Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MAKALAH PANCASILA PELANGGARAN TERHADAP PANCASILA

KELOMPOK 5 Nusieta Ayu Primadian (36388) Adinda Masita Putri(37468) Brilian Echonery(37053) Dyah Ayu Meiliastuti (36899)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru/dosen pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui bahwa nilai-nilai yang terdapat dalam pancasila belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang Kritik terhadap pancasila untuk memberikan kritik dan menyadarkan masyarakat bahwa sebenarnya nilainilai dalam pancasila belum sepenuhnya dijalankan dengan baik di Indonesia.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan.

Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Pancasila sebagai dasar negara Indonesia memiliki fungsi memberikan pedoman atau landasan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Namun pada kenyataannya saat ini banyak penyimpangan penyimpangan perilaku sosial yang terjadi akibat lunturnya nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila di kehidupan bermasyarakat. Tema Kritik terhadap pancasila ini dipilih dengan maksud dan tujuan agar para pembaca,khususnya mahasiswa dapat memahami bahwa sesungguhnya pancasila belum dijalankan sepenuhnya dengan baik. Makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca khususnya dalam pelaksanaan pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

B. TUJUAN - Menjelaskan bahwa Pancasila belum sepenuhnya dijalankan dengan baik. - Menambah wawasan pembaca

PELANGGARAN TERHADAP PANCASILA Berikut ini adalah penjelasan terhadap pelanggaran pancasila dari sila I sampai sila V: 1.Ketuhanan Yang Maha Esa; Sila pertama pancasila adalah kesimpulan yang didapatkan dari kepercayaan- kepercayaan yang dianut masyarakat Indonesia bahwa seluruh agama mengajarkan kita untuk menjunjung nilai agamanya dan mengilhami nilai-nilai seperti saling menghormati, bekerja sama, dan menghargai antar pemeluk agama serta tidak saling memaksakan suatu agama atau kepercayaan kepada orang lain. Kasus I : Tragedi kerusuhan poso (1998 2001) Tragedi kerusuhan ini terjadi karena adanya unsur pemaksaan antar agama di sulawesi tengah. Hal ini tidak sesuai dengan nilai yang terkandung dalam sila 1 sebagai pencerminan masyarakat yang saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak. Pelanggaran kebebasan agama oleh pemerintah Hal ini terjadi ketika Indonesia hanya menganggap 6 agama sebagai kepercayaan yang dianut dalam Indonesia, sedangkan dalam nilai sila 1 pancasila menyebutkan tidak adanya pemaksaan seseorang untuk menganut sebuah kepercayaan, dan adanya pendapat bahwa negara seharusnya tidak ikut campur dalam urusan keagamaan

2.Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Melalui sila kedua pancasila, kita selayaknya mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan kewajiban. Dengan itu masyarakat dapat bersosialisasi dengan adil, beradab, dan menjunjung nilai nilai kemanusiaan. Kasus I: Tragedi trisakti, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) mendesak DPR agar mengubah keputusannya yang menyatakan bahwa kasus Trisakti dan Semanggi I-II bukan pelanggaran berat HAM. Untuk itu, dalam waktu dekat Komnas HAM akan mengirim surat kepada pimpinan DPR. "Karena kami menganggap peristiwa Trisakti dan Semanggi pelanggaran HAM berat, jadi seharusnya DPR mengusulkan pembentukan Pengadilan HAM Ad Hoc," kata Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara kepada wartawan di Jakarta, Rabu (5/3). Hakim menjelaskan, tindakan Pansus DPR yang mengeluarkan rekomendasi bahwa peristiwa Trisakti dan Semanggi bukan pelanggaran HAM berat telah melampaui kewenangannya. Sebab, yang berhak menentukan terjadinya pelanggaran adalah wewenang institusi, penyelidikan, penyidikan dan pengadilan. "Kita akan desak DPR untuk memperbaiki keputusan itu," tegasnya. Rapat paripurna DPR menyetujui kesimpulan Pansus Trisakti/Semanggi yang merekomendasikan kasus Trisakti dan Semanggi diselesaikan melalui pengadilan umum/militer. Hal kemudian diperkuat dengan pernyataan pimpinan DPR yang mendukung penolakan sejumlah perwira TNI/Polri menolak panggilan Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM Trisakti/Semanggi. Saat ini berkas hasil penyelidikan KPP HAM tersebut berada di tangan Kejaksaan Agung (Kejagung). Menurut Hakim, seharusnya Kejagung mestinya tidak ragu menindaklanjuti kasus itu ke tingkat penyidikan. Kasus Mei Komnas HAM hari ini, Rabu (5/3) mengadakan rapat pleno untuk memutuskan apakah Kerusuhan Mei 1998 akan ditindaklanjuti secara pro-justisia. Rapat pleno tersebut sempat tertunda karena seluruh anggota Komnas menemui puluhan massa yang mengaku keluarga korban pelanggaran HAM Tanjungpriok, Talangsari, Trisakti, Semanggi I dan II, serta penculikan aktifis. Mereka mempertanyakan keseriusan Komnas dalam menuntaskan kasuskasus pelanggaran HAM. Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (Ikohi) menuntut Komnas membentuk KPP Kasus Penghilangan Orang Secara paksa. Ikohi berpendapat, pengadilan militer tahun

