Anda di halaman 1dari 7

ECogreen Gaung go

Anjar

green berhembus

kian

kencang.
Fahmiarto

Masalah lingkungan kini banyak dibicarakan berbagai kalangan. Tidak hanya di Indonesia, komunitas global juga ramai membicarakan masalah ini. Penyebabnya adalah munculnya fenomena pemanasan global (global warming) yang melanda berbagai penjuru dunia.

Global warming seolah menjadi hantu yang sangat menakutkan komunitas dunia. Sebab akibat

yang ditimbulkannya sudah sangat nyata. Munculnya badai dan angin topan yang menelan banyak korban jiwa, bencana yang datang bertubi-tubi, iklim yang ekstrem, dan perubahan cuaca yang tidak teratur, merupakan akibat dari pemanasan global. Karena itu, sudah saatnya semua pihak di dunia bersama-sama melakukan upaya yang serius untuk mengatasi masalah lingkungan. Sudah saatnya semua peduli terhadap lingkungan. Jika lingkungan lestari, kehidupan manusia juga lebih terjamin. Salah satu yang bisa dilakukan adalah menanamkan sikap dan perilaku bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dan ini bisa dilakukan lewat bangku pendidikan. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh menyatakan perlunya penekanan realisasi pendidikan lingkungan kepada anak didik. Caranya, dengan mendekatkan isu-isu lingkungan dan diperkenalkan secara integral yang dipadukan ke dalam berbagai mata pelajaran dan kehidupan yang relevan di sekolah. Anak didik, katanya, sejak dini diperkenalkan dengan krisis lingkungan, seperti perubahan iklim dan pemanasan global. "Yang penting values dari lingkungan hidup, nilai dari etika bisa dikawinkan juga," katanya seperti dikutip Republika online pada penandatanganan kesepakatan bersama (MoU) Kementerian Negara Lingkungan Hidup-Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), beberapa waktu lalu. Dia mencontohkan tentang larangan buang sampah. "Hal itu paling tidak dapat dikawinkan dengan tiga atau empat bidang pelajaran," tuturnya. Menurut Mendiknas, ide dasar kerja sama ini adalah bagaimana pendidikan lingkungan hidup menjadi ideologi nilai-nilai dan masalah seputar lingkungan bisa tertanam dalam diri peserta didik. Ideologi itu nantinya harus mengajarkan pentingnya pencegahan kerusakan lingkungan, bagaimana memperbaiki lingkungan, dan mengembangkan lingkungan. Menteri Negara Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta mengatakan, pendidikan lingkungan hidup perlu diiintegrasikan dengan kurikulum pendidikan nasional. Sehingga, dapat mewujudkan perubahan perilaku peserta didik menjadi ramah lingkungan. "Saya mau pendidikan lingkungan hidup lebih ke pendekatan preventif dan mendidik perilaku ramah lingkungan," tuturnya. Muncul kesadaran Munculnya fenomena global warming membuat berbagai kalangan menyadari pentingnya menjaga lingkungan dan bertanggung jawab atas kelestariannya. Hal ini antara lain muncul di kalangan dunia usaha. Kesadaran antara lain dimiliki kalangan perbankan dan pengembang properti. Ramai-ramai mereka menyuarakan go green demi menyelamatkan lingkungan. PT Bank BNI Tbk misalnya, melakukan kampanye go green terhadap konsumen dan pengembang yang mendapat fasilitas pembiayaan dari BNI, baik berupa kredit kepemilikan rumah (KPR) maupun kredit konstruksi. Khusus untuk pengembang, secara bertahap BNI akan menerapkan kriteria yang ketat untuk mendapatkan kredit. Kredit hanya akan diberikan kepada pengembang yang membangun perumahan atau gedung dengan konsep berwawasan lingkungan. General Manager Kredit Konsumer BNI, Diah Sulianto mengungkapkan, BNI lewat produk BNI Griya akan secara totalitas menerapkan konsep go green. Misalnya bekerja sama dengan Perum Perumnas dan green design architect community untuk membangun green cluster development. Yaitu perumahan yang menerapkan konsep hijau dan ramah lingkungan. Konsep go green juga diterapkan terhadap pengajuan aplikasi kredit dari pengembang. Pihaknya akan

