Anda di halaman 1dari 22

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 4.1 URAIAN PEKERJAAN APPENDIX III B SPESIFIKASI UMUM

4.1 URAIAN PEKERJAAN

APPENDIX III B

SPESIFIKASI UMUM DAN TEKNIS A. SPESIFIKASI UMUM

1. Nama Pekerjaan Pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah pekerjaan pembangunan jalan 160 m dan lahan parkir dilingkungan kantor baru di Kantor Bupati Nias Selatan.

2. Lingkup Pekerjaan Pekerjaan yang akan dilaksanakan meliputi pekerjaan persiapan, pembersihan lokasi pekerjaan, pembentukan badan jalan dan lahan parkir, pemadatan tanah, pemasangan Lapisan Pondasi Bawah (Telford), pekerjaan Lapisan Pondasi Atas Kelas B, dan Penetrasi Macadam (lapen).

3. Sarana Kerja Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan harus tersedia :

a. Tenaga kerja terampil dan tenaga ahli yang cukup memadai dengan jenis dan

volume pekerjaan yang akan dilaksanakan.

b. Alat-alat bantu seperti seperti compactor, grader, excavator, bulldozer, ceret penyiraman manual, pengukur elevasi, atau peralatan lainnya yang benar- benar diperlukan dan dipergunakan dalam pelaksanaan.

4. Cara Pelaksanaan Semua jenis pekerjaan harus dilaksanakan/mengikuti ketentuan-ketntuan dalam Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), Gambar Bestek, Berita Acara Aanwijzing dan petunjuk-petunjuk pelaksanaan dari Konsultan Pengawas.

5. Jenis dan Mutu Bahan Jenis dan mutu bahan yang dipakai diutamakan produksi dalam negeri, sesuai dengan Keputusan MENPAN Nomor : 472/KPB/XII/1980, Nomor : 813/MENPAN/1980 tanggal 23 Desember 1980.

Keputusan MENPAN Nomor : 472/KPB/XII/1980, Nomor : 813/MENPAN/1980 tanggal 23 Desember 1980. Rencana Kerja dan Syarat
Keputusan MENPAN Nomor : 472/KPB/XII/1980, Nomor : 813/MENPAN/1980 tanggal 23 Desember 1980. Rencana Kerja dan Syarat

Rencana Kerja dan Syarat

1

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias B. SPESIFIKASI TEKNIS 4.2 PEKERJAAN PERSIAPAN 4.2.1

B. SPESIFIKASI TEKNIS

4.2

PEKERJAAN PERSIAPAN

4.2.1

Lingkup Pekerjaan

1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan, pendayagunaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantunya yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembangunan pada proyek ini.

2. Bagian ini meliputi pembersihan lokasi, pembuatan Direksi Keet dan Gudang Material, penyediaan air kerja dan penerangan kerja, serta mobilisasi dan demobilisasi.

4.2.2

Pembuatan Papan Nama Proyek Papan nama proyek diletakkan pada tempat yang mudah dilihat umum. Papan nama proyek memuat :

1. Nama Proyek

2. Pemilik Proyek

3. Lokasi Proyek

4. Jumlah Biaya (Kontrak)

5. Sumber Dana

6. Nama Pelaksana (Kontraktor)

7. Proyek dimulai bulan, tanggal dan tahun

4.2.3

Pembongkaran Konstruksi Lama dan Pembersihan Lokasi Pembongkaran konstruksi lama dilaksanakan dengan tidak mengganggu/ merusak bangunan lain yang telah ada. Sebelum memulai pekerjaan, Pemborong wajib membersihkan lokasi dari puing-puing, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan serta benda lainnya yang dianggap dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan.

4.2.4

Peralatan Kerja dan Mobilisasi

1. Pemborong harus mempersiapkan dan mengadakan peralatan-peralatan kerja dan perlatan bantu yang akan digunakan di lokasi proyek sesuai dengan lingkup pekerjaan serta memperhitungkan segala biaya pengangkutan.

2. Pemborong harus menjaga ketertiban dan kelancaran selama perjalanan alat-

alat berat yang menggunakan jalanan umum agar tidak mengganggu lalu-lintas.

perjalanan alat- alat berat yang menggunakan jalanan umum agar tidak mengganggu lalu-lintas. Rencana Kerja dan Syarat
perjalanan alat- alat berat yang menggunakan jalanan umum agar tidak mengganggu lalu-lintas. Rencana Kerja dan Syarat

Rencana Kerja dan Syarat

2

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 3. Pengawas atau pemberi tugas berhak memerintahkan untuk

3. Pengawas atau pemberi tugas berhak memerintahkan untuk menambah peralatan atau menolak peralatan yang tidak sesuai atau tidak memenuhi persyaratan.

4. Bila pekerjaan telah selesai, pemborong diwajibkan untuk segera menyingkirkan alat-alat tersebut, memperbaiki kerusakan yang diakibatkannya dan membersihkan bekas-bekasnya.

5. Disamping untuk menyediakan alat-alat yang diperlukan seperti dimaksudkan pada ayat (1), pemborong harus menyediakan alat-alat bantu sehingga dapat bekerja pada kondisi apapun, seperti : tenda-tenda untuk bekerja pada waktu hari hujan, perancah (scafolding) pada sisi luar bangunan atau tempat lain yang memerlukan, serta peralatan lainnya.

4.2.5 Pengukuran

1. Pemborong harus sudah memperhitungkan biaya untuk pengukuran. Pengukuran harus dilakukan oleh tenaga ahli dalam bidangnya dan berpengalaman.

2. Hasil pengukuran harus dilaporkan kepada pengawas agar dapat ditentukan sebagai pedoman atau referensi dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar rencana dan persyaratan teknis.

3. Pengukuran harus diketahui dan disetujui oleh Direksi teknis.

4. Jika pada saat pengukuran terjadi keraguan, maka hal ini harus ditanyakan kepada Pengawas.

4.2.6 Sarana Air Kerja dan Penerangan

1. Untuk kepentingan pelaksanaan pekerjaan selama proyek berlangsung, pemborong harus memperhitungkan biaya penyediaan air bersih guna keperluan air kerja, air minum untuk pekerja dan air kamar mandi.

2. Air yang dimaksud adalah bersih, baik yang berasal dari PAM atau sumber air, serta pengadaan dan pemasangan pipa distribusi air tersebut bagi keperluan pelaksanaan pekerjaan dan untuk keperluan direksi keet, kantor pemborong, kamar mandi/WC atau tempat-tempat lain yang dianggap perlu.Air harus memenuhi syarat yang tercantum dalam PBI NI-2.

