Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Sehubungan dengan bergulirnya waktu, setiap manusia akan memasuki masa-masa yang paling renta. Masa ini tidak dapat terhindarkan lagi, yaitu masa tua atau kita sebut dengan lansia. Berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia, menjelaskan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 (Enam Puluh) tahun keatas. Menurut James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia lanjut yang mampu melihat arti penting usia tua dalam konteks eksistensi manusia, yaitu sebagai masa hidup yang memberi mereka kesempatankesempatan untuk tumbuh, berkembang dan bertekad berbakti. Ada juga lanjut usia yang memandang usia tua dengan sikap-sikap yang berkisar antara kepasrahan yang pasif dan pemberontakan, penolakan, dan keputusasaan. Kondisi lanjut usia mengalami berbagai penurunan atau kemunduran baik fungsi biologis maupun psikis, sehingga dapat mempengaruhi mobilitas dan juga kontak sosial, salah satunya adalah rasa kesepian (loneliness). Loneliness dilihat sebagai suatu fakta kehidupan, salah satu resiko alamiah,

suatu resiko pekerjaan dari mereka yang bernafas. Lanjut usia yang tinggal di panti wredha akan dihadapkan pada situasi yang berbeda dengan sebelum mereka tinggal di panti. Saat ini Indonesia memasuki era penduduk berstruktur lanjut usia (aging structured population) karena jumlah penduduk yang berusia 60 tahun keatas sekitar 7,18 %. Provinsi yang mempunyai jumlah penduduk lanjut usia sebanyak 7 % adalah pulau Jawa dan Bali. Peningkatan jumlah penduduk lansia ini antara lain disebabkan karena tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat, kemajuan dibidang pelayanan kesehatan, tingkat

pengetahuan masyarakat yang meningkat (Deputi I Menkokesra, 2008). Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2004 penduduk orang lanjut usia (60 tahun keatas) cenderung meningkat (Harry, 2007). Sekarang ini Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan penduduk orang berusia lanjut terbanyak di dunia dibawah Cina, India, dan Amerika Serikat. Jumlah penduduk orang lanjut usia di Indonesia tahun 2000 adalah 17.767.709 orang atau 7.97 % dari jumlah penduduk Indonesia. Pada tahun 2010 diprediksikan jumlah orang lanjut usia meningkat menjadi 9,58 % dan pada tahun 2020 sebesar 11,20 %. Peningkatan populasi orang lanjut usia diikuti pula berbagai persoalan-persoalan bagi orang lanjut usia itu sendiri (Mariani & Kadir, 2007). Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia terjadi peningkatan hampir mencapai 50% dari penduduk lanjut usia yang mengalami kesepian atau loneliness (Kantor Menteri Kependudukan/BKKBN, 1999). Kalangan ilmuwan di National Institute of Aging dalam sebuah artikel yang dimuat

dalam jurnal Gerontologi (dalam Peplau, 1990) mengatakan bahwa berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, separuh dari jumlah orang tua berusia lanjut meninggal dalam perasaan hampa, terasing, tidak berdaya dan kesepian. Kesepian merupakan salah satu tema dari 14 tema utama yang ada pada lansia yaitu kesepian, isolasi sosial, kehilangan, kemiskinan, perasaan ditolak, perjuangan menemukan makna hidup, kebergantungan, perasaan tidak berguna, tidak berdaya dan putus asa, ketakutan terhadap kematian, sedih karena kematian orang lain, kemunduran fisik dan mental, depresi, dan rasa penyesalan mengenai hal-hal yang lampau (Lesmana, 2006). Kesepian merupakan hal yang bersifat pribadi dan akan ditanggapi berbeda oleh setiap orang, bagi sebagian orang kesepian merupakan yang bisa diterima secara normal namun bagi sebagian orang kesepian bisa menjadi sebuah kesedihan yang mendalam. Kesepian terjadi saat klien mengalami terpisah dari orang lain dan mengalami gangguan sosial (Copel, 1998). Beberapa orang mengganggap panti jompo sebagai solusi. Panti jompo justru seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, kaum lansia memperoleh kebahagiaan karena berada di lingkungan yang senasib dengan mereka. Tapi di sisi lain, mereka merasa kesepian dan tidak berguna. Mereka akan merasa lebih nyaman berada di tengah keluarga, berkumpul bersama anak dan cucu. Padahal, meski usia dan fisik sudah uzur, mereka masih dapat berkarya. Tinggal bagaimana cara kita memotivasi agar mereka dapat mengaktualisasi diri secara optimal.

