Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH RADIOLOGI

Disusun oleh : KELOMPOK IV Pra-Koass 2010 1. M. Farid Ratman 2. Cyntia Ayu R. 3. Dita Dwihapsari P.P. 4. Hening Desiyanti 5. Lisa Putri Lestari 6. Marita Puspitasari 7. Nurmilah Maelani 8. R.R. Shinta S. Utami

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJAJARAN


2010

ALUR PASIEN DATANG SAMPAI DIFOTO DI BAGIAN RADIOLOGI Pasien datang ke bagian radiologi untuk foto rontgen dengan sudah membawa surat konsul, medical record (sudah diketik dan pakai map kuning), film untuk foto dan bukti pembayaran dengan cap LUNAS.

Surat konsul, medical record dan film diserahkan kepada manager koas yang sedang bertugas pada hari itu.

Manager menulis identitas pasien (yang tertulis di medical record) ke buku riwayat paparan radiasi (radiograf) serta menulis riwayat radiograf yang akan dilakukan pada hari itu di medical record pasien (Riwayat radiograf yaitu : jenis pemotretan sebelumnya, jumlah radiograf dalam 1 tahun).

Manager menyerahkan surat konsul, medical record dan film kepada koas yang bertugas untuk melakukan foto.

Koas menulis identitas pasien dan keterangan lain di buku lembar kerja praktek dengan menanyakan langsung ke pasien (agar tidak ada kekeliruan identitas serta keterangan lain). Koas menulis anamnesis lengkap menurut keluhan pasien.

Koas meminta pasien menandatangani lembar inform consent serta persetujuan tindakan radiograf pada lembar kerja praktek (setelah sebelumnya dijelaskan mengenai tindakan yang akan dilakukan yaitu : jenis foto, cara pemotretan, indikasi dan kontarindikasi pemotretan serta perlindungan diri yang dapat dilakukan).

Koas meminta tanda tangan (sebagai persetujuan tindakan) dokter jaga bagian radiologi pada lembar inform consent, medical record, surat konsul dan lembar kerja praktek.

Pasien dapat dilakukan pemotretan.

SYARATSYARAT MELAKUKAN PEMOTRETAN Untuk melakukan suatu pemotretan, harus memenuhi syarat proteksi radiasi, yaitu proteksi yang diberikan pada seseorang dari kemungkinan terkena akibat negatif dari radiasi. Usaha proteksi radiasi dibagi menjadi 4 macam: 1. Proteksi Alat Tegangan tabung IO: 50-90 kV; EO: >100 kV. Tegangan meningkat = dosis pada kulit jadi berkurang. Kuat arus : 1-15 mA Semakin tinggi kuat arus waktu penyinaran semakin berkurang, harus ada pendingin tabung antara 2 alat. Konus Mengurani dosis penyinaran. Pada teknik paralel kurang lebih 41 cm, untuk teknik bisektris kurang lebih 15 cm. Kolimasi Mengurangi jumlah radiasi sekunder dengan cara memperkecil luas area dan vlum sinar pada kulit. Filter Akan mengurangi dosis penyinaran. Kuatnya radaiasi akan berkurang karena setelah melewati filter daya tembus berkurang 50%. Grounding Alat Bagian dari pesawat harus terhubung ke lantai/tanah untuk menghindari sengatan listrik terhadap operator dan pasien. 2. Proteksi Pasien 3. 4. Gunakan apron Imobilisasi yang tepat : pakai alat dan waktu dikurangi Hindari pengulangan foto Luas 3 x 4,5 x 3 m Tempat di lantai dasar Terpisah dari ruang gelap Penyinaran minimal 1,5 2 m atau dibalik layar Rutin diperiksa 6 bulan sampai 1 tahun sekali Dinding ruang penyinaran harus dapat menahan radiasi yang berasal dari alat

Proteksi Ruangan

Proteksi Operator

Dosis maksimal 5 rem atau 50 mSv per tahun Pekerja radiasi minimal berusia 18 tahun dan wanita menyusui dilarang bekerja Tidak boleh ada di lintasan sinar Film harus dipegang oleh pasien Menggunakan alat pelindung Operator harus berdiri kurang lebih 2m dari pasien dan tabung serta bertolak belakan dengan pancaran sinar efektif PERSIAPAN SEBELUM PEMOTRETAN

1. 2.

Pasien dinstruksikan menggunakan apron. Pasien diberi petunjuk cara memegang film. pasien untuk menahan napas kurang dari 1 detik pada saat pemotreatan berlangsung). Dalam hal ini operator harus mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk pemotretan pada masing-masing gigi. Rahang atas I C P M Waktu (detik) 0,3 0,4 0,5 0,8 Rahang bawah I C P M Waktu (detik) 0,3 0,4 0,5 0,6

3. Pasien diberi tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemotretan (diusahakan

4.

Pasien diberitahu hal-hal apa saja yang sebaiknya tidak dilakukan selama pemotretan berlangsung, diharapkan agar pasien tidak bergerak selama pemotretan untuk mencegah hasil yang kurang baik.

5.

Operator menanyakan kepada pasien apakah pasien mudah mual (refleks muntah tinggi/rendah), diharapkan dapat mengatur waktu semaksimal mungkin agar tidak merangsang refleks muntah sampai selesainya pemotretan.

6. 7.

