P. 1
Pembangunan Pertanian

Pembangunan Pertanian

|Views: 826|Likes:
Dipublikasikan oleh Wendi Irawan Dediarta
PEMBANGUNAN PERTANIAN
“Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembangunan Pertanian”

Disusun Oleh : Hana Kamila D Sandra Rosandi Christy Naomi Elinsy Rahayu Firdausi Cantika Dedy Napitupulu R . Moudy Ananda Edo Indrawan Erga Megantara S 150310080149 150310080141 150310080155 150310080172 150310080152 150310080138 150310080173 150310080146 150310080135

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

BAB I

PENDAHULUAN Secara keseluruhan indikator utama pembangunan
PEMBANGUNAN PERTANIAN
“Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembangunan Pertanian”

Disusun Oleh : Hana Kamila D Sandra Rosandi Christy Naomi Elinsy Rahayu Firdausi Cantika Dedy Napitupulu R . Moudy Ananda Edo Indrawan Erga Megantara S 150310080149 150310080141 150310080155 150310080172 150310080152 150310080138 150310080173 150310080146 150310080135

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

BAB I

PENDAHULUAN Secara keseluruhan indikator utama pembangunan

More info:

Published by: Wendi Irawan Dediarta on Oct 05, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2014

pdf

text

original

PEMBANGUNAN PERTANIAN

“Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembangunan Pertanian”

Disusun Oleh : Hana Kamila D Sandra Rosandi Christy Naomi Elinsy Rahayu Firdausi Cantika Dedy Napitupulu R . Moudy Ananda Edo Indrawan Erga Megantara S 150310080149 150310080141 150310080155 150310080172 150310080152 150310080138 150310080173 150310080146 150310080135

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

BAB I PENDAHULUAN Secara keseluruhan indikator utama pembangunan pertanian di tingkat makro (nasional) dan mikro (petani) sebanyak 8 indikator yaitu : (1) pertumbuhan luas lahan irigasi (%/tahun); (2) rasio tenaga kerja desa/kota di sektor pertanian; (3) rasio tenaga kerjadesa/kota di sektor non pertanian; (4) pertumbuhan Indeks Ketahanan Pangan (energi dan protein); (5) pertumbuhan PDRB sektor pertanian (%/tahun); (6) pangsa PDRB sektor pertanian (%/tahuin); (7) penggunaan sarana produksi (bibit, pupuk dan pestisida) dan (8) produktivitas usahatani. Provinsi Kalimantan Selatan terkenal akan hasil alamnya. Lihat saja postur PDRB-nya, Kandungan SDA-nya tidak perlu diragukan lagi. Ada dua sektor dominan bebasis SDA yang membentuk struktur ekonomi Kalimantan Selatan, yaitu sektor pertanian dan pertambangan dengan pangsa berturut-turut sebesar 23% dan 22% pada tahun 2008. Pada tahun 2008, sektor pertanian mampu menampung 45,68 persen dari total tenaga kerja di Kalimantan Selatan, sedangkan sektor pertambangan tergabung bersama sektor industri, listrik gas air serta bangunan hanya mampu menampung 13,90 persen tenaga kerja di Kalimantan Selatan (BPS-sakernas 2008). Diantara empat subsektor pertanian, mungkin hanya subsektor perkebunan dan sebagian subsektor kehutanan (usaha sarang walet) yang memiliki tingkat kesejahteraan lebih dibandingkan yang lainnya (perikanan, tanaman bahan makanan). Sebaliknya, subsektor tanaman bahan makanan, khususnya komoditas padi, rasanya belum mampu secara optimal dapat memberikan kesejahteraan bagi petaninya. Sebenarnya kinerja sektor pertanian Kalimantan Selatan cukup baik jika dilihat dari indikator produksi. Dalam kurun waktu 2001-2008, rata-rata sektor pertanian tumbuh 5,17 persen pertahun. Sedangkan sektor pertambangan lebih besar, yaitu sebesar 5,85 persen pertahunnya. Namun pertumbuhan sektor pertanian tersebut belum mampu mengangkat kesejahteraan petani (NTP) dengan optimal.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Artikel perkembangan pembangunan pertanian di Kalimantan Selatan terkait dengan pendapatan petani Kesejahteraan Petani Kalimantan Selatan Oleh : Miyan Andi Irawan, S.ST Peningkatan kesejahteraan menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan juga oleh pemerintah. Swasembada yang dicapaipun tidak serta merta dapat menjamin akan meningkatkan taraf kesejahteraan petani, bahkan di daerahdaerah yang mengalami surplus produksi padi. Karena, pada umumnya pendapatan yang diperoleh petani belum mampu secara wajar mengakses harga kebutuhan pokok termasuk beras sendiri, meskipun pemerintah sudah melakukan kebijakan meningkatkan harga pembelian pemerintah (HPP) baik terhadap gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) lewat BULOG. Seperti yang sudah disinggung di atas, dik.r Kalimantan Selatan, terjadi asimetri dalam pembentukan harga beras, antara sektor hulu (di tingkat petani) dan sektor hilir (di tingkat konsumen)(gambar 2). Apabila kita perhatikan grafik harga eceran beras dan grafik NTP, maka akan terlihat bahwa kenaikan harga di tingkat konsumen (baik itu akibat imported inflation maupun inflasi domestik), tidak langsung ditransmisikan ke kenaikan harga di petani. Akan tetapi, kenaikan harga di petani biasanya akan langsung ditransmisikan kepada kenaikan harga di konsumen. Hal ini menjadikan kelakuan harga perdagangan beras bersifat inelastis. Fenomena tersebut terjadi karena didukung oleh beberapa hal baik di tingkat domestik maupun internasional, diantaranya: terlalu panjangnya rantai distribusi perdagangan, kebijakan perdagangan yang tidak fair terutama dari negara-negara maju, serta ulah para spekulan nakal yang memainkan harga (menimbun, ijon). Apabila fenomena asimetri ini belum mampu dikendalikan dan ditangani pemerintah, maka tidak hanya program-program seperti HPP, bantuan beras miskin (raskin) yang tidak efektif meningkatkan kesejahteraan petani, akan tetapi juga transformasi agribisnis dari agriculture akan tersendat. Berkaca dari beberapa masalah pertanian di atas, ada beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan pemerintah Kalimantan Selatan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, antara lain: a. Mengendalikan dan mengatasi masalah asimetri harga perdagangan di tingkat petani dan konsumen. Hal ini dapat ditempuh dengan cara

