Anda di halaman 1dari 49

Hadith of the Day

[HOTD] shOlawat

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai


orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya.
(QS. Al Ahzab, 33 : 56)

Hadist riwayat Bukhari, dari Abdurrahman bin Abi Laila ra., ia berkata:
"Ka`b bin `Ujrah pernah bertemu denganku, lalu ia berkata: "Tidakkah aku
memberikan hadiah kepadamu?, sesungguhnya Nabi saw. datang kepada kami,
lalu kami bertanya: "Wahai Rasulullah, kami tahu bagaimana cara kami
mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimanakah cara kami mengucapkan
sholawat kepadamu?". beliau bersabda: "Maka ucapkanlah " "Wahai Allah,
berikanlah berkah dan rahmat kepada Muhammad saw. dan keluarga
Muhammad saw. sebagaimana Engkau memberikan berkah dan rahmat kepada
keluarga Ibrahim as., sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.
Wahai Allah, berikanlah berkah kepada Muhammad saw. dan keluarga
Muhammad saw. sebagaimana Engkau memberikan berkah kepada keluarga
Ibrahim as., sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah" ".

Links:
[mengapa membaca shalawat ?]
http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/6846
[pakai sayyidina dalam shalawat, bagaimana hukumnya?]
http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/6411152408-pakai-sayyidina-dalam-
shalawat-bagaimana-hukumnya.htm?other
[membaca shalawat tunjiat setiap malam juma't]
http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9568
[tasawuf dan shalawat Nabi]
http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=224
[taRekat tijaniyah]
http://www.almanhaj.or.id/content/1404/slash/0
[shOlawat 2]
http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/4065
[syahadat/shalawat Nabi]
http://www.waspada.co.id/islam/artikel.php?article_id=46736
[mOdel shalawat yang dilaRang]
http://alatsar.wordpress.com/2007/06/04/model-shalawat-yang-dilarang/
[keutamaan membaca shalawat untuk nabi]
http://dida.vbaitullah.or.id/islam/buku/jalan-selamat/node37.html
[hukum dan dalil-dalil shalawat]
http://suryaningsih.wordpress.com/2007/05/21/hukum-dan-dalil-dalil-
shalawat/

http://orido.wordpress.com 1
Hadith of the Day

[shalawat pada Nabi]


http://www.dzikrullah.com/bpm_23_shalawat.htm
[kenapa Rasulullah perlu didOakan/shalawat?]
http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/4430a0d7.htm
[sunnah-sunnah dalam adzan dan iqOmah]
http://www.almanhaj.or.id/content/1488/slash/0
[cintaku padamu ya Rasulullah]
http://www.eramuslim.com/atk/oim/4405718b.htm

-perbanyakamalmenujusurga-

http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/6846

Konsultasi : Aqidah
Mengapa Membaca Shalawat ?

Pertanyaan:

Saya baru saja masuk Islam. Namun ada satu pertanyaan dari teman nasrani
yang berkaitan dengan Shalawat Nabi. Pada saat sholat setiap muslim membaca
sholawat.
1) Sholawat pada dasarnya mendoakan Nabi. Apakah ini berarti bahwa Nabi
sendiri "belum" selamat, maka perlu didoakan oleh umatnya ?
2) Apabila Nabi Sholat, apakah beliau juga membaca Shalawat ?

Sari Pratiwi

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin,


wa ba`du,

Tidak selamanya orang yang didoakan itu pasti tidak selamat. Ini adalah
pembalikan logika yang tidak tepat. Sebab doa itu bukan semata-mata
disampaikan kepada orang yang celaka saja. Sebab doa adalah penghormatan
kepada yang kita doakan. Selain itu doa itu memang akan berbalik kepada yang
mendoakan juga.

Dan sebenarnya shalawat itu pun tidak hanya berarti doa semata. Kata
shalawat itu bisa berarti doa namun tidak selamanya bermakna doa. Dalam Al-

http://orido.wordpress.com 2
Hadith of the Day

Quran ada disebutkan bahwa Allah SWT dan Malaikat bershalawat kepada Nabi
Muhammad SAW. Apakah Allah SWT berdoa ? Tentu tidak, kan.

Dan perintah untuk bershalawat kepada Rasulullah SAW memang perintah yang
tegas dan jelas. Dan tidak ada kaitannya dengan selamat atau tidaknya yang
kita doakan. Sebab Allah SWT telah menjadikan Rasulullah SAW sebagai orang
pertama yang akan membuka pintu surga. Selain itu beliau adalah orang yang
ma�shum atas izin Allah, yaitu orang yang tidak punya dosa seumur hidupnya.
Maka bershalawat kepadanya adalah kewajiban umat Islam, bukan karena
beliau tidak selamat, melainkan ucapan ibadah dan berdampak kepada pahala
kepada yang membacanya.

Rasulullah SAW membaca shalawat juga untuk dirinya sendiri, karena beliau
harus mengajarkan cara bershalawat, baik di dalam maupun di luar shalat.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.eramuslim.com/ustadz/dll/6411152408-pakai-sayyidina-dalam-shalawat-
bagaimana-hukumnya.htm?other

Pakai Sayyidina dalam Shalawat, Bagaimana Hukumnya?


Kamis, 13 Apr 06 13:54 WIB

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pak ustadz, saya mau tanya tentang hukum membaca shalawat kepada nabi di
saat kita sedang duduk tahiyat akhir. Apakah shalawat itu hukumnya wajib
ataukah sunnah?

Kemudian juga tentang penambahan kata 'sayyidina' dalam shalawat itu, boleh
ditambahkan atau haram hukumnya. Penjelasan ustadz sangat saya harapkan

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Gatot Prasetyo
kang_gatot at eramuslim.com

Jawaban

http://orido.wordpress.com 3
Hadith of the Day

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mazhab As-Syafi`iyyah dan Al-Hanabilah menyatakan bahwa shalawat kepada


nabi dalam tasyahhud akhir hukumnya wajib. Sedangkan shalawat kepada
keluarga beliau SAW hukumnya sunnah menurut As-Syafi`iyah dan hukumnya
wajib menurut Al-Hanabilah.

Untuk itu kita bisa merujuk pada kitab-kitab fiqih, misalnyakitab Mughni Al-
Muhtaj jilid 1 halama 173, atau juga bisa dirunut ke kitab Al-Mughni jilid 1
halaman 541.

Sedangkan menurut Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah, membaca shalawat kepada


nabi pada tasyahhud akhir hukumnya sunnah. Demikian juga dengan shalawat
kepada keluarga beliau.

Keterangan ini juga bisa kita lihat pada kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman
478 dan kitab Asy-Syarhu Ash-Shaghir jilid 1 halaman 319.

Adapun lafaz shalawat kepada nabi dalam tasyahud akhir seperti yang
diperintahkan oleh Rasulullah SAW adalah:

‫اللهم صلى على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد‬
‫كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد‬

Allahumma Shalli `ala Muhammad wa `ala aali Muhammad, kamaa shallaita


`ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Wa baarik `ala `ala Muhammad wa `ala
aali Muhammad, kamaa barakta `ala Ibrahim wa `ala aali Ibrahim. Innaka
hamidun majid.(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya,


sebagaimana shalawat-Mu kepada Ibrahim dan kepada keluarganya. Berkahilah
Muhammad dan keluarganya sebagaimana barakah-Mu kepada Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkah Maha Terpuji dan Maha Agung.

Masalah Penggunaan Lafaz 'Sayyidina'

Di dalam kitab Ad-Dur Al-Mukhtar jilid 1 halaman 479, kitab Hasyiyah Al-Bajuri
jilid 1 halaman 162 dan kitab Syarhu Al-Hadhramiyah halaman 253 disebutkan
bahwa Al-Hanafiyah dan As-Syafi`iyah menyunnahkan penggunaan kata
[sayyidina] saat mengucapkan shalawat kepada nabi SAW (shalawat
Ibrahimiyah). Meski tidak ada di dalam hadits yang menyebutkan hal itu.

Landasan yang mereka kemukakan adalah bahwa penambahan kabar atas apa
yang sesungguhnya memang ada merupakan bagian dari suluk (adab) kepada
Rasulullah SAW. Jadi lebih utama digunakan daripada ditinggalkan.

http://orido.wordpress.com 4
Hadith of the Day

Sedangkan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata,`Janganlah


kamu memanggilku dengan sebuatan sayyidina di dalam shalat`, adalah hadits
maudhu` (palsu) dan dusta. (lihat kitab Asna Al-Mathalib fi Ahaditsi Mukhtalaf
Al-Marathib karya Al-Hut Al-Bairuti halaman 253).

Adapun selain mereka, umumnya tidak membolehkan penambahan lafadz


[sayyidina], khususnya di dalam shalat, sebab mereka berpedoman bahwa
lafadz bacaan shalat itu harus sesuai dengan petunjuk hadits-hadits nabawi.
Bila ada kata [sayyidina] di dalam hadits, harus diikuti. Namun bila tidak ada
kata tersebut, tidak boleh ditambahi sendiri.

Demikianlah, ternyata para ulama di masa lalu telah berbeda pendapat.


Padahal dari segi kedalaman ilmu, nyaris hari ini tidak ada lagi sosok seperti
mereka. Kalau pun kita tidak setuju dengan salah satu pendapat mereka, bukan
berarti kita harus mencaci maki orang yang mengikuti pendapat itu sekarang
ini. Sebab merekahanya mengikuti fatwa para ulama yang mereka yakini
kebenarannya. Dan selama fatwa itu lahir dari ijtihad para ulama sekaliber
fuqaha mazhab, kita tidak mungkin menghinanya begitu saja.

Adab yang baik adalah kita menghargai dan mengormati hasil ijtihad itu. Dan
tentunya juga menghargai mereka yang menggunakan fatwa itu di masa
sekarang ini. Lagi pula, perbedaan ini bukan perbedaan dari segi aqidah yang
merusak iman, melainkan hanya masalah kecil, atau hanya berupa cabang-
cabang agama. Tidak perlu kita sampai meneriakkan pendapat yang berbeda
dengan pendapat kita sebagai tukang bid'ah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Ahmad Sarwat, Lc.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/9568

Konsultasi : Aqidah

Membaca Shalawat Tunjiat Setiap Malam Juma't

Pertanyaan:

assallamualikum warohmatullahi wabarokatuh


pak ustad, saya mau bertanya, dimasjid dekat rumah saya kalau setiap malam
jum'at sering diadakan shalawatan dengan membaca shalawat tunjiat ,yang
ingin saya tanyakan apakah pada waktu rosulallah hidup,beliau juga sering
mengerjakan hal serupa yang sering dilakukan ditempat saya.

http://orido.wordpress.com 5
Hadith of the Day

Demikianlah dulu pertanyaan saya ini dan tak lupa saya ucapkan banyak2
terima kasih.zajakumullahikasiron alhamdulillahi robbilalamiin.

Riva\'i

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh


Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d.

Membaca shalawat adalah salah satu bentuk ibadah lisan yang disunnahkan
untuk sering-sering dilakukan. Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah Subhanahu
Wata`ala telah memerintahkan kepada umat Islam untuk bershalawat kepada
Rasulullah SAW.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai


orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya . (QS. Al-Ahzab : 56)

Selain di dalam shalat, shalawat kepada nabi dianjurkan untuk dibaca pada
waktu-waktu tertentu. Misalnya pada hari Jumat atau malam Jumat, pada pagi
dan sore hari, saat masuk masjid dan keluar, di depan makam / kuburan
Rasulullah SAW, ketika menjawab azan, ketika beroda atau sesudah berdoa,
ketika melakukan ibadah sa�i antara Shafa dan marwah, dalam pertemuan
suatu kaum dan setelah selesainya pertemuan itu, ketika mendengar disebut
nama Rasulullah SAW, ketika jeda antara bacaan talbiyah, ketika mengusap
hajar aswad, ketika bangun dari tidur, ketika khatam Al-Quran Al-Kariem,
dalam kondisi tertekan, ketika meminta ampunan, ketika menyampaikan ilmu
kepada manusia, ketika menyampaikan pelajaran, ketika memberikan
peringatan, ketika khutbah nikah, serta semua event yang termasuk zikirullah.

Sedangkan lafaz shalawat itu ada beraneka ragamnya. Namun yang paling
utama adalah lafaz yang telah beliau ajarkan berikut ini :

����� �� ��� ���� , ���� �� ���� , ��� ����


��� ������� , ���� �� ������� . ��� ����
����

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarganya


sebagaimana Engkau menyampaikan shalawat kepada Ibarahim dan
keluarganya. Sesunguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. (HR.
Bukhari)

Sedangkan lafaz shalawat lainnya dibolehkan untuk dibaca asalkan ada riwayat

http://orido.wordpress.com 6
Hadith of the Day

yang jelas dan shahih dari Rasulullah SAW. Selain itu lafaznya jangan sampai
mengandung makna yang bertentangan dengan aqidah dan kedudukan
Rasulullah SAW itu sendiri.

