Anda di halaman 1dari 30

http://one.indoskripsi.

com/node/3578 abstraks:

Parasitologi mengenai helmintologi (berupa cacing) yang dispesifikasikan pada Toxocara canis dan Toxocara cati merupakan bahasan yang akan kami uraikan selanjutnya. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Parasitologi, yang menjadi pembelajaran bagi kami agar bertambahnya wawasan kami mengenai kesehatan, terutama pada kesehatan manusia.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan apa yang kami harapkan.

Makalah Parasitologi mengenai helmintologi (berupa cacing) yang dispesifikasikan pada Toxocara canis dan Toxocara cati merupakan bahasan yang akan kami uraikan selanjutnya. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah Parasitologi, yang menjadi pembelajaran bagi kami agar bertambahnya wawasan kami mengenai kesehatan, terutama pada kesehatan manusia.

Semoga apa yang kami persembahkan dapat menjadi motivasi dalam meningkatkan prestasi belajar para mahasiswa khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Kami mohon maaf bila ada kesalahan, olah karena itu saran yang baik sangat kami harapkan bagi para mahasiswa guna meningkatkan kualitas makalah selanjutnya.

Jakarta, 8 April 2008

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................... 2 Daftar Isi. ............................................................................................... 3 I. Pendahuluan .................................................................................... 4 II. Teori dan Fakta .................................................................................... 6 1. Klasifikasi Hewan ............................................................... 6 2. Morfologi .................................................................................... 7

3. Daur Hidup ......................................................................... 8 4. Epidemiologi ......................................................................... 9 5. Hospes .................................................................................... 10 6. Nama Penyakit ......................................................................... 10 III. Pembahasan ......................................................................................... 12 1. Patologi dan Gejala Klinis ................................................... 12 2. Cara-cara Penularan .............................................................. 13 3. Masa Inkubasi ......................................................................... 14 4. Gejala Penyakit ......................................................................... 14 5. Diagnosa Penyakit .............................................................. 15 6. Cara Pencegahan .............................................................. 15 7. Pengobatan. ......................................................................... 16 IV. Kesimpulan .................................................................................... 18 V. Saran .............................................................................................. 22 Daftar Isi ................................................................................... 23

I. PENDAHULUAN

Kesehatan manusia semakin hari semakin dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang kompleks. Berbagai macam penyakit yang diderita semakin beragam. Salah satunya penyakit yang ditimbulkan oleh parasit berupa cacing yang dipelajari dalam Helmintologi (ilmu yang mempelajari parasit berupa cacing), yang tentunya sangat beraneka ragam.

Hampir disetiap ruang dalam dunia ini dihidupi oleh mikroorganisme jenis ini. Mereka dapat masuk ke dalam tubuh manusia dengan berbagai macam cara, melalui makanan, kebersihan lingkungan yang tidak terjaga, udara, dan banyak lagi cara yang tentunya sangat berhubungan dengan perilaku manusia itu sendiri.

Beragam jenis cacing dapat menyebabkan angka prevalensi yang sangat tinggi, dengan berbagai jenis penyakit yang ditimbulkannya. Dalam bahasan ini, kami akan menguraikan jenis cacing Toxocara canis dan Toxocara cati yang kami kaitkan dengan kesehatan pada manusia.

Sehingga timbul, pertanyaan Bagaimana hubungan jenis cacing Toxocara canis dan Toxocara cati terkait pada kehidupannya dengan kahidupan manusia

Dari pembahasan yang kami uraikan, maka tujuan kami menyusun makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Diketahuinya klasifikasi terhadap jenis cacing Toxocara canis dan Toxocara cati, 2. Apa nama penyakit yang ditimbulkannya, 3. Bagaimana kaitannya dengan hospes, morfologi dan daur hidupnya, 4. Apa kaitannya dengan epidemiologi kesehatan, 5. Bagaimana patologi dan gejala klinisnya, serta 6. Bagaimana pencegahan dan pengobatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia yang terinfeksi.

Dalam penyusunan suatu makalah, tentunya banyak manfaat yang di peroleh, di antaranya sebagai berikut:

1. Sebagai sarana untuk menambah ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang kesehatan yang kami dapat salah satunya melalui mata kuliah parasitologi kesehatan. 2. Sebagai latihan dalam penyusunan pangumpulan data atau laporan penelitian agar penulis lebih terampil dalam pengolahan kata dan hasil yang di dapat bisa lebih maksimal dari laporan sebelumnya.

Semoga hasil yang di dapat menjadi pembelajaran yang positif bagi kita semua dan dapat menjadi sebuah motivasi dalam meningkatkan prestasi untuk masa depan.

II. TEORI dan FAKTA

1. Klasifikasi Hewan

Dalam istilah parasitologi ada pokok bahasan yang dinamakan helmintologi, yaitu pokok bahasan yang mempelajari tentang parasit berupa cacing. Berdasarkan taksonomi, cacing dibagi ke dalam dua kelompok, di antaranya: 1. NEMATHELMINTHES ( cacing gilik) 2. PLATYHELMINTHES ( cacing pipih).

Dalam bahasan ini kami mengulas tentang cacing Toxocara canis dan Toxocara cati yang termasuk ke dalam NEMATHELMINTHES atau kelas NEMATODA, yang mempunyai ciri-ciri berbentuk bulat memanjang dan pada potongan transversal tampak rongga badan dan alat-alat. Cacing jenis ini mempunyai alat kelamin terpisah.

Dalam Parasitologi Kedokteran nematoda dibagi ke dalam dua bagian, yaitu nematoda usus yang hidup di rongga usus dan nematoda jaringan yang hidup di jaringan berbagai alat tubuh.

2. Morfologi

Toxocara canis berjenis kelamin jantan mempunyai ukuran panjang yang bervariasi antara 3,6 - 8,5 cm, sedangkan Toxocara canis betina mempunyai ukuran antara 5,6 -10 cm. Toxocara cati berjenis kelamin jantan berukuran antara 2,5 7,8 cm sedangkan Toxocara cati betina berukuran 2,5 14 cm. Bentuk hewan ini menyerupai Ascaris lumbricoides muda. Pada Toxocara canis terdapat sayap servikal yang berbentuk seperti lanset, sedangkan pada Toxocara cati berbentuk sayap yang lebih lebar, sehingga kepalanya menyerupai kepala ular kobra. Bentuk ekor Toxocara canis dan Toxocara cati hampir sama, untuk yang berjenis kelamin jantan ekornya berbentuk seperti tangan dan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan untuk yang berjenis kelamin betina bentuk ekornya bulat meruncing.

