MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 40 – KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 40 /KMK.01/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010-2014 MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014; 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 2. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009; 3. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra K/L) 2010-2014; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERTAMA : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010-2014. Menetapkan Rencana Strategis Kementerian Keuangan, yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Keuangan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Keuangan ini sebagai dokumen perencanaan Kementerian Keuangan untuk periode 5 (lima) tahun terhitung mulai Tahun 2010 sampai dengan 2014. Renstra Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014 berisi visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, kegiatan, indikator kinerja, dan pendanaan yang disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 dan bersifat indikatif. Unit Eselon I, Eselon II, Instansi Vertikal, dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Keuangan wajib menyusun Rencana Strategis (Renstra). Renstra sebagaimana dimaksud pada Diktum KETIGA disusun dengan berpedoman pada: a. Keputusan Menteri Keuangan ini; dan b. Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Unit-Unit Organisasi Di Lingkungan Kementerian Keuangan.

Mengingat

:

KEDUA

:

KETIGA KEEMPAT

: :

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 41 – KELIMA : Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Unit-Unit Organisasi Di Lingkungan Kementerian Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEEMPAT huruf b ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan tersendiri. Renstra Unit Eselon I sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Unit Eselon I paling lambat 1 (satu) bulan setelah Renstra Kementerian Keuangan 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan kepada Menteri Keuangan. Renstra Unit Eselon II sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Unit Eselon II paling lambat 2 (dua) minggu setelah Renstra Unit Eselon I 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan kepada Pimpinan Unit Eselon I. Renstra Instansi Vertikal sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Instansi Vertikal paling lambat 2 (dua) minggu setelah Renstra Unit Eselon II 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan kepada Pimpinan Unit Eselon II. Renstra Unit Pelaksana Teknis sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Unit Pelaksana Teknis paling lambat 2 (dua) minggu setelah Renstra Unit Eselon I 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan ke Pimpinan Unit Eselon I. Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Salinan Keputusan Menteri Keuangan ini disampaikan kepada: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan; Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan; Para Direktur Jenderal/Kepala Badan/Ketua Badan di lingkungan Kementerian Keuangan; Para Staf Ahli Menteri Keuangan; Kepala Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan, Kementerian Keuangan; Kepala Biro Perencanaan Keuangan, Kementerian Keuangan; Kepala Biro Hukum, Kementerian Keuangan.

KEENAM

:

KETUJUH

:

KEDELAPAN

:

KESEMBILAN

:

KESEPULUH

:

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Januari 2010 MENTERI KEUANGAN ttd.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DAFTAR ISI

BAB I 1.1. 1.2.

PENDAHULUAN ........................................................................................ Kondisi Umum ..............................................................................................

1 1

Potensi dan Permasalahan ........................................................................... 22

BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN KEUANGAN ................... 34 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. Visi Kementerian Keuangan ........................................................................ 34 Misi Kementerian Keuangan ....................................................................... 34 Tujuan Kementerian Keuangan .................................................................. 34 Sasaran Strategis Kementerian Keuangan ................................................. 35

BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI ....................................................... 40 3.1. 3.2. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional ........................................................ 40 Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Keuangan ............................. 62

LAMPIRAN ¡ Matriks Kinerja Pembangunan Kementerian Keuangan ¡ Matriks Pendanaan Kementerian Keuangan ¡ Matriks Program 100 Hari Kementerian Keuangan ¡ Matriks Kontrak Kinerja Menteri Keuangan-Presiden ¡ Matriks Hasil Temu Nasional

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 40 /KMK/PMK.01/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010 - 2014

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010 - 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1 KONDISI UMUM 1.1.1 Kondisi Ekonomi Makro Tahun 2004 - 2009

Dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2004-2009 seiring dengan dinamika ekonomi internal maupun krisis keuangan global, pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 5,9 persen atau lebih baik dibandingkan dengan periode Tahun 2001-2004 (4,5 persen), inflasi rata-rata mencapai 10,4 persen. Dengan pendekatan pro growth, pro poor dan pro job, upaya-upaya pemerintah telah membuahkan hasil dengan menurunnnya tingkat pengangguran dari 9,86 persen pada Tahun 2004 menjadi 8,14 persen pada Tahun 2008, tingkat kemiskinan dari 16,66 persen menurun secara drastis menjadi 14,15 persen pada Tahun 2009. Nilai tukar rupiah Tahun 2004 rata-rata Rp 8.928/US$, pada awal September 2005 sempat mencapai Rp 10.345/US$, namun kembali melemah menyentuh level Rp 8.828/US$ pada semester II Tahun 2007, lalu bergerak relatif stabil pada rata-rata Rp9.234/US$ di Tahun 2008. Pada Tahun 2008 nilai rata-rata berkisar Rp 9.234/US$, memasuki Tahun 2009 sampai dengan bulan Juni nilai rata-rata berada pada kisaran Rp 11.082/US$. Inflasi Tahun 2004 berada pada level 6,4 persen, walau sempat naik sampai mencapai 17,1 persen Tahun 2005, namun kemudian pada Tahun 2007 sebesar 6,6 persen, dan sampai dengan Juni 2009 mencapai 3,7 persen. Seiring dengan itu, BI rate bergerak naik dari 12,5 persen pada Desember 2005 menjadi 12,75 persen pada April 2006, kemudian mulai menunjukkan penurunan pada bulan Desember 2008 sejalan dengan membaiknya ekspektasi inflasi dan terjaganya pasokan bahan pangan domestik serta apresiasi nilai tukar. Tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) pada Tahun 2008 mencapai 74,61 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Volatilitas harga minyak yang sempat menembus level 60 dolar AS per barel pada Tahun 2005, diiringi dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya volume konsumsi BBM domestik, mengakibatkan membengkaknya belanja subsidi BBM pada APBN Tahun 2005 mencapai Rp101,5 Triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Tahun 2003 dan 2004 yang masing-masing sebesar Rp30,0 Triliun dan Rp69,0 Triliun. Ketika harga minyak dunia pada semester pertama Tahun 2008 yang sempat menembus US$140 per barel, secara langsung mempengaruhi APBN dengan membengkaknya subsidi BBM, sehingga defisit anggaranpun mengalami peningkatan. Pada pertengahan Tahun 2008 terjadi krisis finansial global yang kemudian mempengaruhi harga minyak dunia. Harga minyak mengalami penurunan kembali. Oleh karena itu Pemerintah kemudian mengambil kebijakan untuk menurunkan harga BBM baik premium maupun solar domestik. Pada Desember 2008, Pemerintah telah menurunkan harga premium sebanyak 2 kali, dan solar sebanyak 1 kali. Penurunan harga premium dan solar tersebut kembali dilakukan Pemerintah pada Januari 2009.

8 pada bulan Maret 2009. Sementara itu adanya bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.3 persen. meskipun sempat mengalami koreksi dalam beberapa periode. serta nilai tukar di dalam negeri.3 pada akhir Agustus 2009. Dibanding akhir Desember 2008 hingga 16 November 2009. baik dari sisi eksternal maupun internal. perekonomian Indonesia dinilai relatif lebih baik dibanding dengan negara Asia lainnya. Aliran modal masuk kembali positif baik di pasar saham maupun obligasi negara.2009 mengalami tekanan dan tantangan yang cukup berat. Daya tahan sistem keuangan domestik cukup mantap jika dibandingkan kondisi krisis tahun 1998. 1. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan signifikan pada sektor perdagangan akibat menurunnya permintaan masyarakat.1 persen dan Rupiah terapresiasi 15. serta dipengaruhi dari sisi penerimaan negara dan dari sisi belanja negara.3 persen. dimana pertumbuhan PDB sebesar 4 persen (q-to-q). menurun signifikan dibandingkan Tahun 2008 sebesar 6.399.1. meskipun konsumsi rumah tangga tetap tinggi. dan tidak satu negara pun terhindar dari krisis ini. Hal ini ditambah lagi dengan adanya kebijakan pemberian insentif perpajakan sebagai bagian dari kebijakan stimulus . Ketidakseimbangan ekonomi global berdampak pada tingkat suku bunga. Respon kebijakan pemerintah yang counter-cyclical melalui program stimulus telah berhasil mempertahankan daya beli masyarakat sehingga saat ini pemerintah terus berusaha untuk dapat mengalirkan program stimulus dalam sektor investasi. mengakibatkan beban belanja yang sangat berat untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena bencana alam tersebut. akibat macetnya subprime mortgage. menguat menjadi 4. inflasi.000/US$. Kinerja pasar modal sejak pertengahan Tahun 2009 menunjukkan tren penguatan.264. IHSG sempat menembus level tertinggi selama tahun 2009 yaitu sebesar 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –2– Kondisi perekonomian pada Tahun 2009 diawali dengan situasi ekonomi yang suram sebagai dampak dari krisis keuangan global.4 persen. Pertumbuhan ekonomi dunia menurun dari 3. Dalam kondisi tersebut. jauh lebih rendah dari pertumbuhannya pada tahun 2008 sebesar 3.6 persen. Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat (AS).3 persen (q-to-q) pada kurtal ketiga Tahun 2009. IHSG mengalami penguatan sebesar 82. secara cepat mengalir dan menyebar pada sistem keuangan dunia. Pergeseran arus modal yang besar dan tiba-tiba membawa guncangan pada sistem stabilitas keuangan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir Tahun 2009 diperkirakan sebesar 4. Hal ini antara lain disebabkan oleh terjadinya kontraksi ekspor dan rendahnya investasi. didukung oleh peningkatan kapitalisasi pasar. Stabilitas pasar keuangan Indonesia sempat terguncang yang tercermin pada depresiasi Rupiah terendah pada tanggal 20 Februari 2009 pada level Rp12. dan penurunan harga Surat Utang. anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada level 1. Dengan demikian pemulihan ekonomi dapat terlihat sejak kuartal kedua Tahun 2009. Pada awal Tahun 2009 terjadi capital outflow sebesar US$312 miliar dari negara-negara emerging market ke AS. dan risiko sistemik antarbank.2 persen pada Tahun 2008 menjadi negatif 1 persen pada Tahun 2009. terbaik di Asia setelah Cina. Eksposur perbankan dan lembaga keuangan Indonesia terhadap subprime mortgage relatif minimal. World Economic Outlook April 2009 memperkirakan pertumbuhan perdagangan dunia negatif sebesar 11 persen. Seperti negara berkembang lainnya. Indonesia juga terkena dampak krisis keuangan global.2 Kinerja APBN Tahun 2004-2009 Kinerja APBN selama periode Tahun 2004 .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –3– fiskal yang dalam jangka pendek berdampak negatif pada penerimaan negara. pada Tahun 1999 diterbitkan 2 (dua) UU di bidang otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Sementara itu kontribusi PNBP terhadap pendapatan negara dan hibah mengalami penurunan. Defisit pada tahun 2009 ditargetkan sebesar 1. dan adminsitrasi pemerintahan yang bersifat strategis. Dalam rangka konsolidasi fiskal.70 persen per tahun. politik luar negeri. yakni dari Rp427. dan refinancing utang. juga ditentukan oleh kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah. yaitu UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.6 triliun.4 persen pada Tahun 2004 menjadi 25.5 persen terhadap PDB) pada Tahun 2004 menjadi Rp870.1 persen apabila dibandingkan dengan target defisit pada perubahan APBN Tahun 2008.1 persen terhadap PDB) dalam APBN-P Tahun 2009. Sejalan dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah yang telah dimulai pada tahun 2001. Realisasi belanja negara terus menunjukkan peningkatan.1 triliun (17. peradilan. dana perimbangan ke daerah serta program kompensasi pengurangan subisidi BBM (PKPS-BBM).6 persen dari PDB) dalam Tahun 2004 menjadi Rp971.5 triliun (16.9 triliun (16. yaitu dari Rp403. peran penerimaan perpajakan terhadap pendapatan negara dan hibah meningkat. Dalam lima tahun terakhir. daerah diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan seluruh fungsi pemerintahan. fiskal dan moneter.2 triliun (18. atau meningkat rata-rata 17. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 16.5 persen dari PDB) dalam APBN-P 2009.9 persen pada Tahun 2009. sedangkan kebutuhan investasi untuk dukungan infrastruktur Pemerintah sebesar Rp2.9 persen selama lima tahun terakhir (periode Tahun 2004-2009). lebih rendah 1.0 persen terhadap PDB. khususnya harga minyak mentah Indonesia dan nilai tukar rupiah (kurs).0 triliun dan utang yang jatuh tempo sebesar Rp106. Peningkatan realisasi dan perkiraan belanja negara tersebut selain dipengaruhi oleh perkembangan asumsi ekonomi makro. dari 30.6 persen pada Tahun 2004 menjadi 74. dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang dalam Tahun 2004 telah direvisi menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. terutama penerimaan pajak dalam negeri dari sektor nonmigas. Pada Tahun Anggaran 2008.0 triliun. Implikasi langsung dari kebijakan tersebut adalah meningkatnya kebutuhan dana yang cukup besar untuk membiayai pelaksanaan fungsi-fungsi yang telah menjadi kewenangan daerah. pembayaran bunga utang. Jumlah kebutuhan pembiayaan anggaran ditentukan dari besaran target defisit. yaitu dari 69. target defisit ditetapkan 1. Komposisi pendapatan negara lebih bertumpu pada sumber-sumber penerimaan dari sektor perpajakan. optimalisasi pendapatan negara dan hibah dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Seiring dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah. agama. . kebutuhan investasi Pemerintah.0 persen Tahun 2009. seperti perubahan harga BBM di dalam negeri. namun dalam jangka panjang diharapkan akan berdampak positif. kecuali kewenangan pemerintahan dalam bidang pertahanan keamanan.7 persen dari PDB atau sebesar Rp75. rehabilitasi dan rekonstruksi daerah korban bencana alam.

Penjelasan tentang_pencapaian Renstra Tahun 2005-20009 Kementerian Keuangan dibagi dalam dua bidang yaitu bidang Pengelolaan Keuangan Negara.1. Belanja Negara. Pada Tahun 2005 alokasi Transfer ke Daerah sebesar Rp150. serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). yang diimplementasikan dalam bentuk transfer belanja ke daerah sebagai bagian dari APBN. Secara umum. Selain itu. baik dalam bentuk Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. Dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal.55%). Dana Alokasi Umum (DAU). sumber dana bagi daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak/retribusi (tax assignment) dan pemberian bagi hasil penerimaan (revenue sharing). Dana Alokasi Umum (DAU). Pembiayaan APBN. serta Pinjaman Daerah.3 Pencapaian Sasaran Renstra Kementerian Keuangan Tahun 2005 . Hal ini antara lain dapat dilihat dari semakin besarnya penyerahan sumber-sumber pendanaan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.1.dan bidang Reformasi Birokrasi serta Pengawasan dan Pengendalian Intern. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank.32%) dan Tahun 2007 (98. dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan asas desentralisasi.4 persen per tahun. yang meliputi Dana Bagi Hasil (DBH). serta bantuan keuangan (grant) atau dikenal dengan dana perimbangan sebagai sumber dana bagi APBD. 1. Penerimaan Pajak dan Bea Cukai Rencana dan realisasi target tax ratio dan penerimaan pajak selama periode Tahun 2005-2009 sebagaimana pada tabel di bawah ini.2009 Kondisi ekonomi makro dan kinerja APBN Tahun 2005-2009 sangat mempengaruhi pencapaian sasaran Renstra Kementerian Keuangan Tahun 2005-2009. kebijakan desentralisasi fiskal tersebut telah membawa konsekuensi pada perubahan peta pengelolaan fiskal yang cukup mendasar. Ketidakstabilan perekonomian dunia menyebabkan tidak tercapainya penerimaan pajak pada Tahun 2006 (96.5 triliun dan terus meningkat hingga menjadi Rp303. Bidang Pengelolaan Keuangan Negara a. Dana Bagi Hasil (DBH). Dana Perimbangan. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). atau tumbuh ratarata sebesar 20.1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –4– Dari sisi keuangan negara. terus meningkat seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimulai sejak Tahun 2001.3.1 triliun pada Tahun 2009. yaitu Penerimaan Pajak dan Bea Cukai. 1. yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Kekayaan Negara. . yang terbagi dalam 5 tema-Pendapatan Negara. Tema Pendapatan Negara Tema Pendapatan Negara terdiri dari dua sumber.

6.75% 96. 5. 2. 7. per 12 Oktober 2009 (nilai realisasi akan muncul pada tahun berikutnya). KPPBC Tipe Madya Pabean Bandung.43% 13.55% 106. KPPBC Tipe Madya Pabean Surakarta.44%*) *) pencapaian masih dalam tahun berjalan.46% 12. 8. Dalam Tahun 2009 diimplementasikan 9 KPPBC Tipe Madya lainnya.30% NA*) 101. dimana unit vertikal DJP di bawah Kementerian Keuangan menjadi sebagai berikut : Kantor Vertikal DJP No. KPPBC Tipe Madya Pabean Purwakarta. KPPBC Tipe Madya Pabean Merak.32% 98. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-Undang.60% 13. yaitu KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Emas.43% 12. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 1. Di bidang kepabeanan.71% 12.26% 12. .84% 65. KPPBC Tipe Madya Pabean Bogor. dan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. KPPBC Madya Pabean dan KPPBC Madya Cukai. Sementara itu reformasi birokrasi terus dilakukan.60% 12.43% 13. 4. yaitu: Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. seperti modernisasi administrasi perpajakan yang dilaksanakan pada Tahun 2008. Jenis Kantor Kanwil DJP WP Besar Kanwil DJP WP Jakarta Khusus Kanwil DJP KPP WP Besar KPP Khusus KPP Madya KPP Pratama KP2KP Jumlah 1 1 29 3 9 19 299 207 Di bidang peraturan perundang-undangan telah diselesaikan tiga Undang-undang. KPPBC Tipe Madya Pabean Yogyakarta. telah dilakukan pengembangan struktur organisasi Direktorat Bea dan Cukai dengan dibentuknya Kantor Pelayanan Utama (KPU). 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –5– Rencana dan Realisasi Tax Ratio dan Target Penerimaan Pajak Tahun 2005-2009 Tahun Rencana 2005 2006 2007 2008 2009 Tax Ratio Realisasi Persentase Target Penerimaan Pajak Rencana 100% 100% 100% 100% 100% Realisasi 12.

73 Pencapaian 92.47 560.417.251.00 Sumber Data Ditjen Perbendaharaan sampai dengan 28 Desember 2009 Adapun peraturan perundangan di bidang kepabeanan dan cukai yang telah diselesaikan adalah UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.861.08 4.34 11. PE/bea keluar. .238148 13.44 22.30 1.699.256.158.80 418.123. Target APBN-P 2005 2006 2007 2008 2009* *) Cukai Realisasi 33.87 % 89.60 PE / Bea Keluar Realisasi 318.670.78 % Target APBN-P 344. Sedangkan untuk Tahun 2010 dan Tahun 2011.31 Pencapaian 103.717.920.83 % 143.091.50 54. yang sudah diresmikan ada 6 (enam) KPPBC Madya Pabean.141.29 % 260.646. dan.772.20 1. Target APBN-P 14. serta penyempurnaan dan penyederhanaan proses bisnis.80 38.28 37. Sampai bulan Oktober.60 15.46 % 139.05 % 106. Selain itu DJBC telah menggunakan Teknologi Informasi yang mutakhir guna mendukung penerapan National Single Windows (NSW).90 12.546.17 % 112.67 46.244.041.545.761. suatu sistem yang efisien dan efektif yang bersinergi dengan unit/lembaga pemerintahan lainnya.40 % 40.A.034.A.50 Bea Masuk Realisasi 14. UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.60 42. Realisasi dan pencapaian target penerimaan bea masuk.56 % 32.70 45.30 Pencapaian 101.30 14.522.90 3. salah satunya adalah menyempurnakan aturan mengenai registrasi importir.88 51.87 % 110.627.399.65 16. ditargetkan akan membentuk 9 KPPBC Tipe Madya Pabean yang baru.06 % 2005 2006 2007 2008 2009* *) Sumber Data Ditjen Perbendaharaan sampai dengan 28 Desember 2009 & Target Bea Masuk Tidak termasuk Nilai BM DTP Sebesar Rp2 Triliun Pencapaian Target Penerimaan Cukai (dalam miliaran rupiah) T. Pencapaian Target Penerimaan Bea Masuk dan PE/Bea Keluar (dalam miliaran rupiah) T.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –6– KPPBC Tipe Madya Pabean Bekasi dan KPPBC Tipe Madya Pasuruan.31 % 121. dan cukai selama periode Tahun 2005-2009 adalah sebagaimana pada tabel berikut.14 % 98.50 13.38 % 115.820.583.31 17.90 16.11 % 85.13 44.

000 229. Kedua.381 226. disusun.670. Untuk target Tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan Tahun 2008 sebesar Rp64.51 % 113. yaitu: (i) penganggaran terpadu (unified budget). (v) mempertajam alokasi penggunaan dana PNBP. Penurunan ini disebabkan oleh adanya perubahan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebagai akibat dari turunnya harga minyak mentah dunia.066.77 triliun atau 22.829. Optimalisasi dan efektifitas PNBP yang bersumber dari kementerian/Lembaga ditempuh melalui beberapa langkah sebagai berikut: (i) melakukan review.310.829.597.950. penyusunan dan pelaksanaan anggaran belanja pemerintah pusat dilakukan dengan mengikuti perubahan struktur dan format belanja standard internasional (Government Financial Statistics/GFS).29 % 98. dilaksanakan.000 282.632.871 215.629.390.385.604.000 218. (iii) menertibkan pengelolaan administrasi di bidang PNBP.253.000 % REALISASI 81.000 198.36 persen pada Tahun 2008. serta Perbendaharaan Negara. yang lebih diarahkan untuk mendukung langkah-langkah stimulasi terhadap perekonomian dari sisi fiskal .332 320.75 % 108.90 persen. Belanja Negara Dalam periode Tahun 2005-2009 terdapat beberapa perkembangan penting terkait dengan kebijakan anggaran belanja pemerintah pusat yaitu: Pertama. fungsi. serta Perimbangan Keuangan yang berupa belanja negara untuk kepentingan perimbangan keuangan daerah. Secara rata-rata.680 130. Tema Belanja Negara Tema Belanja Negara berasal dari dua sumber. dan jenis belanja. PENCAPAIAN TARGET PNBP TAHUN 2005-2009 ( dalam rupiah) TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009* *) TARGET 180. yang terdiri dari tiga pilar. (ii) meningkatkan efektivitas pelaksanaan kebijakan PNBP.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –7– Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Strategi kebijakan PNBP diarahkan pada kebijakan intensifikasi dan eksteksifikasi dalam upaya pencapaian optimalisasi dan efektifitas.562. dan (iii) kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework).790.268.89 % data sampai dengan Triwulan III 2009 berdasarkan buku merah b.402.888. Ketiga. (ii) penganggaran berbasis kinerja (performance based budget).273.868.705.47 persen. Hal ini terlihat dari pencapaian target pada Tahun 2005 sebesar 81.29 persen menjadi 113. Pencapaian target PNBP dalam periode Tahun 2005-2008 rata-rata mengalami kenaikan.000 REALISASI 146. dimana alokasi anggaran belanja negara dirinci menurut organisasi.037.119. (iv) menyempurnakan sistem administrasi di bidang PNBP. yaitu Belanja Negara yang berupa anggaran pemerintah pusat.420. dan dipertanggungjawabkan dalam kerangka pelaksanaan pembaharuan (reformasi) keuangan negara. adanya perubahan orientasi kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat.814.697.373. anggaran belanja pemerintah pusat.535.281. pencapaian target PNBP dalam periode tersebut mencapai 100.36 % 59. evaluasi. dan penyempurnaan peraturan pelaksanaan UU PNBP.411.

Perpres Nomor 110 Tahun 2007.12 % data sampai dengan 15 Oktober 2009.032 693.7 persen pada Tahun 2005 menjadi 99.0 persen. Mengingat telah ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang . Perpres Nomor 104 Tahun 2006. Perimbangan Keuangan Untuk meningkatkan pengelolaan hubungan keuangan pusat dan daerah dalam kurun waktu 2004-2009 ditetapkan berdasarkan empat Peraturan Presiden.000 716.569.122.587.032.172. yaitu Perpres Nomor 74 Tahun 2005. serta pada bulan Mei dan Desember 2008.73 % 92.968.01 % 101.346. DJPB Pada Tahun 2007.355. Kebijakan yang ditempuh dalam APBN Tahun 2009 antara lain adanya stimulus fiskal sebesar Rp12.000 REALISASI 361. dan (v) Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN.376. APK. dalam rangka memperluas penciptaan lapangan kerja produktif (pro-job). penyerapan belanja pemerintah pusat mencapai 101.084. perhitungan.161.071.878 222. Kebijakan yang dilakukan dalam periode Tahun 2005-2009 antara lain: (i) Pemberian bantuan sosial langsung kepada masyarakat (ii) Meningkatkan kesejahteraan pegawai PNS/TNI/Polri serta Pensiunan.623. (iii) PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. (iv) Mengalokasikan anggaran dari pengurangan subsidi BBM untuk bantuan sosial dan infrastruktur terutama dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT).29 % 99.079.29% melebihi pagu yang telah ditetapkan. dan mengentaskan kemiskinan (pro-poor).580. akibat tingginya realisasi belanja subsidi terkait kebijakan pemerintah untuk tetap mempertahankan pemberian subsidi di tengah meningkatnya harga minyak dunia.249. (v) PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.155.47 % 31.643 504. dan alokasi Dana Alokasi Umum (DAU).263.000 478.667.000 498.962 % PENYERAPAN 87.655.290. dan Perpres Nomor 74 Tahun 2008 mengenai kebijakan. PENYERAPAN BELANJA PEMERINTAH PUSAT TAHUN 2005-2009 (dalam rupiah) TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009* *) PAGU 411.006.2 triliun yang dialokasikan pada kegiatan infrastruktur pada beberapa K/L.422.059. (iii) Penyesuaian harga BBM dalam negeri pada bulan Maret dan Oktober 2005. sehingga secara rata-rata.000 697.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –8– (pro-growth).570.4 persen pada Tahun 2008.928. dan (vi) PP Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.513 440.590. (ii) PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Penyerapan belanja pemerintah pusat mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari 87.202. sumber : Dit.850.992. Sedangkan aturan lain berupa Peraturan Pemerintah yang telah ditetapkan adalah : (i) PP Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. penyerapan belanja pemerintah pusat dalam periode tersebut mencapai 95. (iv) PP Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Daerah.

Dana transfer ke daerah diberikan kepada semua daerah yang berhak berdasarkan perhitungan tertentu.98 2008 33 451 484 292.3 11. 0. Perkembangan jumlah daerah penerima Dana Transfer ke Daerah dari Tahun 2004 sebanyak 440 menjadi 510 pada Tahun 2009. DBH dilaksanakan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 yang mengatur bagian Pemerintah Pusat dan bagian Pemerintah Daerah dengan persentase tertentu dari realisasi penyetoran ke kas negara dari penerimaan negara pajak (PNP) dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). maka PP Nomor 54 Tahun 2005 perlu untuk dilakukan revisi.2 50.1 3.59 Sumber : Kementerian Keuangan Pada Tahun 2008 dikenal DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) berdasarkan UU No 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UU No 11 Tahun 1999 tentang Cukai. Ada 8 (delapan) jenis DBH di sini. DAK dengan kriteria. DBH Cukai bersifat specific grant. Untuk pertama kalinya DBH Panas Bumi pada Tahun 2009 dibagikan kepada daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat. dan Dana Otsus dan Penyesuaian berdasarkan undang-undang.I. yaitu DBH dari PNBP Tahun 2006 s/d 2009. dimana dalam Tahun 2005 s/d 2008 telah dilaksanakan sebanyak 7 jenis. dimana DBH dengan persentase tertentu. Yogyakarta. yaitu Panas Bumi dilaksanakan mulai tahun 2009.04 2006 33 434 467 226. DBH Migas dibagikan kepada daerah dengan porsi 15.5 persen tersebut sebagai specific grant yang harus dimanfaatkan untuk menambah anggaran pendidikan dasar di daerah dengan pembagian untuk provinsi/daerah penghasil/daerah lainnya masing-masing sebesar 0. Pada Tahun 2008 dan 2009 DBH-CHT diberikan kepada lima daerah di wilayah provinsi penghasil CHT. Tertundanya pelaksanaan DBH Panas Bumi tersebut karena peraturan mengenai perpajakan atas pengusahaan panas bumi baru ditetapkan pada tahun 2008 dengan PMK Nomor 165/PMK. Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35 UU No 33 Tahun 2004.5 persen dari PNBP Gas Bumi.51 2009 33 477 510 303.5 persen dari PNBP Minyak Bumi dan 30.7 2005 32 434 466 120. DAU dengan formula. D. Perkembangan alokasi DBH Pajak dan DBH-SDA dapat dilihat pada tabel berikut ini : .30 2007 33 434 467 253.2 persen dan 0. dan Jawa Timur. atau meningkat 70 daerah selama 5 tahun. sebagaimana pada tabel berikut ini: Perkembangan Jumlah Daerah dan Besaran Transfer Tahun 2004 s/d 2009 No. 1 2 3 4 5 Daerah Provinsi Kabupaten Jumlah Realisasi Transfer (Triliun Rupiah) % Kenaikan 2004 30 410 440 129. sedangkan satu jenis DBH. yaitu Sumatera Utara.6 15. Porsi tambahan 0.2 persen.03/2008 tentang Mekanisme Pajak Penghasilan Ditanggung Pemerintah dan Perhitungan Penerimaan Negara Bukan Pajak atas Hasil Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi untuk Pembangkitan Energi/Listrik pada tanggal 4 November 2008.1 persen. Berbeda dengan DBH SDA pada umumnya yang sifatnya sebagai block grant. Jawa Barat.5 16. Jawa Tengah.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –9– Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri.

37 7.55 1. A 1 2 3 4 Komponen Pajak PBB BPHTB PPh Cukai HT Sub jumlah (A) % kenaikan Sumber Daya Alam (SDA) Pertambangan Kehutanan Minyak & Gas Perikanan Panas Bumi Sub jumlah (B) % kenaikan Total (A+B) % Kenaikan 2005 14.03 -6.00% B 1 2 3 4 C 1.DBH Pajak TA 2008.51 15.05 7.07 27.94 34.88 19.73 3.9 K/K 161.85 1.01 167.89 68.93 26 2009 Prov 18.6 Sumber : Kementerian Keuangan .45 10.20 29.9 88.12 0. 33 Tahun 2004).50 8. DAU sebagai dana yang bersifat “block grants” ditujukan untuk memeratakan kemampuan keuangan antar daerah (equalization grant) untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah (horizontal fiscal imbalance) dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah.5 4.62 0.08 6.00% 95.56 3.6 179. Besaran DAU dari tahun ke tahun mengalami peningkatan baik secara nominal maupun persentasenya.46 0.79% 69.83 82.37 2006 18.85 26 K / K Prov 79. Perkembangan Alokasi DAU 2005-2009 No.02 22.1 145.79 4.5 14.41 3.06% 2008 22. sedangkan mulai Tahun 2008 berdasarkan Pasal 27 besaran DAU menjadi sekurang-kurangnya 26 persen dari PDNN).13 0. 2009 belum termasuk Biaya Pemungutan PBB bagian Daerah.DBH SDA TA 2009 mengacu pada Revisi APBN Tahun 2009 .39 1.35 9.09 0.15% 2009 22. Perkembangan alokasi DAU Tahun 2005 sampai Tahun 2009 sebagaimana pada tabel yang menunjukkan peningkatan baik persentase dari PDNN.5 persen dari PDNN (sesuai Pasal 107 UU No. PDNN adalah penerimaan negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada daerah.33 37.16 27.29 9.12 0.96 Sumber : Kementerian Keuangan Catatan : .59 34.45% 2007 21.8 186.77 25. Komponen 2005 Prov 1 2 3 4 Prov/Kab/Kota Nasional % Kenaikan % Thd PDNN 8.30 % 2.24 1.26 53.39% 63.56% 58.56 11.3 164. maupun besaran nominalnya.2 39.98 1.02% 2.66 64.33 31.29 7. Besaran nominal sangat terpengaruh dengan besaran Pendapatan Dalam Negeri Neto (PDNN) yang ditetapkan dalam APBN.96 41.52 24.9 17.71 23.9 2006 K/K 131.01% 6.5 K/K 148.44 23.28% 4.6 K/K 167.65 10.37 5.00 26 2007 Prov 16.78 13.98 0.96 0.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 10 – Perkembangan Alokasi DBH Tahun 2005 s/d 2009 (dalam triliun rupiah) No. Sejak Tahun 2005 sampai Tahun 2007 besaran Pagu DAU Nasional sekurang-kurangnya 25.13 26 2008 Prov 17.16 29.8 7.44 0.

05 24. Perkembangan besaran Dana Otsus dapat dilihat pada grafik berikut ini: .09 47. Selain itu juga diberikan dana tambahan dalam rangka Otonomi Khusus (Otsus) untuk pendanaan pembangunan infrastruktur yang besaran setiap tahunnya ditetapkan antara Pemerintah dan DPR.82 17.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 11 – DAK dalam waktu antara Tahun 2003 s/d 2005 dikenal dengan terminologi DAK Non Dana Reboisasi (DAK Non-DR).53 17. Pada Tahun 2008 dan 2009 penambahan bidang DAK dikaitkan dengan pelaksaan Pasal 108 UU Nomor 33 Tahun 2008 bahwa kegiatan kementerian/lembaga yang sebenarnya merupakan kegiatan kewenangan daerah dialihkan secara bertahap ke DAK. Jumlah Bidang DAK No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Bidang Pendidikan Kesehatan Jalan Irigasi Air Bersih Prasarana Pembangunan Pertanian Lingkungan Hidup Kelautan dan Perikanan Keluarga Berencana Kehutanan PDT Perdagangan 4.57 188.5.01 11.20 24.08 2005 2006 2007 2008 2009 Prov K/K Prov K/K Prov K/K Prov K/K Prov K/K Pagu DAK (Triliun % Kenaikan Sumber : Kementerian Keuangan Bidang yang tahun sebelumnya sudah ada Bidang baru pada tahun yang bersangkutan Sesuai dengan UU Nomor 21 Tahun 2001 untuk Provinsi Papua diberikan alokasi khusus setara dengan 2 persen dari plafon DAU Nasional selama 20 tahun untuk membiayai pendidikan dan kesehatan. Sementara itu Dana Tambahan Infrastruktur disalurkan hanya kepada Provinsi Papua dalam Tahun 2005 s/d 2008.71 21. sedangkan mulai Tahun 2009 dibagi dua antara Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dengan imbangan 70 persen dan 30 persen. sedangkan mulai Tahun 2009 dibagi dengan Provinsi Papua Barat. Dalam Tahun 2002 s/d 2008 Dana Otsus disalurkan kepada satu Provinsi Papua. selanjutnya pada Tahun 2006 dipakai istilah DAK. Sejak Tahun 2005 s/d 2009 telah terjadi perkembangan jumlah bidang dalam DAK dari mulai 2003 sebanyak 5 bidang menjadi 13 bidang pada Tahun 2009 sebagaimana pada Tabel 6.

00 - 6.000.500.000.00 6.547.00 3.000. telah dilakukan penyempurnaan dokumen pelaksanaan anggaran sesuai prinsip unified budget sejalan dengan penyempurnaan sistem penganggaran.00 8.000.00 14.00 1.212.500.000.467. dengan tujuan agar hasil penelaahan sesuai dengan kebutuhan .01 14.000.86 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kementerian Keuangan Perbendaharaan Negara Dalam penerbitan dokumen pelaksanaan anggaran telah dicapai kemajuan-kemajuan sebagai berikut: (i) Sejak Tahun 2005. (iii) Proses penyelesaian DIPA telah semakin didesentralisir ke Kanwil DJPBN.000.000.04 5.882.30 563.000.00 2004 Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 Dana Penyesuaian (DP) dialokasikan untuk keperluan tertentu di luar Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah dengan DPR-RI sebagai satu kesatuan kebijakan Anggaran Transfer ke Daerah dalam UU tentang APBN suatu tahun.00 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 12 – Perkembangan Dana Otsus Tahun 2004-2009 Otsus Papua Infras Papua Otsus Papua Barat Infras Papua Barat Otsus NAD 4.00 500. Pada periode Tahun 2004-2009 perkembangan alokasi Dana Penyesuaian seperti terlihat pada grafik berikut ini: Perkembangan Alokasi Dana Penyesuaian Tahun 2004-2009 (milyaran rupiah) Dana Penyesuaian 16.00 2.73 5.000.500.00 4.00 12. (ii) Mulai Tahun Anggaran 2006.46 5. penyatuan dokumen anggaran rutin (DIK) dan pembangunan (DIP) menjadi DIPA untuk menghindari terjadinya duplikasi anggaran. DIPA seluruh K/L telah dapat diterbitkan tepat waktu sehingga dapat diserahkan oleh Presiden kepada Menteri/Pimpinan Lembaga dan Gubernur. sehingga K/L dapat melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan mulai awal tahun.639.00 10.00 3.000.00 1.00 0.

223 12.408. diantaranya telah ditutup dan disetorkan ke kas negara sebanyak 4.363 8. Selama kurun waktu Tahun 2005-2009 Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) telah menyelesaikan pengesahan DIPA sebagai berikut : Penyelesaian DIPA Tahun 2005-2009 (dalam ribuan rupiah) Tahun 2005 2006 2007 2008 2009* DIPA 2. Bank Indonesia Government Electronic Banking (BIG-eB).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 13 – satuan kerja setempat. realisasi sampai dengan kuartal III telah mencapai Rp2.075 Adapun kinerja yang telah dicapai dalam kurun waktu Tahun 2005-2009 di bidang pengelolaan kas negara antara lain meliputi: Perencanaan Kas. dan 2008 (unaudited). Kemajuan dan peningkatan tersebut antara lain mencakup: (i) Pencapaian Nilai Ekuitas Pemerintah Bersaldo Positif. 2007. Dari target Tahun 2009 sebesar Rp 3 triliun.241 10. 2006. Treasury National Pooling (TNP). Penerimaan di luar negeri. Perjanjian antara Pemerintah dengan Bank/Pos Persepsi.372 triliun.887 14. dan (iii) Peningkatan Opini Audit BPK atas LKKL. Pengelolaan Kelebihan Kas.188 Pagu Dana 115.856.761 322. Dalam rangka penertiban rekening seluruh K/L. 2005. Pemberian Remunerasi kepada Bank/Pos Persepsi. Perkembangan Opini BPK atas LKKL Opini BPK Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified) Wajar Dengan Pengecualian (Qualified) Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer) Tidak Wajar (Adverse) 2006 7 38 36 2007 16 31 33 1 2008 34 30 21 - . Sampai saat ini.922.982 300.89 juta. Pengelolaan Rekening Lainnya.99 juta. Khusus pemanfaatan kelebihan kas.596 200.733. Treasury Single Account (TSA) di bidang pengeluaran dan penerimaan.184.235.902 265. LKPP telah menunjukkan berbagai kemajuan dan peningkatan yang sangat signifikan. sampai saat ini telah ditertibkan sebanyak 37. sedangkan untuk mempercepat proses pencairan dana. Kementerian Keuangan telah berhasil menyusun lima Laporan Keuangan Pemerintah Pusat yaitu untuk Tahun Anggaran 2004. dan Pelaporan Pengelolaan Kas Negara.74 triliun dan USD14.80 triliun dan USD774.726 rekening sebesar Rp 6. sampai dengan Tahun 2009 telah dibentuk 37 KPPN Percontohan yang menerapkan SOP yang disempurnakan.340 rekening sebesar Rp13. (ii) Penyajian Analisis Makro yang lebih Komprehensif dalam LKPP Tahun 2008. LKPP Tahun 2004 merupakan laporan keuangan pertama yang dihasilkan Pemerintah Pusat sejak Indonesia merdeka pada Tahun 1945 dan merupakan salah satu tonggak sejarah dalam pengelolaan keuangan pemerintah.571. Kementerian Keuangan telah melakukan terobosan dalam pemanfaatan kelebihan kas dengan mendapatkan remunerasi atas penempatan idle cash Kas Umum Negara di Bank Indonesia dan Bank Umum.019. Sentralisasi Penerimaan Negara. Lelang Bank Operasional I.230.317.

dapat dibentuk Dewan Pengawas melalui Keputusan Menteri Keuangan. PPAKP telah berhasil mendidik dan melatih 14.400 pegawai yang berasal dari seluruh satuan kerja Kementerian /Lembaga. jumlah satker yang telah ditetapkan untuk menerapkan PK BLU adalah sebanyak 69 satker. Sampai dengan saat ini. optimalisasi manajemen kas. sampai dengan Oktober 2009 sebanyak 18 BUMN telah selesai diproses penyelesaian tunggakan. Sebagai langkah untuk menyempurnakan sistem perbendaharaan dan anggaran negara. Peningkatan pembiayaan melalui utang tersebut terutama . terhadap BLU yang memenuhi persyaratan omset tahunan dan jumlah aset yang dimiliki. sebanyak 18 satker BLU telah memiliki Dewan Pengawas. (iii) memungkinkan 'what if analysis'. serta pencatatan. (ii) sampai saat ini. (iv) penerapan proses bisnis yang mengacu pada best practice dan (v) selalu on-line baik melalui satellite. Periode Tahun 2005 .2009. Tema Pembiayaan APBN Periode Tahun 2004-2009 kebijakan pembiayaan melalui utang diarahkan menuju market based financing melalui penerbitan SBN. Pada Tahun 2009 target pembiayaan utang ditetapkan sebesar Rp 86.2009 adalah sebagai berikut: (i) penetapan regulasi-regulasi yang terkait dengan pelaksanaan PK BLU. c. mulai Tahun Anggaran 2009 telah dilaksanakan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) yang dibiayai melalui GFMRAP (Government Financial Management and Revenue Administration Project) untuk mewujudkan sistem perbendaharaan yang modern. Ditjen Perbendaharaan. khususnya untuk pembebasan lahan pembangunan jalan tol. Dengan sistem informasi keuangan yang terpadu (Integrated Financial Management and Information System) ini dengan karakteristik: (I) terintegrasi/terotomasi yang sangat mendukung proses pelaksanaan anggaran. tata cara penetapan dan pengajuan usulan untuk dapat menerapkan PK BLU. Dalam kurun waktu Tahun 2004-2008 realisasi pembiayaan utang (neto) menunjukkan peningkatan dari sebesar negatif Rp 21.5 triliun dan realisasi sampai dengan bulan Oktober 2009 sebesar Rp 75. 178 KPPN dan Kementerian /Lembaga. pada Tahun 2007 telah dilaksanakan perjanjian kerjasama investasi antara Badan Investasi Pemerintah (sekarang PIP) dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 14 – Dalam rangka mengatasi kelangkaan SDM di bidang akuntansi pemerintah. Dalam rangka manajemen investasi. meliputi kriteria-kriteria satker-satker yang dapat menerapkan PK BLU.3 triliun. dialup dan sistem jaringan lainnya di Ditjen Anggaran. Dalam rangka penyelesaian piutang negara yang bersumber dari SLA/RDI/RPD pada BUMN. sedangkan 33 BUMN masih dalam kajian proses penyelesaian tunggakan. untuk mendukung infrastuktur. Regulasi yang telah dihasilkan sampai sejauh ini telah komprehensif. (iii) dalam rangka pelaksanaan pengawasan terhadap pengelolaan satker BLU.000 pegawai dari target 22. sejak tahun 2007 Kementerian Keuangan telah melaksanakan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP). Beberapa capaian kinerja Pengelolaan BLU selama Tahun 2005 .2 triliun pada Tahun 2004 menjadi sebesar Rp 66. pelaporan dan pertanggungjawaban (ii) database yang terpusat dan memungkinkan perekaman data hanya sekali (single entry). pelaksanaan kegiatan-kegiatan BLU sampai dengan akuntansi dan pelaporan satker BLU.7 triliun pada Tahun 2008. 30 Kanwil Ditjen Perbendaharaan.

karena sejak tahun 2005 penerbitan SBN selain digunakan untuk menutup defisit APBN juga digunakan untuk membiayai pengeluaran pembiayaan (financing for financing). Sementara realisasi pembayaran cicilan pokok mencapai sebesar Rp32. Sukuk Ritel sebanyak 1 frekuensi. Penerbitan SBSN pertama kali dilakukan pada Tahun 2008. Selama periode tersebut realisasi penarikan pinjaman luar negeri yang bersumber dari pinjaman program meningkat dari Rp5.1 triliun yang terdiri dari penerbitan SBN (gross) sebesar Rp137.6 triliun pada Tahun 2008 dan penarikan pinjaman proyek cenderung meningkat dari Rp13. Namun pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri meningkat lebih besar dibandingkan dengan penarikan pinjaman.3 triliun dan pembayaran cicilan pokok sebesar Rp69 triliun.1 triliun. dilakukan transaksi penukaran (debt switch) Obligasi Negara (ON) sebanyak 30 frekuensi. dan sampai dengan akhir bulan Oktober 2009 telah terealisasi sebesar Rp93. dimana realisasi penerbitan SBSN sampai dengan bulan Oktober 2009 mencapai sebesar Rp20. penerbitan SBN (neto) ditargetkan sebesar Rp99.6 triliun. yaitu dari Rp46. Bank Dunia.7 triliun.1 triliun. dan penerbitan SUN valas sebanyak 8 frekuensi serta penjualan SUN secara private placement sebanyak 1 frekuensi. yang terdiri dari realisasi penarikan pinjaman proyek sebesar Rp18.2 triliun pada Tahun 2008. Rasio utang terhadap PDB dalam kurun waktu tersebut menurun yaitu dari 57% pada Tahun 2004 menjadi 29. lelang SBSN sebanyak 2 frekuensi.8 triliun.8 triliun.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 15 – berasal dari peningkatan penerbitan SBN (neto). Sepanjang periode Tahun 2004-2008.4 triliun pada Tahun 2008.4 triliun. yang dilaksanakan melalui Lelang SUN di Pasar Perdana sebanyak 108 frekuensi.7 triliun dan pinjaman program sebesar Rp18.2 triliun. Selain itu.2 triliun. dan SBSN valas sebanyak 1 frekuensi. penerbitan SBN neto (SUN dan SBSN) meningkat secara signifikan dari Rp6.9 triliun pada Tahun 2008. private placement sebanyak 2 frekuensi. Pada Tahun 2009. pembiayaan pinjaman luar negeri ditetapkan sebesar negatif Rp12. penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) sebanyak 6 frekuensi. Penarikan pinjaman tersebut sebagian besar berasal dari ADB.7% pada bulan Oktober 2009.3 triliun.9 triliun pada Tahun 2004 menjadi Rp85. yang dilaksanakan melalui penerbitan SBSN domestik dilakukan melalui bookbuilding sebanyak 1 frekuensi. dan pembelian kembali (cash buyback) ON sebanyak 10 frekuensi. Penerbitan SUN (gross) dari Tahun 2004 sampai dengan bulan Oktober 2009 mencapai sebesar Rp484. dan JBIC. Secara total penerbitan SBN (neto) dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 mencapai Rp208. seperti pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri dan investasi pemerintah. dilakukan juga pengembangan pasar SBN secara intensif untuk meningkatkan peran instrumen SBN dalam sektor pembiayaan. dan penerusan pinjaman sebesar Rp13 triliun. dan pembayaran pokok jatuh tempo dan pembelian kembali sebesar Rp44. dan pembayaran pokok jatuh tempo dan pembelian kembali sebesar Rp158.5 triliun pada Tahun 2004 menjadi Rp63. realisasi penarikan pinjaman luar negeri dari Tahun 2004 sampai dengan Tahun 2008 lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pembayaran cicilan pokok pinjaman. Pada tahun 2009.4 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp14. Hal ini dilakukan . Sampai dengan bulan Oktober 2009 penarikan pinjaman luar negeri telah terealisasi sebesar Rp37. Selain pengelolaan portofolio utang.7 triliun yang terdiri dari penarikan pinjaman sebesar Rp69.1 triliun pada Tahun 2004 menjadi Rp29. Berkaitan dengan pembiayaan melalui pinjaman.5 triliun yang terdiri dari penerbitan SBN (gross) sebesar Rp366.

7 persen dari 19. dan tepat sasaran. Tema Pengelolaan Kekayaan Negara Untuk mewujudkan pengelolaan Barang Milik Negara yang tertib.5 trilun. telah dilakukan pengkajian dan pemberian rekomendasi atas rencana privatisasi pada 20 BUMN. Kementerian Keuangan melaksanakan pengumpulan data. Dari kegiatan inventarisasi dan optimalisasi kekayaan negara lainnya dicapai kinerja antara lain: (i) pada Tahun 2007 dan 2008 telah dilaksanakan inventarisasi dan penilaian BMN yang berasal dari 38 KKKS berupa objek tanah dengan hasil nilai wajar sebesar Rp12. Mulai Tahun 2008. pengikhtisaran. Selain inventarisasi dan penilaian. sedangkan sisa satker yang belum diinventarisasi dan dinilai wajar ditargetkan selesai Tahun 2009. pencatatan. (vi) Mengembangkan pasar repo dan derivatif. Khusus untuk pengelolaan investasi pemerintah telah dilakukan penatausahaan Penyertaan Modal Negara pada BUMN ke dalam database serta analisis kinerja BUMN berdasarkan rasio keuangan. juga dilakukan penetapan status penggunaan. (iii) draft perubahan PP Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. (iii) penetapan status penggunaan dan hibah aset KKKS serta rampasan kepada 9 (sembilan) instansi pemerintah yang sangat memerlukan . masih terdapat landasan hukum lain yang belum dapat diselesaikan dalam periode Tahun 2004-2009 antara lain: (i) draft RUU PHLN.27 triliun. penghapusan dan pemindahtanganan BMN selama periode Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2009 yang secara keseluruhan berjumlah 1. berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 jo.502 satker atau 88. tepat guna.717 satker dan diperoleh nilai wajar BMN sebesar Rp 309. (iii) Meningkatkan kerjasama melalui forum regional dan internasional secara aktif. PT PPA Tahun 2007 sebesar Rp234. penambahan PMN pada 36 BUMN. untuk mendukung kegiatan di bidang pembiayaan APBN telah disusun beberapa landasan hukum yaitu 2 UU dan 7 PP. (iv) Mendorong aktivitas perdagangan SBSN di pasar sekunder. dan (iv) draft RPP terkait penerbitan SBSN dalam rangka pembiayaan proyek.9 milliar. Untuk mencapai pengelolaan yang efektif dan efisien terhadap Kekayaan Negara Dipisahkan. pembentukan BUMN dan penetapan status kekayaan awal BP Migas. serta pelaporan posisi investasi pemerintah yang terangkum dalam Laporan Keuangan Investasi Pemerintah. (ii) Meningkatkan komunikasi aktif dengan investor dan koordinasi serta hubungan kelembagaan dengan pihak atau unit terkait baik di pasar domestik maupun internasional. Tahun 2008 sebesar Rp1. aset eks BDL dan aset eks. Dalam periode tahun 2004-2009. Sampai dengan Triwulan III 2009 telah dilakukan inventarisasi dan penilaian BMN terhadap 17. (vii) Membuat desain instrumen SBSN untuk pembiayaan proyek. Sementara itu. Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penertiban BMN telah dilakukan inventarisasi dan penilaian BMN pada 78 Kementerian /Lembaga (K/L) yang dimulai bulan November 2007. tahun 2009 sebesar Rp633. (ii) draft RPP tentang Pengelolaan Hibah Luar Negeri.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 16 – melalui: (i) Meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku pasar terhadap pengelolaan SBN. Hasil dari kegiatan tersebut telah ditatausahakan ke dalam database Kekayaan Negara Dipisahkan. d. (ii) Penerimaan kembali pembiayaan APBN yang berasal dari hasil pengelolaan aset eks BPPN. pemanfaatan.114 permohonan dari pengguna barang. pengakuan.05 triliun.6 milliar. (v) Mengembangkan instrumen baru dalam rangka memperluas basis investor.

Untuk memberi payung hukum bagi pengelolaan kekayaan negara telah ditetapkan dasar hukum dan perangkat hukum di bidang pengelolaan kekayaan negara yaitu PP Nomor 6 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah pertama kali dengan PP Nomor 38 Tahun 2008.13 Tahun 2009. IHSG berada pada posisi 2. Pada Tahun 2009.390. penilaian BMN sebagai penyertaan modal negara. Pada Tahun 2008 telah dilakukan pembangunan dan pengembangan Sistem Manajemen Informasi dan Pelayanan Terpadu (SMIPT) yang merupakan suatu kerangka kegiatan menuju sistem informasi yang terpadu antara manajemen informasi dan pelayanan dalam satu rangkaian kegiatan yang tak terpisahkan. baik dalam hal pengelolaan dan manajemen aset kekayaan negara.344. Nilai wajar juga diperlukan untuk mendukung kebijakan lain dalam pengelolaan BMN antara lain penilaian BMN dalam rangka pembentukan Badan Layanan Umum (BLU). dan (iv) penilaian dalam rangka pemanfaatan dan pemindahtanganan BMN sebanyak 191 laporan penilaian. IHSG ditutup pada posisi 1.32 triliun. Semakin membaiknya ekonomi Indonesia. IHSG mencapai titik tertinggi pada tanggal 9 Januari 2008 yaitu berada pada posisi 2.418 poin dibandingkan dengan indeks penutupan hari perdagangan Tahun 2007 yang berada pada posisi 2.13 triliun. Capaian kinerja di bidang penilaian kekayaan negara antara lain: (i) penilaian BMN sebagai underlying asset SBSN dengan nilai Rp45. Pada akhir perdagangan Tahun 2008 yaitu Selasa. Keppres No. kondisi keamanan yang relatif stabil dan membaiknya bursa regional menciptakan optimisme pasar sehingga mendorong kenaikan IHSG. Namun memasuki Tahun 2008. Sementara itu masih terdapat landasan hukum yang masih dalam proses pembahasan internal yaitu RUU Pengelolaan Kekayaan Negara.6 milliar.408 poin. (iii) penilaian BMN sebagai penyertaan modal negara dengan nilai Rp5. serta penilaian BMN sebagai underlying penerbitan Sukuk.64% atau 1.745.26 poin. IHSG terus mengalami penurunan yang sangat signifikan karena pengaruh krisis keuangan global yang terjadi. Per tanggal 31 Oktober 2009. meskipun posisi ini masih lebih rendah daripada posisi 9 Januari 2009 namun hal ini menunjukkan sudah ada tanda-tanda pemulihan perekonomian global meskipun belum sampai pada kondisi sebelum terjadinya . 30 Desember 2008. penilaian. yang hasilnya untuk perbaikan LKPP dari sudut pengelolaan BMN. (ii) penilaian dalam rangka pembentukan BLU dengan nilai Rp74.d Jakarta V dan enam kantor modern yang akan dibuka.25 miliar. turun cukup signifikan sebesar 50.826. pengurusan piutang negara maupun pelaksanaan lelang yang merupakan sarana untuk membentuk kantor modern.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 17 – dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi. Keppres No. Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Pada periode 2004 sampai dengan awal Tahun 2008.355. RUU Penilaian dan perubahan kedua PP Nomor 6 Tahun 2006. e.830. Penilaian BMN dilakukan dalam rangka mewujudkan nilai wajar BMN pada satker K/L. sebagai pilot project dilaksanakan di sebelas KPKNL yaitu KPKNL Jakarta I s.53% dari posisi akhir tahun 2008.033 atau meningkat sebesar 79. 17 Tahun 2007 jo. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terus mengalami kenaikan yang signifikan. dan (iv) Penambahan penyertaan modal negara dari aset saham sebesar Rp557.

