Anda di halaman 1dari 81

Konsep Dasar Distosia Kelainan Janin dan Konsep Dasar Distosia Kelainan Jalan Lahir

OleH ETI RUKMIATI,SST

OBJEKTIF PERILAKU SISWA (TERMINAL OBJEKTIF)


Setelah mengikuti proses belajar mengajar, mahasiswa diharapkan mampu: Menjelaskan pengertian bayi besar, hidrosefalus, anensefalus, kembar siam, gawat janin, kesempitan PAP, kesempitan Bidang Tengah Pelvis, dan kesempitan PBP dengan benar. Menyebutkan Etiologi/penyebab bayi besar, hidrosefalus, anensefalus, kembar siam, gawat janin, kesempitan PAP, kesempitan Bidang Tengah Pelvis, dan kesempitan PBP dengan benar

Menjelaskan diagnosis bayi besar, hidrosefalus, anensefalus, kembar siam, gawat janin, kesempitan PAP, kesempitan Bidang Tengah Pelvis, dan kesempitan PBP dengan benar Menjelaskan Prognosis bayi besar, hidrosefalus, anensefalus, kembar siam, gawat janin, kesempitan PAP, kesempitan Bidang Tengah Pelvis, dan kesempitan PBP dengan benar Menjelaskan penanganan bayi besar, hidrosefalus, anensefalus, kembar siam, gawat janin, kesempitan PAP, kesempitan Bidang Tengah Pelvis, dan kesempitan PBP dengan benar

SUMBER PUSTAKA

Prawirohardjo S. Buku Acuan Nasional

Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal, Edisi 1. Jakarta. YBPSP.

2001. Hal 334-335. FK.Unpad. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi, Edisi 2. Jakarta EGC, 2004. Hal 157-158, 160-170. R.Mochtar. Sinopsis Obstetri jilid 1 Edisi 2, Jakarta. EGC.1998. Hal 323328, 357-380. Purwadianto, Agus, dkk. Pedoman

Penatalaksanaan Praktis, Kedaruratan Medik. Jakarta. Panita lulusan UI.


1979. 129-134.

Prawirohardjo S. Ilmu Bedah Kebidanan, Edisi 1. Jakarta. YBPSP. 2000. Hal 52-60, 143-153. Rayburn, William. Obstetri & Ginekologi. Jakarta. Widya Medika. 2001. 146-147 Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan, Edisi 4. Jakarta. YBPSP. 2002. Hal 628-648. Wiknjosastro, Gulardi H. Pelatihan

Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta. DEPKES RI & WHO. 2002.
(4-2) (4-5) saifuddin, Abdul B, dkk. Buku Panduan
80

Praktis Pelayanan Kesehatan Meternal Dan Neonatal. Jakarta. YBPSP. 2002. M-79 M-

Kematian maternal dan neonatal merupakan suatu hal yang cukup kompleks. Distosia adalah persalinan yang sulit. Distosia kelainan janin adalah persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan karena kelainan dalam letak maupun bentuk janin. Sedangkan distosia kelainan jalan lahir adalah kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir bisa menghalangi kemajuan persalinan atau menyebabkan kemacetan

Konsep Dasar Distosia Kelainan Janin Bayi Besar Hidrosefalus Anensefalus Kembar Siam Gawat Janin

Konsep Dasar Distosia Kelainan Jalan Lahir Kesempitan Pintu Atas Panggul Kesempitan Bidang Tengah Pelvis Kesempitan Pintu Bawah Panggul

BAYI BESAR

PENGERTIAN

Yang dikatakan bayi besar adalah anak yang lebih beratnya dari 4000 gram. Menurut kepustakaan barat, anak besar baru dapat menimbulkan distosia jika beratnya melebihi 4500 gram. Bayi besar adalah janin yang berat badannya melebihi 4000 gram. Janin besar adalah berat badan melebihi dari 4000 gram.

