Anda di halaman 1dari 18

1

EPISTEMOLOGI TAUHIDIYAH Menggagas Jalan ke Arah Sains Pencerahan


Oleh Emeraldy Chatra

Kegagahan sains modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi ternyata belum menjadi jawaban final bagi persoalan yang dihadapi manusia. Sains dan teknologi maju seolah-olah bergerak di sebuah jalur tanpa hambatan, tapi nyaris tidak bersentuhan dengan pemecahan masalah kemanusiaan yang bergerak di jalur lain. Kalaupun terjadi persentuhan sifatnya hanya berupa bias yang cenderung merusak bagi upaya-upaya mengembangkan kualitas kehidupan berupa

kehancuran moralitas, solidaritas dan kekacauan nilai-nilai luhur yang telah dikembangkan selama berabad-abad. Bahkan, seperti dikupas oleh Tarnas, sains (modern) justru menyebabkan planetary ecological crisis merusak alam (Soewardi, 1999: 104). Demikian besar bias dan kerusakan yang ditimbulkan sains dan teknologi modern terhadap kehidupan dan alam menyebabkan posisi sains perlu dipertanyakan kembali. Kemudahan-kemudahan yang diklaim sebagai kontribusi sains ternyata hanyalah hasil dari sebuah konstruksi sosial atas realitas yang esensinya sangat berbeda: kontribusi yang dibesar-besarkan itu ternyata sangat kecil nilainya dibandingkan dengan kerusakan yang dihasilkannya. Dengan kata lain, kemajuan sains dan teknologi hanya ada dalam pikiran saja, tidak demikian adanya dalam realitas empiris. Bukti bahwa teknologi maju memberi sumbangan sangat sedikit kepada kualitas hidup dapat dibuktikan dengan mengobservasi secara jeli berbagai akibat yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi komunikasi seperti internet dan telepon seluler. Internet dan telepon seluler boleh dianggap sebagai keajaiban abad ke-21 karena dapat menghubungkan manusia yang berada pada lokasi sangat berjauhan secara mudah dan murah. Jelas fenomena ini hampir tidak terbayangkan sama sekali oleh penduduk bumi yang hidup satu abad yang lampau, namun hari

ini semua jadi kenyataan. Internet dan telepon seluler menyebabkan jarak tidak lagi menjadi soal, bumi berubah meminjam istilah McLuhan (Rideout: 2006, Levinson: 2000) menjadi kampung global (global village). Namun keajaiban tersebut menimbulkan masalah-masalah kemanusiaan yang tak kurang ajaibnya dibandingkan teknologi tersebut. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan internet dan telepon seluler ternyata diikuti oleh berbagai ekses yang menghancurkan secara cepat berbagai tradisi, keyakinan, dan moralitas manusia. Kedua alat ini adalah pisau raksasa dengan dua mata dimana satu matanya dapat membongkar berbagai keburukan yang selama berabad-abad tertanam dalam kehidupan manusia, tapi mata yang lain mampu dengan brutal menyayat-nyayat dan mencincang peradaban. Peran yang serba bertolak belakang inilah yang disebut oleh Kiesler, S. et al (2002) sebagai paradox. Internet dan telepon seluler diakui dapat mematahkan dominasi negara atas kemerdekaan warganya, membongkar berbagai kebohongan yang bersembunyi di balik berbagai ideologi dan doktrin keagamaan, sehingga membuka pintu bagi munculnya tafsir-tafsir baru atas berbagai pemikiran dan keyakinan yang tertanam selama berabad-abad. Namun, pada saat yang sama internet dan telepon seluler juga dimanfaatkan untuk menyebarkan pengetahuan yang sebelumnya dikuasai oleh negara atau kalangan tertentu, dan sengaja diproteksi agar tidak disalahgunakan. Cara-cara membut bom, misalnya, kini tidak hanya dapat diketahui setelah belajar di lembaga yang diawasi secara ketat oleh pemerintah, tapi dapat secara bebas dipelajari dengan membuka situs internet tertentu. Dokumen-dokumen yang sebelumnya hanya dapat diakses oleh kalangan terbatas kini dapat dikonsumsi publik dengan mudah. Dengan telepon seluler kegiatan pengorganisian, termasuk pengorganisasian kejahatan dan terorisme lebih mudah dilaksanakan. Memang, dengan adanya internet dan telepon seluler orang dapat menghemat energi dalam jumlah yang signifikan. Transfer uang tidak perlu dilakukan dengan mendatangi bank secara fisik, tapi cukup dilakukan dengan mengirim pesan internet atau telepon genggam. Fasilitas e-commerce, e-trade atau e-business sangat membantu pertukaran barang antar negara. Mahasiswa dan ilmuwan lebih mudah mendapatkan informasi ilmu pengetahuan baru atau berbagai jenis datadata dengan adanya fasilitas e-learning, e-book atau e-zine.

