Anda di halaman 1dari 4

LIBERALISME Liberalisme berasal dari kata latin liber, yang berarti bebas.

Liberalisme menyokong kebebasan, kata lain yang berhubungan dangan liber. Teori dasar dari liberalisme dapat ditemukan di tulisan John Locke pada abad ke-17 dan Adam Smith pada abad ke -18. Liberalisme awal itu dikenal sebagai liberalisme klasik. Pada abad ke-19, liberalisme dimodifikasi oleh beberapa ahli seperti T. H. Green dan Jane Addams. Liberalisme hasil modifikasi ini kemudian dikenal sebagai liberalisme modern. Liberalisme Klasik John Locke (1632-1704) adalah seorang filsuf Inggris yang kemudian sering dikatakan sebagai penemu dari Liberalisme. Locke hidup di masa dimana keadaan politik sedang dalam keadaan kalut. Dalam masa hidupnya, seorang raja dieksekusi dan institusi monarkinya dihapus, direinstitusi, dan dibatasi kekuasaannya. Dalam bukunya yang berjudul Two Treatieses of Government (1690), Locke berargumentasi tentang pembatasan pemerintahan dan perlindungan untuk hak asasi. Dia membangun kasus logis untuk keduanya dengan mendiskusikan dengan ekstensif tentang kepribadian manusia, state of nature, hukum alam, dan asal muasal dari negara. Pembahasannya tentang topic itu mencapai puncak pada penolakannya terhadap teori Robert Filmer (15881653), seorang filsuf yang mendukung doktrin tentang kekuasaan absolut raja. Menurut Filmer, Tuhan memberi raja otoritas absolute atas rakyatnya. Sperti menurut Filmer, rakyat lahir sebagai subjek dari monarki dan memiliki kewajiban untuk setia pada monarki. Sementara itu, Locke percaya bahwa rakyat yang membangun pemerintahan dengan persetujuan untuk pemerintahan itu, dan pemerintahan itu berkewajiban melayani masyarakat, bukan menganggapnya sebagai subjek. Menurut Locke, yang dapat dipelajari dari state of nature adalah bahwa kepribadian manusia dikarakterisasi dengan kebebasan, persamaan, dan akal. Manusia secara alamiah bebas, lahir tanpa kewajiban untuk bergantung pada siapapun. Oleh karena itu, dalam state of nature tidak ada aturan kepada siapa kita patuh. Sementara itu, setiap orang secara alamiah sejajar dengan yang lain. Setiap orang dilahirkan sama dan memiliki hak asasi yang sama (hak asasi adalah hak yang kita dapatkan sebagai manusia). Hak tersebut adalah bagian dari sifat alami manusia. Locke percaya bahwa hak asasi terdiri dari hak untuk hidup, bebas, dan kepemilikan. Sejauh kita sama sebagai manusia, setiap pribadi kita punya hak untuk mengklaim hak tersebut secara bebas. Locke mengklasifikasi tiga hukum alam: 1. Preserve yourself. Urusi diri sendiri dan semua kebutuhanmu. Berusahalah untuk keselamatan diri sendiri 2. Do not harm others. Jangan mencari masalah dengan memulai konflik dan perang. Jika kita menyerang orang lain, ini akan membahayakan dan

