Anda di halaman 1dari 48

SISTEM PENGAPIAN DAN TROUBLESHOOTING PADA MESIN TOYOTA KIJANG 5K

Proyek Akhir
Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Diploma III di Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang

Oleh : Nama NIM : Heru Hartanto : 5250303009

Program Studi : Teknik Mesin D3

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

ABSTRAK
Heru Hartanto, 2006. Sistem Pengapian dan Trouble shooting pada Toyota Kijang 5K. Laporan Proyek Akhir. Teknik Mesin D III. Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Perkembangan teknologi pada bidang otomotif khususnya pada mobil cepat mendorong manusia untuk selalu belajar, salah satunya belajar tentang sistem pengapian. Oleh karena itu penulis membahas tentang Sistem Pengapian dan Trouble Shooting pada Mobil Toyota Kijang 5K berdasarkan Proyek Akhir dengan membuat engine stand. Sistem pengapian pada mobil Toyota Kijang 5K berguna untuk menciptakan percikan bunga api pada proses pembakaran. Permasalahan yang diangkat dalam penulisan Proyek Akhir ini adalah konstruksi dan cara kerja serta analisis kerusakan yang sering terjadi pada komponen sistem pengapian mobil Toyota Kijang 5K. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui lebih dalam tentang komponen-komponen pada sistem pengapian pada Toyota Kijang 5K, serta analisis kerusakan yang sering terjadi dan cara memperbaiki kerusakan tersebut berdasarkan dari analisis kerusakan yang terjadi, hal tersebut dapat sebagai sumber informasi. Sistem pengapian adalah suatu sistem yang digunakan untuk menghasilkan pengapian yang tepat agar diperoleh pembakaran yang maksimal. Sistem pengapian pada Toyota Kijang 5K adalah system pengapian transistor yang komponennya meliputi, baterai, distributor, ignition coil, busi, kabel busi dan kabel tegangan tinggi. Proses pengapian pada mesin terganggu jika terdapat gangguan operasional pada komponen sistem pengapian mesin itu sendiri. Hal ini dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan kerusakan yang terjadi. Kerusakan yang sering terjadi pada sistem pengapian Toyota Kijang 5K antara lain: mesin sulit hidup, tenaga mesin kurang dan mesin hidup tetapi pincang. Sistem pengapian dapat berfungsi dengan baik apabila komponen-komponen dari sistem pengapian tidak mengalami kerusakan. Kerusakan yang terjadi pada sistem pengapian harus diatasi sedini mungkin untuk mencegah rusaknya komponen-komponen lain dari mesin. Kerusakan yang terjadi pada sistem pengapian dapat diatasi sedini mungkin dengan melakukan pengecekan terhadap komponen-komponen sistem pengapian secara berkala.

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Proyek Akhir, tahun 2006. Sistem Pengapian dan Troubleshooting pada Mesin Toyota Kijang 5K Telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Proyek Akhir Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang, pada : Hari : SABTU Tanggal : 26 AGUSTUS 2006 Pembimbing

Drs. Murdani, M.Pd. NIP. 130894848 Penguji II Penguji I

Hadromi, SPd, M.T NIP. 132093201 Ketua Jurusan,

Drs. Murdani, M.pd. NIP. 130894848 Ketua Program Studi,

Drs.Pramono. NIP. 131474226

Drs. Wirawan Sumbodo,MT. NIP. 131826223 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik

Prof. Dr. Soesanto NIP. 130875753

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto : 1. Dibalik kesusahan pasti ada kemudahan. 2. Janganlah cepat putus asa menerima kegagalan, jadikan ia sebagai cambuk untuk meraih keberhasilan 3. Selesaikanlah satu pekerjaan sebelum memulai pekerjaan baru. 4. Orang yang rajin dan disiplin akan lebih beruntung daripada orang pandai, karena pandai saja belum cukup meraih kesuksesan tanpa keuletan dan kerajinan. 5. Berpeganglah pada agama maka hidupmu akan selalu dilindungi-Nya.

Persembahan : 1. Ibu dan Bapak yang terhormat. 2. Kakakku yang selalu membimbingku. 3. Saudara dan adikku yang memberiku semangat.

iv

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga dapat menyelesaikan laporan Proyek Akhir dengan judul Analisis Gangguan dan Cara Mengatasi Kerusakan Sistem Pengapian Mobil Toyota Kijang 5K. Laporan Proyek Akhir ini dapat diselesaikan tidak lepas dari bantuan, saran dan sumbangan baik moril, maupun materiil dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada yang terhormat : 1. Bapak Prof. Dr. Soesanto, Dekan Fakultas Teknik UNNES 2. Drs. Pramono, Ketua Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang 3. Drs. Supraptono, Sekretaris Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang 4. Drs. Wirawan Sumbodo, MT, Kaprodi D III Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang. 5. Drs. Murdani M.Pd., Dosen Pembimbing yang dengan tulus dan penuh kesabaran membimbing serta mengarahkan penulis hingga terselesaikannya Laporan Proyek Akhir ini. 6. Drs. Widi Widayat, Pembimbing Lapangan Proyek Akhir, yang senantiasa membimbing penulis untuk menyelesaikan pengerjaan Engine Stand.

7. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan Proyek Akhir ini hingga selesai. Penulis telah berusaha sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dalam menyusun laporan ini, namun penulis sadar sepenuhnya bahwa dalam laporan ini masih banyak kekurangan maka penulis mengharap adanya kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan isi laporan ini. Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis berharap semoga laporan ini dapat memberi manfaat baik khususunya kepada penulis maupun pembaca pada umumnya.