ETIOLOGI/PENYEBAB

Sering ditemukan pada : Diabetes melitus Postmaturitas Grandemultiparitas Faktor keturunan (orang tuanya besar)

DIAGNOSIS

Menentukan apakah bayi besar atau tidak kadang-kadang sulit.hal ini dapat diperkirakan dengan : Keturunan atau bayi yang terdahulu besar dan sulit melahirkannya dan adanya DM Kenaikan BB yang berlebihan tidak oleh sebab lainnya (edema dan lain sebagainya) Pemeriksaan yang teliti tentang disproporsi sefalo atau feto-pelvik dalam hal ini dianjurkan untuk mengukur kepala bayi dengan ultrasonografi

Pemeriksaan Besarnya Janin: Pemeriksaan ini dilakukan sesaat sebelum partus/waktu partus. Besarnya kepala tergantung dari besarnya berat janin. Oleh karena itu sebagai ukuran kepala digunakan Berat Badan (BB) Janin.

Biasanya menggunakan rumus JohnsonToshack. Bedasarkan atas ukuran Mac Donald, yaitu jarak antara simfisis pubis dengan batas antara fundus uteri, maka : BBJ=(MD-12)X155 gram Keterangan ; BBJ = Berat Badan Janin (gram) MD = Ukuran Mac Donald (cm) Kepala belum H III : (MD-13) Kepala di H III : (MD-12) Kepala lewat H III : (MD-11) Bila ketuban sudah pecah di tambah 10 %

Disproporsi Sefalo-Pelvik
Ada beberapa kemungkinan : Imbang sefalo-pelvik baik Partus dapat direncanakan per vaginam, namun demikian his, posisi kepala dan keadaan serviks harus diperhatikan selama partus Disproporsi sefalo-pelvik Artinya bahwa janin tidak dapat dilahirkan secara normal pervaginam, bila anak hidup lakukan seksio sesarea Kemungkinan disproporsi Mengandung arti : imbang baik atau dapat terjadi disproporsi Unutuk mendapatkan kepastian, maka harus dilakukan pemeriksaan radiologik dan atau partus percobaan

PROGNOSIS

Pada panggul normal janin dengan berat badan 40005000 gram umumnya tidak menimbulkan kesukaran persalinan. Distosia akan diperoleh bila janin besar dari 4500-5000 gram atau pada kepala yang sudah keras (postmaturitas) dan pada bahu yang lebar (bayi kingkong).

Kesulitan lain yang dapat terjadi adalah :


Kepala terlalu besar dan keras sehingga maulage sulit Bahu yang lebar sehingga menimbulkan distosia bahu Regangan dinding rahim oleh anak yang sangat besar sehingga menimbulkan inersia uteri dan kemungkinan perdarahan pasca partum akibat atonia uteri

PENANGANAN

Penanganan pada bayi besar adalah : Selidiki ada tidaknya disproporsi sefalo-pelvik, bila disproporsi sefalo-pelvik diketahui maka dianjurkan untuk dilakukan seksio sesaria Bila diperkirakan dapat partus pervaginam, lakukan episiotomi medio lateral luas Bila bahu sukar dilahirkan, lakukan pertolongan persalinan dengan distosia bahu. Bila janin mati bisa dilakukan embriotomi

HIDROSEFALUS

PENGERTIAN Hidrosefalus adalah keadaan dimana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak sehingga kepala menjadi besar serta menjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya antara 500 sampai 1500 ml, akan tetapi kadang-kadang mencapai 5 liter. Hidrosefalus biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti spina bifida, karena kepala janin terlalu besar dan tidak dapat berakomodasi di bagian bawah uterus sehingga sering ditemukan dalam letak sungsang.

