Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR Assalamualaikumm wr.

wb Alhamdulillah, kegiatan pengabdian yang berjudul Pendidikan kesehatan tentang pencegahan dan deteksi dini kanker serviks di warga desa Jenengan Sawit Boyolali telah selesai saya lakukan dan dapat saya laporkan. Seperti tertuang dalam tugas dosen adalah melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya adalah menjalankan Pengabdian kepada Masyarakat agar masyarakat dapat menikmati perkembangan ilmu yang ada di institusi pendidikandengan lebih cepat dan akurat karena langsung diberikan oleh para dosen dan para pakarnya. Kegiatan pengabdian ini merupakan perwujudan kami sebagai dosen dalam menjalankan tugas pokok dalam pengabdian masyarakat dan UMS jurusan keperawatan sebagai penyedia ilmu pengetahuan. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih kami sampaikan kepada: 1. Yth Arif widodo, A.Kep., Mkes. Selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan yang telah memberikan ijin untuk melakukan pengabdian masyarakat. 2. Yth Sri hestiningsih selaku Ibu lurah desa Jenengan Sawit Boyolali yang telah bersedia mengumpulkan ibu kader kesehatan dan menyediakan tempat untuk penyuluhan kesehatan. Saya menyadari secara penuh bahwa laporan ini masih banyak kekurangan dikarenakan kekurangan pengalamn saya. Segala kritik dan saran untuk perbaikan dan penyempurnaan penulisan laporan dimasa yang akan datang sangat kami harapkan.

Wassalamualaikum wr.wb. Surakarata,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI ............................................................................................ ....... BAB I BAB II BAB III BABIV BAB V BAB VI BABVII Judul ............................................................................................. Pendahuluan ................................................................................. Perumusan Masalah ..................................................................... Kerangka Pemecahan Masalah .................................................... Tinjauan Pustaka .......................................................................... Tujuan Kegiatan .......................................................................... Manfaat Kegiatan .........................................................................

i ii 1 1 2 3 3 6 7 7 7 8 8

BAB VIII Khalayak Kegiatan ....................................................................... BAB IX BAB X BAB XI Metode Penenrapan Iptek ............................................................ Hasil dan Pembahasan ................................................................. Simpulan dan Saran .....................................................................

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1. 2. 3. Surat tugas Daftar Hadir Leaflet

ii

BAB I: Judul Pendidikan kesehatan tentang pencegahan dan deteksi dini kanker servik Di warga desa Jenengan Sawit Boyolali.

BAB II: Pendahuluan Kanker serviks merupakan penyakit ganas yang terjadi pada organ reproduksi wanita yaitu pada serviks uterus yang terletak antara rahim dengan ruang senggama( Dianda, 2008). Kanker serviks merupakan penyebab kematian utama kanker pada wanita di negara-negara sedang berkembang. Setiap tahun diperkirakan terdapat 500.000 kasus kanker serviks baru di seluruh dunia, 77 % di antaranya ada di negara-negara sedang berkembang (Dianda. R,2008). Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2007) Prevalensi kejadian kanker sebesar 4,3 per 1000 penduduk. dengan kanker serviks menempati urutan pertama di antara kanker pada wanita. Data yang dikumpulkan dari 13 laboratorium patologi-anatomi di Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi kanker serviks tertinggi di antara kanker yang ada di Indonesia (Sjamsuddin, 2001). Menurut Titik kuntari (2011) wakil dekan FKUI Sekitar 270.000 perempuan di Indonesia meninggal dunia setiap tahun akibat kanker leher rahim atau serviks. Dimana menurut beliau kanker serviks telah menjadi pembunuh nomor satu dari keseluruhan kanker. Dari data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2008) terdapat kasus penyakit kanker serviks 8.568 kasus (31,59%) dari kasus kanker lainnya, Prevalensi kanker leher rahim di Provinsi Jawa Tengah dari tahun ke tahun semakin meningkat, dari 0,02% pada tahun 2006, menjadi 0,03% pada tahun 2007, dan pada tahun 2008 masih tetap 0,03%. Studi epidemiologik menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko terjadinya kanker serviks meliputi hubungan seksual pada usia dini(<20 tahun), bergantiganti pasangan seksual, merokok, trauma kronis pada serviks uteri dan higiene genitalia. Lebih dari separuh penderita kanker serviks berada dalam stadium lanjut