3. Pemborong juga harus menyediakan sumber tenaga listrik untuk keperluan pelaksanaan pekerjaan, kebutuhan direksi keet dan penerangan proyek pada malam hari sebagai keamanan selama proyek berlangsung selama 24 jam penuh dalam sehari.

pada malam hari sebagai keamanan selama pr oyek berlangsung selama 24 jam penuh dalam sehari. Rencana
pada malam hari sebagai keamanan selama pr oyek berlangsung selama 24 jam penuh dalam sehari. Rencana

Rencana Kerja dan Syarat

3

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 4. Pengadaan penerangan dapat diperoleh dari sambungan PLN

4. Pengadaan penerangan dapat diperoleh dari sambungan PLN atau dengan pengadaan Generator Set, dan semua perijinan untuk pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab pemborong. Pengadaan fasilitas penerangan tersebut termasuk pengadaan dan pemasangan instalasi dan armatur, stop kontak serta saklar/panel.

4.2.7 Pembuatan Los Kerja dan Bangunan Istirahat

1. Pemborong harus membuat los kerja dan bangunan tempat untuk istirahat dan tempat shalat bagi pekerja pemborong.

2. Los kerja merupakan bangunan dengan luas yang cukup untuk tempat bekerja bagi tukang/pekerja pemborong dan mempunyai kondisi yang cukup baik, terlindung dari pengaruh cuaca yang dapat menghambat kelancaran pekerjaan.

3. Bangunan ini harus dibongkar setelah pekerjaan selesai dilaksanakan.

4.2.8 Keamanan Proyek

1. Pemborong harus menjamin keamanan proyek baik untuk barang-barang milik pemborong, pengawas atau pengelola proyek, serta menjaga keutuhan bangunan-bangunan yang ada dari gangguan para pekerja pemborong ataupun kerusakan akibat pelaksanaan pekerjaan.

2. Pemborong harus menempatkan petugas-petugas keamanan selama 24 jam penuh setiap hari, yang dibagi dalam 3 (tiga) shift, dan harus selalu mengadakan pemeriksaan pengamanan setiap hari setelah selesai pekerjaan.

3. Untuk menguasai dan menjaga ketertiban bekerja para pekerjanya, setiap pekerja pemborong diharuskan mengenakan tanda pengenal khusus yang harus dipakai pada bagian badan yang mudah terlihat oleh petugas keamanan.

4. Pekerja pemborong tidak diijinkan menginap di lokasi kecuali petugas keamanan yang sedang bertugas pada malam hari.

4.2.9 Kantor Proyek (Direksi Keet ) dan Perlengkapannya

1. Pemborong harus menyediakan kantor pengelola proyek lengkap dengan

peralatan / perabotan serta fasilitas-fasilitas kerja lainnya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proyek sebagai berikut :

- 3 (tiga) set meja kerja lengkap dengan kursinya

- Meja rapat untuk kapasitas 20 orang

: - 3 (tiga) set meja kerja lengkap dengan kursinya - Meja rapat untuk kapasitas 20
: - 3 (tiga) set meja kerja lengkap dengan kursinya - Meja rapat untuk kapasitas 20

Rencana Kerja dan Syarat

4

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias - 1 (satu) unit Personal Computer 486DX, memori

- 1 (satu) unit Personal Computer 486DX, memori 4 MB, lengkap dengan hard disk dan printer (Kertas A3)

- Calculator sebanyak 2 Buah (Minimal 12 digit)

- 1 (satu) lemari arsip metal terkunci

- 1 (satu) set meja gambar

2. Pemborong juga harus menyediakan alat-alat kerja pengelola proyek di lapangan, sebagai berikut :

- Sepatu lapangan yang tahan terhadap paku, helm pengaman dan jas hujan masing-masing 5 set

- 2 (Dua) buah roll meter tape ukuran 5 meter

- Caliper/schuifmaat dan penyiku besi

3. Direksi keet/kantor pengelola proyek, kantor dan gudang pemborong, pompa air kerja adalah merupakan sarana penunjang dalam pelaksanaan proyek dan merupakan yang dipakai habis pada saat selesai pekerjaan.

4.2.10 Kantor dan Gudang Pemborong

1. Pemborong harus membuat kantor di lokasi proyek untuk tempat bagi wakil pemborong bekerja, dilengkapi dengan peralatan kantor yang dibutuhkan.

2. Pemborong juga harus menyediakan gudang dengan luas yang cukup untuk menyimpan bahan-bahan bangunan dan peralatan-peralatan agar terhindar dari gangguan cuaca dan pencurian.

3. Penempatan kantor dan gedung pemborong harus diatur sedemikian rupa, agar mudah dijangkau dan tidak menghalangi pelaksanaan pekerjaan.

4.2.11 Penyedian Fasilitas Proyek

1. Pemborong juga harus memperhitungkan biaya-biaya konsumsi untuk rapat- rapat/ pertemuan dengan pemberi tugas atau wakilnya dan tamu-tamu pemberi tugas yang berkepentingan dengan proyek.

2. Unit tabung pemadam kebakaran harus ditempatkan pada setiap lantai bangunan dengan radius kurang lebih 50 meter, di dalam direksi keet dan tempat-tempat lain yang memerlukan.

radius kurang lebih 50 meter, di dalam direksi keet dan tempat-tempat lain yang memerlukan. Rencana Kerja
radius kurang lebih 50 meter, di dalam direksi keet dan tempat-tempat lain yang memerlukan. Rencana Kerja

Rencana Kerja dan Syarat

5

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 4.2.12 Pemadam Kebakaran 1. Selama pelaksanaan pekerjaan,

4.2.12 Pemadam Kebakaran

1. Selama pelaksanaan pekerjaan, pemborong harus menyediakan alat pemadam kebakaran berupa tabung pemadam kebakaran yang dapat digunakan untuk memadamkan api akibat listrik, minyak dan gas dengan kapasitas 7 kg.

2. Unit tabung pemadam kebakaran harus ditempatkan pada setiap lantai bangunan dengan radius kurang lebih 50 meter, di dalam direksi keet dan tempat-tempat lain yang memerlukan.

4.2.13 Jalan Masuk, Jalan Sementara

1. Apabila dianggap perlu, sesuai dengan kondisi dan situasi lokasi, pemborong harus sudah memperhitungkan pembuatan jalan masuk sementara dan/atau jembatan kerja sementara yang disetujui oleh pengawas.

2. Pembuatan jalan masuk atau jembatan sementara harus mengikuti peraturan dan semua perijinan sehubungan dengan pekerjaan tersebut menjadi tanggung jawab pemborong.

3. Pemborong harus menghindari kerusakan pada fasilitas jalan masuk yang ada dengan mengatur trayek kendaraan yang digunakan serta membatasi/membagi beban muatan.

4. Kerusakan pada jalan atau benda-benda lain yang diakibatkan oleh pekerjaan pemborong, mobilisasi peralatan serta pemasukan bahan akan menjadi tanggung jawab pemborong dan harus segera diperbaiki.