Yang sering dipertentangkan adalah ketika melafazkan bacaan shalawat yang


mengandung ungkapan bahwa shalawat itu adalah penyelamat dari semua
bahaya dan halangan. �Shalatan Tunjina Min Jami`il Ahwali Wal Aafaaat�.
Padahal yang menjadi penyelamat dari semua bahaya dan halangan hanyalah
Allah Subhanahu Wata`ala saja. Bukan shalawat itu sendiri.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,


Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.darussalaf.org/index.php?name=News&file=article&sid=224

TASAWUF DAN SHALAWAT NABI


Selasa, 30 Mei 2006 - 12:22 PM, Penulis: Buletin Islam Al Ilmu, Jember Edisi
50/II/IV/1426

Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu


melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau
Shallallahu 'alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau
Shallallahu 'alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh
Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman :

(artinya): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada


Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan
ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barangsiapa

http://orido.wordpress.com 7
Hadith of the Day

bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan


shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh
Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’)

Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dalam


agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan
petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam.

Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu


'alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi
petunjuknya Shallallahu 'alaihi wassallam. Karena beliau Shallallahu 'alaihi
wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau
Shallallahu 'alaihi wassallam.

Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi


wassalam kepada umatnya, yaitu:

“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya,


sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah,
curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan
Muslim)

Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi
wassallam . Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa
shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang
yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka.

Beberapa Shalawat ala Sufi

1. Shalawat Nariyah

Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin.
Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan
terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash
shalawatnya:

‫ج بِهِ ا ْلكُرَبُ َوتُ ْقضَى بِهِ ا ْلحَوَائِجُ َو‬


ُ ‫ل بِهِ ا ْلعُ َقدُ َو َتنْفَ ِر‬
ُ َ‫حمّدٍ اّلذِي ُتنْح‬ َ ‫سّيدِنَا ًم‬
َ ‫لمًا تآمًا عَلَى‬ َ َ‫صلّ صَلَ ًة كَامِلَةً َوسَلّمْ س‬
َ ّ‫اللهُم‬
َ‫ل َمعْلُوْمٍ َلك‬
ّ َ‫عدَ َد ك‬
َ ِ‫حبِه‬
ْ َ‫جهِهِ ا ْلكَ ِريْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ ص‬ ْ َ‫ستَسْقَى ا ْل َغمَا ُم بِو‬
ْ ُ‫ل بِهِ الرّغَائِبُ َوحُسْنُ ا ْلخَوَا ِتيْمِ َوي‬ ُ ‫ُتنَا‬

“Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami
Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan
dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan,

http://orido.wordpress.com 8
Hadith of the Day

diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang
mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga
shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya
sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.”

Para pembaca, bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka
kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya. Bukankah
hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua
ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan
memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih?!

Allah Ta'ala berfirman :

(artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa menarik


kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya
aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa
kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa
khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188)

Dan juga firman-Nya :

(artinya): "Katakanlah (wahai Muhammad): Panggillah mereka yang kalian


anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai
kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula
memindahkannya." (Al-Isra: 56)

Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang
berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan
jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam , lalu


mengatakan: َ‫شئْت‬
ِ َ‫مَا شَاءَ الَُ و‬

http://orido.wordpress.com 9
Hadith of the Day

"Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:

َ َ‫!أ‬
‫جعَ ْل َتنِيْ لِّ ِندّا ؟‬

“Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?


Ucapkanlah: ‫حدَهُه‬
ْ ‫“ مَا شَاءَ الَُ َو‬Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i
dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228,
Muhammad Jamil Zainu)

Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah
terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta'ala.
Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang
dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.

2. Shalawat Al Faatih (Pembuka)

Nash shalawat tersebut adalah:

… ّ‫حمّدٍ عَلَى صَلّ اللهُم‬


َ ُ‫ح م‬
ِ ِ‫أُغْلِقَ ِلمَا الفَات‬

"Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka
segala yang tertutup ….”

Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah - secara dusta - : “….Kemudian


beliau (Nabi Shallahu 'alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua
kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di
alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar,
dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”
(Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)

Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata


dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam
, karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat
daripada firman Allah Ta'ala.

Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :

http://orido.wordpress.com 10
Hadith of the Day

(artinya): “Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An
Nisaa’:122)

“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an),sebagai kalimat


yang benar dan adil.”(Al An’am:115)

Demikian pula Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam telah menegaskan dalam


sabdanya (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan
Allah “. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu
kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku
tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam
satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah
bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani)

Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti
atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya
yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi
wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini.

3. Shalawat Sa'adah (Kebahagiaan)

Nash adalah sebagai berikut:

ِ‫ع َددَ مَا ِفيْ عِلْمِ الِ صَلَ ًة دَائِمَ ًة ِبدَوَا ِم مُ ْلكِ ال‬
َ ٍ‫ح ّمد‬
َ ُ‫ل م‬
َ َ‫صلّ ع‬
َ ّ‫… اللهُم‬

“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa
yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah
…”.

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad


Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin
membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang
berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan
sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?!
Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan
shalawat tersebut.

4. Shalawat Burdatul Bushiri

http://orido.wordpress.com 11
Hadith of the Day

Nashnya adalah sebagai berikut:

ِ‫غفِرْ َلنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ ا ْلكَ َرم‬


ْ ‫ص َدنَا وَا‬
ِ ‫طفَى بَلّ ْغ مَقَا‬
َ ْ‫ب بِا ْلمُص‬
ّ ‫يَا َر‬

“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi


wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami
yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya


seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia.

Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari
sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya.
Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah
bertawasul dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam karena beliau telah
meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu
'alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul
kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia
merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya.

Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi


Shallallahu 'alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan
dalam agama, karena hadits: ‫“ تَوَسّهلُوا بِجَاهِي‬Bertawasullah dengan kedudukanku”,
merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan
kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta'ala butuh terhadap
perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara
dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-
Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al
Firqatun Najiyah hal. 85)

Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka


termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta'ala.

Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang


bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR
At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)

Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang
terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu 'alaihi
wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi
mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari
Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli
Badar).

http://orido.wordpress.com 12
Hadith of the Day

5. Nash shalawat seorang sufi Libanon:

َ‫ح ِديّةَ الْ َقيّ ْو ِميّة‬


َ َ‫ل مِنْهُ ال‬
َ َ‫جع‬
ْ ‫حتّى َت‬
َ ٍ‫حمّد‬
َ ُ‫اللهُمّ صَلّ عَلَى م‬

"Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan


darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi
makhluknya)." Padahal Allah Ta'ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(Asy-Syura: 11)

Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian


mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin
Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah)
hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari).

Wallahu A’lam Bish Shawab

Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat

Hadits Anas bin Malik Radiyallahu 'anhu:

‫ب َثمَانِيْنَ عَامًا‬
َ ْ‫ن مَرّةً غَ َفرَ الُ لَ ُه ُذنُو‬
َ ْ‫ج ُمعَةِ َثمَا ِني‬
ُ ‫ي يَوْمَ ا ْل‬
ّ ‫مَنْ صَلّى عََل‬

“Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah


akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”

Keterangan:

Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang
bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi
berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata:
“Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh
Dha’ifah no. 215)

Dikirim oleh Al Akh Hardi Ibnu Harun via Email

http://www.almanhaj.or.id/content/1404/slash/0

http://orido.wordpress.com 13
Hadith of the Day

Tarekat Tijaniyah
Kamis, 14 April 2005 08:12:54 WIB

TAREKAT TIJANIYAH
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya : Banyak orang di tengah-tengah kami yang
menganut Tarekat Tijaniyah, sementara saya mendengar dalam acara Syaikh
(nur 'ala ad-darb) bahwa tarekat ini bid'ah, tidak boleh diikuti. Tapi keluarga
saya mempunyai wirid dari Syaikh Ahmad At-Tijani yaitu shalawat fatih, mereka
mengatakan bahwa shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam. Apa benar shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam? Mereka juga mengatakan, bahwa
orang yang membaca shalawat fatih lalu meninggalkannya, ia dianggap kafir.
Kemudian mereka mengatakan, 'Jika engkau tidak mampu melaksanakannya
lalu meninggalkannya, maka tidak apa-apa. Tapi jika engkau mampu namun
meninggalkannya maka dianggap kafir.’Lalu saya katakan kepada kedua
orang tua saya bahwa hal ini tidak boleh dilakukan, namun mereka
mengatakan, 'Engkau wahaby dan tukang mencela.' Kami mohon penjelasan.

Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa Tarekat Tijaniyah adalah tarekat bid'ah. Kaum
muslimin tidak boleh mengikuti tarekat-tarekat bid'ah, tidak Tarekat Tijaniyah,
tidak pula yang lainnya, bahkan seharusnya berpegang teguh dengan apa-apa
yang diajarkan oleh Rasulullah Saw, karena Allah telah berfirman.

"Artinya : Katakanlah, 'Jika. kamu (benar-benar) mentintai Allah, ikutilah aku,


niscaya Allah meneasihi dan mengampuni dosa-dosamu' ." [Ali Imran: 31]

Artinya, katakanlah kepada manusia wahai Muhammad, 'Jika kalian benar-benar


mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan
mengampuni dosa-dosa kalian.’

Allah pun telah berfirman.

"Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah
kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu
mengambil pelajaran (dari padanya). " [Al-A'raf : 3].

Dalam ayat lainnya disebutkan.

http://orido.wordpress.com 14
Hadith of the Day

"Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa
yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. " [Al-Hasyr : 7]

Dalam ayat lainnya lagi disebutkan.

"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)." [Al-
An'am : 153]

As-Subul (jalan-jalan yang lain) di sini maksudnya adalah jalan-jalan yang baru
yang berupa perbuatan bid'ah, memperturutkan hawa nafsu, keraguan dan
kecenderungan yang diharamkan. Adapun jalan yang ditunjukkan oleh sunnah
RasulNya , itulah jalan yang harus diikuti.

Tarekat Tijaniyah, Syadziliyah, Qadariyah dan tarekat-tarekat lainnya yang


diada-adakan oleh manusia, tidak boleh diikuti, kecuali yang sesuai dengan
syari'at Allah. Yang sesuai itu boleh dilaksanakan karena sejalan dengan syari'at
yang suci, bukan karena berasal dari tarekat si fulan atau lainnya, dan karena
berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." [Al-Ahzab : 21].

Dan firmanNya.

"Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di


antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi
mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." [At-Taubah: 100].

Serta sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam
Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak."[1]

Dan sabda beliau.

"Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan
maka ia tertolak."[2]

Serta sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum'at.

"Artinya : Amma ba 'du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah,

http://orido.wordpress.com 15
Hadith of the Day

sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Saw, seburuk-buruk perkara


adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat."[3]

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna.

Shalawat fatih adalah shalawat kepada Nabi Saw sebagaimana , yang mereka
klaimkan, hanya saja shighah lafazhnya tidak seperti yang diriwayatkan dari
Nabi Saw, sebab dalam shalawat fatih itu mereka mengucapkan (Ya Allah,
limpahkanlah shalawat dan salam kepada penghulu kami, Muhammad sang
pembuka apa-apa yang tertutup, penutup apa-apa yang terdahulu dan pembela
kebenaran dengan kebenaran). Lafazh ini tidak pernah menjadi jawaban
mengenai cara bershalawat kepada beliau ketika ditanyakan oleh para sahabat.
Adapun yang disyari'atkan bagi umat Islam adalah bershalawat kepada beliau
dengan ungkapan yang telah disyari'atkan dan telah diajarkan kepada mereka
tanpa harus mengada-adakan yang baru.

Di antaranya adalah sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain, dari Ka'b bin


'Ajrah , bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana kami
bershalawat kepadamu?" beliau menjawab,

"Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Muhammad dan


keluarga Muhammad sebagaimana telah engkau limpahkan shalawat kepada
Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi
Mahabaik. Dan limpahkanlah keber-kahan kepada Muhammad dan keluarga
Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada Ibrahim
dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik.)" [4]

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari hadits Abu Humaid As-
Sa'idi Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau
bersabda.

"Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad,


para isterinya dan keturunannya sebagaimana telah Engkau limpahkan shalawat
kepada keluarga Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad,
para isterinya dan keturunannya, sebagaimana telah Engkau limpahkan
keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi
Mahabaik.)". [5]

Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab
Shahihnya, dari hadits Ibnu Mas'ud Al-Anshari Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

"Artinya : Ucapkanlah (Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan


keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan shalawat kepada
keluargaa Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan
keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan kepada

http://orido.wordpress.com 16
Hadith of the Day

keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahabaik di seluruh


alam.)"[6]

Hadits-hadtis ini dan hadits-hadits lainnya yang semakna, telah menjelaskan


tentang cara bershalawat kepada beliau yang beliau ridhai untuk umatnya dan
telah beliau perintahkan. Adapun shalawat fatih, walaupun secara global
maknanya benar, tapi tidak boleh diikuti karena tidak sama dengan yang telah
diriwayatkan secara benar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
menerangkan cara bershalawat kepada beliau yang diperintahkan. Lain dari itu,
bahwa kalimat (pembuka apa-apa yang tertutup) mengandung pengertian
global yang bisa ditafsiri oleh sebagian pengikut hawa nafsu dengan pengertian
yang tidak benar. Wallahu waliyut taufiq.