Pasien diinstruksikan untuk melepaskan perhiasan, kacamata, ataupun benda lainnya yang kiranya mengganggu selama pemotretan dan dapat mempengaruhi hasil pemotretan Operator mengatur posisi kepala pasien. Posisi kepala untuk foto rahang atas yaitu tegak lurus dengan garis khayal Posisi kepala untuk foto rahang bawah yaitu tegak lurus dengan garis khayal yang ditarik dari cuping hidung ke tragus atau posisi garis khayal sejajar lantai. yang ditarik dari sudut mulut ke tragus atau posisi garis khayal sejajar lantai.

Pengaturan posisi kepala yang salah dapat menyebabkan gambaran gigi geligi tampak miring atau gambaran bagian apikal dapat terpotong. 8. Penentuan titik penetrasi gigi yang dijadikan objek foto: Gigi I : pada fossa nasalis Gigi C : pada tepi cuping hidung Gigi P1 rahang atas Gigi P2 Gigi M1 Gigi M2 Gigi M3 : 1cm lebih ke posterior dari gigi P1 : pertemuan sudut akhir mata dengan garis khayal rahang atas : 1cm lebih ke posterior dari gigi M1 : 1cm lebih ke posterior dari gigi M2 : pertemuan bagian tengah pupil mata dengan garis khayal

Ket: usahakan pemunduran gigi berdasakan lebar mesial-distal gigi. Titik penetrasi untuk gigi-gigi rahang bawah adalah proyeksi titik-titik penetrasi rahang atas pada garis khayal rahang bawah (0,5 cm dari batas bawah rahang bawah). Titik penetrasi yang salah dapat menyebabkan gambaran tidak fokus pada gigi, gambaran gigi kurang detail, gambarannya tampak ektopik (seperti diambil dari samping), atau dapat pula ada gambaran tabung pada foto rontgen. 9. Penempatan film Pada gigi-gigi anterior rahang atas posisi film ditempatkan secara vertikal, sedangkan pada gigi-gigi anterior rahang bawah, gigi-gigi posterior rahang atas dan gigi-gigi posterior rahang bawah posisi film ditempatkan secara horizontal. Panjang film disisakan 0,5 cm dari tepi insisal atau oklusal gigi. Sumbu panjang gigi berada tepat ditengah-tengah film. Cara memegang film yaitu: Rahang atas (kanan) Rahang atas (kiri) Rahang bawah(kiri) : ibu jari kiri yang memegang film : ibu jari kanan yang memegang film : telunjuk kanan yang memegang film

Rahang bawah (kanan) : telunjuk kiri yang memegang film

Penempatan film yang salah dapat membuat bagian apikal gigi tidak terfoto, bagian mahkota pada foto terpotong, ada gambaran tabung pada foto, gambaran tidak pada

region yang diinginkan (jari bergerak), gambaran buram (jari bergerak), tidak semua gigi yang diinginkan terbawa (gambaran salah satu gigi terpotong), gambar melebar. 10. Pengaturan sudut Sudut vertikal yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar rontgen dengan bidang oklusal. Sudut horizontal yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar rontgen dengan bidang sagital. Sudut vertikal rahang atas:

I C P M I C P M I C P M

: 550 - 600 : 450 : 450 - 500 : 250 - 300 : 00 - -100 : -100 - -150 : -100 - -200 : 00 - -200 : 00 : 450 : 750 : 900

Sudut vertikal rahang bawah:


Sudut horizontal rahang atas dan rahang bawah:


Pengaturan sudut tabung yang salah dapat mengakibatkan adanya gambaran tabung pada foto, gambaran foto tidak fokus pada gigi, gigi yang diinginkan tidak terfoto, atau distorsi gambaran pada foto. 11. Operator memberi tahu pasien agar memperhatikan bunyi dari alat rontgen, sehingga pasien dapat memperkirakan waktu pemotretan berlangsung, ataupun waktu dimana saatnya untuk tidak bergerak dan menahan napas selama kurang dari 1 menit sehingga pasien merasa siap saat pemotretan. 12. Posisi pasien diusahakan senyaman mungkin. 13. Operator menggunakan apron saat pemotretan berlangsung untuk proteksi diri. TEKNIK PEMOTRETAN EKSTRAORAL 1. Lateral Oblique (Eislers Photo) Digunakan untuk ramus dan body mandibula.

Indikasi : -

Fraktur body mandibula, koronoid, simpisis dan angulus serta bagian belakang rahang atas. Melihat keadaan patologi pada region tersebut. Melihat gigi tidak erupsi pada ramus dan body mandibula serta rahang atas belakang. Untuk pasien trismus. Teknik pemotretan : Duduk, berdiri, tidur (terlentang). Posisi kepala diputar 10. Jarak sinar dengan film sekitar 90 cm. Sudut bila duduk/berdiri 10-20 dari horizontal. Sudut bila tidur/terlentang 10-20 dari vertikal. 65 kV, 10 mA, selama 0,25 s.

2. Lateral 2.1 Sinus maksilaris

Indikasi : menginterpretasikan sinus maksilaris dan melihat benda asing pada sinus maksilaris. Teknik : Kepala tegak. jarak film 12 inchi. sudut tabung tegak lurus film, 65 kV, 10 mA, 0,25 s.

