Perspektif Insider-Outsider dalam Studi Agama: Membaca Gagasan Kim Knott1 Oleh Sujiat Zubaidi Saleh

Abstrak: Artikel ini memuat kajian Kim Knott yang memberi tawaran baru dalam studi agama, karena banyaknya universitas - baik di Barat maupun di Timur – yang menyimpan sejumlah kendala seputar studi agama. Kedua, terjadinya stagnasi metodologis dan pendekatan di kalangan mahasiswa dalam melakukan kajian eksploratif tentang agama. Dalam kajian ini, Knott mencoba meretas dan mengeliminir anasir subjektivitas, dengan mengurai dua persoalan mendasar antara perspektif emik yang muncul dari kajian orang dalam (insider), dan perspektif etik yang muncul dari orang luar (outsider). Pada akhirnya, Knott membagi konsepsi peran pemberdayaan interkoneksi sosial keagamaan dalam empat elemen; partisipan murni, peneliti sebagai partisipan, partisipan sebagai peneliti dan peneliti murni. Namun, pola ini ternyata menyimpan persoalan serius dalam tolok ukur objektivitas. Karena, yang menjadi persoalan adalah apakah para pengkaji Islam dari outsider benar-benar objektif, dapat dipertanggungjawabkan, dan memiliki validitas ilmiah dilihat dari optik insider. Itu sebabnya, Knott mencoba meletakkan kedua kerangka tersebut dalam bingkai rapprochment. Pendekatan ini, merupakan upaya solutif intersubjektif guna memposisikan peneliti pada margin of appreciation sebagai tapal batas (border line) antara insider-outsider. Diharapkan dengan pendekatan ini, kajian studi agama akan lebih objektif dan terjauh dari unsur subjektif. Kata kunci: insider-outsider, doubt, rapprochement, emic-etic, truth claim

Pendahuluan Dalam diskursus keagamaan kontemporer dinyatakan, bahwa agama mempunyai banyak sisi. Agama tidak hanya terkait dengan persoalan kredo, keyakinan, worldview, ketuhanan dan lainnya, namun meluas spektrumnya pada pelbagai aspek historis kultural.2 Terdapat dua persoalan yang menjadi kegelisahan akademik Kim Knott, berdasar pada persoalan di atas sehingga ia membuat pemetaan pendekatan studi agama. Pertama, betapa sulitnya membuat garis demarkasi yang jelas antara wilayah agama dan yang tidak. Kedua, adanya persoalan yang sangat rumit ketika ada yang memahami agama, antara ia sebagai tradisi (tradition) dan sebagai keimanan (faith).

1

Makalah dipresentasikan dalam diskusi kelas Matakuliah Metodologi Studi Islam yang dibimbing oleh Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, M.A. pada Program Doktor (S-3) Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya.
2

M. Amin Abdullah, “Relevansi Studi Agama-Agama dalam Milenium Ketiga” dalam Amin Abdullah dkk., Mencari Islam (Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan), (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000), h. 12

1

membantu mereka untuk memahami agama. karena beberapa universitas (baik di Barat maupun di Timur) masih menyimpan sejumlah masalah seputar studi Islam dengan menggunakan pendekatan ilmiah. ekonomi dan lainnya. Kenneth Pike. dan di pihak lain. Bersama Thomas A. baik sosial. (UK London: Equinox Publishing. Selain itu. Knott telah menelaah sejumlah karya peneliti sebelumnya. Dan. Setelah mengurai sejumlah problem di dalamnya. Biografi Intelektual Kim Knott merupakan sosok peneliti yang memfokuskan dirinya pada pengembangan metodologi spasial dalam studi agama. mereka dituntut agar dapat memahami agama dalam orientasi akademik. Dalam The Location of Religion: A Spatial Analysis. Mircea Eliade. Tweed. mempunyai korelasi positif dalam tataran implementasi ajaran agama.Kajian Knott ini memberi tawaran baru. Penelitian lain difokuskan pada lokus agama dan nilai-nilai universal dalam lanskap sosio kultural masyarakat dan hubungannya dengan fenomenologi agama. di antaranya Kristensen. 2005). ia bekerja pada sebuah perpustakaan induk untuk geografi agama. Kontribusi akademik dari penelitian Knott ini. Knott membuat dua formulasi pendekatan dalam studi agama. Dalam mengkaji persoalan agama. a Spatial Analysis. berbasis di University of Leeds. terutama dalam hal pendekatan dan metodologi yang akan dipakai. Smith.3 ia menyatakan bahwa penerapan teori sosio-spasial dalam studi agama. politik. Wilfred C. budaya. Knott membuat pemetaan terhadap pendekatan studi agama. Cornelius Teile. memiliki nilai kegunaan yang signifikan dalam memecahkan problem studi agama di institusi akademik (universitas). The Location of Religion. First Edition. Selain itu. 57 2 . h. Seni dan Humaniora pada program Dewan 3 Kim Knott. Ninian Smart dan lainnya. apalagi kajian religious studies ini bersifat multi-tafsir dan debatable. yaitu pendekatan emik dan etik. baik dalam konteks historis-empiris maupun normatif-teologis. Knott adalah Direktur Riset. Rudolf Otto. Di satu pihak. guna mencari keterlibatan sirkuler antar agama. terjadinya stagnasi metodologis dan pendekatan di kalangan akademisi maupun praktisi ketika mempelajari studi agama. Meski demikian. Van der Leeuw. mereka harus menjaga nilai transendensi agama. Dari karya-karya itu. pembacaan yang ditawarkan oleh Knott tersebut tetap saja memantik respon yang beragam.

