Anda di halaman 1dari 44

HOTD – amanah

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
(QS. Al Anfaal, 8 : 27)

Hadist riwayat Bukhori, dari Abu Hurairah ra., ia berkata:


"Ketika Rasulullah saw. Di suatu majlis sedang berbicara dengan suatu kaum,
datanglah seorang kampung dan berkata: "Kapankan kiamat itu?" Rasulullah
terus berbicara, lalu sebagian kaum berkata:"Beliau mendengar apa yang
dikatakan olehnya, namun beliau benci terhadap apa yang dikatakan itu." Dan
sebagian dari mereka berkata: "Namun beliau tidak mendengarnya. "Sampai
sampai ketika beliau selesai berbicara maka beliau bersabda: "Dimanakah
gerangan orang yang bertanya tentang kiamat?" Ia berkata: "Hai saya wahai
Rasulullah" Beliau bersabda: "Apabila amanat itu disia-siakan maka nantikanlah
kiamat." Ia berkata: "Bagaimana menyia-nyiakannya?" Beliau bersabda: "Apabila
perkara (urusan) diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah kiamat."

Links:
[amanah]
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=268
[lenyapnya amanat]
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=528&bagian=0
[pemimpin yang amanah]
http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=1157&PHP
SESSID=7823a...%3Fref%3Dhikayee.net
[pejabat yang sedeRhana]
http://eramuslim.com/atk/oim/43c20d8d.htm
[menyampaikan kebaikan dan melaksanakan amanat]
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2004&bagian=0
[lidah adalah amanat]
http://www.mail-archive.com/milis@opja.or.id/msg01633.html
[ujian untuk menjadi lebih mulia]
http://eramuslim.com/atk/oim/4405bf65.htm
[teRapi amanah]
http://www.mail-
archive.com/tamanbintang@yahoogroups.com/msg00541.html
[nabi zulkifli amanah, penyabaR]
http://www.bharian.com.my/Misc/RamadanAlMubarak/Puasa/Hari/KisahRasul/
20041012145643/Article/pp_index_html
[amanah berkaRya]
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=370
[ketika amanah dianggap ghanimah]
http://forumjumat.multiply.com/journal/item/33
[bingung tentang amanah]
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/5568
[pesan untuk pendidik anak]
http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=172

-perbanyakamalmenjusurga-

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=268

Artikel Buletin An-Nur :

Amanah
Kamis, 13 Mei 04

Kalau orang mau memperhatikan syariat Islam dan seluruh ajarannya, maka dia
akan mendapati bahwa keseluruhannya tidak lain adalah untuk mashlahat dan
kebahagiaan manusia. Salah satu perilaku dan pengajaran tertinggi di dalam
Islam adalah diwajibkannya sifat amanah, yang ini merupakan perbendaharaan
agama Islam, kekayaan yang sangat mendasar dan bahkan agama itu
merupakan amanah.
Ada tiga kata sepadan yang semuanya dibentuk dari huruf alif, mim dan nun,
ketiganya memiliki hubungan yang erat, yaitu aman, amanah dan iman dan
makna ketiganya hampir serupa yaitu menunjukkan kepada ketenangan atau
tuma’ninah. Amanah menunjukkan pada kepercayaan, dan kepercayaan adalah
ketenangan, sedang aman adalah hilangnya rasa takut dan ini juga berarti
ketenangan, kemudian iman bermakna pembenaran dan ketetapan (iqrar) serta
amal perbuatan, yang didalamnya terdapat pula ketenangan.

Oleh karena itu Allah menyebut hamba-Nya dengan sebutan mukmin karena
hanya orang mukmin saja yang dapat memelihara amanat Allah, menunaikan
serta memegangnya dengan erat, sebagaimana difirmankan oleh Allah, artinya,
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
janjinya, (QS. 23:8)

Dalam konteks perilaku kehidupan sehari-hari amanah memilki arti tumbuhnya


sikap untuk memelihara dan menjaga apa saja yang menjadi perjanjian atau
tanggungan manusia berupa benda nyata atau yang bersifat maknawi. Hal ini
seperti yang ditunjukkan di dalam sabda nabi saw, “Setiap kalian adalah
pemimpin dan setiap pemimpin akan ditanya tentang kepemimpinannya.”

Maka amanah memiliki makna yang sangat luas yang mencakup seluruh
hubungan muamalah dan hak-hak pihak lain yang harus ditunaikan

Maka secara garis besar amanah terbagi menjadi tiga bagian:

• Amanah dalam Menunaikan Hak-hak Allah Azza wa Jalla.

Yaitu dengan menauhidkan-Nya, mengesakan-Nya di dalam beribadah,


mengerjakan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa yang Dia
larang, semata-mata untuk mengharapkan keridhaan Allah. Ini
merupakan amanah yang terbesar, yang setiap hamba wajib
melaksanakannya pertama kali sebelum amanah-amanah yang lain. Dan
darinya akan muncul seluruh bentuk amanah yang lain.

• Amanah dalam Nikmat yang Diberikan Allah.

Seperti nikmat pendengaran, penglihatan, pemeliharaan, harta dan


anak-anak. Juga amanah badan dan segala isinya, kepala dan
kemampuan otaknya untuk berfikir. Maka setiap mukallaf wajib
menggunakan nikmat-nikmat tersebut sesuai fungsinya yang Allah
ciptakan dan dalam rangka menunaikan perintah-perintah Allah.

Apabila anggota badan, kesehatan, harta dan seluruh nikmat yang kita
terima digunakan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala,
maka berarti kita telah merealisasikan amanah serta menunaikan sesuai
tuntutannya.
Dan sebagai balasannya maka Allah akan menjaga dan memelihara orang
yang berbuat demikian dan juga menjaga nikmat tersebut. Nabi saw
bersabda, artinya,
“Jagalah Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah Allah maka dia akan
kau dapati dihadapanmu.”

Seorang salaf berkata, “Barang siapa bertakwa kepada Allah maka dia
telah menjaga dirinya sendiri, dan barang siapa menyia-nyiakan
ketakwaan kepada-Nya maka berarti dia menyia-nyiakan dirinya sendiri,
sedangkan Allah tidak pernah membutuhkannya.”

Oleh karenanya siapa saja yang menunaikan amanah dalam menjaga


batasan-batasan Allah serta memelihara hak-hak Nya, baik yang
berkaitan dengan dirinya atau apa yang diberikan oleh Allah berupa
nikmat, harta dan sebagainya maka Allah akan menjaganya untuk
kebaikan agama dan dunianya. Sebab balasan itu sesuai dengan amal
usaha seseorang sebagaimana firman Allah swt,

Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan


kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-
Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS.
2:40)
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah,
niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. 47:7)

• Amanah dalam Menunaikan Hak Sesama Manusia

Seperti titipan, harta, rahasia, aib dan kehormatan dan lain sebagainya.
Al Qur’an telah menyebutkan tentang keutamaan sifat amanah dalam
banyak ayat, yang sekaligus menganjurkan kepada kita untuk
memelihara dan menjaganya. Diantaranya adalah firman Allah, artinya,
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang
berhak menerimanya,
Juga firman Allah yang menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang
berhak mendapatkan surga Firdaus
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan
janjinya, (QS. 23:8)

Berkaitan dengan amanah ada sebuah ayat yang sangat mulia yang
menceritakan tentang tawaran Allah kepada langit , bumi dan gunung
untuk memikul amanah, namun mereka semua enggan karena merasa
tidak mampu, lalu amanah tersebut dipikul oleh manusia. Allah swt
berfirman,
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi
dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu
dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu
oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,
(QS. 33:72)

Dalam ayat ini terkandung penjelasan tentang beratnya amanah dan


beban yang harus ditanggung oleh manusia, dimana langit, bumi dan
gunung sebagai makhluk Allah yang perkasa dan kuat merasa lemah dan
enggan untuk memikul amanah itu, takut dan khawatir jikalau tidak
sanggup menunaikannya.

Akan tetapi manusia menawarkan diri untuk memikul amanah


tersebut,dan dengan itu manusia berarti telah berlaku zhalim terhadap
diri sendiri, sekaligus telah bersikap bodoh terhadap berbagai
konskwensi yang begitu banyak dari amanah itu, berupa kerja keras
sehingga tidak menjadikannya terjerumus ke dalam siksa.

Oleh karenanya siapa saja yang menerima amanah ini, menjaganya serta
menunaikan hak-haknya maka dia mendapatkan kemenangan dan pahala
yang besar. Dan barang siapa yang menyia-nyiakannya, menelantarkan
hak-haknya maka dia akan merugi dan mendapatkan siksa. Maka dalam
lanjutan ayat Allah menjelaskan tiga golongan manusia dalam
menunaikan amanah tersebut, yaitu munafik, musyrik dan mukmin.
“Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan
dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah
menerima taubat orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan. Dan
adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:73)

Orang musyrik menyia-nyiakan amanah secara lahir dan batin, orang


munafik menyia-nyiakan amanah secara batin meskipun secara lahirnya
terlihat menunaikan amanah sedangkan orang mukmin menjaga amanah
Allah secara lahir dan batin.

Ada satu hal yang perlu diperhatikan tentang kengganan langit, bumi dan
gunung, yang berbeda dengan keengganan iblis ketika diperintahkan
sujud terhada Adam as. Perbedaanya adalah bahwa keengganan langit,
bumi dan gunung adalah timbul dari kelemahan dan ketidakmampuan
sedangkan keengganan iblis karena menolak dan takabbur (sombong).
Hal yang kedua adalah bahwa yang disampaikan kepada langit,bumi dan
gunung adalah tawaran yang disitu ada pilihan sedangkan yang
disampaikan kepada iblis adalah perintah wajib yang harus, tidak ada
pilihan lain selain patuh.

Beberapa Pelajaran Seputar Amanah

• Amanah adalah akhlak yang bersifat utuh, tidak bisa hanya dilaksanakan
sebagiannya saja. Maka orang yang amanah terhadap yang sedikit dan
berkhianat terhadap yang banyak dia adalah khianah. Orang yang
amanah dalam satu kondisi lalu berkhianat dalam kondisi yang lain maka
berarti tidak amanah.
• Amanah adalah akhlak dan ciri keimanan. Dengan pendidikan keimanan
dia akan menjadi baik dan bersih yaitu dengan menumbuhkan rasa
kedekatan Allah, yang tak satupun tersembunyi di hadapan Allah, serta
takut ketika ditanya di hadapan Allah. Orang yang amanah hanya ketika
ada orang lain berarti dia belum merealisasikan amanah.
• Amanah adalah bekal paling besar dan paling baik yang dimiliki
seseorang, jika seseorang terpercaya di dalam amanahnya maka itu
merupakan kekayaan di dunia sebelum nanti di akhirat.
• Amanah adalah kekuatan, dalam pengaruh dan kekuasaan, kemuliaan
dan kecukupan, bahkan merupakan kekuatan jiwa sehingga tidak lemah
dan tunduk terhadap hawa nafsu dan segala yang membawa kepada
kebinasaan.
• Lawan amanah adalah khianah yaitu meninggalkan dan menyembunyikan
yang hak dan yang seharusya disampaikan. Dan ini merupakan karakter
utama orang munafik sebagaimana di dalam hadits yang masyhur, Nabi
saw bersabda, artinya,
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, “Jika berbicara dusta, jika
berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat.”