Toxocara Canis Toxocara Cati

3. Daur Hidup (Siklus Hidup) Siklus hidup Toxocara canis dan Toxocara cati pada anjing atau kucing serupa dengan siklus askariasis pada manusia..

Siklus hidup Toxocara cati

Sebagian besar cacing gelang mempunyai siklus hidup yang mirip. Kebanyakan telur cacing menetas dalam waktu dua minggu. Obat cacing membasmi cacing dengan cara merusak sistem syaraf cacing. Obat cacing tidak bisa membasmi telur cacing karena telur tidak mempunyai sistem syaraf. Oleh karena itu pemberian obat cacing harus diulang 2 minggu kemudian agar cacing yang berasal dari telur yang baru menetas dapat segera dibasmi dengan tuntas.

Cacing Toxocara canis, hidup di tanah, lumpur, pasir dan tempat-tempat kotor. Varian lain diantaranya: Toxocara cati, Toxocara vitulorum, Toxocara pteropodis, Toxocara malayasiensis dll. Cacing ini daur hidupnya terutama melalui anjing, kucing dan dilaporkan bisa melalui herbivora.

4. Epidemiologi

1. Di Indonesia angka prevalensi tinggi terjadi pada anak-anak yang berusia antara 1-7 tahun, di Jakarta prevalensi pada anjing 38,3% dan pada kucing 26 %. 2. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bermainnya di rerumputan, duduk di pasir, yang merupakan tempat dimana cacing jenis ini berada. 3. Pada remaja, biasanya terjadi pada mereka yang memiliki kegiatan yang aktif, misalnya, silat (berguling-guling di rerumputan, tanah, dsb), ataupun kegiatan yang berhubungan dengan tanah atau lapangan kotor. 4. Pada usia dewasa juga bisa terjadi pada mereka yang melakukan kegiatan kerja bakti membersihkan parit, halaman, pengangkut pasir, dsb. 5. Tanah, lapangan, rumput yang terkontaminasi oleh cacing ini sangat mendukung cacing jenis ini untuk tinggal dan berkembang biak.

5. Hospes Hospes atau inang dari cacing Toxocara adalah anjing (T. canis) dan kucing (T. cati). Pada manusia, cacing ini dapat hidup sebagai parasit dan disebut parasit pengembara, menyebabkan penyakit yang disebut visceral larva migrans (pengembaraan larva di jaringan tubuh). Penyakit ini bersifat kosmopolit, ditemukan juga di Indonesia. Untuk anjing dan kucing terinfeksi melalui migrasi transplacenta dan migrasi trans mammaria. Telur cacing dapat ditemukan pada kotoran pada saat anak anjing dan anak kucing sudah berusia 3 minggu. Infeksi pada anjing betina bisa berakhir dengan sendirinya atau tetap (dormant) pada saat anjing menjadi dewasa. Pada saat anjing bunting larva T. canis menjadi aktif dan menginfeksi fetus melalui placenta dan menginfeksi anak mereka yang baru lahir melalui susu mereka.

Pada kucing, kucing jantan dan kucing betina sama-sama rentan terhadap infeksi, tidak ada perbedaan nyata; namun kucing dewasa lebih rentan daripada kucing yang lebih muda.

6. Nama Penyakit Toksokariasis (Visceral Larva Migrans) adalah suatu infeksi yang terjadi akibat penyerbuan larva cacing gelang ke organ tubuh manusia. Toksokariosis bisa disebabkan oleh Toxocara canis ataupun Toxocara cati.

Telur parasit berkembang di dalam tanah yang terkontaminasi oleh kotoran anjing dan kucing yang terinfeksi . Telur bisa ditularkan secara langsung ke dalam mulut jika anak-anak bermain di atas tanah tersebut.

Setelah tertelan, telur menetas di dalam usus. Larva menembus dinding usus dan menyebar melalui pembuluh darah. Hampir setiap jaringan tubuh bisa terkena , terutama otak, mata, hati, paru-paru, dan jantung. Larva

bertahan hidup selama beberapa bulan, menyebabkan kerusakan dengan cara berpindah ke dalam jaringan dan menimbulkan peradangan di sekitarnya.

Telur Toxocara canis

III. PEMBAHASAN

1. Patologi dan Gejala Klinis

Pada manusia larva cacing tidak menjadi dewasa dan mengembara di alat-alat dalam, khususnya di hati. Penyakit yang di sebabkan larva yang mengembara ini disebut visceral larva migrans, dengan gejala eosinofilia, demam dan hepatomegali. Visceral larva migrans dapat juga di sebabkan oleh Nematoda lain.

Infeksi kronis biasanya ringan terutama menyerang anak-anak, yang belakangan ini cenderung juga menyerang orang dewasa, disebabkan oleh migrasi larva dari Toxocara dalam organ atau jaringan tubuh.

Gejala klinis ditandai dengan eosinofilia yang lamanya bervariasi, hepatomegali, hiperalbuminemia, gejala paru dan demam. Serangan akut dan berat dapat terjadi, dalam keadaan ini lekosit dapat mencapai 100,000/mm3 atau lebih (dengan unit SI lebih dari 100 x109/l), dengan 50 90% terdiri dari eosinofil. Gejala klinis bisa berlangsung sampai satu tahun atau lebih. Bisa timbul gejala pneumonitis, sakit perut kronis, ruam seluruh tubuh dan bisa juga timbul gejala neurologis karena terjadi kelainan fokal.

Bisa juga tejadi endoftalmitis oleh karena larva masuk ke dalam bola mata, hal ini biasanya terjadi pada anak yang agak besar, berakibat turunnya visus pada mata yang terkena. Kelainan yang terjadi pada retina harus dibedakan dengan retinoblastoma atau adanya massa lain pada retina. Penyakit ini biasanya tidak fatal. Pemeriksaan Elisa dengan menggunakan antigen stadium larva sensitivitasnya 75 90% pada visceral larva migrans (VLM) dan pada infeksi bola mata. Prosedur western blotting dapat dipakai untuk meningkatkan spesifisitas dari skrining menggunakan Elisa.

2. Cara-cara Penularan

Kebanyakan infeksi yang terjadi pada anak-anak adalah secara langsung atau tidak langsung karena menelan telur Toxocara yang infektif. Secara tidak langsung melalui makanan seperti sayur sayuran yang tercemar atau secara langsung melalui tanah yang tercemar dengan perantaraan tangan yang kotor masuk kedalam mulut.

Sebagian infeksi terjadi karena menelan larva yang ada pada hati ayam mentah, atau hati sapi dan biri biri mentah. Telur dikeluarkan melalui kotoran anjing dan kucing.

