Anda di halaman 1dari 14

TUGAS REKAYASA THERMAL

Ferry Setyo K

2410 105 006

PROGRAM STUDI S-1 LINTAS JALUR TEKNIK FISIKA JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011

BOILER Boiler adalah sebuah bejana tertutup yang berfungsi untuk mengubah wujud suatu fluida dari cair menjadi gas. Perubahan wujud tersebut terjadi karena penambahan kalor. Kalor yang ditambahkan dapat diperoleh dengan cara pembakaran bahan bakar fosil maupun non fosil, reaksi inti atom, ataupun merupakan gas buang dari sisa ekspansi turbin gas. Sampai dengan saat ini secara umum dikenal dua macam jenis boiler yaitu Fire Tube Boiler (Boiler Tabung Api) dan Water Tube Boiler (Boiler Tabung Air). Water tube boiler mempunyai efisiensi yang lebih tinggi daripada fire tube boiler, khususnya yang membutuhkan panas tinggi atau tekanan tinggi, oleh karena itu boiler jenis ini banyak digunakan oleh industri yang dalam prosesnya membutuhkan tekanan tinggi.

Jenis-Jenis Boiler Fire Tube Boiler Pada fire tube boiler, gas panas melewati pipa-pipa dan air umpan boiler ada didalam shell untuk dirubah menjadi steam. Fire tube boilers biasanya digunakan untuk kapasitas steam yang relative kecil dengan tekanan steam rendah sampai sedang. Sebagai pedoman, fire tube boilers kompetitif untuk kecepatan steam sampai 12.000 kg/jam dengan tekanan sampai 18 kg/cm2. Fire tube boilers dapat menggunakan bahan bakar minyak bakar, gas atau bahan bakar padat dalam operasinya. Untuk alasan ekonomis, sebagian besar fire tube boilers dikonstruksi sebagai paket boiler (dirakit oleh pabrik) untuk semua bahan bakar. Water Tube Boiler Pada water tube boiler, air umpan boiler mengalir melalui pipa-pipa masuk kedalam drum. Air yang tersirkulasi dipanaskan oleh gas pembakar membentuk steam pada daerah uap dalam drum. Boiler ini dipilih jika kebutuhan steam dan tekanan steam sangat tinggi seperti pada kasus boiler untuk pembangkit tenaga. Water tube boiler yang sangat modern dirancang dengan kapasitas steam antara 4.500 12.000 kg/jam, dengan tekanan sangat tinggi. Banyak water tube boilers

yang dikonstruksi secara paket jika digunakan bahan bakar minyak bakar dan gas. Untuk water tube yang menggunakan bahan bakar padat, tidak umum dirancang secara paket. Karakteristik water tube boilers sebagai berikut: Forced, induced dan balanced draft membantu untuk meningkatkan efisiensi pembakaran Kurang toleran terhadap kualitas air yang dihasilkan dari plant pengolahan air. Memungkinkan untuk tingkat efisiensi panas yang lebih tinggi.

Temperature (Suhu) Temperatur adalah panas kerja dalam boiler. Temperatur ini berbanding lurus dengan tekanan yang dihasilkan. Temperatur dan tekanan ini juga yang mencerminkan steam yang dihasilkan. Secara umum ada dua jenis steam yang dihasilkan: Saturated steam Temperature yang dihasilkan segaris dengan tekanan Superheated steam Temperatur yang dihasilkan sesuai dengan design yang direncanakan pada boiler. Kapasitas dan Efisiensi Effisiensi merupakan suatu ukuran efektifitas panas, suatu ukuran persentase berapa banyak steam yang dihasilkan dalam setiap jumlah bahan bakar yang terbakar. Kapasitas adalah kemampuan boiler untuk menghasilkan uap dalam satuan berat per waktu. Untuk mendapatkan kapasitas boiler, harus mengetahui effisiensi dari boiler dan jumlah bahan bakar yang digunakan. Kalor yang diberikan bahan bakar effisiensi = Kalor yang diterima fluida untuk menjadi uap M DH = h (W) HV

Keterangan: M = Kapasitas, Kg/Jam DH = Perbedaan entalphy keluar dan masuk, Kcal/Kg h = Effisiensi, % W = Berat Bahan Bakar, Kg/Jam HV = Heating Value, Kcal/Kg untuk fiber : 2340 Kcal/kg untuk shell : 3480 Kcal/kg

dikenal dua macam nilai pembakaran atau nilai kalor : Nilai pembakaran atas/Higher Heating Value (HHV) Bila uap air suatu pembakaran terkondensasi sehingga harus memperhitungkan panas laten dari penguapan tersebut. Nilai pembakaran atas pada liquid fuel yang berguna untuk perhitungan kerugian kalor dapat dicari dengan menggunakan persamaan :

Dimana : HHV = Nilai pembakaran atas/Higher Heating Value (HHV) C = % karbon dalam bahan bakar H = % hidrogen dalam bahan bakar O = % oksigen dalam bahan bakar S = % sulfur dalam bahan bakar Nilai Pembakaran Bawah/Lower Heating Value (LHV) Bila uap air suatu pembakaran tidak terkondensasi dan muncul seluruhnya dalam bantuk gas sehingga tidak memperhitungkan panas laten dari penguapan tersebut. Nilai pembakaran bawah pada liquid fuel yang berguna untuk perhitungan kerugian kalor dapat dicari dengan menggunakan persamaan : LHV = HHV 9720 H2 1110W Dimana : LHV = nilai pembakaran bawah/Lower Heating Value (LHV)

H2 = persentase hidrogen di dalam bahan bakar W = kadar uap air yang terkandung di dalam udara

FURNACE Furnace adalah sebuah dapur atau tempat yang dilengkapi dengan heater (pemanas). Bahan padat dicairkan sampai suhu titik cair dan dapat ditambahkan campuran bahan seperti chrom, silikon, titanium, aluminium dan lain-lain supaya bahan menjadi lebih baik. Bahan yang sudah cair dapat dituangkan ke dalam cetakan. Suhu didalam furnace mencapai 1610C - 1630C. dimana dalam furnace dilengkapi juga dengan slag door dan EBT (Ecentric Bottom Tapping). Fungsi dari slag door adalah untuk mengawasi proses peleburan yang berlangsung, pembuangan terak sebelum proses tapping dilakukan, pengambilan sample besi cair untuk diperiksa di laboratorium spectrometer, dan untuk memasukkan oksigen pada saat proses melting dilakukan dalam furnace pada proses heatnya. Sedangkan EBT (Eccentric Bottom Tapping) berfungsi untuk pengeluaran cairan (tapping) yang bebas dari slag selain itu pula EBT (Eccentric Bottom Tapping) memiliki beberapa keuntungan diantaranya kondisi proses dapat dikontrol dengan baik (temperature, komposis, tekanan dalam dapur), semua jenis baja dibuat EAF, Fleksibel dalam pemakaian bahan baku. Sedangkan electric arc furnace adalah suatu tungku perapian proses pembuatan baja, dimana baja dipanaskan dan dileleh oleh panas dari electric arc di antara electroda tungku perapian dan peleburan logam. Dan struktur dari electric arc furnace itu sendiri terdiri dari satu perapian berbentuk bola (bawah), kulit silindris dan satu atap berbentuk kubah didinginkan dengan air dengan cara diayunkan. Atap memiliki tiga lubang untuk konsumsi grafit electrodes diselenggarakan oleh clamping mekanisme. Mekanisme pengangkatan dan menyediakan independen penurunan masing-masing elektroda. Electroda

didinginkan dengan air yang juga seperti kontak untuk transmisi aliran listrik yang disediakan oleh water-cooled cables (tabung). Electroda dan bentuk sisa koneksi bintang dengan arus tiga phase, di mana sisanya adalah persimpangan umum. Didalam furnace juga terpasang tilting mekanisme untuk proses tapping lalu baja

cair melalui lubang pour spout terletak di belakang atau samping shell. Pintu pengisian, melalui yang mana komponen slag dan mencampur logam zat tambahan ,yang ditempatkan pada sisi yang berhadapan dari kulit tungku perapian. Pintu pengisian dipergunakan untuk menyingkirkan slag (de-slagging). Sisa pengisian biasanya dari teratas tungku perapian. Atap dengan electrodes adalah swung samping sebelum pengisian selesai. sisanya diatur dalam basket lalu dimasukkan ke furnace oleh katrol dan kemudian dijatuh ke dalam tempurung. Proses peleburan baja oleh electric arc furnace adalah sebagai berikut Electric furnace. Menempati 30% proses produksi baja di US. Sebagai bahan baku, selain besi kasar, saat ini juga banyak digunakan besi dan baja bekas. Jenis tanur yang banyak digunakan ditunjukkan pada gambar. Furnace ini memiliki atap yang bisa dibuka untuk menuangkan bahan baku. Besi dan baja kasar dipilih sesuai dengan komposisinya, dimasukkan ke dalam tanur bersama unsur paduan dan batu kapur (sebagai flux). Kemudian dipanaskan memakai busur listrik yang dipancarkan dari elektroda-2 besar diatas. Untuk melebur sempurna perlu 2 jam, siklus proses perlu 4 jam. Tanur listrik (Electric furnace) memiliki kapasitas 25100 ton per pemanasan. Furnace ini dapat menghasilkan besi atau baja kualitas lebih baik, tapi biaya per ton lebih mahal. (Sumber: PT. Ispat Indo) perpindahan panas dalam furnace terjadi dalam dua cara, yaitu : a. Radiasi Dalam furnace terjadi pada pemanasan dari nyala api berner ke dinding pipa furnace b. Konveksi Perpindahan panas dalam suatu fluida dari suhu tinggi ke suhu rendah disertai perpindahan molekul dari suatu tempat ke tempat yang lain. Perpindahan panas pada minyak di dalam pipa furnace merupakan perpindahan secara konveksi. Efisiensi Furnace Efiseinsi dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : a. Panas yang masuk ke dalam furnace terdiri dari : Panas pembakaran dan sensible fuel gas

Panas pembakaran dan sensible fuel oil Panas sensible atomizing steam Panas sensible udara pembakaran Panas yang dibawa oleh minyak mentah b. Panas yang keluar dapur Panas yang dibawa oleh gas buangan Panas yang hilang lewat dinding, ruang radiasi dan lantai Persamaan yang digunakan dalam menghitung efisiensi dalam perhitungan panas (Q) : Panas sensible (Qs) = m x Cp x dT(1) Panas laten (Ql) = m x ...........................(2)

Keterangan : Panas yang diserap oleh minyak mentah adalah Panas minyak mentah (keluar-masuk) furnace Panas yang diberikan adalah panas total masukpanas minyak mentah masuk

COOLING TOWER

Cooling Tower merupakan system heat exchanger fluid to air, dinama umumnya zat yang didinginkan adalah fluida cair.Penggunaan cooling tower telah meluas terutama untuk keperluan pendinginan fluida pendingin yang akan digunakan lagi (pada close circle system) ataupun di buang kelinggkungan sebagai limbah (pada open cyrcle system). Berikut merupakan anatomi dasar dari cooling tower: 1.Fan Fan merupakan tipe huge induced fan, baling baling raksasa yang memiliki aliran menyerap udara dari dalam ke luar. Fan ini terletak di bagian atas structure cooling tower building. 2. Lamela Packing Merupakan lamella-lamela dengan celah2 halis mirip seperti sarang lebah. Lamella ini mempunyai peranan sebagai memecah air menjadi butiran-butiran tetes air dengan maksud untuk memperluas permukaan pendinginan sehingga proses heat transfer dapat dilakukan seefisien mungkin. Lamella umumnya terbuat dari plastic anti panas sehingga panas sepenuhnya ditransfer ke udara bukan ke lamella. Packing lamella umumnya terdiri dari 2 jenis : 1. 1st level packing Merupakan lamella lapisan atas yang mempunyai celah sarang lebah lebih besar dimaksudkan untuk pendinginan tahap pertama. Fluida yang akan didinginkan pertama kali dialirkan ke lamella ini. 2. 2nd level packing Merupakan lamella yang lebih lembut untuk second stage pendinginan. Pabrikan package cooling tower umumnya merancang lamella pada stage ini lebih tebal sehigga dapat menampung kapasita fluida yang lebih banyak. 3. Water Pond / Water Collection Berbentuk seperti kolam yang merupakan tempat penampungan sejumlah fluida yang telah didinginkan untuk kemudian di sirkulasikan lagi ke system dengan circulation pump atau di alirkan ke lingkungan dengan waste pump. Pada pond ini terdapat level transmitter automation yang secara terintegrasi memberikan input ke system automation untuk pengontrolan debit cooling tower.

4. Circulation System Circulation system terdiri dari paling sedikit 2 komponen pompa: a. Feed pump to system Yaitu circulation pump yang memompakan fluida ke main heat exchanger yang berhubungan langsung dengan komponen yang akan didinginkan. Misalnya berhubungan dengan condencer untuk mendinginkan fluida berupa demin water. b. Feed pump to cooling tower Circulation system juga termasuk distribution pump dari system ke cooling tower. Pada line ini membawa fluida panas untuk didinginkan di cooling tower. Pada jenis hybrid cooling tower sudah menerapkan system peredam suara dan pendingin udara yang disedot keluar oleh induced fan, jadi lebih ramah lingkungan. 1. Sound Baffle Berupa bahan penyerap suara yang terbuat dari bahan dasar kayu dan karton sehingga keras dan tidak cepat rusak. Sound baffle dibentuk sedemiakian rupa dan dipasangkan pada outlet dari induced fan. 2. Sistem pendingin udara 1. Wet air inlet, menggunakan udara segar dari lingkungan untuk mendinginkan bagian 2nd level packing. 2. Dry air inlet, menggunakan udara segar dari lingkungan yang di panaskan terlebih dahulu dengan kisi2 tube hot fluid sehingga udara yang masuk memiliki temperature yang relative tinggi. Hal ini akan mengeringkan udara sebelum disedot keluar oleh induced fan sehingga lebih ramah lingkungan. Bagian lain yang merupakan komponen terpenting dari cooling tower adalah structure cooling tower itu sendiri. Untuk jenis cooling tower package menggunakan bahan dasar kayu tahan air yang dikemas sebagai knock down yang dapat di bongkar dan dirakit kembali. Sedangkan pada cooling tower yang besar digunakan jenis concrete untuk structure utama cooling tower dan dipadukan dengan kayu tahan air.

HEAT EXCHANGER Heat exchanger merupakan alat penukar panas (kalor). Pengertian dalam hal ini komponen dapat di fungsikan sebagai pendingin ataupun pemanas, tergantung tinjauan manfaat yang dimaksudkan. System penghantaran panas dapat dilakukan melalui media: 1. Fluid to fluid heat transfer Penghantaran sejumlah kalor pada media fluida ke media fluida lain dimana masing-masing memiliki nilai kalor yang berbeda. Contoh: plat to plat heat exchanger dimana masing-masing fluida dipisahkan oleh plat tipis sekaligus sebagai transfer kalor diantara keduanya.

2. Air to air heat transfer Pengahantaran sejumlah kalor pada media udara ke udara yang mempunyai perbedaan sejumlah kalor. Contoh : rotary heat exchanger, sejumlah udara panas berhembus pada sisi setengah/separuh dari komponen roda besar yang berputar dimana setengah dari sisi yang lain dialiri oleh udara yang lebih dingin. Komponen roda yang berputar merupakan media penukar kalor diantara keduanaya.

3. Fluid to air heat transfer Sistem penghantaran kalor yang dapat berlaku sebaliknya. Contoh: cooling tower, mengunakan media udara segar untuk mendinginkan sejumlah air lewat hembusan yang bersinggungan lansung dengan titik-titik air yang dikucurkan dengan maksud memperluas luasan contac pendinginan.

shell-and-tube heat exchanger

Prinsip kerja : dimana fluida yang mengalir melalui dinding tube dengan temperature tinggi akan memberikan sebagian kalornya kepada fluida didalam shell yang temperaturnya lebih rendah atau sebaliknya. Hampir pada semua heat exchanger , berpindahnya panas di dominasi oleh konveksi dan konduksi dari fluida panas ke fluida dingin, di mana keduanya di pisahkan oleh dinding. Perpindahan panas secara konveksi sangat di pengaruhi oleh bentuk geometri heat exchanger dan tiga bilangan tak berdimensi., yaitu bilangan Reynolds, bilangan Nusselt dan bilangan Prandtl fluida. Besar konveksi yang terjadi dalam suatu doble-pipe heat exchanger akan berbeda dengan cross-

flow heat exchanger atau shell-and-tube heat exchanger atau compact heat exchanger atau plate heat exchanger untuk beda temperature yang sama. Sedang besar ketiga bilangan tak berdimensi tersebut tergantung pada kecapatan aliran serta sifat fluida yang meliputi massa jenis, viskositas absolute, panas jenis dan konduktivitas panas. Suatu hukum kesetimbangan panas, dimana panas yang masuk sama dengan panas yang di lepaskan. Persamaannya dapat di tulis sebagai berikut:

Persamaan laju perpindahan panas dengan metode LMTD (log mean temperature diferance) sebagai berikut (incorpera, 1996): q = U . A . TLMTD. dengan: q = kalor yang di pindahkan (Watt) U = Koefesien perpindahan kalor menyeluruh (W/m2K) A = Luas permukaan perpindahan kalor (m2) TLMTD= beda temperatur rata-rata (K) Beda temperature rata-rata parallel flow: (2)

Konveksi

Apabila kalor berpindah dengan cara gerakan partikel yang telah dipanaskan dikatakan perpindahan kalor secara konveksi. Bila perpindahannya dikarenakan perbedaan kerapatan disebut konveksi alami (natural convection) dan bila didorong, misal dengan fan atau pompa disebut konveksi paksa (forced convection). Besarnya konveksi tergantung pada : a. Luas permukaan benda yang bersinggungan dengan fluida b. Perbedaan suhu antara permukaan benda dengan fluida (T). c. Koefisien konveksi (h), yang tergantung pada : viscositas fluida kecepatan fluida perbedaan temperatur antara permukaan dan fluida kapasitas panas fluida rapat massa fluida

bentuk permukaan kontak Konveksi : H = h x A x T

Radiasi

Pada proses radiasi, energi termis diubah menjadi energi radiasi. Energi ini termuat dalam gelombang elektromagnetik, khususnya daerah inframerah (700 nm - 100 m). Saat gelombang elektromagnetik tersebut berinteraksi dengan materi energi radiasi berubah menjadi energi termal. Untuk benda hitam, radiasi termal yang dipancarkan per satuan waktu per satuan luas pada temperatur T kelvin adalah : E = e T4. dimana : konstanta Boltzmann : 5,67 x 10-8 W/ m2 K4. e : emitansi (0 e 1)