Macam-macam Khianat

Allah swt berfirman, artinya,


Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. 8:27)
Berdasar ayat ini, khianat ada tiga macam:

• Khianat terhadap hak-hak Allah swt, yang paling besar adalah kufur dan
syirik kemudian setelah itu disusul dengan fusuq (kefasikan) dan ‘ishyan
(kemaksiatan).Tauhid,shalat, puasa, ikhlas,zakat, ruku’,sujud,mandi
janabah adalah contoh amanat seorang hamba di hadapan Allah swt,
yang harus ditunaikan dengan benar dan tidak boleh dikhianati.
• Khianat terhadap hak-hak Rasul saw, yaitu dengan meremehkan sunnah-
sunnah dan pengajarannya, ghuluw (berlebihan) di dalam mengagungkan
beliau, meninggalkan sunnah dan melakukan bid’ah atau membuat hal-
hal baru di dalam agama padahal tidak pernah diajarkan oleh beliau saw.
• Khianat terhadap hak-hak sesama manusia, seperti khianat di dalam
harta, kehormatan atau nasihat terhadap mereka. Amanah terhadap
sesama manusia amat banyak, diantaranya adalah amanat anak,orang
tua, kerabat,suami-istri, tetangga,amanah dalam jual beli, berbicara,
pekerjaan, ilmu, nasihat, dan lain sebagainya.
Semoga Allah menolong kita semua untuk dapat melaksanakan amanah
kehidupan ini, amin. Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber: ”Al-Amanah, mafhumuha,shuwaruha,tsamaratuha.” Asma’ binti


Rasyid ar- Ruwaisyid.

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=528&bagian=0

Rabu, 24 Maret 2004 09:51:10 WIB


Kategori : Hadits

LENYAPNYA AMANAT [1]

Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil

MUKADIMAH
Artikel ini diambil dari sebagian kecil Tanda-Tanda Kiamat Shugro, yang
dimaksud dengan tanda-tanda kiamat shugro (kecil) ialah tanda-tandanya yang
kecil, bukan kiamatnya. Tanda-tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam
masa yang cukup panjang dan merupakan berbagai kejadian yang biasa terjadi.
Seperti, terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalelanya minuman
keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dan yang penting lagi, bahwa pembahasan ini merupakan dakwah kepada iman
kepada Allah Ta'ala dan Hari Akhir, dan membenarkan apa yang disampaiakan
oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, disamping itu juga merupakan
seruan untuk bersiap-siap mencari bekal setelah mati nanti karena kiamat itu
telah dekat dan telah banyak tanda-tandanya yang nampak.
________________________________

LENYAPNYA AMANAT

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah


Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : 'Apabila amanat telah disia-siakan, maka tunggulah kedatangan hari
kiamat.' Abu Hurairah bertanya, Bagaimana menyia-nyiakannya itu, wahai
Rasulullah ?. Beliau menjawab. Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang
bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari kiamat". [Shahih Bukhari, kitab
Ar-Riqaq, Bab Raf'il Amanah 11: 333].

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana amanat itu


dihilangkan dari hati manusia, hingga tinggal bekas-bekasnya saja.

Hudzaifah Radhiyallahu anhu meriwayatkan, katanya : "Rasulullah Shallallahu


'alaihi wa sallam menyampaikan kepadaku dua buah hadits, yang satu telah
saya ketahui dan yang satu masih saya tunggu. Beliau bersabda kepada kami
bahwa amanat itu diturunkan di lubuk hati manusia, lalu mereka
mengetahuinya dari Al-Qur'an, kemudian mereka ketahui dari As-Sunnah. Dan
beliau juga menyampaikan kepada kami tentang akan hilangnya amanat itu,
sabdanya :

"Artinya :Seseorang tidur, lantas amanat dicabut dari hatinya hingga tinggal
bekasnya seperti bekas titik-titik yang berwarna. Lalu ia tidur lagi, kemudian
amanat itu dicabut lagi hingga tinggal bekasnya seperti bekas yang terdapat
pada telapak tangan karena digunakan bekerja, seperti bara api yang engkau
gelincirkan di kakimu, lantas melepuh tetapi tidak berisi apa-apa. Kemudian
mereka melakukan jual beli atau transaksi-transaksi, tetapi hampir tidak ada
lagi orang yang menunaikan amanat. Maka orang-orangpun berkata.
'Sesungguhnya di kalangan Bani Fulan terdapat orang kepercayaan (yang dapat
dipercaya)'. Dan ada pula yang mengatakan kepada seseorang. 'Alangkah
pandainya, alangkah cerdasnya, alangkah tabahnya', padahal dalam hatinya
tidak ada iman sama sekali meskipun hanya seberat biji sawi. Sungguh akan
datang padaku suatu zaman dan aku tidak memperdulikan lagi siapa di antara
kamu yang aku ba'iat. Jika ia seorang muslim, hendaklah dikembalikan kepada
Islam yang sebenarnya ; dan jika ia seorang Nasrani maka ia akan dikembalikan
kepadaku oleh orang-orang yang mengusahakannya. Adapun pada hari ini maka
aku tidak memba'iat kecuali kepada si Fulan dan si Fulan". [Shahih Bukhari,
Kitab Ar-Riqaq, Bab Raf'il Amanah 11:333, dan Kitab Al-Fitan, Bab Idza Baqiya Fi
Khutsalatin Min An-Nasi 13:38]

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa amanat akan dihapuskan dari hati sehingga
manusia menjadi penghianat setelah sebelumnya manjadi orang yang dapat
dipercaya. Hal ini terjadi pada orang yang telah hilang perasaan takutnya
kepada Allah, lemah imannya, dan biasa bergaul dengan orang-orang yang suka
berbuat khianat sehingga ia sendiri menjadi penghianat, seorang teman itu
akan mengikuti yang ditemani.

Diantara gambaran hilangnya amanat itu ialah diserahkannya urusan orang


banyak seperti urusan kepemimpinan, ke khalifahan, jabatan, peradilan, dan
sebagainya kepada orang-orang yang bukan ahlinya yang tidak mampu
melaksanakan dan memeliharanya dengan baik. Sebab menyerahkan urusan
tersebut kepada yang bukan ahlinya berarti menyia-nyiakan hak orang banyak,
mengabaikan kemaslahatan mereka, menimbulkan sakit hati, dan dapat
menyulut fitnah di antara mereka. [Qabasat Min hadyi Ar-Rasul Al-A'zham Saw
Fi Al-Aqa'id, halaman 66 karya Ali Asy-Syarbaji. cetakan pertama 1398H,
terbitan Darul Qalam, Damsyiq]

Apabila orang yang memegang urusan orang banyak ini menyia-nyiakan amanat,
maka orang lain akan mengikuti saja segala kebijaksanaannya. Dengan
demikian mereka akan sama saja dengannya dalam mengabaikan amanat, maka
kemaslahatan (kebaikan) pemimpin atau penguasa merupakan kebaikan bagi
rakyat, dan keburukannya merupakan keburukan bagi rakyat. Selanjutnya,
menyerahkan urusan kepada orang yang bukan ahlinya merupakan bukti nyata
yang menunjukkan tidak adanya kepedulian manusia terhadap Din (agama)
mereka, sehingga mereka menyerahkan urusan mereka kepada orang yang tidak
memperhatikan Din-nya. Hal ini terjadi apabila kejahilan telah merajalela dan
ilmu (tentang Ad-Din) sudah hilang. Karena itulah Imam Bukhari menyebutkan
hadits Abu Hurairah terdahulu itu dalam kitab Al-Ilm sebagai isyarat terhadap
hal ini.

Ibnu Hajar berkata. "Kesesuaian matan (masalah akan lenyapnya amanat) ini
dengan ilmu hingga ditempatkan dalam kitab Al-Ilm ialah bahwa menyandarkan
urusan kepada yang bukan ahlinya itu hanya terjadi ketika kebodohan telah
merajalela dan ilmu ( tentang Ad-Din) telah hilang. Dan ini termasuk salah satu
pertanda telah dekatnya hari kiamat". [Qabasat Min Hadyi Ar-Rasul Al-A'zham
Saw Fi Al-'Aqaid, hal. 66 oleh Ali Asy-Syarbaji, cet. pertama, 1398H, terbitan
Darul Qalam, Damsyiq].

Dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberitahukan bahwa kelak akan
datang tahun-tahun yang penuh tipu daya dan keadaan mejadi terbalik. Yaitu
orang yang benar didustakan dan orang yang suka berdusta dibenarkan, orang
yang dipercaya berkhianat, dan pengkhianat diberi amanat, sebagaimana akan
dibicarakan haditsnya dalam pembahasan mengenai "Di antara tanda-tanda hari
kiamat ialah dimuliakannya orang-orang yang rendah dan hina (dari segi Ad-Din
dan ahlaknya)".

[Disalin dari buku Asyratus Sa'ah, Pasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin
Abdullah bin Yusuf Al-Wabil, MA. edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat
terbitan Pustaka Mantiq, hal. 99-101.Penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini
Munir Fadholi.]
_________
Foote Note
[1] Amanat merupakan kebalikan dari khianat. Kata amanat ini disebutkan dalam Al-Qur'an.
"Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengembankan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-
gunung, namun semuanya tidak bersedia, karena takut menghianatinya, lalu amanat itu
diterima oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim lagi sangat bodoh". [Al-Ahzab :
72]

http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=1157&PHP
SESSID=7823a...%3Fref%3Dhikayee.net

Pemimpin Yang Amanah 23-4-2007


Oleh : AHMAD NURCHOLISH

Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda: “Apabila amanat telah disia-siakan
maka tunggulah saatnya.” Ditanya orang: “Bagaimana sia-sianya, ya
Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apabila suatu urusan telah diserahkan kepada
yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat [kehancurannya].” (HR. Bukhari).
Alkisah, Abdullah bin Umar terkenal sangat tekun dalam beribadah.
Kekhusukannya diakui oleh sahabat-sahabat serupa benar dengan salatnya
Rasulullah saw.
Tetapi ketika amirul mukmin Umar bin Khaththab menderita sakit, dan
membentuk satu komisi yang diketahui oleh Abdurrahman bin Auf untuk
mencari Khalifah pengganti beliau, Abdullah bin Umar justru hanya diizinkan
untuk menjadi pendengar saja saat komisi bersidang.
Seseorang mengusulkan agar anaknya itu turut dicalonkan pula untuk
menggantikan Umar. Tetapi Umar menolak dengan keras. Bagi Umar, meski
Abdullah, anaknya, tekun dan khusuk dalam beribadah, belum tentu ia akan
sanggup memegang amanat pemerintahan.
Bahkan, Umar malah memanggil dan menasehati anaknya, Abdullah, agar
selama hidupnya dia jangan menuntut amanah yang tidak bisa dipikulnya itu.
Abdullah bin Umar pun tahu diri, sehingga bertahun-tahun kemudian, setelah
terjadi perang saudara di antara Ali dengan Mu’awiyah, karena Mu’awiyah
hendak merebut hak kepemimpinan itu, Umar tak memihak salah satu pihak.
Tampaknya, Umar sangat memahami betul hadis di atas. Hadits yang terdapat
dalam Shahih Imam Bukhari ini menjadi petunjuk bagaimana seorang muslim
harus memberikan jabatan, kedudukan kepada mereka yang betul-betul
memiliki keahlian tentang itu, juga dapat dipertanggungjawabkan
keamanahannya.
Ibnu Taimiyah pun dalam kitabnya As-Siatusy-Syariyah mengatakan bahwa
wajiblah atas penguasa menyerahkan suatu tugas dari tugas-tugas kaum
muslimin kepada orang yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan itu.
Dengan dasar itu, Hamka (1983:123 – 124) menekankan bahwa menjadi
tanggungjawab bagi imam kaum muslimin meletakkan suatu amanat pada
ahlinya, yang sesuai dengan kesanggupan dan bakatnya.
Bahkan, merujuk pada hadis di atas, Hamka juga melarang seorang pemimpin
hanya mementingkan keluarga atau golongan, sedang mereka itu tidak ahli di
bidangnya. Sebab itu adalah khianat kepada Allah dan Rasul serta orang yang
beriman.
Bagi Hamka, menyia-nyiakan amanat adalah khianat. Mengkhianati amanat
adalah salah satu karakter orang munafik. Menerima satu amanat untuk
menghianatinya adalah satu penipuan.
Kata-kata amanat satu rumpun dengan kata aman. Kalau tiap orang memegang
amanatnya dengan benar akan amanlah negeri dan bangsa ini.
Kata amanat juga bersaudara dengan iman. Iman kita pahami sebagai
kepercayaan dan amanat ialah bagaimana melancarkan iman itu. Dan simpulan
amanat ialah amanat Allah kepada insan manusia, agar mengikuti kebenaran
yang dibawa oleh para Rasul.
Dalam konteks manusia sebagai khalifah (wakil/deputi) Allah, mulanya amanat
itu pernah ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Namun
semuanya menolak karena merasa berat memikulnya.
Maka tampillah insan (manusia) ini ke muka untuk memikul amanat itu.
Sayangnya, manusia selalu abai, khianat, tidak bertanggungjawab dan tidak
berterimakasih (QS. Al-Ahzab/33:72).
Oleh sebab itu, karena setiap kita adalah pemimpin (paling tidak pemimpin
bagi keluarga, organisasi, atau diri sendiri), maka merefleksikan kembali hadis
di atas merupakan langkah awal untuk merealisasikan keamanahan kita sebagai
pemimpin. Wallahua’lam.[]