4.2.14 Keselamatan Kerja

1. Pemborong harus menjamin keselamatan kerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan dalam peraturan perburuhan atau persyaratan yang diwajibkan untuk setiap bidang pekerjaan.

2. Di dalam lokasi harus tersedia kotak obat pelengkap untuk pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK).

4.2.15 Izin-Izin

1. Pemborong harus mengurus dan memperhitungkan biaya untuk membuat izin- izin yang diperlukan dan berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan, antara lain: izin penerangan, izin pengambilan material, izin pembuangan, izin pengurugan, izin trayek dan pemakaian jalan, izin penggunaan bangunan serta

pembuangan, izin pengurugan, izin trayek dan pemakaian jalan, izin penggunaan bangunan serta Rencana Kerja dan Syarat
pembuangan, izin pengurugan, izin trayek dan pemakaian jalan, izin penggunaan bangunan serta Rencana Kerja dan Syarat

Rencana Kerja dan Syarat

6

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias izin-izin lain yang diperlukan sesuai dengan

izin-izin lain yang diperlukan sesuai dengan ketentuan/peraturan daerah setempat.

2. Keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang diakibatkan oleh hal tersebut ayat (1) di atas menjadi tanggung jawab pemborong.

4.2.16

Dokumentasi

1. Pemborong harus memperhitungkan biaya pembuatan dokumentasi serta pengirimannya ke pemberi tugas serta pihak-pihak lain yang diperlukan.

2. Yang dimaksudkan dengan pekerjaan dokumentasi adalah :

Foto-foto proyek, berwarna, minimal ukuran postcard, untuk keperluan laporan bulanan yang dibuat oleh konsultan pengawas, dan 3 (tiga) set album yang harus diserahkan pada serah terima pekerjaan untuk pertama kalinya.

4.2.17

Pengawasan

1. Kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan diawasi oleh Konsultan Pengawas.

2. Kontraktor wajib menyediakan buku harian di lapangan sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas.

3. Kontraktor wajib membuat laporan harian yang menyebutkan pekerjaan yang dilaksanakan setiap hari, bahan-bahan dan alat-alat yang didatangkan, besarnya prestasi pekerjaan yang telah diselesaikan, jumlah pekerjaan, keadaan cuaca dan lain-lain.

4. Perintah dan penugasan dari Konsultan Pengawas ditulis di dalam buku harian/surat dan dibubuhi tanda tangan dan nama jelas petugas Konsultan Pengawas.

4.3

PEKERJAAN TANAH

4.3.1

Ketentuan Umum

1. Sebelum melakukan pekerjaan tanah, pemborong harus membersihkan daerah yang akan dikerjakan dari sisa-sisa bongkaran, akar pohon maupun semak- semak serta segala perintang yang ada dalam daerah kerja, kecuali ditentukan lain oleh pengawas.

2. Pemborong harus menjamin terjaganya keutuhan barang/benda atau bangunan yang telah selesai dikerjakan dari segala macam kerusakan dan berhati-hati untuk tidak mengganggu patok pengukuran atau tanda-tanda yang lainnya.

dan berhati-hati untuk tidak mengganggu patok pengukuran atau tanda-tanda yang lainnya. Rencana Kerja dan Syarat 7
dan berhati-hati untuk tidak mengganggu patok pengukuran atau tanda-tanda yang lainnya. Rencana Kerja dan Syarat 7

Rencana Kerja dan Syarat

7

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 3. Perbaikan kerusakan pada barang/benda atau bangunan yang

3. Perbaikan kerusakan pada barang/benda atau bangunan yang harus dijaga akibat pelaksanaan pekerjaan akan menjadi tanggung jawab pemborong.

4. Pemborong harus melakukan pengukuran dan pematokan terlebih dahulu dan melaporkannya kepada pengawas, serta meminta ijin untuk memulai pekerjaan.

5. Pemindahan material akibat pembongkaran puing-puing dan semua yang merintangi pekerjaan harus dilakukan menurut peraturan.

4.3.2 Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini meliputi penyediaan dan pendaya gunaan semua tenaga kerja, bahan-bahan, dan perlengkapan-perlengkapan untuk semua pekerjaan penggalian, penimbunan kembali, dan pengisian/pengurugan untuk peninggian lantai bangunan sesuai dengan peil/elevasi yang telah ditentukan.

4.3.3 Penggalian Tanah dan Pembentukan Badan Jalan

1. Semua sampah-sampah, tumbuh-tumbuhan dan bekas urugan harus dibuang. Penggalian harus dilaksanakan sampai kedalaman sebagaimana ditentukan dalam gambar-gambar. Sebelum pekerjaan selanjutnya dilanjutkan, maka semua pekerjaan penggalian harus disetujui pengawas.

2. Pembentukan badan jalan harus memperhatikan tingkat elevasi lahan, ukuran badan jalan, posisi badan jalan terhadap bangunan disekitarnya dan elevasi badan jalan pada gambar rencana.

3. Pada saat penggalian badan jalan dan pemadatan, pipa-pipa drainase, air bersih dan kabel-kabel yang masih berfungsi harus diamankan dan dijaga agar jangan sampai rusak atau cacat. Apabila hal tersebut dijumpai, maka kontraktor harus segera memberitahukan kepada pengawas dan mengganti semua kerusakan-kerusakan tersebut atas biaya sendiri.

4. Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda purbakala, maka kontraktor wajib melaporkannya kepada Pemerintah Daerah setempat.

5. Semua galian harus diperiksa terlebih dahulu oleh pengawas sebelum pelaksanaan pekerjaan selanjutnya. Untuk dapat melaksanakan pekerjaan selanjutnya, kontraktor harus mendapat persetujuan/ijin tertulis pengawas.

pekerjaan selanjutnya, kontraktor harus mendapat persetujuan/ijin tertulis pengawas. Rencana Kerja dan Syarat 8
pekerjaan selanjutnya, kontraktor harus mendapat persetujuan/ijin tertulis pengawas. Rencana Kerja dan Syarat 8

Rencana Kerja dan Syarat

8

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 4.3.4 Penggalian di Bawah Muka Air Tanah 1.

4.3.4 Penggalian di Bawah Muka Air Tanah

1. Penggalian harus dilakukan dalam keadaan kering. Kontraktor bertanggung jawab untuk merencanakan sistem pemompaan air tanah dan sudah memperhitungkan biayanya.