Kiesler, S. et al (2002) menegaskan bahwa internet dapat menimbulkan dampak sosial positif bagi individu, kelompok, organsiasi, dan komunitas pada umumnya. Makin besar akses masyarakat makin meningkat partisipasi masyarakat, seperti halnya juga telepon. Internet juga memfasilitasi masyarakat membentuk hubungan-hubungan sosial baru, identitas sosial, meningkatkan partisipasi dalam kelompok-kelompok dan organisasi walaupun berada di areal pinggiran, serta mobilisasi politik. Namun dengan makin luasnya penggunaan kedua perangkat tersebut berbagai persoalan yang berkaitan dengan pemborosan energi juga muncul. Tidak sedikit waktu yang digunakan untuk mengakses situs-situs internet yang justru melumpuhkan produktivitas, seperti situs-situs porno, chatting dan judi. Bukan hanya waktu yang teralokasi untuk kegiatan yang tidak produktif, tapi juga meningkatkan aliran uang dari masyarakat ke sites owner yang sebagian jadi kaya mendadak. Meskipun demikian sebagian ilmuwan menolak argumen yang memutlakkan ekses negatif internet. Mereka yakin bahwa dampak negatif internet tergantung kepada siapa yang menggunakannnya. Kiesler et al (2002) mengatakan:
Whether the Internet has positive or negative social impact, however,may depend upon the quality of peoples online activities and what they give upto spend time online. Stronger social ties generally lead to better social outcomesthan do weaker ties

Argumentasi Kiesler et al tentang adanya perbedaan dampak berdasarkan perbedaan kualitas manusia mungkin dapat dibenarkan. Namun persoalan pokoknya justru pada kuantitas manusia yang tidak dapat melawan kedigdayaan teknologi komunikasi modern. Berapa persenkah dari pengguna internet dan telepon seluler yang sungguh-sungguh mampu menggunakan kedua perangkat tersebut untuk tujuan produktif? Secara spekulatif karena keterbatasan data dapat dikatakan dampak positif dan negatifnya lebih kurang sama. Dengan demikian, sebenarnya internet dan telepon selular dapat dikatakan mempunyai nilai nol bagi kemajuan peradaban manusia. Perdebatan seputar manfaat dan mudarat internet dan telepon selular mungkin tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Tetapi hal itu tidak terlalu penting karena dibalik perdebatan itu secara tegas dan sangat jelas terlihat bahwa internet dan telepon seluler belum mampu memberikan jawaban yang final terhadap kebutuhan sains dan teknologi di tengah masyarakat dunia. Apa yang sungguh-sungguh

dibutuhkan adalah sains dan teknologi yang mempunyai persentase manfaat jauh lebih besar dibandingkan persentase mudaratnya, bukan yang tingkat manfaat dan mudaratnya seimbang. Kenyataan yang kini dihadapi masyarakat dunia yang penuh dengan paradoks sangat menuntut munculnya konsep sains dan teknologi yang benarbenar mempunyai kontribusi terhadap peradaban. Tampaknya, mengikuti irama pesimisme Tarnas, memang sains dan teknologi modern terlalu banyak menyisakan masalah yang harus dijawab dengan mendekonstruksi pemahaman klasik tentang sains dan teknologi, kemudian membangun kembali paradigma keilmuan yang lebih berpihak kepada kepentingan umat manusia, bukan kepada kepentingan pemodal atau kelompok hegemonik tertentu di muka bumi. Kini sains dan teknologi benar-benar menguntungkan bagi kelompok elit bermodal dan mempunyai akses politik yang luas, sementara kaum yang lemah, duafa hanya menjadi lahan eksploitasi untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Keadaan seperti ini tidak mungkin lagi dipertahankan apabila masyarakat dunia sepakat bahwa dengan sains dan teknologi kehidupan bergerak ke arah yang lebih baik, bukan ke arah sebaliknya. Dalam tulisan ini saya mengemukan tesis bahwa jawaban terhadap problema yang dihadapi sains sekarang ini adalah kombinasi antara sains islami (sains tauhidiyah) dengan spirit sosialisme (keberpihakan kepada kaum duafa, sains untuk membela kaum lemah). Kombinasi inilah yang menjadi dasar bagi epistemologi tauhidiyah dan lahirnya sains pencerahan. Untuk menciptakannya maka kebenaran dalam Islam seharusnya dipahami dan dikembangkan dalam konteks kegunaan (praxis) ajarannya untuk

mewujudkan konsep rahmatan lil alamin, kesejahteraan hidup manusia di dunia, bukan dalam hukum-hukum (syariah) yang kebenarannya bersifat relatif, tapi selalu diklaim bersifat mutlak. Artinya, kebenaran ajaran Islam itu akan wujud bila ia (Islam) dapat menjadi sumber pengetahuan yang bermanfaat bagi kesejahteraan, kemuliaan dan ketaatan kepada Allah. Sebaliknya kebenaran Islam tidak akan bisa dirasakan, karena itu mudah direduksi menjadi tidak ada, bila ia hanya wujud dalam teks-teks yang dimuliakan, namun ternyata gagal memberi ruang bagi perkembangan sains islami serta cenderung berpihak kepada kekuatan hegemonik atau kelompok-kelompok penindas.

