Anda di halaman 1dari 64

Presentasi Kasus

P0A0, 18 Tahun dengan Amenorrhea dan Oligomenorrhea


Pembimbing : dr. Aditiyono, Sp. OG Disusun Oleh : Mochamad Pryo Utama Ajeng Amelianingtyas Putri Febriana

G1A209145 G1A209169 1010221061

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Amenorrhea tidak terjadinya menstruasi seorang wanita pada usia reproduktif. Menstruasi tanda penting terjadinya maturitas perkembangan seksual wanita. Insidensi Hingga saat ini insidensi amenorrhea di Indonesia masih belum diketahui namun berdasarkan survey di USA tahun 2008 terjadi sekitar < dari 1%.

Bab II Tinjauan Pustaka


FISIOLOGIS HAID
Haid Perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus,disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium. Panjang siklus haid Jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. Panjang siklus haid normal atau dianggap sebagai siklus haid klasik 28 hari Panjang siklus haid dipengaruhi oleh usia seseorang. Rata-rata panjang siklus haid: Pada gadis usia 12 tahun : 25,1 hari Pada wanita usia 43 tahun : 27,1 hari Pada wanita usia 55 tahun : 51,9 hari

Siklus Haid
Siklus haid memiliki 3 masa atau 3 fase utama, yaitu: Masa haid Masa proliferasi/folikuler Masa sekresi/luteal

Masa haid
Selama satu siklus haid, terjadi perubahan-perubahan pada ovarium, uterus dan serviks. Masa haid dimulai pada hari pertama mulainya perdarahan haid. Lama masa haid kurang lebih 2 hingga 6 hari.

Masa proliferasi
Masa proliferasi dimulai dari hari ke 5-14 yang dimulai setelah perdarahan berakhir dan berlangsung sampai saat ovulasi. Pada fase initerjadi pematangan folikel dalam ovarium Folikel FSH (Folicle Stimulating Hormone) menghasilkan estradiol (estradiol sampai saat ovulasi) pengeluaran LH (Lutenizing hormone) yang banyak. Pada hari ke 14 LH akan mencapai puncak memicu ovarium terjadi ovulasi.

Pada saat terjadi ovulasi, suhu basal badan meningkat kira-kira 0,50C. Selama ovulasi getah serviks encer dan bening dan mulut serviks sedikit terbuka.

Masa Sekresi
Masa sekresi berlangsung dari hari ke 1428. Pada masa ini terjadi penebalan endometrium dan terbentuk korpus luteum. Korpus luteum memproduksi progesteron dan estrogen. Pada masa ini, terjadi peningkatan progesteron sesudah ovulasi menghambat sekresi FSH dari hipofisis menghambat pertumbuhan folikel dalam ovarium

Jika tidak terjadi nidasi estradiol dan progesteron menghambat FSH dan LH mengakibatkan korpus luteum tidak dapat berkembang lagi Akibat pengaruh estradiol dan progesteron itu terjadi penyempitan pembuluhpembuluh darah endometrium iskemi sehingga endometrium terlepas haid.

4 Fase Endometrium Selama Siklus Haid


Fase menstruasi atau deskuamasi Fase pascahaid atau fase regenerasi Fase intermenstruum atau fase proliferasi Fase prahaid atau fase sekresi

Fase menstruasi atau deskuamasi


Dimulai sejak fase menstruasi, berlangsung 4 hari. Ciri tebal endometrium 0,5 mm. Luka endometrium yang terjadi akibat pelepasan sebagian besar berangsurangsur sembuh dan ditutup kembali oleh selaput lendir baru yang tumbuh dari selsel epitel endometrium.

Fase intermenstruum atau fase proliferasi


Fase ini berlangsung dari hari ke 5 sampai hari ke 14 dari siklus haid. Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal 3,5 mm. Fase proliferasi dapat dibagi atas 3 subfase, yaitu: Fase proliferasi dini (early proliferation phase) Fase proliferasi madya (midproliferation phase) Fase proliferasi akhir (late proliferation phase)

Fase prahaid atau fase sekresi


Berlangsung dari hari ke 14 - 28. Ciri Tebal endometrium tetap, bentuk kelenjar berubah menjadi panjang, berkelok-kelok, dan mengeluarkan getah, yang makin lama makin nyata. Fase sekresi dibagi atas: Fase sekresi dini Fase sekresi lanjut

Fase sekresi dini Dalam fase ini endometrium lebih tipis daripada fase sebelumnya karena kehilangan cairan. Pada saat ini dapat dibedakan beberapa lapisan, yaitu: Stratum basale Stratum spongiosum Stratum kompaktum

Fase sekresi lanjut Endometrium dalam fase ini tebalnya 56 mm. Dalam fase ini terdapat peningkatan dari fase sekresi dini, dengan endometrium sangat banyak pembuluh darah yang berkelok-kelok dan kaya dengan glikogen. Sitoplasma sel-sel stroma bertambah.