[Majalah Al-Buhuts, nomor 39, hal. 145-148, Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min


Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini-2, Darul
Haq]
_________
Foote Note
[1]. Disepakati keshahihannya dari hadits Aisyah Ra, : Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-
Aqdhiyah (1718).
[2]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
[3]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir bin Abdullah RA dalam Al-Jumu’ah (867).
[4]. Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya' (3369). Muslim dalam Ash-Shalah (407).
[5]. Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya' (3369). Muslim dalam Ash-Shalah (407).
[6]. HR. Muslim dalam Ash-Shalah (407).

http://syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/4065

Konsultasi : Masalah Umum

Sholawat 2

Pertanyaan:

Assalamu'alaykum
Ustadz, dalam sebuah hadits diterangkan bahwa orang yang paling kikir ialah
mereka yang apabila disebut nama Rasululloh ia dia tidak bersholawat pada

http://orido.wordpress.com 17
Hadith of the Day

Rasul.
Pertanyaan saya :
1. Bagaimana cara bersholawatnya. apakah cukup dengan Allohumma sholli
'alaih wa 'ala alih atau ada cara lain?
2. Apakah setiap kita mendengar kata Muhammad yang konotasinya kepada
Nabi Muhammad SAW, kita diharuskan mengucapkan Allohumma sholli 'alah wa
'ala alih?
3. Saya sering dengar ketika orang membaca ayat Innalloha wa malaikatahu
yasholluna 'alan Nabiyy...dst mereka yang mendengar lantas menjawab
Allohumma sholli 'alaih wa 'ala alih. Syar'i-kah?

Abdulloh

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin,


wa ba`du,

1. Bentuk sholawat yang paling pendek adalah ucapan Shollallahu Alaihi


Wasallam. atau juga Allohumma Sholli wa Sallam �Alaih. Sedangkan cara lain
bershalawat berdasarkan hadis adalah shalawat sebagaimana dalam shalat dan
doa setelah mendengarkan adzan.

Dari Ka�ab bin Ajrah Ra ia berkata: �Rasulullah SAW keluar menemui kami,
maka kami bertanya: �Kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam
kepadamu, lantas bagimanakan cara kami mengucapkan slawat kepadamu?�
Beliau menjawab : �Ucapkanlah oleh kalian: Allahumma shalli �Alaa
Muhammad wa �Alaa Aali Muhammad Kamaa Shallaita �Alaa Aali Ibraahiim
Innaka Hamiidum Majiid. Allahumma Baarik �Alaa Muhammad wa �Alaa Aali
Muhammad Kamaa baarakta �Alaa Aali Ibraahiim Innaka Hamiidum Majiid�
(HR. Bukhari No. 3370 dan Muslim No. 406)

Dari �Amr bin Al-Ash Ra ia mendengar Nabi SAW bersabda: �Jika kalian
mendengar muadzin maka ucapkanlah sebagaimana ucapannya, kemudian
bersalawtlah kepadaku, karena barangsiapa yang bersalawat kepadaku satu kali
maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali lipat, kemudian mohonkalah
untukku al-wasilah karena ia merupakan sutau mazilah di surga yang tidak
layak kecuali bagi seorang hamba diantara hamba-hamba Allah dan aku
mengarapkan akulah hamba tersebut. Maka barangsiapa yang memohonkan
untukku al-wasilah maka ia berhak mendaptkan syafaat dariku� (HR. Muslim

http://orido.wordpress.com 18
Hadith of the Day

No. 384)

2. Sebenarnya hal tersebut bukan merupakan kewajiban. Hanya saja Nabi


menggolongkan mereka yang tidak pernah mengucapkan shalawat ketika nama
Nabi SAW disebutkan sebagai orang-orang yang paling kikir dan orang yang
celaka.

Dari Abu Dzar Ra ia berkata: �Suatu hari aku keluar lalu aku menemui
Rasulullah SAW, belaiu bersabda: �Tidakah kalian ingin aku beritahu perihal
manusia yang paling kikir?� Para sahabat menjawab: �Tentu wahai
Rasulullah� Beliau bersabda: �Orang yang namaku disebut disisinya dan ia
tidak bersalawat padaku, maka itulah manusia yang paling kikir� (HR. Ibnu Abi
Ashim. Lihat Sahih At-Targhib wat-Tarhib II/301)

Dari Abu Hurairoh Ra, Rasulullah SAW bersabda: �Celaka dan hinalah orang
yang namaku disebu disisinya dan tidak bersalawat kepadaku. Celaka dan
hinalah orang yang memasuki bulan Ramadhan kemudian bulan itu berakhir
sedangkan dosa-dosanya tidak diampuni. Celaka dan hinalah orang yang
mendapatkan kedua orangtuanya telah berusia lanjut tapi keduanya tidak bisa
memaskuakn orang tersebut ke surga (tidak berbakti)� (HR. At-Tirmidzy. Lihat
Sahih At-Targhib wat-Tarhib II/300)

3. Ayat tersebut memang memerintahkan kita semua untuk bersalawat kepada


Nabi SAW. Sebagaimana firman-Nya:
�Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya.� (QS. Al-Ahzab: 56)

Wallahu a`lam bishshowab. Wassalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

http://syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/3524

Konsultasi : Ibadah

Salaman Sambil Bersholawat Setelah Sholat Wajib

Pertanyaan:

http://orido.wordpress.com 19
Hadith of the Day

Assalamu 'alaikum Wr. Wb


Adakah tuntunannya setelah sholat wajib, berdo'a, dilanjutkan dengan salam-
salaman sambil bersholawat.
Wassalamu 'alaikum Wr.Wb.

Khamaludin

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb.


Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil
Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Bersalaman setelah shalat jamaah apalagi sambil membaca shalawat memang


tidak ada tuntuanannya serta tidak ada keterangannya di dalam hadits nabawi.
Namun apakah hukumnya menjadi terlarang dan bid�ah ?

Dalam masalah ini kita bisa melihat perkataan para ulama dalam
mendefinisikan makna bid�ah. Yaitu adanya mereka yang meluaskan batasan
bid'ah itu mengatakan bahwa bid'ah adalah segala yang baru diada-adakan yang
tidak ada dalam kitab dan sunnah. Baik dalam perkara ibadah ataupun adat.
Namun tidak berarti semua bid�ah itu buruk, tapi �menurut pendapat ini-
ada bid�ah yang baik, sunnah bahkan wajib hukumnya.

Contoh bid'ah wajib misalnya belajar ilmu nahwu yang sangat vital untuk
memahami kitabullah dan sunnah rasulnya. Contoh bid'ah haram misalnya
pemikiran dan fikrah yang sesat seperti Qadariyah, Jabariyah, Murjiah dan
Khawarij. Contoh bid'ah mandub (sunnah) misalnya mendirikan madrasah,
membangun jembatan dan juga shalat tarawih berjamaah di satu masjid.
Contoh bid'ah makruh misalnya menghias masjid atau mushaf Al-Quran.
Sedangkan contoh bid'ah mubah misalnya bersalaman setelah shalat.

Jadi meski memang tidak ada tuntunan atau perintah dari praktek shalat
Rasulullah SAW, sehingga dikategorikan bid�ah, namun perbuatan bersalaman
itu bukanlah termasuk bid�ah yang sesat dan dosa. Mereka memasukkan
perbuatan itu sebagai bid�ah yang hukumnya mubah.

Pendapat itu adalah pendapat kalangan ulama seperti Al-Imam Asy-Syafi'i dan
pengikutnya seperti Al-'Izz ibn Abdis Salam, An-Nawawi, Abu Syaamah.
Sedangkan dari kalangan Al-Malikiyah ada Al-Qarafi dan Az-Zarqani. Dari
kalangan m1 seperti Ibnul Abidin dan dari kalangan Al-Hanabilah adalah Al-Jauzi
serta Ibnu Hazm dari kalangan Dzahiri.

Meski demikian ada juga kalangan yang menganggap bahwa setiap bid�ah

http://orido.wordpress.com 20
Hadith of the Day

pastilah sesatnya. Tentu saja dalam masalah seperti ini akan selalu ada
perbedaan persepsi dari sekian banyak para fuqaha.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,


Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=947

Membongkar Kedok Sufi : Tasawuf & Sholawat Nabi


Penulis: Buletin Islam Al Ilmu Edisi 50/II/IV/142
Firqoh-Firqoh, 05 Juni 2005, 13:56:11

Shalawat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam bukanlah amalan yang asing bagi
seorang muslim. Hampir-hampir setiap majlis ta’lim ataupun acara ritual
tertentu tidak pernah lengang dari dengungan shalawat dan salam kepada Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam.

Terlebih bagi seorang muslim yang merindukan syafa’atnya, ia pun selalu


melantunkan shalawat dan salam tersebut setiap kali disebutkan nama beliau
Shallallahu 'alaihi wassalam. Karena memang shalawat kepada beliau
Shallallahu 'alaihi wassalam merupakan ibadah mulia yang diperintahkan oleh
Allah Ta'ala.

Allah Ta'ala berfirman :


‫ي يَاَأّيهَا اّلذِينَ ءَا َمنُوا صَلّوا عََليْهِ َوسَّلمُوا تَسْلِيمًا‬
ّ ِ‫لئِ َكتَهُ ُيصَلّونَ عَلَى النّب‬
َ َ‫إِنّ الَّ َوم‬
(artinya): “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada
Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepada Nabi dan
ucapkanlah salam kepadanya”. (Al Ahzab: 56)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barangsiapa


bershalawat kepadaku sekali saja, niscaya Allah akan membalasnya dengan
shalawat sepuluh kali lipat.” (H.R. Al Hakim dan Ibnu Sunni, dishahihkan oleh
Asy Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’)

Demikianlah kedudukan shalawat Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam dalam


agama Islam. Sehingga di dalam mengamalkannya pun haruslah dengan
petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wassalam.

Sebaik-baik shalawat, tentunya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu


'alaihi wassallam dan sejelek-jelek shalawat adalah yang menyelisihi
petunjuknya Shallallahu 'alaihi wassallam. Karena beliau Shallallahu 'alaihi

http://orido.wordpress.com 21
Hadith of the Day

wassalam lebih mengerti shalawat manakah yang paling sesuai untuk diri beliau
Shallallahu 'alaihi wassallam.

Diantara shalawat-shalawat yang telah dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi


wassalam kepada umatnya, yaitu:
‫ اللهُ ّم بَا ِركْ عَلَى‬، ٌ‫ج ْيد‬ ِ َ‫ح ِم ْيدٌ م‬
َ َ‫صَليْتَ عَلَى ِإبْرَا ِه ْيمَ وَعَلَى آلِ ِإبْرَا ِهيْمَ ِإّنك‬
َ ‫حمّ ٍد َكمَا‬َ ُ‫ل م‬
ِ ‫ح ّمدٍ وَعَلَى آ‬
َ ُ‫صلّ عَلَى م‬
ّ ّ‫اللّهم‬
ٌ‫ج ْيد‬
ِ َ‫ح ِم ْيدٌ م‬
َ َ‫ل إبْرَا ِهيْمَ ِإّنك‬
ِ ‫ح ّمدٍ َكمَا بَا َركْتَ عَلَى ِإبْرَا ِهيْمَ وَعَلَى آ‬ َ ُ‫ل م‬
ِ ‫ح ّمدٍ وَعَلَى آ‬
َ ُ‫م‬
“Ya, Allah curahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya,
sebagaimana Engkau telah curahkan shalawat kepada Nabi Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah,
curahkanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana
Engkau telah curahkan barakah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al Bukhari dan
Muslim)

Dan masih banyak lagi shalawat yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi
wassallam . Adapun shalawat-shalawat yang menyelisihi tuntunan Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam maka cukup banyak juga, diantaranya beberapa
shalawat yang biasa dilantunkan oleh orang-orang Sufi ataupun orang-orang
yang tanpa disadari terpengaruh dengan mereka.

Beberapa Shalawat ala Sufi

1. Shalawat Nariyah
Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin.
Dengan suatu keyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan
terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash
shalawatnya:
َ‫ج بِهِ ا ْلكُرَبُ َوتُ ْقضَى بِهِ ا ْلحَوَائِجُ و‬
ُ ‫ل بِهِ ا ْلعُ َقدُ َو َتنْفَ ِر‬
ُ َ‫حمّدٍ اّلذِي ُتنْح‬ َ ‫سّيدِنَا ًم‬
َ ‫لمًا تآمًا عَلَى‬ َ َ‫صلّ صَلَ ًة كَامِلَةً َوسَلّمْ س‬
َ ّ‫اللهُم‬
َ‫ل َمعْلُوْمٍ َلك‬
ّ َ‫عدَ َد ك‬
َ ِ‫حبِه‬
ْ َ‫جهِهِ ا ْلكَ ِريْمِ وَعَلَى آلِهِ وَ ص‬ ْ َ‫ستَسْقَى ا ْل َغمَا ُم بِو‬
ْ ُ‫ل بِهِ الرّغَائِبُ َوحُسْنُ ا ْلخَوَا ِتيْمِ َوي‬ ُ ‫ُتنَا‬
“Ya Allah , berikanlah shalawat dan salam yang sempurna kepada Baginda kami
Nabi Muhammad, yang dengannya terlepas semua ikatan kesusahan dan
dibebaskan semua kesulitan. Dan dengannya pula terpenuhi semua kebutuhan,
diraih segala keinginan dan kematian yang baik, dan dengan wajahnya yang
mulia tercurahkan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih. Semoga
shalawat ini pun tercurahkan kepada keluarganya dan para sahabatnya
sejumlah seluruh ilmu yang Engkau miliki.”