Mariani & Kadir (2007) mengungkapkan bahwa mereka yang hidup di panti wredha mengalami keterasingan, loneliness, isolasi sosial serta tidak tahu harus berbuat apa untuk mengisi masa tuanya itu. Masa senja yang seharusnya diisi kegembiraan bersama keluarga merupakan tekanan psikologis bagi lanjut usia. Tidak adanya rasa kedamaian atau kepuasan pada lanjut usia manakala tidak dijumpai keakraban, kelekatan, kedekatan, sebagaimana layaknya sebuah keluarga akan menimbulkan permasalahan tersendiri bagi lanjut usia seperti terjadinya kecemasan, stress, maupun frustasi. Bahkan ada dari para lanjut usia tersebut hingga kematian menjemput dari pihak keluarga tidak menemui ataupun mengurus jenazahnya. Survei dari U. C. L. A Amerika Serikat, 2000 (www. Betawi . net) menunjukkan bahwa loneliness masuk di urutan nomor kelima pada bahaya kesehatan lebih tinggi dibandingkan daftar kecelakaan, penyesuaian seksual, dan kehamilan yang tidak diharapkan. Harapan dari orang lanjut usia itu sendiri, orang lanjut usia ingin diperhatikan dan mendapat dukungan dari keluarga sebagai tempat bergantung yang terdekat. Lanjut usia ingin hidup bahagia dan tenang di hari tua serta masih ingin diakui keberadaannya. Namun pada kenyataannya seiring dengan bertambah tuanya individu, anak- anak dan teman- temannya juga menjadi semakin sibuk dengan masalahnya sendiri. Selain itu, pola keluarga yang semakin mengarah pada pola keluarga inti (nuclear family) mengakibatkan anak- anak secara tidak langsung kurang memperdulikan keberadaannya dan jalinan komunikasi antara orang tua dan anak semakin berkurang. Hal ini

akan menyebabkan orang lanjut usia merasa tersisih dan tidak lagi dibutuhkan peranannya sebagai angggota keluarga walaupun masih di lingkungan keluarga. Berdasarkan jurnal penelitian Marina Paramitha Sutoyo (2009), Ibu S (66 tahun) di panti werdha Dewanata Cilacap menceritakan bahwa kedua anaknya yang menjual rumah peninggalan ayah mereka setelah satu tahun suaminya meninggal. Kedua anak ibu S sepakat menjual rumah itu dan membagi uangnya sebagai warisan. Kedua putranya tidak mau bertanggung jawab merawat dirinya. Akhirnya mereka memutuskan memasukkan ibu S ke panti jompo dengan begitu saja tanpa ada kelanjutannya. Seseorang yang lanjut usia tidak akan mengalami loneliness apabila dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan barunya dan menjalin hubungan dengan orang lain yang seusianya. Menyesuaikan diri menurut Erikson,1989 adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan atau dapat juga diartikan sebagai upaya mengubah lingkungan agar sesuai dengan dirinya. Menurut pengakuan Pak W (78 tahun) di desa Tunggu, Seririt Buleleng. Memilih untuk tinggal di panti jompo sejak kehilangan isterinya sepuluh tahun lalu. Terlebih tiga anaknya sudah menikah. Pak W tidak ingin memberatkan keluarga serta anaknya yang sudah menikah. Pak W sudah tiga tahun berada di panti. Di dalam kegiatan sehari-harinya, Pak W membuat tusuk sate untuk dijual. Pak W mengaku betah tinggal di panti. Kalau pulang, saya tidak pernah lama-lama. Inginnya segera pulang ke panti. Pak W sendiri awalnya mengaku bingung dengan keadaannya. Tetapi, lama-