Migration. Knott duduk sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Eropa untuk Studi Agama.4 Ia juga co-editor (bersama Sean McLoughlin) dalam sebuah jurnal Diaspora. dan isu-isu metodologis tentang studi agama. institusi universitas dan kelompok masyarakat. Diaspora and Transnationalism: Transformations of Religion and Culture in a Globalising Age dalam The Routledge Companion to the Study of Religion. Di tingkat regional. sebelum menunjukkan bagaimana metode spasial dapat diterapkan sehingga merefleksikan kekuatan dan kelemahannya secara konkret. Ia juga sebagai dosen senior pada Studi Agama di University of Leeds. Edited by John R. Menurut Knott. Selanjutnya. Saat ini. Knott banyak mengadopsi preposisi dan preskripsi yang menggunakan pendekatan teoretis dan induktif berdasar pada budaya lokal. 2005). 527 3 . Edward Casey dan Christopher Tilley. Pada bagian berikutnya. membawanya menjadi peneliti garda depan tentang agamaagama. karena ia dibentuk berdasarkan titik awal dengan pendekatan spasial. Realitas di atas merupakan pendekatan awal yang diidentifikasi oleh Knott untuk dapat diterapkan pada lokus agama. Inggris. ia merujuk ke pelbagai sumber dalam studi agama. ia memfokuskan penelitiannya pada lokasi agama di dua organisasi publik. simultan dan holistik. Migrasi dan Identitas Agama'. 4 Sean McLoughlin.'Diaspora. Sebagai seorang feminis dan kritikus post-modern. Sebagai Profesor Studi Agama dan Direktur Komunitas Antar Agama. Karena posisi inilah. ia terus mencoba untuk menemukan konsep agama dalam prosedur yang terukur. agama harus bekerja dalam parameter ini. Titik awal dalam mengembangkan pendekatan spasial tersebut adalah Theories of Place yang dikembangkan oleh Heidegger. Knott menulis tentang agama di Inggris. bagaimanapun juga segera mengantarkannya untuk mempertanyakan wacana yang membuatnya tertarik untuk menekuni kajian keagamaan dengan pendekatan geografis dan studi agama-agama. Kegiatan akademiknya termasuk membantu mahasiswa menjadi peneliti yang kompeten dengan mengangkat isu-isu agama yang lebih luas. Hinnells (London: Routledge Taylor and Fancis Group. h. sehingga mengantarkannya sebagai penulis produktif pada sejumlah jurnal tentang gerakan-gerakan agama kontemporer di London. yang meliputi identitas agama-agama modern. Dalam penelitiannya.

Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar. insider-outsider saling berbagi keseimbangan perspektif dalam sejarah studi agama. Nourouzzaman. “Sejarah: Pisau Bedah Ilmu Keislaman” dalam Taufik Abdullah (Ed. agama harus ditampilkan secara proporsional. pelbagai isu seputar studi agama diberi penguatan metodologis. bahwa semua agama sebagai fenomena yang unik yang dapat dilihat dari pelbagai sisi (multi faces). Tujuan yang mendasari pendekatan fenomenologis adalah untuk mengerti dengan penuh empati berdasarkan pada pengalaman insider. meski ia juga harus dikritisi. 58 4 . Jauh sebelumnya. Van der Leeuw dan Rudolf Otto di Jerman. h. yang terpancar dalam pengalaman keagamaan. namun mampu memberikan pemahaman secara empatik. (Yogyakarta: Tiara Wacana. memandang bahwa konsep dan ajaran agama tidak mudah diakses oleh orang luar atau non-pemeluknya. Dua puluh tahun kemudian. kemudian Mircea Eliade dan Wilfred Cantwell Smith di Amerika serta Ninian Smart di Inggris. sebagaimana yang dilakukan oleh Kristensen. Selanjutnya. dengan mempertimbangkan batas-batas objektivitas dan subjektivitas. di samping itu kemampuan menahan diri dari penilaian negatif prejudice yang muncul dari outsider. bahwa pengalaman keagamaan yang ada dalam diri insider ditampilkan kemudian direspon oleh outsider. Max Müller (1873) telah mempertegas bahwa. dengan mengikuti ajaran pengamalan keagamaannya.). yang menegaskan bahwa upaya peneliti Barat untuk menafsirkan dan memahami agama sebagai outsider. Mereka menyatakan. 1991).5 Ia juga membedakan antara subjektivitas keagamaan pribadi individu dan objektivitas cara pandang terhadap agama orang lain. yang didasari oleh sikap empati dan analisis kritis. Pada titik ini. otonom dan tak ada bandingannya. melalui studi dan investigasi yang tidak memihak. terutama yang berkaitan dengan fenomenologi agama. Lain halnya dengan Darshan Singh. Makna substansi dari agama terungkap hanya melalui partisipasi secara intensif. Cornelius Tiele menekankan kepada para ilmuwan untuk melakukan penelitian dengan mengedepankan objektivitas tanpa menjadi skeptis.Posisi Insider-Outsider dalam Studi Agama Kim Knott menyatakan. sebagai objek studi. 5 Shiddiqi.

