Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH ILMU BUDAYA DASAR Manusia dan Keyakinan Keyakinan Masyarakat Yogyakarta tentang Upacara Tolak

Bala Gunung Merapi Kelompok 7 Anisa Nur Pratiwi Debbie Mutia Putri Galis Tresnariyas Lita Puspita Dewi Febri Nick Daniel Sihombing Pratiwi Ayu Plessetiawati Silvia Forlentina Euis Purnama Irni Fuzi Wijayanti Vidya Octavianty Saefullah Yuke Fathurohmah Nenden Ratna Ningsih 220110090135 220110090041 220110090113 220110090096 220110090116 220110090122 220110090103 220110090114 220110009057 220110090133 220110090134 220110090106

FAKULTAS KEPERAWATAN 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 latar belakang Dalam setiap diri manusia pasti mempunyai rasa yakin akan suatu hal atau beberapa hal. Hal itu merupakan buah dari satu kepercayaan dalam diri individu manusia itu sendiri. Dengan adanya keyakinan, manusia akan merasa bahwa dirinya telah percaya adanya sesuatu yang akan membuat dirinya untuk mencapai tujuan tertentu. Orang hidup itu harus memiliki pegangan atau dalam arti keyakinan hidup. Tanpa memiliki keyakinan orang tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan. Ketika individu manusia mengalami hal yang di yakini sulit. Dia akan merasa bahwa tidak ada lagi cara untuk mengatasinya. Rasa itu adalah gairah manusia dalam kesulitan. Manusia akan berpikir untuk memohon bantuan kepada yang dianggapnya dan diyakini bisa membantu dalam keadaan tersebut. Dalam hal ini, manusia akan meminta pertolongan kepada yang di yakininya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dimana kita tahu jika ita telah meyakini adanya tuhan maka kita akan berpikir bahwa apapun yng terjadi didunia ini atas kehendak-Nya. Dengan kata lain jika kita memiliki keyakinan atas adanya Tuhan yang berkuasa atas diri kita dan semesta alam maka kita tidak boleh ragu akan segala ketentuan-Nya. Apapun yang terjadi di dunia ini memang atas kehendaknya, karena jika Dia tidak berkehendak maka sesuatu itu tidak akan terjadi. Namun dalam kenyataannnya sekarang manusia sepertinya telah meragukan adanya kekuasaan sang pencipta. Terlihat dari suatu ritual yang tidak masuk akal yaitu melakukan ritual tolak bala, dimana ritual ini bermaksud agar penjaga gunung merapi tidak murka terhadap penduduk ( sehingga gunung merapi tidak meletus). Ini terlihat pada kejadian Gunung merapi di Yogyakarta banyak penduduk yang merasa ketakutan dan kecemasan sehingga melakukan upacara tolak bala. Kami mengangkat kasus ini dikarenakan manusia kehilangan arah keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang menjadi keyakinan mereka, tetapi dikarenakan mereka merasa ketakutan dan kecemasan sehingga mereka menaruh keyakinan pada upacara tolak bala gunung merapi untuk terhindar dari musibah yang akan terjadi. Agar masyarakat mengetahui bagaimana yang baik dan buruk tentang keyakinan maka perlu dilakukan pembahasan yang mengkaji dasar-dasar keyakinan manusia sehingga dapat meluruskan keyakinan yang seharusnya dijalani oleh masyarakat.

1.2 Perumusan Masalah masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : kapan saja upacara itu dilakukan? Siapa pelaku / orang yang terlibat dalam upacara itu? Bagaimana upacara itu dilaksanakan? Bagaimana upacara itu dihubungkan dengan keyakinan? Dimana tempat upacra itu dilaksanakan? Menurut pandangan kita, upacara itu benar atau tidak? Manfaat bagi yang melaksanakan upacara tersebut?

BAB II KONSEP MANUSIA DAN KEYAKINAN Keyakinan berasal dari kata Yaqin(arab)yang berarti percaya sungguh-