Telur memerlukan waktu selama 1 3 minggu untuk menjadi infektif dan tetap hidup serta infektif selama beberapa bulan; dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang kering.

Telur setelah tertelan, embrio akan keluar dari telur didalam intestinum; larva kemudian akan menembus dinding usus dan migrasi kedalam hati dan jaringn lain melalui saluran limfe dan sistem sirkulasi lainnya. Dari hati larva akan menyebar ke jaringan lain terutama ke paru-paru dan organ-organ didalam abdomen (visceral larva migrans), atau bola mata (Ocular larva migrans), dan migrasi larva ini dapat merusak jaringan dan membentuk lesi granulomatosa.

Parasit tidak dapat melakukan replikasi pada manusia dan pada hospes paratenic/endstage lain; namun larva dapat tetap hidup dan bertahan dalam jaringan selama bertahun-tahun, terutama pada keadaan penyakit yang asymptomatic. Jika jaringan hospes paratenic dimakan maka larva yang ada pada jaringan tersebut akan menjadi infektif terhadap hospes yang baru.

3. Masa Inkubasi

Masa inkubasi pada anak-anak berlangsung dalam beberapa minggu dan beberapa bulan dan sangat tergantung pada intensitas infeksi, terjadinya reinfeksi dan sensitivitas penderita. Gejala okuler muncul 4 10 tahun setelah terjadinya infeksi awal. Masa inkubasi dari infeksi yang diperoleh karena mengkonsumsi hati mentah sangat cepat (beberapa jam sampai beberapa hari).

4. Gejala

Toksokariasis biasanya menyebabkan infeksi yang relatif ringan pada anak-anak usia 2-4 tahun, tetapi juga bisa mengenai anak-anak yang lebih tua dan dewasa.

Gejalanya dimulai dalam beberapa minggu setelah terinfeksi atai bisa tertundan sampai beberapa bulan, tergantung seringnya pameparan dan kepekaan seseorang terhadap larva.

Yang pertama timbul adalah demam, batuk, atau bunyi nafas mengi dan pembesaran hati. Beberapa penderita mengalami ruam-ruam di kulit, pembesaran limpa dan pneumonia yang hilang-timbul.

Anak-anak yang lebih besar cenderung tidak menunjukkan gejala atau gejalanya ringan, tapi mereka bisa mengalami luka di mata yang mengakibatkan gangguan penglihatan dan bisa dikelirukan dengan suatu tumor ganas di mata.

5. Diagnosa Penyakit

Cara diagnosis toksokariasis sulit karena cacing ini tidak menjadi dewasa, maka dari itu harus dilakukan tes immunologis atau biopsi jaringan. Diduga terserang suatu toksokariasis, bila pada seseorang ditemukan

- kadar eosinofil yang tinggi (eosinofil adalah sejenis sel darah putih) - pembesaran hati - peradangan paru-paru - demam - kadar antibodi yang tinggi dalam darah.

6. Cara Pencegahan

1). Berikan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada pemilik binatang peliharaan tentang bahaya dari kebiasaan pica (menggigit, menjilat benda-benda) yang terpajan daerah yang tercemar oleh kotoran hewan peliharaan. Juga dijelaskan tentang bahaya mengkonsumsi hati mentah hewan yang terpajan dengan anjing dan kucing. Orang tua dan anak-anak diberitahu tentang risiko kontak dengan binatang peliharaan seperti anjing dan kucing dan bagaimana cara mengurangi risiko tersebut.

2). Hindari terjadinya kontaminasi tanah dan pekarangan tempat anak-anak bermain dari kotoran anjing dan kucing, terutama didaerah perkotaan dikompleks perumahan. Ingatkan para pemilik anjing dan kucing agar bertanggung jawab menjaga kesehatan binatang peliharaannya termasuk membersihkan kotorannya dan membuang pada tempatnya dari tempat-tempat umum. Lakukan pengawasan dan pemberantasan anjing dan kucing liar.

3). Bersihkan tempat-tempat bermain anak-anak dari kotoran anjing dan kucing. Sandboxes (kotak berisi pasir) tempat bermain anak-anak merupakan tempat yang baik bagi kucing untuk membuang kotoran; tutuplah jika tidak digunakan.

4). Berikan obat cacing kepada anjing dan kucing mulai dari usia tiga minggu, diulangi sebanyak tiga kali berturutturut dengan interval 2 minggu dan diulang setiap 6 bulan sekali. Begitu juga binatang piaraan yang sedang menyusui anaknya diberikan obat cacing. Kotoran hewan baik yang diobati maupun yang tidak hendaknya dibuang dengan cara yang saniter.

5) Biasakan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang tanah atau sebelum makan.

6). Ajarkan kepada anak-anak untuk tidak memasukan barang-barang kotor kedalam mulut mereka.

7. Pengobatan

Sebelum tahun 1960-an, pengobatan cutaneous larva migrans menggunakan Chlorethyl, obat anastesi semprot dingin (biasa juga dipakai di persepakbolaan).

Ternyata obat semprot tersebut hanya menghambat, tidak membunuh cacing. Perlu diketahui, cacing Toxocara canis terhambat pada suhu di bawah 10 derajat cecius, tetapi tidak mati, dan baru bisa mati pada suhu minus 15 derajat celcius. Itulah mengapa disemprot Chlorethyl tak kunjung sembuh. Obat yang dianjurkan antara lain:

Obat cacing: Obat pilihan adalah: thiabendazole, ivermectin dan albendazole, sedangkan obat lainnya Mebendazole. Thiabendazole Dosis: 25-50 mg/kg berat badan/hari, diberikan 2 kali sehari selama 2-5 hari. Tidak diperkenankan melebihi 3 gram perhari. Dapat juga diberikan secara topikal (obat luar) 10-15% dalam larutan. Albendazole. ( pilih yang ini ) Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 400 mg perhari, dosis tunggal, selama 3 hari atau 200 mg dua kali sehari selama 5 hari. Dosis anak kurang dari 2 tahun: 200 mg perhari selama 3 hari. Atau 10-15 mg per kg berat badan, 4 kali perhari selama 3-5 hari.Jining Wang, MD, February 28, 2006 Mebendazole Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 100-200 mg dua kali sehari, selama 4 hari . Anak kurang dari 2 tahun: tidak dianjurkan

Anti alergi, untuk mengurangi alergi lokal, misalnya menggunakan hidrokortison cream atau sejenisnya. Antibiotika, diberikan bila ada infeksi sekunder (bernanah). VI. KESIMPULAN

Dari pembahasan kami di atas mengenai parasit, yaitu berupa hewan cacing, setelah kami membahas parasit Toxocara canis dan Toxocara cati, maka beberapa kesimpulan dapat kami sampaikan, diantaranya sebagai berikut:

1. Cacing Toxocara canis dan Toxocara cati termasuk ke dalam klasifikasi NEMATHELMINTHES (cacing gilik) dan termasuk ke dalam kelas NEMATODA, yang memiliki bentuk bulat memanjang dan pada potongan tranvsversal tampak rongga badan yang terlihat, dan memiliki alat kelamin terpisah.