yang memerlukan fasilitas khusus untuk pengobatan seperti peralatan radioterapi yang hanya tersedia di beberapa kota besar saja. Di samping mahal, pengobatan terhadap kanker stadium lanjut memberikan hasil yang tidak memuaskan dengan harapan hidup kurang lebih 5 tahun (Wilson et al, 2005). Juga kasus yang semakin meningkat akibat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kanker serviks, dimana sebagian besar pasien datang dengan stadium lanjut, karena pada stadium dini kanker serviks tidak menunjukkan gejala dan tanda rasa sakit. Titik kuntari (2011) juga mengatakan, berdasarkan survei yang melibatkan 5.423 perempuan di Asia dan dilakukan pada sembilan negara termasuk Indonesia, menunjukkan hanya dua persen perempuan yang mengetahui infeksi human papilloma virus (HPV) merupakan penyebab kanker serviks.Sedangkan pasien yang berpengetahuan namun mereka takut dengan tingginya pembiayaan operasi, pengobatan akibat yang ditimbulkan oleh kanker serviks. Survei lapangan pada warga desa Jenengan Sawit Boyolali menunjukkan sebagian besar belum mengerti tentang kanker serviks dan cara mendeteksi dini. Bu lurah juga mengatakan didesa jenengan belum pernah diadakan penyuluhan tentang kanker serviks. Melihat dari segi harapan hidup, lamanya penderitaan, serta tingginya biaya pengobatan, sudah sepatutnya apabila kita memberikan perhatian yang lebih besar mengenai latar belakang dari penyakit yang sudah terlalu banyak meminta korban itu, dan segala aspek yang berkaitan dengan penyakit tersebut serta upayaupaya promotif dapat dilakukan dengan pemberian penyuluhan pendidikan kesehatan tentang pencegahan dan deteksi dini kanker serviks dan upaya preventif dengan warga dapat melakukan deteksi dini kanker serviks ditempat pelayanan kesehatan terdekat.

BAB III. Perumusan Masalah Berdasarkan analisis diatas maka cara yang tepat untuk menurunkan angka mortalitas dan morbiditas wanita akibat kanker serviks dapat dilakukan dengan cara melakukan pencegahan dan deteksi dini kanker serviks. Ibu-ibu kader

kesehatan merupakan adalah tenaga sukarela yang dipilih oleh dari masyarakat dan bertugas mengembangkan kesehatan masyarakat sehingga tepat untuk kita jadikan perantara dalam pendekatan langsung ke masyarakat dalam pemberian penyuluhan tentang masalah tersebut.

BAB IV. Kerangka Pemecahan Masalah Berdasarkan perumusan masalah, maka dapat dibuat kerangka pemecahan masalah sebagai berikut dalam gambar:

1. Pasangan Usia subur(PUS) 2. Hadir dalam pertemuan koordinasi tugas kader kesehatan 3. Suka mendapat informasi

Penyuluhan tentang pencegahan dan deteksi dini kanker serviks

1. Pengetahuan tentang kanker serviks bertambah 2. Mencoba deteksi dini kanker

Angka kesakitan dan angka kematian menjadi turun

BAB V Tinjauan Pustaka Kanker serviks merupakan penyakit akibat tumor ganas dimana sel kehilangan kemampuannya dalam mengendalikan kecepatan pembelahan dan pertumbuhannya pada mulut rahim (Sawono, 2004). Sel-sel ini mengalami perubahan kearah displasia atau mengarah keganasan. Penyebab langsung kanker serviks belum diketahui. Faktor ekstrinsik yang diduga faktor penting terjadinya kanker serviks menurut penelitian epidemiologi di seluruh dunia menegaskan adalah infeksi virus human papilloma virus (HPV (Wilson et al, 2005). Kanker serviks timbul disambungan skuamokolumner serviks. Faktor risiko yang berhubungan ialah perilaku seksual berupa mitra seks multipel, paritas, merokok, nutrisi, keputihan yang dibiarkan terus menerus tanpa diobati, pemakaian pembalut yang mengandung bahan dioksin, orang yang terkena herpes, paparan diethylstilbestrol (DES) yang diberikan saat kehamilan