sungguh.Kepercayaan berbeda dengan keyakinan,keyakinan dan keimanan ada diatas kepercayaan,sedangkan keyakinan itu equivalen dengan iman.Keyakinan adalah menerima dengan akal. Manusia mempunyai keyakinan karena manusia dalam hidupnya selalu mempunyai pengharapan dan cita-cita sehingga selalu berusaha untuk mewujudkan keyakinan dan pengharapan dalam karya yang konket.Tanpa keyakinan hidup akan diliputi oleh perasaan bimbang.Keyakinan timbul disebabkan oleh berbagai segi. Atheis yang kita kenal sebagai ketidakpercayaan akan adanya Tuhan,pada hakikatnya adalah keyakinan,yaitu yakin akan tidak adanya tuhan.Lain halnya dengan keyakinan terhadap suatu pengetahuan biasanya melalui proses penerimaan pengetahuan,yaitu: Pengesahan (Validation) Keandalan (Realibility) Pemetaan pengetahuan (Cognitiv maping) Keyakinan tetap merupakan alat analisis yang amat penting meskipun terdapat aneka ragam keyakinan.Manusia memerlukan suatu bentuk keyakinan dalam hidupnya karena akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup budayanya.Keyakinan yang benar haruslah bersumber dari nilai yang benar. Keyakinan yang kebanyakan kita jalani merupakan suatu keyakinan yang diturunkan secara turun temurun dari orang tua atau pendahulu kita sebelumnya yang beregenerasi pada kita kini dan mungkin pada anak - cucu nanti. Karena mau atau tidak mau serta langsung atau tak langsung setiap orang tua dan para pendahulu kita akan menelurkan sebuah kosep tentang ideologi hingga konsep tentang sebuah keyakinan. Di pungkiri atau tidak, inilah realita yang banyak terjadi dalam tatanan masyarakat dan kultur budaya kita. Dimana orang tua layaknya seorang dalang yang memiliki otoritas penuh terhadap anaknya tanpa si orang tua tersebut sempat dan mau berfikir tentang makna sebuah hati dan pikiran seorang anak. Setiap manusia yang terlahir sebagai khalifah dan hidup dengan hati dan pikirannya masing masing.

Berbicara tentang keyakinan, maka tidak dapat dilepaskan dari doktrin doktrin dan dogma yang membelunggu serta membalutnya dalam konsep sebuah agama dan budaya kita. Dan berbicara mengenai agama, maka kita harus melihat definisi universal tentang pengartian agama itu sendiri. Dimana agama berasal dari kata A yang berarti tidak dan GAMA yang artinya adalah kacau balau, hancur, chaos, dan lainnya yang berkonotasi negatif. Sehingga agama terlahir memiliki peran dan fungsinya agar manusia tidak kalau balau dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

BAB III KASUS Menyambut 1 Sura atau 1 Muharram, ribuan warga lereng merapi menggelar upacara Sedekah Gunung. Ritual tahunan itu ditandai dengan melarung satu kepala kerbau dan sesaji ke kawah di puncak Gunung Merapi. Menurut Prawirorejo, sesepuh warga Selo, upacara itu untuk memohon keselamatan agar masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Merapi terhindar dari berbagai bencana alam. Ritual itu, katanya, sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang secara turun temurun. "Warga di sini tidak mungkin akan meninggalkan upacara ritual ini, karena sudah sangat kental atau menyatu dengan adat warga," kata kakek berusia 71 tahun itu. (www.liputan6.com) Jika masyarakat yakin dan percaya bahwa dengan sedekah gunung akan menolak bencana tapi mengapa bencana tetap ada dan menelan banyak korban jiwa? Bagaimana dengan keyakinan masyarakat mengenai sedekah gunung atau ritual tahunan ini?

BAB IV PEMBAHASAN Gunung merapi merupakan sebuah perwujutan mitologi yang tinggi bagi masyarakat jawa dalam arti luas bagi Bangsa Indonesia, apalagi bagi bumi ini karena merupakan salah satu gunung teraktif di dunia gunung berapi ingkang paling aktif, memiliki daya tarik bagi para wisatawan. Gunung Merapi memiliki tautan yang kuat dengan sejarah para raja di tanah Jawa, dan juga berhubungan erat dengan mitos Ratu Laut Selatan. Maka tidak mengherankan jika banyak orang beranggapan bahwa Gunung Merapi memiliki kaitan yang kuat dengan alam gaib. Merurut apa yang telah diwariskan oleh para leluhur pada zaman dahulu yang telah diwariskan secara turun temurun hingga sampai dengan saat ini banyak kejadian yang tidak masuk akal di sekitar Gunung Merapi. yang menjadikan masyarakat yakin akan kekuatan gaib Gunung Merapi. Kejadian ini pada saat Kerajaan Surakarta pada waktu itu dipimpin oleh Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono VI yang mempunyai nama lain Sinuhun Bangun Topo, sering mengunjungi Gunung Merapi, selain ingin melihat pemandangan indah Gunung MerapiMerbabu juga mempunyai maksud lain yaitu bertemu dengan salah satu Pahlawan NasionalPangeran Diponegoro, untuk memberikan dukungan bantuan melawan penjajah Belanda. Terlihat jelas Sinuhun Pakubuwono VI juga tidak menyukai penjajahan Belanda di tanah air ini. Nama tempat bertemunya kedua tokoh ini adalah Guo Rojo. Suatu saat kedatangan Sinuhun Pakubuwono VI secara diam-diam tersebut diketahui oleh Belanda, karena pada saat itu ada salah seorang Bupati memberikan rencana kedatangan Sinuhun Pakubuwono VI ke daerah tersebut, yang mengakibatkan Sinuhun Pakubuwono VI ditangkap dan diasingkan ke Ambon. Setelah Indonesia merdeka maka Sinuhun Pakubuwono VI diberikan gelar sebagai salah satu Pahlawan Nasional. Hubungan Kerajaan Surakarta seperti Juga Kerajaan Yogyakarta dengan Gunung Merapi sampai dengan saat ini pada saat saat tertentu diadakan larung sesaji di Gunung Merapi. Diceritakan hubungan spiritual masyarakat Selo dengan tokoh mitologi Kyai Petruk yang mempunyai nama kecil yakni Handoko Kusumo dikarenakan postur tubuhnya mirip dengan tokoh pewayangan Petruk maka dipanggil dengan sebutan Kyai Petruk Diceritakan bahwa Kyai