Para pembaca, bila kita merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah, maka
kandungan shalawat tersebut sangat bertentangan dengan keduanya. Bukankah
hanya Allah semata yang mempunyai kemampuan untuk melepaskan semua
ikatan kesusahan dan kesulitan, yang mampu memenuhi segala kebutuhan dan
memberikan siraman kebahagiaan kepada orang yang bersedih?!

Allah Ta'ala berfirman :


ّ‫سنِيَ السّوءُ إِنْ َأنَا ِإل‬
ّ َ‫خيْرِ َومَا م‬
َ ‫ت مِنَ ا ْل‬
ُ ْ‫س َت ْكثَر‬
ْ َ‫ب ل‬
َ ْ‫ل لَ َأمِْلكُ ِلنَ ْفسِي نَ ْفعًا َولَ ضَرّا ِإلّ مَا شَاءَ الُّ وََل ْو ُكنْتُ أَعْلَمُ ا ْل َغي‬
ْ ُ‫ق‬

http://orido.wordpress.com 22
Hadith of the Day

َ ‫نَذِيرٌ َوبَشِيرٌ ِلقَوْ ٍم يُ ْؤ ِمنُو‬


‫ن‬
(artinya): “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak kuasa menarik
kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentunya
aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan tertimpa
kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa
khabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” (Al A’raf: 188)

Dan juga firman-Nya :


ً‫ل تَحْوِيل‬
َ ‫ع ْنكُمْ َو‬
َ ّ‫ن كَشْفَ الضّر‬
َ ‫ل َيمِْلكُو‬
َ َ‫ن دُونِهِ ف‬
ْ ِ‫عمْتُ ْم م‬
َ َ‫ل ادْعُوا اّلذِينَ ز‬
ِ ُ‫ق‬
(artinya): "Katakanlah (wahai Muhammad): Panggillah mereka yang kalian
anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai
kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula
memindahkannya." (Al-Isra: 56)

Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang
berdo’a kepada Al Masih, atau malaikat, atau sosok orang shalih dari kalangan
jin. (Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)

Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam , lalu


mengatakan: َ‫شئْت‬ ِ َ‫مَا شَاءَ الَُ و‬
"Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:
َ َ‫!أ‬
‫جعَ ْل َتنِيْ لِّ ِندّا ؟‬
“Apakah engkau hendak menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?
Ucapkanlah: ُ‫حدَه‬ ْ ‫“ مَا شَاءَ الَُ َو‬Berdasarkan kehendak Allah semata”. (HR. An-Nasa’i
dengan sanad yang hasan) (Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah hal. 227-228,
Muhammad Jamil Zainu)

Maka dari itu, jelaslah dari beberapa dalil diatas bahwasanya Shalawat Nariyah
terkandung padanya unsur pengkultusan yang berlebihan terhadap diri Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam hingga menyejajarkannya dengan Allah Ta'ala.
Tentunya yang demikian ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang
dimurkai oleh Allah dan Nabi-Nya.

2. Shalawat Al Faatih (Pembuka)


Nash shalawat tersebut adalah:
َ‫غلِق‬
ْ ُ‫حمّدٍ الفَاتِحِ ِلمَا أ‬
َ ُ‫… اللهُمّ صَلّ عَلَى م‬
"Ya Allah! berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka
segala yang tertutup ….”

Berkata At-Tijani pendiri tarekat Sufi Tijaniyah - secara dusta - : “….Kemudian


beliau (Nabi Shallahu 'alaihi wassalam) mengabarkan kepadaku untuk kedua
kalinya, bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di
alam ini dari setiap dzikir, menyamai dari setiap do’a yang kecil maupun besar,
dan menyamai membaca Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”
(Mahabbatur Rasul 285, Abdur Rauf Muhammad Utsman)

http://orido.wordpress.com 23
Hadith of the Day

Para pembaca, demikianlah kedustaan, kebodohan dan kekafiran yang nyata


dari seorang yang mengaku berjumpa dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam
, karena ia berkeyakinan bahwa perkataan manusia lebih mulia 6.000 kali lipat
daripada firman Allah Ta'ala.

Bukankah Allah telah menegaskan dalam firman-Nya :


ً‫لّ قِيل‬
ِ ‫صدَقُ مِنَ ا‬
ْ ‫َومَنْ َأ‬
(artinya): “Dan siapakah yang perkatannya lebih benar dari pada Allah? (An
Nisaa’:122)

َ ‫حمُو‬
‫ن‬ َ ْ‫ك فَا ّت ِبعُوهُ وَاتّقُوا َلعَّل ُك ْم تُر‬
ٌ ‫وَ َهذَا كِتَابٌ َأنْزَ ْلنَا ُه مُبَا َر‬
“Dan sungguh telah sempurna kalimat Tuhanmu(Al Qur’an),sebagai kalimat
yang benar dan adil.”(Al An’am:115)

Demikian pula Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam telah menegaskan dalam


sabdanya (artinya): “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah perkataan
Allah “. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an , maka baginya satu
kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku
tidak mengatakan: alif laam miim itu satu huruf, namun alif satu huruf, laam
satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR.Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah
bin Mas’ud yang dishahihkan oleh Asy Syaikh Al-Albani)

Wahai saudaraku, dari beberapa dalil di atas cukuplah bagi kita sebagai bukti
atas kebatilan shalawat Al Faatih, terlebih lagi bila kita telusuri kandungannya
yang kental dengan nuansa pengkultusan terhadap Nabi Shallallahu 'alaihi
wassalam yang dilarang dalam agama yang sempurna ini.

3. Shalawat Sa'adah (Kebahagiaan)


Nash adalah sebagai berikut:
ِ‫ع َددَ مَا ِفيْ عِلْمِ الِ صَلَ ًة دَائِمَ ًة ِبدَوَا ِم مُ ْلكِ ال‬
َ ٍ‫ح ّمد‬
َ ُ‫ل م‬
َ َ‫صلّ ع‬
َ ّ‫… اللهُم‬
“Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad sejumlah apa
yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah
…”.

Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad


Dahlan: ”Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Dan siapa yang rutin
membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang
berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul 287-288)

Wahai saudaraku, mana mungkin shalat yang merupakan tiang agama dan
sekaligus rukun Islam kedua pahalanya 600. 000 di bawah shalawat sa’adah ini?!
Cukuplah yang demikian itu sebagai bukti atas kepalsuan dan kebatilan
shalawat tersebut.

http://orido.wordpress.com 24
Hadith of the Day

4. Shalawat Burdatul Bushiri


Nashnya adalah sebagai berikut:
ِ‫غفِرْ َلنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ ا ْلكَ َرم‬
ْ ‫ص َدنَا وَا‬
ِ ‫طفَى بَلّ ْغ مَقَا‬
َ ْ‫ب بِا ْلمُص‬
ّ ‫يَا َر‬
“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi
wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa kami
yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

Shalawat ini mempunyai beberapa (kemungkinan) makna. Bila maknanya


seperti yang terkandung di atas, maka termasuk tawasul kepada Nabi
Shallallahu 'alaihi wassalam yang beliau telah meninggal dunia.

Hal ini termasuk jenis tawasul yang dilarang, karena tidak ada seorang pun dari
sahabat yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan yang sejenisnya.
Bahkan Umar bin Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah
bertawasul dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam karena beliau telah
meninggal dunia, dan justru Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu
'alaihi wassalam (yang masih hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul
kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia
merupakan perbuatan yang disyari’atkan niscaya Umar melakukannya.

Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi


Shallallahu 'alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan
dalam agama, karena hadits: ‫“ تَوَسّلُوا بِجَاهِي‬Bertawasullah dengan kedudukanku”,
merupakan hadits yang tidak ada asalnya (palsu). Bahkan bisa mengantarkan
kepada kesyirikan disaat ada keyakinan bahwa Allah Ta'ala butuh terhadap
perantara sebagaimana butuhnya seorang pemimpin terhadap perantara antara
dia dengan rakyatnya, karena ada unsur menyamakan Allah dengan makhluk-
Nya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al
Firqatun Najiyah hal. 85)

Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka


termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta'ala.

Nabi Shallallahu 'alaihi wassallam bersabda (artinya): “Barang siapa yang


bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kafir atau syirik.” ( HR
At Tirmidzi, Ahmad dan yang lainnya dengan sanad yang shahih)

Para pembaca, dari sekian makna di atas maka jelaslah bagi kita kebatilan yang
terkandung di dalam shalawat tersebut. Terlebih lagi Nabi Shallallahu 'alaihi
wassalam dan para sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi
mengajarkannya. Seperti itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari
Shalawat Badar (bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli
Badar).

5. Nash shalawat seorang sufi Libanon:

http://orido.wordpress.com 25
Hadith of the Day

‫ح ِديّةَ الْ َقيّ ْو ِميّ َة‬


َ َ‫ل مِنْهُ ال‬
َ َ‫جع‬
ْ ‫حتّى َت‬
َ ٍ‫حمّد‬
َ ُ‫اللهُمّ صَلّ عَلَى م‬
"Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan
darinya keesaan dan qoyyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi
makhluknya)." Padahal Allah Ta'ala berfirman (artinya): ”Tidak ada sesuatu pun
yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(Asy-Syura: 11)

Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam sendiri pernah bersabda: “Janganlah kalian


mengkultuskan diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani mengkultuskan Isa bin
Maryam. Hanyalah aku ini seorang hamba, maka katakanlah: “(Aku adalah)
hamba Allah dan Rasul-Nya.” (H.R Al Bukhari).

Wallahu A’lam Bish Shawab

Hadits-Hadits Palsu Dan Dha’if Yang Tersebar Di Kalangan Umat


Hadits Anas bin Malik Radiyallahu 'anhu:
‫ب َثمَانِيْنَ عَامًا‬
َ ْ‫ن مَرّةً غَ َفرَ الُ لَ ُه ُذنُو‬
َ ْ‫ج ُمعَةِ َثمَا ِني‬
ُ ‫ي يَوْمَ ا ْل‬
ّ ‫مَنْ صَلّى عََل‬
“Barangsiapa bershalawat kepadaku pada malam Jum’at 80 kali, niscaya Allah
akan mengampuni segala dosanya selama 80 tahun.”

Keterangan:
Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang
bernama Wahb bin Dawud bin Sulaiman Adh Dharir. Al Khathib Al Baghdadi
berkata: “Dia seorang yang tidak bisa dipercaya.” Asy Syaikh Al Albani berkata:
“Sesungguhnya ciri-ciri kepalsuan hadits ini sangatlah jelas.” (Lihat Silsilah Adh
Dha’ifah no. 215)

(Dikutip dari Buletin Islam Al Ilmu Edisi 50/II/IV/1426, diterbitkan Yayasan As


Salafy Jember. Judul asli "Tasawuf & Sholawat Nabi". Dikirim oleh al Al Akh Ibn
Harun via email.)

http://www.waspada.co.id/islam/artikel.php?article_id=46736

29 Jun 04 00:15 WIB


Syahadat/Shalawat Nabi

WASPADA Online

Pertanyaan:

Ustadz Syahrin Yth:

http://orido.wordpress.com 26
Hadith of the Day

Langsung aja nih, saya ada satu pertanyaan mengenai syahadat Nabi. Apakah sama
syahadat Nabi dengan syahadat yang kita baca setiap hari sewaktu sholat?

Demikian, semoga Ustadz dapat menjelaskannya kepada saya. Terima kasih.

Wassalam,

Faisal

Jawaban:

Jumhur ulama mengatakan bahwa syahadat dan shalawat Nabi sama saja dengan kita.
Ini sejalan dengan peran dan fungsi beliau sebagai pemberi contoh. Namun secara
khusus ada teori lain yang mengatakan sedikit berbeda. Syahadatnya bukan “asyhadu
anna Muhammadarrasulullah” (saya bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah),
melainkan “asyhadu anni rasulullah” (saya bersaksi bahwa saya adalah rasul Allah).

Uraian mengenai hal ini dapat dilihat dalam buku Al-‘Iqna’. Begitu juga dengan
shalawatnya, bukan “allahumma shalli ‘ala Muhammad” (Ya Allah berikanlah
kesejahteraan kepada Nabi Muhammad), melainkan “allahumma shalli ‘alayya” (Ya
Allah berikanlah kesejahteraan kepada saya). Uraian mengenai hal ini dapat dilihat
dalam buku l’anatuth-thalibin. Demikian semoga jelas. Wa allahu a’lamu bi al-
Shawab.

(bps)

http://alatsar.wordpress.com/2007/06/04/model-shalawat-yang-dilarang/

Model Shalawat yang Dilarang


Juni 4th, 2007

Diantara sekian banyak sholawat yang kita kenal, kebanyakannya adalah


mengandung kesesatan, bahkan mendekati kepada kesyirikan. Misalnya saja
Sholawat Nariyah, Sholawat Burdatul Bushairi, dll. Maka saksikanlah wahai
saudaraku, bagaimana ketidak sadaran kita telah menyeret kita kedalam
kesesatan.

