Anda di halaman 1dari 9

APLIKASI TEORI VYGOTSKY DALAM PEMBELAJARAN

MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Perkembangan Peserta Didik yang Dibimbing oleh Ibu Ika Andrini Farida

Oleh : 1. Tabita Wahyu Triutami ( 100311400763 ) 2. Fatimatuz Zahro ( 100311404211 ) 3. Yunita Dwiyani ( 100311405144 )

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA

2011

Aplikasi teori Vygotsky dalam pembelajaran


Teori-teori pendidikan Vygotsky mempunyai dua implikasi utama. Yang pertama ialah keinginan menyusun rencana pembelajaran kerja sama diantara kelompokkelompok siswa yang mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda. Pengajaran pribadi oleh teman yang lebih kompeten dapat berjalan efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dalam zona perkembangan proksimal. Kedua, pendekatan Vygotsky terhadap pengajaran menekankan perancahan, dengan siswa yang mengambil makin banyak tanggung jawab untuk pembelajaran mereka sendiri. Penerapan teori Vygotsky di ruang kelas Konsep Vygotsky tentang zona perkembangan proximal didasarkan pada gagasan bahwa perkembangan didefinisikan oleh apa yang dapat dilakukan seorang anak secara mandiri dan oleh apa yang dapat dilakukan anak tersebut ketika dibantu oleh orang dewasa atau teman yang lebih kompeten. Pengetahuan tentang kedua tingkat zona Vygotsky bermanfaat bagi guru karena kedua tingkat ini menunjukkan dimana anak itu berada pada masa tertentu dan juga kemana anak itu akan pergi. Zona perkembangan proximal mempunyai beberapa implikasi bagi pengajaran di ruang kelas. Menurut Vygotsky, agar kurikulum sesuai dengan perkembangan, guru harus merencanakan kegiatan yang mencakup bukan hanya apa yang sanggup dilakukan anak-anak itu sendiri, tetapi apa yang dapat mereka pelajari dengan bantuan orang lain. Teori Vygotsky tidak berarti bahwa apa saja dapat diajarkan kepada anak. Hanya pengajaran dan kegiatan yang termasuk dalam zona perkembangan anak. Misalnya, apabila seorang anak tidak dapat mengidentifikasi bunyi dalam suatu kata bahkan setelah berulang kali dibisikkan, mungkin anak ini tidak akan memperoleh manfaat langsung dari pengajaran dalam kemampuan ini. Praktik kemampuan yang sebelumnya sudah diketahui dan pengenalan konsep-konsep yang terlalu sulit mempunyai sedikit dampak positif. Guru dapat menggunakan informasi tentang kedua

tingkat zona perkembangan proksimal Vygotsky dalam mengorganisasikan kegiatan di ruang kelas dengan cara berikut: 1. pengajaran dapat direncanakn untuk mendapatkan praktik dalam zona perkembangan proksimal bagi masing-masing anak atau kelompok anak. Misalnya isyarat dan bisikan yang membantu anak selama penilaian tersebut dapat menjadi dasar kegiatan. 2. kegiatan belajar dengan kerja sama dapat direncanakn bersama kelompokkelompok anak pada tingkat yang berbeda yang dapat membantu sama lain dalam belajar. 3. perancahan menyediakan isyarat dan bisikan dalam tingkatan yang berbeda. Dalam perancahan, orang dewasa tidak menyederhanakan tugas tersebut, tetapi peran pelajar tersebut disederhanakan melalui campur tangan bertahap gurunya. misalnya seorang anak mungkin diperlihatkan uang logam sen untuk melambangkan masing-masing bunyi dalam suatu kata (misalnya, 3 sen untuk 3 bunyi untuk men (orang)). Untuk menguasai kata ini, anak diminta meletakkan satu sen di atas meja untuk memperlihatkan masing-masing bunyi dalam suatu kata, dan akhirnya anak itu dapat mengidentifikasi bunyi-bunyi tersebut tanpa uang logam tadi. Ketika orang dewasa menyediakan uang logam pada anak, orang tersebut telah menyediakan perancah untuk membantu anak tadi beranjak dari keberhasilan dengan bantuan ke tanpa bantuan dalam tugas tersebut. Dalam suatu metode pelajaran ilmu pengetahuan alam laboratorium sekolah menengah umum, seorang guru dapat menyediakan perancahan dengan pertama-tama memberikan panduan secara jelas kepada siswa untuk melakukan eksperimen, kemudian memberi mereka garis besar singkat yang dapat mereka gunakan untuk menyusun eksperimen dan akhirnya meminta mereka menciptakan eksperimen seluruhnya dengan kemampuan mereka sendiri. Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks sosial budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik

saling tukar gagasan antar individual. Terdapat dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vigotsky adalah: (1) mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) Zona of Proximal Development (ZPD) Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi. Dalam interaksi sosial dikelas, ketika terjadi saling tukar pendapat antar siswa dalam memecahkan suatu masalah, siswa yang lebih pandai memberi bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan berupa petunjuk bagaimana cara memecahkan masalah tersebut, maka terjadi scaffolding, siswa yang mengalami kesulitan tersebut terbantu oleh teman yang lebih pandai. Ketika guru membantu secukupnya kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya, maka terjadi scaffolding. Konsep ZPD Vigotsky berdasar pada ide bahwa perkembangan pengetahuan siswa ditentukan oleh keduanya yaitu apa yang dapat dilakukan oleh siswa sendiri dan apa yang dilakukan oleh siswa ketika mendapat bantuan orang yang lebih dewasa atau teman sebaya yang berkompeten. Contoh nyata aplikasi teori Vygotsky beberapa diantaranya adalah: 1. bimbingan ahli dalam pembelajaran 2. peran guru sebagai pembantu dan mediator dalam pembelajaran siswa 3. melibatkan anak dalam berdiskusi dan berpikir (reasoning) dalam mempelajari segala kejadian 4. pengetahuan yang diberikan kepada anak harus merupakan pengetahuan baru yang sedikit di atas kemampuan yang dimiliki anak. Sehingga anak menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memperoleh pengetahuan baru. 5. belajar kelompok/ pembelajaran kerjasama (yang menambah interaksi siswa dengan siswa lain) 6. Pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa

7. Aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada keterampilan berpikir kritis. 8. Pembelajaran menekankan pada proses. Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan. (2) (3) (4) mengutamakan proses, menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman

Vigotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan. Pandangan Konstruktivistik tentang evaluasi Evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah dalam konsteks nyata. Evaluasi yang menggali munculnya berpikir divergent, pemecahan ganda, bukan hanya satu jawaban benar. Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermkana serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. evaluasi menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok. Rancangan Pembelajaran Konstruktivistik Berdasarkan teori Vygotsky yang telah dikemukakan di atas maka pembelajaran dapat dirancang/didesain dalam model pembelajaran konstruktivis di kelas sebagai berikut: Identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi

Identifikasi

awal

terhadap

gagasan

intuitif

yang

mereka

miliki

terhadap akan

lingkungannya

dijaring

untuk

mengetahui

kemungkinan-kemungkinan

munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal, interview Penyusunan program pembelajaran. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran. Orientasi dan elicitasi situasi pembelajaran yang kondusif dan mengasyikkan sangatlah perlu diciptakan pada awal-awal pembelajaran untuk membangkitkan minat mereka terhadap topik yang akan dibahas. Siswa dituntun agar mereka mau mengemukakan gagasan intuitifnya sebanyak mungkin tentang gejala-gejala alam yang mereka amati dalam lingkungan hidupnya sehari-hari. Pengungkapan gagasan tersebut dapat memalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan tersebut kemudian dipertimbangkan bersama. Suasana pembelajaran dibuat santai dan tidak menakutkan agar siswa tidak khawatir dicemooh dan ditertawakan bila gagasangagasannya salah. Guru harus menahan diri untuk tidak menghakiminya. Kebenaran akan gagasan siswa akan terjawab dan terungkap dengan sendirinya melalui penalarannya dalam tahap konflik kognitif. Refleksi Dalam tahap ini, berbagai macam gagasan-gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direflesikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya. Resrtukturisasi ide, berupa: (a) tantangan siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang kemudian dapat diperagakan atau diselidiki dalam praktikum. Mereka diminta untuk meramalkan hasil percobaan dan memberikan alas an untuk mendukung ramalannya itu. (b) konflik kognitif dan diskusi kelas