kelamaan Pak W bisa ikhlas menerima semuanya dan tidak mau kembali pada keluarganya. Kisah di atas merupakan contoh keadaan yang mengharuskan lanjut usia tinggal di panti jompo. Lanjut usia datang dari berbagai daerah dengan membawa persoalan macam-macam. Mulai dari konflik keluarga, kondisi yang tidak memungkinkan atau memungkinkan atau memang keinginan lanjut usia sendiri untuk tinggal di panti wredha. Disana dapat dijumpai lanjut usia dari berbagai latar belakang pendidikan, sifat bawaan, sosio ekonomi, dan kepribadian yang berbeda-beda dan hal ini mungkin saja mempengaruhi kehidupan lanjut usia satu sama lain. Sifat kepribadian seseorang sewaktu muda akan lebih nampak jelas setelah memasuki lansia sehingga masa muda diartikan sebagai karikatur kepribadian lansia, dengan memahami kepribadian lansia tentu akan lebih memudahkan masyarakat secara umum dan anggota keluarga lansia tersebut secara khusus, dalam memperlakukan lansia dan sangat berguna bagi kita dalam mempersiapkan diri jika suatu hari nanti memasuki masa lansia (Kuntjoro, 2002). Kepribadian adalah semua corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Kuntjoro (2002) membedakan tipe kepribadian menjadi lima tipe, yaitu Tipe KepribadianKonstruktif Mandiri (Independent (Construction personality), personalitiy), Tipe Tipe

Kepribadian

Kepribadian

Tergantung (Dependent personalitiy), Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy). Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya di BPSTW Pakutandang Ciparay yang dilakukan oleh Juniarti, dkk (2008) didapatkan sebagian besar lansia mengalami kesepian ringan hal ini ditunjukan dengan jumlah responden 66 orang (69,5%), sedangkan tidak kesepian 16 orang (16,8%), kesepian sedang 11 orang (11,6 %), dan kesepian berat hanya sebagian kecil yaitu 2 orang dengan (2,1 %) dari total responden 95 orang lansia. Dari hasil studi pendahuluan, Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung merupakan salah satu panti yang terdapat di Jawa Barat, panti ini merupakan milik Dinas Provinsi Jawa Barat. Panti ini menampung lansia sebanyak 150 orang yang merupakan lansia terlantar ataupun dari keluarga yang ekonomi kurang sehingga tidak sanggup merawat lansia. Tidak semua lansia tinggal di dalam wisma-wisma yang ada di BPSTW. Beberapa lansia yang sakit atau mengalami keterbatasan mobilitas fisik yang cukup parah akan ditampung di ruang perawatan khusus, namun tetap dalam wilayah BPSTW. Dari hasil wawancara dengan pengurus panti didapatkan data sebagai berikut: Panti sosial Tresna Werdha Pakutandang mempunyai luas 22,924 m2 dengan luas bangunan 4.075 m2 dan memiliki pekuburan pribadi dengan luas 3000 m2. BPSTW memiliki beberapa program untuk lansia dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup lansia di masa tuanya. Beberapa program tersebut antaranya program pelayanan sosial, fisik, mental keagamaan,

keterampilan, dan psikososial. Namun saat dilakukan studi pendahuluan kegiatan-kegiatan tersebut hanya diikuti oleh lansia yang mau melakukannya atau yang berminat saja. Ada beberapa lansia yang tidak mengikuti kegiatan dengan beberapa alasan, diantaranya mengeluh fisiknya lemah, kurang cocok dengan temantemannya dan tidak mau dipaksa untuk mengikuti kegiatan. Namun kegiatankegiatan tersebut dilaksanan demi kesehatan dan peningkatan kualitas hidup lansia yang tinggal di panti. Dari sisi psikologis dapat dilihat bahwa lansia yang tinggal di panti sebagian besar tidak memiliki rasa rendah diri ataupun tidak mau bergabung dengan lansia lainnya, semuanya hidup rukun dan saling tolong menolong jika lansia satu mendapat kesusahan maka yang lain membantu. Semua itu tergantung dari kepribadian dari lansia-lansia tersebut. Untuk aspek spiritual lansia yang tinggal di panti mempunyai kewajiban untuk selalu mengikuti shalat lima waktu berjamaah di mesjid dan mendapat bimbingan rohani enam kali perminggu dari pekerja sosial. Peran perawat dari hasil wawancara dengan perawat didapatkan data bahwa keluhan yang berhubungan dengan psikis belum pernah diterima karena perawatan hanya bersumber pada keluhan fisik yang dialami lansia. Perawat di sini juga seharusnya berperan dalam memberikan dukungan psikososial supaya lansia tersebut tidak merasa terasingkan. Peran perawat sangat besar untuk dapat mengetahui secara dini dan melakukan tindakantindakan pencegahan dan penanggulangan agar masalah kesepian pada lansia ini tidak bertambah berat.