Sains Islami dan Spirit Sosialisme Dalam epistemologinya ilmuwan Barat memisahkan pengetahuan dari agama berdasarkan cerita tentang Nabi Adam AS dalam Taurat yang sudah dirusak, sehingga mereka mengisolasi ilmu pengetahuan dari wahyu. Sebaliknya, Islam memadukan pengetahuan dengan wahyu (lihat Muthahhari, 2008: 42 -57). Ketidakyakinan kepada wahyu menyebabkan ilmu pengetahuan Barat hanya mempercayai indera dan mensyaratkan sumber pengetahuan haruslah segala sesuatu yang dapat dicerap dengan indera. Dengan kata lain sumber pengetahuan atau obyek kajian haruslah bersifat empiris. Oleh sebab itu segala sesuatu yang tidak dapat dicerap oleh indera manusia tidak dapat diterima sebagai sumber pengetahuan. Sementara menurut pandangan Islam yang berasal dari ayat-ayat Al Quran sumber pengetahuan adalah, pertama, alam yang dicerap dengan indera, khususnya mata dan telinga. Kedua, berbagai argumen logika, argumen yang rasional yang dalam ilmu logika disebut dengan qiyas (silogisme) atau burhan (demonstrasi). Ketiga, hati atau jiwa manusia. Alat untuk sumber yang ketiga ini adalah penyucian hati atau jiwa (tazkiyah an-nafs). Keempat, sejarah (Muthahhari, 2008: 105-6). Allah memberi manusia kalbu, indera, dan syahwat yang ketiganya, menurut pandangan saya, terdapat di kepala. Kalbu bukan di hati (lever), karena itu kalau hati manusia dicangkok/diganti karena rusak oleh penyakit kalbunya tidak berganti, ia tetap dengan kalbunya yang lama. Kalbu diperkirakan terletak pada bagian tertentu dari otak. Memang ini baru dugaan yang perlu diteliti kembali karena selama ini kalbu terlanjur ditetapkan sebagai hati, padahal hati bukanlah organ tempat berlangsungnya aktivitas berpikir dan memahami. Kalbu, sebagaimana disebutkan dalam berbagai ayat Quran, sangat dekat dengan mata dan telinga. Bagian tubuh manusia yang paling dekat ke kedua organ tersebut adalah otak, bukan hati. Allah SWT berfirman:

maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Al Hajj: 46)

Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya (Al Ahqaaf:26)

Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (Al Kahfi: 57)

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkani (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orangorang kafir itu berkata: "Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu." (Al An'aam: 25)

Selanjutnya saya memandang bahwa dalam kalbu terdapat lima komponen, yaitu 1) keyakinan otonom, 2) keyakinan religius dan 3) keyakinan non-religius, 4) ingatan/memori, dan 5) pemahaman terhadap apa yang didengar dan dilihat.

Keyakinan otonom, adalah keyakinan yang sudah dimiliki oleh manusia sejak masih bayi, ketika sel-sel otaknya belum berkembang sempurna, sehingga ia belum mampu berpikir. Allah SWT berfirman,

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur (An-Nahl: 78)

Keyakinan otonom bersifat instinktif, hewani, dan tidak didasari atau berupa pengetahuan. Dengan keyakinan otonom tadi ia tidak ragu mencari dan mengisap puting susu ibunya ketika terasa lapar. Ia pun tidak meronta-ronta untuk membebaskan diri ketika dipeluk ibunya karena memiliki keyakinan bahwa ibunya tidak bermaksud membuatnya celaka. Keyakinan otonom tetap berusaha mempertahankan otonominya sepanjang hidup manusia dan cenderung tidak ingin sepenuhnya dikontrol oleh pikiran. Dengan adanya keyakinan yang tetap otonom, orang dewasa, bahkan yang berpendidikan tinggi sekalipun, kadang-kadang melakukan tindakan yang konyol, memalukan, atau membahayakan dirinya sendiri. Ketika mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu, katakanlah memanipulasi kuitansi, ia dipengaruhi oleh keyakinan otonom yang mengatakan bahwa tindakan itu aman, tidak membawa mudarat yang besar bagi diri sendiri maupun keluarga. Tapi setelah pikiran dapat mereduksi otonomi keyakinan tadi muncullah kegelisahan, penyesalan, bahkan kepanikan. Keyakinan religius (faithful) sejatinya adalah keyakinan pada kekuatan supranatural atau keyakinan pada kekuasaan Tuhan, kemuliaan sebuah agama dan dunia gaib. Seperti keyakinan non-religius, keyakinan ini juga produk dari interaksi dengan orang lain, tapi agak berbeda dalam proses pembentukannya. Bila keyakinan non-religius terbentuk melalui keragaman input, keyakinan religius justru sebaliknya. Orang dapat mempunyai banyak keyakinan non-religius dari pengalaman hidup yang sangat bervariasi, perjalanan ke berbagai tempat, berbicara dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang, mengikuti

