Anda di halaman 1dari 13

BAB I ANAK GEMUK SEBAGAI PARADIGMA ANAK SEHAT

1.1 Anak Sehat atau Anak Sakit Apa yang terjadi bila jabang bayi diberikan asupan nutrisi berlebih oleh ibu pada masa kehamilan? Jawabannya pasti adalah bayi akan terlahir dalam keadaan sehat dengan badan gemuk. Tetapi, apakah bayi akan tumbuh menjadi anak yang sehat di masa depan? Hal yang terlintas dalam benak orang tua pasti menjawab bahwa anak akan tetap sehat. Ketika anak terlahir dengan berat badan yang besar menjadi ciri khas sebagai anak sehat bagi sebagian populasi masyarakat Indonesia. Banyak rakyat Indonesia berpikir, bahwa anak gemuk identik dengan anak yang lucu dan menggemaskan. Berat badan anakpun menjadi acuan bahwa anak akan tetap sehat di masa yang akan datang. Paradigma itulah yang selama ini terjadi di Indonesia. Kenapa demikian? Karena sebagian populasi masyarakat Indonesia memiliki hasrat kebanggaan tersendiri ketika memiliki anak yang besar dan ingin mengikuti anak dalam ajang perlombaan Anak Sehat di berbagai media massa. Apalagi saat ini pemerintah mengiming-imingi orang tua dengan pencatatan sejarah di MURI. Padahal dibalik kegemukan, kelucuan dan menggemaskan, anak tersebut menyimpan bahaya besar di masa depan terkait dengan kesehatan fisik dan psikologis. Orang tua mengibaratkan anak bagaikan jantung mereka sendiri. Jantung yang selalu mengalirkan darah ke seluruh tubuh, jika jantung itu tidak ada maka manusia yang memilikinya akan tiada. Begitu pula orang tua yang sangat mendambakan anak sebagai jantung hati, bagi orang tua tiada anak tiada nyawa. Karena itulah, paradigma anak sehat mulai dipupuk sejak masa kehamilan, sampai pada akhirnya orang tua melakukan apa saja demi mendapatkan anak sehat. Ibu mulai memberikan nutrisi sejak masa kehamilan terlampau ketat agar anak memiliki badan gemuk tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi di masa yang akan datang. Padahal, nutrisi berlebih pada masa kanak-kanak terutama masa bayi dapat menimbulkan obesitas di kemudian hari.

1.2 Stimulus Ibu sebagai Awal Kebiasaan Anak Kehidupan manusia dimulai dari dalam kandungan ibu. Inilah sebabnya seorang wanita perlu mempersiapkan diri untuk mengatur seluruh kebutuhan jabang bayi. Selalu dikatakan bahwa anak merupakan harapan masa depan dan harus dipersiapkan sejak masa kehamilan agar kelak menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, sehat, bermoral dan berkepribadian yang baik serta berguna bagi masyarakat, nusa, bangsa dan agama. Maka dari itu, dibutuhkan upaya keras untuk dapat mewujudkan semua perkataan tersebut. Anak sangat sensitif terhadap stimulus yang diberikan dan dirasakan. Anak akan merasakan apa yang dilakukan oleh orang tuanya melalui suatu rangsangan yang timbul dari belaian hangat tangan dan getaran suara kedua orang tua dan lingkungan sekitar. Keluarga khususnya ibu adalah elemen terdekat, terpenting serta paling berpengaruh bagi anak saat dalam kandungan. Segala kebiasaan ibu yang baik dan buruk akan ditiru oleh anak. Anak dapat diibaratkan sebagai kertas putih yang belum ternoda oleh tinta, ibulah yang memberikan tinta tersebut berupa stimulus-stimulus tertentu, salah satunya adalah kebiasaan makan. Jika ibu terbiasa memberikan asupan gizi berlebih saat anak dalam kandungan, anak pun akan menstimulasi hal tersebut dengan sempurna dan menjadikan stimulus tersebut sebagai kebiasaan hidupnya. Stimulus yang sudah tertanam dalam diri anak pun terus berlangsung sampai remaja, yang pada akhirnya anak pun selalu mengkonsumsi berbagai macam makanan dan minuman. Di samping itu, doktrinisasi ibu terhadap paradigma anak sehat adalah anak yang memiliki tubuh gemuk, menjadikan ibu membiarkan anak mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut melampaui ambang batas gizi seimbang. Modernisasi yang menjurus pada Westernisasi yang terjadi di Indonesia saat ini mengakibatkan perubahan pola makan masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, lemak, dan berkolesterol terutama dengan banyaknya penawaran makanan siap saji (fast food) sehingga berdampak meningkatkan risiko gizi berlebih (obesitas). Ditambah lagi banyaknya permainan modern yang makin melabui anak untuk tidak banyak beraktivitas. Dengan kebiasaan ibu yang selalu membiarkan pola makan dan hidup anak seperti itu, pada akhirnya timbullah ketidak seimbangan antara asupan yang masuk ke dalam tubuh dengan energi