2. Pemompaan dilakukan dengan memompa sumur-sumur bor atau cara lain yang

disetujui oleh pengawas dengan memenuhi persyaratan-persyarataan berikut:

a. Permukaan air tanah yang diturunkan harus dalam keadaan terkontrol penuh setiap waktu untuk menghindari fluktuasi yang dapat mempengaruhi kestabilan penggalian tanah.

b. Sistem yang digunakan tidak boleh mengakibatkan penaikan/penurunan tanah dasar galian secara berlebihan.

c. Harus menyediakan filter-filter secukupnya yang dipasang disekeliling sumur yang dipompa untuk mencegah kehilangan butir-butir tanah akibat pemompaan.

d. Air yang dipompa harus dibuang sehingga tidak mengganggu penggalian atau daerah sekitarnya.

e. Sistem pemompaan harus memperhitungkan rencana detail dalam menghadapi bahaya longsor pada pekerjaan dan daerah sekitarnya pada saat hujan besar.

4.3.5 Pengurugan dan Pemadatan

1. Kontraktor wajib melaksanakan pengurugan dengan semua bahan urugan yang keras atau mutu bahan yang terbaik dan mengajukan contoh bahan yang akan digunakan untuk mendapat persetujuan pengawas.

2. Pemadatan dengan penghamparan bahan urugan harus dilaksanakan lapis-per lapis yang tidak lebih tebal dari 15 cm (gembur).

3. Pemadatan badan jalan harus dilaksanakan dengan alat-alat yang telah disetujui, seperti mesin penggilas getar, atau alat tumbuk dimana standar kepadatannya dicapai pada kepadatan dimana kadar airnya 95 % dari kadar air optimal, atau “dry density” nya mencapai 95 % dari dry density optimal, sesuai dengan petunjuk pengawas.

4. Terhadap hasil pemadatan yang dilaksanakan, Kontraktor harus mengadakan “density test” di lapangan. Semua biaya seluruh pengujian tersebut menjadi beban Pemborong.

5. Bila bahan urugan apapun yang digunakan menjadi lapuk/rusak atau bila urugan yang telah dipadatkan menjadi terganggu, maka bahan tersebut harus

atau bila urugan yang telah dipadatkan menjadi terganggu, maka bahan tersebut harus Rencana Kerja dan Syarat
atau bila urugan yang telah dipadatkan menjadi terganggu, maka bahan tersebut harus Rencana Kerja dan Syarat

Rencana Kerja dan Syarat

9

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias digali keluar dan diganti dengan bahan yang memenuhi

digali keluar dan diganti dengan bahan yang memenuhi syarat serta dipadatkan kembali, sesuai dengan petunjuk Pengawas, tanpa adanya biaya tambahan.

6. Selama dan sesudah pekerjaan pengurugan dan pemadatan, tidak dibenarkan adanya genangan air di atas tanah atau sekitar lapangan pekerjaan. Kontraktor harus mengatur pembuangan air sedemikian rupa agar aliran air hujan atau dari sumur lain dapat berjalan lancar, baik selama ataupun sesudah pekerjaan selesai.

7. Kontraktor bertanggung jawab atas stabilitas urugan tanah dan Kontraktor harus mengganti bagian-bagian yang rusak akibat dari kesalahan dan kelalaian Kontraktor atau akibat dari aliran air.

4.3.6 Pekerjaan Penyelesaian

1. Seluruh daerah kerja termasuk penggalian, pemadatan dan penimbunan harus merupakan daerah dari yang betul-betul seragam dan bebas permukaan yang tidak merata.

2. Seluruh lapisan akhir, harus benar-benar memenuhi piel yang dinyatakan dalam gambar. Bila diakibatkan oleh penurunan, timbunan memerlukan tambahan meterial yang tidak lebih dari 30 cm, maka bagian atas tersebut harus digaruk sebelum material timbunan tambahan dihamparkan, untuk selanjutnya dipadatkan sampai mencapai elevasi dan sesuai dengan persyaratan.

3. Seluruh sisa penggalian yang tidak memenuhi syarat untuk bahan pengisi/urugan, seluruh puing-puing, reruntuhan dan sampah-sampah harus segera disingkirkan dari lokasi.

4.4 PEKERJAAN LAPIS PONDASI BAWAH (TELFORD)

4.4.1 Ketentuan Umum

1. Lapis pondasi bawah agregat adalah bagian konstruksi perkerasan yang terletak tanah dasar dan pondasi atas, yang terdiri dari LPB dari Telford (batu pecah).

2. Dalam kedudukannya sebagai bahan konstruksi pekerjaan jalan, pondasi bawah agregat mempunyai nilai konstruksi

4.4.2 Lingkup Pekerjaan Pemasangan LPB telford pada seluruh bagian badan jalan dan area parkir.

4.4.3 Persyaratan Bahan

LPB telford pada seluruh bagian badan jalan dan area parkir. 4.4.3 Persyaratan Bahan Rencana Kerja dan
LPB telford pada seluruh bagian badan jalan dan area parkir. 4.4.3 Persyaratan Bahan Rencana Kerja dan

Rencana Kerja dan Syarat

10

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 1. Bahan yang digunakan untuk pondai bawah harus

1. Bahan yang digunakan untuk pondai bawah harus memenuhi persyaratan sebagimana yang tercantum dalam gambar rencana.

2. Bahan pondasi harus bebas dari kotoran, bahan organic dan bahan-bahan lainnya, sehingga dapat memberikan lapisan kuat dan mantap. Bahan pondasi bawah yang terdiri dari LPB – B batu pecah (20-25 cm)

4.4.4 Pedoman Pelaksanaan

1. Sebelum pemasangan dan penyusunan lapis pondasi bawah dimulai, terlebih dahulu permukaan dasar harus dipadatkan sesuai ketentuan pemadatan dengan tingkat kepadatan yang disetujui oleh direksi teknis.

2. Pemasangan lapisan pondasi bawah yang terdiri dari batu belah yang dikerjakan setelah pasir dihampar diatas lapisan dasar setebal 5 cm kemudian batu belah ukuran 20-25 cm disusun berdiri dan rapat.

3. Pemasangan yang berongga disini dengan batu pecah ukuran 5-7 cm dan pasir urug. Bagian-bagian pasangan yang tak beraturan disisip kembali agar permukaan menjadi rata.

4. Setelah pemasangan lapis pondasi bawah selesai dikerjakan lalu dipadatkan atau diratakan dengan menggunakan mesin gilas roda besi. Pada bagian yang harus dilakukan pemadatan dimulai dari bagian tepi seterusnya bergeser kebagian tengah sejajar dengan sumbu jalan dan di usahakan berlangsung terus sampai seluruh permukaan terpadatkan secara merata.

5. Pada tikungan, pemadatan dimulai dari bagian yang rendah dan bergeser kearah bagian yang tinggi.

6. Apabila pada suatu tempat terjadi ketidakwajaran atau penurunan, pada tempat tersebut harus dilakukan pembongkaran dan penggantian dan tempat tersebut harus dilakukan pembongkaran dan penggantian dan penambahan bahan atas biaya kontraktor dan dipadatkan kembali sampai mencapai kepadatan yang seragam dan rata dengan permukaan yang telah sesuai dipadatkan disekitarnya.