sebagaimana dinyatakan oleh Arkoun. guna menjaga jarak sehingga mampu berpikir kritis objektif dalam menjelaskan agama dari luar. yakni tenasitas. belief. Boullata. yang berupa tatanan sosial yang dipegang secara absolut. Salah satunya adalah scientific method6. h. Ketiga. doubt mempertanyakan tentang apa yang selama ini dianggap menjadi mainstream pemikiran dan pengejawantahan. 1992). tradisi yang turun temurun dan telah mengkristal menjadi kebiasaan dalam pelbagai aspek kehidupan. Jika dalam wilayah keilmuan biasa para ilmuwan masih bisa membuat distingsi antara pure science yang bersifat inklusif terbuka dan applied science yang bersifat eksklusif tertutup lewat telaah filsafat keilmuan kontemporer. (New York: Macmillan Publishing Co Inc. namun ia menegaskan bahwa yang dicari adalah meaning (nilai) bukan truth (kebenaran). habit of mind. bahwa wilayah perbincangan keagamaan yang semula bersifat profan. Sedangkan saintis tidak boleh masuk ke dalam pengalaman dan fenomena keagamaan. h. edited by Issa J. Inquiry (penelitian). apriori dan investigasi. (i) otonomi pengalaman religius. Maka. (ii) reduksionisme. yang merupakan teori pemaknaan pragmatis namun operatif.7 Memang.seorang peneliti. sebagai landasan aplikasi kajian. yang dicontohkan oleh 6 Suatu pandangan bahwa kita tidak dapat mengasumsikan secara umum bahwa manusia dapat masuk dalam kategori pengalaman keberagamaan yang sakral. unsur sakralitas (taqdis al-afkar al-diniyyah) yang termuat dalam agama menambah rumitnya persoalan. Contemporary Analytic Philosophy. otoritas. untuk memperoleh keyakinan . Dalam hal ini. 24 8 Milton K. menjadi disakralkan. Dan.Tak sebatas itu. 7 Josef Van Ess. The Logical Structure of Islamic Theology. dan dipadu oleh tatanan kekuatan moral. dalam An Anthology of Islamic Studies. 403 5 . sering didapati. Charles S. Berbeda dengan Knott. Keempat. (Canada: McGill Indonesia IAIN Development Project.8 Kelima. Munitz. dalam wilayah keilmuan agama.menurut Pierce . Pierce mengajukan konstruksi pemikiran sebagai basis studi agama: Pertama. sungguh terasa kesulitan untuk membuat titik pemisah antara keduanya. yang terkait dengan pendekatan fenomenologi. dua pendekatan yang agak berbeda untuk mempelajari agama telah muncul di Barat dalam beberapa dekade terakhir. 1976). Kedua. Russell McCutcheon mencoba memberi penguatan guna mengkategorisasikan tanggapan insider ke outsider dalam tiga dimensi. the logic of theory. harus melakukan empat tahapan pertimbangan guna mengurai doubt menjadi potensi positif argumentatif. Bercampurnya antara “agama” dan “sosio historis kultural” atau antara yang sakral dan yang profan tidak mudah lagi dibedakan.

pengalaman mistik yang mungkin sepenuhnya diuraikan dengan bahasa. sebagaimana dikutip dari Charles J.komunitas akademisi yang mengambil suatu sikap ilmiah. “Islamic Religious Tradition” dalam Leonard Binder (Ed. Pendekatan yang ditawarkannya ini. h. Secara umum pendekatan ini hanya 9 Brian Morris. Cet. Pada perkembangannya. bahwa dengan membongkar sisi empirik dari agama itu. simbol dan pengalaman empiris dapat dipahami dan ditransformasikan kepada pihak lain. dan kepercayaan merupakan pernyataan formal yang membuat dunia agama yang bersifat pribadi tersebut dapat disampaikan kepada orang lain. Antropologi Agama.) The Study of The Middle East: Research and Scholarship in the Humanities and the Social Science. diperlukan pendekatan fenomenologi. (iii) netralitas dan metode agnostisisme. Gagasan. usaha yang ditempuh dengan pendekatan sosial ialah memahami agama secara objektif dan signifikansinya dalam kehidupan masyarakat.. 1976). Inc. Tujuan dari pendekatan ini guna menemukan aspek empirik keberagamaan berdasarkan keyakinan. yakni metode untuk memahami agama seseorang dalam mengkaji pilihan dan komitmen mereka secara netral sebagai persiapan untuk melakukan rekonstruksi pengalaman orang lain. menyiratkan pergeseran dari ranah teologi ke filsafat. konstruksi skema taksonomik untuk mengklasifikasikan fenomena dihadapkan dengan batas-batas budaya dan pengalaman keagamaan. reduksionisme diaplikasikan dalam studi agama. 271 10 Adams. (Canada: John Wiley and Sonc. Pengalaman religius sebagian besar ada dalam bentuk kognitif eksploratif. Dan itu menurut Knott. I. 8 6 . Charles J. 2003). Sedangkan reduksionisme merupakan aliran yang memandang bahwa sistem kompleks di alam ini dapat direduksi menjadi sistem-sistem yang lebih sederhana atau malahan menjadi sistem paling fundamental. akan membawa seseorang kepada agama yang lebih sesuai dengan realitasnya. seperti yang diadopsi oleh Ninian Smart yang mengandalkan ikon outsider dengan mengidentifikasi kebenaran dari perspektif orang lain. h. konsep.9 Bahkan. Kritik Teori-teori Agama Kontemporer (terjemahan Imam Khoiri). Ide ini pertama kali diperkenalkan oleh Descartes di awal abad ke 17 dan telah menjadi bagian integral dari prinsip pengembangan sains selama hampir empat abad. (Yogyakarya: Ak Group.10 Selain itu. ketika banyak yang mengasumsikan bahwa reduksionisme sebagai upaya ‘simplifikasi’ atau lebih tepatnya membuka diri dari keragaman agama dengan empati dan simpati. Dalam wilayah studi agama. Adams.