2. Nama penyakit yang di sebabkan oleh jenis cacing ini adalah Toxokariasis (visceral larva migrans), karena cacing ini dapat hidup pada manusia sebagai parasit yang mengembara (erratic parasite) sehingga timbullah penyakit visceral larva migrans. 3. Hospes atau inang dari cacing Toxocara adalah anjing (T. canis) dan kucing (T. cati). Pada manusia, cacing ini dapat hidup sebagai parasit dan disebut parasit pengembara, menyebabkan penyakit yang disebut visceral larva migrans (pengembaraan larva di jaringan tubuh). Penyakit ini bersifat kosmopolit. Daur hidup cacing Toxocara canis, hidup di tanah, lumpur, pasir dan tempat-tempat kotor. Varian lain diantaranya: Toxocara cati, Toxocara vitulorum, Toxocara pteropodis, Toxocara malayasiensis dll. Cacing ini daur hidupnya terutama melalui anjing, kucing dan dilaporkan bisa melalui herbivora.

Sedangkan morfologi Toxocara canis jantan berukuran panjang antara 3,6 8,5 cm untuk betina 5,7 10 cm. Untuk Toxocara cati jantan berukuran antara 2, 5 7,8 cm, untuk betina antara 2,5 14 cm, dengan bentuk yang mirip dengan Ascaris lumbriciodes. Pada Toxocara canis terdapat sayap servikal yang berbentuk seperti lanset, sedangkan pada Toxocara cati bentuk sayap lebih lebar, dan kepalanya menyerupai ular kobra. Bentuk ekor yang dimiliki hampir sama, yang jantan berbentuk seperti tangan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), sedangkan betina ekornya bulat meruncing.

4. Epidemiologi yang terjadi : ? Angka prevalensi pada anak-anak yang berusia 1-7 tahun sangat tinggi ? Lingkungan yang terkontaminasi oleh kotoran anjing atau kucing yang kurang terperhatikan kebersihannya. ? Tanah, pasir , lapangan, rumput yang terkontaminasi oleh kotoran anjing dan kucing sangat senang didiami oleh Toxocara canis dan Toxocara cati.

5. Patologi dan gejala klinis di sebabkan larva yang mengembara ini disebut visceral larva migrans, dengan gejala eosinofilia, demam dan hepatomegali. Visceral larva migrans dapat juga di sebabkan oleh Nematoda lain.

Gejala klinis ditandai dengan eosinofilia yang lamanya bervariasi, hepatomegali, hiperalbuminemia, gejala paru dan demam. Serangan akut dan berat dapat terjadi, dalam keadaan ini lekosit dapat mencapai 100,000/mm3 atau lebih (dengan unit SI lebih dari 100 x109/l), dengan 50 90% terdiri dari eosinofil. Gejala klinis bisa berlangsung sampai satu tahun atau lebih. Bisa timbul gejala pneumonitis, sakit perut kronis, ruam seluruh tubuh dan bisa juga timbul gejala neurologis karena terjadi kelainan fokal.

6. Pencegahan dan pengobatan ? Pencegahan : 1). Berikan penyuluhan kepada masyarakat, terutama kepada pemilik binatang peliharaan tentang bahaya dari kebiasaan pica (menggigit, menjilat benda-benda) yang terpajan daerah yang tercemar oleh kotoran hewan peliharaan.

2). Hindari terjadinya kontaminasi tanah dan pekarangan tempat anak-anak bermain dari kotoran anjing dan kucing, terutama didaerah perkotaan dikompleks perumahan.

3). Bersihkan tempat-tempat bermain anak-anak dari kotoran anjing dan kucing.

4). Berikan obat cacing kepada anjing dan kucing mulai dari usia tiga minggu, diulangi sebanyak tiga kali berturutturut dengan interval 2 minggu dan diulang setiap 6 bulan sekali.

5) Biasakan mencuci tangan dengan sabun setelah memegang tanah atau sebelum makan.

6). Ajarkan kepada anak-anak untuk tidak memasukan barang-barang kotor kedalam mulut mereka.

? Pengobatan: Pengobatan cutaneous larva migrans menggunakan Chlorethyl, obat anastesi semprot dingin. Dan diantara obat yang dianjurkan antara lain:

- Obat cacing: Obat pilihan adalah: thiabendazole, ivermectin dan albendazole, sedangkan obat lainnya Mebendazole. - Thiabendazole

- Albendazole. - Mebendazole - Anti alergi - Antibiotika

V. SARAN

1. Selalu menjaga kebersihan lingkungan, terutama pada lingkungan yang banyak ditinggali oleh hewan berupa anjing dan kucing, karena hewan tersebut yang dapat menyebabkan penyakit Toksokariasis.

2. Awasi dan perhatikanlah kebersihan anak-anak yang gemar bermain di area tanah, rerumputan, lapangan, dan area dimana cacing Toxocara canis dan Toxocara cati dapat tumbuh dengan baik.

3. Segera lakukan penanganan yang tepat jika seandainya ada anak yang terinfeksi cacing jenis ini, segera lakukan penanganan medis.

4. Sebaiknya bagi yang memiliki hewan peliharaan jenis anjing dan kucing, agar diperhatikan juga kebersihannya, tempat makan, tempat buang air, dsb, sehingga suklit bagi cacing untuk berkembang dengan baik.

5. Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun, agar kuman-kuman dan sejenis cacing tidak dapat menyerang tubuh kita.

DAFTAR ISI

Pujiyanto, Sri, M.Si.2004.Khazanah Pengetahuan Biologi.Solo:PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

http.www.google.com

http://id.wikipedia.org/wiki/ Parasitologi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari Parasitologi mempelajari parasit, inangnya, dan hubungan di antara keduanya. Sebagai salah satu bidang studi biologi, cakupan parasitologi tak ditentukan oleh organisme atau lingkungan terkait, namun dengan cara hidupnya, yang berarti bidang ini bersintesis dengan bidang lain, dan menggunakan teknik seperti biologi sel, bioinformatika, biokimia, biologi molekuler, imunologi, genetika, evolusi dan ekologi.

