Anda di halaman 1dari 34

Ruang Bebas Dalam rangka menjaga kesinambungan arus lalu lintas kapal karena adanya objek tetap, seperti

jembatan, maka perlu ada ruang bebas untuk menjaga keselamatan pelayaran. Bila lintasan yang bersangkutan di lewati oleh kapal berukuran besar maka ruang bebas harus cukup tinggi, setidaknya 30 m. Misalnya pada saat pembangunan jembatan Siak direncanakan dengan dengan ruang bebas hanya sebesar 23 m, sedangkan Kementrian perhubungan mempersyaratkan untuk ruang bebas sekurtangkurangnya 30 m, maka akan mengganggu pelayaran menuju pelabuhan, dan atau mengacu kepada ketentuan batas maksimum muka air untuk navigasi. Data perubahan ruang bebas di atas permukaan alur pelayaran perairan daratan yang diperlukan adalah: 1. Data ruang bebas antara muka air yang tertinggi dengan pembangunan yang terendah yang menyilang alur. 2. Data mengenai adanya rencana pembangunan banguna yang menyilang alur (jembatan, waduk, kabel listrik/jaringan pipa), 3. Data ruang bebas di atas permukaan air diwaktu npasang tinggi,dan 4. Data penyebab perubahan. Perawatan Alur Agar alur pelayaran yang menjadi sarana utama bagi angkutan perairan ini tetap bias digunakan sepanjang masa, maka alur ini juga harus di rawat secara regular. A. Habatan Pelayaran Disamping kelebihan yang dimiliki oleh perairan darat sebagai sarana angkutan, disisi lain hambatan juga bias terjadi karena berbagai factor, di antaranya berupa:

1. Tonggak-tonggak yang tertyanan di sungai dahan dan atau ranting-ranting serta sampah rumah tangga , merupakan gangguan yang besar terhadap pelayaran. Hal ini sebagaimana dialami oleh water way (bus air) pernah di operasikan di DKI Jakarta, sehingga petugas yang harus sering-sering membersihkan sampah dari propeller kapal. Di Indonesia sungai masih di anggap tempat mandi, cuci dan kakus (buang hajat), dan juga sebagai tempat untuk membuang smapah. 2. Dahan dan atau ranting-ranting kayu yang menjorok ketengah sungai, sisa-sisa penenbangan kayu atau hutan yang terbawa oleh hutan yang terbawa arus sungai, balok-balok kayu yang terhempas dari ikatanya, juga kerap menjadi hambatan bagi angkutan ini. 3. Kerangka kapal yang berada di alur pelayaran perairan daratan. 4. Batu-batuyan dan segala macam endapan atau pendangkalan sungai. 5. Jenis tumbuh-tumbuhan atau gulma yang tumbuh atau berada di alur pelayaran perairan darat yang mengganggu. Khususnya di perairan tropis adalah t6anaman seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), terutama pada perairan yang kecepatan arusnya rendah, tanaman semak di pingiir alur. Sungai Musi telah terganggu cukup parah oleh Eceng Gondok yang mengganggu pergerakan kapal, karena gulma ini mengganggu keseimbangan ekosistem, mesin kapal atau perahu kapal sering mati mendadak garagara eceng gondok membelit propeller. 6. Pandangan sungai atau alur karena daerah aliran sungai kurang dikendalikan dengan baik dengan banyak penebangan liar, daerah pertanian yang pengendalian erosinya buruk, pertambangan, terutama tambang yang membuang sisa hasil tambang (tailing) ke sungai mengakibatkan pendangkalan yang sangat cepat. Karena itu, di butuhkan pengerukan yang secara terus menerus seperti yang di gunakan di nambang sungai Barito. Kebutuhan dasar Pelayaran perairan daratan adalah pengendalian kedalaman alur pelayaran. Untuk itu, pengerukan untuk menjaga kedalaman alur pelayaran perlu

dilakukan. Memang biaya menjadi pertimbangan utama dalam melakukan pengerukan tetapi pada bisa dilakukan analisis ekonomi untuk menilai manfaat pengerukan terhadap transportasi perairan daratan. Disamping itu perlu ada gerakan nasional untuk menjaga agar erosi bisa di kendalikan dengan baik di daerah aliran sungai/hinterland sungai yang bersangkutan. 7. Bangunan atau benda-benda yang menyilang alur baik di atas maupun di bawah permukaan air. B. Pemeliharan Guna menghidarkan terjadinya hambatan dalam pelayaran, perlu dilakukan program pemeliharaan alur. Tahap pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan alur meliputi: a. Penelitian terhadap : 1) Lokasi yang akan di bersikan 2) Jenis dan sumber datangnya hambatan 3) Kondisi hambatan (volume) 4) Rencana lokasi pembuangan b. Persiapan operasional terhadap kelengkapan dan tenaga 1) Unit kapal pembersih alur 2) Petugas/personil 3) Rencana pelaksanaan pembangunan 4) Alat-alat perlengkapan lainnya sehubungan dengan pekerjaan pemeliharaan alur. C. Teknik Pelaksanaan Perawatan Pelaksanaan pemeliharaan alur pelayaran perairan daratan, bisa di lakukan dengan membersihkan sungai dari berbagai sampah dan juga melakukan pengerukan alur secara

