Anda di halaman 1dari 32

Indonesia Kirim Nota Diplomatik ke Menlu Malaysia Kasus Penembakan TKI

Kamis, 08 April 2010 | 21:03 WIB Besar Kecil Normal

Berita terkait
Santunan Tiga TKI Sampang Menunggu Proses Hukum Di Malaysia Keluarga Anggap Kematian TKI di Malaysia Janggal Tenaga Kerja Wanita Asal Jember Tewas di Singapura Ribuan TKI Jember Berangkat Lewat 'Calling Visa' Perdagangan Manusia di Lokalisasi Kilometer 17 Terbongkar

<a href='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/ck.php?n=a6f00733&cb=' target='_blank'><img src='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/avw.php?zoneid=400&cb=&n=a6f00 733' border='0' alt='' /></a>

TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, Kamis (8/4), mengirimkan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Malaysia dengan tembusan kepada Kementerian Dalam Negeri dan Ketua Polis Diraja Malaysia terkait penembakan tiga tenaga kerja Indonesia oleh Polis Diraja Malaysia. Hal tersebut dijelaskan Minister Konselor Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Kuala Lumpur, Widyarka Ryananta, kepada Tempo. Dalam nota tersebut kami meminta penjelasan kepada pemerintah Malaysia tentang penembakan TKI oleh anggota polis kata Widyarka. Selain itu, kami juga meminta pemerintah Malaysia untuk memberikan jaminan keselamatan kepada para saksi dan pelapor, katanya. Kasus penembakan warga negara Indonesia oleh polisi Malaysia ini mencuat setelah KBRI menerima dua keterangan berbeda terkait hal tersebut. Pada 23 Maret salah seorang keluarga korban datang ke KBRI melaporkan penembakan keluarganya oleh Polis Malaysia, jelas Widyarka. Dalam laporannya WNI tersebut mengatakan tiga anggota keluarganya telah diambil anggota polisi dari warnet di bawah rumah sewanya pada 16 Maret. Sehari kemudian dia membaca berita di salah satu harian lokal bahwa polisi telah menembak tiga pencuri yang sedang beraksi melakukan kejahatan. Dari foto yang dipampang dalam koran tersebut, pihak keluarga yakin bahwa tiga orang yang diberitakan ditembak polis karena melakukan perampokan adalah tiga keluarganya yang diambil polisi sehari sebelumnya.

Pada 29 Maret, KBRI juga menerima surat pemberitahuan dari kantor polisi daerah Selangor yang memberitakan bahwa polisi Malaysia telah menembak tiga warga negara Indonesia karena melakukan pencurian, terang Widyarka. Dalam surat tersebut dijelaskan tiga warga negara Indonesia telah ditembak mati di Tasik Kota Puteri, Ijok, negara bagian Selangor, Malaysia pada 16 April pukul 3.30 pagi. Menurut polisi Malaysia, ketiga warga Indonesia yang menaiki mobil Proton Waja terlibat kejar-kejaran dengan polisi sebelum akhirnya mereka menabrak pohon di pinggir jalan. Saat keluar mobil ketiga tersangka mencoba menyerang polisi yang menyebabkan polisi menembak ketiganya. Atas laporan yang berbeda ini, menurut Widyarka, KBRI mencoba mencari fakta di lapangan. Dari penulusuran di lapangan, keterangan dari pihak keluarga tampaknya bisa dipercaya, terang diplomat asal Yogyakarta ini. Kemarin, KBRI telah memulangkan jenazah Musdi, 38 tahun, Abd. Sanu, 39 tahun, dan Muhlis, 25 tahun, ke Tanah Air. Sebelum dipulangkan ke desanya di Desa Tobai Tengah, Kecamatan Sokobanah, Sampang Madura, jenazah ketiganya sempat di autopsi ulang oleh tim Labfor Mabes Polri. Masrur (Kuala Lumpur)

Pemerintah Tak Gunakan Tekanan Diplomatik Untuk Kasus TKI


Selasa, 24 Agustus 2010 | 14:49 WIB Besar Kecil Normal

Patrialis Akbar. TEMPO/Imam Sukamto

Berita terkait
Malaysia Bantah Menyerobot Perbatasan Presiden Minta Diplomat Gaet Investor Rombongan Diplomat Indonesia Eropa Didemo di Jayapura Maroko Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Iran Georgia dan Nikaragua Putus Hubungan Diplomatik

<a href='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/ck.php?n=a6f00733&cb=' target='_blank'><img src='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/avw.php?zoneid=400&cb=&n=a6f00 733' border='0' alt='' /></a>

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar menyatakan pemerintah tak akan menggunakan tekanan diplomatik untuk mencegah warga negara Indonesia dihukum mati di Malaysia dan Arab Saudi. "(Menggunakan) hubungan diplomatik secara baik-baik, tidak perlu tekanan-tekanan. Kita hargai sistem hukum negara lain," ujarnya seusai sidang uji materi Undang-undang Kejaksaan di Mahkamah Konstitusi, Selasa (24/8). Menurut Patrialis, perwakilan kedua negara tersebut ada di Indonesia. Sehingga, negosiasi bisa dibicarakan dengan baik-baik secara menyeluruh. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memerintahkan Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia membentuk tim untuk membantu warga yang terancam hukuman mati itu. "Kita bantu semaksimal mungkin agar WNI bisa dibebaskan," katanya. Setidaknya, ucap Patrialis, hukuman mereka bisa diperingan. Pemerintah, kata dia, akan menyampaikan fakta bahwa pemerintah Indonesia telah sempat memberi remisi bagi 22 orang warga negara Malaysia. "Kita sampaikan bahwa negara kita adil, tidak memilih dan memilah siapapun. Remisi itu diberikan kepada seluruh narapidana, tidak hanya untuk warga negara Indonesia tapi juga untuk warga negara asing," katanya. Sampai saat ini, ada 177 warga Indonesia di Malaysia yang terbelit kasus hukum dengan ancaman hukuman mati. 70 orang di antaranya telah divonis mati. BUNGA MANGGIASIH

Deplu Susun Nota Diplomatik Kasus Ambalat Untuk Malaysia


Indra Subagja - detikNews Share6 <a href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a59ecd1b&amp;cb=INSERT_RANDOM_N UMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=24&amp;cb=INSERT_RANDOM_NU MBER_HERE&amp;n=a59ecd1b' border='0' alt='' /></a>

Jakarta - Departemen Luar Negeri (Deplu) telah menerima data dan laporan dari TNI AL terkait insiden Ambalat. Kini sedang disusun nota protes, yang kemudian akan dikirimkan ke negeri jiran Malaysia. "Sedang kita koordinasikan isi nota diplomatik kita, dan kemudian ini nanti akan disampaikan secara langsung," kata Juru Bicara Deplu Teuku Faizasyah saat dihubungi melalui telepon, Kamis (4/6/2009). Untuk penyelesaian ini, Indonesia akan mengedepankan perundingan. "Perundinga sudah berjalan tetapi belum tuntas. Mereka sekarang sedang melakukan reorganisasi tim perunding," tambahnya. Deplu juga menegaskan jika persoalan Ambalat tidak akan dibawa ke tataran internasional. "Kita tidak akan membawa ke Mahkamah Internasional. Jadi diupayakan melalui jalan bilateral," tutupnya. (ndr/iy)

Ada ga kasus hukum diplomatik?

kasus tentang hukum diplomarik,,,yang bhub dgn asas n teori hk internasional


3 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

by . Anggota sejak: 14 Juni 2008 Total poin: 171,586 (Tingkat 7) Gambar Badge: Berkontribusi Dalam: Lain-lain - Musik Lain-lain - Ilmu Sosial Pendidikan Tinggi (Universitas)

Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak


Sob, salah satu tujuan penyelesaian sengketa adalah untuk mencegah dan menghindari terjadinya peperangan antar negara dan penggunaan kekerasan. Karena apabila terjadi persengketaan dikhawatirkan dapat menimbulkan krisis dan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Dalam sejumlah besar kasus pengadilan arbitrase internasional telah diterapkan kaidah bahwa orang yang dirugikan harus memiliki kebangsaan dari negara yang mengajukan klaim atau status lain yang diakui pada saat kerugian tersebut diderita dan harus mempertahankan status tersebut sampai saat klaim itu diputus, tetapi persyaratan-persyaratan dan perbaikanperbaikan lain dalam kaitan kebangsaan pihak yang dirugikan juga telah diterapkan oleh arbitor-arbitor lain. Apabila pihak yang dirugikan itu adalah suatu perusahaan atau korporasi, maka masalah itu juga diatur oleh norma nasionalitas dari tuntutan hanya negara yang menjadi kebangsaannya yang berhak mendukung klaim perusahaan atau korporasi itu, namun demikian kesulitan-kesulitan mungkin timbul dalam kasus yang disebut triangular (segitiga), yaitu: a. Kerugian dalam hal pelanggaran hukum internasional yang dilakukan terhadap sebuah perusahaan yang berbadan hukum dan kantor terdaftarnya dinegara A. b. Tindakan yang menimbulkan kerugian itu dilakukan oleh negara B, diman perusahaan tersebut melakukan operasi. c. Para pemegang saham utama perusahaan tersebut adalah warga negara dan bertempat tinggal di negara C.

ada. perjanjian ekstradisi antara Indonesia dan Singapur yang di batalkan sepihak oleh singapur. padahal Singapur sebelumnya memberi syarat agar Indonesia menandatangani perjnjian DCA (Defence Coorporation Agreement) dan MTA (Military Training Area) dengan mereka. perjnjian ekstradisi sangat kita butuhkan untuk menangkap koruptor BLBI yang lari ke Singapur.

Upaya diplomatik apa yang dilakukan pemerintah dalam penyelesaian kasus TKI di luar negeri ?