mengintensifkan kembali operasi pasar, memberlakukan sangsi yang tegas kepada pihak yang terbukti melanggar. b. Memperpendek rantai distribusi komoditas pertanian (beras) untuk efisiensi. Hal ini dapat dilakukan antara lain dengan merevitalisasi peran dan fungsi BULOG. BULOG harus benar-benar secara langsung membeli beras/padi dari petani, tidak melalui perantara/mitra. Meningkatkan harga pembelian pemerintah yang lebih feasible (tidak kurang dari inflasi). Dan meningkatkan efektifitas penyaluran beras miskin, terutama untuk daerah-daerah yang kekurangan/defisit produksi padinya. Jika penyaluran beras miskin di daerah-daerah yang mengalami surplus, justru akan kontra produktif dengan upaya peningkatan kesejahteraan, karena pasti akan menyebabkan harga menjadi anjlok. Perlunya sistem asuransi yang menjamin/melindungi petani, terutama petani gurem dari kegagalan panen akibat bencana dan binatang perusak. Jika penabung dan obligor saja memperoleh fasilitas keamanan akan uangnya dari lembaga penjamin, maka sudah seharusnya sektor pertanian (baca:kaum petani) yang notabene merupakan sektor yang menjadi tempat menggantungkan hidup sebagian masyarakat Kalimantan Selatan mendapatkan jaminan yangprudent. Untuk mewujudkannya, pemerintah daerah perlu menggandeng kemitraan dengan pihak swasta (perusahaaan asuransi). Dengan mediator DPRD, maka dapat dibangun sistem penjaminan yang memberikan keuntungan win-win solution, tentunya dengan adanya payung hukum yang jelas dan tegas. Dengan adanya sistem penjaminan seperti itu, maka diharapkan tidak ada lagi petani yang merosot daya belinya (kesejahteraannya) akibat puso/gagal panen. Sudah seharusnya dinas pertanian (divisi penelitian dan pengembangan) memiliki satu lahan yang dikhususkan untuk penelitian dan pengembangan (R&D) yang melakukan berbagai terobosan untuk memajukan pertanian, misalnya menguji berbagai produk yang dapat meningkatkan nilai rendemen padi, sehingga akan meningkatkan produktivitas; menguji berbagai benih yang unggul. Setelah semua instrument dan treatment tersebut benar-benar layak dan cocok diterapkan didaerah, maka baru diluncurkan ke petani.

c.

d.

e.