berkala. Pelaksanaan pemeliharaan alur sebaiknya di lakukan pada saat musim kemarau, atau saat air surut, atau saat-saat yang di perlukan mulai dari daerah hilir ke hulu sungai. Pembuangan hasil pembersihan alur, baik berupa sampah maupun dari pengerukan, agar di buang di suatu tempat pembuangan terdekat yang di sediakan khusus untuk penampungan, dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Pendanaan terhadap pekerjaan pemeliharaan alur, di biayai oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Teknik pelaksanaan pemeliharaan alu dapat di lakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Terhadap tonggak-tokgak yang tertanam di sungai a. Dengan cara mengikat kemudian di angkat dengan kekuatan Derek (crane) atau dengan cara mengikat kemudian di tarik dengan kekuatan tenaga penggerak kapal : atau menggunakan 2 (dua) buah Floater yang berisi air dan di ikat pada bagian bawah tonggak tersebut, kemudian air dalam floater tersebut di pompa keluar sehingga tonggak tersebut terangkat. b. Apabila cara-cara tersebut tidak berhasil maka pada lokasi tersebut di pasang rambu sungai yang sesuai dengan peruntukanya. 2. Terhadap dahan dan atau ranting-ranting kayu yang hanyut dan sisa-sisa penebangan hutan, dapat di kumpulkan dengan jala kemudian di angkat dan dimasukan ke dalam tongkang untuk di buang ke lokasi pembuangan. 3. Terhadap0 dahan atau ranting-ranting kayu yang mengarah ke sungai, dilaksanakan dengan menebang seluruh dahan dan atau dengan ranting-ranting kayu yang menjorok ke sungai. Kemudian dimasukan ke dalam tongkang untuk di buang ke lokasi pembuangan. 4. Terhadap balok-balok kayu yang terlepas dari ikatanya. Maka balo-balok kayu tersebut di kumpulkan, diteliti dan di catat kemudian dibawa atau di gandeng ke tempat pos yang

terdekat. Selanjutnya dapat di kembalikan kepada pemilik dengan beberapa persyaratan/peringatan/sangsi sesuai dengan peraturan yang berlaku. 5. Terhadap kerangka kapal, dapat dilaksanakan denga ncara mengikat kerangka kapal untuk kemudian di angkat dengan Derek/crene, atau di tarik dengan kekuatan tenaga kapal dan bila memungkinkan, maka di lokasi tersebut di lengkapi dengan rambu yang sesuai dengan peruntukanya. 6. Terhadap batu-batuan, dapat di laksanakan terlebih dahulu dengan meneliti jenis/kondisi dan lokasi batu-batuanya. Bila dimungkinkan di angkat dengan menggunakan derek/crane atau di tarik dengan menggunakan tenaga kapal, dan bila tidak mungkin di hancurkan dengan dinamit, dan bila tidak memungkinkan juga pada lokasi tersebut di pasang rambu sesuai pada peruntukanya. 7. Terhadap jenis tumbuh-tumbuhan (rumput echornia) a. Dalam kelompok kecil, dapat dengan menggunakan jala yang kemudian dimasukan ke dalam tongkang untuk di buang ke lokasi pembuangan. b. Dalam kelompok besar, untuk tidak menimbulkan kerusakan lingkungan maka dapat menggunakan zat kimia antara lain Kranaxon dengan cara di semprotkan sehingga akan terjadi pembusukan yanhg kemudian di angkat dan kemudian di masukan ke dalam tongkang untuk di buang ke lokasi pembuangan. 8. Terhadap pendangkalan/pengendapan : a. Meneliti terhadap penyebab terjadinya pendangkalan. b. Meneliti terhadap lokasi rawan erosi yang di sertai dengan usaha-usaha untuk mengatasinya. c. Mengadakan pengerukan alur. 9. Pemeliharaan alur pada bagian sungai yang berkelok-kelok (meandering). Dilakukan dengan merekayasa sungai (rivertraining) dengan cara pembuatan krab-

krab/tongak/graving pada tepi sungai di lokasi-lokasi berikut.

D. Pencegahan Dalam rangka pencegahan terhadap hambatan pelayaran perlu mengambil langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mengadakan penelitian terhadap asal atau sumber datangnya hambatan-hambatan tersebut dan cara penanggulangannya. 2. Memberi kesadaran dan tanggung jawab masyarakat setempat dan menempatkan / memasang papan pengumuman di daerah pemukiman, pabrik-pabrik daerah penebangan hutan dan di tempat-tempat yang di perlukan melalui pemerintah daerah setempat tentang : a. Larangan membuang kotoran/limbah, sampah/sisa-sisa penebangan hutan ke sungai yang dapat membahayakan lalu lintas kapal. b. Meneliti dan mengikat kuat-kuat balok dan rakit yang berada dalam lingkup tanggung jawabnya. 3. Menempatkan pos-pos pengawasan alur di tepi sungai setiap jarak maksimum 15 km, lengkap dengan petugas pegawai yang memantau alur pelayaran secara rutin. 4. Mempersiapkan dan menugaskan petugas /regu-regu khusus membersihkan alur

dengan tugas mengadakan pengawasan/ pengamatan alur dan pelaksanaan secara rutin. 5. Pemasangan tanda/rambu petunjuk pada lokasi rawan erosi pada batas kecepatan maksimum bagi pemakai alur. 6. Mewajibkan para pemegang atau pemilik HPH untuk mengadakan pemugaran sepanjang tepi sungai pada wilayah kerjanya dan atau penawaran pada daerah-daerah yang di duga sumber datangya pengotoran sungai dengan ukuran dan konstruksi yang sesuai dengan fungsinya untuk menahan dating / hanyutnya segala jenis hambatan/ kotoran yang terbawa dari daratan atau terbawa air surut. 7. Memberi rekomendasi terhadap instansi yang akan melaksanakan segala bentuk bangunan /benda-benda yang akan di bangun menyilang alur pelayaran baik di atas

maupun di bawah permukaan air sesuai dengan kondisi kan keadaan penggunaan alur setempat. 8. Membangun atau memasang konstruksi turap pada pinggir tebing di tikungan sungai dan atau lokasi rawan erosi.

