Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Ilmu akhlak yang dikenal dengan islam, disebut etika dan filsafat, yang berasal dari kata Ethos, yang berarti watak, kesusilaan dan adat. Sejarah mencatat, bahwa filosofi yunani yang pertama kali mengemukakan pemikiran disebidang etika (Ilmu Akhlak) adalah Socrates (469-399M). Socrates dipandang sebagai perintis ilmu akhlak, karena ia yang pertama kali berusaha dengan dasar ilmu pengetahuan. Dalam pandangannya tentang ilmu akhlak sangat menekankan pemaduan antara unsur yang ada dalam diri manusia, yaitu potensi akal pikiran dengan potensi spiritual (Kerohanian), yang dipandang sebagai unsure yang menbawa manusia menjadi orang yang utama, karena ia bisa membedakan antara nilai-nilai yang baik dengan nilai-nilai yang buruk dalam kehidupannya, manusia dapat mempraktekan hal-hal yang baik, lalu menghindari hal-hala yang buruk, karena ia sudah mengerti kriterianya. Ketiak datangnya agama islam, maka pendidika akhlak merupakan bagian dari sekian banyak ajaran islam, yang diwahyukan kepada Rasul, misalnya disebutkan dalam Al-Quran surat Al- Araf- 199 menyatakan: Artinya: Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah (Orang lain) mengerjakan yang maruf ( baik) , serta berpalinglah dari sikap orang-orang yang jahil.

BAB II PEMBAHASAN

A.

Pengertian Akhlak Dilihat dari sudut bahasa (etimoliogi), perkataan akhlak (bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari kata khulk. Khulk di dalam kamus almunjid berarti budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat. Selai itu juga akhlak dapat diartikan sebagai perilaku yang dimiliki oleh manusia. Baik yang bersifat yang terpuji maupun yang tidak terpuji. Nabi Muhammad diutus sebagai nabi terakhir, penyempurna dari nabi-nabi sebelumnya dengan tujuan dengan memperbaiki akhlah manusia. Sebagaiman beliau pernah bersabda:Hanyalah aku diutus (Oleh Alloh) untuk menyempurnakan akhlak. Begitu pentingnya akhlak sehingga akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah SAW, Orang mukmin yang paling sempurna terbaik akhlaknya ( HR Tirmidzi, dan Abu Hurairah ra) Pengertian akidah akhlak sendir sangatlah luas. Namun, dari pengertian sebelumnya maka dapat kita simpulkan bahwa aqidah akhlak merupakan kepercayaan yang diyakini kebenarannya di dalam hati, yang diikrarkan dengan lisan dan diamalkna dengan perbuatan yang terpuji sesuai dengan ajaran AlQuran dan hadis. Aqidah dan akhlak merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan . Maka menjaga aqidah akhlak merupakan hal penting bagi kita, Hal-hala yang dapat kita lakukan antara lain dengan mempelajari ilmu-ilmu yang menyangkut aqidah akhlak, hal-hala yang dapat merusak aqidah akhlak, dan mengamalkna ilmu yang telah kita pelajari. Jadi pada hakikatnya budi pekerti atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa menjadi kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan tanpa memerlikan pemikiran. Apabila dari kondisi tersebut timbul kelakuan yang baik dan terpuji menurut pandangan syariat maka

ia dinamakan budi pekerti mulia dan sebaliknya apabila yang lahir kelalukan yang buruk, maka disebutlah budi pekerti yang tercela.