7. Pengawas dapat memberikan petunjuk tambahan begitu juga dengan mutu dan jumlah. Mutu pekerjaan juga harus diperiksa kembali oleh pengawas. Bila terjadi ketidaksesuaian dengan persyaratan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Kontraktor diwajibkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan pekerjaan sesuai dengan spesifikasi dan biaya akan menjadi tanggung jawab kontraktor.

pekerjaan sesuai dengan spesifikasi dan biaya akan menjadi tanggung jawab kontraktor. Rencana Kerja dan Syarat 1
pekerjaan sesuai dengan spesifikasi dan biaya akan menjadi tanggung jawab kontraktor. Rencana Kerja dan Syarat 1

Rencana Kerja dan Syarat

11

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 4.5 PEKERJAAN LAPISAN PONDASI ATAS AGREGAT 4.5.1. Ketentuan

4.5 PEKERJAAN LAPISAN PONDASI ATAS AGREGAT 4.5.1. Ketentuan Umum

1. Lapis pondasi atas jalan merupakan lapisan struktur utama diatas yang dilapis

pondasi bawah. Pembangunan lapis pondasi atas terdiri dari pengadaan, pemprosesan, pengangkutan, penyebaran, penyiraman dengan air dan pemadatan agregat batu atau kerikil.

2. Bahan agregat lapis pondasi atas harus dipasang sampai ketebalan padat atau ketebalan yang kurang sebagaimana diperlukan untuk memenuhi persyaratan desain seperti yang ditunjukan gambar.

3. Permukaan lapis pondasi atas harus diselesaikan mencapai lebar, kelandaian punggung dan kemiringan melintang jalan sesuai gambar rencana dan arahan direksi teknis.

4. Kelandaian dan ketinggian akhir sesudah pemadatan tidak boleh lebih dari 1

cm.

5. Penyimpangan maksimum dalam kehalusan permukaan jika di uji dengan satu penggaris panjang 3 cm yang diletakkan sejajar atau melintang terhadap garis sumbu jalan yang tidak boleh melebihi 1,5 cm

4.5.2 Lingkup Pekerjaan Pemasangan LPA Kelas B pada seluruh bagian badan jalan dan area parkir.

4.5.3 Persyaratan Bahan

1. Contoh bahan yang digunakan untuk lapis pondasi atas harus diserahkan untuk

mendapatkan persetujuan paling sedikit 14 hari sebelum pekerjaan dimulai beserta hasil-hasil test laboratorium sesuai dengan persyaratan spesifikasi untuk kualitas dan bahan sebagaimana di uraikan dalam spesifikasi berikut ini:

a. Lapis pondasi atas kelas B, macadam ikat basah terdiri dari kerikil pasir lempung alami kualitas baik, seluruhnya lolos 75 mm dan gradasi sebagai fraksi kasar dan fraksi halus untuk disatukan pada waktu pemasangan kedalam satu lapisan lapis pondasi atas.

b. Semua lapisan lapis pondasi harus memenuhi persyaratan spesifikasi ini dan harus sesuai dengan gambar kontrak dan seperti yang diuraikan dalam penawaran.

c. Bahan lapisan pondasi atas terdiri dari potongan batu bersudut tajam yang keras, awet, dan bersih tanpa potongan-potongan yang terlalu tipis atau memanjang dan bebas dari batu-batu yang lunak, tidak menyatu atau

yang terlalu tipis atau memanjang dan bebas dari batu-batu yang lunak, tidak menyatu atau Rencana Kerja
yang terlalu tipis atau memanjang dan bebas dari batu-batu yang lunak, tidak menyatu atau Rencana Kerja

Rencana Kerja dan Syarat

12

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias bercerai-berai, kotor mengandung organic atau zat-zat lain

bercerai-berai, kotor mengandung organic atau zat-zat lain yang harus

dibuang. Bahan yang bercerai-berai secara alternative dibasahi dan

dikeringkan tidak boleh digunakan.

2. Makadam ikat basah

Bahan lapis pondasi atas kelas B meliputi

a. Agregat kasar yang tertahan pada saringan 4,75 mm bilamana dihasilkan

dari kerikil tidak kurang dari 50% terhadap berat, merupakan partikel-

partikel yang memiliki paling sedikit satu bidang retak-retak dan jika perlu

untuk memenuhi persyaratan atau menghilangkan pengisi yang berlebihan,

kerikil-kerikil tersebut harus disaring sebelum dipecahkan.

b. Agregat harus lolos saringan 4,75 mm dan terdiri dari pasir bagian halus

alami atau pecah

3. Gradasi lapis pondasi atas

 

Ukuran

 

Lolos Atas

 

Saringan mm

berat %

Agregat Kasar

 
 

Ukuran

   

75,0

 

100

Saringan

Lolos Atas berat %

62,5

95-100

mm

50,0

35-70

 

37,5

100

37,5

0-15

19,0

65-81

25,0

0-5

9,5

42-60

19,0

 

4.75

27-45

Agregat Halus

 

2,36

18-33

9,5

 

100

1,18

11-25

4,75

70-95

0,60

-

2,36

45-65

0,425

6-16

1,18

33-60

0,075

0-8

0,425

22-45

 

0,075

-

3. Syarat-syarat Kualitas

 
 

Jenis Pengujian

   

Batas Ujian

 
 

Kelas B

Kelas B

Batas Cair

 

Maksimum 25%

Maksimum 35%

Indeks Plastisitas

   

Maksimum 8%

4-12%

Ekivalensi Pasir

   

Minimum 30%

Minimum 30%

California Bearing Ratio (direndam)

   

Minimum 60%

Minimum 55%

Penyerapan Air

   

Tidak perlu

Maksimum 3%

Kehilangan Berat karena abrasi (500 putaran)

   

Maksimum 40%

Maksimum 45%

Catatan : pengujian diatas adalah jumlah minimum penguji kualitas yang diperlukan. Pengujian lebih luas dapat diminta untuk menentukan kekerasan dan kebagusan kualitas dan bagian yang halus

luas dapat diminta untuk menentukan kekerasan dan kebagusan kualitas dan bagian yang halus Rencana Kerja dan
luas dapat diminta untuk menentukan kekerasan dan kebagusan kualitas dan bagian yang halus Rencana Kerja dan

Rencana Kerja dan Syarat

13

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 4.5.4 Pedoman Pelaksanaan 1. Permukaan lapis pondasi bawah

4.5.4 Pedoman Pelaksanaan

1. Permukaan lapis pondasi bawah harus disesuaikan dengan pekerjaan yang ditentukan dan harus diatus serta dibersihkan dari kotoran-kotoran dan setiap

bahan lain yang merugikan untuk penghamparan lapis pondasi atas.

