Anda di halaman 1dari 11

Bab III : Peralatan dan Tata Susunan Keselamatan Jiwa

SEKSI II-KAPAL PENUMPANG (Persyaratan tambahan)


Peraturan 20 Kendaraan penolong dan perahu penyelamat
1 Kendaraan Penolong

1.1 Kapal-kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran Internasional bukan pelayaran Internasional jarak dekat harus membawa : .1 Sekoci-sekoci penolong yang ketentuannya memenuhi peraturan 42, 43 atau 44 yang mana pada tiap sisinya dengan jumlah keseluruhan kapasitasnya sedemikian rupa sehingga menampung 50% jumlah semua orang di atas kapal. Badan Pemerintah boleh mengizinkan penggantian sekoci penolong dengan rakit penolong yang kapasitasnya setara dengan catatan untuk setiap sisi tidak pernah kurang dari jumlah sekoci penolong.pada setiap sisi yang menampung tidak kurang 37,5% dari jumlah orang yang ada diatas kapal. Rakit penolong harus memenuhi persyaratan Peraturan 39 atau 40 dan harus dilayani oleh alat peluncur yang didistribusi secara merata ke dua sisi kapal; dan Sebagai tambahan, rakit-rakit penolong yang memenuhi Peraturan 39 atau 40 dengan jumlah kapasitas yang cukup untuk menampung 25% dari jumlah semua orang diatas kapal. Rakitrakit penolong tersebut dapat dilayani setidaknya satu alat peluncur pada setiap sisi yang memenuhi ketentuan pada paragraf 1.1.1 atau perlengkapan setara yang disetujui untuk digunakan pada kedua sisinya. Namun penyimpangannya tidak perlu memenuhi ketentuan regulasi 13.5.

.2

1.2 Kapal-kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran Internasional jarak dekat dan memenuhi standar khusus subdivisi yang ditentukan dalam Peraturan II - 1/6.5 harus membawa : .1 Sekoci penolong yang memenuhi peraturan 42, 43 atau 43 yang terbagi rata, sejauh memungkinkan pada tiap sisi-sisi kapal dengan jumlah keseluruhan kapasitas sedemikian sehingga menampung 30% jumlah semua orang diatas kapal dan rakitrakit penolong yang memenuhi ketentuan peraturan 39 atau 40 dengan jumlah kapasitas total bersama dengan kapasitaskapasitas sekoci penolong, rakit penolong akan menampung keseluruhan jumlah personil di atas kapal. Rakit penolong harus dilayani peralatan peluncuran yang didistribusi secara merata pada setiap sisi kapal; dan 102

Bab III : Peralatan dan Tata Susunan Keselamatan Jiwa .2 Sebagai tambahan, rakit-rakit penolong yang memenuhi peraturan-peraturan 39 atau 40 dengan jumlah kapasitas yang cukup untuk menampung 25% dari jumlah semua orang diatas kapal. Rakit penolong tersebut harus dilayani oleh paling sedikit satu alat peluncur pada setiap sisi kapal yang harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam paragraf 1.2.1 atau peralatan setara yang disetujui yang mampu untuk digunakan pada kedua sisi. Akan tetapi, penempatan rakit penolong tersebut tidak harus memenuhi persyaratan peraturan 13.5.

1.3 Kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran International jarak dekat dan tidak memenuhi standart khusus tentang sub divisi yang tercantum pada peraturan II-1/6.5, harus membawa sekoci penolong yang ketentuannya memenuhi paragraf 1.1. 1.4 Seluruh kendaraan penolong yang diperlukan untuk meninggalkan kapal bagi semua orang di atas kapal harus dapat diluncurkan bersama dalam waktu 30 menit sejak sinyal untuk meninggalkan kapal dibunyikan. 1.5 Sebagai pengganti untuk memenuhi persyaratan paragraf 1.1 ; 1.2 ; atau 1.3 kapal penumpang dengan tonase kurang dari 500 dimana jumlah penumpang dikapal kurang dari 200, boleh memenuhi hal berikut : .1 Harus diletakkan pada setiap sisi kapal, rakit penolong yang memenuhi persyaratan peraturan 39 dan 40, jumlah kapasitas totalnya mampu untuk menampung jumlah semua orang kapal. Kecuali apabila rakit penolong yang diperlukan sesuai paragraf 1.5.1 dapat dipindahkan peluncurannya pada sisi lain di kapal, selain itu harus tersedia rakit penolong dengan kapsitas sedemikian rupa sehingga pada setiap sisinya mampu menampung 150% jumlah orang diatas kapal.
Klarifikasi ABisa diluncurkan pada salah satu sisi kapal@ dan @siap dipindahkanA harus diartikan APenempatan pada posisi tertentu dengan mudah dipindahkan dari sisi ke sisi kapal yang lain pada geladak yang terbuka@.