ETIOLOGI/PENYEBAB

Belum jelas, tetapi salah satu diantaranya ialah toksoplasmosis

DIAGNOSIS

Pada bayi hidrosefalus dengan letak presentasi kepala :

Pada palpasi; teraba ukuran kepala yang lebih besar di atas simfisis karena kepala tidak dapat memasuki pintu atas panggul Pada pemeriksaan dalam; teraba kepala yang besar dengan sutura yang dalam dan ubun-ubun yang luas; tulang kepala terasa tipis sekali sehingga dapat ditekan ke dalam seperti menekan bola pimpong.

Pada pemeriksaan Rontgen foto akan memberikan bayangan tengkorak kepala yang besar sekali Pada pemeriksaan USG; tampak kepala yang besar dengan ukuran diameter biparietalis yang lebar

Pada bayi hidrosefalus dengan letak sungsang :

Lebih sulit di buat diagnosis dan sering dibuat setelah dialami kesulitan dalam kelahiran kepala, dimana teraba kepala yang besar menonjol di atas simfisis Pada pemeriksaan USG; tampak kepala yang besar dengan ukuran diameter biparietalis yang lebar

Pada pemeriksaan Rontgen foto tidak dapat memberi kepastian, karena kepala normal pada letak sungsang dapat memberi gambaran seolah-olah sangat besar. Untuk menghindari kesalahan tersebut harus memperhatikan: Muka janin sangat kecil bila dibandingkan dengan tengkorak Kepala berbentuk bulat, berbeda dengan kepala biasa yang berbentuk ovoid Bayangan tulang kepala sangat tipis

Kemungkinan hidrosefalus harus dipikirkan apabila : Kepala tidak masuk ke dalam panggul, pada persalinan dengan panggul normal dan his kuat Kepala janin teraba sebagai benda besar di atas simfisis

PROGNOSIS

Partus akan berjalan sulit dan bila tidak segera ditolong dapat terjadi ruptur uteri, disebabkan kepala yang besar meregang segmen bawah rahim. Prognosa untuk janin jelek

PENANGANAN

Penanganan pada hidrosefalus adalah : Kepala janin yang besar dikecilkan dengan jalan melakukan fungsi sisterna pada pembukaan 3-4 cm Di dalam vagina dipasang spekulum Kulit kepala dijepit dengan cunam Willett atau cunam Muzeaux. Suatu jarum fungsi spina dengan ukuran 16 atau 18 yang disambung pada alat suntik ditusukan pada kepala janin, sedapat mungkin pada sutura atau ubun-ubun

Setelah kepala janin tertusuk, dilakukan aspirasi sedikit untuk membuktikan benar tidaknya cairan otak yang keluar. Alat suntik dilepaskan dari jarum pungsi sehingga cairan otak dapat mengalir keluar. Dengan keluarnya cairan otak, kepala janin akan mengecil dan dapat dilahirkan secara per vaginam

Kalau pembukaan lengkap kerjakan perforasi Pada letak sungsang akan terjadi after coming head, dilakukan perforasi dari foramen ovale untuk mengeluarkan cairan. Biasanya sesudah kepala jadi kecil janin akan mudah dilahirkan

Gambar : perforasi dari foramen ovale untuk mengeluarkan cairan

ANENSEFALUS

PENGERTIAN

Anensefalus adalah keadaan dimana badan ada tetapi pembentukan otak dan tengkorak kepala tidak ada atau terbelakang

ETIOLOGI/PENYEBAB

Belum jelas, tetapi salah satu diantaranya ialah toksoplasmosis

Pada pemeriksaan Rontgen foto akan memberikan bayangan tengkorak kepala yang tidak sempurna/kecil Pada pemeriksaan USG; tampak kepala yang kecil / tidak sesuai pada ukuran kepala yang normal

DIAGNOSIS

Partus akan berjalan sulit dan karena perkembangan kepala tidak sempurna dan kepala tidak dapat melakukan proses pembukaan dalam persalinan secara sempurna. Prognosa untuk janin jelek

PROGNOSIS

PENANGANAN

Persalinan dengan presentasi bokong dapat berlangsung tanpa kesulitan, tetapi bila pada letak kepala akan sering dijumpai kesulitan karena perkembangan kepala yang tidak sempurna

