Anda di halaman 1dari 17

EMPOWERING PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER

PROGRAM PASCASARJANA STAI DIPONEGORO TULUNGAGUNG BEKERJASAMA DENGAN HIMPUNAN ALUMNI STAI DIPONEGORO TULUNGAGUNG (HASTADIPTA)

PLATFOM PRAKSIS PENDIDIKAN KARAKTER


Oleh: Dr. Teguh, M.Ag

Tema pendidikan Nasional


2 Mei 2010, Menteri Pendidikan Nasional menentukan tema Pendidikan Karakter Untuk Keberadaban Bangsa. Banyak orang yang memberikan sambutan gegap gempita luar biasa, dengan menyebut sebagai satu kebangkitan pendidikan karakter di negeri ini Mengapa? Karena negeri ini banyak ketidakjujuran, makelar kasus, dan video mesum, tawuran pelajar dan antar suku. Sungguh tema Hardiknas itu mengingatkan kita bahwa bangsa ini sudah menjadi bangsa yang tidak civilized lagi.

Peristiwa penting Indonesia


Tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi dan bahkan merupakan masa puncak dari krisis karakter. Bentuk konkret dari krisis karakter ini terlihat dari kerusakan akibat korupsi, kerusakan ekonomi, krisis kepercayaan, konflik horizontal, karakter yang anarki dan cenderung menyenangi kekerasan dan kemunafikan, serta hilangnya kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Kini, Indonesia kita yang seharusnya makin dewasa, malah semakin mempertontonkan keanehan sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Kekerasan di mana-mana, bom muncul di mana-mana. Islam memperlihatkan wajah garang, dan tidak damai

Apa itu pendidikan karakter?


Pengertian karakter : bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Maka berkarakter : berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Pendidikan karakter : suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilainilai tersebut esensinya : pendidikan moral

Apa tujuan pendidikan karakter?


Tujuannya : membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Konteks Indonesia yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Pendidikan karakter berpijak dari karakter dasar manusia, dari nilai moral universal (bersifat absolut) yang bersumber dari agama yang juga disebut sebagai the golden rule.

9 (sembilan) pilar Pendidikan karakter


Pendidikan karakter meliputi 9 (sembilan) pilar yang saling kait-mengait, yaitu: 1. responsibility (tanggung jawab) 2. respect (rasa hormat) 3. fairness (keadilan) 4. courage (keberanian) 5. honesty (kejujuran) 6. citizenship (kewarganegaraan) 7. self-discipline (disiplin diri) 8. caring (peduli), dan 9. perseverance (ketekunan).

Nilai dasar pendidikan karakter


Menurut para ahli psikolog, beberapa nilai karakter dasar tersebut adalah: cinta kepada Allah dan ciptaan-Nya (alam dengan isinya), tanggung jawab, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati, toleransi, cinta damai, dan cinta persatuan Karena itu : Pendidikan karakter merupakan upayaupaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata

krama, budaya, dan adat istiadat

Pilar karakter yang mana yang harus dikembangkan di Indonesia?

Secara spesifik ada pilar-pilar yang perlu memperoleh penekanan. Sebagai contoh: 1.pilar karakter kejujuran (honesty) 2.pilar keadilan (fairness) 3.pilar toleransi (tolerance) 4.rasa hormat (respect) dan 5.persamaan (equality).

Siapa yang harus terlibat dalam pendidikan Karakter?


Pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah).

Lanjutan
Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak hanya pembelajaran pengetahuan semata, tatapi juga penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti luhur, dll, Pemberian penghargaan (prizing) kepada yang berprestasi, dan hukuman kepada yang melanggar, menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan mencegah (discowaging) berlakunya nilai-nilai yang buruk. Di masyarakat, situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan.

Lanjutan
Membangun karakter dari pintu pendidikan harus dilakukan secara komprehensifintegral, tidak hanya melalui pendidikan formal, namun juga melalui pendidikan informal dan non formal. Selama ini, ada kecenderungan pendidikan formal, informal dan non formal, berjalan terpisah satu dengan yang lainnya. Akibatnya, pendidikan karakter seolah menjadi tanggung jawab secara parsial.

Cerita dari Singapura :


Lee Kwan Yew ketika tahun pertama menjabat PM Singapura, memprioritaskan membangun jiwa, mental, dan karakter warga negaranya. Setelah memasuki tahun kedua, ia membangun seribu WC umum seantero Singapura, lalu membeli seribu dompet yang diisi dengan ratusan dolar Singapura dan kemudian sengaja ditempatkan pada seribu WC umum tersebut. Ketika dicek satu hari setelahnya, seribu dompet itu masih utuh, demikian juga setelah dua hari masih belum ada yang bergeser dari tempatnya. Pada hari ketiga, satu dompet hilang, tetapi ditemukan di kantor polisi di mana isinya tak berkurang

Bagaimana dengan Indonesia?


Banyak hal yang memiriskan ketika mengamati sistem pendidikan kita. Di depan mata, nilai-nilai kejujuran telah diinjak-injak. Mencontek, menjiplak karya orang lain, melakukan sabotase, pandai mengeluh, membebek, dan mengambil jalan pintas, adalah hal yang sering terjadi dan dianggap biasa. Bagus, ada kantin kejujuran, tapi butuh kontrol, kesabaran dan evaluasi yang berkala.

Seharusnya
Secara institusional, Pemerintah hendaknya memasukkan pendidikan budaya dan karakter bangsa melalui penguatan kurikulum, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, sebagai bagian dari penguatan sistem pendidikan nasional. Dengan begitu: Pendidikan karakter akan senantiasa hidup dan sinergi dalam setiap rongga pendidikan. Sejak anak lahir, ketika berada di lingkungan sekolah, kembali ke rumah, dan bergaul dalam lingkungan sosial masyarakatnya, akan selalu menjadi tempat bagi anak-anak untuk belajar, mencontoh, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya yang dipelajari dan dilihatnya itu

Akhirnya
Dengan pendidikan yang dapat meningkatkan semua potensi kecerdasan anak-anak bangsa, dan dilandasi dengan pendidikan karakternya, diharapkan anakanak bangsa di masa depan akan memiliki daya saing yang tinggi untuk hidup damai dan sejahtera sejajar dengan bangsabangsa lain di dunia yang semakin maju dan beradab. Wallahu alam bi al-shawab

Sekian & Terima Kasih