.2

.3

Jika perahu penyelamat yang diperlukan sesuai paragraf 2.2, adalah juga merupakan sekoci penolong yang memenuhi persyaratan peraturan 42, 43 atau 44, maka harus diperhitungkan juga dalam berlakunya total yang dipersyaratkan pada paragraf 1.5.1 dengan catatan jumlah keseluruhan yang ada pada salah satu sisi kapal paling sedikit 150% dari jumlah orang diatas kapal. seluruh jumlah orang kapal pada keadaan tertentu dimana perahu penyelamat hilang atau rusak tidak terawat, maka harus 103

.4

Bagian B

Peraturan 24 tersedia perahu penyelamat yang mencukupi pada salah satu sisi kapal yang mampu menampung.

Setiap rakit penolong yang bisa diluncurkan pada salah satu sisi kapal, atau yang dapat dipindahkan dengan mudah dari satu sisi ke sisi kapal yang lain, adalah Asiap untuk dipakai@ dalam kaitan dengan peraturan tersebut di atas. Klarifikasi

Perahu Penyelamat

2.1 Kapal penumpang dengan tonase kotor 500 atau lebih harus membawa paling sedikit satu perahu penyelamat yang memenuhi ketentuan peraturan 47 pada salah satu sisi kapal. 2.2 Kapal penumpang dengan tonase kotor kurang dari 500 harus membawa paling sedikit satu perahu penyelamat yang memenuhi ketentuan peraturan 47. 2.3 Sekoci penolong dapat diterima sebagai perahu penyelamat dengan catatan harus memenuhi juga.
Klarifikasi Untuk persetujuan, suatu sekoci penolong tertutup sebagai suatu perahu penyelamat, harus memiliki sifat-sifat yang memungkinkan untuk memenuhi persyaratan sekoci perahu penyelamat termasuk persyaratan sebagaimana ditentukan dalam peraturan III/16.4 dan III 48.2.8

Komandan dari rakit penolong

3.1 Jumlah dari sekoci penolong dan perahu penyelamat yang dibawa di kapal penumpang harus menjamin bahwa dalam pelaksanaan meninggalkan kapal bagi seluruh orang di kapal, tidak lebih dari 6 rakit penolong membutuhkan kepemimpinan sebuah sekoci penolong atau perahu penyelamat. 3.2 Jumlah dari sekoci-sekoci penolong dan perahu penyelamat yang dibawa oleh kapal penumpang dalam pelayaran International jarak dekat dan sesuai dengan standar khusus sub divisi sebagaimana ditentukan dalam II-1/6.5 harus menjamin bahwa dalam peninggalan kapal seluruh jumlah orang diatas kapal tidak lebih dari 9 rakit-rakit penolong membutuhkan kepemimpinan dari salah satu diantara sekoci penolong atau perahu penyelamat. Peraturan 21 Alat penolong masing-masing personil 1 1.1 Pelampung-pelampung penolong Suatu kapal penumpang harus membawa alat-alat pelampung 104

Bab III : Peralatan dan Tata Susunan Keselamatan Jiwa penolong yang jumlahnya sesuai dengan persyaratan pada peraturan 7.1 dan 31 yang tertera dalam tabel berikut,

Panjang kapal dalam meter dibawah 60 60 sampai dibawah 120 120 sampai dibawah 180 180 sampai dibawah 240 240 atau lebih

Jumlah minimum pelampung 8 12 18 24 30

1.2 Menyimpang dari peraturan 7.1.3, kapal penumpang yang panjangnya kurang dari 60 m harus membawa tidak boleh kurang dari 6 pelampung yang dilengkapi dengan lampu yang dapat menyala sendiri. 2 Baju penolong

