Anda di halaman 1dari 11

TUGAS PRAKTIKUM

GENETIKA & TEKNOLOGI PEMULIAAN TANAMAN


& PERSILANGAN PADA KACANG PANJANG

TEKNIK PERSILANGAN PADA TOMAT

IRMA TOMBUKU

100 318 028


GENETIKA & TEKNOLOGI PEMULIAAN TANAMAN

I.

TEKNIK PERSILANGAN PADA TOMAT

Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) budidaya bervariasi dalam ukuran, mulai dari tomat cherry, seukuran (12 cm) dengan ukuran tomat liar, sampai tomat beefsteak dg diameter 10 cm atau lebih. Ukuran tomat umumnya : diameter 56 cm. Kebanyakan kultivar memproduksi buah warna merah (lycopene), tapi beberapa kultivar: oranye, pink, ungu, hijau, putih. Tomat untuk dikalengkan berbentuk panjang, 79 cm, diameter 45 cm dan dikenal sebagai tomat plum. A. Ciri Tanaman Berdasarkan Perkembangbiakan Tanaman Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan jumlah 510 bunga per dompolan atau tergantung dari varietasnya. Kuntum bunga terdiri dari lima helai daun kelopak dan lima helai mahkota. Pada serbuk sari bunga terdapat kantong yang letaknya menjadi satu dan membentuk bumbung yang mengelilingi tangkai kepala putik. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah satu. Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan terjadi penyerbukan silang (Wiryanta dalam Saragih, 2008).

B. Perkembangan Bunga Dari Kuncup Sampai Mekar dan Siap Disilangkan Menurut Hartati (2000), tanaman tomat mulai berbunga ketika memasuki umur 18-25 hari setelah tanam. Umur berbunga pada setiap varietas tanaman tomat berbeda-beda. Dalam perkembangannya proses pembungaan memiliki beberapa tahapan, yaitu : 1. Induksi bunga Tahap pertama dari proses pembungaan ketika meristem vegetatif deprogram untuk mulai berubah menjadi sistem reproduktif. Peristiwa ini terjadi di dalam sel dan dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein yang dibutuhkan dalam diferensiasi dan pembelahan sel. 2. Inisiasi bunga Tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya. Inisiasi dan pembungaan berkaitan dengan sifat tumbuhannya yang juga dipengaruhi oleh iklim. 3. Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis ( bunga mekar)

Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga. Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina. 4. Anthesis Tahap ketika terjadi pemekaran bunga. Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi. Ada kalanya organ reproduksi masak sebelum anthesis atau bahkan jauh setelah terjadinya anthesis (Anonymous, 2009). C. Tujuan Dilakukan Persilangan Beberapa tujuan dilakukan persilangan pada tanaman tomat adalah : 1. Mendapatkan varitas baru 2. Potensi hasil tinggi 3. Umur panen relatif pendek 4. Daya simpan lama 5. Toleran terhadap penyakit layu bakteri (Astarini, 2009) D. Cara Pemilihan Tetua Pilih tomat yang memiliki warna berbeda, misalnya merah dan kuning. Jika galur murni, variasi warna akan tampak pada F2. Selain variasi warna mungkin timbul variasi karakter lain (Astarini, 2009) E. Waktu Yang Tepat Untuk Melakukan Emaskulasi dan Polinasi 1. Emaskulasi Dilakukan sehari sebelum penyerbukan agar putik menjadi masak sempurna saat penyerbukan sehingga keberhasilan penyilangan lebuh tinggi. Waktu yang baik melakukan emaskulasi adalah setelah pukul 3 sore. Stadia bunga yang baik diemaskulasi adalah pada saat ujung benang sari berada pada pertengahan bunga (Anonymous, 2009). 2. Polinasi Waktu polinasi yang baik sekitar jam 6-9 pagi, karena pada saat itu kondisi lingkungan mendukung. Kondisi putik dan serbuk sari masih baik. Jika, polinasi dilakukan siang hari, putik mongering sehingga terjadi pembuahan, kalaupun berbuah kualitasnya tidak maksimal (Anonymous, 2009).

F.

Teknik Persilangan Tanaman Menyerbuk Sendiri/Silang Menurut Astarini (2009), beberapa langkah yang harus dilakukan untuk melakukan persilangan pada tanaman tomat adalah sebagai berikut : 1. Tanam benih dalam baris 2. Segera setelah bunga mekar, emaskulasi stamen dari tetua betina. Stamen menempel pada petal, jadi untuk mudahnya, cabut petalnya, lalu bungkus betina. 3. Calon tetua jantan juga harus ditutup, untuk mencegah kontaminasi polen lain. 4. Jika bunga jantan telah membuka sempurna, segera lakukan persilangan dengan car mengusap anther ke stigma. 5. Tutup bunga yang baru diserbuki, beri label, catat pada buku.