2.2 Tulang muka Teknik hampir sama dengan lateral sinus, tetapi konus diletakkan sedikit di depan zygoma pada radiogram terlihat sinus frontalis. 2.3 Profile Untuk melihat jaringan muka, terlihat outline tulang fasial, disebut juga teknik soft tissue.

Teknik hampir sama dengan foto lateral, hanya perlu 50-60 kV karena daya tembusnya rendah dan tulang tidak terlihat oleh jaringan ikat muka. 2.4 Rahang atas Modifikasi ekstraoral dan intraoral (oklusal) teknik ini dilakukan untuk melihat kelainan tulang hidung atau tulang anterior maksila dan untuk melihat lokasi gigi di bukal dan palatal. 2.5 Rahang bawah Untuk melihat kelainan pada tulang simphisis dan tulang dagu.

2.6 Tulang tengkorak Untuk mendeteksi patah tulang tengkorak dan kelainan patologis dari tulang tengkorak. Cara Kerja proyeksi lateral: - Posisi duduk/berdiri, kepala tegak lurus lantai. - Jarak sinar ke film 36 inchi. Sinar tegak lurus bidang sagital dan film. 65 kV, 10 mA, selama 0,5 s. Konus tabung : sinar tegak lurus sagital/pipi, tepat pada os. Temporal.

3. Postero-Anterior 3.1 Tulang tengkorak Hidung dan dahi kontak dengan film

Proyeksi sinar pada bidang orbito mentale (dari titik terluar telinga ke titik luar mata). 3.2 Sinus

Jarak sekitar 100 cm.

Berdiri posisi kepala (bidang sagital tegak lurus lantai) Duduk posisi kepala (hidung, dahi kontak dengan film) Sinar 20 dengan horizontal. 65 kV, 10 mA, selama 0,5 s.

3.3 Rahang Bawah Proyeksi sinar melalui angulus mandibula searah dengan sagital dan tegak lurus film. Sudut sinar tegak lurus film. 65 kV, 10 mA, selama 0,5 s. Dahi menempel dengan film.

3.4 Water (Occipitomeatal)

65 kV, 10 mA, selama 1,25 s. Sudut diarahkan pada garis tengah occiptomeatal dan tegak lurus film. Jarak sinar film 24 inchi. Posisi bisa duduk dan berdiri.

4. Antero-Posterior Ada 4 macam : Submentovertical, townes, antero-posterior view of skull, antero-posterior projection of TMJ. Teknik : - Arah sinar vertikal di depan kepala sekitar 5 cm (18-20 inchi) - 65 kV, 10 mA. 5. Sendi Rahang Ada 4 macam : Transkranial, TMJ, Transfaringeal, Innercanthus.

6. Panoramik Indikasi : - Pemeriksaan masal geligi RA dan RB - Kelainan dento alveolar maksila dan mandibula - Rencana perawatan dan evaluasi - Kondisi patologis (anomali/infeksi)

Keuntungan - Daerah yang terfoto luas - Teknik sederhana - Dosis minimal - Waktu singkat - Kooperatif baik dengan pasien

Kerugian -Kualitas rendah - Distorsi - Overlap -Penyimpangan vertikal dan horizontal -Biaya relatif mahal

7. Cephalometrik Indikasi : Melihat maloklusi. Analisa dento maksilofasial. Rencana perawatan dan evaluasi ortho. Kelainan kraniofasial. Lihat profil wajah (jaringan lunak).

TEKNIK PEMOTRETAN INTRA ORAL Teknik periapikal, ada dua cara,yaitu: Teknik bidang bagi (bisektris)

Prinsipnya adalah penempatan arah sinar rontgen tegak lurus terhadap bidang bisektris. Bidang bisektris yaitu bidang yang terletak di tengah-tengah sudut yang dibentuk oleh sumbu panjang gigi objek dengan film. Cara kerjanya yaitu: 1. Penentuan posisi kepala Posisi kepala untuk foto rahang atas yaitu tegak lurus dengan garis khayal yang ditarik dari cuping hidung ke tragus atau posisi garis khayal sejajar lantai. Posisi kepala untuk foto rahang bawah yaitu tegak lurus dengan garis khayal yang ditarik dari sudut mulut ke tragus atau posisi garis khayal sejajar lantai. 2. Penentuan titik penetrasi gigi yang dijadikan objek foto Titik penetrasi pada gigi-gigi rahang atas yaitu: Gigi I: pada fosa nasalis

Gigi C: pada tepi cuping hidung Gigi P1: pertemuan bagian tengah pupil mata dengan garis khayal Gigi P2: 1cm lebih ke posterior dari gigi P1 Gigi M1: pertemuan sudut akhir mata dengan garis khayal rahang atas Gigi M2: 1cm lebih ke posterior dari gigi M1 Gigi M3: 1cm lebih ke posterior dari gigi M2

rahang atas

Titik penetrasi pada gigi-gigi rahang bawah adalah proyeksi titik-titik penetrasi rahang atas pada garis khayal rahang bawah (0,5 cm dari batas bawah rahang bawah) 3. Penempatan film Untuk gigi-gigi anterior rahang atas posisi film vertikal, sedangkan untuk gigi-gigi anterior rahang bawah dan gigi-gigi posterior rahang atas dan rahang bawah posisi film horizontal. Panjang film disisakan 0,5 cm dari tepi insisal atau oklusal gigi. Bagian peka dari film menghadap ke gigi. Cara memegang film yaitu:

