Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIK AUDIT INTERNAL PADA KEJAKSAAN AGUNG

Kejaksaan RI adalah sebuah lembaga pemerintah yang dilaksanakan negara khususnya dibidang penuntutan, dan sebagai badan yang kekuasaan

berwenang dalam

penegakan hukum dan keadilan. Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Presiden. Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri merupakan kekuasaan negara khususnya dibidang penuntutan, dimana semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan. Dalam penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) ini, mempunyai beberapa tujuan dalam rangka pencapaian misi Kejaksaan yang telah direncanakan dalam Rencana STRATEGIK Kejaksaan Agung untuk jangka waktu 5 (lima) tahun dan disesuaikan dengan seksi-seksi yang ada dalam Instansi Kejaksaan.

1. Seleksi Auditee
Manajemen Kejaksaan Agung RI telah melakukan analisa baik formal maupun informal mengenai jenis pekerjaan yang masih dalam lingkup atau di luar lingkup tugas pokok dan fungsi dari masing-masing Unit Kerja. Kejaksaan Agung RI telah memiliki struktur organisasi dan telah diuraikan mengenai tugas (job description) dari masing-masing eselon I Kejaksaan Agung RI yaitu Jaksa Agung Muda Pembinaan, Jaksa Agung Muda Intelejen, Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara dan Jaksa Agung Muda Pengawasan. Dalam hal ini dapat digambarkan beberapa resiko yang terjadi pada Lembaga Kejaksaan Agung, diantara sebagai berikut :
Risiko Ekstrim (E) xx xx xx xx Risiko Tinggi (T) Risiko Moderat (M) Risiko Rendah (R)

Auditable Unit Keuangan dan ketatan pada peraturan Sumber Daya Manusia Hasil Program atau Efektifitas Kehematan dan Efisiensi

Keteran gan

Dari Tabel diatas, dapat kita simpulkan bahwa audit yang risiko nya tinggi adalah keuangan dan ketaatan pada peraturan yang auditable yang di ambil dan dii fokuskan. Ini dilakuakn karena karena keungan yang di manage oleh Kejaksaan Agung sangat tidak sesuai dengan peraturan yang ada dan para pelakunya melakukan penyelewengan baik dengan pengadaan kelengkapan sarana dan prasarana, serta etika dan sumber daya manusia di lingkungan Kejaksaan Agung mulai tidak Independent yang mengakibatkan kepercayaan masyarakat pada Jaksa mulai menurun. Karena di mulai dari pelagagaran pada ketaatan peraturan yang berlaku sebagai Jaksa. Di Indonesia Audit Internal Kejaksaan Agung adalah Komisi Kejaksaan. Sesuai dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 18 tahun 2005 tentang Komisi Kejaksaan Republik Indonesia pada Bab II Bagian Kedua paasal 4 yaitu diantaranya adalah : 1. Komisi Kejaksaan terdiri atas pimpinan dan anggota yang seluruhnya berjumlah 7 (tujuh) orang. 2. Pimpinan Komisi Kejaksaan terdiri atas Ketua dan seorang Wakil Ketua yang merangkap
3. Anggota.Anggota Komisi Kejaksaan adalah pejabat publik.

4. Keanggotaan Komisi Kejaksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas mantan jaksa, praktisi hukum, akademisi hukum, dan anggota masyarakat.

2. Persiapan Penugasan
Gambaran Umum 1. Tujuan Pemeriksaan Untuk menguji dan menilai apakah:
a. Informasi keuangan yang disajikan telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. b. Kegiatan pengelolaan belanja barang dan modal telah mematuhi persyaratan

kepatuhan terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku,


c. Sistem Pengendalian Intern telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk

mencapai tujuan pengendalian. 2. Sasaran Pemeriksaan

a. Sasaran pemeriksaan atas belanja barang adalah penyajian informasi keuangan

(pertanggungjawaban dan pelaporan), perencanaan, pelaksanaan pengadaan barang, kontrak pengadaan, pengelolaan pengadaan barang serta Sistem Pengendalian Intern dan pengawasan.
b. Sasaran pemeriksaan atas belanja modal yaitu organisasi dan prosedur kerja,

penatausahaan, penguasaan dan pengurusan keuangan, rencana dan pelaksanaan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana hukum, pemanfaatan hasil kegiatan pembangunan, pelaporan serta Sistem Pengendalian Intern dan pengawasan. 3. Metode Pemeriksaan Pemeriksaan dilakukan secara uji petik terhadap dokumen-dokumen pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja barang dan modal serta meminta penjelasan dari pejabat/petugas/pelaksana, cek fisik dan konfirmasi kepada pihak-pihak yang terkait. 4. Obyek Pemeriksaan Belanja Barang dan Belanja Modal pada Satuan Kerja (Satker-satker) di lingkungan Kejaksaan Agung RI.

Adapun anggaran dan realisasi Belanja Barang dan Belanja Modal Tahun 2005 dan 2006 adalah :
(dalam rupiah) No. Jenis Belanja Belanja Barang Belanja Modal Belanja Barang Belanja Modal Anggaran Tahun 2005 111.402.396.000, 00 108.799.045.000, 00 Tahun 2006 149.471.396.000, 00 196.890.161.000, 00 3 Realisasi

1. 2.

102.884.575.876,00 99.799.875.658,00

1. 2.