Sebagai tambahan pada baju penolong yang disyaratkan oleh peraturan 7.2, setiap kapal penumpang harus membawa baju penolong tidak boleh kurang dari 5% dari seluruh jumlah orang diatas kapal. Baju penolong ini harus disimpan ditempat yang terlihat dengan jelas di geladak kapal dan tempat berkumpul. 3 Lampu baju penolong

3.1 Paragraf ini berlaku untuk seluruh kapal-kapal penumpang.Khusus kapal penumpang yang dibangun sebelum 1 Juli 1986, persyaratan pada paragraf ini harus diberlakukan sejak 1 Juli 1991. 3.2 Pada kapal penumpang yang digunakan dalam pelayaran Internasional, yang bukan pelayaran Internasional jarak dekat, masingmasing baju penolong harus dilengkapi lampu yang memenuhi ketentuan regulasi 32.3. 4 Baju tenggelam dan baju hangat

4.1 Paragraf ini berlaku untuk seluruh kapal penumpang. Terhadap kapal penumpang yang dibangun sebelum 1 Juli 1986, persyaratan paragraf ini berlaku sejak 1Juli 1991. 4.2 Kapal penumpang harus membawa untuk tiap sekoci penolong setidaknya 3 baju untuk tenggelam yang memenuhi persyaratan peraturan 33 dan tambahan, sebuah baju hangat yang memenuhi persyaratan 34 105

Bagian B

Peraturan 24

untuk tiap orang yang diangkut dalam sekoci penolong yang tidak dilengkapi dengan baju tenggelam.Baju tenggelam dan baju hangat ini tidak perlu dibawa : .1 .2 Untuk orang yang dimuat dalam sekoci penolong yang tertutup keseluruhan atau tertutup sebagian; atau Bila kapal selalu berlayar di daerah beriklim hangat dimana menurut pendapat Badan Pemerintah, pemakaian baju hangat tidak diperlukan.

4.3 Ketentuan paragraf 4.2.1 juga dberlaku untuk sekoci penolong yang tertutup sebagian atau keseluruhannya yang tidak memenuhi ketentuan dari peraturan 42; 43; atau 44 dengan catatan mereka berada di kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1986. Peraturan 22 Tata susunan embarkasi kendaraan penolong dan perahu penyelamat. 1 Pada kapal penumpang, tata susunan kendaraan penolong harus didesain agar : .1 Seluruh sekoci penolong yang diturunkan dan diluncurkan dengan cara salah satu langsung dari penempatannya atau dari geladak embarkasi tidak pernah dilakukan untuk keduanya. .2 Kendaran penolong yang diturunkan dengan dewi-dewi dan diluncurkan dari suatu posisi yang berdekatan dengan penempatannya atau dari posisi yang sesuai dengan perautuan 13.5.

2 Tata susunan perahu penyelamat harus sedemikian rupa sehingga dapat diturunkan atau diluncurkan langsung dari tempat posisi penyimpanan dengan jumlah orang yang ditentukan untuk dikelompokkan pada keadaan penyelamat tersebut di kapal. Menyimpang dari persyaratan peragraf 1.1. bila perahu penyelamat adalah juga sekoci penolong dan sekoci penolong yang lain diturunkan atau diluncurkan dari geladak embarkasi, tata susunannya harus sedemikian rupa sehingga perahu penyelamat juga dapat diturunkan atau diluncurkan dari geladak embarkasi. Peraturan 23 Penempatan Rakit Penolong Pada kapal penumpang, tiap rakit penolong harus ditempatkan bersama dengan tali pengikatnya diikat secara permanen ke kapal dengan suatu tata susunan penyimpanan bebas yang memenuhi persyaratan peraturan 38.6 sehingga, sejauh memungkinkan, alat pengapung bebas dari rakit penolong 106

Bab III : Peralatan dan Tata Susunan Keselamatan Jiwa dan jika dapat dihembuskan ketika kapal tenggelam.
Klarifikasi Peraturan ini tidak secara jelas menetapkan apakah setiap rakit penolong harus mempunyai tata susunan untuk mengapung bebas sendiri atau jika suatu tata susunan pengapungan bebas untuk lebih dari satu rakit penolong diizinkan. Satu tata susunan pengapungan bebas adalah mencukupi untuk memenuhi persyaratan peraturan III/38.6.