Amenorrhea
Amenorrhea tidak terjadinya menstruasi seorang wanita. Menstruasi merupakan tanda penting terjadinya maturitas perkembangan seksual wanita. Secara umum, amenorrhea dibedakan menjadi : amenorrhea fisiologik amenorrhea patologik

Amenorrhea fisiologik keadaan prapubertas, hamil, menyusui, dan pascamenopause. Sedangkan amenorrhea patologik dibedakan menjadi amenorrhea primer dan amenorrhea sekunder.

Amenorrhea Primer
Amenorrhea primer Batasan I (Baziad, 2003) Amenorrhea primer adalah belum datangnya haid yang terjadi pada wanita yang telah mencapai usia 14 tahun dan belum terlihat pertumbuhan seksual sekunder atau belum datangnya haid pada wanita umur 16 tahun dan telah terlihat pertumbuhan seksual sekunder.

Batasan II (Sarwono, 2007) Amenorrhea primer adalah tidak datangnya haid pada wanita yang telah berumur 18 tahun baik dengan atau tanpa pertumbuhan seksual sekunder. Amenorrhea primer umumnya mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit untuk diketahui seperti kelainan-kelainan kongenital dan kelainan genetik

Dx amenorrhea primer anamnesis yang lebih teliti mengenai : penyakit yang diderita, seperti penyakit paru (tuberculosis, asma) penggunaan obat-obat penenang jangka panjang penggunaan obat-obat penurun atau penambah berat badan, obat-obatan kemoterapi, dan glukokortikoid. keadaan kejiwaan seperti stress berat

Pemeriksaan klinis pemeriksaan berat badan, tinggi badan, tanda-tanda pertumbuhan seks sekunder seperti payudara, bulu ketiak, dan pubis. Pemeriksaan ginekologik untuk mengetahu ginatresi, misalnya aplasia vagina, aplasia uteri, juga dilihat pada keadaan klitorisnya, adanya tumor, ovarium, dan sebagainya.

Jenis-Jenis Amenorrhea Primer


Aplasia Uterus dan Vagina Kelainan ini terjadi akibat tidak terjadinya kanalisasi alat genital. Introitus vagina kelihatan normal, tetapi tidak terbentuk vagina. Sindrom feminisasi testikular Kelainan congenital ini disebut juga sebagai pseudohermafroditisme masculinus dengan genotip wanita, yang disebabkan berkurangnya jumlah reseptor androgen di dalam sitoplasma.

Sindrom Androgenital Kelainan ini adalah bentuk yang paling sering dari hermafroditismus feminismus, yang diakibatkan oleh kerusakan pada system enzim kelenjar suprarenal, sehingga terjadi kekurangan produksi kortisol. Hipogenesis /agenesis Gonad Pada kelainan ini dijumpai gonad yang rudimenter.

Sindrom Kallman Merupakan keadaan patologik berupa hipogonadism dan gangguan system olfaktori, ang disebabkan karena adanya defisiensi GnRH akibat aplasia sel-sell yang memproduksi GnRH dan aplasia bulbus olfaktori.

Amenorrhea Sekunder
Amenorrhea sekunder apabila seorang wanita usia reproduksi yang pernah mengalami haid, namun haidnya berhenti untuk sedikitnya 3 bulan berturut-turut. Menurut Sarwono (2007) amenorrhea sekunder lebih menunjuk kepada sebabsebab yang timbul kemudian dalam kehidupan wanita, seperti adanya gangguan gizi, gangguan metabolism, tumor-tumor, dan penyakit infeksi.

Jenis : Amenorrhea akibat kelainan di hipotalamus dan hipofisis Amenorrhea akibat kelainan pada tingkat ovarium Amenorrhea karena gangguan pada uterus dan system pengeluaran darah haid

Oligomenorrhea
Oligomenorrhea siklus haid yang lebih panjang dari normal lebih dari 35 hari dan kurang dari 3 bulan. Pada kebanyakan kasus oligomenorreha, kesehatan wanita tidak terganggu dan fertilitas cukup baik. Siklus haid biasanya ovulatoar dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasanya.