2. Pencampuran dan penghamparan dan Lapis pondasi atas Kelas B:

Untuk LPA macadam ikat basah, pertama bahan-bahan tersebut harus disusun dalam lapisan fraksi batu tunggal, dengan ukuran nominal 25 mm dan 50 mm.

Karena setiap lapisan dipasang dan disebarkan dengan tangan oleh pekerja dan dengan grader. Agregat harus disebarkan, dipecah, digilas, dan di airi masuk kedalam lapisan-lapisan tersebut, untuk menghasilkan bahan-bahan yang padat. Tebal masing-masing lapisan yang dipadatkan tidak boleh melebihi 10 cm atau dua kali ukuran batu maksimum.

3. Penghamparan dan Pemadatan

a. Penghamparan akhir sampai ketebalan dan kemiringan melintang yang diperlukan harus dilaksanakan dengan cadangan sekitar 10% pengurangan ketebalan untuk pemadatan bahan LPA. Segera setelah penghamparan dan pembentukan akhir setiap lapisan LPA, bahan tersebut harus dipadatkan dengan baik dengan alat pemadat yang sesuai meliputi mesin gilas jenis pneumatic.

b. Penggilasan untuk pembentukan dan pemadatan harus maju sedikit demi sedikit dari pinggir ketengah dari perkerasan, sejajar dengan sumbu jalan dan harus dilaksanakan dalam operasi yang terus menerus untuk membuat pemadatan matang yang merata. Pada bagian super elevasi, miring melintang atau kemiringan yang terjal penggilasan harus berjalan dari bagian jalan yang rendah menuju kebagian atas.

c. Setiap ketidakteraturan atau penurunan setempat yang mungkin terjadi harus diperbaiki dengan membongkar permukaan yang sudah dipadatkan, menambah atau membuang bahan pondasi, membentuk kembali dan memadatkan sampai permukaan akhir kemiringan melintang yang betul. Bagian-bagian yang sempit disekitar perkerasan sampai batu tepi atau dinding-dinding yang tidak dapat dimasukkan mesih gilas harus dipadatkan dengan compactor.

d. Kadar air untuk pemasangan harus dijaga didalam batas-batas 3% lebih rendah dari kadar air optimum sampai 1% lebih tinggi dari kadar optimum dengan penyiraman air atau pengeringan bila perlu dan bahan LPA

tinggi dari kadar optimum dengan penyiraman air atau pengeringan bila perlu dan bahan LPA Rencana Kerja
tinggi dari kadar optimum dengan penyiraman air atau pengeringan bila perlu dan bahan LPA Rencana Kerja

Rencana Kerja dan Syarat

14

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias tersebut harus dipadatkan sampai menghasilan kepadatan

tersebut harus dipadatkan sampai menghasilan kepadatan kering yang diperlukan.

4. Metoda Pelaksanaan Persyaratan Pemadatan Bila saran pengujian tidak dapat diperoleh untuk pemerikasaan kerapatan pemadatan atau dimana penggunaan bahan LPA kelas B (ukuran agregat > 50 mm) membatasi penerapan pengujian kerapatan setempat.

4.5.5 Perbaikan pekerjaan yang tidak memuaskan

1. Setiap bahan pondasi atas yang tidak memenuhi spesifikasi ini, apakah dipasang atau belum, harus ditolak dan diletakkan disamping untuk digunakan sebagai bahan penimbun atau dengan cara lain dibuang.

2. Setiap bagian pekerjaan lapis pondasi atas yang menunjukkan ketidakteraturan atau kerusakan dikarenakan penganan jelek atau kegagalan kontraktor untuk memenuhi peraturan spesifikasi dan gambar rencana harus dibetulkan dengan perbaikan atas beban biaya kontraktor.

4.6 LAPIS PERMUKAAN PENETRASI MACADAM (LAPEN) 4.6.1 Ketentuan Umum

1. Lapis permukaan penetrasi macadam terdiri dari pembangunan diatas lapis pondasi atas atau dengan permukaan penutup yang ada sebelumnya sudah siapkan, satu lapisan permukaan perkerasan yang tebalnya antara 5-7 cm dari penetrasi batu pecah yang bersih dengan pemakaian aspal pengikat panas.

2. Tebal rata-rata yang sebenarnya dipasang harus sama dengan atau lebih tebal dari nominal rencana. Asal penetrasi macadam terpasang pada ketebalalan baru yang keras dalam semua arah. Tidak ada satu titikpun akan memiliki tebal lapis padat yang lebih dari 5 mm dibawah tebal nominal tebal rencana.

3. Permukaan akhir harus mematuhi garis, ketinggian dan penampang melintang tipikal sebagaimana ditunjukkan dalam gambar rencana. Bila di uji dengan batu mal dan batang lurus permukaan akhir tidak boleh menunjukkan variasi terhadap permukaan akhir yang diperlukan lebih besar dari 6 mm untuk panjang 3 m.

4. Kontraktor harus menyerahkan contoh bahan sedikitnya 14 hari sebelum pekerjaan dimulai yang di usulkan digunakan dalam pekerjaan beserta data- data berikut :

pekerjaan dimulai yang di usulkan digunakan dalam pekerjaan beserta data- data berikut : Rencana Kerja dan
pekerjaan dimulai yang di usulkan digunakan dalam pekerjaan beserta data- data berikut : Rencana Kerja dan

Rencana Kerja dan Syarat

15

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias a. Sertifikat pabrik pembuat mengenai bahan pengikat aspal

a. Sertifikat pabrik pembuat mengenai bahan pengikat aspal bersama-sama

dengan data uji yang menunjukkan kesesuaian dengan persyaratan

kualitas spesifikasi.

b. Rincian sumber pengadaan dan produksi agregat yang harus digunakan

beserta hasil-hasil pengujian yang menunjukkan kesesuaian dengan

persyaratan kualitas dan gradasi spesifikasi ini yang diberikan.

5. Campuran beraspal hanya akan dipasang bilamana permukaan agregat kering,

hujan tidak menghantui dan bila dasar jalan yang disiapkan dalam kondisi yang

memuaskan.

4.6.2 Lingkup Pekerjaan

Pemasangan penetrasi Macadam pada seluruh bagian badan jalan dan area parkir.

4.6.3 Persyaratan Bahan

1. Agregat

a. Agregat terdiri dari batu pecah berupa agregat kunci dan agregat penutup

yang bersih, keras dengan kualitas seragam dan bebas dari kotoran

lempung, bahan-bahan tumbuh-tumbuhan atau bahan lainnya yang harus

dibuang.

b. Batas perbedaan agregat

Agregat kasar berupa lapisan utama yang berada dalam batas-batas

agregat ukuran nominal 2,5 cm – 6,25 cm yang tergantung kepada

ketebalan lapisan dengan ukuran lebih /3 cm tebal rencana.

Agregat kunci untuk lapisan utama harus lolos saringan 25 mm tetap

tidak boleh lebih dari 5% akan lolos dari saringan 9,5 mm

Bila diserahkan dalam daftar penawaran, satu lapisan penutup aspal

harus diletakkan diatas permukaan penetrasi macadam

menggunakan agregat ukuran tunggal nominal 12,5 mm

sebagaimana ditetapkan dalam spesifikasi ini.

c. Gradasi Agregat

Tabel. Gradasi Agregat untuk Lapis Permukaan Penetrasi Macadam

40

Ukuran Saringan

25

19

mm

35-70 Persentasi Lolos

95-100

Tebal Lapisan 0-15 0-5 5,5-7

cm

-

Tebal Lapisan 4-5

cm

0-5

Agregat Kunci

Agregat Pokok

   

25

62,5

19

50

100

100

95-100 95-100

100

-

95-100

100

    25 62,5 19 50 100 100 95-100 95-100 100 - 95-100 100 Rencana Kerja
    25 62,5 19 50 100 100 95-100 95-100 100 - 95-100 100 Rencana Kerja

Rencana Kerja dan Syarat

16

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 9,5 0-5 0-5 Lapis penutup     12,5

9,5

0-5

0-5

Lapis penutup

   

12,5

100

9,5

85-100

4,75

10 - 30

2,36

0-10

2. Syarat-Syarat Kualitas Agregat

Agregat yang digunakan untuk lapis permukaan penetrasi macadam harus

mematuhi syarat kualitas berikut.

Tabel . Syarat- syarat Kualitas Agregat Pokok

URAIAN

BATANG BESI

1. Kehilangan berat karena abrasi 500

Maksimum 40%

2. Indeks serpihan (brithish standart)

Maksimum 25%

3. Penahanan aspal setelah pelapisan dan

Minimum 95%

pengelupasan

3. Bahan pengikat beraspal

a. Aspal yang digunakan harus aspal semen gradasi kekentalan atau aspal

yang di encerkan, jika diminta demikian untuk kontraktor khusus dan

digunakan menurut pengawas

Aspal semen. AC – 10 (ekivalen dengan pen 80/100). AC -20

(ekivalen dengan pen 60/70

Aspal keras yang diencerkan (cut back). AC -10. AC – 20

Tabel. Rencana Bahan Pengikat untuk Aspal cut back

 

Perbandingan Kerosin terhadap 100 Bagian Aspal Semen

Maksimum

Suhu Udara

Terlindung

suhu

celcius

AC - 10 ( 80 - 100)

AC - 20 (60 - 70)

penyempotan

celcius

20

11

13

140

25

7

9

135

30

3

5

133

35

6

2

190

11 13 140 25 7 9 135 30 3 5 133 35 6 2 190 Rencana
11 13 140 25 7 9 135 30 3 5 133 35 6 2 190 Rencana

Rencana Kerja dan Syarat

17

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias b. Aspal emulsi dapat digunakan sebagai alternative

b. Aspal emulsi dapat digunakan sebagai alternative terhadap aspal cut back, tergantung kepada persetujuan pengawas atas sumber pengadaan dan kualitas.

4.6.4 Pedoman Pelaksanaan

1. Peralatan pelaksanaan a. Jenis alat dan metoda pengoprasian harus sesuai dengan daftar units

produksi dan peralatan kerja serta program kerja yang disetujui dan menurut petunjuk pengawas. b. Pada umumnya akan dipilih jenis peralatan berikut :

Penyemprot aspal

Alat untuk pemanas aspal

Mesin gilas

Excavator

Graider

Compactor

2. Volume bahan yang digunakan Tingkat perkiraan pemakaian dan volume bahan-bahan parameter persegi luas permukaan untuk lapisan penetrasi macadam diberikan dalam table berikut. Tingkat pemakaian berdasarkan keperluan tebal lapisan. Ketebalan sebenarnya serta tingkat pemakaian akhir harus sesuai dengan daftar penawaran.

Tabel. Penggunaan Penetrasi Macadam

Tebal

       

Tingkat

Total

Lapen

Tingkat Penaburan Agregat kasar Kg/m

Penggunaan

aspal

pertama

Tingkat

Penaburan

Agregat

Penggunaan

Aspal ke

Penaburan

Agregat

(cm)

 

62.5

Kg/m

Kunci Kg/m

Dua Kg/m

Penutup

Kg/m

50

mm

mm

4

64

(25)

-

2,0

25

1,5

14

4.5

72

(22)

-

2,3

25

1,5

14

5

80

(20)

-

2,5

25

1,5

14

   

99

       

5.5

 

-

(18)

4,0

25

1,5

14

   

100

       

6

 

-

(12)

4,4

25

1,5

14

   

117

       

6.5

 

-

(14)

4,8

25

1,5

14

   

128

       

7

 

-

(14)

5,2

25

1,5

14

  128         7   - (14) 5,2 25 1,5 14 Rencana Kerja
  128         7   - (14) 5,2 25 1,5 14 Rencana Kerja

Rencana Kerja dan Syarat

18

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias 3. Persiapan Lapangan Penetrasi macadam akan dipasang

3. Persiapan Lapangan Penetrasi macadam akan dipasang diatas pondasi yang telah dibangun diatas permukaan dengan lapis penutup yang akan meliputi:

a. Diletakkan diatas permukaan lapis penutup yang ada permukaan tersebut harus dilapisi aspal pelekat pada suatu tingkat pemakaian tidak melebihi 0,51/m 2

b. Permukaan perkerasan harus kering dan bebas dari batu-batu lepas atau suatu bahan lain yang harus dibuang

c. Sebelum pemasangan agregat kasar dan agregat kunci harus ditumpuk secara terpisah dilapangan untuk mencegah pencampuran dan harus selalu bersih

4. Penaburan dan Pemadatan

a. Penaburan Agregat kasar dalam lapisan pokok

Agregat kasar akan ditaburkan dengan tangan atau dengan mesin dan dipadatkan sampai kedalaman yang seragam hingga mencapai garis, profil dan kemiringan yang dikehendaki. Sebuah mal kemiringan menurut kemiringan melintang rencana perkerasan selesai, harus digunakan untuk memperoleh keseragaman permukaan akhir.