Peraturan 24 Tempat berkumpul Setiap kapal penumpang, sebagai tambahan untuk memenuhi persyaratan peraturan 11 harus mempunyai tempat pengumpulan penumpang yang harus : .1 Disekitarnya dan memungkinkan jalan yang siap pakai bagi penumpang untuk memasuki stasiun embarkasi kecuali jika berada di tempat yang sama. .2 Mempunyai ruang yang luas untuk mengatur dan memberi instruksi kepada penumpang. Peraturan 24-1* Persyaratan untuk kapal penumpang Ro-Ro 1 Peraturan ini berlaku untuk semua kapal penumpang Ro-Ro, kapal penumpang Ro-Ro yang dibangun : .1 .2 Pada dan setelah 1 Juli 1998 harus memenuhi persyaratan pada paragraf 2.3, 2.4, 3.1, 3.2, 3.3, 4 dan 5; Pada dan setelah 1 Juli 1986 dan sebelum 1 Juli 1998 harus memenuhi paragraf 5 tidak lebih dari survey periodik pertama setelah 1 Juli 1998 dan dengan paragraf 2.3, 2.4, 3 dan 4 tidak lebih dari survey periodik pertama sejak 1 Juli 2000 dan; Sebelum 1 Juli 1986 harus memenuhi dengan paragraf 5 tidak lebih dari survey periodik pertama setelah 1 Juli 1998 dan dengan paragraf 2.1, 2.2, 2.3, 2.4, 3 dan 4 tidak lebih dari survey periodik pertama setelah 1 Juli 2000.

.3

Rakit penolong

2.1 Rakit penolong kapal penumpang ro-ro harus dilayani oleh sistem evakuasi maritim yang memnuhi peratutan 48.5 atau peralatan luncur yang memenuhi peraturan 48.6 yang didistribusikan secara merata pada setiap sisi kapal. 2.2 Setiap rakit penolong pada kapal penumpang ro-ro harus dilengkapi

* Peraturan ini berlaku sejak 1 Juli 1997


107

Bagian B

Peraturan 24

dengan tata susunan penempatan pengapung bebas yang memenuhi peraturan 23. 2.3 Setiap rakit penolong pada kapal penumpang ro-ro harus dilengkapi dengan rampa untuk pelepasan yang memanuhi persyaratan peraturan 39.4.1 atau peraturan 40.4.1 mana yang lebih sesuai. 2.4 Setiap rakit penolong pada kapal penumpang ro-ro harus secara otomatis tegak sendiri atau dapat dipasang kanopi pada kedua sisi yang stabil di laut sebagai alternatif, kapal harus membawa rakit penolong yang dapat tegak dengan sendirinya secara otomatis atau rakit penolong yang dapat dipasang kanopi pada kedua sisinya sebagai tambahan dari penumpang pada kondisi rakit penolong yang normal, kapasitas totalnya harus mampu menampung paling tidak 50% dari orang yang tidak tertampung dalam sekoci penolong.Tambahan kapasitas rakit penolong harus ditentukan berdasarkan selisih jumlah orang diatas kapal dan jumlah orang yang tertampung dalam sekoci penolong. Setiap rakit penolong tersebut harus disetujui oleh Badan Pemerintah dengan memperhatikan rekomendasi yang ditetapkan oleh Organisasi. * 3 Perahu penyelamat cepat

3.1 Paling tidak satu dari perahu penyelamat pada kapal penumpang ro-ro haruslah perahu penyelamat cepat yang disetujui oleh Badan Pemerintah dengan mempertimbangkan rekomendasi yang ditetapkan oleh Organisasi. * 3.2 Setiap perahu penyelamat cepat harus dilayani oleh peralatan luncur yang disetujui Badan Pemerintah. Saat menyetujui peralatan peluncur tersebut Badan Pemerintah harus memperhitungakan bahwa perahu penyelamat cepat dimaksudkan untuk dapat diluncurkan dan dilacak sekalipun dalam kondisi cuaca yang sangat buruk, dan juga harus memperhatikan rekomendasi yang diadopsi oleh organisasi. ** 3.3 Paling sedikit 2 awak dari tiap perahu penyelamat cepat harus dilatih secara berkala dengan memperhatikan ketentuan dalam Standar Pelatihan Sertifikasi dan Penjagaan (STCW) dan rekomendasi yang ditetapkan oleh

* Mengacu pada persyaratan yang dikembangkan Organisasi untuk perahu penyelamat yang secara otomatis tegak kembali dan yang dapat dipasangi kanopi yang dapat dibuka tutup.
*Mengacu pada Pedoman untuk perahu penyelamat cepat yang diterapkan Organisasi berdasarkan resolusi A.656(16).