Rahang atas: kanan ibu jari kiri yang memegang film kiri ibu jari kanan yang memegang film

Rahang bawah: kanan telunjuk kiri yang memegang film kiri telunjuk kanan yang memegang film

4. Pengaturan sudut Sudut vertikal yaitu sudut yang dibentuk oleh sinar rontgen dengan bidang oklusal, sedangkan sudut horizontal adalah sudut yang dibentuk oleh sinar rontgen dengan bidang sagital. Sudut vertikal rahang atas: I : 55-60 C : 45 P : 45-50 M : 25-30 I : 0- -10 C : -10- -15

Sudut vertikal rahang bawah:

P : -10- -20 M : 0- -20 I: 0 C : 45 P : 75 M : 90 Sulit menentukan bidang bisektris Penyebaran sinar rontgen yang mengenai film akibat tidak sejajar Tersebarnya sinar rontgen akibat jarak antara tabung rontgen dan film Sulit dilakukan untuk pasien anak-anak

Sudut horizontal rahang atas dan rahang bawah:

Kekurangan teknik bisektris yaitu:

poros panjang gigi dan film makin kecil

Teknik kesejajaran (paralel)

Prinsipnya adalah arah sinar rontgen tegak lurus terhadap film dan sumbu panjang gigi. Jarak tabung dengan film yaitu 41 cm, sedangkan jarak antara gigi dengan film kurang lebih 2,5 cm. Jika jarak terlalu dekat, maka bayangan akan lebih besar, sebaliknya jika jarak terlalu jauh, maka bayangan akan lebih kecil dari aslinya. Untuk teknik ini dibutuhkan alat bantu yang disebut sebagai extension cone paralleling. Cara kerja dari teknik ini yaitu:

Kepala pasien diatur sehingga bidang oklusal sejajar dengan lantai Film dimasukkan dengan posisi yang sesuai dengan gigi yang dituju Operator mengobservasi inklinasi gigi untuk mensejajarkan film dengan Bite block dimasukkan ke mulut pasien dengan bagian peka dari film Sejajarkan bite block dengan bagian oklusal supaya film sejajar dengan sumbu

(horizontal atau vertikal) ke dalam extention cone paralleling yang sesuai

bidang bukal gigi yang dituju menghadap gigi yang dituju dan bagian tepi film berkontak dengan palatum panjang gigi

Pasien diminta menggigit bite block dan dibatasi cotton roll Locator ring digeser dan diatur agar sesuai dengan kebutuhan sehingga fokus Selanjutnya lakukan penyinaran

pada film, kemudian tabung diarahkan ke locator ring tersebut


Teknik bite wing, film yang digunakan yaitu film periapikal, hanya diperlukan alat

bantu berupa sayap atau lidah yang digigitkan dalam posisi oklusi. Teknik ini tidak memperlihatkan bagian apikal dari geligi. Cara kerja teknik ini yaitu:
1. Buat bite tab pada film periapikal

2. Atur posisi kepala pasien seperti pengaturan posisi kepala pasien pada teknik periapikal
3. Masukkan film bite wing ke dalam mulut pasien. Film diletakkan di sebelah

lingual dengan bagian yang peka menghadap gigi, tepi film meliputi permukaan palatal gigi atas.
4. Bite tab ditempatkan tepat pada permukaan oklusal gigi atas dan bawah dan

ditutupkan rahangnya semaksimal kemampuan pasien kemudian bite tab digigitkan pada bagian luar 5. Arahkan tabung rontgen sedemikian rupa sehingga besar sudut vertikalnya sekitar 5 Keuntungan teknik bite wing foto yaitu: Film dekat dengan sinar, sehingga diharapkan hasil mendekati sempurna Karies tahap awal lebih cepat terdeteksi Meringankan risiko pada pasien dengan reflex muntah tinggi Puncak alveolar crest mudah terlihat Bagian periapikal tidak terlihat Pasien sering sulit mengoklusikan kedua rahang sehingga puncak alveolar tidak terlihat
Teknik oklusal, biasa disebut teknik sandwich film. Ukuran film yang digunakan

Kerugian bite wing foto yaitu:

berukuran 5,5 x 7,5 cm/ 5 x 7 cm. Metode ini meliputi geligi seluruh rahang. Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan daerah yang lebih luas dibanding foto periapikal. Ada dua cara, yaitu: Teknik topografi (proyeksi anterior) Rahang atas:

1. Posisi pasien diatur agar bidang oklusal rahang atas sejajar lantai (garis median tegak lurus lantai) 2. Bagian film yang peka menghadap rahang atas 3. Film digigitkan antara rahang atas dan rahang bawah 4. Posisi tabung ditempatkan diantara alis pasien dengan sudut vertikal 65 dan sudut horizontal 0 Rahang bawah: 1. Kepala pasien tengadah dengan sudut 25 terhadap bidang horizontal 2. Film ditempatkan pada mulut dengan bagian film yang peka menghadap rahang bawah 3. Pasien mengoklusikan secara kuat agar film tidak goyang 4. Tabung rontgen dipusatkan pada puncak dagu dengan sudut vertikal -55 dan sudut horizontal 0

Teknik cross section 1. Kepala diatur sehingga bidang oklusal rahang atas sejajar lantai (bidang sagital tegak lurus lantai) 2. Film ditempatkan pada rahang atas dengan bagian film yang peka menghadap rahang atas 3. Film digigitkan dengan kuat 4. Atur tabung dengan sudut vertikal 90 dan sudut horizontal 0