Kita semua tentu berharap, bahwa nantinya sektor pertanian tidak hanya sebagai pelarian bagi tenaga kerja yang tidak tertampung di sektor-sektor sekunder maupun tersier. Hal ini dapat terwujud dengan adanya perbaikan kesejahteraan petani yang signifikan. Apabila kesejahteraan petani sudah layak (minimal sama dengan kesejahteraan sektor lainnya), maka hal ini akan membuka keran akses terhadap berbagai hal (pendidikan, kesehatan, kondisi ekonomi) yang tertutup. Sehingga pada akhirnya akan mengurangi kemiskinan. Sesuai deqngan tugas pokok dan fungsi Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Selatan, dan memperhatikan kondisi, potensi dan permasalahan yang ada maka Visi Pembangunan Pertanian tahun 2006 – 2010 adalah:Terwujudnya Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kalimantan Selatan yang Unggul dan Maju Tahun 2010, maka Program Pembangunan Pertanian TPH mencakup (1) Program Peningkatan Ketahanan Pangan, (2) Program Pengembangan Agribisnis/Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing Produk Pertanian (3) Program Peningkatan Kesejahteraan Petani. Untuk mewujudkan visi dari pembangunan pertanian tahun 2006-2010 tersebut, maka pemerintah Kalimantan Selatan membuat beberapa kebijakan : 1. . Kebijakan dalam pengamanan Ketahanan Pangan diarahkan untuk:
 

Mempertahankan/meningkatkan surplus produksi beras di Kalimantan Selatan. Meningkatkan ketersediaan pangan lainnya (palawija dan hortikultura).

2. Kebijakan dalam peningkatan produksi, produktifitas, daya saing dan nilai tambah produk TPH melalui:

   

Memfokuskan kepada pengembangan komoditas unggulan (Padi, jagung, kacang tanah,jeruk, pisang dan rimpang) dengan pendekatan pewilayahan komoditas. Meningkatkan penyediaan, pengawasan, distribusi dan pemanfaatan benih bermutu. Optimalisasi penerapan teknologi produksi dan pasca panen. Optimalisasi pengendalian OPT dan antisipasi bencana alam di lahan pertanian. Meningkatkan kinerja pembinaan dan pengembangan usaha, kemitraan, pasca panen/pengolahan dan pemasaran hasil pertanian.

3. Kebijakan dalam Pengembangan Sarana dan Prasarana TPH mendukung peningkatan produksi, produktivitas dan mutu hasil TPH melalui:
 

 

Memfasilitasi Peningkatan akses petani terhadap modal yang dan murah, serta sarana produksi (pupuk dan pestisida) Optimalisasi pengelolaan lahan (melalui kegiatan cetak sawah/penambahan baku lahan, rehabilitasi dan konservasi lahan, dan Optimalisasi pemanfaatan lahan, serta jalan usahatani Peningkatan mekanisasi pertanian baik di on farm maupun off farm. Optimalisasi pengelolaan air (Tata air mikro, jaringan irigasi ditingkat petani dan drainase).

4. Kebijakan dalam peningkatan kemampuan petani/pelaku pertanian dan penguatan kelembagaan pendukungnya dilaksanakan melalui:

 

Revitalisasi Penyuluhan (Peningkatan SDM penyuluh pertanian, Kelembagaan penyuluhan pertanian dan Optimalisasi pelaksanaan penyuluhan). Memperkuat lembaga pertanian dan pedesaan untuk meningkatkan akses petani terhadap sumberdaya produktif dan meningkatkan posisi tawar petani. Meningkatkan kemampuan/kualitas SDM Pertanian. Peningkatan kinerja manajemen pembangunan TPH (koordinasi, perencanaan, pembenahan data dan informasi TPH, serta pengembangan sistem monitoring, evaluasi dan pengendalian).