* Mengacu pada Rekomendasi yang diterapkan Organisasi


108

Bab III : Peralatan dan Tata Susunan Keselamatan Jiwa Organsasi* termasuk seluruh hal menyangkut penyelamatan, pencegahan, penanganan, olah gerak, pengoperasian rakit penolong dalam berbagai kondisi dan menegakkannya setalah terbalik. 3.4 Dalam hal apabila tata susunan atau ukuran dari kapal penumpang roro yang dibangun sebelum 1 Juli 1997, adalah harus sedemikian rupa sehingga melindungi perahu penyelamat sebagaimana dimuat dalam paragraf 3.1, perahu penyelamat cepat boleh ditempatkan ditempat sekoci penolong yang sebelumnya telah disetujui atau dalam hal kapal yang dibangun sebelum 1 Juli 1986, perahu yang digunakan dalam keadaan darurat dengan catatan semua kondisi berikut dipenuhi ; .1 .2 Perahu penyelamat yang dipasang dilayani oleh alat peluncur yang memenuhi ketentuan dari paragraf 3.2. Kapasitas dari kendaraan penolong yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di atas diberi kompensasi dengan pemasangan kendaraanpenolong yang mampu mengangkat paling tidak sejumlah sama dengan orang yang diangkut oleh sekoci penolong yang digantikan. Kendaraan penolong tersebut dilayani oleh alat peluncur yang ada atau sistem evakuasi darurat.

.3 4

Sarana penyelamatan

4.1 Setiap kapal penumpang ro-ro harus dilengkapi dengan peralatan yang effisien yang secara cepat memulihkan orang yang selamat dari air dan memindahkan orang yang selamat dari unit penyelamat atau kendaraan penolong ke kapal. 4.2 Alat pemindah orang yang selamat ke kapal dapat merupakan bagian sistem evakuasi di laut, atau dapat merupakan bagian sistem yang didesain untuk keperluan penyelamatan. 4.3 Apabila sistem ban berjalan yang digunakan dalam evakuasi di laut untuk memindahkan orang yang selamat ke atas geladak kapal, sistem ban berjalan tersebut harus dilengkapi dengan tali pegangan atau tangga untuk membantu naik ke atas ban berjalan tersebut. 5 Baju penolong

5.1 Disamping persyaratan peraturan 7.2 dan 21.2 sejumlah baju penolong yang mencukupi harus ditempatkan disekitar pusat pengumpulan

* Mengacu pada Rekomendasi persyaratan pelatihan untuk awak kapal perahu penyelamat cepat yang diterapkan Organisasi berdasarkan Resolusi A.77(18) dan seksi A-VI/2, tabel A-VI/2,@Spesifikasi standar kemampuan minimum perahu penyelamat cepat@, dari Kode STCW.
109

Bagian B

Peraturan 24

sehingga penumpang tidak harus kembali kekabinnya untuk mengambil baju penolongnya. 5.2 Pada kapal penumpang ro-ro, setiap baju penolong harus dilengkapi dengan lampu yang memenuhi persyaratan peraturan 32.3. Peraturan 24-2* Informasi untuk penumpang, 1 Seluruh orang di atas kapal penumpang harus dihitung sebelum keberangkatan. 2 Perincian penumpang yang dinyatakan memerlukan perawatan atau pertolongan khusus dalam keadaan darurat harus dicatat dan disampaikan pada nakhoda sebelum keberangkatan. 3 Sebagai tambahan, sejak tanggal 1 Januari 1999 harus dicatat nama, jenis kelamin seluruh orang di atas kapal, dibedakan antara dewasa, anakanak dan bayi untuk keperluan pencarian dan penyelamatan 4 Informasi yang disyaratkan oleh dalam paragraf 1, 2 dan 3 harus tersedia di darat dan dapat dicari dengan cepat untuk keperluan pencarian dan penyelamatan bila diperlukan. 5 Badan Pemerintah dapat membebaskan kapal penumpang dari persyaratan paragraf 3, bila jadwal pelayaran kapal tidak memungkinkan untuk menyiapkan catatan tersebut. Peraturan 24-3 Tempat pendaratan dan pengangkutan dengan helikopter, 1 Seluruh kapal penumpang ro-ro harus dilengkapi dengan tempat pengangkutan oleh helikopter yang disetujui oleh Badan Pemerintah dengan mempertimbangan rekomendasi yang ditetapkan oleh organisasi. * 2 Kapal penumpang ro-ro yang dibangun sebelum 1 Juli 1997 harus memenuhi persyaratan dari paragraf 1 paling lambat sejak tanggal survey periodik pertama setelah 1 Juli 1997. 3 Kapal penumpang dengan panjang 120m keatas, yang dibangun pada atau setelah 1 Juli 1999 harus dilengkapi dengan sarana pendarat helikopter yang disetujui oleh Badan Pemerintah dengan