Rahang atas:

Rahang bawah: 1. Pasien berbaring menengadah dengan bidang sagital sejajar lantai dan bidang oklusal tegak lurus lantai 2. Film diletakkan dalam mulut pasien dengan bagian film yang peka menghadap rahang bawah 3. Pasien menggigit film secara kuat 4. Tabung diatur 2,5 cm di bawah dagu dengan sinar tegak lurus film YANG DIPERLUKAN SEBELUM PENGOLAHAN 1. Kamar gelap Prosesing hanya dapat dilakukan didalam kamar yang bebas dari sinar putih, sinar lampu, dan sinar alam. Kamar gelap sebaiknya berada dekat dengan ruang radiografi dan sedapat mungkin ruangan tersebut diproteksi dari sinar radiasi. Semua pintu dan panel

didalam ruang gelap harus tertutup rapat, sehingga waktu dilakukan pemrosesan dapat dikunci atau diberi tanda diatas pintu tersebut. Ukuran dari ruang gelap harus cukup luas, sehingga memudahkan operator untuk bergerak. 2. Tangki Tangki untuk pemrosesan sebaiknya dibuat dari porselen, baja yang tidak berkarat/ yang dibuat dari gelas dimana dapat diisi dengan air hangat dan air dingin. Diatas tangki tersebut dapat ditempatkan penggantung film untuk penempatan film yang sudah diproses. 3. Ventilasi Ventilasi di ruang gelap harus memenuhi syarat terutama ruang gelap yang ukurannya kecil. 4. Safe light Safe light harus ada didalam kamar gelap tersebut karena tidak mungkin bekerja didalam ruangan yang benar-benar gelap. Safe light sebaiknya berfilter, sehingga film yang sangat sensitif masih dapat mentilerirnya. Harus diperhitungkan watt dari bola lampu dan jarak lampu dengan tempat pemrosesan. Kadang-kadang digunakan 2 safe light, yang pertama diatas bangku pengeringan dan yang lain ditempatkan diatas tangki air. Lampu yang berwarna putih digunakan untuk memeriksa radiograf yang masih basah. 5. Kebersihan Kebersihan sangat penting supaya kamar gelap tetap bersih karena film sinar-X sangat sensitif terhadap kontaminasi. Bagian tengah foto tidak boleh berkontak dengan jari dan apabila berkontak maka akan terjadi bekas jari pada foto yang sudah diproses. Sebaiknya penggantung yang dipergunakan adalah penggantung yang khusus untuk periapikal. 6. Alat yang diperlukan Termometer untuk mengecek temperatur cairan.
Pemanas untuk menjaga agar temperatur developer tetap 20oC.

Pencatat waktu untuk pemrosesan karena diperlukan waktu yang tepat. Lorong untuk film yang sudah disinar. Lap/serbet untuk pengering tangan. Harus ada AC.

7. 8. 9.

Pengecekan larutan yang digunakan dalam pemrosesan apakah masih layak digunakan atau tidak. Periksa urutan larutan yang digunakan dalam pemrosesan. Pemeriksaan keran air. PENGOLAHAN FILM (FILM PROCESSING) Pengolahan film adalah suatu cara yang bertujuan mengubah bagian tubuh yang

menjadi objek pemotretan, yang awalnya tidak terlihat oleh mata, pada film yang telah mendapat penyinaran, menjadi terlihat oleh mata setelah film rontgen diolah secara kimiawi menggunakan cairan kimia tertentu. Pengolahan film rontgen adalah suatu rangkaian kerja yang meliputi proses pengembangan, proses pembilasan, proses penetapan, proses pencucian dan proses pengeringan. Tahap Pengolahan Film Pengolahan film pada umumnya terdiri dari 5 tahap :
1. Tahap Pengembangan (Developing) Prinsip : terjadi reduksi kristal perak (AgBr) yang sudah terurai pada proses

penyinaran perak logam yang berwarna hitam pada bahan dasar film rontgen.
Suhu : 200C selama 15-25 detik. Cara : seluruh permukaan film berkontak dengan larutan dengan cara digoyang-

goyangkan.
2. Tahap Pembilasan (Rinsing) Tujuan : untuk menghentikan proses pengembangan dan mencegah terkontaminasinya

asam larutan penetap oleh basa yang terbawa film rontgen dari larutan pengembang. Cara : film dibilas dengan air mengalir selama 30 detik.
3. Tahap Penetapan (Fixing) Prinsip : Terjadi pelepasan kristal perak halida yang tidak terurai dan tidak

dikembangkan dalam proses pengembangan sehingga terjadi gambaran yang jernih dan bening pada foto. Tujuan : - menghentikan proses pengembangan - menetapkan bayangan secara permanen - mengeraskan emulsi film

4. Tahap Pencucian (Washing)

Tujuan : untuk menghilangkan bahan-bahan kimia pada larutan penetap. Waktu : 20 menit Prinsip : daya kerja larutan pengembang dan larutan penetap akan meningkat bila suhu lebih tinggi, sehingga densitas menjadi lebih optimal. Tujuan : untuk menghilangkan air dari permukaan foto rontgen. Cara : foto diangin-anginkan dengan menggunakan hair-dryer.