Polarisasi Emik dan Etik Emik dan etik adalah istilah yang digunakan oleh antropolog yang menggeluti ilmu sosial guna merujuk pada dua pola perilaku manusia. Sedangkan Harris lebih memberi aksentuasi pada perilaku manusia. 29. Ia menyatakan. Goodenough lebih tertarik untuk memahami makna budaya spesifik dari aspek praksis dan keyakinan tertentu. Pike dan Harris. The Insider-Outsider Problem in the Study of Religion. p. Sedangkan. yang pada gilirannya berasal dari bahasa Yunani. McCutchceon. 7 . Emik dan etik berasal dari istilah linguistik fonemik dan fonetik.. 12 Russell T. mengurai dua persoalan mendasar antara perspektif emik yang muncul dari kajian kepribadian seseorang dari insider. 11 Kenneth L. Secara khusus. Pike. Emik merupakan deskripsi tentang perilaku atau keyakinan. Pike. compare – in a word redescribe – that information in terms of a system of their own making. First Edition. Karen Mc Carthy Brown lebih senang menggunakan istilah “the other” untuk penyebutan ‘outsider’. Pike. First Edition. “The etic perspective is the observer’s subsequent attempt to take the descriptive information they have already gathered and to organize. Kenneth L. yaitu sebuah ikon etik yang merupakan wujud dari 'budaya luar'. Pike mengusulkan dikotomi emik-etik dalam antropologi sebagai cara mengurai seputar isu-isu filosofis tentang objektivitas. 17. istilah ini digunakan dalam antropologi budaya untuk merujuk pada jenis lapangan yang dilakukan dan sudut pandang yang diperoleh. McCutchceon. The Insider-Outsider Problem in the Study of Religion. 1999).menangkap sisi pengalaman keagamaan dan kesamaan reaksi keberagamaan manusia. tanpa memperhatikan dimensi ruang dan waktu dan perbedaan budaya masyarakat. sedangkan perspektif etik muncul dari outsider. Hampir semua hal dari suatu budaya dapat memberikan emik.. Sedangkan etik adalah gambaran tentang perilaku atau kepercayaan pengamat.. (London: Cassel.”12 Istilah ini juga dipopulerkan oleh antropolog Ward Goodenough dan Marvin Harris dengan konotasi yang sedikit berbeda dari yang digunakan oleh Pike. Etic and Emic Standpoints for the Descpription of Behavior dalam Russell T. systematize. 1999). Istilah emik-etik ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1954 oleh ahli bahasa Kenneth L. (London: Cassel.11 yang berpendapat bahwa alat yang dikembangkan untuk menggambarkan perilaku linguistik dapat disesuaikan dengan uraian tentang perilaku sosial manusia. p. dalam istilah yang dapat diterapkan pada kebudayaan lain.

emik mengacu pada pandangan warga masyarakat yang dikaji.berpendapat bahwa budaya insider-outsider sama-sama mampu memposisikan emik dan etik dalam budaya mereka. Pengujian atas analisis emik adalah kemampuannya untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan yang dapat diterima oleh objek yang diteliti secara riil. suatu kejadian. Pada sisi lain. Konstruksi emik adalah deskripsi dan analisis yang dilakukan dalam konteks skema dan kategori konseptual yang dianggap bermakna bagi partisipan dalam suatu kejadian atau situasi yang dideskripsikan dan dianalisis. Robert Lawless membahas istilah emik dan etik dalam kerangka model folk dan model analisis. Deskripsi harus bermakna sesuai dengan komunitas 13 Brian Morris.13 Emik dan etik tidak ada kaitannya dengan ontologi. Persoalan tersebut termasuk dunia empiris semata-mata sebagai kejadian dan entitas praksis. hubungan dan fakta. h. Namun demikian. Suatu deskripsi. kerja etik mencapai tingkat tertinggi. analisis. manakala mengangkat pelbagai kategori dan konsep yang digunakan dengan mengacu pada landasan objektivitas. eksplanasi. h. secara umum beberapa peneliti menggunakan "etik" untuk merujuk pada tataran objektif atau luar. Pada kenyataannya. Sementara model analisis adalah representasi profesional. dari dalam komunitas keberagamaan. atau klaim tertentu terhadap pengetahuan dikategorikan sebagai emik atau etik harus didasarkan pada dasar-dasar epistemologis. Model folk adalah representasi stereotipikal. Agama dalam Kehidupan Manusia. bermakna. konstruksi etik merupakan deskripsi dan analisis yang dilakukan untuk konteks skema dan kategori konseptual yang dianggap bermakna oleh pihak luar sebagai komunitas ilmiah yang kritis. Marvin Haris membedakan terma emik dan etik atas dasar epistemologi. Bandingkan dengan Bustanuddin Agus. sedangkan etik mengacu pada pandangan si peneliti. situasi. Secara singkat. Pengantar Antropologi Agama (Jakarta: Rajawali Grafindo Persada. I. 78. 2003) Cet. 2006). Maka. eksplanatoris. dan komprehensif dari realitas yang diakui oleh komunitas ilmiah. Kritik Teori-teori Agama Kontemporer (Yogyakarta: AKGroup. yaitu kerja emik mencapai tingkat tertinggi tatkala mengangkat informan yang diteliti dan analisis pengamat. dan "emik" untuk merujuk pada tataran subjektif. 91 8 . dan tidak kritis dari realitas yang dimiliki bersama oleh komunitas suatu kebudayaan. normatif. deskripsi dan eksplanasi antropologi dinamakan etik jika memenuhi hal-hal sebagai berikut: 1. Antropologi Agama. dan aktual. Sedangkan. Dalam perspektif ini. tidak pernah terkait dengan emik maupun etik.

14 Menurut kedua sosiolog tersebut. partisipan sebagai peneliti dan peneliti murni. 2. Sebagai seorang sosiolog feminis muslim. terutama gagasannya ketika menulis An Historical and Theological Enquiry (1991) tentang perempuan dalam Islam. Meski terkadang memunculkan sikap kritis. 4.luas pengamat ilmiah. dengan mengeksplorasi khazanah keislaman untuk memahami hak-hak perempuan. Fatima Mernissi sebagai gambaran sosok partisipan murni. 2005). Deskripsi harus dapat diterapkan dalam tataran lintas budaya. tetapi sebagai salah satu penulis muslim yang bermaksud mendeskripsikan esensi ajaran Islam. Knott membagi konsepsi peran pengembangan interkoneksi sosial keagamaan dalam empat elemen. partisipan. dalam The Routledge Companion to the Study of Religion. a. Mernissi sendiri mengutip sebuah kasus di mana ia dikecam oleh editor jurnal Islam. mereka diplot dalam sebuah kontinum sebagai berikut: jika dibuat diagram untuk menggambarkan peran mereka yang terlibat dalam penelitian keagamaan. Edited by John R. maka akan dapat dilihat sejumlah hasil yang mungkin timbul. Dia tentu bukan pemimpin Islam ataupun seorang teolog yang mempunyai otoritas. Partisipan Murni Knott mengemukakan contoh. Mernissi yang dikenal sebagai pegiat feminisme yang banyak mengkritisi sejumlah hadis misoginis. mementingkan eksplanasi yang valid dan dapat dipercaya dalam upaya merealisasikan etik. Deskripsi harus divalidasi oleh pengamat secara independen 3. h. Hinnells (London: Routledge Taylor and Fancis Group. di salah satu sisinya ia terlibat dalam kegiatan keagamaan sebagai partisipan dan di sisi lainnya ia mampu berinteraksi dengan penganut agama lain. peneliti sebagai partisipan. Perspektif Baru Dengan mengutip pendapat Junker dan Emmas. dengan landasan perspektif insider dan outsider. Insider/Outsider Perspectives. 176 9 . ia menulis: “Sebagai wanita muslimah kita harus mampu memasuki dunia modern dengan bangga dan kepala tegak. Memang. namun tak jarang masih terkooptasi oleh posisi insidernya. ia hampir tidak punya pilihan yang jelas. Kim. guna 14 Knott. Dalam kata pengantar bukunya. sebagian antropolog. Deskripsi harus memenuhi persyaratan berupa aturan-aturan dalam memperoleh pengetahuan dan bukti ilmiah. di antaranya adalah kutub berlawanan yang diikuti oleh dua posisi di pertengahan. sebagai pendusta dan sosok yang tidak merepresentasikan tradisi Islam.

