Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

ISOLASI DAN SKRINING MIKROBA PENGHASIL ANTIBIOTIK

Disusun Oleh : Nama NIM Kelompok Praktikum Tanggal Praktikum PJ Laporan : THERESIA AFTRIA A. : 108114141 : F1 : 24 MARET 2011 :

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2011

ACARA III ISOLASI DAN SKRINING MIKROBA PENGHASIL ANTIBIOTIK

A. TUJUAN 1. Mengisolasi dan memurnikan biakan untuk mendapatkan mikroba yang berpotensi menghasilkan antibiotik. 2. Melakukan skrining mikroba yang berasal dari habitat alam (misalnya: tanah atau sludge/lumpur) yang berpotensi menghasilkan antibiotik. B. LANDASAN TEORI Mekanisme kerja antibiotik umumnya dapat dihasilkan secara terperinci: 1. Membahas biosintesis dinding sel, misalnya penisilin, sefalosporin, sikloserin, dan basitrasin (Mutscher, 1991). 2. Meninggikan permeabilitas membrae misalnya sitoplasma, sefalosporin, sikloserin, dan basitrasin (Mutscher, 1991). 3. Mengganggu sintesis protein normal bakteri, misalnya tetrasiklin, kloramfenikol, citromisin, novobiosin, antibiotika aminoglikosida

(Mutscher, 1991). Antibiotik dapat dibedakan menjadi antibiotic terhadap sel prokariotik dan sel eukariotik. Penemuan sumber-sumber antibiotik dialam dilakukan dengan cara penapisan/ screening. Ada dua tahan skrining: 1. Tahap skrining primer Mencari sumber penghasilan. Menumbuhkan mikroba yang didapatkan. Mengisolasi dan mengkoleksi mikroba.

2. Tahap skrining sekunder Mendapatkan koloni mikroba yang terpilih. Mencari kondisi optimum pertumbuhan. Mengidentifikasi mikroba. Mengidentifikasi substansi (Pratiwi, 2004).

Biakan murni adalah bakteri yang sel-selnya berasal dari pembelahan satu sel tunggal. Ada beberapa metode untuk memperoleh biakan murni dari suatu biakan campuran salah satunya adalah teknik gores. Prinsipnya adalah mengencerkan mikroorganisme sedemikian sehingga individu suatu spesies dapat dipisahkan dari lainnya, dengan anggapan bahwa setiap koloni terpisah yang tampak pada cawan petri setelah inkubasi berasal dari satu sel tunggal (Hadioetomo, 1985).

C. SKEMA KERJA Alat dan Bahan 1. Ekstrak sampel tanah berupa sludge/ lumpur 2. Media nutrien agar (OXOID) dan nutrien broth (OXOID) 3. Buffered pepton water (BPW) sebagai larutan pengencer 4. Alkohol 70% 5. Kultur murni bakteri uji (E.coli atau S, aureus) 6. Deret larutan standar Mac Farland 7. Cawan petri steril, tabung reaksi, Erlenmeyer, pipet volume, dan gelas ukur. 8. Spreader,vortex mixer, jangka sorong/ penggaris Skema Kerja: 1. Pembuatan Media NA Dibuat media NA sebanyak 125 ml (3,5 g NA/ 125 ml).

Disiapkan 7 tabung reaksi @15ml dalam media NA.

Sisa NA digunakan untuk media agar dalam cawan petri 1 buah @15-20 ml, dan media miring dalam tabung reaksi.

2. Pembautan Suspensi Bakteri Uji Disiapkan tabung reaksi yang berisi larutan pengencer BPW sebanyak 9 ml.

Kedalam tabung reaksi dengan larutan pengencer tersebut, diteteskan menggunakan pipet steril suspense kultur murni bakteri uji sampai kekeruhannya setara dengan larutan standar Mac Farland II.

3. Pembuatan Kontrol Kontaminasi Media Dibuat media NA 15 ml dan menuangkan dalam cawan petri, dan dibiarkan memadat.

Diberi label pada cawan petri

Diinkubasikan dalam suhu kamar selama 24 jam

Diamati pertumbuhan yang terjadi dan dibandingkan dengan perlakuan.

4. Pembuatan control Pertumbuhan Bakteri Uji Diambil 1 ml suspensi kultur murni bakteri uji dengan kepadatan suspensi setara dengan larutan standar Mac Farland II.

Diinokulasikan kedalam cawan petri diisi 15 ml media NA secara pour plate, dan dibiarkan memadat.

Diberi label pada dasar cawan petri.

Diinkubasikan dalam suhu kamar selama 24 jam bersama kelompok perlakuan.

Diamati pertumbuhan yang terjadi dan membandingkan dengan perlakuan.

5. Pembuatan Kontrol Negatif/ Kontrol Pelarut Diambil 1 ml suspense kultur murni bakteri uji dengan kepadatan suspensi setara dengan aturan Mac Farland II.

Diinokulasikan kedalam cawan petri 15 ml media NA secara pour plate dan dibiarkan memadat.

Diinokulasikan 0,1 ml pelarut kepermukaan agar secara spread plate

Diberi label pada dasar cawan petri

Diinkubasikan dalam suhu kamar selama 24 jam bersama kelompok perlakuan.

Diamati pertumbuhan yang terjadi dan membandingkan dengan perlakuan.

6. Penyiapan Ekstrak Tanah Dibuat ekstrak sampel tanah (berupa sludge/ lumpur).

Disuspensikan 1 gram sludge dalam 5 ml larutan pengencer BPW, vortex sampai homogen.

Dibuat suspensi sludge dengan pengenceran dari ekstrak sludge tersebut.

7. Isolasi Bakteri Tanah penghasil antibiotik Disiapkan cawan agar yang telah ditumbuhi bakteri uji secara pour plate 1 ml.

Disuspensikan kultur murni bakteri uji dengan kepadatan suspensi setara dengan larutan standar Mac Farland II

Diinokulasikan dalam cawan petri yang diisi 15 ml media NA secara pour plate dan dibiarkan memadat.

Diinokulasikan 0,1 ml suspense sludge 10-10 secara spread plate keatas permukaan agar yang telah ditumbuhi bakteri.

Diratakan pada permukaan agar secara spread plate dengan menggunakan spreader dan dibiarkan pada permukaan mengering.

Diinkubasikan pada suhu kamar selama 1-2 hari atau sampai terbentuknya zona jernih/ zona hambatan pertumbuhan bakteri uji disekitar koloni mikroba penghasil antibiotik dan diamati pertumbuhannya.

Aktivitas penghambatan diukur dengan cara memindahkan pada medium cawan agar secara streak plate sampai didapatkan koloni terpisah.

Direisolasikan secara streak beberapa kali

Koloni terpisah diisolasikan lebih lanjut kedalam media agar miring/nutrien cair sebagai stok isolat murni.

Isolate murni bakteri penghasil antibiotik yang diperoleh dari tahap e, digunakan untuk acara berikutnya.