Gambar 2. Bunga tomat yang sudah diemaskulasi, dipolinasi dan dilabeli Gambar 1. Bagian reproduksi bunga tomat

BAHAN DAN METODE

A. Alat dan Bahan 1. Pinset Digunakan sebagai alat untuk melakukan emaskulasi. 2. Plastik Digunakan untuk membungkus bunga yang telah diemaskulasi dan dipolinasi. 3. Tali Digunakan untuk mengikat plastik pembungkus bunga. 4. Label Digunakan untuk member tanda bagi bunga yang telah dipolinasi. 5. Alat tulis Digunakan untuk mencatat perkembangan persilangan. B. Cara Kerja

Pengamatan bunga

Isolasi kuncup terpilih

Emaskulasi

Polinasi

Pembungkusan dan pelabelan

Pencatatan

Emaskulasi dilakukan pada sore hari, dan esok pagi hari dilakukan polinasi. Kegiatan polinasi dilakukan pagi hari agar serbuk sari dari tetua jantan matang. Setelah polinasi dilakukan, bunga harus ditutup dengan plastic untuk menghindari penyerbukan dari serbuk sari bunga lain. Setelah ditutup kemudian diberi label dengan isi waktu polinasi, tetua jantan, dan tetua betina. Kegiatan selanjutnya adalah pengamatan terhadap perkembangan bunga.

Gambar 3. Bunga yang telah disilangkan

Gambar 4. Bunga yang telah berkembang jadi buah Pembahasan Pada kegiatan hibridisasi ini digunakan tanaman tomat. Varietas yang digunakan adalah varietas Filipina. Persilangan yang dilakukan adalah silang dalam, artinya persilangan dilakukan dalam satu spesies yang sama. Sehingga perbaikan yang diharapkan tidak akan terjadi. Tujuan dari persilangan adalah mendapatkan keturunan dengan sifat unggul yang dimiliki masing-masing tetua, tapi hal itu tidak bisa dihasilkan dari praktik yang telah dilakukan di lapangan.

II.

TEKNIK PERSILANGAN PADA BUNCIS

Pendahuluan Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah dilakukan pemilihan tetua. Umumnya program pemuliaan tanaman menyerbuk sendiri dimulai dengan menyilangkan dua tetua homozigot yang berbeda genotipenya. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksugkan untuk memperluas keragaman. Tujuan utama melakukan persilangan adalah : (1) Menggabungkan semua sifat baik ke dalam satu genotipe baru; (2) Memperluas keragaman genetik; (3). Memanfaatkan vigor hibrida; atau (4) Menguji potensi tetua (uji turunan). Dari keempat tujuan utama ini dapat disimpulkan bahwa hibridisasi memiliki peranan penting dalam pemuliaan tanaman, terutama dalam hal memperluas keragaman. Seleksi akan efektif apabila populasi yang diseleksi mempunyai keragaman genetik yang luas. Jenis-jenis Persilangan Berdasarkan pengelompokan tanaman yang digunakan dalam persilangan, hibridisasi dibedakan menjadi: 1. Hibridisasi intravarietas, yaitu persilangan yang dilakukan antara tanaman yang varietasnya sama. 2. Hibridisasi intervarietas, yaitu persilangan yang dilakukan antara tanaman yang varietasnya berbeda dalam spesies yang sama. Hibridisasi ini disebut juga hibridisasi intraspesifik. 3. Hibridisasi interspesifik, yaitu persilangan antara tanaman dari dua spesies yang berbeda, dalam genus. Hibridisasi ini disebut juga hibridisasi intragenerik. Jenis persilangan ini telah dilakukan untuk memindahkan gen ketahanan terhadap hama dan penyakit, atau toleransi terhadap kekeringan pada varietas tanaman gandum, tomat, tebu, dan lain-lain. 4. Hibridisasi intergenerik, yaitu persilangan yang dilakukan antar tanaman dari genus yang berbeda. Beberapa contoh tanaman hasil persilangan ini adalah Raphanobrassica, Rabbage, Maize-teosinte, sugarcane-sorghum, dan lain-lain. Hibridisasi ini juga biasa digunakan untuk memindahkan sifat ketahanan penyakit, hama dan kekeringan dari genus tanaman liar ke tanaman budi daya. Hibridisasi intravarietas dan intervarietas relatif mudah dilakukan karena kedua tetua mempunyai genom yang sama sehingga tidak muncul banyak hambatan (barier). Hibridisasi ini (terutama hibridisasi intervarietas) adalah jenis hibridisasi yang umum dilakukan dalam program