Mereka mengadopsi peran insider. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. b. apa yang mereka lakukan adalah menunggu tanda-tanda dari kegiatan kelompok keberagamaan. sentralitas konsep jilbab untuk memahami kebudayaan Islam yang eksklusif dan meyoroti posisi wanita dalam kungkungan tradisi domestik. meski dinilai oleh banyak kalangan sebagai sosok yang kurang kritis. Women and Islam: An Historical and Theological Inquiry. dan hak asasi manusia. kita harus mampu menepikan nilai-nilai Barat. Banyak sosiolog dan psikolog yang menggunakan pendekatan kuantitatif. (Oxford: Blackwell.16 Festinger memutuskan bahwa pendekatan semacam itu tidak dapat digunakan untuk mengkaji perilaku keberagamaan seseorang. Dengan demikian. khususnya. Dan untuk berpartisipasi penuh dalam urusan politik dan sosial. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. Mernissi jelas menyadari adanya kritik Barat yang dominan. 10 . dan mengambil yang benar-benar dari tradisi Islam. demokrasi. objektivitas. misalnya. dengan mengembangkan dan mengelola sebuah kuisioner. netralitas. maka yang dimunculkan adalah prinsip-prinsip kunci penelitian ilmiah sosial. Pada kenyataannya. untuk observasi sebagai pencari realitas tak langsung. sehingga akan didapat hasil yang lebih akurat. 2004). Walaupun bukunya tidak diarahkan secara eksplisit untuk komunitas non-Muslim. Pada saat mereka melakukan studi agama. mereka menyadari adanya kebutuhan untuk memenuhi kondisi sosial. Atho’ Mudzhar. 1987). khususnya ketika tidak mampu tampil sebagai subjek anggota kelompok dengan menggunakan alat ukur yang standar. di mana bahasa ilmu sosial digunakan untuk menjelaskan aspek psikologis dan perilaku keyakinan agama. h. dan cenderung melihat Islam sebagai tidak demokratis dan menindas perempuan. Alih-alih menggunakan parameter pendekatan studi agama atau sosiologi. Perspektif Partisipan sebagai Peneliti Dari tataran emik yang berlandaskan konsep pengalaman dekat menuju tataran etik. dan kemudian mengamati perilaku komunitasnya dari dalam. ia hanya menggunakan pengalaman pribadi dengan bahasa Islam.mengembalikan harkat. iii M. meskipun mereka menemukan diri mereka berangkat dari 'ortodoksi’ ilmu sosial dalam beberapa hal. dan mutual konsultasi untuk membuktikan kebenaran hasil dari generalisasi mereka. 15 16 Fatima Mernissi.”15 Mernissi adalah prototipe sebuah emik.

Dan tidak mau berpura-pura sebagai penganut salah satu sekte. terbukti betapa sulitnya bagi peneliti untuk tidak terlibat dan tidak memihak ketika melakukan penelitian pada subjek agama apapun. menjadi dua sisi yang integral dalam perspektif sehingga menjadi netral. terkena penyelidikan secara rinci). ia harus mengidentifikasi. Dapat dikatakan. membaur dan masuk menjadi penganut Moonies. semisal persoalan yang bersifat rahasia. dalam arti tidak mudah terkooptasi untuk mendukung kepentingan tertentu yang bersifat empiris pragmatis. justru mempertajam distingsi antara pengamat outsider (dalam kontrol. Hal ini. Perspektif Peneliti sebagai Partisipan Sejak awal. Eileen Barker menolak melakukan penelitian tentang gereja Unifikasi baik secara praktis maupun etis. Senada dengan Smart. ed Russell T. c. h. Ia membedakan antara private religious subjectivity of individual (keberagamaan individu yang subjektif) dengan outward impartiality as a scholar of religion (peneliti kajian agama yang netral).dan dilanjutkan oleh Barker ini mendominasi studi agama pada era 1970-an dan 1980-an. van der Leeuw dan Ninian Smart. Smart menggunakan metode agnostisisme. menyelidiki). stigmatisasi. Menurutnya. dalam The Insider/Outsider Problem in the Study of Religion: a Reader. sangat terlihat. meski masih rancu dan cenderung debatable dalam Elements of the Science of Religion (1897). karena peran peneliti dan tuntutan penelitian yang diperlukan untuk mengkompromikan posisi mereka sebagai outsider demikian kuat. kasus ini gagal untuk melakukan penelitian secara berimbang dan objektif. Bahkan. Cornelius Tiele memberikan polarisasi.17 Metode tersebut diidentifikasi oleh Smart . tak terlihat. dan insider sebagai objek yang diamati (pasif. Netralitas yang diinginkan. ia memiliki banyak kesamaan dengan pendekatan empati yang sering dipakai oleh peneliti fenomenologi agama sebelumnya semacam Kristensen. anasir detektif peneliti. An Anthropological Approach to the Study of Religion. Meski. disebabkan dia bukan seorang Moonie (non sektarian). McCutcheon. Dan untuk kontekstualisasi ilmu-ilmu sosial. yang mengisyaratkan perlunya netralitas dan keluar dari truth claim dalam penelitian agama. akan menaikkan suhu pembeda dan isu superioritas dalam penelitian ilmiah dan presentasi komunitas suatu agama. Menurutnya. cara tersebut untuk mendekatkan adanya gap dikotomi antara insider-outsider. 64 11 .Penggunaan beberapa istilah internal. dalam menyelidiki Moonies. 17 Raymond Firth.