4 tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Terproteksi.2.82 triliun pada awal Januari 2009 menjadi Rp101. dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. dan meningkatkan pelayanan kepada publik. SDM. Pembahasan dengan Tim Panitia Antar Kementerian tengah dilakukan dan diharapkan semester I Tahun 2010 draft RUU OJK dapat disampaikan ke DPR.1. dimana sejak Januari 2009 sampai dengan 7 Agustus 2009 total Nilai Aktiva Bersih (NAB) meningkat sebesar 34.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 18 – krisis keuangan. pertumbuhan kekayaan yang dikelola perusahaan asuransi dan reasuransi mencapai rata-rata sebesar 19. Sampai saat ini perangkat hukum. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Reformasi Birokrasi Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004 . Sementara itu.10% dari Rp75. Undang-Undang Usaha Perasuransian.58% per tahun. Reksa Dana dengan Penjaminan dan Reksa Dana Indeks. yang menunjukkan adanya tren positif walaupun sempat mengalami perlambatan pada tahun 2006 karena kenaikan harga BBM dan Tahun 2009 sebagai dampak krisis global. penawaran efek selama periode Tahun 2004 sampai dengan Tahun 2009 telah mengalami kenaikan. Reformasi Birokrasi menjadi salah satu program pemerintah yang penting dan harus segera dilaksanakan. Sebagai pilot project.71% per tahun.2009.68 triliun pada tanggal 7 Agustus 2009. Dengan diterbitkannya Peraturan Bapepam LK Nomor IV. Industri lembaga keuangan non bank dalam periode Tahun 2004-2009 mengalami perkembangan sebagaimana ditunjukkan dengan perolehan premi industri asuransi yang tumbuh sebesar rata-rata 22. serta harmonisasi peraturan perundang-undangan terkait dengan RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK). ? Sasaran Reformasi Birokrasi Reformasi birokrasi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan diarahkan untuk mencapai beberapa sasaran. dengan aset tersimpan pada 16 Bank Kustodian. Undang-Undang Dana Pensiun terus dilakukan. seperti UndangUndang Pasar Modal. Sementara itu industri Dana Pensiun mengalami kenaikan. Perilaku aparatur dalam konteks reformasi birokrasi diwujudkan dengan menjaga sikap profesional dan .5 kali lipat dibandingkan akhir Tahun 2004. Hal yang sama juga dialami oleh industri pembiayaan. Reformasi Birokrasi di Kementerian Keuangan merupakan reformasi kebijakan di bidang keuangan negara sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 1. Ø Meningkatkan Good Governance Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan diarahkan untuk membentuk birokrasi yang memiliki integritas tinggi yang menjunjung prinsip-prinsip good governance. yakni meningkatkan Good Governance. Pada Tahun 2009 seiring dengan membaiknya harga saham maka kapitalisasi nilai saham juga mulai mengalami peningkatan kembali. meningkatkan kinerja aparat.3. dimana aset dana pensiun pada akhir Tahun 2008 meningkat lebih dari 1.C. untuk segera dilakukan pembahasan. organisasi. dan penganggaran. membuat industri Reksa Dana mengalami kenaikan. Jumlah Reksa Dana sampai dengan 7 Agustus 2009 tercatat 588 Reksa Dana yang dikelola oleh 77 Manajer Investasi.

?Reformasi Birokrasi Tiga Pilar Dalam rangka mencapai sasaran tersebut. Modernisasi diawali dengan pembentukan Kantor Wilayah (Kanwil) Modern dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Modern Direktorat Jenderal Pajak. komitmen) serta menjaga keutuhan pribadi. menyusun Standard Operating Procedures (SOP) yang rinci dan dapat menggambarkan setiap jenis keluaran pekerjaan secara komprehensif. Ø Organisasi Penataan Kementerian Keuangan telah memulai proses organization reinventing dalam bentuk penataan organisasi sejak 2002 dan terus berjalan hingga hari ini. dan penajaman fungsi. dan efisien dalam mengelola sumber daya yang ada serta ditunjang oleh dedikasi dan etos kerja yang tinggi. Dalam rangka menyempurnakan proses bisnis.01/2007 telah mencanangkan dilaksanakannya Reformasi Birokrasi yang meliputi program prioritas di bidang penataan organisasi. dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Percontohan. penyempurnaan proses bisnis. . efektif. berdedikasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 19 – menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas (kejujuran. Kementerian Keuangan melakukan analisis dan evaluasi jabatan untuk memperoleh gambaran rinci mengenai tugas yang dilakukan setiap jabatan. Ø Meningkatkan Pelayanan Publik Implementasi utama Reformasi Birokrasi yang berdampak langsung pada masyarakat adalah meningkatnya kemampuan Kementerian Keuangan dalam memberikan pelayanan publik yang prima. dan peningkatan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM). Ø Penyempurnaan Proses Bisnis Proses bisnis yang telah dilaksanakan Kementerian Keuangan menuntut dilakukannya penyempurnaan yang difokuskan dan diarahkan pada upaya meningkatkan layanan publik. kesetiaan. penggabungan. Penataan organisasi tersebut meliputi modernisasi. sehingga dapat mengubah persepsi publik terhadap minimnya kualitas pelayanan dan rumitnya proses birokrasi. Standar pelayanan publik dalam konteks reformasi birokrasi adalah kepuasan yang dirasakan oleh publik sebagai dampak dari hasil kerja birokrasi yang profesional. serta melakukan analisis beban kerja untuk dapat memperoleh informasi mengenai waktu dan jumlah pejabat yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Ø Meningkatkan Kinerja Birokrasi Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan menuntut tercapainya produktivitas kerja yang optimal. pemisahan. Menteri Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. dan memiliki standar nilai moral yang tinggi dalam menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati dan rasa tanggung jawab. Hasil kinerja optimal tersebut diperoleh dari serangkaian program kegiatan yang inovatif. Kementerian Keuangan berusaha mengubah citra dari proses yang cenderung kurang memberi kepastian menuju proses yang pasti pada setiap tahapannya. Kantor Pelayanan Utama (KPU) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Ø Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia Perubahan paradigma kepegawaian di Kementerian Keuangan dimulai pada akhir Tahun 2006. dan peningkatan koordinasi serta kolaborasi dengan unit pembina kepegawaian dan unit teknis terkait. penyusunan pola mutasi. Sedangkan analisis beban kerja diharapkan juga mampu mewujudkan efektivitas kerja dan efisiensi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam sebuah proses bisnis Kementerian Keuangan. Hasil positif yang telah dicapai adalah rekrutmen yang dilaksanakan DepartemenKementerian Keuangan selama ini telah berjalan bersih dari praktik KKN dan memiliki sistem seleksi yang lebih unggul. pembangunan pola mutasi. sistem pola karir yang jelas dan terukur. pengelolaan SDM berbasis kompetensi. serta proses bisnis yang transparan dan tidak berbelit-belit. Rekrutmen di Kementerian Keuangan telah ditingkatkan kualitas pelaksanaannya sejak awal Tahun 1980-an. Prinsip peningkatan manajemen SDM meliputi peningkatan kualitas. Triwulan I/ Tahun 2009. ditandai dengan kajian mengenai penajaman fungsi Biro Kepegawaian sebagai unit yang melaksanakan pengelolaan dan pembinaan kepegawaian. SOP sebagai standar prosedur kerja dibuat agar dapat menciptakan pola kerja yang efektif dan cepat. pendidikan berbasis kompetensi. serta mempunyai kinerja yang cepat dan ringkas. Kajian meliputi perbaikan mekanisme kerja dan desain struktur organisasi untuk mengoptimalisasikan fungsi berupa: perencanaan sumber daya manusia dan rekrutmen. Masing-masing hal tersebut diarahkan untuk menghasilkan proses bisnis yang akuntabel dan transparan. Dalam bidang pendidikan dan pelatihan. dan pengintegrasian Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG).158 orang. pembangunan system assessment center.d. dalam kurun waktu Tahun 2005 s.008 orang dengan beragam jenis diklat yang diikuti. Selama kurun waktu Triwulan I/ Tahun 2005 s. . yaitu layanan yang terukur dan pasti dalam hal waktu penyelesaian. persyaratan administrasi yang harus dipenuhi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 20 – Analisis dan evaluasi jabatan berkontribusi dalam penyempurnaan proses bisnis dengan menghasilkan uraian jabatan dari setiap jabatan yang tersedia sehingga setiap individu yang menjabat dapat menghasilkan kinerja yang lebih terukur sesuai dengan tugas yang diembannya. Program manajemen SDM berbasis kompetensi dilaksanakan melalui pembangunan assessment center.d. Kementerian Keuangan dapat memberikan layanan prima kepada publik. pembangunan sistem informasi kepegawaian yang terintegrasi. jumlah pegawai Kementerian Keuangan yang mengikuti diklat adalah sebanyak 66. Reformasi Birokrasi di bidang rekrutmen pegawai saat ini lebih ditekankan pada penggunaan teknologi informasi yang berbasis online (e-recruitment). Dengan ketiga alat tersebut. peningkatan akuntabilitas. dan biaya yang harus dikeluarkan. STAN telah menghasilkan jumlah lulusan sebanyak 12. penempatan SDM yang kompeten pada tempat dan waktu yang sesuai. 2009. peningkatan disiplin. serta keakuratan dan kecepatan penyajian informasi SDM sesuai kebutuhan manajemen.

sistem aplikasi. Selanjutnya. kantor pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Jalan Ahmad Yani. dan kampus Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan di Jalan Kartanegara. Kementerian Keuangan telah mengembangkan beberapa sistem aplikasi yang berlaku bagi seluruh unit kerja seperti Sistem Informasi Kepegawaian atau SIMPEG dan Sistem Monitoring Indikator Kinerja Utama yang berbasis Balanced Score Card. pengurusan piutang negara maupun pelaksanaan lelang sebagai bagian dari Sistem Manajemen Informasi dan Pelayanan Terpadu atau SMIPT di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara) untuk mendukung kegiatan utama (core business) masing-masing.” Dalam aspek sistem aplikasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 21 – ? Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Selama periode Tahun 2004 . Untuk berhubungan dengan pihakpihak di luar Kementerian Keuangan. beberapa unit eselon-I telah mulai merencanakan pengembangan sistem aplikasi yang terintegrasi (seperti Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara atau SPAN di Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. telah diterapkan Depkeu-Wide Strategy Map berikut penajaman sasaran strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU). dilakukan kontrak kinerja Depkeu-One oleh masing-masing pimpinan unit Eselon I dengan Menteri Keuangan.2009. Untuk mendukung langkah tersebut. seluruh lokasi ini juga telah terhubung oleh jaringan Wide Area Network (WAN) satu dengan lain dan juga masing-masing dengan unit-unit vertikalnya yang tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia. Di samping itu. Lebih lanjut. dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. untuk mendukung kegiatan administrasi perkantoran lainnya. pada tahun 2005 sebuah dokumen cetak biru pengembangan teknologi informasi dan komunikasi DepartemenKementerian Keuangan yang terintegrasi telah disusun dengan tema "Optimalisasi Pemanfaatan Information and Comunication Technology (ICT) di DepartemenKementerian Keuangan" dan terakhir telah disempurnakan pada tahun 2006. seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Keuangan telah terhubung dalam suatu jaringan intranet yang tersebar di empat lokasi yaitu: kantor pusat di Jalan Lapangan Banteng dan Jalan Dr. penilaian. pada Tahun 2009 Tim Reformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TRTIK) DepartemenKementerian Keuangan telah menghasilkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 260 /KMK.01/2009 tentang "Kebijakan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Lingkungan DepartemenKementerian Keuangan. Dampak dari penerapan Balanced Score Card (BSC) di lingkungan Kementerian Keuangan dapat dilihat dari keseriusan . Wahidin. sistem pengelolaan dan manajemen aset kekayaan negara. akses Internet telah tersedia dengan memanfaatkan layanan dari tiga provider nasional untuk memastikan ketersediaan akses. mulai dari registrasi sampai dengan pengembalian SPT. Dalam aspek tata kelola. Dalam aspek infrastruktur. sistem informasi wajib pajak. kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak di Jalan Gatot Subroto. sebagai bagian dari Project for Indonesia Tax Administration Reform atau PINTAR di Direktorat Jenderal Pajak. DepartemenKementerian Keuangan telah mulai menyusun strategi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan DepartemenKementerian Keuangan yang mencakup tiga aspek pengembangan yaitu: tata kelola. ? Kinerja Pengukuran Seiring dengan pelaksanaan reformasi birokrasi Kementerian Keuangan diterapkan manajemen pengukuran kinerja dengan metode Balanced Score Card. Sementara itu.

Proses perumusannya menggunakan pendekatan risk based auditing dengan melibatkan unit-unit eselon I terkait. Tahapan kegiatan yang digunakan adalah mendidik pegawai dalam manajemen risiko. 1. Dalam jangka panjang. Peningkatan kualitas LKKL ini salah satu sebabnya adalah karena perubahan pendekatan reviu yang dilakukan dari hanya menunggu LKKL di akhir tahun menjadi pengawalan atau pendampingan proses LKKL dari tahap penyusunan sampai dengan pemeriksaan oleh BPK.1. dan memonitoring pelaksanaan. Selain itu juga telah dimulai penerapan manajemen risiko dengan menggunakan peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK. Kondisi investasi Indonesia yang masih berpotensi untuk diperbaiki membawa peluang untuk menghasilkan kebijakan yang dapat mengoptimalkan pendapatan negara dan sekaligus dapat meningkatkan daya saing produksi dalam negeri serta meningkatkan investasi melalui kebijakan harmonisasi tarif dan pemberian insentif berupa stimulus perpajakan. 1.2 POTENSI DAN PERMASALAHAN Prospek kondisi ekonomi Tahun 2010 .2014 menunjukkan tanda positif sebagaimana terlihat pada tingkat pertumbuhan ekonomi pada awal Tahun 2009 yang mencapai 4.09/2008 tentang Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian. Kondisi perdagangan Indonesia di tingkat regional maupun bilateral membawa peluang untuk meningkatkan volume perdagangan melalui FTA. dan apa yang dikerjakan dalam core business Kementerian Keuangan. pengukuran kinerja juga akan dikembangkan sampai dengan penyusunan Balanced Score Card bagi individu. Kementerian Keuangan telah berhasil meningkatkan kualitas LKKL nya menjadi Wajar Dengan Perkecualian dari yang sebelumnya Disclaimer. sehingga delivery yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan bermanfaat. Paradigma pengawasan yang digunakan adalah pengawasan untuk memberikan solusi bukan untuk menimbulkan permasalahan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 22 – para Eselon I dalam mengelola IKU. sehingga pada akhirnya seluruh jajaran Kementerian Keuangan dapat memahami apa yang harus dicapai.99 persen dan indikator-indikator ekonomi lainnya yang menunjukkan bahwa kondisi makro ekonomi Indonesia relatif stabil. Kementerian Keuangan telah berhasil mendorong terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (PP SPIP). dan menjaga stabilisasi harga kebutuhan dalam negeri melalui . melindungi produk dalam negeri melalui kebijakan Tarif Khusus.21 persen. Pada Tahun 2008. serta menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri. membantu penyusunan. Untuk Tahun 2009. melindungi kelestarian SDA. Beberapa unit eselon I telah berhasil membuat profil risiko menyeluruh yang diperlukan. bagaimana mencapainya. sebagai landasan bagi organisasi pemerintah untuk menerapkan pengendalian intern di organisasi masingmasing dalam pelaksanaan kerjanya.4 Pengawasan dan Pengendalian Intern Mulai Tahun 2009 pelaksanaan pengawasan intern didasarkan kepada kebijakan pengawasan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38 Tahun 2009 tentang Kebijakan Pengawasan Intern Kementerian Keuangan Tahun 2009. tingkat inflasi sampai dengan Oktober 2009 sebesar 2.

baik dengan negara mitra maupun lembaga keuangan internasional memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh manfaat yang dapat diraih dari kerjasama bilateral dan multilateral tersebut misalnya dalam upaya menggalang pembiayaan anggaran pemerintah. Berbagai peranan penting yang dipegang oleh DepartemenKementerian Keuangan dalam forum-forum internasional misalnya sebagai co-chair untuk working group IV dalam forum G-20 dan salah satu pemegang arah kebijakan di ASEAN. yaitu: (i) Ketidakpastian ekonomi global. (iii) Integrasi ekonomi global dan regional yang semakin tinggi. ke depan harus segera dilakukan langkah-langkah perbaikan melalui koordinasi yang intensif dan komprehensif antar lembaga negara atau instansi pemerintah. Kuatnya kerjasama yang telah terjalin selama ini. Upaya peningkatan penerimaan perpajakan dan pertumbuhan ekonomi nasional dilakukan melalui pemberian insentif fiskal pada program konversi penggunaan BBM untuk listrik ke penggunaan energi terbarukan khususnya energi panas bumi (geothermal energy).3 triliun di Tahun 2009 dirasakan masih lambat dan belum optimal. baik dari eksternal maupun internal. (iv) Perubahan arsitektur keuangan dunia. yang ditandai dengan mulai meningkatnya harga minyak mentah dunia. Oleh karena itu dan sebagai pembelajaran. namun masih banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi di masa yang datang. sehingga mendorong peningkatan daya saing industri. salah satu tantangan terberat berasal dari masih tingginya tingkat pengangguran dan angka kemiskinan di Indonesia. gangguan dan hambatan dalam pembangunan ekonomi sedini mungkin. dengan semakin pesatnya perkembangan instrumen pembiayaan dan investasi sehingga memerlukan aturan baru dengan tingkat pengawasan yang lebih mendalam. Dari sisi domestik. Meskipun secara umum selama periode Tahun 2004-2009 pemerintah telah berhasil mengatasi ancaman krisis ekonomi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 23 – kebijakan bea keluar. Dari sisi eksternal. dengan masih berlanjutnya indikasi penurunan volume perdagangan dunia dan sulitnya mengakses sumber-sumber pendanaan dan investasi. PeIaksanaan program mitigasi dampak krisis global melalui paket stimulus fiskal yang mencapai Rp73. Di sisi internal ketidakpastian juga terlihat dari adanya gejolak di pasar saham dan keuangan. terdapat empat tantangan besar yang harus dihadapi. akan dapat mengeleminir berbagai permasalahan. belum bergeraknya sektor riil secara optimal. Penempatan pejabat dan pegawai pada posisi penting dalam organisasi-organisasi internasional dan lembaga keuangan multilateral seperti ADB dan Bank Dunia juga akan memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memasukkan kepentingan-kepentingan nasional dalam strategi yang dirumuskan oleh organisasi internasional tersebut. Tantangan lainnya berasal dari kondisi infrastruktur yang masih belum memadai untuk menunjang akselarasi pembangunan. Langkah antisipatif dan responsif dalam mencermati tantangan-tantangan di atas. Potensi ini mengandung peluang penting dalam memasukkan kepentingan-kepentingan nasional dalam setiap agenda dalam forum tersebut. Dengan tingginya tingkat . (ii) Volatilitas harga-harga komoditas utama. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan hasil pada peningkatan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. dan musibah bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia menjadi tantangan ke depan dalam peningkatan kualitas pengelolaan kebijakan fiskal.

Apabila Undang-Undang APBN dijadikan dasar pemberian fasilitas perpajakan. juga merupakan potensi penerimaan pajak.2. Selain itu permasalahan lain adalah perlunya peningkatan kualitas dan kuantitas SDM. ? Berkembangnya partisipasi dan sikap kritis masyarakat usaha dalam rangka meningkatkan produktivitas. 1. ?harmonisasi kebijakan instansi lain (government agencies) dan lingkungan dunia usaha Perlunya (stakeholders) dengan peraturan-peraturan kepabeanan dan cukai. ? Perlunya integrasi teknologi informasi untuk pemenuhan kebutuhan organisasi. serta koordinasi dan harmonisasi pelaksanaan tugas yang menyangkut administrasi dan peraturan. Dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat segera terwujud.1. profiling.2Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Potensi untuk pencapaian Renstra Tahun 2010 .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 24 – pertumbuhan ekonomi.1Penerimaan Pajak Dari hasil pelaksanaan program mapping. ? Adanya dukungan SDM DJBC dan komitmen yang kuat untuk melakukan reformasi. database pajak masih terbatas karena sumber data eksternal belum dapat dioptimalkan.2.2.2014 di bidang penerimaan kepabeanan dan cukai meliputi: ? peraturan perundang-undangan di bidang Kepabeanan dan Cukai. berupa belum optimalnya tax coverage ratio. antara lain terlihat dari antusias masyarakat dalam mengikuti program sunset policy. Meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada DJP. penegakan hukum yang masih lemah. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan perpajakan adalah adanya potential loss penerimaan perpajakan dalam jangka pendek. ? Adanya dukungan anggaran berbasis kinerja dan dukungan sarana-prasarana.1. . Tersedianya ? Keberadaan institusi DJBC berdasarkan peraturan perundang-undangan dengan penataan organisasi yang dinamis.1 Potensi dan Permasalahan Pelaksanaan Penerimaan Negara 1. sarana dan sistem TI yang belum memadai. efektivitas dan efisiensi kinerja pelayanan dan pengawasan DJBC Permasalahan utama yang dihadapi di bidang penerimaan kepabeanan dan cukai adalah peningkatan kualitas pelayanan sesuai dengan ekspektasi masyarakat dan pengawasan yang efektif. ? Adanya praktik-praktik terbaik dalam kepabeanan internasional yang dapat dijadikan acuan. serta rendahnya tax compliance Wajib Pajak yang sudah terdaftar. dimana masih banyaknya potensi Wajib Pajak yang belum terdaftar. dan benchmarking menunjukkan masih terdapat potensi meningkatkan penerimaan pajak secara signifikan. meliputi hal-hal sebagai berikut: ? Perlunya pengembangan sistem pelayanan dan pengawasan dengan penerapan manajemen risiko. permasalahan yang timbul adalah umur Undang-Undang APBN tersebut yang hanya satu tahun dan sering menimbulkan kontroversi. Masalah lainnya adalah adanya pembatasan oleh Undang-Undang Perpajakan dalam pemberian insentif/fasilitas perpajakan. masalah pengangguran dan kemiskinan dapat segera diatasi. 1.

Permasalahan penerimaan PNBP antara lain disebabkan karena faktor eksternal. Namun dalam perkembangannya. (ii) masih adanya potensi jenis PNBP yang belum memiliki landasan hukum sehingga tidak dapat dipungut. lifting dan kurs. perencanaan belanja negara juga mengalami penyempurnaan-penyempurnaan.2. Pemanfaatan sistem penganggaran berbasis kinerja. Disamping itu faktor lain yang mempengaruhi PNBP seperti masih terdapat potensi PNBP yang belum terealisir. .2.2 Potensi dan Permasalahan Belanja Negara 1.2.3Penerimaan Negara Bukan Pajak PNBP sebagai salah satu sumber penerimaan negara mempunyai potensi yang masih dapat dikembangkan. 1. 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 25 – ? Perlunya optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana. Telah dilakukan penerapan sistem penganggaran terpadu (unified budget). illegal fishing. (iii) adanya peningkatan cost recovery yang belum diimbangi dengan peningkatan lifting yang memadai. Penyempurnaan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kinerja belanja negara agar menjadi lebih efektif dan efisien. penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). Terbatasnya ruang gerak fiskal yang disebabkan oleh komposisi dan struktur belanja negara yang belum sepenuhnya sehat (sound). 1. Belum optimalnya sistem penyusunan perencanaan dan penganggaran pada kementerian/lembaga. bertujuan agar setiap biaya yang dialokasikan dalam suatu kegiatan dapat dikaitkan dengan output dan outcome yang dihasilkan. Selain itu. 2. (iv) belum optimalnya PNBP yang berasal dari pengurusan piutang negara dan pelayanan lelang. dan penerapan kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework) dalam penyusunan perencanaan belanja negara. penyempurnaan perencanaan belanja negara tersebut menghadapi beberapa tantangan.1. yang antara lain disebabkan oleh (i) masih tingginya kegiatan illegal logging. (ii) masih tingginya risiko tidak tercapainya penerimaan atas laba BUMN terutama karena faktor kinerja BUMN dan makro ekonomi. Belum optimalnya sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan belanja negara dalam rangka penyusunan rencana kegiatan dan anggaran. telah dilakukan penyatuan dokumen perencanaan belanja negara sehingga pertanggungjawaban penggunaan anggaran menjadi lebih transparan dan akuntabel. dan adanya perubahan asumsi makro yang digunakan seperti ICP.2. duplikasi pendanaan untuk satu kegiatan yang sama dapat dihindari. Belum optimalnya koordinasi perencanaan pemerintah pusat (kementerian/lembaga) dengan daerah dalam hal perencanaan belanja negara untuk kegiatan dekonsentrasi/tugas pembantuan. seperti (i) adanya kecenderungan penurunan produksi minyak bumi dan gas bumi (migas). 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Dalam penerapan sistem penganggaran terpadu. antara lain: 1. (iii) belum tergalinya potensi pertambangan panas bumi secara optimal.1Belanja Negara Seiring dengan pelaksanaan reformasi Keuangan Negara yang dimulai sejak berlakunya UU No. dan 4.

Permasalahan yang timbul dalam penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja adalah sulitnya merumuskan indikator kinerja sebagai alat pendeteksi tercapainya output dan outcome yang dikehendaki. 1. (iv) pengelolaan keuangan daerah. Selain itu. dan pelaporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah daerah. tantangan dalam implementasi kerangka pengeluaran jangka menengah. Dana Alokasi Khusus (DAK). Sumber pendanaan daerah terlalu bertumpu pada alokasi pusat berupa transfer yang terdiri Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian (mulai APBN Tahun 2009 termasuk juga Hibah ke Daerah). Sedangkan transfer ke daerah masih terdapat permasalahan terkait dengan koordinasi yang belum optimal dengan instansi lain yang terkait. yaitu sejak penelaahan RKA-KL Stimulus Fiskal Tahun 2009 dan RKA-KL Tahun 2010. Besaran alokasi transfer ke daerah. Pengalokasian dana perimbangan selama ini dilakukan berdasarkan ketentuan UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005.2. serta pengolahan data keuangan daerah dan data lainnya menjadi informasi yang disajikan ke masyarakat sebagai bahan pengambilan keputusan dalam rangka perencanaan. Permasalahan lain adalah implikasi pemekaran daerah berdampak pada meningkatnya jumlah daerah otonom baru. (iii) standar pelayanan minimum. Sistem ini diselenggarakan oleh masing-masing pemerintahan daerah yang dikenal dengan nama Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD). (ii) peraturan daerah yang mendorong timbulnya ekonomi biaya tinggi dan menghambat investasi. Kurang sinkronnya pemanfaatan antara Dana Desentralisasi dengan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. khususnya dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU). pelaksanaan. diantaranya adalah sulitnya menentukan pengeluaran (belanja negara) dalam perspektif jangka menengah. dan Dana Bagi Hasil (DBH) selalu mengalami peningkatan yang berarti dari tahun ke tahun. Selanjutnya. pengadministrasian.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 26 – sehingga terjadi perpaduan perencanaan kinerja dengan anggaran tahunan. . Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia. sedangkan SIKD oleh pemerintah pusat disebut dengan SIKD Nasional. Selain itu. diantaranya adalah: (i) hubungan antara Undang-Undang Desentralisasi dengan Undang-Undang Sektoral. dimana sejak Tahun 1999 sampai dengan Tahun 2009 telah mengalami penambahan sebanyak 205 daerah. dan (v) pengalihan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ke DAK. Perbaikan-perbaikan tersebut akan terus ditingkatkan kualitas penerapannya di masa mendatang. Perbaikan juga telah dilakukan terhadap proses dan mekanisme penelaahan RKA-KL.2Perimbangan Keuangan Potensi yang ada pada Perimbangan Keuangan adalah adanya Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD). diperlukan masa transisi untuk mengubah sistem accrual based budget yang telah dilaksanakan semasa orde baru menjadi sistem penganggaran berbasis kinerja. dengan mempertimbangkan risiko dan implikasi biaya yang berpotensi terjadi pada tahuntahun berikutnya. juga dilakukan perbaikan terhadap proses revisi RKA-KL sehingga revisi RKA-KL dapat dilakukan secara lebih cepat dan akuntabel.2. yaitu suatu sistem pendokumentasian.

? fasilitas Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk mendukung pengembangan Tersedianya industri keuangan syariah.3 Potensi dan Permasalahan Perbendaharaan Negara Beberapa potensi yang menyangkut pengelolaan perbendaharaan Negara. efisiensi penyerapan belanja pemerintah dan mewujudkan transparansi dalam manajemen keuangan pemerintah. ? Terselesaikannya pembenahan pengelolaan PNBP di satker-satker pemerintah melalui BLU. melalui program restrukturisasi dapat meringankan beban pembayaran kewajiban BUMN/BUMD/Pemda serta meminimalkan berkurangnya penerimaan negara. Masih terdapat permasalahan di bidang pengelolaan kas berupa lemahnya perencanaan kas (cash forecasting) yang dilakukan oleh Kementerian Negara/Lembaga serta belum lengkapnya regulasi yang mengatur tentang pengelolaan kas. Sementara itu di bidang pengelolaan BLU terdapat kendala adanya beberapa satker BLU yang hanya lebih mementingkan sisi fleksibilitas pengelolaan keuangan. dan kurangnya SDM yang memahami secara utuh konsep PK BLU.2. dan RPD masih dijumpai masalah kesulitan BUMN/BUMD/Pemda untuk melunasi kewajibannya. ? Terbentuknya KPPN Percontohan dapat mempercepat daya serap APBN. Selain daripada itu masih terdapat satker yang belum memenuhi persyaratan substantif dan teknis. khususnya yang mengatur kelebihan dan kekurangan kas. yang disebabkan belum seluruh LKKL memiliki kualitas yang baik. ? Terlaksananya SPAN dapat meningkatkan pelayanan keuangan publik. meningkatkan perekonomian sektor riil. RDI. memperkuat instrumen kontrol fiskal. ? Tersedianya pinjaman luar negeri dan surat berharga yang diterbitkan di luar negeri untuk mendukung cadangan devisa negara dan program-program pembangunan (development program).2. PNBPnya menjadi on budget dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Kendala lain adalah LKPP masih mendapatkan opini Disclaimer dari BPK.4 Potensi dan Permasalahan pada Pembiayaan APBN Potensi dalam pembiayaan defisit APBN potensi yang dapat mendukung optimalnya pengelolaan utang mencakup hal-hal sebagai berikut: ? Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen keuangan yang dibutuhkan dalam Tersedianya pengembangan pasar uang dan pasar modal sebagai benchmark. 1. Di bidang penerusan pinjaman yang dananya bersumber dari SLA. . ? cukup banyak satker yang memenuhi kriteria secara substantif dan teknis untuk dapat Tersedianya menerapkan PK BLU. dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada birokrasi ? Terselesaikannya pinjaman kepada BUMN/BUMD/Pemda yang bersumber dari RDI/RPD/SLA. yang selanjutnya diharapkan akan menciptakan daya tarik investasi. antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut: ? Adanya penerapan prinsip "meminimumkan biaya" dan "memaksimalkan manfaat" dalam pengelolaan kas dapat menjamin ketersediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 27 – 1. ? fasilitas SBN (jangka pendek) sebagai instrumen pengelolaan moneter dan pengelolaan Tersedianya kas. ? LKPP dengan tingkat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) akan meningkatkan Tercapainya akuntabilitas pemerintah dan rating pemerintah di mata dunia internasional.

? penyediaan underlying assets SBSN untuk dapat mendukung penerbitan SBSN secara Lambatnya tepat waktu. ? Belum optimalnya fungsi infrastruktur pasar. misalnya primary dealers sebagai market makers/penggerak pasar. restrukturisasi/revitalisasi. ? Belum adanya kerangka hukum dan administrasi untuk melakukan hedging dalam pengelolaan risiko portofolio utang. eks BDL. dan aset Negara eks kelolaan PT PPA baik yang dikelola sendiri .2. (iv) kebijakan terkait program pendirian. seperti Terbatasnya keterbatasan dana untuk melakukan buyback saat diperlukan intervensi pasar dan belum dapat memanfaatkan momentum pasar untuk melakukan pre-financing terhadap APBN tahun berikutnya. privatisasi. ? Belum optimalnya koordinasi antara DepartemenKementerian Keuangan dan Bank Indonesia dalam pengelolaan neraca kedua otoritas. ? dominasi oleh sektor perbankan pada basis investor domestik. ? fleksibilitas dalam mengelola utang yang responsif terhadap dinamika pasar. Kondisi yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan kekayaan negara ke depan adalah sebagai berikut : (i) hasil penyelesaian inventarisasi dan penilaian BMN (ii) pengelolaan BMN berupa asset idle yang perlu dioptimalkan.5 Potensi dan Permasalahan Pengelolaan Kekayaan Negara Potensi dalam pengelolaan kekayaan negara adalah adanya aset negara sebagai indikator penting dalam pelaksanaan penganggaran yang efektif. 1. ? Belum optimalnya efisiensi dan efektivitas pemanfaatan pinjaman luar negeri yang berdampak pada meningkatnya beban commitment fee karena keterlambatan pemenuhan persyaratan pemberi pinjaman oleh pelaksana pinjaman (executing agency) dan keterlambatan dalam implementasi pinjaman itu sendiri. efisien dan optimal. di bidang pembiayaan melalui utang.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 28 – ? Tersedianya kemungkinan pinjaman dalam negeri untuk mengoptimalkan pendapatan dari pembiayaan dalam negeri. ? porsi kepemilikan SBN oleh investor asing dapat meningkatkan kerentanan pasar SBN Tingginya terhadap potensi risiko 'sudden reversal' yang dapat menggangu harga SBN di pasar sekunder. terdapat juga permasalahannya yang meliputi antara lain: ? kapasitas daya serap pasar SBN domestik belum dapat mengimbangi kecepatan Rendahnya pertumbuhan kebutuhan dana untuk pembiayaan APBN sehingga dapat memunculkan kerentanan terhadap 'crowding-out' dan potensi peningkatan porsi utang valas. (v) penanganan aset yang berasal dari eks BPPN. likuiditas pasar maupun fungsi treasury. sehingga mempengaruhi kinerja pengelolaan utang negara (sovereign debts). ? Berkembangnya pasar SBN dapat mendorong pengembangan pasar instrumen utang yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah. sehingga perkembangan Tingginya pasar SBN sangat dipengaruhi oleh kinerja perbankan maupun kebijakan di sektor tersebut. Disamping adanya beberapa potensi sebagaimana diuraikan di atas. pembubaran atau penggabungan BUMN dalam rangka kepentingan Menteri Keuangan selaku pemegang saham. (iii) peningkatan jumlah dan nilai aset K/L yang berasal dari alokasi belanja barang dan belanja modal. penambahan/pengurangan PMN.

Namun kondisi ini merupakan sebuah sinyal bahwa potensi pasar modal sebagai pergerak perekonomian Indonesia masih perlu ditingkatkan. Dengan demikian industri dana pensiun masih memiliki peluang yang sangat besar untuk bertumbuh dan berkontribusi dalam ekonomi nasional. mengingat tingkat penetrasi asuransi yaitu perbandingan premi asuransi dengan GDP yang masih sangat rendah yaitu 1. (iii) potensi pengembangan industri perasuransian yang masih sangat terbuka. (vi) sebagai negara muslim terbesar Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan produk-produk pasar modal dan lembaga keuangan non bank berbasis syariah termasuk pembiayaan syariah. hukum dan fisik. (viii) kualitas dan kuantitas SDM belum memadai.55 persen. Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan kekayaan negara adalah: (I) peraturan perundang-undangan yang ada. (iii) pelayanan pengelolaan kekayaan negara yang belum seluruhnya sesuai dengan standar waktu yang ditentukan. dan (viii) peningkatan pendapatan dan mulai tumbuhnya kesadaran berivestasi memberikan peluang bagi perluasan investor pasar modal dan nasabah lembaga jasa keuangan non bank. (vi) penerapan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi (SIMAK) BMN belum merata diseluruh K/L. penyempurnaan bisnis proses. (vii) basis pemodal domestik yang masih relatif kecil yaitu dari jumlah penduduk Indonesia memberikan peluang bagi pengembangan perluasan basis dan kualitas pemodal domestik sehingga dapat berperan sebagai katalisator pengembangan pasar modal Indonesia.33 persen. (vii) adanya potensi gugatan/tuntutan dari pihak ketiga atas aset yang berada di dalam penguasaan DepartemenKementerian Keuangan. dan (vi) potensi Kekayaan Negara Lain-Lain yang berasal dari aset rampasan. 1. gratifikasi. (iv) rasio industri dana pensiun yang masih relatif kecil bila dibandingkan dengan GDP. peningkatan manajemen SDM serta pengukuran kinerja memberikan peluang bagi peningkatan kapasitas organisasi regulator. (ii) belum optimalnya pengamanan Barang Milik Negara (BMN) baik secara administratif.81 persen Tahun 2008 menunjukkan bahwa peran pasar modal masih belum optimal. dan KKKS. Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 29 – oleh Menteri Keuangan maupun diserahkelolakan kembali kepada PT PPA. (v) semakin meningkatnya pengetahuan dan kepercayaan investor mengenai produk pasar modal dan terdapatnya perbedaan kebutuhan investasi memberikan peluang baru bagi pengembangan produk-produk investasi baru.2. aset bekas milik asing/cina (ABMAC). disamping itu tingkat kepesertaan baru mencapai 4. (iv) belum optimalnya pemanfaatan BMN sesuai prinsip The Highest and Best Use. sitaan kepabeanan.9 persen. (ii) rasio antara PDB dengan nilai kapitalisasi pasar yang masih relatif kecil yaitu 33. Permasalahan yang dihadapi oleh industri pasar modal dan lembaga keuangan adalah : (i) perkembangan industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang semakin pesat menbawa konsekuensi meningkatnya tantangan yang dihadapi oleh regulator dalam . (v) belum optimalnya koordinasi antara kementerian negara dan lembaga terkait penertiban barang milik negara . dan (ix) kurangnya sarana dan prasarana. saat ini belum mampu mendukung pengelolaan kekayaan yang optimal.6 Potensi dan Permasalahan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Adapun potensi di industri pasar modal dan lembaga keuangan adalah : (i) program reformasi birokrasi yang difokuskan pada penataan organisasi. yaitu masih pada kisaran 4.

(v) masih belum optimalnya pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pengawasan terhadap pelaku pasar modal dan industri lembaga keuangan non bank. (iii) pengembangan infrastruktur sistem perdagangan dan teknologi informasi. (vii) kompleksitas industri pasar modal dan lembaga keuangan yang semakin meningkat sementara sumber daya pengawasan dan penegakan hukum masih terbatas. meliputi: (i) independensi lembaga pengawas pasar modal dan LKNB. dalam rangka menjawab tantangan tersebut. Terkait dengan pengambilan peran aktif pembinaan kepada Kementerian/Lembaga beberapa permasalahan yang masih harus diatasi. Uraian Jabatan.2. Potensi lainnya adalah adanya Forum Bersama (FORBES) Itjen. (ii) harmonisasi peraturan perundang-undangan dan penerapannya dengan standar internasional. (iii) tersedianya struktur organisasi sampai . komunikasi yang belum terbangun secara efektif. (iv) kerangka hukum industri pembiayaan masih diatur melalui Perpres. bukan Undang-Undang. baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Hal-hal yang menjadi tantangan ke depan bagi perkembangan pasar modal dan LKNB antara lain. pedoman asistensi dan reviu laporan keuangan yang belum memadai. dan (vi) penerbitan Obligasi Pemerintah Daerah.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 30 – menjalankan tugas dan fungsinya.7 Potensi dan Permasalahan Organisasi dan SDM a. (ii) tersedianya business process yang meliputi: SOP. dan Hasil Analisis Beban Kerja. b. dan adanya pendekatan dengan pihak Badan Pemeriksa Keuangan guna menjamin tercapainya tujuan pengawasan dan pengendalian intern. (v) pengembangan asuransi dan Dana Pensiun wajib (compulsory insurance and pension plan). sistem dan prosedur serta sumber daya manusia. (vi) masih terbatasnya alternatif investasi dan skema jasa keuangan non bank yang tersedia di industri pasar modal dan jasa keuangan non bank. adalah berupa seminar "Peran Inspektorat Jenderal dalam Meningkatkan Kualitas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) dengan peserta Inspektorat Jenderal DepartemenKementerian lain. dan (viii) daya saing industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang masih perlu ditingkatkan. (iii) masih belum optimalnya pemenuhan standard internasional dalam produk regulasi baik untuk industri pasar modal maupun untuk lembaga keuangan non bank. serta belum adanya ketentuan yang jelas tentang ketentuan pemangku jabatan dalam bidang keuangan. instrumen pasar modal dan peningkatan jumlah investor domestik. Pengawasan dan Pengendalian Intern Potensi yang ada guna melaksankan kontrak kinerja Menteri dengan Presiden untuk memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI paling lambat untuk Laporan Keuangan Tahun 2011. yaitu jumlah dan kualitas sumber daya pemberi asistensi yang belum memadai. 1. maka kapasitas organisasi regulator perlu ditingkatkan baik dari aspek pembenahan organisasi. (iv) pengembangan produk syariah di pasar modal dan LKNB. Untuk itu. sistem informasi manajemen. (ii) tingkat kualitas kepatuhan pelaku industri pasar modal dan lembaga keuangan yang masih harus ditingkatkan. Ketatalaksanaan dan Kelembagaan Potensi di bidang ketatalaksanaan dan kelembagaan adalah: (i) program Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan.

(ii) adanya pengukuran soft competency pegawai melalui Assessment Center. 16 Kanwil Ditjen Bea dan Cukai. 7 Direktorat Jenderal. yaitu: pertama. Selain itu adanya wacana agencification merupakan potensi bagi peningkatan efektifitas dan efisiensi dalam ketatalaksanaan dan kelembagaan. Salah satu Agencification yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan adalah transformasi/penataan organisasi BPPK menjadi Badan Transformasi/Reformasi Birokrasi yang akan mengkoordinir pelaksanaan program reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan. Permasalahan yang ada pada saat ini adalah masih digabungkannya fungsi perumusan kebijakan dengan fungsi pelaksana kebijakan berdasaran Perpres Nomor 9 Tahun 2005. yaitu: (i) aturan di bidang kepegawaian yang saat ini sudah tidak memenuhi tuntutan kebutuhan pengelolaan SDM. serta belum adanya Peraturan Presiden di bidang organisasi sebagai tindak lanjut pembentukan Kabinet baru dan pelaksanaan lebih lanjut dari UU Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. kota/kabupaten.042 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia dengan perincian: 94 Kantor Wilayah (31 Kanwil Ditjen Pajak. Inspektorat Jenderal. (ii) SDM pengelola keuangan belum professional. dan (v) perubahan paradigma tata kelola SDM. dan 3 Badan. adanya kendala dalam perancangan dan pengembangan jabatan fungsional yang tergantung pada dinamika organisasi. Sedangkan permasalahan di bidang administrasi kepegawaian. dan kurang kuatnya komitmen dan konsistensi pimpinan unit dalam pengusulan pembentukan/ penyempurnaan jabatan fungsional. serta berjalannya fungsi check and balances dalam rangka mewujudkan good governance. c. (iii) deployment SimpegTM. dan 70 Satker Ditjen Kekayaan Negara). mulai tingkat provinsi. Agencification tersebut mencakup pemisahan fungsi perumusan kebijakan (regulatory) dengan pelaksana kebijakan (execution). 126 Satker Ditjen Bea dan Cukai. dan kecamatan. (iii) belum adanya aturan baku yang mengatur mengenai jabatan assessor. 30 Kanwil Ditjen Perbendaharaan. lambatnya payung kebijakan di bidang tata naskah dinas di lingkungan Kementerian Negara PAN dibandingkan dengan perkembangan perubahan/kebutuhan tata naskah dinas di lingkungan Kementerian Keuangan. Namun demikian. dan (iv) networking yang luas antar unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan dan institusi lainnya di luar Kementerian Keuangan. (iv) kurang optimalnya . Kedua. Kementerian Keuangan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya melalui 1. 178 Satker Ditjen Perbendaharaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 31 – unit organisasi terkecil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. (iv) program reformasi birokrasi nasional. Permasalahan lain di bidang ketatalaksanaan dan kelembagaan. yaitu: (i) jumlah SDM yang cukup dari segi kuantitas berdasarkan hasil Analisis Beban Kerja. Pengelolaan SDM Aparatur Potensi di bidang administrasi kepegawaian. Organisasi Kementerian Keuangan terdiri dari Sekretariat Jenderal. dan 17 Kanwil Ditjen Kekayaan Negara) dan 912 Kantor Operasional (538 Satker Ditjen Pajak. serta terkendala oleh panjangnya proses pembentukan jabatan fungsional. permasalahan agencification serta perancangan dan pengembangan organisasi/kelembagaan secara keseluruhan sangat tergantung pada arah kebijakan kelembagaan Republik Indonesia yang digariskan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi.

(iv) melakukan perekrutan Widyaiswara dan pengembangan kompetensi Widyaiswara serta melakukan program kumandah bagi pegawai Kementerian Keuangan yang baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjana untuk diunduh selama setahun. dan (v) aplikasi SimpegTM belum diimplementasikan secara menyeluruh. pendidikan dan pelatihan yang dilakukan Kementerian Keuangan juga tidak lepas dari kendala yang ada seperti: (i) pelaksanaan pengembangan SDM Kementerian Keuangan melalui pendidikan dan pelatihan masih dilaksanakan pada institusi selain institusi yang ditunjuk sebagai penyelenggara pendidikan dan pelatihan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 32 – pemanfaatan Assessor Internal. Selain itu belum adanya mekanisme penyusunan kebijakan yang terstruktur. yaitu mengabdikan ilmunya di BPPK. SDM Kementerian Keuangan pada Tahun 2009 sebanyak 61. dan (iv) kurangnya minat pegawai instansi teknis yang berprestasi untuk ikut perekrutan widyaiswara.829 pegawai. Komposisi berdasarkan pendidikan. Kondisi ini juga menyebabkan tidak tersedianya sistem . mulai dari pengembangan metodologi pembelajaran sampai dengan pemberian kemudahan layanan bagi peserta diklat sebelum. dan Gol.220 pegawai laki-laki dan 14.108 pegawai. S1. Sedangkan komposisi berdasarkan golongan. menyebabkan masing-masing unit eselon-I berjalan sendiri-sendiri dalam mengelola sumber daya informasi dan komunikasinya. d. (ii) struktur dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang komprehensif dalam rangka optimalisasi TIK pada berbagai layanan diklat. Teknologi dan Informasi Keuangan Permasalahan utama dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan Kementerian Keuangan adalah pola tata-kelolanya yang bersifat dekonsolidasi-desentralisasi dimana sumber daya informasi dan komunikasi yang ada umumnya dikelola secara terpisah di masing-masing unit eselon-I.754 pegawai (keterangan: data di atas belum termasuk data CPNS Kementerian Keuangan sebanyak 3.098 pegawai. III sebanyak 33. (ii) terbatasnya ketersediaan SDM yang memiliki kapabilitas dan dana dalam memelihara struktur dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang komprehensif dalam rangka optimalisasi TIK pada berbagai layanan diklat. (iii) belum meratanya sarana dan prasarana fisik yang menunjang kemudahan layanan dan kedekatan layanan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. S2 sebanyak 4.359 pegawai dengan rincian 47. dan S3 sebanyak 54 pegawai.573 pegawai dengan tingkat pendidikan S2.951 pegawai. Gol.820 pegawai.139 pegawai perempuan. D-I). D3 sebanyak 11. Namun demikian. di saat. (iii) kemudahan layanan dan kedekatan layanan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. terdiri dari: Gol. IV sebanyak 1. D-III.351 pegawai. Dalam kaitannya dengan pendidikan dan pelatihan SDM. II sebanyak 20. Gol. S1 sebanyak 17. dan (v) memiliki jaringan kerjasama dengan institusi nasional dan lembaga-lembaga internasional di bidang pendidikan dan pelatihan. Kementerian Keuangan telah melaksanakan modernisasi pelayanan di bidang pendidikan dan pelatihan. khususnya untuk hal-hal yang mencakup kepentingan lebih dari satu unit eselon-I. diantaranya: (i) kedudukan hukum penyelenggara pendidikan dan pelatihan di lingkungan Kementerian Keuangan yang kokoh. SDM Kementerian Keuangan terdiri dari: SD-SLTA sebanyak 2. I sebanyak 377 pegawai. dan setelah diklat berlangsung.

Disamping itu perlu adanya kebijakan-kebijakan. keamanan sistem informasi (IT security management).01/2009 tentang Kebijakan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan adanya Tim Reformasi Teknologi Informasi Komunikasi (TRTIK) merupakan landasan yang kokoh bagi pengembangan tata kelola di masa yang akan datang. . dan infrastruktur.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 33 – informasi yang terintegrasi. standar. Sementara dari aspek infrastruktur. Adanya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 260/KMK. seperti yang terkait dengan tata kelola yang baik (good IT governance). dan pengelolaan sumber daya informasi (termasuk yang berkaitan dengan masalah lisensi software). sistem aplikasi. adanya modul-modul aplikasi yang telah ada dan rencana pengembangan beberapa sistem aplikasi yang tengah berlangsung merupakan modal dasar bagi penerapan Sistem Informasi Manajemen Keuangan Negara yang terpadu. dan prosedur yang berkaitan dengan operasionalisasi teknologi informasi dan komunikasi. Dari aspek sistem aplikasi. akses Internet maupun keberadaan Data Center. TRTIK menyediakan wahana koordinasi di antara unit-unit pengelola teknologi informasi dan komunikasi di dalam DepartemenKementerian Keuangan untuk menyelaraskan dan mensinergikan pengembangan sistem aplikasi dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan Kementerian Keuangan. adanya infrastruktur IT. yang dapat digunakan oleh setiap unit setiap saat dibutuhkan tanpa terlebih dahulu harus menghubungi unit lain yang menghasilkan informasi tersebut secara sendirisendiri. pengelolaan kesinambungan bisnis (business continuity management) beserta kelengkapannya seperti Disaster Recover Plan dan Disaster Recover Center. merupakan modal utama yang perlu dioptimalkan lebih lanjut sehingga dapat beroperasi secara reliable. pengelolaan layanan (IT service management). jaringan WAN. baik berupa jaringan intranet. DepartemenKementerian Keuangan memiliki potensi besar untuk pengembangan ke depan. Dari sisi tiga aspek strategi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yaitu tata kelola.

transparan. TUJUAN Tujuan strategis Kementerian Keuangan dikelompokkan ke dalam 6 tema pokok yaitu: Tujuan dalam Tema Pendapatan Negara adalah Meningkatkan dan Mengamankan Pendapatan Negara dengan Mempertimbangkan Perkembangan Ekonomi dan Keadilan Masyarakat Tujuan dalam Tema Belanja Negara adalah Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Belanja Negara Untuk Mendukung Penyelenggaraan Tugas K/L dan Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal Tujuan dalam Tema Pembiayaan APBN adalah Mewujudkan kapasitas pembiayaan yang mampu memberikan daya dukung bagi kesinambungan fiskal d. ii. Berkelanjutan. DAN TUJUAN KEMENTERIAN KEUANGAN 2. Profesional. yang dimaksud dengan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara adalah Kementerian Keuangan sebagai lembaga/institusi yang mempunyai tugas menghimpun dan mengalokasikan keuangan negara dan mengelola kekayaan negara. Misi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan adalah Mewujudkan industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai penggerak dan penguat perekonomian nasional yang tangguh dan berdaya saing global. Hati-hati (Prudent). Dipercaya adalah semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat karena pengelolaan keuangan dan kekayaan negara dilakukan secara transparan. MISI Misi Fiskal adalah Mengembangkan Kebijakan Fiskal yang Sehat. dan keterbukaan. Akuntabel adalah pengelolaan keuangan dan kekayaan negara yang mengacu pada praktek terbaik internasional yang berlandaskan asas profesionalitas. dan Bertanggungjawab. c. yaitu semua penerimaan negara. dan bertanggungjawab. a.1. Membangun dan Mengembangkan Teknologi Informasi Keuangan yang Modern dan Terintegrasi serta Sarana dan Prasarana Strategis Lainnya. c. 2. Dari visi yang telah ditetapkan tersebut. a.2. Berintegritas Tinggi dan bertanggung jawab. 2. dan pembiayaan defisit anggaran dilakukan melalui mekanisme APBN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 34 – BAB II VISI. kepastian hukum. . b.3. MISI. Membangun dan Mengembangkan SDM yang Amanah. Demokratis. efisien. VISI Visi Kementerian Keuangan adalah Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara yang Dipercaya dan Akuntabel untuk Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera. Misi Kekayaan Negara adalah Mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal sesuai dengan asas fungsional. proporsionalitas. Misi Penguatan Kelembagaan adalah : i. belanja negara. dan Berkeadilan. Membangun dan Mengembangkan Organisasi Berlandaskan Administrasi Publik Sesuai dengan Tuntutan Masyarakat. b. iii.

kepabeanan. Alokasi belanja negara yang tepat sasaran. kepabeanan dan cukai. . yang Mampu Mewujudkan Industri Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Sebagai Penggerak Perekonomian Nasional yang Tangguh dan Berdaya Saing Global SASARAN STRATEGIS Sasaran Strategis dalam Tema Pendapatan Negara adalah: 1. dan akuntabel dalam pelaksanaan belanja negara. 2. . dan cukai yang tinggi Tingkat kepatuhan wajib pajak.4. Tingkat pendapatan yang optimal Tingkat pendapatan yang optimal adalah tingkat pencapaian penerimaan dalam negeri yang sesuai dengan target sebagaimana tercantum dalam APBN atau APBN. Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dan citra yang meningkat yang didukung oleh tingkat pelayanan yang handal Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi diukur berdasarkan hasil survey kepuasan stakeholder oleh lembaga independen. . b. f. tepat waktu. Tingkat kepatuhan wajib pajak. 2. Tata kelola yang yang tertib transparan.Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan belanja Negara sesuai dengan sistem dan prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. kepabeanan. .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 35 – d. . a.Alokasi belanja negara yang tepat sasaran adalah alokasi anggaran yang dapat mencapai kinerja program dan kegiatan kementerian negara/lembaga yang telah ditetapkan dalam APBN. Hasil survey yang positif akan meningkatkan citra Kementerian Keuangan di mata stakeholder. dan cukai terhadap peraturan perundangundangan yang pada akhirnya menunjukkan potensi pendapatan pajak. Tujuan dalam Tema Kekayaan Negara adalah Mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal serta menjadikan nilai kekayaan negara sebagai acuan dalam berbagai keperluan Tujuan dalam Tema Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank adalah Membangun Otoritas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang Amanah dan Profesional. 3.Alokasi belanja negara yang tepat waktu adalah pengesahan DIPA yang dapat diselesaikan sesuai jadwal yang ditetapkan.Alokasi belanja negara yang efisien adalah penuangan anggaran pada DIPA yang dapat digunakan untuk mendukung pencapaian sasaran yang ditetapkan.P 2. e.Alokasi belanja negara yang akuntabel adalah alokasi belanja negara yang proporsional sesuai dengan prioritas rencana kerja pemerintah dan dapat dipertanggungjawabkan pelaksanaannya. Tujuan dalam Tema Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan perbendaharaan negara yang profesional dan akuntabel serta mengedepankan kepuasan stakeholders atas kinerja perbendaharaan negara. Sasaran Strategis dalam Tema Belanja Negara : 1. efektif. efisien dan akuntabel .

Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan transfer ke daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . dan tepat sasaran. Terciptanya struktur portofolio utang yang optimal. akuntabel. kreditor. 2. akuntabel. serta meningkatkan sebaran investor. transparan. Terpenuhinya pembiayaan APBN melalui utang secara tepat waktu. tanggung jawab. dan kewenangan yang dimiliki oleh Pusat maupun daerah sesuai dengan norma dan standar yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. 4. Perimbangan Keuangan adalah pelaksanaan kebijakan hubungan keuangan Pusat dan daerah yang dapat menjamin keseimbangan keuangan terkait dengan besarnya beban. dan pelaku pasar lainnya) terhadap pengelolaan utang yang transparan. d. Terciptanya pasar SBN yang dalam.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 36 – Tata kelola yang transparan dan akuntabel adalah pengelolaan belanja Negara yang dilakukan secara terbuka sehingga proses pengelolaannya dapat diketahui oleh stakeholder dan dapat dipertanggungjawabkan. Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah. .Transparan adalah pelaksanaan kebijakan transfer ke daerah dapat diakses oleh seluruh stakeholder.Akuntabel adalah pelaksanaan kebijakan transfer ke daerah dapat dipertanggungjawabkan. Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan. Terciptanya kepercayaan para pemangku kepentingan (investor. cukup. Penyaluran belanja negara untuk mendukung pencapaian sasaran yang ditetapkan secara akuras dan tepat waktu berarti pelaksanaan penyaluran belanja dilakukan sesuai dengan norma waktu yang ditetapkan. 3. tepat jumlah. 4. dan efisien. tingkat bunga. dan tenor. - . aktif. c. Efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara. 3. Sasaran Strategis dalam Tema Pembiayaan APBN adalah: 1. . Mengembangkan pasar SBN dengan menyediakan alternaitif instrument SBN yang variatif. serta kondisi pasar keuangan. dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Pinjaman. dengan mempertimbangkan biaya dan risiko untuk mendukung kesinambungan fiskal. Mengoptimalkan struktur jatuh tempo SBN dengan memperhatikan jenis. Sasaran Strategis dalam Tema Perbendaharaan Negara adalah: 1. dan kredibel. Tersedianya informasi terkait pengelolaan utang kepada publik secara transparan dan akurat. Memenuhi target pembiayaan APBN melalui utang yang bersumber dari dalam negeri dan luar negeri. dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. kredibel. dan terjaganya kredibilitas pengelolaan utang dengan melakukan pembayaran kewajiban secara tepat waktu. dan likuid.