Bait sholawat tersebut adalah sebagai berikut:


ِ‫غفِ ْر لَنَا مَا َمضَى يَا وَاسِ َع الْكَرَم‬
ْ ‫طفَى َبلّغْ َمقَاصِدَنَا وَا‬
َ ْ‫يَا َربّ بِالْ ُمص‬
“Wahai Rabbku! Dengan perantara Musthafa (Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wassallam ) penuhilah segala keinginan kami dan ampunilah dosa-dosa
kami yang telah lalu, wahai Dzat Yang Maha Luas Kedermawanannya.”

http://orido.wordpress.com 27
Hadith of the Day

Shalawat seperti ini bila maknanya seperti yang terkandung di atas, maka
termasuk bentuk tawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam padahal
beliau telah meninggal dunia.

Hal ini termasuk tawasul yang dilarang, karena tidak seorangpun dari sahabat
yang melakukannya disaat ditimpa musibah dan atau lainnya. Bahkan Umar bin
Al Khathab ketika shalat istisqa’ (minta hujan) tidaklah bertawasul dengan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wassalam karena beliau telah meninggal dunia, dan justru
Umar meminta Abbas paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam (yang masih
hidup ketika itu) untuk berdo’a. Kalaulah tawasul kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wassalam ketika beliau telah meninggal dunia merupakan perbuatan
yang disyari’atkan/ dianjurkan niscaya Khalifah Umar akan melakukannya.

Adapun bila mengandung makna tawasul dengan jaah (kedudukan) Nabi


Shallallahu ‘alaihi wassalam maka termasuk perbuatan yang diada-adakan
dalam agama, karena hadits-hadits yang digunakan untuk menghalalkan
tawasul serupa ini adalah merupakan hadits yang tidak ada asalnya
(palsu/Maudhu’). Bahkan bisa mengantarkan kepada kesyirikan disaat ada
keyakinan bahwa Allah Ta’ala butuh terhadap perantara sebagaimana butuhnya
seorang pemimpin terhadap perantara antara dia dengan rakyatnya, karena ada
unsur menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, sebagaimana yang dijelaskan
oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Lihat Al Firqatun Najiyah hal. 85)

Berikut hadits yang digunakan sebagai hujjah bagi mereka dalam hal tawasul,
ْ‫…إذَا سََألَ ال فَأسَْألْ بِجَا ِهي‬

Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah dengan jah (kemuliaan)
ku…

atau lafal lain:

‫ فَإِنّ جَا ِهيْ عِنْدَ الِ عَظِيم‬،ْ‫ َتوَسَلُوا بِجَا ِهي‬.

Bertawasullah dengan kemuliaanku, karena sesungguhnya kemuliaanku di sisi


Allah adalah besar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengomentari hadits tersebut dalam


Qaidah Jalilah fii Tawasul wal Wasiilah:

،‫ ول ذكره أحد من أهل العلم بالحديث‬،‫هذا الحديث كذب ليس في شئ من كتب المسلمين التي يعتمد عليها أهل الحديث‬
‫مع أن جاهه عند ال تعالى أعظم من جاه جميع النبياء والمرسلين‬.

Hadits ini dusta, dan tidak ada (keberadaan) hadits ini sedikitpun di kitab-kitab
yang dipegang oleh para ahli hadits. Hadits ini tidak pula disebutkan oleh
seseorangpun dari ahli ilmu, demikian pula tentang kemuliaan beliau shalallahu
alaihi wa salam di sisi Allah ta’ala lebih besar dibanding dengan seluruh nabi

http://orido.wordpress.com 28
Hadith of the Day

dan rasul
Sedangkan bila maknanya mengandung unsur (Demi Nabi Muhammad) maka
termasuk syirik, karena tergolong sumpah dengan selain Allah Ta’ala.
[Lihat Qaidah Jalilah fii Tawasul wal Wasilah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
(168). Lihat pula dalam Iqtidha’ Shirathal Mustaqim oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah, (II/783)]

al Muhadits Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah:

‫ وإنما يرويه بعض الجهال بالسنة‬،‫هذا باطل ل أصل له في شئ من كتب الحديث البتة‬.

(Hadits) ini adalah batil dan tidak ada dasar baginya sedikitpun di kitab-kitab
hadits. Hadits ini diriwayatkan oleh orang-orang yang jahil terhadap sunnah.
[Lihat Tawasul ‘anwa’uhu wa ahkamuhu oleh al Muhadits Muhammad
Nashiruddin al Albani, (127). Lihat pula Silsilah Ahadits adh Dha’ifah (22)].

Saudarku sekalian, jelaslah bagi kita kebatilan yang terkandung di dalam


shalawat yang sering didendangkan sebagian kaum muslimin dinegeri ini atau
bahkan diseluruh dunia. Lagi pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para
sahabatnya tidak pernah mengamalkannya, apalagi mengajarkannya. Seperti
itu pula hukum yang dikandung oleh bagian akhir dari Shalawat Badar
(bertawasul kepada Nabi Muhammad, para mujahidin dan ahli Badar). Yang
kesemuanya itu adalah kesesatan maka tinggalkanlah.

http://dida.vbaitullah.or.id/islam/buku/jalan-selamat/node37.html

Keutamaan Membaca Shalawat Untuk Nabi


Allah ÓÈÍÇæç è ÊÙÇäé berfirman,

"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai


orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya." (Al-Ahzab: 56)
Imam Al-Bukhari meriwayatkan, Abu 'Aliyah berkata,
"Shalawat Allah adalah berupa pujianNya untuk nabi di hadapan para malaikat.
Adapun shalawat para malaikat adalah do'a (untuk beliau)."
Ibnu Abbas berkata,
"Bershalawat artinya mendo'akan supaya diberkati."

http://orido.wordpress.com 29
Hadith of the Day

Maksud dari ayat di atas, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam
tafsirnya yaitu,
"Sesungguhnya Allah Subhannahu wa Ta'ala menggambarkan kepada segenap
hambaNya tentang kedudukan seorang hamba-Nya, nabi dan kekasihNya di
sisiNya di alam arwah, bahwa sesungguhnya Dia memujinya di hadapan para
malaikat. Dan sesungguhnya para malaikat bershalawat untuknya. Kemudian
Allah memerintahkan kepada penghuni alam dunia agar bershalawat untuknya,
sehingga berkumpullah pujian baginya dari segenap penghuni alam semesta."
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan kita agar mendo'akan dan
bershalawat untuk Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa
Salam. Bukan sebaliknya, memohon kepada beliau, sebagai sesembahan selain
Allah, atau membacakan Al-Fatihah untuk beliau, sebagaimana yang dilakukan
oleh sebagian manusia.

Bacaan shalawat untuk Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç è Óäå yang paling utama
adalah apa yang beliau ajarkan kepada para sahabat, ketika beliau bersabda,

"Katakanlah, Ya Allah limpahkanlah rahmat untuk Muhammad dan keluarga


Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat untuk Ibrahim dan
keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah,
limpahkanlah berkah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad sebagai-mana
Engkau telah melimpahkan berkah untuk Ibrahim dan keluarga Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia." (HR Al-Bukhari dan
Muslim)
Shalawat di atas, juga shalawat-shalawat lain yang ada di dalam kitab-kitab
hadits dan fiqih yang terpercaya, tidak ada yang menyebutkan kata "sayyidina"
(penghulu kita), yang hal itu ditambahkan oleh kebanyakan manusia. Memang
benar, bahwa Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa Salam
adalah penghulu kita, "sayyiduna", tetapi berpegang teguh dengan sabda dan
tuntunan Rasul adalah wajib. Dan, ibadah itu dilakukan berdasarkan
keterangan nash syara', tidak berdasarkan akal.

Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç è Óäå bersabda,

"Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan,
kemudian bershalawatlah untukku. Karena se-sungguhnya barangsiapa yang
bershalawat untukku satu kali, Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali.
Kemudian mohonkanlah kepada Allah wasilah untukku. Sesungguhnya ia ada-lah
suatu tempat (derajat) di Surga. Ia tidak pantas kecuali untuk seorang hamba
dari hamba-hamba Allah. Aku berharap bahwa hamba itu adalah aku.
Barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka ia berhak menerima
syafa'atku." (HR. Muslim)
Do'a memintakan wasilah seperti yang diajarkan Rasulullah dibaca dengan suara
pelan. Ia dibaca seusai adzan dan setelah membacakan shalawat untuk nabi.
Do'a yang diajarkan beliau yaitu:

http://orido.wordpress.com 30
Hadith of the Day

"Ya Allah, Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna ini. Dan shalat yang akan
didirikan. Berikanlah untuk Muhammad wasilah (derajat) dan keutamaan. Dan
tempatkanlah ia di tempat terpuji sebagaimana yang telah Engkau janjikan."
(HR. Al-Bukhari)
Membaca shalawat atas Nabi ketika berdo'a, sangat dianjur-kan. Hal ini
berdasarkan sabda Rasulullah :
"Setiap do'a akan terhalang, sehingga disertai bacaan shalawat untuk Nabi
Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa Salam." (HR. AI-Baihaqi, hadits
hasan)
Rasulullah Õäé Çääç Ùäêç è Óäå bersabda,
"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berpetualang di bumi, mereka
menyampaikan kepadaku salam dari umatku." (HR Ahmad, hadits shahih)

Bershalawat untuk Nabi Õäé Çääç Ùäêç èÓäå Shallallaahu 'alaihi wa Salam
sangat dianjurkan, terutama pada hari Jum'at. Dan ia termasuk amalan yang
paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bertawassul dengan
shalawat ketika berdo'a adalah dianjurkan. Sebab ia termasuk amal shalih.
Karena itu, sebaiknya kita mengucapkan, "Ya Allah, dengan shalawatku untuk
Nabimu, bukakanlah dariku kesusahanku... Semoga Allah melimpahkan berkah
dan keselamatan untuk Muhammad dan keluarganya."

http://suryaningsih.wordpress.com/2007/05/21/hukum-dan-dalil-dalil-shalawat/

Hukum dan Dalil-Dalil Shalawat


Arti Shalawat

SHALAWAT bentuk jamak dari kata salla atau salat yang berarti: doa,
keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah.

Arti bershalawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika shalawat itu datangnya dari
Allah Swt. berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari malaikat
berarti memberikan ampunan. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin
berarti suatu doa agar Allah Swt. memberi rahmat dan kesejahteraan kepada
Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya.

Shalawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau
kepentingan bersama. Sedangkan shalawat sebagai ibadah ialah pernyataan
hamba atas ketundukannya kepada Allah Swt., serta mengharapkan pahala

http://orido.wordpress.com 31
Hadith of the Day

dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad Saw., bahwa orang


yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik shalawat
itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).

shalawat adalah salah satu jalan Memperkuat Cahaya Batin

Mungkin sudah sering atau pernah mendengar nasehat dari orang-orang tua kita
bahwa kalau ada bahaya, kita disarankan salah satunya adalah untuk
memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Konon dengan
mendoakan keselamatan kepada Nabi, Allah SWT akan mengutus para malaikat
untuk ganti mendoakan keselamatan kepada orang itu. Dalam beberapa hadits
Rasullullah SAW banyak kita temukan berbagai keterangan tentang afdholnya
bershalawat. Diantaranya setiap doa itu terdindingi, sampai dibacakan
shalawat atas Nabi. (HR. Ad - Dailami). Pada hadits yang lain yang diriwayatkan
oleh Ahmad, Nasai dan Hakim, Rasulullah SAW bersabda, Barang siapa membaca
shalawat untukku sekali, maka Allah membalas shalawat untuknya sepuluh kali
dan menanggalkan sepuluh kesalahan darinya dan meninggikannya sepuluh
derajat . Yang berkaitan dengan urusan kekuatan batin, terdapat dalam hadits
yang diriwayatkan Ibnu Najjar dan Jabir, Barangsiapa bershalawat kepadaku
dalam satu hari seratus kali, maka Allah SWT memenuhi seratus hajatnya, tujuh
puluh daripadanya untuk kepentingan akhiratnya dan tiga puluh lagi untuk
kepentingan dunianya . Berdasarkan hadits-hadits itu, benarlah adanya jika
orang-orang tua kita menyuruh anak-anaknya untuk memperbanyak shalawat
kepada anak cucunya. Karena selain merupakan penghormatan kepada
junjungannya juga memiliki dampak yang amat menguntungkan dunia dan
akhirat

ma-ap agak susah mencari referensi tentang shalawat nabi lain selain
muhammad saw

di bawah sempat saya dapat artikel tentang shalawat kepada nabi saw

Di Balik Shalawat Nabi SAW


M. Luqman Hakiem
Apa hubungan Istighfar dengan Shalawat Nabi SAW? Mengapa dalam praktik
sufi,senantiasa ada dzikir Istighfar dan Shalawat Nabi dalam setiap wirid -
wiridnya? Hubungan Istighfar dan Shalawat, ibarat dua keping mata uang.
Sebab orang yang bershalawat, mengakui dirinya sebagai hamba yang lebur
dalam wahana Sunnah Nabi. Leburnya kehambaan itulah yang identik dengan
kefanaan hamba ketika beristighfar.

