Anda di halaman 1dari 2

Review Jurnal Penetapan Kadar Ampicilin Dalam Tablet dengan Nama Generik dan Dagang Menggunakan Kromatografi Cair

Kinerja Tinggi (KCKT)

Pada jurnal ini dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif menggunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi untuk menetapkan kadar ampicilin dalam tablet dengan nama generik dan dagang. Sampel yang digunakan adalah kaplet Ampicilin (Kimia Farma), kaplet Ampicilin (Indofarma), kaplet Ampicilin (Phapros), kaplet Binotal (Bayer), kaplet Kalpicillin (Kalbe Farma), kaplet Parpicillin (Prafa), dan kaplet Cetacillin (Soho). Sampel ditetapkan kadarnya kemudian dibandingkan dengan persyaratan yang tercantum dalam Farmakope Indonesia edisi IV (1995). Metode kckt atau hplc ini dipilih karena memiliki banyak keuntungan diantaranya cepat, daya pisahnya baik, peka, ideal untuk molekul besar dan ion, mudah untuk memperoleh cuplikan, kolom dapat digunakan berulang kali, tekniknya tidak memerlukan keahlian khusus, dan perangkatnya dapat digunakan secara otomatis dan kuantitatif. Sistem kckt pada penelitian dalam jurnal ini dikondisikan sesuai monografi ampicilin yang tercantum dalam Farmakope Indonesia Edisi IV yaitu menggunakan kolom c18 (4 mm x 30 cm), laju aliran 2,0 ml/menit, detektor spektrofotometer UV pada panjang gelombang 254 nm, volume penyuntikan 20 l, dan fase gerak campuran air : asetonitril : KH2PO4 1 M : asam asetat (909 : 80 : 10 : 1), dengan kondisi sedikit berbeda yaitu menggunakan kolom c18 (4,6 x 220 mm) dan laju aliran 2,5 ml/menit. Pada penelitian dalam jurnal ini mula-mula dilakukan uji identifikasi ampicilin pada Ampicilin BPFI yang akan digunakan untuk membuat kurva kalibrasi, Ampicilin baku (Phapros) yang akan digunakan untuk uji validasi, dan ketujuh sampel. Masing-masing dibuat larutan dengan konsentrasi 500 g/ml kemudian disuntikkan dengan volume penyuntikan 20 l. Puncak yang ditunjukkan diperhatikan dan dicatat waktu tambatnya. Dari hasil pengamatan didapat waktu tambat seluruh sampel sama yaitu 5 menit. Hal ini menunjukkan bahwa semua sampel yang diuji hanya mengandung satu senyawa, yaitu Ampicilin. Untuk penetapan kadar sampel, perlu dibuat kurva kalibrasi dan dilakukan uji validasi terlebih dahulu. Pembuatan kurva kalibrasi dilakukan dengan menggunakan larutan ampicilin BPFI sebagai larutan induk dengan konsentrasi 200-700 g/ml. Masing-masing konsentrasi

diinjeksikan sebanyak 6x ke sistem kckt, lalu dicatat luas puncaknya yang ditunjukkan pada kromatogram dan dibuat kurva kalibrasi serta persamaan regresinya. Hasil penentuan linieritas kurva kalibrasi dari ampicilin BPFI didapat hubungan yang linier antara konsentrasi versus luas puncak dengan koefisien korelasi (r) = 0,9984 dengan persamaan regresi y = 249,89 x 4305,15. Uji validasi dilakukan dengan menggunakan Ampicilin baku (Phapros). Ampicilin baku dicampurkan dengan bahan tambahan yang umumnya digunakan pada pembuatan tablet lalu dibuat menjadi larutan dengan konsentrasi 500 g/ml. Larutan tersebut diinjeksikan ke sistem kckt sebanyak enam kali. Luas puncak pada kromatogram yang dihasilkan dihitung dan dimasukkan ke persamaan regresi serta dihitung perolehan kembalinya. Hasil yang didapat menunjukkan metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat diterima untuk penetapan kadar ampicilin dalam sediaan tablet secara kckt. Penetapan kadar sampel dilakukan dengan menginjeksikan larutan sampel dengan konsentrasi 500 g/ml ke sistem kckt sebanyak enam kali. Luas puncak pada kromatogram yang dihasilkan masing-masing sampel dihitung dan dicari rata-ratanya dari enam kali injeksi tersebut kemudian dimasukkan kedalam persamaan regresi sehingga didapat kadarnya. Hasil perhitungan menunjukkan bawhwa masing-masing sampel memiliki kadar yang sesuai dengan rentang yang ditetapkan pada Farmakope Indonesia edisi IV (1995) yaitu mengandung ampicilin tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 120% dari jumlah yang tertera pada etiket.