Anda di halaman 1dari 79

[HOTD] kiamat

Assalamu'alaikum wr.wb.

Hadith of the Day:

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya


pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan
waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan
di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba." Mereka bertanya
kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan
tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. Al-A'raaf, 7 : 187)

Hadist riwayat Anas bin Malik ra.:


Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah saw.: Kapankah kiamat itu tiba?
Rasulullah saw. bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu
menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw. bersabda: Kamu akan bersama orang
yang kamu cintai.

Links:
[kiamat sudah dekat ?]
http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg02074.html
[tanda-tanda haRi kiamat]
http://widuri98.tblog.com/post/388639
[tanda-tanda kiamat kecil]
http://ms.wikipedia.org/wiki/Tanda-tanda_kiamat_kecil
[amanah seORang muslim]
http://www.al-azim.com/masjid/khutbah18.html
[misi kenabian dalam lembaRan Hadis]
http://www.rahima.or.id/SR/18-06/Dirasah.htm
[ORang yang bangkRut di akhiRat]
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=6
[t a u b a t]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1805&bagian=0
[kiamat sudah dekat]
http://www.amanah.or.id/detail.php?id=1070
[tuRunnya dajjal dan imam mahdi]
http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/5927
[kezaliman adalah kegelapan dihaRi kiamat]
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=40
[masa semakin singkat]
http://www.muslimdiary.com/readarticle.php?article_id=786
[Rumah-Rumah di suRga]
http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=32
[paRa nabi mempeRingatkan kaumnya akan dajjal, padahal dajjal itu tidak keluaR
kecuali di akhir zaman]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=626&bagian=0
[tanda-tanda dOOm day....]
http://www.muslimdiary.com/readarticle.php?article_id=8
[tanda-tanda kiamat kubRa]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=573&bagian=0
[budak wanita melahiRkan tuannya]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1371&bagian=0
[banyak gempa bumi dan banyaknya kematian mendadak]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1260&bagian=0
[banyaknya kemusyRikan di kalangan umat islam]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1238&bagian=0
[mengucapkan salam hanya kepada yang dikenal saja]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1141&bagian=0
[beRlOmba-lOmba dalam mendiRikan bangunan]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=930&bagian=0
[mempeRindah masjid dan beRmegah-megahan dengannya]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=795&bagian=0
[minuman keRas meRajalela dan dianggap halal]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=754&bagian=0
[meRajalelanya peRbuatan keji, pemutusan silatuRahmi, dan buRuknya hubungan
beRtetangga]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=716&bagian=0
[meRajalelanya bunyi-bunyian [musik] seRta dianggap halal]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=676&bagian=0
[Riba meRajalela]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=646&bagian=0
[peRzinaan meRajalela]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=612&bagian=0
[ilmu dihilangkan dan kebOdOhan meRajalela]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=554&bagian=0
[lenyapnya amanat]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=528&bagian=0
[banyak pembunuhan]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1438&bagian=0
[banyak peRdagangan]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1529&bagian=0
[lenyapnya ORang-ORang shalih]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1743&bagian=0
[ORang-ORang hina dibeRi kedudukan teRhORmat]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1879&bagian=0

***************************
untuk lihat kiriman lengkap HOTD, kunjungi http://oRiDo.wordpress.com

wassalam

-oRiDo-
perbanyakamalmenujusurga

http://www.mail-archive.com/jamaah@arroyyan.com/msg02074.html

Kiamat Sudah Dekat

dahlia putri
Fri, 02 Dec 2005 15:48:42 -0800

KIAMAT SUDAH DEKAT ?

Sejak zaman Nabi Muhammad saw masih hidup, Al-Qur’an mengatakan bahwa kiamat
sudah dekat dan akan terjadi sewaktu-waktu. Namun, kini sudah berjalan hampir 1500 tahun,
kiamat belum juga terjadi. Apakah kita keliru dalam memahami makna informasi tersebut ?
Kita sebagai orang Islam, pasti tidak akan meragukan sedikitpun kebenaran Al Qur'an
sebagai firman Allah. Dan berbagai cara pendekatan dalam memahami Al Qur'an juga
menunjukkan bahwa tidak ada kekeliruan sedikitpun di dalam informasi Al Qur'an. Jadi
kesimpulannya, agaknya kita harus cermat dalam menginterpretasikan informasi dari kitab suci
kita itu.

Di dalam Al Qur’an banyak sekali informasi tentang kejadian kiamat. Termasuk waktu
terjadinya. Untuk itu, kita sebaiknya tidak membuat penafsiran secara sepotong-sepotong.
Yang baik adalah kita kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, lantas kita pahami secara
komprehensif. Di antaranya adalah beberapa ayat di bawah ini, yang bisa kita
kelompokkan kedalam 3 bagian, yaitu tentang ‘Kepastian Terjadinya Kiamat’, ‘Terjadi secara
Rahasia dan Tiba-Tiba’. Serta ‘Waktunya Sudah Dekat’

QS. Al Mu’min (40) : 59


“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi
kebanyakan manusia tiada beriman (mempercayainya).”

QS. Thaahaa (20) : 15


“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan agar supaya setiap diri dibalas
dengan apa yang telah dia usahakan.”

QS. Al Hijr (15) : 85


“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan
dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, . . .”

QS. Muhammad (47): 18


“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya
kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda tandanya...”

QS. An Najm (53) : 57 - 58


“Telah dekat terjadinya kiamat. Tidak ada yang menyatakan terjadinya hari itu kecuali Allah.”

QS. An Nahl (16): 77


“Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah
kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

QS. Al A’raaf (7): 187


“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah:
"Sesungguhnya pengetahuanku tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun
yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya
bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan
dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya.
Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui”

Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang kiamat yang bisa kita jumpai di dalam Al-
Qur'an. Dari beberapa ayat tersebut marilah kita diskusikan beberapa pemahaman berikut ini.

Kiamat Pasti Datang

Secara ilmiah maupun informasi Al-Qur'an kita mendapatkan kepastian bahwa Kiamat
memang bakal terjadi. Tidak ada peluang untuk tidak mempercayai tentang terjadinya Kiamat.
Akan tetapi, kita tentu harus paham dulu tentang definisi Kiamat. Secara umum., Kiamat
adalah kehancuran dunia kita.
Dalam konteks ilmiah, dunia kita akan mengalami kiamat dua. kali : yaitu kehancuran
planet Bumi dan kehancuran Alam Semesta. Ternyata , agama kita pun mengenal dua macam
kiamat, yaitu Kiamat Sughra (Kiamat Kecil) dan Kiamat Kubra (Kiamat Besar). Maka, kedua
pemahaman itu sebenarnya sudah berjalan seiring. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa
kiamat kecil adalah hancurnya Bumi. Sedangkan Kiamat besar adalah hancurnya alam semesta.

Secara ilmiah, Bumi kita memang diperkirakan akan mengalami kehancurannya.


Setidak-tidaknya ada 2 mekanisme yang bisa menyebabkan hancurnya Bumi. Yang pertama.
adalah padamnya Matahari dan yang kedua adalah terjadinya tabrakan antara Bumi dengan
batu-batu angkasa. Secara ilmiah hal tersebut bisa diperhitungkan dan bisa dijelaskan.

Akan tetapi secara umum, Bumi ini memang dipastikan bakal mengalami kehancuran
secara alamiah. Maka jika Bumi mengalami kehancuran yang dahsyat, seluruh kehidupan di
permukaannya pun akan ikut punah.

Demikian pula, secara Qur'ani. Allah berkali-kali mengatakan bahwa kiamat pasti akan
datang. Tidak perlu ada keraguan tentang datangnya kiamat itu. Bumi akan mengalami
kehancuran yang sangat dahsyat dan fatal. Allah masih merahasiakan peristiwa itu, tetapi pasti
ia datang!

Rahasia dan Tiba Tiba

Meskipun Allah mengatakan bahwa kiamat bakal terjadi, tetapi menurut Allah
terjadinya secara tiba tiba. Sehingga, Dia katakan bahwa kiamat itu menjadi rahasia Allah. Di
ayat berbeda Allah menyampaikan bahwa pengetahuan tentang kiamat adalah di sisi Allah.

Tetapi, kalau kita cermati, kalimat itu bukan berarti Allah tidak memberikan
pengetahuan tentang Kiamat kepada manusia. Di QS. Al A'raaf : 187 Allah mengatakan bahwa
'kebanyakan' manusia memang tidak mengetahui. Berarti, sebenarnya ada 'sedikit' manusia yang
diberitahu oleh Allah tentang informasi kiamat tersebut. Di antaranya para rasul. Hal itu
difirmankan Allah di dalam Al Qur'an.
QS. Zukhruf (43) : 61
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberitahukan pengetahuan tentang hari Kiamat.
Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang Kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang
lurus.”

Maka, dari berbagai ayat tersebut kita mendapatkan pemahaman bahwa pengetahuan
tentang Kiamat itu memang berasal dari Allah saja. Tidak ada seorang pun yang tahu secara
persis, kecuali orang-orang yang dekat denganNya. Akan tetapi, secara umum Allah berkenan
menunjukkan tanda-tandanya kepada umat manusia.

Dan secara ilmiah, manusia lantas menangkap 'tanda-tanda' itu untuk diformulasikan
sebagai pengetahuan empirik tentang kiamat. Maka, manusia boleh saja melakukan
rekonstruksi terhadap peristiwa kiamat itu. Tetapi, semua kebenarannya tetap, berada di
Genggaman Allah semata.

Kiamat Sudah Dekat

Dari sekian banyak firmanNya, Allah memberikan tanda-tanda kepada kita bahwa
Kiamat itu sebenarnya sudah dekat. Akan tetapi, sebagaimana saya kemukakan di depan,
bahwa sejak zaman Nabi Muhammad saw. ternyata kiamat itu belum juga terjadi. Maka,
agaknya kita perlu melakukan rekonstruksi terhadap berita-berita Al Qur'an itu, dengan
berdasarkan pada tanda-tanda yang diberikan Allah kepada kita lewat berbagai ayatNya. Baik
yang ada di alam semesta maupun yang berada di dalam Al Qur'an. Untuk itu sebelumnya saya
merasa perlu untuk mengajak pembaca memahami tentang, ‘Waktu’.

artikel kedua :

Saat sebelum Kiamat

Saat adalah suatu hari sebelum datang Hari Kiamat. Hari itu amat berat baik di langit mahupun
di bumi. Menurut Nabi Muhammad, baginda tidak tahu bila ia akan datang. Hanya Allah yang
mengetahui, sabdanya lagi. Hadis tersebut terdapat di dalam ayat Allah bermaksud:

"Mereka menanyai kamu (Muhammad) mengenai Saat, bilakah ia melabuhkan.


Katakanlah, 'Pengetahuannya adalah hanya di sisi Pemeliharaku. Tiada yang akan
mendedahkannya pada waktunya yang benar, melainkan Dia. Amatlah berat ia di langit dan di
bumi; ia tidak akan datang kepada kamu melainkan dengan tiba-tiba.' Mereka menanyai kamu
seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, 'Pengetahuannya adalah hanya di
sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'" (7:187)

Maka tiada seorang pun yang mengetahui dengan pasti bila Saat datang. Yang pasti
hanyalah "Saat pasti datang, tidak ada keraguan padanya, tetapi kebanyakan manusia tidak
mempercayai." (40:59).

Kebanyakan manusia dikatakan tidak mempercayainya. Bagi mereka, Allah


mengingatkan, "Kami menyediakan bagi orang yang mendustakan Saat dengan yang Menyala
(api neraka)" (25:11). Dan mereka yang ragu-ragu (membantah) mengenai Saat pula,
dikategorikan-Nya dalam kumpulan "sesat yang jauh" (42:18).

Namun, terdapat juga beberapa orang sarjana yang telah meramalkan ketibaan Saat.
Antara mereka yang berani berbuat demikian adalah atas ayat-ayat berikut, yang mereka
dakwa membuka pintu kepada percubaan untuk mengetahui kedatangannya melalui kiraan
saintifik. Ayat-ayat tersebut berbunyi,

"Saat pasti datang; Aku hampir-hampir merahsiakannya, supaya tiap-tiap jiwa dibalas
dengan usahanya." (20:15)

"Apakah mereka menanti-nanti melainkan Saat, bahawa ia akan datang kepada mereka
dengan tiba-tiba? Sesungguhnya isyarat-isyaratnya telah datang; maka, apabila ia datang
kepada mereka, bagaimanakah bagi mereka Peringatan (al-Qur'an) mereka?" (47:18)

Apapun, dapatan mereka hanyalah teori sahaja. Yang penting ialah kita masih hidup
dan sempat lagi menyediakan bekalan untuk menghadapinya, iaitu dengan mentaati ajaran
Allah di dalam al-Qur'an.

Sebenarnya Saat sudah dekat. Tandanya adalah bulan terpecah, bukan terbelah. Apa
yang dimaksudkan Allah dengan "terpecah" hanya boleh diduga sahaja, dan manusia menunggu
maksudnya yang sebenar. Firman-Nya:

"Saat sudah dekat; bulan terpecah." (54:1)

Selanjutnya, Allah menjelaskan bahawa pada hari berlaku Saat bumi akan bertukar
kepada selain daripada bumi dan langit yang sedia ada. Firman-Nya:
"Pada hari bumi ditukar kepada selain daripada bumi dan langit," (14:48).

Saat adalah suatu hal yang besar. Apabila ia sampai dengan kegoncangan, tiap-tiap ibu
yang menyusui melupakan apa yang dia menyusukan, dan tiap-tiap yang mengandung
menggugurkan kandungannya, dan manusia kelihatan mabuk, padahal mereka tidak mabuk.
Demikian diceritakan di dalam ayat-ayat berikut:

"Wahai manusia, takutilah Pemelihara kamu! Sesungguhnya kegoncangan Saat adalah


satu hal yang besar. Pada hari apabila kamu melihatnya, tiap-tiap ibu yang menyusui
melupakan apa yang dia menyusukan, dan tiap-tiap yang mengandung menggugurkan
kandungannya, dan kamu melihat manusia mabuk, padahal mereka tidak mabuk, tetapi azab
Allah adalah keras." (22:1-2)

Banyak lagi kejadian dahsyat berlaku pada hari itu. Kesemuanya dijelaskan di dalam
al-Qur'an. Antara ayat-ayat tersebut adalah seperti yang disusun di bawah ini, menurut
kronologi, dan tidak perlu dijelaskan lagi kerana berada dalam keadaan cukup jelas. Pun
begitu, orang-orang yang berpengetahuan, misalan dalam ilmu sains, mungkin dapat
menjelaskan sesetengah ayat dengan lebih lanjut. Ayat-ayat yang dimaksudkan adalah:

"Dan pada hari Kami memperjalankan gunung-gunung, dan kamu melihat bumi menjadi
rata," (18:47).

"Pada hari apabila Kami menggulung langit seperti naskhah gulungan yang digulung
untuk kitab-kitab," (21:104).

"Pada hari langit berpecah belah dengan awan-awan," (25:25).

"Pada hari apabila bumi berpecah belah dari atas mereka sambil mereka bercepat-
cepat," (50:44).

"Pada hari langit bergoncang, bergoncang-goncang, Dan apabila gunung-gunung


berjalan, berjalan-jalan," (52:9-10).

"Apabila bumi digoyangkan, kegoyangan, Dan gunung-gunung dihancurkan, kehancuran,


Dan menjadi debu yang bertaburan," (56:4-6).

"Pada hari apabila langit menjadi seperti leburan tembaga merah, Dan gunung-gunung
menjadi seperti bulu berjumbai," (70:8-9).

"Pada hari apabila bumi dan gunung-gunung bergentar, dan gunung-gunung menjadi
timbunan pasir yang tercurah." (73:14)

"Maka, jika kamu tidak percaya, bagaimanakah kamu akan bertakwa (menjaga diri)
daripada satu hari yang membuatkan kanak-kanak beruban? Kerananya langit terbelah," (73:17-
18).

"Kerana apabila trompet dibunyikan, Hari itu hari yang besar," (74:8-9).

"Dan langit dibuka, dan menjadi pintu-pintu, Dan gunung-gunung diperjalankan, dan
menjadi fatamorgana." (78:19-20).

"Pada hari apabila letupan bergentar," (79:6).


"Dan apabila Letupan datang, Pada hari seorang lelaki lari daripada saudara lelakinya,
Dan ibunya, dan bapanya, Dan isterinya, dan anak-anaknya, Setiap lelaki, pada hari itu, ada hal
yang mencukupi baginya." (80:33-37)

"Apabila matahari digelapkan, Apabila bintang-bintang dijatuhkan, Apabila gunung-


gunung diperjalankan, Apabila unta-unta bunting ditinggalkan, Apabila haiwan-haiwan buas
dikumpulkan, Apabila laut-laut dijadikan mendidih," (81:1-6).

"Apabila langit terbelah, Apabila bintang-bintang ditaburkan, Apabila laut-laut


melimpah-limpah, Apabila kubur-kubur dibongkar," (82:1-4).

"Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang keras, Dan bumi mengeluarkan
beban-bebannya," (99:1-2), dan,

"Tahukah kamu apakah ia yang mengetukkan? Pada hari manusia seperti rama-rama
bertebaran, Dan gunung-gunung seperti bulu (kambing) berjambak yang ditarik." (101:3-5)

Begitu dahsyat kehancuran yang berlaku pada hari Saat datang. Ia dikatakan hari
apabila orang-orang yang mengerjakan yang palsu akan rugi, dan "sangat celaka, dan pahit"
bagi mereka yang berdosa. Firman-Nya,

"pada hari apabila Saat datang, pada hari itu, orang-orang yang mengerjakan yang
palsu akan rugi." (45:27)

"Tidak, tetapi Saat adalah janji temu mereka (yang berdosa), dan Saat sangat celaka,
dan pahit" (54:46).

Setelah kejadian-kejadian ngeri yang berlaku pada hari yang besar itu maka datanglah
Pemelihara kita untuk hadir pada satu lagi hari yang telah dijanjikan-Nya, tetapi lebih besar.
Dua ayat di bawah menceritakan tentang kedatangan-Nya:

"Maka, apabila trompet ditiupkan dengan sekali tiupan, Dan bumi dan gunung-gunung
diangkat, dan dihancurkan dengan satu pukulan, Kemudian, pada hari itu, Peristiwa Besar
terjadi, Dan langit terpecah, kerana pada hari itu ia menjadi lemah, Dan malaikat-malaikat
berdiri di sempadannya, dan pada hari itu, lapan membawa di atas mereka Arasy Pemelihara
kamu." (69:13-17)

"Apabila bumi dihancurkan, sehancur-hancurnya, Dan Pemelihara kamu datang, dan


malaikat-malaikat, barisan atas barisan, Pada hari itu, Jahanam didatangkan; pada hari itu,
manusia mengingati; dan bagaimanakah Peringatan (al-Qur'an) baginya?" (89:21-23)

Sekali lagi kita diingatkan tentang al-Qur'an sebagai bekalan untuk menempuh hari
"apabila bumi dihancurkan, sehancur-hancurnya, dan Pemelihara kamu datang." Hari itu adalah
hari kebangkitan manusia, atau Hari Kiamat.

http://widuri98.tblog.com/post/388639

TANDA-TANDA HARI KIAMAT


Hari kiamat sekali pun saat tibanya tidak dapat diketahui oleh siapa pun, kecuali Allah Yang
Maha Esa, tetapi Allah Taala juga membuat berbagai tanda atau alamat yang menunjukkan
bahwa saat kejadiannya sudah dekat. Dalam hal ini Allah Taala berfirman, “Tidak ada yang
mereka nantikan selain dari saat yang datang dengan tiba-tiba (Kiamat) kepada mereka.
Sesungguhnya tanda-tandanya telah datang. Tetapi apakah arti kesadaran mereka itu, jika saat
yang dinanti-nantikan telah tiba.” (Q.S. Muhammad:18)

Adapun tanda-tanda tibanya hari kiamat ada dua macam yakni:

Tanda-tanda kecil (alamat sughra).

Tanda-tanda besar (alamat kubra).

TANDA-TANDA KECIL (SHUGHRA)

Tanda-tanda kecil yang menunjukkan dekatnya hari kiamat dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Diutusnya Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah. Dengan diutusnya beliau, maka
berakhirlah nubuwah dan risalah yakni bahwa sesudah beliau tidak ada lagi nabi atau rasul yang
diutus oleh Allah swt. Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Saya diutus (oleh Allah)
dan jaraknya dengan hari kiamat sebagai dua jari ini.” (Beliau bersabda demikian sambil
menunjukkan dua jarinya yakni jari telunjuk dan jari tengah). (H.R. . Bukhari Muslim dan
Tirmizi).

Tujuan dari perumpamaan ini ialah bahwa dalam jarak waktu antara diutusnya Nabi Muhammad
saw. dengan tibanya hari kiamat sudah tidak ada lagi nabi yang lain. Jadi antara kedua
peristiwa itu amat berdekatan sekali, yang satu menyusul yang lain. Jelaslah bahwa diutusnya
Nabi Muhammad saw. adalah tanda sudah dekatnya hari kiamat tersebut. Namun demikian hal
ini tidak memberi ketetapan tentang dapat diketahuinya dengan tepat waktu terjadinya hari
kiamat itu, sebab hanya Allah swt. saja yang mengetahuinya.

2. Jika yang menjadi raja-raja, menteri-menteri, amir-amir dan kepala-kepala adalah anak-
anak dari wanita-wanita tawanan atau golongan rendah, bukan dari anak-anak keturunan yang
mulia, baik pendidikan, keluhuran akhlak serta kesempurnaan kepribadian. Sebagaimana juga
keadaan kaum badui atau para penggembala kambing telah menjadi golongan hartawan,
berlimpah ruah kenikmatan duniawinya, menghuni gedung-gedung indah dan tinggi dan menjadi
pemimpin umat di masyarakatnya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. pada suatu hari sedang ada di kalangan orang banyak,
lalu didatangi oleh Jibril a.s., lalu berkata, “Ya Rasulullah! Bilakah tibanya hari kiamat?” Beliau
menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih mengerti daripada yang bertanya.” Tetapi saya hendak
memberitahukan padamu tentang alamat-alamatnya yaitu apabila hamba sahaya wanita
melahirkan tuannya, itulah di antara tanda-tandanya. Juga apabila orang-orang tak beralas
kaki, serta telanjang dan penggembala kambing telah menjadi pemimpin umat, itulah di antara
tanda-tandanya. Demikian pula apabila para penggembala kambing sudah bermegah-megahan
dalam gedung-gedung yang menjulang tinggi, termasuk dari tanda-tandanya.” (H.R. . Ibnu Abu
Syaibah).

Dalam hadis lain diriwayatkan bahwa Jibril a.s., bertanya kepada Rasulullah saw. perihal
tibanya hari kiamat, lalu beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui daripada
yang bertanya.” Penanya berkata lagi, “Beritahukanlah pada saya tanda-tandanya.” Beliau
menjawab, “Apabila sahaya wanita melahirkan tuannya dan apabila engkau melihat orang-
orang yang tidak beralas kaki, telanjang lagi miskin dan penggembala kambing bermegah-
megahan dalam gedung besar.” (H.R. Bukhari dan Muslim dari Umar r.a.)

Selain dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan sekumpulan tanda-
tanda kecil ini, berjumlah sebelas macam. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Nabi saw.
bersabda, “Tidak akan tiba hari kiamat sehingga ada dua golongan besar saling bunuh-
membunuh, antara keduanya terjadi peperangan besar sedang dakwahnya adalah satu. Juga
tidak akan tiba hari kiamat sehingga banyak kaum dajal, tukang berdusta yang jumlahnya
hampir tiga puluh orang semuanya mengaku bahwa dirinya adalah utusan Allah. Tidak akan tiba
pula hari kiamat sehingga ilmu pengetahuan dilenyapkan. Demikian pula sehingga banyak
keguncangan (gempa bumi). Zaman berdekatan sekali. Banyak timbul fitnah. Banyak
pembunuhan. Banyak pula harta sampai melimpah ruah, sehingga orang yang memiliki harta
sukar sekali mencari orang yang suka menerima sedekahnya sampai ia menawarkan hartanya,
tetapi orang yang ditawari berkata, ‘Saya tidak membutuhkan harta lagi’. Orang-orang sama
bermegah-megahan dalam gedung-pencakar langit. Seseorang melalui makam orang lain lalu
berkata, ‘Sayang, alangkah baiknya kalau aku yang menempati kubur ini’. Matahari terbit dari
tempat terbenamnya. Jika ini telah terjadi dan orang-orang banyak sudah mengetahuinya,
maka mereka pun beriman semua. Dalam keadaan yang demikian tidak bermanfaat lagi
keimanan seseorang yang dahulu tidak pernah beriman atau tidak berbuat baik dalam
keimanannya. Niscaya hari kiamat tiba, di saat dua orang sedang menggelar baju untuk
diperjualbelikan, keduanya tidak sempat lagi berjual beli dan melipatnya. Hari kiamat tiba,
sedang orang baru kembali membawa air susu perahan untanya, tetapi tidak sempat
meminumnya. Hari kiamat tiba, sedang seorang baru memperbaiki kolamnya, tetapi belum lagi
sempat diisi airnya. Hari kiamat tiba, sedang orang baru mengangkat makanan ke mulutnya
tetapi belum sempat memakannya.”

TANDA-TANDA BESAR (KUBRA)

Tanda-tanda besar yakni sudah menunjukkan amat dekatnya hari kiamat, dapat disimpulkan
sebagai berikut:

a. Terbitnya matahari dari arah barat.

b. Keluarnya semacam binatang.

Di waktu sudah sangat dekatnya hari kiamat, akan terjadi suatu perubahan yang besar sekali
dalam susunan tata surya, sehingga tampak pula berbagai peristiwa yang tidak biasa terjadi di
pandangan umat manusia. Pada saat itu matahari terbit dari arah barat, berbeda dengan apa
yang biasa kita saksikan sehari-hari yakni terbit dari arah timur. Di samping itu akan keluar
semacam binatang dari bumi yang dapat berbicara dengan orang banyak. Dari Abdullah bin Amr
bin Ash bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya tanda pertama yang keluar (yang
menunjukkan sangat dekatnya waktu hari kiamat) ialah terbitnya matahari dari arah barat dan
keluarnya sejenis binatang di hadapan orang banyak di siang hari. Bila di antara kedua tanda ini
sudah keluar lebih dulu, yang lain akan menyusul dalam waktu yang dekat sekali sesudah
terjadinya yang pertama.” (H.R. Muslim dan Abu Daud).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan tiba hari
kiamat sebelum matahari keluar dari arah barat. Jika matahari telah terbit, maka seluruh
manusia beriman. Beriman di saat tidak ada gunanya bagi diri mereka yang tadinya belum
pernah beriman, juga bagi mereka yang tadinya belum pernah berbuat baik selama dia
beriman.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Abu Daud).
Maksud keimanan yang tidak bermanfaat itu ialah untuk seorang kafir yang memang belum
pernah beriman sebelum terjadinya peristiwa itu. Juga tidak bermanfaat melakukan tobat dari
kemaksiatan untuk orang mukmin yang sebelum peristiwa tidak pernah berbuat kebaikan untuk
menunjukkan keimanannya. Mengenai keluarnya binatang, Allah Taala berfirman, “Dan apabila
perkataan telah jatuh atas mereka, maka Kami (Allah) mengeluarkan binatang melata dari
bumi yang memberitahukan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin
kepada ayat-ayat Kami.” (Q.S. An-Naml:82)

Jelaslah bahwa dalam ayat di atas ada suatu pemberitahuan tentang keluarnya semacam
binatang yang dapat bercakap-cakap dengan orang banyak yakni di saat hendak tibanya hari
yang ditentukan oleh Allah Taala, sebagai suatu permulaan dari berbagai permulaan yang
menunjukkan sangat dekatnya hari kiamat. Di saat itu, keimanan seseorang sudah tidak
bermanfaat lagi bagi seseorang yang sebelum kejadian ini tidak pernah mengikrarkan keimanan
dalam kalbunya, atau sekali pun sudah beriman, tetapi tidak pernah berbuat baik sebagai bukti
keimanannya. Tetapi tidaklah perlu kita membahas keanehan-keanehan di balik peristiwa ini,
misalnya saja sifat binatang yang akan keluar itu. Ini perlu dikemukakan, sebab ada yang
mengatakan bahwa panjang binatang enam puluh hasta dengan ukuran hasta Nabi Adam a.s.,
bahkan ada yanmengatakan wajahnya seperti wajah manusia sedang kepalanya seperti kepala
lembu, matanya seperti mata babi, telinganya seperti telinga gajah. Ia tidak dapat ditemui
oleh siapa pun yang sengaja ingin mencarinya, tetapi tidak dapat dihindari oleh seseorang yang
sengaja ingin lari daripadanya. Dikatakan pula bahwa ia membawa tongkat Musa a.s. dan
mengenakan cincin Sulaiman a.s.

Semua berita mengenai sifat-sifat binatang yang tersebut di atas, sama sekali tidak benar,
sebab tidak ada keterangan dalam Alquran atau pun dalam hadis Rasulullah saw.

Imam Razi berkata, “Ketahuilah bahwa hal-hal seperti itu tidak ada petunjuknya sama sekali
dalam kitab Alquran. Sekali pun demikian, andaikata ada hadis yang sahih dari Rasulullah saw.
tentu dapat diterima, jika tidak ada, tentu tidak perlu dihiraukan.” Perihal keluarnya binatang
itu termasuk hal gaib yang hanya diketahui oleh Allah Taala sendiri. Oleh sebab itu kita wajib
berhenti membicarakannya sampai pada batas yang sudah diberitakan oleh Alquran serta hadis
yang sahih, karena persoalan binatang itu tidak ada keterangan agama melainkan bahwa
binatang nanti akan keluar lalu memberitahukan kepada manusia sebagaimana yang tersebut
dalam firman Allah Taala di atas dan bahwa adalah salah satu dari sekian banyak tanda yang
menunjukkan hari kiamat telah sangat dekat.

