MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 40 – KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 40 /KMK.01/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010-2014 MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Rencana Strategis Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014; 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 2. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009; 3. Peraturan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Kementerian Negara/Lembaga (Renstra K/L) 2010-2014; MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERTAMA : KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010-2014. Menetapkan Rencana Strategis Kementerian Keuangan, yang selanjutnya disebut Renstra Kementerian Keuangan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri Keuangan ini sebagai dokumen perencanaan Kementerian Keuangan untuk periode 5 (lima) tahun terhitung mulai Tahun 2010 sampai dengan 2014. Renstra Kementerian Keuangan Tahun 2010-2014 berisi visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, kegiatan, indikator kinerja, dan pendanaan yang disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010-2014 dan bersifat indikatif. Unit Eselon I, Eselon II, Instansi Vertikal, dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Keuangan wajib menyusun Rencana Strategis (Renstra). Renstra sebagaimana dimaksud pada Diktum KETIGA disusun dengan berpedoman pada: a. Keputusan Menteri Keuangan ini; dan b. Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Unit-Unit Organisasi Di Lingkungan Kementerian Keuangan.

Mengingat

:

KEDUA

:

KETIGA KEEMPAT

: :

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 41 – KELIMA : Pedoman Penyusunan Rencana Strategis Unit-Unit Organisasi Di Lingkungan Kementerian Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Diktum KEEMPAT huruf b ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan tersendiri. Renstra Unit Eselon I sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Unit Eselon I paling lambat 1 (satu) bulan setelah Renstra Kementerian Keuangan 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan kepada Menteri Keuangan. Renstra Unit Eselon II sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Unit Eselon II paling lambat 2 (dua) minggu setelah Renstra Unit Eselon I 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan kepada Pimpinan Unit Eselon I. Renstra Instansi Vertikal sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Instansi Vertikal paling lambat 2 (dua) minggu setelah Renstra Unit Eselon II 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan kepada Pimpinan Unit Eselon II. Renstra Unit Pelaksana Teknis sebagaimana dimaksud dalam Diktum KETIGA, ditetapkan dengan keputusan pimpinan Unit Pelaksana Teknis paling lambat 2 (dua) minggu setelah Renstra Unit Eselon I 2010-2014 ditetapkan dan disampaikan ke Pimpinan Unit Eselon I. Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Salinan Keputusan Menteri Keuangan ini disampaikan kepada: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan; Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan; Para Direktur Jenderal/Kepala Badan/Ketua Badan di lingkungan Kementerian Keuangan; Para Staf Ahli Menteri Keuangan; Kepala Pusat Analisis dan Harmonisasi Kebijakan, Kementerian Keuangan; Kepala Biro Perencanaan Keuangan, Kementerian Keuangan; Kepala Biro Hukum, Kementerian Keuangan.

KEENAM

:

KETUJUH

:

KEDELAPAN

:

KESEMBILAN

:

KESEPULUH

:

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Januari 2010 MENTERI KEUANGAN ttd.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DAFTAR ISI

BAB I 1.1. 1.2.

PENDAHULUAN ........................................................................................ Kondisi Umum ..............................................................................................

1 1

Potensi dan Permasalahan ........................................................................... 22

BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN KEMENTERIAN KEUANGAN ................... 34 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. Visi Kementerian Keuangan ........................................................................ 34 Misi Kementerian Keuangan ....................................................................... 34 Tujuan Kementerian Keuangan .................................................................. 34 Sasaran Strategis Kementerian Keuangan ................................................. 35

BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI ....................................................... 40 3.1. 3.2. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional ........................................................ 40 Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Keuangan ............................. 62

LAMPIRAN ¡ Matriks Kinerja Pembangunan Kementerian Keuangan ¡ Matriks Pendanaan Kementerian Keuangan ¡ Matriks Program 100 Hari Kementerian Keuangan ¡ Matriks Kontrak Kinerja Menteri Keuangan-Presiden ¡ Matriks Hasil Temu Nasional

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 40 /KMK/PMK.01/2010 TENTANG RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010 - 2014

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KEUANGAN TAHUN 2010 - 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1 KONDISI UMUM 1.1.1 Kondisi Ekonomi Makro Tahun 2004 - 2009

Dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2004-2009 seiring dengan dinamika ekonomi internal maupun krisis keuangan global, pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 5,9 persen atau lebih baik dibandingkan dengan periode Tahun 2001-2004 (4,5 persen), inflasi rata-rata mencapai 10,4 persen. Dengan pendekatan pro growth, pro poor dan pro job, upaya-upaya pemerintah telah membuahkan hasil dengan menurunnnya tingkat pengangguran dari 9,86 persen pada Tahun 2004 menjadi 8,14 persen pada Tahun 2008, tingkat kemiskinan dari 16,66 persen menurun secara drastis menjadi 14,15 persen pada Tahun 2009. Nilai tukar rupiah Tahun 2004 rata-rata Rp 8.928/US$, pada awal September 2005 sempat mencapai Rp 10.345/US$, namun kembali melemah menyentuh level Rp 8.828/US$ pada semester II Tahun 2007, lalu bergerak relatif stabil pada rata-rata Rp9.234/US$ di Tahun 2008. Pada Tahun 2008 nilai rata-rata berkisar Rp 9.234/US$, memasuki Tahun 2009 sampai dengan bulan Juni nilai rata-rata berada pada kisaran Rp 11.082/US$. Inflasi Tahun 2004 berada pada level 6,4 persen, walau sempat naik sampai mencapai 17,1 persen Tahun 2005, namun kemudian pada Tahun 2007 sebesar 6,6 persen, dan sampai dengan Juni 2009 mencapai 3,7 persen. Seiring dengan itu, BI rate bergerak naik dari 12,5 persen pada Desember 2005 menjadi 12,75 persen pada April 2006, kemudian mulai menunjukkan penurunan pada bulan Desember 2008 sejalan dengan membaiknya ekspektasi inflasi dan terjaganya pasokan bahan pangan domestik serta apresiasi nilai tukar. Tingkat Loan to Deposit Ratio (LDR) pada Tahun 2008 mencapai 74,61 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Volatilitas harga minyak yang sempat menembus level 60 dolar AS per barel pada Tahun 2005, diiringi dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya volume konsumsi BBM domestik, mengakibatkan membengkaknya belanja subsidi BBM pada APBN Tahun 2005 mencapai Rp101,5 Triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi Tahun 2003 dan 2004 yang masing-masing sebesar Rp30,0 Triliun dan Rp69,0 Triliun. Ketika harga minyak dunia pada semester pertama Tahun 2008 yang sempat menembus US$140 per barel, secara langsung mempengaruhi APBN dengan membengkaknya subsidi BBM, sehingga defisit anggaranpun mengalami peningkatan. Pada pertengahan Tahun 2008 terjadi krisis finansial global yang kemudian mempengaruhi harga minyak dunia. Harga minyak mengalami penurunan kembali. Oleh karena itu Pemerintah kemudian mengambil kebijakan untuk menurunkan harga BBM baik premium maupun solar domestik. Pada Desember 2008, Pemerintah telah menurunkan harga premium sebanyak 2 kali, dan solar sebanyak 1 kali. Penurunan harga premium dan solar tersebut kembali dilakukan Pemerintah pada Januari 2009.

1. meskipun sempat mengalami koreksi dalam beberapa periode. menurun signifikan dibandingkan Tahun 2008 sebesar 6. IHSG sempat menembus level tertinggi selama tahun 2009 yaitu sebesar 2. IHSG mengalami penguatan sebesar 82. baik dari sisi eksternal maupun internal. Eksposur perbankan dan lembaga keuangan Indonesia terhadap subprime mortgage relatif minimal.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –2– Kondisi perekonomian pada Tahun 2009 diawali dengan situasi ekonomi yang suram sebagai dampak dari krisis keuangan global.4 persen.399.2 Kinerja APBN Tahun 2004-2009 Kinerja APBN selama periode Tahun 2004 .3 persen (q-to-q) pada kurtal ketiga Tahun 2009. World Economic Outlook April 2009 memperkirakan pertumbuhan perdagangan dunia negatif sebesar 11 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sampai akhir Tahun 2009 diperkirakan sebesar 4. inflasi. Dalam kondisi tersebut. serta dipengaruhi dari sisi penerimaan negara dan dari sisi belanja negara. Ketidakseimbangan ekonomi global berdampak pada tingkat suku bunga. Aliran modal masuk kembali positif baik di pasar saham maupun obligasi negara. Respon kebijakan pemerintah yang counter-cyclical melalui program stimulus telah berhasil mempertahankan daya beli masyarakat sehingga saat ini pemerintah terus berusaha untuk dapat mengalirkan program stimulus dalam sektor investasi. serta nilai tukar di dalam negeri. dan risiko sistemik antarbank. Indonesia juga terkena dampak krisis keuangan global. Pergeseran arus modal yang besar dan tiba-tiba membawa guncangan pada sistem stabilitas keuangan. mengakibatkan beban belanja yang sangat berat untuk rehabilitasi dan rekonstruksi daerah-daerah yang terkena bencana alam tersebut.3 persen. perekonomian Indonesia dinilai relatif lebih baik dibanding dengan negara Asia lainnya.2009 mengalami tekanan dan tantangan yang cukup berat. 1. Pertumbuhan ekonomi dunia menurun dari 3.6 persen.000/US$.3 persen. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan signifikan pada sektor perdagangan akibat menurunnya permintaan masyarakat. Dibanding akhir Desember 2008 hingga 16 November 2009.1 persen dan Rupiah terapresiasi 15. Hal ini ditambah lagi dengan adanya kebijakan pemberian insentif perpajakan sebagai bagian dari kebijakan stimulus . Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). terbaik di Asia setelah Cina. Pada awal Tahun 2009 terjadi capital outflow sebesar US$312 miliar dari negara-negara emerging market ke AS. Sementara itu adanya bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.264. Daya tahan sistem keuangan domestik cukup mantap jika dibandingkan kondisi krisis tahun 1998. dan tidak satu negara pun terhindar dari krisis ini. dimana pertumbuhan PDB sebesar 4 persen (q-to-q). Stabilitas pasar keuangan Indonesia sempat terguncang yang tercermin pada depresiasi Rupiah terendah pada tanggal 20 Februari 2009 pada level Rp12.3 pada akhir Agustus 2009. dan penurunan harga Surat Utang. Kinerja pasar modal sejak pertengahan Tahun 2009 menunjukkan tren penguatan. meskipun konsumsi rumah tangga tetap tinggi. Hal ini antara lain disebabkan oleh terjadinya kontraksi ekspor dan rendahnya investasi. Seperti negara berkembang lainnya. akibat macetnya subprime mortgage.2 persen pada Tahun 2008 menjadi negatif 1 persen pada Tahun 2009. jauh lebih rendah dari pertumbuhannya pada tahun 2008 sebesar 3. didukung oleh peningkatan kapitalisasi pasar. menguat menjadi 4. Dengan demikian pemulihan ekonomi dapat terlihat sejak kuartal kedua Tahun 2009.8 pada bulan Maret 2009. anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada level 1. secara cepat mengalir dan menyebar pada sistem keuangan dunia.

dan UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang dalam Tahun 2004 telah direvisi menjadi UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.5 triliun (16. Sementara itu kontribusi PNBP terhadap pendapatan negara dan hibah mengalami penurunan. yaitu UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. terutama penerimaan pajak dalam negeri dari sektor nonmigas.4 persen pada Tahun 2004 menjadi 25.0 triliun. yaitu dari 69. pada Tahun 1999 diterbitkan 2 (dua) UU di bidang otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. yaitu dari Rp403. daerah diberikan kewenangan untuk menyelenggarakan seluruh fungsi pemerintahan. atau meningkat rata-rata 17. yakni dari Rp427.6 persen pada Tahun 2004 menjadi 74. agama.9 triliun (16. Dalam lima tahun terakhir.70 persen per tahun. Perkembangan pendapatan negara dan hibah dalam lima tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 16.9 persen pada Tahun 2009. dan adminsitrasi pemerintahan yang bersifat strategis. politik luar negeri.0 persen terhadap PDB. juga ditentukan oleh kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah. peran penerimaan perpajakan terhadap pendapatan negara dan hibah meningkat. Sejalan dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah yang telah dimulai pada tahun 2001. dari 30.5 persen dari PDB) dalam APBN-P 2009. seperti perubahan harga BBM di dalam negeri.6 persen dari PDB) dalam Tahun 2004 menjadi Rp971. target defisit ditetapkan 1. Implikasi langsung dari kebijakan tersebut adalah meningkatnya kebutuhan dana yang cukup besar untuk membiayai pelaksanaan fungsi-fungsi yang telah menjadi kewenangan daerah. kecuali kewenangan pemerintahan dalam bidang pertahanan keamanan. pembayaran bunga utang. Komposisi pendapatan negara lebih bertumpu pada sumber-sumber penerimaan dari sektor perpajakan. Defisit pada tahun 2009 ditargetkan sebesar 1. Seiring dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah. rehabilitasi dan rekonstruksi daerah korban bencana alam.1 triliun (17. lebih rendah 1.5 persen terhadap PDB) pada Tahun 2004 menjadi Rp870. .1 persen terhadap PDB) dalam APBN-P Tahun 2009. sedangkan kebutuhan investasi untuk dukungan infrastruktur Pemerintah sebesar Rp2.9 persen selama lima tahun terakhir (periode Tahun 2004-2009).7 persen dari PDB atau sebesar Rp75. Dalam rangka konsolidasi fiskal.1 persen apabila dibandingkan dengan target defisit pada perubahan APBN Tahun 2008. Peningkatan realisasi dan perkiraan belanja negara tersebut selain dipengaruhi oleh perkembangan asumsi ekonomi makro. Jumlah kebutuhan pembiayaan anggaran ditentukan dari besaran target defisit. dan refinancing utang.2 triliun (18. Pada Tahun Anggaran 2008. namun dalam jangka panjang diharapkan akan berdampak positif. dana perimbangan ke daerah serta program kompensasi pengurangan subisidi BBM (PKPS-BBM).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –3– fiskal yang dalam jangka pendek berdampak negatif pada penerimaan negara. optimalisasi pendapatan negara dan hibah dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan. Realisasi belanja negara terus menunjukkan peningkatan. fiskal dan moneter.0 persen Tahun 2009. peradilan. kebutuhan investasi Pemerintah.6 triliun.0 triliun dan utang yang jatuh tempo sebesar Rp106. khususnya harga minyak mentah Indonesia dan nilai tukar rupiah (kurs).

1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –4– Dari sisi keuangan negara. kebijakan desentralisasi fiskal tersebut telah membawa konsekuensi pada perubahan peta pengelolaan fiskal yang cukup mendasar. Dana Alokasi Umum (DAU).55%). yang terbagi dalam 5 tema-Pendapatan Negara. dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana Alokasi Umum (DAU). atau tumbuh ratarata sebesar 20. yaitu Penerimaan Pajak dan Bea Cukai. Belanja Negara. Dana Bagi Hasil (DBH).dan bidang Reformasi Birokrasi serta Pengawasan dan Pengendalian Intern. Penjelasan tentang_pencapaian Renstra Tahun 2005-20009 Kementerian Keuangan dibagi dalam dua bidang yaitu bidang Pengelolaan Keuangan Negara. Hal ini antara lain dapat dilihat dari semakin besarnya penyerahan sumber-sumber pendanaan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. sumber dana bagi daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bidang Pengelolaan Keuangan Negara a. Ketidakstabilan perekonomian dunia menyebabkan tidak tercapainya penerimaan pajak pada Tahun 2006 (96. Penerimaan Pajak dan Bea Cukai Rencana dan realisasi target tax ratio dan penerimaan pajak selama periode Tahun 2005-2009 sebagaimana pada tabel di bawah ini. daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak/retribusi (tax assignment) dan pemberian bagi hasil penerimaan (revenue sharing). Dana Perimbangan. . yang diimplementasikan dalam bentuk transfer belanja ke daerah sebagai bagian dari APBN. 1. dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan asas desentralisasi.4 persen per tahun.1.5 triliun dan terus meningkat hingga menjadi Rp303.2009 Kondisi ekonomi makro dan kinerja APBN Tahun 2005-2009 sangat mempengaruhi pencapaian sasaran Renstra Kementerian Keuangan Tahun 2005-2009.1. Kekayaan Negara. Selain itu.3 Pencapaian Sasaran Renstra Kementerian Keuangan Tahun 2005 . Tema Pendapatan Negara Tema Pendapatan Negara terdiri dari dua sumber. yang dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan.1 triliun pada Tahun 2009. Pembiayaan APBN. serta Pinjaman Daerah. serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).3. terus meningkat seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang dimulai sejak Tahun 2001. serta bantuan keuangan (grant) atau dikenal dengan dana perimbangan sebagai sumber dana bagi APBD. dan Dana Alokasi Khusus (DAK).1. Dalam rangka pelaksanaan desentralisasi fiskal.32%) dan Tahun 2007 (98. Pada Tahun 2005 alokasi Transfer ke Daerah sebesar Rp150. Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank. baik dalam bentuk Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. yang meliputi Dana Bagi Hasil (DBH). Secara umum.

71% 12. KPPBC Tipe Madya Pabean Merak. 6.75% 96. per 12 Oktober 2009 (nilai realisasi akan muncul pada tahun berikutnya). Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. 5.26% 12. 3. KPPBC Tipe Madya Pabean Bogor. Sementara itu reformasi birokrasi terus dilakukan. yaitu: Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. . KPPBC Madya Pabean dan KPPBC Madya Cukai. telah dilakukan pengembangan struktur organisasi Direktorat Bea dan Cukai dengan dibentuknya Kantor Pelayanan Utama (KPU). Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi Undang-Undang.43% 12.32% 98. Dalam Tahun 2009 diimplementasikan 9 KPPBC Tipe Madya lainnya.84% 65. dimana unit vertikal DJP di bawah Kementerian Keuangan menjadi sebagai berikut : Kantor Vertikal DJP No.30% NA*) 101. Jenis Kantor Kanwil DJP WP Besar Kanwil DJP WP Jakarta Khusus Kanwil DJP KPP WP Besar KPP Khusus KPP Madya KPP Pratama KP2KP Jumlah 1 1 29 3 9 19 299 207 Di bidang peraturan perundang-undangan telah diselesaikan tiga Undang-undang.60% 12.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –5– Rencana dan Realisasi Tax Ratio dan Target Penerimaan Pajak Tahun 2005-2009 Tahun Rencana 2005 2006 2007 2008 2009 Tax Ratio Realisasi Persentase Target Penerimaan Pajak Rencana 100% 100% 100% 100% 100% Realisasi 12. KPPBC Tipe Madya Pabean Purwakarta. 7. KPPBC Tipe Madya Pabean Surakarta. KPPBC Tipe Madya Pabean Yogyakarta. 1.44%*) *) pencapaian masih dalam tahun berjalan. 2.60% 13.46% 12. 4. 8. Di bidang kepabeanan.43% 13. seperti modernisasi administrasi perpajakan yang dilaksanakan pada Tahun 2008. yaitu KPPBC Tipe Madya Pabean Tanjung Emas.55% 106. KPPBC Tipe Madya Pabean Bandung.43% 13. dan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

158.11 % 85.78 % Target APBN-P 344.646. Realisasi dan pencapaian target penerimaan bea masuk.091. salah satunya adalah menyempurnakan aturan mengenai registrasi importir.29 % 260.399.80 38.00 Sumber Data Ditjen Perbendaharaan sampai dengan 28 Desember 2009 Adapun peraturan perundangan di bidang kepabeanan dan cukai yang telah diselesaikan adalah UU Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan UU Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan.546.56 % 32.251.88 51.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –6– KPPBC Tipe Madya Pabean Bekasi dan KPPBC Tipe Madya Pasuruan.772. PE/bea keluar.60 42. .920.65 16.60 PE / Bea Keluar Realisasi 318.50 13.28 37.627. Pencapaian Target Penerimaan Bea Masuk dan PE/Bea Keluar (dalam miliaran rupiah) T.34 11.417.699.08 4. Sedangkan untuk Tahun 2010 dan Tahun 2011.30 14.717.73 Pencapaian 92.40 % 40.A. dan cukai selama periode Tahun 2005-2009 adalah sebagaimana pada tabel berikut.31 % 121.13 44.44 22.90 3.80 418. UU Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. Sampai bulan Oktober.244. Target APBN-P 2005 2006 2007 2008 2009* *) Cukai Realisasi 33.46 % 139.60 15.670.583.545.A. ditargetkan akan membentuk 9 KPPBC Tipe Madya Pabean yang baru.50 54. Target APBN-P 14.67 46.820. yang sudah diresmikan ada 6 (enam) KPPBC Madya Pabean.17 % 112.87 % 110.20 1.31 17.761.05 % 106.06 % 2005 2006 2007 2008 2009* *) Sumber Data Ditjen Perbendaharaan sampai dengan 28 Desember 2009 & Target Bea Masuk Tidak termasuk Nilai BM DTP Sebesar Rp2 Triliun Pencapaian Target Penerimaan Cukai (dalam miliaran rupiah) T.238148 13.90 16.30 Pencapaian 101.83 % 143.87 % 89.522.50 Bea Masuk Realisasi 14.47 560.31 Pencapaian 103.123.90 12.034. Selain itu DJBC telah menggunakan Teknologi Informasi yang mutakhir guna mendukung penerapan National Single Windows (NSW).256.861.14 % 98.141. serta penyempurnaan dan penyederhanaan proses bisnis.70 45. suatu sistem yang efisien dan efektif yang bersinergi dengan unit/lembaga pemerintahan lainnya.041.30 1. dan.38 % 115.

evaluasi. Tema Belanja Negara Tema Belanja Negara berasal dari dua sumber.632.89 % data sampai dengan Triwulan III 2009 berdasarkan buku merah b.119.680 130.29 % 98.066.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –7– Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Strategi kebijakan PNBP diarahkan pada kebijakan intensifikasi dan eksteksifikasi dalam upaya pencapaian optimalisasi dan efektifitas.332 320.411. dimana alokasi anggaran belanja negara dirinci menurut organisasi. PENCAPAIAN TARGET PNBP TAHUN 2005-2009 ( dalam rupiah) TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009* *) TARGET 180.29 persen menjadi 113. Secara rata-rata. yaitu: (i) penganggaran terpadu (unified budget).000 218.47 persen. adanya perubahan orientasi kebijakan alokasi anggaran belanja pemerintah pusat. Untuk target Tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan dengan Tahun 2008 sebesar Rp64.90 persen.36 persen pada Tahun 2008. Kedua.604.373.629.000 198. (iv) menyempurnakan sistem administrasi di bidang PNBP. yang terdiri dari tiga pilar.51 % 113. Optimalisasi dan efektifitas PNBP yang bersumber dari kementerian/Lembaga ditempuh melalui beberapa langkah sebagai berikut: (i) melakukan review. dan penyempurnaan peraturan pelaksanaan UU PNBP. dan jenis belanja.814.000 229. (ii) meningkatkan efektivitas pelaksanaan kebijakan PNBP. dilaksanakan. serta Perimbangan Keuangan yang berupa belanja negara untuk kepentingan perimbangan keuangan daerah.000 282.670.829.420. Pencapaian target PNBP dalam periode Tahun 2005-2008 rata-rata mengalami kenaikan.829.790.253. disusun.705.535.273. Penurunan ini disebabkan oleh adanya perubahan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebagai akibat dari turunnya harga minyak mentah dunia. dan (iii) kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework).268. fungsi.037. yaitu Belanja Negara yang berupa anggaran pemerintah pusat. dan dipertanggungjawabkan dalam kerangka pelaksanaan pembaharuan (reformasi) keuangan negara.888.390.562.75 % 108. anggaran belanja pemerintah pusat. serta Perbendaharaan Negara.000 % REALISASI 81.310. pencapaian target PNBP dalam periode tersebut mencapai 100. Hal ini terlihat dari pencapaian target pada Tahun 2005 sebesar 81. yang lebih diarahkan untuk mendukung langkah-langkah stimulasi terhadap perekonomian dari sisi fiskal . Belanja Negara Dalam periode Tahun 2005-2009 terdapat beberapa perkembangan penting terkait dengan kebijakan anggaran belanja pemerintah pusat yaitu: Pertama.868.402.385.77 triliun atau 22.871 215.597. (ii) penganggaran berbasis kinerja (performance based budget). (v) mempertajam alokasi penggunaan dana PNBP.950.697.281. Ketiga.36 % 59.000 REALISASI 146.381 226. penyusunan dan pelaksanaan anggaran belanja pemerintah pusat dilakukan dengan mengikuti perubahan struktur dan format belanja standard internasional (Government Financial Statistics/GFS). (iii) menertibkan pengelolaan administrasi di bidang PNBP.

032 693. Sedangkan aturan lain berupa Peraturan Pemerintah yang telah ditetapkan adalah : (i) PP Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah.570.0 persen.000 REALISASI 361.202.569. (ii) PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.084.122.587. dan (vi) PP Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.000 478.000 716.346.928.992. sumber : Dit.73 % 92.2 triliun yang dialokasikan pada kegiatan infrastruktur pada beberapa K/L.580.355. (iv) PP Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Daerah. (v) PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. APK. Penyerapan belanja pemerintah pusat mengalami peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari 87.962 % PENYERAPAN 87. (iii) PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah.12 % data sampai dengan 15 Oktober 2009.071. akibat tingginya realisasi belanja subsidi terkait kebijakan pemerintah untuk tetap mempertahankan pemberian subsidi di tengah meningkatnya harga minyak dunia.590. dan Perpres Nomor 74 Tahun 2008 mengenai kebijakan.643 504. (iii) Penyesuaian harga BBM dalam negeri pada bulan Maret dan Oktober 2005.079.249. dalam rangka memperluas penciptaan lapangan kerja produktif (pro-job). PENYERAPAN BELANJA PEMERINTAH PUSAT TAHUN 2005-2009 (dalam rupiah) TAHUN 2005 2006 2007 2008 2009* *) PAGU 411.155. dan alokasi Dana Alokasi Umum (DAU).623.513 440. Perpres Nomor 104 Tahun 2006.878 222. dan mengentaskan kemiskinan (pro-poor). Kebijakan yang dilakukan dalam periode Tahun 2005-2009 antara lain: (i) Pemberian bantuan sosial langsung kepada masyarakat (ii) Meningkatkan kesejahteraan pegawai PNS/TNI/Polri serta Pensiunan. DJPB Pada Tahun 2007. serta pada bulan Mei dan Desember 2008.290.422. Kebijakan yang ditempuh dalam APBN Tahun 2009 antara lain adanya stimulus fiskal sebesar Rp12.006. penyerapan belanja pemerintah pusat mencapai 101.000 498. dan (v) Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN. perhitungan. sehingga secara rata-rata.000 697. Perimbangan Keuangan Untuk meningkatkan pengelolaan hubungan keuangan pusat dan daerah dalam kurun waktu 2004-2009 ditetapkan berdasarkan empat Peraturan Presiden.01 % 101.059.968. Perpres Nomor 110 Tahun 2007. Mengingat telah ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang .172. penyerapan belanja pemerintah pusat dalam periode tersebut mencapai 95.263. (iv) Mengalokasikan anggaran dari pengurangan subsidi BBM untuk bantuan sosial dan infrastruktur terutama dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT).4 persen pada Tahun 2008.29% melebihi pagu yang telah ditetapkan.376. yaitu Perpres Nomor 74 Tahun 2005.7 persen pada Tahun 2005 menjadi 99.47 % 31.29 % 99.667.032.161.850.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –8– (pro-growth).655.

DBH Cukai bersifat specific grant.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA –9– Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. yaitu Panas Bumi dilaksanakan mulai tahun 2009.2 50.3 11. sedangkan satu jenis DBH. Jawa Barat.1 3. Berbeda dengan DBH SDA pada umumnya yang sifatnya sebagai block grant.04 2006 33 434 467 226. Ada 8 (delapan) jenis DBH di sini. atau meningkat 70 daerah selama 5 tahun. Porsi tambahan 0.98 2008 33 451 484 292. yaitu Sumatera Utara.30 2007 33 434 467 253. maka PP Nomor 54 Tahun 2005 perlu untuk dilakukan revisi. dimana DBH dengan persentase tertentu. Dana transfer ke daerah diberikan kepada semua daerah yang berhak berdasarkan perhitungan tertentu. DBH dilaksanakan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 yang mengatur bagian Pemerintah Pusat dan bagian Pemerintah Daerah dengan persentase tertentu dari realisasi penyetoran ke kas negara dari penerimaan negara pajak (PNP) dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). dimana dalam Tahun 2005 s/d 2008 telah dilaksanakan sebanyak 7 jenis.5 persen dari PNBP Minyak Bumi dan 30. Perkembangan alokasi DBH Pajak dan DBH-SDA dapat dilihat pada tabel berikut ini : . yaitu DBH dari PNBP Tahun 2006 s/d 2009.03/2008 tentang Mekanisme Pajak Penghasilan Ditanggung Pemerintah dan Perhitungan Penerimaan Negara Bukan Pajak atas Hasil Pengusahaan Sumber Daya Panas Bumi untuk Pembangkitan Energi/Listrik pada tanggal 4 November 2008.6 15. D.I.5 16. dan Dana Otsus dan Penyesuaian berdasarkan undang-undang. Tertundanya pelaksanaan DBH Panas Bumi tersebut karena peraturan mengenai perpajakan atas pengusahaan panas bumi baru ditetapkan pada tahun 2008 dengan PMK Nomor 165/PMK.7 2005 32 434 466 120. Pada Tahun 2008 dan 2009 DBH-CHT diberikan kepada lima daerah di wilayah provinsi penghasil CHT.2 persen.59 Sumber : Kementerian Keuangan Pada Tahun 2008 dikenal DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) berdasarkan UU No 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UU No 11 Tahun 1999 tentang Cukai. Yogyakarta.1 persen.2 persen dan 0. sebagaimana pada tabel berikut ini: Perkembangan Jumlah Daerah dan Besaran Transfer Tahun 2004 s/d 2009 No.5 persen tersebut sebagai specific grant yang harus dimanfaatkan untuk menambah anggaran pendidikan dasar di daerah dengan pembagian untuk provinsi/daerah penghasil/daerah lainnya masing-masing sebesar 0. 1 2 3 4 5 Daerah Provinsi Kabupaten Jumlah Realisasi Transfer (Triliun Rupiah) % Kenaikan 2004 30 410 440 129. DAU dengan formula. Perkembangan jumlah daerah penerima Dana Transfer ke Daerah dari Tahun 2004 sebanyak 440 menjadi 510 pada Tahun 2009. 0.5 persen dari PNBP Gas Bumi. dan Jawa Timur. Jawa Tengah. DBH Migas dibagikan kepada daerah dengan porsi 15.51 2009 33 477 510 303. Untuk pertama kalinya DBH Panas Bumi pada Tahun 2009 dibagikan kepada daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat. Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35 UU No 33 Tahun 2004. DAK dengan kriteria.

20 29.02% 2.6 179.39 1.55 1.93 26 2009 Prov 18.85 26 K / K Prov 79.12 0. PDNN adalah penerimaan negara yang berasal dari pajak dan bukan pajak setelah dikurangi dengan penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada daerah.5 14.29 7.29 9. Komponen 2005 Prov 1 2 3 4 Prov/Kab/Kota Nasional % Kenaikan % Thd PDNN 8.65 10.3 164.06% 2008 22.37 5.83 82.24 1.66 64.02 22.41 3.5 persen dari PDNN (sesuai Pasal 107 UU No.96 41.16 27.09 0.6 Sumber : Kementerian Keuangan .01 167.56 3.51 15.08 6.1 145.9 K/K 161.5 4. 33 Tahun 2004).73 3. Perkembangan Alokasi DAU 2005-2009 No.8 186.56% 58.44 0.56 11.37 2006 18.78 13.96 0.71 23.13 0.50 8. Besaran DAU dari tahun ke tahun mengalami peningkatan baik secara nominal maupun persentasenya.46 0.89 68.12 0.00% B 1 2 3 4 C 1.00% 95.45 10.77 25.59 34.30 % 2.44 23.45% 2007 21. A 1 2 3 4 Komponen Pajak PBB BPHTB PPh Cukai HT Sub jumlah (A) % kenaikan Sumber Daya Alam (SDA) Pertambangan Kehutanan Minyak & Gas Perikanan Panas Bumi Sub jumlah (B) % kenaikan Total (A+B) % Kenaikan 2005 14.88 19.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 10 – Perkembangan Alokasi DBH Tahun 2005 s/d 2009 (dalam triliun rupiah) No. DAU sebagai dana yang bersifat “block grants” ditujukan untuk memeratakan kemampuan keuangan antar daerah (equalization grant) untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar daerah (horizontal fiscal imbalance) dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi daerah.00 26 2007 Prov 16.85 1.2 39.33 37.07 27.98 0.9 88. maupun besaran nominalnya.03 -6.6 K/K 167. 2009 belum termasuk Biaya Pemungutan PBB bagian Daerah.79% 69.9 2006 K/K 131.9 17.33 31.94 34.13 26 2008 Prov 17.26 53.62 0.79 4.DBH SDA TA 2009 mengacu pada Revisi APBN Tahun 2009 .15% 2009 22.5 K/K 148.52 24. Besaran nominal sangat terpengaruh dengan besaran Pendapatan Dalam Negeri Neto (PDNN) yang ditetapkan dalam APBN.98 1.39% 63.96 Sumber : Kementerian Keuangan Catatan : .35 9.16 29.05 7.DBH Pajak TA 2008. Sejak Tahun 2005 sampai Tahun 2007 besaran Pagu DAU Nasional sekurang-kurangnya 25.8 7.28% 4. Perkembangan alokasi DAU Tahun 2005 sampai Tahun 2009 sebagaimana pada tabel yang menunjukkan peningkatan baik persentase dari PDNN. sedangkan mulai Tahun 2008 berdasarkan Pasal 27 besaran DAU menjadi sekurang-kurangnya 26 persen dari PDNN).37 7.01% 6.

5.53 17. Pada Tahun 2008 dan 2009 penambahan bidang DAK dikaitkan dengan pelaksaan Pasal 108 UU Nomor 33 Tahun 2008 bahwa kegiatan kementerian/lembaga yang sebenarnya merupakan kegiatan kewenangan daerah dialihkan secara bertahap ke DAK.05 24. sedangkan mulai Tahun 2009 dibagi dua antara Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat dengan imbangan 70 persen dan 30 persen. Dalam Tahun 2002 s/d 2008 Dana Otsus disalurkan kepada satu Provinsi Papua.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 11 – DAK dalam waktu antara Tahun 2003 s/d 2005 dikenal dengan terminologi DAK Non Dana Reboisasi (DAK Non-DR).09 47.82 17. sedangkan mulai Tahun 2009 dibagi dengan Provinsi Papua Barat.71 21.08 2005 2006 2007 2008 2009 Prov K/K Prov K/K Prov K/K Prov K/K Prov K/K Pagu DAK (Triliun % Kenaikan Sumber : Kementerian Keuangan Bidang yang tahun sebelumnya sudah ada Bidang baru pada tahun yang bersangkutan Sesuai dengan UU Nomor 21 Tahun 2001 untuk Provinsi Papua diberikan alokasi khusus setara dengan 2 persen dari plafon DAU Nasional selama 20 tahun untuk membiayai pendidikan dan kesehatan. selanjutnya pada Tahun 2006 dipakai istilah DAK. Sementara itu Dana Tambahan Infrastruktur disalurkan hanya kepada Provinsi Papua dalam Tahun 2005 s/d 2008.20 24. Perkembangan besaran Dana Otsus dapat dilihat pada grafik berikut ini: . Jumlah Bidang DAK No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Bidang Pendidikan Kesehatan Jalan Irigasi Air Bersih Prasarana Pembangunan Pertanian Lingkungan Hidup Kelautan dan Perikanan Keluarga Berencana Kehutanan PDT Perdagangan 4.01 11.57 188. Sejak Tahun 2005 s/d 2009 telah terjadi perkembangan jumlah bidang dalam DAK dari mulai 2003 sebanyak 5 bidang menjadi 13 bidang pada Tahun 2009 sebagaimana pada Tabel 6. Selain itu juga diberikan dana tambahan dalam rangka Otonomi Khusus (Otsus) untuk pendanaan pembangunan infrastruktur yang besaran setiap tahunnya ditetapkan antara Pemerintah dan DPR.

000.00 6.04 5. DIPA seluruh K/L telah dapat diterbitkan tepat waktu sehingga dapat diserahkan oleh Presiden kepada Menteri/Pimpinan Lembaga dan Gubernur.882.00 12.00 3.639.547.500.000. Pada periode Tahun 2004-2009 perkembangan alokasi Dana Penyesuaian seperti terlihat pada grafik berikut ini: Perkembangan Alokasi Dana Penyesuaian Tahun 2004-2009 (milyaran rupiah) Dana Penyesuaian 16.000.000.500.01 14. telah dilakukan penyempurnaan dokumen pelaksanaan anggaran sesuai prinsip unified budget sejalan dengan penyempurnaan sistem penganggaran.73 5.00 2.212.000.00 10.00 2. (ii) Mulai Tahun Anggaran 2006.000.86 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Sumber : Kementerian Keuangan Perbendaharaan Negara Dalam penerbitan dokumen pelaksanaan anggaran telah dicapai kemajuan-kemajuan sebagai berikut: (i) Sejak Tahun 2005.000.00 - 6.30 563. penyatuan dokumen anggaran rutin (DIK) dan pembangunan (DIP) menjadi DIPA untuk menghindari terjadinya duplikasi anggaran. (iii) Proses penyelesaian DIPA telah semakin didesentralisir ke Kanwil DJPBN.000. dengan tujuan agar hasil penelaahan sesuai dengan kebutuhan .467.00 14.00 3. sehingga K/L dapat melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan mulai awal tahun.00 4.46 5.00 500.00 8.000.00 2004 Sumber : Kementerian Keuangan 2005 2006 2007 2008 2009 Dana Penyesuaian (DP) dialokasikan untuk keperluan tertentu di luar Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus untuk jangka waktu tertentu berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah dengan DPR-RI sebagai satu kesatuan kebijakan Anggaran Transfer ke Daerah dalam UU tentang APBN suatu tahun.00 1.000.00 0.00 1.500.000.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 12 – Perkembangan Dana Otsus Tahun 2004-2009 Otsus Papua Infras Papua Otsus Papua Barat Infras Papua Barat Otsus NAD 4.

Pemberian Remunerasi kepada Bank/Pos Persepsi. Bank Indonesia Government Electronic Banking (BIG-eB).89 juta. Sentralisasi Penerimaan Negara. Kemajuan dan peningkatan tersebut antara lain mencakup: (i) Pencapaian Nilai Ekuitas Pemerintah Bersaldo Positif.922.761 322. diantaranya telah ditutup dan disetorkan ke kas negara sebanyak 4. Sampai saat ini. Lelang Bank Operasional I. realisasi sampai dengan kuartal III telah mencapai Rp2. Pengelolaan Rekening Lainnya. Kementerian Keuangan telah melakukan terobosan dalam pemanfaatan kelebihan kas dengan mendapatkan remunerasi atas penempatan idle cash Kas Umum Negara di Bank Indonesia dan Bank Umum.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 13 – satuan kerja setempat. Dalam rangka penertiban rekening seluruh K/L.372 triliun. 2007.982 300.571. (ii) Penyajian Analisis Makro yang lebih Komprehensif dalam LKPP Tahun 2008.184. Treasury Single Account (TSA) di bidang pengeluaran dan penerimaan. Pengelolaan Kelebihan Kas. Perjanjian antara Pemerintah dengan Bank/Pos Persepsi. sampai dengan Tahun 2009 telah dibentuk 37 KPPN Percontohan yang menerapkan SOP yang disempurnakan.230. Dari target Tahun 2009 sebesar Rp 3 triliun. sampai saat ini telah ditertibkan sebanyak 37.363 8. Kementerian Keuangan telah berhasil menyusun lima Laporan Keuangan Pemerintah Pusat yaitu untuk Tahun Anggaran 2004.733.80 triliun dan USD774.317.99 juta. 2005.856. Perkembangan Opini BPK atas LKKL Opini BPK Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified) Wajar Dengan Pengecualian (Qualified) Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer) Tidak Wajar (Adverse) 2006 7 38 36 2007 16 31 33 1 2008 34 30 21 - .019.188 Pagu Dana 115.408. dan Pelaporan Pengelolaan Kas Negara. dan 2008 (unaudited). Treasury National Pooling (TNP).596 200.74 triliun dan USD14.241 10.223 12.075 Adapun kinerja yang telah dicapai dalam kurun waktu Tahun 2005-2009 di bidang pengelolaan kas negara antara lain meliputi: Perencanaan Kas.902 265. 2006. LKPP telah menunjukkan berbagai kemajuan dan peningkatan yang sangat signifikan.340 rekening sebesar Rp13. dan (iii) Peningkatan Opini Audit BPK atas LKKL.235.726 rekening sebesar Rp 6. sedangkan untuk mempercepat proses pencairan dana. Selama kurun waktu Tahun 2005-2009 Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPB) telah menyelesaikan pengesahan DIPA sebagai berikut : Penyelesaian DIPA Tahun 2005-2009 (dalam ribuan rupiah) Tahun 2005 2006 2007 2008 2009* DIPA 2.887 14. Penerimaan di luar negeri. Khusus pemanfaatan kelebihan kas. LKPP Tahun 2004 merupakan laporan keuangan pertama yang dihasilkan Pemerintah Pusat sejak Indonesia merdeka pada Tahun 1945 dan merupakan salah satu tonggak sejarah dalam pengelolaan keuangan pemerintah.

Tema Pembiayaan APBN Periode Tahun 2004-2009 kebijakan pembiayaan melalui utang diarahkan menuju market based financing melalui penerbitan SBN. sebanyak 18 satker BLU telah memiliki Dewan Pengawas. 30 Kanwil Ditjen Perbendaharaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 14 – Dalam rangka mengatasi kelangkaan SDM di bidang akuntansi pemerintah. Dalam kurun waktu Tahun 2004-2008 realisasi pembiayaan utang (neto) menunjukkan peningkatan dari sebesar negatif Rp 21. sedangkan 33 BUMN masih dalam kajian proses penyelesaian tunggakan.7 triliun pada Tahun 2008.000 pegawai dari target 22. sejak tahun 2007 Kementerian Keuangan telah melaksanakan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP). pelaporan dan pertanggungjawaban (ii) database yang terpusat dan memungkinkan perekaman data hanya sekali (single entry). 178 KPPN dan Kementerian /Lembaga. Pada Tahun 2009 target pembiayaan utang ditetapkan sebesar Rp 86.2009.2009 adalah sebagai berikut: (i) penetapan regulasi-regulasi yang terkait dengan pelaksanaan PK BLU. PPAKP telah berhasil mendidik dan melatih 14. sampai dengan Oktober 2009 sebanyak 18 BUMN telah selesai diproses penyelesaian tunggakan. untuk mendukung infrastuktur. jumlah satker yang telah ditetapkan untuk menerapkan PK BLU adalah sebanyak 69 satker. Periode Tahun 2005 . Peningkatan pembiayaan melalui utang tersebut terutama . serta pencatatan. Dalam rangka manajemen investasi. dialup dan sistem jaringan lainnya di Ditjen Anggaran. Regulasi yang telah dihasilkan sampai sejauh ini telah komprehensif. terhadap BLU yang memenuhi persyaratan omset tahunan dan jumlah aset yang dimiliki. (iii) memungkinkan 'what if analysis'. Sebagai langkah untuk menyempurnakan sistem perbendaharaan dan anggaran negara. pada Tahun 2007 telah dilaksanakan perjanjian kerjasama investasi antara Badan Investasi Pemerintah (sekarang PIP) dengan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Beberapa capaian kinerja Pengelolaan BLU selama Tahun 2005 . optimalisasi manajemen kas. tata cara penetapan dan pengajuan usulan untuk dapat menerapkan PK BLU.400 pegawai yang berasal dari seluruh satuan kerja Kementerian /Lembaga. (iv) penerapan proses bisnis yang mengacu pada best practice dan (v) selalu on-line baik melalui satellite. meliputi kriteria-kriteria satker-satker yang dapat menerapkan PK BLU. pelaksanaan kegiatan-kegiatan BLU sampai dengan akuntansi dan pelaporan satker BLU. (ii) sampai saat ini.2 triliun pada Tahun 2004 menjadi sebesar Rp 66. dapat dibentuk Dewan Pengawas melalui Keputusan Menteri Keuangan. Dalam rangka penyelesaian piutang negara yang bersumber dari SLA/RDI/RPD pada BUMN.5 triliun dan realisasi sampai dengan bulan Oktober 2009 sebesar Rp 75. Ditjen Perbendaharaan. c. khususnya untuk pembebasan lahan pembangunan jalan tol. Sampai dengan saat ini.3 triliun. mulai Tahun Anggaran 2009 telah dilaksanakan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) yang dibiayai melalui GFMRAP (Government Financial Management and Revenue Administration Project) untuk mewujudkan sistem perbendaharaan yang modern. Dengan sistem informasi keuangan yang terpadu (Integrated Financial Management and Information System) ini dengan karakteristik: (I) terintegrasi/terotomasi yang sangat mendukung proses pelaksanaan anggaran. (iii) dalam rangka pelaksanaan pengawasan terhadap pengelolaan satker BLU.

6 triliun pada Tahun 2008 dan penarikan pinjaman proyek cenderung meningkat dari Rp13. karena sejak tahun 2005 penerbitan SBN selain digunakan untuk menutup defisit APBN juga digunakan untuk membiayai pengeluaran pembiayaan (financing for financing).1 triliun yang terdiri dari penerbitan SBN (gross) sebesar Rp137. Selama periode tersebut realisasi penarikan pinjaman luar negeri yang bersumber dari pinjaman program meningkat dari Rp5. Sampai dengan bulan Oktober 2009 penarikan pinjaman luar negeri telah terealisasi sebesar Rp37. Selain itu.6 triliun. private placement sebanyak 2 frekuensi.1 triliun.4 triliun.2 triliun. dilakukan transaksi penukaran (debt switch) Obligasi Negara (ON) sebanyak 30 frekuensi. dan SBSN valas sebanyak 1 frekuensi. pembiayaan pinjaman luar negeri ditetapkan sebesar negatif Rp12. dan pembayaran pokok jatuh tempo dan pembelian kembali sebesar Rp44. dimana realisasi penerbitan SBSN sampai dengan bulan Oktober 2009 mencapai sebesar Rp20.9 triliun pada Tahun 2008. Pada Tahun 2009. Penarikan pinjaman tersebut sebagian besar berasal dari ADB.2 triliun. dan sampai dengan akhir bulan Oktober 2009 telah terealisasi sebesar Rp93.3 triliun dan pembayaran cicilan pokok sebesar Rp69 triliun. penerbitan SBN neto (SUN dan SBSN) meningkat secara signifikan dari Rp6. penerbitan SBN (neto) ditargetkan sebesar Rp99. Secara total penerbitan SBN (neto) dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 mencapai Rp208.1 triliun pada Tahun 2004 menjadi Rp29. Selain pengelolaan portofolio utang. dan penerusan pinjaman sebesar Rp13 triliun. seperti pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri dan investasi pemerintah. Hal ini dilakukan .4 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp14. Penerbitan SBSN pertama kali dilakukan pada Tahun 2008.8 triliun.1 triliun.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 15 – berasal dari peningkatan penerbitan SBN (neto). yang dilaksanakan melalui penerbitan SBSN domestik dilakukan melalui bookbuilding sebanyak 1 frekuensi. dilakukan juga pengembangan pasar SBN secara intensif untuk meningkatkan peran instrumen SBN dalam sektor pembiayaan. penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) sebanyak 6 frekuensi.7 triliun yang terdiri dari penarikan pinjaman sebesar Rp69. dan pembelian kembali (cash buyback) ON sebanyak 10 frekuensi.4 triliun pada Tahun 2008.5 triliun yang terdiri dari penerbitan SBN (gross) sebesar Rp366. Pada tahun 2009. lelang SBSN sebanyak 2 frekuensi. dan pembayaran pokok jatuh tempo dan pembelian kembali sebesar Rp158. Rasio utang terhadap PDB dalam kurun waktu tersebut menurun yaitu dari 57% pada Tahun 2004 menjadi 29. dan JBIC. realisasi penarikan pinjaman luar negeri dari Tahun 2004 sampai dengan Tahun 2008 lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pembayaran cicilan pokok pinjaman.7% pada bulan Oktober 2009. Namun pembayaran cicilan pokok pinjaman luar negeri meningkat lebih besar dibandingkan dengan penarikan pinjaman. yaitu dari Rp46.5 triliun pada Tahun 2004 menjadi Rp63. Penerbitan SUN (gross) dari Tahun 2004 sampai dengan bulan Oktober 2009 mencapai sebesar Rp484.7 triliun. Sukuk Ritel sebanyak 1 frekuensi.7 triliun dan pinjaman program sebesar Rp18.8 triliun.9 triliun pada Tahun 2004 menjadi Rp85. Sementara realisasi pembayaran cicilan pokok mencapai sebesar Rp32.2 triliun pada Tahun 2008. yang dilaksanakan melalui Lelang SUN di Pasar Perdana sebanyak 108 frekuensi. dan penerbitan SUN valas sebanyak 8 frekuensi serta penjualan SUN secara private placement sebanyak 1 frekuensi. yang terdiri dari realisasi penarikan pinjaman proyek sebesar Rp18. Sepanjang periode Tahun 2004-2008. Berkaitan dengan pembiayaan melalui pinjaman.3 triliun. Bank Dunia.

(iii) Meningkatkan kerjasama melalui forum regional dan internasional secara aktif. penambahan PMN pada 36 BUMN. Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Penertiban BMN telah dilakukan inventarisasi dan penilaian BMN pada 78 Kementerian /Lembaga (K/L) yang dimulai bulan November 2007. (iii) draft perubahan PP Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman dan/atau Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. pengikhtisaran.05 triliun. (ii) draft RPP tentang Pengelolaan Hibah Luar Negeri. d. Mulai Tahun 2008. dan tepat sasaran. serta pelaporan posisi investasi pemerintah yang terangkum dalam Laporan Keuangan Investasi Pemerintah. Sementara itu. Selain inventarisasi dan penilaian. juga dilakukan penetapan status penggunaan. tahun 2009 sebesar Rp633. (vi) Mengembangkan pasar repo dan derivatif.6 milliar.7 persen dari 19. sedangkan sisa satker yang belum diinventarisasi dan dinilai wajar ditargetkan selesai Tahun 2009. pengakuan. dan (iv) draft RPP terkait penerbitan SBSN dalam rangka pembiayaan proyek. pemanfaatan. untuk mendukung kegiatan di bidang pembiayaan APBN telah disusun beberapa landasan hukum yaitu 2 UU dan 7 PP. aset eks BDL dan aset eks. Sampai dengan Triwulan III 2009 telah dilakukan inventarisasi dan penilaian BMN terhadap 17. penghapusan dan pemindahtanganan BMN selama periode Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2009 yang secara keseluruhan berjumlah 1. Tahun 2008 sebesar Rp1.5 trilun. Tema Pengelolaan Kekayaan Negara Untuk mewujudkan pengelolaan Barang Milik Negara yang tertib. (iv) Mendorong aktivitas perdagangan SBSN di pasar sekunder. Dari kegiatan inventarisasi dan optimalisasi kekayaan negara lainnya dicapai kinerja antara lain: (i) pada Tahun 2007 dan 2008 telah dilaksanakan inventarisasi dan penilaian BMN yang berasal dari 38 KKKS berupa objek tanah dengan hasil nilai wajar sebesar Rp12.9 milliar. masih terdapat landasan hukum lain yang belum dapat diselesaikan dalam periode Tahun 2004-2009 antara lain: (i) draft RUU PHLN. Untuk mencapai pengelolaan yang efektif dan efisien terhadap Kekayaan Negara Dipisahkan. (ii) Meningkatkan komunikasi aktif dengan investor dan koordinasi serta hubungan kelembagaan dengan pihak atau unit terkait baik di pasar domestik maupun internasional. (v) Mengembangkan instrumen baru dalam rangka memperluas basis investor.114 permohonan dari pengguna barang.27 triliun. Khusus untuk pengelolaan investasi pemerintah telah dilakukan penatausahaan Penyertaan Modal Negara pada BUMN ke dalam database serta analisis kinerja BUMN berdasarkan rasio keuangan. telah dilakukan pengkajian dan pemberian rekomendasi atas rencana privatisasi pada 20 BUMN.502 satker atau 88. Hasil dari kegiatan tersebut telah ditatausahakan ke dalam database Kekayaan Negara Dipisahkan. (vii) Membuat desain instrumen SBSN untuk pembiayaan proyek. (iii) penetapan status penggunaan dan hibah aset KKKS serta rampasan kepada 9 (sembilan) instansi pemerintah yang sangat memerlukan . pembentukan BUMN dan penetapan status kekayaan awal BP Migas. PT PPA Tahun 2007 sebesar Rp234. Dalam periode tahun 2004-2009. tepat guna. Kementerian Keuangan melaksanakan pengumpulan data.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 16 – melalui: (i) Meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku pasar terhadap pengelolaan SBN. pencatatan.717 satker dan diperoleh nilai wajar BMN sebesar Rp 309. berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2007 jo. (ii) Penerimaan kembali pembiayaan APBN yang berasal dari hasil pengelolaan aset eks BPPN.

033 atau meningkat sebesar 79. Untuk memberi payung hukum bagi pengelolaan kekayaan negara telah ditetapkan dasar hukum dan perangkat hukum di bidang pengelolaan kekayaan negara yaitu PP Nomor 6 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah pertama kali dengan PP Nomor 38 Tahun 2008. Per tanggal 31 Oktober 2009.53% dari posisi akhir tahun 2008. Sementara itu masih terdapat landasan hukum yang masih dalam proses pembahasan internal yaitu RUU Pengelolaan Kekayaan Negara. Semakin membaiknya ekonomi Indonesia. penilaian BMN sebagai penyertaan modal negara. Nilai wajar juga diperlukan untuk mendukung kebijakan lain dalam pengelolaan BMN antara lain penilaian BMN dalam rangka pembentukan Badan Layanan Umum (BLU).745.32 triliun. dan (iv) Penambahan penyertaan modal negara dari aset saham sebesar Rp557. Keppres No. pengurusan piutang negara maupun pelaksanaan lelang yang merupakan sarana untuk membentuk kantor modern.830.408 poin. Keppres No.6 milliar. meskipun posisi ini masih lebih rendah daripada posisi 9 Januari 2009 namun hal ini menunjukkan sudah ada tanda-tanda pemulihan perekonomian global meskipun belum sampai pada kondisi sebelum terjadinya .344. turun cukup signifikan sebesar 50. Pada akhir perdagangan Tahun 2008 yaitu Selasa. 17 Tahun 2007 jo. baik dalam hal pengelolaan dan manajemen aset kekayaan negara. Capaian kinerja di bidang penilaian kekayaan negara antara lain: (i) penilaian BMN sebagai underlying asset SBSN dengan nilai Rp45. 30 Desember 2008.13 triliun. IHSG ditutup pada posisi 1.d Jakarta V dan enam kantor modern yang akan dibuka. kondisi keamanan yang relatif stabil dan membaiknya bursa regional menciptakan optimisme pasar sehingga mendorong kenaikan IHSG. (iii) penilaian BMN sebagai penyertaan modal negara dengan nilai Rp5.64% atau 1.390. Pada Tahun 2009. RUU Penilaian dan perubahan kedua PP Nomor 6 Tahun 2006. Pada Tahun 2008 telah dilakukan pembangunan dan pengembangan Sistem Manajemen Informasi dan Pelayanan Terpadu (SMIPT) yang merupakan suatu kerangka kegiatan menuju sistem informasi yang terpadu antara manajemen informasi dan pelayanan dalam satu rangkaian kegiatan yang tak terpisahkan.826. dan (iv) penilaian dalam rangka pemanfaatan dan pemindahtanganan BMN sebanyak 191 laporan penilaian. Penilaian BMN dilakukan dalam rangka mewujudkan nilai wajar BMN pada satker K/L.418 poin dibandingkan dengan indeks penutupan hari perdagangan Tahun 2007 yang berada pada posisi 2. IHSG mencapai titik tertinggi pada tanggal 9 Januari 2008 yaitu berada pada posisi 2. yang hasilnya untuk perbaikan LKPP dari sudut pengelolaan BMN. IHSG terus mengalami penurunan yang sangat signifikan karena pengaruh krisis keuangan global yang terjadi.13 Tahun 2009.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 17 – dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi. Namun memasuki Tahun 2008.355. e.26 poin. (ii) penilaian dalam rangka pembentukan BLU dengan nilai Rp74. Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Pada periode 2004 sampai dengan awal Tahun 2008.25 miliar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia terus mengalami kenaikan yang signifikan. penilaian. sebagai pilot project dilaksanakan di sebelas KPKNL yaitu KPKNL Jakarta I s. serta penilaian BMN sebagai underlying penerbitan Sukuk. IHSG berada pada posisi 2.

UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. SDM. yang menunjukkan adanya tren positif walaupun sempat mengalami perlambatan pada tahun 2006 karena kenaikan harga BBM dan Tahun 2009 sebagai dampak krisis global. 1. untuk segera dilakukan pembahasan.2009. Ø Meningkatkan Good Governance Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan diarahkan untuk membentuk birokrasi yang memiliki integritas tinggi yang menjunjung prinsip-prinsip good governance. Perilaku aparatur dalam konteks reformasi birokrasi diwujudkan dengan menjaga sikap profesional dan .68 triliun pada tanggal 7 Agustus 2009.58% per tahun. meningkatkan kinerja aparat. dimana aset dana pensiun pada akhir Tahun 2008 meningkat lebih dari 1. seperti UndangUndang Pasar Modal. serta harmonisasi peraturan perundang-undangan terkait dengan RUU Otoritas Jasa Keuangan (OJK).4 tentang Pedoman Pengelolaan Reksa Dana Terproteksi. Sampai saat ini perangkat hukum. Undang-Undang Usaha Perasuransian. membuat industri Reksa Dana mengalami kenaikan. pertumbuhan kekayaan yang dikelola perusahaan asuransi dan reasuransi mencapai rata-rata sebesar 19. Reksa Dana dengan Penjaminan dan Reksa Dana Indeks.5 kali lipat dibandingkan akhir Tahun 2004.2. ? Sasaran Reformasi Birokrasi Reformasi birokrasi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan diarahkan untuk mencapai beberapa sasaran. yakni meningkatkan Good Governance. Jumlah Reksa Dana sampai dengan 7 Agustus 2009 tercatat 588 Reksa Dana yang dikelola oleh 77 Manajer Investasi. dengan aset tersimpan pada 16 Bank Kustodian. Dengan diterbitkannya Peraturan Bapepam LK Nomor IV.10% dari Rp75. Reformasi Birokrasi Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004 . Reformasi Birokrasi di Kementerian Keuangan merupakan reformasi kebijakan di bidang keuangan negara sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.71% per tahun. Pembahasan dengan Tim Panitia Antar Kementerian tengah dilakukan dan diharapkan semester I Tahun 2010 draft RUU OJK dapat disampaikan ke DPR. dimana sejak Januari 2009 sampai dengan 7 Agustus 2009 total Nilai Aktiva Bersih (NAB) meningkat sebesar 34.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 18 – krisis keuangan.1. organisasi. Industri lembaga keuangan non bank dalam periode Tahun 2004-2009 mengalami perkembangan sebagaimana ditunjukkan dengan perolehan premi industri asuransi yang tumbuh sebesar rata-rata 22. Sebagai pilot project. Hal yang sama juga dialami oleh industri pembiayaan.3. dan penganggaran. Sementara itu.82 triliun pada awal Januari 2009 menjadi Rp101. Reformasi Birokrasi menjadi salah satu program pemerintah yang penting dan harus segera dilaksanakan. penawaran efek selama periode Tahun 2004 sampai dengan Tahun 2009 telah mengalami kenaikan. Sementara itu industri Dana Pensiun mengalami kenaikan. dan meningkatkan pelayanan kepada publik. Undang-Undang Dana Pensiun terus dilakukan. Pada Tahun 2009 seiring dengan membaiknya harga saham maka kapitalisasi nilai saham juga mulai mengalami peningkatan kembali.C.

dan memiliki standar nilai moral yang tinggi dalam menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati dan rasa tanggung jawab. dan penajaman fungsi. ?Reformasi Birokrasi Tiga Pilar Dalam rangka mencapai sasaran tersebut. efektif. dan efisien dalam mengelola sumber daya yang ada serta ditunjang oleh dedikasi dan etos kerja yang tinggi. serta melakukan analisis beban kerja untuk dapat memperoleh informasi mengenai waktu dan jumlah pejabat yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. dan peningkatan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM). Menteri Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 30/KMK. sehingga dapat mengubah persepsi publik terhadap minimnya kualitas pelayanan dan rumitnya proses birokrasi. . penggabungan. Penataan organisasi tersebut meliputi modernisasi. Standar pelayanan publik dalam konteks reformasi birokrasi adalah kepuasan yang dirasakan oleh publik sebagai dampak dari hasil kerja birokrasi yang profesional. Modernisasi diawali dengan pembentukan Kantor Wilayah (Kanwil) Modern dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Modern Direktorat Jenderal Pajak. Dalam rangka menyempurnakan proses bisnis. Ø Penyempurnaan Proses Bisnis Proses bisnis yang telah dilaksanakan Kementerian Keuangan menuntut dilakukannya penyempurnaan yang difokuskan dan diarahkan pada upaya meningkatkan layanan publik.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 19 – menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas (kejujuran. Ø Meningkatkan Pelayanan Publik Implementasi utama Reformasi Birokrasi yang berdampak langsung pada masyarakat adalah meningkatnya kemampuan Kementerian Keuangan dalam memberikan pelayanan publik yang prima. menyusun Standard Operating Procedures (SOP) yang rinci dan dapat menggambarkan setiap jenis keluaran pekerjaan secara komprehensif. Ø Organisasi Penataan Kementerian Keuangan telah memulai proses organization reinventing dalam bentuk penataan organisasi sejak 2002 dan terus berjalan hingga hari ini. Kementerian Keuangan melakukan analisis dan evaluasi jabatan untuk memperoleh gambaran rinci mengenai tugas yang dilakukan setiap jabatan. berdedikasi. Hasil kinerja optimal tersebut diperoleh dari serangkaian program kegiatan yang inovatif. pemisahan. kesetiaan. dan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Percontohan. Kementerian Keuangan berusaha mengubah citra dari proses yang cenderung kurang memberi kepastian menuju proses yang pasti pada setiap tahapannya. Ø Meningkatkan Kinerja Birokrasi Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan menuntut tercapainya produktivitas kerja yang optimal.01/2007 telah mencanangkan dilaksanakannya Reformasi Birokrasi yang meliputi program prioritas di bidang penataan organisasi. komitmen) serta menjaga keutuhan pribadi. penyempurnaan proses bisnis. Kantor Pelayanan Utama (KPU) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

2009. Triwulan I/ Tahun 2009. persyaratan administrasi yang harus dipenuhi. Hasil positif yang telah dicapai adalah rekrutmen yang dilaksanakan DepartemenKementerian Keuangan selama ini telah berjalan bersih dari praktik KKN dan memiliki sistem seleksi yang lebih unggul. Selama kurun waktu Triwulan I/ Tahun 2005 s. Prinsip peningkatan manajemen SDM meliputi peningkatan kualitas. pembangunan sistem informasi kepegawaian yang terintegrasi. Masing-masing hal tersebut diarahkan untuk menghasilkan proses bisnis yang akuntabel dan transparan.d. Ø Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia Perubahan paradigma kepegawaian di Kementerian Keuangan dimulai pada akhir Tahun 2006. serta mempunyai kinerja yang cepat dan ringkas. Kajian meliputi perbaikan mekanisme kerja dan desain struktur organisasi untuk mengoptimalisasikan fungsi berupa: perencanaan sumber daya manusia dan rekrutmen.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 20 – Analisis dan evaluasi jabatan berkontribusi dalam penyempurnaan proses bisnis dengan menghasilkan uraian jabatan dari setiap jabatan yang tersedia sehingga setiap individu yang menjabat dapat menghasilkan kinerja yang lebih terukur sesuai dengan tugas yang diembannya. dan pengintegrasian Sistem Informasi Pegawai (SIMPEG). Rekrutmen di Kementerian Keuangan telah ditingkatkan kualitas pelaksanaannya sejak awal Tahun 1980-an. pembangunan pola mutasi. dan biaya yang harus dikeluarkan. yaitu layanan yang terukur dan pasti dalam hal waktu penyelesaian. penyusunan pola mutasi. serta keakuratan dan kecepatan penyajian informasi SDM sesuai kebutuhan manajemen. Program manajemen SDM berbasis kompetensi dilaksanakan melalui pembangunan assessment center. Dengan ketiga alat tersebut. SOP sebagai standar prosedur kerja dibuat agar dapat menciptakan pola kerja yang efektif dan cepat. serta proses bisnis yang transparan dan tidak berbelit-belit. peningkatan disiplin. pengelolaan SDM berbasis kompetensi. ditandai dengan kajian mengenai penajaman fungsi Biro Kepegawaian sebagai unit yang melaksanakan pengelolaan dan pembinaan kepegawaian.158 orang. Dalam bidang pendidikan dan pelatihan. dalam kurun waktu Tahun 2005 s. Reformasi Birokrasi di bidang rekrutmen pegawai saat ini lebih ditekankan pada penggunaan teknologi informasi yang berbasis online (e-recruitment).008 orang dengan beragam jenis diklat yang diikuti. Sedangkan analisis beban kerja diharapkan juga mampu mewujudkan efektivitas kerja dan efisiensi tenaga kerja yang dibutuhkan dalam sebuah proses bisnis Kementerian Keuangan. . pembangunan system assessment center. pendidikan berbasis kompetensi.d. penempatan SDM yang kompeten pada tempat dan waktu yang sesuai. Kementerian Keuangan dapat memberikan layanan prima kepada publik. peningkatan akuntabilitas. dan peningkatan koordinasi serta kolaborasi dengan unit pembina kepegawaian dan unit teknis terkait. jumlah pegawai Kementerian Keuangan yang mengikuti diklat adalah sebanyak 66. sistem pola karir yang jelas dan terukur. STAN telah menghasilkan jumlah lulusan sebanyak 12.

akses Internet telah tersedia dengan memanfaatkan layanan dari tiga provider nasional untuk memastikan ketersediaan akses.” Dalam aspek sistem aplikasi. pada tahun 2005 sebuah dokumen cetak biru pengembangan teknologi informasi dan komunikasi DepartemenKementerian Keuangan yang terintegrasi telah disusun dengan tema "Optimalisasi Pemanfaatan Information and Comunication Technology (ICT) di DepartemenKementerian Keuangan" dan terakhir telah disempurnakan pada tahun 2006. Untuk berhubungan dengan pihakpihak di luar Kementerian Keuangan.01/2009 tentang "Kebijakan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Lingkungan DepartemenKementerian Keuangan. dilakukan kontrak kinerja Depkeu-One oleh masing-masing pimpinan unit Eselon I dengan Menteri Keuangan. sistem aplikasi. Sementara itu. Dampak dari penerapan Balanced Score Card (BSC) di lingkungan Kementerian Keuangan dapat dilihat dari keseriusan . pengurusan piutang negara maupun pelaksanaan lelang sebagai bagian dari Sistem Manajemen Informasi dan Pelayanan Terpadu atau SMIPT di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara) untuk mendukung kegiatan utama (core business) masing-masing. seluruh lokasi ini juga telah terhubung oleh jaringan Wide Area Network (WAN) satu dengan lain dan juga masing-masing dengan unit-unit vertikalnya yang tersebar di seluruh wilayah Republik Indonesia. sebagai bagian dari Project for Indonesia Tax Administration Reform atau PINTAR di Direktorat Jenderal Pajak. sistem pengelolaan dan manajemen aset kekayaan negara. kantor pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Jalan Ahmad Yani. ? Kinerja Pengukuran Seiring dengan pelaksanaan reformasi birokrasi Kementerian Keuangan diterapkan manajemen pengukuran kinerja dengan metode Balanced Score Card. mulai dari registrasi sampai dengan pengembalian SPT. Dalam aspek tata kelola. penilaian. telah diterapkan Depkeu-Wide Strategy Map berikut penajaman sasaran strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU). dan kampus Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan di Jalan Kartanegara. DepartemenKementerian Keuangan telah mulai menyusun strategi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan DepartemenKementerian Keuangan yang mencakup tiga aspek pengembangan yaitu: tata kelola. Kementerian Keuangan telah mengembangkan beberapa sistem aplikasi yang berlaku bagi seluruh unit kerja seperti Sistem Informasi Kepegawaian atau SIMPEG dan Sistem Monitoring Indikator Kinerja Utama yang berbasis Balanced Score Card. dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi. seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Keuangan telah terhubung dalam suatu jaringan intranet yang tersebar di empat lokasi yaitu: kantor pusat di Jalan Lapangan Banteng dan Jalan Dr. Di samping itu. Lebih lanjut. beberapa unit eselon-I telah mulai merencanakan pengembangan sistem aplikasi yang terintegrasi (seperti Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara atau SPAN di Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan. untuk mendukung kegiatan administrasi perkantoran lainnya.2009. Dalam aspek infrastruktur. sistem informasi wajib pajak. kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak di Jalan Gatot Subroto. Untuk mendukung langkah tersebut. pada Tahun 2009 Tim Reformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TRTIK) DepartemenKementerian Keuangan telah menghasilkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 260 /KMK. Wahidin. Selanjutnya.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 21 – ? Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Selama periode Tahun 2004 .

Peningkatan kualitas LKKL ini salah satu sebabnya adalah karena perubahan pendekatan reviu yang dilakukan dari hanya menunggu LKKL di akhir tahun menjadi pengawalan atau pendampingan proses LKKL dari tahap penyusunan sampai dengan pemeriksaan oleh BPK. Kondisi investasi Indonesia yang masih berpotensi untuk diperbaiki membawa peluang untuk menghasilkan kebijakan yang dapat mengoptimalkan pendapatan negara dan sekaligus dapat meningkatkan daya saing produksi dalam negeri serta meningkatkan investasi melalui kebijakan harmonisasi tarif dan pemberian insentif berupa stimulus perpajakan. pengukuran kinerja juga akan dikembangkan sampai dengan penyusunan Balanced Score Card bagi individu. Selain itu juga telah dimulai penerapan manajemen risiko dengan menggunakan peraturan Menteri Keuangan Nomor 191/PMK. Dalam jangka panjang. Untuk Tahun 2009. Kondisi perdagangan Indonesia di tingkat regional maupun bilateral membawa peluang untuk meningkatkan volume perdagangan melalui FTA. dan memonitoring pelaksanaan. dan apa yang dikerjakan dalam core business Kementerian Keuangan. bagaimana mencapainya. dan menjaga stabilisasi harga kebutuhan dalam negeri melalui . melindungi produk dalam negeri melalui kebijakan Tarif Khusus.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 22 – para Eselon I dalam mengelola IKU. Beberapa unit eselon I telah berhasil membuat profil risiko menyeluruh yang diperlukan. Proses perumusannya menggunakan pendekatan risk based auditing dengan melibatkan unit-unit eselon I terkait.09/2008 tentang Penerapan Manajemen Risiko di Lingkungan Kementerian. 1.2014 menunjukkan tanda positif sebagaimana terlihat pada tingkat pertumbuhan ekonomi pada awal Tahun 2009 yang mencapai 4. tingkat inflasi sampai dengan Oktober 2009 sebesar 2. membantu penyusunan.21 persen.99 persen dan indikator-indikator ekonomi lainnya yang menunjukkan bahwa kondisi makro ekonomi Indonesia relatif stabil.4 Pengawasan dan Pengendalian Intern Mulai Tahun 2009 pelaksanaan pengawasan intern didasarkan kepada kebijakan pengawasan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38 Tahun 2009 tentang Kebijakan Pengawasan Intern Kementerian Keuangan Tahun 2009. sehingga delivery yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan bermanfaat.1. Tahapan kegiatan yang digunakan adalah mendidik pegawai dalam manajemen risiko. Kementerian Keuangan telah berhasil mendorong terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (PP SPIP).2 POTENSI DAN PERMASALAHAN Prospek kondisi ekonomi Tahun 2010 . sebagai landasan bagi organisasi pemerintah untuk menerapkan pengendalian intern di organisasi masingmasing dalam pelaksanaan kerjanya. serta menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri. Paradigma pengawasan yang digunakan adalah pengawasan untuk memberikan solusi bukan untuk menimbulkan permasalahan. Kementerian Keuangan telah berhasil meningkatkan kualitas LKKL nya menjadi Wajar Dengan Perkecualian dari yang sebelumnya Disclaimer. Pada Tahun 2008. melindungi kelestarian SDA. sehingga pada akhirnya seluruh jajaran Kementerian Keuangan dapat memahami apa yang harus dicapai. 1.

Langkah antisipatif dan responsif dalam mencermati tantangan-tantangan di atas. terdapat empat tantangan besar yang harus dihadapi. Upaya peningkatan penerimaan perpajakan dan pertumbuhan ekonomi nasional dilakukan melalui pemberian insentif fiskal pada program konversi penggunaan BBM untuk listrik ke penggunaan energi terbarukan khususnya energi panas bumi (geothermal energy). namun masih banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi di masa yang datang. belum bergeraknya sektor riil secara optimal. (ii) Volatilitas harga-harga komoditas utama.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 23 – kebijakan bea keluar. yaitu: (i) Ketidakpastian ekonomi global. akan dapat mengeleminir berbagai permasalahan. baik dengan negara mitra maupun lembaga keuangan internasional memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh manfaat yang dapat diraih dari kerjasama bilateral dan multilateral tersebut misalnya dalam upaya menggalang pembiayaan anggaran pemerintah. Meskipun secara umum selama periode Tahun 2004-2009 pemerintah telah berhasil mengatasi ancaman krisis ekonomi. Kuatnya kerjasama yang telah terjalin selama ini. Oleh karena itu dan sebagai pembelajaran. ke depan harus segera dilakukan langkah-langkah perbaikan melalui koordinasi yang intensif dan komprehensif antar lembaga negara atau instansi pemerintah. (iii) Integrasi ekonomi global dan regional yang semakin tinggi. dengan masih berlanjutnya indikasi penurunan volume perdagangan dunia dan sulitnya mengakses sumber-sumber pendanaan dan investasi. Dari sisi domestik. (iv) Perubahan arsitektur keuangan dunia. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan hasil pada peningkatan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi. salah satu tantangan terberat berasal dari masih tingginya tingkat pengangguran dan angka kemiskinan di Indonesia. Dari sisi eksternal. yang ditandai dengan mulai meningkatnya harga minyak mentah dunia. Potensi ini mengandung peluang penting dalam memasukkan kepentingan-kepentingan nasional dalam setiap agenda dalam forum tersebut. gangguan dan hambatan dalam pembangunan ekonomi sedini mungkin. Di sisi internal ketidakpastian juga terlihat dari adanya gejolak di pasar saham dan keuangan. Penempatan pejabat dan pegawai pada posisi penting dalam organisasi-organisasi internasional dan lembaga keuangan multilateral seperti ADB dan Bank Dunia juga akan memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memasukkan kepentingan-kepentingan nasional dalam strategi yang dirumuskan oleh organisasi internasional tersebut. sehingga mendorong peningkatan daya saing industri.3 triliun di Tahun 2009 dirasakan masih lambat dan belum optimal. Dengan tingginya tingkat . PeIaksanaan program mitigasi dampak krisis global melalui paket stimulus fiskal yang mencapai Rp73. dengan semakin pesatnya perkembangan instrumen pembiayaan dan investasi sehingga memerlukan aturan baru dengan tingkat pengawasan yang lebih mendalam. baik dari eksternal maupun internal. Tantangan lainnya berasal dari kondisi infrastruktur yang masih belum memadai untuk menunjang akselarasi pembangunan. Berbagai peranan penting yang dipegang oleh DepartemenKementerian Keuangan dalam forum-forum internasional misalnya sebagai co-chair untuk working group IV dalam forum G-20 dan salah satu pemegang arah kebijakan di ASEAN. dan musibah bencana alam yang melanda berbagai daerah di Indonesia menjadi tantangan ke depan dalam peningkatan kualitas pengelolaan kebijakan fiskal.

Masalah lainnya adalah adanya pembatasan oleh Undang-Undang Perpajakan dalam pemberian insentif/fasilitas perpajakan. serta rendahnya tax compliance Wajib Pajak yang sudah terdaftar. efektivitas dan efisiensi kinerja pelayanan dan pengawasan DJBC Permasalahan utama yang dihadapi di bidang penerimaan kepabeanan dan cukai adalah peningkatan kualitas pelayanan sesuai dengan ekspektasi masyarakat dan pengawasan yang efektif.2. Selain itu permasalahan lain adalah perlunya peningkatan kualitas dan kuantitas SDM. ? Perlunya integrasi teknologi informasi untuk pemenuhan kebutuhan organisasi. permasalahan yang timbul adalah umur Undang-Undang APBN tersebut yang hanya satu tahun dan sering menimbulkan kontroversi. dimana masih banyaknya potensi Wajib Pajak yang belum terdaftar. sarana dan sistem TI yang belum memadai. Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan perpajakan adalah adanya potential loss penerimaan perpajakan dalam jangka pendek. Meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada DJP. profiling. database pajak masih terbatas karena sumber data eksternal belum dapat dioptimalkan. ?harmonisasi kebijakan instansi lain (government agencies) dan lingkungan dunia usaha Perlunya (stakeholders) dengan peraturan-peraturan kepabeanan dan cukai.1Penerimaan Pajak Dari hasil pelaksanaan program mapping.2. ? Adanya praktik-praktik terbaik dalam kepabeanan internasional yang dapat dijadikan acuan.1. ? Berkembangnya partisipasi dan sikap kritis masyarakat usaha dalam rangka meningkatkan produktivitas.1 Potensi dan Permasalahan Pelaksanaan Penerimaan Negara 1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 24 – pertumbuhan ekonomi. . Dan peningkatan kesejahteraan rakyat dapat segera terwujud. ? Adanya dukungan anggaran berbasis kinerja dan dukungan sarana-prasarana. Tersedianya ? Keberadaan institusi DJBC berdasarkan peraturan perundang-undangan dengan penataan organisasi yang dinamis. antara lain terlihat dari antusias masyarakat dalam mengikuti program sunset policy. Apabila Undang-Undang APBN dijadikan dasar pemberian fasilitas perpajakan. serta koordinasi dan harmonisasi pelaksanaan tugas yang menyangkut administrasi dan peraturan.2Penerimaan Kepabeanan dan Cukai Potensi untuk pencapaian Renstra Tahun 2010 .2. dan benchmarking menunjukkan masih terdapat potensi meningkatkan penerimaan pajak secara signifikan. penegakan hukum yang masih lemah. 1. masalah pengangguran dan kemiskinan dapat segera diatasi.1. juga merupakan potensi penerimaan pajak. ? Adanya dukungan SDM DJBC dan komitmen yang kuat untuk melakukan reformasi. berupa belum optimalnya tax coverage ratio. 1.2014 di bidang penerimaan kepabeanan dan cukai meliputi: ? peraturan perundang-undangan di bidang Kepabeanan dan Cukai. meliputi hal-hal sebagai berikut: ? Perlunya pengembangan sistem pelayanan dan pengawasan dengan penerapan manajemen risiko.

dan 4. Namun dalam perkembangannya. 1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 25 – ? Perlunya optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana. penyempurnaan perencanaan belanja negara tersebut menghadapi beberapa tantangan. telah dilakukan penyatuan dokumen perencanaan belanja negara sehingga pertanggungjawaban penggunaan anggaran menjadi lebih transparan dan akuntabel. 3. (iv) belum optimalnya PNBP yang berasal dari pengurusan piutang negara dan pelayanan lelang. Dalam penerapan sistem penganggaran terpadu. yang antara lain disebabkan oleh (i) masih tingginya kegiatan illegal logging.3Penerimaan Negara Bukan Pajak PNBP sebagai salah satu sumber penerimaan negara mempunyai potensi yang masih dapat dikembangkan. 2.2. dan adanya perubahan asumsi makro yang digunakan seperti ICP. Disamping itu faktor lain yang mempengaruhi PNBP seperti masih terdapat potensi PNBP yang belum terealisir. Permasalahan penerimaan PNBP antara lain disebabkan karena faktor eksternal. Terbatasnya ruang gerak fiskal yang disebabkan oleh komposisi dan struktur belanja negara yang belum sepenuhnya sehat (sound). 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Belum optimalnya sistem penyusunan perencanaan dan penganggaran pada kementerian/lembaga.2. duplikasi pendanaan untuk satu kegiatan yang sama dapat dihindari. Selain itu.2. bertujuan agar setiap biaya yang dialokasikan dalam suatu kegiatan dapat dikaitkan dengan output dan outcome yang dihasilkan. (ii) masih adanya potensi jenis PNBP yang belum memiliki landasan hukum sehingga tidak dapat dipungut. .1Belanja Negara Seiring dengan pelaksanaan reformasi Keuangan Negara yang dimulai sejak berlakunya UU No. seperti (i) adanya kecenderungan penurunan produksi minyak bumi dan gas bumi (migas). 1. Pemanfaatan sistem penganggaran berbasis kinerja. penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). lifting dan kurs. perencanaan belanja negara juga mengalami penyempurnaan-penyempurnaan. dan penerapan kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework) dalam penyusunan perencanaan belanja negara. illegal fishing.2. (iii) belum tergalinya potensi pertambangan panas bumi secara optimal. (iii) adanya peningkatan cost recovery yang belum diimbangi dengan peningkatan lifting yang memadai. Penyempurnaan ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kinerja belanja negara agar menjadi lebih efektif dan efisien. Belum optimalnya sistem monitoring dan evaluasi pelaksanaan belanja negara dalam rangka penyusunan rencana kegiatan dan anggaran. Telah dilakukan penerapan sistem penganggaran terpadu (unified budget). (ii) masih tingginya risiko tidak tercapainya penerimaan atas laba BUMN terutama karena faktor kinerja BUMN dan makro ekonomi. Belum optimalnya koordinasi perencanaan pemerintah pusat (kementerian/lembaga) dengan daerah dalam hal perencanaan belanja negara untuk kegiatan dekonsentrasi/tugas pembantuan.1.2 Potensi dan Permasalahan Belanja Negara 1. antara lain: 1.

(iv) pengelolaan keuangan daerah. juga dilakukan perbaikan terhadap proses revisi RKA-KL sehingga revisi RKA-KL dapat dilakukan secara lebih cepat dan akuntabel. dan pelaporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah daerah.2. yaitu suatu sistem pendokumentasian. Sistem ini diselenggarakan oleh masing-masing pemerintahan daerah yang dikenal dengan nama Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah (SIPKD). dan (v) pengalihan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ke DAK. Selain itu. dan Dana Bagi Hasil (DBH) selalu mengalami peningkatan yang berarti dari tahun ke tahun. Perbaikan juga telah dilakukan terhadap proses dan mekanisme penelaahan RKA-KL. Sedangkan transfer ke daerah masih terdapat permasalahan terkait dengan koordinasi yang belum optimal dengan instansi lain yang terkait. (ii) peraturan daerah yang mendorong timbulnya ekonomi biaya tinggi dan menghambat investasi. sedangkan SIKD oleh pemerintah pusat disebut dengan SIKD Nasional. Selain itu. yaitu sejak penelaahan RKA-KL Stimulus Fiskal Tahun 2009 dan RKA-KL Tahun 2010. Selanjutnya. dimana sejak Tahun 1999 sampai dengan Tahun 2009 telah mengalami penambahan sebanyak 205 daerah. Sumber pendanaan daerah terlalu bertumpu pada alokasi pusat berupa transfer yang terdiri Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian (mulai APBN Tahun 2009 termasuk juga Hibah ke Daerah). Dana Alokasi Khusus (DAK).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 26 – sehingga terjadi perpaduan perencanaan kinerja dengan anggaran tahunan. (iii) standar pelayanan minimum. diantaranya adalah sulitnya menentukan pengeluaran (belanja negara) dalam perspektif jangka menengah. Pengalokasian dana perimbangan selama ini dilakukan berdasarkan ketentuan UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005. diperlukan masa transisi untuk mengubah sistem accrual based budget yang telah dilaksanakan semasa orde baru menjadi sistem penganggaran berbasis kinerja. pelaksanaan. dengan mempertimbangkan risiko dan implikasi biaya yang berpotensi terjadi pada tahuntahun berikutnya. pengadministrasian. Permasalahan yang timbul dalam penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja adalah sulitnya merumuskan indikator kinerja sebagai alat pendeteksi tercapainya output dan outcome yang dikehendaki.2. tantangan dalam implementasi kerangka pengeluaran jangka menengah. . Kurang sinkronnya pemanfaatan antara Dana Desentralisasi dengan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. 1. khususnya dana perimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum (DAU). diantaranya adalah: (i) hubungan antara Undang-Undang Desentralisasi dengan Undang-Undang Sektoral.2Perimbangan Keuangan Potensi yang ada pada Perimbangan Keuangan adalah adanya Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKD). serta pengolahan data keuangan daerah dan data lainnya menjadi informasi yang disajikan ke masyarakat sebagai bahan pengambilan keputusan dalam rangka perencanaan. Permasalahan lain adalah implikasi pemekaran daerah berdampak pada meningkatnya jumlah daerah otonom baru. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia. Besaran alokasi transfer ke daerah. Perbaikan-perbaikan tersebut akan terus ditingkatkan kualitas penerapannya di masa mendatang.

4 Potensi dan Permasalahan pada Pembiayaan APBN Potensi dalam pembiayaan defisit APBN potensi yang dapat mendukung optimalnya pengelolaan utang mencakup hal-hal sebagai berikut: ? Surat Berharga Negara (SBN) sebagai instrumen keuangan yang dibutuhkan dalam Tersedianya pengembangan pasar uang dan pasar modal sebagai benchmark. Selain daripada itu masih terdapat satker yang belum memenuhi persyaratan substantif dan teknis. dan kurangnya SDM yang memahami secara utuh konsep PK BLU. antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut: ? Adanya penerapan prinsip "meminimumkan biaya" dan "memaksimalkan manfaat" dalam pengelolaan kas dapat menjamin ketersediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara.2. Sementara itu di bidang pengelolaan BLU terdapat kendala adanya beberapa satker BLU yang hanya lebih mementingkan sisi fleksibilitas pengelolaan keuangan. efisiensi penyerapan belanja pemerintah dan mewujudkan transparansi dalam manajemen keuangan pemerintah. ? cukup banyak satker yang memenuhi kriteria secara substantif dan teknis untuk dapat Tersedianya menerapkan PK BLU. Kendala lain adalah LKPP masih mendapatkan opini Disclaimer dari BPK.2. melalui program restrukturisasi dapat meringankan beban pembayaran kewajiban BUMN/BUMD/Pemda serta meminimalkan berkurangnya penerimaan negara. Di bidang penerusan pinjaman yang dananya bersumber dari SLA. dan RPD masih dijumpai masalah kesulitan BUMN/BUMD/Pemda untuk melunasi kewajibannya.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 27 – 1. ? fasilitas Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) untuk mendukung pengembangan Tersedianya industri keuangan syariah. meningkatkan perekonomian sektor riil. dan meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada birokrasi ? Terselesaikannya pinjaman kepada BUMN/BUMD/Pemda yang bersumber dari RDI/RPD/SLA. ? Terselesaikannya pembenahan pengelolaan PNBP di satker-satker pemerintah melalui BLU. ? Terlaksananya SPAN dapat meningkatkan pelayanan keuangan publik. . PNBPnya menjadi on budget dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. RDI. ? Tersedianya pinjaman luar negeri dan surat berharga yang diterbitkan di luar negeri untuk mendukung cadangan devisa negara dan program-program pembangunan (development program). 1. ? fasilitas SBN (jangka pendek) sebagai instrumen pengelolaan moneter dan pengelolaan Tersedianya kas. yang selanjutnya diharapkan akan menciptakan daya tarik investasi. memperkuat instrumen kontrol fiskal. Masih terdapat permasalahan di bidang pengelolaan kas berupa lemahnya perencanaan kas (cash forecasting) yang dilakukan oleh Kementerian Negara/Lembaga serta belum lengkapnya regulasi yang mengatur tentang pengelolaan kas.3 Potensi dan Permasalahan Perbendaharaan Negara Beberapa potensi yang menyangkut pengelolaan perbendaharaan Negara. yang disebabkan belum seluruh LKKL memiliki kualitas yang baik. khususnya yang mengatur kelebihan dan kekurangan kas. ? LKPP dengan tingkat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) akan meningkatkan Tercapainya akuntabilitas pemerintah dan rating pemerintah di mata dunia internasional. ? Terbentuknya KPPN Percontohan dapat mempercepat daya serap APBN.

privatisasi. ? penyediaan underlying assets SBSN untuk dapat mendukung penerbitan SBSN secara Lambatnya tepat waktu. ? Belum optimalnya koordinasi antara DepartemenKementerian Keuangan dan Bank Indonesia dalam pengelolaan neraca kedua otoritas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 28 – ? Tersedianya kemungkinan pinjaman dalam negeri untuk mengoptimalkan pendapatan dari pembiayaan dalam negeri. Kondisi yang dapat dimanfaatkan dalam pengelolaan kekayaan negara ke depan adalah sebagai berikut : (i) hasil penyelesaian inventarisasi dan penilaian BMN (ii) pengelolaan BMN berupa asset idle yang perlu dioptimalkan. ? Berkembangnya pasar SBN dapat mendorong pengembangan pasar instrumen utang yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah. (iii) peningkatan jumlah dan nilai aset K/L yang berasal dari alokasi belanja barang dan belanja modal. seperti Terbatasnya keterbatasan dana untuk melakukan buyback saat diperlukan intervensi pasar dan belum dapat memanfaatkan momentum pasar untuk melakukan pre-financing terhadap APBN tahun berikutnya. ? Belum optimalnya efisiensi dan efektivitas pemanfaatan pinjaman luar negeri yang berdampak pada meningkatnya beban commitment fee karena keterlambatan pemenuhan persyaratan pemberi pinjaman oleh pelaksana pinjaman (executing agency) dan keterlambatan dalam implementasi pinjaman itu sendiri. misalnya primary dealers sebagai market makers/penggerak pasar. ? fleksibilitas dalam mengelola utang yang responsif terhadap dinamika pasar. efisien dan optimal. ? Belum optimalnya fungsi infrastruktur pasar. sehingga mempengaruhi kinerja pengelolaan utang negara (sovereign debts). restrukturisasi/revitalisasi. pembubaran atau penggabungan BUMN dalam rangka kepentingan Menteri Keuangan selaku pemegang saham. terdapat juga permasalahannya yang meliputi antara lain: ? kapasitas daya serap pasar SBN domestik belum dapat mengimbangi kecepatan Rendahnya pertumbuhan kebutuhan dana untuk pembiayaan APBN sehingga dapat memunculkan kerentanan terhadap 'crowding-out' dan potensi peningkatan porsi utang valas.2. penambahan/pengurangan PMN. (iv) kebijakan terkait program pendirian. ? dominasi oleh sektor perbankan pada basis investor domestik. sehingga perkembangan Tingginya pasar SBN sangat dipengaruhi oleh kinerja perbankan maupun kebijakan di sektor tersebut. Disamping adanya beberapa potensi sebagaimana diuraikan di atas. dan aset Negara eks kelolaan PT PPA baik yang dikelola sendiri . 1. (v) penanganan aset yang berasal dari eks BPPN. di bidang pembiayaan melalui utang. ? porsi kepemilikan SBN oleh investor asing dapat meningkatkan kerentanan pasar SBN Tingginya terhadap potensi risiko 'sudden reversal' yang dapat menggangu harga SBN di pasar sekunder. likuiditas pasar maupun fungsi treasury. eks BDL.5 Potensi dan Permasalahan Pengelolaan Kekayaan Negara Potensi dalam pengelolaan kekayaan negara adalah adanya aset negara sebagai indikator penting dalam pelaksanaan penganggaran yang efektif. ? Belum adanya kerangka hukum dan administrasi untuk melakukan hedging dalam pengelolaan risiko portofolio utang.

yaitu masih pada kisaran 4. (iv) rasio industri dana pensiun yang masih relatif kecil bila dibandingkan dengan GDP. Dengan demikian industri dana pensiun masih memiliki peluang yang sangat besar untuk bertumbuh dan berkontribusi dalam ekonomi nasional. (v) semakin meningkatnya pengetahuan dan kepercayaan investor mengenai produk pasar modal dan terdapatnya perbedaan kebutuhan investasi memberikan peluang baru bagi pengembangan produk-produk investasi baru.33 persen. Permasalahan yang dihadapi oleh industri pasar modal dan lembaga keuangan adalah : (i) perkembangan industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang semakin pesat menbawa konsekuensi meningkatnya tantangan yang dihadapi oleh regulator dalam . (iii) pelayanan pengelolaan kekayaan negara yang belum seluruhnya sesuai dengan standar waktu yang ditentukan. peningkatan manajemen SDM serta pengukuran kinerja memberikan peluang bagi peningkatan kapasitas organisasi regulator. 1. mengingat tingkat penetrasi asuransi yaitu perbandingan premi asuransi dengan GDP yang masih sangat rendah yaitu 1. (vii) basis pemodal domestik yang masih relatif kecil yaitu dari jumlah penduduk Indonesia memberikan peluang bagi pengembangan perluasan basis dan kualitas pemodal domestik sehingga dapat berperan sebagai katalisator pengembangan pasar modal Indonesia. hukum dan fisik. disamping itu tingkat kepesertaan baru mencapai 4. Namun kondisi ini merupakan sebuah sinyal bahwa potensi pasar modal sebagai pergerak perekonomian Indonesia masih perlu ditingkatkan. Permasalahan utama yang dihadapi dalam pengelolaan kekayaan negara adalah: (I) peraturan perundang-undangan yang ada. (vi) penerapan Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi (SIMAK) BMN belum merata diseluruh K/L. (v) belum optimalnya koordinasi antara kementerian negara dan lembaga terkait penertiban barang milik negara . penyempurnaan bisnis proses. (vi) sebagai negara muslim terbesar Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan produk-produk pasar modal dan lembaga keuangan non bank berbasis syariah termasuk pembiayaan syariah. dan (viii) peningkatan pendapatan dan mulai tumbuhnya kesadaran berivestasi memberikan peluang bagi perluasan investor pasar modal dan nasabah lembaga jasa keuangan non bank. (iii) potensi pengembangan industri perasuransian yang masih sangat terbuka.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 29 – oleh Menteri Keuangan maupun diserahkelolakan kembali kepada PT PPA. sitaan kepabeanan.9 persen. (iv) belum optimalnya pemanfaatan BMN sesuai prinsip The Highest and Best Use. (ii) belum optimalnya pengamanan Barang Milik Negara (BMN) baik secara administratif. gratifikasi. Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT). aset bekas milik asing/cina (ABMAC).6 Potensi dan Permasalahan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Adapun potensi di industri pasar modal dan lembaga keuangan adalah : (i) program reformasi birokrasi yang difokuskan pada penataan organisasi. dan (ix) kurangnya sarana dan prasarana. (vii) adanya potensi gugatan/tuntutan dari pihak ketiga atas aset yang berada di dalam penguasaan DepartemenKementerian Keuangan.81 persen Tahun 2008 menunjukkan bahwa peran pasar modal masih belum optimal.2. dan KKKS. saat ini belum mampu mendukung pengelolaan kekayaan yang optimal.55 persen. (ii) rasio antara PDB dengan nilai kapitalisasi pasar yang masih relatif kecil yaitu 33. (viii) kualitas dan kuantitas SDM belum memadai. dan (vi) potensi Kekayaan Negara Lain-Lain yang berasal dari aset rampasan.

(iii) pengembangan infrastruktur sistem perdagangan dan teknologi informasi. pedoman asistensi dan reviu laporan keuangan yang belum memadai. komunikasi yang belum terbangun secara efektif. Ketatalaksanaan dan Kelembagaan Potensi di bidang ketatalaksanaan dan kelembagaan adalah: (i) program Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementerian Keuangan. sistem dan prosedur serta sumber daya manusia. adalah berupa seminar "Peran Inspektorat Jenderal dalam Meningkatkan Kualitas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) dengan peserta Inspektorat Jenderal DepartemenKementerian lain. meliputi: (i) independensi lembaga pengawas pasar modal dan LKNB. instrumen pasar modal dan peningkatan jumlah investor domestik. Pengawasan dan Pengendalian Intern Potensi yang ada guna melaksankan kontrak kinerja Menteri dengan Presiden untuk memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI paling lambat untuk Laporan Keuangan Tahun 2011. baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. dan (vi) penerbitan Obligasi Pemerintah Daerah. (vi) masih terbatasnya alternatif investasi dan skema jasa keuangan non bank yang tersedia di industri pasar modal dan jasa keuangan non bank.2. sistem informasi manajemen. serta belum adanya ketentuan yang jelas tentang ketentuan pemangku jabatan dalam bidang keuangan. Untuk itu. maka kapasitas organisasi regulator perlu ditingkatkan baik dari aspek pembenahan organisasi. (iii) masih belum optimalnya pemenuhan standard internasional dalam produk regulasi baik untuk industri pasar modal maupun untuk lembaga keuangan non bank. (vii) kompleksitas industri pasar modal dan lembaga keuangan yang semakin meningkat sementara sumber daya pengawasan dan penegakan hukum masih terbatas. dan adanya pendekatan dengan pihak Badan Pemeriksa Keuangan guna menjamin tercapainya tujuan pengawasan dan pengendalian intern. dalam rangka menjawab tantangan tersebut.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 30 – menjalankan tugas dan fungsinya. 1. Hal-hal yang menjadi tantangan ke depan bagi perkembangan pasar modal dan LKNB antara lain. (v) masih belum optimalnya pemanfaatan teknologi informasi dalam kegiatan pengawasan terhadap pelaku pasar modal dan industri lembaga keuangan non bank.7 Potensi dan Permasalahan Organisasi dan SDM a. (v) pengembangan asuransi dan Dana Pensiun wajib (compulsory insurance and pension plan). Uraian Jabatan. bukan Undang-Undang. b. (ii) tingkat kualitas kepatuhan pelaku industri pasar modal dan lembaga keuangan yang masih harus ditingkatkan. (iii) tersedianya struktur organisasi sampai . (ii) tersedianya business process yang meliputi: SOP. Terkait dengan pengambilan peran aktif pembinaan kepada Kementerian/Lembaga beberapa permasalahan yang masih harus diatasi. (iv) pengembangan produk syariah di pasar modal dan LKNB. (iv) kerangka hukum industri pembiayaan masih diatur melalui Perpres. yaitu jumlah dan kualitas sumber daya pemberi asistensi yang belum memadai. Potensi lainnya adalah adanya Forum Bersama (FORBES) Itjen. dan (viii) daya saing industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang masih perlu ditingkatkan. (ii) harmonisasi peraturan perundang-undangan dan penerapannya dengan standar internasional. dan Hasil Analisis Beban Kerja.

16 Kanwil Ditjen Bea dan Cukai. serta berjalannya fungsi check and balances dalam rangka mewujudkan good governance. Kedua. permasalahan agencification serta perancangan dan pengembangan organisasi/kelembagaan secara keseluruhan sangat tergantung pada arah kebijakan kelembagaan Republik Indonesia yang digariskan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. Permasalahan lain di bidang ketatalaksanaan dan kelembagaan. Salah satu Agencification yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan adalah transformasi/penataan organisasi BPPK menjadi Badan Transformasi/Reformasi Birokrasi yang akan mengkoordinir pelaksanaan program reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan. serta belum adanya Peraturan Presiden di bidang organisasi sebagai tindak lanjut pembentukan Kabinet baru dan pelaksanaan lebih lanjut dari UU Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. Pengelolaan SDM Aparatur Potensi di bidang administrasi kepegawaian.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 31 – unit organisasi terkecil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. (iv) kurang optimalnya . dan 3 Badan. Selain itu adanya wacana agencification merupakan potensi bagi peningkatan efektifitas dan efisiensi dalam ketatalaksanaan dan kelembagaan. mulai tingkat provinsi. yaitu: pertama. dan 17 Kanwil Ditjen Kekayaan Negara) dan 912 Kantor Operasional (538 Satker Ditjen Pajak. Inspektorat Jenderal. (ii) SDM pengelola keuangan belum professional. dan kurang kuatnya komitmen dan konsistensi pimpinan unit dalam pengusulan pembentukan/ penyempurnaan jabatan fungsional. (iii) deployment SimpegTM. (iv) program reformasi birokrasi nasional. dan kecamatan. Agencification tersebut mencakup pemisahan fungsi perumusan kebijakan (regulatory) dengan pelaksana kebijakan (execution). (iii) belum adanya aturan baku yang mengatur mengenai jabatan assessor. 30 Kanwil Ditjen Perbendaharaan. adanya kendala dalam perancangan dan pengembangan jabatan fungsional yang tergantung pada dinamika organisasi. lambatnya payung kebijakan di bidang tata naskah dinas di lingkungan Kementerian Negara PAN dibandingkan dengan perkembangan perubahan/kebutuhan tata naskah dinas di lingkungan Kementerian Keuangan. 126 Satker Ditjen Bea dan Cukai. serta terkendala oleh panjangnya proses pembentukan jabatan fungsional. dan (iv) networking yang luas antar unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan dan institusi lainnya di luar Kementerian Keuangan. kota/kabupaten. (ii) adanya pengukuran soft competency pegawai melalui Assessment Center. Namun demikian. Kementerian Keuangan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya melalui 1. dan (v) perubahan paradigma tata kelola SDM. dan 70 Satker Ditjen Kekayaan Negara). 178 Satker Ditjen Perbendaharaan. Organisasi Kementerian Keuangan terdiri dari Sekretariat Jenderal.042 kantor yang tersebar di seluruh Indonesia dengan perincian: 94 Kantor Wilayah (31 Kanwil Ditjen Pajak. yaitu: (i) aturan di bidang kepegawaian yang saat ini sudah tidak memenuhi tuntutan kebutuhan pengelolaan SDM. Sedangkan permasalahan di bidang administrasi kepegawaian. 7 Direktorat Jenderal. Permasalahan yang ada pada saat ini adalah masih digabungkannya fungsi perumusan kebijakan dengan fungsi pelaksana kebijakan berdasaran Perpres Nomor 9 Tahun 2005. yaitu: (i) jumlah SDM yang cukup dari segi kuantitas berdasarkan hasil Analisis Beban Kerja. c.

khususnya untuk hal-hal yang mencakup kepentingan lebih dari satu unit eselon-I. Gol.108 pegawai. yaitu mengabdikan ilmunya di BPPK. (iii) belum meratanya sarana dan prasarana fisik yang menunjang kemudahan layanan dan kedekatan layanan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. terdiri dari: Gol. S1. dan setelah diklat berlangsung.829 pegawai. Dalam kaitannya dengan pendidikan dan pelatihan SDM. dan (iv) kurangnya minat pegawai instansi teknis yang berprestasi untuk ikut perekrutan widyaiswara. S1 sebanyak 17. dan (v) aplikasi SimpegTM belum diimplementasikan secara menyeluruh. D-III. III sebanyak 33.951 pegawai. pendidikan dan pelatihan yang dilakukan Kementerian Keuangan juga tidak lepas dari kendala yang ada seperti: (i) pelaksanaan pengembangan SDM Kementerian Keuangan melalui pendidikan dan pelatihan masih dilaksanakan pada institusi selain institusi yang ditunjuk sebagai penyelenggara pendidikan dan pelatihan.820 pegawai. dan Gol. Teknologi dan Informasi Keuangan Permasalahan utama dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan Kementerian Keuangan adalah pola tata-kelolanya yang bersifat dekonsolidasi-desentralisasi dimana sumber daya informasi dan komunikasi yang ada umumnya dikelola secara terpisah di masing-masing unit eselon-I.754 pegawai (keterangan: data di atas belum termasuk data CPNS Kementerian Keuangan sebanyak 3. (ii) terbatasnya ketersediaan SDM yang memiliki kapabilitas dan dana dalam memelihara struktur dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang komprehensif dalam rangka optimalisasi TIK pada berbagai layanan diklat. I sebanyak 377 pegawai. D-I). (ii) struktur dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang komprehensif dalam rangka optimalisasi TIK pada berbagai layanan diklat. dan S3 sebanyak 54 pegawai. D3 sebanyak 11. di saat. Komposisi berdasarkan pendidikan. Selain itu belum adanya mekanisme penyusunan kebijakan yang terstruktur. d. SDM Kementerian Keuangan terdiri dari: SD-SLTA sebanyak 2. mulai dari pengembangan metodologi pembelajaran sampai dengan pemberian kemudahan layanan bagi peserta diklat sebelum. Sedangkan komposisi berdasarkan golongan. Kondisi ini juga menyebabkan tidak tersedianya sistem . II sebanyak 20. Namun demikian. diantaranya: (i) kedudukan hukum penyelenggara pendidikan dan pelatihan di lingkungan Kementerian Keuangan yang kokoh. SDM Kementerian Keuangan pada Tahun 2009 sebanyak 61. IV sebanyak 1. menyebabkan masing-masing unit eselon-I berjalan sendiri-sendiri dalam mengelola sumber daya informasi dan komunikasinya.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 32 – pemanfaatan Assessor Internal.359 pegawai dengan rincian 47.573 pegawai dengan tingkat pendidikan S2.098 pegawai. (iii) kemudahan layanan dan kedekatan layanan dalam setiap penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. dan (v) memiliki jaringan kerjasama dengan institusi nasional dan lembaga-lembaga internasional di bidang pendidikan dan pelatihan.351 pegawai. S2 sebanyak 4.220 pegawai laki-laki dan 14. (iv) melakukan perekrutan Widyaiswara dan pengembangan kompetensi Widyaiswara serta melakukan program kumandah bagi pegawai Kementerian Keuangan yang baru saja menyelesaikan pendidikan pascasarjana untuk diunduh selama setahun. Kementerian Keuangan telah melaksanakan modernisasi pelayanan di bidang pendidikan dan pelatihan. Gol.139 pegawai perempuan.

adanya modul-modul aplikasi yang telah ada dan rencana pengembangan beberapa sistem aplikasi yang tengah berlangsung merupakan modal dasar bagi penerapan Sistem Informasi Manajemen Keuangan Negara yang terpadu.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 33 – informasi yang terintegrasi. .01/2009 tentang Kebijakan Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan adanya Tim Reformasi Teknologi Informasi Komunikasi (TRTIK) merupakan landasan yang kokoh bagi pengembangan tata kelola di masa yang akan datang. adanya infrastruktur IT. Adanya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 260/KMK. Dari aspek sistem aplikasi. pengelolaan kesinambungan bisnis (business continuity management) beserta kelengkapannya seperti Disaster Recover Plan dan Disaster Recover Center. TRTIK menyediakan wahana koordinasi di antara unit-unit pengelola teknologi informasi dan komunikasi di dalam DepartemenKementerian Keuangan untuk menyelaraskan dan mensinergikan pengembangan sistem aplikasi dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan Kementerian Keuangan. baik berupa jaringan intranet. dan infrastruktur. dan pengelolaan sumber daya informasi (termasuk yang berkaitan dengan masalah lisensi software). keamanan sistem informasi (IT security management). standar. jaringan WAN. akses Internet maupun keberadaan Data Center. DepartemenKementerian Keuangan memiliki potensi besar untuk pengembangan ke depan. Sementara dari aspek infrastruktur. seperti yang terkait dengan tata kelola yang baik (good IT governance). dan prosedur yang berkaitan dengan operasionalisasi teknologi informasi dan komunikasi. Dari sisi tiga aspek strategi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi yaitu tata kelola. pengelolaan layanan (IT service management). sistem aplikasi. merupakan modal utama yang perlu dioptimalkan lebih lanjut sehingga dapat beroperasi secara reliable. Disamping itu perlu adanya kebijakan-kebijakan. yang dapat digunakan oleh setiap unit setiap saat dibutuhkan tanpa terlebih dahulu harus menghubungi unit lain yang menghasilkan informasi tersebut secara sendirisendiri.

DAN TUJUAN KEMENTERIAN KEUANGAN 2. Akuntabel adalah pengelolaan keuangan dan kekayaan negara yang mengacu pada praktek terbaik internasional yang berlandaskan asas profesionalitas. Profesional. Hati-hati (Prudent). Berkelanjutan. . Misi Penguatan Kelembagaan adalah : i. yang dimaksud dengan Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara adalah Kementerian Keuangan sebagai lembaga/institusi yang mempunyai tugas menghimpun dan mengalokasikan keuangan negara dan mengelola kekayaan negara.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 34 – BAB II VISI. dan pembiayaan defisit anggaran dilakukan melalui mekanisme APBN. MISI. 2. Berintegritas Tinggi dan bertanggung jawab. kepastian hukum. Demokratis.2. yaitu semua penerimaan negara. a. ii.3. a. b. efisien. belanja negara. c. Membangun dan Mengembangkan Organisasi Berlandaskan Administrasi Publik Sesuai dengan Tuntutan Masyarakat. Dipercaya adalah semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat karena pengelolaan keuangan dan kekayaan negara dilakukan secara transparan. 2. dan Bertanggungjawab. MISI Misi Fiskal adalah Mengembangkan Kebijakan Fiskal yang Sehat.1. Membangun dan Mengembangkan Teknologi Informasi Keuangan yang Modern dan Terintegrasi serta Sarana dan Prasarana Strategis Lainnya. VISI Visi Kementerian Keuangan adalah Menjadi Pengelola Keuangan dan Kekayaan Negara yang Dipercaya dan Akuntabel untuk Mewujudkan Indonesia yang Sejahtera. Dari visi yang telah ditetapkan tersebut. transparan. Misi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan adalah Mewujudkan industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai penggerak dan penguat perekonomian nasional yang tangguh dan berdaya saing global. proporsionalitas. b. TUJUAN Tujuan strategis Kementerian Keuangan dikelompokkan ke dalam 6 tema pokok yaitu: Tujuan dalam Tema Pendapatan Negara adalah Meningkatkan dan Mengamankan Pendapatan Negara dengan Mempertimbangkan Perkembangan Ekonomi dan Keadilan Masyarakat Tujuan dalam Tema Belanja Negara adalah Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Belanja Negara Untuk Mendukung Penyelenggaraan Tugas K/L dan Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal Tujuan dalam Tema Pembiayaan APBN adalah Mewujudkan kapasitas pembiayaan yang mampu memberikan daya dukung bagi kesinambungan fiskal d. Membangun dan Mengembangkan SDM yang Amanah. iii. dan Berkeadilan. dan keterbukaan. c. Misi Kekayaan Negara adalah Mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal sesuai dengan asas fungsional. dan bertanggungjawab.

Tujuan dalam Tema Kekayaan Negara adalah Mewujudkan pengelolaan kekayaan negara yang optimal serta menjadikan nilai kekayaan negara sebagai acuan dalam berbagai keperluan Tujuan dalam Tema Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank adalah Membangun Otoritas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yang Amanah dan Profesional. b. efisien dan akuntabel . e. Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dan citra yang meningkat yang didukung oleh tingkat pelayanan yang handal Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi diukur berdasarkan hasil survey kepuasan stakeholder oleh lembaga independen. Tata kelola yang yang tertib transparan. dan akuntabel dalam pelaksanaan belanja negara. 2. Tingkat pendapatan yang optimal Tingkat pendapatan yang optimal adalah tingkat pencapaian penerimaan dalam negeri yang sesuai dengan target sebagaimana tercantum dalam APBN atau APBN. Sasaran Strategis dalam Tema Belanja Negara : 1.Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan belanja Negara sesuai dengan sistem dan prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Hasil survey yang positif akan meningkatkan citra Kementerian Keuangan di mata stakeholder.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 35 – d. efektif. .4. dan cukai terhadap peraturan perundangundangan yang pada akhirnya menunjukkan potensi pendapatan pajak. kepabeanan. .Alokasi belanja negara yang tepat sasaran adalah alokasi anggaran yang dapat mencapai kinerja program dan kegiatan kementerian negara/lembaga yang telah ditetapkan dalam APBN. Tujuan dalam Tema Perbendaharaan Negara adalah pengelolaan perbendaharaan negara yang profesional dan akuntabel serta mengedepankan kepuasan stakeholders atas kinerja perbendaharaan negara. . 2.Alokasi belanja negara yang efisien adalah penuangan anggaran pada DIPA yang dapat digunakan untuk mendukung pencapaian sasaran yang ditetapkan.Alokasi belanja negara yang tepat waktu adalah pengesahan DIPA yang dapat diselesaikan sesuai jadwal yang ditetapkan. Alokasi belanja negara yang tepat sasaran. . 3. kepabeanan dan cukai.Alokasi belanja negara yang akuntabel adalah alokasi belanja negara yang proporsional sesuai dengan prioritas rencana kerja pemerintah dan dapat dipertanggungjawabkan pelaksanaannya.P 2. f. dan cukai yang tinggi Tingkat kepatuhan wajib pajak. . a. kepabeanan. Tingkat kepatuhan wajib pajak. yang Mampu Mewujudkan Industri Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Sebagai Penggerak Perekonomian Nasional yang Tangguh dan Berdaya Saing Global SASARAN STRATEGIS Sasaran Strategis dalam Tema Pendapatan Negara adalah: 1. tepat waktu.

Mengembangkan pasar SBN dengan menyediakan alternaitif instrument SBN yang variatif. dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan kredibel. cukup. dan likuid.Tata kelola yang tertib adalah pengelolaan transfer ke daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Memenuhi target pembiayaan APBN melalui utang yang bersumber dari dalam negeri dan luar negeri. Sasaran Strategis dalam Tema Perbendaharaan Negara adalah: 1. Efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara. dan efisien. tanggung jawab. Terciptanya struktur portofolio utang yang optimal. tingkat bunga. . 3. kredibel. aktif. Mengoptimalkan struktur jatuh tempo SBN dengan memperhatikan jenis. dan pelaku pasar lainnya) terhadap pengelolaan utang yang transparan. serta meningkatkan sebaran investor. Sasaran Strategis dalam Tema Pembiayaan APBN adalah: 1.Transparan adalah pelaksanaan kebijakan transfer ke daerah dapat diakses oleh seluruh stakeholder. dengan mempertimbangkan biaya dan risiko untuk mendukung kesinambungan fiskal.Akuntabel adalah pelaksanaan kebijakan transfer ke daerah dapat dipertanggungjawabkan. dan kewenangan yang dimiliki oleh Pusat maupun daerah sesuai dengan norma dan standar yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. dan tenor. kreditor. . akuntabel. 4. Terciptanya pasar SBN yang dalam.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 36 – Tata kelola yang transparan dan akuntabel adalah pengelolaan belanja Negara yang dilakukan secara terbuka sehingga proses pengelolaannya dapat diketahui oleh stakeholder dan dapat dipertanggungjawabkan. Terpenuhinya pembiayaan APBN melalui utang secara tepat waktu. 2. dan terjaganya kredibilitas pengelolaan utang dengan melakukan pembayaran kewajiban secara tepat waktu. tepat jumlah. serta kondisi pasar keuangan. akuntabel. dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Pinjaman. Terciptanya kepercayaan para pemangku kepentingan (investor. 4. 3. Perimbangan Keuangan adalah pelaksanaan kebijakan hubungan keuangan Pusat dan daerah yang dapat menjamin keseimbangan keuangan terkait dengan besarnya beban. Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan. dan tepat sasaran. - . transparan. Tersedianya informasi terkait pengelolaan utang kepada publik secara transparan dan akurat. Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah. d. c. Penyaluran belanja negara untuk mendukung pencapaian sasaran yang ditetapkan secara akuras dan tepat waktu berarti pelaksanaan penyaluran belanja dilakukan sesuai dengan norma waktu yang ditetapkan. .

sehingga diharapkan akan terwujud peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara serta peningkatan opini BPK (dari Disclaimer menjadi Wajar Tanpa Pengecualian) melalui LKPP yang lebih berkualitas. Peningkatan pelayanan masyarakat melalui penyempurnaan pengelolaan BLU. (iv) penerapan proses bisnis yang mengacu pada best practice dan (v) menghubungkan secara on-line baik melalui satellite. Optimalisasi pengelolaan kas negara meliputi dalam hal perencanaan kas. pengendalian kas dan pemanfaatan idle kas. Hal ini dikarenakan pengembalian dana tersebut mempunyai kontribusi dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri dan penerimaan defisit APBN. Salah satu kebijakan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara adalah melalui penerapan akuntansi pemerintah modern sebagai dasar penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). optimalisasi manajemen kas. Hal tersebut dapat dilihat dari kinerja keuangan pada satker BLU. pelaporan dan pertanggungjawaban (ii) database yang terpusat dan memungkinkan perekaman data hanya sekali (single entry). 6. 4. handal dan terpadu. diharapkan satker yang menerapkan Pengelolaan Keuangan BLU akan dapat melaksanakan fungsinya secara lebih efektif dan efisien. 5. 3. Terciptanya sistem perbendaharaan negara yang modern. Proyek SPAN adalah sebagai langkah awal untuk mewujudkan sistem perbendaharaan yang modern. serta pencatatan. handal dan terpadu. Optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Optimalisasi pengelolaan kas negara adalah dalam rangka mewujudkan efisiensi pengelolaan kas dengan mengedepankan prinsip "meminimumkan biaya" dan "memaksimalkan manfaat" bila terjadi kekurangan kas (cash mismatch) atau pemanfaatan kelebihan kas (idle cash). (iii) memungkinkan 'what if analysis'. didukung oleh sistem informasi keuangan yang terpadu (Integrated Financial Management and Information System) dengan karakteristik antara lain: (i) terintegrasi/terotomasi yang sangat mendukung proses pelaksanaan anggaran. Selanjutnya secara bertahap LKPP akan disusun berdasarkan akrual basis. mulai tahun anggaran 2009 telah dilaksanakan proyek penyempurnaan sistem perbendaharaan dan anggaran negara yang dikenal dengan Proyek Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Optimalisasi pengelolaan kas. dial-up dan sistem . Sampai dengan saat ini LKPP yang telah disusun masih berdasarkan basis Kas Menuju Akrual. peningkatan penilaian kinerja satker BLU serta pembinaan yang berkelanjutan. Melalui penyempurnaan regulasi terkait dengan pengelolaan BLU. Untuk menciptakan sistem perbendaharaan negara yang modern. Salah satu bagian dari pengembalian dana dibidang investasi dan pembiayaan lainnya adalah pengembalian penerusan pinjaman. Dana penerusan pinjaman tersebut harus dioptimalkan pengembalian dan penyetorannya kembali ke APBN sesuai dengan target yang telah ditetapkan. sehingga selanjutnya akan dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanannya kepada masyarakat.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 37 – 2. yang dilaksanakan untuk menjamin ketersediaan kas dalam jumlah yang cukup.