82.881.540.110,00 145.287.645.716,00

3. Survey Pendahuluan
1. Lingkungan Pengendalian a. Komitmen Terhadap Kompetensi Manajemen Kejaksaan Agung RI telah melakukan analisa baik formal maupun informal mengenai jenis pekerjaan yang masih dalam lingkup atau di luar lingkup tugas pokok dan fungsi dari masing-masing Unit Kerja Eselon I. b. Struktur Organisasi Kejaksaan Agung RI telah memiliki struktur organisasi dan telah diuraikan mengenai tugas (job description) dari masing-masing eselon I Kejaksaan Agung RI yaitu Jaksa Agung Muda Pembinaan, Jaksa Agung Muda Intelejen, Jaksa Agung Muda Pidana Umum, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara dan Jaksa Agung Muda Pengawasan. c. Tanggung Jawab dan Wewenang Jumlah personil cukup memadai baik dari latar belakang pendidikan maupun jumlahnya, namun jumlah personil yang memiliki sertifikat sebagai panitia pengadaan barang belum memadai yaitu hanya satu orang sehingga masih ditemukan kelemahan dalam proses pengadaan barang. d. Praktek dan Kebijakan Sumber Daya Manusia Pengukuran kinerja dari seluruh pegawai pada Unit Pelaksana Teknis berupa Matrik LAKIP telah ada, namun sampai dengan saat ini tolok ukur kinerja tersebut masih belum maksimal. 2. Penilaian Risiko Penetapan Tujuan Kegiatan Kejaksaan Agung RI telah melakukan proses formal untuk menganalisa risiko yang dihadapi dalam proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, sehingga sejak Tahun 2004 sampai dengan Tahun 2006 telah mengalokasikan dana untuk pembuatan Sistem Informasi Manajemen Kejaksaan Agung RI (SIMKARI) dan pada Tahun 2007 sedang disiapkan alokasi dana untuk tunjangan bagi pegawai yang terkait, untuk mengeliminasi segala risiko yg dihadapi. 3. Aktivitas Pengendalian
4

Review Manajemen Terhadap Pencapaian Rencana Review telah dilakukan walaupun belum maksimal untuk menilai tingkat keberhasilan dengan membandingkan hasil nyata dan rencana, hal tersebut terlihat dari terjadinya kelebihan pembayaran atas pekerjaan yang sebenarnya telahdilaksanakan dan dibayar pada tahun 2004, dan masih terdapat ketidakcermatan pengelola teknis dalam memeriksa hasil pekerjaan. 4. Komunikasi dan Informasi Perangkat komunikasi seperti pada saat pelatihan, rapat atau dalam pelaksanaan pekerjaan baik secara formal maupun informal telah dilaksanakan secara memadai. 5. Pemantauan Pemantauan yang dilakukan oleh atasan langsung hanya terbatas pada emeriksaan kas bendaharawan setiap triwulan, namun yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan dilaksanakan oleh konsultan pengawas danpelaksanaannya belum optimal sehingga terdapat beberapa kekurangan volume pekerjaan.

4. Evaluasi Internal Control


Tanpa mengurangi keberhasilan pelaksanaan kegiatan yang telah dicapai, hasil pemeriksaan masih menemukan kelemahan-kelemahan sebagai berikut : Sistem Pengendalian Intern Sistem Pengendalian Intern atas /Belanja Modal Tahun Anggaran 2005 dan 2006 pada Kejaksaan Agung RI yang meliputi unsur lingkungan pengendalian, penilaian resiko, aktivitas pengendalian, komunikasi dan informasi dan pemantauan masih mengandung beberapa kelemahan, sehingga pelaksanaan kegiatan belum berjalan secara taat asas terutama pada kegiatan perencanaan renovasi/pembangunan gedung oleh panitia pengadaan barang, tim teknis dan konsultan perencana.

5. Pengujian Lapangan
Dari pengujian pemeriksaan, yaitu :
a. Proses pengadaan dan pendistribusian barang tahun 2005 dan 2006 dengan cara

lapangan

di temukan

beberapa temuan.

Temuan-temuan

penunjukan langsung pada Biro Perlengkapan tidak sesuai ketentuan. Berdasarkan Keputusan Jaksa Agung (Kepja) RI No. KEP-115/J.A/10/1999 dan Kepja No. Kep-558/A/J.A/12/2003 tentang Susunan dan Tata Kerja Kejaksaan Agung RI, Biro

Perlengkapan bertugas melaksanakan penyediaan barang untuk keperluan operasional setiap unit kerja di lingkungan Kejaksaan Agung RI. Hasil pemeriksaan atas dokumen pertanggungjawaban Biro Perlengkapan dalam melaksanakan pengadaan barang khususnya yang dilakukan dengan cara penunjukan langsung dengan menggunakan SPK belum melaksanakan prosedur pengadaan sesuai dengan ketentuan. Hal tersebut mengakibatkan Kejaksaan Agung pada akhir tahun 2004 berhutang pada rekanan sebesar Rp117.922.585,00 dan pada akhir tahun 2005 berhutang pada rekanan sebesar Rp436.055.158,00, namun telah dibayar pada triwulan I tahun 2005 dan Triwulan I 2006. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 pasal 3 dan Keppres Nomor 42 tahun 2002 pasal 10 butir (2) dua dan butir (3).Hal tersebut terjadi karena Panitia pengadaan barang/pekerjaan Biro Perlengkapan kurang memahami/mentaati ketentuan yang berlaku lemahnya pengawasan oleh atasan langsung terhadap pelaksanaan pengadaan barang.
b. Buku petunjuk penatausahaan barang hasil pengadaan tahun 2005 senilai Rp