Dalam surah An-Naml yang menceritakan tentang binatang itu, Allah swt. juga menyebutkan:

a. Bahwa Nabi Musa a.s melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat bergerak seolah-olah
seekor ular.

b. Bahwa Nabi Sulaiman a.s. mengerti bahasa burung.

c. Bahwa Nabi Sulaiman a.s. juga mendengar percakapan semut yang sedang menyuruh
bangsanya agar masuk ke tempat kediaman, sebab takut terinjak oleh Nabi Sulaiman a.s. serta
bala tentaranya sedang mereka tidak merasa. Dijelaskan pula bahwa beliau lalu tertawa
mendengar ucapan semut tersebut.

d. Diterangkan pula dalam surah An-Naml, bahwa ada seekor burung Hudhud berbicara kepada
Nabi Sulaiman a.s. dan memberitahukan perihal keadaan negeri Saba, sebagaimana yang
difirmankan oleh Allah yakni apa yang dikatakan burung tersebut demikian, “Saya dapati (di
Saba) seorang wanita (ratu) yang memerintah mereka dan ia memiliki segala sesuatu serta
sebuah singgasana yang besar. Saya dapati ratu dan seluruh kaumnya bersujud (menyembah)
matahari selain dari Allah. Setan menghiaskan (menampakkan yang baik-baik) pada mereka
akan pekerjaan-pekerjaan mereka (yang buruk) dan menghalangi mereka dari jalan (yang
benar). Maka mereka tidak memperoleh petunjuk yang baik. Karenanya mereka tidak bersujud
(menyembah) Allah yang mengeluarkan apa-apa yang tersembunyi di langit dan bumi.” (Q.S.
An-Naml:23-25)

Jadi tentang binatang yang akan keluar dari bumi, sebagai tanda sangat dekatnya waktu hari
kiamat itu, yang akan berbicara dengan manusia, cara bicaranya adalah sebagaimana halnya
burung hudhud di atas.

3. Almahdi

Secara ringkas uraian mengenai Imam Almahdi adalah sebagai berikut:

a. Beliau akan muncul di akhir zaman.


b. Namanya Muhammad bin Abdullah atau Ahmad bin Abdullah. Ini menurut hadis riwayat
Abu Daud dan Tirmizi.
c. Beliau termasuk ahli bait (keturunan) Rasulullah saw. yakni anak cucu dari Fatimah
putri beliau. Ini tercantum dalam hadis riwayat Abu Daud dan Hakim.
d. Beliau serupa benar akhlak dan budi pekertinya dengan Rasulullah saw., tetapi tidak
menyerupai dalam bentuk roman muka dan lain-lain. Ini diriwayatkan oleh Abu Daud
dari ucapan Imam Ali r.a.
e. Dahi beliau lebar dan hidungnya mancung sekali. Maksudnya rambutnya terbuka dari
kepala bagian muka. Adapun hidungnya panjang, lengkung tengahnya dan kecil
ujungnya.
f. Beliau akan meratakan ke seluruh permukaan bumi sifat keadilan dan kejujuran dalam
memerintah, sedangkan sebelumnya yang terjadi penuh penganiayaan dan kelaliman.
g. Beliau akan menegakkan syariat Islam. Segala sesuatu yang sudah terpendam dari sunah
Rasulullah saw. akan dihidupkan lagi.
h. Agama Islam akan tinggi kalimatnya di zaman beliau, sehingga beliau sempat
menetapkan serta mengokohkan Islam di bumi. Demikianlah menurut riwayat Abu Daud.
i. Kedudukan beliau kuat dan mantap, kelapangan dalam kehidupan merata di zaman
pimpinannya, sebab memang penuh keadilan. Bahkan banyak pula harta yang
diberikan. Beliau menyebarkan harta secara merata ke seluruh rakyat, tanpa dihitung-
hitung menurut riwayat Muslim.
j. Beliau akan menetap di bumi lebih dari tujuh tahun. Ini tersebut dalam hadis riwayat
Abu Daud.
k. Setelah itu datanglah Dajal, kemudian turunlah Nabi Isa a.s. dan selanjutnya beliau
bekerjasama dengan Almahdi untuk membunuh Dajal itu. Kemudian Almahdi wafat dan
disalatkan oleh kaum Muslimin.

Demikianlah secara ringkas riwayat yang ada sangkut-pautnya dengan Almahdi. Pokoknya
riwayat-riwayat tidak ada yang menyimpang dari persoalan pemberitaan bahwa nanti akan
muncul seseorang dari golongan pembawa perbaikan dunia yang datang di akhir zaman, ia akan
menegakkan bendera keadilan dan dengan usahanya kalimatullah akan menjadi tinggi. Islam
pun tegak dengan kokoh dan ini akan merupakan permulaan dari kebaikan yang umum serta
merata yang akan terjadi sesudahnya, sebagaimana halnya Yohanna (Yahya) sebelum lahirnya
Nabi Isa a.s.

Sementara itu keluar pula Dajal Yahudi sebagai tontonan dari munculnya fitnah-fitnah yang
terbesar. Tujuannya ialah melawan gerakan Islam serta berdaya upaya membuat fitnah umat
manusia dalam urusan agama mereka dengan menggunakan ilmu pengetahuan, kepandaian dan
kekuatan. Tetapi Allah Taala pasti akan menghancurkan tipu daya Dajal tersebut dengan jalan
menunjukkan ayat-ayat yang lebih besar lagi dari fitnah yang dilancarkannya. Ayat yang
dimaksudkan ialah dengan turunnya Nabi Isa a.s. untuk mengokohkan kebenaran yang
dianjurkan oleh Imam Almahdi pada waktu itu. Dengan demikian lalu timbullah kerjasama
antara Nabi Isa a.s. dan Imam Almahdi, sedang di belakang kedua pemimpin ini berdiri
pemimpin-pemimpin Islam lain yang berusaha keras untuk membunuh Dajal serta melumpuhkan
ajakannya. Demikian peristiwa yang akan terjadi pada saat itu.

Kemudian setelah Dajal terbunuh, hancur lebur pulalah kaum Yahudi yang berjuang bersama
Dajal tadi. Jumlah mereka ada tujuh puluh ribu orang. Ini menurut hadis riwayat Muslim.
Selanjutnya Allah akan menyingkap semua urusan yang berkenaan dengan golongan kaum
Yahudi ini, sehingga tidak seorang Yahudi pun yang dapat bersembunyi di balik sesuatu benda,
melainkan benda ini akan ditakdirkan oleh Allah Taala dapat berbicara dan memberitahukan
siapa yang sedang bersembunyi di belakangnya. Benda akan berkata, “Hai hamba Allah yang
muslim! Ini ada orang Yahudi. Kemari dan bunuhlah ia.” Dengan demikian lalu ditumpaslah
fitnah terbesar yang pernah terjadi di atas permukaan bumi. Setelah itu Nabi Isa a.s. bekerja
keras melenyapkan agama Nasrani yang sudah banyak menumpuk-numpuk berbagai kesalahan
dengan menggunakan nama agama. Agama yang dikokohkan di bumi ketika itu ialah Islam.

Dalam hadis selanjutnya Rasulullah saw. bersabda, “Maka kedudukan Isa dalam umatku (umat
Nabi Muhammad saw.) adalah:

Sebagai pemegang pemerintahan yang adil.

Pemimpin yang jujur.

Menghancurkan palang salib (sebagai tanda hancurnya agama Kristen sebagaimana halnya
hancur leburnya agama Yahudi).

Membunuh babi.

Menghapuskan perpajakan (ini mengandung pengertian bahwa satu-satunya agama yang


diterima oleh umat manusia di saat itu hanya agama Islam. Sebagaimana dimaklumi
bahwa pemerintahan Islam tidak akan mengambil pajak dari pemeluk agama Islam
sendiri).

Sedekah ditinggalkan (tidak ada yang menerima, sebab kekayaan umat manusia sudah
berlebihan di saat itu yakni dalam keadaan cukup dan lapang rezeki).

Tidak lagi diurus kekayaan yang berupa kambing dan unta.

Dendam dan kebencian lenyap sama sekali (antara sesama manusia. Jadi semua hidup
rukun dan bersatu).

Hilangnya racun dan segala sesuatu yang mengandung racun (bisa), sehingga seorang anak
bayi lelaki memasukkan tangannya dalam mulut ular, tetapi tidak membahayakannya
dan seorang anak bayi perempuan mengenyahkan harimau, tetapi tidak menyebabkan
bahaya.

Serigala ada di kandang kambing, tetapi hanya sebagai anjing (yakni melindungi
keselamatan kambing itu. Jadi tidak seperti , serigala memangsa kambing).

Seluruh permukaan bumi penuh kesejahteraan sebagaimana penuhnya suatu bejana dengan
air.
Kalimat menjadi satu (seluruh manusia seia-sekata dengan tulus hati, bukan karena
tekanan atau sebab takut).

Yang disembah hanyalah Allah.

Peperangan sudah tidak ada lagi sebab semua telah berdamai.

Golongan Quraisy dapat memperoleh kerajaannya (kekuatannya kembali).

Bumi adalah sebagai bejana perak dan menumbuhkan tanaman seperti di zaman Adam
(yakni amat elok, bagus dan penuh keberkatan).

Dengan terlaksananya hal-hal yang diuraikan di atas, maka apa yang telah dijanjikan oleh Allah
Taala bahwa agama Islam akan ditampakkan sangat tinggi dan diluhurkan di atas semua agama
yang pernah ada di dunia ini menjadi kenyataan, sesuai dengan firman-Nya dalam Alquran, “Dia
(Allah) yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk
memenangkannya di atas seluruh agama dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Q.S. Al-Fath:28)

Seterusnya akan terjadi kemunduran sesudah itu dan makin hari umat manusia makin menjauh
dari agama, akhirnya mereka semua melakukan kemurtadan dari agama yang benar tadi. Di
saat seluruh umat manusia sudah tidak ingat lagi kepada Tuhan, maka tibalah waktunya hari
kiamat, sedangkan mereka semua dalam kekafiran dan kemurtadan. Maka sudah tentu tidak
ada lain sesudah lengkapnya kemungkaran kecuali kehancuran dan kemusnahan total.

Hal ini jelas difirmankan oleh Allah swt, “Perumpamaan kehidupan dunia ini adalah seperti air
yang Kami (Allah) turunkan dari langit lalu karenanya tanam-tanaman bumi tumbuh, di
antaranya ada yang dimakan oleh manusia dan ternak. Setelah bumi mengenakan pakaian
keemasannya dan menjadi indah permai dan penduduknya mengira bahwa mereka itu akan
menguasainya, lalu datanglah perintah Kami di waktu malam atau siang, kemudian bumi Kami
jadikan sebagai ladang padi yang telah dituai, seolah-olah kemarinnya tidak ada apa-apa.
Demikianlah Kami jelaskan keterangan-keterangan kepada kaum yang suka menggunakan akal
pikirannya.” (Q.S. Yunus:24)

4. Munculnya Al-Masih Dajal.

Di antara tanda-tanda sangat dekatnya hari kiamat yang merupakan alamat kubra ialah
munculnya seseorang manusia yang mengklaim dirinya Dajal. Ia mendapat gelar Masih. Masih
artinya menempuh perjalanan di seluruh bumi dalam waktu yang lama sekali dan juga berarti
kehilangan mata, sebab kenyataannya ia buta sebelah. Dajal mengaku bahwa dirinya adalah
“tuhan”. Ia berusaha mengobar-ngobarkan fitnah di kalangan umat manusia agar meninggalkan
agama mereka yang benar. Jalan yang ditempuhnya ialah menunjukkan peristiwa-peristiwa
yang luar biasa yang dapat diperlihatkannya dan pula banyak sekali keajaiban-keajaiban yang
dipertontonkan oleh kedua tangannya.

Sebagian orang ada yang terpikat, tetapi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya,
pasti akan ditetapkan oleh Allah Taala hatinya, sehingga tidak akan terpikat sama sekali oleh
ajakan yang sesat itu dan tidak akan terpesona oleh keajaiban yang menggiurkan itu.
Ringkasnya kaum mukminin tidak akan dapat tertipu sehingga mengikuti kesesatan-kesesatan
yang dipropagandakan.

Selanjutnya dari hari ke hari akan tersingkap rahasianya bahwa Dajal adalah seorang penipu
agung. Akhirnya fitnah yang dia kobar-kobarkan menjadi padam dan hilang dan ia sendiri
terbunuh di tangan kaum muslimin, sedang pemegang pimpinan umat Islam di saat itu ialah
Nabi Isa a.s. Seluruh rasul Tuhan sama-sama memperingatkan umatnya, jangan sampai terkena
fitnah dan rayuan sesat itu, sebagaimana juga dilakukan oleh penghulu dan penghujung
sekalian rasul Tuhan yakni Nabi Muhammad saw.

Dalam sebuah hadis yang diceritakan oleh Umar r.a. bahwa Rasulullah saw. pada waktu haji
wada' (haji terakhir bagi beliau) meminta kepada umatnya yang hadir di saat itu supaya diam
mendengarkan pidato yang hendak disampaikannya. Beliau setelah memuji dan mengagungkan
kebesaran Allah Taala menyebutkan perihal Dajal. Uraian mengenai ini diperpanjang betul oleh
beliau akhirnya beliau bersabda, “Tidak seorang nabi pun yang diutus oleh Allah melainkan ia
memperingatkan kepada umatnya perihal kedatangan Dajal itu. Dajal akan keluar dari kalangan
kamu semua maka tidak samar lagi bagimu tentang hal-ihwalnya. Tidak samar pula padamu
semua bahwa Tuhanmu tidak buta sebelah. Sesungguhnya Dajal buta mata kanannya, seolah-
olah matanya sebuah biji yang menonjol.” (H.R. . Bukhari dan Muslim)

Syekh Rasyid Rida berkata, “Penilaian yang dapat disaring dari hadis-hadis yang memuat
persoalan mengenai Dajal ini bahwa Nabi saw. telah menyingkap masalah sekedarnya,
digambarkan perihal munculnya Dajal di akhir zaman dan ia dapat menunjukkan hal-hal yang
sangat luar biasa kepada seluruh manusia, juga beberapa keajaiban-keajaiban yang dapat
membuat fitnah orang banyak, sehingga mereka banyak yang terpikat oleh ajakannya dan
terpesona oleh kepandaiannya. Dijelaskan pula oleh beliau bahwa Dajal berasal dari bangsa
Yahudi dan bahwa kaum muslimin memeranginya, bahkan memerangi juga kaum Yahudi yang
membelanya di tanah suci ini. Akhirnya kaum muslimin menang dalam perang melawan kaum
yang sesat dan menyesatkan itu. Semua peristiwa itu diterangkan secara global, tanpa rincian
sama sekali. Selain tidak ada satu pun wahyu dari Allah Taala yang menguraikan hal ini. Jadi
tidak sama halnya dengan berbagai fitnah yang lain-lain yang diterangkan oleh Allah Taala pada
Nabi saw. Oleh sebab itu para ahli riwayat menukil berita-berita menurut pengertiannya dan
oleh karenanya, banyak di antara mereka yang keliru dan salah penafsiran. Malah tidak sedikit
orang-orang yang menghembus-hembuskan cerita-cerita Israiliat dalam meriwayatkannya itu,
lalu digunakan sebagai patokan dalam pemberitaan tersebut. Rasanya hal ini tidak jauh jika
banyak pejabat suatu kerajaan yang berusaha keras mengembangkan paham zionisme dan
tentu saja mereka adalah dari kaum Yahudi juga. Mereka senantiasa memikirkan untuk
mengorbankan fitnah guna tujuan ini yang mereka sertai pula dengan ilmu-ilmu pengetahuan
modern dan teknologi yang baru ditemukan seperti listrik, kimia dan lain-lain. Wallahu a'lam.”

Apa yang telah dikemukakan oleh Syekh Rasyid Rida ini dikuatkan dengan beberapa hadis di
bawah ini.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh belum akan tiba hari kiamat
sebelum kamu semua (kaum muslimin) memerangi kaum Yahudi, sampai-sampai batu yang di
belakangnya ada orang Yahudi bersembunyi berkata, ‘Hai orang Islam! Ini ada orang Yahudi
bunuhlah ia!’.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ini adalah suatu kata kiasan yang memberi pengertian bahwa pada saat itu sudah tidak ada
gunanya lagi bagi kaum Yahudi untuk bersembunyi di mana saja pun tempatnya.

Juga dari Muadz bin Jabal bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Keramaian Baitulmakdis adalah
hancurnya Yatsrib (Madinah) dan hancurnya Yatsrib adalah sebagai tanda timbulnya perang
besar, dan timbulnya perang besar ini adalah berhubungan dengan dibebaskannya kota
Konstantinopel, sedang di saat dibebaskannya kota Konstantinopel inilah Dajal keluar.” (H.R.
Abu Daud). Pembebasan kota Konstantinopel ini tentu bukan pembebasan yang sudah pernah
dilakukan oleh kaum muslimin dahulu sebab disebutkan pula dalam riwayat Tirmizi, bahwa,
“Dibebaskannya Konstantinopel bersamaan dengan tibanya hari kiamat.”

5. Turunnya Nabi Isa a.s.


Dari berbagai hadis yang terhimpun mengenai persoalan di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa Isa a.s. akan turun di akhir zaman di tengah-tengah merajalelanya pengaruh Dajal.
Turunnya Isa a.s. ini adalah merupakan suatu tanda dari berbagai alamat kubra perihal sudah
sangat dekatnya hari kiamat. Isa akan memerintah dengan adil sekali dan menerapkan syariat
Islam. Juga beberapa hukum agama yang banyak ditinggalkan oleh orang banyak lalu
dihidupkan kembali. Selanjutnya Dajal pun dibunuh. Setelah Isa a.s. masih akan menetap di
bumi beberapa saat lamanya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah Taala, lalu beliau
wafat dan disalatkan oleh kaum muslimin terus dimakamkan. Setelah akan terjadi suatu angin
kencang yang dapat mencabut seluruh nyawa kaum mukminin. Dengan demikian yang tertinggal
hanyalah orang-orang yang buruk-buruk kelakuannya. Setelah lenyapnya kesempurntidak ada
lain yang terjadi melainkan kehancuran dan kerusakan semata-mata.

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya,
sudah hampir putra Maryam (Isa Almasih) akan turun di lingkungan kamu sekalian dan menjadi
seorang pemegang pemerintahan yang adil. Ia akan mematahkan palang salib, membunuh babi
dan melenyapkan perpajakan. Saat itu harta melimpah ruah, sehingga tidak seorang pun yang
suka menerimanya, sampai-sampai sekali bersujud menjadi lebih baik daripada dunia dan
seisinya ini.” Abu Hurairah yang meriwayatkan hadis ini, selanjutnya berkata, “Bacalah kalau
mau ayat ini, ‘Dan tidak seorang pun dari orang-orang ahli kitab (Nasrani dan Yahudi)
melainkan pasti percaya kepada Isa sebelum matinya dan pada hari kiamat Isa akan menjadi
saksi bagi mereka itu.’” (Q.S. An-Nisa:159)

Maksudnya ialah kaum ahli kitab di atas akan beriman kepada Isa a.s. sebelum wafatnya beliau,
yakni ketika turun di bumi sebelum tibanya hari kiamat. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ada beberapa hal yang perlu diketahui dari hadis di atas yakni:

a. Pemerintahan di zaman Nabi Isa a.s. nanti ialah dengan menggunakan hukum syariat Islam
dan ini akan dilaksanakan dengan penuh kejujuran dan keadilan.

b. Palang salib semua akan dipatahkan. Ini mengandung pengertian bahwa Isa a.s. sendiri yang
akan membuktikan kedustaan agama Kristen sebagaimana yang kita maklumi peraturan-
peraturannya pada zaman sekarang ini dan sebagai penjelasan bahwa apa yang disangka oleh
pemeluk agama tersebut tentang disalib atau dibunuhnya Isa a.s. adalah dusta semata-mata.
Hal itu dibuat-buat oleh golongan kaum Nasrani sendiri.

c Perpajakan akan dihapuskan sebab baik yang asalnya sudah memeluk agama Islam atau yang
sebelumnya tergolong ahli kitab, semuanya telah masuk agama Islam. Jadi lenyaplah peraturan
pajak, sebab kaum Muslimin tidak dikenakan pajak oleh negara Islam.

d. Sebab kenapa harta melimpah ruah, ialah karena meratanya keadilan di saat itu, sehingga
tidak seorang pun yang hidup dalam kekurangan, kemiskinan dan kesengsaraan.

Ada lagi sebuah hadis yang diceritakan oleh Urwah bin Masud Ats-Tsaqafi r.a., katanya, “Saya
mendengar Abdullah bin Amr berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Dajal akan keluar di
kalangan umatku, kemudian ia menetap selama empat puluh.” Yang meriwayatkan hadis ini
berkata, “Saya tidak mengerti apakah yang dimaksudkan empat puluh hari atau empat puluh
bulan atau empat puluh tahun.” Selanjutnya beliau bersabda, “Selanjutnya Allah mengutus Isa
bin Maryam, Wajahnya mirip seperti wajah Urwah bin Masud. Isa lalu mencari Dajal kemudian
membinasakannya. Setelah manusia menetap seperti biasa selama tujuh tahun. Tidak ada suatu
pertengkaran antara dua orang (yakni seluruh umat manusia hidup dalam kerukunan). Sehabis
itu Allah mengutus angin yang amat dingin dari arah Syam (Palestina). Maka tidak seorang pun
yang tertinggal di permukaan bumi ini yang di dalam hatinya ada kebaikan atau keimanan
seberat timbangan debu pun, melainkan angin itu akan menyambar nyawanya, sehingga sekali
pun seseorang dari kamu semua masuk dalam gua gunung, pasti angin tersebut akan
memasukinya lalu mengambil nyawa kamu. Selanjutnya yang tertinggal hanyalah orang-orang
yang berkelakuan buruk saja yang gemar melakukan kejahatan seringan terbang burung dan
secepat angan-angan binatang buas (maksudnya bahwa mereka amat senang berbuat kejahatan
dan penganiayaan dan melakukannya dengan cepat sekali seperti cepatnya burung terbang,
sedang dalam menganiaya secepat perbuatan binatang buas yang hendak menerkam
mangsanya). Yang tertinggal adalah orang-orang yang tidak mengenal kebaikan apa pun dan
tidak pernah mengingkari akan kemungkaran sama sekali. Setan lalu menjelma di antara
mereka dan berkata, “Sukakah kamu semua menuruti perintahku?” Mereka bertanya, “Apakah
yang engkau perintahkan pada kita semua?” Setan lalu menyuruh mereka supaya menyembah
berhala. Tetapi sekali pun demikian keadaan perilaku mereka itu, namun rezeki mereka tetap
berlimpah-limpah, kehidupan mereka serba kecukupan. Di kala itu, ditiuplah sangkakala yang
pertama lalu matilah seluruh makhluk yang ada. Kemudian Allah menurunkan hujan rintik-rintik
kecil, lalu bangkitlah jasad-jasad manusia yang telah mati itu semuanya. Seterusnya ditiup pula
sangkakala untuk kedua kalinya, tiba-tiba seluruh makhluk berdiri memandang sambil menanti-
nantikan. Setelah kepada mereka dikatakan, “Hai seluruh manusia! Marilah semua pergi
menemui Tuhan.” Kepada malaikat yang menggiring mereka dikatakan, “Suruhlah mereka
berhenti, sebab mereka akan ditanyai dahulu.” Sehabis itu lalu dikatakan, “Keluarkanlah untuk
dikirimkan ke neraka.” Ditanya, “Dari berapa?” Dijawab, “Dari setiap seribu ada sebanyak
sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang.” Rasulullah saw. melanjutkan sabdanya, “Itulah
hari yang dapat membikin anak-anak menjadi tua beruban dan terjadilah bencana yang amat
dahsyat.”

Dalam hadis lain yang diceritakan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
“Termasuk dalam golongan sejahat-jahat manusia ialah orang-orang yang didapati pada waktu
tibanya hari kiamat dan mereka masih hidup.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Tanda-tanda kecil kiamat.

1. Seorang hamba sahaya perempuan dikahwini tuannya.


2. Ilmu agama sudah dianggap tidak penting lagi.
3. Ilmu agama sudah tidak difahami dan tidak dipelajari para manusia.
4. Tersebarnya perzinaan kerana mendapat izin rasmi kerana mendirikan tempat
pelacuran/perzinaan oleh pemerintah.
5. Segala minuman keras seperti arak, diminum secara berleluasa, peminumnya sudah
tidak kenal dosa malah menjadi kebanggaan baginya.
6. Lahirnya para Dajjal (pendusta) yang jumlahnya hampir 30 orang, semuanya mengaku
utusan Allah.
7. Ilmu agama dicabut (ramai alim ulama meninggal dunia).
8. Banyak berlaku gempa bumi.
9. Zaman sudah dekat mendekati.
10. Banyak fitnah memfitnah.
11. Banyak pembunuhan.
12. Banyak harta bagi setiap orang hingga tak tahu membelanjakannya.
13. Ramai orang bermegah dengan projek mega.
14. Banyak gunung digondol dan dihapuskan.
15. Ramai orang bodoh rajin beribadah hingga mudah / senang dirayu iblis.
16. Orang yang ahli membaca Al-Quran tetapi fasik, yakni sembahyang dianggap remeh,
mudah dan ditinggalkan.
17. Banyak mendirikan masjid tapi tidak mengimarahkannya.
18. Banyak turun hujan tetapi sedikit tumbuh-tumbuhan.
19. Banyak orang menjadi pemimpin tetapi tidak boleh dipercayai.
20. Ramai orang solihin meninggal dunia.
21. Anak melawan ibubapa.
22. Hujan di musim kemarau.
23. Orang pendusta dianggap benar,orang jujur dibohongi dan tidak dipercayai lagi.
24. Orang yang jauh menjadi akrab tetapi hubungan keluarga terputus.
25. Setiap desa dikepalai orang munafik.
26. Tempat-tempat pengimaman sama dihias.
27. Lahir ramai anak hasil perzinaan.
28. Banyak minuman keras.
29. Ramai orang memutuskan tali persaudaraan.
30. Menuntut ilmu bukan kerana agamanya tetapi bermaksud utk perolehi pangkat dan
kedudukan.
31. Ramai kaum suami menuruti kehendak isterinya.
32. Para pembesar / penguasa melakukan zina.
33. Kitab suci Al-Quran dihina dan diremehkan.
34. Tujuan hidup untuk keperluan perut bukan agama.
35. Orang alim (ulama) sudah tidak ditaati.
36. Orang alim sudah tidak disenangi.
37. Orang kaya dimuliakan kerana kekayaannya.
38. Banyaknya berlaku penceraian suami dan isteri.
39. Banyak kematian secara mendadak.
40. Ramai lelaki merupai wanita dan wanita merupai lelaki.
41. Al-Quran dibaca untuk diperlagukan.
42. Ulamak memihak kepada pemerintah lalu menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal.
43. Rasuah berleluasa.
44. Ramai orang bermegah meninggikan bangunan rumahnya.
45. Ramai orang menjual-beli hukum.
46. Memandang ringan masalah perceraian.

Berdasarkan hadith riwayat Iman Bukhari, daripada Abu Hurairah.

Berikut tanda tanda kecil kiamat yang menakjubkan (bukan tanda besar), cuman tak tulis tanda
yang unik (tanda tanda yang lain yang udah sering kita dengar semisal legalisasi Zina,
perempuan seperti laki lai dll ) tidak saya tuliskan

1. Menggembungnya bulan telah bersabda Rasulullah saw : " di antara sudah


mendekatnya kiamat ialah menggembungnya bulan sabit(awal bulan) "
dishahihkan AlBaani di Ash Shahihah nomor 2292 dalam riwayat yang lain
dikatakan "di antara sudah dekatnya hari kiamat ialah bahwa orang akan melihat
bulan sabit seperti sebelumnya, maka orang akan mengatakan satu bentuk
darinya untuk dua malam dan masjid akan dijadikan tempat untuk jalan jalan
serta meluasnya mati mendadak" (Ash Shahiihah AlBani 2292)

Menakjubkan ... satu bulan sabit dihitung dua kali !!!, sekarang ummat islam hampir
selalu bertengkar menentukan bulan sabit untuk ramadhan, syawal dan idhul adha ..
antar ru'yat tidak sama cara melihatnya , antar hisab berbeda cara menghitungnya ....
shodaqo rasuuhul kariim
2. Tersebarnya banyak pasar rasuluillah bersabda : "Kiamat hampir saja akan berdiri
apabila sudah banyak perbuatan bohong, masa(waktu) akan terasa cepat dan
pasar pasar akan berdekatan (karena saking banyaknya)" (sahih Ibnu Hibban)

Lihatlah sekarang, pasar ada dimana mana, mall semakin banyak, supermarket di mana
mana ....
3. Wanita ikut bekerja seperti laki laki rasulullah bersabda : "pada pintu gerbang kiamat
orang2 hanya akan mengucapkan salam kepada orang yang khusus(dikenal) saja
dan berkembangnya perniagaan sehingga wanita ikut seperti suaminya
(bekerja/berdagang) " Hadist Shahih lighairihi Ahmad

Sekarang karena emansipasi wanita, wanita yang bekerja sudah banyak betul ...
shodaqo rasuuhul kariim
4. Banyaknya Polisi rasululah bersabda : "bersegeralah kamu melakukan amal shalih
sebelum datang 6 perkara : pemerintahan orang orang jahil, banyaknya polisi,
penjual belian HUKUM atau JABATAN, memandang remeh terhadap darah,
pemutusan silaturrahim, adanya manusia yang menjadikan al qir'an sebagai
seruling dimana mereka menunjuk seorang imam untuk sholat jamaah agar ia
dapat menyaksikan keindahannya dalam membaca Al QUr'an meskipun ia paling
sedikit ke-Faqihannya. " Musnad Ahmad, At Thabrani, Ash Shaihhah AlBani 979
5. Manusia akan bermegah megah dalam membangun masjid rasulullah bersabda "tidak
akan beridir kiamat hingga mansia berbangga bangga dengan masjid" (hadist
sahih musnad Ahmad3:134,145, An Nasa'i 2:32, Abu Dawud 449,Ibnu Majah 779)
padahal rasulullah dilain tempat berkata "saya tidak diutus untuk menjulangkan
masjid masjid" (sahih sunan abu dawud:448)

subhanallah, masjid masjid seakarang megah betul .. indah benar


6. Menjadi pengikut tradisi Yahudi dan Nasrani telah berkata rasulullah : "Sungguh kamu
akan mengikuti jalan hidup orang orang sebelum kamu,sejengkal demi sejengkal ,
sehasta demi sehasta (tanpa berbeda sedikitpun) sehingga walaupun mereka
masuk ke lubang biawak, maka kamu akan masuk juga" Sahabat bertanya : wahai
rasulullah, apakah kaum yang akan kami ikuti tersebut adalah kaum Yahudi dan
Nasrani ?, maka Nabi menjawab : Siapa Lagi (kalau bukan mereka) ?

shodaqo rasuuhul kariim ... ummat sudah menjadi pengikut barat ... peringatan tahun
baru, valentin day, peringatan ulang tahun, pengagum demokrasi, HAM, hukum positif
dan sebagainya ...
7. Irak diboikot dan makanan ditahan darinya rasulullah bersabda : "hampir saja tidak
boleh dibawa makanan ke negeri Irak secupak(qafizh) makanan atau sebuah
dirham, kami(sahabat) bertanya Orang orang ajam(non arab) kah yang melakukan
ini ? kemudian beliau berkata : "hampir saja tidak dibawa makanan atau sebuah
dinar kepada penduduk syam(palestina, syiria , libanon , yordandan sekitarnya)
kemudian sahabat bertanya "siap ayang melakukan itu ya rasulullah ? " orang
orang RUM(Romawi : Amerika-Eropa)

Sebenarnya ini adalah tanda yang paling menakjubkan, karena sampai sekarang irak
telah diboikot oleh Amerika semenjak perang teluk dan syam telah menderita
kekuarangan makanan, palestina di jajah israel yahudi ..dan .. setelah terkepungnya
irak dan syam ini .. dan setelah terjadinya peperangan dhasyat di PALESTINA maka akan
muncullah tanda tanda besar kiamat berupa munculnya Imam Mahdi, Keluarnya Dajjal
dan turunnya Isa Al Masih
8. Turki akan memerangi Irak rasulullah bersabda : "sekelompok manusia dari ummatku
akan turun di suatu dataran rendah yang mereka namakan dengan Bashrah pada
tepi suatu sungai yang bernama Dajlah. Dan apabila telah datang akhir zaman
datangkah Bani Qanthura (mereka adalah orang orang turki) yang bermuka lebar
dan bermata kecil sehingga mereka turun pada tepi sungai itu, maka terpecahlah
penduduknya menjadi 3 kelompok, yang satu sibuk mengikuti ekor ekor sapi
mereka(sibuk mengurusi harta benda) dan mereka akan hancur, dan satu kelompok
dari mereka akan memperhatikan diri mereka sendiri dan mereka itu telah kafir,
dan satu kelompok dari mereka akan menjadikan anak cucu mereka di belakang
mereka kemudian mereka berperang, itulah para syuhada" (hadits hasan
diriwayatkan Ahmad dan Abu Dawud(4138)
Pada bulan mei 1997 dahulu orang orang turki telah mulai memancing mancing
permusuhan dengan irak dan mereka membangkitkan masalah masalah yang dibuat
buat sekitar masalah air di sungai Eufrat dan orang orang turki itu membuat
kesepakatan dengan orang orang israel dan amerika dan melakukan latihan militer
bersama dengan tujuan penyerangan irak, iran dan syiria, dan waktu itu juga Turki
menyerang bagian irak utara dengan alasan untuk menghjajar suku kurdi .. kita tunggu
saja apa yang akan terjadi nanti ..
9. Bumi Arab akan kembali menjadi kebun kebun dan sungai sungai telah bersabda
rasulullah : "tidak akan berdiri hari kiamat hingga harta aakan banyak melimpah
dan sehingga bumi arab kembali menjadi kebun kebun dan sungai sungai " (Ahmad
dan Muslim)

Dan negeri arab saat ini telah menjadi kebun !! dan banyak nya sungai .. didaerah tha'if
bahkan telah turun butiran es dan musim haji kemarin susuhu dingin kira kira 5 derajat
celcius ... tidak lagi panas
10. Peperangan dengan Yahudi : tidak terjadi kiamat hingga oranng orang berperagn
dengan Yahudi, dan orang orang Yahudi bersembunyi dibawah batu dan pohon,
lalu batu dan pohon itu berkata kepada orang orang islam " di sini ada Yahudi,
maka bunuhlah ia" (Fathul Bari', Al Manaqib, Al Hafiz Ibnu Hajar)

http://ms.wikipedia.org/wiki/Tanda-tanda_kiamat_kecil

Tanda-tanda kiamat kecil

From Wikipedia
Jump to: navigation, search

Telah dinyatakan bahawa tanda-tanda kiamat adalah petunjuk atau isyarat yang sudah
hampirnya hari kiamat dan bakal menyusul pula tanda-tanda kiamat besar. Sebahagian ulama
telah mengira tanda-tandanya dan menemui lebih 90 tanda walaupun berbeza menurut para
penghitungnya.