http://eramuslim.com/atk/oim/43c20d8d.htm

Pejabat yang Sederhana


12 Jan 06 10:16 WIB

Oleh Rubina Qurratu'ain Zalfa'

Kini, di manakah Presiden baru Iran tinggal? Tetap di rumahnya yang jelek
(dinding luarnya masih bata, belum ditembok) di kawasan Tehran timur.
Petugas keamanan terpaksa membuat posko keamanan di ujung jalan, mendata
semua tetangga termasuk sanak famili mereka, sehingga orang-orang yang
keluar masuk jalan kecil itu bisa dimonitor. Terakhir, mau tahu apa isi press
release pertama Presiden Iran yang baru terpilih itu? Isinya: Semua pihak
dihimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran dan
semua kantor dilarang memasang foto presiden!

Itulah sepenggal cerita yang saya baca di sebuah milis, kiriman seorang warga
Indonesia yang tinggal di Iran, tentang kesederhanaan Presiden Iran Mahmoud
Ahmadinejad. Membaca milis itu, saya jadi teringat dengan kisah-kisah
kesederhanaan para pemimpin Islam di masa lalu. Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib misalnya, saat beliau memegang tampuk pemerintahan kaum Muslimin di
Kufah, kaum Muslim hidup berkecukupan karena pajak dan harta rampasan dari
negara-negara yang berhasil ditaklukan melimpah ke negerinya. Umat Islam
tidak kekurangan makanan dan berpakaian serba indah. Namun sang pemimpin
Ali bin Abi Thalib tetap mengenakan pakaian tua yang sudah lusuh dan penuh
tambalan.

Ketika ditanya mengapa beliau berpakaian seperti itu, Ali bin Abi Thalib
menjawab,"Dengan pakaian seperti ini hati merasa takut dan pikiran merasa
sederhana. Sesungguhnya, dunia ini dan akhirat nanti saling bermusuhan dan
arah jalannya berbeda. Barang siapa mencintai dunia, akan membenci akhirat
dan menjadi musuhnya. Keadaan ini ibarat Timur dan Barat. Apabila seseorang
berjalan mendekati yang satu, maka ia akan menjauh dari yang lainnya..."
Perkataan Amirul Mukminin ini mengisyaratkan, bahwa beliau sangat berhati-
hati menggunakan harta negara. Meski sebagai pemimpin bisa saja beliau
membelanjakan harta negara itu untuk keperluan dirinya, namun
kesederhanaan hidup beliau mencegahnya melakukan hal itu.

Mengingat kisah-kisah semacam ini, membuat saya tersenyum getir. Bukan


karena saya kasihan sama Ahmadinejad yang tembok rumahnya saja belum
diplester bahkan sepatunya saja sudah agak 'bulukan'. Tapi karena saya teringat
dengan kiprah para pejabat di negara saya sendiri yang malah jadi kaya begitu
memegang jabatan. Jabatan bukan lagi dianggap sebagai amanah rakyat tapi
dijadikan alat untuk menguras harta negara bahkan harta yang seharusnya
menjadi hak rakyat. Saya tidak yakin, kalau pada saat ini ada pejabat negara di
negeri ini yang rumahnya belum diplester seperti rumah Ahmadinejad, ada
pejabat negara yang masih mau mengenakan sepatu yang sudah 'kusam' seperti
sepatunya Ahmadinejad, ada pejabat negara yang masih mau berpakaian
sesederhana Ali bin Abi Thalib.

Yang sering kita lihat justru para pejabat yang meributkan kenaikan tunjangan
jabatan, kenaikan gaji, saat pemerintah baru saja menaikkan BBM yang
membuat rakyat miskin menjerit. Saya kadang berfikir, tidak punya rasa
empatikah pejabat negara ini atas penderitaan rakyatnya? Tidakkah mereka
membaca koran yang setiap hari memuat berita anak-anak yang menderita gizi
buruk, busung lapar, bahkan anak-anak yang bunuh diri karena malu hanya
karena tidak mampu beli seragam pramuka dan tidak mampu membayar uang
sekolah? Saya cuma bisa mengelus dada tiap kali membaca atau menyaksikan
berita-berita semacam itu di media massa. Sedemikian parahnyakah kemiskinan
yang menimpa bangsa saya? Sementara para pejabatnya begitu mudahnya
mendapatkan uang negara dengan dalih studi banding ke luar negeri, uang
tunjangan jabatan, kenaikan gaji dan sebagainya....

Menyedihkan memang. Tugas menjadi pejabat negara memang berat tapi


haruskah dihargai dalam bentuk materi yang berlebihan? Bukankah seorang
pengemban amanah rakyat justru harus rela berkorban dan memilih sensitifitas
yang lebih tinggi atas kesulitan masyarakat di sekitarnya? Rasanya akan terlalu
panjang pertanyaan yang akan dilontarkan jika kita melihat ketimpangan
semacam ini. Namun, bisa jadi semua itu karena sebagian pejabat kita enggan
untuk hidup sederhana dan kurang bisa merasakan kesulitan rakyat. Kelebihan
harta sudah mengubah gaya hidup dan membuat mereka lupa akan idealisme
serta cita-cita mulia sebagai pengayom rakyat. Melihat kondisi semacam ini,
benarlah apa sabda Baginda Nabi Muhammad Saw, "Sesungguhnya di antara
yang aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarnya
kemewahan dan keindahan dunia ini padamu." (HR Bukhari dan Muslim)
Ya, kemewahan dan gemerlapnya dunia kadang membuat manusia lupa bahwa
masih banyak orang yang hidupnya termarjinalkan karena kesulitan ekonomi
yang melilit. Padahal Allah swt dalam surat At-Takasur mengingatkan bahwa
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam
kubur," dan di akhir surat itu Allah Swt berfirman,"Kemudian kamu pasti akan
ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di
dunia itu)."

Dalam suratnya yang lain, Allah mengingatkan..".. Makan dan minumlah tetapi
jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan." (QS 7: 31)

Islam selalu menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana. Karena


kesederhanaan bisa menghapus jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.
Alangkah indahnya, jika para pejabat kita juga mau memberi contoh untuk
hidup sederhana, apalagi mereka digaji dari uang rakyat. Dalam konteks
sekarang ini, mungkin mereka bisa mencontoh kesederhanaan Ahmadinejad,
Presiden Iran itu. Wallahualam.***

(rubina_zalfa@yahoo.com)

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2004&bagian=0

Kamis, 21 Desember 2006 06:28:58 WIB


Kategori : Adab Dan Perilaku

MENYAMPAIKAN KEBAIKAN DAN MELAKSANAKAN AMANAT


Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sebagian karyawan dan pekerja
tidak memberikan porsi yang cukup pada pekerjaan mereka. Di antara mereka
ada yang sudah setahun bahkan lebih, tidak pernah mengajak kepada kebaikan
dan mencegah kemungkaran serta sering terlambat bekerja dengan
mengatakan, "Saya telah diizinkan oleh atasan, jadi tidak apa-apa." Untuk
orang yang semacam itu, apakah ia berdosa selama ia masih tetap begitu? Kami
mohon fatwanya. Semoga Allah membalas Syaikh dengan kebaikan.

Jawaban
Pertama, yang disyari'atkan atas setiap muslim dan muslimah adalah
menyampaikan apa-apa yang bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala
mendengar kebaikan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Artinya : Allah mengelokkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari


kami lalu disampaikannya sebagaimana yang ia dengar."[1]

Dalam sabdanya yang lain disebutkan,


"Artinya : Sampaikanlah apa yang berasal dariku ivalaupun hanya satu ayat."[2]

Apabila beliau menasehati dan mengingatkan manusia, beliau selalu berpesan,

"Artinya : Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.


Sebab, banyak yang menyampaikan lebih sadar daripada yang hanya
mendengar."[3]

Karena itu, saya wasiatkan kepada anda semua untuk menyampaikan kebaikan
yang anda dengar berdasarkan ilmu dan kemantapan. Sebab, setiap yang
mendengar suatu ilmu dan menguasainya, hendaknya menyampaikannya
kepada keluarganya, saudara-saudaranya dan teman-temannya selama ia
melihat adanya kebaikan dengan tetap memelihara kemurnian materinya dan
tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak dikuasainya, sehingga dengan begitu
ia termasuk orang-orang yang saling berwasiat dengan kebenaran dan termasuk
orang-orang yang mengajak kepada kebaikan.
Kemudian tentang para karyawan yang tidak melaksanakan tugas mereka atau
tidak saling menasehati dalam hal tersebut, anda semua telah mendengar,
bahwa di antara karakter keimanan adalah melaksanakan amanat dan
memeliharanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

"Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada


yang berhak menerimanya " [An-Nisa': 58]

Amanat merupakan karakter keimanan yang paling utama, sementara khianat


merupakan karakter kemunafikan, hal ini sebagaimana dinyatakan Allah saat
menyebutkan sifat-sifat kaum mukminin,

"Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya)


dan janjinya." [Al-Mu'minun: 8, Al-Ma'arij: 32]

Kemudian dalam ayat lainnya disebutkan,

"Artinya : Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan


Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat
yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." [Al-Anfal : 27]

Karena itu, seorang karyawan wajib melaksanakan amanat dengan jujur dan
ikhlas serta memelihara waktu dengan baik sehingga terbebas dari beban
tanggung jawab, dan dengan begitu pencahariannya menjadi baik dan diridhai
Allah. Di samping itu, berarti ia loyal terhadap negaranya dalam hal ini, atau
terhadap perusahaan atau lembaga tempatnya bekerja. Itulah yang wajib atas
seorang karyawan, yaitu hendaknya ia bertakwa kepada Allah dan
melaksanakan amanat dengan sungguh-sungguh dan loyal, yang dengan begitu
ia mengharapkan pahala dari Allah dan takut terhadap siksaNya. Hal ini sebagai
pengamalan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yangberhak menerimanya." [An-Nisa' : 58]

Di antara karakter kaum munafikin adalah mengkhianati amanat, sebagaimana


yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

"Artinya : Tanda orang-orang munafik ada tiga; Apabila berbicara ia berdusta,


apabila berjanji ia ingkar, dan apabila diberi amanat (dipercaya) ia
berkhianat."[4]

Seorang muslim tidak boleh menyerupai orang munafik, bahkan harus menjauhi
sifat-sifatnya, tetap memelihara amanat dan melaksanakan tugasnya dengan
sungguh-sungguh serta memelihara waktu dengan baik sekalipun ada toleransi
dari atasannya, dan walaupun tidak diperintahkan oleh atasannya. Hendaknya
ia tidak mengabaikan tugas atau menyepelekannya, bahkan sebaliknya, ia
bersungguh-sungguh sehingga lebih baik daripada atasannya dalam
melaksanakan tugas dan loyalitasnya terhadap amanat, lalu menjadi teladan
yang baik bagi karyawan lainnya.