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman Judul ................................................................................................. Abstrak ............................................................................................................ Halaman Pengesahan ....................................................................................... Motto dan Persembahan................................................................................... Kata Pengantar................................................................................................. Daftar Isi.......................................................................................................... Daftar Gambar ................................................................................................. Daftar Lampiran............................................................................................... Bab I PENDAHULUAN ............................................................................. A. Latar Belakang Masalah.............................................................. B. Permasalahan .............................................................................. C. Tujuan......................................................................................... D. Manfaat....................................................................................... E. Sistematika penulisan. ................................................................. Bab II SISTEM PENGAPIAN PADA TOYOTA KIJANG 5K ..................... A. Landasan Teori............................................................................ 1. Sistem Pengapian Mobil........................................................ 2. Syarat-syarat Sistem Pengapian ............................................. 3. Prinsip Pembangkit Tegangan Tinggi ....................................

i ii iii iv v vii ix xi 1 1 2 2 3 3 5 5 5 5 7

vii

B. Komponen dan Cara Kerja Sistem Pengapian Pada Mesin Toyota Kijang 5K ....................................................................... 1. Sistem Pengapian pada Mesin Toyota kijang 5K .................. 2. Komponen Pengapian Transistor pada Toyota Kijang 5K...... C. Cara Kerja Sistem Pengapian Transistor...................................... 1. Signal Generator ................................................................... 2. Prinsip Kerja Sistem Pengapian Transistor ........................... 3. Pengaturan Dwell Angle ....................................................... D. Analisis dan Cara Mengatasi Gangguan Pada Sistem Pengapian.. 1. Mesin Sulit Hidup ................................................................. 2. Tenaga Mesin Kurang ........................................................... 3. Mesin Hidup Tapi Pincang .................................................... Bab IV SIMPULAN DAN SARAN............................................................... A. Simpulan ..................................................................................... B. Saran ........................................................................................... DAFTAR PUSTAKA 9 9 10 23 23 24 26 29 29 31 33 36 37 37

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Induksi bersama pada saat arus mengalir pada kumparan primer ... Gambar 2. Induksi bersama pada saat arus diputus ......................................... Gambar 3. System pengapian Full-transistor .................................................. Gambar 4. Penampang baterai........................................................................ Gambar 5. Penampang ignition coil ............................................................... Gambar 6. Penampang distributor .................................................................. Gambar 7. Penampang tutup distributor ......................................................... Gambar 8. Rotor ............................................................................................ Gambar 9. Signal rotor................................................................................... Gambar 10. Igniter........................................................................................... Gambar 11. Governor advancer........................................................................ Gambar 12. Grafik governor advancer ............................................................. Gambar 13. Penampang vaccum advancer ....................................................... Gambar 14. Penampang busi............................................................................ Gambar 15. Konstruksi busi dingin dan panas.................................................. Gambar 16. Signal generator............................................................................ Gambar 17. Sirkuit kerja system pengapian transistor saat mesin mati ............. Gambar 18. Sirkuit kerja system pengapian transistor saat mesin hidup ...........

7 8 9 10 12 13 14 15 15 16 17 18 19 19 21 23 24 25

ix

Gambar 19. Sirkuit kerja system pengapian transistor saat pick up coil menghasilkan tegangan positif .................................................... Gambar 20. Grafik perbandingan induksi tegangan sekunder ........................... Gambar 21. Grafik pengaturan sudut Dwell ..................................................... 26 27 28

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar-gambar Engine Stand Toyota Kijang 5K Lampiran 2. Surat Keterangan Engine Stand Selesai Lampiran 3. Surat Tugas Dosen

xi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah Suatu mesin dapat menghasilkan tenaga sebab di dalam mesin tersebut terjadi pembakaran. Mesin bertenaga panas menghasilkan pembakaran yang dirubah menjadi tenaga mekanik, disebut motor bakar. Motor bakar ada beberapa macam salah satunya adalah motor bensin. Pada motor bensin energi panas dihasilkan dari pembakaran campuran udara dan bensin di dalam silinder. Proses pembakaran pada motor bensin dimulai saat loncatan bunga api. Untuk menghasilkan loncatan bunga api dibutuhkan beberapa komponen (1) Baterai, (2) Ignition coil, (3) Distributor, (4) Centrifugal governor advencer, (5) Vaccum advancer, (6) Rotor, (7) Distributor cap, (8) Busi, yang dapat membakar campuran udara dan bahan bakar di dalam ruang bakar. Semua elemen tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi, supaya dapat menghasilkan pembakaran yang sempurna sehingga diperoleh daya yang maksimal. Sistem pengapian yang digunakan pada toyota kijang seri 5k adalah sistem pengapian transistor. Sistem pengapian transistor pada umumnya banyak digunakan pada mobil bensin, karena konstruksi yang sederhana dan perawatan yang lebih mudah. Dengan adanya konstruksi yang sederhana pada sistem pengapian tersebut maka tidak menutup kemungkinan kerusakan akan terjadi. Kerusakan