Di dalam pergaulan lansia di panti ini masih sering terjadi perselisihan antar lansia sehari-harinya akibat lansia-lansia yang bertindak sekehendaknya sendiri. Namun permasalahan itu tidak berlangsung lama dan dapat dilerai oleh pengurus panti. Menurut pengakuan Ny. E, beliau sudah pasrah berada di panti ini. Beliau tidak memiliki sanak saudara lagi, Ny. E juga tidak pernah berkeliling ke wisma teman-temannya karena keterbatasan fisiknya. Mau nggak mau disini mah harus nerima apa yang udah emak dapet, baik penyakit, usia tua sampai harus tinggal di panti. Emak mah nerima-nerima aja, udah ikhlas emak mah. Kalo dulu emak emang nggak betah ada di sini. tutur Ny. E yang sudah berusia 70 tahun da dua tahun tinggal di BPSTW. Meskipun para lansia menyatakan betah dan tidak ada masalah, namun dalam lubuk hati mereka yang terdalam masih menyisakan rasa kesepian dalam hidupnya karena masih banyak lansia yang sulit berinteraksi, tidak punya teman, terpaksa tinggal di panti, ditinggal bahkan diterlantarkan oleh sanak saudaranya dan lain-lain. Mengenai terapi untuk lansia lebih banyak dilakukan saat ada praktek pendidikan mahasiswa. Beberapa lansia mengatakan bahwa rasa kesepian mereka berkurang ketika ada mahasiswa yang datang untuk berkunjung. Para lansia tersebut sangat senang ketika mereka dapat mencurahkan isi hati mereka. Dari berbagai kepribadian yang ada pada lansia tersebut dapat membantu meringankan rasa kesepian yang mereka alami sendiri. Dan dari

10

data di atas dapat dilihat ada beberapa lansia yang dapat membantu sesamanya sehingga kesepian yang mereka rasakan tidak terlalu berat.

1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk meneliti adakah hubungan antara tipe kepribadian dengan perasaan kesepian lansia yang tinggal di panti jompo? dengan cara melakukan penelitian yang berjudul hubungan antara tipe kepribadian dengan perasaan kesepian lansia di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung.

1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Antara Tipe Kepribadian dengan Perasaan Kesepian Pada Lansia di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung Tahun 2011

1.3.2 Tujuan khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui tipe kepribadian lansia di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Kabupaten Bandung Jawa Barat. 2. Untuk mengetahui tingkat kesepian pada lansia di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Kabupaten Bandung Jawa Barat.

11

3.

Untuk mengetahui hubungan tipe kepribadian Konstruktif, Mandiri, Ketergantungan, Bermusuhan, dan Kritik Diri dengan tingkatan kesepian pada lansia di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Kabupaten Bandung Jawa Barat.

1.4 MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Petugas Sosial, dapat memberikan dukungan mental dalam mendampingi lanjut usia dan memberikan perhatian yang lebih terhadap kehidupan lanjut usia sebagai warga panti wredha serta dapat lebih mencegah hal-hal atau perilaku yang dapat menyebabkan loneliness terjadi pada lanjut usia.

2. Bagi pengawas yang berada di BPSTW Pakutandang Ciparay, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai wacana tentang pembelajaran menghadapi perasaan loneliness dan lebih siap menghadapi keadaan lanjut usia yang ada di panti wredha .

3. Bagi Perawat, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu keperawatan khususnya di bidang kejiwaan terlebih lagi dalam menangani permasalahan isolasi sosial beserta pemahaman tipe kepribadian lansia.

4. Bagi Fakultas Keperawatan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemahaman terhadap arti pentingnya dukungan sosial pada perasaan kesepian lanjut usia di panti wredha.