Petruk adalah anak dari seorang petinggi di Kecamatan Cepogo. Semenjak kecil Handoko Kusumo gemar menolong sesama dan bertapa mendekatkan diri pada Yang Kuasa, berwibawa, tauladan bagi sesama, sakti mandraguna. Oleh karena itu banyak orang memiliki keyakinan bahwa, Kyai Petruk dapat memberikan pengayoman bagi masyarakat masyarakat di sekitar Selo dari ancaman Gunung Merapi. Dipercayai juga Kyai Petruk meninggal dan mukswo (menghilang tanpa meninggalkan raga) di Gunung Merapi. Orang-orang tradisional Jawa yang tinggal di Jawa maupun bagian lain Indonesia banyak yang merayakan 1 Suro yang dipandang sebagai hari sakral. Secara tradisi turun temurun, kebanyakan orang mengharapkan ngalap berkah mendapatkan berkah pada hari besar yang suci ini.Pada malam 1 Suro, biasanya orang melakukan laku prihatin untuk tidak tidur semalam suntuk atau selama 24 jam. 1 Suro adalah Tahun Baru menurut kalender Jawa. Berbeda dengan perayaan Tahun Baru kalender Masehi yang setiap tanggal 1 Januari dirayakan dengan nuansa pesta , orang Jawa tradisional lebih menghayati nuansa spiritualnya. Pemahamannya adalah : Tanggal satu pada tahun baru Jawa diperingati sebagai saat dimulainya adanya kehidupan baru. Umat manusia dari lubuk hati terdalam manembah, menghormati kepada Yang Satu itu, Yang Tunggal, Yang Esa, yang mula-mula menciptakan seluruh alam raya ini dengan semua isinya, termasuk manusia, yaitu Gusti, Tuhan yang Maha Esa. Oleh karena itu peringatan 1 Suro selalu berjalan dengan khusuk, orang membersihkan diri lahir batin, melakukan introspeksi, mengucap syukur kepada Gusti,Yang Membuat Hidup dan Menghidupi, yang telah memberi kesempatan kepada kita semua untuk lahir, hidup dan berkiprah didunia ini. Menyadari atas kesempatan teramat mulia yang diberikan oleh Sang Pencipta, maka sudah selayaknya manusia selaku titah menjalankan kehidupan didunia yang waktunya terbatas ini, dengan berbuat yang terbaik, tidak hanya untuk dirinya sendiri dan keluarga terdekatnya, tetapi untuk sesama mahluk Tuhan dengan antara lain melestarikan jagad ini, istilah kejawennya adalah Memayu Hayuning Bawono. Tidak salah jagad harus dilestarikan, karena kalau jagad rusak, didunia ini tidak ada kehidupan. Pemahaman ini telah sejak jaman kabuyutan di Jawa , dimasa kuno makuno, telah dengan sadar disadari sepenuhnya oleh para pinisepuh kita.