Dan itu bisa dibaca dalam otobiografinya. namun justifikasi dari keduanya yang masih memicu kontroversi. dalam The Routledge Companion to the Study of Religion. ia tetap berambisi untuk terlibat dalam lernen . sehingga ia sulit untuk keluar dari tarikan kooptasi kedua sisi tersebut. Dia menyarankan bahwa proses observasi . Adalah seorang Samuel Hielman yang merasa tidak dapat mengatasi jarak. bahwa ia telah berulang kali berusaha menutup batas antara dua dunia tersebut dan menemukan cara untuk membuat dirinya utuh dan terbebas dari religious split personality. Ia meneliti keberagamaan masyarakatnya di dalam sinagog.orang lain dan diri sendiri – mampu membuat pemisahan. seakan ia telah menjustifikasi bahwa insider cenderung melihat persoalan keberagamaan secara subjektif.18 Pengalaman keberagamaan Heilman memang subjektif. yang tercermin dalam penggunaan pengalamannya baik yang dekat maupun jauh. Ia juga berulang kali mencoba mengurai adanya perbatasan. sedangkan peneliti outsider memandangnya secara objektif impartial. yang harus terelaborasi dan terintegrasi dalam satu entitas yang sama. ia menggunakan istilah-istilah seperti tradisi. Berulang kali. h. melampaui deskripsi pengalaman partisipan yang menggambarkan perannya sebagai sosiolog modernis Yahudi Ortodoks. hambatan. d. Heilman menegaskan. bagaimana seorang peneliti yang mencoba membedakan antara proses kompartementalisasi dan elaborasi nilai. The Gate Behind the Wall. Perspektif Peneliti Murni Knott memberi ilustrasi. tidak dapat melarikan diri dari penghalang biografi. sekat-sekat primordial yang menjadi persoalan krusial dalam dirinya. dari pada istilah dari Yahudi Ortodoks. Namun. Ibid. Namun. Dari posisinya sebagai peneliti ini ia menggunakan metode spasial 18 Knott.sebagai instrumen mendasar untuk studi agama menuju pada hasil yang objektif. tetapi dia juga sering menggunakan bahasa studi agama dan ilmu-ilmu sosial guna menggeser perspektifnya. 179 12 .istilah Yiddish untuk praktik Ortodoks Yahudi yang menafsirkan teks suci. Ia juga tidak dapat menghindar untuk menggunakan istilah Ibrani. Meski dua tipologi itu memberi penegasan karakter. Dalam buku tersebut. budaya. Kim. liturgi dan teks suci. ia menggambarkan kondisi dirinya sebagai seorang yang menghadapi ambiguitas dalam keberagamaan.

namun mengurai persoalan krusial ini berdasarkan pada klausa kasuistik. Thinking differently about religion and history. Mandair sendiri tidak sekadar mendeskripsikan. secara raison d'être banyak kiat dan pelbagai upaya untuk merekonstruksi arah religious studies. serta implikasi epistemologis dan metodologis tentang studi agama. Agus M. Heilman menulis tentang ketegangan yang belum terselesaikan antara dua dunianya baik sebagai seorang Yahudi dan kapasitasnya sebagai sosiolog peneliti. (Yogyakarta: Kanisius. memang ilmuwan menyoroti persoalan subjektivitas dan objektivitas. 47-48 21 Mandair. Mandair lebih menikmati studi agama tentang bentuk penemuan diri. objektivitas. apakah beriman atau tidak. sakral dan profan. Baik Collins dan Mandair. Hardjana.20 Menurutnya. dengan sedikit penekanan yang berbeda. in Chistopher Shackle. Culture and Ethnicity. Sedangkan Pearson menegaskan bahwa. Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan.19 Collins juga menekankan. (Curzon: Ritzmon. ternyata masih belum mampu 19 Robert W. harus disikapi secara reflektif rasional. Pendekatan fenomenologis misalnya.dengan memasuki wilayah tradisi keagamaan esoteris. 2001). 1994). Pandangan ini serupa dengan yang diungkapkan oleh Mandair. 64 13 . Sedangkan adanya dikotomi antara insider-outsider merupakan konsekuensi yang tidak kondusif untuk berpikir progresif. Crapps. Mereka mencoba mengkomparasikan antara iman dan dunia. Collins menawarkan wacana modernis dengan meninggalkan pandangan dikotomis insider-outsider untuk meraih hasil yang lebih dinamis. Ibid. keduanya mengundang kita untuk menggunakan pendekatan negosiatif. Arvind Pal Singh. antara teologi dan studi agama. Itu sebabnya. h.21 Memang. faith dan tradition atau antara transendentally oriented dan historical aspect. kedua posisi tersebut. apapun kesulitannya. seorang peneliti perlu mengusung jargon netralitas. terj. memberikan kontribusi pada pembangunan kemitraan secara sama. mengapa ia sering menggunakan istilah-istilah non Yahudi. Pada umumnya. perspektif emik dan etik. Sikh Religion. di mana setiap orang adalah partisipan aktif dalam merumuskan narasi tentang agama. imparsialitas. 43 20 Mandair. bahwa perbedaan antara insider-outsider menjadi tidak relevan ketika kita mengakui bahwa semua orang yang berpartisipasi. Dalam penjelasannya. dan reduksionisme. h. h. baik insider maupun outsider dalam melakukan kajian ilmiah selalu mengartikulasikan posisi mereka dalam istilah-istilah tersebut.