[Majalah Al-Buhuts At-lslamiyyah, edisi 31, hal. 115-116, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min


Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2,
Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Hadits Riwayat. At-Tirmidzi dalam Al-Ilm (2657), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (232).
[2]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Ahadits Al-Anbiya (3461).
[3]. Hadits Riwayat AI-Bukhari dalam Al-'Ilm(67), Muslim dalam Al-Qasamah (1679).
[4]. Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam al-Iman (33), Muslim dalam al-Iman(59).
http://www.mail-archive.com/milis@opja.or.id/msg01633.html

Indra Jaya
Sun, 11 Dec 2005 15:31:02 -0800

Lidah adalah amanat


Oleh: KH Abdullah Gymnastiar

Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-
orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. "Wahai
orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-
kata yang benar." (QS Al-Ahzab:70). Sementara itu, Rasulullah saw bersabda,
"Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik
atau diam". (HR Bukhari-Muslim).Rasulullah adalah figur teladan yang sangat
menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, beruap, berdialog, juga berkhutbah di
hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga
disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran. Mulut manusia itu
seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin
tahu isi teko, cukup lihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun
jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang
sering dikeluarkan oleh mulutnya.

Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun,
sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot
ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butir-
butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental.
Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam
dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena
lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di
mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah
sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau
sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya.
Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis
manusia diukur dari kualitas pembicaraannya. Pertama, orang yang berkualitas
tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi,
ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi
dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak
berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat. Ketika disodorkan
padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, "Krisis adalah
peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis,
siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang
inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!" Siapa saja yang biasa
berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah
dia adalah manusia yang berkualitas.

Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk
menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar
ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis,
terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia
seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak
peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.
Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: "Pokoknya
bunyi!" Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa
memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat.
Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju
kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.

Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh,


mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. "Aduuuh ini
pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!"
Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera
berhamburan. "Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih
nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?" Terus saja makanan
dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga. Mengeluh dan
mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-
kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. "Ohh, hujan melulu, di mana-
mana becek. Jemuran nggak kering-kering." Ketika di jalanan macet,
mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh.
Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari
berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara
oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah.
Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak
dikeluhkan.

Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya


tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-
kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus
kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?
Ada orang pakai cincin segera berkomentar, "Oh, itu sih mirip cincin saya." Ada
orang beli mobil baru, "Nah, ini seperti yang di garasi saya itu." Ada kucing
berbulu tebal melompat, "Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu
mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali
kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana." Orang-orang
dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan
kata-kata kesombongan dan membanggakan diri. Orang-orang dangkal tiada
bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu
ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar
tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu
akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus.
Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus
berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi
oleh
etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita
jatuh dalam apa-apa yang Allah larang. Dalam berbicara kita jangan bergunjing
(ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang
mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja,
apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi
dosa besar. "Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian
terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan
daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya.
Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima
taubat." (QS Al-Hujurat:12).

Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa
memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain.
Banyak bicara tidak selalu buruk,yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan.
Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita
berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu.
Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak
proporsional.Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu
orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-
Quran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap
dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata
kita semakin meningkat.
Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan.
Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang
sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar,
jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-
orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius. Satu langkah
konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi
jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan.
Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika
lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh.
Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata
baik. Jika tidak, cukup diam saja!

Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang
terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan
ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan
jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan
kebencian-Nya. Semoga Allah SWT membimbing lisan kita untuk berucap
mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai
untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan
membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin. Wallahu
a'lam bish shawab.

http://eramuslim.com/atk/oim/4405bf65.htm

Ujian Untuk Menjadi Lebih Mulia

Oleh Hayati Rahmah

Kata orang, hidup ini layaknya roda kehidupan. Kadang berada di atas, kadang
berada di bawah. Ada pula yang bilang hidup ini seperti ombak di pantai.
Kadang tenang, namun tak jarang pula menghantarkan gelombang yang begitu
kencang. Apa pun perumpamaan manusia terhadap kehidupan ini, intinya
adalah hidup ini takkan setenang air di dalam kolam. Akan ada goncangan-
goncangan, hambatan-hambatan, dan ujian-ujian yang bermacam-macam
bentuknya.

Terkadang manusia seringkali merasa tidak mampu untuk menghadapi cobaan-


cobaan hidup. Bahkan banyak pula yang tak menyadari bahwa semua nikmat
dan semua ujian itu hanya berasal dari satu sumber. Semua itu berasal dari
pemilik seluruh jiwa-jiwa manusia dan penguasa seluruh hati-hati manusia,
yaitu Allah, Sang Maha Kuasa. Parahnya, ada juga yang menyesali diri sendiri,
menganggap nasib diri terlalu sial, sehingga tak pernah mendapatkan
kebahagiaan dalam hidup.
Mungkin anda pernah dengar cerita sebuah cangkir cantik yang dipajang di
sebuah etalase toko. Sebelum berada di sana, ia hanyalah seonggok tanah liat
yang sama sekali tidak dihiraukan orang. Kemudian seorang pengrajin
mengambil dirinya, membentuk tanah liat itu, kemudian membakarnya di
dalam perapian. Sang tanah liat sempat marah dan benci terhadap perlakuan
yang diterimanya. Ia harus menahan sakit dan kepanasan. Tak sampai di situ, ia
harus rela dicat dengan berbagai warna, kemudian dibakar lagi. Segala macam
perlakuan sungguh tidak mengenakkan baginya. Namun apa yang terjadi,
setelah semua proses selesai, sang tanah liat mendapati dirinya telah menjadi
sebuah cangkir cantik. Ia bukan lagi seonggok tanah liat yang bau, tapi ia telah
menjadi sosok baru dan tentu saja lebih baik. *

Mungkin kita sebagai manusia, seringkali berpikir seperti tanah liat tadi. Ujian-
ujian yang mendatangi di setiap detik kehidupan selalu ditanggapi dengan
ketidaksabaran, keluh kesah, dan ketidakikhlasan. Tak jarang mungkin di antara
kita merasa terlalu dibebani dengan amanah-amanah, merasa hanya diri sendiri
yang diberi ujian, sedang orang lain bisa bersenang-senang, dan ada juga yang
justru berhenti dan tidak mau lagi berbuat karena merasa terlalu lelah,
fatigue, dan kecewa. Belum lagi kondisi lingkungan, keluarga, dan teman-
teman yang seringkali cuek, tidak perduli, dan sibuk dengan urusan masing-
masing.

Tapi cobalah kita lihat kisah si gelas cantik tadi. Lihatlah, betapa setelah
semua proses berlalu, seonggok tanah liat telah menjadi sebuah gelas cantik.
Betapa indahnya perubahan itu. Saat ini anda mungkin sedang diuji berbagai
macam masalah, mulai dari masalah di keluarga, orang tua, teman-teman,
tempat kerja, bahkan amanah dakwah sekalipun, tapi percayalah bahwa Allah
sedang membentuk anda. Bisa jadi anda tidak menyukai bentukan itu, tapi
anda harus sabar. Bukankah selalu ada kemudahan setelah kesusahan? Ingat,
awan tak selamanya mendung, sekali waktu ia akan cerah berawan menaungi
langit. Bahkan angin topan pun tak selamanya meniupkan angin kencangnya,
pada waktunya ia akan tenang dan reda kembali.

Dulu, seorang teman pernah bilang, kalau merasa diri sedang mendapatkan
ujian yang begitu berat, berbaik sangkalah kepada diri sendiri dan kepada
Allah. Ingat bahwa Allah selalu menurut persangkaan hamba-Nya. Anggap saja
saat diuji dengan berbagai masalah, anda sedang dalam masa ujian layaknya
anak sekolah. Untuk bisa naik tingkat, harus ada ujian untuk menguji kesiapan.
Makin tinggi tingkat, makin tinggi pula level kerumitan ujian yang diberikan.
Percayalah, kalau anda berhasil menghadapi ujian ini, anda akan berhasil naik
tingkat di mata Allah, menjadi mukmin sejati. Allah tidak akan memberikan
suatu ujian sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Kalau Allah saja yakin kita
mampu, masa kita sendiri tidak yakin dengan kemampuan diri?

Buat saudara-saudaraku yang saat ini sedang diuji oleh Allah, apapun bentuk
ujian itu, bergembiralah dan bersabarlah. Bergembira karena ujian berarti
Allah masih peduli dan sayang kepada kita, untuk itu ia memberikan ujian agar
kita lebih kuat, lebih bijak, dan lebih mulia. Allah ingin kita menjadi lebih baik
di hadapan-Nya. Setelah itu, bersabarlah karena sesungguhnya kesabaran akan
membuahkan ketenangan jiwa, kekuatan hati, dan sungguh Allah selalu
bersama orang-orang yang sabar. Bersabarlah, karena Allah tidak akan
meninggalkan hamba-Nya yang beriman, justru manusia lah yang seringkali
meninggalkan sang penciptanya.

Apakah yang diperoleh orang-orang yang telah kehilangan Allah dari dalam
dirinya? Dan apakah yang harus dicari oleh orang-orang yang telah menemukan
Allah di dalam dirinya? Sungguh antara yang pertama dan kedua tidak akan
pernah sama. Orang kedua akan mendapatkan segalanya, dan orang pertama
akan kehilangan segalanya. **

Wallahualam

*kisah disadur dari buku “Kekuatan Cinta”


**disadur dari buku “La Tahzan!”

http://www.mail-
archive.com/tamanbintang@yahoogroups.com/msg00541.html

Terapi Amanah
agussyafii
Wed, 16 Aug 2006 02:13:14 -0700

Dalam Bahasa Arab, kalimat amanah dapat diartikan sebagai titipan,


kewajiban, ketenangan, kepercayaan, kejujuran, dan kesetiaan. Dalam
al Qur'an amanah disebut dalam beberapa konteks, pertama: sebagai
tanggung jawab pengelolaan (Q/33:72), sebagai hutang atau janji yang
harus ditunaikan (Q/2:283), sebagai tanggung jawab keadilan pemegang
kekuasaan (Q/4:58), sebagai kesetiaan kepada tugas yang diemban
(Q/8:27), sebagai karakter pribadi yang penuh kejujuran dan
tanggungjawab (Q/23:8). Dalam hadis pernikahan, amanah disebut dalam
kontek komitmen suci dalam kontrak perjanjian. Kata dasar amanah
mempunyai pertalian dengan kata iman dan aman.