Terwujudnya industri pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang stabil. 2. 30 Kanwil Ditjen Perbendaharaan. akurat.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 38 – jaringan lainnya Ditjen Anggaran. 2. mengumpulkan dan mengolah data kekayaan negara sehingga menjadi informasi eksekutif yang utuh. penggunaan. Terwujudnya regulator bidang pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan profesional. dapat diandalkan dan berstandar internasional. penghapusan dan pemindahtanganan barang milik negara. Terwujudnya database nilai kekayaan negara yang kredibel Mendapatkan. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses. 178 KPPN dan Kementerian Negara/Lembaga. Terwujudnya pemanfaatan BMN berdasarkan prinsip the highest and best use Pemanfaatan BMN adalah upaya penggunaan secara maksimal seluruh BMN untuk mendukung penyelenggaraan Tupoksi penyelenggaraan negara. 5. Sasaran Strategis dalam Tema Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank adalah: 1. 5. Terlaksananya penatausahaan kekayaan negara yang handal dan akuntabel Penatausahaan kekayaan negara yang handal dan akuntabel adalah tercatatnya seluruh kekayaan negara/BMN dalam daftar barang baik di kementerian dan lembaga sebagai pengguna dan di Kementerian Keuangan sebagai pengelola. Tersedianya kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum. g. Sasaran Strategis dalam Tema Kekayaan Negara adalah: 1. 4. Tercapainya peningkatan kualitas pelayanan pengelolaan kekayaan negara Pelayanan pengelolaan kekayaan Negara meliputi pelayanan permohonan penetapan status pemanfaatan. Tersedianya infrastruktur pasar modal dan lembaga keuangan non bank yang kredibel. Terlaksananya perencanaan kebutuhan barang milik negara yang optimal Mengkoordinasikan pemberian data dan informasi keberadaan asset idle kementerian dan lembaga dalam rangka perencanaan pengadaan belanja modal dari kementerian dan lembaga. 3. 4. Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sarana investasi yang menarik dan kondusif dan sarana pengelolaan risiko yang handal. 6. serta penghematan penggunaan anggaran dengan mengoptimalkan BMN idle yang ada di kementerian dan lembaga. tepat waktu. dan dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan bagi pimpinan Kementerian Keuangan. efisien dan kompetitif. 3. e. resilience dan liquid. Sasaran Strategis Pembelajaran dan Pertumbuhan dalam menunjang pencapaian tujuan strategis 6 tema pokok adalah: f. . keadilan dan keterbukaan (fairness and transparency). Ditjen Perbendaharaan.

monitoring dan review penyusunan Laporan Keuangan pada unit-unit di lingkungan Kementerian Keuangan dan Laporan Keuangan BAPP.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 39 – 1. Sasaran strategis ini terkait dengan product/service yang dihasilkan oleh Itjen yang difokuskan pada hasil pengawasan yang dapat memberikan nilai tambah bagi kinerja Depkeu melalui asistensi. dan biaya (bila ada biaya).Fungsi unit organisasi merupakan fungsi yang telah disusun berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan. . Tercapainya akuntabilitas laporan keuangan. dan Efisien) 4. Responsibilitas. Terwujudnya dan termanfaatkannya TIK yang terintegrasi. . Sistem rekrutmen yang kredibel dan pengembangan SDM tertata yang tertata dan berkelanjutan diharapkan menghasilkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi dalam mengelola Keuangan Negara 2. Terwujudnya organisasi yang handal dan modern. Sistem informasi/aplikasi yang ada di seluruh lingkungan Kementerian Keuangan diupayakan terintegrasi didukung dengan kualitas layanan infrastruktur yang prima. 3.SOP (Prosedur Operasi Standar) adalah standar yang dijadikan panduan bagaimana suatu kegiatan dilaksanakan. sehingga akan memberikan kepastian mengenai apa yang harus dilaksanakan. . Good Governance adalah terciptanya tata kelola pemerintahan dalam menerapkan prinsip Good Governance (Transparansi. Responsiveness. Terwujudnya good governance. Akuntabilitas. SOP yang disusun harus memenuhi prinsip efisiensi. Efektifitas. Pengembangan organisasi dilakukan berdasarkan fungsi masing-masing unit organisasi dan SOP yang dimiliki. waktu penyelesaian. 5. Terwujudnya SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 40 – BAB III ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI 3. memastikan penetapan skema co-financing bagi program pembangunan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (penciptaan ownership di daerah) serta Pemerintah dan Swasta/BUMN (Public-Private Partnership). yaitu: menyusun usulan Rencana Strategis Kementerian Tahun 2009-2014 yang terdiri dari tahapan kerja. Renstra ini telah mengakomodir sebelas (11) Prioritas Nasional dan lima belas (15) Program Pilihan Presiden. (ii) Revitalisasi Industri Pertahanan. Terdepan. (xii) Reformasi Kesehatan Masyarakat. mengoperasikan secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor sebelum Januari 2010. memastikan penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi secara Elektronika (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota dimulai di Batam sebelum Januari 2010. (ix) Penyediaan dana penjaminan Rp 2 triliun per tahun untuk Kredit Usaha Kecil Menengah. (xi) Kebudayaan. (xv) Sinergi antara Pusat dan Daerah. (xiv) Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana. mengevaluasi sistem dan . (vi) Revitalisasi Pabrik Pupuk dan Gula. dan tenggat waktu. Kontrak Kinerja Menteri Keuangan dengan Presiden termasuk didalamnya Program 100 hari KIB II. (v) Ketahanan Pangan. (vii) Iklim Investasi dan Iklim Usaha. Kontrak Kinerja Menteri Keuangan dengan Presiden termasuk Program 100 Hari KIB II meliputi : (i) Memastikan tersusunnya Rencana Stategis Kementerian Tahun 2010-2014.(v) Peningkatan Produksi dan Ketahanan Pangan. (iv) Peningkatan Daya Listrik di seluruh Indonesia. rencana aksi kementerian. (vii) Penyempurnaan Peraturan Agraria dan Tata Ruang. (iii) Penanggulangan Terorisme. serta Temu Nasional. dan Pasca-konflik. (iv) Penanggulangan kemiskinan. (iii) Kesehatan. Kreativitas. Lima belas Program Pilihan Presiden meliputi : (i) Pemberantasan Mafia Hukum. 17 Tahun 2007. dan Inovasi Teknologi. indikator kinerja utama. (ix) Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana. yaitu: memastikan optimalisasi jam kerja operasional pelayanan kepelabuhanan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu di empat pelabuhan utama (Jakarta. Makasar. Surabaya. (x) Penetapan Skema Pembiayaan dan Investasi. (ii) Memastikan tercapainya target capaian Program 100 Hari.1. (viii) Pembangunan Infrastruktur. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL Arah kebijakan dan strategi nasional yang dituangkan dalam RPJM Nasional Tahun 2009-2014. Terluar. (viii) energi. (vi) Infrastruktur. (ii) Pendidikan. menyempurnakan Rencana Strategis Kementerian Tahun 2009-2014 melalui koordinasi yang efektif dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. (x) Daerah Tertinggal. yang merupakan RPJM ke-2 disusun berpedoman pada RPJP Nasional Tahun 2005-2025 sebagaimana dituangkan dalam UU No. (xi) Perumusan Kontribusi Indonesia dalam Isu Perubahan Iklim dan Lingkungan. Sebelas Prioritas Nasional meliputi : (i) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola. Medan) sebelum Desember 2010. (xiii) Penyelarasan antara Pendidikan dan Dunia Kerja. Selain itu dengan tersusunnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II.

(iii) Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. yaitu mengkaji ulang dan mengusulkan perbaikan kebijakan. pertanian. dan terjangkau. Memastikan penerapan sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota. Melaksanakan reformasi bidang pelayanan umum. dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan kementeriannya secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektifitas implementasi perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh pejabat yang ditunjuk Presiden untuk memimpin reformasi pelayanan umum. dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan. peraturan. tepat jumlah. yang mencakup namun tidak terbatas pada: Memastikan konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kementerian/lembaga selambat-lambatnya Tahun 2011. Percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Customs Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. (vii) Mencapai sasaran-sasaran Rencana Strategis Kementerian Tahun 2010-2014. menuntaskan reformasi administrasi dan pelayanan perpajakan dan bea cukai.000 peraturan daerah selambatlambatnya Tahun 2011.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 41 – meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah. dimulai dari Batam. pupuk. memastikan percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangan di tingkat pusat maupun daerah hingga tercapai keselarasan arah dalam implementasi pembangunan diantaranya penyelesaian kajian 12. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. (viii) Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI. memastikan beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. (vi) Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi yaitu mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. memastikan peningkatan investasi di bidang pangan. (v) Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi yaitu mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturan-peraturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan. pembatalan Peraturan Daerah bermasalah dan pengurangan biaya untuk bisnis seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). listrik. memastikan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum Tahun 2012. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. meningkatkan kemampuan dan peran Republik Indonesia dalam diplomasi ekonomi dan keuangan internasional. (iv) . memastikan pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi.

Bentuk dukungan pemerintah bergradasi dari nol hingga pemerintah yang membangun terlebih dahulu baru dikerjasamakan dengan swasta. b. (iv) Isu renewable energy dengan program aksi: menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak. layak secara ekonomi tetapi tidak layak finansial. Dibuat ketentuan peralihan yang berisi : bagi badan usaha yang telah menandatangani Perjanjian Kerjasama sebelum berlakunya Perpres 67/2005 dan mengalami penurunan kelayakan investasi maka diberlakukan Perpres ini. (iii) Isu Revitalisasi Peran Pemerintah dalam Percepatan Pembangunan Infrastruktur dengan program aksi perlu dipersiapkan pengaturan mengenai negosiasi pada IPP Kelistrikan. (iii) Isu investasi dan kemandirian pengelolaan energi dengan program aksi memberikan insentif khusus (fiskal) untuk pelaksanaan optimalisasi produksi migas. UU 33/2004. . (v) Isu Pembiayaan dengan program aksi kejelasan lanjutan pemutihan KUT.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 42 – Hasil Temu Nasional di beberapa bidang meliputi: Bidang Infrastruktur. (iv) Isu Peraturan yang tidak sinkron dengan program aksi melakukan Revisi Keppres 80/2003. dengan program aksi Pengelolaan dana BLU Tanah dan Land Capping sebaiknya berada di 1 tangan (DJ-BM) supaya kontrolnya jelas dan birokrasinya lebih sederhana. Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi BBM. Revisi Perpres 67/2005: PPP diatur dengan memahami kondisi investasi infrastruktur yang layak secara finansial. (ii) Isu sistem harga yang kompetitif dengan program aksi: Merevisi Perpres No. dengan program aksi: a. memberikan insentif untuk pembangunan refinery baru. PP 54/2005 dan PP 54/2008. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN. Menerbitkan Perpres tentang proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10. menerbitkan Perpres untuk penurunan pajak 5 persen dalam jangka waktu 15 tahun untuk PLTP (Panas Bumi). (ii) Isu skema Public Private Partnership (PPP). Revisi Perpres 67/2005: Pemerintah memberikan dukungan agar investasi yang tidak layak menjadi layak melalui berbagai kebijakan antara lain: Sistem tender disederhanakan dan dimungkinkan penunjukan langsung. sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan.000 MW tahap II. dan tidak layak ekonomi dan tidak layak finansial. Ide proyek dari investor (unsolicited) dimungkinkan. Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi listrik. Bidang Energi. memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM. program aksi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan untuk menanggapi isu-isu yang berkembang antara lain: (i) Isu jaminan pasokan energi dengan program aksi merevisi Perpres 71 Tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM tertentu. program aksi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan untuk menanggapi isuisu yang berkembang antara lain: (i) Isu pengadaan tanah. (vi) Isu Pengembangan dan Penerapan Teknologi dengan program aksi penghapusan bea masuk alat dan mesin pertanian sepanjanng tidak menghambat industri dalam negeri.

RPJM ke-2 ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. insentif potongan PPh 5 persen bagi perusahaan yang melakukan R&D. Penyempurnaan KMK No 575 Tahun 2000 dan penerbitan peraturan percepatan restitusi pajak sehingga paling lambat 3 bulan. sheet dan crepe.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 43 – Bidang Industri dan Jasa. (iv) Isu Kepabeanan dengan program aksi : Review prosedur pemeriksaan bea cukai agar tidak terjadi pemeriksaan ganda. VAT dikembalikan kepada wisatawan. 34/1996 ttg BMAD & BM Imbalan. dan pelayanan di dalam negeri. pencapaian. (ii) memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan di setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi. Penghapusan VAT untuk industri media (kertas dan koran). dan penciptaan . dan sebagai keberlanjutan RPJM ke-1. Transparansi dalam penetapan nilai pabean. akan menjadikan Indonesia siap menghadapi tantangan-tantangan globalisasi dan mampu memanfaatkan peluang yang ada. (viii) Isu Pariwisata dengan program aksi: menghapus pajak barang mewah atas bahan makanan dan minuman. pemanfaatan. Kemampuan bangsa untuk berdaya saing tinggi adalah kunci bagi tercapainya kemajuan dan kemakmuran bangsa. 3. Percepatan operasionalisasi National Single Window. 7 hari seminggu. 7 hari seminggu.1. program aksi yang dilaksanakan Kementerian Keuangan untuk menanggapi isu-isu yang berkembang antara lain: (i) Isu infrastruktur transport dengan program aksi operasional seluruh pihak berwenang di pelabuhan menjadi 24 jam sehari. Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yg melakukan pelatihan peningkatan mutu SDM. (ii) Isu bank dan pendanaan dengan program aksi optimalisasi dan meningkatkan kemampuan LPEI sebagai lembaga pembiayaan ekspor (trade finance) (iii) Isu perpajakan dengan program aksi diperlukan UU tentang "Pengampunan Pajak" untuk semua lapisan wajib pajak. pembebasan PPN atas bahan baku perak. Penghapusan PNBP dokumen untuk perusahaan Freight Forwarder. (vi) Isu bahan baku/struktur industry dengan program aksi: penetapan pajak ekspor untuk produkproduk mentah (bahan baku). Amandemen UU PPN antara lain (Restitusi PPN bisa dilakukan setiap bulan. Untuk memperkuat daya saing bangsa. pembangunan nasional dalam jangka panjang diarahkan untuk (i) mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. Pajak Masukan dalam masa belum produksi dapat dikreditkan seluruhnya dan tidak perlu dibayar kembali). (vii) Isu teknologi dengan program aksi : penyediaan anggaran R&D lebih besar oleh pemerintah dengan alokasi yang efektif dan efisien. (iii) meningkatkan penguasaan. crumb rubber.1 Prioritas Nasional di Bidang Keuangan Berlandaskan pelaksanaan. Reformasi kepabeanan melalui jalur prioritas dapat ditingkatkan dan diperluas kepada perusahaan yang memenuhi persyaratan. Jam kerja kepabeanan 24 jam sehari. (v) Isu Pasar dengan program aksi Review PP No. Daya saing yang tinggi. distribusi.

peningkatan kontribusi lembaga jasa keuangan`bank dan nonbank dalam pendanaan pembangunan terutama peningkatan akses pendanaan bagi keluarga miskin. Pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi untuk meningkatkan profesionalisme aparatur negara dan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Perekonomian dikembangkan berlandaskan prinsip demokrasi ekonomi yang memperhatikan kepentingan nasional sehingga terjamin kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh masyarakat dan mendorong tercapainya penanggulangan kemiskinan. Selain itu. baik jangka pendek maupun jangka panjang.000 . setiap jenis investasi. serta peningkatan kualitas pertumbuhan perbankan nasional. Kepentingan utama pembiayaan pemerintah adalah penciptaan pembiayaan pembangunan yang dapat menjamin kemampuan peningkatan pelayanan publik.5 persen pada Tahun 2014.5 persen. nilai produk domestik bruto (PDB) akan mengalami kenaikan yang cukup signifikan. serta (v) melakukan reformasi di bidang hukum dan aparatur negara. rata-rata pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5. di pusat maupun di daerah agar mampu mendukung keberhasilan pembangunan di bidang-bidang lainnya. Perbaikan pengelolaan keuangan negara bertumpu pada sistem anggaran yang transparan. semakin beragamnya lembaga keuangan akan memberikan alternatif pendanaan lebih banyak bagi seluruh lapisan masyarakat.2014 diperkirakan mencapai 6. Pertumbuhan ini secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi lima tahun terakhir. Secara nominal. sumber utama penerimaan dalam negeri yang berasal dari pajak. prasarana dan sarana fisik serta ekonomi. Dalam lima tahun ke depan. sejak Tahun 2010 kenaikan nilai PDB nominal mencapai lebih dari 800 triliun rupiah. Sektor keuangan dikembangkan agar senantiasa memiliki kemampuan di dalam menjaga stabilitas ekonomi dan membiayai tujuan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas serta mampu memiliki daya tahan terhadap kemungkinan gejolak krisis melalui implementasi sistem jaring pengaman sektor keuangan Indonesia. baik di dalam penyediaan pelayanan dasar. baik di perdesaan maupun di perkotaan.7 persen. dan (iv) membangun infrastruktur yang maju. dan dapat menjamin efektivitas pemanfaatan. Dalam rangka meningkatkan kemandirian. sehingga pada Tahun 2014 nilai PDB nominal berada pada kisaran 10.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 44 – pengetahuan. sementara rata-rata pertumbuhan ekonomi selama Tahun 2010 . bertanggung jawab. Dalam kurun waktu 2004 2009. maupun mendukung peningkatan daya saing ekonomi. peran pinjaman luar negeri dijaga pada tingkat yang aman. Dengan demikian. Sementara itu. akan memeroleh sumber pendanaan yang sesuai dengan karakteristik jasa keuangan. bea dan cukai terus ditingkatkan efektivitasnya. dan kepentingan nasional dengan mengutamakan kelompok masyarakat yang masih lemah. Optimisme ini muncul seiring dengan pemulihan ekonomi dunia yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya sekaligus pemulihan pada sektor keuangan. serta menjaga kemandirian dan kedaulatan ekonomi bangsa. Setiap tahunnya. pertumbuhan ekonomi akan mengalami kenaikan dari 5.5 persen pada Tahun 2010 menjadi 7. komitmen nasional di berbagai fora perjanjian ekonomi internasional. Pengelolaan kebijakan perekonomian perlu memperhatikan secara cermat dinamika globalisasi.

indeks harga saham dan harga-harga komoditas mengarah pada satu titik perbaikan. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga akhir Tahun 2009 sehingga selama Tahun 2009 ratarata nilai tukar rupiah sebesar Rp10. Iklim investasi yang semakin kondusif. sejalan dengan inflation targeting. Kondisi perekonomian yang semakin membaik dan stabilitas harga yang terjaga akan mampu mengerem gejolak kenaikan harga-harga komoditas. Dalam lima tahun ke depan. Stabilnya nilai tukar ini akan berdampak positif pada perdagangan dunia dan produk Indonesia di pasar internasional akan semakin kompetitif. yang pada gilirannya akan mendongkrak ekspor negara kita ke beberapa negara lain di dunia.5 persen. Pada Tahun 2010 inflasi nasional diperkirakan mencapai 5 persen sedikit lebih tinggi dari perkiraan inflasi Tahun 2009. ekspor dan impor. Setelah menembus angka Rp12.000 per US$1 pada Maret 2009.500 per US$1. lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Namun dalam perjalanannya. sejalan dengan situasi ekonomi dan keuangan yang semakin stabil dan tingkat inflasi yang terjaga. Krisis global yang melanda dunia. meskipun belum sesuai rencana. Pendapatan masyarakat dunia yang meningkat sebagai imbas dari perbaikan ekonomi dunia akan meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa. inflasi nasional mencapai 2. Hampir semua indikator ekonomi seperti inflasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 45 – triliun rupiah.5 persen.500 per UD$1.000 per US$1. secara bertahap suku bunga SBI 3 bulan ini akan menurun hingga mencapai 5 persen pada Tahun 2014. Sampai dengan akhir September 2009. Pada Tahun 2010. secara perlahan rupiah terus mengalami apresiasi dan pada Oktober 2009 nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp9. Peningkatan investasi ini diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru yang dapat menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan penduduk dan akhirnya akan berakibat pada peningkatan konsumsi. tingkat inflasi ini mengalai penurunan sehingga pada Tahun 2014 dapat mencapai kisaran 3. sejalan dengan membaiknya indikator ekonomi. Terjaganya indikator-indikator ini memberikan cukup ruang bagi Bank Indonesia untuk menyesuaikan kembali tingkat suku bunganya. Peningkatan ekspor ini akan merangsang aktivitas ekonomi domestik dalam meningkatkan dan memperluas produksi sehingga daya tarik negara kita terhadap para investor asing akan semakin meningkat. Perekonomian dunia yang membaik juga memberikan andil bagi peningkatan produksi dalam negeri. nilai tukar rupiah. Dalam lima tahun ke depan.4 persen.8 persen (yoy). Dan masalah pengangguran merupakan permasalahan klasik tiap negara. Perbaikan kondisi ekonomi Tahun 2009 berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan. SBI 3 bulan diperkirakan mencapai 6. berdampak pula pada menurunnya jumlah lapangan kerja. Hal ini berakibat pada tingkat inflasi lima tahun ke depan. Pada Tahun 2009 angka pengangguran di Indonesai. Meningkatnya nilai PDB ini tidak terlepas dari peranan semua komponen yang mendukung dan memberikan kontribusi pada PDB seperti konsumsi. Dengan semakin meningkatnya investasi di . telah mengalami penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya.500 dan rupiah mengalami penguatan. suku bunga SBI 3 bulan diproyeksikan mencapai 7. Sampai dengan akhir Tahun 2009. stabilitas ekonomi yang terjaga serta kebijakan ekonomi yang pruden menjadi nilai tambah tersendiri dalam menarik investasi baik asing maupun domestik. indeks haraga saham mengalami kenaikan hingga mencapai 2. nilai tukar rupiah tidak akan mengalami fluktuasi dan berada pada kisaran Rp10. ivestasi.5 . Nilai ini hampir mendekati dua kali lipat nilai PDB Tahun 2009.

makin luasnya lapangan kerja yang terbentuk.5 persen. akuntabel. Oleh karena itu. kemiskinan juga menjadi salah satu permasalahan dan tantangan berat yang perlu segera dicari jalan keluarnya. perlu dirumuskan dan dijabarkan lebih operasional ke dalam sejumlah program aksi prioritas sehingga lebih mudah diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. pemanfaatan sumber daya kelautan. Sebagian besar sumber daya dan kebijakan akan diprioritaskan untuk menjamin implementasi dari 11 prioritas nasional yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. dan inovasi teknologi. Sebelas Program aksi di bawah ini dipandang mampu menjawab sejumlah tantangan yang dihadapi oleh bangsa dan negara di masa mendatang. Peningkatan kualitas pelayanan publik yang ditopang oleh efisiensi struktur pemerintah di pusat dan di daerah. (4) penanggulangan kemiskinan.3 juta orang pada 2006 menjadi 32.75 persen pada 2006 menjadi 14. dan Lembaga Administrasi Negara (LAN) pada 2010. taat kepada hukum yang berwibawa. Dalam lima tahun ke depan sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah Tahun 2010 . Seperti halnya pengangguran. pengelolaan energi. selama periode 2006-2009 jumlah penduduk miskin mengalami penurunan yang cukup drastis dari 39. (2) pendidikan. . (8) energi. (6) infrastruktur. dan makin mudahnya akses penduduk terhadap sumber-sumber ekonomi. Prioritas 1: Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemantapan tata kelola pemerintahan yang lebih baik melalui terobosan kinerja secara terpadu. (5) ketahanan pangan. maka penurunan tingkat pengangguran diperkirakan masih tetap berlangsung pada tahun-tahun mendatang. untuk periode Tahun 2010-2014 pemerintah menargetkan penurunan angka pengangguran secara bertahap dari 8 persen pada 2010 persen menjadi 5 persen pada Tahun 2014. kretivitas.53 juta orang pada Tahun 2009 atau tingkat pengangguran menurun dari 17. angka kemiskinan ini diproyeksikan mengalami penurunan lebih lanjut. (10) daerah tertinggal. seperti di bidang keberdayaan UMKM. Pada Tahun 2010 tingkat kemiskinan diperkirakan mencapai 13 persen dan pada Tahun 2014 pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan berada pada kisaran 8. restrukturisasi lembaga pemerintah lainnya. dan paska konflik. Struktur: Konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kementerian/lembaga yang menangani aparatur negara yaitu Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN). PRIORITAS NASIONAL Visi dan Misi pemerintah 2009-2014. (3) kesehatan. dan transparan. kapasitas pegawai pemerintah yang memadai. Badan Kepegawaian Negara (BKN). dan data kependudukan yang baik. Oleh karena itu.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 46 – dalam negeri. restrukturisasi BUMN. terluar. serta (11) kebudayaan. penuh integritas. terdepan. (9) lingkungan hidup dan bencana.15 persen pada Tahun 2009. substansi inti dari reformasi birokrasi dan tata kelola adalah : 1. (7) iklim investasi dan usaha. Menurut data historis. hingga pemanfaatan tanah dan penataan ruang bagi kepentingan rakyat banyak selambat-lambatnya 2014.2014.

3. 3. budi pekerti. Penegakan Hukum: Peningkatan integrasi dan integritas penerapan dan penegakan hukum oleh seluruh lembaga dan aparat hukum. 6. kecintaan terhadap budaya bahasa Indonesia melalui penyesuaian sistem Ujian Akhir Nasional pada 2011 dan penyempurnaan kurikulum sekolah dasar-menengah sebelum tahun 2011 yang diterapkan di 25% sekolah pada 2012 dan 100% pada 2014. 7. kemandirian. penempatan. Sinergi antara pusat dan daerah: Penetapan dan penerapan sistem Indikator Kinerja Utama Pelayanan Publik yang selaras antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 47 – 2. Pembangunan bidang pendidikan diarahkan demi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang didukung keselarasan antara ketersediaan tenaga terdidik dengan kemampuan: 1) menciptakan lapangan kerja atau kewirausahaan dan 2) menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja. pendidikan. Akses pendidikan tinggi: Peningkatan APK pendidikan tinggi dari 18% di 2009 menjadi 25% di 2014. promosi. dan mutasi PNS secara terpusat selambat-lambatnya 2011. Sumber daya manusia: Penyempurnaan pengelolaan PNS yang meliputi sistem rekrutmen. substansi inti program aksi bidang pendidikan adalah sebagai berikut: 1. dan karakter bangsa yang kuat.000 peraturan daerah selambatlambatnya 2011. Prioritas 2: Pendidikan Peningkatan akses pendidikan yang berkualitas. keluhuran budi pekerti. Otonomi daerah: Penataan otonomi daerah melalui: 1) Penghentian/pembatasan pemekaran wilayah. namun pendidikan menyeluruh yang memperhatikan kemampuan sosial. Akses pendidikan dasar-menengah: Peningkatan Angka Partisipasi Murni (APM) pendidikan dasar dari 95% di 2009 menjadi 96% di 2014 dan APM pendidikan setingkat SMP dari 73% menjadi 76% dan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan setingkat SMA dari 69% menjadi 85%. Metodologi: Penerapan metodologi pendidikan yang tidak lagi berupa pengajaran demi kelulusan ujian (teaching to the test). relevan. Pemantapan/rasionalisasi implementasi BOS. . Oleh karena itu. terjangkau. penurunan harga buku standar di tingkat sekolah dasar dan menengah sebesar 30-50% selambat-lambatnya 2012 dan penyediaan sambungan internet ber-content pendidikan ke sekolah tingkat menengah selambat-lambatnya 2012 dan terus diperluas ke tingkat sekolah dasar. 2) Peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan dana perimbangan daerah. 5. dan 3) penyempurnaan pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Data Kependudukan: Penetapan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan pengembangan Sistem Informasi dan Administrasi Kependudukan (SIAK) dengan aplikasi pertama pada Kartu Tanda Penduduk selambat-lambatnya pada 2011. 2. watak. Regulasi: Percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangan di tingkat pusat maupun daerah hingga tercapai keselarasan arah dalam implementasi pembangunan. dan efisien menuju terangkatnya kesejahteraan hidup rakyat. 4. diantaranya penyelesaian kajian 12.

3.000 kelahiran pada 2008 menjadi 118 pada 2014. Penurunan tingkat kematian ibu saat melahirkan dari 307 per 100. revitalisasi peran Pengawas Sekolah sebagai entitas quality assurance. Obat: Pemberlakuan Daftar Obat Esensial Nasional sebagai dasar pengadaan obat di seluruh Indonesia dan pembatasan harga obat generik bermerek pada 2010. Oleh karena itu. dan Dewan Pendidikan di tingkat Kabupaten. Bantuan Sosial Terpadu: Integrasi program perlindungan sosial berbasis keluarga yang mencakup program Bantuan Langsung Tunai (BLT) baik yang bersifat insidensial atau . pemberdayaan masyarakat dan perluasan kesempatan ekonomi masyarakat yang berpendapatan rendah. dan sekolah sehingga dapat mendorong penciptaan hasil didik yang mampu menjawab kebutuhan SDM untuk mendukung pertumbuhan nasional dan daerah dengan memasukkan pendidikan kewirausahaan (diantaranya mengembangkan model link and mach. Penyediaan akses sumber air bersih yang menjangkau 67% penduduk dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas yang menjangkau 75% penduduk sebelum 2014. Program kesehatan masyarakat: Pelaksanaan Program Kesehatan Preventif Terpadu yang meliputi pemberian imunisasi dasar kepada 90% balita pada 2014. serta tingkat kematian bayi dari 34 per 1.500 klinik pemerintah dan swasta selama 2010-2014. nasional. Prioritas 4: Penanggulangan Kemiskinan Penurunan tingkat kemiskinan absolut dari 14. 2. Sarana kesehatan: Ketersediaan dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit berakreditasi internasional di minimal 5 kota besar di Indonesia dengan target 3 kota pada 2012 dan 5 kota pada 2014.1% pada 2009 menjadi 8-10% pada 2014 dan perbaikan distribusi perawatan dengan pelindungan sosial yang berbasis keluarga. pengurangan wilayah kumuh sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan angka harapan hidup dari 70. substansi inti program aksi bidang kesehatan adalah sebagai berikut: 1. Kurikulum: Penataan ulang kurikulum sekolah yang dibagi menjadi kurikulum tingkat. mendorong aktivasi peran Komite Sekolah untuk menjamin keterlibatan pemangku kepentingan dalam proses pembelajaran. melalui peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan diantaranya dengan perluasan penyediaan air bersih.6 tahun pada 2009 menjadi 72.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 48 – 4.000 kelahiran pada 2008 menjadi 24 pada 2014. Pengelolaan: Pemberdayaan peran Kepala Sekolah sebagai manager sistem pendidikan yang unggul. daerah.) 5. 4. Oleh karena itu. tidak hanya kuratif. Program KB: Peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB melalui 23. Asuransi Kesehatan Nasional: Penerapan Asuransi Kesehatan Nasional untuk seluruh keluarga miskin dengan cakupan 100% pada 2011 dan diperluas secara bertahap untuk keluarga Indonesia lainnya antara 2012-2014. substansi inti program aksi penanggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut: 1. Prioritas 3: Kesehatan Penitikberatan pembangunan bidang kesehatan melalui pendekatan preventif. dan pencapaian keseluruhan sasaran Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015. 5.0 tahun pada 2014.

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). pertanian. PNPM Mandiri: Penambahan anggaran PNPM Mandiri dari Rp 10. 3. 5. Pengembangan Kawasan dan Tata Ruang Pertanian: Penataan regulasi untuk menjamin kepastian hukum atas lahan pertanian. Investasi. 4. program keluarga harapan.1 trilyun pada 2010. pengairan. dan terjangkau. pupuk.7% per tahun dan Indeks Nilai Tukar Petani sebesar 115-120 pada 2014. peningkatan pendapatan petani. 2. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. 2. Kredit Usaha Rakyat (KUR): Pelaksanaan penyempurnaan mekanisme penyaluran KUR mulai 2010 dan perluasan cakupan KUR mulai 2011. penertiban serta optimalisasi penggunaan lahan terlantar. pengembangan areal pertanian baru seluas 2 juta hektar. substansi inti program aksi ketahanan pangan adalah sebagai berikut: 1. Penelitian dan Pengembangan: Peningkatan upaya penelitian dan pengembangan bidang pertanian yang mampu menciptakan benih unggul dan hasil peneilitian lainnya menuju kualitas dan produktivitas hasil pertanian nasional yang tinggi. 3. peningkatan daya saing produk pertanian. tepat jumlah. Infrastruktur: Pembangunan dan pemeliharaan sarana transportasi dan angkutan. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. Pembiayaan. jaminan sosial bidang kesehatan. penggunaan unified database untuk penetapan sasaran program mulai 2009-2010. bantuan pangan. Peningkatan pertumbuhan PDB sektor pertanian sebesar 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 49 – kepada kelompok marginal. Pangan dan Gizi: Peningkatan kualitas gizi dan keanekaragaman pangan melalui pola pangan harapan. Prioritas 5: Ketahanan Pangan Peningkatan ketahanan pangan dan lanjutan revitalisasi pertanian untuk mewujudkan kemandirian pangan. pemenuhan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Rp 3 milyar per kecamatan untuk minimal 30% kecamatan termiskin di pedesaan. beasiswa bagi anak keluarga berpendapatan rendah.3 trilyun pada 2009 menjadi Rp 12. dan penerapan sistem monitoring dan evaluasi yang akurat sebagai dasar keputusan dan alokasi anggaran. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. Tim Penanggulangan Kemiskinan: Revitalisasi Komite Nasional Penanggulangan Kemiskinan di bawah koordinasi Wakil Presiden. Lahan. dan Parenting Education mulai 2010 dan diperluas menjadi program nasional mulai 20112012. dan integrasi secara selektif PNPM Pendukung. serta kelestarian lingkungan dan sumber daya alam. jaringan listrik. serta teknologi komunikasi dan sistem informasi nasional yang melayani daerahdaerah sentra produksi pertanian demi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi serta kemampuan pemasarannya. Oleh karena itu. . 4. dan Subsidi: Dorongan untuk investasi pangan.

Perumahan rakyat: Pembangunan 685. 3. 7.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 50 – 6. Kepastian hukum: Reformasi regulasi secara bertahap di tingkat nasional dan daerah sehingga terjadi harmonisasi peraturan perundang-undangan yang tidak menimbulkan ketidakjelasan dan inkonsistensi dalam implementasinya. Jawa. . penyederhanaan prosedur. 180 Rusunami dan 650 twin block berikut fasilitas pendukung kawasan permukiman yang dapat menampung 836. substansi inti program aksi bidang iklim investasi dan iklim usaha adalah sebagai berikut: 1. dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Tanah dan tata ruang: Konsolidasi kebijakan penanganan dan pemanfaatan tanah untuk kepentingan umum secara menyeluruh di bawah satu atap dan pengelolaan tata ruang secara terpadu. Jalan: Penyelesaian pembangunan Lintas Sumatera. Perhubungan: Pembangunan jaringan prasarana dan penyediaan sarana transportasi antar-moda dan antar-pulau yang terintegrasi sesuai dengan Sistem Transportasi Nasional dan Cetak Biru Transportasi Multimoda dan penurunan tingkat kecelakaan transportasi sehingga pada 2014 lebih kecil dari 50% keadaan saat ini. Bali. Kalimantan. 4. Telekomunikasi: Penuntasan pembangunan jaringan serat optik di Indonesia bagian timur sebelum 2013 dan maksimalisasi tersedianya akses komunikasi data dan suara bagi seluruh rakyat. substansi inti program aksi bidang infrastruktur adalah sebagai berikut: 1. Prioritas 6: Infrastruktur Pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan daya gerak terhadap pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan mengutamakan kepentingan masyarakat umum di seluruh bagian negara kepulauan Republik Indonesia dengan mendorong partisipasi masyarakat. termasuk penyelesaian pembangunan angkutan kereta listrik di Jakarta (MRT dan Monorail) selambatlambatnya 2014. Sulawesi. Medan) sesuai dengan Cetak Biru Transportasi Perkotaan. Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Pengendalian banjir: Penyelesaian pembangunan prasarana pengendalian banjir. Prioritas 7: Iklim Investasi dan Iklim Usaha Peningkatan investasi melalui perbaikan kepastian hukum.000 Rumah Sederhana Sehat Bersubsidi. 5.000 keluarga yang kurang mampu pada 2012. Nusa Tenggara Timur. Transportasi perkotaan: Perbaikan sistem dan jaringan transportasi di 4 kota besar (Jakarta.370 km pada 2014. dan Papua sepanjang total 19. 2. Adaptasi Perubahan Iklim: Pengambilan langkah-langkah kongkrit terkait adaptasi dan antisipasi sistem pangan dan pertanian terhadap perubahan iklim. Surabaya. Bandung. perbaikan sistem informasi. diantaranya Banjir Kanal Timur Jakarta sebelum 2012 dan penanganan secara terpadu Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo sebelum 2013. 6.

000 MW per tahun mulai 2010 dengan rasio elektrifikasi yang mencakup 62% pada 2010 dan 80% pada 2014. Restrukturisasi BUMN: Transformasi dan konsolidasi BUMN bidang energi dimulai dari PLN dan Pertamina yang selesai selambat-lambatnya 2010 dan diikuti oleh BUMN lainnya. pembatalan perda bermasalah dan pengurangan biaya untuk memulai usaha seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP). Logistik nasional: Pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan di Palembang. Oleh karena itu.2 juta barrel per hari mulai 2014. KEK: Pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum 2012. Surabaya. microhydro. Konversi menuju penggunaan gas: Perluasan program konversi minyak tanah ke gas sehingga mencakup 42 juta Kepala Keluarga pada 2010.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 51 – 2. 6. Energi alternatif: Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan termasuk energi alternatif geothermal sehingga mencapai 2. 4. 4. 3.000 MW pada 2012 dan 5. 5. Prioritas 8: Energi Pencapaian ketahanan energi nasional yang menjamin kelangsungan pertumbuhan nasional melalui restrukturisasi kelembagaan dan optimasi pemanfaatan energi alternatif seluas-luasnya. Kebijakan ketenagakerjaan: Sinkronisasi kebijakan ketenagakerjaan dan iklim usaha dalam rangka penciptaan lapangan kerja. Sistem informasi: Beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor. substansi inti program aksi bidang energi adalah sebagai berikut: 1. dan nuklir secara bertahap. 2. Kebijakan: Pengambilan kewenangan atas kebijakan energi ke dalam Kantor Presiden untuk memastikan penanganan energi nasional yang terintegrasi sesuai dengan Rencana Induk Energi Nasional. 5. Percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Custom Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. Penyederhanaan prosedur: Penerapan sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik (SPSIE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota yang dimulai di Batam.000 MW pada 2014 dan dimulainya produksi coal bed methane untuk membangkitkan listrik pada 2011 disertai pemanfaatan potensi tenaga surya. dan produksi minyak bumi sebesar lebih dari 1. Kapasitas energi: Peningkatan kapasitas pembangkit listrik sebesar rata-rata 3. pupuk dan industri hilir lainnya. 3. dan Denpasar. Hasil ikutan dan turunan minyak bumi/gas: Revitalisasi industri pengolah hasil ikutan/turunan minyak bumi dan gas sebagai bahan baku industri tekstil. . 6.

Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH). Pengendalian Kerusakan Lingkungan: Penurunan beban pencemaran lingkungan melalui pengawasan ketaatan pengendalian pencemaran air limbah dan emisi di 680 kegiatan industri dan jasa pada 2010 dan terus berlanjut. Papua Nugini. terluar. dan Dana Reboisasi. dan penekanan laju deforestasi secara sungguh-sungguh diantaranya melalui kerjasama lintas kementerian terkait serta optimalisasi dan efisiensi sumber pendanaan seperti dana Iuran Hak Pemanfaatan Hutan (IHPH). Terdepan. Penghentian kerusakan lingkungan di 11 Daerah Aliran Sungai yang rawan bencana mulai 2010 dan seterusnya. Sistem Peringatan Dini: Penjaminan berjalannya fungsi Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS) dan Sistem Peringatan Dini Cuaca (MEWS) mulai 2010 dan seterusnya. . dan pasca-konflik ditujukan untuk pengutamaan dan penjaminan pertumbuhan di daerah tertinggal. dan Pasca-Konflik Program aksi untuk daerah tertinggal. substansi inti program aksi bidang lingkungan hidup dan pengelolaan bencana adalah sebagai berikut: 1. Prioritas 10: Daerah Tertinggal. 3. dan 2) pembentukan tim gerak cepat (unit khusus penanganan bencana) dengan dukungan peralatan dan alat transportasi yang memadai dengan basis di dua lokasi strategis (Jakarta dan Malang) yang dapat menjangkau seluruh wilayah Indonesia. terdepan. 2. 2. Penanggulangan bencana: Peningkatan kemampuan penanggulangan bencana melalui: 1) penguatan kapasitas aparatur pemerintah dan masyarakat dalam usaha mitigasi risiko serta penanganan bencana dan bahaya kebakaran hutan di 33 propinsi. Oleh karena itu. Kerjasama internasional: Pembentukan kerjasama dengan negara-negara tetangga dalam rangka pengamanan wilayah dan sumber daya kelautan.000 ha per tahun. dan pasca-konflik selambat-lambatnya dimulai pada 2011. terluar. terdepan. 4. terdepan. Perubahan iklim: Peningkatan keberdayaan pengelolaan lahan gambut. terluar serta keberlangsungan kehidupan damai di wilayah pasca-konflik dengan substansi inti sebagai berikut: 1. serta Sistem Peringatan Dini Iklim (CEWS) pada 2013. Terluar. Keutuhan wilayah: Penyelesaian pemetaan wilayah perbatasan RI dengan Malaysia. dan Filipina pada 2010. Penurunan jumlah hotspot kebakaran hutan sebesar 20% per tahun dan penurunan tingkat polusi keseluruhan sebesar 50% pada 2014. Kebijakan: Pelaksanaan kebijakan khusus dalam bidang infrastruktur dan pendukung kesejahteraan lainnya yang dapat mendorong pertumbuhan di daerah tertinggal. peningkatan hasil rehabilitasi seluas 500.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 52 – Prioritas 9: Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana Konservasi dan pemanfaatan lingkungan hidup mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang keberlanjutan. Timor Leste. disertai penguasaan dan pengelolaan risiko bencana untuk mengantisipasi perubahan iklim. 3.

2. 5. dan Inovasi Teknologi Pengembangan dan perlindungan kebhinekaan budaya.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 53 – 4. Untuk mendukung Prioritas Nasional Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola pada Substansi Inti Otonomi daerah tentang Peningkatan Efisiensi dan Efektivitas Penggunaan Dana Perimbangan Daerah. pangan. Indikator Kinerja Kegiatan tersebut adalah (1) Persentase jumlah kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dapat . dan antisipasi perubahan iklim. Kreativitas. ilmu pengetahuan. sesuai dengan Tugas dan Fungsinya. (2) Ketahanan Pangan. kreativitas. dan inovasi teknologi adalah sebagai berikut: 1. Monitoring dan Evaluasi di bidang Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). Terkait dengan 11 Prioritas Nasional diatas. Penciptaan dan Inovasi dan memudahkan akses dan penggunaannya oleh masyarakat luas. Daerah tertinggal: Pengentasan daerah tertinggal di sedikitnya 50 kabupaten paling lambat 2014. Prioritas 11: Kebudayaan. 3. Sarana: Penyediaan sarana yang memadai bagi pengembangan. diantaranya Penyelesaian Kajian 12. pendalaman dan pagelaran seni budaya di kota besar dan ibu kota kabupaten selambat-lambatnya Oktober 2012. substansi inti program aksi bidang kebudayaan. untuk memperkaya khazanah artistik dan intelektual bagi tumbuh-mapannya jati diri dan kemampuan adaptif kompetitif bangsa yang disertai pengembangan inovasi. Bimbingan Teknis. dan pengembangan penguasaan teknologi dan kreativitas pemuda. Kementerian Keuangan mendukung 3 (tiga) Prioritas Nasional yaitu: (1) Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola. Kebijakan: Peningkatan perhatian dan kesertaan Pemerintah dalam program-program seni budaya yang diinisiasi oleh masyarakat dan mendorong berkembangnya apresiasi terhadap kemajemukan budaya. Perawatan: Penetapan dan pembentukan pengelolaan terpadu untuk pengelolaan Cagar Budaya. dan (3) Iklim Investasi dan Iklim Usaha. Inovasi Teknologi: Peningkatan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif yang mencakup pengelolaan sumber daya maritim menuju ketahanan energi. 4. revitalisasi museum dan perpustakaan di seluruh Indonesia sebelum Oktober 2011.000 Peraturan Daerah selambat-lambatnya 2011. dan Pengelolaan Transfer Ke Daerah. karya seni. Penciptaan: Pengembangan kapasitas nasional untuk pelaksanaan Penelitian. Kementerian Keuangan melaksanakan Kegiatan Prioritas Nasional Perumusan Kebijakan. pada Substansi Inti Regulasi tentang Percepatan Harmonisasi dan Sinkronisasi Peraturan Perundangan di Tingkat Pusat maupun Daerah hingga Tercapai Keselarasan Arah Dalam Implementasi Pembangunan. dan teknologi yang dilandasi oleh keunggulan Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan. Kementerian Keuangan melaksanakan Kegiatan Prioritas Nasional Perumusan Kebijakan. Bimbingan Teknis. Indikator Kinerja Kegiatan tersebut adalah (1) Persentase ketepatan jumlah penyaluran jumlah dana transfer ke daerah dan (2) Ketepatan waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah. Selain itu. dan ilmu serta apresiasinya. Oleh karena itu.

. pada Substansi Inti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tentang Pengembangan KEK di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum 2012. (2) Sistem informasi dan (3) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). pada Substansi Inti Logistik Nasional tentang Pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. Kegiatan Prioritas Nasional yang dilaksanakan yaitu: pertama. dan Subsidi tentang Dorongan untuk investasi pangan. PBB. KUP.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 54 – diimplementasikan. dan (2) Perumusan kebijakan di bidang PPh dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional. BPHTB. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. tepat jumlah. Kedua. dan industri pedesaan sesuai dengan persetujuan. Kementerian Keuangan melaksanakan Kegiatan Prioritas Nasional Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Fasilitas Bidang Kepabeanan dengan Indikator Kinerja Kegiatan yaitu (1) Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian fasilitas pembebasan dan keriganan bea masuk. Kegiatan Prioritas Nasional yang dilaksanakan Kementerian Keuangan yaitu Perumusan Kebijakan dan Pengembangan Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai dengan Indikator Kinerja Kegiatannya adalah Persentase sistem aplikasi dan infrastruktur TI yang sesuai dengan proses bisnis DJBC. (3) Persentase realisasi janji layanan public terkait pemberian tempat penimbunan berikat (TPB). Kementerian Keuangan melaksanakan 2 (dua) Kegiatan Prioritas Nasional yaitu (1) Perumusan kebijakan di bidang PPN. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. pertanian. Kementerian Keuangan dalam mendukung Prioritas Nasional Ketahanan Pangan pada Substansi Inti Investasi. (2) Persentase realisasi janji layanan public terkait pemberian fasilitas pertambangan. Pertama. dan terjangkau. dan (2) Penyediaan Anggaran secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menunjang program dibidang pangan. dan Bea Materai. pada Substansi Inti Sistem Informasi tentang Beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) dengan Indikator Kinerja Kegiatannya adalah Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Lain-lain (BSBL) yang lengkap dan tepat waktu. Adapun Indikator Kinerja Kegiatan Prioritas tersebut yaitu Persentase penyelesaian usulan pembuatan/revisi peraturan perundangan terhadap peraturan perundangan yang harus dibuat/direvisi. Kementerian Keuangan mendukung Prioritas Nasional Iklim Investasi dan Iklim Usaha pada 3 (tiga) Substansi Inti yaitu: (1) Logistik Nasional. Pembiayaan. pupuk. Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) dengan Indikator Kinerja Kegiatannya adalah (1) Pengalokasian belanja pemerintah pusat yang tepat waktu dan efisien. pertanian. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. Kedua. PPSP. dan (2) Realisasi janji pelayanan evaluasi Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal dalam bentuk rekomendasi Menteri Keuangan. dan Persentase penyelesaian rancangan PMK dan aturan pelaksanaan lainnya terkait sistem pelayanan kepabeanan yang menunjang Sistem Logistik Nasional (Customs Advance Trade System). Ketiga.

Selain itu. Yang kedua adalah Ekspor yang juga merupakan sumber bagi pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. yakni sisi permintaan dan sisi penawaran. Terbukanya lapangan pekerjaan baru dan peningkatan produktivitas pada akhirnya berimplikasi positif pada penghasilan yang diterima rakyat. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menggambarkan terjadinya peningkatan dan perluasan kegiatan ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi dapat didorong dari dua sisi. Terciptanya akumulasi modal dapat meningkatkan produktivitas seiring dengan tingkat investasi yang tinggi. Dari waktu ke waktu kinerja ekspor Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Dalam rangka penciptaan peningkatan kesejahteraan rakyat. dan peraturan yang rumit menyebabkan tingginya biaya operasional yang harus dibayar oleh para pengusaha bila dibandingkan dengan yang terjadi di negara lain. terutama melalui usaha perbaikan iklim investasi yang terus-menerus. pertumbuhan ekononomi yang tinggi dan berkelanjutan adalah elemen yang tidak bisa ditinggalkan. (2) penciptaan stabilitas ekonomi yang kokoh. peningkatan ekspor hendaknya dilakukan pada komoditi-komoditi yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar. Kondisi infrastruktur yang kurang memadai. Akibatnya nilai tambah dan daya saing ekspor Indonesia menjadi rendah. maka usaha untuk menarik investasi asing masuk Indonesia masih harus terus dilakukan. investasi masih terpusat pada daerah dan industri tertentu. . Hal ini bisa dilakukan jika biaya logistik mampu dikurangi secara berarti. Yang pertama adalah Investasi yang memegang peranan terbesar bagi pertumbuhan ekonomi. dalam RPJM 2010-2014 elemen-elemen utama pembangunan di bidang ekonomi yang harus mendapatkan perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh adalah : (1) pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Namun peningkatan kinerja masih didominasi oleh ekspor oleh bahan mentah yang sangat dipengaruhi oleh peningkatan harga di pasar internasional. Oleh karena kebutuhan investasi masih belum mampu dipenuhi oleh penanaman modal dalam negeri. Bersamaan dengan meningkatnya persaingan di pasar global. banyaknya pungutan liar. Dari sisi permintaan ada empat komponen utama di dalamnya yang perlu mendapatkan perhatian. Peningkatan tersebut akan mendorong pada terbukanya kesempatan kerja baru bagi rakyat. tingkat kesejahteraan rakyat akan meningkat. serta (3) pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 55 – PRIORITAS BIDANG EKONOMI Pembangunan bidang ekonomi ditujukan untuk menjawab berbagai permasalahan dan tantangan di berbagai bidang dan pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. disesuaikan dengan potensi atau sumber daya spesifik yang dimiliki daerah atau industri. Oleh sebab itu pembangunan bidang ekonomi harus dilaksanakan secara sinergi dengan bidang-bidang yang lain untuk mencapai peningkatan kesejahteraan rakyat. pertumbuhan ekonomi yang positif memungkinkan suatu negara untuk meningkatkan teknologi dan kemampuannya melakukan akumulasi modal (baik fisik maupun modal sumber daya manusia) yang kemudian akan berdampak positif pada produktivitas. Selain itu. langkah kebijakan diversifikasi dan penyebaran investasi harus secara intensif dilakukan. Bila hal ini berlangsung berkelanjutan. Dengan demikian.

sektor industri pertanian. Hal ini menjadi penting. Hal ini dikarenakan sektor industri manufaktur dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bila dibandingkan sektor industri berbasikan sumber daya alam. defisit anggaran akan menjadi membesar dan dapat mengancam keberlangsungan kebijakan fiskal ke depan. Kebijakan Menjaga Daya Beli. pemerintah dibatasi oleh ketersediaan anggaran yang dimiliki. tingkat pertumbuhan ekonomi. kehutanan. menutupi penurunan permintaan akibat turunnya investasi dan ekspor. terutama sektor swasta. Bila pengeluaran terlalu besar. sektor-sektor lain juga diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Volatilitas pada harga barang. Selain itu. pengeluaran yang terlalu besar juga dapat mengurangi porsi konsumsi dan investasi swasta dalam perekonomian (crowding out effect). kehutanan. Nilai tukar yang befluktuasi juga akan . yang membutuhkan kepastian dalam menjalankan usahanya yang pada gilirannya akan menmpengaruhi kesejahteraan masyarakat. terutama bila mengingat masih tingginya kontribusi konsumsi rumah tangga bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 56 – Ketiga. Untuk itu pemerintah perlu mengoptimalkan pengeluarannya seefektif dan seefisien mungkin. Daya beli rakyat akan dapat ditingkatkan apabila pendapatan masyarakat mengalami peningkatan. sementara penghasilannya tetap (daya beli rakyat turun). salah satu langkah kebijakan yang perlu dilakukan adalah menjaga tingkat inflasi. Meski tidak besar perannya. seperti sektor industri pertanian. terkait dengan pengeluarannya. masyarakat akan merasa sejahtera ketika dapat membeli kebutuhan sehari-hari dengan mudah. Hal ini tidak dapat terjadi bila harga meningkat tiba-tiba. tetapi pengeluaran pemerintah memiliki peran yang tidak kalah penting bila dibandingkan dengan komponen pertumbuhan ekonomi lainnya. Oleh sebab itu pula pemerintah harus lebih proaktif mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang ada yang mempengaruhi inflasi. Stabilitas Ekonomi yang Kokoh Stabilitas ekonomi makro merupakan elemen kedua yang tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan prasyarat bagi pertumbunan ekonomi. terutama di saat terjadi ancaman resesi ekonomi seperti yang terjadi saat ini. yang kemudian akan mendukung pula terciptanya pertumbuhan ekonomi. tingkat konsumsi rakyat juga akan terjaga. Pemberian stimulus fiskal diharapkan dapat mendorong peningkatan permintaan. Dalam rangka menciptakan stabilitas ekonomi yang kokoh. tingkat suku bunga. atau utang pemerintah dapat memberikan gangguan pada perekonomian. pertumbuhan ekonomi akan diperoleh melalui peningkatan produksi. Selain itu. Di luar sektor industri manufaktur. Dari sisi penawaran. Oleh karena itu dalam menjaga daya beli rakyat. terutama yang terkait dengan proses distribusi dan pergerakan harga di pasar internasional. Di sisi lain. Gejolak harga yang tinggi selain mengurangi daya beli masyarakat juga akan menimbulkan ketidakpastian dalam berusaha. dan perikanan masih diandalkan dalam mendorong peningkatan produksi. atau pertambangan. Stabilitas harga dan stabilitas nilai tukar harus dapat dijaga. Namun perlu menjadi perhatian. Perekonomian negara hanya dapat memberikan kinerja yang baik apabila didukung oleh kestabilan ekonomi yang kokoh. Bila daya beli terjaga. Keempat adalah Optimalisasi Pengeluaran Pemerintah. Sektor yang diharapkan menjadi pendorong utama peningkatan pertumbuhan ekonomi dari sisi produksi adalah sektor industri manufaktur.

Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil rakyat yang menikmati peningkatan kesejahteraan rakyat sehingga tidak sesuai dengan tujuan pembangunan bidang ekonomi. pembekalan. Tingkat defisit atau hutang yang terlalu tinggi akan meningkatkan ketidakpercayaan swasta kepada pemerintah. dan sebaliknya ketika nilai tukar melemah perekonomian akan dihantam oleh tingginya harga impor. Stabilitas ekonomi juga didukung oleh kebijakan fiskal yang berkelanjutan. terlepas dari latar belakang mereka. kebijakan-kebijakan seperti pelatihan. Pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan dapat memiliki dampak positif terhadap agenda pengurangan kemiskinan. Pembangunan ekonomi inklusif adalah pembangunan yang memberikan kesempatan pada seluruh anggota masyarakat untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam proses pertumbuhan ekonomi dengan status yang setara. kemiskinan. baik luar negeri dalam bentuk pinjaman luar negeri maupun dari pinjaman dalam negeri dalam bentuk penerbitan surat berharga negara (SBN). Kebijakan anggaran defisit akan mendorong pemerintah untuk mencari sumber pembiayaan. Dengan begitu semakin banyak orang yang terlibat dalam proses pembangunan. pengembangan sekolah menengah kejuruan (SMK) dapat memberikan tambahan skill bagi tenaga kerja sehingga memudahkan untuk dapat mengisi lowongan kerja yang tersedia. stabiilitas sektor keuangan ini harus menjadi fokus utama dalam mendukung stabilitas ekonomi yang kokoh. Krisis ekonomi Indonesia tahun 1998 berawal dari krisis di sektor keuangan yang selanjutnya memberikan pengaruh buruk pada seluruh bidang pembangunan. Untuk mengatasi kedua permasalahan tersebut langkah kebijakan moneter harus dipertajam. Pembangunan Ekonomi yang Inklusif dan Berkeadilan Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabilitas ekonomi akan menjadi kurang berarti apabila hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat. Dengan demikian. Stabilitas ekonomi juga sangat bergantung pada sektor kebijakan sektor keuangan. Pengelolaan tingkat defisit anggaran dan utang yang baik (melalui debt switch atau buy back) yang ada dalam kebijakan fiskal yang berkelanjutan menjadi penting dalam menyokong terciptanya stabilitas makroekonomi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 57 – menimbulkan ketidakpastian bagi kinerja sektor perdagangan karena ketika nilai tukar terlalu menguat daya saing ekspor akan menurun. Di sisi kebijakan tenaga kerja. Terkait dengan kebijakan pengurangan kemiskinan. pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan memiliki kaitan yang sangat erat. Pencapaian pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan didukung oleh kebijakankebijakan pada sektor tenaga kerja. Hal ini dapat ditempuh melalui: (1) dampak pertumbuhan ekonomi akan meningkat ketika kesenjangan . dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dengan kebijakan seperti ini resiko memegang obligasi negara semakin meningkat yang pada gilirannya mendorong tingginya yield yang harus dibayarkan pemerintah. Oleh karenanya. pembangunan ekonomi inklusif menciptakan kesempatan bagi semua dan memastikan akses yang sama terhadap kesempatan tersebut. Krisis ekonomi dunia yang baru saja terjadi juga dipicu oleh krisis di sektor keuangan. Bila itu terjadi stabilitas makroekonomi dapat terganggu. Oleh sebab itu pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan merupakan elemen penting yang menjamin pengembangan ekonomi dapat dinikmati oleh semua rakyat secara adil.