Daftar isi
[sembunyikan] 1 Bidang o 1.1 Parasitologi kedokteran o 1.2 Parasitologi kedokteran hewan o 1.3 Parasitologi struktural o 1.4 Ekologi parasit 2 Taksonomi dan filogenetik 3 Pranala luar

[sunting] Bidang
Studi organisme yang beragam ini mengandung arti bahwa bidang ini sering dipecah ke dalam satuan-satuan yang lebih sederhana dan terfokus, yang menggunakan teknik umum, malahan jika bidang ini tak mempelajari organisme atau penyakit yang sama. Sebagian besar penelitian dalam parasitologi terbagi di antara 2 dari definisi ini atau lebih. Umumnya, studi prokariot dimasukkan dalam bidang bakteriologi daripada parasitologi.

[sunting] Parasitologi kedokteran


Salah satu bidang terbesar parasitologi, parasitologi kedokteran adalah studi sejumlah parasit yang menginfeksi manusia, yang mencakup organisme seperti: Plasmodium spp., organisme uniseluler yang menyebabkan malaria. 4 subtipe malaria adalah Plasmodium falciparum, P. malariae, P. vivax dan P. ovale. Leishmania donovani, organisme uniseluler yang menyebabkan leishmaniasis

organisme multiseluler seperti Schistosoma spp., Wuchereria bancrofti dan Necator americanus Parasitologi kedokteran dapat melibatkan perkembangan obat, studi epidemiologi dan studi zoonosis.

[sunting] Parasitologi kedokteran hewan


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Parasitologi kedokteran hewan Studi parasit yang menyebabkan kerugian ekonomi dalam operasi agrikultur maupun akuakultur, atau yang menginfeksi binatang penyerta. Contoh spesies yang dipelajari adalah: Lucilia cericata, yang meletakkan telur di kulit hewan ternak. Tempayak menetas keluar dan menggali dalam daging, menyusahkan hewan dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi petani Otodectes cynotis, tungau telinga kucing, menyebabkan Canker. Gyrodactylus salaris, parasit monogenea salmon, yang dapat menyerang populasi yang tidak resisten.

[sunting] Parasitologi struktural


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Parasitologi struktural Merupakan studi struktur protein dari parasit. Penentuan struktur protein parasit dapat membantu memahami bagaimana protein-protein itu berfungsi secara berbeda dari protein yang homolog pada manusia. Di samping itu, struktur protein dapat menginformasikan proses penemuan obat.

[sunting] Ekologi parasit


Parasit dapat menyediakan informasi tentang ekologi populasi inang. Sebagai contoh, dalam biologi perikanan, komunitas parasit dapat digunakan untuk membedakan populasi yang berbeda dari spesies ikan yang bersama-sama menghuni kawasan itu. Di samping itu, parasit memiliki sejumlah sifat khusus dan strategi riwayat hidup yang memungkinkannya mengkolonisasi inang. Memahami aspek-aspek ekologi parasit ini dapat menerangkan strategi penghindaran parasit yang dikandung inang.

[sunting] Taksonomi dan filogenetik


Keragaman yang luas pada hewan parasit menciptakan tantangan bagi para biolog untuk menggambarkan dan mengelompokkannya. Perkembangan terkini dalam menggunakan DNA untuk mengidentifikasi spesies yang terpisah dan mengamati hubungan antarkelompok pada sejumlah skala taksonomi banyak berguna bagi para parasitolog, karena banyak parasit yang amat degeneratif dan menyembunyikan hubungan antarspesies.

Plasmodium
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


?

Plasmodium

Klasifikasi ilmiah Domain: (tidak termasuk) Filum: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Eukariot Alveolata Apicomplexa Aconoidasida Haemosporida Plasmodiidae Plasmodium Species Plasmodium accipiteris Plasmodium achiotense Plasmodium achromaticum Plasmodium acuminatum Plasmodium adunyinkai Plasmodium aegyptensis Plasmodium aeuminatum Plasmodium agamae

Plasmodium alloelongatum Plasmodium anasum Plasmodium anomaluri Plasmodium arachniformis Plasmodium ashfordi Plasmodium atheruri Plasmodium audaciosum Plasmodium aurulentum Plasmodium australis Plasmodium attenuatum Plasmodium azurophilum Plasmodium balli Plasmodium bambusicolai Plasmodium basilisci Plasmodium beebei Plasmodium beltrani Plasmodium berghei Plasmodium bertii Plasmodium bigueti Plasmodium bitis Plasmodium biziurae Plasmodium booliati Plasmodium bouillize Plasmodium bowiei Plasmodium brodeni Plasmodium brasilianum Plasmodium brasiliense Plasmodium brumpti Plasmodium brucei Plasmodium brygooi Plasmodium bubalis Plasmodium bucki Plasmodium bufoni Plasmodium buteonis Plasmodium capistrani Plasmodium carinii Plasmodium cathemerium Plasmodium causi Plasmodium cephalophi Plasmodium cercopitheci Plasmodium chabaudi Plasmodium chalcidi Plasmodium chiricahuae

Plasmodium circularis Plasmodium circumflexum Plasmodium clelandi Plasmodium cordyli Plasmodium cnemaspi Plasmodium cnemidophori Plasmodium coatneyi Plasmodium coggeshalli Plasmodium colombiense Plasmodium columbae Plasmodium corradettii Plasmodium coturnixi Plasmodium coulangesi Plasmodium cuculus Plasmodium cyclopsi Plasmodium cynomolgi Plasmodium diminutivum Plasmodium diploglossi Plasmodium dissanaikei Plasmodium divergens Plasmodium dominicana Plasmodium draconis Plasmodium durae Plasmodium effusum Plasmodium egerniae Plasmodium elongatum Plasmodium eylesi Plasmodium fabesia Plasmodium fairchildi Plasmodium falciparum Plasmodium falconi Plasmodium fallax Plasmodium fieldi Plasmodium fischeri Plasmodium foleyi Plasmodium formosanum Plasmodium forresteri Plasmodium floridense Plasmodium fragile Plasmodium galbadoni Plasmodium garnhami Plasmodium gallinaceum Plasmodium gemini Plasmodium georgesi

