Anda di halaman 1dari 18

Ekonomi Islam, Jawaban dari Permasalahan Rifky Wildan Yoantino

THE LEGACY, 26 December 2009 Ekonomi konvensional (kapitalis) lambat laun mulai menunjukkan kecacatannya. Adanya krisis finansial global yang melanda dunia pada tahun 2008 lalu merupakan sebuah bukti konkret bahwa ekonomi konvensial telah gagal dalam menciptakan sebuah sistem yang sempurna. Akhirnya, banyak masyarakat, termasuk para pelaku ekonomi mulai mengalami distrust terhadap sistem yang dicetuskan oleh Adam Smith itu. Mereka menganggap bahwa sistem ekonomi kapitalis tidak memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bisa berdiri sebagai sebuah sistem. Seketika itu, sontak pembicaraan mengenai ekonomi Islam mulai diwacanakan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sebagai sebuah sistem, ekonomi Islam sebenarnya sudah muncul sejak turunnya Islam itu sendiri, sehingga salah kalau kita beranggapan bahwa ekonomi Islam merupakan sebuah sistem ekonomi yang baru beredar di kancah ilmu pengetahuan dunia. Memang, pemikiran secara komprehensif mengenai ilmu ekonomi Islam baru muncul di pertengahan abad ke-20, namun pemikiran-pemikiran yang bersifat parsial oleh para tokoh pemikir Islam sudah mulai berkembang sejak abad ke-8. Banyak orang menganggap bahwa ekonomi Islam (ekonomi syariah) hanya sebatas sebuah ilmu yang membahas tentang perbankan syariah. Tentunya anggapan tersebut keliru, karena ekonomi Islam tidak hanya membahas tentang bank syariah saja, tetapi lebih dari itu, ekonomi Islam merupakan sebuah disiplin ilmu ekonomi tersendiri yang holistik dan komprehensif yang berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits. Konsep-konsepnya jelas berbeda dengan ilmu ekonomi konvensional (kapitalis) yang biasa dipelajari di sekolah-sekolah ataupun di universitasuniversitas. Kali ini, kita akan membahas tentang beberapa konsep dasar dalam ilmu ekonomi Islam, sekaligus hal-hal yang membedakannya dari ekonomi konvensional. Perlu dipahami, konsep yang akan dibahas hanyalah segelintir dari sekian banyak konsep lainnya yang terkandung dalam ilmu ekonomi Islam. Akan tetapi, setidaknya konsep-konsep inilah yang akan memberi fondasi dan dasar analisis untuk bisa memahami konsep-konsep lainnya. Kritik Terhadap Dua Mainstream Economics

Sejarah sistem ekonomi dunia dimulai dengan adanya dua aliran utama ekonomi (mainstream economics), yaitu ekonomi kapitalisme dan sosialisme. Paham kapitalisme dianut oleh negara-negara yang menganut ideologi liberal, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan negaranegara Barat lainnya. Sedangkan ekonomi sosialisme biasanya dianut oleh negara-negara yang menganut ideologi komunis, umumnya oleh negara-negara yang merupakan rival Amerika Serikat, seperti Uni Soviet maupun Cina. Sistem ekonomi kapitalis merupakan sebuah jelmaan dari ideologi liberal yang identik dengan kebebasan. Dalam sistem ini, pemerintah diharamkan untuk campur tangan dalam kegiatan ekonomi, karena seluruh kegiatan ekonomi dilakukan sepenuhnya oleh anggota masyarakat. Faktor-faktor produksi dikuasai oleh individu-individu dalam masyarakat, sehingga mereka memiliki kebebasan untuk menggunakan faktor produksi tersebut sesuka hati. Sistem ini berasumsi bahwa manusia merupakan makhluk yang rasional. Artinya, perilaku ekonomi dari individu hanya berdasarkan logika semata, tanpa mengindahkan aspek-aspek lainnya, seperti nilai dan norma. Ciri khas dari sistem ini adalah adanya mekanisme pasar yang sebebasbebasnya. Setiap kegiatan ekonomi selalu diserahkan pada mekanisme pasar dengan suatu invisible hand yang mengatur keseimbangan antara demand dan supply. Menurut pemikirnya yaitu Adan Smithmanusia adalah makhluk yang individualistik, dan terselenggaranya pasar dikarenakan setiap manusia selalu mementingkan dirinya sendiri. Adam Smith berpendapat: Kita bisa makan bukan karena kebaikan hati si tukang roti, tukang minuman, atau si tukang daging, melainkan karena sifat mementingkan diri sendiri yang ada dalam diri mereka. Kita bukan mengharap cinta mereka terhadap orang lain, melainkan cinta mereka terhadap dirinya sendiri. (Koeters, 1988) Dalam perkembangannya, sistem ekonomi kapitalis ini hanya mengarah pada pemenuhan kebutuhan yang bersifat materialis dan hedonis. Seseorang dikatakan sejahtera apabila ia memiliki materi/harta yang sangat berlimpah. Pengertian ini jelas menafikkan unsur-unsur spiritual, moral maupun kebersamaan dalam tindakan ekonomi. Dengan sudut pandang ini, kita bisa mengerti bahwamenurut ekonomi kapitalisunsur-unsur diluar materi hanya berperan sebagai pelengkap semata. Tentunya hal ini sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah etika, moral, nilai, dan norma yang berlaku, sehingga wajar jika kemudian timbul anggapan bahwa ekonomi kapitalis bersifat value free (bebas nilai). Kritik terhadap ekonomi kapitalis ternyata juga datang dari tokoh-tokoh pemikir Barat sendiri sejak beberapa abad yang lalu, contohnya seperti Sismondi, Karl Marx, Ruskin, Hobson, dll. Menurut mereka, sikap individualistik dan persaingan bebas bukanlah motivasi utama dalam melakukan kegiatan ekonomi. Ekonomi kapitalis melupakan sikap-sikap seperti mementingkan orang lain yang sedang kesusahan, kerja sama, gotong royong, perilaku sosial, juga kaidah etika dan moral. Setelah melalui perjalanan panjang, sistem ekonomi kapitalis ternyata mengalami banyak sekali permasalahan, diantarnya ketimpangan yang semakin melebar, tidak meratanya distribusi faktor produksi, tertindasnya orang-orang miskin yang notabene tidak memiliki modal yang cukup, dan masih banyak masalah-masalah lainnya. Karena itu, timbullah reaksi dan kritik keras