Sebaliknya. 3. (2) pembangunan ekonomi yang inklusif dapat meningkatkan efektivitas kebijakan pengurangan kemiskinan dengan memfokuskan pada penciptaan dan pemberian akses yang sama pada kesempatan kerja. Pengembangan Sistem Penganggaran c. Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) b. kesempatan bagi mereka yang tidak tertampung untuk turut serta dalam proses pembangunan adalah melalui sektor-sektor informal. Selama Lima tahun kedepan. Kementerian Keuangan mendukung 3 (tiga) prioritas bidang ekonomi yaitu: (1) Prioritas Optimalisasi Pengeluaran Pemerintah. Dengan begitu. Optimalisasi anggaran belanja pemerintah pusat. dapat memanfaatkan kesempatan yang ada untuk keluar dari kemiskinan. Dengan keterbatasan sektor formal untuk menampung tenaga kerja. Penyusunan dan penyampaian laporan keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) Fokus Prioritas 2: Pengelolaan Perimbangan Keuangan Fokus Prioritas Pengelolaan Perimbangan Keuangan dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran yaitu: (1) Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara . Fokus Prioritas 1: Optimalisasi Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Fokus Prioritas Optimalisasi Anggaran Belanja Pemerintah Pusat dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran menjamin terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. 2. Oleh sebab itu pengembangan UKM penting dilakukan. dan (3) Stabilitas Sektor Keuangan. kesehatan) juga akan memberikan dukungan pada terciptanya pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. 4.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 58 – berhasil diatasi. mereka yang selama ini miskin karena tidak pernah mendapat kesempatan. penciptaan stabilitas yang kokoh serta pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. (2) Prioritas Pengelolaan APBN yang Berkelanjutan. Pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara. Disamping kebijakan di ketenagakerjaan dan kebijakan dalam pengurangan kemiskinan. baik pengembangan yang dilakukan untuk mentasi permasalahan yang terkait dengan keterbatasan dana maupun peningkatan kemampuan sumber daya SDM dalam bentuk pemberian pelatihan-pelatihan yang memungkinkan UMKM dapat berkembang dengan kemampuannya sendiri. Pengelolaan perimbangan keuangan. Pengelolaan perbendaharaan negara. melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan harus didukung oleh kebijakan UKM untuk pengembangan UKM. Prioritas Optimalisasi Pengeluaran Pemerintah. kebijakan pengurangan kemiskinan melalui pemberian bantuan untuk pemenuhan kebutuhan dasar (pendidikan. terdiri dari 4 (empat) fokus prioritas yaitu: 1. dalam rangka melaksanakan prioritas pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

yang akan dicapai melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. bimbingan teknis. monitoring dan evaluasi di bidang pembiayaan dan kapasitas daerah. pengelolaan pembiayaan anggaran dan pengendalian resiko. monitoring. Perumusan kebijakan. bimbingan teknis. terdiri dari 2 (dua) fokus prioritas yaitu: 1. bimbingan teknis.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 59 – Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. transparan. dan akuntabel sesuai dengan ketentuan. dan evaluasi di bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD). 2. standardisasi. b. transparan. bimbingan teknis. dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder. Prioritas Pengelolaan APBN yang Berkelanjutan. serta pengembangan sistem informasi keuangan daerah. Perumusan kebijakan. c. Peningkatan dan optimalisasi penerimaan negara. pemantauan dan evaluasi di bidang pendanaan daerah dan ekonomi daerah. c. Perumusan kebijakan bimbingan teknis. kredibel. evaluasi dan pengelolaan Barang Milik Negara. bimbingan teknis. Perumusan kebijakan. Perumusan kebijakan. tepat guna. c. akuntabel. Fokus Prioritas 3: Pengelolaan Perbendaharaan Negara Fokus Prioritas Pengelolaan Perbendaharaan Negara dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran meningkatkan pengelolaan keuangan negara secara profesional. b. evaluasi dan pengelolaan Kekayaan Negara Lain-Lain. melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. penyusunan laporan keuangan transfer ke daerah. b. dan (2) Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan. d. evaluasi dan pengelolaan Barang Milik Negara dan Kekayaan Negara yang Dipisahkan. Pembinaan Pelaksanaan Anggaran dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Peningkatan Pengelolaan Kas Negara Manajemen Investasi dan Penerusan Pinjaman. dan pengelolaan transfer ke Daerah. Perumusan kebijakan fiskal. Perumusan kebijakan. yang akan ditempuh melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. standardisasi. dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional. tertib. d. Penyelenggaraan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran. Fokus Prioritas 4: Pengelolaan Barang Milik Negara dan Kekayaan Negara Fokus Prioritas Pengelolaan Barang Milik Negara dan Kekayaan Negara dalam RPJMN 20102014 mempunyai sasaran terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara. . Perumusan kebijakan. standardisasi.

(2) Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. dan (3) Mengoptimalkan pengelolaan utang pemerintah. Akuntansi. Sasaran tersebut dicapai melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. BPHTB. baik yang berasal dari Surat Berharga Negara maupun pinjaman dengan biaya dan tingkat risiko yang terkelola dengan baik untuk mendukung kesinambungan fiskal. Cukai dan PNBP Penyusunan Rancangan APBN Pengelolaan Pinjaman Pengelolaan Surat Utang Negara Pengelolaan Pembiayaan Syariah Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang Pelaksanaan Evaluasi. Pengelolaan Pembiayaan Anggaran dan Pengendalian Resiko dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran yaitu: (1) Terwujudnya kebijakan fiskal yang sustainable dengan beban risiko fiskal yang terukur dalam rangka stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian. dan evaluasi di bidang teknologi. melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: Pengelolaan PNBP dan subsidi Peningkatan efektivitas pemeriksaan. f. KUP. PBB. dan (3) Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan. dan Setelmen Utang. perdagangan. . dan Bea Materai Perumusan kebijakan di bidang PPh. Pelaksanaan reformasi proses bisnis a. b. h. komunikasi dan informasi perpajakan g. f. dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional Peningkatan kualitas pelayanan serta efektivitas penyuluhan dan kehumasan Perencanaan. b. pengembangan. j. d. c. optimalisasi pelaksanaan penagihan Perumusan kebijakan di bidang PPN. Fokus Prioritas 2: Peningkatan dan Optimalisasi Penerimaan Negara Fokus Prioritas Peningkatan dan Optimalisasi Penerimaan Negara dalam RPJMN 2010-2014 mempunyai sasaran yaitu: (1) Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah. e. Pengelolaan Pembiayaan Anggaran dan Pengendalian Resiko Fokus Prioritas Perumusan Kebijakan Fiskal. c. PPSP. i. d. Perumusan Kebijakan APBN Pengelolaan Risiko Fiskal dan Sektor Keuangan Perumusan Kebijakan Ekonomi Perumusan Kebijakan Pajak.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 60 – Fokus Prioritas 1: Perumusan kebijakan fiskal. (2) Peningkatan penerimaan pajak negara yang optimal. e. g. Kepabeanan.

dan Pengawasan bidang Perasuransian j.2 Arah Kebijakan dan Strategi Fiskal Stabilitas ekonomi dijaga melalui pelaksanaan sinergi kebijakan moneter yang berhati-hati serta kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal (fiscal sustainability) dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. Pembinaan. Pengaturan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 61 – h. Pembinaan. Stabilitas ekonomi akan didukung dengan reformasi struktural di berbagai bidang diantaranya reformasi administrasi dan kebijakan di bidang perpajakan. Perumusan Peraturan. Perumusan Kebijakan dan Peningkatan Pengelolaan Penerimaan Bea dan Cukai j. Penetapan Sanksi dan Pemberian Bantuan Hukum b. Pengaturan. Riset Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank serta Pengembangan Teknologi Informasi c. serta optimalisasi PNBP baik dari jenisnya maupun . dan (2) Terwujudnya industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank sebagai penggerak perkonomian nasional dan berdaya saing global. (ii) meningkatkan penerimaan negara terutama ditempuh melalui reformasi kebijakan dan administrasi perpajakan dan kepabeanan. Kebijakan di bidang fiskal diarahkan pada: (i) menyeimbangkan antara peningkatan alokasi anggaran termasuk alokasi kebutuhan stimulasi dengan tetap memperhatikan kesinambungan fiskal. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pengelolaan Investasi e. Pengaturan dan Pengawasan di bidang Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan i. Intelijen dan Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai n. Pemeriksaan dan penyidikan di bidang Pasar Modal d.Pelaksanaan Pengawasan dan Penindakan atas Pelanggaran Peraturan Perundangan. Pengaturan. Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Bidang Kepabeanan l.1. Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai di daerah Prioritas Stabilitas Sektor Keuangan. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Transaksi dan Lembaga Efek f. akuntabilitas. Perumusan Kebijakan dan Pengembangan Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai k. Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Fasilitas Bidang Kepabeanan m. Sasaran tersebut dicapai melalui kegiatan prioritas sebagai berikut: a. Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Riil h. Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa g. Pengelolaan data dan dokumen Perpajakan i. dengan Fokus Prioritas Peningkatan Ketahanan dan Daya Saing Sektor Keuangan yang mempunyai sasaran yaitu: (1) Terwujudnya Bapepam-LK sebagai lembaga yang memgang teguh prinsip-prinsip transparansi. dan Pengawasan Bidang Dana Pensiun 3. kepabeanan dan cukai. independensi dan integritas. Pengaturan.

disusun Sasaran Strategi dan Program Kementerian Keuangan lainnya yang pada hakekatnya merupakan pilar-pilar Reformasi Birokrasi Kementerian Keuangan yang menyangkut-Penataan Organisasi. ? Executive Dashboard Economic Dalam rangka membantu pengambil kebijakan fiskal. Oleh karena itu pada akhirnya analisis dari indikator-indikator kondisi ekonomi dan keuangan . Adapun Strategi yang akan dilaksanakan di bidang fiskal adalah: (i) peningkatan penerimaan negara dan efisiensi belanja negara dengan tetap mengupayakan pemberian stimulus fiskal secara terbatas. Kementerian Keuangan mempunyai dua kegiatan yang dilaksanakan secara terus menerus dan selalu dikembangkan untuk analisa makro adalah : ? Pemantauan dini kondisi perekonomian Pemantauan dini kondisi perekonomian dilaksanakan terhadap perekonomian internasional dan perekonomian domestik. Kekayaan Negara. akurat dan terkini sebagai bahan masukan dan pertimbangan. dan Pengembangan SDM. (iii) pemisahan secara jelas kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah yang diikuti dengan pendanaanya berupa belanja daerah. (iv) meningkatkan pengelolaan pinjaman pemerintah. dan kaitannya dengan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Belanja Negara. Penyempurnaan Proses Bisnis. Perbendaharaan Negara. maka penanganan data/informasi yang merupakan rangkaian kegiatan perlu diciptakan suatu sistem yang terintegrasi sehingga kebutuhan informasi yang cepat. diperlukan sebuah sistem pengembangan basis data indikator ekonomi dan keuangan untuk menjamin tersedianya data secara lengkap. (v) penurunan rasio pinjaman luar negeri terhadap PDB. 3.2. (vi) sementara itu.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 62 – perbaikan administrasinya. untuk pinjaman dalam negeri. Untuk menunjang pencapaian Sasaran Strategi dan Program yang dibagi dalam lima tema tersebut.1 Arah Kebijakan dan Strategi APBN Untuk membantu pencapaian sasaran strategis nasional. (ii) pembiayaan defisit anggaran yang tidak menimbulkan crowding out pembiayaan sektor swasta. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEMENTERIAN KEUANGAN Arah Kebijakan dan Strategi Kementerian Keuangan pada dasarnya merupakan pedoman dalam penyusunan Sasaran Strategi dan Program APBN yang di kelompokkan dalam enam tema-Pendapatan Negara. (iv) penajaman alokasi anggaran antara lain dengan realokasi belanja negara agar lebih terarah dan tepat sasaran. (iii) meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengeluaran negara. Pembiayaan APBN. Mengingat begitu pentingnya basis data yang tersedia. serta pengembangan Informasi dan Teknologi. diupayakan tetap adanya ruang gerak yang cukup pada sektor swasta.2. Basis data yang detil dan akurat pada akhirnya diharapkan menghasilkan sistem pengembangan basis data indikator ekonomi dan keuangan yang akurat dan dapat dipercaya. 3. tepat dan memenuhi syarat sesuai dengan yang diharapkan oleh siapa pun yang tergabung dalam organisasi. Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank.

antara lain dalam hal penegakan hukum. (ix) peningkatan efektifitas pemeriksaan. operasi dan perawatan sarana dan prasarana yang optimal. (ii) penyesuaian tarif pungutan PNBP yang dilakukan oleh K/L. a. (iii) mewujudkan keadilan dan perlindungan masyarakat. Strategi di bidang PNBP yang akan ditempuh melalui: (i) perbaikan kinerja BUMN. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut. (viii) peningkatan kegiatan intelijen perpajakan. (vi) optimalisasi pelaksanaan ekstensifikasi termasuk memperbaiki basis perpajakan. daerah tertentu. (iii) peningkatan . (vii) optimalisasi pelaksanaan penagihan. (ii) peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. dan peningkatan kesiapan penanggulangan bencana. (vi) membentuk mekanisme harmonisasi kebijakan perdagangan. (xi) pelaksanaan reformasi kebijakan. Pencapaian keempat target tersebut secara sinergis menjadi landasan kuat bagi keseimbangan baru kapasitas fiskal Pemerintah yang sekaligus menunjukkan signifikansi peningkatan dari keseimbangan awal. (xiv) pelaksanaan modernisasi teknologi komunikasi dan informasi.1Pendapatan Negara Arah kebijakan di bidang pendapatan negara yaitu: (i) optimalisasi pendapatan negara. dan mempertahankan dan meningkatkan daya saing usaha di dalam negeri. (ii) membentuk Authorized Economic Operator (AEO).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 63 – dimaksud dapat menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan. (ii) peningkatkan efektifitas penyuluhan. (xv) optimalisasi pengelolaan anggaran. (xvi) pengembangan sistem manajemen SDM berbasis kinerja dan kompetensi. dan (xii) pelaksanaan reformasi proses bisnis. 3. serta peningkatan pengawasan pemungutannya. serta (iv) perbaikan citra baik terkait dengan layanan publik dalam rangka peningkatan pendapatan. (iii) mewujudkan sistem pengawasan di bidang kepabeanan dan cukai yang efektif. (iv) mewujudkan sistem pembinaan dan latihan SDM yang didasarkan pada kompetensi.l. (v) peningkatan kepatuhan WP melalui pembetulan SPT. (v) mengimplementasikan National Single Window (NSW) secara bertahap. (xix) meningkatkan Law Enforcement perpajakan. (iv) peningkatan efektifitas pengawasan WP non-filer. kepabeanan dan cukai dalam rangka meningkatkan efektivitas harmonisasi tarif dalam rangka kerjasama regional dan internasional. Strategi di bidang perpajakan yang akan ditempuh melalui: (i) peningkatan kualitas pelayanan perpajakan. (vii) membentuk sistem teknologi informasi kepabeanan dan cukai yang terintegrasi. melalui restrukturisasi dan rightsizing BUMN. BKF telah membentuk suatu sistem informasi bagi executive Kementerian Keuangan yaitu Economic Executive Dashboard yang berbasis aplikasi web (web based aplication). serta komoditi strategis dalam rangka meningkatkan investasi dan ekspor. penanggulangan terorisme. (iii) peningkatan efektifitas kehumasan. Dukungan ini dilakukan oleh DJBC melalui kerjasama yang intensif dengan instansi terkait lainnya. (ix) penyesuaian tarif cukai rokok sejalan dengan roadmap industri rokok. Strategi di bidang kepabeanan dan cukai yang akan ditempuh melalui: (i) membentuk organisasi DJBC yang modern.1. Disamping itu pelaksanaan strategi di atas juga akan diarahkan untuk mendukung pelaksanaan program prioritas seratus hari pertama Kabinet Indonesia Bersatu II. (xiii) pelaksanaan reformasi organisasi. dan (xvii) peningkatan pembinaan dan pengawasan SDM (xviii) memberikan insentif pada kegiatan usaha. (viii) membentuk manajemen pengadaan.2. (x) peningkatan efektifitas penyidikan.

(v) melakukan ekstensifikasi PNBP dengan menggali lebih banyak potensi PNBP. Sejalan dengan Triple Track Strategy tersebut. sistem dan prosedur pengelolaan PNBP. kebijakan tersebut akan dilaksanakan secara konsisten mulai dari perencanaan. perlindungan dan ketertiban masyarakat. (ix) mengoptimalkan pengawasan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat (x) meningkatkan kesadaran (awareness) dan kemitraan dengan stakeholder. (iv) menyediakan pelayanan dasar dan meningkatkan efektivitas perlindungan sosial dalam rangka memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan mengurangi tingkat kemiskinan (Bantuan Operasional Sekolah/BOS.2. Strategi di bidang belanja negara akan ditempuh melalui: (i) penetapan kebijakan belanja yang ekonomis.1. Kereta Api). meningkatkan efektivitas subsidi/bantuan PSO untuk pelayanan publik (Pelni. Jamkesmas. (vii) meningkatkan kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dan bencana alam lainnya. 3. dan Program Keluarga Harapan/PKH). dan (viii) meningkatkan rehabilitasi dan konservasi sumber daya alam dan kualitas daya dukung lingkungan. dan pengurangan pengangguran. (iii) melanjutkan pembangunan sarana dan prasarana (infrastruktur) dasar untuk mendukung pembangunan. dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan dan perbaikan kesejahteraan aparatur negara. pro job. perbaikan peraturan. (ii) mendukung kebijakan reformasi birokrasi. (iii) pelaksanaan anggaran yang transparan dan akuntabel sejalan dengan penerapan prinsip good governance. (v) mengarahkan alokasi subsidi menjadi lebih tepat sasaran. penerapan sistem penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). pemberian subsidi pertanian secara terpadu. (ii) perencanaan dan alokasi anggaran yang tepat sasaran dan adil berdasarkan prioritas program pembangunan pemerintah yang mengacu kepada rencana kerja pemerintah (RKP). upaya efisiensi belanja juga dilakukan melalui pemantapan pelaksanaan anggaran terpadu (unified budget). (iv) melakukan intensifikasi PNBP dengan melakukan evaluasi. termasuk penyempurnaan sistem remunerasi. kebijakan alokasi belanja negara akan diarahkan untuk : (i) mempertahankan alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen sesuai dengan amanat UUD Tahun 1945. . (vi) mendukung kebijakan pertahanan nasional. dan subsidi pajak untuk insentif bagi dunia usaha dan masyarakat. pemantauan. dan pengurusan piutang negara dan pelayanan lelang. (vi) peningkatan good governance dengan peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan PNBP dan BLU. dan (xi) meningkatkan kualitas SDM (capacity building). efektif.2Belanja Negara Dalam lima tahun kedepan kebijakan belanja negara akan tetap diarahkan untuk mendukung langkah simulasi perekonomian dari sisi fiskal yang mendorong pro growth.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 64 – transparansi dan akuntabilitas pengelolaan BLU. dan efisien dengan memperhatikan aspek kemampuan dalam menghimpun pendapatan. pengalokasian subsidi pangan lebih tepat sasaran & manfaat bagi rumah tangga sasaran (RTS). Pada aspek administrasi. (vii) meningkatkan penerimaan negara yang berasal dari deviden BUMN hasil pengelolaan Kekayaan Negara. dan penerapan alokasi belanja negara dalam kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework). Pos. (viii) memperkuat peraturan-peraturan dan regulasi. dan pro poor (triple track strategy). pengembangan dan pemanfaatan energi alternatif. pelaksanaan. evaluasi sampai dengan pengawasan. dalam lima tahun ke depan. serta keamanan.

Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. (vi) Pengalokasian Dana Otsus untuk tambahan Infrastruktur untuk Provinsi Papua dan Papua Barat. (vii) Pengalokasian Dana Penyesuaian untuk Tunjangan Kependidikan.1. Pemerintahan Daerah Provinsi. dan (v) Peningkatan efektifitas perencanaan dan pelaksanaan APBD dalam mendorong stimulasi pembangunan daerah. (ii) Reformulasi transfer ke daerah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota agar dapat mempengaruhi pola belanja daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. (ii) Mempercepat pengalihan anggaran desentralisasi fiskal langsung ke daerah untuk fungsi-fungsi yang telah menjadi wewenang daerah. dan bertanggung jawab sesuai dengan pembagian tugas. Selanjutnya dalam rangka mencapai arah kebijakan kedua yaitu optimalisasi pengelolaan kas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 65 – Sementara itu. arah kebijakan di bidang transfer ke daerah (desentralisasi fiskal) yaitu: (i) efisiensi belanja negara diarahkan untuk mendukung penyelenggaraan otonomi yang luas. Strategi di bidang transfer ke daerah akan ditempuh melalui: (i) Mengurangi kesenjangan fiskal antar daerah (horizontal fiscal imbalance) dan antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance). dengan melibatkan sektor perbankan dan institusi terkait lainnya. (iii) Sinkronisasi Dana Desentralisasi. (iii) Penyempurnaan perhitungan alokasi DAU dengan mengurangi proporsi alokasi dasar (gaji PNSD). pengeluaran serta terkait dengan pengelolaan rekening Bendahara. (ii) penyempurnaan sistem dan prosedur serta pengorganisasian pengelolaan kas.3Perbendaharaan Negara Arah kebijakan di bidang perbendaharaan negara yaitu: (i) efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara. nyata. Dalam rangka pencapaian arah kebijakan pertama yaitu efisiensi dan akurasi pelaksanaan belanja negara. (iv) peningkatan pelayanan masyarakat melalui penyempurnaan pengelolaan BLU. (ii) penyelesaian dokumen pelaksanaan anggaran secara tepat waktu dan (iii) peningkatan akurasi perencanaan pencairan dana dalam dokumen pelaksanaan anggaran. (iv) Penguatan taxing power. secara bertahap akan diterapkan Electronic Transaction. (v) peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara dan (vi) penerapan sistem perbendaharaan yang handal. strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penyempurnaan dokumen pelaksanaan anggaran sejalan dengan penyempurnaan sistem penganggaran. strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penerapan Treasury Single Account secara penuh. baik di bidang pengeluaran negara maupun penerimaan negara. dan urusan antara Pemerintah dan pemerintah daerah. sehingga . (viii) Pelaksanaan secara konsisten PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. kewenangan. (vii) Pemberian insentif bagi daerah-daerah dengan APBD berstatus WTP mulai Tahun 2010. (iii) optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya. baik di bidang penerimaan. Termasuk dalam usahausaha efisiensi dan akurasi belanja negara.2. (v) Pengalihan secara bertahap dana dekon/TP menjadi DAK secara bertahap sesuai UU Nomor 33 Tahun 2004. (ii) optimalisasi pengelolaan kas. (iv) Penyempurnaan perhitungan PDN netto untuk menentukan pagu DAU dengan mempertimbangkan kondisi fiskal nasional dan pengendalian defisit dalam jangka panjang. terintegrasi dan modern. 3. yaitu penerapan Performance Based Budgeting dan MTEF. dan (ix) Penyusunan grand design desentralisasi fiskal.

Untuk pelaksanaannya maka semua perjanjian yang bersumber dari pinjaman luar negeri/RDI/RPD akan diamandemen dari penyetoran kewajiban hutang pokok. (ii) peningkatan penilaian kinerja satker BLU.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 66 – memenuhi kaidah-kaidah International Best Practices.1. Strategi-strategi dalam rangka pencapaian arah kebijakan tersebut di atas. Guna mencapai arah kebijakan ketiga yaitu optimalisasi tingkat pengembalian dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya. tidak akan berjalan dengan baik tanpa didukung oleh modernisasi dan penyempurnaan sistem perbendaharaan negara. strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penyempurnaan standar basis akuntansi dari cash toward acrual basis menjadi berbasis akrual secara penuh. bunga dan kewajiban lainnya kepada RDI/RPD menjadi kepada rekening Kas Umum Negara. dan (iv) penguatan kompetensi pengelolaan kas. strategi utama dalam rangka penyempurnaan sistem perbendaharaan negara adalah melalui Proyek SPAN. (iii) peningkatan kualitas perencanaan kas. Disamping itu terdapat beberapa kegiatan pendukung terkait dengan implementasi Proyek SPAN yaitu pengembangan Service Desk dan penyusunan ICT Strategy Kementerian Keuangan. Oleh karena itu sebagaimana disebutkan di atas. (iii) pengelolaan portofolio utang untuk mencapai struktur portofolio utang yang optimal guna meminimalkan biaya utang pada tingkat risiko yang semakin terkendali dalam jangka panjang. dan (iv) pengembangan . strategi yang akan dilaksanakan yaitu: (i) penyempurnaan regulasi terkait dengan pengelolaan BLU. kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) akan semakin baik. maka kontribusi RDI/RPD kepada APBN semakin mengecil dan akan berakhir pada Tahun 2011. pengembalian hutang pokok. bekerja sama dengan DJA dan Pusintek. bunga dan kewajiban lainnya tidak lagi disetorkan ke RDI tetapi langsung disetorkan ke Rekening Kas Umum Negara. Sebagaimana telah dijelaskan dalam BAB I. (ii) peningkatan diversifikasi instrumen pembiayaan melalui utang termasuk menciptakan sumber-sumber pembiayaan alternatif. strategi yang akan dilaksanakan adalah mulai tahun 2009 pemerintah telah mengambil kebijakan untuk tidak lagi memberikan pinjaman kepada BUMN/BUMD/Pemda dari dana RDI dan RPD. Terkait dengan arah kebijakan keempat yaitu peningkatan pelayanan masyarakat melalui penyempurnaan pengelolaan BLU. penerapan sistem perbendaharaan yang andal dan modern juga merupakan salah satu sasaran strategis di bidang penyelengaraan Perbendaharaan Negara. Dengan disetorkannya kewajiban debitur untuk SLA yang ditandatangani sejak Tahun 2009. dan (iv) studi banding.4Pembiayaan APBN Arah kebijakan di bidang pembiayaan APBN yaitu: (i) penurunan stok utang terhadap PDB secara bertahap dan berkelanjutan. Guna mencapai peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang menjadi arah kebijakan kelima. dan (ii) peningkatan pembinaan Sistem Akuntansi Instansi yang berkelanjutan.2. baik terkait dengan infrastruktur maupun SDM. sehingga diharapkan akan tercapai peningkatan opini BPK dari Disclaimer menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP). Selanjutnya untuk perjanjian penerusan pinjaman (SLA) yang ditandatangani sejak Tahun 2009. 3. Proyek SPAN akan meliputi tiga kegiatan utama yaitu: (1) penyempurnaan proses bisnis. (iii) penguatan kompetensi SDM. (2) pengembangan teknologi informasi dan (3) tata kelola perubahan dan komunikasi. Dengan pelaksanaan strategi diatas.

2. peningkatan komunikasi dan koordinasi dengan kreditor untuk menciptakan peluang penggunaan skim pinjaman tematis baru. dan (v) meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan sovereign credit rating. tidak rusak. dan dapat dipergunakan serta dapat dipertanggungjawabkan melalui sertifikasi nasional atas tanah dan bangunan milik negara. otoritas pasar modal. dan (iv) peningkatan koordinasi dan kerjasama dengan otoritas moneter. 3. dan pembangunan kapasitas DJPU untuk melakukan penerbitan/penjualan/perdagangan SBN secara langsung. (vi) Meningkatkan penerimaan kembali (recovery) yang berasal dari pengeluaran pembiayaan APBN. dan (ii) pengamanan kekayaan negara yang meliputi administratif. dan fisik. market.5Kekayaan Negara Arah kebijakan di bidang pengelolaan kekayaan negara yaitu: (i) meningkatkan daya guna dan hasil guna pengelolaan kekayaan negara. restrukturisasi portofolio utang dengan menggunakan berbagai instrumen baik SBN maupun pinjaman (luar dan dalam negeri) yang dilakukan melalui mekanisme pasar yang transparan dan akuntabel. (vii) Membangun infrastruktur pendukung penilaian dan pengelolaan kekayaan negara. 3. financial). (iii) pengadaan utang baru dengan terms and conditions yang lebih baik untuk mengurangi eksposur berbagai risiko (refinancing. dan likuid untuk mengoptimalkan pendanaan utang dari pasar domestik. dan penilaian kekayaan negara untuk menentukan nilai ekonomi (existing value) serta nilai potensi (potential value) kekayaan negara. sehingga keberadaan aset dalam keadaan utuh. pelaksanaan buyback pada saat yang tepat terutama dalam rangka stabilisasi harga. dan (viii) Meningkatkan kualitas SDM (capacity building). Strategi di bidang pengelolaan kekayaan negara akan ditempuh melalui: (i) Menyusun dan menyempurnakan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan kekayaan negara dan penilaian kekayaan Negara. penerapan readiness criteria yang konsisten dan hati-hati serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang ketat.6Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Arah kebijakan di bidang pasar modal dan lembaga keuangan non bank yaitu: (i) Terwujudnya regulator bidang pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan . (iv) Meningkatkan kualitas pelayanan pengelolaan kekayaan negara. tidak hilang. (ii) penerbitan instrumen Surat Berharga Negara baru untuk mengembangkan segmen pasar/investor tertentu baik di dalam negeri maupun luar negeri. (ii) Meningkatkan kesadaran (awareness) dan kemitraan dengan stakeholder dalam pengelolaan kekayaan negara. aktif.1.1. (iii) Menatausahakan kekayaan negara dengan akurat dan akuntabel. hukum. melakukan diplomasi ekonomi terutama untuk mendukung pelaksanaan debt-swap. Strategi di bidang pembiayaan APBN akan ditempuh melalui: (i) pengadaan utang secara selektif. koordinasi dengan otoritas moneter dalam pelaksanaan Asset-Liability Management (ALM).2. pelaksanaan debt-switch SBN secara reguler.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 67 – pasar SBN yang dalam (deep). terutama utang yang dipergunakan untuk pembiayaan kegiatan ekonomi yang produktif. (v) Meningkatkan monitoring dan evaluasi kinerja pelaksanaan pengelolaan kekayaan negara. pelaku pasar untuk membangun dan mengembangkan pasar termasuk pembangunan/pengadaan berbagai infrastruktur pasar sekunder SBN.

Dalam rangka menyediakan infrastruktur yang kredibel. (iv) Memastikan Regulasi Disusun Berdasarkan Kebutuhan Pelaku Serta Pengembangan Industri Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Non Bank. Dalam rangka penyediaan kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum. efisien dan kompetitif. (v) Mengembangkan Skema Perlindungan Pemodal Dan Nasabah. (iii) Meningkatkan kapasitas dan integritas regulator. Dalam rangka mewujudkan pasar modal sebagai sarana investasi yang kondusif dan atraktif serta pengelolaan risiko yang handal ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Penyebaran Dan Kualitas Keterbukaan Informasi. dapat diandalkan (reliable) dan berstandar internasional. (iv) Mempersiapkan Pasar Modal Domestik Dalam Menghadapi International .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 68 – profesional. tahan uji dan likuid. (iv) Mendorong Peningkatan Kualitas Tata Kelola Perusahaan Yang Baik. (ii) Mengembangkan dan menerapkan performance based budgeting. dapat diandalkan (reliable) dan berstandar internasional ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Daya Saing Dan Efisiensi Lembaga Bursa Efek. (ii) Melakukan Harmonisasi Regulasi Antar Industri Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Non Bank Serta . (iv) Terwujudnya industri yang stabil. (iii) Melakukan Harmonisasi Regulasi Dengan Standar Dan Praktik Internasional. (v) Meningkatkan Kualitas Pengawasan Pelaku Pasar Modal Dan LKNB. (iii) Meningkatkan Kemampuan Pelaku Dan Industri Dalam Menangani Risiko Sistemik Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan. (ii) Meningkatkan Basis Investor Domestik Dan Dana Jangka Panjang. (v) Tersedianya kerangka regulasi yang menjamin adanya kepastian hukum. (ii) Meningkatkan Kualitas Infrastruktur Perusahaan Efek Untuk Meningkatkan Daya Saingnya. adil dan transparan ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Kualitas Penegakan Hukum. (ii) Memberikan Stimulus Dunia Usaha Untuk Melakukan Fund Raising di Pasar Modal. risk management. Dalam rangka mewujudkan regulator bidang pasar modal dan lembaga keuangan yang amanah dan profesional ditetapkan strategi sebagai berikut: (i) Independensi Lembaga Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank. (ii) Terwujudnya pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses. dan (vi) Tersedianya infrastruktur yang kredibel. tahan uji dan likuid ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut: (i) Meningkatkan Kualitas Pelaku Industri Baik Individual Maupun Institusi. Dalam rangka mewujudkan pasar modal dan lembaga keuangan non bank sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses. (iii) Mengimbangkan Industri Pasar Modal Dan Lembaga Keuangan Non Bank Berbasis Syariah. (iii) Terwujudnya pasar modal sebagai sarana investasi yang kondusif dan atraktif serta pengelolaan risiko yang handal. (vi) Mengembangkan Pasar Sekunder Surat Utang Dan Sukuk Serta Pengawasannya. efisien dan kompetitif ditetapkan strategi-strategi sebagai berikut : (i) Mengurangi Hambatan Bagi Dunia Usaha dan Masyarakat Untuk Mengakses Sumber Pendanaan. (iii) Mengembangkan Sistem Database Dan Teknologi Informasi Industri. Dalam rangka mewujudkan industri yang stabil. (ii) Mendorong Diversifikasi Instrumen Pasar Modal Dan Skema Jasa Keuangan Non Bank. (iv) Meningkatkan Kemudahan Dalam Bertransaksi. adil dan transparan. menyempurnakan bisnis proses dan menerapkan reward dan punishment berdasarkan kinerja.

serta jabatan fungsional yang tepat dan konseptual yang dilakukan sesuai kebutuhan dan dengan analisis yang mendalam dan terencana dengan baik. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). perkembangan kebijakan keuangan negara. (ii) Monitoring dan evaluasi organisasi dan ketatalaksanaan agar organisasi dapat berjalan sesuai dengan rencana dan dapat dipertanggungjawabkan.1Organisasi dan Ketatalaksanaan Kebijakan penataan organisasi Kementerian Keuangan ke depan diarahkan kepada terwujudnya organisasi yang dinamis. sesuai dengan kebutuhan masyarakat. bekerja sama dengan aparat pengawasan intern pemerintah. dan dinamika administrasi publik. Agencification disamping memberi jawaban atas permasalahan yang menyangkut rentang kendali (span of control) organisasi. Dengan berorientasi pada aspirasi public. Perwujudan agencification yang sedang dikembangkan lingkup Kementerian Keuangan terkait dengan fungsi pengawasan terhadap akuntabilitas kegiatan Kebendaharaan Umum Negara sebagai pelaksanaan pasal 49 dan pasal 54 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP). Berdasarkan Peraturan Presiden di bidang Organisasi yang berlaku saat ini (Perpres Nomor 9 Tahun 2005) konstruksi organisasi unit eselon I pelaksana tugas pokok (dalam hal ini Direktorat Jenderal) di lingkungan Kementerian/Kementerian masih menggabungkan fungsi perumusan kebijakan dengan fungsi pelaksana kebijakan. Di bawah koordinasi Menteri Keuangan. 3.2 Arah Kebijakan dan Strategi Reformasi Birokrasi 3. ke depan penataan organisasi akan terus menerus dilakukan untuk mewujudkan Kementerian Keuangan sebagai organisasi birokrasi yang peka terhadap tuntutan pelayanan dan menghasilkan kebijakan serta pelayanan yang adil dan rasional. dan terbuka. Strategi Kementerian Keuangan di bidang Organisasi dan Ketatalaksanaan yaitu: (i) Perancangan dan pengembangan organisasi. (vi) Meningkatkan Kerjasama Lembaga/Regulator Baik Dalam Negeri Maupun Luar Negeri. organisasi Kementerian Keuangan tidak bersifat massive dan senantiasa melakukan self reinventing sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Konsekuensinya.2. Untuk meningkatkan efektivitas dan berjalannya fungsi check and balances dalam rangka mewujudkan good governance perlu dilakukan pemisahan fungsi perumusan kebijakan dengan fungsi pelaksana kebijakan pada tugas-tugas pokok Kementerian Keuangan. diharapkan dapat memberikan keyakinan yang memadai bahwa pelaksanaan Kebendaharaan Umum Negara telah dilaksanakan Dengan . ketatalaksanaan. Dengan disampaikannya Laporan Hasil Pemeriksaan terhadap kegiatan Kebendaharaan Umum Negara kepada Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) dan kepada pimpinan instansi pemerintah yang diawasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 69 – Linkages.2. juga diarahkan untuk melakukan pemisahan fungsi dan tanggung jawab antara fungsi perumusan kebijakan (regulatory) dan pelaksanaan kebijakan (execution).2. terukur. dan (iii) Pengkajian dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkelanjutan agar organisasi dan ketatalaksanaan Kementerian Keuangan mengikuti tuntutan dan perubahan yang terjadi baik secara nasional maupun internasional. melakukan pengawasan terhadap kegiatan Kebendaharaan Umum Negara. Perancangan dan pengembangan organisasi yang akan dilaksanakan di Kementerian Keuangan salah satunya adalah agencification. (v) Meningkatkan Kapasitas Regulator.

(iv) mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian yang terintegrasi dalam rangka pengelolaan Data dan Informasi SDM. (iii) terbukanya kesempatan pengembangan kompetensi diri (hard skill maupun soft skill) bagi seluruh SDM Kementerian Keuangan dan Non Kementerian Keuangan dengan program yang tersedia di unit penyelenggara diklat Kementerian Keuangan. (ii) melaksanakan Assessment Center Kementerian Keuangan guna penyediaan profil pejabat Eselon II dan III di lingkungan Kementerian Keuangan dalam rangka mendukung mutasi/promosi pejabat. Di masa depan. Untuk mewujudkan aparatur negara yang profesional dan berintegritas tinggi diperlukan sistem penempatan/pengembangan yang berbasis kompetensi serta penerapan sistem pola karier yang jelas dan terukur. (iv) terwujudnya kualitas pelayanan prima dalam pendidikan dan pelatihan. komposisi. Di samping itu rencana pembentukan OJK sebagaimana diamanatkan UU Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia juga merupakan upaya lain dari agencification.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 70 – sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. dan kompetensi pegawai dan kebutuhan organisasi. mengingat luas dan dalamnya rentang kendali Kementerian Keuangan perlu juga dipikirkan untuk melaksanakan agencification unitunit organisasi eselon I lainnya. (iii) melaksanakan penataan pegawai guna mewujudkan kesesuaian antara jumlah. (ii) terselenggaranya program pendidikan dan pelatihan yang sesuai kebutuhan. agencification serta perancangan dan pengembangan organisasi/ kelembagaan secara keseluruhan sangat tergantung pada arah kebijakan kelembagaan Republik Indonesia yang digariskan oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi.2. . Misalnya. (v) terselenggaranya evaluasi pendidikan dan pelatihan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Namun demikian. dan (vi) melaksanakan penegakan disiplin pegawai. 3.2. menjadikan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menjadi badan semacam State Revenue Agency/Authority di Singapura.2Pengelolaan dan Pengembangan SDM Reformasi di bidang pengelolaan keuangan negara menuntut profesionalisme dan integritas dari aparatur negara. Salah satu bentuk agencification yang akan dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan adalah transformasi/penataan organisasi BPPK menjadi Badan Transformasi/Reformasi Birokrasi yang akan mengkoordinir pelaksanaan program reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan. serta masih harus menunggu Peraturan Presiden di bidang organisasi sebagai tindak lanjut pembentukan Kabinet baru dan pelaksanaan lebih lanjut dari UU Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara. dan (vi) tersedianya rekomendasi pendidikan dan pelatihan yang konstruktif dan komprehensif. Arah kebijakan strategi Kementerian Keuangan di bidang Pengelolaan SDM yaitu (i) melaksanakan pengadaan pegawai (human resource planning) sesuai kebutuhan unit sehingga tercipta dukungan SDM yang cukup dari segi kualitas dan kuantitas bagi unit kerja. (v) menyelenggarakan penyelesaian administrasi kepegawaian secara tepat waktu. Adapun arah kebijakan strategi Kementerian Keuangan di bidang Pengembangan SDM yaitu: (i) tersedianya data kebutuhan pendidikan dan latihan yang mutakhir.

2014 ini (contoh: SPAN. Kementerian Keuangan menerapkan strategi pengembangan teknologi informasi dan komunikasi pada ketiga aspek pengembangan yang mencakup tata kelola. Di sisi lain. dan infrastruktur. dan sistem pengelolaan kepabeanan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 71 – 3. sistem perimbangan keuangan. Untuk mencapai tingkat integrasi yang diinginkan. Strategi pengembangan sistem aplikasi teknologi informasi dan komunikasi mencakup kelompok sistem aplikasi utama (core applications) dan kelompok sistem aplikasi pendukung (support applications). Peningkatan kualitas layanan mencakup peningkatan ketersediaan (availability) dan kehandalan (reliability) dari infrastruktur yang ada.2014 akan menekankan pada aspek integrasi sumber daya informasi yang mencakup mulai dari infrastruktur. sementara sumber daya informasi yang menyangkut banyak pihak akan diselenggarakan oleh Pusat Informasi dan Teknologi Keuangan (PUSINTEK) sebagai penanggung jawab penyedia jasa layanan bersama (shared-services). Strategi pengembangan tata kelola teknologi informasi dan komunikasi mencakup aspek organisasi dan aspek kebijakan. dan prosedur pengelolaan teknologi yang sesuai dengan kondisi di Kementerian Keuangan. Strategi pengembangan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi akan difokuskan pada peningkatan kualitas layanan dan optimalisasi pemanfaatan teknologi yang ada. Kementerian Keuangan mencanangkan pengintegrasian komponen-komponen Sistem Informasi Manajemen Keuangan Negara (SIMKN) menjadi satu kesatuan fungsional. Untuk kelompok sistem aplikasi utama. sistem pengelolaan aset. Pola desentralisasi-terpusat akan diterapkan sebagai pola organisasi pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan Kementerian Keuangan. Sementara itu. standar. pola organisasi ini menuntut penyusunan kebijakan. sampai dengan sumber daya manusia pengelola teknologi informasi dan komunikasi.2.2. sistem pengelolaan pajak. sistem aplikasi. sementara beberapa komponen lainnya diharapkan selesai pengembangannya dalam periode Tahun 2010 . Untuk kelompok sistem aplikasi pendukung. dan prosedur pengelolaan teknologi informasi dan komunikasi dilakukan secara bersamasama oleh seluruh unit eselon I. optimalisasi pemanfaatan teknologi yang ada mencakup penggunaan teknologi seperti Voice Over IP (VoIP) untuk menghubungkan beberapa unit eselon-I dengan unit-unit vertikalnya sehingga infrastruktur yang ada dapat digunakan secara lebih efisien.3Informasi dan Teknologi Keuangan Arah kebijakan Kementerian Keuangan di bidang Informasi dan Teknologi Keuangan untuk periode Tahun 2010 . standar. Beberapa komponen SIMKN ini telah digunakan (contoh: DMFAS. Pola organisasi ini memungkinkan masing-masing unit eselon I mengelola sumber daya informasinya secara independen. sistem pengelolaan utang. . Kementerian Keuangan akan memaksimalkan sistem aplikasi yang dikembangkan sebelumnya seperti Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian (SIMPEG) dan Sistem Monitoring Indikator Kinerja berbasis Balanced Score Card untuk mendukung reformasi birokrasi. Komponen-komponen ini terdiri dari sistem penganggaran dan perbendaharaan. SBN. sistem aplikasi. PINTAR). SMIPT).

3. perdagangan. . Kementerian Keuangan menetapkan program dan kegiatan prioritas/pokok. .Persentase deviasi target defisit APBN. Tujuan.3. ? Rasio realisasi dari janji pelayanan quick win ke pihak eksternal. Indikator Kinerja Program: ? penggunaan anggaran risiko fiskal.2.3 Program Kementerian Keuangan Berdasarkan Visi. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan. Persentase ? Tingkat akurasi kebijakan fiskal: .3Program Pengawasan.1Program Perumusan Kebijakan Fiskal Tujuan Program: Terwujudnya kebijakan fiskal yang sustainable dengan beban risiko fiskal yang terukur dalam rangka stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian.Persentase deviasi proyeksi pendapatan Negara. dan Kebijakan yang telah ditetapkan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 72 – 3. Indikator Kinerja Program: Persentase realisasi penerimaan pajak terhadap target penerimaan pajak 3. Misi. dengan mengacu kepada RPJM Nasional Tahun 2010-2014.2. ? Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan dan cukai. Pelayanan dan Penerimaan di bidang Kepabeanan dan Cukai Tujuan Program: ? Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang memberikan fasilitasi kepada industri.2Program Peningkatan dan Pengamanan Penerimaan Pajak Tujuan Program: Peningkatan penerimaan pajak negara yang optimal. ? Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif. yaitu: 3. Persentase 3. ? jumlah kasus tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diserahkan ke Persentase Kejaksaan. ? efektivitas kebijakan pendapatan negara. .Rata-rata persentase deviasi asumsi makro. Indikator Kinerja Program: ? Jumlah Penerimaan Bea dan Cukai.2. Sasaran.2.3.

dan pengelolaan belanja transfer ke daerah ke pihak eksternal. transparan. Persentase ? Jumlah penerimaan remunerasi atas penyimpanan. Persentase ? waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah. standar.3. Indikator Kinerja Program: ? Terwujudnya pengelolaan anggaran negara yang tepat waktu.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 73 – 3. Persentase ? Jumlah Aparat Pengelola Keuangan Daerah yang mengikuti LKD/KKD/KKD Khusus per tahun. ? Sistem Informasi Manajemen Transfer ke Daerah (SIMTRADA).3.3.2.4Program Pengelolaan Anggaran Negara Tujuan Program: Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah.2.6Program Pengelolaan Perbendaharaan Negara Tujuan Program: Meningkatkan pengelolaan perbendaharaan negara secara profesional. Terciptanya akuntabel. dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. penempatan. transparan. Tersedianya 3. Realisasi ? ketepatan jumlah penyaluran dana transfer ke daerah. ? kepatuhan dan penegakan ketentuan/peraturan. dan akuntabel sesuai dengan ketentuan Indikator Kinerja Program: ? ketepatan penarikan dana. Indikator Kinerja Program: ? Rasio realisasi dari janji pelayanan pengalokasian dana transfer ke daerah ke pihak eksternal. ? ketepatan penyediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara. ? tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan. kredibel. ?janji pelayanan evaluasi Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal. Ketepatan ? Indeks kepuasan Pemda terhadap norma. transparan dan akuntabel 3. Persentase ? target penerimaan dan pelunasan piutang penerusan pinjaman.5Program Peningkatan Pengelolaan Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah Tujuan Program: ? Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah. Pemenuhan . dan investasi jangka pendek (Idle Cash KUN).2.

? penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan negara. ? BMN yang disertifikasi. Penyelesaian Pengurusan Piutang Negara dan Pelayanan Lelang Tujuan Program: Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara.2.7Program Pengelolaan dan Pembiayaan Utang Tujuan Program: ? Mengoptimalkan pengelolaan Surat Berharga Negara (SBN) maupun pinjaman untuk mengamankan pembiayaan APBN. tepat guna. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional. ? tingkat akurasi perencanaan kas.3. tertib.Bea Lelang. 3. termasuk utilasasi kekayaan Persentase negara. Persentase . ? Pembayaran tepat waktu. Persentase ? penyelesaian pengelolaan dan penatausahaan Kekayaan Negara Dipisahkan. 3. dan . ? Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang : .Pokok lelang. . dan tepat sasaran. Persentase ? Rasio realisasi dari janji pelayanan Quick Win ke pihak eksternal.Pembiayaan APBN. tepat jumlah. Indikator Kinerja Program: ? target pembiayaan melalui utang. ? Peningkatan partisipasi investor dan kreditor dalam pengadaan utang.8Program Pengelolaan Kekayaan Negara. ? Mendukung upaya pengembangan pasar keuangan dalam rangka meningkatkan kapasitas daya serap dan efisiensi pasar. dan . ? Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang. Opini BPK ? K/L dan LK BUN yang mendapat opini WTP/WDP dari BPK.Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS). dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder Indikator Kinerja Program: ? Jumlah Penerimaan Negara dan Penerimaan Kembali (recovery) yang berasal dari Pengeluaran APBN: .Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara.3.2. Pemenuhan ? Terpenuhinya struktur portofolio utang sesuai dengan strategi yang ditetapkan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 74 – ? atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat. Jumlah LK ? Indeks kepuasan K/L terhadap pengelolaan belanja pusat.

9Program Pengaturan. Indikator Kinerja Program: ? Jumlah peserta edukasi publik tentang Keuangan Negara. ? Mengembangkan SDM yang berintegritas dan berkompetensi tinggi. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Kementerian Keuangan. . pengendalian. Persentase ? pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri perasuransian. . Indikator Kinerja Program: ? Jumlah policy recommendation: .2.2. ? Meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku ekonomi akan fungsi Kementerian Keuangan. Rasio jam 3. 3.11 Program Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Kementerian Keuangan Tujuan Program: Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas proses manajemen risiko. Persentase ? pertumbuhan dana yang dikelola oleh lembaga pembiayaan dan penjaminan.10 Program Pengembangan SDM Keuangan dan Kekayaan Negara yang Profesional Melalui Pendidikan dan Pelatihan Tujuan Program: ? Meningkatkan pemahaman masyarakat dan pelaku ekonomi akan penyelenggaraan pengelolaan Keuangan Negara.Bidang Pembiayaan APBN. regional dan internasional. .2. Pembinaan. ? Terwujudnya industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank sebagai penggerak perekonomian nasional dan berdaya saing global.Bidang Belanja Negara. akuntabilitas. ? Jumlah kerjasama pendidikan dan pelatihan skala nasional. dan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank Tujuan Program: ? Terwujudnya Bapepam-LK sebagai lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip transparansi. .Bidang Pegelolaan Kekayaan Negara.Bidang Pendapatan Negara. Persentase ? Indeks Kepuasan Stakeholders Bapepam-LK. ? pelatihan terhadap jam kerja. independensi dan integritas.3.Bidang Perbendaharaan Negara. .3. Indikator Kinerja Program: ? pertumbuhan nilai transaksi saham harian. Persentase ? pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri dana pensiun.3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 75 – 3.

Jumlah kasus yang diserahkan kepada instansi penegak hukum sebagai bukti awal penyelidikan. 97 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang luar Negeri). ? penyelesaian SOP. kolusi. 62 (Subsidi dan Transfer Lainnya). 70 (Dana Perimbangan). .12 Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Keuangan Tujuan Program: ? Terwujudnya tata kelola yang baik dan kualitas layanan dan dukungan yang tinggi pada semua Eselon I di Kementerian Keuangan ? Tingkat kepercayaan stakesholders (internal dan eksternal) yang tinggi Indikator Kinerja Program: ? Rasio realisasi dari janji layanan quick win ke pihak eksternal: . ? Indeks kualitas laporan keuangan BUN BA 61 (Cicilan dan Bunga Hutang). Frekuensi 3.Persentase realisasi penyetoran hasil investigasi.3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 76 – .Penyelesaian ijin akuntan publik dan penilai publik ? Tingkat kompetensi karyawan untuk jabatan tematik.Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank. dan korupsi. 96 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang Dalam Negeri). Persentase ? Service Level Agreement (SLA) Index. 99 (Penyertaan Modal Pemerintah). pungutan liar.Bidang Pembelajaran dan Pertumbuhan. 98 (Penerusan Pinjaman).2. ? Indeks kualitas laporan keuangan kementerian keuangan (BA 15). ? komunikasi pengawasan. ? Indeks kualitas laporan keuangan Bendahara Umum Negara (BA 999). ? Praktik KKN: Penindakan .Tercapainya implementasi pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-Procurement) di lingkungan Kementerian Keuangan dan lembaga pemerintah non kementerian/sekretariat lembaga tinggi negara/komisi negara/komisi pemerintah . 69(Belanja Lain-lain). . . 71 (Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang).Penyelesaian PMK/KMK .Jumlah informasi gratifikasi. .

pembinaan dan pengelolaan anggaran 1 Efektifitas penyusunan rencana program yang tepat sasaran 2 Tingkat kepercayaan stakeholder yang tinggi dalam pembinaan pengelolaan keuangan negara 1 Kualitas Laporan Keuangan Departemen Keuangan (Opini dari BPK) Persentase realisasi belanja terhadap pagu Wajar Dengan Pengecualian/ WDP (LKKL 2009) 85% (Realisasi Tahun 2009) Wajar Tanpa Pengecualian/ WTP (LKKL 2013) >90% (Realisasi Tahun 2013) BIRO PERENCANAAN DAN KEUANGAN 100% 100% SEKRETARIAT JENDERAL TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 2 3 4 82.Penyelesaian ijin akuntan publik dan penilai publik Tingkat kompetensi karyawan untuk jabatan tematik Persentase penyelesaian SOP Service Level Agreement (SLA) Index 1 Koordinasi penyusunan rencana kerja.Tercapainya implementasi pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-Procurement) di lingkungan Departemen Keuangan dan lembaga pemerintah non kementerian/sekretariat lembaga tinggi negara/komisi negara/komisi pemerintah .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 77 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 SEKRETARIAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA DEPARTEMEN KEUANGAN 1 Terwujudnya tata kelola yang baik dan kualitas layanan dan dukungan yang tinggi pada semua Eselon I di Departemen Keuangan 2 Tingkat kepercayaan stakesholders (internal dan eksternal) yang tinggi 1 Rasio realisasi dari janji layanan quick win ke pihak eksternal .Penyelesaian PMK/KMK .5% (JPM 70%) 100% 93% 85% (JPM 75%) 100% 94% 2 .

efektif dan efisien pada semua satuan organisasi di lingkungan Departemen Keuangan 1 Persentase penyelesaian penataan/modernisasi organisasi di lingkungan Departemen Keuangan 100% 100% BIRO ORGANISASI DAN KETATALAKSANAAN 2 3 Persentase penyelesaian SOP Persentase perancangan dan pengembangan jabatan fungsional yang tepat Persentase jumlah Laporan Monitoring dan Evaluasi Jumlah bimbingan. dan jabatan fungsional Menerbitkan PMK tentang penataan organisasi sebagai tindak lanjut hasil analisis beban kerja Menyusun konsep PMK tentang penilaian kinerja individu 100% 100% 100% 100% 4 5 100% 100% 100% 100% 6 Oktober 2014 Kontrak Kinerja 7 Oktober 2014 Kontrak Kinerja . ketatalaksanaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 78 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Menyusun Rencana Kerja (Renja) Tahunan berdasarkan target yang ditetapkan pada Renstra dengan melaksanakan monev melalui LAKIP Meningkatkan kompetensi SDM Akuntansi melalui pelatihan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP) dan menempatkannya sesuai kebutuhan Tahunan Kontrak Kinerja 4 November 2011 Kontrak Kinerja 2. arahan. tata laksana dan jabatan fungsional 1 Mewujudkan organisasi. dan diseminasi di bidang organisasi. ketalaksanaan dan jabatan fungsional yang tepat. Pembinaan dan penataan organisasi.

Bersifat Kebijakan Penyelesaian Legal Opinion Jumlah Peraturan Perundang. eks BPPN dan eks BDL 100% 100% BIRO BANTUAN HUKUM dan penyelesaian masalah hukum 2 Tingkat kepercayaan stakeholder yang tinggi dalam pelayanan dan penyelesaian masalah hukum 90% 95% 5 Pembinaan dan koordinasi pengelolaan SDM Efektivitas layanan dan dukungan di bidang kepegawaian. peraturan.5% (JPM 70%) 100% 85% (JPM 75%) 100% BIRO SDM .undangan di bidang Keuangan dan Kekayaan Negara yang terdokumentasi 4 Hari Kerja 6 Hari Kerja 100% 80% 2010 Kontrak Kinerja BIRO HUKUM 4 Hari Kerja 4 Hari Kerja 100% 100% 4 Pembinaan dan koordinasi pemberian bantuan hukum 1 Efektifitas dalam pelayanan 1 2 Persentase penyelesaian penanganan perkara hukum Persentase pendampingan pejabat. serta Tingkat kepercayaan stakeholder yang tinggi dalam layanan kepegawaian 1 2 Tingkat kompetensi karyawan untuk jabatan tematik Persentase penyelesaian administrasi kepegawaian tepat waktu 82.Bersifat Administratif . mantan pegawai di lingkungan Depkeu. dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan kementeriannya secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektifitas implementasi perbaikan Juni 2010 Kontrak Kinerja 9 3 Pembinaan dan koordinasi perumusan peraturan perundang-undangan 1 Efektifitas dalam Penelaahan dan Perumusan Hukum 2 Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dalam Penelaahan dan Perumusan Hukum 2 3 1 Menyusun tahapan tahunan (mile stones) ke dalam roadmap Penyelesaian Peraturan Menteri Keuangan/Keputusan Menteri Keuangan: .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 79 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 8 Mengkaji ulang dan mengusulkan perbaikan kebijakan. pegawai.

dan dengan stakeholders 1 Indeks persepsi stakeholders NA 80% BIRO HUBUNGAN MASYARAKAT 7 Pembinaan administrasi dan pengelolaan perlengkapan 1 Efektifitas layanan dan dukungan dalam pengelolaan perlengkapan 2 Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dalam layanan pengelolaan perlengkapan Efektivitas dan efisiensi pelayanan ketatausahaan dan kerumahtanggaan 1.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 80 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Menerbitkan PMK tentang penataan pegawai sebagai tindak lanjut hasil analisis beban kerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja 6 Peningkatan citra positif dan kepercayaan publik kepada Departemen Keuangan 1 Tercapainya peningkatan persepsi positif Depkeu di mata publik 2 Terwujudnya pemahaman dan dukungan publik kepada Depkeu 3 Tercapainya koordinasi yang berkualitas di internal Depkeu. Efektivitas peran Private Office dalam mendukung Program dan Kegiatan Menteri Keuangan 2. Efektivitas peran Delivery Unit dalam mendukung pelaksanaan kebijakan Menteri Keuangan 3. Efektifitas peran SMO dalam meningkatkan kinerja Departemen Keuangan 1 2 Persentase ketersediaan database Barang Milik Negara (BMN) Persentase realisasi belanja terhadap pagu Sekretariat Jenderal Penyelesaian PMK/KMK 92% 92% 96% 96% BIRO PERLENGKAPAN 8 Pembinaan administrasi dan dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor pusat Departemen 9 Koordinasi dan harmonisasi pelaksanaan kebijakan Menteri Keuangan 3 Hari Kerja 3 Hari Kerja BIRO UMUM 1 Indeks Kepuasan Menteri Keuangan 76% 80% PUSAT ANALISIS DAN HARMONISASI 2 Persentase Penyelesaian Tindak Lanjut Kebijakan Menteri Keuangan Hasil Rapat Pimpinan 81% 85% KEBIJAKAN 3 4 Peningkatan rata-rata capaian IKU Depkeu-Wide Menerapkan manajemen kinerja 10% Tahunan 11% Kontrak Kinerja .