Jenis Dermaga Perairan di Pedalaman Ada beberapa jenis dermaga yang biasa di gunakan yaitu : A. Dermaga Quay Wall Dermaga ini terdiri struktur yang sejajar pantai, berupa tembok yang terdiri di atas pantai. Dermaga ini dapat di bangun dengan beberapa pendekatan konstruksi. Di antara lain pile baja/beton, caisson beton atau open filled structure. Beberapa pertimbangan dalam membangun quay wall : 1. Dermaga Quay Wall adalah dermaga yang di buat sejajar dengan pantai dan relative berhimpit dengan pantai (kemiringan pantai curam). 2. Konstruksi dermaga biasanya di bangun langsung berhimpit dengan arel darat. 3. Kedalaman perairan cukup memadai dan memungkinkan bagi kapal merapat dekat sisi darat (pantai). Kedalaman perairan tergantung pada ukuran kapal yang akan berlabuh di dermaga tersebut. 4. Kondisi tanah cukup keras 5. Pasang surut tidak mempengaruhi pada pemilihan tipe struktur pada detail konstruksi yang di butuhkan. B. Dermaga Dolpin Dermaga Dolpin merupakan tempat sandar kapal berupa dolpin yang di bangun di atas tiang pancang. Biasanya dermaga ini berlokasi di pantai yang landai, sehingga di perlukan jembatan dermaga (a bridge; trestle) sampai dengan kedalaman yang di butuhkan.

Beberapa pertimbangan yang di pakai dalam pembangunan dermaga dolpin: 1. Dermaga Dolpin adalah sarana tambat kapal yang fasilitas bongkar muatnya ada di haluan atau butiran. 2. Jarak kedalaman periran yang di syaratkan dari pantai relative cukup panjang. 3. Terdapat konstruksi tambahan berupa jembatan dermaga (trestle), tanggul atau dapat juga keduanya. 4. Sarana Tambat yang akan direncanakan terdiri dari struktur breasting dan mooring yang yang di hubungkan dengan catwalk. 5. Posisi breasting berfungsi utama sebagai sarana sandar kapal, tetapi juga dapat berfungsi sebagai sarana tambat kapal jika di pasang bollard. Sedangkan mooring dolpin berfungsi menahan kapal, sehingga tetap berada pada posisi sandar. 6. Pasang surut tidak mempengaruhi pada pemilihan tipe struktur pada detail konstruksi yang di butuhkan.

C. Dermaga Apung/Sistem Jetty Dermaga Apung adalah tempat untuk menambat kapal pada suatu ponton yang mengapung di atas air. Digunakan ponton adalah untuk mengantisipasi pasang surut air laut agar posisi kapal dengan dermaga,bisa selalu sama. Guna menunjang kegiatan bongkar muat atau naik turun penumpang, antara ponton dengan dermaga di hubungkan dengan suatu landasan atau jembatan yang fleksibel ke darat yang bisa mengakomodasi pasang surut air laut. Biasanya dermaga apung digunakan untuk kapal kecil, yach atau feri seperti yang digunakan di dermaga penyeberangan yang banyak terdapat di sungai-sungai yang mengalami pasang surut. Ada beberapa jenis bahan yang di gunakan untuk membuat dermaga apung :

1. Dermaga ponton baja yang mempunyai keunggulan mudah untuk di buat tetapi perlu perawatan, khususnya yang di gunakan di muara sungai yang airnya bersifat lebih kondusif. 2. Dermaga ponton beton yang mempunyai keunggulan mudah untuk di rawat sepanjang tidak bocor. 3. Dermaga ponton dari kayu gelondongan, yang menggunakan kayu gelondongan yang berat jenis nya lebih berat dari air,sehingga bisa mengapung dermaga.

D. Desain Dermaga Sebelum proses pembangunan dilakukan, terlebih dahulu harus di buat desain. Dasar petimbangan dalam perencanaan dermaga adalah sebagai berikut : 1. Posisi dermaga di tentukan oleh ketersediaan lahan ndan kestabilan tanah di sekitar sungai. 2. Panjang dermaga disesuaikan atau di hitung berdasarkan kebutuhan kapal yang akan berlabuh. Dasar pertimbangan desain panjang dermaga yang biasanya dijadikan acuan adalah 1.07 sampai 1,16 panjang kapal (LOA). 3. Lebar dermaga di sesuaikan dengan kemudahan aktifitas bongkar muat kapal dan pergerakan kendaraan pengangkutan di darat. 4. Letak dermaga harus dekat dengan fasilityas penunjang yang ada di daratan. 5. Elevasi dermaga di tentukan memperhatikan kondisi elevasi permukaan air sungai/pasang surut. E. Desain Dermaga Quay Wall Struktur Wall (dinding) penahan dermaga , sangat tergantung kepada beberapa hal sebagai berikut : 1. Kondisi tanah, merupakan factor utama dalam menentuka jenis quay wall yang akan di pilih.

2. Tekanan tanah. 3. Muatan pada dermaga,beban merata, beban titik, gaya-gaya mooring (yang di terima melalui bollard ataupun fender). 4. Kedalaman kolam air atau sungai di kolam dermaga. 5. Pengaruh pasang surut dan garis air permukaan. 6. Faktor-faktor sekunder lainnya seperti angin,arus, gelombang, dan beberapa factor minor lainnya. F. Desain Dermaga Apung Platform terapung seperti halnya ponton harus di desai hingga memenuhi standar atau taraf kestabilan dan keamanan yang di inginkan. Dermaga ponton harus lah memiliki area permukaan dan tinggi freeboard yang mencukupi agar dapat berfungsi dengan baik. Dimensi ponton yang akan di desai tergantung dari tipe pembebanan yang di gunakan. Beban-beban yang harus dipertimbangkan yang dapat bekerja pada sebuah ponton 1. Beban static dan beban hidup. 2. Reaksi dari jalan akses (jembatan atau gangway) 3. Tekanan Hidrostatis. 4. Beban mati. 5. Gaya angkat.

G. Dermaga Perahu Setiap dermaga memiliki spesifikasi konstruksi ndan desain bangunan dan sesuai dengan peruntukan. Dermaga untuk keperluan perahu atau kapal kecil, dapat di desain secara sederhana dengan menggunakan bahan dari kayu ataupun baja.