melakukan seleksi ketat terhadap pengembang yang akan diberikan fasilitas kredit. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi pengembang. Syarat tersebut antara lain menyediakan sekitar 30 persen lahan untuk fasilitas sosial (fasos) dan fasilitas umum (fasum) dan lokasi perumahan tidak berada di bawah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (Sutet). "Persyaratan lainnya pengembang harus memiliki lanskap lingkungan yang bagus serta menyediakan fasilitas pengolahan air limbah di lingkungan perumahan yang dibangun untuk menuju zero waste," ujar Diah. Menurutnya. BNI akan menerapkan persyaratan tersebut secara bertahap. Sebab untuk menerapkan semua persyaratan yang diminta cukup berat. Masih dibutuhkan sosiliasasi dan edukasi kepada pengembang dan juga konsumen untuk berperilaku green. "Ke depan persyaratan ini akan kami terapkan secara ketat. Pengembang yang tidak memenuhi persyaratan tersebut akan kami tolak pengajuan kreditnya," kata Diah. Kepedulian terhadap lingkungan juga ditunjukan oleh Bank BTN. Bank plat merah ini juga memiliki kebijakan khusus dalam penyaluran KPR. Kepala Divisi Kredit BTN, Budi Hartono mengatakan, BTN menerapkan kebijakan satu rumah satu pohon dalam penyaluran KPR. Dengan kebijakan ini, maka rumah yang akan dibiayai BTN harus memiliki minimal satu pohon. "Kebijakan ini untuk mengedukasi konsumen dan pengembang tentang pentingnya pelestarian lingkungan. Jadi rumah yang akan dibiayai BTN harus ada minimal satu pohon," katanya. Menurut Budi, kebijakan satu rumah satu pohon diterapkan sebagai bentuk nyata upaya mengatasi perubahan iklim. "BTN bekerja sama dengan DPP REI untuk menerapkan konsep ini. Diharapkan kesadaran pengembang dan konsumen terhadap lingkungan semakin tumbuh," jelas Budi. Ketua DPP REI, Teguh Satria mengatakan, yang menggembirakan saat ini semakin banyak pengembang yang mengusung konsep hijau dalam pembangunan proyek propertinya. Menurut Teguh, konsep hijau tidak hanya diterapkan dengan penanaman pohon semata, tapi juga dengan pengelolaan lingkungan yang bagus. "Misalnya menerapkan desain bangunan yang memungkinkan penghematan energi dan pengurangan penggunaan AC untuk mereduksi emisi," ujarnya. Industri yang lain juga ramai-ramai menyerukan pentingnya ramah lingkungan, baik pada proses produksi, pemilihan material, maupun hasil produksinya. ed: kelana Solusi Energi Altenatif Energi alternatif kini menjadi sebuah wacana dan tuntutan yang harus dipenuhi oleh banyak pihak, khususnya dunia usaha. Ada banyak sebab, antara lain karena makin meningkatnya harga minyak dunia yang berimbas pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta tuntutan untuk lebih peduli pada kelanjutan lingkungan. Bagi perusahaan, sumber energi alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan perlu lebih dikembangkan karena terkait dengan efisiensi energi. Sebab bahan bakar alternatif ini lebih murah untuk proses produksi. Danone Groupe (yang membawahi PT Danone lndonesia, PT Danone Dairy lndonesia, PT Sarihusada, dan PT Tirta lnvestama) misalnya, mengolah kotoran sapi menjadi sumber energi biogas di Subang, Jawa Barat. Biogas ini bisa digunakan untuk-menyalakan kompor dan memasak makanan dan air. lni persis yang dilakukan masyarakat Perkotaan yang menggunakan kompor gas elpiji sebagai sumber energi .

