Anda di halaman 1dari 47

BALADA PEGAWAI

By Lukas Bagas Awas

dipersembahan bagi teman-teman insan Puskesmas di seluruh Indonesia

DAFTAR ISI
1. 2. 3. DARI PENULIS ...... ........................................ ........................................ .. BALADA PEGAWAI ........................................ DARI BOK, JAMKESMAS, JAMPERSAL, HINGGA .... JAM.... KESAL ........................... ........................... ..................... ANTARA BOK DAN PANJAT PINANG ........... PANJAT AT COST VERSUS ONGKOS ........................ ........................ UTANG ......................................................... ......................................................... .................... TALANG ........................................................ ........................................................ .................... 1 2 3

4. 5. 6. 7.

16 24 29 36

DARI PENULIS
Apa yang saya tulis disini, bukanlah bermaksud mendiskreditkan siapapun. Tapi hanyalah sebuah realita yang selama ini dialami dalam menjalankan tugas. Semoga bisa menjadi cerminan bagi teman-teman yang mengabdi untuk bangsa, negara, dan masyarakat. Agar tetap tabah dan setia di dalam menjalankan tugasnya. Percayalah, jika segala sesuatunya dikerjakan dengan senyum, niscaya akan membuahkan hasil yang baik walaupun untuk itu anda harus berkorban. Ini sedikit tips untuk anda
1.

Memegang posisi yang rendah tidaklah mengerikan; yang mengerikan adalah memiliki posisi rendah dan tidak meningkatkan kemampuan diri.

2.

Berilah lebih daripada yang kamu terima, sehingga yang tamak pun akan berterima kasih kepadamu.

3.

Simpanlah cukup kecerdikan sebagai persediaan, sehingga pada masa yang tidak diduga, kamu tidak akan terpojok. Demikian, semoga tulisan-tulisan berikut ini dapat

menjadi inspirasi bagi teman-teman semua. Salam, Lukas Bagas Awas -1-

BALADA PEGAWAI
Motivasi terbesar adalah gaji adalah Kesialan terbesar adalah promosi tanpa kenaikan gaji tibaKejutan terbesar adalah bekerja biasa tapi tiba-tiba naik gaji puraBakat terbesar adalah pura-pura sibuk tapi tak apamengerjakan apa-apa Kesalahan terbesar adalah membantah bos Penurunan semangat terbesar adalah potongan kredit yang tak kunjung usai yang Kesedihan terbesar adalah menerima gaji berbeda padahal melakukan pekerjaan yang sama Kebahagiaan terbesar adalah menjadi bos dari bos sekarang Kecerdikan terbesar adalah datang terlambat tapi bos tidak tahu bilang Ketololan terbesar adalah bilang pada orang lain bahwa kita ini malas Kebingungan terbesar adalah bos mengatakan sesuatu tapi artinya lain Keinginan terbesar adalah memecat bos sendiri Kekesalan terbesar adalah anda bekerja keras tapi orang lain yang dipuji
tetap Apapun yang terjadi tetap harus kerja ! Hehehehe.

-2-

DARI BOK, JAMKESMAS, JAMPERSAL, HINGGA ..... JAMP..........KESAL


Tahun 2011
dapat dikatakan sebagai tahun kelimpahan bagi Puskesmas. Betapa tidak, dalam tahun 2011 setidaknya ada tiga jenis dana yang menghujani Puskesmas dengan duit yaitu, BOK, Jamkesmas, dan Jampersal. Jumlahnya

tidak tanggung-tangung, hampir seratus juta untuk tiap jenis kegiatan. Maka secara kasar dapat dikatakan total ketiga jenis kegiatan itu berjumlah tiga ratus juta. Bayangkan.. tiga ratus juta. Suatu jumlah yang saya kira fantastis untuk sebuah Puskesmas, apa lagi untuk Puskesmas kecil di daerah terpencil. Mestinya, insan Puskesmas bergembira menyambut kedatangan tiga malaikat keberuntungan itu. Tidak heran jika jauh-jauh hari sebelum kemunculannya, ia sudah dibicarakan dimana-mana, disetiap pertemuan, rapat, atau sekedar kongkow-kongkow di warung kopi pak Ajit, warung nasi Mak Zainab, ataupun warung bakso ko Ahi, yang juga merangkap sebagi penjual togel.

-3-

Kebiasaan orang Indonesia adalah meributkan segala sesuatu yang belum akan seru jelas juntrungannya berbagai karena argumen

pembicaraan

dengan

berdasarkan imajinasi atau asumsi masing-masing. Jaman sekarang enak bu, ujar bu Sita dalam pertemuan arisan di satu sore. bersalin gak perlu bayar, ada Jampersal yang bayar. Kita tinggal ngedan, cruutt anaknya lahir, pemerintah bayar biayanya Enak apanya?, tanggap bu Nina. Orang

melahirkan sampe nangis-nangis koq dibilang enak ? Yang enak tu bikinnya. Begitu lahir, mulailah semua penderitaan. Tarohlah biaya bersalin dibayarin, kb-nya dikasi, tapi bayi yang lahir siapa yang kasi makan ? Yang beli susu siapa ? Jangan mikir gratisnya doang, tapi pikir juga kelanjutan hidup si anak kelak Walau beberapa kalimat di atas mungkin khayalan, tapi bukan tidak mungkin memang ada pembicaraan yang mirip-mirip alias serupa tapi tak sama. Pemicunya adalah kata gratis. Di mana-mana kalau ada sesuatu yang gratis selalu bikin heboh bahkan rusuh. Saya jadi mikir, janganjangan meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia ini tak lain gara-gara ada program yang berbau miskin.

Membagikan segala sesuatu secara cuma-cuma, hingga -4-

berbondong-bondonglah orang mendaftarkan diri sebagai orang miskin supaya dapat jatah. Malah ada yang pakai maksa-maksa minta dimiskinkan. Aneh, orang pada lomba untuk kaya, e... yang ini koq maksa minta miskin. Padahal, yang namanya miskin, gak diminta juga bisa datang sendiri. Contoh, tiba-tiba saja rumahnya kebakaran. Mendadak gak punya apa-apa. Tinggal selembar pakaian pembungkus badan. Mulailah sana-sini minta sumbangan. Kasian pak, orang miskin ! Dalam rapat penentuan jumlah peserta Jamkesmas tempo hari, Kepala Bagian Ekonomi di Kantor Bupati pernah bilang, Jika melihat pertumbuhan ekonomi tiga tahun terakhir, kabupaten kita cukup bagus, tapi heran jumlah orang miskin malah meningkat. Ini ironis ! Betulbetul ironis ! Bahkan angka miskinnya melebihi quota yang ditetapkan pusat ! Aneh, orang miskin koq pakai dijatah ? Atau

maksudnya, program hanya mampu membiaya untuk sekian orang per kabupaten. Kalau pemahamannya seperti itu barangkali benar juga. Artinya, biarpun separuh dari orang Indonesia statusnya miskin, tapi keuangan