1998 terhadap Tim Mawar Kopassus sama sekali tidak berhasil mengungkap tabir peristiwa itu. Dari data Ikohi periode 1997-1998, 23 orang dilaporkan dihilangkan secara paksa. Dari jumlah itu 9 orang telah dikembalikan, satu orang ditemukan meninggal. Menanggapi tuntutan itu, Abdul Hakim meyakinkan bahwa Komnas HAM sedang memproses hasil penyelidikan semua pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Misalnya, Komnas akan mengkaji ulang hasil KPP HAM Talangsari dan telah membentuk Tim Penyelidik Kasus Pelanggaran HAM yang Dilakukan Mantan Presiden Soeharto Dari hal diatas dapat dilihat bahwa di Indonesia ini sila kedua ini belum benar benar diaplikasikan dengan baik dan benar.Pemerintahnya sendiri melanggar sila dari pancasila,bagaimana rakyatnya dapat mengikuti apabila teladannya sendiri pun melanggar 3.Persatuan Indonesia Sila ketiga pancasila ini dimaksudkan agar rakyat Indonesia memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme. Sehingga rakyat indonesia mendahulukankepentingan negara dan persatuan di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dalam sila ini tidak akan diadakan contoh kasus,melainkan akan dilihat dari hal hal yang selama ini sering terjadi di Indonesia ini.Kita sebagai rakyat Indonesia sama sekali belum mencerminkan sikap patriotisme dan nasionalisme. Contohnya saja dalam hal pemberantasan korupsi ,bagaimana korupsi bias terberantas sedangkan lembaga pemberantasan korupsi sendiri melakukan korupsi .Sekarang ini bukan hanya Negara saja yang korupsi ,bahkan anak SD juga sudah bisa korupsi.Dari hal yang sekecil ini saja sudah dicerminkan bahwa rasa nasionalisme pejabat Negara dan warga Negara itu belum ada, Rasa patriotisme tidak akan muncul sebelum adanya rasa nasionalisme.Bagaimana seseorang ingin mengalahkan musuhnya apabila dirinya sendiri belum bisa dikalahkannya.Sebagai bangsa yang berdasarkan pancasila kita harus mengaplikasikan hal hal diatas.Mungkin tidak semua orang seperti hal yang telah disebutkan diatas,sebagian warga Negara sudah memiliki rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.Hal tersebut dapat dilihat pada saat Negara ini dilanda bencana bertubi tubi ,banyak bantuan yang datang dari

pihak pribadi dan institusi.Tapi banyak juga orang yang tidak menghiraukan hal tersebut,Negara lain saja ikut membantu tapi kenapa masih banyak warga Negara di Indonesia ini tidak bisa, 4.Kerakyatan yang dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan Sila ini merepresentasikan inti dari demokrasi dimana bangsa indonesia diharapkan dapat menghormati setiap perbedaan pendapat dan menjadikan musyawarah sebagai cara untuk mencari jalan keluar. Selain itu, rakyat diharapkan dapat turut aktif dalam memilih dan mengawasi wakil wakilnya. 5.Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Hal - hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti kebutuhan hidup, kesehatan, dan pendidikan diperuntukkan bagi rakyat sebagai hak oleh rakyat.

Hanya karena merasa berasal dari agama mayoritas tidak seharusnya kita merendahkan umat yang berbeda agamaataupun membuat aturan yang secara langsung dan tidak langsung memaksakan aturan agama yang dianut atau standar agama tertentu kepada pemeluk agama lainya dengan dalih moralitas.