Plasmodium giganteum Plasmodium giganteumaustralis Plasmodium giovannolai Plasmodium girardi Plasmodium gonderi Plasmodium globularis Plasmodium gologoense Plasmodium gonatodi Plasmodium gracilis Plasmodium griffithsi Plasmodium guangdong Plasmodium gundersi Plasmodium guyannense Plasmodium heischi Plasmodium hegneri Plasmodium hermani Plasmodium herodiadis Plasmodium heteronucleare Plasmodium hexamerium Plasmodium holaspi Plasmodium holti Plasmodium huffi Plasmodium hylobati Plasmodium incertae Plasmodium icipeensis Plasmodium iguanae Plasmodium inconstans Plasmodium inopinatum Plasmodium inui Plasmodium japonicum Plasmodium jefferi Plasmodium jiangi Plasmodium josephinae Plasmodium joyeuxi Plasmodium juxtanucleare Plasmodium kempi Plasmodium kentropyxi Plasmodium knowlesi Plasmodium koreafense Plasmodium lacertiliae Plasmodium lagopi Plasmodium lainsoni Plasmodium landauae

Plasmodium leanucteus Plasmodium lemuris Plasmodium lepidoptiformis Plasmodium limnotragi Plasmodium lionatum Plasmodium lophurae Plasmodium loveridgei Plasmodium lucens Plasmodium lutzi Plasmodium lygosomae Plasmodium mabuiae Plasmodium mackerrasae Plasmodium mackiei Plasmodium maculilabre Plasmodium maior Plasmodium majus Plasmodium malariae Plasmodium multivacuolaris Plasmodium marginatum Plasmodium matutinum Plasmodium megaglobularis Plasmodium megalotrypa Plasmodium melanoleuca Plasmodium melanipherum Plasmodium mexicanum Plasmodium michikoa Plasmodium minasense Plasmodium minuoviride Plasmodium modestum Plasmodium morulum Plasmodium multiformis Plasmodium murinus Plasmodium narayani Plasmodium necatrix Plasmodium neotropicalis Plasmodium neusticuri Plasmodium nucleophilium Plasmodium octamerium Plasmodium odocoilei Plasmodium osmaniae Plasmodium ovale

Plasmodium paddae Plasmodium papernai Plasmodium parahexamerium Plasmodium paranucleophilum Plasmodium parvulum Plasmodium pedioecetii Plasmodium pelaezi Plasmodium percygarnhami Plasmodium pessoai Plasmodium petersi Plasmodium pifanoi Plasmodium pinotti Plasmodium pinorrii Plasmodium pitheci Plasmodium pitmani Plasmodium polare Plasmodium pulmophilum Plasmodium pythonias Plasmodium quelea Plasmodium reichenowi Plasmodium relictum Plasmodium rhadinurum Plasmodium rhodaini Plasmodium robinsoni Plasmodium rousetti Plasmodium rousseloti Plasmodium rouxi Plasmodium sandoshami Plasmodium sasai Plasmodium saurocaudatum Plasmodium schweitzi Plasmodium scelopori Plasmodium scorzai Plasmodium semiovale Plasmodium semnopitheci Plasmodium shortii Plasmodium siamense Plasmodium silvaticum Plasmodium simium Plasmodium simplex Plasmodium smirnovi Plasmodium stuthionis

Plasmodium tanzaniae Plasmodium tenue Plasmodium tejerai Plasmodium telfordi Plasmodium tomodoni Plasmodium torrealbai Plasmodium toucani Plasmodium traguli Plasmodium tribolonoti Plasmodium tropiduri Plasmodium tumbayaensis Plasmodium tyrio Plasmodium uilenbergi Plasmodium uluguruense Plasmodium uncinatum Plasmodium uranoscodoni Plasmodium utingensis Plasmodium uzungwiense Plasmodium watteni Plasmodium wenyoni Plasmodium vacuolatum Plasmodium vastator Plasmodium vaughani Plasmodium vautieri Plasmodium venkataramiahii Plasmodium vinckei Plasmodium vivax Plasmodium volans Plasmodium voltaicum Plasmodium wenyoni Plasmodium yoelii Plasmodium youngi Plasmodium zonuriae Plasmodium merupakan genus protozoa parasit. Penyakit yang disebabkan oleh genus ini dikenal sebagai malaria. Parasit ini sentiasa mempunyai dua inang dalam siklus hidupnya: vektor nyamuk dan inang vertebra. Sekurang-kurangnya sepuluh spesies menjangkiti manusia. Spesies lain menjangkiti hewan lain, termasuk burung, reptilia dan hewan pengerat.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Taksonomi dan inang 2 Siklus hidup 3 Evolusi 4 Pembiakan 5 Biologi molekular 6 Spesies menurut subgenera 7 Spesies yang menjangkiti manusia o 7.1 Rujukan umum 8 Referensi 9 Pranala luar

[sunting] Taksonomi dan inang


Genus Plasmodium dinamakan pada tahun 1885 oleh Marchiafava dan Celli dan terdapat lebih dari 175 spesies yang diketahui berada dalam genus ini. Genus ini pada tahun 2006 perlu dirombak kembali karena terbukti parasit lain yang tergolong dalam genus Haemocystis dan Hepatocystis kelihatan terkait rapat dengan genus ini. Kemungkinan spesies lain seperti Haemoproteus meleagridis akan dimasukkan ke dalam genus ini setelah diperbaharui kembali. Jenis inang pada urutan mamalia tidak seragam. Sekurang-kurangnya 25 spesies menjangkiti primata; hewan pengerat di luar kawasan tropis Afrika jarang dijangkiti; beberapa spesies diketahui menjangkiti kelelawar, landak dan tupai; karnivora, pemakan serangga dan marsupial tidak pernah diketahui bertindak sebagai inang.

[sunting] Siklus hidup


Pada tahun 1898 Ronald Ross membuktikan keberadaan Plasmodium pada dinding perut tengah dan kelenjar liur nyamuk Culex. Atas penemuan ini ia memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 1902, meskipun sebenarnya penghargaan itu perlu diberikan kepada profesor Italia Giovanni Battista Grassi, yang membuktikan bahwa mamalia manusia hanya bisa disebarkan oleh nyamuk Anopheles. Siklus hidup Plasmodium amat rumit. Sporozoit dari liur nyamuk betina yang mengigit disebarkan ke darah atau sistem limfa penerima[1]. Penting disadari bahwa bagi sebagian spesies vektornya mungkin bukan nyamuk. Nyamuk dalam genus Culex, Anopheles, Culiceta, Mansonia dan Aedes mungkin bertindak sebagai vektor. Vektor yang diketahui kini bagi malaria manusia (>100 spesies) semuanya tergolong dalam genus Anopheles. Malaria burung biasanya dibawa oleh spesies genus Culex. Siklus hidup Plasmodium diketahui oleh Ross yang menyelidiki spesies dari genus Culex.