pemerintah melalui Jamkesmas hanya mampu menolong

-5-

seperempatnya saja. Maka dibuatlah quota per kabupaten atau kota. Meski ada standar miskin dari BPS, tetap saja manakala petugas desa mendata rakyat miskin di desanya, mereka mendata sebanyak-banyaknya tanpa peduli kriteria, Yah daripada di demo nanti, daftarkan saja, demikian seorang aparat desa pernah berujar. Dari pada nanti repot-repot buat keterangan miskin, bagus

dimasukkan dari sekarang. Beres res. res ! Saya pikir benar juga. Rakyat sekarang suka beringas. Apa-apa demo. Apa-apa rusuh. Setiap hari kita bisa lihat berita demo dan rusuh di tivi. Demo ke instansi pemerintah, perang antar warga, sudah menjadi sajian sehari-hari. Katanya orang Indonesia ramah dan sopan. Kemana hilangnya semua itu ya ? produk reformasi ? Baiklah, daripada jauh-jauh menyimpang dari pokok persoalan, mari kita kembali lagi ke topik awal yaitu Puskesmas ketiban rejeki : BOK 100 juta, Jamkesmas 100 Atau ini salah satu

juta, Jampersal 100 juta.


benar ?

Total 300 juta. Wiiii. banyak

Bisa kaya dong petugas Puskesmas. Iya, kalau itu

duit dibagi-bagi kayak BLT. Habis terima duit sudah ! Mau kamu apakan, terserah. Mau beli beras, mau beli -6-

pakaian, mau beli ikan asin, bahkan mau beli togel pun, pemerintah tidak minta tanggungjawab. Yang repot ya yang membagikan, jika penerima dianggap tidak berhak atau menyalahi prosedur pembagian. Bukan masyarakat yang nerima duit lantas main guli dan .. kletak-kletik, tembak sana-tembak sini, gak terasa. habislah tu duit BLT. Yaaah. ternyata yang terima duit BLT sehari-harinya memang suka main guli pake duit di belakang pasar.

Tiga ratus juta sudah di depan mata, yang perlu


dipikirkan adalah bagaimana dana itu di dalam penggunaannya menjadi tepat sasaran, tepat guna, dan tepat waktu. Ketiga jenis dana itu mempunyai tugas masing-masing. BOK sesuai kepanjangannya yaitu Bantuan Operasional Kesehatan diperuntukkan bagi membiayai kegiatan operasional di Puskesmas agar programnya jalan. BOK lebih diarahkan untuk kegiatan lapangan seperti perjalanan dinas, misalnya untuk pelayanan masyarakat di desa, pelayanan di Posyandu oleh petugas maupun kader, pengambilan logistik kesehatan dari Poskesdes atau Pustu ke Puskesmas. BOK tidak diperuntukkan buat beli barang modal semisal beli tivi, kecuali beli bensin buat jalanjalan ke kampung, atau untuk ngisi tangki genset Puskesmas biar kulkas vaksinnya gak kepanasan dan vaksin -7-

jadi rusak. Aneh ya ?

Supaya dingin malah harus

dipanaskan ! Tapi yang ini belum cukup aneh, lebih aneh lagi adalah dana BOK dialokasikan untuk rujukan ibu bersalin tapi uangnya tidak dikasi ke Puskesmas. Puskesmas harus nombok lebih dulu, nanti baru di klaim ke TP BOK Kabupaten. Lha .... siapa yang mau nombok ?. Duit siapa yang dipakai ? Mending kalau dapat penggantian, kalau tidak ? Mau tagih sama siapa lagi ? Maka saya sering

katakan, kalau kita yang utang ke pemerintah pasti dikejarkejar sampai duitnya dikembalikan. Tapi kalau pemerintah utang sama kita ? Tinggal mengurut dada sajalah. Kita

pasti akan dipingpong kesana kemari hingga bosan sendiri dan merelakan semua pengorbanan yang sudah dilakukan. Enak ? Tentu saja. Siapa bilang tak enak kalau pergi ke mana-mana bensinnya ditanggung, makannya ditanggung, nginapnya di kampung juga ditanggung. Pasti enak. Setidak-tidaknya begitulah cita-cita orang-orang pintar yang merancang program BOK di pusat sana maksudnya di kementerian kesehatan. Kira-kira seperti inilah katanya. Yo kita bikin petugas Puskesmas dan jaringannya betah dan gak bersungut-sungut melayani masyarakat di kampung. Kalau pergi kemana-mana kita kasi biaya, -8-

melayani di Posyandu di kasi ongkos, melayani bumil dikasi ongkos. Apa-apa di kasih ongkos, maka lahirlah BOK. Mendengar akan adanya BOK, tentu saja para petugas menjadi riang gembira seperti ayam mau dikasi makan. Begitu pemiliknya teriak kuuuuurrrrrrrrr

. maka berhamburanlah mereka dari semak belukar menghampiri sang pemilik. Berebutan mematok biji-bijian yang ditebar di atas tanah, bahkan selain sibuk mematok, bisa pula kepalanya kena patok ayam sebelah lantaran rakus dan ingin menang sendiri. Wah. nyaman nanti. Pergi ke Puskesmas ambil vaksin dikasi duit, pergi imunisasi ke Posyandu dikasi duit, periksa ibu hamil dikasi duit. Semua kegiatan dikasi duit. Tidak seperti yang terjadi selama ini, pergi ke Puskesmas yang jaraknya 30 bahkan 40 km harus keluarkan biaya sendiri. Habis seratus ribu sekali jalan. Coba bayangkan, kalau setiap bulan harus keluarkan 100 ribu untuk ambil vaksin ke Puskesmas dan itu berlangsung lima hingga lima belas tahun. Satu tahun habis 1 juta dua ratus, lima tahun jadi enam juta. Trus kalau lima belas tahun ? HITUNG

sendiri ! Lima belas tahun seorang petugas Pustu berkorban 100 ribu setiap bulan dan jika uang tersebut di simpan di saving plan dengan bunga lumayan tinggi, akan jadi berapa -9-

pada akhir tahun ke lima belas ? Hitung sendiri, saya tidak akan beritahu disini, nanti anda kaget, karena jumlahnya juga fantastis. Bahkan anda barangkali tidak akan peduli soal BOK, ada atau tidak ada ! Dengan adanya BOK, petugas tidak perlu lagi rugi seratus ribu tiap bulan untuk ambil vaksin. Pemerintah sudah menyediakan biaya perjalanan. Begitulah ceritanya ! Tapi nanti dulu, menerima BOK bukanlah seperti rakyat menerima BLT. Yang begitu diterima boleh dipakai sampai habis buat main guli alias main gundu. Penerima dana BOK harus membuat pertanggungjawaban atas dana yang akan diterimanya, tidak perduli seberapa besar atau kecil, harus ada SPJ-nya dengan jumlah dan jenis sesuai ketentuan. Sekarang, mari kita tinjau ilustrasi berikut. Sebuah Puskesmas dan jaringannya terdiri dari 1 Puskesmas, 7 Pustu, 8 Poskesdes. Setiap Pustu dan Poskesdes mempunyai 1 orang petugas yang setiap bulan mengambil vaksin ke Puskesmas dengan biaya bervariasi antara 50 ribu hingga 150 ribu rupiah. Jadi ada 15 petugas yang pergi mengambil vaksin ke Puskesmas. Disini yang akan kita bahas bukan besar kecilnya biaya tapi bagaimana proses penggantian uang transportnya. Untuk satu orang - 10 -

