jaringan yang paling sensitif terhadap insulin didalam tubuh, dan merupakan target utama terjadinya resistensi insulin. Latihan fisik terbukti dapat menurunkan kadar lipid dan resistensi insulin didalam otot rangka. Pengaruh latihan fisik terhadap sensitivitas insulin terjadi dalam 24 48 jam dan hilang dalam 3 sampai 4 hari. Jadi aktivitas fisik teratur hendaklah merupakan bagian dari usaha untuk memperbaiki resistensi insulin. Pasien hendaklah diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan derajat aktifitas fisiknya. Manfaat paling besar dapat diperoleh bila pasien menjalani latihan fisik sedang secara teratur dalam jangka panjang. Kombinasi latihan fisik aerobik dan latihan fisik menggunakan beban merupakan

pilihan terbaik. Dengan menggunakan dumbbell ringan dan elastic exercise band merupakan pilihan terbaik untuk latihan dengan menggunakan beban. Jalan kaki dan jogging selama 1 jam perhari juga terbukti dapat menurunkan lemak viseral secara bermakna pada laki2 tanpa mengurangi jumlah kalori yang dibutuhkan.11,12) Diet Sasaran utama dari diet terhadap Sindrom Metabolik adalah menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus. Review dari Cochrane Database mendukung peranan intervensi diet dalam menurunkan risiko penyakit

kardiovaskular. Bukti-bukti dari suatu studi besar menunjukkan bahwa diet rendah sodium dapat membantu mempertahankan penurunkan tekanan darah. Hasil2 dari studi klinis diet rendah lemak selama lebih dari 2 tahun menunjukkan penurunan bermakna dari kejadian komplikasi kardiovaskular dan menurunkan angka kematian total.
11)

The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7) merekomendasikan tekanan darah sistolik antara 120 139 mmHg atau diastolik 80 89 mmHg sebagai stadium pre hipertensi, sehingga modifikasi gaya hidup sudah mulai ditekankan pada stadium ini untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Berdasarkan studi dari the Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH), pasien yang mengkonsumsi diet rendah lemak jenuh dan tinggi karbohidrat terbukti mengalami penurunan tekanan darah yang berarti walaupun tanpa disertai penurunan berat badan.

Penurunan asupan sodium dapat menurunkan tekanan darah lebih lanjut atau mencegah kenaikan tekanan darah yang menyertai proses menua. Studi dari the Coronary Artery Risk Development in Young Adults mendapatkan bahwa konsumsi produk2 rendah lemak dan garam disertai dengan penurunan risiko sindrom metabolik yang bermakna. Diet rendah lemak tinggi karbohidrat dapat meningkatkan kadar trigliserida dan menurunkan kadar HDL kolesterol, sehingga memperberat dislipidemia. Untuk menurunkan hipertrigliseridemia atau meningkatkan kadar HDL kolesterol pada pasien dengan diet rendah lemak, asupan karbohidrat hendaklah dikurangi dan diganti dengan makanan yang mengandung lemak tak jenuh (monounsaturated fatty acid = MUFA) atau asupan karbohidrat yang mempunyai indeks glikemik rendah. Diet ini merupakan pola diet Mediterrania yang terbukti dapat menurunkan mortalitas penyakit kardiovaskular. Suatu studi menunjukkan adanya korelasi antara penyakit kardiovaskular dan asupan biji-bijian dan kentang. Para peneliti merekomendasikan diet yang mengandung biji-bijian, buah-buahan dan sayuran untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Efek jangka panjang dari diet rendah karbohidrat belum diteliti secara adekuat, namun dalam jangka pendek, terbukti dapat menurunkan kadar trigliserida, meningkatkan kadar HDL-cholesterol dan menurunkan berat badan. Pilihan untuk menurunkan asupan karbohidrat adalah dengan mengganti makanan yang mempunyai indeks glikemik tinggi dengan indeks glikemik rendah yang banyak mengandung serat. Makanan dengan indeks glikemik rendah dapat menurunkan kadar glukosa post prandial dan insulin. 12)