Didapati kini bahawa seluruh tanda-tanda kecil telah muncul dan terbukti seperti yang
dinyatakan dalam hadis iaitu sabda Nabi Muhammad s.a.w. sendiri.

[Sunting] Tanda-tanda menurut dalil

• Penaklukan Baitulmuqaddis

Dari Auf b. Malik r.a., katanya, "Rasulullah s. a. w. telah bersabda:"Aku menghitung enam
perkara menjelang hari kiamat." Baginda menyebutkan salah satu di antaranya, iaitu
penaklukan Baitulmuqaddis." - Sahih Bukhari

• Zina bermaharajalela

"Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan seperti
himar (keldai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang." - Sahih Muslim

• Pemimpin yang terdiri dari orang yang jahil dan fasik


Hadis Nabi

• Bermaharajalela alat muzik

"Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, rusuhan dan perubahan muka."Ada yang bertanya
kepada Rasulullah;
"Wahai Rasulullah bila hal ini terjadi?" Baginda menjawab; "Apabila telah bermaharajalela
bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi-penyanyi wanita" - Ibnu Majah

• Menghias masjid dan membanggakannya

"Di antara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah manusia bermegah-megahan dalam
mendirikan masjid" - Riwayat Nasai.

• Munculnya kekejian, memutuskan kerabat dan hubungan dengan tetangga tidak baik

"Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji, memutuskan
hubungan silaturahim dan sikap yang buruk dalam tetangga." - Riwayat Ahmad dan Hakim

• Ramai orang menuntut ilmu kerana pangkat dan kedudukan

Hadis Nabi

• Ramai orang soleh meninggal dunia

"Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik dan ahli agama
dimuka bumi, maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang-orang yang hina dan buruk yang
tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran - Riwayat Ahmad

• Orang hina mendapat kedudukan terhormat

"Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka' bin
Luka'(orang yang bodoh dan hina). Maka orang yang paling baik ketika itu ialah orang yang
beriman yang diapit oleh dua orang mulia" - Riwayat Thabrani

• Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya sahaja

"Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu
mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja." - Riwayat Ahmad

• Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.


"Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah akan muncul pakaian-pakaian wanita
dan apabila mereka memakainya keadaannya seperti telanjang."

• Bulan sabit kelihatan besar

"Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah menggelembung (membesarnya) bulan
sabit." - Riwayat Thabrani
• Banyak dusta dan tidak tepat dalam menyampaikan berita

"Pada akhir zaman akan muncul pembohong-pembohong besar yang datang kepadamu dengan
membawa berita-berita yang belum pernah kamu dengar dan belum pernah didengar oleh
bapa-bapa kamu sebelumnya, kerana itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak
menyesatkanmu dan memfitnahmu" - Sahih Muslim

• Banyak saksi palsu dan menyimpan kesaksian yang benar

"Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat akan banyak kesaksian palsu dan disembunyikan
kesaksian yang benar" - Riwayat Ahmad

• Negara Arab menjadi padang rumput dan sungai

"Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan
sungai-sungai." - Sahih Muslim

• Banyaknya sifat bohong dan ia menjadi perkata biasa

-hadis bawah-

• Jarak-jarak antara pasar menjadi dekat (menunjukkan banyaknya kegiatan


perdagangan)

"Banyaknya sifat bohong, pendeknya waktu, dekatnya jarak-jarak antara pasar-pasar." - Riwayat
Bukhari

• Manusia mewarnai rambut di kepalanya dengan warna hitam supaya kelihatan muda

"Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang mencelupi rambut mereka dengan warna
hitam seperti 'bulu merpati' yang mereka itu tidak akan mencium bau syurga." - Sahih Abu Daud
& Nasai

• Kekayaan umum dikuasai segelintir orang tanpa kebenaran dan tanpa rasa takut,
termasuk rasuah dan mengambil harta secara tersembunyi.

-hadis bawah-

• Berkurangnya sifat amanah

-hadis bawah-

• Terasa berat untuk menjalankan syariah (zakat dijadikan hutang)

-hadis bawah-

• Lelaki mentaati isterinya tetapi menderhakai ibunya

-hadis bawah-
• Lelaki berkasar dengan bapanya tetapi beramah dengan rakannya

-hadis bawah-

• Suara manusia meninggi (menjerit dan berteriak) di masjid-masjid

-hadis bawah-

• Pemimpin suatu kaum adalah keji dan pemimpin suatu suku adalah fasik

-hadis bawah-

• Lelaki dihormati bukan kerana budi dan kebaikan tetapi kerana takut akan
kejahatannya

Dari Ali dan Abu Hurairah r.a.: "Apabila harta rampasan perang (milik umum) dikuasai segelintir
orang sahaja, barang amanah menjadi rampasan, harta zakat menjadi hutang, seorang lelaki
mentaati isterinya dan menderhakai ibunya, berbuat baik kepada temannya dan berbuat kasar
kepada bapanya, suara-suara tinggi di masjid-masjid, yang menjadi pemimpin suatu kaum
(bangsa) adalah orang yang hina (berkelakuan/bersifat keji) di antara mereka dan orang yang
menjadi ketua suatu suku (kabilah) adalah orang fasik di antara mereka, seorang lelaki
dihormati kerana takut jahatnya, arak biasa diminum, sutera biasa dipakai (oleh lelaki),
munculnya penyanyi perempuan dan alat-alat muzik, orang yang di kalangan umat terkemudian
akan melaknat (mengutuk) umat terdahulu, maka ketika itu hendaklah mereka menunggu
kedatangan angin merah atau pembalikan bumi atau keburukan bentuk-bentuk atau tanda-
tanda yang beriringan seperti tali yang putus maka jatuhlah biji secara berterusan". - Riwayat
Tarmizi

• Anggota polis semaki ramai yang menunjukkan semakin banyak kerosakan

-hadis bawah-

• Mendahulukan lelaki menjadi imam bukan kerana ilmu tetapi kerana suara...

-hadis bawah-

• Penjualan jawatan atau kepemimpinan (politik wang)

-hadis bawah-

• Memandang rendah kepada darah

Rasulullah bersabda: "Bersegeralah untuk melakukan amal soleh apabila telah muncul enam
perkara: perlantikan pemimpin yang boodoh, ramainya bilangan anggota polis, penjualan
kepemimpinan, tiada penghargaan terhadap darah, pemutusan silaturrahim, orang mabuk
menjadikan al-Quran sebagai alat nyanyi yang mereka mendahulukan seseorang antara mereka
menjadi imam agar dapat menyanyikannya walaupun orang tersebut paling sedikit ilmunya." -
Sahih Riwayat Tabrani & Ahmad

• Seorang isteri bekerja dalam satu syarikat dengan suaminya. (Malah isteri
berpangkat lebih besar)
Dari riwayat Ibnu Masud: "Di pintu gerbang (dekatnya) hari kiamat: Salam hanya kepada orang
yang khusus (sudah dikenalinya), tersebar dan berkembangnya perdagangan sehingga seorang
isteri membantu suaminya berdagang" - Sahih Lighairihi Riwayat Ahmad

• Munculnya gaya hidup mewah dan manja di kalangan umat Islam

"Apabila umatku berjalan dengan sombong dan yang melayan mereka adalah putera-puteri
raja, putera-puteri Parsi dan Rom, maka orang yang paling buruk akan berkuasa terhadap orang
yang paling baik (pilihannya)." - Riwayat Tarmizi, Sahih Abdullah ibnu Umar r.a.

• Orang fasik dimuliakan sedangkan orang mulia dan terhormat direndahkan

"Sungguh hebat dia, sunggu jarang orang seperti dia dan sungguh pintar dia sedangkan di
dalamnya tidak ada iman sedikitpun" - Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Tarmizi, Ibnu Majah

• Banyak orang berharap untuk mati kerana banyaknya kekacauan ataupun


kesengsaraan

"Tidak akan berlaku kiamat sehingga apabila seorang lelaki melalui sebuah kubur maka ia akan
berkata: 'Aduhai seandainya aku juga berada ditempatnya.'" - Riwayat Bukhari & Muslim

• Banyaknya berlaku gempa bumi

-hadis bawah-

• Banyaknya berlaku huru-hara yang menyebarkan kejahatan

-hadis bawah-

• Banyaknya berlaku pergaduhan dan pembunuhan

"Kiamat tidak akan berlaku kecuali apabila ilmu telah diangkat, banyaknya berlaku gempa
bumi, timbulnya huru-hara dan banyak pergaduhan iaitu pembunuhan - Sahih Bukhari

• Munculnya mati mendadak atau mati secara tiba-tiba

-hadis bawah-

• Masjid dijadikan jalan iaitu seseorang muslim melalui masjid tanpa melakukan solat

"Masjid dijadikan sebagai jalan-jalan dan timbulnya mati mendadak" - Hasan At-Tayalisy.

http://www.al-azim.com/masjid/khutbah18.html

TEKS KHUTBAH JUMAAT MASJID


SELURUH NEGERI MELAKA
TAJUK: AMANAH SEORANG MUSLIM
TARIKH: 3 NOVEMBER 2000 (6 SYA'BAN 1421)

Sidang jumaat yang dihormati Allah,

Amanah adalah satu hak yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang samada


tanggungjawab itu milik Allah (hak Allah) mahupun hak manusia (hak insan) baik berupa
pekerjaan mahupun perkataan dan pekerjaan hati.

Pengertian amanah bererti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar, seperti sesuatu
kedudukan tidak diberikan kecuali kepada orang yang betul-betul berhak dan yang betul-betul
mampu menunaikan tugas dan kewajipannya dengan benar.

Kebaikan orang awam suka menyempitkan pengertian amanah hanya menjaga urusan yang
melibatkan kewangan sahaja bahkan pengertian amanah di dalam Islam cukup luas dan berat
pertanggungjawabkan.

Sabda Rasulullah s.a.w. dari riwayat Al-Bukhari yang bererti : " Kamu sekalian adalah pemimpin
dan kamu juga akan diminta bertanggungjawab tentang apa yang kamu pemimpin, ketua atau
imam adalah pemimpin dan ia akan diminta tanggungjawab tentang apa yang dipimpin. Suami
adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan dia akan bertanggungjawab tentang apa yang
dipimpin. Isteri juga dipimpin, dalam mengendalikan rumahtangga suaminya dan dia juga akan
ditanya tentang apa yang dipimpinnya, dan pembantu rumahtangga juga pemimpin dalam
mengawasi harta benda majikannya dan dia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya.

Dari hadis ini jelaslah bahawa tiap-tiap orang tidak dapat melepaskan diri dari tanggungjawab,
dan tiap-tiap orang tidak dapat melepaskan tugasnya terhadap masyarakat dan semuanya akan
ditanya oleh Allah apakah tanggungjawab kita itu dapat dilaksanakan dengan baik atau tidak.

Sidang jumaat yang dihormati Allah,

Terdapat satu kisah yang telah diceritakan oleh Abdullah Ibnu Dinar " pada suatu hari, saya
berjalan bersama Khalifah Umar Al-Khatab di Mekah, waktu itu saya bertemu dengan seorang
budak pengembala kambing yang sedang mengembala kambingnya. Kemudian Saidina Umar
berkata kepada budak pengembala kambing itu : " juallah kambing itu kepadaku " budak itu
menjawab :

" kambing ini bukan kambingku, tetapi kepunyaan tuanku ". Kemudian Saidina Umar sekali lagi
cuba menawarnya : " Bukankah engkau dapat mengatakan kepada tuan engkau, bahawa satu di
antaranya telah dimakan serigala, dan pasti tuan engkau tidak akan mengetahuinya. " Tidak,
saya tidak mahu, " kata budak itu, " sesunggguhnya Allah maha mengetahui ". Kemudian
setelah mendengar yang demikian, menangislah Saidina Umar dan berkata kepada
pengiringnya supaya memanggil tuannya, Saidina Umar telah membeli budak itu lalu
dibebaskan oleh beliau, dengan berkata : " Sejak hari ini engkau bebas merdeka di dunia dan
engkau akan lapang di akhirat ".

Sabda Rasulullah s.a.w. seperti mana yang telah diberitahu oleh Anas bin Malik yang bermaksud
: Tidak sempurna iman seseorang yang tidak dapat dipercayainya. Dan tidak sempurna agama
orang yang tidak menunaikan janji.

Firman Allah subhanahua ta'ala dalam surah An-Nisa'ayat 58 yang berbunyi :


Maksudnya : " Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada orang yang
berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia
supaya kamu menetapkannya dengan adil ".

Amanah hendaklah diberikan kepada orang yang benar-benar boleh melaksanakannya, kerana
menurut hadis Rsulullah s.a.w. dari riwayat Muslim : " Dari Abu Zhar, dia berkata : " Saya
berkata " : Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memilih saya. " Rasulullah bersabda " hai Abu
Zhar engkau seorang yang lemah, sedangkan itu sebagai amanah pada hari kiamat hanya akan
menjadi penyesalan dan kehinaan. Kecuali orang yang dapat menunaikan hak kewajipannya
dan memenuhi tanggungjawabnya.

Hadis di atas kita lihat dimana Abu Zhar ketika meminta jawatan, tidak dipedulikan oleh
Rasulullah. Kerana amanah menuntut dan menghendaki kita memilih orang-orang yang lebih
baik untuk melaksanakan sesuatu pekerjaan. Jika kita cenderung memilih yang lain secara
tidak berhati-hati, kerana mengamalkan sikap pilih kasih, bermakna kita telah melakukan
pengkhianatan yang berat, kerana menyingkirkan orang yang ahli (mampu) dan mengangkat
orang yang bukan ahli. Sesungguhnya kisah nabi Yusuf yang jujur, termaktub dalam Al-Quran
adalah satu pengajaran yang baik untuk dijadikan pedomannya sepertimana firman Allah ta’ala
:

Maksudnya : " Berkata Yusuf : " berikanlah kepadaku jawatan perbendaharaan negara (Mesir)
kerana sesungguhnya aku adalah orang yang paling pandai menjaga, lagi berpengetahuan ".

Dan perhatikan riwayat hadis dibawah ini :

Yazid bin Abu Sufiyan berkata : Telah berkata kepadaku Abu Bakar r.a. diwaktu beliau
mengutusku ke negeri Syam : Hai Yazid ! sesungguhnya engkau mempunyai kerabat, boleh jadi
engkau mengutamakan mereka buat memegang kekuasaannya, dan itulah yang aku khuatirkan
atasmu, kerana Rasulullah s.a.w. telah bersabda yang bererti :"Barangsiapa menguasai sesuatu
dari urusan kaum muslimin, lalu dia memberi kuasa kepada seseorang atas mereka kerana
cintanya, maka laknat Allah menimpa atasnya, Allah tidak diterima daripadanya gantian dan
tidak pula tebusan, sehingga dia dimasukkan ke dalam neraka jahannam ". (Riwayat Al-Hakim)

Sidang hadirin yang dirahmati Allah,

Dalam satu hadis Rasulullah s.a.w. digambarkan bahawa kemusnahan akan berlaku sekiranya
amanah diberikan kepada orang yang bukan ahlinya. Hadis tersebut yang bererti : Seorang
lelaki datang kepada Rasulullah s.a.w., bertanya tentang " bilakah terjadi kiamat ". Rasulullah
s.a.w. menjawab : yang bermaksud : " Apabila hilang amanah, tunggulah kiamat itu. Orang itu
bertanya lagi : Bagaimanakah keadaan itu berlaku ? jawab Rasulullah s.a.w. : " iaitu apabila
sesuatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamatnya
(kerosakan).

Untuk memenuhi erti amanah, hendaklah manusia berlumba menunaikan tugasnya dengan
tegas dan bersungguh-sungguh serta sebaik-baiknya dalam menyempurnakan satu amanah yang
dijunjung tinggi. Islam menyarankan supaya manusia ikhlas bekerja dan suka memperhatikan
hak-hak manusia yang diamanahkan kepadanya, tidak memandang ringan tugas yang
diamanahkan.

Rasulullah s.a.w. telah menjelaskan, tidak akan berlaku kiamat yang lebih besar dan yang lebih
buruk daripada khianat seorang muslim yang diamanahkan memimpin urusan manusia, tetapi
kemudian dia mengabaikannya sehingga semua urusan jadi terbiar dan sia-sia. Oleh itu jangan
kita menyalahgunakan kedudukan yang diberikan untuk menarik keuntungan peribadi atau
keluarga.
Sidang jumaat yang dihormati Allah,

Memang telah sewajarnya bagi pekerja tanpa mengira pangkat mendapat imbuhan kaji sebagai
ganjarannya, tetapi berusaha mencari tambahan kaji atau upah dengan jalan penyelewengan
seperti rasuah adalah usaha haram dan berdosa besar.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :"barangsiapa yang kami angkat menjadi penguasa
(pemerintah) untuk mengerjakan sesuatu, dan kami memberi upah menurut semestinya, maka
apa yang dia ambil lebih dari upah yang sepatutnya adalah satu kesalahan "

(Riwayat Abu Daud)

Firman Allah dalam surah Al-Imran ayat 161 yang bermaksud : " Tidak mungkin seorang nabi
mengkhianati dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat dia akan datang
membawa apa yang dikhianatinya; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang
apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedangkan mereka itu tidak teranayai ".

http://www.rahima.or.id/SR/18-06/Dirasah.htm

Misi Kenabian dalam Lembaran Hadis


Oleh: Ustadz Faqihuddin Abdul Kodir, MA

Tepat pada umur 40 tahun, Muhammad bin Abdullah, suami dari Siti Khadijah, menerima
tugas kenabian yang harus disampaikan ke seluruh umat manusia. Tugas yang tentu saja tidak
mudah, sehingga Nabi Muhammad SAW sendiri pada awalnya sempat ragu, apakah benar yang
diterima adalah wahyu, dan apakah juga merupakan pengangkatan sebagai Nabi (yang
menerima wahyu) dan Rasul (yang diutus menyampaikan misi). Tetapi sang pendamping Siti
Khadijah, yang teguh hati, menenangkan, menentramkan, menguatkan dan memastikan bahwa
yang diterima benar wahyu dan baginda benar-benar diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Kita membaca salah satu dialog yang terjadi antara Nabi Muhammad SAW dan Siti Khadijah RA,
pada awal penerimaan wahyu. Nabi Muhammad SAW pernah berkeluh kesah dan berkata pada
Khadijah RA: “Wahai Khadijah, tidak ada sesuatu yang paling aku benci kecuali berhala dan
para peramal itu, aku khawatir aku akan diangkat menjadi peramal”. “Tidak”, kata Khadijah.
“Demi Allah, Dia tidak akan menghinamu, karena kamu adalah orang yang baik terhadap
keluarga, suka menjamu tamu, berani mengambil tanggung jawab besar, memberi orang yang
kekurangan, dan membantu orang-orang kesusahan. Kamu memiliki banyak sifat-sifat yang
baik, yang dengan itu, kamu sama sekali tidak akan didatangi setan”, sambung Khadijah. (Amin
Duwaidar, Shuwarun min Hayat ar-Rasul, hal. 123). (Teks hadis diriwayatkan Imam Bukhari,
lihat pada Kitab Nikâh, bab Man Qâla Lâ Nikâha illâ bi-Waliyyin).

Pada kesempatan lain, Siti Khadijah memastikan dan meyakinkan: “Tenanglah wahai anak
pamanku, dan tabahlah. Demi Dzat yang menguasai Khadijah, aku yakin kamu terpilih menjadi
Nabi bagi umat ini”. (Ibn Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, I/191). Khadijah RA pun kemudian
menenangkan Nabi SAW, dengan membawa beliau bertemu Pendeta Waraqah bin Nawfal, yang
bisa meyakinkan bahwa yang ditemui Nabi SAW adalah benar Malaikat Jibril seperti yang juga
datang kepada Nabi Musa AS.

Kekhawatiran Nabi ini mungkin muncul karena kebesaran misi kenabian yang harus diemban.
Misi untuk melakukan perubahan besar pada kehidupan manusia, yang dalam bahasa al-Qur’an
dilukiskan sebagai misi ‘yukhrijuhum min azh-zhulumât ilâ an-nûr’ atau mengeluarkan manusia
dari kehidupan yang penuh kegelapan menuju kehidupan yang penuh cahaya. Dari kegelapan
kemusyrikkan dan kezaliman, menuju cahaya ketauhidan dan keadilan. Dari kegelapan karena
kerusakan dan kekerasan, menuju cahaya kebaikan dan kasih sayang.

“Alif Lâm Râ, (ini) adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu, agar kamu (dapat)
mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dengan izin Tuhanmu, yaitu ke jalan
(Tuhan) Yang Maha Agung dan Amat Terpuji”. (QS. Ibrahim, 14: 1).

Lebih tegas lagi, misi kenabian itu dilukiskan al-Qur’an surat al-A’râf ayat ke-157:
“Mereka orang-orang yang mengikuti Nabi yang buta huruf, mereka temukan namanya tertulis
dalam Kitab Taurat dan Injil, (misinya) menyeru mereka pada kebaikan, melarang
kemungkaran, menghalalkan sesuatu yang baik bagi mereka, mengharamkan mereka
(mengkonsumsi) sesuatu yang kotor, melepaskan mereka dari beban berat dan belenggu-
belenggu yang (menggelayuti) mereka”. (QS. Al-A’râf, 7: 157).

Ini tentu saja, bukan misi yang ringan dan mudah. Hanya karena taufiq dan ma’unah
(pertolongan) dari Allah SWT, serta keteguhan hati dan kekuatan moralitas Nabi SAW, yang
membuat misi itu bisa diselesaikan dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, 23 tahun. Tidak
heran, sehingga saat sebelum Nabi SAW wafat, turunlah ayat “al-yawma akmaltu lakum
dînakum wa atmamtu ‘alaikum ni’matî wa radhitu lakum al-islâma dînan” (Pada hari ini, telah
Aku lengkapkan agamamu, dan Aku sempurnakan nikmatku kepadamu, dan Aku rela Islam
sebagai agamamu).

Tentu saja, kesempurnaan yang dimaksud adalah dalam hal prinsip untuk menegaskan
ketauhidan dan keadilan, serta menegasikan kemusyrikan dan kezaliman. Karena dalam tataran
praktis, ayat ‘kesempurnaan’ ini bukan ayat terakhir. Masih ada jeda waktu enam bulan paska
turunnya ayat ini. Di mana Nabi SAW - pun, masih menerima wahyu ayat-ayat al-Qur’an. Di
samping kesempurnaan al-Qur’an juga masih harus dijelaskan dengan teks-teks hadis, ijma’,
qiyas, kajian bahasa dan pendekatan-pendekatan ijtihad yang lain.

Misi Kenabian dalam Teks Hadis


Jika bicara misi kenabian dalam teks hadis, hampir ingatan orang tertuju pada sebuah hadis
yang sangat terkenal: “Bu’itstu li-utammima makârim al-akhlâq” (Bahwa aku diutus (ke dunia
ini), untuk menyempurnakan (misi) akhlaq mulia). Tetapi tidak semua orang tahu persis makna
akhlak yang dimaksud. Hampir kebanyakan orang memaknai akhlak hanya sebatas sopan
santun, adab, dan tata krama. Atau memaknai dengan cara makan, cara berpakaian, cara
berjalan, atau berbicara. Padahal, akhlaq lebih dasar dari itu. Dalam kamus Lisân al-‘Arab,
kata akhlaq berasal dari al-khuluq, yang masih satu dasar dengan al-khalq. Akhlaq berarti
sesuatu yang alami dan melekat dalam kepribadian seseorang (as-sajiyyah). Kalau al-khalq
berarti penciptaan yang bersifat fisik pada diri seseorang, maka al-khuluq adalah penciptaan
(yang melekat) yang bersifat non-fisik pada seseorang. Secara lebih sederhana, akhlaq bisa
didefinisikan sebagai sesuatu yang melekat pada setiap orang secara mendasar. Akhlaq baik,
ketika membuat seseorang yang memilikinya terhormat sebagai manusia. Sedangkan akhlaq
buruk, ketika sebaliknya hanya menistakan orang sekitar dan membuat dirinya tidak lagi
terhormat sebagai manusia.

Redaksi hadis di atas, yang lebih tepat, seperti dituturkan Ibn al-Atsir dalam Jâmi’ al-Ushûl
adalah sebagai berikut:

Dari Malik bin Anas ra, disampaikan kepadanya bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus
untuk menyempurnakan akhlaq yang baik/bu’itstu li utammima husn al-akhlâq”. (Riwayat
Imam Malik dalam al-Muwaththa`, lihat; Ibn al-Atsîr, Jâmi’ al-Ushûl, jilid IV, hal. 413, no. hadis:
1974). Kebaikan akhlaq adalah misi utama kenabian yang diemban Rasulullah SAW.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai akhlaq yang baik; posisi dan definisinya dalam Islam,
kita bisa lebih lanjut membaca seluruh teks hadis yang dihadirkan Ibn al-Atsîr dalam kitab
Jâmi’ al-Ushûl tersebut.

Akhlaq baik adalah pangkal kebaikan dan pahala (al-birr), sebaliknya akhlaq buruk adalah
pangkal kejahatan dan dosa (al-itsm). Sahabat Nawas bin Sam’an pernah bertanya kepada
Rasulullah SAW mengenai kebaikan (al-birr) dan dosa (al-itsm). Nabi Saw menjawab:
“Perbuatan al-birr adalah akhlaq yang baik, dan perbuatan dosa adalah sesuatu yang di dadamu
terasa ragu dan karenanya kamu tidak suka dilihat orang lain”. (Riwayat Muslim dan Turmudzi,
Ibid, jilid IV, hal. 416, no. hadis: 1980).

Akhlaq baik merupakan wasiat Nabi SAW yang paling akhir sekali disampaikan terhadap Mu’adz
bin Jabal RA. (lihat: Ibid, no. hadis: 1973). Juga, sebagai sesuatu yang paling memberatkan
timbangan amal, kelak di hari kiamat. Sahabat Abu Darda RA., mendengar dari Rasulullah SAW
bersabda: “Bahwa tidak ada sesuatu yang paling memberatkan timbangan seorang mukmin di
hari kiamat, kecuali akhlaq yang baik. Dan Allah membenci orang yang buruk perangai, kotor
perilaku dan kasar”. “Bahwa orang yang berakhlaq mulia, bisa sederajat dengan mereka yang
tekun berpuasa dan shalat”. (lihat: Ibid, no. hadis: 1976).

Dari Jabir bin Abdillah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang aku cintai, paling
dekat denganku kelak di hari kiamat, adalah mereka yang berakhlaq baik. Dan orang yang
paling aku benci dan kelak paling jauh denganku di hari kiamat, adalah mereka yang keras,
kasar, dan sombong”. (Lihta: Ibid, no. hadis: 1979).

Dengan demikian, misi kenabian bagi kemanusiaan adalah bagaimana menciptakan kehidupan
yang penuh kasih sayang, tanpa kekerasan, kekasaran dan kesombongan. Dalam salah satu teks
hadis lain, lebih tegas disebutkan: “Sesungguhnya, aku hanyalah diutus untuk menebar kasih
sayang, dan tidak untuk pelaknatan”. (Riwayat Imam Muslim, lihat: Ibid, jilid XI, hal. 324, no.
hadis: 8401).

