Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

Organoleptis, Berat Jenis, pH, Volume, dan Tes Carik Celup pada Urin

Hari/Tempat : Selasa/ Laboratorium Nonsteril Jurusan Farmasi Universitas Udayana Tanggal Waktu : 31 Mei 2011 : Pukul 10.20 12.30

Oleh
Kelompok IV : Ni Ketut Melysa Cahyani Liana Dwi Anggraini I Wayan Dwisada Purnamayadi Made Ari Puji Astuti I Gusti Ayu Mira Semara Wati A. A. Agustia Sinta Dewi A. A. I. Devi Purnamaningrat S I Nyoman Yudi Kurniawan I Ketut Gegel Yoga Widyadana (0808505004) (0808505005) (0808505009) (0808505013) (0808505016) (0808505019) (0808505024) (0808505029) (0808505037)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2011

Organoleptis, Berat Jenis, pH, Volume, dan Tes Carik Celup pada Urin I. Tujuan Praktikum Menentukan berat jenis urin . II. Metode Penentuan berat jenis urin dilakukan dengan menggunakan urometer. Urometer yang sudah ditera terhadap akuadest dimasukkan ke dalam gelas ukur yang berisi bagian sampel urine (buih yang timbul dihilangkan). Urometer dimasukkan dengan cara memutar sumbu panjangnya sehingga menghindari kontak dengan dinding. Pembacaan skala dilakukan pada meniskusnya di mana satu strip sama dengan 0,001. Kalibrasi terhadap suhu dilakukan pada urometer, dimana kenaikan suhu 3oC hasil pembacaan ditambahkan dengan 0,001 (Oka, 1998).. III. Prinsip Pemeriksaan berat jenis urin berhubungan dengan faal pemekatan ginjal. Semakin pekat urin semakin tinggi berat jenisnya dan begitupula sebaliknya, semakin encer urin maka semakin rendah berat jenisnya. Berat jenis urin normal antara 1,003 - 1,030. Berat jenis urin berhubungan erat dengan diuresa, semakin besar diuresa semakin rendah berat jenisnya dan begitupula sebaliknya, semakin kecil diuresa semakin tinggi berat jenisnya. Berat jenis urin kurang dari 1,003 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal kronik (Wirawan dkk., 1983). Sedangkan urin yang mempunyai berat jenis 1,030 atau lebih, dapat dijumpai pada penderita dengan proteinuria, diabetes mellitus (DM), dan dehidrasi (Oka, 1998). IV. Dasar Teori Pemeriksaan berat jenis urin berhubungan dengan keadaan faal pemekatan yang dilakukan oleh ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu urometer, refraktometer, gravimetri dan falling drop. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003-1,030 Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat

disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun (Wirawan dkk., 1983). Berat jenis yang rendah ini bisa disebabkan oleh banyak minum, udara dingin, dan diabetes insipidus. Berat jenis yang tinggi disebabkan oleh dehidrasi, proteinuria, dan diabetes mellitus (Oka, 1998). Urinomter adalah hidrometer untuk penentuan bobot jenis dari urine dan ditera khusus untuk penentuan tersebut. Urinometer memiliki skala 1.0000-1.0060 (tiga desimal) dan umumnya dipergunakan pada temperatur 60oF atau 15,5 oC. Bila temperatur cairan yang akan dikur bukan 15,5oC, maka harus diadakan koreksi. Koreksi tersebut dilakukan dengan jalan menambah angka satu pada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3o di atas temperatur peneraan atau mengurangi 1 angka pada angka ketiga di belakang koma untuk setiap 3o di bawah temperatur peneraan. Rumusnya adalah sebagai berikut.

FK =

x 0,001

Keterangan : FK = faktor koreksi Tk = temperatur cairan yang diukur Tp = temperatur peneraan (tetera di urinometer) (Cholacha, 2008)

V.

Alat dan Bahan a. Alat Urometer Tabung reaksi Gelas ukur Kertas saring Sarung tangan Tissue

Masker

b. Bahan Sampel urin Ether

VI.

Cara Kerja 1. Urometer yang akan digunakan ditera dengan menggunakan akuadest 2. Bila pada peneraan tidak mendapatkan hasil 1,000 (misalkan 1,005), maka hasil akhir pembacaan dikurangi 1,005 3. Gelas ukur diisi dengan urin hingga bagian 4. Buih yang terbentuk dihilangkan dengan kertas saring atau dengan penambahan satu tetes eter 5. Urometer dimasukkan ke dalam gelas ukur dan dipuar pada sumbu panjang. Urometer tidak boleh menyentuh dinding gelas 6. Meniskus dibaca dimana 1 strip = 0,001

VII.

Hasil

Pembacaan pada meniskus skala : 4 strip = 0,004 Hasil akhir = 1,004. Koreksi terhadap suhu ruangan kerja 320C, yaitu dengan menggunakan rumus : FK = x 0,001, di mana pada alat, Tp = 20oC

= = 0,004

x 0,001

Jadi, BJ urin uji setelah dikoreksi menjadi 1,004 + 0,004 = 1,008. BJ urin normal = 1,003 1,030

VIII. Pembahasan Pada pengujian berat jenis urin dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut urometer. Tujuan dari pengukuran berat jenis adalah untuk mengetahui keadaan faal urin, dimana urin yang encer memiliki berat jenis yang rendah dan sebaliknya urin yang pekat memiliki berat jenis yang tinggi. Berat jenis yang rendah ini bisa disebabkan oleh banyak minum, udara dingin, dan diabetes insipidus. Berat jenis yang tinggi disebabkan oleh dehidrasi, proteinuria, dan diabetes mellitus. Hal pertama yang dilakukan adalah menera urometer dengan menggunakan akuadest, tujuannya untuk mengkalibrasi alat sehingga didapatkan data yang valid. Urometer dimasukkan ke dalam akuadest dan diputar, pengukuran dilakukan dengan pembacaan meniskus. Air memiliki berat jenis 1,000. Jadi jika hasil akhir yang didapatkan 1,000 maka urometer siap digunakan, jika lebih dari 1,000 (misal 1,005) maka pada hasil akhir dikurangi dengan nominal kelebihan tersebut (dikurangi 0,005). Selanjutnya dilakukan pengujian pada urin sampel dengan cara urometer dimasukkan dan diputar dalam urin sampel, setelah urometer stabil, lalu pengukuran dilakukan dengan membaca meniskus dan dilakukan pada tempat yang datar agar tidak mempengaruhi hasil pengukuran. Hasil yang didapat pada pengukuran adalah 1,004 namun terdapat nilai koreksi pada suhu, dimana setiap kenaikan 3oC terdapat penambahan berat jenis sebanyak 0,001. Sehingga hasil akhir yang didapat sebesar 1,008. Jika dibandingkan dengan berat jenis urin normal (1,003-1,030) maka urin sampel berada dalam keadaan normal. IX. Kesimpulan Berat jenis urin sampel pada praktikum 1,008 dimana masih dalam rentang normal (1,003-1,030) DAFTAR PUSTAKA Cholacha, Acef. 2010. Kimia Analitik. Available at : http://acef-cholacha.blogspot.com/2010 /07/kimia-analitik.html (cited 7 Juni 2011) Oka, Tjok Gede. 1998. Diktat Penuntun Praktikum Patologi Klinik. Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Denpasar Wirawan, R., S. Immanuel, R. Dharma. 1983. Penilaian Hasil Pemeriksaan Urin. Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSCM. Jakarta.