pemuliaan tanaman. Hibridisasi interspesifik dan intergenerik disebut juga persilangan kerabat jauh. Keberhasilan persilangan kerabat jauh sangat tergantung pada dekat tidaknya hubungan spesies yang disilangkan. Secara umum semakin jauh hubungan kekerabatan antara kedua tanaman yang digunakan dalam persilangan, akan semakin kecil peluang untuk mendapatkan tanaman F1 yang normal. Dalam pelaksanaannya, persilangan kerabat jauh tidak mudah dilakukan karena adanya kendala alami seperti benih hibrid yang lemah dan tidak mampu bertahan hidup, serta tanaman F1 yang diperoleh menjadi steril. Sejauh ini penghalang yang dijumpai dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu (1) hambatan sebelum terjadinya pembuahan (pre-fertilization barrier), berupa kegagalan dalam perkecambahan serbuk sari atau lambatnya pertumbuhan tabung serbuk sari, dan (2) hambatan sesudah terjadinya pembuahan (post-fertilization barrier), antara lain aborsi embrio saat masih muda dan terjadinya eliminasi kromosom. Kegagalan perkembangan embrio menjadi biji dewasa merupakan fenomena paling umum dijumpai pada persilangan kerabat jauh. Ketidakmampuan untuk tumbuh yang terjadi pada persilangan kerabat jauhdisebabkan oleh (1) adanya mekanisme yang bisa mempengaruhi perkembangan zigot sejak pembelahan sel pertama hingga pembuahan bahkan hingga diferensiasi akhir organ reproduktif dan pembentukan gamet, (2) adanya aksi gen spesifik, tidak ada keserasian antara inti dan sitoplasma atau antara embrio dan endosperm dari spesies yang digunakan dalam persilangan. Berbagai penghalang tersebut menyebabkan rendahnya tingkat keberhasilan dalam persilangan kerabat jauh. Keberhasilan persilangan (crossability) pada beberapa kombinasi persilangan dibatasi oleh kemampuan dalam pembentukan biji (seed set), yang tergantung pada genom kedua tetua. Perbedaan genom tetua menyebabkan hambatan dalam pembuahan maupun setelah pembuahan. Beberapa prinsip dianjurkan untuk dipahami, agar pemilihan spesies kerabat liarnya efisien. Dalam pemilihan kerabat liar sebagai tetua dalam persilangan kerabat jauh, kriteria yang relevan untuk digunakan, antara lain : 1. Derajat kekerabatannya: biasanya spesies yang sangat dekat kekerabatannya dengan tanaman budidaya lebih diutamakan karena jaminan keberhasilan persilangan, transfer gen dapat berlangsung secara normal. Kekerabatan yang jauh hanya direkomendasikan bila memang gen yang dituju hanya ada pada sumber tersebut. Persilangan kerabat sangat jauh biasanya menghadapi masalah barier persilangan. 2. Tingkat ploidi: untuk transfer gen interspesifik maka tingkat ploidi yang paling efisien adalah tingkat diploid, karena pada tingkat poliploidi sifat-sifat yang tidak dikehendaki akan hilang dari populasi dengan proses yang lambat. pertumbuhan tabung serbuk sari, dan (2) hambatan sesudah terjadinya pembuahan (post-fertilization barrier), antara lain aborsi embrio saat masih muda dan terjadinya eliminasi kromosom. Kegagalan perkembangan embrio menjadi biji dewasa merupakan fenomena paling umum dijumpai pada persilangan kerabat jauh. Ketidakmampuan untuk tumbuh yang terjadi pada persilangan kerabat jauhdisebabkan oleh (1) adanya mekanisme yang bisa mempengaruhi perkembangan zigot sejak pembelahan sel pertama hingga pembuahan bahkan hingga diferensiasi akhir organ reproduktif dan pembentukan gamet, (2) adanya aksi gen spesifik, tidak ada keserasian antara inti dan sitoplasma atau antara embrio dan endosperm dari spesies yang digunakan dalam persilangan.