perdebatan, membaca beragam pemikiran, sementara keyakinan religius cenderung menguat melalui input yang tidak terlalu beragam. Oleh sebab itu rata-rata orang yang kuat keyakinannya kepada ajaran Islam (baca: fanatik) adalah orang yang dalam hidupnya kurang banyak berinteraksi dengan ajaran di luar Islam. Mereka tidak banyak bersinggungan dengan ajaran Kristen, Hindu atau Budha, tidak pernah pula masuk gereja, bicara dengan pastor Katolik, atau mempunyai kawan-kawan penganut ajaran di luar Islam. Apa yang mereka ketahui tentang agama lain biasanya sangat sedikit, itupun mengandung bias sangat banyak karena diperoleh dari sumber yang tidak menginginkan terjadinya perubahan keyakinan. Di lain pihak, umat Islam yang telah berkenalan dengan literatur di luar kajian Islam cenderung dapat mengakomodir pikiranpikiran yang dianggap asing, bahkan yang kurang sejalan dengan ajaran Islam. Di kalangan umat Islam sendiri, penganut Islam Sunni sangat yakin dengan ke-sunni-annya karena jarang membaca buku-buku Syiah atau kurang berinteraksi dengan penganut Islam Syiah. Firqah-firqah dalam Islam sangat menyadari hal ini, karena itu mereka berusaha menutup diri. Penganut Islam merasa resah apabila di lingkungan tempat tinggal mereka berdiri gereja atau pura. Penganut Sunni terusik jika buku-buku beraliran Syiah banyak diproduksi dan diedarkan. Keyakinan non-religius adalah keyakinan-keyakinan yang terbentuk setelah orang mampu berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Anak kecil dengan keyakinan otonomnya akan mengambil begitu saja permen di toko lalu pergi tanpa membayarnya, tapi orang dewasa yang telah mampu berpikir tidak akan melakukan tindakan yang sama karena digerakan oleh keyakinan lain yang telah mendapat pengaruh dari pikiran. Mereka mungkin tidak melakukan karena permen diyakini merusak gigi atau mengandung bahan-bahan yang menyebabkan kerusakan organ tubuh. Makin luas pergaulan orang, makin aktif ia berpikir, makin banyak keyakinan-keyakinan non-religius muncul dalam dirinya, tapi makin mudah pula keyakinan itu dievaluasi dan dibuang. Orang yang tidak pernah mendapat penjelasan tentang sosialisme pasti berbeda keyakinannya hubungan antar kelas sosial dengan orang yang pernah mendengar ceramah atau membaca sejumlah literatur tentang sosialisme. Dengan literatur itu orang bisa memiliki keyakinan bahwa sosialisme dapat menyebabkan kehidupan jadi lebih baik, lebih adil dan manusiawi, tapi keyakinannya bisa berbelok ke arah yang berlawanan karena

literatur juga. Ilmuwan yang awalnya sangat yakin bahwa statistik dapat menjelaskan fenomena sosial dengan baik, setelah mengikuti berbagai argumen dari kalangan anti-statistik, bisa pula berubah menjadi anti-statistik. Akan tetapi keyakinan pada statistik itu cenderung menetap atau tidak berubah jika ia tidak bergaul dengan kalangan anti-statistik, tidak membaca buku atau paper yang mengecilkan arti statistik, atau tidak pula mau mendengar pendapat kalangan antistatistik yang memberinya pikiran baru. Meskipun sama-sama berada pada kelompok keyakinan non-religius, berbagai keyakinan yang ada didalamnya seringkali saling bertentangan atau bergerak ke arah yang berbeda, walaupun tidak selalu saling melemahkan. Seorang ilmuwan sosial mungkin anti-statistik, tapi pada saat yang sama ia bisa meyakini akurasi data statistik yang diberikan orang lain dengan alasan orang itu ahli di bidang statistik. Seorang suami yang mempunyai istri pegawai negeri yakin banyak pegawai perempuan berselingkuh dengan teman sekantornya karena si suami membaca laporan media yang dibuat dengan baik sekali, tapi pada saat yang sama ia tidak mempunyai keyakinan istrinya termasuk ke dalam daftar pegawai yang berselingkuh itu. Contoh lain, seorang warga biasa yakin akan kekuatan sosialisme, tapi pada waktu itu juga ia tidak yakin sosialisme dapat dikembangkan di tengah masyarakat karena kapitalisme terlanjur berjaya. Komponen-komponen kalbu yang telah saya sebutkan di atas, ketika manusia dalam keadaan sadar, selalu saling berdialog. Ia juga berdialog dengan indera dan syahwat sehingga melahirkan pikiran. Kalbu adalah bagian yang paling dekat kepada Allah, juga merupakan pintu masuk kebenaran yang dihidayahkan Allah kepada manusia (lihat QS, al-Ankabut: 69). Sesuai dengan pendapat Muthahhari, kalbu yang disucikan terus menerus1 akan menjadi alat epistemologi yang lebih sophisticated dibandingkan hanya