untuk mencegah keguguran juga meningkatkat risiko kanker serviks (Cancer.Net, 2010) Proses terjadinya kanker serviks sangat erat hubungannya dengan proses metaplasia. Masuknya mutagen atau bahan bahan yang dapat mengubah perangai sel secara genetik pada saat fase aktif metaplasia dapat menimbulkan sel-sel yang berpotensi ganas. Perubahan ini biasanya terjadi di sambungan skuamosakolumnar (SSK) atau daerah transformasi. Mutagen tersebut berasal dari agenagen yang ditularkan secara hubungan seksual dan diduga bahwa human papilloma virus (HPV) memegang peranan penting. Sel yang mengalami mutasi tersebut dapat berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia. Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat dan karsinoma in-situ dan kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia dan karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkat prakanker. Displasia mencakup pengertian berbagai gangguan maturasi epitel skuamosa yang secara sitologik dan histologik berbeda dari epitel normal, tetapi tidak memenuhi persyaratan sel karsinoma. Perbedaan derajat displasia didasarkan atas tebal epitel yang mengalami kelainan dan berat ringannya kelainan pada sel. Sedangkan karsinoma in-situ adalah gangguan maturasi epitel skuamosa yang menyerupai karsinoma invasif tetapi membrana basalis masih utuh. Klasifikasi terbaru menggunakan istilah Neoplasia Intraepitel Serviks (NIS) untuk kedua bentuk displasia dan karsinomain-situ. NIS terdiri dari : 1) NIS 1, untuk displasia ringan;2) NIS 2, untuk displasia sedang; 3) NIS 3, untuk displasia berat dan karsinoma in-situ.Patogenesis NIS dapat dianggap sebagai suatu spekrum penyakit yang dimulai dari displasia ringan (NIS 1), displasia sedang (NIS 2), displasia berat dan karsinoma in-situ (NIS 3) untuk kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Beberapa peneliti menemukan bahwa 30-35% NIS mengalami regresi, yang terbanyak berasal dari NIS 1/NIS 2. Karena tidak dapat ditentukan lesi mana yang akan berkembang menjadi progesif dan mana yang tidak, maka semua tingkat NIS dianggap potensial menjadi ganas sehingga harus ditatalaksanai sebagaimana mestinya(Sjamsuddin, 2001).

Berbagai upaya penelitian telah banyak menghasilkan pengetahuan tentang penyakit kanker. Dewasa ini WHO menyatakan bahwa sepertiga dari seluruh kanker sebenarnya dapat dicegah, sepertiga dapat disembuhkan dan pada sepertiga lagi sisanya pasien dapat dibebaskan dari rasa nyeri jika dapat diberikan obat yang tersedia untuk itu (Sjamsuddin, 2001). Mencegah timbulnya kanker merupakan satu upaya penting dalam kegiatan penanggulangan kanker karena dapat berdampak positif terhadap penggalangan sumber daya manusia yang sehat dan produktif serta perbaikan keadaan sosial ekonominya. Pencegahan kanker ini dapat bersifat primer atau sekunder. Pencegahan primer merujuk pada kegiatan/langkah yang dapat dilakukan oleh setiap orang untuk menghindarkan diri faktor-faktor yang dapat menyebabkan tumbuhnya kanker seperti menghindari perilaku seksual berupa mitra seks, berhubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom akan mengurangi risiko infeksi HPV, menunda hubungan seksual pertama sampai akhir remaja, menghilangkan kebiasaan merokok dll. Sedangkan pencegahan sekunder merupakan penerapannya pada

pengidentifikasian kelompok populasi berisiko tinggi terhadap kanker, skrining populasi tertentu, deteksi dini kanker pada individu ex: tes pap, IVA. Masyarakat awam dan masyarakat profesi kedua-duanya terlibat dalam kegiatan pencegahan dini. Hampir sebagian besar NIS tidak disertai tanda dan gejala sampai pada stadium lanjut namun menurut Cancer. Net (2010) ada tanda gejala yang terlihat yaitu adanya bercak darah, perdarahan menstruasi yang lebih lama dari biasanya, perdarahan setelah hubungan seksual, nyeri selama hubungan seksual, perdarahan setelah menopause dan timblna keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau. Sebaiknya pemeriksaan dini dilakukan tanpa melihat tanda gejala dengan kasat mata yaitu dengan pemeriksaan sitologi yang dikenal sebagai tes Papanicolaou (tes Pap) sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat ketelitiannya melebihi 90% bila dilakukan dengan baik. Sitodiagnosis didasarkan pada kenyataan, bahwa sel-sel permukaan secara terus menerus dilepaskan oleh epitel dari permukaan traktus genitalis. Sel-sel yang dieksfoliasi