petugas untuk satu kali jalan pp, untuk mendapatkan penggantian biaya transport diperlukan : tiga rangkap

surat tugas, tiga rangkap kwitansi, tiga rangkap pernyataan riil, dan tiga rangkap laporan perjalanan dinas. Jadi setiap petugas harus menyiapkan empat jenis surat untuk mendapat penggantian biaya perjalanannya. Empat jenis surat masing-masing tiga rangkap untuk mendapatkan uang antara 50 ribu hingga 150 ribu rupiah. lengkap, tim verifikator tidak Jika SPJ-nya tidak membolehkan

akan

Bendahara BOK untuk membayar. Apapun alasannya,SPJ harus lengkap dan lolos dari verifikasi. Tim verifikasi tidak akan peduli biarpun petugas Puskesmas harus bolak-balik sepuluh kali dari Puskesmas ke Dinkes. Lantas siapa yang harus menyiapkan SPJ bagi petugas Puskesmas dan Pustu atau Poskesdes ? Ya, siapa lagi kalau bukan yang bersangkutan. Apa bendahara yang harus buat ? Enak aja ! Disinilah masalah mulai muncul. Si petugas yang tinggal di kampung memang tidak kampungan. Dia sudah pandai main facebook, pandai chatting, walaupun kalau mau main facebook harus manjat pohon tinggi-tinggi atau pergi ke bukit di luar kampung buat cari sinyal. Namun dalam hal administrasi keuangan ? - 11 Dia sama sekali buta.

Dia pikir jika sudah melaksanakan tugas, otomatis berhak atas dana yang telah dialokasikan dalam POA. Cukup tanda tangan kwitansi saja. Terima uang, habis perkara. Dia sama sekali tidak tahu kalau untuk mendapatkan uang yang dikucurkan harus menyiapkan SPJ seabrek-abrek, tidak peduli uangnya 1 rupiah atau 1 milyar. Sama saja, harus pakai SPJ alias Surat Pertanggung Jawaban. Harus lengkap ! Karena tidak mampu menyelesaikan administrasi keuangannya sendiri, si petugas pun minta tolong

temannya. Perkara minta tolong, sang teman yang ahli mengolah data tentu saja tidak keberatan, namun di zaman yang segala sesuatunya serba diduitkan ini, adakah pertolongan yang gratis ? Tentu saja tidak ! Si teman

bersedia menolong dengan imbalan atas jerih payahnya. Ya .... wajar dong. Untuk ketik, untuk print, kan perlu waktu dan biaya ?. Lantas dihitunglah uang ketik, uang kertas, uang tinta, uang rokok, uang apalah, dan lain sebagainya sehingga akhirnya disepakati suatu jumlah yang menurut keduanya cukup layak. Layak bagi teman yang

mengerjakan, layak juga bagi yang minta tolong. Beberapa waktu selesailah SPJ dipersiapkan.

Langsung dapat duit ? Nanti dulu, itu masih SPJ kosong - 12 -

alias belum lengkap alias belum rampung. Dari sisi naskah, ya sudah lengkap, tapi sisi pengesahan ? Tentu saja belum. Surat Tugas harus ditandatangani oleh Kades sebagai bukti pelaksanaan tugas. Maka si petugas harus balik kampung menemui pak Kades untuk minta tanda tangan. Mending kalau Kadesnya gak rewel, tapi kalau sang Kades banyak lapis ? Mau tak mau, suka tak suka si petugas harus merogoh kantong agar ttd dari sang Kades segera turun. Menyedihkan, belum dapat uang sudah harus keluar uang lebih dulu. Singkat meyakinkan cerita, pak setelah akan dengan susah payah minta

Kades

keperluannya

pengesahan ditambah menipiskan lagi kantongnya yang nyaris kancai, selesai juga SPJ-nya. Dibawa lagi ke Puskesmas untuk diteruskan ke Kabupaten dan diserahkan ke Bendahara BOK. Untuk sementara, si petugas harus menunggu. Menunggu pengelola BOK Puskesmas membawanya ke Kabupaten, menunggu berita dari pengelola BOK di Puskesmas apakah SPJ-nya jadi duit atau malah jadi penghuni tong sampah lantas dibakar. Setelah menunggu beberapa lama, barulah ada kabar dari Puskesmas bahwa duitnya sudah cair dan boleh - 13 -

di ambil di Puskesmas. Ia pun meluncur lagi ke Puskesmas, tak perduli entah sudah berapa kali bolak-balik. Akhirnya uangpun didapat. Dan sore setibanya di kampung, si petugas mulai menghitung-hitung dana BOK yang dia terima. Ternyata, .. yah..., pas ! Tidak tekor alias pakpok alias kembali modal. Semua uang yang telah dikeluarkan impas dengan yang didapat, tapi eh nanti dulu. Benarkah impas ? Dia sudah ke lapangan melaksanakan tugas, sudah bolak-balik ke Puskesmas. Sudah kehilangan banyak waktu. Uang yang di dapat ternyata hanya impas dengan uang yang telah dikeluarkan. Jadi untungnya di mana ? Enaknya dimana ? Sudahlah, kita ini pegawai pemerintah, hibur teman seniornya yang kebetulan datang berkunjung. Jangan pernah berharap uang lebih dari pelaksanaan tugas. Tidak rugi itu sudah syukur. Tetap laksanakan tugasmu seperti biasa dan jangan berharap lebih dari gaji yang setiap bulan kamu terima tanpa perlu buat SPJ. Karena untuk itulah pemerintah memberi gaji kepadamu, yaitu melaksanakan setiap tugas yang dibebankan sesuai tupoksi masing-masing. Jika kamu ingin tambahan uang gaji, carilah sesuai kemampuan yang ada. Lakukan di luar - 14 -

jam dinas agar apapun hasil yang didapat, semuanya menjadi milikmu sendiri tanpa ada yang bisa mengganggugugat. Kamu harus bersyukur bahwa pemerintah telah memberi kesempatan untuk jadi pegawainya, bersyukur pula punya kesempatan di luar jam dinas untuk cari tambahan. Lupakan BOK, JAMKESMAS, JAMPERSAL, yang ujung-ujungnya jadi JAMP.. KESAL alias bikin kesalalias sakit hati. Kalau sudah sakit hati maka kerjapun jadi asalasalan. Lama-lama jadi sering mangkir. Kalau sering mangkir bisa kena teguran dari atasan. Sering dapat teguran ujung-ujungnya kena pecat. Mau kamu dipecat ? Ya.ndak dong ! Kalau begitu, kerja yang benar !

Sungai Ayak, 29 Agustus 2011

- 15 -

ANTARA BOK DAN PANJAT PINANG


Tujuh belas Agustus belum lama berselang.
Siapapun warga di Indonesia dari balita hingga kakek tua renta pasti tau apa makna tujuh belas Agustus bagi bangsa Indonesia. Hari itu, adalah hari bebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan. Artinya bebas dari penindasan.....

Merdeka !!! Pada setiap tujuh belas Agustus, setelah upacara peringatan detik-detik proklamasi selalu dilanjutkan dengan acara hiburan rakyat. Begitulah yang selama ini terjadi di kota kecamatan kami. Acara hiburan rakyatnya bisa macam-macam. Ada lomba makan kerupuk, lomba ambil uang dengan gigi dimana uangnya ditancapkan ke jeruk besar yang masyarakat setempat menamakannya limau tapah. Jeruknya dikasi olie bekas biar tu mulut itam-itam kena olie. Kadang ada juga kesenian semacam kuda lumping yang kalau sudah kesurupan, beling pun dimakan. Namun ada satu jenis permainan yang tidak pernah absen diantara berbagai macam permainan yang niatnya menghibur dan meramaikan yaitu panjat pinang. - 16 -

Tujuh belas Agustus tahun 2011 ini, di kecamatan kami tidak ada perlombaan apa-apa. Sepi. Setelah upacara, semua pada bubar. Pulang ke rumah masing-masing. Penyebab utamanya ternyata pada puncak tujuh belasan itu, bertepatan dengan bulan puasa. Jadi, acara-acara yang menguras tenaga dan keringat tidak bisa dilaksanakan. Ya...... khawatir puasanya, batal ! Tentu, berdosalah siapa saja yang membuat puasa orang lain jadi batal. Oleh sebab itu, daripada menambah dosa yang memang sudah bertumpuk-tumpuk, lebih baik menahan diri untuk tidak terus menerus menambah dosa. Logis kan ? Mengenai perlombaan panjat pinang, apakah untuk mengambil buah pinang yang ada di atasnya ? Tentu tidak. Karena ia hanyalah sebuah tonggak dari pinang sepanjang 7 hingga 8 meter yang biasanya ditegakkan di tengah lapangan. Lantas di ujungnya, digantung berbagai macam hadiah. Bisa berupa hadiah langsung, bisa juga berupa hadiah tidak langsung. Jika hadiah langsung, maka apapun hadiahnya akan digantungkan di atas pucuk pinang buatan berupa lingkaran. Hadiah yang digantung itu tentunya bukan berupa barang yang berat-berat misalnya sepeda motor. Pastinya gantungan itu gak akan kuat dan kalau jatuh pasti akan membuat - 17 celaka orang-orang di

bawahnya. Jika hadiahnya bukan hadiah langsung, maka yang digantung berupa kertas dengan tulisan angka-angka yang mewakili barang hadiah kemudian ditukarkan ke Panitia. Untuk sukses mendapatkan hadiah yang digantung dipucuk pinang, tidak bisa dilakukan hanya oleh satu orang, tapi harus membentuk tim yang biasanya terdiri dari lima hingga tujuh orang. Harus diatur strategi pemanjatan misalnya, siapa anggota tim yang berada di urutan paling atas yang akan memetik semua hadiah yang digantung. Siapa yang harus berada di posis paling bawah, agar pemanjatan pinang, mencapai kesuksesan. biasa, Karena tetapi memanjat cenderung

bukanlah

panjat

menyambung satu orang dengan orang lainnya secara vertikal hingga orang yang berada di urutan paling atas akan mencapai pucuk pinang, lalu dengan gampang memetik hadiahnya. Tahun lalu di areal perkebunan di kecamatan kami, panitia mengadakan perlombaan panjat pinang. Beberapa kelompok sudah mencoba, namun tidak ada yang berhasil. Akhirnya, tiba giliran satu kelompok. Kelompok ini bukannya memanjat, tapi menggali tanah di pangkal pinang, dan dalam hitungan detik, batang pinangnya - 18 -

rebah, hadiah yang diperebutkan pun benar-benar jadi rebutan hingga nyaris terjadi tawuran. Dari panjat pinang ini, ada tiga hal yang dapat dicatat yaitu : 1. Ada keinginan untuk memberi hadiah kepada masyarakat atau kelompok pemanjat. 2. Ada rintangan yang dibuat agar hadiahnya tidak gampang untuk diambil. Rintangan itu berupa pemilihan batang pinang yang memang licin, kemudian diolesi dengan olie bekas. Makin licin ! 3. Untuk dapat mengambil hadiah, harus dibuat kelompok (tim), tanpa kelompok mustahil seseorang mampu memanjat batang pinang berlumur olie setinggi 7 meter. Jika nekat mencoba sendiri, dijamin sampai kiamat tak bakal berhasil. Lantas apa kaitannya dengan Bantuan Operasional Kesehatan alias BOK yang bikin heboh dan banyak keluhan itu ? Antara BOK dan panjat pinang ternyata ada kesamaan yaitu : 1. Ada keinginan untuk memberi hiburan dan hadiah kepada masyarakat ditingkat bawah dalam hal ini

- 19 -

petugas Puskesmas yang diagung-agungkan sebagai ujung tombak, agar lebih semangat dalam bekerja. 2. Untuk mendapatkan hadiah harus melalui

mekanisme yang telah ditetapkan, yaitu mekanisme pertanggungjawaban. Tidak bisa diberikan begitu saja seperti menebar makanan ayam. Mekanisme inilah yang dapat diterjemahkan sebagai faktor penyulit yang sering diperparah oleh interpretasi yang berlebihan dari TP BOK Kabupaten. Misal, dalam Juknis BOK hanya 3 jenis kelengkapan SPJnya, tapi oleh tim verifikator kabupaten ditambah lagi hingga menjadi empat atau lima. Katanya buat jaga-jaga supaya lebih lengkap. Supaya tidak jadi temuan jika tim pemeriksa datang. Tapi buat saya dan juga rekan-rekan lainnya di Puskesmas,

bukannya lebih lengkap, orang-orang itu sebenarnya senang kalau liat petugas Puskesmas pulang dengan muka masam sambil memikul bangkai SPJ. Alhasil, petugas Puskesmas yang sudah buat 3 jenis, harus membawa kembali SPJ-nya untuk dilengkapi. Balik lagi ke kandangnya. Mending kalau Puskesmasnya dekat, kalau jauh dan makan biaya besar,

- 20 -

bagaimana ? Siapa yang mau tanggung ongkos pergi pulang ke Kabupaten ? 3. Harus ada tim dalam pengelolaan BOK, agar pengelolaannya berhasil guna dan tepat guna.