Departement

Sustainable Development PT Tirta lnvestama, Annie Wahyuni pengembangan biogas di Subang tidak hanya untuk membantu memudahkan

mengatakan,

program

masyarakat dalam memperoleh bahan bakar. Program tersebut juga dimaksudkan sebagai upaya melestarikan lingkungan. "Program ini diharapkan bisa mengurangi deforestasi dan efek rumah kaca di daerah tersebut. Dengan demikian Danone Group turut berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim ," ujarnya, kepada wartawan, Pekan lalu.

Sebelum ada program biogas, sebagian besar masyarakat desa, termasuk di Subang, menggunakan kayu bakar sebagai sumber energi. Terutama untuk kepentingan memasak. Untuk mendapatkan kayu bakar, warga harus menebang pohon. Menurut Annie, berdasar survei, setiap tahun sebagian besar masyarakat menebang setidaknya sepuluh pohon setiap keluarga untuk kebutuhan bahan bakar. Setelah program biogas diperkenalkan, keinginan masyarakat untuk mencari kayu bakar perlahan-lahan mulai berkurang. Dengan adanya biogas, peternak tak perlu lagi susah mencari kayu bakar, membeli minyak tanah, atau gas untuk memasak dan merebus air. "selain bisa menyelamatkan sepuluh pohon per tahun Per keluarga, program biogas yang kami kembangkan ini juga menghemat pengeluaran peternak sampai Rp 1.009.000 per tahun untuk keperluan membeli minyak tanah atau elpiji," jelas Annie. Sementara itu, PT lndocement Tunggal Prakarsa Tbk (lndocement), produsen semen merek Tiga Roda, juga telah mengolah energi alternatif dari tanaman jarak dan sampah. Lewat kemitraan dengan lnstitut Pertanian Bogor (lPB), lndocement melakukan proyek penelitian dan pengembangan perkebunan tanaman jarak (Jatropha curcas) di lahan bekas tambang yang bersifat marjinal (nonprodukif), seluas 30 hekar di sekitar pabriknya di Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Direkur lndocement, Kuky Permana mengungkapkan, proyek budidaya tanaman jarak melibatkan masyarakat di sekitar pabrik. Dalam hal lni lndocement memberikan bibit tanaman kepada masyarakat, Setelah bisa dipanen, lndocement akan membeli hasil tersebut dari masyarakat dengan harga Pasar. "Dengan melibatkan masyarakat setempat dalam proyek ini, maka lndocernent telah memberikan sumbangsih terhadap pembangunan komunitas dan Pemberdayaan ekonomi," jelas Kuky. Menurut Kuky, program penanaman pohon jarak ini secara bertahap diperluas ke wilayah pabrik yang lain, yaitu di Cirebon, Jawa Barat dan Tarjun, Kalimantan Selatan. Di tiap-tiap lokasi tersebut akan dikembangkan pohon jarak seluas 30 hektar. Selain pengembangan tanaman jarak, tutur Kuky, Indocement juga mengembangkan energi alternatif dengan cara memanfaatkan sampah yang berasal dari rumah tangga. Selama ini sampah menjadi masalah tersendiri. Padahal kalau manfaatkan, hasilnya bisa menjadi sumber energi yang besar. Dengan program ini, lndocement memasilitasi pengumpulan sampah rumah tangga dari lingkungan di sekitar pabrik, Selanjutnya di tempat pengolahan sampah sederhana yang disiapkan lndocement, sampah-sampah basah dari rumah tangga dikonversi menjadi bahan-bahan lain yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi yaitu biomassa dan kompos. Biomassa digunakan sebagai bahan bakar alternatif dalam produksi klinker, yang akan dibakar pada suhu lebih dari 1000 derajat celcius. Sedangkan kompos digunakan sebagai pupuk tanaman.