B. Pengertian Ilmu Akhlak Dengan pengertian ilmu, yaitu mengenal sesuatu sesuai dengan pengertian khulk, yaitu budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat seperti yang disebutkan diatas, maka ilmu akhlak , dilihat dari sudut etimologi ialah upaya untuk mengenal budi pekerti dll. Ilmu akhlak ialah ilmu tentang keutamaan-keutamaan dan cara

mengikutinya hingga terisi dengannya dan tentang keburukan dan cara menghindarinya hingga jiwa kosong daripadanya. Ahmad Amin menerangkan bahwa ilmu akhlak ilmu yang menjelaskan ati baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang manusia kepada orang lain, menyatakan yujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan untuk melakukan apa-apa yang harusa diperbuat. Dr. H. Hmzah Yaqub dalam bukunya Etika Islam mengemukakan pengertian ilmu akhlak mengatakan: a. Ilmu Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terfuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. b. Ilmu Akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik atau buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatkan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

Dari pengertian diatas dapat dirumuskan bahwa Ilmu Akhlak ialah ilmu yang membahas perbuatan manusia dan mengajarkan perbuatan baik yang harus dikerjakan dan perbuatab jahat yang harus dihindari dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia dan makhluk sekelilingnya dalam kehidupannya sehari-hari sesuai nilai-nilai moral.

C. Faktor yang Mempengaruhi Akhlak a. Insting (Naluri) Insting merupakan seperangkat tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku manusia. Tingkah Laku ini meliputi: Naluri Makan. Begitu manusia lahir telah meembawa suatu hasrat makan tanpa didorong oleh orang lain.rang tua Naluri Berjodoh. Laki-laki menginginkan wanita dan wanita

menginginkan laki-laki untuk mendadi jodohnya. Naluri Keibu bapakan. Tabiaat kecintaan Orang tua kepada anaknya sebaliknya kecintaan anak kepada orang tuanya. Naluri berjuang. Tabiat manusia cenderung memperjuangkan dan

mempertahankan diri dari gangguan dan tantangan. Naluri Ketuhanan, Tabiaat manusia mencari dan merindukan penciptanya yang mengatur dan memberikan rahmat kepadanya.

BAB II PEMBAHASAN Pembentukan Akhlak Dan Yang Mempengaruhi Akhlak A. Definisi Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mendefinisikan akhlak, yaitu pendekatan linguistik (kebahasaan), pendekatan

terminologik (peristilahan). Dari sudut pembahasan, akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, ata tersebut mengandung segi-segi yang berarti kejadian, yang berarti pencipta, yang berani yang diciptakan.

tingkah laku atau tabiat[3].

persesuaian dengan perkataan khalaqun yang juga erat hubungannya dengan demikian pula dengan makhluqun Ibnu Athir menjelaskan bahwa:

Hakikat makna khuluq itu, adalah gambaran batin manusia yang tepat (yaitu jiwa dan sifat-sifatnya), sedang khalqi merupakan gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, tinggi rendahnyaaa tubuh dan lain sebagainya). Imam al-Ghazali mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut:

Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dahulu). Dr. M. Abdulah Dirroz[4], mengemukakan definisi akhlak sebagai berikut: Akhlak adalah sesuatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan dan kehendak mana berkombinasi mambawa kecendrungan pada pemilihan pihak yang benar (dalam hal akhlak yang baik) atau pihak yang jahat (dalam hal akhlak yang jahat). Dari beberapa pengertian tersebut di atas, dapatlah dimengerti bahwa akhlak adalah tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifatsifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angankan lagi. B. Pembentukan Akhlak Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pendidikan, latihan, usaha keras dan pembinaan (muktasabah), bukan terjadi dengan sendirinya. Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia termasuk di dalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, hati nurani, dan intuisi dibina secara optimal dengan cara dan pendekatan yang tepat.