12

5. Bagi peneliti selanjutnya yang berminat pada masalah relatif sama dengan kajian ini,hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi, sehingga bisa melakukan penelitian serupa dengan populasi atau wilayah,pendekatan penelitian,serta instrument pengumpul data yang lebih teliti.

1.5. KERANGKA PEMIKIRAN Kesepian adalah pengalaman yang bertentangan antara hubungan interpersonal individu yang dipersepsikan saat ini dengan hubungan interpersonal yang diharapkan (Sermat,1978 dalam Peplau dan Pearlman 1982). Dampak yang akan terjadi dari kesepian itu sendiri, yaitu dapat menimbulkan perilaku yang mengarah depresi ( Stuart& Sunden, 1998). Sifat kepribadian seseorang sewaktu muda akan lebih nampak jelas setelah memasuki lansia sehingga masa muda diartikan sebagai karikatur kepribadian lansia, dengan memahami kepribadian lansia tentu akan lebih memudahkan masyarakat secara umum dan anggota keluarga lansia tersebut secara khusus, dalam memperlakukan lansia dan sangat berguna bagi kita dalam mempersiapkan diri jika suatu hari nanti memasuki masa lansia (Kuntjoro, 2002). Beberapa perubahan aspek psikososial lansia dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut: Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), Tipe Kepribadian Mandiri

(Independent personality), Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy).

13

Lansia yang memiliki kepribadian yang kurang baik memerlukan perhatian psikologis khusus supaya lansia tersebut tidak terlalu terlarut dalam masa-masa tuanya yang dianggap tidak membahagiakan bagi mereka.

Skema Kerangka Pemikiran

faktor-faktor kesepian: 1. 2. 3. 4. Faktor fisik Psikologis psikologis Sosial Agama

Lansia di BPSTW Ciparay Tingkatan kesepian Kepribadian Kesepian 1. Rendah 2. Sedang 3. Berat

Tipe kepribadian: 1. 2. 3. 4. 5. Konstruktif Mandiri Ketergantungan Bermusuhan Kritik diri

Keterangan: diteliti tidak diteliti

1.6. HIPOTESIS Hipotesis adalah suatu pernyataan yang memperkirakan hubungan di antara variabel yang dilandasi oleh penelitian ( Polit & Hunger; 1997, dalam Lindayani, 2008). Hipotesis dala penelitian merupakan jawaban sementara

14

terhadap rumusan masalah penelitian (Sugiyono, 2008). Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu: H1 : adanya hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat kesepian lansia di BPSTW Pakutandang Ciparay. H2 : tidak terdapat hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat kesepian lansia di BPSTW Pakutandang Ciparay.

15

BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah korelatif untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tipe kepribadian dengan tingkat kesepian lansia di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang dilaksanakan untuk mendeskripsikan atau mengambarkan secara sistematis dan akurat status keadaan atau area pada populasi tertentu yang berkaitan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Azis, 2007).

1.2 Variabel Penelitian Variable independent (bebas) dari penelitian ini adalah tipe kepribadian dengan subvariable konstruktif, mandiri, ketergantungan, bermusuhan, dan kritik diri. Variable dependent (terikat) tingkat kesepian lansia yang tinggal di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung dengan subvariable rendah, sedang, dan tinggi.

16

1.3 Definisi Konseptual dan Operasional 1.3.1 Definisi Konseptual

1.3.1.1 Tipe Kepribadian Kepribadian adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. (Kuntjoro, 2002) 1.3.1.2 Kesepian Kesepian merupakan kekurangpuasan hubungan sosial dan hubungan yang akrab kurang dari yang diharapkan( Mangroni & Ickes, 1989 dalam Roach 2000). Kesepian adalah pengalaman yang bertentangan antara hubungan interpersonal individu yang dipersepsikan saat ini dengan hubungan interpersonal yang diharapkan (Sermat,1978 dalam Peplau dan Pearlman 1982 ) 1.3.2 Definisi Operasional

1.3.2.1 Tipe Kepribadian Lansia Kepribadian dibedakan menjadi 5 tipe menurut Kuntjoro (2002) ,yaitu Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction

personalitiy), Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), Tipe

17

Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), dan Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy). 1.3.2.2 Tingkat Kesepian Lansia Kesepian adalah ketidakpuasan yang dialami oleh seseorang dalam membina suatu hubungan yang akrab sesuai dengan persepsi individu. Tingkatan kesepian menurut UCLA loneliness scale adalah rendah,sedang dan berat. Hal ini diteliti menggunakan kuesioner skala kesepian yang terdiri dari 20 item pertanyaan.