KEMBAR SIAM

PENGERTIAN

Kembar siam adalah keadaan dimana terdapat perlekatan antara 2 janin pada kehamilan kembar Kembar Siam(double master), yaitu penyatuan dua janin kembar (janin kembar melekat)

Jenis kembar dapat terbagi menjadi: a) Penyatuan yang terjadi secara longitudinal Kraniofagus : Kembar yang melekat kedua kepala Pigofagus : Kembar kedua panggul melekat

b) Penyatuan yang terjadi secara lateral Diprofagus/difagus : Kembar bila kdua janin berhubungan tidak lengkap sebagian di badan atas dan sebagian lagi di badan bawah Torakofagus : Kembar dengan penyatuaan pada bagian dada (yang sering menimbulkan kesulitan dalam persalinan)

Omfalofagus : Kembar dengan penyatuaan pada bagian kepala Desefalus : Kembar dengan penyatuaan seluruh tubuh dengan kedua kepala Sinsefalus : Kembar dengan penyatuaan tubuh dengan satu kepala

ETIOLOGI/PENYEBAB

Penyebab belum jelas, tetapi ada faktor-faktor yang dapat meningkatkan terjadinya kembar adalah: Faktor ras Frekuensi kelahiran janin multiple memperlihatkan variasi yang nyata di antara berbagai ras yang berbeda. Pada kawasan di afrika, frekuensi terjadinya kehamilan ganda sangat tinggi.

Knok dan Morley (1960) dalam suatu survey pada salah satu masyarakat pedesaan di Nigeria, mendapatkan bahwa kehamilan ganda terjadi sekali pada setiap 19 kelahiran, kehamilan pada orang Timur atau Oriental tidak begitu sering terjadi. Perbedaan ras yang nyata ini merupakan akibat keragaman pada frekuensi terjadinya kehamilan kembar dizigot.Perbedaan frekuensi kehamilan ganda ini disebabkan oleh perbedaan tingkat Folikel stimulating hormon yang akan mengakibatkan multiple ovulasi.

. Faktor keturunan Genotip ibu jauh lebih mempengaruhi daripada genotip ayah. White dan Wyshak (1964) dalam suatu penelitian terhadap 4.000 catatan mengenai Jemaat Gereja Kristus Orang-orang Kudus Hari Terakhir, menemukan bahwa para wanita yang dirinya sendiri merupakan kembar dizigot ternyata melahirkan bayi kembar dizigot dengan frekuensi 1 per 58 kelahiran

Namun, wanita yang bukan kembar tetapi mempunyai suami kembar dizigot, melahirkan bayi kembar dengan frekuensi 1 per 126 kehamilan. Lebih lanjut, dalam analisis Bulmer (1960) terhadap anak-anak kembar, 1 dari 25 (4%) ibu mereka ternyata juga kembar, tetapi hanya 1 dari 60 (1,7%) ayah mereka yang kembar. Keterangan didapatkan bahwa salah satu sebabnya adalah multipel ovulasi yang diturunkan.

Faktor umur dan paritas

Kehamilan ganda dapat terjadi kurang dari sepertiga pada wanita dibawah 20 tahun tanpa riwayat kelahiran anak sebelumnya, bila dibandingkan dengan wanita yang berusia antara 35 sampai 40 tahun dengan 4 anak atau lebih. Di swedia, Patterson dkk. Memastikan peningkatan yang nyata pada angka kehamilan ganda yang berkaitan dengan meningkatnya paritas. Dalam kehamilan pertama, frekuensi janin kembar adalah 1,27 % bila dengan urutan kelahiran ke empat dengan 2,67 %.