Kalbu rentan terhadap pengaruh syahwat manusia kawan dialognya sendiri -- yang mendorong timbulnya amarah, iri dan dengki, riya, sombong dan takabur, haus kekuasaan dan harta, keinginan menikmati seks secara berlebihan, serta berbagai keinginan mencapai target-target duniawiah yang bersifat jangka pendek. Pengaruh negatif syahwat menyebabkan kalbu menjadi tidak mampu berperan sebagai alat epistemologi. Agar kalbu dapat menjadi alat epistemologi yang handal maka pengaruh syahwat harus diperangi untuk dihilangkan dengan sholat, puasa, membayar zakat dan zikir yang hanya dilakukan karena Allah -- sehingga satu-satunya yang berpengaruh kepada kalbu hanyalah petunjuk dan perintah Allah SWT. Dengan demikian hidayah berupa pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT akan mengisi kalbu manusia, dan pengetahuan yang diperoleh jauh lebih banyak dan

10

dengan mengandalkan kekuatan indera. Dialog antara komponen-komponen kalbu melahirkan sikap dan prilaku manusia; apakah manusia akan menjadi taat kepada Allah atau sebaliknya menjadi kafir. Juga, akan menentukan apakah manusia akan menjadi penjaga alam atau malah sebaliknya menjadi perusak alam. Spirit Sosialisme Sosialisme adalah ideologi besar di dunia yang berpihak dan menitikberatkan perhatian serta perjuangannya kepada kepentingan masyarakat lemah, miskin, dan berkepanjangan menjadi korban penghisapkan kelas berpunya kapitalis-borjuis. Karena kelemahannya dari sisi ekonomi dan sosial, kaum miskin terpaksa menghamba kepada kepentingan kaum kapitalis-borjuis. Mereka tidak mungkin berharap banyak dari belas-kasih kaum kapitalis-borjuis untuk mencapai tingkat kehidupan yang layak, sebab kaum kapitalis-borjuis senantiasa memperoleh kekuatan tawar (bargaining position) dari kesulitan yang dialami kaum miskin. Orang miskin dapat menjadi suberdaya murah. Kemiskinan dan penderitaan menyebabkan kaum miskin lebih suka menerima saja apa yang dilakukan kaum kapitalis-borjuis. Sejak pertengahan tahun 1980-an umat manusia dihadapkan kepada produk perselingkuhan sains Barat dengan ideologi liberal-kapitalis yang menggoreskan cerita terburuk di sepanjang sejarah kapitalisme, yaitu neoliberalisme. Neoliberalisme adalah ajaran ahli ekonomi Hayek yang dinilai penentangnya sebagai pemikiran yang sangat jahat dan berdampak buruk pada kehidupan rakyat banyak, tapi sangat menguntungkan kekuatan kapitalis global. Di Indonesia ia menggantikan totalitarianisme Suharto sejak akhir tahun 90-an. Hutang luar negeri mereka jadikan instrumen penekan yang sangat efektif, sekaligus berhasil memperbanyak agen-agen neoliberalis di lapisan elit pemerintahan dari tingkat pusat hingga daerah. Seperti diucapkan Susan George, pakar ilmu politik yang sangat vokal menentang gerakan neoliberalisme, ajaran Hayek sudah berubah jadi agama bagi sejumlah rezim pemerintah di dunia. Doktrin Hayek seperti pencabutan subsidi untuk rakyat, privatisasi perusahaan milik negara, penghapusan sekat tarif (tariff barrier), dan deregulasi peraturan yang mengurangi keuntungan bisnis dipatuhi dan diamalkan secara bersungguh-sungguh oleh rezim pemerintah yang
kaya dibandingkan bila hanya mengandalkan indera. Lebih jauh masalah kalbu ini dibicarakan pada Bab III.

11

terpengaruh. Pemerintah menutup mata dan telinga terhadap berbagai jeritan rakyat yang dibuat menderita. Delapan puluh persen penduduk dunia menjadi semakin miskin setelah doktrin Hayek diamalkan di berbagai negara. Kehadiran neoliberalisme tidak hanya mengiringi praktek eksploitasi sumber daya alam dan manusia yang mengabaikan dampak buruknya bagi kaum duafa. Ia juga merupakan penanda bahwa ideologi kaum kapitalis telah berkembang ke arah yang paling brutal disepanjang sejarahnya. Bagi mereka, kaum kapitalis global itu, tidak cukup lagi liberalisasi ekonomi secara konvensional karena keserakahan yang tidak mengenal batas. Berseberangan dengan neoliberalisme, sosialisme justru menginginkan kaum miskin dan lemah mempunyai kekuatan untuk mengimbangi bahkan melawan penindasan kaum kapitalis-borjuis. Prinsip ini melahirkan varian gerakan sosialis di seluruh dunia: sebagian menjadi gerakan ekstrim-radikal, sebagian memilih jalur moderat, lainnya menjadi soft-socialist. Varian gerakan muncul atas berbagai pertimbangan sosial-budaya-politik dimana gerakan diselenggarakan. Tanpa sebuah ideologi yang secara bersungguh-sungguh berpihak kepada nasib kaum miskin, dapat diramalkan betapa neoliberalisme akan semakin membenamkan kukunya di tengah umat manusia. Orang miskin akan semakin miskin. Hal ini sudah terbukti ketika pendukung neoliberalisme yang bersandar pada badan pemerintah berbagai negara menyokong kenaikan harga BBM tanpa mempertimbangkan kesulitan yang dialami kaum miskin akibat kenaikan harga tersebut. Sosialisme-lah satu-satunya ideologi yang secara diametral berhadapan dengan neoliberalisme, yang mempunyai semangat perlawanan terhadap kapitalisme dan dapat mengakomodir berbagai paham agama yang mempunyai pemihakan terhadap kaum duafa. Oleh sebab itu, penganut Islam dan agamaagama besar lainnya dapat mempersatukan kekuatan dalam satu ideologi: sosialisme. Dalam Islam ideologi sosialisme mendapat tempat karena pemihakan yang tegas terhadap kepentingan kaum duafa. Allah SWT berfirman:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)