Shalawat Nabi, merupakan syari’at sekaligus mengandung hakikat. Disebut


syari’at karena Allah SWT, memerintah kan kepada para hamba-Nya yang
beriman, agar memohon kan Shalawat dan Salam kepada Nabi. Dalam Firman-
Nya: “Sesungguhnya Allah dan para MalaikatNya senantiasa bershalawat kepada
Nabi.

http://orido.wordpress.com 32
Hadith of the Day

Wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan mohonkan salam


baginya.” (QS. 33: 56)

Beberapa hadits di bawah ini sangat mendukung firman Allah Ta’ala tersebut :
Suatu hari Rasulullah SAW, datang dengan wajah tampak berseri-seri, dan
bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku sambil berkata, “Sangat
menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa untuk satu
shalawat dari seseorang umatmu akan kuimbangi dengan sepuluh doa baginya.”
Dan sepuluh salam bagiku akan kubalas dengan sepuluh salam baginya.”
(HR.an-Nasa’i)

Sabda Rasulullah SAW: “Kalau orang bershalawat kepadaku, maka malaikat juga
akan mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya
dilakukan, meski sedikit atau banyak.” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani).Sabda
Nabi SAW, “Manusia yang paling uatama bagiku adalah yang paling banyak
shalawatnya.” (HR. at-Tirmidzi)

Sabdanya, “Paling bakhilnya manusia, ketika ia mendengar namaku disebut, ia


tidak mengucapkan shalawat bagiku.” (HR. at-Tirmidzi). “Perbanyaklah
shalawat bagiku di hari Jum’at” (HR. Abu Dawud).
Sabdanya, “Sesungguhnya di bumi ada malaikat yang berkeliling dengan tujuan
menyampaikan shalawat umatku kepadaku.” (HR. an-Nasa’i)

Sabdanya, “Tak seorang pun yang bershalawat kepadaku melainkan Allah


mengembalikan ke ruhku, sehingga aku menjawab salam kepadanya.” (HR. Abu
Dawud). Tentu, tidak sederhana, menyelami keagungan Shalawat Nabi. Karena
setiap kata dan huruf dalam shalawat yang kita ucapkan mengandung atmosfir
ruhani
yang sangat dahsyat. Kedahsyatan itu, tentu, karena posisi Nabi Muhammad
SAW, sebagai hamba Allah, Nabiyullah, Rasulullah, Kekasih Allah dan Cahaya
Allah. Dan semesta raya ini diciptakan dari Nur Muhammad, sehingga setiap
detak huruf dalam Shalawat pasti mengandung elemen metafisik yang luar
biasa.

Mengapa kita musti membaca Shalawat dan Salam kepada Nabi, sedangkan Nabi
adalah manusia paripurna, sudah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu
maupun yang akan datang? Beberapa alasan berikut ini sangat mendukung
perintah Allah SWT. Nabi Muhammad SAW adalah sentral semesta fisik dan
metafisik, karena itu seluruh elemen lahir dan batin makhluk ini merupakan
refleksi dari cahayanya yang agung.

Bershalawat dan bersalam yang berarti mendoakan beliau, adalah bentuk lain
dari proses kita menuju jati diri kehambaan yang hakiki di hadapan Allah,
melalui “titik pusat gravitasi” ruhani, yaitu Muhammad Rasulullah SAW. Nabi
Muhammad SAW, adalah manusia paripurna. Segala doa dan upaya untuk
mencintainya, berarti kembali kepada orang yang mendoakan, tanpa reserve.

http://orido.wordpress.com 33
Hadith of the Day

Ibarat gelas yang sudah penuh air, jika kita tuangkan air pada gelas tersebut,
pasti tumpah. Tumpahan itulah kembali pada diri kita, tumpahan Rahmat dan
Anugerah-Nya melalui gelas piala Kekasih-Nya, Muhammad SAW. Shalawat Nabi
mengandung syafa’at dunia dan akhirat. Semata karena filosofi Kecintaan Ilahi
kepada Kekasih-Nya itu, meruntuhkan Amarah-Nya. Sebagaimana dalam hadits
Qudsi, “Sesungguhnya Rahmat-Ku, mengalahkan Amarah-Ku.” Siksaan Allah
tidak akan turun pada ahli Shalawat Nabi, karena kandungan kebajikannya yang
begitu par-exellent.

Shalawat Nabi, menjadi tawashul bagi perjalanan ruhani umat Islam. Getaran
bibir dan detak jantung akan senantiasa membubung ke alam Samawat (alam
ruhani), ketika nama Muhammad SAW disebutnya. Karena itu, mereka yang
hendak menuju kepada Allah (wushul) peran Shalawat sebagai pendampingnya,
karena keparipurnaan Nabi itu menjadi jaminan bagi siapa pun yang hendak
bertemu dengan Yang Maha Paripurna.

Muhammad, sebagai nama dan predikat, bukan sekadar lambang dari sifat-sifat
terpuji, tetapi mengandung fakta tersembunyi yang universal, yang ada dalam
Jiwa Muhammad SAW. Dan dialah sentral satelit ruhani yang menghubungkan
hamba-hamba Allah dengan Allah. Karena sebuah penghargaan Cinta yang
agung, tidak akan memiliki nilai Cinta yang hakiki manakala, estetika di balik
Cinta itu, hilang begitu saja. Estetika Cinta Ilahi, justru tercermin dalam
Keagungan-Nya, dan Keagungan itu ada di balik desah doa yang disampaikan
hamba-hamba-Nya buat Kekasih-Nya. Wallahu A’lam.

Para sufi memberikan pengajaran sistematis kepada umat melalui Shalawat


Nabi itu sendiri. Dan Shalawat Nabi yang berjumlah ratusan macam itu, lebih
banyak justru dari ajaran Nabi sendiri. Model Shalawat yang diwiridkan para
pengikut tarekat, juga memiliki sanad yang sampai kepada Nabi SAW. Oleh
sebab itu, Shalawat adalah cermin Nabi Muhammad SAW yang memantul
melalui jutaan bahkan milyaran hamba-hamba Allah bahkan bilyunan para
malaikat-Nya.

http://www.dzikrullah.com/bpm_23_shalawat.htm

Shalawat Pada Nabi

http://orido.wordpress.com 34
Hadith of the Day

Kaidah-kaidah ilmu Ushul digunakan untuk mengetahui keinginan atau maksud dari
sebuah redaksi yang bagi orang awam sedikit membingungkan. Misalnya sebuah kata
perintah (amr) atau larangan (Nahyu), akan bisa diterjemahkan maknanya apabila ada
kata yang mendukung kata yang lainnya atau kata itu akan berubah arti dari arti
sebenarnya jika dikaitkan keadaan subjek dan objek yang dibicarakan. Sebagai contoh,
perintah (amar), yang artinya : Tuntunan melakukan pekerjaan dari yang lebih tinggi
kepada yang lebih rendah (kedudukannya). Yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal
ini adalah Allah dan yang lebih rendah kedudukannya adalah manusia (mukallaf). Jadi
Amr ialah perintah Allah Swt yang harus dilakukan oleh ummat manusia yang mukallaf.
Misalnya : wa aqiimush shalata …(QS. Al baqarah : 43). Dan dirikanlah shalat !!

Amar itu mempunyai ketentuan-ketentuan yang menjadi dasar pengambilan atau


penetapan hukum. Ketentuan-ketentuan itu kemudian kita kenal dengan istilah
kaidah. Amar mempunyai beberapa kaidah:

1. Kaidah pertama : Al ashlu fil amar lil wujub. Artinya : pada dasarnya amr itu
menunjukkan wajib. Setiap amr atau perintah itu menunjukkan hukum wajib , kecuali
ada petunjuk yang menunjukkan arti selain wajib.

2. Amr menunjukkan arti sunnah/ Nadb, seperti Firman Allah : Hendaklah kamu buat
perjanjian (menebus diri ) dengan mereka (hamba sahaya ), jika kamu mengetahui
ada kebaikan pada mereka (QS. An Nur: 33)

3. Amr menunjukkan arti irsyad lil irsyad, atau petunjuk , seperti Firman Allah ;
Apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (hutang)untuk waktu yang ditentukan,
maka hendaklah kamu menuliskannya (QS. Al Baqarah : 282)

4. Amr menunjukkan arti ibahah , mubah seperti firman Allah : Dan makan minumlah
hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar (QS. Al Baqarah:
187)

5. Amr menunjukkan arti tahdid ( ancaman )

6. Amr menunjuk pada arti ikram ( memuliakan ).

7. Amr menunjukkan pada arti taskhir ( penghinaan) , jadilah kamu kera yang hina
(QS.Al Baqaarah: 65)

8. Amr menunjukkan pada ta'jiz (melemahkan)

9. Amr menunjukkan pada arti taswiyah ( mempersamakan )

10. Amr menunjukkan pada arti doa , atau permohonan seperti Firman Allah :Ya Tuhan
kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan kebaikan di akhirat serta

http://orido.wordpress.com 35
Hadith of the Day

peliharalah kami dari siksa neraka (QS. Al Baqarah 201)

Terakhir ada amr yang menunjukkan kepada arti iltimas, yaitu ajakan seperti kata-kata
kepada kawan-kawan sebaya kerjakalah ~ misal : tolong ambilkan baju itu, datang
dong kepesta ulang tahunku ….dll.

Kembali kepada persoalan diskusi kita mengenai shalawat kepada Nabi, yang berarti
memohon doa keselamatan, kesejahteraan dan rahmat untuk junjungan Nabi
Muhammad Saw. Seperti Firman Allah : Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi
dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS. Al Ahzab: 56)

Setelah kita mengetahui kaidah ushul fiqh diatas, bahwa setiap kata perintah belum
tentu menentukan sebuah hukum wajib, bisa jadi kata perintah itu berarti memohon,
mengajak, petunjuk, anjuran, mengharapkan, dll

Mari kita kaji surat Al Ahzab: 56, tentang shalawat kepada Nabi. Pada ayat tersebut
terdapat kalimat bahwa Allah bershalawat kepada Nabi. Kemudian para malaikat, dan
selanjutnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk bershalawat kepada
Nabi. Arti shalawat adalah doa , memberi berkah, dan ibadat.

Shalawat Allah kepada Muhammad, berarti Allah memberi berkah, penghargaan, dan
menempatkan Rasulullah yang mulia disisi-Nya. Kemudian shalawat Malaikat kepada
Muhammad : Adalah memberi salam penghormatan atas diangkatnya kemuliaan dan
kerasulan Muhammad, sebagaimana penghormatan malaikat kepada Nabi Adam as.

Dikarenakan Allah selalu memberikan shalawat (keberkatan, kemuliaan, (kebesaran),


maka ummat Muhammad hanya mengharapkan agar shalawat Allah itu tetap langgeng
untuk beliau dan keluarganya, walaupun shalawat orang-orang mukmin tiada artinya
bagi Muhammad karena beliau telah medapatkan curahan rahmat dan keberkatan itu
langsung dari Allah selamanya. Sesungguhnya Allah bershalawat (memberi
keselamatan, keberkatan, penghargaan, kebahagiaan) kepada Muhammad dan
keluarganya…(QS. Al Ahzab 56)

Perhatikan kata shalawat Allah kepada Muhammad pada ayat tersebut diatas,
bagaimana menurut anda kalau kata shalawat diartikan berdoa, Apakah Allah akan
berdoa untuk Muhammad ?? kepada siapa ??

Berkata Al Hulaimi dalam Asy syu'ab tegasnya, pengertian shallu alaihi ~ bershalawat-
lah kepadanya, ialah : ud'u rabbakum bish shalati alaihi.. mohonlah kamu kepada
Tuhanmu supaya melimpahkan shalawat kepadanya .

Penghormatan anda kepada presiden bukan berarti kehormatan presiden itu akan
bertambah atau berkurang kalau anda tidak menghormatinya, karena kedudukan
presiden itu adalah tempat yang paling terhormat di suatu negara. Sebagai rakyat
seharusnyalah kita mengormati dan menghargai presiden sebagaimana Allah telah
memuliakan orang yang diangkat derajatnya sebagai presiden. Sebab orang tersebut
tidak akan menjadi presiden tanpa pertolongan dan kasih sayang-Nya. Untuk itu
hargailah dan bersyukurlah kita telah memiliki presiden.

http://orido.wordpress.com 36
Hadith of the Day

Logika anda yang menyebutkan bahwa mana mungkin bahwa seorang rakyat yang
menderita memerintahkan presiden untuk menaikkan pangkat dan gajinya sang
panglima sementara diri kita yang menderita masih kekurangan.

Setelah anda membaca uraian saya mengenai kaidah ushul, mari kita coba
membandingkan makna kata perintah yang terdapat dalam Alqur'an, yang apabila
membaca ayat tersebut tidak memahami kaidahnya maka artinya akan rancu. Misalnya
kata perintah yang berbunyi :

"Allahumma dammir man ada aka wa ada ad dien, Ya Allah hancurkan orang yang
mengganggu Engkau dan yang mengganggu agamamu.