yang dikeluarkan. Inilah betapa pentingnya stimulus ibu saat anak dalam kandungan, karena stimulus tersebutlah yang menentukan anak apakah akan menjadi anak obesitas atau tidak di kemudian hari.

BAB II ANAKKU SEHAT, ANAKKU MALANG

Anak dikatakan obesitas jika pengukuran BB/TB sama dengan +2 SD atau IMT persentil 95 berdasarkan kartu menuju sehat (KMS). Obesitas terjadi karena adanya timbunan lemak yang berlebihan dalam jaringan lemak (adiposa), hal ini dapat terjadi pada siapapun. Tetapi, obesitas pada anak memiliki dampak negatif yang lebih berbahaya dibandingkan orang dewasa. Obesitas pada anak akan berisiko tinggi terjadinya obesitas di masa remaja dan dewasa, yang berpotensi menimbulkan penyakit degeneratif di kemudian hari. Dewasa ini, penyakit degeneratif bukan lagi menjadi penyakit asing bagi masyarakat Indonesia dari semua kalangan. Bahkan, saking melonjaknya peningkatan kematian akibat penyakit degeneratif banyak

masyarakat yang mencari dan meramu berbagai obat herbal atau jamu. Salah satu penyakit degeneratif yang hangat di perbincangkan oleh masyarakat Indonesia di semua kalangan adalah diabetes melitus tipe 2 atau yang terkenal dengan sebutan kencing manis. Diabetes melitus tipe 2 adalah salah satu penyakit degeneratif yang sering menimpa penderita obesitas yang ditandai dengan kelebihan kadar gula darah (hiperglikemia) akibat terjadinya kerusakan pada pankreas yang menyebabkan tidak berfungsi dan kurangnya produksi insulin (hormon yang bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal).

Insulin bekerja di dalam sel untuk menghasilkan energi atau menyimpannya sebagai cadangan energi. Tetapi pada orang obesitas insulin tidak dapat diproduksi dengan baik. Hal ini terjadi karena kerusakan pankreas yang diakibatkan adanya penumpukan jaringan lemak yang abnormal. Pada anak, diabetes dapat terdeteksi saat anak berusia >7 tahun. Hal ini sering ditandakan dengan timbulnya beberapa gejala yang sama dengan gejala diare seperti muntah, sering buang air besar, kesadaran menurun (koma), dan