"Melalui program ini, kami ingin menciptakan pola pikir yang berbeda dan pola hidup yang berubah, yaitu sampah bukanlah menjadi musuh kita. Jika diolah sampah bisa sangat bermanfaat bagi kita," kata Kuky. ed: kelana Mengintegralkan Bisnis dan Kepedulian Lingkungan Doing good is good for business. Kalimat yang diungkapkan Dr R dari Universitas Texas, Amerika Serikat ini tampaknya sesuai dengan semangat PT Ajinomoto lndonesia. Tidak hanya berupaya untuk menjalankan entitas bisnis, perusahaan yang telah hadir di lndonesia sejak 1969 ini juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan kelangsungan hidup masyarakat yang lebih baik. Manajer CSR, PT Ajinonomoto lndonesia, Wahyu Darmayani menjelaskan, filosofi PT Ajinomoto adalah menciptakan kehidupan yang lebih baik secara global melalui kontribusi untuk kemajuan yang lebih berarti dalam bidang makanan dan kesehatan. Serta yang terpenting, memberikan manfaat untuk kehidupan. "Dari awal hingga akhir (proses produksi), kita sudah ramah lingkungan. Mulai dari penggunaan bahan baku berupa daging ayam dan sapi asli, proses produksi yang juga ramah lingkungan, hingga pemanfaatan kembali limbah hasil produksi, " ujarnya. Wahyu menjelaskan wujud kepedulian PT Ajinomoto lndonesia terhadap pelestarian lingkungan dapat dilihat dari program zero emission (nol emisi). Lulusan lnstitut Pertanian Bogor (lPB) ini mengatakan, program ini digulirkan sejak 2002 dengan tujuan untuk meminimalkan dampak lingkungan dari operasional pabrik. Program zero emission meliputi usaha mengurangi emisi karbon untuk mengurangi polusi udara. Kita (PT Ajinomoto lndonesia) merupakan grup perusahaan Ajinomoto pertama dari 97 pabrik di21-negara yang mendapatkan penghargaan untuk kategori zero emission ini." papar Wahyu. Upaya untuk mengurangi emisi C02 dari aktivitas produksi telah diterapkan pada pabrik Ajinomoto di Mojokerto. Pabrik ini telah memasang sistem pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) yang bertujuan memperbaiki efisiensi energi. Sistem yang disebut pula Cogeheration System(Cogen System) dan telah dioperasikan sejak September 2006 ini merupakan perpaduan dua pembangkit listrik. Yakni, pusat listrik tenaga gas (PLTG) dan pusat listrik tenaga uap (PLTU) yang memanfaatkan gas alam sebagai bahan bakar. Gas alam dipilih karena terbukti lebih bersih dan ramah lingkungan dibanding menggunakan batu bara yang memiliki emisi yang berat. Sistem kerjanya, PLTG terdiri atas sebuah kompressor, ruang bakar dan gas turbin serta generator listrik. Udara di kompresikan dalam kompresor, dialirkan ke ruang pembakaran. bersamaan dengan bahan bakar gas alam yang disulut, kemudian gas terkembang dengan suhu dan tekanan tinggi akan menggerakkan turbin gas selanjutnya memutar generator dan menghasilkan listrik. Sedangkan gas buang turbin yang bersuhu tinggi dimanfaatkan PLTU dengan dimasukkan ke dalam boiler untuk menghasilkan uap. Dengan menambahkan bahan bakar gas alam akan menghasilkan uap tekanan tinggi yang lebih banyak. Uap ini akan memutar turbin uap dan menghasilkan listrik , sedangkan uap yang keluar dari turbin dimanfaatkan untuk keperluan proses produksi didalam pabrik. Oleh karena itu efisien secara total dalam sistem ini mencapai 92 persen dan dapat mengurangi emisi C02 sebanyak 20 persen. Tidak hanya itu, PT Ajinomoto lndonesia juga membuat kompos dari hasil memotong rumput di lingkungan pabrik dan dedaunan yang jatuh diareal pabrik.