223 – 225. jika dikomparasi tolok ukur standpoint masing-masing unsur di atas. namun dari keduanya masih dimungkinkan untuk dicari titik temu meski kecil. 6. Apakah hal ini menunjukkan adanya perspektif baru bahwa masalah insider dan outsider. baik sebagai insider maupun outsider. Konsep yang ditawarkan oleh Kim Knott adalah dengan pendekatan rapprochment22. 2006). (Philadelpiha: University of Pennsylvania Press. tidak ada tuntutan untuk meleburkan diri dalam dua pribadi yang berbeda. rapprochment identik dengan al-taqrib baina al-adyan. sehingga perlu ditindaklanjuti melalui pendekatan alternatif filosofis kritis terhadap realitas keberagamaan yang berpijak pada aspek historis kultural secara menyeluruh. Dalam konteks studi agama.menemukan hakikat keberagamaan manusia yang sesungguhnya. Hermeneutics and Praxis. hlm. Dalam pendekatan tersebut. Beyond Objectivism and Relativism: Sicience. (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Suka. merupakan elemen penting dalam menyikapi keberagamaan saat ini guna memahami teori dan metode studi agama kontemporer?. 14 . Bandingkan dengan Dudung Abdurahmanm dalam Sosial Humaniora dan Sains dalam Studi Keislaman. sebuah metode yang bisa kita lihat dalam hubungan skema triadik berikut: Subjektif (Firstness) Objektif (Secondness) Pendekatan rapprochment merupakan Inter-Subjektif (Thirdness) upaya solutif intersubjektif guna memposisikan peneliti pada margin of appreciation sebagai tapal batas (border line) antara insider-outsider. SUBJECTIVE -The Word of faith OBJECTIVE -The word of scholarship INTER-SUBJECTIVE -The word of rapprochement 22 Richard J. Menuju Objektivitas Metodologi Studi Agama Persoalan yang sangat krusial dan dilematis dalam studi agama. 1988). h. Dan. Bernstein. adalah bagaimana seorang peneliti mampu menjaga objektivitas dan netralitas dalam melakukan kajian agama. dapat dijabarkan dalam bagan berikut ini.

dan dipenuhi oleh pelbagai motif dan kepentingan. Meski demikian. Bahkan. dalam Approaches to Islam in Religious Studies edited by Richard C. Ia. apalagi sebagai hubungan subordinat. yang diadopsi dari Richard J. dalam membaca 23 Muhammad Abdul Rauf. Spirit yang ingin dimunculkan dalam konteks studi agama.Dialogis of ideas -Fideist/Theistic -Emic/insider -Objective Rationality -Etic/outsider -Circulair -Reflexity Tawaran Knott. Bernstein di atas menawarkan alternatif pendekatan dalam studi agama. h. Sebagaimana dapat disimak dalam pandangan Muhammad Abdul Rauf. dapat dipertanggungjawabkan.-Belief -Impartialitas (Clarification . kajian outsider berkaitan erat dengan pengalaman Barat dan sarjana Muslim sendiri dalam menafsirkan dan memahami Islam. dan memiliki validitas ilmiah dilihat dari optik insider?. Insider adalah para pengkaji Islam dari kalangan muslim. Outsiders’ Interpretation of Islam. namun termasuk insider yang melakukan kontrol sosial atau otokritik terhadap agamanya (ijtihadi-naqdi). adalah adanya titik temu dan bukan pembauran apalagi peleburan antar ajaran agama. ia menolak hasil kajian outsider. Martin. Yang menjadi persoalan adalah apakah para pengkaji Islam dari outsider benar-benar objektif. tetap saja menyisakan persoalan pelik dalam mengurai jelaga objektivitas. Jika mereka mengkaji Islam atas dorongan kepentingan kolonial guna melestarikan hegemoni politik dan ekonomi atas daerah taklukannya. Itu sebabnya Rauf menegaskan. (Oxford: Oneworld Publications. 2001). sebagai konsekuensi adanya keimanan. dan bukan merupakan eksistensi yang berdiri sendiri.23 Dalam konteks Islam. Bahkan. bahwa cara pandang subjektif sering membawa seseorang untuk memilih cara beragama dengan truth-claim. ia menegaskan. 185 15 . bahwa studi Islam dalam optik outsider sering bias. Sementara outsider adalah sebutan untuk para pengkaji non-Muslim yang mempelajari Islam dan menafsirkannya dalam pelbagai analisis dan pembacaan dengan metodologi tertentu. bahwa terma outsider tak hanya sebatas orang luar. Dalam aspek inter-subjektif itulah Knott menyebut rapprochment sebagai instrumen dialogis akomodatif. ia mengingatkan. Rauf mencoba untuk mengelaborasi batasan outsider dalam bingkai metodologi kritisisme objektif. menempatkan ketiga unsur di atas sebagai tautan reflektif sirkuler yang saling mengisi.