34.991.000,00 belum dimanfaatkan. Dalam rangka tertib administrasi pengurusan barang-barang milik/kekayaan negara di lingkungan Kejaksanan Agung, Pada TA. 2005 Bagian Pengadaan Biro Perlengkapan telah menggandakan/mencetak buku/Surat Keputusan Jaksa Agung RI No.872/A/JA/11/2004 tanggal 22 Nopember 2004 tentang Petunjuk Penatausahaan Barang-Barang/Milik Kekayaan Negara di lingkungan Kejaksaan Agung Republik Indonesia, pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh PT ANDRYSONULI MANDIRI. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang pada gudang Sub Bagian Pengadaan Biro Perlengkapan, ternyata buku tersebut masih tersimpan di gudang (belum didistribusikan). Hal tersebut mengakibatkan Buku Petunjuk Penatausahaan BM/KN hasil pengadaan TA. 2005 senilai Rp34.991.000,00 belum dimanfaatkan yang berpotensi merugikan negara. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Keppres Nomor 80 Tahun 2003 Pasal 3. Hal tersebut terjadi karena lemahnya perencanaan yang tidak menganggarkan biaya untuk pendistribusian buku tersebut.
c. Kelebihan pembayaran atas perencanaan pekerjaan renovasi ruangan staf ahli sebesar

Rp60.789.610,00. Tahun Anggaran 2005 Biro umum Kejaksaan Agung telah menandatangani kontrak dengan CV Rayhan Mandiri untuk melaksanakan pekerjaan renovasi ruangan staf ahli. Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen kontrak dan pengecekan fisik diketahui bahwa
6

perhitungan volume pekerjaan dalam RAB/kontrak lebih besar dibandingkan dengan volume pekerjaan fisik di lapangan, sehingga mengakibatkan terjadi kelebihan perhitungan volume pekerjaan dalam RAB/kontak sebesar Rp60.789.610,00. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Keppres No. 80 Tahun 2003 pasal 5. Hal tersebut terjadi karena konsultan perencana kurang cermat dalam membuat RAB pekerjaan Renovasi Ruangan Staf Ahli untuk Ruang Kerja Komisi Kejaksaan.
d. Kelebihan pembayaran pada pekerjaan renovasi Kantor Pusdiklat Kejaksaan Agung

RI Senilai Rp 8.060.575,00. Pada Tahun Anggaran 2005 Kejaksaan Agung Republik Indonesia melaksanakan pekerjaan Renovasi Kantor Pusdiklat dengan pelaksana CV Duta Interior. Hasil pemeriksaan fisik tanggal 5 Oktober 2006 diketahui bahwa terdapat kelebihan pembayaran atas kekurangan volume pekerjaan renovasi kantor Pusdiklat senilai Rp 8.060.575,00, sehingga mengakibatkan kerugian negara dari kelebihan pembayaran pada CV Duta Interior senilai Rp8.060.575,00. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Keppres Nomor 42 Tahun 2002 pasal 12 ayat (2), Keppres Nomor 80 Tahun 2003 pasal 9 ayat (5). Hal tersebut terjadi karena rendahnya kinerja konsultan pengawas dan adanya upaya rekanan mendapat tambahan keuntungannya.
e. Denda keterlambatan atas pekerjaan penelitian kelayakan struktur bangunan kantor

Kejaksaan Agung sebesar Rp25.285.000,00. Tahun Anggaran 2006 Biro Perencanaan Kejaksaan Agung bekerjasama dengan PT. Pusparaya Karsa Perdana melaksanakan pekerjaan penelitian kelayakan struktur bangunan gedung Kejaksaan Agung. Hasil pemeriksaan atas dokumen kontrak dan keuangan diketahui bahwa laporan akhir hasil pekerjaan penelitian tersebut baru diserahkan 13 hari setelah berakhirnya kontrak, sehingga PT. Pusparaya Karsa Perdana dikenakan denda sebesar Rp25.285.000,00. Hal tersebut tidak sesuai dengan Keppres No. 80 Tahun 2003 pasal 3 serta Surat Perjanjian/Kontrak No.03-PP/PPK-RGK/05/2006 tanggal 22 Mei 2006 pasal 5 dan 11. Kondisi tersebut terjadi karena konsultan tidak maksimal dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan yang telah diperjanjikan.
f. Terdapat kelebihan perhitungan volume pekerjaan pada pembangunan lanjutan

Gedung Asrama Pusdiklat Kejaksaan Agung RI tahap III sebesar Rp149.624.354,08.

Tahun Anggaran 2006 Biro Perencanaan Kejaksaan Agung melaksanakan pembangunan lanjutan gedung asrama pusdiklat melalui penunjukan langsung kepada PT. Viobros Internasional. Hasil pemeriksaan atas dokumen kontrak diketahui bahwa terdapat kelebihan perhitungan RAB pekerjaan kolom lantai dasar sebesar Rp149.624.354,08, sehingga mengakibatkan kelebihan pembayaran kepada PT. Viobros Internasional sebesar Rp149.624.354,08. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Keppres No. 80 Tahun 2003 pasal 5. Hal tersebut terjadi karena konsultan Perencana tidak cermat dalam menyusun RAB dengan memasukan item pekerjaan yang telah dikerjakan/dibayar pada tahun sebelumnya. Sehubungan dengan hal tersebut Auditor Internal menyarankan kepada Jaksa Agung, agar menginstruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan memerintahkan:
a. Memerintahkan kepala Biro Perlengkapan supaya memberikan teguran kepada Panitia

Pengadaan Barang agar dalam melaksanakan pengadaan barang dan jasa didasarkan pada ketentuan yang berlaku dan melakukan perubahan atas prosedur pengadaan serta meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan.
b. Memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan agar memberikan teguran kepada Kepala