terjadi dapat diakibatkan oleh kelalaian pengendara maupun umur komponen yang terlalu tua. B. Permasalahan Untuk mempelajari lebih dalam tentang sistem pengapian full-transistor dan gangguan yang terjadi pada mobil Toyota Kijang 5K, maka akan diterangkan komponen apa saja yang ada pada sistem pengapian full-transistor dan kerusakan apa saja yang terjadi pada sistem tersebut. Berdasarkan dari uraian di atas permasalahan yang perlu diperhatikan dalam sistem pengapian full-transistor pada mesin Toyota Kijang 5k adalah : a. Kontruksi dan cara kerja sistem pengapian full-transistor yang digunakan pada mesin Toyota Kijang 5K. b. Memahami kerusakan yang sering terjadi pada komponen sistem pengapian full-transistor pada Toyota Kijang seperti ignition coil, distributor dan busi. c. Cara mengatasi atau memperbaiki kerusakan yang terjadi pada komponenkomponen sistem pngapian full-transistor pada Toyota Kijang 5K. C. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan sistem pengapian pada Toyota Kijang 5K yaitu : a. Dapat memahami prinsip kerja dan mengenal komponen dari sistem pengapian full-transistor pada mesin Toyota kijang 5K. b. Dapat mengamati komponen-komponen sistem pengapian full-transistor secara langsung dan membongkar serta merakit kembali komponen-

komponen yang terdapat pada sistem pengapian full-transistor pada mesin Toyota Kijang 5K. c. Dapat mengetahui cara mengatasi gangguan kerusakan sistem pengapian fulltransistor Toyota kijang 5K. D. Manfaat Manfaat yang dapat diambil dari pembahasan sistem pengapian fulltransistor pada Toyota Kijang 5K yaitu : a. Dapat meningkatkan pemahaman tentang sistem pengapian full-transistor yang digunakan pada Toyota Kijang 5K. b. Dapat memahami prinsip kerja dan mengetahui komponen-komponen sistem pengapian full-transistor pada Toyota Kijang 5K. c. Dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi pada sistem pengapian fulltransistor Toyota Kijang 5K. E. Sistematika Penulisan Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh dalam sistematika penulisan laporan proyek akhir ini. Maka secara garis besar sistematika penulisan proyek akhir ini dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian akhir. Bagian awal penulisan proyek akhir ini terdiri dari Bab I pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, permasalahan, tujuan proyek akhir, manfaat proyek akhir dan sistematika penulisan. Bab II landasan teori yang berisi tentang pengertian sistem pengapian mobil, syarat-syarat sistem pengapian, prinsip

pembangkit tegangan tinggi. Komponen dan cara kerja sistem pengapian yang ada pada mesin Toyota Kijang 5K yang berisi tentang sistem pengapian pada Toyota Kijang 5K, komponen sistem pengapian transistor, prinsip kerja sistem pengapian transistor, serta analisa kerusakan yang terjadi pada sistem pengapian dan cara mengatasi kerusakan berdasarkan analisis dari kerusakan komponenkomponen sistem pengapian. Bab III penutup meliputi simpulan dan saran. Bagian yang paling akhir laporan ini adalah daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

BAB II PEMBAHASAN

A. Landasan Teori 1. Sistem Pengapian Mobil Motor bensin adalah motor pembakaran dalam, yang beroperasi dengan bahan bakar bensin. Temperatur pada ruang bakar kira-kira 400 0C pada saat terbakarnya campuran bahan bakar dan udara. Sementara naiknya temperatur yang terdapat pada motor bensin dikarenakan adanya percikan bunga api listrik yang masuk melalui busi kedalam ruang bakar. Agar memperoleh bunga api yang baik diperlukan beberapa komponen untuk menghasilkan tegangan yang tinggi. Komponen utama tersebut antara lain baterai, ignition coil, igniter, dan pick up coil. Sistem pengapian pada automobile berfungsi menaikkan tegangan batere menjadi 10 KV atau lebih dengan ignition coil dan kemudian membagi-bagikan tegangan tersebut ke busi-busi melalui distributor dan kabel tegangan tinggi. 2. Syarat Syarat Sistem Pengapian Prinsip dasar sistem pengapian ialah untuk membangkitkan bunga api yang dapat membakar campuran bahan bakar dan udara di dalam silinder, oleh karena itu sistem pengapian harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Bunga api harus kuat Pada saat campuran bahan bakar dan udara dikompresikan didalam silinder, sangat sulit bagi bunga api untuk melewati udara (ini disebabkan udara mempunyai tahanan listrik dan tahanan ini akan naik pada saat udara dikompresikan). Adanya tahanan ini, mengharuskan tegangan yang diberikan kepada busi harus cukup tinggi untuk dapat menghasilkan loncatan bunga api yang kuat pada elektroda busi. b. Saat pengapian harus tepat Untuk memperoleh pembakaran campuran bahan

bakar dan udara yang paling efektif, harus dilemgkapi dengan beberapa peralatan tambahan yang dapat mengubah saat pengapian sesuai dengan putaran mesin dan beban mesin (perubahan sudut engkol dimana masing-masing busi menyala). c. Stabil dan memiliki ketahanan yang cukup Apabila sistem pengapian tidak bekerja, maka mesin akan mati. Oleh karena itu, sistem pengapian harus mempunyai ketahanan yang cukup untuk menahan getaran dan panas yang dibangkitkan oleh mesin, dan juga tegangan tinggi yang dihasilkan oleh sistem pengapian itu sendiri.

3. Prinsip pembangkit tegangan tinggi a. Induksi bersama Bila dua buah kumparan disusun dalam satu garis dan besarnya arus yang mengalir pada kumparan primer dirubah, maka tegangan induksi akan mengalir pada kumparan sekunder dengan arah melawan perubahan garis gaya magnet kumparan primer. Pada gambar di bawah ini bila arus mengalir pada kumparan primer, sehingga tidak akan terjadi perubahan garis gaya magnet, dengan demikian tidak ada tegangan induksi yang dibangkitkan pada kumparan sekunder.