Akhlaq dan Misi Keadilan bagi Perempuan


Masih dalam lembaran bab yang sama, Ibn al-Atsîr menyitir dua teks hadis mengenai akhlaq
terhadap perempuan (istri), sebagai implementasi dari misi kenabian untuk menebar akhlaq
mulia. Pertama, yang diriwayatkan Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya,
orang yang paling sempurna keimanannya, adalah orang yang paling baik akhlaqnya, dan yang
paling ramah terhadap istrinya”. (lihat: Ibid, jilid IV, hal. 414, no. hadis: 1976). Kedua, yang
diriwayatkan Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang-orang beriman yang
paling sempurna, adalah mereka yang paling baik berakhlaq, dan orang yang paling baik (dari
semua itu), adalah mereka yang paling baik terhadap istrinya”. (lihat: Ibid, no. hadis 1977).

Berbuat baik terhadap perempuan, atau istri, adalah dengan menempatkan mereka sebagai
manusia yang sederajat, yang memiliki hak, perasaan, dan harapan sebagai manusia.
Memberikan peluang dan kesempatan yang cukup, agar mereka menjadi manusia terhormat,
sehingga tidak dijadikan sebagai obyek kekerasan dan pelecehan oleh individu maupun sistem
sosial. Ketika mereka melakukan tuntutan keadilan, maka semua sistem harus memberikan
peluang agar tuntutan itu bisa dipenuhi. Banyak peristiwa dalam teks-teks hadis, yang
mendiskripsikan kepada kita, bagaimana perempuan melakukan tuntutan atas tindakan-
tindakan yang menimpa diri mereka. Termasuk yang dilakukan para suami mereka, atau
keluarga mereka. Mereka tidak segan datang kepada Nabi SAW, menceritakan dan melaporkan,
bahkan melakukan tuntutan.

Adalah Khansa bint Khidam RA, yang datang ke Rasulullah SAW melaporkan tindakan ayahnya
yang menikahkan dirinya dengan orang yang tidak ia cintai. Nabi SAW kemudian menyatakan
kepada Khansa RA: “Kamu yang berhak untuk menikah dengan seseorang yang kamu
kehendaki”. Khansa pun pada akhirnya kawin dengan laki-laki pilihannya Abu Lubabah bin Abd
al-Mundzir RA. Dari perkawinan ini ia dikarunia anak bernama Saib bin Abu Lubabah. (Lihat: az-
Zayla’i, Nashb ar-Râyah Takhrîj Ahâdîts al-Hidâyah, , juz III, hal. 237).

Hampir semua pengkaji Islam mendengar hadis khulu’. Yaitu, kisah perempuan yang sudah tidak
bisa lagi hidup dengan suaminya, sekalipun suaminya baik dan taat beragama. Kemudian Nabi
SAW memberi pilihan itu (khulu’) kepada perempuan, dengan syarat ia mengembalikan mahar
yang diberikan oleh sang suami. Dan Nabi pun tidak melecehkan perempuan, tidak juga
menganggap sebagai perempuan tak berbakti, atau menyalahkan karena melaporkan keadaan
rumah tangga yang seharusnya (secara umum) ditutup rapat-rapat.

Adalah Jamilah RA, istri Tsabit bin Qays RA, yang bertandang kepada Rasulullah SAW dan
berkata: “Wahai Rasul, aku tidak merendahkan akhlaq dan ketakwaan suamiku, tetapi aku
tidak ingin melakukan kekufuran (karena serumah dengannya)”. Nabi SAW lalu bertanya: “Kamu
mau mengembalikan kebun yang ia berikan kepadamu?. “Ya, aku mau”, kata Jamilah. Lalu Nabi
SAW berkata kepada suaminya, Tsabit bin Qays RA, “Terimalah kebun itu, dan ceraikan dia”.
(Riwayat al-Bukhari, lihat: Subulussalam, III/166).

Asbabunnuzûl ayat ke-34 dari surat an-Nisa, hampir diketahui semua pengkaji Islam, bahwa ada
seorang perempuan yang melaporkan kekerasan yang dilakukan suaminya terhadap dirinya.
Nabi SAW mendengar laporan itu, menerima dan bermaksud membalaskan untuknya, tetapi
ayat al-Qur’an berbicara lain. Pada akhirnya, Nabi SAW tetap membela si perempuan dan
menyatakan untuk tidak memukul perempuan. Dalam suatu teks hadis, bahkan disebutkan
bahwa mereka yang masih suka memukul perempuan adalah bukan orang-orang yang baik.
(Lihat: Jâmi’ al-Ushûl, juz VII, hal. 330, no. hadis: 4719).

Pelajaran yang bisa dipetik di sini, bahwa misi utama kenabian adalah ketauhidan dan keadilan.
Untuk konteks kemanusiaan, misi kenabian adalah menghidupkan akhlaq mulia. Karenanya,
siapapun, laki-laki atau perempuan berkewajiban menegakkan akhlaq mulia, dengan
memuliakan, menghormati dan berbuat baik terhadap semua manusia, bahkan kepada seluruh
makhluk di muka bumi ini. Pada saat yang sama, setiap orang berhak untuk menuntut keadilan.
Terutama ketika mereka menjadi korban kekerasan, baik dari individu maupun dari sistim sosial
yang tidak bersahabat. Tuntutan ini tentu saja, agar setiap orang di muka bumi menjadi orang
yang terhormat, bertanggung jawab, memiliki hak dan kewajiban secara manusiawi dan
terbebas dari segala bentuk kezaliman dan penistaan. Wallahu a’lam bi ash-shawâb.]

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=6

Artikel Hadits :

Orang Yang Bangkrut di Akhirat


Jumat, 19 Maret 04

"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya :
Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut ( pailit ) itu ? Maka mereka ( para sahabat )
menjawab : orang yang pailit di antara kita adalah orang yang tidak mempunyai uang dan
harta. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menerangkan : orang yang pailit dari
ummatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan
zakatnya, namun dia datang dan (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh
(berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah memukul orang lain
( dengan tidak hak ), maka si ini diberikan kepadanya kebaikan orang yang membawa banyak
pahala ini, dan si itu diberikan sedemikian juga, maka apabila kebaikannya sudah habis
sebelum dia melunasi segala dosanya ( kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang
didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka. HR.
Muslim.

Keterangan singkat.

Di dunia ini, mungkin banyak orang-orang yang merasa kuat dapat membebaskan diri mereka
dari jeratan hokum akibat perbuatan dzalim mereka terhadap orang lain, baik berupa hutang,
membunuh tanpa alasan yang dibenarkan oleh Allah, mencaci maki orang lain dan sebagainya,
namun tidak demikian dengan hukum dan keadilan yang Allah tegakkan di hari kiamat kelak,
pada saat itu tidak seorang-pun yang dapat membebaskan diri dari kesalahannya selama di
dunia yang dia tak pernah bertaubat dan menyesalinya, orang yang mereka dzalimi datang
kehadapan Allah mengadukan kedzaliman orang tersebut sedang ia bergantung dengan kepala
saudaranya sambil berkata : wahai Tuhan-ku tananyakan kepada orang ini ( yang telah
membunuhku ) kenapa dia telah membunuhku di dunia ? dan sebagainya, sehingga Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam berwasiat kepada ummatnya dengan sabdanya : Barangsiapa disisi
ada perbuatan dzalim terhadap saudaranya, maka hendaklah ia meminta dihalalkan
( dimaafkan ) sekarang sebelum datang hari yang tidak berlaku pada saat itu emas atau
perak.sebelum diambil darinya kebaikannya untuk membayar kedzalimannya terhadap
saudaranya, dan jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka dibebankan kepadanya keburukan
saudaranya itu kepadanya. HR.Bukhari.

Oleh karena itu, segeralah kita membabaskan diri kita dari mendzalimi orang lain, penuhilah
setiap yang mempunyai hak akan haknya, dan jangan menunggu hari hari esok karena tidak
seorangpun yang mengetahui akan keberadaannya di esok hari.

Kandungan hadits :

• Hadits ini menerangkan akan adanya pembalasan di hari kiamat.


• Orang yang mendzalimi saudaranya di dunia, sedang dia belum bertaubat dari
kedzaliman tersebut dengan meminta maaf atau mengembalikan haknya, maka dia
harus membayarnya dengan kebaikannya.

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1805&bagian=0

Taubat

Minggu, 2 April 2006 10:49:16 WIB


Kategori : Do'a, Dzikir, Taubat

TAU BAT
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Taubat adalah kembali dari bermaksiat kepada Allah menuju ketaatan kepadaNya.

Taubat itu disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Sesunguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang
yang mensucikan diri” [Al-Baqarah : 222]

Taubat itu wajib atas setiap mukmin

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya” [At-Tahrim : 8]

Taubat itu salah satu faktor keberuntungan.

“Artinya : Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu
beruntung” [An-Nur : 31]

Keberuntungan ialah mendapatkan apa yang dicarinya dan selamat dari apa yang
dikhawatirkannya.

Dengan taubat yang semurni-murninya Allah akan menghapuskan dosa-dosa meskipun besar dan
meskipun banyak.

“Artinya : Katakanlah, Hai hamba-hambaKu yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa
semunya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Az-Zumar : 53]

Jangan berputus asa, wahai saudaraku yang berdosa, dari rahmat Tuhanmu. Sebab pintu taubat
masih terbuka hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

“Artinya : Allah membentangkan tanganNya pada malam hari agar pelaku dosa pada siang hari
bertaubat, dan membentangkan tanganNya di siang hari agar pelaku dosa malam hari bertubat
hingga matahari terbit dari tempat tenggelamnya” [Hadits Riwayat Muslim dalam At-Tubah, No.
2759]

Betapa banyak orang yang bertaubat dari dosa-dosa yang banyak dan besar, lalu Allah
menerima taubatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain berserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,
dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat
(pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan
dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat,
beriman dan mengerjakan amal shalih ; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah
dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Furqan : 68-70]

Taubat yang murni ialah taubat yang terhimpun padanya lima syarat.

Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan meniatkan taubat itu karena
mengharapkan wajah Allah dan pahalanya serta selamat dari adzabnya.

Kedua : Menyesal atas perbuatan maksiat itu, dengan bersedih karena melakukannya dan
berangan-angan bahwa dia tidak pernah melakukannya.

Ketiga : Meninggalkan kemasiatan dengan segera. Jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak
Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia meninggalkannya, jika itu berupa perbuatan haram dan ia
segera mengerjakannya, jika kemaksiatan tersebut adalah meninggalkan kewajiban. Jika
kemaksiatan itu berkaitan dengan hak makhluk, maka segera ia membebaskan diri darinya, baik
dengan mengembalikannya kepada yang berhak maupun meminta maaf kepadanya.

Keempat : Bertekad untuk tidak kembali kepada kemasiatan tersebut di masa yang akan
datang.

Kelima : Taubat tersebut dilakukan sebelum habis masa penerimaannya, baik ketika ajal datang
maupun ketika matahari terbit dari tempat tenggelamnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman.

“Artinya : Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan
(yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan.
‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” [An-Nisa : 18]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa bertubat sebelum matahri terbit dari tempat tenggelamnya, maka Allah
menerima taubatnya” [Hadits Riwayat Muslim daalm Adz-Dzikir wa Ad-Du’a, No. 2703]

Ya Allah, berilah kami taufik untuk bertaubat semurni-murninya dan terimalah amalan kami.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

[Risalah fi Shifati Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal. 44-45, Syaikh Ibn Utsaimin]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-
Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-3, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Penerjemah
Amir Hamzah, Penerbit Darul Haq]

http://www.amanah.or.id/detail.php?id=1070

Kiamat Sudah Dekat Laporan: Ian

[Mimbar]

Sedia payung sebelum hujan. Itu kata pepatah dan kalau yang dihadapi sekadar hujan.
Bagaimana kalau menghadapi bencana demi bencana?

Beberapa bulan ini bangsa kita mengalami rangkaian berbagai musibah atau bencana alam, dari
yang "biasa-biasa" hingga yang "luar biasa". Dari mulai banjir dan longsor hingga gempa dan
gelombang tsunami. Sedangkan jumlah korban yang meninggal akibat beragam bencana tadi
telah mencapai ratusan ribu orang. Dengan demikian bertambah puladaftar jumlah janda,
duda, anak-anak yatim/piatu, dan para orangtua kehilangan anak-anaknya. Kerugian material
akibat berbagai bencana alam tadi tentu juga amat sangat besar.

Musibah alam cepat atau lambattetap akan terus terjadi. Belum termasuk musibah gunung
meletus yang juga pernah terjadi berkali-kali dan akan terjadi lagi. Bahkan beberapa saat lalu
sejumlah pegunungan sempat dikhawatirkan akan meletus mengingat adanya gejala yang
menyertainya. Kini, ancaman bencana banjir pun kembali mengintai kita. Musim hujan tahun
ini diperkirakan mulai Oktober ini.

Menyikapi dengan keimanan

Sudah seharusnya kita menyikapi rangkaian bencana demi bencana tersebut dengan landasan
keimanan. Kita dapat meyakini bahwa berbagai bencana alam tersebut pada dasarnya adalah
kiamat sugra sekaligus menjadi pertanda bahwa kiamat kubra (akhir zaman) memang akan
terjadi bahkan kian mendekat. Sebab di balik bencana banjir, gempa, tsunami, gunung meletus
terdapat peringatan tentang gambaran kiamat kubra. Pasalnya berbagai fenomena alam
tersebut akan mewarnai prosesi kiamat kubra dengan kondisi yang tentunya jauh lebih dahsyat,
lebih mencekam, dan lebih menakutkan seperti tersurat dan tersirat dalam Al Quran (di
antaranya surat At Takwir: 3, Al Zalzalah : 1, Al Qari'ah : 4-5,AIFajr:21,Allnfithaar:3).
Berdasarkan kesadaran dan keyakinan ini, berbagai peristiwa kiamat sugra tadi sejatinya
membuat kita selalu mawas diri dan tidak terlena oleh kecintaan terhadap beragam urusan
dunia yang hanya menjadikan diri "buta" dan "tuli" seperti yang disabdakan Rasulullah SAW
dalam salah satu hadisnya : "Rasa cintamu pada sesuatu, membuatmu buta dan tuli."

Manusia yang 'buta' dalam konteks ini adalah manusiayang tidak mampu melihat bahwa di balik
berbagai bencana alam tadi sesungguhnya terdapat suatu isyarat dari gambaran mengenai
prosesi akhir zaman kelak. Sedangkan dikatakan ' tuli ', karena ia tidak bisa mendengarkan
bahwa isyarat alam itu pada dasarnya adalah firman Tuhan yang tersirat tentang kebenaran
akan datangnya bencana yang jauh lebih besar lagi, yakni kiamat kubra.

Pertanda lain dari kiamat

Di samping itu, pertanda akan segera datangnya akhir zaman (kiamat kubra) juga dapat kita
lihat dari perilaku manusia yang kini sudah banyak menyimpang jauh dari nilai-nilai agama.
Umat manusia umumnya tidak lagi mengindahkan petuah-tausiyah agama serta menjauhi para
alim ulama. Sabda Rasulullah : "Akan datang suatu zaman atas manusia mereka jauh dari alim
ulama dan para ahli agama...."

Para ulama dan para ahli agama yang dimaksud dalam hadis ini adalah mereka yang memahami
ilmu agama dan ikhlas meng-amalkannya hanya untuk mencapai ridha Allah. Sebab banyak
orang yang disebut alim ulama, namun di balik ketekunannya beribadah, di balik bibirnya yang
fasih melafalkan ayat-ayat Al Quran dan Al hadis, di balik kehalusan tutur kata dan budi
bahasanya, ternyata di hatinya menggumpal rasa cinta terhadap dunia (hubud-dunya). Bahkan
karena kecintaannya yang begitu besar terhadap dunia menjadikan mereka rakus dan kejam
seperti halnya serigala. Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: "Akan muncul di akhir zaman
nanti orang-orang meraup dunia dengan agama. Mereka berpakaian berbulu domba yang halus
di depan manusia. Lidah mereka lebih manis daripada madu, tapi hati mereka bagaikan
serigala."

"Akan datang beberapa kaum di Hari Kiamat. Amal mereka sebesar gunung-gunung di sekeliling
kota Makkah, tetapi mereka digiring ke neraka. Para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah,
bukankah mereka orang-orang yang shalat ?' Rasul menjawab, 'Ya mereka shalat, puasa, dan
bangun untuk shalat malam. Namun bila ditunjukkan suatu hal keduniaan kepada mereka,
mereka bergegas menuju ke arahnya." Tanda-tanda menjelang akhir zaman sebagaimana
dijelaskan dalam hadis-hadis di atas sudah begitu nyata dan menyeruak di mana-mana. Umat
Islam sudah semakin banyak meninggalkan agamanya, sedangkan para alim ulamanya terlena
dengan berbagai kesenangan dunia. Tidak sedikit di antara para alim ulama tadi yang lebih
memilih jabatan atau kedudukan ketimbang menyeru umat untuk ber-amar ma'ruf dan nahi
munkar.

Sampai kapan kita bisa mengambil ibrah dari berbagai pertanda yang diilustrasikan dengan
perilaku manusianya maupun peringatan dengan beragam peristiwa bencana alam, bahwa akhir
zaman itu semakin dekat? Bukankah seharusnya kita selalu dalam keadaan 'siap' untuk
menghadapinya?

http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/5927

Konsultasi : Aqidah

Turunnya Dajjal Dan Imam Mahdi

Pertanyaan:
Assalamualaikum wr.wb
Para ustazd pengasuh acara konsultasi ini , disini saya bertanya
1. Mengapa Allah menguji manusia dengan mendatangkan Dajjal.
2. Kemudian mengapa pula diturunkan Imam Mahdi
3. Dan mengapa pula Nabi Isa harus diturunkan kembali kedunia
sedangkan Nabi Muhammad adalah penutup segala nabi
4.Apakah Nabi Isa masih hidup ,kalau masih hidup dimana tempatnya sekarang ini.
Demikian pertanyaan kami ,terimakasih atas jawabannya ,mohon maaf jika ada kesalahan .
Wassalaam

IRHAM

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.


Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa
`Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Peristiwa datangnya Dajjal dan lalu ditumpas oleh Imam Mahdi serta Isa as menjelang hari
kiamat seakan menjadi babak final dari tragedi kebatilan lawan kebenaran sepanjang sejaran
manusia. Kebatilan akan diwakili oleh Dajjal laknatullah yang punya kemampuan luar biasa.
Namun akan ditumpas oleh kebenaran yang diwakili oleh Imam Al-Mahdi serta Isa as dengan
keteguhan iman dan tawakkal kepada Allah SWT.

Akan halnya Isa as, saat nanti datang, beliau tidak lagi menjadi seorang Nabi. Sebab Rasulullah
SAW adalah nabi akhir zaman yang menjadi penutup para nabi. Imam Al-Mahdi dan Isa as sama-
sama beragama Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat, melakukan shalat bersama umat
Islam, mengeluarkan zakat dan menjalankan semua ritual ibadah sebagaimana umat Islam
lainnya.

Kenabian Isa itu sudah selesai semenjak Muhammad SAW diangkat menjadi nabi 1400-an tahun
yang lalu. Sejak itu beliau hidup di sisi Allah SWT dan kita tidak tahu dimana tempatnya. Yang
jelas, Rasulullah SAW telah memberitahukan kepada kita bahwa nanti di akhir zaman, Isa as
akan datang lagi menumpas kebatilan, menghancurkan gereja dan salib serta memerangi umat
Kristiani yang telah menjadikannya sebagai sesembahan. Nabi Isa adalah nabi monotheism yang
mengajarkan tauhid dan anti keberhalaan, sedangkan umat kristiani telah menjadikannya tuhan
dan anak tuhan. Sebuah pelecehan yang paling sensasional sepanjang sejarah.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,


Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=40

Artikel Hadits :

Kezaliman Adalah Kegelapan diHari Kiamat


Senin, 12 April 04

Banyak diantara umat Islam yang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan suatu
perbuatan yang menyakiti orang lain lantas membiarkan hal itu berlalu begitu saja tanpa
meminta ma’af kepadanya atas perbuatannya tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh ego yang
terlalu tinggi, menganggap hal itu adalah sepele, kurang memahami ajaran agamanya sehingga
tidak mengetahui implikasinya, dan sebagainya. Padahal sebenarnya amat berbahaya dan akan
membebankannya di hari Akhirat kelak karena harus mempertanggungjawabkannya. Perbuatan
tersebut tidak lain adalah kezhaliman.

Kezhaliman adalah sesuatu yang dibenci baik di muka bumi ini maupun di akhirat kelak dan
pelakunya hanyalah mereka yang menyombongkan dirinya.

Banyak bentuk kezhaliman yang berlaku di dunia ini, yaitu tidak jauh dari definisinya ;
“menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Betapa banyak orang-orang yang seenaknya
berbuat dan bertindak sewenang-wenang. Sebagai contoh: Sang suami sewenang-wenang
terhadap isterinya; memperlakukannya dengan kasar, menceraikannya tanpa sebab,
menelantarkannya dengan tidak memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Sang pemimpin
sewenang-wenang terhadap rakyat yang dipimpinnya; diktator, tangan besi, berhukum kepada
selain hukum Allah, loyal terhadap musuh-musuh Allah, tidak menerima nasehat, korupsi dan
sebagainya. Tetangga berbuat semaunya terhadap tetangganya yang lain; membuat bising
telinganya dengan suara tape yang keras dan lagu-lagu yang menggila, menguping rahasia
rumah tangganya, usil, membicarakan kejelekannya dari belakang, mengadu domba antar
tetangga dan yang juga banyak sekali terjadi adalah mencaplok tanahnya tanpa hak, berapapun
ukurannya. Dan banyak lagi gambaran-gambaran lain yang ternyata hampir semuanya dapat
dikategorikan “perbuatan zhalim” karena “menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”.

Oleh karena itu, pantas sekali kenapa Allah mengecam dengan keras para pelakunya dan
bahkan mengharamkannya atas diri-Nya apatah makhluk-Nya.

Dan pantas pula, ia (kezhaliman) merupakan tafsir lain dari syirik karena berakibat fatal
terhadap pelakunya.

Maka, bagi mereka yang pernah berbuat zhalim terhadap orang lain – sebab rasanya sulit
mendapatkan orang yang terselamatkan darinya sebagaimana yang pernah disalahtafsirkan oleh
para shahabat terkait dengan makna kezhaliman dalam ayat “Orang-orang yang beriman dan
tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang
yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Q,.s.
al-An’âm/6: 82). Mereka secara spontan, begitu ayat tersebut turun dan sebelum mengetahui
makna dari ‘kezhaliman’ yang sebenarnya berkomentar: “Wahai Rasulullah! siapa gerangan
diantara kita yang tidak berbuat zhalim terhadap dirinya?”. Tetapi, pemahaman ini kemudian
diluruskan oleh Rasulullah dengan menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah
sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya syirik itu merupakan
kezhaliman yang besar” (Q.,s. Luqmân/31: 13) – maka hendaknya mereka segera meminta
ma’af kepada yang bersangkutan dan memintanya menghalalkan atas semua yang telah terjadi
selagi belum berpisah tempat dan sulit bertemu kembali dengannya serta selama masih di
dunia.

Hanya keterkaitan dalam kezhaliman terhadap sesama makhluk ini yang tidak dapat ditebus
dengan taubat sekalipun. Taubat kepada Khaliq berkaitan dengan hak-hak-Nya; maka, Dia akan
menerimanya bila benar-benar taubat nashuh tetapi bila terkait dengan sesama makhluq, maka
hal itu terpulang kepada yang bersangkutan dan harus diselesaikan terlebih dahulu dengannya ;
apakah dia mema’afkan dan menghalalkan kezhaliman yang terlah terjadi atasnya atau tidak.

Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui lebih lanjut apa itu kezhaliman? apa implikasinya di
dunia dan akhirat? bagaimana dapat terhindarkan darinya? Perbuatan apa saja yang memiliki
kaitan dan digandeng dengannya?.
Insya Allah, kajian hadits kali ini berusaha menyoroti permasalahan tersebut, semoga
bermanfa’at.
Naskah Hadits

‫ متّفق عليه‬.»ِ‫ت يَوْمَ ا ْل ِقيَامَة‬


ٌ ‫ « الظّلْ َم ظُُلمَا‬:‫ قَالَ رَسُولُ الِّ صلى ال عليه وسلم‬:َ‫عمَرَ رضي ال عنهما قَال‬
ُ ِ‫ن ابْن‬
ِ‫ع‬َ .1

Dari Ibnu ‘Umar –radhiallaahu 'anhuma- dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam
bersabda: “Kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari Kiamat”. (Muttafaqun ‘alaih)

ْ‫ك مَن‬
َ ‫ فَِإنّ الشّحّ أَهَْل‬.ّ‫ وَاتّقُوا الشّح‬.ِ‫ت َيوْمَ ا ْل ِقيَامَة‬
ٌ ‫ فَإِنّ الظّلْ َم ظُُلمَا‬.َ‫ «ا ّتقُوا الظّلْم‬:َ‫عبْدِ الّ أَنّ رَسُولَ الّ صلى ال عليه وسلم قَال‬ َ .2
َ ِ‫عنْ جَابِرِ بْن‬
‫ رواه مسلم‬.» ْ‫كَانَ َقبَْلكُم‬

Dari Jâbir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: “berhati-
hatilah terhadap kezhaliman, sebab kezhaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di hari
Kiamat. Dan jauhilah kebakhilan/kekikiran karena kekikiran itu telah mencelakakan umat
sebelum kamu”. (H.R.Muslim)

Definisi kezhaliman (azh-Zhulm)

Kata “azh-Zhulm” berasal dari fi’l (kata kerja) “zhalama – yazhlimu” yang berarti
“Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”. Dalam hal ini sepadan dengan kata “al-Jawr”.

Demikian juga definisi yang dinukil oleh Syaikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama. Dalam
hal ini, ia adalah lawan dari kata al-‘Adl (keadilan)

Hadits diatas dan semisalnya merupakan dalil atas keharaman perbuatan zhalim dan mencakup
semua bentuk kezhaliman, yang paling besarnya adalah syirik kepada Allah Ta’âla sebagaimana
di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya syirik itu merupakan kezhaliman yang besar”.

Di dalam hadits Qudsiy, Allah Ta’âla berfirman: “Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya Aku
mengharamkan kezhaliman terhadap diriku dan menjadikannya diharamkan antara kalian”.

Ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar tentang keharaman perbuatan zhalim dan
penjelasan tentang keburukannya banyak sekali.

Oleh karena itu, hadits diatas memperingatkan manusia dari perbuatan zhalim, memerintahkan
mereka agar menghindari dan menjauhinya karena akibatnya amat berbahaya, yaitu ia akan
menjadi kegelapan yang berlipat di hari Kiamat kelak.

Ketika itu, kaum Mukminin berjalan dengan dipancari oleh sinar keimanan sembari berkata:
“Wahai Rabb kami! Sempurnakanlah cahaya bagi kami”. Sedangkan orang-orang yang berbuat
zhalim terhadap Rabb mereka dengan perbuatan syirik, terhadap diri mereka dengan
perbuatan-perbuatan maksiat atau terhadap selain mereka dengan bertindak sewenang-wenang
terhadap darah, harta atau kehormatan mereka; maka mereka itu akan berjalan di tengah
kegelapan yang teramat sangat sehingga tidak dapat melihat arah jalan sama sekali.

Klasifikasi Kezhaliman

Syaikh Ibn Rajab berkata: “Kezhaliman terbagi kepada dua jenis: Pertama, kezhaliman seorang
hamba terhadap diri sendiri :

Bentuk paling besar dan berbahaya dari jenis ini adalah syirik sebab orang yang berbuat
kesyirikan menjadikan makhluk sederajat dengan Khaliq. Dengan demikian, dia telah
menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Jenis berikutnya adalah perbuatan-perbuatan maksiat dengan berbagai macamnya; besar


maupun kecil.
Kedua, kezhaliman yang dilakukan oleh seorang hamba terhadap orang lain, baik terkait dengan
jiwa, harta atau kehormatan.

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam telah bersabda ketika berkhuthbah di haji Wada’ :
“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diharamkan atas kalian sebagaimana
keharaman hari kalian ini, di bulan haram kalian ini dan di negeri (tanah) haram kalian ini”.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhary dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallâhu
'alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang pernah terzhalimi oleh saudaranya, maka
hendaklah memintakan penghalalan (ma’af) atasnya sebelum kebaikan-kebaikannya (kelak)
akan diambil (dikurangi); Bila dia tidak memiliki kebaikan, maka kejelekan-kejelekan
saudaranya tersebut akan diambil lantas dilimpahkan (diberikan) kepadanya”.

Penyebab terjadinya

Ibnu al-Jauziy menyatakan: “kezhaliman mengandung dua kemaksiatan: mengambil milik orang
lain tanpa hak, dan menentang Rabb dengan melanggar ajaran-Nya… Ia juga terjadi akibat
kegelapan hati seseorang sebab bila hatinya dipenuhi oleh cahaya hidayah tentu akan mudah
mengambil i’tibar (pelajaran)”.

Barangkali, penyebabnya juga dapat dikembalikan kepada definisinya sendiri, yaitu tidak
menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan hal ini terjadi akibat kurangnya pemahaman
terhadap ajaran agama sehingga tidak mengetahui bahwa :

• Hal itu amat dilarang bahkan diharamkan

• Ketidakadilan akan menyebabkan adanya pihak yang terzhalimi

• Orang yang memiliki sifat sombong dan angkuh akan menyepelekan dan merendahkan
orang lain serta tidak peduli dengan hak atau perasaannya

• Orang yang memiliki sifat serakah selalu merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya
sehingga membuatnya lupa diri dan mengambil sesuatu yang bukan haknya

• Orang yang memiliki sifat iri dan dengki selalu bercita-cita agar kenikmatan yang
dirasakan oleh orang lain segera berakhir atau mencari celah-celah bagaimana
menjatuhkan harga diri orang yang didengkinya tersebut dengan cara apapun

Terapinya

Diantara terapinya –wallâhu a’lam- adalah:

• Mencari sebab hidayah sehingga hatinya tidak gelap lagi dan mudah mengambil
pelajaran
• Mengetahui bahaya dan akibat dari perbuatan tersebut baik di dunia maupun di akhirat
dengan belajar ilmu agama

• Meminta ma’af dan penghalalan kepada orang yang bersangkutan selagi masih hidup,
bila hal ini tidak menimbulkan akibat yang lebih fatal seperti dia akan lebih marah dan
tidak pernah mau menerima, dst. Maka sebagai gantinya, menurut ulama, adalah
dengan mendoakan kebaikan untuknya
• Membaca riwayat-riwayat hidup dari orang-orang yang berbuat zhalim sebagai
pelajaran dan i’tibar sebab kebanyakan kisah-kisah, terutama di dalam al-Qur’an yang
harus kita ambil pelajarannya adalah mereka yang berbuat zhalim, baik terhadap
dirinya sendiri atau terhadap orang lain.