2.2. Dampak Postitif dan Negatif Dari Kebijakan Tersebut
2.2.1. Dampak Positif Dampak positif dari adanya kebijakan tersebut adalah dapat membantu meningkatkan mutu pertanian dan menggerakan semangat para pelaku pertanian dalam menggarap lahanya lebih maksimal sehingga dapat mencapai swasembada pangan tingkat daerah tersebut. Kebijakan ini juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para petani yang biasanya menjadi pihak paling dirugikan dalam rantai agribisnis serta merangsang jiwa kemandirian para petani dalam mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan pertanian.

2.2.2. Dampak Negatif Dampak negatif dari kebijakan ini adalah biasanya kegiatan semacam pemberdayaan masayarakat di bidang pertanian ini jika belum mempunyai landasan dan mengetahui keadaan masyarakat yang akan diberdayakan maka kebijakan ini akan berjalan dengan sia-sia, hendaknya kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan diatas,terlebih dahulu harus ditelusuri mengenai keadaan desa dan kependudukan terlebih dahulu agar tepat sasaran. Selain itu, kebijakan mekanisasi dan pengembangan teknologi pertanian juga dikawatirkan justru akan menambah beban biaya para petani dan belum tentu menghasilkan hasil panen yang diharapkan, maka harus adanya pendampingan secara lebih intim untuk dapat menyuseskan kebijakan ini. 2.3 Artikel Cerita Kesuksesan dalam Pembangunan Pertanian Kembangkan Beras Organik, Terima Penghargaan Presiden Beras organik, sekarang ini menjadi pilihan masyarakat yang menginginkan sumber karbohidrat (makanan pokok), terbebas dari unsur pupuk kimia. Dipilihnya makanan pokok bebas bahan kimia tersebut, membuat peminat beras itu semakin bertambah banyak. Dengan dasar tersebut, sejumlah kelompok petani berupaya mengembangkannya. Salah satunya dilakukan Paguyuban Petani Al Barokah Desa Ketapan Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Mereka sudah mengembangkan beras organik itu selama 10 tahun terakhir ini. Meskipun belum seluruhnya berhasil, tetapi di wilayah tersebut beberapa sawah milik anggota paguyuban, sudah tidak lagi menggunakan pupuk kimia jenis urea. Mereka lebih memilih menggunakan pupuk organik. Pengembangan pupuk organik tersebut tidak lepas dari peran Mustofa, petani sekaligus ketua Paguyuban Petani Al Barokah. Diakuinya, untuk mengubah budaya petani menggunakan pupuk organik tidak mudah. Secara bertahap dengan bukti hasil dan pemasaran, akhirnya petani telah percaya dengan pertanian organik. Petani juga percaya bahwa penggunakan pupuk nonkimia, berdampak positif bagi kelestarian lahan sawah. Jenis tanaman padi yang dipakai adalah varitas tanaman lokal, yakni mentik wangi super, pandan wangi, beras merah, aromatika, dan lainnya. Tahan Lama Mustafa mengungkapkan, sawah organik yang sudah digarap paguyuban lebih dari 40 hektare. Berdasarkan hasil panen terakhir setiap hektare sawah organik menghasilkan panen 8,2 ton. Biasanya lahan pertanian pupuk kimia menghasilkan lima hingga enam ton/hektare.