Gambar 1. Induksi bersama pada saat arus mengalir pada kumparan primer (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Pada waktu switch di putus mak arus pada kumparan primer akan terputus sehingga garis gaya magnet yang telah terbentuk saat itu tiba- tiba menghilang. Sehingga pada kumpaaran sekunder bangkitlah tegangan induksi dengan arah melawan fluks magnet.

Gambar 2. induksi bersama saat arus diputus (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) b. Besarnya tegangan induksi Besarnya tegangan induksi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: 1. Besarnya garis gaya magnet Semakin besar garis gaya magnet yang terbentuk dari dalam kumparan, maka makin besar pula tegangan yang diinduksikan. 2. Jumlah lilitan kumparan Makin banyak lilitan pada kumparan maka semakin tinggi tegangan yang diinduksikan Jumlah lilitan pada kumparan primary coil 150 300 lilitan, sedangkan pada secondary coil 15000 30000 lilitan. 3. Perubahan garis gaya magnet Makin cepat perubahan garis gaya magnet yang dibentuk oleh kumparan, semakin tinggi kumparan yang diinduksikan.

B. Komponen dan Cara Kerja Sistem Pengapian Pada Mesin Toyota Kijang 5K 1. Sistem Pengapian Pada Mesin Toyota Kijang 5K Mesin Toyota kijang 5K menggunakan sistem pengapian sistem STI (solid-state transistored ignition) atau sistem pengapian Full-Transistor.Sistem pengapian transistor dikembangkan sebagai upaya untuk mengatasi kelemahankelemahan yang ada pada sistem pengapian contact point yang memerlukan perawatan berkala. Sistem pengapian transistor memakai perangkat elektronik yang meniadakan aspek singgungan antar komponen sehingga tidak terjadi keausan. Sistem pengapian transistor, signal generator dipasang di dalam distributor untuk menggantikan platina dan cam. Signal generator

membangkitkan tegangan untuk mengaktifkan transistor dan igniter untuk menghubungkan dan memutuskan arus primer pada koil pengapian.

Gambar 3. Sistem pengapian Full transistor (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994)

2. Komponen Pengapian Transistor Pada Toyota Kijang 5K a. Baterai. Baterai pada kendaraan bermotor berfungsi sebagai sumber tegangan listrik yang menyalurkan aliran listrik untuk semua system kelistrikan pada kendaraan. Beberapa komponen yang membutuhkan arus listrik adalah motor stater, sistem pengapian dan lampu penerangan. Baterai menyimpan energi listrik dalam bentuk energi kimia.

Gambar 4. Penampang baterai (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) 1) Kotak baterai Kotak baterai merupakan tempat penampungan elektrolit dan elemen baterai. Pada kotak baterai terdapat ukuran ketinggian elektrolit yaitu upper dan lower.

10

2) Elemen baterai Elemen baterai adalah suatu kesatuan dari plat negatif dan positif, dipasang secara berselang-seling yang dibatasi oleh separator dan fiberglass di dalam kotak baterai. 3) Tutup baterai Pada tutup lubang baterai terdapat ventilasi, umtuk

memasukkan elektrolit selain itu juga berguna untuk memisahkan gas (hydrogen) yang terbentuk setelah pengisian dan uap asam sulfat di dalam baterai. 4) Elektrolit Elektrolit adalah larutan asam sulfat dan air suling, berat jenis elektrolit yang baik bila diukur dengan hydrometer 1,260 sampai 1,280 pada temperature 200 C. karena baterai merupakan component paling penting di dalam system kelistrikan mobil, untuk itu kondisi baterai harus di jaga. Apabila baterai tegangan berkurang sebaiknya diisi kembali dan dalam pengisian dibatasi di bawah 0,1 dari kapasitas baterai. b. Ignition coil Ignition coil berfungsi merubah tegangan 12 volt yang di terima dari baterai menjadi tegangan tinggi 10.000 volt atau lebih besar lagi, untuk menghasilkan loncatan bunga api yang kuat pada busi. Ignition coil kumparan primer dan sekunder digulung pada inti besi.

11

Kumparan kumparan ini akan menaikkan tegangan yang diterima dari baterai menjadi tegangan tinggi dengan cara menginduksikan magnet listrik.

Gambar 5. Penampang ignition coil (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Konstruksi ignition koil terdiri dari core (inti besi) yang dikelilingi oleh kumparan. Inti besi terbuat dari baja silicon tipis yang digulung ketat atau dikelilingi oleh kumparan. Sementara bahan dari kumparan terbuat dari bahan tembaga tipis berdiameter 0,05-0,1 mm yang dililitkan pada inti besi kira-kira 15000-30000 kali lilitan. Sedangkan primary coil (kumparan primer) terbuat dari kawat tembaga yang lebih tebal berdiameter 0,5-1,0 mm yang dililitkan 150-300 kali lilitan mengelilingi kumparan sekunder.