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

by alisaba Anggota sejak: 19 Juli 2009 Total poin: 13,347 (Tingkat 6)


Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak


Kasus TKI di luar negeri ...>> sudah banyak sekali terjadi, hampir setiap bulan ada kasus TKI yang mencuat di Media Massa, mulai gaji yang tidak dibayar, paspor yang ditahan majikan supaya tidak bisa melarikan diri, sampai kejadian sakit fisik, sakit hati yang tidak segera diobati, cacat seumur hidup, perkosaan sampai melahirkan dan meninggal karena perlakuan kejam majikan di LN, itu semua sudah terjadi,,,, dan TKI tidak jera-jeranya juga mencari kerja di LN,,,,,, kenapa hal itu terjadi ...??? Karena TKI : - Ingin mendapatkan gaji/pendapatan yang lebih tinggi - Ingin hidupnya berkecukupan agar anak2nya bisa lebih baik hidupnya di masa yang akan datang

- Ingin mencari pengalaman kerja LN - Ingin sesuatu yang baru yang tidak ada di Indonesia - Dll Karena di DN tidak tersedia lowongan kerja seperti itu, walaupun harus menderita dengan perlakuan tidak adil dan kejam oleh Majikan di LN Sekarang ini berbagai upaya Diplomatik yang telah dilakukan pemerintah Indonesia, agar TKI yang berkasus di LN dapat terlindungi oleh pemerintah seperti : 1.Upaya perlindungan hukum melalui kerjasama dengan pemerintah negara tujuan TKI, agar kasusnya bisa tertangani dan di proses hukum sesuai pelanggaran yang terjadi di negara tersebut 2. Perlindungan melalui jasa asuransi dari perusahaan pengerah TKI dangan perusahaan asuransi di negara tujuan TKI 3. Kontrak kerja TKI dan majikan, dipantau/didorong agar dilaksanakan sesuai kontrak kerja yang diperjanjikan 4. Permasalahan hukum yang terjadi di negara tujuan TKI, wajib di fasilitasi penyelesaiannya oleh Duta Besar dan Perwakilan Indonesia di negara tujuan TKI tsb 5. Dll yang dianggap perlu materi referensi: Media Massa + Info lainnya

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

100% 1 Suara

Saat ini tidak ada komentar untuk pertanyaan ini. * Anda harus sign in ke Yahoo! Answers untuk memberikan komentar. Sign in or Daftar.
Jawaban Lain (3)

by Dr.Bingu... Anggota sejak: 30 Desember 2009 Total poin: 2,913 (Tingkat 4)


o o

Tambah Kontak Blokir

Sejauh ini pemerintah hanya menerapkan kebijakan diplomasi untuk menangani persoalan TKI. Diplomasi dilakukan dengan aparat di negara majikan agar mau mengusut kasus

tersebut serta diplomasi dengan sang majikan agar memberikan hak2 TKI yang bekerja kepadanya agar mendapat kelayakan, baik pola hidup maupun dari segi perlakuan dan gaji
o o

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

0% 0 Suara

by akatsuki Anggota sejak: 26 Januari 2010 Total poin: 1,340 (Tingkat 3)


o o

Tambah Kontak Blokir

Putuskan diplomatik dg malaysia dan serang malaysia


o o

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

0% 0 Suara

by Adhitya Anggota sejak: 06 Juli 2009 Total poin: 1,963 (Tingkat 3)


o o

Tambah Kontak Blokir

setahu saya tidak ada.. sebab saya memang tidak tau, yang saya tahu pasti .. setiap kali ada kasus TKI di LN pasti banyak komentator, melebihi komentator sepak bola. ..... ITULAH INDONESIA ...
o o

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

0% 0 Suara

Saya mau minta tolong ada yang tahu contoh kasus penyalahgunaan imunitas oleh wakil diplomatik?
di buku-buku ada beberapa contoh kasus penyalahgunaan imunitas diplomatik, tapi cuma sekilas dan tidak mendalam, ada yang bisa bantu saya? makasih...

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

by . Anggota sejak: 14 Juni 2008 Total poin: 171,586 (Tingkat 7) Gambar Badge: Berkontribusi Dalam: Lain-lain - Musik Lain-lain - Ilmu Sosial Pendidikan Tinggi (Universitas)

Tambah Kontak Blokir

Jawaban Terbaik - Dipilih oleh Suara Terbanyak


Kekebalan yang dimiliki seorang wakil diplomatik didasarkan pada prinsip pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada wakil diplomatik dalam melakukan tugasnya dengan sempurna. Hal tersebut merupakan bentuk perlindungan terhadap perwakilan diplomatik beserta fasilitas-fasilitasnya termasuk di dalamnya gedung perwakilan diplomatik asing. Konvensi Wina 1961 tentang hubungan diplomatik menegaskan bahwa status gedung perwakilan diplomatik tidak dapat diganggu gugat (inviolable) karena merupakan bentuk penghormatan negara penerima atas keberadaan suatu misi diplomatik sehingga pejabatpejabat dari negara penerima tidak boleh memasukinya, kecuali dengan persetujuan kepala perwakilan. Tanggung jawab negara lahir apabila negara melakukan perbuatan yang bertentangan dengan

hukum internasional karena kesalahan atau kelalaiannya sehingga menimbulkan pelanggaran kewajiban hukum internasional. Pelanggaran terhadap kekebalan perwakilan diplomatik oleh negara penerima bisa terjadi apabila negara penerima tidak dapat memberikan perlindungan dan kenyaman terhadap para diplomatik dalam menjalan kan fungsi dan misi-misinya. Negara peneri ma wajib memperbaiki sekaligus mempertanggungjawabkan pelanggaran hak tersebut dan menjaga kehormatan dari negara pengirim wakil diplomatik sebagai negara yang berdaulat. Penyelesaian sengketa Intemasional antara Indonesia dengan Myanmar dalam kasus penyadapan gedung diplomatik dapat ditempuh dalam berbagai cara diantaranya melalui prosedur penyelesaian secara politik, hukum (yuridis) maupun dalam kerangka kerjasama ASEAN. Namun menggunakan jalur diplomatik atau jalur negosiasi yang didasarkan pada itikad baik dari kedua negara yang merupakan langkah awal yang paling baik dalam penyelesaian sengketa.

2 tahun lalu Lapor Penyalahgunaan

100% 2 Suara Saat ini tidak ada komentar untuk pertanyaan ini. * Anda harus sign in ke Yahoo! Answers untuk memberikan komentar. Sign in or Daftar.

1. Serangan Helikopter Apache di Irak WikiLeaks mempublikasikan cuplikan video yang menampilkan 15 orang termasuk dua wartawan Reuters ditembak mati oleh sebuah juru tembak di sebuah helikopter Apache milik Angkatan Darat Amerika Serikat Gambar video yang diambil dari kamera senapan di helikopter tersebut mengguncangkan dunia. Dalam tayangan video tersebut, kru helikopter terdengar tertawa sambil menghujat korban tertembak dan mengatakan "bakar mereka!" serta "tembak terus, tembak terus". Militer Amerika Serikat menolak memberikan sanksi disiplin kepada kru helikopter tersebut. Mereka menilai "ada para pemberontak dan reporter di kawasan tempat pasukan Amerika Serikat diserbu. Saat itu, kami tidak bisa mendeteksi apakah (wartawan Reuters) membawa kamera atau senjata." Saudara dari salah satu wartawan Reuters yang tewas menyangsikan itu. "Pertanyaan saya adalah bagaimana mungkin pilot Amerika yang sangat terlatih dengan informasi teknologi tingkat tinggi tidak bisa membedakan antara kamera dan pelontar roket," ujar saudara wartawan Reuters tersebut.

2. Prosedur Operasi Guantanamo Bay Prosedur Standar Operasi untuk Camp Delta, panduan para tentara untuk menangani tahanan

di Camp Delta, dirilis WikiLeaks pada 2007. Kelompok pejuang hak asasi manusia mengkritik panduan resmi tersebut. Pasalnya, panduan itu menyebutkan tahanan tidak bisa mendapat akses ke Palang Merah sampai lebih dari empat pekan. Salah satu aturan dalam prosedur yang dikritik juga adalah hadiah khusus bagi tahanan. Dalam peraturan tersebut, tahanan yang berlaku baik dan bisa bekerja sama bisa mendapat hadiah khusus: satu bungkus kertas toilet.

3. Kitab Suci Scientology - Pada 2008, WikiLeaks membeberkan 'kompilasi kitab suci Scientology' termasuk praktekpraktek kontroversial di Gereja. Pengacara dari Church of Scientology mencoba mendesak WikiLeaks untuk mencabut informasi tersebut. Namun, WikiLeaks menolaknya. 4. Surat Elektronik Unit Penelitian Iklim - Lebih dari 1.000 surat elektronik dikirim dalam 10 tahun oleh staf di Unit Penelitian Iklim dari University of East Anglia dipublikasikan WikiLeaks setelah diakses seorang peretas. Surat elektronik tersebut menunjukkan para ilmuwan terlibat dalam rekayasa untuk mendukung argumen bahwa pemanasan global adalah nyata dan buatan manusia. Laporan tersebut dinilai sebagai skandal ilmiah terburuk dalam generasi tersebut. Akibat kasus tersebut, Kepala CRU Profesor Phil Jones mundur. Namun, karena penelitian menyebutkan Jones tidak terkait kasus itu, Jones akhirnya diangkat lagi.

5. Daftar Hitam Internet di Australia Tahun lalu, ketika pemerintah Australia merancang "dinding api besar Australia" agar pengguna internet di negeri mereka tidak bisa melihat situs yang dianggap tidak cocok menurut pemerintah. WikiLeaks mendapatkan daftar tersebut. WikiLeaks pun mempublikasikannya meski ada peringatan dari Profesor Bjorn Landfelds dari University Sydney yang terlibat membuat daftar tersebut. Landfelds mewanti-wanti daftar tersebut "berisi ensiklopedia ringkas dari materi yang berpotensi sangat berbahaya" dan "mimpi buruk terburuk yang mengkhawatirkan para orang tua". Ternyata, item dalam daftar tersebut tidak mengandung pornografi anak atau semacamnya. Beberapa yang termasuk daftar tersebut adalah video-video YouTube, materi Wikipedia, situs agama pinggiran, bahkan situs agen perjalanan.

6. Laporan Trafigura Minton Pada 2009, internet dihebohkan upaya perusahaan perdagangan minyak Trafigura untuk menghalangi publikasi studi internal mengenai dampak kesehatan terhadap pembuangan limbah di Afrika. Rancangan laporan yang ditulis konsultan ilmuwan John Minton

menyebutkan proses kimiawi Trafigura yang digunakan untuk membersihkan limbah bahan bakar minyak ternyata dilakukan secara amatir dan meninggalkan kandungan sulfur yang berbahaya. Kandungan tersebut dikabarkan bisa membuat luka bakar yang parah di kulit dan lambung, diare, muntah-muntah, pingsan, dan kematian bagi orang. The Guardian memperoleh laporan tersebut, tetapi Trafigura mengajukan surat kabar tersebut ke pengadilan. Namun, WikiLeaks juga mendapatkan laporan itu. Dan dalam waktu hitungan jam, informasi yang tidak boleh dilansir The Guardian akhirnya tersebar lewat Twitter.