Operasional Pelabuhan A. Pelayanan kapal Pelayanan kapal di mulai dari kapal masuk ke perairan pelabuhan, berada di kolam pelabuhan, ketika akan bersandar di tambatan, hingga kapal meninggalkan pelabuhan. Dalam rangka menjaga keselamatan kapal, penumpang dan muatannya sewaktu memasuki alur pelayaran menuju dermaga atau kolam pelabuhan untuk berlabuh, di pelabuhan tertentu di lengkapi dengan kapal pandu. Dalam kaitan ini, pemerintah telah menetapkan perairan-perairan yang termasuk dalam kategori perairan wajib pandu. Perairan pandu luar biasa dan perairan di luar vbatas perairan pandu. Untuk mengantar petugas pandu ke/dan kapal,perlu peralatan yang di sebut kapal pandu. Layanan pandu ini terutama untuk kelancaran keluar masuk kapal besar, berukuran GT 500 (lima ratus Gross Tonnage) atau lebih. B. Bongkar Muat Barang Jenis peralatan bongkar muat yang di gunakan di pelabuhan sangat tergantung kepada jenis barang yang akan di bongkar/muat. Secara umum jenis barang dimaksud di kelompokan menjadi 3 jenis yaitu : 1. Barang yang dikemas dengan peti kemas, yang semakin banyak di gunakan karena kecepatan bongkar muat yang tinggi, Sehingga mengurang waktu dan biaya yang rendah. 2. Barang umum (general cargo), yang mulai di tinggalkan karena kecepatan bongkar muat yang lambat serta di butuhkan biaya yang besar, tetapi pelayaran rakyat masih tetap di menggunakan pendekatan ini. 3. Barang curah (kering/cair) C. Instansi Penunjang Instansi penunjang yang di maksudkan disinai adalah instansi yang menunjang kegiatan pelayana jasa kepelabuhan yang meliputi :

1. Instalasi listrik dalam hal ini biasanya digunakan PLN, kecuali PLN tidak mampu menyediakan listrik bagi pelabuhan karena letak yang jauh dari jaringan PLN maupun tidak mempunyai kapasitas yang mencukupi. 2. Instalasi air yang disediakan oleh PAM pemilik pemerintah daerah maupun swasta. 3. Instalasi pengumpulan, pengelolaan limbah yang biasanya dikelola oleh pelabuhan atau bekerja samka dengan pihak ketiga. D. Logpond Logpond fasilitas untuk angkuta kayu, termasuk tempat penimbunan yang berada di angkutan sungai. Fasilitas ini di perlukan dalam rangka mengatur muatan kayu yang banyak di angkut dari daerah-daerah pedalaman. Dalam kaitan ini, Direktur Jendral Perhubungan Darat dan Direktur Jendral Kehutanan telah membuat keputusan bersama pada tahun 1972. Dalam keputusan bersama tersebut di tetapkan bahwa penggunaan sungai dan perairan pedalaman untuk kegiatan angkutan kayu dan Logpond (tempat penimbunan kayu di perairan sungai), diperlukan ijin dari Direktur Jendral Perhubungan Darat. E. Persyaratan Pembuatan Logpond Persyaratan pembuatan tempat penimbunan, kayu di lakukan oleh Direktur Jendral Perhubungan Darat dan diarahkan agar : 1. Tidak menggangu alur pelayaran 2. Tidak menyebabkan pendangkalan 3. Tidak terletak pada belokan sungai dan wilayah pemukiman 4. Tidak membahayakan kehidupan masyarakat dam mencemari lingkungan. F. Ukuran Logpond Ukuran tempat pembuatan timbunan kayu di tetapkan sebagai berikut: 1. Panjang di tetapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan navigasi pada alur pelayaran dan kondisi penggunaan perairan daratan untuk keperluan lainya. 2. Lebar tidak boleh melebihi sepertiga lebar alur pelayaran pada lokasi tersebut.

3. Luas 1 m2 daratan air disamakan dengan 1 m3 kayu (logs) G. Ijin penggunaan Logpond Guna mendapatkan ijin pembuatan penimbunan kayu , pemohon harus mengajukan surat permohonan kepada Menteri Perhubungan dengan melampirkan : 1. Bukti pemegang HPH dan atau HPHH 2. Laporan hash 1 pendapatan lapangan untuk pembuatan tempat penimbunan kayu yang bersangkutan. 3. Peta lokasi untuk tempat penimbunan kayu. 4. Rekomendasi dari Pemerintah Daerah Setempat 5. Memiliki Nomer Poko Wajib Pajak (NPWP) 6. Pemegang ijin tempat penimbunan kayu diwajibka untuk mematuhi ketentuanketentuan yang dicantumkan dalam sura pemberian izin pembuatan tempat penimbunan kayu dan ketentuan perundang-undangan yang berkait dengan bidang usahanya. 7. Selanjutnya menetapkan bahwa untuk membuat tempat penimbunan kayu yang terletak di perairan daratan. Yang merupakan alur pelayaran kapal laut, harus mendapatkan rekomendasi Dari Direktorat Jendral Perhubungan Laut. Persyaratan Operasional Setiap kapal yang melayani angkutan sungai dan danau, wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Memenuhi persyaratan Teknis/kelaikan sungai sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2. Memiliki fasilitas sesuai dengan spesifikasi teknis prasarana pelabuhan pada trayek yang dilayani. 3. Memiliki awak kapal sesuai dengan ketentuan persyaratan pengawakan untuk kapal sungai dan danau.