Hendaknya kita tidak menggunakan standar sebuah agama tertentu untuk dijadikan tolak ukur nilai moralitas bangsa Indonesia. Sesungguhnya tidak ada agama yang salah dan mengajarkan permusuhan.

Makna Sila-Sila Pancasila Arti dan Makna Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan Menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa. Mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.

Arti dan Makna Sila Ketuhanan yang Maha Esa 1. Mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima (sebab pertama) yaitu Tuhan yang Maha Esa 2. Menjamin penduduk untuk memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agamanya. 3. Tidak memaksa warga negara untuk beragama. 4. Menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama. 5. Bertoleransi dalam beragama, dalam hal ini toleransi ditekankan dalam beribadah menurut agamanya masing-masing. 6. Negara memberi fasilitator bagi tumbuh kembangnya agama dan iman warga negara dan mediator ketika terjadi konflik agama. Arti dan Makna Sila Persatuan Indonesia

1. Nasionalisme. 2. Cinta bangsa dan tanah air. 3. Menggalang persatuan dan kesatuan Indonesia. 4. Menghilangkan penonjolan kekuatan atau kekuasaan, keturunan dan perbedaan warna kulit. 5. Menumbuhkan rasa senasib dan sepenanggungan. Arti dan Makna Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan

Hakikat sila ini adalah demokrasi. Permusyawaratan, artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah itu diadakan tindakan bersama. Dalam melaksanakan keputusan diperlukan kejujuran bersama.

Arti dan Makna Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat. Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing. Melindungi yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya.

Sikap positif terhadap nilai-nilai pancasila Nilai-nilai Pancasila telah diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu , mengamalkan Pancasila merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia. Sikap positif dalam mengamalkan nilai-nilai pancasila. 1. Menghormati anggota keluarga 2. Menghormati orang yang lebih tua 3. Membiasakan hidup hemat

4. Tidak membeda-bedakan teman 5. Membiasakan musyawarah untuk mufakat 6. Menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing 7. Membantu orang lain yang kesusahan sesuai dengan kemampuan sendiri

Ketuhanan Yang Mahaesa Di dalamnya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI bukan sebagai Negara Agama dan bukan pula sebagai Negara Sekuler, tetapi NKRI ingin dikembangkan sebagai Negara Beragama.

Sebagai bukan negara-agama, NKRI tidak menerapkan hukum agama tertentu sebagai hukum positif, artinya: (1) ideologi negara tidak berasal dari ideologi agama tertentu, (2) Kepala Negara tidak harus berasal dari Kepala Agama tertentu, (3) konstitusi negara tidak dari Kitab Suci agama tertentu. Sebagai bukan negara sekuler, NKRI tidak memisahkan urusan negara dari urusan agama, artinya: (1) keputusan negara harus didasarkan pada ajaran agama-agama, (2) suara terbanyak dalam lembaga MPR, DPR, dan lain sebagai4nya harus dilandaskan pada kesesuaiannya dengan ajaran Tuhan Yang Mahaesa. Sebagai negara beragama, NKRI mendasarkan pengelolaan negara pada hukum positif yang disepakai oleh bangsa (MPR, DPR+Pemerintah) yang warganegaranya beragam agama, sementara negara pun tidak boleh mencampuri urusan aqidah agama apapun, tetapi negara wajib melindungi agama apapun. Di sini terkandung tekad bahwa mereka yang ber-Aliran Kepercayaan tidak diwajibkan (secara hukum positif) untuk beragama, tetapi mereka dibina oleh Negara (Pemerintah dan Masyarakat) untuk: (1) tidak menjadi atheis, (2) tidak membentuk agama baru, atau (3) sedapat mungkin memilih salah satu agama yang resmi diakui Negara (karena lebih banyak kedekatan ajarannya). 3.2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Di dalamya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI merupakan Negara berHAM (kemanusiaan), Negara ber-Hukum (yang adil), dan Negara berBudaya (yang beradab). Sebagai negara yang ber-HAM, NKRI ingin mengembangkan dirinya sesebagai negara yang melindungi dan menegakkan HAM bagi warganegaranya. HAM dimaksud adalah yang sesuai dengan hukum positif Indonesia dan budaya bangsa Indonesia. 5Contoh, karena hukum positif Indonesia bersumber pada Ketuhanan Yang Mahaesa, maka HAM seperti euthanasia (seperti di Selandia Baru, Belanda) atau aborsi (seperti di Irlandia Utara dan Skotlandia) tidak bisa diundangundangkan (tidak bisa dijadikan hukum positif di Indonesia). Sebagai negara yang ber-Hukum, NKRI ingin melindungi dan mengembangkan: (1) supremasi hukum, (2) persamaan di muka hukum, (3) menegakkan HAM, dan (4) membudayakan kontrol publik/sosial/masyarakat atas jalannya pemerintahan yang baik dan bersih (good governance). Sebagai negara yang ber-Budaya/Adab, NKRI ingin mengembangkan: (1) cipta, yang dapat melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) karsa, yang dapat melahirkan moral dan etika, (3) rasa, yang dapat melahirkan seni dan estetika, serta (4) karya, yang dapat melahirkan karya-karya monumental dalam arti yang seluas-luasnya. Sebagaimana diketahui, keempatnya itu merupakan unsur dari budaya/adab