Hal tersebut dapat dilihat dari kinerja keuangan pada satker BLU. Peningkatan pelayanan masyarakat melalui penyempurnaan pengelolaan BLU. Sampai dengan saat ini LKPP yang telah disusun masih berdasarkan basis Kas Menuju Akrual. Selanjutnya secara bertahap LKPP akan disusun berdasarkan akrual basis. pelaporan dan pertanggungjawaban (ii) database yang terpusat dan memungkinkan perekaman data hanya sekali (single entry). Hal ini dikarenakan pengembalian dana tersebut mempunyai kontribusi dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri dan penerimaan defisit APBN. diharapkan satker yang menerapkan Pengelolaan Keuangan BLU akan dapat melaksanakan fungsinya secara lebih efektif dan efisien. Optimalisasi pengelolaan kas negara meliputi dalam hal perencanaan kas. Proyek SPAN adalah sebagai langkah awal untuk mewujudkan sistem perbendaharaan yang modern. (iv) penerapan proses bisnis yang mengacu pada best practice dan (v) menghubungkan secara on-line baik melalui satellite. Optimalisasi pengelolaan kas negara adalah dalam rangka mewujudkan efisiensi pengelolaan kas dengan mengedepankan prinsip "meminimumkan biaya" dan "memaksimalkan manfaat" bila terjadi kekurangan kas (cash mismatch) atau pemanfaatan kelebihan kas (idle cash). 5. peningkatan penilaian kinerja satker BLU serta pembinaan yang berkelanjutan. handal dan terpadu. optimalisasi manajemen kas. 3. handal dan terpadu. Salah satu kebijakan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah melalui penerapan akuntansi pemerintah modern sebagai dasar penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). yang dilaksanakan untuk menjamin ketersediaan kas dalam jumlah yang cukup. Untuk menciptakan sistem perbendaharaan negara yang modern. Melalui penyempurnaan regulasi terkait dengan pengelolaan BLU. 6. sehingga selanjutnya akan dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanannya kepada masyarakat. serta pencatatan. Optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya. dial-up dan sistem . didukung oleh sistem informasi keuangan yang terpadu (Integrated Financial Management and Information System) dengan karakteristik antara lain: (i) terintegrasi/terotomasi yang sangat mendukung proses pelaksanaan anggaran. mulai tahun anggaran 2009 telah dilaksanakan proyek penyempurnaan sistem perbendaharaan dan anggaran negara yang dikenal dengan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). (iii) memungkinkan 'what if analysis'.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 37 – 2. 4. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. sehingga diharapkan akan terwujud peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara serta peningkatan opini BPK (dari Disclaimer menjadi Wajar Tanpa Pengecualian) melalui LKPP yang lebih berkualitas. Terciptanya sistem perbendaharaan negara yang modern. pengendalian kas dan pemanfaatan idle kas. Salah satu bagian dari pengembalian dana dibidang investasi dan pembiayaan lainnya adalah pengembalian penerusan pinjaman. Dana penerusan pinjaman tersebut harus dioptimalkan pengembalian dan penyetorannya kembali ke APBN sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Optimalisasi pengelolaan kas.

. 4. Tersedianya infrastruktur pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang kredibel. resilience dan liquid. penghapusan dan pemindahtanganan barang milik negara. Terlaksananya perencanaan kebutuhan barang milik negara yang optimal Mengkoordinasikan pemberian data dan informasi keberadaan asset idle kementerian dan lembaga dalam rangka perencanaan pengadaan belanja modal dari kementerian dan lembaga. 4. Terwujudnya pemanfaatan BMN berdasarkan prinsip the highest and best use Pemanfaatan BMN adalah upaya penggunaan secara maksimal seluruh BMN untuk mendukung penyelenggaraan Tupoksi penyelenggaraan negara. mengumpulkan dan mengolah data kekayaan negara sehingga menjadi informasi eksekutif yang utuh. serta penghematan penggunaan anggaran dengan mengoptimalkan BMN idle yang ada di kementerian dan lembaga. Tercapainya peningkatan kualitas pelayanan pengelolaan kekayaan negara Pelayanan pengelolaan kekayaan Negara meliputi pelayanan permohonan penetapan status pemanfaatan. keadilan dan keterbukaan (fairness and transparency). 6. 178 KPPN dan Kementerian Negara/Lembaga. g. Terlaksananya penatausahaan kekayaan negara yang handal dan akuntabel Penatausahaan kekayaan negara yang handal dan akuntabel adalah tercatatnya seluruh kekayaan negara/BMN dalam daftar barang baik di kementerian dan lembaga sebagai pengguna dan di Kementerian Keuangan sebagai pengelola. penggunaan. Sasaran Strategis Pembelajaran dan Pertumbuhan dalam menunjang pencapaian tujuan strategis 6 tema pokok adalah: f. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sarana investasi yang menarik dan kondusif dan sarana pengelolaan risiko yang handal. 30 Kanwil Ditjen Perbendaharaan. 3. Terwujudnya database nilai kekayaan negara yang kredibel Mendapatkan. akurat. 5.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 38 – jaringan lainnya Ditjen Anggaran. efisien dan kompetitif. 5. Terwujudnya industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang stabil. 2. Sasaran Strategis dalam Tema Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank adalah: 1. Sasaran Strategis dalam Tema Kekayaan Negara adalah: 1. tepat waktu. Terwujudnya regulator bidang pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan profesional. e. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses. Ditjen Perbendaharaan. 2. 3. dapat diandalkan dan berstandar internasional. Tersedianya kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum. dan dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan bagi pimpinan Kementerian Keuangan.

SOP (Prosedur Operasi Standar) adalah standar yang dijadikan panduan bagaimana suatu kegiatan dilaksanakan. . dan Efisien) 4. Akuntabilitas.Fungsi unit organisasi merupakan fungsi yang telah disusun berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan. SOP yang disusun harus memenuhi prinsip efisiensi. Terwujudnya good governance. Terwujudnya organisasi yang handal dan modern. Terwujudnya SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi. . Good Governance adalah terciptanya tata kelola pemerintahan dalam menerapkan prinsip Good Governance (Transparansi. 5. Tercapainya akuntabilitas laporan keuangan. Responsiveness. Terwujudnya dan termanfaatkannya TIK yang terintegrasi. monitoring dan review penyusunan Laporan Keuangan pada unit-unit di lingkungan Kementerian Keuangan dan Laporan Keuangan BAPP. waktu penyelesaian. . sehingga akan memberikan kepastian mengenai apa yang harus dilaksanakan. Sasaran strategis ini terkait dengan product/service yang dihasilkan oleh Itjen yang difokuskan pada hasil pengawasan yang dapat memberikan nilai tambah bagi kinerja Depkeu melalui asistensi. dan biaya (bila ada biaya). Efektifitas. Sistem informasi/aplikasi yang ada di seluruh lingkungan Kementerian Keuangan diupayakan terintegrasi didukung dengan kualitas layanan infrastruktur yang prima. Sistem rekrutmen yang kredibel dan pengembangan SDM tertata yang tertata dan berkelanjutan diharapkan menghasilkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi dalam mengelola Keuangan Negara 2. Responsibilitas. Pengembangan organisasi dilakukan berdasarkan fungsi masing-masing unit organisasi dan SOP yang dimiliki.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 39 – 1. 3.

(ix) Penyediaan dana penjaminan Rp 2 triliun per tahun untuk Kredit Usaha Kecil Menengah. (iv) Peningkatan Daya Listrik di seluruh Indonesia. Selain itu dengan tersusunnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. (xi) Perumusan Kontribusi Indonesia dalam Isu Perubahan Iklim dan Lingkungan. memastikan penetapan skema co-financing bagi program pembangunan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (penciptaan ownership di daerah) serta Pemerintah dan Swasta/BUMN (Public-Private Partnership). Kreativitas. Surabaya. (v) Ketahanan Pangan. (xiv) Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana. (xiii) Penyelarasan antara Pendidikan dan Dunia Kerja. (vii) Penyempurnaan Peraturan Agraria dan Tata Ruang. Sebelas Prioritas Nasional meliputi : (i) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola. 17 Tahun 2007. (vi) Revitalisasi Pabrik Pupuk dan Gula. (iii) Kesehatan.1. dan Pasca-konflik. Terluar. (ii) Pendidikan. Terdepan. (viii) Pembangunan Infrastruktur. serta Temu Nasional. Kontrak Kinerja Menteri Keuangan dengan Presiden termasuk didalamnya Program 100 hari KIB II.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 40 – BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI 3. Renstra ini telah mengakomodir sebelas (11) Prioritas Nasional dan lima belas (15) Program Pilihan Presiden. mengoperasikan secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor sebelum Januari 2010. Makasar. mengevaluasi sistem dan . (iii) Penanggulangan Terorisme. yang merupakan RPJM ke-2 disusun berpedoman pada RPJP Nasional Tahun 2005-2025 sebagaimana dituangkan dalam UU No. (viii) energi. (xii) Reformasi Kesehatan Masyarakat. dan tenggat waktu. yaitu: memastikan optimalisasi jam kerja operasional pelayanan kepelabuhanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Jakarta. dan Inovasi Teknologi.(v) Peningkatan Produksi dan Ketahanan Pangan. menyempurnakan Rencana Strategis Kementerian Tahun 2009-2014 melalui koordinasi yang efektif dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Medan) sebelum Desember 2010. (ii) Memastikan tercapainya target capaian Program 100 Hari. (x) Penetapan Skema Pembiayaan dan Investasi. rencana aksi kementerian. Kontrak Kinerja Menteri Keuangan dengan Presiden termasuk Program 100 Hari KIB II meliputi : (i) Memastikan tersusunnya Rencana Stategis Kementerian Tahun 2010-2014. indikator kinerja utama. yaitu: menyusun usulan Rencana Strategis Kementerian Tahun 2009-2014 yang terdiri dari tahapan kerja. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL Arah kebijakan dan strategi nasional yang dituangkan dalam RPJM Nasional Tahun 2009-2014. (xi) Kebudayaan. (ix) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana. (x) Daerah Tertinggal. (ii) Revitalisasi Industri Pertahanan. memastikan penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi secara Elektronika (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota dimulai di Batam sebelum Januari 2010. (vi) Infrastruktur. Lima belas Program Pilihan Presiden meliputi : (i) Pemberantasan Mafia Hukum. (vii) Iklim Investasi dan Iklim Usaha. (iv) Penanggulangan kemiskinan. (xv) Sinergi antara Pusat dan Daerah.

memastikan beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. Memastikan penerapan sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota. memastikan pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. peraturan. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. tepat jumlah. memastikan percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangan di tingkat pusat maupun daerah hingga tercapai keselarasan arah dalam implementasi pembangunan diantaranya penyelesaian kajian 12. (viii) Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI. Melaksanakan reformasi bidang pelayanan umum.000 peraturan daerah selambatlambatnya Tahun 2011. pertanian. meningkatkan kemampuan dan peran Republik Indonesia dalam diplomasi ekonomi dan keuangan internasional. (v) Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi yaitu mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturan-peraturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 41 – meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah. listrik. memastikan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum Tahun 2012. (iv) . dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan kementeriannya secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektifitas implementasi perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh pejabat yang ditunjuk Presiden untuk memimpin reformasi pelayanan umum. dimulai dari Batam. (vii) Mencapai sasaran-sasaran Rencana Strategis Kementerian Tahun 2010-2014. Percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Customs Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. yang mencakup namun tidak terbatas pada: Memastikan konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kementerian/lembaga selambat-lambatnya Tahun 2011. dan terjangkau. menuntaskan reformasi administrasi dan pelayanan perpajakan dan bea cukai. pupuk. (iii) Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. yaitu mengkaji ulang dan mengusulkan perbaikan kebijakan. dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan. pembatalan Peraturan Daerah bermasalah dan pengurangan biaya untuk bisnis seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). memastikan peningkatan investasi di bidang pangan. (vi) Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi yaitu mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM. penyediaan pembiayaan yang terjangkau.

PP 54/2005 dan PP 54/2008. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN. (iv) Isu Peraturan yang tidak sinkron dengan program aksi melakukan Revisi Keppres 80/2003. (v) Isu Pembiayaan dengan program aksi kejelasan lanjutan pemutihan KUT. (iii) Isu investasi dan kemandirian pengelolaan energi dengan program aksi memberikan insentif khusus (fiskal) untuk pelaksanaan optimalisasi produksi migas. b. memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM. Revisi Perpres 67/2005: Pemerintah memberikan dukungan agar investasi yang tidak layak menjadi layak melalui berbagai kebijakan antara lain: Sistem tender disederhanakan dan dimungkinkan penunjukan langsung. UU 33/2004. (vi) Isu Pengembangan dan Penerapan Teknologi dengan program aksi penghapusan bea masuk alat dan mesin pertanian sepanjanng tidak menghambat industri dalam negeri. Bidang Energi. Menerbitkan Perpres tentang proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10. Bentuk dukungan pemerintah bergradasi dari nol hingga pemerintah yang membangun terlebih dahulu baru dikerjasamakan dengan swasta. program aksi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan untuk menanggapi isu-isu yang berkembang antara lain: (i) Isu jaminan pasokan energi dengan program aksi merevisi Perpres 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM tertentu. program aksi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan untuk menanggapi isuisu yang berkembang antara lain: (i) Isu pengadaan tanah. sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 42 – Hasil Temu Nasional di beberapa bidang meliputi: Bidang Infrastruktur. Dibuat ketentuan peralihan yang berisi : bagi badan usaha yang telah menandatangani Perjanjian Kerjasama sebelum berlakunya Perpres 67/2005 dan mengalami penurunan kelayakan investasi maka diberlakukan Perpres ini. layak secara ekonomi tetapi tidak layak finansial. Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi listrik. (iv) Isu renewable energy dengan program aksi: menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak. dengan program aksi Pengelolaan dana BLU Tanah dan Land Capping sebaiknya berada di 1 tangan (DJ-BM) supaya kontrolnya jelas dan birokrasinya lebih sederhana. dan tidak layak ekonomi dan tidak layak finansial.000 MW tahap II. Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi BBM. Revisi Perpres 67/2005: PPP diatur dengan memahami kondisi investasi infrastruktur yang layak secara finansial. (ii) Isu sistem harga yang kompetitif dengan program aksi: Merevisi Perpres No. (iii) Isu Revitalisasi Peran Pemerintah dalam Percepatan Pembangunan Infrastruktur dengan program aksi perlu dipersiapkan pengaturan mengenai negosiasi pada IPP Kelistrikan. menerbitkan Perpres untuk penurunan pajak 5 persen dalam jangka waktu 15 tahun untuk PLTP (Panas Bumi). . Ide proyek dari investor (unsolicited) dimungkinkan. memberikan insentif untuk pembangunan refinery baru. dengan program aksi: a. (ii) Isu skema Public Private Partnership (PPP).

(v) Isu Pasar dengan program aksi Review PP No. 34/1996 ttg BMAD & BM Imbalan. Penghapusan VAT untuk industri media (kertas dan koran). Transparansi dalam penetapan nilai pabean. akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangan-tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. Untuk memperkuat daya saing bangsa. VAT dikembalikan kepada wisatawan. pembangunan nasional dalam jangka panjang diarahkan untuk (i) mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. (viii) Isu Pariwisata dengan program aksi: menghapus pajak barang mewah atas bahan makanan dan minuman. pembebasan PPN atas bahan baku perak. 7 hari seminggu. (iv) Isu Kepabeanan dengan program aksi : Review prosedur pemeriksaan bea cukai agar tidak terjadi pemeriksaan ganda. 7 hari seminggu. (vi) Isu bahan baku/struktur industry dengan program aksi: penetapan pajak ekspor untuk produkproduk mentah (bahan baku). (iii) meningkatkan penguasaan. Penghapusan PNBP dokumen untuk perusahaan Freight Forwarder. RPJM ke-2 ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian.1. Kemampuan bangsa untuk berdaya saing tinggi adalah kunci bagi tercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa. dan pelayanan di dalam negeri. 3. Reformasi kepabeanan melalui jalur prioritas dapat ditingkatkan dan diperluas kepada perusahaan yang memenuhi persyaratan. Pajak Masukan dalam masa belum produksi dapat dikreditkan seluruhnya dan tidak perlu dibayar kembali). program aksi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan untuk menanggapi isu-isu yang berkembang antara lain: (i) Isu infrastruktur transport dengan program aksi operasional seluruh pihak berwenang di pelabuhan menjadi 24 jam sehari. crumb rubber. (ii) memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan di setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi.1 Prioritas Nasional di Bidang Keuangan Berlandaskan pelaksanaan. Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yg melakukan pelatihan peningkatan mutu SDM. dan penciptaan . Amandemen UU PPN antara lain (Restitusi PPN bisa dilakukan setiap bulan. (ii) Isu bank dan pendanaan dengan program aksi optimalisasi dan meningkatkan kemampuan LPEI sebagai lembaga pembiayaan ekspor (trade finance) (iii) Isu perpajakan dengan program aksi diperlukan UU tentang "Pengampunan Pajak" untuk semua lapisan wajib pajak. pemanfaatan. Jam kerja kepabeanan 24 jam sehari.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 43 – Bidang Industri dan Jasa. dan sebagai keberlanjutan RPJM ke-1. distribusi. Penyempurnaan KMK No 575 Tahun 2000 dan penerbitan peraturan percepatan restitusi pajak sehingga paling lambat 3 bulan. sheet dan crepe. pencapaian. Percepatan operasionalisasi National Single Window. (vii) Isu teknologi dengan program aksi : penyediaan anggaran R&D lebih besar oleh pemerintah dengan alokasi yang efektif dan efisien. Daya saing yang tinggi. insentif potongan PPh 5 persen bagi perusahaan yang melakukan R&D.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 44 – pengetahuan. komitmen nasional di berbagai fora perjanjian ekonomi internasional.5 persen pada Tahun 2010 menjadi 7. Sementara itu. Dalam rangka meningkatkan kemandirian. Dalam lima tahun ke depan. peran pinjaman luar negeri dijaga pada tingkat yang aman. Selain itu. sumber utama penerimaan dalam negeri yang berasal dari pajak. nilai produk domestik bruto (PDB) akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. baik di dalam penyediaan pelayanan dasar. serta (v) melakukan reformasi di bidang hukum dan aparatur negara. dan kepentingan nasional dengan mengutamakan kelompok masyarakat yang masih lemah. Dengan demikian. sejak Tahun 2010 kenaikan nilai PDB nominal mencapai lebih dari 800 triliun rupiah. semakin beragamnya lembaga keuangan akan memberikan alternatif pendanaan lebih banyak bagi seluruh lapisan masyarakat.000 . pertumbuhan ekonomi akan mengalami kenaikan dari 5. Setiap tahunnya.5 persen pada Tahun 2014. baik di perdesaan maupun di perkotaan. Dalam kurun waktu 2004 2009. dan dapat menjamin efektivitas pemanfaatan.7 persen. rata-rata pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5. Kepentingan utama pembiayaan pemerintah adalah penciptaan pembiayaan pembangunan yang dapat menjamin kemampuan peningkatan pelayanan publik. bertanggung jawab. maupun mendukung peningkatan daya saing ekonomi. baik jangka pendek maupun jangka panjang.2014 diperkirakan mencapai 6.5 persen. Secara nominal. Sektor keuangan dikembangkan agar senantiasa memiliki kemampuan di dalam menjaga stabilitas ekonomi dan membiayai tujuan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas serta mampu memiliki daya tahan terhadap kemungkinan gejolak krisis melalui implementasi sistem jaring pengaman sektor keuangan Indonesia. serta menjaga kemandirian dan kedaulatan ekonomi bangsa. prasarana dan sarana fisik serta ekonomi. setiap jenis investasi. sementara rata-rata pertumbuhan ekonomi selama Tahun 2010 . akan memeroleh sumber pendanaan yang sesuai dengan karakteristik jasa keuangan. sehingga pada Tahun 2014 nilai PDB nominal berada pada kisaran 10. peningkatan kontribusi lembaga jasa keuangan`bank dan nonbank dalam pendanaan pembangunan terutama peningkatan akses pendanaan bagi keluarga miskin. Optimisme ini muncul seiring dengan pemulihan ekonomi dunia yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya sekaligus pemulihan pada sektor keuangan. di pusat maupun di daerah agar mampu mendukung keberhasilan pembangunan di bidang-bidang lainnya. Perbaikan pengelolaan keuangan negara bertumpu pada sistem anggaran yang transparan. Perekonomian dikembangkan berlandaskan prinsip demokrasi ekonomi yang memperhatikan kepentingan nasional sehingga terjamin kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh masyarakat dan mendorong tercapainya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk meningkatkan profesionalisme aparatur negara dan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Pertumbuhan ini secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi lima tahun terakhir. bea dan cukai terus ditingkatkan efektivitasnya. serta peningkatan kualitas pertumbuhan perbankan nasional. Pengelolaan kebijakan perekonomian perlu memperhatikan secara cermat dinamika globalisasi. dan (iv) membangun infrastruktur yang maju.

stabilitas ekonomi yang terjaga serta kebijakan ekonomi yang pruden menjadi nilai tambah tersendiri dalam menarik investasi baik asing maupun domestik. ekspor dan impor. ivestasi. SBI 3 bulan diperkirakan mencapai 6. sejalan dengan situasi ekonomi dan keuangan yang semakin stabil dan tingkat inflasi yang terjaga. meskipun belum sesuai rencana.000 per US$1. nilai tukar rupiah.4 persen.5 persen.500 per UD$1. Pendapatan masyarakat dunia yang meningkat sebagai imbas dari perbaikan ekonomi dunia akan meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa. Nilai ini hampir mendekati dua kali lipat nilai PDB Tahun 2009.5 . lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Stabilnya nilai tukar ini akan berdampak positif pada perdagangan dunia dan produk Indonesia di pasar internasional akan semakin kompetitif. Sampai dengan akhir Tahun 2009. Pada Tahun 2010. tingkat inflasi ini mengalai penurunan sehingga pada Tahun 2014 dapat mencapai kisaran 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 45 – triliun rupiah. Krisis global yang melanda dunia. Iklim investasi yang semakin kondusif. Terjaganya indikator-indikator ini memberikan cukup ruang bagi Bank Indonesia untuk menyesuaikan kembali tingkat suku bunganya. yang pada gilirannya akan mendongkrak ekspor negara kita ke beberapa negara lain di dunia. secara bertahap suku bunga SBI 3 bulan ini akan menurun hingga mencapai 5 persen pada Tahun 2014. suku bunga SBI 3 bulan diproyeksikan mencapai 7.5 persen. Pada Tahun 2010 inflasi nasional diperkirakan mencapai 5 persen sedikit lebih tinggi dari perkiraan inflasi Tahun 2009. Peningkatan ekspor ini akan merangsang aktivitas ekonomi domestik dalam meningkatkan dan memperluas produksi sehingga daya tarik negara kita terhadap para investor asing akan semakin meningkat. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Tahun 2009 sehingga selama Tahun 2009 ratarata nilai tukar rupiah sebesar Rp10.500 dan rupiah mengalami penguatan. sejalan dengan membaiknya indikator ekonomi. indeks harga saham dan harga-harga komoditas mengarah pada satu titik perbaikan. Dengan semakin meningkatnya investasi di .000 per US$1 pada Maret 2009. Pada Tahun 2009 angka pengangguran di Indonesai. Kondisi perekonomian yang semakin membaik dan stabilitas harga yang terjaga akan mampu mengerem gejolak kenaikan harga-harga komoditas. inflasi nasional mencapai 2. Dan masalah pengangguran merupakan permasalahan klasik tiap negara. Hal ini berakibat pada tingkat inflasi lima tahun ke depan. Meningkatnya nilai PDB ini tidak terlepas dari peranan semua komponen yang mendukung dan memberikan kontribusi pada PDB seperti konsumsi. Dalam lima tahun ke depan. sejalan dengan inflation targeting. telah mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setelah menembus angka Rp12. indeks haraga saham mengalami kenaikan hingga mencapai 2. Perekonomian dunia yang membaik juga memberikan andil bagi peningkatan produksi dalam negeri. Peningkatan investasi ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru yang dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan penduduk dan akhirnya akan berakibat pada peningkatan konsumsi. nilai tukar rupiah tidak akan mengalami fluktuasi dan berada pada kisaran Rp10. secara perlahan rupiah terus mengalami apresiasi dan pada Oktober 2009 nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp9. Sampai dengan akhir September 2009.500 per US$1. Dalam lima tahun ke depan. Hampir semua indikator ekonomi seperti inflasi. berdampak pula pada menurunnya jumlah lapangan kerja. Perbaikan kondisi ekonomi Tahun 2009 berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan.8 persen (yoy). Namun dalam perjalanannya.

terdepan.75 persen pada 2006 menjadi 14. angka kemiskinan ini diproyeksikan mengalami penurunan lebih lanjut. restrukturisasi BUMN. Peningkatan kualitas pelayanan publik yang ditopang oleh efisiensi struktur pemerintah di pusat dan di daerah. (6) infrastruktur. Struktur: Konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kementerian/lembaga yang menangani aparatur negara yaitu Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN). seperti di bidang keberdayaan UMKM. selama periode 2006-2009 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan yang cukup drastis dari 39.3 juta orang pada 2006 menjadi 32.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 46 – dalam negeri.2014. dan Lembaga Administrasi Negara (LAN) pada 2010. PRIORITAS NASIONAL Visi dan Misi pemerintah 2009-2014. hingga pemanfaatan tanah dan penataan ruang bagi kepentingan rakyat banyak selambat-lambatnya 2014. kapasitas pegawai pemerintah yang memadai.53 juta orang pada Tahun 2009 atau tingkat pengangguran menurun dari 17. (4) penanggulangan kemiskinan. (8) energi. dan transparan. kemiskinan juga menjadi salah satu permasalahan dan tantangan berat yang perlu segera dicari jalan keluarnya. Pada Tahun 2010 tingkat kemiskinan diperkirakan mencapai 13 persen dan pada Tahun 2014 pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan berada pada kisaran 8. Dalam lima tahun ke depan sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah Tahun 2010 . untuk periode Tahun 2010-2014 pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran secara bertahap dari 8 persen pada 2010 persen menjadi 5 persen pada Tahun 2014. (10) daerah tertinggal. makin luasnya lapangan kerja yang terbentuk. Sebagian besar sumber daya dan kebijakan akan diprioritaskan untuk menjamin implementasi dari 11 prioritas nasional yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. maka penurunan tingkat pengangguran diperkirakan masih tetap berlangsung pada tahun-tahun mendatang. pemanfaatan sumber daya kelautan. perlu dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program aksi prioritas sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. terluar. akuntabel. Prioritas 1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemantapan tata kelola pemerintahan yang lebih baik melalui terobosan kinerja secara terpadu. dan data kependudukan yang baik. dan paska konflik. substansi inti dari reformasi birokrasi dan tata kelola adalah : 1. (3) kesehatan. serta (11) kebudayaan. (7) iklim investasi dan usaha. Seperti halnya pengangguran.15 persen pada Tahun 2009. Oleh karena itu. restrukturisasi lembaga pemerintah lainnya. kretivitas. Oleh karena itu. . pengelolaan energi. (9) lingkungan hidup dan bencana. dan inovasi teknologi. penuh integritas. (5) ketahanan pangan. Sebelas Program aksi di bawah ini dipandang mampu menjawab sejumlah tantangan yang dihadapi oleh bangsa dan negara di masa mendatang. dan makin mudahnya akses penduduk terhadap sumber-sumber ekonomi. taat kepada hukum yang berwibawa. Badan Kepegawaian Negara (BKN). (2) pendidikan. Menurut data historis.5 persen.

keluhuran budi pekerti. 2. terjangkau. 6. Akses pendidikan tinggi: Peningkatan APK pendidikan tinggi dari 18% di 2009 menjadi 25% di 2014. 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan dana perimbangan daerah. 7. Regulasi: Percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangan di tingkat pusat maupun daerah hingga tercapai keselarasan arah dalam implementasi pembangunan. 3. Penegakan Hukum: Peningkatan integrasi dan integritas penerapan dan penegakan hukum oleh seluruh lembaga dan aparat hukum. pendidikan. namun pendidikan menyeluruh yang memperhatikan kemampuan sosial. dan efisien menuju terangkatnya kesejahteraan hidup rakyat. Pemantapan/rasionalisasi implementasi BOS. Oleh karena itu. Prioritas 2: Pendidikan Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas. penurunan harga buku standar di tingkat sekolah dasar dan menengah sebesar 30-50% selambat-lambatnya 2012 dan penyediaan sambungan internet ber-content pendidikan ke sekolah tingkat menengah selambat-lambatnya 2012 dan terus diperluas ke tingkat sekolah dasar. promosi. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara ketersediaan tenaga terdidik dengan kemampuan: 1) menciptakan lapangan kerja atau kewirausahaan dan 2) menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja. 3. Data Kependudukan: Penetapan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan pengembangan Sistem Informasi dan Administrasi Kependudukan (SIAK) dengan aplikasi pertama pada Kartu Tanda Penduduk selambat-lambatnya pada 2011. . dan karakter bangsa yang kuat. dan 3) penyempurnaan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. penempatan. diantaranya penyelesaian kajian 12.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 47 – 2. dan mutasi PNS secara terpusat selambat-lambatnya 2011. 5. Metodologi: Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan ujian (teaching to the test). kecintaan terhadap budaya bahasa Indonesia melalui penyesuaian sistem Ujian Akhir Nasional pada 2011 dan penyempurnaan kurikulum sekolah dasar-menengah sebelum tahun 2011 yang diterapkan di 25% sekolah pada 2012 dan 100% pada 2014. relevan. Sumber daya manusia: Penyempurnaan pengelolaan PNS yang meliputi sistem rekrutmen. Sinergi antara pusat dan daerah: Penetapan dan penerapan sistem Indikator Kinerja Utama Pelayanan Publik yang selaras antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. watak. 4. substansi inti program aksi bidang pendidikan adalah sebagai berikut: 1.000 peraturan daerah selambatlambatnya 2011. kemandirian. Otonomi daerah: Penataan otonomi daerah melalui: 1) Penghentian/pembatasan pemekaran wilayah. budi pekerti. Akses pendidikan dasar-menengah: Peningkatan Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan dasar dari 95% di 2009 menjadi 96% di 2014 dan APM pendidikan setingkat SMP dari 73% menjadi 76% dan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan setingkat SMA dari 69% menjadi 85%.

) 5. Penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 307 per 100. Sarana kesehatan: Ketersediaan dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit berakreditasi internasional di minimal 5 kota besar di Indonesia dengan target 3 kota pada 2012 dan 5 kota pada 2014.000 kelahiran pada 2008 menjadi 118 pada 2014. Prioritas 3: Kesehatan Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif. Program kesehatan masyarakat: Pelaksanaan Program Kesehatan Preventif Terpadu yang meliputi pemberian imunisasi dasar kepada 90% balita pada 2014. pemberdayaan masyarakat dan perluasan kesempatan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah. melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan diantaranya dengan perluasan penyediaan air bersih. revitalisasi peran Pengawas Sekolah sebagai entitas quality assurance. Kurikulum: Penataan ulang kurikulum sekolah yang dibagi menjadi kurikulum tingkat. substansi inti program aksi bidang kesehatan adalah sebagai berikut: 1. dan Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten.000 kelahiran pada 2008 menjadi 24 pada 2014. Penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum 2014. Oleh karena itu. dan sekolah sehingga dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab kebutuhan SDM untuk mendukung pertumbuhan nasional dan daerah dengan memasukkan pendidikan kewirausahaan (diantaranya mengembangkan model link and mach.0 tahun pada 2014. serta tingkat kematian bayi dari 34 per 1. daerah. 3. 5.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 48 – 4. Program KB: Peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23. 2.1% pada 2009 menjadi 8-10% pada 2014 dan perbaikan distribusi perawatan dengan pelindungan sosial yang berbasis keluarga. Bantuan Sosial Terpadu: Integrasi program perlindungan sosial berbasis keluarga yang mencakup program Bantuan Langsung Tunai (BLT) baik yang bersifat insidensial atau . pengurangan wilayah kumuh sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup dari 70. dan pencapaian keseluruhan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. tidak hanya kuratif. Asuransi Kesehatan Nasional: Penerapan Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga miskin dengan cakupan 100% pada 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara 2012-2014. Pengelolaan: Pemberdayaan peran Kepala Sekolah sebagai manager sistem pendidikan yang unggul. 4.6 tahun pada 2009 menjadi 72. Obat: Pemberlakuan Daftar Obat Esensial Nasional sebagai dasar pengadaan obat di seluruh Indonesia dan pembatasan harga obat generik bermerek pada 2010. nasional. substansi inti program aksi penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena itu.500 klinik pemerintah dan swasta selama 2010-2014. mendorong aktivasi peran Komite Sekolah untuk menjamin keterlibatan pemangku kepentingan dalam proses pembelajaran. Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan Penurunan tingkat kemiskinan absolut dari 14.

4. dan Subsidi: Dorongan untuk investasi pangan. pertanian. beasiswa bagi anak keluarga berpendapatan rendah. penggunaan unified database untuk penetapan sasaran program mulai 2009-2010. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. pengairan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 49 – kepada kelompok marginal. jaringan listrik. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. peningkatan daya saing produk pertanian. Pangan dan Gizi: Peningkatan kualitas gizi dan keanekaragaman pangan melalui pola pangan harapan. Investasi. Penelitian dan Pengembangan: Peningkatan upaya penelitian dan pengembangan bidang pertanian yang mampu menciptakan benih unggul dan hasil peneilitian lainnya menuju kualitas dan produktivitas hasil pertanian nasional yang tinggi. substansi inti program aksi ketahanan pangan adalah sebagai berikut: 1. Pengembangan Kawasan dan Tata Ruang Pertanian: Penataan regulasi untuk menjamin kepastian hukum atas lahan pertanian. 4. dan penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang akurat sebagai dasar keputusan dan alokasi anggaran. penyediaan pembiayaan yang terjangkau.1 trilyun pada 2010. Tim Penanggulangan Kemiskinan: Revitalisasi Komite Nasional Penanggulangan Kemiskinan di bawah koordinasi Wakil Presiden. pengembangan areal pertanian baru seluas 2 juta hektar. PNPM Mandiri: Penambahan anggaran PNPM Mandiri dari Rp 10. 3. 3. program keluarga harapan. dan Parenting Education mulai 2010 dan diperluas menjadi program nasional mulai 20112012. tepat jumlah. pemenuhan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Rp 3 milyar per kecamatan untuk minimal 30% kecamatan termiskin di pedesaan.7% per tahun dan Indeks Nilai Tukar Petani sebesar 115-120 pada 2014. Kredit Usaha Rakyat (KUR): Pelaksanaan penyempurnaan mekanisme penyaluran KUR mulai 2010 dan perluasan cakupan KUR mulai 2011. dan terjangkau. Pembiayaan. Prioritas 5: Ketahanan Pangan Peningkatan ketahanan pangan dan lanjutan revitalisasi pertanian untuk mewujudkan kemandirian pangan.3 trilyun pada 2009 menjadi Rp 12. bantuan pangan. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). peningkatan pendapatan petani. dan integrasi secara selektif PNPM Pendukung. serta kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. 5. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. jaminan sosial bidang kesehatan. Infrastruktur: Pembangunan dan pemeliharaan sarana transportasi dan angkutan. penertiban serta optimalisasi penggunaan lahan terlantar. pupuk. Peningkatan pertumbuhan PDB sektor pertanian sebesar 3. 2. Oleh karena itu. serta teknologi komunikasi dan sistem informasi nasional yang melayani daerahdaerah sentra produksi pertanian demi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi serta kemampuan pemasarannya. 2. Lahan. .

000 keluarga yang kurang mampu pada 2012. Prioritas 6: Infrastruktur Pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian negara kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat.370 km pada 2014. Jalan: Penyelesaian pembangunan Lintas Sumatera. Adaptasi Perubahan Iklim: Pengambilan langkah-langkah kongkrit terkait adaptasi dan antisipasi sistem pangan dan pertanian terhadap perubahan iklim. Bandung. Kalimantan. diantaranya Banjir Kanal Timur Jakarta sebelum 2012 dan penanganan secara terpadu Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo sebelum 2013. Sulawesi. Telekomunikasi: Penuntasan pembangunan jaringan serat optik di Indonesia bagian timur sebelum 2013 dan maksimalisasi tersedianya akses komunikasi data dan suara bagi seluruh rakyat. Perhubungan: Pembangunan jaringan prasarana dan penyediaan sarana transportasi antar-moda dan antar-pulau yang terintegrasi sesuai dengan Sistem Transportasi Nasional dan Cetak Biru Transportasi Multimoda dan penurunan tingkat kecelakaan transportasi sehingga pada 2014 lebih kecil dari 50% keadaan saat ini. termasuk penyelesaian pembangunan angkutan kereta listrik di Jakarta (MRT dan Monorail) selambatlambatnya 2014. Nusa Tenggara Barat. Nusa Tenggara Timur. 5. Tanah dan tata ruang: Konsolidasi kebijakan penanganan dan pemanfaatan tanah untuk kepentingan umum secara menyeluruh di bawah satu atap dan pengelolaan tata ruang secara terpadu. dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). 7. Jawa. Bali. dan Papua sepanjang total 19. Oleh karena itu. 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 50 – 6. Prioritas 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha Peningkatan investasi melalui perbaikan kepastian hukum. 6. Kepastian hukum: Reformasi regulasi secara bertahap di tingkat nasional dan daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan yang tidak menimbulkan ketidakjelasan dan inkonsistensi dalam implementasinya.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi. Medan) sesuai dengan Cetak Biru Transportasi Perkotaan. substansi inti program aksi bidang infrastruktur adalah sebagai berikut: 1. substansi inti program aksi bidang iklim investasi dan iklim usaha adalah sebagai berikut: 1. Perumahan rakyat: Pembangunan 685. . Surabaya. penyederhanaan prosedur. Oleh karena itu. 4. 2. Pengendalian banjir: Penyelesaian pembangunan prasarana pengendalian banjir. 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836. Transportasi perkotaan: Perbaikan sistem dan jaringan transportasi di 4 kota besar (Jakarta. perbaikan sistem informasi.

dan nuklir secara bertahap. 4. dan produksi minyak bumi sebesar lebih dari 1. dan Denpasar. substansi inti program aksi bidang energi adalah sebagai berikut: 1. Kebijakan ketenagakerjaan: Sinkronisasi kebijakan ketenagakerjaan dan iklim usaha dalam rangka penciptaan lapangan kerja. Oleh karena itu. Prioritas 8: Energi Pencapaian ketahanan energi nasional yang menjamin kelangsungan pertumbuhan nasional melalui restrukturisasi kelembagaan dan optimasi pemanfaatan energi alternatif seluas-luasnya. Percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 51 – 2. Sistem informasi: Beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor. pupuk dan industri hilir lainnya. KEK: Pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum 2012. 2. Surabaya. 5. 4. Penyederhanaan prosedur: Penerapan sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik (SPSIE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota yang dimulai di Batam. 3.000 MW pada 2012 dan 5. pembatalan perda bermasalah dan pengurangan biaya untuk memulai usaha seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). Kapasitas energi: Peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar rata-rata 3. Energi alternatif: Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2. 6. Logistik nasional: Pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. Hasil ikutan dan turunan minyak bumi/gas: Revitalisasi industri pengolah hasil ikutan/turunan minyak bumi dan gas sebagai bahan baku industri tekstil. penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan di Palembang. Restrukturisasi BUMN: Transformasi dan konsolidasi BUMN bidang energi dimulai dari PLN dan Pertamina yang selesai selambat-lambatnya 2010 dan diikuti oleh BUMN lainnya. 6.000 MW per tahun mulai 2010 dengan rasio elektrifikasi yang mencakup 62% pada 2010 dan 80% pada 2014.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya. Konversi menuju penggunaan gas: Perluasan program konversi minyak tanah ke gas sehingga mencakup 42 juta Kepala Keluarga pada 2010. 3. . 5. Kebijakan: Pengambilan kewenangan atas kebijakan energi ke dalam Kantor Presiden untuk memastikan penanganan energi nasional yang terintegrasi sesuai dengan Rencana Induk Energi Nasional.2 juta barrel per hari mulai 2014. microhydro.

serta Sistem Peringatan Dini Iklim (CEWS) pada 2013. . dan penekanan laju deforestasi secara sungguh-sungguh diantaranya melalui kerjasama lintas kementerian terkait serta optimalisasi dan efisiensi sumber pendanaan seperti dana Iuran Hak Pemanfaatan Hutan (IHPH). 3. peningkatan hasil rehabilitasi seluas 500. dan pasca-konflik selambat-lambatnya dimulai pada 2011. 4. dan 2) pembentukan tim gerak cepat (unit khusus penanganan bencana) dengan dukungan peralatan dan alat transportasi yang memadai dengan basis di dua lokasi strategis (Jakarta dan Malang) yang dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. dan pasca-konflik ditujukan untuk pengutamaan dan penjaminan pertumbuhan di daerah tertinggal. Keutuhan wilayah: Penyelesaian pemetaan wilayah perbatasan RI dengan Malaysia. Kerjasama internasional: Pembentukan kerjasama dengan negara-negara tetangga dalam rangka pengamanan wilayah dan sumber daya kelautan. 3. Prioritas 10: Daerah Tertinggal. Oleh karena itu. terluar. Perubahan iklim: Peningkatan keberdayaan pengelolaan lahan gambut. Papua Nugini. Penghentian kerusakan lingkungan di 11 Daerah Aliran Sungai yang rawan bencana mulai 2010 dan seterusnya. terluar serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pasca-konflik dengan substansi inti sebagai berikut: 1. Kebijakan: Pelaksanaan kebijakan khusus dalam bidang infrastruktur dan pendukung kesejahteraan lainnya yang dapat mendorong pertumbuhan di daerah tertinggal. 2. Penurunan jumlah hotspot kebakaran hutan sebesar 20% per tahun dan penurunan tingkat polusi keseluruhan sebesar 50% pada 2014. Terluar. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). dan Dana Reboisasi. Terdepan. terdepan. Timor Leste. terdepan. substansi inti program aksi bidang lingkungan hidup dan pengelolaan bencana adalah sebagai berikut: 1.000 ha per tahun. terdepan. Pengendalian Kerusakan Lingkungan: Penurunan beban pencemaran lingkungan melalui pengawasan ketaatan pengendalian pencemaran air limbah dan emisi di 680 kegiatan industri dan jasa pada 2010 dan terus berlanjut. terluar. Penanggulangan bencana: Peningkatan kemampuan penanggulangan bencana melalui: 1) penguatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam usaha mitigasi risiko serta penanganan bencana dan bahaya kebakaran hutan di 33 propinsi. disertai penguasaan dan pengelolaan risiko bencana untuk mengantisipasi perubahan iklim. 2. dan Pasca-Konflik Program aksi untuk daerah tertinggal.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 52 – Prioritas 9: Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana Konservasi dan pemanfaatan lingkungan hidup mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang keberlanjutan. dan Filipina pada 2010. Sistem Peringatan Dini: Penjaminan berjalannya fungsi Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS) dan Sistem Peringatan Dini Cuaca (MEWS) mulai 2010 dan seterusnya.

Oleh karena itu. karya seni. Daerah tertinggal: Pengentasan daerah tertinggal di sedikitnya 50 kabupaten paling lambat 2014. Penciptaan: Pengembangan kapasitas nasional untuk pelaksanaan Penelitian. 2. Selain itu. untuk memperkaya khazanah artistik dan intelektual bagi tumbuh-mapannya jati diri dan kemampuan adaptif kompetitif bangsa yang disertai pengembangan inovasi. Indikator Kinerja Kegiatan tersebut adalah (1) Persentase jumlah kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dapat . pendalaman dan pagelaran seni budaya di kota besar dan ibu kota kabupaten selambat-lambatnya Oktober 2012. diantaranya Penyelesaian Kajian 12. 4. dan (3) Iklim Investasi dan Iklim Usaha. substansi inti program aksi bidang kebudayaan. Penciptaan dan Inovasi dan memudahkan akses dan penggunaannya oleh masyarakat luas. pada Substansi Inti Regulasi tentang Percepatan Harmonisasi dan Sinkronisasi Peraturan Perundangan di Tingkat Pusat maupun Daerah hingga Tercapai Keselarasan Arah Dalam Implementasi Pembangunan. 5. Kementerian Keuangan melaksanakan Kegiatan Prioritas Nasional Perumusan Kebijakan. Indikator Kinerja Kegiatan tersebut adalah (1) Persentase ketepatan jumlah penyaluran jumlah dana transfer ke daerah dan (2) Ketepatan waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah. Inovasi Teknologi: Peningkatan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif yang mencakup pengelolaan sumber daya maritim menuju ketahanan energi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 53 – 4. dan Pengelolaan Transfer Ke Daerah. kreativitas. (2) Ketahanan Pangan. sesuai dengan Tugas dan Fungsinya. Untuk mendukung Prioritas Nasional Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola pada Substansi Inti Otonomi daerah tentang Peningkatan Efisiensi dan Efektivitas Penggunaan Dana Perimbangan Daerah. Kebijakan: Peningkatan perhatian dan kesertaan Pemerintah dalam program-program seni budaya yang diinisiasi oleh masyarakat dan mendorong berkembangnya apresiasi terhadap kemajemukan budaya. dan pengembangan penguasaan teknologi dan kreativitas pemuda. dan inovasi teknologi adalah sebagai berikut: 1. Kreativitas. Sarana: Penyediaan sarana yang memadai bagi pengembangan. dan antisipasi perubahan iklim. Prioritas 11: Kebudayaan. 3. dan ilmu serta apresiasinya. Perawatan: Penetapan dan pembentukan pengelolaan terpadu untuk pengelolaan Cagar Budaya. Terkait dengan 11 Prioritas Nasional diatas. Kementerian Keuangan mendukung 3 (tiga) Prioritas Nasional yaitu: (1) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola.000 Peraturan Daerah selambat-lambatnya 2011. ilmu pengetahuan. Kementerian Keuangan melaksanakan Kegiatan Prioritas Nasional Perumusan Kebijakan. Bimbingan Teknis. pangan. dan Inovasi Teknologi Pengembangan dan perlindungan kebhinekaan budaya. dan teknologi yang dilandasi oleh keunggulan Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan. Bimbingan Teknis. revitalisasi museum dan perpustakaan di seluruh Indonesia sebelum Oktober 2011. Monitoring dan Evaluasi di bidang Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).

serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. Kementerian Keuangan melaksanakan 2 (dua) Kegiatan Prioritas Nasional yaitu (1) Perumusan kebijakan di bidang PPN. dan Subsidi tentang Dorongan untuk investasi pangan. (2) Sistem informasi dan (3) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). pertanian. PPSP. dan Bea Materai. (3) Persentase realisasi janji layanan public terkait pemberian tempat penimbunan berikat (TPB). Kegiatan Prioritas Nasional yang dilaksanakan Kementerian Keuangan yaitu Perumusan Kebijakan dan Pengembangan Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai dengan Indikator Kinerja Kegiatannya adalah Persentase sistem aplikasi dan infrastruktur TI yang sesuai dengan proses bisnis DJBC. pupuk. pada Substansi Inti Logistik Nasional tentang Pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. Kedua. Pembiayaan. tepat jumlah. Adapun Indikator Kinerja Kegiatan Prioritas tersebut yaitu Persentase penyelesaian usulan pembuatan/revisi peraturan perundangan terhadap peraturan perundangan yang harus dibuat/direvisi. Kementerian Keuangan dalam mendukung Prioritas Nasional Ketahanan Pangan pada Substansi Inti Investasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 54 – diimplementasikan. Ketiga. Kedua. dan industri pedesaan sesuai dengan persetujuan. pertanian. Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) dengan Indikator Kinerja Kegiatannya adalah Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Lain-lain (BSBL) yang lengkap dan tepat waktu. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. . dan Persentase penyelesaian rancangan PMK dan aturan pelaksanaan lainnya terkait sistem pelayanan kepabeanan yang menunjang Sistem Logistik Nasional (Customs Advance Trade System). dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. Kegiatan Prioritas Nasional yang dilaksanakan yaitu: pertama. (2) Persentase realisasi janji layanan public terkait pemberian fasilitas pertambangan. dan (2) Realisasi janji pelayanan evaluasi Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal dalam bentuk rekomendasi Menteri Keuangan. BPHTB. dan (2) Penyediaan Anggaran secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menunjang program dibidang pangan. Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) dengan Indikator Kinerja Kegiatannya adalah (1) Pengalokasian belanja pemerintah pusat yang tepat waktu dan efisien. dan (2) Perumusan kebijakan di bidang PPh dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional. dan terjangkau. pada Substansi Inti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tentang Pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum 2012. KUP. Pertama. PBB. Kementerian Keuangan melaksanakan Kegiatan Prioritas Nasional Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Fasilitas Bidang Kepabeanan dengan Indikator Kinerja Kegiatan yaitu (1) Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian fasilitas pembebasan dan keriganan bea masuk. Kementerian Keuangan mendukung Prioritas Nasional Iklim Investasi dan Iklim Usaha pada 3 (tiga) Substansi Inti yaitu: (1) Logistik Nasional. pada Substansi Inti Sistem Informasi tentang Beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor.

Dalam rangka penciptaan peningkatan kesejahteraan rakyat. Dari waktu ke waktu kinerja ekspor Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Dari sisi permintaan ada empat komponen utama di dalamnya yang perlu mendapatkan perhatian. investasi masih terpusat pada daerah dan industri tertentu. Yang pertama adalah Investasi yang memegang peranan terbesar bagi pertumbuhan ekonomi. maka usaha untuk menarik investasi asing masuk Indonesia masih harus terus dilakukan. tingkat kesejahteraan rakyat akan meningkat. yakni sisi permintaan dan sisi penawaran. Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menggambarkan terjadinya peningkatan dan perluasan kegiatan ekonomi suatu negara. Namun peningkatan kinerja masih didominasi oleh ekspor oleh bahan mentah yang sangat dipengaruhi oleh peningkatan harga di pasar internasional. . pertumbuhan ekonomi yang positif memungkinkan suatu negara untuk meningkatkan teknologi dan kemampuannya melakukan akumulasi modal (baik fisik maupun modal sumber daya manusia) yang kemudian akan berdampak positif pada produktivitas. Hal ini bisa dilakukan jika biaya logistik mampu dikurangi secara berarti. Peningkatan tersebut akan mendorong pada terbukanya kesempatan kerja baru bagi rakyat. Bersamaan dengan meningkatnya persaingan di pasar global. Oleh sebab itu pembangunan bidang ekonomi harus dilaksanakan secara sinergi dengan bidang-bidang yang lain untuk mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat. Bila hal ini berlangsung berkelanjutan. peningkatan ekspor hendaknya dilakukan pada komoditi-komoditi yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar. (2) penciptaan stabilitas ekonomi yang kokoh. disesuaikan dengan potensi atau sumber daya spesifik yang dimiliki daerah atau industri. banyaknya pungutan liar. Dengan demikian. Yang kedua adalah Ekspor yang juga merupakan sumber bagi pertumbuhan ekonomi. terutama melalui usaha perbaikan iklim investasi yang terus-menerus. serta (3) pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Pertumbuhan ekonomi dapat didorong dari dua sisi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 55 – PRIORITAS BIDANG EKONOMI Pembangunan bidang ekonomi ditujukan untuk menjawab berbagai permasalahan dan tantangan di berbagai bidang dan pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Terbukanya lapangan pekerjaan baru dan peningkatan produktivitas pada akhirnya berimplikasi positif pada penghasilan yang diterima rakyat. Kondisi infrastruktur yang kurang memadai. Akibatnya nilai tambah dan daya saing ekspor Indonesia menjadi rendah. Terciptanya akumulasi modal dapat meningkatkan produktivitas seiring dengan tingkat investasi yang tinggi. Oleh karena kebutuhan investasi masih belum mampu dipenuhi oleh penanaman modal dalam negeri. pertumbuhan ekononomi yang tinggi dan berkelanjutan adalah elemen yang tidak bisa ditinggalkan. Selain itu. langkah kebijakan diversifikasi dan penyebaran investasi harus secara intensif dilakukan. Selain itu. dan peraturan yang rumit menyebabkan tingginya biaya operasional yang harus dibayar oleh para pengusaha bila dibandingkan dengan yang terjadi di negara lain. dalam RPJM 2010-2014 elemen-elemen utama pembangunan di bidang ekonomi yang harus mendapatkan perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh adalah : (1) pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

pertumbuhan ekonomi akan diperoleh melalui peningkatan produksi. salah satu langkah kebijakan yang perlu dilakukan adalah menjaga tingkat inflasi. sementara penghasilannya tetap (daya beli rakyat turun). Hal ini menjadi penting. atau pertambangan. Keempat adalah Optimalisasi Pengeluaran Pemerintah. dan perikanan masih diandalkan dalam mendorong peningkatan produksi. Daya beli rakyat akan dapat ditingkatkan apabila pendapatan masyarakat mengalami peningkatan. Dari sisi penawaran. Hal ini dikarenakan sektor industri manufaktur dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bila dibandingkan sektor industri berbasikan sumber daya alam. Namun perlu menjadi perhatian. yang kemudian akan mendukung pula terciptanya pertumbuhan ekonomi. Stabilitas harga dan stabilitas nilai tukar harus dapat dijaga. Gejolak harga yang tinggi selain mengurangi daya beli masyarakat juga akan menimbulkan ketidakpastian dalam berusaha. defisit anggaran akan menjadi membesar dan dapat mengancam keberlangsungan kebijakan fiskal ke depan. Stabilitas Ekonomi yang Kokoh Stabilitas ekonomi makro merupakan elemen kedua yang tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan prasyarat bagi pertumbunan ekonomi. Oleh karena itu dalam menjaga daya beli rakyat. terutama di saat terjadi ancaman resesi ekonomi seperti yang terjadi saat ini. pemerintah dibatasi oleh ketersediaan anggaran yang dimiliki. Nilai tukar yang befluktuasi juga akan . Kebijakan Menjaga Daya Beli. Selain itu. Perekonomian negara hanya dapat memberikan kinerja yang baik apabila didukung oleh kestabilan ekonomi yang kokoh. terutama sektor swasta. Di sisi lain. terutama yang terkait dengan proses distribusi dan pergerakan harga di pasar internasional. terutama bila mengingat masih tingginya kontribusi konsumsi rumah tangga bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. kehutanan. Selain itu. kehutanan. pengeluaran yang terlalu besar juga dapat mengurangi porsi konsumsi dan investasi swasta dalam perekonomian (crowding out effect). Volatilitas pada harga barang. yang membutuhkan kepastian dalam menjalankan usahanya yang pada gilirannya akan menmpengaruhi kesejahteraan masyarakat. tetapi pengeluaran pemerintah memiliki peran yang tidak kalah penting bila dibandingkan dengan komponen pertumbuhan ekonomi lainnya. Bila pengeluaran terlalu besar. atau utang pemerintah dapat memberikan gangguan pada perekonomian. Dalam rangka menciptakan stabilitas ekonomi yang kokoh. Sektor yang diharapkan menjadi pendorong utama peningkatan pertumbuhan ekonomi dari sisi produksi adalah sektor industri manufaktur. Di luar sektor industri manufaktur. Oleh sebab itu pula pemerintah harus lebih proaktif mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang ada yang mempengaruhi inflasi. Meski tidak besar perannya. sektor industri pertanian. terkait dengan pengeluarannya. Untuk itu pemerintah perlu mengoptimalkan pengeluarannya seefektif dan seefisien mungkin. masyarakat akan merasa sejahtera ketika dapat membeli kebutuhan sehari-hari dengan mudah. menutupi penurunan permintaan akibat turunnya investasi dan ekspor. Pemberian stimulus fiskal diharapkan dapat mendorong peningkatan permintaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 56 – Ketiga. tingkat suku bunga. seperti sektor industri pertanian. sektor-sektor lain juga diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. tingkat pertumbuhan ekonomi. tingkat konsumsi rakyat juga akan terjaga. Hal ini tidak dapat terjadi bila harga meningkat tiba-tiba. Bila daya beli terjaga.

Dengan demikian.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 57 – menimbulkan ketidakpastian bagi kinerja sektor perdagangan karena ketika nilai tukar terlalu menguat daya saing ekspor akan menurun. Terkait dengan kebijakan pengurangan kemiskinan. Pencapaian pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan didukung oleh kebijakankebijakan pada sektor tenaga kerja. Untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut langkah kebijakan moneter harus dipertajam. Dengan begitu semakin banyak orang yang terlibat dalam proses pembangunan. Pembangunan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas ekonomi akan menjadi kurang berarti apabila hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat. Pembangunan ekonomi inklusif adalah pembangunan yang memberikan kesempatan pada seluruh anggota masyarakat untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam proses pertumbuhan ekonomi dengan status yang setara. Oleh sebab itu pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan merupakan elemen penting yang menjamin pengembangan ekonomi dapat dinikmati oleh semua rakyat secara adil. pembangunan ekonomi inklusif menciptakan kesempatan bagi semua dan memastikan akses yang sama terhadap kesempatan tersebut. Pengelolaan tingkat defisit anggaran dan utang yang baik (melalui debt switch atau buy back) yang ada dalam kebijakan fiskal yang berkelanjutan menjadi penting dalam menyokong terciptanya stabilitas makroekonomi. Hal ini dapat ditempuh melalui: (1) dampak pertumbuhan ekonomi akan meningkat ketika kesenjangan . Oleh karenanya. Stabilitas ekonomi juga sangat bergantung pada sektor kebijakan sektor keuangan. Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil rakyat yang menikmati peningkatan kesejahteraan rakyat sehingga tidak sesuai dengan tujuan pembangunan bidang ekonomi. Pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan dapat memiliki dampak positif terhadap agenda pengurangan kemiskinan. Kebijakan anggaran defisit akan mendorong pemerintah untuk mencari sumber pembiayaan. kebijakan-kebijakan seperti pelatihan. Dengan kebijakan seperti ini resiko memegang obligasi negara semakin meningkat yang pada gilirannya mendorong tingginya yield yang harus dibayarkan pemerintah. baik luar negeri dalam bentuk pinjaman luar negeri maupun dari pinjaman dalam negeri dalam bentuk penerbitan surat berharga negara (SBN). Krisis ekonomi Indonesia tahun 1998 berawal dari krisis di sektor keuangan yang selanjutnya memberikan pengaruh buruk pada seluruh bidang pembangunan. pengembangan sekolah menengah kejuruan (SMK) dapat memberikan tambahan skill bagi tenaga kerja sehingga memudahkan untuk dapat mengisi lowongan kerja yang tersedia. Di sisi kebijakan tenaga kerja. Bila itu terjadi stabilitas makroekonomi dapat terganggu. dan sebaliknya ketika nilai tukar melemah perekonomian akan dihantam oleh tingginya harga impor. terlepas dari latar belakang mereka. pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan memiliki kaitan yang sangat erat. kemiskinan. stabiilitas sektor keuangan ini harus menjadi fokus utama dalam mendukung stabilitas ekonomi yang kokoh. Tingkat defisit atau hutang yang terlalu tinggi akan meningkatkan ketidakpercayaan swasta kepada pemerintah. pembekalan. dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Stabilitas ekonomi juga didukung oleh kebijakan fiskal yang berkelanjutan. Krisis ekonomi dunia yang baru saja terjadi juga dipicu oleh krisis di sektor keuangan.

3. pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan harus didukung oleh kebijakan UKM untuk pengembangan UKM. Pengelolaan perbendaharaan negara. Selama Lima tahun kedepan. dan (3) Stabilitas Sektor Keuangan. dapat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk keluar dari kemiskinan. terdiri dari 4 (empat) fokus prioritas yaitu: 1. mereka yang selama ini miskin karena tidak pernah mendapat kesempatan. 2. penciptaan stabilitas yang kokoh serta pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Dengan keterbatasan sektor formal untuk menampung tenaga kerja. kebijakan pengurangan kemiskinan melalui pemberian bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar (pendidikan. Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) b. melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. baik pengembangan yang dilakukan untuk mentasi permasalahan yang terkait dengan keterbatasan dana maupun peningkatan kemampuan sumber daya SDM dalam bentuk pemberian pelatihan-pelatihan yang memungkinkan UMKM dapat berkembang dengan kemampuannya sendiri. (2) Prioritas Pengelolaan APBN yang Berkelanjutan. Sebaliknya. Kementerian Keuangan mendukung 3 (tiga) prioritas bidang ekonomi yaitu: (1) Prioritas Optimalisasi Pengeluaran Pemerintah. Pengelolaan perimbangan keuangan. kesempatan bagi mereka yang tidak tertampung untuk turut serta dalam proses pembangunan adalah melalui sektor-sektor informal. Optimalisasi anggaran belanja pemerintah pusat. Pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara. Oleh sebab itu pengembangan UKM penting dilakukan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 58 – berhasil diatasi. (2) pembangunan ekonomi yang inklusif dapat meningkatkan efektivitas kebijakan pengurangan kemiskinan dengan memfokuskan pada penciptaan dan pemberian akses yang sama pada kesempatan kerja. Prioritas Optimalisasi Pengeluaran Pemerintah. 4. kesehatan) juga akan memberikan dukungan pada terciptanya pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. dalam rangka melaksanakan prioritas pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pengembangan Sistem Penganggaran c. Dengan begitu. Disamping kebijakan di ketenagakerjaan dan kebijakan dalam pengurangan kemiskinan. Fokus Prioritas 1: Optimalisasi Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Fokus Prioritas Optimalisasi Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran menjamin terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. Penyusunan dan penyampaian laporan keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) Fokus Prioritas 2: Pengelolaan Perimbangan Keuangan Fokus Prioritas Pengelolaan Perimbangan Keuangan dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran yaitu: (1) Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara .

c. monitoring dan evaluasi di bidang pembiayaan dan kapasitas daerah. Peningkatan dan optimalisasi penerimaan negara. d. kredibel. Perumusan kebijakan. c. melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. b. Perumusan kebijakan. standardisasi. yang akan dicapai melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. Penyelenggaraan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. evaluasi dan pengelolaan Kekayaan Negara Lain-Lain. pemantauan dan evaluasi di bidang pendanaan daerah dan ekonomi daerah. b. c. Perumusan kebijakan. evaluasi dan pengelolaan Barang Milik Negara. bimbingan teknis. . Pembinaan Pelaksanaan Anggaran dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Peningkatan Pengelolaan Kas Negara Manajemen Investasi dan Penerusan Pinjaman. transparan. tepat guna. yang akan ditempuh melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. Perumusan kebijakan fiskal. terdiri dari 2 (dua) fokus prioritas yaitu: 1. bimbingan teknis. Perumusan kebijakan. monitoring. standardisasi. bimbingan teknis. Fokus Prioritas 4: Pengelolaan Barang Milik Negara dan Kekayaan Negara Fokus Prioritas Pengelolaan Barang Milik Negara dan Kekayaan Negara dalam RPJMN 20102014 mempunyai sasaran terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara. Perumusan kebijakan bimbingan teknis. standardisasi. serta pengembangan sistem informasi keuangan daerah. 2. dan pengelolaan transfer ke Daerah. bimbingan teknis. b. dan (2) Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan. Perumusan kebijakan. dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. pengelolaan pembiayaan anggaran dan pengendalian resiko. akuntabel. dan akuntabel sesuai dengan ketentuan. penyusunan laporan keuangan transfer ke daerah. bimbingan teknis. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional. dan evaluasi di bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Perumusan kebijakan. transparan. d. Prioritas Pengelolaan APBN yang Berkelanjutan. Fokus Prioritas 3: Pengelolaan Perbendaharaan Negara Fokus Prioritas Pengelolaan Perbendaharaan Negara dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran meningkatkan pengelolaan keuangan negara secara profesional.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 59 – Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. tertib. dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder. evaluasi dan pengelolaan Barang Milik Negara dan Kekayaan Negara yang Dipisahkan.

melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: Pengelolaan PNBP dan subsidi Peningkatan efektivitas pemeriksaan. dan (3) Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri. dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional Peningkatan kualitas pelayanan serta efektivitas penyuluhan dan kehumasan Perencanaan. dan (3) Mengoptimalkan pengelolaan utang pemerintah. Perumusan Kebijakan APBN Pengelolaan Risiko Fiskal dan Sektor Keuangan Perumusan Kebijakan Ekonomi Perumusan Kebijakan Pajak. Fokus Prioritas 2: Peningkatan dan Optimalisasi Penerimaan Negara Fokus Prioritas Peningkatan dan Optimalisasi Penerimaan Negara dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran yaitu: (1) Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. PPSP. f. c. Pengelolaan Pembiayaan Anggaran dan Pengendalian Resiko dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran yaitu: (1) Terwujudnya kebijakan fiskal yang sustainable dengan beban risiko fiskal yang terukur dalam rangka stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian. dan Bea Materai Perumusan kebijakan di bidang PPh. g. Sasaran tersebut dicapai melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. d. (2) Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. b. Akuntansi. j. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan. KUP. . c. PBB. perdagangan. e. pengembangan. Pengelolaan Pembiayaan Anggaran dan Pengendalian Resiko Fokus Prioritas Perumusan Kebijakan Fiskal. e. f. komunikasi dan informasi perpajakan g. b. optimalisasi pelaksanaan penagihan Perumusan kebijakan di bidang PPN. dan Setelmen Utang.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 60 – Fokus Prioritas 1: Perumusan kebijakan fiskal. baik yang berasal dari Surat Berharga Negara maupun pinjaman dengan biaya dan tingkat risiko yang terkelola dengan baik untuk mendukung kesinambungan fiskal. d. (2) Peningkatan penerimaan pajak negara yang optimal. Pelaksanaan reformasi proses bisnis a. h. Kepabeanan. dan evaluasi di bidang teknologi. i. Cukai dan PNBP Penyusunan Rancangan APBN Pengelolaan Pinjaman Pengelolaan Surat Utang Negara Pengelolaan Pembiayaan Syariah Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang Pelaksanaan Evaluasi. BPHTB.

(ii) meningkatkan penerimaan negara terutama ditempuh melalui reformasi kebijakan dan administrasi perpajakan dan kepabeanan. dan Pengawasan Bidang Dana Pensiun 3. Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai di daerah Prioritas Stabilitas Sektor Keuangan. Pembinaan. dan Pengawasan bidang Perasuransian j. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pengelolaan Investasi e. Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa g. Sasaran tersebut dicapai melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. akuntabilitas. Riset Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank serta Pengembangan Teknologi Informasi c.1. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Transaksi dan Lembaga Efek f. Pengaturan. Perumusan Kebijakan dan Pengembangan Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai k. Penetapan Sanksi dan Pemberian Bantuan Hukum b. dan (2) Terwujudnya industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank sebagai penggerak perkonomian nasional dan berdaya saing global. independensi dan integritas. kepabeanan dan cukai. Pemeriksaan dan penyidikan di bidang Pasar Modal d.Pelaksanaan Pengawasan dan Penindakan atas Pelanggaran Peraturan Perundangan. Pembinaan. Pengaturan. Pengaturan dan Pengawasan di bidang Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan i. Stabilitas ekonomi akan didukung dengan reformasi struktural di berbagai bidang diantaranya reformasi administrasi dan kebijakan di bidang perpajakan. Pengaturan. Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Fasilitas Bidang Kepabeanan m. Kebijakan di bidang fiskal diarahkan pada: (i) menyeimbangkan antara peningkatan alokasi anggaran termasuk alokasi kebutuhan stimulasi dengan tetap memperhatikan kesinambungan fiskal. Pengelolaan data dan dokumen Perpajakan i.2 Arah Kebijakan dan Strategi Fiskal Stabilitas ekonomi dijaga melalui pelaksanaan sinergi kebijakan moneter yang berhati-hati serta kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. Intelijen dan Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai n. serta optimalisasi PNBP baik dari jenisnya maupun . Perumusan Peraturan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 61 – h. Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Bidang Kepabeanan l. Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Riil h. dengan Fokus Prioritas Peningkatan Ketahanan dan Daya Saing Sektor Keuangan yang mempunyai sasaran yaitu: (1) Terwujudnya Bapepam-LK sebagai lembaga yang memgang teguh prinsip-prinsip transparansi. Perumusan Kebijakan dan Peningkatan Pengelolaan Penerimaan Bea dan Cukai j. Pengaturan.

akurat dan terkini sebagai bahan masukan dan pertimbangan.1 Arah Kebijakan dan Strategi APBN Untuk membantu pencapaian sasaran strategis nasional. Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank. ? Executive Dashboard Economic Dalam rangka membantu pengambil kebijakan fiskal. Oleh karena itu pada akhirnya analisis dari indikator-indikator kondisi ekonomi dan keuangan . (iii) pemisahan secara jelas kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah yang diikuti dengan pendanaanya berupa belanja daerah. Basis data yang detil dan akurat pada akhirnya diharapkan menghasilkan sistem pengembangan basis data indikator ekonomi dan keuangan yang akurat dan dapat dipercaya. tepat dan memenuhi syarat sesuai dengan yang diharapkan oleh siapa pun yang tergabung dalam organisasi. Belanja Negara. Kementerian Keuangan mempunyai dua kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan selalu dikembangkan untuk analisa makro adalah : ? Pemantauan dini kondisi perekonomian Pemantauan dini kondisi perekonomian dilaksanakan terhadap perekonomian internasional dan perekonomian domestik. 3. (iii) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengeluaran negara. disusun Sasaran Strategi dan Program Kementerian Keuangan lainnya yang pada hakekatnya merupakan pilar-pilar Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan yang menyangkut-Penataan Organisasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 62 – perbaikan administrasinya.2. Kekayaan Negara. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEMENTERIAN KEUANGAN Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Keuangan pada dasarnya merupakan pedoman dalam penyusunan Sasaran Strategi dan Program APBN yang di kelompokkan dalam enam tema-Pendapatan Negara. diupayakan tetap adanya ruang gerak yang cukup pada sektor swasta. dan kaitannya dengan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. diperlukan sebuah sistem pengembangan basis data indikator ekonomi dan keuangan untuk menjamin tersedianya data secara lengkap. Penyempurnaan Proses Bisnis. Adapun Strategi yang akan dilaksanakan di bidang fiskal adalah: (i) peningkatan penerimaan negara dan efisiensi belanja negara dengan tetap mengupayakan pemberian stimulus fiskal secara terbatas.2. (ii) pembiayaan defisit anggaran yang tidak menimbulkan crowding out pembiayaan sektor swasta. Untuk menunjang pencapaian Sasaran Strategi dan Program yang dibagi dalam lima tema tersebut. (iv) penajaman alokasi anggaran antara lain dengan realokasi belanja negara agar lebih terarah dan tepat sasaran. (iv) meningkatkan pengelolaan pinjaman pemerintah. (vi) sementara itu. 3. maka penanganan data/informasi yang merupakan rangkaian kegiatan perlu diciptakan suatu sistem yang terintegrasi sehingga kebutuhan informasi yang cepat. Pembiayaan APBN. dan Pengembangan SDM. serta pengembangan Informasi dan Teknologi. Perbendaharaan Negara. (v) penurunan rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB. untuk pinjaman dalam negeri. Mengingat begitu pentingnya basis data yang tersedia.

Strategi di bidang perpajakan yang akan ditempuh melalui: (i) peningkatan kualitas pelayanan perpajakan.l. operasi dan perawatan sarana dan prasarana yang optimal. (v) peningkatan kepatuhan WP melalui pembetulan SPT. antara lain dalam hal penegakan hukum. Strategi di bidang PNBP yang akan ditempuh melalui: (i) perbaikan kinerja BUMN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 63 – dimaksud dapat menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan.2. (ix) penyesuaian tarif cukai rokok sejalan dengan roadmap industri rokok. Strategi di bidang kepabeanan dan cukai yang akan ditempuh melalui: (i) membentuk organisasi DJBC yang modern. (iii) peningkatan efektifitas kehumasan. (xiii) pelaksanaan reformasi organisasi. melalui restrukturisasi dan rightsizing BUMN. serta (iv) perbaikan citra baik terkait dengan layanan publik dalam rangka peningkatan pendapatan. (xvi) pengembangan sistem manajemen SDM berbasis kinerja dan kompetensi. Pencapaian keempat target tersebut secara sinergis menjadi landasan kuat bagi keseimbangan baru kapasitas fiskal Pemerintah yang sekaligus menunjukkan signifikansi peningkatan dari keseimbangan awal. (xi) pelaksanaan reformasi kebijakan. (x) peningkatan efektifitas penyidikan. dan (xii) pelaksanaan reformasi proses bisnis. (xiv) pelaksanaan modernisasi teknologi komunikasi dan informasi. (ii) peningkatkan efektifitas penyuluhan. (iv) mewujudkan sistem pembinaan dan latihan SDM yang didasarkan pada kompetensi. (ii) penyesuaian tarif pungutan PNBP yang dilakukan oleh K/L. (iii) peningkatan . kepabeanan dan cukai dalam rangka meningkatkan efektivitas harmonisasi tarif dalam rangka kerjasama regional dan internasional. (ii) membentuk Authorized Economic Operator (AEO). (ix) peningkatan efektifitas pemeriksaan. a.1. (vi) membentuk mekanisme harmonisasi kebijakan perdagangan. (iii) mewujudkan sistem pengawasan di bidang kepabeanan dan cukai yang efektif. daerah tertentu. serta komoditi strategis dalam rangka meningkatkan investasi dan ekspor. dan (xvii) peningkatan pembinaan dan pengawasan SDM (xviii) memberikan insentif pada kegiatan usaha. (ii) peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. (iv) peningkatan efektifitas pengawasan WP non-filer. (vii) optimalisasi pelaksanaan penagihan. (vii) membentuk sistem teknologi informasi kepabeanan dan cukai yang terintegrasi. (viii) peningkatan kegiatan intelijen perpajakan. BKF telah membentuk suatu sistem informasi bagi executive Kementerian Keuangan yaitu Economic Executive Dashboard yang berbasis aplikasi web (web based aplication). Dukungan ini dilakukan oleh DJBC melalui kerjasama yang intensif dengan instansi terkait lainnya. penanggulangan terorisme. serta peningkatan pengawasan pemungutannya. (xix) meningkatkan Law Enforcement perpajakan. dan mempertahankan dan meningkatkan daya saing usaha di dalam negeri. (viii) membentuk manajemen pengadaan. (vi) optimalisasi pelaksanaan ekstensifikasi termasuk memperbaiki basis perpajakan. dan peningkatan kesiapan penanggulangan bencana. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut. Disamping itu pelaksanaan strategi di atas juga akan diarahkan untuk mendukung pelaksanaan program prioritas seratus hari pertama Kabinet Indonesia Bersatu II. 3. (v) mengimplementasikan National Single Window (NSW) secara bertahap.1Pendapatan Negara Arah kebijakan di bidang pendapatan negara yaitu: (i) optimalisasi pendapatan negara. (iii) mewujudkan keadilan dan perlindungan masyarakat. (xv) optimalisasi pengelolaan anggaran.

serta keamanan. dalam lima tahun ke depan. Jamkesmas. (iv) menyediakan pelayanan dasar dan meningkatkan efektivitas perlindungan sosial dalam rangka memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan mengurangi tingkat kemiskinan (Bantuan Operasional Sekolah/BOS. kebijakan alokasi belanja negara akan diarahkan untuk : (i) mempertahankan alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen sesuai dengan amanat UUD Tahun 1945. (vi) peningkatan good governance dengan peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan PNBP dan BLU. dan (viii) meningkatkan rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan kualitas daya dukung lingkungan. dan subsidi pajak untuk insentif bagi dunia usaha dan masyarakat. Pada aspek administrasi. termasuk penyempurnaan sistem remunerasi. efektif. dan pengurangan pengangguran. (vii) meningkatkan kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan bencana alam lainnya. perlindungan dan ketertiban masyarakat. sistem dan prosedur pengelolaan PNBP. Pos. (v) mengarahkan alokasi subsidi menjadi lebih tepat sasaran. (iii) melanjutkan pembangunan sarana dan prasarana (infrastruktur) dasar untuk mendukung pembangunan. (viii) memperkuat peraturan-peraturan dan regulasi. dan Program Keluarga Harapan/PKH). penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). meningkatkan efektivitas subsidi/bantuan PSO untuk pelayanan publik (Pelni. 3. Kereta Api). pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 64 – transparansi dan akuntabilitas pengelolaan BLU. (v) melakukan ekstensifikasi PNBP dengan menggali lebih banyak potensi PNBP. dan efisien dengan memperhatikan aspek kemampuan dalam menghimpun pendapatan.2. (ix) mengoptimalkan pengawasan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (x) meningkatkan kesadaran (awareness) dan kemitraan dengan stakeholder. pelaksanaan. kebijakan tersebut akan dilaksanakan secara konsisten mulai dari perencanaan. (iii) pelaksanaan anggaran yang transparan dan akuntabel sejalan dengan penerapan prinsip good governance. (iv) melakukan intensifikasi PNBP dengan melakukan evaluasi. (vii) meningkatkan penerimaan negara yang berasal dari deviden BUMN hasil pengelolaan Kekayaan Negara. pemantauan. dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan dan perbaikan kesejahteraan aparatur negara. dan penerapan alokasi belanja negara dalam kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework). evaluasi sampai dengan pengawasan. pro job. dan (xi) meningkatkan kualitas SDM (capacity building). (ii) perencanaan dan alokasi anggaran yang tepat sasaran dan adil berdasarkan prioritas program pembangunan pemerintah yang mengacu kepada rencana kerja pemerintah (RKP). . dan pengurusan piutang negara dan pelayanan lelang. pemberian subsidi pertanian secara terpadu. pengalokasian subsidi pangan lebih tepat sasaran & manfaat bagi rumah tangga sasaran (RTS).1. Sejalan dengan Triple Track Strategy tersebut. (ii) mendukung kebijakan reformasi birokrasi. dan pro poor (triple track strategy). upaya efisiensi belanja juga dilakukan melalui pemantapan pelaksanaan anggaran terpadu (unified budget). Strategi di bidang belanja negara akan ditempuh melalui: (i) penetapan kebijakan belanja yang ekonomis. (vi) mendukung kebijakan pertahanan nasional. perbaikan peraturan.2Belanja Negara Dalam lima tahun kedepan kebijakan belanja negara akan tetap diarahkan untuk mendukung langkah simulasi perekonomian dari sisi fiskal yang mendorong pro growth.

(viii) Pelaksanaan secara konsisten PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. (iii) Sinkronisasi Dana Desentralisasi. strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penyempurnaan dokumen pelaksanaan anggaran sejalan dengan penyempurnaan sistem penganggaran. (vii) Pemberian insentif bagi daerah-daerah dengan APBD berstatus WTP mulai Tahun 2010. baik di bidang pengeluaran negara maupun penerimaan negara. (vi) Pengalokasian Dana Otsus untuk tambahan Infrastruktur untuk Provinsi Papua dan Papua Barat.1. (ii) optimalisasi pengelolaan kas.2. (iv) peningkatan pelayanan masyarakat melalui penyempurnaan pengelolaan BLU. dan urusan antara Pemerintah dan pemerintah daerah. Selanjutnya dalam rangka mencapai arah kebijakan kedua yaitu optimalisasi pengelolaan kas. yaitu penerapan Performance Based Budgeting dan MTEF. baik di bidang penerimaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 65 – Sementara itu. dengan melibatkan sektor perbankan dan institusi terkait lainnya. (iv) Penyempurnaan perhitungan PDN netto untuk menentukan pagu DAU dengan mempertimbangkan kondisi fiskal nasional dan pengendalian defisit dalam jangka panjang. Dalam rangka pencapaian arah kebijakan pertama yaitu efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara. Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. (ii) Mempercepat pengalihan anggaran desentralisasi fiskal langsung ke daerah untuk fungsi-fungsi yang telah menjadi wewenang daerah. arah kebijakan di bidang transfer ke daerah (desentralisasi fiskal) yaitu: (i) efisiensi belanja negara diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan otonomi yang luas. (ii) penyempurnaan sistem dan prosedur serta pengorganisasian pengelolaan kas. (iv) Penguatan taxing power. nyata. Pemerintahan Daerah Provinsi. secara bertahap akan diterapkan Electronic Transaction. sehingga . (v) peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara dan (vi) penerapan sistem perbendaharaan yang handal. (iii) optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya. terintegrasi dan modern. pengeluaran serta terkait dengan pengelolaan rekening Bendahara. (ii) penyelesaian dokumen pelaksanaan anggaran secara tepat waktu dan (iii) peningkatan akurasi perencanaan pencairan dana dalam dokumen pelaksanaan anggaran. kewenangan. Strategi di bidang transfer ke daerah akan ditempuh melalui: (i) Mengurangi kesenjangan fiskal antar daerah (horizontal fiscal imbalance) dan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance). dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota agar dapat mempengaruhi pola belanja daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penerapan Treasury Single Account secara penuh. dan (ix) Penyusunan grand design desentralisasi fiskal. (ii) Reformulasi transfer ke daerah. dan (v) Peningkatan efektifitas perencanaan dan pelaksanaan APBD dalam mendorong stimulasi pembangunan daerah. 3. (vii) Pengalokasian Dana Penyesuaian untuk Tunjangan Kependidikan. Termasuk dalam usahausaha efisiensi dan akurasi belanja negara. (iii) Penyempurnaan perhitungan alokasi DAU dengan mengurangi proporsi alokasi dasar (gaji PNSD). (v) Pengalihan secara bertahap dana dekon/TP menjadi DAK secara bertahap sesuai UU Nomor 33 Tahun 2004.3Perbendaharaan Negara Arah kebijakan di bidang perbendaharaan negara yaitu: (i) efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara. dan bertanggung jawab sesuai dengan pembagian tugas.

dan (ii) peningkatan pembinaan Sistem Akuntansi Instansi yang berkelanjutan. 3. strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penyempurnaan regulasi terkait dengan pengelolaan BLU. Sebagaimana telah dijelaskan dalam BAB I. sehingga diharapkan akan tercapai peningkatan opini BPK dari Disclaimer menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). strategi yang akan dilaksanakan adalah mulai tahun 2009 pemerintah telah mengambil kebijakan untuk tidak lagi memberikan pinjaman kepada BUMN/BUMD/Pemda dari dana RDI dan RPD. dan (iv) penguatan kompetensi pengelolaan kas. Oleh karena itu sebagaimana disebutkan di atas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 66 – memenuhi kaidah-kaidah International Best Practices. penerapan sistem perbendaharaan yang andal dan modern juga merupakan salah satu sasaran strategis di bidang penyelengaraan Perbendaharaan Negara. (iii) pengelolaan portofolio utang untuk mencapai struktur portofolio utang yang optimal guna meminimalkan biaya utang pada tingkat risiko yang semakin terkendali dalam jangka panjang. bunga dan kewajiban lainnya kepada RDI/RPD menjadi kepada rekening Kas Umum Negara. maka kontribusi RDI/RPD kepada APBN semakin mengecil dan akan berakhir pada Tahun 2011. Terkait dengan arah kebijakan keempat yaitu peningkatan pelayanan masyarakat melalui penyempurnaan pengelolaan BLU. (iii) penguatan kompetensi SDM. (iii) peningkatan kualitas perencanaan kas. Proyek SPAN akan meliputi tiga kegiatan utama yaitu: (1) penyempurnaan proses bisnis. Dengan pelaksanaan strategi diatas.1. Guna mencapai peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang menjadi arah kebijakan kelima. bunga dan kewajiban lainnya tidak lagi disetorkan ke RDI tetapi langsung disetorkan ke Rekening Kas Umum Negara. dan (iv) pengembangan . kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) akan semakin baik. (2) pengembangan teknologi informasi dan (3) tata kelola perubahan dan komunikasi. baik terkait dengan infrastruktur maupun SDM.2. Selanjutnya untuk perjanjian penerusan pinjaman (SLA) yang ditandatangani sejak Tahun 2009.4Pembiayaan APBN Arah kebijakan di bidang pembiayaan APBN yaitu: (i) penurunan stok utang terhadap PDB secara bertahap dan berkelanjutan. strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penyempurnaan standar basis akuntansi dari cash toward acrual basis menjadi berbasis akrual secara penuh. (ii) peningkatan penilaian kinerja satker BLU. Strategi-strategi dalam rangka pencapaian arah kebijakan tersebut di atas. bekerja sama dengan DJA dan Pusintek. Guna mencapai arah kebijakan ketiga yaitu optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya. pengembalian hutang pokok. Disamping itu terdapat beberapa kegiatan pendukung terkait dengan implementasi Proyek SPAN yaitu pengembangan Service Desk dan penyusunan ICT Strategy Kementerian Keuangan. Untuk pelaksanaannya maka semua perjanjian yang bersumber dari pinjaman luar negeri/RDI/RPD akan diamandemen dari penyetoran kewajiban hutang pokok. (ii) peningkatan diversifikasi instrumen pembiayaan melalui utang termasuk menciptakan sumber-sumber pembiayaan alternatif. dan (iv) studi banding. Dengan disetorkannya kewajiban debitur untuk SLA yang ditandatangani sejak Tahun 2009. strategi utama dalam rangka penyempurnaan sistem perbendaharaan negara adalah melalui Proyek SPAN. tidak akan berjalan dengan baik tanpa didukung oleh modernisasi dan penyempurnaan sistem perbendaharaan negara.

melakukan diplomasi ekonomi terutama untuk mendukung pelaksanaan debt-swap. peningkatan komunikasi dan koordinasi dengan kreditor untuk menciptakan peluang penggunaan skim pinjaman tematis baru. terutama utang yang dipergunakan untuk pembiayaan kegiatan ekonomi yang produktif.6Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Arah kebijakan di bidang pasar modal dan lembaga keuangan non bank yaitu: (i) Terwujudnya regulator bidang pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan . (ii) Meningkatkan kesadaran (awareness) dan kemitraan dengan stakeholder dalam pengelolaan kekayaan negara. dan (v) meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan sovereign credit rating.2. (ii) penerbitan instrumen Surat Berharga Negara baru untuk mengembangkan segmen pasar/investor tertentu baik di dalam negeri maupun luar negeri. dan dapat dipergunakan serta dapat dipertanggungjawabkan melalui sertifikasi nasional atas tanah dan bangunan milik negara.2.1. pelaksanaan debt-switch SBN secara reguler. restrukturisasi portofolio utang dengan menggunakan berbagai instrumen baik SBN maupun pinjaman (luar dan dalam negeri) yang dilakukan melalui mekanisme pasar yang transparan dan akuntabel. dan (ii) pengamanan kekayaan negara yang meliputi administratif. dan fisik. (iv) Meningkatkan kualitas pelayanan pengelolaan kekayaan negara. sehingga keberadaan aset dalam keadaan utuh. 3. financial).5Kekayaan Negara Arah kebijakan di bidang pengelolaan kekayaan negara yaitu: (i) meningkatkan daya guna dan hasil guna pengelolaan kekayaan negara.1. Strategi di bidang pembiayaan APBN akan ditempuh melalui: (i) pengadaan utang secara selektif. pelaksanaan buyback pada saat yang tepat terutama dalam rangka stabilisasi harga. dan (iv) peningkatan koordinasi dan kerjasama dengan otoritas moneter. tidak rusak. market. dan penilaian kekayaan negara untuk menentukan nilai ekonomi (existing value) serta nilai potensi (potential value) kekayaan negara. dan likuid untuk mengoptimalkan pendanaan utang dari pasar domestik. 3. tidak hilang. koordinasi dengan otoritas moneter dalam pelaksanaan Asset-Liability Management (ALM). (v) Meningkatkan monitoring dan evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan kekayaan negara. aktif. dan (viii) Meningkatkan kualitas SDM (capacity building). hukum. (vii) Membangun infrastruktur pendukung penilaian dan pengelolaan kekayaan negara. penerapan readiness criteria yang konsisten dan hati-hati serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang ketat. pelaku pasar untuk membangun dan mengembangkan pasar termasuk pembangunan/pengadaan berbagai infrastruktur pasar sekunder SBN. (vi) Meningkatkan penerimaan kembali (recovery) yang berasal dari pengeluaran pembiayaan APBN. dan pembangunan kapasitas DJPU untuk melakukan penerbitan/penjualan/perdagangan SBN secara langsung.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 67 – pasar SBN yang dalam (deep). (iii) pengadaan utang baru dengan terms and conditions yang lebih baik untuk mengurangi eksposur berbagai risiko (refinancing. Strategi di bidang pengelolaan kekayaan negara akan ditempuh melalui: (i) Menyusun dan menyempurnakan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan kekayaan negara dan penilaian kekayaan Negara. (iii) Menatausahakan kekayaan negara dengan akurat dan akuntabel. otoritas pasar modal.

(vi) Mengembangkan Pasar Sekunder Surat Utang Dan Sukuk Serta Pengawasannya. (iii) Melakukan Harmonisasi Regulasi Dengan Standar Dan Praktik Internasional. (v) Tersedianya kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum. (iii) Meningkatkan kapasitas dan integritas regulator. (ii) Melakukan Harmonisasi Regulasi Antar Industri Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Non Bank Serta . Dalam rangka mewujudkan pasar modal sebagai sarana investasi yang kondusif dan atraktif serta pengelolaan risiko yang handal ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Penyebaran Dan Kualitas Keterbukaan Informasi. (iii) Mengembangkan Sistem Database Dan Teknologi Informasi Industri. risk management. (iv) Terwujudnya industri yang stabil. tahan uji dan likuid ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Kualitas Pelaku Industri Baik Individual Maupun Institusi. (v) Mengembangkan Skema Perlindungan Pemodal Dan Nasabah. tahan uji dan likuid. (iii) Meningkatkan Kemampuan Pelaku Dan Industri Dalam Menangani Risiko Sistemik Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan. (iii) Terwujudnya pasar modal sebagai sarana investasi yang kondusif dan atraktif serta pengelolaan risiko yang handal. (ii) Meningkatkan Basis Investor Domestik Dan Dana Jangka Panjang. Dalam rangka menyediakan infrastruktur yang kredibel. (iv) Memastikan Regulasi Disusun Berdasarkan Kebutuhan Pelaku Serta Pengembangan Industri Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Non Bank. dapat diandalkan (reliable) dan berstandar internasional ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Daya Saing Dan Efisiensi Lembaga Bursa Efek. (ii) Mengembangkan dan menerapkan performance based budgeting. Dalam rangka mewujudkan pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses. efisien dan kompetitif ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut : (i) Mengurangi Hambatan Bagi Dunia Usaha dan Masyarakat Untuk Mengakses Sumber Pendanaan. dapat diandalkan (reliable) dan berstandar internasional. efisien dan kompetitif. adil dan transparan ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Kualitas Penegakan Hukum. menyempurnakan bisnis proses dan menerapkan reward dan punishment berdasarkan kinerja. (iv) Mendorong Peningkatan Kualitas Tata Kelola Perusahaan Yang Baik.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 68 – profesional. Dalam rangka mewujudkan industri yang stabil. (iv) Meningkatkan Kemudahan Dalam Bertransaksi. (ii) Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses. (iv) Mempersiapkan Pasar Modal Domestik Dalam Menghadapi International . dan (vi) Tersedianya infrastruktur yang kredibel. (ii) Mendorong Diversifikasi Instrumen Pasar Modal Dan Skema Jasa Keuangan Non Bank. (iii) Mengimbangkan Industri Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Non Bank Berbasis Syariah. (ii) Memberikan Stimulus Dunia Usaha Untuk Melakukan Fund Raising di Pasar Modal. Dalam rangka mewujudkan regulator bidang pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan profesional ditetapkan strategi sebagai berikut: (i) Independensi Lembaga Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank. adil dan transparan. Dalam rangka penyediaan kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum. (ii) Meningkatkan Kualitas Infrastruktur Perusahaan Efek Untuk Meningkatkan Daya Saingnya. (v) Meningkatkan Kualitas Pengawasan Pelaku Pasar Modal Dan LKNB.

terukur. diharapkan dapat memberikan keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan Kebendaharaan Umum Negara telah dilaksanakan Dengan .2. ketatalaksanaan. Perancangan dan pengembangan organisasi yang akan dilaksanakan di Kementerian Keuangan salah satunya adalah agencification. dan (iii) Pengkajian dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkelanjutan agar organisasi dan ketatalaksanaan Kementerian Keuangan mengikuti tuntutan dan perubahan yang terjadi baik secara nasional maupun internasional.2. ke depan penataan organisasi akan terus menerus dilakukan untuk mewujudkan Kementerian Keuangan sebagai organisasi birokrasi yang peka terhadap tuntutan pelayanan dan menghasilkan kebijakan serta pelayanan yang adil dan rasional. Dengan berorientasi pada aspirasi public. Strategi Kementerian Keuangan di bidang Organisasi dan Ketatalaksanaan yaitu: (i) Perancangan dan pengembangan organisasi.2 Arah Kebijakan dan Strategi Reformasi Birokrasi 3.1Organisasi dan Ketatalaksanaan Kebijakan penataan organisasi Kementerian Keuangan ke depan diarahkan kepada terwujudnya organisasi yang dinamis. serta jabatan fungsional yang tepat dan konseptual yang dilakukan sesuai kebutuhan dan dengan analisis yang mendalam dan terencana dengan baik. Di bawah koordinasi Menteri Keuangan. organisasi Kementerian Keuangan tidak bersifat massive dan senantiasa melakukan self reinventing sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 3. sesuai dengan kebutuhan masyarakat. juga diarahkan untuk melakukan pemisahan fungsi dan tanggung jawab antara fungsi perumusan kebijakan (regulatory) dan pelaksanaan kebijakan (execution).2. Dengan disampaikannya Laporan Hasil Pemeriksaan terhadap kegiatan Kebendaharaan Umum Negara kepada Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) dan kepada pimpinan instansi pemerintah yang diawasi. Konsekuensinya. perkembangan kebijakan keuangan negara. (ii) Monitoring dan evaluasi organisasi dan ketatalaksanaan agar organisasi dapat berjalan sesuai dengan rencana dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk meningkatkan efektivitas dan berjalannya fungsi check and balances dalam rangka mewujudkan good governance perlu dilakukan pemisahan fungsi perumusan kebijakan dengan fungsi pelaksana kebijakan pada tugas-tugas pokok Kementerian Keuangan. dan terbuka. melakukan pengawasan terhadap kegiatan Kebendaharaan Umum Negara. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Perwujudan agencification yang sedang dikembangkan lingkup Kementerian Keuangan terkait dengan fungsi pengawasan terhadap akuntabilitas kegiatan Kebendaharaan Umum Negara sebagai pelaksanaan pasal 49 dan pasal 54 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). bekerja sama dengan aparat pengawasan intern pemerintah. dan dinamika administrasi publik. Berdasarkan Peraturan Presiden di bidang Organisasi yang berlaku saat ini (Perpres Nomor 9 Tahun 2005) konstruksi organisasi unit eselon I pelaksana tugas pokok (dalam hal ini Direktorat Jenderal) di lingkungan Kementerian/Kementerian masih menggabungkan fungsi perumusan kebijakan dengan fungsi pelaksana kebijakan. Agencification disamping memberi jawaban atas permasalahan yang menyangkut rentang kendali (span of control) organisasi. (vi) Meningkatkan Kerjasama Lembaga/Regulator Baik Dalam Negeri Maupun Luar Negeri. (v) Meningkatkan Kapasitas Regulator.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 69 – Linkages.

3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 70 – sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Untuk mewujudkan aparatur negara yang profesional dan berintegritas tinggi diperlukan sistem penempatan/pengembangan yang berbasis kompetensi serta penerapan sistem pola karier yang jelas dan terukur. serta masih harus menunggu Peraturan Presiden di bidang organisasi sebagai tindak lanjut pembentukan Kabinet baru dan pelaksanaan lebih lanjut dari UU Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. komposisi. Arah kebijakan strategi Kementerian Keuangan di bidang Pengelolaan SDM yaitu (i) melaksanakan pengadaan pegawai (human resource planning) sesuai kebutuhan unit sehingga tercipta dukungan SDM yang cukup dari segi kualitas dan kuantitas bagi unit kerja. Di samping itu rencana pembentukan OJK sebagaimana diamanatkan UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia juga merupakan upaya lain dari agencification. (iii) melaksanakan penataan pegawai guna mewujudkan kesesuaian antara jumlah. (v) menyelenggarakan penyelesaian administrasi kepegawaian secara tepat waktu. (ii) melaksanakan Assessment Center Kementerian Keuangan guna penyediaan profil pejabat Eselon II dan III di lingkungan Kementerian Keuangan dalam rangka mendukung mutasi/promosi pejabat.2Pengelolaan dan Pengembangan SDM Reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara menuntut profesionalisme dan integritas dari aparatur negara. Adapun arah kebijakan strategi Kementerian Keuangan di bidang Pengembangan SDM yaitu: (i) tersedianya data kebutuhan pendidikan dan latihan yang mutakhir. mengingat luas dan dalamnya rentang kendali Kementerian Keuangan perlu juga dipikirkan untuk melaksanakan agencification unitunit organisasi eselon I lainnya. (iv) mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian yang terintegrasi dalam rangka pengelolaan Data dan Informasi SDM. (ii) terselenggaranya program pendidikan dan pelatihan yang sesuai kebutuhan. menjadikan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menjadi badan semacam State Revenue Agency/Authority di Singapura. agencification serta perancangan dan pengembangan organisasi/ kelembagaan secara keseluruhan sangat tergantung pada arah kebijakan kelembagaan Republik Indonesia yang digariskan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. .2.2. dan kompetensi pegawai dan kebutuhan organisasi. Di masa depan. Misalnya. dan (vi) tersedianya rekomendasi pendidikan dan pelatihan yang konstruktif dan komprehensif. Salah satu bentuk agencification yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan adalah transformasi/penataan organisasi BPPK menjadi Badan Transformasi/Reformasi Birokrasi yang akan mengkoordinir pelaksanaan program reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan. (iii) terbukanya kesempatan pengembangan kompetensi diri (hard skill maupun soft skill) bagi seluruh SDM Kementerian Keuangan dan Non Kementerian Keuangan dengan program yang tersedia di unit penyelenggara diklat Kementerian Keuangan. (iv) terwujudnya kualitas pelayanan prima dalam pendidikan dan pelatihan. Namun demikian. (v) terselenggaranya evaluasi pendidikan dan pelatihan yang menyeluruh dan berkelanjutan. dan (vi) melaksanakan penegakan disiplin pegawai.

sementara beberapa komponen lainnya diharapkan selesai pengembangannya dalam periode Tahun 2010 . standar. . sistem aplikasi. PINTAR). dan infrastruktur. SBN. sistem pengelolaan aset. sistem pengelolaan utang.2014 akan menekankan pada aspek integrasi sumber daya informasi yang mencakup mulai dari infrastruktur. Pola organisasi ini memungkinkan masing-masing unit eselon I mengelola sumber daya informasinya secara independen. sistem perimbangan keuangan.2. Kementerian Keuangan akan memaksimalkan sistem aplikasi yang dikembangkan sebelumnya seperti Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) dan Sistem Monitoring Indikator Kinerja berbasis Balanced Score Card untuk mendukung reformasi birokrasi. sampai dengan sumber daya manusia pengelola teknologi informasi dan komunikasi. Strategi pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi akan difokuskan pada peningkatan kualitas layanan dan optimalisasi pemanfaatan teknologi yang ada. sistem aplikasi.2. Untuk mencapai tingkat integrasi yang diinginkan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 71 – 3. Komponen-komponen ini terdiri dari sistem penganggaran dan perbendaharaan. dan prosedur pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi dilakukan secara bersamasama oleh seluruh unit eselon I. dan prosedur pengelolaan teknologi yang sesuai dengan kondisi di Kementerian Keuangan. Beberapa komponen SIMKN ini telah digunakan (contoh: DMFAS. pola organisasi ini menuntut penyusunan kebijakan. Sementara itu. Pola desentralisasi-terpusat akan diterapkan sebagai pola organisasi pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan Kementerian Keuangan. Untuk kelompok sistem aplikasi pendukung. sementara sumber daya informasi yang menyangkut banyak pihak akan diselenggarakan oleh Pusat Informasi dan Teknologi Keuangan (PUSINTEK) sebagai penanggung jawab penyedia jasa layanan bersama (shared-services). Untuk kelompok sistem aplikasi utama. Strategi pengembangan sistem aplikasi teknologi informasi dan komunikasi mencakup kelompok sistem aplikasi utama (core applications) dan kelompok sistem aplikasi pendukung (support applications). Kementerian Keuangan mencanangkan pengintegrasian komponen-komponen Sistem Informasi Manajemen Keuangan Negara (SIMKN) menjadi satu kesatuan fungsional. standar.2014 ini (contoh: SPAN.3Informasi dan Teknologi Keuangan Arah kebijakan Kementerian Keuangan di bidang Informasi dan Teknologi Keuangan untuk periode Tahun 2010 . Strategi pengembangan tata kelola teknologi informasi dan komunikasi mencakup aspek organisasi dan aspek kebijakan. SMIPT). Di sisi lain. Kementerian Keuangan menerapkan strategi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi pada ketiga aspek pengembangan yang mencakup tata kelola. dan sistem pengelolaan kepabeanan. Peningkatan kualitas layanan mencakup peningkatan ketersediaan (availability) dan kehandalan (reliability) dari infrastruktur yang ada. sistem pengelolaan pajak. optimalisasi pemanfaatan teknologi yang ada mencakup penggunaan teknologi seperti Voice Over IP (VoIP) untuk menghubungkan beberapa unit eselon-I dengan unit-unit vertikalnya sehingga infrastruktur yang ada dapat digunakan secara lebih efisien.

3Program Pengawasan.3. ? jumlah kasus tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diserahkan ke Persentase Kejaksaan. dengan mengacu kepada RPJM Nasional Tahun 2010-2014.Rata-rata persentase deviasi asumsi makro.2Program Peningkatan dan Pengamanan Penerimaan Pajak Tujuan Program: Peningkatan penerimaan pajak negara yang optimal.Persentase deviasi proyeksi pendapatan Negara.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 72 – 3. Persentase ? Tingkat akurasi kebijakan fiskal: . ? efektivitas kebijakan pendapatan negara. ? Rasio realisasi dari janji pelayanan quick win ke pihak eksternal.3.2. dan Kebijakan yang telah ditetapkan.3. Tujuan. Indikator Kinerja Program: ? penggunaan anggaran risiko fiskal. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan. Persentase 3.1Program Perumusan Kebijakan Fiskal Tujuan Program: Terwujudnya kebijakan fiskal yang sustainable dengan beban risiko fiskal yang terukur dalam rangka stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian. Misi. Indikator Kinerja Program: ? Jumlah Penerimaan Bea dan Cukai. Indikator Kinerja Program: Persentase realisasi penerimaan pajak terhadap target penerimaan pajak 3.2. . Pelayanan dan Penerimaan di bidang Kepabeanan dan Cukai Tujuan Program: ? Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang memberikan fasilitasi kepada industri. perdagangan. yaitu: 3. . Kementerian Keuangan menetapkan program dan kegiatan prioritas/pokok. ? Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif.2.3 Program Kementerian Keuangan Berdasarkan Visi. ? Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan dan cukai. . Sasaran.Persentase deviasi target defisit APBN.2.

transparan.5Program Peningkatan Pengelolaan Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah Tujuan Program: ? Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah. dan pengelolaan belanja transfer ke daerah ke pihak eksternal. dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.3. Ketepatan ? Indeks kepuasan Pemda terhadap norma.2. Tersedianya 3. Persentase ? Jumlah penerimaan remunerasi atas penyimpanan. Persentase ? waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah. ? kepatuhan dan penegakan ketentuan/peraturan. transparan dan akuntabel 3. ? tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan.4Program Pengelolaan Anggaran Negara Tujuan Program: Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah.6Program Pengelolaan Perbendaharaan Negara Tujuan Program: Meningkatkan pengelolaan perbendaharaan negara secara profesional. Indikator Kinerja Program: ? Rasio realisasi dari janji pelayanan pengalokasian dana transfer ke daerah ke pihak eksternal. ? ketepatan penyediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara. ? Sistem Informasi Manajemen Transfer ke Daerah (SIMTRADA).2. Realisasi ? ketepatan jumlah penyaluran dana transfer ke daerah. transparan. Persentase ? target penerimaan dan pelunasan piutang penerusan pinjaman.3. ?janji pelayanan evaluasi Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal. Terciptanya akuntabel. penempatan. kredibel. dan investasi jangka pendek (Idle Cash KUN). dan akuntabel sesuai dengan ketentuan Indikator Kinerja Program: ? ketepatan penarikan dana.2. standar. Pemenuhan .3. Persentase ? Jumlah Aparat Pengelola Keuangan Daerah yang mengikuti LKD/KKD/KKD Khusus per tahun. Indikator Kinerja Program: ? Terwujudnya pengelolaan anggaran negara yang tepat waktu.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 73 – 3.

Pembiayaan APBN.8Program Pengelolaan Kekayaan Negara. dan tepat sasaran.2. 3. tepat jumlah.3. Pemenuhan ? Terpenuhinya struktur portofolio utang sesuai dengan strategi yang ditetapkan.7Program Pengelolaan dan Pembiayaan Utang Tujuan Program: ? Mengoptimalkan pengelolaan Surat Berharga Negara (SBN) maupun pinjaman untuk mengamankan pembiayaan APBN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 74 – ? atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat.Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS). Jumlah LK ? Indeks kepuasan K/L terhadap pengelolaan belanja pusat. ? Peningkatan partisipasi investor dan kreditor dalam pengadaan utang. ? Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang.Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara. termasuk utilasasi kekayaan Persentase negara. ? Mendukung upaya pengembangan pasar keuangan dalam rangka meningkatkan kapasitas daya serap dan efisiensi pasar. Indikator Kinerja Program: ? target pembiayaan melalui utang. Persentase ? Rasio realisasi dari janji pelayanan Quick Win ke pihak eksternal.3. .Pokok lelang. tertib. Persentase ? penyelesaian pengelolaan dan penatausahaan Kekayaan Negara Dipisahkan. dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder Indikator Kinerja Program: ? Jumlah Penerimaan Negara dan Penerimaan Kembali (recovery) yang berasal dari Pengeluaran APBN: . tepat guna. ? tingkat akurasi perencanaan kas. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional. ? Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang : . 3. Opini BPK ? K/L dan LK BUN yang mendapat opini WTP/WDP dari BPK.2.Bea Lelang. ? BMN yang disertifikasi. dan . Penyelesaian Pengurusan Piutang Negara dan Pelayanan Lelang Tujuan Program: Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara. ? penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan negara. Persentase . ? Pembayaran tepat waktu. dan .

? Mengembangkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi.Bidang Perbendaharaan Negara. . Persentase ? Indeks Kepuasan Stakeholders Bapepam-LK.2. dan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Tujuan Program: ? Terwujudnya Bapepam-LK sebagai lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip transparansi. . dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Kementerian Keuangan.3. .Bidang Pegelolaan Kekayaan Negara. ? Meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku ekonomi akan fungsi Kementerian Keuangan.3. ? pelatihan terhadap jam kerja. independensi dan integritas. ? Terwujudnya industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank sebagai penggerak perekonomian nasional dan berdaya saing global.Bidang Pembiayaan APBN. . . regional dan internasional.9Program Pengaturan.Bidang Pendapatan Negara. Indikator Kinerja Program: ? Jumlah policy recommendation: . Persentase ? pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri dana pensiun. pengendalian. Indikator Kinerja Program: ? Jumlah peserta edukasi publik tentang Keuangan Negara.3. Persentase ? pertumbuhan dana yang dikelola oleh lembaga pembiayaan dan penjaminan. Rasio jam 3.2.11 Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Keuangan Tujuan Program: Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas proses manajemen risiko.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 75 – 3.2.10 Program Pengembangan SDM Keuangan dan Kekayaan Negara yang Profesional Melalui Pendidikan dan Pelatihan Tujuan Program: ? Meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku ekonomi akan penyelenggaraan pengelolaan Keuangan Negara. Pembinaan.Bidang Belanja Negara. akuntabilitas. ? Jumlah kerjasama pendidikan dan pelatihan skala nasional. Indikator Kinerja Program: ? pertumbuhan nilai transaksi saham harian. Persentase ? pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri perasuransian. 3.

Jumlah kasus yang diserahkan kepada instansi penegak hukum sebagai bukti awal penyelidikan. ? Praktik KKN: Penindakan . pungutan liar. ? Indeks kualitas laporan keuangan Bendahara Umum Negara (BA 999). . 62 (Subsidi dan Transfer Lainnya). 96 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang Dalam Negeri). . Persentase ? Service Level Agreement (SLA) Index.Jumlah informasi gratifikasi. ? Indeks kualitas laporan keuangan BUN BA 61 (Cicilan dan Bunga Hutang).Bidang Pembelajaran dan Pertumbuhan. .Tercapainya implementasi pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-Procurement) di lingkungan Kementerian Keuangan dan lembaga pemerintah non kementerian/sekretariat lembaga tinggi negara/komisi negara/komisi pemerintah . Frekuensi 3. 99 (Penyertaan Modal Pemerintah). 97 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang luar Negeri).2. 70 (Dana Perimbangan).Persentase realisasi penyetoran hasil investigasi. ? Indeks kualitas laporan keuangan kementerian keuangan (BA 15). kolusi. . 71 (Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang). 98 (Penerusan Pinjaman). 69(Belanja Lain-lain). ? penyelesaian SOP.Penyelesaian PMK/KMK .3. ? komunikasi pengawasan. dan korupsi.Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 76 – .Penyelesaian ijin akuntan publik dan penilai publik ? Tingkat kompetensi karyawan untuk jabatan tematik.12 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Keuangan Tujuan Program: ? Terwujudnya tata kelola yang baik dan kualitas layanan dan dukungan yang tinggi pada semua Eselon I di Kementerian Keuangan ? Tingkat kepercayaan stakesholders (internal dan eksternal) yang tinggi Indikator Kinerja Program: ? Rasio realisasi dari janji layanan quick win ke pihak eksternal: .

Tercapainya implementasi pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-Procurement) di lingkungan Departemen Keuangan dan lembaga pemerintah non kementerian/sekretariat lembaga tinggi negara/komisi negara/komisi pemerintah .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 77 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 SEKRETARIAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA DEPARTEMEN KEUANGAN 1 Terwujudnya tata kelola yang baik dan kualitas layanan dan dukungan yang tinggi pada semua Eselon I di Departemen Keuangan 2 Tingkat kepercayaan stakesholders (internal dan eksternal) yang tinggi 1 Rasio realisasi dari janji layanan quick win ke pihak eksternal .Penyelesaian PMK/KMK .Penyelesaian ijin akuntan publik dan penilai publik Tingkat kompetensi karyawan untuk jabatan tematik Persentase penyelesaian SOP Service Level Agreement (SLA) Index 1 Koordinasi penyusunan rencana kerja. pembinaan dan pengelolaan anggaran 1 Efektifitas penyusunan rencana program yang tepat sasaran 2 Tingkat kepercayaan stakeholder yang tinggi dalam pembinaan pengelolaan keuangan negara 1 Kualitas Laporan Keuangan Departemen Keuangan (Opini dari BPK) Persentase realisasi belanja terhadap pagu Wajar Dengan Pengecualian/ WDP (LKKL 2009) 85% (Realisasi Tahun 2009) Wajar Tanpa Pengecualian/ WTP (LKKL 2013) >90% (Realisasi Tahun 2013) BIRO PERENCANAAN DAN KEUANGAN 100% 100% SEKRETARIAT JENDERAL TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 2 3 4 82.5% (JPM 70%) 100% 93% 85% (JPM 75%) 100% 94% 2 .

dan diseminasi di bidang organisasi. Pembinaan dan penataan organisasi. ketalaksanaan dan jabatan fungsional yang tepat.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 78 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Menyusun Rencana Kerja (Renja) Tahunan berdasarkan target yang ditetapkan pada Renstra dengan melaksanakan monev melalui LAKIP Meningkatkan kompetensi SDM Akuntansi melalui pelatihan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP) dan menempatkannya sesuai kebutuhan Tahunan Kontrak Kinerja 4 November 2011 Kontrak Kinerja 2. tata laksana dan jabatan fungsional 1 Mewujudkan organisasi. arahan. ketatalaksanaan. dan jabatan fungsional Menerbitkan PMK tentang penataan organisasi sebagai tindak lanjut hasil analisis beban kerja Menyusun konsep PMK tentang penilaian kinerja individu 100% 100% 100% 100% 4 5 100% 100% 100% 100% 6 Oktober 2014 Kontrak Kinerja 7 Oktober 2014 Kontrak Kinerja . efektif dan efisien pada semua satuan organisasi di lingkungan Departemen Keuangan 1 Persentase penyelesaian penataan/modernisasi organisasi di lingkungan Departemen Keuangan 100% 100% BIRO ORGANISASI DAN KETATALAKSANAAN 2 3 Persentase penyelesaian SOP Persentase perancangan dan pengembangan jabatan fungsional yang tepat Persentase jumlah Laporan Monitoring dan Evaluasi Jumlah bimbingan.

dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan kementeriannya secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektifitas implementasi perbaikan Juni 2010 Kontrak Kinerja 9 3 Pembinaan dan koordinasi perumusan peraturan perundang-undangan 1 Efektifitas dalam Penelaahan dan Perumusan Hukum 2 Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dalam Penelaahan dan Perumusan Hukum 2 3 1 Menyusun tahapan tahunan (mile stones) ke dalam roadmap Penyelesaian Peraturan Menteri Keuangan/Keputusan Menteri Keuangan: .Bersifat Kebijakan Penyelesaian Legal Opinion Jumlah Peraturan Perundang.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 79 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 8 Mengkaji ulang dan mengusulkan perbaikan kebijakan. eks BPPN dan eks BDL 100% 100% BIRO BANTUAN HUKUM dan penyelesaian masalah hukum 2 Tingkat kepercayaan stakeholder yang tinggi dalam pelayanan dan penyelesaian masalah hukum 90% 95% 5 Pembinaan dan koordinasi pengelolaan SDM Efektivitas layanan dan dukungan di bidang kepegawaian. peraturan.undangan di bidang Keuangan dan Kekayaan Negara yang terdokumentasi 4 Hari Kerja 6 Hari Kerja 100% 80% 2010 Kontrak Kinerja BIRO HUKUM 4 Hari Kerja 4 Hari Kerja 100% 100% 4 Pembinaan dan koordinasi pemberian bantuan hukum 1 Efektifitas dalam pelayanan 1 2 Persentase penyelesaian penanganan perkara hukum Persentase pendampingan pejabat. serta Tingkat kepercayaan stakeholder yang tinggi dalam layanan kepegawaian 1 2 Tingkat kompetensi karyawan untuk jabatan tematik Persentase penyelesaian administrasi kepegawaian tepat waktu 82. pegawai.5% (JPM 70%) 100% 85% (JPM 75%) 100% BIRO SDM . mantan pegawai di lingkungan Depkeu.Bersifat Administratif .

dan dengan stakeholders 1 Indeks persepsi stakeholders NA 80% BIRO HUBUNGAN MASYARAKAT 7 Pembinaan administrasi dan pengelolaan perlengkapan 1 Efektifitas layanan dan dukungan dalam pengelolaan perlengkapan 2 Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dalam layanan pengelolaan perlengkapan Efektivitas dan efisiensi pelayanan ketatausahaan dan kerumahtanggaan 1. Efektivitas peran Private Office dalam mendukung Program dan Kegiatan Menteri Keuangan 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 80 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Menerbitkan PMK tentang penataan pegawai sebagai tindak lanjut hasil analisis beban kerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja 6 Peningkatan citra positif dan kepercayaan publik kepada Departemen Keuangan 1 Tercapainya peningkatan persepsi positif Depkeu di mata publik 2 Terwujudnya pemahaman dan dukungan publik kepada Depkeu 3 Tercapainya koordinasi yang berkualitas di internal Depkeu. Efektifitas peran SMO dalam meningkatkan kinerja Departemen Keuangan 1 2 Persentase ketersediaan database Barang Milik Negara (BMN) Persentase realisasi belanja terhadap pagu Sekretariat Jenderal Penyelesaian PMK/KMK 92% 92% 96% 96% BIRO PERLENGKAPAN 8 Pembinaan administrasi dan dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor pusat Departemen 9 Koordinasi dan harmonisasi pelaksanaan kebijakan Menteri Keuangan 3 Hari Kerja 3 Hari Kerja BIRO UMUM 1 Indeks Kepuasan Menteri Keuangan 76% 80% PUSAT ANALISIS DAN HARMONISASI 2 Persentase Penyelesaian Tindak Lanjut Kebijakan Menteri Keuangan Hasil Rapat Pimpinan 81% 85% KEBIJAKAN 3 4 Peningkatan rata-rata capaian IKU Depkeu-Wide Menerapkan manajemen kinerja 10% Tahunan 11% Kontrak Kinerja . Efektivitas peran Delivery Unit dalam mendukung pelaksanaan kebijakan Menteri Keuangan 3.