4. Memiliki fasilitas utama dan atau fasilitas pendukung baik bagi kebutuhan awak kapal maupun penumpang, barang dan atau hewan, sesuai dengan persyaratan teknis yang berlaku. 5. Mencantumkan identitas perusahaan / pemilik dan nama kapal yang di tempatkan pada bagian kapal yang mudah di baca dari samping kiri dan kanan kapal. 6. Mencantumkan informasi atau petunjuk yang di perlukan dengan menggunakan bahasa Indonesia. A. Persyaratan Kelaikan Kapal Dan Pengawakan Kapal Setiap kapal yang memiliki ukuran di bawah GT 7 (<7 GT) yang akan di operasikan untuk angkutan sungai dan danau dapat diukur, didaftarkan dan memenuhi persyaratan kelaikan kapal dan pengawakan kapal. Setiap kapal yang memiliki ukuran mulai dari GT 7 ke atas (>7 GT) yang akan di operasikan untuk angkutan sungai dan danau wajib di ukur, didaftarkan, untuk bisa memenuhi persyaratan kelaikan persyaratan pengawakan kapal, dan dapat diberi tanda kebangsaan. Kapal yang telah diukur diberi surat ukur, dan kapal yangsudah di daftarkan diberi surat tanda pendaftaran dan tanda pendaftaran. Kapal dengan ukuran mulai dari GT 7 keatas yang telah di beri surat ukur dan surat tanda pendaftaran, dapat di beri surat tanda kebangsaan kapal Indonesia. Kapal yang telah memenuhi persyaratan kelaikan kapal dan pengawakan kapal, diberi sertifikat kelayakan kapal dan sertifikat pengawakan kapal. Pemberi surat ukur, surat tanda pendaftaran dan tanda pendaftaran. Pemberian surat ukur, Surat tanda pendaftaran dan surat pendaftaran, sertifikat kelaikan kapal dan sertifikat pengawakan kapal. Pemberian surat ukur, surat tanda pendaftaran dan tanda pendaftaran, sertifikat kelaikan kapal dan sertifikat pengawakan kapal unyuk kapal di bawah GT 7, diberikan oleh bupati/Walaikota sebagai tugas desentralisasi. Pemberian surat ukur, surat tanda pendaftaran dan tanda

pendaftaran, sertifikat kalaikan kapal, sertifikat pengawakan kapal, dan surat tanda kebangsaan untuk kapal yang memiliki ukuran mulai dari GT 7 ke atas, diberikan oleh Bupati/Walikota setempat sebagai tugas pembantuan. Pengawasan terhadap pelaksanaan tugas pembantuan, dilakukan oleh Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi. Pelaksanaan pemberian surat ukur, surat tanda pendaftaran dan tanda pendaftaran, sertifikat kelaikan kapal dan sertifikat pengawakan kapal untuk di bawah GT 7 , didasarkan pada pedoman dan prosedur yang di terapkan oleh Direktorat Jendral dan Direktorat Jendral Perhubungan Laut. Pelaksanaan pemberian surat ukur, Surat tanda pendaftaran dan tanda pendaftaran, sertifikat kelaikan kapal, sertifikan pengawakan kapal dan surat tanda kebangsaaan untuk kapal yang memiliki ukuran mulai GT 7 ke atas, didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kapal yang telah memenuhi persyaratan di terbitkan surat ijin berlayar sungai dan danau yang berlaku untuk 1 kali perjalanan. Surat ijin berlayar sungai dan danau di terbitkan oleh Dinas Kabupaten/Kota di tempat pemberangkatan kapal sebagai tugas Desentralisasi. Kapal sun gai dan danau yang telah memiliki Surat ijinh berlayar sungai dan danau hanya boleh berlayar diwilayah operasi. Dalam hal kapal berlayar kelaut harus memenuhi persyaratan kelaikan laut. Awak kapal yang bertugas dalam pengoperasian kapal untuk pelayanan angkutan sungai dan danau wajib : 1. Memakai pakaian yang sopan atau pakaian seragam bagi awak kapal perusahaan. 2. Memakai kartu tanda pengenal awak kapal sesuai dengan di keluarkan oleh perusahaan. 3. Bertingkahlaku sopan dan ramah. 4. Tidak minum minuman yang mengadung alcohol, obat bius, narkotika maupun obat lain yang dapat mempengaruhi pelayanan pelayaran.

5. Mematuhi waktu kerja, waktu istrahat dan penggantian awak kapal sesuai dengan ketentuan yang berlaku. A. Trayek Tetap dan Teratur Kapal yang melayani angkutan perairan darat, bisa ditempuh melalui trayek tetap dan di lakukan dalam jaringan trayek. Jaringan trayek terdiri dari : 1. Trayek utama yaitu menghubungkan antara pelabuhan sungai dan danau yang berfungsi sebagai pusat penyebaran. 2. Trayek cabang, yaitu menghubungkan anatara pelabuhan sungai dan danau yang berfungsi sebagai pusat penyebaran dengan yang bukan berfungsi sebagai pusat penyebaran atau antar pelabuhan sungai dan danau yang bukan berfungsi sebagai pusat penyebaran. B. Pertimbangan Penetapan Jaringan Penetapan jaringan trayek angkutan sungai dan danau dilakukan dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : 1. Tatanan kepelabuhan nasional 2. Adanya demand (kebutuhan angkutan) 3. Rencana dan/ keseiaan pelabuhan sungai dan danau 4. Ketersediaan kapal sungai dan danau (supply) sesuai dengan spesifikasi pelabuhan pada trayek yang akan di layani. 5. Potensi perekonomian daerah. C. Penetapan Trayek Penetapan trayek dilakukan dengan hirarki sebagai berikut : 1. Trayek tetap dan teratur untuk pelayanan angkutan dalam Kabupaten/Kota, ditetapkan oleh Bupati/Walikota 2. Trayek tetap dan teratur untuk pelayanan angkutan antar Kabupaten/Kota dalam propinsi, ditetapkan oleh Gubernur.

3. Trayek tetap dan teratur untuk pelayanan angkutan lalulintas antar Negara, ditetapkan oleh Gubernur tempat domisili perusahaan / pemilik kapal sebagai tugas Dekonsentrasi. Perambuan Guna mengendalikan dan mengatur lalulintas pelayaran perairan daratan, maka dibutuhkan penggunaan rambu perairan pedalaman. Rambu dalam pelayaran perairan daratan yang digunakan, diambil dan ditetapkan berdasarkan ketentuan internasional UN ECE, yang telah di adaptasi untuk digunakan di Indonesia berdasarkan buku petunjuk tentang Perambuan Lalulintas Perairan Pedsalaman di Indonesia sesuai SK Menhub RI.NO.PM.3/L/PHB-77, tanggal 18 Mei 1977. A. Jarak Pandang Dimensi rambu harus sesuai dengan jarak pandang, semakin jauh jarak pandang ke suatu sumbu di butuhkan dimensi yang lebih besar agar terbaca dengan jelas. Pada daftar berikut ditunjukan lebih lanjut ukuran rambu yang disarankan.