atau dikerok dari permukaan epitel serviks merupakan mikrobiopsi yang memungkinkan kita mempelajari proses dalam keadaan sehat. Dinegara maju angka mortalitas akibat kanker seviks menurun drastis dengan adanya tes pap seperti di negara amerika serikat angka mortalitas menurun 70% dari tahun 1950-1970 dan 40 % dari tahun 1979-1995 (Wilson et al, 2005). Ini menunjukkan perlunya kita yang hidup di negara berkembang umumnya dan khususnya Indonesia, mengingat di Indonesia kanker serviks masih menduduki urutan yang teratas, perlu dilakukan upaya tes Pap yang lebih meluas keseluruh penjuru, untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat kanker serviks. Skrining sitologi tes pap relatif murah, tidak sakit, cukup akurat dan dengan bantuan kolposkopi pada HPV menunjukkan positif tingkat tinggi juga dapat diobati dengan cara-cara konservatif (Kusuma, 2001) Di Indonesia, meskipun tes pap telah sukses mendeteksi sejumlah besar lesi prakanker, namun sebagian program yang dijalankan belum dapat dikatakan berhasil karena jumlah penduduk yang sangat banyak. maka selain test pap juga bisa dilakukan dengan test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Test IVA menyerupai tes pap smear. Pemeriksaan dilakukan dengan memoles mulut rahim menggunakan asam cuka, kemudian dilihat apakah ada kelainan seperti perubahan warna yang berwarna pink berunah menjadi putih. Dikatakan IVA positif jika ditemukan adanya area berwarna putih disertai dengan permukaan tinggi dengan batas yang jelas di sekitar zona peralihan di leher rahim. Perubahan warna seperti ini bisa dilihat dengan kasat mata. Tes IVA lebih praktis, murah dan mudah dilakukan di daerah terpencil yang jauh dari laboratorium dapat dijangkau karena keterbatasan ahli patologi/sitologi dan teknisi sitologi. Test IVA dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan seperti bidan, perawat yang terlatih. Sehingga dengan adanya test IVA ini keengganan wanita diperiksa karena malu menjadi solusi juga.

BAB VI. Tujuan kegiatan Berdasarkan rumusan masalah, maka kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan bagaimana cara melakukan

pencegahan dan deteksi dini kanker serviks pada wanita usia subur untuk mampu melakukan deteksi dini dengan pemeriksaan sitologi (tes pap). Diharapkan dengan kegiatan penyuluhan ini mampu menurunkan keparahan pasien yang menderita kanker serviks untuk segera datang ke Rumah Sakit

BAB VII. Manfaat Kegiatan Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini memberikan masyarakat diantaranya: 1. Meberikan informasi pengetahuan tentang bagaimana cara melakukan pencegahan dan deteksi dini kanker. 2. Mempercepat penanganan apabila dalam upaya melakukan deteksi dini ditemukan pembelahan yang abnormal, sehingga segera ditangani dan mengurangi stadium lanjut. Karena banyak kalangan wanita usia subur yang belum memahami deteksi dini dalam pencegahan kanker serviks. 3. Bersama-sama masyarakat ikut membantu menurunkan angka kejadian morbiditas dan angka mortalitas yang sampai saat ini kanker serviks banyak manfaat bagi

merupakan pembunuh wanita no1 di indonesia.

BAB VIII. Khalayak Kegiatan Sasaran utama kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah: Warga Jenengan Sawit Boyolali yang berjumlah 70 orang. Sedangkan sasaran perantara yang strategis adalah ibu-ibu kader kesehatan yang berjumlah 18 orang.

BAB IX. Metode Penerapan Iptek Metode yang dilakukan adalah melakukan pendekatan ibu lurah dan ibu-ibu kader kesehatan untuk dapat mengikuti penyuluhan kemudian hasil penyuluhan dapat disampaikan kepada seluruh masyarakat (Ibu-ibu) yang ada di desa Jenengan pada setiap ada kegiatan diantaranya: arisan, pengajian dan hajatan. Disaat-saat itu para ibu-ibu dapat menceritakan hal-hal yang positif bagaimana cara deteksi dini dalam pencegahan kanker serviks. Kami juga menyediakan konsultasi secara langsung maupun tidak langsung dengan cara : hadir ke fakultas,

telpon, SMS, e-mail setiap saat apabila ibu-ibu mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi tentang kanker serviks.