7. Keanggotaan BNP Nama, alamat, dan pekerjaan 13.500 anggota British National Party yang beraliran kanan dirilis WikiLeaks pada 2008. Daftar tersebut termasuk beberapa nama polisi, petinggi militer, dokter, dan profesor. Daftar tersebut tersebar setelah petinggi militer memperingatkan bahwa politik BNP tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diusung militer Inggris Salah satu orang yang berada dalam daftar tersebut dipecat setelah diketahui dia merupakan anggota BNP.

Pemerintah Tuntaskan Kasus Rawagede Secara Diplomatik


Jum'at, 16 September 2011 | 15:59 WIB Besar Kecil Normal

Peristiwa pembantaian Rawagede. pierrescolumn.punt.nl

Berita terkait
Patrialis Bentuk Tim Kaji Remisi Koruptor Dikaji, Fasilitas Kamar 'Suami-Istri' bagi Tahanan Ditangkap, Buronan Singapura Ini 7 Tahun 'Ngumpet' di Indonesia Kemenkum HAM Selidiki Kerusuhan Tiaka

Kemungkinan Hanya Tiga Partai Baru yang Lolos Verifikasi

&lt;a href='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/ck.php?n=a6f00733&amp;amp;cb=' target='_blank'&gt;&lt;img src='http://openx2.tempointeraktif.com/www/delivery/avw.php?zoneid=400&amp;amp;cb=&amp;amp;n=a6f00 733' border='0' alt='' /&gt;&lt;/a&gt;

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar berharap putusan Pengadilan Den Haag, Belanda, soal kasus pembantaian Rawagede, diselesaikan secara diplomatik. "Kami lakukan hubungan diplomatik, bersama Kementerian Luar Negeri juga," ujar Patrialis di kantornya, Jumat, 16 September 2011. Menurut Patrialis, karena putusan pengadilan menyangkut hubungan antarnegara, maka komunikasi yang dilakukan perlu lebih hati-hati. "Sebaiknya kita melakukan komunikasi yang baik dengan Pemerintah Belanda terhadap putusan yang memang harus sama-sama kita hormati," ujarnya. Patrialis sendiri belum bersedia mengomentari putusan yang menguntungkan warga Indonesia tersebut. Ia beralasan, pemerintah hingga kini belum memperoleh salinan putusan Pengadilan Den Haag. Pengadilan Sipil Belanda di Den Haag, Rabu, 14 September 2011 lalu, memenangkan gugatan para janda yang suaminya menjadi korban pembunuhan massal di Rawagede, Karawang, Jawa Barat oleh pasukan Belanda pada 9 Desember 1947. Gugatan hukum yang dilakukan sejak 2005 ini dilakukan oleh 11 janda korban kebrutalan tentara Belanda. Dalam putusannya, hakim memerintahkan Pemerintah Belanda membayar kompensasi terhadap penggugat dengan segera. Mengenai aturan pembayaran kompensasi kepada para janda itu, menurut hakim, didasarkan pada undang-undang yang berlaku di Belanda. Hakim juga menilai alasan yang disampaikan Pemerintah Belanda bahwa gugatan ini sudah kadaluarsa tidak rasional. Sebelumnya Pemerintah Belanda telah menyampaikan pernyataan penyesalannya terhadap pembunuhan 431 penduduk Rawagede. Atas gugatan ini, Pemerintah Belanda sempat melawan dengan menyatakan kasus ini sudah kadaluarsa. Terhadap putusan tersebut, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyatakan harapannya agar Pemerintah Indonesia terinspirasi untuk bisa menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu. Patrialis mengklaim, pemerintah sejauh ini selalu mendukung tuntasnya penanganan hukum kasus pelanggaran HAM, termasuk mempertimbangkan usul pembentukan pengadilan HAM di Indonesia. "Presiden tidak pernah khawatir membentuk pengadilan HAM karena negara memang fungsinya melindungi HAM. Kalau kami khawatir membentuk pengadilan HAM, justru pemerintah akan jadi diktator," ujarnya.

TUGAS MATA KULIAH

HUKUM DIPLOMATIK DAN KONSULER

Untuk Memenuhi Nilai Tugas Terstruktur II

Oleh : LOVETYA

Universitas Brawijaya Fakultas Hukum Malang 2008

Hukum Diplomatik dan Konsuler

Tentang Hubungan Konsuler Analisis Kasus ditinjau dari Hukum Internasional mengenai hubungan Konsuler antar Negara

POSISI KASUS INDONESIA-L] GATRA From: apakabar@clark.net Date: Sun Aug 31 1997 12:15:00 EDT

Forwarded message: >From owner-indonesia-l@indopubs.com Sun Aug 31 15:04:09 1997 Date: Sun, 31 Aug 1997 12:59:15 -0600 (MDT) Message-Id: <199708311859.MAA14189@indopubs.com> To: indonesia-l@indopubs.com From: apakabar@clark.net Subject: [INDONESIA-L] GATRA Lolos dari Kamp Majikan Sender: owner-indonesia-l@indopubs.com INDONESIA-L http://www.gatra.com/III/41/kri1-41.html Nomor 41/III, 30 Agustus 1997 TKW Lolos dari Kamp Majikan

[Image] Dua tenaga kerja wanita asal Indonesia yang bekerja di Arab Saudi dan Kuching terbebas dari kekejaman majikan. [Image] [Image] PENYUSUN Undang-Undang Ketenagakerjaan agaknya perlu lebih serius mengupayakan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Belum usai tarik ulur isi pasal-pasal Rencana [Image] Undang-Undang Ketenagakerjaan antara Menteri Tenaga Kerja dan DPR, muncul lagi drama penganiayaan tenaga kerja Indonesia di [Image] luar negeri. Di Kuching, Malaysia, Celestine A.K. Syafei

menjadi korban penyiksaan keluarga Mama Daniel. Di Jerman, [Image] Misda Indarti menjadi sasaran kekejaman keluarga Jamil [Image] Sirajuddin asal Arab Saudi. [Image] Kisah kekejaman Jamil Sirajuddin terungkap ketika polisi [Image] patroli Jerman menemukan Misda tergeletak kelelahan di pinggir jalan tol di Koblenz, Jerman, Rabu pekan lalu. Gadis berusia [Image] 19 tahun asal Desa Langon, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ini melarikan diri karena tak tahan diperlakukan sewenang-wenang oleh majikannya.
Ketika keluarga majikan masih tertidur lelap, ia bergegas kabur. Dengan modal nekat, Misda berusaha keras untuk lolos dari tempat yang dirasakannya mirip kamp penyiksaan itu. Aku ndak tahan. Pokoknya, aku mau kabur, ndak tahu mau ke mana, kata Misda kepada Gatra. Usahanya baru berhenti setelah ia menempuh jarak 20 kilometer selama hampir 11 jam perjalanan. Pengabdian Misda pada keluarga Sirajuddin dimulai 14 Mei lalu. Setelah mengeluarkan uang Rp 450.000 untuk ongkos pengurusan paspor dan surat-surat lainnya, Misda diberangkatkan ke Arab Saudi oleh perusahaan pengirim tenaga kerja PT Bumenjaya Duta Putra. Ia dijanjikan upah 600 riyal [Image] (sekitar Rp 400.000) per bulan. Namun sejak mulai bekerja hingga hari ini, hasil jerih payahnya itu tak pernah diterimanya. Selama ia tinggal dan bekerja dengan Sirajuddin, ungkapan kekesalan majikan mulai dari berupa cubitan, sabetan, pukulan, hingga bekas setrikaan tak henti mendera Misda. Padahal tugas yang dilakukannya tak sedikit. Tak jarang ia harus bekerja mulai pukul 06.00 hingga lewat pukul 02.00 keesokan harinya. Keberhasilan Misda melarikan diri tersebut merupakan yang ketiga dari upaya-upaya sebelumnya yang pernah dilakukannya di Arab Saudi. Sebelum itu upayanya gagal karena terhalang pagar tinggi yang selalu mengurungnya di rumah Sirajuddin di Arab Saudi. Jangankan lari, untuk mengirim surat kepada orangtua saja ia dilarang. Untunglah keluarga Sirajuddin mengajaknya bertandang ke Jerman, sehingga Misda pun bisa lari. Siksaan lebih dahsyat dirasakan Celestine A.K. Syafei. Berbagai alasan digunakan sang majikan untuk menyiksa gadis 18 tahun itu. Tuduhan mencuri makanan, terlambat bangun, lamban bekerja, dan berbagai alasan sepele bisa menjadi pengundang petaka. Berbagai macam alat, mulai sandal, batang rotan, hingga kursi, pernah mendarat di tubuhnya. Tak hanya itu, Celestine juga harus membayar denda karena tuduhan tersebut. Misalnya, memakan dua buah apel tanpa izin didenda M$ 3 dan menggunakan obat tanpa izin didenda M$ 1. Bahkan sekadar untuk segelas kopi pun ia harus membayar. Padahal sejak ikut Mama

Daniel, Mei lalu, Celestine tak pernah menerima upah. Makan dua kali sehari hanya bisa dinikmati jika sang majikan sedang enak hati. Ia lebih sering hanya mendapat sekali makan sehari, bahkan tidak sama sekali. Bukan kesalahannya bila sekali-sekali ia mencuri makanan karena kelaparan. Kekejian keluarga Daniel itu terbongkar pada 16 Agustus lalu. Sepucuk surat kaleng berisi daftar penganiayaan yang dialami Celestine masuk ke kotak pos Konsulat Jenderal RI di Kuching. Surat itu berisi delapan macam siksaan yang dialami Celestine sejak 30 Mei hingga 13 Agustus lalu. Laporan ini ternyata benar. Setelah mendapatkan laporan dari Konsulat Jenderal RI, Selasa pekan lalu, pihak kepolisian melancarkan operasi pembebasan. Saat Celestine diselamatkan, bekas-bekas siksaan berupa lebam dan carut-marut masih tampak jelas di wajah dan punggung Celestine. Kasus seperti yang menimpa Misda dan Celestine bisa jadi juga dialami para tenaga kerja Indonesia lainnya. Bukan rahasia lagi, keamanan tenaga kerja wanita di luar negeri masih rawan. Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) juga kesulitan untuk menuntut majikan yang ingkar memenuhi kewajibannya. Contohnya yang dialami KBRI di Jerman dalam kasus Misda. Atase Imigrasi KBRI di Bonn menemui kesulitan untuk memperkarakan majikan Misda secara perdata, lantaran lemahnya bargaining position tenaga kerja yang termuat dalam kontrak perjanjian kerja. Tidak ada sanksi bagi majikan yang tidak bersedia memenuhi hak-hak pekerjanya, kata Lukmiardi, Atase Imigrasi, pejabat sementara Kepala Bidang Konsuler KBRI Bonn. Kalaupun ada pasal yang mengatur tentang perselisihan antara pekerja dan majikan, penyelesaiannya hanya diputuskan secara kekeluargaan. Pendekatan seperti ini sulit dilaksanakan, terutama di luar negeri, karena hukum di sini tidak mengenal adanya musyawarah seperti di Indonesia, katanya lagi. Kalaupun terjadi kompromi, perjanjian tertulis itulah yang akan menjadi acuan. Belum lagi soal proses pengadilan yang banyak makan waktu dan biaya. Maka, meskipun perkara pidananya telah ditangani kepolisian Jerman, perkara perdata masih perlu dipertimbangkan lebih jauh untung ruginya. A. Kukuh Karsadi, dan Nia Sutiara (Erlangen)