Perayaan 1 Suro bisa dilakukan dibanyak tempat dan dengan berbagai cara. Itu tergantung dari kemantapan batin yang menjalani dan bisa juga sesuai dengan tradisi masyarakat setempat. Maka untuk menghormati dan mengenang Kyai Petruk, masyarakat Selo setiap malam 1 Suro mengadakan acara Sedekah Gunung yang di dalam acara tersebut diadakan acara larung sesaji, yang berupa : tumpeng sesaji, nasi gunung yang dibuat dari jagung, brubus yang dibuat dari lumbu / umbi, gomok, acung acung, bhotok sempuro dan dilengkapi dengan ubo rampe / peralatan polo wijo (palawija) lengkap, singkong yang dibakar ketela rambat yang dibakar, minuman kopi, jadah bakar, rokok klobot (rokok yang dibungkus dengan daun jagung), rokok gudang garam kretek, pisang rojo, bunga kantil, kunyit, telur ayam, uang Rp. 100,- (seratus rupiah), dupa kemeyan disertakan pula kepala kerbau yang kalarung di Gunung Merapi. Ritual dimulai dengan mengarak kerbau keliling desa. Setelah disembelih, kepala kerbau dilarungkan ke kawah Merapi. Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali Sumantri, kepala kerbau itu dibalut kain putih dan dilengkapi sesaji, di antaranya tumpeng gunung yang dibuat dari nasi jagung dan brubus dari daun lumbu. Sebelum kepala kerbau dan sesaji dilarungkan ke kawah Merapi pada pukul 00.10 WIB, warga lereng Merapi melantunkan kidung yang berisi puji-pujian dan doa. Intinya, mereka memohon kepada Tuhan Maha Yang Esa agar terhindar dari malapetaka akibat gunung tersebut. Berikutnya, kepala kerbau ditandu oleh empat orang yang mengenakan pakaian adat Jawa menuju kawah di puncak Merapi. Jarak dari desa ke tempat itu sekitar empat kilometer dan ditempuh sekitar empat jam. Setelah Kepala kerbau diangkat menuju puncak gunung, ribuan warga yang mengikuti prosesi merebutkan sesaji gunungan nasi jagung. Semuanya itu adalah simbol bagi sebuah permohonan bagi yang menciptakan langit bumi, semoga memberikan ketentraman dan kedamaian bagi masyarakat Selo pada khususnya serta masyarakat Boyolali pada umumnya. Upacara Tradisional Sedekah Gunung mewujudkan peninggalan budayapara leluhur yang dilakukan secara turun menurun. Maka Menurut Pawirorejo, salah seorang sesepuh masyarakat selo. "Masyarakat di sini tidak mungkin akan meninggalkan upacara ritual itu karena sudah sangat kental atau menyatu dengan adat warga setempat," katanya.

BAB V KESIMPULAN Sedekah gunung yang di lakukan setiap tahunnya yang dipercaya oleh banyak masyarakat sebagai ritual tahunan yang dilaksanakan setiap malam Sura untuk terhindar dari berbagai bencana alam yang muncul akibat Gunung Merapi. Ritual setiap tahun itu dilakukan dengan melarung satu kepala kerbau dan sesaji ke kawah di puncak Gunung Merapi. Kegiatan itu bertujuan agar mereka terhindar dari bencana gunung paling aktif. Meskipun ritual sedekah gunung sudah turun menurun dilakukan sejak zaman nenek moyang dan masyarakat tidak mungkin akan meninggalkan upacara ritual itu karena sudah sangat kental atau menyatu dengan adat warga setempat, tetapi pada kenyataannya masih banyak korban yang berjatuhan, ini menarik perhatian khalayak yang lainnya atas apa manfaat ritual ini bagi yang melaksanakannya. Jadi meskipun banyak ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat yang merasa khawatir atas bencana yang mengancam di sekitarnya, tetapi kita harus tetap berdoa dan meminta kepada Tuhan yang Maha Esa agar kita selalu dilindungi dari bencana, meskipun caranya tidak dengan ritual atau kegiatan semacamnya misalnya memberi sesajen dan melarung kepala kerbau, tetapi kita masih bisa berdoa dan meminta kepada Tuhan yang Maha Esa dengan cara yang wajar. Ini berarti bekaitan dengan keyakinan sekelompok masyarakat yang percaya bahwa mereka akan selamat dengan ritual yang dilakukan setiap tahunnya itu, meskipun pada kenyataanya korban masih banyak yang berjatuhan.

DAFTAR PUSTAKA Soelaiman, Munandar. 2010. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: Refika Aditama Parjiyono, Yon. 2010. GUNUNG MERAPI Sultan: Juru Kunci Diganti Juru Gembok Saja . [online]. (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=264970), diakses tanggal 10 November 2010 Kurman. 2010. Di Balik Misteri Gunung Merapi. [online]. (http://www.beritaterkini.asia/2010/11/di-balik-misteri-gunung-merapi.html, diakses tanggal 10 November 2010) Halim Syaiful.2010. Warga Merapi Gelar "Sedekah Gunung" . [online]. (http://berita.liputan6.com/daerah/200912/255071/Warga.Merapi.Gelar.quotSedekah. Gunungquot, diakses tanggal 10 November 2010) Widagdho, Djoko. Ilmu Budaya Dasar (MKDU). Bandung: Bumi Aksara Darma, B. (1982). Pedoman Perkuliahan Ilmu Budaya Dasar" dalam Ilmu Alamiah Dasar, Ilmu Budaya Dasar, dan Ilmu Sosial Dasar (Kumpulan Pedoman Umum) Jakarta: Proyek Pengembangan institusi Pendidikan Tinggi.