Peningkatan kepercayaan stakeholder dalam layanan TIK 11 Pembinaan dan pengawasan profesi akuntan publik dan penilai publik 1 Meningkatkan kualitas profesi Akuntan Publik dan Penilai Publik yang akuntabel 2 Meningkatkan kepercayaan stakeholder yang tinggi 1 2 Penyelesaian izin Akuntan Publik dan Penilai Publik Persentase tindak lanjut terhadap KAP dan KJPP yang tidak menyampaikan laporan tahunan sesuai waktu penyampaian yang ditentukan 12 Pengelolaan investasi Pemerintah Meningkatkan efektivitas pengelolaan dana investasi pemerintah 1 Kualitas layanan dan dukungan yang tinggi terhadap penyelenggaraan persidangan sengketa pajak 2 Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dalam administrasi sengketa pajak dan sistem manajemen kasus 1 2 1 2 3 4 Pertumbuhan nilai portofolio investasi Pencapaian target PNBP Persentase jumlah berkas banding siap sidang Persentase jumlah berkas gugatan siap sidang Persentase putusan yang telah diucap Persentase permohonan peninjauan kembali yang dikirim 42% 77% 50% 85% 15% 100% 82% 82% 15% 100% 90% 90% SEKRETARIAT PENGADILAN PAJAK PUSAT INVESTASI PEMERINTAH 20 Hari Kerja 100% 20 Hari Kerja 100% PUSAT PEMBINAAN AKUNTAN DAN JASA PENILAI 1 2 Revitalisasi Kebijakan TIK di Departemen Keuangan Service Level Agreement (SLA) Index 4 93% 7 94% PUSAT INFORMASI DAN TEKNOLOGI KEUANGAN 13 Penyelesaian sengketa pajak .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 81 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) berbasis balanced scorecard dengan mengadakan monev secara periodik 10 Koordinasi dan pengembangan sistem informasi dan teknologi keuangan 1 Efektifitas layanan dan dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pengelolaan administratsi keuangan dan kekayaan negara 2.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 82 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 5 Persentase penyelesaian pengembangan sistem TIK dan IT pendukung (Case Management and Court Administration System ) 14 Pembinaan teknis dan layanan Pengadaan Secara Elektronik 1 Terlaksananya pengadaan barang/jasa secara elektronik di lingkungan Departemen Keuangan dan instansi pemerintah lain 2 Tercapainya good governance guna mendukung program reformasi birokrasi Departemen Keuangan 1 Tercapainya implementasi pengadaan barang/jasa secara elektronik di lingkungan Departemen Keuangan dan Lembaga Non Kementerian/Sekretariat Lembaga Tinggi Negara/Komisi Negara/Komisi Pemerintah 2 Meningkatnya/persentase penggunaan LPSE Departemen Keuangan oleh Lembaga Pemerintah Non Kementerian/Sekretariat Lembaga Tinggi Negara/Komisi Pemerintah dalam Pengadaan Barang/Jasa 15 Dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor-kantor vertikal di daerah yang berkantor di GKN Tingkat kepercayaan yang tinggi dari Kantor-kantor Vertikal di Daerah yang Berkantor di GKN terhadap layanan pengelolaan GKN Terwujudnya pelayanan GKN yang prima kepada Kantor-kantor Vertikal di Daerah yang Berkantor di GKN 30% 100% 25% 100% PUSAT LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK 25% 100% 92% 98% RUMAH TANGGA GKN UNIT IN CHARGE : BIRO PERLENGKAPAN .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 83 –
KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 SEKRETARIAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1)
A. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Departemen Keuangan RM PHLN KEGIATAN 1 Koordinasi penyusunan rencana kerja, pembinaan dan pengelolaan anggaran 2 Pembinaan dan penataan organisasi, tata laksana dan jabatan fungsional 3 Pembinaan dan koordinasi perumusan peraturan perundang-undangan 4 Pembinaan dan koordinasi pemberian bantuan hukum 5 Pembinaan dan koordinasi pengelolaan SDM 6 Peningkatan citra positif dan kepercayaan publik kepada Departemen Keuangan 7 Pembinaan administrasi dan pengelolaan perlengkapan 8 Pembinaan administrasi dan dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor pusat Departemen 362,063,259,000 176,360,584,951 193,588,734,525 227,560,467,609 262,435,307,728 292,623,876,000 350,466,349,322 229,111,454,299 240,624,918,013 149,552,991,486 48,470,636,000 35,192,960,000 30,567,954,111 34,945,420,463 34,155,950,005 42,596,981,030 38,663,261,202 56,985,137,684 44,177,960,539 71,032,539,624 4,175,110,000 3,272,231,049 3,664,840,801 4,209,856,814 4,828,546,869 10,697,479,000 12,877,306,160 14,061,795,887 15,555,668,626 17,370,472,883 7,740,386,000 7,608,392,783 9,274,307,496 11,452,548,853 14,275,716,343 5,035,771,862,000 4,936,488,555,806 5,512,655,880,887 6,237,071,201,549 7,123,130,700,131 6,265,506,597,000 6,242,777,483,000 22,729,114,000 5,978,863,398,978 5,971,826,156,978 7,037,242,000 6,374,150,927,861 6,370,049,957,861 4,100,970,000 7,153,428,116,283 7,148,654,016,283 4,774,100,000 8,034,428,591,760 8,034,428,591,760 0

ALOKASI 2010 (2) 2011 (3)
0.93226

2012 (4)
0.94699

2013 (5)
0.97450

2014 (6)
1.01227

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 84 –
ALOKASI 2010 (2)
9,280,680,000 113,095,985,000 RM PHLN 11 Pembinaan dan pengawasan profesi akuntan publik dan penilai publik 12 Pengelolaan Investasi Pemerintah 13 Penyelesaian sengketa pajak RM PHLN 14 Pembinaan teknis dan layanan Pengadaan Secara Elektronik RM PHLN 15 Dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor-kantor vertikal di daerah yang berkantor di GKN 6,539,200,000 5,472,907,000 220,346,689,000 4,588,072,764 3,722,000,000 233,160,555,024 5,123,236,456 3,627,170,000 161,888,153,656 5,347,725,637 4,774,100,000 140,863,341,073 152,883,291,353 5,737,133,622 17,906,490,000 77,641,280,000 65,036,410,000 12,604,870,000 12,012,107,000 16,024,440,445 53,329,513,149 50,014,271,149 3,315,242,000 8,310,072,764 16,531,771,274 28,743,827,953 28,270,027,953 473,800,000 8,750,406,456 10,121,825,637 5,737,133,622 18,194,344,178 26,191,247,033 26,191,247,033 20,231,588,940 27,423,331,082 27,423,331,082 108,444,648,000 4,651,337,000 18,487,798,000 14,982,184,220 14,949,931,386 15,650,479,493 17,190,923,273

PROGRAM/KEGIATAN (1)
9 Koordinasi dan harmonisasi pelaksanaan kebijakan Menteri Keuangan 10 Koordinasi dan pengembangan sistem informasi dan teknologi keuangan

2011 (3)
8,176,142,490 92,293,696,243 92,293,696,243

2012 (4)
8,720,573,660 95,456,318,545 95,456,318,545

2013 (5)
9,422,665,692 100,861,152,826 100,861,152,826

2014 (6)
10,277,265,505 113,880,822,382 113,880,822,382

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 85 –

KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN SEKRETARIAT JENDERAL INDIKATOR KINERJA a. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain, yang mencakup namun tidak terbatas pada : i. Memastikan konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kementerian/ lembaga selambatlambatnya 2011 Berpartisipasi aktif dalam TRB nasional Menerbitkan PMK tentang penataan organisasi dan penataan pegawai sebagai tindak lanjut hasil analisis beban kerja Menyusun konsep PMK tentang penilaian kinerja individu Menneg PAN&RB, Bappenas, BKN, KPK, Setneg Paling lambat Oktober 2014 Biro Organta/TRBP RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 86 –

INDIKATOR KINERJA a. Melaksanakan reformasi bidang pelayanan umum

RENCANA AKSI Mengkaji ulang dan mengusulkan perbaikan kebijakan, peraturan, dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan kementeriannya secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektifitas implementasi perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh pejabat yang ditunjuk Presiden untuk memimpin reformasi pelayanan umum

K/L TERKAIT

WAKTU Paling lambat Juni 2010

UNIT ESELON II TRBP

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 87 – INDIKATOR KINERJA a. Menyusun tahapan tahunan (mile stones) ke dalam roadmap 2. Menerapkan manajemen kinerja berbasis balanced scorecard dengan mengadakan monev secara periodik (bulanan. dan tahunan) K/L TERKAIT Menko Perekonomian WAKTU Sesuai target waktu dalam Rencana Strategis Kementerian 2009-2014 Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan PUSHAKA 3. triwulanan. Mencapai sasaran-sasaran Rencana Strategis Kementerian 2009-2014 RENCANA AKSI 1. Menyusun Rencana Bappenas Kerja (Renja) Tahunan berdasarkan target yang ditetapkan pada Renstra dengan melaksanakan monev melalui LAKIP Biro Perencanaan dan Keuangan .

Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI RENCANA AKSI Meningkatkan kompetensi SDM Akuntansi melalui pelatihan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP) dan menempatkannya sesuai kebutuhan K/L TERKAIT WAKTU Terlaksana November 2011 Biro Perencanaan dan Keuangan .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 88 – INDIKATOR KINERJA a.

DITJEN ANGGARAN 2 Penyusunan Rancangan APBN Tersusunnya Draft NK. dan dukungan manajemen dalam pelaksanaan tugas DJA Tersusunnya APBN yang sehat. 71 Tahun 2005 Revisi Perpres No. & RUU APBN (APBN-P) dengan besaran yang akurat dan tepat waktu Peraturan Pelaksanaan anggaran R&D berdasarkan program prioritas K/L yang bersangkutan sesuai dengan alokasi anggaran dalam APBN. mulai 2010 dan berlanjut Terlaksananya dukungan manajemen dalam pelaksanaan tugas DJA TARGET 2010 (4) 100% UNIT ORGANISASI 2014 (5) 100% PELAKSANA (6) DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN Program 100 Hari Program 100 Hari 2 3 1 Februari 2010 1 Februari 2010 4 1 Februari 2010 Program 100 Hari KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Anggaran Terlaksananya koordinasi pelaksanaan tugas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 89 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGELOLAAN ANGGARAN NEGARA TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah 1 INDIKATOR (3) Terwujudnya pengelolaan anggaran negara yang tepat waktu. Revisi Perpres No. transparan dan akuntabel Terbentuknya Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) Adanya kebijakan peningkatan populasi ternak dalam negeri. pembinaan. kredibel dan berkelanjutan 1 100% 100% SET. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN 100% 100% DIREKTORAT PENYUSUNAN APBN Temu Nasional 2 Desember 2010 3 4 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional . RAPBN.

2 triliyun pertahun Pengalokasian belanja pemerintah pusat yang tepat waktu dan efisien Penyediaan Anggaran secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menunjang program di bidang pangan. perhitungan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 90 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 5 6 7 8 9 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Road Map rasionalisasi subsidi listrik Road Map rasionalisasi subsidi BBM Revisi PP Cost Recovery RPP tentang Penghapusan PNBP Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. Anggaran I Temu Nasional 6 Desember 2010 Temu Nasional . Peraturan pelaksanaan anggaran R&D berdasarkan program prioritas K/L TARGET 2010 (4) Desember 2010 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Program 100 Hari 1 Februari 2010 3 Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) Terlaksananya kebijakan penganggaran yang transparan dan akuntabel 1 2 100% Oktober 2014 100% DIREKTORAT ANGGARAN I. pertanian. dan industri pedesaan 3 sesuai dengan persetujuan PMK No. ANGGARAN II. 261/2008 tentang tatacara penyediaan anggaran. DAN ANGGARAN III Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja 4 Desember 2010 Dit. Anggaran I Temu Nasional 5 1 Februari 2010 Dit. pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk Dokumen RAPBN-P 2010 tentang perubahan sistem pengelolaan pendanaan BLU Tanah dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010 PMK mekanisme dan Tata cara pemutihan KUT (pelaksanaan APBN 2010) dan hasil audit dari BPK.

2 triliyun pertahun 7 1 Februari 2010 Dit.Selesainya Permenkes tentang 9 insentif tenaga kesehatan di DTPK Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. Anggaran I Program 100 Hari Dit.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 91 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) yang bersangkutan sesuai dengan alokasi anggaran dalam APBN. Tersedia biaya untuk penemuan 6000 kasus gizi buruk oleh kader dan dirujuk ke fasilitas kesehatan -Selesainya kedua Permenkes tentang praktik tenaga kesehatan (perawat dan bidan) di DTPK . Anggaran I Program 100 Hari 8 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Dit. Anggaran I Program 100 Hari 4 Penyusunan dan penyampaian laporan keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) Tersusunnya Laporan Keuangan BSBL yang transaparan dan akuntabel 1 Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Lain-lain (BSBL) yang lengkap dan tepat waktu 100% 100% DIREKTORAT ANGGARAN III 2 Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) 1 Februari 2010 Program 100 Hari 3 Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan 1 Februari 2010 Program 100 Hari 4 Disepakatinya dan disiapkannya rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan 1 Februari 2010 Program 100 Hari .

71 Tahun 2005 Revisi Perpres No. terdepan & terpencil diajukan ke Sekretaris Negara 6 7 Cetak biru minimum essential force Dokumen rencana revitalisasi pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri 8 Dokumen skim anggaran multiyears (3 renstra) selesai TARGET 2010 (4) 1 Februari 2010 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Program 100 Hari 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 5 Pengelolaan PNBP dan subsidi Mengoptimalkan keuangan negara di bidang PNBP dengan tetap menjaga pelayanan kepada masyarakat 1 Tercapainya target penerimaan SDA Migas dan Laba BUMN dalam APBN atau APBN-P Tersusunnya target dan pagu penggunaan PNBP untuk APBN dan atau APBN-P Terlaksananya pembayaran subsidi energi yang tepat waktu dan jumlah Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi SOP verifikasi perhitungan subsidi BBM. Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien 95% 100% DIREKTORAT PNBP 2 100% 100% 3 4 100% Juni 2014 100% Kontrak Kinerja 5 6 Revisi Perpres No. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional .709 prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 92 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi 9.

termasuk dalam angka pinjaman luar negeri 100% 100% 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari Program 100 Hari Program 100 Hari DIREKTORAT SISTEM PENGANGGARAN Temu Nasional Desember 2010 . usulan mengenai percepatan proses pengadaan barang dan jasa.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 93 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 7 8 9 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Road Map rasionalisasi subsidi listrik Road Map rasionalisasi subsidi BBM Revisi PP Cost Recovery TARGET 2010 (4) Desember 2010 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional 10 RPP tentang Penghapusan PNBP 11 Kebutuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur dapat terpenuhi 12 Rencana pasokan gas bumi yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan gas domestik 13 PP dan Peraturan Menteri ESDM tentang Pasokan batubara Dalam Negeri (DMO) yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri 6 Pengembangan Sistem Penganggaran Terlaksananya penerapan sistem penganggaran berorientasi kinerja dan penerapan MTEF 2 1 Tersedianya norma penganggaran berbasis kinerja dan penerapan MTEF yang kredibel dan tepat waktu Revisi Keppres 80/2003.

386.737 4.088.000 61.433.037 3.036 7.776.500.086.967.94699 2013 (5) 0.952 8.505.758 3.003.391.796.104.991 72.574 62.984.017.527.184.000 4.000 3. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan Anggaran Negara 99.836 7.289.476.072.000 9.888.270.578.426.000 7.203.837.192 93.764.877.830 7.000 91.791.426 5.510.444.793 3.01227 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Anggaran 2 Penyusunan Rancangan APBN 3 Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) 4 Penyusunan dan penyampaian laporan keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) 5 Pengelolaan PNBP dan subsidi 6 Pengembangan Sistem Penganggaran 7.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 94 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.385.372.493.655.771 10.103.071.705 6.859 5.207.744 5.702.378.531.588.299.121 108.839.261.257.868.188 7.230.97450 2014 (6) 1.700.792.192.688.953 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.915 66.630.003.343 8.515 10.716.151 6.653.950 .902.830 104.700.260.311.724.979.585.381.513.501.657.788 70.698.000 7.93226 2012 (4) 0.902.694 8.070.538.501 3.

Dephan. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. BIN. Hukum dan Keamanan KRITERIA KEBERHASILAN 4 Terlaksananya koordinasasi dan sinkronisasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme menjadi Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BPKT) UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: TARGET H30: XXX Terbentuknya Badan TARGET H50: XXX Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) TARGET H75: XXX UKURAN KEBERHASILAN H30. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi. Depkeu (DJA) & Setneg % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 P3: Pemberantasan Terorisme (P3A1) Koordinasi & Kementerian Koordinator sinkronisasi tindak lanjut Politik. POLRI. DKP. Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam pembahasan penyusunan draft Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) . BIN. Dephan. TARGET H100: Terbentuknya Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) P4: Pengelolaan Wilayah Perbatasan (P4A1) Koordinasi & Sinkronisasi Akselerasi Penyelesaian Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) Departemen Dalam Negeri Kemenko Polhukam. H75. Deplu. Deplu.n.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 95 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN Bidang Politik. Depkeu (DJA) & Setneg Terlaksananya koordinasi dan sinkronisasi dengan berbagai pihak untuk penyelesaian Perpres BNPP TARGET: Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) paling lambat 16 Januari 2010 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H100: XX% Catatan : Keterangan sama dengan H75 H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (DJA): DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini. Hukum dan hasil raker dengan komisi I Keamanan DPR RI tentang peningkatan kapasitas Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme menjadi Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) H75: XX% Catatan Depkeu (DJA): Rencana aksi ini tidak terkait dengan tugas pokok dan fungsi Depkeu. TNI. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi. TNI. Menteri Keuangan No.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). DAN H100 6 H30: XX% H50: XX% RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Depdagri. H50. POLRI.S-8/MK.

H50.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Kelompok Kerja Perumus Kebijakan H100: XX% Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan terbentuk sebelum 15 Desember 2009 (P6A2) Koordinasi dengan Departemen Pertahanan Depkeu & departemen terkait untuk menyesuaikan besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan Setneg. H75. Depkeu (DJA). namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud. Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam pembahasan penyusunan draft Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP). Terluar & Perbatasan (P6A1) Menyusun Departemen Pertahanan Kelompok Kerja (Pokja) untuk merumuskan kebijakan tunjangan khusus bagi penjaga perbatasan Setneg. Kemenko Polhukam. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi Pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait untuk penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan TARGET: Disepakatinya dan disiapkannya rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan pada 30 Desember 2009 TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 96 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Kemenko Polhukam. Adapun hasil konfirmasi dari Depdagri mengatakan bahwa Perpres dimaksud masih dalam proses pembahasan. Bappenas. TARGET H100: Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) paling lambat 16 Januari 2010 P6: Tunjangan Khusus Bagi PNS/TNI/POLRI yang Bertugas di Wilayah Terdepan. Menteri Keuangan No. Catatan : Keterangan sama dengan H50 Catatan Depkeu (DJA) : DJA belum diikutkan dalam pembahasan lanjutan 25% persiapan rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan Catatan Depkeu (DJA): DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini. Depkeu (DJA).S-8/MK. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi Tersusunnya Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan TARGET: Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan terbentuk sebelum 15 Desember 2009 TARGET H30: XXX H100: XX% Catatan : Keterangan sama dengan H75 H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% 50% persiapan penyusunan Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan. Bappenas. DAN H100 6 TARGET H75: XXX % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJA): DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a.n.

Bappenas. Sarpras dan Kodal H30: XX% H50: XX% 60% penyelesaian cetak biru minimum essential force Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan. SDM. DAN H100 6 TARGET H75: XXX % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini.Kodal TNI.S-8/MK. Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 97 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Kemeneg BUMN Tersusunnya cetak biru minimum essential force yang meliputi: alutsista (AD/AL/AU).n. H50. Depkeu (DJA). Catatan Depkeu (DJA) : DJA belum diikutkan dalam pembahasan lanjutan 50% penyelesaian rancangan Perpres tentang tunjangan khusus Catatan Depkeu (DJA): DJA (Dit. terdepan & terpencil diajukan ke Sekretaris TARGET H75: XXX Negara paling lambat 16 Januari 2010 TARGET H100: Rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi 9. terdepan & terpencil Setneg. Adapun hasil konfirmasi mengatakan bahwa saat ini rancangan ketentuan masih dalam proses pembahasan. Kemeneg PPN/Ka Bappenas. Kemenko Polhukam. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi Diajukannya rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan.Anggaran III) ikut serta dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden. Depkeu (DJA).709 prajurit & TARGET H50: XXX PNS yang bertugas di daerah perbatasan. Menteri Keuangan No. terdepan & terpencil diajukan ke Sekretaris Negara paling lambat 16 Januari 2010 TARGET: Cetak biru minimum essential force tersusun sebelum Februari 2010 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX TARGET H100: Disepakatinya dan disiapkannya rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan pada 30 Desember 2009 TARGET H30: XXX H100: XX% H30: XX% H50: XX% H75: XX% H100: XX% P8: Peningkatan Kemampuan Pertahanan & Keamanan Negara (P8A1) Penyusunan cetak Departemen Pertahanan biru minimum essential force yang meliputi: . terdepan & terpencil TARGET: Rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi 9. Catatan Depkeu (DJA): Masih dalam proses pembahasan Catatan Depkeu (DJA) : DJA belum diikutkan dalam pembahasan lanjutan (P6A3) Mengajukan Departemen Pertahanan rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan. namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud. Status sama dengan H50 Catatan : Keterangan sama dengan H75 TARGET H75: XXX TARGET H100: Cetak biru minimum essential force tersusun sebelum Februari 2010 H75: XX% H100: XX% .Sarpras .SDM .709 prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan.alutsista (AD/AL/AU) . H75. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a.1/2010 tanggal 8 Januari 2010).

H75. Kemeneg PPN/Ka Bappenas. namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud. namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud. Depkeu (DJA). H50.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 98 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 TNI. DAN H100 6 TARGET H30: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 10% penyelesaian dokumen rencana revitalisasi pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan.kemitraan dengan luar negeri TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% (P8A3) Penyusunan skim anggaran multiyears (3 renstra) Departemen Pertahanan TNI. Catatan: Keterangan sama dengan H50 Catatan : Keterangan sama dengan H75 10% penyelesaian dokumen skim anggaran multiyears (3 renstra) Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan.industri strategis dalam negeri . Kemeneg PPN/Ka Bappenas. Kemeneg BUMN KRITERIA KEBERHASILAN 4 Sumber pengadaan untuk peningkatan kemampuan pertahanan dan keamanan negara teridentifikasi untuk direvitalisasi UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Dokumen rencana revitalisasi pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri UKURAN KEBERHASILAN H30. Depkeu (DJA). Kemeneg BUMN Tersusunnya skim anggaran multiyears (3 renstra) TARGET: Dokumen skim anggaran multiyears (3 renstra) selesai TARGET H100: Dokumen rencana revitalisasi H100: XX% pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Dokumen skim anggaran multiyears H100: XX% (3 renstra) selesai . Catatan: Keterangan sama dengan H50 Catatan : Keterangan sama dengan H75 (P8A2) Revitalisasi sumber Departemen Pertahanan pengadaan: .

Kemeneg BUMN. dan DJA Depkeu) pada tanggal 16.23. BPH Migas. infrastruktur dan pasokan Departemen ESDM TARGET: Kebutuhan BBM TARGET H30: Inventarisasi Kondisi Distribusi BBM dalam negeri khususnya meliputi Infrastruktur dan pasokan (bobot 25% dari untuk Indonesia bagian UK) timur dapat terpenuhi TARGET H50: Koordinasi sistem pendistribusi BBM (bobot 25% dari UK) H50: XX% Telah dilakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam rangka optimalisasi sistem pendistribusian BBM untuk memenuhi BBM dalam negeri khususnya Indonesia bagian timur. dan 30 Desember 2009 b) Pertamina telah menyampaikan dan menjelaskan langkah-langkah untuk pengamanan distibusi BBM untuk Indonesia Bagian Timur 5 tahun ke depan antara lain dengan menghidupkan kembali baackloading depot Biak dan pembangunan terminal transit Baubau. Catatan Depkeu (DJA): a) Telah mengikuti rapat program revitalisasi sistem distribusi BBM untuk % Tahun ke depan bersama dengan instansi terkait (DESDM.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 99 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL JENDERAL ANGGARAN Bidang Perekonomian RENCANA AKSI 1 P17: Jaminan pasokan energi (P17A1) Pemenuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Depkeu (DJA). H75. KRITERIA KEBERHASILAN 4 Ketersediaan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 Telah dilakukan inventarisasi kondisi distribusi BBM. H50. BUMN. Pertamina. TARGET H75: Terlaksananya revitalisasi sistem distribusi BBM (bobot 30% dari UK) H75: XX% .

Pemberlakuan harga yang sama untuk seluruh Indonesia pada tingkat lembaga penyalur termasuk APMS -Meningkatkan koordinasi pengawasan pendistribusian BBM dengan instansi terkait termasuk Pemda .Menyusun rencana revitalisasi infrastruktur dan pola distribusi BBM untuk Indonesia Bagian Timur Kebijakan tersebut di atas disampaikan dalam bentuk laporan akhir pemenuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia Bagian Timur *Hal ini bukan tanggungjawab DJA. H50. H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 100 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 TARGET H100: Kebutuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur dapat terpenuhi RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H100: XX% KETERANGAN 8 Kebutuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia Bagian Timur dapat terpenuhi secara memadai dan terjangkau melalui kebijakan : . DJA hanya mendapatkan informasi dari ESDM .

H75. Setneg. tahapan: [1] Penyusunan draft Permen [2] Pembahasan di internal unit [3] Draft Permen dikirim dari unit eselon I ke Menteri Departemen H50: XX% H75: XX% H100: XX% Menunggu konfirmasi DJA Depkeu Belum dilibatkan dalam pembahasan Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 Kemajuan 60% dari Total Bobot Program (100%) : [a] Draft RPP telah dikirim ke Depkumham pada tanggal 11 Nopember 2009 untuk diharmonisasi [b] Draft Permen sudah dikirim Dirjen Minerbapabum kepada MESDM untuk dibahas di Biro Hukum dan Humas DESDM (P17A3) Penerbitan PP dan Departemen ESDM Peraturan Menteri ESDM tentang Pasokan batubara Dalam Negeri (DMO) H30: XX% . Penyelesaian rencana pasokan gas bumi untuk keperluan domestik 5 TARGET: Rencana pasokan TARGET H30: XXX gas bumi yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan gas domestik TARGET H50: XXX TARGET H75: XXX TARGET H100: Rencana pasokan gas bumi yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan gas domestik Depkeu (DJA). Menteri ESDM tentang Menteri ESDM tentang [1] Penyusunan draft RPP Dephub Pasokan batubara Dalam Pasokan batubara Dalam [2] Pembahasan di internal unit prakarsa dan Negeri (DMO) Negeri (DMO) yang mencakup kebijakan untuk pembahasan dengan stakeholders [3] Pembahasan di internal unit prakarsa dan menjaga pemenuhan kebutuhan batubara dalam pembahasan dengan stakeholders [4] Pembahasan rapat antar Departemen negeri [5] Proses di Depkumham Penyusunan Permen ESDM selesai. tahapan: Dephukham. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 (P17A2) Perencanaan pasokan gas bumi untuk keperluan domestik PENANGGUNG JAWAB 2 Departemen ESDM INSTANSI TERKAIT % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 50% kemajuan penyelesaian rencana pasokan gas bumi a) Penyusunan Neraca Gas Bumi Indonesia 2010 – 2025 (kemajuan 60%dari bobot 40% atau 24% dari Ukuran Keberhasilan/UK) b) Penyusunan Konsep Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional (kemajuan 55% dari bobot 40% atau 22% dari UK) c) Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri ESDM tentang Penetapan Alokasi Gas Bumi (kemajuan 20% dari bobot 20% atau 4% dari UK) 3 4 Depkeu (DJA).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 101 – KRITERIA KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN H30. DepBUMN. Cakupan PP dan Peraturan TARGET: PP dan Peraturan TARGET H30: Penyusunan RPP selesai. H50. DepBUMN.

tahapan: Draft Permen ESDM di tanda tangani oleh Menteri TARGET H100: PP dan Peraturan Menteri ESDM H100: XX% tentang Pasokan batubara Dalam Negeri (DMO) yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri P22: Revitalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) (P22A1) Penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. 2 triliyun pertahun TARGET H30: XXX H30: XX% Telah dipersiapkan surat Menteri Negara Koperasi dan UKM kepada Menteri Keuangan untuk mengalokasikan Dana Penjaminan sebesar Rp. Kementerian Negara Koperasi dan UKM Penyelesaian perangkat pendukung penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN TARGET: Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. 2 trilyun dalam APBN-P 2010. Catatan Depkeu (DJA): Untuk tahun 2010. KKP. 2 triliyun pertahun Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Kemeneg BUMN. tetapi DJA sampai dengan saat ini belum pernah terlibat/dilibatkan dalam pembahasan. Kemtan. Kemkeu (DJA). penyediaan dana tersebut di dalam DIPA tidak memungkinkan di dalam 100 hari kerja karena harus melalui persetujuan DPR. RPP telah diharmonisasikan di Seskab. Kemperin. H50. H75: XX% Catatan Depkeu (DJA): Berdasarkan informasi ESDM. Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H50: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Telah dilaksanakan harmonisasi di Depkumham dengan mengundang DJP dan DJA (Direktorat PNBP).0174/30/MEM. Kemdag. No. H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 102 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. TARGET H50: XXX H50: XX% .S/2010 tanggal 7 Januari 2010. tahapan: [1] RPP dikirim oleh Depkumham ke DESDM [2] RPP dikirim oleh MESDM kepada Presiden [3] Proses di Setneg Penyusunan Permen ESDM selesai. Tahapan: RPP di tanda tangani oleh Presiden Penyusunan Permen ESDM selesai. tahapan: Draft Permen ESDM di bahas di Sekjen ESDM (biro hukum) TARGET H75: XXX Penyusunan RPP Selesai. DAN H100 6 TARGET H50: XXX Penyusunan RPP selesai. Kemdagri. selanjutnya dalam surat tersebut diharapkan juga Menteri Keuangan dapat menyiapkan dokumen dan produk hukum yang diperlukan dalam rangka pengalokasian APBN-P tersebut (antara lain : peraturan Pemerintah tentang penyertaan modal negara dalam perusahaan penjamin.

22 th. H50. ESDM. bahwa pembahasan dilakukan sejak 2007 bersama Dep ESDM. Neraca Migas terbit Januari 2010. BP gas bumi sesuai kebutuhan Migas selama minimal 20 tahun dengan harga khusus untuk industri pupuk (P26A111K1) TARGET: [1] Terbitnya surat jaminan gas dari BP Migas dan Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No. Pembahasan penyediaan bahan baku gas dilakukan bersamaan dengan pembahasan pupuk organik skala menengah kecil (P26A132) Sedang disusun rencana gas tahun 2010-2015 termasuk kebutuhan gas untuk revitalisasi koordinasi BP Migas. BP Migas. 2001 (P26A111K1U3) TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% Kemajuan 70% Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan informasi dari Direktorat Industri Kimia Hulu . 2 triliyun pertahun P26: Revitalisasi Industri pupuk dan gula Revitalisasi Industri Pupuk Urea (P26A11) Penyediaan Bahan Baku Depperin Gas (P26A111) H100: XX% Dep. DAN H100 6 TARGET H75: XXX RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF) : Kepala BKF telah menyampaikan nota dinas kepada Menteri Keuangan ND-1260/KF/2009 tanggal 30 Desember 2009 yang isinya memuat bahwa arahan Presiden untuk menambah KUR tahun 2010 sebesar Rp2T dapat ditindaklanjuti dan diusulkan RAPBN-P sebelum Maret 2010 Catatan Depkeu (BKF) : Penyediaan dana penjaminan KUR untuk program ekspansi KUR 2010 telah dialokasikan dalam draft RAPBN-P tahun 2010 TARGET H100: Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. H75. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: [1] Terbitnya surat jaminan gas dari H100: XX% BP Migas dan Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 103 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Depkeu (DJA) belum dilibatkan karena belum membahas masalah keuangan. Industri pupuk dan Pertamina.Depperin. Catatan Depkeu (DJA) : Sampai dengan saat ini DA belum dilibatkan untuk menindaklanjuti RA ini. Kementrian Jaminan ketersediaan suplai BUMN. Depkeu (BKF).22 th. 2001 (P26A111K1U3) .

Mekanisme pencairan dana kegiatan tersebut (sesuai ketentuan Depkes). dialokasikan pula dana kegiatan Respon Cepat Penemuan Kasus Rp7.Proses pencairan bintang pada DIPA 2009 Catatan Depkeu(DJA) : 1. 2. dimulai dengan Posyandu dan dirujuk ke 6.S-8/MK. Catatan Depkeu(DJA) : Sesuai dengan kemajuan H50. H75.Dana tersebut untuk membiayai informasi/laporan Dinas Kesehatan/LSM/masyarakat/media massa tentang adanya kejadian gizi buruk untuk dilaporkan kepada Kantor Pusat Ditjen Binkesmas dengan target 6000 kasus. Dana tersebut hanya dialokasikan di Ditjen Binkesmas (tidak ada di unit eselon I lainnya. Depkeu (DJA) •Jumlah kasus gizi buruk gizi buruk oleh kader yang ditemukan oleh kader Posyandu. Disamping itu. adalah dana dicairkan apabila ada laporan/informasi. H50.SK Menkes tentang DKR sebagai penerima bansos . 3.n. Menteri Keuangan No. (Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a.. 4.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Tidak terdapat tanda bintang di DIPA dimaksud (sesuai hasil pengecekan DJA). DAN H100 6 H30: XX% RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT UKURAN KEBERHASILAN 5 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 25% . termasuk di Setjen). sehingga seharusnya program ini sudah tidak terkait dengan Depkeu. Pada TA 2009 dialokasikan dana sebesar Rp 72 miliar untuk bantuan operasional dengan target 241.Sudah ditentukan DKR yang menerima bansos . Dana tersebut sudah terealisasi seluruhnya (100%) dengan cara ditransfer dari kantor pusat Ditjen Binkesmas ke rekening masing-masing posyandu. 1 2 3 4 P36: Peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian target MDGs (P36A1) Penanganan kasus Departemen Kesehatan Depdagri. Rencana aksi ini seharusnya sudah tidak terkait dengan Depkeu.000 kasus fasilitas kesehatan •TARGET: Tersedia biaya TARGET H30: XXX untuk penemuan 6000 kasus gizi buruk oleh kader dan dirujuk ke fasilitas kesehatan TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 104 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL JENDERAL ANGGARAN Bidang Kesejahteraan Rakyat KRITERIA KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN H30. 5.35 miliar yang dananya tidak dibintang sejak awal tahun 2009.700 posyandu.

ahli gizi. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini. asisten apoteker dan analis) di DTPK bidan) di DTPK TARGET H75: XXX H30: XX% H50: XX% 50% sudah meninjau ulang tentang Permenkes yang sudah ada tentang praktik Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini. sanitarian. asisten apoteker dan analis) di DTPK •TARGET: Selesainya Permenkes tentang insentif nakes di DTPK TARGET H100: Selesainya kedua Permenkes tentang H100: XX% praktik tenaga kesehatan (perawat dan bidan) di DTPK TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Selesainya Permenkes tentang insentif nakes di DTPK H100: XX% . DAN H100 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 UKURAN KEBERHASILAN 5 % CAPAIAN KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 6 7 TARGET H100: Tersedia biaya untuk penemuan 6000 H100: XX% kasus gizi buruk oleh kader dan dirujuk ke fasilitas kesehatan P38: Peningkatan ketersediaan. sanitarian. terutama di daerah terpencil. Ditetapkan Permenkes •TARGET: TARGET H30: XXX Permenkes tentang Praktek Kemeneg Daerah tentang praktik tenaga Selesainya kedua Permenkes tenaga kesehatan (perawat Tertinggal. sarjana kesehatan masyarakat. Catatan Depkeu (DJA): Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini. kesehatan (perawat dan tentang praktik tenaga TARGET H50: XXX dan bidan) di DTPK dan bidan) di DPTK kesehatan (perawat dan Peraturan Menkes tentang pemberian insentif bagi tenaga kesehatan strategis (dokter.S-8/MK.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). H75. Rencana aksi ini seharusnya tidak terkait Depkeu (Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. bidan. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes. Menteri Keuangan No.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). H75: XX% Ditetapkannya Permenkes tentang pemberian insentif bagi tenaga kesehatan strategis (dokter. perawat.n. Depdagri. pemerataan dan kualitas tenaga kesehatan.S8/MK. H50. sarjana kesehatan masyarakat. (Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. perawat. bidan. Menteri Keuangan No. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes. Catatan Depkeu (DJA) : Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini. ahli gizi. perbatasan dan kepulauan (DTPK) (P38A1) Disusunnya Departemen Kesehatan Depkeu (DJA). tertinggal.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 105 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN H30. Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 50% sudah meninjau ulang tentang Permenkes yang sudah ada tentang insentif nakes di DTPK Catatan Depkeu (DJA): Depkeu (DJA) tidak terkait dengan rencana aksi ini.n.

dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan . dan terjangkau RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . PLN. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. ESDM. pertanian. PLN. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain.Penyediaan anggaran secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menunjang program di bidang pangan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 106 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN INDIKATOR KINERJA a. BPH Migas. Bappenas.Penyempurnaan PMK No. perhitungan. listrik. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. Deptan. Pertamina. ESDM. tepat jumlah. pupuk. Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien Kemenko Perekonomian. Kemenneg BUMN Paling lambat Oktober 2014 DIREKTORAT ANGGARAN I. pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk . Kemenneg BUMN Paling lambat Juni 2014 DIREKTORAT PNBP . serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. 261/2008 tentang tatacara penyediaan anggaran. Deptan. Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi i. DAN ANGGARAN III b. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. Bappenas. dan industri pedesaan sesuai dengan persetujuan Kemenko Perekonomian. ANGGARAN II.Memperbaiki dan menyederhanakan SOP verifikasi perhitungan subsidi BBM. Pertamina. pertanian. yang mencakup namun tidak terbatas pada : i. Mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM. BPH Migas. Memastikan peningkatan investasi di bidang pangan.

PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB Menteri PU Depkeu Bappenas1 tahun Dit. Anggaran I 1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 107 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN Bidang : Infrastruktur NO. 1 tahun 2. 100 hari Menteri Keuangan Deptan. Anggaran I . BPN Dit. Pengelolaan dana BLU Tanah dan Land Capping sebaiknya berada di 1 tangan (DJ-BM) supaya kontrolnya jelas dan birokrasinya lebih sederhana Kejelasan lanjutan pemutihan KUT Membahas perubahan sistem Dokumen RAPBN-P pengelolaan pendanaan BLU Tanah 2010 dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010 Menyusun mekanisme dan Tata cara PMK pemutihan KUT (pelaksanaan APBN 2010) dan hasil audit dari BPK.

PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT K/L terkait R&D 1 tahun 1 tahun 2. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN Menyusun Road Map rasionalisasi subsidi listrik 100 hari Dit. P-APBN Dit. Anggaran III 3. PNBP 4. Revisi Keppres 80/2003 Memberikan usulan mengenai percepatan proses pengadaan barang dan jasa. 71 Tahun 2005 Memberikan masukan dari sisi APBN. Merevisi Perpres 71 tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu Merevisi Perpres No. 100 hari Dit. Peraturan Pelaksanaan 1 tahun Dit. termasuk dalam angka pinjaman luar negeri dengan tetap menjaga prinsipprinsip tata kelola yang baik Menjadi narasumber dalam proses revisi Perpres No. P-APBN Dit. Anggaran II Dit. 1 Tahun . PNBP 5.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 108 – Bidang : Industri dan Jasa No. PNBP Dit. Sistem Penganggaran UNIT ESELON II 1. Penyediaan anggaran R&D lebih besar oleh pemerintah dengan alokasi yang efektif dan efisien. Anggaran I Dit. inflasi dan kinerja ekonomi Memberikan masukan tentang rasionalisasi subsidi listrik 1 Tahun Dit. Menyediakan anggaran R&D berdasarkan program prioritas K/L yang bersangkutan sesuai dengan alokasi anggaran dalam APBN. P-APBN Dit.

PNBP Dit. PNBP 7. P-APBN Dit.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 109 – NO. Menyusun Road Map rasionalisasi subsidi BBM Sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan Penghapusan PNBP dokumen untuk perusahaan Freight Forwarding Memberikan masukan tentang rasionalisasi subsidi BBM Menjadi narasumber dalam proses revisi PP Cost Recovery Mengusulkan RPP tentang Penghapusan PNBP Dit. P-APBN Dit. . 8. PNBP Dit. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II 6.

BPHTB. Peraturan pelaksanaan UU PPN Peraturan pelaksanaan yang mengatur Pembebasan PPN bahan baku perak sesuai dengan UU PPN 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional . PBB. KUP. yang telah menampung perihal restitusi dan Pajak Masukan Kajian manfaat biaya Penghapusan VAT untuk industri media dan implikasinya pada APBN. dan Bea Materai Kepuasan unit di lingkungan DJP yang tinggi Peningkatan Efektifitas pembuatan peraturan 1 Indeks Kepuasan Unit 75 83 SEKRETARIAT DJP Persentase penyelesaian usulan pembuatan / Revisi peraturan perundangan terhadap peraturan perundangan yang harus dibuat / direvisi PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 100% 100% DIREKTORAT PP I 2 Desember 2011 Kontrak Kinerja 3 4 5 6 7 Kajian tentang pengampunan pajak dengan terlebih dulu melakukan evaluasi pelaksanaan Sunset Policy Peraturan pelaksanaan UU PPN. PPSP.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 110 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENINGKATAN DAN PENGAMANAN PENERIMAAN PAJAK Peningkatan penerimaan pajak negara yang optimal 1 2 Persentase realisasi penerimaan pajak terhadap target penerimaan pajak Persentase realisasi waktu pelayanan terhadap janji waktu pelayanan (Quick-Win) 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT JENDERAL PAJAK TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJP 2 Perumusan kebijakan di bidang PPN.

8 4 Peningkatan efektivitas pemeriksaan. dan optimalisasi pelaksanaan penagihan Pemeriksaan dan Penagihan yang Optimal untuk peningkatan kepatuhan Wajib Pajak dan Peningkatan Penerimaan Pajak Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM Persentase jumlah Refund Discrepancy dan Penerimaan Pajak dari Pemeriksaan dan Penagihan terhadap Realisasi Penerimaan Pajak 4% 3% Temu Nasional DIREKTORAT PEMERIKSAAN DAN PENAGIHAN Desember 2010 Temu Nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional 1 Februari 2010 Temu Nasional 1 Februari 2010 Temu Nasional 100% 100% DIREKTORAT PP II PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Ketentuan pelaksanaan tentang pengembalian VAT TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Temu Nasional 1 Februari 2010 2 Desember 2011 Kontrak Kinerja . dalam UU APBN 4 Kajian implikasi pemberian insentif untuk pembangunan refinery baru kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010 5 6 Menyelesaikan revisi PP cost recovery Kajian manfaat dan biaya pemberian insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. 7 Peraturan Pelaksanaan mengenai Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yang melakukan R&D. 3 Perumusan kebijakan di bidang PPh dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional Peningkatan Efektifitas pembuatan peraturan 1 Persentase penyelesaian usulan pembuatan / Revisi peraturan perundangan terhadap peraturan perundangan yang harus dibuat / direvisi PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 3 PMK pemberian PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 111 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 8 kepada wisatawan.

dan penyelesaian SUB. dan Memori serta Kontra Memori PK MA 1 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Pasal 16 UU KUP 100% 100% 2 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Pasal 36 UU KUP 100% 100% 3 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Pasal 20 UU BPHTB 100% 100%(*) *Sesuai UU PDRD dialihkan ke PEMDA 4 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Keberatan Pasal 25 UU KUP.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 112 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Penyelesaian penyidikan yang optimal PROGRAM/KEGIATAN (1) 5 Peningkatan kegiatan intelijen dan efektivitas penyidikan perpajakan Peningkatan pelaksanaan ekstensifikasi perpajakan INDIKATOR (3) Persentase berkas penyidikan yang diserahkan ke Kejaksaan TARGET 2010 (4) 25% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT INTELIJEN DAN PENYIDIKAN DIREKTORAT EKSTENSIFIKASI DAN PENILAIAN DIREKTORAT KEBERATAN DAN BANDING 2014 (5) 30% 6 Peningkatan Jumlah Wajib Pajak. Penerimaan Pajak Negara yang Optimal 1 Persentase pertumbuhan realisasi penerimaan pajak 15% 20% DIREKTORAT POTENSI. Keberatan. standardisasi dan bimbingan teknis. Objek Pajak. dan Kualitas Penilaian Persentase jumlah WP OP terhadap jumlah KK 23% 27% 7 Peningkatan pelayanan di bidang penyelesaian keberatan dan banding Tingkat Pelayanan yang tinggi atas Pengurangan. evaluasi dan pelaksanaan di bidang analisis dan evaluasi penerimaan perpajakan. Pasal 15 UU PBB. KEPATUHAN DAN PENERIMAAN 2 Kajian implikasi pemberian insentif untuk pembangunan 1 Februari 2010 Temu Nasional . Tanggapan. Pasal 16 UU BPHTB 100% 100% 8 Perumusan kebijakan.

Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM Indeks kepuasan masyarakat atas pelayanan dan penyuluhan 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional 9 Peningkatan kualitas pelayanan serta efektivitas penyuluhan dan kehumasan Tingkat Kepuasan yang Tinggi atas Pelayanan Perpajakan 72 76 DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT 10 Pembinaan. 5 6 7 Kajian tentang pengampunan pajak dengan terlebih dulu melakukan evaluasi pelaksanaan Sunset Policy Kajian manfaat biaya Penghapusan VAT untuk industri media dan implikasinya pada APBN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 113 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) refinery baru kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010 3 4 Menyelesaikan revisi PP cost recovery Kajian manfaat dan biaya pemberian insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. dan pengembangan organisasi Kepuasan yang tinggi dari pengguna teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indeks kepuasan pengguna TIK 70 80 DIREKTORAT TEKNOLOGI INFORMASI PERPAJAKAN SDM perpajakan yang profesional dan organisasi yang kondusif 1 Persentase kesesuaian kompetensi pegawai terhadap kompetensi jabatan (eselon IV lingkup DJP) 67% 75% DIREKTORAT KEPATUHAN INTERNAL DAN TRANSFORMASI SUMBER . pemantauan dan dukungan teknis di bidang teknologi. komunikasi dan Informasi perpajakan 11 Peningkatan. pembinaan dan pengawasan SDM.

dan evaluasi di bidang teknologi.komunikasi dan informasi Teknologi informasi dan komunikasi yang handal dan tepat guna 100% 100% DIREKTORAT TRANSFORMASI TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI 13 Pelaksanaan reformasi proses bisnis Proses Bisnis yang efektif dan efisien 1 2 Persentase penyelesaian proses bisnis/ SOP terhadap proses bisnis/SOP yang harus dibuat Persentase penyelesaian proses bisnis/ SOP terhadap proses bisnis/SOP yang harus disempurnakan % realisasi penerimaan pajak Persentase pencairan tunggakan terhadap jumlah tunggakan pajak Persentase realisasi pemeriksaan terhadap rencana pemeriksaan % realisasi penerimaan pajak Persentase realisasi pelayanan tepat waktu terhadap jumlah pelayanan Persentase jumlah WP OP terhadap jumlah KK Persentase pencairan tunggakan terhadap jumlah tunggakan pajak Persentase realisasi pemeriksaan terhadap rencana pemeriksaan Persentase penyelesaian pemindaian berkas SPT 100% 100% 100% 15% 66% 100% 100% 23% 15% 66% 71% 100% 100% 100% 19% 75% 100% 100% 27% 19% 74% 79% DIREKTORAT TRANSFORMASI PROSES BISNIS KANWIL DJP 14 Pembinaan penyelenggaraan perpajakan dan penyelesaian keberatan di bidang perpajakan di daerah Penerimaan pajak yang optimal 1 2 3 15 Pelaksanaan administrasi perpajakan didaerah Penerimaan pajak yang optimal 1 2 3 4 5 KPP 16 Pengelolaan data dan dokumen perpajakan Kepuasan yang tinggi dari pengguna data dan dokumen perpajakan PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN PERPAJAKAN .pengembangan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 114 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Persentase pelaksanaan pengujian kepatuhan terhadap rencana Persentase penyelesaian pembangunan dan pengembangan sistem informasi terhadap target TARGET 2010 (4) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DAYA APARATUR 2014 (5) 100% 12 Perencanaan.

552.000 2.000 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.587 5.01227 4.455. 3 4 5 6 PPSP.165.457 2.675.221.673.004.605 2.93226 4.718.483.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 115 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PROGRAM/KEGIATAN (1) A.949.046.055.201 3.386.980.225.838 51.525.036.125.180 2.665.161.000 58.330 16.929.916 84.944 3.306. evaluasi dan pelaksanaan di bidang analisis dan evaluasi penerimaan perpajakan.556.368. dan optimalisasi pelaksanaan penagihan Peningkatan kegiatan intelijen dan efektivitas penyidikan perpajakan Peningkatan pelaksanaan ekstensifikasi perpajakan 741.930 3.952.519.200.814.233.000 2012 (4) 0.358 2.001.993.812.816.525.396 274.423 3.811.228 3.094.396 3.000 3.280.241.756.498.799 3.848 .967 2.729.100.111 2.139.492.203.168.377.609 3.915.735.837.696.205 4.005.074 1.750.828.000 703.979.471 65.086.902. standardisasi dan bimbingan teknis.162.174.156.351.044.003.467.734.212.656.444.061 976.884.031. dan Bea Materai Perumusan kebijakan di bidang PPh dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional Peningkatan efektivitas pemeriksaan.688.118.348 977.812.073 4.855.110 4.998.455 3.926.262.322 14.080.960 2.000 2.246.869 3.952.427.94699 4.294.482.676.090.441.373 3.590.97450 4.485.918.000 4.799 12.000 3.501.173.000 12.386.197.451. BPHTB.499 2.594.000 3.248.052.631.047 4.660.182.510.180.475.205 1.253.886.884 856.919.005.702.457.218 2.838 4.136. KUP.000 2013 (5) 0.552.540.049.073 0 7 Peningkatan pelayanan di bidang penyelesaian keberatan dan banding 8 Perumusan kebijakan.558 73.736.569.767.767.000 2014 (6) 1.003.590. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Peningkatan dan Pengamanan Penerimaan Pajak RM PHLN KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJP 2 Perumusan kebijakan di bidang PPN.128. 9 Peningkatan kualitas pelayanan serta efektivitas penyuluhan dan kehumasan 63.627.906.125.000 2.968.207.118 11.000 217.494. PBB.423 497.976.057 2.984.

755.303.570 18.000 241.367.000 365.398.685.072 224.750.269.021. dan evaluasi di bidang teknologi.000 26.342.751.039 362.348 182. komunikasi dan informasi 13 Pelaksanaan reformasi proses bisnis RM PHLN 14 Pembinaan penyelenggaraan perpajakan dan penyelesaian keberatan di bidang perpajakan di daerah 15 Pelaksanaan administrasi perpajakan didaerah 16 Pengelolaan data dan dokumen perpajakan 2011 (3) 106.521.759.110.281.801.123 274.000 328.330 2.626 .592.506.840 2014 (6) 152.235.963.766.810.457 2.918.079.430.852 2013 (5) 133.582. komunikasi dan Informasi perpajakan 11 Peningkatan.000 2.790.992.509.995.147.186. pembinaan dan pengawasan SDM.597.218.023.000 541.660 69.180.000 2.496 2.343.914 2.642.767.125.289.777.201.308.524.508.561.254.081.245 3.453.841. pengembangan.613.028.707.499 132.402.005 168.313 2.000 23.795 27.073.208.527.456.326.356.802.818.862.503.459.474.055.280.539.000 336.633 31.762.914 0 411.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 116 – ALOKASI 2010 (2) 115.691.059 721.394 174.203.482.136.000 217.865.021 2.148.830 2012 (4) 118.123 88.656 24. pemantauan dan dukungan teknis di bidang teknologi.280.857.204.783.120.531 2.663.976 2.072 497.138.501.735.969 2. dan pengembangan organisasi 12 Perencanaan.094.212.595.774 35.316.016.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 10 Pembinaan.371.570 51.000 114.016.125.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 117 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK INDIKATOR KINERJA a. Depdag DIREKTORAT PP I. Dephub. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. DIREKTORAT PP II RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II Desember 2011 . yang mencakup namun tidak terbatas pada : i. Menyiapkan PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Dep.PU. Memastikan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum 2012.

dan Setneg Dit PP II. Melakukan kajian implikasi kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010. PMK pemberian PDRI 100 hari 2. Dit PKP . Dit PKP – Sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan Dit PP II. – Memberikan insentif untuk pembangunan refinery baru Kajian insentif 100 hari Menteri Keuangan Dep. Dit PKP – Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM Menteri Keuangan dan Menteri ESDM Menyelesaikan revisi PP Cost PP cost recovery Recovery 100 hari Depkumham. Memberikan insentif khusus (fiskal) untuk pelaksanaan optimalisasi produksi migas Memberikan fasilitas PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi. dalam UU APBN. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB Menteri Keuangan ESDM Dit PP II 1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 118 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Bidang : Energi No.ESDM Dit PP II.

ESDM Dit PP II. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB – Menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak Melakukan kajian manfaat dan biaya pemberian insentif terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. Dit PKP – Menerbitkan Perpres untuk penurunan pajak 5% dalam jangka waktu 15 tahun untuk PLTP (Panas Bumi) Dit PP II .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 119 – No. Kajian insentif 100 hari Menteri Keuangan Dep.

Restitusi PPN bisa dilakukan setiap bulan . Dit PKP – Amandemen UU PPN antara lain : .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 120 – Bidang : Industri dan Jasa No.Pajak Masukan dalam masa belum produksi dapat dikreditkan seluruhnya dan tidak perlu di bayar kembali. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT UNIT ESELON II 1. Sudah ditampung dalam amandemen UU PPN yang akan mulai berlaku 1 April 2010 Kajian 100 hari Menteri Keuangan Dit PP I. – Diperlukan UU tentang “Pengampunan Pajak” untuk semua lapisan wajib pajak. Melakukan kajian tentang pengampunan pajak dengan terlebih dulu melakukan evaluasi pelaksanaan Sunset Policy Menyelesaikan peraturan pelaksanaan UU PPN. Peraturan Pelaksanaan UU PPN 100 hari Dit PP I – Penghapusan VAT untuk industri media (kertas dan koran) Melakukan kajian manfaat biaya Penghapusan VAT untuk industri media dan implikasinya pada APBN. yang telah menampung perihal restitusi dan Pajak Masukan Kajian 100 hari Dit PP I. 575 tahun 2000 dan penerbitan peraturan percepatan restitusi pajak sehingga paling lambat 3 bulan Peraturan Pelaksanaan 100 hari Dit PP I . Dit PKP – Penyempurnaan KMK No.