Tabel..? Ukuran Rambu Yang di Sarankan Jarak Pandang 30 50 100 200 Tinggi Rambu, mm 800 1300 2600 5200 Lebar Rambu, mm 600 1000 1950 3900

Gambar..? Dimensi rambu berdasarkan jarak

Sedangkan ukuran huruf yang mengacu kepada daftar sebagai berikut Tabel..? Huruf pada Rambu Agar terbaca Jarak, m 5 10 15 20 Tinggi Huruf/Angka, mm 25 50 75 100

Selanjutnya dimensi rambu yang digunakan adalah dimensi standar sebagaimana di atur dalam keputusan Dirjen PerhubunganDarat No HK 206/1/20/DPRD/93 tentang perambuan di perairan Daratan dan penyeberangan tanggal 23 September 1993. Rambu perairan pedalaman di bagi menjadi empat jenis : 1. Rambu Larangan 2. Rambu wajib 3. Rambu peringatan 4. Rambu petunjuk/penuntun.

1. Rambu Larangan

Rambu larangan terbentuk empat persegi panjang, berukuran 100 x 40 cm berwarna dasar putih dan berbentuk garis diagonal dan garis tepi warna merah setebal 10 cm, sedang petunjuk berwarna hitam dan angka-angka di dalam rambu berukuran tinggi 60 cm dan tebal 10 cm. Untuk rambu larangan berbentuk lingkaran, berukuran diameter 100 cm berwarna dasar putih dengan garis diagonal dan garis tepi lingkaran berwarna merah dengan ketebalan 10 cm. Sementara itu papan tambahan pada rambu larangan berukuran 100 x 40 cm dengan warna dasar putih dan warna huruf dan angka berwarna putih. Pada gambar berikut ditunjukan beberapa rambu larangan yang telah digunakan di Indonesia.

2. Rambu Wajib Rambu wajib ini berbentuk 4 persegi panjang, berukuran 100 x 140 cm dengan diameter lingkaran di dalamnya 50 cm, berwarna dasar putih, tepi garis berwarna merah, warna penunjuk hitam dengan ketebalan 10 cm, dan tinggi angka 50 cm. Sedang rambu wajib berupa pelampung, berbentuk silinder dengan diameter 100 cm, tinggi 140 cm, berwarna dasar putih, tepi atas dan tepi bawah berwarna merah, warna petunjuk berwarna merah dengan ketebalan 10 cm.

3. Rambu Peringatan Rambu peringatan berbentuk bujur sangkar, ukuran 100 x 100 cm, berwarna putih, Garis tepi berwarna merah, warna penunjuk hitam dengan ketebalan 10 cm. Untuk rambu peringatan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 100 x 140, berwarna dasar putih, garis tepi warna merah, warna petunjuk hitam dengan ketebalan 10 cm. Sedang rambu peringatan berbentuk papan-papan, ukuran 30 x 200 cm warna putih bersilang tersusun tegak lurus. Sementara rambu peringatan berbentuk segi tiga sama sisi, panjang sisi 100 cm, warna dasar putih, garis tepi warna merah dengan ketebalan 10 cm.

4. Rambu Petunjuk/Penuntun Rambu penunjuk berbentuk bujur sangkar, sedangkan ukurannya 100 x 100 cm, berwarna dasar biru, dan warna petunjuk putih. Sedang rambu petunjuk/penuntun berbentuk papanpapan, berukuran 30 x 200 cm warna putih. Sementara untuk rambu petunjuk berbentu segitiga sama sisi, berwarna putih dengan panjang sisi 100 cm.

B. Desain Rambu Ketetentuan tentang rambu perairan pedalamanan diatur dalam pedoman teknis yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Darat yang mengatur mengenai ketentuan mengenai perambuan sebagai berikut:

Gambar..? Contoh perambuan sungai barito C. Daun Rambu Daun rambu terbuat dari plat aluminium dengan tebal minimum 2 mm atau dari plat besi galvanis dengan tebal minimum 2 mm. Daun rambu harus diberi lekukan pada bagian pinggir/sisinya dan untuk perkuatan terhadap rangka rambu dengan menggunakan baut. Pada permukaan bagian belakang daun rambu dicat warna hitam dan dibubuhi tahun pembuatan dengan cat warna putih. 1. Rangka Rambu Rangka rambu terbuat dari kayu kalas 1 dengan ukuran 4 x 10 om yang diketam halus atau dari besi siku galvanis dengan ukuran 40 x 40 x 4 mm. Rangka rambu dipasang sedemikian rupa dan diperkuat dengan mur baut galvanis berdiameter 6 mm Rangka rambu sebelum dipasang harus dicat dengan menie sampai rata. 2. Tiang Rambu Tiang rambu terbuat dari kayu kelas 1, berukuran 10 x 10 um dan diketam halus keempat sisinya atau dari pipa besi galvanis berdiameter minimum 75 mm (3) dengan ketebalan minimum 3 mm atau bagi profil galvanis INP 10. Tiang rambu yang terbuat dari kayu menggunakan 1 (satu) tiang disokong dengan tiang penyokong yang dibuat dengan kayu kelas 1 berukuran 10 x 10 cm yang dipasang miring ke belakang.