3. Tingkatan, stabilitas dan pewarisan sifat-sifat yang dituju: para pemulia menghendaki agar sifat yang dituju memiliki tingkatan yang tinggi, stabilitas yang besar dan pewarisannya sederhana. Sifat resistensi terhadap hama atau penyakit dengan pewarisan sifat yang sederhana dan tingkat resistensi tinggi biasanya terkait dengan instabilitas dari resistensi tersebut sedangkan resistensi yang mantap sulit ditangani karena genetiknya adalah poligenik. Faktor Penting dalam Persilangan Untuk meningkatkan keberhasilan hibridisasi buatan, hal-hal penting yang diperhatikan adalah (1) pemilihan tetua dalam hubungannya dengan tujuan dilakukannya persilangan, (2) pengetahuan tentang morfologi dan metode reproduksi tanaman, (3) waktu tanaman bunga (waktu bunga mekar/tanaman berbunga), dan (4) keadaan cuaca saat penyerbukan. Pemilihan Tetua Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua persilangan yaitu: (a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galur-galur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi tanaman dan (e) spesies liar. Peluang menghasilkan varietas unggul yang dituju akan menjadi besar bila tetua yang digunakan merupakan varietas-varietas komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua hibrida, dan tetua-tetua varietas sintetik. Varietas-varietas tersebut merupakan sumber plasma nutfah yang paling baik bagi sifat-sifat penting tanaman, dan pada umumnya para pemulia menggunakan sumber ini sebagai bahan tetua dalam programnya. Sudah barang tentu tetua-tetua yang digunakan memiliki latar belakang genetik yang jauh berbeda, bila tidak demikian maka peluang untuk memperoleh keragaman genetik sifat yang dituju pada populasi turunannya akan menjadi kecil. Para pemulia pada proses seleksi lanjut akan memiliki galur-galur elit yang membawa sifatsifat unggul. Galur-galur tersebut pada tahapan siap untuk dilepas sebagai varietas. Identifikasi sifat-sifat unggul pada galur-galur elit oleh para pemulia akan sangat bermanfaat bagi para pemulia sendiri. Penggunaan galur-galur elit tersebut sebagai tetua akan meningkatkan secara potensial kemajuan genetik per tahun. Pada umumnya galur-galur elit pemulia sangat terbatas untuk dapat dipertukarkan dan tergantung kepada kebijakan pemulia ataupun kepada kebijakan kelembagaan di mana pemulia bekerja. Introduksi spesies-spesies yang ditanam juga merupakan sumber materi tetua yang sangat baik. Banyak pemulia menggunakan sumber materi tetua ini dalam program pemuliaannya. Spesies introduksi digunakan sebagai materi tetua karena memiliki sifat baik yang dituju, sekalipun memiliki sifat lainnya yang tidak baik. Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling mendasar dan yang paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe penyerbukan. Dengan mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk sendiri. Tanaman Menyerbuk silang dicirikan oleh strutur bunga sebagai berikut : a) secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu b) waktu antesis dan reseptif berbed

c) inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin d) adanya bunga monoecious dan dioecious Waktu Tanaman Berbunga Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga.

DAFTAR PUSTAKA

Astarini, I.D. 2009. Pemuliaan Tanaman Sayuran. Tidak Diketahui Hartati, Sri. 2000. Penampilan Genotip Tanaman Tomat Hasil Mutasi Buatan Pada Kondisi Stress Air dan Kondisi Optimal. Agrosains. 2 (2) : 35-42 Saragih, W.C. 2008. Respon Pertumbuhan dan Produksi Tomat Terhadap Pemberian Pupuk Phospat dan Bahan Organik. Skripsi. Universitas Sumatera Utara
http://www.google.co.id/search?q=tomat+jenis+mawar&hl=id&client=firefox-a&rls=org.mozilla:enUS:official&biw=1252&bih=558&prmd=ivns&source=lnms&ei=nqN-TpvAL8nmrAeLhTgDw&sa=X&oi=mode_link&ct=mode&cd=1&ved=0CCoQ_AUoAA#sclient=psy&hl=id&client=firefoxa&rls=org.mozilla:enUS%3Aofficial&source=hp&q=TEKNIK+PERSILANGAN+PADA+TOMAT&oq=TEKNIK+PERSILANGAN+PADA+ TOMAT&aq=f&aqi=&aql=1&gs_sm=e&gs_upl=61888l64275l2l64606l8l8l0l0l0l3l851l2159l51.2l14l0&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.&fp=bd254df2ee3ecaa8&biw=1252&bih=558