Pembebasan PPN atas bahan baku perak. ? Penerbitan ketentuan pelaksanaan tentang pengembalian VAT kepada wisatawan. VAT dikembalikan kepada wisatawan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 121 – No. ? pelatihan SDM sudah Biaya masuk dalam potongan perhitungan PPh PMK 1 tahun Menteri Keuangan K/L terkait Dit PP I – 100 hari Dit PP I – Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yg melakukan pelatihan peningkatan mutu SDM. Biaya R&D sudah masuk dalam Peraturan potongan perhitungan PPh (pajak Pelaksanaan penghasilan) 1 tahun Menteri Keuangan K/L terkait R&D 1 tahun Dit PP II 4. 1 tahun Dit PP II . sheet dan crepe. – Menghapus pajak barang mewah atas bahan makanan dan minuman. Depdag 1 tahun Dit PP I 3. crumb rubber. ? Sudah ditampung dalam amandemen UU PPN. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II 2. Menerbitkan peraturan pelaksanaan yang mengatur Pembebasan PPN bahan baku perak sesuai dengan UU PPN Peraturan Pelaksanaan 100 hari Menteri Keuangan Depperin. Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yang melakukan R&D.

dan masyarakat serta 2 optimalisasi penerimaan Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan dan cukai 3 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJBC 2 1 Terciptanya kinerja kesekretariatan DJBC yang efisien Terwujudnya dukungan yang optimal terhadap pencapaian sasaran strategis DJBC 3 2 1 Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat Persentase penyelesaian program pengembangan SDM Persentase Modernisasi Unit Organisasi di lingkungan DJBC 4 Persentase penyediaan sarana dan prasarana DJBC tertentu 80% 90% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3 1 2 Jumlah Penerimaan Bea dan Cukai Rasio realisasi dari janji pelayanan quick win ke pihak eksternal Persentase jumlah kasus tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diserahkan ke Kejaksaan 40% 50% 100% 80% 100% 85% DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) SES. DAN PENERIMAAN DI BIDANG KEPABEANAN DAN CUKAI 1 Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang memberikan fasilitasi kepada industri. perdagangan. PELAYANAN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 122 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGAWASAN. DITJEN BEA DAN CUKAI .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 123 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan di bidang teknis kepabeanan 2 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif 3 Terciptanya pelayanan yang pasti di bidang kepabeanan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) 5 4 3 1 2 PROGRAM/KEGIATAN (1) 2 Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Bidang Kepabeanan INDIKATOR (3) Fekuensi pemutakhiran pada Data Base Harga I Persentase rumusan peraturan yang menjadi keputusan di bidang teknis kepabeanan Persentase ketepatan waktu penyelesaian penetapan nilai pabean dan klasifikasi barang PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 6 PMK tentang Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dalam rangka pengembangan Sistem Logistik 7 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 8 9 SOP tentang pemeriksaan Memperbaiki PMK dan Perdirjen mengenai prosedur penetapan nilai pabean termasuk prosedur pengaduan dan keberatan 10 Menerapkan secara konsisten dan memberikan TARGET 2010 (4) 12X 75% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT TEKNIS KEPABEANAN 2014 (5) 12X 80% 80% 75% Oktober 2014 Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja Desember 2010 Desember 2010 Temu Nasional Temu Nasional Desember 2010 Temu Nasional .

perdagangan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 124 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) penjelasan kepada pengguna jasa kepabeanan mengenai SOP tentang penetapan nilai pabean 11 Memperbaiki sistem penanganan pengaduan masyarakat khusus mengenai penetapan nilai pabean Desember 2010 Temu Nasional 3 Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Fasilitas Kepabeanan 1 Terciptanya administrator di bidang fasilitas kepabeanan yang dapat memberikan dukungan industri. dan masyarakat serta optimalisasi pendapatan 1 Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian fasilitas pembebasan dan keringanan bea masuk 70% 80% DIREKTORAT FASILITAS KEPABEANAN 2 Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian fasilitas pertambangan 70% 80% 2 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang fasilitas kepabeanan 3 Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian Tempat Penimbunan Berikat (TPB) 70% 80% 3 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan efektif 4 Persentase realisasi janji layanan pemberian fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) melalui modernisasi sistem dan prosedur 70% 80% 5 Persentase penyelesaian rancangan PMK dan aturan pelaksanaan lainnya terkait sistem pelayanan kepabeanan yang mendukung Sistem Logistik Nasional (Customs Advance Trade System) - 100% 6 PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang Oktober 2014 Kontrak Kinerja .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 125 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 7 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) kepabeanan dan perpajakan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 8 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 9 PMK untuk memadukan Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dengan Kawasan Ekonomi Khusus di 5 lokasi (di Jawa dan Sumatera) 10 Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam 11 Dokumen cetak biru transportasi multimoda sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Oktober 2014 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 4 Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Bidang Cukai 1 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang cukai 1 2 Tingkat ketepatan waktu penyediaan pita cukai Persentase permohonan pengembalian cukai yang selesai diproses 25 hari 75% 20 hari 80% DIREKTORAT CUKAI 2 Terwujudnya pengendalian konsumsi dan produksi barang kena cukai dengan tetap mempertimbangkan aspek penerimaan cukai 3 Persentase cukai yang dibayar tepat waktu dibandingkan dengan jumlah cukai secara 98% 99% .

dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan 2 Terciptanya institusi kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat 3 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang intelijen. penindakan dan penyidikan yang handal 4 Terwujudnya pengawasan efektif dan pelayanan yang efisien 6 5 4 3 2 1 keseluruhan PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 5 Pelaksanaan Pengawasan dan Penindakan atas Pelanggaran Peraturan Perundangan. penindakan. Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 126 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 3 Terciptanya institusi yang dapat memberikan pengawasan efektif dan pelayanan terbaik. Intelijen dan Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai 1 Persentase tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diserahkan ke Kejaksaan Persentase pemblokiran dibandingkan dengan jumlah perizinan Persentase operasi penegahan barang larangan dan pembatasan Persentase pemanfaatan sarana intelijen. perdagangan. prosedur. dan penyidikan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional Desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum 40% 50% DIREKTORAT PENINDAKAN DAN 15% 10% PENYIDIKAN 60% 80% 60% 80% Oktober 2014 Kontrak Kinerja 1 Februari 2010 Program 100 Hari 7 Sistem. & kualitas SDM 1 Februari 2010 Program 100 Hari 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Audit Bidang Kepabeanan dan Cukai 1 Terwujudnya audit kepabeanan dan audit cukai yang dapat mendukung peran DJBC dalam mengamankan hak negara 1 Persentase pelaksanaan audit sesuai dengan DROA (Daftar Rencana Obyek Audit) 80% 90% DIREKTORAT AUDIT 2 3 Persentase Hasil Evaluasi Laporan Hasil Audit PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 80% 2 3 Terwujudnya profesionalisme SDM Auditor Terwujudnya efektivitas di bidang pengawasan 90% Oktober 2014 Kontrak Kinerja .

penyempurnaan perancangan dan/atau pelaksanaan kebijakan dan peraturan perundangundangan di bidang kepabeanan dan cukai Persentase pencairan tagihan terhadap jumlah tagihan bea masuk. cukai. perdagangan. perdagangan. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan 2 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang penerimaan dan peraturan kepabeanan dan 3 cukai Tercapainya perumusan peraturan di bidang kepabeanan dan cukai 4 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif 4 3 1 2 100% 70% 100% 80% 3 2 1 PROGRAM/KEGIATAN (1) 7 Perumusan Kebijakan dan Evaluasi Pelaksanaan Kerjasama Internasional INDIKATOR (3) Persentase kebijakan pabean nasional terhadap hasil kesepakatan kepabeanan internasional Persentase rumusan kebijakan kerjasama internasional dibidang kepabeanan dan cukai PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional TARGET 2010 (4) 70% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT KEPABEANAN 2014 (5) 75% 90% 95% INTERNASIONAL Oktober 2014 Kontrak Kinerja 2 Perumusan Kebijakan dan Peningkatan Pengelolaan Penerimaan Bea dan Cukai Jumlah penerimaan bea dan cukai Persentase penyelesaian evaluasi dan rekomendasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 127 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri. sesuai dengan standar internasional Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan internasional 3 Terwujudnya sistem pengawasan dan pelayanan sesuai dengan standar WCO (World Customs Organization) 8 1 Terciptanya administrasi penerimaan kepabeanan dan cukai yang tertib dan dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan. dan pajak dalam rangka impor Persentase peraturan pelaksanaan dibidang kepabeanan dan cukai yang selaras (tidak bertentangan dengan) dengan peraturan perundang-undangan DIREKTORAT PENERIMAAN DAN PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI 55% 60% 75% 90% .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 128 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan 6 PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 7 PMK tentang mandatory NSW impor dan ekspor di 5 pelabuhan utama 8 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 9 PMK mengenai jam kerja DJBC 24 jam sehari dan 7 hari seminggu 10 Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja Oktober 2014 Oktober 2014 Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja 1 Februari 2010 Temu Nasional 1 Februari 2010 Program 100 Hari 9 Perumusan Kebijakan dan Pengembangan Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai 1 Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik berbasis teknologi informasi kepada industri. serta 1 Persentase sistem aplikasi dan infrastruktur TI yang sesuai dengan proses bisnis DJBC 100% 100% DIREKTORAT INFORMASI 2 3 Persentase downtime sistem informasi Rata-rata persentase penyelesaian 1% 70% 1% 75% KEPABEANAN DAN CUKAI . perdagangan. dan masyarakat.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 129 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
optimalisasi penerimaan 2 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang teknologi informasi kepabeanan dan 3 cukai Terwujudnya tingkat pelayanan yang efisien kepada pemangku kepentingan berkaitan 4 dengan layanan berbasis teknologi informasi Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif yang berbasis teknologi informasi 7 6 5 4

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)
pengembangan aplikasi sesuai rencana Persentase penyelesaian aplikasi sistem kepabeanan yang terintegrasi dengan portal NSW PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional PMK tentang Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dalam rangka pengembangan Sistem Logistik 8 PMK tentang mandatory NSW impor dan ekspor di 5 pelabuhan utama 9 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 10 PMK untuk memadukan Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dengan Kawasan Ekonomi Khusus di 5 lokasi (di Jawa dan Sumatera)

TARGET 2010 (4) 2014 (5)

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

Desember 2010

Kontrak Kinerja

Oktober 2011

Kontrak Kinerja

Oktober 2014

Kontrak Kinerja

Oktober 2014

Kontrak Kinerja

Oktober 2014

Kontrak Kinerja

Desember 2011

Kontrak Kinerja

Desember 2011

Kontrak Kinerja

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 130 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)
Temu Nasional

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)
11 Percepatan operasionalisasi NSW. Untuk 5 pelabuhan, NSW untuk import siap dilaksanakan akhir Desember 2009. Untuk pelabuhan yang lain, tergantung kebijakan dan kesiapan K/L lainnya.

Desember 2010

10 Perumusan Kebijakan, Pelaksanaan Kepatuhan Pelaksanaan Tugas, Evaluasi Kinerja, Analisis dan Tindak Lanjut Pemberian Rekomendasi

1

Peningkatan kepercayaan terhadap kinerja dan citra DJBC

1

Persentase pegawai DJBC kasus pelanggaran kode etik/disiplin pegawai

1%

0.50%

PUSAT KEPATUHAN INTERNAL KEPABEANAN DAN

2

Peningkatan kepatuhan pelaksanaan tugas dan efektivitas kinerja DJBC melalui pencegahan, penegakan, dan pembinaan kepatuhan internal

2

Indeks kepuasan pengguna jasa kepabeanan dan cukai. Jumlah kegiatan evaluasi kinerja DJBC secara berkala Persentase rekomendasi audit aparat pengawas fungsional yang telah ditindaklanjuti Persentase kegiatan internalisasi kepatuhan internal yang direalisasikan.

60%

65%

CUKAI

3

10X

10X

3

Peningkatan integritas, disiplin, dan profesionalisme sumber daya manusia Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai (PUSKI)

4

75%

80%

5

100%

100%

11 Pembinaan Peyelenggaraan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

1

Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi kepada industri, perdagangan, dan

1 2

Pencapaian target penerimaan bea dan cukai Persentase tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diproses diserahkan ke Kejaksaan

100% 40%

100% 50%

KANTOR WILAYAH

2

masyarakat serta optimalisasi penerimaan Terwujudnya profesionalisme SDM kantor wilayah kepabeanan dan cukai

3

Realisasi audit dibandingkan dengan rencana

90%

95%

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 131 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
3 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif 12 Pembinaan Penyelenggaraan Kepabeanan dan Cukai di Daerah 2 1 Optimalisasi fungsi utama DJBC sebagai Fasilitator Perdagangan, Dukungan Industri, Penghimpunan Penerimaan dan Pelindung Masyarakat. Memberikan pelayanan yang efisien, berdasarkan prinsip " good governance " Meningkatkan kepatuhan mitra kerja DJBC 3 1 2 Pencapaian target penerimaan bea dan cukai Realisasi dari janji layanan terhadap pelayanan jalur prioritas dan jalur hijau ke pihak eksternal Persentase tindak pidana dibidang kepabeanan dan cukai yang diproses diserahkan ke kejaksaan 40% 50% 100% 90% 100% 100%

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)

TARGET 2010 (4) 2014 (5)

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

KPU

3

13 Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

1

Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi kepada industri, perdagangan, dan masyarakat

1 2 3

Pencapaian target penerimaan bea dan cukai Indeks kepuasan pelayanan bea dan cukai Persentase temuan pelanggaran kepabeanan dan cukai

100% 60% 80%

100% 65% 90%

KPPBC

2

Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan efektif

14 Peningkatan Pelayanan dan Pengawasan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

1

Peningkatan produktivitas sarana pengawasan untuk kegiatan intelijen, penindakan dan penyidikan

1

Persentase jumlah kapal patroli yang siap untuk berlayar dibandingkan dengan jumlah kapal yang dalam kondisi baik

60%

80%

PANGSAROP

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 132 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
1 Terciptanya pelayanan yang efisien kepada pengguna jasa baik internal maupun external dalam rangka identifikasi barang dan pengklasifikasian 2 Tersedianya instrumen analisa dan sarana pendukung lain yang menunjang pengujian laboratorium 3 2 Persentase jumlah ketepatan waktu hasil uji laboratorium dibandingkan dengan target penyelesaian Persentase jumlah instrumen analisa yang tersedia dibandingkan dengan target 80% 100% 75% 100% 1

PROGRAM/KEGIATAN (1)
15 Peningkatan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

INDIKATOR (3)
Persentase jumlah pengajuan yang dapat terlayani untuk uji laboratorium

TARGET 2010 (4)
80%

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)
BPIB

2014 (5)
90%

16 Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai pada Perwakilan LN

1

Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri, perdagangan, dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan, sesuai dengan standar internasional

1

Persentase rumusan masukan untuk kerjasama internasional dibidang kepabeanan dan cukai terhadap isu yang diidentifikasi

75%

80%

Perwakilan LN

406 258.335 2.656 .672 1.403 966.885 1.000 97.700.099.358.192.282.246.925.578 143.381.061. intelejen dan penyidikan tindak pidana kepabeanan dan cukai 6 Perumusan kebijakan dan pelaksanaan audit bidang kepabeanan dan cukai 7 Perumusan kebijakan dan evaluasi pelaksanaan kerjasama internasional.460.950.01227 2 Perumusan kebijakan dan bimbingan teknis bidang kepabeanan 3 Perumusan kebijakan dan bimbingan teknis fasilitas kepabeanan 4 Perumusan kebijakan dan bimbingan teknis bidang cukai 1.952.340.280 2.000 1.93226 2012 (4) 0.256.814 14.649.287.000 369.003.639.858 4.376 4.825.136 1.307 273.046.615 429.118.584.339.000 1.027.161.590.661 77.465 2.247 4.159 1.883.123.796.064.000 1.415 283.698.635.640.012.817.711.209.113.937.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 133 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PROGRAM/KEGIATAN (1) A.241 389.266 265.619 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.802.105.700 1.045.142 364.000 237.133.057 4.919.530.230.971.800.599 755.648. 80.035.764.104.802.148.565 1.869 1. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengawasan.810.537.000 39.204.800.065.593.968.555 1.974.496 150.897.000 3.558.436.753.333.94699 2013 (5) 0.415.964.661.433. Pelayanan dan Penerimaan di Bidang Kepabeanan dan Cukai KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJBC 389.795.533.247 125.624.402 5 Pelaksanaan pengawasan dan penindakan atas pelanggaran peraturan perundang-undangan.010.303.807.917.871.615.881.511.982.97450 2014 (6) 1.

414.904.384.664 275.329 771.855 278.727.045.000 446.663.384.397 501.845.394 118.500 18.475.818.590.375.125 98.957.858.048.472.252.259 7.635.663.395.860.000 276.186.402.272.048.251.889.699 16.040.888.181 13.384.258.772.119.343.942.683.068.206.000 90.914 501.000 6. Analisis dan Tindak Lanjut Pemberian Rekomendasi 11 Pembinaan penyelenggaraan kepabeanan dan cukai di daerah 12 Pembinaan penyelenggaraan kepabeanan dan cukai di daerah 13 Peningkatan Pengawasan dan Pelayananan kepabeanan dan cukai di daerah 14 Peningkatan Pelayananan dan Pengawasan kepabeanan dan cukai di daerah 15 Peningkatan Pelayananan kepabeanan dan cukai di daerah 16 Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai pada Perwakilan LN 2011 (3) 3.581.100 129.974.134.707 130.044.017 14.000 123.682.629 138.238.086.907.783 5.192.816 295.507 7.448.498.637 2014 (6) 3.673.053 277.003 7.174.934. Evaluasi Kinerja.076.614.366 95.720.684.048.673.133 470.684.000 87.772.072 .252.495 147.237.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 134 – ALOKASI 2010 (2) 5.184.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 8 Perumusan kebijakan dan peningkatan pengelolaan penerimaan bea dan cukai 9 Perumusan kebijakan dan pengembangan teknologi informasi kepabeanan dan cukai 10 Perumusan kebijakan Pelaksanaan Kepatuhan Pelaksanaan Tugas.202.812 4.910.413.871.228.528 7.359 114.209 2012 (4) 3.730 540.112 105.694.220.000 12.896.105.046.064.044.210.316 5.754.346.119.000 4.273.227.884.931 97.536 135.792.414.484.572.211.163 2013 (5) 3.452 101.056.954.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 135 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL BEA CUKAI Bidang Politik. prosedur. DAN H100 6 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 1 P7: Penegakan dan Kepastian Hukum (P7A1) Penyusunan desain Kementerian Koordinator pola penguatan & Politik. Depkeu (DJBC). Komisi Kejaksaan. Hukum dan Keamanan Depkumham. Komisi Lainnya Tertatanya sistem. KPK. Komisi Kejaksaan. Komisi Ombudsman. & kualitas SDM H75: XX% H100: XX% . Komisi Lainnya KRITERIA KEBERHASILAN 4 Tersusunnya desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum tersusun paling lambat 15 Desember 2009 UKURAN KEBERHASILAN H30. prosedur. Bea Cukai (Depkeu). Komisi Ombudsman. POLRI. H75. Kompolnas. prosedur. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Depkumham. Kejagung. & kualitas SDM yang menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi secara transparan dan akuntabel TARGET: Sistem. Kompolnas. Kejagung. Hukum dan pemantapan hubungan Keamanan kelembagaan antar penegak hukum Catatan Depkeu (DJBC): Untuk P7A1 dan P7A2 sudah dilakukan koordinasi dengan pihak Dephub dan akan dilakukan pembahasan lanjutan dengan pihakpihak terkait. KPK. POLRI. Pembahasan selama ini belum melibatkan DJBC. TARGET H30: XXX & kualitas SDM TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% TARGET H75: XXX TARGET H100: Sistem. H50. TARGET H75: XXX TARGET H100: Desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum tersusun paling lambat 15 Desember 2009 H75: XX% H100: XX% (P7A2) Pemantapan organisasi pada lembaga penegak hukum dalam prinsip kinerja yang transparan & akuntabel Kementerian Koordinator Politik.

b) Rancangan Perdirjen Perbendaharaan tentang Pelayanan Bank Persepsi/Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. Depdag. H50. . % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 Rancangan Keputusan Menteri Keuangan (RKMK) tentang Jam Kerja DJBC di pelabuhan telah di proses dan disampaikan ke Biro Hukum pada tanggal 26 November 2009. Perdirjen Perbendaharaan untuk operasional bank devisa di pelabuhan sedang dalam proses. DAN H100 6 TARGET H30: 30% a) Penyelesaian Rancangan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) tentang Jam Kerja Ditjen Bea dan Cukai di Pelabuhan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 136 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL BEA CUKAI Bidang Perekonomian RENCANA AKSI 1 P25: Kelancaran arus barang dan daya saing (P25A22) Pengoperasian pelayanan kepabeanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu PENANGGUNG JAWAB 2 Departemen Keuangan INSTANSI TERKAIT 3 Deptan. H75. dan Deperin KRITERIA KEBERHASILAN 4 Pelaksanaan Pengoperasian pelayanan kepabeanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Terlaksananya Layanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu kepelabuhanan dan kepabeanan di empat Pelabuhan Utama (Tanjung Priok. Tanjung Perak. Belawan dan Makassar) UKURAN KEBERHASILAN H30. Depkes /BPOM. Dephukham.

Adapun Persetujuan MenPAN atas perubahan jam kerja dimaksud telah ditetapkan dalam surat MenPAN tertanggal 14 Desember 2009 dan diterima oleh Departemen Keuangan tanggal 17 Desember 2009. Sekjen an. dan Tim Reformasi Birokrasi telah dilaksanakan tgl. b). Kemeneg PAN. . sebagaimana update dalam b) Sosialisasi kepada Bank Persepsi/ Devisa kolom keterangan Persepsi tentang Operasi Pelayanan Penerimaan Kepabeanan selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. H75.Telah diterbitkan KMK 504/KMK. Sosialisasi kepada Bank Persepsi sudah dilakukan sebanyak 2 kali tanggal 12 November 2009 dan 16 Desember 2009. H50. Sehingga target H-50 sudah tercapai 100% H50: 50% target ini telah a)Terbitnya KMK tentang Jam Kerja Ditjen Bea dan tercapai 100% Cukai di Pelabuhan. Menkeu telah menyurati MenPAN terkait hal tersebut degan Nomor:S731/MK. Sosialisasi baru akan dilaksanakan jika KMK tentang Jam Kerja DJBC di Pelabuhan telah diterbitkan. Bank Persepsi telah menyatakan kesiapannya. Update Capaian H50 (tanggal 05 Januari 2010): a. Adapun. draf Perdirjen Perbendaharaan terkait Pelayanan Bank Persepsi /Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu telah disusun.) Segera diterbitkan KMK tentang perubahan jam kerja.1/2009 tgl. Pembahasan tentang kesiapan SDM dan insentif dengan Biro SDM Depkeu. 1 Des 2009 tentang Permohonan Persetujuan Jam Kerja.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 137 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 TARGET H50: 50% % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 a.04/2009 tanggal 17 Desember 2009 Tentang Pelayanan Kepabeanan 24 Jam Sehari dan 7 Hari Seminggu pada Kantor Kepabeanan di Pelabuhan Tertentu. 10 Desember 2009. b.

dan Makassar) tanggal 16 Januari 2010 sejak pukul 00. Telah diterbitkan ijin dari Bank Indonesia tentang Pelayanan Bank Persepsi /Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. Depkes Implementasi Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) TARGET: Sistem Pelayanan TARGET H30: XXX Informasi dan Perizinan TARGET H50: XXX Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (DJBC): Rencana Aksi DJBC: PMK mengenai pelimpahan wewenang BC dan Pajak di bid investasi kpd PTSP setelah penerbitan PP pelimpahan wewenang.011/2009 tanggal 16 Nov 2009. Depkominfo. d)Terbitnya Perdirjen Perbendaharaan tentang Pelayanan Bank Persepsi /Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. Deperin. Tanjung Priok. Depdag. membuat Per Dirjen BC ttg alih aset c. H50. DepESDM. Konsep R PerDirjen terkait alih aset dalam proses penyelesaian. Deptan. TARGET H100: 100% Operasionalisasi Layanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu kepelabuhanan dan kepabeanan di 4 Pelabuhan Utama H100: 100% Dirjen Bea dan Cukai telah me-launching Operasionalisasi Layanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu kepelabuhanan dan kepabeanan di 4 Pelabuhan Utama (Belawan. Depkeu (DJBC). H75. Ketentuan terkait dengan Pembebasan Bea Masuk terhadap barang untuk keperluan industri dan/atau industri jasa dalam rangka pembangunan dan pengembangan telah ditetapkan dengan PMK176/PMK. Dephut. Telah dilaksanakan sosialisasi kepada pengguna jasa dan Penyiapan Sarana Prasarana serta SDM (5-8 Jan 2010) c. Tanjung Perak. 2. Telah diterbitkan Perdirjen Perbendaharaan Nomor 63/PB/2009 tanggal 30 Desember 2009 tentang Pelayanan Bank Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. % CAPAIAN 7 H75:100% KETERANGAN 8 a. DAN H100 6 TARGET H75: 75% a) Terbitnya Perdirjen Bea dan Cukai tentang Jam Kerja Ditjen Bea dan Cukai di Pelabuhan. Dephub.00 WIB. b. TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJBC) : Sedang disusun draft Peraturan Dirjen BC terkait alih aset . mengundang Ka KPU Batam Progress : 1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 138 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. c) Terbitnya ijin dari Bank Indonesia tentang operasi bank Persepsi/Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. Peraturan Dirjen BC nomor 92/BC/2009 tanggal 30 Desember 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kepabeanan 24 Jam Sehari dan 7 Hari Seminggu pada Kantor Pabean di Pelabuhan Tertentu. b)Sosialisasi kepada pengguna jasa dan Penyiapan Sarana Prasarana serta Sumberdaya Manusia (SDM). Sehingga target H-100 telah tercapai. Operasionalisasi sampai saat ini berjalan dengan baik dan lancar. mengirimkan surat penegasan ttg RPMK b. P25: Kelancaran arus barang dan daya saing (P25A1) Penerapan Sistem Pelayanan Kepala Badan Koordinasi Informasi dan Perizinan Investasi Secara Penanaman Modal Elektronik (SPIPISE) di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Dephukham. memberikan asistensi terkait masalah teknis d. d. a.

Depdagri. H50. Depdag. Menteri Keuangan No. % CAPAIAN 7 H100: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJBC) : terkait alih aset dalam proses finalisasi Perdirjen TARGET H75: 75% H75: XX% TARGET H100: Dokumen cetak biru transportasi H100: XX% multimoda sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional Keterangan sama dengan H-50.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). H75. Bappenas Penyempurnaan cetak biru transportasi multimoda dalam melayani arus barang dan penumpang di daerah tertinggal dan pusat produksi dan distribusi TARGET: Dokumen cetak TARGET H30: 20% biru transportasi multimoda TARGET H50: 50% sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional H30: 20% H50: XX% Catatan Depkeu (DJBC): Sudah dilakukan koordinasi dengan pihak Dephub dan program ini lebih bersifat internal organisasi Dephub.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 139 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 TARGET H100: Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam P28: Aksesibilitas dan keterhubungan ( connectivity ) Antar Wilayah (P28A1) Penyusunan cetak biru transportasi multimoda sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional Departemen Perhubungan Depkeu (DJBC).S8/MK. Catatan : Keterangan sama dengan H75 . Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a.n. DepPU.

belawan dan soeta) NSW utk impor siap dilaksanakan . Depdag. Memastikan penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota. Dir PPKC. dimulai dari Batam. Dir IKC .untuk pelabuhan yang lain tergantung kepada kebijakan dan kesiapan K/L lainnya Menko Perekonomian. Dephub. Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan ii. Depperin. BKPM. pembatalan Peraturan Daerah bermasalah dan pengurangan biaya untuk bisnis seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) Menyiapkan PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan Menko Perekonomian.Untuk 5 pelabuhan (tj Priok. Deptan. tj emas. Dir Fasilitas K. Mengoperasikan secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor sebelum Januari 2010 RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . Pemda/ dewan kawasan Batam Paling lambat Oktober 2014 Dir Teknis K. Depdagri. Memastikan tercapainya target capaian Program 100 Hari i. tj perak.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 140 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI INDIKATOR KINERJA a. dan 15 lembaga pemerintah lainnya Paling lambat Desember 2010 Dir IKC. Depkes (BPOM). Depdag.

Depdag. Dephub. 15 instansi terkait Paling lambat Oktober 2014 Dir IKC. Dir PPKC.PU. Tenaga Pengkaji. Dir PPKC. 15 instansi terkait Paling lambat Oktober 2014 Dir Teknis K. Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Dep.Menyiapkan PMK tentang mandatory NSW impor dan ekspor di 5 pelabuhan utama . Paling lambat Oktober 2014 Dir Teknis K. Depdag Paling lambat Desember 2011 Dir Fasilitas. Dir Audit.Menyiapkan PMK tentang Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dalam rangka pengembangan Sistem Logistik . RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II Menyiapkan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional . Dir IKC. Dephub.Menyiapkan PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Menko Perekonomian. Dir P2. Dephub. Memastikan pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. Dir KI. Dir IKC ii. Ketua TPR Menko Perekonomian. Dephub. Dir Fasilitas K. Menko Perekonomian. Dir Teknis K. yang mencakup namun tidak terbatas pada : i.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 141 – INDIKATOR KINERJA a. Depdag. 15 instansi terkait. Percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Customs Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. Dir IKC . Depdag. Dir PPKC. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. Memastikan beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 142 – INDIKATOR KINERJA i. RENCANA AKSI . Depdag. Ka KWBC Sumut . Ka KWBC Jabar. Ketua TPR. Memastikan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di 5 lokasi melalui skema PublicPrivate Partnership sebelum 2012. Ka KWBC Jatim I. Dir IKC. 15 instansi terkait WAKTU Paling lambat Desember 2011 UNIT ESELON II Dir Fasilitas.Menyiapkan PMK untuk memadukan Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dengan Kawasan Ekonomi Khusus di 5 lokasi (di Jawa dan Sumatera) K/L TERKAIT Menko Perekonomian. Dephub.

PMK 100 hari Dit. Dephub. Menerbitkan PMK mengenai jam kerja DJBC 24 jam sehari dan 7 hari seminggu Meningkatkan disiplin pelaksanaan SOP tentang pemeriksaan . Paling lambat Desember 2010 (1 tahun) 1 tahun Menteri Keuangan Dit. Depkes dan 15 Lembaga Pemerintah Lainnya. PPKC 2. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT Depdag. Deptan. Dephub. ? Menerapkan secara konsisten dan memberikan penjelasan PMK Paling lambat Desember 2010 (1 tahun) Menteri Keuangan Dit. UNIT ESELON II 1. Operasional seluruh pihak berwenang di pelabuhan menjadi 24 jam sehari. Teknis Kepabeanan . Dit. ? Memperbaiki PMK dan Perdirjen mengenai prosedur penetapan nilai pabean termasuk prosedur pengaduan dan keberatan. – Review prosedur pemeriksaan bea cukai agar tidak terjadi pemeriksaan ganda. Untuk pelabuhan yang lain. Teknis Kepabeanan – Percepatan operasionalisasi Nasional Single Window Untuk 5 pelabuhan. 7 hari seminggu. NSW untuk import siap dilaksanakan akhir Desember 2009. Deptan. Menko Perekonomian Depdag. IKC – Transparansi dalam penetapan nilai pabean. tergantung kebijakan dan kesiapan K/L lainnya.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 143 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI Bidang : Industri dan Jasa No.

PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II ? Menerapkan secara konsisten dan memberikan penjelasan kepada pengguna jasa kepabeanan mengenai SOP tentang penetapan nilai pabean.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 144 – No. – Jam kerja kepabeanan 24 jam sehari. ? Menerbitkan Per DJPB tentang pelayanan bank persepsi . . . ? Memperbaiki sistem penanganan pengaduan masyarakat khusus mengenai penetapan nilai pabean. 7 hari seminggu ? Menerbitkan PMK mengenai jam kerja DJBC 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Sudah dilaksanakan PMK dan Perdirjen Perbendaharaan 100 hari Dit. PPKC – Reformasi kepabeanan melalui jalur prioritas dapat ditingkatkan dan diperluas kepada perusahaan yang memenuhi persyaratan.

dan investasi jangka pendek (Idle Cash KUN) Persentase ketepatan penyediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara Pemenuhan target penerimaan dan pelunasan piutang penerusan pinjaman Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Jumlah LK K/L dan LK BUN yang mendapat opini WTP/WDP dari BPK 78 K/L & PA BUN WTP : 50 WDP : 28 7 8 9 Indeks kepuasan K/L terhadap pengelolaan belanja pusat Persentase tingkat akurasi perencanaan kas Rasio realisasi dari janji pelayanan Quick Win ke pihak eksternal KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1 Meningkatkan pelayanan kepada stakeholders dalam proses pencairan dana melalui KPPN Percontohan sehingga 1 Rasio realisasi dari janji layanan quick win ke pihak eksternal 91% 95% SES.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 145 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGELOLAAN PERBENDAHARAAN NEGARA Meningkatkan pengelolaan perbendaharaan negara secara profesional.18 Triliun 6.24 Triliun 98% 98% 50% 3 Triliun 80% 3. dan akuntabel sesuai dengan ketentuan 3 4 5 6 1 2 Persentase ketepatan penarikan dana Jumlah penerimaan remunerasi atas penyimpanan.17 83 K/L & PA BUN WTP : 81 WDP : 2 3.22 WDP WTP 7.78 Triliun DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN NEGARA TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) . transparan. penempatan. DITJEN PERBENDAHARAAN 85% 91% 95% 95% 3.

kepuasan kerja dan produktivitas pegawai 5 SOP yang dibuat / diperbaharui dapat mengikuti perkembangan organisasi 2 Pembinaan Pelaksanaan Anggaran dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran 2 Agar pelaksanaan kegiatan dan pencairan dana dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang direncanakan 3 Menghasilkan informasi DIPA yang akurat 4 5 Meningkatkan pemahaman K/L / satker terhadap pelaksanaan anggaran Memantau pelaksanaan dokumen pelaksanaan anggaran terkait dengan 5 Jumlah K/L yang mendapatkan sosialisasi tentang pelaksanaan anggaran 74 K/L 74 K/L 4 3 Persentase jumlah satker yang revisi dokumen pelaksanaan anggarannya diselesaikan tepat waktu Persentase akurasi sistem informasi DIPA 80% 90% 80% 90% 2 1 Menjamin kelancaran pelaksanaan APBN 1 5 Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat Indeks kepuasan stakeholders terhadap pelayanan pelaksanaan anggaran Persentase ketepatan penarikan dana 50% 80% 3.5 DIREKTORAT PELAKSANAAN ANGGARAN 100% 100% 4 Indeks kepuasan pegawai 2 2 3 % jumlah pegawai yang melanggar disiplin pegawai 0.28% 2 Persentase jumlah jabatan yang terisi oleh pegawai yang memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan 80% 100% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .32% 0.3 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 146 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) mendukung pelaksanaan belanja negara secara optimal kepada K/L 2 Mengukur ketepatan penempatan pejabat di Ditjen Perbendaharaan sesuai dengan kemampuan dan karakteristik yang dipersyaratkan 3 Memperbaiki attitude pegawai sebagai bentuk pembinaan pegawai dalam rangka meningkatkan profesionalisme 4 Memperoleh feedback langsung dari pegawai terkait dengan motivasi.

4 3 2 1 Persentase monitoring pelaksanaan anggaran Sejumlah paket bantuan PNPM Mandiri Jumlah penerimaan remunerasi atas penyimpanan. penempatan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 147 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) kesesuaian realisasi dengan rencana 6 7 3 Peningkatan Pengelolaan Kas Negara 1 2 Optimalisasi Idle Cash Pemerintah Menutup cost of fund pemerintah dalam pembiayaan defisit APBN 3 Mengukur kinerja pengelolaan kas terkait pelayanan dalam penyaluran dana APBN 4 Mewujudkan jumlah saldo RKUN dan Rekening Penempatan di Bank Indonesia yang tepat dan akurat 5 Mengetahui tingkat kualitas pelayanan dalam penyaluran dana yang diberikan kepada stakeholders 6 Memperkirakan arus kas masuk dan arus kas keluar secara akurat 6 5 Persentase tingkat akurasi dari rencana penerimaan kas dibandingkan dengan realisasi penerimaan kas Persentase Tingkat akurasi dari rencana pengeluaran kas dibandingkan dengan realisasi pengeluaran kas 7 8 Meningkatkan pemahaman K/L / satker terhadap pengelolaan kas negara Mewujudkan laporan realisasi anggaran yang cepat. tepat dan akurat 8 7 Jumlah satker yang mendapatkan sosialisasi tentang pengelolaan kas negara Persentase monitoring permintaan kebutuhan dana KPPN melalui e-Kirana secara tepat 98% 98% 700 Satker 900 Satker 85% 95% 85% 95% 4 Indeks kepuasan K/L terhadap proses penyaluran dana 3. dan investasi jangka pendek (Idle Cash KUN) Persentase ketepatan penyediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara Persentase ketepatan penghitungan saldo 100% 100% 98% 98% 50% 75% Program 100 hari DIREKTORAT PENGELOLAAN KAS NEGARA 1 Februari 2010 3 Triliun 3.78 Triliun PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .0 3.

18 Triliun 6.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 148 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 9 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) waktu dan tepat jumlah Penerbitan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan tentang Pelayanan Bank Persepsi 10 Sejumlah kota yang menyediakan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik 11 10 kota yang menyediakan pelayanan satu atap 12 Akses KUR yang lebih luas melalui linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah mencakup 7 Bank besar nasional dan 2 Bank daerah (Bank DKI dan Bank Nagari) serta asosiasi BPD.24 Triliun DIREKTORAT SISTEM MANAJEMEN INVESTASI 2 Tersedianya dana investasi dan pembiayaan lainnya yang optimal yang berasal dari APBN 2 Persentase penyediaan dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya yang disetujui 100% 100% 3 Menyalurkan dana investasi dan pembiayaan lainnya yang optimal yang berasal dari APBN 3 Persentase penyaluran dana investasi dan pembiayaan lainnya yang disetujui 100% 100% 4 Mengoptimalkan pemberian/penerusan pinjaman dengan memperhatikan 4 Persentase jumlah permohonan pinjaman/penerusan pinjaman dan 100% 100% . TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Temu Nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari Program 100 Hari 4 Manajemen Investasi dan Penerusan Pinjaman 1 Mengoptimalkan penerimaan APBN hasil penerusan pinjaman sehingga mampu mendukung pengelolaan keuangan negara yang berkelanjutan 1 Pemenuhan target penerimaan dan pelunasan piutang penerusan pinjaman 7.

dan koordinasi yang ditindaklanjuti TARGET 2010 (4) 100% 2014 (5) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .PMK Perubahan atas PMK mengenai PMN kepada PT Askrindo dan Perum Jamkrindo 5 Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum 1 Mewujudkan penerapan Pengelolaan Keuangan secara efektif dan efisien oleh satker BLU sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanannya kepada masyarakat 2 3 Menilai kualitas layanan pembinaan pengelolaan keuangan BLU Terselenggaranya proses penilaian penetapan satker BLU secara efektif dan efisien sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan 4 Mewujudkan penerapan pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan oleh satker BLU untuk meningkatkan kualitas pelayanannya kepada masyarakat 4 Persentase jumlah satker BLU yang menyampaikan laporan keuangan sesuai ketentuan 70% 85% 3 2 Indeks kepuasan satker BLU atas layanan pembinaan pengelolaan keuangan BLU Persentase penetapan satker BLU sesuai batas waktu yang ditetapkan 100% 100% 3 3 1 Persentase jumlah satker BLU yang kinerja keuangannya meningkat 70% 80% DIREKTORAT PEMBINAAN PENGELOLAAN KEUANGAN BLU 1 Februari 2010 Program 100 Hari 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) pembiayaan lainnya yang diproses Persentase jumlah kesepakatan negosiasi. 6 Bank Pelaksana.Adendum II MOU KUR antara 8 K/L. mediasi. dan koordinasi yang memperhatikan ketentuan yang berlaku dan kepentingan keuangan negara 6 . dan 2 Perusahaan Penjamin mengenai pelaksanaan KUR . mediasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 149 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) ketentuan yang berlaku 5 Menghasilkan kesepakatan negosiasi.

6 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Penyelenggaraan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran INDIKATOR (3) Opini BPK atas Laporan Keuangan TARGET 2010 (4) WDP 2014 (5) WTP UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN 74 K/L dan 11 74 K/L dan 11 .4 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 150 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 2 Menjamin akuntabilitas dan transparansi pertanggungjawaban keuangan negara Meningkatkan kualitas penyusunan laporan keuangan KL dan pengguna anggaran BUN yang menunjukkan mutu layanan yang diberikan kepada stakeholders 3 Menjamin akuntabilitas dan transparansi pertanggungjawaban keuangan negara 4 Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas keuangan negara 5 4 3 Persentase rekonsiliasi realisasi APBN yang handal dan tepat waktu Persentase penyelesaian RUU PP APBN beserta Keterangan Pemerintah atas RUU secara tepat waktu Jumlah LK K/L dan LK BUN yang mendapat opini WTP/WDP dari BPK 78 K/L & PA BUN WTP : 50 WDP : 28 5 Meningkatkan kualitas penyusunan laporan keuangan KL dan pengguna anggaran BUN yang menunjukkan mutu layanan yang diberikan kepada stakeholders 6 Menjamin akuntabilitas pelaksanaan APBN 8 7 Persentase rekomendasi BPK atas LKPP yang telah ditindaklanjuti Pengelolaan Keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI 7 Pembinaan Sistem dan Dukungan Teknis Perbendaharaan 1 Tersedianya sistem perbendaharaan yang mudah dan akuntabel serta sesuai dengan 1 Tingkat kesesuaian sistem perbendaharan yang dihasilkan dengan kebijakan di bidang 96% 96% DIREKTORAT SISTEM PERBENDAHARAAN November 2011 Kotrak Kinerja 100% 100% 6 Jumlah K/L dan PA BUN yang mendapatkan bimbingan teknis akuntansi PA BUN 83 K/L & PA BUN WTP : 81 WDP : 2 PA BUN 100% 25% ` 100% 100% 2 1 Pemerintah Pusat Indeks kepuasan stakeholders terhadap pelayanan akuntansi dan pelaporan keuangan 3.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 151 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) kebijakan pengelolaan perbendaharaan negara bagi stakeholder 2 Mengetahui tingkat kualitas produk dan layanan sistem perbendaharaan yang dihasilkan Ditjen Perbendaharaan 3 Mengetahui tingkat kesesuaian dan keterpenuhan kebutuhan stakeholder dengan peraturan yang dihasilkan 4 Terpenuhinya kebutuhan stakeholder terhadap sistem perbendaharaan (proses bisnis dan aplikasi komputer) dalam rangka pengelolaan perbendaharaan 5 Meminimalisasi permasalahan dan kendala dalam penerapan sistem perbendaharaan 6 Sejumlah kota yang menyediakan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik 8 Pengembangan Sistem Perbendaharaan Mewujudkan sistem perbendaharaan negara yang modern 1 Persentase rancangan pengembangan proses bisnis pengelolaan perbendaharaan yang 100% 100% DIREKTORAT TRANSFORMASI PERBENDAHARAAN 9 Pembinaan Pelaksanaan Perbendaharaan di Wilayah Meningkatkan pemahaman stakeholders terhadap ketentuan pengelolaan perbendaharaan 2 1 Persentase rekonsiliasi realisasi anggaran secara andal dan tepat waktu Persentase jumlah satker yang dokumen pelaksanaan anggarannya disahkan tepat 99. PERBENDAHARAAN 1 Februari 2010 Program 100 Hari 5 Persentase jumlah rekomendasi perbaikan sistem perbendaharaan 100% 100% 4 Persentase jumlah sistem perbendaharaan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan stakeholders 100% 100% 3 Persentase jumlah peraturan yang dihasilkan melalui proses harmonisasi 85% 95% 2 Indeks kepuasan stakeholders atas implementasi sistem perbendaharaan 3 3 perbendaharaan PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .78% 100% 77.10% 85% KANWIL DITJEN.

50% 100.00% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 152 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) waktu 3 Persentase jumlah satker yang revisi dokumen pelaksanaan anggarannya diselesaikan tepat waktu 4 10 Penyelenggaraan Kuasa Bendahara Umum Negara Mempercepat penyaluran dana APBN kepada stakeholders 1 Jumlah satker yang mendapatkan sosialisasi Persentase jumlah SP2D yang diterbitkan tepat waktu 17000 Satker 91% 21000 Satker 95% KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA 96.

288.096.645.000 1.857.264 1.173.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 153 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.000 1.577 355.000 6.984 11.847 35.870.594.772.819.241.273.774.567 1.757 21.400.044.938.385.600.278.489.048.451.808.708.581.870.219.371.983.01227 5 Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum 6 Penyelenggaraan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran 7 Pembinaan sistem dan dukungan teknis perbendaharaan 8.254.519 38.846.057 .408.355.473.320 1.337.330.999 20.431 41.000 80.302.858.997.809 9.503.354.107 38.637 327.431 1.552.166.682.630.227.909.704.452 23.290 24.806.128.264 117.638 18.213 1.320.320 161.000 1.951.332.336.285.442.390.021 27.645.062.219 15.590.883.567 0 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.93226 2012 (4) 0.94699 2013 (5) 0.150.212.369.000.155 16.272.000 12.166.000.000 22.404.329.487.515.000 24.486. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan Perbendaharaan Negara RM PHLN KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan 2 Pembinaan Pelaksanaan Anggaran dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran 3 Peningkatan Pengelolaan Kas Negara 4 Manajemen Investasi dan Penerusan Pinjaman 15.549.536.987.446.442.337.798.794.914 22.037.964 30.000 1.528.193.053.000 29.275.380 41.636.000.876.97450 2014 (6) 1.844.628 17.718 27.288.357.967.125 40.000 1.215.609.502 25.619.869.311.359.611 387.682.699.595.290 13.113.292 370.013.556.716.480.000 326.000 14.468 7.021.100.

339.932 509.317.119.000 25.925.628.142 145.545.313.604 0 264.460.770.594 46.911.000 501.447 27.358.273.339.000 243.020 .809 117.092.267 5.344.621 579.116.000 232.779 526.311.727.062.636.337.016.509.481.000 236.589.750 44.792.237.809 28.536.604 PROGRAM/KEGIATAN (1) 8 Pengembangan Sistem Perbendaharaan RM PHLN 9 Pembinaan Pelaksanaan perbendaharaan di Wilayah 10 Penyelenggaraan Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN) 106.447 161.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 154 – ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 2012 (4) 2013 (5) 2014 (6) 44.267 41.411.341.053.119.339.594.688.637.476.070.442 534.403.001.355.172.000 80.157.992.844.586.000 189.789.000 246.048.

TARGET H75: XXX H75: XX% Tidak ada keterkaitan antara DJPB dengan program ini. Keterkaitan tidak langsung DJPB hanya menyangkut pengaturan jam operasi bank persepsi dalam menerima setoran pajak.keterkaitan Penyetoran/Penerimaan di Bank.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 155 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KRITERIA KEBERHASILAN 4 Tersedianya secara optimal pelayanan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. TNI. Depdag. Tersedianya pelayanan satu TARGET: 10 kota yang POLRI.1/2010 tanggal 8 Januari 2010).n. Masih dalam progres dan belum dibahas aturan hukumnya dengan DJPB. Dephub. Catatan Depkeu (DJPB) : Sudah diusulkan untuk dibatalkan sesuai hasil rapat di Setjen 5 Jan 2010 TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: XX kota yang menyediakan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik H100: XX% (P2A14) Mendorong penyediaan pelayanan satu atap pada 10 kota sebagai tambahan terhadap pelayanan yang sudah ada Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Pemda. disimpulkan bahwa tidak terdapat keterkaitan langsung dengan DJPB dalam rencana aksi ini. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. Depkeu atap pada 10 kota sebagai menyediakan pelayanan (DJPB) tambahan terhadap satu atap pelayanan yang sudah ada pada Desember 2009 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (DJPB): DJPB telah melakukan koordinasi dengan Kemenpan dan RB. H50. Jasa Rahardja.S-8/MK. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Pemda. Launching tanggal 14 Januari 2010 DJPB menunggu undangan pembahasan penyusunan peraturan pendukung dari pihak POLRI. Depkes. Setiap pemegang SIM diharuskan mempunyai saldo (deposit) yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran denda tilang. Berdasarkan konfirmasi dari Kemenpan dan RB . H75. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 Bidang Politik. TARGET H100: 10 kota yang menyediakan pelayanan satu atap H100: XX% Catatan : Keterangan sama dengan H75 . Depdagri. Menteri Keuangan No. Depkeu (DJPB) 1 P2: Percepatan Pelayanan Publik (P2A8) Mengoptimalkan pembayaran tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik Markas Besar POLRI TARGET: XX kota yang TARGET H30: XXX menyediakan pembayaran TARGET H50: XXX titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik Catatan Depkeu (DJPB) : Aturan hukum SIM sebagai dasar alat pembayaran denda tilang (SIM sebagai e-Wallet) . POLRI membutuhkan aturan hukum yang berkaitan tentang proses penerimaan/penyetoran di bank persepsi.

Depdag. dan Perusahaan Penjaminan. Depkop & UKM.05/2009 tentang perubahan atas PMK No. Kemeneg BUMN KRITERIA KEBERHASILAN 4 Cakupan penyempurnaan Memorandum of Understanding (MoU).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 156 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Depkeu (DJPB). Biro Hukum Setjen Departemen Keuangan. PMK. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 H30: 60% KETERANGAN 8 60% kemajuan penyempurnaan MoU. [3] SOP Pelaksanaan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur. menunggu penyelesaian MoU oleh Menko Perekonomian. 1 2 P22: Revitalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) (P22A2) Perubahan Peraturan Pelaksanaan Penyaluran KUR Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian TARGET: [1] Adendum II TARGET H30: 60% MOU KUR antara 8 K/L. Telah diadakan pertemuan di Kementerian Koperasi dan UKM tanggal 4 Nopember 2009 yang dihadiri oleh Deputi Menko Perekonomian. definisi debitur KUR. [4] PP mengenai PMN kepada PT Askrindo dan Perum Jamkrindo H50: XX% Catatan Depkeu (DJPB): Saat ini Draft PMK sudah selesai. Diharapkan beberapa kendala yang dihadapkan dalam penyaluran KUR dapat dibahas lebih lanjut dalam komite kebijakan untuk penyelesaiannya.135/PMK. 6 (enam) Bank pelaksana KUR dan Perusahana Penjamin untuk membahas berkaitan dengan pelaksanaan penyaluran KUR selama ini. Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Hal tersebut telah diinformasikan kepada Ibu Farah sebagai PIC di Kementerian Perekonomian. [2] PMK Perubahan atas PMK No. dan 2 Perusahaan Penjamin mengenai pelaksanaan KUR. dan perluasan Bank pelaksana. SOP mengenai pelaksanaan KUR dan penerbitan PP mengenai Penyertaan Modal Negara (PMN). Deptan.05/2008 mengenai fasilitas penjaminan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur. definisi debitur KUR. Bank Indonesia. Hari Selasa tanggal 22 Desember 2009 direncanakan akan dilakukan pembahasan Draft PMK tentang Revisi PMK Fasilitasi Penjaminan KUR antara Ditjen Perbendaharaan. . Standard Operating Procedur (SOP) mengenai pelaksanaan KUR dan penerbitan Peraturan Pemerintah mengenai Penyertaan Modal Negara (PMN) UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.10/PMK. Deperin. DKP. dan perluasan Bank TARGET H50: 75% pelaksana. H75. 6 Bank Pelaksana. H50.

dan Koperasi. DAN H100 6 TARGET H75: 90% RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJPB): DJPB telah menyelesaikan: 1.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). definisi debitur KUR. Draft Revisi PMK No. H50.05/2008.n. Victoria.n. TARGET H100: [1] Adendum II MOU KUR antara 8 K/L. H100: XX% Catatan Depkeu (DJPB) : Target yang menjadi tugas DJPB telah selesai dilaksanakan H30: XX% Telah diadakan pertemuan pada tanggal 11 Nopember 2009 dengan 7 (tujuh) Bank besar nasional (BCA.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 157 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. [3] SOP Pelaksanaan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur. Panin. BII. Menengah. TARGET H50: XXX H50: XX% Catatan Depkeu (DJPB): Perlu klarifikasi keterlibatan Depkeu dalam rencana aksi ini. TARGET H75: XXX H75: XX% Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. dan 2. [2] PMK Perubahan atas PMK No. Kemeneg BUMN Perluasan akses KUR TARGET: Akses KUR yang TARGET H30: XXX lebih luas melalui linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah mencakup 7 Bank besar nasional dan 2 Bank daerah (Bank DKI dan Bank Nagari) serta asosiasi BPD.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Artha Graha. pada umumnya seluruh Bank yang hadir bersedia untuk menjadi Bank Pelaksana KUR. Kecil. dan perluasan Bank pelaksana. [4] PP mengenai PMN kepada PT Askrindo dan Perum Jamkrindo (P22A3) Perluasan akses KUR: linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah Kementerian Negara Koperasi dan UKM Depkeu (DJPB). dan perluasan Bank pelaksana. 10/PMK. Mega) dan Bank daerah (DKI.05/2009 tentang perubahan atas PMK No. Menteri Keuangan No. (Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. Nagari dan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah) untuk membahas keikutsertaan sebagai Bank pelaksana KUR dalam rangka memperluas akses KUR. dan 2 Perusahaan Penjamin mengenai pelaksanaan KUR.05/2008 mengenai fasilitas penjaminan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur.135/PMK. Menteri Keuangan No. definisi debitur KUR.S-8/MK. 135/PMK. CIMB Niaga.10/PMK. 6 Bank Pelaksana.S8/MK.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan KUR dan Perubahannya No. H75. . Draft Adendum II MOU tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada Usaha Mikro.

DAN H100 6 TARGET H100: Akses KUR yang lebih luas melalui linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah mencakup 7 Bank besar nasional dan 2 Bank daerah (Bank DKI dan Bank Nagari) serta asosiasi BPD.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 158 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. H50. RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H100: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu : Keterangan sama dengan H75 . H75.

namun sampai saat ini masih belum ada pengajuan revisi DIPA . H50. DAN H100 6 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 1 2 P30: Peningkatan Efektivitas dan Keberlanjutan PNPM Mandiri (P30A2) Sosialisasi dan Departemen Dalam Negeri. Saat ini sedang melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Daerah (Kabupaten) mengenai penentuan lokasi dan jumlah alokasi dana yang akan disalurkan. Bappenas. Pemda Mandiri di Sumbar dan dalam rangka rehabilitasi Umum Sumbar Jabar dan rekonstruksi di Sumbar dan Jabar Catatan Depkeu(DJPB): DJPB akan melakukan pembinaan pelaksanaan anggaran dan penambahan alokasi dana bantuan PNPM. H75. Cakupan bantuan PNPM bantuan PNPM Mandiri Departemen Pekerjaan Depkeu (DJPB).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 159 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Bidang Kesejahteraan Rakyat RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: XX paket bantuan tersalurkan UKURAN KEBERHASILAN H30. TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJPB): DIPA terkait PNPM sudah terbit dan selanjutnya dalam pelaksanaanya Departemen Dalam Negeri akan melakukan permohonan revisi DIPA TARGET H100: XX paket bantuan tersalurkan H100: XX% Catatan Depkeu (DJPB) : Sama dengan H75. Kemenko Kesra.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 160 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN INDIKATOR KINERJA a.Peningkatan pembinaan penyelenggaraan SAI K/L TERKAIT WAKTU Ditargetkan November 2011 UNIT ESELON II Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Ditargetkan November 2011 Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan . Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI RENCANA AKSI .Penyempurnaan akuntansi penerimaan perpajakan dan PNBP untuk meningkatkan keandalan angka penerimaan perpajakan maupun PNBP .

7 hari seminggu. Menerbitkan Per DJPB Perdirjen tentang pelayanan bank Perbendaharaan persepsi .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 161 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Bidang : Industri dan Jasa No. Dephub. Deptan. Operasional seluruh pihak berwenang di pelabuhan menjadi 24 jam sehari. Direktorat Pengelolaan Kas Negara 1. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L UNIT ESELON II JAWAB TERKAIT 100 hari Menteri Keuangan Depdag.