Kikir/Bakhil

Hadits tersebut (hadits kedua) memberikan peringatan terhadap perbuatan kikir dan bakhil
karena merupakan sebab binasanya umat-umat terdahulu. Ketamakan terhadap harta
menggiring mereka bertindak sewenang-wenang terhadap harta orang lain sehingga terjadilah
banyak peperangan dan fitnah yang berakibat kebinasaan mereka dan penghalalan terhadap
isteri-isteri mereka. Kebinasaan seperti ini baru mereka alami di dunia .
Belum lagi di akhirat dimana tindakan sewenang-wenang terhadap harta orang lain, terhadap
isteri-isterinya dan menumpahkan darahnya merupakan kezhaliman yang paling besar dan dosa
yang teramat besar. Perbuatan-perbuatan maksiat inilah yang merupakan sebab kebinasaan di
akhirat dan mendapat azab neraka.

Diantara Nash-Nash Yang Mencelanya

Banyak sekali nash-nash yang mencela dan mengecam perbuatan kikir/bakhil, diantaranya:

• Firman Allah Ta’âla: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung”. (Q,.s.al-Hasyr/59: 9)

• Firman Allah Ta’âla : “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang
Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik
bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-
lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan. (Q,.s. Âli ‘Imrân/03: 180)]

• Firman Allah Ta’âla : “Dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap
dirinya sendiri…”. (Q,.s. Muhammad/47: 38)

• Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad dan Imam at-Turmuzy di
dalam kitabnya dari hadits Abu Bakar bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam
bersabda: “Tidak masuk surga seorang yang bakhil”.

• Hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Turmuzy dan an-Nasâ-iy dari hadits Abu Dzar
bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah membenci
tiga (orang): (1) orang yang sudah tua tetapi berzina, (2) orang yang bakhil/kikir yang
selalu menyebut-nyebut pemberiannya, (3) dan orang yang musbil (memanjangkan
pakaiannya hingga melewati mata kaki) yang sombong”.

Penyebab timbulnya

Sifat Bakhil merupakan penyakit yang disebabkan oleh dua hal:

Pertama, cinta terhadap hawa nafsu yang sarananya adalah harta.


Kedua, cinta terhadap harta yang diakibatkan oleh hawa nafsu, kemudian hawa nafsu dan
semua hajatnya tersebut terlupakan sehingga harta itu sendiri yang menjadi kekasih yang
dicintainya.

Terapinya
Terapi yang dapat memadamkan hawa nafsu tersebut diantaranya:

• Merasa puas dengan hidup yang serba sedikit

• Bersabar dan mengetahui secara yakin bahwasanya Allah Ta’âla adalah Maha Pemberi
rizki

• Merenungi akibat dari perbuatan bakhil di dunia sebab tentu ada penyakit-penyakit
yang sudah mengakar pada diri penghimpun harta sehingga tidak peduli dengan apapun
yang terjadi terhadap dirinya.

Klasifikasi Prilaku Manusia Di Dunia

Prilaku manusia di dunia ini terdiri dari tiga klasifikasi:

• Boros
• Taqshîr (Mengurang-ngurangi) alias Bakhil
• Ekonomis (berhemat/sedang-sedang saja)

Klasifikasi pertama dan kedua merupakan prilaku tercela sedangkan klasifikasi ketiga adalah
prilaku terpuji.

Klasifikasi pertama, Boros (isrâf) adalah tindakan yang berlebih-lebihan di dalam


membelanjakan harta baik yang bersifat dibolehkan ataupun yang bersifat diharamkan; ini
semua adalah keborosan yang amat dibenci.

Klasifikasi kedua, Taqshîr (mengurang-ngurangi) alias bakhil; orang yang bersifat seperti ini
suka mengurang-ngurangi pengeluaran baik yang bersifat wajib ataupun yang dianjurkan yang
sesungguhnya sesuai dengan tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri).

Klasifikasi ketiga, ekonomis dan sistematis; orang yang bersifat seperti ini di dalam
membelanjakan harta yang bersifat wajib yang terkait dengan hak-hak Allah dan makhluk
melakukannya dengan sebaik-baiknya; apakah itu pengeluaran-pengeluaran biasa ataupun
utang piutang yang wajib. Demikian pula, melakukan dengan sebaik-baiknya pengeluaran yang
bersifat dianjurkan yang sesuai dengan tuntutan ‘murû-ah’ (harga diri). Allah Ta’âla berfirman:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.
(Q,s.al-Furqân/25: 67)

Inilah yang merupakan salah satu kriteria dari sifat-sifat yang dimiliki oleh ‘Ibâd ar-Rahmân
(hamba-hamba Allah).Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA:

• ‘Abdul Bâqy, Muhammad Fuâd, al-Mu’jam al-Mufahris Li Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm


• Mausû’ah al-Hadîts asy-Syarîf (CD)
• al-Bassâm, ‘Abdullâh bin ‘Abdurrahmân, Taudlîh al-Ahkâm Min Bulûgh al-Marâm, (Mekkah al-
Mukarramah: Maktabah wa mathba’ah an-Nahdlah al-Hadîtsah, 1414 H), Cet. II
• ad-Dimasyqiy, al-Imâm al-Hâfizh al-Faqîh, Zainuddîn, Abi al-Faraj, ‘Abdurrahmân bin Syihâbuddîn
al-Baghdâdiy, Ibnu Rajab, Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikam fî Syarh Khamsîna Hadîtsan Min Jawâmi’
al-Kalim, (Beirut: Muassasah ar-Risâlah, 1412 H), Cet. III, Juz. II
• ar-Râziy, Muhammad bin Abi Bakr bin ‘Abdul Qâdir, Mukhtâr ash-Shihâh, (Lebanon: al-Markaz
al-‘Arabiy Li ats-Tsaqâfah wa al-‘Ulûm, tth)
• ad-Dimasyqiy, Abu al-Fidâ’, Ismâ’il bin Katsîr al-Qurasyiy, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, (Riyadl:
Maktabah Dâr as-Salâm, 1414 H), Cet. I, Juz. VII
• al-Jazâ-iry, Abu Bakar, Jâbir, asy-Syaikh, Minhâj al-Muslim, (Madinah: Maktabah al-‘Ulûm wa al-
Hikam, 1419 H), Cet. VI

http://www.muslimdiary.com/readarticle.php?article_id=786

Masa (Waktu) Semakin Singkat (Menyempit)

Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : Telah
bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga .... zaman semakin berdekatan (terasa
singkat)". (Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Fitan 13:81-82)

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah pula, katanya : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam.

"Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga waktu semakin berdekatan (semakin singkat),
setahun seperti sebulan, sebulan seperti sejum'at, sejum'at seperti sehari, sehari seperti
sejam, dan sejam terasa hanya sekejap". (Musnad Ahmad 2 : 537-538 dengan catatan pinggir
Muntakhab Al-Kanz. Dan diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dari Anas : Tuhfatul Ahwadzi Syarah
Jami'ay Tirmidzi, Awab Zuhud, Bab Maa Ja-a fi Taqoorubis Zaman wa Qashril Amal 6:624-625.
Ibnu Katsir berkata, "Isnadnya menurut syarat Muslim" : An-Nihayah fil Fitan wal Malahim 1:181
dengan tahqiq Dr Thaha Zaini)

Mengenai berdekatnya zaman ini terdapat bermacam-macam pendapat ulama, antara lain :

1. Bahwa yang dimaksud dengan berdekatnya zaman ialah sedikitnya barakah pada zaman
(kesempatan) itu. (Periksa : Ma'alimus sunan dengan catatan pinggir Mukhtashar Sunan Abu
Daud oleh Al-Mundziri 6:141-142; Jami'ul Ushul oleh Ibnu Atsir 10: 409; Fathul Bari 13:16). Ibnu
Hajar berkata, "Hal ini telah kita jumpai pada masa sebelumnya". (Fathul Bari 31:16)
2. Bahwa yang dimaksud ialah zaman Al-Mahdi dan Isa 'Alaihissalam yang pada waktu itu
manusia merasakan kelezatan hidup, keamanan yang merata, dan keadilan yang menyeluruh.
Karena manusia itu bila hidup dalam kesenangan, mereka merasa hanya sebentar, walaupun
sebenarnya waktunya sudah lama. Dan sebaliknya mereka merasakan penderitaan dan
kesengsaraan itu lama sekali walaupun sebenarnya saat penderitaan dan kesengsaraan itu
hanya sebentar. (Fathul Bari 13:16)
3. Bahwa yang dimaksud ialah berdekatan atau hampir mirip kondisi masyarakat pada waktu
itu karena sedikitnya kepedulian mereka terhadap Ad-Din. Sehingga, sudah tidak ada lagi orang
yang menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar karena telah
merajalelanya kefasikan dan eksisnya ahli kefasikan. Hal ini terjadi ketika manusia sudah tidak
mau menuntut ilmu tentang Ad-Din (agama) dan ridha dengan kejahilan terhadap Ad-Din itu.
Sebab, keadaan sebagaimana dalam berilmu itu bertingkat-tingkat, tidak sama, sebagaimana
firman Allah : "Artinya : Dan di atas semua yang punya ilmu itu ada lagi Yang Maha Mengetahui".
(Yusuf : 76). Sedang tingkat manusia dalam kejahilan itu setara. Yakni bila semua mereka itu
bodoh maka peringkat mereka sama saja.
4. Bahwa yang dimaksud ialah hubungan antar manusia pada zaman itu terasa begitu dekat
karena canggihnya alat-alat transportasi, baik lewat darat, udara (maupun laut) yang demikian
cepat sehingga jarak yang jauh terasa begitu dekat. (Itihaful Jama'ah 1:497; dan Al-'Aqaid Al-
Islamiyah oleh Sayid Sabiq : 247)
5. Bahwa yang dimaksud ialah jarak waktu semakin pendek dan berlalu dengan cepat secara
hakiki. Ini terjadi pada akhir zaman, dan hal ini belum terjadi hingga sekarang. Persepsi ini
diperkuat dengan alasan bahwa hari-hari Dajjal (pada zaman Dajjal) menjadi panjang sehingga
sehari itu seperti setahun, seperti sebulan, dan seperti sejum'at lamanya. Bila saja hari-hari itu
dapat berubah menjadi panjang maka ia juga dapat berubah menjadi pendek. Hal ini terjadi
ketika aturan alam sudah rusak dan dunia telah mendekati masa kehancurannya. (Mukhtashar
Sunan Abu Daud 6:142 dan Jami'ul Ushul 10:409 dengan tahqiq Abdul Qadir Al-Arnauth)

Imam Abu Hamzah 1) berkata : "Boleh jadi yang dimaksud dengan berdekatannya zaman ialah
jangka waktu itu menjadi pendek sebagaimana disebutkan dalam hadits : "Tidak akan datang
hari kiamat sehingga masa setahun itu seperti sebulan". Dengan demikian, perpendekan waktu
itu boleh jadi bersifat hissiyah (inderawi) dan boleh jadi bersifat maknawi (non inderawi). Yang
bersifat hissi (inderawi) hingga sekarang belum nampak, mungkin baru akan terjadi ketika
kiamat sudah dekat.

Adapun yang bersifat maknawi sudah terjadi, dan hal ini dapat dirasakan oleh orang-orang yang
memiliki pengetahuan agama dan yang memiliki perhatian dan kejelian terhadap urusan
duniawi. Hal ini dapat dijumpai ketika mereka tidak lagi dapat menyelesaikan tugas atau
pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dapat mereka selesaikan dengan porsi waktu yang sama.
Mereka mengeluh hal itu, tetapi tidak mereka ketahui sebabnya. Hal ini boleh jadi disebabkan
lemahnya keimanan karena banyaknyan perkara dan praktik hidup yang bertentangan dengan
syara' dalam pelbagai aspek. Dan lebih parah lagi dalam masalah makanan, di antaranya ada
yang haram melulu dan ada pula yang syubhat. Juga banyak pula orang yang tidak
memperdulikan cara mencari harta apakah dengan jalan halal atau dengan jalan haram, yang
penting mendapatkan hasil yang banyak.

Pada kenyataannya, barakah pada waktu (masa), rizki, dan tanaman itu hanya diperoleh
dengan iman yang kuat, mengikuti perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman.

"Artinya : Kalau penduduk suatu negeri benar-benar beriman dan bertaqwa, niscaya Kami
bukakan bagi mereka barakah-barakah dari langit dan dari bumi". (Al-A'raf : 96)

Footnote:
1. Beliau adalah Al-'Allamah Abu Muhammad Abdullah bin Sa'ad bin Sa'id bin Abi Hamzah Al-Azdi
Al-Andalusi Al-Maliki, seorang ulama hadits. Beliau memiliki banyak karangan, antara lain :
"Jam'un Nihayah" yang merupakan Mukhtashar Shahih Bukhari, dan kitab "Al-Mara-i Al-Hisan"
tentang hadits dan ru'ya. Ibnu Katsir berkata, "Beliau adalah Imam yang alim dan ahli ibadah...,
suka menyampaikan kebenaran, menyuruh yang ma'ruf, dan mencegah yang mungkar. Beliau
wafat di Mesir pada tahun 695H. Semoga Allah merahmati beliau. Al-Bidayah wan Nihayah
13:346, dan Al-A'lam 4:89.

Disalin dari buku Asyratus Sa'ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 119-121, terbitan Pustaka
Mantiq, Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.

http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=32

Artikel Hadits :

Rumah-Rumah di Surga
Sabtu, 10 April 04
Dari Abu Umamah al-Bahily radhiallaahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam bersabda: "aku adalah penjamin/penanggung jawab rumah di surga yang paling
rendah terhadap orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada dalam kebenaran,
(juga penjamin/penanggung jawab) rumah di surga yang (berada) ditengah-tengah terhadap
orang yang meninggalkan dusta meskipun sekedar bercanda, (juga penjamin/penanggung
jawab) rumah di surga yang paling tinggi terhadap orang yang baik akhlaknya". [Diriwayatkan
oleh Abu Daud dengan sanad hasan].

Sekilas tentang Periwayat Hadits

Dia adalah shahabat yang agung, Abu Umamah al-Bahily, Shuday bin 'Ajlan al-Bahily, seorang
shahabat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Beliau meriwayatkanilmu yang banyak. Wafat
pada tahun 81 H atau 86 H, semoga Allah meridhainya.

Faedah-Faedah Hadits Dan Hukum-Hukum Terkait

• Seorang Da'i yang sukses dan pendidik yang Naashih (suka memberi nasehat) adalah
orang yang memaparkan faedah-faedah, adab dan akhlak dengan cara yang simpatik
dan menarik sehingga audiens menyambutnya dengan bersemangat dan penuh
kerinduan, lalu menerimanya secara penuh. Demikian pula-lah yang dilakukan oleh
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dalam hadits diatas dimana beliau menyebutkan
beberapa jaminan bagi orang-orang yang memiliki spesifikasi tersebut.

• Surga merupakan sesuatu yang paling dicari-cari oleh para pencarinya dan yang paling
mahal untuk dipersaingkan oleh orang-orang yang bersaing memperebutkannya; maka
beruntunglah orang yang berupaya untuk meraihnya lalu memenangkannya dan
berbahagialah orang yang berusaha demi untuk mendapatkannya. Harganya memang
mahal namun mudah dan murah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah. Dalam hal ini,
Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam memberikan jaminan bagi orang yang melakukan
perbuatan-perbuatan mulia tersebut.

• Dalam pada itu, surga juga memiliki banyak tingkatan yang dipersiapkan oleh Allah
untuk para hamba-Nya yang beriman. Dalam hadits diatas, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam menjelaskan balasan bagi orang yang memiliki salah satu dari tiga sifat
berikut:

o Tidak suka berdebat dalam hal yang tidak ada faedahnya; orang yang memiliki
sifat ini akan mendapatkan surga tingkatan paling rendah. Bentuk dari
perdebatan tersebut berupa perdebatan yang diiringi dengan suara yang
meninggi dan ber-takalluf (menghabiskan energi dan bersusah-susah) dalam
berargumentasi. Dalam hal ini, sebenarnya dia justru ingin mempertajam rasa
permusuhan dan kebencian, bukan untuk mencapai kebenaran yang semestinya
dicari. Seorang Mukmin yang haq adalah orang yang meninggalkan hal itu
meskipun sangat yakin bahwa dia berada dalam kebenaran.

o Tidak suka berdusta meskipun sekedar bercanda; orang yang memiliki sifat ini
akan mendapatkan surga tingkat menengah. Dia mendapatkan ini karena telah
menjauhkan dirinya dari dusta baik dalam perkataan maupun perbuatan,
konsisten dengan sifat jujur, tidak berbicara selain yang benar serta tidak
memberikan informasi selain berita yang benar.

Dusta adalah salah satu dari sifat orang-orang Munafiq sebagaimana dalam
hadits Abu Hurairah radhiallaahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallâhu 'alaihi
wasallam bersabda: "Tanda orang Munafiq ada tiga: (Pertama), bila berbicara
dia berdusta, (Kedua) bila berjanji dia mengingkarinya, dan (ketiga), bila dia
diberi amanah dia berkhianat".

Perbuatan dusta adalah termasuk dosa besar, implikasinya sangat mengerikan


serta amat membahayakan. Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:
"Berhati-hatilah terhadap dusta, karena sesungguhnya perbuatan dusta itu akan
menuntun (menggiring) kepada perbuatan buruk (fujur), dan sesungguhnya
perbuatan buruk (fujur) itu akan menuntun (menggiring) kepada neraka.
Tidaklah seseorang, senantiasa berdusta dan amat mencari-cari (membiasakan)
dusta hingga dia dicatat di sisi Allah sebagai seorang Pendusta".

Ini adalah ancaman yang serius dan amat pedih yang setimpal dengan
perbuatan dusta tersebut meskipun hanya sekedar membikin orang tertawa,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam : "celakalah bagi
orang yang berbicara dengan suatu pembicaraan agar orang lain tertawa tetapi
berdusta, celakalah dia! Celakalah dia!". [H.R.at-Turmuzi].

Mengenai hadits ini, Pengarang kitab Tuhfah al-Ahwazy Syarh Sunan at-Turmuzi
memberikan komentar: "yang dapat difahami dari hadits ini, bahwa bila dia
berbicara benar (dalam candanya tersebut-red) maka hal itu tidak apa-apa
sebagaimana yang dilakukan oleh Umar terhadap Nabi Shallallâhu 'alaihi
wasallam ketika beliau sedang marah kepada sebagian Ummahatul Mukminin…".

Tingkatan dusta yang paling besar dosanya adalah berdusta terhadap Allah atau
Rasul-Nya Shallallâhu 'alaihi wasallam . Demikian juga dusta yang berkaitan
dengan harta benda.

o Berakhlak baik; orang yang memiliki sifat ini akan mendapatkan surga yang
paling tinggi. Yang mendapatkannya adalah siapa saja yang memiliki sifat-sifat
yang terpuji, akhlak yang baik serta yang cara pergaulannya menyenangkan.
Dalam hal ini, dia meneladani Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam yang telah
dipuji oleh Allah Ta'ala dalam firmanNya: "dan sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung". (Q.S. al-Qalam/68: 4).

Akhlak yang baik merupakan perbuatan yang paling banyak memberikan


sumbangsih terhadap melejitnya predikat seorang Muslim di tengah-tengah
masyarakat dalam kehidupan di dunia dan juga di sisi Allah dalam kehidupan di
akhirat kelak sebagaimana dalam hadits Abu ad-Darda' radhiallaahu 'anhu
bahwasanya Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada sesuatupun
yang lebih berat timbangannya bagi seorang Muslim pada hari Kiamat daripada
akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amat membenci orang yang berbuat keji
dan kotor".
• Hubungan Sosial; ikatan yang terjadi antara sesama manusia hendaklah diliputi oleh
suasana kemesraan, saling mencintai, persaudaraan dan kasih sayang. Dari sisi yang
lain, hendaknya terbebas dari perasaan dengki, dendam dan suka mengicuh. Hal inilah
yang dikehendaki dan diupayakan oleh Islam. Untuk itu, hati seorang Muslim mesti
bersih dan suci serta terbebas dari penyakit-penyakit dan kuman-kumannya yang kelak
akan mengeruhkan kejernihan hubungan tersebut.

• Di dalam syari'at Islam terdapat kaidah: "Mencegah timbulnya kerusakan-kerusakan


lebih diutamakan daripada upaya mencari kemaslahatan-kemaslahatan ". Oleh karena
itu, setiap pembicaraan, perdebatan atau perbuatan yang dapat menimbulkan suatu
kerusakan, maka wajib bagi seorang hamba untuk meninggalkannya dan menjauhinya.
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=626&bagian=0

Para Nabi Memperingatkan Kaumnya Akan Dajjal, Padahal Dajjal Itu Tidak Keluar Kecuali Di
Akhir Zaman

Rabu, 14 April 2004 07:15:16 WIB


Kategori : Fatawa 'Arkanil Islam

PARA NABI MEMPERINGATKAN KAUMNYA AKAN DAJJAL, PADAHAL DAJJAL ITU TIDAK KELUAR
KECUALI DI AKHIR ZAMAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Mengapa para Nabi mengingatkan kaum
mereka akan Dajjal, padahal Dajjal itu hanya akan keluar di akhir zaman ?

Jawaban.
Fitnah terbesar yang terjadi di muka bumi sejak diciptakannya Adam sampai bangkitnya kiamat
adalah fitnah Dajjal. Demikian dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh
karena itu, tiada seorang Nabi-pun sejak Nuh sampai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa
sallamuhu kecuali masing-masing mengingatkan kaumnya akan Dajjal. Peringatan ini bertujuan
memberitahu akan kedahsyatannya dan agar berhati-hati darinya.

Allah Maha Tahu bahwa Dajjal itu tidak akan keluar kecuali di akhir zaman, akan tetapi Allah
memerintahkan para rasulNya agar mengingatkan kaumnya masing-masing akan Dajjal agar
diketahui kedahsyatannya dan malapetaka yang dibawanya. Dalam suatu hadits yang shahih
disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Jika Dajjal itu keluar dan aku berada di tengah-tengah kalian, maka akulah yang
akan mengatasinya dari kalian dan kalau tidak maka seseorang menjadi pembela bagi dirinya
sendiri. Allah-lah khalifahku atas setiap muslim” Ya, sebaik-baik khalifah (pengganti,
pembela atau penolong) adalah Rabb kita ‘Azza wa Jalla.

Dajjal itu memang luar biasa dan fitnahnya merupakan fitnah yang paling dahsyat dan
mengerikan yang pernah terjadi di dunia ini sejak diciptakannya Adam hingga bangkitnya
kiamat. Karena itu wajar jika berta’awwudz dari fitnah Dajjal ini dikhususkan dalam shalat.

“Artinya : Aku berlindung kepada Allah dari adzab Jahannam dan adzab kubur dari fitnahnya
hidup dan mati, serta dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal”

Nama Dajjal diambil dari kata ad-dajl yang artinya at-tamwith (pembohong dan pendusta),
karena memang Dajjal adalah pembohong yang paling besar, serta yang paling banyak dan
paling dahsyat dalam menipu.

[Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin
Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid, Pustaka At-Tibyan]

http://www.muslimdiary.com/readarticle.php?article_id=8
Tanda-Tanda Doom Day....

Zina bermaharajalela."Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk, yang seenaknya melakukan


persetubuhan seperti himar (keldai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang."
-Sahih Muslim-

Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang. "Di antara tanda-tanda telah
dekatnya hari kiamat ialah akan muncul pakaian-pakaian wanita dan apabila mereka
memakainya keadaannya seperti telanjang."
-Abu Hurairah r. a-

Penaklukan Baitulmuqaddis. Dari Auf b. Malik r. a. Rasulullah s. a. w. telah bersabda: "Aku


menghitung enam perkara menjelang hari kiamat." Baginda menyebutkan salah satu di
antaranya, iaitu penaklukan Baitulmuqaddis."

-Sahih Bukhari-

Bermaharajalela alat muzik."Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, rusuhan dan
perubahan muka. Ada yang bertanya kepada Rasulullah; "Wahai Rasulullah bila hal ini terjadi?"
Baginda menjawab; "Apabila telah bermaharajalela bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi-
penyanyi wanita"
-Ibnu Majah-

Menghias masjid dan membanggakannya."Diantara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah


manusia bermegah-megahan dalammendirikanmasjid"

-Riwayat Nasai.-

Munculnya kekejian, memutuskan kerabat dan hubungan dengan tetangga tidak baik. "Tidak
akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji, memutuskan hubungan
silaturahim dan sikap yang buruk dalam tetangga."
-Riwayat Ahmad dan Hakim-

Ramai orang soleh meninggal dunia."Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil
orang-orang yang baik dan ahli agama di muka bumi, maka tiada yang tinggal padanya kecuali
orang-orang yang hina dan buruk yang tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari
kemungkaran."
-Riwaya t Ahmad-

Orang hina mendapat kedudukan terhormat."Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat
ialah duniaakan dikuasai oleh Luka' bin Luka' (orang yang bodoh dan hina). Maka orang yang
paling baik ketika itu ialah orang yang beriman yang diapit oleh dua orang mulia"
-Riwayat Thabrani-

Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya sahaja."Sesungguhnya di antara tanda-tanda


telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu mengucapkan salam kepada orang lain
kecuali yang dikenalnya saja."

-Riwayat Ahmad-

Bulan sabit kelihatan besar."Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah
menggelembung (membesarnya) bulan sabit."
-Riwayat Thabrani-

Banyak dusta dan tidak tepat dalam menyampaikan berita."Pada akhir zaman akan muncul
pembohong- pembohong besar yang datang kepadamu dengan membawa berita-berita yang
belum pernah kamu dengar dan belum pernah didengar oleh bapa-bapa kamu sebelumnya,
kerana itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak menyesatkanmu dan
memfitnahmu"

-Sahih Muslim-

Banyak saksi palsu dan menyimpan kesaksian yang benar."Sesungguhnya sebelum datangnya hari
kiamat akan banyak kesaksian palsu dan disembunyikan kesaksian yang benar"

-Riwayat Ahmad-

Negara Arab menjadi padang rumput dan sungai."Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri
Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai."

-Sahih Muslim-

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=573&bagian=0

Tanda-Tanda Kiamat Kubra

Jumat, 2 April 2004 08:33:44 WIB


Kategori : Fatawa 'Arkanil Islam

TANDA-TANDA KIAMAT KUBRA


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah tanda-tanda kiamat kubra itu
datangnya secara beruntun ? Apakah hewan-hewan itu mengetahui dan merasakan tanda-tanda
kiamat itu, sedangkan manusia dan jina tidak ?

Jawaban.
Tanda-tanda kiamat kubra itu sebagiannya datang secara beruntun dan dapat diketahui dan
sebagian yang lain tidak beruntun dan tidak diketahui runtutannnya. Di antara yang datang
secara beruntun adalah turunnya Nabi Isa putra Maryam dan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj
serta Dajjal. Dajjal dibangkitkan, kemudian turun Nabi Isa untuk membunuhnya, keluarnya
Ya’juj dan Ma’juj.

As-Safarani Rahimahullah dalam kitab aqidahnya menyusun urutan-urutan tanda-tanda kiamat.


Sebagian urutan yang disusunnya ini cukup memuaskan (bisa diterima), namun sebagian lainnya
tidak.

Masalah urutan itu tidak terlalu penting bagi kita, akan tetapi yang penting adalah bahwa
kiamat itu memiliki tanda-tanda yang luar biasa. Jika tanda-tanda tersebut telah telah muncul,
maka kiamat benar-benar telah dekat. Allah Ta’ala membuat tanda-tanda bagi tibanya
kiamat itu karena kiamat merupakan kejadian penting di mana manusia perlu diingatkan akan
kejadiannya yang telah dekat.

Kita tidak tahu, apakah binatang-binatang itu merasakan tanda-tanda kiamat tersebut atau
tidak. Namun yang pasti, binatang-binatang itu juga dibangkitkan pada hari kiamat dan juga
dikumpulkan, kemudian satu sama lainnya saling mengqishah.
[Disalin dari kitab Fatawa Anil Iman wa Arkaniha, yang di susun oleh Abu Muhammad Asyraf bin
Abdul Maqshud, edisi Indonesia Soal-Jawab Masalah Iman dan Tauhid, Pustaka At-Tibyan]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1371&bagian=0

Budak Wanita Melahirkan Tuannya

Sabtu, 12 Maret 2005 00:18:34 WIB


Kategori : Hadits

BUDAK WANITA MELAHIRKAN TUANNYA


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Dalam hadits Jibril yang panjang disebutkan pula sabda Rasulullah Shallallahu a’alaihi wa
sallam.

“Artinya : Dan akan saya beritahukan kepadamu tanda-tanda hari kiamat itu ialah apabila
budak wanita melahirkan tuannya ….” [Shahih Bukhari Kitab Al-Iman, Bab Suali Jibril 1:114.
Shahih Muslim, Kitab Al-Iman. Bab Bayani Al-Iman wa Al-Islam wa Al-Ihsan 1 : 158]

Dan dalam riwayat Muslim dengan lafal.

“Artinya : Apabila budak wanita melahirkan tuannya ….” [Shahih Muslim 1 : 163]

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna ‘alamat (tanda-tanda) ini atas
beberapa macam pendapat, dan Al-Hafidzh Ibnu Hajar menyebutkan empat diantaranya, yakni
:

[1]. Al-Khatabi berkata : “Maknanya ialah Islam akan meluas hingga dapat menguasai
Negara-negara musyrik dan menawan anak cucu mereka. Apabila seseorang dapat memiliki
Jariyah (budak wanita), lantas budak tersebut melahirkan anak hasil hubungan dengannya.
Maka, anak tersebut berkedudukan sebagai tuannya, karena si anak tersebut adalah anak
tuannya” [Ma’alim As-Sunan ‘Ala Mukhtashar Sunan Abu Daud 7:67. Fathul Bari 1 : 122]

Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat ini merupakan pendapat kebanyakan ulama.
[Syarah Muslim 1 : 158]

Ibnu Hajar mengatakan : “Pendapat ini masih perlu direnungkan dan dipertimbangakan,
sebab budak-budak perempuan melahirkan anak hasil hubungannya dengan tuannya itu sudah
terjadi ketika hadits ini disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan
penaklukan terhadap negara-negara musyrik dan penawanan terhadap anak cucu mereka serta
menjadikan mereka sebagai tawanan perang juga banyak terjadi pada masa permulaan Islam.
Padahal, konteks hadits ini menunjuk kepada sesuatu yang belum terjadi, yang baru akan
terjadi ketika telah mendekati hari kiamat [Fathul Bari 1 : 122] [1]

[2]. Para tuan menjual ibu (yakni budak yang merupakan ibu) dari anaknya, dan hal ini semakin
banyak dan ramai di pasaran, kemudian budak-budak wanita itu dibeli oleh anak-anak
kandungnya sendiri dengan tanpa disadari (bahwa antara mereka terdapat hubungan ibu dan
anak).