3.3 Persatuan Indonesia Di dalamnya terkandung nilai-nilai bahwa NKRI menyatakan diri sebagai negara yang diikat oleh persatuan dan kesatuan. Nilai persatuan berprinsip pada bersatu dalam keberagaman/ keberbedaan/ketidaksamaan/heterogenitas. Sementara, nilai kesatuan berprinsip 6pada bersatu dalam keseragaman/ketidakberbedaan/kesamaan/homogenitas. Nilai-persatuan sebagai faktor penopang dan pemberi peluang nilai-nilai demokratisasi, sivilisasi, penegakkan HAM, madanisasi, dan partisipasi (singkatnya kedaulatan rakyat). Sementara, nilai-kesatuan sebagai faktor penopang dan pemberi peluang nilai-nilai otokratisasi, militerisasi, etatisasi, dan mobilisasi (singkatnya kedaulatan negara). Sila ketiga ini (Persatuan Indonesia, bukan Kesatuan Indonesia)dengan demikianlebih akan mengedepankan dan memprioritaskan NKRI sebagai negara yang berjiwa civil society. 3.4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan Di dalamnya terkandung makna bahwa NKRI menerapkan asas kerakyatan; asas ini sebagai landasan penerapan kedaulatan rakyat; kedaulatan rakyat ini sebagai basis demokrasi; dan prinsip-prinsip demokrasi itu bersifat universal bagi bangsa-bangsa beradab di dunia. Sebagai negara demokrasi, NKRI menerapkan prinsip-prinsip: (1) pembagian kekuasaan antarlembaga

negara, (2) pemilu yang bebas, (3) multi parpol, (4) pemerintahan mayoritas, perlindungan minoritas, (5) pers yang bebas, (6) kontrol publik/sosial, (7) negara untuk kesejahteraan rakyat dan pelayanan publik, (8) dan seterusnya. 7Jadi, NKRI merupakan negara demokrasi yang dipimpin oleh hikmatkebijaksanaan. Pemimpin yang hikmat adalah pemimpin yang berakal sehat, rasional, cerdas, terampil, dan seterusnya pada hal-hal yang bersifat fisis/jasmaniah; sementara kebijaksanaan adalah pemimpin yang berhatinurani, arif, bijaksana, jujur, adil, dan seterusnya pada hal-hal yang bersifat psikis/ rohaniah. Jadi, pemimpin yang hikmat-kebijaksanaan itu lebih mengarah pada pemimpin yang profesional (hikmat) dan juga dewasa (bijaksana). Itu semuanegara demokratis yang dipimpin oleh orang yang dewasaprofesionaldilakukan melalui tatanan dan tuntunan permusyawaratan/ perwakilan. Tegasnya, sila keempat menunjuk pada NKRI sebagai negara demokrasi-perwakilan yang dipimpin oleh orang profesional-dewasa melalui sistem musyawarah (government by discussion). 3.5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Di dalamnya terkandung makna keadilan-sosial (keadilan-socius) atau pemerataan-bersama bagi seluruh-rakyat (atas dasar keadilan distributif), bukan keadilan bagi segolongan/pemerintah/penguasa. Dengan demikiansecara filsafat (hakikat)kelima-sila tersebut dipahami sebagai sistem-nilai-yang-mencakup/meliputi (satu kesatuan nilai