12

(Al Qashash: 5)

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!." (An-Nisaa:75)

Namun di berbagai negara sosialisme telah banyak dilupakan bahkan dihindari karena praktik politik kotor kaum kapitalis yang mengidentikan sosialisme dengan komunisme. Komunisme memang mempunyai sikap yang mirip dengan sosialisme: melawan hegemoni kapitalis, namun secara substansial keduanya berbeda. Komunisme memusuhi agama, sebaliknya sosialisme tidak demikian. Perbedaan ini menyebabkan komunisme juga turut memusuhi paham sosialis yang mereka anggap lunak. Di Indonesia, akibat propaganda hitam kaum kapitalis pada masa Orde Baru yang masih memberkas hingga sekarang, sosialisme dipersepsi sama dengan komunisme. Epistemologi Tauhidiyah Apakah sains islami hanya untuk orang Islam? Mustinya tidak, tapi untuk seluruh umat manusia dengan segala keragaman agama agar penggunaan perspektif Islam tidak menyebabkan perpecahan di tengah komunitas ilmiah global serta dapat dimanfaatkan untuk seluruh umat manusia yang mengharapkan rahmat dari Yang Maha Kuasa. Dengan cara demikian sains islami terbebas dari tuduhan sebagai ilmu sektarian yang berpotensi memunculkan konflik baru di tengah masyarakat. Oleh sebab itu, sains yang berangkat dari ajaran Islam harus mengalami obyektivikasi harus menjadi ilmu yang obyektif. Kuntowijoyo2 mengatakan bahwa suatu ilmu tidak dirasakan oleh pemeluk agama lain, non agama, dan anti agama sebagai norma, tapi sebagai gejala keilmuan yang obyektif semata. Meyakini latar belakang agama yang menjadi sumber ilmu atau tidak, tidak
2

Disampaikan dalam forum diskusi terbatas dengan beberapa tokoh di Pasca Sarjana UGM beberapa bulan sebelum ia meninggal dan belum sempat dipublikasikan.

13

menjadi masalah. Obyektivikasi ilmu adalah ilmu dari orang beriman untuk seluruh manusia, tidak untuk orang yang beriman saja. Contoh ilmu yang telah mengalami obyektivikasi antara lain akupuntur (tanpa harus percaya konsep YinYang Taoisme), yoga (tanpa harus percaya Hinduisme), sengatan lebah (tanpa harus percaya kepada Al-Quran yang memuji lebah), herbal medicines (tanpa harus percaya kepada Hinduisme-Bali), perbankan syariah (tanpa harus meyakini etika Islam tentang ekonomi). Dalam pandangan Barat, tujuan mencari pengetahuan adalah mendapatkan ilmu pengetahuan yang teruji secara ilmiah/metode keilmuan -- yang dapat mengungkap rahasia alam. Dalam perspektif Islam tujuannya tidak hanya berhenti hingga disana, melainkan untuk mendapatkan ilmu yang mengantarkan manusia kepada kebenaran ilahiah dan memperoleh rahmat yang maha luas (rahmatan lil alamin) dari Allah SWT. Tanpa ilmu manusia tidak mungkin memperoleh rahmat dan hidayah yang lebih banyak secara taken for granted: rahmat dan hidayah itu hanya bisa diperoleh dengan ilmu yang mampu mendekatkan manusia kepada Allah. Alat untuk Mendapatkan Pengetahuan Alat yang dipergunakan untuk mendapatkan pengetahuan adalah yang tidak meneguhkan ontologi yang hanya meyakini kebenaran materi dan menyangkal aspek transendental/wahyu dalam ilmu komunikasi, yaitu indera, rasio, kalbu, dan sejarah. Indera Dengan menggunakan indera maka berbagai gejala material di alam dapat ditangkap untuk selanjutnya dibawa ke alat lain yang disebut rasio. Indra hanya sekedar mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan gejala komunikasi seperti mimik muka ketika bicara (indera mata), tinggi rendahnya intonasi, katakata yang digunakan (telinga), atau wewangian yang dipakai seseorang (hidung). Indera tidak mempunyai kemampuan mengolah data lebih jauh setiap yang ditangkapnya, meskipun dapat membedakan-bedakan dalam derajat yang sederhana. Rasio Rasio berfungsi memilih-milah, mengkategori, dan mengelompokkan data yang dicerap indera. Alat ini juga menghubungkan data yang satu dengan data yang lain, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan berdasarkan kepentingan-