Analisis Kasus Ditinjau dari Hukum Internasional mengenai hubungan Konsuler antar Negara

Pengiriman TKI LN, berawal sejak tahun 1887 dengan pengiriman para TKI (Kuli Kontrak) ke negaranegara koloni Belanda seperti ke Suriname, Celedonia dan ke negeri Belanda. Perhatian Pemerintah terhadap tenaga kerja pada umumnya baru dimulai sejak dikeluarkannya Undang-undang No. 14 Tahun 1969 tentang Pokok-pokok Ketenagakerjaan, dan Peraturan Menaker No. 4 Tahun 1970 tentang Pengerahan Tenaga Kerja. Peraturan perundang-undangan inipun sangat tidak memadai untuk memberikan perlindungan kepada para tenaga kerja, khususnya TKI-LN. UU No. 14 Tahun 1969 kurang menyentuh secara keseluruhan, karena hanya mengatur buruh manufaktur dan tidak tenaga kerja informal, seperti pembantu rumah tangga. Sebagai pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan tersebut, sektor swasta yang tergabung dalam Asosiasi Pengerahan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI), mulai berpartisipasi dalam perekrutan dan pengiriman tenaga kerja ke LN sebagai partner pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran di dalam negeri. Sebagai akibatnya, pengiriman TKI LN tidak saja menjadi program ?Antar Daerah?. Tetapi juga sudah menjadi program nasional yang cukup strategis bagi kebijakan di bidang ketenagakerjaan. Kelebihan angkatan kerja dalam situasi pasar bebas pada dasarnya telah memberi peluang bagi pengiriman TKI ke LN. Hal itu dilakukan sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi jumlah pengangguran. Namun demikian, kesempatan melakukan pengiriman TKI tidak didukung dengan kualitas pendidikan yang memadai. Akibatnya, TKI di LN sering dijadikan obyek perdagangan manusia, termasuk perbudakan dan kerja paksa, korban kekerasan, kesewenang-wenangan, kejahatan atas harkat dan martabat manusia, serta perlakuan lain yang melanggar HAM.

Untuk mengatasi tersebut, Pemerintah telah mengeluarkan beberapa peraturan perundang-undangan seperti diantaranya, Keputusan Menteri No. 138/Men/2000 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep-204/Men/1999 tentang Penempatan Tenaga Kerja ke LN, dan Keputusan Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja No. Kep-107/BP/1999 tentang Petunjuk Teknis Perlindungan TKI di Luar Negeri melalui Asuransi, serta Keputusan Menakertrans No. 104A Tahun 2002 tentang Penempatan TKI ke Luar Negeri. Tidak sampai disitu, UU No 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sudah berusaha untuk memfasilitasi kepentingan para tenaga kerja pada umumnya. Namun demikian, peraturan perundang-undangan yang berlaku masih dirasakan sangat tidak mendukung untuk memberikan perlindungan kepada para TKI-LN. Selain tidak mengatur soal perlindungan TKI secara tegas, peraturan perundang-undangan diatas juga tidak memuat sanksi bagi Perusahaan Jasa TKI (PJTKI) yang melakukan pelanggaran. Yang pasti, sanksi tersebut hanya berupa pencabutan izin usaha penempatan (SIUP). Karena itu, dalam RUU yang sedang dipersiapkan, perlu diatur sanksi pidana yang tegas dan berat bagi pelanggar hukum, baik aparat pemerintah maupun PJTKI. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, sudah waktunya jika Pemerintah dan DPR turut memikirkan dikeluarkannya UU tentang TKI-LN.

Khusus perlindungan hukum bagi TKI LN yang memperoleh perlakuan pelecehan seksual atau pembunuhan terhadap majikan karena perlakuan pelecehan seksual sebagaimana terjadi pada para TKW Indonesia di Timur Tengah, memang merupakan kendala yang masih dihadapi. Bantuan hukum dari perwakilan Indonesia (Departemen Luar Negeri) sudah dilakukan, tapi belum memperoleh hasil yang memuaskan. Salah satu penyebabnya dapat saja dikarenakan sistem hukum yang berbeda antara kedua Negara. Disamping itu, hukum Islam maupun sistem hukum di negara mamanupun masih menerapkan perlu adanya keterangan saksi bagi delik perkosaan/perzinahan. Dapat dibayangkan, posisi TKW Indonesia dalam posisi yang lemah.. Bagi para TKI LN, bekerja di luar negeri memang suatu tawaran yang menggiurkan bahkan dapat menompang kebutuhan ekonomi keluarganya seberapapun resiko yang harus ditanggung. Seolah-olah mereka tidak pernah gentar dan jera terhadap perlakuan buruk yang telah diterima rekan seprofesinya demi sejumlah Real. Suatu masalah yang cukup rumit. Mungkin hal ini tidak perlu terjadi terhadap SDM/TKI yang memiliki pendidikan yang memadai. Dipihak Pemerintah, perlu diadakan perjanjian bilateral diantara pihak Indonesia dengan negara-negara penerima, khususnya terhadap masalah-masalah hukum. Karena masalah TKI LN ini menyangkut masalah HAM, maka pengaturannya harus dilakukan melalui bentuk Persetujuan (bukan MoU) seperti Persetujuan Ekstradisi atau bantuan Hukum Timbal-balik, yang nantinya diratifikasi dalam bentuk Undang-undang. Menurutnya, banyaknya tenaga kerja ilegal dari Indonesia tidak terlepas dari kegiatan calo tenaga kerja, yang memberikan berbagai kemudahan serta biaya yang murah, sehingga banyak TKI yang pergi tidak ada perlindungan; terlebih UU yang mengcover masalah TKI di Indonesia belum ada. Kondisi ini sangat memprihatinkan, sebab kehadiran mereka tidak diinginkan dan menjadi sumber masalah di negara Malaysia. Hingga saat ini pendatang ilegal yang masuk ke Malaysia, termasuk dari Indonesia sudah mencapai sekitar 600.000 700.000 orang. Selain itu tidak ada larangan bagi warga negara yang mempunyai visa untuk berangkat keluar negeri, meski kepergiannya bukan sebagai turis tetapi menjadi pekerja. Sedang untuk mendata di keimigrasikan sangat tidak memungkinkan, karena tidak aturan yang mengaturnya. Memang, untuk kasus imigran gelap ini harus dibedakan dengan kasus TKI LN di Timur-Tengah. Untuk kasus seperti ini perlunya dibuat bilateral agreement antara Indonesia dan negara-negara tujuan TKI LN. Bilateral agreement ini diperlukan karena tiap negara tujuan mempunyai sistem perburuhan yang mengatur pekerjaan informal, seperti pembantu rumah tangga berbeda-beda. Sedangkan MoU yang selama ini ditandatangani tidak cukup, karena hanya mengatur pekerja industri dan manufaktur saja. Disamping itu, pada umumnya MoU hanya merupakan kesepakatan untuk mengatur bidang tertentu saja; adapun kasus imigran gelap ini memiliki aspek multi dimensi. Tidak hanya masalah TKI, tetapi juga menyangkut masalah imigrasi, keamanan, perbatasan dsb. Untuk itu, perlu adanya koordinasi diantara instansi teknis pemerintah terkait. Dalam memberikan bantuan hukum terhadap TKI LN, selain membuat perjanjian dengan negara pengimpor, Departemen Luar Negeri juga harus mengupayakan pelaksanaan dari prinsip-prinsip yang terkandung dalam

UU No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian, yaitu tidak boleh menolak WNI untuk kembali ke tanah airnya (seperti kasus Nunukan), kecuali, sebagaimana Pasal 18 UU No. 9 Tahun 1992 : a. telah lama meninggalkan Indonesia atau tinggal menetap atau telah menjadi penduduk suatu negara lain dan melakukan tindakan atau bersikap bermusuhan terhadap Negara atau Pemerintah Republik Indonesia; b. apabila masuk wilayah Indonesia dapat mengganggu jalannya pembangunan, menimbulkan perpecahan bangsa, atau dapat mengganggu stabilitas nasional; atau c. apabila masuk wilayah Indonesia dapat mengancam keselamatan diri atau keluarganya. PERAN KONSULER Yang dimaksud dengan Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI) adalah Fungsi dan tugas Perwakilan Konsuler dalam melaksanakan kepentingan nasional dan warga negaranya sebagaimana yang diatur dalam Konvensi Wina Tahun 1963 tentang Hubungan Konsuler (UU No. 1 Tahun 1982 Tanggal 25 Januari 1982) yaitu : a. Pasal 5 tentang Fungsi-fungsi konsuler, ayat (a) : protecting in the receiving State the interests of the sending State and of its nationals, both individuals and bodies corporate, within the limits permitted by international law melindungi kepentingan-kepentingan negara pengirim dan kepentingan-kepentingan warganegaranya yang berada di negara penerima, baik perseorangan maupun badan-badan hukum, dalam batas-batas yang dibenarkan oleh Hukum Internasional; dan ayat (e) : helping and assisting nationals, both individuals and bodies corporate, of the sending State menolong dan membantu warga negara negara pengirim baik perseorangan maupun badan-badan usaha. b. Pasal 36 tentang Komunikasi dan Mengadakan Hubungan dengan Warganegara dari Negara Pengirim, ayat (1b) : if he so requests, the competent authorities of the receiving State shall, without delay, inform the consular post of the sending State

if, within its consular district, a national of that State is arrested or committed to prison or to custody pending trial or is detained in any other manner. Any communication addressed to the consular post by the person arrested, in prison, custody or detention shall also be forwarded by the said authorities without delay. The said authorities shall inform the person concerned without delay of his rights under this sub-paragraph yaitu apabila pejabat konsuler menghendaki, maka instansi-instansi yang berwenang negara penerima harus memberitahukan kepada perwakilan Konsuler dari negara Pengirim secepatnya apabila, diwilayah konsulernya, ada seorang warganegara pengirim ditangkap atau dimasukkan penjara atau ditaruh dibawah pengawasan menunggu sampai diadili atau dengan suatu cara lain ditahan. c. UU no. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri Bab. V tentang Perlindungan kepada Warganegara Indonesia, khususnya Pasal 19 ayat (b) yaitu : Perwakilan Republik Indonesia berkewajiban memberikan pengayoman, perlindungan dan bantuan hukum bagi warganegara dan badan hukum Indonesia di luar negeri, sesuai dengan peraturan perundang-undangan nasional serta hukum dan kebiasaan internasional.