12

Untuk mencegah terjadinya hubungan singkat antara lapisan satu dengan yang lainnya diberi batasan dengan menggunakan insulating paper (kertas yang mempunyai tahanan tinggi). Di dalam case (tabung) ignition coil terdapat minyak atau campuran penyekat untuk menambah daya tahan terhadap panas, agar ignition coil bertahan lebih lama. c. Distributor Fungsi utama distributor adalah membagi (mendistribusikan) tegangan tinggi ke busi-busi sesuai dengan ignition timing dan firing order. Fungsi distributor yang lain dapat dilihat pada bagian-bagiannya antara lain :

Gambar 6. Penampang distributior (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994)

13

1) Distributor cup (tutup distributor) dan rotor Bagian distributor ini berfungsi mengalirkan arus tegangan tinggi yang dibangkitkan oleh kumparan sekunder pada ignition coil ke elektroda pusat (center elctrode) yang ada pada tutup distributor melalui kabel tegangan tinggi, arus tegangan tinggi tersebut kemudian dialirkan ke elektroda sisi (side electrode) dan akhirnya ke busi, pada tiap-tiap silinder sesuai dengan urutan pengapian.

Gambar 7. Penampang tutup distributor (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Bagian rotor berfungsi untuk mengalirkan arus tegangan tinggi dari center contact piece ke side elektroda pada tutup distributor.

14

Gambar 8. Rotor (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) 2) Signal rotor Signal rotor berfungsi untuk mengontrol bentuk gelombang output dari pick up coil

Gambar 9. Signal rotor (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994)

15

3) Igniter

Gambar 10. Igniter (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Igniter terdiri dari sebuah detector yang mendeteksi EMF yang dibangkitkan oleh signal generator, penguat sinyal dan power transistor, yang melakukan pemutusan arus primer coil pengapian pada saat sesuai dengan signal yang diperkuat. Pengaturan dwell angle untuk mengoreksi primery signal sesuai dengan pertambahan putaran mesin disatukan di dalam igniter. Igniter dilengkapi dengan pembatas arus (current limiting circuit) untuk mengatur arus primer maksimum. 4) Ignition advancer Untuk memperoleh output mesin yang semaksimal mungkin, maka mesin memerlukan tekanan pembakaran maksimum untuk mencapai sekitar 100 (TMA), akan tetapi karena ditentukan oleh perambatan api, maka campuran udara dan bahan bakar harus sudah

16

dibakar sebelum TMA. Inilah yang disebut dengan saat pengapian. Diperlukan beberapa komponen untuk memajukan atau mengundurkan pada saat pengapian sehingga saat pengapian dapat disesuaikan

dengan tepat sesuai beban mesin. Komponen-komponen itu adalah : a) Governor advancer Bagian ini berfungsi untuk memajukan saat pengapian sesuai dengan pertambahan putaran mesin. Bagian ini terdiri dari governor weight dan governor spring (pegas governor).

Gambar 11. Penampang governor advancer (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994)

17

Cara kerja governor advancer Apabila distributor shaft berputar, fly weight terlempar dan mengelilingi weight support pin sehingga came plate berputar terhadap distributor shaft sehingga saat pengapian dimajukan.

Karakteristik pemajuan ditentukan oleh spesifikasi mesin tetapi grafik karakteristik melengkung dua kali karena adanya daya aksi pengapian yang tinggi.

Gambar 12. Grafik governor advancer (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) b) Vaccum advancer Vaccum advancer berfungsi memajukan dan

mengundurkan pengapian pada saat beban mesin bertambah atau berkurang. Pada vaccum advancer terdapat dua buah komponen

18

yaitu auxilari diaphragma chamber yang dihubungkan dibawah throttle valve masih dalam kondisi tertutup sedang main diaphragma chamber bekerja sebagai throttle valve.

Gambar 13. Penampang vaccum advancer (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) d. Busi

Gambar 14. Penampang busi (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994)

19

Tegangan tinggi yang dihasilkan pada sekunder ignition coil dikeluarkan (discharge) pada elektroda tengah dan elektroda massa busi. Bagian-bagian busi terdiri dari insulator, casing dan elektroda tengah. Fungsi dari insulator keramik adalah untuk memegang tengah dan sebagai insulator elektroda tengah dengan casing penyangga insulator elektronik dan sebagai mounting busi terhadap mesin. Elektroda tengah terdiri dari sumbu pusat yang berfungsi mengalirkan dan meradiasikan panas yang ditimbulkan oleh elektroda. Seal glass merapatkan centershaff dan insulator keramik, resistor mengurangi suara pengapian, juga sebagai penangkal gangguan frekuensi gelombang radio. Copercore (inti tembaga) merambatkan panas dari elektroda dan ujung isolator agar cepat dingin, sementara elektroda tengah membangkitkan loncatan bunga api ke massa. Elektroda massa dibuat sama dengan elektroda tengah dengan nama alur U (U groove) dan alur V (V groove) bentuk khusus elektroda tersebut dengan tujuan memudahkan loncatan bunga api ke massa agar menaikkan kemampuan pengapian. Agar sistem kerja busi dapat mencapai suhu semaksimal mungkin dan kotoran pada busi tidak terlalu banyak atau karbon yang melekat pada busi dapat terbakar secara maksimal. Cepat tidaknya pendeknya atau busi menjadi panas tergantung pada panjang isolator yang diukur pada penyekat

diameter

20

bawah.sementara itu busi terdiri dari dua jenis yaitu busi panas dan busi dingin.

Gambar 15. Kontruksi busi panas dan dingin (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Busi panas yaitu busi yang dapat meradiasikan panasnya hanya sedikit dikarenakan busi tersebut menahan panas busi. Busi ini baik digunakan pada motor yang bekerjanya lebih ringan. Sedangkan busi dingin adalah busi yang dapat meradiasikan panasnya lebih banyak, busi ini lebih cocok pada motor yang daya kerjanya lebih berat. Kemampuan meradiasikan panas dituliskan dalam nomor kode pada busi disebut busi tingkat panas. Penulisan tingkat panas masingmasing pabrik mempunyai penulisan kode yang berbeda.