5. Tahap Pengeringan (Drying)

Metode Pemprosesan Film Ada 2 metode pemprosesan film : A. Manual 1. Dengan Kamar Gelap : a. Metode Visual b. Metode Temperatur (waktu)
2. Tanpa Kamar Gelap (self processing)

B. Pemprosesan Otomatis A. Manual Metode Pemprosesan Dengan Kamar Gelap : Metode Visual Yang dipergunakan dalam klinik gigi adalah metode visual :
1. Sebelumnya semua lampu dipadamkan kecuali safe light.

2. Film yang sudah disinari dibawa ke kamar gelap dan dibuka dari film pembungkusnya.
3. Masukan film yang sudah dibuka tersebut ke dalam larutan developer selama 8-10

detik tergantung dari developer yang digunakan. Film diangkat keluar dari developer dan diamati di bawah safe light, apakah sudah ada bayangan putih yang kabur atau belum. (Proses ini disebut proses Developing).
4. Kemudian film tersebut dicuci di bawah air yang mengalir selama 20 detik (Proses ini

disebut Rinsing).
5. Film selanjutnya dimasukkan ke dalam larutan fiksasi sampai terlihat gambaran gigi

dan jaringan sekitarnya (proses ini disebut proses Fixing).

6. Film tersebut dicuci di bawah air yang mengalir sampai bau asam dari larutan fiksasi

hilang (proses ini disebut proses Washing).


7. Proses yang terakhir adalah tahap pengeringan dari film tersebut (proses ini disebut

drying). Keuntungan metode visual : 1. Film lebih dapat berkembang dalam hal kontras detailnya pada bagian subjek yang harus terlihat, sehingga gambar pada film yang seharusnya terang akan terlihat terang dan yang seharusnya gelap akan terlihat gelap. 2. Dengan metode ini apabila jumlah film yang akan diproses cukup banyak dan waktu penyinaran yang bervariasi, tidak akan menimbulkan kebingungan pada pemprosesan film-film tersebut. 3. Apabila film ternyata disinar terlalu berlebihan maka dengan metode ini akan dimungkinkan mengurangi efek penyinaran sehingga didapat detail gambar yang lebih bagus. 4. Apabila film sedikit kurang tersinari maka dengan metode ini akan dimungkinkan mempertajam penyinaran sehingga didapat detail gambar yang lebih bagus. Metode Temperatur Waktu
1. Sebelumnya semua lampu dipadamkan kecuali safe light.

2. Film yang telah disinari dibawa oleh pembungkusnya.

operator ke kamar gelap dan dibuka dari

3. Film digantung pada penggantung film kemudian dimasukkan ke dalam larutan developer

dengan temperatur tertentu. Lamanya sesuai dengan temperatur waktu (Proses ini disebut proses Developing).
4. Kemudian dibilas dengan air (proses ini disebut rinsing). 5. Selanjutnya film dimasukkan ke dalam larutan fiksasi sampai terlihat gambar yang jelas

(proses ini disebut proses fixing).


6. Film dicuci kembali dengan air yang mengalir (tahap washing). 7. Tahap yang terakhir adalah pengeringan (tahap drying).

Contoh tabel temperatur waktu : temperatur (derajat F) 60 (derajat C) 15,6 Waktu developing (detik) 6,5

65 68 70 75 Keuntungan metode temperatur waktu :

18,3 20 21,1 23,4

5 4,5 4 3

1. Dapat dengan tepat mengecek waktu penyinarannya, sebagai contoh apabila film

dimasukkan dala developer pada 650F dalam waktu 5 menit dan ternyata terlalu hitam maka film tersebut kurang tersinari dan apabila film terlalu putih maka film tersebut tersinari berlebihan. 2. Film tidak usah dicek dari waktu ke waktu, interval waktunya sudah di set, apabila alarmnya berbunyi, maka film dapat dikeluarkan dari larutan tersebut. Metode Pemrosesan Tanpa Kamar Gelap : Metode Self Processing Yang juga dipakai dalam klinik gigi adalah metode self processing. Larutan pemproses yang mengandung developer dan fiksasi dalam satu larutan yang disebut juga monobath, disuntikkan ke dalam pembungkus film yang sudah disinar, lalu dipijat dengan jari selama 15 detik. Kemudian pembungkus film dibuka dan film dimasukkan ke dalam larutan pengeras. Lalu dibilas dengan air mengalir dan kenudian dikeringkan. B. Pemprosesan Otomatis Proses ini dengan menggunakan alat. Alatnya disebut Prosesor otomatis. Caranya : Film yang sudah disinar dimasukkan ke dalam prosesor otomatis yang sudah berisikan larutan developer dan fiksasi. Film secara otomatis melalui kedua larutan tersebut dan keluar dari alat sudah dalam keadaan kering. Proses ini biasa digunakan untuk film-film yang ukurannya besar, misalnya panoramik, sefalometri. Bahan Yang Diperlukan Untuk Proses Pengolahan Film : Larutan developer terdiri atas : kontras (perbedaan densitas area) yang baik, mudah larut dalam air, mudah dipengaruhi suhu.
1. Hydroquinone, merupakan zat pereduksi (reducing agent). Zat ini menghasilkan