Seperti yang telah disebutkan sebelumya disini fungsi Konsuler adalah menolong dan membantu warga negara negara pengirim baik perseorangan maupun badan-badan usaha. Seperti kasus yang dialami Celestine dan Misda, konsuler diharuskan untuk membantu dan menolong Misda dan Celestine. Karena Kasus seperti yang menimpa Misda dan Celestine bisa jadi juga dialami para tenaga kerja Indonesia lainnya. Bukan rahasia lagi, keamanan tenaga kerja wanita di luar negeri masih rawan.

Pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan perwakilan konsuler yang berada di sana juga berkewajiban memberikan pengayoman, perlindungan dan bantuan hukum bagi warganegara dan badan hukum Indonesia di luar negeri. Tidak perduli apakah warga Negara tersebut bersalah ataukah dia yang menjadi korban, karena Negara merdeka yang merupakan pemilik kedaulatan penuh mempunyai hak untuk melindungi Warga Negaranya yang butuh perlindungan dari paksaan kedaulatan Negara lain. Terutama bagi Konsuler karena fungsinya adalah mengurus hal hal yang baerkaitan dengan Warga Negara, seperti

pengurusan paspor, visa, ataupun yang berkaitan dengan penganiayaan TKI seperti yang dialami oleh Celestine dan Misda, dan berusaha menyelesaikannya.

Rabu, 20 Agustus 2008


Hukum Diplomatik (Kasus Pencalonan LetJen. Herman Bernhard Leopold Mantiri, excalon Dubes RI untuk Australia) Konvensi Wina 1961 Mengenai Hubungan Diplomatik Setelah berdirinya PBB pada tahun 1945, untuk pertama kalinya, perkembangan kodifikasi hukum internasional termasuk hukum diplomatik telah dimulai sejak thaun 1949 secara insentif oleh Komisi Hukum Internasional (International Law Commission), khususnya ketentuan-ketentuan yang menyangkut kekebalan dan pergaulan diplomatik telah digariskan secara rinci. Akhirnya setelah melalui perjalanan panjang selama 12 tahun, konferensi berkuasa penuh (Plenipotentiary Conference) telah diadakan di Wina, Austria pada tanggal 2 Maret-14 April 1961 dan telah mengesahkan suatu konvensi dengan judul Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik pada tanggal 18 April 1961.[1] Pasal 1-19 Konvensi wina 1961 menyangkut pembentukan misi-misi diplomatik, hak dan cara-cara untuk pengangkatan serta penyerahan surat-surat kepercayaan dari Kepala Perwakilan Diplomatik (Duta Besar); Pasal 20-28 mengenai kekbalan dan keistimewaan bagi misi-misi diplomatik termasuk pembebasan berbagai pajak. Pasal 29-36 adalah mengenai kekebalan dan keistimewaan bagi anggota keluarga para diplomat dan staf lainnya; Pasal 37-47 juga menyangkut kekebalan dan keistimewaan bagi anggota keluarga para diplomat dan staf pelayanan yang bekerja pada mereka. Dan terakhir, Pasal 48-53 berisi berbagai ketentuan mengenai penandatanganan, aksesi, ratifikasi, dan mulai berlakunya Konvensi tersebut. Pengangkatan dan Penerimaan Utusan-utusan Diplomatik Sarana diplomasi dahulu biasa disertai dengan serangkaian upacara dan ritus, yang sampai tingkat tertentu hal ini masih dipergunakan. Prosedur seremonial, misalnya, pada umumnya diprhatikan sehubungan dengan kedatangan dan keberangkatan utusan-utusan diplomatik. Pengangkatan seorang individu sebagai Duta Besar atau duta biasanya diberitahukan kepada negara tempat orang itu diakreditasikan dalam bentuk surat-surat resmi tertentu, dengan mana perutusan itu diperlengkapi, yang dikenal sebagai Surat-surat Kepercayaan(Letter of Credence) atau Lettre de Creance. Surat-surat ini adalah untuk remisi kepada negara penerima (Receiving State). Selain suratsurat kepercayaan perutusan tersebut dapat pula membawa serta dokumen-dokumen Kuasa Penuh yang berkaitan dengan negosiasi-negosiasi tertentu atau instruksi-instruksi tertulis khusus lainnya. Negara-negara dapat menolak untuk menrima utusan-utusan diplomatik: (a) secara umum, atau berkaitan dengan suatu misi negosiasi khusus, atau (b) karena perutusan khusu secara pribadi tidak dapat diterima. Dalam kasus yang disebut terakhir itu negara yang mengajukan penolakan atas utusan itu tidak diharuskan untuk mendasarkan penolakannya pada akreditasi atau tidak harus mencari dasar alasannya (lihat Pasal 4 ayat 2 Konvensi Wina). Sebagai akibatnya, untuk menghindarkan timbulnya konflik, suatu negara ynag hendak mengangkat seseorang sebagai

utusannya sebelumnya harus memastikan bahwa orang yang bersangkutan adalah persona grata. Jika persetujuan atau perjanjian kepastian demikian telah diperoleh, maka negara yang telah mengangkat utusan telah aman melakukan pengangkatan resmi utusannya. Walaupun demikian, pada suatu waktu kemudian, negara penerima utusan, tanpa harus menjelaskan keputusannya, dapat memberitahu negara pengirim bahwa utusannya itu persona non grata, dalam kasus ini orang itu harus dipanggil pulang, atau tugasnya diakhiri (Pasal 9 Konvensi Wina).[2] A. Persona Grata Saat ini hampir setiap negara memiliki perwakilan diplomatik di negara-negara lain, karena perwakilan ini merupakan cara yang paling baik dalam mengadakan pembicaraan atau perundingan mengenai permasalahan kepentingan nasional masing-masing negara, baik di bidng politik, ekonomi, perdagangan, sosial, budaya, maupun menyangkut kehidupan internasional lainnya. Jika suatu negara telah menyetujui pembukaan hubungan diplomatik dengan dengan negara lain melalui suatu instrumen atas dasar asas timbal balik (principle reciprocity) dan asas saling menyetujui (principle mutual consent)[3], negara negara tersebut sudah harus memikirkan pembukaan suatu perwakilan diplomatik dan penyusunan keanggotaan perwakilan tersebut, baik dalam tingkatannya maupun jumlah anggota staf perwakilan yang telah disetujui bersama atas dasar asas yang wajar dan pantas (principle reasonable and normal)[4]. Pengangkatan anggota staf perwakilan diplomatik oleh negara pengirim (sending State) pada umumnya memerlukan persetujuan dari negara penerima (Receiving State), karena negara pengirim dapat secara bebas mengangkatnya dan cukup hanya memberitahukan kepada Kementerian Luar Negeri negara peerima melalui nota diplomatik mengenai nama, kedudukan, pangkat diplomatiknya, anggota keluarganya, dan tanggal kedatangannya.[5] Dikecualikan hanya pada pengangkatan Duta Besar dan Atase Pertahanan yang memerlukan persetujuan terlebih dahulu sebagai orang-orang yang dapat diterima untuk memangku jabatan-jabatan tersebut (persona grata).[6] Menurut Oppenheim, pengangkatan perwakilan diplomatik ini, hukum internasional tidak menentukan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang supaya dapat diangkat menjadi seorang duta atau konsul, semua persyaratan ditentukan sendiri oleh tiap-tiap negara.[7] Namun, menurut Sir Harold Nicholson, dalam bukunya Diplomacy menyebutkan bahwa seorang diplomat harus memenuhi syarat sebagai berikut:[8] Kejujuran (truthfulness), Ketelitian (precision), Ketenangan (calm), Temperamen yang baik (good temper), Kesabaran dan kesederhanaan (patience and modesty), Kesetiaan (loyalty). Pengangkatan seorang Duta Besar di suatu negara penerima oleh negara pengirim terlebih dahulu harus dimintakan persetujuan (agrment) dari negara penerima.[9] Untuk memperoleh agrment semacam itu, negara pengirim harus menyatakan terlebih dahulu dengan disertai hal ikhwal yang berkaitan dengan latar belakang calon Duta Besar (curriculum vitae) yang memang diperlukan oleh negara penerima untuk mempertimbangkan dalam memberikan agrment atau dinyatakan sebagai persona grata. Negara pengirim haruslah memperoleh kepastian bahwa agrment dari negara penerima telah diberikan kepada seseorang yang telah dicalonkan sebagai Duta Besar di negara tersebut. Jawaban mengenai pemberian agrment tersebut dari negara penerima dapat disampaikan secara tertulis atau secara lisan, atau mungkin mengalami penundaan yang begtiu lama yang pada hakikatnya dapat diartikan secara diam-diam dimintakan penggantinya yang lain.