Allahumma shayyiba naafi'a , Ya Allah turunkanlah hujan yang berguna (QS. Al


Adzkar:81)

Rabbana aatina fid dunya hasanah wafil akhirati hasanah waqina adzabannar (QS. Al
Baqarah: 201)~ Ya Allah datangkan kepada kami kebaikan di dunia , dan kebaikan di
akhirat

Seperti apa yang telah diurai diatas, bahwa kata perintah atau Amr secara umum
merupakan tuntutan melakukan suatu pekerjaan dari yang lebih tinggi kepada yang
lebih rendah (kedudukannya)

Akan tetapi kalau anda perhatikan bentuk yang di gunakan redaksi ayat dan hadist
diatas menggunakan kata perintah, seperti kata dammir (hancurkan), shayyiba
(turunkan hujan), atina fiddunya hasanah (datangkan kepada kami kebaikan )……

Kalau melihat kaidah ushul secara umum dalam kasus diatas, seharusnya yang lebih
tinggi memerintahkan yang rendah derajatnya. Akan tetapi ayat diatas telah
mengguna-kan kata perintah dari bawah keatas (dari hamba kepada Tuhan). Apakah
hal ini akan diartikan memerintah Allah ?? Tentu tidak. Akan tetapi amar disini berarti
doa.

Kemudian bandingkan dengan kata shalawat yang juga artinya berdoa atau
memberikan berkah. Apakah kita akan memberikan berkah kepada Rasulullah yang
telah tercurahkan dari Allah swt ?? Apakah kita juga termasuk memerintahkan Allah
untuk memberikan berkah kepada Rasulullah ?? Atau apakah Rasulullah butuh shalawat
kita agar beliau mendapat Rahmat dari Allah. Padahal Rasulullah telah dijamin syurga
oleh Allah. Apakah kita akan tetap menterjemahkan kata shalawat berarti doa untuk
Nabi ??

Baiklah saya akan meneruskan pengertian shalawat dengan mengambil makna yang
lain agar tampak jelas pengertian shalawat bahwa Rasulullah tidak membutuhkan
rahmat ataupun doa ummatnya.

Bersabda Nabi :

Barang siapa bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh
kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah, Al Mirqah II :5 )

http://orido.wordpress.com 37
Hadith of the Day

Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah
berjalan dimuka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka
menyampai-kan kepadaku ( sabda nabi) akan segala salam yang diucapkan oleh
ummatku. (HR. Ahmad, An Nasaiy & Ad Damrimy Syarah Al Hishn, Al Mirqah II:6)

Barang siapa bershalawat untukku dipagi hari sepuluh kali dan dipetang hati sepuluh
kali mendapatkan ia syafaatku pada hari kiyamat ( HR . At Thabrany Al Jami')

Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari kiyamat, ialah manusia yang
paling banyak bershalawat untukku ( HR At Thurmudzy )

Semakin terang bagi kita atas arti shalawat pada hadist diatas, bahwa Rasulullah tidak
membutuhkan rahmat ataupun doa dari kita, akan tetapi justru Rasulullah yang akan
memberikan pertolongan nanti dihari kiyamat apabila kita sering memberikan salam
atau shalawat penghormatan kepada beliau. Dan Allah juga memberikan shalawat
kepada orang yang bershalawat kepada Rasulullah.

Hadist yang mengatakan bahwa : Barang siapa yang bershalawat untukku sekali,
niscaya Allah bershalawat untuknya sepuluh kali ( HR Muslim dari Abu Hurairah )

Hadist inilah yang menguatkan bahwa Allah bershalawat kepada siapa saja, bukan
hanya kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Untuk lebih tegasnya kita perhatikan
bacaan shalawat dalam tahiyyat shalat. at tahiyyatul mubarakatush shalawatu
thoyyibatulillah, assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh,
asssalamu'alaina wa'ala ibaadillahish shalihin. Terjemahan bebasnya: Salam hormat,
keberkahan, shalawat yang terbaik untuk Allah, keselamatan atasmu wahai nabi serta
rahmat dan keberkatan, juga salam hormat kepada para ahli ibadah yang shalih …..

Tahiyyat berarti penghormatan dan kita bershalawat kepada Allah yang berarti kita
memuja Allah, kemudian menghormati Nabi dan yang terakhir menghormati orang-
orang yang shalih ….itulah arti shalawat, dimana kata itu bisa berarti berbeda jika
penempatan kata tersebut berbeda.

Seperti saya uraikan diatas tadi, kata perintah tidak harus berarti memerintah dari
yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah, akan tetapi kata perintah bisa berarti
memohon, meminta pertolongan, anjuran, memberikan khabar (seperti iklan /
promosi), menghina, meremehkan, penjelasan dll.

Demikian uraian dari saya, mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk


memahaminya. Dan saya menyarankan dan menghimbau kepada saudaraku yang
sedang ghirah belajar agama berhati-hatilah dengan doktrin agama yang terkadang
tidak menempatkan makna yang sebenarnya, sehingga tidak menguraikan secara
objektif sesuai kata aslinya. bukan diterjemahkan menurut keinginan nafsu
golongannya.

http://orido.wordpress.com 38
Hadith of the Day

http://www.eramuslim.com/ustadz/aqd/4430a0d7.htm

Kenapa Rasulullah Perlu Didoakan/Shalawat?


Selasa, 4 Apr 06 10:36 WIB

Bismillahir Rahmaanir Rahiim,


Assalamualaykum wr. wb.

Ustadz yang dimuliakan Allah (amiin),

Saya sering membaca pertanyaan dari orang non muslim (anehnya hanya orang
Kristen) bahwa Rasulullah Muhammad SAW perlu didoakan oleh ummatnya
karena beliau banyak dosanya, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad
SAW bukan nabi karena harus didoakan, bukankah kalau nabi itu sudah pasti
masuk surga?

Sementara saya hanya bisa menjawab bahwa memang dalam Al-Qur'an kita
diminta untuk bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana Allah dan
para Malaikat bersalawat kepada beliau, namun menurut hemat saya
bersalawat itu bukannya mendoakan tapi menghormati (atau semacamnya)
kalau itu diartikan sebagai doa, kenapa Allah Swt berdoa (kepada siapa?).

Tolong Ustadz barangkali ada jawaban/pendapat ustadz.


terima kasih.
Wassalamualaykum Wr Wb

F. Alaydrus

Farid Alaydrus
faridalaydrus at eramuslim.com

Jawaban
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Dialog dan pertanyaan yang kritis seperti ini kalau kita mau ikuti, tentu tidak
akan ada habisnya. Selalu akan muncul terus pertanyaan seperti ini, meski bila
dijawab dengan tuntas belum tentu membuat penanya berubah pikiran.

http://orido.wordpress.com 39
Hadith of the Day

Dan di antara pertanyaan model begini yang paling sering dilontarkan adalah
masalah shalat kepada Nabi. Ini adalah pertanyaan klasik yang muncul dari
mereka yang kurang punya pemahaman dalam bahasa Arab khususnya dan ilmu
Al-Quran pada umumnya.

Padahal di dalam ilmu tafsir, yang disebut dengan 'bershalawat' itu maknanya
banyak, tidak terbatas kepada doa semata. Karena itu di dalam Al-Quran Al-
Karim kita menemukan adanya ayat yang menceritakan bahwa Allah SWT dan
para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi SAW. Dan untuk itu umatnya pun
diperintahkan untuk bershalawat kepada beliau juga.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai


orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah
salam penghormatan kepadanya .(QS. Al-Ahzab: 56).

Dan apa maksud Allah SWT bershalawat kepada Nabi SAW? Apakah maknanya
Allah berdoa kepada Nabi?

Tentu saja bukan. Mana mungkin Allah berdoa kepada nabi ciptaan-Nya sendiri.
Tentu salah besar bila bershalawat di dalam ayat ini dimaknai dengan Allah
berdoa. Yang dimaksud dengan Allah SWT bershalawat kepada Nabi adalah
bahwa Allah SWT memberinya rahmat. Dan rahmat itu adalah kasih sayang yang
selalu mendampingi beliau.

Sedangkan makna para malaikat bershalawat kepada nabi adalah memintakan


ampunan. Meski pun yang dimintai ampunan sudah tidak punya dosa, lantaran
para nabi adalah orang-orang yang makshum. Dan hal ini tidak perlu
dipertanyakan, sebab Rasulullah SAW sendiri setiap hari meminta ampun
kepada Allah SWT seratus kali. Ketika para shahabat menanyakannya, beliau
hanya menjawab, "Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?"

Sedangkan bila shalawat itu dari orang mukmin maka maknanya adalah doa
supaya beliau diberi rahmat dan kasing sayang. Dan mendoakan seorang nabi
tidak salah, karena salam yang kita sampaikan kepada orang yang bertemu
dengan kita pun maknanya adalah doa. Kalimat Assalamu ‘alaikum
Warahmatullahi Wa Barakatuh maknanya adalah ‘Semoga keselamatan
terlimpah atasmu serta rahmat dan barkahnya.’.

Buat orang Islam, saling mendoakan satu sama lain adalah hal yang biasa dan
telah menjadi syiar agama. Termasuk memberi salam kepada Rasulullah SAW
dan bershalawat kepadanya.

Kalau kita mendoakan keselamatan dan kepada seseorang bukan berarti kita
meyakjini bahwa dirinya ada dalam ketidak-selamatan. Doa keselamatan itu
sama saja bila kita menyapa teman dengan mengatakan semoga Anda

http://orido.wordpress.com 40
Hadith of the Day

sekeluarga dalam keadaan sehat wal afiat. Apakah bila kita menyapa demikian
berarti teman kita itu sekeluarga sedang dirawat di rumah sakit?

Tentu tidak, karena salam dan shalawat itu sifatnya syiar yang hidup di tengah
sesama kita. Dan mendoakan keselamatan tidak berarti yang kita salami itu
sedang sakit tidak bisa bangun.

Maka pertanyaan yang agak konyol ini sesungguhnya tidak perlu memusingkan
kita. Sebab yang bertanya kurang memahami hakikat salam dan shalawat di
dalam pergaulan umat Islam. Jadi banyak hal yang kurang masuk di logika
dirinya.

Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa


Barakatuh.
Ahmad Sarwat, Lc.

http://www.almanhaj.or.id/content/1488/slash/0

Sunnah-Sunnah Dalam Adzan Dan Iqomah


Minggu, 17 Juli 2005 07:52:24 WIB

SUNNAH-SUNNAH DALAM ADZAN


Oleh
Syaikh Khalid al Husainan

Sunnah-sunnah yang berkaitan dengan adzan ada lima: seperti yang disebutkan
oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad.

[1]. Sunnah Bagi Orang Yang Mendengar Adzan Untuk Menirukan Apa Yang
Diucapkan Muadzin Kecuali Dalam lLfadz.
"Hayya 'alash-shollaah, Hayya 'alash-shollaah"

Maka ketika mendengar lafadz itu maka dijawab dengan lafad.

http://orido.wordpress.com 41
Hadith of the Day

"Laa hawla walaa quwwata illa billahi"

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah "[HR. Al-
Bukhari dan Muslim no. 385.]

Faedah Dari Sunnah Tersebut


‘Sesungguhnya (sunnah tersebut (yaitu menjawab adzan) akan menjadi
sebab engkau masuk surga, seperti dalil yang tercantum dalam Shahih Muslim
(no. 385. Pent)

[2]. Setelah Muadzin Selesai Mengumandangnkan Adzan, Maka Yang


Mendengarnya Mengucapkan [1]

“Dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa tiada
sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hambaNya
dan RasulNya. Aku ridho kepada Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai
agama(ku) dan Muhammad sebagai Rasul” [HR. Muslim 1/240 no. 386]

Faedah Dari Sunnah Tersebut


Dosa-dosa akan diampuni sebagaimana apa yang terkandung dalam makna
hadits itu sendiri.

[3]. Membaca Shalawat Kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa salam setelah


selesai menjawab adzan dari muadzin dan menyempurnakan shalawatnya
dengan membaca shalawat Ibrahimiyyah dan tidak ada shalawat yang lebih
lengkap dari shalawat tersebut.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Artinya : Apabila kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang

http://orido.wordpress.com 42
Hadith of the Day

diucapkannya lalu bershalawatlah untukku karena sesungguhnya orang yang


bershalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh
kali" [HR. Muslim 1/288 no. 384)]

Faedah Dari Sunnah Tersebut


Sesungguhnya Allah bershalawat atas hambaNya 10 kali

Makna bahwasanya Allah bershalawat atas hambaNya adalah Allah memuji


hambaNya di hadapan para malaikat.

Sedangkan shalawat Ibrahimiyah adalah :

“Artinya : Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga


Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim
dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan Mahamulia.
Berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana
Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim.
Sesungguhnya Engkau Mahaterpuji dan Mahamulia.” [HR. Bukhari dalam
Fathul Baari 6/408, 4/118, 6/27; Muslim 2/16, Ibnu Majah no. 904 dan Ahmad
4/243-244 dan lain-lain dari Ka’ab bin Ujrah]

[4]. Mengucapkan Doa Adzan Setelah Bershalawat Kepada Nabi Shallallahu


'alaihi wa sallam

Ã"Artinya :Ya Allah, Tuhan Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan
shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-Wasilah (derajat di Surga), dan al-
fadhilah kepada Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallm. Dan bangkitkan beliau
sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang Engkau janjikan.” [HR.
Bukhary no. 614, Abu Dawud no. 529, At-Tirmidzi no. 211, an-Nasaa’I 2/26-
27. Ibnu Majah no. 722). adapun tambahan "Sesungguhnya Engkau Tidak pernah
menyalahi janji" Ttidak boleh diamalkan karena sanadnya lemah. Lihat

http://orido.wordpress.com 43
Hadith of the Day

Irwa’ul Ghalil 1/260,261]

Faedah Dari Doa Tersebut


Barangsiapa yang mengucapkannya (doa tersebut) maka dia akan memperoleh
syafa’at dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

[5]. Berdoa Untuk Dirinya Sendiri, Dan Meminta Karunia Allah Karena Allah Pasti
Mengabulkan Permintaannya.