Pabrik Ajinomoto juga diupayakan untuk dapat mengurangi dampak pembuangan air limbah. Pada dasarnya, pabrik ini menggunakan dua proses produksi, yakni untuk proses fermentasi yang menghasilkan asam amino (glutamat) dan untuk produksi produk bumbu dan makanan, seperti Masako dan Sajiku. Air limbah buangan yang dihasilkan untuk produksi asam amino melalui proses fermentasi mempunyai ciri khas tinggi kandungan nitrogen. Untuk mengatasi hal ini, pabrik menggunakan sistem BDN ( Biological Denitrification Nitrogen atau pengurangan nitrogen secara biologis). Yakni, sebuah metode pengolahan air limbah yang dapat mengurangi kadar pencemaran dari COD ( Chemical Oxygen Der,nand), BOD ( Biotogical Oxygen Demand), dan TN (Total Nitrogen). PT Ajinomoto lndonesia juga berupaya untuk memanfaatkan dan mendaur ulang limbah hingga 100 persen. Dengan menganalisis secara cermat terhadap berbagai sisa buangan,. mulai dari sisa lemak hewan, "excess sludge" WWT, grpsum, serta sisa aktif karbon, pada 2004 limbah sudah bisa dimanfaatkan dan didaur ulang sampai 99 Bersen. Para pekerja pun memilah-milahkan sisa satu persen limbah yang terdiri dari sampah umum menjadi sampah yang terpisah antara kertas, plastik, kaca, logam dll. Demikian juga untuk sisa makanan dari kantin, diproses menjadi bahan pakan ternak. "Sisa limbah yang satu persen itu kami distribusikan ke industri kecil disekitar pabrik untuk dimanfaatkan atau didaur,j adi pada akhirnya semua bisa dimananfaatkan 100 Persen" kata Wahyu " Wujud lain kepedulian PT Ajinomoto lndonesia adalah sistem biocycle. Seperti diketahui bahwa bahan baku utama dalam proses produksi MSG adalah tetes tebu.dan tepung tapioka. Hasil samping proses fermentasi yang berupa cairan induk (carin) diproses menjadi pupuk cair Amina yang kaya hara makro serta hara mikro dan dimanfaatkan untuk memupuk tanaman tebu dan ketela pohon.Pupuk cair Amina juga dimanfaatkan untuk memupuk tanaman lain seperti tanaman jagung, nanas dll. lni adalah proses biocycle yang sempurna, sehingga tidak ada sisa yang terbuang. Selain itu, proses ini juga menghasilkan produk sampingan berupa cairan Amina yang dipakai sebagai pupuk di perkebunan tebu yang tebunya diolah di pabrik untuk menghasilkan gula. Produk sampingan lainnya yang bersifat padat, seperti sisa-sisa tulang, kulit ayam dan sebagainya diproses oleh pabrik pengolahan untuk menjadi tepung tulang ( bone meal) sebagai salah satu bahan baku pembuatan pakan ternak. Produk samping lainnya adalah pupuk daun 'Ajifol", sumber protein cair untuk ternak "FML"dan single cell protein "Ajitein". Sedangkan produk samping yang berbentuk padat adalah gypsum, NAC, kompos, serta bahan pakan ternak dari sisa proses Masako, Sajiku dan sisa makanan di kantin. "Ternyata, produk dari hasil samping proses produksi dapat diolah menjadi produk yang memberikan keuntungan tersendiri bagi perusahaan " jelas Wahyu. Mengeloh Sampah Hijaukan Jakarta Jakarta dijejali dengan berbagai masalah. Antara lain sampah yang menggunung setiap hari. Jika tidak diatasi, ini akan menimbulkan permasalahan yang serius. Untuk mengatasi masalah sampah tersebut, diluncurkanlah program Jakarta Green and Clean (JGC) sejak 2006 lalu. JGC merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Unilever lndonesia bekerjasama dengan Republika, Aksi Cepat Tanggap (ACT) ,Radio Delta FM, dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) DKI Jakarta. Sejak 2006 hingga 2009, puluhan ribu warga dan kader lingkungan terlibat dalam program ini. Sejumlah RT dan RW di Jakarta juga berubah wajahnya menjadi hijau dan bersih.