2. Metol (elon), merupakan zat pereduksi yang menyebabkan timbulnya densitas gambar. Zat ini mudah larut, tidak mudah dipengaruhi suhu, daya pengembang tinggi namun sukar meresap ke emulsi sehingga kontras kurang jelas. 3. Natrium karbonat, untuk mempertahankan derajat kebasahan supaya developer dapat berfungsi. Disebut juga aselerator sebab dapat mempercepat kerja developer. 4. Kalium bromide, berfungsi mereduksi kristal-kristal yang tidak tertembus sinar-X dan mencegah timbulnya kabut pada film. 5. Natrium Sulfit, mencegah zat pereduksi teroksidasi oleh oksigen yang ada di dalam air atau oksigen yang berasal dari udara.
6. Air, sebagai zat pelarut untuk melarutkan bahan kimia pada bubuk pengembang

(menggunakan air hangat 40-500 C). Larutan developer yang digunakan pada pengolahan harus ditutup untuk mengurangi oksidasi dan zat ini harus ditaruh di dalam ruangan pada temperatur 20 derajat atau temperatur yang dianjurkan oleh pabrik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi dari larutan developer adalah untuk mengendapkan halida perak yang ada emulsi film yang tertembus sinar-X sehingga berwarna hitam.

Pembilasan (rinsing) bertujuan untuk menghilangkan larutan pengembang (bersifat basa) sebelum dimasukkan ke dalam larutan penetap (bersifat asam). Pembilasan dilakukan menggunakan air yang mengalir. Larutan Fiksasi terdiri atas : developer. 2. Asam asetat, untuk menetralisir sifat basa dari sisa-sisa larutan developer yang masih melekat pada film. 3. Natrium sulfit, untuk mencegah terurainya zat fiksasi dalam asam asetat. 4. Kalium alumunium sulfit (boraks), untuk mengeraskan gelatin pada emulsi fim. 5. Air pada suhu 30-40 C, merupakan zat pelarut. Dapat disimpulkan bahwa larutan fiksasi berfungsi sebagai larutan, dimana zat ini 1. Natrium tiosulfat, untuk melarutkan perak bromide yang tidak larut dalam larutan

melarutkan kristal yang tidak tembus sinar-X sehingga film tersebut bersih dari larutan emulsi halida perak dan larutan developer yang tertinggal. INTERPRETASI RADIOGRAFIS

Interpretasi radiografi merupakan tahap pembacaan dan pengidentifikasian film hasil foto radiografi. Dalam melakukan interpretasi, operator harus memperhatikan hal-hal berikut: Detail, menyangkut struktur anatomi gigi dalam radiograf yang terlihat diupayakan mendekati sempurna. Densitas, adalah derajat kehitaman paada film foto yang telah tampak dan diproses. Kontras, perbedaan densitas diantara berbagai regio pada radiografi. Gambaran pada foto radiografi ada tiga macam:
Radioopak putih Radiolusen hitam Radiointermediate abu-abu

Tiga hal utama yang harus diperhatikan: Tulang Soft tissue Gigi

Tulang Gambaran : - normal - variasi normal - abnormal Abnormal a. Perubahan utama: Peningkatan radiolusen -Bentuk -Margin (terputus atau tidak, halus atau ireguler) -Korteks (penampakan dari korteks) -Struktur internal Contoh kasus : 1. Rarefying osteitis 2. Remodeling 3. Perikoronitis 4. Cysts surgical defect 5. Abses periodontal

6. Malignant neoplasma 7. Difus atrophy 8. Benign neoplasma 9. Fibrous dysplasia 10. Periapikal sementum dysplasia 11. Osteomielitis 12. Pagets disease 13. Hiperparatiroid 14. Histiocytosis Peningkatan radioopak Penyebabnya : 1. Superimposition : Struktur tulang, soft tissue/objek eksternal. 2. Foreign bodies (benda asing) : Metal, medikamen endodontic. 2. Substansi tulang : Struktur anatomi, sklerosing osteitis, tori, osteoma, neoplasma. 3. Substansi tooth-like: Odontoma akar, gigi yang tidak erupsi, gigi supernumerer yang tidak erupsi. Kombinsai peningkatan radioopak dan radiolusen Periapikal segmental dysplasia (periapikal osteofibrosis) Inflamasi kronis Neoplasma benign

Densitas normal tetapi struktur tulang berubah -Fibrosis dysplasia -Anemia

b. Perubahan sekunder Efek : Permukaan eksternal tulang -lingual plate -bukal plate -lower border of mandible -floor of sinus

-floor of nose : thinned - displaced -destroyed -external deposition Gigi -tilted -move bodily -unsupported by bone -resorbed -hipersementosis Laminadura - Single -Multiple thinned ,absent Soft tissue

Pembesaran soft tissue outline : Kista retensi pada antrum maksila Jaringan gingival kalau ada neoplasma