[3]. Si budak perempuan melahirkan anak yang merdeka dari hubungan dengan orang yang
bukan tuannya karena persetubuhan yang syubhat. Atau melahirkan budak pula dari jalan
pernikahan atau perzinaan, kemudian budak perempuan tersebut dijual dan berpindah-pindah
tangan, hingga dibeli oleh anaknya (dan dijadikan budaknya). Pendapat ini mirip dengan
pendapat sebelumnya.

[4]. Banyaknya anak durhaka yang memperlakukan dan menyikapi ibunya seperti sikap tuan
terhadap budaknya, seperti merendahkannya, mencacinya, memukulnya, dan
memperkerjakannya atau menjadikannya pelayan untuk dirinya. Jadi, pemakaian kata-kata
Rabb (tuan) di sini adalah majazi. Atau boleh jadi yang dimaksud dengan rabb di sini adalah
mu-rabbi-nya (pendidik dan pembimbingnya).

Sealnjutnya Ibnu Hajar berkata : “Dan pendapat ini (yakni pendapat keempat ini) adalah
pendapat yang paling tepat menurut pandangan saya, mengingat keumumannya. Lagi pula
karena konteksnya menunjuk kepada suatu kondisi yang bakal terjadi, ketika terlah terjadi
kerusakan dan keanehan-keanehan serta penyimpangan. Ringkasnya, hadits itu mengisyaratkan
bahwa terjadinya kiamat itu sudah dekat apabila keadaan sudah berbalik dimana seseorang
yang semestinya dibimbing malah membimbing dan orang-orang rendahan malah menempati
posisi yang tinggi (terhormat). Ini sesuai pula dengan sabda beliau mengenai tanda yang lain di
mana orang yang dahulunya berkaki telanjang (karena miskinnya) malah menjadi raja
(penguasa)” [Fathul Bari 1 : 122-123 secara ringkas]

[5]. Kemudian terdapat pendapat kelima yang dikemukakan oleh Al-Hafidzh Ibnu katsir
rahimahullah, yaitu budak-budak perempuan pada akhir zaman memperoleh kedudukan yang
terhormat, yaitu mendampingi seorang pembesar. Karena itulah hal ini dirangkaikan
penyebutannya dalam sabda beliau : “Dan engkau akan melihat orang-orang yang dahulunya
berkaki telanjang, berpakaian compang-camping lagi miskin, pada saat itu berlomba-lomba
membangun perumahan (dan sebagainya)” [An-Nihayah Fil Fitan Wal Malahin 1 : 177 dengan
tahqiq Dr Thaha Zaini]

Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 132 -133, 154-155 terbitan
Pustaka Mantiq, penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]
_________
Foote Note
[1]. Ibnu Katsir juga menganggap pendapat pertama ini sebagai pendapat yang tidak tepat
[Vide : An-Nihaya Fil Fitan Wal Malahim 1 : 177-178]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1260&bagian=0

Banyak Gempa Bumi Dan Banyaknya Kematian Mendadak

Senin, 27 Desember 2004 13:59:05 WIB


Kategori : Hadits

BANYAK GEMPA BUMI


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, katanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak akan datang Kiamat sehingga banyak terjadi gempa bumi" [Shahih Bukhari,
Kitab Al-Fitan 13 : 81-82]

Dan diriwayatkan dari Salamah bin Nufail As-Sukuni, Ia berkata : Kami sedang duduk-duduk di
sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu beliau menyebutkan suatu hadits yang antara
lain isinya :

"Artinya : Sebelum terjadinya hari Kiamat akan terdapat kematian-kematian yang mengerikan,
dan sesudahnya akan terjadi tahun-tahun gempa bumi" [Musnad Imam Ahmad 4 : 104 dengan
catatan pinggir Muntakhab Al-Kanz. Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani,
Al-Bazaar, dan Abu Ya'ala dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan" Majmu'uz
Zawa'id 7 : 306]

Ibnu Hajar berkata, "Telah banyak terjadi gempa bumi di negara-negara bagian utara, timur
dan barat, tetapi yang dimaksud oleh hadits ini ialah gempa bumi secara merata dan terus
menerus" [Fathul Bari 13 : 87]. Hal ini diperhatikan dengan riwayat Abdullah bin Hawalah
Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah meletakkan
tangan beliau di kepala saya, lalu beliau bersabda.

"Artinya : Wahai putra Hawalah, jika engkau melihat perselisihan telah terjadi di tanah suci,
maka telah dekat terjadinya gempa-gempa bumi, bala bencana, dan perkara-perkara yang
besar, dan hari Kiamat pada waktu itu lebih dekat kepada manusia dari pada kedua tanganku
ini terhadap kepalamu" [Musnad Ahmad, 5 : 188 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul
'Ummal, 'Aunul Ma'bud Syarah Sunan Abu Daud, Kitab Al-Jihad, Bab Fi-Ar-Rajuli Taghzuu wa
yaltamisu Al-Ajra wa Al-Ghanimah 7 : 209-210, Mustadrak Al-Hakim 4 : 425, dan beliau berkata,
"Ini adalah hadits yang shahih isnadnya, hanya saja Bukhari dan Muslim tidak
meriwayatkannya". Perkataan Al-Hakim ini disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dan Al-Albani
menshahihkan hadits ini dalam shahih Al-Jami'ush Shagir 6 : 263, hadits nomor 7715]

BANYAKNYA KEMATIAN MENDADAK


Diriwayatkan secara marfu' dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari Kiamat ialah … banyak
terjadi kematian secara mendadak". [Al-Haitsami berkata, "Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani
dalam Ash-Shagir dan Al-Ausath dari gurunya Al-Haitsam bin Khalid Al-Mashishi, sedangkan dia
itu dhaif". Majma'uz-Zawaid 7 : 325, Al-Albani berkata, "Hasan" Dan beliau menyebutkan orang-
orang yang meriwayatkannya, yaitu Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Adh-Dhiya' Al-Maqaddasi.
Lihat : Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 5 : 214, hadits nomor 5775]

Ini merupakan kejadian yang sudah dapat disaksikan pada masa sekarang di mana banyak
terjadi kematian mendadak pada manusia. Maka anda dapat menyaksikan seseorang yang
tadinya sehat dan segar bugar, tiba-tiba ia mati secara mendadak, yang sekarang diistilahkan
dengan kegagalan jantung atau serangan jantung. Karena itu bagi orang yang berakal sehat,
hendaklah ia sadar dan kembali serta bertaubat kepada Allah Ta'ala sebelum datangnya
kematian secara mendadak.

Imam Bukhari Rahimahullah pernah berkata :

"Peliharalah keutamaan ruku'mu pada waktu senggang

Sebab, boleh jadi kematianmu akan datang

Secara tiba-tiba

Betapa banyaknya orang yang sehat dan segar bugar

Lantas meninggal dunia dengan tiba-tiba"

Ibnu Hajar berkata : "Sungguh ajaib, bahwa kematian secara mendadak ini juga menimpa
beliau –Imam Bukhari- sendiri' [Hadyus-Sari Muqaddimah Fathul Bari, halaman 481, oleh Al-
Hafizh Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalani, dengan ikhraj dan tashhih oleh Muhibbuddin Al-Khatib,
dicetak oleh Qushay Muhibuddin Al-Khathib, dipublikasikan dan dibagi-bagikan oleh Riasah
Idaaratil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta'. Riyadh]

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 132 -133, 154-155 terbitan
Pustaka Mantiq, penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1238&bagian=0

Banyaknya Kemusyrikan Di Kalangan Umat Islam

Sabtu, 18 Desember 2004 07:18:05 WIB


Kategori : Hadits

BANYAKNYA KEMUSYRIKAN DI KALANGAN UMAT ISLAM


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.
Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Hal ini termasuk tanda-tanda hari kiamat yang sudah nampak dengan jelas yang kini semakin
bertambah.

Dikalangan umat Islam ini telah terjadi kemusyrikan, dan beberapa kelompok dari mereka
menjalin hubungan akrab dengan orang-orang musyrik. Mereka menyembah berhala-berhala,
patung-patung, arca-arca dan sebagainya. Mereka juga mendirikan bangunan-bangunan di atas
kubur dan mereka sembah disamping menyembah Allah dengan tujuan agar mendapatkan
barakahnya. Mereka cium, mereka agungkan, mereka junjung tinggi, mereka bernadzar
untuknya, dan mereka adakan hari-hari besar tertentu berkaitan dengan kubur atau bangunan-
bangunan di atas kubur tersebut. Banyak diantara mereka yang memperlakukan bangunan-
bangunan itu seperti berhala Lata, Uzza dan Manat atau lebih besar lagi syiriknya.

Abu Daud dan Tirmidzi meriwayatkan dari Tsauban Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : telah
bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Apabila pedang telah diletakkan pada umatku, maka ia tidak akan diangkat lagi
hingga hari kiamat. Dan tidak akan datang kiamat itu sehingga beberapa kabilah dari umatku
mengikuti tingkah laku kaum musyrik, dan sehingga ada beberapa kabilah dari umatku yang
menyembah berhala-hala" [Aunul Ma'bud Syarh Sunan Abu Daud 11 : 322-324, Tuhfatul Ahwadzi
Syarh Jami Tirmidzi 6 : 466. Tirmidzi berkata, "Ini adalah hadits shahih". Dan hadits ini juga
dishahihkan oleh Al-Alban dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shagir 6 : 174, hadits nomor 7295]

Imam Asy-Syaikhani (Bukhari dan Muslim) meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu
katanya : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga wanita-wanita tua suku Daus berputar-putar
mengelilingi Dzil-Khalashah" [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab Taghayyuriz-Zaman Hatta
Tu'bada Al-Autsan 13 : 76, hadits nomor 7116, Shahih Muslim Syarah Nawawi, Kitab Al-Fitan Wa
Asyroth As-Sa'ah, Bab Laa Taquumu As-Sa'utu Hatta Ta'buda Daus Dzal-Khalashah 18 : 32-33]

Dan Dzul-Khalashah ialah tempat berhala suku Daus yang mereka sembah pada zaman jahiliyah.

Apa yang disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits ini telah menjadi
kenyataan. Karena suku Daus dan orang-orang Arab di sekitarnya telah terfitnah dengan Dzul-
Khalashah. Yakni tatkala mereka dilanda kebodohan dan kembali mengikuti jejak nenek moyang
mereka terdahulu dengan menyembeah Dzul-Khalashah disamping menyembah Allah. Sehingga,
bangkitlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah dengan dakwah dan seruannya
kepada tauhid dan memurnikan ajaran Islam. Maka Islampun dapat kembali lagi ke jazirah
Arab. Kemudian bangkitlah Al-Imam Abdul Aziz bin Muhamad bin Sa'ud rahimahullah, dan beliau
mengirim sekelompok juru dakwah ke Dzul-Khalashah untuk merobohkan dan menghancurkan
sebagian bangunannya. Tetapi setelah masa pemerintahan keluarga Sa'ud atas Hizaz berakhir,
maka kembalilah orang-orang jahil menyembah patung di Dzul-Khalashah lagi.

Kemudian, ketika Abdul Aziz bin Abdur Rahman Ali (keluarga) Sa'ud rahimahullah berkuasa atas
Hizaz, beliau memerintahkan gubernurnya untuk mengirim pasukan guna menghancurkannya
dan menghilangkan bekas-bekasya. Segala puji dan nikmat kepunyaan Allah [Vide : Ithaful
Jama'ah I : 522-523 : Sarootu Ghamid wa Zahron : 347-349]
Kesyirikan-kesyirikan itu akan senantiasa ada dalam berbagai negeri dengan berbagai
bentuknya. Dan benarlah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bersabda.

"Artinya : Tidak akan lenyap malam dan siang (tidak akan lenyap dunia, yakni Kiamat) sehingga
Lata dan Uzza (berhala) disembah kembali" Lalu Aisyah berkata : Wahai Rasulullah,
sesungguhnya ketika Allah menurunkan firmanNya : 'Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan
membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama,
meskipun orang-orang musyrik tidak menyukainya'. Saya kira dengan turunnya ayat ini semua
itu sudah sempurna. Beliau menjawab : "Itu akan terjadi sesuai dengan kehendak Allah, tetapi
kemudian Allah akan mengirimkan angin yang baik lantas mematikan setiap orang yang di
hatinya masih ada iman meskipun seberat biji sawi, sehingga tinggal manusia yang tidak ada
kebaikannya sama sekali, lalu mereka kembali kepada agama nenek moyang mereka (syirik)"
[Shahih Muslim dengan syarah Nawawi, Kitab Al-Fitan wa syrithis Sa'ah 18 : 33]

Dan lambang serta wujud kemusyrikan itu banyak sekali. Tidak terbatas pada penyembahan
terhadap batu, kayu dan kuburan, tetapi bisa lebih jauh dari itu. Yaitu, dengan menjadikan
thoghut-thaghut sebagai saingan bagi Allah Ta'ala, yang menciptakan syari'at untuk manusia dan
menyuruh manusia mengikuti syariatnya dengan meninggalkan syariat Allah. Dengan demikian,
berarti mereka menjadikan diri mereka sebagai tuhan-tuhan yang disucikan selain Allah seperti
yang disinyalir Allah :

"Artinya : Mereka menjadikan orang-orang pandai dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah" [At-Taubah : 31]

Maksudnya, mereka menjadikan ulama-ulama dan sarjana-sarjana serta hali-ahli ibadat mereka
sebagai tuhan-tuhan yang membuat syari'at bagi mereka. Mereka mengikuti saja apa yang
dihalalkan dan diharamkan oleh orang-orang tersebut (tanpa berdasarkan Kitabullah dan
sunnah RasulNya [vide : Tafsir Ibnu Katsir 4 : 77]

Kalau dalam hal tahlil (penghalalan) dan tahrim (pengharaman) sesuatu saja begini, maka
betapa lagi dengan orang-orang yang mengesampingkan Islam dan membuangnya ke belakang
punggung mereka dan memeluk madzhab-madzhab atheis seperti sekularisme, komunisme,
sosialisme dan qaummiyyah (nasionalisme/sukuisme) kemudian mereka masih menganggap
dirinya muslim ?

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 122 -125 terbitan Pustaka
Mantiq, penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1141&bagian=0

Mengucapkan Salam Hanya Kepada Yang Dikenal Saja

Senin, 25 Oktober 2004 22:01:29 WIB


Kategori : Hadits

MENGUCAPKAN SALAM HANYA KEPADA YANG DIKENAL SAJA


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Dan diantara telah dekatnya hari kiamat lagi ialah akan adanya orang-orang yang hanya mau
mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya saja.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, ia berkata.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak
mau mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja".[Hadits Riwayat
Ahmad. Musnad Ahmad 5:326. Ahmad Syakir berkata 'Isnadnya Shahih'].

Dalam riwayat lain bagi Imam Ahmad dengan lafal.

"Artinya : Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat pengucapan salam itu hanya untuk
orang-orang tertentu saja (Yakni yang dikenalnya)". [Musnad Ahmad 5:333. Ahmad Syakir
berkata, 'Isnadnya Shahih'. Al-Albani berkata : 'Ini adalah isnad yang shahih menurut syarat
Muslim'. Silsilatul Ahaditsish Shahih 2:251. hadits nomor 647].

Kondisi seperti ini dapat kita saksikan pada masa sekarang ini, maka banyak orang yang hanya
mau mengucapkan salam kepada orang-orang yang dikenalnya saja. Perilaku seperti ini
bertentangan dengan sunah, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan
menyebarkan salam kepada orang yang Anda kenal maupun yang Anda tidak kenal. Hal inilah
yang menjadi penyebab tersebarnya rasa kasih sayang dan saling mencintai di antara sesama
kaum muslimin. Juga bisa jadi pemupuk keimanan yang menjadi faktor menentukan untuk
dapat masuk surga, sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah
radhiyallahu anhu. katanya dari Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidaklah kamu akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan tidaklah kamu beriman
sehingga kamu saling mencintai. Tidaklah kamu mau kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila
kamu lakukan kamu akan saling mencintai .? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu". [Hadits
Riwayat Muslim. Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Annahu Laa Yadkhulu Al-Jannata illa
Al-Mu'minuun 2:35]

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 141-142 terbitan Pustaka
Mantiq, penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=930&bagian=0

Berlomba-Lomba Dalam Mendirikan Bangunan

Kamis, 22 Juli 2004 08:40:08 WIB


Kategori : Hadits
BERLOMBA-LOMBA DALAM MENDIRIKAN BANGUNAN
Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Kondisi seperti itu telah muncul tidak lama setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam dimana orang bermegah-megahan dalam mendirikan bangunan dan memperindah
rumah mereka. Hal ini terjadi karena dunia telah dihamparkan bagi kaum muslimin dan harta
melimpah ruah di tangan mereka setelah dapat menaklukkan berbagai negara dan
mengembangkan kekuasaannya. Sehingga banyak dari mereka yang cenderung kepada dunia
dan terjangkit penyakit umat sebelumnya, yaitu berlomba-lomba mengumpulkan harta dan
menggunakannya untuk hal-hal yang tidak sesuai dengan pandangan syara’. Dan penduduk
pedesaan pun, yang dahulunya fakir dan miskin, sekarang telah dihamparkan kekayaan dunia
kepada mereka lantas berlomba-lomba membuat bangunan perumahan bertingkat dengan
bermacam-macam bentuk dan model. Semua itu telah terjadi persis seperti apa yang disinyalir
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dalam Shahihain dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Malaikat
Jibril ketika menanyakan kepada beliau tentang waktu terjadinya kiamat. Sabda beliau.

“Artinya : Tetapi, saya akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya. (Lalu


menyebutkan antara lain) “Apabila penggembala-penggembala ternak sudah berlomba-
lomba dalam membuat bangunan (rumah dan sebagainya), maka itu termasuk tanda-tanda
telah dekatnya kiamat” [Shahih Bukhari, Kitab Al-Iman, Bab Suali Jibril An-Nabiyya
Shallallahu ‘alaihi wa sallam An Al-Imam Wa Al-Islam Wa Al-Ihsan Wa Ilmi As-Sa’ah 1 : 114,
dan Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayani Al-Iman Wa Al-Islam Wa Al-Ihsan 1 : 161-164]

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafal.

“Artinya : Dan (di antara tanda telah dekatnya hari kiamat) ialah engkau lihat orang-orang
yang dahulunya berkaki telanjang, berpakaian compang-camping, miskin, menggembala
kambing, latas mereka berlomba-lomba membangun rumah-rumah indah” [Shahih Muslim 1 :
158]

Dan dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Abbas, ia bertanya, “Wahai Rasulullajh, siapakah
penggembala-penggembala kambing dan berkaki telanjang, lapar dan miskin itu ?” Beliau
menjawab, “Orang-orang Arab”[Musnad Ahmad 4 : 332-334, hadits nomor 2926 dengan
syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya Shahih”. Al-Haitsami berkata,
“Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Bazaar yang seperti itu… dan dalam isnad Ahmad
terdapat Syahr bin Hausyab”. Majma-uz Zawaid 1: 38-39. Al-Albani berkata, “Ini adalah
isnad yang tidak apa-apa untuk menjadi syahid (pendukung hadits lain)”. Periksa Silsilatul
Ahaditshish Shahihah 3 : 332, hadits nomor 1345]
Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dalam membuat
bangunan” [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan 13 : 81-82]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Yang dimaksud berlomba-lomba dalam membangun ialah
apabila salah seorang membangun rumah, maka ia ingin mengungguli yang lain. Disamping itu
juga bisa diartikan dengan bermegah-megah dalam memperindah dan menghiasinya, atau lebih
umum lagi dari itu. Dan memang banyak didapati orang-orang yang berlebihan dalam hal ini”
[Fathul Bari 13 : 88]

Hal ini sudah nampak dengan jelas pada masa sekarang. Orang sudah bermegah-megahan dalam
membangun rumah, berlomba-lomba tentang tingginya bangunan, luasnya, indahnya, bahkan
sudah seperti gedung-gedung pencakar langit yang terkenal di Amerika dan negara-negara lain.

[Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, oleh Yusuf bin
Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA, Terbitan CV Pustaka Mantiq, hal.113-115]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=795&bagian=0

Memperindah Masjid Dan Bermegah-Megahan Dengannya

Rabu, 9 Juni 2004 10:06:40 WIB


Kategori : Hadits

MEMPERINDAH MASJID DAN BERMEGAH-MEGAHAN DENGANNYA

Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Diantara tanda-tanda lainnya yang menunjukkan dekatnya kiamat ialah orang-orang


memperindah, menghias, bermegah-megahan dalam membangun masjid serta membangga-
banggakannya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berasabda.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga manusia bermegah-megahan dalam


membangun masjid” [Musnad Ahmad 3 : 134 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul
Ummal. Al-Albani berkata “Shahih”. Lihat : Shahih Al-Jami’ush Shagir 6 : 174, hadits
nomor 7298]

Dan dalam riwayat Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Diantara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah orang-orang bermegah-


megahan dalam membangun masjid”. [Sunan Nasa’i 2 : 32 dengan syarah As-Suyuti. Al-
Albani mengesahkannya dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir 5 : 213, nomor 5771, Shahih Ibnu
Khuzaimah 2 : 282, hadits nomor 1322-1323 dengan tahqiq Dr Muhammad Musthafa Al-
A’zhami. Beliau berkata “Isnadnya shahih”]

Al-Bukhari berkata : Anas berkata, “Orang-orang bermegah-megahan dalam membangun


masjid, kemudian mereka tidak memakmurkannya kecuali hanya sedikit. Maka yang dimaksud
dengan At-Tabaahii (bermegah-megahan) ialah bersungguh-sungguh dalam memperindah dan
menghiasinya”.

Ibnu Abbas berkata , “Sungguh kalian akan memperindah dan menghiasinya sebagaimana
orang-orang Yahudi dan Nasrani memperindah dan menghiasi tempat ibadah mereka” [Shahih
Bukhari, Kitab Ash-Shalah, Bab Bunyanil Masajid 1 : 539]

Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu melarang menghiasi masjid dan memperindahnya,
karena yang demikian itu dapat mengganggu shalat seseorang. Dan ketika beliau
memerintahkan merehab Masjid Nabawi, beliau berkata, “Lindungilah manusia dari hujan,
dan janganlah engkau beri warna merah atau kuning karena akan memfitnah (mengganggu)
manusia” [Shahih Bukhari 1 : 539]

Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada Umar, karena orang-orang tidak mau
menerapkan wasiatnya, bahkan mereka tidak hanya memberi warna merah atau kuning, tapi
sudah lebih dari itu hingga mengukir dan melukis masjid seperti melukis pakaian. Dan para Raja
dan Khalifah sudah bermegah-megahan dalam membangun masjid sehingga sangat
mengagumkan. Masjid-masjid yang dibangun dengan kemegahan semacam itu sebagaimana
yang ada di Syam, Mesir, Maroko, Andalus dan sebagainya. Dan sampai sekarang kaum muslimin
senatiasa berlomba-lomba dan bermegah-megahan dalam memperindah dan menghiasi masjid.

Tidak disangsikan lagi bahwa memperindah, menghiasi dan bermegah-megahan dalam


membangun masjid termasuk perbuatan berlebih-lebihan dan mubadzir. Padahal,
memakmurkan masjid itu adalah dengan melaksanakan ketaatan dan berdzikir di dalamnya,
dan cukuplah bagi manusia sekiranya mereka sudah terlindung dari panas dan hujan di dalam
masjid. Sungguh diancam dengan kehancuran apabila masjid-masjid sudah diperindah dan
mushaf-mushaf sudah dihiasi sedemikian rupa. Al-Hakim At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu
Darda’ Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.

“Artinya : Apalagi kamu sudah menghiasi (memperindah) masjid-masjidmu dan mushaf-


mushafmu, maka kehancuran akan menimpamu” [1]

Al-Munawi [2] berkata , “Maka memperindah masjid dan menghiasi mushaf itu terlarang,
sebab dapat menggoda hati dan menghilangkan kekhusyu’an, perenungan, dan perasaan
hadir di hadapan Allah Ta’ala. Menurut golongan Syafi’iyah, menghiasi masjid atau
Ka’bah dengan emas atau perak adalah haram secara mutlak, dan dengan selain emas dan
perak hukumnya makruh” [Faidhul Qadir 1 : 367]

[Disalin dari kitab Asyratus Sa’ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, oleh Yusuf bin
Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA, Terbitan CV Pustaka Mantiq, hal.111-112]
_________
Foote Note
[1] Shahih Al-Jami Ash-Shagir 1 : 220, hadit nomor 599, Al-Albani berkata, “Isnadnya hasan”. Dan
beliau menyebutkan dalam kitab Silsilatul Ahaditsish Shahihah 3 : 337, hadit nomor 1351 bahwa hadist ini
diriwayatkan oleh Al-Hakim At-Tirmidzi dalam kitab Al-Akyas Wal-Mughtarrin, halaman 78 dari Abu Darda
secara marfu.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dengan mendahulukan dan mengakhirinya (membalik
susunannya) dalam Kitab Az-Zuhdi halaman 275, hadits nomor 797 dengan tahqiq Habibir-Rahman Al-
Azhami. Dan Al-Bani menyebutkan isnad Ibnu Mubarak dalam As-Silsilah dengan mangatakan, ‘Ini adalah
isnad yang perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan, perawi-perawi Muslim, tetapi saya tidak
tahu apakah Bakar bin Suwadah (yang meriwayatkan dari Abu Darda) ini mendengar dari Abu Darda’
atau tidak ?” Hadits ini disebutkan oleh Al-Baghawi dalam Syarah As-Sunnah 2 ; 350 dan beliau
menisbatkannya kepada Abu Darda’.
As-Suyuthi menisbatkannya di dalam Al-Jami’ush Shagir halaman 27 kepada Al-Hakim dan Abu Darda’
dan memberi siyarat dha’if. Demikian pula Al-Munawi mendhaifkannya dalam Faidhul Qadir 1 ; 367,
hadits nomor 658.
[2] Belaiu adalah Zainuddin Muhammad bin Abdur Ra’uf bin Tajul Arifin bin Ali bin Zainul Abidin Al-
Haddadi Al-Munawi. Beliau memiliki delapan buah karangan, terutama dalam bidang hadits, biografi, dan
sejarah. Beliau wafat di Kairo pada tahun 1031H. Semoga Allah merahmati beliau. Lihat Al-A’lam 6 :
204

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=754&bagian=0

Minuman Keras Merajalela Dan Dianggap Halal

Rabu, 26 Mei 2004 09:23:37 WIB


Kategori : Hadits

MINUMAN KERAS MERAJALELA DAN DIANGGAP HALAL


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Telah merajalela minum-minuman keras di kalangan umat ini dan diberinya nama (label) lain.
Dan yang lebih parah lagi ialah dianggapnya halal minuman keras itu oleh sebagian orang. Hal
ini juga termasuk sebagian tanda dekatnya hari kiamat. Imam Muslim meriwayatkan dari Anas
bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda.

“Artinya : Diantara tanda-tanda (telah dekatnya) hari kiamat ialah …., kemudian beliau
menyebutkan antara lain “akan diminumnya khamr” [Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab
Raf’il Ilmi wa Qabdhihi wa Zhuhuri Jahli Wal Fitan Di Akhiriz Zaman 16 : 121]
Sebagian dari hadit-hadits ini telah disebutkan dalam membicarakan Ma’azif (alat-alat
musik), yang antara lain disebutkan bahwa di kalangan umat Islam ini akan muncul orang-orang
yang menghalalkan minum khamar (minuman keras). Misalnya yang diriwayatkan oleh Imam
Ahmad dan Ibnu Majah dari Ubadah bin Ash-Shamit, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda.

“Artinya : Sungguh akan ada segolongan dari umatku yang menghalalkan khamar (minuman
keras) dan memberinya nama dengan nama (label) lain” [Musnad Ahmad dan Sunnah Ibnu
Majah. Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari 10 : 51. “Sanadnya bagus”. Hadits ini
juga dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shagir 5 : 13-14, hadits no 4945]

Khamr ini kini telah diberi nama dengan nama dan atau label yang banyak dan bermacam-
macam, hingga ada yang menamainya minuman untuk membangkitkan semangat dan
sebagainya. Dan hadits yang mengatakan bahwa di kalangan umat Islam ini akan merajalela
minuman keras (khamar) dan akan ada orang-orang yang menghalalkan dan menganggapnya
halal. Penghalalan atau penganggapan halal terhadap khamr ini oleh Ibnu ‘Arabi ditafsiri
dengan dua penafsiran, yaitu :

Pertama : Menganggap halal meminumnya


Kedua : Meminumnya secara bebas seakan-akan meminum-miuman yang halal

Dan beliau mengatakan bahwa beliau telah mendengar dan melihat sendiri orang yang berbuat
demikian (Vide : Fathul Bari 10 :51). Dan pada zaman kita sekarang ini lebih banyak lagi orang
yang berbuat demikian.

Sungguh ada sebagian orang yang terfitnah dengan meminum minuman keras (khamar). Yang
lebih mengerikan lagi ialah dijualnya khamar itu secara terbuka dan diminum secara terang-
terangan di beberapa negara Islam, dan telah tersebar sedemikian rupa yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Padahal, yang demikian itu merupakan bahaya besar dan kerusakan yang
amat fatal. Segala urusan kepunyaan Allah, sebelumnya dan sesudahnya.

[Disalin dari buku Asyraus Sa'ah FasalTanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Ysusf
Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 111-112 terbitan Pustaka mantiq,
penerjemah Drs A'ad yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=716&bagian=0

Merajalelanya Perbuatan Keji, Pemutusan Silaturahmi, Dan Buruknya Hubungan Bertetangga

Kamis, 13 Mei 2004 08:28:51 WIB


Kategori : Hadits

MERAJALELANYA PERBUATAN KEJI [1] PEMUTUSAN SILATURAHMI DAN BURUKNYA HUBUNGAN


BERTETANGGA
Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.
Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Imam Ahmad dan Hakim meriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji, pemutusan
hubungan silaturrahmi, dan sikap yang buruk dalam bertetangga".[Musnad Ahmad 10:26-31
dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau mengatakan "Isnadnya Shahih" dan beliau juga menyebut
riwayat Al-Hakim dan membicarakannya dengan panjang lebar. Periksa pula Mustadrak Al-Hakim
1:75-76, beliau meriwayatkannya dengan tiga sanad seraya berkata, "Ini adalah hadits shahih,
dan Imam Asy-Syaikhani telah sepakat berhujjah dengan semua perawinya kecuali Abu Sabrah
Al-Hadzli. Dia adalah seorang Tabi'i besar yang riwayat hidupnya disebutkan dalam kitab-kitab
Musnad dan tarikh, dan dia itu tercela". Dan beliau menyebutkan syahid (hadits lain dari
sahabat yang lain), dan Adz-Dzahabi menyetujui penshahihannya].