Program JGC, kata Direktur Human Resources & Corporate Relations PT Unilever lndonesia Tbk, Joseph Bataona, bisa dikatakan sebagai program lingkungan yang berkelanjutan dan mandiri. Sebab ini . telah berjalan dengan gerakan dari masyarakat sendiri. Para inisiator JGC hanya sebagi pemberi inspirasi dan katalisator saja. "Dulu, pada awal JGC digagas, masyarakat masih raguragu untuk berpartisipasi sehingga harus didatangi satu per satu oleh fasilitator. Sekarang, mereka malah ramai-ramai mendaftarkan komunitas mereka," ujarnya. Menurut Joseph, program ini bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Program ini akan menjangkau seluruh lapisan masyarakat di tingkat RW. JGC ini akan meliputi tiga aspek, yaitu penghUauan, pengelolaan sampah, dan pembuatan biopori. Untuk tahuntahun mendatang, pihaknya akan menggandeng lebih banyak lagi mitra strategis untuk menggarap program ini. "Tahun pertama, kami menggandeng Radio Delta. Pada berikutnya hingga saat ini, kami menambah mitra strategis yaitu Republika, ACT, Radio Delta, dan BPLHD,'paparnya. Joseph menjelaskan, JGC merupakan salah satu program CSR PT Unilever. Lni merupakan kelanjutan dari kampanye lingkungan di Surabaya yaitu Surabaya Green and Clean (SGC). Jakarta, katanya, memiliki problem yang cukup kompleks, termasuk soal sampah.Dengan jumlah penduduk 10 juta jiwa, setiap hari dihasilkan sekitar 25.687 m3 sampah yang terdiri atas 80 persen sampah basah (organik) dan 20 persen sampah kering (non organik). Penyumbang sampah terbesar adalah rumah tangga yang mencapai sekitar 60 persen. "Program JGC diharapkan bisa mengispirasi sektor swasta lainnya untuk bersama-sama mengatasi masalah lingkungan hidup di Jakarta, khususnya kebersihan dan penghijauan," tuturnya. Direktur Eksekutif ACT, Ahyudin menyatakan, Jakarta sebagai ibukota negara, merupakan wajah lndonesia. "Dengan bersih dan hijaunya Jakarla, kita berharap lndonesia pun akan menjadi lebih bersih. Bersih dar!'sampah, bersih dari korupsi dan bersih gemilang," harapnya. Program JGC ini tidak akan bisa berhasil, tania peran serta dari masyarakat Jakarta.Dan keberhasilan ini juga didukunS dengan langkah dan kerelaan dari para relawan yang menjadi ujung tombak gerakan JGC. "Karena itu, semaksimal mungkin, ACT akan mengerahkan relawan untuk berbuat yang terbaik demi lndonesia dan Jakarta yang bersih dan hijau pada khususnya,"jelasnya. Senada dengan pendapat tersebut, Direktur Radio Delta FM, Hanny Sumadipraja, mengatakan, kerjasama yang dibangun bersama-sama untuk menyukseskan JGC ini diharapkan akan makin cepat terlihat hasilnya. "Sesuatu yang dikerjakan secara bersama-sama pasti akan cepat terlihat hasilnya. Karena itu kami berkomitmen untuk terus melakukan kegiatan ini ke depan," ujarnya. I anjar, ed: kelana BST GO GREEN Demi Kelestarian Lingkungan Berbagai kebijakan kini dikembangkan operator selular untuk mendukung kelestarian lingkungan. Ini tentu sangat menggembirakan. Hal tersebut dilakukan oleh PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Sebagai langkah nyata mendukung kelestarian lingkungan, Telkomsel Base Transceiver mengoperasikan station ramah lingkungan (BTS Go Green) di Pulau Senayang, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu. Peresmian beroperasinya BTS ini membuat Telkomsel sebagai operator selular dengan BTS Go Green terbanyak di Asia yaitu 132 unit yang tersebar di berbagai pelosok lndonesia.