14

kepentingan. Rasio dapat melakukan hal itu karena ia mempunyai kemampuan menyederhanakan, mengkuantifikasi dan mematematisasi data. Namun ia tidak independen dalam menjalankan fungsinya, melainkan terpengaruh oleh alat yang lain, yaitu kalbu. Kemampuan rasio mengolah data dan menjelaskan fenomena secara sistematis, mengabstraksi apa yang tercerap oleh indera menjadikannya sebagai produsen teori. Tidak ada teori baru yang bisa lahir tanpa kemampuan rasio yang reliable. Kekuatan rasiolah yang menyebabkan munculnya model komunikasi satu arah, dua arah, dan berbagai teori komunikasi yang kita kenal sekarang. Kalbu Kalbu merupakan bagian misterius dari manusia yang justru menjadi ciri khas manusia. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya ia merupakan pintu masuk bagi petunjuk, hidayah atau ilmu yang datang dari Allah SWT. Namun karena fisiknya yang tidak jelas lalu dikatakan sebagai hati, dan hal itu sudah saya bantah keberadaannya cenderung diabaikan. Padahal, kalbu inilah yang sangat menentukan ke arah mana ilmu komunikasi dikembangkan: apakah ia akan dikembangkan untuk menebarkan bencana atau manfaat bagi umat manusia. Olah kalbu dalam pencapaian derajat keilmuwan sudah dilakukan sejak zaman dulu, tidak hanya dalam Islam. Namun teori-teori yang dikembangkan dalam masyararakat belum mengalami obyektivikasi, sehingga masih bersifat normatif dan sulit diterima oleh penganut agama yang berbeda. Dalam khasanah perpustakaan Islam dikatakan bahwa kalbu adalah instrumen untuk mendapatkan pengetahuan irfan. Pengetahuan irfan tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah rohani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Allah melimpahkan pengetahuan secara langsung. Pengetahuan itu masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pengetahuan irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan, (1) persiapan, (2) penerimaan, (3) pengungkapan, dengan lisan atau tulisan. Tahap persiapan. Untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. Setidaknya, ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak (1) taubat, (2) wara`, menjauhkan diri dari segala sesuatu yang subht, (3) zuhud, tidak tamak

15

dan tidak mengutamakan kehidupan dunia. (4) faqir, mengosongkan seluruh pikiran dan harapan masa depan, dan tidak menghendaki apapun kecuali Allah SWT, (5) sabar, menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela. (6) tawakkal, percaya atas segala apa yang ditentukan-Nya. (7) ridla, hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya kegembiraan (Nashr, 1994: 89-96; Muthahhari, 1997: 120-155) Metode irfan atau tasawuf telah dikenal di kalangan umat Islam selama berabad-abad, dan telah banyak pula dipertanyakan apakah memang metode tersebut dapat mengantarkan orang pada pengetahuan ilahiah atau ilmu tertinggi? Bagaimana pengguna metode irfan dapat membuktikan bahwa bisikan yang diterimanya benar-benar berasal dari Allah SWT atau dari sumber lain yang diperkirakan dari Allah? Soal pembuktian yang sulit menyebabkan metode irfan sangat sulit pula diobyektivikasi. Irfan juga diduga bukan metode yang berangkat dari ajaran Islam, melainkan ajaran Hindu atau Budha. Dalam pandangan saya, ilmu Allah tidak diperoleh melalui bisikan dari Allah, karena Allah tidak mungkin bicara dengan manusia secara langsung. Dengan Nabi Muhammad pun Allah bicara dengan perantaraan Jibril. Allah berbicara kepada manusia dengan tanda-tanda. Hanya kepada Nabi Musalah Allah berbicara secara langsung (QS, An-Nisaa: 164). Ketika manusia tidak mampu membaca tandatanda dengan sendirinya komunikasi Allah-manusia terputus. Hidayah dari Allah bukanlah berupa bisikan-bisikan dari dunia gaib yang tidak bisa difalsifikasi, sebaliknya haruslah berupa ilmu yang dapat diuji validitas dan realibilitasnya. Karena itu saya menganggap irfan bukanlah jalan yang layak untuk dipromosikan sebagai bagian dari metode ilmiah. Untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah ---- atau dengan istilah lain: ilmu Allah --- memang diperlukan kalbu yang bersih, yaitu 1) kesadaran yang tinggi terhadap eksistensi alam semesta, 2) hilangnya keserakahan yang menyebabkan orang kehilangan pandangan yang jernih terhadap alam semesta, 3) keikhlasan dalam berbuat baik terhadap sesama manusia, dan 4) nafsu seksual yang terkendali. Dengan adanya keempat kondisi ini dalam kalbu manusia dengan sendirinya kalbu itu sudah bersih dan mempunyai kemampuan menyerap dan memahami berbagai tanda yang diberikan oleh Allah. Jalan kepada pembersihan kalbu, menurut saya bukanlah dengan