DIAGNOSIS

Diagnosis janin kembar melekat sukar ditentukan antepartum. Kadang pemeriksaan rontgen yang dilakukan atas dugaan adanya hamil kembar dapat menunjukkan adanya penyatuan janin. Pada umumnya diagnosis baru dapat ditegakkan bila persalinan macet dan pada pemeriksaan jalan lahir kelainan tersebut kebetulan ditemukan oleh tangan penolong.

Pada antenatal care yang baik dengan menggunakan USGpada 16-18 minggu kehamilan atau diagnosis lebih dini dapat ditentukan apakah kehamilan dapat berlangsung atau dihentikan mengingat komplikasi yang selalu tidak baik

KOMPLIKASI

Komplikasi pasca partus Atonia uteri dan perdarahan pasca partus Retensio atau rest plasenta

Sindrom transfuse :

Satu janin tumbuh :


Pertumbuhan janin baik Polisistemia Edema Hidramnion Janin kecil sampai meninggal Menderita anemia Dehidrasi Aligohidramnion

Janin yang lainnya terjadi :


Bila ada gangguan segmentasi dapat terjadi kembar siam (torakopagus, sifo-ompagus, pigopagus. Iskiopagus, kraniopagus) Pada hamil dizigot, perbedaan kemempuan tumbuh kembang dapat membahayakan kehidupan yang lain dan menimbulkan fetus kompresus atau fetus papiraseus.

Komplikasi saat inpartu Inersia uteri primer/sekunder Perpanjangan kala II KPD (Ketuban Pecah Dini) Prolapsus tali pusat Persalinan macet Seksio secarea

PENANGANAN

Kelahiran janin kembar melekat dengan satu janin yang jauh lebih kecil daripada yang lain dan janin kembar dengan penyatuan janin secara longitudinal biasanya tanpa kesulitan. Kesulitan sering terjadi pada janin dengan kembar dengan penyatuan janin secara lateral.

Apabila terjadi kemacetan, dapat dilakukan tindakan vaginal dengan merusak janin atau melakukan seksio secarea. Pada umumnya seksio secarea lebih aman untuk melahirkan janin kembar melekat daripada melakukan pembedahan vaginal yang sukar.

GAWAT JANIN

PENGERTIAN

Yang dimaksud dengan gawat janin adalah keadaan hypoksia janin

ETIOLOGI/PENYEBAB

Faktor

ibu :
Hypertensi Perdarahan antepartum Riwayat paritas lebih dari 4

Faktor

janin: Pertumbuhan janin terhambat Kelainan letak

GAWAT JANIN

DIAGNOSIS Diagnosis gawat janin saat persalinan didasarkan pada denyut jantung janin (DJJ) yang abnormal. Diagnosa lebih pasti jika desertai air ketuban hijau dan kental/sedikit.

DIAGNOSIS GAWAT JANIN


DJJ ABNORMAL DJJ Normal dapat melambat sewaktu his, dan segera kembali normal setelah relaksasi DJJ Lambat (kurang dari 100 per menit) saat tidak ada his, menunjukkan adanya gawat janin DJJ Cepat (lebih dari 180 per menit) yang disertai takhikardi ibu bisa karena ibu demam, efek obat, hypertensi atau amnionitis. Jika denyut jantung ibu normal, DJJ yang cepat sebaiknya dianggap sebagai tanda gawat janin

DIAGNOSIS GAWAT JANIN


MEKONIUM Adanya mekonium pada cairan amnion lebih sering terlihat saat janin mencapai maturitas dan dengan sendirinya bukan merupakan tanda-tanda gawat janin. Sedikit mekonium tanpa dibarengi dengan kelainan pada DJJ merupakan suatu peringatan untuk pengawasan lebih lanjut.

MEKONIUM KENTAL merupakan tanda pengeluaran mekonium pada cairan amnion yang berkurang dan merupakan indikasi perlunya persalinan yang lebih cepat dan penanganan mekonium pada saluran nafas atas neonatus untuk mencegah aspirasi mekonium Pada Presentasi Sungsang, mekonium dikeluarkan pada saat persalinan akibat kompresi abdomen janin pada persalinan. Hal ini bukan merupakan tanda kegawatan kecuali jika hal ini terjadi pada awal persalinan.