21

Busi NGK Busi ND

:2 :9

4 14 92

5 16 87

6 20 82

7 22 78

8 27

9 27

Busi CHAMPION : 95

Busi panas e. Kabel tegangan tinggi Kabel tegangan tinggi

Busi dingin

mampu

mengalirkan

atau

menghantarkan arus tegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan sekunder di dalam ignition coil ke masing-masing busi melalui distributor tanpa adanya kebocoran. Oleh sebab itu penghantar (core) dibungkus dengan insulator karet yang gunanya untuk mencegah terjadinya kebocoran arus listrik tegangan tinggi. Insulator karet dilapisi oleh pembungkus. Kabel resistif terbuat dari fiberglass yang dipadu dengan karbon dan karet sintetis yang digunakan sebagai core untuk memberikan peregangan yang kuat untuk meredam bunyi pengapian (ignition noise) pada radio. Tanda tahanan dicetak pada permukaan pembungkus sebagai pertanda bahwa inti kabel tegangan tinggi adalah kabel tahanan (resitive wire). Pada kabel tegangan tinggi perlu dilakukan pemeriksaan secara visual dan menggunakan alat ukur, secara visual dapat dilihat dari kondisi luar kabel yaitu pembungkus rusak atau pada ujung kabel terdapat karat, kondisi seperti ini dapat menyebabkan tahanan kontak menjadi tinggi.

22

Selain itu pemeriksaan hambatan kabel dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur multi tester. Tahanan kabel yang baik maksimal 25 k. C. Cara Kerja Sistem Pengapian Transistor Sistem pengapian yang dipakai pada mesin Toyota Kijang 5K menggunakan sistem pengapian Full transistor. Dimana pada sistem ini menggunakan signal generator sebagai pengganti cam (nok) dan breaker point (platina) yang ada pada sistem pengapian konvensional. 1. Signal Generator

Gambar 16. Signal generator (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Signal generator adalah sejenis generator AC yang berfungsi untuk menghidupkan power transistor di dalam igniter, yang nantinya transistor yang ada di dalam igniter itu digunakan untuk memutus arus primer ignition

23

coil. Signal generator terdiri dari magnet permanen yang memberi kemagnetan pada pick up coil. Pick up coil itu sendiri berfungsi untuk

membangkitkan arus bolak-balik (AC) sedangkan signal rotor menginduksi tegangan AC didalam pick up coil sesuai dengan saat pengapian. Signal rotor mempunyai magnet permanen sebanyak jumlah silinder (4 magnet untuk 4 silinder). 2. Prinsip Kerja Sistem Pengapian Transistor a. Mesin mati

Gambar 17. Sirkuit kerjasistem pengapian transistor saat mesin mati (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Posisi kunci kontak ON maka tegangan ke titik P berada di bawah tegangan basis yang diperlukan untuk mengaktifkan transistor melalui

24

tegangan R1 dan R2. Transistor akan tetap OFF sehingga tidak ada arus primer yang mengalir pada ignition coil. b. Mesin hidup (tegangan positif dihasilkan pada pick up coil)

Gambar 18. Sirkuit kerjasistem pengapian transistor saat mesin hidup (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Mesin dihidupkan, maka signal rotor pada distributor akan berputar, menghasilkan tegangan AC dalam pick up coil. Tegangan yang dihasilkan adalah positif, tegangan ini ditambahkan dengan tegangan dari baterai (yang dialirkan ke titik P) untuk menaikkan tegangan pada titik Q di atas tegangan kerja transistor, dan transistor ON. Arus primer mengalir dari collector ke emitor E.

25

c. Mesin berputar(tegangan negative dihasilkan pada pick up coil)

Gambar 19. Sirkuit kerja sistem pengapian transistor saat pick up coil menghasilkan tegangan positif (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Tegangan AC yang dihasilkan pada pick up coil adalah negatif. Tegangan ini ditambahkan pada tegangan titik P sehingga tegangan pada titik Q turun dibawah tegangan kerja transistor sehingga transistor OFF. Arus primer terputus dan tegangan tinggi diinduksikan pada kumparan sekunder. 3. Pengaturan Dwell Angle Dwell angle yang dimaksud disini adalah pengaturan lamanya pengaliran arus ke ignition coil sesuai dengan kecepatan putaran poros distributor secara elektronik, untuk 4 silinder adalah antara 46
0

580.

26

lamanya arus mengalir melalui kumparan primer biasanya menurun bila kecepatan mesin bertambah, dengan demikian tegangan induksi pada kumparan sekunder berkurang. Keadaan mesin pada posisi kecepatan rendah, dwell angle dikurangi untuk mencegah pengaliran arus primer berlebihan, dan ditambah bila putaran mesin bertambah untuk mencegah arus primer menurun.

Gambar 20. Grafik perbandingan induksi tegangan sekunder (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994) Pengaturan dwell angle dipengaruhi oleh circuit control atau pengaturan bentuk gelombang output (ini tergantung tipe igniter). Penambahan circuit dwell angle diberikan dalam igniter untuk menurunkan tegangan operasi power transistor dengan memanfaatkan kenaikan tegangan yang diinduksi dalam pick up coil yang terjadi karena kenaikan putaran mesin.