memaksakan sifat tertentu seperti wara, zuhud, faqir dan sebagainya kepada

16

manusia tanpa mereka mengerti alasan logisnya. Dalam pandangan saya sifat demikian bukanlah faktor penyebab, tapi hanyalah akibat dari praktik keagamaan yang sudah diperintahkan dalam Al-Quran, yaitu sholat, puasa, zakat, dan menikah. Berikut adalah pandangan pribadi saya terhadap perintah tersebut: Sholat adalah ritual keagamaan dalam Islam yang dapat ditransformasikan ke dalam bentuk-bentuk ritual dalam agama lain. Fungsi sholat yang utama adalah menunjukkan ketaatan kepada perintah Allah, namun dalam konteks keilmuan fungsinya yang terbesar adalah untuk menanamkan kesadaran yang tertinggi terhadap alam semesta serta keterkaitan antara alam semesta dengan penciptanya. Kesadaran itu hanya diperoleh dengan melaksanakan sholat khusuk yang mengakibatkan munculnya sifat taqwa, wara, tawakkal, dan ridla. Hilangnya sifat-sifat tersebut dalam diri manusia dapat menjadi indaktor kualitas sholat yang tidak khusuk. Puasa adalah jalan menghindari keserakahan, iri dan dengki. Puasa di bulan Ramadhan mengajarkan pula disiplin waktu yang tinggi. Secara ideologis puasa seperti juga zakat mengajarkan keberpihakan kepada orang-orang tertindas: kaum duafa atau golongan masaakiin. Zakat adalah jalan untuk menanamkan kebajikan antara sesama manusia. Sejalan dengan puasa, zakat mengajarkan agar manusia tidak serakah, ikhlas, dan tidak pula berusaha menemukan ilmu-ilmu yang memfasilitasi keserakahan individu, kelompok, atau negara. Menyalurkan hasrat seksual secara maruf tak kalah pentingnya karena dapat menciptakan ketenangan. Dorongan seksual merupakan fitrah, sekaligus rahmat yang harus disalurkan secara wajar (lihat QS, An-Nuur: 32, An-Nisaa: 25) dan mengikuti ketentuan dari Allah. Bila jalan yang maruf untuk menyalurkan hasrat seksual tertutup maka orang akan menderita sejumlah tekanan yang berakibat terjadinya gangguan kejiwaan yang oleh Sigmund Freud disebut dalam bukunya terkenalnya Three Contributions to the Theory of Sex (1920) sebagai psychoneurosis. Orang yang menderita gangguan kejiwaan akan kecil kemungkinannya dapat memahami tanda-tanda dari Allah dengan jernih. Oleh sebab itu pengekangan diri berlebihan dalam hal seksual (seperti selibat) tidak lain dari pengingkaran yang akhirnya menutup jalan kepada rahmat Allah. Praktik keagamaan (ibadah) yang telah saya sebutkan di atas memerlukan rasio agar dapat dimengerti mengapa ia harus dikerjakan. Ia tidak dapat hanya

17

diletakkan sebagai bentuk kewajiban tekstual yang ditaati secara takliq, tanpa argumentasi logis dan tanpa bukti-bukti ilmiah. Akibat-akibat dari praktik keagamaan tersebut sangat mungkin difalsifikasi, diuji secara ilmiah, dan oleh karena itu terbuka jalan yang lebar untuk obyektivikasi. Sejarah. Sejarah lebih dekat kepada pencerapan tanda-tanda. Sebagaimana dijelaskan di atas, dalam Al-Quran banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah itu menyatakan dirinya dalam bentuk tanda-tanda. Kita tidak akan kenal dengan orang yang hidup ratusan hingga ribuan tahun yang lalu tanpa tanda-tanda sejarah. Begitu juga dengan Allah, kita tidak mungkin mengenal Allah tanpa mengenali tanda-tanda yang telah dibuatNya. Manusia itu sebuah tanda yang menunjukkan keberadaannya tanpa dapat disangkal lagi.

***
Emeraldy Chatra adalah mahasiswa program doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung

18

Referensi Rideout, B. (2006), Readers Response to Marshall Mcluhans Understanding Media: The Extensions of Man, Educational Insights, Vol. 10 : 2 (November) Levinson, P. (2000), McLuhan and Media Ecology, Media Ecology Association, Volume 1 Kiesler, S. et al (2002), Internet Evolution and Social Impact, IT&Society, Volume 1, Issue 1, Summer Leahy, L. (2006), Jika Sains Mencari Makna, Kanisius, Yogyakarta Soewardi, H. (1999), Roda Berputar Dunia Bergulir, Bakti Mandiri, Bandung Sudarminta, J. (2002), Epistemologi Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta Dasar, Pengantar Filsafat

Tafsir, A. (2008), Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Rosda, Bandung Whitehead, A.N. (2005), Sains & Dunia Modern, Nuansa, Bandung Ta Malaka, I (1943), Madilog, tanpa penerbit Anderson, B dan Y. Raban (2005), The Social Impact Of Broadband Household Internet Access, Chimera Working Paper Number: 200506, University of Essex, Essex Muthahhari, M (2008), Mengenal Epistemologi, Sebuah Pembuktian terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, Lentera, Jakarta. Nashr, H. (1994), Tasawuf Dulu & Sekarang, terj. Abd Hadi, Pustaka Firdaus, Jakarta.