Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat akan menambah beban yang tidak ringan bagi suatu kota dalam penyiapan infrastruktur baru, seperti pendidikan, kesehatan, serta pelayanan-pelayan perkotaan lainya, apalagi para pendatang pada umumnya bependidikan rendah, sehingga keadaan ini juga akan lebih menambah beban bagi pemerintah kota. Salah satu beban yang timbul adalah limbah padat atau sering disebut dengan sampah, sampah sebagai barang sisa yang tidak terpakai baik padat maupun cair dari manusia, sehingga dengan demikian apabila masalah sampah ini tidak dapat dikelola dengan baik maka otomatis akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan yang selanjutnya akan mengancam kehudupan manusia itu sendiri. Dimana notabene kotakota di Indonesia sampai sejauh ini belum mampu menangani sampah ini dengan baik. Dengan adanya pertumbuhan kota yang pesat dan tingkat sosial yang berubah serta teknologi kemajuan manusia berkembang, sampah menjadi masalah yang serius dan diperlukan penanganan secara seksama secara terintegrasi dengan inovasiinovasi baru yang lebih memadai ditinjau dari segala aspek, baik itu aspek sosial, aspek ekonomiu maupun aspek teknis. Dalam kondisi sekarang ini penanganya menjadi masalah yang kian mendesak di kota-kota di Indonesia, sebab pertumbuhan kota di indonesia akan terus berlangsung dengan percepatan yang tidak juga berkurang bahkan ada kecenderungan terus meningkat Persoalan sampah merupakan isu penting di lingkungan perkotaan yang terus menerus dihadapi sejalan mengikuti perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan aktivitas pembangunan. Peningkatan volume sampah yang berskala besar sekarang ini memang belum dapat dibarengi dengan peningkatan aktifitas pemeliharaan lingkungan. Kurangnya perhatian masyarakat yang konsumtif tidak seimbang dengan kesadaran masyarakat untuk memerhatikan lingkungan.

Perkembangan populasi sampah akibat tuntutan tambahan kebutuhan hidup manusia bila tidak dibarengi kebijakan pengelolaan sampah yang baik sedini mungkin, cenderung akan mengancam kerusakan Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan hidup yang ada. Salah satu tandanya adalah dengan adanya perubahan fenomena alam atau kerusakan fisik lingkungan yang pada gilirannya menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem dan mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Ujungnya adalah yang kita alami saat ini, pemanasan global. Setiap aktifitas yang dilakukan di suatu lokasi atau lingkungan yang akan berdampak pada alam, kehidupan manusia serta berbagai sumber daya di sekitarnya perlu diteliti dan dikaji. Gunanya agar dapat diketahui perkembangan atau perubahannya secara dini dan dapat segera dilakukan upaya pengendalian, pengawasan,

penanggulangan, bahkan pemulihan kembali lingkungan alam fisik. Dengan pertumbuhan penduduk dan percepatan pembangunandi Kota Serang sebagai Ibukota Provinsi Banten, sangat memungkinkan terjadinya lonjakan limbah buangan rumah tangga, industri dan sebagainya. Hampir di setiap kota, termasuk Serang, persoalan sampah menjadi isu penting bahkan menjadi fenomena sosial. Sampah yang tidak dikelola dan ditangani dengan baik menjadi penyebab terjadinya pencemaran air, tanah, udara dan bahkan sampai timbul kerawanan sosial di tengah masyarakat. 1.2 Tujuan 1. Untuk mengetahui sistem pengelolaan sampah yang ada di daerah Serang. 2. Untuk mengetahui teknik pengelolaan sampah yang ada di daerah Serang. 3. Untuk mengetahui Dampak TPA Cilowong bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TPA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lokasi Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Cilowong yang terletak di kecamatan Taktakan, sekitar 10 kilometer sebelah selatan kota Serang dan mempunyai luas areal sekitar 12 hektar, 7 hektar di antaranya sudah terpakai untuk tempat pembuangan sampah yang pada awal Januari 2009 lalu terjadi bencana longsor yang di pastikan pada pertengahan bulan Mei tahun ini akan segera di perbaiki dan di bangun sarana prasarana untuk pengembangan sistem drainase dan pengelolaan persampahan. B. Pengelolaan Sampah Masalah yang sering muncul dalam penanganan sampah kota adalah masalah biaya operasional yang tinggi dan semakin sulitnya ruang yang pantas untuk pembuangan. Sebagai akibat biaya operasional yang tinggi, kebanyakan kota-kota di Indonesia hanya mampu mengumpulkan dan membuang 60% dari seluruh produksi sampahnya. Dari 60% ini, sebagian besar ditangani dan dibuang dengan cara yang tidak saniter, boros dan mencemari Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat tidak membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengleolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sapah bersifat terpusat. Kemampuan Pemerintah Daerah Kabupaten Serang dalam menangani sampah masih sangat terbatas. Secara Nasional, tingkat pelayanan baru mencapai 40 % dari volume sampah yang dihasilkan. Pertambahan penduduk yang disertai dengan tingginya arus urbanisasi ke perkotaan juga menyebabkan semakin tingginya volume

sampah yang harus dikelola setiap hari. Hal tersebut bertambah sulit karena semakin besar beban yang harus ditangani dan kesadaran masyarakat terhadap sampah. Dalam sehari, sampah yang datang dari Kota Serang sebanyak 230-270 meter kubik, sedangkan dari Kabupaten Serang sebanyak 120-130 meter kubik. Sementara, sampah yang dijadikan untuk kompos per harinya yakni 8 ton. 1 meter kubik setara dengan 650 kg. Dengan begitu, selisih sampah yang datang dengan sampah yang dijadikan kompos yakni sekira 220 ton sampah. C. Pengolahan Sampah Sampah dapat diolah bergantung dari jenis dan komposisinya. Berbagai alternatif yang tersedia dalam pengolahan sampah, di antaranya adalah : a. Transformasi fisik, meliputi pemisahan komponen sampah (shorting) dan pemadatan (compacting), yang tujuannya adalah mempermudah penyimpanan dan pengangkutan. b. Pembakaran (incinerate), merupakan teknik pengolahan sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bentuk gas, sehingga volumenya dapat berkurang hingga 90-95%. Meski merupakan teknik yang efektif, tetapi bukan merupakan teknik yang dianjurkan. Hal ini disebabkan karena teknik tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara. c. Pembuatan kompos (composting), Kompos adalah pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan-bahan hijauan dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan, misalnya kotoran ternak atau bila dipandang perlu, bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik, seperti urea (Wied, 2004). Berbeda dengan proses pengolahan sampah yang lainnya, maka pada proses pembuatan kompos baik bahan baku, tempat pembuatan maupun cara pembuatan dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. d. Energy recovery, yaitu tranformasi sampah menjadi energi, baik energi panas maupun energi listrik. Metode ini telah banyak dikembangkan di Negara-negara maju yaitu pada instalasi yang cukup besar dengan kapasitas 300 ton/hari dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik sehingga energi listrik ( 96.000

MWH/tahun) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya proses pengelolaan. e. Pembuangan akhir Pada prinsipnya, pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kelestarian lingkungan. Teknik yang saat ini dilakukan adalah dengan open dumping, di mana sampah yang ada hanya di tempatkan di tempat tertentu, hingga kapasitasnya tidak lagi memenuhi. Teknik ini sangat berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Teknik yang

direkomendasikan adalah dengan sanitary landfill. Di mana pada lokasi TPA dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah. TPSA Cilowong memiliki cara penanganan sampah yang lebih baik dari beberapa TPSA lainnya. Karena di sini sampah-sampah tersebut tidak dibakar, melainkan diolah menjadi pupuk kompos. Pengolahan sampah menjadi pupuk kompos di TPSA Cilowong sudah mulai dilakukan sekitar satu setengah tahun yang lalu. Terdapat ribuan paket karung pupuk kompos di lokasi pengolahan yang tidak jauh dari lokasi TPSA. Tiap pupuk berisi sekitar 25 hingga 40 kilogram pupuk yang nantinya akan didistribusikan kepada perusahaan. Perusahaan yang berlabelkan Petro Kimia Gresik adalah merk pupuk ternama yang berasal dari daerah Jawa Timur yakni Gresik. TPSA Cilowong merupakan pabrik pupuk ke-122 di Indonesia. Diterangkan, pupuk kompos itu terdiri dari 60 persen kompos, 25 persen kotoran ayam (koyam), dan 15 persen ampas tebu. Dalam proses pembuatan pupuk kompos tersebut terlebih dahulu dilakukan uji penelitian terhadap kadar senyawa yang terkadung didalamnya, agar kadar pupuk kompos yang nanti akan dijual ke pasaran sudah memenuhi syarat sebagai pupuk bermutu dan berkualitas. Semua itu didukung oleh adanya fasilitas laboratorium yang dapat menopang kualitas dari pupuk kompos itu sendiri. Volume sampah yang ada di Cilowong yakni sekitar 1 juta meter kubik sejak 1995 yang lalu. Dengan adanya pengelolaan sampah menjadi kompos dapat mengurangi volume sampah yang ada. Dikhawatirkan dengan volume yang

berlebihan, akan terjadi longsor sampah saat musim hujan seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Dengan mengolah sampah menjadi pupuk serta tidak membakar gunungan sampah itu, pencemaran udara dari sampah yang dapat merusak ekosistem alam dapat berkurang. Selain diolah menjadi pupuk kompos, air limbah dari sampahsampah tersebut pun diolah sedemikian rupa melalui beberapa penyaringan sehingga dapat berfungsi untuk mengairi sawah. Dari sistem pengelolaan persampahan yang sedang berjalan sampai saat ini, ternyata masih belum mampu menangani persampahan kota, kararena ada beberapa permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan sampah sistem sekarang ini, yakni : 1. Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah belum dipilahpilah sehingga kalaupun akan diterapkan teknologi lanjutan berupa

komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan, dan hal ini akan memerlukan dana maupun menyita waktu. 2. Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah, diantaranya : a. Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir (TPA) sehingga hanya cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. Apalagi bila kota menjadi semakin bertambah jumlah

penduduknya, maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan jenisnya. Hal ini akan semakin bertambah juga luasan

lahan bagi TPA. Apabila instalasi Incinerator yang ada tidak dapat mengimbangi jumlah sampah yang masuk jumlah timbunannya semakin lama semakin meningkat. Lalu dikhawatirkan masalah sosial dan lingkungan, diantaranya : dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain; akan timbul berbagai

dapat menimbulkan bau tidak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter; dan dapat mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan.

b. Biaya operasional sangat tinggi bagi pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan lebih lanjut. Apalagi bila letak TPA jauh dan bukan di wilayah otonomi. c. Pembuangan sistem open dumping dapat menimbulkan beberapa

dampak negatif terhadap lingkungan. Pada penimbunan dengan sistem anarobik landfill akan timbul leachate di dalam lapisan timbunan dan akan merembes ke dalam lapisan tanah di bawahnya. Leachate ini sangat merusak dan dapat menimbulkan bau tidak enak, selain itu dapat menjadi tempat pembiakan bibit penyakit seperti : lalat, tikus dan lainnya d. Pembuangan dengan cara sanitary landfill, walaupun dapat mencegah timbulnya bau, penyakit dan lainnya, tetapi masih memungkinkan muncul masalah lain yakni : Timbulnya gas yang dapat menyebabkan pencemaran udara. Gas-gas yang mungkin dihasilkan adalah : methan, H2S, NH3 dan lainnya. Gas H2S dan NH3 walaupun jumlahnya sedikit, namun dapat menyebabkan bau yang tidak enak sehingga dapat merusak sistem pernafasan tanaman dan membuat tanaman kekurangan gas oksigen dan akhirnya mati. Pada proses penimbunan, sebaiknya sampah diolah terlebih dahulu dengan cara dihancurkan dengan tujuan untuk memperkecil volume sampah agar memudahkan pemampatan sampah. Untuk melakukan ini tentunya perlu tambahan pekerjaan yang berujung pada tambahan dana. 3. Penggunaan Incinerator dalam pengolahan sampah memiliki beberapa

kelemahan, di antaranya : Dihasilkan abu (15%) dan gas yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu gas yang dihasilkan dari pembakaran dengan menggunakan

alat ini dapat mengandung gas pencemar berupa : NOx., SOx dan lainlain yang dapat mengganggu kesehatan manusia; dapat menimbulkan air kotor saat proses pendinginan gas maupun proses pembersihan Incinerator dari abu maupun terak. Kualitas air kotor dari instalasi ini menyebabkan COD meningkat dan pH menurun; memerlukan biaya yang besar dalam menjalankan Incinerator. Untuk menangani sampah 800 ton/hari memerlukan investasi Rp. 60 milyar, sedangkan dari hasil penjualan listrik yang dihasilkanhanya Rp. 2,24 milyar/tahun; butuh keahlian tertentu dalam penggunan alat ini. Sebagai contoh pada penanganan sampah di Surabaya, tehnologi ini sudah digunakan sejak tahun 1990, namun tanpa didukung dengan kualitas sumber daya manusia yang memahami filosofi alat ini, akibatnya pada tahun kedua terjadi kerusakan. Hal ini tentu menambah beban dalam perolehan dana bagi perbaikannya. Belum lagi sampah yang akan menumpuk dengan tidak berfungsinya alat ini. Penggunaan Incinerator ini tidak dapat berdiri sendiri dalam pemusnahan sampah, tetapi masih memerlukan landfill guna membuang sisa pembakaran; 4. Belum maksimalnya usaha pemasaran bagi kompos yang dihasilkan dari proses pengomposan sampah kota; 5. Belum maksimalnya upaya sistem daur ulang menjadi barang-barang yang bernilai ekonomi tinggi; 6. Sulitnya mendapatkan tambahan biaya bagi peningkatan kesejahteraan petugas yang terlibat dalam penanganan sampah. Hal ini tentu akan berakibat pada kegairahan kerja yang rendah dari para pengelola sampah. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan aspek yang terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu. Cohen dan Uphof (1977) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat dalam suatu proses pembangunan terbagi atas 4 tahap, yaitu :

a) partisipasi pada tahap perencanaan, b) partisipasi pada tahap pelaksanaan, c) partisipasi pada tahap pemanfaatan hasil-hasil pembangunan dan d) partisipasi dalam tahap pengawasan dan monitoring. Masyarakat senantiasa ikut berpartisipasi terhadap proses-proses pembangunan bila terdapat faktor-faktor yang mendukung, antara lain : kebutuhan, harapan, motivasi, ganjaran, kebutuhan sarana dan prasarana, dorongan moral, dan adanya kelembagaan baik informal maupun formal. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan salah satu faktor teknis untuk menanggulangi persoalan sampah perkotaan atau lingkungan pemukiman dari tahun ke tahun yang semakin kompleks. Pemerintah Jepang saja membutuhkan waktu 10 tahun untuk membiasakan masyarakatnya memilah sampah. Reduce (mengurangi), Reuse (penggunan kembali) dan Recycling (daur ulang) adalah model relatif aplikatif dan dapat bernilai ekonomis. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah. Model ini akan dapat memangkas rantai transportasi yang panjang dan beban APBD yang berat. Selain itu masyarakat secara bersama diikutsertakan dalam pengelolaan yang akan memancing proses serta hasil yang jauh lebih optimal daripada cara yang diterapkan saat ini.

BAB III PEMBAHASAN Kegiatan observasi langsung ini menghasilkan data melalui teknik wawancara. dengan mewawancarai petugas yang berwenang mengatur dan mengawasi TPA yaitu Pak Mualimin. Adapun data yang diperoleh adalah: 1. Jenis sampah yang dikelola oleh TPSA Cilowong Adapun sampah yang masuk ke TPSA Cilowong setiap harinya adalah sampah sisa-sisa limbah rumah tangga warga kota Serang sebanyak 230-270 meter kubik, sedangkan dari Kabupaten Serang sebanyak 120-130 meter kubik. Sampah tersebut bercampur dari sampah organic dan non organic. TPSA Cilowong sendiri hanya mengelola sampah organic yang dijadikan kompos dan gas metan. pengelolaan sampah organic pada TPSA Cilowong tidak dilakukan sendiri melainkan dengna bekerja sama dengan perusahaan pupuk ternama di Indonesia yaitu Pabrik Pupuk Petrokimia Gresik... TPSA Cilowong yang memiliki sistem pengelolaan sampah open dumping banyak menghasilkan gas metane hasil dari dekomposisi sampah yang tertimbun. untuk itu pengelolaan sampah berupa gas metan dikelola oleh TPSA Cilowong dengan bekerja sama dengan PT RC yang merupakan perusahaan asing dari Australia. adapun sampah non organic yang ada dikelola oleh masyarakat sekitar TPSA yang rata-rata bermata pencarian sebagai pemulung.

2. Dampak yang timbul dari TPSA Cilowong bagi masyarakat sekitar TPSA. Banyak sekali kontroversi yang meliputi dalam suatu Daerah yang dijadikan TPSA seperti Cilowong, seperti dampak bau yang ditimbulkan,

ancaman pencemaran air tanah dan sumber-sumber penyakit yang dapat ditimbulkan dari TPSA. namun ini semua merupakan hal yang diakibatkan dari sistem managerial yang tidak tepat pada suatu TPSA. Dampak-dampak tersebut dihasilkan dari sistem pengelolaan open dumping yang juga merupakan sistem yang masih dipakai oleh TPSA Cilowong. seperti yang disampaikan oleh pak Mualimin, dampak-dampak negatif dari Pengunaan sistem open dumping pada TPSA Cilowong adalah:

a. menimbulkan bau busuk dan timbunan lalat. b. menimbulkan sumber-sumber penyakit seperti gatal. c. rawan kebakaran yang ditimbulkan oleh gas metan d. longsor. e. pencemaran air tanah. meskipun demikian, TPSA Cilowong telah memberikan kontribusi untuk mengurangi dampak tersebut dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: a. pembuatan sumut artesis untuk masyarakat yang tinggal di sekitar TPSA. b. penyemprotan hama lalat. c. dan pengelolaan sampah organic menjadi kompos untuk mengurangi volume sampah yang ada. d. pengelolaan gas metan menjadi bioenergi yang ramah lingkungan.oleh akibat oleh karena itu masyarakat di sekitar TPSA tidak mengalami keluhan gatal-gatal oleh pencemaran air. pernah suatu kali masyarakat di sekitar TPSA mengeluhkan gatal-gatal akibat memakai air sumur yang ada,mereka berdalih hal ini terjadi karena adanya pencemaran air tanah oleh TPSA. namun setelah dilakukan survei oleh Dinas Kesehatan Kota Serang, ternyata wabah penyakit gatal-gatal tersebut diakibatkan oleh perilaku masyrakat yang sering membuang hajat disektar pekarang rumah mereka atau belum adanya kesadaran terhadap sanitasi, bukan diakibatkan oleh TPSA Cilowong. 3. Peran Masyarakat dan pemerintah dalam pengelolaan TPSA Cilowong. Partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam keberhasilan suatu TPSA sangat menentukan, hal ini dicontohkan oleh masyarakat dan pemerintah Jepang dalam mengelola sampah mereka yang dibutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun untuk mneyukseskannya. adapun partisipasi masyarakat dan pemerintah Kota serang dalam mengelola TPSA dirasakan masih kurang. peran pemerintah hanya dirasakan melalui alokasi dana APBN sekitar 10 % atau sekitar 75 milyar yang pembayarannya diangsur sebanyak 3 kali. masyarakatnya pun sama dimana kurangnya kesadaran terhadap kebersihan lingkungan hal ini dicerminkan oleh

perilaku yang sembarang membuang sampah. pemerintah kota serang sendiri pun tidak melakukan pembinaan terhadap masyarakat di sekitar TPSA yang bermata pencarian sebagai pengumpul sampah non organic, agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakatnya.

4. Harapan ke depan untuk sistem pengelolaan sampah di TPSA Harapan Pak Mualimin selaku pengawas TPSA Cilowong ialah menjadikan TPSA Cilowong lebih ramah lingkungan dan menjadikannya sebagai objek wisata dengan menggunakan sistem sanitary landfill. dan untuk mencapai hal itu semua diperlukan kerja sama dari semua pihak terutama pemerintah dan masyarakat terutama stigma masyarakat yang masih membebankan pengelolaan sampah kepada pihak TPSA. serta peran pemerintah dalam mewujudkan TPSA yang ramah lingkungan karena untuk mewujudkannya dibutuhkan dana sekitar 22 juta per hari.

BAB IV PENUTUP Pengelolaan yang sedang berjalan saat ini (TPA, TPS) yang mengandalkan pada sistem pengangkutan, pembuangan dan pengolahan menjadi bahan urugan perlu diubah karena dirasakan sangat tidak ekonomis (cost center). Disamping memerlukan biaya operasional dan lahan bagi pembuangan akhir yang luas juga menimbulkan banyak dampak yang kurang menguntungkan bagi kehidupan masyarakat kota serta akan menumbuhkan masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungannya. Pengolahan sampah di TPA Cilowong dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah pembuatan kompos (composting), pembuangan sistem open

dumping, dan pembuangan dengan cara sanitary landfill. Pembuangan akhir (TPA) hanya cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. Apalagi bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya. Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan dalam pengelolaan sampah.

LAPORAN OBSERVASI BIOKONSERVASI CILOWONG

Disusun oleh: Ade Lembah Sari Gokhimaro Sirait Neneng Desi P Retno Nurfalupi Siti Nur Ekawati (081325) (081336) (080137) (070656) (081045)

Siti Wahyuni Hapitri(080646) Vivi Alfiyah Widya Kartika Kelas : VI B (080146) (080655)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA 2011