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

“Artinya : Ucapkanlah seperti apa yang mereka (para muadzdzin) ucapkan


dan jika engkau telah selesai, mohonlah kepadaNya, niscaya permohonanmu
akan diberikan.” [Lihat Shahihul Wabili Shayyib oleh Syaikh Salim bin Ied Al-
Hilaly, hal: 183]

Apabila sunnah-sunnah ketika mendengar adzan dikumpulkan, maka seorang


muslim telah melaksanakannya sebanyak 25 sunnah.

SUNNAH-SUNNAH DALAM IQAMAH

Sunnah-sunnah saat iqamah sama dengan sunnah-sunnah pada adzan yaitu pada
empat point yang pertama. Hal ini sesuai dengan Fatawa Lajnah ad Daimah lil
Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’. Apabila dijumlah secara keseluruhan terdapat
20 sunnah iqamah pada setiap shalat wajib.

Faidah :
Merupakan sunnah bagi yang mendengar iqomah untuk menirukan orang yang
iqamah kecuali pada lafadz
"Hayya 'alash-shollaah, Hayya 'alash-shollaah"

http://orido.wordpress.com 44
Hadith of the Day

Ketika mendengar lafadz itu, dijawab dengan lafadz


"Laa hawla walaa quwwata illa billahi"

“Artinya : Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah"
[HR. Muslim no. 385.]

Kemudian ketika ucapan


"Qod qoomatish shalah"

Hendaknya menirukannya dan tidak boleh mengucapkan


"Aqoomahaa Allahu wa adaamaha"

Karena ucapan itu berdasarkan hadits yang dhaif"


[Lajnah ad Daimah lil Buhuts ‘Ilmiyyah wal Ifta’]

[Disalin dari kitab Aktsaru Min Alfi Sunnatin Fil Yaum Wal Lailah, edisi Indonesia
Lebih Dari 1000 Amalan Sunnah Dalam Sehari Semalam, Penulis Khalid Al-
Husainan, Penerjemah Zaki Rachmawan]
_________
Foote Note
[1]. Ada yang berpendapat, dibaca sesudah muadzdzin membaca syahadat.
Lihat Ats-Tsamarul Musthaahb fii Fiqhis Sunnah wal Kitaab hal. 172-185 oleh
Syaikh Al-Albani rahimahullah

http://www.eramuslim.com/atk/oim/4405718b.htm

Cintaku padamu ya Rasulullah


10 Mar 06 11:31 WIB

http://orido.wordpress.com 45
Hadith of the Day

Oleh Vita Sarasi

Rasanya tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak marah jika orang yang
dicintainya dihina atau diolok-olok oleh orang lain. Bahkan kalau mampu, ia
akan membalas.

Jadi, saya pikir benar juga reaksi umat Islam di seluruh dunia dalam kasus
karikatur yang diakui oleh pembuat dan penerbitnya sebagai sosok Nabi
Muhammad saw. Betapa tidak, beliau adalah sosok yang (wajib) diagungkan dan
dicintai lebih dari makhluk-Nya yang lain oleh setiap diri yang mengaku muslim.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ”Demi Dzat yang diriku berada
di tangan-Nya, kalian tidaklah beriman, hingga kalian mencintai aku lebih dari
orang tua dan anak kalian” (HR Imam Bukhari). Sahabat Umar ra juga pernah
ditanya oleh Rasulullah saw: "Apakah kamu cinta kepada Rasulullah wahai
Umar?" Beliau menjawab: "Betul wahai Rasulullah saw, tapi tidak melebihi
kecintaan saya kepada diri saya sendiri." Rasulullah berkata: "Tidak, wahai
Umar. Kalau kamu cinta kepada Rasulullah, kecintaan itu harus melebihi dari
kecintaan kamu kepada diri kamu sendiri." Sejenak Umar diam, lalu berkata:
"Saya mencintai engkau wahai Rasulullah lebih dari kecintaan saya pada diri
saya sendiri." Rasulullah kemudian berkata: "Itulah makna kecintaan kepada
Rasulullah wahai Umar" (Hadits).

Jangankan umat muslim, salah seorang profesor yang saya kenal sebagai non-
muslim di Jerman ini sempat berkomentar sambil geleng-geleng kepala yang
memperlihatkan rasa gusarnya: “Das ist wirklich eine schwere Beleidigung” (Itu
benar-benar suatu penghinaan yang berat).

Minggu lalu saya mengikuti sebuah forum diskusi Islam. Ternyata, rasa kesal dan
marah kepada orang yang menghina Rasulullah saw itu merupakan manifestasi
adab (kewajiban) seorang muslim untuk membenci dan memusuhi orang yang
beliau benci. Sebaliknya, kita juga wajib mencintai sesuatu atau orang yang
beliau cintai, misalnya para sahabat beliau.

***

Kita perlu mengenal lebih jauh adab (kewajiban) apa saja bagi seorang muslim
sebagai wujud rasa cinta yang mendalam kepada beliau. Mengapa? Supaya kita
termasuk golongan yang benar-benar mengikuti beliau. Beliau bersabda “Kaum
Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, kaum Nasrani terpecah menjadi 72
golongan, sedangkan umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya
masuk neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang satu
itu wahai Rasulullah?” Beliau berkata “Yaitu yang berada di atas sebagaimana
yang aku dan sahabatku lalui hari ini.” (HR Imam Bukhari, Imam Muslim).

Cinta pada Rasulullah juga berarti menjadikan beliau panutan atau idola.
Sejarah menunjukkan, ada tiga golongan manusia yang umumnya dijadikan

http://orido.wordpress.com 46
Hadith of the Day

panutan atau idola yaitu para raja/pemimpin atau tokoh masyarakat atau
tokoh populer, lalu para filsuf atau pemikir, serta para nabi dan rasul. Di antara
ketiganya, para nabi as. khususnya Nabi Muhammad saw jelas jauh lebih layak
untuk dijadikan suri teladan (uswatun hasanah). Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab 21).

***

Namun menokohkan beliau bukan sekedar mengidolakan dan memajang


kaligrafi namanya pada dinding rumah, tapi juga mencontoh, mengikuti jejak,
dan meniru langkahnya, baik dalam urusan agama maupun urusan dunia. Jika
beliau mengucapkan basmallah sebelum berbuat sesuatu dan hamdallah setelah
selesai mengerjakannya, maka kita ikuti langkahnya. Jika beliau menjaga
kebersihan diri dan lingkungannya, maka kita tiru jejaknya. Bahkan lebih dari
itu, sunnah atau ajarannya kita hidupkan, syariat atau perintahnya kita
syiarkan, dakwah atau seruannya kita teruskan, dan wasiat atau pesannya kita
laksanakan. Tidaklah terhitung wasiat beliau, di antaranya menyantuni anak
yatim, memberi makan orang miskin, mengkonsumsi makanan yang halaalan
thoyyiban (bukan sekedar bergizi, tapi bahan dan cara memperolehnya juga
halal).

Kita wajib mengimani apa-apa yang beliau kabarkan, baik tentang agama,
urusan dunia, maupun perkara ghaib di dunia dan di akhirat. Misalnya, kita
wajib percaya dan taat bahwa beliau telah menjalankan Isra’ dan Mi’raj dan
membawa perintah shalat fardlu lima waktu. Kita juga percaya dan taat bahwa
beliau pernah bercakap-cakap dengan bangsa jin. Beliau memerintahkan agar
manusia tidak tersesat hingga minta bantuan jin karena termasuk perbuatan
syirik (menyekutukan Allah). Bahkan, kita juga wajib percaya dan taat bahwa
Al-Qur’an itu bukan hasil karangan beliau tapi wahyu dari Allah SWT baik secara
langsung dan melalui malaikat Jibril.

Maukah Anda turut didoakan oleh malaikat? Maka muliakan dan agungkan nama
beliau dengan mengucapkan shalawat (doa agar kesejahteraan dilimpahkan
pada beliau) dan salam (doa agar beliau terhindar dari bahaya dan fitnah).
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku, maka malaikat
juga mendoakan keselamatan yang sama baginya, untuk itu hendaknya
dilakukan, meski sedikit atau banyak” (HR Imam Ibnu Majah dan Imam
Thabrani). Oleh sebab itu, setiap doa akan lebih mungkin dikabulkan jika
sebelumnya didahului membaca hamdallah (pujian untuk Allah SWT), serta
shalawat dan salam kepada Rasulullah saw. Gelar Shalallaahu ‘alaihi wasallam
di samping sebagai shalawat dan salam, juga untuk membedakan panggilan
beliau dengan orang lain, sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kamu jadikan
panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada
sebagian (yang lain)” (QS. An Nuur: 63)

http://orido.wordpress.com 47
Hadith of the Day

***

Salah seorang peserta diskusi mengajukan pertanyaan kritis. Dia telah


mendengar hadits berikut: Abdullah bin Abbas berkata ada seorang lelaki buta
yang istrinya selalu mencela dan menjelek-jelekkan Rasulullah saw. Lelaki itu
berusaha memperingatkan dan melarang istrinya agar tidak melakukan hal itu.
Namun, ia tetap melakukannya. Pada suatu malam, istrinya kembali mencela
dan menjelek-jelekkan Rasulullah saw. (Karena tidak tahan) lelaki itu
mengambil kapak dan menghunjamkannya ke perut istrinya hingga mati.
(Mendengar itu) Rasulullah saw bersabda: “Saksikanlah bahwa darah
(perempuan itu) halal” (HR Imam Abu Dawud dan an-Nasa'i). Peserta diskusi itu
bertanya, mengapa hadits itu kontradiksi dengan perintahnya agar berlaku
lemah lembut, bersabar dan berlapang dada jika kita disakiti atau dizalimi oleh
orang lain?

Dengan bijak, pak ustadz menjawab bahwa hadits itu sesuai dengan firman
Allah SWT dalam QS. At Taubah 61, “Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah
itu, bagi mereka azab yang pedih”. Di satu sisi, tindakan lelaki buta dalam
hadits itu adalah wujud kecintaannya pada Rasulullah yang melebihi cinta pada
istrinya. Ia telah bersabar dan memberi peringatan berkali-kali sebelum
akhirnya membunuh istrinya. Ini sama dengan polisi yang telah menembakkan
pistol ke udara dan ke arah kaki penjahat yang berusaha melarikan diri sebelum
akhirnya menembak tubuhnya jika ia bersikeras untuk lari. Lagipula lelaki buta
itu hanya membunuh istrinya. Ibaratnya, jika hanya satu yang bersalah,
janganlah yang serumah bersamanya dibom.

Namun demikian sanksi hukuman mati ini tidak bisa diterapkan di negara yang
tidak berdasarkan hukum Islam. Dalam kasus pemuatan karikatur tersebut, apa
yang bisa dilaksanakan oleh negara-negara Islam adalah menyampaikan nota
protes keras, memutuskan hubungan diplomatik, dan boikot produk dagang.
Menurut kabar, boikot ini menimbulkan kerugian perdagangan yang sangat
besar sebab dilakukan oleh negara-negara Islam di Timur Tengah yang kaya.

***

Para peserta pengajian puas karena telah mendapat pencerahan alias ilmu.
Memang benar sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang menapak jalan untuk
menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan
sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayapnya karena ridha terhadap
mereka yang menuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan ampun oleh
makhluk Allah yang ada di langit dan yang ada di bumi, sampai ikan-ikan di
dalam lautan juga memintakan ampunan buat mereka. Keutamaan orang yang
berilmu dengan orang yang ahli ibadah adalah seumpama bulan pada saat
purnama dibandingkan dengan bintang-bintang. Dan orang yang berilmu
merupakan pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham
kepada mereka, namun mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang

http://orido.wordpress.com 48
Hadith of the Day

mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Imam Abu
Daud).

Namun jangan salah arti. Ini bukan ilmu sembarang ilmu, tetapi ilmu yang
dapat menambah iman dan takwa kita kepada Allah SWT. Ilmu yang akan
membuat kita bahagia di dunia dan di akhirat. Tidak lain tidak bukan yaitu ilmu
agama Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.

Allahumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidina Muhammad... Semoga Allah SWT


menjadikan kita sebagai orang yang mencintai, sekaligus dicintai oleh
Rasulullah saw dan mengumpulkan kita kelak bersamanya, bukan bersama 72
golongan lain dari umat Islam yang tersesat itu. Amin.

Wallahu a`lam bishshowab.

Frankfurt am Main, 1 Maret 2006


vitasarasi at yahoo dot com

http://orido.wordpress.com 49