* Peraturan ini berlaku sejak 1 Juli 1997 *Mengacu pada Merchant Ship and Rescue Manual (MERSAR) Yang ditetapkan Organisasi dengan Resolusi A229 (VII) yang telah ditambah dan diubah.
110

Bab III : Peralatan dan Tata Susunan Keselamatan Jiwa mempertimbangkan rekomendasi yang ditetapkan oleh Organisasi.* Peraturan 24-4 Sistem pendukung keputusan untuk nakhoda kapal penumpang. 1 Peraturan ini berlaku untuk seluruh kapal penumpang, kapal penumpang yang dibangun sebelum 1 Juli 1997 harus memenuhi persyaratan peraturan ini paling lambat sejak tanggal survey periodik pertama setelah 1 Juli 1999.

Peraturan ini berlaku sejak 1 Juli 1997


2 Pada seluruh kapal penumpang sistem pendukung untuk pengambilan keputusan dalam manajemen keadaan darurat harus disediakan pada anjungan navigasi. 3 Sistem tersebut, paling sedikit terdiri atas berkas yang berisi sebuah atau berbagai rencana darurat.* Seluruh situasi darurat yang dapat diperkirakan harus dinyatakan dalam satu atau beberapa rencana darurat akan tetapi tidak terbatas pada kelompok keadaan darurat yang utama seperti berikut: .1 kebakaran .2 kerusakan kapal .3 pencemaran .4 perbuatan terlarang yang mengancam keselamatan kapal dan keamanan penumpang dan awak kapal. .5 kecelakaan jiwa .6 kecelakaan yang berhubungan dengan muatan .7 bantuan darurat terhadap kapal lain 4 Prosedur keadaan darurat ditetapkan dalam rencana atau berbagai rencana keadaan darurat harus menyediakan pendukung keputusan nakhoda kapal dalam menangani kombinasi dari situasi darurat. 5 Rencana atau berbagai rencana keadaan darurat harus mempunyai struktur yang seragam dan mudah untuk digunakan. Bila memungkinkan kondisi pemuatan yang sesungguhnya sebagaimana diperhitungkan dalam perhitungan stabilitas pelayaran kapal penumpang harus digunakan untuk keperluan pengendalian dalam keadaan kapal bocor. 6 Sebagai tambahan untuk rencana atau berbagai rencana keadaan darurat yang dicetak. Badan Pemerintah dapat juga menerima penggunaan sistem penunjang keputusan dengan komputer pada anjungan navigasi yang menyediakan seluruh informasi yang diperlukan dalam rencana atau berbagai rencana kedaan darurat, prosedur, checklist, dan lain-lain, yang dapat menyediakan daftar untuk tindakan yang direkomendasikan untuk

* Mengacu pada Rekomendasi yang dikembangkan oleh Organisasi *Mengacu pada ISM Code Elemen 8 dan MSC/Circ.760 tentang petunjuk untuk sistim penanggulangan keadaan darurat yang menyeluruh di kapal.
111

Bagian B dilakukan dalam kedaan darurat yang mungkin terjadi. Peraturan 25 Latihan peran**

Peraturan 24

1 Peraturan ini berlaku untuk seluruh kapal penumpang. 2 Pada kapal penumpang, latihan peran meninggalkan kapal dan latihan peran kebakaran, harus dilakukan setiap minggu.

* Mengacu pada Resolusi A.690(17) mengenai pemeriksaan berkala latihan peran peninggalan kapal dan bahaya kebakaran pada kapal penumpang.
112