terhadap sistem ini, yang pada akhirnya memunculkan sebuah sistem ekonomi baru, yaitu ekonomi sosialis. Dalam ekonomi sosialis, hak-hak dan kepentingan setiap individu dilebur menjadi kepentingan kolektif, dan kepentingan kolektif ini sepenuhnyasecara normatifakan dipenuhi oleh negara. Artinya, dalam sistem ini, hampir seluruh kegiatan perekonomian dijalankan oleh negara. Implikasinya, tidak ada satu faktor produksi pun yang boleh dimiliki oleh individu. Dengan kata lain, negara tidak mengakui adanya hak-hak individu, karena hak-hak individu tadi telah dilebur dalam suatu hak kolektif. Sistem ini menganut egalitarianisme yang kuat, dan tidak mengakui adanya perbedaan kelas atau strata. Seiring berjalannya waktu, sistem ekonomi sosialis pun tidak luput dari berbagai kritik, diantaranya tidak diakuinya hak pemilikan faktor produksi oleh individu adalah sesuatu yang melanggar hak-hak asasi masyarakat dalam bidang perekonomian. Selain itu, peran negara yang terlalu dominan akan menimbulkan abuse of power yang pada akhirnya justru menafikkan pemenuhan kebutuhan kolektif. Sistem ini juga membuat kreatifitas masyarakat akan menurun, karena semua kegiatan diatur oleh negara. Definisi Ekonomi Islam Sebagimana telah dibahas sebelumnya, dua aliran utama ekonomi dunia (mainstream economics), yaitu kapitalisme dan sosialisme banyak mengandung kelemahan dan menuai begitu banyak kritik dari para pemikir ekonomi sendiri. Oleh karena itu, timbul pertanyaan, sistem ekonomi apakah yang paling sempurna dan bisa diterapkan oleh dunia secara universal ? Setelah pertanyaan itu mencuat di kalangan para pemikir ekonomi, mulai timbul wacanawacana dan penelusuran literatur tentang ekonomi Islam atau yang biasa dikenal dengan sebutan ekonomi syariah. Seperti telah dikatakan sebelumnya, sistem ekonomi Islam bukanlah sebuah sistem ekonomi yang baru di dunia. Pemikiran-pemikiran mengenai sistem ini sudah mulai mencuat pada abad ke-8 oleh para tokoh pemikir Islam, dan sudah dipraktekkan sejak zaman para nabi. Sebelum kita membahas mengenai konsep-konsep pokok ilmu ekonomi Islam, dan perbedaannya dengan ekonomi konvensional, perlu diketahui terlebih dahulu apa definisi dari ekonomi Islam itu sendiri. Beberapa ekonom Islam memberikan definisi yang berbeda-beda terhadap ekonomi Islam. Akan tetapi, pada dasarnya, substansi dari definisi-definisi tersebut tidak bertentangan satu sama lain. Intinya, ekonomi Islam adalah sebuah ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk mengalokasikan dan mengelola sumber daya untuk mencapai falah (kemakmuran dunia dan akhirat) berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Al-Quran & AlHadits. Perlu dipahami, ekonomi Islam merupakan sebuah bagian yang tidak terpisahkan dari agama Islam itu sendiri. Hal tersebut merupakan sebuah implikasi penerapan Islam yang kaffah dalam bidang ekonomi. Penekanan analisis dalam ekonomi Islam pun lebih kompleks dan holistik jika dibandingkan dengan ekonomi konvensional. Salah satu contoh sederhananya adalah di dalam ekonomi konvensional, aspek nilai, norma, dan tujuan hidup merupakan sesuatu