PROGNOSIS & PENANGANAN


Prognosis janin jelek a. resusitasi intrauterus yaitu(5): Meningkatkan arus darah uterus dengan cara: Hindari tidur terlentang Kurangi kontraksi uterus Menghentikan pemberian infus oksitoksin Tingkat arus darah tali pusat dengan mengubah posisi tidur ibu miring kekiri Tingkatkan pemberian oksigen yaitu 4-6 liter/menit. Namun jika sedang dalam pemberian terapi infus maka upaya pertama kali ialah menghentikan pemberian infus dahulu.

PENANGANAN

Kontraksi yang terlalu kuat atau sering akan memperburuk sirkulasi uteroplasenta. Dengan menghilangkan kontraksi diharapkan sirkulasi menjadi lebih baik. Dengan pemberian oksigen telah dibuktikan meningkatkan tekanan oksigen parsial janin, meskipun hanya sedikit/

Bila pasien dilakukan seksio sesaria maka menjelang operasi pasien tetap dalam posisi tidur miring. Tindakan cunam (dengan syarat presentasi belakang kepala, pembukaan lengkap, penurunan kepala 0/5 (H III-IV), kontraksi baik, ibu tidak gelisah, ketuban sudah pecah) / vakum (dengan syarat presentasi belakang kepala, janin cukup bulan, pembukaan lengkap, kepala di H III-H IV) dapat dilakukan bila syarat terpenuhi.

DISTOSIA KELAINAN JALAN LAHIR


Yang penting dalam obstetri bukan panggul sempit secara anatomi, lebih penting lagi ialah panggul sempit secara fungsional yang artinya perbandingan antara kepala dan panggul yang tidak serasi

KESEMPITAN PINTU ATAS PANGGUL (PAP)


Adalah jika konjugata vera 10 cm atau jika diameter transversa < 12 cm(3).

ETIOLOGI/PENYEBAB

Kelainan karena gangguan pertumbuhan

Panggul sempit seluruhnya-semua ukuran panggul Panggul picak-ukuran muka belakang sempit, ukuran melintang biasa Panggul sempit picak-semua ukuran kecil, tetapi ukuran muka belakang lebih sempit Panggul corong-pintu atas panggul biasa, pintu bawah panggul sempit Panggul belah-simfisis terbuka

ETIOLOGI/PENYEBAB
Kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendi Panggul rakhitis-panggul picak, panggul sempit, seluruh panggul sempit picak Panggul osteomalasia-panggul sempit melintang Radang artikulasi sakroiliakapanggul sempit miring

ETIOLOGI/PENYEBAB
Kelainan panggul disebabkan kelainan tulang belakang Kifosis di daerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong Skoliosis di daerah tulang punggung menyebabkan panggul sempit miring

ETIOLOGI/PENYEBAB
Kelainan panggul disebabkan kelainan anggota bawah Koksitis Luksasi Atrofi

Keterangan : A = Panggul naegele B = Panggul rakhitis C = Panggul skoliosis D = Panggul kifosis E = Panggul kifosis dari samping F = Panggul osteomalasia G = Panggul spondilolistesis H = Panggul robert

DIAGNOSIS
ANAMNESIS Kepala tidak masuk PAP dan ada riwayat kesalahan letak, partus yang lalu berlangsung lama, anak mati atau persalinan ditolong dengan tindakan (cunam, vakum) dan operasi INSPEKSI Ibu kelihatan pendek ruas-ruas tulangnya atau ada skoliosis, kifosis,dll

DIAGNOSIS
PALPASI Kepala tidak dapat masuk PAP atu masih goyang dan terdapat tanda dari OSBORN, yaitu kepala di dorong kearah PAP dengan satu tangan diatas simfisis pubis sedang tangan lain mengukur tegak lurus pada kepala yang menonjol (+) = 3 jari (-) = masuk PAP () = antara kesalahan-kesalahan letak