American College of Sports Medicine (2007) disebutkan bahwa haid yang tidak teratur merupakan salah satu tanda dari female athlete triad syndrome, yang meliputi : Gangguan pola makan anoreksia dan atau bulimia Berkurangnya menstruasi yang disebabkan karena pengurangan produksi estrogen Osteoporosis atau berkurangnya densitas tulang

Patofisiologi
Amenorrhea primer tergantung etiologi Amenorrhea sekunder gangguan pada aksis hipotalamus-pituitary-ovarium

Pengelolaan
Pengobatan yang dilakukan sesuai dengan penyebab dari amenorea yang dialami, apabila penyebabnya adalah obesitas diet dan olahraga. Terapi amenorea diklasifikasikan berdasarkan penyebab; saluran reproduksi atas dan bawah penyebab indung telur, dan penyebab susunan saraf pusat.

1. Saluran reproduksi Aglutinasi labia yang dapat diterapi dengan krim estrogen. Kelainan bawaan dari vagina, hymen imperforata, septa vagina. Diterapi dengan insisi atau Sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser. Pemeriksaan dengan MRI atau ultrasonografi (USG). Terapi yang dilakukan berupa terapi non-bedah berupa dilatasi dari tonjolan di tempat seharusnya vagina berada atau terapi bedah dengan membuat vagina baru menggunakan skin graft.

Parut pada rahim. Parut pada endometrium (atau perlekatan intrauterine yang disebut sebagai sindrom Asherman dapat terjadi karena tindakan kuret, operasi sesar, miomektomi, atau tuberkulosis. Kelainan ini dapat dilihat dengan histerosalpingografi. operasi pengambilan jaringan parut. Pemberian dosis estrogen setelah operasi.

2. Gangguan Indung Telur Disgenesis gonadal tidak terdapatnya sel telur dengan indung telur yang digantikan oleh jaringan parut. Terapi yang dilakukan dengan terapi penggantian hormone pertumbuhan dan hormon seksual Kegagalan Ovari Prematur kegagalan dari fungsi indung telur sebelum usia 40 tahun. Penyebabnya diperkirakan kerusakan sel telur akibat infeksi atau proses autoimun Tumor ovarium. Tumor indung telur dapat mengganggu fungsi sel telur normal dengan melakukan operasi pengangkatan tumor ovarium tersebut.

3. Gangguan Susunan Saraf Pusat Gangguan hipofisis. Tumor atau peradangan pada hipofisis, hiperprolaktinemia akibat tumor, obat, atau kelainan lain dapat mengakibatkan gangguan pengeluaran hormon gonadotropin menggunakan agonis dopamin dapat menormalkan kadar prolaktin dalam tubuh. Sindrom Sheehan adalan tidak efisiennya fungsi hipofisis. berupa penggantian hormon agonis dopamin atau terapi bedah berupa pengangkatan tumor Gangguan hipotalamus. Sindrom polikistik ovari, gangguan fungsi tiroid, dan Sindrom Cushing merupakan kelainan yang menyebabkan gangguan hipotalamus. Pengobatan sesuai dengan penyebabnya.

- fungsional (anoreksia nervosa atau bulimia). Pengobatan untuk kelainan fungsional membutuhkan bantuan psikiater Hipogonadotropik, hipogonadism. Penyebabnya adalah kelainan organik dan kelainan.

Jika seorang anak perempuan belum pernah mengalami menstruasi dan semua hasil pemeriksaan normal, maka dilakukan pemeriksaan setiap 3-6 bulan untuk memantau perkembangan pubertasnya bisa diberikan progesteron. Untuk merangsang perubahan pubertas pada anak perempuan yang payudaranya belum membesar atau rambut kemaluan dan ketiaknya belum tumbuh, diberikan estrogen. Jika penyebabnya adalah tumor, maka dilakukan pembedahan untuk mengangkat tumor tesebut. Terapi penyinaran biasanya baru dilakukan jika pemberian obat ataupun pembedahan tidak berhasil.

pengelolaan amenorrhea sekunder dengan menggunakan uji P atau uji progesterone. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di atas, penggunaan progesterone dosis 2 x 5 mg/hari selama 7 hari dan perdarahan akan terjadi 3-4 hari kemudian dan dikatakan uji P pada wanita ini positif, dan tidak perlu dilanjutkan lagi sisanya.