Bagian Pengadaan supaya lebih cermat dalam merencakan penganggaran atas barangbarang yang akan dikirim kedaerah. Selanjutnya segera mendistribusikan barang yang masih menumpuk di gudang.
c. Kepala Biro Umum memberikan teguran kepada konsultan perencana dan panitia

pengadaan barang dan jasa yang yang kurang cermat dalam melaksanakan tugasnya., serta memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk melakukan penarikan atas kelebihan pembayaran kepada CV Rayhan Mandiri sebesar Rp 60.789.610,00 dan disetor ke kas negara.
d. Kepala Biro Umum untuk memberikan teguran kepada Konsultan Pengawas yang

kurang optimal dalam melaksanakan tugasnya dan memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk menarik kelebihan pembayaran kepada CV Duta Interior senilai Rp8.060.575,00 disetorkan ke kas negara sertamemberikan pertimbangan CV Duta Interior untuk tetap sebagai rekanan.
e. Kepala Biro Umum memberikan teguran kepada PT Puspa Raya Karsa Persada yang

kurang optimal dalam melaksanakan tugasnya dan memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk menarik denda senilai Rp25.285.000,00 atas keterlambatan penyerahan
8

pekerjaan dan selanjutnya disetorkan ke kas negara serta memberikan pertimbangan PT Puspa Raya Karsa Persada untuk tetap sebagai rekanan.
f. Kepala

Biro

Perencanaan

memberikan

teguran

kepada

Panitia

Pengadaan

Barang/Jasa, Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas yang kurang cermat/optimal dalam melaksanakan tugasnya, serta memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk menarik kelebihan pembayaran sebesar Rp149.624.354,08 dan selanjutnya disetorkan ke kas negara serta memberikan pertimbangan PT Viobros Internasional untuk tetap sebagai rekanan

6. Pengembangan Temuan
Temuan Pemeriksaan
1. Proses pengadaan dan pendistribusian barang tahun 2005 dan 2006 dengan cara

penunjukan langsung pada Biro Perlengkapan tidak sesuai ketentuan. Berdasarkan Keputusan Jaksa Agung (Kepja) RI No. KEP-115/J.A/10/1999 dan Kepja No. Kep-558/A/J.A/12/2003 tentang Susunan dan Tata Kerja Kejaksaan Agung RI, Biro Perlengkapan bertugas melaksanakan penyediaan barang untuk keperluan operasional setiap unit kerja di lingkungan Kejaksaan Agung RI. Dalam melaksanakan pengadaan barang khususnya yang dilakukan dengan cara penunjukan langsung dengan menggunakan SPK, Biro Perlengkapan belum melaksanakan prosedur pengadaan sesuai dengan ketentuan. Pemeriksaan lebih lanjut atas dokumen pertanggungjawaban diketahui :
a. Pengadaan barang oleh Biro Perlengkapan dilakukan berdasarkan nota dinas yang

diterima dari setiap unit kerja yang membutuhkan. Selanjutnya Kepala Biro Perlengkapan melakukan penelitian dan memberikan disposisi atas nota dinas tersebut untuk disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dan kebutuhan masing-masing unit kerja yang bersangkutan.
b. Atas dasar nota dinas yang telah didisposisikan oleh Kepala Biro Perlengkapan atau

yang mewakili tersebut, Kepala Bagian Pengadaan menunjuk salah satu rekanan yang telah lolos prakualifikasi untuk mengirim barang dimaksud terlebih dahulu. Setelah beberapa bulan barang diterima, rekanan mengajukan tagihan atas barang-barang yang telah dikirim tersebut dan Sub Bagian Pengadaan bersama bendahara barang baru membuat SPK untuk proses pengajuan pembayaran kepada Bendaharawan pengeluaran Kejaksaan Agung RI.

c. Berdasarkan hasil pemeriksaan atas buku penerimaan barang tahun 2005 dan tahun

2006 diketahui hal-hal sebagai berikut :


1) Barang yang dikirim oleh satu rekanan sering kali terdiri dari bermacammacam jenis

barang, sehingga menyulitkan petugas penerima barang pada saat pembuatan SPK, karena dalam pembuatan SPK harus dipisahkan berdasarkan jenis barang. Selain itu barang yang dikirim oleh rekanan kadangkala barang tersebut langsung dikirim ke unit kerja bersangkutan tanpa melalui bendaharawan barang. Bendahara barang hanya mencatat barang yang telah dikirim tersebut, dalam buku penerimaan barang.
2) Sebagai akibat dari banyaknya barang yang diterima sebelum SPK dibuat, maka pada

saat pemeriksaan buku penerimaan barang, masih terdapat 80 rekanan yang telah mengirim barang dari tanggal 02 Januari 2006 s.d. tanggal 13 September 2006 yang belum dibuat SPK-nya.
3) Selain itu karena dalam pembuatan SPK harus dipisahkan berdasarkan jenis barang

maka dalam buku penerimaan barang ditemukan adanya satu SPK yang terdiri dari beberapa rekanan yang sama atau bahkan berbeda namun karena telah mengirim barang yang sama dibuatkan dalam satu SPK. Bahkan ada satu faktur bukti pengiriman barang dari satu rekanan yang yang mengirim barang terdiri dari dua sampai tiga jenis barang terpaksa dipisahkan menjadi dua sampai tiga SPK yang digabung dengan faktur bukti pengiriman dari rekanan lainya.
4) Akibat lebih lanjut dari pengiriman barang yang dilakukan mendahului SPK, maka

pada Tahun 2005 terdapat 11 SPK yang barangnya telah dikirim dalam tahun 2004 namun baru dibuatkan SPK-nya dan dibayar pada tahun 2005 sebesar Rp117.922.585,00 dan pada tahun 2005 terdapat 18 SPK yang barangnya telah dikirim dalam tahun 2005 namun baru dibuatkan SPK-nya dan dibayar pada tahun 2006 sebesar Rp436.055.158,00 . Hal tersebut tidak sesuai dengan :
a. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 Tentang Pedoman Pelaksanaan

Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yaitu pasal 3 pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-prinsip :
1) Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana

dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan;

10

2) Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah

ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;
3) Terbuka dan bersaing, berarti pengadaan barang/jasa harus terbuka bagi penyedia

barang/jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat diantara penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;
4) Transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa,

termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil evaluasi, penetapan calon penyedia barang/jasa, sifatnya terbuka bagi peserta penyedia barang/jasa yang berminat serta bagi masyarakat luas pada umumnya;
b. Keputusan Presiden Nomor 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran

dan Belanja Negara pasal 10 butir (2) dua dan butir (3) yaitu :
1) Pimpinan

dan

atau

pejabat

departemen/lembaga/pemerintah

daerah

tidak

diperkenankan melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara, jika dana untuk membiayai tindakan tersebut tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam anggaran belanja negara.
2) Pimpinan

dan

atau

pejabat

departemen/lembaga/pemerintah

daerah

tidak

diperkenankan melakukan pengeluaran atas beban anggaran belanja negara untuk tujuan lain dari yang ditetapkan dalam anggaran belanja negara. Hal tersebut mengakibatkan
a. Harga yang ditawarkan oleh rekanan belum mencerminkan harga yang paling

menguntungkan bagi Negara.


b. Kejaksaan Agung pada akhir tahun 2004 berhutang pada rekanan sebesar

Rp117.922.585,00 dan pada akhir tahun 2005 berhutang pada rekanan sebesar Rp436.055.158,00, namun telah dibayar pada triwulan I tahun 2005 dan Triwulan I 2006. Hal tersebut disebabkan
a. Panitia pengadaan barang/pekerjaan Biro Perlengkapan kurang memahami/mentaati

ketentuan yang berlaku;


b. Lemahnya pengawasan oleh atasan langsung terhadap pelaksanaan pengadaan barang.

Atas permasalahan tersebut Pejabat Pembuat Komitmen Program menjelaskan bahwa:


11

a. Prosedur pengadaannya akan dirubah sehingga kemungkinan terjadinya hutang akan

berkurang.
b. Pengadaan alat-alat tulis kantor, cetakan, inventaris maupun alat perlengkapan

pegawai sesuai dengan SPK.


c. Hutang sudah terbayar tidak ada hutang.

Auditor Internal menyarankan kepada Jaksa Agung agar mengistruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk :
a. Memerintahkan kepala Biro Perlengkapan supaya memberikan teguran kepada Panitia

Pengadaan Barang agar dalam melaksanakan pengadaan barang dan jasa didasarkan pada ketentuan yang berlaku dan melakukan perubahan atas prosedur pengadaan.
b. Memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen agar pengawasan terhadap pelaksanaan

kegiatan lebih ditingkatkan.


2. Buku petunjuk penatausahaan barang hasil pengadaan tahun 2005 senilai

Rp34.991.000,00 belum dimanfaatkan Dalam rangka tertib administrasi pengurusan barang-barang milik/kekayaan negara di lingkungan Kejaksanan Agung, Pada TA. 2005 Bagian Pengadaan Biro Perlengkapan telah menggandakan/mencetak buku/Surat Keputusan Jaksa Agung RI No.872/A/JA/11/2004 tanggal 22 Nopember 2004 tentang Petunjuk Penatausahaan Barang-Barang/Milik Kekayaan Negara di lingkungan Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh PT ANDRYSONULI MANDIRI sesuai Surat Perintah Kerja (SPK) No. 152/C.6.2/cpl.2/XI/2005 tanggal 15 Nopember 2005, dengan oplag sebanyak 1.000 buku senilai Rp34.991.000,00, jangka waktu pelaksanaan pekerjaan terhitung tanggal 15 Nopember sampai dengan 17 Nopember 2005. Pekerjaan tersebut telah selesai yang dinyatakan dalam Berita Acara Serah Terima Barang No. 48B/III/11/2005 tanggal 17 Nopember 2005 dan telah dibayar lunas. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tanggal 18 September 2006 pada gudang Sub Bagian Pengadaan Biro Perlengkapan, ternyata buku tersebut masih tersimpan di gudang (belum didistribusikan). Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pada Bagian Ketiga Pasal 3 menyebutkan bahwa Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-prinsip :
12

a. Efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana

dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan.
b. Efektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah

ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan . Hal tersebut mengakibatkan Buku Petunjuk Penatausahaan BM/KN hasil pengadaan TA. 2005 senilai Rp34.991.000,00 belum dimanfaatkan yang berpotensi merugikan negara. Hal tersebut disebabkan karena lemahnya perencanaan yang tidak menganggarkan biaya untuk pendistribusian buku tersebut. Atas permasalahan tersebut Pejabat Pembuat Komitmen Program menjelaskan bahwa:
a. Buku-buku

tersebut memang diperlukan, tetapi biaya pengirimannya tidak akan segera dikirim, apabila ada

dianggarkan dalam DIPA Tahun 2005.