BAB X. Hasil dan Pembahasan Hasil penyuluhan kepada kepala kader didesa jenengan, seluruh para kader tampak sangat antusias dengan respon timbal balik yang sangat baik, sebagian besar bertanya mengenai kanker serviks. Dan ibu lurah juga mengatakan: sangat senang dengan ada penyampaian informasi mengenai deteksi dini dalam pencegahan kanker serviks ini, karena 3 bulan sebelum penyuluhan ada warga desa Jenengan yang meninggal akibat kanker serviks yang sudah mengalami stadium lanjut, sehingga dengan adanya peyuluhan ini merupakan informasi yang dapat kami sebar luaskan di desa Jenengan ini agar tidak terjadi kejadian yang berulang.

BAB XI. Simpulan dan Saran Simpulan: 1. Penyuluhan kesehatan langsung turun ke masyarakat sangat efektif hasilnya daripada memberikan informasi melalui media elektronik, karena wanita lebih suka melihat, mendengar dan bergabung secara langsung. 2. Masyarakat sangat membutuhkan informasi yang sifatnya promotif, perventif, kuratif, dan rehabilitatif 3. Penyuluhan yang berjumlah 18 orang sangat efektif sesuai target yang ingin dicapai. Saran: 1. Pengabdian masyarakat langsung diutamakan kepada masyarakat yang memerlukan sesuai hasil analisis situasi yang ada. 2. Dilakukan kepada seluruh lapisan masyarakat yang ada di Indonesia sampai pelosok desa baik dengan perpanjangan tangan tenaga kesehatan maupun para intelektual anak bangsa (Guru atau dosen)

3.

Penyuluhan dapat dilakukan setiap saat ada pertemuan warga masyarakat baik para laki-laki maupun perempuan mempunyai hak yang sama.

10

DAFTAR PUSTAKA

American societ of clinical oncology. (2010) Cervikal cancer. http://cancer.net/ Dianda. R (2008). Mengenal seluk beluk kanker. Penerbit katahati: yogyakarta Kuntari, T (2011) Kanker Serviks. Disadur tanggal 15 agustus 211. http://medicine.uii.ac.id Kusuma. F et al (2001) Jurnal Penatalaksanaan Tes Pap Abnormal. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta Masjoer, A et al. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3:Media Aesculapius Fakultas kedokteran universitas Indonesia:Jakarta. Riset kesehatan dasar (2007) Prevalensi kejadian kanker. Di sadur tanggal 15 agustus 2011. http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id Sarwono, P. 2002. Ilmu kandungan. Penerbit Gramedia:Jakarta Sjamsuddin S, Prihartono J, Nuranna L, Mulyanto W, Endardjo S, Aziz MF, Cornain S and Luwisa MS. Aided visual inspection : preliminary results of the Indonesian Gynescopy Assessment. Cervical Cancer Meeting, Montreal, Canada, 24 September 1994. Sjamsuddin S, Prihartono(2001) Jurnal Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta Wilson.L et al (2005) PATOFISIOLOGI konsep klinis proses-proses penyakit. Penerbit buku kedokteran EGC: Jakarta

Lampiran 1

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


JL. A. Yani Pabelan Kartasura Tromol Pos 1, Telp 0271-717417 Fax.715448 Surakarta 57102

SURAT TUGAS MELAKSANAKAN PENGABDIAN MASYARAKAT Nomor: Bismillahirrohmanirrohim Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan ini memeberikan tugas kepada: Nama : Sulastri, SKp.,M.Kes NIK : 595 Jabatan : Staf Dosen Keperawatan FIK UMS Untuk melaksanakan tugas : Tri Dharma Perguruan Tinggi berupa Pengabdian Masyarakat berupa penyuluhan dengan tema Pendidikan Kesehatan tentang Ca Cerviks Bentuk: Memberi latihan/ Penataran/ Pelayanan/ Penyuluhan/ Penelitian* Waktu Pelaksanaan : 21 februari 2011 pukul 14.00 Tempat : Desa Jenengan Sawit Boyolali Bidang :C Harap dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan menyampaikan laporan setelah selesai melaksanakan tugas. Surakarta, 1 Januari 2011 Yang memberi tugas