DIAGNOSIS
PELVIMETRI KLINIS Pemeriksaan panggul luar : Distansia spinarum; jarak antara kedua spina iliaka anterior superior 24-26 cm Distansia cristarum; jarak antara kedua crista iliaka kanan dan kiri 28-30 cm Konyugata externa (boudeloque) 18-20 cm Lingkaran panggul 80-90cm

DIAGNOSIS
Pemeriksaan ukuran dalam panggul : PAP merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium, linea innominata, dan pinggir atas simfisis pubis Konyugata vera; jarak pinggir atas simfisis dengan promontorium diperoleh dengan mengurangi konjugata diagonalis dengan 1,5 cm, biasanya 10,5-11 cm Konyugata diagonalis; jarak bagian bawah simfisis sampai ke promontorium, yang dapat diukur dengan memasukkan jari tengah dan jaru telunjuk ke dalam vagina dan mencoba meraba promontorium. Pada panggul normal promontorium tidak teraba dengan jari yang panjangnya 12cm.

DIAGNOSIS

Diameter transversa adalah jarak terjauh garis lintang PAP biasanya sekitar 12,5-13 cm Konjugata obliqua; garis yang dibuat antara persilangan konyugata vera dengan diameter transversa ke artikulasio sakroiliaka

PROGNOSIS

Pada ibu : partus lama ruptur uteri infeksi intrapartum Pada anak : KPD Prolapsus tali pusat Dengan moulage memang terjadi pengecilan ukuran kepala. Pengecilan kepala sampai 0,5 cm tidak merusak otak, pengecilan melebihi 0,5 cm akan berakibat buruk terhadap anak atau kematian

PENANGANAN
Bila konjugata vera 8,5-10 cm dilakukan partus percobaan Bila konjugata vera < 8,5 cm dilakukan SC Kita hentikan partus percobaan jika : Pembukaan tidak atau kurang sekali kemajuannya Keadaan anak atau ibu kurang baik Adanya lingkaran retraksi yang patologis Setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah walaupun his cukup baik dan dilakukan pimpinan persalinan dengan baik, bagian kepala dengan diameter terbesar dalam 1 jam tetap tidak mau melewati PAP Vakum/fosep gagal

KESEMPITAN BIDANG TENGAH PELVIS


Bidang tengah panggul terbentang antara pinggir bawah simfisis dan spina os ischii dan memotong sakrum kira-kira pada pertemuan ruas sakrum ke 4 dan ke 5.

DIAGNOSIS
Ukuran bidang panggul tengah tidak dapat diperoleh secara klinis, harus diukur secara rotgenologis, tetapi kita juga dapat menduga adanya kesempitan bidang panggul jika : Spina isiadika sangat menonjol Dinding samping panggul konvergen Diameter tuber ischii 8,5 cm atau kurang

PROGNOSIS
Kesempitan bidang panggul dapat menimbulkan gangguan putaran paksi jika diameter antara kedua spina < 9 cm sehingga kadang-kadang diperlukan seksio sesaria

PENANGANAN
Jika persalinan berhenti karena kesempitan bidang tengah panggul, baiknya dipergunakan Vakum.

KESEMPITAN PINTU BAWAH PANGGUL (PBP)

Pintu bawah panggul dikatakan sempit jika jarak antara tuber os ischii 8 cm atau kurang. Jika jarak ini berkurang, dengan sendirinya arkus pubis akan meruncing. yaitu, jika diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm

PROGNOSIS
Prognosis bisa terjadi ruptur dan gangguan putaran paksi

PENANGANAN
Penanganan pada kesempitan bidang bawah panggul jarang memaksa kita melakukan seksio sesaria tetapi dapat diselesaikan dengan forsep/episiotomi yang cukup luas

Hatur Nuhun