PENYELESAIAN PENGURUSAN PIUTANG NEGARA DAN PELAYANAN LELANG Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara.Bea Lelang .8% 44. termasuk pemanfaatan asset idle 4 Persentase BMN yang disertifikasi N.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 162 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGELOLAAN KEKAYAAN NEGARA. tepat guna.Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara . tertib.70 M 40.Pembiayaan APBN 2 Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang . dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder.Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) .A 90% Terkait K/L dan BPN Surat dari DJKN kepada K/L bulan Oktober 2008 mengenai penyediaan anggaran untuk sertifikasi BMN belum mendapat respon K/L 770 M 3.17 M 4.Pokok Lelang 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan Negara.04 M 350 M 61. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional.04 M 135 M 67.35 T 87.15 T 68% 627. 1 Jumlah Penerimaan Negara dan Penerimaan Kembali (recovery) yang berasal dari Pengeluaran Pembiayaan APBN .29 M DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .

5% N. termasuk pemanfaatan asset idle. tertib.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 163 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 60% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 5 Persentase penyelesaian pengelolaan dan penatausahaan Kekayaan Negara Dipisahkan UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Memberikan pelayanan terbaik kepada semua unsur Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk memperlancar pelaksanaan tugas 1 Presentase pegawai yang memiliki standar kompetensi jabatan sesuai dengan kebutuhan jabatan 2 Modernisasi unit organisasi di lingkungan DJKN 3 Persentase sarana dan prasarana yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan satker DJKN 4 Persentase penyerapan anggaran 2 Perumusan kebijakan. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara Terselenggaranya pengelolaan barang milik negara yang professional. optimal serta akuntabel 1 Persentase formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengelolaan BMN 2 Persentase K/L yang menyusun RKBMN 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan Negara.A 2011 80% 80% 90% 100% DIREKTORAT BARANG MILIK NEGARA I 80% 90% 10 14 70% 95% SES. standardisasi.A 100% Mulai T.DITJEN KEKAYAAN NEGARA . bimbingan teknis.A 90% Terkait K/L dan BPN 70% 82. 4 Persentase BMN yang disertifikasi N.

63% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 164 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) oleh K/L 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca 3 Perumusan kebijakan. standardisasi. tertib. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara yang dipisahkan Terselenggaranya pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara yang dipisahkan yang professional.A 60% 90% 100% Terkait K/L dan BPN 66% 93% N. termasuk pemanfaatan asset idle 4 Persentase BMN yang disertifikasi 5 Persentase penyelesaian pengelolaan dan penatausahaan Kekayaan Negara Dipisahkan 6 Persentase Kepatuhan pelaporan BMN oleh K/L 7 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca 8 Pembentukan perusahaan pembiayaan infrastruktur sebagai anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) 1 Februari 2010 Program 100 hari November 2011 Kontrak Kinerja 80% 100% N.A 2011 55% 100% DIREKTORAT BARANG MILIK NEGARA II November 2011 Kontrak Kinerja PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 5 Persentase Kepatuhan pelaporan BMN TARGET 2010 (4) 79. optimal serta akuntabel 1 Persentase formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengelolaan BMN dan KND 2 Persentase K/L yang menyusun RKBMN 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan Negara. bimbingan teknis.A 100% Mulai T.

Terbitnya Sub Loan Agreement (SLA) kredit ekspor 11 -Adanya program kerjasama yang difasilitasi Pemerintah Indonesia dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium -Adanya kontrak B to B jangka panjang penyediaan Fosfat dan kalium dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium 12 Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI terbentuk dan siap bertugas mulai 2 Januari 2010 13 Terbitnya Peraturan Menkeu dan Panglima TNI untuk pengalihan aktivitas bisnis TNI 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 hari 1 Februari 2010 Program 100 hari 1 Februari 2010 Program 100 hari 1 Februari 2010 Program 100 hari 4 Perumusan kebijakan. evaluasi dan pengelolaan kekayaan negara lain-lain Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara lain-lain secara professional. bimbingan teknis. standardisasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 165 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Program 100 hari PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 9 Perpres perubahan atas Perpres No. efisien. pengalihan saham sebelum operasi 10 -Terbitnya ketentuan Bank Indonesia tentang kelonggaran BMPK -Terbitnya Peraturan Pemerintah tentang PMN untuk industri pupuk . transparan 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengelolaan kekayaan Negara 6 3 DIREKTORAT KEKAYAAN NEGARA LAIN-LAIN . efektif. definisi tentang financial closing.67 Tahun 2005 yang mencakup tata cara pengadaan termasuk untuk unsolisited project.

transparan. standardisasi. analisis. dan dapat dipertanggungjawabkan 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang penilaian kekayaan negara 2 Persentase penyelesaian permohonan penilaian aset 4 Jumlah database penilaian yang terbentuk 5 Jumlah pembinaan profesi dan kemitraan 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca 3 1 DIREKTORAT PENILAIAN KEKAYAAN NEGARA 100% 3 41 Kegiatan 100% 9 41 Kegiatan Kontrak Kinerja November 2011 . efisien.770 350 M UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 400 135 M 4 5 6 20 9 50 M 10 M November 2011 Kontrak Kinerja 5 Perumusan kebijakan. supervisi evaluasi dan rekomendasi Penilaian Kekayaan Negara Terselenggaranya pelaksanaan penilaian kekayaan Negara yang efektif. bimbingan teknis.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 166 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) dan dapat dipertanggung-jawabkan sekaligus mampu mengoptimalkan penerimaan negara yang berasal dari kekayaan negara lain-lain 2 3 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) lain-lain Jumlah penyelesaian berkas Kekayaan Negara Lain-lain Jumlah Penerimaan Kembali (recovery) yang berasal dari Pengeluaran Pembiayaan APBN Jumlah aset KNL yang dimanfaatkan Nilai aset KNL yang dimanfaatkan Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca TARGET 2010 (4) 1.

pendapat hukum yang efektif dan efisien di lingkungan DJKN serta mampu menjadi penyedia layanan yang terpercaya bagi pemangku 1 Presentase harmonisasi peraturan perundang-undangan yang disampaikan 2 Persentase bantuan hukum dan pendapat hukum yang diberikan 3 Persentase sistem aplikasi yang terimplementasi DIREKTORAT HUKUM DAN INFORMASI 100% 60% 100% 100% .15 T 100% 3 61. bimbingan teknis. tepat guna dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder serta mampu menyediakan data piutang negara secara komprehensif PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Perumusan kebijakan. tertib. pemberian bantuan hukum serta pengembangan sistem informasi manajemen Mewujudkan harmonisasi peraturan. standardisasi. perencanaan dan evaluasi atas pelaksanaan pengurusan Piutang Negara INDIKATOR (3) 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengurusan piutang negara 2 Jumlah Penerimaan Negara dari Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara 3 Jumlah Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) 4 Persentase K / L yang piutangnya sudah diinventarisasi 5 Jumlah produk hukum/aktivitas dalam pengurusan piutang negara TARGET 2010 (4) 3 UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT PIUTANG NEGARA 2014 (5) 2 67.017 7 Perumusan kebijakan. tepat guna dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang lelang 2 Jumlah Penerimaan Negara dari Bea Lelang 3 Jumlah Frekuensi Lelang 4 Jumlah Pokok Lelang 4 44.17 M 50% 100% 34.35 T 100% DIREKTORAT LELANG 8 Perumusan peraturan perundangan. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan lelang Terselenggaranya pelayanan lelang yang professional.04 M 18. bimbingan teknis.04 M 15.29 M 770 M 627.763 4.437 3. tertib.70 M 40. standardisasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 167 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Terselenggaranya penyelesaian pengurusan piutang negara yang professional. pemberian bantuan hukum.568 42.

A 90% Terkait K/L dan BPN Kontrak Kinerja 100% 100% 770 M 3.17 M 4.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 168 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) kepentingan DJKN dan mitra strategis di lingkungan Departemen Keuangan 9 Pengelolaan kekayaan negara.04 M 61.35 T 100% 44.70 M 40.04 M 67.15 T 100% 627.Pokok Lelang 3 Persentase pemberian bimbingan teknis dan penelaahan permasalahan di bidang kekayaan negara. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang di wilayah kerja kanwil DJKN Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara. lelang dan hukum 4 Persentase laporan hasil penilaian yang dapat diselesaikan sesuai dengan standar penilaian 5 Persentase BMN yang disertifikasi 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca N. penilaian. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional. dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder di wilayah kerja kanwil DJKN disediakan 1 Jumlah Penerimaan Negara .Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) . tertib.29 M PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 4 Persentase layanan informasi yang TARGET 2010 (4) 42% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% KANTOR WILAYAH November 2011 . tepat guna.Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara .Bea Lelang 2 Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang . piutang negara.

17 M 4.Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) .Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 169 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional.70 M UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) KPKNL 2014 (5) 40.Pokok Lelang 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan negara 4 Persentase laporan hasil penilaian yang dapat diselesaikan sesuai dengan standar penilaian 5 Persentase BMN yang disertifikasi 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca TARGET 2010 (4) 67.04 M 770 M 3.29 M 44.Bea Lelang 2 Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang . penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang INDIKATOR (3) 1 Jumlah Penerimaan Negara .04 M 61.15 T 100% 627. dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder wilayah kerja KPKNL PROGRAM/KEGIATAN (1) 10 Pengelolaan kekayaan negara.A 90% Terkait K/L dan BPN Kontrak Kinerja November 2011 . tepat guna.35 T 100% 100% 100% N. tertib.

667.94699 2013 (5) 0. standardisasi. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang 641.484.577.519.97450 2014 (6) 1.478.296.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 170 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA PROGRAM/KEGIATAN (1) A.183 14. evaluasi dan pengelolaan kekayaan negara lain-lain 61.164.833 175.863.111 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.831.072.879.868 6.607.019.000 8.427.951.701.327.168.628.312.424.451.049 50.006.241.970.209.445.193 8.207. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan kekayaan negara. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara yang dipisahkan 5.922.396.449.326.541.187 157. standardisasi.048. bimbingan teknis.207 4 Perumusan kebijakan.170 596.676. bimbingan teknis.01227 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 2 Perumusan kebijakan.017 164.230 766.560.773 9.862 12. standardisasi.000 149.987.155 197.285. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara 3 Perumusan kebijakan.000 580.615.865.338.200 9.120.000 46.000 4. bimbingan teknis.058 .93226 2012 (4) 0.125.489.145.527 71.277.019.466.298 662.099 59.008.822.434 16.

783 244.508.000 19.765 12.000 224.707 8.072.274.293.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 171 – ALOKASI 2010 (2) 10.525.338. perencanaan dan evaluasi atas pelaksanaan pengurusan Piutang Negara 7 Perumusan kebijakan.525.429.560.000 6.075 3.010.020 112.255.931 2014 (6) 15.838.792 107.001.331.164.000 108.504.757 2013 (5) 12.000 4.202 97.750. bimbingan teknis.294. standardisasi.179.996.345.805. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang 2011 (3) 8.949.134 245.763. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan lelang 8 Perumusan peraturan perundangan. standardisasi. pemberian bantuan hukum serta pengembangan sistem informasi manajemen 9 Pengelolaan kekayaan negara.222.649.982 274.864.511.007 12.522.651.392 .592.051.200.727.760 8.876. bimbingan teknis.520.789.064.138.744.380.734 231.730 20.506.600. standardisasi.845.537 22.317.211 21.913.072.704 20. bimbingan teknis.305. supervisi evaluasi dan rekomendasi Penilaian Kekayaan Negara 6 Perumusan kebijakan.504 125.274 4.877.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 5 Perumusan kebijakan.423.043.027.372.689.648.006. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang di wilayah kerja kanwil DJKN 10 Pengelolaan kekayaan negara.916.537.801 2012 (4) 10.213 15.199.530. analisis.151 8.

Saat ini masih dalam proses pengajuan RPMK kepada Menteri Keuangan. Kemeneg PPN/ Ka Bappenas. Kemeneg PPN/ Ka Bappenas. Kemeneg BUMN H50: XX% Catatan Depkeu (DJKN): Tim Pengendali tersebut telah dibentuk melalui Kep/206/M/XI/2009 tentang Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI.Permintaan data kepada TNI agar draft dapat diajukan kepada Menteri Keuangan Catatan Depkeu (DJKN): Pembuatan PMK Pemanfaatan Barang Milik Negara di lingkungan TNI.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 172 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA Bidang Politik. H75. Telah tercapai di H50 Catatan: Keterangan sama dengan H75 TARGET H75: XXX TARGET H100: Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI terbentuk dan siap bertugas mulai 2 Januari 2010 (P8A6) Penyelesaian penyusunan peraturan Menkeu & peraturan Panglima TNI yang dikoordinasikan oleh Timnas Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI Departemen Pertahanan Setneg. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 Terbentuknya Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Tim Pengendali TARGET H30: XXX Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI terbentuk dan siap bertugas TARGET H50: XXX mulai 2 Januari 2010 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 H30: XX% % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 50% persiapan pembentukan Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI 1 2 P8: Peningkatan Kemampuan Pertahanan & Keamanan Negara (P8A5) Pembentukan Departemen Pertahanan anggota Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI sesuai keputusan Menhannomor: KEP/190/M/X/2009 tanggal 21 Oktober 2009 Setneg. H50. Depkeu (DJKN). Depkeu (DJKN). Kemenko Polhukam. Telah dibahas draft PMK dimaksud bersama dengan Biro Hukum. Selanjutnya RPMK tersebut akan dibahas kembali dengan Biro Hukum Setjen Depkeu) TARGET H100: Terbitnya Peraturan Menkeu dan H100: XX% Panglima TNI untuk pengalihan aktivitas bisnis TNI Catatan Depkeu (DJKN): Draft PMK telah disampaikan kepada Menteri Keuangan melalui ND-14/KN/2010 tanggal 25 Januari 2010 . Kemenko Polhukam. Kemeneg BUMN Selesainya penyusunan peraturan Menkeu & peraturan Panglima TNI yang dikoordinasikan oleh Timnas Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI TARGET: Terbitnya TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX Peraturan Menkeu dan Panglima TNI untuk pengalihan aktivitas bisnis TNI H75: XX% H100: XX% H30: XX% H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% .Telah disosialisasikan di internal DJKN dan TNI . Telah dilakukan pembahasan pada tanggal 8 Januari 2010 guna penyempurnaan RPMK tesebut (permintaan data telah dipenuhi oleh TNI).

sesuai PMK 100/PMK. TARGET H75: 75%* Penandatanganan shareholders agreements antara PT SMI. 2 Triliun pada tahun ke 5 yaitu tahun 2011. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Terkait rencana pendirian IIFF pemerintah melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) berkomitmen Rp 600 miliar. 350 miliar. XX UKURAN KEBERHASILAN H30.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 173 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Semula: Depkeu.06/2009 tanggal 2 Desember 2009 tentang Persetujuan Penyertaan Dalam Pendirian Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur DJKN telah meminta agar PT SMI segera mewujudkan komitmennya mengenai penandatanganan shareholders agreement sehingga dapat diselesaikan sebelum Program 100 Hari berakhir. 1 2 P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur Semula: Departemen Keuangan (P12A2) Perluasan modal lembaga pembiayaan infrastruktur Menjadi: (P12A2) Pembentukan perusahaan pembiayaan infrastruktur sebagai anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) TARGET H30: H30: 100% Draft sudah Penyampaian draft persetujuan Rapat Umum diserahkan kepada MK Pemegang Saham atas Rencana Penyertaan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dalam pendirian Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur Menjadi: Pendirian perusahaan pembiayaan infrastruktur Menjadi: TARGET: Beroperasinya secara efektif perusahaan pembiayaan infrastruktur PT IIFF TARGET H50: Persetujuan MK atas draft persetujuan 100% RUPS PT SMI. Sudirman. Terkait keputusan Pemegang Saham PT SMI telah diterbitkan melalui surat Menkeu Nomor SI3484/MK. ADB masing-masing berkomitmen Rp 400 miliar dan DEG Rp 200 miliar. modal disetor Rp 40. IFC dan DEG TARGET H100: Soft launching PT IIFF . DepPU Menjadi: _ KRITERIA KEBERHASILAN 4 Semula: Cakupan perluasan modal lembaga pembiayaan infrastruktur UKURAN KEBERHASILAN 5 Semula: TARGET: Perluasan modal lembaga pembiayaan infrastruktur yang lebih besar sehingga mencakup XX. IFC.010/2009 modal perusahaan perlu ditingkatkan menjadi Rp. Sedang subordinated loan dari ADB dan World Bank masing-masing Rp 1 Triliun. H75. Rencana pembiayaan PT SMI tahun 2009 sebesar Rp 100 miliar. Soft launching PT IIF telah dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2010 yang bertempat di Gedung BRI II Jalan Jend. Jakarta dan dihadiri oleh shareholders serta perwakilan pemerintah (Depkeu). H50. ADB. tahun 2010 sebesar Rp 300 miliar dan 2011 sebesar Rp.3 miliar sisanya convertible subordinated .

Catatan Depkeu (DJKN): Telah terbentuk Dewan Komisaris dan Direksi untuk anak perusahaan 80% kemajuan persiapan beroperasinya PT Penjamin Infrastruktur Indonesia Catatan Depkeu (DJKN): Telah disampaikan surat mengenai Usulan BOC dan BOD PT Penjamin Infrastruktur Indonesia kepada Menteri Keuangan oleh BKF. pengalihan saham sebelum operasi TARGET H30: 75% H75: XX% H100: XX% [2] Penetapan Dewan Komisaris dan Direksi serta kelengkapan organisasi anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur TARGET: Terbentuknya Dewan Komisaris dan Direksi serta beroperasinya TARGET H50: 80% anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur H30: 75% H50: XX% 75% kemajuan persiapan beroperasinya anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur Catatan Depkeu (DJKN): Persetujuan Menteri Keuangan tentang Penetapan Anggota Dewan Komisaris dari unsur Departemen Keuangan sudah ditetapkan oleh Menteri Keuangan no.67 Tahun 2005 tentang kerja sama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur TARGET: Perpres perubahan atas Perpres No.06/2009 hal Penetapan Calon Anggota Dekom IIFF.67 Tahun 2005 yang mencakup tata cara pengadaan termasuk untuk unsolisited project. Keterangan sama dengan H-50 Catatan Depkeu (DJKN): Telah tercapai 100% TARGET H75: 90% H75: XX% [3] Penetapan Dewan Komisaris dan Direksi serta kelengkapan organisasi PT Penjamin Infrastruktur Indonesia TARGET: Terbentuknya Dewan Komisaris dan Direksi serta beroperasinya TARGET H50: 85% PT Infrastruktur Indonesia TARGET H100: Terbentuknya Dewan Komisaris dan H100: XX% Direksi serta beroperasinya anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur TARGET H30: 80% H30: 80% H50: XX% TARGET H75: 90% H75: XX% TARGET H100: Terbentuknya Dewan Komisaris dan H100: XX% Direksi serta beroperasinya PT Infrastruktur Indonesia . pengalihan saham sebelum operasi TARGET H30: 70% TARGET H50: 80% H30: 70% H50: XX% 70% kemajuan penyelesaian Perpres Catatan Depkeu (DJKN): Keterkaitan Depkeu hanya sebatas pada penetapan Anggota Dewan Komisaris PT Sarana Multi Infrastruktur Keterangan sama dengan H-50 Catatan Depkeu (DJKN): DJKN tidak terlibat dalam RA ini. Depkeu (DJKN). Dephub [1] Cakupan perubahan Perpres No. S-684/MK.67 Tahun 2005 yang mencakup tata cara pengadaan termasuk untuk unsolisited project. DepPU. DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 2 P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur (P12A4) Penetapan skema co-financing bagi program pembangunan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (penciptaan ownership di daerah) serta Pemerintah dan Swasta/BUMN (Public Private Partnership ) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian KemenegPPN/Bappenas. definisi tentang financial closing. TARGET H75: 90% TARGET H100: Perpres perubahan atas Perpres No. Catatan Depkeu (DJKN) : Masih menunggu usulan supranational Investors (calon direksi dari IFC).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 174 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. definisi tentang financial closing. H75. H50.

TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJKN) : 1. H50. telah dilaksanakan Rakor Rencana Pengembangan Industri NPK dan Kebutuhan Bahan Baku pada tanggal 7 Desember 2009.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 175 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Bappenas. BUMN dan departemen teknis TARGET H100: [1] Terbitnya ketentuan Bank Indonesia tentang kelonggaran BMPK (P26A112K1U1) [2] Terbitnya Peraturan Pemerintah tentang PMN untuk industri pupuk (P26A112K2U1) [3] Terbitnya Sub Loan Agreement (SLA) kredit ekspor (P26A112K3U1) H100: XX% Catatan Depkeu (DJKN): Keterangan sama dengan H75 . H75. BI [1] Adanya kelonggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) untuk pinjaman industri pupuk (P26A112K1) [2] Tersedianya tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) (P26A112K2) [3] Tersedianya pinjaman luar negeri (Two Step Loan) (P26A112K3) TARGET: [1] Terbitnya ketentuan Bank Indonesia tentang kelonggaran BMPK (P26A112K1U1) [2] Terbitnya Peraturan Pemerintah tentang PMN untuk industri pupuk (P26A112K2U1) [3] Terbitnya Sub Loan Agreement (SLA) kredit ekspor (P26A112K3U1) TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% Kemajuan 70% Catatan Depkeu (DJKN): 100% Berdasarkan informasi dari Depperin. 2. Sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat 2 UU no 17 Tahun 2003 bahwa setiap penyertaan modal negara kepada perusahaan negara terlebih dahulu ditetapkan dengan APBN. Pada prinsipnya DJKN akan memproses setiap permohonan dari Menneg. DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 2 P26: Revitalisasi Industri pupuk dan gula Revitalisasi Industri Pupuk Urea (P26A11) Penyediaan dana (P26A112) Depperin Depkeu (DJKN). Kementrian BUMN.

DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Revitalisasi / Pengembangan Industri Pupuk NPK (P26A12) Melakukan kerjasama Depperin suplai bahan baku Fosfat dan Kalium dengan negara sumber bahan baku (P26A121) Deplu. Perdagangan. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. Catatan: Keterangan sama dengan H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 176 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.S-8/MK.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Dep. H50. Kementrian BUMN Jaminan ketersediaan Fosfat TARGET: [1] TARGET H30: XXX dan Kalium jangka panjang Adanya program kerjasama (P26A121K1) yang difasilitasi Pemerintah TARGET H50: XXX Indonesia dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U1) [2] Adanya kontrak B to B TARGET H75: XXX jangka panjang penyediaan Fosfat dan kalium dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U2) TARGET H100: [1] Adanya program kerjasama yang difasilitasi Pemerintah Indonesia dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U1) [2] Adanya kontrak B to B jangka panjang penyediaan Fosfat dan kalium dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U2 H30: XX% H50: XX% Kemajuan 60% Catatan Depkeu (DJKN): Penerbitan PP tentang PMN untuk industri pupuk masih menunggu progress dari Depperin dan Menneg BUMN. H75: XX% H100: XX% . Menteri Keuangan No. Depkeu (DJKN). H75.n.

Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca mulai tahun 2007 secara berkelanjutan K/L TERKAIT WAKTU November 2011 UNIT ESELON II DIREKTORAT BMN I. KPKNL . BMN II.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 177 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA INDIKATOR KINERJA a. KANWIL DJKN. KEKAYAAN NEGARA LAIN-LAIN. Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI RENCANA AKSI 1. PENILAIAN KEKAYAAN NEGARA.

standar.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 178 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENINGKATAN PENGELOLAAN PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH 2 1 Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan. akuntabel. transparan. kredibel. DITJEN PERIMBANGAN KEUANGAN Kajian revisi UU 33/2004 dan PP 54/2005 Desember 2010 Temu Nasional 100% 100% DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 2 3 4 15 hari 100% 4 hari 12 hari 100% 3 hari 5 3 3 6 7 80% 100% 85% 100% . dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah 1 Rasio realisasi dari janji pelayanan pengalokasian dana transfer ke daerah ke pihak eksternal Realisasi janji pelayanan evaluasi Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal Persentase ketepatan jumlah penyaluran dana transfer ke daerah Ketepatan waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah Indeks kepuasan Pemda terhadap norma. dan pengelolaan belanja transfer ke daerah ke pihak eksternal Persentase kepatuhan dan penegakan ketentuan/peraturan Persentase penyelesaian kasus KKN yang terjadi di lingkungan Ditjen PK sesuai dengan kewenangannya 8 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 1 Tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi pada semua unit Eselon II di Ditjen Perimbangan Keuangan dalam rangka menunjang tercapainya pencapaian tujuan strategis Ditjen 1 2 Persentase pegawai yang melanggar kode etik pegawai DJPK Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat 4% 100% 2% 100% SES.

proporsional. Transparan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 179 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 Perimbangan Keuangan Terwujudnya pelayanan yang terbaik kepada semua unsur Ditjen Perimbangan Keuangan dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas 3 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Persentase tingkat penyelesaian dokumen pencairan anggaran Rasio penyelesaian pengadaan sarana dan prasana sesuai dengan rencana Persentase penyelesaian kasus KKN yang terjadi di lingkungan Ditjen PK sesuai dengan kewenangannya Persentase ketepatan jumlah penyaluran jumlah dana transfer ke daerah Ketepatan waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah Persentase jumlah kebijakan dana Transfer ke Daerah sesuai rencana Indeks kepuasan Pemda terhadap kebijakan formulasi dana Transfer ke Daerah sesuai kewenangan dan urusan Indeks kepuasan Pemda terhadap norma dan standar transfer ke daerah Rasio realisasi dari janji pelayanan pengalokasian dana transfer ke daerah ke pihak eksternal Indeks Kepatuhan dan Penegakan Hukum Sosialisasi Peraturan Menkeu tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama TARGET 2010 (4) 100% 100% UNIT ORGANISASI 2014 (5) 100% 100% PELAKSANA (6) 5 100% 100% 2 Perumusan kebijakan. Akuntabel. bimbingan teknis. dan pengelolaan transfer ke daerah 1 2 Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Dana Transfer Terciptanya Tata Kelola yang Tertib Sesuai Peraturan Perundang-undangan. dan Profesional dalam Pelaksanaan Transfer ke Daerah 1 100% 100% DIREKTORAT DANA PERIMBANGAN 2 4 hari 3 hari 3 4 100% 3 100% 3 5 6 3 100% 3 100% 7 8 80% 85% Program 100 Hari 1 Februari 2010 . Kredibel. adil.

Optimalisasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah 2. monitoring dan evaluasi di bidang PDRD 1. Mewujudkan Kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang mendukung Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah 1 2 3 Persentase jumlah kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dapat diimplementasikan Jumlah konsep kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sesuai dengan rencana Realisasi janji pelayanan evaluasi 80% 85% DIREKTORAT PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH 100% 100% 15 hari 12 hari Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal dalam bentuk rekomendasi Menteri Keuangan 4 Persentase tingkat penyelesaian evaluasi Perda tentang PDRD terhadap rencana evaluasi 5 Percepatan evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD bermasalah 6 Percepatan Evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD yang bermasalah 7 Penyusunan Program transisi / pengalihan PBB menjadi Pajak Daerah 8 Pengalihan BPHTB menjadi Pajak Daerah 9 Penerapan Pajak Rokok menjadi Pajak Daerah 10 RPP tentang sistem pemungutan pajak daerah 11 RPMK pemberian sanksi terhadap daerah 100% 100% Oktober 2014 Desember 2011 Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Desember 2013 2010. bimbingan teknis.2011 Desember 2013 Juni 2010 Juni 2010 Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 180 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota) 3 Perumusan kebijakan.

penyusunan laporan keuangan transfer ke daerah. Obligasi Daerah. dan Dana Tugas Pembantuan Terkendalinya Defisit Anggaran Daerah Terselenggaranya SIKD Nasional yang TRUST (compleTe.200 orang 5 Perumusan kebijakan. serta pengembangan sistem informasi keuangan daerah 1 2 3 Efesiensi dan Efektifitas Pengelolaan Dana Desentralisasi. dan Investasi Daerah 1 2 Persentase penyaluran dana hibah ke daerah sesuai rencana Persentase jumlah kebijakan Pembiayaan dan Kapasitas Daerah yang dapat diimplementasikan 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT PEMBIAYAAN DAN KAPASITAS DAERAH 2 3 Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Penataan Daerah Peningkatan Kapasitas Aparat Pengelola Keuangan Daerah 4 3 Persentase jumlah konsep kebijakan pembiayaan dan kapasitas daerah sesuai dengan rencana Persentase kepatuhan dan penegakan ketentuan/peraturan dibidang hibah ke daerah 100% 100% 80% 85% 5 Jumlah Aparat Pengelola Keuangan Daerah yang mengikuti LKD/KKD/KKD Khusus per tahun 1. dekonsentrasi dan tugas pembantuan serta perekonomian daerah sesuai rencana Persentase tersedianya layanan 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT EVALUASI PENDANAAN DAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH 80% 90% . bimbingan teknis. Up to date.050 orang 1. and acuraTe) 1 2 3 Persentase jumlah kebijakan Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah sesuai rencana Persentase penyelesaian laporan hasil evaluasi pendanaan desentralisasi. Hibah Daerah. Secure.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 181 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) Juni 2010 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) yang melanggar ketentuan PDRD 12 Mengkaji penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja 4 Perumusan kebijakan. pemantauan dan evaluasi di bidang pendanaan daerah dan ekonomi daerah. monitoring dan evaluasi di bidang pembiayaan dan kapasitas daerah 1 Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Pinjaman Daerah. Reliable. Dana Dekonsentrasi.

kajian dan rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah 4 5 100% 100% 100% 100% 6 7 50% 100% Program 100 Hari 1 Februari 2010 .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 182 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) informasi yang terkini pada website dan Mofisda sesuai yang disampaikan oleh penyaji data Tersedianya hasil pemantauan penyampaian Perda APBD Persentase penyelesaian Laporan Keuangan Transfer ke Daerah yang tepat waktu Tersedianya Sistem Informasi Manajemen Transfer ke Daerah (SIMTRADA) Dokumen hasil evaluasi.

460.835 36. monitoring dan evaluasi di bidang pembiayaan dan kapasitas daerah 5 Perumusan kebijakan.524 10.01227 .159 46.360 17.797 31.857.733.884.837.062 107.592.146.452.029.246.878.474 19.088.110. pemantauan dan evaluasi di bidang pendanaan daerah dan ekonomi daerah.621 17.493 112.269.481.784 15.063 27.031. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Peningkatan Pengelolaan Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 2 Perumusan kebijakan. bimbingan teknis.615.904 29.836.100.667.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 183 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.569 19. monitoring dan evaluasi di bidang PDRD 4 Perumusan kebijakan.494.023.523 22.360.992.722.834.389.901.095. bimbingan teknis dan pengelolaan transfer ke daerah 3 Perumusan kebijakan.117.382 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.938 12.611.453.071.219.850 155.555.109.097.364 22. serta pengembangan sistem informasi keuangan daerah 18.119 33.643 10.874.388 128.770.643.876.93226 2012 (4) 0.94699 2013 (5) 0.000 99.770 15.125.291.581.142.044 11.826 38.97450 2014 (6) 1.845.193. penyusunan laporan keuangan transfer ke daerah.652.065.524 11.774.349.525 56.963 33. bimbingan teknis.391.204 14.333.278.456.137.517 30.213.860.555.862.

2a) Sosialisasi kepada 32 Kepala Daerah/Pejabat Daerah (Kabupaten/ Kota). . 2b) Sosialisasi kepada 33 Kepala Daerah/Pejabat Daerah pada Rakornas Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Menko Kesra. Peraturan Menkeu tentang Pemda Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota) TARGET H50: Sosialisasi PMK Nomor: 168/PMK. 1 2 3 P30: Peningkatan Efektivitas dan Keberlanjutan PNPM Mandiri (P30A1) Sosialisasi Departemen Keuangan Bappenas. b) Terlaksananya sosialisasi PMK Nomor 168/PMK. 2c) Telah dilaksanakannya Sosialisasi kepada Kepala Daerah/Pejabat Daerah di Lingkungan Propinsi Jawa Timur sebanyak 270 Kepala Daerah/Pejabat Daerah dan Jawa Tengah sebanyak 235 Kepala Daerah/Pejabat Daerah pada tanggal 8-9 Desember 2009 sesuai Undangan Dirjen PK Nomor: Und-158/PK/2009 .07/2009 kepada 510 Daerah.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 184 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN Bidang Politik. H75. H50. 2b) Telah dilaksanakan Sosialisasi kepada 33 Kepala Daerah/Pejabat Daerah bersamaan dengan Pelaksanaan Rakornas TKPK di Hotel Bumi Karsa. DAN H100 6 TARGET H30: Sosialisasi PMK Nomor: 168/PMK. % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 Sosialisasi dapat dilakukan melalui 2 cara: 1) Penyampaian / Pengiriman Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dan/atau 2) Sosialisasi langsung kepada Para Kepala Daerah/Pejabat Daerah.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota) UKURAN KEBERHASILAN 5 a) Tersampaikannya PMK Nomor: 168/PMK. H50: 100% 1) Tersampaikannya PMK 168/PMK. 2a) Telah dilaksanakan Sosialisasi kepada 32 Kepala Daerah/Pejabat Daerah bersamaan dengan Pelaksanaan Rakornas TKPK di Hotel Bumi Karsa.07/2009 kepada 510 Daerah melalui surat Dirjen PK Nomor: S-477/PK/2009 tanggal 1 Desember 2009. Pelaksanaan sosialisasi langsung akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang tersedia. 2c) Sosialisasi kepada 75 Kepala Daerah/Pejabat Daerah di Lingkungan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota).Komplek Bidakara pada tanggal 3 Desember 2009.Komplek Bidakara pada tanggal 3 Desember 2009.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan kepada 510 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah UKURAN KEBERHASILAN H30. Kemenko Kesra. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT KRITERIA KEBERHASILAN 4 Cakupan sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan kepada 28 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan kepada 140 Kepala Daerah: 1) Tersampaikannya PMK 168/PMK.

RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: 100% KETERANGAN 8 TARGET H100: Sosialisasi PMK kepada 142 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah. sehingga total telah tersosialisasi adalah 995 Kepala Daerah/Pejabat Daerah H30: XX% H50: XX% H75: XX% H100: XX% Catatan Depkeu (DJPK): RA ini tidak terkait dengan Depkeu. sehingga pada H100 total yang telah tersosialisasi sebanyak 510 Kepala Daerah/Pejabat Daerah. H50.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 185 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. kajian dan rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX TARGET H75: XXX TARGET H100: Dokumen hasil evaluasi. sistem dan Depkeu (DJPK) meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah Dilakukan evaluasi awal terhadap sistem penggunaan dana perimbangan daerah TARGET: Dokumen hasil evaluasi. kajian dan rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah H100: 100% Telah dilaksanakan Sosialisasi kepada 425 Kepala Daerah/Pejabat Daerah pada tanggal 6-7 Januari 2010 di Bidakara. (P10) Program 10: Peningkatan Efektifitas Otonomi Daerah (P10A4) Mengevaluasi Departemen Dalam Negeri Kemenko Polhukam. karena masih dalam domain internal tugas Depdagri . DAN H100 6 TARGET H75: Sosialisasi PMK kepada 200 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah. H75.

Pemda Paling lambat Oktober 2014 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II .Percepatan evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD yang bermasalah . Memastikan percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangan di tingkat pusat maupun daerah hingga tercapai keselarasan arah dalam implementasi pembangunan diantaranya penyelesaian kajian 12. yang mencakup namun tidak terbatas pada : i.Pengalihan BPHTB menjadi Pajak Daerah . dimulai dari Batam. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. pembatalan Peraturan Daerah bermasalah dan pengurangan biaya untuk bisnis seperti Tanda daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) ii. Pemda Desember 2011 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Desember 2013 2010-2011 Desember 2013 . Memastikan penerapan sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota.000 peraturan daerah selambat-lambatnya 2011 Percepatan evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD bermasalah Depdagri.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 186 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN INDIKATOR KINERJA a.Penyusunan program transisi / pengalihan PBB menjadi Pajak Daerah .Penerapan Pajak Rokok menjadi Pajak Daerah Depdagri.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 187 – INDIKATOR KINERJA a. listrik. Polri. ESDM.Penyelesaian RPP tentang sistem pemungutan pajak daerah.Penyelesaian RPMK pemberian sanksi terhadap daerah yang melanggar ketentuan PDRD BKPM. Dephub. Pertamina. Kejaksaan. Depnaker. ESDM. BPN. Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi Mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM. BPH Migas. Menneg BUMN. . dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan Mengkaji penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM Depdagri. Pemda Juni 2010 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah b. Pemda Paling lambat Juni 2010 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah . Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi Mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturanperaturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . Setneg. Depdagri. Dephukham. Depdag.

PP 54/2005 dan PP 54/2008 Melakukan kajian revisi UU Usulan revisi 33/2004.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 188 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN Bidang : Infrastruktur No. UU 33/2004. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L JAWAB TERKAIT Menteri Keuangan Depkeu. Depdagri. PP 54/2005 dan PP UU 33/2004 dan 54/2008 PP 54/2005 1 tahun . Setneg. Setkab. dan LKPPhun UNIT ESELON II 1.

Mendukung upaya financial market deepening untuk meningkatkan kapasitas daya serap dan efisiensi pasar keuangan. dan tepat sasaran 145% 100% 175% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) KEGIATAN 1. Terpenuhinya kebutuhan pembiayaan APBN yang aman melalui pengadaan pinjaman . Mengoptimalkan pengelolaan Surat Berharga Negara (SBN) maupun pinjaman untuk mengamankan pembiayaan APBN. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang 4. Pengelolaan Pinjaman 1. efisien. Pemenuhan target pembiayaan melalui utang 2. Peningkatan partisipasi investor dalam penerbitan SBN 5. 2. tepat jumlah. dan akuntabel 1. Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 189 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM 1. % kesesuaian data rekonsiliasi keuangan 4. 1. DITJEN PENGELOLAAN UTANG 65% 100% 100% 2 sistem 100% 100% 70% 100% 100% 2 sistem 100% 100% DIREKTORAT PINJAMAN DAN HIBAH 2. PENGELOLAAAN DAN PEMBIAYAAN UTANG 1. % realisasi pengadaan barang 5. Penyelesaian perjanjian pinjaman dan hibah 100% 100% SET. Pembayaran utang secara tepat waktu. Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 1. Terwujudnya pelayanan teknis dan administratif Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang efektif. Terpenuhinya struktur portofolio utang sesuai dengan strategi yang ditetapkan 3. Sistem aplikasi kesekretariatan yang terintegrasi antar unit eselon II 1. Pemenuhan target pembiayaan melalui pinjaman program 2. Persentase penyusunan prosedur standar yang mendukung pengelolaan utang 2.

budaya. Pemenuhan target pembiayaan melalui SUN 2. inovatif. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan pinjaman 4. Terpenuhinya struktur portofolio SUN sesuai dengan strategi yang ditetapkan 3. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan SUN 4.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 190 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 100% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3. Pengelolaan Pembiayaan Syariah 1. Keppres perubahan atas Keppres Nomor 80/2003 yang mencakup skema co-financing dan mengakomodasi tata cara pengadaan hasil industri kreatif. Peningkatan partisipasi investor dalam penerbitan SUN 100% 100% 100% 145% 100% 100% 100% 175% DIREKTORAT SURAT UTANG NEGARA 4. Peningkatan partisipasi investor dalam penerbitan SBSN 100% 100% 100% 145% 100% 100% 100% 175% DIREKTORAT PEMBIAYAAN SYARIAH . Terpenuhinya struktur portofolio SBSN sesuai dengan strategi yang ditetapkan 3. Pemenuhan target pembiayaan melalui SBSN 2. dan hasil penelitian laboratorium atau institusi pendidikan UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% 1 Februari 2010 Program 100 Hari 3. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan SBSN 4. Terpenuhinya kebutuhan pembiayaan APBN yang aman bagi kesinambungan fiskal melalui pengelolaan Surat Utang Negara (SUN) 1. Terpenuhinya kebutuhan pembiayaan APBN yang aman bagi kesinambungan fiskal melalui pengelolaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) 1. Pengelolaan Surat Utang Negara 1.

transparan. Terwujudnya pelaksanaan penyelesaian transaksi. Pencapaian target effective cost yang kredibel 3. Pembayaran utang secara tepat waktu. Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang INDIKATOR (3) 1. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang 6. Tersedianya Dokumen Strategi TARGET 2010 (4) 2 dokumen*) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT STRATEGI DAN PORTOFOLIO UTANG 2014 (5) 1 dokumen**) 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT EVALUASI. dan pelaporan utang pemerintah yang profesional. Akuntansi dan Setelmen Utang 1. Pelaksanaan Evaluasi. efektif.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 191 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1. DAN SETELMEN . Terpenuhinya struktur portofolio utang sesuai dengan strategi yang ditetapkan 4. tepat jumlah. Penyediaan strategi pengelolaan utang yang mempertimbangkan aspek biaya dan risiko Pengelolaan Utang 2. dan tepat sasaran 2. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang 100% 100% 100% 100% 100% 100% PROGRAM/KEGIATAN (1) 5. AKUNTANSI. dan akuntabel *) Tahun 2010 ditargetkan 2 dokumen strategi utang yaitu strategi utang tahun 2010-2014 dan strategi utang tahunan 2010 **) Tahun 2014 ditargetkan 1 dokumen strategi utang yaitu strategi utang tahunan 2014 1. pencatatan.

868 4 Pengelolaan Pembiayaan Syariah 7.000 2.052.144.94699 (5) 0.993.810 6.940.275.396.545.585.037 9.985.183 3 Pengelolaan Surat Utang Negara 9.634.000 0 65.645.933 39.980.034.952 37.061 6.779 5.699.000 6.932.225.968.761.411.580.510.808.052.888.567.176.928 5.759.718.150.792 9. dan Setelmen Utang 2. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan dan Pembiayaaan Utang (2) (3) 0.102.285.227.97450 (6) 1.954.592.590.068.668.173.385.088.142 8.931.436.374.93226 (4) 0.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 192 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI 2010 2011 2012 2013 2014 (1) A.415 .522.747 6. Akuntansi.769 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 41.374.647 3.079.000 9.502.000 6.728 9.008 68.218.000 7.310.445.897 3.673 9.787.010 5.793.258 35.655 2 Pengelolaan Pinjaman 10.819.770.401.362.257 7.097.055.471.528.619.277 77.657.555.000 33.270.596.611 4.191.170.447 72.538.126.01227 77.525.838 5 Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang 6 Pelaksanaan Evaluasi.281 9.

8/2009 tanggal 6 November 2009 kepada Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Setkab. maka digunakan sistem donor tetapi jika tidak prinsip dinegosiasikan kasus per kasus dan dituangkan dalam loan agreement . Jika ada perbedaan yang prinsip. Berdasarkan Surat No. Telah disampaikan usulan Revisi Keppres 80 Tahun 2003 terkait dengan kebijakan pengadaan jasa dalam rangka pembiayaan melalui utang dan jasa dalam rangka pengelolaan portfolio utang. budaya. Konfirmasi dari Bappenas diinformasikan bahwa: a. H50.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 193 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Depkeu (DJPU). 1 2 P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur (P12A3) Perubahan Keppres Kementerian PPN/Kepala Nomor 80 tahun 2003 Bappenas tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah . b. Rumusan terakhir adalah menggunakan sistem nasional. dan hasil penelitian laboratorium atau institusi pendidikan UKURAN KEBERHASILAN H30. H75.S-153/MK. 2. Pengadaan pembiayaan bukan domain Keppres No. inovatif. KRITERIA KEBERHASILAN 4 Cakupan penyempurnaan Keppres 80/2003 mengenai tata cara pengadaan barang dan jasa pemerintah UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Keppres perubahan atas Keppres Nomor 80/2003 yang mencakup skema cofinancing dan mengakomodasi tata cara pengadaan hasil industri kreatif. 80 tahun 2003 sehingga ada kemungkinan akan dihilangkan dari naskah revisi. DAN H100 6 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 60% kemajuan penyelesaian Keppres Catatan Depkeu (DJPU): 1. Di dalam naskah revisi juga diatur tentang harmonisasi tata cara pengadaan antara sistem nasional dengan donor guide lainnya.

dimuat ketentuan mengenai pengadaan untuk pembiayaan yang berasal dari luar negeri. . budaya. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJPU): Melalui komunikasi dengan Bappenas diperoleh informasi bahwa di salah satu pasal revisi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 194 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. TARGET H100:Keppres perubahan atas Keppres H100: XX% Nomor 80/2003 yang mencakup skema co-financing dan mengakomodasi tata cara pengadaan hasil industri kreatif. dan hasil penelitian laboratorium atau institusi pendidikan Catatan Depkeu (DJPU): . H75. H50.RA tersebut sudah tidak terkait dengan DJPU. Bappenas). . tetapi dari diskusi terakhir disepakati bahwa masalah pengadaan pembiayaan bukan domain Keppres 80 sehingga akan didrop dari naskah revisi (Direktur Aparatur Negara. inovatif.Keterangan sama dengan H75.

dan korupsi b. Perbendaharaan Negara c. Pegelolaan Kekayaan Negara e. Jumlah kasus yang diserahkan kepada instansi penegak hukum sebagai bukti 3 awal penyelidikan Indeks kualitas laporan keuangan kementerian keuangan (BA 15) 3. Bidang Pembelajaran dan Pertumbuhan g. kolusi. Pencegahan Praktik KKN 2 Penindakan Praktik KKN: a.pungutan liar. Pendapatan Negara b.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 195 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2009-2014 INSPEKTORAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGAWASAN DAN PENINGKATAN AKUNTABILITAS APARATUR DEPARTEMEN KEUANGAN Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas proses manajemen risiko.00 LK Depkeu th 2010 mencapai WTP (indeks 4) bl Nov 2011 4 kasus 4 kasus 40% 20% 3 pengaduan 3 pengaduan 15 rekomendasi 3 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 6 rekomendasi 1 rekomendasi 22 rekomendasi 7 rekomendasi 2 rekomendasi 2 rekomendasi 1 rekomendasi 2 rekomendasi 1 rekomendasi 6 rekomendasi 1 rekomendasi INSPEKTORAT JENDERAL TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) . Jumlah informasi gratifikasi. pengendalian.00 4. Persentase realisasi penyetoran hasil investigasi c. Pembiayaan APBN d. Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank f. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Departemen Keuangan 1 Jumlah policy recommendation : a. Belanja Negara c.

00 24 kali KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Inspektorat Jendral 1 Terwujudnya layanan administrasi yang prima kepada seluruh unsur Itjen dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas pengawasan Pemberian dukungan teknis yang optimal kepada seluruh unsur Itjen dalam rangka menunjang tercapainya pencapaian tujuan strategis Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui meningkatkan efektifitas proses manajemen resiko. 98 (Penerusan Pinjaman).6 (Indeks) 100% 1 hari kerja 3.3(Indeks) 100% SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL 2 2 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Pajak 1 1 2 3 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Jumlah konsultasi 80% 1 rekomendasi 1 kali 85% 3 rekomendasi 3 kali INSPEKTORAT I .00 15 kali 4. pengendalian. 97 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang luar Negeri). 1 2 3 Jumlah hari mulai diresponnya permintaan layanan dan dukungan Indeks kepuasan layanan dan dukungan pilihan Persentase penyelesaian SOP 1 hari kerja 2. 96 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang Dalam Negeri).78 PELAKSANA (6) 2. 70 (Dana Perimbangan). 69 (Belanja Lain-lain). 71 (Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang). 62 (Subsidi dan Transfer Lainnya).56 UNIT ORGANISASI 2014 (5) 3. 99 (Penyertaan Modal Pemerintah) 5 6 Indeks kualitas laporan keuangan Bendahara Umum Negara (BA 999) Frekuensi komunikasi pengawasan TARGET 2010 (4) 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 196 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Indeks kualitas laporan keuangan BUN BA 61 (Cicilan dan Bunga Hutang).

pengendalian. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 1 2 3 4 5 4 5 2 3 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen TARGET 2010 (4) November 2011 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja 1 2 3 4 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen 80% 1 rekomendasi 85% 3 rekomendasi INSPEKTORAT II 1 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 4 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 1 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks Laporan Keuangan (BA 61. 96.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 197 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak 3 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko. pengendalian. dan 98) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks Laporan Keuangan (BA 99) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen 80% 2 rekomendasi 2. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko.75 3 kali INSPEKTORAT III November 2011 Kontrak Kinerja 80% 2 rekomendasi 85% 3 rekomendasi INSPEKTORAT IV 4 4. pengendalian. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 5 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko.75 2 kali 85% 3 rekomendasi 3.0 2 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja . 97.

pungutan liar. dan korupsi Persentase realisasi penyetoran hasil investigasi Jumlah kasus yang diserahkan kepada instansi penegak hukum sebagai bukti awal penyelidikan 80% 3 rekomendasi 85% 3 rekomendasi INSPEKTORAT VI 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 198 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko.0 4. BPPK 1 Mendorong Itjen Depkeu sebagai Benchmark bagi APIP lainnya 1 2 3 4 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan INDIKATOR (3) Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks Laporan Keuangan (BA 70. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko. pengendalian.0 4. pengendalian. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Sekretariat Jenderal. Bapepam-LK.71) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen TARGET 2010 (4) 80% 2 rekomendasi UNIT ORGANISASI 2014 (5) 85% PELAKSANA (6) INSPEKTORAT V 3 rekomendasi 4. dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan 1 2 3 4 5 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks laporan keuangan (BA 15) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen Jumlah informasi gratifikasi.0 2 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 7 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Sekretariat Jenderal.0 3 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 8 Pelaksanaan Program Transformasi Pengawasan 1 2 3 4 80% 3 rekomendasi 100% 3 rekomendasi INSPEKTORAT VII 1 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 9 Pelaksanaan Audit Investigasi dan Edukasi anti KKN 1 Meningkatkan efektifitas pencegahan dan penindakan praktik KKN 1 2 3 3 pengaduan 40% 4 kasus 3 pengaduan 20% 4 kasus INSPEKTORAT BIDANG INVESTIGASI . Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan. kolusi.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 199 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 4 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Jumlah policy recommendation Jumlah sosialisasi anti KKN TARGET 2010 (4) 1 rekomendasi 3 kali UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) 1 rekomendasi 3 kali .

728 103.263.551.849.123.790.566 4.249.189 3.310 4.600 51.458 4.523.517.409 4.820 3.861.000 82.485.01227 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Inspektorat Jendral 2 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Pajak 3 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 4 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 5 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 3.766 3.598 4.128.366 65.620.609.431.112.695.959.224.990 59.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 200 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 INSPEKTORAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1) A.002.888.694 87.708.909.586.020.93226 2012 (4) 0.391.148.697.000.110.809.040.659.903 55.811 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.989.208.027.694.994 3.719.648 4.980.932.245.777 3. ALOKASI PROGRAM PROGRAM 1 Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Departemen Keuangan 93.000 3.642 3.932.173.891.373.802.564 .048.820 5.94699 2013 (5) 0.993.934.462 4.375.785.833.354.000 3.709 4.000 3.385 95.466.97450 2014 (6) 1.000 3.429.588.588.263 59.259.617.556.465.

139 3.723.173.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 201 – ALOKASI 2010 (2) 4.096.431 4. dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan 8 Pelaksanaan Program Transformasi Pengawasan 9 Pelaksanaan Audit Investigasi dan Edukasi anti KKN 2011 (3) 3.073.422.860.774 .589.017.161.772 5.544.892.455.023.077.947.707 3.000 4.438.752.221 5.228.300 3.145 4.974 6.100 4.174.120.550 5.780.081.045 2013 (5) 4.732.505.347 4.882 5.163 2014 (6) 4.114.508.391.981.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 7 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Sekretariat Jenderal.990.551.084.813.889.614.301.782 4.461.496 4.344.849.691. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.693.936 2012 (4) 3.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 202 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN INSPEKTORAT JENDERAL INDIKATOR KINERJA RENCANA AKSI K/L TERKAIT KSAP. BPKP WAKTU UNIT ESELON II Inspektorat I Inspektorat II Inspektorat III Inspektorat IV Inspektorat V Inspektorat VI Inspektorat VII Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen November 2011 .

BAPEPAM-LK .5% 10% 2014 (5) 3% 10% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) BAPEPAM-LK 6% 5% 36% 77 1 Februari 2010 10% 15% 366% 82 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan 1 Meningkatnya kualitas layanan dan dukungan yang tinggi kepada seluruh stakeholders internal dan eksternal Sekretariat Badan Bapepam-LK 1 Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat 2 Persentase kesesuaian antara realisasi peningkatan kualitas pegawai dengan kebutuhan riil 100% 80% 100% 90% SES. PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NON BANK TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya Bapepam-LK sebagai lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip transparansi. independensi dan integritas 2 Terwujudnya industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank sebagai penggerak perekonomian nasional dan berdaya saing global INDIKATOR (3) 1 Persentase pertumbuhan nilai transaksi saham harian 2 Persentase pertumbuhan dana yang dikelola oleh lembaga pembiayaan dan penjaminan 3 Persentase pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri perasuransian 4 Persentase pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri dana pensiun 5 Persentase pertumbuhan unit penyertaan Reksa Dana 6 Indeks Kepuasan Stakeholders Bapepam-LK 7 Sejumlah peraturan perundangan yang diidentifikasi dan dikaji terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha 8 Panduan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business) dalam 40 hari TARGET 2010 (4) 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 203 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 BADAN PENGAWAS PASAR MODAL-LEMBAGA KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGATURAN. akuntabilitas.

Penetapan Sanksi. dan transparan 2 Terwujudnya penegakan hukum di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank yang objektif dan efektif 3 Terjaganya kredibilitas Bapepam dan LK dengan mengamankan seluruh kebijakan yang telah diambil melalui pelaksanaan Litigasi yang taktis dan efektif 1 Terwujudnya kebijakan berbasis riset dan sistem pengawasan yang berbasis teknologi informasi terhadap industri pasar modal dan jasa keuangan non Bank 2 Terwujudnya industri pasar modal dan jasa keuangan non bank yang kredibel sebagai penggerak perekonomian nasional dan berdaya saing global 90% 90% BIRO PERUNDANGUNDANGAN DAN BANTUAN HUKUM 97% 97% 50% 50% 3 Riset Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank serta Pengembangan Teknologi Informasi 1 Persentase penyelesaian jumlah laporan hasil riset yang tepat dan akurat di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sesuai rencana 2 Persentase jumlah sistem yang terimplementasi sesuai dengan rencana 100% 100% BIRO RISET DAN TEKNOLOGI INFORMASI 60% 80% 4 Pemeriksaan dan penyidikan bidang Pasar Modal 1 Terciptanya penegakan hukum di Bidang Pasar Modal yang kredibel 1 Laporan Hasil Pemeriksaan yang dapat diterima oleh Ketua atau Komite Penetapan 80% 90% BIRO PEMERIKSAAN DAN PENYIDIKAN .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 204 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 Meningkatnya kepercayaan stakeholders internal dan eksternal yang tinggi PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Persentase pelaksanaan Program Edukasi dan Sosialisasi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank sesuai target 1 Persentase jumlah regulasi di bidang pasar modal dan LKNB yang memenuhi asas peraturan perundang-undangan yang baik 2 Persentase jumlah sanksi administratif atas pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal dan Jasa keuangan yang objektif 3 Persentase jumlah perkara/litigasi yang diselesaikan dengan baik TARGET 2010 (4) 100% 2014 (5) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 2 Perumusan Peraturan. adil. dan Pemberian Bantuan Hukum 1 Terciptanya regulasi di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank yang mampu menjamin kepastian hukum.