Edukasi Dokter2 keluarga mempunyai peran besar dalam penatalaksanaan pasien dengan Sindrom Metabolik, karena mereka dapat mengetahui dengan pasti tentang gaya hidup pasien serta hambatan2 yang dialami mereka dalam usaha memodifikasi gaya hidup tersebut. Dokter keluarga juga diharapkan dapat mengetahui pengetahuan pasien tentang hubungan gaya hidup dengan kesehatan, yang kemudian memberikan pesan2 tentang peranan diet dan latihan fisik yang teratur dalam menurunkan risiko penyulit dari Sindrom Metabolik. Dokter keluarga hendaklah mencoba membantu pasien mengidentifikasi sasaran jangka pendek dan jangka panjang dari diet dan latihan fisik yang diterapkan. Pertanyaan2 seperti : Bagaimana pendapat anda apakah diet dan latihan fisik yang diterapkan dapat mempengaruhi kesehatan anda ? atau Permasalahan apa yang anda hadapi dalam mencoba menerapkan perubahan diet atau aktifitas fisik ? , dapat membantu dokter keluarga dalam menerapkan langkah2 berikutnya terhadap masing2 pasien. Jawaban pasien hendaklah dicatat dalam rekam medik dan direview pada kunjungan berikutnya. Hal ini dapat membantu dokter mengidentifikasi adanya hambatan2 dalam menerapkan perubahan gaya hidup. 12.13) Farmakoterapi : Terhadap pasien2 yang mempunyai faktor risiko dan tidak dapat ditatalaksana hanya dengan perubahan gaya hidup, intervensi farmakologik diperlukan untuk mengontrol tekanan darah dan dislipidemia. Penggunaan aspirin dan statin dapat menurunkan kadar C-reactive protein dan memperbaiki profil lipid sehingga

diharapkan

dapat

menurunkan

risiko

penyakit

kardiovaskular.

Intervensi

farmakologik yang agresif terhadap faktor2 risiko telah terbukti dapat mencegah penyulit kardiovaskular pada penderita DM tipe 2. 13) Pencegahan The US Preventive Services Task Force merekomendasi konsultasi diet intensif terhadap pasien2 dewasa yang mempunyai faktor2 risiko untuk terjadinya penyulit kardiovaskular. Para dokter keluarga lebih efektif dalam membantu pasien menerapkan kebiasaan hidup sehat. The Diabetes Prevention Program telah membuktikan bahwa intervensi gaya hidup yang ketat pada pasien prediabetes dapat menghambat progresivitas terjadinya diabetes lebih dari 50% ( dari 11% menjadi 4,8%). 13) Kriteria Diagnosis Sindrom Metabolik Komponen Obesitas Kriteria Diagnosis WHO Waist to hip ratio : Laki2 : > 0.90; Wanita : > 0.85, atau IMB > 30 kg/m2 Kriteria Diagnosis ATP III Lingkar pinggang : Laki2 : > 102 cm (40 inchi) Wanita : > 88 cm (35 inchi)

Hipertrigliseridemia HDL Cholesterol

150 mg/dl ( 1.7 mmol/L) < 35 mg/dl (< 0.9 mmol/L)

150 mg/dl ( 1.7 mmol/L) < 40 mg/dl (< 1.036

mmol/L) < 39 mg/dl (< 1.0 mmol/L < 50 mg/dl (< 1.295 mmol/L)

Hipertensi

TD 140/90 mmHg atau riwayat terapi anti

TD 130/85 mmHg atau riwayat terapi anti hipertensif 110 mg/dl atau 6.1 mmol/L

Kadar glukosa darah tinggi

hipertensif Toleransi glukosa terganggu, glukosa puasa terganggu, resistensi insulin

Mikroalbuminuri

atau DM Ratio albumin urin dan kreatinin 30 mg/g atau laju ekskresi albumin 20 mcg/menit

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

1. A. Price, Sylvia. Ptofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta: ECG; 2005 2. Sudoyo A W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata m, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI; 2006 3. Silbernagl S, Lang F. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran: ECG; 2000 4. Rani A A, Soegondo S, Nasir AUZ, Wijaya IP, Nafrialdi, Mansjoer A. Panduan Pelayanan Medik. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FK UI; 2005

BAB V PENUTUP dan UCAPAN TERIMA KASIH

Kelompok kami menyimpulkan bahwan kasus Sindroma Metabolik ini sangat penting untuk penerapan klinis sehari-hari, mengingat kasus ini akan sangat sering dijumpai yang juga turut didukung oleh pola hidup masyarakat yang semakin tidak sehat.

Kelompok kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada phak-pihak yang telah membantu kami dalam proses pembuatan makalah ini. Terutama kami mengucapkan banyak terima kasih kepada dr.Hartoto Setyo yang telah membimbing kami untuk lebih memahami tentang kasus yang diberikan dan juga kepada dosen-dosen yang pengajar sehingga membantu kami dalam menjalani diskusi kelompok ini

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat ban yak kekurangan dan kesalahan dalam pembuatan makalah ini