Akan tetapi, menurut sebagian ahli bahwa akhlak tidak perlu dibentuk karena akhlak adalah insting (garizah)[5] yang dibawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini cendrung kepada perbaikan atau fitrah yang ada dalam diri manusia dan dapat juga berupa kata hati atau intuisi yang selalu cendrung pada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini maka akhlak akan tumbuh dengan sendirinya, walaupun tanpa bentuk atau diusahakan (ghair muktasabah). Kelompok ini lebih lanjut menduga bahwa akhlak adalah gambaran batin ini tidak akan sanggup mengubah perbuatan batin. C. Aspek-Aspek Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak Setiap perilaku manusia didasarkan atas kehendak. Apa yang dilakukan manusia timbul dari kejiwaan. Walaupun pancaindra kesulitan melihat pada dasar kejiwaan, namun dapat dilihat dari wujud kelakuan. Maka setiap kelakuan pasti bersumber dari kejiwaan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi akhlak pada khususnya dan pendidikan pada umunya, ada tiga aliran yaitu: 1) Aliran Nativisme Menurut aliran ini faktor yang paling berpengaruhi terhadap diri seseorang adalah faktor bawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecendrungan, bakat, dan akal. Jika seorang telah memiliki bawaan kepada yang baik maka dengan sendirinya orang tersebut

lebih baik. Aliran ini begitu yakin terhadap potensi batin dan tampak kurang menghargai peranan pembinaan dan pendidikan. 2) Aliran Empirisme Menurut aliran ini faktor yang paling berpengaruhi terhadap pembentukan diri seorang adalah faktor dari luar, yaitu lingkugan sosial[6]; termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika penddidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak itu baik, maka baiklah anak. Demikian jika sebaliknya. Aliran ini begitu percaya kepada peranan yang dilakukan oleh dunia pendidikan dan penjajahan. 3) Aliran Konvergensi Menurut aliran ini faktor yang paling mempengaruhi pembentukan akhlak yakni faktor internal (pembawaan) dan faktor dari luar (lingkungan sosial). Fitrah dan kecendrungan ke arah yang lebih baik yang dibina secara intensif secara metode. Aliran ini sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini dapat dipahami dari ayat dan hadits di bawah ini. Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. ( (

Artinya: setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan (membawa) fitrah (rasa ketuhanan dan kecendrungan kepada kebenaran). Maka kedua orang tuanya yang membentuk anak itu menjadi yahudi, Nasrani, atau majusi. (HR. Bukhori)[7]. Dari ayat dan hadits tersebut di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pelaksana utama dalam pendidikan adalah kedau orang tua.

BAB IV Upaya Menuju Insan Kamil Pada dasarnya manusia memanglah tidak ada yang sempurna. Rasulullah saw sendir sebagai figure panutan kita dipandang sebagai insane yang paling kamil, ternyata memberikan keteladanan sebagai insane yang terus menerus berusaha menyempurnakan diri hingga akhir hayatnya. Dengan demikian, maka dapat kita simpulkan bahwa insane kamil adalah sebuah proses penyempurnaan diri Yng berlangsung tiada henti hingga berakhirnya hayat seseorang. A. Menyadari Hakikat Hidup Kesadaran Akan hakikat hidup didunia sangat menentukan tepat tindakannya seseorang dalam menyikapi kehidupan ini. Semakin sasar akan hakikat hidup di dunia ini, niscaya seseorang akan semakin tepat dalam menyikapi kehidupannya, sehingga hidupnya benar-benar bermakna Sebaliknya, semakin mengambang kesadarannya, niscaya semakin tidak tepat pula dalam menyikapi kehidupannya, sehingga hidupnya tidak membawa makna atau bahkan membawa kesengsaraan yang berkepanjangan. Adapun hakikat hidup yang harus disadari oleh setiap muslim dalam rangka menuju proses penyempurnaan dirinya, antara lain bahwa: a. Hidup di Dunia Hanya Sementara Rasulullah saw berpesan kepada kita sekalian dengan sabdanya: Jadilah dirimu di dunia ini seakan-akan sebagai seorang asing atau seorang musafir