Dari pengertian bahasa dan dari pemahaman tematik al Qur'an dan


hadis, amanah dapat difahami sebagai sikap mental yang didalamnya
terkandung unsur kepatuhan kepada hukum, tanggung jawab kepada
tugas, kesetiaan kepada komitmen, keteguhan dalam memegang janji,
kesucian dalam tekad dan kejujuran kepada diri sendiri. Sikap mental
amanah harus berdiri diatas pondasi keimanan, dan dengan itu akan
tumbuh rasa aman, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi orang lain.

Budaya amanah adalah perilaku yang bersendikan kepatuhan kepada


moralitas agama, kepada moralitas hukum, tanggung jawab vertikal dan
horizontal dan kejujuran kepada diri sendiri, serta kesadaran atas
implikasi dari suatu keputusan. Kebudayaan adalah nilai-nilai, norma
dan konsep yang dimiliki masyarakat, yang dijadikan sebagai acuan
mereka dalam berkehidupan sehari-hari, menyangkut ekonomi, politik,
sosial dan budaya dari suatu masyarakat. Kebudayaan ada yang dianut
oleh entitas sosial yang sempit tetapi ada juga kebudayaan yang
dianut oleh suatu bangsa dan ada yang dianut oleh masyarakat
international. Sifat amanah harus ada dalam memori setiap warga,
sehingga tak pernah terlintas fikiran buruk, fikiran menyimpang dari
semestinya.

Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, etnik, bahasa dan


budaya yang kemudian menyatukan diri dalam ikatan kebangsaan dengan
tetap menghormati kebudayaan masing-masing, disebut Binneka Tunggal
Ika. Dalam perjalanan sejarahnya, komitmen Binneka Tunggal Ika tidak
selalu dihormati. Pada masa Orde Baru misalnya kecenderungan
Pemerintah untuk menyeragamkan kebudayaan bangsa telah meruntuhkan
fungsi keragaman budaya sebagai kekuatan persatuan. Akibatnya ketika
orde baru tumbang, keragaman budaya yang semula menjadi pemersatu
berubah menjadi ancaman disintegrasi.

Ketika bangsa mengalami krisis kepemimpinan nasional, ketika


infrastruktur kebudayaan yang konvensional tidak lagi efektif
digunakan, ketika semua teori tidak lagi relefan untuk menganalisis
persoalan, ketika kebuntuan melanda hampir seluruh saluran pemecahan
masalah, diperlukan satu langkah terobosan yang menyentuh simpul-
simpul yang tepat.

Masyarakat Indonesia, betapapun adalah masyarakat yang religious.


Telah teruji berkali-kali, setiap kali bangsa berada di tubir
kehancuran, kesadaran beragama menyeruak ke atas dengan berbagai
simbolnya. Zaman keterbukaan memberi peluang kepada seluruh lapisan
masyarakat mengemukakan ekpressi pemikirannya. Situasi ini memberi
peluang sifat religiousitas masyarakat untuk bertemu dalam titik
kesamaan dengan tetap menghargai perbedaan. Karakteristik amanah
adalah satu diantara sedikit hal yang bisa mempersatukan kiblat
bangsa, karena amanah bersifat universal. Oleh karena itu membangun
kembali keluarga besar bangsa Indonesia dengan membudayakan amanah
merupakan gagasan yang sangat relevan.

Proses pembudayaan suatu nilai lazimnya membutuhkan waktu yang


panjang dan proses yang alami, tetapi dalam keadaan dimana
masyarakat dalam keadaan bingung dan membutuhkan alternatif,
pembudayaan suatu nilai dapat dilakukan dengan metode Gerakan.

Wassalam,

agussyafii

http://mubarok-institute.blogspot.com

http://www.bharian.com.my/Misc/RamadanAlMubarak/Puasa/Hari/KisahRasul/
20041012145643/Article/pp_index_html

Nabi Zulkifli amanah, penyabar


Oleh Idris Musa
idris@hmetro.com.my

NABI seterusnya, Zulkifli, anak Nabi Ayub. Nama sebenarnya Basyar, tetapi
diberi gelaran Zulkifli kerana beliau seorang saja yang tampil untuk
menyatakan kesanggupan melaksanakan amanah raja di negerinya.

Zulkifli bermaksud sanggup menjalankan amanah raja. Menurut cerita, raja di


negeri itu sudah lanjut usia dan ingin mengundurkan diri daripada menjadi
pemerintah, tetapi beliau tidak mempunyai anak.

Justeru, raja itu berkata di khalayak ramai: “Wahai rakyatku! Siapakah antara
kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah pada waktu
malam. Selain itu, sentiasa bersabar ketika menghadapi urusan, maka
akan aku serahkan kerajaan ini kepadanya.”

Tiada seorang pun menyahut tawaran raja itu. Sekali lagi raja berkata:
“Siapakah antara kamu yang sanggup berpuasa pada waktu siang dan beribadah
pada malamnya serta sanggup bersabar?”
Sejurus itu, sahut seorang pemuda bernama Basyar dengan suara yang lantang:
“Aku sanggup.” Dengan keberanian dan kesanggupan Basyar melaksanakan
amanah itu beliau diberi gelaran Zulkifli.

Beliau adalah nabi yang cukup sabar seperti firman Allah, bermaksud: “Ismail,
Idris dan Zulkifli adalah orang yang sabar dan Kami beri rahmat kepada semua
kerana mereka orang yang suka bersabar.”

Kemudian Zulkifli menggantikan raja yang sudah tua itu. Pada waktu siang
beliau berpuasa, tetapi tidak pernah melupakan urusan pemerintahan, malah
melayani rakyatnya dengan baik. Pada waktu malam, beliau memanfaatkannya
dengan beribadah kepada Allah.

Satu hari, syaitan yang menyerupai manusia datang kepadanya ketika beliau
tidur. Kedatangan tetamu (syaitan) itu kononnya untuk menyelesaikan urusan
dengan raja (Zulkifli), tetapi tujuan sebenar mahu menggoda.

Kedatangannya disambut wakil Zulkifli kerana waktu itu beliau mahu tidur.
Tetapi tetamu itu tidak mahu disambut wakilnya, lalu didesak supaya terus
dapat berjumpa dengan beliau.

Disebabkan tetamu itu tidak mahu beredar, malah meminta urusannya


diselesaikan segera, Zulkifli keluar menemuinya. Selesai urusan itu, tetamu
berkenaan terus beredar. Zulkifli baru menyedari tetamu itu adalah syaitan
yang mahu menggodanya. Walaupun mengetahui tetamu itu syaitan, beliau
tidak marah, malah tetap bersabar.

Satu hari berlaku pula peperangan di negeri itu membabitkan orang yang
derhaka kepada Allah. Raja Zulkifli memerintahkan rakyatnya supaya
menghadapi tentangan orang derhaka itu, tetapi dibantah.

Rakyatnya berkata: “Wahai raja, kami takut berperang kerana kami masih
mahu hidup. Jika kamu minta kepada Allah untuk menjamin hidup kami, baru
kami mahu berperang.”

Mendengar perkataan rakyatnya itu, Zulkifli berdoa: “Ya Allah, aku


menyampaikan risalah Tuhan kepada mereka, menyuruh mereka berperang,
tetapi mereka mempunyai permintaan. Sesungguhnya Allah mengetahui
permintaan mereka.”

Tidak lama selepas itu, Allah menurunkan wahyu: “Wahai Zulkifli, Aku (Allah)
telah mengetahui permintaan mereka dan Aku mendengar doamu. Semuanya
Aku akan kabulkan.”

Nabi Zulkifli digolongkan dalam al-Quran sebagai orang yang sabar dan soleh.
Firman Allah bermaksud: “Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa dan Zulkifli.
Semuanya orang yang paling baik.”

Zulkifli yang dinyatakan melalui al-Quran itu bukannya Kifli seperti dinyatakan
dalam sebuah hadis (hasan) yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Tirmizi, iaitu:
“Kifli yang berasal dari kalangan Bani Israel tidak menjaga diri daripada dosa.

Ada seorang wanita muda datang kepadanya, lalu Kifli memberi wang 60 dinar
kepadanya dengan maksud wanita itu setuju disetubuhi. Setelah Kifli siap
melakukan persetubuhan itu selayak seorang suami ke atas isteri, tiba-tiba
wanita itu gementar dan menangis.

Kifli bertanya kepada wanita itu: “Kenapa kamu menangis? Apakah kamu tidak
mahu? Wanita itu menjawab: “Tidak, tetapi perbuatan seperti itu aku belum
pernah lakukan dan aku mahu lakukannya kerana ada keperluan yang
mendesak.”

Kifli berkata: “Jadi, baru kali ini kamu melakukan perbuatan seperti itu.
Sebelum ini kamu belum pernah melakukannya.” Kemudian Kifli melepaskan
wanita itu dan berkata: “Pergilah kamu dan bawalah dinar yang telah aku
berikan kepadamu.

Kemudian Rasulullah bersabda:, “Demi Allah, Kifli tidak melakukan maksiat


terhadap Allah selamanya. Selepas itu Kifli meninggal dunia pada waktu malam
dan di pintunya tertulis, Allah memberikan keampunan kepada Kifli.”

Mengikut teori pada sanad hadis itu, Kifli yang diceritakan dalam hadis
berkenaan bukan Zulkifli kerana ia menyebut perkataan Kifli saja, dengan tidak
mengaitkan perkataan lain yang merujuk pada Zulkifli.

Nabi Zulkifli mempunyai rakyat yang ramai dan berusia lanjut hingga negerinya
padat dan menghadapi masalah bekalan makanan. Selepas itu, rakyatnya yang
panjang usia meminta Nabi Zulkifli supaya ditentukan ajal.

Zulkifli meninggal dunia pada usia 75 tahun. Beliau seorang nabi dan raja
terkenal dengan sikap sabar dan tidak marah. Beliau juga mematuhi janji dan
segala amanah yang diserahkan raja terdahulu hingga dapat memimpin
kaumnya dengan baik.

©The New Straits Times Press (M) Berhad

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=370
Artikel Buletin An-Nur :

Amanah Berkarya
Rabu, 15 Maret 06

Pembicaraan kita mengenai tema ini dilatarbelakangi banyaknya manusia yang


telah mengabaikan tugas di dalam bekerja. Semoga Allah subhanahu wata’ala
mendatangkan manfaat melalui tulisan ini kepada penulis, karyawan, dan
pembaca budiman.

Di dalam tema ini dibahas tentang cara menunaikan tugas dengan benar,
sehingga tepat waktu, produktif, dan menghasilkan pekerjaan yang memuaskan
(efisien dan efektif). Introspeksilah, bagaimana kondisi diri kita yang
sebenarnya dalam hal ini?

Fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa telah terjadi taqshir (keteledoran)


di dalam bertugas/berkarya. Hal ini juga terjadi pada orang-orang yang
menyangka bahwa diri mereka tidak melakukan hal demikian (lalai dalam
bertugas).