beresiko terhadap diri kita sendiri dan dengan demikian hal itu merusak hukum alam yang pertama 3. Help others if possible. Bantu orang lain selagi mungkin tanpa meletakkan diri kita dalam bahaya. Menurut Locke, masing-masing dari hukum itu sangat jelas sekali. Hal itu mengatur untuk menjaga diri kita sendiri, untuk menghindar dari situasi yang membahayakan nyawa kita, dan untuk menolong orang yang akan mengingat kebaikan kita dan akan membalas kebaikan kita. Melalui diskusinya tentang hukum alam, Locke sampai kepada kesimpulan yang sangat penting: manusia mampu menjalani hidupnya sendiri karena mempunyai akal. Dalam pembentukan negara, Locke menjekaskan, masyarakat memberinya kekuasaan, tapi kekuasaan yang terbatas. Negara punya tugas terbatas untuk membuat civil laws, yang mendukung hak asasi. Dengan cara ini, hak asasi dilindungi dan dibuat lebih aman dengan keberadaan dari institusi yang punya tanggung jawab spesifik untuk membuat dan memaksa hukum untuk melindungi nyawa, kebebasan, dan kepemilikan. Jika negara melebihi otoritasnya, hal itu akan merusak hak tersebut. Locke menyebut negara tersebut sebagai tirani, otoriter, dan tidak bisa diterima. Locke membuat beberapa poin inti bagi Liberalisme klasik. Pertama, ia telah membuktikan bahwa individu lebih penting daripada negara. Individu adalah pencipta dari negara dan otoritasnya. Tanpa persetujuan eksplisit individu, negara tidak akan pernah ada. Kedua, Locke berkesimpulan bahwa the individual is capable of independence and self-determination. Kebebasan adalah alamiah. Pengendalian diri adalah alamiah untuk manusia karena manusia dapat memahami hukum alam. Manusia berkemampuan untuk membuat keputusan bagi dirinya sendiri, dan menjalani hidupnya senyaman mungkin serta terutama bisa melakukan hal itu tanpa membahayakan orang lain. Ketiga, Locke telah membuktikan dasar ideologis untuk percaya bahwa proses itu mungkin dalam hubungan antar manusia. Karena manusia bersifat rasional, mereka dapat mengambil langkah positif untuk meningkatkan dan membentuk suatu masyarakat. Perubahan tidak seharusnya ditakuti karena manusia dapat mengarahkan perubahan kearah yang lebih baik. Keempat, teori Locke bertujuan agar kekuasaan negara haruslah terbatas. Negara membuat hidup kita lebih aman karena negara punya kekuatan untuk memaksakan hukum alam. Pemberlakuan ini memberikan kita perlindungan atas hak asasi kita. Setiap orang, selama dia tidak merusak hukum alam, harus dibiarkan mandiri, sehingga ia dapat memutuskan bagaimana cara untuk menikmati hak asasinya. Hal-hal yang dikemukakan Locke itulah yang kemudian menjadi dasar atas Liberalisme klasik.1

Ellen Grigsby, Analyzing Politics, (Belmont, California: Cengage Learning, 2009), h. 98-102

