Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN INDIVIDU PRAKTIKUM PENGUKURAN DAYA 1 PHASA

I. TUJUAN 1.Mengenal dan mengetahui penggunaan wattmeter serta fungsinya 2.Memahami cara kerja wattmeter 3.Memahami pengukuran daya menggunakan wattmeter II. DASAR TEORI Daya mempunyai definisi kemampuan sebuah benda dalam melakukan kerja tiap satuan waktu. Sedangkan daya listrik adalah kemampuan energi listrik dalam melakkukan kerja tiap satuan waktu. Energi listrik tidak dapat timbul begitu saja, sehingga perlu dibangkitkan pada sistem power plant. Energi listrik yang telah dibangkitkan tadi diubah lagi dengan alat yang dapat membangkitkan daya, yaitu alat yang merubah energi listrik menjadi daya mekanik maupun daya lainnya. Secara teori, daya listrik dapat dirumuskan berdasarkan kuadrat arus yang mengalir di kali hambatan ataupun hasil kali antara arus dan juga tegangan listrik.

P = I2 . R atau P = V . I

Dalam tegangan AC 1 phasa, digunakan reaktansi murni, sehingga apabila beban yang digunakan bersifat kapasitif atau induktif, maka nilai reaktansi nya diubah ke nilai reaktansi murni dengan konstanta nilai cos . sehingga secara teori dapat dituliskan dengan P = V . I . cos .

III. ALAT DAN KOMPONEN 1. Catu daya AC 2. Kabel 3. Wattmeter 4. Multimeter 5. Hambatan / resistor 6. Trafo arus IV. LANGKAH KERJA 1. Menyiapkan seluruh alat dan komponen yang dibutuhkan. 2. Mengecek semua alat dan komponen dalam kondisi baik.

Gambar Rangkaian Pemasangan Wattmeter

3. Membuat rangkaian seperti gambar di atas. 4. Memilih range untuk arus dan tegangan sesuai dengan nilai yang digunakan. 5. Merangkai wattmeter secara seri untuk terminal ampere. 6. Merangkai wattmeter secara paralel untuk terminal voltase. 7. Melaporkan rangkaian yang telah dibuat kepada dosen pembimbing.

8. Menghubungkan rangkaian ke sumber daya, setelah mendapat izin dari dosen pembimbing. 9. Membaca skala daya yang ditunjukkan pada wattmeter. 10. Mencatat hasil pembacaan daya yang dihitung. V. DATA DAN HASIL PERCOBAAN NO V(Volt) R() I(Ampere) PPerhitungan (W) 1 2 3 4 5 220 220 220 220 220 135 65 45 35 25 1,63 3,38 4,88 6,28 8,8 358,6 743,6 1073,6 1381,6 1936 390 720 1020 1290 1740 PPraktek (W) Persentase Kesalahan 8,75% 3,17% 4,99% 6,67% 10,12%

VI. ANALISIS DATA Pada data dan hasil percobaan ditemukan nilai yang berbeda antara P perhitungan dan P praktek. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai

kesalahan 3,17% - 10,12% , hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah karena nilai PPerhitungan didapatkan dari P=V.I.Cos , Cos diasumsikan 1. Dengan menggunakan rumus ini, nilai R hanya dianggap berasal dari beban, padahal dalam setiap kabel dari rangkaian juga memiliki R, dan hal tersebut tidak diperhitungkan. Kedua adalah dalam mengukur tegangan, arus maupun daya menggunakan alat ukur yang memungkinkan terjadi kesalahan pengukuran (error). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kesalahan pengukuran diantaranya kesalahan umum (gross errors). Kesalahan ini semata-mata disebabkan oleh manusia antara lain meliputi, kesalahan pembacaan, kesalahan pencatatan dan penafsiran pembacaan, ketidaktepatan penyetelan posisi nol dari jarum, kesalahan penempatan saklar pilih dan kesalahan dari hubungan atau pemasangan alat-ukur yang tidak baik. Ada pula yang disebut kesalahan yang tak disengaja (random errors atau residual errors). Kesalahan ini diakibatkan oleh penyebab-penyebab yang tidak disadari atau tidak langsung diketahui. Perubahan parameter atau sistem pengukuran terjadi secara acak seperti perubahan kuantitas yang

diukur dan perubahan kondisi sekitar. Kesalahan ini biasanya hanya kecil tapi menjadi penting pada kegiatan pengukuran yang memerlukan ketelitian VII. KESIMPULAN Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui daya actual suatu rangkaian lebih baik digunakan cara pengukuran dikarenakan menggunakan cara perhitungan di dapat hasil yang kurang akurat. Dalam pengukuran diperlukan alat ukur yang masih dalam kondisi baik dan presisi. Dalam melakukan pengukuran yang memerlukan ketelitian, pengukurun harus dilaksanakan dengan lebih teliti dan hati-hati agar tidak terjadi kesalahan dalam pembacaan alat ukur.

DAFTAR PUSTAKA

Supaat. 1996. Dasar-Dasar Instalasi Listrik. Jakarta. Harten, P. Van dan Ir. E. Setiawan. 1981. Instalasi Listrik Arus Kuat 1. Bandung : Binacipta. http://www.ilmu-elektronika.co.cc Ebooks modul penggunaan multimeter, 2009 http://www.wikipedia.org Sudirham, Sudaryatno. 2002. Analisis Rangkaian Listrik. ITB : Bandung