Anda di halaman 1dari 7

Nama NIM Kelas/Semester Mata Kuliah

: Nofi Susanti : 0903807 : IPS / 5 : Perkembangan Masyarakat dan Budaya

A. Pengertian Masyarakat Tradisional

Masyarakat tradisional merupakan suatu ciri masyarakat yang masih menjaga tradisi peninggalan nenek moyangnya baik dalam aturan hubungan antara manusia maupun dengan alam sekitarnya yang mengutamakan keselarasan dan keharmonisan.

Van Maydell, dkk (1989) berpendapat bahwa masyarakat lokal pada dasarnya cukup bila dibedakan atas 2 kelompok yaitu :

a. Pemburu (hunters) dan peramu (gatherers) hasil hutan atau juga diistilahkan dengan penghuni hutan (forest dwellers). b. Para petani di sekitar hutan (forest farmers) yang pada umumnya merupakan penduduk di sekitar hutan.

Masyarakat tradisional sejak lama memahami perlunya dan berusaha melindungi lingkungan hidupnya yang berupa hutan dan alam sekitarnya melalui berbagai aturan adat tidak tertulis. Peranan sumber daya hutan dalam peningkatan pola pengembangan manfaat perlindungan bagi kesejahteraan masyarakat tradisional.

B. Ciri - Ciri Masyarakat Tradisional

Adapun ciri-ciri dari masyarakat tradisonal adalah sebagai berikut :

Masyarakatnya bersifat tertutup, artinya masih sulit untuk menerima unsure-unsur pembaharuan karena mereka beranggapan bahwa budaya luar dapat merusak budaya leluhurnya.

Pola prilaku masyarakat tradisional masih sangat sederhana, baik cara berfikir, berbahasa, maupun bertindak.

Sistem kekerabatan masih kuat, perbedaan kelas social tidak terlalu menonjol dan sifatnya gemeinschaft.

Alat-alat perlengkapan hidup dalam masyarakat tradisional, masih menggunakan alatalat teknologi sederhana. Misalnya pakaian terbuat dari kulit atau tenun kasar, rumah terbuat dari kayu, bamboo. Dan atapnya menggunakan alang-alang atau ijuk.

Alat-alat transportasi sangat sederhana, misalnya mempergunakan kuda, kerbau, gerobak, rakit atau mereka senang berjalan kaki.

Lembaga-lembaga kemasyarakatan belum berkembang, demikian pula kehidupan politik dan ekonominya masih terbelakang.

Pembagian kerja di antara mereka belum tegas. Pada umumnya mereka mempunyai mata pencaharian yang sama yaitu bertani, berladang, berternak, dan berburu binatang. Namun sebagian kecil dari masyarakat tradisionalyang ada menjadi pengrajin untuk menghasilkan berbagai perkakas rumah tangga yang diperlukan oleh masyarakatnya.

Belum mengenal pendidikan yang maju sehingga mereka belum mengenal baca tulis. Hal ini disebabkan oleh factor biaya ataupun jarak yang jauh antara sekolah dengan rumah

C. Contoh Masyarakat Tradisional (Suku Dayak) Asal Mula Suku Dayak Secara umum seluruh penduduk di kepulauan Nusantara disebut-sebut berasal dari Cina selatan, demikian juga halnya dengan Suku Dayak. Tentang asal mula bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa Cina dari

Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Penduduk Yunan berimigrasi besar-besaran (dalam kelompok-kelompok kecil) diperkirakan pada tahun 3000-1500 SM (sebelum masehi). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewati Hainan, Taiwan dan Filipina. Menurut H.TH. Fisher, migrasi dari Asia terjadi pada fase pertama zaman Tertier. Benua Asia dan pulau Kalimantan merupakan bagian Nusantara yang masih menyatu, yang memungkinkan ras Mongoloid dari Asia mengembara melalui daratan dan sampai di Kalimantan dengan melintasi pegunungan yang sekarang disebut pegunungan Muller-Schwaner. Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan perpindahan suku Dayak dari daerah hulu menuju daerah hilir sungai. Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520). Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Watang Amandit, Labuan Amas dan Watang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Maanyan atau Ot Danum). Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai. Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming tahun 1368-1643. Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa

kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin. Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi di masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736. Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik. Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Raja Yung Lo mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan diantaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci. Suku Dayak Masa Kini Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami pulau Kalimantan, sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak punan dan kelompok Proto Melayu (moyang Dayak yang berasal dari Yunnan). Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 subetnis. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-etnis, semua etnis Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak atau tidak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata

pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari. Perkampungan Dayak rumpun Ot Danum-Ngaju biasanya disebut lewu/lebu dan pada Dayak lain sering disebut banua / benua. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda. Budaya / Tradisi di Suku Dayak

a. Tradisi Penguburan Suku Dayak Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan : penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat. penguburan di dalam peti batu (dolmen) penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang. Menurut tradisi Dayak Benuaq baik tempat maupun bentuk penguburan dibedakan : a. wadah (peti) mayat--> bukan peti mati : lungun, selokng dan kotak b. wadah tulang-beluang : tempelaaq (bertiang 2) dan kererekng (bertiang 1) serta guci. Berdasarkan tempat peletakan wadah (kuburan) Suku Dayak Benuaq : a. lubekng (tempat lungun) b. garai (tempat lungun, selokng) c. gur (lungun) d. tempelaaq dan kererekng Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan: a. penguburan tahap pertama (primer) b. penguburan tahap kedua (sekunder).

Penguburan Primer : a. Parepm Api (Dayak Benuaq) b. Kenyauw (Dayak Benuaq) Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di gua. Di hulu Sungai Bahau dan cabangcabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kalimantan Timur, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Perkembangan terakhir, penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit. Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni : a. dikubur dalam tanah b. diletakkan di pohon besar c. dikremasi dalam upacara tiwah. Prosesi penguburan sekunder 1. Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah. 1. Ijambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah. 2. Marabia 3. Mambatur (Dayak Maanyan) 4. Kwangkai/Wara (Dayak Benuaq) b.Seni Tari Suku dayak 1) Tari Gantar 2) Tari Kancet Papatai / Tari Perang 3) Tari Kancet Ledo / Tari Gong 4) Tari Kancet Lasan 5) Tari Leleng

6) Tari Hudoq 7) Tari Hudoq Kita 8) Tari Serumpai 9) Tari Belian Bawo 10) Tari Kuyang 11) Tari Pecuk Kina 12) Tari Datun 13) Tari Ngerangkau 14) Tari Baraga Bagantar c.Senjata Sukubangsa Dayak a) Sipet / Sumpitan b) Lonjo / Tombak. c) Telawang / Perisai. d) Mandau. e) Dohong.

Sumber

Mustopo, Habib. 2005.Sejarah Untuk Kelas 2 SMA. Malang : Yudhistira http://thinkquantum.wordpress.com/2009/11/01/adat-istiadat-suku-dayak/ http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak http://nilaieka.blogspot.com/2009/04/ciri-ciri-masyarakat-tradisional.html