Beras yang dihasilkan kemudian dikemas dengan ukuran 5 kg, 10 kg, dan 25 kg. Beras organik tersebut ada yang dijual langsung kepada konsumen, namun ada pula yang diolah kembali oleh pedagang perantara, untuk dikemas dan dijual kembali lewat pertokoan dan supermarket. Harganya tidak berbeda jauh dengan beras jenis lainnya. ’’Keunggulan beras organik lebih harum dan nasi lebih tahan lama,’’ imbuh Mustafa. Keberhasilan dari hasil pertanian itu, dikembangkan Paguyuban Al Barokah untuk memperkuat jaringan pendidikan anak petani, pembuatan lumbung padi, koperasi, dan pengembangkan sistem pertanian lainnya. Atas usaha tersebut, Paguyuban Petani Al Barokah mendapat penghargaan dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Gubernur Jateng, beberapa waktu lalu. Sekilas Tentang Al- Barokah Paguyuban Petani Al-Barokah merupakan sebuah organisasi masyarakat pedesaan yang berbasis pada pertanian dimana salah satu unggulannya adalah pertanian padi / beras organik. Al-Barokah didirikan pada 16 September 1999 oleh para petani penggarap di Desa Ketapang, Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Yang tergabung dalam organisasi yaitu 286 petani (220 laki-laki, 66 perempuan) yang menyebar di 2 Kecamatan (Susukan dan Kaliwungu) dengan luas lahan 63 ha, dan dalam perjalanaanya akan bertambah meluas se provinsi Jawa Tengah. VISI Membentuk masyarakat tani yang kuat, mandiri adil dan sejahtera yang mampu mengelola sumberdaya alam, dengan menjaga kelestarian lingkungan serta memperhatikan kesetaraan dan kebersamaan antara laki-laki dan perempuan. MISI 1. Membangun kesadaran kolektif petani ( laki-laki dan perempuan) untuk mengelola dan menentukan pengelolaan sumber dayanya,dengan kesadaran untuk mengubah perilaku dan system kehidpan yang lebih bijak 2. Membangun organisasi yang kuat sebagai wadah perjuangan ekonomi petani. 3. Mengembangkan system informasi yang berbasis petani dan jaringan kerja dengan fihak-fihak lain yang memiliki kesamaan visi dan misi. 4. Mengembangkan pertanian organic terpadu sebagai alat perjuangan gerakan tani yang berpihak pada pemberdayaan masyarakat dalam rangka

memperkuat perekonomian petani berbasis keadilan dan kelestarian serta mampu menguasai dan mengembangkan tehnologi petani dan menjunjung tinggi kearifan lokal serta kelestarian lingkungan. 5. Mendesakkan perubahan kebijakan-kebijakan berkaitan dengan penguasaan dan pemanfaatan benih, tanah, air, udara, dan harga dasar hasil pertanian, agar berpihak pada petani. 6. Menguatkan Organisasi gerakan tani yang efektif untuk mewujudkan visi dan misi gerakan pemberdayaan petani. Analisis Artikel: Artikel diatas menjelaskan mengenai cerita kesuksesan dari pendirian Paguyuban Petani Al-Baraqah di Desa Ketapan Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Paguyuban ini sendiri merupakan bagian dari pembangunan pertanian berkelanjutan yang menerapkan system Pertanian Organik. Seperti yang kita ketahui, pertanian organik merupakan salah satu bagian pendekatan pertanian berkelanjutan, yang di dalamnya meliputi berbagai teknik sistem pertanian, seperti tumpangsari (intercropping), penggunaan mulsa, penanganan tanaman dan pasca panen. Pertanian organik memiliki ciri khas dalam hukum dan sertifikasi, larangan penggunaan bahan sintetik, serta pemeliharaan produktivitas tanah. Sedangkan pengertian pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) itu sendiri adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin (Kasumbogo Untung, 1997). Atau menurut Technical Advisorry Committee of the CGIAR (TACCGIAR, 1988), Pertanian Berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumberdaya alam. Paguyuban Petani Al-Baraqah ini telah menerapkan sistem manajemen produksi pertanian yang holistik dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan produktifitas agroekosistem secara alami, sehingga mampu menghasilkan pangan dan serat berkualitas dan berkelanjutan. Selain itu mereka juga telah menerapkan asas yang mendasari konsep pertanian organik di dalam organisasi mereka. Asasasas yang mendasari konsep pertanian organik itu sendiri diantaranya yaitu: 1. Peningkatan dan stabilitas produksi dalam jangka panjang untuk generasi yang akan datang (berkelanjutan)