Sporozoit berpindah ke hati dan menembus hepatosit. Tahap dorman bagi sporozoit Plasmodium dalam hati dikenal sebagai hipnozoit. Dari hepatosit, parasit berkembang biak menjadi ribuan merozoit, yang kemudian menyerang sel darah merah. Di sini parasit membesar dari bentuk cincin ke bentuk trofozoit dewasa. Pada tahap skizon, parasit membelah beberapa kali untuk membentuk merozoit baru, yang meninggalkan sel darah merah dan bergerak melalui saluran darah untuk menembus sel darah merah baru. Kebanyakan merozoit mengulangi siklus ini secara terus-menerus, tetapi sebagian merozoit berubah menjadi bentuk jantan atau betina (gametosit) (juga dalam darah), yang kemudiannya diambil oleh nyamuk betina. Dalam perut tengah nyamuk, gametosit membentuk gamet dan menyuburkan satu sama lain, membentuk zigot motil yang dikenal sebagai ookinet. Ookinet menembus dan lepas dari perut tengah, kemudian membenamkan diri pada membran perut luar. Di sini mereka terbelah berkalikali untuk menghasilkan sejumlah besar sporozoit halus memanjang. Sporozoit ini berpindah ke kelenjar liur nyamuk, di mana ia dicucuk masuk ke dalam darah inang kedua yang digigit nyamuk. Sporozoit bergerak ke hati di mana mereka mengulangi siklus ini. Dalam beberapa spesies jaringan selain hati mungkin dijangkiti. Namun hal ini tidak berlaku pada spesies yang menyerang manusia.

[sunting] Evolusi
Siklus hidup ini paling baik dipahami melalui segi evolusi. Dipercaya bahwa Plasmodium berubah dari parasit yang disebarkan melalui jalur tinja (orofekal) yang menjangkiti dinding usus halus. Pada satu tingkat parasit ini mengembangkan kemampuan untuk menjangkiti hati. Pola ini dapat dilihat pada genus Cryptosporidium yang terkait jauh dengan Plasmodium. Pada satu tingkat leluhur Plasmodium mengembangkan kemampuan menjangkiti sel darah dan terselamat dan menjangkiti nyamuk. Bila jangkitan nyamuk telah mantap jangkitan melalui jalur tinja (orofekal) sebelumnya lenyap. Plasmodium berkembang sekitar 130 juta tahun yang lalu. Masa ini bersamaan dengan perkembangan angiosperma (tumbuhan berbunga) yang cepat. Perkembangan ini pada angiosperma dipercaya disebabkan oleh sekurang-kurangnya satu kejadian penyalinan genom. Kemungkinan peningkatan dalam bunga mendorong kepada peningkatan jumlah nyamuk dan hubungan mereka dengan vertebra. Selain darah, nyamuk hidup memakan madu. Hidangan darah hanya diperlukan oleh nyamuk betina sebelum bertelur karena kandungan protein dalam madu amat rendah. Nyamuk berubah di Amerika Selatan sekitar 230 juta tahun yang lalu. Kini terdapat lebih dari 3.500 spesies nyamuk yang diketahui tetapi hingga kini evolusi mereka tidak banyak diketahui sehingga pengetahuan kita mengenai evolusi Plasmodium tetap kurang.

Pada masa kini dipercayai bahwa reptilia merupakan kelompok pertama yang dijangkiti oleh Plasmodium diikuti oleh burung. Pada satu ketika primata dan hewan pengerat turut dijangkiti kemungkinan dari spesies burung. Spesies lain yang dijangkiti selain kelompok ini kemungkinan kejadian yang baru berlaku. Pada masa kini, sekuens DNA tersedia untuk kurang dari 60 spesies dan kebanyakan dari spesies yang menjangkiti inang pengerat atau primata. Pola jangkitan yang dicadangkan hanya bersifat spekulatif dan mungkin direvisi bila sekuens DNA lanjut dari spesies tambahan diperoleh.

[sunting] Pembiakan
Pola pembiakan berselang seksual dan aseksual yang mungkin nampak membingungkan pada awalnya merupakan pola biasa pada spesies parasit. Kelebihan evolusi kehidupan jenis ini diketahui oleh Gregor Mendel. Dalam keadaan baik pembiakan aseksual lebih baik daripada seksual karena parentalnya beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan dan keturunannya mewarisi gen ini. Berpindah kepada inang baru atau ketika masa sulit, pembiakan seksual biasanya lebih baik karena menghasilkan pengocokan gen yang rata-rata menghasilkan individu yang lebih menyesuaikan diri pada habitat baru. Faktor tekanan ini menyebabkan kebanyakan sel menjadi aktif.

[sunting] Biologi molekular


Semua spesies yang dikaji hingga kini mempunyai 14 kromosom, satu mitokondria dan satu plastida. Kromosom berkisar antara 500 kilobasa hingga 3,5 megabasa panjang. Dipercaya bahwa pola inilah yang ada pada keseluruhan genus. Plastida ini, berbeda dengan apa yang terdapat pada alga, tidaklah fotosintesis. Fungsinya tidak diketahui tetapi terdapat bukti cadangan bahwa ia mungkin menyebabkan pembiakan. Pada tahap molekul, parasit merusak sel darah merah dengan menggunakan enzim plasmepsin protease asam aspartat yang menguraikan hemoglobin.

[sunting] Spesies menurut subgenera


Plasmodium (Asiamoeba) draconis Plasmodium (Asiamoeba) vastator Plasmodium (Bennettinia) juxtanucleare Plasmodium (Carinamoeba) basilisci Plasmodium (Carinamoeba) minasense Plasmodium (Carinamoeba) rhadinurum Plasmodium (Carinamoeba) volans

Plasmodium (Giovannolaia) anasum Plasmodium (Giovannolaia) circumflexum Plasmodium (Giovannolaia) dissanaikei Plasmodium (Giovannolaia) durae Plasmodium (Giovannolaia) fallax Plasmodium (Giovannolaia) formosanum Plasmodium (Giovannolaia) gabaldoni Plasmodium (Giovannolaia) garnhami Plasmodium (Giovannolaia) gundersi Plasmodium (Giovannolaia) hegneri Plasmodium (Giovannolaia) lophurae Plasmodium (Giovannolaia) pedioecetii Plasmodium (Giovannolaia) pinnotti Plasmodium (Giovannolaia) polare Plasmodium (Haemamoeba) cathemerium Plasmodium (Haemamoeba) coggeshalli Plasmodium (Haemamoeba) elongatum Plasmodium (Haemamoeba) gallinaceum Plasmodium (Haemamoeba) giovannolai Plasmodium (Haemamoeba) lutzi Plasmodium (Haemamoeba) matutinum Plasmodium (Haemamoeba) paddae Plasmodium (Haemamoeba) parvulum Plasmodium (Haemamoeba) relictum Plasmodium (Haemamoeba) tejera Plasmodium (Huffia) elongatum Plasmodium (Huffia) hermani Plasmodium (Laverania) falciparum Plasmodium (Laverania) reichenowi Plasmodium (Novyella) ashfordi Plasmodium (Novyella) bertii Plasmodium (Novyella) bambusicolai Plasmodium (Novyella) columbae Plasmodium (Novyella) corradettii Plasmodium (Novyella) dissanaikei Plasmodium (Novyella) hexamerium Plasmodium (Novyella) kempi Plasmodium (Novyella) nucleophilum Plasmodium (Novyella) papernai Plasmodium (Novyella) paranucleophilum Plasmodium (Novyella) rouxi Plasmodium (Novyella) vaughani