Peningkatan kepercayaan stakeholder dalam layanan TIK 11 Pembinaan dan pengawasan profesi akuntan publik dan penilai publik 1 Meningkatkan kualitas profesi Akuntan Publik dan Penilai Publik yang akuntabel 2 Meningkatkan kepercayaan stakeholder yang tinggi 1 2 Penyelesaian izin Akuntan Publik dan Penilai Publik Persentase tindak lanjut terhadap KAP dan KJPP yang tidak menyampaikan laporan tahunan sesuai waktu penyampaian yang ditentukan 12 Pengelolaan investasi Pemerintah Meningkatkan efektivitas pengelolaan dana investasi pemerintah 1 Kualitas layanan dan dukungan yang tinggi terhadap penyelenggaraan persidangan sengketa pajak 2 Tingkat kepercayaan stakeholders yang tinggi dalam administrasi sengketa pajak dan sistem manajemen kasus 1 2 1 2 3 4 Pertumbuhan nilai portofolio investasi Pencapaian target PNBP Persentase jumlah berkas banding siap sidang Persentase jumlah berkas gugatan siap sidang Persentase putusan yang telah diucap Persentase permohonan peninjauan kembali yang dikirim 42% 77% 50% 85% 15% 100% 82% 82% 15% 100% 90% 90% SEKRETARIAT PENGADILAN PAJAK PUSAT INVESTASI PEMERINTAH 20 Hari Kerja 100% 20 Hari Kerja 100% PUSAT PEMBINAAN AKUNTAN DAN JASA PENILAI 1 2 Revitalisasi Kebijakan TIK di Departemen Keuangan Service Level Agreement (SLA) Index 4 93% 7 94% PUSAT INFORMASI DAN TEKNOLOGI KEUANGAN 13 Penyelesaian sengketa pajak .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 81 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) berbasis balanced scorecard dengan mengadakan monev secara periodik 10 Koordinasi dan pengembangan sistem informasi dan teknologi keuangan 1 Efektifitas layanan dan dukungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pengelolaan administratsi keuangan dan kekayaan negara 2.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 82 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 5 Persentase penyelesaian pengembangan sistem TIK dan IT pendukung (Case Management and Court Administration System ) 14 Pembinaan teknis dan layanan Pengadaan Secara Elektronik 1 Terlaksananya pengadaan barang/jasa secara elektronik di lingkungan Departemen Keuangan dan instansi pemerintah lain 2 Tercapainya good governance guna mendukung program reformasi birokrasi Departemen Keuangan 1 Tercapainya implementasi pengadaan barang/jasa secara elektronik di lingkungan Departemen Keuangan dan Lembaga Non Kementerian/Sekretariat Lembaga Tinggi Negara/Komisi Negara/Komisi Pemerintah 2 Meningkatnya/persentase penggunaan LPSE Departemen Keuangan oleh Lembaga Pemerintah Non Kementerian/Sekretariat Lembaga Tinggi Negara/Komisi Pemerintah dalam Pengadaan Barang/Jasa 15 Dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor-kantor vertikal di daerah yang berkantor di GKN Tingkat kepercayaan yang tinggi dari Kantor-kantor Vertikal di Daerah yang Berkantor di GKN terhadap layanan pengelolaan GKN Terwujudnya pelayanan GKN yang prima kepada Kantor-kantor Vertikal di Daerah yang Berkantor di GKN 30% 100% 25% 100% PUSAT LAYANAN PENGADAAN SECARA ELEKTRONIK 25% 100% 92% 98% RUMAH TANGGA GKN UNIT IN CHARGE : BIRO PERLENGKAPAN .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 83 –
KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 SEKRETARIAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1)
A. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Departemen Keuangan RM PHLN KEGIATAN 1 Koordinasi penyusunan rencana kerja, pembinaan dan pengelolaan anggaran 2 Pembinaan dan penataan organisasi, tata laksana dan jabatan fungsional 3 Pembinaan dan koordinasi perumusan peraturan perundang-undangan 4 Pembinaan dan koordinasi pemberian bantuan hukum 5 Pembinaan dan koordinasi pengelolaan SDM 6 Peningkatan citra positif dan kepercayaan publik kepada Departemen Keuangan 7 Pembinaan administrasi dan pengelolaan perlengkapan 8 Pembinaan administrasi dan dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor pusat Departemen 362,063,259,000 176,360,584,951 193,588,734,525 227,560,467,609 262,435,307,728 292,623,876,000 350,466,349,322 229,111,454,299 240,624,918,013 149,552,991,486 48,470,636,000 35,192,960,000 30,567,954,111 34,945,420,463 34,155,950,005 42,596,981,030 38,663,261,202 56,985,137,684 44,177,960,539 71,032,539,624 4,175,110,000 3,272,231,049 3,664,840,801 4,209,856,814 4,828,546,869 10,697,479,000 12,877,306,160 14,061,795,887 15,555,668,626 17,370,472,883 7,740,386,000 7,608,392,783 9,274,307,496 11,452,548,853 14,275,716,343 5,035,771,862,000 4,936,488,555,806 5,512,655,880,887 6,237,071,201,549 7,123,130,700,131 6,265,506,597,000 6,242,777,483,000 22,729,114,000 5,978,863,398,978 5,971,826,156,978 7,037,242,000 6,374,150,927,861 6,370,049,957,861 4,100,970,000 7,153,428,116,283 7,148,654,016,283 4,774,100,000 8,034,428,591,760 8,034,428,591,760 0

ALOKASI 2010 (2) 2011 (3)
0.93226

2012 (4)
0.94699

2013 (5)
0.97450

2014 (6)
1.01227

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 84 –
ALOKASI 2010 (2)
9,280,680,000 113,095,985,000 RM PHLN 11 Pembinaan dan pengawasan profesi akuntan publik dan penilai publik 12 Pengelolaan Investasi Pemerintah 13 Penyelesaian sengketa pajak RM PHLN 14 Pembinaan teknis dan layanan Pengadaan Secara Elektronik RM PHLN 15 Dukungan pelayanan pelaksanaan tugas kantor-kantor vertikal di daerah yang berkantor di GKN 6,539,200,000 5,472,907,000 220,346,689,000 4,588,072,764 3,722,000,000 233,160,555,024 5,123,236,456 3,627,170,000 161,888,153,656 5,347,725,637 4,774,100,000 140,863,341,073 152,883,291,353 5,737,133,622 17,906,490,000 77,641,280,000 65,036,410,000 12,604,870,000 12,012,107,000 16,024,440,445 53,329,513,149 50,014,271,149 3,315,242,000 8,310,072,764 16,531,771,274 28,743,827,953 28,270,027,953 473,800,000 8,750,406,456 10,121,825,637 5,737,133,622 18,194,344,178 26,191,247,033 26,191,247,033 20,231,588,940 27,423,331,082 27,423,331,082 108,444,648,000 4,651,337,000 18,487,798,000 14,982,184,220 14,949,931,386 15,650,479,493 17,190,923,273

PROGRAM/KEGIATAN (1)
9 Koordinasi dan harmonisasi pelaksanaan kebijakan Menteri Keuangan 10 Koordinasi dan pengembangan sistem informasi dan teknologi keuangan

2011 (3)
8,176,142,490 92,293,696,243 92,293,696,243

2012 (4)
8,720,573,660 95,456,318,545 95,456,318,545

2013 (5)
9,422,665,692 100,861,152,826 100,861,152,826

2014 (6)
10,277,265,505 113,880,822,382 113,880,822,382

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 85 –

KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN SEKRETARIAT JENDERAL INDIKATOR KINERJA a. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain, yang mencakup namun tidak terbatas pada : i. Memastikan konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kementerian/ lembaga selambatlambatnya 2011 Berpartisipasi aktif dalam TRB nasional Menerbitkan PMK tentang penataan organisasi dan penataan pegawai sebagai tindak lanjut hasil analisis beban kerja Menyusun konsep PMK tentang penilaian kinerja individu Menneg PAN&RB, Bappenas, BKN, KPK, Setneg Paling lambat Oktober 2014 Biro Organta/TRBP RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 86 –

INDIKATOR KINERJA a. Melaksanakan reformasi bidang pelayanan umum

RENCANA AKSI Mengkaji ulang dan mengusulkan perbaikan kebijakan, peraturan, dan proses pelaksanaan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan umum yang diberikan kementeriannya secara tuntas sebelum Juni 2010 serta memastikan efektifitas implementasi perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh pejabat yang ditunjuk Presiden untuk memimpin reformasi pelayanan umum

K/L TERKAIT

WAKTU Paling lambat Juni 2010

UNIT ESELON II TRBP

Menerapkan manajemen kinerja berbasis balanced scorecard dengan mengadakan monev secara periodik (bulanan. Menyusun Rencana Bappenas Kerja (Renja) Tahunan berdasarkan target yang ditetapkan pada Renstra dengan melaksanakan monev melalui LAKIP Biro Perencanaan dan Keuangan . dan tahunan) K/L TERKAIT Menko Perekonomian WAKTU Sesuai target waktu dalam Rencana Strategis Kementerian 2009-2014 Biro Organisasi dan Ketatalaksanaan PUSHAKA 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 87 – INDIKATOR KINERJA a. Mencapai sasaran-sasaran Rencana Strategis Kementerian 2009-2014 RENCANA AKSI 1. triwulanan. Menyusun tahapan tahunan (mile stones) ke dalam roadmap 2.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 88 – INDIKATOR KINERJA a. Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI RENCANA AKSI Meningkatkan kompetensi SDM Akuntansi melalui pelatihan Program Percepatan Akuntabilitas Keuangan Pemerintah (PPAKP) dan menempatkannya sesuai kebutuhan K/L TERKAIT WAKTU Terlaksana November 2011 Biro Perencanaan dan Keuangan .

DITJEN ANGGARAN 2 Penyusunan Rancangan APBN Tersusunnya Draft NK. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN 100% 100% DIREKTORAT PENYUSUNAN APBN Temu Nasional 2 Desember 2010 3 4 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional . kredibel dan berkelanjutan 1 100% 100% SET.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 89 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGELOLAAN ANGGARAN NEGARA TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Terlaksananya fungsi penganggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah 1 INDIKATOR (3) Terwujudnya pengelolaan anggaran negara yang tepat waktu. & RUU APBN (APBN-P) dengan besaran yang akurat dan tepat waktu Peraturan Pelaksanaan anggaran R&D berdasarkan program prioritas K/L yang bersangkutan sesuai dengan alokasi anggaran dalam APBN. pembinaan. transparan dan akuntabel Terbentuknya Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) Adanya kebijakan peningkatan populasi ternak dalam negeri. dan dukungan manajemen dalam pelaksanaan tugas DJA Tersusunnya APBN yang sehat. 71 Tahun 2005 Revisi Perpres No. RAPBN. Revisi Perpres No. mulai 2010 dan berlanjut Terlaksananya dukungan manajemen dalam pelaksanaan tugas DJA TARGET 2010 (4) 100% UNIT ORGANISASI 2014 (5) 100% PELAKSANA (6) DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN Program 100 Hari Program 100 Hari 2 3 1 Februari 2010 1 Februari 2010 4 1 Februari 2010 Program 100 Hari KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Anggaran Terlaksananya koordinasi pelaksanaan tugas.

pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk Dokumen RAPBN-P 2010 tentang perubahan sistem pengelolaan pendanaan BLU Tanah dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010 PMK mekanisme dan Tata cara pemutihan KUT (pelaksanaan APBN 2010) dan hasil audit dari BPK. perhitungan. DAN ANGGARAN III Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja 4 Desember 2010 Dit.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 90 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 5 6 7 8 9 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Road Map rasionalisasi subsidi listrik Road Map rasionalisasi subsidi BBM Revisi PP Cost Recovery RPP tentang Penghapusan PNBP Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. Anggaran I Temu Nasional 5 1 Februari 2010 Dit. ANGGARAN II. Peraturan pelaksanaan anggaran R&D berdasarkan program prioritas K/L TARGET 2010 (4) Desember 2010 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Program 100 Hari 1 Februari 2010 3 Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) Terlaksananya kebijakan penganggaran yang transparan dan akuntabel 1 2 100% Oktober 2014 100% DIREKTORAT ANGGARAN I. 261/2008 tentang tatacara penyediaan anggaran. dan industri pedesaan 3 sesuai dengan persetujuan PMK No. 2 triliyun pertahun Pengalokasian belanja pemerintah pusat yang tepat waktu dan efisien Penyediaan Anggaran secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menunjang program di bidang pangan. pertanian. Anggaran I Temu Nasional 6 Desember 2010 Temu Nasional .

Selesainya Permenkes tentang 9 insentif tenaga kesehatan di DTPK Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 91 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) yang bersangkutan sesuai dengan alokasi anggaran dalam APBN. Anggaran I Program 100 Hari 4 Penyusunan dan penyampaian laporan keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) Tersusunnya Laporan Keuangan BSBL yang transaparan dan akuntabel 1 Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Lain-lain (BSBL) yang lengkap dan tepat waktu 100% 100% DIREKTORAT ANGGARAN III 2 Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) 1 Februari 2010 Program 100 Hari 3 Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan 1 Februari 2010 Program 100 Hari 4 Disepakatinya dan disiapkannya rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan 1 Februari 2010 Program 100 Hari . 2 triliyun pertahun 7 1 Februari 2010 Dit. Anggaran I Program 100 Hari Dit. Tersedia biaya untuk penemuan 6000 kasus gizi buruk oleh kader dan dirujuk ke fasilitas kesehatan -Selesainya kedua Permenkes tentang praktik tenaga kesehatan (perawat dan bidan) di DTPK . Anggaran I Program 100 Hari 8 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Dit.

709 prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional . terdepan & terpencil diajukan ke Sekretaris Negara 6 7 Cetak biru minimum essential force Dokumen rencana revitalisasi pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri 8 Dokumen skim anggaran multiyears (3 renstra) selesai TARGET 2010 (4) 1 Februari 2010 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Program 100 Hari 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 5 Pengelolaan PNBP dan subsidi Mengoptimalkan keuangan negara di bidang PNBP dengan tetap menjaga pelayanan kepada masyarakat 1 Tercapainya target penerimaan SDA Migas dan Laba BUMN dalam APBN atau APBN-P Tersusunnya target dan pagu penggunaan PNBP untuk APBN dan atau APBN-P Terlaksananya pembayaran subsidi energi yang tepat waktu dan jumlah Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi SOP verifikasi perhitungan subsidi BBM. Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien 95% 100% DIREKTORAT PNBP 2 100% 100% 3 4 100% Juni 2014 100% Kontrak Kinerja 5 6 Revisi Perpres No. 71 Tahun 2005 Revisi Perpres No.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 92 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi 9.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 93 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 7 8 9 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Road Map rasionalisasi subsidi listrik Road Map rasionalisasi subsidi BBM Revisi PP Cost Recovery TARGET 2010 (4) Desember 2010 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional 10 RPP tentang Penghapusan PNBP 11 Kebutuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur dapat terpenuhi 12 Rencana pasokan gas bumi yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan gas domestik 13 PP dan Peraturan Menteri ESDM tentang Pasokan batubara Dalam Negeri (DMO) yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri 6 Pengembangan Sistem Penganggaran Terlaksananya penerapan sistem penganggaran berorientasi kinerja dan penerapan MTEF 2 1 Tersedianya norma penganggaran berbasis kinerja dan penerapan MTEF yang kredibel dan tepat waktu Revisi Keppres 80/2003. termasuk dalam angka pinjaman luar negeri 100% 100% 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari Program 100 Hari Program 100 Hari DIREKTORAT SISTEM PENGANGGARAN Temu Nasional Desember 2010 . usulan mengenai percepatan proses pengadaan barang dan jasa.

000 4.476.94699 2013 (5) 0.184.444.868.915 66.000 61.072.796.744 5.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 94 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.952 8.01227 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Anggaran 2 Penyusunan Rancangan APBN 3 Pengelolaan Anggaran Belanja Pemerintah Pusat (ABPP) 4 Penyusunan dan penyampaian laporan keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain (BSBL) 5 Pengelolaan PNBP dan subsidi 6 Pengembangan Sistem Penganggaran 7.688.700.372.203.151 6.071.003.381.260.257.93226 2012 (4) 0.501 3.003.698.378.700.888.000 7.088.192.000 3.588.515 10.017.531.950 .000 7.991 72.653.776.311.902.694 8.837.724.705 6.585.121 108.737 4.037 3.000 91.764.433.207.967.574 62.953 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.527.630.070.036 7.299.902.788 70.104.771 10.979.538.270.386.385.192 93.513.793 3.426 5.391.657.792.426.493.289.716.501.830 104.791.97450 2014 (6) 1. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan Anggaran Negara 99.859 5.505.758 3.877.839.702.261.000 9.510.578.343 8.836 7.230.984.086.830 7.500.655.103.188 7.

POLRI. Menteri Keuangan No. Dephan. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 95 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN Bidang Politik. Dephan.S-8/MK. Depkeu (DJA) & Setneg % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 P3: Pemberantasan Terorisme (P3A1) Koordinasi & Kementerian Koordinator sinkronisasi tindak lanjut Politik. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. DKP. BIN.n. TARGET H100: Terbentuknya Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) P4: Pengelolaan Wilayah Perbatasan (P4A1) Koordinasi & Sinkronisasi Akselerasi Penyelesaian Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) Departemen Dalam Negeri Kemenko Polhukam. Depkeu (DJA) & Setneg Terlaksananya koordinasi dan sinkronisasi dengan berbagai pihak untuk penyelesaian Perpres BNPP TARGET: Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) paling lambat 16 Januari 2010 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H100: XX% Catatan : Keterangan sama dengan H75 H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (DJA): DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini. H75. Deplu.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). TNI. DAN H100 6 H30: XX% H50: XX% RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Depdagri. POLRI. Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam pembahasan penyusunan draft Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) . Hukum dan hasil raker dengan komisi I Keamanan DPR RI tentang peningkatan kapasitas Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme menjadi Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) H75: XX% Catatan Depkeu (DJA): Rencana aksi ini tidak terkait dengan tugas pokok dan fungsi Depkeu. Deplu. Hukum dan Keamanan KRITERIA KEBERHASILAN 4 Terlaksananya koordinasasi dan sinkronisasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas Desk Koordinasi Pemberantasan Terorisme menjadi Badan Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BPKT) UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: TARGET H30: XXX Terbentuknya Badan TARGET H50: XXX Koordinasi Pemberantasan Terorisme (BKPT) TARGET H75: XXX UKURAN KEBERHASILAN H30. TNI. H50. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi. BIN.

DAN H100 6 TARGET H75: XXX % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJA): DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini. Kemenko Polhukam. Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Kelompok Kerja Perumus Kebijakan H100: XX% Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan terbentuk sebelum 15 Desember 2009 (P6A2) Koordinasi dengan Departemen Pertahanan Depkeu & departemen terkait untuk menyesuaikan besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan Setneg. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi Tersusunnya Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan TARGET: Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan terbentuk sebelum 15 Desember 2009 TARGET H30: XXX H100: XX% Catatan : Keterangan sama dengan H75 H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% 50% persiapan penyusunan Kelompok Kerja Perumus Kebijakan Tunjangan Khusus bagi Penjaga Perbatasan Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan. Terluar & Perbatasan (P6A1) Menyusun Departemen Pertahanan Kelompok Kerja (Pokja) untuk merumuskan kebijakan tunjangan khusus bagi penjaga perbatasan Setneg. Bappenas. namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud.S-8/MK. TARGET H100: Terbitnya Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) paling lambat 16 Januari 2010 P6: Tunjangan Khusus Bagi PNS/TNI/POLRI yang Bertugas di Wilayah Terdepan.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Bappenas. H50.n. Menteri Keuangan No.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 96 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Depkeu (DJA). Kemenko Polhukam. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi Pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait untuk penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan TARGET: Disepakatinya dan disiapkannya rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan pada 30 Desember 2009 TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% . H75. Adapun hasil konfirmasi dari Depdagri mengatakan bahwa Perpres dimaksud masih dalam proses pembahasan. Catatan : Keterangan sama dengan H50 Catatan Depkeu (DJA) : DJA belum diikutkan dalam pembahasan lanjutan 25% persiapan rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan Catatan Depkeu (DJA): DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini. Depkeu (DJA). Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam pembahasan penyusunan draft Perpres tentang Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP).

Catatan Depkeu (DJA): Masih dalam proses pembahasan Catatan Depkeu (DJA) : DJA belum diikutkan dalam pembahasan lanjutan (P6A3) Mengajukan Departemen Pertahanan rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan. Kemeneg PAN dan Reformasi Birokrasi Diajukannya rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan. H50.1/2010 tanggal 8 Januari 2010).709 prajurit & TARGET H50: XXX PNS yang bertugas di daerah perbatasan. H75.S-8/MK. DAN H100 6 TARGET H75: XXX % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 DJA tidak terkait langsung dengan rencana aksi ini.Sarpras . Depkeu (DJA). Catatan Depkeu (DJA) : DJA belum diikutkan dalam pembahasan lanjutan 50% penyelesaian rancangan Perpres tentang tunjangan khusus Catatan Depkeu (DJA): DJA (Dit. terdepan & terpencil TARGET: Rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi 9.709 prajurit & PNS yang bertugas di daerah perbatasan. terdepan & terpencil diajukan ke Sekretaris TARGET H75: XXX Negara paling lambat 16 Januari 2010 TARGET H100: Rancangan Perpres tentang tunjangan khusus bagi 9. Keterkaitan DJA hanya sebatas ikut serta dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden. Depkeu (DJA).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 97 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud. Kemenko Polhukam. Sarpras dan Kodal H30: XX% H50: XX% 60% penyelesaian cetak biru minimum essential force Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. Kemeneg PPN/Ka Bappenas. terdepan & terpencil Setneg.Kodal TNI. Status sama dengan H50 Catatan : Keterangan sama dengan H75 TARGET H75: XXX TARGET H100: Cetak biru minimum essential force tersusun sebelum Februari 2010 H75: XX% H100: XX% .alutsista (AD/AL/AU) .n. Adapun hasil konfirmasi mengatakan bahwa saat ini rancangan ketentuan masih dalam proses pembahasan.SDM . Kemeneg BUMN Tersusunnya cetak biru minimum essential force yang meliputi: alutsista (AD/AL/AU). Bappenas. Menteri Keuangan No. terdepan & terpencil diajukan ke Sekretaris Negara paling lambat 16 Januari 2010 TARGET: Cetak biru minimum essential force tersusun sebelum Februari 2010 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX TARGET H100: Disepakatinya dan disiapkannya rancangan ketentuan tentang penyesuaian besaran tunjangan khusus di daerah perbatasan pada 30 Desember 2009 TARGET H30: XXX H100: XX% H30: XX% H50: XX% H75: XX% H100: XX% P8: Peningkatan Kemampuan Pertahanan & Keamanan Negara (P8A1) Penyusunan cetak Departemen Pertahanan biru minimum essential force yang meliputi: . SDM.Anggaran III) ikut serta dalam penyusunan Rancangan Peraturan Presiden.

H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 98 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 TNI. Depkeu (DJA). DAN H100 6 TARGET H30: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 10% penyelesaian dokumen rencana revitalisasi pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan. Catatan: Keterangan sama dengan H50 Catatan : Keterangan sama dengan H75 (P8A2) Revitalisasi sumber Departemen Pertahanan pengadaan: . Depkeu (DJA). H50.kemitraan dengan luar negeri TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% (P8A3) Penyusunan skim anggaran multiyears (3 renstra) Departemen Pertahanan TNI.industri strategis dalam negeri . Kemeneg PPN/Ka Bappenas. Kemeneg BUMN Tersusunnya skim anggaran multiyears (3 renstra) TARGET: Dokumen skim anggaran multiyears (3 renstra) selesai TARGET H100: Dokumen rencana revitalisasi H100: XX% pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Dokumen skim anggaran multiyears H100: XX% (3 renstra) selesai . namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud. Kemeneg PPN/Ka Bappenas. namun sampai saat ini DJA belum dilibatkan dalam rencana aksi dimaksud. Catatan: Keterangan sama dengan H50 Catatan : Keterangan sama dengan H75 10% penyelesaian dokumen skim anggaran multiyears (3 renstra) Catatan Depkeu (DJA): DJA telah berkoordinasi dengan Dephan. Kemeneg BUMN KRITERIA KEBERHASILAN 4 Sumber pengadaan untuk peningkatan kemampuan pertahanan dan keamanan negara teridentifikasi untuk direvitalisasi UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Dokumen rencana revitalisasi pengadaan baik lewat industri strategis dalam negeri maupun kemitraan luar negeri UKURAN KEBERHASILAN H30.

infrastruktur dan pasokan Departemen ESDM TARGET: Kebutuhan BBM TARGET H30: Inventarisasi Kondisi Distribusi BBM dalam negeri khususnya meliputi Infrastruktur dan pasokan (bobot 25% dari untuk Indonesia bagian UK) timur dapat terpenuhi TARGET H50: Koordinasi sistem pendistribusi BBM (bobot 25% dari UK) H50: XX% Telah dilakukan koordinasi dengan pihak terkait dalam rangka optimalisasi sistem pendistribusian BBM untuk memenuhi BBM dalam negeri khususnya Indonesia bagian timur. BUMN. dan 30 Desember 2009 b) Pertamina telah menyampaikan dan menjelaskan langkah-langkah untuk pengamanan distibusi BBM untuk Indonesia Bagian Timur 5 tahun ke depan antara lain dengan menghidupkan kembali baackloading depot Biak dan pembangunan terminal transit Baubau. Kemeneg BUMN. TARGET H75: Terlaksananya revitalisasi sistem distribusi BBM (bobot 30% dari UK) H75: XX% . H75. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 Telah dilakukan inventarisasi kondisi distribusi BBM. BPH Migas. KRITERIA KEBERHASILAN 4 Ketersediaan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 99 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL JENDERAL ANGGARAN Bidang Perekonomian RENCANA AKSI 1 P17: Jaminan pasokan energi (P17A1) Pemenuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Depkeu (DJA). H50. Pertamina. Catatan Depkeu (DJA): a) Telah mengikuti rapat program revitalisasi sistem distribusi BBM untuk % Tahun ke depan bersama dengan instansi terkait (DESDM.23. dan DJA Depkeu) pada tanggal 16.

H50. DJA hanya mendapatkan informasi dari ESDM .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 100 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 TARGET H100: Kebutuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia bagian timur dapat terpenuhi RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H100: XX% KETERANGAN 8 Kebutuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia Bagian Timur dapat terpenuhi secara memadai dan terjangkau melalui kebijakan : .Pemberlakuan harga yang sama untuk seluruh Indonesia pada tingkat lembaga penyalur termasuk APMS -Meningkatkan koordinasi pengawasan pendistribusian BBM dengan instansi terkait termasuk Pemda .Menyusun rencana revitalisasi infrastruktur dan pola distribusi BBM untuk Indonesia Bagian Timur Kebijakan tersebut di atas disampaikan dalam bentuk laporan akhir pemenuhan BBM dalam negeri khususnya untuk Indonesia Bagian Timur *Hal ini bukan tanggungjawab DJA. H75.

DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 (P17A2) Perencanaan pasokan gas bumi untuk keperluan domestik PENANGGUNG JAWAB 2 Departemen ESDM INSTANSI TERKAIT % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 50% kemajuan penyelesaian rencana pasokan gas bumi a) Penyusunan Neraca Gas Bumi Indonesia 2010 – 2025 (kemajuan 60%dari bobot 40% atau 24% dari Ukuran Keberhasilan/UK) b) Penyusunan Konsep Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional (kemajuan 55% dari bobot 40% atau 22% dari UK) c) Penyusunan Rancangan Peraturan Menteri ESDM tentang Penetapan Alokasi Gas Bumi (kemajuan 20% dari bobot 20% atau 4% dari UK) 3 4 Depkeu (DJA). Penyelesaian rencana pasokan gas bumi untuk keperluan domestik 5 TARGET: Rencana pasokan TARGET H30: XXX gas bumi yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan gas domestik TARGET H50: XXX TARGET H75: XXX TARGET H100: Rencana pasokan gas bumi yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan gas domestik Depkeu (DJA). DepBUMN. tahapan: [1] Penyusunan draft Permen [2] Pembahasan di internal unit [3] Draft Permen dikirim dari unit eselon I ke Menteri Departemen H50: XX% H75: XX% H100: XX% Menunggu konfirmasi DJA Depkeu Belum dilibatkan dalam pembahasan Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 Kemajuan 60% dari Total Bobot Program (100%) : [a] Draft RPP telah dikirim ke Depkumham pada tanggal 11 Nopember 2009 untuk diharmonisasi [b] Draft Permen sudah dikirim Dirjen Minerbapabum kepada MESDM untuk dibahas di Biro Hukum dan Humas DESDM (P17A3) Penerbitan PP dan Departemen ESDM Peraturan Menteri ESDM tentang Pasokan batubara Dalam Negeri (DMO) H30: XX% . H50. Menteri ESDM tentang Menteri ESDM tentang [1] Penyusunan draft RPP Dephub Pasokan batubara Dalam Pasokan batubara Dalam [2] Pembahasan di internal unit prakarsa dan Negeri (DMO) Negeri (DMO) yang mencakup kebijakan untuk pembahasan dengan stakeholders [3] Pembahasan di internal unit prakarsa dan menjaga pemenuhan kebutuhan batubara dalam pembahasan dengan stakeholders [4] Pembahasan rapat antar Departemen negeri [5] Proses di Depkumham Penyusunan Permen ESDM selesai. Setneg.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 101 – KRITERIA KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN H30. DepBUMN. Cakupan PP dan Peraturan TARGET: PP dan Peraturan TARGET H30: Penyusunan RPP selesai. tahapan: Dephukham. H75.

2 triliyun pertahun TARGET H30: XXX H30: XX% Telah dipersiapkan surat Menteri Negara Koperasi dan UKM kepada Menteri Keuangan untuk mengalokasikan Dana Penjaminan sebesar Rp. 2 triliyun pertahun Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Kemeneg BUMN. Kementerian Negara Koperasi dan UKM Penyelesaian perangkat pendukung penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN TARGET: Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. Kemtan. DAN H100 6 TARGET H50: XXX Penyusunan RPP selesai. tahapan: [1] RPP dikirim oleh Depkumham ke DESDM [2] RPP dikirim oleh MESDM kepada Presiden [3] Proses di Setneg Penyusunan Permen ESDM selesai. tetapi DJA sampai dengan saat ini belum pernah terlibat/dilibatkan dalam pembahasan. Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H50: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Telah dilaksanakan harmonisasi di Depkumham dengan mengundang DJP dan DJA (Direktorat PNBP). No. H50. tahapan: Draft Permen ESDM di bahas di Sekjen ESDM (biro hukum) TARGET H75: XXX Penyusunan RPP Selesai. Catatan Depkeu (DJA): Untuk tahun 2010.0174/30/MEM. TARGET H50: XXX H50: XX% . Kemdagri. RPP telah diharmonisasikan di Seskab. penyediaan dana tersebut di dalam DIPA tidak memungkinkan di dalam 100 hari kerja karena harus melalui persetujuan DPR. selanjutnya dalam surat tersebut diharapkan juga Menteri Keuangan dapat menyiapkan dokumen dan produk hukum yang diperlukan dalam rangka pengalokasian APBN-P tersebut (antara lain : peraturan Pemerintah tentang penyertaan modal negara dalam perusahaan penjamin. Tahapan: RPP di tanda tangani oleh Presiden Penyusunan Permen ESDM selesai.S/2010 tanggal 7 Januari 2010. Kemkeu (DJA).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 102 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Kemperin. 2 trilyun dalam APBN-P 2010. KKP. tahapan: Draft Permen ESDM di tanda tangani oleh Menteri TARGET H100: PP dan Peraturan Menteri ESDM H100: XX% tentang Pasokan batubara Dalam Negeri (DMO) yang mencakup kebijakan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan batubara dalam negeri P22: Revitalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) (P22A1) Penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. H75: XX% Catatan Depkeu (DJA): Berdasarkan informasi ESDM. Kemdag. H75.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 103 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Catatan Depkeu (DJA) : Sampai dengan saat ini DA belum dilibatkan untuk menindaklanjuti RA ini. Neraca Migas terbit Januari 2010. H75. Industri pupuk dan Pertamina. ESDM. 2001 (P26A111K1U3) TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% Kemajuan 70% Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan informasi dari Direktorat Industri Kimia Hulu . Depkeu (BKF). Pembahasan penyediaan bahan baku gas dilakukan bersamaan dengan pembahasan pupuk organik skala menengah kecil (P26A132) Sedang disusun rencana gas tahun 2010-2015 termasuk kebutuhan gas untuk revitalisasi koordinasi BP Migas. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: [1] Terbitnya surat jaminan gas dari H100: XX% BP Migas dan Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No.22 th.Depperin. Kementrian Jaminan ketersediaan suplai BUMN. bahwa pembahasan dilakukan sejak 2007 bersama Dep ESDM. 2001 (P26A111K1U3) . H50. DAN H100 6 TARGET H75: XXX RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF) : Kepala BKF telah menyampaikan nota dinas kepada Menteri Keuangan ND-1260/KF/2009 tanggal 30 Desember 2009 yang isinya memuat bahwa arahan Presiden untuk menambah KUR tahun 2010 sebesar Rp2T dapat ditindaklanjuti dan diusulkan RAPBN-P sebelum Maret 2010 Catatan Depkeu (BKF) : Penyediaan dana penjaminan KUR untuk program ekspansi KUR 2010 telah dialokasikan dalam draft RAPBN-P tahun 2010 TARGET H100: Perangkat pendukung yang dapat menjamin terlaksananya penyediaan dana penjaminan untuk KUR dalam APBN sebesar Rp. BP gas bumi sesuai kebutuhan Migas selama minimal 20 tahun dengan harga khusus untuk industri pupuk (P26A111K1) TARGET: [1] Terbitnya surat jaminan gas dari BP Migas dan Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No. 2 triliyun pertahun P26: Revitalisasi Industri pupuk dan gula Revitalisasi Industri Pupuk Urea (P26A11) Penyediaan Bahan Baku Depperin Gas (P26A111) H100: XX% Dep. BP Migas.22 th. Depkeu (DJA) belum dilibatkan karena belum membahas masalah keuangan.

700 posyandu. 3. Rencana aksi ini seharusnya sudah tidak terkait dengan Depkeu. Pada TA 2009 dialokasikan dana sebesar Rp 72 miliar untuk bantuan operasional dengan target 241. 4.35 miliar yang dananya tidak dibintang sejak awal tahun 2009. dimulai dengan Posyandu dan dirujuk ke 6.SK Menkes tentang DKR sebagai penerima bansos .1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Dana tersebut hanya dialokasikan di Ditjen Binkesmas (tidak ada di unit eselon I lainnya.S-8/MK.. H75. dialokasikan pula dana kegiatan Respon Cepat Penemuan Kasus Rp7. termasuk di Setjen).Proses pencairan bintang pada DIPA 2009 Catatan Depkeu(DJA) : 1. 5. sehingga seharusnya program ini sudah tidak terkait dengan Depkeu. DAN H100 6 H30: XX% RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT UKURAN KEBERHASILAN 5 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 25% .Sudah ditentukan DKR yang menerima bansos . Mekanisme pencairan dana kegiatan tersebut (sesuai ketentuan Depkes). Tidak terdapat tanda bintang di DIPA dimaksud (sesuai hasil pengecekan DJA). Catatan Depkeu(DJA) : Sesuai dengan kemajuan H50.n. Menteri Keuangan No. adalah dana dicairkan apabila ada laporan/informasi. H50. 1 2 3 4 P36: Peningkatan kesehatan masyarakat untuk mempercepat pencapaian target MDGs (P36A1) Penanganan kasus Departemen Kesehatan Depdagri.000 kasus fasilitas kesehatan •TARGET: Tersedia biaya TARGET H30: XXX untuk penemuan 6000 kasus gizi buruk oleh kader dan dirujuk ke fasilitas kesehatan TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% . Disamping itu.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 104 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL JENDERAL ANGGARAN Bidang Kesejahteraan Rakyat KRITERIA KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN H30. Depkeu (DJA) •Jumlah kasus gizi buruk gizi buruk oleh kader yang ditemukan oleh kader Posyandu.Dana tersebut untuk membiayai informasi/laporan Dinas Kesehatan/LSM/masyarakat/media massa tentang adanya kejadian gizi buruk untuk dilaporkan kepada Kantor Pusat Ditjen Binkesmas dengan target 6000 kasus. Dana tersebut sudah terealisasi seluruhnya (100%) dengan cara ditransfer dari kantor pusat Ditjen Binkesmas ke rekening masing-masing posyandu. (Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. 2.

Depdagri. DAN H100 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 UKURAN KEBERHASILAN 5 % CAPAIAN KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 6 7 TARGET H100: Tersedia biaya untuk penemuan 6000 H100: XX% kasus gizi buruk oleh kader dan dirujuk ke fasilitas kesehatan P38: Peningkatan ketersediaan. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini. Ditetapkan Permenkes •TARGET: TARGET H30: XXX Permenkes tentang Praktek Kemeneg Daerah tentang praktik tenaga Selesainya kedua Permenkes tenaga kesehatan (perawat Tertinggal. perawat.S8/MK. Menteri Keuangan No. perawat. sarjana kesehatan masyarakat. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes. Menteri Keuangan No. bidan. H75. perbatasan dan kepulauan (DTPK) (P38A1) Disusunnya Departemen Kesehatan Depkeu (DJA). H50.S-8/MK. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes. (Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. kesehatan (perawat dan tentang praktik tenaga TARGET H50: XXX dan bidan) di DTPK dan bidan) di DPTK kesehatan (perawat dan Peraturan Menkes tentang pemberian insentif bagi tenaga kesehatan strategis (dokter. Rencana aksi ini seharusnya tidak terkait Depkeu (Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a.n. terutama di daerah terpencil.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 105 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN H30. pemerataan dan kualitas tenaga kesehatan. asisten apoteker dan analis) di DTPK •TARGET: Selesainya Permenkes tentang insentif nakes di DTPK TARGET H100: Selesainya kedua Permenkes tentang H100: XX% praktik tenaga kesehatan (perawat dan bidan) di DTPK TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Selesainya Permenkes tentang insentif nakes di DTPK H100: XX% .n. H75: XX% Ditetapkannya Permenkes tentang pemberian insentif bagi tenaga kesehatan strategis (dokter. asisten apoteker dan analis) di DTPK bidan) di DTPK TARGET H75: XXX H30: XX% H50: XX% 50% sudah meninjau ulang tentang Permenkes yang sudah ada tentang praktik Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini. Catatan Depkeu (DJA): Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini. sarjana kesehatan masyarakat. bidan. Catatan Depkeu (DJA) : Depkes sampai saat ini belum melibatkan DJA dalam rencana aksi ini.1/2010 tanggal 8 Januari 2010).1/2010 tanggal 8 Januari 2010). ahli gizi. DJA baru dapat melakukan pembahasan jika sudah mendapat usulan dari Depkes. sanitarian. ahli gizi. sanitarian. tertinggal. Catatan Depkeu (DJA) : Keterangan sama dengan H75 50% sudah meninjau ulang tentang Permenkes yang sudah ada tentang insentif nakes di DTPK Catatan Depkeu (DJA): Depkeu (DJA) tidak terkait dengan rencana aksi ini.

dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan . ANGGARAN II. Kemenneg BUMN Paling lambat Oktober 2014 DIREKTORAT ANGGARAN I. Pertamina. Memastikan peningkatan investasi di bidang pangan. Mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah. Deptan. pupuk.Penyediaan anggaran secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menunjang program di bidang pangan. ESDM. PLN. Bappenas. Bappenas. yang mencakup namun tidak terbatas pada : i. BPH Migas. Kemenneg BUMN Paling lambat Juni 2014 DIREKTORAT PNBP . DAN ANGGARAN III b. dan industri pedesaan sesuai dengan persetujuan Kemenko Perekonomian. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. pertanian. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. Deptan. pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk . PLN.Memperbaiki dan menyederhanakan SOP verifikasi perhitungan subsidi BBM. pertanian. ESDM.Penyempurnaan PMK No. tepat jumlah. Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi i. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. dan terjangkau RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . Pertamina. listrik. BPH Migas. perhitungan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 106 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN INDIKATOR KINERJA a. Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien Kemenko Perekonomian. 261/2008 tentang tatacara penyediaan anggaran.

1 tahun 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 107 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN Bidang : Infrastruktur NO. BPN Dit. 100 hari Menteri Keuangan Deptan. Anggaran I 1. Pengelolaan dana BLU Tanah dan Land Capping sebaiknya berada di 1 tangan (DJ-BM) supaya kontrolnya jelas dan birokrasinya lebih sederhana Kejelasan lanjutan pemutihan KUT Membahas perubahan sistem Dokumen RAPBN-P pengelolaan pendanaan BLU Tanah 2010 dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010 Menyusun mekanisme dan Tata cara PMK pemutihan KUT (pelaksanaan APBN 2010) dan hasil audit dari BPK. Anggaran I . PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB Menteri PU Depkeu Bappenas1 tahun Dit.

Anggaran II Dit. 100 hari Dit. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT K/L terkait R&D 1 tahun 1 tahun 2. Menyediakan anggaran R&D berdasarkan program prioritas K/L yang bersangkutan sesuai dengan alokasi anggaran dalam APBN. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN Menyusun Road Map rasionalisasi subsidi listrik 100 hari Dit. Revisi Keppres 80/2003 Memberikan usulan mengenai percepatan proses pengadaan barang dan jasa. Anggaran III 3. termasuk dalam angka pinjaman luar negeri dengan tetap menjaga prinsipprinsip tata kelola yang baik Menjadi narasumber dalam proses revisi Perpres No. Anggaran I Dit. P-APBN Dit. Sistem Penganggaran UNIT ESELON II 1. Merevisi Perpres 71 tahun 2005 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Jenis BBM Tertentu Merevisi Perpres No. P-APBN Dit. PNBP Dit. Peraturan Pelaksanaan 1 tahun Dit. Penyediaan anggaran R&D lebih besar oleh pemerintah dengan alokasi yang efektif dan efisien. P-APBN Dit. PNBP 4. PNBP 5. 1 Tahun . inflasi dan kinerja ekonomi Memberikan masukan tentang rasionalisasi subsidi listrik 1 Tahun Dit. 71 Tahun 2005 Memberikan masukan dari sisi APBN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 108 – Bidang : Industri dan Jasa No.

. PNBP 7.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 109 – NO. PNBP Dit. Menyusun Road Map rasionalisasi subsidi BBM Sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan Penghapusan PNBP dokumen untuk perusahaan Freight Forwarding Memberikan masukan tentang rasionalisasi subsidi BBM Menjadi narasumber dalam proses revisi PP Cost Recovery Mengusulkan RPP tentang Penghapusan PNBP Dit. P-APBN Dit. P-APBN Dit. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II 6. 8. PNBP Dit.

PPSP.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 110 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENINGKATAN DAN PENGAMANAN PENERIMAAN PAJAK Peningkatan penerimaan pajak negara yang optimal 1 2 Persentase realisasi penerimaan pajak terhadap target penerimaan pajak Persentase realisasi waktu pelayanan terhadap janji waktu pelayanan (Quick-Win) 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT JENDERAL PAJAK TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJP 2 Perumusan kebijakan di bidang PPN. BPHTB. Peraturan pelaksanaan UU PPN Peraturan pelaksanaan yang mengatur Pembebasan PPN bahan baku perak sesuai dengan UU PPN 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional . KUP. yang telah menampung perihal restitusi dan Pajak Masukan Kajian manfaat biaya Penghapusan VAT untuk industri media dan implikasinya pada APBN. PBB. dan Bea Materai Kepuasan unit di lingkungan DJP yang tinggi Peningkatan Efektifitas pembuatan peraturan 1 Indeks Kepuasan Unit 75 83 SEKRETARIAT DJP Persentase penyelesaian usulan pembuatan / Revisi peraturan perundangan terhadap peraturan perundangan yang harus dibuat / direvisi PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 100% 100% DIREKTORAT PP I 2 Desember 2011 Kontrak Kinerja 3 4 5 6 7 Kajian tentang pengampunan pajak dengan terlebih dulu melakukan evaluasi pelaksanaan Sunset Policy Peraturan pelaksanaan UU PPN.

7 Peraturan Pelaksanaan mengenai Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yang melakukan R&D. 8 4 Peningkatan efektivitas pemeriksaan. 3 Perumusan kebijakan di bidang PPh dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional Peningkatan Efektifitas pembuatan peraturan 1 Persentase penyelesaian usulan pembuatan / Revisi peraturan perundangan terhadap peraturan perundangan yang harus dibuat / direvisi PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 3 PMK pemberian PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 111 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 8 kepada wisatawan. dalam UU APBN 4 Kajian implikasi pemberian insentif untuk pembangunan refinery baru kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010 5 6 Menyelesaikan revisi PP cost recovery Kajian manfaat dan biaya pemberian insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. dan optimalisasi pelaksanaan penagihan Pemeriksaan dan Penagihan yang Optimal untuk peningkatan kepatuhan Wajib Pajak dan Peningkatan Penerimaan Pajak Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM Persentase jumlah Refund Discrepancy dan Penerimaan Pajak dari Pemeriksaan dan Penagihan terhadap Realisasi Penerimaan Pajak 4% 3% Temu Nasional DIREKTORAT PEMERIKSAAN DAN PENAGIHAN Desember 2010 Temu Nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional 1 Februari 2010 Temu Nasional 1 Februari 2010 Temu Nasional 100% 100% DIREKTORAT PP II PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Ketentuan pelaksanaan tentang pengembalian VAT TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Temu Nasional 1 Februari 2010 2 Desember 2011 Kontrak Kinerja .

dan penyelesaian SUB. Pasal 16 UU BPHTB 100% 100% 8 Perumusan kebijakan. KEPATUHAN DAN PENERIMAAN 2 Kajian implikasi pemberian insentif untuk pembangunan 1 Februari 2010 Temu Nasional . dan Kualitas Penilaian Persentase jumlah WP OP terhadap jumlah KK 23% 27% 7 Peningkatan pelayanan di bidang penyelesaian keberatan dan banding Tingkat Pelayanan yang tinggi atas Pengurangan. Keberatan. Pasal 15 UU PBB. Penerimaan Pajak Negara yang Optimal 1 Persentase pertumbuhan realisasi penerimaan pajak 15% 20% DIREKTORAT POTENSI. Objek Pajak.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 112 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Penyelesaian penyidikan yang optimal PROGRAM/KEGIATAN (1) 5 Peningkatan kegiatan intelijen dan efektivitas penyidikan perpajakan Peningkatan pelaksanaan ekstensifikasi perpajakan INDIKATOR (3) Persentase berkas penyidikan yang diserahkan ke Kejaksaan TARGET 2010 (4) 25% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT INTELIJEN DAN PENYIDIKAN DIREKTORAT EKSTENSIFIKASI DAN PENILAIAN DIREKTORAT KEBERATAN DAN BANDING 2014 (5) 30% 6 Peningkatan Jumlah Wajib Pajak. dan Memori serta Kontra Memori PK MA 1 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Pasal 16 UU KUP 100% 100% 2 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Pasal 36 UU KUP 100% 100% 3 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Pasal 20 UU BPHTB 100% 100%(*) *Sesuai UU PDRD dialihkan ke PEMDA 4 Persentase realisasi rata-rata waktu pelayanan terhadap Janji Waktu Pelayanan Keberatan Pasal 25 UU KUP. Tanggapan. evaluasi dan pelaksanaan di bidang analisis dan evaluasi penerimaan perpajakan. standardisasi dan bimbingan teknis.

komunikasi dan Informasi perpajakan 11 Peningkatan. Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM Indeks kepuasan masyarakat atas pelayanan dan penyuluhan 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Temu Nasional Temu Nasional Temu Nasional 9 Peningkatan kualitas pelayanan serta efektivitas penyuluhan dan kehumasan Tingkat Kepuasan yang Tinggi atas Pelayanan Perpajakan 72 76 DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT 10 Pembinaan. pemantauan dan dukungan teknis di bidang teknologi. 5 6 7 Kajian tentang pengampunan pajak dengan terlebih dulu melakukan evaluasi pelaksanaan Sunset Policy Kajian manfaat biaya Penghapusan VAT untuk industri media dan implikasinya pada APBN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 113 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) refinery baru kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010 3 4 Menyelesaikan revisi PP cost recovery Kajian manfaat dan biaya pemberian insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. pembinaan dan pengawasan SDM. dan pengembangan organisasi Kepuasan yang tinggi dari pengguna teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indeks kepuasan pengguna TIK 70 80 DIREKTORAT TEKNOLOGI INFORMASI PERPAJAKAN SDM perpajakan yang profesional dan organisasi yang kondusif 1 Persentase kesesuaian kompetensi pegawai terhadap kompetensi jabatan (eselon IV lingkup DJP) 67% 75% DIREKTORAT KEPATUHAN INTERNAL DAN TRANSFORMASI SUMBER .

komunikasi dan informasi Teknologi informasi dan komunikasi yang handal dan tepat guna 100% 100% DIREKTORAT TRANSFORMASI TEKNOLOGI DAN KOMUNIKASI 13 Pelaksanaan reformasi proses bisnis Proses Bisnis yang efektif dan efisien 1 2 Persentase penyelesaian proses bisnis/ SOP terhadap proses bisnis/SOP yang harus dibuat Persentase penyelesaian proses bisnis/ SOP terhadap proses bisnis/SOP yang harus disempurnakan % realisasi penerimaan pajak Persentase pencairan tunggakan terhadap jumlah tunggakan pajak Persentase realisasi pemeriksaan terhadap rencana pemeriksaan % realisasi penerimaan pajak Persentase realisasi pelayanan tepat waktu terhadap jumlah pelayanan Persentase jumlah WP OP terhadap jumlah KK Persentase pencairan tunggakan terhadap jumlah tunggakan pajak Persentase realisasi pemeriksaan terhadap rencana pemeriksaan Persentase penyelesaian pemindaian berkas SPT 100% 100% 100% 15% 66% 100% 100% 23% 15% 66% 71% 100% 100% 100% 19% 75% 100% 100% 27% 19% 74% 79% DIREKTORAT TRANSFORMASI PROSES BISNIS KANWIL DJP 14 Pembinaan penyelenggaraan perpajakan dan penyelesaian keberatan di bidang perpajakan di daerah Penerimaan pajak yang optimal 1 2 3 15 Pelaksanaan administrasi perpajakan didaerah Penerimaan pajak yang optimal 1 2 3 4 5 KPP 16 Pengelolaan data dan dokumen perpajakan Kepuasan yang tinggi dari pengguna data dan dokumen perpajakan PUSAT PENGOLAHAN DATA DAN DOKUMEN PERPAJAKAN .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 114 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Persentase pelaksanaan pengujian kepatuhan terhadap rencana Persentase penyelesaian pembangunan dan pengembangan sistem informasi terhadap target TARGET 2010 (4) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DAYA APARATUR 2014 (5) 100% 12 Perencanaan.pengembangan. dan evaluasi di bidang teknologi.

984.816.001.814.197.000 2013 (5) 0.368.396 3.594.675.967 2.125.294.139.718.540.000 3.960 2.980.838 51.767.929.128.979.218 2.906.812.049.590.525.136.812.165.499 2.031. 3 4 5 6 PPSP.000 2.396 274.212. 9 Peningkatan kualitas pelayanan serta efektivitas penyuluhan dan kehumasan 63.930 3.457. standardisasi dan bimbingan teknis.837.949.207.457 2.005.055.590.998. BPHTB. KUP.918.386.221.233.627.884 856.552.676. evaluasi dan pelaksanaan di bidang analisis dan evaluasi penerimaan perpajakan.358 2.427.569.074 1.003.044.519. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Peningkatan dan Pengamanan Penerimaan Pajak RM PHLN KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJP 2 Perumusan kebijakan di bidang PPN.000 12.047 4.073 4.952.455 3.886.000 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.248.110 4.902.180.665.118.036.734.94699 4.993.073 0 7 Peningkatan pelayanan di bidang penyelesaian keberatan dan banding 8 Perumusan kebijakan.005.173.968.000 217.057 2.200.000 2012 (4) 0.01227 4.003.000 2.587 5.605 2.976.156.494.322 14.246.660.952.004.510.000 2014 (6) 1.262.451.688.471 65.475.767.386.168.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 115 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PROGRAM/KEGIATAN (1) A.000 2.348 977.552.225.203.373 3.162.467.205 4. dan Bea Materai Perumusan kebijakan di bidang PPh dan perjanjian kerjasama perpajakan internasional Peningkatan efektivitas pemeriksaan.441.811.944 3.828.735.046.93226 4.736.228 3.97450 4.280.492.201 3.205 1.631.377.498.750.000 4.161.086.855.111 2.306.556.926.094.455.756.180 2.838 4.696.609 3.483.241.869 3.702.444.253. dan optimalisasi pelaksanaan penagihan Peningkatan kegiatan intelijen dan efektivitas penyidikan perpajakan Peningkatan pelaksanaan ekstensifikasi perpajakan 741.000 58.656.673.482.052.915.174.090.182.000 3.000 703.916 84.501.000 3.423 3.100.351. PBB.485.558 73.919.525.080.848 .884.118 11.061 976.423 497.799 12.729.330 16.799 3.125.

000 114.235.830 2012 (4) 118.766.918.755.735.303. pemantauan dan dukungan teknis di bidang teknologi.582.597.356.120.125.136.039 362.148.073.138.524.201.818.539.208.000 328.079.459.685.759.348 182.000 217. dan evaluasi di bidang teknologi.000 541.326.342.802.501.633 31.000 26.016.123 274.016.570 51.212.995.055.289.028.330 2.660 69.457 2.592.254.204.398.269. pembinaan dan pengawasan SDM.281.613.914 2.313 2.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 10 Pembinaan.852 2013 (5) 133.777.810.527. komunikasi dan Informasi perpajakan 11 Peningkatan.482.969 2.496 2. komunikasi dan informasi 13 Pelaksanaan reformasi proses bisnis RM PHLN 14 Pembinaan penyelenggaraan perpajakan dan penyelesaian keberatan di bidang perpajakan di daerah 15 Pelaksanaan administrasi perpajakan didaerah 16 Pengelolaan data dan dokumen perpajakan 2011 (3) 106.762.795 27.774 35.790.751.976 2.521.767.750.147.000 365.110.456.430.371. pengembangan.245 3.914 0 411.021 2.021.072 224.801.308.656 24.508.000 2.123 88.992.857.280.000 336.503.343.840 2014 (6) 152. dan pengembangan organisasi 12 Perencanaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 116 – ALOKASI 2010 (2) 115.595.218.841.094.499 132.531 2.005 168.023.000 23.180.561.474.963.125.663.072 497.691.626 .865.280.081.509.570 18.000 2.059 721.453.642.783.000 241.862.203.316.506.186.367.707.394 174.402.

Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain.PU. DIREKTORAT PP II RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II Desember 2011 . Memastikan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di 5 lokasi melalui skema Public-Private Partnership sebelum 2012.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 117 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK INDIKATOR KINERJA a. Menyiapkan PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Dep. yang mencakup namun tidak terbatas pada : i. Depdag DIREKTORAT PP I. Dephub.

ESDM Dit PP II. – Memberikan insentif untuk pembangunan refinery baru Kajian insentif 100 hari Menteri Keuangan Dep. Dit PKP – Sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan Dit PP II. PMK pemberian PDRI 100 hari 2. Dit PKP . Memberikan insentif khusus (fiskal) untuk pelaksanaan optimalisasi produksi migas Memberikan fasilitas PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi. dan Setneg Dit PP II. Dit PKP – Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM Menteri Keuangan dan Menteri ESDM Menyelesaikan revisi PP Cost PP cost recovery Recovery 100 hari Depkumham. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB Menteri Keuangan ESDM Dit PP II 1. dalam UU APBN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 118 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL PAJAK Bidang : Energi No. Melakukan kajian implikasi kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 119 – No. Dit PKP – Menerbitkan Perpres untuk penurunan pajak 5% dalam jangka waktu 15 tahun untuk PLTP (Panas Bumi) Dit PP II . Kajian insentif 100 hari Menteri Keuangan Dep.ESDM Dit PP II. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB – Menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak Melakukan kajian manfaat dan biaya pemberian insentif terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN.

Restitusi PPN bisa dilakukan setiap bulan . – Diperlukan UU tentang “Pengampunan Pajak” untuk semua lapisan wajib pajak. Sudah ditampung dalam amandemen UU PPN yang akan mulai berlaku 1 April 2010 Kajian 100 hari Menteri Keuangan Dit PP I. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT UNIT ESELON II 1. Dit PKP – Amandemen UU PPN antara lain : . Peraturan Pelaksanaan UU PPN 100 hari Dit PP I – Penghapusan VAT untuk industri media (kertas dan koran) Melakukan kajian manfaat biaya Penghapusan VAT untuk industri media dan implikasinya pada APBN. yang telah menampung perihal restitusi dan Pajak Masukan Kajian 100 hari Dit PP I.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 120 – Bidang : Industri dan Jasa No. 575 tahun 2000 dan penerbitan peraturan percepatan restitusi pajak sehingga paling lambat 3 bulan Peraturan Pelaksanaan 100 hari Dit PP I . Melakukan kajian tentang pengampunan pajak dengan terlebih dulu melakukan evaluasi pelaksanaan Sunset Policy Menyelesaikan peraturan pelaksanaan UU PPN.Pajak Masukan dalam masa belum produksi dapat dikreditkan seluruhnya dan tidak perlu di bayar kembali. Dit PKP – Penyempurnaan KMK No.