2. Memperbaharui kelestarian alam, keseimbangan dan sumberdaya kehidupan pertanian (Tanah, air, tanaman, dan tenaga kerja) 3. Membebaskan petani dari ketergantungan terhadap asupan luar dan perlindungan tanaman (benih) 4. Mempertimbangkan semua aspek lingkungan pertanian secara bersama-sama yang mencakup faktor budi daya, ekologi, ekonomi, Infra struktur, Sosial, Budaya dan Politik Terdapat 3 pilar capaian yang diinginkan dalam pengembangan Pertanian berkelanjutan (Organik), yaitu: a. Adanya peningkatan produktivitas dan pendapatan komunitas manusia; b. Peningkatan keseimbangan (alam) c. Peningkatan stabilitas dan berkelanjutan dari sistem melalui konservasi air, tanah dan unsur hara. Pada prinsipnya pertanian organik sejalan dengan pengembangan pertanian dengan masukan teknologi rendah (low input technology) dan upaya menuju pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Menurut Mugnisyah (2001), penerapan teknologi budiaya yang berkelanjutan bila mana lahan yang dikelola dapat memberikan produksi tanaman dan/atau hewan yang memuaskan tanpa menimbulkan kerusakan atas lahan tersebut sehingga produktivitasnya dapat dipertahankan oleh sistem pertanian itu sendiri. Tujuan pembangunan pertanian (pertanian organic) itu sendiri meningkatkan hasil produksi usahatani. Hal ini sudah terbukti di Paguyuban ini yang menggarap lahan sawah lebih dari 40 hektare. Berdasarkan hasil panen mereka terakhir, setiap hektare sawah organik menghasilkan panen 8,2 ton. Biasanya lahan pertanian pupuk kimia menghasilkan lima hingga 6 ton/hektare. Hal ini menunjukkan telah adanya peningkatan hasil produksi petani. Dapat dikatakan bahwa peningkatan hasil produksi ini juga merupakan gambaran bahwa telah terjadi peningkatan pendapatan petani di desa tersebut. Penerapan pertanian organik merupakan peluang bisnis besar bagi para petani. Dengan adanya perubahan pola gaya hidup masyarakat yang kini mulai beralih ke pola hidup sehat dan lebih memilih hasil pertanian yang tanpa menggunakan bahan kimia, maka permintaan akan produk-produk organik itu sendiri merupakan peluang dunia usaha baru baik untuk tujuan ekspor maupun kebutuhan domestik. Umumnya, ekspor produk organik dijual dengan harga cukup tinggi, biasanya 20 persen lebih tinggi dari produk pertanian non-organik. Keuntungan pokok pertanian organik sangat bervariasi, dalam beberapa kajian ekonomi menyatakan bahwa pertanian organik memiliki akses nyata terhadap prospek jangka panjang. Saat ini hasil usaha oleh petani (beras organic) telah

mampu menembus pasar lokal maupun non lokal, dan bahkan dari waktu ke waktu permintaan terus meningkat khususnya beras organik. Selain itu beberapa studi menunjukkan bahwa pertanian organik berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah tenaga kerja dibandingkan dengan pertanian konvensional. Terutama pada sistem pertanian organik melalui diversifikasi tanaman, perbedaan pola tanam dan jadwal tanam dapat mendistribusikan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan waktunya.

Tabel Produktivitas Tanaman Padi Provinsi Jawa Tengah :

Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa produksi padi di daerah Jawa Tengah terlihat peningkatan dari tahun ke tahun. Dari tahun 2008 jumlah produksi padi masih 8.594.043 peningkatan terus bertambah. Dengan berbagai macam kegiatan yang salah satunya peningkatan kemampuan sumber daya alam

manusianya, yaitu tepatnya kemampuan para petani di daerah semarang itu, dengan peningkatan kemampuan tersebut produksi padi telah berhasil bertambah. sehingga pada tahun 2009 jumlah produksi mencapai 9.600.415 . Oleh karena itu, bentuk dari kegiatan pertanian seperti paguyuban terbukti telah meningkatkan produktivitas pertanian. Dengan dilaksanakannya system pertanian organic yang dimulai tahun 1999 terjadi peningkatan produktivitas tanaman padi. Jadi dapat kita simpulkan dengan melaksanakan system pertanian organic itu bisa meningkatkan pendapatan petani dari hasil peningktan hasil produktivitas hasil tanaman padi. Oleh karenma itu, terlihat kesuksesan dari penerapan system pembangunan pertanian berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA Surya Yuli. 2010. Kembangkan Beras Organik , Terima Penghargaan Presiden. www.suaramerdeka.com. Diakses tanggal 4 Oktober 2010. Pemerintah Kabupaten Semarang. 2010. www.semarangkab.go.id. Diakses tanggal 4 Oktober 2010 Rija Sudirja. 2008. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Berbasis Sistem Pertanian Organik. www.pustaka.unpad.ac.id. Diakses tanggal 4 Oktober 2010 Badan Pusat Statistik. 2010. Tanaman Pangan. www.bps.go.id. Diakses tanggal 5 Oktober 2010 Miyan Andi . 2010.www.tanahbumbukab.bps.go.id diakses tanggal 1 oktober 2010

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->