Pesan Rasulullah saw ini mengajarkan kepada kita agar menyadari betul bahwa hidup di dunia hanya sementara. Jangan sampai merasa bahwa hidup di dunia inilah satu-satunya kehidupan. Melainkan harus kita sadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah laksana seorang musafir. Dan bekal itu tiada lain adalah amal penghambaan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, marilah kita pergunakan hidup kita yang sangat sementara ini dengan sebaik-baiknya! Jangan sia-siakan hidup yang hanya sekian dan hanya sementara. b. Kehidupan Dunia Laksana Pedang Bermata Dua Jika kita mau menggunakan akal sehat dan berpikir sejenak tentang hakikat jidup di dunia ini, niscaya selain lama waktunya sangat sementara dan hanya satu kali, juga akan kita sadari bahwa kehidupan kita sangat sementara dan satu kali dan itu menjadi faktor penentuan kebahagiaan sengsaranya kita dalam menjalani kehidupan yang sesungguhnya kelak di akhirat. Demikian hanya dengan cara menyikapi kehidupan di dunia ini. Jika kita sampai menyikapinya, misalnya kita anggapa bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan finis, kita berpikir dan berbuat semata-mata demi kepentingan hidup di dunia, kita cintaikehidupan di dunia ini dengan cara berlebuhan dam melalaikan kehidupan akhirat niscaya diri kitapun tidak akan selamat dan akan tersengsarakan jiwa raganya semenjak masih hidup di dunia ini, apalagi di akhirat kelak. Sekalipun kehidupan dunia ini Nampak serba indah dan menggiurkan, tetapi ketajamannya jauh melebihi ketajaman sebilan pedang. Sebaliknya,

apabila kita pandai dalam memainkan pedang secara baik dan benar, niscaya kitapun akan selamat dan dapat memanfaatkannya untuk menghadang rintangan. B. Meluruskan Pandangan Hidup Dalam rangka berproses menuju insane kamil, kita sekalian hendaknya bersedia meluruskan pandangan-pandangan hidup yang sifatnya duniawi belaka. Kita harus sadar bahwa kita ini bukan sekadar makhluk social, melainkan kita adalah makhluk Alloh. a. Manusia Bukan Sekadar Makhluk Sosial b. Manusia adalah makhluk Alloh C. Siap Merubah Diri Kesiapan merubah diri mutlak diperlukan dalam upaya menunjukan ke proses pembentukan insane kamil.Terlebih lagi hakikat insane kamil itu sendiri ialah insane yang senantiasa berproses untuk menyempurnakan diri dalam penghambaannya kepada Allah SWT. a. Berhimah menjadi insane kamil b. Membiasakan diri berakhlak mulia c. Membiasakan diri menjauhi sifat tercela

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan a. Akhlak adalah tabiat atu sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang telah terlatih, sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang mealahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikirkan dan diangan-angan lagi. b. Menurut cara pembentukannya, akhlak dibedakan menjadi dua cara yaitu: 1. Insting yang dibawa manusia sejak lahir tanpa dibentuk atau usahakan (ghair muktasabah) 2. Hasil usaha dari pendidikan, latihan pembinaan, perjuangan keras dan sungguh-sungguh (muktasabah) c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak pada khususnya dan pendidikan pada umumnya, ada tiga aliran yaitu: - Aliran Nativisme (Internal) - Aliran Imprisme (Eksternal) - Aliran Konvergensi (Internal dan ekstenal) B. Saran

DAFTAR PUSTAKA Zahrah, I.M.A. 1996. Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam. Jakarta: Logos Publishing House Mhjudin. 2000. Konsep Dasar Pendidikan Akhlak. Jakarta: Kalam Mulia Umam, Katibul. 1990. Aqidah Akhlak. Jakart: Menara Kudus Ahmadamin. 1988. Etika (Ilmu Akhlak). Jakarta: PT Bulan Bintang A.S, Asmaran. 2002. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: PT Remaja Grafindo Hakim, M.H.A. 2000. Menghiasi Diri dengan Akhlak Terpuji. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Rusli, Nusrun. 1998. Aqidah Akhlak 1. Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama. Hasanudin dan Zahrudin.2004. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: Raja Grapindo Persada