yang berada di luar bidang ilmu ekonomi. Namun, lain halnya dengan ekonomi Islam. Pokokpokok hukum Islam dan kaidah-kaidah dalam Islam, termasuk nilai, norma, dan tujuan hidup yang menyeluruh (dunia & akhirat) merupakan sebuah bagian yang tak terpisahkan dalam bidang ilmu ekonomi. Tujuan Ekonomi Islam dan Kelangkaan Dalam ekonomi Islam, tujuan kegiatan ekonomi adalah untuk mencapai falah. Kata ini berasal dari bahasa Arab aflaha-yuflihu yang artinya kemenangan, kesuksesan, atau kemuliaan. Di dalam Al-Quran, kata-kata falah sering ditafsirkan sebagai kemenangan jangka panjang, mencakup dunia dan akhirat. Jadi, yang dipentingkan bukan hanya aspek duniawi, melainkan juga mencakup aspek akhirat. Dengan perspektif ini, maka tujuan kegiatan perekonomian Islamyaitu falahadalah memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan akhirat, bukan materialis semata ataupun hedonis. Ternyata upaya untuk mencapai falah tidak semudah yang dipikirkan. Banyak sekali masalah dan rintangan yang harus dilewati dalam rangka mengejar kebahagiaan dunia dan akhirat itu. Salah satu masalah yang penting adalah keinginan manusia yang terus berkembang, sedangkan kemampuan manusia untuk mengolah sumber daya sangat terbatas, atau dalam ekonomi konvensional sering kita sebut dengan kelangkaan (scarcity). Akan tetapi timbul pertanyaan, apakah benar kelangkaan ini terjadi dengan sendirinya ? Lalu, apa makna dari AlQuran surat Luqman ayat 20[1] ataupun surat Al-Furqaan ayat 2[2] ? Berdasarkan ayat-ayat tersebut, Allah sudah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran yang setepat-tepatnya, cermat, dan akurat. Artinya, kelangkaan tidak semestinya terjadi di dunia ini, karena segala sesuatu termasuk sumber daya telah diciptakan dengan seproporsional mungkin untuk memenuhi kebutuhan manusia. Oleh karena itu, dalam konsep ekonomi Islam, yang dimaksud dengan kelangkaan hanyalah sebuah kelangkaan relatif yang notabene terjadi dalam jangka pendek dan mencakup wilayah tertentu saja. Sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya kelangkaan relatif ini, yaitu tidak meratanya distribusi sumber daya, keterbatasan kemampuan manusia, dan konflik antar tujuan hidup (dunia & akhirat). Ekonomi Normatif dan Ekonomi Positif Dalam ekonomi konvensional, kita mengenal perbedaan yang tegas antara ekonomi normatif dan ekonomi positif. Ekonomi normatif membahas tentang hal-hal yang bersifat normatif, atau apa yang seharusnya terjadi dan dilakukan, sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Lain halnya dengan ekonomi positif. Dalam ekonomi positif, yang dibahas adalah halhal yang bersifat fakta empiris, atau dengan kata lain membahas tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan. Sebagai contoh, manusia selalu berusaha untuk mencapai kepuasan maksimal secara terus menerus dan cenderung mengabaikan sesama adalah pernyataan positif, sedangkan pernyataan bahwa seharusnya manusia tidak selalu mengejar kepuasan maksimum yang bisa berakibat pada keserakahan, kesombongan, tamak, kikir. Kita juga seharusnya membantu saudara-saudara kita yang kesusahan, jangan hanya mementingkan diri sendiri. Itu semua merupakan pernyataan normatif. Adanya pemisahan terhadap aspek normatif dan positif dalam ekonomi konvensional mengandung arti bahwa fakta ekonomi merupakan sesuatu yang

berdiri sendiri (independen) terhadap norma. Atau dengan kata lain, antara fakta dengan norma tidak memiliki keterikatan. Sayangnya, ilmu ekonomi konvensional lebih banyak berbicara di tataran positif, sehingga bisa dikatakan bahwa ekonomi konvensional cenderung value free (bebas nilai), dan tidak mengindahkan aspek norma, moral, etika, dsb. Hal itu didasarkan pada pertimbangan berikut:

Ekonomi konvensional menganggap bahwa nilai dan norma adalah sesuatu yang diluar bidang ilmu ekonomi itu sendiri, atau merupakan sesuatu yang given Teori-teori ekonomi yang ada dalam ekonomi konvensional berada dalam lingkup masyarakat yang materialis Pemikiran neoklasik yang merupakan cikal bakal lahirnya ekonomi konvensional menggunakan paham individualisme dan materialisme dalam perumusannya.

Jika kita berbicara mengenai filsafat ilmu pengetahuan, pemisahan antara ekonomi positif dan ekonomi normatif merupakan hal yang bertentangan dengan karakteristik ilmu sosial itu sendiri. Perumusan konsep-konsep dalam ilmu sosial tidak bisa lepas dari kaidah aksiologis dalam filsafat. Artinya, tidak ada satupun ilmu sosial yang bebas nilai. Semua ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi seharusnya memasukkan unsur nilai dan norma dalam perangkat analisisnya. Setiap manusia bertindak dan berperilaku selalu berpedoman pada nilai, norma, dan etika yang dijadikan pedoman olehnya. Perilaku sosial manusia bukanlah sesuatu yang berada diluar bidang ilmu ekonomi. Selain itu, setiap kejadian ekonomi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang multi kausalitas dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dalam ekonomi Islam tidak dikenal adanya pemisahan antara ekonomi positif dan normatif. Ekonomi Islam melakukan integrasi antara ekonomi positif dan ekonomi normatif. Perumusan model-model dan konsep-konsep dalam ekonomi Islam selalu berpijak pada nilai, norma, dan etika. Jadi, ekonomi Islam bukanlah sebuah ilmu yang bebas nilai. Sebagai contoh: seseorang yang bernama Budi tidak mau membeli minuman keras, padahal harganya sangat murah, dan kualitasnya sangat bagus. Dalam ekonomi konvensional, Budi akan disebut sebagai orang yang tidak rasional dan tidak logis. Lain halnya dengan ekonomi Islam. Menurut pandangan ekonomi Islam, Budi telah melakukan tindakan yang benar dengan tidak membeli dan mengonsumsi minuman yang haram, walaupun harganya murah dan kualitasnya bagus. Dalam hal ini, Budi telah menjalankan syariat dengan baik, dan konsisten untuk bisa mencapai falah (kebahagiaan dunia dan akhirat). Sebuah contoh sederhana tersebut bisa menjadi gambaran perbedaan yang signifikan antara ekonomi konvensional dan ekonomi Islam. Kesimpulan Kelemahan-kelemahan sistem ekonomi konvenional (kapitalis) sudah mulai terlihat jelas. Salah satu bukti konkretnya adalah krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 lalu. Krisis itupun kemudian membuat orang bertanya-tanya, sistem ekonomi apakah yang paling sempurna dan bisa menggantikan kedigdayaan sistem kapitalis yang sebenarnya memiliki banyak kelemahan ?