1.4 Populasi dan Sampel 1.4.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang berusia 60 tahun atau lebih yang tinggal di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Bandung berjumlah 150 orang.

1.4.2

Sampel Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2003). Dalam penelitian ini menggunakan tehnik purposive sampling,

18

yaitu pengambilan sampel didasarkan atas ciri-ciri atau karakteristik yang telah ditentukan sebelumnya (Hadi, 1990). Berikut adalah kriteria inklusinya sebagai berikut: 1. Lansia yang dapat berkomunikasi dengan baik (tidak tuna rungu dan tuna wicara) 2. 3. 4. 5. Lansia yang bersedia menjadi responden Lansia yang tinggal di Panti Lansia yang tidak disorientasi Lansia yang tidak pikun.

1.5 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Dalam mengumpulkan data variable kesepian lansia,alat ukur yang di gunakan dari UCLA loneliness scale yang disusun oleh Peplau dan Russel (1988). Dalam skala kesepian ini terdapat 20 pertanyaan yang terdiri dari 11 pertanyaan menunjukkan kesepian. Item pertanyaan ini diwakili oleh no. 2, 3, 4, 7, 8, 11 ,12, 13, 14, 17, 18. Dan 9 pertanyaan menunjukkan tidak kesepian. Dimana skor nilai item ini dibalik, diwakili oleh pertanyaan 1, 5, 6, 9, 10, 15, 16, 19, 20. Dalam mengkaji tipe kepribadian,peneliti menggunakan skala yang dibuat oleh peneliti berdasarkan konsep yang dibuat oleh Kuntjoro (2002) mengenai tipe kepribadian lansia. Alat ukur ini terdiri dari 20 item pertanyaan. Diantaranya 5 pertanyaan menunjukkan kepribadian konstruktif, 5 pertanyaan menunjukkan kepribadian mandiri, 5 pertanyaan menunjukkan

19

kepribadian

ketergantungan,

5 pertanyaan

menunjukkan kepribadian

bermusuhan, dan 5 pertanyaan lagi menunjukkan kepribadian kritik diri.

1.6 Prosedur Penelitian Pada penelitian ini, peneliti menyiapkan alat ukur terlebih dahulu yang telah diuji validitasnya. Pada tahapan ini, alat ukur yang akan digunakan ada dua, yaitu skala pengukuran tingkat kesepian sesuai yang dikemukakan oleh Peplau dan Russel (1980) serta instrumen tipe kepribadian oleh Kuntjoro (2002). Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan memberikan kuesioner ke responden penelitian, yaitu lansia yang bersedia menandatangani informed consent yaitu suatu persetujuan yang harus ditandatangani oleh responden tanpa adanya paksaan dan dijaga

kerahasiaannya dengan cara tidak mencantumkan nama responden, sebelum melakukan penelitian. Prosedur penelitian dilakukan dengan cara : 1. Setelah mendapatkan ijin penelitian, peneliti melakukan koordinasi dengan Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, yang kemudian dilanjutkan diberikan ijin penelitian yang ditujukan kepada Kepala Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Kabupaten Bandung untuk menetapkan tempat dan waktu untuk pengisian kuesioner penelitian. 2. Pelaksanaan pengisian kuesioner penelitian dilakukan di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang Ciparay Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat dibantu oleh beberapa Petugas BPSTW yang telah terlebih dahulu

20

peneliti ajarkan dan jelaskan pengertian kesepian, tujuan dan maksud dilakukan penelitian. 3. Sebelum kuesioner diisi, peneliti menginformasikan tentang tujuan penelitian dan sifat keikutsertaan responden dalam penelitian dan cara pengisian kuesioner serta membantu responden untuk mengisi seluruh pertanyaan atau pernyataan yang tersedia dalam kuesioner penelitian. 4. Kuesioner yang telah lengkap diisi oleh responden kemudian

dikembalikan pada peneliti. 5. Setelah kuesioner lengkap, peneliti akan mengolah semua data yang didapat.