b. Untuk

pengiriman/pendistribusiannya

pelatihan/sosialisasi di daerah-daerah atau akan dianggarkan melalui DIPA yang akan datang. Auditor Internal menyarankan kepada Jaksa Agung agar menginstruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan untuk memerintahkan Kepala Biro Perlengkapan agar memberikan teguran kepada Kepala Bagian Pengadaan supaya lebih cermat dalam merencakan penganggaran atas barang-barang yang akan dikirim kedaerah. Selanjutnya segera mendistribusikan barang yang masih menumpuk di gudang. 3. Kelebihan pembayaran atas perencanaan pekerjaan renovasi ruangan staf ahli sebesar Rp60.789.610,00 Tahun Anggaran 2005 Kepala Bagian Rumah Tangga, Biro Umum Kejaksaan Agung RI selaku Pembuat Komitmen, telah melaksanakan kegiatan pekerjaan Renovasi Ruangan Staf Ahli untuk Ruang Kerja Komisi Kejaksaan berdasarkan kontrak No. 117/PK/C.33./Cum.3/11/2005 tanggal 25 Nopember 2005 dilaksanakan oleh CV. Rayhan Mandiri senilai Rp901.567.000,00. Berdasarkan pemeriksaan atas dokumen Kontrak dan pengecekan fisik diketahui bahwa perhitungan volume pekerjaan dalam RAB/kontrak lebih besar dibandingkan dengan volume pekerjaan fisik di lapangan, sehingga terjadi kelebihan
13

perhitungan volume pekerjaan dalam RAB/kontrak sebesar Rp60.789.610,00 yaitu pekerjaan pembuatan pintu dan kusen, pekerjaan bongkaran keramik, pekerjaan bongkaran plafon gypsum, pengecatan plafon gypsum dan pekerjaan pemasangan lantai granito . Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Presiden nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 5 menetapkan bahwa pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa dan para pihak terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika antara lain huruf f yaitu menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa. Hal tersebut mengakibatkan kelebihan pembayaran kepada pemborong atas kelebihan perhitungan volume pekerjaan dalam RAB sebesar Rp60.789.610,00. Hal tersebut disebabkan :
a. Konsultan perencana kurang cermat dalam membuat RAB pekerjaan Renovasi

Ruangan Staf Ahli untuk Ruang Kerja Komisi Kejaksaan.


b. Panitia Pengadaan Barang/Jasa Kejaksaan Agung RI kurang cermat dalam meneliti

RAB kontrak yang diajukan oleh Pemborong. Atas permasalahan tersebut Pejabat Pembuat Komitmen Program menjelaskan bahwa setelah mempelajari terhadap temuan pemeriksaan Tim Audit BPK-RI serta mengklarifikasi kepada pelaksana pekerjaan, kami dapat memahami dan menerima hasil temuan tersebut, atas kelebihan pembayaran kepada CV Rayhan Mandiri sebesar Rp 60.789.610,00 kami akan segera menarik dan selanjutnya disetorkan ke Kas Negara. Auditor Internal menyarankan kepada Jaksa Agung agar mengistruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan supaya memerintahkan Kepala Biro Umum untuk :
a. Memberikan teguran kepada konsultan perencana dan panitia pengadaan barang/jasa

yang kurang cermat dalam dalam melaksanakan tugasnya.


b. Memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk melakukan penarikan atas

kelebihan pembayaran kepada CV Rayhan Mandiri sebesar Rp 60.789.610,00 dan disetor ke Kas Negara.
4. Kelebihan pembayaran pada pekerjaan renovasi Kantor Pusdiklat Kejaksaan

Agung RI Senilai Rp8.060.575,00 Pada Tahun Anggaran 2005 Kejaksaan Agung Republik Indonesia melaksanakan pekerjaan Renovasi Kantor Pusdiklat dengan pelaksana CV Duta Interior, dengan kontrak No SP-015-X/PK/PSPH/08/2005 tanggal 9 Agustus 2005, dengan nilai Rp 1.003.389.000,00, dengan jangka waktu pelaksanaan 90 hari kalender. Pekerjaan tersebut telah diserahterimakan
14

dengan Berita Acara Serah Terima NoB-041/PK/PSPH/12/2005 tanggal 1 Desember 2005 dan telah dibayar lunas dengan SPM terakhir tanggal 28 Nopember 2005 senilai Rp50.169.450,00. Hasil pemeriksaan fisik tanggal 5 Oktober 2006 diketahui bahwa terdapat kelebihan pembayaran atas kekurangan volume pekerjaan renovasi kantor Pusdiklat senilai Rp 8.060.575,00 . Kondisi demikian tidak sesuai dengan:
a. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002, pasal 12 ayat (2) yang antara lain

menyatakan bahwa belanja atas beban anggaran belanja negara dilakukan berdasarkan atas hak dan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran.
b. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 pasal 9 ayat (5) yang menyatakan bahwa

pengguna barang/jasa bertanggungjawab dari segi administrasi, fisik, keuangan dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan. Hal tersebut mengakibatkan kerugian negara dari kelebihan pembayaran pada CV Duta Interior senilai Rp8.060.575,00 Hal tersebut disebabkan rendahnya kinerja konsultan pengawas dan adanya upaya rekanan mendapat tambahan keuntungannya. Atas permasalahan tersebut Pejabat Pembuat Komitmen Program menjelaskan bahwa dapat memahami temuan tersebut dan atas kelebihan pembayaran kepada CV Duta Interior sebesar Rp8.060.575,00 akan segera ditarik dan disetor ke kas negara. Auditor Internal menyarankan kepada Jaksa Agung agar mengistruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan supaya memerintahkan Kepala Biro Umum untuk :
a. Memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk menarik kelebihan pembayaran

kepada CV Duta Interior senilai Rp8.060.575,00 dan selanjutnya disetor ke Kas Negara.
b. Memberikan teguran kepada Konsultan Pengawas yang kurang optimal dalam

melaksanakan tugasnya. c. Memberikan pertimbangan CV Duta Interior untuk tetap sebagai rekanan.
5. Denda keterlambatan atas pekerjaan penelitian kelayakan struktur bangunan