dehidrasi berat dan kejang-kejang. Gejala inilah yang sering mengecoh orang tua apakah anak menderita diabetes melitus tipe 2 atau hanya diare berat saja. Untuk mengetahui secara pasti apakah anak menderita diabetes melitus, ada salah satu gejala khas pada anak yaitu ketika anak bernapas terkadang nafas anak berbau asam (aseton). Diabetes melitus tipe 2 juga memiliki bahaya lain untuk anak. Karena diabetes melitus tipe 2 dapat menimbulkan beberapa komplikasi. Komplikasi yang sering terjadi pada penderita diabetes melitus tipe 2 adalah makroangiopati dan mikroangiopati. Makroangiopati sering mengenai pembuluh darah besar yang terdapat pada otak, jantung, dan kaki, sedangkan mikroangiopati sering mengenai pembuluh darah kecil, seperti mata yang menyebabkan katarak, ginjal, saraf, dan kulit, serta diabetes juga memperlambat penyembuhan luka pada anak. Memang tidak semua anak obesitas berpotensi terserang diabetes melitus tipe 2, tetapi ketika orang tua memiliki riwayat diabetes, orang tua perlu menjaga ketat pola makan dan aktivitas anak untuk mencegah terjadinya obesitas tersebut. Karena anak obesitas dengan riwayat orang tua yang memiliki diabetes berpotensi sepuluh kali lipat lebih berbahaya dibandingkan dengan yang tidak. Bahkan lebih berbahaya lagi, anak dengan diabetes melitus tipe 2 dapat beresiko mengalami kematian usia dini. Tidak hanya dari segi kesehatan fisik saja yang harus dikhawatirkan dari anak obesitas, tetapi kesehatan psikologis anak pun menjadi prioritas kedua yang perlu diperhatikan oleh orang tua. Selain dapat menimbulkan penyakit diabetes melitus tipe 2, obesitas pada anak juga berdampak negatif pada psikososial anak. Obesitas pada anak menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan psikososial anak terganggu. Anak obesitas sangat rawan mendapatkan celaan dari teman atau lingkungan sekitar, hal ini mengakibatkan rasa percaya diri anak hilang. Ketika anak sudah kehilangan rasa percaya diri, anak menjadi sangat pemurung dan pendiam. Anak selalu menyimpan masalah itu dalam dirinya sendiri sehingga anak merasakan kehilangan harapan untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Hal inilah yang sering disebut sebagai depresi.

Selain itu, terganggunya psikososial juga mengakibatkan masalah pada tingkah laku dan pola belajar anak. Anak-anak yang kelebihan berat badan cenderung lebih sering merasa cemas dan memiliki kemampuan bersosialisasi yang lebih rendah daripada anak-anak dengan berat badan normal. Hal ini dapat menimbulkan stres dan kecemasan pada anak. Stres dan kecemasan pun akan mengganggu proses belajar dan menimbulkan lingkaran setan dimana didalamnya rasa khawatir yang terus meningkat akan menyebabkan menurunnya pencapaian akademis. Inilah kenapa anak obesitas memiliki dampak yang lebih berbahaya dibandingkan orang dewasa. Seperti diketahui, kurun waktu milenium ke 3 dari proses kehidupan manusia sudah berjalan, dan abad ke-21 serta abad ke-22 ini bukan saja merupakan abad-abad baru melainkan juga peradaban baru. Modernisasi yang menantang setiap individu untuk memiliki potensi luar biasa sudah ada di depan mata dan anak sebagai generasi penerus perlu dipersiapkan sebaik mungkin untuk menghadapi tantangan berat di masa ini. Indonesia adalah negara berkembang yang masih sangat membutuhkan generasi sehat dan berkualitas untuk memajukan tanah air. Tapi, apakah dengan banyaknya anak obesitas yang kini diketahui dampak berbahayanya, Indonesia tetap akan mencapai tujuan tersebut? Tentu tidak, karena untuk mendapatkan anak sehat yang berkualitas orang tua harus mengetahui apa yang dimaksud anak sehat dan bagaimana cara untuk mendapatkan anak sehat. Maka dari itu, diperlukan perhatian yang sangat besar terhadap masalah ini.