1. Penanganan wanita dengan uji P positif Pada wanita yang belum menginginkan anak, cukup diberikan progesterone dari jari ke 16 s.d 25 siklus haid. Pengobatan berlangsung selama 3 siklus berturut-turut. 2. Penanganan wanita dengan uji P negative Wanita dengan uji P negative dilakukan uji estrogen dan progesterone (uji E+P). diberikan estrogen selama 21 hari dan dari ke 12 s.d. 21 diberikan progesterone 5-10 mg/hari. Jenis estrogen seperti etinilestradiol (50 g), estrogen valerianat (2 mg) atau estrogen konyugasi (0,625 mg). paling sederhana adalah pemberian pil kontrasepsi.

3.Penanganan amenorrhea pada wanita dengan uji P negative dan uji E-P + Pada wanita dengan hiperprolaktin, ditangani dengan pemberian bromokriptin. Pada normoproklatin cukup diberikan estrogen-progesteron siklik, meskipun cara ini tidak mengobati penyebab dari amenorrhea tersebut.

BAB III Kasus


I. Identitas Nama : Nn. L Umur : 18 tahun Jenis kelamin : Perempuan Alamat : Pliken 08/06, Kembaran, Banyumas Agama : Islam Suku Bangsa : Jawa Status : Belum Menikah Pekerjaan : Mahasiswa Tanggal masuk RSMS : 18 Agustus 2011 Tanggal periksa : 18 Agustus 2011 No.CM : 864316

II. Anamnesis
A. Keluhan Utama

Terlambat haid
B. Keluhan Tambahan Tidak ada

Anamnesis
C. RPS

Pasien baru datang ke poli Kandungan dan Kebidanan RSMS dengan keluhan terlambat haid. Pasien mengeluhkan tidak haid selama empat bulan terakhir ini. Pasien mengaku sejak kali pertama haid, pasien belum pernah mengalami haid yang teratur, pasien mengaku siklus haidnya selalu lebih dari sebulan, kadang dua bulan sekali, kadang empat bulan. Haid terakhir dirasakan keluar pada bulan April 2011, lama haid 7 hari, dalam sehari pasien maksimal mengganti pembalut kurang lebih 3x sehari, pasien mengaku tidak merasakan nyeri haid. Siklus haid sebelumnya dirasakan pada bulan Desember 2010, lama haid lebih kurang 7 hari, dalam sehari pasien mengganti pembalut kurang lebih 3x, dan tidak ada nyeri haid. Pasien mengaku tidak ingat siklus haid sebelum bulan Desember 2010. Pasien menyangkal sedang melakukan diet ketat, olahraga berat, dan mengaku sedang tidak ada masalah psikologis.

Lupa

13

22

28

Bulan Desember 2010 Lama haid 7 hari Dalam sehari + 3x ganti pembalut Tidak ada nyeri haid

Bulan April 2011 Lama haid 7 hari Dalam sehari + 3x ganti pembalut Tidak ada nyeri haid

D.

Riwayat Penyakit Dahulu Penyakit Jantung : disangkal Penyakit Paru : disangkal Penyakit Diabetes Melitus : disangkal Penyakit Ginjal : disangkal Penyakit Hipertensi : disangkal Riwayat Alergi : disangkal

E. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit yang sama disangkal Penyakit Jantung disangkal Penyakit Paru disangkal Penyakit Diabetes Melitus disangkal Penyakit Ginjal disangkal Penyakit Hipertensi disangkal Riwayat Alergi disangkal

F. Riwayat Menstruasi Menarche 14 tahun Lama haid 7 hari Siklus haid tidak teratur Dismenorrhoe tidak ada Jumlah darah haid normal (sehari ganti pembalut 2-3 kali)

G. Riwayat Menikah Pasien belum pernah menikah. H. Riwayat Obstetri Pasien belum pernah mempunyai anak. I. Riwayat KB Tidak pernah menggunakan KB dalam bentuk apapun sebelumnya.

J. Riwayat Ginekologi Riwayat Operasi : tidak ada Riwayat Kuret : tidak ada Riwayat Keputihan : tidak ada K. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien merupakan seorang mahasiswa. Kesan sosial ekonomi keluarga adalah golongan menegah ke atas. Biaya pengobatan pasien ditanggung oleh ASKES.

III. Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum Tampak sakit sedang / composmentis Kesadaran GCS E4M6V5 Vital Sign TD : 100/70 mmHg N : 80x/menit RR : 16 x/menit S : 36,8 0C Tinggi Badan 155 cm Berat Badan 46kg Status Gizi cukup

Status Generalis Pemeriksaan kepala Bentuk kepala : mesocephal, simetris Mata: simetris, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks pupil +/+ normal, isokor, diameter 3/3 mm, edema palpebra -/ Telinga : discharge -/ Hidung : discharge -/-, nafas cuping hidung -/ Mulut : sianosis (-), lidah kotor -/-

Pemeriksaan leher Trakea : deviasi (-) Gld Tiroid : ttb Limfonodi Colli : ttb JVP : 5+2 cm Pemeriksaan Toraks Paru Inspeksi : dada simetris, ketinggalan gerak (), retraksi intercosta (-), pulsasi epigastrium (), pulsasi parasternal (-) Palpasi : Vokal fremitus paru kanan = paru kiri Ketinggalan gerak (-) Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru Auskultasi : SD vesikuler, RBH -/-, RBK -/, Wh -/-

Jantung Inspeksi Palpasi

Perkusi

Auskultasi

: ictus cordis tampak SIC V 2 jari medial LMCS : ictus cordis tampak SIC V 2 jari medial LMCS ictus cordis kuat angkat (-) : batas jantung Kanan atas SIC II LPSD Kiri atas SIC II LPSS Kanan bawah SIC IV LPSD Kiri bawah SIC V 2 jari medial LMCS : S1>S2, regular, murmur (-), gallop (-)

Pemeriksaan Abdomen Inspeksi : cembung, venektasi (-) Auskultasi : Bising usus (+) N Perkusi : pekak, pekak sisi (-), pekak alih (-) Palpasi : supel, nyeri tekan (-) Hepar : tidak teraba Lien : tidak teraba Pemeriksaan ekstremitas Superior : edema (-/-), jari tabuh(-/-), pucat (-/-), sianosis -/ Inferior : edema (-/-),jari tabuh (-/-), pucat (-/-), sianosis -/-

Status Lokalis Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi

Palpasi

: datar, benjolan (-) : Bising usus (+) normal : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-) : supel, nyeri tekan (-)

Genitalia Inspeksi : rambut pubis tersebar merata, benjolan (-), lubang vagina (+), fluor (-), flek (-) Palpasi : nyeri tekan (-)

Pemeriksaan rectal toucher : Lendir/darah (-). Feses (-). Tonus sfingter ani cukup, tidak teraba massa, ampula recti tidak kolaps, tidak teraba massa pada uterus dan adneksa.

IV. Diagnosis
P0A0, 18 tahun, amenorrhea sekunder dan oligomenorrhea

V. Plan
Pemeriksaan darah lengkap Pemeriksaan USG Pemeriksaan kadar hormon FSH, LH, dan estrogen

VI. Terapi
Medikamentosa medroksi progesteron asetat 2 x 5 mg / hari selama 7 hari Asam folat 400 g 1 x 1 tablet/hari Nonmedikamentosa Diet tinggi kalori tinggi protein Kontrol sebulan kemudian

Pembahasan
Anamnesis Pasien P0A0 datang dengan keluhan tidak haid sudah lebih dari 3 bulan dengan menarche sebelumnya pada usia 14 tahun amenorrhea Dengan riwayat haid tidak teratur dan riwayat siklus haid pernah tidak haid 2 bulan oligomenorrhea Tidak sedang melakukan diet ketat, olahraga berat, dan mengaku sedang tidak ada masalah psikologis Belum pernah menikah, belum pernah KB, riwayat penyakit dahulu yang merupakan faktor risiko disangkal

Pemeriksaan Fisik Tidak didapatkan kelainan atau abnormalitas pada pemeriksan fisik, serta didapatkan adanya tanda-tanda pertumbuhan kelamin seks sekunder perlu pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah lengkap, usg, dan pemeriksaan kadar hormon FSH, LH, dan estrogen

Pengelolaan pada pasien ini pengelolaan sudah sesuai dengan prosedur tetap yang dilakukan pada pasien dengan amenorrhea sekunder yaitu dengan menggunakan uji P pemberian medroksi progesteron asetat dosis 2 x 5 mg/hari selama 7 hari, diet tinggi kalori tinggi protein Rencana kontrol sebulan kemudian

Terima Kasih atas Perhatiannya