Kantor Kejaksaan Agung Sebesar Rp25.285.000,00. Dalam Tahun Anggaran 2006 Pejabat Pembuat Komitmen pada Biro Perencanaan Kejaksaan Agung RI bekerjasama dengan PT Pusparaya Karsa Perdana telah menandatangani Surat Perjanjian Pekerjaan/Kontrak No. 03-PP/PPKRGK/ 05/2006 tanggal 22 Mei 2006
15

untuk melaksanakan pekerjaan penelitian kelayakan struktur bangunan gedung Kejaksaan Agung RI dengan nilai kontrak sebesar Rp1.945.000.000,00, jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama 120 hari kalender atau sejak tanggal 22 Mei sampai dengan tanggal 22 September 2006. Keluaran yang diharapkan dari pekerjaan penelitian tersebut antara lain berupa rekomendasi atas kondisi struktur bangunan dan oleh Kejaksanaan Agung RI akan digunakan sebagai acuan dalam pegambilan kebijakan pembangunan dan/atau perawatan gedung kantor kejaksaan Agung. Adapun bentuk dari hasil penelitian tersebut antara lain berupa :
a. Dokumen hasil penelitian berupa laporan-laporan, foto-foto dokumentasi, hasil

evaluasi dan analisis penelitian sebagai hasil pekerjaan penelitian kelayakan struktur bangunan gedung utama.
b. Laporan-laporan hasil pekerjaan penelitian kelayakan struktur bangunan gedung

utama Kantor Kejaksaan Agung RI antara lain berupa laporan pendahuluan, laporan antara, konsep laporan akhir hasil pekerjaan dan rekomendasi hasil penelitian kelayakan struktur bangunan gedung utama Kejaksaan Agung RI.
c. Laporan Akhir hasil pekerjaan dan rekomendasi hasil penelitian kelayakan struktur

bangunan gedung utama Kejaksaan Agung RI. Hasil pemeriksaan atas dokumen kontrak dan keuangan serta hasil wawancara dengan tenaga ahli dari PT Pusparaya Karsa Perdana pada tanggal 3 Oktober 2006 diketahui bahwa laporan akhir yang merupakan hasil akhir pekerjaan penelitian tersebut masih dalam proses penyusunan/belum selesai, kemudian pada tanggal 5 Oktober 2006 pihak konsultan baru menyerahkan laporan akhir tersebut, sehingga terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan selama 13 hari senilai Rp25.285.000,00 (13 : 1000 x Rp1.945.000.000,00). Hal tersebut tidak sesuai dengan : a. Keppres Nomor 80 Tahun 2003 Pasal 3 yaitu : Pengadaan barang/jasa wajib menerapkan prinsip-prinsip :
1) efisien, berarti pengadaan barang/jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana

dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan;
2) fektif, berarti pengadaan barang/jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang telah

ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesarbesarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan;
16

b. Surat Perjanjian Pekerjaan (Kontrak) Pekerjaan Penelitian Kelayakan Struktur

Bangunan Gedung Kantor Kejaksaan Agung RI Nomor 03-PP/PPKRGK/ 05.2006 tanggal 22 Mei 2006 antara lain menyatakan:
1) Pasal 5 ayat (2), jangka waktu pelaksanaan pekerjaan penelitian kelayakan struktur

bangunan gedung utama kantor Kejaksaan Agung RI selama 120 hari kalender dihitung mulai tanggal 22 Mei 2006 sampai dengan 22 September 2006.
2) Pasal 11 ayat (1), jika pihak kedua terlambat menyelesaikan pekerjaan penelitian

kelayakan struktur bangunan gedung utama dari waktu yang telah ditetapkan dalam pasal 5 surat perjanjian ini akibat kelalaian pihak kedua, maka pihak kedua setiap kali melakukan kelalaian akan dikenakan denda kelalaian sebesar 1 (satu permil) dari jumlah imbalan jasa pekerjaan peneliti kelayakan struktur bangunan gedung utama untuk setiap hari keterlambatan penyelesaian pekerjaan, dan ayat (5), maksimum denda kumulatif sebesar 5 % (lima persen) dari besarnya imbalan jasa penelitian kelayakan struktur bangunan gedung utama. Hal tersebut mengakibatkan PT. Pusparaya Karsa Persada harus dikenakan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan sebesar Rp25.285.000,00. Hal tersebut disebabkan Konsultan tidak maksimal dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai dengan yang telah diperjanjikan dan rendahnya kinerja rekanan. Atas permasalahan tersebut Pejabat Pembuat Komitmen Program menjelaskan bahwa setelah mempelajari terhadap temuan pemeriksaan serta mengklarifikasi kepada pelaksana pekerjaan, kami dapat memahami dan menerima hasil temuan tersebut, atas kelebihan pembayaran kepada PT Puspa Raya Karsa Persada sebesar Rp25.285.000,00 kami akan segera menarik dan selanjutnya disetorkan ke Kas Negara. Auditor Internal menyarankan kepada Jaksa Agung agar mengistruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan supaya memerintahkan kepada Kepala Biro Umum agar :
a. Memberikan teguran kepada PT Puspa Raya Karsa Persada yang kurang optimal

dalam melaksanakan tugasnya.


b. Memerintahkan

Pejabat

Pembuat

Komitmen

untuk

menarik

denda senilai

Rp25.285.000,00 kepada PT Puspa Raya Karsa Persada atas keterlambatan penyerahan pekerjaan dan selanjutnya disetorkan ke kas negara.
c. Memberikan pertimbangan PT Puspa Raya Karsa Persada untuk tetap sebagai rekanan