Perdekatan Terhadap Islam dalam Studi Agama. persoalan krusial dalam studi agama secara objektif adalah kuatnya keyakinan truth claim. Mereka memahami agama-agama dalam orbit kultur yang sangat beragam." Ungkapan yang simpatik dari outsider. membuat distingsi antara pure sciences dan applied sciences. Dengan cara berfikir kritis. meski belum sepenuhnya dapat diterapkan.karya para outsider tentang Islam harus dilakukan dengan kritis dan penuh hati-hati. saling berhubungan satu sama lain yang sulit dipilah. terjemahan Zakiyuddin Baidhowy. Apalagi bila yang dikaji adalah teks-teks suci yang untuk dapat memahaminnya diperlukan keyakinan. yang tidak terpisahkan dari kajian dan objek penelitian. kajian Islam dari para outsider memberi kontribusi gagasan-gagasan besar ilmiah yang memicu gerakan intelektual dalam peradaban Islam. Sama tidak mudahnya. Lahirnya daya kritis Islam terkadang lahir berkat kajian-kajian para outsider. [] Wallahu a’lam 24 Muhammad Abdul Rauf. 2010). dalam Richard C. sembari mengusulkan pelbagai pemecahan yang harus segera dilakukan. Sehingga. intelektual Muslim mengetahui problem yang sedang dihadapi. karena hal ini tidak dimiliki oleh para outsider. "No statement about a religion is valid unless it can be acknowledged by that religion’s believers. Sejatinya. (Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga Press. Martin. 198 16 ." Merujuk pada studi pribadinya. Smith. only as far as Muslims can say “amin” to it. Demikian juga tawaran pendekatan yang digagas oleh Kim Knott. Smith juga menegaskan. meski tetap perlu untuk dikritisi.24 Penutup Banyak ilmuwan yang menawarkan komparasi antara subjektivitas dan objektivitas dalam studi agama. "Anything that I say about Islam as a living faith is valid. h. Hal ini disebabkan adanya overlap antara eksklusif ta’abbudi dan inklusif ta’aqquli. atau antara etis esoteris dan praktis eksoterik. Konsepsi Barat tentang "objektivitas" dalam studi agama digambarkan oleh Wilfred C. Polarisasi yang digagas oleh Kenneth Pike yang mengusulkan dikotomi emik-etik dalam antropologi sebagai cara mengurai seputar isu-isu filosofis tentang objektivitas studi agama lebih konkret.

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pertama Bagus. 2002). M. (Yogyakarta: Kanisius. terj. 2003). Lorens. dkk (Ed. I Adams. M. Cet. 2005) ------------. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Kamus Filsafat. Syamsul.Daftar Rujukan: Abdullah. 2004). Robert W. Perdekatan Terhadap Islam dalam Studi Agama. Amin. Cet. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (Jakarta: Gramedia. Josef Van. Rekonstruksi Metodologi IlmuIlmu Keislaman. Edited by John R. 1992) Knott. Charles J. I Mudzhar. Richard J. (Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga. Kim. Insider/Outsider Perspectives. (Malang. (Philadelpiha: University of Pennsylvania Press. Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan. (Canada: John Wiley and Sonc. Brian. “Relevansi Studi Agama-Agama dalam Milenium Ketiga” dalam Amin Abdullah dkk. Richard C. 2005). Bernstein. Studi Agama. The Location of Religion. 2000). Beyond Objectivism and Relativism: Sicience. Dudung (ed). Agus M. First Edition Martin. dalam The Routledge Companion to the Study of Religion. 2006). 2000). The Logical Structure of Islamic Theology. ________. dalam An Anthology of Islamic Studies. Boullata. Inc. 2009). Cet. (Yogyakarta:UIN Sunan Kalijaga Press. Hinnells (London: Routledge Taylor and Fancis Group. “Islamic Religious Tradition” dalam Leonard Binder (Ed. Ess. (Canada: McGill Indonesia IAIN Development Project. Agus. Antropologi Agama. a Spatial Analysis. Morris. Sosial-Humaniora dan Sains dalam Studi Keislaman. Perspektif Sosiologis dan Isu-isu Kontemporer.) The Study of The Middle East: Research and Scholarship in the Humanities and the Social Science. 1976). ________. Hermeneutics and Praxis.. edited by Issa J. (Yogyakarta: SUKA-Press. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. (Yogyakarya: Ak Group. Hardjana.. 1994). 2003). (UK London: Equinox Publishing. Atho’.). 1988) Crapps.. UMM Press. 2006) Arifin. Pengantar Antropologi Agama (Jakarta: Rajawali Grafindo Persada. Mencari Islam (Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan). Bustanuddin Agama dalam Kehidupan Manusia. “Rekonstruksi Metodologi Agama dalam Masyarakat Multikultural dan Multireligius” dalam Ahmad Baidowi. 17 . Abdurahman. 2010). Kritik Teori-teori Agama Kontemporer (terjemahan Imam Khoiri). terjemahan Zakiyuddin Baidhowy..

“Penelitian Agama di Indonesia” dalam Mulyanto Sumardi. O’ Collins. Farrugia. Khoiruddin. (New York: Macmillan Publishing Co Inc. (Jakarta: Sinar Harapan. Edited by John R. Contemporary Analytic Philosophy. Munitz. “Sejarah: Pisau Bedah Ilmu Keislaman” dalam Taufik Abdullah (Ed. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Tafsir Baru Studi Islam dalam Era Multikultural. “Pendekatan Sosiologi dalam Studi Hukum Islam” dalam Amin Abdullah dkkk. Kamus Teologi. (Yogyakarta: Kanisius. Mencari Islam: Studi Islam dengan Berbagai Pendekatan. 1976) Nasution. 1991). Metodologi Penelitian Sosial-Agama. Imam dan Tobroni. (Yogyakarta: Tiara Wacana. Migration. An Anthropological Approach to the Study of Religion. Mukti Ali. 2001). Metodologi Penelitian Agama: Sebuah Pengantar. Gerald dan Edward G. 1982). Raymond Firth. Penelitian Agama: Masalah dan Pemikiran. Milton K. 2000). ed Russell T. Diaspora and Transnationalism: Transformations of Religion and Culture in a Globalising Age dalam The Routledge Companion to the Study of Religion. Shiddiqi.. (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga. 2001). McLoughlin.------------. “Pembidangan Ilmu dalam Studi Islam dan Kemungkinan Pendekatannya” dalam Amin Abdullah dkk. 2002). McCutcheon Suprayogo. Hinnells (London: Routledge Taylor and Fancis Group. 2005) 18 . (Bandung: Rosdakarya. Nourouzzaman.). Sean. dalam The Insider/Outsider Problem in the Study of Religion: a Reader.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful