Anda di halaman 1dari 4

KONSPIRASI KRISIS PANGAN GLOBAL

Ancaman krisis pangan dunia sebenarnya telah dikomunikasikan sejak 2006. Selama enam tahun berturut-turut konsumsi biji-bijian pangan dunia lebih besar dari pada produksi dunia. Bahkan pada 1999, stok pangan dunia masih dapat memenuhi kebutuhan selama 116 hari, tapi pada 2006 hanya tinggal 57 hari. Dalam laporan Food and Agriculture Organitation (FAO) yang berjudul Growing Demand on Agriculture and Rising Prices of Commodities menunjukkan indeks harga pangan meningkat rata-rata 9% pada 2006 ketimbang tahun sebelumnya. Bahkan pada 2007 indeks harga pangan meningkat 23% dibandingkan 2006. Sementara dalam Food Outlook yang dikeluarkan FAO hingga Tahun 2017 diramalkan harga pangan akan terus naik sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah Sedangkan harga beras yang menjadi makanan pokok bangsa Indonesia di pasar internasional juga naik hampir 50%. Contohnya, harga beras Thailand broken 10% yang tahun lalu masih 326 dolar AS/ton, tapi pada Maret 2008 sudah mencapai 543 dolar AS/ton. Harga beras Vietnam broken 25% juga melonjak sangat tinggi, tahun lalu masih 281 dolar AS/ton, kini sudah di atas 500 dolar AS/ton. HAARP (The High-frequency Active Aural Research Program) dibalik perubahan iklim global? The High-frequency Active Aural Research Program (HAARP) bermarkas di Gokoma, Alaskayang diatur bergabungnya oleh US Air Force dan US Navyadalah bagian dari generasi baru dari yang sudah berpengalaman di bidang persenjataan di bawah US Strategic Defense Iniative (SDI). Dioperasikan oleh Laboratorium Penelitian Air Force bagian Direktorat Peralatan Luar Angkasa, HAARP merupakan sebuah sistem dari antenna-antena yang mampu menciptakan kontrol terhadap modifikasi ionosfer lokal. HAARP adalah project investigasi yang bertujuan untuk "memahami, menstimulasi,dan mengontrol proses ionospheric yang dapat mengubah kinerja komunikasi dan

menggunakan sistem surveilans". Dimulai pada tahun 1992, project ditargetkan selesai dalam 20 tahun kedepan (selesai tahun 2012) Dapat Mengatur Cuaca, Kok Bisa? Caranya dengan menentukan satu titik lokasi ionosphere yang akan dipanaskan, lalu tekanan yang berada di atmosfer juga akan naik. Maka tekanan yang terbentuk dikumpulkan di satu titik dan terbentuklah manipulasi jetstream (arus jet). Tapi HAARP belum sempurna dan masih dalam tahap pengetesan (di seluruh dunia). Dicurigakan HAARP sudah dalam tahap beta pada tahun 2004, ini terbukti ketika batasan badai tornado yang terjadi dalam satu tahun dilanggar oleh alam. Jika satu tahun batas maksimal badai hanya terjadi 4 kali, tahun 2004 terjadi sebanyak 6 kali. Pengaruh Perubahan ikim 20 tahun terakhir Kondisi-kondisi klimatologi yang berpengaruh terhadap turunnya produksi hasil pertanian, seperti banjir, topan dan kekeringan. Misalnya, Australia, salah satu penghasil terbanyak biji-bijian, menghadapi kondisi kekeringan yang paling buruk sepanjang sejarahnya. Kondisi-kondisi klimatologi ini pada tahun-tahun terakhir diiringi lompatan perekonomian di beberapa negara seperti Cina, India, dan Brazil yang menyebabkan meningkatnya konsumsi daging. Lalu tambahkan dengan fenomena berubahnya lahan-lahan subur menjadi lahan kritis karena penggunaan pupuk buatan dan omong kosong bernama "revolusi hijau" yang diperkenalkan di negara-negara berkembang. Di India ratusan hingga ribuan petani melakukan bunuh diri setiap tahun karena mereka telah sampai pada kondisi ketidak mampuan mengolah tanahnya yang semakin tandus dengan pupuk buatan Monsanto (produsen pupuk milik yahudi Amerika) yang semakin mahal harganya.

Tipuan Biofuel dan Kelangkaan Pangan Akhir-akhir ini berkembang sebuah skenario global yang sebenarnya sangat "bodoh": demi alasan lingkungan jutaan hektar lahan pertanian akan diubah menjadi lahan jagung untuk memproduksi ethanol, dan untuk proses panen dan produksinya diperlukan jutaan galon bbm yang dibakar.

negara-negara maju asyik mengonversi jagung, kedelai, gandum dan hasil pertanian lainnya menjadi etanol untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang semakin sulit, kian mahal, dan bertambah sukar mereka kontrol.

"Dibutuhkan 1,8 kuintal jagung untuk membuat 25 galon etanol. Jumlah sebanyak itu cukup untuk menghidupi seorang dewasa selama setahun," kata Benjamin Senauer dalam "How Biofuels Could Starve the Poor" (Foreign Affairs, Mei/Juni 2007). Konversi ke etanol membuat jutaan orang di dunia --terutama Afrika sub-Sahara dan negeri melarat seperti Haiti-- hilang jatah pangannya. Gandum dan jagung yang semula untuk menghidupi jutaan orang kini dipakai untuk menghidupkan mesin mobil. Malapetaka baru berupa krisis pangan global pun tak bisa dielakkan.

"Sejak tahun 2000, harga produk pangan melambung 75 persen, gandum melesat 200 persen, beras dan kedelai mencatat rekor tertinggi, sedangkan harga jagung mencapai rekor termahal dalam 12 tahun," lapor Bank Dunia seperti dikutip Sunday Herald

Pada Maret 2007, Presiden AS George Bush bertemu dengan rekannya dari Brazil, Luiz Enisa Lula Silva untuk menandatangani perjanjian bilateral, yaitu Perjanjian Etanol bagi kerjasama di antara kedua negara untuk melakukan penelitian dan pengembangan generasi baru produksi biofuel, juga untuk membentuk persatuan dagang biofuel, khususnya di negara-negara Asia Tengah. Kesepakatan Perjanjian Etanol kedua kepala negara itu menjadi awal pertumbuhan yang nyata penanaman biji-bijian untuk dimanfaatkan dalam produksi biofuel. Gula tebu, kelapa sawit dan kedelai yang khusus untuk produksi biofuel telah menghabiskan lahan belukar dan hutan di Brazil, Argentina, Kolombia, Ekuador dan Uruguay. Areal tanam kedelai di Brazil telah menghabiskan 21 juta hektar lahan hutan dan 14 juta hektar di Argentina. Tidak tampak, bahwa fenomena ini akan menurun selama harga biji-bijian terus naik. Sebanyak 100 juta ton biji-bijian dari total 2,13 miliar ton akan digunakan dalam memproduksi biofuel pada tahun 2008. Dengan kata lain, ratusan juta ton biji-bijian ini akan digunakan untuk memberi makan mobil.

Perlu menjadi catatan, buih-buih pangan kini tengah mulai berletusan sebagaimana buih BBM dan buih keuangan global telah meletus beberapa waktu lalu. Dunia menghadapi bahaya kelaparan global. Yang pertama mengalami dampaknya tentu saja adalah negaranegara berkembang di mana kenaikan harga beras sebesar 20% saja mengakibatkan puluhan juta rakyatnya tidak mampu mendapatkan cukup kalori sehingga terancam kelaparan dan mati.