Agaknya , sistem ekonomi Islam merupakan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut. Ekonomi Islam yang tidak memisahkan antara aspek normatif dan positif, memasukkan unsurunsur nilai dan norma dalam perangkat analisisnya. Konsep-konsep dalam ilmu ekonomi Islam tidak didasarkan pada paham materialisme dan hedonisme seperti yang digunakan dalam ekonomi konvensional. Akan tetapi, ekonomi Islam menggunakan kerangka syariat agama, beserta seluruh nilai, norma, dan etika yang terkandung di dalamnya untuk merumuskan modelmodel dan konsep-konsep teorinya. Karena itu, sudah sepantasnya kita mulai mempelajari ilmu ekonomi Islam. Konsep yang dibahas dalam tulisan ini hanya bagaikan satu butir beras dalam tumpukan sekarung beras. Masih banyak konsep-konsep ilmu ekonomi Islam lainnya yang harus kita gali dan kita pelajari. Sebagai calon-calon pemimpin bangsa, pada saatnya nanti kita harus bisa membawa perubahan bagi bangsa ini. Rakyat sudah lelah, rakyat sudah capek, rakyat sudah frustasi dengan semua janji-janji perubahan yang selalu didengungkan, karena biasanya janji itu tidak dibarengi dengan konsep dan cara yang konkret untuk melakukan perubahan. Atau dengan kata lain hanya sebatas janji kosong. Semoga Allah selalu memberi petunjuk kepada kita dalam mengarungi samudera kehidupan yang fana ini. Aamiiin

Catatan Akhir

[1] Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Q.S. Luqman: 21) [2] Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (Q.S. Al-Furqaan: 2)

Bibliografi Al-Quran dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI. Karim, A. A. (2001). Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT Indonesia. Lembaga Olimpiade Pendidikan Indonesia. (2007). Langkah Sukses Menuju Olimpiade Ekonomi. Jakarta: Bina Prestasi Insani.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. (2008). Ekonomi Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Surbakti, R. (1992). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Prinsip-prinsip Ekonomi Islam


1. Pendahuluan Ada tiga sistem ekonomi yang dikenal di dunia, yaitu Sistem ekonomi Sosialis/komunis, Sistem ekonomi Kapitalis, dan Sistem ekonomi Islam. Masing-masing sistem ini mempunyai karakteristik. Pertama, Sistem ekonomi Sosialis/komunis. Paham ini muncul sebagai akibat dari paham kapitalis yang mengekploitasi manusia, sehingga negara ikut campur cukup dalam dengan perannya yang dangat dominan. Akibatnya adalah tidak adanya kebebasan dalam melakukan aktivitas ekonomi bagi individu-individu, melainkan semanya untuk kepentingan bersama, sehingga tidak diakuinya kepemilikan pribadi. Negara bertanggung jawab dalam mendistribusikan sumber dan hasil produksi kepada seluruh masyarakat. Kedua, Sistem ekonomi Kapitalis. Berbeda dengan sistem komunis, sistem ini sangat bertolak belakang dengan sistem Sosialis/Komunis, di mana negara tidak mempunyai peranan utama atau terbatas dalam perekonomian. Sistem ini sangat menganut sistem mekanisme pasar. Sistem ini mengakui adanya tangan yang tidak kelihatan yang ikut campur dalam mekanisme pasar apabila terjadi penyimpangan (invisible hand). Yang menjadi cita-cita utamanya adalah adanya pertumbuhan ekomomi, sehingga setiap individu dapat melakukan kegiatan ekonomi dengan diakuinya kepemilikan pribadi. Ketiga, Sistem ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam hadir jauh lebih dahulu dari kedua sistem yang dimaksud di atas, yaitu pada abad ke 6, sedangkan kapitalis abad 17, dan sosialis abad 18. Dalam sistem ekonomi Islam, yang ditekankan adalah terciptanya pemerataan distribusi pendapatan, seperti terecantum dalam surat Al-Hasyr ayat 7.
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.

2. Perbedaan Ekonomi Islam dan Ekonomi konvensional ditinjau dari moral dan etika Menurut Qardhawi1 sitem ekonomi Islam tidak berbeda dengan sistem ekonomi laiannya, dari segi bentuk, cabang, rincian, dan cara pengaplikasian yang beraneka ragam., tapi menyangkut gambaran global yang mencakup pokok-pokok petunjuk, kaidah-kaidah pasti, arahan-arahan prinsip yang juga mencakup sebagian cabang penting yang bersifat spesifik ada perbedaannya. Hal itu karena sistem Islam selalu menetapkan secara global dalam masalah-masalah yang mengalami perubahan karena perubahan lingkungan dan zaman. Sebaliknya menguraikan secara rinci pada masalah-masalah yang tidak mengalami perubahan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa Islam merupakan sistem kehidupan yang bersifat kompreshensif, yang mengatur semua aspek, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik maupun yang bersifat spiritual. Dalam menjalankan kehidupan ekonomi, tentu Allah telah menetapkan aturan-aturan yang merupakan batas-batas prilaku manusia sehingga menguntungkan suatu individu tanpa merugikan individu yang lain. Perilaku inilah yang harus diawasi dengan ditetapkannya aturan-aturan yang berlandaskan aturan Islam, untuk mengarahkan individu sehingga mereka secara baik melaksanakan aturan-aturan dan mengontrol dan mengawasi berjalannya aturan-aturan itu. Hal yang berbeda dengan sistem ekonomi yang lainnya adalah terletak pada aturan moral dan etika ini. Aturan yang dibentuk dalam ekonomi islam merupakan aturan yang bersumber pada kerangka konseptual masyarakat dalam hubungannya dengan Kekuatan Tertinggi (Tuhan), kehidupan, sesama manusia, dunia, sesama makhluk dan tujuan akhir manusia. Sedangkan pada sistem yang lain tidak terdapat aturan-aturan yang menetapkan batas-batas prilaku manusia sehingga dapat merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lainnya. Beberapa aturan dalam ekonomi islam adalah sebagai berikut : a. Segala sesuatunya adalah milik Allah, manusia diberi hak untuk memanfaatkan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini sebagai khalifah atau pengemban amanat Allah, untuk mengambil keuntungan dan manfaat sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuannya dari barang-barang ciptaan Allah.

b. Allah telah menetapkan batas-batas tertentu terhadap prilaku manusia sehingga menguntungkan individu tanpa mengorbankan hak-hak individu lainnya. c. Semua manusia tergantung pada Allah, sehingga setiap orang bertanggung jawab atas pengembangan masyarakat dan atas lenyapnya kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. d. Status kekalifahan berlaku umum untuk setiap manusia, namun tidak berarti selalu punya hak yang sama dalam mendapatkan keuntungan. Kesamaan hanya dalam kesempatan, dan setiap individu dapat menikmati keuntungan itu sesuai dengan kemampuannya. e. Individu-individu memiliki kesamaan dalam harga dirinya sebagai manusia. Hak dan kewajiban ekonomi individu disesuaikan dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dan dengan peranan-peranan normatif masing-masing dalam struktur sosial. f. Dalam Islam, bekerja dinilai sebagai kebaikan dan kemalasan dinilai sebagai kejahatan. Ibadah yang paling baik adalah bekerja dan pada saat yang sama bekerja merupakan hak dan sekaligus kewajiban. g. Kehidupan adalah proses dinamis menuju peningkatan. Allah menyukai orang yang bila dia mengerjakan sesuatu melakukannya dengan cara yang sangat baik. h. Jangan membikin mudarat dan jangan ada mudarat. i. Suatu kebaikan dalam peringkat kecil secara jelas dirumuskan. Setiap muslim dihimbau oleh sistem etika (akhlak) Islam untuk bergerak melampaui peringkat minim dalam beramal saleh. Mekanisme pasar dalam masyarakat muslim tidak boleh dianggap sebagai struktur atomistis, tapi akumulasi dan konsentrasi produksi mungkin saja terjadi, selama tidak melanggar prinsip-prinsip kebebasan dan kerjasama. Dari segi teori nilai, dalam ekonomi Islam tidak ada sama sekali pemisahan antara manfaat normatif sautu mata dagangan dan nilai ekonomisnya. Semua yang dilarang digunakan, otomatis tidak memiliki nilai ekonomis.

Jika berbicara tentang nilai dan etika dalam ekonomi islam, terdapat empat nilai utama yaitu Rabbaniyyah (ketuhanan), Akhlak, Kemanusiaan, dan Pertengahan. Nilai-nilai ini menggambarkan keunikan yang utama bagi ekonomi islam, bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang tampak jelas pada segala sesuatu yang berlandaskan ajaran islam. Atas dasar itu, sangat nyata perbedaannya dengan sistem ekonomi laniinya. Ekonomi Rabbaniyyah bermakna ekonomi islam sebagai ekonomi ilahiah. Pada ekonomi kapitalis semata-mata berbicara tentang materi dan keuntungana terutama yang bersifat individual, duniawi dan kekinian. Islam mempunyai cara, pemahaman, nilai-nilai ekonomi yang berbeda dengan ekonomi Barat buatan manusia yang sama sekali tidak mengharapkan ketenangan dari Allah dan tidak mempertimbangkan akhirat sama sekali. Seorang muslim ketika menanam, bekerja, ataupun berdagang dan lain-lain adalah dalam rangka beribadad kepada Allah. Ketika mengkonsumsi dan menikmati berbagai harta yang baik menyadari itu sebgai rezki dari Allah dan nikmat-Nya, yang wajib disyukuri sebagai mana dalam firman Allah surat Saba ayat 15.
Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun.

Seorang muslim tunduk kepada aturan Allah, tidak akan berusaha dengan sesuatu yang haram, tidak akan melakukan yang riba, tidak melakukan penimbunan, tidak akan berlaku zalim, tidak akan menipu, tidak akan berjudi, tidak akan mencuri, tidak akan menyuap dan tidak akan menerima suap. Seorang muslim tidak akan melakukan pemborosan, dan tidak kikir. Ekonomi akhlak, dalam hal ini tidak adanya pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak. Islam tidak mengizinkan umatnya untuk mendahulukan kepentingan ekonomi di atas pemeliharaan nilai dan keutamaan yang diajarkan agama. Kegiatan yang berkatian dengan akhlak terdapat pada langkahlangkah ekonomi, baik yang berkaitan dengan produksi, distribusi, peredaran, dan konsumsi. Seorang muslim terikat oleh iman dan akhlak pada setiap aktivitas ekonomi yang dilakukannya, baik dalam melakukan usaha, mengmebangkan maupun menginfakkan hartanya. Ekonomi kemanusiaan, meupakan kegiatan ekonomi yang tujuan utamanya adalah merealisasikan kehidupan yang baik bagi umat manusia dengan segala unsur dan pilarnya. Selain itu bertujuan untuk memungkinkan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya yang disyariatkan. Manusia