Depdag 1 tahun Dit PP I 3. ? Sudah ditampung dalam amandemen UU PPN. Pembebasan PPN atas bahan baku perak. Menerbitkan peraturan pelaksanaan yang mengatur Pembebasan PPN bahan baku perak sesuai dengan UU PPN Peraturan Pelaksanaan 100 hari Menteri Keuangan Depperin. sheet dan crepe. 1 tahun Dit PP II . ? pelatihan SDM sudah Biaya masuk dalam potongan perhitungan PPh PMK 1 tahun Menteri Keuangan K/L terkait Dit PP I – 100 hari Dit PP I – Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yg melakukan pelatihan peningkatan mutu SDM. – Menghapus pajak barang mewah atas bahan makanan dan minuman.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 121 – No. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II 2. Insentif potongan PPh 5% bagi perusahaan yang melakukan R&D. crumb rubber. VAT dikembalikan kepada wisatawan. ? Penerbitan ketentuan pelaksanaan tentang pengembalian VAT kepada wisatawan. Biaya R&D sudah masuk dalam Peraturan potongan perhitungan PPh (pajak Pelaksanaan penghasilan) 1 tahun Menteri Keuangan K/L terkait R&D 1 tahun Dit PP II 4.

perdagangan. PELAYANAN. DITJEN BEA DAN CUKAI . dan masyarakat serta 2 optimalisasi penerimaan Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan dan cukai 3 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJBC 2 1 Terciptanya kinerja kesekretariatan DJBC yang efisien Terwujudnya dukungan yang optimal terhadap pencapaian sasaran strategis DJBC 3 2 1 Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat Persentase penyelesaian program pengembangan SDM Persentase Modernisasi Unit Organisasi di lingkungan DJBC 4 Persentase penyediaan sarana dan prasarana DJBC tertentu 80% 90% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3 1 2 Jumlah Penerimaan Bea dan Cukai Rasio realisasi dari janji pelayanan quick win ke pihak eksternal Persentase jumlah kasus tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diserahkan ke Kejaksaan 40% 50% 100% 80% 100% 85% DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) SES.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 122 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGAWASAN. DAN PENERIMAAN DI BIDANG KEPABEANAN DAN CUKAI 1 Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang memberikan fasilitasi kepada industri.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 123 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan di bidang teknis kepabeanan 2 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif 3 Terciptanya pelayanan yang pasti di bidang kepabeanan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) 5 4 3 1 2 PROGRAM/KEGIATAN (1) 2 Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Bidang Kepabeanan INDIKATOR (3) Fekuensi pemutakhiran pada Data Base Harga I Persentase rumusan peraturan yang menjadi keputusan di bidang teknis kepabeanan Persentase ketepatan waktu penyelesaian penetapan nilai pabean dan klasifikasi barang PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 6 PMK tentang Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dalam rangka pengembangan Sistem Logistik 7 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 8 9 SOP tentang pemeriksaan Memperbaiki PMK dan Perdirjen mengenai prosedur penetapan nilai pabean termasuk prosedur pengaduan dan keberatan 10 Menerapkan secara konsisten dan memberikan TARGET 2010 (4) 12X 75% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT TEKNIS KEPABEANAN 2014 (5) 12X 80% 80% 75% Oktober 2014 Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja Desember 2010 Desember 2010 Temu Nasional Temu Nasional Desember 2010 Temu Nasional .

dan masyarakat serta optimalisasi pendapatan 1 Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian fasilitas pembebasan dan keringanan bea masuk 70% 80% DIREKTORAT FASILITAS KEPABEANAN 2 Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian fasilitas pertambangan 70% 80% 2 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang fasilitas kepabeanan 3 Persentase realisasi janji layanan publik terkait pemberian Tempat Penimbunan Berikat (TPB) 70% 80% 3 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan efektif 4 Persentase realisasi janji layanan pemberian fasilitas Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) melalui modernisasi sistem dan prosedur 70% 80% 5 Persentase penyelesaian rancangan PMK dan aturan pelaksanaan lainnya terkait sistem pelayanan kepabeanan yang mendukung Sistem Logistik Nasional (Customs Advance Trade System) - 100% 6 PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang Oktober 2014 Kontrak Kinerja .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 124 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) penjelasan kepada pengguna jasa kepabeanan mengenai SOP tentang penetapan nilai pabean 11 Memperbaiki sistem penanganan pengaduan masyarakat khusus mengenai penetapan nilai pabean Desember 2010 Temu Nasional 3 Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Fasilitas Kepabeanan 1 Terciptanya administrator di bidang fasilitas kepabeanan yang dapat memberikan dukungan industri. perdagangan.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 125 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 7 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) kepabeanan dan perpajakan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 8 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 9 PMK untuk memadukan Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dengan Kawasan Ekonomi Khusus di 5 lokasi (di Jawa dan Sumatera) 10 Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam 11 Dokumen cetak biru transportasi multimoda sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Oktober 2014 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 4 Perumusan Kebijakan dan Bimbingan Teknis Bidang Cukai 1 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang cukai 1 2 Tingkat ketepatan waktu penyediaan pita cukai Persentase permohonan pengembalian cukai yang selesai diproses 25 hari 75% 20 hari 80% DIREKTORAT CUKAI 2 Terwujudnya pengendalian konsumsi dan produksi barang kena cukai dengan tetap mempertimbangkan aspek penerimaan cukai 3 Persentase cukai yang dibayar tepat waktu dibandingkan dengan jumlah cukai secara 98% 99% .

penindakan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 126 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 3 Terciptanya institusi yang dapat memberikan pengawasan efektif dan pelayanan terbaik. Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri. perdagangan. & kualitas SDM 1 Februari 2010 Program 100 Hari 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Audit Bidang Kepabeanan dan Cukai 1 Terwujudnya audit kepabeanan dan audit cukai yang dapat mendukung peran DJBC dalam mengamankan hak negara 1 Persentase pelaksanaan audit sesuai dengan DROA (Daftar Rencana Obyek Audit) 80% 90% DIREKTORAT AUDIT 2 3 Persentase Hasil Evaluasi Laporan Hasil Audit PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 80% 2 3 Terwujudnya profesionalisme SDM Auditor Terwujudnya efektivitas di bidang pengawasan 90% Oktober 2014 Kontrak Kinerja . penindakan dan penyidikan yang handal 4 Terwujudnya pengawasan efektif dan pelayanan yang efisien 6 5 4 3 2 1 keseluruhan PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 5 Pelaksanaan Pengawasan dan Penindakan atas Pelanggaran Peraturan Perundangan. prosedur. dan penyidikan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional Desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum 40% 50% DIREKTORAT PENINDAKAN DAN 15% 10% PENYIDIKAN 60% 80% 60% 80% Oktober 2014 Kontrak Kinerja 1 Februari 2010 Program 100 Hari 7 Sistem. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan 2 Terciptanya institusi kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat 3 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang intelijen. Intelijen dan Penyidikan Tindak Pidana Kepabeanan dan Cukai 1 Persentase tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diserahkan ke Kejaksaan Persentase pemblokiran dibandingkan dengan jumlah perizinan Persentase operasi penegahan barang larangan dan pembatasan Persentase pemanfaatan sarana intelijen.

penyempurnaan perancangan dan/atau pelaksanaan kebijakan dan peraturan perundangundangan di bidang kepabeanan dan cukai Persentase pencairan tagihan terhadap jumlah tagihan bea masuk. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 127 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri. dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan 2 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang penerimaan dan peraturan kepabeanan dan 3 cukai Tercapainya perumusan peraturan di bidang kepabeanan dan cukai 4 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif 4 3 1 2 100% 70% 100% 80% 3 2 1 PROGRAM/KEGIATAN (1) 7 Perumusan Kebijakan dan Evaluasi Pelaksanaan Kerjasama Internasional INDIKATOR (3) Persentase kebijakan pabean nasional terhadap hasil kesepakatan kepabeanan internasional Persentase rumusan kebijakan kerjasama internasional dibidang kepabeanan dan cukai PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional TARGET 2010 (4) 70% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT KEPABEANAN 2014 (5) 75% 90% 95% INTERNASIONAL Oktober 2014 Kontrak Kinerja 2 Perumusan Kebijakan dan Peningkatan Pengelolaan Penerimaan Bea dan Cukai Jumlah penerimaan bea dan cukai Persentase penyelesaian evaluasi dan rekomendasi. sesuai dengan standar internasional Terwujudnya profesionalisme SDM kepabeanan internasional 3 Terwujudnya sistem pengawasan dan pelayanan sesuai dengan standar WCO (World Customs Organization) 8 1 Terciptanya administrasi penerimaan kepabeanan dan cukai yang tertib dan dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri. dan pajak dalam rangka impor Persentase peraturan pelaksanaan dibidang kepabeanan dan cukai yang selaras (tidak bertentangan dengan) dengan peraturan perundang-undangan DIREKTORAT PENERIMAAN DAN PERATURAN KEPABEANAN DAN CUKAI 55% 60% 75% 90% . cukai. perdagangan. perdagangan.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 128 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan 6 PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional 7 PMK tentang mandatory NSW impor dan ekspor di 5 pelabuhan utama 8 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 9 PMK mengenai jam kerja DJBC 24 jam sehari dan 7 hari seminggu 10 Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja Oktober 2014 Oktober 2014 Kontrak Kinerja Oktober 2014 Kontrak Kinerja Desember 2011 Kontrak Kinerja 1 Februari 2010 Temu Nasional 1 Februari 2010 Program 100 Hari 9 Perumusan Kebijakan dan Pengembangan Teknologi Informasi Kepabeanan dan Cukai 1 Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik berbasis teknologi informasi kepada industri. dan masyarakat. perdagangan. serta 1 Persentase sistem aplikasi dan infrastruktur TI yang sesuai dengan proses bisnis DJBC 100% 100% DIREKTORAT INFORMASI 2 3 Persentase downtime sistem informasi Rata-rata persentase penyelesaian 1% 70% 1% 75% KEPABEANAN DAN CUKAI .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 129 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
optimalisasi penerimaan 2 Terwujudnya profesionalisme SDM di bidang teknologi informasi kepabeanan dan 3 cukai Terwujudnya tingkat pelayanan yang efisien kepada pemangku kepentingan berkaitan 4 dengan layanan berbasis teknologi informasi Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif yang berbasis teknologi informasi 7 6 5 4

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)
pengembangan aplikasi sesuai rencana Persentase penyelesaian aplikasi sistem kepabeanan yang terintegrasi dengan portal NSW PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional PMK tentang Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dalam rangka pengembangan Sistem Logistik 8 PMK tentang mandatory NSW impor dan ekspor di 5 pelabuhan utama 9 PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 10 PMK untuk memadukan Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dengan Kawasan Ekonomi Khusus di 5 lokasi (di Jawa dan Sumatera)

TARGET 2010 (4) 2014 (5)

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

Desember 2010

Kontrak Kinerja

Oktober 2011

Kontrak Kinerja

Oktober 2014

Kontrak Kinerja

Oktober 2014

Kontrak Kinerja

Oktober 2014

Kontrak Kinerja

Desember 2011

Kontrak Kinerja

Desember 2011

Kontrak Kinerja

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 130 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)
Temu Nasional

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)
11 Percepatan operasionalisasi NSW. Untuk 5 pelabuhan, NSW untuk import siap dilaksanakan akhir Desember 2009. Untuk pelabuhan yang lain, tergantung kebijakan dan kesiapan K/L lainnya.

Desember 2010

10 Perumusan Kebijakan, Pelaksanaan Kepatuhan Pelaksanaan Tugas, Evaluasi Kinerja, Analisis dan Tindak Lanjut Pemberian Rekomendasi

1

Peningkatan kepercayaan terhadap kinerja dan citra DJBC

1

Persentase pegawai DJBC kasus pelanggaran kode etik/disiplin pegawai

1%

0.50%

PUSAT KEPATUHAN INTERNAL KEPABEANAN DAN

2

Peningkatan kepatuhan pelaksanaan tugas dan efektivitas kinerja DJBC melalui pencegahan, penegakan, dan pembinaan kepatuhan internal

2

Indeks kepuasan pengguna jasa kepabeanan dan cukai. Jumlah kegiatan evaluasi kinerja DJBC secara berkala Persentase rekomendasi audit aparat pengawas fungsional yang telah ditindaklanjuti Persentase kegiatan internalisasi kepatuhan internal yang direalisasikan.

60%

65%

CUKAI

3

10X

10X

3

Peningkatan integritas, disiplin, dan profesionalisme sumber daya manusia Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai (PUSKI)

4

75%

80%

5

100%

100%

11 Pembinaan Peyelenggaraan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

1

Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi kepada industri, perdagangan, dan

1 2

Pencapaian target penerimaan bea dan cukai Persentase tindak pidana di bidang kepabeanan dan cukai yang diproses diserahkan ke Kejaksaan

100% 40%

100% 50%

KANTOR WILAYAH

2

masyarakat serta optimalisasi penerimaan Terwujudnya profesionalisme SDM kantor wilayah kepabeanan dan cukai

3

Realisasi audit dibandingkan dengan rencana

90%

95%

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 131 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
3 Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan yang efektif 12 Pembinaan Penyelenggaraan Kepabeanan dan Cukai di Daerah 2 1 Optimalisasi fungsi utama DJBC sebagai Fasilitator Perdagangan, Dukungan Industri, Penghimpunan Penerimaan dan Pelindung Masyarakat. Memberikan pelayanan yang efisien, berdasarkan prinsip " good governance " Meningkatkan kepatuhan mitra kerja DJBC 3 1 2 Pencapaian target penerimaan bea dan cukai Realisasi dari janji layanan terhadap pelayanan jalur prioritas dan jalur hijau ke pihak eksternal Persentase tindak pidana dibidang kepabeanan dan cukai yang diproses diserahkan ke kejaksaan 40% 50% 100% 90% 100% 100%

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)

TARGET 2010 (4) 2014 (5)

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

KPU

3

13 Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

1

Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi kepada industri, perdagangan, dan masyarakat

1 2 3

Pencapaian target penerimaan bea dan cukai Indeks kepuasan pelayanan bea dan cukai Persentase temuan pelanggaran kepabeanan dan cukai

100% 60% 80%

100% 65% 90%

KPPBC

2

Terwujudnya pelayanan yang efisien dan pengawasan efektif

14 Peningkatan Pelayanan dan Pengawasan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

1

Peningkatan produktivitas sarana pengawasan untuk kegiatan intelijen, penindakan dan penyidikan

1

Persentase jumlah kapal patroli yang siap untuk berlayar dibandingkan dengan jumlah kapal yang dalam kondisi baik

60%

80%

PANGSAROP

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 132 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
1 Terciptanya pelayanan yang efisien kepada pengguna jasa baik internal maupun external dalam rangka identifikasi barang dan pengklasifikasian 2 Tersedianya instrumen analisa dan sarana pendukung lain yang menunjang pengujian laboratorium 3 2 Persentase jumlah ketepatan waktu hasil uji laboratorium dibandingkan dengan target penyelesaian Persentase jumlah instrumen analisa yang tersedia dibandingkan dengan target 80% 100% 75% 100% 1

PROGRAM/KEGIATAN (1)
15 Peningkatan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai di Daerah

INDIKATOR (3)
Persentase jumlah pengajuan yang dapat terlayani untuk uji laboratorium

TARGET 2010 (4)
80%

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)
BPIB

2014 (5)
90%

16 Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai pada Perwakilan LN

1

Terciptanya administrator kepabeanan dan cukai yang dapat memberikan fasilitasi terbaik kepada industri, perdagangan, dan masyarakat serta optimalisasi penerimaan, sesuai dengan standar internasional

1

Persentase rumusan masukan untuk kerjasama internasional dibidang kepabeanan dan cukai terhadap isu yang diidentifikasi

75%

80%

Perwakilan LN

246.282.584.615 429.045.266 265.118.640.000 3.142 364.817.711.209.159 1.376 4.635.530.465 2.700.578 143.764.105.335 2.925.672 1.800.460.436.035.381.599 755.133.533.000 237.113.010.247 125.952.000 97.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 133 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PROGRAM/KEGIATAN (1) A.937. Pelayanan dan Penerimaan di Bidang Kepabeanan dan Cukai KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya DJBC 389.971.415.810.511.858 4.496 150.807.661.01227 2 Perumusan kebijakan dan bimbingan teknis bidang kepabeanan 3 Perumusan kebijakan dan bimbingan teknis fasilitas kepabeanan 4 Perumusan kebijakan dan bimbingan teknis bidang cukai 1.136 1.192.802.555 1.648.123.700 1.885 1.825.795.881.968.558.93226 2012 (4) 0.624.406 258.064.000 1.012.000 1.230.148.000 369.256.964.649.639.000 1.802.590.340.869 1.917.537.619 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengawasan. intelejen dan penyidikan tindak pidana kepabeanan dan cukai 6 Perumusan kebijakan dan pelaksanaan audit bidang kepabeanan dan cukai 7 Perumusan kebijakan dan evaluasi pelaksanaan kerjasama internasional.099.565 1.065.593. 80.402 5 Pelaksanaan pengawasan dan penindakan atas pelanggaran peraturan perundang-undangan.800.796.814 14.000 39.003.883.974.661 77.247 4.046.94699 2013 (5) 0.057 4.871.950.982.919.241 389.897.403 966.204.280 2.027.333.433.061.161.358.698.287.753.104.307 273.415 283.339.97450 2014 (6) 1.615.656 .303.

048.105.812 4.614.536 135.119.783 5.211.228.683.056.910.413.914 501.942.590.366 95.045.402.000 87.316 5.845.000 12.635.329 771.957.888.163 2013 (5) 3.858.673.174.931 97.528 7.414.359 114.000 446.125 98.237.663.044.251.772.871.730 540.727.397 501. Evaluasi Kinerja.086.184.699 16.000 276.000 6.076.048.889.816 295.273.581.258.904.343.884.495 147.663.414.475.792.452 101.754.134.637 2014 (6) 3.707 130.484.003 7.472.000 90.684.053 277.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 8 Perumusan kebijakan dan peningkatan pengelolaan penerimaan bea dan cukai 9 Perumusan kebijakan dan pengembangan teknologi informasi kepabeanan dan cukai 10 Perumusan kebijakan Pelaksanaan Kepatuhan Pelaksanaan Tugas.112 105.064.000 4.133 470.206.046. Analisis dan Tindak Lanjut Pemberian Rekomendasi 11 Pembinaan penyelenggaraan kepabeanan dan cukai di daerah 12 Pembinaan penyelenggaraan kepabeanan dan cukai di daerah 13 Peningkatan Pengawasan dan Pelayananan kepabeanan dan cukai di daerah 14 Peningkatan Pelayananan dan Pengawasan kepabeanan dan cukai di daerah 15 Peningkatan Pelayananan kepabeanan dan cukai di daerah 16 Peningkatan Pengawasan dan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai pada Perwakilan LN 2011 (3) 3.375.934.394 118.684.500 18.682.907.395.855 278.860.044.629 138.100 129.181 13.448.694.384.202.954.572.209 2012 (4) 3.040.974.227.017 14.507 7.272.238.072 .896.252.252.119.384.346.720.498.192.000 123.673.384.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 134 – ALOKASI 2010 (2) 5.259 7.664 275.220.048.068.772.210.186.818.

H50. prosedur. Bea Cukai (Depkeu). Hukum dan Keamanan Depkumham. TARGET H30: XXX & kualitas SDM TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% TARGET H75: XXX TARGET H100: Sistem. Kejagung. KPK. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Depkumham. & kualitas SDM yang menunjang pelaksanaan tugas pokok dan fungsi secara transparan dan akuntabel TARGET: Sistem. prosedur. Komisi Ombudsman. Depkeu (DJBC). H75. Komisi Lainnya KRITERIA KEBERHASILAN 4 Tersusunnya desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum tersusun paling lambat 15 Desember 2009 UKURAN KEBERHASILAN H30. Kompolnas. Kompolnas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 135 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL BEA CUKAI Bidang Politik. & kualitas SDM H75: XX% H100: XX% . DAN H100 6 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 1 P7: Penegakan dan Kepastian Hukum (P7A1) Penyusunan desain Kementerian Koordinator pola penguatan & Politik. TARGET H75: XXX TARGET H100: Desain pola penguatan & pemantapan hubungan kelembagaan antar penegak hukum tersusun paling lambat 15 Desember 2009 H75: XX% H100: XX% (P7A2) Pemantapan organisasi pada lembaga penegak hukum dalam prinsip kinerja yang transparan & akuntabel Kementerian Koordinator Politik. Kejagung. POLRI. Pembahasan selama ini belum melibatkan DJBC. POLRI. Komisi Ombudsman. Hukum dan pemantapan hubungan Keamanan kelembagaan antar penegak hukum Catatan Depkeu (DJBC): Untuk P7A1 dan P7A2 sudah dilakukan koordinasi dengan pihak Dephub dan akan dilakukan pembahasan lanjutan dengan pihakpihak terkait. Komisi Kejaksaan. Komisi Kejaksaan. Komisi Lainnya Tertatanya sistem. prosedur. KPK.

. dan Deperin KRITERIA KEBERHASILAN 4 Pelaksanaan Pengoperasian pelayanan kepabeanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Terlaksananya Layanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu kepelabuhanan dan kepabeanan di empat Pelabuhan Utama (Tanjung Priok. H50.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 136 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL BEA CUKAI Bidang Perekonomian RENCANA AKSI 1 P25: Kelancaran arus barang dan daya saing (P25A22) Pengoperasian pelayanan kepabeanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu PENANGGUNG JAWAB 2 Departemen Keuangan INSTANSI TERKAIT 3 Deptan. Dephukham. H75. Depkes /BPOM. DAN H100 6 TARGET H30: 30% a) Penyelesaian Rancangan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) tentang Jam Kerja Ditjen Bea dan Cukai di Pelabuhan. Depdag. Tanjung Perak. Perdirjen Perbendaharaan untuk operasional bank devisa di pelabuhan sedang dalam proses. % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 Rancangan Keputusan Menteri Keuangan (RKMK) tentang Jam Kerja DJBC di pelabuhan telah di proses dan disampaikan ke Biro Hukum pada tanggal 26 November 2009. Belawan dan Makassar) UKURAN KEBERHASILAN H30. b) Rancangan Perdirjen Perbendaharaan tentang Pelayanan Bank Persepsi/Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu.

1 Des 2009 tentang Permohonan Persetujuan Jam Kerja. Sosialisasi baru akan dilaksanakan jika KMK tentang Jam Kerja DJBC di Pelabuhan telah diterbitkan.04/2009 tanggal 17 Desember 2009 Tentang Pelayanan Kepabeanan 24 Jam Sehari dan 7 Hari Seminggu pada Kantor Kepabeanan di Pelabuhan Tertentu.Telah diterbitkan KMK 504/KMK. Adapun. Sehingga target H-50 sudah tercapai 100% H50: 50% target ini telah a)Terbitnya KMK tentang Jam Kerja Ditjen Bea dan tercapai 100% Cukai di Pelabuhan. Menkeu telah menyurati MenPAN terkait hal tersebut degan Nomor:S731/MK. b. H75. . DAN H100 6 TARGET H50: 50% % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 a. Sosialisasi kepada Bank Persepsi sudah dilakukan sebanyak 2 kali tanggal 12 November 2009 dan 16 Desember 2009.) Segera diterbitkan KMK tentang perubahan jam kerja.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 137 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Bank Persepsi telah menyatakan kesiapannya. 10 Desember 2009. dan Tim Reformasi Birokrasi telah dilaksanakan tgl. H50. Update Capaian H50 (tanggal 05 Januari 2010): a.1/2009 tgl. Sekjen an. Adapun Persetujuan MenPAN atas perubahan jam kerja dimaksud telah ditetapkan dalam surat MenPAN tertanggal 14 Desember 2009 dan diterima oleh Departemen Keuangan tanggal 17 Desember 2009. draf Perdirjen Perbendaharaan terkait Pelayanan Bank Persepsi /Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu telah disusun. sebagaimana update dalam b) Sosialisasi kepada Bank Persepsi/ Devisa kolom keterangan Persepsi tentang Operasi Pelayanan Penerimaan Kepabeanan selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. Pembahasan tentang kesiapan SDM dan insentif dengan Biro SDM Depkeu. Kemeneg PAN. b).

Depkominfo. Depdag. Deperin. Dephub.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 138 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. membuat Per Dirjen BC ttg alih aset c. a. Depkeu (DJBC). Tanjung Perak. memberikan asistensi terkait masalah teknis d. b)Sosialisasi kepada pengguna jasa dan Penyiapan Sarana Prasarana serta Sumberdaya Manusia (SDM). d.00 WIB. Depkes Implementasi Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) TARGET: Sistem Pelayanan TARGET H30: XXX Informasi dan Perizinan TARGET H50: XXX Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (DJBC): Rencana Aksi DJBC: PMK mengenai pelimpahan wewenang BC dan Pajak di bid investasi kpd PTSP setelah penerbitan PP pelimpahan wewenang. Sehingga target H-100 telah tercapai. dan Makassar) tanggal 16 Januari 2010 sejak pukul 00. H75. Telah diterbitkan Perdirjen Perbendaharaan Nomor 63/PB/2009 tanggal 30 Desember 2009 tentang Pelayanan Bank Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJBC) : Sedang disusun draft Peraturan Dirjen BC terkait alih aset . DepESDM. mengundang Ka KPU Batam Progress : 1. Telah dilaksanakan sosialisasi kepada pengguna jasa dan Penyiapan Sarana Prasarana serta SDM (5-8 Jan 2010) c. Dephut. H50. d)Terbitnya Perdirjen Perbendaharaan tentang Pelayanan Bank Persepsi /Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. Tanjung Priok. DAN H100 6 TARGET H75: 75% a) Terbitnya Perdirjen Bea dan Cukai tentang Jam Kerja Ditjen Bea dan Cukai di Pelabuhan. Deptan. % CAPAIAN 7 H75:100% KETERANGAN 8 a. c) Terbitnya ijin dari Bank Indonesia tentang operasi bank Persepsi/Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. 2. Ketentuan terkait dengan Pembebasan Bea Masuk terhadap barang untuk keperluan industri dan/atau industri jasa dalam rangka pembangunan dan pengembangan telah ditetapkan dengan PMK176/PMK.011/2009 tanggal 16 Nov 2009. mengirimkan surat penegasan ttg RPMK b. TARGET H100: 100% Operasionalisasi Layanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu kepelabuhanan dan kepabeanan di 4 Pelabuhan Utama H100: 100% Dirjen Bea dan Cukai telah me-launching Operasionalisasi Layanan 24 jam per hari dan 7 hari per minggu kepelabuhanan dan kepabeanan di 4 Pelabuhan Utama (Belawan. Telah diterbitkan ijin dari Bank Indonesia tentang Pelayanan Bank Persepsi /Devisa Persepsi selama 24 jam per hari dan 7 hari per minggu. P25: Kelancaran arus barang dan daya saing (P25A1) Penerapan Sistem Pelayanan Kepala Badan Koordinasi Informasi dan Perizinan Investasi Secara Penanaman Modal Elektronik (SPIPISE) di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Dephukham. Konsep R PerDirjen terkait alih aset dalam proses penyelesaian. Peraturan Dirjen BC nomor 92/BC/2009 tanggal 30 Desember 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pelayanan Kepabeanan 24 Jam Sehari dan 7 Hari Seminggu pada Kantor Pabean di Pelabuhan Tertentu. b. Operasionalisasi sampai saat ini berjalan dengan baik dan lancar.

DepPU.n.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 139 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Bappenas Penyempurnaan cetak biru transportasi multimoda dalam melayani arus barang dan penumpang di daerah tertinggal dan pusat produksi dan distribusi TARGET: Dokumen cetak TARGET H30: 20% biru transportasi multimoda TARGET H50: 50% sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional H30: 20% H50: XX% Catatan Depkeu (DJBC): Sudah dilakukan koordinasi dengan pihak Dephub dan program ini lebih bersifat internal organisasi Dephub. Menteri Keuangan No. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a.S8/MK. Depdag. % CAPAIAN 7 H100: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJBC) : terkait alih aset dalam proses finalisasi Perdirjen TARGET H75: 75% H75: XX% TARGET H100: Dokumen cetak biru transportasi H100: XX% multimoda sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional Keterangan sama dengan H-50. DAN H100 6 TARGET H100: Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) diimplementasikan di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam P28: Aksesibilitas dan keterhubungan ( connectivity ) Antar Wilayah (P28A1) Penyusunan cetak biru transportasi multimoda sesuai dengan cetak biru sistem logistik nasional Departemen Perhubungan Depkeu (DJBC).1/2010 tanggal 8 Januari 2010). H75. Depdagri. H50. Catatan : Keterangan sama dengan H75 .

Untuk 5 pelabuhan (tj Priok. dimulai dari Batam. belawan dan soeta) NSW utk impor siap dilaksanakan .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 140 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI INDIKATOR KINERJA a. Depkes (BPOM). Depdag. Deptan. Mengoperasikan secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor sebelum Januari 2010 RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . BKPM. Dir Fasilitas K. dan 15 lembaga pemerintah lainnya Paling lambat Desember 2010 Dir IKC. tj perak. Dir IKC . Dephub. Memastikan penerapan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota. Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan ii.untuk pelabuhan yang lain tergantung kepada kebijakan dan kesiapan K/L lainnya Menko Perekonomian. Depperin. Depdag. Dir PPKC. Depdagri. tj emas. pembatalan Peraturan Daerah bermasalah dan pengurangan biaya untuk bisnis seperti Tanda Daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) Menyiapkan PMK untuk pengembangan sistem elektronik terkait dengan perijinan investasi di bidang kepabeanan dan perpajakan Menko Perekonomian. Pemda/ dewan kawasan Batam Paling lambat Oktober 2014 Dir Teknis K. Memastikan tercapainya target capaian Program 100 Hari i.

15 instansi terkait Paling lambat Oktober 2014 Dir Teknis K. Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Dep.Menyiapkan PMK-PMK ttg Pemberian Fasilitas Fiskal sesuai Peraturan Per-UU-an dan skema Pembiayaan Infrastruktur ke & di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Menko Perekonomian. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. yang mencakup namun tidak terbatas pada : i. 15 instansi terkait Paling lambat Oktober 2014 Dir IKC. Dephub.Menyiapkan PMK tentang mandatory NSW impor dan ekspor di 5 pelabuhan utama . Paling lambat Oktober 2014 Dir Teknis K. Dephub. Tenaga Pengkaji. Ketua TPR Menko Perekonomian. Dephub. Dir Fasilitas K. Dir PPKC. Dir PPKC. Dir PPKC. Dir KI. Dephub. Memastikan beroperasinya secara penuh National Single Window (NSW) untuk impor (sebelum Januari 2010) dan ekspor. Depdag. Dir Audit. Dir IKC .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 141 – INDIKATOR KINERJA a. Memastikan pengembangan dan penetapan Sistem Logistik Nasional yang menjamin kelancaran arus barang dan mengurangi biaya transaksi/ekonomi biaya tinggi. Depdag Paling lambat Desember 2011 Dir Fasilitas. Dir IKC. Depdag. Percepatan realisasi proses penyelesaian bea cukai di luar pelabuhan dengan implementasi tahap pertama Customs Advanced Trade System (CATS) di dry port Cikarang. 15 instansi terkait. Dir Teknis K. Dir P2.Menyiapkan PMK tentang Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dalam rangka pengembangan Sistem Logistik . Menko Perekonomian. Dir IKC ii. RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II Menyiapkan PMK tentang Authorized Economic Operator (AEO) dan dukungan terkait dengan Sistem Logistik Nasional . Depdag.PU.

Dir IKC. RENCANA AKSI . Memastikan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di 5 lokasi melalui skema PublicPrivate Partnership sebelum 2012.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 142 – INDIKATOR KINERJA i. Ketua TPR. Depdag. Ka KWBC Jabar. Dephub.Menyiapkan PMK untuk memadukan Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) dengan Kawasan Ekonomi Khusus di 5 lokasi (di Jawa dan Sumatera) K/L TERKAIT Menko Perekonomian. Ka KWBC Jatim I. 15 instansi terkait WAKTU Paling lambat Desember 2011 UNIT ESELON II Dir Fasilitas. Ka KWBC Sumut .

Dephub. Teknis Kepabeanan – Percepatan operasionalisasi Nasional Single Window Untuk 5 pelabuhan. Teknis Kepabeanan . Untuk pelabuhan yang lain. NSW untuk import siap dilaksanakan akhir Desember 2009. 7 hari seminggu. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT Depdag. UNIT ESELON II 1. Dit. Dephub. IKC – Transparansi dalam penetapan nilai pabean. Deptan. ? Menerapkan secara konsisten dan memberikan penjelasan PMK Paling lambat Desember 2010 (1 tahun) Menteri Keuangan Dit. – Review prosedur pemeriksaan bea cukai agar tidak terjadi pemeriksaan ganda. Menerbitkan PMK mengenai jam kerja DJBC 24 jam sehari dan 7 hari seminggu Meningkatkan disiplin pelaksanaan SOP tentang pemeriksaan .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 143 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI Bidang : Industri dan Jasa No. PPKC 2. ? Memperbaiki PMK dan Perdirjen mengenai prosedur penetapan nilai pabean termasuk prosedur pengaduan dan keberatan. tergantung kebijakan dan kesiapan K/L lainnya. Paling lambat Desember 2010 (1 tahun) 1 tahun Menteri Keuangan Dit. Menko Perekonomian Depdag. Depkes dan 15 Lembaga Pemerintah Lainnya. Deptan. PMK 100 hari Dit. Operasional seluruh pihak berwenang di pelabuhan menjadi 24 jam sehari.

? Menerbitkan Per DJPB tentang pelayanan bank persepsi . .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 144 – No. ? Memperbaiki sistem penanganan pengaduan masyarakat khusus mengenai penetapan nilai pabean. – Jam kerja kepabeanan 24 jam sehari. . 7 hari seminggu ? Menerbitkan PMK mengenai jam kerja DJBC 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. PPKC – Reformasi kepabeanan melalui jalur prioritas dapat ditingkatkan dan diperluas kepada perusahaan yang memenuhi persyaratan. Sudah dilaksanakan PMK dan Perdirjen Perbendaharaan 100 hari Dit. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II ? Menerapkan secara konsisten dan memberikan penjelasan kepada pengguna jasa kepabeanan mengenai SOP tentang penetapan nilai pabean.

78 Triliun DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN NEGARA TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .17 83 K/L & PA BUN WTP : 81 WDP : 2 3.22 WDP WTP 7. DITJEN PERBENDAHARAAN 85% 91% 95% 95% 3. penempatan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 145 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGELOLAAN PERBENDAHARAAN NEGARA Meningkatkan pengelolaan perbendaharaan negara secara profesional. dan akuntabel sesuai dengan ketentuan 3 4 5 6 1 2 Persentase ketepatan penarikan dana Jumlah penerimaan remunerasi atas penyimpanan. transparan.24 Triliun 98% 98% 50% 3 Triliun 80% 3.18 Triliun 6. dan investasi jangka pendek (Idle Cash KUN) Persentase ketepatan penyediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara Pemenuhan target penerimaan dan pelunasan piutang penerusan pinjaman Opini BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Jumlah LK K/L dan LK BUN yang mendapat opini WTP/WDP dari BPK 78 K/L & PA BUN WTP : 50 WDP : 28 7 8 9 Indeks kepuasan K/L terhadap pengelolaan belanja pusat Persentase tingkat akurasi perencanaan kas Rasio realisasi dari janji pelayanan Quick Win ke pihak eksternal KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan 1 Meningkatkan pelayanan kepada stakeholders dalam proses pencairan dana melalui KPPN Percontohan sehingga 1 Rasio realisasi dari janji layanan quick win ke pihak eksternal 91% 95% SES.

5 DIREKTORAT PELAKSANAAN ANGGARAN 100% 100% 4 Indeks kepuasan pegawai 2 2 3 % jumlah pegawai yang melanggar disiplin pegawai 0.28% 2 Persentase jumlah jabatan yang terisi oleh pegawai yang memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan 80% 100% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) . kepuasan kerja dan produktivitas pegawai 5 SOP yang dibuat / diperbaharui dapat mengikuti perkembangan organisasi 2 Pembinaan Pelaksanaan Anggaran dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran 2 Agar pelaksanaan kegiatan dan pencairan dana dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang direncanakan 3 Menghasilkan informasi DIPA yang akurat 4 5 Meningkatkan pemahaman K/L / satker terhadap pelaksanaan anggaran Memantau pelaksanaan dokumen pelaksanaan anggaran terkait dengan 5 Jumlah K/L yang mendapatkan sosialisasi tentang pelaksanaan anggaran 74 K/L 74 K/L 4 3 Persentase jumlah satker yang revisi dokumen pelaksanaan anggarannya diselesaikan tepat waktu Persentase akurasi sistem informasi DIPA 80% 90% 80% 90% 2 1 Menjamin kelancaran pelaksanaan APBN 1 5 Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat Indeks kepuasan stakeholders terhadap pelayanan pelaksanaan anggaran Persentase ketepatan penarikan dana 50% 80% 3.32% 0.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 146 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) mendukung pelaksanaan belanja negara secara optimal kepada K/L 2 Mengukur ketepatan penempatan pejabat di Ditjen Perbendaharaan sesuai dengan kemampuan dan karakteristik yang dipersyaratkan 3 Memperbaiki attitude pegawai sebagai bentuk pembinaan pegawai dalam rangka meningkatkan profesionalisme 4 Memperoleh feedback langsung dari pegawai terkait dengan motivasi.3 3.

0 3. penempatan. tepat dan akurat 8 7 Jumlah satker yang mendapatkan sosialisasi tentang pengelolaan kas negara Persentase monitoring permintaan kebutuhan dana KPPN melalui e-Kirana secara tepat 98% 98% 700 Satker 900 Satker 85% 95% 85% 95% 4 Indeks kepuasan K/L terhadap proses penyaluran dana 3. dan investasi jangka pendek (Idle Cash KUN) Persentase ketepatan penyediaan dana untuk membiayai pengeluaran negara Persentase ketepatan penghitungan saldo 100% 100% 98% 98% 50% 75% Program 100 hari DIREKTORAT PENGELOLAAN KAS NEGARA 1 Februari 2010 3 Triliun 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 147 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) kesesuaian realisasi dengan rencana 6 7 3 Peningkatan Pengelolaan Kas Negara 1 2 Optimalisasi Idle Cash Pemerintah Menutup cost of fund pemerintah dalam pembiayaan defisit APBN 3 Mengukur kinerja pengelolaan kas terkait pelayanan dalam penyaluran dana APBN 4 Mewujudkan jumlah saldo RKUN dan Rekening Penempatan di Bank Indonesia yang tepat dan akurat 5 Mengetahui tingkat kualitas pelayanan dalam penyaluran dana yang diberikan kepada stakeholders 6 Memperkirakan arus kas masuk dan arus kas keluar secara akurat 6 5 Persentase tingkat akurasi dari rencana penerimaan kas dibandingkan dengan realisasi penerimaan kas Persentase Tingkat akurasi dari rencana pengeluaran kas dibandingkan dengan realisasi pengeluaran kas 7 8 Meningkatkan pemahaman K/L / satker terhadap pengelolaan kas negara Mewujudkan laporan realisasi anggaran yang cepat.4 3 2 1 Persentase monitoring pelaksanaan anggaran Sejumlah paket bantuan PNPM Mandiri Jumlah penerimaan remunerasi atas penyimpanan.78 Triliun PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 148 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 9 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) waktu dan tepat jumlah Penerbitan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan tentang Pelayanan Bank Persepsi 10 Sejumlah kota yang menyediakan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik 11 10 kota yang menyediakan pelayanan satu atap 12 Akses KUR yang lebih luas melalui linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah mencakup 7 Bank besar nasional dan 2 Bank daerah (Bank DKI dan Bank Nagari) serta asosiasi BPD. TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Temu Nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 Hari Program 100 Hari 4 Manajemen Investasi dan Penerusan Pinjaman 1 Mengoptimalkan penerimaan APBN hasil penerusan pinjaman sehingga mampu mendukung pengelolaan keuangan negara yang berkelanjutan 1 Pemenuhan target penerimaan dan pelunasan piutang penerusan pinjaman 7.18 Triliun 6.24 Triliun DIREKTORAT SISTEM MANAJEMEN INVESTASI 2 Tersedianya dana investasi dan pembiayaan lainnya yang optimal yang berasal dari APBN 2 Persentase penyediaan dana di bidang investasi dan pembiayaan lainnya yang disetujui 100% 100% 3 Menyalurkan dana investasi dan pembiayaan lainnya yang optimal yang berasal dari APBN 3 Persentase penyaluran dana investasi dan pembiayaan lainnya yang disetujui 100% 100% 4 Mengoptimalkan pemberian/penerusan pinjaman dengan memperhatikan 4 Persentase jumlah permohonan pinjaman/penerusan pinjaman dan 100% 100% .

PMK Perubahan atas PMK mengenai PMN kepada PT Askrindo dan Perum Jamkrindo 5 Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum 1 Mewujudkan penerapan Pengelolaan Keuangan secara efektif dan efisien oleh satker BLU sehingga dapat mendorong peningkatan kualitas pelayanannya kepada masyarakat 2 3 Menilai kualitas layanan pembinaan pengelolaan keuangan BLU Terselenggaranya proses penilaian penetapan satker BLU secara efektif dan efisien sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan 4 Mewujudkan penerapan pengelolaan keuangan yang akuntabel dan transparan oleh satker BLU untuk meningkatkan kualitas pelayanannya kepada masyarakat 4 Persentase jumlah satker BLU yang menyampaikan laporan keuangan sesuai ketentuan 70% 85% 3 2 Indeks kepuasan satker BLU atas layanan pembinaan pengelolaan keuangan BLU Persentase penetapan satker BLU sesuai batas waktu yang ditetapkan 100% 100% 3 3 1 Persentase jumlah satker BLU yang kinerja keuangannya meningkat 70% 80% DIREKTORAT PEMBINAAN PENGELOLAAN KEUANGAN BLU 1 Februari 2010 Program 100 Hari 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) pembiayaan lainnya yang diproses Persentase jumlah kesepakatan negosiasi. dan 2 Perusahaan Penjamin mengenai pelaksanaan KUR .Adendum II MOU KUR antara 8 K/L. mediasi. mediasi. dan koordinasi yang memperhatikan ketentuan yang berlaku dan kepentingan keuangan negara 6 . 6 Bank Pelaksana.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 149 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) ketentuan yang berlaku 5 Menghasilkan kesepakatan negosiasi. dan koordinasi yang ditindaklanjuti TARGET 2010 (4) 100% 2014 (5) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .

4 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 150 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 2 Menjamin akuntabilitas dan transparansi pertanggungjawaban keuangan negara Meningkatkan kualitas penyusunan laporan keuangan KL dan pengguna anggaran BUN yang menunjukkan mutu layanan yang diberikan kepada stakeholders 3 Menjamin akuntabilitas dan transparansi pertanggungjawaban keuangan negara 4 Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas keuangan negara 5 4 3 Persentase rekonsiliasi realisasi APBN yang handal dan tepat waktu Persentase penyelesaian RUU PP APBN beserta Keterangan Pemerintah atas RUU secara tepat waktu Jumlah LK K/L dan LK BUN yang mendapat opini WTP/WDP dari BPK 78 K/L & PA BUN WTP : 50 WDP : 28 5 Meningkatkan kualitas penyusunan laporan keuangan KL dan pengguna anggaran BUN yang menunjukkan mutu layanan yang diberikan kepada stakeholders 6 Menjamin akuntabilitas pelaksanaan APBN 8 7 Persentase rekomendasi BPK atas LKPP yang telah ditindaklanjuti Pengelolaan Keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI 7 Pembinaan Sistem dan Dukungan Teknis Perbendaharaan 1 Tersedianya sistem perbendaharaan yang mudah dan akuntabel serta sesuai dengan 1 Tingkat kesesuaian sistem perbendaharan yang dihasilkan dengan kebijakan di bidang 96% 96% DIREKTORAT SISTEM PERBENDAHARAAN November 2011 Kotrak Kinerja 100% 100% 6 Jumlah K/L dan PA BUN yang mendapatkan bimbingan teknis akuntansi PA BUN 83 K/L & PA BUN WTP : 81 WDP : 2 PA BUN 100% 25% ` 100% 100% 2 1 Pemerintah Pusat Indeks kepuasan stakeholders terhadap pelayanan akuntansi dan pelaporan keuangan 3.6 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Penyelenggaraan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran INDIKATOR (3) Opini BPK atas Laporan Keuangan TARGET 2010 (4) WDP 2014 (5) WTP UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN 74 K/L dan 11 74 K/L dan 11 .

PERBENDAHARAAN 1 Februari 2010 Program 100 Hari 5 Persentase jumlah rekomendasi perbaikan sistem perbendaharaan 100% 100% 4 Persentase jumlah sistem perbendaharaan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan stakeholders 100% 100% 3 Persentase jumlah peraturan yang dihasilkan melalui proses harmonisasi 85% 95% 2 Indeks kepuasan stakeholders atas implementasi sistem perbendaharaan 3 3 perbendaharaan PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .78% 100% 77.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 151 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) kebijakan pengelolaan perbendaharaan negara bagi stakeholder 2 Mengetahui tingkat kualitas produk dan layanan sistem perbendaharaan yang dihasilkan Ditjen Perbendaharaan 3 Mengetahui tingkat kesesuaian dan keterpenuhan kebutuhan stakeholder dengan peraturan yang dihasilkan 4 Terpenuhinya kebutuhan stakeholder terhadap sistem perbendaharaan (proses bisnis dan aplikasi komputer) dalam rangka pengelolaan perbendaharaan 5 Meminimalisasi permasalahan dan kendala dalam penerapan sistem perbendaharaan 6 Sejumlah kota yang menyediakan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik 8 Pengembangan Sistem Perbendaharaan Mewujudkan sistem perbendaharaan negara yang modern 1 Persentase rancangan pengembangan proses bisnis pengelolaan perbendaharaan yang 100% 100% DIREKTORAT TRANSFORMASI PERBENDAHARAAN 9 Pembinaan Pelaksanaan Perbendaharaan di Wilayah Meningkatkan pemahaman stakeholders terhadap ketentuan pengelolaan perbendaharaan 2 1 Persentase rekonsiliasi realisasi anggaran secara andal dan tepat waktu Persentase jumlah satker yang dokumen pelaksanaan anggarannya disahkan tepat 99.10% 85% KANWIL DITJEN.

00% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) .50% 100.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 152 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) waktu 3 Persentase jumlah satker yang revisi dokumen pelaksanaan anggarannya diselesaikan tepat waktu 4 10 Penyelenggaraan Kuasa Bendahara Umum Negara Mempercepat penyaluran dana APBN kepada stakeholders 1 Jumlah satker yang mendapatkan sosialisasi Persentase jumlah SP2D yang diterbitkan tepat waktu 17000 Satker 91% 21000 Satker 95% KANTOR PELAYANAN PERBENDAHARAAN NEGARA 96.

053.503.628 17.716.166.125 40.290 13.682.567 0 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.096.909.219 15.794.000 80.883.489.275.320 1.371.708.037.254.044.000 1.288.100.590.000 326.219.000 22.549.757 21.292 370.858.000 14.000 1.556.000 24.400.637 327.048.487.798.97450 2014 (6) 1.166.964 30.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 153 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.515.772.278.997.999 20.213 1.273.846.528.288.330.870.611 387.021.600.480.486.150.984 11.636.311.390.519 38.502 25.704.320 161.468 7.000 1.595.869.938.000 1.446.630.983.057 .355.431 1.473.357.806.212.870.408.451.227.431 41.354.332.967.876.94699 2013 (5) 0.000 12.000.442.000.272.128.567 1.809 9.808.987.000 1.337.682.699.844.380 41.021 27.062.173.329.264 1.404.581.577 355.819.336.01227 5 Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum 6 Penyelenggaraan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran 7 Pembinaan sistem dan dukungan teknis perbendaharaan 8.013.000 6.241.619.320.914 22.442. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan Perbendaharaan Negara RM PHLN KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan 2 Pembinaan Pelaksanaan Anggaran dan Pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran 3 Peningkatan Pengelolaan Kas Negara 4 Manajemen Investasi dan Penerusan Pinjaman 15.000 29.645.113.638 18.107 38.609.645.385.302.193.215.000.718 27.594.93226 2012 (4) 0.536.285.951.552.359.155 16.290 24.337.847 35.774.452 23.264 117.857.369.

621 579.447 27.317.688.770.053.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 154 – ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 2012 (4) 2013 (5) 2014 (6) 44.000 80.509.237.536.789.594.341.116.172.000 246.000 189.119.442 534.925.750 44.311.273.594 46.604 0 264.809 117.403.355.636.628.337.589.460.604 PROGRAM/KEGIATAN (1) 8 Pengembangan Sistem Perbendaharaan RM PHLN 9 Pembinaan Pelaksanaan perbendaharaan di Wilayah 10 Penyelenggaraan Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN) 106.411.267 5.932 509.016.637.344.048.001.062.809 28.313.000 25.779 526.339.339.792.339.844.070.358.020 .000 236.447 161.000 232.142 145.545.911.476.000 501.586.992.481.267 41.727.157.000 243.092.119.

Masih dalam progres dan belum dibahas aturan hukumnya dengan DJPB.S-8/MK. H50. Tersedianya pelayanan satu TARGET: 10 kota yang POLRI. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 Pemda. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 Bidang Politik. Keterkaitan tidak langsung DJPB hanya menyangkut pengaturan jam operasi bank persepsi dalam menerima setoran pajak. POLRI membutuhkan aturan hukum yang berkaitan tentang proses penerimaan/penyetoran di bank persepsi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 155 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KRITERIA KEBERHASILAN 4 Tersedianya secara optimal pelayanan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Dephub. Jasa Rahardja. TARGET H75: XXX H75: XX% Tidak ada keterkaitan antara DJPB dengan program ini. Menteri Keuangan No. Depkes. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. Depdag. Depdagri. Launching tanggal 14 Januari 2010 DJPB menunggu undangan pembahasan penyusunan peraturan pendukung dari pihak POLRI. disimpulkan bahwa tidak terdapat keterkaitan langsung dengan DJPB dalam rencana aksi ini. Berdasarkan konfirmasi dari Kemenpan dan RB .n.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). TNI. TARGET H100: 10 kota yang menyediakan pelayanan satu atap H100: XX% Catatan : Keterangan sama dengan H75 . Depkeu atap pada 10 kota sebagai menyediakan pelayanan (DJPB) tambahan terhadap satu atap pelayanan yang sudah ada pada Desember 2009 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (DJPB): DJPB telah melakukan koordinasi dengan Kemenpan dan RB. Depkeu (DJPB) 1 P2: Percepatan Pelayanan Publik (P2A8) Mengoptimalkan pembayaran tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik Markas Besar POLRI TARGET: XX kota yang TARGET H30: XXX menyediakan pembayaran TARGET H50: XXX titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik Catatan Depkeu (DJPB) : Aturan hukum SIM sebagai dasar alat pembayaran denda tilang (SIM sebagai e-Wallet) . H75. Catatan Depkeu (DJPB) : Sudah diusulkan untuk dibatalkan sesuai hasil rapat di Setjen 5 Jan 2010 TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: XX kota yang menyediakan pembayaran titipan denda tilang dengan menggunakan fasilitas elektronik H100: XX% (P2A14) Mendorong penyediaan pelayanan satu atap pada 10 kota sebagai tambahan terhadap pelayanan yang sudah ada Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara & Reformasi Birokrasi Pemda.keterkaitan Penyetoran/Penerimaan di Bank. Setiap pemegang SIM diharuskan mempunyai saldo (deposit) yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran denda tilang.

Standard Operating Procedur (SOP) mengenai pelaksanaan KUR dan penerbitan Peraturan Pemerintah mengenai Penyertaan Modal Negara (PMN) UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. 1 2 P22: Revitalisasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) (P22A2) Perubahan Peraturan Pelaksanaan Penyaluran KUR Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian TARGET: [1] Adendum II TARGET H30: 60% MOU KUR antara 8 K/L. Hal tersebut telah diinformasikan kepada Ibu Farah sebagai PIC di Kementerian Perekonomian. H75. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 H30: 60% KETERANGAN 8 60% kemajuan penyempurnaan MoU. 6 Bank Pelaksana. PMK. Peraturan Menteri Keuangan (PMK).05/2008 mengenai fasilitas penjaminan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur.10/PMK. Telah diadakan pertemuan di Kementerian Koperasi dan UKM tanggal 4 Nopember 2009 yang dihadiri oleh Deputi Menko Perekonomian. Kemeneg BUMN KRITERIA KEBERHASILAN 4 Cakupan penyempurnaan Memorandum of Understanding (MoU).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 156 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Depkeu (DJPB). Deperin. [3] SOP Pelaksanaan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur. Deptan. DKP. SOP mengenai pelaksanaan KUR dan penerbitan PP mengenai Penyertaan Modal Negara (PMN). . definisi debitur KUR. menunggu penyelesaian MoU oleh Menko Perekonomian. dan 2 Perusahaan Penjamin mengenai pelaksanaan KUR. Diharapkan beberapa kendala yang dihadapkan dalam penyaluran KUR dapat dibahas lebih lanjut dalam komite kebijakan untuk penyelesaiannya. Biro Hukum Setjen Departemen Keuangan. H50. dan perluasan Bank TARGET H50: 75% pelaksana. Depdag. Hari Selasa tanggal 22 Desember 2009 direncanakan akan dilakukan pembahasan Draft PMK tentang Revisi PMK Fasilitasi Penjaminan KUR antara Ditjen Perbendaharaan. dan Perusahaan Penjaminan. Depkop & UKM.135/PMK. [4] PP mengenai PMN kepada PT Askrindo dan Perum Jamkrindo H50: XX% Catatan Depkeu (DJPB): Saat ini Draft PMK sudah selesai. 6 (enam) Bank pelaksana KUR dan Perusahana Penjamin untuk membahas berkaitan dengan pelaksanaan penyaluran KUR selama ini. definisi debitur KUR. [2] PMK Perubahan atas PMK No.05/2009 tentang perubahan atas PMK No. dan perluasan Bank pelaksana. Bank Indonesia.

(Berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. dan Koperasi. [3] SOP Pelaksanaan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur. dan perluasan Bank pelaksana.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 157 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Victoria. Menteri Keuangan No. Mega) dan Bank daerah (DKI. H100: XX% Catatan Depkeu (DJPB) : Target yang menjadi tugas DJPB telah selesai dilaksanakan H30: XX% Telah diadakan pertemuan pada tanggal 11 Nopember 2009 dengan 7 (tujuh) Bank besar nasional (BCA. Kecil.05/2008 tentang Fasilitas Penjaminan KUR dan Perubahannya No. [2] PMK Perubahan atas PMK No. TARGET H50: XXX H50: XX% Catatan Depkeu (DJPB): Perlu klarifikasi keterlibatan Depkeu dalam rencana aksi ini.135/PMK. dan 2. 6 Bank Pelaksana. 135/PMK. dan 2 Perusahaan Penjamin mengenai pelaksanaan KUR. definisi debitur KUR.S-8/MK.10/PMK.n.05/2008. H75. CIMB Niaga. Panin. . dan perluasan Bank pelaksana. Menteri Keuangan No.05/2009 tentang perubahan atas PMK No. pada umumnya seluruh Bank yang hadir bersedia untuk menjadi Bank Pelaksana KUR. TARGET H100: [1] Adendum II MOU KUR antara 8 K/L. definisi debitur KUR. Menengah. Draft Revisi PMK No.1/2010 tanggal 8 Januari 2010).05/2008 mengenai fasilitas penjaminan KUR yang mencakup Sistem Informasi Debitur.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Draft Adendum II MOU tentang Penjaminan Kredit/Pembiayaan kepada Usaha Mikro. DAN H100 6 TARGET H75: 90% RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (DJPB): DJPB telah menyelesaikan: 1.n.S8/MK. H50. [4] PP mengenai PMN kepada PT Askrindo dan Perum Jamkrindo (P22A3) Perluasan akses KUR: linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah Kementerian Negara Koperasi dan UKM Depkeu (DJPB). Nagari dan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah) untuk membahas keikutsertaan sebagai Bank pelaksana KUR dalam rangka memperluas akses KUR. TARGET H75: XXX H75: XX% Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. 10/PMK. Kemeneg BUMN Perluasan akses KUR TARGET: Akses KUR yang TARGET H30: XXX lebih luas melalui linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah mencakup 7 Bank besar nasional dan 2 Bank daerah (Bank DKI dan Bank Nagari) serta asosiasi BPD. Artha Graha. BII.

RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H100: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu : Keterangan sama dengan H75 . H50.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 158 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 TARGET H100: Akses KUR yang lebih luas melalui linkage antara perbankan besar nasional dan bank daerah mencakup 7 Bank besar nasional dan 2 Bank daerah (Bank DKI dan Bank Nagari) serta asosiasi BPD. H75.

Bappenas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 159 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Bidang Kesejahteraan Rakyat RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: XX paket bantuan tersalurkan UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 1 2 P30: Peningkatan Efektivitas dan Keberlanjutan PNPM Mandiri (P30A2) Sosialisasi dan Departemen Dalam Negeri. TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJPB): DIPA terkait PNPM sudah terbit dan selanjutnya dalam pelaksanaanya Departemen Dalam Negeri akan melakukan permohonan revisi DIPA TARGET H100: XX paket bantuan tersalurkan H100: XX% Catatan Depkeu (DJPB) : Sama dengan H75. Kemenko Kesra. Saat ini sedang melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Daerah (Kabupaten) mengenai penentuan lokasi dan jumlah alokasi dana yang akan disalurkan. H75. namun sampai saat ini masih belum ada pengajuan revisi DIPA . Pemda Mandiri di Sumbar dan dalam rangka rehabilitasi Umum Sumbar Jabar dan rekonstruksi di Sumbar dan Jabar Catatan Depkeu(DJPB): DJPB akan melakukan pembinaan pelaksanaan anggaran dan penambahan alokasi dana bantuan PNPM. H50. Cakupan bantuan PNPM bantuan PNPM Mandiri Departemen Pekerjaan Depkeu (DJPB).

Peningkatan pembinaan penyelenggaraan SAI K/L TERKAIT WAKTU Ditargetkan November 2011 UNIT ESELON II Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Ditargetkan November 2011 Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan . Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI RENCANA AKSI .Penyempurnaan akuntansi penerimaan perpajakan dan PNBP untuk meningkatkan keandalan angka penerimaan perpajakan maupun PNBP .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 160 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN INDIKATOR KINERJA a.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 161 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Bidang : Industri dan Jasa No. Operasional seluruh pihak berwenang di pelabuhan menjadi 24 jam sehari. Dephub. Deptan. Direktorat Pengelolaan Kas Negara 1. 7 hari seminggu. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L UNIT ESELON II JAWAB TERKAIT 100 hari Menteri Keuangan Depdag. Menerbitkan Per DJPB Perdirjen tentang pelayanan bank Perbendaharaan persepsi .

Pokok Lelang 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan Negara.35 T 87. termasuk pemanfaatan asset idle 4 Persentase BMN yang disertifikasi N. dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder.Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara .04 M 135 M 67. tertib.04 M 350 M 61.Bea Lelang .A 90% Terkait K/L dan BPN Surat dari DJKN kepada K/L bulan Oktober 2008 mengenai penyediaan anggaran untuk sertifikasi BMN belum mendapat respon K/L 770 M 3. 1 Jumlah Penerimaan Negara dan Penerimaan Kembali (recovery) yang berasal dari Pengeluaran Pembiayaan APBN .29 M DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) . tepat guna. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional. PENYELESAIAN PENGURUSAN PIUTANG NEGARA DAN PELAYANAN LELANG Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara.Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) .17 M 4.Pembiayaan APBN 2 Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang .8% 44.70 M 40.15 T 68% 627.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 162 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGELOLAAN KEKAYAAN NEGARA.

optimal serta akuntabel 1 Persentase formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengelolaan BMN 2 Persentase K/L yang menyusun RKBMN 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan Negara.5% N. 4 Persentase BMN yang disertifikasi N.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 163 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 60% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 5 Persentase penyelesaian pengelolaan dan penatausahaan Kekayaan Negara Dipisahkan UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Memberikan pelayanan terbaik kepada semua unsur Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk memperlancar pelaksanaan tugas 1 Presentase pegawai yang memiliki standar kompetensi jabatan sesuai dengan kebutuhan jabatan 2 Modernisasi unit organisasi di lingkungan DJKN 3 Persentase sarana dan prasarana yang diadakan untuk memenuhi kebutuhan satker DJKN 4 Persentase penyerapan anggaran 2 Perumusan kebijakan.A 2011 80% 80% 90% 100% DIREKTORAT BARANG MILIK NEGARA I 80% 90% 10 14 70% 95% SES. bimbingan teknis. termasuk pemanfaatan asset idle. standardisasi.A 90% Terkait K/L dan BPN 70% 82. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara Terselenggaranya pengelolaan barang milik negara yang professional.A 100% Mulai T.DITJEN KEKAYAAN NEGARA . tertib.

tertib. bimbingan teknis.A 60% 90% 100% Terkait K/L dan BPN 66% 93% N.63% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% . optimal serta akuntabel 1 Persentase formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengelolaan BMN dan KND 2 Persentase K/L yang menyusun RKBMN 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan Negara. termasuk pemanfaatan asset idle 4 Persentase BMN yang disertifikasi 5 Persentase penyelesaian pengelolaan dan penatausahaan Kekayaan Negara Dipisahkan 6 Persentase Kepatuhan pelaporan BMN oleh K/L 7 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca 8 Pembentukan perusahaan pembiayaan infrastruktur sebagai anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) 1 Februari 2010 Program 100 hari November 2011 Kontrak Kinerja 80% 100% N. standardisasi. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara yang dipisahkan Terselenggaranya pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara yang dipisahkan yang professional.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 164 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) oleh K/L 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca 3 Perumusan kebijakan.A 2011 55% 100% DIREKTORAT BARANG MILIK NEGARA II November 2011 Kontrak Kinerja PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 5 Persentase Kepatuhan pelaporan BMN TARGET 2010 (4) 79.A 100% Mulai T.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 165 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Program 100 hari PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 9 Perpres perubahan atas Perpres No.67 Tahun 2005 yang mencakup tata cara pengadaan termasuk untuk unsolisited project. definisi tentang financial closing. standardisasi. efisien. efektif. pengalihan saham sebelum operasi 10 -Terbitnya ketentuan Bank Indonesia tentang kelonggaran BMPK -Terbitnya Peraturan Pemerintah tentang PMN untuk industri pupuk . transparan 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengelolaan kekayaan Negara 6 3 DIREKTORAT KEKAYAAN NEGARA LAIN-LAIN . evaluasi dan pengelolaan kekayaan negara lain-lain Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara lain-lain secara professional.Terbitnya Sub Loan Agreement (SLA) kredit ekspor 11 -Adanya program kerjasama yang difasilitasi Pemerintah Indonesia dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium -Adanya kontrak B to B jangka panjang penyediaan Fosfat dan kalium dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium 12 Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI terbentuk dan siap bertugas mulai 2 Januari 2010 13 Terbitnya Peraturan Menkeu dan Panglima TNI untuk pengalihan aktivitas bisnis TNI 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Program 100 hari 1 Februari 2010 Program 100 hari 1 Februari 2010 Program 100 hari 1 Februari 2010 Program 100 hari 4 Perumusan kebijakan. bimbingan teknis.

standardisasi.770 350 M UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 400 135 M 4 5 6 20 9 50 M 10 M November 2011 Kontrak Kinerja 5 Perumusan kebijakan. analisis. transparan. bimbingan teknis.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 166 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) dan dapat dipertanggung-jawabkan sekaligus mampu mengoptimalkan penerimaan negara yang berasal dari kekayaan negara lain-lain 2 3 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) lain-lain Jumlah penyelesaian berkas Kekayaan Negara Lain-lain Jumlah Penerimaan Kembali (recovery) yang berasal dari Pengeluaran Pembiayaan APBN Jumlah aset KNL yang dimanfaatkan Nilai aset KNL yang dimanfaatkan Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca TARGET 2010 (4) 1. supervisi evaluasi dan rekomendasi Penilaian Kekayaan Negara Terselenggaranya pelaksanaan penilaian kekayaan Negara yang efektif. efisien. dan dapat dipertanggungjawabkan 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang penilaian kekayaan negara 2 Persentase penyelesaian permohonan penilaian aset 4 Jumlah database penilaian yang terbentuk 5 Jumlah pembinaan profesi dan kemitraan 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca 3 1 DIREKTORAT PENILAIAN KEKAYAAN NEGARA 100% 3 41 Kegiatan 100% 9 41 Kegiatan Kontrak Kinerja November 2011 .