Ath-Thabari meriwayatkan dalam Al-Ausath dari Anas, ia berkata : telah bersabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah banyaknya perbuatan dan
perkataan keji dan pemutusan hubungan kekeluargaan". [Majma'uz Zawaid 7:284. Al-Haitsami
berkata : "Perawi-perawinya kepercayaan, tetapi sebagian mereka diperselisihkan. Tetapi
hadits-hadits ini mempunyai saksi (syahid/hadits yang semakna dengannya yang diriwayatkan
dari jalan sahabat lain].

Dan dalam riwayat Imam Ahmad dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam, beliau bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat ..., akan banyak terjadi pemutusan
hubungan kekeluargaan". [Musnad Ahmad 5:333 dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau berkata
"Isnadnya shahih"].

Apa yang disinyalir oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sekarang telah terjadi. Kekejian telah
banyak terjadi diantara manusia. Mereka sudah tidak ambil peduli dalam melakukan
kemaksiatan dan berkata keji dengan segala akibatnya. Pemutusan hubungan kekeluargaan
terjadi disana-sini. Seorang kerabat tidak lagi menyambung hubungan kekerabatannya, bahkan
mereka saling memutuskan dan saling membelakangi. Mereka hidup dalam satu negeri, satu
wilayah, satu daerah, satu kampung, tetapi bulan-bulan dan tahun-tahun mereka biarkan
berlalu tanpa saling mengunjungi dan menghubungi. Semua ini hanya terjadi karena lemahnya
iman, sebab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyuruh menyambung kekeluargaan
dan melarang memutuskannya. Beliau bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya Allah menciptakan mahluk, sehingga ketika telah selesai, berkatalah
ar-rahm (kekeluargaan), 'Ini kedudukan orang yang memohon perlindungan kepada-Mu dari
memutuskan kekeluargaan (silaturrahmi), 'Dia menjawab, Ya, apakah engkau tidak senang kalau
Aku menyambung hubungan dengan orang yang menyambung hubungan denganmu, dan Aku
memutuskan hubungan dengan orang yang memutuskan hubunganmu.? 'Ia menjawab, 'Ya'. Dia
berfirman, 'Maka, demikian itulah kedudukanmu"

Kemudian beliau bersabda : Bacalah kalau kalian mau firman Allah.


"Artinya : "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka
bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan ? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah
dan ditulikan-Nya telinga mereka serta dibutakan-Nya penglihatan mereka. Maka apakah
mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci ?". (Muhammad : 22 -24).
[Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wash-shilah wal adab, Bab Shilaturrahim wa Tahrimi Qathi'atiha
16:112].

Rasululllah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda.

"Artinya : Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan". [Shahih
Muslim, Kitab Al-Birr wash-shilah wal adab, Bab Shilaturrahim wa Tahrimi Qathi'atiha 16:114].

Adapun sikap buruk dalam bertetangga, maka hal ini juga telah terjadi. Berapa banyak
tetangga yang tidak kenal tetangga sebelah rumahnya, tidak pernah mengamati keadaannya
agar ia dapat memberinya bantuan dan pertolongan jika tetangga itu membutuhkan
pertolongannya. Bahkan tidak jarang seorang tetangga tidak mencegah tangannya berbuat
buruk terhadap tetangganya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang seseorang
mengganggu dan menyakiti tetangganya dengan sabdanya.

"Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka tidak boleh ia
menggangu tetangganya". [Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Al-Hats'ala Ikram Al-Jaar a Adh-
Dhaif 2:20].

Dan sebaliknya beliau menyuruh berbuat baik kepada tetangga dengan sabdanya.

"Artinya : Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia berbuat baik
kepada tetangganya". [Shahih Muslim 2:20].
Dan sabda beliau lagi.

"Artinya : Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga
sehingga aku mengira bahwa seorang tetangga akan menjadi ahli waris bagi tetangganya".
[Shahih Muslim, Kitabul Birr was-Shilah wal Adab, Bab Al-Washiyat bil-Jaar wal-ihsan 16:176]

[Disalin dari buku Asyraus Sa'ah FasalTanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Ysusf
Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 125-127 terbitan Pustaka mantiq,
penerjemah Drs A'ad yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.]
_________
Foote Note
[1] Ibnul Atsir berkata : "Al-Fuhsy (perbuatan keji) ialah segala sesuatu yang amat buruk yang berupa dosa
dan maksiat. Dan lafal alfahisyah sering diartikan dengan zina. Dan segala yang buruk, baik berupa
perkataan maupun perbuatan, maka dia itu adalah fahisyah". (An-Nihayah 3 : 415).

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=676&bagian=0

Merajalelanya Bunyi-Bunyian [Musik] Serta Dianggap Halal

Sabtu, 1 Mei 2004 11:24:11 WIB


Kategori : Hadits

MERAJALELANYA BUNYI-BUNYIAN [MUSIK] SERTA DIANGGAP HALAL


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil
MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Pada akhir zaman akan terjadi tanah longsor, kerusuhan, dan perubahan muka. 'Ada
yang bertanya kepada Rasulullah'. Wahai Rasulullah, kapankah hal itu terjadi.? Beliau
menjawab. 'Apabila telah merajalela bunyi-bunyian (musik) dan penyanyi-penyanyi wanita".
[Bagian awalnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2:1350 dengan tahqiq Muhammad Fuad Abdul
Baqi. Al-Haitsami berkata : 'Diriwayatkan oleh Thabrani dan di dalam sanadnya terdapat
Abdullah bin Abiz Zunad yang padanya terdapat kelemahan, sedangkan perawi-perawi yang lain
bagi salah satu jalannya adalah perawi-perawi shahih'. Majma'uz Zawaid 8:10. Al-Albani berkata
: 'Shahih'. Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3:216 hadits no. 3559]

Pertanda (alamat) ini telah banyak terjadi pada masa lalu, dan sekarang lebih banyak lagi.
Pada masa kini alat-alat dan permainan musik telah merata di mana-mana, dan biduan serta
biduanita tak terbilang jumlahnya. Padahal, mereka itulah yang dimaksud dengan al-qainat
(penyanyi-penyanyi) dalam hadits diatas. Dan yang lebih besar dari itu ialah banyaknya orang
yang menghalalkan musik dan menyanyi. Padahal orang yang melakukannya telah diancam akan
ditimpa tanah longsor, kerusuhan (penyakit muntah-muntah), dan penyakit yang dapat
mengubah bentuk muka, sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas. Dan disebutkan dalam
Shahih Bukhari rahimahullah, beliau berkata : telah berkata Hisyam bin Ammar (ia berkata) :
telah menceritakan kepada kami Shidqah bin Khalid, kemudian beliau menyebutkan sanadnya
hingga Abi Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

"Artinya : Sungguh akan ada hari bagi kalangan umat kaum yang menghalal kan perzinaan,
sutera, minuman keras, dan alat-alat musik. Dan sungguh akan ada kaum yang pergi ke tepi
bukit yang tinggi, lalu para pengembala dengan kambingnya menggunjingi mereka, lantas
mereka di datangi oleh seorang fakir untuk meminta sesuatu. Mereka berkata, 'Kembalilah
kepada kami esok hari'. Kemudian pada malam harinya Allah membinasakan mereka dan
menghempaskan bukit itu ke atas mereka, sedang yang lain (yang tidak binasa) diubah
wajahnya menjadi monyet dan babi sampai hari kiamat".[Shahih Bukhari, Kitab Al-Asyrabah,
Bab Maa Jaa-a fi Man Yastahillu Al-Khamra wa Yusammihi bi Ghairi Ismihi 10:51].

Ibnu Hazm menganggap bahwa hadits ini munqathi' (terputus sanad atau jalan
periwayatannya), tidak bersambung antara Bukhari dan Shidqah bin Khalid [Al-Muhalla, karya
Ibnu Hazm 9:59, dengan tahqiq Ahmad Syakir, Mansyurat Al-Maktab At-Tijari, Beirut].

Anggapan Ibnu Hazm ini disanggah oleh Ibnul Qayyim, dan beliau menjelaskan bahwa pendapat
Ibnu Hazm itu batal dari enam segi [Tahdzib As-Sunan 5:270-272].

[1] Bahwa Bukhari telah bertemu Hisyam bin Ammar dan mendengar hadits darinya. Apabila
beliau meriwayatkan hadits darinya secara mu'an'an (dengan menggunakan perkataan 'an /dari)
maka hal itu telah disepakati sebagai muttashil karena antara Bukhari dan Hisyam adalah
sezaman dan beliau mendengar darinya. Apabila beliau (Bukhari) berkata : "Telah berkata
Hisyam" maka hal itu sama sekali tidak berbeda dengan kalau beliau berkata, "dari Hisyam ....."

[2] Bahwa orang-orang kepercayaan telah meriwayatkannya dari Hisyam secara maushul. Al-
Ismaili berkata di dalam shahihnya, "Al-Hasan telah memberitahu-kan kepadaku, (ia berkata) :
Hisyam bin Ammar telah menceritakan kepada kami" dengan isnadnya dan matannya.

[3] Hadits ini telah diriwayatkan secara shah melalui jalan selain Hisyam. Al-Ismaili dan Utsman
bin Abi Syaibah meriwayatkan dengan dua sanad yang lain dari Abu Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu
'anhu.

[4] Bahwa seandainya Bukhari tidak bertemu dan tidak mendengar dari Hisyam, maka beliau
memasukkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya menunjukkan bahwa hadits ini menurut beliau
telah sah dari Hisyam dengan tidak menyebut perantara antara beliau dengan Hisyam. Hal ini
dimungkinkan karena telah demikian masyhur perantara-perantara tersebut atau karena
banyaknya jumlah mereka. Dengan demikian hadits tersebut sudah terkenal dan termasyhur
dari Hisyam.

[5] Apabila Bukhari berkata dalam Shahih-nya, "Telah berkata si Fulan", maka hadits tersebut
adalah shahih menurut beliau.

[6] Bukhari menyebutkan hadits ini dalam Shahih-nya dan berhujjah dengannya, tidak sekedar
menjadikannya syahid (saksi atau pendukung terhadap hadits lain yang semakna), dengan
demikian maka hadits tersebut adalah shahih tanpa diragukan lagi.

Ibnu Shalah[1] berkata : "Tidak perlu dihiraukan pendapat Abu Muhammad bin Hazm Az-Zhahiri
Al-Hafizh yang menolak hadits Bukhari dari Abu Amir atau dari Abu Malik". Lalu beliau
menyebutkan hadits tersebut, kemudian berkata. "Hadits tersebut sudah terkenal dari orang-
orang kepercayaan dari orang-orang yang digantungkan oleh Bukhari itu. Dan kadang-kadang
beliau berbuat demikian karena beliau telah meyebutkannya pada tempat lain dalam kitab
beliau dengan sanadnya yang bersambung. Dan adakalanya beliau berbuat demikian karena
alasan-alasan lain yang tidak laik dikatakan haditsnya munqathi'. Wallahu a'lam. [Muqaddimah
Ibnush Shalah Fii 'Ulumil Hadits, halaman 32, terbitan Darul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1398H.
Fathul-Bari 10:52].

Saya sengaja membicarakan hadits ini agak panjang mengingat adanya sebagian orang yang
terkecoh oleh pendapat Ibnu Hazm ini serta menjadikannya alasan untuk memperbolehkan
alat-alat musik. Padahal, sudah jelas bahwa hadits-hadist yang melarangnya adalah shahih, dan
umat ini diancam dengan bermacam-macam siksaan apabila telah merajalela permainan musik
yang melalaikan (almalahi) dan merajalela pula kemaksiatan.

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusub bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, Edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108-111 terbitan Pustaka
Mantiq Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]
_________
Foot Note.
[1] Beliau adalah Imam dan Ahli Hadits Al-Hafizh Abu Amr Utsman bin Abdur Rahman Asy-Syahrazuri yang
terkenal dengan sebutan Ibnu Shalah, seorang ahli agama yang zuhud dan wara' serta ahli ibadah,
mengikuti jejak Salaf yang Shalih. Beliau memiliki banyak karangan dalam ilmu hadits dan fiqih, dan
memimpin pengajian di Lembaga Hadits Damsyiq. Beliau wafat pada tahun 643H [Al-Bidayah Wan-Nihayah
13:168]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=646&bagian=0
Riba Merajalela

Selasa, 20 April 2004 08:35:55 WIB


Kategori : Hadits

RIBA MERAJALELA
Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat lagi ialah munculnya riba secara merajalela di
tengah-tengah masyarakat dan ketidakpedulian mereka terhadap makanan yang haram. Di
dalam suatu hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam, beliau bersabda.

"Artinya : Menjelang datangnya hari kiamat akan merajalela riba". [Diriwayatkan oleh Thabrani
sebagaimana termaktub dalam At-Targhib Wat-Tarhib karya Al-Mundziri 3:9, dan beliau berkata,
"Perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih"]

Dan di dalam kitab Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman yang pada waktu itu orang tidak
memperdulikan lagi harta yang diperolehnya, apakah dari jalan halal atau dari jalan haram".
[Shahih Bukhari, Kitab Al-Buyu', Bab Qaulil-Lah Azza wa Jalla : "Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu
ta'kuluu ar-ribaa" 4 : 313, dan Sunan Nasa'i 7 : 234, Kitab Al-Buyu', Bab Ijtinaabi Asy-Syubuhaat
fi Al-Kasbi].

Kandungan atau isi hadits-hadits ini telah terbukti pada banyak kaum muslimin pada masa
sekarang ini. Mereka tidak memilih yang halal lagi dalam berusaha, bahkan mereka kumpulkan
saja harta baik dari jalan halal maupun dari jalan haram. Dan kebanyakan hal ini karena
keterlibatan mereka dalam muamalah riba. Banyak bank yang berpaktik secara ribawi, dan
banyak pula orang yang terjerembab ke dalammnya.

Betapa jelinya Imam Bukhari hingga beliau memasukkan hadits ini dalam Bab Firman Allah Azza
wa Jalla "Yaa ayyuhal-ladziina amanuu laa ta'kulur-ribaa adh'aafan mudhoo'affah" ayat 130 surat
Ali Imran (Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba secara berlipat
ganda), untuk mejelaskan, bahwa praktik memakan riba secara berlipat ganda itu akan terjadi
secara leluasa, yakni apabila manusia tidak mempedulikan cara mencari harta serta tidak
membedakan antara yang halal dan yang haram.
[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA Edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 108. terbitan Pustaka Mantiq.
Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=612&bagian=0

Perzinaan Merajalela

Sabtu, 10 April 2004 08:02:08 WIB


Kategori : Hadits

PERZINAAN MERAJALELA
Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Dan diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat lagi ialah banyaknya perzinaan di kalangan
manusia. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan bahwa yang demikian itu termasuk
tanda-tanda hari kiamat (telah dekatnya hari kiamat). Diriwayatkan dalam Shahihain dari Anas
Radhyallahu 'anhu, ia berkata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya diantara tanda-tanda akan datangnya hari kiamat ialah ....
(diantaranya) akan merajalelanya perzinaan". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'il Ilmi wa
Zhuhuril Jahli 1:178. Shahih Muslim Kitab Al-Ilm, Bab Raf'il Ilmi wa Qabdhihi wa Zhuhuril Jahil
wal Fitani Fi Akhiriz Zaman 16:221]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. Rasulullaah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

"Artinya : Akan datang pada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya (kemudian beliau
melanjutkan sabdanya, yang diantaranya) dan akan tersebar padanya perzinaan". [Mustadrak
Al-Hakim 4:512. Beliau bersabda, " Ini adalah hadits yang shahih isnadnya, hanya saja Bukhari
dan Muslim tidak meriwayatkannya". Adz-Dzahabi juga menyetujui perkataan Hakim ini. Dan
dishahihkan pula oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir 3:212, nomor 3544 dan beliau
tidak menyebut "dan akan tersebar 'fahisyah/ perzinaan].

Dan lebih besar lagi daripada itu ialah menghalalkan zina. Diriwayatkan dalam kitab Shahih dari
Abi Malik Al-Asy'ari bahwa dia mendengar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Sungguh akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan (menganggap
halal) perzinaan dan sutera". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Asyrabah, Bab Majaa-a Fiman Yastahillu
Al-Khamra wa Yusammihi bi Ghairi Ismihi 10:51].

Dan pada akhir zaman, setelah lenyapnya kaum mukminin, tinggalah orang-orang yang jelek,
yang seenaknya saja melakukan persetubuhan seperti himar, sebagaimana yang diriwayatkan
dalam hadits An-Nawwas Radhiyallahu 'anhu.

"Artinya : Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk yang seenaknya saja melakukan
persetubuhan seperti himar. Maka pada zaman mereka inilah kiamat itu datang". [Shahih
Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyrathis Sa'ah, Bab Dzikri Ad-Dajjal 18:70].

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
beliau bersabda.

"Artinya : Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-
orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya) dan diantara mereka yang
terbaik pada waktu itu berkata. 'Alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini dibalik
dinding ini". [Riwayat Abu Ya'la, Al-Haitsami berkata. 'Perawi-perawinya adalah perawi-perawi
Shahih'. Majma'uz Zawaid 7:331].

Al-Qurthubi di dalam kitabnya Al-Mufhim Limaa Asykala Min Talkhiishi Muslim, dalam
mengomentari hadits Anas di atas mengatakan. "Dalam hadits ini terdapat tanda kenabian,
yaitu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan beberapa perkara yang akan terjadi,
lalu secara khusus telah terjadi pada zaman sekarang ini".[Fathul-Bari 1:179]

Kalau hal ini telah terjadi pada zaman Al-Qurthubi, maka pada zaman kita sekarang ini lebih
banyak lagi, mengingat semakin banyaknya kebodohan (tentang Ad-Din) dan semakin
tersebarnya kerusakan di antara manusia.

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah Fasal Tanda-tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat. hal. 106-108 terbitan Pustaka
Mantiq. Penerjemah Drs As'ad yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=554&bagian=0

Ilmu Dihilangkan Dan Kebodohan Merajalela

Senin, 29 Maret 2004 10:11:11 WIB


Kategori : Hadits

ILMU DIHILANGKAN DAN KEBODOHAN MERAJALELA


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Di antara tanda akan datangnya kiamat lagi ialah akan dihapuskannya ilmu (tentang Ad-Din) dan
merajalelanya kejahilan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Anas bin
Malik Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Di antara tanda-tanda akan datangnya kiamat ialah dihilangkannya ilmu (tentang Ad-
Din) dan tetapnya kejahilan". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilmi wa Zhuhuri Al-Jahli
1:178, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilmi wa Qabdhihi wa Zhuhuri Al-Jahli wa Al-Fitan
fi Akhir Az-Zaman 16:222].

Imam Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, katanya : Saya pernah bersama-sama dengan Abdullah
dan Abu Musa, mereka berkata : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat akan ada hari-hari diturunkannya
kejahilan dan dihilangkannya ilmu (Ad-Din)". [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab Zhuhuri Al-
Fitan 13:13].

Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Haurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata :
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Jangka waktu akan semakin dekat, ilmu (tentang Ad-Din) akan dihilangkan, fitnah
akan merajalela, penyakit kikir akan dicampakkan (dalam hati), dan peperangan akan banyak
terjadi". [Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilm 16 : 222-223].

Ibnu Baththal berkata : "Tanda-tanda akan datangnya kiamat yang dikandung dalam hadits ini
telah kita lihat dengan jelas, yaitu ilmu tentang Ad-Din telah berkurang, kebodohan
merajalela, penyakit kikir telah dicampakkan dalam hati banyak orang, fitnah merajalela, dan
peperangan banyak terjadi". [Fathul Bari 13:16].

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengomentarinya demikian : "Yang nampak, bahwa di antara tanda-tanda
tersebut yang disaksikannya itu memang banyak terjadi di samping adanya keadaan yang
merupakan kebalikan dari itu. Dan yang dimaksud oleh hadits tersebut ialah dominannya hal-
hal itu sehingga tidak ada yang tidak demikian melainkan sangat jarang. Inilah yang ditunjuki
oleh hadits dengan ungkapannya 'dihilangkan ilmu (Ad-Din)', maka yang tinggal hanyalah
kebodohan. Namun hal ini tidak mencegah kemungkinan adanya segolongan ahli ilmu, karena
pada waktu itu golongan tertutup di tengah-tengah masyarakat yang jahil tentang ilmu Ad-Din".
[Fathul-Bari 13:16].

Dan penghapusan ilmu Ad-Din ini ialah dengan kematian para ulamanya. Dalam hadits yang
diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash Radhiyallahu 'anhu, ia berkata : saya mendengar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (tentang Ad-Din) dengan serta merta dari
hamba-hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila
tidak ada lagi orang yang alim (mengerti tentang Ad-Din), maka orang-orangpun mengangkat
pemimpin-pemimpin yang jahil, lantas mereka ditanya, kemudian memberikan fatwa tanpa
berdasarkan ilmu, sehingga mereka sendiri sesat menyesatkan (orang lain)". [Shahih Bukhari,
Kitab Al-Ilm, Bab Kaifa Yuqbadhu Al-Ilm 1:94, Shahih Muslim, Kitab Al-Ilm, Bab Raf'i Al-Ilm wa
Qabdhihi wa Zhuhuri Al-jahl wa Al-Fitan 16: 223-224].

Imam Nawawi berkata : "Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu
(sebagaimana yang tersebut dalam hadits-hadits di muka secara mutlak) bukanlah
menghapuskannya dari dada (hati) para penghafalnya. Tetapi, yang dimaksud ialah dengan
matinya para pemilik ilmu tersebut. Lantas manusia mengangkat orang-orang yang jahil untuk
menghukum (menetapkan dan memutuskan hukum) dengan kejahilannya sehingga mereka
sendiri sesat dan menyesatkan orang lain". [Syarah Muslim 16:223].

Yang dimaksud dengan ilmu di sini ialah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah, yaitu ilmu yang
diwarisi dari para Nabi, karena para ulama adalah pewaris (yang mewarisi) para Nabi. Dengan
lenyapnya para ulama maka lenyap pulalah ilmu (tantang Al-Qur'an dan As-Sunnah). Sunnah
mati, bid'ah-bid'ah bermunculan, dan kejahilan merajalela. Adapun ilmu tentang keduniaan,
maka ia semakin bertambah dan ia bukan yang dimaksud dalam hadits-hadits tersebut. Persepsi
ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam :

"Artinya : Lalu mereka ditanya, lantas mereka memberi fatwa tanpa berdasarkan ilmu,
sehingga mereka sesat dan menyesatkan orang lain".
Sedang kesesatan itu hanya terjadi karena kejahilannya terhadap Ad-Din (agama). Dan ulama
yang sebenarnya ialah ulama yang mengamalkan (menerapkan) ilmu dan mengarahkan dan
menunjukkan umat ke jalan yang lurus dan petunjuk. Karena ilmu tanpa amal itu tidak ada
faedahnya, bahkan menjadi bencana bagi pemiliknya. Dan disebutkan dalam Shahih Bukhari
dengan lafal:

"Artinya : Dan amal pun berkurang " [Shahih Bukhari, Kitab Al-Adab, Bab Husnil Khuluq was-
Sakha' wa Maa Yukraha min Al-Bukhl 10:10; 456].

Sejarawan Islam, Imam Adz-Dzahabi, setelah menyebut segolongan ulama, beliau berkata, "Dan
mereka tidak diberi ilmu melainkan hanya sedikit. Dan sekarang tidak ada yang tersisa dari
ilmu-ilmu yang sedikit itu melainkan sedikit sekali yang ada pada orang yang jumlahnya sedikit.
Alangakah sedikitnya orang yang mengamalkan ilmu yang sedikit itu. Semoga Allah mencukupi
kita, dan Dia-lah sebaik-baik Pengurus". [Tadzkiratul-Huffazh 3: 1031].

Kalau keadaan pada zaman Imam Adz-Dzahabi saja demikian, maka bagaimana lagi dengan
zaman kita sekarang ini ? Sesungguhnya semakin jauh zaman itu dari zaman kenabian maka
semakin sedikitlah ilmu tentang Al-Qur'an dan As-Sunnah dan semakin banyak kebodohan.
Karena, para sahabat Radhiyallahu anhum adalah orang-orang yang paling mengerti di kalangan
umat ini, kemudian para tabi'ut tabi'in, dan mereka inilah sebaik-baik generasi sebagaimana
disabdakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Sebaik-baik manusia ialah generasiku, kemudian orang yang sesudah mereka,
kemudian orang yang sesudah mereka lagi". [Shahih Muslim, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab
Fadlish Shahabah Radhiyallahu anhum Tsumma Al-Ladzina Yaluunahum 16: 86].

Ilmu tentang Ad-Din itu akan senantiasa berkurang dan kebodohan akan senantiasa bertambah,
sehingga orang tidak tahu lagi apa-apa yang difardhukan oleh Islam. Hudzaifah Radhiyallahu
'anhu meriwayatkan, katanya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Akan hancur Islam ini seperti hancurnya kain yang telah usang, sehingga tidak
diketahui orang lagi apa itu puasa, apa itu shalat, apa itu ibadah haji, dan apa itu zakat. Dan
diterbangkanlah Kitab Allah pada suatu malam, sehingga tidak ada lagi yang tinggal di bumi
satu ayat pun, dan tinggallah beberapa golongan manusia laki-laki dan wanita yang telah
berusia lanjut dan lemah, yang berkata. 'Kami dapati bapak-bapak kami dahulu mengucapkan
kaimat ini : Laa Ilaaha Ilallah, maka kami mengucapkan kalimat ini".
Maka Shilat (salah seorang perawi hadits ini) bertanya kepada Hudzaifah, "Apa gunanya Laa
ilaaha illallah kalau mereka tidak tahu lagi apa itu shalat, apa itu puasa, apa itu haji, dan apa
itu zakat ? Lalu Hudzaifah berpaling tidak menjawabnya. Kemudian Shilat menanyakan lagi
sampai tiga kali, dan Hudzaifah pun selalu berpaling, dan pada kali yang ketiga itulah
Hudzaifah menjawab : "Wahai Shilat, kalimat Laa ilaaha illallah ini akan dapat
menyelamatkannya dari api neraka". Demikian diucapkan oleh Hudzaifah sebanyak tiga kali.
[Sunan Ibnu Majah, Kitab Al-Fitan, Bab Dzahabi Al-Qur'an wa Al-Ilm 2 : 1344-1345, Al-Hakim
dalam Al-Mustadrak 4:473, dan dia berkata, "Ini adalah hadist shahih menurut syarat Muslim,
hanya saja beliau berdua (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya". Dan Adz-Dzahabi
menyetujui pendapat Al-Hakim. Ibnu Hajar berkata. "Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan
sanad yang kuat". Fathul-Bari 13:16. Dan Al-Bani berkata : "Shahih". Shahih Al-Jami' ASh-Shaghir
6:339, hadits nomor 7933].

Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu anhu berkata. "Sungguh Al-Qur'an akan dicabut dari kalian,
yaitu ia akan diterbangkan pada suatu malam, hingga ia lenyap dari hati manusia dan tidak ada
lagi yang tinggal di muka bumi". [Riwayat Thabrani, dan perawi-perawinya adalah perawi-
perawi shahih, kecuali Syaddad bin Ma'qil, dan dia adalah orang kepercayaan.Majmu'uz Zawaid
7: 329-330. Ibnu Hajar berkata. "Riwayat ini sanadnya shahih, tetapi mauquf. Fathul-Bari
13:16". Saya (Yusuf bin Abdullah) berkata. "Isi riwayat seperti ini tidak mungkin diucapkan
berdasarkan pikiran semata-mata, karena itu dihukum marfu".]

Ibnu Taimiyah berkata. "Al-Qur'an akan diterbangkan pada malam hari dari mushaf-mushaf dan
dari dalam hati pada akhir zaman, maka tidak ada satu pun kalimat yang tertinggal dalam
dada, dan tidak ada satu huruf pun yang tertinggal dalam mushaf-mushaf". [Majmu Fatawa Ibnu
Taimiyah 3: 198-199].

Dan yang lebih besar lagi dari ini ialah akan tidak disebut-sebut lagi lafal Allah di muka bumi.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga di muka bumi tidak diucapkan lagi lafal Allah".
[Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Dzahaabil Iman Akhiruzzaman 2:178].

Ibnu Katsir berkata : "Terdapat dua pendapat mengenai makna hadits ini, yaitu :

[1] Maknanya, bahwa tak ada lagi orang yang mengingkari kemungkaran dan melarang orang
lain melakukannya. Pengertian ini diambil dari sabda beliau : ".... sehingga tidak ada lagi
diucapkan Allah, Allah". sebagaimana pula yang tertera dalam hadits Abdullah bin Amr : "Maka
pada waktu itu hanya tinggal orang-orang bodoh yang tidak mengerti kebaikan dan tidak
mengingkari kemungkaran". [Musnad Ahmad 11:181-182 dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau
berkata. "Isnadnya shahih". Mustadrak Al-Hakim 4: 435, dan beliau berkata. "Ini adalah hadits
shahih menurut syarat Syaikhani (Bukhari dan Muslim) apabila Al-Hasan mendengarnya dari
Abdullah bin Amr". Perkataan Al-Hakim ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi].

[2] Sehingga lafal Allah tidak disebut lagi di muka bumi dan tidak lagi dikenal nama itu. Hal ini
terjadi ketika zaman sudah rusak, nilai kemanusiaan telah hancur, kekafiran, kefasikan, dan
kemaksiatan telah merajalela. [An-Nihayah fil fitan wal Malahin 1: 186 dengan tahqiq Dr Thaha
Zain].

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah Fasal Tanda-tanda Kiamat Kecil oleh Ysuaf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-tanda Hari Kiamat, Terbitan Pustaka Mantiq. hal. 101-
105 Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=528&bagian=0

Lenyapnya Amanat

Rabu, 24 Maret 2004 09:51:10 WIB


Kategori : Hadits

LENYAPNYA AMANAT [1]


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

LENYAPNYA AMANAT

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

"Artinya : 'Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah kedatangan hari kiamat.' Abu
Hurairah bertanya, Bagaimana menyia-nyiakannya itu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab.
Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari
kiamat". [Shahih Bukhari, kitab Ar-Riqaq, Bab Raf'il Amanah 11: 333].

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana amanat itu dihilangkan dari hati
manusia, hingga tinggal bekas-bekasnya saja.