Sedangkan pengangkatan atase-atase militer, laut, dan udara, oleh negara pegirim haruslah terlebih dahulu dimajukan nama-namanya untuk memperoleh persetujuan atau dinyatakan dapat diterima (persona grata) oleh negara penerima.[10] Setelah melalui prosedur untuk memilih dan mengangkat seorang Duta Besar di negara lain, Kementerian Luar Negeri haruslah menempuh berbagai formalitas yang sudah diterima secara internasional, antara lain seperti permintaan agreation atau agrment dari negara penerima, dan setelah memperoleh agrment tersebut perlu pemrerintahnya (Kepala Negara atau Pemerintah) mengeluarkan Surat-surat Kepercayaan (Letters of Credence atau Lettre de Creance atau Credentials) dan mengirimkan Duta Besarnya ke negara penerima. Walaupun dalam mengangkat Duta Besar, suatu negara mempunyai hak yang melekat, negara penerima juga mempunyai hak yang sama, yaitu untuk tidak menerima calon Duta Besar yang telah dipilih oleh negara pengirim tersebut. Guna menghindari timbulnya hal-hal tersebut yang dapat mengganggu atau mempengaruhi hubungan antara negara yang sudah dirintis dengan baik, sering dilakukan pendekatan terlebih dahulu dengan negara penerima kemungkinannya calon Duta Besar dari negara pengirim dapat diterima.[11] Setelah memperoleh agrment, Duta Besar yang lama dengan membawa surat-surat kepercayaan (Credentials) yang harus disampaikan kepada Kepala Negara negara penerima. Akan sangat bijaksana bagi seorang Duta Besar baru untuk memastikan bahwa surat penarikan Duta Besar yang lama (letter of recall) telah disampaikan dalam situasi yang layak atau jika formalitas itu belum dilakukan, Duta Besar baru tersebut akan membawanya serta. Dalam beberapa hal dapat pula terjadi bahwa pada waktu tiba di posnya yang baru, dan meminta waktu untuk menyerahkan suratsurat kepercayaannya, ia memperoleh jawaban bahwa Duta Besar yang digantikannya belum functus officio, karena itu pengakuan Duta Besar yang baru dapat mengalami penundaan sampai dokumen yang diperlukan dapat diperoleh dari negara pengirim.[12] Pada waktu kedatangan Duta Besar yang baru di ibukota negara penerima, secara resmi harus segera memberitahukan kepada Menteri Luar Negeri, dan meminta waktu yang tepat untuk menerimanya. Ia juga meminta kepada Menteri Luar Negari agar dapat bertemu dengan Kepala Negara untuk dapat menyerahkan surat-surat keprcayaan, sedangkan salinan surat-surat kepercayaan tersbut harus pula diserahkan kepada Menteri Luar Negeri negara penerima, salinan ini dikenal sebagai copie figure atau di London biasa disebut copie dusage. Dokumen ini tidak memerlukan tanda tangan, tetapi baik bahsa maupun kata-katanya harus sama dengan aslinya dengan diketik, difoto kopi, dicetak, atau ditulis tangan. Suatu terjemahan tentunya sangat berguna, khusus jika aslinya dituliskan dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh negara penerima, tetapi hal itu bukan menggantikan salinan tersebut.[13] Penyerahan salinan surat-surat kepercayaan kepada Menteri Luar Negeri itu sangat dianggap penting karena akan dapat menandai mulainya Duta Besar baru berfungsi. Seperti juga dinyatakan dalam Konvensi Wina 1961 mengenai Hubungan Diplomatik[14], bahwa: Kepala Perwakilan dianggap telah memulai tugasnya di negara penerima pada saat ia telah menyerahkan surat-surat kepercayaannya atau setelah ia memberitahukan kedatangannya dan telah menyerahkan sabuah salinan dari surat-surat kepercayaan aslinya kepada Menteri Luar Negeri negara penerima. B. Persona non Grata Jika negara pengirim tetap dengan pendiriannya untuk mengangkat seseorang yang tidak dapat

diterima oleh negara penerima, hal itu bukan saja akan dapat merugikan sendiri terhadap maksud dan tujuan yang akan dicapai, tetapi juga dapat menciptakan situasi yang bisa mempengaruhi hubungan baik kedua negara tersebut. Di satu pihak, jika negara penerima menyatakan penerimaan terhadap pengangkatan seseorang calon Duta Besar (Ambassador Designate) dari negara pengirim, hal itu dinyatakan sebagai persona grata. Di lain pihak, jika negara penerima menganggap bahwa seseorang itu tidak dapat diterima karena kegiatan-kegiatan dan kecenderungan di amsa lampau atau latar belakang lainnya, negara penerima dapat memberitahukan kepada negara pengirim ketidaksetujuannya untuk menerima pengangkatan Ambassador Designate melalui sebuah nota diplomatik yang menyatakan calon tersebut sebagai persona non grata. Setiap negara mempunyai hak menolak untuk menerima seorang pejabat diplomatik, apakah atas dasar sifat pribadinya atau latar belakang sebelumnya, misalnya jika ia dikenal pernah menanamkan rasa sentiment yang bernada kebencian atau permusuhan terhadap negara tempat ia akan daingkat sebagai Kepala Perwakilan dari perwakilan diplomatik. Karena itu, ia dapat dinyatakan ditolak karena sifatnya terhadap negara tempat ia akan diangkat, atau dalam bahasa Latin dinyatakan dengan jelas sebagai ex eo ob quod mittitur,[15] suatu ungkapan diplomatik bagi negara penerima untuk tidak menerimanya atau seperti dijelaskan dai atas sebagai deklarasi persona non grata. Penolakan agrment bagi seorang calon Duta Besar oleh negara penerima tidak perlu diberikan alasan apapun, sebaliknya negara pengirim juga tidak perlu untuk menanyakan alasan penolakan untuk memberikan agrment tersebut. Pasal 4 ayat I Konvensi Wina mengenai Hubungan Diplomatik khusu memberikan kewajiban bagi negara penerima ntuk tidak memberikan alasan bagi penolakan persetujuan atau agrment tersebut. Sedangkan dalam Pasal 9 ayat 1 lebih luas lagi pengertiannya bukan saja penolakan itu ditujukan kepada calon Duta Besar tetapi juga kepada seseorang anggota staf diplomatik termasuk anggota staf lainnya dari sesuatu perwakilan diplomatik. Dalam kasus seperti ini, negara pengirim berkewajiban menarik kembali orang yang bersangkutan ke negaranya atau mengehntikan tugasnya di perwakilan tersebut. Ketentuan dalam Pasal 9 ayat 1 ini mempunyai hakikat bahwa deklarasi persona non grata itu dapat dinyatakan baik sebelum maupun setelah tiba di wilayah negara penerima.[16] Penolakan untuk menerima seorang calon Duta Besar atau pejabat diplomatik dari negara pengirim dapat disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut: (i) Jika calon tersebut dianggap dapat mengganggu hak kedaulatan negara di mana ia akan diakreditasikan, karena sikap pribadinya juga yang disangsikan; seperti halnya dalam kasus Duke of Buckingham, sebagai calon Duta Besar Inggris di Perancis ditolak oleh Pemrintah Perancis, ia terbukti sangat menjengkelkan (proved obnoxious) terhadap Pemerintah Perancis, karena dianggap telah mencintai Ratu Perancis selama kunjungannya di Paris sebelumnya. (ii) Jika menunjukkan rasa permusuhan (hostile act) baik terhadap rakyat maupun lembaga di negara tempat ia akan diakreditasikan; dalam kasus Mr. Keiley, calon Duta Besar Amerika serikat di Italia pada tahun 1885 tempat ia telah ditolak oleh Pemerintah Italia karena pada tahun 1881, ia memprotes aneksasi Papal State oelh Italia. Dan tatkala Pemerintah amerika Serikat mengangkatnya ke Austria sebagai Duta Besar juga kemudian ditolaknya karena ternyata istrinya seorang Yahudi. (iii) Jika ia menjadi pokok persoalan di negara penerima dan negara akreditasi tersebut tidak mau memberikan kepada calon tersebut kekebalan-kekebalan sebagai calon Duta Besar.[17] C. Penolakan calon Duta Besar secara eksepsional Jika pemerintah suatu negara pengirim telah memutuskan secara sementara untuk mengangkat Duta Besarnya ke suatu negara penerima, negara pengirim harus segera menyampaikan kepada

negara penerima, nama calon Duta Besar itu yang biasanya harus disertai dengan riwayat hidupnya secara lengkap (curriculum vitae) untuk memperoleh persetujuan dari negara penerima (agrment). Hal ini sesuai pula dengan ketentuan dalam Konvensi Mina 1961 mengenai Hubungan Diplomatik bahwa negara pengirim harus yakin persetujuan dari negara penerima telah diberikan kepada orang yang diusulkan sebagai Duta Besar negaranya : The sending State must make certain that the agreement of the receiving State has been given for the person it proposes to accredit as head of the mission to that State.[18] Namun setiap negara mempunyai hak untuk menolak calon siapapun, apakah hal itu didasari oleh sifat pribadinya ataupun mungkin latar belakang sebelumnya. Misalnya, jika ia terbukti telah menanamkan rasa permusuhan atau kebencian terhadap negara dimana calon Duta Besar itu atau ditempatkan, maka negara penerima bisa saja menolak untuk menerima calon tersebut sebagai Duta Besar. Penolakan semacam itu bagi negara penerima tidak diwajibkan untuk memberikan alasan kepada negara pengirim. The receiving State is not obliged to give reasons to the sending State for a refusal of agreement.[19] Penolakan seseorang calon Duta Besar di suatu negara memang banyak kasusnya. Penolakan itu dapat dinyatakan bukan saja sebelum memperoleh agrment tetapi dapat pula terjadi setelah memperoleh agrment. Bahkan calon Duta Besar yang telah memperoleh agrment dan telah sampai di negara penerima dan telah siap untuk menyerahkan surat-surat kepercayaannya dapat pula mengalami kegagalan karena adanya peninjauan kembali atau pertimbangan kembali terhadap agrment yang telah diberikan oleh negara penerima. Bahkan dewasa ini dimana kondisionalitas-kondisionalitas politik dapat dikenakan terhadap suatu negara seperti kondisi hak azasi, kondisi lingkungan, kondisi demokrasi di suatu negara dapat pula menjadi pertimbangan untuk penolakan seorang calon Duta Besar di suatu negara. Dengan demikian, sering menjadi pertanyaan apakah suatu negara dapat mempermasalahkan kondisi hakhak azasi negara lain yang pada hakekatnya dapat dianggap sebagai campur tangan suatu negara terhadap urusan dalam negeri negara lain. Sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional yang mengatur tentang hubungan kerja sama antar negara, maka semua negara berkewajiban untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Prinsip ini perlu dihormati dalam rangka menciptakan kehidupan bersama semua negara secara damai. Adanya campur tangan dalam bentuk apapun pada hakekatnya bukan saja merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional tetapi juga dapat menciptakan situasi yang dapat mengancam perdamaian dan keamanan internasional. Lebih jauh prinsip non-intervensi semacam itu telah dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Deklarasi PBB mengenai prinsip-prinsip hukum internasional mengenai hubungan bersahabat dan kerja sama di antara negara sejalan dengan piagam PBB yang antara lain disebutkan bahwa : No State or group of States has the right to intervene, directly or indirectly, for any reason whatever, in the internal or external affairs for any other State.[20] Oleh karena itu, campur tangan di dalam bentuk apapun seperti pengenaan kondisionalitas-