Penyelesaian pelanggaran terhadap ketentuan pidana di bidang Pasar Modal yang memerlukan Surat Perintah Penyidikan sesuai target waktu TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 90% 98% 70% 90% 50% 70% 5 Pengaturan. Penyelesaian pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang memerlukan Surat Perintah Pemeriksaan sesuai target waktu c. Layanan Perizinan Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana yang memenuhi target SOP BIRO PENGELOLAAN INVESTASI 100% 100% 100% 100% 100% 90% 100% 90% . akuntabel dan transparan 2 Terwujudnya industri pengelolaan investasi yang tangguh dan berdaya saing global 1 Capaian pelaksanaan pemeriksaan dalam satu tahun: a.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 205 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 Terwujudnya kepastian hukum di bidang Pasar Modal dan memberikan perlindungan bagi pemodal dan masyarakat PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Sanksi dan Keberatan (KPSK) 2 Penyelesaian perilaku pelaku Pasar Modal yang menyimpang: a. baik berkala maupun insidentil sesuai target waktu (keterlambatan penyampaian pelaporan) b. Persentase pemeriksaan kepatuhan terhadap Agen Penjual Efek Reksa Dana sesuai rencana 2 Persentase layanan yang memenuhi target SOP: a. Layanan Pendaftaran Reksa Dana yang memenuhi target SOP b. Penyelesaian pelanggaran terhadap kewajiban pelaporan. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pengelolaan Investasi 1 Terwujudnya Biro Pengelolaan Investasi sebagai salah satu biro yang kredibel. Persentase pemeriksaan kepatuhan terhadap Manajer Investasi sesuai rencana b.

b. Laporan Keuangan Tengah Tahunan dan Laporan Tahunan yang ditelaah sesuai dengan rencana 2 Persentase jumlah pemrosesan Pernyataan Pendaftaran sesuai SOP 100% 100% BIRO PENILAIAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR RIIL 100% 100% . dan Laporan Tahunan yang ditelaah sesuai rencana 2 Persentase jumlah pemrosesan Penyataan Pendaftaran sesuai SOP 3 Diterbitkannya produk regulasi terkait penyederhanaan proses dan persyaratan Penawaran Umum di pasar modal 100% 100% BIRO PENILAIAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR JASA 100% Juni 2010 100% Kontrak Kinerja 8 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik sektor riil 1 Meningkatnya tata kelola perusahaan yang baik atas Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Riil 2 Meningkatnya jumlah Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Riil 1 Persentase jumlah Laporan Keuangan Tahunan. 3 Persentase tingkat penyelesaian penelaahan hasil pengawasan transaksi efek yang diindikasikan tidak wajar TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) BIRO TRANSAKSI DAN LEMBAGA EFEK 90% 90% 100% 100% 100% 100% 2 Terwujudnya Lembaga Efek yang berkualitas dan berdaya saing global serta Transaksi Efek yang teratur. Proses perijinan Wakil Penjamin Emisi Efek 2 Persentase jumlah pemeriksaan Lembaga Efek yang dilaksanakan dibandingkan dengan yang direncanakan. Laporan Keuangan Tengah Tahunan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 206 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya Biro Transaksi dan Lembaga Efek sebagai salah satu biro di Bapepam-LK yang kredibel. wajar dan efisien 67% 70% 7 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 1 Meningkatnya tata kelola perusahaan yang baik atas Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 2 Meningkatnya jumlah Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 1 Persentase jumlah Laporan Keuangan Tahunan. Proses perijinan Wakil Perantara Pedagang Efek. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Transaksi dan Lembaga Efek INDIKATOR (3) 1 Persentase pelayanan perijinan yang sesuai dengan target SOP: a. akuntabel dan transparan PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Pengaturan.

2 Persentase penerbitan Daftar Efek Syariah (DES) yang memenuhi target waktu 3 Persentase jumlah pemrosesan Pendaftaran Akuntan yang memenuhi target waktu. keterbukaan dan tata kelola. 2 Meningkatnya kualitas standar dan regulasi di bidang akuntansi. keterbukaan dan tata kelola. kuat dan kompetitif dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat 100% 100% BIRO PEMBIAYAAN DAN PENJAMINAN 100% 100% 100% 100% Desember 2010 100% 100% 100% 100% Temu Nasional BIRO PERASURANSIAN 11 Pengaturan. dan pelaku pasar. dan Pengawasan Bidang Perasuransian 1 Terwujudnya Biro perasuransian yang memegang teguh prinsip akuntabilitas dan integritas 2 Meningkatnya peran dan kualitas pelaku . 1 Persentase jumlah kebijakan di bidang pembiayaan dan penjaminan yang dihasilkan 2 Persentase jumlah peraturan di bidang pembiayaan dan penjaminan yang dihasilkan 3 Persentase perizinan perusahaan pembiayaan dan penjaminan sesuai SOP 4 RPP PMN LPEI 1 Persentase jumlah rumusan peraturan di bidang perasuransian sesuai rencana 2 Persentase layanan pemberian izin usaha asuransi dan reasuransi yang memenuhi 100% 100% BIRO STANDAR AKUNTANSI DAN KETERBUKAAN 100% 100% 100% 100% 10 Pengaturan. pelaku pasar modal serta penerapan prinsip syariah di pasar modal sesuai rencana.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 207 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) Juni 2010 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Diterbitkannya produk regulasi terkait penyederhanaan proses dan persyaratan Penawaran Umum di pasar modal 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja 9 Penyusunan dan Pengembangan Standar Akuntansi dan Keterbukaan 1 Terwujudnya Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan sebagai biro yang amanah. proaktif dan responsif. serta terwujudnya pengembangan Pasar Modal berbasis syariah 1 Persentase penyusunan dan penyempurnaan draft regulasi di bidang akuntansi. Pembinaan dan Pengawasan bidang Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan 1 Membangun otoritas Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan yang profesional yang mampu mewujudkan industri jasa pembiayaan dan penjaminan sebagai penggerak ekonomi nasional yang tangguh dan berdaya saing tinggi 2 Terwujudnya industri jasa pembiayaan dan penjaminan yang sehat. Pembinaan.

Pembinaan. dapat dipercaya. dan Pengawasan Bidang Dana Pensiun 1 Terwujudnya Biro Dana Pensiun sebagai lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good goverment governance) 2 Terwujudnya industri dana pensiun sebagai penopang pembangunan ekonomi nasional dan sarana untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat di hari tua 1 Menjadi Mitra Kerja Strategis yang Profesional 2 Mewujudkan Bapepam-LK menjadi regulator yang handal.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 208 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) industri perasuransian PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) target SOP 3 Persentase jumlah laporan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi yang telah dianalisis sesuai dengan target waktu 1 Persentase pengesahan pembentukan dana pensiun yang sesuai dengan SOP 2 Persentase jumlah laporan hasil analisis sesuai rencana 3 Persentase jumlah pemeriksaan langsung sesuai rencana TARGET 2010 (4) 100% 2014 (5) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 12 Pengaturan. dan dihormati melalui peningkatan kualitas tata kelola yang mendukung peningkatan kinerja yang berkesinambungan 100% 100% BIRO DANA PENSIUN 100% 100% 100% 100% 13 Penelaahan dan Penilaian Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Bapepam-LK 1 Persentase jumlah pelaksanaan audit yang sesuai dengan rencana audit (penelaahan dan penilaian) tahunan 2 Persentase kesesuaian pelaksanaan audit dengan program audit 3 Persentase rekomendasi yang ditindaklanjuti auditee (sekretariat badan dan biro) 100% 100% BIRO KEPATUHAN INTERNAL 100% 100% 85% 85% .

000 3.000 4.980.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 209 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 BADAN PENGAWAS PASAR MODAL . ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengaturan.349.741.858.539.000 95.901.000. Pembinaan dan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan 2 Perumusan Peraturan.692.871.000 2.315.291.677.000.000 147.000 3.581.408.127 7.068.990.632 7.430 5.000. Penetapan Sanksi.118.223 167.967.734.578.688.311.126.987.97450 2014 (6) 1.151.000 5.01227 .271.780.635.064 3.272.820.553.768.006.497 2.368.000.373.027 148.733 4.044.445.94699 2013 (5) 0.387 3.660.798 116.008.093 159.000.606 5.884 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.060.677.LEMBAGA KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.481 91.391.901. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pengelolaan Investasi 6 Pengaturan.038.389 5.269 191.886.721.959.586.378 107.079 3.974 2.758.576.137.595.113 3. dan Pemberian Bantuan Hukum 3 Riset Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank serta Pengembangan Teknologi Informasi 4 Pemeriksaan dan penyidikan bidang Pasar Modal 5 Pengaturan.585.728 4.644.147.823.706.732 2.280 6.473.631.001.268 3.603. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Transaksi dan Lembaga Efek 7 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 8 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik sektor riil 2.935 3.721.719 6.506.620.583.992.966 101.677.000 2.93226 2012 (4) 0.259 6.968 5.614.791.718.000.000 4.552 6.000.736.887.151 5.395.113.705 2.136 4.094.641 5.857.858.136.498 8.962.662.892 5.872.298.276.990.

274.111 2.324.245.000.992.188.000. dan Pengawasan Bidang Perasuransian 12 Pengaturan.94699 2013 (5) 5.849 9.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 210 – ALOKASI 2010 (2) 4.431.075.495.020.945 .339.983 4.000 2. dan Pengawasan Bidang Dana Pensiun 13 Penelaahan dan Penilaian Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Bapepam-LK 2011 (3) 3.000.641.417.007. Pembinaan.024.427 0.676.767.498.479.170 8.911.235 7.621 7.059.541.899.Pembinaan dan Pengawasan bidang Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan 11 Pengaturan.000 4.171 7.411 3.857.000 6.773.538 5.01227 4.731.366. Pembinaan.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 9 Penyusunan dan Pengembangan Standar Akuntansi dan Keterbukaan 10 Pengaturan.000 5.97450 2014 (6) 6.280.885 2.870.128.192.436.407.608 0.248 1.746.951 8.000.000.348.308 2.651.142 6.285 4.216.525 0.776 5.485.93226 2012 (4) 4.930.698.540.991.650.302.818.887.

DAN H100 6 TARGET H30: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (Bapepam-LK): 1. Draft Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri dalam proses pembahasan dengan instansi terkait TARGET H50: XXX H50: XX% Draft Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri telah disusun dengan Menteri terkait. Catatan : Keterangan sama dengan H75 TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: XX jumlah peraturan perundangan yang diidentifikasi dan dikaji terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha H100: XX% . Pemda. Depdag dan Depnakertrans) yang diidentifikasi terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha sedang dalam proses pengkajian bersama instansi terkait 1 P2: Percepatan Pelayanan Publik (P2A1) Koordinasi instansi Departemen Dalam Negeri Depkeu (Bapepam-LK). Kesepakatan dengan instansi terkait bahwa ijin usaha dapat diselesaikan sebelum 40 hari (22-25 hari). c. Menhukham.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 211 – PROGRAM 100 HARI BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN Bidang Politik. b. Catatan Depkeu (Bapepam-LK): Pada tanggal 17 Desember 2009 telah ditandatangani Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri dan Kepala BKPM tentang Percepatan Pelayanan Perijinan dan non Perijinan untuk memulai usaha. Deperin. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 Teridentifikasi dan dikajinya peraturan perundang-perundangan yang terkait dengan perijinan untuk memulai usaha UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: XX jumlah peraturan perundangan yang diidentifikasi dan dikaji terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha UKURAN KEBERHASILAN H30. Tiga peraturan (Dephukham. Kesepakatan menyusun peraturan bersama 4 (empat) Menteri (Mendagri. BKPM persyaratan memulai usaha & percepatan waktu penyelesaian perijinan 2. penyederhanaan Depkumham. tanggal 12 Desember 2009. terkait terhadap Depdag. H50. H75. perkembangan saat ini dalam persiapan penandatanganan yang direncanakan pada hari Sabtu. Mendag dan Menakertrans). Hasil koordinasi pada tanggal 20 November 2009: a.

BKPM TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Panduan penyederhanaan perijinan H100: XX% untuk memulai usaha (starting of business) dalam 40 hari . Depdag. Deperin. Pemkot Batam telah menyatakan kesiapan untuk penerapannya dengan dukungan BKPM. Depkumham.32/4614/SJ tanggal 21 Desember 2009 sebagai tindak lanjut dari Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri dan Kepala BKPM tentang Percepatan Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan untuk Memulai Usaha. Catatan : Keterangan sama dengan H75 2 3 Departemen Dalam Negeri Depkeu (Bapepam-LK). H50.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 212 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 Prosedur pemberian ijin untuk memulai usaha (starting of business ) dari 90 hari menjadi 40 hari tersusun dalam sebuah panduan UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Panduan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business ) dalam 40 hari UKURAN KEBERHASILAN H30. Pemda. H75. DAN % CAPAIAN H100 6 7 TARGET H30: XXX H30: XX% RENCANA AKSI 1 (P2A2) Fasilitasi Pemda tentang peraturan perundangan terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business ) PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (Bapepam-LK): Telah dilakukan koordinasi dengan Pemkot Batam dan Otorita Batam untuk kesiapan penerapan SPIPISE di kota Batam. Telah disampaikan surat Mendagri tanggal 9 November 2009 kepada Kepala BKPM dan Walikota Batam tentang dukungan penerapan SPIPISE dan Surat Mendagri kepada Walikota Batam tentang proses ijin mulai usaha 40 hari dan pembentukan PTSP Dalam tahap penyiapan panduan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business) dan rencana sosialisasi ke daerah Catatan Depkeu (Bapepam-LK): Telah diterbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 188. dan telah disosialisasikan pada Rapat Kerja Gubernur seIndonesia di Pekanbaru tanggal 22 Desember 2009.

Setneg. Dephukham. Depdagri. Dephub. Menneg BUMN. ESDM. Depdag. Polri. BPN. Pemda Juni 2010 Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . Kejaksaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 213 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN INDIKATOR KINERJA Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi Mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturan-peraturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan Menyederhanakan proses dan persyaratan penawaran umum dipasar modal BKPM. Depnaker.

Optimalisasi dan meningkatkan kemampuan LPEI sebagai lembaga pembiayaan ekspor (trade finance) Menambah modal Rp.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 214 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER BADAN PENGAWAS PASAR MODAL – LEMBAGA KEUANGAN Bidang : Industri dan Jasa No. 2 Triliun pada RPP PMN LPEI LPEI. Depperin. 1 tahun 1 tah tahun UNIT ESELON II 1. sesuai dengan UU APBN 2010 1 tahun BIRO PEMBIAYAAN DAN PENJAMINAN . PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT Depdag.

RPP tentang cost recovery 75% 85% PKPN 85% 90% 3 85% 90% Hasil temu nasional 4 1 Februari 2010 5 Juni 2010 Kontrak kinerja Menkeu . Persentase deviasi target defisit APBN c.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 215 – MATRIKS KINERJA PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2010-2014 BADAN KEBIJAKAN FISKAL PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PERUMUSAN KEBIJAKAN FISKAL Terwujudnya kebijakan fiskal yang sustainable dengan beban risiko fiskal yang terukur dalam rangka stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian 1 2 Persentase penggunaan anggaran risiko fiskal Tingkat akurasi kebijakan fiskal 83% 92% 10% 10% 4. Kepabeanan. Cukai dan PNBP Tersedianya rekomendasi dan rumusan kebijakan pendapatan negara yang mendukung terwujudnya kebijakan fiskal 1 2 Persentase efektifitas kebijakan pendapatan negara Persentase usulan rekomendasi dan rumusan kebijakan di bidang pajak yang diterima oleh pimpinan eselon I Persentase usulan rekomendasi dan rumusan kebijakan di bidang kepabeanan dan cukai yang diterima oleh pimpinan eselon I Peraturan penurunan tarif Bea Masuk sebagai pelaksanaan APBN 2010. Rata-rata persentase deviasi asumsi makro b.5% 75% 87% 94% 5% 8% 4% 85% BKF TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) a. Persentase deviasi proyeksi pendapatan negara 3 Persentase efektivitas kebijakan pendapatan negara KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Kebijakan Fiskal Terwujudnya organisasi BKF yang efektif dengan pelaksanaan koordinasi kegiatan dan dukungan pelayanan prima 1 2 3 Tingkat Kepuasan Pegawai Capaian Realisasi Anggaran Persentase rekomendasi audit yang telah ditindak lanjuti 70% 85% 90% 80% 90% 90% Sekretariat BKF 2 Perumusan Kebijakan Pajak.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 216 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 6 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) PMK pemberian fasilitas PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi. 9 Usulan perubahan PP no 34 tahun 1996 agar sesuai dengan UU kepabeanan dan praktek kepabeanan internasional 10 Kajian usulan pengenaan pajak ekspor (bea keluar) atas produk bahan mentah dan implikasi fiskal dan ekonomi. dalam UU APBN 7 Kajian implikasi pemberian insentif untuk pembangunan refinery baru kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010 8 Kajian manfaat dan biaya pemberian insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. 11 PMK Harmonisasi Tarif Bea Masuk 12 Pemberian Fasilitas Perpajakan terhadap pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy) 13 Perpres tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate) 14 Perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane selesai 1 Februari 2010 sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Hasil temu nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Hasil Temu Nasional Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari .

perhitungan. pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk 5 Penyempurnaan kebijakan subsidi BBM. 104 tahun 2003 Kajian tentang rasionalisasi subsidi listrik dan subsidi BBM 9 Peningkatan tingkat hunian rusunawa yang sudah/sedang dibangun dari sekitar 40% menjadi 80% dalam 100 hari dan melakukan kaji ulang menyeluruh atas kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dan rusunami 10 Konsep kebijakan pengalihan sistem subsidi BBM.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 217 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Tersedianya rekomendasi kebijakan APBN yang sustainable untuk mendukung pembangunan nasional 1 2 3 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) 3 Perumusan Kebijakan APBN INDIKATOR (3) Persentase deviasi target defisit APBN Persentase deviasi proyeksi penerimaan perpajakan Persentase rekomendasi alokasi transfer ke daerah yang digunakan sebagai bahan usulan ke DPR Penyempurnaan PMK No 261/2008 tentang tata cara penyediaan anggaran. pupuk dan listrik 11 -Terbitnya surat jaminan gas dari BP Migas dan TARGET 2010 (4) 10% 4.5% 75% 2014 (5) 8% 4% 80% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PKAPBN Oktober 2014 Kontrak kinerja Menkeu Juni 2010 Kontrak kinerja Menkeu 6 Juni 2010 Kontrak kinerja Menkeu 7 8 1 Februari 2010 Desember 2010 Hasil temu nasional Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari . Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien Kajian penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM Revisi Perpres no.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 218 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)
Head Of Agreement (HOA) -Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) -Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No.22 tahun 2001 12 Tahun 2015 diproduksi Pupuk Organik yang sesuai SNI

1 Februari 2010

1 Februari 2010

1 Februari 2010

Program 100 Hari

4

Pengelolaan Risiko Fiskal dan Sektor - Terwujudnya pengelolaan risiko fiskal yang Keuangan antisipatif dan responsif yang dapat mendukung stabilisasi serta mendorong pertumbuhan perekonomian - Tersedianya rekomendasi dan pernyataan risiko fiskal

1 2 3 4

Jumlah risiko fiskal teridentifikasi yang terukur Persentase jumlah rekomendasi atas transaksi dukungan pemerintah yang diterima Persentase penggunaan anggaran risiko fiskal Perubahan sistem pengelolaan pendanaan BLU Tanah dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010

4 82% 83%

5 87% 87%

PPRF

Desember 2010

Hasil temu nasional

6

Menyusun ketentuan tata kelola yang baik, adil, akuntabel dan transparan terhadap dukungan pemerintah pada proyek infrastruktur yang bersifat non-kompetitif.

1 Februari 2010

Hasil temu nasional

7

SKB Menteri ESDM, Meneg BUMN, Menteri Keuangan, mengenai prosedur negosiasi dan penetapan IPP, indikator harga, dan penjaminan

1 Februari 2010

Hasil temu nasional

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 219 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
PSO. 8 Perpres tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10.000 MW Tahap II 9 Perpres perubahan atas Perpres Nomor 67/2005 yang dapat mendukung peningkatan kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha 10 Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi 11 Rumusan kebijakan untuk menyelesaikan secara tuntas permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN 12 -Penandatanganan Loan Agreement Kerjasama Pembangunan Pabrik UREA di Iran -Terlaksananya pembangunan Pabrik tahun 2011 - 2014 13 Terlaksananya kerjasama pembangunan Pabrik Phosphoric Acid dengan Yordania di Gresik tahun 2011 - 2013 5 Perumusan Kebijakan Ekonomi Terwujudnya kebijakan ekonomi makro yang antisipatif dan responsif yang dapat mendukung stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian 1 2 3 Persentase rata rata deviasi proyeksi asumsi makro Tingkat kepuasan stakeholder Tingkat pemanfaatan economic executive dashboard 10% 80% 3 5% 85% 3 PKEM 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Hasil temu nasional Program 100 Hari

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)

TARGET 2010 (4) 2014 (5)

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 220 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
- Tersedianya kebijakan dan program kerja sama internasional yang terpercaya dan optimal dalam rangka mendukung terwujudnya stabilitas ekonomi nasional - Terlaksananya program kerjasama internasional yang optimal 1 2 3

PROGRAM/KEGIATAN (1)
6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Kerja Sama Keuangan Internasional

INDIKATOR (3)
Jumlah penerima bantuan hibah (pendidikan) dalam rangka kerja sama teknik luar negeri Jumlah rekomendasi Delri yang diadopsi menjadi kesepakatan internasional Jumlah pertemuan dengan negara mitra strategislembaga multilateral dan investor utama sesuai rencana Dokumen Posisi Indonesia untuk COP-15 UNFCCC di Copenhagen, Denmark

TARGET 2010 (4)
625 30

2014 (5)
665 35

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)
PKKSI

24

30

4

1 Februari 2010

Program 100 Hari

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 221 –
KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 BADAN KEBIJAKAN FISKAL PROGRAM/KEGIATAN (1)
A. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Perumusan Kebijakan Fiskal RM PHLN KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Kebijakan Fiskal 2 Perumusan Kebijakan Pajak, Kepabeanan, Cukai dan PNBP 3 Perumusan Kebijakan APBN RM PHLN 4 Pengelolaan Risiko Fiskal dan Sektor Keuangan RM PHLN 5 Perumusan Kebijakan Ekonomi 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Kerja Sama Keuangan Internasional 15,579,854,000 8,312,338,000 7,267,516,000 15,322,545,000 11,241,705,000 4,080,840,000 23,970,000,000 21,965,292,000 12,411,991,216 10,411,991,216 2,000,000,000 12,036,630,625 12,036,630,625 0 16,253,814,877 13,110,057,586 12,759,078,454 11,259,078,454 1,500,000,000 12,431,017,837 12,431,017,837 0 16,800,499,567 13,543,208,950 13,332,285,360 12,332,285,360 1,000,000,000 13,045,910,662 13,045,910,662 0 17,632,285,570 14,213,308,829 14,049,457,824 14,049,457,824 0 13,773,048,316 13,773,048,316 0 18,632,465,493 15,009,945,889 15,599,187,000 12,294,533,706 12,698,233,027 13,326,390,423 14,070,226,649 36,494,811,000 35,186,555,905 38,472,418,219 40,490,088,069 45,377,114,450 128,931,689,000 117,583,333,000 11,348,356,000 101,293,583,915 99,293,583,915 2,000,000,000 106,704,456,055 105,204,456,055 1,500,000,000 112,040,268,913 111,040,268,913 1,000,000,000 120,912,258,621 120,912,258,621 0

ALOKASI 2010 (2) 2011 (3)
0.93226

2012 (4)
0.94699

2013 (5)
0.97450

2014 (6)
1.01227

177/PMK.sumber energi panas bumi . PMK No. BM/PPNDTP). KLH KRITERIA KEBERHASILAN 4 Penyelesaian Peraturan Menteri Keuangan tentang Insentif pemanfaatan energi terbarukan UKURAN KEBERHASILAN 5 Terbitnya PMK tentang Pemberian Insentif Perpajakan sektor energi terbarukan UKURAN KEBERHASILAN H30. Cukai. . DAN H100 6 TARGET H30:15% a)Pengumpulan data dan informasi tentang energi terbarukan .1 Tahun 2007. 156/PMK. . H75. Depperind.011/2008. 242/PMK. Pengenaan BK. susut jaringan dan BPP 5 tahun ke depan 1 2 P21: Pengembangan energi terbarukan nasional (P21A1) Pemberian Fasilitas Departemen Keuangan Perpajakan terhadap pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy) TARGET H50: 40% a) Menginventarisasi ketentuan/ Peraturan perundangan yang telah ada yang berkaitan dengan pemberian fasilitas perpajakan kepada sektor industri/ jenis barang yang dikategorikan sebagai energi terbarukan (Pembebasan BM.sumber energi Bahan Bakar Nabati (BBN) : PMK No. H50.011/2007. b) Rapat Koordinasi dengan K/L terkait untuk mendapat masukan tentang energi terbarukan dan fasilitas perpajakan yang diperlukan. b) Mengidentifikasi kebutuhan fasilitas perpajakan 100% a) inventarisasi peraturan fasilitas perpajakan terkait: . PMK No.PLTS (Tenaga Surya) .PLTB (Tenaga Bayu) .sumber energi lainnya : nihil b) identifikasi kebutuhan fasilitas perpajakan dibutuhkan terkait: . PPN.Tengah disusun proyeksi fuelmix.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 222 – PROGRAM 100 HARI BADAN KEBIJAKAN FISKAL Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Dep ESDM. % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 '30% kemajuan: a) Penyelesaian konsep kebijakan subsidi BBM. PPh.011/2009 .PLTMH (Tenaga Mikro Hidro) .sumber panas bumi : PP No.Sedang disusun alternatif kebijakan pengalihan subsidi BBM . (kemajuan 30% dari bobot 50% atau 15% dari UK) b) Penyelesaian konsep kebijakan subsidi Listrik (kemajuan 30% dari bobot 50% atau 15% dari UK).sumber energi BBN .

H50. . diberikan Tarif Khusus untuk PPh. Selain itu. DAN H100 6 TARGET H75: 80% a) Mengkaji kemungkinan diberikannya fasilitas perpajakan tambahan untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan.Tarif PPh Badan sebesar 5% selama 15 tahun sejak masa eksplorasi panas bumi (fasilitas melalui penerbitan PP) . DepBUMN Penyelesaian perubahan Perpres Nomor 67/2005 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur TARGET: Perpres TARGET H30: XXX perubahan atas Perpres Nomor 67/2005 yang dapat TARGET H50: XXX mendukung peningkatan kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha H30: XX% H50: XX% 60% kemajuan penyelesaian perubahan Perpres Catatan Depkeu (BKF) : Rancangan perubahan Perpres No 67 tahun 2005 telah dikembalikan oleh Sekretaris Kabinet untuk disempurnakan dalam rapat koordinasi tingkat Menteri di Menko Perekonomian. Untuk energi terbarukan termasuk panas bumi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 223 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.Fasilitas tambahan yang diberikan setelah P100H: (i) Perlakuan tarif khusus PPh Badan sebesar 5%.231/KMK. pembebasan PPN dan PPh pasal 22 atas impor barang-barang yang bea masuknya telah dibebaskan.03/2001) .PPN Tidak Dipungut untuk impor BKP tertentu (melalui perubahan KMK No. Depkeu (BKF). Target H100: 100% Menyusun dan merumuskan PMK tentang Pemberian Insentif Perpajakan sektor energi terbarukan P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur (P12A1) Perubahan Perpres Kementerian PPN/Kepala Nomor 67 Tahun 2005 Bappenas tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur Depdagri. H75. dan (ii) PPN DTP dan BM DTP.Fasilitas tambahan yang dapat diberikan dalam rangka P100H: (i) PPN Tidak Dipungut untuk Impor Barang. DepESDM.254/KMK. b) Merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan di tempuh RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 100% a) Hasil kajian: .Pembebasan/pengurangan PPh Pasal 22 Impor Barang (melalui perubahan KMK No. khusus untuk panas bumi.03/2001) b) Merumuskan rekomendasi kebijakan: . .PPN DTP dan BM DTP (fasilitas melalui penerbitan PMK) . Dephub. dan (ii) Pembebasan PPh Pasal 22 Impor atas Barang. DepPU.

P.C dan pasal 1 ayat 8) TARGET H100: XXX H100: Perpres perubahan atas Perpres Nomor 67/2005 yang dapat mendukung peningkatan kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Catatan Depkeu (BKF): Rancangan perubahan Perpres No 67 telah diajukan oleh Menko Perekonomian selaku Ketua KKPPI kepada Presiden RI melalui Seskab. target belum selesai masih ada kendala di lapangan. DAN H100 6 TARGET H75: XXX RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Memberikan masukan dalam rapat KKPPI (Komite Kebijakan Percepatan Pembangunan Infrastruktur) di kantor Menko Perekonomian untuk perbaikan pasal-pasal yang terkait dengan dukungan pemerintah dan jaminan pemerintah (pasal 17A. Departemen Keuangan hanya terlibat dalam alih status tanah milik negara.5 TB siap fisik [4] 30 TB siap huni [5] 24 TB terhuni H100: XX% .5 TB siap fisik [4] 68. PDAM. P13: Pembangunan dan pemeliharaan Infrastruktur Strategis (P13A6) Peningkatan Kementerian Negara tingkat hunian rusunawa Perumahan Rakyat yang sudah/sedang dibangun dari sekitar 40% menjadi 80% dalam 100 hari dan melakukan kaji ulang menyeluruh atas kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dan rusunami Depkeu (BKF).B.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 224 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. TARGET H75: XXX H75: XX% Depkeu tidak terlibat dalam pembangunan fisik. pembahasan telah dilakukan dengan Dep.5 TB siap fisik menjadi 30 TB siap huni [5] 30 TB siap huni menjadi 24 TB dihuni TARGET: [1] Terklasifikasi 100% [2] Terbangun 121 TB [3] 68. H75. target bulan Desember selesai.Tinggi [1] Terklasifikasi status rusunawa [2] 83 TB menjadi 121 TB terbangun [3] Dari 83 TB terbangun menjadi 68. PLN. naskah asli ada perubahan redaksional sehingga memerlukan paraf dari Menko Perekonomian. Menurut informasi dari staf Seskab pada tanggal 25 Januari 2010.PU dan Depkeu (DJKN dan DJPB). Catatan Depkeu (BKF): Depkeu tidak terlibat secara fisik.5 TB siap fisik [4] 30 TB siap huni [5] 24 TB terhuni TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% 100% sudah terklasifikasi 83 = 0% Depkeu: Catatan (Des 09 baru selesai) Sesuai informasi dari Kementerian Perumahan Rakyat. Dep PU. Pemda. TARGET H100: [1] Terklasifikasi 100% [2] Terbangun 121 TB [3] 68. H50.

DAN H100 6 TARGET H30: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 [1] Identifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi) 100% [2] Formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-1]: . walaupun sudah menghubungi unit penanggung jawab.Rusunami: 30% [3] Formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-2. BKF tidak dilibatkan dalam pembahasan terkait kebijakan. BKF tidak dilibatkan dalam pembahasan terkait kebijakan. . H50.4]: 0% [4] Rapat koordinasi dan review dengan pemangku kepentingan: 0% [5] Tersusun usulan rekomendasi kebijakan: 0% Setneg. Catatan Depkeu(BKF): Pada tahun 2009.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 225 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: [1] Teridentifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi) [2] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-1] [3] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-2] [4] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-3] [5] Terselenggara rapat koordinasi dan review dengan pemangku kepentingan [6] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-4] [7] Tersusunnya Usulan Rekomendasi Kebijakan RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 UKURAN KEBERHASILAN H30.3. H75. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: [1] Teridentifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi) [2] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-1] [3] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-2] [4] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-3] [5] Terselenggara rapat koordinasi dan review dengan pemangku kepentingan [6] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-4] [7] Tersusunnya Usulan Rekomendasi Kebijakan H100: XX% Catatan Depkeu (BKF): Pada tahun 2009. Dep. penyempurnaan kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dam rusunami TARGET H50: XXX H50: XX% Catatan Depkeu (BKF): Keterlibatan BKF (PKAPBN) dalam identifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi). PU.Rusunawa: 100% . walaupun sudah mengubungi unit penanggung jawab. Depkeu Tersusun rekomendasi (BKF). Menko Ek.

(6) Pengiriman hasil rapat sinkronisasi antar departemen kepada Setneg. (3) pembahasan draft peraturan perundang-undangan di lingkup Deptan TARGET H50: Melakukan: (4) Pengiriman draft H50: XX% peraturan perundang-undangan food estate kepada Menko Perekonomian. Depkeu(BKF) UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Perpres tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate ) 1 2 P15: Iklim investasi pertanian dan perikanan (P15A1) Penyusunan PP Departemen Pertanian tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate ) UKURAN KEBERHASILAN H30. 5207/30/MEM. Penyelesaian Perpres Setkab tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. Menteri Keuangan No. Deperin. 28 Desember 2009.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 226 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 Penyelesaian penyusunan Perpres tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate ) RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Depdag.L/2009 tgl 10 Nopember 2009 TARGET H100: PP tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate) telah selesai P17: Jaminan pasokan energi (P17A4) Penerbitan Perpres Departemen ESDM tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10.000 MW Tahap II Depkeu (BKF). DepBUMN.1/2010 tanggal 8 Januari 2010).n.S8/MK. 50% kemajuan penyelesaian Perpres. TARGET H75: Draft ranc Perpres hasil pembahasan di setkab telah disempurnakan oleh DESDM (35% dari UK) H75: XX% . (7) Finalisasi peraturan pendukung di bawah kewenangan Mentan TARGET H75: Melakukan: (8) Persetujuan draft RPP H75: XX% oleh Setneg. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Seluruh kegiatan yang ditargetkan pada H-30 telah selesai dilaksanakan TARGET H30: Melakukan: (1) Kajian Hukum tentang H30: 100% penyelesaian peraturan perundang-undangan food estate . sedangkan copy yang diterima BKF sudah diteruskan ke Biro Hukum untuk ditelaah. RPerpres ini sudah dianggap final dan disampaikan ke Seskab. Catatan Depkeu (BKF): BKF sudah menyampaikan masukan atas rancangan RPerpres dimaksud pada rapat Menko Senin. H50. (5) Rapat sinkronisasi antar departemen. Dalam RA ini Depkeu semestinya tidak terkait (berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. Draft Perpres telah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk dibahas antardep melalui surat MESDM No. DepBUMN. Catatan Depkeu (BKF): PP sedang dibahas di Setneg tetapi Depkeu tidak dilibatkan. H75. (9) Penandatanganan peraturan pendukung oleh Mentan Catatan Depkeu (BKF): RPP tentang investasi usaha tani skala luas sudah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk diteruskan ke Sekretaris Kabinet paling lambat tanggal 15 Desember 2009. Catatan: Keterangan sama dengan H75.000 MW Tahap II H100: XX% H30: 125% TARGET H50: Draft Ranc Perpres sampai ke Menko H50: XX% Perekonomian (10% dari UK) Catatan Depkeu (BKF): Rancangan Perpres sudah disampaikan oleh Menko Perekonomian ke Sekretaris Kabinet untuk finalisasi.000 MW Tahap II TARGET: Perpres tentang TARGET H30: Penyusunan rancangan awal draft Proyek Percepatan Perpres (40% dari UK) Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. (2) penyusunan draft peraturan perundangundangan.

000 MW Tahap II P18: Sistem harga energi yang kompetitif (P18A1) Penerbitan Perpres Departemen ESDM tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi Depkeu (BKF). H75. Deperin.L/2009 tgl 10 Nopember 2009 Catatan Depkeu (BKF): BKF cq PPRF telah menyampaikan pendapat bahwa harga patokan tertinggi pembelian listrik dari panas bumi sebaiknya tidak ditetapkan dalam bentuk Perpres. Kemeneg BUMN Tersusunnya rumusan penyelesaian permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN TARGET: Rumusan TARGET H30: Penyusunan rancangan awal draft kebijakan untuk Perpres (40% dari UK) menyelesaikan secara tuntas permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN H100: XX% Catatan: Keterangan sama dengan H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 227 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. TARGET H100: Perpres tentang Proyek Percepatan H100: XX% Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. 50% kemajuan penyelesaian Perpres. Berdasarkan informasi Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi. Draft Perpres telah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk dibahas antardep melalui surat MESDM No.70 c$/Kwh) TARGET H100: Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi P19: Ketahanan energi (P19A1) Perumusan Departemen ESDM penyelesaian permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN Depkeu (BKF). 5207/30/MEM. 50% kemajuan penyelesaian rumusan penyelesaian permasalahan PPA. Setkab Penyelesaian Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi TARGET: Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi TARGET H30: Penyusunan rancangan awal draft Perpres (40% dari UK) H30: 125% TARGET H50: Draft Ranc Perpres sampai ke Menko H50: XX% Perekonomian (10% dari UK) TARGET H75: Draft ranc Perpres hasil pembahasan di setkab telah disempurnakan oleh DESDM (35% dari UK) H75: XX% Catatan Depkeu(BKF): Peraturan Menteri ESDM sudah terbit dengan No 32 tahun 2009 tanggal 4 Desember 2009 tentang penetapan harga jual listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (9. harga patokan tertinggi pembelian listrik dari panas bumi akan ditetapkan dengan peraturan menteri ESDM. . 5207/30/MEM. H50. telah disepakati pembentukan tim koordinasi tingkat Menteri. DepBUMN.L/2009 tgl 10 Nopember 2009 H30: 125% TARGET H50: Draft Ranc Perpres sampai ke Menko H50: XX% Perekonomian (10% dari UK) Catatan Depkeu (BKF): Dalam rapat koordinasi di kantor Menko Perekonomian tanggal 4 Desember 2009. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Telah diterbitkan Perpres No 4 tahun 2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. Draft Perpres telah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk dibahas antardep melalui surat MESDM No.000 MW tahap II.

untuk pembentukan Tim berdasarkan Perpres. Kemeneg BUMN Penyelesaian dan cakupan perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane TARGET: Perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane selesai 1 Februari 2010 sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane selesai 1 Februari 2010 sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 P20: Pengalihan sistem subsidi: BBM. DAN H100 6 TARGET H75: Draft ranc Perpres hasil pembahasan di setkab telah disempurnakan oleh DESDM (35% dari UK) RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Sudah dilakukan rapat di Menko Perekonomian. dan listrik (P20A1) Perumusan pengalihan sistem subsidi: BBM. b) Penyesuaian term and condition kontrak CBM (kemajuan 30% dari bobot 50% atau 15% dari UK) Catatan Depkeu (BKF): BKF cq PKPN sedang melakukan kajian tentang kemungkinan fasilitas perpajakan yang bisa diberikan. pupuk dan listrik dan penyempurnaan kebijakan subsidi BBM Kick off Meeting Tim Teknis Perumusan alternatif kebijakan (30% dari UK) H100: XX% H30: H30: 100% Bobot 30% dari keberhasilan Program Subsidi Listrik: Perhitungan Biaya Pokok Penyediaan H30: 100% (BPP) tenaga listrik (30% dari UK) TARGET H50: H50: XX% Penyusunan proyeksi fuelmix . susut jaringan dan BPP 5 tahun kedepan (Bobot 30% dari keberhasilan Program) . ESDM yang berkaitan dengan pemberian fasilitas perpajakan belum diterima BKF walaupun sudah dikonfirmasikan. Catatan Depkeu(BKF): Usulan dari Dep. H50. ESDM tentang bentuk-bentuk fasilitas fiskal yang diinginkan. Departemen Pertanian Depkeu (BKF). Kemeneg BUMN Penyelesaian konsep TARGET: Konsep kebijakan TARGET H30: kebijakan pengalihan sistem pengalihan sistem subsidi Subsidi BBM: Membentuk tim pengkajian roadmap subsidi BBM. Draft Perpres sudah diselesaikan dan dikirim ke Seskab Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan rapat di kantor Wapres tanggal 8 Januari 2010 usulan pembentukan Tim tersebut tidak disetujui dan selanjutnya disepakati bahwa penyelesaian permasalahan PPA tersebut dikembalikan untuk diselesaikan oleh PT. pupuk. Catatan Depkeu (BKF): Keterangan sama dengan H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 228 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. PLN (dengan mekanisme Business to Business) 35% tingkat kemajuan: a) Pemrosesan pedoman tentang pengusahaan gas methana batubara /CBM dalam bentuk SK Dirjen (kemajuan 40% dari bobot 50% atau 20% dari UK). Namun demikian BKF masih menunggu usulan dari pembina sektor/Dep. H75. pupuk dan listrik Departemen ESDM. TARGET H100: Rumusan kebijakan untuk menyelesaikan secara tuntas permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN H100: XX% (P19A3) Pemanfaatan coal bed methane melalui penyusunan perangkat peraturan sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 Depkeu (BKF).

Kementerian ESDM. DAN H100 6 Subsidi BBM: Pembahasan pentahapan pengurangan subsidi BBM (40%) RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): BKF ikut menyusun rumusan alternatif pengurangan subsidi BBM melalui mekanisme pembatasan volume BBM (melalui smart card/ kartu kendali) dan penyesuaian tarif BBM bersubsidi. pupuk dan listrik Catatan Depkeu(BKF): a) Roadmap rasionalisasi subsidi BBM telah selesai sesuai hasil rapat di Ditjen Migas tanggal 26 Januari 2010. . Catatan Depkeu (BKF): BKF ikut menyusun skenario rasionalisasi TDL dan penyederhanaan golongan tarif agar target penerima subsidi listrik lebih tepat sasaran. Saat ini sedang disusun laporannya oleh Ditjen Migas b) Pembahasan finalisasi roadmap rasionalisasi subsidi listrik masih menunggu undangan dari Ditjen LPE. Catatan Depkeu(BKF): BKF ikut terlibat dalam tim kajian subsidi listrik (Kepmen ESDM No 2674K/73/MEM/2009) dan sedang dilakukan finalisasi roadmap rasionalisasi subsidi listrik.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 229 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. H50. Subsidi Listrik: Penyusunan Program Rasionalisasi TDL TARGET H75: Subsidi BBM: Finalisasi roadmap (10%) H75: XX% Catatan Depkeu(BKF): BKF ikut terlibat dalam finalisasi roadmap rasionalisasi subsidi BBM dan penyusunan blueprint kebijakan bahan bakar di Ditjen Migas. H75. namun waktu pelaksanaannya belum ditentukan. output dalam bentuk policy paper masih dalam tahap penyelesaian. Subsidi Listrik: Penyusunan Roadmap pengalihan subsidi listrik terarah TARGET H100: Konsep kebijakan pengalihan sistem H100: XX% subsidi BBM. c) Pengalihan subsidi pupuk dikoordinir oleh KemMenko Perekonomian.

Pembahasan penyediaan bahan baku gas dilakukan bersamaan dengan pembahasan pupuk organik skala menengah kecil (P26A132) Sedang disusun rencana gas tahun 2010-2015 termasuk kebutuhan gas untuk revitalisasi koordinasi BP Migas.22 th. H75: XX% TARGET H100: [1] Terbitnya surat jaminan gas dari H100: XX% BP Migas dan Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No. Depkeu (DJA) belum dilibatkan karena belum membahas masalah keuangan. ESDM.Depperin. BP gas bumi sesuai kebutuhan Migas selama minimal 20 tahun dengan harga khusus untuk industri pupuk (P26A111K1) TARGET: TARGET H30: XXX [1] Terbitnya surat jaminan gas dari BP Migas dan TARGET H50: XXX Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal TARGET H75: XXX 28 Undang-undang Migas No. bahwa pembahasan dilakukan sejak 2007 bersama Dep ESDM. Industri pupuk dan Pertamina. . Kementrian Jaminan ketersediaan suplai BUMN. Neraca Migas terbit Januari 2010. Depkeu (BKF). H75. 2001 (P26A111K1U3) H30: XX% H50: XX% Kemajuan 70% Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan informasi dari Direktorat Industri Kimia Hulu . H50. 2001 (P26A111K1U3) Catatan Depkeu (DJA): Sampai dengan saat ini DA belum dilibatkan untuk menindaklanjuti RA ini. DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 2 P26: Revitalisasi Industri pupuk dan gula Revitalisasi Industri Pupuk Urea (P26A11) Penyediaan Bahan Baku Depperin Gas (P26A111) Dep.22 th. BP Migas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 230 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.

maka progress rencana aksi ini sama.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 231 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 Revitalisasi / Pengembangan Industri Pupuk Organik (P26A13) Pengembangan industri Pupuk Organik skala menengah kecil (P26A132) PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Depperin Depkeu (BKF). Deptan. . TARGET H100: Tahun 2015 diproduksi Pupuk Organik yang sesuai SNI H100: XX% Catatan Depkeu (DJA): Sampai dengan saat ini DJA belum dilibatkan untuk menindaklanjuti RA ini.Depperin. pembahasan pengembangan industri pupuk organik menengah kecil dilakukan bersamaan dengan pembahasan penyediaan bahan baku gas (P26A111) TARGET H75: XXX H75: XX% Karena pembahasan pengembangan industri pupuk organik menengah kecil dilakukan bersamaan dengan pembahasan penyediaan bahan baku gas (P26A111). yaitu sedang disusun rencana gas tahun 2010-2015 termasuk kebutuhan gas untuk revitalisasi koodinasi BP Migas. H75. H50. Depdag dan Pemda Tersedianya kapasitas industri Pupuk Organik yang memenuhi SNI TARGET: TARGET H30: XXX Tahun 2015 diproduksi TARGET H50: XXX Pupuk Organik yang sesuai SNI H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan informasi dari Direktorat Industri Kimia Hulu .

BKF sudah berinisiatif mengundang rapat Menneg BUMN dan Direksi PUSRI untuk klarifikasi permasalahan. Depkeu (BKF). Terkait dengan hal ini Menneg BUMN akan menindaklanjuti. namun jaminan pemerintah yang dibutuhkan dalam loan agreement dimaksud adalah jaminan pemerintah selaku pemegang saham bukan jaminan pemerintah dalam rangka kerjasama pemerintah dan swasta/badan usaha untuk penyediaan infrastruktur sehingga merupakan kewenangan Menneg BUMN. Depdag Adanya jaminan Pemerintah dalam mencari pinjaman sebesar US$ 211. H50. H75.2014 (P26A141K1U2) H30: XX% H50: XX% 80% Catatan Depkeu (BKF): BKF telah melakukan kajian kelayakan pemberian jaminan pemerintah. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Penandatanganan Loan Agreement (P26A141K1U1) Terlaksananya pembangunan Pabrik tahun 2011 2014 (P26A141K1U2) H100: XX% Catatan Depkeu (BKF): Penjelasan dari Kementerian Negara BUMN .9 juta atau Euro 163 juta (P26A141K1) TARGET: TARGET H30: XXX Penandatanganan Loan TARGET H50: XXX Agreement (P26A141K1U1) Terlaksananya pembangunan Pabrik tahun 2011 . Rapat menyepakati diperlukannya jaminan pendanaan dari pemegang saham PUSRI. Kementrian BUMN. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 Kerjasama Industri Pupuk Nasional dengan Negara Lain (P26A14) Kerjasama pembangunan Pabrik Urea di Iran (P26A141) PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Depperin Deplu.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 232 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.

Kementrian Terbentuknya Joint Venture TARGET: TARGET H30: XXX BUMN dan BKPM Company (P26A142K1) Terlaksananya TARGET H50: XXX pembangunan Pabrik tahun 2011 . DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% 60% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): BKF belum pernah dilibatkan dalam pembahasan kerjasama pembangunan Pabrik Phosphoric Acid dengan Yordania di Gresik. H50. Sudah dikonfirmasi ke pihak PUSRI dan diperoleh informasi dari Direktur Keuangan PUSRI bahwa Depkeu tidak perlu terlibat karena skema kerjasamanya B to B.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 233 – KRITERIA KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN H30. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a.n. H75. Menteri Keuangan No.S-8/MK.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). 1 Kerjasama pembangunan Depperin Pabrik Phosphoric Acid dengan Yordania di Gresik (P26A142) 3 4 5 Depkeu (BKF).2013 (P26A142K1U1) TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Terlaksananya pembangunan Pabrik H100: XX% tahun 2011 .2013 (P26A142K1U1) Catatan Depkeu (BKF): Penyelesaian dilakukan melalui skema B to B P27: Pengembangan Klaster Industri-industri berbasis sumber daya alam fosil dan yang terbarukan P28: Aksesibilitas dan keterhubungan (connectivity ) Antar Wilayah .

H50. disusul dengan Rakortas 29 Desember 2009 di Menko Perekonomian selanjutnya ditindaklanjuti dengan Rakor tentang penyusunan rencana aksi penurunan emisi GRK (Gas Rumah Kaca) di Bappenas pada tanggal 31 Desember 2009. Sebagai tindak lanjutnya. Denmark (BKF). H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (BKF): COP (Conference of Parties) 15 di Copenhagen (9-20 Desember 2009) yang salah satunya menghasilkan Copenhagen Accord yang berisi negara berkembang akan menyampaikan submissinya pada tanggal 31 Januari 2010. Denmark Catatan Depkeu (BKF): BKF ikut serta dalam negosiasi penyusunan arsitektur kelembagaan climate change dan cara penggunaan sumber-sumber dana yang dialokasikan di bawah COP UNFCCC di Copenhagen. telah dilakukan serangkaian pertemuan penyusunan hasil COP 15 oleh DELRI pada tgl 23 Desember 2009. dan Kementerian Negara Deptan. DepESDM. BMKG TARGET H50: XXX RENCANA AKSI % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 50% proses penyelesaian Dokumen Posisi Indonesia untuk COP-15 UNFCCC di Copenhagen. COP-15 UNFCCC di untuk COP-15 UNFCCC di Lingkungan Hidup Dephub. Denmark. Depdag. . Dephut. H75. INSTANSI TERKAIT JAWAB KEBERHASILAN KEBERHASILAN DAN H100 6 1 2 3 4 5 P43: Penguatan posisi Indonesia pada Konferensi PBB ke-15 untuk Perubahan Iklim di Copenhagen. Posisi Indonesia untuk Dokumen Posisi Indonesia kepentingan. DepPK. Tersusunnya dokumen TARGET: TARGET H30: XXX dengan para pemangku Perubahan Iklim (DNPI) Bappenas. 7-18 Desember 2009 (P43A1) Koordinasi Dewan Nasional Kemenko Kesra.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 234 – PROGRAM 100 HARI BADAN KEBIJAKAN FISKAL Bidang Kesejahteraan Rakyat PENANGGUNG KRITERIA UKURAN UKURAN KEBERHASILAN H30. Depkeu Copenhagen. Denmark Copenhagen.

dan ditindaklanjuti dengan penyusunan dokumen Rencana Aksi Nasional Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN PE GRK) dan submissi National Appropriate Mitigation Action ke UNFCC yang dikoordinasikan oleh Menko Perekonomian. Denmark KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Dokumen posisi Indonesia untuk COP 15 sudah selesai.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 235 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. H50. H75. . % CAPAIAN DAN H100 6 7 TARGET H100: Dokumen Posisi Indonesia H100: XX% untuk COP-15 UNFCCC di Copenhagen.

yang mencakup namun tidak terbatas pada: Memastikan peningkatan investasi di bidang pangan. dan terjangkau Bahan penyempurnaan PMK No. Depkeu. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. Menko Perekonomian dan Polhukam. Kemenneg BUMN. UKP4. tepat jumlah. Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi Mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturanperaturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan Terselesaikannya RPP tentang cost recovery Kemenpan&RB. pupuk. Kejaksaan Juni 2010 Pusat Kebijakan Pendapatan Negara . Dep. ESDM. TNI. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. 261/2008 tentang tata cara penyediaan anggaran. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk Deptan. perhitungan. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. dan Setkab Paling lambat Oktober 2014 Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II b. pertanian.Hukham. Polri.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 236 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN BADAN KEBIJAKAN FISKAL INDIKATOR KINERJA a.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 237 –

INDIKATOR KINERJA c. Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi Mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM, listrik, dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan

RENCANA AKSI

K/L TERKAIT

WAKTU

UNIT ESELON II

- Bahan penyempurnaan kebijakan subsidi BBM, Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien

Kemenko Perekonomian, Bappenas, ESDM, BPH Migas, Pertamina, PLN, Deptan, Depdag, Kemenneg BUMN, Bulog

Paling lambat Juni 2010

Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

- Hasil Kajian penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM

Depdagri, ESDM, Pertamina, BPH Migas, Pemda

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 238 –
HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER BADAN KEBIJAKAN FISKAL Bidang : Infrastruktur
NO. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB Menteri PU Depkeu Bappenas1 tahun PPRF

1.

Pengelolaan dana BLU Tanah dan Land Capping sebaiknya berada di 1 tangan (DJ-BM) supaya kontrolnya jelas dan birokrasinya lebih sederhana 1. Revisi Perpres 67/2005: PPP diatur dengan memahami kondisi investasi infrastruktur yang: a. Layak secara Finansial b. Layak secara Ekonomi tetapi tidak layak Finansial c. Tidak layak Ekonomi dan tidak layak Finansial 2. Revisi Perpres 67/2005: Pemerintah memberikan dukungan agar investasi yang tidak layak menjadi layak melalui berbagai kebijakan al: a. Sistem tender disederhanakan dan dimungkinkan penunjukan langsung b. Ide proyek dari investor (unsolicited) dimungkinkan

Membahas perubahan sistem Dokumen RAPBN-P pengelolaan pendanaan BLU Tanah 2010 dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010 Perubahan Perpres ? Menyelesaikan perubahan Perpres 67/2005 yang menjamin dukungan investasi proyek infrastruktur yang layak secara ekonomi.

1 tahun

2.

100 hari

Menko Perekonomian

Depkeu, Dep. PU, Dep. Perhub, Bappenas, Dep ESDM

PPRF

? Menyusun ketentuan tata kelola yang baik, adil, akuntabel dan transparan terhadap dukungan pemerintah pada proyek infrastruktur yang bersifat nonkompetitif.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 239 –
NO. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB

c. Dibuat ketentuan peralihan yang berisi : bagi badan usaha yang telah menandatangani Perjanjian Kerjasama sebelum berlakunya Perpres 67/2005 dan mengalami penurunan kelayakan investasi maka diberlakukan Perpres ini d. Bentuk dukungan pemerintah bergradasi dari nol hingga pemerintah yang membangun terlebih dahulu baru dikerjasamakan dengan swasta

3.

Perlu dipersiapkan pengaturan mengenai negosiasi pada IPP Kelistrikan

Menyusun SKB Menteri ESDM, SKB Menteri ESDM, Meneg BUMN, Menteri Keuangan, Meneg BUMN, Menteri mengenai prosedur negosiasi dan Keuangan penetapan IPP, indikator harga, dan penjaminan PSO.

100 hari

Menteri ESDM Depkeu, Meneg BUMN

PPRF

4.

Penghapusan bea masuk alat dan mesin pertanian sepanjang tidak menghambat industri dalam negeri

Menyusun aturan penurunan tarif Bea Masuk sebagai pelaksanaan APBN 2010.

PMK Harmonisasi Tarif Bea Masuk

100 hari

Menteri Keuangan

Deptan, Depdag, Depperin

PKPN

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 240 –

Bidang : Energi
No. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUN G JAWAB Menko Perekonomian K/L TERKAIT UNIT ESELON II

1.

Menerbitkan Perpres tentang proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW tahap II

Memberikan masukan mengenai kebijakan penjaminan

Perpres tentang proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW tahap II

100 hari

Depkeu, Dep.ESDM, Pertamina, BP Migas dan BPH. Migas, Setneg, Setkab.

PPRF

2.

– Merevisi Perpres No. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN

Memberikan masukan dari sisi APBN, inflasi dan kinerja ekonomi Menyusun kajian tentang rasionalisasi subsidi listrik dan subsidi BBM

Revisi Perpres no.104 Tahun 2003. Kajian tentang rasionalisasi subsidi listrik dan subsidi BBM

100 hari

Menko. Perekonomian,

Depkeu, Dep.ESDM, Meneg. BUMN, PLN, Pertamina

PKAPBN

– Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi listrik – Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi BBM

1 tahun

3.

Memberikan insentif khusus (fiskal) untuk pelaksanaan optimalisasi produksi migas

Memberikan fasilitas PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi, dalam UU APBN.

PMK pemberian PDRI

100 hari

Menteri Keuangan

ESDM

PKPN

– Memberikan insentif untuk pembangunan refinery baru Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM – Melakukan kajian implikasi kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010. Kajian insentif 100 hari Menteri Keuangan Dep. 100 hari Dep.ESDM PKPN . – – Menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak Menerbitkan Perpres untuk penurunan pajak 5% dalam jangka waktu 15 tahun untuk PLTP (Panas Bumi) Melakukan kajian manfaat dan Kajian insentif biaya pemberian insentif terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN.ESDM PKPN – Sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan Menyelesaikan revisi PP Cost Recovery PP cost recovery 100 hari Menteri Keuangan dan Menteri ESDM Menteri Keuangan Depkumham. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUN G JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II 4. dan Setneg 5.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 211 – No.

Depdag 1 tahun PKPN UNIT ESELON II 1. 34 Usulan Perubahan tahun 1996 agar sesuai dengan UU PP No. 34/1996 kepabeanan dan praktek kepabeanan internasional 100 hari PKPN .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 242 – Bidang : Industri dan Jasa No. Review PP No. Mengkaji usulan pengenaan pajak ekspor (bea keluar) atas produk bahan mentah dan implikasi fiskal dan ekonomi. Depperin. KADI. 5 taharitahun 2. Penetapan pajak ekspor untuk produk-produk mentah (bahan baku). Kajian 100 hari Menteri Keuangan Depperin. 34/1996 ttg BMAD & BM Imbalan Mengusulkan perubahan PP No. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT Depdag.

.

551.189.944. SRI MULYANI INDRAWATI .219 99.178.070.454.483.129 108.900.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 247 – ALOKASI 2010 (2) 14.707.110.000 2011 (3) 30.311 105.603 77.94699 2013 (5) 33.854 1.717. perpajakan.932.717.813.760. perbendaharaan.733.000 115.428.063.317 0.000 22.467.070.161.416.93226 2012 (4) 33.977 0.807 MENTERI KEUANGAN ttd.208. kepabeanan.821.928 97.761.946.858 92.321 26. kekayaan negara dan perimbangan keuangan 8 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan pendidikan Program Diploma Keuangan Negara 9 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Keuangan Negara di daerah 16.421.559 28.380 0.724 25.032.000 86.642.531.401.97450 2014 (6) 34.339. cukai.688.921.820.01227 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan diklat teknis dan fungsional di bidang kekayaan negara dan perimbangan keuangan 7 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan diklat teknis dan fungsional di bidang selain anggaran.256.225.730.489 83.720.722 112.650.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful