Anda di halaman 1dari 4

BAB 1.

PERKEMBANGAN DAN DEFENISI ILMU POLITIK Ilmu politik lahir pada akhir abad ke-19 dan berkembang secara pesat berdampingan dengan cabang ilmu social lainnya. Seperti sosiologi, antropologi, ekonomi, dan psikologi serta saling memengaruhi satu sama lain. Pada perkembangannya, ilmu politik banyak bersandar pada sejarah dan filsafat. Banyak sejarah Negara-negara di dunia baik di Indonesia sendiri, telah menggunakan bahasa politik, saperti kitab Negarakertagama yang ditulis pada masa Majapahit sekitar abad ke13 dan ke-15 dan Babad Jawi, namun pada akhir abad ke-19 yang menggunakan bahasa politik mengalami penurunan karena terdesak oleh pemikiran Barat, seperti Negara Inggris, Jerman, AS, dan Belanda dalam rangka Imperialisme. Pesatnya perkembangan ilmu politik yaitu sejak Perang Dunia II karena mendapat dukungan kuat dari beberapa badan internasional, terutama UNESCO. Dari berbagai penelitian study university dan pertemuan para ahli, maka ilmu politik didefenisikan ilmu yang mempelajari politik atau politics atau kepolitikan. Sedangkan politik itu sendiri adalah usaha untuk menentukan peraturan-peraturan yang dapat diterima baik oleh sebagian besar warga, untuk membawa masyarakat kearah kehidupan bersama yang harmonis. Namun sebenarnya singkatnya politik itu adalah perebutan kuasa, takhta, dan harta. (politik disebut sebagai relasi kuasa antar siapa saja di masyarakat). Dari berbagai defenisi tentang politik, maka dapat disimpulkan bahwa politik itu mempelajari atau membahas tentang Negara, kekuasaan, pengambil keputusan, kebijakan, dan pembagian atau lokasi. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu poltik mempunyai empat bidang, yaitu teori politik, lembaga-lembaga politik, ppartai-partai golongan dan pendapat umum, dan hubungan internasional. Selain itu, politik juga mempunyai hubungan dan keterkaitan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti Sejarah, Filsafat, Sosiologi, Antropologi, Ilmu Ekonomi, Psikolgi Sosial, Geografi, dan Ilmu Hukum. BAB 2. KONSEP-KONSEP POLITIK konsep adalah abstraksi dari atau mencerminkan persepsi-persepsi mengenai realitas, ats dasar konsep atau seperangkat konsep dapat disusun atau dirumuskan generalisasi. Sedangkan teori politik adalah bahasan dan generalisasi dari fenomena yang

bersifat politik. Dengan kata lain teori politik adalah bahasan dan renungan atas tujuan dari kegiatan politik, cara-cara mencapai tujuan itu, kemungkinan yang ditimbulkan oleh situasi politik tertentu, dan kewajiban yang diakibatkan oleh tujuan itu. Menurut Thomas P.Jenkin dalam The Study Of Political Theori, teori politik itu dapat dibedakan atas dua yaitu 1. teori yang mempunyai dasar moral yang bersifat akhlak dan yang menentukan norma-norma untuk perilaku politik, 2. teori-teori yang menggambarkan dan membahas fenomena dan fakta-fakta politik dengan tidak mempersoalkan norma dan nilai. Teori yang termasuk dalam politik bagian 1 yaitu filsafat politik yang mencari penjelasan berdasarkan rasio, dan melihat dengan jelas adanya hubungan antara sifat dan hakikat dari alam semesta(universe) dengan sikap dan hakikat dari kehidupan politik di dunia fana ini. Selain teori filsafat, ada yang namanya teori politik sistematis dan ideologi politik. Ideologi politik sendri adalah himpunan nilai-nilai, ide-ide atau norma-norma, kepercyaan atau keyakinan, suatu Weltanschauung, yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang atas dasar mana ia menentukan sikapnya terhadap kejadian dan problematika politik yang dihadapinya dan yang menentukan perilaku politiknya. Dasar dari ideologi adalah keyakinan. Konsep penting dalam politik adalah masyarakat. Defenisi masyarakat tu sendiri adalah keseluruhan antara hubungan-hubungan antarmanusia. Semua ilmu sosial juga mempelajari manusia sebagai anggota kelompok, yang timbul karena dua sifat manusia yang bertentangan satu sama lain, dan manusia mempunyai naluri untuk hidup bersama dengan orang lain secara harmonis. Negara juga merupakan konsep politik yang merupakan integrasi dari kekuasaan politik. Negara mempunyai sifat khusus yang manifestasi dari kedaulatan yang dimilikinya seperti sifat memaksa, sifat monopoli, dan sifat mencakup semua peraturan perundang-undangan berlaku untuk semua orang. Unsurunsur sebuah negara yaitu adanya wilayah, adanya penduduk, pemerintah, dan sebuah kedaulatan. Konsep politik lainnya adalah kekusaan yang dianggap bahwa politik identik dengan kekuasaan. BAB 3. BERBAGAI PENDEKATAN DALAM ILMU POLITIK Pendekatan yang digunakan dalam politik yaitu pendekatan legal/institusional, pendekatan prilaku, pendekatan Neo-Marxis, teori ketergantungan, pendekatan pilihan

rasional, dan pendekatan institusional baru. Dari perkembangan semua pendekatan politik diatas terhadap gejala-gejala politik adalah terakumulasinya pengetahuan. Seperti halnya dengan pendekatan legal/institusional yang sering disebut dengan pendekatan tradisional yang akhirnya sesuai dengan perkembangan zaman didobrak oleh adanya pendekatan perilaku yang tentu lebih baik atau lebih unggul dari segi pengetahuan. Pendekatan perilaku sendiri muncul pada tahun 1950-an pasca perang dunia II akibat sikap deskriptif dari ilmu politik yang dianggap tidak memuaskan, karena tidak realistis dan sangat berbeda dengan kenyataan sehari-hari, dan karena ada kekhawatiran bahwa ilmu politik tidak maju dengan pesat. Salah satu pemikiran pendekatan perilaku adalah bahwa tidak ada gunanya membahas lembaga-lembaga formal, karena pembahasan seperti itu tidak banyak member infrormasi mengenai proses politik yang sebenarnya. Sedangkan dalam pendekatan neo-marxis ada dua unsur pemikiran yaitu ramalan tentang runtuhnya kapitalisme yang tidak terelakkan, dan etika humanis yang meyakini bahwa manusia pada hakikatnya baik, serta dalam keadaan tertentu yang menguntungkan akan dapat membebaskan diri dari lembaga-lembaga yang menindas, menghina, dan menyesatkan. Tapi salah satu kelemahan yang memlekat pada golongan Neo-Marxis adalah bahwa mereka Marx dalam keadaan dunia yang sudah banyak berubah. Pendekatan lain yaitu pendekatan pilihan rasional yang berkembang belakangan setelah pendekatan-pendekatan lain bermunculan. Pendekatan ni menimbulkan kejutan karena mencanagkan bahwa mereka telah meningkatkan ilmu ilmu politik menjadi suatu ilmu yang benar-benar science. Dikatakan bahwa manusia politik sudah menuju kearah manusia ekonomi karena adanya kaitan yang sangat erat antara politik dan ekonomi itu sendiri. Satu lagi pendekatan dalam ilmu politik yaitu pendekatan intitusionalisme baru yang dipicu oleh pendekatan behavioralis yang mlihat politik dan kebijakn publik sebagai hasil dari perilaku kelompok besar atau massa, dan pemerintah sebagai institusi yang hanya mencerminkan kegiatan masa lalu. Suatu institusi adalah organisasi yang tertata melalui pola perilaku yang diatur oleh peraturan yang telah diterima sebagai standar. Tapi saat ini setiap pendekatan hanya menyingkap sebagian saja dari tabir kehidupan politik dan bahwa tidak ada satupun pendekatan secara mandiri dapat mnjelaskan semua gejala politik.

Daftar Putaka Budiardjo, miriam. Dasar-dasar ilmu politik. Jakarta, 2008.

Nama: Yulisa Fringka NPM : 1106009923 Sosiologi