Kesimpulan
Memperoleh dana BOK tidaklah segampang yang didengung-dengungkan. Sedikit-sedikit ngomong, kan ada dana BOK ? Pakai dululah. Emang dananya Puskesmas yang pegang ? Tidak semudah lidah mengucapkan. Untuk

memperoleh dana BOK harus kerja dulu, keluar modal lebih dulu, baru tagih uangnya. Nah .... perkara nagih uang inilah masalah yang paling pelik. Melaksanakan tugas ke lapangan seberat apapun mungkin bukan kendala bagi petugas, namun kalau sudah urusan administrasi pencairan dana ? Inilah yang

sering membuat putus asa dan mungkin berderai air mata sebagaimana kata teman saya dari Semudun dalam raker Kepala Puskesmas di propinsi tempo hari. Bagaimana tidak, jika SPJ yang telah dibuat dengan susah payah ternyata salah dan salah terus. Capek tenaga mungkin tak mengapa, tapi kalau sudah capek ati ? Tebang saja pohon pinangnya ! - 21 -

Saran
1. Lakukan tugas sesuai wewenang dan kemampuan (ini pesan Bapak Kadinkes Propinsi dalam sambutan pembukaan acara Raker Ka Puskesmas se Propinsi). Jangan lebih dan jangan kurang. Karena jika kurang kamu akan dikejar untuk mencukupkannya seperti Bidan desa saya yang dikejar-kejar sama Kasi KIA Kabupaten lantaran cakupannya rendah. Dan jika lebih, jangan berharap dapat reward apapun, mendapat ucapan terima kasih saja sudah bagus. 2. Lakukan tugas sesuai jam dinas, karena untuk itulah kamu dibayar. Jika pekerjaan yang dilaksanakan memerlukan waktu lebih dari satu satuan waktu jam tugas, anggaplah itu sebuah pengorbanan. Bukankah selama ini juga sudah mengorbankan seratus ribu setiap bulan untuk ambil vaksin ke Puskesmas ? 3. Dalam melaksanakan tugas, kapan dan dimanapun, jangan pedulikan apakah ada BOK, Jamkesmas, Jampersal, atau apapun namanya. Karena, untuk memperoleh dana itu semua, sama saja dengan memanjat pohon pinang yang dilumuri olie.

Sudahlah batang pinangnya licin, masih lagi dikasi olie. Ini namanya kesulitan berkali ganda ! - 22 -

4. Jika semua uang yang sudah kamu keluarkan untuk kepentingan dinas tidak dapat ditagih, ingatlah hukum tak tertulis ini : Jika atasan atau pemerintah meminta uangmu, berikanlah. Tetapi jika kamu mengambil uang pemerintah tanpa prosedur

bersiap-siaplah untuk dikejar sampai ke liang kubur. Karena pemerintah punya kuasa, perangkat, dan aparat untuk mengejarmu. Tapi kamu punya apa ?

Selamat berjuang teman ! Berjuang menyehatkan masyarakat Berjuang pula agar hakmu dipermudah urusannya ! Semoga !

Pontianak, 13/09/2011

- 23 -

AT COST VERSUS ONGKOS


tahun-tahun Di tahun-tahun lalu,
seorang pegawai akan senang jika diberi tugas keluar kantor atau melakukan perjalanan dinas, karena dapat dipastikan setelah selesai menjalankan tugas, ada kelebihan biaya yang bisa dibawa pulang dan sah menjadi miliknya. Sisa biaya yang telah dipergunakan tidak perlu dikembalikan. Dana diberikan sesuai pagu. Misalnya si A ditugaskan ke luar daerah dan untuk ke daerah tersebut telah ditetapkan biaya sebesar sekian, maka lebih atau kurang, kantor tidak akan peduli. Sudah ada daftar biaya untuk melakukan perjalanan ke tiap-tiap tempat, lengkap dengan biaya transport (tiket) antar kota maupun dalam kota, biaya nginap di hotel, uang harian, uang makan, dan lain sebagainya. Tidak ada tuntutan untuk mengembalikan biaya yang telah diterima. Tidak pula bisa menuntut jika biaya ternyata kurang. Biaya perjalanan diberikan sesuai pagu untuk masing-masing tempat tujuan. Tidak heran jika perjalanan dinas dijadikan ajang mencari rejeki tambahan dari penghasilan bulanan yang selalu dirasakan kurang. Bahkan ada yang main titip. - 24 -

Jika ada kawan yang melakukan perjalanan dinas ke suatu tempat, sudah dapat dipastikan ada beberapa teman yang menitipkan Surat Tugas dan Surat Perintah Perjalanan

Dinas kepada kawan tersebut. Jadilah ia melakukan perjalanan dinas di tempat. Surat tugasnya berjalan namun orangnya tetap di kantor atau malah tidur di rumah. Tinggal tunggu kawan datang dan kemudian tagih uang perjalanan dinasnya ke Bendahara. Lumayan, tak perlu capek jalan-jalan, duit tak keluar sepeserpun, tapi malah dapat duit bersih atau paling-paling kasi komisi sama teman yang telah dinas luar tersebut. Sekarang, segala kenikmatan itu sudah berakhir. Pemerintah sudah membuat antisipasi. Sepandai pandai tupai melompat, akhirnya ...... melompat juga, tapi jatuh masuk perangkap. Pegawai tidak bisa lagi mengakali perjalanan dinas. Untuk bukti perjalanan dinas tidak cukup hanya membuat kwitansi dan laporan perjalanan. Namun ditambah lagi tiket bis, taxi, atau tiket pesawat. Untuk nginap harus ada bill hotel. Dan untuk yang biayanya tidak ada bukti seperti itu, maka diganti dengan surat pernyataan riil yang menyatakan bahwa biaya yang dikeluarkan adalah benar sebesar biaya yang ditagih serta si petugas bersedia mengembalikan jika terbukti biaya riilnya lebih kecil. Itulah - 25 -

yang sekarang disebut dengan AT COST. Artinya, biaya dibayar sesuai pengeluaran yang dapat dibuktikan. Jadi, jangan harap akan ada kelebihan dari uang perjalanan dinas. Jangan harap akan ada uang buat beli oleh-oleh. Mau beli oleh-oleh, pakai uang sendiri, bukan uang pemerintah. Begitulah ! Bagi pegawai yang berangkat dari kota Kabupaten ke luar daerah misal Propinsi atau Pusat, penerapan aturan itu tentunya sangat tepat. Betapa banyak biaya terbuang percuma lantaran perjalanan dinas di tempat. Berapa banyak uang negara yang bisa dihemat. Namun bagaimana jika seorang pegawai Puskesmas di luar kota kabupaten diundang ikut rapat di propinsi ? Berikut ini pengalaman teman saya dari sebuah Puskesmas di Kabupaten yang terkenal sulitnya transportasi dari Kecamatan ke kota Kabupaten karena memerlukan waktu berhari-hari dengan biaya yang besar. Beberapa waktu lalu, teman saya dari sebuah Puskesmas di sebuah Kabupaten diundang ikut rapat di Propinsi. Biaya dari Puskesmas ke Kabupaten sebesar enam ratus ribu pergi pulang, Menginap di Kabupaten satu malam dengan biaya seratus lima puluh ribu rupiah termasuk makan dan minum. Kemudian dari kabupaten ke - 26 -

propinsi dengan pesawat satu juta pergi pulang. Sampai di propinsi tidak bisa langsung cek ini ke hotel tempat acara karena acara baru dimulai besok pagi. Jadi, harus menginap lagi di hotel lain satu malam dengan biaya dua ratus lima puluh ribu termasuk makan dan minum. Total biaya dua juta seratus lima puluh ribu rupiah. Singkat cerita, selesailah rapat yang berlangsung selama dua hari dan si petugas pun mendapat penggantian biaya transport plus uang saku. Dalam hati, terbayang akan menerima uang yang cukup bahkan ada lebihnya pula. Sudah senyam-senyum si petugas. Namun ketika amplop dibuka, isinya cuma satu juta rupiah. Jangankan ada lebih, kembali modal saja tidak. Inikah namanya AT COST ? Dia sudah keluar

ongkos dua juta seratus lima puluh ribu rupiah untuk perjalanan dari Puskesmas ke Propinsi pergi pulang, tapi panitia rapat cuma ngasi biaya perjalanan dari Kabupaten ke Propinsi sesuai surat tugas yang dikeluarkan oleh dinas kesehatan darimana petugas berasal. Bukan dihitung dari Puskesmas ke Propinsi. Untuk Puskesmas ke Kabupaten pergi pulang, menjadi tanggungan si petugas sendiri. Nasiiiiib, sudah jauh bertugas di pedalaman, masih dicurangi lagi. Berbeda sekali dari apa yang disampaikan - 27 -

oleh narasumber pusat yang mengatakan, Biarpun biaya ojeknya dua juta, pasti dibayar. Yang penting bisa dipertanggungjawabkan sesuai kenyataan Tapi kenyataannya apa ?

AT COST malah membuatnya keluar ONGKOS !


Sungai Ayak, 16/09/09

- 28 -

UTANG
Perkara
posisi sulit utang, barangkali pegawai negeri adalah jagonya. Terlebih lagi pegawai rendahan yang menempati dimana tidak punya kesempatan untuk

memperoleh penghasilan tambahan dari jabatan maupun tugasnya seperti tunjangan jabatan, tunjangan fungsional, dan tunjangan lainnya yang biasa diterima oleh pegawai tertentu. Istilah gali lobang tutup lobang sudah lama kita dengar. Secara harfiah, gambarannya adalah menutup sebuah lubang dengan menggali lubang lainnya. Jadi, lubang lama tertutup namun lubang baru terbentuk. Alhasil, lubang itu sebetulnya tidak pernah benar-benar dapat ditutup tetapi hanya berpindah tempat. Gambaran tersebut dipakai bagi pegawai yang ngutang bulan ini bayar di awal bulan depan setelah terima gaji, ngutang lagi bulan depan bayar bulan depannya lagi. Begitu seterusnya Hingga seorang pegawai nyaris sepanjang karirnya, hidup dari utang ke utang. Utang bukan saja di warung sembako, di tetangga, tapi juga di tukang kredit alat rumah tangga, toko-toko - 29 -

yang menyediakan fasilitas kredit untuk pembelian barang elektronik, dealer kendaraan, bank pemerintah, juga bank empat tujuh. Saking rajinnya ngutang bahkan ada pegawai yang gajinya minus untuk membayar utang sehingga merembet ke teman sejawat untuk membayar cicilannya. Namun demikian, dibalik tumpukan utang, ternyata pegawai negeri menyimpan keunikan. Utang boleh

numpuk, tapi lihatlah penampilannya. Meski gaya macam pengemis, minta sana minta sini, namun ada pegawai negeri yang punya rumah mentereng, punya mobil lebih dari satu. Motor apa lagi, keciiill. Padahal, gajinya tidak lebih dari tiga juta lima ratus ribu sebulan, malah ada yang kurang dari itu. Entah dari mana mendapatkan uangnya, barangkali utang lagi, atau punya penghasilan tambahan di luar yang lebih besar dari gajinya sebagai pegawai negeri semisal ngojek, nyadap karet, jadi makelar tanah, makelar barang elektronik, atau mungkin ikut bisnis MLM yang bisa mendatangkan untung besar tanpa harus kerja keras. Ada pepatah mengatakan, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Perilaku pegawai negeri yang suka ngutang itu barangkali ketularan dari pemerintah yang mengangkatnya. Sudah bukan rahasia lagi, utang

pemerintah Indonesia lumayan besar. Menurut apa yang - 30 -

disampaikan di sebuh situs, utang pemerintah Indonesia saat ini sudah lebih dari seribu sembilan ratus triliuan. Tapi soal utang pemerintah ini, janganlah dianggap berlebihan karena tujuannya adalah untuk mensejahterakan rakyat termasuk pegawai pemerintah, ya kita-kita juga.

Contohnya, pegawai dapat gaji ke tiga belas, pegawai dapat uang kesejahteraan atau beban kerja. Lagi pula, yang suka ngutang ini bukan hanya pemerintah kita namun banyak negara besar dan maju juga punya utang yang jumlahnya melebihi utang pemerintah kita. Misalnya Amerika yang disebut-sebut sebagai negara pengutang terbesar meskipun mereka mampu membuat kendaraan untuk plesiran di ruang angkasa. Benar jugalah kata orang tua tua, besar kuali besar juga keraknya. Yang aneh dan bikin geleng-geleng masalah utang ini adalah jika yang lebih mampu malah ngutang kepada yang tidak mampu. Contoh, toke ngutang kepada kulinya dengan menunda pemberian gaji uang yang sedianya untuk gaji si kuli dipakai dulu buat beli kulat getah, pemerintah ngutang kepada pegawainya untuk

pelaksanaan kegiatan program dimana duitnya belum bisa cair alias belum ada. Si pegawai diminta melaksanakan dulu dengan biaya sendiri, baru nanti uangnya ditagih. Dan si - 31 -

pegawai yang berada dalam posisi sulit seperti makan simalakama dengan terpaksa dan sukarela melaksanakan perintah kosong sang atasan. Disebut perintah kosong

karena isinya perintah doang tanpa memberikan biaya untuk pelaksanaan. Memberikan perintah semacam itu memang

gampang, karena sang atasan di posisi kuat. Jika bawahan tidak melaksanakan maka akan dituduh tidak disiplin, tidak setia kepada tugas, tidak menepati janji akan bekerja sebaik-baiknya sebagaimana sumpah pegawai negeri.

Ujung-ujungnya, si pegawai akan menerima ganjaran berupa hukuman disiplin atau bahkan pemecatan. Di sisi lain, jika pemerintah yang ngutang kepada pegawainya, tidak perlu melalui prosedur apapun. Tidak perlu ada surat permohonan pinjaman, tidak perlu jaminan, tidak perlu pakai SPJ dan tetek-bengeknya. Cukup atasannya omong dan jika perlu pakai sedikit ancaman. Tapi bila giliran bawahan mau klaim, minta dikembalikan uang yang sudah dipakai buat pelaksanaan program, malah banyak benar syaratnya. SPJ harus rangkap sekian, kwitansi rangkap sekian, nota rangkap sekian, tanda terima barang rangkap sekian, ini itu rangkap sekian, dan sekian, dan sekian.... sampai-sampai si pegawai jadi pusing - 32 -

mengingatnya. Padahal, ketika diminta keluarkan uangnya sendiri terlebih dulu, si pegawai tidak pernah rewel. Tidak pernah nanya permohonannya mana ? Kwitansinya mana ? Jaminannya apa ? Kembalinya kapan ?

Teringat akan cerita teman saya yang bekerja di sebuah instansi di Kabupaten. Untuk membiayai perjalanan studi banding ke luar daerah yang dilakukan oleh beberapa pejabat di kantornya, ia sebagai penanggungjawab

keuangan di kantor itu mesti menyediakan sejumlah dana. Namun kas kantor saat itu sedang kosong, mengajukan permintaan uang panjar ke bagian keuangan daerah juga tidak mungkin karena baru saja diinfotmasikan bahwa untuk sementara semua pengajuan uang panjar di delay, sedangkan perjalanan tidak bisa ditunda. Maka dengan inisiatif sendiri demi mempertahankan reputasi, ia

mengambil kredit pada sebuah lembaga keuangan dengan jaminan sertifikat tanahnya. Suatu pengorbanan yang cukup berani. Untunglah tiga bulan kemudian, uangnya kembali. Kalau tidak, bisa-bisa tanahnya disita. Namun dibalik untung itu, kerugian masih tetap ada. Ia harus nombok sendiri bunga pinjaman serta biaya administrasi kredit sementara ia sendiri tidak pernah menikmati sedikitpun hasil kreditnya, dan mereka yang melakukan - 33 -

perjalanan itu, sama sekali tidak sadar, jika kegembiraan mereka plesiran berkedok studi banding, sesungguhnya betumpu pada pengorbanan seorang bawahan yang setia tanpa syarat, yang rela dicaci maki jika tak mampu menyediakan dana, rela pula tak dipuji jika mampu melaksanakan tugas dengan baik. Terakhir, ini nasehat saya. 1. Biasakan hidup hemat dan tidak punya keinginan berlebih dari kemampuan yang ada. Jangan tergoda untuk mengambil kredit, apalagi kredit yang

ditawarkan bank empat tujuh. Jangan sampai besar pasak dari tiang. Jangan tergoda jika melihat tetangga membeli itu dan ini. Terlebih lagi jangan tergoda jika melihat tetangga punya isteri lebih dari satu, lantas kamu juga ingin cari isteri lagi. Bahaya ! 2. Jika mungkin, hindari memberi utang kepada pemerintah karena kita tidak tahu kapan akan dibayar. Lagi pula untuk mendapat pembayaran, maka kita yang memberi utanglah yang harus menyiapkan berbagai syarat yang ditetapkan. Aneh, dimana-mana yang ngutanglah yang mesti

memenuhi syarat dari pemberi utang. Tapi ini kok terbalik ? - 34 -

3. Jika tidak mungkin menghindar, maka laksanakan perintah atasan dengan sukarela meski terpaksa dengan resiko keluar biaya sendiri. Itu lebih baik dari pada menolak perintah karena kamu bisa dipecat. Kalau sudah dipecat tentunya kamu tidak bisa ngutang lagi ke warung, ke tetangga, ke bank, ke dealer motor. Mereka juga tidak akan percaya kepadamu karena kamu tidak lagi punya

penghasilan tetap yang bisa jadi jaminan. 4. Tetaplah semangat dan bangga sebagai pegawai negeri karena kamu adalah orang pilihan meski untuk mendapat predikat itu kadangkala harus keluarkan uang juga.
Sungai Ayak, 20 September 2011

- 35 -

TALANG
Talang biasanya diletakkan di kaki atap. Digunakan untuk menampung air hujan kemudian menyalurkannya ke tempat penampungan atau pembuangan. Talang juga bisa diartikan sebagai menyediakan sejumlah dana untuk sebuah kegiatan yang mendesak dilaksanakan karena dana yang sesungguhnya belum bisa dicairkan. Talang yang pertama bisa kita temui di rumahrumah penduduk. Talang yang kedua biasa terjadi pada instansi pemerintah. Kedua talang ini sama-sama bisa menimbulkan masalah, misalnya jika terjadi kebocoran. Jika talang rumah bocor, maka air hujan yang melewatinya tidak akan sampai ke tempat penampungan. Pemilik rumah bisa-bisa tidak minum atau mandi karena bak airnya kosong. Apalagi kalau pemilik rumah hanya mengandalkan air hujan untuk keperluan mandi, cuci, dan minum. Jika talang pemerintah yang bocor, wah.... ini bisa menimbulkan heboh luar biasa. Apalagi kalau dana talangan yang bocor itu sangat besar seperti yang lagi memanas saat ini yaitu dana talangan wisma atlet, atau - 36 -

yang juga heboh beberapa waktu lalu yaitu dana talangan untuk Bank Century yang memakan korban tergusurnya Sri Mulyani dari posisi Menteri Keuangan. Mengapa sampai terjadi talang-menalang ? Seperti yang saya singgung sedikit di atas, terjadinya talang-menalang ini dikarenakan dana untuk sebuah program atau kegiatan belum tersedia sementara

kegiatannya mendesak untuk dilaksanakan, dan untuk itu diperlukan biaya seperti pembeian material, pembayaran upah pekerja, dan lain-lain. Contoh kecilnya di Puskesmas begini, seorang pasien persalinan perlu dirujuk, tetapi dana BOK yang dialokasikan untuk rujukan persalinan tidak tersedia secara segar di Puskesmas. Dana BOK untuk rujukan persalinan dapat dicairkan hanya apabila kegiatan sudah dijalankan, kemudian biayanya ditagih ke Bendahara BOK di

Kabupaten. Jadi, rujuk dulu pasiennya, keluarkan biaya sendiri, kemudian tagih ke Bendahara. Itu kira-kira cerita ringkasnya. Disini, talang-menalang bisa menimbulkan

persoalan. Soalnya, siapa yang harus menalang ? Apakah kepala Puskesmas atau Dokter Puskesmas ? Jika biayanya cuma beberapa puluh ribu rupiah mungkin tidak masalah. - 37 -

Namun jika biaya sekali rujuk mencapai ratusan ribu hingga jutaan ? Hayo ... siapa yang mau nalang ? Itu baru satu pasien, bagaimana kalau lima atau sepuluh pasien ? Bagaimana kalau bukan saja pasien Jampersal yang ditalang tetapi pasien lainnya, program lainnya juga ? Dari mana kepala Puskesmas dapat uangnya ? Jangan pikir Kepala Puskesmas itu kaya, banyak can, banyak duit. Ada banyak Kepala Puskesmas yang hidupnya pas-pasan, salah satunya ya . yang nulis ini ! Jika dihitung-hitung, ada banyak kegiatan yang mesti ditalangi oleh Kepala Puskesmas. Biaya rutin seperti listrik, air, atk, konsumsi, dan lain-lain. Semua biaya

tersebut baru akan diganti setelah pekerjaan dilaksanakan. Itupun kalau penggantiannya sesuai dengan pengeluaran. Yang biasa terjadi adalah jumlah yang diterima kurang dari biaya yang sudah dikeluarkan. Contoh, ATK Puskesmas dianggarkan satu juta untuk satu tahun. Pada kenyataannya, Puskesmas memerlukan biaya ATK bisa dua kali lipat dari pagu dana yang disediakan. Siapa yang menanggung kekurangannya ? Tentu saja kepala Puskesmas. Ndak mungkin kan mungut biaya dari para stafnya ? Ndak mungkin juga

misalnya mengirimkan laporan dengan kertas bekas dan - 38 -

tulis tangan, sehingga mau tidak mau, suka atau tidak suka Kepala Puskesmas harus berani menjaminkan dirinya untuk utang di toko. Tapi kalau utangnya sudah banyak, toko juga tidak mau. Puskesmas bakal ditagih terus. Tiap kali datang ke toko ATK atau fotocopy pasti disambut dengan muka masam pelayan atau pemilik toko. Ambil terus, kapan bayarnya ?, begitu kira-kira omelan pelayan atau toko melihat catatan bon sudah tebal. Tadi pagi, saya sempat menyimak acara talkshow di televisi. Topiknya tentang dana talangan di Kemenpora yang menghebohkan itu. Menurut narasumber, mencari dana talangan dengan meminjam kepada pihak ketiga tidak diperbolehkan oleh undang-undang. Tapi mengapa

sekretaris menteri berani melakukan itu ?

Terlebih lagi

diluar pengetahuan sang Menteri, sehingga di dalam sidang sang Menteri menjawab tidak tahu, tidak diberi tahu, tidak dilapori, dan macam-macam lagi. Ini sepertinya aneh, kok menteri tidak tahu apa yang dilakukan oleh bawahannya ? Kok menteri tidak diberi tahu oleh Sekretarisnya bahwa ia akan minta dana talangan dari pihak ketiga ? Sekilas memang aneh. Tapi kalau kita mengingat sedikit tentang watak manusia Indonesia, maka mungkin - 39 -

tidak aneh lagi. Orang Indonesia biasanya sungkan terhadap atasan. Hormat kepada atasan melebih hormat kepada isteri atau mertua sendiri. Apa saja perintah atasan selalu dilaksanakan tanpa syarat. Dari perintah yang bersifat dinas sampai kepada yang sifatnya pribadi. Misal, mengantar isteri atasan belanja ke pasar, Jika mendapat perintah tidak pernah berani bertanya, Ongkosnya mana, Pak ? Jika berani juga maka sudah pasti akan dapat semprotan. Tidak tahu diri, melawan perintah, dan lainlain dan lain-lain. Tabu bagi seorang bawahan untuk

bertanya dan minta ongkos jika dapat perintah. Laksanakan saja tanpa banyak tanya dan sungut-sungut. Oleh sebab itu ketika harus mencari dana talangan, sang bawahan mengambil inisiatif sendiri. Menanggung sendiri jika mampu atau meminjam ke pihak ketiga jika tak mampu. Walau mengandung resiko yang lebih besar, sang bawahan biasanya memilih opsi kedua yaitu meminjam secara diam-diam ke pihak ketiga. Tidak apa-apa lah, demi suksesnya tugas, berkorban sedikit apa salahnya ? Itu juga hitung-hitung untuk mempertahankan kursi jabatannya. Karena kalau tugas yang diberikan sampai gagal, maka kursi - 40 -

jabatan bisa melayang ke orang lain. Padahal untuk mendapatkan itu tidaklah mudah. Lobi sana lobi sini, ngemis sana ngemis sini. Nah apa mau dibiarkan lepas begitu saja ? Ya ndak dong ! Maka, demikianlah yang terjadi. Bawahan

mengambil inisiatif sendiri tanpa sepengatahuan atasan. Jika inisiatifnya sukses dan tidak bermasalah, sang bawahan mungkin akan dapat pujian, namun jika gagal, bahkan sampai menyentuh persoalan hukum, tanggung sendiri !. Atasan tidak mau tau. Atasan tinggal bilang, Saya tidak tahu ! . Saya tidak nyuruh Terakhir, bulan Oktober ini akan diadakan program berskala nasional. Kementerian Kesehatan mencanangkan gerakan Kampanya Campak. Perintahpun turun dari Pusat hingga ke perangkat pemerintah paling ujung yaitu Puskesmas untuk melaksanakan kegiatan Kampanye

Campak tersebut. Rencana aksi dibuat, dirancang untuk menyukseskan Kampanye Campak. Diadakan sosialisasi ke berbagai pihak dari tingkat kabupaten hingga kecamatan dan desa. Sosialisasi ditingkat kabupaten sudah dilaksanakan. Tinggal sosialisasi tingkat kecamatan serta pelaksanaan kegiatan.

- 41 -

Nah .. timbul lagi masalah talang-menalang. Pihak penyelenggara di Kabupaten bilang bahwa dana untuk sosialisasi serta pelaksanaan kegiatan belum tersedia, masih menunggu ketok palu di dewan untuk pengesahan Anggaran menalangi. Talang lagi. Cari kemana ? Untuk sosialisasi tingkat kecamatan, pandaiBelanja Tambahan. Puskesmas diminta

pandailah cari rumah makan atau toko yang mau diutangi sementara waktu. Nanti kalau dananya sudah cair kita bayar, begitu pesan panitia Kabupaten. Ya utang lagi, utang lagi. Utang lama saja belum lunas, ini diminta utang lagi. Terlebih jika diingat akhir tahun sudah mendekat. Jika sampai akhir tahun dananya tak bisa cair, alamat lenyaplah semua harapan. Anggaran tahun depan tidak akan mungkin membayar utang tahun ini. Kalau ditagih, bilangnya hangus tahun anggaran sudah lewat. Enak ya, boleh ngutang tapi kalau tahunnya sudah ganti, utangpun dianggap lunas, tidak perlu dibayar. Aturan dari mana ? Maka sekarang tinggal pilih, mau nalangi demi mempertahankan kedudukan dan nama baik agar dipuji - 42 -

sebagai pegawai yang inovatif, kreatif, dan penuh inisiatif, atau kalau berani, buang saja talangnya sambil menunggu surat teguran dari atasan ! Hayo pilih mana ? Kalau berani jangan takut-takut, Kalau takut jangan berani-berani ! Semoga anda bisa memilih dengan benar !
Sungai Ayak, 22/09/2011

- 43 -

PENUTUP
Semoga apa yang saya sajikan berkenan di hati anda semua. Tetaplah semangat dalam melaksanakan tugas meski banyak rintangan yang harus dihadapi. Tetaplah semangat sampai masa pensiun menjemputmu. Meski kelak tidak seorangpun mengingatmu, prestasimu selama mengabdi, namun yakinlah, apapun yang telah kamu perbuat,

merupakan bagian dari pembangunan bangsa ini.