27

Power transistor ON lebih awal bila putaran mesin bertambah untuk menambah waktu ON dari power transistor. Tipe pengontrolan gelombang output dari pick up coil dirubah dengan menggunakan signal rotor yang bentuknya sedikit berbeda dengan rotor biasa. Untuk memperoleh perpanjangan variasi waktu sampai power transistor mencapai tegangan operasinya menurut putaran mesin. Pengontrolan signal rotor tipe ini menggunakan transistor ON lebih awal bila putaran mesin bertambah dan mengakibatkan periode power transistor ON bertambah(dwell angle bertambah).

Gambar 21. Grafik pengaturan sudut dwell. (Toyota Astra Motor.Training Manual Electrical Group, 1994)

28

D. Analisis dan Cara Mengatasi Gangguan pada Sistem Pengapian Sistem pengapian transistor sering mengalami kerusakan antara lain mesin sulit hidup, idle kasar, tenaga kurang dan knocking. Berikut ini beberapa masalah dan cara mengatasi sistem pengapian transistor pada Toyota Kijang 5K. 1. Mesin sulit hidup Mesin sulit hidup dapat diakibatkan karena pada sistem penyalaan tidak adanya tegangan ini bisa di akibatkan oleh: 1) Baterai lemah Kondisi baterai yang tidak baik dapat mengakibatkan tegangan pada sistem penyalaan menjadi kecil. Kerusakan baterai dapat diakibatkan oleh beberapa hal antara lain kebocoran pada kontak baterai, terminal baterai rusak, terminal baterai kotor dan jumlah elektrolit pada baterai yang kurang juga dapat mengakibatkan kerusakan pada baterai serta mengganggu sistem kelistrikan pada mesin. Cara mengatasi gangguan baterai lemah adalah melakukan pemeriksaan secara visual terhadap keadaan kontak baterai, apabila kontak baterai rusak maka baterai harus diganti dengan yang baru. Memeriksa elektrolit yaitu jumlah elektrolit dan berat jenis elektrolit pada baterai, apabila jumlah elektrolit kurang maka tambahkan dengan air suling dan periksa berat jenis elektrolit dengan menggunakan hydrometer. Berat jenis elektrolit yang baik yaitu 1,26-1,28.

29

Pemeriksaan pada terminal baterai dapat dilakukan dengan memeriksa keadaan terminal baterai dari kerusakan, membersihkan kerak atau kotoran yang terdapat pada terminal baterai dengan menggunakan air panas sampai bersih. 2) Sekering putus Sekering putus yang merupakan pengaman kelistrikan dapat putus dikarenakan adanya hubungan arus pendek atau tegangan yang berlebihan pada kabel. Cara mengatasi masalah tersebut, langkah pertama memeriksa kondisi kabel dari hubungan arus pendek, apabila kabel rusak maka kabel harus diganti. Apabila sekering dalam keadaan mati maka sekering harus diganti sesuai spesifikasi. 3) Longgarnya konektor dari kotoran Hubungan konektor dapat terganggu karena adanya kotoran dan getaran mesin sehingga konektor lama kelamaan akan menjadi longgar. Cara mengatasinya dapat dilakukan dengan melepas konektor dan memebersihkannya kemudian pasang kembali konektornya. 4) Kunci kontak dan rangkaian primer Memeriksa dari sumber tenaga dengan ohmmeter langkah pertama kunci kontak pada posisi ON hubungkan terminal (+) voltmeter ke terminal resistor dan terminal (-) ke ground,

30

tegangannya sekitar 12 volt. Apabila tidak ada sumber tenaga berarti salah satu dari kabel terdapat kerusakan maka kabel harus diganti. 2. Tenaga mesin kurang a) Pengapian kurang tepat Pada saat sistem pengapian kurang tepat maka kerja mesin akan tidak enak atau kurang baik. Pada timing terlalu dimajukan dapat menyebabkan knocking dan saat timing terlalu dimundurkan maka akan menyebabkan penurunan output juga bisa menyebabkan overheating pada mesin mobil. Cara mengatasinya dapat dilakukan dengan melakukan

pemeriksaan timming pengapian yaitu dengan melepas selang vakum subdiaphragma distributor, sumbatlah ujung selang. Pada saat putaran mesin idling 900 rpm pasang timing light, periksalah pengapian pada mesin. Cara penyetelan pengapian, kendorkan baut pengikat pada distributor, geser-geserlah distributor sampai pengapian benar-benar pas, kemudian kencangkan baut distributor kembali. b) Kabel tegangan tinggi Ukurlah kabel tegangan tinggi dengan menggunakan ohmmeter. Bila tahanannya lebih dari 25 kilo ohm gantilah kabel, karena kabel itu telah rusak. Kabel dengan ujung tahanannya berkarat maka tahanan

31

kontak akan naik turun terhadap tegangan sekunder sehingga akan mengganggu sistem pengapian. c) Kerusakan pada busi Kerusakan yang sering terjadi yaitu isolator retak, elektroda kotor atau aus, celah elektrodanya berlebihan sehingga tidak dapat memberikan bunga api yang baik, celah elektroda yang kecil menyebabkan busi bisa padam dengan sendirinya sehingga pembakaran menjadi kurang baik. Cara mengatasinya yaitu dengan cara membersihkan busi dengan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi, kerusakan ulir busi, kerusakan isolatifnya, bila terjadi kerusakan pada busi, busi harus diganti. Ukuran celah busi adalah 0,8 mm. d) Ignition advancer Apabila advancer tidak bekerja dengan baik maka busi menyala dengan tidak tepat atau tidak teratur sesuai kecepatan dari mesin dan beban mesin juga dapat terpengaruh. Kondisi seperti ini akan menyebabkan akselerasi tidak baik, atau menurunnya output mesin Cara mengatasinya, periksa governor advancer, memutar rotor dengan berlawanan arah jarum jam, melepas rotor dan lihatlah apakah rotor kembali berputar dengan arah jarum jam, periksa kondisi rotor tidak terlalu longgar. Pemeriksaan vakum advancer dapat dilakukan dengan melepas selang dan menyambung pompa vakum ke diaphragma. berikanlah