Liberalisme Modern Filsuf Inggris T. H. Green (1836-1882) adalah orang yang mencetuskan tentang liberalisme modern. Liberal modern membuat beberapa perubahan kepada teori liberal: mereka berpendapat tentang campur tangan pemerintah dan pengembangan tentang kebebasan. Campur tangan pemerintah adalah pemerintahan tyang mengambil bagian atas regulasi ekonomi dan interaksi sosial. Pengembangan kebebasan adalah objek yang dituju dengan campur tangan pemerintah. Green memberikan penjelasan tentang perubahan dari bentuk liberalisme dengan menunjuk apa yang ia pertimbangkan sebagai implikasi yang tidak dapat diterima dari liberalisme klasik. Menurutnya, liberalisme klasik melihat kebebasan dalam kondisi bebas dari intervensi negara. Seseorang bebas, menurut liberalisme klasik, jika ia tidak diatur atau tidak diperintah oleh pemerintahan. Menurut Green, definisi kebebasan yang seperti itu terlalu sempit. Green memilih untuk mendefinisikan kebebasan secara umum, lebih ekspansif, dan lebih inklusif. Definisi kebebasan menurut Green adalah untuk menghilangkan batas antara potensi manusia dan membuat kontribusi kreatif untuk masyarakat. Liberalisme modern mengembangkan pandangan konsep kebebasan sebagai memaksimalkan potensi individu dan menggunakan potensi itu untuk berkotribusi sebagai bagian dari masyarakat. Kebebasan melibatkan hidup secara aktif, menggunakan kemampuan dan memenuhi potensi seseorang. Green berpendapat bahwa campur tangan pemerintah dibutuhkan untuk mendukung kebebasan yang lebih ekspansif, yang dikenal sebagai kebebasan yang positif. Negara seharusnya tidak dibatasi untuk melindungi individu, tapi harus ikut campur dalam masyarakat atas nama mereka yang kebebasannya dirusak. Liberalisme modern mendukung tindakan pemerintah untuk membantu mereka yang kekurangan sumber daya untuk mengembangkan potensinya. Liberalisme modern juga bertujuan bahwa hukum sah untuk mengatur tentang jumlah jam yang dibutuhkan pekerja untuj bekerja dan bahwa hukum itu bisa untuk mendukung peraturan tentang kesehatan masyarakat. Apakah hukum semacam itu mengganggu kebebasan negatif? Tentu saja ya, menurut Green. Itu adalah tanggung jawab pemerintah untuk campur tangan dalam masyarakat dan membatasi kebebasan seseorang atau kelompok jika orang atau kelompok itu bertindak menghalangi kesempatan orang lain untuk mengembangkan potensinya. Teori Green memberikan beberapa pandangan dari ideologi liberal modern. Pertama, kita dapat melihat liberalisme modern percaya bahwa campur tangan pemerintah dapat mendukung dan menjamin kebebasan individu. Mendefinisikan kebebasan sebagai hak yang ekspansif, liberalisme modern menegaskan bahwa peraturan negara melindungi kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, dan secara umum mencegah eksploitasi dan pembatasan dari kebebasan yang positif. Bertambahnya campur tangan negara dalam masyarakat dapat menuntun kepada naiknya level dari ekspansi kebebasan. Kedua, liberalisme modern tidak mengesampingkan liberalisme klasik untuk

menerima ketidak-sejajaran ekonomi. Menurut liberalisme modern, orang miskin mungkin punya kesulitan untuk menemukan potensinya, dengan demikian, kemiskinan sebagai penghambat untuk mengekspansi kebebasan harus diperbaiki oleh hukum yang disahkan oleh campur tangan pemerintah. Dengan kata lain, liberalisme modern percaya atas persamaan alamiah dan kesetaraan ekonomi. Ketiga, liberalisme modern mendukung kesejahteraan sosial. Sesungguhnya, kita dapat melihat kemiripan antara teori Green dengan kebijakan yang dibuat untuk membantu orang yang kekurangan untuk mencapai potensinya.2 Pada intinya, liberalisme modern mengajarkan tentang: a. Campur tangan pemerintah terkadang dibutuhkan untuk mencegah seseorang atau kelompok yang mencoba menghalangi kebebasan orang lain. b. Kebebasan harus dimengerti secara umum, ekspansif, dan positif: sebagai kebebasan untuk mencari dan mengembangkan potensi manusia serta memberikan kontribusi yang berarti untuk masyarakat. c. Ketidak-setaraan ekonomi harus dicurigai sebagai kondisi yang mengikis kesejahteraan dari mereka yang memiliki pendapatan lebih rendah dan dengan demikian mengurangi kesempatan mereka untuk menjadi bebas. Sementara liberalisme klasik mengajarkan tentang: a. Individu lebih penting dari negara, dan untuk menjadi seorang warga negara harus melalui suatu persetujuan. b. Setiap individu berkemampuan untuk mengambil keputusannya sendiri, ini membuat individu mampu untuk berotonomi. c. Kemajuan adalah hal yang mungkin dalam hubungan politik, jadi perubahan bukanlah sesuatu yang patut untuk ditakuti. d. Kekuasaan negara harus dibatasi. e. Ketidak setaraan ekonomi tidak terlalu menjadi masalah. f. Kebebasan ekonomi (kebebasan individu untuk untuk membuat keputusan ekonomi) lebih penting dari kesetaraan ekonomi.

Ibid., h. 104-106