Sialolithis : radioopak pada salivary gland dan duktus submandibular. Gigi Mahkota Merupakan bagian paling padat pada tubuh manusia sehingga lebih banyak menerima atau menyerap sinar rontgen daripada jaringan lain. Bagian dentin dan semen pada gigi mempunyai kepadatan yang sama, gambarannya tidak beda yaitu radioopak sedangkan email lebih padat sehingga gambarannya lebih radioopak. Batas email dan dentin tajam dan berbatas jelas. Macam-macam kelainan mahkota : -Karies radiolusen -Tambalan radioopak lebih padat dariapda email -Fraktur garis radiolusen. diagonal, horizontal ataupun vertical. Dari arah mana sampai mana. Missalnya dari mesial ke distal sampai ujung apeks Pulpa dan saluran akar Merupakan lubang dengan jaringan lunak menyerap sinar lebih sedikit sehingga gambarannya radiolusen. Keseluruhan pulpa hampir sama, kadang-kadang ada

pemanjangan dan pembesaran. Ukurannya bervariasi, pada anak-anak biasanya lebar, makin dewasa makin sempit dan bentuknya mengkerucut ke apical. Akar Gambaran densitas dengan mahkota sangat kecil. Akar tiga pada bagian palatinal sering tidak tampak. Yang harus diperhatikan: -Jumlah akar untuk rahang atas dan rahang bawah -Bentuknya normal atau anomaly -Terdapat fraktur ataukah tidak dan bagaiman arahnya. -Miring ataukah tidak -Jika tidak ada kelainan ditulis Dalam Batas Normal Membran periodontal Gambaran radiolusen yang menempel pada akar gigi, tampak berupa garis tipis tidak terputus yang tampak mulai dari batas CEJ sampai ke apical. Apabila terdapat kelainan membrane periodontal dapat mengalami pelebaran, terputus-putus atau menghilang serta sebutkan lokasi tempat kelaianan tersebut, misalnya Mesial, distal. Laminadura Merupakan lapisan tipis tulang kotikal pada soket yang mempunyai gambaran radioopak yang menempel pada semen. Terletak antara membrane periodontal dan alveolar. Tampak berupa garis tipis tidak terputus mulai dari CEJ samapi apical. Apabila terdapat kelainan lamiandura dapat mengalami penebalan, terputus atau bahakan hilang serta cantumkan lokasi kelainan tersebut. Furkasi Area tempat akar gigi terbagi dua. Kelainan yang dapat terjadi pada daerah furkasi berupa ada tidaknya pelebaran meembran periodontal ataupun ada tidaknya bagian radiolusen Puncak tulang alveolar Gambaran radioopak padat , bentuk runcing, lebih tinggi dari CEJ yang terletak antara CEJ distal dan CEJ mesial gigi. Jika terdapat kelainan , puncak alveolar dapat menurun di bawah CEJ dan juga dapat terdapat resorpsi horizontal atau vertical. Cantumkan pula bentuk resorpsinya dan lokasinya. Misalnya resorpsi sampai 1/3 apikal. Periapikal

Gambarannya bisa dalam batas normal ataupun terdapat kelainan. Kelainan tersebut dapat berupa: -Radiolusen dengan batas jelas dan tidak tegas granuloma -Radiolusen dengan batas jelas dan tegas kista -Radiolusen dengan batas difuse (menyebar) abses -Pelebaran periodontitis Kesan Kesan berupa kelainan pada lokasi-lokasi yang sudah diinterpretasi. Misalnya : Terdapat kelainan pada mahkota, akar, membrane periodontal, dll. Suspek Radiologis Suspek Radiologis berupa diagnose penyakit setelah menginterpretasi foto rontgen. Anatomi Radiografi Maksila Sutura intermaklsilaris Terletak anatar dua prosessus alveolaris. Gambaran radiografi terlihat pada orang muda, pada orang tua jarang. Merupakan garis putih sepanjang batas maksila. Fossa nasalis Merupakan gambaran radiolusen berbentuk lekuk, kadang-kadang abu-abu. Bentuk pear, huruf W lebih bulat di inferior dan septum nasalis membentuk garis tengah radioopak. Bentuk fossa membentuk garis hitam dibatasi garis putih sempit. Terletak dekat dengan foramen incisivum. Foramen incisivum Merupakan celah pada batang sagital, berbentuk bundar, pear, hati mengerucut. Gambarannya radiolusen bulat jelas dengan dibatasi garis radioopak. Saluran air mata (ductus lacrimalis) Berbentuk oval, diatas akar gigi. Antrum maksilaris Gambaran radiolusen dengn garis radioopak tipis mengelilingi bentuk bulat, W atau oval. Ukurannya bervariasi, merupakan perlusasn dari premolar menuju ke tuberositas. Processus koronoideus

Bayangan berbentuk kerucut dengan apex mengarah ke atas dan ke depan. Apex dapat tumpul atau tajam dengan densitasnya bervariasi dari radioopak halus sampai radioopak jelas. Tulang zygomatikus Merupakan gambaran raadioopak yang berbentuk huruf U. Sinus maksilaris

Anatomi Radiografi Mandibula Symphisis mandibula Ganbarannya berupa radiolusen hitam tipis. Foramen mentalis Terletak diantara premolar kedua dan molar pertama atau antara premolar pertama dan premolar kedua. Median line Radioopak tidak teratur. Mylohyoid ridge Tumpul, agak naik. Gambarannya radioopak bulat dan tipis. Fossa sublingual dan fossa submaksilaris Gambarannya radiolusen atau abu-abu gelap dibawah region caninus. Angulus mandibula Merupakan lekuk besar membulat, tampak radioopak garis yang menyempit ke arah posterior. Terletak dia tas ramus dan di anterior, di bawah incisivum. Foramen mandibula Terlihat antara premolar sampai molar, radiolusen jelas. Antar akar gigi, lurus, panjang bervariasi. Line oblique eksterna kadang akan terlihat Mental triangle Kadang-kadang tampak pada foto rontgen seperi gambaran dua garis radioopak menyudut ke arah median line (padat).