Hudzaifah Radhiyallahu anhu meriwayatkan, katanya : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam


menyampaikan kepadaku dua buah hadits, yang satu telah saya ketahui dan yang satu masih
saya tunggu. Beliau bersabda kepada kami bahwa amanat itu diturunkan di lubuk hati manusia,
lalu mereka mengetahuinya dari Al-Qur'an, kemudian mereka ketahui dari As-Sunnah. Dan
beliau juga menyampaikan kepada kami tentang akan hilangnya amanat itu, sabdanya :

"Artinya :Seseorang tidur, lantas amanat dicabut dari hatinya hingga tinggal bekasnya seperti
bekas titik-titik yang berwarna. Lalu ia tidur lagi, kemudian amanat itu dicabut lagi hingga
tinggal bekasnya seperti bekas yang terdapat pada telapak tangan karena digunakan bekerja,
seperti bara api yang engkau gelincirkan di kakimu, lantas melepuh tetapi tidak berisi apa-apa.
Kemudian mereka melakukan jual beli atau transaksi-transaksi, tetapi hampir tidak ada lagi
orang yang menunaikan amanat. Maka orang-orangpun berkata. 'Sesungguhnya di kalangan Bani
Fulan terdapat orang kepercayaan (yang dapat dipercaya)'. Dan ada pula yang mengatakan
kepada seseorang. 'Alangkah pandainya, alangkah cerdasnya, alangkah tabahnya', padahal
dalam hatinya tidak ada iman sama sekali meskipun hanya seberat biji sawi. Sungguh akan
datang padaku suatu zaman dan aku tidak memperdulikan lagi siapa di antara kamu yang aku
ba'iat. Jika ia seorang muslim, hendaklah dikembalikan kepada Islam yang sebenarnya ; dan
jika ia seorang Nasrani maka ia akan dikembalikan kepadaku oleh orang-orang yang
mengusahakannya. Adapun pada hari ini maka aku tidak memba'iat kecuali kepada si Fulan dan
si Fulan". [Shahih Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, Bab Raf'il Amanah 11:333, dan Kitab Al-Fitan, Bab
Idza Baqiya Fi Khutsalatin Min An-Nasi 13:38]
Dalam hadits ini dijelaskan bahwa amanat akan dihapuskan dari hati sehingga manusia menjadi
penghianat setelah sebelumnya manjadi orang yang dapat dipercaya. Hal ini terjadi pada orang
yang telah hilang perasaan takutnya kepada Allah, lemah imannya, dan biasa bergaul dengan
orang-orang yang suka berbuat khianat sehingga ia sendiri menjadi penghianat, seorang teman
itu akan mengikuti yang ditemani.

Diantara gambaran hilangnya amanat itu ialah diserahkannya urusan orang banyak seperti
urusan kepemimpinan, ke khalifahan, jabatan, peradilan, dan sebagainya kepada orang-orang
yang bukan ahlinya yang tidak mampu melaksanakan dan memeliharanya dengan baik. Sebab
menyerahkan urusan tersebut kepada yang bukan ahlinya berarti menyia-nyiakan hak orang
banyak, mengabaikan kemaslahatan mereka, menimbulkan sakit hati, dan dapat menyulut
fitnah di antara mereka. [Qabasat Min hadyi Ar-Rasul Al-A'zham Saw Fi Al-Aqa'id, halaman 66
karya Ali Asy-Syarbaji. cetakan pertama 1398H, terbitan Darul Qalam, Damsyiq]

Apabila orang yang memegang urusan orang banyak ini menyia-nyiakan amanat, maka orang
lain akan mengikuti saja segala kebijaksanaannya. Dengan demikian mereka akan sama saja
dengannya dalam mengabaikan amanat, maka kemaslahatan (kebaikan) pemimpin atau
penguasa merupakan kebaikan bagi rakyat, dan keburukannya merupakan keburukan bagi
rakyat. Selanjutnya, menyerahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya merupakan bukti
nyata yang menunjukkan tidak adanya kepedulian manusia terhadap Din (agama) mereka,
sehingga mereka menyerahkan urusan mereka kepada orang yang tidak memperhatikan Din-
nya. Hal ini terjadi apabila kejahilan telah merajalela dan ilmu (tentang Ad-Din) sudah hilang.
Karena itulah Imam Bukhari menyebutkan hadits Abu Hurairah terdahulu itu dalam kitab Al-Ilm
sebagai isyarat terhadap hal ini.

Ibnu Hajar berkata. "Kesesuaian matan (masalah akan lenyapnya amanat) ini dengan ilmu
hingga ditempatkan dalam kitab Al-Ilm ialah bahwa menyandarkan urusan kepada yang bukan
ahlinya itu hanya terjadi ketika kebodohan telah merajalela dan ilmu ( tentang Ad-Din) telah
hilang. Dan ini termasuk salah satu pertanda telah dekatnya hari kiamat". [Qabasat Min Hadyi
Ar-Rasul Al-A'zham Saw Fi Al-'Aqaid, hal. 66 oleh Ali Asy-Syarbaji, cet. pertama, 1398H, terbitan
Darul Qalam, Damsyiq].

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa kelak akan datang tahun-
tahun yang penuh tipu daya dan keadaan mejadi terbalik. Yaitu orang yang benar didustakan
dan orang yang suka berdusta dibenarkan, orang yang dipercaya berkhianat, dan pengkhianat
diberi amanat, sebagaimana akan dibicarakan haditsnya dalam pembahasan mengenai "Di
antara tanda-tanda hari kiamat ialah dimuliakannya orang-orang yang rendah dan hina (dari
segi Ad-Din dan ahlaknya)".

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat terbitan Pustaka Mantiq, hal. 99-
101.Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi.]
_________
Foote Note
[1] Amanat merupakan kebalikan dari khianat. Kata amanat ini disebutkan dalam Al-Qur'an.
"Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengembankan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung,
namun semuanya tidak bersedia, karena takut menghianatinya, lalu amanat itu diterima oleh manusia.
Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi sangat bodoh". [Al-Ahzab : 72]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1438&bagian=0

Banyak Pembunuhan

Sabtu, 21 Mei 2005 13:23:08 WIB


Kategori : Hadits

BANYAK PEMBUNUHAN
Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga banyak huru-hara (kerusuhan). Para sahabat
bertanya : Apakah huru hara atau kerusuhan itu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab :
Pembunuhan, pembunuhan” [Shahih Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyroth As-Sa’ah 18 : 13]

Dan diriwayatkan oleh Bukhari dari Abdullah bin Mas’ud.

“Artinya : Menjelang datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang penuh kerusakan, yang
pada waktu itu ilmu (tentang Ad-Din) hilang dan kebodohan merajalela”. Abu Musa berkata.
Yang dimaksud dengan Al-Haraj (kerusuhan atau huru hara) ialah pembunuhan, menurut bahasa
Habasyah” [Shahih Bukhari, Kitab Al-Fitan, Bab Zhuhuril Fitan 13 : 14]

Diriwayatkan dari Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat akan terjadi kerusuhan. Para
sahabat bertanya. Kerusuhan apakah itu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab, Pembunuhan.
Mereka bertanya : Apakah lebih banyak dari pada pembunuhan yang kami lakukan ?.
Sesungguhnya kami pernah membunuh tujuh puluh ribu orang lebih dalam setahun. Beliau
menjawab : Bukan kamu membunuh kaum musyrikin, tetapi yang akan terjadi itu ialah
sebagian kamu akan membunuh sebagian yang lain (sesama kaum muslimin). Mereka berkata :
Kami kan punya akal pada waktu itu. Beliau bersabda : Kebanyakan manusia pada waktu itu
hilang pertimbangan akalnya dan digantikan oleh manusia-manusia debu yang kebanyakan
mereka mengira berpegang pada kebenaran, padahal tidak sama sekali” [Musnad Imam
Ahmad 4 : 414 dengan catatan pinggir Muntakhab Kanzul ‘Ummal. Sunan Ibnu Majah, Kitab
Al-Fitan, Bab At-Tatsabbut Fil Fitnah 2 : 1309, hadits nomor 3959. Syarh As-Sunnah, Bab Asyroth
As-Sa’ah 5 : 28-29, hadits nomor 4234. Dan hadits ini adalah shahih. Periksa : Shahih Al-
Jami’ush Shagir 2 : 193, nomor 2043]

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, katanya Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Demi Allah yang diriku di tanganNya, tidaklah dunia ini akan lenyap sehingga
datang pada manusia suatu hari (saat) yang seorang pembunuh tidak mengerti mengapa ia
membunuh, dan yang dibunuh juga tidak mengerti mengapa dia membunuh. Lalu ditanyakan
kepada Rasulullah. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?. Beliau menjawab : Hura-hara, si pembunuh
dan terbunuh keduanya masuk neraka” [Shahih Muslim, Kitab Al-Fitan wa Asyrot Sa’ah 18 :
35]

Apa yang disinyalir Rasulullah dalam hadits-hadits di atas, sebagiannya telah terjadi. Maka
telah terjadi peperangan di antara kaum muslimin sejak zaman sahabat Radhiyallahu
‘anhum, yaitu setelah terbunuhnya Utsman Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian terjadilah
peperangan di berbagai tempat dan dalam waktu yang berbeda-beda, dengan tidak diketahui
secara jelas sebab-sebabnya serta dapat dibenarkan.

Dan pada abad-abad belakangan ini juga banyak terjadi peperangan sengit antar bangsa yang
satu dengan bangsa yang lain yang menelan banyak korban, dan fitnahpun sedemikian menjalar
sehingga seseorang tidak mengerti apa yang mendorong membunuh orang lain.

Demikian pula dengan senjata-senjata pemusnah yang dapat digunakan untuk menghancurkan
bangsa-bangsa di dunia. Senjata-senjata tersebut memiliki peranan penting untuk
memperbanyak jumlah pembunuhan manusia, sehingga manusia tidak ada nilainya lagi. Mereka
disembelih seperti menyembelih kambing. Hal ini terjadi karena akal manusia sudah tidak
waras dan berpikirnya sudah melenceng. Maka ketika telah terjadi fitnah, manusia tidak tahu
mengapa ia membunuh dan untuk apa ia membunuh orang lain. Bahkan kita juga sering melihat
orang yang membunuh orang lain karena urusan sepele. Maka tepatlah apa yang dikatakan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Sungguh akan dicabut akal kebanyakan manusia pada masa itu”

Kita memohon keselamatan kepada Allah dan memohon perlindungan kepadaNya dari semua
fitnah, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Tersebut dalam suatu riwayat bahwa umat Islam ini adalah umat marhumah (umat yang diberi
rahmat/dikasihi). Untung yang tidak akan disiksa (dengan adzab yang kekal) di akhirat. Allah
hanya menyiksa mereka di dunia dengan berbagai fitnah, gempa bumi dan pembunuhan.

Diriwayatkan dari Shidqah bin Al-Mutsanna (katanya) : Telah menceritakan kepada kami Rabah
bin Al-Harits dari Abu Burdah, ia berkata : Ketika saya sedang berdiri di pasar pada masa
pemerintahan Ziyad, tiba-tiba saya memukulkan salah satu tangan saya yang satunya lagi
karena merasa heran. Lalu salah seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang ayahnya masih
punya hubungan persahabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya :
“ Apakah yang engkau herankan, wahai Abu Burdah ?”. Saya menjawab, “Saya heran
terhadap kaum yang agamanya satu, nabinya satu, dakwah (seruan)nya satu, hujjahnya satu,
berperang karena tujuan yang satu, tetapi mereka saling membunuh antara sebagian terhadap
sebagian yang lain”. Dia berkata : “Jangan engkau heran karena saya mendengar ayah
saya memberitahukan bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa asallam
bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya umatku ini adalah umat yang dikasihi, tidak ada hisab dan adzab
bagi mereka di akhirat, sesungguhnya adzabnya berupa pembunuhan, gempa bumi, dan
berbagai fitnah (di dunia)” [Mustadrak Al-Hakim 4 : 253-254 Beliau berkata : Shahih
isnadnya, tetapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Perkataan Hakim ini disetujui
oleh Adz-Dzahabi. Dan hadits ini adalah shahih, Vide : Silsilatul Ahaditsish Shahihah 2 : 684-686]

Dan di dalam riwayat Abu Musa disebutkan.

“Artinya : Sesungguhnya umatku ini adalah umat yang dikasihi, mereka tidak ditimpa adzab
di akhirat, adzabnya adalah di dunia yang berupa pembunuhan, kegelisahan, kegoncangan, dan
gempa bumi” [Musnad Imam Ahmad 4 : 410 dengan catatan pinggir Muntakhab Janjul Ummal.
Hadits ini Shahih. Periksa : Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 2 : 104, hadits nomor 1734 dan
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 2 : 684, hadits nomor 959]

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, terbitan Pustaka Mantiq,
penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1529&bagian=0

Banyak Perdagangan

Kamis, 11 Agustus 2005 06:39:32 WIB


Kategori : Hadits

BANYAK PERDAGANGAN
Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Diantara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat lainnya ialah banyaknya perdagangan yang
dilakukan manusia, sehingga kaum wanitapun ikut berdagang bersama laki-laki.

Imam Ahmad dan Hakim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

“Artinya : Menjelang datangnya hari kiamat para pembesar sama menyerah dan
perdagangan merebak ke mana-mana sehingga kaum wanita pun ikut serta berdagang dengan
suaminya” [Musnad Ahmad 5 : 333 dengan syarah Ahmad Syakir, katanya , “Isnadnya
shahih”, dan Mustadrak Al-Hakim 4 : 445-446]

An-Nasa’i meriwayatkan dari Amr bin Taghlab, katanya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah


melimpahnya harta dan meluasnya perdagangan” [Sunnah Nasa’i 7 : 2444 dengan syarah
Sayuti. Hadits ini diriwayatkan dari Al-Hasan dari Amr bin Taghlab, dan Al-Hasan ini adalah
seorang mudallis (suka menyamarkan perawi/hadits), sedang hadits ini diriwayatkan secara
mu’an’an ; tetapi di dalam riwayat Ahmad dia menyatakan secara tegas bahwa Amr bin
Taghlab menyampaikan kepadanya. Periksa : Musnad Ahmad 5 : 69 dengan catatan pinggir
Muntakhab Kanzul Ummal, dan lihat pula Silsilah Ahaditsi Shahihah oleh Al-Albani 2 : 252-252]

Apa yang disinyalir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, kini telah menjadi kenyataan.
Perdagangan telah meluas dan menyebar ke mana-mana, kaum wanita pun ikut serta
berkecimpung dalam dunia perdagangan, manusia sibuk mengumpullkan harta dan berlomba
menumpuk kekayaan. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan bahwa
beliau tidak takut ummat beliau ditimpa kemiskinan, tetapi beliau merasa takut kalau ummat
beliau dimudahkan (dihamparkan kepada mereka) kekayaan dunia, lantas mereka berebutan
memperolehnya. Dalam sebua hadits beliau bersabda.

“Artinya : Demi Allah, bukan kefakiran (kemiskinan) yang aku khawatirkan atas kamu tetapi
yang kukhawatirkan atas kamu ialah apabila dunia ini dibentangkan (dilapangkan) untuk kamu
sebagaimana dilapangkan untuk orang-orang sebelum kamu, lantas kamu berlomba-lomba
memperebutkannya, lantas kamu binasa karenanya sebagaimana mereka binasa karenanya”
[Shahih Bukhari, kitab Al-Jizyah wal Muwada’ah, bab Al-Jizyah wal Muuwada’ah ma’a
Ahlidz-Dzimmah wal harbi 6 : 257-258. Shahih Muslim, kitab Az-Zuhdi 18 : 95]

Dan dalam riwayat Muslim dengan lafal :

“Artinya : …. Dan menjadikan kamu lalai sebagaimana menjadikan mereka lalai”
[Shahih Muslim 18 : 896]

Dan dalam hadits lain beliau bersabda.

“Artinya : Apabila negeri Parsi dan Rum telah dibukakan untuk kamu (dapat kamu kalahkan),
akan menjadi kaum apakah kamu ? : Abdur Rahman bin Auf menjawab, “Kami akan berkata
(berbuat) sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada kami, “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam menimpali, “Atau yang lain lagi yang kamu lakukan, yaitu kamu saling
berlomba (berebut), kemudian saling iri dan dengki, kemudian saling membelakangi, kemudian
saling membenci, dan sebagainya” [Shahih Muslim, kitab Az-Zuhdi 18 : 96]

Munafasah atau berlomba-lomba untuk memperoleh kekayaan dan kedudukan duniawi


menyebabkan lemahnya kehidupan beragama dan rusaknya umat secara silang sengketanya
kalimat mereka sebagaimana telah terjadi tempo dulu dan masa kini.

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, terbitan Pustaka Mantiq,
penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1743&bagian=0

Lenyapnya Orang-Orang Shalih Dan Menuntut Ilmu Dari Orang-Orang Kecil

Selasa, 24 Januari 2006 17:55:08 WIB


Kategori : Hadits

LENYAPNYA ORANG-ORANG SHALIH


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Dan diantara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah lenyapnya atau habisnya orang-
orang shalih dan sedikitnya orang-orang yang baik. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak
orang yang jahat, sehingga akhirnya tidak ada lagi yang tinggal melainkan orang-orang yang
jahat (buruk). Dan pada saat keadaan manusia seperti inilah kiamat itu datang. Dalam hadits
yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘anhu ia berkata. Rasulullah
Shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik
dan ahli agama di muka bumi, maka tidak ada yang tinggal padanya kecuali orang-orang hina
dan buruk yang tidak mengetahui yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran”
[Musnad Ahmad 11 : 181-182 dengan syarah Ahmad Syakir, beliau berkata : , “Isnadnya
Shahih”. Dan Mustadrak Al-Hakim 4 : 435. Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits Shahih
menurut syarat syaikhani, jika Al-Hasan mendengarnya dari Abdullah bin Amir, “Perkataan
Al-Hakim ini juga disetujui oleh Adz-Dzahabi]

Maksudnya, Allah mewafatkan orang-orang yang ahli kebaikan dan agama hingga tinggal orang-
orang tolol, hina , dan tidak memiliki kebaikan sama sekali. Hal ini terjadi ketika ilmu tentang
Ad-Din (agama) sudah diambil oleh Allah dan menusia telah menjadikan pemimpin-pemimpin
yang jahil yang berfatwa tanpa berdasarkan ilmu.

Dan diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam beliau bersabda.

“Artinya : Akan datang suatu masa pada manusia yang pada waktu itu mereka disaring
hingga tinggal ampasnya. Janji-janji dan amanat mereka bercampur baur, dan mereka
berpecah belah seperti ini, lalu beliau merengganngkan antara jari-jari beliau” [Musnad
Ahmad 12 : 12 dengan syarah Ahmad Syakir. Beliau berkata, “Isnadnya Shahih”. Dan
Mustadrak Al-Hakim 4 : 435, beliau berkata, “Ini adalah hadits shahih yang shahih isnadnya,
hanya saja Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya”. Perkataan Al-Hakim ini disetujui
oleh Adz-Dzahabi]

Lenyapnya orang-orang shalih itu ialah ketika telah banyak kemaksiatan dan amar ma’ruf
nahi mungkar telah ditinggalkan. Karena orang-orang shalih itu apabila meihat kemungkaran
dan mereka tidak berusaha mengubah dan memberantasnya, serta kerusakan telah demikian
banyak, maka mereka akan ditimpa adzab bersama orang lain. Apabila adzab ini turun,
sebagaimana disebutkan dalam hadits ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya
: “Apakah kami akan binasa padahal di tengah-tengah kami masih ada orang-orang shalih?â€
. Beliau menjawab ; “Ya, apabila kejelekan telah demikian banyak” [Shahih Bukhari,
Kitab Al-Fitan, Bab Qaula Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Wailun Lil Arabi min Syarria
Qad Iqtaraba 13 : 11]

MENUNTUT ILMU KEPADA ORANG-ORANG KECIL


Imam Abdullah bin Al-Mubarak meriwayatkan dengan sanadnya dari Abi Umayyah Al-Jamhi
Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat itu ada tiga,
salah satunya ialah akan dituntutnya ilmu dari Al-Ashaghir (orang-orang kecil)” [Kitab Az-
Zuhud karya Ibnul Mubarak, halaman 20-21, hadits no. 61 dengan tahqiq Habibur Rahman Al-
A’zhami, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Al-Albani berkata, “Shahih”. Periksa : Shahih Al-
Jami’ush-Shaghir 2 : 243, hadits no. 2203. Dan Al-Hafizd Ibnu Hajar menjadikannya syahid
dalam Fathul Bari 1 : 143]

Imam Abdullah bin Al-Mubarak ditanya tentang Al-Ashagir (orang-orang kecil) itu, lalu beliau
menjawab, “Yaitu orang-orang yang berkata menurut pendapatnya sendiri saja (tanpa
mengacu pada Kitabullah dan Sunnah Rasul), adapun anak muda yang orang-orang tua
meriwayatkan darinya bukanlah yang dimaksud dengan shagir (kecil)”. Dan beliau berkata
juga, “Ilmu datang kepada mereka dari orang-orang kecil (rendah) mereka, yakni ahli
bid’ah” [Hasyiyah Kitab Az-Zuhud, hal.31, dengan tahqiq dan ta’liq Habibur Rahman Al-
A’zhami]

Dan diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Manusia
itu senantiasa berada dalam kebaikan selama ilmu (agama) yang datang kepada mereka itu dari
sahabat-sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dari senior-senior
mereka. Apabila ilmu (tentang Ad-Din) itu datang kepada mereka dari orang-orang kecil mereka
dan hawa nafsu mereka bersilang sengketa, maka rusaklah mereka” [Kitab Az-Zuhud oleh
Ibnul Mubarak, Imam At-Tuwajiri berkata : “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir
dan Al-Ausath, dan diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya dan isnadnya adalah
shahih menurut syarat Muslim, Vide : It-haful Jama’ah 1 : 424 dan Al-Mushannaf 11 : 246,
hadits no. 20446 dengan tahqiq Habibur Rahman Al-A’zhami]

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, terbitan Pustaka Mantiq,
penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1879&bagian=0

Orang-Orang Hina Diberi Kedudukan Terhormat

Rabu, 5 Juli 2006 11:41:11 WIB


Kategori : Hadits

ORANG-ORANG HINA DIBERI KEDUDUKAN TERHORMAT


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang dimaksud dengan
tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda-
tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan
berbagai kejadian yang biasa terjadi. Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan,
merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman kepada Allah
Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan seruan untuk bersiap-siap mencari bekal
setelah mati nanti karena kiamat itu telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang
nampak.
________________________________

Dan diantara tanda-tanda akan datangnya kiamat ialah apabila orang-orang yang hina dan
rendah diberi kedudukan yang tinggi melebihi orang-orang yang baik-baik. Sehingga urusan
masyarakat berada di tangan orang-orang bodoh dan hina serta tidak baik. Ini merupakan
kondisi yang terbalik dari hakikat yang sebenarnya dan keadaan yang sudah berubah. Kondisi
seperti ini dapat disaksikan pada masa sekarang ini. Maka anda dapat melihat betapa
banyaknya pemimpin manusia dan penentu kebijakan adalah orang-orang yang sedikit sekali
kebaikan dan pengetahuannya. Padahal, seharusnya yang menduduki posisi seperti itu adalah
orang-orang yang mengerti agama dan bertaqwa, karena mereka inilah yang seharusnya
didahulukan daripada orang lain dalam memegang kendali urusan masyarakat. Sebab, orang
yang paling utama dan paling mulia ialah orang-orang yang mengerti agama dan bertaqwa,
sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang
paling taqwa” [Al-Hujarata : 13]

Karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberikan kekuasaan untuk
memegang urusan masyarakat kecuali kepada orang yang paling baik dan paling mengerti,
demikian pula khalifah beliau. Contoh-contoh mengenai hal ini banyak sekali. Antara lain,
seperti yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penduduk Najran.

“Artinya : ‘Sungguh aku akan mengirim kepada kalian orang kepercayaan yang betul-betul
dapat dipercaya’. Lalu para sahabat merasa bahwa ini adalah suatu masalah yang luhur,
kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Ubaidah” [Shahih Bukhari, Kitab
Akhbarul Aahad. Bab Maa Jaa-a Fii Ijaazati Khabaril Waahid Ash-Shaadiq 13 : 232]

Dibawah ini kami kemukakan beberapa buah hadits yang menunjukkan akan diangkat orang-
orang hina untuk menduduki jabatan-jabatan penting, dan ini merupakan sebagian dari tanda-
tanda telah dekatnya hari kiamat. Antara lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, katanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya akan datang tahun-tahun yang penuh tipu daya, pada waktu itu
pembohong dibenarkan dan orang jujur dianggap pendusta, pengkhianat diserahi amanat dan
orang kepercayaan dituduh penghianat, dan Ruwaibidhah berkata seenaknya (menyampaikan
kebijaksanaan-kebijaksanaannya)’. Para sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu ?” Beliau
menjawab : “Orang bodoh yang berbicara tentang urusan masyarakat umum”[Musnad Imam
Ahmad 15: 37-38 dengan syarah dan ta’liq Ahmad Syakir, beliau berkata, “Isnadnya hasan dan
matannya shahih”. Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah isnad yang bagus, tetapi mereka (para
ulama hadits selain Imam Ahmad) tidak meriwayatkannya dari jalan ini”. Vide : An-Nihayah Fi
Al-Fitan I : 181 dengan tahqiq DR Thaha Zain]

Dan dalam hadits Jibril yang panjang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tetapi akan saya ceritakan kepadamu tentang tanda-tandanya, yaitu … dan apabila
orang-orang yang dahulu telanjang (pakaiannya compang-camping) dan berkaki telanjang lantas
menjadi pemimpin manusia. Maka itulah di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat”
[Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Al-Iman wa Al-Islam wa Al-Ihsan 1 : 163]

Dan diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Diantara tanda-tanda telah dekatnya hari Kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka
bin Luka (orang yang bodoh dan hina). Maka sebaik-baik manusia pada hari itu ialah orang yang
beriman yang diapit oleh dua orang mulia”[Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani
dalam Al-Ausath dengan dua sanad, dan perawi-perawi salah satu sanadnya adalah perawi-
perawi kepercayaan” Majma’uz Zawaid 7 : 325]

Dan dalam shahih Bukhari disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Apabila suatu urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah
datangnya kiamat” [Shahih Bukhari, Kitab Ar-Raqaiq, Bab Raf’il Amanah 11 : 332]

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata.

“Diantara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah … keluarga rumah tangga yang rendah
akan mengungguli keluarga rumah tangga yang baik-baik. Benarkah demikian, wahai Abdullah
Mas’ud? Adakah anda mendengarnya dari kekasihku?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Benar, demi
Tuhan pemilik Ka’bah”. Kami bertanya, “Apakah At-Tuhuut itu?”. Beliau menjawab, “orang-
orang yang rendah dan keluarga rumah yang hina, dianngkat kedudukannya melebihi orang-
orang yang baik-baik. Dan ‘al-wuluul’ ialah keluarga rumah tangga yang baik-baik” [Majma’uz
Zawaid 7 : 327, Al-Haitsami berkata, “Hadits Abu Hurairah itu sendiri tersebut dalam kitab
Shahih sebagiannya, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih kecuali Muhammad bin
Al-Harits bin Sufyan, dan dia itu kepercayaan”. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan di dalam
Fathul Bari 13 : 15 dari riwayat Thabrani dalam Al-Ausath dari Abu Hurairah]

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulllah
Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Tidak akan lenyap dunia sehingga ia menjadi milik Luka [1] bin Luka” [Musnad
Ahamad 16 284 dengan syarah dan ta’liq Ahmad Syakir, Beliau berkata, “Diriwayatkan oleh As-
Suyuthi dalam Al-Jami’ush Shagir dan beliau menandainya sebagai hadits Hasan”, Al-Jami’ush
Shagir 2 : 200 dengan catatan kaki Kunuzul-Haqaiq oleh Al-Munawi, Al-Haitami berkata,
“perawi-perawi Ahmad adalah perawi-perawi shahih kecuali Kamil bin Al-Ala, dan dia itu
kepercayaan”. Lihat : Majma’uz Zawaid 7 : 220. Ibnu Katsir berkata, “Isnadnya bagus dan
kuat”. An-Nihayah Fii Al-Fitan 1 : 181 dengan tahqiq DR Thaha Zaini, dan dishahihkan oleh Al-
Albani dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir 5 : 392 hadits no. 7149]

Maksudnya, sehingga kenikmatan dan kelezatan dunia serta posisi terhormat yang ada di
dalamnya adalah untuknya, [Vide : Faidhul Qadir Syarah Al-Jami’ush Shagir 5 : 394 oleh Abdur
Ra’uf Al-Munawi]

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa allam bersabda.

“Artinya : Tidak akan datang kiamat sehingga orang yang paling bahagia dengan kehidupan
dunia adalah Luka bin Luka (orang bodoh dan hina)” [Musnad Imam Ahmad 5 : 389 dengan
catatan pinggir Muntakhab Kanzul Ummal, dan As-Suyuthi menandainya di dalam Al-Jami Ash-
Shaghir sebagai hadits Shahih 2 : 220 dengan catatan kaki Kunuzul Haqaia oleh Al-Munawi. Al-
Albani berkata “Shahih”. Periksa Shahih Al-Jami Ash-Shaghir 6 : 177, hadits nomor 7308]

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah mengenai hadits yang
diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang akan lenyapnya amanat, sebagai
berikut.

“Artinya : …… sehingga dikatakan untuk seseorang : ‘Alangkah sabarnya, alangkah cermatnya,


alangkah pandainya, padahal di dalam hatinya tidak ada iman meskipun hanya seberat biji
sawi” [Shahih Bukhari, Kitab Ar-Riqaq, Bab Raf’il Amanah 11 : 333, dan shahih Muslim, Kitab Al-
Iman, Bab Raf’il Amanah wal Iman min Ba’dhil Qulub 2 : 167-170]

Ini sudah terjadi di kalangan kaum muslimin pada masa sekarang ini. Mereka mengatakan
terhadap seseorang “ Alangklah pandainya, alangkah bagusnya budi pekertinya …” dan mereka
sifati dengan sifat-sifat yang sangat baik, padahal dia adalah orang yang sangat durhaka,
sedikit sekali pengetahuan dan penerapan agamanya, serta sangat minim amanahnya. Bahkah
kadang-kadang dia malah memusuhi kaum muslimin dan berusaha hendak menghancurkan
Islam. Fa laa haula wa laa quwwata illa billahil aliyyil azhim.

Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin
Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, terbitan Pustaka Mantiq,
penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]
_________
Foote Note
[1]. Luka’ menurut bangsa Arab ialah budak, kemudian kata ini digunakan untuk menunjukkan kebodohan
dan kehinaan, yaitu orang yang hina dan tercela. Kadang-kadang kata Luka’ ini digunakan untuk anak
kecil. Jika kata Luka’ ini digunakan untuk orang dewasa maka yang dimaksud ialah orang yang kecil ilmu
dan akalnya. (lihat An-Nihayah Fii Gharibil Hadits 4 : 268]