8Pancasila), yaitu bahwa Sila-1 melandasi Sila-sila ke-2, 3, 4, 5; Sila ke-2 melandasi Sila-sila ke-3, 4, 5; Sila ke-3 melandasi Sila-sila ke-4, 5; dan Sila ke-4 melandasi Sila ke-5. Sehingga, sebagai contoh, bila berbicara Demokrasi Pancasila misalnya, maka dapat dipahami bahwa Sila ke-4 (negara demokrasi) itu yang dilandasi oleh Sila ke-1 (norma agama), yang menjunjung tinggi Sila ke-2 (HAM, negara hukum, negara budaya), yang mengutamakan Sila ke-3 (persatuan dan kesatuan bangsa), dan yang untuk kepentingan Sila ke-5 (keadilan sosial bagi seluruh rakyat)

Kedudukan dan fungsi Pancasila dapat menjadi: 1. Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia Hal ini berarti bahwa Pancasila melekat erat pada kehidupan bangsa Indonesia, dan menentukan eksistensi bangsa Indonesia. Segala aktivitas bangsa Indonesia disemangati oleh Pancasila. 2. Pancasila adalah kepribadian bangsa Indonesia: Hal ini berarti bahwa sikap mental, tingkah laku dan amal perbuatan bangsa Indonesia mempunyai ciri-ciri khas yang dapat membedakan dengan bangsa lain. Ciri-ciri khas inilah yang dimaksud dengan kepribadian, dan kepribadian bangsa Indonesia adalah Pancasila. 3. Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia: Hal ini berarti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk, penuntun, dan pegangan dalam

mengatur sikap dan tingkah laku manusia Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 4. Pancasila adalah falsafah hidup bangsa Indonesia:3 Falsafah berasal dari kata Yunan philosophia. Philos atau philein berarti to love (mencintai atau mencari). Sophia berarti wisdom, kebijaksanaan atau kebenaran. Jadi secara harafiah, falsafah berarti mencintai kebenaran. Dengan demikian, Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia mempunyai arti bahwa, Pancasila oleh bangsa Indonesia diyakini benar-benar memiliki kebenaran. Falsafah berarti pula pandangan hidup, sikap hidup, pegangan hidup, atau tuntunan hidup. 5. Pancasila sebagai weltanshauung bangsa Indonesia atau sebagai philosophische grondslag bangsa Indonesia: Kata-kata ini diucapkan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945 di muka sidang BPUPKI. Welt berarti dunia, anshauung berarti pandangan. Dalam kamus Jerman-Inggris weltanschauung diberi arti conception of the world, philosophy of life. Jadi weltanschauung berarti pandangan dunia atau pandangan hidup, atau falsafah hidup atau philoshopischegrondslag (dasar filsafat). 6. Pancasila adalah perjanjian luhur rakyat Indonesia: Hal ini berarti bahwa Pancasila telah disepakati dan disetujui oleh rakyat Indonesia melalui perdebatan dan tukar pikiran baik dalam sidang BPUPKI maupun PPKI oleh para pendiri negara. Perjanjian luhur tersebut dipertahankan terus oleh negara dan bangsa Indonesia. Kita semua mempunyai janji untuk melaksanakan, mempertahankan serta tunduk pada azas Pancasila.4 7. Pancasila adalah dasar Negara Repbuplik Indonesia:

Hal ini berarti bahwa Pancasila dipergunakan sebagai dasar dan pedoman dalam mengatur pemerintahan dan penyelenggaraan negara. Isi dan tujuan dari semua perundang-undangan di Indonesia harus berdasarkan, Pancasila dan tidak boleh bertentangan dengan jiwa Pancasila. Pancasila dalam pengertian ini disebut dalam Pembukaan UUD 1945. 8. Pancasila adalah landasan idiil: Kalimat ini terdapat dalam ketetapan MPR mengenai Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN). Hal ini berarti, bahwa landasan idiil GBHN adalah Pancasila. Arti dan fungsi Pancasila sebenarnya masih banyak lagi, salah satunya adalah: Pancasila sebagai Pemersatu Bangsa.

http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/05/pendidikan_pancasila.pdf

http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/12/pancasila_sebagai_pemersatu_bangsa.pdf

http://blog.unila.ac.id/maulana/files/2009/07/materi-nilai-dasarpancasila1.pdf

Anda mungkin juga menyukai