Perhatikan, terdapat sebagian karyawan yang datang terlambat beberapa jam,


namun pulang lebih awal. Waktu yang tersisa (di tempat kerja) dihabiskan
untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan, atau ngobrol dengan
teman-temannya, sehingga tugas yang diamanahkan kepadanya terabaikan.
Sebagian karyawan ada yang selalu mencari-cari alasan kepada atasannya agar
diberi izin keluar.

Terdapat juga sebagian karyawan yang lain hanya karena melihat atasannya
keluar, dia pun ikut keluar dan meninggalkan pekerjaannya. Sungguh masih
banyak contoh-contoh negatif lainnya yang menyebabkan tugas sebagai satu
amanah telah diabaikan.

Intropeksilah apakah contoh perilaku di atas dibenarkan, dan apakah hal itu
sebagai bentuk berkhidmat pada ummat ini? Dan apakah hal ini sudah termasuk
menunaikan amanah?! Tidak diragukan lagi, bahwa orang yang bersikap
obyektif tentu akan menjawab, “Tidak!”. Kalau begitu, apakah penyebab dan
jalan ke luar dari problem ini?

Berikut ini beberapa penyebab terjadinya permasalahan di atas, yaitu:


1. Lemahnya perasaan takut kepada Allah subhanahu wata’ala dan lemahnya
sikap muraqabatullah (merasa selalu diawasi oleh Allah subhanahu wata’ala).
2. Terjadinya krisis keteladanan, baik dari pihak atasan maupun sesama
karyawan.
3. Jarang menerapkan prinsip penghargaan dan sanksi secara tepat.
Adapun solusi untuk mengatasi sebab terjadinya permasalahan di atas adalah
sebagai berikut:

• Menanamkan keimanan yang kuat kepada Allah subhanahu wata’ala dan


menumbuhkan sikap muraqabatullah pada diri para karyawan, baik
ketika sendiri ataupun di tengah keramaian, serta menumbuhkan jiwa
takut kepada Allah subhanahu wata’ala dalam setiap tindakan dan
ucapan dan dalam setiap keadaan dan kondisi, baik dilihat orang lain
ataupun tidak, sebab Allah subhanahu wata’ala Maha Mengetahui yang
rahasia maupun yang nyata dan Allah subhanahu wata’ala akan
memberikan balasan kepada setiap manusia sesuai dengan amal
perbuatannya.

Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,


"Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk besok." (QS. Al-
Hasyr: 18).

Al-Mushthofa shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,


“Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada" (HR. Tirmidzi,
beliau berkata, “Hadits ini hasan shahih”)

Dengan kekuatan iman seperti ini, maka kebaikan seseorang akan


bertambah dan amanah akan dia tunaikan, serta penyimpangan dan
kemungkaran akan lenyap ataupun berkurang.

Inilah yang kita ketahui dari sikap salah seorang salaf, dia berkata, "Jika
Umar tidak melihatku, maka sesungguhnya Rabb Umar itu pasti
melihatku". Demikianlah seharusnya kita bersikap dalam setiap waktu.

• Hendaklah para pemimpin dan atasan memberikan keteladanan yang


baik kepada bawahan dengan menjaga jam kerja tepat waktu,
menyempurnakan pekerjaan lebih awal, berupaya dengan sungguh-
sungguh untuk perkembangan dan perbaikan. Sebab keteladanan dalam
bentuk kerja nyata lebih berpengaruh dibandingkan dengan nasihat
dalam bentuk ungkapan kata.

Di antara contoh tentang hal ini adalah kisah Perjanjian Hudaibiyah,


yang mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah selesai
menulis perjanjian tersebut, beliau berkata kepada para shahabatnya,
”Berdirilah kalian, menyembelihlah dan cukurlah rambut kalian. Namun
tiada seorang pun yang berdiri, hingga beliau mengucapkannya sampai
tiga kali, namun tetap saja para shahabat belum melaksanakannya. Lalu
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Ummu Salamah
radhiyallahu ‘anha, kemudian beliau ceritakan hal itu kepadanya, lalu
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata kepada beliau , "Wahai Nabi
Allah apakah anda menginginkan hal itu (dilakukan oleh mereka)?
Keluarlah anda, kemudian janganlah berbicara apa pun kepada mereka,
hingga anda menyembelih unta, lalu anda panggil tukang cukur untuk
mencukur anda. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan
tidak berbicara apa-apa kepada mereka lalu melakukan semua (saran
Ummu Salamah) tersebut. Maka tatkala mereka melihat apa yang
dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat
langsung berdiri dan menyembelih binatang ternak mereka, lalu sebagian
mereka mencukur sebagian lainnya, sehingga hampir saja ada sebagian
yang terbunuh oleh sebagian yang lainnya.”

Ingatlah bahwa ucapan yang menyelisihi perbuatan akan memberikan


dampak negatif. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala menging-kari
hal tersebut dalam banyak ayat dan mencela pelakunya, Allah
subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Hai orang-orang yang beriman mengapa kalian mengucapkan sesuatu
yang tidak kalian perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah, bahwa
kalian mengucapkan apa-apa yang tidak kalian perbuat." (QS. Ash-Shaf:
2-3)

Juga Dalam firman-Nya, artinya,


"Mengapa kamu suruh orang lain (menger-jakan) kebaktian, sedang
kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca
Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir." (QS. Al-Baqarah: 44)

• Menerapkan prinsip keadilan di antara sesama manusia, serta


memberikan hak setiap orang sesuai dengan haknya tanpa memandang
siapa orangnya, karena keadilan itu dituntut untuk diterapkan kepada
siapa saja, baik musuh maupun kawan, orang dekat maupun orang jauh.

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,


"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-
Nahl: 90)

• Menerapkan prinsip penghargaan dan sanksi kepada semua pihak, baik


kepada orang kecil maupun kepada orang besar. Dengan menerapkan
prinsip penghargaan itu, maka akan memotivasi pelakunya untuk lebih
giat bekerja dan saling berlomba dalam hal itu. Dan dengan menerapkan
prinsip sanksi itu, maka akan mencegah orang yang lalai dari
kelalaiannya serta menjadi pelajaran bagi orang lain. Dan bahwa Allah
subhanahu wata’ala tidak menciptakan sesuatu itu sia-sia. Dia
menyediakan surga bagi hamba-hamba-Nya yang baik, dan Dia
menyediakan neraka bagi hamba-hamba-Nya yang lalai dan kufur.
Dengan menegakkan prinsip sanksi itu, maka akan mencegah seseorang
dari kelalaian yang belum tercegah oleh keimanannya sendiri.
"Sesungguhnya Allah mencegah dengan seorang sulthan (pemimpin)
sesuatu yang belum dicegah oleh Al-Qur`an," (Atsar ini dari Utsman
radhiyallahu ‘anhu)

Syaikh Al'Utsaimin rahimahullah ditanya tentang masalah ini, yaitu tentang jam
kerja karyawan/pegawai yang telah menjadi ketetapan resmi dari suatu
instansi pemerintah (suatu perusahaan), lalu ada sebagian karyawan yang
datang ke tempat kerja terlambat setengah jam atau 1 jam, dan sebagian lagi
ada yang pulang lebih awal setengah jam atau 1 jam!

Maka dijawab oleh beliau, "Secara lahir pertanyaan ini tidak perlu dijawab,
karena upah itu sebanding dengan pekerjaan orang yang diupah, sebagaimana
juga karyawan itu tidak akan rela haknya (gajinya) dikurangi oleh instansi
pemerintah (perusahaan), maka janganlah dia mengu-rangi hak instansi
pemerintah (perusahaan) tersebut. Oleh sebab itu seorang pegawai/karyawan
tidak dibenarkan datang dan pulang di luar batas jam kerja resmi.”

Sebagian lagi beralasan, memang di tempat kerja itu pada dasarnya ada
pekerjaan tapi hanya sedikit. Jadi pada prinsipnya anda terikat dengan waktu
kerja bukan dengan pekerjaan, seakan dikatakan pada anda, “Gaji anda sekian,
anda harus hadir untuk bekerja dari jam sekian hingga jam sekian, baik ada
pekerjaan ataupun tidak. Jadi selama gaji itu terikat dengan waktu kerja,
maka anda harus memenuhi target jam kerja.”

Sebagai kesimpulannya, maka saya nasehatkan: Ingatlah bahwa pekerjaan itu


adalah amanah sebagaimana halnya shalat dan zakat, maka laksanakanlah
pekerjaan tersebut dengan benar. Allah subhanahu wata’ala berfirman,artinya,
”Maka hendaklah yang dipercayai itu (yang diberi amanah) menunaikan
amanatnya dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Rabbnya.” (QS. Al-
Baqarah: 283), dalam ayat lain Dia juga telah berfirman, artinya, "Hai orang-
orang yang beriman tepatilah janjimu." (QS. al-Maidah: 1).

Allah subhanahu wata’ala akan menanyakan tentang amanah tersebut nanti di


hari Kiamat kelak, sebagaimana firman-Nya, "Dan tahanlah mereka (di tempat
perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya". (QS. Ash-Shaaffat:24).
Juga firman-Nya, artinya, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat
dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah:7-8).

Sedangkan umat yang lain (non Islam) melakukan pekerjaan itu hanya
bermodalkan semangat nasionalisme, golongan (etnis), dan karena motivasi
yang lainnya, lalu mereka memperoleh keuntungan hanya di dunia ini saja.
Sedangkan kita, kaum muslimin, apabila bekerja dengan "baik", maka Allah
subhanahu wata’ala sudah menyediakan bagi kita kebaikan untuk di dunia ini
dan pahala untuk akhirat nanti. Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Karena itu Allah memberikan pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat.
Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran:148)
(Isnain Azhar, Lc)

Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1426.

http://forumjumat.multiply.com/journal/item/33

Ketika ‘Amanah’ dianggap ‘Ghanimah’.

(Refleksi dua tahun sunami)

Oleh: Israk Ahmadsyah, M.Ec·

Berat mata memandang, berat lagi untuk memikulnya. Bagitulah gambaran


terhadap korban sunami yang sampai hari ini masih tinggal di kemah-kemah.
Dua tahun telah berlalu, namun mereka masih belum tersentuh dengan baik.
Fakta masih menunjukkan bahwa 70.000 korban sunami masih tinggal di barak.
Membuat kita bertanya, apakah negeri ini tidak ada pemimpinnya? Atau apakah
negeri ini tidak memiliki dana untuk membangun kembali? Ternyata bukan itu
jawabannya, dan bukan itu pula persoalannya. Pemda dan BRR adalah lembaga
utama yang diamanahkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Ternyata, ada permasalahan yang sangat krusial yang dihadapi pemimpin
Aceh (mereka-mereka yang memegang amanah) saat ini. Permasalahan itu
adalah ketika amanah ternyata dikhianati. Amanah yang saat ini dipegang
dalam bentuk jabatan baik dari pemerintah, negara donatur dan dari
masyarakat ternyata lebih disikapi sebagai ‘ghanimah’. Padahal antara amanah
dan ghanimah itu cukup berbeda. Amanah wajib dipertanggungjawabkan baik
kepada masyarakat maupun kepada Allah SWT, manakala ghanimah itu adalah
hasil rampasan perang yang bisa digunakan untuk kepentingan pribadi.
Kenyataan pada saat ini, baik itu dana BRR, dana APBD, juga segala bantuan
baik dari dalam maupun luar negeri seakan-akan diartikan dan diperlakukan
sebagaimana harta rampasan perang.