Tiang rambu dan tiang penyokong, diapit dengan kayu kelas 1 ukuran 2 x 5/10 cm dengan memakai mur baut galvanis diameter 12 mm. Sambungan tiang/balok diperkuat dengan pelat setrip ukuran 40 x 4 mm, atau kayu kelas 1 ukuran 4 x 10 cm dan mur baut diameter 12 mm. Pondasi tiang rambu dan tiang penyokong dibuat dari kayu kelas 1 dengan ukuran 10 x 10 cm dipancang ke dalam tanah minimum 175 cm dari muka tanah asli (MTA) atau sesuai kondisi tanah. Angkur pondasi tiang, terdiri dari minimal 2 buah dengan mengunakan potongan kayu kelas 1 ukuran 10 x 10 um yang dibaut pada pondasi tiang dengan cara bersilangan. Pondasi tiang rambu dan balok penokong diperkuat dengan adukan beton tumbuk dengan ukuran 30/50-75 cm. 3. Bahan Pewarna Rambu Bahan pewarna rambu menggunakan alat reflektif yang mempunyai sifat retroreflektif sesuai dengan standar yang ditetapkan. Penempatan lembaran (sheeting) pada daun rambu menggunakan mesin yang aplicator. Proses pewarnaan rambu dengan menggunakan cat reflektif sablon (screen printing). Tanda pengenal rambu berupa logo Kementerian Perhubungan dibubuhkan pada permukaan di sudut kiri atas dengan diameter maksimum 8 mm.

D. Penempatanh Rambu 1. Jarak Penempatan Rambu Rambu sedapat mungkin ditempatkan dekat pada alur pelayaran, pada sisi kiri dan/atau sisi kanan apabila kapal bergerak menuju arah muka rambu. Penempatan rambu harus diatur sedemikian rupa dengan memperhatikan kondisi tepi sungai sehingga keberadaannya aman dari gangguan alam. Rambu harus bebas dari daun dan/atau ranting pepohonan atau benda-benda lain yang menghalangi pandangan dari setiap titik di sepanjang alur yang berada pada jarak sampai dengan 200 m di depannya.

Gambar ..? Contoh Penempatan Rambu Sungai

2. Ketinggian Penempatan Daun Rambu Daun rambu dipasang pada ketinggian 350 cm diukur dari permukaan tanah sampai sisi daun rambu bagian bawah. Ketinggian penempatan daun rambu pada tebing sungai yag curam agar mempertimbangkan ketinggian air maksimum sehinuga keberadaannya tidak sampai terendam oleh air. Pada lokasi dan kondisi tertentu rambu, dapat ditempatkan pada pohon kayu dengan ketinggian disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. 3. Penempatan Rambu larangan Rambu larangan ditempatkan sebelum tempat yang dimaksud atau pada awal bagian alur dimana larangan itu dimulai dengan jarak maksimum 30 m. Rambu larangan ditempatkan pada sisi sebelah kanan sebelum tempat yang dimaksud dengan jarak 2 m dari tepi sungai dimana berlakunya rambu tersebut. Penempatan daun rambu tegak lurus terhadap alur dan dapat kelihatan dengan jelas dari jarak 200 m

Gambar..? contoh Penempatan isarat lampu sungai

4. Penempatan Rambu Wajib Rambu wajib ditempatkan sedekat mungkin dimana rambu tersebut berlaku dengan jarak maksimum 20 m. Rambu wajib pelampung ditempatkan pada jarak 100 m di depan lokasi sebelum berlakunya rambu tersebut. 5. Penempatan Rambu Peringatan Rumbu peringatan ditempatkan pada sisi kanan pada Jarak 100 m sebelum tempat atau lokasi yang dinyatakan berbahaya. Apabila diperlukan penegasan atau pengulangan rambu peringatan ini dapat digunakan papan tambahan yang menyatakan Jarak. 6. Penempatan Rambu Petunjuk/Penuntun Rambu petunjuk/penuntun ditempatkan pada sisi kanan dengan Jarak minimum 100 m sebelum tempat atau lokasi yang ditunjuk. Rambu Petunjuk dapat ditambah dengan papan tambahan yang menyatakan jarak lokasi. 7. enmpatan Papan Tambahan

8. Papan tambahan ditempatkan di bawah rainbu dengan jarak 10 cm dari sisi terbawah daun rambu, dengan ketentuan sisi vertikal papan tambahan tidak melebihi sisi vertikal daun rambu. Penempelan papan tambahan makaimum 2 baris ke bawah dengan jarak satu sama lain 10 cm. Pesan yang termuat dalam papan tambahan harus bersifat khusus. Singkat, jelas dan mudah serta cepat dimengerti oleh pemakai alur dengan tinggi huruf 20 cm, tebal 5 cm dan banyak huruf maksimum 12 huruf. 9. Papan Nama Daerah dan Patok Kilometer Papan nama daerah dapat dipasang pada lokasi tertentu untuk mengetahui nama daerah yang dilalui. Patok kilometer ditempatkan pada sisi kiri apabila posisi pandangan menghadap ke arah kearah hilir Perhitungan jarak kilometer dimulai dari muara sungai ke arah hulu. Papan nama daerah dan patok kilometer dibuat dengan lembaran plat aluminium tebal mininum 2 mm atau plat besi galvania tebal minimum 2 mm dengan ukuran 100 x 40 cm. Cara pemasangan / penempatan papan nama daerah dan patok kilometer sama dengan pemasangan / penempatan rambu pada umumnya. Pemasanga Rambu.