adalah tujuan kegiatan ekonomi dalam pandangan islam, sekaligus merupakan sarana dan pelakunya dengan memanfaatkan ilmu yang telah diajarkan Allah kepadanya dan anugerah serta kemampuan yang diberikan-Nya. Nilai kemanusaian terhimpun dalam ekonomi islam seperti nilai kemerdekaan dan kemuliaan kemanusiaan, keadilan, dan menetapkan hukum kepada manusia berdasarkan keadilan tersebut, persaudaraan, dan saling mencintai dan saling tolong menolong di antara sesama manusia. Nilai lain, menyayangi seluruh umat manusia terutama kaum yang lemah. Di antara buah dari nilai tersebut adalah pengakuan islam atas kepemilikan pribadi jika diperoleh dari cara-cara yang dibenarkan syariat serta menjalankan hak-hak harta. Ekonomi pertengahan, yaitu nilai pertengahan atau nilai keseimbangan. Pertengahan yang adail merupakan ruh dari ekonomi Islam. Dan ruh ini merupakan perbedaan yang sangat jelas dengan sistem ekonomi lainnya. Ruh dari sistem kapitalis sangat jelas dan nampak pada pengkultusan individu, kepentingan pribadi, dan kebebasannya hampir-hampir bersifat mutlak dalam pemilikan,

pengembangan, dan pembelanjaan harta. Ruh sistem ekonomi komunis tersermin pada prasangka buruk terhadap individu dan pemasungan naluri untuk memiliki dan menjadi kaya. Komunis memandang kemaslahatan masyarakat, yang diwakili oleh Negara, adalah di atas setiap individu dan segala sesuatu. Ciri khas pertengahan ini tersermin dalam keseimbangan yang adil yang ditegakkan oleh islam di antara individu dan masyarakat, sebagai mana ditegakkannya dalam berbagai pasangan lainnya, seperti dunia-akhirat, jasmani-rohani, akal-rohani, idealisme-fakta dan lainnya. 3. Prinsip-prinsip dalam Ekonomi Islam Thomas Khun menyatakan bahsa setiap sistem ekonomi mempunyai inti paradigma. Inti paradigma ekonomi Islam bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Ekonomi Islam mempunyai sifat dasar sebagai ekonomi Rabbani dan Insani. Disebut Ekonomi Rabbani karena sarat dengan arahan dan nilainilai Ilahiyah. Sedangkan ekonomi Insani karena ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukan untuk kemakmuran manusia. (Qardhawi). Menurut Yusuf Qardhawi (2004), ilmu ekonomi Islam memiliki tiga prinsip dasar yaitu tauhid, akhlak, dan keseimbangan. Dua prinsip yang pertama kita sama-sama tahu pasti tidak ada dalam landasan dasar ekonomi konvensional. Prinsip keseimbangan pun, dalam praktiknya, justru yang membuat ekonomi konvensional semakin dikritik dan ditinggalkan orang. Ekonomi islam dikatakan memiliki dasar sebagai ekonomi Insani karena sistem ekonomi ini dilaksanakan dan ditujukan untuk

kemakmuran manusia. Sedangkan menurut Chapra, disebut sebagai ekonomi Tauhid. Keimanan mempunyai peranan penting dalam ekonomi Islam, karena secara langsung akan mempengaruhi cara pandang dalam membentuk kepribadian, perilaku, gaya hidup, selera,dan preferensi manusia, sikapsikap terhadap manusia, sumber daya dan lingkungan. Saringan moral bertujuan untuk menjaga kepentingan diri tetap berada dalam batas-batas kepentingan sosial dengan mengubah preferensi individual seuai dengan prioritas sosial dan menghilangkan atau meminimalisasikan penggunaan sumber daya untuk tujuan yang akan menggagalkan visi sosial tersebut, yang akan meningkatkan keserasian antara kepentingan diri dan kepentingan sosial. (Nasution dkk) Dengan mengacu kepada aturan Ilahiah, maka setiap perbuatan manusia mempunyai nilai moral dan ibadah. Pada paham naturalis, sumber daya menjadi faktor terpenting dan pada pada paham monetaris menempatkan modal financial sebagai yang terpenting. Dalam ekomoni Islam sumber daya insanilah yang terpenting. Karasteristik Ekonomi Islam bersumber pada Islam itu sendiri yang meliputi tiga asas pokok. Ketiganya secara asasi dan bersama mengatur teori ekonomi dalam Islam, yaitu asas akidah, akhlak, dan asas hukum (muamalah). Ada beberapa Karasteristik ekonomi Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Mawsuah Alilmiah wa al-amaliyah al-islamiyah yang dapat diringkas sebagai berikut: a. Harta Kepunyaan Allah dan Manusia Merupakan Khalifah Atas Harta Karasteristik pertama ini terdiri dari 2 bagian yaitu : Pertama, semua harta baik benda maupun alat produksi adalah milik Allah Swt, firman Q.S. Al- Baqarah, ayat 284 dan Q.S.Al -Maaidah ayat 17. Kedua, manusia adalah khalifah atas harta miliknya.Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hadiid ayat 7. Selain itu terdapat sabda Rasulullah SAW, yang juga mengemukakan peran manusia sebagai khalifah, diantara sabdanya Dunia ini hijau dan manis.Allah telah menjadikan kamu khalifah

(penguasa) didunia. Karena itu hendaklah kamu membahas cara berbuat mengenai harta di dunia ini. Dapat disimpulkan bahwa semua harta yang ada ditangan manusia pada hakikatnya milik Allah, akan tetapi Allah memberikan hak kepada manusia untuk memanfaatkannya. Sesungguhnya Islam sangat menghormati milik pribadi, baik itu barang- barang konsumsi ataupun barang- barang modal. Namun pemanfaatannya tidak boleh bertentang an dengan kepentingan orang lain. Jadi, kepemilikan dalam Islam tidak mutlak, karena pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT. Pada QS.an-Najm ayat 31 dan Firman Allah SWT. dalam QS. An-Nisaa ayat 32 dan QS. Al-Maaidah ayat 38. jelaslah perbedaan antara status kepemilikan dalam sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi yang lainnya. Dalam Islam kepemilikan pribadi sangat dihormati walau hakekatnya tidak mutlak, dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan orang lain dan tentu saja tidak bertentangan pula dengan ajaran Islam. Sementara dalam sistem kapitalis, kepemilikan bersifat mutlak dan pemanfaatannya pun bebas.sedangkan dalam sistem sosialis justru sebaliknya, kepemilikan pribadi tidak diakui, yang ada kepemilikan oleh negara. b. Ekonomi Terikat dengan Akidah, Syariah (hukum), dan Moral Diantara bukti hubungan ekonomi dan moral dalam Islam (yafie, 2003: 41-42) adalah: larangan terhadap pemilik dalam penggunaan hartanya yang dapat menimbulkan kerugian atas harta orang lain atau kepentingan masyarakat, larangan melakukan penipuan dalam transaksi, larangan menimbun emas dan perak atau sarana- sarana moneter lainnya, sehingga mencegah peredaran uang, larangan melakukan pemborosan, karena akan menghancurkan individu dalam masyarakat. c. Keseimbangan antara Kerohanian dan Kebendaan Beberapa ahli Barat memiliki tafsiran tersendiri terhadap Islam. Mereka menyatakan bahwa Islam sebagai agama yang menjaga diri, tetapi toleran (membuka diri). Selain itu para ahli tersebut menyatakan Islam adalah agama yang memiliki unsur keagamaan (mementingkan segi akhirat) dan sekularitas (segi dunia). Sesungguhnya Islam tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat.

d. Ekonomi Islam Menciptakan Keseimbangan antara Kepentingan Individu dengan Kepentingan umum Arti keseimbangan dalam sistem sosial Islam adalah, Islam tidak mengakui hak mutlak dan kebebasan mutlak, tetapi mempunyai batasan- batasan tertentu, termasuk dalam bidang hak milik. Hanya keadilan yang dapat melindungi keseimbangan antara batasan- batasan yang ditetapkan dalam sistem Islam untuk kepemilikan individu dan umum. Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang untuk mensejahterakan dirinya, tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan dan mengorbankan kepentingan orang lain dan masyarakat secara umum. e. Kebebasan Individu Dijamin dalam Islam Individu-individu dalam perekonomian Islam diberikan kebebasan untuk beraktivitas baik secara perorangan maupun kolektif untuk mencapai tujuan. Namun kebebasan tersebut tidak boleh melanggar aturan- aturan yang telah digariskan Allah SWT. Dalam Al-Quran maupun Al-Hadis. Dengan demikian kebebasan tersebut sifatnya tidak mutlat. Prinsip kebebasan ini sangat berbeda dengan prinsip kebebasan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis. Dalam kapitalis, kebebasan individu dalam berekonomi tidak dibatasi normanorma ukhrawi, sehingga tidak ada urusan halal atau haram. Sementara dalam sosialis justru tidak ada kebebasan sama sekali, karena seluruh aktivitas ekonomi masyarakat diatur dan ditujukan hanya untuk negara. f. Negara Diberi Wewenang Turut Campur dalam Perekonomian Islam memperkenankan negara untuk mengatur masalah perekonomian agar kebutuhan masyarakat baik secara individu maupun sosial dapat terpenuhi secara proporsional. Dalam Islam negara berkewajiban melindungi kepentingan masyarakat dari ketidakadilan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, ataupun dari negara lain. Negara juga berkewajiban memberikan jaminan sosial agar seluruh masyarakat dapat hidup secara layak.

Peran negara dalam perekonomian pada sistem Islam ini jelas berbeda dengan sistem kapitalis yang sangat membatasi peran negara. Sebaliknya juga berbeda dengan sistem sosialis yang memberikan kewenangan negara untuk mendominasi perekonomian secara mutlak. g. Bimbingan Konsumsi Islam melarang orang yang suka kemewahan dan bersikap angkuh terhadap hukum karena kekayaan, sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Israa ayat 16 : h. Petunjuk Investasi Tentang kriteria atau standar dalam menilai proyek investasi, al-Mawsuah Al-ilmiyahwa-al amaliyah al-islamiyah memandang ada lima kriteria yang sesuai dengan Islam untuk dijadikan pedoman dalam menilai proyek investasi, yaitu: a) Proyek yang baik menurut Islam. b) Memberikan rezeki seluas mungkin kepada anggota masyarakat. c) Memberantas kekafiran, memperbaiki pendapatan, dan kekayaan. d) Memelihara dan menumbuhkembangkan harta. e) Melindungi kepentingan anggota masyarakat. i. Zakat Zakat adalah salah satu karasteristik ekonomi Islam mengenai harta yang tidak terdapat dalam perekonomian lain. Sistem perekonomian diluar Islam tidak mengenal tuntutan Allah kepada pemilik harta, agar menyisihkan sebagian harta tertentu sebagai pembersih jiwa dari sifat kikir, dengki, dan dendam. j. Larangan Riba Islam menekankan pentingnya memfungsikan uang pada bidangnya yang normal yaitu sebagai fasilitas transaksi dan alat penilaian barang. Diantara faktor yang menyelewengkan uang dari

bidangnya yang normal adalah bunga (riba). Ada beberapa pendapat lain mengenai karasteristik ekonomi Islam, diantaranya dikemukakan oleh Marthon (2004,27-33). Menurutnya hal- hal yang membedakan ekonomi Islam secara operasional dengan ekonomi sosialis maupun kapitalis adalah : a. Dialektika Nilai nilai Spritualisme dan Materialisme b. Kebebasan berekonomi c. Dualisme Kepemilikan DAFTAR PUSTAKA

1. Mustafa Edwin Nasution, Jangan Pinggirkan Studi Ekonomi Syariah, Republika online, Senin, 07 Nopember 2005 2. Dr. Yusuf Qardhawi, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam, Robbani Press, Jakarta, 2004 3. Dan sumber bacaan lainnya (internet) Catatan Kaki
1. Yusuf Qardhawi, Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam p. 10

Ekonomi Islam Di Indonesia Suatu Keharusan Atau Alternatif ?