1.7. LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Penelitian ini akan dilaksanakan di Balai Panti Sosial Tresna Werdha Pakutandang di Jalan Raya Pacet no. 186, Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan pertimbangan pada lokasi tersebut ditemukan adanya lansia yang mengalami perasaan kesepian di panti beserta dukungan sosial yang berada di panti tersebut.

Daftar Pustaka Al-Rosyid,1994. Tekhnik Pengambilan Sampel dan Penyusunan Data. Bandung: UNPAD

21

Arikunto, S. 1998. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek edisi IV. Jakarta:PT. Rineka Cipta Darmodjo, R.B & Martono, H.H. 1999. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut), Jakarta: FKUI Hurlock, E. 1992. Psikologi Perkembangan . Jakarta. Penerbit: Erlangga Notoatmodjo, S. 1993. Metodologi Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta. Nugroho,W. 2000. Perawatan Lanjut Usia, Jakarta: EGC http://www.peplaulab.ucla.edu/Publications_files/Russel%20Peplau%20%26%20 Cutrona%2080.pdf diakses tanggal 14 Februari 2011Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. 2007. Balai Panti Sosial Tresna Werdha. http://www.dissos.jabarprov.go.id (di akses tgl 8 Februari 2011). Hurlock, E. 1997. Psikologi Perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Jakarta: Erlangga. Kadir dan Mariani. 2007. Panti Werdha Sebuah Pilihan.

http://subhankadir.wordpress.com. (Di akses tgl 18 Januari 2011) Kaplan and Grebb.1997. Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Bina Putra Aksara Martin and Osborn. J. G. 1989. Psychology Adjustment and Everyday Living. New Jersey: Prentice Hall, Inc Nugroho, W. 2000. Perawatan lanjut Usia. Jakarta: EGC Peplau and Russel. 1980. UCLA Loneliness (diakses tgl Scale 15

http://www.psychology.iastate.edu/~ccutrona/uclalone.htm Februari 2011)

22

Probosuseno.

2007.

Mengatasi

Isolation

pada

Lanjut

Usia.

http//www.medicalzone.org. (Di akses tgl 25 Januari 2011) Victor, C. 2004. Loneliness, Social Isolation and Living Alone In Later Life. http://web.uvic.ca. (diakses tgl 12 februari 2011). Stanley M and Beare G P. 2007. Buku Ajar keperawatan Gerontik. Jakarta : EGC. Zainudin. 2002. Masalah Kesehatan jiwa lansia. Http://www.e-psikologi.com. (Diakses tgl 2 Februari 2011).

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS PADJAJARAN FAKULTAS KEPERAWATAN

23

KARTU BIMBINGAN SKRIPSI Tahun 2010/2011 Nama Mahasiswa NPM Judul : Arya Brahmantya : 220110070014 : Hubungan Antara Tipe Kepribadian dengan Tingkat Kesepian Lansia yang Tinggal di Balai Pantai Sosial Tresna Werdha Pakutandang

CiparayBandung Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping : Iyus Yosep, S.Kp., M.Si. : Nur Oktavia Hidayati, SKp. MKep.

LEMBAR BIMBINGAN SKRIPSI Nama Mahasiswa NPM : Arya Brahmantya : 220110070014

Dosen Pembimbing 1 : Iyus Yosep, S.Kp., M.Si.

24

No.

Tanggal

Masukan/Saran

Paraf

LEMBAR BIMBINGAN SKRIPSI Nama Mahasiswa NPM : Arya Bramantya : 220110070014

Dosen Pembimbing 1 : Iyus Yosep, S.Kp., M.Si.

25

No.

Tanggal

Masukan/Saran

Paraf

LEMBAR BIMBINGAN SKRIPSI Nama Mahasiswa NPM : Arya Brahmantya : 220110070014

26

Dosen Pembimbing 2 : Nur Oktavia Hidayati, SKp. MKep. No. Tanggal Masukan/Saran Paraf

LEMBAR BIMBINGAN SKRIPSI Nama Mahasiswa NPM : Arya Brahmantya : 220110070014

Dosen Pembimbing 2 : Nur Oktavia Hidayati, SKp. MKep.

27

No.

Tanggal

Masukan/Saran

Paraf