04 M 18.568 42.763 4. pemberian bantuan hukum serta pengembangan sistem informasi manajemen Mewujudkan harmonisasi peraturan.17 M 50% 100% 34.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 167 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Terselenggaranya penyelesaian pengurusan piutang negara yang professional. standardisasi.29 M 770 M 627. tepat guna dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder serta mampu menyediakan data piutang negara secara komprehensif PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Perumusan kebijakan. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan lelang Terselenggaranya pelayanan lelang yang professional. tertib. tertib.15 T 100% 3 61. bimbingan teknis.437 3.04 M 15. tepat guna dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang lelang 2 Jumlah Penerimaan Negara dari Bea Lelang 3 Jumlah Frekuensi Lelang 4 Jumlah Pokok Lelang 4 44. pemberian bantuan hukum.017 7 Perumusan kebijakan. bimbingan teknis. pendapat hukum yang efektif dan efisien di lingkungan DJKN serta mampu menjadi penyedia layanan yang terpercaya bagi pemangku 1 Presentase harmonisasi peraturan perundang-undangan yang disampaikan 2 Persentase bantuan hukum dan pendapat hukum yang diberikan 3 Persentase sistem aplikasi yang terimplementasi DIREKTORAT HUKUM DAN INFORMASI 100% 60% 100% 100% .35 T 100% DIREKTORAT LELANG 8 Perumusan peraturan perundangan. perencanaan dan evaluasi atas pelaksanaan pengurusan Piutang Negara INDIKATOR (3) 1 Jumlah formulasi / pembaruan peraturan perundangan di bidang pengurusan piutang negara 2 Jumlah Penerimaan Negara dari Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara 3 Jumlah Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) 4 Persentase K / L yang piutangnya sudah diinventarisasi 5 Jumlah produk hukum/aktivitas dalam pengurusan piutang negara TARGET 2010 (4) 3 UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT PIUTANG NEGARA 2014 (5) 2 67. standardisasi.70 M 40.

Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) .15 T 100% 627. dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder di wilayah kerja kanwil DJKN disediakan 1 Jumlah Penerimaan Negara .29 M PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 4 Persentase layanan informasi yang TARGET 2010 (4) 42% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% KANTOR WILAYAH November 2011 .04 M 61.A 90% Terkait K/L dan BPN Kontrak Kinerja 100% 100% 770 M 3.Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara . penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 168 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) kepentingan DJKN dan mitra strategis di lingkungan Departemen Keuangan 9 Pengelolaan kekayaan negara.04 M 67. piutang negara. penilaian.Bea Lelang 2 Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang .Pokok Lelang 3 Persentase pemberian bimbingan teknis dan penelaahan permasalahan di bidang kekayaan negara.35 T 100% 44. tepat guna. lelang dan hukum 4 Persentase laporan hasil penilaian yang dapat diselesaikan sesuai dengan standar penilaian 5 Persentase BMN yang disertifikasi 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca N. tertib.17 M 4. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang di wilayah kerja kanwil DJKN Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara.70 M 40.

dan optimal serta mampu membangun citra baik bagi stakeholder wilayah kerja KPKNL PROGRAM/KEGIATAN (1) 10 Pengelolaan kekayaan negara.15 T 100% 627.35 T 100% 100% 100% N.04 M 770 M 3.Piutang Negara yang Dapat Diselesaikan (PNDS) . penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang yang profesional.17 M 4.29 M 44.A 90% Terkait K/L dan BPN Kontrak Kinerja November 2011 .Bea Lelang 2 Jumlah penyelesaian piutang negara dan pelayanan lelang .Biaya Administrasi Pengurusan Piutang Negara . tepat guna.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 169 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Terselenggaranya pengelolaan kekayaan negara.Pokok Lelang 3 Persentase penyelesaian permohonan pengelolaan kekayaan negara 4 Persentase laporan hasil penilaian yang dapat diselesaikan sesuai dengan standar penilaian 5 Persentase BMN yang disertifikasi 6 Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca TARGET 2010 (4) 67.04 M 61. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang INDIKATOR (3) 1 Jumlah Penerimaan Negara .70 M UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) KPKNL 2014 (5) 40. tertib.

008.193 8.168.049 50.427.145.560.170 596.120.519.424. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan kekayaan negara.607.865.577.862 12.312.951.048.072.125.970.94699 2013 (5) 0.298 662.831.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 170 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA PROGRAM/KEGIATAN (1) A.863. evaluasi dan pengelolaan kekayaan negara lain-lain 61.017 164.200 9.396.879. standardisasi.285.833 175.773 9.541.445.451. bimbingan teknis.628.434 16. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara dan kekayaan negara yang dipisahkan 5.099 59. standardisasi.000 46.97450 2014 (6) 1.207 4 Perumusan kebijakan.111 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.187 157.241.000 149.615. evaluasi dan pengelolaan barang milik negara 3 Perumusan kebijakan.183 14.000 8.230 766.326. standardisasi.01227 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 2 Perumusan kebijakan.676.466.489.006. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang 641.667.296.000 580.019.484.527 71.164.701.209.277.922. bimbingan teknis.207.155 197.478.058 .000 4.327.93226 2012 (4) 0.822. bimbingan teknis.868 6.019.449.338.987.

200.651.792 107.750. standardisasi.305.504.600.072.072.255.338.508.511.949.213 15.345.525.537.504 125.520.429. bimbingan teknis.199.372. standardisasi.649.789.996.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 5 Perumusan kebijakan.274 4.537 22.138.006.000 108.845.864.707 8.331.134 245.293.838.757 2013 (5) 12.876.648.506.982 274. evaluasi dan pengawasan pelaksanaan lelang 8 Perumusan peraturan perundangan.317. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang 2011 (3) 8.760 8.765 12. perencanaan dan evaluasi atas pelaksanaan pengurusan Piutang Negara 7 Perumusan kebijakan.051.530.027.423.730 20.222.007 12.801 2012 (4) 10.522.763. penyelesaian pengurusan Piutang Negara dan pelayanan Lelang di wilayah kerja kanwil DJKN 10 Pengelolaan kekayaan negara. bimbingan teknis.001. standardisasi.689.000 6.913. bimbingan teknis.392 .064.783 244.000 4.202 97. pemberian bantuan hukum serta pengembangan sistem informasi manajemen 9 Pengelolaan kekayaan negara.916.704 20. supervisi evaluasi dan rekomendasi Penilaian Kekayaan Negara 6 Perumusan kebijakan.294.010.151 8.744.000 19.592.525.211 21.075 3.043.380.274.931 2014 (6) 15.734 231.727.179.877.000 224.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 171 – ALOKASI 2010 (2) 10.560. analisis.164.020 112.805.

Depkeu (DJKN). H75.Permintaan data kepada TNI agar draft dapat diajukan kepada Menteri Keuangan Catatan Depkeu (DJKN): Pembuatan PMK Pemanfaatan Barang Milik Negara di lingkungan TNI. Kemenko Polhukam. Telah dilakukan pembahasan pada tanggal 8 Januari 2010 guna penyempurnaan RPMK tesebut (permintaan data telah dipenuhi oleh TNI).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 172 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA Bidang Politik. Telah tercapai di H50 Catatan: Keterangan sama dengan H75 TARGET H75: XXX TARGET H100: Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI terbentuk dan siap bertugas mulai 2 Januari 2010 (P8A6) Penyelesaian penyusunan peraturan Menkeu & peraturan Panglima TNI yang dikoordinasikan oleh Timnas Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI Departemen Pertahanan Setneg. Kemeneg BUMN Selesainya penyusunan peraturan Menkeu & peraturan Panglima TNI yang dikoordinasikan oleh Timnas Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI TARGET: Terbitnya TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX Peraturan Menkeu dan Panglima TNI untuk pengalihan aktivitas bisnis TNI H75: XX% H100: XX% H30: XX% H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% .Telah disosialisasikan di internal DJKN dan TNI . Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 Terbentuknya Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Tim Pengendali TARGET H30: XXX Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI terbentuk dan siap bertugas TARGET H50: XXX mulai 2 Januari 2010 UKURAN KEBERHASILAN H30. Telah dibahas draft PMK dimaksud bersama dengan Biro Hukum. Kemeneg PPN/ Ka Bappenas. Selanjutnya RPMK tersebut akan dibahas kembali dengan Biro Hukum Setjen Depkeu) TARGET H100: Terbitnya Peraturan Menkeu dan H100: XX% Panglima TNI untuk pengalihan aktivitas bisnis TNI Catatan Depkeu (DJKN): Draft PMK telah disampaikan kepada Menteri Keuangan melalui ND-14/KN/2010 tanggal 25 Januari 2010 . Saat ini masih dalam proses pengajuan RPMK kepada Menteri Keuangan. Depkeu (DJKN). H50. Kemeneg BUMN H50: XX% Catatan Depkeu (DJKN): Tim Pengendali tersebut telah dibentuk melalui Kep/206/M/XI/2009 tentang Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI. DAN H100 6 H30: XX% % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 50% persiapan pembentukan Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI 1 2 P8: Peningkatan Kemampuan Pertahanan & Keamanan Negara (P8A5) Pembentukan Departemen Pertahanan anggota Tim Pengendali Pelaksanaan Pengalihan Aktivitas Bisnis TNI sesuai keputusan Menhannomor: KEP/190/M/X/2009 tanggal 21 Oktober 2009 Setneg. Kemeneg PPN/ Ka Bappenas. Kemenko Polhukam.

Soft launching PT IIF telah dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2010 yang bertempat di Gedung BRI II Jalan Jend. 2 Triliun pada tahun ke 5 yaitu tahun 2011. ADB masing-masing berkomitmen Rp 400 miliar dan DEG Rp 200 miliar. IFC dan DEG TARGET H100: Soft launching PT IIFF . XX UKURAN KEBERHASILAN H30. TARGET H75: 75%* Penandatanganan shareholders agreements antara PT SMI. Sedang subordinated loan dari ADB dan World Bank masing-masing Rp 1 Triliun. Terkait keputusan Pemegang Saham PT SMI telah diterbitkan melalui surat Menkeu Nomor SI3484/MK. Sudirman. 350 miliar.3 miliar sisanya convertible subordinated .010/2009 modal perusahaan perlu ditingkatkan menjadi Rp.06/2009 tanggal 2 Desember 2009 tentang Persetujuan Penyertaan Dalam Pendirian Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur DJKN telah meminta agar PT SMI segera mewujudkan komitmennya mengenai penandatanganan shareholders agreement sehingga dapat diselesaikan sebelum Program 100 Hari berakhir. ADB.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 173 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Semula: Depkeu. sesuai PMK 100/PMK. DepPU Menjadi: _ KRITERIA KEBERHASILAN 4 Semula: Cakupan perluasan modal lembaga pembiayaan infrastruktur UKURAN KEBERHASILAN 5 Semula: TARGET: Perluasan modal lembaga pembiayaan infrastruktur yang lebih besar sehingga mencakup XX. H50. modal disetor Rp 40. 1 2 P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur Semula: Departemen Keuangan (P12A2) Perluasan modal lembaga pembiayaan infrastruktur Menjadi: (P12A2) Pembentukan perusahaan pembiayaan infrastruktur sebagai anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) TARGET H30: H30: 100% Draft sudah Penyampaian draft persetujuan Rapat Umum diserahkan kepada MK Pemegang Saham atas Rencana Penyertaan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) dalam pendirian Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur Menjadi: Pendirian perusahaan pembiayaan infrastruktur Menjadi: TARGET: Beroperasinya secara efektif perusahaan pembiayaan infrastruktur PT IIFF TARGET H50: Persetujuan MK atas draft persetujuan 100% RUPS PT SMI. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Terkait rencana pendirian IIFF pemerintah melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) berkomitmen Rp 600 miliar. Rencana pembiayaan PT SMI tahun 2009 sebesar Rp 100 miliar. tahun 2010 sebesar Rp 300 miliar dan 2011 sebesar Rp. H75. IFC. Jakarta dan dihadiri oleh shareholders serta perwakilan pemerintah (Depkeu).

pengalihan saham sebelum operasi TARGET H30: 75% H75: XX% H100: XX% [2] Penetapan Dewan Komisaris dan Direksi serta kelengkapan organisasi anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur TARGET: Terbentuknya Dewan Komisaris dan Direksi serta beroperasinya TARGET H50: 80% anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur H30: 75% H50: XX% 75% kemajuan persiapan beroperasinya anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur Catatan Depkeu (DJKN): Persetujuan Menteri Keuangan tentang Penetapan Anggota Dewan Komisaris dari unsur Departemen Keuangan sudah ditetapkan oleh Menteri Keuangan no.67 Tahun 2005 yang mencakup tata cara pengadaan termasuk untuk unsolisited project. Depkeu (DJKN). H50. DepPU. TARGET H75: 90% TARGET H100: Perpres perubahan atas Perpres No. Catatan Depkeu (DJKN) : Masih menunggu usulan supranational Investors (calon direksi dari IFC). Catatan Depkeu (DJKN): Telah terbentuk Dewan Komisaris dan Direksi untuk anak perusahaan 80% kemajuan persiapan beroperasinya PT Penjamin Infrastruktur Indonesia Catatan Depkeu (DJKN): Telah disampaikan surat mengenai Usulan BOC dan BOD PT Penjamin Infrastruktur Indonesia kepada Menteri Keuangan oleh BKF. Dephub [1] Cakupan perubahan Perpres No.67 Tahun 2005 yang mencakup tata cara pengadaan termasuk untuk unsolisited project. definisi tentang financial closing.67 Tahun 2005 tentang kerja sama pemerintah dengan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur TARGET: Perpres perubahan atas Perpres No.06/2009 hal Penetapan Calon Anggota Dekom IIFF. Keterangan sama dengan H-50 Catatan Depkeu (DJKN): Telah tercapai 100% TARGET H75: 90% H75: XX% [3] Penetapan Dewan Komisaris dan Direksi serta kelengkapan organisasi PT Penjamin Infrastruktur Indonesia TARGET: Terbentuknya Dewan Komisaris dan Direksi serta beroperasinya TARGET H50: 85% PT Infrastruktur Indonesia TARGET H100: Terbentuknya Dewan Komisaris dan H100: XX% Direksi serta beroperasinya anak perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur TARGET H30: 80% H30: 80% H50: XX% TARGET H75: 90% H75: XX% TARGET H100: Terbentuknya Dewan Komisaris dan H100: XX% Direksi serta beroperasinya PT Infrastruktur Indonesia . S-684/MK. H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 174 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 2 P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur (P12A4) Penetapan skema co-financing bagi program pembangunan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (penciptaan ownership di daerah) serta Pemerintah dan Swasta/BUMN (Public Private Partnership ) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian KemenegPPN/Bappenas. definisi tentang financial closing. pengalihan saham sebelum operasi TARGET H30: 70% TARGET H50: 80% H30: 70% H50: XX% 70% kemajuan penyelesaian Perpres Catatan Depkeu (DJKN): Keterkaitan Depkeu hanya sebatas pada penetapan Anggota Dewan Komisaris PT Sarana Multi Infrastruktur Keterangan sama dengan H-50 Catatan Depkeu (DJKN): DJKN tidak terlibat dalam RA ini.

Pada prinsipnya DJKN akan memproses setiap permohonan dari Menneg. H75. H50. telah dilaksanakan Rakor Rencana Pengembangan Industri NPK dan Kebutuhan Bahan Baku pada tanggal 7 Desember 2009. DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 2 P26: Revitalisasi Industri pupuk dan gula Revitalisasi Industri Pupuk Urea (P26A11) Penyediaan dana (P26A112) Depperin Depkeu (DJKN). 2. BI [1] Adanya kelonggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) untuk pinjaman industri pupuk (P26A112K1) [2] Tersedianya tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) (P26A112K2) [3] Tersedianya pinjaman luar negeri (Two Step Loan) (P26A112K3) TARGET: [1] Terbitnya ketentuan Bank Indonesia tentang kelonggaran BMPK (P26A112K1U1) [2] Terbitnya Peraturan Pemerintah tentang PMN untuk industri pupuk (P26A112K2U1) [3] Terbitnya Sub Loan Agreement (SLA) kredit ekspor (P26A112K3U1) TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% Kemajuan 70% Catatan Depkeu (DJKN): 100% Berdasarkan informasi dari Depperin. Kementrian BUMN. Sesuai dengan ketentuan pasal 24 ayat 2 UU no 17 Tahun 2003 bahwa setiap penyertaan modal negara kepada perusahaan negara terlebih dahulu ditetapkan dengan APBN. BUMN dan departemen teknis TARGET H100: [1] Terbitnya ketentuan Bank Indonesia tentang kelonggaran BMPK (P26A112K1U1) [2] Terbitnya Peraturan Pemerintah tentang PMN untuk industri pupuk (P26A112K2U1) [3] Terbitnya Sub Loan Agreement (SLA) kredit ekspor (P26A112K3U1) H100: XX% Catatan Depkeu (DJKN): Keterangan sama dengan H75 . Bappenas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 175 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJKN) : 1.

Perdagangan.n. Menteri Keuangan No. H75: XX% H100: XX% . Kementrian BUMN Jaminan ketersediaan Fosfat TARGET: [1] TARGET H30: XXX dan Kalium jangka panjang Adanya program kerjasama (P26A121K1) yang difasilitasi Pemerintah TARGET H50: XXX Indonesia dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U1) [2] Adanya kontrak B to B TARGET H75: XXX jangka panjang penyediaan Fosfat dan kalium dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U2) TARGET H100: [1] Adanya program kerjasama yang difasilitasi Pemerintah Indonesia dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U1) [2] Adanya kontrak B to B jangka panjang penyediaan Fosfat dan kalium dengan negara penghasil Fosfat dan Kalium (P26A121K1U2 H30: XX% H50: XX% Kemajuan 60% Catatan Depkeu (DJKN): Penerbitan PP tentang PMN untuk industri pupuk masih menunggu progress dari Depperin dan Menneg BUMN. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Revitalisasi / Pengembangan Industri Pupuk NPK (P26A12) Melakukan kerjasama Depperin suplai bahan baku Fosfat dan Kalium dengan negara sumber bahan baku (P26A121) Deplu. Dep. H50.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). Depkeu (DJKN). H75. Catatan: Keterangan sama dengan H75. Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a.S-8/MK.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 176 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.

KANWIL DJKN. KPKNL . BMN II. Penyelesaian Inventarisasi dan penilaian terhadap Barang Milik Negara serta koreksi neraca mulai tahun 2007 secara berkelanjutan K/L TERKAIT WAKTU November 2011 UNIT ESELON II DIREKTORAT BMN I. Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI RENCANA AKSI 1. KEKAYAAN NEGARA LAIN-LAIN. PENILAIAN KEKAYAAN NEGARA.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 177 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA INDIKATOR KINERJA a.

kredibel.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 178 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENINGKATAN PENGELOLAAN PERIMBANGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH 2 1 Peningkatan efektifitas dan efisiensi pengelolaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah Terciptanya tata kelola yang tertib sesuai peraturan perundang-undangan. standar. transparan. akuntabel. dan pengelolaan belanja transfer ke daerah ke pihak eksternal Persentase kepatuhan dan penegakan ketentuan/peraturan Persentase penyelesaian kasus KKN yang terjadi di lingkungan Ditjen PK sesuai dengan kewenangannya 8 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 1 Tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi pada semua unit Eselon II di Ditjen Perimbangan Keuangan dalam rangka menunjang tercapainya pencapaian tujuan strategis Ditjen 1 2 Persentase pegawai yang melanggar kode etik pegawai DJPK Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat 4% 100% 2% 100% SES. dan profesional dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah 1 Rasio realisasi dari janji pelayanan pengalokasian dana transfer ke daerah ke pihak eksternal Realisasi janji pelayanan evaluasi Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal Persentase ketepatan jumlah penyaluran dana transfer ke daerah Ketepatan waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah Indeks kepuasan Pemda terhadap norma. DITJEN PERIMBANGAN KEUANGAN Kajian revisi UU 33/2004 dan PP 54/2005 Desember 2010 Temu Nasional 100% 100% DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 2 3 4 15 hari 100% 4 hari 12 hari 100% 3 hari 5 3 3 6 7 80% 100% 85% 100% .

adil. bimbingan teknis. proporsional. Transparan. dan pengelolaan transfer ke daerah 1 2 Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Dana Transfer Terciptanya Tata Kelola yang Tertib Sesuai Peraturan Perundang-undangan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 179 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 Perimbangan Keuangan Terwujudnya pelayanan yang terbaik kepada semua unsur Ditjen Perimbangan Keuangan dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas 3 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Persentase tingkat penyelesaian dokumen pencairan anggaran Rasio penyelesaian pengadaan sarana dan prasana sesuai dengan rencana Persentase penyelesaian kasus KKN yang terjadi di lingkungan Ditjen PK sesuai dengan kewenangannya Persentase ketepatan jumlah penyaluran jumlah dana transfer ke daerah Ketepatan waktu penyelesaian dokumen pelaksanaan penyaluran dana transfer ke daerah Persentase jumlah kebijakan dana Transfer ke Daerah sesuai rencana Indeks kepuasan Pemda terhadap kebijakan formulasi dana Transfer ke Daerah sesuai kewenangan dan urusan Indeks kepuasan Pemda terhadap norma dan standar transfer ke daerah Rasio realisasi dari janji pelayanan pengalokasian dana transfer ke daerah ke pihak eksternal Indeks Kepatuhan dan Penegakan Hukum Sosialisasi Peraturan Menkeu tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama TARGET 2010 (4) 100% 100% UNIT ORGANISASI 2014 (5) 100% 100% PELAKSANA (6) 5 100% 100% 2 Perumusan kebijakan. Akuntabel. dan Profesional dalam Pelaksanaan Transfer ke Daerah 1 100% 100% DIREKTORAT DANA PERIMBANGAN 2 4 hari 3 hari 3 4 100% 3 100% 3 5 6 3 100% 3 100% 7 8 80% 85% Program 100 Hari 1 Februari 2010 . Kredibel.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 180 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota) 3 Perumusan kebijakan. Optimalisasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah 2. Mewujudkan Kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang mendukung Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah 1 2 3 Persentase jumlah kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dapat diimplementasikan Jumlah konsep kebijakan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sesuai dengan rencana Realisasi janji pelayanan evaluasi 80% 85% DIREKTORAT PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH 100% 100% 15 hari 12 hari Perda/Raperda PDRD ke pihak eksternal dalam bentuk rekomendasi Menteri Keuangan 4 Persentase tingkat penyelesaian evaluasi Perda tentang PDRD terhadap rencana evaluasi 5 Percepatan evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD bermasalah 6 Percepatan Evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD yang bermasalah 7 Penyusunan Program transisi / pengalihan PBB menjadi Pajak Daerah 8 Pengalihan BPHTB menjadi Pajak Daerah 9 Penerapan Pajak Rokok menjadi Pajak Daerah 10 RPP tentang sistem pemungutan pajak daerah 11 RPMK pemberian sanksi terhadap daerah 100% 100% Oktober 2014 Desember 2011 Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Desember 2013 2010. bimbingan teknis. monitoring dan evaluasi di bidang PDRD 1.2011 Desember 2013 Juni 2010 Juni 2010 Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja Kontrak Kinerja .

serta pengembangan sistem informasi keuangan daerah 1 2 3 Efesiensi dan Efektifitas Pengelolaan Dana Desentralisasi. Up to date. bimbingan teknis. pemantauan dan evaluasi di bidang pendanaan daerah dan ekonomi daerah. dan Dana Tugas Pembantuan Terkendalinya Defisit Anggaran Daerah Terselenggaranya SIKD Nasional yang TRUST (compleTe.050 orang 1. Reliable. Hibah Daerah. dekonsentrasi dan tugas pembantuan serta perekonomian daerah sesuai rencana Persentase tersedianya layanan 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT EVALUASI PENDANAAN DAN INFORMASI KEUANGAN DAERAH 80% 90% . monitoring dan evaluasi di bidang pembiayaan dan kapasitas daerah 1 Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Pinjaman Daerah. Obligasi Daerah. Secure. penyusunan laporan keuangan transfer ke daerah.200 orang 5 Perumusan kebijakan. and acuraTe) 1 2 3 Persentase jumlah kebijakan Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah sesuai rencana Persentase penyelesaian laporan hasil evaluasi pendanaan desentralisasi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 181 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) Juni 2010 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) yang melanggar ketentuan PDRD 12 Mengkaji penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja 4 Perumusan kebijakan. Dana Dekonsentrasi. dan Investasi Daerah 1 2 Persentase penyaluran dana hibah ke daerah sesuai rencana Persentase jumlah kebijakan Pembiayaan dan Kapasitas Daerah yang dapat diimplementasikan 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT PEMBIAYAAN DAN KAPASITAS DAERAH 2 3 Peningkatan Efektifitas dan Efisiensi Penataan Daerah Peningkatan Kapasitas Aparat Pengelola Keuangan Daerah 4 3 Persentase jumlah konsep kebijakan pembiayaan dan kapasitas daerah sesuai dengan rencana Persentase kepatuhan dan penegakan ketentuan/peraturan dibidang hibah ke daerah 100% 100% 80% 85% 5 Jumlah Aparat Pengelola Keuangan Daerah yang mengikuti LKD/KKD/KKD Khusus per tahun 1.

kajian dan rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah 4 5 100% 100% 100% 100% 6 7 50% 100% Program 100 Hari 1 Februari 2010 .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 182 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) informasi yang terkini pada website dan Mofisda sesuai yang disampaikan oleh penyaji data Tersedianya hasil pemantauan penyampaian Perda APBD Persentase penyelesaian Laporan Keuangan Transfer ke Daerah yang tepat waktu Tersedianya Sistem Informasi Manajemen Transfer ke Daerah (SIMTRADA) Dokumen hasil evaluasi.

452.581.643 10.615.088.219.01227 .097.857.278.876.901.938 12.667.481.874.652.065.94699 2013 (5) 0. bimbingan teknis.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 183 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.388 128.621 17.93226 2012 (4) 0.517 30.031.837.100.360.770.850 155.349.193.391.360 17.110.611.062 107. monitoring dan evaluasi di bidang pembiayaan dan kapasitas daerah 5 Perumusan kebijakan.117.862.456.213.555.382 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.884.524 10.493 112.044 11.364 22.834.494.774.835 36.797 31.836.784 15.643.845.063 27.523 22.291. serta pengembangan sistem informasi keuangan daerah 18.246.023.97450 2014 (6) 1.826 38.474 19.733.389.000 99.460.992.146.453. monitoring dan evaluasi di bidang PDRD 4 Perumusan kebijakan.029.860.142.525 56.159 46.904 29.125.569 19. pemantauan dan evaluasi di bidang pendanaan daerah dan ekonomi daerah.555. bimbingan teknis dan pengelolaan transfer ke daerah 3 Perumusan kebijakan.592.137.109.204 14. penyusunan laporan keuangan transfer ke daerah.524 11.269. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Peningkatan Pengelolaan Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 2 Perumusan kebijakan.119 33.963 33. bimbingan teknis.722.878.333.095.071.770 15.

2c) Sosialisasi kepada 75 Kepala Daerah/Pejabat Daerah di Lingkungan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. H50. % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 Sosialisasi dapat dilakukan melalui 2 cara: 1) Penyampaian / Pengiriman Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dan/atau 2) Sosialisasi langsung kepada Para Kepala Daerah/Pejabat Daerah.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan kepada 140 Kepala Daerah: 1) Tersampaikannya PMK 168/PMK. 2a) Sosialisasi kepada 32 Kepala Daerah/Pejabat Daerah (Kabupaten/ Kota). 2a) Telah dilaksanakan Sosialisasi kepada 32 Kepala Daerah/Pejabat Daerah bersamaan dengan Pelaksanaan Rakornas TKPK di Hotel Bumi Karsa. Peraturan Menkeu tentang Pemda Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota) TARGET H50: Sosialisasi PMK Nomor: 168/PMK. DAN H100 6 TARGET H30: Sosialisasi PMK Nomor: 168/PMK.07/2009 kepada 510 Daerah melalui surat Dirjen PK Nomor: S-477/PK/2009 tanggal 1 Desember 2009. 1 2 3 P30: Peningkatan Efektivitas dan Keberlanjutan PNPM Mandiri (P30A1) Sosialisasi Departemen Keuangan Bappenas.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota) UKURAN KEBERHASILAN 5 a) Tersampaikannya PMK Nomor: 168/PMK. Kemenko Kesra. 2b) Sosialisasi kepada 33 Kepala Daerah/Pejabat Daerah pada Rakornas Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Menko Kesra. 2b) Telah dilaksanakan Sosialisasi kepada 33 Kepala Daerah/Pejabat Daerah bersamaan dengan Pelaksanaan Rakornas TKPK di Hotel Bumi Karsa. H50: 100% 1) Tersampaikannya PMK 168/PMK.07/2009 kepada 510 Daerah. Pelaksanaan sosialisasi langsung akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan yang tersedia. 2c) Telah dilaksanakannya Sosialisasi kepada Kepala Daerah/Pejabat Daerah di Lingkungan Propinsi Jawa Timur sebanyak 270 Kepala Daerah/Pejabat Daerah dan Jawa Tengah sebanyak 235 Kepala Daerah/Pejabat Daerah pada tanggal 8-9 Desember 2009 sesuai Undangan Dirjen PK Nomor: Und-158/PK/2009 . H75. b) Terlaksananya sosialisasi PMK Nomor 168/PMK.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 184 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN Bidang Politik.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan kepada 510 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah UKURAN KEBERHASILAN H30.Komplek Bidakara pada tanggal 3 Desember 2009.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan kepada 28 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah.Komplek Bidakara pada tanggal 3 Desember 2009.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan di 510 daerah (prov/kab/kota). Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT KRITERIA KEBERHASILAN 4 Cakupan sosialisasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK. .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 185 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. kajian dan rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX TARGET H75: XXX TARGET H100: Dokumen hasil evaluasi. H75. sistem dan Depkeu (DJPK) meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah Dilakukan evaluasi awal terhadap sistem penggunaan dana perimbangan daerah TARGET: Dokumen hasil evaluasi. DAN H100 6 TARGET H75: Sosialisasi PMK kepada 200 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah. kajian dan rekomendasi untuk meningkatkan efektifitas penggunaan dana perimbangan daerah H100: 100% Telah dilaksanakan Sosialisasi kepada 425 Kepala Daerah/Pejabat Daerah pada tanggal 6-7 Januari 2010 di Bidakara. RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: 100% KETERANGAN 8 TARGET H100: Sosialisasi PMK kepada 142 Kepala Daerah/ Pejabat Daerah. karena masih dalam domain internal tugas Depdagri . sehingga total telah tersosialisasi adalah 995 Kepala Daerah/Pejabat Daerah H30: XX% H50: XX% H75: XX% H100: XX% Catatan Depkeu (DJPK): RA ini tidak terkait dengan Depkeu. H50. (P10) Program 10: Peningkatan Efektifitas Otonomi Daerah (P10A4) Mengevaluasi Departemen Dalam Negeri Kemenko Polhukam. sehingga pada H100 total yang telah tersosialisasi sebanyak 510 Kepala Daerah/Pejabat Daerah.

Percepatan evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD yang bermasalah . Pemda Paling lambat Oktober 2014 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . Pemda Desember 2011 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Desember 2013 2010-2011 Desember 2013 . yang mencakup namun tidak terbatas pada : i.Pengalihan BPHTB menjadi Pajak Daerah . Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain.Penerapan Pajak Rokok menjadi Pajak Daerah Depdagri. dimulai dari Batam.Penyusunan program transisi / pengalihan PBB menjadi Pajak Daerah . pembatalan Peraturan Daerah bermasalah dan pengurangan biaya untuk bisnis seperti Tanda daftar Perusahaan (TDP) dan Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) ii.000 peraturan daerah selambat-lambatnya 2011 Percepatan evaluasi dan rekomendasi Perda dan Raperda PDRD bermasalah Depdagri. Memastikan percepatan harmonisasi dan sinkronisasi peraturan perundangan di tingkat pusat maupun daerah hingga tercapai keselarasan arah dalam implementasi pembangunan diantaranya penyelesaian kajian 12. Memastikan penerapan sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik (SPIPISE) pada Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) di beberapa kota.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 186 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN INDIKATOR KINERJA a.

Menneg BUMN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 187 – INDIKATOR KINERJA a. Depnaker. Pemda Juni 2010 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah b. Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi Mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM.Penyelesaian RPP tentang sistem pemungutan pajak daerah. Depdagri. dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan Mengkaji penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM Depdagri. listrik. Kejaksaan. Pemda Paling lambat Juni 2010 Direktorat Pajak Daerah dan Retribusi Daerah . Dephukham. BPH Migas. . Polri.Penyelesaian RPMK pemberian sanksi terhadap daerah yang melanggar ketentuan PDRD BKPM. Setneg. Depdag. BPN. Dephub. ESDM. Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi Mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturanperaturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . ESDM. Pertamina.

Setneg.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 188 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN Bidang : Infrastruktur No. UU 33/2004. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L JAWAB TERKAIT Menteri Keuangan Depkeu. Depdagri. PP 54/2005 dan PP UU 33/2004 dan 54/2008 PP 54/2005 1 tahun . dan LKPPhun UNIT ESELON II 1. PP 54/2005 dan PP 54/2008 Melakukan kajian revisi UU Usulan revisi 33/2004. Setkab.

Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 1. Peningkatan partisipasi investor dalam penerbitan SBN 5. Persentase pejabat yang telah memenuhi standar kompetensi jabatannya 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 189 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM 1. Sistem aplikasi kesekretariatan yang terintegrasi antar unit eselon II 1. % kesesuaian data rekonsiliasi keuangan 4. Terpenuhinya kebutuhan pembiayaan APBN yang aman melalui pengadaan pinjaman . Terpenuhinya struktur portofolio utang sesuai dengan strategi yang ditetapkan 3. Pemenuhan target pembiayaan melalui utang 2. efisien. tepat jumlah. PENGELOLAAAN DAN PEMBIAYAAN UTANG 1. Penyelesaian perjanjian pinjaman dan hibah 100% 100% SET. Pembayaran utang secara tepat waktu. dan akuntabel 1. DITJEN PENGELOLAAN UTANG 65% 100% 100% 2 sistem 100% 100% 70% 100% 100% 2 sistem 100% 100% DIREKTORAT PINJAMAN DAN HIBAH 2. 2. Pemenuhan target pembiayaan melalui pinjaman program 2. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang 4. Terwujudnya pelayanan teknis dan administratif Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang yang efektif. Pengelolaan Pinjaman 1. 1. Mengoptimalkan pengelolaan Surat Berharga Negara (SBN) maupun pinjaman untuk mengamankan pembiayaan APBN. Persentase penyusunan prosedur standar yang mendukung pengelolaan utang 2. dan tepat sasaran 145% 100% 175% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) KEGIATAN 1. Mendukung upaya financial market deepening untuk meningkatkan kapasitas daya serap dan efisiensi pasar keuangan. % realisasi pengadaan barang 5.

inovatif. Pengelolaan Surat Utang Negara 1. Pengelolaan Pembiayaan Syariah 1. budaya. Peningkatan partisipasi investor dalam penerbitan SUN 100% 100% 100% 145% 100% 100% 100% 175% DIREKTORAT SURAT UTANG NEGARA 4. dan hasil penelitian laboratorium atau institusi pendidikan UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) (5) 2014 100% 1 Februari 2010 Program 100 Hari 3. Terpenuhinya struktur portofolio SUN sesuai dengan strategi yang ditetapkan 3. Pemenuhan target pembiayaan melalui SUN 2. Terpenuhinya kebutuhan pembiayaan APBN yang aman bagi kesinambungan fiskal melalui pengelolaan Surat Utang Negara (SUN) 1. Keppres perubahan atas Keppres Nomor 80/2003 yang mencakup skema co-financing dan mengakomodasi tata cara pengadaan hasil industri kreatif. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan pinjaman 4. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan SUN 4.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 190 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 100% PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3. Terpenuhinya struktur portofolio SBSN sesuai dengan strategi yang ditetapkan 3. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan SBSN 4. Terpenuhinya kebutuhan pembiayaan APBN yang aman bagi kesinambungan fiskal melalui pengelolaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) 1. Pemenuhan target pembiayaan melalui SBSN 2. Peningkatan partisipasi investor dalam penerbitan SBSN 100% 100% 100% 145% 100% 100% 100% 175% DIREKTORAT PEMBIAYAAN SYARIAH .

Pencapaian target effective cost yang kredibel 3. AKUNTANSI. Terwujudnya pelaksanaan penyelesaian transaksi. DAN SETELMEN . pencatatan. dan akuntabel *) Tahun 2010 ditargetkan 2 dokumen strategi utang yaitu strategi utang tahun 2010-2014 dan strategi utang tahunan 2010 **) Tahun 2014 ditargetkan 1 dokumen strategi utang yaitu strategi utang tahunan 2014 1. tepat jumlah. Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang INDIKATOR (3) 1. Tersedianya Dokumen Strategi TARGET 2010 (4) 2 dokumen*) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) DIREKTORAT STRATEGI DAN PORTOFOLIO UTANG 2014 (5) 1 dokumen**) 100% 100% 100% 100% DIREKTORAT EVALUASI. dan tepat sasaran 2. dan pelaporan utang pemerintah yang profesional. Akuntansi dan Setelmen Utang 1. Pembayaran utang secara tepat waktu. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang 6. efektif. Ketersediaan informasi dalam rangka transparansi pengelolaan utang 100% 100% 100% 100% 100% 100% PROGRAM/KEGIATAN (1) 5. transparan. Terpenuhinya struktur portofolio utang sesuai dengan strategi yang ditetapkan 4. Pelaksanaan Evaluasi. Penyediaan strategi pengelolaan utang yang mempertimbangkan aspek biaya dan risiko Pengelolaan Utang 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 191 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1.

144.525.225.126.150.619.385.868 4 Pengelolaan Pembiayaan Syariah 7.000 9.673 9.611 4.285.037 9.522.940.079.142 8.592.270.471.502.000 33.770.567.102.445.819.931.000 6.655 2 Pengelolaan Pinjaman 10.747 6.000 2.718.647 3.897 3.808.097.170.510.668.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 192 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG PROGRAM/KEGIATAN ALOKASI 2010 2011 2012 2013 2014 (1) A.792 9.447 72.993.954.985.759.061 6.699. Akuntansi.176.968.000 7.000 6.183 3 Pengelolaan Surat Utang Negara 9.810 6.838 5 Pengelolaan Strategi dan Portofolio Utang 6 Pelaksanaan Evaluasi.585. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengelolaan dan Pembiayaaan Utang (2) (3) 0.088.227.528.415 .010 5.580.008 68.218.401.068.952 37.01227 77.97450 (6) 1.769 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 41.374.555.793.034.052.411.277 77.787.275.257 7.657.596.932.928 5.191.93226 (4) 0.645.396.310.779 5.055.052.888.281 9.590.933 39.374.000 0 65.538.980.728 9.258 35. dan Setelmen Utang 2.761.173.634.545.94699 (5) 0.362.436.

Pengadaan pembiayaan bukan domain Keppres No. Setkab. 80 tahun 2003 sehingga ada kemungkinan akan dihilangkan dari naskah revisi. inovatif. Konfirmasi dari Bappenas diinformasikan bahwa: a. 2.8/2009 tanggal 6 November 2009 kepada Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 193 – PROGRAM 100 HARI DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN UTANG Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Depkeu (DJPU). b. KRITERIA KEBERHASILAN 4 Cakupan penyempurnaan Keppres 80/2003 mengenai tata cara pengadaan barang dan jasa pemerintah UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Keppres perubahan atas Keppres Nomor 80/2003 yang mencakup skema cofinancing dan mengakomodasi tata cara pengadaan hasil industri kreatif. DAN H100 6 TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% KETERANGAN 8 60% kemajuan penyelesaian Keppres Catatan Depkeu (DJPU): 1. maka digunakan sistem donor tetapi jika tidak prinsip dinegosiasikan kasus per kasus dan dituangkan dalam loan agreement . Telah disampaikan usulan Revisi Keppres 80 Tahun 2003 terkait dengan kebijakan pengadaan jasa dalam rangka pembiayaan melalui utang dan jasa dalam rangka pengelolaan portfolio utang. Berdasarkan Surat No. Jika ada perbedaan yang prinsip.S-153/MK. H75. Rumusan terakhir adalah menggunakan sistem nasional. dan hasil penelitian laboratorium atau institusi pendidikan UKURAN KEBERHASILAN H30. 1 2 P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur (P12A3) Perubahan Keppres Kementerian PPN/Kepala Nomor 80 tahun 2003 Bappenas tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah . budaya. H50. Di dalam naskah revisi juga diatur tentang harmonisasi tata cara pengadaan antara sistem nasional dengan donor guide lainnya.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 194 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.Keterangan sama dengan H75. . TARGET H100:Keppres perubahan atas Keppres H100: XX% Nomor 80/2003 yang mencakup skema co-financing dan mengakomodasi tata cara pengadaan hasil industri kreatif. Bappenas). dan hasil penelitian laboratorium atau institusi pendidikan Catatan Depkeu (DJPU): . H50. budaya. inovatif. tetapi dari diskusi terakhir disepakati bahwa masalah pengadaan pembiayaan bukan domain Keppres 80 sehingga akan didrop dari naskah revisi (Direktur Aparatur Negara. . dimuat ketentuan mengenai pengadaan untuk pembiayaan yang berasal dari luar negeri. H75.RA tersebut sudah tidak terkait dengan DJPU. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (DJPU): Melalui komunikasi dengan Bappenas diperoleh informasi bahwa di salah satu pasal revisi.

Bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank f. Jumlah kasus yang diserahkan kepada instansi penegak hukum sebagai bukti 3 awal penyelidikan Indeks kualitas laporan keuangan kementerian keuangan (BA 15) 3. Pencegahan Praktik KKN 2 Penindakan Praktik KKN: a.00 4.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 195 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2009-2014 INSPEKTORAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGAWASAN DAN PENINGKATAN AKUNTABILITAS APARATUR DEPARTEMEN KEUANGAN Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas proses manajemen risiko. Perbendaharaan Negara c. Jumlah informasi gratifikasi. dan korupsi b. Pegelolaan Kekayaan Negara e. Belanja Negara c. Persentase realisasi penyetoran hasil investigasi c. pengendalian. kolusi.00 LK Depkeu th 2010 mencapai WTP (indeks 4) bl Nov 2011 4 kasus 4 kasus 40% 20% 3 pengaduan 3 pengaduan 15 rekomendasi 3 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 1 rekomendasi 6 rekomendasi 1 rekomendasi 22 rekomendasi 7 rekomendasi 2 rekomendasi 2 rekomendasi 1 rekomendasi 2 rekomendasi 1 rekomendasi 6 rekomendasi 1 rekomendasi INSPEKTORAT JENDERAL TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) . Pembiayaan APBN d. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Departemen Keuangan 1 Jumlah policy recommendation : a. Bidang Pembelajaran dan Pertumbuhan g.pungutan liar. Pendapatan Negara b.

99 (Penyertaan Modal Pemerintah) 5 6 Indeks kualitas laporan keuangan Bendahara Umum Negara (BA 999) Frekuensi komunikasi pengawasan TARGET 2010 (4) 3.6 (Indeks) 100% 1 hari kerja 3. pengendalian. 70 (Dana Perimbangan).56 UNIT ORGANISASI 2014 (5) 3. 97 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang luar Negeri).78 PELAKSANA (6) 2. 71 (Dana Otonomi Khusus dan Penyeimbang). 69 (Belanja Lain-lain). 62 (Subsidi dan Transfer Lainnya). 96 (Pembayaran Cicilan Pokok Hutang Dalam Negeri).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 196 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Indeks kualitas laporan keuangan BUN BA 61 (Cicilan dan Bunga Hutang). 98 (Penerusan Pinjaman).3(Indeks) 100% SEKRETARIAT INSPEKTORAT JENDERAL 2 2 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Pajak 1 1 2 3 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Jumlah konsultasi 80% 1 rekomendasi 1 kali 85% 3 rekomendasi 3 kali INSPEKTORAT I .00 15 kali 4. 1 2 3 Jumlah hari mulai diresponnya permintaan layanan dan dukungan Indeks kepuasan layanan dan dukungan pilihan Persentase penyelesaian SOP 1 hari kerja 2.00 24 kali KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Inspektorat Jendral 1 Terwujudnya layanan administrasi yang prima kepada seluruh unsur Itjen dalam rangka memperlancar pelaksanaan tugas pengawasan Pemberian dukungan teknis yang optimal kepada seluruh unsur Itjen dalam rangka menunjang tercapainya pencapaian tujuan strategis Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui meningkatkan efektifitas proses manajemen resiko.

pengendalian.75 3 kali INSPEKTORAT III November 2011 Kontrak Kinerja 80% 2 rekomendasi 85% 3 rekomendasi INSPEKTORAT IV 4 4.0 2 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja . dan 98) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks Laporan Keuangan (BA 99) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen 80% 2 rekomendasi 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 197 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak 3 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko. 97. pengendalian. 96. pengendalian. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 1 2 3 4 5 4 5 2 3 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen TARGET 2010 (4) November 2011 UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja 1 2 3 4 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen 80% 1 rekomendasi 85% 3 rekomendasi INSPEKTORAT II 1 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 4 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 1 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks Laporan Keuangan (BA 61.75 2 kali 85% 3 rekomendasi 3. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 5 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko.

pungutan liar.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 198 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko.0 4. pengendalian.0 2 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 7 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Sekretariat Jenderal.71) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen TARGET 2010 (4) 80% 2 rekomendasi UNIT ORGANISASI 2014 (5) 85% PELAKSANA (6) INSPEKTORAT V 3 rekomendasi 4. BPPK 1 Mendorong Itjen Depkeu sebagai Benchmark bagi APIP lainnya 1 2 3 4 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan INDIKATOR (3) Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks Laporan Keuangan (BA 70.0 3 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 8 Pelaksanaan Program Transformasi Pengawasan 1 2 3 4 80% 3 rekomendasi 100% 3 rekomendasi INSPEKTORAT VII 1 kali 3 kali November 2011 Kontrak Kinerja 9 Pelaksanaan Audit Investigasi dan Edukasi anti KKN 1 Meningkatkan efektifitas pencegahan dan penindakan praktik KKN 1 2 3 3 pengaduan 40% 4 kasus 3 pengaduan 20% 4 kasus INSPEKTORAT BIDANG INVESTIGASI . dan korupsi Persentase realisasi penyetoran hasil investigasi Jumlah kasus yang diserahkan kepada instansi penegak hukum sebagai bukti awal penyelidikan 80% 3 rekomendasi 85% 3 rekomendasi INSPEKTORAT VI 3. pengendalian. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.0 4. Bapepam-LK. dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan 1 2 3 4 5 Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Indeks laporan keuangan (BA 15) Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen Persentase penyelesaian pelaksanaan pengawasan Jumlah policy recommendation Jumlah konsultasi Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen Jumlah informasi gratifikasi. kolusi. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Sekretariat Jenderal. dan tata kelola serta peningkatan akuntabilitas aparatur di lingkungan Direktorat Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan 1 Terwujudnya pengawasan yang memberi nilai tambah melalui peningkatan efektivitas manajemen resiko.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 199 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 4 5 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Jumlah policy recommendation Jumlah sosialisasi anti KKN TARGET 2010 (4) 1 rekomendasi 3 kali UNIT ORGANISASI 2014 (5) PELAKSANA (6) 1 rekomendasi 3 kali .

373.94699 2013 (5) 0.777 3.462 4.409 4.934.990 59.719.97450 2014 (6) 1.551.027.709 4.588.588.01227 KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Inspektorat Jendral 2 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Pajak 3 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 4 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Perbendaharaan dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang 5 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 3.523.173.458 4.598 4.310 4.128.93226 2012 (4) 0.802.000 3.809.694.245.833.932.609.708.391.728 103.586.556.811 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.888.020.989.903 55.224.932.566 4.620.263.431.366 65.517.354.766 3.000 3.429.040.048.980.697.112.249.000 3.790.694 87.642 3.785.000 82.849.993.375.909.648 4.000 3.820 3.263 59.564 .891.861.959.617.000.485.123.695.385 95.466.110.208.002.148.659.259.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 200 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 INSPEKTORAT JENDERAL PROGRAM/KEGIATAN (1) A.465.994 3. ALOKASI PROGRAM PROGRAM 1 Pengawasan dan Peningkatan Akuntabilitas Aparatur Departemen Keuangan 93.189 3.820 5.600 51.

221 5.145 4.614.774 .163 2014 (6) 4.228.860.505.882 5.732.589.344.813.974 6.045 2013 (5) 4.084.544.936 2012 (4) 3.438.780.455.550 5.347 4. dan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan 8 Pelaksanaan Program Transformasi Pengawasan 9 Pelaksanaan Audit Investigasi dan Edukasi anti KKN 2011 (3) 3.752.947.017.120.496 4.114.300 3.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 201 – ALOKASI 2010 (2) 4.723.391.508.161.096.431 4.000 4.849.691.100 4.892.889.782 4.173.990.981.772 5.139 3.077.422.174.551. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Direktorat Jenderal Anggaran dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan 7 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Pengawasan serta peningkatan Akuntabilitas Aparatur Sekretariat Jenderal.081.461.023.693.707 3.301.073.

BPKP WAKTU UNIT ESELON II Inspektorat I Inspektorat II Inspektorat III Inspektorat IV Inspektorat V Inspektorat VI Inspektorat VII Pengelolaan keuangan Kementerian memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI Peningkatan pelaksanaan reviu atas laporan keuangan oleh Itjen November 2011 .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 202 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN INSPEKTORAT JENDERAL INDIKATOR KINERJA RENCANA AKSI K/L TERKAIT KSAP.

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NON BANK TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya Bapepam-LK sebagai lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip transparansi.5% 10% 2014 (5) 3% 10% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) BAPEPAM-LK 6% 5% 36% 77 1 Februari 2010 10% 15% 366% 82 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan 1 Meningkatnya kualitas layanan dan dukungan yang tinggi kepada seluruh stakeholders internal dan eksternal Sekretariat Badan Bapepam-LK 1 Persentase penyelesaian SOP terhadap SOP yang harus diperbaharui/dibuat 2 Persentase kesesuaian antara realisasi peningkatan kualitas pegawai dengan kebutuhan riil 100% 80% 100% 90% SES. independensi dan integritas 2 Terwujudnya industri Pasar Modal dan Jasa Keuangan Non Bank sebagai penggerak perekonomian nasional dan berdaya saing global INDIKATOR (3) 1 Persentase pertumbuhan nilai transaksi saham harian 2 Persentase pertumbuhan dana yang dikelola oleh lembaga pembiayaan dan penjaminan 3 Persentase pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri perasuransian 4 Persentase pertumbuhan dana yang dikelola oleh industri dana pensiun 5 Persentase pertumbuhan unit penyertaan Reksa Dana 6 Indeks Kepuasan Stakeholders Bapepam-LK 7 Sejumlah peraturan perundangan yang diidentifikasi dan dikaji terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha 8 Panduan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business) dalam 40 hari TARGET 2010 (4) 2.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 203 – TARGET PEMBANGUNAN UNTUK TAHUN 2010-2014 BADAN PENGAWAS PASAR MODAL-LEMBAGA KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PENGATURAN. akuntabilitas.BAPEPAM-LK .

Penetapan Sanksi. dan Pemberian Bantuan Hukum 1 Terciptanya regulasi di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank yang mampu menjamin kepastian hukum. adil. dan transparan 2 Terwujudnya penegakan hukum di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank yang objektif dan efektif 3 Terjaganya kredibilitas Bapepam dan LK dengan mengamankan seluruh kebijakan yang telah diambil melalui pelaksanaan Litigasi yang taktis dan efektif 1 Terwujudnya kebijakan berbasis riset dan sistem pengawasan yang berbasis teknologi informasi terhadap industri pasar modal dan jasa keuangan non Bank 2 Terwujudnya industri pasar modal dan jasa keuangan non bank yang kredibel sebagai penggerak perekonomian nasional dan berdaya saing global 90% 90% BIRO PERUNDANGUNDANGAN DAN BANTUAN HUKUM 97% 97% 50% 50% 3 Riset Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank serta Pengembangan Teknologi Informasi 1 Persentase penyelesaian jumlah laporan hasil riset yang tepat dan akurat di bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan sesuai rencana 2 Persentase jumlah sistem yang terimplementasi sesuai dengan rencana 100% 100% BIRO RISET DAN TEKNOLOGI INFORMASI 60% 80% 4 Pemeriksaan dan penyidikan bidang Pasar Modal 1 Terciptanya penegakan hukum di Bidang Pasar Modal yang kredibel 1 Laporan Hasil Pemeriksaan yang dapat diterima oleh Ketua atau Komite Penetapan 80% 90% BIRO PEMERIKSAAN DAN PENYIDIKAN .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 204 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 Meningkatnya kepercayaan stakeholders internal dan eksternal yang tinggi PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Persentase pelaksanaan Program Edukasi dan Sosialisasi Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank sesuai target 1 Persentase jumlah regulasi di bidang pasar modal dan LKNB yang memenuhi asas peraturan perundang-undangan yang baik 2 Persentase jumlah sanksi administratif atas pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal dan Jasa keuangan yang objektif 3 Persentase jumlah perkara/litigasi yang diselesaikan dengan baik TARGET 2010 (4) 100% 2014 (5) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 2 Perumusan Peraturan.

Penyelesaian pelanggaran terhadap ketentuan pidana di bidang Pasar Modal yang memerlukan Surat Perintah Penyidikan sesuai target waktu TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 90% 98% 70% 90% 50% 70% 5 Pengaturan. akuntabel dan transparan 2 Terwujudnya industri pengelolaan investasi yang tangguh dan berdaya saing global 1 Capaian pelaksanaan pemeriksaan dalam satu tahun: a. Layanan Pendaftaran Reksa Dana yang memenuhi target SOP b. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pengelolaan Investasi 1 Terwujudnya Biro Pengelolaan Investasi sebagai salah satu biro yang kredibel. Persentase pemeriksaan kepatuhan terhadap Agen Penjual Efek Reksa Dana sesuai rencana 2 Persentase layanan yang memenuhi target SOP: a. Penyelesaian pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang memerlukan Surat Perintah Pemeriksaan sesuai target waktu c. Persentase pemeriksaan kepatuhan terhadap Manajer Investasi sesuai rencana b. Layanan Perizinan Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana yang memenuhi target SOP BIRO PENGELOLAAN INVESTASI 100% 100% 100% 100% 100% 90% 100% 90% . Penyelesaian pelanggaran terhadap kewajiban pelaporan. baik berkala maupun insidentil sesuai target waktu (keterlambatan penyampaian pelaporan) b.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 205 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 2 Terwujudnya kepastian hukum di bidang Pasar Modal dan memberikan perlindungan bagi pemodal dan masyarakat PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) Sanksi dan Keberatan (KPSK) 2 Penyelesaian perilaku pelaku Pasar Modal yang menyimpang: a.

Proses perijinan Wakil Penjamin Emisi Efek 2 Persentase jumlah pemeriksaan Lembaga Efek yang dilaksanakan dibandingkan dengan yang direncanakan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 206 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 1 Terwujudnya Biro Transaksi dan Lembaga Efek sebagai salah satu biro di Bapepam-LK yang kredibel. 3 Persentase tingkat penyelesaian penelaahan hasil pengawasan transaksi efek yang diindikasikan tidak wajar TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) BIRO TRANSAKSI DAN LEMBAGA EFEK 90% 90% 100% 100% 100% 100% 2 Terwujudnya Lembaga Efek yang berkualitas dan berdaya saing global serta Transaksi Efek yang teratur. wajar dan efisien 67% 70% 7 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 1 Meningkatnya tata kelola perusahaan yang baik atas Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 2 Meningkatnya jumlah Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 1 Persentase jumlah Laporan Keuangan Tahunan. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Transaksi dan Lembaga Efek INDIKATOR (3) 1 Persentase pelayanan perijinan yang sesuai dengan target SOP: a. b. Proses perijinan Wakil Perantara Pedagang Efek. dan Laporan Tahunan yang ditelaah sesuai rencana 2 Persentase jumlah pemrosesan Penyataan Pendaftaran sesuai SOP 3 Diterbitkannya produk regulasi terkait penyederhanaan proses dan persyaratan Penawaran Umum di pasar modal 100% 100% BIRO PENILAIAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR JASA 100% Juni 2010 100% Kontrak Kinerja 8 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik sektor riil 1 Meningkatnya tata kelola perusahaan yang baik atas Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Riil 2 Meningkatnya jumlah Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Riil 1 Persentase jumlah Laporan Keuangan Tahunan. akuntabel dan transparan PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Pengaturan. Laporan Keuangan Tengah Tahunan dan Laporan Tahunan yang ditelaah sesuai dengan rencana 2 Persentase jumlah pemrosesan Pernyataan Pendaftaran sesuai SOP 100% 100% BIRO PENILAIAN KEUANGAN PERUSAHAAN SEKTOR RIIL 100% 100% . Laporan Keuangan Tengah Tahunan.

pelaku pasar modal serta penerapan prinsip syariah di pasar modal sesuai rencana. 2 Meningkatnya kualitas standar dan regulasi di bidang akuntansi. Pembinaan dan Pengawasan bidang Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan 1 Membangun otoritas Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan yang profesional yang mampu mewujudkan industri jasa pembiayaan dan penjaminan sebagai penggerak ekonomi nasional yang tangguh dan berdaya saing tinggi 2 Terwujudnya industri jasa pembiayaan dan penjaminan yang sehat. dan Pengawasan Bidang Perasuransian 1 Terwujudnya Biro perasuransian yang memegang teguh prinsip akuntabilitas dan integritas 2 Meningkatnya peran dan kualitas pelaku . dan pelaku pasar. keterbukaan dan tata kelola. Pembinaan. proaktif dan responsif. keterbukaan dan tata kelola. 2 Persentase penerbitan Daftar Efek Syariah (DES) yang memenuhi target waktu 3 Persentase jumlah pemrosesan Pendaftaran Akuntan yang memenuhi target waktu. serta terwujudnya pengembangan Pasar Modal berbasis syariah 1 Persentase penyusunan dan penyempurnaan draft regulasi di bidang akuntansi. kuat dan kompetitif dalam rangka melindungi kepentingan masyarakat 100% 100% BIRO PEMBIAYAAN DAN PENJAMINAN 100% 100% 100% 100% Desember 2010 100% 100% 100% 100% Temu Nasional BIRO PERASURANSIAN 11 Pengaturan. 1 Persentase jumlah kebijakan di bidang pembiayaan dan penjaminan yang dihasilkan 2 Persentase jumlah peraturan di bidang pembiayaan dan penjaminan yang dihasilkan 3 Persentase perizinan perusahaan pembiayaan dan penjaminan sesuai SOP 4 RPP PMN LPEI 1 Persentase jumlah rumusan peraturan di bidang perasuransian sesuai rencana 2 Persentase layanan pemberian izin usaha asuransi dan reasuransi yang memenuhi 100% 100% BIRO STANDAR AKUNTANSI DAN KETERBUKAAN 100% 100% 100% 100% 10 Pengaturan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 207 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) Juni 2010 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) 3 Diterbitkannya produk regulasi terkait penyederhanaan proses dan persyaratan Penawaran Umum di pasar modal 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Kontrak Kinerja 9 Penyusunan dan Pengembangan Standar Akuntansi dan Keterbukaan 1 Terwujudnya Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan sebagai biro yang amanah.

dan Pengawasan Bidang Dana Pensiun 1 Terwujudnya Biro Dana Pensiun sebagai lembaga yang memegang teguh prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good goverment governance) 2 Terwujudnya industri dana pensiun sebagai penopang pembangunan ekonomi nasional dan sarana untuk memenuhi kesejahteraan masyarakat di hari tua 1 Menjadi Mitra Kerja Strategis yang Profesional 2 Mewujudkan Bapepam-LK menjadi regulator yang handal. dapat dipercaya. Pembinaan. dan dihormati melalui peningkatan kualitas tata kelola yang mendukung peningkatan kinerja yang berkesinambungan 100% 100% BIRO DANA PENSIUN 100% 100% 100% 100% 13 Penelaahan dan Penilaian Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Bapepam-LK 1 Persentase jumlah pelaksanaan audit yang sesuai dengan rencana audit (penelaahan dan penilaian) tahunan 2 Persentase kesesuaian pelaksanaan audit dengan program audit 3 Persentase rekomendasi yang ditindaklanjuti auditee (sekretariat badan dan biro) 100% 100% BIRO KEPATUHAN INTERNAL 100% 100% 85% 85% .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 208 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) industri perasuransian PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) target SOP 3 Persentase jumlah laporan keuangan perusahaan asuransi dan reasuransi yang telah dianalisis sesuai dengan target waktu 1 Persentase pengesahan pembentukan dana pensiun yang sesuai dengan SOP 2 Persentase jumlah laporan hasil analisis sesuai rencana 3 Persentase jumlah pemeriksaan langsung sesuai rencana TARGET 2010 (4) 100% 2014 (5) 100% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) 12 Pengaturan.

068. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Transaksi dan Lembaga Efek 7 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik Sektor Jasa 8 Penelaahan dan Pemantauan Perusahaan Emiten dan Perusahaan Publik sektor riil 2.473.641 5.151.060.968 5.008.820.481 91.578.990.887.445.151 5.585.677.268 3.620.780.980.644.389 5.959.127 7.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 209 – KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 BADAN PENGAWAS PASAR MODAL .113 3.000.732 2.741.027 148.733 4.136 4.01227 . ALOKASI PROGRAM PROGRAM Pengaturan.126.990.614.000 5.113.583.430 5.000 4.901.606 5.660.734.677.758.935 3.000 2.000.721.269 191.677.823. Pembinaan dan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan 2 Perumusan Peraturan.553.387 3.000 147.892 5.974 2.044.276.498 8.000 2.539.721.635.94699 2013 (5) 0.064 3.000 3.497 2.223 167.373.662.872.705 2.857.094.552 6.001.259 6.272.000.632 7.858.349.093 159.581.136.147.LEMBAGA KEUANGAN PROGRAM/KEGIATAN (1) A.315.395.93226 2012 (4) 0.311.118.079 3.291.378 107.987.858.966 101.768.871.595.000 4.000 95.901.706. dan Pemberian Bantuan Hukum 3 Riset Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Non Bank serta Pengembangan Teknologi Informasi 4 Pemeriksaan dan penyidikan bidang Pasar Modal 5 Pengaturan.967.692.000.992.038.962.280 6.000.886.391.791.000 3.586.798 116. Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pengelolaan Investasi 6 Pengaturan.006.688.000.718.271.506.137.000.298. Penetapan Sanksi.736.719 6.884 ALOKASI 2010 (2) 2011 (3) 0.368.97450 2014 (6) 1.728 4.631.576.603.408.

427 0.000 5.992.417.142 6.541.348.870.818.773.000.930.498.192.000 6.538 5.983 4.411 3.366.540.911. Pembinaan. dan Pengawasan Bidang Dana Pensiun 13 Penelaahan dan Penilaian Kepatuhan Pelaksanaan Tugas Bapepam-LK 2011 (3) 3.641.020.01227 4.075.698.000 4.676.339.248 1.285 4.000.731.945 .899.000 PROGRAM/KEGIATAN (1) 9 Penyusunan dan Pengembangan Standar Akuntansi dan Keterbukaan 10 Pengaturan.951 8.746.245.608 0.436.324.651.059.Pembinaan dan Pengawasan bidang Lembaga Pembiayaan dan Penjaminan 11 Pengaturan.171 7.479.274.302.525 0.188. Pembinaan.650.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 210 – ALOKASI 2010 (2) 4.97450 2014 (6) 6.93226 2012 (4) 4.000 2.111 2.431.000.235 7. dan Pengawasan Bidang Perasuransian 12 Pengaturan.000.308 2.407.857.621 7.776 5.767.007.495.94699 2013 (5) 5.991.024.885 2.280.485.128.000.170 8.887.216.849 9.

BKPM persyaratan memulai usaha & percepatan waktu penyelesaian perijinan 2. c. Tiga peraturan (Dephukham. Draft Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri dalam proses pembahasan dengan instansi terkait TARGET H50: XXX H50: XX% Draft Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri telah disusun dengan Menteri terkait. Hasil koordinasi pada tanggal 20 November 2009: a. Catatan Depkeu (Bapepam-LK): Pada tanggal 17 Desember 2009 telah ditandatangani Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri dan Kepala BKPM tentang Percepatan Pelayanan Perijinan dan non Perijinan untuk memulai usaha. DAN H100 6 TARGET H30: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (Bapepam-LK): 1. penyederhanaan Depkumham. b. tanggal 12 Desember 2009. Pemda. Deperin. terkait terhadap Depdag. perkembangan saat ini dalam persiapan penandatanganan yang direncanakan pada hari Sabtu. Hukum dan Keamanan RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 Teridentifikasi dan dikajinya peraturan perundang-perundangan yang terkait dengan perijinan untuk memulai usaha UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: XX jumlah peraturan perundangan yang diidentifikasi dan dikaji terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha UKURAN KEBERHASILAN H30. H75. Menhukham.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 211 – PROGRAM 100 HARI BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN Bidang Politik. Catatan : Keterangan sama dengan H75 TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: XX jumlah peraturan perundangan yang diidentifikasi dan dikaji terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha H100: XX% . Kesepakatan dengan instansi terkait bahwa ijin usaha dapat diselesaikan sebelum 40 hari (22-25 hari). Depdag dan Depnakertrans) yang diidentifikasi terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha sedang dalam proses pengkajian bersama instansi terkait 1 P2: Percepatan Pelayanan Publik (P2A1) Koordinasi instansi Departemen Dalam Negeri Depkeu (Bapepam-LK). Kesepakatan menyusun peraturan bersama 4 (empat) Menteri (Mendagri. H50. Mendag dan Menakertrans).

Depkumham. BKPM TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Panduan penyederhanaan perijinan H100: XX% untuk memulai usaha (starting of business) dalam 40 hari . dan telah disosialisasikan pada Rapat Kerja Gubernur seIndonesia di Pekanbaru tanggal 22 Desember 2009. Pemda. Depdag.32/4614/SJ tanggal 21 Desember 2009 sebagai tindak lanjut dari Peraturan Bersama 4 (empat) Menteri dan Kepala BKPM tentang Percepatan Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan untuk Memulai Usaha. Catatan : Keterangan sama dengan H75 2 3 Departemen Dalam Negeri Depkeu (Bapepam-LK). DAN % CAPAIAN H100 6 7 TARGET H30: XXX H30: XX% RENCANA AKSI 1 (P2A2) Fasilitasi Pemda tentang peraturan perundangan terkait dengan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business ) PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (Bapepam-LK): Telah dilakukan koordinasi dengan Pemkot Batam dan Otorita Batam untuk kesiapan penerapan SPIPISE di kota Batam. H75. Telah disampaikan surat Mendagri tanggal 9 November 2009 kepada Kepala BKPM dan Walikota Batam tentang dukungan penerapan SPIPISE dan Surat Mendagri kepada Walikota Batam tentang proses ijin mulai usaha 40 hari dan pembentukan PTSP Dalam tahap penyiapan panduan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business) dan rencana sosialisasi ke daerah Catatan Depkeu (Bapepam-LK): Telah diterbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 188.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 212 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 Prosedur pemberian ijin untuk memulai usaha (starting of business ) dari 90 hari menjadi 40 hari tersusun dalam sebuah panduan UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Panduan penyederhanaan perijinan untuk memulai usaha (starting of business ) dalam 40 hari UKURAN KEBERHASILAN H30. H50. Deperin. Pemkot Batam telah menyatakan kesiapan untuk penerapannya dengan dukungan BKPM.

Polri. Dephukham. Pemda Juni 2010 Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II . Depdag. Menneg BUMN. ESDM. BPN.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 213 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN INDIKATOR KINERJA Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi Mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturan-peraturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan Menyederhanakan proses dan persyaratan penawaran umum dipasar modal BKPM. Depdagri. Setneg. Dephub. Kejaksaan. Depnaker.

Optimalisasi dan meningkatkan kemampuan LPEI sebagai lembaga pembiayaan ekspor (trade finance) Menambah modal Rp. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT Depdag. 1 tahun 1 tah tahun UNIT ESELON II 1. sesuai dengan UU APBN 2010 1 tahun BIRO PEMBIAYAAN DAN PENJAMINAN .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 214 – HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER BADAN PENGAWAS PASAR MODAL – LEMBAGA KEUANGAN Bidang : Industri dan Jasa No. Depperin. 2 Triliun pada RPP PMN LPEI LPEI.

Persentase deviasi target defisit APBN c. Persentase deviasi proyeksi pendapatan negara 3 Persentase efektivitas kebijakan pendapatan negara KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Kebijakan Fiskal Terwujudnya organisasi BKF yang efektif dengan pelaksanaan koordinasi kegiatan dan dukungan pelayanan prima 1 2 3 Tingkat Kepuasan Pegawai Capaian Realisasi Anggaran Persentase rekomendasi audit yang telah ditindak lanjuti 70% 85% 90% 80% 90% 90% Sekretariat BKF 2 Perumusan Kebijakan Pajak.5% 75% 87% 94% 5% 8% 4% 85% BKF TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) INDIKATOR (3) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) a. RPP tentang cost recovery 75% 85% PKPN 85% 90% 3 85% 90% Hasil temu nasional 4 1 Februari 2010 5 Juni 2010 Kontrak kinerja Menkeu . Kepabeanan. Rata-rata persentase deviasi asumsi makro b.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 215 – MATRIKS KINERJA PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2010-2014 BADAN KEBIJAKAN FISKAL PROGRAM/KEGIATAN (1) PROGRAM PERUMUSAN KEBIJAKAN FISKAL Terwujudnya kebijakan fiskal yang sustainable dengan beban risiko fiskal yang terukur dalam rangka stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian 1 2 Persentase penggunaan anggaran risiko fiskal Tingkat akurasi kebijakan fiskal 83% 92% 10% 10% 4. Cukai dan PNBP Tersedianya rekomendasi dan rumusan kebijakan pendapatan negara yang mendukung terwujudnya kebijakan fiskal 1 2 Persentase efektifitas kebijakan pendapatan negara Persentase usulan rekomendasi dan rumusan kebijakan di bidang pajak yang diterima oleh pimpinan eselon I Persentase usulan rekomendasi dan rumusan kebijakan di bidang kepabeanan dan cukai yang diterima oleh pimpinan eselon I Peraturan penurunan tarif Bea Masuk sebagai pelaksanaan APBN 2010.

dalam UU APBN 7 Kajian implikasi pemberian insentif untuk pembangunan refinery baru kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010 8 Kajian manfaat dan biaya pemberian insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. 9 Usulan perubahan PP no 34 tahun 1996 agar sesuai dengan UU kepabeanan dan praktek kepabeanan internasional 10 Kajian usulan pengenaan pajak ekspor (bea keluar) atas produk bahan mentah dan implikasi fiskal dan ekonomi.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 216 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) 6 PROGRAM/KEGIATAN (1) INDIKATOR (3) PMK pemberian fasilitas PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi. 11 PMK Harmonisasi Tarif Bea Masuk 12 Pemberian Fasilitas Perpajakan terhadap pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy) 13 Perpres tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate) 14 Perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane selesai 1 Februari 2010 sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) Hasil temu nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Hasil temu nasional 1 Februari 2010 1 Februari 2010 Hasil Temu Nasional Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari .

pupuk dan listrik 11 -Terbitnya surat jaminan gas dari BP Migas dan TARGET 2010 (4) 10% 4. perhitungan. pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk 5 Penyempurnaan kebijakan subsidi BBM. 104 tahun 2003 Kajian tentang rasionalisasi subsidi listrik dan subsidi BBM 9 Peningkatan tingkat hunian rusunawa yang sudah/sedang dibangun dari sekitar 40% menjadi 80% dalam 100 hari dan melakukan kaji ulang menyeluruh atas kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dan rusunami 10 Konsep kebijakan pengalihan sistem subsidi BBM.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 217 – TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) Tersedianya rekomendasi kebijakan APBN yang sustainable untuk mendukung pembangunan nasional 1 2 3 4 PROGRAM/KEGIATAN (1) 3 Perumusan Kebijakan APBN INDIKATOR (3) Persentase deviasi target defisit APBN Persentase deviasi proyeksi penerimaan perpajakan Persentase rekomendasi alokasi transfer ke daerah yang digunakan sebagai bahan usulan ke DPR Penyempurnaan PMK No 261/2008 tentang tata cara penyediaan anggaran. Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien Kajian penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM Revisi Perpres no.5% 75% 2014 (5) 8% 4% 80% UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6) PKAPBN Oktober 2014 Kontrak kinerja Menkeu Juni 2010 Kontrak kinerja Menkeu 6 Juni 2010 Kontrak kinerja Menkeu 7 8 1 Februari 2010 Desember 2010 Hasil temu nasional Hasil temu nasional 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari .

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 218 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2) TARGET 2010 (4) 2014 (5) UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)
Head Of Agreement (HOA) -Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) -Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No.22 tahun 2001 12 Tahun 2015 diproduksi Pupuk Organik yang sesuai SNI

1 Februari 2010

1 Februari 2010

1 Februari 2010

Program 100 Hari

4

Pengelolaan Risiko Fiskal dan Sektor - Terwujudnya pengelolaan risiko fiskal yang Keuangan antisipatif dan responsif yang dapat mendukung stabilisasi serta mendorong pertumbuhan perekonomian - Tersedianya rekomendasi dan pernyataan risiko fiskal

1 2 3 4

Jumlah risiko fiskal teridentifikasi yang terukur Persentase jumlah rekomendasi atas transaksi dukungan pemerintah yang diterima Persentase penggunaan anggaran risiko fiskal Perubahan sistem pengelolaan pendanaan BLU Tanah dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010

4 82% 83%

5 87% 87%

PPRF

Desember 2010

Hasil temu nasional

6

Menyusun ketentuan tata kelola yang baik, adil, akuntabel dan transparan terhadap dukungan pemerintah pada proyek infrastruktur yang bersifat non-kompetitif.

1 Februari 2010

Hasil temu nasional

7

SKB Menteri ESDM, Meneg BUMN, Menteri Keuangan, mengenai prosedur negosiasi dan penetapan IPP, indikator harga, dan penjaminan

1 Februari 2010

Hasil temu nasional

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 219 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
PSO. 8 Perpres tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10.000 MW Tahap II 9 Perpres perubahan atas Perpres Nomor 67/2005 yang dapat mendukung peningkatan kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha 10 Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi 11 Rumusan kebijakan untuk menyelesaikan secara tuntas permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN 12 -Penandatanganan Loan Agreement Kerjasama Pembangunan Pabrik UREA di Iran -Terlaksananya pembangunan Pabrik tahun 2011 - 2014 13 Terlaksananya kerjasama pembangunan Pabrik Phosphoric Acid dengan Yordania di Gresik tahun 2011 - 2013 5 Perumusan Kebijakan Ekonomi Terwujudnya kebijakan ekonomi makro yang antisipatif dan responsif yang dapat mendukung stabilisasi dan mendorong pertumbuhan perekonomian 1 2 3 Persentase rata rata deviasi proyeksi asumsi makro Tingkat kepuasan stakeholder Tingkat pemanfaatan economic executive dashboard 10% 80% 3 5% 85% 3 PKEM 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Program 100 Hari 1 Februari 2010 Hasil temu nasional Program 100 Hari

PROGRAM/KEGIATAN (1)

INDIKATOR (3)

TARGET 2010 (4) 2014 (5)

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 220 –
TUJUAN PROGRAM/ KEGIATAN (2)
- Tersedianya kebijakan dan program kerja sama internasional yang terpercaya dan optimal dalam rangka mendukung terwujudnya stabilitas ekonomi nasional - Terlaksananya program kerjasama internasional yang optimal 1 2 3

PROGRAM/KEGIATAN (1)
6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Kerja Sama Keuangan Internasional

INDIKATOR (3)
Jumlah penerima bantuan hibah (pendidikan) dalam rangka kerja sama teknik luar negeri Jumlah rekomendasi Delri yang diadopsi menjadi kesepakatan internasional Jumlah pertemuan dengan negara mitra strategislembaga multilateral dan investor utama sesuai rencana Dokumen Posisi Indonesia untuk COP-15 UNFCCC di Copenhagen, Denmark

TARGET 2010 (4)
625 30

2014 (5)
665 35

UNIT ORGANISASI PELAKSANA (6)
PKKSI

24

30

4

1 Februari 2010

Program 100 Hari

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 221 –
KEBUTUHAN PENDANAAN PEMBANGUNAN TAHUN 2010-2014 BADAN KEBIJAKAN FISKAL PROGRAM/KEGIATAN (1)
A. ALOKASI PROGRAM PROGRAM Perumusan Kebijakan Fiskal RM PHLN KEGIATAN 1 Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya Badan Kebijakan Fiskal 2 Perumusan Kebijakan Pajak, Kepabeanan, Cukai dan PNBP 3 Perumusan Kebijakan APBN RM PHLN 4 Pengelolaan Risiko Fiskal dan Sektor Keuangan RM PHLN 5 Perumusan Kebijakan Ekonomi 6 Perumusan Kebijakan dan Pelaksanaan Kerja Sama Keuangan Internasional 15,579,854,000 8,312,338,000 7,267,516,000 15,322,545,000 11,241,705,000 4,080,840,000 23,970,000,000 21,965,292,000 12,411,991,216 10,411,991,216 2,000,000,000 12,036,630,625 12,036,630,625 0 16,253,814,877 13,110,057,586 12,759,078,454 11,259,078,454 1,500,000,000 12,431,017,837 12,431,017,837 0 16,800,499,567 13,543,208,950 13,332,285,360 12,332,285,360 1,000,000,000 13,045,910,662 13,045,910,662 0 17,632,285,570 14,213,308,829 14,049,457,824 14,049,457,824 0 13,773,048,316 13,773,048,316 0 18,632,465,493 15,009,945,889 15,599,187,000 12,294,533,706 12,698,233,027 13,326,390,423 14,070,226,649 36,494,811,000 35,186,555,905 38,472,418,219 40,490,088,069 45,377,114,450 128,931,689,000 117,583,333,000 11,348,356,000 101,293,583,915 99,293,583,915 2,000,000,000 106,704,456,055 105,204,456,055 1,500,000,000 112,040,268,913 111,040,268,913 1,000,000,000 120,912,258,621 120,912,258,621 0

ALOKASI 2010 (2) 2011 (3)
0.93226

2012 (4)
0.94699

2013 (5)
0.97450

2014 (6)
1.01227

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 222 – PROGRAM 100 HARI BADAN KEBIJAKAN FISKAL Bidang Perekonomian RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Dep ESDM.011/2007.sumber energi BBN . b) Mengidentifikasi kebutuhan fasilitas perpajakan 100% a) inventarisasi peraturan fasilitas perpajakan terkait: .PLTMH (Tenaga Mikro Hidro) .Tengah disusun proyeksi fuelmix. H75.PLTB (Tenaga Bayu) . (kemajuan 30% dari bobot 50% atau 15% dari UK) b) Penyelesaian konsep kebijakan subsidi Listrik (kemajuan 30% dari bobot 50% atau 15% dari UK).sumber energi lainnya : nihil b) identifikasi kebutuhan fasilitas perpajakan dibutuhkan terkait: . Depperind. . Cukai. 177/PMK. . Pengenaan BK. PPh. % CAPAIAN 7 H30: 100% KETERANGAN 8 '30% kemajuan: a) Penyelesaian konsep kebijakan subsidi BBM. 242/PMK. DAN H100 6 TARGET H30:15% a)Pengumpulan data dan informasi tentang energi terbarukan . BM/PPNDTP). H50.Sedang disusun alternatif kebijakan pengalihan subsidi BBM .011/2009 . KLH KRITERIA KEBERHASILAN 4 Penyelesaian Peraturan Menteri Keuangan tentang Insentif pemanfaatan energi terbarukan UKURAN KEBERHASILAN 5 Terbitnya PMK tentang Pemberian Insentif Perpajakan sektor energi terbarukan UKURAN KEBERHASILAN H30. 156/PMK.1 Tahun 2007. susut jaringan dan BPP 5 tahun ke depan 1 2 P21: Pengembangan energi terbarukan nasional (P21A1) Pemberian Fasilitas Departemen Keuangan Perpajakan terhadap pemanfaatan energi terbarukan (renewable energy) TARGET H50: 40% a) Menginventarisasi ketentuan/ Peraturan perundangan yang telah ada yang berkaitan dengan pemberian fasilitas perpajakan kepada sektor industri/ jenis barang yang dikategorikan sebagai energi terbarukan (Pembebasan BM. PMK No.sumber energi panas bumi . b) Rapat Koordinasi dengan K/L terkait untuk mendapat masukan tentang energi terbarukan dan fasilitas perpajakan yang diperlukan.011/2008.PLTS (Tenaga Surya) . PMK No.sumber panas bumi : PP No.sumber energi Bahan Bakar Nabati (BBN) : PMK No. PPN.

DepESDM. b) Merumuskan rekomendasi kebijakan yang akan di tempuh RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 100% a) Hasil kajian: . dan (ii) Pembebasan PPh Pasal 22 Impor atas Barang. H75. DAN H100 6 TARGET H75: 80% a) Mengkaji kemungkinan diberikannya fasilitas perpajakan tambahan untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. .Fasilitas tambahan yang dapat diberikan dalam rangka P100H: (i) PPN Tidak Dipungut untuk Impor Barang.PPN Tidak Dipungut untuk impor BKP tertentu (melalui perubahan KMK No. .Tarif PPh Badan sebesar 5% selama 15 tahun sejak masa eksplorasi panas bumi (fasilitas melalui penerbitan PP) .03/2001) . Selain itu. Untuk energi terbarukan termasuk panas bumi.Pembebasan/pengurangan PPh Pasal 22 Impor Barang (melalui perubahan KMK No. diberikan Tarif Khusus untuk PPh. DepPU. Target H100: 100% Menyusun dan merumuskan PMK tentang Pemberian Insentif Perpajakan sektor energi terbarukan P12: Pembiayaan untuk Pembangunan Infrastruktur (P12A1) Perubahan Perpres Kementerian PPN/Kepala Nomor 67 Tahun 2005 Bappenas tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur Depdagri.03/2001) b) Merumuskan rekomendasi kebijakan: .231/KMK. Dephub.254/KMK. pembebasan PPN dan PPh pasal 22 atas impor barang-barang yang bea masuknya telah dibebaskan. dan (ii) PPN DTP dan BM DTP. Depkeu (BKF).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 223 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. H50.PPN DTP dan BM DTP (fasilitas melalui penerbitan PMK) .Fasilitas tambahan yang diberikan setelah P100H: (i) Perlakuan tarif khusus PPh Badan sebesar 5%. khusus untuk panas bumi. DepBUMN Penyelesaian perubahan Perpres Nomor 67/2005 tentang Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur TARGET: Perpres TARGET H30: XXX perubahan atas Perpres Nomor 67/2005 yang dapat TARGET H50: XXX mendukung peningkatan kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha H30: XX% H50: XX% 60% kemajuan penyelesaian perubahan Perpres Catatan Depkeu (BKF) : Rancangan perubahan Perpres No 67 tahun 2005 telah dikembalikan oleh Sekretaris Kabinet untuk disempurnakan dalam rapat koordinasi tingkat Menteri di Menko Perekonomian.

H75. Departemen Keuangan hanya terlibat dalam alih status tanah milik negara. DAN H100 6 TARGET H75: XXX RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Memberikan masukan dalam rapat KKPPI (Komite Kebijakan Percepatan Pembangunan Infrastruktur) di kantor Menko Perekonomian untuk perbaikan pasal-pasal yang terkait dengan dukungan pemerintah dan jaminan pemerintah (pasal 17A. H50. pembahasan telah dilakukan dengan Dep. PLN.5 TB siap fisik [4] 30 TB siap huni [5] 24 TB terhuni TARGET H30: XXX TARGET H50: XXX H30: XX% H50: XX% 100% sudah terklasifikasi 83 = 0% Depkeu: Catatan (Des 09 baru selesai) Sesuai informasi dari Kementerian Perumahan Rakyat. TARGET H75: XXX H75: XX% Depkeu tidak terlibat dalam pembangunan fisik.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 224 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.B. P13: Pembangunan dan pemeliharaan Infrastruktur Strategis (P13A6) Peningkatan Kementerian Negara tingkat hunian rusunawa Perumahan Rakyat yang sudah/sedang dibangun dari sekitar 40% menjadi 80% dalam 100 hari dan melakukan kaji ulang menyeluruh atas kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dan rusunami Depkeu (BKF). Menurut informasi dari staf Seskab pada tanggal 25 Januari 2010.Tinggi [1] Terklasifikasi status rusunawa [2] 83 TB menjadi 121 TB terbangun [3] Dari 83 TB terbangun menjadi 68. PDAM. Dep PU.5 TB siap fisik [4] 68. target belum selesai masih ada kendala di lapangan.PU dan Depkeu (DJKN dan DJPB). naskah asli ada perubahan redaksional sehingga memerlukan paraf dari Menko Perekonomian. TARGET H100: [1] Terklasifikasi 100% [2] Terbangun 121 TB [3] 68.5 TB siap fisik menjadi 30 TB siap huni [5] 30 TB siap huni menjadi 24 TB dihuni TARGET: [1] Terklasifikasi 100% [2] Terbangun 121 TB [3] 68.5 TB siap fisik [4] 30 TB siap huni [5] 24 TB terhuni H100: XX% . Pemda. Catatan Depkeu (BKF): Depkeu tidak terlibat secara fisik. target bulan Desember selesai. P.C dan pasal 1 ayat 8) TARGET H100: XXX H100: Perpres perubahan atas Perpres Nomor 67/2005 yang dapat mendukung peningkatan kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Catatan Depkeu (BKF): Rancangan perubahan Perpres No 67 telah diajukan oleh Menko Perekonomian selaku Ketua KKPPI kepada Presiden RI melalui Seskab.

3. . walaupun sudah mengubungi unit penanggung jawab. Catatan Depkeu(BKF): Pada tahun 2009. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: [1] Teridentifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi) [2] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-1] [3] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-2] [4] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-3] [5] Terselenggara rapat koordinasi dan review dengan pemangku kepentingan [6] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-4] [7] Tersusunnya Usulan Rekomendasi Kebijakan H100: XX% Catatan Depkeu (BKF): Pada tahun 2009. Menko Ek. DAN H100 6 TARGET H30: XXX % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 [1] Identifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi) 100% [2] Formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-1]: . PU. H50. penyempurnaan kebijakan pembangunan dan penghunian rusunawa dam rusunami TARGET H50: XXX H50: XX% Catatan Depkeu (BKF): Keterlibatan BKF (PKAPBN) dalam identifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi).Rusunami: 30% [3] Formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-2. Dep. BKF tidak dilibatkan dalam pembahasan terkait kebijakan. BKF tidak dilibatkan dalam pembahasan terkait kebijakan. H75. walaupun sudah menghubungi unit penanggung jawab. Depkeu Tersusun rekomendasi (BKF).Rusunawa: 100% .MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 225 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: [1] Teridentifikasi permasalahan kebijakan pembangunan dan penghunian rusuna (wa/mi) [2] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-1] [3] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-2] [4] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-3] [5] Terselenggara rapat koordinasi dan review dengan pemangku kepentingan [6] Terumuskan masukan formulasi awal penyempurnaan kebijakan [Draft-4] [7] Tersusunnya Usulan Rekomendasi Kebijakan RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 UKURAN KEBERHASILAN H30.4]: 0% [4] Rapat koordinasi dan review dengan pemangku kepentingan: 0% [5] Tersusun usulan rekomendasi kebijakan: 0% Setneg.

Catatan Depkeu (BKF): PP sedang dibahas di Setneg tetapi Depkeu tidak dilibatkan. (3) pembahasan draft peraturan perundang-undangan di lingkup Deptan TARGET H50: Melakukan: (4) Pengiriman draft H50: XX% peraturan perundang-undangan food estate kepada Menko Perekonomian. DepBUMN. TARGET H75: Draft ranc Perpres hasil pembahasan di setkab telah disempurnakan oleh DESDM (35% dari UK) H75: XX% . H50.S8/MK. 5207/30/MEM. H75. (6) Pengiriman hasil rapat sinkronisasi antar departemen kepada Setneg. Catatan: Keterangan sama dengan H75. Dalam RA ini Depkeu semestinya tidak terkait (berdasarkan surat Sekretaris Jenderal a. DepBUMN. Depkeu(BKF) UKURAN KEBERHASILAN 5 TARGET: Perpres tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate ) 1 2 P15: Iklim investasi pertanian dan perikanan (P15A1) Penyusunan PP Departemen Pertanian tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate ) UKURAN KEBERHASILAN H30.L/2009 tgl 10 Nopember 2009 TARGET H100: PP tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate) telah selesai P17: Jaminan pasokan energi (P17A4) Penerbitan Perpres Departemen ESDM tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. Catatan Depkeu (BKF): BKF sudah menyampaikan masukan atas rancangan RPerpres dimaksud pada rapat Menko Senin. (7) Finalisasi peraturan pendukung di bawah kewenangan Mentan TARGET H75: Melakukan: (8) Persetujuan draft RPP H75: XX% oleh Setneg.000 MW Tahap II H100: XX% H30: 125% TARGET H50: Draft Ranc Perpres sampai ke Menko H50: XX% Perekonomian (10% dari UK) Catatan Depkeu (BKF): Rancangan Perpres sudah disampaikan oleh Menko Perekonomian ke Sekretaris Kabinet untuk finalisasi. Deperin. Draft Perpres telah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk dibahas antardep melalui surat MESDM No. 50% kemajuan penyelesaian Perpres. Menteri Keuangan No.n. RPerpres ini sudah dianggap final dan disampaikan ke Seskab. (9) Penandatanganan peraturan pendukung oleh Mentan Catatan Depkeu (BKF): RPP tentang investasi usaha tani skala luas sudah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk diteruskan ke Sekretaris Kabinet paling lambat tanggal 15 Desember 2009.000 MW Tahap II Depkeu (BKF).MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 226 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 Penyelesaian penyusunan Perpres tentang Pertanian Pangan Skala Luas (Food Estate ) RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 Depdag. (5) Rapat sinkronisasi antar departemen.1/2010 tanggal 8 Januari 2010). (2) penyusunan draft peraturan perundangundangan. 28 Desember 2009. Penyelesaian Perpres Setkab tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10.000 MW Tahap II TARGET: Perpres tentang TARGET H30: Penyusunan rancangan awal draft Proyek Percepatan Perpres (40% dari UK) Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. sedangkan copy yang diterima BKF sudah diteruskan ke Biro Hukum untuk ditelaah. DAN H100 6 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Seluruh kegiatan yang ditargetkan pada H-30 telah selesai dilaksanakan TARGET H30: Melakukan: (1) Kajian Hukum tentang H30: 100% penyelesaian peraturan perundang-undangan food estate .

70 c$/Kwh) TARGET H100: Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi P19: Ketahanan energi (P19A1) Perumusan Departemen ESDM penyelesaian permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN Depkeu (BKF). Berdasarkan informasi Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi. Deperin. TARGET H100: Perpres tentang Proyek Percepatan H100: XX% Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. Kemeneg BUMN Tersusunnya rumusan penyelesaian permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN TARGET: Rumusan TARGET H30: Penyusunan rancangan awal draft kebijakan untuk Perpres (40% dari UK) menyelesaikan secara tuntas permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN H100: XX% Catatan: Keterangan sama dengan H75.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 227 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.000 MW Tahap II P18: Sistem harga energi yang kompetitif (P18A1) Penerbitan Perpres Departemen ESDM tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi Depkeu (BKF). H50. . 5207/30/MEM. Draft Perpres telah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk dibahas antardep melalui surat MESDM No. Setkab Penyelesaian Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi TARGET: Perpres tentang Harga Patokan Pembelian Listrik Dari Panas Bumi TARGET H30: Penyusunan rancangan awal draft Perpres (40% dari UK) H30: 125% TARGET H50: Draft Ranc Perpres sampai ke Menko H50: XX% Perekonomian (10% dari UK) TARGET H75: Draft ranc Perpres hasil pembahasan di setkab telah disempurnakan oleh DESDM (35% dari UK) H75: XX% Catatan Depkeu(BKF): Peraturan Menteri ESDM sudah terbit dengan No 32 tahun 2009 tanggal 4 Desember 2009 tentang penetapan harga jual listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (9.L/2009 tgl 10 Nopember 2009 Catatan Depkeu (BKF): BKF cq PPRF telah menyampaikan pendapat bahwa harga patokan tertinggi pembelian listrik dari panas bumi sebaiknya tidak ditetapkan dalam bentuk Perpres.L/2009 tgl 10 Nopember 2009 H30: 125% TARGET H50: Draft Ranc Perpres sampai ke Menko H50: XX% Perekonomian (10% dari UK) Catatan Depkeu (BKF): Dalam rapat koordinasi di kantor Menko Perekonomian tanggal 4 Desember 2009. 5207/30/MEM. telah disepakati pembentukan tim koordinasi tingkat Menteri. DepBUMN. Draft Perpres telah disampaikan kepada Menko Perekonomian untuk dibahas antardep melalui surat MESDM No. H75. harga patokan tertinggi pembelian listrik dari panas bumi akan ditetapkan dengan peraturan menteri ESDM.000 MW tahap II. DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Telah diterbitkan Perpres No 4 tahun 2010 tanggal 8 Januari 2010 tentang Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik 10. 50% kemajuan penyelesaian Perpres. 50% kemajuan penyelesaian rumusan penyelesaian permasalahan PPA.

pupuk. susut jaringan dan BPP 5 tahun kedepan (Bobot 30% dari keberhasilan Program) . Kemeneg BUMN Penyelesaian konsep TARGET: Konsep kebijakan TARGET H30: kebijakan pengalihan sistem pengalihan sistem subsidi Subsidi BBM: Membentuk tim pengkajian roadmap subsidi BBM. b) Penyesuaian term and condition kontrak CBM (kemajuan 30% dari bobot 50% atau 15% dari UK) Catatan Depkeu (BKF): BKF cq PKPN sedang melakukan kajian tentang kemungkinan fasilitas perpajakan yang bisa diberikan. untuk pembentukan Tim berdasarkan Perpres. Catatan Depkeu(BKF): Usulan dari Dep. ESDM tentang bentuk-bentuk fasilitas fiskal yang diinginkan. pupuk dan listrik Departemen ESDM.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 228 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. PLN (dengan mekanisme Business to Business) 35% tingkat kemajuan: a) Pemrosesan pedoman tentang pengusahaan gas methana batubara /CBM dalam bentuk SK Dirjen (kemajuan 40% dari bobot 50% atau 20% dari UK). Draft Perpres sudah diselesaikan dan dikirim ke Seskab Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan rapat di kantor Wapres tanggal 8 Januari 2010 usulan pembentukan Tim tersebut tidak disetujui dan selanjutnya disepakati bahwa penyelesaian permasalahan PPA tersebut dikembalikan untuk diselesaikan oleh PT. Kemeneg BUMN Penyelesaian dan cakupan perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane TARGET: Perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane selesai 1 Februari 2010 sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 TARGET H30: XXX H30: XX% TARGET H50: XXX H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Perangkat peraturan mengenai pemanfaatan coal bed methane selesai 1 Februari 2010 sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 P20: Pengalihan sistem subsidi: BBM. H50. TARGET H100: Rumusan kebijakan untuk menyelesaikan secara tuntas permasalahan PPA di tingkat korporat PT PLN H100: XX% (P19A3) Pemanfaatan coal bed methane melalui penyusunan perangkat peraturan sehingga bisa menghasilkan energi pada tahun 2011 Depkeu (BKF). H75. Catatan Depkeu (BKF): Keterangan sama dengan H75. ESDM yang berkaitan dengan pemberian fasilitas perpajakan belum diterima BKF walaupun sudah dikonfirmasikan. Namun demikian BKF masih menunggu usulan dari pembina sektor/Dep. DAN H100 6 TARGET H75: Draft ranc Perpres hasil pembahasan di setkab telah disempurnakan oleh DESDM (35% dari UK) RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 H75: XX% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Sudah dilakukan rapat di Menko Perekonomian. dan listrik (P20A1) Perumusan pengalihan sistem subsidi: BBM. Departemen Pertanian Depkeu (BKF). pupuk dan listrik dan penyempurnaan kebijakan subsidi BBM Kick off Meeting Tim Teknis Perumusan alternatif kebijakan (30% dari UK) H100: XX% H30: H30: 100% Bobot 30% dari keberhasilan Program Subsidi Listrik: Perhitungan Biaya Pokok Penyediaan H30: 100% (BPP) tenaga listrik (30% dari UK) TARGET H50: H50: XX% Penyusunan proyeksi fuelmix .

. c) Pengalihan subsidi pupuk dikoordinir oleh KemMenko Perekonomian. Kementerian ESDM. DAN H100 6 Subsidi BBM: Pembahasan pentahapan pengurangan subsidi BBM (40%) RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): BKF ikut menyusun rumusan alternatif pengurangan subsidi BBM melalui mekanisme pembatasan volume BBM (melalui smart card/ kartu kendali) dan penyesuaian tarif BBM bersubsidi. Subsidi Listrik: Penyusunan Program Rasionalisasi TDL TARGET H75: Subsidi BBM: Finalisasi roadmap (10%) H75: XX% Catatan Depkeu(BKF): BKF ikut terlibat dalam finalisasi roadmap rasionalisasi subsidi BBM dan penyusunan blueprint kebijakan bahan bakar di Ditjen Migas. H75. Catatan Depkeu(BKF): BKF ikut terlibat dalam tim kajian subsidi listrik (Kepmen ESDM No 2674K/73/MEM/2009) dan sedang dilakukan finalisasi roadmap rasionalisasi subsidi listrik. Subsidi Listrik: Penyusunan Roadmap pengalihan subsidi listrik terarah TARGET H100: Konsep kebijakan pengalihan sistem H100: XX% subsidi BBM. pupuk dan listrik Catatan Depkeu(BKF): a) Roadmap rasionalisasi subsidi BBM telah selesai sesuai hasil rapat di Ditjen Migas tanggal 26 Januari 2010. output dalam bentuk policy paper masih dalam tahap penyelesaian. H50. Saat ini sedang disusun laporannya oleh Ditjen Migas b) Pembahasan finalisasi roadmap rasionalisasi subsidi listrik masih menunggu undangan dari Ditjen LPE. namun waktu pelaksanaannya belum ditentukan. Catatan Depkeu (BKF): BKF ikut menyusun skenario rasionalisasi TDL dan penyederhanaan golongan tarif agar target penerima subsidi listrik lebih tepat sasaran.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 229 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.

DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 1 2 P26: Revitalisasi Industri pupuk dan gula Revitalisasi Industri Pupuk Urea (P26A11) Penyediaan Bahan Baku Depperin Gas (P26A111) Dep. H75: XX% TARGET H100: [1] Terbitnya surat jaminan gas dari H100: XX% BP Migas dan Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal 28 Undang-undang Migas No. H50.22 th.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 230 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. bahwa pembahasan dilakukan sejak 2007 bersama Dep ESDM. BP Migas.Depperin. 2001 (P26A111K1U3) H30: XX% H50: XX% Kemajuan 70% Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan informasi dari Direktorat Industri Kimia Hulu . 2001 (P26A111K1U3) Catatan Depkeu (DJA): Sampai dengan saat ini DA belum dilibatkan untuk menindaklanjuti RA ini. H75. Kementrian Jaminan ketersediaan suplai BUMN. Industri pupuk dan Pertamina. BP gas bumi sesuai kebutuhan Migas selama minimal 20 tahun dengan harga khusus untuk industri pupuk (P26A111K1) TARGET: TARGET H30: XXX [1] Terbitnya surat jaminan gas dari BP Migas dan TARGET H50: XXX Head Of Agreement (HOA) (P26A111K1U1) [2] Ditandatangani Gas Supply Purchase Agreement (GSPA) (P26A111K1U2) [3] Adanya peraturan yang menetapkan prioritas dan harga gas khusus sesuai keekonomian industri pupuk melalui revisi Pasal TARGET H75: XXX 28 Undang-undang Migas No.22 th. Pembahasan penyediaan bahan baku gas dilakukan bersamaan dengan pembahasan pupuk organik skala menengah kecil (P26A132) Sedang disusun rencana gas tahun 2010-2015 termasuk kebutuhan gas untuk revitalisasi koordinasi BP Migas. Neraca Migas terbit Januari 2010. . Depkeu (DJA) belum dilibatkan karena belum membahas masalah keuangan. ESDM. Depkeu (BKF).

DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 Revitalisasi / Pengembangan Industri Pupuk Organik (P26A13) Pengembangan industri Pupuk Organik skala menengah kecil (P26A132) PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Depperin Depkeu (BKF). Deptan. yaitu sedang disusun rencana gas tahun 2010-2015 termasuk kebutuhan gas untuk revitalisasi koodinasi BP Migas.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 231 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Depdag dan Pemda Tersedianya kapasitas industri Pupuk Organik yang memenuhi SNI TARGET: TARGET H30: XXX Tahun 2015 diproduksi TARGET H50: XXX Pupuk Organik yang sesuai SNI H30: XX% H50: XX% Catatan Depkeu (BKF): Berdasarkan informasi dari Direktorat Industri Kimia Hulu . TARGET H100: Tahun 2015 diproduksi Pupuk Organik yang sesuai SNI H100: XX% Catatan Depkeu (DJA): Sampai dengan saat ini DJA belum dilibatkan untuk menindaklanjuti RA ini. pembahasan pengembangan industri pupuk organik menengah kecil dilakukan bersamaan dengan pembahasan penyediaan bahan baku gas (P26A111) TARGET H75: XXX H75: XX% Karena pembahasan pengembangan industri pupuk organik menengah kecil dilakukan bersamaan dengan pembahasan penyediaan bahan baku gas (P26A111). .Depperin. H50. maka progress rencana aksi ini sama. H75.

Rapat menyepakati diperlukannya jaminan pendanaan dari pemegang saham PUSRI.2014 (P26A141K1U2) H30: XX% H50: XX% 80% Catatan Depkeu (BKF): BKF telah melakukan kajian kelayakan pemberian jaminan pemerintah. Depdag Adanya jaminan Pemerintah dalam mencari pinjaman sebesar US$ 211.9 juta atau Euro 163 juta (P26A141K1) TARGET: TARGET H30: XXX Penandatanganan Loan TARGET H50: XXX Agreement (P26A141K1U1) Terlaksananya pembangunan Pabrik tahun 2011 . H75. Depkeu (BKF). BKF sudah berinisiatif mengundang rapat Menneg BUMN dan Direksi PUSRI untuk klarifikasi permasalahan. TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Penandatanganan Loan Agreement (P26A141K1U1) Terlaksananya pembangunan Pabrik tahun 2011 2014 (P26A141K1U2) H100: XX% Catatan Depkeu (BKF): Penjelasan dari Kementerian Negara BUMN . DAN H100 6 RENCANA AKSI 1 Kerjasama Industri Pupuk Nasional dengan Negara Lain (P26A14) Kerjasama pembangunan Pabrik Urea di Iran (P26A141) PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 % CAPAIAN 7 KETERANGAN 8 Depperin Deplu. Terkait dengan hal ini Menneg BUMN akan menindaklanjuti. H50.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 232 – KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30. Kementrian BUMN. namun jaminan pemerintah yang dibutuhkan dalam loan agreement dimaksud adalah jaminan pemerintah selaku pemegang saham bukan jaminan pemerintah dalam rangka kerjasama pemerintah dan swasta/badan usaha untuk penyediaan infrastruktur sehingga merupakan kewenangan Menneg BUMN.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 233 – KRITERIA KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN UKURAN KEBERHASILAN H30. H75. DAN H100 6 RENCANA AKSI PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT % CAPAIAN 7 H30: XX% H50: XX% 60% KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): BKF belum pernah dilibatkan dalam pembahasan kerjasama pembangunan Pabrik Phosphoric Acid dengan Yordania di Gresik. Sudah dikonfirmasi ke pihak PUSRI dan diperoleh informasi dari Direktur Keuangan PUSRI bahwa Depkeu tidak perlu terlibat karena skema kerjasamanya B to B. 1 Kerjasama pembangunan Depperin Pabrik Phosphoric Acid dengan Yordania di Gresik (P26A142) 3 4 5 Depkeu (BKF). Kementrian Terbentuknya Joint Venture TARGET: TARGET H30: XXX BUMN dan BKPM Company (P26A142K1) Terlaksananya TARGET H50: XXX pembangunan Pabrik tahun 2011 . H50.2013 (P26A142K1U1) Catatan Depkeu (BKF): Penyelesaian dilakukan melalui skema B to B P27: Pengembangan Klaster Industri-industri berbasis sumber daya alam fosil dan yang terbarukan P28: Aksesibilitas dan keterhubungan (connectivity ) Antar Wilayah .2013 (P26A142K1U1) TARGET H75: XXX H75: XX% TARGET H100: Terlaksananya pembangunan Pabrik H100: XX% tahun 2011 . Depkeu semestinya tidak terkait dengan RA ini (Surat Sekretaris Jenderal a. Menteri Keuangan No.S-8/MK.n.1/2010 tanggal 8 Januari 2010).

Depkeu Copenhagen. BMKG TARGET H50: XXX RENCANA AKSI % CAPAIAN 7 H30: XX% KETERANGAN 8 50% proses penyelesaian Dokumen Posisi Indonesia untuk COP-15 UNFCCC di Copenhagen. H50. INSTANSI TERKAIT JAWAB KEBERHASILAN KEBERHASILAN DAN H100 6 1 2 3 4 5 P43: Penguatan posisi Indonesia pada Konferensi PBB ke-15 untuk Perubahan Iklim di Copenhagen. Denmark. Sebagai tindak lanjutnya. Denmark (BKF). Tersusunnya dokumen TARGET: TARGET H30: XXX dengan para pemangku Perubahan Iklim (DNPI) Bappenas. Depdag.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 234 – PROGRAM 100 HARI BADAN KEBIJAKAN FISKAL Bidang Kesejahteraan Rakyat PENANGGUNG KRITERIA UKURAN UKURAN KEBERHASILAN H30. H75. Posisi Indonesia untuk Dokumen Posisi Indonesia kepentingan. dan Kementerian Negara Deptan. Denmark Catatan Depkeu (BKF): BKF ikut serta dalam negosiasi penyusunan arsitektur kelembagaan climate change dan cara penggunaan sumber-sumber dana yang dialokasikan di bawah COP UNFCCC di Copenhagen. H50: XX% TARGET H75: XXX H75: XX% Catatan Depkeu (BKF): COP (Conference of Parties) 15 di Copenhagen (9-20 Desember 2009) yang salah satunya menghasilkan Copenhagen Accord yang berisi negara berkembang akan menyampaikan submissinya pada tanggal 31 Januari 2010. disusul dengan Rakortas 29 Desember 2009 di Menko Perekonomian selanjutnya ditindaklanjuti dengan Rakor tentang penyusunan rencana aksi penurunan emisi GRK (Gas Rumah Kaca) di Bappenas pada tanggal 31 Desember 2009. 7-18 Desember 2009 (P43A1) Koordinasi Dewan Nasional Kemenko Kesra. telah dilakukan serangkaian pertemuan penyusunan hasil COP 15 oleh DELRI pada tgl 23 Desember 2009. DepESDM. Dephut. DepPK. Denmark Copenhagen. COP-15 UNFCCC di untuk COP-15 UNFCCC di Lingkungan Hidup Dephub. .

dan ditindaklanjuti dengan penyusunan dokumen Rencana Aksi Nasional Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN PE GRK) dan submissi National Appropriate Mitigation Action ke UNFCC yang dikoordinasikan oleh Menko Perekonomian. H50. H75. . % CAPAIAN DAN H100 6 7 TARGET H100: Dokumen Posisi Indonesia H100: XX% untuk COP-15 UNFCCC di Copenhagen. Denmark KETERANGAN 8 Catatan Depkeu (BKF): Dokumen posisi Indonesia untuk COP 15 sudah selesai.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 235 – RENCANA AKSI 1 PENANGGUNG JAWAB 2 INSTANSI TERKAIT 3 KRITERIA KEBERHASILAN 4 UKURAN KEBERHASILAN 5 UKURAN KEBERHASILAN H30.

ESDM. dan industri perdesaan berbasis produk lokal oleh pelaku usaha dan pemerintah.Hukham. Dep. Menko Perekonomian dan Polhukam. 261/2008 tentang tata cara penyediaan anggaran. serta sistem subsidi yang menjamin ketersediaan benih varietas unggul yang teruji. dan Setkab Paling lambat Oktober 2014 Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RENCANA AKSI K/L TERKAIT WAKTU UNIT ESELON II b. Memastikan tercapainya Prioritas Nasional di bidang lain. TNI. Kemenneg BUMN. tepat jumlah. dan terjangkau Bahan penyempurnaan PMK No. perhitungan. Polri. Kejaksaan Juni 2010 Pusat Kebijakan Pendapatan Negara . Depkeu. yang mencakup namun tidak terbatas pada: Memastikan peningkatan investasi di bidang pangan. Melaksanakan perbaikan peraturan yang mendukung investasi Mengkaji dan mengusulkan perbaikan peraturanperaturan yang menghambat investasi sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas perbaikan peraturan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan Terselesaikannya RPP tentang cost recovery Kemenpan&RB. UKP4. teknologi dan sarana pasca panen yang sesuai secara tepat waktu. penyediaan pembiayaan yang terjangkau. pembayaran dan pertanggungjawaban subsidi pupuk Deptan.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 236 – KONTRAK KINERJA MENTERI KEUANGAN DENGAN PRESIDEN BADAN KEBIJAKAN FISKAL INDIKATOR KINERJA a. pertanian. pupuk.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 237 –

INDIKATOR KINERJA c. Melaksanakan penyempurnaan kebijakan dan peraturan subsidi Mengkaji dan mengusulkan penyempurnaan kebijakan dan peraturan mengenai subsidi BBM, listrik, dan pupuk sebelum Juni 2010 dan memastikan efektifitas peraturan yang disempurnakan tersebut sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan

RENCANA AKSI

K/L TERKAIT

WAKTU

UNIT ESELON II

- Bahan penyempurnaan kebijakan subsidi BBM, Listrik dan Pupuk agar lebih cepat dan efisien

Kemenko Perekonomian, Bappenas, ESDM, BPH Migas, Pertamina, PLN, Deptan, Depdag, Kemenneg BUMN, Bulog

Paling lambat Juni 2010

Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

- Hasil Kajian penerapan PBBKB di daerah berkaitan dengan harga dan subsidi BBM

Depdagri, ESDM, Pertamina, BPH Migas, Pemda

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 238 –
HASIL TEMU NASIONAL 29-30 OKTOBER BADAN KEBIJAKAN FISKAL Bidang : Infrastruktur
NO. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB Menteri PU Depkeu Bappenas1 tahun PPRF

1.

Pengelolaan dana BLU Tanah dan Land Capping sebaiknya berada di 1 tangan (DJ-BM) supaya kontrolnya jelas dan birokrasinya lebih sederhana 1. Revisi Perpres 67/2005: PPP diatur dengan memahami kondisi investasi infrastruktur yang: a. Layak secara Finansial b. Layak secara Ekonomi tetapi tidak layak Finansial c. Tidak layak Ekonomi dan tidak layak Finansial 2. Revisi Perpres 67/2005: Pemerintah memberikan dukungan agar investasi yang tidak layak menjadi layak melalui berbagai kebijakan al: a. Sistem tender disederhanakan dan dimungkinkan penunjukan langsung b. Ide proyek dari investor (unsolicited) dimungkinkan

Membahas perubahan sistem Dokumen RAPBN-P pengelolaan pendanaan BLU Tanah 2010 dan Land Capping untuk ditampung dalam APBN-P 2010 Perubahan Perpres ? Menyelesaikan perubahan Perpres 67/2005 yang menjamin dukungan investasi proyek infrastruktur yang layak secara ekonomi.

1 tahun

2.

100 hari

Menko Perekonomian

Depkeu, Dep. PU, Dep. Perhub, Bappenas, Dep ESDM

PPRF

? Menyusun ketentuan tata kelola yang baik, adil, akuntabel dan transparan terhadap dukungan pemerintah pada proyek infrastruktur yang bersifat nonkompetitif.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 239 –
NO. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG K/L TERKAIT UNIT ESELON II JAWAB

c. Dibuat ketentuan peralihan yang berisi : bagi badan usaha yang telah menandatangani Perjanjian Kerjasama sebelum berlakunya Perpres 67/2005 dan mengalami penurunan kelayakan investasi maka diberlakukan Perpres ini d. Bentuk dukungan pemerintah bergradasi dari nol hingga pemerintah yang membangun terlebih dahulu baru dikerjasamakan dengan swasta

3.

Perlu dipersiapkan pengaturan mengenai negosiasi pada IPP Kelistrikan

Menyusun SKB Menteri ESDM, SKB Menteri ESDM, Meneg BUMN, Menteri Keuangan, Meneg BUMN, Menteri mengenai prosedur negosiasi dan Keuangan penetapan IPP, indikator harga, dan penjaminan PSO.

100 hari

Menteri ESDM Depkeu, Meneg BUMN

PPRF

4.

Penghapusan bea masuk alat dan mesin pertanian sepanjang tidak menghambat industri dalam negeri

Menyusun aturan penurunan tarif Bea Masuk sebagai pelaksanaan APBN 2010.

PMK Harmonisasi Tarif Bea Masuk

100 hari

Menteri Keuangan

Deptan, Depdag, Depperin

PKPN

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

– 240 –

Bidang : Energi
No. PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUN G JAWAB Menko Perekonomian K/L TERKAIT UNIT ESELON II

1.

Menerbitkan Perpres tentang proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW tahap II

Memberikan masukan mengenai kebijakan penjaminan

Perpres tentang proyek percepatan pembangunan pembangkit tenaga listrik 10.000 MW tahap II

100 hari

Depkeu, Dep.ESDM, Pertamina, BP Migas dan BPH. Migas, Setneg, Setkab.

PPRF

2.

– Merevisi Perpres No. 104 Tahun 2003 tentang TDL PLN

Memberikan masukan dari sisi APBN, inflasi dan kinerja ekonomi Menyusun kajian tentang rasionalisasi subsidi listrik dan subsidi BBM

Revisi Perpres no.104 Tahun 2003. Kajian tentang rasionalisasi subsidi listrik dan subsidi BBM

100 hari

Menko. Perekonomian,

Depkeu, Dep.ESDM, Meneg. BUMN, PLN, Pertamina

PKAPBN

– Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi listrik – Menyusun Roadmap rasionalisasi subsidi BBM

1 tahun

3.

Memberikan insentif khusus (fiskal) untuk pelaksanaan optimalisasi produksi migas

Memberikan fasilitas PDRI untuk eksplorasi migas dan panas bumi, dalam UU APBN.

PMK pemberian PDRI

100 hari

Menteri Keuangan

ESDM

PKPN

– – Menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang insentif pemanfaatan renewable energy berupa keringanan pajak Menerbitkan Perpres untuk penurunan pajak 5% dalam jangka waktu 15 tahun untuk PLTP (Panas Bumi) Melakukan kajian manfaat dan Kajian insentif biaya pemberian insentif terhadap perekonomian dan implikasi insentif terhadap APBN. dan Setneg 5. 100 hari Dep.ESDM PKPN – Sinkronisasi aturan dalam RPP tentang Cost Recovery dengan kontrak PSC termasuk masalah perpajakan Menyelesaikan revisi PP Cost Recovery PP cost recovery 100 hari Menteri Keuangan dan Menteri ESDM Menteri Keuangan Depkumham. – Memberikan insentif untuk pembangunan refinery baru Memberikan insentif fiskal bagi pengembangan CBM – Melakukan kajian implikasi kepada APBN serta manfaat dan biaya untuk ditampung dalam APBN-P 2010. Kajian insentif 100 hari Menteri Keuangan Dep.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 211 – No.ESDM PKPN . PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUN G JAWAB K/L TERKAIT UNIT ESELON II 4.

PROGRAM RENCANA AKSI KELUARAN WAKTU PENANGGUNG JAWAB Menteri Keuangan K/L TERKAIT Depdag. Depperin.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 242 – Bidang : Industri dan Jasa No. Kajian 100 hari Menteri Keuangan Depperin. Penetapan pajak ekspor untuk produk-produk mentah (bahan baku). 34/1996 ttg BMAD & BM Imbalan Mengusulkan perubahan PP No. KADI. 34/1996 kepabeanan dan praktek kepabeanan internasional 100 hari PKPN . 34 Usulan Perubahan tahun 1996 agar sesuai dengan UU PP No. 5 taharitahun 2. Review PP No. Depdag 1 tahun PKPN UNIT ESELON II 1. Mengkaji usulan pengenaan pajak ekspor (bea keluar) atas produk bahan mentah dan implikasi fiskal dan ekonomi.

.

821.946.000 115.603 77.642.000 22.854 1.467.730.178.032.97450 2014 (6) 34.722 112.551. kekayaan negara dan perimbangan keuangan 8 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan pendidikan Program Diploma Keuangan Negara 9 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Keuangan Negara di daerah 16.813.401.724 25.928 97.219 99.489 83.063.416.428.321 26.820.000 86.858 92.559 28.531.650.94699 2013 (5) 33.93226 2012 (4) 33.110.189.454.311 105.760.944.717.761.339.807 MENTERI KEUANGAN ttd. perbendaharaan.129 108.380 0.01227 PROGRAM/KEGIATAN (1) 6 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan diklat teknis dan fungsional di bidang kekayaan negara dan perimbangan keuangan 7 Pengembangan SDM melalui penyelenggaraan diklat teknis dan fungsional di bidang selain anggaran.070.MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA – 247 – ALOKASI 2010 (2) 14.000 2011 (3) 30.688.977 0. cukai.733.225.421.707.932.921.717.720.256.900.317 0. SRI MULYANI INDRAWATI .161.483. kepabeanan. perpajakan.208.070.