Artikel ini dipublish pada 22 April 2011 at 15:39 oleh Choir

Pertanyaan ini memang cukup sering diperdebatkan diberbagai forum diskusi seperti seminar. Ekonomi Islam sendiri muncul di Indonesia untuk pertama kali pada tahun 1990. Pada era tersebut, perkembangan ekonomi islam masih sangat lambat. Namun, pada tahun 2000-an terjadi akselerasi perkembangan ekonomi Islam. Bahkan bank bank konvensional meluncurkan anak perusahannya yang beroperasi dengan berbasiskan syariah. Seperti BCA syariah, BNI syariah. Mandiri syariah, BRI syariah dan masih banyak lagi. Tercatat, sampai tahun 2010, terdapat 11 bank umum syariah, 23 unit usaha syariah, 45 unit BPR Syariah, yang beroperasi di 103 kota di 33 provinsi. Asetnya pun berkembang sebanyak 44% per 2010. Dengan banyaknya cabang bank syariah yang ada di Indonesia membuktikan bahwa sebenarnya bank dengan dasar syariah mempunyai prospek dan peluang yang cukup besar di masa depan untuk menjadi pilihan utama bagi masyarakat indonesia dan menggantikan sistem ekonomi konvensional yang sebelumnya diterapkan di Indonesia. Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan presiden Susilo bambang Yudhoyono dalam Festival Ekonomi Syariah (FES) 2009 di Jakarta Convention Center (JCC) menyampaikan bahwa system ekonomi syariah dapat terus tumbuh dan berkembang di Indonesia. Tidak hanya presiden yang menyatakan keoptimisannya terhadap prospek ekonomi syariah namun Gubernur BI, Burhanuddin Abdulah (2005) menegaskan, prospek perbankan syariah di masa depan, diperkirakan akan semakin cerah. Lalu, apa kelebihan ekonomi syariah dibandingkan dengan ekonomi konvensional? Di dalam ekonomi syariah sistem riba dihapuskan dan diganti dengan sistem bagi hasil. Sistem bagi hasil ini dirasa lebih menguntungkan karena sistem ini tidak berpengaruh terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah ataupun oleh nilai standar bunga yang ditetapkan oleh pemerintah. Namun, sistem ini di pengaruhi oleh hasil investasi yang diberikan bank, kepada investor yang membutuhkan dana. Inilah yang mengakibatkan mengapa bank- bank syariah tidak ikut kolaps sewaktu Indonesia dilanda krisis pada tahun 1998. Kelebihan lain yang dimiliki oleh bank syariah adalah lebih menitikberatkan pada sektor riil. Bagi Indonesia, pasar riil jauh lebih penting karena menyangkut denyut ekonomi sebagian besar masyarakat. Artinya, sektor riil lebih memihak kepada kepada kalangan masyarakat kelas bawah. Sektor riil merupakan sektor yang mempengaruhi sektor finansial. Jika sektro riil menurun, maka sektor finansial juga akan menurun. Begitu pula sebaliknya. Untuk saat ini, ekonomi syariah masih merupakan sebuah alternatif baru bagi masyarakat Indonesia namun mempunyai peluang yang cukup besar agar menjadi pilihan utama masyarakat

di masa depan. Saya mengatakan demikian karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dan tidak semua orang dapat beralih dari sebuah system yang telah lama mereka anut sejak berpuluh puluh tahun dan secara tiba tiba harus menganut ke system yang relatif baru. Ini butuh penyesuaian! Selama ini, bank syariah dianggap sebagai banknya orang Islam sehingga mereka yang berasal dari kalangan agama lain lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank bank konvensional. Nah, paradigma ini memang harus diluruskan. Diperlukan sosialisasi yang lebih komprehensif dan mengena ke semua lapisan masyarakat tentang apa itu ekonomi Islam dan keuntungannya jika kita memilih ekonomi Islam. Kita tidak boleh serta merta memaksakan pendapat kita bahwa si A harus menabung di bank syariah , si B harus menabung di bank ini dan itu. Tidak cukup dari sisi pensosialisasian saja agar ekonomi syariah menjadi pilihan utama di masa depan bagi masyarakat Indonesia namun juga dari sisi SDM nya juga harus dibenahi. Banyak lulusan sarjana ekonomi yang akan bekerja di bank bank syariah bingung mengenai sistem nya, karena pada waktu kuliah mereka diajarkan perekonomian konvensional. Maka dari itu, di perguruan perguruan tinggi perlu dibukanya jurusan ekonomi syariah sehingga dapat mencetak lulusan lulusan yang berkompeten di bidang ekonomi syariah. Dan diharapkan lulusan lulusan ini mampu memecahkan persoalan persolan ekonomi syariah dan mampu berinovasi sehingga ekonomi syariah lebih maju dan berkembang. Tantangan ketiga yang menanti perbankan syariah adalah pembenahan dari sisi kelembagaan. Dual banking system yang selama ini dijalankan perlu disempunakan. Sistem kelembagaan perbankan syariah belum sepenuhnya mapan karena hubungan manajemen, wewenang, serta struktur organiasi antara bank konvensional dengan unit syariahnya (subsystem) perlu diperjelas, agar sinergis. Bahkan, perlu dibentuk Deputi Gubernur khusus syariah. Jika ekonomi syariah mampu melewati tantangan tantangan tersebut, saya yakin untuk kedepannya ekonomi syariah akan mampu mendominasi semua sektor perekonomian di Indonesia. Semoga! Sumber : http://www.shariaheconomics.org