Telkomsel sebagai operator'yang mengoperasikan BTS terbanyak di lndonesia, dan melayani lebih dari 83 juta pelanggan mengembangkan BTS Go GreenTelkomsel yang tersebar di berbagai wilayah. Yaitu Sumatera (33 BTS); Jawa (22 BTS); Bali dan Nusa Tenggara (23 BTS): Kalimantan (18 BTS); Sulawesi, Maluku, dan Papua (36 BTS). Pengeoperasian BTS Go Green merupakan salah satu upaya Telkomsel memanfaatkan sumber energi alternatif yaitu solarcell atau tenaga matahari. Sebagai negara tropis, sumber daya ini bisa dengan mudah diperoleh di lndonesia. Penggunaan sumber energi alternatif kini menjadi salah satu upaya yang dilakukan operator selular untuk menjamin ketersediaan power supply yang dibutuhkan untuk mengoperasikan BTS. Terlebih lagi lndonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas dengan panjang seperdelapan bentangan dunia dan tiap wilayah memiliki variasi kontur geografi yang berbeda-beda. Sebagai upaya menjaga kinerja pelayanan dan kinerja perusahaan ke depan, Telkomsel terus melakukan berbagai riset dan pengembangan penggunaan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Untuk 132 BTS Go Green yang telah beroperasi, Telkomsel tidak terlalu kesulitan mendapatkan sumberenergi berupa tenaga matahari atau solar cell. Hingga saat ini kebutuhan pasokan energi untuk mengoperasikan BTS Go Green tetap terjaga. Keseluruhan BTS tersebut, memperoleh sumber energi ramah lingkungan sesuai dengan standar Telkomsel dan biasa digunakan industri telekomunikasi selular. Yaitu sekitar 0,115 MegaWatt atau hampir setara dengan 100 genset konvensional berkapasitas 20 KVA. Selain menggunakan solar cell, Telkomsel juga mengimplementasikan teknologi fuel cell dengan memanfaatkan bahan bakar hidrogen. Teknologi ini diterapkan di wilayah Sumatera. Keunggulannya antara lain tidak menyebabkan kebisingan karena tidak terdapat komponen bergerak, tidak polutan (tidak beracun dan tidak berbau) karena zat buangan yang ditimbulkan adalah H20 alias unsur air. Selain itu juga memiliki efisiensi proses yang jauh lebih baik dibanding dengan sistem konvensional. Telkomsel akan terus mencari terobosan penerapan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi, baik polusi berupa zat kimia berbahaya, suara bising dan atau bau tak sedap. Ke depan Telkomsel akan mengembangkan BTS dengan sumber energi alternatif lainnya yang sesuai dengan kondisi geografis lndonesia. Antara lain BTS micro hydro yang memanfaatkan aliran sungai di sekitar BTS. Juga BTS yang memanfaatkan bahan bakar organik (biofuel). Pemanfaatan sumber energi alternatif ramah lingkungan ini sekaligus merupakan bentuk dukungan Telkomsel terhadap imbauan pemerintah untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik yang kini semakin langka. Sumber : Republika, Rabu, 28 April 2010

http://blhkotabengkulu.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=92%3Asaatnyapeduli-lingkungan-&Itemid=1