32

kevakuman dan lihat gerakan vacum advancer, bila vacum advancer tidak bekerja dengan baik maka harus diganti. e) Ignition coil rusak Periksa ignition coil secara visual terhadap kebocoran. Periksalah tahanan kumparan primer 1,3-1,6 ohm pada saat kondisi dingin dan sekunder 10,7-14,5 kilo ohm juga pada keadaan dingin.. Apabila ignition coil rusak maka harus diganti. 3. Mesin hidup tetapi pincang a) Busi dalam keadaan rusak Kerusakan yang sering terjadi pada busi yaitu isolator retak, elektroda kotor atau sudah aus, celah elektrodanya berlebihan tidak dapat memberikan bunga api yang baik, celah elektroda yang kecil busi bisa padam dengan sendirinya sehingga pembakaran menjadi kurang baik. Cara mengatasinya yaitu dengan cara membersihkan busi dengan amplas atau pembersih busi yang lain. Periksalah keausan elektroda busi, kerusakan ulir busi, kerusakan isolatornya, bila terjadi kerusakan pada busi, busi harus diganti. Ukuran celah busi adalah 0,7-0,8 mm.

b) Bagian distributor mengalami kerusakan Bagian distributor terdapat rotor dan penutup distributor yang membagi tegangan tinggi ke busi. Bila tutup distributor, center, contact piece, rotor atau bagian lain rusak, hangus, retak ataupun berkarat maka

33

sirkuit sekunder akan terjadi kebocoran selain itu kelembapan pada tutup distributor juga dapat mengakibatkan kebocoran sehingga tegangan pada sistem penyalaan kurang maksimal. Cara mengatasi bersihkan dulu komponen-komponen yang kotor apabila ada yang rusak maka harus diganti. c) Bagian ignition advancer Apabila advancer tidak bekerja dengan baik maka busi menyala dengan cepat atau tidak teratur sesuai kecepatan dari mesin dan beban mesin juga dapat mempengaruhi. Kondisi seperti ini yang menyebabkan akselerasi tidak baik, dan menyebabkan output mesin turun. Cara untuk mengatasinya yaitu dengan memeriksa governor advancer, memutar rotor dengan berlawanan arah jarum jam, melepaskan rotor dan lihatlah apakah rotor akan kembali memutar dengan arah jarum jam, periksa kondisi rotor tidak terlalu longgar. Pemeriksaan vacuum advancer dapat dilakukan dengan melepas selang dan menyambung

pompa diaphragma. Berikanlah kevakuman dan lihatlah gerakan vacuum advancer, bila vacuum advancer tidak bekerja dengan baik maka harus diganti. d) Ignition coil rusak Memeriksa kondisi ignition coil secara visual terhadap kebocoran. Periksalah tahanan kumparan primer 1,3-1,6 ohm pada saat kondisi dingin dan tahanan sekunder 10,7-14,5 kiloohm juga saat kondisi dingin dengan

34

menggunakan multi tester. Cara menggunakan multi tester pada jarum penunjuk posisikan pada nol (0) dan test load yang berwarna hitam dihubungkan ke negatif coil dan pada test lead yang berwarna merah dihubungkan ke positif coil apabila coil rusak maka coil harus diganti.

35

BAB III PENUTUP

A. Simpulan Setelah dibahas tentang sistem pengapian full-transistor pada mesin Toyota Kijang 5K maka dapat diambil kesimpulan yaitu: 1. Sistem pengapian full-transistor pada Toyota kijang 5K memungkinkan untuk mendapatkan kualitas pengapian yang baik, ini dimungkinkan karena kecepatan potong fluksi magnet yang terjadi pada pengapian full-transistor tidak terpengaruh oleh putaran mesin sehingga selalu didapatkan kualitas pengapian yang optimal pada setiap jenjang putaran. Hal tersebut tidak dimiliki pada pengapian konvensional. 2. Sistem pengapian pada motor bensin berfungsi menaikkan tegangan baterai dari 12 volt menjadi 10 000 volt atau lebih. 3. Kualitas daripada pengapian dipengaruhi oleh: banyaknya fluksi magnet (yang dibangkitkan oleh primer coil), kecepatan potong fluksi magnet (contact point atau contact point less) dan banyaknya konduktor penerima induksi (sekunder coil sebagai penerima induksi) 4. Sistem pengapian full-transistor sering mengalami kerusakan seperti, mesin sulit hidup, tenaga mesin kurang dan mesin dapat hidup tetapi pincang. .

36

B. Saran Sistem pengapian dapat bekerja dengan baik apabila komponenkomponen seperti baterai, ignition coil, governor advancer, kabel tegangan tinggi dan busi dalam keadan baik, maka periksalah komponen tersebut sebelum melaksanakan perjalanan jauh. Distributor merupakan salah satu elemen penting dari sistem pengapian karena berfungsi sebagai pembagi arus ke busi, maka periksalah selalu keadaan distributor khususnya pada rotor.

37