kondisionalitas tersebut hanyalah merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip hukum internasional yang sudah diterima oleh masyarakat internasional. Kedaulatan suatu negara mempunyai makna bukan saja kemampuan sepenuhnya untuk bertindak tetapi juga sebagai personalitas internasional yang mempunyai kapasitas untuk bertindak secara hukum. Negara-negara dapat melakukan tindakan apa saja yang dirasakan sesuai dan tidak melanggar hukum internasional, dengan pengertian bahwa tindakan itu bukanlah merupakan campur tangan terhadap hak negara lain.[21] Masalah campur tangan ini dapat dilakukan hanya dalam hal penggunaan sanksi Dewan Keamanan atas dasar Bab VII Piagam PBB : Tidak ada ketentuan apapun dalam Piagam PBB yang memberi kuasa pada PBB untuk mencampuri urusan-urusan yang pada hakekatnya merupakan masalah dalam negeri suatu negara. Akan tetapi, prinsip ini tidak mengurangi kemungkinan bagi PBB untuk melakukan campur tangan dalam hal pengenaan sanksi seperti tercantum dalam bab VII Piagam. [22] Penolakan untuk menerima saeorang calon Duta Besar dengan pertimbangan kondisionalitas politik seperti Kondisi hak-hak azasi manusia di suatu negara terjadi dalam kasus pencalonan Duta Besar Indonesia untuk Australia yaitu Letnan Jenderal HBL Mantiri. Walaupun agrment telah diberikan Australia kepadanya, namun akhirnya ditentang oleh kalangan Parlemen Australia karena kaitannya dengan Peristiwa 12 November 1991 di Dili yang dinilai merupakan pelanggaran hak-hak azasi manusia sehingga mengakibatkan pembatalan pencalonan tersebut oleh Indonesia. Sekitar bulan Maret 1995, pemerintah Indonesia telah mencalonkan Letnan Jenderal HBL Mantiri sebagai Duta Besar RI untuk Australia dan untuk itu telah diminatkan agrment dari pemerintah Australia. Atas permintaan ini pemerintah Australia pada tanggal 31 Mei 1995 secara resmi telah memberikan persetujuannya dengan memberikan agrment kepada Letnan Jenderal Mantiri. Persetujuan pemerintah Australia itu telah dipertegas lagi pada tanggal 29 Juni 1995 oleh Perdana Menteri Australia Paul Keating di Parlemen Australia dengan menegaskan bahwa pemerintahannya tidak melihat situasi apapun dimana harus menolak pencalonan HBL Mantiri : There are no circumstances that I can see where we would or should reject a nomination by the President. It is the right of every government to choose its own ambassador and propose the candidate to the government of the country where the candidate is to be posted. Such a candidate, is seldom rejected except in the most extraordinary circumstances.[23] Sebaiknya di dalam Parlemen tersebut sekelompok anggota yang terdiri dari tujuh belas anggota yang mewakili baik golongan pemerintah maupun golongan oposisi telah menyatakan keberatan mereka atas pencalonan Letnan Jenderal Mantiri tersebut sebagai Duta Besar baru Indonesia di Canberra untuk menggantikan yang lama. Seperti diketauhi Letnan Jenderal Mantiri adalah bekas Panglima Daerah Militer yang meliputi pula propinsi Timor Timur, pada waktu Peristiwa Dili 12 November 1991 terjadi dimana mengakibatkan sejumlah korban yang meninggal dalam peristiwa itu, yang diperkirakan sekitar 50 sampai 100 orang.[24] Walaupun sebenarnya secara pribadi ia tidak terlibat secara langsung dalam peristiwa tersebut, Jenderal Mantiri sebagai Panglima Militer tetap dianggap bertanggung jawab untuk wilayah Timor Timur, yang pada waktu itu oleh kelompokkelompok hak azasi manusia memang dianggap bertanggung jawab terhadap pembunuhan tersebut.[25]

Persoalan lain yang dipermasalahkan adalah adanya wawancara majalah Editor di Jakarta pada Jenderal Mantiri pada tahun 1992 yang lalu, dimana ia mengatakan bahwa terjadinya bentrokan antara pengunjuk rasa dengan Pasukan Pengamanan yang memakan korban lebih dari 50 orang di Dili setahun sebelumnya dianggap sebagai hal sangat wajar.[26] Wawancara tersebut mengundang reaksi pro dan kontra di Australia. Dalam wawancara itu, Mantiri mengatakan Kita tidak menyesalkan apa-apa. Apa yang terjadi sudah semestinya mereka menentang kita, berdemonstrasi, sampai meneriakkan yel-yel anti pemerintah. Untuk saya, ini sama dengan pemberontakan, karena ini kita mengambil tindakan yang tegas.[27] Mengenai wawancara ini Menteri Luar Negeri Gareth Evans menjelaskan, sebaiknya Letnan Jendral Mantiri memberikan penjelasan mengenai wawancaranya tersebut setibanya di Australia. Pemerintah Federal Australia samgat menyayangkan komentar Mantiri. Masyarakat Australia sulit menerima pengangkatan tersebut karena Letnan Jenderal Mantiri sendiri menolak untuk mengambil suatu langkah lagi berupa permintaan maaf atas kata-katanya yang diterbitkan di majalah Editor tahun1992. Pemerintah Australia sebenarnya sudah menyuarakan keberatan tersebut sejak beberapa bulan sebelumnya ketika nama Mantiri muncul sebagai calon Duta Besar untuk Australia, dimana kemudian kami menyuarakan keprihatinan yang telah kami sampaikan sebelumnya.[28] Dalam menanggapi sikap Australia semacam itu, Menteri Luar Negeri Indonesia, Ali Alatas, mengumumkan tentang Keputusan Pemerintah Indonesia mengenai Pengangkatan Letnan Jenderal Mantiri sebagai Duta Besar RI untuk Australia sehubungan dengan kehebohan masalah tersebut yang menimbulkan provokasi terhadap negara tetangganya : Pemerintah Indonesia memutuskan tidak melanjutkan mencalonan HBL Mantiri, dan pos Duta Besar di Canbera untuk sementara dikosongkan Pemerintah tidak sudi membiarkan Mantiri dijadikan sasaran suatu kampanye politik, berupa unjuk rasa dan lain-lain tindakan yang dapat berupa penghinaan.[29] Dari Kasus Mantiri tersebut baik dari ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Wina 1961 maupun prinsip-prinsip hukum diplomatik dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Sebagaimana disebutkan dalam pasal 4 (1) jo. Pasal 9 (1) Konvensi Wina 1961 bahwa Pengangkatan seorang calon Duta Besar, sebelumnya haruslah memperoleh agrement terlebih dahulu dari negara penerima. Namun merupakan hak dari negara penerima untuk menyatakan penolakan (persona non grata) pengangkatan itu tanpa menjelaskan alasan-alasan penolakan tersebut dan hal itu dapat dilakukan bahkan sebelum calon itu tiba di negara akreditasi. Pencalonan Letnan Jenderal HBL Mantiri sebagai Duta Besar RI untuk Australia telah diajukan oleh pemerintah Indonesia kepada pemerintah Australia untuk memperoleh agrment. Ternyata pemerintah Australia tidak mempunyai keberatan sama sekali, ini terbukti dari agrment bagi calon Duta Besar Mantiri yang secara resmi telah disampaikan oleh pemerintah Australia kepada pemerintah RI pada tanggal 31 Mei 1995. Keberatan-keberatan yang muncul khususnya di kalangan anggota parlemen Australia merupakan perkembangan baru yang timbul setelah pemerintah Australia memberikan agrment-nya. Walaupun hal itu merupakan pertentangan intern antara pemerintah dan Parlemen Australia, hal itu tidak dapat dihindarkan dampaknya bagi keputusan pemerintah Australia yang telah diambil untuk menyetujui pencalonan Duta Besar Mantiri. Dalam suatu monograf yang di tulis oleh Eileen Denaz pada tahun 1976, mengenai konvensi diplomatik, ia mempermasalahkan apa yang akan terjadi seandainya negara penerima setelah