17

6. Kelebihan perhitungan volume pekerjaan pada pembangunan lanjutan Gedung

Asrama Pusdiklat Kejaksaan Agung RI tahap III sebesar Rp149.624.354,08 Kepala Bagian Perencanaan pada Biro Perencanaan Kejaksaan Agung RI selaku Pejabat Pembuat Komitmen Program Pembinaan Sarana dan Prasarana Hukum telah merencanakan Pembangunan Gedung Asrama Pusdiklat 8 (delapan) lantai secara berkelanjutan atau bertahap. Pembangunan tahap kesatu dan kedua telah dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2003 dan 2004. Pada Tahun Anggaran 2005 sesuai surat persetujuan penunjukan langsung dari Jaksa Agung RI No.Kep-x-019/C/03/2005 tanggal 14 Maret 2005, PT Viobros Internasional telah ditunjuk sebagai pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Lanjutan Gedung Asrama Pusdiklat 8 (delapan) lantai Tahap III sesuai kontrak No. SP- 02/PK/DIKLAT/04/2005 tanggal 1 April 2005 senilai Rp11.665.656.000,00, dengan jangka waktu pekerjaan terhitung mulai tanggal 1 April s.d. 17 Oktober 2005. Hasil pemeriksaan atas dokumen kontrak diketahui bahwa terdapat kelebihan perhitungan RAB/Kontrak untuk pekerjaan kolom lantai dasar senilai Rp681.012.600,00 (kolom ka 25/25 250 Kg/m3 sebesar Rp72.287.100,00 + kolom Kb. 40/40 250 Kg/m3 sebesar Rp17.712.000,00 + Kolom K1 dan K2 70/70 375 Kg/m3 sebesar Rp591.013.500,00), karena pekerjaan tersebut telah diperhitungkan dalam pelaksanaan pekerjaan tahap II (Kontrak Tahun 2004) dan telah dibayar lunas, namun dalam RAB/kontrak Tahun 2005 diperhitungkan kembali. Pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa pemborong telah melakukan pekerjaan tambah kurang yang belum dituangkan dalam addendum kontrak yaitu pemasangan panel tegangan menengah 3 sel 800 kva menjadi 3 sel 100 kva, Travo 800 kva menjadi 100 kva, penambahan AC Cealing lantai dasar dan lantai 1, pekerjaan Water Heater dan Shower lantai dasar dan lantai 1 dengan jumlah biaya sebesar Rp531.388.245,92 (rincian biaya tambah kurang pada lampiran 6). Dengan demikian masih terdapat kelebihan pembayaran kepada pemborong sebesar Rp149.624.354,08 (Rp681.012.600,00 - Rp531.388.245,92). Hal tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Presiden nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pasal 5 menetapkan bahwa pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa dan para pihak terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa harus mematuhi etika antara lain huruf f yaitu menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa. Hal tersebut mengakibatkan kerugian negara dari kelebihan pembayaran kepada pemborong sebesar Rp149.624.354,08 (Rp681.012.600,00 - Rp531.388.245,92).
18

Hal tersebut disebabkan :


a. Panitia Pengadaan Barang/Jasa Kejaksaan Agung RI tidak` cermat dalam meneliti

RAB kontrak yang diajukan oleh Pemborong.


b. Konsultan Perencana tidak cermat dalam menyusun RAB dengan memasukan item

pekerjaan yang telah dikerjakan/dibayar pada tahun sebelumnya.


c. Konsultan Pengawas kurang optimal dalam melaksanakan tugasnya.

Atas permasalahan tersebut Pejabat Pembuat Komitmen Program menjelaskan bahwa, terhadap perhitungan kekurangan yang terlanjur dibayar kepada pemborong akan kami mintakan kembali untuk disetor ke kas negara. Auditor Internal menyarankan kepada Jaksa Agung agar mengistruksikan Jaksa Agung Muda Pembinaan supaya memerintahkan Kepala Biro Perencanaan agar :
a. Memberiksan teguran kepada Panitia Pengadaan Barang/Jasa, Konsultan Perencana

dan Konsultan Pengawas yang kurang cermat/kurang optimal dalam melaksanakan tugasnya,
b. Memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen untuk menarik kelebihan pembayaran

kepada PT Viobros Internasional sebesar Rp149.624.354,08 dan selanjutnya disetorkan ke kas negara.
c. Memberikan pertimbangan PT Viobros Internasional untuk tetap sebagai rekanan

Rencana Monitoring dann Evaluasi sasaran : Penyajian Laporan Keuangan Kejaksaan Agung RI INDIKAT OR
Laporan Keuangan

TUJUAN

STRATEGI

METODE

KETERANG AN

Informasi keuangan yang

Membandingkan Realisasi dengan

Pemeriksaan dilakukan secara uji petik terhadap

19

disajikan telah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Kegiatan pengelolaan belanja barang dan modal telah mematuhi persyaratan kepatuhan terhadap peraturan dan ketentuan yang berlaku Sistem Pengendalian Intern telah dirancang dan dilaksanakan secara memadai untuk mencapai tujuan pengendalian

anggaran dan memeriksa laporan keuangan sesuai dengan kebiakan kejaksaan agung RI

dokumen-dokumen pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja barang dan modal serta meminta penjelasan dari pejabat/petugas/pelaksana , cek fisik dan konfirmasi kepada pihak-pihak yang terkait. Pemeriksaan dilakukan secara uji petik terhadap dokumen-dokumen pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja barang dan modal serta meminta penjelasan dari pejabat/petugas/pelaksana , cek fisik dan konfirmasi kepada pihak-pihak yang terkait. Pemeriksaan dilakukan secara uji petik terhadap dokumen-dokumen pelaksanaan dan pertanggungjawaban belanja barang dan modal serta meminta penjelasan dari pejabat/petugas/pelaksana , cek fisik dan konfirmasi kepada pihak-pihak yang terkait.

Membandingkan Realisasi dengan anggaran

Program Kerja

Membanding Prosedur dan kebijakan yang berlaku dengan kenyataan yang terjadi di lapangan

Prosedur Internal Control

20