BAB III PAEDAGOGIEK, SOLUSI TEPAT UNTUK ANAK SEHAT

3.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Pertumbuhan adalah bertambahnya atau peningkatan ukuran dari jumlah sel serta jaringan. Hal ini dapat dilihat atau ditandai dengan bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan sehingga dapat diukur dengan bertambah panjang/tinggi badannya atau berat badannya. Sedangkan yang dikatakan perkembangan yaitu bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Pertumbuhan dan perkembangan pada anak saling berkaitan satu dengan lainnya, dengan kata lain tidak dapat dipisahkan. Masa anak-anak merupakan suatu periode yang sangat peka terhadap lingkungan dan masa yang sangat pendek. Masa ini, anak akan menstimulasi apa yang dia lihat setiap hari dari lingkungan terutama lingkungan keluarga dalam segi apapun, termasuk pola makan. Apabila pada masa ini anak mendapat stimulasi pola makan yang baik, maka hal tersebut menjadi modal penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dikemudian hari. Manusia diciptakan oleh Allah SWT begitu sempurna, berbeda dengan makhluk yang lainnya. Manusia diciptakan lengkap dengan otak (homo sapien) yang berfungsi untuk berpikir dan menjadi pondasi untuk melakukan segala aktivitas. Pertumbuhan otak pada masa anak perlu dipahami. Pertumbuhan otak sangat cepat dan dipengaruhi oleh keseimbangan gizi. Pemberian gizi seimbang pada anak, akan memberikan pertumbuhan dan perkembangan otak anak menjadi cerdas dan produktif dalam berpikir. Jika anak memiliki otak seperti itu, anak akan menjadi aset negara yang sangat berarti. Allah SWT, pada dasarnya menggariskan proses pertumbuhan dan perkembangan manusia dengan pola yang sama. Tetapi, perubahan yang terjadi pada manusia tergantung apa yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Hal ini seperti terlangsir dalam firman Allah SWT dalam surat Ar-Raad ayat 11 yang

artinya : Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya. Patut dipertimbangkan bahwa betapa pentingnya pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mendapatkan anak sehat.

3.2 Hakikat Anak Mendapatkan Pendidikan Kesehatan Paedagogiek (pendidikan) dalam hal kesehatan gizi merupakan hal penting untuk generasi penerus bangsa, terutama pendidikan kesehatan. Kita ketahui, ketika kita sakit maka kita tidak bisa beraktivitas dan memproduksikan hal yang bermanfaat. Sebaliknya ketika kita sehat, inovasi, kreasi, dan sensasi pun akan terhasil dari diri kita dengan baik. Tetapi tidak mudah untuk mewujudkan hal tersebut jika sedari masa kanak-kanak sudah diberikan gizi yang tidak seimbang. Pendidikan merupakan hal penting yang harus didapatkan oleh anak, apalagi masalah kesehatan yang menjadi pondasi dalam menjalani hidup. Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku dalam diri manusia yang diperoleh dari berbagai pengalaman belajar yang mendorong dan memungkinkan seseorang, kelompok, atau masyarakat mencapai hidup sehat. Ibarat ungkapan pribahasa, Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya. Begitupun dengan anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak tergantung apa yang diajarkan kedua orang tuanya, khususnya ibu. Ibu adalah seorang guru utama dalam kelurga yang dituntut untuk mendidik anak agar anak menjadi berkualitas dimata dunia dan akhirat. Pendidikan kesehatan perlu diperhatikan untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal. Tidak hanya orang tua (ibu) yang dapat menentukan masa depan anak menjadi anak sehat. Lingkunganpun dapat dikatakan sebagai alat peraga untuk anak berimajinasi dan berkreativitas. Ketika lingkungan tersebut sudah memperagakan apa makna sehat, anak pun akan merekam lingkungan tersebut dengan mengerti apa makna sehat dalam memorinya, dan begitu sebaliknya. Al-quran dan hadits Nabi Muhammad SAW adalah guru terbesar bagi kedua orang tua dalam mendidik anak menjadi anak sehat, karena pada prinsipnya Alquran dan Hadits adalah pedoman manusia di dunia ini.