Plasmodium (Paraplasmodium) chiricahuae Plasmodium (Paraplasmodium) mexicanum Plasmodium (Paraplasmodium) pifanoi Plasmodium (Plasmodium) brasilianum Plasmodium (Plasmodium) cynomolgi Plasmodium (Plasmodium) eylesi Plasmodium (Plasmodium) fieldi Plasmodium (Plasmodium) fragile Plasmodium (Plasmodium) georgesi Plasmodium (Plasmodium) girardi Plasmodium (Plasmodium) gonderi Plasmodium (Plasmodium) inui Plasmodium (Plasmodium) jefferyi Plasmodium (Plasmodium) knowlei Plasmodium (Plasmodium) hyobati Plasmodium (Plasmodium) malariae Plasmodium (Plasmodium) ovale Plasmodium (Plasmodium) petersi Plasmodium (Plasmodium) pitheci Plasmodium (Plasmodium) rhodiani Plasmodium (Plasmodium) schweitzi Plasmodium (Plasmodium) semiovale Plasmodium (Plasmodium) shortii Plasmodium (Plasmodium) silvaticum Plasmodium (Plasmodium) simium Plasmodium (Plasmodium) vivax Plasmodium (Plasmodium) youngi Plasmodium (Sauramoeba) achiotense Plasmodium (Sauramoeba) adunyinkai Plasmodium (Sauramoeba) aeuminatum Plasmodium (Sauramoeba) beltrani Plasmodium (Sauramoeba) brumpti Plasmodium (Sauramoeba) agamae Plasmodium (Sauramoeba) giganteum Plasmodium (Sauramoeba) heischi Plasmodium (Sauramoeba) josephinae Plasmodium (Sauramoeba) pelaezi Plasmodium (Sauramoeba) tropiduri Plasmodium (Vinckeia) aegyptensis Plasmodium (Vinckeia) anomaluri Plasmodium (Vinckeia) atheruri Plasmodium (Vinckeia) berghei Plasmodium (Vinckeia) booliati

Plasmodium (Vinckeia) brodeni Plasmodium (Vinckeia) bubalis Plasmodium (Vinckeia) bucki Plasmodium (Vinckeia) cephalophi Plasmodium (Vinckeia) chabaudi Plasmodium (Vinckeia) coulangesi Plasmodium (Vinckeia) cyclopsi Plasmodium (Vinckeia) foleyi Plasmodium (Vinckeia) girardi Plasmodium (Vinckeia) inopinatum Plasmodium (Vinckeia) lemuris Plasmodium (Vinckeia) odocoilei Plasmodium (Vinckeia) percygarnhami Plasmodium (Vinckeia) sandoshami Plasmodium (Vinckeia) traguli Plasmodium (Vinckeia) uilenbergi Plasmodium (Vinckeia) vassali Plasmodium (Vinckeia) vinckei Plasmodium (Vinckeia) watteni Plasmodium (Vinckeia) yoelli

[sunting] Spesies yang menjangkiti manusia

Sel darah merah yang dijangkiti malaria Spesies Plasmodium yang menyerang manusia termasuk: Plasmodium falciparum (sumber malaria tersiana maligna) Plasmodium vivax (sumber yang biasa menyebabkan malaria tersiana benigna) Plasmodium ovale (lain-lain, jarang, sumber malaria tersiana benigna) Plasmodium malariae (sumber malaria kuartana benigna) Plasmodium knowlesi Plasmodium brasilianum Plasmodium cynomolgi

Plasmodium inui Plasmodium rhodiani Plasmodium schweitzi Plasmodium semiovale Plasmodium simium

[sunting] Rujukan umum


Short, H. E. (1951) Life-cycle of the mammalian malaria parasite" British Medical Bulletin 8(1): pp. 7-9, (PMID 14944807); Baldacci, Patricia and Mnard, Robert (Oct. 2004) "The elusive malaria sporozoite in the mammalian host" Molecular Microbiology 54(2): pp. 298-306, (AN 14621725); Bledsoe, G. H. (December 2005) "Malaria primer for clinicians in the United States" Southern Medical Journal 98(12): pp. 1197-204 (PMID 16440920);

Leishmaniasis
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


Leishmaniasis Klasifikasi & sumber eksternal
Cutaneous leishmaniasis in the hand of a Central American adult.

Kode ICD-10: Kode ICD-9: DiseasesDB MedlinePlus eMedicine

B55. 085 3266 29171 3266 7070 001386 emerg/296

Life cycle of the Leishmaniasis parasite. Source: CDC Leishmaniasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit protozoa yang termasuk dalam genus Leishmania dan ditularkan lewat gigitan sejenis lalat genus Lutzomyia dan Phlebotomus. Penyakit ini dinamai menurut penemunya William Boog Leishman dan juga dikenal sebagai Leichmaniosis, Leishmaniose, dan leishmaniose.

Cacing tambang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari


?

Necator americanus dan Ancylostoma duodenale

Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Animalia Filum: Nematoda

Kelas: Ordo: Famili: Genus:

Secernentea Strongiloidae Ancylostomatidae Necator/Ancylostoma Spesies

N. americanus A. duodenale Cacing tambang atau cacing cambuk adalah cacing parasit (nematoda) yang hidup pada usus kecil inangnya, yang dapat berupa mamalia seperti kucing, anjing ataupun manusia. Ada dua spesies cacing tambang yang biasa menyerang manusia, Ancylostoma duodenale dan Necator americanus. Necator americanus banyak ditemukan di Amerika, Sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Tiongkok, and Indonesia, sementara A. duodenale lebih banyak di Timur Tengah, Afrika Utara, India, dan Eropa bagian selatan. Sekitar seperempat penduduk dunia terinfeksi oleh cacing tambang. Infeksi paling sering ditemukan di daerah yang hangat dan lembab, dengan tingkat kebersihan yang buruk.