Yang diberi tugas

Arif Widodo,A.Kep.,Mkes

Sulastri, SKp., M.Kes

Telah dilaksanakan sebagaimana mestinya Mengetahui

Sri Hestiningsih

Lampiran 2

PRESENSI: PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI KANKER SERVIK DI DESA JENENGAN SAWIT BOYOLALI No NAMA PESERTA UMUR ALAMAT TANDA TANGAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Sawit, Boyolali, 21 Februari 2011

SULASTRI, SKp.,M.Kes

Lampiran 3

PENDAHULUAN Kanker serviks merupakan penyebab kematian utama kanker pada wanita di negaranegara sedang berkembang. Setiap tahun

PENGERTIAN Kanker serviks merupakan penyakit ganas yang terjadi pada organ reproduksi wanita yaitu pada serviks uterus yang terletak antara rahim dengan ruang senggama (Dianda, 2008)

Faktor risiko yang berhubungan ialah 1. perilaku seksual berupa mitra seks multipel. 2. keputihan yang dibiarkan terus menerus tanpa diobati. 3. pemakaian pembalut yang mengandung bahan dioksin. 4. orang yang terkena herpes, paparan

diperkirakan terdapat 500.000 kasus kanker serviks baru di seluruh dunia, 77 % di antaranya ada di negara-negara sedang berkembang. Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2007) Prevalensi kejadian kanker sebesar 4,3 per 1000 penduduk. dengan kanker serviks menempati urutan pertama di antara kanker pada wanita. Data yang dikumpulkan dari 13 laboratorium patologi-anatomi di

diethylstilbestrol (DES) yang diberikan saat kehamilan untuk mencegah keguguran juga meningkatkaN risiko kanker serviks

(Cancer.Net, 2010) 5. paritas. 6. merokok. 7. nutrisi. TANDA GEJALA serviks belum Hampir sebagian besar kanker serviks tidak disertai tanda dan gejala sampai pada stadium lanjut namun menurut Cancer. Net (2010) ada tanda gejala yang terlihat yaitu 1. Adanya bercak darah, 2. Perdarahan menstruasi yang lebih lama dari biasanya,

Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi kanker serviks tertinggi di antara kanker yang ada di Indonesia (Sjamsuddin, 2001). Menurut Titik kuntari (2011) wakil dekan FKUI Sekitar 270.000 perempuan di Indonesia meninggal dunia setiap tahun akibat kanker leher rahim atau serviks. Dimana menurut beliau kanker serviks telah menjadi PENYEBAB Penyebab langsung kanker diketahui. Faktor ekstrinsik yang diduga faktor penting terjadinya kanker serviks menurut penelitian menegaskan epidemiologi adalah di seluruh virus dunia human infeksi

pembunuh nomor satu dari keseluruhan kanker.

papilloma virus (HPV (Wilson et al, 2005).

3. Perdarahan setelah hubungan seksual, 4. Nyeri selama hubungan seksual, 5. Perdarahan setelah menopause dan 6. Tmbulnya keputihan yang bercampur dengan darah dan berbau.

menyebabkan terdapat penanganan

kanker dini

serviks.

Bila

perubahan dapat

signifikan, mencegah

kanker serviks.

Pencegahan Dan Deteksi Dini Kanker Serviks

PENCEGAHAN 1. Pencegahan priemer a. b. menghindari perilaku seksual berupa mitra seks, berhubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom akan mengurangi risiko infeksi HPV, c. d. 2. menunda hubungan seksual pertama sampai akhir remaja, menghilangkan kebiasaan merokok dll. b. IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Test IVA menyerupai tes pap smear. Pemeriksaan Pencegahan sekunder a. Tes Papanicolaou smear Pap smear merupakan skrining untuk mendeteksi perubahan sel-sel leher rahim (serviks) yang dapat ini dilakukan dengan memoles mulut rahim menggunakan asam cuka. Dikatakan IVA positif jika ditemukan adanya area berwarna putih disertai dengan permukaan tinggi dengan batas yang jelas di sekitar zona peralihan di leher rahim
Mstrz_21@yahoo.com

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta 2011