Gambar..? Rambu Apung di Kanan Alur

Gambar..? Rambu Apung di Kiri Alur

Gambar..? Rambu Apung di tengah Alur

10. Prioritas Pemasangan Rambu Skala prioritas pengadaan / pemasangan rambu didasarkan pada tingkat keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas pelayaran kapal di perairan daratan. Skala prioritas pengadaan / pamasagan rambu adalah sebagai berikut : 1. prioritas pertama, kaselamatan dan keamanan penumpang; 2. prioritas kedua. keselamatan kapal; 3. prioritas ketiga. ketertiban pelayaran: 4. prioritas keempat. kelancaran lalu lintas. 11. Pemasangan Tiang Rambu Tiang rambu dan tiang penyokong dipancang ke dalam tanah hingga kedalaman minimum 175 cm dari muka tanah asli ( MTA ) sesuai kondisi tanah hingga benar-benar kokoh. Tiang rambu dan tiang penyokong dicor bagian bawahnya dengan adukan beton tumbuk, ukuran untuk sisi bagian atas 20 x 20 cm minimum sisi bagian bawah 60 cm menurut kebutuhan. Untuk pemasangan tiang rambu di air harus dlperhatikan kekuatan pondasi biangnya dengan memberi tambahan kosong dari depan dan/atau samping sehingga cukup kuat. Untuk tiang rambu dari kayu, antara tiang rambu dan tiang penyokong digapit dengan kayu ukuran 2 x 5/10 cm serta diperkuat dengan nenggunakan mur baut diameter 12 mm. Untuk melekatkan rangka rambu pada tiang dengan menggunakan mur baut galvanis diameter 12 mn.

12. Pemasangan Posisi Daun Rambu Pada kondisi alur yang melengkung kekanan, kekiri, posisi daun rambu diputar searah jarum jam dari posisi tegak lurus sumbu rambu + 50 (derajat) sesuai dengan kelengkungan alur dan sebaliknya. Pemasangan posisi daun rambu harus bebas dari bangunan, pepohonan atau benda-banda lain yang menutupi atau menggangu pandangan pemakai alur dari jarak minimum 200 m. 13. Pemasangan Rambu Suar Pemasangan rambu-rambu suar dapat dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut : 1. pertemuan antara sungai utama dengan anak sungai; 2. tikungan-tikungan sungai dengan tepi yang curam dan berliku-liku; 3. alur pelayaran dengan frekuensi lalu lintas yang tinggi 4. lokasi tertentu sesuai dengan perkembangan lalu lintasnya. Bila diperlukan menarik perhatian dari hambatan atau bahaya dan arah yang harus diikuti dengan menggunakan rambu sebagai berikut: Pada tempat yang dilarang
Persegi panjang warna merah dengan garis putih horizontal ditengah Atau bola merah

Pada tempat yang diijinkan


Persegi panjang warna hijau dengan garis putih vertikal ditengah Atau dua belah ketupat hijau

Dimalam hari Lampu merah


Dua lampu hijau

Gambar..? Contoh rambu suar

Gambar..? Contoh penerapan rambu suar

Bila ada hambatan atau bahaya yang menharuskan kapal menghindar digunakan rambu sebagai berikut:

Pada sisi alur bebas

Pada sisi alur tidak bebas

Bendera rambu merah putih dan rambu Bola merah di atas bola putih atau hitam di bawah Lampu merah di atas lampu putih

Bendera merah atau rambu

Bola merah

Lampu merah

Gambar..? Contoh rambu cahaya

Gambar..? Contoh penerapan rambu bahaya

Tanda pada tepi sungai yang menunjukan posisi alur sedang tanda pada tepi perairan pedalaman untuk memperjelas posisi alur., Sisi Isyarat

Kanan

Kiri

Gambar..? Contoh rambu sisi kiri dan sisi kanan

Lampu lalu lintas (traffic light) dapat dipasang pada tempat-tempat yang memerlukan pengaturan lalu lintas secara khusus. Marka dan struktur tetap 1. Jembatan Alur dilarang untuk dilewati

Gambar..? Alur yang tertutup

Alur yang disarankan :

Lalulintas dua arah

Lalu lintas satu arah (dalam hal ini disisi lainnya lampu harus merah) Gambar ..? Alur yang disarankan

Untuk menandai lebar alur yang bisa dilayari di bawah jembatan, atau untuk membatasi alur yang sudah dilewati, digunakan marka sebagai berikut :

Kapal di anjurka untuk berada di dalam batas ini.

Kapal tidak di bolehkan melewati batas ini. Gambar..? Rambu alur batas

2. Jembatan bisa pindah Bila terdapat beberapa lampu merah berdampingan, bila satu diantaranya mati berarti jembatan sedang dipersiapkan untuk diangkat Dilarang dilewati kecuali kapal yang pendek

Jembatan rusak

Dilarang lewat, bersiap untuk jalan

Lampu bisa di tempatkan pada kedua sisi atau satu sisi saja

Gambar..? Rambu-rambu pada jembatan

3. Lintasan terbuka Aturan umum

Gambar..? Rambu lintasa terbaru

Aturan khusus Jembatan Putar Jembatan Angkat

Ketentuan berikut di gunakan

Lampu hijau,atau lampu kuning,atau kombinasi hijau dengan kuning

Gambar..? Rambu pada lintas sempit

4. Kolam pindah kapal 1. Aturan umum

Bila terdapat beberapa lampu berdampingan, dengan matinya satu lampu berarti bergerak di larang (persiapan pembukaan pintu) Kolam pemindah kapal rusak

Lampu merah dan hijau bisa berdampingan di bawahnya.

Siap-siap untuk bergerak Gambar..? Rambu pada kolam pemindah kapal

2. Aturan khusus

Kasus khusus: Pintu angkat

Hal berikut digunakan: Lampu hijau, atau loampu kuning, atau lampu hijau di kombinasi dengan lampu kuning

Gambar..? Rambu lalu lintas terbuka pada kolam pemindah kapal

Lintasan bebas : pintu kolam pemindahan terbuka

Gambar ..? Rambu menyatakan lintasan bebas

5. Lintasan tertututp Rambu berikut bisa digantikan Lampu merah tetap Dengan rambu merah dan garis datar putih Lampu hijau tetap Dengan rambu hijau dengan garis tegak putih Gambar..? Rambu bendera

6. Navigasi berhenti sekali

Untuk kepentingan keselamatan pelayaran, dan diperlukan kapal berhenti digunakan rambu sebagai berikut :

Gambar..? Rambu kewajiban berhenti 7. Berhenti Sementara Hal ini timbul pada lintasan yang sempit yang perlu mengatur lalu lintas dimana kapal hanya bisa melewati secara bergantian.

Gambar ..? Rambu berhenti sementara