Negeri ini akan terus hancur jika para pemimpin dan masyarakatnya
mengabaikan nilai-nilai amanah. Mari kita ambil pelajaran berharga dari hadis
Rasulullah SAW. Abu Hurairah berkata: “Ketika Nabi SAW di dalam suatu majlis
ilmu, maka datang seorang `arab badwi bertanya: "Kapankah hari kiamat?".
Rasulullah SAW meneruskan ucapannya. Ada yang mengatakan "Baginda dengar
(apa yang ditanya) tetapi baginda tidak suka apa yang ditanya". Sementara
yang lain pula berkata "Bahkan baginda tidak mendengar". Apabila telah selesai
ucapannya, baginda bertanya: "Manakah orang yang bertanya". Jawab (badui
tersebut): "Saya di sini wahai Rasulullah". Baginda bersabda: "Apabila pupus
nilai amanah maka tunggulah kiamat". Bertanya badwi tersebut: "Bagaimanakah
hilang amanah itu ya Rasulullah". Sabda baginda: "Apabila diserahkan urusan
kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat" (Diriwayatkan oleh Imam
Bukhari). Ternyata gambaran Rasulullah 1400 tahun yang lalu sangat sesuai
menggambarkan tentang kehancuran Aceh saat ini baik sebelum ataupun
sesudah sunami.

Melalui sunami, Allah SWT telah banyak memberikan pelajaran yang


cukup besar kepada kita. Sunami telah menghentikan kemaksiatan pembunuhan
pada saat sebagian manusia (baik dari TNI & POLRI, GAM dan OTK) dengan
tanpa alasan syar’i menghilangkan nyawa manusia lainnya. Seakan-akan ajaran
dari baginda Rasulullah SAW untuk tidak membunuh seseorang tanpa alasan
yang dibenarkan oleh syariat tidak pernah tersampaikan. Membunuh satu orang
saja tanpa alasan syar’i, maka sama seperti membunuh seluruh manusia yang
ada di dunia. Satu persatu menjadi korban, mulai dari masyarakat yang tidak
terlibat dalam pergolakan ini, keluarga GAM, keluarga aparatur pemerintah,
keluarga TNI&POLRI, hingga ulama dan para intelektual menjadi sasaran
pembunuhan. Sayangnya, ulama yang tertinggal (yang saat itu menduduki
jabatan pada lembaga seperti MPU) tidak mampu bersuara sehingga kita benar-
benar kehilangan figur tauladan pewaris Nabi. Nyawa adalah milik dan amanah
dari Allah kepada kita dimana kita tidak bisa sesuka hati untuk
menghilangkannya.

Tidak cukup dengan pembunuhan, berbagai penyelewengan-


penyelewenganpun terjadi sebelum sunami, seperti pembelian helikopter yang
nilai markupnya sama dengan harga helikopter itu sendiri, pembelian pesawat
seulawah yang kini hilang seakan-akan juga telah diterjang sunami, korupsi
jamaah para legislatif dan eksekutif, baik ditingkat propinsi maupun kotamadya
sehingga mengantarkan sebagiannya ke penjara, konstruksi terminal kedah
yang belum sempat diresmikan sudah hancur, terbongkarnya korupsi para
bupati dan masih banyak lagi. Yang cukup parah adalah menularnya virus korup
di hampir seluruh lapisan jabatan hingga di tingkat pedesaan sekalipun. Bahkan
gejala virus ini saat itu mulai memasuki area lembaga pendidikan.

Sudah sepantasnya, bahwa kita menyadari dan mengkaji kembali betapa


penghancuran terhadap nilai-nilai amanah telah membawa malapetaka yang
berlanjutan. Paska sunami, Allah SWT meninggalkan kepada kita rumahnya
(Mesjid) sebagai lambang untuk mengembalikan nilai-nilai amanah. Pesan Allah
SWT itu cukup jelas, bahwa Aceh adalah bumi syuhada dan hanya akan maju
jika dibangun dengan nilai-nilai mesjid. Mesjid adalah rumah Allah sebagai
tempat menyatukan hati-hati yang penuh dengan permusuhan karena mereka-
mereka yang hadir untuk bersujud kepadaNya memiliki harapan yang sama,
mencari keridhaanNya. Mesjid menjadi tempat persaudaraan abadi, tidak ada
kepentingan pribadi atau partai di sana. Mesjid tempat mensucikan jiwa-jiwa
pragmatisma, yaitu jiwa opportunistic yang saat ini dipenuhi dengan ‘hubbud
dunya’.

Keutamaan mesjid sebenarnya bukan pada bangunannya, tapi lebih


kepada bagaimana kita memakmurkannya dengan menunaikan amanah baginda
Rasulullah SAW yaitu menegakkan shalat secara berjamaah. Kecintaan kita
akan shalat berjamaah ini pula memberikan indikasi awal bahwa kita ingin
menunaikan amanah Allah dan Rasulnya. Selanjutnya membawa nilai-nilai
amanah ini pada berbagai aktivitas kehidupan kita. Ironisnya, ini pula yang
tidak digandrungi lagi oleh masyarakat Aceh saat ini. Panggilan azan, bagaikan
suara ayam di pagi hari yang tidak memiliki arti apa-apa. Lagi-lagi, sayang
seribu sayang. Kita ternyata tidak mampu menangkap pesan (bayan) Allah SWT
terhadap peninggalan Mesjid ini.

Kenyataannya, paska sunami, berbagai jenis pengkhianatan terhadap


amanah kembali kita pertontonkan kepada Allah SWT. Seakan kita ingin
mengundang sunami jilid berikutnya. Rekonstruksi dan rehabilitasi nilai-nilai
amanah tidak menjadi agenda utama. Tapi lebih kepada pembangunan fisik.
Pembangunan fisik itupun yang seyogianya ditujukan untuk korban sunami
seakan tanpa memakai skala prioritas. Sarana rumah, jalan, listrik, air,
kesehatan adalah hal-hal esensial yang masih banyak terabaikan.

Ini terbukti dari kenyataan bahwa masih puluhan ribu korban sunami
yang tinggal di barak huntara. Sementara rumah yang sudah dibangunpun
belum terlepas dengan segala permasalahan. Pembangunan rumah yang asal-
asalan masih berlaku (Serambi Indonesia, 17 Desember 2006). Dua tahun
mengharap penuh pada satu rumah, ternyata rumah yang telah jadi tidak layak
huni. Tragis!. Sedih dan pilu bagi mereka. Namun sayangnya, nilai keprihatinan
tidak lagi menghinggapi para developer. Rumah bantuan asingpun ikut dikorupsi
seperti yang terjadi pada rumah-rumah bantuan Turki yang di sub-kontrakkan.
Pembangunan jalan pun tak lepas dari sekedar ‘cilet-cilet’ meskipun
menghabiskan dana yang tidak sedikit. Anehnya, hukumpun seakan mati, tak
mampu menindak mereka-mereka yang melakukan penyelewengan.
Penyelenggarakan hukum seakan ikut melengkapkan budaya tidak amanah atas
tugas yang diemban. Ketidakamanahan ini semakin sempurna saat ada korban
sunami yang bisa mendapatkan 10 rumah bantuan.

Ketidakadilan juga cukup nyata. Pegawai BRR diberikan gaji dan


tunjangan sehingga puluhan juta perbulannya, belum lagi ‘breakfast, lunch,
dinner’ yang wah, biaya rapat di hotel mewah. Pemda juga ikut serta
menikmatinya. Manakala korban sunami yang menjadi target bantuan
sebenarnya bahkan hanya mendapatkan dana jadup Rp.90.000/bulan. Kalau
didolarkan, korban sunami hanya mendapatkan kurang dari $9.00. Artinya
sehari mereka mendapatkan $0.30 (30 sen), atau sama dengan harga membayar
sekali masuk ke toilet di Amerika.

Tragisnya lagi, budaya tidak amanah menghinggapi para pendidik.


Banyak dosen yang meninggalkan kampus demi mengejar ‘extra dolar’,
sehingga mahasiswa sulit untuk bertemu. Terkadang mereka yang bersatus izin
belajar juga ikut bekerja pada berbagai NGO. Sebagiannya malah memegang
dua jabatan sekaligus.

Semua ini telah membenarkan persepsi di atas bahwa amanah tak lagi
dipandang sebagai nilai yang suci yang harus dipertanggungjawabkan nantinya
di hadapan Allah. Layaknya ghanimah, dana yang ada telah dianggap sebagai
sumber kekayaan. Prilaku opportunist ‘meu nyoe koen jinoe, pajan lom’, terus
dijalankan. Rasanya ingin mengeluh, “Duhai negeri musibah, kapankah engkau
melahirkan pejabat shalih yang amanah dan mementingkan rakyat di atas
kepentingan pribadinya?”. Satu pelajaran yang harus kita sadari, jika amanah
telah dihilangkan, maka tunggulah malapetaka. Wallahu ‘a’lam.

· Penulis adalah dosen pada Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry dan juga Mahasiswa
paska sarjana Human Resource Management pada Business School, University of
Birmingham – United Kingdom

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/5568
Konsultasi : Masalah Umum
Bingung Tentang Amanah

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb
Ustadz yang dirahmati Allah SWT,saya seorang mahasiswa yang sekarang
mendapat amanah sebagai ketua rohis di kampus saya.Tapi saya merasa tidak
sanggup dan tidak sesuai dengan amanah itu,karena pribadi saya masih jauh
dari baik.Saya juga belum terbiasa mengurusi organisasi sehingga organisasi
yang sekarang diamanahkan kepada saya itu sering saya tinggalkan.Mungkin
mereka-mereka yang memilih saya sebagai ketua,hanya melihat saya dari
luarnya saja.Mereka tidak mengetahui bagaimana keadaan saya
sebenarnya.Padahal masih ada orang yang pantas mengemban amanah
itu.Bukankan ada hadis yang menyebutkan bahwa jika amanah diberikan
kepada orang yang tidak sesuai dengan bidangnya maka akan terjadi
kerusakan.Saya mohon pendapat bapak bagaimana seharusnya yang saya
lakukan,apakah lebih baik saya mundur dari amanah itu dan memberikannya
kepada orang yang lebih sesuai mengembannya?

Dede

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin,


wa ba`du,

Jauh sebelum Anda diberi amanah, maka Anda memang tidak dibenarkan untuk
meminta-minta jabatan dengna tujuan ambisi pribadi. Sebab dalam Islam,
jabatan itu memang tidak boleh diminta. Dan kepada orang yang meminta-
minta jabatan, sebaiknya malah tidak perlu diberikan.

Namun hal itu tidak mutlak, sebab bila Anda yakin sekali bahwa Anda punya
skill dan kemampuan tertentu yang jelas-jelas tidak dimiliki orang lain, juga
Anda yakin dan sadar bahwa tanpa adanya peran Anda, program itu tidak akan
berjalan, bukan karena sombong, maka tidak salah kalau Anda mengajukan diri.

Hal itu seperti yang dahulu dilakukan oleh nabi Yusuf AS yang terkesan
�meminta� jabatan kepada raja untuk menjadi bendaharawan negara
mengurusi ekonomi.

Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara ; sesungguhnya aku


adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (QS.Yusuf : 55)
Nabi Yusuf memang seorang yang hafizh (menjaga amanah) dan alim
(perpengetahuan). Artinya dari sisi moral dan pemikiran, beliau adalah sosok
yang tepat untuk memegang amanah itu. Maka tidak ada salahnya bagi beliau
untuk menawarkan diri demi menyelamatkan negara dan bangsa dari bencara
kelaparan. Saat itu tak seorang pun yang menyatakan mampu mengatasi
masalah, sehingga tak seorang pun protes atas tawaran Nabi Yusuf as itu. Maka
secara bulat mereka mengakui kemampuan beliau dan menerima beliau
memegang amanat itu.