( (
Artinya : Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegangan teguh pada keduanya, yaitu berupa kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (HR. Malik)

a. Bismillah, Ucapan Terindah uuntuk Anak Sehat Apapun yang dilakukan oleh manusia, Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan seluruh manusia untuk berdoa. Hal ini karena didalam doa tersirat ketenangan jiwa yang akan mengatur emosi untuk tidak berlebihan dalam makan, dalam masalah ini. Seorang anak dapat memulai hal tersebut saat anak menginjakkan kakinya bersekolah di taman kanak-kanak. Dengan lantang, anak melantunkan doa sebelum dan sesudah makan saat bersekolah. Tetapi ketika anak di rumah orang tualah yang memiliki peran penting untuk membiasakannya setiap hari. Orang tua dapat mengajarkan anak dengan memberikan memori bahwa jika tidak membaca doa sebelum dan sesudah makan, maka perut tidak akan merasa kenyang.

b. 3B-1A untuk Anak Sehat Sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan hambanya untuk menjalani pedoman 3B-1A tersebut yaitu dengan makan yang seimbang. Allah berfirman dalam surat Al-Araaf ayat 31 yang artinya : Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. . Kenapa harus 3B-1A? Karena yang dimaksud dengan 3B-1A ini adalah keseimbangan antara triguna makanan pokok sehari-hari, yaitu karbohidrat (zat tenaga), protein (zat pembangun), dan vitamin serta mineral (zat pengantar) dengan B yang menadakan bervariasi, bergizi, dan berimbang antara triguna makanan tersebut. Betapa besarnya Allah SWT mengajarkan keseimbangan gizi dalam kehidupan manusia, karena dengan

keseimbangan gizilah manusia dapat mendapatkan hidup sehat. Apalagi untuk anak yang memang sudah sepatutnya mendapatkan hal demikian dari kedua orang tuanya. 3B-1A dapat dijadikan pedoman bagi orang tua dengan cara menyiapkan makan dan minuman untuk anak dengan menggabungkan pedoman Empat Sehat 5 Sempurna.

c. Satu Piring Berdua Ternyata Bisa untuk Anak Sehat Pedoman ini biasanya menjadi ciri khas bagi orang yang sedang jatuh cinta, untuk yang sedang jatuh cinta satu piring berdua memang hal terindah meskipun pada kenyataannya tidak mengenyangkan. Tapi ternyata pedoman ini memang sudah di ajarkan oleh Rasulullah SAW yang artinya Hidangan makanan untuk dua orang seharusnya cukup untuk tiga orang dan makanan untuk tiga orang cukup untuk empat orang. (HR. Bukhari) Orang tua dapat mengajarkan pola ini pada anak yaitu dengan cara 1/3 yang juga dianjurkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya : Dari Abu Karimah al Miqdad bin Karib r.a., aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak ada sesuatu yang lebih buruk bagi anak Adam jika ia mengisi perutnya, maka cukuplah bagi anak Adam makan untuk sekadar menegakkan tulang rusuknya, maka jika ia mengisinya maka isilah sepertiga dengan makanan, sepertiga dengan minuman, dan sepertiga untuk bernapas. (H.R. Tirmizi)

d. Hemat Pangkal Kaya, Boros Pangkal Sakit Pribahasa hemat pangkal kaya memang sudah tidak asing bagi setiap kalangan manusia di dunia. Berhemat adalah hal tersulit untuk dilakukan pada era modernisasi saat ini. Membiasakan anak untuk berhemat dalam hal apapun, merupakan pedoman terpenting untuk membuat anak menjadi mandiri dalam mengatur segala hal. Berhemat dalam hal makan dimaksudkan dengan tidak memakan apa yang ada di depan mata saat tidak lapar meskipun makanan itu sangat enak. Hal ini sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya yang artinya : Sesungguhnya

10

termasuk pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya. (HR. Ibnu Majah) Orang tua dapat mendidik anak dengan cara memberikan bekal pada anak setiap kali anak pergi sekolah, dan tidak memanjakan anak dengan memberikan uang saku berlebihan.

e. Anak Sehat Butuh Waktu seperti Pisau Yang telah diketahui, kelebihan gizi tidak hanya karena asupannya yang berlebihan, tetapi juga karena energinya dari asupan tersebut tidak dikeluarkan yang pada akhirnya tersimpan dalam tubuh menjadi tumpukan lemak yang abnormal. Selain menjaga keseimbangan gizi bagi anak, orang tua juga berperan penting dalam mengatur waktu anak agar anak dapat menciptakan krativitasnya yang bermanfaat. Orang tua dapat mengajarkan anak dengan mengajaknya les atau kursus ke tempat pendidikan tertentu yang tidak formal, contohnya saja les musik. Tidak hanya dapat mengubah pola kebiasaan anak yang menyimpan energi di dalam tubuh begitu saja, orang tua juga dapat mengetahui potensi masa depan yang dimiliki anak. Allah pun telah menagajarkan manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu yang diberikan-Nya sangat singkat ini dalam firman-Nya yang artinya : Allah bertanya: Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?' Mereka menjawab: 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman: 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui'." (Al-Muminun, 23:122-114)

11

BAB IV PENUTUP

Allah SWT menciptkan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di dunia ini. Oleh karena itu, ketika awal pertumbuhan dan perkembangan anak ibu harus benarbenar mempersiapkan kebutuhan anak sejak dalam kandungan. Kesehatan gizi merupakan hal pokok yang harus diperhatikan lebih utama, karena dari segi gizilah anak memiliki dua identitas jati diri, apakah anak tersebut menjadi anak sehat atau sakit di kemudian hari. Anak dikatakan sehat bukan berarti anak tersebut memiliki tubuh yang gemuk dengan kelucuan yang menggemaskan. Tetapi anak sehat adalah anak yang memiliki gizi seimbang. Untuk itu, paradigma anak sehat adalah anak yang memiliki tubuh gemuk harus segara dimurnikan dari pikiran kedua orang tua karena jika orang tua Indonesia tetap bepikiran demikian, hal tersebut dapat mengancam kesehatan anak dan kemajuan Indonesia. Dan untuk pemerintah sendiri, tidak seharusnya mengiming-imingi rekor MURI ketika orang tua memiliki anak yang gemuk. Maka dari itu, orang tua harus mengetahui bagaimana cara mendidik anak dari segi kesehatan gizi. Al-quran dan Hadits Rasulullah SAW adalah pedoman yang paling optimal yang dapat dijadikan pemandu dalam mendidik anak. Karena Allah dan Rasulullah selalu memiliki pesan tersirat dalam makna al-quran dan hadits tersbut. Penulis berharap, karya sederhana yang tidak luput dari kesalahan ini bermanfaat bagi masyarakat luas untuk mencipatkan anak sehat sehingga anak menjadi generasi penerus yang di pandang oleh negara lain. Maka dari itu, penulispun mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan tulisan-tulisan berikutnya.

12

DAFTAR PUSTAKA

Al-quran dan Terjemahan

Almath, Faiz, Muhammad. 2009. 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad). Jakarta : Gema Insani Press

Amanda, Tantri, Shinta. 2009. Aufklarung. Jakarta : Esai Lomba TEMILNAS

Corwin, J, Elizabeth. 2009. Buku Saku Patofisiologi, Pankreas dan Diabetes Melitus. Jakarta : EGC

Hamam, Hadi. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Pembangunan Nasional. Yogyakarta : Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.

Hidayati, Nurul, Siti, dkk. 2002. Obesitas pada Anak. Surabaya : SFM Ilmu Kesehatan Anak FK Unair

Lestari, Puji, Rahayu, Eka. 2010. Diabetes Melitus pada Obesitas. Surabaya : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Diakses : Selasa, 17 Mei 2011

Siswanto, Hadi. 2010. Pendidikan Kesehatan Anak Usia Dini. Bantul, Yogyakarta : Pustaka Rihana

Utomo, Hari. 2010. Makanlah Makanan yang Beragam Bergizi Berimbang dan Aman (3B-A) Agar Tetap Sehat. Boyolali : Bapeluh Boyolali. Diakses : Selasa, 24 Mei 2011

13