Siswa akan dapat melihat sendiri apakah ramalan mereka benar atau salah. Mereka didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan percobaan. Bila ramalan mereka meleset, mereka akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan mereka. Kemudian mereka didorong untuk memikirkan penjelasan paling sederhana yang dapat menerangkan sebanyak mungkin gejala yang telah mereka lihat. Usaha untuk mencari penjelasan ini dilakukan dengan proses konfrontasi melalui diskusi dengan teman atau guru yang pada kapasistasnya sebagai fasilitator dan mediator. (c) membangun ulang kerangka konseptual Siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. Menunjukkan bahwa konsep ilmiah yang baru itu memiliki keunggulan dari gagasan yang lama. Aplikasi. Menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah. Menganjurkan mereka untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan kemudia menguji penyelesaian secara empiris. Mereka akan mampu membandingkan secara eksplisit miskonsepsi mereka dengan penjelasa secara keilmuan. 1. Implikasi teori cultural dalam pembelajaran Implikasi teori cultural dalam proses belajar mengajar menurut Mukminan dkk(1998; 42) sebagai berikut : a. Makna belajar Implikasi teori revolusi sosiokultural dalam proses pembelajaran karakteristiknya sebagai berikut : a) Belajar merupakan proses pembentukan makna. b) Belajar bukanlah proses mengumpulkan informasi, melainkan proses pengembangan pemahaman atau pemikiran dengan membuat pemahaman baru. c) Proses belajar terjadi pada saat terjadi ketidakseimbangan struktur kognitif pada diri seseorang. b. Implikasinya di dalam kelas: 1) Proses kontruksi pengetahuan berlangsung dalam diri individu.

2) Proses belajar harus diciptakan secara autentik dan alami dalam kontek sosio cultural 3) Guru mendorong dan menerima otonomi serta inisiatif anak. 4) Guru dalam menyusun tugas mrnggunakan terminologi kognitif yang merangsang dan mendorong proses berpikir tingkat tinggi. 5) Guru memberi kesempatan pada anak didik untuk memberi respon terhadap proses pembelajaran ,untuk meningkatkan proses pembelajaran merubah strategi dan isi pembelajaran. 6) Memberikan kegiatan yang menumbuhkan rasa ingin tahu siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan ide-idenya dan mengkomunikasikannya pada orang lain. 7) Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam melakukan kegiatan belajar. 8) Guru memahami proses pemahaman konsep anak terlebih dahulu sebelum menyampaikan pemikiran konsep tersebut. 9) Guru mendorong terjadinya proses dialog baik dengan guru, sendiri maupun sesame teman. 10) Guru mendorong untuk melakukan inquiri dengan mengajukan pertanyaan terbuka, menantang, dan mendorong mereka untuk saling mengajukan pertanyaan diantara teman. 11) Guru memahami elaborasi respon awal anak. 12) Guru memberikan anak pengalaman belajar yang mendorong munculnya kontradiksi pemikiran dan mendorongya untuk melakukan diskusi. 13) Guru memberikan kesempatan atau waktu pada anak untuk berpikir setelah diberi pertanyaan. 14) Guru memberi waktu pada anak untuk membangun keterkaitan atau hubungan dan mencipta metaphor. 15) Guru memelihara keingintahuan yang alami dari anak melalui penggunaan learning cycle model . 16) Memonitor dan mengevaluasi proses berpikir siswa, dan memberikan umpan balik sehingga proses pembentukan makna berjalan secara sistematik.