Yang tidak boleh adalah bila Anda berambisi untuk memegang jabatan tertentu,
bukan karena Anda yakin dengan kemampuan Anda, juga bukan karena Anda
punya stabilitas moral yang mantap. Lalu Anda dengan menggebu mengincar
posisi itu.

Namun bila Anda tidak yakin dengan kemampuan Anda lalu Anda dipaksa-paksa
untuk memegang amanat itu, maka mintalah waktu beberapa saat untuk
berpikir. Katakanlah kepada para pemilih Anda bahwa bukannya Anda menolak
tugas dan beban dari jamaah, namun izinkanlah Anda melalukan evaluasi awal
dan hitung-hitungan pribadi sebelumnya.

Intinya Anda bertanya pada diri sendiri dan juga kepada shahabat dan senior
Anda tentang pandangan mereka terhadap kemampuan Anda. Tidak lupa pula
untuk melakukan shalat istikharah minta petunjuk dari Allah SWT. Bila Anda
tidak terlalu yakin dengan amanah itu, maka katakan sejujurnya kepada para
pemilih Anda bahwa Anda tidak mampu, tidak siap dan tidak berani
menanggung resiko tanggung-jawab dan amanah itu.

Setelah Anda kini terpilih, maka sebenarnya tidak pada tempatnya lagi untuk
berhenti begitu saja. Sebab Anda sudah menyatakan kesediaan sejak awal
meski sempat ragu-ragu. Maksud kami, sebenarnya bila sejak awal Anda sudah
ragu, maka janganlah mengambil resiko dengan menerima jabatan itu. Tapi
karena Anda sudah setuju, maka janganlah baru berbalik, sebab hal itu malah
akan memberikan kesan bahwa Anda main-main dan tidak serius. Ketika Anda
menyatakan mundur bukan karena ada masalah syar�i yang timbul, melainkan
lebih kepada masalah perasaan semata, maka menurut hemat kami Anda
kurang bijak untuk mundur.

Sebaiknya Anda diskusikan saja kepada teman-teman Anda atau senior Anda bila
Anda memang menghadapi masalah yang berat. Syuro adalah salah satu solusi
tepat untuk mengatasi masalah bagi seorang pemegang amanah.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,


Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&id=172

Artikel Buletin An-Nur :

Pesan Untuk Pendidik Anak


Rabu, 07 April 04

Sesungguhnya nikmat (yang diberikan) Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak


terhitung dan diantara nikmat-nikmat yang sangat agung dan mulia adalah
nikmat anak. Allah Ta'ala berfirman:
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia." (Al-Kahfi: 46)

Nikmat yang sangat agung ini adalah merupakan satu amanah dan tanggung
jawab bagi kedua orang tua dan akan ditanya tentang nikmat tersebut pada
hari Kiamat,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Masing-masing kalian adalah
pemimpin dan masing-masing kalian (akan) ditanya tentang kepemimpinan-
nya: Seorang imam adalah pemimpin dan dia (akan) ditanya tentang
kepemimpinannya, dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya
dan dia (akan) di tanya tentang kepemimpinannya." (Muttafaq 'Alaih).

Allah Ta'ala berfirman, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman jagalah
diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka."
Ibnul Qayyim radhiyallah 'anhu berkata: "Barangsiapa menelantarkan
pendidikan anaknya dan meninggalkan apa yang bermanfaat buat mereka,
maka dia telah merusak masa depan anak; kebanyakan anak tidak bermoral
hanya karena bapak mereka tidak peduli terhadap pendidikan mereka ,
sehingga para bapak tidak dapat mengambil manfaat dari anak, dan anak (pun)
tidak akan memberikan manfaat kepada bapaknya ketika telah besar."

Kepada seluruh ayah, ibu dan pendidik (kami berikan) pesan dan nasehat yang
singkat semoga Allah memberikan manfaat dengannya:

• Landasan utama dalam pendi-dikan anak-anak adalah menanamkan nilai


'ubudiyah (peribadahan) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hati
mereka, serta memelihara dan menjaganya dalam diri mereka. Diantara
nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita adalah bahwa seorang
anak dilahirkan diatas agama islam, agama fithrah. Maka hal itu tidaklah
membutuhkan kecuali menjaga dan memeliharanya serta senantiasa
membantu mereka agar tidak menyimpang dan tersesat.

• Ayah dan ibu dianggap beriba-dah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala


ketika mendidik, berinfak, menjaga, mengawasi, dan mengajari (anak-
anaknya) bahkan sampai ketika membahagiakan me-reka dan bersenda
gurau dengan mereka, apabila ayah dan ibu meng-harapkan yang
demikian itu, maka mereka akan mendapat pahala.
Memberikan nafkah kepada anak-anak adalah merupakan ibadah
sebagaimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau
infaqkan kepada hamba sahaya, satu dinar yang engkau sedekahkan
kepa-da orang miskin dan satu dinar yang engkau infaqkan kepada
keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang engkau
infaqkan kepada keluargamu." (HR. Muslim).

• Harus mengikhlaskan (niat) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam


mendidik anak, jika seorang pendidik menginginkan dunia maka
keikhlasannya telah rusak. Tidak diragukan lagi bahwa tujuan mendidik
anak adalah mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala .

• Do'a adalah ibadah. Para nabi dan rasul telah berdo'a untuk anak-anak
dan isteri-isteri mereka:
"Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan
kami sebagai penyenang hati kami." (Al-Furqan: 74)
Dan ketika Ibrahim berkata:
"Wahai Rabbku jadikanlah negeri ini negeri yang aman serta jauhkanlah
aku dan anak-anakku dari menyembah berhala-berhala." (Ibrahim: 35)

Berapa banyak do'a-do'a dapat meringkaskan lamanya perjalanan


tarbiyah? Pilihlah waktu-waktu dikabul-kannya do'a dan jauhilah
penghalang-penghalangnya, rendahkanlah diri kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala dan memohonlah dihadapanNya agar Allah memberikan
petunjuk kepada keturunanmu dan menjauhkan setan darinya.

• Wajib bagi Anda mencari harta yang halal dan menjauhi yang syubhat
(samar) serta janganlah (sampai) engkau terjatuh dalam keharaman.
Sesungguhnya telah shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa
beliau bersabda:
"Setiap jasad yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih
pantas baginya."

Ayah dan ibu jangan mengira bahwa harta yang haram itu ada dalam
riba, mencuri dan uang suap semata. Bahkan sampai ada dalam menyia-
nyiakan waktu bekerja, dan mema-sukkan harta yang haram tanpa ada
timbal baliknya. Maka kebanyakan para pegawai, pengajar dan pekerja
meremehkan pekerjaan mereka dan terlambat dari waktu kerja
beberapa detik. Demikian pula memakan harta manusia dengan bathil
dan merampas hak-hak mereka. Pilihlah harta yang halal walaupun
sedikit (jumlahnya) sesungguhnya di dalamnya ada berkah yang besar.

• Teladan yang baik adalah merupakan (sarana) tarbiyah yang sangat


penting. Maka bagaimana (mungkin) anakmu bersemangat melaksanakan
shalat sedangkan dia melihatmu menyia-nyiakan shalat? Dan bagaimana
(mungkin) anakmu men-jauhkan diri dari lagu-lagu dan lawakan
sedangkan dia melihat kedua orang tuanya senantiasa mendengar-
kannya?!

• Sabar adalah hal yang telah dilupakan oleh sebagian orang tua. Sabar
adalah merupakan sebab-sebab terpenting dalam keberhasilan tarbiyah.
Maka Anda wajib bersabar, atas teriakan anak yang masih kecil dan
jangan marah, bersabarlah ketika dia sakit dan berharap pahala dari
Allah, saat menasehatinya dan jangan bosan, saat Anda menunggu anak
agar dia keluar bersama Anda untuk shalat, dan saat engkau duduk di
masjid setelah sholat ashar agar anak Anda menghafal (Al-Qur'an)
bersama Anda. Dan bergembiralah sesungguhnya Anda ada dalam jalan
jihad.

• Shalat, adalah kewajiban yang sangat agung dan inti yang kedua dari
kewajiban agama didiklah anak Anda agar tahu tentang pentingnya dan
agungnya kedudukan sholat. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
telah bersabda sebagaimana hal itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
"Perintahkanlah anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun dan pukullah
mereka (jika meninggalkan) shalat pada usia 10 tahun."

Wahai ayah janganlah Anda menjadi bodoh, yang mampu menyayangi


anaknya dari dinginnya (hawa) pada musim dingin tapi tidak mampu
membangunkan anaknya untuk mengerjakan shalat. Bahkan jadilah Anda
diantara orang-orang yang berakal dan sayangilah anakmu dari api
neraka jahannam wal 'Iyadzu billah, maka beliau Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah bersabda:
"Barangsiapa mengerjakan shalat Fajar secara berjamaah maka dia ada
dalam perlindungan Allah." (HR. Ibnu Majah).

• Haruslah menjaga hak milik yang khusus dan bagian-bagian pribadi di


antara anak-anak, serta bersikaplah adil terhadap mereka dalam
pergaulan dan pemberian serta perhatian dalam pendidikan mereka.

• Tumbuhkanlah dalam diri anak-anak Anda pengagungan terhadap Allah


Subhanahu wa Ta'ala , mencintaiNya dan mentauhid-kanNya, dan
peringatkanlah mereka tentang kesalahan aqidah yang engkau lihat serta
peringatkanlah mereka dari terjatuh kedalamnya. perintahkan yang
ma'ruf dan cegahlah dari yang mungkar serta doronglah mereka untuk
melakukan hal tersebut, sesungguhnya hal itu menjadi penye-bab
tetapnya mereka di atas agama.

• Kita berada dalam satu zaman yang didalamnya telah tersebar fitnah
dari segala sisi. Maka jadilah Anda sebagai orang yang membela nasib
anak-anakmu. Hendaklah engkau mempunyai nasehat yang baik dalam
memilihkan teman-teman mereka karena sesungguhnya seorang ter-
gantung sahabatnya dan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Seorang laki-laki diatas agama teman dekatnya maka hendaklah salah
seorang dari kalian melihat kepada siapa dia berteman dekat." (HR. At-
Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad).

Waspadalah jangan sampai Anda mengajak mereka ke tempat-tempat


yang hanya membuang-buang waktu saja atau tempat-tempat yang dida-
lamnya ada kemungkaran-kemungkaran. Jadilah Anda sebagai ayah,
sahabat dan teman bagi mereka. Tumbuhkanlah sifat kejantanan dalam
diri anak laki-lakimu dan serta sifat malu dan kesucian dalam diri anak
perempuan-mu, dan tauladan ( dalam hal) pakaian, nasehat dan
persamaan serta janganlah Anda meremehkan keluar-nya anak-anak.

Semoga Allah mengumpulkan kita, mereka dan orang tua kita di Surga 'Adn.
Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi kita Muham-mad,
keluaraganya, dan para saha-batnya semua.

(Diterjemahkan oleh: Ummu Abdillah bintu Hasyim As-Salafiyah)

Sumber buletin dakwah dengan judul: "Washaya Litarbiyatil Abna'" terbitan


Daar-Al-Qasim, Riyadh.