mempelajari pengangkatan seorang Pejabat Diplomatik di suatu misi di ibukota negaranya, tiba-tiba harus menolak untuk menerima pencalonan tersebut dan menyatakan sebagai persona non grata. Jika calon tersebut telah sampai di negara penerima, apakah ia masih berhak menikmati kekebalan diplomatik sampai berakhirnya waktu yang layak untuk keberangkatannya dari negara penerima? Negara penerima mungkin dapat berprasangka bahwa ia dapat memanfaatkan kekebalan dan keistimewaan yang diberikan itu disalahgunakan. Misalnya saja ia mungkin sebagai seorang yang terlibat tindak perdata atau pidana yang cukup serius. Denza menyimpulkan bahwa cara yang paling baik dalam suatu kasus semacam itu bagi negara penerima tidak ada cara lain kecuali untuk menjelaskan situasinya kepada negara pengirim dan memintanya agar memperlakukan baik pengangkatan maupun pemberitahuan itu sebagai hal yang tidak pernah terjadi. Namun, jika negara pengirim menolaknya, negara penerima dapat menjelaskan bahwa situasinya adalah tidak normal jika negara penerima pada waktu menerima pemberitahuan mengenai pengangkatan segera menolak untuk menerimanya.[30] Penolakan calon Duta Besar RI ke Australia Letnan Jenderal Mantiri secara tidak langsung, yang berkembang setelah agrment diterimanya, merupakan hal yang sangat eksepsional yang pada hakekatnya bagi Australia sebagai negara penerima sukar untuk mempertimbangkan kembali persetujuannya yang telah diberikan kepada Letnan Jenderal Mantiri tersebut. Reaksi-reaksi di parlemen yang cukup tajam menentang percalonan tersebut dapat merupakan penolakan secara tidak langsung dan terselubung (indirect and facit persona non grata) yang merupakan kenyataan yang harus dikaji kembali dan dipertimbangkan oleh Indonesia sebagai negara pengirim. Karena itu, kemudian pemerintah Indonesia memutuskan membatalkan pencalonan Letnan Jendral Mantiri sebagai Duta Besar RI ke Australia pada tanggal 6 Juli 1995 dan untuk sementara pos Duta Besar RI di Canberra dikosongkan. Pemerintah Australia menyambut baik keputusan tersebut dan menganggap hal itu sebagai langkah terbaik bagi kelangsungan hubungan Indonesia-Ausrtalia.[31] Sebagaimana dinyatakan juga oleh Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans bahwa betapa keputusan pemerintah Indonesia itu sungguh-sungguh sesuatu yang menolong karena menguntungkan semua pihak. Penyelesaian itu tidak mudah dicapai, tetapi akhirnya Australia tidak usah mencabut persetujuan yang telah diberikannya.[32] Banyak juga dilontarkan pertanyaan apakah pengosongan itu tidak berlaku lama, ataukah sebagai reaksi terhadap Australia, sementara pos Duta Besar di Canberra dikosongkan dan tingkatan Kepala Perwakilan di Kedutaan Besar RI di Canberra hanya tingkat Kuasa Usaha saja? Kebiasaan di dalam pergaulan diplomatik antarnegara memang sering terjadi baik untuk mengosongkan pos Duta Besar atau menurunkan tingkat Kepala Perwakilan dari Duta Besar menjadi tingkat jabatan yang lebih rendah. Tingkatan semacam ini pada hakekatnya merupakan pencerminan rasa tidak puas, kekecewaan, serta perasaan lainnya dari pemerintah negara pengirim atas tindakan, sikap atau kebijaksanaan negara penerima yang kurang dapat diterima atau disetujui oleh negara pengirim, sikap mana diambil dengan selalu mempertimbangkan intensitas dan tingkat hubungan bilateral negara-negara tersebut. Dalam Kasus Mantiri tersebut pemerintah Indonesia juga telah mengosongkan pos Duta Besar dan membiarkannya di bawah seorang Kuasa Usaha a.i (Ad interim) yang berpangkat Minister (Duta). KESIMPULAN Dari seluruh penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengangkatan seorang duta besar biasanya dilakukan atas dan nama kepala negara. Calon-calon duta besar diajukan untuk mendapatkan persetujuannya. Cara pemilihan calon-calon tidak selalu sama tergantung dari sistem dan praktek

yang berlaku di suatu negara. Dapat terjadi pemilihan calon ditentukan oleh kabinet atau hanya oleh kementerian luar negeri saja setelah memperhatikan berbagai faktor. Di Amerika Serikat pengangkatan seorang duta besar harus mendapatkan persetujuan dari Senat. Bila pengangkatan seorang calon duta besar telah diputuskan, namanya segera diajukan kepada pemerintah negara penerima (receiving state) melalui kedutaan besar negara pengirim untuk mendapatkan agrment. Permintaan agrment kepada pemerintahan suatu negara dilakukan secara konfidensial mengingat kemungkinan ditolaknya calon yang diajukan. Negara penerima berhak menolak seorang calon apakah didasarkan atas perilaku atau kebijakan profesionalnya di masa lalu. Dapat terjadi bahwa seorang calon duta besar mempunyai sikap dan pandangan yang tidk bersahabat terhadap negara penerima dan dalam hal ini pencalonannya dapat ditolak. Demikian juga halnya bila calon tersebut terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang anti negara setempat. Jika calon duta besar tersebut ditolak oleh negara penerima, maka negara penerima tidak berkewajiban untuk memberikan alasan mengenai penolakan tersebut (seperti tercantum dalam Pasal 4 ayat 2 Konvensi Wina). Biasanya penolakan itu bukan dalam bentuk komunikasi resmi tetapi hanya dalam bentuk isyarat secara halus. Penolakan secara resmi dihindarkan untuk tidak menyinggung kehormatan negara pengirim. Di samping itu, agrment dapat dicabut setelah diberikan dengan syarat bahwa duta besar yang bersngkutan belum tiba di negara penerima. Jika seandainya, duta besar tersebut sudah sampai, negara penrima dapat menyatakan duta besar tersebut persona non grata atau meminta duta besar itu segera pulang. Dalam kasus Letnan Jenderal HBL Mantiri, calon duta Besar Indonesia untuk Australia, keadaanya cukup berbeda. Pemerintah Australia telah memberikan agrment kepada Letjen. Mantiri pada tanggal 31 Mei 1995. Pemerintah Indonesia pada tanggal 6 Juli 1995akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pencalonan pencalonan mantiri tersebut, karena adanya keberatan dari sejumlah anggota parlemen Australia yang didasarkan atas kegiatan Mantiri di masa lalu dalam masalah Timor Timur. Jadi, dalam kasus Letjen. Mantiri ini masalahnya bukan penarikan agrment tetapi keputusan sepihak dari Indonesia untuk tidak melanjutkan penunjukkannya sebagai Duta Besar RI di Australia mengingat tidak kondusifnya suasana setempat. [1] Lihat Official Records, U.N. Conference on Diplomatic Intercourse and Immunities, Vienna, 2 Maret-14 April 1961, Vol. 1, U.N. Publication, 1961. [2] J. G. Starke, Pengantar Hukum Internasional Vol. 2, Jakarta: Sinar Grafika, 2007, hlm. 566. [3] Konvensi Wina 1961 mengenai Hubungan Diplomatik, Pasal 2. [4] Ibid, Pasal 11. [5] Ibid, Pasal 7 jo. Pasal 10. [6] Dalam hal negara penerima memberikan perstujuan terhadap seseorang yang disaranlkan untutk diangkat sebagai Duta Besar dari negara pengirim, seseorang itu dikatakan dapat diterima atau Persona Grata, persetujuan itu secara resmi akan disampaikan sebelum pengangkatan orang tersebut diumumkan. [7] Oppeheim-Lauterpacht, International Law, Vol. I, Longmans Green & Co., 8th, ed., 1960, hlm. 769-770. [8] Harold Nicholson, Diplomacy, London: Oxford University Press, 2nd, ed., 1950, hlm. 55. [9] Ibid, Pasal 4 (1). [10] Ibid, Pasal 7, kini banyak negara telah mengangkat bukan sebagai atase-atase militer, laut, atau udara lain, melainkan sebagai Atase Pertahanan (Defence Attache). [11] Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo, Hukum Diplomatik: Teori dan Kasus, Bandung: PT. ALUMNI, 2005, hlm. 110-111.

[12] Lord Gor Booth, Satows Guide to Diplomatic Practice, hlm. 94. [13] Pasal 13. [14] Washington Post, tanggal 23 April 1988 yang dikutip pula oleh Grant v. Mc Clanahan, Diplomatic Immunity, hlm. 127. [15] Lord Gore-Booth, Satows Guide to Diplomatic Practice, hlm. 89, op.cit., yang dikutip pula oleh G. V. G. Khrisnamurty, Modern Diplomacy, hlm. 123-124. [16] Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo, op. cit., hlm. 119. [17] Narider Mehta, International Organizations and Diplomacy, hlm. 43 dan 47. [18] Pasal 4 (1), konvensi Wina 1961 mengenai hubungan diplomatic. [19] Ibid, ayat (2) jo. Pasal 9 (1). [21] Ceramah di depan generasi Muda Kosgoro oleh Sumaryo Suryokusumo dengan judul Gangguan Terhadap Harga Diri dan Martabat Bangsa ditinjau dari Segi Hukum Internasional, Jakarta, 25 Agustus 1995. [22] Pasal 2 (7), Piagam PBB. [23] Statement Perdana Menteri Australia, Paul Keating, di depan Parlemen Australia tanggal 29 Juni 1995. [24] Jakarta Post, 3 Juli 1995. [25] Ibid. [26] Jakarta Post, 4 Juli 1995. [27] Kompas, Jakarta, 30 Juni 1995. [28] Op. cit., ,Acara jumpa Pers dengan Menlu Gareth Evans di Melbourne tanggal 6 Juli 1995; yang dikutip Kompas 7 Juli 1995. [29] Pernyataan Menlu Indonesia, Ali Alatas, di depan pers pada tanggal 6 Juli 1995 di Departemen Luar Negeri. [30] Denza, Diplomatic Law, hlm. 34 dan 245. [31] Kompas, Jakarta 7 Juli 1995. [32] Ibid. Diposkan oleh Maha Dewi Saraswati di 10:29 0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

hukum diplomatik dan konsuler, Mengatur tentang kedudukan fungsi misi diplomatik yang dipertukarkan oleh negara-negara yang telah membina hubungan diplomatik, lain halnya dengan pengertian-pengertian sekarang yang bukan saja meliputi hubungan diplomatik dan konsuler antarnegara, tetapi juga keterwakilan negara dalam hubungannya dengan organisasi-organisasi internasional.

Dalam perkembangannya, hukum diplomatik mempunyai ruang lingkup yang lebih luas lagi bukan saja mencakupi hubungan diplomatik antar negara, tetapi juga hubungan konsuler dan keterwakilan negara dalam hubunganya dengan organisasi-organisasi internasional khususnya yang mempunyai tanggungjawab dan keanggotaannya yang bersifat global atau lazim disebut organisasi internasional yang bersifat universal. Bahkan dalam kerangka hukum diplomatik ini dapat juga mencakupi ketentuan-ketentuan tentang perlindungan keselamatan, pencegahan serta penghukuman terhadap tindak kejahatan yang ditujukan kepada para diplomat. Para pejabat diplomatik yang dikirim, Mereka telah diberikan kekebalan dan keistimewaan diplomatik, ini merupakan aturan kebiasaan hukum internasional yang telah ditetapkan, termasuk harta milik, gedung dan komunikasi. Untuk menunjukkan totalitas kekebalan dan keistimewaan diplomatik tersebut, terdapat 3 teory yang sering digunakan dalam hal ini, yaitu; exterritoriality theory, representative character theory dan functional necessity theory. Sifat dan prinsip tersebut itu diberikan kepada para diplomat Kekebalan dan keistimewaan diplomatik akan tetap berlangsung sampai diplomat mempunyai waktu sepantasnya menjelang keberangkatannya setelah menyelesaikan tugasnya di sesuatu negara penerima. Namun negara penerima setiap kali dapat meminta negara pengirim untuk menarik diplomatnya apabila ia dinyatakan persona non grata.