Penaburan tidak boleh dilakukan lebih lanjut melebihi dari operasi penggilasan dan penebaran panjang yang dapat diselesaikan dalam rata-rata satu hari kerja. Agregat segregasi atau agregat bercampur dengan tanah atau bahan asing lainnya harus disingkirkan dan diganti dengan agregat bergradasi yang benar.

b. Penggilasan dan pemadatan lapisan pokok

Lapisan agregat kasar pokok harus digilas kering dengan mesin gilas roda baja 6-8 ton sampai terpadatkan seluruhnya. Penggilasan awal akan dimulai dari sebelah pinggir, kemudian akan menuju ke tengah perkerasan. Pinggiran roda mesin gilas akan melapis tindih hamparan sebelumnya dengan sekitar 2/3 lebar roda

Setelah penggilasan awal permukaan tersebut harus diperiksa dengan mal punggung dan batang lurus 3m dan harus mematuhi toleransi ukuran dengan cadangan yang diberikan untuk kebutuhan pemadatan berikutnya. Semua ketidakrataan permukaan yang melebihi batas harus dibenarkan dengan membuang atau menambah agregat.

permukaan yang melebihi batas harus dibenarkan dengan membuang atau menambah agregat. Rencana Kerja dan Syarat 1
permukaan yang melebihi batas harus dibenarkan dengan membuang atau menambah agregat. Rencana Kerja dan Syarat 1

Rencana Kerja dan Syarat

19

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias • Penggilasan akan berhenti sebelum rongga-rongga

Penggilasan akan berhenti sebelum rongga-rongga tertutup sedemikian jauh sehingga mencegah penetrasi yang bebas merata dari aspal dan agregat kunci.

c. Pemakaian bahan aspal (sebelum agregat kunci)

Setengah agregat kasar digilas dan diperikas, bahan pengikat aspal akan disemprotkan pada suatu suhu yang cocok pada jenis dan mutu bahan pengikat aspla sebagaimana ditetapkan dalam item berikut. Tingkat pemakaian harus sesuai table.

Suhu pemanasan yang diperlukan untuk bahan pengikat aspal harus berada dalam batas berikut:

- Aspal Keras

- AC – 10 (pen 80/100)

- AC – 20 (pen 60/70)

- Aspal cair

- MC – 800

-

MC -

300

: batas benda 125 o -180 o

: batas benda 135 o -185 o

: batas benda 77 o -115 o

: batas benda 60 o -100 o

Setiap bahan pengikat aspla yang telah dipanaskan sampai suhu penyemprotan lebih dari 10 jam atau telah dipanaskan sampai satu panas yang melebihi suhu maksimum yang diberikan dalam item diatas. Dan harus mematuhi kekentalan yang diperlukan.

Sebelum penyemprotan bahan pengikat aspal, bahan harus kering permukaan sampai seluruh kedalamannya.

Bahan aspal akan disemprotkan secara lebih baik dengan distributor bertekanan merata ketas permukaan pada tingkat yang sudah ditetapkan. Diatas luas yang kecil, dimana pemakaian batang penyemprotan tidak praktis, bahan tersebut akan disemprotkan dengan selang tangan. Sebuah ceret curah hanya dapat digunakan bilamana diberikan persetujuan.

d. Penggunaan agregat kunci Secepatnya setelah pemakaian aspal, agregat kunci akan ditaburkan merata diatas permukaan dengan alat mesin penabur atau dengan cara manual, dibersihkan dengan sapu serat untuk menjamin distribusi yang merata dan di gilas lagi. Agregat kunci extra akan ditambahkan dengan

distribusi yang merata dan di gilas lagi. Agregat kunci extra akan ditambahkan dengan Rencana Kerja dan
distribusi yang merata dan di gilas lagi. Agregat kunci extra akan ditambahkan dengan Rencana Kerja dan

Rencana Kerja dan Syarat

20

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias tangan bilamana diperlukan sert penggilasan dan pembersihan

tangan bilamana diperlukan sert penggilasan dan pembersihan akan berlanjut sehingga agregat tersebut tertanam dengan baik.

e. Penggunaan bahan aspal (setengah agregat kunci) Setelah agregat kunci selesai digilas dan diperiksa, bahan aspal harus diterapkan sesuai yang ditentukan.

f. Penggunaan agregat penutup Secepatnya setelah pemakaian aspal, agregat kunci akan ditaburkan merata diatas permukaan dengan alat mesin penabur atau dengan cara manual, dibersihkan dengan sapu serat untuk menjamin distribusi yang merata dan di gilas lagi. Agregat kunci extra akan ditambahkan dengan tangan bilamana diperlukan sert penggilasan dan pembersihan akan berlanjut sehingga agregat tersebut tertanam dengan baik. Setiap batu lebih harus disingkirkan dengan sapu.

g. Sambungan-sambungan Sambungan memanjang dan melintang harus diakhiri dengan potongan tegak serta digaruk kembali secukupnya bila diperlukan untuk lapis tindih. Dimana permukaan baru berbatas dengan permukaan lama dan dipotong kembali agar membentuk.

h. Tebal lapisan dan permukaan selesai Tebal terpadatkan lapisan permukaan penetrasi macadam tidak boleh kurang dari yang telah ditetapkan berada dalam toleransi

4.6.5

Perbaikan Pekerjaan yang tidak memuaskan Lapisan akhir permukaan harus diselesaikan sesuai persyaratan spesifikasi ini. Perbaikan penetrasi macadam yang tidak memuaskan harus dilaksanakan sesuai dengan anjuran pengawas. Meliputi pembuangan dan penggantian dengan penetrasi macadam yang baru, menambahkan lapisan tambahan atau suatu kelengkapan lain yang oleh pengawas dianggap perlu untuk memberikan penyelesaian yang memuaskan.

4.7

PEKERJAAN PENYELESAIAN AKHIR (FINISHING)

Pada saat serah terima pertama dilaksanakan, pekerjaan pembangunan jalan dan pembersihan lokasi harus sudah diselesaikan secara keseluruhan.

pembangunan jalan dan pembersihan lokasi harus sudah diselesaikan secara keseluruhan. Rencana Kerja dan Syarat 2 1
pembangunan jalan dan pembersihan lokasi harus sudah diselesaikan secara keseluruhan. Rencana Kerja dan Syarat 2 1

Rencana Kerja dan Syarat

21

UNITED NATIONS DEVELOPMENT PROGRAMME Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias

Emergency Response and Transitional Recovery Aceh and Nias • Segala laporan atau catatan, dibuat dalam bentuk

Segala laporan atau catatan, dibuat dalam bentuk buku harian rangkap 5 (lima) diisi pada formulir yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan/Pemilik dan harus selalu berada di tempat pekerjaan.

Kontraktor harus menyerahkan pada Pemilik as built drawing dalam bentuk kalkir dan 2 examplar dalam bentuk kopian yang telah dibukukan.

Banda Aceh,

Direksi Teknis, United Nations Development Programme

Agustus 2007

dibukukan. Banda Aceh, Direksi Teknis, United Nations Development Programme Agustus 2007 Rencana Kerja dan Syarat 2
dibukukan. Banda Aceh, Direksi Teknis, United Nations Development Programme Agustus 2007 Rencana Kerja dan Syarat 2

Rencana Kerja dan Syarat

22